Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (Revisi 2008

)

TIM PERUMUS PAPI DESEMBER 2008

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Hak cipta @ 2008, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam ayat (1), dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Cetakan Revisi Desember 2008

Pedoman akuntansi perbankan Indonesia/disusun oleh tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. -- Jakarta: Bank Indonesia, 2008 349 hlm; 3 cm Diterbitkan atas kerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ISBN: 978 - 979 - 9020 - 31 - 4

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

—— Tanggapan dan masukan tertulis atas ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pedoman Akuntansi Indonesia Revisi 2008 dapat disampaikan ke Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia. Up. Tim Pembinaan dan Pengawasan. Nomor fax. (021) 231 1672.

ii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

GUBERNUR BANK INDONESIA

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya menyambut gembira atas selesainya Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) revisi 2008, yang merupakan petunjuk lebih teknis dari standar akuntansi keuangan yang terkait dengan perbankan. Sebagai badan usaha yang memiliki tanggung jawab publik, perbankan dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang berkualitas tinggi sehingga dapat memberikan informasi yang akurat dan komprehensif bagi seluruh pihak yang berkepentingan dan mencerminkan kinerja bank secara utuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar dan pedoman akuntansi yang berlaku perlu terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan transaksi dan produk keuangan dewasa ini serta harmonisasi dengan standar akuntansi internasional. Sebagaimana telah diketahui, Ikatan Akuntan Indonesia pada akhir Desember 2006 telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 (Revisi 2006) tentang Pengakuan dan Pengukuran Instrumen Keuangan dan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Penyajian dan Pengungkapan Instrumen Keuangan, serta beberapa standar akuntansi lain sebagai bagian dari proses konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Dengan penyempurnaan standar akuntansi dimaksud, maka PAPI sebagai petunjuk yang sifatnya lebih teknis juga perlu disempurnakan dengan menambahkan penjelasan dan contohcontoh perhitungan yang diharapkan dapat mempermudah pemahaman terhadap PSAK yang berlaku, khususnya PSAK 55 (Revisi 2006) dan PSAK 50 (Revisi 2006) yang disadari merupakan standar akuntansi yang cukup kompleks karena berupaya mengakomodasi kebutuhan pengaturan instrumen keuangan yang berkembang demikian pesat. Dengan berbagai penyempurnaan tersebut, baik dari sisi PSAK maupun PAPI, diharapkan kelengkapan, kewajaran, keakuratan, dan kejelasan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bank dapat ditingkatkan, sehingga informasi tersebut lebih dipahami dan dipercaya
iii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

oleh masyarakat. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap informasi-informasi yang disampaikan oleh bank-bank pada gilirannya dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional secara keseluruhan. Akhir kata pada kesempatan ini saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia, Tim Penyempurnaan PAPI, narasumber, praktisi perbankan, dan seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi dan masukan untuk penyempurnaan PAPI (Revisi 2008). Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008 GUBERNUR BANK INDONESIA,

BOEDIONO

iv

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia
Kegiatan usaha perbankan di Indonesia mengalami perkembangan yang semakin komplek dan pesat. Dinamisasi perkembangan tersebut berjalan seiring dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti perubahan regulasi, perkembangan teknologi, perkembangan produk dan tuntutan pelanggan. Perkembangan kegiatan usaha tersebut agar dapat berjalan dengan baik memerlukan berbagai infrastruktur pendukung yang memadai. Salah satu bentuk infrastruktur yang diperlukan adalah ketentuan-ketentuan yang terkait dengan akuntansi. Akuntansi dipandang sebagai salah satu infrastruktur yang penting karena melalui proses akuntansi inilah seluruh kegiatan, khususnya yang bersifat kuantitatif, akan didokumentasikan. Selanjutnya, melalui proses akuntansi ini, juga akan dihasilkan suatu laporan keuangan yang sangat berguna sebagai dasar untuk pengambilan keputusan para stakeholder perbankan. Laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan usaha harus memiliki kualitas yang baik. Suatu laporan keuangan dikatakan berkualitas jika memenuhi syarat karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari andal, relevan, dapat diperbandingkan (comparability), dan dapat dipahami (understandability). Untuk mencapai kualitas tersebut, suatu laporan keuangan harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU). Pondasi utama dari PABU di Indonesia adalah kerangka dasar (conceptual framework), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasinya. Sejalan dengan hal tersebut di atas dan terkait dengan penerapan revisi PSAK 50 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, maka menjadi sangat penting untuk revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Revisi PAPI ini juga diperlukan untuk memutakhirkan ketentuan dan peraturan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pedoman ini diharapkan sangat membantu bagi para pelaksana perbankan dalam mencatat transaksi perbankan sesuai dengan PSAK dan ketentuan perbankan terkini. Sehingga hal ini dapat lebih meningkatkan kredibilitas dan transparansi dunia perbankan.

v

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Akhirnya pada kesempatan ini kami Dewan Pengurus Nasional IAI mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan Bank Indonesia, khususnya Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, atas jerih payah dan kerja samanya dalam merevisi buku Pedoman Akuntansi ini. Semoga kerja sama ini dapat terus ditingkatkan lagi di masa mendatang.

Jakarta, Desember 2008 Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia

AHMADI HADIBROTO Ketua

vi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Pesatnya perkembangan industri perbankan, kompleksitas transaksi yang terjadi di dalamnya, dan besarnya tuntutan masyarakat akan transparansi bank, memicu perbankan untuk meningkatkan kemampuannya dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat. Demikian juga pada sisi pengaturan diperlukan adanya peraturan yang relevan dan dapat diimplementasikan dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan perkembangan terkini standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia terutama PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (revisi 2006): Pengakuan dan Pengukuran, maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ini perlu disempurnakan dengan standar terkini dan berbagai regulasi di sektor perbankan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Selanjutnya untuk menyempurnakan PAPI tersebut Bank Indonesia telah membentuk Tim Penyempurnaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Proses penyempurnaan PAPI dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan. Pertama, penelaahan atas PAPI tahun 2001 untuk mengidentifikasi ketentuan-ketentuan yang sudah tidak relevan. Kedua, penyusunan sistematika dan substansi isi PAPI tahun 2008. Ketiga, pengumpulan materi untuk penyempurnaan PAPI. Keempat, pembentukan tim kecil untuk merumuskan dan menelaah permasalahan tertentu. Kelima, perumusan draf PAPI tahun 2008. Keenam, Penyelenggaraan limited hearing untuk menampung masukan dari kalangan terbatas yang dianggap sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan akuntansi dalam bank. Ketujuh, menyempurnakan draft final PAPI. Dan kedelapan, menyerahkan PAPI kepada Bank Indonesia untuk disahkan pemberlakuannya. PAPI revisi tahun 2008 ini akan diterbitkan dalam 2 bagian, dimana bagian pertama (buku ini) diterbitkan terlebih dahulu yang didalamnya mengatur mengenai perlakuan dan pencatatan atas Surat berharga, Kredit, Penurunan nilai, Transaksi derivatif dan transaksi ekspor impor, sedangkan perlakuan dan pencatatan atas Ekuitas, Aset tetap, Laporan pendapatan dan beban, Laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, Catatan atas laporan keuangan dan Ilustrasi laporan keuangan akan disajikan dalam terbitan selanjutnya. Jakarta, Desember 2008 Tim Penyempurnaan PAPI

vii

Bank Rakyat Indonesia PT. Teguh Supangkat 3.A. SWD Murniastuti 5. Bank Niaga Citibank PT. Sri Yanita Dewi Irmawan 6. Muliaman D. Bank Central Asia PT. Lestari Shitadewi 5. Faisal Muttaqien Issom 10. TIM PERUMUS 1. I Gde Made Sadguna 6. Adri Triwicahyo TIM TEKNIS 1. Indira 4. Halim Alamsyah 4. Rouli Erlyana A 16. Bank Rakyat Indonesia PT. M. Sri Yanto 11. Rabobank International Indonesia C.Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia A. Bank Mandiri PT. Agus Edy Siregar 2. Khairani Syafitri 7. Teddie Pramono 9. Yakub 4. Hadad 3. Mustofa 8. Wisnu Kameswara A 13. M. Khairani Syafitri 3. Ahdi Jumhari Luddin 7. Benny Hilman 21. Bank Mandiri PT. Siti Ch. Jusuf Wibisana B. Bank Negara Indonesia PT. Fadjrijah 2. Darmawan 19. Nurwidodo Pristwanto Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia PT. Lestari Shitadewi 2. Eko Bramantyo 20. Jacobie Henry W 14. Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia viii . Herdiana Achdan 15. Bintoro Nurcahyo 17. Fathor Rachman 12. G. Hari Sundjojo 18. TIM PENGARAH 1. Bahrudin 8.

...................... Bahasa laporan keuangan ......................................... Tujuan laporan keuangan .............................................. A.................................................... B............................ 5............... 2............. D................................................. Saling hapus (Offse ng) ............................. 10........ 11........................... Komponen Laporan Keuangan .................................................................................. Acuan Penyusunan .............................................. Laporan keuangan interim ........................................................................................................................................................... Komponen laporan keuangan ................................................................................... Laporan Keuangan.......... Ruang Lingkup ......... 7........................................................................................ Laporan keuangan konsolidasi ......................... ix iv v vii viii 1 1 1 1 3 3 3 4 5 5 5 5 5 5 5 6 6 8 8 8 9 9 9 9 10 12 12 Bab II ................................................................ 12... D............................................ Informasi komparatif .............................. Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ........................................................................................ 3............................................... C................................................................................. 4.... Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia .......................... Kerangka Dasar ...................................... Bab I Pendahuluan ............ 9. C.... Ketentuan Lain-lain .............. Tujuan dan Ruang Lingkup ............................................... Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia ..................................................................... 1.............................................. Bangun Prinsip Akuntansi Umum ....... Tanggung jawab atas laporan keuangan ...........................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Daftar Isi Sambutan Gubernur Bank Indonesia .................................................................. Konsistensi penyajian.. Periode pelaporan ................................................................................................. B................................... Latar Belakang...... 2................................................ A.. Materialitas dan agregasi..................................................... Mata uang pelaporan .................................... E.............. 14........................................ Kebijakan akuntansi ..................................................................... 13.............................................. Penyajian ....................................................... Keterbatasan Laporan Keuangan ............................................................................... 1....... 6................................................................................... Tujuan ............. 8.................................................................................................... Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing .............................................................

.................. Ilustrasi Jurnal .................................................................................................................................................................... Contoh Kasus ................ A................................................. 1................................................................................................................................................ Aset Keuangan ....................... Penjelasan........................................................... G................ A................... Dasar Pengaturan ........................... Dasar Pengaturan ......................... 3............................................... Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali ........................................................................... Pengungkapan ...................... Aset dan Kewajiban Keuangan .... A... B.. A........... Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali ............................................................ B..... 15 15 15 26 27 27 29 31 31 31 31 41 45 48 58 61 62 72 72 72 73 74 74 78 78 78 81 83 85 86 88 90 90 90 x ......................................... H......................................... A.............. E............................... Bab IV Surat Berharga .................................................. F....... E............................................................................ F....................................... Definisi ..................... A................................................. Perlakuan Akuntansi ................................................ Penjelasan............................... 4............................................... C.........................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab III Penjelasan Umum . Definisi ............................................................................................ Ketentuan Transisi ........ Surat Berharga ........................................................ B........ Laporan Keuangan Komparasi ......................................................... Perlakuan Akuntansi ............................... Pengungkapan .................. Penerapan Secara Prospektif .................... D......................................... Dasar Pengaturan ..................................... 1...... Definisi ....................... B.................................................................................................................. Kewajiban Keuangan ....................... Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali .............................................................. Ketentuan Lain-lain ................................................ C.................... Dasar Pengaturan .................................... Ilustrasi jurnal ........................................................................................................ 2............................................................... C....................... E........................................................................................................................................... B............... Perlakuan Akuntansi ....................................................... B...................... Definisi ............................................................................... G..................................................................................................... D............................................................................................................................................................................. 2.................. D.................... Contoh kasus ..................................... Penjelasan........... Ilustrasi Jurnal ..

................................................................................................................................................ Penjelasan ............................................... Pengungkapan ............................ Penjelasan ..................... C..... G................................. A................................................................. 1.................................................................................................. C.......................... Perlakuan Akuntansi ........................................... D... Pengungkapan ................ Perlakuan Akuntansi ............... G.......... B............. Contoh kasus........ Dasar Pengaturan ............................................................................. F................................... Contoh Kasus .................. Definisi .. 92 94 95 96 96 98 98 98 105 107 108 112 112 117 117 117 118 124 132 138 149 152 178 178 178 182 201 203 205 206 206 xi .......................................... Pengungkapan ........................... D............................. G.................................................................................................................................................................................................................................................................... Pengungkapan ................... Dasar Pengaturan ............. Dasar Pengaturan ...... Ilustrasi Jurnal ....................................... A............................. Bab V Kredit ......................................................................................................................................................................................................... F........................................................................................................................ C........................................................... Ilustrasi Jurnal ...................................... A Definisi ............................................................................................................................................ Contoh Kasus ........................... Definisi ... Ilustrasi Jurnal ......................... D............ 2...........................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia C.............. D.................................... F................. 5................................... Contoh Kasus ............... B....................................... Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit ........................ G......................................................................................................................................................................................................................... Perlakuan Akuntansi ..... Perlakuan Akuntansi ..................................................................................... E................................. B........... H................................................. F......................................................... Penjelasan....... Pemberian dan Penyaluran .......................................................... Ketentuan Lain-lain ............................................................................................................................. E Ilustrasi Jurnal .......... E................................................................................................................ E.................... Penjelasan.................................... Surat Berharga yang Diterbitkan .

............................................. D............. B............................. Perlakuan Akuntansi .............................................................. Pengungkapan ............................................... A............. E... Bab VII Transaksi Ekspor ................................................. F................................................................................................. B......................................................... C. C........................................................ Pengungkapan .............................................................................................................................. Ilustrasi Jurnal ............................................... Penjelasan .................................. G.............................................. Perlakuan Akuntansi ............................................................................................ Ilustrasi Jurnal .................................................. Ketentuan Lain-lain .............................. Dasar Pengaturan................................. G....Impor ........................................... Penjelasan ........................................... H............................................................................................................................................................................................................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab VI Transaksi Derivatif ................................................... Dasar Pengaturan................................. D.................. E............................................... A..................... Definisi ......................... Contoh kasus........................................................................................................................ Definisi .............................................. F........................ Contoh Kasus ................. 217 217 218 227 260 270 279 281 289 289 291 297 301 308 323 323 324 xii ...........

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiii .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiv .

Tujuan Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) antara lain adalah: a. Oleh karena itu. dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. b) kreditur. c) pemegang saham. relevan. yaitu untuk: 1) Pengambilan keputusan investasi dan kredit Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. B. Latar Belakang Laporan keuangan bank bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. Untuk membantu pengguna dalam menyusun laporan keuangan agar sesuai dengan tujuannya. d) otoritas pengawasan. andal dan dapat diperbandingkan. perlu disadari pula bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bank. Tujuan dan Ruang Lingkup 1. Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami.Bab I I P e n d a h u l u a n Bab I Pendahuluan A. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I1 . Selain itu laporan keuangan bank juga bertujuan untuk pengambilan keputusan. dalam beberapa hal bank perlu menyediakan informasi nonkeuangan yang mempunyai pengaruh keuangan di masa depan. Akan tetapi. e) Bank Indonesia. kinerja serta perubahan posisi keuangan. karena secara umum laporan keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. Walaupun demikian. informasinya harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan antara lain meliputi: a) deposan.

dan kreditur akan memaksimalkan pengembalian dana yang telah mereka tanamkan dan akan melakukan penyesuaian terhadap risiko yang mereka perkirakan akan terjadi pada bank yang bersangkutan. sehingga meningkatkan daya banding diantara laporan keuangan bank. serta kemungkinan terjadinya transaksi dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan sumber daya tersebut. b. Prospek penerimaan kas sangat tergantung pada kemampuan bank untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. 2 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . 2) Menilai prospek arus kas Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung deposan. Persepsi mereka umumnya dipengaruhi oleh harapan atas tingkat pengembalian dan risiko dari dana yang mereka tanamkan. dan kepastian dalam penerimaan kas di masa depan. 3) Memberikan informasi atas sumber daya ekonomi Pelaporan keuangan bertujuan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi bank (economic resources). Namun keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam PAPI tidak menghalangi masing-masing bank untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan sesuai kondisi masing-masing bank. dan h) masyarakat. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh perbankan dalam menyusun laporan keuangan. kreditur dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah. Persepsi dari pihak-pihak yang berkepentingan atas kemampuan bank tersebut akan mempengaruhi harga pasar efek bank yang bersangkutan. dan pembayaran dividen.Bab I I P e n d a h u l u a n f) pemerintah. saat. reinvestasi dalam operasi. c. kebutuhan operasional. investor. investor. kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham. Deposan. g) lembaga penjamin simpanan. Menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan.

C. Acuan Penyusunan Penyusunan PAPI didasarkan pada acuan yang relevan. 3. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan laporan keuangan. Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ISAK). kecuali untuk hal-hal yang tidak diatur dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia tersebut. maka unit usaha syariah tersebut menggunakan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia. Rerangka prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia adalah sebagai berikut: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I3 . Perlakuan akuntansi atas suatu transaksi yang terjadi dalam bank harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jika PSAK memberikan pilihan atas perlakuan akuntansi. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). 4.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. 5. kesepakatan antar negara dan standar akuntansi negara lain. Bangun Prinsip Akuntansi Umum 1. D. yaitu: 1. Dalam hal bank umum konvensional mempunyai unit usaha syariah. Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum. Ruang Lingkup PAPI berlaku untuk bank umum konvensional. International Accounting Standard (IAS)/International Financial Reporting Standards (IFRS). 2. maka diwajibkan untuk mengikuti ketentuan Bank Indonesia.

Rerangka ini digambarkan seperti suatu bangunan rumah ‘Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia’. Dengan demikian bank dapat mengembangkan metode pencatatan dan pembukuan sesuai sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil akhir yang tidak berbeda. Transaksi bank yang dicantumkan pada PAPI diprioritaskan pada transaksi yang umum terjadi pada setiap bank. dan ketentuan lainnya yang terkait dengan sektor perbankan.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. Setiap lapisan di bawahnya menjadi landasan bagi lapisan yang berada di atasnya. Ketentuan Lain-lain 1. 3. ketentuan PSAK. ketentuan Bank Indonesia. PAPI secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan. Dalam hal terjadi pertentangan antara prinsip akuntansi dari berbagai sumber tersebut. IAS/IFRS. 4 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . maka harus mengikuti perlakukan akuntansi yang diatur di dalam kelompok yang posisinya menjadi landasan atau pada lapisan yang terletak lebih di bawah. Jurnal dan pos yang digunakan dalam PAPI hanya merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat. PAPI merupakan bagian dari Pedoman atau Kodifikasi Praktik Akuntansi Industri dalam struktur Rerangka Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia. 2. E. 3. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam PAPI menggambarkan akuntansi secara manual dan tidak ada transaksi antar kantor/cabang.

laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu yang sama dengan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia. arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. maka laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan periode). dan catatan atas laporan keuangan. laporan perubahan ekuitas. Bahasa laporan keuangan Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Apabila transaksi bank menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Tanggung jawab atas laporan keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Komponen laporan keuangan Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca. Mata uang pelaporan Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I5 . laporan laba rugi. 3. laporan arus kas. Tujuan laporan keuangan Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan. 4. kinerja. perubahan ekuitas. Jika laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia. Kerangka Dasar 1. 5. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Selanjutnya. 2.Bab II I L a p o r a n Keuangan Bab II Laporan Keuangan A.

Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan. sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. 2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya. kewajiban. kinerja keuangan. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas. disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan b. kriteria pengakuan dan pengukuran aset. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan: a. dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. perubahan ekuitas. Kebijakan akuntansi Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. dengan pengertian: 1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan. Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. 7. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank. penghasilan dan beban yang ditetapkan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). b. definisi. b. dan pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b. penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa. 6 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . pengukuran. c. yaitu bebas dari keberpihakan. persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait. c. dan 5) mencakup semua hal yang material. 4) mencerminkan kehati-hatian. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan. dan dapat diandalkan. relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan. Penyajian a. maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: a. 3) netral.Bab II I L a p o r a n Keuangan 6.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia e.Bab II I L a p o r a n Keuangan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. f. Selain itu. termasuk komitmen dan kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. g. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. 2) Perubahan kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila: a) penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku. Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca. d. Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Perubahan estimasi akuntansi Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya. juga wajib diungkapkan pengaruh material dari perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periodeperiode berikutnya. atau b) diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank dan kegiatan lainnya. laporan laba rugi dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan. I7 . Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase.

9. 8. laporan laba rugi. Materialitas dan agregasi a. penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. Informasi dianggap material apabila kelalaian untuk mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil. sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Di samping hal-hal di atas. sifat. b. maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk memastikan daya banding. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya. dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah. dan jumlah. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas. 8 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab II I L a p o r a n Keuangan 3) Terdapat kesalahan mendasar Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Pada setiap lembar neraca. i. Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban. Selain itu alasan reklasifikasi juga harus diungkapkan. h. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar-periode harus konsisten. b. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuangan. atau 2) perubahan tersebut diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). kecuali: 1) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perbankan. laporan arus kas. c. Saling hapus (Offsetting) a. Konsistensi penyajian a. 10.

Dalam hal bank baru berdiri. Informasi komparatif a. serta dengan aset dan kewajiban yang disalinghapuskan sebagaimana dimaksud di atas. b.Bab II I L a p o r a n Keuangan b. kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung nilai. Laporan keuangan konsolidasi Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi. laporan laba rugi. 12. 14. b. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan. 13. laporan arus kas. dengan mencantumkan: a. bank dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif. triwulanan atau periode lain yang kurang dari satu tahun. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan. dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca. Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam neraca. Selain itu untuk kepentingan pihak lainnya. laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. Periode pelaporan Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. Laporan keuangan interim a. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan. Penyusunan laporan interim dapat dilakukan secara bulanan. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. laporan laba rugi. b. laporan keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I9 . laporan perubahan ekuitas. Sedangkan untuk laporan laba rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan. laporan arus kas. dan catatan atas laporan keuangan. laporan perubahan ekuitas. 11.

e. Oleh karena itu. d. peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. Laporan laba rugi. c. yang timbul dari transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi. kewajiban. seperti dicerminkan dalam laporan-laporan berikut ini: 10 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Neraca. perubahan posisi keuangan. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi. c. Laporan perubahan ekuitas.Bab II I L a p o r a n Keuangan sejenis dari aset. b. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi. Komponen Laporan Keuangan 1. B. b. tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank. 2. pendapatan. dan Catatan atas laporan keuangan. d. e. kinerja. dan catatan atas laporan keuangan. dan beban. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi. dan 2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. Perbankan wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan kepada bank sentral dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan. Laporan keuangan bank untuk tujuan umum terdiri dari: a. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi. Untuk tujuan konsolidasi. Laporan arus kas. maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut: a. ekuitas. Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan sepanjang: 1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. dibutuhkan adanya laporan keuangan bank yang menyediakan informasi-informasi tersebut untuk pengambilan keputusan.

Informasi ini berguna untuk memprediksi kemampuan bank di masa depan dalam menghasilkan kas dan setara kas. antara lain: 1) Perubahan kas dan setara kas Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai kemampuan bank menghasilkan arus kas dan setara kas serta kebutuhan bank untuk menggunakan arus kas pada setiap aktivitas. Selain itu. struktur keuangan. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus kas. Laporan Posisi Keuangan Posisi keuangan bank dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan. Laporan Perubahan Posisi Keuangan Informasi perubahan posisi keuangan bank. likuiditas. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan aset bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan atau kerugian yang berasal dari kegiatan bank selama periode yang bersangkutan. memprediksi kemampuan bank dalam memenuhi komitmen keuangan pada saat jatuh tempo. baik jangka pendek maupun jangka panjang. Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas bank dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. kebutuhan investasi. b. Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas.Bab II I L a p o r a n Keuangan a. dan solvabilitas. investasi. Laporan Kinerja Informasi kinerja bank diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. dan pendanaan. Informasi ini bermanfaat untuk menilai aliran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 11 . pendistribusian hasil pengembangan dan arus kas. Informasi posisi keuangan bank tergambar dalam neraca. serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. c. Informasi kinerja bank tergambar dalam laporan laba rugi. informasi ini berguna dalam perumusan tentang efektivitas bank dalam memanfaatkan sumber daya. 2) Perubahan ekuitas Informasi perubahan ekuitas bank menggambarkan peningkatan atau penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan.

3. 2. Hal ini disebabkan laporan keuangan memiliki keterbatasan. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. single currency (satu jenis mata uang). Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar-bank. Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing terdapat dua metode yang dapat digunakan yaitu: a. 3. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing 1. 6. Bersifat umum. Apabila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos. yaitu kurs tengah yang merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul 16. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran. 4. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan saja. D. b. multi currency (lebih dari satu jenis mata uang). Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas).Bab II I L a p o r a n Keuangan C. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang digunakan yaitu mata uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR). 5. maka dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang paling kecil. 12 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 7. baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. Pengertian dan karakteristik: a. Keterbatasan Laporan Keuangan Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. antara lain: 1.00 WIB setiap hari. Hanya melaporkan informasi yang material.

Penjabaran ekuivalen rupiah dari rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan neraca. Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan sebagai berikut: a. 2) untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata uang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 13 . 2) saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara extracomptable. 4. Jika menggunakan multi currency 1) Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam mata uang asal. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal (original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut. Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut: 1) neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing asal (original currency) yang digunakan. 3) penjurnalan menggunakan pos rekening perantara. saldo rekening biaya dan pendapatan mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya dan pendapatan rupiah. 3) penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata uang asing. diterbitkan neraca dalam base currency. dan 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan melalui rekening perantara mata uang asing. b. b. 2) Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak menimbulkan selisih kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari.Bab II I L a p o r a n Keuangan Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut: 1) neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah. Jika menggunakan single currency Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam Rupiah. 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan langsung per rekening yang bersangkutan.

Bab II I L a p o r a n Keuangan Halaman ini sengaja dikosongkan 14 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 15 . dan instrumen keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan umumnya digunakan untuk tujuan memperoleh laba atau fluktuasi harga jangka pendek atau marjin. atau c) Merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Keputusan bank untuk menetapkan aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi serupa dengan pilihan kebijakan akuntansi. FVO hanya dapat digunakan: a) Untuk pengukuran instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran (combined/hybrid instrument) yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat yang ditetapkan oleh bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Bab III Penjelasan Umum 1. Istilah diperdagangkan umumnya mencerminkan aktivitas pembelian dan penjualan yang bersifat aktif dan berulang. Kategori Aset Keuangan a. Aset dan Kewajiban Keuangan A. 2) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option/FVO). Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Aset keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut: 1) Diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. b) Merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). Aset Keuangan 1. yaitu: a) Diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat (lazimnya 90 hari).

Pendekatan mixed measurement dalam PSAK 55 yang memungkinkan kategori aset dan kewajiban keuangan diukur berdasarkan biaya (cost).Bab III I P e n j e l a s a n Umum Sejalan dengan PSAK 55. bank dapat menetapkan aset keuangan dan kewajiban keuangan yang terkait. Aset dan kewajiban keuangan yang saling terkait pada saat pengakuan awal dapat diakui dalam kategori yang berbeda sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya mismatch pada saat pengukuran selanjutnya karena terjadinya perubahan nilai aset dan kewajiban sehingga berdampak pada pengakuan keuntungan atau kerugian. kelompok aset dan kewajiban yang terkait. yaitu dalam sub kategori Diperdagangkan kecuali derivatif tersebut merupakan instrumen lindung nilai yang mengikuti penerapan akuntansi lindung nilai. PSAK 55 juga mensyaratkan derivatif melekat untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi sebagaimana halnya derivatif yang berdiri sendiri (freestanding deriva ves). b) Jika dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan karena: (1) Mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasardasar yang berbeda. atau nilai wajar (fair value) dapat menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch). Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran nilai wajar tidak dihindari dengan melekatkan instrumen derivatif pada kontrak atau instrumen keuangan lainnya yang tidak diukur pada nilai wajar. biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Transaksi aset dan kewajiban keuangan tidak perlu dilakukan pada saat yang bersamaan untuk memastikan keterkaitan antara 16 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Untuk dapat mengeliminasi atau mengurangi mismatch tersebut secara signifikan. atau bagian dari kelompok aset dan kewajiban keuangan yang terkait untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. instrumen derivatif harus diakui dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi.

Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi tersebut selanjutnya diinvestasikan dalam aset keuangan yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual dan diukur pada nilai wajar. Transaksi dapat dilakukan dalam suatu rentang waktu yang wajar berdasarkan spesifikasi dari instrumen keuangan tersebut. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. Sebagai contoh: Bank menerbitkan obligasi bersuku bunga tetap dan mengkategorikan sebagai Kewajiban Lainnya yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 17 .Bab III I P e n j e l a s a n Umum keduanya. yaitu menggunakan FVO. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari bank. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (a) Penetapan nilai wajar (FVO) harus dilakukan terhadap seluruh instrumen keuangan yang dikelola dan dievaluasi secara bersama-sama. Dokumentasi dilakukan secara basis portofolio. (2) Kelompok aset keuangan. Bank dapat menyimpulkan bahwa laporan keuangan akan memberikan informasi yang relevan jika aset dan kewajiban masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan tidak perlu dilakukan terhadap setiap item instrumen keuangan. (b) Dokumentasi harus mencukupi sehingga dapat menunjukkan bahwa penggunaan FVO konsisten dengan manajemen risiko atau strategi investasi bank. serta terdapat hubungan ekonomis antara aset dan kewajiban keuangan. Penetapan tidak dapat dilakukan hanya terhadap beberapa instrumen keuangan dalam suatu kelompok yang dikelola bersama sebagai suatu portofolio. Hal ini menimbulkan ketidakkonsistenan atau perbedaan pengukuran terhadap aset dan kewajiban yang saling terkait tersebut. misalnya Direksi. dan penetapan untuk menggunakan FVO dilakukan pada saat pengakuan awal aset dan kewajiban keuangan.

2) Penilaian terhadap intensi positif dan kemampuan bank harus dilakukan pada saat pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya setiap tanggal neraca (termasuk neraca interim). b. 2) Termasuk aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual antara lain mencakup investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. kecuali: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Tersedia untuk Dijual 1) Aset keuangan non derivatif yang ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (c) Evaluasi manajemen dan kinerja kelompok aset dan kewajiban keuangan harus didasarkan atas total laba (return) yang terkait dengan laba atas aset dan/atau kewajiban keuangan sebagai suatu portofolio atau kelompok dan bukan atas setiap item instrumen keuangan. 3) Bank memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang telah ditetapkan. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. c. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan 18 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. serta bank mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.

serta Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang pada saat pengakuan awal Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 19 . dan b) Aset keuangan yang dapat dijual kembali. kecuali: a) Aset keuangan yang dimaksudkan oleh bank untuk dijual dalam waktu dekat. atau b) tidak terdapat peraturan hukum atau batasan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. b) aset keuangan yang dapat dibeli kembali oleh penerbitnya atas dasar opsi beli dan bank dapat memperoleh kembali nilai tercatat aset keuangan secara substansial. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. yaitu hak untuk meminta penerbit melunasi atau membeli kembali aset keuangan sebelum jatuh tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) tidak bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu kecuali dalam situasi yang tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi sebelumnya. 5) Termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) aset keuangan dengan suku bunga variabel. yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. sepanjang pembayaran kontraktual sudah ditetapkan atau dapat ditentukan. sepanjang bank sebagai pemegang aset keuangan memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki hingga dibeli kembali oleh penerbitnya atau hingga jatuh tempo. 6) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo. 4) Bank memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. dan c) aset keuangan yang mengalami kemacetan pembayaran. dimana bank memiliki opsi jual. d.

tidak dikuotasikan di pasar aktif. 2) Aset keuangan yang dapat memenuhi definisi aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Kredit yang diberikan. atau c) Aset keuangan dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial selain yang disebabkan oleh penurunan kualitas aset keuangan. c) Penempatan pada Bank Indonesia. dan tidak memenuhi definisi instrumen ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum oleh bank ditetapkan sebagai aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. baik yang berasal dari pembelian maupun penerbitan oleh bank sendiri. 4) Perbedaan utama antara kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang dengan kategori aset keuangan lainnya adalah bahwa kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang bukan merupakan subyek dari tainting rule yang berlaku bagi kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Misalnya. 3) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Aset keuangan dimana bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh investasi awalnya selain karena penurunan kualitas kreditnya. dan diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. b) Investasi dalam reksadana atau yang serupa. d) Penempatan pada bank lain. b) Piutang usaha. 20 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan c) Investasi dalam instrumen utang yang dicatatkan di pasar aktif. b) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dan e) Penempatan dalam bentuk saham preferen di bank lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan.

bank dapat mereklasifikasi aset keuangan (yang ditujukan untuk dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat) dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1) Bank tidak dapat: a) mereklasifikasi instrumen derivatif dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya selama instrumen derivatif tersebut dimiliki. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Diperdagangkan. mana yang dapat diterapkan. d) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. c) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. b) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya jika pada saat pengakuan awal instrumen keuangan tersebut telah ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (FVO). c) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori lainnya ke dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi setelah pengakuan awal. Reklasifikasi Aset Keuangan a. Setiap keuntungan atau kerugian yang telah diakui dalam laporan laba rugi tidak boleh dijurnal balik.Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. 2) Dalam kondisi yang jarang terjadi (rare circumstances). dapat direklasifikasi ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 21 . yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. b) Kondisi yang jarang terjadi dapat timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek.

c) Bank telah memperoleh kembali secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadual pembayaran atau bank telah memperoleh pelunasan dipercepat.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b. yang dapat tercermin dari: (a) penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat yang tidak dapat diantisipasi secara logis. (2) Perubahan peraturan perpajakan yang mengeliminasi atau secara signifikan mengurangi status pengampunan pajak (tax forgiveness) atas pendapatan bunga yang diperoleh dari aset keuangan. Penjualan atau Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Bank dapat menjual sebelum jatuh tempo atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual tanpa menimbulkan pertanyaan mengenai intensi dan kemampuan bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo hanya jika: a) Jumlah aset keuangan yang dijual atau direklasifikasi tidak lebih dari jumlah yang tidak signifikan (not more than insignificant) dibandingkan dengan total seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. misalnya penurunan peringkat 2 tingkat atau lebih dibandingkan peringkat awal. b) Aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (misalnya kurang dari 3 bulan sebelum jatuh tempo) dimana diperkirakan dalam jangka waktu tersebut tidak terjadi perubahan suku bunga yang akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan. atau (b) penurunan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal bank. dan obyektif. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh bank. 22 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau d) Penjualan atau reklasifikasi tersebut terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali bank. yang dapat mencakup hal-hal berikut: (1) Penurunan kredibilitas penerbit atau debitur secara signifikan. dapat diandalkan. tidak berulang. sepanjang pendekatan digunakan secara konsisten.

4) Dalam hal bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi pada angka 1) tersebut di atas. 2) Dalam hal terjadi perubahan intensi atau kemampuan bank sehingga aset keuangan tidak tepat lagi diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 3) Termasuk sebagai penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena perubahan intensi adalah penjualan atau reklasifikasi yang disebabkan perubahan manajemen. yaitu peningkatan signifikan tingkat kecukupan modal dan/atau peningkatan signifikan bobot risiko aset keuangan sehingga memaksa bank harus melakukan perampingan dengan menjual aset keuangan. (4) Perubahan ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang secara signifikan mengubah aturan mengenai jenis investasi dalam aset keuangan yang diperbolehkan atau jumlah maksimum investasi jenis tertentu sehingga bank harus menjual aset keuangan. dimana manajemen baru memutuskan untuk menjual sebagian aset keuangan tersebut untuk mendanai strategi ekspansi yang telah ditetapkan dan disetujui Direksi. maka bank: a) tidak dapat mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo selama periode tahun berjalan terjadinya penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dan 2 tahun buku berikutnya.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (3) Penggabungan usaha menyeluruh atau pelepasan unit atau segmen usaha yang penting yang mengharuskan bank menjual atau mengalihkan aset keuangan untuk mempertahankan tingkat risiko suku bunga dan/atau tetap mematuhi kebijakan risiko kredit. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 23 . Penjualan atau reklasifikasi tersebut akan menimbulkan pertanyaan mengenai intensi bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dan (5) Perubahan ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM). maka aset keuangan tersebut harus direklasifikasikan menjadi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual.

sehingga ukuran yang andal atas nilai wajar tidak lagi tersedia. 2) Apabila bank mereklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena terjadi perubahan intensi atau kemampuan. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Bank dapat mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo jika: a) terdapat perubahan intensi atau kemampuan bank. b) dilakukan dalam kondisi yang jarang terjadi yang timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) wajib mereklasifkasi sisa portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke dalam kategori Tersedia untuk Dijual (tainting rule). c. dalam hal bank wajib dikenakan ketentuan dalam angka 4) di atas. Artinya. maka bank tidak dapat mengklasifikasikan setiap aset keuangan yang dimilikinya dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi. atau c) pengenaan sanksi untuk tidak boleh mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo telah terlewati. maka harus dipastikan bahwa: a) Bank memang memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. maka hal yang sama juga diberlakukan terhadap seluruh perusahaan anak (termasuk yang berada di negara lain) yang memenuhi kriteria untuk dikonsolidasi sehingga akan tercermin dalam laporan konsolidasi bank. 6) Jika bank telah menjual atau mereklasifikaskan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi lainnya sebagaimana pada angka 1) diatas. 5) Penetapan batasan jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) didasarkan pada persentase tertentu dari total seluruh aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Bank tidak memiliki intensi positif jika: 24 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

4) Reklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Tersedia untuk Dijual. b) Bank memang memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. maka keuntungan atau kerugian yang terjadi diamortisasi pada laporan laba rugi selama sisa umur investasi dimiliki hingga jatuh tempo dengan menggunakan metode suku bunga efektif. atau perubahan risiko mata uang asing. jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. atau (3) penerbit aset keuangan memiliki hak untuk melakukan pembayaran kembali atau pelunasan pada suatu jumlah yang secara signifikan lebih rendah dari biaya perolehan diamortisasi. kebutuhan likuiditas. perubahan sumber dan syarat pembiayaan. b) Setiap keuntungan dan kerugian atas aset tersebut yang telah diakui secara langsung dalam ekuitas (pendapatan komprehensif lainnya) harus dicatat dengan cara sebagai berikut: (1) dalam hal aset keuangan memiliki jatuh tempo yang tetap. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 3) Dalam kondisi yang jarang terjadi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (1) bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang di masa datang yang belum ditetapkan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 25 . Bank tidak memiliki kemampuan jika: (1) tidak memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. atau (2) bank adalah subyek dari peraturan hukum yang berlaku atau batasan lainnya yang dapat mengganggu intensinya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. perubahan ketersediaan dan tingkat imbal hasil atas investasi aset keuangan lain. (2) bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu sebagai reaksi terhadap perubahan suku bunga atau risiko pasar. ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang.

tergantung pada perubahan nilai wajarnya). B. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. 2) Kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller. dan 4) Kewajiban keuangan yang merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama-sama dan atas bagian tersebut ditemukan bukti adanya pola ambil untung jangka pendek terkini. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Kewajiban Keuangan Kewajiban keuangan dapat dikategorikan sebagai: 1. c) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. 3) Kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. 2. Kewajiban lainnya Kewajiban keuangan selain yang memenuhi kriteria kewajiban keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (2) dalam hal aset keuangan tidak memiliki jatuh tempo yang tetap. Kewajiban keuangan yang masuk kategori Diperdagangkan antara lain mencakup: 1) Kewajiban derivatif yang tidak dilaporkan sebagai instrumen lindung nilai. b. 26 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu bank yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut. Kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi yang sama dengan kondisi penetapan aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. maka keuntungan atau kerugian tetap diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dijual atau dilepaskan dan pada saat itu keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi. mana yang dapat diterapkan.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Penerapan Secara Prospektif PAPI diterapkan secara prospektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada 1 Januari 2010. . Penerapan secara prospektif dilakukan untuk transaksi yang dilakukan mulai 1 Januari 2010. .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. . . Sedangkan untuk transaksi yang terjadi sebelum 1 Januari 2010 dan masih memiliki saldo pada 1 Januari 2010.Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Tersedia untuk Dijual Nilai tercatat 1 Januari 2010 Pinjaman ditambah/dikurangi yang biaya transaksi dan Diberikan dan premi/diskonto yang Piutang belum diamortisasi (nilai tercatat awal) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Nilai wajar Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). . maka perlakuan akuntansi sebagai berikut: 1. Ketentuan Transisi A. Instrumen keuangan surat berharga Bank dapat mereklasifikasi surat berharga yang dimiliki pada 1 Januari 2010 tanpa terkena dampak reklasifikasi (tainting rule dan larangan mengklasifikasikan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam tahun berjalan dan dua tahun berikutnya).Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. Instrumen keuangan selain surat berharga Kategori Pengukuran Awal Pengukuran Selanjutnya Nilai wajar Keterangan Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 27 . Diukur pada Nilai Wajar Nilai tercatat 1 melalui Januari 2010 Laporan Laba Rugi Biaya perolehan yang diamortisasi dengan suku bunga efektif 2.

. Sda - - Tersedia untuk Dijual Diperdagangkan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Saldo selisih penilaian dikeDiukur pada Nilai luarkan dari ekuitas dan diakui Wajar melalui Lalangsung pada laporan laba poran Laba Rugi rugi untuk Tersedia Tersedia Dijual untuk Dijual Dimiliki Hingga Saldo selisih penilaian di ekuiJatuh Tempo tas diamortisasi dan diakui Pinjaman yang pada laporan laba rugi sampai Diberikan dan dengan jatuh tempo Piutang Sda Sda Sda 28 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab III I P e n j e l a s a n Umum Dampak reklasifikasi pada 1 Januari 2010 diakui dalam laporan laba rugi atau ekuitas tahun 2010 dan pengukuran awal adalah sebagai berikut: Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. . .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.

Namun. bank tidak harus menyesuaikan penyajian atau klasifikasi pospos dalam laporan keuangan posisi Desember 2009 untuk memastikan daya banding jika penyesuaian tersebut tidak praktis dilakukan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 29 . Laporan Keuangan Komparasi Dalam menyajikan laporan keuangan komparasi yaitu untuk posisi Desember 2009 dan Desember 2010. bank harus mengungkapkan perbedaan yang disebabkan oleh perubahan standar akuntansi maupun kebijakan akuntansi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui secara langsung pada laporan laba rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Tersedia untuk dijual - Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui pada ekuitas - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Sda Sda B.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 30 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

atau kepentingan lain. dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. (PSAK 55: Paragraf 14) Pembelian atau penjualan aset keuangan yang lazim (reguler) diakui dan dihentikan pengakuannya menggunakan salah satu di antara akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA68–PA71). atau setiap derivatifnya. obligasi. Surat berharga adalah surat pengakuan utang. B. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. 2. atau suatu kewajiban dari penerbit. wesel. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Efek beragun aset adalah surat berharga yang diterbitkan oleh penerbit berdasarkan aset keuangan yang dialihkan oleh kreditur asal. Surat Berharga A. Dasar Pengaturan 1. jika dan hanya jika. Obligasi konversi (convertible bond) adalah obligasi yang mengandung fitur opsi konversi (convertible option) yang memberikan hak kepada pembeli obligasi untuk mengkonversi obligasi ke dalam sejumlah saham tertentu pada tanggal yang telah ditetapkan dan harga konversi yang telah disepakati. 4. 5.Bab IV I S u r a t Berharga Bab IV Surat Berharga 1. (PSAK 55: Paragraf 38) 2. 3. Definisi 1. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 31 . Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). sekuritas kredit.

. aset yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari aset yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 7. Metode yang digunakan diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan aset keuangan yang masuk dalam kategori aset keuangan yang sama sebagaimana didefinisikan dalam paragraf 8. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: PA68) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Untuk tujuan ini... (PSAK 55: Paragraf 8) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. perantara efek dan pedagang efek. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. biaya pendanaan (financing costs). serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan.Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). (PSAK 55: Paragraf 49) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. 32 I P e d o m a n . (PSAK 55: PA 79) . 5. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok...Bab IV I S u r a t Berharga 3. 6. entitas mengukur pada nilai wajarnya. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) aset keuangan diakui menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian sebagaimana dijabarkan dalam paragraf PA70 dan PA71.. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. konsultan. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). (PSAK 55: PA26) Akuntansi Perbankan Indonesia 4. 8. lihat juga paragraf 91). Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif.

kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. (PSAK 55: Paragraf 8) 10. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7 tentang Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa).Bab IV I S u r a t Berharga 9. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. b. misalnya Direksi. atau (ii) kelompok aset keuangan. Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. kecuali: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 33 . atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA29– PA38).

2: C. (Panduan Implementasi No. c. (Panduan Implementasi No.2: B.. investasi yang ditetapkan oleh entitas dalam kelompok Tersedia untuk Dijual. b.. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut... Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo umumnya tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok investasi dimiliki hingga jatuh tempo karena tidak konsisten dengan tujuan pembelian fitur konversi tersebut. yaitu memperoleh hak untuk mengkonversi menjadi ekuitas merupakan derivatif melekat. . Namun demikian. (PSAK 55: Paragraf 8) 11.18) 12. dan investasi yang memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. investasi yang sebelum pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (ii) terjadi setelah entitas berhasil menagih hampir seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pembayaran awal. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut: (i) dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya.3) 34 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo). Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo.Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. atau (iii) terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali entitas.Bab IV I S u r a t Berharga a. tidak berulang. kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo) dimana perubahan suku bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut.

(b) investasi yang diklasifi kasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Namun. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. investasi dalam instrumen utang. (PSAK 55: PA39).. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang.. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut (lihat paragraf 8 dan PA29–PA38). 15.. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 35 . Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 8) 14. Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. piutang dagang. maka biaya-biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai..Bab IV I S u r a t Berharga 13. (PSAK 55: Paragraf 8) 16. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan.

maka entitas dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi risiko yang saling hapus tersebut dan menerapkan harga penawaran atau harga permintaan terhadap posisi terbuka neto. Kuotasi harga pasar yang sesuai bagi aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan biasanya sama dengan harga penawaran yang berlaku. atau pelepasan lain. (PSAK 55: Paragraf 46) 21. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur 36 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55: PA86) 19. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. . perantara efek (broker).. entitas mengukur aset keuangan.. maka harga yang digunakan dalam transaksi terkini memberi bukti mengenai nilai wajar saat ini. Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif. Apabila harga penawaran dan harga permintaan tidak tersedia. pada nilai wajarnya. badan pengawas (pricing service or regulatory agency).2: E. maka biaya transaksi diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. maka biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar.1. sementara untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki adalah harga permintaanya. sepanjang kondisi ekonomi tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak transaksi tersebut terjadi. biaya transaksi diakui dalam ekuitas sebagai bagian dari perubahan nilai wajar pada penilaian kembali. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan.. kelompok industri. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. Setelah pengakuan awal. (Panduan Implementasi No. Untuk aset keuangan tersedia untuk dijual. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. jika harga yang dikuotasikan tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin dari bursa. Jika entitas memiliki aset yang dan kewajiban dimana risiko pasarnya saling hapus. mana yang lebih sesuai. pedagang efek (dealer).1) 18.Bab IV I S u r a t Berharga 17. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas.. (PSAK 55: PA87) 20.

