Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (Revisi 2008

)

TIM PERUMUS PAPI DESEMBER 2008

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Hak cipta @ 2008, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam ayat (1), dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Cetakan Revisi Desember 2008

Pedoman akuntansi perbankan Indonesia/disusun oleh tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. -- Jakarta: Bank Indonesia, 2008 349 hlm; 3 cm Diterbitkan atas kerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ISBN: 978 - 979 - 9020 - 31 - 4

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

—— Tanggapan dan masukan tertulis atas ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pedoman Akuntansi Indonesia Revisi 2008 dapat disampaikan ke Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia. Up. Tim Pembinaan dan Pengawasan. Nomor fax. (021) 231 1672.

ii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