(PSAK 55: Paragraf 52) 23. (PSAK 55: Paragraf 57) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 37 . Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8.Bab IV I S u r a t Berharga dari instrumen keuangan. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule).. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut... Pada saat menghitung suku bunga efektif.. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. (PSAK 55: PA20) 25. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. dan melalui proses amortisasi. (PSAK 55: Paragraf 53) 24.. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan.. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). atau jika lebih tepat. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. (PSAK 55: Paragraf 8) 22.. biaya transaksi. Jika.

hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. jika dan hanya jika. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. e. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan d. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. b. Jika terdapat bukti tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga 26. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. f. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. c. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikaskan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. 38 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pelanggaran kontrak. pihak pemberi pinjaman. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. (PSAK 55: Paragraf 59) 27.

Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga sejak pengakuan awal aset dimaksud. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). (PSAK 55: Paragraf 60) 28. (PSAK 55: Paragraf 65) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 39 . Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). (PSAK 55: Paragraf 64) 29. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan.

nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit penerbit). pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 68) 32. jika dan hanya jika: a. Jika. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau 40 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee).Bab IV I S u r a t Berharga 30. Jika. baik secara langsung. Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. (PSAK 55: Paragraf 17) 35. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. (PSAK 55: Paragraf 8) 34. (PSAK 55: Paragraf 71) 33. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. b. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 66) 31. pada periode berikutnya. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan.

3. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 41 . 2. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. Penjelasan 1. dan reksa dana (termasuk penempatan dana awal bank sebagai sponsor dalam reksa dana). negosiasi wesel ekspor. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. Surat berharga yang dapat dimiliki bank mengikuti peraturan perundang-undangan dan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Dalam pembukuan surat berharga. Efek Beragun Aset (EBA). Surat berharga yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari surat berharga yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Dalam pengertian surat berharga termasuk. Surat Utang Negara. antara lain. credit links notes. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. (PSAK 55: Paragraf 24) C.Bab IV I S u r a t Berharga kewajiban jasa pengelolaan. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. bank dapat menggunakan tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian yang harus diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan surat berharga yang masuk dalam kategori yang sama. Sertifikat Bank Indonesia.

1) Surat berharga yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. surat berharga yang dimiliki/dibeli dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. 1 2 3 4 b. Surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo terbatas pada surat berharga utang dengan tujuan memperoleh pendapatan bunga dan surat berharga utang tersebut baru akan dicairkan pada saat jatuh tempo. yaitu: No. Pinjaman yang Di. Secara umum. Kategori Surat Berharga a. 2) Surat berharga yang pada saat dibeli ditetapkan Diukur pada Nilai untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Wajar melalui LaporRugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan an Laba Rugi untuk diperjualbelikan.Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah berikan dan Piutang ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. Surat berharga utang tidak boleh diklasifikasikan dalam kategori ini apabila maksud pemilikannya hanya untuk periode yang tidak ditentukan dan Tersedia untuk Dijual untuk menghadapi: 42 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Kategori Surat Berharga Keterangan 1) Surat berharga yang dimiliki/dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat.Bab IV I S u r a t Berharga 4. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Tersedia untuk Dijual 2) Surat berharga yang dimiliki/dibeli dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok surat berharga tersebut secara substansial. Dimiliki Hingga 2) Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk Jatuh Tempo memiliki surat berharga tersebut hingga jatuh tempo. yang bukan disebabkan penurunan kualitas surat berharga. 1) Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia b. 8. Kuotasi di pasar aktif. 3) perubahan dalam ketersediaan dan hasil investasi alternatif. 7. I 43 . Penurunan Nilai a. 5.Bab IV I S u r a t Berharga 1) Perubahan tingkat bunga pasar dan perubahan yang berhubungan dengan risiko yang sejenis. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. b. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. 6. Evaluasi penurunan nilai untuk surat berharga dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. dan 4) perubahan dalam risiko mata uang asing. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap surat berharga dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2) kebutuhan likuiditas. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar surat berharga dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer).

Oleh karena itu. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. 10. issuer melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebihi antisipasi bank. 9. Dalam laporan keuangan. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari issuer untuk membayar pokok atau bunga. 44 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pemulihan penurunan nilai a. atau 2) Bank telah mentransfer surat berharga tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat surat berharga. Pembayaran setelah surat berharga mengalami penurunan nilai 1) Setelah surat berharga mengalami penurunan nilai. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit issuer). bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas surat berharga yang dibeli/dimiliki jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut. Nilai tercatat surat berharga setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. b. 2) Apabila issuer melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. Dalam kondisi tersebut. Misalnya.Bab IV I S u r a t Berharga c. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat surat berharga sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. Penghentian Pengakuan a. maka setiap penerimaan pembayaran dari issuer akan langsung mengurangi nilai tercatat surat berharga.

bank mengakui “Surat berharga yang dimiliki” sebesar nilai wajar. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 45 . Surat berharga dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. c d 11. Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. D. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Surat berharga dalam kategori Pencatatan pada saat pembelian 1 2 3 4 Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada Diukur pada Nilai Wajar melalui saat pengakuan awal umumnya sama dengan Laporan Laba Rugi harga pembelian surat berharga Tersedia untuk Dijual Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo memperhitungkan pendapatan dan/atau bePinjaman yang Diberikan dan ban yang dapat diatribusikan langsung pada pembelian surat berharga. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat surat berharga dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan surat berharga yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat surat berharga karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari surat berharga tersebut. Meskipun tidak termasuk dalam kriteria penghentian pengakuan bank dapat mengeluarkan surat berharga yang dihapusbuku dari neraca.Bab IV I S u r a t Berharga b. 12. yaitu: No. Pelaksanaan penghapusbukuan surat berharga dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. Pada saat pembelian surat berharga. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Dalam laporan keuangan konsolidasi.

maka pembayaran bunga tersebut bukan merupakan bagian dari biaya perolehan. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui 46 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. Selanjutnya. bank mencatat “Surat berharga yang dimiliki” sebagai berikut: No. Dalam hal surat berharga dibeli di antara tanggal pembayaran bunga.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Keuntungan atau kerugian yang Diukur pada Nilai Wajar melalui timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga Laporan Laba Rugi diakui pada laporan laba rugi. Keuntungan atau kerugian yang Tersedia untuk Dijual timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui secara langsung dalam ekuitas. tetapi dimasukkan dalam pos pendapatan bunga yang masih akan diterima. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 1 Surat berharga dalam kategori Pencatatan setelah pembelian 2 3 4 Sebesar nilai wajar. 4. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan dan pokok. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi Piutang kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Sebesar nilai wajar. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Setelah pembelian surat berharga. Untuk surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. 3. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif.

7. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.Bab IV I S u r a t Berharga dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. 5. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. Reklasifikasi surat berharga diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. Perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. harus diakui sebagai berikut: a. penghentian pengakuan dan hapus buku/hapus tagih surat berharga mengacu pada Bab mengenai Kredit. Selanjutnya. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 47 . keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. pemulihan penurunan nilai. b. namun harus diamortisasi selama masa manfaat surat berharga dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi atau diskonto. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. 6.

Pada tanggal transaksi Db. Surat berharga . yaitu: No. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara Pinjaman yang Diberikan dan nilai awal dan nilai jatuh temponya dan dikurangi 4 Piutang penurunan nilai. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db/Kr. Kas/Rekening. E.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 48 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ./Giro BI 3.Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Rekening lawan . Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Surat berharga disajikan di neraca sesuai kategori. Surat berharga dalam kategori Penyajian pada neraca Diukur pada Nilai Wajar melalui 1 Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar 2 Tersedia untuk Dijual 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas surat berharga yang dimiliki... Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Beban/pendapatan Kr/Db.

Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 49 .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.. Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db./Giro BI Kr. Kas/Rekening. Penyesuaian nilai wajar a. Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr. Rekening lawan . Pendapatan bunga surat berharga 7..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 4. Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db..Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Surat berharga .Bab IV I S u r a t Berharga b.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Surat berharga . Pada tanggal penyelesaian Db. Surat berharga ./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b. Pendapatan bunga yang akan diterima 8. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Tagihan komitmen pembelian surat berharga 6 Pada saat pengakuan bunga Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.

Kas/Rekening.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Realisasi keuntungan/kerugian dari penjualan surat berharga Db./Giro BI atau Db/Kr. Pendapatan bunga d./Giro BI Kr../Giro BI Kr. Pada saat membeli: Db. Kas/Rekening. Kas/Rekening.... Surat berharga ....Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b. Pada saat penjualan: a. Kas/Rekening. Surat berharga .Bab IV I S u r a t Berharga 9. Surat berharga .. Kas/Rekening./Giro BI Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Db/Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db./Giro BI (Sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. e. Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db/Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. 50 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. Kas/Rekening. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Pada saat menjual: Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Kerugian/keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Surat berharga ./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db/Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. c... Surat Berharga yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (asumsi menggunakan tanggal perdagangan) 1. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Pada saat jatuh tempo: Db. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a.. Surat berharga .Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db/Kr. Surat berharga .

Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. f... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db./Giro BI Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db/Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo Db./Giro BI atau Db/Kr.. d./Giro BI (sebesar harga pembelian) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 51 . Kas/Rekening.... Pada saat membeli: Db. Kas/Rekening... Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Kas/Rekening. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db./Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db... Kas/Rekening./Giro BI Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b. Pada saat pembelian surat berharga Db. 3./Giro BI Db. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a.. e. c.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr..

Kas/Rekening.. Kas/Rekening./Giro BI Kr. 52 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening. Kas/Rekening. d. e. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr... Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Pada saat membeli: Db../Giro BI atau Db/Kr.. Kas/Rekening.. Kas/Rekening../Giro BI (sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. f../Giro BI Kr./Giro BI Db/Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat menjual: Db. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Kas/Rekening. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI atau Db/Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a.. 4./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b. Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr.. Kas/Rekening. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db.. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr.Bab IV I S u r a t Berharga b./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi: Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c.... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db..

./Giro BI Kr./Giro BI Db/Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo d. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db. a. Asumsi penurunan nilai terjadi pada periode berjalan.. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank.Bab IV I S u r a t Berharga c. b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 53 . Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan kepada issuer dijurnal balik jika penerbit menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable.. Kas/Rekening../Kr. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr. 5. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi: Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Membatalkan pengakuan pendapatan bunga Db.. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Kas/Rekening. Pendapatan bunga surat berharga Db. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku./Giro BI Kr. e. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr.. f. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr.

Bab IV I S u r a t Berharga 6. Kerugian penurunan nilai surat berharga Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Pendapatan b. Db. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. Pendapatan 8. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event). Kerugian penurunan nilai surat berharga jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya issuer rating). dan bukan merupakan adjusting subsequent event. a. a. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Saldo laba jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Db. 7. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. b. Db. c. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. c. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Db. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana penyesuaian tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). 54 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2.. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual b. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr./Giro BI Kr/Db.Pendapatan komprehensif lain Kr. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 55 .Bab IV I S u r a t Berharga Surat berharga yang Tersedia untuk Dijual (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Kas/Rekening. Ekuitas .Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr.. Pendapatan/Beban bunga (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) 3. 4../Giro BI (sebesar harga pembelian) 5. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db..Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Pada tanggal transaksi Db.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Rekening lawan . Pada saat penyelesaian Db. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db. Kas/Rekening. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Kas/Rekening./Giro BI atau Db/Kr. Rekening lawan .

/Giro BI Kr. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga 6./Db Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Selisih antara pembayaran yang diterima dengan nilai tercatat diakui sebagai keuntungan/kerugian penjualan surat berharga Db Kas/Rekening.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Ekuitas . 56 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ./Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b. Surat berharga . 9. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi: Db. 7./Kr.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) Kr..Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) b. Pada saat penjualan: a. Ekuitas .Tersedia untuk Dijual Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat: Db. Penyesuaian nilai wajar: a. Ekuitas .Pendapatan komprehensif lain Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima 8. Keuntungan/kerugian kumulatif pada ekuitas diakui dalam laporan laba rugi Db.. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr/Db.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db./Giro BI Kr. Surat berharga .

Db.Tersedia untuk Dijual Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr. Ekuitas . Melakukan jurnal balik pendapatan komprehensif lain pada ekuitas (jika sebelumnya bank telah mengakui peningkatan nilai wajar) Db. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku pada periode berjalan Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Reklasifikasi Surat Berharga 1. Asumsi bukti obyektif diperoleh pada periode berjalan. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr.Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat) atau Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Surat berharga . Ekuitas . Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 57 . Cadangan kerugian penurunan nilai atau Melakukan reklasifikasi atas pendapatan komprehensif lain pada ekuitas ke dalam laporan laba rugi (jika sebelumnya bank telah mengakui penurunan nilai wajar) Db. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. c. Ekuitas . Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.Bab IV I S u r a t Berharga 10.Pendapatan komprehensif lain Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. Pendapatan b. d. a. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual.Tersedia untuk Dijual Pengakuan kerugian penurunan nilai Db. Surat berharga . Apabila terdapat penurunan nilai.

Kerugian dari perubahan nilai wajar Kr. Amortisasi atas selisih penilaian surat berharga yang belum direalisasi (ekuitas) 1) Jika saldonya positif Db. Pendapatan bunga 2) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih besar dari nilai nominal Db. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai wajar pada saat pengalihan) Amortisasi untuk penyesuaian nilai wajar surat berharga ke nilai nominal sampai jatuh tempo 1) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih kecil dari nilai nominal Db. 58 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Surat berharga . dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Keuntungan dari perubahan nilai wajar 2) Jika saldonya negatif Db. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Pendapatan bunga Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Ekuitas . Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga dalam penyusunan laporan keuangan. b. Surat berharga . Ekuitas . F. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo a. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1.Pendapatan komprehensif lain b. Saat reklasifikasi Db. Surat berharga .Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c.

yaitu: a. d. 7. b. nilai tercatat surat berharga yang tetap diakui bank.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Tersedia untuk Dijual. c. dan nilai tercatat kewajiban terkait. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Pengalihan surat berharga yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh surat berharga. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. jika bank tetap mengakui sebagian surat berharga sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. c. b. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 4. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan surat berharga yang masih tetap berada di bank. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga. dengan rincian berikut: a. 3. d. jika bank tetap mengakui seluruh bagian surat berharga. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 59 . Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Total nilai tercatat surat berharga awal yang dialihkan. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. 5. Jenis surat berharga. c. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. Jumlah surat berharga yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Nilai tercatat surat berharga dan kewajiban terkait. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. b. 6.

maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. dan pihak penjual proteksi surat berharga dalam transaksi credit derivative). (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. b. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. kebijakan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada) Pengungkapan kuantitatif 9. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada butir a diatas. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. Informasi mengenai kualitas kredit diluar surat berharga yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 8. Analisis tersebut mencakup: a. 60 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. Tujuan. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. c.

Nilai tercatat surat berharga yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai.Bab IV I S u r a t Berharga (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 10. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). berdasarkan jangka waktu. Jumlah surat berharga yang dimiliki berdasarkan segmentasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 61 . (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. mata uang. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. antara lain sektor ekonomi dan geografi. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. 2) Tipe/jenis penerbit. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. G. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas surat berharga sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga. dan d. 11. (2) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat internal.

30. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. Untuk membeli obligasi dimaksud.000.000.Bab IV I S u r a t Berharga H. Obligasi ini dibeli untuk dimiliki hingga jatuh tempo pada tanggal 1 Juni 2011.000.425 dengan tagihan bunga (purchased interest) sebesar Rp.000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.1. 15.000. Contoh Kasus 1. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010. (Lihat Tabel 1) 62 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 dengan kupon bunga 8% pada 99. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. 20. Surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada tanggal 1 Juni 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian.000.000.

745 487.466 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif (c) Amortisasi Diskono/ Premium (d) = (c) .000.888.00 1.00 1.000.00 6.564 455.111.89% Tanggal Kupon 1.532 7.038.111 6.111 6.000.605.000.699) (3.270 505.007.873.598.031.675 6.000.745 487.444 7.000.00 1.000.606.000.790 498.350.441 475.000.111.771 513.923 998.000.000.763 999.00 1.000.314 7.486.000 7.111 6.000.111 7.088 998.399.587.992.Tabel 1: Estimasi Arus kas masa datang surat berharga-Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Effective Interest Rate: 7.000.924.202 468.634 7.750.000 994.840 493.466 (5.357.099 995.562.301 996.533.000.(b) Diskonto/ Preimum yang belum Diamortisasi (e) 04-Jun-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 1.591.888.901) (4.532 995.126.513) (2.000.702) (2.237) (513.111 6.111.000.00 1.000.616.564 455.000.000.901 7.000.577 399.889 7.567 480.652 998.00 Bab IV I S u r a t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Berharga I 63 .00 1.000.678 7.111.000.954) (3.437.811 494.000.000.000.889 7.000.649.393.700 7.609.00 1.513.487 997.111.202 468.000.000.889 7.532 476.961.534 0 Pembayaran Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R 399.000.270 505.553 7.000.00 1.00 1.899.444.000) (5.968.000.660 7.364.952 7.111 6.840 493.382.348) (1.486.441 475.000.000.298 997.468) (4.111.00 1.771 513.888.000.000.912) (1.111.000.532 476.046 996.466) 0 994.000.567 480.466.811 494.790 498.111 7.00 1.000.077) (1.000.075.250.624.715 7.

994./Giro BI Pencatatan surat berharga pada tanggal 4 Juni 2010 Db. Rekening lawan tagihan komitmen Rp..532 Kr.. 64 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 b.000 15. Kas/Rekening. 399.399. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. 994.532 2) Pembayaran kupon obligasi Db.pembelian surat berharga Rp. Pendapatan bunga surat berharga Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima . Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp. 994. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db. 994.024.532 e.000 Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 30 Juni 2010 1) Pengakuan bunga dan amortisasi diskon Db./Giro BI Rp.000. Rp.pembelian surat berharga Rp.surat berharga Kr.250. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp. Kas/Rekening./Giro BI Rp.000.000 Kr. Rp. Beban pembayaran fee Kr.250. 36.000 Kr.. 399.000..399. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. 36. c. 15.250.532 Kr..000 d. Kas/Rekening. 6.000 Rp.. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db. Rp. Tagihan komitmen .000 994.000. 6.000 Db.250. 1.250.250. Tagihan komitmen . 30.

000.000 dan kupon bunga 8% per tahun pada harga par. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010. Rekening lawan Tagihan komitmen Rp. Pada tanggal 29 Juni 2010 bank XYZ menjual surat berharga pada 102.. Kas/Rekening. Kas/Rekening.000.000.000.. 4. bank XYZ membeli 4 (empat) obligasi pemerintah dengan nilai nominal Rp. Surat berharga .pembelian surat berharga Rp.000.000. 1.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal untuk pengakuan bunga.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 65 .000 Rp.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. c. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. yaitu tanggal 1 Juli 2010...000 Rp.1.000. 20.000 15.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp 15.000.000. Rp. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000. 4.. 15.000. 4. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. amortisasi diskon dan pembayaran bunga selanjutnya sama dengan jurnal di atas.000.000. Untuk menjual obligasi dimaksud.000. Diasumsikan pengakuan keuntungan penjualan surat berharga dilakukan pada saat tanggal penyelesaian. Untuk membeli obligasi dimaksud. Beban pembayaran fee Kr.. f. Tagihan komitmen .000. 1./Giro BI Pada saat penyelesaian tanggal 4 Juni 2010 Db.000.Tersedia untuk Dijual Kr./Giro BI Kr. Surat berharga . Pada saat jatuh tempo tanggal 1 Juni 2011 Db. 4.000. Rp.000.000. Kas/Rekening. 15.000 b.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp./Giro BI Rp.000 Kr.000. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 1 Juni 2010.000. Jurnal Transaksi a.000 2.

4. Rekening lawan .000.000 Kr.000 Kr.000 X 0.08 X 27/360) e.080. Rekening lawan .000.000 Kr../Giro BI Rp.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp. Rp. Tagihan komitmen . Penyelesaian transaksi penjualan pada tanggal 1 Juli 2010 Db.Tersedia untuk Dijual Rp. Pendapatan bunga surat berharga (4..000 Kr./Giro BI Rp.000.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp. Kewajiban komitmen .000.. 4.000 f. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.000.Bab IV I S u r a t Berharga d.000 24. Kas/Rekening.penjualan surat berharga Rp. h.000.pembelian surat berharga Rp. 4. 4. Rp.000.000..000 15.000.080. 80. Pendapatan bunga yang akan diterima Surat berharga Kr.000.000. Rp.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 29 Juni 2010 Db. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db.000. Surat berharga . 4. 24.080.000.000 Kr. Kewajiban komitmen .000.000.000. Beban pembayaran fee Kr.000.000 66 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .080.penjualan surat berharga Rp. 4.000 Pada saat pengakuan bunga pada tanggal 30 Juni 2010 Db.000.000 Melakukan jurnal balik komitmen penjualan surat berharga Db. 15. Kas/Rekening. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.080.000 g. 4. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 29 Juni 2010 Db. 4.

20.Bab IV I S u r a t Berharga 3. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. Asumsi harga pasar pada tanggal 31 Juli 2010 adalah 99. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 9 Juli 2010. Bank XYZ membeli obligasi Rp.86.000. Untuk membeli obligasi dimaksud.30.000 dengan kupon bunga 5% pada 99 dengan accrued interest sebesar Rp. 15.250.50 dan penyelesaian dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2010.1. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.000. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 6 Juli 2010. (Lihat Tabel 2) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 67 . Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian.219. Pada tanggal 4 Agustus 2010 bank menjual obligasi pada 99. Amortisasi diskon dari tanggal 1 Agustus sampai dengan tanggal 4 Agustus 2010 adalah Rp.1. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.000. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.000.000.000.000.

900.165) (5.748 5.523.099.900.133.000.022 999.000 1.777.427 696.148.000.000.983 5.542.000 990.798 621.444.000.000.444.444 4.444.632 995.000) (9.110 991.794.556 4.000.476.164.705) (0) .000.022 999.093 319.000.000 1.738 5.960 62.566 997.264 703.891 4.000 1.592 1.444 416.116 997.528) (8.165 990.000.127.193 672.610 995.983.264 703.139 996.193 672.550 678.642 707.000.000 1.000 1.116.835.000 1.893 798.749 993.566 997.819 5.542 993.010.819.419.604.164.474.419.717 4.000.305.273 688.638 648.303 992.000.000.472.458) (6.180.476.444.303 992.778 3.529 671.000.960 62.793 679.542 993.000.146.180.684.444 4.638 520.000.000.444 4.000 1.638 648.434) (2.632 995.550 678.145.778 4.793 679.000 1.860 4.123.556 4.261 Keuntungan/ Kerugian yang Belum Direalisasi pada Ekutias 990.000.395.000 19.222.000 990.408 990.000 476.978) (688.139 996.087 5.205.556 476.151.305.444 4.426 41.000.444 4.835 990.755 5.960.474.140.110 991.357.798 621.649.380 998.444 694.000.835 994.580.457.427 696.000.293 682.000.444.000.311.000.551) (9.449 1.194.000 1.854.749 993.610 995.978 689.449 103.697) (7.000.311.446 654.222 4.293 682.273 688.000 1.525.368) (4.994.705 3.305.000.525.140.000.556 4.705 990.000.357.884) (2.348 5.020.000.978 689.890) (8.000 1.000 1.638 520.380 998.295 (0) - “Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e)” (10.205.525.000.592) (9.449 990.684.000.251) (6.426 41.000.295 (0) Pembayaran Pokok (a” Pendapatan Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat amount (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R Nilai Wajar pada akhir periode Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .000 29.835 994.444.444 4.000 1.604.315.000.415 3.68 I P e d o m a n Bab IV I S u r a t Effective Interest Rate Tabel 2: Estimasi Arus Kas Masa Datang Surat Berharga – Tersedia untuk Dijual : 5.305.000.000 1.542.859.000.000.556 4.116 997.953.222.994 4.992.472 991.444.529 671.80% Tanggal Kupon 1.446 654.976.525.000.667 277.242 4.861) (3.404 479.390) (4.853.853.642 707.973 4.449 103.859.472 991.000 1.000.000.305.620) (1.000.000.027.000.(b) Berharga Akuntansi Perbankan Indonesia 09-Jul-10 31-Jul-10 04-Agust-10 06-Agust-10 07-Agust-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Agust-11 30-Sep-11 1.854.642.165) (9.000 1.670.000.000 Pendapatan Bunga Sesuai Suku Bunga Efektif (c) 3.444 4.000 1.

86.000.05 x 4/360)] Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp.000. Pendapatan bunga yang akan diterima [(1. Pencatatan penerimaan bunga pada tanggal 31 Juli 2010 Db.444. [(1. c.000 15. Ekuitas .000 x 0.194.444 4.000 476.670. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Rp. Kas/Rekening. Db. Rp.556 [(1.pembelian surat berharga Rp.000 x 0.506. Pendapatan bunga yang akan diterima Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Juli 2010 Db. 555.444.000 x 0.250. Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 31 Juli 2010 Db. Pendapatan bunga surat berharga Rp.922 Keuntungan yang belum direalisasi 2.Tersedia untuk Dijual Rp.000 Kr.000 1.pendapatan komprehensif lain * Harga wajar 993.000. Kas/Rekening.05 x 8/360)] Kr.893 4.. Tagihan komitmen . Pencatatan pengakuan bunga (selama 4 hari) pada tanggal 4 Agustus 2010 Db. f. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 6 Juli 2010 Db. Kas/Rekening. e.000. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.444 2.449 3. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp.surat berharga Rp.219 Kr Pendapatan bunga .088* b.05 x 23/360)] Kr.000.. g..506.000 990.000.493.088* 2.000. Beban pembayaran fee Kr.250.000. 641./Giro BI Penyelesaian transaksi pada tanggal 9 Juli 2010 Db..000. 990.000 991.000. Rp. 15.000.444 3. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. Rp. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Db. Rp...088 Rp. Rp. 990.000.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 6 Juli 2010 Db.506.775 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 69 . Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Rp./Giro BI Rp.000 Nilai buku 990. d. Surat berharga ./Giro BI Kr.

000 – 990. 4. 15. Kas/Rekening. Surat berharga dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Diperdagangkan) Pada tanggal 14 Januari 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Rp.580. 4.468 Db.141 Pencatatan penyelesaian penjualan surat berharga pada tanggal 5 Agustus 2010 Db.088 Kr Surat berharga .141 Kr.049. Pada tanggal 31 Januari 2010. 2.. Bank XYZ menjual surat berharga di 102 pada tanggal 6 Februari 2010 dengan tanggal penyelesaian 7 Februari 2010. 70 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .859 (995.141 Kr Keuntungan penjualan surat berharga Rp. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 4 Agustus 2010 Db.506. 991.141) Kr Pendapatan bunga yang akan diterima – surat berharga Rp. Rekening lawan ./Giro BI Rp.556 i.580. 994.580.000.000 dengan kupon 8% pada harga par.000..000. Kewajiban komitmen .000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal perdagangan.Bab IV I S u r a t Berharga h.Tersedia untuk Dijual Rp. 555.penjualan surat berharga Rp.419.1. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.000. harga pasar 101.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp. 991. Untuk membeli obligasi dimaksud. Asumsi : Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010.580. 991.

g.000.000./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima . Beban pembayaran fee Kr. Rp.000.222. Kas/Rekening.. c. Kas/Rekening. 10.08 x 6/360) Penjualan surat berharga pada tanggal 7 Februari 2010 Db Kas/Rekening.. Rp.000. 1. Rp..surat berharga Kr. 15.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Rp.surat berharga Kr.010.000 3. Keuntungan atas surat berharga Pengakuan bunga pada tanggal 6 Februari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima.222.000.333 f.556 3.333. Rp. Rp.222 Rp.000. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.333.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 71 . 10.000.000 Rp..surat berharga Kr../Giro BI Kr.000 x 0.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000 10.000 1.333.333. Pendapatan bunga yang akan diterima . Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Rp.555.028.000..000. Rp. 1.. Kas/Rekening./Giro BI [(1.000.000.555. e. Surat berharga . Pendapatan bunga surat berharga (1.222 Rp. 1. 3.surat berharga Kr.333 1.000 15.000 Rp.08 x 16/360) Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Januari 2010 Db. 8.000 x 0.08 x 15/360] Pembelian surat berharga pada tanggal 14 Januari 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima .333 3.556 d. Pendapatan bunga surat berharga (1.000. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000 x 0.. Rp.333 b.000 Rp.000.000. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 14 Januari 2010 Db.000. Rp. 1.000./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 14 Januari 2010 Db.

(Panduan Implementasi No. Dasar Pengaturan 1. atau jika aset keuangan tersebut dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset dimaksud akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset tersebut akan dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pihak pemberi pinjaman. maka aset tersebut tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. B. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – aset yang secara substansial sama. Definisi Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) adalah surat pengakuan utang jangka pendek dan jangka panjang yang diterbitkan oleh bank atau pihak ketiga bukan bank yang dijual dengan janji untuk dibeli kembali dari pembeli dengan harga yang telah disepakati pada awal transaksi. Jika pihak yang menerima transfer memiliki hak untuk menjual atau menggadaikan aset dimaksud.Bab IV I S u r a t Berharga 2. b. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan Surat Berharga. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan 2. maka pihak yang mentransfer akan mereklasifikasi aset dimaksud di neracanya.2: B.18) Contoh-contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip penghentian pengakuan dalam Pernyataan ini. a. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut. 72 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji dibeli Kembali A. Namun demikian. misalnya sebagai aset yang dijaminkan atau piutang pembelian kembali.

Jika bank memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau 2. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – hak substitusi. bank menjual surat berharga kepada pihak lain dengan harga tertentu dan berjanji untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu. Dalam hal bank melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo..Bab IV I S u r a t Berharga dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pemberi pinjaman. atau transaksi serupa untuk transaksi dengan jaminan surat berharga. karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset tersebut. atau jika aset keuangan dipinjamkan atau dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. maka bank harus memastikan dapat mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. (PSAK 55: PA66) C. Jika perjanjian penjualan efek dengan janji dibeli kembali dengan harga pembelian kembali yang sudah ditetapkan atau harga yang setara dengan harga jual awal ditambah keuntungan pemberi pinjaman. Bank dapat melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam seluruh kategori surat berharga.. Penjelasan 1. maka aset dimaksud tidak dihentikan pengakuannya. dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban pembelian kembali surat berharga yang dijual dengan syarat repo. Dalam transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). Selanjutnya. memberi hak kepada penerima transfer untuk mensubstitusi aset yang ditransfer dengan aset serupa dan memiliki nilai wajar yang setara pada tanggal pembelian kembali. c. maka aset yang dijual atau dijaminkan dalam transaksi pembelian kembali atau transaksi dengan jaminan surat berharga tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. Untuk transaksi repo yang tidak memenuhi kriteria penghentian pengakuan (derecognition) maka surat berharga tetap berada pada pihak bank penjual dan tetap disajikan sebagai portofolio surat berharga bank. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 73 .

Pengakuan dan pengukuran surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali mengacu pada perlakuan akuntansi untuk Surat Berharga. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Kas/Rekening.. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali tetap diakui sebagai aset keuangan dalam neraca bank. 2. E./Giro BI Kr. 3. Dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban. maka bank harus melakukan amortisasi sampai dengan jatuh tempo kontrak repo. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (Jika terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan pada transaksi repo dan memenuhi persyaratan amortisasi. Ilustrasi jurnal Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali 1. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali Kr. 3. D. maka bank harus mereklasifikasikan surat berharga tersebut. Penyajian Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan dalam pos yang terpisah dari surat berharga lainnya yang tidak di-repo.) 2. 74 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ..Bab IV I S u r a t Berharga memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. Surat berharga Penerimaan dana dari transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. Reklasifikasi surat berharga Db. Surat berharga yang dimiliki dan diserahkan sebagai jaminan pinjaman yang diterima tanpa perjanjian repo tidak termasuk dalam surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.

4. Tersedia untuk Dijual. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. d. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 75 . Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. b. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. c.Bab IV I S u r a t Berharga F. 5. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). 2. 6. c. yaitu: a. b. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. b. 3. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah.

kebijakan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). dan sebagainya). Informasi mengenai kualitas kredit surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. commercial loans. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. Analisis tersebut mencakup: a. b. consumer loans. 76 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Analisis terhadap surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan klasifikasi surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 7. Pengungkapan kuantitatif 8. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat. Tujuan.

berdasarkan jangka waktu. 2) Tipe/jenis penerbit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 77 . Nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. mata uang. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 9. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. 10. antara lain sektor ekonomi dan geografi.Bab IV I S u r a t Berharga b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. dan c. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. (2) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat internal. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan segmentasi.

nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. B. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian.. (PSAK 55: PA 79) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. Dasar Pengaturan 1.. (PSAK 55: Paragraf 14) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. 4. (PSAK 55: Paragraf 43) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. 5. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali A. lihat juga paragraf PA91). 78 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca... (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. jika dan hanya jika. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Definisi Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali adalah tagihan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). atau 2. (PSAK 55: Paragraf 49) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: (a) Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.Bab IV I S u r a t Berharga 3. entitas mengukur pada nilai wajarnya.

8. maka biaya- 7.Bab IV I S u r a t Berharga (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif).. atau (ii) kelompok aset keuangan. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. (PSAK 55: paragraf 8) . dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihakpihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 8) 6. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. (b) investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didoku-mentasikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 79 . (PSAK 55: PA39) Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif... (b) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. misalnya Direksi.. …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11.

konsultan. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi 80 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan.. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs).Bab IV I S u r a t Berharga biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. (PSAK 55: PA82) 9. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. entitas mengukur aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 46) 12. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. dan (c) investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. perantara efek dan pedagang efek.. pada nilai wajarnya. atau pelepasan lain. (PSAK 55: PA26) 11. serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut. biaya pendanaan (financing costs). (PSAK 55: Paragraf 8) 10. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo sesuai definisi paragraf 8. Setelah pengakuan awal. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. diukur pada biaya perolehan. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan.

Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. bank membeli surat berharga dengan harga tertentu dan berjanji untuk menjual kembali dengan harga tertentu. jika dan hanya jika. Dalam hal transaksi reverse repo memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Penjelasan 1. Dalam transaksi pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: paragraf 8) C.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 81 . … Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. maka bank pembeli akan mencatat sebagai tagihan reverse repo.. (PSAK 55 : PA20) 13. 2. (PSAK 55: paragraf 60) 14. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan).Bab IV I S u r a t Berharga yang telah direvisi. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal . dimana surat berharga tetap diakui oleh bank penjual.

1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. 5. Kategori Tagihan Reverse Repo Secara umum. 1) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 3 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. 4. Kuotasi dipasar aktif. tagihan reverse repo dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. 1) 2 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 2) Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki tagihan reverse repo tersebut hingga jatuh tempo. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Kategori Tagihan Reverse repo Keterangan 1) Tagihan reverse repo yang dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Reklasifikasi Tagihan Reverse Repo Penjelasan mengenai reklasifikasi tagihan reverse repo dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 4 Tersedia untuk Dijual 2) Tagihan reverse repo yang dimiliki dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok tagihan reverse repo tersebut secara substansial. 82 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 3. yang bukan disebabkan penurunan kualitas tagihan reverse repo. yaitu: No.

Bab IV I S u r a t Berharga b. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 83 . Penurunan Nilai a b Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap tagihan reverse repo dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. D. 7 Penghentian Pengakuan Penghentian pengakuan tagihan reverse repo dapat mengacu pada penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. yang pada saat pengakuan awal Diukur pada Nilai Wajar melalui umumnya sama dengan jumlah pembayaran yang Laporan Laba Rugi dikeluarkan. Evaluasi penurunan nilai untuk tagihan reverse repo dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Pada saat melakukan transaksi reverse repo. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada Pinjaman yang Diberikan dan tagihan tersebut. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. bank mengakui “Tagihan reverse repo” sebesar nilai wajar. yaitu: Tagihan reverse repo dalam kategori No. 6.

dalam hal terjadi perubahan nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. 84 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Keuntungan/kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam ekuitas. Keuntungan/kerugian yang timbul Diukur pada Nilai Wajar melalui dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba Laporan Laba Rugi rugi. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Untuk tagihan reverse repo dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Setelah pengakuan awal bank mencatat “Tagihan reverse repo” sebagai berikut: Tagihan reverse repo dalam kategori No. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 3. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Piutang efektif. Selanjutnya. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. Selanjutnya. b.

/Giro BI atau Db/Kr. Tagihan reverse repo Kr/Db. Tagihan reverse repo Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Keterangan 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Kas/Rekening... Kas/Rekening.. Beban bunga/Pendapatan bunga Kr/Db... Pada awal transaksi tagihan reverse repo: Db. Kas/Rekening./Giro BI Kr.. I 85 . Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas tagihan tersebut.../Giro BI (sebesar jumlah yang dibayarkan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. Kas/Rekening. Tagihan reverse repo Kr.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Tagihan reverse repo disajikan di neraca sesuai kategori. 1 2 3 Tagihan reverse repo dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar. 3. 4. yaitu: No. Tagihan reverse repo (sebesar pendapatan bunga dan amortisasi biaya transaksi) Kr. Pendapatan bunga tagihan reverse repo Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo Db. E./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi biaya transaksi: Db. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Pinjaman yang Diberikan dan efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai Piutang jatuh temponya dan dikurangi penurunan nilai. Ilustrasi Jurnal 1.

yaitu: a. b. 2. 6. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Pengungkapan kualitatif 7. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. c. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan reverse repo dalam penyusunan laporan keuangan. Tujuan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. 5. b.Bab IV I S u r a t Berharga F. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b. kebijakan. 86 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. d. Perubahan nilai wajar atas tagihan reverse repo yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 3. c. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas tagihan reverse repo sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. Jumlah tagihan reverse repo yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). 4. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan tagihan reverse repo yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan reverse repo. Tersedia untuk Dijual. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan reverse repo (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan reverse repo) dan agunan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan reverse repo dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan reverse repo pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan reverse repo sebagaimana pada butir a) di atas. Analisis terhadap tagihan reverse repo berdasarkan klasifikasi tagihan reverse repo yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. (3) Jumlah ekposur tagihan reverse repo yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat. yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan reverse repo. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. b. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Informasi mengenai kualitas kredit diluar tagihan reverse repo yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. maka pengungkapan mencakup: c. Analisis tersebut mencakup: a. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 87 . (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kuantitatif 8. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya.

antara lain sektor ekonomi dan geografi. 88 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga (1) Proses pemeringkatan internal. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. Contoh kasus Karena kelebihan dana (likuiditas). Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian penempatan dana dalam bentuk transaksi pembelian surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali. dimana Bank A setuju untuk melakukan pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali kepada Bank B sebesar Rp.000. 10.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. berdasarkan jangka waktu. Jumlah tagihan reverse repo yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan reverse repo.000. 20. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi.000. Nilai tercatat tagihan reverse repo yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. dan d. Jumlah tagihan reverse repo yang dimiliki berdasarkan segmentasi. mata uang. 2) Tipe/jenis penerbit. 9. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. G.000. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 5. (2) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat internal. dan tingkat bunga tagihan reverse repo yang dihitung secara rata-rata. 1. Untuk membeli surat berharga dimaksud.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung sebesar Rp. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate).000.

6667 Rp.666.333 3.000 Rp.000. Kas/Rekening. Pengakuan bunga tanggal 31 Januari 2010 Db. 1./Giro BI 2. Tagihan reverse repo Kr.. Kas/Rekening.6667 6. Tagihan reverse repo Kr.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 89 ./Giro BI Kr. 6. Rp. Tagihan reverse repo Rp. Kas/Rekening. 5.000.010.000. 1./Giro BI 3.333.000 5. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db.000.000.. 1. 1. Tagihan reverse repo Kr.000.000 Rp.333 Rp.000 Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo tanggal 15 Februari 2010 Db.000. Rp.000.010. Beban pembayaran fee – tagihan reverse repo Kr.333.. 3.. Rp.666. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 5. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 4.. Pengakuan bunga tanggal 15 Februari 2010 Db. Rp.000 Rp. Penyelesaian transaksi pada tanggal 2 Januari 2010 Db.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi 1..

Definisi Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali adalah kewajiban kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo).. B. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a) Kewajiban kontraktual: (i) Untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. 3. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). atau (ii) Untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali A. (PSAK 50: Paragraf 7) 2. 90 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . . entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). jika dan hanya jika. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Dasar Pengaturan 1.. (PSAK 55: Paragraf 14) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini.Bab IV I S u r a t Berharga 4.

(PSAK 55: PA28) 5. atau (ii) kelompok aset keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga b. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi 6. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. misalnya Direksi.. Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi:…. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 91 . atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. entitas mengukur pada nilai wajarnya. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. . (PSAK 55: Paragraf 8) 4. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. b) kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller (yaitu entitas yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut).

(PSAK 55: Paragraf 8) 7. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. 92 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali yang dilakukan bank repo. (PSAK 55: Paragraf 39) 8.Bab IV I S u r a t Berharga kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). yaitu bank yang membeli surat berharga dengan janji dijual kembali. (PSAK 55: Paragraf 57) Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. b. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dapat timbul dari: a. Penjelasan 1. C. jika dan hanya jika. atau transaksi short sell yang dilakukan oleh bank reverse repo.. (PSAK 55: Paragraf 8) Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.. dan melalui proses amortisasi. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. kewajiban keuangan tersebut berakhir. 9.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 93 . Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Reklasifikasi Kewajiban Atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. b. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Kategori Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali merupakan kewajiban keuangan yang dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori. Kategori Kewajiban Keuangan 1) Keterangan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang timbul dari transaksi short sell (sebagaimana pada angka 1) b). Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. 4. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option.Bab IV I S u r a t Berharga 2. 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) 3. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. yaitu: No. Kuotasi dipasar aktif. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan.

Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada kewajiban tersebut. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. Pada saat timbul kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. Setelah pengakuan awal. bank mengakui “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebesar nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga D. yaitu: No. 1 Kewajiban dalam kategori Pencatatan pada saat penerbitan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar yang pada saat pengakuan awal umumnya melalui Laporan Laba Rugi Biaya Perolehan sama dengan jumlah pembayaran yang diterima. 1 3. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi untuk kredit. 94 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu nilai wajar kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan 2 Biaya Perolehan Diamortisasi janji dibeli kembali yang diukur pada saat pengakuan awal (amortised cost) dikurangi pembayaran pokok. bank mencatat “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebagai berikut: No. Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. 2 Diamortisasi (amortised cost) 2. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. 4.

Kewajiban repo Kr.. yaitu 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. Pada saat jatuh tempo transaksi repo Db.. Keterangan E. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar..../Giro BI Kr. Ilustrasi Jurnal 1. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Beban bunga Kr../Giro BI atau Db. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. I 95 .Kewajiban repo Kr. Kas/Rekening. Mencatat pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db./Giro BI Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3. Kewajiban repo 4. Kas/Rekening. Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. yaitu: No.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Amortisasi beban bunga dan biaya transaksi Db.. Kas/Rekening.. Kas/Rekening. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (kewajiban repo) (sebesar jumlah pembayaran yang diterima) 2. Beban bunga Kr.

Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. b.000. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. 5.000. 20.Bab IV I S u r a t Berharga F. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank A sebesar Rp. b. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Contoh kasus Karena kekurangan dana (likuiditas). dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. yaitu: a. 96 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dimana Bank A setuju untuk melakukan penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali dari Bank B sebesar Rp. G.000. 3. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian perolehan dana dalam bentuk transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. 1. 2.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1.000.000. Untuk menjual surat berharga dimaksud.

000.. Kas/Rekening.. Kewajiban repo Kr. 1.000 Rp. Rp. Kas/Rekening. Kewajiban repo e. Rp.333 3.667 Rp.010. Pada saat jatuh tempo transaksi repo tanggal 31 Januari 2010 Db.000.010.000. Rp. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db. 6. Db..000.666. Beban bunga – Kewajiban repo Kr. Beban pembayaran fee Kr. 1.000.333 Rp./Giro BI Kr. Pengakuan beban bunga pada tanggal 15 Februari 2010 Db.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 97 .000. 1. 3.667 6.000. Kewajiban repo d. Pengakuan beban bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db.000 Rp.000 Pencatatan penyelesaian transaksi repo pada tanggal 2 Januari 2010 Rp. Kas/Rekening.666. 5. Kewajiban repo c.333.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal transaksi a.000.000 5./Giro BI Rp..000 Rp.333. Beban bunga – kewajiban repo Kr. 1./Giro BI b...

Definisi Surat berharga adalah surat pengakuan utang. atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan pemegang instrumen ekuitas (holder) dalam kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan pihak penerbit. (PSAK 50: Paragraf 7) b. kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu: (i) non derivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. Kewajiban kontraktual: (i) untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. Walaupun pemegang instrumen ekuitas mungkin berhak menerima dividen atau bentuk distribusi ekuitas lainnya secara pro rata. instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa yang akan datang. B. untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pihak lainnya (holder). atau (ii) untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. atau setiap derivatifnya. 2. Dasar Pengaturan 1. pihak penerbit tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk melakukan distribusi 98 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. atau suatu kewajiban dari penerbit. atau (ii) derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. Untuk tujuan ini. Fitur penting dalam membedakan antara kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas adalah adanya kewajiban kontraktual satu pihak dari instrumen keuangan (penerbit). sekuritas kredit. atau kepentingan lain. obligasi. Surat Berharga yang Diterbitkan A. wesel.Bab IV I S u r a t Berharga 5. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a.

Sebagai contoh.. menyerahkan atau mempertukarkan instrumen keuangan merupakan suatu instrumen keuangan... Beberapa jenis instrumen keuangan memiliki bentuk hukum berupa ekuitas tetapi secara substansi merupakan kewajiban dan bentuk lainnya mungkin berupa kombinasi dari fitur instrumen ekuitas dan fitur kewajiban keuangan. (PSAK 50: Paragraf 15) Instrumen keuangan yang tidak secara eksplisit menciptakan kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya. merupakan dasar bagi penggolongannya dalam neraca entitas. maka kewajiban tersebut memenuhi definisi kewajiban keuangan. bukan bentuk hukumnya. bisa saja secara tidak langsung menciptakan kewajiban melalui persyaratan dan kondisi yang ada padanya.. (PSAK 50: Paragraf 16) Instrumen utang perpetual (seperti obligasi perpetual. dan surat saham (capital notes)) biasanya memberikan hak kontraktual kepada pemegangnya untuk menerima pembayaran bunga setiap tanggal tertentu dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak terbatas. (PSAK 50: PA7) Kemampuan untuk melaksanakan hak kontraktual atau persyaratan pemenuhan kewajiban kontraktual dapat bersifat absolut atau bersifat kontinjen atas terjadinya suatu peristiwa di masa datang. 8. 6. baik tanpa hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya. Substansi dan bentuk hukumnya umumnya sejalan. (PSAK 50: PA6) Hak atau kewajiban kontraktual untuk menerima. I 99 . (PSAK 50: Paragraf 13) 3.. 5.Bab IV I S u r a t Berharga tersebut karena penerbit instrumen ekuitas tidak diwajibkan untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada pihak lain. 7. Substansi dari instrumen keuangan.. (PSAK 50: Paragraf 14) Jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menghindari penyelesaian kewajiban kontraktualnya berupa penyerahan kas atau aset keuangan lainnya. jaminan keuangan merupakan hak kontraktual bagi pemberi pinjaman untuk menerima sejumlah kas dari penjamin. debentures.. maupun dengan hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya dengan persyaratan pengembalian pokok utang yang sangat sulit atau dalam jangka waktu yang sangat lama dimasa datang. dan kewajiban kontraktual terkait dari penjamin untuk membayar pemberi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 4. Suatu rangkaian hak atau kewajiban kontraktual memenuhi definisi instrumen keuangan apabila hak atau kewajiban tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penerimaan atau pembayaran kas atau menyebabkan perolehan atau penerbitan instrumen ekuitas. walau tidak selalu..

atau instrumen ekuitas sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi kewajiban keuangan. meskipun aset dan kewajiban tersebut tidak selalu diakui dalam laporan keuangan. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Hak dan kewajiban kontraktual timbul akibat transaksi atau peristiswa masa lalu (dengan asumsi terdapat penjaminan). Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. aset keuangan. jika dan hanya jika. Beberapa hak dan kewajiban kontinjen mungkin merupakan kontrak asuransi dalam ruang lingkup PSAK 36 dan PSAK 28. (PSAK 50: PA8) 9. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan instrumen ekuitas. aset keuangan. Hak dan kewajiban yang bersifat kontinjen memenuhi definisi aset dan kewajiban keuangan. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. 100 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Penerbit instrumen keuangan pada saat pengakuan awal harus mengklasifikasikan instrumen tersebut atau komponen-komponennya sebagai kewajiban keuangan. (PSAK 55: Paragraf 14) 10. (PSAK 55: Paragraf 43) 11.Bab IV I S u r a t Berharga pinjaman. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. jika penerima pinjaman wanprestasi. entitas mengukur pada nilai wajarnya. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). meskipun kemampuan pemberi pinjaman untuk melaksanakan haknya dan keharusan penjamin untuk memenuhi kewajibannya bersifat kontinjen atas kejadian wanprestasi oleh penerima pinjaman dimasa datang. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. (PSAK 50: Paragraf 11) 12.

(PSAK 55: Paragraf 8) 13. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11.. (PSAK 55: Paragraf 8) 15.. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan.. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 101 . dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. misalnya Direksi. (c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. atau (ii) kelompok aset keuangan. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. (PSAK 55: PA28) 14... menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi: . penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan.Bab IV I S u r a t Berharga b.

Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). entitas mengukur seluruh kewajiban keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. (PSAK 55: Paragraf 11) 17. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). kecuali: (a) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. Kewajiban tersebut. diukur pada biaya perolehan. (PSAK 55: Paragraf 12) 18. konsultan. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. biaya pendanaan (financing costs). pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. termasuk derivatif yang diakui sebagai kewajiban. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. 102 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 16. (PSAK 55: PA26) 19. perantara efek dan pedagang efek. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. kecuali untuk: (a) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau (b) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. diukur pada nilai wajarnya. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. Setelah pengakuan awal. kecuali untuk derivatif kewajiban yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif seperti diatas dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal.

apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. (PSAK 55: PA19) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 103 . Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. (PSAK 55: Paragraf 47) 20.. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. paragraf 29 dan 31 diterapkan dalam pengukuran kewajiban keuangan tersebut. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). dalam kasus yang jarang terjadi. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. atau jika lebih tepat. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. Pada saat menghitung suku bunga efektif. (PSAK 55: Paragraf 8) 21. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga (b) kewajiban keuangan yang timbul ketika sebuah transfer aset keuangan tidak memenuhi syarat penghentian pengakuan atau transfer yang dicatat menggunakan pendekatan keterlibatan berkelanjutan. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. biaya transaksi. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. Namun demikian. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang.. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang.

termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. maka entitas mengalokasikan nilai tercatat sebelumnya dari kewajiban keuangan tersebut kepada bagian yang tetap diakui dan bagian yang dihentikan pengakuannya berdasarkan 104 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Selisih antara (a) nilai tercatat kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) yang berakhir atau yang ditransfer pada pihak lain. (PSAK 55: PA20) 23. Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. jika dan hanya jika. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. kewajiban keuangan tersebut berakhir.. (PSAK 55: Paragraf 8) 25. Pertukaran diantara peminjam dan pemberi pinjaman yang saat ini ada atas instrumen utang dengan persyaratan yang berbeda secara substansial dicatat sebagai penghapusan (extinguishment) kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru.. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. diakui dalam laporan laba rugi.Bab IV I S u r a t Berharga 22. Demikian juga. (PSAK 55: Paragraf 57) 24. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. modifikasi secara substansial atas ketentuan kewajiban keuangan yang saat ini ada atau bagian dari kewajiban keuangan tersebut (terlepas ada atau tidak keterkaitannya dengan kesulitan keuangan debitur) dicatat sebagai penghapusan kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. Jika entitas membeli kembali bagian dari kewajiban keuangan. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). (PSAK 55: Paragraf 41) 28. (PSAK 55: Paragraf 39) 26. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. (PSAK 55: Paragraf 40) 27. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. dan melalui proses amortisasi.

Surat berharga yang pada saat diterbitkan ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan.Bab IV I S u r a t Berharga nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal pembelian kembali. yaitu: No. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 105 . Kategori Surat Berharga 1) Keterangan Surat berharga yang diterbitkan untuk dibeli kembali dalam waktu dekat. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 1 Diukur pada Nilai wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) 2 Biaya perolehan diamortisasi Surat berharga yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui (amortised cost) Laporan Laba Rugi. Kategori Surat Berharga Surat berharga yang diterbitkan yang merupakan kewajiban keuangan dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori kewajiban keuangan. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Selisih antara (a) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian yang dihentikan pengakuannya. (PSAK 55: Paragraf 42) C. 2. untuk bagian yang dihentikan pengakuannya tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Penjelasan 1. 3. Bank yang menerbitkan surat berharga pada saat pengakuan awal harus menetapkan apakah surat berharga tersebut merupakan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas yang didasarkan pada substansi perjanjian kontraktual dan bukan pada bentuk hukumnya.

bank dapat menghentikan pengakuan atas surat berharga yang diterbitkan jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki kewajiban kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut karena kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak telah berakhir. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). baik karena dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluarsa. komponen-komponen tersebut harus diklasifikasikan secara terpisah. Kuotasi dipasar aktif. Instrumen Majemuk Untuk surat berharga yang mengandung komponen ekuitas dan kewajiban keuangan. atau 2) Bank menerbitkan surat berharga yang baru dengan persyaratan yang berbeda secara substansial untuk menggantikan surat berharga sebelumnya atau memodifikasi secara substansial surat berharga yang telah diterbitkan. 6. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. b. 5. Penghentian Pengakuan (Derecognition) a. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama.Bab IV I S u r a t Berharga 4. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. 106 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam laporan keuangan. 7.

1 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 107 . Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. Surat berharga dalam kategori 1 Pencatatan pada saat penerbitan Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada saat Diukur pada Nilai Wajar melalui pengakuan awal umumnya sama dengan harga Laporan Laba Rugi penerbitan surat berharga. Pada saat penerbitan surat berharga. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. bank mengakui “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebesar nilai wajar. D. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. bank mencatat “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebagai berikut: No. 2 Biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Setelah penerbitan surat berharga. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. 2 2. Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Biaya perolehan diamortisasi memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang (amortised cost) dapat diatribusikan langsung pada penerbitan surat berharga. yaitu: No. b Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan pada kredit.Bab IV I S u r a t Berharga Dalam laporan keuangan konsolidasi.

Kas/Rekening.. Kas/Rekening.. Penyajian Surat berharga yang diterbitkan disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan./Giro BI 2. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1. Laporan Laba Rugi Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Pada saat menerbitkan Db. Beban Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi terkait penerbitan surat berharga Db.. Beban bunga Kr.Bab IV I S u r a t Berharga 3.. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi pada Bab mengenai Kredit. yaitu: No. Keterangan 2 E.. Kas/Rekening. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif (amortised cost) menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya./Giro BI Pada saat pengakuan beban bunga Db. Surat berharga . Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. 108 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. 3. 4. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan Biaya Perolehan Diamortisasi awal. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga yang diterbitkan mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi sebagaimana pada Bab mengenai Kredit. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Sebesar nilai wajar./Giro BI Kr. 4..

/Giro BI Kr. Surat berharga ... Kas/Rekening. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .. Surat berharga . Kerugian karena peningkatan nilai wajar surat berharga-Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Penyesuaian nilai wajar a.. Beban bunga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b. Surat berharga – amortised cost Kr. Kas/Rekening. Surat berharga ..Bab IV I S u r a t Berharga 5. Kas/Rekening./Giro BI Surat Berharga yang Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortised Cost) 1. Beban bunga Kr. Surat berharga – amortised cost Kr. Pada saat pelunasan Db. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan dikurangi bunga dibayar dimuka) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. 6. Kas/Rekening./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 109 . Kas/Rekening.. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db./Giro BI b. Pada saat menerbitkan Db. Surat berharga – amortised cost Pada saat jatuh tempo Db... c./Giro BI atau Db..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.. d.

/Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db. Kas/Rekening.. Kas/Rekening..... d. Pada saat menerbitkan Db./Giro BI atau Db./Giro BI atau Db. Surat berharga – amortised cost Kr. 3.. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b. Kas/Rekening.. Kas/Rekening.. Surat berharga – amortised cost Kr. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db.. Beban bunga Kr. Surat berharga – amortised cost Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. c. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Kas/Rekening. e.Bab IV I S u r a t Berharga 2./Giro BI Kr../Giro BI Kr. Beban bunga Kr. Pada saat menerbitkan Db. 110 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a./Giro BI b../Giro BI Pada saat jatuh tempo Db.. Kas/Rekening.... Beban bunga Kr.

4. Kas/Rekening. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan biaya transaksi) Kr... Kas/Rekening.. Beban bunga Kr. Beban bunga Kr.. Beban bunga Kr.... Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db./Giro BI d./Giro BI Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi premium dan biaya transaksi) Kr. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 111 ./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db. Surat berharga – amortised cost Kr. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga c./Db./Giro BI b. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db.. c./Kr.. Surat berharga – amortised cost Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening. e. d.. Pada saat menerbitkan Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db./Giro BI atau Db../Giro BI Pada saat jatuh tempo Db. Kas/Rekening..

112 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. b. G.000./Giro BI F.Bab IV I S u r a t Berharga e. Contoh Kasus Pada tanggal 1 Desember 2010 Bank XYZ menerbitkan obligasi Rp. Bunga dibayarkan setiap tanggal 24 Februari dan 24 Agustus. b. 3.5% pada 99. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1..000. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Kas/Rekening. 20. Untuk menerbitkan obligasi dimaksud. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 3 Desember 2010. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa.000. Surat berharga – amortised cost Kr. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020.375. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian.000 dengan kupon bunga 7. 2. Pada saat jatuh tempo Db. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.1. yaitu: a. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan.

000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank XYZ sebesar Rp.000. 20.Bab IV I S u r a t Berharga Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. (lihat tabel) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 113 .

074.557.708.223.333.000.000.708.583 1.705 1.461.742 (24.862.753.586) (15.083 1.636 (26.336) (13.442.916 1.333.617 40.000.975.708.490.298 998.781.708.295 5.000 1.708.875.691) (5.926.000.001.566.000 1.364) 973.776 39.000.448.333 37.515 989.986) (3.370.566.168 1.000.000.000 31-Dec-10 - 31-Jan-11 - 24-Feb-11 - 24-Aug-11 - 24-Feb-12 - Akuntansi Perbankan Indonesia 24-Aug-12 - 24-Feb-13 - 24-Aug-13 - 24-Feb-14 - 24-Aug-14 - 24-Feb-15 - 24-Aug-15 - 24-Feb-16 - 24-Aug-16 - 24-Feb-17 - 24-Aug-17 - 24-Feb-18 - 24-Aug-18 - 24-Feb-19 - 24-Aug-19 - 24-Feb-20 - 24-Aug-20 1.267.408 1.000.088.504) (14.000 37.247 982.Bab IV I S u r a t Tabel: Surat Berharga yang Diterbitkan 114 I P e d o m a n Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) 5.000 1.088 39.000 1.667 38.408 (23.284 1.694.000.634.742 978.133.168 1.741.333 37.000) 973.973.708.058.000.116 1.000 1.309 994.000 1.054) (19.144.000 1.167 1.416 1.708.028.832.408 1.201.875.866.000.333 38.827 992.062) (8.603.000.501 1.333 37.000.166.291.705) 974.754 26.219 (21.667 38.952.482 1.366.043.000 1.442.333 37.916.000.403 975.370.734.000.000.971) 38.776.047.108 122.173) (7.000.095.333.333.916 (20.925.810 978.992 156.000.333 37.633.000.311.946 980.729 981.553 1.000 .000 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .875.281 39.000 1.000 - - 1.000.075 925.702) (1.423 1.948 1.238.258.552 977.754 38.538.916.000.339.000.333.904.636 156.778.333 38.171.108 (25.705 1.900.672.597) 974.333 38.258 (22.339.000.000.490.333 37.783 1.311.500 1.000.246 0 6.443 1.000.083 39.250.000 1.333 39.333 38.798.333 5.308.708.000.333.284 1.000.258 1.584.000.753) (17.664 986.855) 5.000 1.969 140.382.948 1.108 925.709.783 39.238.000 1.000.482 1.407.000.333 38.333 37.000.518 1.741 978.171.734.741 39.830.333 38.659 (25.448.614.852 1.000.000.408 1.122.603.478.333.000 1.267.890.000.221.000.832.443 1.833.(b) Pengakuan amortisasi dalam L/R Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e) Berharga Tanggal Kupon Pembayaran 3-Dec-10 1.458.423 1.333 37.448) 38.938 991.038 39.088.591 1.000.058.750.107 988.889 1.250.000.754) 0 39.000.167 38.000.333 38.391.000.816 40.000.169.617.000.000 1.005.190) 39.000.694.414 984.000.029 979.000.000.691.485) (10.333 37.109.001.000 1.124.636 (26.090 39.659 122.144.014 996.246.222 39.571.000 1.271) (18.145 976.333 6.219 1.889 1.333.879.137.496 985.708.333.000 1.518 39.000 1.893) (11.073.078.000 140.956.000 1.000 1.

.. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.000 Rp.000 Pengakuan bunga. Kas/Rekening.333 Rp.969 140. Pembayaran bunga pada tanggal 24 Februari 2011 Db. Rp.750.291./Giro BI Kr. Rp.. Pencatatan pada saat penyelesaian tanggal 3 Desember 2010 Db.000 6.333 Rp Rp 6. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.000.666 17.122.108 Kr. Kas/Rekening. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 5. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Januari 2011 Db. 993.000 20. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost 3.Bab IV I S u r a t Berharga Ilustrasi Jurnal 1.659 5. Rp. Kas/Rekening. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Rp 5. Pengakuan bunga.992 156. Pencatatan pembayaran brokerage fee tanggal 1 Desember 2010 Db. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp. 5. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Rp 122. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Februari 2011 Db.636 4.458. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp Kr.666 Jurnal untuk pengakuan dan pembayaran bunga serta amortisasi selanjutnya sama dengan jurnal di atas Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 115 ./Giro BI Rp 17..750. 20.000 993.614.291.000.108 Kr. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr./Giro BI 2. Rp. 5. Pengakuan bunga...833. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 6.000. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Desember 2010 Db.973. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.

088 1.000.surat berharga yang diterbitkan Rp 37. Beban bunga yang masih harus dibayar surat berharga yang diterbitkan Kr.708.037. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.708.875.Bab IV I S u r a t Berharga 7. Kas/Rekening. 1. Pencatatan amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Agustus 2020 Db.000..333 Rp. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr./Giro BI Rp Rp 37.333 1. Beban bunga yang masih harus dibayar .708.333 Rp Rp 39.584. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Db..754 h) Pencatatan pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020 Db.000 116 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Penerusan kredit dibedakan menjadi: a. Definisi 1. dan pendapatan (bunga dan provisi/komisi) sesuai porsi kepesertaan masing-masing anggota sindikasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 117 . Kredit Channeling (Channeling Loan) adalah kredit yang seluruh dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan diberikan untuk sektor usaha/debitur tertentu yang ditetapkan oleh pihak penyedia dana. Penerusan Kredit adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pihak lain. dan bank dapat menanggung atau tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan. Kredit Two Step Loans (TSL) adalah kredit oleh bank yang seluruh dananya berasal dari pinjaman luar negeri yang diterima pemerintah untuk membiayai pengembangan sektor usaha tertentu sesuai perjanjian kredit antara peme- 2. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.Bab V I K r e d i t Bab V Kredit 1. c. Kredit sindikasi disebut juga kredit dalam rangka pembiayaan bersama. 3. Kredit Executing adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan sebagian lagi berasal dari bank. Bank tidak menanggung risiko atas kredit dan untuk tugas tersebut bank menerima imbalan jasa berupa fee atau bagian dari bunga. Pasal 1 angka 11) Kredit Sindikasi (Syndication Loans) adalah kredit secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih atau perusahaan pembiayaan lainnya dengan pembagian dana. b. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (UU No. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. ditetapkan berdasarkan perjanjian. Pemberian dan Penyaluran A. Sumber dana dan risiko kredit yang ditanggung bank. risiko. Dalam hal ini bank bertindak sebagai pengelola atas seluruh kredit tersebut.

6. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. (PSAK 1: Paragraf 71) 3. Dasar Pengaturan 1.. 4.. Anjak Piutang (Factoring) adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi usaha. (PSAK 1: Paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. 5. EBA (Efek Beragun Aset) adalah Instrumen keuangan yang sumber utama pembayarannya berasal dari aliran kas yang dihasilkan oleh underlying asetnya dan bukan dari kemampuan membayar dari perusahaan yang memiliki aset tersebut (originator). laporan laba rugi. 7. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. Kredit yang Dijamin adalah kredit yang seluruh atau sebagian risikonya ditanggung oleh pemerintah/asuransi atau pihak lain. kecuali: 2.Bab V I K r e d i t rintah dan pemberi dana (lender). Bank tetap menanggung risiko atas kegagalan pemberian kredit tersebut atau sesuai perjanjian. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. 118 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: .. B. Kartu Kredit (Credit Card) adalah fasilitas/kredit yang diberikan oleh bank yang penarikannya dilakukan melalui pembayaran transaksi jasa dan perdagangan serta penarikan tunai (cash advance) sampai dengan jumlah tertentu sesuai dengan batas/limit yang ditentukan oleh bank... komitmen.. laporan arus kas.

Namun. c. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut… (PSAK 55: PA39) Jika. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 5. 6. piutang dagang. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. I 119 . maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya… (PSAK 55: Paragraf 52) Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. investasi dalam instrumen utang.Bab V I K r e d i t a. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. b. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual.

Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo)… (PSAK 55: Paragraf 8) …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. (PSAK 55: Paragraf 43) 8. biaya pendanaan 120 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule)… (PSAK 55: Paragraf 53) 7. entitas mengukur pada nilai wajarnya. 9. Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang.. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. (PSAK 55: Paragraf 8 ) 13. Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: PA39) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. 10. perantara efek dan pedagang efek. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. … (PSAK 55: Paragraf 49) 11. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. konsultan. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). . lihat juga paragraf 91)… (PSAK 55: PA 79) 12. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh..

dan (d) aset keuangan tersedia untuk dijual Keempat kategori diatas menggunakan pengukuran dan pengakuan laba atau rugi berdasarkan Pernyataan ini. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs).Bab V I K r e d i t (financing costs). Pernyataan ini mengklasifikasikan aset keuangan dalam empat kategori sebagaimana didefinisikan pada paragraf 8: (a) aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo (c) pinjaman yang diberikan atau piutang. yaitu nilai setelah dikurangi fee yang diterimanya. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset.. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. . entitas mengukur aset keuangan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. atau pelepasan lain. (PSAK 55: Paragraf 46) 17. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. maka entitas mengakui pinjaman tersebut pada nilai wajarnya. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok.. Setelah pengakuan awal.. (PSAK 55: Paragraf 45) 16.. pada nilai wajarnya. (PSAK 55: PA 80) 15. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 121 . ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Entitas mengakui diskon yang terjadi pada laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Untuk tujuan pengukuran nilai aset keuangan setelah pengakuan awal. Jika entitas memberikan pinjaman dengan suku bunga diluar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk pinjaman serupa adalah 8 persen) dan menerima fee dimuka sebagai kompensasinya. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. (PSAK 55: PA 26) 14.

Dalam beberapa kasus. poin yang dibayarkan atau diterima. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Hal ini dapat terjadi apabila variabel yang terkait dengan fee. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. periode yang lebih singkat digunakan apabila periode tersebut terkait dengan fee. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. dalam kasus yang jarang terjadi. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. poin yang dibayarkan atau diterima. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. maka entitas tersebut biasanya mengamortisasi setiap fee.Bab V I K r e d i t 18. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. Pada saat menghitung suku bunga efektif. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). atau jika lebih tepat. biaya transaksi. Dalam 122 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55: Paragraf 8) 19. dan premium atau diskonto lainnya. dan premium atau diskonto lainnya disesuaikan dengan suku bunga pasar sebelum perkiraan jatuh tempo atas instrumen tersebut. dan premium atau diskonto lainnya yang termasuk dalam perhitungan suku bunga efektif selama perkiraan umur instrumen tersebut. biaya transaksi. biaya transaksi. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. (PSAK 55: PA17) 20. biaya transaksi. poin yang dibayarkan atau diterima. aset keuangan diperoleh dengan diskon yang sangat besar yang pada dasarnya mencerminkan kerugian kredit yang terjadi. Entitas harus memasukkan kerugian kredit yang terjadi tersebut dalam estimasi arus kas ketika menghitung suku bunga efektif. Namun demikian. Apabila entitas menerapkan metode suku bunga efektif. Namun. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya).

Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. komisi yang harus dibayarkan adalah UMU3. (PSAK 55: PA20) 23. …Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. periode amortisasi yang tepat adalah periode sampai dengan tanggal penyesuaian nilai berikutnya. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. maka biayabiaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai... Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut.. Contoh berikut ini mengilustrasikan akuntansi untuk biaya-biaya transaksi yang terjadi saat pengukuran awal dan setelahnya untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. (PSAK 55: PA82) 24. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. aset dinilai sebesar UMU100 (tanpa memperhitungkan besarnya komisi pada saat penjualan) dan kerugian sebesar UMU2 harus diakui dalam ekuitas. Awalnya. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang. (PSAK 55: PA19) 22. Jika aset tersebut dijual. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 123 . aset tersebut diakui pada UMU102. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. Pada tanggal tersebut.Bab V I K r e d i t kasus tersebut. Suatu aset diperoleh dengan harga UMU100 ditambah komisi pembelian UMU2..(PSAK 55: PA18) 21. Tanggal pelaporan keuangan berikutnya terjadi sehari setelah pengakuan awal ketika harga kuotasi pasar atas aset tersebut adalah UMU100. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan.

c. dan Kredit konsumsi. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). jika dan hanya jika: a. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. risiko. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. 2. pendapatan berupa bunga atau imbalan atau pembagian keuntungan. (PSAK 55: Paragraf 17) 27. b. b. persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. Kredit modal kerja. Kredit investasi. d. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau kewajiban jasa pengelolaan. aktivitas peminjaman uang atau tagihan sebesar plafon yang disepakati. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. b. jangka waktu tertentu. e. dan jaminan dan atau agunan (jika ada) Jenis kredit menurut penggunaannya. 124 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas (PSAK 55: Paragraf 8) 26. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. (PSAK 55: Paragraf 24) C. Penjelasan 1. Kredit berdasarkan pengertiannya antara lain memiliki unsur-unsur sebagai berikut: a.Bab V I K r e d i t 25. f. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. antara lain: a.

kurang lancar (KL). Termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama. dan biaya lainnya sesuai dengan perjanjian kredit. Kelonggaran tarik adalah fasilitas kredit yang masih dapat ditarik oleh debitur dari plafon yang tersedia. dalam perhatian khusus (DPK). Jenis kredit berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti obyektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai terdiri dari: a. dan Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai. 8.Bab V I K r e d i t 3. pembelian surat berharga debitur yang dilengkapi dengan note purchase agreement (NPA). 9. 10. 4. Plafon adalah jumlah maksimum kredit yang diterima oleh debitur sebagaimana tercantum dalam surat perjanjian/kredit. terdiri dari kredit dengan kualitas lancar (L). Pokok kredit adalah saldo kredit yang telah digunakan debitur dan belum dilunasi oleh debitur (biasa disebut sebagai baki debet). Cerukan (overdraft) adalah jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia pada pos giro atau penggunaan kredit yang melebihi plafon yang disetujui. 6. 11. Kewajiban debitur adalah seluruh kewajiban debitur kepada bank berupa pokok kredit ditambah tagihan bunga. b. yaitu jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan). denda (penalty). 5. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 125 . 12. serta cerukan. diragukan (D). Bunga kredit adalah imbalan yang dibayarkan oleh debitur atas kredit yang diterimanya dan biasanya dinyatakan dalam persentase. atau fasilitas lainnya yang tidak dapat diselesaikan (wanprestasi) dan dialihkan menjadi kredit. Penggolongan ini dilakukan untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian bank (prudential regulation). L/C. 7. kredit yang berasal dari bank garansi. kredit dalam restrukturisasi. Penggolongan kredit menurut kualitas. Kredit yang mengalami penurunan nilai. Bunga cerukan adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas penggunaan kredit yang melebihi plafon yang telah ditentukan dan biasanya dinyatakan dalam persentase. dan macet (M).

Dalam aktivitas kredit sindikasi. Participant: bank yang ikut serta mendanai pemberian kredit sindikasi tersebut. hanya bertindak sebagai administrator terhadap kredit yang diberikan oleh pihak ketiga. a. Bank sebagai Participant akan menerima provisi kredit dari maksimum kredit dan commitment fee dari kredit yang belum ditarik (undrawn portion) secara proporsional dengan bank peserta lain. Provisi kredit adalah biaya yang harus dibayar debitur pada saat kredit disetujui dan biasanya dinyatakan dalam persentase. sehingga bank tidak mencatat aset maupun kewajiban keuangan. b. bank menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit bank menanggung sebagian atau seluruh risiko kredit. bank dapat: a. 17. Dalam kredit chanelling. 18. tidak terdapat aliran dana masuk atau keluar melalui bank. Bank sebagai arranger akan menerima arranger fee.Bab V I K r e d i t 13. Denda (penalty) adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas keterlambatan pembayaran pokok dan atau bunga atau kewajiban lainnya. Dalam kredit executing. 15. untuk itu bank mencatat sebagai aset keuangan (executing) sebesar risiko kredit yang ditanggung. 14. b. maka pendapatan provisi yang diterima bank berbedabeda bentuknya. b. 126 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank sebagai agent akan menerima agent fee dan atau management fee. Agent: bank yang bertindak sebagai pemimpin kelompok bank peserta sindikasi atau disebut juga Bank Induk. c. bank yang terlibat dalam pemberian kredit tersebut dapat bertindak sebagai: a. Berdasarkan fungsi tersebut. selain bertindak sebagai administrator. Arranger: bank yang mensponsori/memfasilitasi terbentuknya kelompok “Bank Sindikasi”. c. 16. bertindak sebagai administrator dan menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit mengurangi kewajiban keuangannya (risiko kredit ditanggung oleh pihak ketiga). Commitment fee adalah biaya yang harus dibayar debitur atas bagian kredit yang belum digunakan.

kredit yang diberikan dapat dibukukan dalam 4 kategori aset keuangan. Kuotasi dipasar aktif. yaitu: No 1 Kategori Aset Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan − Kredit yang diberikan atau dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat.Bab V I K r e d i t 19. Piutang 3 4 20. 2 Dimiliki Hingga − Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Jatuh Tempo ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Penentuan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. − Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki hingga jatuh tempo. Penjelasan mengenai reklasifikasi kredit mengacu pada Bab Penjelasan Umum mengenai Reklasifikasi Aset Keuangan. kredit diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah biaya transaksi. 21. Secara umum. Pada saat pengakuan awal. Pinjaman yang Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Diberikan dan ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Misalnya. kredit yang diberikan dengan maksud dijual kembali secara langsung atau melalui skema sekuritisasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 127 . Tersedia untuk − Kredit yang pada saat pengakuan awal ditetapkan Dijual dalam kategori Tersedia untuk Dijual − Kredit yang diberikan dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok kredit secara substansial. − Kredit yang pada saat diberikan/dibeli ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. yang bukan disebabkan penurunan kualitas kredit.

Dalam pemberian fasilitas tersebut.000 5. yaitu sebesar arus kas keluar (pokok ditambah/dikurangi biaya transaksi berupa pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dan/ atau premium atau diskonto) CF = arus kas bersih berdasarkan persyaratan kontraktual (seperti penerimaan pokok.Bab V I K r e d i t b. bunga.000.000 5. Selanjutnya. atau 3) Analisa arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar (dapat menggunakan suku bunga yang ditawarkan bank) yang berlaku untuk kredit sejenis. Suku bunga efektif (r) adalah = 10. 22.000.000. Suku bunga kredit sebesar 10% yang dibayarkan setiap tahun.000 49. bank menerima provisi kredit sehingga dana yang dibayarkan kepada debitur sebesar 98% dari total kredit.000.000. call option dan lainnya) r = suku bunga efektif (effective interest rate) t = jangka waktu Contoh: Pada tanggal 1 Januari 2010 bank memberikan fasilitas kredit kepada PT. yang berdasarkan formula tersebut di atas. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. berdasarkan nilai wajar tersebut.000. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari aset lain yang sejenis. Nilai wajar kredit pada saat pengakuan awal adalah sebesar pokok kredit yang dicairkan oleh debitur.000 55. dapat dihitung suku bunga efektif dengan formula sebagai berikut: CF CF CF PV = ———— + ———— + · · · · + ———— (1 + r)1 (1 + r)2 (1 + r)t dimana: PV = nilai wajar yang merupakan present value dari kredit yang diberikan. denda. ABC sebesar Rp. pelunasan dipercepat.000 = —————— + —————— + —————— + —————— + —————— (1 + r) 1 (1 + r)2 (1 + r)3 (1 + r)4 (1 + r)5 128 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu: 5. Kredit berjangka waktu 5 tahun dan akan jatuh tempo pada 31 Desember 2014.53482%. 50 juta.000 5.

Ketentuan penetapan suku bunga efektif adalah sebagai berikut: a. Kredit dengan suku bunga tetap dengan penyaluran secara bertahap atas jumlah plafon kredit memiliki suku bunga efektif tersendiri untuk setiap tahapan penarikan kredit kecuali pada awal pemberian kredit. dan faktor lainnya) dan memiliki peringkat kredit yang serupa. Suku bunga efektif akan berubah setiap kali dilakukan perubahan estimasi arus kas masa datang yang dihasilkan dari perubahan tingkat suku bunga. perhitungan suku bunga efektif didasarkan pada arus kas dengan menggunakan suku bunga yang diestimasi pada awal pemberian kredit. Jika bagian dari penyerahan dana kepada debitur ditujukan untuk hal selain pemberian/pembelian kredit tersebut. yaitu berdasarkan estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk jenis kredit serupa (dalam hal mata uang. Apabila bank memberikan kredit dengan skema bunga meningkat atau menurun (step up/down) yang sudah diketahui sejak awal (sudah diperjanjikan). b. Dalam menghitung suku bunga efektif. 24. Selanjutnya suku bunga efektif akan disesuaikan pada saat penyesuaian suku bunga berikutnya.Bab V I K r e d i t 23. 25. Jenis-jenis pendapatan dan beban tersebut antara lain: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 129 . waktu penarikan dan jumlah pada setiap penarikan telah diketahui. syarat-syarat. termasuk ketika bank memberikan keringanan suku bunga melalui restrukturisasi kredit atau melakukan revisi estimasi pembayaran atau penerimaan bunga dan pokok. Kredit dengan suku bunga tetap memiliki satu suku bunga efektif yang dihitung pada awal pemberian kredit. Amortisasi pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dilanjutkan dengan menggunakan suku bunga efektif yang baru. jenis suku bunga. Suku bunga efektif yang dihitung berdasarkan arus kas kontraktual pada dasarnya tidak dapat diubah sampai dengan seluruh kewajiban debitur dibayar lunas. maka hal tersebut sudah harus diperhitungkan pada saat perhitungan awal arus kas untuk menentukan suku bunga efektif. maka nilai wajar kredit harus diestimasi menggunakan teknik penilaian. bank harus memperhatikan secara cermat biaya transaksi yang meliputi pendapatan dan beban selain bunga (yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit) yang harus diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Kredit dengan suku bunga mengambang. d. c.

Bab V I K r e d i t a. b. dan/atau Pendapatan dan beban lainnya yang tidak dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit. c. 130 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . karena opsi tersebut menyebabkan bank tidak dapat menerima bunga secara penuh hingga jatuh tempo. karyawan atau pihak lain untuk setiap aplikasi kredit yang disetujui. b.Pengakuan dan Pengukuran. Opsi pelunasan sebelum jatuh tempo harus dievaluasi lebih lanjut apakah merupakan derivatif melekat yang memenuhi persyaratan untuk dipisahkan dari Kredit sebagai kontrak utamanya (host contract) (lebih lanjut lihat Bab mengenai Tagihan dan Kewajiban Derivatif). Biaya yang dikeluarkan bank dalam rangka pemberian/pembelian kredit seperti: 1) Fee atau imbalan yang dibayarkan kepada developer. Denda (penalty) yang dikenakan kepada debitur atas opsi pelunasan sebelum jatuh tempo yang tertuang dalam perjanjian kredit. antara lain fee (seperti origination fee dan commitment fee) dan provisi kredit yang tertuang dalam perjanjian kredit. biaya appraisal dan lain-lain. 26. sepanjang fee/provisi tersebut secara langsung timbul pada saat pemberian/pembelian kredit (akuisisi aset). Seluruh pendapatan dan beban yang dapat diakui sekaligus sebagaimana dimaksud pada angka 12 Perlakuan Akuntansi . b. Jenis-jenis pendapatan dan beban yang tidak dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang antara lain: a. tinjauan lokasi debitur (on-thespot). Fee yang terkait dengan jangka waktu kredit. Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit tersebut. 27. atau Bank telah mentransfer kredit tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas kredit yang diberikan jika dan hanya jika: a. Dalam laporan keuangan. dan 2) Biaya konsultan untuk notaris dan hukum. Denda/penalty yang dikenakan terkait dengan biaya administrasi tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Jika fee/provisi kredit diterima sekaligus untuk kredit dengan penarikan secara bertahap maka fee/provisi tersebut dialokasikan secara proporsional sesuai jumlah penarikan kredit dalam setiap tahap.

dan giro pada bank lain selama periode penyelesaian jangka pendek. Bank hanya dapat menempatkan dana tersebut pada kas. Dalam hal ini: a) Jika bank tidak lagi memiliki pengendalian.Bab V I K r e d i t 28. giro pada Bank Indonesia. dan secara terpisah mengakui sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut. kecuali jika bank memperoleh jumlah yang setara dari kredit awalnya. maka bank mengevaluasi sejauh mana bank tetap memiliki risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. 3) Bank berkewajiban untuk menyerahkan setiap arus kas masa datang yang ditagihnya untuk dan atas nama penerima akhir tanpa penundaan yang signifikan. Kriteria penghentian pengakuan atas kredit sebagaimana dimaksud pada angka 27 b antara lain: a. 2) Jika bank secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. b. penjualan kredit dengan opsi untuk membeli kembali pada nilai wajarnya saat pembelian kembali). yaitu antara tanggal penagihan dan tanggal pembayaran kepada penerima akhir. maka bank menghentikan pengakuan kredit dan mengakui secara terpisah sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut (contoh penjualan kredit tanpa syarat. sehingga bank menentukan apakah bank masih memiliki pengendalian atas kredit tersebut. Jika bank mentransfer atau mengalihkan kredit. baik dengan mentransfer hak kontraktual atau tetap memiliki hak kontraktual namun menanggung kewajiban kontraktual (passthrough arrangement). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 131 . Terdapat pass-through-arrangement yang dipenuhi dengan 3 kondisi yaitu: 1) Bank tidak wajib membayar penerima akhir. maka bank menghentikan pengakuan kredit tersebut. Dalam hal ini: 1) Jika bank secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit. 2) Bank tidak diperkenankan menjual atau mengagunkan kredit yang ditransfer kecuali untuk menjamin hak penerima akhir untuk menerima arus kas masa datang. dan pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan tersebut (jika ada) harus diserahkan kepada penerima akhir.

Terkait dengan karakteristik khusus industri perbankan. D. akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan tetap/tidak bertambah pada saat diterima setoran. yaitu: 132 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan kredit yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat kredit karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari kredit. yaitu: a. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Pada saat penandatanganan perjanjian kredit dengan debitur. kredit modal kerja (KMK) plafon menurun atau kredit konsumsi. Kredit modal kerja/rekening koran akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan akan bertambah pada saat diterima setoran. kecuali untuk penerusan kredit. bank mengakui sebagai ”Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur” sebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwal penarikan/penggunaan kredit yang disepakati bank dengan debitur.Bab V I K r e d i t b) Jika bank masih memiliki pengendalian. bank mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan” sebesar nilai wajar. meskipun tidak mengikuti kriteria penghentian pengakuan. kredit yang dihapusbuku dapat dikeluarkan dari neraca. Pada saat pencairan kredit. maka bank tetap mengakui kredit sebesar keterlibatan berkelanjutannya dengan kredit. b. Bank masih memiliki pengendalian atas kredit yang ditransfer apabila penerima transfer tidak memiliki kemampuan praktis untuk menjual kredit yang ditransfer tersebut. Kredit investasi. Jumlah kewajiban komitmen fasilitas kredit tersebut dapat berkurang atau bertambah selama jangka waktu kredit sesuai jenis kreditnya. 29. 2.

2 3 4 3. Rugi Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat pengakuan awal sama dengan harga transaksi. dan/atau Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. Demikian juga bank peserta sindikasi tidak mengakui sebagai “Tagihan kepada bank induk”. b. Pada saat pencairan kredit. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama (kredit sindikasi) diakui sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan (baik sebagai bank induk maupun sebagai bank peserta) dikurangi atau ditambah pendapatan dan/ atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembiayaan bersama tersebut. Apabila bank menjadi bank induk sindikasi (agent) dan menerima transfer dana dari bank peserta sindikasi (participant bank). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 133 .Bab V I K r e d i t No 1 Kredit dalam kategori Pencatatan pada saat pencairan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat melalui Laporan Laba pengakuan awal sama dengan harga transaksi. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit tersebut. Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak terkait dengan jangka waktu kredit. tetapi langsung dikreditkan ke pos giro debitur di bank induk (escrow account). Misalnya. pendapatan fee atas pengelolaan rekening debitur. tetapi sebagai “Kredit yang diberikan” kepada debitur. 4. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. dan/atau biaya yang dikeluarkan bank karena debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya. biaya talangan. bank tidak perlu melakukan kapitalisasi atas pendapatan dan/atau beban pada biaya perolehan kredit dan dapat mengakui secara langsung sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika: a. maka atas dana tersebut tidak dapat diakui sebagai “Pinjaman yang diterima dari bank peserta”.

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui pada laporan laba rugi Sebesar nilai wajar. Namun. b. maka bank tidak diperkenankan mengakui sebagai “Kredit yang diberikan”. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. 7. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam hal bank memberikan kredit berdasarkan perjanjian penerusan kredit (channeling) atau kredit kelolaan. tetapi mengungkapkannya pada catatan atas laporan keuangan sebagai penerusan kredit. Untuk kredit dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. apabila bank menanggung risiko maka bank mengakuinya sebagai “Kredit yang diberikan” sebesar risiko yang ditanggung. 134 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu nilai wajar kredit yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan pokok. bank mencatat kredit yang diberikan sebagai berikut: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 Tersedia untuk Dijual Pencatatan setelah pencairan Sebesar nilai wajar. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. ditambah atau dikurangi dengan amordan Piutang tisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui secara langsung dalam ekuitas 6. Selanjutnya.Bab V I K r e d i t 5. Setelah pencairan kredit. 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).

b. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. b. namun harus diamortisasi selama masa manfaat kredit dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premium atau diskonto.Bab V I K r e d i t Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. 8. c. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. misalnya base lending rate ditambah risk premium dan profit margin untuk kredit sejenis. Reklasifikasi kredit diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. Selanjutnya. yaitu jika bank: a. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. menerima pendapatan (di luar bunga) dan/atau mengeluarkan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit tersebut. 9. Untuk kredit yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi. nilai tercatat (carrying amount) pada saat pengakuan awal dapat berbeda dengan nilai kredit yang akan diperoleh pada saat jatuh tempo. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. memberikan kredit dengan suku bunga di luar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk kredit sejenis adalah 8 persen). Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari kredit dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. harus diakui sebagai berikut: a. Dalam menentukan suku bunga pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b. dan/atau memberikan/membeli kredit secara diskonto atau premium. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 135 . bank dapat menggunakan suku bunga acuan yang berlaku di bank.

Total biaya transaksi sebesar 5% atau kurang dari rata-rata laba sebelum pajak selama 3 tahun terakhir dianggap tidak material. 5. Tingkat materialitas secara individu ditetapkan oleh manajemen dengan berdasarkan kepada estimasi angka agregat. Selisih antara nilai tercatat kredit (yang merupakan biaya perolehan diamortisasi) dengan nilai kredit yang akan diterima pada saat jatuh tempo kredit diamortisasi selama periode berjalan menggunakan metode suku bunga efektif.Bab V I K r e d i t 10.000. maka biaya transaksi secara agregat sebesar Rp. material. kredit dengan skedul penarikan dan pembayaran (arus kas) yang sulit diprediksi. Total biaya transaksi secara agregat ini merupakan batas maksimal dari akumulasi biaya transaksi individual yang dianggap tidak material. Dalam hal bank mengalami kerugian. Tingkat materialitas ditetapkan secara agregat dengan membandingkan total biaya transaksi dengan laba sebelum pajak. .000. 11. Bank dapat tidak melakukan amortisasi atas pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit dan mengakui sekaligus sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika besarnya pendapatan dan biaya transaksi tersebut tidak material. 13. misalnya kredit yang bersifat revolving. apabila bank memiliki laba sebelum pajak sebesar Rp.000.000. 2) perbedaan suku bunga kredit yang diberikan dan suku bunga pasar atas kredit sejenis. Dalam hal hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit yang diberikan telah berakhir dan/atau bank telah mentransfer keseluruhan kredit yang 136 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia b. pinjaman rekening koran. dan besarnya: 1) pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. laba sebelum pajak menggunakan rata-rata 3 tahun terakhir sebelum bank mengalami kerugian untuk menentukan tingkat materialitas secara agregat. Bank dapat menggunakan metode garis lurus dalam melakukan amortisasi untuk: a. 100. dan kartu kredit.000. Sebagai contoh. dan/atau 3) diskonto atau premium atas pemberian/pembelian kredit.000.000) dianggap tidak material. 14. 12. Penghentian pengakuan kredit a.000 (5% x 100. Bank harus menetapkan tingkat materialitas dan mendokumentasikan dalam kebijakan akuntansi.000.

Penyajian 1. memenuhi kriteria penghentian pengakuan.Bab V I K r e d i t b. selisih antara (i) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian kredit yang ditransfer. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas kredit yang diberikan. maka bank tidak lagi mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan”. Kredit yang dijamin disajikan berdasarkan kredit yang disalurkan bank. yaitu: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 3 4 Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Penyajian pada neraca Sebesar nilai wajar. maka bank tidak lagi mengakui bagian kredit tersebut sebagai ”Kredit yang diberikan” dan nilai tercatat sebelumnya (nilai wajar atau biaya perolehan diamortisasi) dari keseluruhan kredit harus dialokasikan pada bagian yang tetap diakui dan bagian yang telah dihentikan pengakuannya berdasarkan nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal transfer. yaitu nilai wajar kredit yang Pinjaman yang Diberikan dan diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Kredit disajikan di neraca sesuai kategori. 3. diakui pada laporan laba rugi. 2. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 137 . termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. dan (ii) jumlah dari pembayaran yang diterima atas bagian kredit yang ditranfer tersebut ditambah/dikurangi keuntungan/kerugian kumulatif atas bagian kredit tersebut yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. ditambah atau dikurangi Piutang dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Kredit sindikasi disajikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank. Dalam hal bank telah mentransfer sebagian kredit yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Selanjutnya.

Pendapatan bunga dari kredit (yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang pada saat pengakuan awal kredit atau pada saat penyesuaian suku bunga kredit) yang telah diakui sebagai pendapatan tetapi belum diterima pembayarannya. Sementara itu.amortised cost atau Kr. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi a. Kredit . E Ilustrasi Jurnal 1. 5. disajikan sebagai tagihan bunga kredit atau pendapatan bunga kredit yang akan diterima. Kewajiban komitmen . pendapatan bunga dari kredit yang tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang yang dibuat pada saat pengakuan awal kredit atau pada penyesuaian suku bunga kredit dicatat pada rekening administratif. Pendapatan bunga (Apabila nilai provisi kredit yang diterima tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Kas/Rekening…/Giro BI 138 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kredit . Pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Kredit .amortised cost Kr. Kredit kelolaan disajikan pada pos kredit yang diberikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud.amortised cost Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan b.Bab V I K r e d i t 4. Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Pada saat pencairan kredit kepada debitur Db.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rekening lawan .

d.amortised cost Pendapatan bunga kredit Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 139 .Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Rekening lawan . Db. Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr./Kr. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. Db. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan.amortised cost Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kredit . Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit . Kewajiban komitmen . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db.

Tagihan klaim asuransi 2. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Nasabah notaris/perusahaan asuransi f. Pendapatan arranger fee kredit sindikasi 2) Agent/management fee Db. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai Bank Induk/ agent/lead manager a. Tagihan klaim asuransi Kr.Bab V I K r e d i t e. Kas/Rekening. Pada saat menerima klaim asuransi dari perusahaan asuransi Db. Pada saat menerima pembayaran arranger fee../Giro BI Kr. premi asuransi barang agunan) Db. Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db.biaya kredit g. Kredit . agent/management fee dan provisi kredit sindikasi dari debitur 1) Arranger fee Db. Giro BI (berdasarkan porsi bank lain yang menjadi wakil agent) 140 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan biaya .amortised cost . Tagihan biaya . Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db.hasil klaim asuransi h. Pendapatan agent/management fee kredit sindikasi Kr. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris.

dicatat sama dengan butir 1. Rekening perantara kredit sindikasi f. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat melakukan amortisasi dan perhitungan dan pembebanan bunga kredit sindikasi yang besarnya sesuai dengan porsi kredit bank bersangkutan. Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit (berdasarkan porsi bank tersebut) Db. c Pada saat menerima setoran dari debitur dicatat sama dengan butir 1. e dengan asumsi penagihan kepada debitur dilakukan oleh bank induk sindikasi e.kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 141 . premi asuransi barang agunan). Kredit sindikasi-bank induk (berdasarkan porsi bank tersebut) Kr. Giro BI/Bank peserta Kr. Kewajiban komitmen . dicatat sama dengan butir 1. Rekening perantara kredit sindikasi Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Rekening lawan . Giro BI (berdasarkan porsi bank peserta) b. d dengan tambahan jurnal untuk penerimaan bunga dan pokok porsi bank peserta Db. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank induk) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI g.Bab V I K r e d i t 3) Provisi kredit Db. Pada saat pencairan kredit kepada debitur 1) Penyediaan dana oleh bank induk Db. Rekening escrow debitur d. Pada saat meneruskan penerimaan bunga dan atau pokok kredit sindikasi porsi bank peserta Db. Rekening escrow debitur 2) Penerimaan dana dari bank peserta Db.

Pada saat meneruskan pembayaran commitment fee kredit sindikasi porsi bank peserta Db. maka Bank tidak menerima provisi kredit (debitur tidak membayar provisi kredit). Rekening perantara kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank peserta) i. bunga dan biaya) dari bank induk/agent. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai bank peserta (Participant Bank) Pada prinsipnya akuntansi pada bank peserta kredit sindikasi sama dengan akuntansi Kredit. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 4. Namun demikian. Pembayaran kredit (pokok. Pendapatan commitment fee kredit (berdasarkan porsi bank bersangkutan) Kr. Bank menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan 1) Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. Dana untuk penyaluran kredit (rekening penampungan dana sementara) 2) Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur Karena risiko kredit ditanggung penyedia dana. bunga dan biaya) oleh debitur dibukukan melalui bank induk/agent dan bank peserta akan menerima transfer dana pembayaran (pokok. Kas/Rekening…/Giro BI 3. Pada saat menerima commitment fee atas bagian kredit yang belum ditarik (undrawn portion) oleh debitur Db. 142 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dengan perbedaan: a. Penerusan kredit tanpa risiko a.Bab V I K r e d i t h. b. pada umumnya penarikan kredit oleh debitur dilakukan melalui bank induk/agent dan bank peserta harus memindahkan (transfer) dana atau kredit yang akan ditarik kepada bank induk/ agent. Penarikan kredit oleh debitur pada hakekatnya dilakukan sesuai dengan perjanjian kredit sindikasi.

Setoran pokok kredit channeling Kr. Kewajiban lain .Setoran bunga kredit channeling Db. Pendapatan fee penerusan kredit Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kewajiban lain . Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat pada extracomptable rekening penerusan kredit 4) Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur dicatat pada extracomptable 5) Pada saat menerima pembayaran bunga kredit dari debitur Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Kr. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 6) Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Kewajiban lain . Pendapatan fee penerusan kredit b) Pada saat menerima fee kredit channeling dari penyedia dana Db. 3) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI 8) Apabila fee harus ditagihkan kepada penyedia dana a) Pada saat menagih Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 143 .Bab V I K r e d i t Tidak mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan. Kewajiban lain . Dana untuk penyaluran kredit (rekening sementara) Kr.Setoran pokok kredit channeling 7) Pada saat menyelesaikan pembayaran bunga dan atau pokok kredit setelah dikurangi dengan fee penerusan kredit kepada penyedia dana Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Setoran bunga kredit channeling Bersamaan dengan itu.

2) Tata cara pembukuan lainnya sama seperti apabila bank menerima dana dari penyedia dana. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur (1) Untuk dana yang berasal dari bank sama. Pendapatan bunga kredit kelolaan yang akan diterima (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. c. Karena sebagian risiko kredit ditanggung bank. dicatat sama dengan butir 1. e. maka bank mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan berdasarkan porsi yang ditanggung bank. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Bank tidak menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan. Penarikan kredit sudah dilakukan oleh debitur langsung ke penyedia dana. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 144 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t b.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Bersamaan dengan itu. Kredit kelolaan (sebesar dana yang ditanggung oleh bank) Kr. (2) Untuk dana yang berasal dari penyedia dana dicatat pada extracomptable. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) Db. 5. Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur. Kewajiban lain . bank hanya diminta mengadministrasikannya. Pada saat penerimaan pendapatan bunga dari debitur Db. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) b. Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat extracomptable kredit kelolaan yang dananya berasal dari penyedia dana. 1) Pada saat menerima perintah untuk membukukan bukti penarikan kredit dicatat pada extracomptable. Kredit kelolaan a. c. Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. d.

6./Giro BI Db/Kr.. Giro BI/rekening pihak penyedia dana g. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 145 . Kredit dengan Penjaminan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Kredit . Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang.. 8. Pendapatan bunga (sebesar provisi/komisi/diskonto yang diterima) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Kredit kelolaan (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr.Bab V I K r e d i t f. Kr. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar Db.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Db. Kewajiban lain . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. b. 7. Db. Kredit Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan bunga kredit c. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Pada saat transfer setoran pokok dan atau bunga kepada penyedia dana Db.Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Kredit Two Steps Loan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. Kewajiban lain .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kas/Rekening.

Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kredit .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kewajiban komitmen . Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai Kredit Tersedia untuk Dijual 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kredit . Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya Db/Kr. Pada saat menjual kredit Db. Keuntungan (kerugian) karena peningkatan (penurunan) nilai wajar (MTM) Kredit . Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 146 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kredit .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi e.Tersedia untuk Dijual Kr. Kredit .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi d.Tersedia untuk Dijual atau Kr. Rekening lawan . Pendapatan bunga (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 9.fasilitas kredit yang belum digunakan b.Bab V I K r e d i t 2) Sebesar setoran bunga debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kredit Tersedia untuk Dijual a.Tersedia untuk Dijual Kr.

Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit dicatat Db. Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit .Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Dalam hal tidak terdapat ketentuan yang mengatur. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.Tersedia untuk Dijual Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pendapatan bunga kredit Db/Kr. d.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Rekening lawan . Kredit . Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db.Tersedia untuk Dijual Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 147 . Kewajiban komitmen . Db. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan manajemen masing-masing bank. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable.

Tagihan klaim asuransi Kr. Kredit – Tersedia untuk Dijual Kr. Tagihan biaya-biaya kredit g. Tagihan biaya-biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr. Ekuitas .Bab V I K r e d i t e. Tagihan klaim asuransi i. Ekuitas . Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db.Pendapatan komprehensif lain Penurunan nilai wajar Db. Kas/Rekening …/Giro BI Kr. Db.Tersedia untuk Dijual Db/Kr. Kas/Rekening…/Giro BI f.hasil klaim asuransi h. Kr. Kas/Rekening …/Giro BI Kr. Pada saat menjual kredit Db. Kredit – Tersedia untuk Dijual j. Kredit . Mencatat penerimaan klaim asuransi dari perusahaan asuransi. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 148 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. premi asuransi barang agunan) Db. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya (dihitung dari selisih antara nilai tercatat dengan harga pasar) Peningkatan nilai wajar Db. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db.Pendapatan komprehensif lain Kr/Db. Kas/Rekening …/Giro BI Kredit .

6. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 149 . b. Kategorisasi dan nilai tercatat kredit. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan perkreditan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Jumlah kredit yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). 4. yaitu: a. b. Kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Jurnal kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dilakukan sebagaimana kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). d. F. c. Pengalihan kredit yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh kredit. b. Asumsi penetapan nilai wajar kredit (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran kredit) dan agunan. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Tersedia untuk Dijual. Perubahan nilai wajar atas kredit yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 5. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kredit dalam penyusunan laporan keuangan. b. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. dengan rincian berikut: a. c. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. termasuk namun tidak terbatas pada: a. Jenis kredit. 3. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan kredit yang masih tetap berada di bank. 2.Bab V I K r e d i t 10. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate).

consumer loans. commercial loans. kebijakan. jika bank tetap mengakui seluruh bagian kredit. b. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan dan credit derivative). Analisis tersebut mencakup: a. Pengungkapan kuantitatif 9. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko kredit pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. c. Informasi mengenai kualitas kredit diluar kredit yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. jika bank tetap mengakui sebagian kredit sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 7. yang meliputi: 150 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pengungkapan kualitatif 8. Total nilai tercatat kredit awal yang dialihkan. dan nilai tercatat kewajiban terkait. d. Nilai tercatat kredit dan kewajiban terkait. Tujuan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko kredit dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. nilai tercatat kredit yang tetap diakui bank. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur kredit sebagaimana pada butir a) di atas. dan pihak penjual proteksi kredit dalam transaksi credit derivative). dan sebagainya). 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya.Bab V I K r e d i t c. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas perkreditan sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya.

maka pengungkapan mencakup: (a) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai. 10. 3) Tipe/jenis debitur. 11. maka pengungkapan mencakup: (a) Proses pemeringkatan internal. mata uang. berdasarkan jangka waktu. (b) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat internal. 12. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. antara lain sektor ekonomi dan geografi. Jumlah penerusan kredit (channeling loan/kredit kelolaan). Nilai tercatat kredit yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 4) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate). 5) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas kredit. dan tingkat bunga kredit yang dihitung secara rata-rata. 2) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. (c) Jumlah ekposur kredit yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. Jumlah kredit berdasarkan segmentasi. (c) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 151 . 13. (b) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat.Bab V I K r e d i t 1) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. Jumlah kredit kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. (d) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. d.

000. 14. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. − Suku bunga kredit sama dengan suku bunga pasar.500. 35. 14.000 = (Rp.000. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.Bab V I K r e d i t G.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. Asumsi: − Debitur memenuhi seluruh kewajibannya (lancar). 35.500.000 .500.000. 14. Berdasarkan data di atas. 14. Lihat Tabel 1: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost dan Tabel 2: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja.000).000. 152 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.Rp.1 % atau Rp.000/bulan.25%/bulan 0.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1.20.520.000.500. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga tetap) Pada tanggal 1 Januari 2010.000.000 + Rp. Contoh Kasus 1. 20.000.14. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.500.

123 14.000) 179.000) (181.910.635.884 14.602) (1.000 8 31-Jul-10 181.289.905 14.655.221 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (14.505.520.431 179.098 (14.821 14.627 14.411.512.821 (181.172.000 11 31-Oct-10 181.104 (181.503.123 14.826.508.250.250.500.510.489.738.916) 179.503.324.500.948 14.334) (1.000 4 30-Mar-10 181.615.501.884 14.250.321) (1.696.000) (181.507.250.779 179.654.979 14.250.948 14.250.058 14.000.324.904.595.569) (1.000 9 31-Aug-10 181.250.517.826.803.250.781.574.221 179.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.856) (1.666 (181.921 179.520.289.250.515.237% (Original Effective Interest Rate/EIR) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Keterangan p = pokok Trx = transaksi i = suku bunga kontraktual Bab V I K r e d i t I 153 .512.000 7 30-Jun-10 181.518.172.250.979 14.250.513.000) (1.179) 14.468.630.513.250.826.594.511.250.655.000) 2 31-Jan-10 181.008 14.398 (181.515.904.000 10 30-Sep-10 181.000) 179.221) 179.500.124) (1.250.000 14.250.675.000) (1.084 (181.000 6 31-May-10 181.999.532.905 14.000 3 28-Feb-10 181.000) (1.627.634.518.896) 179.508.250.501.000 12 30-Nov-10 181.821 14.517.250.910.627 14.282 14.000) (1.655.000 13 31-Dec-10 14.000) 179.058 14.505.679 (181.876 (181.446.627.250.250.999.000) (181.553.411.079) (1.282 14.614.630.000 5 30-Apr-10 181.000 14.510.760.520.008 14.250.000) (181.507.681.Tabel 1 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F 14.000) 179.000) (181.250.250.144 179.250.500.423.250.717.902) (1.

000.500.000.250.000 81.000 30-Sep-10 14.500.250.500.500.000 14.500.500.250.000.000.000 14.000.000 31-Dec-10 14.250.000) 81.000 (14.000.000 81.000 (181.000.000.000 81.500.000 14.000 14.250.500.250.000 14.250.000 (181.000 81.000 14.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000.000) (181.500.500.000.000.000) 81.500.500.250.250.000 14.500.000.000.000.000.000.000.000.000.000 14.500.000 81.000 14.Tabel 2 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 31-Jul-10 14.000.000.500.250.250.500.000 14.000) (181.500.000 14.500.500.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 30-Mar-10 14.250.000) 14.000.000 (181.000) 81.000 81.250.000 14.250.000) (181.500.250.000 30-Nov-10 14.500.000 14.000.000.500.000 14.000) (181.000.000.000.000) (181.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akrual Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 154 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.000 31-Aug-10 14.000 28-Feb-10 14.000.000) .250.500.000 14.500.000 81.000 14.250.250.000.500.000.500.000 30-Jun-10 14.000 14.500.000.500.000 14.500.500.000 14.000) (181.000.250.250.000 (181.000) (181.000 30-Apr-10 14.000.000.250.000.000) (181.000 81.000 31-Oct-10 14.500.500.250.500.500.500.250.000 14.000.000.500.500.500.000.000 14.000 31-May-10 14.000 81.000 14.250.

Bab V I K r e d i t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 155 .

Kr.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.amortised cost Rp.250. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 2. Rp. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Tanggal 31 Desember 2010. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit Rp./Giro BI Kr.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 20. Kredit ..000 20. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.000.000 14. Kas/Rekening.000 20.000 181. Kr. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.250. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 181. Rp.654. 3 sd 12 sama dengan transaksi no. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kredit .000 181.000 14..779 181.000 1. Kr. Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Kr. c.000.500. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.250. 5) Pada saat pelunasan pokok kepada debitur Db. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 181.250.821 181.250. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.826. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Kr. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 20. Pendapatan bunga kredit Rp.amortised cost Rp. Rp.221 179.179 179.595. 156 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .amortised cost Rp.000 Jurnal transaksi untuk no.423.500. Kredit .000 1. Rp.250.

500.000.000. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. 14. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. Asumsi: − − Pada tanggal 1 Januari 2010 diasumsikan bahwa suku bunga diprediksikan akan meningkat menjadi 1. Berdasarkan data di atas. suku bunga berubah menjadi 1.Bab V I K r e d i t 2.5%/bulan.25%/bulan 0.000/bulan.500.000).000 .000. 1 Juli 2010.000 + Rp.000. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga mengambang) Pada tanggal 1 Januari 2010. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.500. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.000.35%/bulan pada tanggal 31 Juli 2010.1 % atau Rp.Rp. 14.500. 35. 14. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. 14.500.000.14. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 157 .20.520. 35.000 = (Rp. Lihat Tabel 3 sampai dengan Tabel 6.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.000. 20.

852.525.623 (181.208 186.336 187.029.000) (195.000 14.536.107.285% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .525.408.973 186.299 (181.427) (9.548.000.536.000 3 28-Feb-10 181.262.627 186.720.344.520.852.437.774 4.566 14.450.770.000 4 30-Mar-10 181.520.750.262.000 7 30-Jun-10 181.972) (8.527.604.506 5.000) (195.531.518.553.750.689.262.456 (181.250.841.750.154.664) (8.500.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.060.373) (9.835.000 13 31-Dec-10 14.518.487.750.352.107.000 8 31-Jul-10 195.542.631.986.801.397 14.000) 2 31-Jan-10 181.881.250.000) 186.000) (195.623 186.456 14.202 (8.500.545.774 14.250.230 14.948.000 12 30-Nov-10 195.545.35%/bulan) Bab V I K r e d i t 158 I P e d o m a n No C 14.000 11 31-Oct-10 195.250.736.000 9 31-Aug-10 195.500.506 (181.759 14.299 33.408.250.401 14.381.000) 186.750.914.663.973) 14.332.973 0 186.000) 5.536.903 sub total 14.750.542.750.250.750.680 5.637 5.000) 186.145.202 14.520.844.509.250.509.759 14.079 14.000) (195.881.154.573 (14.903 14.000) 186.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.397 14.456 D E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.000) 5.401 14.000 5 30-Apr-10 181.230 14.553.352.750.527.695.566 14.027 186.844.332.250.250.250.591.000 10 30-Sep-10 195.028 (195.750.913.536.680 (181.750.202 Tahun Expected Cashflow Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dgn EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit A B 1 1-Jan-10 (14.437.444.250.637 (181.531.456 14.700.079 14.Tabel 3: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (asumsi pada 1 Januari 2010 suku bunga diprediksikan akan meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.000) 5.000) (195.250.792) (9.000) 186.444.750.548.

500.500.500.000 14.500.000.500.000 181.750.000) 181.000 14.000 14.250.500.500.000) (195.500.500.500.000.000 181.750.000 14.000.000 14.500.000) (195.000.500.250.000 14.Tabel 4 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 14.000 14.000) (195.000 30-Mar-10 14.000) (181.000 181.000.500.500.000.000.000 14.500.000.000 14.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-10 14.000 14.000.000 30-Jun-10 14.750.250.500.000.000.000.000) 195.250.000 14.000.000.250.000.000 Bab V I K r e d i t I 159 .250.000 14.000 31-Aug-10 14.500.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.000 14.000 14.000.000.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000.000 (181.250.000 14.000.500.000 (195.000) 14.000.000.000 195.000.500.000.000) (195.000.000 (181.000.000 195.500.500.500.000.750.000 28-Feb-10 14.000) (195.750.000 14.000.500.000.000 14.000 14.750.500.000 (181.000) 181.500.500.000 14.000.000.500.000 30-Nov-10 14.000.000.000 (181.500.000 195.000.000.500.000) 181.000.500.500.000 30-Sep-10 14.000.500.500.000 (14.000 31-Jul-10 14.750.000) sub total 14.000 (181.000) 14.500.000 31-May-10 14.000.000 31-Oct-10 14.500.750.000 195.250.750.750.250.500.250.000.750.750.250.000 30-Apr-10 14.500.500.250.000 195.

842.591.334.000 14.250.545.000 12 30-Nov-10 217.000 8 31-Jul-10 217.250.500.165.863 14.718.296.186.631.520.000) (217.000 5 30-Apr-10 181.500.461.986.5%/bulan) Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F (181.000) (181.781.079 14.531.000) (181.881.000) 208.000 9 31-Aug-10 217.690) 14.753 14.296.506 186.000) 2 31-Jan-10 181.306 208.000) (217.536.332.296.464.548.000) (181.852.690 0 5.500.000) 5.250.852.320 208.107.250.844.841.516) (9.073 14.186.500.000 14.43% 208.527.332.000 13 31-Dec-10 14.000.509.525.250.461.500.520.623 5.250.500.250.456 14.000 11 31-Oct-10 217.456 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.881.518.553.444.680) (8.079 14.107.637 5.903 14.903 186.500.000 4 30-Mar-10 181.863 14.000 10 30-Sep-10 217.520.203.379 14.173) (9.000) (181.637 186.449) (8.250.500.381.000) (217.657.759 14.405.759 14.250.700.907.518.000 7 30-Jun-10 181.913.000) (181.397 14.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.527.285% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .250.497.553.379 14.592.844.736.035.717.551 (217.509.344.542.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.623 186.202 (8.536.690 Suku Bunga Efektif Baru 1.500.500.497.506 5.000) sub total 14.202 Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dengen EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit 160 I P e d o m a n No C Tahun Expected Cashflow A B 1 1-Jan-10 (14.000) (217.536.444.000) (217.073 14.310 208.484 208.770.000 3 28-Feb-10 181.456 14.500.450.500.542.500.520.680 186.827 (14.202 14.500.299 186.694) (9.397 14.299 33.500.456 14.250.753 14.663.548.531.Bab V I K r e d i t Tabel 5 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (suku bunga meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.500.250.525.680 5.545.536.405.

500.500.000 30-Jun-10 14.000 31-Jul-10 14.000) (217.500.250.500.000.000 14.500.000 14.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.000 14.500.000.500.000.500.000 31-Aug-10 14.500.250.000 14.250.250.500.500.250.500.500.500.500.500.000 Bab V I K r e d i t I 161 .000 14.000.000.500.000.500.000.000 30-Nov-09 14.000 14.500.000.000.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-09 14.000 14.000 14.000.000) 17.000 31-Oct-10 14.500.000 14.000 17.000 sub total 14.500.500.500.000) 181.500.500.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.500.500.000 14.500.250.000 (181.000.000 (181.000.000.000 30-Sep-10 14.500.000.000.000 217.000 14.000 14.000) 181.000 (14.000.000 217.000 14.000.000 14.000.000.Tabel 6: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000.500.000 14.000.250.000 30-Apr-10 14.000 (181.500.500.000) (217.000 (181.000.000.000) (217.000.000 (181.000) (217.500.250.500.000 17.250.000 14.500.500.000 14.500.000.500.500.000 14.000.000) 81.000.000.500.000.500.250.250.000) 14.000 (217.000 (181.000) (217.000 181.000 17.000) 81.500.000 28-Feb-10 14.000 14.000.500.000.500.000.500.500.000.000 14.000) 181.000) 14.500.500.500.000.250.000 31-May-10 14.000.500.000 30-Mar-10 14.000.000.000.

Kredit .amortised cost Kr.500.000 Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Db.000..000 35. 14. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening. Kredit . Tanggal 31 Januari 2010. Tanggal 1 Januari 2010.500. Rp./Giro BI Kr.500. Kredit . Rp.000. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Rp.000 14. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Rp./Giro BI Kr.500.500. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db. Kas/Rekening. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif. Kas/Rekening.. 14./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.500. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000 20.000. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000. Rp. Kas/Rekening.000 14.000.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. 20.500.000 162 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 14..000 Kr.000 35./Giro BI Rp. Rp.000 20..amortised cost Kr. 14..000 20. Rp. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db...000 14. Rp. Rp.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000. 14..000.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.500.000 b.

Kas/Rekening. Kr. Jurnal untuk transaksi no. Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250. Kredit .000 20. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.amortised cost Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.657. 8.000 217.000 5. 9 sampai dengan no.000 20.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Tanggal 31 Juli 2010./Giro BI Kr.000 Jurnal untuk transaksi no.. Pendapatan bunga kredit Rp. 181. c. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.381. 20.250.500.amortised cost Rp.250. Rp.000 217. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.842. 12 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no. Db.500.000 20. Kr. 7 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no. Kr. 3 sampai dengan no. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kr.500.000 8.000 181. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 163 . Rp.456 186.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. pada saat terjadi penyesuaian suku bunga mengambang.456 181.631. 2. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.. Rp. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.449 208.551 217. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Pendapatan bunga kredit Rp. Kredit .

amortised cost Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000 20. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kredit . 20.amortised cost Rp.000. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.500. Tanggal 31 Desember 2010. Kredit . Kr./Giro BI Kr. Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.310 217.500. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 20. Kr.000 20. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.000 14.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Rp..000 217.000 217.203. Kr. Pendapatan bunga kredit Rp.500.000 14. Rp.Bab V I K r e d i t d. Kas/Rekening. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp.500.500.000. 164 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.296.690 208..000 9.

000 Semester I 2010 Semester II 2010 Semester I 2011 Semester II 2011 Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.1 % atau Rp.000 . Rp.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000.000.000 = (Rp.000.Bab V I K r e d i t 3.000 + Rp.20. 20.000.920. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. 100.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 165 .000. Rp. 100.000.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. 99.000.000 25. 100.000.000.000. 25.000 25.000. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.000).100.000. Berdasarkan data di atas.000/bulan. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000. Rp.000. Lihat Tabel 7 dan Tabel 8.000.000.000. Bank XYZ memberikan kredit kepada debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.Rp. 20.000.25%/bulan 0.000 25. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit investasi) Pada tanggal 1 Januari 2010.000. 15. Rp.

000) (312.000.924.776 74.000 1.500.744.000 25.000) (937.846.940.050 99.941.921.920.980.197 49.000 1.000 625.000.525 24.888.819 1.000 937.547 74.997.920.000 25.250.958.000) 99.362 49.250.797 99.000.000) (312.017 24.924.980.044.000.729 49.000 312.026.814.000) (937.172.000) (312.000 99.139 1.000 625.107.500.500.166 2.000.520.000 937.350 49.674 99.044.000 625.984 5.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.855 2.000.288 627.982.666 941.543.998.034 941.000) (1.855 0 Tahun Akuntansi Perbankan Indonesia No Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 B 1-Jan-10 31-Jan-10 28-Feb-10 31-Mar-10 30-Apr-10 31-May-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Aug-10 30-Sep-10 31-Oct-10 30-Nov-10 31-Dec-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-May-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Aug-11 30-Sep-11 31-Oct-11 30-Nov-11 31-Dec-11 Estimasi Arus Kas C (99.626 74.000.878 3.935.250.000.000) 1.000) (625.062.237.677.000.000) (625.050 99.000 312.991.985.000.250.954.611.172.937.250.571.213.974.000 937.729 49.302.620.500.825.611.000 99.772 941.250.954.719.000) 4.982.500.552.632.046 24.790.500.254.000.995.255.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .855 627.163 74.388.379 2.000.930.367 24.000.898 74.500.970.635 313.988.139 5.985.702 1.500.062.000) (1.846.000) (25.502.744.000.651 24.666 4.000 312.312.923.107.982.849.849.537 941.000.447 49.000) (1.000) (25.000.196.000.000) (312.772 3.101 1.000.230 627.992.500.651 24.000.592 49.000.779.962.997.982.991.401.959.878 941.988.737.000) (1.930.413 941.719.000 1.000.026.521.966.000 937.000) (1.995.237.050 5.158 313.421.000 312.134.000) (937.903 2.502.906.000.500.306.958.230 2.635 1.624 1.632.406.020.977.000) (625.500.547 74.250.000.000) (312.255.302.500.703.920.000 26.966.992.134.994.000 625.250.994.677.000.500.500.962.622.543.521.982.825.592 49.Tabel 7: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi – Amortised Cost Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Angsuran Pokok F Tagihan Bunga G=pxi Amortisasi dengan EIR H=E-G 166 I P e d o m a n (25.034 4.288 2.658 99.797 99.250.970.145 (1.710.441.000) (625.500.982.000.250.500.702 313.122.500.819 313.250.640.000.500.367 24.000 625.525 24.362 49.000) (937.050 1.255.716 313.500.998.970.163 74.344 24.000.000.000) (312.814.779.372.000 312.640.716 1.000) (937.017 24.000.500.945.000.447 49.423.000) (625.984 1.626 74.658 99.500.935.000.903 627.401.872.960 74.703.974.000.000) 1.046 24.071.459.855 (25.000.552.810 1.737.000 25.977.776 74.898 74.478.196.958.255.710.000.790.255.145 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.000 1.810 313.624 5.166 627.537 4.000) (937.158 1.940.197 49.945.500.250.470.500.500.344 24.101 5.958.000) (625.213.000 937.960 74.625.379 627.674 99.620.413 3.000.950.306.350 49.978.950.

000.000 75.000.000.000.500.000.000.000 625.500.000.500.000.000.000.000 28-Feb-10 100.000.000 625.000 30-Jun-10 100.000.250.000.000 75.000.000 31-Jan-11 50.000.000 312.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.250.000) (937.500.000.000.000.000.000 30-Apr-10 100.000 75.000.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000) 1.000.000 25.000) 1.000 (937.000 100.000.000) 75.Tabel 8: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.500.000 75.000.000.000.000.000 31-Jul-11 25.000 (1.000.000) 25.000.000.500.000) (312.000.000 100.000.000.000 100.000.000 31-Mar-10 100.500.000.000.250.000.000.000) (937.000.000.000.000.000.000 937.000.000.000.000.000.250.000.000 (1.000.000.000.000.000 31-Oct-10 75.000.000.000.000 75.000 312.000.000) 75.000) 1.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Oct-11 25.000.000) (312.000.000 75.000.000 937.000.000.000 937.000 312.000) (937.000.500.000.000.000.000 625.000.000) (625.000.000 50.000.000) (625.000 50.000.000 (1.000.000.000.000.000.000.000.000.000) (312.000.000.000.000 (25.000 50.000.500.000.000.000.000.250.000 (937.250.000.000.000.500.000 100.250.000.500.000 312.000.000.000 25.000 625.000.500.000.000.000.000.000.000.000.000 30-Nov-10 75.000.000 (25.000.000.000.000 75.000 (25.000.000.000.000.000) 1.000) (625.000.000.000 31-Mar-11 50.000.000) (937.000 30-Jun-11 50.000.000 25.500.000 (1.000 25.500.000.000.000.000.000.000.250.000 312.250.000 50.000.000 31-May-10 100.000 75.000.000 30-Sep-11 25.000 625.000 312.000.000 31-Aug-11 25.000.000.000 31-Aug-10 75.000) 25.000.000 100.000.000 625.000.000 (1.000 I 167 31-Dec-11 25.000.000 25.000 25.000.000.000.000 28-Feb-11 50.500.000 50.000 50.000) 937.000) (312.500.000.000.000.250.000.500.000 100.000 31-May-11 50.000 30-Apr-11 50.000.000.000) (625.000.000 (1.000.000 31-Jul-10 75.000 75.000.000.000.000.000.000.000.000.000 25.000.500.000 50.000.000 25.000.000.000.000 (25.000 Bab V I K r e d i t 30-Nov-11 25.000 100.000 100.500.000.500.000 31-Dec-10 75.500.000 25.000.000.500.500.000.000.000 50.000 1.000) (312.000.000) 50.000 30-Sep-10 75.000.000 937.000.000 100.000.000 50.000.000.000.000.250.000.000.000.000) 1.000.000 50.000.000 75.000) (625.000.000 25.000 .000.000.000.000.250.000.000 100.000) (312.000) M=K+L 100.000) (625.500.000 50.000.000.000 937.

000 20. 100.000. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. 100.000. Rp.000. Tanggal 1 Januari 2010.000. Rp.. Tanggal 31 Januari 2010. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.amortised cost Kr.000 Rp.000 Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 168 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 100. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Rp. Kas/Giro/Giro BI Kr.000 Rp.000 20./Giro BI Rp... Rp./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Kredit . pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000. Kas/Rekening.000.000.000 b.000.000. Kas/Rekening.000 20. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Kredit .amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.000..000 Rp.000.000. Rp. Rp. Db. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. 100. 20..amortised cost Kr.000./Giro BI Kr.000 Kr. 100.000 20.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.000 20.000. Kredit . pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.. Kas/Rekening. 100. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000.000 100.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. 100.000.

23 dalam Tabel 7 sama dengan transaksi no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.208 1. Kr. Tanggal 30 Juni 2010.000 20. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok.000 5.000 25. 20. 12. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 3 sampai dengan no.000. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000. Kr.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 169 .250.000. 2.000 5. 19. Kr.amortised cost Rp.000 Jurnal untuk transaksi no.250.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. c.250. Kredit . Rp.208 1. Pendapatan bunga kredit Rp.000 1.000. 6. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Db. dan no. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 18 dan no. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Jurnal untuk transaksi no. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.250. no. 24 dalam Tabel 7 sama dengan jurnal untuk transaksi no.066.000 20.208 1. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. Rp. Kr. 7.000. Pendapatan bunga kredit Rp.208 1. 20 sampai dengan no. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000.amortised cost Rp.066. 8 sampai dengan no. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000.000 1.000 25. Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 1.066.000 1. Kredit .066. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Kredit .000. Kas/Giro/Giro BI Kr.250. 13. Rp.000 20.000.amortised cost Rp. no. 14 sampai dengan no. Kr.250.255. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.255.

000 (perbulan) 90% atau Rp.000 1 Februari 2010. 14. Bank XYZ membeli kredit dari Bank DEF dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Nilai pasar Informasi lain − − 31 Januari 2010.Bab V I K r e d i t 4. 13.000. Kredit diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Pada tanggal 1 Januari 2010.000.000. kredit tersebut dijual seharga Rp.500.000. 15.000 (asumsi) 170 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . harga pasar kredit adalah Rp.000 1 tahun atau 12 bulan Investasi 15%/tahun atau 1.500. 14.25%/bulan atau Rp.000 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (diperdagangkan) Rp.100.000. 187.000.

e.000. 13. Db. Rp. Pendapatan bunga kredit c.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.500.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp. Rp.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Realisasi keuntungan penjualan kredit Db. 187.. 187. 187./Giro BI Rp.000. pada saat menerima setoran dari debitur Db. 500. Rp. pada saat menjual kredit 1) Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db.000 500. pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya.500.500.100.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Tanggal 31 Januari 2010. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. sebesar nilai wajarnya Db. Tanggal 1 Januari 2010.000 13.000 600. pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 500.000 Kr. 500.000 Tanggal 31 Januari 2010. Peningkatan nilai wajar kredit .000 b. Kredit .000 Kr. Peningkatan nilai wajar kredit . Kredit . Kredit .500. Rp.000 Tanggal 31 Januari 2010. Kas/Rekening.000.. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar.000. Rp.000 Tanggal 1 Februari 2010.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 171 . Keuntungan penjualan kredit d.000 187.000.000 Kr. Kredit .000 14. Rp.500.000.500. Kas/Rekening.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Rp.000.000.500.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp./Giro BI Kr.. 13.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000..

000.000. 20.1 Juli 2010.000. Harga pasar pada tanggal 31 Januari 2010 sebesar Rp. 100.000.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000. 100.000.000.000 25.000.000. kredit tersebut dijual seharga Rp.000.000.000.000 Beban bank yang dapat diatribusikan langsung sebesar Rp.000 Semester I 2010 Rp Semester II 2010 Rp Semester I 2011 Rp Semester II 2011 Rp 25.000.000. 99. 15. Harga pasar pada tanggal 30 Juni 2010 sebesar Rp.000.000.000.000. 99.000.000.000 + Rp. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Tersedia untuk Dijual Rp.100.000.000/bulan Informasi lain: .920.000 Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.1 % atau Rp.000.20.000.000 = (Rp. 90. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000.000 .000 25. 90.000).000.Rp.000. Berdasarkan data di atas.000.25%/bulan 0. Lihat Tabel 9 dan Tabel 10 172 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. Kredit tersedia untuk dijual Pada tanggal 1 Januari 2010. 20. 100.000 25.Bab V I K r e d i t 5.

445 (937.437.505 627.325.250.000) 5.255.000 15 28-Feb-11 625.000) (625.000 8 31-Jul-10 937.288 4.322 74.000.075.781.000.938 49.250.357 74.652 49.000.255.737 24.943.255.967.274.445 3.981.491.344.981 1.912 74.595 49.075.000) (625.835.250.066.250.558.208 99.963.000.000.367.500.935.989.310.000 9 31-Aug-10 937.505 2.000.000.595 49.000.000) 941.000) 941.500.000) 627.817 49.000 14 31-Jan-11 625.500.955.717 E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Suku Bunga Efektif (EIR) Angsuran Pokok Tagihan Bunga Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (99.930.558.843 1.521 (1.500.425.051 99.000) 5.307 74.259.978.500.Tersedia Untuk Dijual Saldo Awal Arus Kas Kredit D 99.644.000 99.500.000.500.344.937.975.000 13 31-Dec-10 25.773 24.800.277 (1.835.965 4.910.331 2.581.920.625.920.995.731.367.437.992.652 49.328 99.328 99.000) (1.331 627.255.000.250.392.000.585 1.981.288 941.940.593 627.934 313.945.737 313.000 3 28-Feb-10 1.907.992.144.765.991.000) (937.000 11 31-Oct-10 937.250.000) (312.500.845 1.871.000.250.935.129.000.147 49.925.967.984.845 313.892 24.951.000) 5.500.428 74.224 49.500.000.000.500.114.000.042.196.975.184 1.000 21 31-Aug-11 312.000.000.878 941.286 2.250.781.938 49.478 3.995.121 2.971.581.959.000 17 30-Apr-11 625.000 4 31-Mar-10 1.000) (312.092.959.310.066.208 99.196.000.843 (1.000) (625.196.000 12 30-Nov-10 937.000 20 31-Jul-11 312.000.250.986.593 2.325.945.000 5 30-Apr-10 1.989.975.975.955.984.649.688.390.343 2.509.912 74.585 (1.800.255.000) 5.107 (937.000) (937.688.920.194.434 74.000) (625.147 49.892 24.442.184 627.777.850 99.951.934 1.066.250.978.649.500.930.696.000) 5.000) (625.981 627.114.461.255.871.942.000.274.500.250.000 99.500.509.000.000.208 (1.428 74.000 6 31-May-10 1.994.000 Bab V I K r e d i t Suku Bunga Efektif Awal 1.Tabel 9: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi .443.850 99.478 (25.500.997.000.957 24.000) (937.250.521 1.500.322 74.129.194.777.000.000) (625.000.302.731.000 19 30-Jun-11 25.066.343 (25.107 4.277 1.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 22 30-Sep-11 312.907.051 99.000) 5.500.961.971.302.000.392.940.592.817 49.910.986.963.357 74.000 16 31-Mar-11 625.000) (312.259.500.542.765.000 18 31-May-11 625.000.224 49.000) 941.000.286 941.000 7 30-Jun-10 26.878 4.208 99.994.773 24.307 74.434 74.957 24.000 10 30-Sep-10 937.925.020.000) 1.000) 2 31-Jan-10 1.965 (937.000.925.390.000.000.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual I 173 .121 (25.000.

000.000 25.000 31-Oct-11 25.000.000.000 100.000.000) (937.000 75.000.000.000.000 25.500.000.250.000.000.000 (937.000 625.000.000.000.000.000.000 312.000.000.000.000 75.000.000 50.000.000) (937.000 (25.000.000.000) (625.000 25.250.000.000 (1.500.000.000.000.000.000 625.000 100.250.500.000.000.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Jul-10 75.000.000.000.000 (937.500.000.000) 1.000.000 50.000.000 31-Dec-11 25.000 100.500.500.000 75.000 75.000 30-Apr-11 50.000 100.000 25.000.000.000.250.500.000.000.000.000.000) (937.000.000 100.000.000.000) 25.000.500.000.000 (1.000.000.000 (25.000.000.000.000.000 50.000.250.000.000 25.000.000.000.000.000.000.000 30-Sep-11 25.000 50.000.000 30-Nov-11 25.250.000.000) (312.000.000.500.000 50.000 75.250.000.000.000 30-Jun-11 50.000) (312.000.500.000 25.000.250.000 100.000 25.000.000 30-Sep-10 75.250.000.000 31-Dec-10 75.000.000.000.000 100.000.000 31-Mar-11 50.000 31-Oct-10 75.500.500.000 30-Jun-10 100.000 75.000.000 312.000.000 937.500.000 28-Feb-11 50.000.000 625.000.000.000.000.000.000.000) 1.000 25.000.000.000 100.000.000.000 25.000.000 50.000.000.000.000 50.000.000 625.000.Tabel 10: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi .000.000 50.000) (312.500.000.000.000.000.000) (625.000.000.000 1.500.000.000.000.000.000.Tersedia Untuk Dijual REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.500.000 312.000) (625.000.000.000.250.000 30-Nov-10 75.000.000 312.000) 25.000.000 100.000.000.000.000.000.000.000 30-Apr-10 100.000.000 31-Mar-10 100.000.000.000.000.000 (25.000.000 50.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000.000.000 100.000.000 937.000.000 (1.250.000.000.000 31-Jan-11 50.000 31-May-10 100.500.000.000 28-Feb-10 100.000.000.000 .000 75.000) 1.000.000) (625.000.000 937.000.000 50.000.000.000) (937.000.500.000.000.000 937.000) 75.000.000.000) 50.000.000.000.000) (625.000 31-Jul-11 25.000 937.000.000.000) M=K+L 100.000.000.000.000) (312.000) 1.000.000 (1.000.000) (312.000 75.000 (1.000.000.000.000.000.500.000 625.000) (312.000.000) 937.000.500.250.000.000.500.000) (625.000 75.000.000.000.000 31-Aug-11 25.000.000 (1.000.000 75.500.000.000 25.000.500.000 31-May-11 50.000.000 312.000) 1.000.000.500.000 50.000.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 174 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000 625.000.000) 75.000 31-Aug-10 75.000 312.000.000.000 (25.

Kas/Rekening.Tersedia untuk Dijual 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Kas/Rekening. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.Tersedia untuk Dijual Kr. Rp. Rp. Kas/Rekening.000.000 Rp. Kas/Rekening.000.. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Rp.. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit dan penarikan kredit oleh debitur 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db..000 Rp. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000 20.000 100..000 20.. 100.000.000. Kredit . bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 100..000. Tanggal 31 Januari 2010.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal balik untuk menghilangkan kewajiban komitmen fasilitas kredit.000 Rp. Kredit ./Giro BI Kr. 100.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Tanggal 1 Januari 2010.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 175 . Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.. 20. Rp. 100.000 b. Kredit .000 Rp.000.000 Kr./Giro BI Rp. 100. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000./Giro BI Kr. Rp.Tersedia untuk Dijual Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Rp.000. Db.000.000.000.000 20.000 20.000. 100.000.000.000. 100.000 20..

dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.250. Kredit .000. Kr.250. Db.000. 2.392.99. Rp.255.066.208 (Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000.000. 3 sampai dengan no.478 1.208 Kr. Kr. 1.925. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Kr.000. Kas/Giro/Giro BI Kr. 8 sampai dengan no.000.000 (asumsi) Db.392. Ekuitas . 99. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.250. Pendapatan bunga kredit Rp. 12.000.000 1.000 20. Db.066. 20. Pendapatan bunga kredit Rp. 176 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. no. Rp.000. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 5. 14 sampai dengan no. Kredit . Kr. 925. Tanggal 30 Juni 2010.478 1. Kredit .208 = Rp. Rp.Pendapatan komprehensif lain Rp. c.066.208 .Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 18 dan no.066.000 1. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.99.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.925. no. 925.Tersedia untuk Dijual Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 23 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no.000.066. 6.000 5.250.208 1.000 20.250.000) Jurnal untuk transaksi no.255. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 1.000.250. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.208 1.000 5) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp.066.Tersedia untuk Dijual Rp. 20 sampai dengan no.Tersedia untuk Dijual Rp.000 20.

15.000.088 Kr.088 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 177 .048. 15.Pendapatan komprehensif lainnya Rp.15.048.088 (Rp.000. Rp. Keuntungan penjualan kredit Rp. Ekuitas . 19.000.90. 90. 25. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.000 (asumsi) Db.911. Kredit .828 . xxx..000.Pendapatan komprehensif lain Kr.000.74.Bab V I K r e d i t 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. dan no. Kredit.632. 7. 13.088 90.048.000. Tanggal 1 Juli 2010.000.xxx.000 15.xxx Db/Kr.367. Ekuitas .632. Ekuitas .. Kredit .632. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000 6) Pada saat melakukan jurnal balik terhadap jurnal penyesuaian dengan harga pasar periode sebelumnya Db/Kr. Kr.000. 24 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no. Rp.xxx Sebesar penyesuaian harga yang telah diakui pada periode sebelumnya (tidak dijelaskan dalam illustrasi).632.632. d.90.Pendapatan komprehensif lain Rp.048. 7) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp.000 25.Rp.000 15.048. Rp.000.000.000) Jurnal untuk transaksi no.xxx. Kredit .088 = Rp. Kas/Rekening.Tersedia untuk Dijual Rp.000./Giro BI Db.000.Tersedia untuk Dijual Kr.951. no. xxx.Tersedia untuk Dijual Rp. pada saat menjual kredit Db.Tersedia untuk Dijual Rp.

(PSAK 55: Paragraf 59) Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. jika dan hanya jika. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit A Definisi 1.Bab V I K r e d i t 2. B. Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut. Jika terdapat bukti tersebut. Dasar Pengaturan 1. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang 2. Penghapusan hak tagih kredit (hapus tagih) adalah tindakan bank menghapus semua kewajiban debitur yang tidak dapat diselesaikan. 5. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. 2. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). 178 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). 3. Penghapusbukuan kredit (hapus buku) adalah tindakan administratif bank untuk menghapus buku kredit macet dari neraca sebesar kewajiban debitur tanpa menghapus hak tagih bank kepada debitur. Nilai tercatat kredit adalah nilai kredit neto pada tanggal pelaporan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai atau nilai wajar kredit pada tanggal pelaporan untuk kredit dengan klasifikasi diukur pada nilai wajar melalui rugi laba. 4. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok Tersedia untuk Dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut.

terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 179 . memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. termasuk: 1) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. e. Bukti obyektf bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. (PSAK 55: Paragraf 60) d. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. f. pelanggaran kontrak.Bab V I K r e d i t atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. b. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. atau 2) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. pihak pemberi pinjaman. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan.

terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak.Bab V I K r e d i t 3. baik secara langsung. pada periode berikutnya. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. (PSAK 55: Paragraf 64) Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. (PSAK 55: Paragraf 66) Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung 4. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. (PSAK 55: Paragraf 65) Jika. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. 6. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). 180 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. 5.

Agunan tersebut tidak diakui sebagai aset secara terpisah dari aset keuangan yang mengalami penurunan nilai kecuali memenuhi kriteria pengakuan aset sesuai dengan PSAK lain. jika entitas menggunakan sistem pemeringkatan kredit internal. (PSAK 55: Paragraf 69) Kerugian penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi atas investasi instrumen ekuitas yang diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas yang tersedia untuk dijual tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi. Jumlah kerugian kumulatif yang dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi sesuai paragraf 68 merupakan selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini.8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 181 . Sebagai contoh.Bab V I K r e d i t dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. 10. (PSAK 55: PA 101) 11. (PSAK 55: Paragraf 71) 8. pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 70) Jika. Proses estimasi terhadap penurunan nilai mempertimbangkan seluruh eksposur pinjaman yang diberikan. bukan hanya yang berkualitas rendah. (Panduan Implementasi No.4. 9. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. 2 E. dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi. Pengukuran aset keuangan yang mengalami penurunan nilai mencerminkan nilai wajar agunannya. maka entitas tersebut harus mempertimbangkan seluruh peringkat pinjaman yang diberikan. dan tidak hanya peringkat yang mencerminkan penurunan kualitas pinjaman yang diberikan yang tajam. (PSAK 55: Paragraf 68) 7. Proses estimasi terhadap jumlah kerugian penurunan nilai dapat menghasilkan satu nilai kerugian atau kisaran (range) nilai kerugian yang mungkin terjadi… (PSAK 55: PA 102) 12. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi.

bank harus memperhatikan hal-hal berikut: a. 4) Penilaian agunan/jaminan. Didukung dengan dokumentasi yang memadai 1) Evaluasi harus disertai dengan dokumentasi yang bertujuan untuk: a) mendorong kedisiplinan dalam proses estimasi. 2) Untuk membatasi judgement/diskresi yang cenderung bersifat subyektif. 2) Bank harus memiliki standar pendokumentasian atas seluruh analisa. namun juga mencakup gabungan antara aturan formal dan judgement/diskresi manajemen. b. Kriteria dimaksud tidak hanya didasarkan pada aturan dan formula. 5) Pembentukan cadangan. 3) Metode estimasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. harus sejalan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sejalan dengan kriteria yang bersifat obyektif 1) Evaluasi. Penjelasan 1. Sistematis dan konsisten sepanjang waktu Evaluasi harus dilakukan secara periodik dan konsisten sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan bank. termasuk pengakuan dan pengukuran penurunan nilai. Beberapa jenis dokumentasi yang terkait dengan evaluasi penurunan nilai dapat mencakup hal-hal berikut: 182 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan b) memfasilitasi proses kaji ulang dan validasi. estimasi. Dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. 2. asumsi. maka diperlukan suatu kerangka evaluasi yang memadai dan terdokumentasi dengan baik yang menekankan obyektivitas dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. dan 6) Proses dokumentasi. c. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap kredit dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. yang antara lain mencakup: 1) Periode evaluasi kredit (loan reviews). 2) Identifikasi bukti obyektif penurunan nilai.Bab V I K r e d i t C. keputusan dan proses evaluasi.

terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. dapat menjadi bukti obyektif yang cukup bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi dalam kredit atau kelompok kredit. disertai dengan analisis dasar perhitungan dan mendokumentasikan dalam kebijakan bank. baik secara individual maupun secara bersama. informasi yang tersedia. Kriteria evaluasi penurunan nilai a. dan nilai wajar agunan dan jaminan. c. tingkat atau tren terjadinya tunggakan (delinquencies) untuk aset keuangan serupa. Faktor-faktor ini dan faktor-faktor lainnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 183 . Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan entitas dalam menentukan apakah terdapat bukti obyektif bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi meliputi informasi mengenai likuiditas.Bab V I K r e d i t a) internal rating atau klasifikasi kredit yang digunakan. kecuali peristiwa di masa datang yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. tren dan kondisi ekonomi nasional dan lokal. Secara individual 1) Bank wajib menentukan tingkat signifikansi kredit yang akan dievaluasi secara individual yang disertai dengan dokumentasi yang memadai yang harus dikaji ulang secara periodik. dan eksposur risiko usaha dan risiko keuangan pihak debitur atau pihak penerbit. solvabilitas. dan e) 3. b. Bank harus menetapkan peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria sebagai bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit berdasarkan pengalaman dan trend historis (experience credit judgement). b) basis dalam mengidentifikasi kredit individual untuk melakukan evaluasi penurunan nilai. Identifikasi bukti obyektif a. d) basis dalam mengelompokkan suatu kredit dalam kategori kredit. c) metodologi yang digunakan dalam evaluasi penurunan nilai dari kredit individual. 4. metodologi yang digunakan untuk menerapkan estimasi kerugian pada kelompok kredit.

c) d) prospek usaha debitur di masa datang. maka kredit tersebut harus dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. yaitu: a) estimasi jumlah kerugian kredit. 184 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . serta memperhatikan berbagai faktor seperti: a) kekuatan finansial dan kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajiban (repayment capacity). namun tidak terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. dan b) jenis dan jumlah agunan. ketersediaan garansi.Bab V I K r e d i t 2) Dalam hal tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual. Contoh: ketika debitur berada dalam kondisi macet (tidak ada estimasi arus kas selain arus kas dari agunan). Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif mencakup seluruh kredit yang: a) tidak dievaluasi secara individual. dan b) dievaluasi secara individual. dan b) estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount). 4) Evaluasi secara individual didasarkan pada 2 konsep. dimana nilai kini arus kas agunan sama dengan atau lebih besar dari nilai tercatat kredit. maka kredit tersebut tidak dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. b. 5) Estimasi jumlah kerugian kredit didasarkan pada seluruh informasi yang tersedia dan experienced credit judgement. 3) Dalam hal terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai. 6) Estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut.

pinjaman beragun aset atau pinjaman kartu kredit). bisnis. dan c) Penurunan tersebut belum dapat diidentifikasi terkait dengan kredit tertentu dalam kelompok kredit. kredit dapat dikelompokkan berdasarkan satu atau lebih karakteristik berikut ini: a) estimasi probabilitas terjadinya gagal bayar atau peringkat risiko kredit. dan karakteristik yang relevan lainnya dari aset yang sedang dievaluasi dan data kerugian yang terkait. seperti evaluasi risiko kredit atau proses pemeringkatan yang memperhitungkan tipe aset. Model risiko kredit atau metode untuk mengestimasi arus kas masa datang yang diperkirakan yang lebih kompleks (canggih) dapat mengkombinasikan beberapa faktor. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 185 . status tunggakan. tipe pihak kedua (contoh.Bab V I K r e d i t 2) Bank wajib mengelompokkan kredit yang akan dinilai secara kolektif berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yang mengindikasikan kemampuan debitur untuk membayar seluruh kewajiban yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak. industri. bank harus melakukan evaluasi apakah terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. c) e) f) g) d) tipe jaminan. lokasi geografis. 3) Pengelompokkan kredit berdasarkan kesamaan karakteristik tersebut harus disertai dengan dokumentasi yang memadai yang dikaji ulang secara periodik. 4) Terhadap kredit yang dikelompokkan tersebut. Sebagai contoh. konsumen. status tunggakan. Halhal yang perlu diperhatikan antara lain: a) Terdapat data yang dapat diobservasi yang mengindikasikan terjadinya penurunan dalam estimasi arus kas masa datang yang dapat diukur dari kelompok kredit. atau pemerintah). lokasi geografis. b) tipe (contohnya. tipe jaminan. dan jatuh tempo. b) Penurunan yang dapat diukur tersebut telah terjadi sejak pengakuan awal kredit.

Dalam memilih dan menggunakan teknik evaluasi penurunan nilai. bank wajib mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa kredit atau kelompok kredit mengalami penurunan nilai. Periode evaluasi penurunan nilai a. b. baik secara individual maupun kolektif. 5. Setiap akhir bulan atau paling lambat setiap akhir triwulan. 186 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . namun terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai sebelum tanggal evaluasi berikutnya. Bank dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai. maka bank wajib mengestimasi kembali arus kas masa datang dan cadangan kerugian penurunan nilai untuk kredit tersebut. Segera setelah penurunan nilai suatu kredit secara individual dalam kelompok kredit tersebut diidentifikasi. maka kredit tersebut harus dikeluarkan dari kelompok kredit dan selanjutnya dinilai secara individual. Evaluasi terhadap penurunan nilai tidak hanya didasarkan pada suatu pendekatan atau metode yang bersifat standar (prescriptive rules/formulae) tetapi juga didasarkan pada experienced credit judgement oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengingat pengalaman kerugian historis maupun data yang dapat diobservasi bersifat terbatas atau mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini. Namun bank dapat mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat yang dituangkan dalam kebijakan internal bank untuk menentukan apakah analisa individual perlu dilakukan. Dalam hal bank melakukan evaluasi setiap akhir triwulan. Secara individual Bank dapat menggunakan beberapa teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai dan mengukur kerugian penurunan nilai. yaitu: b. Teknik evaluasi penurunan nilai a. bank perlu mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat serta ketersediaan informasi dan data historis.Bab V I K r e d i t 5) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif merupakan langkah antara sampai penurunan nilai kredit secara individual dapat diidentifikasi. c. 6.

suku bunga efektif dapat diidentifikasi setelah memperhitungkan seluruh biaya (termasuk perolehan fee) yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit. maka suku bunga efektif juga dapat berubah. (4) Pendekatan apapun yang digunakan. d) Untuk kredit bersuku bunga mengambang (variable interest rate). suku bunga kontraktual tidak berubah selama jangka waktu kredit. b) Jumlah yang didiskonto (discounted value) diperoleh dengan mengestimasi arus kas masa datang (mencakup pembayaran pokok dan bunga) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit. bank harus menerapkan secara konsisten dalam mengevaluasi penurunan nilai terhadap kredit dengan suku bunga mengambang. (1) Bank harus menetapkan estimasi kisaran jumlah dan/atau waktu kemungkinan perubahan suku bunga referensi. karena bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh jumlah kredit yang telah diberikan kepada debitur. dimana suku bunga kontraktual berubah dari waktu ke waktu bergantung pada suku bunga referensi. Suku bunga efektif tersebut tidak berubah dan digunakan untuk mengevaluasi kerugian penurunan nilai kredit. penggunaan suku bunga efektif yang berbeda dari waktu ke waktu dapat menyulitkan bank melacak terjadinya kerugian penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 187 . Oleh karena itu. Suku bunga efektif tersebut dapat digunakan dalam mengevaluasi penurunan nilai selanjutnya. (2) Namun. (3) Sebagai alternatif.Bab V I K r e d i t 1) Discounted Cash Flow a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai dicatat berdasarkan jumlah yang didiskonto (discounted value) dan bukan berdasarkan nilai buku. bank dapat menggunakan suku bunga efektif terkini pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan. c) Untuk kredit bersuku bunga tetap.

188 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu jika memenuhi salah satu kondisi berikut: (1) Kredit bersifat collateral dependent. b) Dalam menentukan jumlah kredit yang dapat diperoleh kembali. (3) Identifikasi nilai agunan yang dapat direalisasi setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan. maka bank dapat menggunakan harga dari transaksi terkini atas agunan serupa. (2) Identifikasi taksiran biaya yang terkait dengan penjualan agunan. maka bank dapat menggunakan teknik penilaian yang andal. yaitu jika pelunasan kredit hanya bersumber dari agunan. dan/atau (3) Pengambilalihan agunan kemungkinan besar terjadi dan didukung dengan aspek legal pengikatan agunan. c) Bukti terbaik dari nilai wajar agunan adalah berdasarkan kuotasi harga di pasar aktif. (2) Sulit untuk menentukan jumlah dan saat penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari pokok kredit dan/atau bunga dengan andal.Bab V I K r e d i t 2) Fair Value of Collateral a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai juga dapat dicatat berdasarkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable value). e) f) Nilai agunan yang dapat diperhitungkan adalah nilai yang terendah antara nilai wajar dan nilai pengikatan agunan. d) Bank harus menggunakan informasi yang tersedia untuk mengestimasi nilai wajar agunan seakurat mungkin. (1) jika tidak tersedia kuotasi harga agunan di pasar aktif. termasuk perkiraan waktu realisasi atau penjualan agunan tersebut. bank dapat memperhitungkan arus kas masa datang dari pengambilalihan agunan. misalnya legal costs. dan (2) jika tidak tersedia harga dari agunan yang serupa. Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengestimasi nilai wajar agunan antara lain: (1) Penunjukkan pihak independen (baik pihak internal bank maupun lembaga penilai) yang akan melakukan penilaian agunan.

b) Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengukur kerugian penurunan nilai. (3) Penjelasan mengenai bagaimana bank memperoleh estimasi nilai wajar. (2) Rincian penyesuaian terhadap harga penilaian (appraisal value). d. 3) Observable Market Price a) Dalam kondisi dimana jumlah dan periode arus kas masa datang tidak dapat dipastikan dan kuotasi harga kredit di pasar aktif dapat diobservasi melalui informasi dan data pasar.Bab V I K r e d i t (4) Penetapan waktu penjualan/realisasi agunan. keahlian. dimana informasi dan data mengenai harga pasar properti tersebut tersedia setiap saat. dan (4) Dokumentasi mengenai kualifikasi. bank harus memiliki informasi yang lengkap mengenai jumlah. c) Jika pendekatan ini digunakan. dan (5) Penetapan nilai kini dari hasil penjualan/realisasi agunan dalam hal terdapat jeda waktu (time lag) antara tanggal penentuan nilai wajar dan waktu penjualan/realisasi agunan. maka harga pasar tersebut dapat digunakan sebagai nilai wajar kredit dengan memperhitungkan perkiraan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 189 . sumber informasi dan tanggal atas harga pasar tersebut. dan independensi perusahaan penilai (appraisal company). misalnya haircut/diskon atau estimasi biaya penjualan agunan. misalnya untuk kredit commercial real estate. g) Beberapa standar minimum yang harus dipenuhi dalam melakukan estimasi nilai wajar agunan mencakup: (1) Deskripsi mengenai proses penilaian (appraisal process) yang dilakukan. Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit dilakukan berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang dan tingkat kerugian historis (historical loss rate atau historical net charge-off rate) dari kelompok kredit.

disarankan menggunakan periode observasi yang lebih panjang. yaitu: 190 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang stabil. bank perlu memperhatikan hal-hal berikut: a) c) analisa penurunan nilai kelompok kredit. Emergence period tersebut harus ditetapkan berdasarkan data empiris. dan tidak menghasilkan suatu tingkat kerugian historis yang mengharuskan pengakuan kerugian pada saat pengakuan awal kredit. Periode observasi apapun yang digunakan. Untuk itu. dalam menetapkan periode tersebut. yaitu periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kredit sampai bukti obyektif dapat diidentifikasi atas kredit secara individual. 6) Bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menetapkan tingkat kerugian kelompok kredit. b) umur kredit dalam kelompok kredit (ageing of balances). baik internal maupun eksternal. Umumnya emergence period tidak melampaui 12 bulan kecuali dalam kondisi tertentu di luar perkiraan. bank juga perlu mempertimbangkan faktor emergence period. Namun. sementara dalam kondisi ekonomi yang berfluktuasi. arus kas dari seluruh sisa umur kredit (tidak hanya tahun berikutnya). 3) Bank dapat menentukan sendiri periode observasi data kerugian historis. pengaruh nilai waktu dari uang (time value of money). disarankan menggunakan periode observasi yang lebih pendek. bank harus memiliki data kerugian historis selama minimal 3 tahun sehingga dapat menghasilkan estimasi kerugian yang lebih andal dan berarti.Bab V I K r e d i t 2) Data mengenai kerugian historis merupakan titik awal dalam melakukan evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit. Berdasarkan data kerugian historis dari suatu kelompok kredit setelah memperhitungkan tingkat pengembalian (recovery rate). e) f) 5) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit secara kolektif juga mencakup kerugian yang telah terjadi namun belum dapat diidentifikasi secara tersendiri pada tanggal laporan (incurred but not yet identified). d) kondisi terkini. 4) Dalam menetapkan tingkat kerugian untuk kelompok kredit. bank dapat mengestimasi arus kas masa datang dan tingkat kerugian kelompok kredit pada saat ini.

Contoh: Sepanjang tahun 2010.000 500.dengan data-data sebagai berikut: Periode 2010 Tw. (2) Berdasarkan data kerugian historis.000 (1.3% + 2%)/3 = 1.000 Kerugian bersih (Rp) 800. 2 Tw.000.000.6%) 400.Bab V I K r e d i t a) Pendekatan Berbasis Formula (Formula Based) (1) Pendekatan ini menggunakan formula tertentu yang relatif sederhana untuk menghitung tingkat kerugian historis.000.000. bank memiliki portofolio kartu kredit sebesar Rp. 3 Kerugian penurunan nilai berdasarkan death rate (Rp) 1. beberapa debitur dalam kelompok kartu kredit bisa jadi telah meninggal dunia pada tahun tersebut yang mengindikasikan terjadinya kerugian penurunan nilai atas kredit tersebut.000.3%) 600.100. bank belum mengetahui debitur mana yang meninggal dunia. misalnya tingkat kematian (death rate) debitur. 30. Hasil observasi bank menunjukkan bahwa tingkat kematian (death rate) dari tahun ke tahun cenderung tidak berubah. meskipun pada akhir tahun.000 (2.000 Pengembalian yang diterima (Rp) 200. periode observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kerugian historis lebih panjang dibandingkan pada contoh di atas. bank dapat menentukan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya penurunan nilai kartu kredit adalah karena kematian pemegang kartu kredit (card holders).000. 1 Tw. Namun demikian.000.97% Umumnya.000 400.000..000.000. yaitu (2.000 1.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 191 .000.000 (2%) Tingkat kerugian historis adalah rata-rata kerugian bersih selama 3 triwulan.6% + 1. Bank harus mengakui kerugian yang sudah terjadi namun belum dilaporkan (incurred but not yet identified) sebagai kerugian akibat penurunan nilai.000.000 800.

yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. bahwa bank dapat menagih sebagian porsi kredit yang sudah dihapusbuku (write-off) dimaksud. Namun. Migration Analysis Migration Analysis menggunakan internal loan grading system (rating system) dan bukan berdasarkan 192 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . − Roll Rates Analysis Roll Rates Analysis menggunakan internal loan grading system. tingkat PD dan LGD pada kondisi hapus buku tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kerugian pada setiap periode tunggakan. (2) Perhitungan tingkat kerugian historis secara statistik menggunakan parameter berikut: (a) Probability of Default. Roll Rates. maka persentase PD dan LGD untuk kredit tersebut harus dikurangi dengan persentase tingkat pengembalian (recovery rate). antara lain Migration Analysis. Vintage Analysis. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan (deliquency stage). b) Metode Statistik (Statistical Model Analysis) (1) Penetapan tingkat kerugian historis dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik berdasarkan internal loan grades masing-masing bank. Selanjutnya. PD dan LGD adalah sebesar 100% atau tidak akan tertagih (default). tingkat Probability of Default (PD) dan Loss Given Default (LGD) dihitung berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi hapus buku. yaitu tingkat kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajiban.Bab V I K r e d i t (3) Bank tidak dapat mengakui adanya kerugian akibat penurunan nilai untuk kejadian yang diperkirakan akan terjadi di masa datang karena peristiwa kerugian (misalnya meninggalnya debitur) belum terjadi. dan Default Rate. Selanjutnya. apabila berdasarkan data historis dapat diestimasi secara andal.

00% 11.78% 61.512 194.332 21.10% 26.978.784.77% 7.166.962 70.37% Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 193 .544 4.264.2% 25. Contoh: Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.875 91.885.493.324 227.656.949 72.885.150 165.455 41.69%) = (7% x 25.87% > 90 hari 3.37%) + 12.021. umumnya loan grading ditentukan berdasarkan periode tunggakan (delinquency stage).37% Formula = 3. tingkat migrasi dihitung berdasarkan persentase nilai kredit atau jumlah rekening yang berpindah dari satu periode tunggakan terendah ke periode tunggakan dimana kartu kredit dinilai tidak akan tertagih (default).544 4.748.885.92% = 25.465.33% Tunggakan 31-60 hari 5.366.65% 16.43% 47.23% 18.69% 25.842.23% + (1.512 194.819 7.293.784.37%) + (5.513.337.77% x 25.293.584.539.641 391.433.583.244.615.45% 14.07% Tunggakan 61-90 hari 1.021. Selanjutnya.497 27.23% 12.000 180.784.946 49.273 863.777 1.466.544 4.519 55.947 3.387.842.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari 61-90 hari > 90 hari Pembayaran 138.583. Dalam kasus portofolio kartu kredit.778 391.289 52.166.387.02% 3.51% 6.949 50.274 863.274 863.126.359 32.73% Probalility of Default 4.166.293.106 33.Bab V I K r e d i t pengalaman kerugian sebagaimana halnya pendekatan Historical Loss Rate.23% x 14.323 240.583.711 1.095 Hapus Buku Jumlah 2.512 194.424.778 391.481.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan 89.807 102.37% 63.615. Selanjutnya.755 Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3. tingkat migrasi tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kerugian kelompok kartu kredit berdasarkan setiap periode tunggakan. Pendekatan ini dilakukan dengan menganalisa tingkat migrasi outstanding kredit dari grade tertinggi ke grade terendah.615.021.321 550.973.605 15.

atau faktor-faktor lainnya yang merupakan indikasi timbulnya kerugian dalam kelompok kredit serta besarannya. harga properti. (3) Metode ini dapat menggunakan data tingkat kerugian bank (bank-specific data) seperti data mengenai internal loan grades.45%. harga komoditas.Bab V I K r e d i t Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat kemungkinan kelompok kartu kredit tanpa tunggakan menjadi kredit dengan tunggakan lebih dari 90 hari adalah sebesar 4. 9) Dalam hal bank belum memiliki data tingkat kerugian historis. metode yang digunakan harus mampu menghubungkan setiap kelompok kredit dengan data dan informasi mengenai kerugian masa lalu yang pernah dialami oleh kelompok kredit dengan karakteristik risiko kredit serupa. dan dengan data dan informasi yang relevan yang dapat diobservasi yang mencerminkan kondisi terkini. 7) Estimasi terhadap perubahan arus kas masa datang harus mencerminkan dan memiliki arah yang konsisten dengan perubahan data dan informasi terkait yang dapat diobservasi dari satu periode ke periode berikutnya. perlu diperhatikan bahwa tingkat kerugian historis yang diterapkan pada suatu kelompok kredit harus merupakan tingkat kerugian yang diperoleh berdasarkan observasi atas data kerugian masa lalu pada kelompok kredit yang sama atau serupa. misalnya perubahan tingkat pengangguran. yaitu minimum sebesar 1% sesuai ketentuan BI yang berlaku mengenai penilaian kualitas aktiva. Oleh karena itu. (b) Loss Given Default. 8) Dalam hal bank menggunakan tingkat kerugian historis dalam mengestimasi arus kas masa datang. yaitu besarnya tingkat kerugian yang diakibatkan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. antara lain Expected Recoveries. Tingkat migrasi tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi terkini yang mencakup kondisi eksternal maupun internal. status pembayaran. dan Loss on Disposal. bank diberikan masa transisi selama 1 tahun sampai akhir Desember 2010 untuk menghitung kerugian penurunan nilai secara kolektif menggunakan dasar perhitungan pembentukan cadangan umum. maupun data kerugian yang dialami industri perbankan. 194 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. Collateral Shortfall.

Bab V I K r e d i t 10) Untuk selanjutnya. dan pengalaman serta kemampuan manajemen dan loan officer. a) Penyesuaian terhadap kerugian historis dapat mencakup: (1) Kondisi eksternal. prosedur audit internal. praktek pengelolaan risiko. suku bunga. kecukupan dan kepatuhan terhadap prosedur yang terkait dengan penagihan. inflasi. yaitu dalam hal bank: a) tidak memiliki data kerugian historis yang cukup memadai atas kelompok kredit. Oleh karena itu. dan perundanganundangan mengenai kepailitan (2) Kondisi internal. tingkat pengangguran. bank dapat menggunakan data kerugian historis dari peer group atas kelompok kredit yang serupa sampai bank dapat memiliki data sendiri. b) Penyesuaian terhadap kondisi terkini dilakukan berdasakan data dan informasi yang dapat diobservasi. dan/atau d) baru didirikan. dan pertimbangan manajemen. 11) Tingkat kerugian historis kadangkala bukan merupakan indikator kemungkinan kerugian yang cukup memadai. konsentrasi portofolio. misalnya perubahan dalam standar/prosedur pemberian dan pemantauan kredit. pengalaman bank lain dalam peer. permasalahan industri. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 195 . misalnya tingkat produk domestik bruto (PDB). tingkat kerugian historis harus disesuaikan agar mencerminkan kondisi terkini yang tidak terjadi pada periode perolehan data kerugian historis dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang terjadi pada periode tersebut yang saat ini sudah tidak relevan lagi. b) tidak pernah mengalami kerugian dari kelompok kredit atau tidak memiliki pengalaman kerugian yang memadai. hapus buku dan perolehan kembali kredit (recoveries). tingkat tunggakan bunga dan kredit bermasalah saat ini. ketersediaan dan kecukupan agunan. c) memberikan kredit kepada industri atau sektor yang belum dilakukan sebelumnya.

Estimasi arus kas masa datang a. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: 1) dilakukan secara akurat dalam hal jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang. bank perlu meningkatkan persentase kemungkinan kerugian sebesar 2. bank telah memperketat standar dan prosedur persetujuan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat menurunkan tingkat kerugian historis sebesar 1%. Untuk meningkatkan konsistensi dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. yaitu menjadi 11.5%. 4) dikaji ulang secara periodik untuk memastikan metodologi dan asumsi yang digunakan dapat diandalkan. Dalam kondisi perekonomian yang mengalami resesi dimana tingkat inflasi dan pengangguran meningkat. tingkat kerugian historis yang telah disesuaikan dengan kondisi terkini tersebut digunakan untuk menyesuaikan nilai tercatat kredit dalam kelompok kredit. 12) Selanjutnya. tingkat kerugian historis disesuaikan dengan peningkatan sebesar 1. serta meminimalkan perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dan jumlah kerugian aktual.5%.Bab V I K r e d i t Contoh: Bank memiliki rata-rata tingkat kerugian historis atas kelompok kredit kendaraan bermotor sebesar 10% selama 5 tahun terakhir. 196 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 7. Di lain pihak. 13) Metodologi dan asumsi yang digunakan dalam mengukur tingkat kerugian historis harus dikaji ulang secara berkala untuk mengurangi perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dengan jumlah kerugian aktual. dan 5) kerugian historis harus digunakan sebagai basis untuk mengestimasi arus kas masa datang. Dengan demikian. 2) meliputi jangka waktu sampai jatuh tempo dan tidak hanya satu tahun. 3) sejalan dengan perubahan kondisi terkini berdasarkan data dan informasi yang dapat diobservasi dari waktu ke waktu.5% dan meningkatkan cadangan kerugian untuk mengantisipasi tekanan ekonomi yang dialami kelompok debitur.

maka nilai kini arus kas masa datang mungkin tidak akan berada di bawah nilai tercatat. berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum. c) Estimasi terbaik atas arus kas masa datang harus didiskonto dengan menggunakan suku bunga kontrak sebelum kredit tersebut direstrukturisasi.Bab V I K r e d i t b. termasuk denda bunga. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3) Realisasi agunan a) I 197 . yaitu konsesi yang tidak akan diberikan apabila tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. b) Dalam restrukturisasi kredit. Estimasi arus kas masa datang antara lain dapat bersumber dari ekspektasi: 1) Penerimaan pokok dan bunga. bank harus menilai kemungkinan penjamin tersebut memenuhi kewajibannya. Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari realisasi agunan terlepas apakah bank akan mengambil alih dan menjual agunan atau tidak. sehingga bank tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. a) Estimasi arus kas masa datang terhadap kredit yang mengalami penurunan nilai harus mempertimbangkan apakah bank akan melakukan skenario penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit. bank memberikan konsesi khusus kepada debitur. b) Untuk dapat diperhitungkan sebagai arus kas masa datang. Namun. 2) Jaminan dari pihak ketiga dan ganti rugi dari perusahaan asuransi. a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari jaminan finansial dari pihak ketiga (termasuk perusahaan asuransi). bank harus melakukan evaluasi secara periodik dan obyektif terhadap kemungkinan perubahan kemampuan debitur dalam memenuhi persyaratan restrukturisasi yang telah disepakati. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai kini dari arus kas masa datang merupakan cadangan yang harus dibentuk untuk kerugian penurunan nilai. d) Apabila kredit diperkirakan akan dibayar penuh. c) Persyaratan penjaminan dan kondisi keuangan penjamin harus diidentifikasi sebelum memperhitungkan jaminan atau ganti rugi dalam perhitungan estimasi arus kas masa datang.

c. antara lain: 1) Restrukturisasi Debitur a) Pengertian restrukturisasi dalam arti luas mencakup perubahan struktur organisasi. b) Disamping menggunakan kuotasi harga tersebut. legal. pemegang saham. c. bank harus melakukan estimasi berdasarkan rencana restrukturisasi dan kemungkinan restrukturisasi tersebut akan memulihkan kondisi debitur atau sebaliknya. c. Dalam kasus ini. 2) f). bank juga harus memperkirakan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut sebagaimana pada butir 6. Dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. maka kemungkinan sebagian atau seluruh usaha debitur dijual untuk memenuhi kewajibannya. sistem dan prosedur. 2) di atas. 4) Penjualan kredit di pasar sekunder a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat mempertimbangkan skenario penjualan kredit di pasar sekunder sepanjang terdapat kuotasi harga di pasar aktif. bank perlu memperkirakan nilai dari perusahaan/bisnis debitur untuk mengestimasi arus kas yang akan diterima dari penjualan tersebut. manajemen. terlepas apakah bank akan merealisasikan skenario tersebut atau tidak. aset.Bab V I K r e d i t b) Agunan dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang apabila memenuhi kondisi sebagaimana pada butir 6. utang. operasional. 198 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . khususnya jika terdapat bukti yang kuat secara hukum atas perolehan likuidasi aset debitur. 2) Likuidasi karena debitur pailit Apabila debitur dalam kondisi atau proses pailit dan kredit tidak dijamin. b) Apabila restrukturisasi debitur tidak berjalan sesuai ekspektasi. Dalam hal ini. Perkiraan tersebut harus didasarkan pada penawaran nyata atau penilaian dari pihak yang memiliki keahlian berdasarkan penjualan bisnis serupa di pasar. dan sebagainya. bank juga perlu mempertimbangkan berbagai langkah yang dilakukan debitur maupun kondisi lainnya yang terkait dengan kemampuan debitur dalam menyelesaikan kewajibannya. maka bank dapat mempertimbangkan aset yang dimiliki debitur dan memperkirakan bagian yang akan diterima bank dari penjualan/likuidasi aset tersebut. keuangan.

khususnya jika nilai wajar agunan yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas jauh melebihi baki debet dari kredit. Pembayaran Setelah Kredit Mengalami Penurunan Nilai a. b. e. melainkan secara periodik sebagaimana pada angka 5 di atas. 3) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk sesuai dengan mata uang denominasi kredit yang diberikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 199 . 2) Bank tidak diperbolehkan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai melebihi jumlah yang dapat dikaitkan pada kredit individual atau kelompok kredit kolektif dan didukung dengan bukti obyektif penurunan nilai. Oleh karena itu. 9. Dalam kasus tertentu. Nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Perhitungan estimasi arus kas masa datang harus didokumentasikan dan didasarkan atas kebijakan internal bank yang memadai untuk kepentingan pemeriksaan oleh audit internal maupun eksternal. Dengan demikian. Dalam mengukur dan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. nilai kini dari arus kas masa datang tidak hanya diestimasi pada saat pertama kali terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. Setelah kredit mengalami penurunan nilai. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari debitur untuk membayar pokok atau bunga. Perubahan dalam jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang dapat berdampak pada perubahan estimasi terjadinya penurunan nilai dan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. 8.Bab V I K r e d i t d. maka setiap penerimaan pembayaran dari debitur akan langsung mengurangi nilai tercatat kredit. bank mungkin tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai a. bank harus memperhatikan hal-hal berkut: 1) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk berdasarkan selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif.

b. Misalnya. 11. c. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat kredit. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat kredit dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. b.Bab V I K r e d i t b. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. debitur melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebih antisipasi bank. 200 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Apabila debitur melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. Pelaksanaan penghapusbukuan kredit dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. Hapus Buku dan Hapus Tagih a. Dalam hal penghapusbukuan kredit merupakan kelanjutan dari tindakan penyelesaian kredit dengan cara pengambilalihan agunan. d. 10. maka jumlah yang dihapus buku adalah sebesar selisih kurang antara nilai wajar agunan yang diambil alih setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan dengan nilai tercatat kredit. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). Pemulihan Penurunan Nilai a. Dalam kondisi tersebut. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. Kredit dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%.

b. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 201 . c. maka bank: a. atau 2) koreksi saldo laba. mengakui sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca dan mengakui ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. atau 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan Bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. 2. atau 2) koreksi saldo laba. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungkan penurunan nilai. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi. maka bank: a.Bab V I K r e d i t D. atau b. mengakui sebagai ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik.

Kredit yang telah dihapus buku dapat direstrukturisasi dengan terlebih dahulu membukukan kembali ”Kredit” dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” di neraca. b. 8. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungan penurunan nilai. 3.Bab V I K r e d i t 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. yaitu paling tinggi sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. dan mengakui aset yang diambil alih yang perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK yang berlaku. maka bank: a. Pada saat penerimaan ganti rugi dari perusahaan asuransi atau lembaga penjamin kredit diakui. 4. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. dan melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Penerimaan kas atas kredit yang telah dihapusbuku diakui sebagai pendapatan operasional selain bunga. 6. 202 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang mengatur mengenai aset tetap yang tersedia untuk dijual. Kredit yang dihapus buku wajib dicatat secara extracomptable. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah penurunan nilai berkurang yang disebabkan terjadinya suatu peristiwa tertentu setelah pengakuan penurunan nilai. maka bank memulihkan kerugian penurunan nilai yang telah diakui tersebut dengan menjurnal balik ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. maka bank: a. 7. c. melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Apabila aset yang dijaminkan diambil alih. 5. b. memperhitungkan ganti rugi tersebut dalam estimasi arus kas masa datang yang akan diterima.

Kredit . Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit 2) Membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan jurnal balik apabila penurunan nilai terjadi pada periode berjalan: Db.Bab V I K r e d i t 9. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai a. Saldo laba Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Pendapatan bunga kredit Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Db./Kr.amortised cost Db. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai pos pengurang dari “Kredit” sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit tersebut.amortised cost I 203 . jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Kr. Penyajian 1./Kr. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi 1) Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. E. Kredit . 2. atau mengoreksi saldo laba. Kredit yang telah dihapus buku dapat dihapus tagih antara lain apabila dalam jangka waktu tertentu tidak diperoleh pembayaran setelah dilakukan usaha-usaha penagihan dan merupakan keputusan manajemen. Kr. Kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai beban operasional pada pos “Kerugian penurunan nilai kredit”. Ilustrasi Jurnal 1.

3. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain 2) Untuk pembatalan pengakuan pendapatan bunga mengacu pada huruf a di atas 2. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Pada saat penghapusbukuan kredit Db.Bab V I K r e d i t atau jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. Kredit 204 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Mengakui kerugian penurunan nilai yang sebelumnya dicatat pada ekuitas Db. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Pendapatan b. Db. Saldo laba Jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. c. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Kerugian penurunan nilai Kr. Kerugian penurunan nilai Jika pemulihan penurunan nilai diketahui setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana peristiwa tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event) Db. Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit b. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya peringkat kredit debitur) a.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 3. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. penghapusan. Pada saat menerima pembayaran untuk kredit yang sudah dihapus buku a. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. c. Kerugian penurunan nilai kredit Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. 3–6 bulan. Kredit yang berdasarkan evaluasi secara individual telah mengalami penurunan nilai. commercial loans. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 205 . misalnya tunggakan < 3 bulan. b. Pendapatan b. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event) Db. penyisihan. dan 2. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang terkait dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. 6–12 bulan. Kredit dengan tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) tetapi tidak mengalami penurunan nilai berdasarkan skala waktu tunggakan. yang meliputi: 1) Nilai tercatat sebelum dikurangi kerugian penurunan nilai. F. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan. Pendekatan yang digunakan untuk melakukan evaluasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. dan sebagainya). Bank dapat menentukan sendiri skala waktu tunggakan yang sesuai. Analisis tersebut mencakup: a. dan lebih dari 12 bulan. 2) Jumlah kerugian penurunan nilai. Db. antara lain: 1. termasuk faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menetapkan penurunan nilai. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dan penanganan kredit yang mengalami penurunan nilai.Bab V I K r e d i t 4. consumer loans.

Bab V I K r e d i t c. 5. 4. pemulihan cadangan selama tahun berjalan (d). c. Contoh Kasus Contoh kasus untuk penurunan nilai menggunakan contoh yang sama pada Bagian mengenai Pemberian dan Penyaluran Kredit. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas kredit sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank. cadangan yang dibentuk selama tahun berjalan (c). f. kredit yang telah dilakukan hapus tagih dan saldo akhir tahun. saldo akhir tahun (a) + (b) + (c) – (d) – (e) – (f). yang menunjukkan saldo awal tahun. d. Jumlah kredit yang sudah dihentikan pembebanan bunganya. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku (e). Ikhtisar kredit yang dihapus buku. selisih kurs karena penjabaran cadangan dalam mata uang asing (b). e. g. penghapusbukuan kredit dalam tahun berjalan. b. Ikhtisar perubahan pos cadangan kerugian penurunan nilai (baik cadangan kerugian untuk penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif) untuk setiap kategori kredit yang menunjukkan: a. 7. Jenis serta nilai wajar agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya untuk setiap pengungkapan pada butir a dan b diatas. yaitu contoh 3 berupa kredit investasi yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit berdasarkan segmentasi tertentu. G. penghapusbukuan kredit selama tahun berjalan (f). saldo awal tahun (a). dengan tambahan informasi sebagai berikut: 206 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . H. 6.

bank melakukan kembali estimasi arus kas masa datang yang mungkin akan diperoleh yang selanjutnya didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal untuk memperoleh nilai kini atas arus kas tersebut. Lihat Tabel 11. yaitu kegagalan debitur membayar kewajiban bunga pada tanggal 30 September 2010. Terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai atas kredit Berdasarkan evaluasi periodik yang dilakukan bank. pada akhir September 2010 terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 207 . Selisih kurang antara nilai tercatat kredit sebelum terdapat bukti obyektif penurunan nilai dan nilai kini estimasi arus kas masa datang merupakan cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk.Bab V I K r e d i t 1. Berdasarkan bukti obyektif tersebut.

843 1.178.481.000) 72.583 635.000) (1.000.912 74.178.165 601.935.257.528.569.208 99.999 48.573.048 49.250.955.357 50.423 47.721 643.281 651.930.711 74.481.000 430.082.570.000 6 31-May-10 1.196.328 99.508.250.000) (1.569.500.866.000.357 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.816.191.000 9 31-Aug-10 937.711 74.000) (937.250.051 99.000) (500.000.507 585.997.980.836.194.843 5.241.439 47.000.310.256% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .411 599.436.766.000.999 48.902.423 47.049 608.842.259.436.328 99.193.585 5.500.920.208 5.390.390.178.500.468.357 74.000.721 643.930.938 617.585 1.281 651.530.000.000 463.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 208 I P e d o m a n 99.000.000.945.445 3.364.000 43.564.975.500.000.850 99.000.920.322 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 72.255.000 99.742.174.663.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.500.836.274.848.506 625.302.793.000.439.066.920.310.220 934.000.439.984 592.250.951.943 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.556 50.569.943 911.129.389.133 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 500.048 49.902.250.850 99.801.392.208 99.050 49.959.250.404.521 5.742.000) (1.556 50.000) (52.530.434 74.935.199.945.086 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 500.991.367.569.082.506 625.750.257.434 74.869.834 47.000.951.325.500.661 51.500.479 23 30-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 52.Tabel 11: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Terdapat Bukti Obyektif Penurunan Nilai .925.000 4 31-Mar-10 1.191.507 585.912 74.193.208 1.940 51.811.925.920.959.241.196.439 47.364.000.866.076.000 446.411 599.000.276.965 73.535.693.940.255.000) 1.043.000 5 30-Apr-10 1.528.295.000.205.746 922.955.165 601.589.392.965 72.057 72.522.112 49.194.938 617.250.199.801 633.220 934.274.750.478 941.521 1.255.801 633.000) (500.174.965 (1.302.663.076.255.000.965 73.049 608.564.000 99.000.050 49.357 (25.848.066.793.000.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.250.573.468.000) 5.997.984 592.000) 911.491.043.000.842.304.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 13 31-Dec-10 28.931 46.000.325.444.583 635.940.980.000) (937.746 922.000.276.834 47.000 27.000) (1.442.542.931 46.277 1.250.064 616.816.478 3.445 941.112 49.250.000 7 30-Jun-10 26.766.064 616.000.000 3 28-Feb-10 1.277 5.997.508.367.942.000) 2 31-Jan-10 1.178.129.255.051 99.975.589.468.570.649.510 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 500.322 (28.000.404.985.205.940 51.357 50.661 51.522.985.997.000.811.259.000 8 31-Jul-10 937.758 Suku Bunga Efektif Awal 1.801.255.057 (500.066.649.000.000) (1.066.542.965 Cadangan kerugian penurunan nilai 2.250.250.

746 Kr.750.000 c. Kredit – amortised cost e. 922.304. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.507 28. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.573. 11 sampai dengan no.357 2. Kerugian penurunan nilai Kr. d. Rp. 24 dalam Tabel 11 sama dengan jurnal untuk transaksi no. Tanggal 30 September 2010. maka dilakukan jurnal balik) 2) Pengakuan bunga pada saat terjadi penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat bank tidak menerima pembayaran dari debitur) b.389. Rp. a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 209 .220 Kr.980.357 (apabila masih terdapat tagihan bunga pada saat penurunan nilai. Kredit – amortised cost Rp.980. pada saat pengakuan amortisasi bunga (interest unwinding) Db. Rp.573.750. 2. 911.746 Tanggal 30 November 2010.530. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. 911. Rp.507 934. Rp.000. Pendapatan bunga Rp.220 Tanggal 31 Desember 2010.000.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan pula bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit. Jurnal untuk transaksi no. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 13 dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.304. 14 sampai dengan no. Kredit – amortised cost Kr. Pendapatan bunga Rp. 922. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 934.389. Tanggal 31 Oktober 2010.530. Kredit – amortised cost Rp. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat kerugian penurunan nilai Db.000 28.

210 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. 2.257. Rp. Kredit – amortised cost Kr. 2. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 651.304. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. bank mengestimasikan akan menerima arus kas masa datang yang lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sehingga bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai. Jika pada 31 Desember 2010.357 2. Kredit– amortised cost Rp. Tanggal 31 Desember 2011. Rp.389.000. Rp.000 52.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db. bank harus melakukan evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang secara periodik atau pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai selanjutnya.500.057 651.057 52.500. Kredit – amortised cost Rp. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.Bab V I K r e d i t f.357 Kr. Lihat Tabel 12.257.389. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang pada saat evaluasi selanjutnya Sebagaimana dipersyaratkan.304.

208 99.711 911.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas D E = D x EIR F G=pxi H=E-G Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx Tahun Estimasi Arus Kas 99.843 1.945.569.569.302.478 941.328 99.497 28.942.931 35.850 99.491.776 356.965 73.951.400.000 5 30-Apr-10 1.000.711 74.000 21.250.823.408 (5.404.000.000.446.250.886.250.446.500.303.935.951.309 360.000.445 3.807 24.231.748.392.173 28.000.126.434 74.618 404.991.478 3.331 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab V I K r e d i t I 211 Suku Bunga Efektif Awal 1.592 1.255.355 302.433.309 360.000) 5.592 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.000 99.500.000) (937.275.481.194.129.000.980.367.012.000) 2 31-Jan-10 1.000.000 7 30-Jun-10 26.746 922.225.940.890 36.890 36.194.259.513.205.000.277 5.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.255.689.000.250.000 4.599 32.000.891.446.975.965 I=D+E+F+G 99.400.442.081.712 456.342.528.513.372 310.051 99.925.000) (1.965 72.958.357 74.364.721 28.689.231.500.000.000) (1.530.508.173 28.000.357 (25.891.920.585 5.000 3 28-Feb-10 1.000.259.104.602 31.208 5.000.000 99.377.000.433.098 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 5.853.000.198.720.345.548 351.997.250.129.798.481.310.250.000.000.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .945.920.273.196.000) (1.528.303.000 4 31-Mar-10 1.000 4.000.220 445.408 72.000.058 306.250.220 24.000 8 31-Jul-10 937.383.345.798.000) 445.930.691.000.250.275.383.930.066.000) 50.649.737.364.602.000.250.602 31.000.378 399.600 35.390.000) (5.208 1.000 9 31-Aug-10 937.965 (1.310.355 302.585 1.126.959.012.843 5.255.497 28.955.649.446.576.746 922.500.392.196.325.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.000.486.965 73.291 450.925.445 941.823.372 310.468.255.600 35.575 409.000) (1.920.223.330 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 25.486.000.600 Cadangan kerugian penurunan nilai 23.066.886.940.748.521 1.325.508.000) (1.250.807 24.939 911.066.000) (937.476.000 4.390.434 74.273.208 99.980 32.599 32.066.Tabel 12: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Evaluasi Penurunan Nilai secara Periodik .000.122.163.850 99.000.000.250.000 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 5.058 306.081.935.912 74.853.342.345.997.277 1.776 356.255.220 24.931 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 50.000.416.104.250.575 409.721 28.720.980.220 (15.322 A B C 1 1-Jan-10 (99.712 456.522.328 99.291 450.576.569.122.737.250.000.530.255.378 399.162 24.521 5.367.000.548 351.816.602.602.600 35.000) 72.955.000 15.250.877.404.877.639.997.232 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 5.500.000.000.377.912 74.000.000.618 404.000 6 31-May-10 1.162 24.000.198.000) (5.416.051 99.975.000.602.000.980 32.476.000) (25.000.345.

14 sampai dengan no.000. 50. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.958. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.331 = Rp. 15. Pendapatan bunga Rp.600) 2) Pengakuan bunga pada awal penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat awal pencatatan nilai kini estimasi arus kas masa datang) 3) Mencatat penerimaan arus kas Db.000 c. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db. dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.163. 23. d. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat tambahan cadangan kerugian penurunan nilai Db. 23.345. Kredit – amortised cost Kr. Pendapatan bunga Rp. a.378 456./Giro BI Kr. 445.508. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.331 (Rp.378 5.000.958. Rp. Tanggal 31 Desember 2010. 23.712 Tanggal 31 Maret 2011.823.000.000. 17 sampai dengan no. Kredit – amortised cost Rp. Rp.712 Kr.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit.000. 74.291 Tanggal 28 Februari 2011.000. Kredit – amortised cost Rp. 16. Jurnal untuk transaksi no. Kerugian penurunan nilai Rp. 25 dalam Tabel 12 sama dengan jurnal untuk transaksi no.163.231..446. 212 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.486. 445. 450.823. 456.231. Kas/Rekening. Rp. 450. Rp.000 Tanggal 31 Januari 2011.163.000 5. Kredit – amortised cost b.404.000.958.291 Kr. Kredit – amortised cost Rp.931 – Rp. e.331 Kr..486. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.000 15.000.

Kredit – amortised cost Kr.000. Lihat Tabel 13. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai untuk menyesuaikan nilai tercatat sebelumnya menjadi nihil.408 310.467.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db. 23.357) 3. 2.688 = Rp.688 Kr. Rp.163. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 213 . 26.122.000.467.347. Rp.122.304.331 + Rp.000. Kredit – amortised cost Rp.408 25.000 25.389. 26. Rp. Oleh karenanya. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang dan hapus buku Jika pada saat evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang pada bulan Maret 2011. 310.347. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. 26.000.688 (Rp.958. Kredit – amortised cost Rp. bank mengestimasikan bahwa tidak terdapat penerimaan atau sangat sulit bagi bank untuk memperoleh kembali arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai tersebut.Bab V I K r e d i t f. Tanggal 31 Desember 2011.467.347.

711 74.951.925.066.602 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.250.576.000 99.250.940.250.Tabel 13 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi dan Hapus Buku .302.602 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 0 Tambahan cadangan kerugian penurunan nilai 36.600 14 31-Jan-11 35.357 74.000) (1.000.649.310.528.931 35.890 36.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.481.000) (937.481.920.000 74.277 5.500.823.940.345.250.400.442.390.000 99.000.357 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.975.208 99.220 (15.250.000.997.951.478 941.000 74.965 (25.392.208 1.000) (937.000 99.000.649.000 99.955.342.746 922.066.434 74.392.367.920.843 1.935.491.712 911.000.920.250.051 5 30-Apr-10 1.850 99.250.912 74.000.250.530.250.935.569.000.277 1.255.400.746 922.129.942.000 3 28-Feb-10 1.930.000.255.310.291 450.000 50.000.000) (1.711 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.959.196.208 4 31-Mar-10 1.000.000.850 7 30-Jun-10 26.600 15 28-Feb-11 35.965 73.521 5.500.500.000.712 72.345.390.328 6 31-May-10 1.434 8 31-Jul-10 937.194.965 11 31-Oct-10 72.576.000) (1.000.000 99.000.500.980.912 9 31-Aug-10 937.446.000) 5.231.194.345.231.891.445 941.945.328 99.255.250.000 99.446.325.129.255.945.400.255.528.602 Perhitungan tambahan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai (31 Maret 2011) 36.325.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 214 I P e d o m a n 1.404.000.980.322 911.955.600 35.000.585 5.843 5.220 445.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .530.965 12 30-Nov-10 73.997.478 3.259.000) (1.066.342.445 3.975.569.508.585 1.890 Evaluasi penurunan nilai secara periodik dan hapus buku 16 31-Mar-11 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 - Suku Bunga Efektif Awal 1.997.925.342.259.000.066.255.291 450.250.446.991.367.250.823.000.500.000) 2 31-Jan-10 1.000 72.000.000) (1.569.000) 445.000.000.051 99.196.891.000) (1.930.208 5.000 99.521 1.

602 Kr. 62. 36.746 922.220 (15.357 + Rp.290 = Rp. 62. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.304. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Rp. 2.342.602) 2) Pencatatan extracomptable atau rekening memorial Db.530.163.290 (Rp.342. Kredit – amortised cost Rp.823.000) 445.291 450.602 Dengan pembentukan cadangan tersebut maka nilai kini kredit menjadi nihil Pada saat manajemen bank memutuskan untuk menghapus buku kredit 1) Penghapusbukuan kredit Db. 36.231.868.290 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 215 .Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi a. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit Db. Nilai tersebut merupakan nilai tercatat sebelum penurunan nilai yang dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk.290 Kr.689.712 62.868. Kerugian penurunan nilai Rp.868.342.290 b.959.400.689.868.302.868.958. 62.000.000. 23.322 911.331 + Rp.689.400.689. Kr. dengan rincian sebagai berikut: Rekonsiliasi atas nilai kini kredit adalah sebagai berikut: a) Nilat tercatat kredit diamortisasi Nilai tercatat sebelum penurunan nilai amortisasi bunga (31-Okt-10) amortisasi bunga (30-Nov-10) Penerimaan arus kas masa datang (31-Dec-10) amortisasi bunga (31-Jan-11) amortisasi bunga (28-Feb-11) 74.980. Setelah pencatatan jurnal di atas maka nilai tercatat kredit adalah nihil.400. Memorial kredit yang dihapus buku Rp.389. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Rp. 36.868.689.290 62. 62.689. Tanggal 31 Maret 2011.

Pada saat Bank menerima setoran kas dari debitur atas kredit yang telah dihapus buku pada tahun berjalan (asumsi penerimaan kembali setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event).342.602 62. Memorial kredit yang dihapus buku Rp.304.689.163.357 Penilaian kembali arus kas masa datang (31-Des-10) 23.290 c. xxxxxxxx xxxxxxxx 216 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp.389.. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Kr.958.331 Penilaian kembali arus kas masa datang (31 Mar-11) 36. Rp. Kas/Rekening. 1) Pencatatan penerimaan kas Db.Bab V I K r e d i t b) Cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk Terdapat bukti obyektif (30 Sep-10) 2. xxxxxxxx xxxxxxxx Rp./Giro BI Kr.400..868. Pendapatan 2) Penyesuaian atas rekening memorial Db.

I 217 . dan c. 4. 5. 3. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak keuangan lain dengan karakteristik sebagai berikut: a. Kewajiban derivatif adalah kewajiban yang merupakan potensi kerugian berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih negatif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable forecast transaction) atau investasi neto pada operasi di luar negeri (net investment in a foreign operation) yang merupakan item yang dilindung nilai (hedged item) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. 6. Lindung nilai (hedging) adalah strategi pengelolaan risiko dengan menggunakan instrumen keuangan (hedging instrument) untuk melakukan saling hapus (offset) atas perubahan nilai wajar atau arus kas dari aset atau kewajiban keuangan tertentu. Definisi 1. Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction) Tagihan derivatif adalah tagihan yang merupakan potensi keuntungan berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih positif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Derivatif melekat (embedded derivative) adalah instrumen derivatif yang melekat pada kontrak lainnya yang merupakan kontrak utama (host contract) yang dapat menyebabkan perubahan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak utama sejalan dengan perubahan variabel tertentu yang mendasari (underlying variable). Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan/ yang mendasari (underlying) b. suatu komitmen pasti (firm commitment).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bab VI Transaksi Deriva f A.

Prakiraan transaksi (forecast transaction) adalah transaksi di masa datang yang belum mengikat namun telah diantisipasi. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7. b. c. B. Untuk variabel non keuangan. indeks harga atau indeks suku bunga. harga instrumen keuangan. variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak: 2) tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. antara lain: suku bunga. dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang objektif. dan 3) diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang. Komitmen pasti (firm commitment) adalah perjanjian yang mengikat untuk mempertukarkan sumber daya dalam kuantitas tertentu pada tingkat harga tertentu dan pada tanggal atau tanggal-tanggal tertentu di masa datang. (PSAK 10 paragraf 7) Pada setiap tanggal neraca: 1) Pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. harga komoditas. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang termasuk dalam ruang lingkup Pernyataan ini (lihat paragraf 2–7) dengan tiga karakteristik berikut ini: 1) nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying). (PSAK 55 paragraf 8) Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan mengunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Derivatif a. Valuasi adalah suatu proses pengukuran nilai wajar yang dapat didasarkan pada harga kuotasi di pasar yang aktif (mark to market) maupun didasarkan pada teknik penilaian (valuation technique). atau variabel lainnya. 9. peringkat kredit atau indeks kredit. 218 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . nilai tukar mata uang asing. 8. Dasar Pengaturan 1.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca.” (PSAK 55 PA24) Kontrak yang mensyaratkan atau mengijinkan penyelesaian neto terhadap perubahan nilai kontrak bukan merupakan kontrak reguler. karena komitmen dimaksud memiliki jangka waktu pendek. baik moneter maupun nonmoneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate) 2) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi 3) Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai ”selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan. selisih penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. (PSAK 55 paragraf 8) “Suatu pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) akan menimbulkan komitmen harga yang telah ditetapkan antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian yang memenuhi definisi suatu derivatif. (PSAK 55 PA69) e.. g. f. kontrak tersebut dicatat sebagai derivatif pada periode antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 219 . Sebaliknya.. Meskipun demikian. h. Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18. maka tidak diakui sebagai instrumen keuangan derivatif. digunakan prosedur sebagai berikut: 1) Aset dan kewajiban entitas asing. (PSAK 11 paragraf 14) Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) adalah pembelian atau penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kurun waktu yang umumnya ditetapkan dengan peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar. tetapi harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. (PSAK 10 paragraf 9) d. (PSAK 10 paragraf 13) Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasikan dengan laporan keuangan perusahaan pelapor. dan 3) Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan.

seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan b. namun jika kontrak utamanya bukan merupakan instrumen keuangan. “Derivatif melekat merupakan komponen dari instrumen keuangan campuran (hybrid instrument) atau instrumen keuangan yang digabungkan (combined instrument) dimana didalamnya termasuk pula kontrak utama non derivatif yang mengakibatkan sebagian arus kas yang berasal dari instrumen yang digabungkan bervariasi seperti derivatif yang berdiri sendiri.” (PSAK 55 paragraf 9) Derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utamanya dan dicatat sebagai derivatif berdasarkan Pernyataan ini. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. dan 3) instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (dengan kata lain derivatif yang melekat pada aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dipisahkan). atau 2) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen campuran yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan. maka kontrak utamanya harus dicatat berdasarkan PSAK 55 jika kontrak utamanya merupakan instrumen keuangan. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. nilai tukar mata uang asing. atau variabel lainnya. harga instrumen keuangan. (PSAK 55 paragraf 10) c.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2. 220 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika derivatif melekat dipisahkan. jika dan hanya jika: 1) karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama. peringkat kredit atau indeks kredit.. Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak. maka harus dicatat berdasarkan Pernyataan lain yang sesuai tetapi PSAK 50 tidak mengatur apakah derivatif melekat disajikan secara terpisah dalam laporan keuangan. indeks harga atau indeks suku bunga. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat.. 2) instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat memenuhi definisi sebagai derivatif. antara lain: suku bunga. Derivatif Melekat a.

baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. maka nilai wajar derivatif melekat merupakan selisih antara nilai wajar dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran dengan nilai wajar dari kontrak utama. apabila kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan berdasarkan Pernyataan ini. (PSAK 55 PA48) e. Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat menggunakan metode ini. Lindung Nilai a. (PSAK 55 paragraf 13) Penetapan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dapat digunakan terlepas apakah paragraf 10 mensyaratkan derivatif melekat untuk dipisahkan dari kontrak utamanya atau dilarang dipisahkan. (PSAK 55 paragraf 12) Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara handal berdasarkan persyaratan dan kondisi derivatif tersebut (misalnya karena derivatif melekat didasarkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi). paragraf 11 tidak memperkenankan penetapan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi apabila terdapat kondisi sebagaimana dimaksud dalam paragraf 11 (a) dan (b) karena hal tersebut tidak akan mengurangi kompleksitas atau meningkatkan keandalan. (PSAK 55 paragraf 11) d.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. (PSAK 55 paragraf 87) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 221 . Akuntansi lindung nilai mengakui pengaruh saling hapus pada laporan laba rugi atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. maka ketentuan dalam paragraf 12 diterapkan dan entitas memperlakukan keseluruhan kontrak yang digabungkan tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. f. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 3. Namun demikian.

atau komitmen pasti tersebut. 1) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen risiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. Hubungan lindung nilai terdiri dari tiga jenis: 1) lindung nilai atas nilai wajar: suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau kewajiban yang telah diakui. jika dan hanya jika. atau bagian yang telah diidentifikasi dari aset. konsisten dengan strategi manajemen risiko yang telah didokumentasikan diawal untuk hubungan lindung nilai tersebut. 2) lindung nilai atas arus kas: suatu lindung nilai terhada peksposur variabilitas arus kas yang (i) dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga di masa datang atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable). kewajiban. dan (ii) dapat mempengaruhi laporan laba rugi. suatu prakiraan transaksi yang merupakan subyek dari suatu lindung nilai harus bersifat kemungkinan besar terjadi dan terdapat eksposur perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi. Pendokumentasian tersebut harus meliputi identifikasi instrumen lindung nilai. sifat dari risiko yang dilindung nilai. seluruh kondisi berikut ini terpenuhi. c. 222 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55 paragraf 88) Suatu hubungan lindung nilai memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai sesuai paragraf 91-105. item atau transaksi yang dilindung nilai. dan cara yang akan digunakan entitas untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai tersebut dalam rangka saling hapus eksposur yang berasal dari perubahan dalam nilai wajar item yang dilindung nilai atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. 3) lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 10 mengenai Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11 mengenai Penjabaran dalam Mata Uang Asing. 2) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif dalam rangka saling hapus atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. 3) Untuk lindung nilai atas arus kas. atau komitmen pasti yang belum diakui.

(PSAK 55 paragraf 90) d. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) keuntungan atau kerugian yang berasal dari pengukuran kembali instrumen lindung nilai pada nilai wajar (untuk instrumen lindung nilai derivatif) atau komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diukur berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 223 . termasuk dengan: a) membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari item yang dilindung nilai yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari instrumen lindung nilai. Entitas dapat memilih rasio lindung nilai selain satu banding satu dalam rangka meningkatkan efektivitas lindung nilai sebagaimana yang dijabarkan dalam paragraf PA120.” (PSAK 55 PA125) e. lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai selama periode lindung nilai tersebut. (PSAK 55 PA126) 4. 5) Lindung nilai dinilai secara berkesinambungan dan ditentukan bahwa efektivitasnya sangat tinggi sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. Lindung Nilai atas Nilai Wajar a. dan nilai wajar instrumen lindung nilai tersebut harus dapat diukur secara andal. “Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: 1) Pada saat dimulainya lindung nilai dan periode-periode sesudahnya. Harapan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa cara. Jika suatu lindung nilai atas nilai wajar memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. yaitu nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. pada waktu entitas menyiapkan laporan keuangan tahunan atau interim. atau b) menunjukkan korelasi statistik yang tinggi antara nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai dengan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. Efektivitas dievaluasi..Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. 2) Hasil aktual dari lindung nilai berada dalam kisaran 80–125 persen. minimal..

maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan). 2) lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai. dan 2) bagian yang tidak efektif atas keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Ketentuan ini berlaku jika item yang dilindung nilai tidak diukur pada biaya perolehan. atau 3) entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. Jika suatu lindung nilai atas arus kas memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Uang Asing (untuk instrumen lindung nilai non derivatif) diakui pada laporan laba rugi. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai telah kadaluwarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). Lindung Nilai atas Arus Kas a. (PSAK 55 paragraf 91) b. 224 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada laporan laba rugi diterapkan jika item yang dilindung nilai merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. (PSAK 55 Paragraf 94) 5. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai b. dan 2) keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan menyesuaikan nilai tercatat item yang dilindung nilai dan diakui pada laporan laba rugi. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. Entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai wajar sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 91 jika: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. (PSAK 55 paragraf 98) Dalam setiap situasi berikut. entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai arus kas: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual.

101. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi. atau 103 diterapkan. 4) Entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. maka paragraf 100. dalam hal ini setiap keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) diakui dalam laporan laba rugi. atau 103 diterapkan. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. Dalam hal ini. Prakiraan transaksi yang kemungkinan besar tidak terjadi (lihat paragraf 90(c)) mungkin masih diharapkan terjadi. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Untuk lindung nilai atas prakiraan transaksi. Jika transaksi tersebut terjadi. 101. Apabila transaksi tersebut tidak lagi diperkirakan akan terjadi. maka paragraf 100. (PSAK 55 paragraf 104) 6. atau 103 diterapkan. Dalam hal ini. Jika transaksi tersebut terjadi. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai dalam paragraf 90.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif telah kadaluarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). termasuk lindung nilai atas item moneter yang dicatat sebagai bagian dari investasi neto (berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Uang Asing). Lindung Nilai atas Investasi Neto Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. maka paragraf 100. 101. Apabila transaksi tersebut terjadi. 3) suatu prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi. dicatat dengan cara yang serupa seperti lindung nilai atas arus kas: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 225 . keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi.

(PSAK 55 paragraf 77) Jika entitas tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif a. bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan). maka entitas harus menghentikan akuntansi lindung nilainya sejak tanggal terakhir entitas tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai tersebut. 7. 10. jika entitas dapat mengidentifikasi peristiwa atau perubahan keadaan yang menyebabkan hubungan lindung nilai gagal memenuhi kriteria efektivitas. entitas menerapkan Pedoman Aplikasi PA84 – PA98. dan bagian yang tidak efektif diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55 PA 134) 8. (b) efektivitas dari lindung nilai dapat dibuktikan. hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk satu bagian saja dari periode waktu dimana instrumen lindung nilai masih berjalan. misalnya 50 persen dari jumlah nosional. Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang terkait dengan bagian lindung nilai yang efektif yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi ketika investasi dalam operasi luar negeri tersebut dilepaskan. 9. dan (c) dimungkinkan untuk memastikan bahwa terdapat penetapan yang spesifik dari instrumen lindung nilai dan posisi risiko yang berbeda. Proporsi dari keseluruhan instrumen lindung nilai. entitas menghentikan akuntansi lindung nilai sejak tanggal terjadinya peristiwa atau perubahan keadaan tersebut. (PSAK 55 paragraf 48) 226 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan dapat membuktikan bahwa lindung nilai telah berjalan efektif sebelum peristiwa atau perubahan keadaan tersebut terjadi. dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam suatu hubungan lindung nilai. Namun. Pengukuran Nilai Wajar Dalam menentukan nilai wajar aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk menerapkan Pernyataan ini atau PSAK 50 (revisi 2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. Namun demikian. (PSAK 55 paragraf 76) Satu instrumen lindung nilai dapat ditetapkan sebagai lindung nilai atas lebih dari satu jenis risiko sepanjang (a) risiko yang dilindung nilai dapat diidentifikasi secara jelas. (PSAK 55 paragraf 105) b.

Contoh variabel yang mendasari antara lain: Jenis Kontrak Swap suku bunga (Interest rate swap) Interest Rate Future Swap mata uang (Currency Swap) Variabel yang Mendasari Suku bunga Suku bunga Nilai tukar mata uang b.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif C. Pembelian atau penerbitan opsi mata uang (Purchased or Written Currency Nilai tukar mata uang Option) Currency Futures Credit Derivative Nilai tukar mata uang Rating kredit. instrumen derivatif tidak mensyaratkan pemegangnya atau penerbitnya membayar atau menerima jumlah nosional pada saat kontrak dimulai (inception date). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 227 . c) Instrumen derivatif dapat mensyaratkan suatu pembayaran dengan jumlah yang telah ditetapkan atau pembayaran yang jumlahnya dapat berubah (tapi tidak proporsional terhadap perubahan item yang mendasarinya) sebagai akibat dari suatu peristiwa di masa datang yang tidak berkaitan dengan jumlah nosional. atau ukuran lain yang ditetapkan dalam kontrak. Instrumen keuangan derivatif adalah instrumen keuangan yang memberikan hak (kewajiban) kepada pemegang (penerbit) untuk menerima (membayar) kas atau instrumen keuangan lainnya dalam jumlah yang ditentukan berdasarkan perubahan variabel yang mendasari (underlying) dimasa yang akan datang. Namun. harga kredit atau indeks kredit b) Instrumen derivatif biasanya memiliki suatu jumlah nosional berupa sejumlah mata uang. saham. Derivatif a. unit bobot atau volume. Karakteristik derivatif 1) Perubahan nilai sebagai akibat dari perubahan variabel yang mendasari (underlying) a) Variabel yang mendasari (underlying) adalah suatu variabel yang bersama dengan suatu nilai nosional atau suatu syarat pembayaran akan menentukan jumlah yang akan diselesaikan dalam suatu derivatif. Penjelasan 1.

Sebagai contoh: (1) Kontrak opsi memenuhi definisi sebagai derivatif karena jumlah premi yang harus dibayar lebih rendah dibanding investasi yang dibutuhkan untuk memperoleh instrumen keuangan yang mendasari opsi tersebut. Margin deposit harus dicatat secara terpisah dari transaksi derivatif. kontrak opsi yang tidak menguntungkan pihak pemegang opsi untuk mengeksekusi opsi tersebut (out the money). Kontrak dimaksud merupakan suatu derivatif meski jumlah nosional tidak ditentukan. Sebagai contoh. a) b) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal berakhirnya kontrak (expire date) tanpa adanya pertukaran kas. b) Margin deposit pada suatu transaksi derivatif yang harus disimpan pada suatu rekening merupakan setoran jaminan atas suatu transaksi derivatif dan tidak dapat diperhitungkan sebagai suatu investasi awal. (2) Kontrak swap mata uang yang mensyaratkan pertukaran awal dalam mata uang yang berbeda namun memiliki nilai wajar yang setara memenuhi definisi sebagai derivatif karena investasi neto awal adalah sebesar nol. 2) Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil Derivatif tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal yang lebih kecil dibandingkan investasi yang dibutuhkan untuk kontrak jenis lain yang diperkirakan akan memberi respon serupa terhadap perubahan faktor-faktor pasar. suatu kontrak mensyaratkan pembayaran tetap sejumlah Rp 1 milyar. antara lain: a) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal pertukaran kas Sebagai contoh. 228 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3) Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Tanggal penyelesaian tertentu dimasa depan dalam kontrak derivatif mempunyai beberapa pengertian. kontrak foreign exchange forward mempunyai tanggal penyelesaian (settlement date) di masa depan dimana terjadi pertukaran kas untuk mata uang berbeda antara pembeli dan penjual. jika LIBOR 6 bulan meningkat 1%.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Sebagai contoh.

Forward Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 229 . maka akuntansi lindung nilai dapat diterapkan. a) Dalam hal transaksi derivatif secara khusus dilakukan untuk mengelola risiko dimana hubungan antara instrumen derivatif dan item yang dilindung nilai memenuhi kriteria tertentu. d. b) Dalam hal transaksi derivatif yang digunakan untuk lindung nilai tidak memenuhi kriteria penerapan akuntansi lindung nilai. sedangkan pihak lawan setuju untuk menjual suatu instrumen keuangan yang bersangkutan pada tanggal dan harga yang sama (short position). Sebagai contoh. Suatu kontrak forward diperdagangkan secara over the counter (OTC) dan jangka waktu penyelesaian transaksi forward adalah lebih dari dua hari kerja setelah tanggal transaksi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal-tanggal pembayaran bunga. Dalam transaksi forward terdapat satu pihak yang setuju untuk membeli suatu instrumen keuangan yang mendasari (underlying asset) pada tanggal tertentu dimasa depan pada suatu harga tertentu (long position). maka transaksi derivatif tersebut diperlakukan sebagaimana transaksi derivatif yang dilakukan untuk tujuan perdagangan. kontrak interest rate swap yang mempunyai beberapa tanggal penyelesain bunga dimasa depan. c. e. Transaksi derivatif yang ditujukan untuk tujuan perdagangan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi yaitu sub kategori Diperdagangkan. Derivatif dapat digunakan untuk tujuan: 1) Perdagangan (trading/speculative activities). Transaksi derivatif harus diakui dalam neraca karena menimbulkan aset dan/atau kewajiban keuangan bagi bank Transaksi derivatif yang umum ditransaksikan antara lain: Transaksi Keterangan Forward adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk membeli atau menjual suatu instrumen keuangan pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. 2) Lindung nilai terhadap risiko tertentu dalam kegiatan usaha bank.

Option Opsi (option) adalah suatu kontrak yang memberikan pemegang opsi suatu hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu aset yang mendasari pada harga tertentu dan tanggal tertentu. 3) Pertukaran arus kas pokok pada akhir periode kontrak. Arus kas didasarkan pada kinerja dari variabel yang mendasari. 2) Swap mata uang (cross currency swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam suatu mata uang tertentu dengan arus kas pembayaran bunga mata uang lainya. 230 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Opsi tipe Amerika memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari setiap saat sampai opsi itu jatuh tempo. sedangkan opsi tipe Eropa memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari hanya pada tanggal jatuh tempo. 1) Swap suku bunga (interest rate swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam mata uang yang sama. misalnya suku bunga dan mata uang. Pembayaran biasanya secara neto. Dalam suatu periode pembayaran bunga. satu pihak akan membayar pada suku bunga tetap/mengambang dan pihak lainnya akan menerima pada suku bunga mengambang/tetap.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Swap Swap adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk saling mempertukarkan arus kas dari suatu instrumen keuangan yang mendasari pada periode tertentu dimasa depan. Swap suku bunga adalah instrumen keuangan yang paling umum digunakan untuk lindung nilai atas risiko suku bunga. Secara umum suatu swap mata uang mempunyai arus kas sebagai berikut: 1) Pertukaran arus kas pokok pada awal kontrak 2) Pembayaran arus kas bunga diantara periode kontrak.

Terdapat 2 tipe Standard option yaitu: 1) Call option memberikan hak kepada pemegang kontrak. Jika bank memiliki aset atau kewajiban dimana risiko pasar diantara aset dan kewajiban tersebut saling hapus. Standard option juga dikenal sebagai Vanilla option mempunyai persyaratan yang sudah diketahui pada awal transaksi sedangkan Exoctic option mempunyai beberapa persyaratan yang tergantung pada kondisi tertentu selama periode opsi. Futures adalah suatu perjanjian untuk membeli atau menjual suatu aset pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. tetapi bukan kewajiban. Risiko kerugian bagi pembeli opsi adalah sebatas premi yang dibayarkan. 2) Risiko transaksi forward relatif lebih besar karena bersifat bilateral dimana terdapat risiko kegagalan pihak lawan memenuhi kewajiban. sementara forward diperdagangkan secara over the counter. 2) Put option memberikan hak kepada pemegang kontrak. Futures 2. Sementara perbedaan antara kontrak futures dan forward antara lain: 1) Futures diperdagangkan melalui bursa (exchange) dan mempunyai syarat yang telah distandardisasi. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar instrumen derivatif dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 231 . dan bagi penjual opsi tidak terbatas. pembeli opsi harus membayar premi. tetapi bukan kewajiban.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Dalam transaksi opsi. sementara risiko futures lebih kecil karena adanya jaminan dari bursa. maka bank dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi terbuka neto. Transaksi futures mempunyai banyak kemiripan dengan forward. mana yang lebih sesuai. untuk menjual suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. untuk membeli suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Kuotasi di pasar aktif. Secara umum terdapat 2 jenis kontrak opsi yaitu: Standard option dan Exoctic option. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki.

dan (2) Kontrak derivatif yang melekat pada kontrak utama (embedded derivative). Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. 3) Kontrak penjualan atau pembelian dalam mata uang asing dapat mengandung derivatif melekat jika mata uang asing tersebut bukan merupakan: a) Jenis mata uang yang secara rutin digunakan untuk transaksi produk tersebut pada perdagangan internasional. Karakteristik perubahan arus kas tersebut serupa dengan derivatif yang berdiri sendiri. kontrak sewa. Instrumen keuangan campuran merupakan campuran atau gabungan antara kontrak utama dan kontrak derivatif. 3. b) Mata uang yang digunakan dalam pelaporan bagi ke dua pihak dalam kontrak perdagangan. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. 2) Contoh derivatif melekat antara lain: a) Fitur konversi saham pada instrumen surat berharga (convertible securities). Instrumen keuangan campuran mencakup: (1) Kontrak utama yang merupakan instrumen non derivatif. c) Pembayaran bunga atau pokok yang terkait pada indeks harga saham atau komoditas. kontrak penjualan atau pembelian instrumen keuangan atau kontrak asuransi. b. d. Kontrak utama dapat berbentuk instrumen utang atau ekuitas. atau c. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. b) Pembayaran bunga mengambang dalam instrumen keuangan yang terkait pada suku bunga cap atau floor. Derivatif melekat (embedded derivative) 1) Derivatif melekat dapat menyebabkan perubahan atas arus kas dari kontrak utama berdasarkan perubahan variabel-variabel tertentu. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Instrumen Keuangan Campuran (Hybrid instrument) dan Derivatif Melekat (Embedded Derivative) a. 232 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

g. 2) Menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dalam instrumen campuran. dan 3) Menentukan nilai kontrak utama dan derivatif melekat. 2) Jika derivatif melekat dipisahkan dapat merupakan instrumen derivatif yang berdiri sendiri (freestanding derivative) yang memenuhi kriteria derivatif sesuai PSAK 55. dan 3) Karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak secara jelas dan erat berkaitan dengan kontrak utama. Yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu instrumen campuran pada tanggal awal pengakuan antara lain: 1) Mengidentifikasi kontrak utama dan derivatif melekat dalam instrumen campuran. Langkah-langkah untuk menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak dari kontrak utama dapat dilihat pada bagan berikut: f. Mata uang yang secara umum digunakan dalam perekonomian dimana transaksi tersebut terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) e. Berdasarkan bagan tersebut. derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama jika memenuhi seluruh kriteria berikut: 1) Instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 233 .

Tabel berikut menggambarkan risiko inheren dari kontrak utama. namun lebih mendasarkan pada pemahaman konsep melalui berbagai contoh ilustrasi.Pedoman Aplikasi (PA) 43 dan 46 memberikan contoh jenis derivatif melekat dengan karakteristik ekonomi dan risiko yang berkaitan secara jelas dan erat dengan kontrak utama maupun sebaliknya. Pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat” 1) Penentuan adanya suatu hubungan yang jelas dan erat antara derivatif melekat dan kontrak utama relatif sulit. 2) Derivatif melekat yang memodifikasi risiko inheren dari kontrak utama (misalnya swap dari suku bunga tetap ke suku bunga mengambang) dapat dikatakan berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. sementara PSAK 55 tidak memberikan pedoman lebih lanjut mengenai pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat”. derivatif melekat yang mengubah karakteristik risiko inheren dari kontrak utama tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif h. Sementara itu. antara lain: “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Opsi jual pada instrumen utang dengan strike price yang terkait dengan perubahan kurs Interest rate swap yang melekat pada mata uang. Kontrak utama Utang dan Asuransi Ekuitas Sewa Suku bunga Inflasi Risiko kredit Harga saham Suku bunga Inflasi Risiko inheren 3) PSAK 55 . atau harga/indeks saham atau instrumen utang komoditas Opsi beli pada instrumen ekuitas atau Kontrak sewa yang terkait dengan tingkat instrumen utang dengan strike price yang inflasi (inflation-indexed) telah ditentukan Opsi perpanjangan (extension option) pada Cap dan floor dalam kontrak penjualan dan instrumen utang bersuku bunga tetap pembelian 234 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

atau opsi percepatan instrumen utang dimana harga eksekusi opsi pelunasan (prepayment option) pada (exercise price) diperkirakan sama dengan instrumen utang biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) atas instrumen utang pada setiap tanggal eksekusi Credit derivatives yang melekat pada instrumen utang Cap dan floor atas suku bunga dalam instrumen utang jika cap ditetapkan pada atau diatas suku bunga pasar dan floor ditetapkan pada atau dibawah suku bunga pasar pada saat instrumen utang diterbitkan. Penjualan atau pembelian barang atau jasa dalam mata uang asing yang: bukan merupakan mata uang fungsional bagi ke dua pihak. atau bonds) harga/indeks saham atau komoditas Opsi konversi menjadi saham (equity Instrumen utang dalam mata uang asing conversion) pada instrumen utang Opsi beli.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Instrumen utang dengan suku bunga yang Obligasi dengan dua mata uang (dual currency terkait (linked) ke kurs mata uang. atau tidak digunakan secara umum dalam kegiatan perekonomian dimana transaksi terjadi. atau opsi percepatan pelunasan (prepayment option) pada Opsi beli. maka bank harus melakukan analisa apakah ada hubungan yang jelas dan erat antara kontrak utama dan derivatif melekat. 4) Dalam hal terdapat instrumen campuran dan derivatif melekat yang tidak masuk dalam contoh di atas. Contoh: a) Bank A menerbitkan surat berharga sebesar Rp. Bank A tidak harus memisahkan derivatif melekat (Interest Rate Cap) dari kontrak utama (surat berharga). Suku bunga LIBOR saat penerbitan adalah 5%. Surat berharga tersebut mempunyai batas maksimal suku bunga (cap) 7%. opsi jual. opsi jual. 100 milyar dengan suku bunga mengambang LIBOR + 0. Kontrak forward mata uang asing dengan secara rutin digunakan atas penjualan pembayaran dalam mata uang dari salah satu atau pembelian produk dalam pihak yang bertransaksi perdagangan internasional. Hal ini disebabkan variabel yang mendasari derivatif melekat adalah tingkat suku bunga yang berkaitan jelas dan erat dengan kontrak utama. dan derivatif melekat tersebut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 235 .75%.

Sementara itu. Meskipun derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. atau 236 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bagi Bank E. (2) opsi mata uang memenuhi persyaratan sebagai suatu derivatif. Bank G harus memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama karena karakteristik ekonomi dan risiko dari pinjaman yang diterima tidak berkaitan erat dengan foreign exchange forward. namun dapat dianggap tidak berkaitan dan harus dipisahkan apabila memenuhi kondisi berikut: 1) instrumen campuran dapat diselesaikan dengan cara yang mengakibatkan pemegang instrumen campuran tidak akan memperoleh kembali seluruh nilai investasi secara substansial. c) Bank F menerbitkan deposito berjangka USD 1. instrumen yang diterbitkan harus dicatat sebagai instrumen utang atau ekuitas sesuai PSAK 50.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tidak menggandakan hasil dari suku bunga pasar ketika surat berharga diterbitkan. i. meskipun ke dua pihak tidak melakukan transaksi di Jepang dalam jumlah yang signifikan.5%. dan (3) keseluruhan instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Bank D mempunyai opsi untuk mengkonversikan surat berharga tersebut dengan 1 juta saham Bank E. b) Bank D membeli surat berharga yang diterbitkan oleh Bank E sebesar Rp 100 milyar dengan suku bunga tetap.000.000 dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 10%. d) Bank G di Indonesia menerima pinjaman dari Bank H di Singapura dalam mata uang Yen. Bank F harus memisahkan derivatif melekat (opsi mata uang) dari kontrak utama (deposito berjangka) karena: (1) derivatif melekat yang merupakan suatu opsi mata uang tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama yang berbasis tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga pasar pada saat penerbitan adalah 4. Kontrak tersebut memberikan hak kepada Bank F untuk memilih mata uang (USD atau IDR) yang akan digunakan untuk mengembalikan nilai pokok deposito pada saat jatuh tempo. Pinjaman yang diterima Bank G merupakan kontrak utama dengan derivatif melekat dalam bentuk foreign exchange forward untuk membeli Yen. Bank D harus mencatat secara terpisah antara kontrak utama (surat berharga) dan derivatif melekat (opsi untuk mengkoversi ke saham Bank E).

serta independen antara satu dengan lainnya. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dimana derivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) derivatif melekat tersebut dapat sekurang-kurangnya menggandakan tingkat pengembalian awal yang diperoleh pemegang instrumen campuran. Jika derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama sebagaimana huruf l) di atas. j. misalnya opsi pelunasan dipercepat (prepayment option) yang melekat pada fasilitas Kredit yang memungkinkan debitur melunasi pinjamannya lebih awal. dan dapat menghasilkan tingkat pengembalian setidaknya dua kali lebih besar dibandingkan tingkat pengembalian pasar atas kontrak yang memiliki syarat yang sama dengan kontrak utama. Jika derivatif melekat dipisahkan dari kontrak utama. Selanjutnya. Keseluruhan instrumen campuran yang memenuhi kondisi pada angka (1) dan (2) diatas diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. k. Jika derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. l. kecuali instrumen derivatif tersebut ditetapkan dan memenuhi kriteria sebagai instrumen lindung nilai. khususnya jika: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 237 . Bank dapat tidak melakukan langkah-langkah untuk menetapkan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak sebagaimana huruf f) diatas. maka derivatifderivatif tersebut dicatat secara terpisah satu dengan lainnya. maka derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama dan keseluruhan instrumen campuran harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau 2) pada instrumen campuran tertentu dimana dipertimbangkan bahwa derivatif melekat tersebut memang tidak boleh dipisahkan dari kontrak utama. n. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak akan merubah atau memodifikasi secara signifikan arus kas sesuai persyaratan pada kontrak utama. kontrak utama diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan. maka bank menetapkan keseluruhan instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). maka derivatif melekat tersebut harus diakui sebagai instrumen derivatif yang berdiri sendiri dan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. m. yaitu kurang lebih sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). namun instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

maka bank menetapkan instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). Jika tidak terdapat pasar aktif yang menggambarkan syarat dan kondisi yang sama dengan derivatif melekat. maka nilai wajar derivatif melekat dapat ditentukan berdasarkan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar kontrak utama hanya jika kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan. terhadap suatu instrumen campuran yang kompleks yang masuk kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dan diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). p. 4) Jika metode pengukuran nilai wajar sebagaimana pada angka (3) diatas tidak dapat dilakukan. Asumsi yang digunakan dalam teknik penilaian harus didokumentasikan dan diterapkan secara konsisten. bank dapat menggunakan teknik penilaian. Perlakuan terhadap derivatif melekat sebagaimana diatur dalam PSAK 55 antara lain bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran derivatif melekat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dihindari dengan melekatkan pada kontrak utama yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. o. 238 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2) proses pemisahan menimbulkan beban tambahan bagi bank. 3) Apabila bank tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara andal. Selanjutnya. Penetapan nilai wajar derivatif melekat 1) Derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utama harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan/atau 3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. maka bank dapat tidak memisahkan derivatif melekat dan selanjutnya keseluruhan instrumen campuran tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). bank dapat tidak melakukan penilaian terhadap pemenuhan kriteria 2 dan 3 pada huruf f) di atas dan tidak memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama. Sebagai contoh. bank menetapkan untuk mengukur instrumen campuran tersebut pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) pemisahan sulit dilakukan karena kompleksitas dari instrumen campuran. 2) Bukti terbaik atas nilai wajar adalah kuotasi harga di pasar aktif.

bank dapat melakukan saling hapus antara keuntungan dan kerugian pada periode yang sama berdasarkan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. (3) identifikasi instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. sementara item yang dilindung nilai (umumnya merupakan instrumen keuangan) akan diukur berdasarkan biaya perolehan. Dengan akuntansi lindung nilai. arus kas. Hal ini akan menimbulkan ketidaksesuaian (mismatch) periode pengakuan keuntungan (gain) dan kerugian (loss) dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Bank harus membuat suatu dokumentasi formal atas hubungan suatu lindung nilai yang sekurangkurangnya mencakup: (1) tujuan manajemen risiko serta strategi pelaksanaan lindung nilai. Persyaratan akuntansi lindung nilai 1) Penerapan akutansi lindung nilai hanya diperbolehkan jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai. (2) jenis risiko yang dilindung nilai. (4) identifikasi jenis hubungan lindung nilai yang digunakan (misalnya lindung nilai atas nilai wajar. Lindung nilai ekonomi dan akuntansi lindung nilai 1) Lindung nilai ekonomi (economic hedges) merupakan suatu transaksi yang bertujuan untuk mengurangi eksposur risiko (misalnya risiko suku bunga. Akuntansi Lindung Nilai (Hedge Accounting) a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 239 . yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama Jika akuntansi lindung nilai tidak diterapkan. Tidak seluruh lindung nilai ekonomi dapat memenuhi persyaratan untuk akuntansi lindung nilai berdasarkan PSAK 55. atau nilai wajar sesuai kategori instrumen keuangan tersebut. maka instrumen lindung nilai (yang umumnya merupakan instrumen derivatif) akan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dll). risiko nilai tukar. dll) 2) Akuntansi lindung nilai (hedge accounting) merupakan suatu perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi lindung nilai yang mencakup instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4. biaya perolehan diamortisasi. b.

dan (6) cara yang akan digunakan untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai. (2) Pengukuran efektivitas tersebut harus didukung dengan sistem yang secara periodik dapat mengidentifikasi dan mengukur perubahan nilai dari item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai sejak penetapan awal hubungan lindung nilai. yang dapat berbeda pada setiap jenis lindung nilai. Metode dan prosedur penilaian dan pengukuran efektivitas lindung nilai harus dijelaskan secara detail dan konsisten selama periode lindung nilai. maka. d) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal (1) Bank harus dapat mengukur nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai. (4) Metode penilaian efektivitas lindung nilai didasarkan pada strategi manajemen risiko. maka bank harus menghentikan secara permanen akuntansi lindung nilai sejak tanggal terakhir lindung nilai tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai dimaksud. 2) Jika tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. termasuk periode waktu dimana transaksi tersebut diharapkan akan terjadi. e) Hubungan lindung nilai dievaluasi secara berkesinambungan dan lindung nilai sangat efektif sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. dan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. baik secara prospektif maupun retrospektif. c) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif (highly effective). b) Prakiraan transaksi (forecast transactions) yang dilindung nilai sangat mungkin terjadi (highly probable) dan terekspos pada risiko perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi Bank harus mengidentifikasi dan mendokumentasikan seluruh data dan informasi terkait yang dapat mendukung proses penetapan hubungan lindung nilai atas prakiraan transaksi tersebut. transaksi lindung nilai tidak memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. (3) Bank dapat menggunakan model kuantitatif atau statistik untuk melakukan analisis dan penilaian efektivitas lindung nilai. 240 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika hal-hal tersebut diatas tidak ditetapkan secara tertulis.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (5) tanggal dimulainya penetapan hubungan lindung nilai.

namun tidak memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. c. b) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. Instrumen lindung nilai (hedging instrument) 1) Instrumen keuangan dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai hanya jika instrumen tersebut memenuhi kondisi berikut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Bank dapat menetapkan suatu hubungan lindung nilai baru atas item yang dilindung nilai tersebut sepanjang semua persyaratan akuntansi lindung nilai dipenuhi. instrumen lindung nilai juga dapat berupa aset atau kewajiban keuangan non derivatif. (2) Meskipun perusahaan dalam grup usaha bank saling melakukan transaksi lindung nilai. yaitu: a) Instrumen derivatif yang ditetapkan (designated derivative) untuk tujuan lindung nilai (1) PSAK 55 mendefinisikan instrumen lindung nilai sebagai suatu instrumen derivatif yang ditetapkan untuk lindung nilai dimana perubahan nilai wajar atau arus kas diharapkan saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang ditetapkan untuk dilindung nilai. (2) Instrumen yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai juga dapat mencakup derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utamanya. transaksi tersebut akan tereliminasi dalam laporan keuangan konsolidasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 241 . 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai instrumen lindung nilai. dan/atau b) risiko lain yang akan dilindung nilai. yang dapat dilakukan antara lain dengan menetapkan: a) instrumen lindung nilai lainnya. Penetapan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen derivatif harus ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai secara keseluruhan. (3) Khusus untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. Transaksi lindung nilai intra-group tersebut dapat memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). hanya instrumen yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifikasi sebagai instrumen lindung nilai.

Sebagai contoh. 2 Nilai waktu adalah perbedaan antara nilai wajar opsi (premi) dan nilai intrinsik. Jika nilai intrinsik nol. c) Bank dapat menetapkan suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai terhadap lebih dari satu jenis risiko sepanjang: (1) risiko-risiko tersebut dapat diidentifikasi secara jelas. Pengecualian-pengecualian tersebut diperkenankan karena nilai intrinsik suatu opsi dan premi dari kontrak berjangka (spot price) umumnya dapat diukur secara terpisah. termasuk lindung nilai atas portofolio aset atau kewajiban keuangan. (2) efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. Nilai intrinsik adalah perbedaan antara harga eksekusi (strike price) dan harga pasar saat ini dari variabel yang mendasari. Sebagai contoh. Jika harga eksekusi lebih besar dari harga pasar saat ini. b) Bank dapat menetapkan porsi tertentu dari keseluruhan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. (2) Pengecualian hanya diperkenankan jika bank: (a) memisahkan nilai intrinsik1 dan nilai waktu2 dari kontrak opsi dan hanya menetapkan perubahan nilai intrinsik dari opsi tersebut sebagai instrumen lindung nilai. bank tidak diperbolehkan hanya menentukan komponen mata uang dari suatu swap mata uang (cross currency swap) sebagai instrumen lindung nilai tanpa mengikutsertakan komponen suku bunga. maka nilai wajar opsi sama dengan nilai waktu. dan (3) terdapat penetapan khusus atas instrumen lindung nilai dan posisi risiko-risiko yang dilindung nilai. d) Portofolio derivatif (dua atau lebih instrumen derivatif) atau proporsi dari instrumen-instrumen tersebut dapat ditetapkan secara bersama sebagai instrumen lindung nilai. dan (b) memisahkan elemen bunga dan harga saat ini (spot price) dari kontrak berjangka (forward contract) dan hanya menetapkan spot price sebagai instrumen lindung nilai. 60% dari jumlah nosional suatu instrumen derivatif dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai. 1 242 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka nilai intrinsik sama dengan nol.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Bank tidak diperbolehkan menggunakan komponen tertentu saja dari suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai.

b) Instrumen yang tidak memiliki kuotasi (unquoted instrument) Instrumen derivatif yang dikaitkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi dan harus diselesaikan dengan penyerahan instrumen ekuitas tersebut tidak dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai karena nilai wajar instrumen tersebut tidak dapat diukur secara andal c) Instrumen ekuitas yang diterbitkan bank (own equity instrument) d) Opsi yang diterbitkan (written option) Opsi yang diterbitkan tidak bisa digunakan sebagai instrumen lindung nilai kecuali digabungkan dengan opsi yang dibeli (purchased option). Hal ini berarti dalam suatu portofolio. Dalam setiap periode pelaporan. Sebagai contoh. jumlah aset dan kewajiban keuangan akan berubah berdasarkan ekpektasi pelunasan dipercepat. Hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk bagian tertentu dari periode waktu berlakunya instrumen lindung nilai. 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai antara lain mencakup: a) Instrumen bukan derivatif (non-derivative) Instrumen non derivative tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai. Sebagai contoh. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 243 . nilai item yang dilindung nilai dapat berubah dari waktu ke waktu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif e) Sebagai contoh: Bank memiliki portofolio aset dan kewajiban keuangan yang dilindung nilai terhadap risiko pelunasan dipercepat (prepayment risk). dimana selisih bersih dari ke dua opsi tersebut merupakan opsi yang dibeli (purchased option). dan pengakuan instrumen keuangan baru. instrumen derivatif dengan jangka waktu 5 tahun tidak boleh ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai hanya untuk 3 tahun pertama saja. bank tidak perlu merubah nilai instrumen lindung nilai. melainkan menambah instrumen lindung nilai baru ke dalam hubungan lindung nilai. kecuali instrumen non derivative yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. Namun. aset keuangan dalam mata uang asing digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas kewajiban keuangan dalam mata uang asing. penghentian pengakuan aset dan kewajiban keuangan.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. yang memiliki karakteristik risiko yang serupa. komitmen pasti. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai. (2) Akuntansi lindung nilai dapat diterapkan atas transaksi antar perusahaan dalam grup usaha bank dalam laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). atau investasi neto pada operasi di luar negeri (khususnya lindung nilai atas risiko nilai tukar). dan/atau (3) Bagian tertentu dari portofolio aset atau kewajiban keuangan yang terkespos risiko yang sama yang dilindung nilai. Instrumen keuangan tersebut diatas merupakan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang terekspos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat menyebabkan perubahan nilai wajar atau arus kas sehingga berdampak pada pada laporan laba rugi dalam periode berjalan atau periode mendatang. dan transaksi yang diperkiraan kemungkinan besar terjadi yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifkasi sebagai item yang dilindung nilai. yang berdasarkan PSAK 55 dapat mencakup: (1) Suatu aset. kewajiban. yaitu: a) Instrumen keuangan ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (designated item). kewajiban. Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya suatu bagian tertentu (portion) 244 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . hanya aset. komitmen pasti. c) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. kewajiban. atau investasi neto pada operasi di luar negeri. (2) Sekelompok aset. komitmen pasti. Item yang dilindung nilai (hedged item) 1) Instrumen keuangan dapat merupakan item yang dilindung nilai hanya jika memenuhi kondisi berikut. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. namun tidak dalam laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. b) Aset atau kewajiban non keuangan secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang terkespos risiko nilai tukar saja.

Bank A dapat menetapkan item yang dilindung nilai sebesar US$ 50. Sebagai contoh: Bank A memiliki aset keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 300 dan kewajiban keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 250 yang terekspos pada karakterisitik risiko yang sama. yaitu seluruh nilai wajar atau seluruh arus kas. item yang dilindung nilai dapat meliputi bagian tertentu dari arus kas kontraktual atau persentase tertentu dari nilai wajar.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan. Namun. bank dapat menetapkan hanya bagian eksposur suku bunga dari aset keuangan tersebut yang ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. b) Suatu kelompok instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (1) Dalam hal aset atau kewajiban keuangan individual dalam suatu kelompok memiliki kemiripan dan terekspos pada risiko yang sama. (2) Instrumen keuangan tersebut juga dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Sebagai contoh: Aset keuangan bersuku bunga tetap dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai dari perubahan nilai wajar. posisi neto yang dinyatakan dalam suatu jumlah mata uang asing dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. c) Instrumen non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya atas risiko nilai tukar. (2) Dalam kelompok item yang dilindung nilai tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 245 . Sebagai alternatif. maka aset dan kewajiban tersebut dapat dilindung nilai sebagai suatu kelompok item yang dilindung nilai (group of hedged item). yaitu atas suatu bagian tertentu saja dari nilai wajar atau arus kas. Dalam hal ini. sepanjang efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. posisi neto secara keseluruhan (overall net position) tidak dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai.

semakin kecil kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. d) Suatu prakiraan transaksi dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai sepanjang kemungkinan besar akan terjadi. 246 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . seperti halnya perubahan suku bunga pasar yang dapat mempengaruhi nilai dari surat berharga. semakin besar kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. (5) kemungkinan dilakukannya alternatif transaksi lain. Semakin besar kuantitas (jumlah atau nilai) yang akan ditransaksi. (2) kemampuan keuangan dan operasionl bank dalam melakukan transaksi tersebut. Hal ini dikarenakan eksposur mata uang asing dari aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing dapat diukur secara terpisah. bank harus memperhatikan fakta-fakta yang dapat diobservasi dan kondisi-kondisi seperti: (1) frekuensi transaksi serupa di masa lalu. (6) kuantitas dan rentang waktu transaksi. Sebagai contoh: jika ingin memperoleh pendanaan (funding). semakin panjang rentang waktu perkiraan (forecast). Sebaliknya. (2) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai atas perubahan nilai wajar yang dapat diatribusikan pada risiko nilai tukar. (4) besarnya kerugian atau gangguan yang dapat terjadi jika transaksi tidak dilakukan. Kedua cara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda serta tingkat kemungkinan terjadi yang berbeda. bank dapat melakukan dengan berbagai cara seperti menerbitkan saham atau memperoleh pinjaman.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atas seluruh jenis risiko. (3) adanya komitmen sumber daya yang substansial/nyata bagi aktivitas tertentu. Dalam mengukur kemungkinan terjadinya transaksi. dan/atau (7) rencana bisnis bank. Hal ini dikarenakan perubahan nilai dari suatu komponen pada item non keuangan yang dilindung nilai tidak dapat diukur dan mempengaruhi nilai dari item non keuangan tersebut.

2) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen keuangan antara lain mencakup risiko suku bunga. PSAK 55 menyatakan bahwa: a) Hanya risiko tertentu yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan untuk dilindung nilai. c) Posisi terbuka neto (net open position) dari suatu portofolio. sehingga tidak akan terekspos pada risiko dari perubahan suku bunga pasar atau pelunasan dini. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 247 . 4) Terhadap item yang dilindung. e. karena aset keuangan tersebut dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan jatuh tempo. dan risiko kredit. d) Instrumen derivatif (kecuali opsi yang dibeli sebagai item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar). 3) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen non keuangan antara lain mencakup risiko nilai tukar dan risiko nilai wajar secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan pengakuan keuntungan atau kerugian bersumber dari laba atau rugi perusahaan anak atau perusahaan asosiasi dan bukan dari perubahan nilai wajar investasi. risiko pelunasan dipercepat.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai item yang dilindung nilai antara lain mencakup: a) Aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Risiko yang dilindung nilai (hedged risk) 1) Pada prinsipnya. b) Penyertaan pada perusahaan anak (subsidiaries) atau perusahaan asosiasi (assosiated companies) yang dikonsolidasikan atau diukur menggunakan metode ekuitas (equity method). bank tetap wajib melakukan evaluasi terjadinya penurunan nilai (impairment) berdasarkan bukti obyektif setelah memperhitungkan perubahan nilai wajar. risiko nilai tukar. kecuali penyertaan bersih pada perusahaan anak. setiap risiko keuangan yang timbul dalam kegiatan usaha bank dapat dilindung nilai. dan b) Risiko-risiko tersebut dapat berdampak pada laporan laba rugi. perusahaan asosiasi. Namun. atau kantor cabang di luar negeri. yaitu selisih antara aset dan kewajiban. kecuali aset keuangan yang terkespos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat dilindung nilai. dan e) Semua transaksi yang terkait dengan saham (ekuitas) yang diterbitkan bank (own equity).

dan b) Hasil aktual dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dan perubahan nilai wajar atau arus kas yang diharapkan dari item yang dilindung nilai saling menghapus pada kisaran 80%– 125%. lindung nilai harus terkait dengan risiko yang telah diidentifikasi dan ditetapkan secara spesifik dan mempengaruhi laporan laba rugi. Metode penilaian tersebut harus ditetapkan pada awal hubungan lindung nilai dan pada periodeperiode selanjutnya. yaitu diakui pada laporan laba rugi untuk instrumen dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi atau diakui secara langsung dalam ekuitas untuk instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. maka perubahan yang diakui dalam nilai wajar item yang dilindung nilai yang tidak berkaitan dengan risiko yang dilindung nilai diakui berdasarkan kategori item yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Untuk memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai. Efektivitas lindung nilai (hedge effectiveness) 1) Efektivitas lindung nilai merupakan penilaian sejauh mana perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindungi yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dapat saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. a) Penilaian secara prospektif (prospective test) yang dilakukan pada tanggal awal penetapan hubungan lindung nilai dan pada periode-periode selanjutnya (lihat Bagan di bawah). f. 2) Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: a) Lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada saat dimulainya lindung nilai dan periode selanjutnya selama periode lindung nilai tersebut. 5) Jika risiko yang dilindung nilai hanya risiko-risiko tertentu yang dapat diatribusikan pada item yang dilindung nilai. 3) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai (effectiveness test) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai harus dilakukan secara prospektif dan retrospektif yang meliputi penilaian kualitatif maupun kuantitatif. 248 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank dapat menggunakan berbagai metode penilaian yang didasarkan pada strategi manajemen risiko dan didokumentasikan dengan jelas.

(3) Perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai secara prospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 249 . (2) Bank juga harus memperkirakan bahwa hubungan lindung nilai tersebut sejalan dengan strategi manajemen risiko. tanggal jatuh tempo atau tanggal penyesuaian suku bunga (repricing dates) dan variabel yang mendasari) serta nilai wajar derivatif adalah nol pada tanggal awal (inception date). Dalam metode ini.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Penilaian ini didasarkan pada perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal lindung nilai dan pada periode selanjutnya. hubungan lindung nilai adalah efektif jika item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai bersifat identik (yaitu terdapat kesamaan antara lain dalam hal jumlah nosional. yang disertai dengan bukti yang dapat mendukung perkiraan tersebut. antara lain: (a) Critical Terms Comparison Method Merupakan metode yang paling sederhana yang bersifat kualitatif dengan membandingkan persyaratan-persyaratan utama antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai.

bank tetap harus melakukan pengukuran efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif. Sebagai contoh: R-Square sebesar 0.85 menunjukkan bahwa 85% dari perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. Indikator pengukuran dalam metode ini antara lain RSquare (Coefficient of determination) yang menunjukkan persentase perubahan pada item yang dilindung nilai yang dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. namun tidak dapat mengukur mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif. diperlukan penilaian efektivitas yang dilakukan secara retrospektif. Umumnya R-Square harus berada dalam kisaran 80%-100% Meskipun Regression Analysis dapat membuktikan apakah hubungan antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai cukup efektif untuk memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai. 250 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . misalnya perubahan kredibilitas pihak lawan dalam transaksi derivatif lindung nilai. karena dapat terjadi perubahan kondisi. b) Penilaian secara retrospektif (retrospective test) yang dilakukan setiap tanggal pelaporan interim (paling kurang setiap 3 bulan) dan tanggal pelaporan akhir tahun. (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang bersifat kuantitatif untuk memperkirakan hubungan lindung nilai di masa datang dengan membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari item yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari instrumen lindung nilai dan melihat korelasi statistik diantara kedua perubahan tersebut yang dapat mendukung pengukuran yang sama dimasa yang akan datang.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Perysaratan yang identik antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai tidak menjamin bahwa lindung nilai akan selalu efektif. Oleh karena itu. (1) Jika suatu lindung nilai telah menunjukkan hubungan yang efektif secara prospektif.

maka bank hanya menetapkan 75% dari eksposur tersebut sebagai item yang dilindung nilai dan efektivitas hanya dinilai atas dasar 75% dari eksposur tersebut. yaitu: − Periode ke periode (period by period basis). (4) Penilaian efektivitas lindung nilai secara retrospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (2) Penilaian ini didasarkan pada evaluasi terhadap efektivitas aktual. − Pemilihan pendekatan harus ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. Jika bank melakukan lindung nilai terhadap kurang dari 100% nilai eksposur (misalnya 75%).125%. (a) Dollar Offset Method Metode ini merupakan metode yang paling sederhana untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif dengan membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai selama periode waktu tertentu sebelum tanggal penilaian. Dalam hal bank menetapkan untuk menggunakan pendekatan Kumulatif. yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak penetapan awal lindung nilai. Kumulatif (cumulative basis). yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak tanggal terakhir penilaian. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 251 . antara lain:. Perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai Rasio Lindung nilai = —————————————— ——————— Perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Suatu hubungan lindung nilai adalah sangat efektif jika rasio lindung nilai berada dalam kisaran antara 80% . (3) Efektivitas lindung nilai harus dinilai secara berkesinambungan dan ditetapkan sangat efektif selama periode laporan keuangan dimana hubungan lindung nilai ditetapkan. Efektivitas dapat diukur berdasarkan 2 pendekatan.

yaitu dengan menetapkan suatu transaksi derivatif yang serupa dengan arus kas yang dilindung nilai (yang memiliki jumlah dan 252 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik pada saat dimulainya lindung nilai maupun pada periode selanjutnya. maka hal tersebut harus telah ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. Jika bank akan mengukur lindung nilai dengan dasar setelah pajak. e) Dalam melakukan pengukuran efektivitas lindung nilai atas arus kas (cash flow hedge) dimana item yang dilindung nilai belum diakui dalam neraca.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif maka ketidakefektifan lindung nilai yang terjadi pada suatu periode tertentu tidak serta merta menjadi alasan bagi pelarangan atau penghentian penerapan akuntansi lindung nilai (lihat ilustrasi dalam tabel berikut). c) Pengukuran efektivitas lindung nilai dapat dilaksanakan dengan dasar setelah pajak (after tax basis). d) Bank harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya wanprestasi oleh pihak lawan (counterparty) terhadap instrumen lindung nilai dalam menilai efektivitas lindung nilai. yaitu dapat mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang sama yang digunakan untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara prospektif. bank dapat menggunakan suatu proxy derivative atau hypothetical derivative. Pendekatan Periode ke Pendekatan Kumulatif Periode Periode Lindung nilai Lindung Obligasi Swap yang tidak Rasio lindung nilai yang Rasio lindung nilai nilai efektif tidak efektif Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 100 60 (40) 120 (90) (65) 20 (120) 10 (100-90) (5) (60-65) (20) (-40+20) 0 (120-120) 10 (100-90) 5 108% (65/60) (160-155) 50% (15) (20/40) (120-135) 100% (15) (120/120) (240-255) 90% (90/100) 90% (90/100) 97% (155/160) 113% (135/120) 106% (255/240) Perubahan Nilai Wajar Penggunaan Dollar Offset Method memiliki kelebihan.

42% 102.14 Kumulatif Perubahan Nilai Wajar Hypothetical Derivative 0 111.020.83 0 99.81 315. b) Dalam Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif diukur berdasarkan Dollar Offset Method yang diakui pada laporan laba rugi.81 307.08 514.254.20 503.83% 101.29 Kumulatif Efektivitas Efektivitas Perubahan Lindung Lindung Nilai Wajar Nilai Nilai IRS Kumulatif 0 111. bank menggunakan hypothetical derivative yang menyerupai FRN sebagai item yang dilindung nilai.275. maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 253 .837.15 709.936.52 205.62% 100.098.50% Tanggal 14 Jul 09 31 Jul 09 31 Aug 09 30 Sep 09 31 Oct 09 Lindung nilai dinilai efektif karena rasio lindung nilai secara kumulatif berada pada kisaran 80%-125%.60 196.550. namun terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif yang harus diakui dalam laporan laba rugi.340. a) Dalam Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif secara otomatis diakui pada laporan laba rugi.340.11% 101.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal jatuh tempo yang sama) serta memiliki nilai wajar nol pada saat pengakuan awal.95 205.60 196. (1) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (over hedge).275.81 204.92% 103.92% 102. Perubahan Perubahan Nilai Wajar Nilai Wajar Hypothetical IRS Derivative 0 111. bank melakukan transaksi interest rate swap (IRS).70 720.00% 99.468. Hasil dari transaksi lindung nilai dapat dilihat pada tabel berikut. Untuk melindung nilai terhadap perubahan arus kas yang disebabkan perubahan suku bunga.918.254.27 199.14 0 111.125% sehingga dikatakan sangat efektif.854. Untuk mengukur efektivitas lindung nilai. 4) Bagian yang tidak efektif dalam lindung nilai yang efektif Meskipun rasio lindung nilai secara prospektif dan restrospektif berada dalam kisaran 80% .918.496. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan floating rate note (FRN) dengan suku bunga mengambang.

(3) kuantitas. atau tanggal penyerahan. lokasi. dan/atau (4) kredibilitas perusahaan dan pihak lawan (counterparty) dalam hubungan lindung nilai. b) Sumber penyebab ketidakefektifan suatu hubungan lindung nilai adalah terdapatnya perbedaan antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. (2) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih kecil dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (under hedge). maka tidak terdapat bagian yang tidak efektif. misalnya perbedaan mata uang (USD vs. (2) jatuh tempo (maturity) atau tanggal penyesuaian suku bunga berikutnya (repricing dates). Nilai Wajar Kondisi 1 2 (overhedge) 3 (underhedge) Instrumen Lindung Nilai 7 12 Item yang Dilindung Nilai (10) (10) Rasio Lindung Nilai 70% 120% Keterangan Lindung nilai tidak efektif Lindung nilai efektif Bagian yang tidak efektif sebesar 2 diakui dalam laba rugi Lindung nilai efektif Tidak terdapat bagian yang tidak efektif 8.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif selisih lebih tersebut merupakan bagian yang tidak efektif dan diakui pada laporan laba rugi. yaitu meliputi perbedaan: (1) basis.5 (10) 85% - 5) Hubungan lindung nilai yang tidak efektif (ineffectiveness) a) Hubungan lindung nilai yang berada diluar kisaran 80%-125% tidak lagi memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai sehingga harus dihentikan. GBP) atau perbedaan suku bunga referensi (JIBOR vs. 254 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . SBI).

Bank A menetapkan swap suku bunga sebagai instrumen lindung nilai untuk risiko suku bunga atas obligasi yang diterbitkan. Lindung nilai atas nilai wajar merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai wajar dari: 1) Aset dan kewajiban 2) Komitmen pasti. Lindung nilai atas nilai wajar antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas nilai wajar Kredit bersuku bunga tetap Meskipun Kredit dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang (Loans and Receivables) umumnya akan dimiliki hingga jatuh tempo. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 255 . kewajban. 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan tingkat suku bunga tetap sebesar 7%/tahun. atau komitmen pasti. b. dan 3) Bagian tertentu yang telah diidentifikasi dari aset. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan obligasi sejumlah Rp. Namun. lindung nilai atas risiko nilai tukar dari komitmen pasti dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau lindung nilai atas arus kas. Pengukuran efekivitas hubungan lindung nilai ditentukan dengan mengukur rasio perubahan nilai wajar dari swap suku bunga dan perubahan nilai wajar atas obligasi. Perlakuan akuntansi lindung nilai atas nilai wajar memberikan pengecualian dari perlakuan akuntansi secara umum. Akuntansi Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) a. yaitu dengan menarik ke depan pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai ke periode pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai. 100 milyar yang mewajibkan Bank A membayar suku bunga mengambang (LIBOR) dan menerima suku bunga tetap sebesar 7%. namun bank c. Komitmen pasti hanya dapat dilindung nilai dengan lindung nilai atas nilai wajar.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. Strategi manajemen risiko Bank A adalah sumber pendanaan dalam suku bunga mengambang sehingga Bank A memutuskan untuk membeli swap suku bunga dengan nilai nosional sebesar Rp. sehingga keuntungan/kerugian dari keduanya diakui dalam periode yang sama dan selanjutnya dapat dilakukan saling hapus. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi.

dimana bank mempunyai intensi untuk memiliki aset keuangan tersebut sampai jatuh tempo sehingga tidak perlu dilindung nilai baik atas risiko suku bunga maupun risiko pelunasan dipercepat. termasuk jika kemungkinan terjadinya wanprestasi pihak lawan (counterparty) semakin besar (probable). d. 2) Lindung nilai atas nilai wajar aset keuangan dalam kategori Tersedia Untuk Dijual. prakiraan transaksi hanya dapat dilindung nilai menggunakan lindung nilai atas arus kas. yaitu: 1) Instrumen lindung nilai kadaluarsa. dijual. Penghentian harus dilakukan sejak 256 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . e. Berbeda halnya dengan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang juga diukur pada biaya perolehan diamortisasi. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. Lindung nilai atas nilai wajar tidak dapat digunakan untuk prakiraan transaksi karena: 1) dapat menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban sebelum bank menjadi pihak dalam kontrak. Oleh karena itu. Penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar dapat dihentikan secara prospektif dalam 3 kondisi. Penggantian atau perpanjangan instrumen lindung nilai bukan merupakan kondisi berakhirnya lindung nilai jika dilakukan sebagai bagian dari strategi lindung nilai yang terdokumentasi. 3) Lindung nilai atas nilai wajar aset non keuangan. dan 4) Lindung nilai atas nilai wajar komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset non keuangan (misalnya kontrak untuk membeli atau menjual emas di masa datang pada harga yang sudah ditetapkan).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dapat mereklasifikasikan atau menjual Kredit dimaksud. dihentikan atau dieksekusi. dan 2) prakiraan transaksi yang tidak terekspos pada risiko perubahan nilai wajar akan diperlakukan seolah-olah terekspos pada risiko tersebut. Oleh karena itu. Kredit bersuku bunga tetap yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) juga terekspos risiko suku bunga dan bank dapat melakukan lindung nilai menggunakan lindung nilai atas nilai wajar.

2) Prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. Bank A mengkhawatirkan tingkat suku bunga akan meningkat di masa depan. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 257 . Akuntansi Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) a. bank dapat menggunakan instrumen lindung nilai tersebut untuk ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai pada hubungan lindung nilai yang baru. 3) Bank membatalkan penetapan hubungan lindung nilai. Lindung nilai atas arus kas merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan (variabilitas) arus kas dari: 1) Aset dan kewajiban. namun strategi manajemen risiko mengharuskan Bank A mempertahankan suku bunga mengambang maksimal 8%. 2) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari prakiraan transaksi penjualan aset. Lindung nilai atas arus kas antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari pendapatan bunga atas surat berharga bersuku bunga mengambang. b. Pembatalan penetapan hubungan lindung nilai dapat dilakukan jika dianggap sudah tidak relevan lagi. dan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. dan 4) Komitmen pasti dalam mata uang asing. dimana yang dilindung nilai adalah risiko nilai tukar. Sebagai contoh: Bank A menerima pinjaman dari Bank B sebesar USD 100 juta selama 3 tahun dengan suku bunga mengambang LIBOR + 2%. Bank A akan menerima pembayaran sejumlah USD 100 Juta x (LIBOR – 8%). 3) Bagian terentu yang dapat diidentifikasi dari aset.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal evaluasi terakhir yang menunjukan hubungan lindung nilai efektif atau tanggal terjadinya perubahan kondisi yang menyebabkan hubungan lindung nilai menjadi tidak efektif. Bank A membeli interest rate cap dari Bank B dimana ketika suku bunga LIBOR naik diatas 8%. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. Untuk melindungi dari risiko kenaikan suku bunga diatas 8%. Bank A dapat menetapkan interest rate cap sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai atas arus kas untuk risiko suku bunga. 6. kewajban. Selanjutnya.

Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri merupakan lindung nilai atas kepentingan (interest) bank pelapor atas aset bersih pada operasi di luar negeri. c. Nilai bersih aset perusahaan anak tersebut adalah HKD 50 milyar. b. Bank A melakukan transaksi jual forward sebesar HKD 50 milyar dan membeli IDR pada harga yang telah ditentukan. Investasi neto pada operasi di luar negeri mencakup item moneter yang merupakan piutang dari atau utang pada operasi di luar negeri yang berjangka panjang. Instrumen derivatif (seperti forwards dan swaps) dan non derivatif (seperti Kredit dalam mata uang asing) dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. Untuk melindungi nilai investasi di perusahaan anak terhadap risiko nilai tukar. c. Penghentian akuntansi lindung nilai atas arus kas Akuntansi lindung nilai atas arus kas dapat dihentikan secara prospektif dalam kondisi-kondisi berikut. Sebagai contoh: Bank A di Indonesia mempunyai perusahaan anak di Hong Kong dengan mata uang fungsional HKD. dan/atau cabang dari bank pelapor yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri atau dalam mata uang yang berbeda dengan bank pelapor. karena masih diharapkan dapat terjadi. Item moneter dapat merupakan item yang penyelesaiannya tidak direncanakan maupun tidak akan mungkin terjadi di masa datang.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Lindung nilai atas komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing. 258 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . perusahaan asosiasi. Penghentian tidak dapat dilakukan jika transaksi diperkirakan masih akan terjadi namun kemungkinannya tidak besar (no longer highly probable). yang mencakup perusahaan anak. dan 2) Prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi sehingga lindung nilai dapat dihentikan. perusahaan patungan. Bank A dapat menerapkan akuntansi lindung nilai atas investasi neto pada perusahaan anak di Hong Kong sebesar HKD 50 milyar dengan transaksi foreign exchange forward. 7. yaitu: 1) Tiga kondisi sebagaimana pada penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar pada angka 5 huruf e) di atas. Akuntansi Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri a.

namun bank harus menetapkan posisi yang merupakan item yang dilindung nilai pada setiap periode. 5) Penetapan item yang akan dilindung nilai. Lindung nilai portofolio merupakan lindung nilai terhadap sekelompok komitmen pasti. misalnya risiko suku bunga acuan (benchmark interest rate risk). risiko yang dilindung nilai berdasarkan basis portofolio adalah risiko suku bunga dan pelunasan dipercepat. misalnya periode berdasarkan tanggal penyesuaian tingkat bunga atau pelunasan dipercepat sesuai perkiraan dan bukan sesuai kontrak. yaitu suatu jumlah aset atau kewajiban keuangan tertentu yang sama dengan jumlah posisi terbuka neto. Akuntansi Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedge) a.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 8. aset. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 259 . Meskipun suatu portofolio dapat mencakup posisi aset dan kewajiban keuangan. atau prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi dengan karakteristik risiko yang sejenis. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapan akuntansi lindung nilai portofolio antara lain mencakup: 1) Identifikasi portofolio item yang akan dilindung nilai. 4) Penetapan posisi terbuka neto (net open position) pada setiap periode dan jumlah posisi terbuka neto yang akan dilindung nilai. sepanjang memenuhi 2 kondisi berikut: 1) Item individual dalam portofolio terekspos risiko yang sama yang akan dilindung nilai. kewajiban. b. Lindung nilai portofolio dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau arus kas bergantung pada portofolio risiko yang dilindung nilai. yang dapat meliputi suatu portofolio derivatif dengan posisi risiko yang dapat saling hapus dengan item yang dilindung nilai. Posisi terbuka neto dari suatu portofolio bukan merupakan item yang dilindung nilai. 2) Penetapan secara spesifik risiko yang akan dilindung nilai. yang dapat meliputi aset atau kewajiban atau kombinasi dari keduanya. 3) Penetapan portofolio ke dalam periode-periode tertentu. 6) Penetapan instrumen lindung nilai untuk setiap periode. Portofolio aset atau kewajiban yang akan dilindung nilai harus merupakan item yang juga telah memenuhi persyaratan lindung nilai secara individual. dan 2) Perubahan nilai wajar dari setiap item individual dalam portofolio yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai diperkirakan proporsional dengan perubahan nilai wajar secara keseluruhan. c. Umumnya.

Umumnya. yang diakui pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. Pada saat pengakuan awal (inception date) dan pengukuran selanjutnya. nilai wajar instrumen derivatif harus diukur menggunakan harga penawaran (bid price) untuk long position atau harga permintaan (ask price) untuk short position pada setiap akhir hari. maka dampak neto terhadap laporan laba rugi adalah nol. Derivatif a. Bank harus memiliki prosedur dan dokumentasi untuk memastikan efektivitas lindung nilai. Namun. Jika lindung nilai 100% efektif. 8) Pengukuran perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai. Pada saat pengukuran selanjutnya. Bank dapat menggunakan nilai tengah (mid price) dari harga pasar untuk menentukan nilai wajar dari setiap long maupun short position yang terekspos pada risiko pasar yang saling hapus (yaitu jika memiliki kesamaan pada variable yang mendasari dan tanggal jatuh tempo) dan melakukan penyesuaian ke harga penawaran atau permintaan (bid-ask spread adjustment) atas posisi terbuka neto pada setiap tanggal laporan. baik laporan interim maupun laporan tahunan. jika lindung nilai tidak efektif. dan 2) Instrumen derivatif yang nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal. 260 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kecuali: 1) Instrumen derivatif dengan variabel yang mendasari (underlying) dalam bentuk instrumen ekuitas yang tidak mempunyai kuotasi harga pasar (unquoted equity instrument). b. maka perbedaan antara perubahan nilai instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 9) Pengakuan efektivitas lindung nilai. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. instrumen derivatif diakui di neraca dan diukur pada nilai wajar terlepas apakah memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai atau tidak. yang diakui dan diukur pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. nilai wajar instrumen derivatif pada saat pengakuan awal adalah nol. D.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7) Pengukuran efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal dan periode selanjutnya untuk memastikan bahwa lindung nilai sangat efektif.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi keuntungan (potential gain) bagi bank. misalnya karena berbagai pertimbangan. (2) pemisahan sulit dilakukan atau menimbulkan beban tambahan. Pemisahan derivatif melekat dari kontrak utama pada instrumen campuran tidak harus dilakukan. Derivatif Melekat a. Derivatif melekat yang memenuhi kriteria untuk dipisahkan dari kontrak utama diakui sebagai derivatif dan diukur berdasarkan nilai wajar sebagaimana pada angka 1) di atas. dan/atau (3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai kewajiban derivatif di sisi kewajiban. Lindung Nilai a. c. 3. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 261 . Kontrak utama diakui dan diukur berdasarkan PSAK yang sesuai. kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif pada lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi diluar negeri. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai tagihan derivatif di sisi aset. 2. antara lain: (1) tidak memenuhi seluruh kriteria pemisahan (bifurcation). Selanjutnya. 3) Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi sejak tanggal transaksi (trade date). (2) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen derivatif diakui dalam laporan laba rugi. 2) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi kerugian (potential loss) bagi bank. termasuk PSAK 55. bank dimungkinkan untuk menetapkan seluruh instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar (fair value option). Lindung Nilai atas Nilai Wajar 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas nilai wajar yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Untuk instrumen lindung nilai (1) Instrumen lindung nilai yang umumnya merupakan instrumen derivatif diakui dalam neraca dan diukur berdasarkan nilai wajar. b.

b) Untuk item yang dilindung nilai (1) Perlakuan akuntansi untuk item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar berbeda-beda bergantung pada kategori item yang dilindung nilai. Penyesuaian tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (3) Dalam hal instrumen lindung nilai bukan merupakan instrumen derivatif (non derivative) yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. dan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. dan selanjutnya mempengaruhi nilai tercatat item tersebut dalam neraca. Suku bunga efektif yang digunakan harus dihitung kembali berdasarkan penyesuaian keuntungan atau kerugian tersebut. (a) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Dalam hal amortisasi atas penyesuaian nilai tercatat dengan menggunakan suku bunga efektif yang dihitung kembali tersebut tidak praktis. maka amortisasi dapat menggunakan metode garis lurus (straight line). maka keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan menyesuaikan nilai tercatat dari item yang dilindung nilai. (2) Perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 262 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka instrumen tersebut diukur berdasarkan nilai wajar. (b) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) menggunakan suku bunga efektif. maka hanya komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diakui dalam laporan laba rugi.

perubahan nilai wajar kumulatif yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai diakui sebagai aset atau kewajiban. (3) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar atas item yang dilindung nilai yang bukan merupakan bagian dari hubungan lindung nilai (yang dapat terjadi ketika hanya risiko tertentu yang dilindung nilai). diakui berdasarkan kategori instrumen keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (c) Item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen pasti Jika item yang dilindung nilai merupakan komitmen pasti. keuntungan atau kerugian yang yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 263 . Selanjutnya.

Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Bank membatalkan penetapan . maka aset atau kewajiban yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. . dan (b) Perubahan kumulatif dari nilai kini ekspektasi arus kasa masa datang dari item yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. 264 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Jika item yang dilindung nilai diukur pada biaya perolehan kriteria akuntansi lindung nilai. dihentikan instrumen lindung nilai akan terus diakui dalam laporan atau dieksekusi laba rugi. maka instrumen tersebut selanjutnya diukur berdasarkan nilai wajar melalui ekuitas. Lindung Nilai atas Arus Kas 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas arus kas yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Bagian yang efektif (effective portion) (1) Bagian dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui diakui secara langsung dan terpisah dalam ekuitas. (2) Total keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui secara terpisah dalam ekuitas dibatasi pada jumlah yang terendah antara: (a) Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. maka penyesuaian terhadap nilai tercatat karena pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi Komitmen pasti tidak lagi mememenggunakan suku bunga efektif sampai item yang nuhi kriteria komitmen pasti. diamortisasi. b. pasti.Jika item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen yang telah dilakukan. dilindung nilai tersebut jatuh tempo. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Perlakuan akuntansi Instrumen lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluKeuntungan atau kerugian yang telah direalisasi atas warsa atau dijual. Item yang dilindung nilai Lindung nilai tidak lagi memenuhi .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai.

atau aset atau kewajiban non keuangan. 2) Lindung Nilai atas Arus Kas dari Prakiraan Transaksi a) Sebelum transaksi (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai pada awalnya diakui secara terpisah dalam ekuitas. bank mengakui aset atau kewajiban keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. b) Setelah transaksi Pada saat prakiraan transaksi terealisasi. b) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. (3) Bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi pada periode yang sama ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. (1) Aset atau kewajiban keuangan Ketika prakiraan transaksi yang dilindung nilai telah terealisasi dan menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban keuangan. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dalam ekuitas sebelum transaksi tersebut terealisasi harus direklasifikasi ke dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 265 .

karena dianggap mewakili bagian dari harga perolehan. Pendekatan apapun yang dipilih harus diterapkan secara konsisten. (2) Aset atau kewajiban non keuangan Ketika prakiraan traksaksi yang dilindung nilai mengakibatkan pengakuan aset dan kewajiban non keuangan. (b) Penerapan penyesuaian dasar (basis adjustment) atas aset atau kewajiban non keuangan yang akan diperoleh dan prakiraan transaksi. Dalam perlakuan akuntansi ini. 266 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank dapat memilih diatara 2 perlakuan akuntansi berikut: (a) Perlakuan akuntansi yang sama yang digunakan untuk pengakuan aset atau kewajiban keuangan. Hal ini berarti bank dapat segera mereklasifikasi keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai ke ddalah laporan laba rugi. misalnya jika terdapat pengakuan beban penyusutan atau penurunan nilai aset non keuangan. atau tetap mengakui dalam ekuitas dan mereklasifikasi ke dalam laporan laba rugi ketika aset atau kewajiban non keuangan tersebut mempengaruhi laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif laporan laba rugi pada periode yang sama atau pada periode-periode dimana aset keuangan yang diperoleh atau kewajiban keuangan yang diterbitkan mempengaruhi laporan laba rugi. keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang semula diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui sebagai bagian dari nilai tercatat awal aset atau kewajiban non keuangan. misalnya jika terdapat pengakuan pendapatan atau beban bunga atau penurunan nilai aset atau kewajiban keuangan tersebut.

maka perlakuan kriteria akuntansi lindung nilai. Prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi c. jumlah yang tersisa pada ekuitas dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui pada laporan laba rugi pada saat yang bersamaan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai. Keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai efektif direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi. Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui Bank membatalkan penetapan secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi yang telah dilakukan. dihentikan atau dieksekusi Perlakuan akuntansi Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi Lindung nilai tidak lagi memenuhi terjadi. tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Apabila prakiraan transaksi terjadi. 2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. Selisih yang timbul dari perubahan nilai tukar mata uang asing atas investasi neto juga diakui pada ekuitas. maka perlakuan akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas invetasi bersih pada operasi di luar negeri yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: 1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. Apabila prakiraan transaksi terjadi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 267 . 3) Pada saat pelepasan atau pembubaran operasi diluar negeri.

Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) 1) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Suku Bunga Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga sama dengan lindung nilai atas nilai wajar dimana keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Misalnya. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 268 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b) Keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama atau periode ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. maka jumlah keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. 2) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Pelunasan Dipercepat (Prepayment Risk) a) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko pelunasan dipercepat sama dengan lindung nilai atas arus kas. Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. ketika prakiraan transaksi terjadi. Total keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas adalah jumlah yang terendah antara keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai dan perubahan kumulatif dari nilai wajar dari item yang dilindung nilai. yaitu: (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d.

bagian dari lindung nilai yang efektif dan bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. Tagihan dan Kewajiban Derivatif Derivatif disajikan sebesar nilai wajar pada neraca sebagai tagihan atau kewajiban derivatif. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dan derivatifderivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu serta independen antara satu dengan lainnya. maka: 1) Kontrak utama disajikan di neraca sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. dan 2) Derivatif melekat disajikan sebagai tagihan atau kewajiban derivatif sebesar nilai wajar. Jika instrumen campuran dimana derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama. maka keseluruhan instrumen campuran yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi disajikan sebagai satu kesatuan di neraca dan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. c. Jika prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi. Instrumen campuran dimana derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama. Derivatif Melekat Instrumen campuran (hybrid instrumen) disajikan sebagai berikut: a.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Jika instrumen lindung nilai dihentikan atau lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai (misalnya prakiraan transaksi kemungkinan tidak akan terjadi). maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. Bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif disajikan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 269 . Lindung Nilai Keuntungan atau kerugian atas suatu derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai terdiri dari dua komponen yaitu. maka derivatif-derivatif melekat tersebut disajikan secara terpisah satu dengan lainnya. maka keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi terjadi. b. Penyajian 1. 2. 3.

Ilustrasi Jurnal 1. pada pos aset yang terpisah dalam neraca. bank dapat tidak menggunakan rekening antara. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan3 Kr. Contra account Kr. sedangkan bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang tidak efektif disajikan pada pos yang sama dengan derivatif yang tidak ditentukan sebagai instrumen lindung nilai. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan kewajiban. E. Tagihan derivatif forward Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya. Contra account Db. 3 4 Valuta lawan adalah valuta yang diterima Valuta dasar adalah valuta yang diserahkan 270 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) Dalam lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar4 Dalam prakteknya. Kerugian transaksi derivatif Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dalam pos yang sama dengan keuntungan atau kerugian dari item yang dilindung nilai. 4. b. Keuntungan transaksi derivatif 2) Potensi kerugian bagi bank Db. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. penyesuaian yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai disajikan sebagai berikut: a. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan aset. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Transaksi pembelian foreign exchange forward untuk tujuan perdagangan (trading) a. atau pada pos kewajiban yang terpisah dalam neraca. b.

. Keuntungan transaksi derivatif – IRS 2) Potensi kerugian bagi bank Db. Transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) a. Keuntungan transaksi derivatif . Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Swap beli – IRS Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.. Kerugian transaksi derivatif – IRS Kr. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Contra account Kr. b.forward Kr. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Kas/Rekening. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kewajiban derivatif. Tagihan derivatif – forward b) Potensi kerugian bagi bank Db. Tagihan derivatif – IRS Kr. Kewajiban derivatif – IRS Pada awal hari berikutnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 271 . Contra account Db. Nostro valuta lawan Db/Kr. Swap jual – IRS Pada saat melakukan valuasi 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Contra account Db. /Giro BI valuta dasar 2..forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – forward 3) Pencatatan penerimaan Db. Mencatat komitment pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db.

Opsi Beli (Call option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db./Giro BI Db/Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. Kas/Rekening . Transaksi pembelian foreign exchange option a. Kas/Rekening .. Contra account Db. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr.. Biaya premi opsi Akuntansi Perbankan Indonesia 272 I P e d o m a n ../Giro BI Db. Biaya premi opsi Kr. e... Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS 3.. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. Keuntungan transaksi derivatif – IRS Kr. Kerugian transaksi derivatif – IRS d. Contra account Db. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. Utang premi Kr./Giro BI Db/Kr.. Contra account Kr.. Kewajiban derivatif – IRS Kr.. Utang premi 3) Mencatat pembayaran premi Db. Kas/Rekening . Swap jual – IRS Kr. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Swap beli – IRS 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – IRS b) Potensi kerugian bagi bank Db.

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – call option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – call option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kewajiban derivatif – call option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – call option Kr. Tagihan derivatif – call option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – call option Kr. Kerugian transaksi derivatif – call option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 273

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b.

Opsi Jual (Put option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Contra account 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Biaya premi opsi Kr. Utang premi 3) Mencatat pembayaran Db. Utang premi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Biaya premi opsi 4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – put option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – put option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Kewajiban derivatif – put option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

274 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif option (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – put option Kr. Tagihan derivatif – put option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – put option Kr. Kerugian transaksi derivatif – put option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan 4. Transaksi penjualan foreign exchange forward untuk tujuan lindung nilai, dimana lindung nilai memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. a. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward jual dasar Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan Kr. Contra account Dalam prakteknya, bank dapat tidak menggunakan rekening antara. b. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Dalam lindung nilai atas nilai wajar a) Valuasi terhadap foreign exchange forward sebagai instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 275

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Valuasi terhadap item yang dilindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Item yang dilindung nilai (menambah nilai tercatat) *) Kr. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (mengurangi nilai tercatat) *) *) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, maka penyesuaian nilai tercatat tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif (yang dihitung kembali) sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo c) Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dapat saling hapus dengan kerugian atau keuntungan atas item yang dilindung nilai.

2) Dalam lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri, meskipun rasio lindung nilai secara berada dalam kisaran 80% - 125% berdasarkan Dollar Offset Method sehingga dinilai sangat efektif, namun mungkin saja terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. a) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai, maka selisih lebih yang merupakan bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward b) Bagian yang efektif Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas

276 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

(1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. c. Pada saat penghentian akuntansi lindung nilai karena kontrak foreign exchange forward jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas nilai wajar a) Instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif - forward Kr. Tagihan derivatif – forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif- forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – forward (1) Jika merupakan item yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, maka tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian pada nilai tercatat, melainkan akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai jatuh tempo. (2) Jika merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual, tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian

b) Item yang dilindung nilai

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 277

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

pada nilai tercatat, dan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar selanjutnya diakui dalam ekuitas. (3) Jika merupakan komitmen pasti, maka aset atau kewajiban keuangan yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. (a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (b) Potensi kerugian bagi bank Db. Item yang dilindung nilai Kr. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai 3) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. a) Bagian yang tidak efektif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif Kr. Tagihan derivatif forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif forward Kr. Kerugian transaksi derivatif b) Bagian yang efektif Keuntungan atau kerugian dalam ekuitas akan tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi atau investasi neto pada operasi di luar negeri dilepaskan. Pada saat prakiraan transaksi terealisasi, keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi, atau pada periode-periode selanjutnya ketika bank mengakui pendapatan bunga atas aset keuangan yang berasal dari prakiraan transaksi tersebut sesuai kebijakan akuntansi yang diterapkan. d. Pencatatan penerimaan atau pembayaran atas transaksi derivatif Db. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta lawan Db/Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta dasar

278 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain: 1. Kebijakan akuntansi Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang antara lain deskripsi mengenai tujuan dan kebijakan manajemen risiko, termasuk kebijakan lindung nilai atas setiap jenis risiko dan jenis lindung nilai yang digunakan. 2. Informasi kualitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. b. c. 3. eksposur risiko dan bagaimana risiko tersebut timbul; tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko, termasuk metode pengukuran risiko tersebut; dan setiap perubahan pada a atau b dari periode sebelumnya

Informasi kuantitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. ikhtisar data kuantitatif mengenai eksposur risiko pada tanggal pelaporan. Pengungkapan tersebut harus didasarkan pada informasi yang disajikan secara internal kepada manajemen (seperti didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa), misalnya dewan direksi atau Direktur Utama. risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuditas, kecuali risiko tersebut tidak material; dan konsentrasi risiko, jika tidak terlihat dari a dan b.

b. c. 4.

Derivatif Melekat a. Jika bank menerbitkan instrumen yang mengandung komponen kewajiban dan ekuitas (lihat paragraf 28 PSAK 50) dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat yang nilainya saling tergantung satu sama lain (seperti callable convertible debt instrument), maka bank harus mengungkapkan keberadaan fitur tersebut. Dalam hal derivatif melekat tidak dipisahkan dan disajikan sebagai bagian dari instrumen campuran, maka bank perlu mengungkapkan metode valuasi terhadap nilai wajar instrumen campuran tersebut.

b.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 279

Informasi untuk setiap jenis lindung nilai secara terpisah (lindung nilai atas nilai wajar.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. Akuntansi Lindung Nilai a. dan b) item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. yang antara lain mencakup: 1) keuntungan atau kerugian yang diakui dalam lindung nilai atas nilai wajar dari: a) instrumen lindung nilai. yang antara lain mencakup: 1) uraian setiap jenis lindung nilai. 4) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi selama periode berjalan. Informasi mengenai lindung nilai atas arus kas. lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri). 2) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas arus kas. c. b. namun tidak lagi diharapkan akan terjadi. 2) uraian atas setiap prakiraan transaksi dimana akuntansi lindung nilai sebelumnya telah diterapkan. dan 3) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas investasi neto dalam operasi luar negeri. dan 5) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas selama periode berjalan dan diakui sebagai bagian dari biaya perolehan awal atau nilai tercatat dari aset non keuangan atau kewajiban non keuangan yang diperoleh atau diterbitkan melalui transaksi transaksi prakiraan yang sangat mungkin terjadi yang dilindung nilai. yang antara lain mencakup: 1) periode ketika arus kas diperkirakan akan terealisasi dan mempengaruhi laporan laba rugi. 3) jumlah yang telah diakui dalam ekuitas selama periode berjalan. 280 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan 3) sifat risiko yang dilindung nilai. Informasi lainnya mengenai lindung nilai. 2) uraian instrumen keuangan yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai and nilai wajarnya pada tanggal neraca.

146. Kontrak forward jual Rp.146. Diasumsikan tingkat diskonto (discount rate) sebesar 10%. 481.47) (1 + 10%/12)1 29/02/2009 USD1=Rp.350 Nilai wajar bersih (Rp) [9. Rp.76 b. Keuntungan transaksi derivatif Rp.300 Jurnal transaksi a. Bank A melakukan transaksi foreign exchange forward USD/Rp.000 151.200 ——————————————— = 318. Kr. Kontrak forward beli Kr.330) x USD 16.47 Kr. Pada tanggal transaksi 31 Januari 2009 Db.983.666. Contra account Kr. Kerugian transaksi derivatif Rp.000 151.146.000. Kewajiban derivatif forward Rp. Rp.146. Rp.666. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.983. Contra account Db.pada tanggal 31 Maret 2009. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Tanggal 31/01/2009 Forward rate USD untuk 31/03/2009 USD1=Rp. dengan nasabahnya dengan forward rate USD1 = Rp. 151.330. 9.200 ——————————————— = (481.146. Contoh Kasus 1.666.000 151.200 dan menjual Rp. Tagihan derivatif forward Rp.146.47 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 281 .000 151. 9. Pada awal hari berikutnya. Rp.. Transaksi foreign exchange forward Pada tanggal 31 Januari 2009.983.300–9.146.dimana bank A setuju untuk membeli USD 16. 481. Kontrak forward jual atau tanpa rekening antara (single entry) Db. c.350–9. Rp. 151. Kontrak forward beli Kr.330) x USD 16.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif G. 9. Pada saat melakukan valuasi akhir hari berdasarkan nilai wajar Db..76 (1 + 10%/12)2 [9.000 151.000 318.76 318. Pada saat melakukan valuasi akhir hari tanggal 28 Februari 2009 berdasarkan nilai wajar Db.

000 151. Rp.146. Rp.... Kas/Rekening . diasumsikan nilai wajar opsi konversi adalah Rp.000.000 151. d. Contra account 2) Pencatatan penerimaan Db. Penerbitan obligasi konversi tersebut merupakan suatu kontrak yang akan diselesaikan oleh Bank B dengan penyerahan instrumen ekuitas miliknya sebagai pengganti kas dengan jumlah yang bervariasi yang tidak dapat diakui sebagai instrumen ekuitas sesuai PSAK 50. Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.470.. melainkan sebagai kewajiban keuangan dalam bentuk instrumen campuran. Keuntungan revaluasi Kr. 10.. 151.146. Contra account Kr. Rp.000 151..Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Pada awal hari berikutnya. Rp. Kontrak forward beli Db. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db.Berikut adalah perhitungan nilai 282 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp.146.000..sehingga nilai wajar obligasi adalah Rp 8. Pemegang obligasi mempunyai hak untuk mengkonversikan obligasi tersebut pada tanggal jatuh tempo dan menerima sejumlah saham Bank B pada harga rata-rata pasar dari saham tersebut selama 10 hari terakhir. opsi konversi tersebut harus diukur pada nilai wajar dan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar opsi konversi merupakan nilai wajar obligasi yang akan diakui dan diukur pada harga perolehan yang diamortisasi (amortised cost). dan opsi konversi memenuhi persyaratan sebagai instrumen derivatif.dengan jangka waktu 10 tahun dan bunga 5%/tahun yang dibayar secara tahunan. Pada tanggal 1 Januari 2009.000.000 151. Instrumen campuran (hybrid instrument) Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank B menerbitkan obligasi konversi (convertible bond) pada nilai par sebesar Rp. Dengan demikian.500.000 324. Selanjutnya.000 2.000 151. Kontrak forward jual Kr. 9./Giro BI *) Spot rate USD 1=Rp.000.500. 1../Giro BI *) Kr. sesuai PSAK 55 opsi konversi harus dipisahkan dari obligasi sebagai kontrak utamanya.146. Opsi konversi yang merupakan derivatif melekat tidak mempunyai hubungan yang erat dengan obligasi Disamping itu.350- Rp.146. Kas/Rekening . obligasi konversi tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

144 674.000 (500.979.383 21.847.055) (35.257 663.500.000) Pembayaran Nilai tercatat beban akhir bunga Obligasi (5%) 8.437.032 9.607.679 9.301 8.979.000 8.636.704) 10.500.177 9.402 25.000) (500.000) (500.418) 1.121.402) (25.000) (500.023) (20.649 1.849 33.000) (11.383) (21.797 615.121.704 (500.706) Obligasi Db (Kr) (8.797 8.987 9.810 687.000) (500.869 28.505) (123.023 1.096 652.065 8.799.810 687.539.609.15%) 607.274.725 1.790 30.384 1.000.000 8.065 8.764.000) (500.797 615.257) (163.055 35.274.790) (30.729.841) (23.000.000) (500.869) (28.764 632.247 1.704 Kerugian (Keuntungan) Transaksi Derivatif Db (Kr) 19.000 Kewajiban Derivatif Db (Kr) (1.706 19.096) (152.790 30.500.614) (142.000) (19.383 21.775 9.594 1.849) (33.000) (107.849 33.665.505 623.076 26.841 23.288 1.144 674.310) (200.402 25.000) (500.764 632.076 26.723.096 652.679 9.810) (187.418 Perubahan nilai wajar Opsi Konversi Periode 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 Nilai tercatat awal Obligasi 8.000.310 700.841 23.723.023 20.301 8.000) (500.764.764.076) (26.000) (500.000) (500.406 1.437.000) (500.500.296 Jurnal transaksi Tanggal Kas Db (Kr) 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 10.611.797) (115.797 8.987 9.614 642.764) (132.611.696.310 700.023 20.869 28.000) (500.500.257 663.561.418 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 283 .032 9.000) (500.775 9.000) (500.15% serta nilai wajar opsi konversi.614 642.144) (174.296 10.000 8.706 Beban Bunga Db (Kr) 607.000 1.000) (500.607.847.519.799.233 1. Beban bunga (7.055 35.500.000 Nilai wajar Opsi Konversi 1.177 9.505 623.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tercatat obligasi sampai tanggal jatuh tempo yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif sebesar 7.000) (500.000) (500.000) (500.584.

9.189 Nilai wajar IRS (Rp.000 Rp.000)/2] (1 + 10%/2)n 2 ) Σ n 8 Jurnal transaksi a.000.769. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: IRS untuk 31 Desember 2013 JIBOR Fixed (6 bulan) + 1% 10% 9% 10% 9. . Obligasi Rp. Suku bunga mengambang akan disesuaikan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli.000.222.554. 500.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3.Bank C memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar.777.189) 2) 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 ) Σ n 9 [ (10% ..5%) x (Rp..000 284 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.000.000.884.095 1) (17. 500.000. Kas/Rekening. Tanggal 1 Januari 2008 1) Penerbitan obligasi Db.000. Swap suku bunga mensyaratkan Bank C menerima suku bunga tetap sebesar 10% dan membayar suku bunga mengambang 1% diatas JIBOR.000)/2] (1 + 10%/2)n [ (10% .554. . 500.115.905 517.) 500.000.) 0 8. baik secara prospektif maupun retrospektif.11%) x (Rp.5% 10% 11% Nilai wajar Obligasi (Rp.Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai kini arus kas IRS sebesar 10%.Untuk memudahkan perhitungan.000. Asumsi: .000 491. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.000. 500./Giro BI Kr. Bank C memutuskan untuk melakukan lindung nilai atas risiko suku bunga dengan melakukan transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) dengan bank lain untuk jangka waktu 1 tahun. Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank C menerbitkan obligasi sebesar Rp 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan suku bunga tetap 10% yang dibayar setiap 6 bulan.769.

Pendapatan bunga Rp. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp. Obligasi Rp.769.000 25.000. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp.000.554. Tanggal 31 Desember 2008 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.000.750.884. Db.189 Kr. 500.777.000. Tanggal 30 Juni 2008 Rp.000.189 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 285 . seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Swap – suku bunga tetap b.000 1. Rp.000 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db.884.095 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. Swap – suku bunga mengambang Kr.000 1. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. 17.095 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db. 8. 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db. 8. Obligasi Rp. 8.000 23.769. 500.000 25.884. Kewajiban derivatif swap Rp.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Transaksi swap suku bunga Db.750. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.000 23.095 Kr. Kr.000. Kr.250.000.000. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db.000.000.095 Kr.000.250.884.000. Beban bunga Kr.777. 8.000.777.554. Kas/Rekening BI Rp. Kr.777. 25.000.000.000. Pada awal hari berikutnya.000 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp.000 Rp.000 25. 17. c. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.

189 Kr.000 1. Db.000 25. Pendapatan bunga Rp.000 23. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp. 4.189 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.000./Giro BI Rp. 23. 100 milyar dengan suku bunga 9% dan jatuh tempo pada 31 Januari 2009 (strike date).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db.000.769.000. Beban bunga yang masih harus dibayar 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db.000. 25. Kewajiban derivatif swap Rp.000.250. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db.. Beban bunga Kr.769.000 Rp.000. 25. 17.000 25. Kr. Kas/Rekening.554. maka Bank D tidak akan mengeksekusi opsi beli dan membeli SUN di pasar.000.000 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db. 1.000. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp. 100 milyar untuk jangka waktu 5 tahun dengan suku bunga 9% yang dibayar setiap 6 bulan.250.000.750.000. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.750. Pada awal hari berikutnya. 17.000.000 Rp. Akuntansi lindung nilai atas arus kas Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank D memprakirakan akan melakukan transaksi pembelian Surat Utang Negara SUN (forecast transaction) pada tanggal 31 Januari 2009 sebesar Rp.000. dan sebaliknya jika suku bunga meningkat diatas 9%. Bank D berkeinginan untuk mempertahankan suku bunga yang akan diperoleh dari SUN tersebut (locking in) dengan melakukan strategi lindung nilai melalui pembelian opsi beli (call option) atas SUN sebesar Rp.. Rp. 14 juta. Bank D membayar premi sebesar Rp. Bank D menetapkan transaksi pembelian opsi beli tersebut sebagai instrumen lindung nilai dan lindung nilai akan diukur berdasarkan akumulasi perubahan nilai wajar SUN dan nilai intrinsik (intrinsic value) dari opsi. 286 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka Bank D akan mengeksekusi opsi beli.000 Rp. Jika suku bunga SUN turun dibawah 9%. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Kr. Atas pembelian opsi beli tersebut.554. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr.

000 Pada awal hari berikutnya.248 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar opsi Db. 6. Untuk memudahkan perhitungan. 3. Rp.890 1) - ) Σ n 9 [ (9% ..000 0 Nilai wajar Opsi Beli (nilai intrinsik) Rp. 100. 0 9% 8% - 4.000 8.. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.. Tagihan derivatif opsi Rp.000.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Asumsi: Bank D memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar.395.5%/2)n Jurnal transaksi a.000. 14.000.000 14.395. Tagihan derivatif opsi Rp. 6. Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai intrinsik opsi adalah sebesar 9%.000)/2] (1 + 4.000.000.634.000. Tagihan derivatif opsi Kr.447.000 b.000.8%) x (Rp. Tanggal 30 Juni 2009 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar opsi (nilai intrinsik) karena forward rate suku bunga SUN meningkat 1% Db.248 Kr. 3. baik secara prospektif maupun retrospektif. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 287 . seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang. Kas/Rekening . 14.055. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Forward rate SUN untuk posisi 31 Desember 2009 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 Nilai wajar Opsi Beli (nilai waktu) Rp.634./Giro BI Rp.000 Kr.000. Tanggal 1 Januari 2009 (1) Pembelian opsi beli (call option) Db.

.000. 3.000.000.395. Tagihan derivatif opsi Rp. 8.. Tanggal 31 Desember 2009 1) Menghentikan pengakuan tagihan derivatif opsi karena pada saat jatuh tempo nilai waktu opsi menjadi nol Db.100.248 Kr. keuntungan instrumen lindung nilai yang diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi dalam periode yang sama dengan realisasi dan pengakuan aset keuangan dari suatu prakiraan transaksi. 3.000. Kas/Rekening.634.000.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.000. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.000 2) Mengeksekusi opsi beli SUN dengan suku bunga 9% Db./Giro BI Rp.000 3) Sesuai kebijakan akuntansi bank.000 Rp.. Db. 8. Surat Utang Negara Kr.395.100. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.248 288 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 Kr.634. Keuntungan transaksi derivatif Rp.

7. Issuing bank adalah bank penerbit LC. 9. 3. 11. Negotiating bank adalah bank yang melakukan pembayaran kepada eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada issuing bank atau paying bank atau reimbursing bank. Paying bank adalah bank yang melakukan pembayaran sight LC atau deferred payment LC. 6. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 289 . 10. 4. 2. Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 5. Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa LC dibuka (penerima LC). Reimbursing bank adalah bank yang telah mendapat otorisasi dari issuing bank untuk membayar reimbursement claim dari negotiating bank. Accepting bank adalah bank yang menjamin pembayaran wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance LC dengan melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan. 8.Bab VII I E k s p o r Impor Bab VII Transaksi Ekspor Impor A. Catatan: Dalam Bab VII termasuk pengaturan transaksi Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Definisi 1. Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada issuing bank untuk membuka LC. Confirming bank adalah bank yang ikut menjamin pembayaran LC kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai syarat LC dengan membubuhkan konfirmasinya pada LC yang bersangkutan. Advising bank adalah bank yang diminta oleh issuing bank untuk menyampaikan LC kepada Beneficiary.

atau c. test key). atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. b. memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh Penerima. 16. Bank Koresponden (corresponding bank) adalah bank yang mempunyai hubungan korespondensi (misal pertukaran kode swift. 18. Negotiation LC adalah LC yang pembayarannya kepada Beneficiary dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana negotiating bank. Deferred payment LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC. 20. sepanjang persyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang berlaku mengenai SKBDN. Acceptance LC adalah LC yang mengharuskan wesel yang ditarik oleh beneficiary diaksep oleh accepting bank yang akseptasinya dilakukan sepanjang dokumen-dokumen yang diajukan telah memenuhi syarat LC. 21. Letter of credit (LC) adalah setiap janji tertulis yang dikeluarkan/diterbitkan oleh bank atas permintaan importir (applicant) dimana bank berjanji akan melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) jika telah memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam LC. Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh eksportir atas dasar suatu LC. 15. melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. 17. Sight LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada saat dokumen-dokumen LC diajukan kepada bank.Bab VII I E k s p o r Impor 12. Discounting bank adalah bank yang mendiskonto wesel yang ditarik berdasarkan LC. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai “Letter of credit” (LC) Dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis pemohon (applicant) yang mengikat bank pembuka (issuing bank) untuk: a. Irrevocable LC adalah LC yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. 19. 290 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 13. 14. atas penyerahan dokumen. memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya.

kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar). (KDPPLK: paragraf 92) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan kewajiban (misalnya. B. (KDPPLK: paragraf 91) Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. 4... (PSAK 1: paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. I 291 . Dalam praktik. (PSAK 1: paragraf 71) 3. Namun demikian.. Nostro adalah rekening/simpanan bank pada suatu bank di luar negeri dalam bentuk mata uang negara tersebut. laporan laba rugi.Bab VII I E k s p o r Impor 22. 5. kewajiban (obligations) menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi.. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. laporan arus kas. Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.. komitmen. kalau dalam keadaan tertentu kriteria pengakuan terpenuhi. (KDPPLK: paragraf 89) Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. pengakuan kewajiban mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang bersangkutan. kewajiban (obligation) semacam itu dapat memenuhi definisi kewajiban dan. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . maka kewajiban (obligation) tersebut dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. kewajiban atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada umumnya tidak diakui sebagai kewajiban dalam laporan keuangan. Dalam kasus ini.. Dasar Pengaturan 1.

besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya. perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa.. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/ kriteria untuk pengklasifikasian tersebut. (PSAK 55: paragraf 43) 11. (PSAK 57: paragaf 28) Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. investasi dalam instrumen utang.Bab VII I E k s p o r Impor 6. 8. dan c. b.. piutang dagang. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. 10. 9. (PSAK 57: paragraf 15) Perusahaan tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi. (PSAK 55: paragraf 14) 7. jika dan hanya jika. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. (KDPPLK: paragraf 94) Kewajiban diestimasi harus diakui apabila ketiga kondisi berikut dipenuhi: a. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima … (PSAK 55: PA 79) 12. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. Namun. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: PA39) 292 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. entitas mengukur pada nilai wajarnya. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut.

Bab VII I E k s p o r Impor 13. pada nilai wajarnya. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. (PSAK 55: paragraf 8) 14. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. konsultan. kecuali: a. c. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 16. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. atau pelepasan lain. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. (PSAK 55: PA26) 15. entitas mengukur aset keuangan. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. Setelah pengakuan awal... Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). (PSAK 55: paragraf 8) b. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. (PSAK 55: paragraf 46) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 293 . pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat.. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). perantara efek dan pedagang efek. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok.. biaya pendanaan (financing costs). ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.

Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. (PSAK 55: paragraf 59) 19. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. c.. 294 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya.Bab VII I E k s p o r Impor 17. pelanggaran kontrak. pihak pemberi pinjaman. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. dan melalui proses amortisasi. jika dan hanya jika. (PSAK 55: paragraf 57) 18. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. b. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. d.. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Jika terdapat bukti tersebut. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga.

Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). f. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). (PSAK 55: paragraf 64) 21. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi.Bab VII I E k s p o r Impor e. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. dan untuk itu kerugian penurunan nilai Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 295 . (PSAK 55: paragraf 60) 20. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud.

jika dan hanya jika: a. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. b. (PSAK 55: paragraf 17) 296 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. (PSAK 55: paragraf 66) 23. pada periode berikutnya. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 65) 22.Bab VII I E k s p o r Impor diakui atau tetap diakui. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). Jika. baik secara langsung. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. (PSAK 55: paragraf 8) 24. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20.

Bab VII I E k s p o r Impor C. Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. Mekanisme transaksi ekspor-impor Sight LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 & 11 Tindakan Importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani sales contract Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 297 . negotiating bank akan melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada beneficiary dengan hak recourse. Apabila dokumen clean. Penjelasan 1.

negotiating bank dapat melakukan pembayaran di muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen dikurangi diskon/bunga. issuing bank akan mengirimkan teleks akseptasi ke negotiating bank Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada saat jatuh tempo Issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank 298 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Apabila dokumen clean. Proses ini dikenal dengan istilah diskonto. Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen.Bab VII I E k s p o r Impor Usance LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan usance LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan usance LC kepada Beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan usance LC kepada Beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC.

Bab VII I E k s p o r Impor Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing bank dimana advising bank bukan negotiating bank Langkah 1 2 3a 3b 4 5 6 7a 7b 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan LC/SKBDN kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Issuing bank memberikan reimbursement authorization kepada reimbursing bank Advising bank meneruskan LC/SKBDN kepada beneficiary Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai permintaan dalam LC/SKBDN Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Negotiating bank mengirimkan dokumen kepada issuing bank Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing bank untuk melakukan pembayaran. Reimbursing melakukan pembayaran kepada negotiating bank (claiming bank) Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary Issuing bank melakukan pembayaran kepada reimbursing bank Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menyerahkan dokumen kepada applicant untuk menebus/mengambil barang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 299 .

Bab VII I E k s p o r Impor 2. sesuai dengan jenis LC/SKBDN: 300 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary. 4. 7. komisi pembukaan LC/SKBDN. c. LC/SKBDN dibedakan menjadi: a. LC/KBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk meminta pembayaran kepada issuing bank melalui bank korespondennya berdasarkan pemenuhan persyaratan yang tercantum dalam LC/SKBDN. 9. LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon (applicant). b. 3. Akuntansi yang terkait dengan kewajiban kontinjensi dan kewajiban diestimasi. LC/SKBDN atas unjuk (sight payment). antara lain untuk tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil alih bank. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab mengenai surat berharga. Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi. bank melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut. Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. dan komisi negosiasi dokumen. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation). LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance). advising bank meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary. SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC tunduk pada Uniform Customs and Practice for Documentary Credits/UCPDC. yaitu: a. Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi akseptasi. b. Berdasarkan cara penyelesaian pembayarannya. 5. Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank. Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang berasal dari hak dan kewajiban kontraktual. biaya pengiriman dokumen. antara lain untuk jaminan keuangan (financial guarantee) seperti shipping guarantee. Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 6. LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment). d. 8.

Bab VII I E k s p o r

Impor

a.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan kemudian meneruskan dokumendokumen yang diterima kepada issuing bank.

b.

LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN) Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.

c.

LC/SKBDN yang ditagih dengan collection Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank untuk ditagihkan pembayarannya tanpa terlebih dahulu melakukan pembayaran kepada beneficiary. LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara lain: 1) dokumen yang diajukan terdapat penyimpangan (discrepancy/ies); atau 2) tidak ada bank yang bersedia sebagai negotiating bank

10. Bank pendiskonto (discounting bank) membayar kepada beneficiary sebesar nilai LC/ SKBDN atau nilai realisasi setelah dikurangi diskonto. 11. Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dengan hak regres (with right of recourse) berdasarkan wesel dan dokumen yang diajukan oleh beneficiary, kecuali status negotiating bank sebagai confirming bank. 12. Instrumen (dokumen keuangan/financial document) untuk penyelesaian pembayaran semua jenis LC/SKBDN digunakan wesel (draft/bill of exchange). 13. Khusus untuk deferred payment, instrumen pembayaran pada dasarnya adalah promisory notes, namun dalam praktek perbankan Indonesia telah lazim digunakan wesel yang diperlakukan sebagai tagihan.

D. Perlakuan Akuntansi
Pengakuan dan Pengukuran Transaksi Ekspor 1. Pada saat menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank mengadministrasikan LC/SKBDN yang diterima. Advising bank mengakui pendapatan provisi (advising fee) yang dipungut, dan pendapatan administrasi atas telex/swift atau pengiriman dokumen pada saat terjadinya.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 301

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Dalam hal advising bank juga bertindak sebagai confirming bank untuk menjamin pembayaran LC/SKBDN maka advising bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada saat yang sama mengakui tagihan komitmen kepada issuing bank. Confirming bank mengakui pendapatan provisi (advising fee dan/atau confirming fee) secara sekaligus atau dialokasikan selama jangka waktu komitmen. Untuk LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN), pada saat pembayaran dokumendokumen yang diajukan beneficiary, bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank dalam pos tagihan lainnya sight LC/SKBDN kepada bank. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) a. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, bank mengakui tagihan kepada accepting bank sebagai pos tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary sebagai pos kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank terlebih dahulu “telah menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dan membukukan wesel ekspor sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu wesel ekspor. Pada saat yang sama bank menjurnal balik tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank ”belum menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan mengakui tagihan kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN serta mengakui pendapatan yang ditangguhkan sebesar nilai diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu tagihan. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank membukukan tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Pada saat yang sama bank membukukan wesel ekspor berjangka dan melakukan jurnal balik atas tagihan kepada beneficiary serta menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi. Pada saat jatuh tempo, apabila bank yang melakukan pembayaran (paying bank) kepada beneficiary menerima pembayaran dari issuing bank, maka bank membukukan pada pos nostro/giro B.I/Rekening Antar cabang dan menjurnal balik pos wesel ekspor berjangka.

3.

4.

b.

c.

302 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

d.

Apabila bank tidak melakukan pendiskontoan/negosiasi tetapi hanya melakukan penagihan (on collection) atas permintaan beneficiary, maka pada saat jatuh tempo bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi. Pembayaran dari issuing bank dibukukan pada pos nostro/Giro BI/Rekening Antar Cabang dan mengkredit rekening beneficiary sebesar nilai LC/SKBDN dikurangi dengan biaya administrasi.

5.

LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN) a. Dalam hal negosiasi LC/SKBDN dimana wesel unjuk (sight) diambil alih oleh negotiating bank (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat bersamaan negotiating bank mengakui tagihan kepada issuing bank sebagai pos tagihan lainnya - sight LC/SKBDN kepada bank koresponden yang akan diselesaikan pada saat menerima pembayaran dari issuing bank. b. Dalam hal bank menegosiasi wesel berjangka yang belum diaksep (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung (bila ada). Pada saat bersamaan, bank mengakui tagihan kepada beneficiary dalam pos tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum diakseptasi. c. Pada saat menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank mengakui tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi sebesar nilai realisasi LC/SKBDN ditambah/ dikurangi dengan biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi. Selanjutnya biaya/pendapatan tersebut diamortisasi selama jangka waktu tagihan akseptasi. Dalam hal bank menerima akseptasi dari accepting bank setelah bank melakukan pendiskontoan/negosiasi maka perlakuan akuntansi sebagaimana diatur pada butir 4. c di atas. Perlakuan akuntansi untuk wesel ekspor mengacu pada bab mengenai surat berharga. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan pada saat pengakuan awal Sebesar nominal tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dikurangi pendapatan/beban (bila ada).

6.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 303

Bab VII I E k s p o r

Impor

7. Setelah pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebagai berikut:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan setelah pengakuan awal Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

8. 9.

Perlakuan akuntansi untuk amortisasi biaya transaksi mengacu pada Bab mengenai Kredit. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori

Pencatatan pada saat pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya yang diukur sebesar diamortisasi) nilai wajar, yang pada umumnya adalah sebesar kewajiban bruto.

10. Setelah pengakuan awal, bank mencatat kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebagai berikut:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori Pencatatan setelah pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. Pada saat membuka LC/SKBDN, bank mencatat ke dalam pos: a. b. c. 2. kewajiban komitmen LC/SKBDN dalam mata uang asing sebesar nilai LC/SKBDN; setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam LC/SKBDN sebesar setoran yang diterima; pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN sebesar provisi yang diterima.

Pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat diterima.
Akuntansi Perbankan Indonesia

304 I P e d o m a n

Bab VII I E k s p o r

Impor

3.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) a. b. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan selama masa pemeriksaan tidak dilakukan penjurnalan. Apabila dokumen pengapalan (shipping document) telah diterima dan diperiksa dan tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh applicant, maka issuing bank mengakui kewajiban atau melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan mengakui tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada pos tagihan lainnya (tagihan kepada applicant). Pada saat yang sama, issuing bank melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN.

c. Apabila dokumen pengapalan belum diterima dan applicant meminta bank untuk menerbitkan shipping guarantee, maka applicant harus membayar lunas kekurangan dari setoran jaminan atas realisasi LC/SKBDN dan issuing bank mengakui kewajiban kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan bank membebankan biaya endors kepada applicant. Pada saat yang sama, bank mengakui tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran, serta melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat dokumen pengapalan diterima dan diperiksa, maka issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran dan tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant. Issuing bank melakukan pembayaran kepada bank koresponden dengan membukukan pada pos nostro/ Giro BI/Rekening antar cabang dan menjurnal balik pos kewajiban kepada bank koresponden. 4. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment). a. Bila issuing bank mengaksep wesel Pada saat bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada applicant, serta membebankan biaya akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/ SKBDN sebesar nilai realisasi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 305

Bab VII I E k s p o r

Impor

Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada negotiating bank maka kewajiban accepting bank beralih dari kewajiban akseptasi kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada negotiating bank. Negotiating bank dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada pihak lainnya sehingga kewajiban accepting bank beralih kepada bonafide holder. b. Bila issuing bank bukan accepting bank Dalam hal accepting bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka 1) Accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada issuing bank. 2). Issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi. 5. LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN). a. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel unjuk (LC/SKBDN sight), maka issuing bank mengakui kewajiban lainnya kepada negotiating bank sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan pada saat yang sama mengakui tagihan lainnya kepada applicant sebesar nilai yang sama. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh bank lain, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant.

b. 1)

2) Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh issuing bank, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada negotiating bank dan tagihan akseptasi kepada applicant. 6. Pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya atas tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi impor mengacu pada tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi ekspor. Saat applicant melunasi kewajibannya (saat jatuh tempo), bank mendebet rekening applicant dan setoran jaminan impor serta mengkredit rekening bank koresponden, dan pada saat yang sama menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi.

7.

306 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

8.

Penurunan nilai (impairment) Perlakuan penurunan nilai tagihan akseptasi mengacu kepada Bab mengenai Kredit.

Penyajian Transaksi Ekspor 1. Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya disajikan di neraca sesuai kategori aset keuangan, yaitu:
Kategori Aset Keuangan Penyajian di Neraca

Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah dengan amortisasi kumulatif Piutang menggunakan metode suku bunga efektif. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account.

Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya disajikan sebagai berikut:
Kategori Kewajiban Keuangan Penyajian di Neraca

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. 2. 3. 4. Kewajiban komitmen atas penerbitan LC/SKBDN diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebesar jumlah penerbitan LC/SKBDN. Setoran jaminan impor disajikan di neraca sebesar jumlah setoran jaminan. Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di neraca sebesar nilai wajar dikurangi amortisasi kumulatif pendapatan/beban yang dapat diatribusikan. Penyajian tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya mengacu kepada penyajian transaksi ekspor.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 307

Nostro/Giro BI/Rekening antar cabang Saat terima pembayaran Negotiating bank/ Kr./Giro BI Kr.. Transaksi Ekspor a./Giro BI Pembebanan komisi negosiasi... Pendapatan bunga – sight LC/SKBDN Bila sight LC/SKBDN sudah Db..Bab VII I E k s p o r Impor E. Kredit yang diberikan jatuh tempo dan melebihi 14 Negotiating bank/ Kr. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada bank koresponden Kr.Pembayaran kepada eksportir setelah terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank – on collection Keterangan Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db./Giro BI Kr. Antar Cabang imbursing/issuing bank dan Negotiating bank Kr. Pendapatan administrasi 4 Saat negosiasi dokumen Negotiating bank 5 6 Db. kiriman dokumen dan biaya telex (bila ada) Db. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada dari issuing bank claiming bank*) bank koresponden Bila issuing bank terlambat Negotiating bank/ Db... Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Db. Kas/rekening.. Kas/rekening. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Negotiating bank Tidak ada penjurnalan Terima pembayaran dari reDb. Tagihan lainnya-sight LC/SKBDN kepada hari./Giro BI Kr.../Giro BI pembayaran kepada eksportir/ Kr...... Kas/rekening. Pendapatan administrasi beneficiary b./Giro BI/Nostro bayar claiming bank Kr. No 1 2 3 4 Sight atau LC/SKBDN . Kas/rekening. Nostro/Giro BI/Rek... Kas/rekening. dimana issuing bank claiming bank bank koresponden belum membayar 7 *) Negotiating bank dapat bertindak sebagai claiming bank bila dipersyaratkan dalam LC/ SKBDN untuk melakukan klaim kepada reimbursing bank 308 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Ilustrasi Jurnal 1. Kas/rekening... No 1 2 3 Negosiasi Sight LC/SKBDN Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank Negotiating bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db.

... Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Db.. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Amortisasi: Db. Kas/rekening. Pendapatan fee yang diamortisasi No 1 2 3 4 Saat terima LC/SKBDN Advising bank Provisi advising Pengiriman dokumen Saat terima akseptasi Advising bank Negotiating bank Negotiating bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 309 . Kas/rekening. Pendapatan fee Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db.. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Tidak ada penjurnalan Db.Bab VII I E k s p o r Impor c../Giro BI Kr.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr../Giro BI Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Pembebanan biaya yang diakui langsung: Db./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr..

Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr... Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor: Db... 1 s/d 4.wesel ekspor: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga ..wesel ekspor Kr. Surat berharga ./Giro BI (diakui sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurang diskonto) Mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – wesel eskpor Db/Kr. Kas/rekening.wesel ekspor usance Penjualan surat berharga .wesel ekspor usance Kr Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No 5 Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian a. biaya telex) Penyesuaian dengan harga pasar: Harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Surat berharga .. Surat berharga ./Giro BI Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .wesel ekspor usance Kr. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) dan sudah terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Trading) Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/discounting bank *) Setelah jurnal no. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Kas/rekening. bank melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Pendapatan adm. (komisi negosiasi.wesel ekspor usance 310 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kiriman dokumen.

. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. 1 s/d 4. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 311 .wesel ekspor usance Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr./Giro BI Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/ reimbursing bank): Db. Kiriman dokumen. Surat berharga . biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db..Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian 2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no..wesel ekspor usance Kr. Kas/rekening../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) Melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.wesel ekspor usance Kr.. Kas/rekening. Surat berharga . bank membukukan surat Discounting bank berharga wesel ekspor: Db. Surat berharga . Pendapatan adm (komisi negosiasi. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr..

biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db.ekuitas Db/Kr.ekuitas Kr.. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Saat mendiskonto dokumen Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Negotiating bank/ Setelah jurnal no. bank menjurnal balik Discounting bank tagihan dan kewajiban akseptasi Db.wesel ekspor Kr. Surat berharga ./Giro BI Kr.wesel ekspor usance Penjualan surat berharga . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr.wesel ekspor usance Kr. Surat berharga .. Kiriman dokumen.wesel ekspor usance Kr Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db.wesel ekspor usance 312 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .wesel ekspor: Db. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Kas/rekening.. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db. Surat berharga . Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .. Surat berharga . Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Surat berharga . Peningkatan (penurunan) nilai wajar ./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .. 1 s/d 4.wesel ekspor usance Kr..

./Giro BI b. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Setelah jurnal no. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary saat jatuh tempo .. Kas/rekening./Giro BI Kr. Kas/rekening. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. 1 s/d 4. biaya telex) Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi.. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Kiriman dokumen..on collection Saat jatuh tempo Negotiating bank/ (terima pembayaran claiming bank dari reimbursing/issuing bank) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 313 ...

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

c. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) tetapi belum terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (trading) Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3 diatas, bank membukukan diskonto wesel ekspor yang belum diakseptasi: discounting Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor bank*) belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Saat bank menerima akseptasi: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Jika harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Db/Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance *) Negotiating bank disebut juga discounting bank bila melakukan diskonto atas wesel ekspor.

314 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang diberikan dan Piutang Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3, bank membukukan Discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi: Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex) Terima akseptasi Bank menerima akseptasi atas wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 315

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Mendiskonto dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

N e g o t i a t i n g / Setelah jurnal no. 1 s/d 3 di atas, bank membukukan discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex)

Terima akseptasi

Bank menerima akseptasi wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar - ekuitas Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db./Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor - ekuitas Db./Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance

316 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Transaksi Impor a.
No 1

LC/SKBDN Atas Unjuk (Sight LC/SKBDN)
Keterangan Issue LC/SKBDN Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/Cabang Komisi endors LC/SKBDN dan SSG: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Melakukan jurnal balik komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekeninglawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

2 3 4

Provisi pembukaan LC/ SKBDN Terima setoran jaminan impor Terima pembayaran dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN)

Issuing bank Issuing bank Issuing bank

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 317

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden a. Terima dokumen impor, rekening issuing belum didebet dan applicant belum melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight)

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, Melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Pengakuan tagihan dan kewajiban Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Pembayaran kepada bank koresponden/ cabang: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

318 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan b. Terima dokumen impor, rekening Nostro sudah didebet dan applicant belum melakukan pelunasan Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, menjurnal balik kewajiban komitmen (off balance sheet) : Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Pelunasan oleh applicant: Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

c. Terima dokumen impor ex-endors B/L, importir/ applicant sudah melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen Issuing bank Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 319

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan d. Jika importir/applicant mengambil barang dengan menggunakan SSG (shipping guarantee) Penerbitan shipping guarantee

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat penerbitan SSG: Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG: Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rek. lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Penyelesaian SSG pada umumnya dilakukan 14 hari setelah jatuh tempo atau SSG dikembalikan.

Penerimaan dokumen

Issuing bank

320 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

./Giro BI Kr.kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. berjangka kepada bank koresponden Rek. Rek.. Kas/rekening..kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Bila pengambilan barang disertai SSG.kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden Penerimaan dokumen Issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Setoran jaminan impor No Keterangan 1 Bank menerbitkan LC/ SKBDN 2 Bank mengakui provisi pembukaan LC/SKBDN Bank menerima setoran jaminan impor Issuing bank 3 Issuing bank 4 Issuing bank Terima promes dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr. LC/SKBDN Berjangka (Usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (Deferred payment): Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Db.. Kas/rekening.kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 321 . Rekening lawan . lawan .. lawan . berjangka kepada bank koresponden Rek. lawan .. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr.Bab VII I E k s p o r Impor b. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Db. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db./Giro BI Kr. maka off balance sheet SSG juga dibalik Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr.

. Pendapatan fee Db. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Saat akseptasi Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Accepting bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.... Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db./Giro BI Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Mengakui amortisasi: Db.. Kas/rekening. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening. Pendapatan fee yang diamortisasi 322 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ... Kas/rekening./Giro BI Kr.. Tagihan akseptasi kepada applicant Db./Giro BI Kr. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan a. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db.

issuing bank Kr.negotiating bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db. antar cabang Kr.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Bila issuing bank bukan accepting bank Status Bank Accepting bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Pendapatan fee yang diamortisasi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 323 .accepting bank Mengakui amortisasi Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Giro BI/nostro/Rek.issuing bank Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ... Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan b.. antar cabang Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ../Giro BI Kr. Kas/rekening./Giro BI Kr. Giro BI/nostro/Rek.negotiating bank Mengakui amortisasi Db.issuing bank Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Pendapatan fee yang diamortisasi Issuing bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya Db.accepting bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db.. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .

Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 6 Saat jatuh tempo (pelunasan oleh applicant dan pembayaran kepada bank koresponden) a. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .. Bila issuing bank bukan accepting bank Accepting bank Menerima pembayaran dari issuing bank Db.. Giro BI/nostro (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant Db.issuing bank Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db../Giro BI Kr.negotiating bank Kr. Giro BI/nostro (issuing bank) Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .accepting bank Kr. antar cabang b. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden (accepting bank): Db. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank): Db.. Kas/rekening. Giro BI/nostro/Rek.. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Issuing bank Pelunasan oleh applicant: Db./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Setoran jaminan impor Db.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (accepting bank) Accepting bank Issuing bank Issuing bank 324 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

reimbursing bank Kr. Bila pelunasan LC/SKBDN melalui reimbursing bank Status Bank Reimbursing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Melakukan pembayaran kepada negotiating bank Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan c. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ./Giro BI Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (reimbursing bank) Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 325 . Kas/rekening... Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (reimbursing bank) Db. Setoran jaminan impor Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (issuing bank) Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant: Db..

c. dengan rincian berikut: a. jika bank tetap mengakui seluruh bagian tagihan LC/SKBDN Total nilai tercatat tagihan LC/SKBDN awal yang dialihkan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. yaitu: a. d. d. 4. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan LC/SKBDN (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan atau kewajiban LC/SKBDN) dan agunan. Pengalihan tagihan LC/SKBDN yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh LC/SKBDN. b. 5. c. c. b. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b.Bab VII I E k s p o r Impor F. Perubahan nilai wajar tagihan LC/SKBDN yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Jumlah tagihan LC/SKBDN yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). nilai tercatat tagihan Akuntansi Perbankan Indonesia 326 I P e d o m a n . Jenis LC/SKBDN. 2. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan atau kewajiban LC/SKBDN. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN dan kewajiban terkait. Tersedia untuk Dijual. b. 6. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan atau kewajiban LC/SKBDN dalam penyusunan laporan keuangan. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan LC/SKBDN yang masih tetap berada di bank. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). 3. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian.

Bab VII I E k s p o r

Impor

LC/SKBDN yang tetap diakui bank, dan nilai tercatat kewajiban terkait, jika bank tetap mengakui sebagian tagihan LC/SKBDN sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 7. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas LC/SKBDN sebagaimana pada angka 8 sampai 9 dibawah.

Pengungkapan kualitatif 8. Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan LC/SKBDN dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

Pengungkapan kuantitatif 9. Analisis terhadap tagihan LC/SKBDN berdasarkan klasifikasi yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya berdasarkan industri, geografis). Analisis tersebut mencakup: a. b. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan LC/SKBDN pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya; Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan LC/SKBDN sebagaimana pada butir a diatas. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan, dan credit derivative); 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya; 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan, dan pihak penjual proteksi LC/SKBDN dalam transaksi credit derivative); dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya; c. Informasi mengenai kualitas tagihan LC/SKBDN di luar yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan LC/SKBDN, baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 327

Bab VII I E k s p o r

Impor

a)

Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit, maka pengungkapan mencakup: i Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat; ii Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat; iii Jumlah ekposur tagihan LC/SKBDN yang diperingkat dan yang tidak diperingkat; iv Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan LC/SKBDN , maka pengungkapan mencakup: i Proses pemeringkatan internal beserta asumsi-asumsi yang digunakan dalam penerapan pemeringkat interna. ii Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat internal; iii Penjelasan struktur peringkat internal serta hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 2) Tipe/jenis debitur; 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate); 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan LC/SKBDN ; dan d. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/ atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi.

10. Jumlah tagihan LC/SKBDN berdasarkan segmentasi, antara lain sektor ekonomi dan geografi, berdasarkan jangka waktu, mata uang, dan tingkat bunga tagihan LC/SKBDN yang dihitung secara rata-rata. 11. Jumlah tagihan LC/SKBDN kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 12. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai.

328 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

G. Ketentuan Lain-lain
1. 2. Ketentuan UCP yang berlaku. Bank tetap menilai kualitas tagihan sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank.

H. Contoh kasus
Impor 1. LC atas unjuk (Sight) - Pengambilan barang dengan Shipping Guarantee (SSG) PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut, pada tanggal 2 Februari 2012 PT Maju membuka LC sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10 %. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 14 Pebruari 2012 barang sudah tiba di pelabuhan dan importir menebus barang dengan meminta bank membuat SSG. PIB (bea masuk,PPN &PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000,00. Biaya/komisi penerbitan SSG Rp. 200.000 dan komisi PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 18 Februari 2012 dokumen asli diterima oleh Bank XYZ dan penyelesain kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden 2) Mengakui pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Mengakui penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 329

Bab VII I E k s p o r

Impor

b.

Tanggal 14 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari importir Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang USD USD USD 1.000 9.000 10.000 200.000 200.000

2) Mengakui pendapatan komisi dari mengendors LC/SKBDN dan SSG Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Rp

3) Menerima setoran pajak impor (apabila nasabah membayar melalui bank) Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp 20.050.000 Kr. Kewajiban pajak impor Rp 20.000.000 Kr. Pendapatan komisi PIB Rp 50.000 3) Melakukan jurnal balik pembukuan komitmen Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden 4) Menerbitkan SSG Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi c. Tanggal 18 Februari 2012 1) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank korensponden/cabang Kr. Giro BI /nostro/rekening antar cabang 2) Melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rekening lawan - kewajiban kontijensi SSG berjangka kepada perusahaan ekspedisi

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

330 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

LC berjangka (usance/deferred) - Pengambilan barang dengan dokumen asli (setelah dokumen tiba): PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut pada tanggal 02 Pebruari 2012 PT Maju membuka LC berjangka (usance) sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10%. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 18 Februari 2012, Bank XYZ menerima dokumen dari negotiating bank. Importir menebus barang dengan akseptasi promes/wesel, biaya atas PIB (bea masuk, PPN & PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000. Komisi akseptasi yang diterima sebesar USD25 dan PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 2 April 2012, LC jatuh tempo dan dilakukan penyelesaian kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Berjangka kepada bank koresponden 2) Pencatatan pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Pencatatan penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor b. Tanggal 18 Februari 2012 1) Penerimaan setoran pajak impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB Rp Rp Rp 20.050.000 20.000.000 50.000

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 331

Bab VII I E k s p o r

Impor

2) Melakukan jurnal balik atas komitmen (off balance sheet) Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD

10.000 10.000

3) Pengakuan tagihan akseptasi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 10.000 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Pembebanan biaya diakui langsung Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan fee

USD USD

25 25

Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 9.975 Db. Kas/rekening..../Giro BI 25 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Amortisasi atas biaya/pendapatan yang diatribusikan secara langsung Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 0,55 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi USD 0,55 Amortisasi dilakukan sampai dengan jatuh tempo/pembayaran dari importir menggunakan suku bunga efektif; penggunaan metode garis lurus diperbolehkan sesuai ketentuan.

332 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

c.

Tanggal 2 April 2012 1) Pelunasan oleh applicant saat jatuh tempo Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD USD USD 1.000.00 9.000.00 9.999.44 0,56

2) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Kewajiban akseptasi kepada bank korespondennegotiating bank USD Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD

10.000 10.000

Tabel 1: Amortisasi Biaya Transaksi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor impor di Bank XYZ adalah USD 20 (= IDR 200.000).
No. Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Estimasi arus kas C (9,975) Saldo awal AngsurSuku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok D 9.975,00 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.979,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 E = D x EIR 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 F G=pxi H=E–G 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 Saldo akhir Tagihan Akseptasi I=D+E+F+G 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.978,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 9.984,99

Tanggal B 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 333

56 9.991.56 0.56 0.44 0.56 9.56 0.21 9.77 0.56 9.994.998.986.992.988.990.56 0.986.66 0.78 9.999.991.77 0.99 9.992.44 0.11 9.991.56 9.56 9.56 9.94 0.99 0.66 0.56 9.56 9.987.56 0.99 0.987.56 0 Suku Bunga Efektif Awal 0.22 0.10 9.56 9.56 0.989.56 0.56 0.55 9.998.56 9.56 0.56 9.33 9.66 0.000) 0.77 9.10 9.56 9.56 0.33 9.996.10 0.996.997.99 9.56 0.987.10 0.996.22 9.989.997.56 0.992.985.994.56 0.56 9.56 9.56 9.56 0.56 9.000 Saldo awal AngsurSaldo akhir Suku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an Tagihan efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok Akseptasi D E = D x EIR F G=pxi H=E–G I=D+E+F+G 9.66 9.22 0.988.995.998.999.006% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 334 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .997.78 0.993.55 0.993.22 9.997.56 0.55 9.77 9.89 0.89 9.987.56 9.986.56 9.986.989.56 0.33 0.996.56 9.44 9.56 9.56 9.993.33 0.56 0.66 9.995.56 9.984.56 9.990.988.88 9.56 0.56 0.99 0.56 0.44 9.55 0.88 0.44 9.Bab VII I E k s p o r Impor No.991.55 0.55 9.33 0.56 9.998. Trx A 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Tanggal B 07-Mar-12 09-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 Estimasi arus kas C 10.988.88 0.994.994.11 0.992.56 0.66 9.56 0.56 0.985.33 9.56 9.21 0.88 9.56 0.989.56 0.56 0.56 9.993.56 (10.

. Setelah dokumen diperiksa.. Jurnal transaksi a. Nostro/Giro BI/Rek.000 100.Bab VII I E k s p o r Impor Ekspor 1.50 2. Dokumen diperiksa oleh Bank XYZ dan dokumen dikirim ke issuing bank.a. Bank XYZ menerima pembayaran dari issuing bank pada tanggal 19 Februari 2012. Pada tanggal 11 Februari 2012 PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. Biaya pengiriman dokumen USD25.000) = USD 37..125% x USD 10. PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 335 . kiriman dokumen./Giro BI USD 9. PT Aneka (eksportir). Tanggal 16 Februari 2012 PT Aneka mendiskontokan tagihannya kepada Bank XYZ.. komisi negosiasi 0.000 b. Kas/rekening. Pada tanggal 07 Februari 2012.25%.000. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi. Pada tanggal 15 Februari 2012 Bank XYZ menerima akseptasi dari issuing bank. Kas/rekening. PT Aneka (eksportir) menerima LC dengan pembayaran dilakukan 2 bulan setelah tanggal pengapalan barang sebesar USD 10. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 10 Februari 2012. LC atas unjuk (sight) Pada tanggal 2 Februari 2012.50 Kr. biaya telex) USD 37. Antar Cabang USD 100. Pada tanggal 6 April 2012 bank XYZ menerima pembayaran dari issuing./Giro BI Kr. Komisi advising LC Rp100.000.50 Perhitungan: USD 25 + (0. Tanggal 11 Februari 2012 Menerima pendapatan provisi advising Db. komisi/ biaya administrasi 0.000. Atas pendiskontoan tersebut Bank XYZ membebankan bunga/diskonto 4% p.00.. bank XYZ membebankan biaya advising LC Rp100.962. LC berjangka (usance) yang dinegosiasi/didiskonto Pada tanggal 2 Februari 2012. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 6 Februari 2012. menerima LC sebesar USD10. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD 100. Biaya pengiriman dokumen sebesar USD25.125%.000 Kr.000. Tanggal 19 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari reimbursing/issuing bank dan pembayaran kepada eksportir/beneficiary Db.

000 100. Pada tanggal 5 Maret 2012 wesel ekspor tersebut dijual kepada bank ABC dengan diskonto 2% (dalam hal ini diasumsikan menggunakan rumus true discount) untuk kondisi 1 dan 4.000 2) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tanggal 15 Februari 2012 Menerima akspetasi dari accepting bank Db.000 b. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.wesel ekspor usance USD 10. Tanggal 16 Februari 2012 1) Mendiskonto dokumen dengan menjurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.000)/{360 + (4% x 50)} = 9. Jurnal transaksi a.... Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10.000 (dibukukan sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10./Giro BI USD 10.60 336 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/rekening.000 Kr.Bab VII I E k s p o r Impor Asumsi untuk wesel ekspor dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi dan Tersedia untuk Dijual.944.000 Pengukuran Wesel Ekspor 1.000 10.000 Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Rp Rp 100.. Surat berharga .. Kas/rekening. USD USD 10. Tanggal 7 Februari 2012 Menerima provisi advising Db.

53 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 13.60 = 41.9. Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan wesel ekspor Db. Surat berharga .9.60 = 37.51 MTM = 9.000) = USD50 4) Penyesuaian harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 97 (diskonto 3%) Db.53 9. Tanggal 4 Maret 2012 Penyesuaian dengan harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 98. Kas/rekening.958. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 41.65 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10..986.986.65 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 337 .944. Pendapatan administrasi USD 50 Perhitungan: USD25 + (0.986.944.wesel ekspor usance USD 41.wesel ekspor usance Kr.91 b.wesel ekspor USD USD USD USD 9.wesel ekspor usance USD 13.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.25 41. Db.5% x 33)}= 9.982.982.91 Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10.9.51 .982. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr.50.000)/{360 + (3% x 50)} = 9.91 Kr../Giro BI USD 50 Kr.13 .60 = 13. Surat berharga . Surat berharga . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db.000)/{360 + (1.958.53 c.53 Kr.25 MTM = 9.13 MTM = 9..944.13 37.Bab VII I E k s p o r Impor 3) Mengakui biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung Db.25 . Keuntungan penjualan surat berharga .25% x USD10.

08 Kr.wesel ekspor usance USD 998.000)/{360 + (4% x 50)} = 9.000 Kr.944. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD 10. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.60 2) Melakukan amortisasi Db.60 9.40 3) Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank) Db.000 – 9.. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD Kr. Tersedia untuk Dijual a. Tanggal 5 Maret 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.944. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) USD 1. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD Kr.000 0 338 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 10. Kas/rekening. Tanggal 16 Februari 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.wesel ekspor usance USD Kr. Surat berharga ./Giro BI USD 9.91 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 10.. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10.000 Kr. Surat berharga . Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.60 = 55. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.09 Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10. 3.944.944.. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 0 Lihat tabel amortisasi di halaman selanjutnya 4.000 Kr.60 Diskonto = 10.wesel ekspor usance USD 1.Bab VII I E k s p o r Impor 2. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang a. Surat berharga .

40 Catatan: Dalam soal ini.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.958. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10.000 – 9.wesel ekspor usance USD 9.Bab VII I E k s p o r Impor 2) Mengakui surat berharga wesel ekspor Db.944.25% x USD 10.. Kas/rekening. Surat berharga . Surat berharga . Kas/rekening.9.wesel ekspor usance Kr.wesel ekspor usance USD 1.. Kiriman dokumen. 5) Penyesuaian dengan harga pasar: Db..944./Giro BI USD 9. biaya telex) Perhitungan: USD 25 + (0./Giro BI Kr. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi.945. Surat berharga .83 12.000)/{360 + (3% x 50)}= 9...51 MTM = 9.945 Dibukukan sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) 3) Mengakui biaya/pendapatan secara diakui langsung: Db. amortisasi dilakukan tiap hari.945 Kr.000)/{360 + (4% x 50)} = 9.60 Diskonto = 10.60 = 55.08 Kr.83 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 339 .958.68 = 12..51 .83 USD USD 12. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.000) = USD 50 USD USD 50 50 4) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db.

01 Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan surat berharga .wesel ekspor USD Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10.12 = 22.01 9. Tanggal 4 Maret 2012 Melakukan penyesuaian dengan harga pasar (misalkan harga pasar wesel ekspor adalah 98.Bab VII I E k s p o r Impor b.982. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD Db.65 Informasi untuk perhitungan amortisasi diskonto wesel ekspor sebagai berikut: Nilai nominal : USD10.966.ekuitas USD Kr. Surat berharga .9.65 c.5% x 33)} = 9.wesel ekspor usance USD 22.13 . Surat berharga . Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .50) Db.5% (lihat Tabel 2) 340 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000)/{360 + (2% x 32)} = 9.01 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.982.000 dengan tingkat diskonto 4% Tanggal terbit : 16 Februari 2012 Tanggal jatuh tempo : 6 April 2012 Tanggal rediskonto : 5 Maret 2012 dengan tingkat diskonto 2% Harga pasar tanggal 16 Februari 2012 : 3% Harga pasar tanggal 4 Maret 2012 : 1.944.9.61 37.986. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas USD 22.964.982.60 = 37.wesel ekspor usance USD Kr.25 Laba(rugi) = 9. 9.wesel ekspor Db.13 MTM = 9.25 .01 Kr.25 22.000)/{360 + (1. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .986.

08 9.12 9.Bab VII I E k s p o r Impor Tabel 2: Amortisasi Diskonto No.960.08 9.09 1.09 1.09 1.958.41 9.09 9.948.09 9.947.09 9.09 1.09 9.948.09 9.980.69 9.08 9.09 9.09 1.09 1.24 9.09 1.08 1.950.952.95 9.980.957.08 1.957.69 1.78 9.60) 17-Feb-12 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12 07-Mar-12 08-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 - G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.85 1.977.953.10 9.08 9.46 1.944.08 9.09 1.12 1.968.961. Trx.08 9.08 9.59 1.09 9.971.944.09 1.966.979.09 9.09 1.08 9.86 1.08 1.978.955.41 1.08 1.972.46 9.08 1.956.09 9.974.27 1.09 9.44 9.20 1.981.09 1.02 1.971.03 1.09 1.09 9.964.09 9.967.29 9.27 9.09 9.972.08 1.38 1.08 1.36 9.19 1.89 9.963.20 9.50 1.951.72 9.970.08 9.08 9.976.979.964.61 9.947.09 1.33 1.06 9.03 9.44 1.68 9.963.68 1.08 1.81 9.08 1.973.08 1.06 1.946.55 9.952.970.09 F Tagihan bunga Amortisasi dengan EIR Saldo akhir Wesel Ekspor B C 16-Feb-12 (9.954.09 9.08 1.19 9.86 9.976.969.959.950.85 9.60 9.94 9.961.52 9.09 1.973.95 1.78 1.59 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Tanggal Estimasi arus kas Saldo awal Wesel Ekspor D 9.967.09 9.09 9.08 9.77 1.982.94 1.09 9.968.72 1.966.29 1.960.98 1.89 1.945.09 9.977.08 9.08 1.946.08 1.08 9.77 9.09 1.24 1.08 9.953.10 1.959.67 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 341 .978.09 1.09 1.15 9.965.15 1.982.945.956.50 9.63 1.61 1.974.36 1.38 9.09 1.55 1.08 1.02 9.52 1.954.08 1.983.958.969.951.965.81 1.09 9.09 1.09 9.98 9.955.08 9.33 9.09 1.09 9.981.63 9.

A 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Tanggal Estimasi arus kas B C 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 03-Apr-12 04-Apr-12 05-Apr-12 06-Apr-12 10.00 Saldo awal Wesel Ekspor D 9.984.986.09 1.09 1.984.09 1.989.09 9.09 1.85 1.09 9.85 9.998. Trx.00 Tagihan bunga Suku Bunga Efektif Awal (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 342 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .995.09 1.995.09 9.993.994.09 1.996.76 1.82 1.09 9.09 9.997.983.20 1.986.990.000.09 F (10.985.09 1.989.94 1.64 1.03 9.76 9.38 1.09 9.29 1.09 9.09 9.000.11 1.91 1.Bab VII I E k s p o r Impor No.988.09 1.56 1.91 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.992.09 1.03 1.09 1.09 1.56 9.47 1.992.991.09 9.996.09 9.73 1.67 9.38 9.73 9.993.09 1.00) Amortisasi Saldo akhir dengan Wesel Ekspor EIR G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.29 9.09 1.09 9.09 9.82 9.64 9.997.11 9.09 0.985.991.94 9.09 9.998.09 1.988.47 9.990.994.09 9.20 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful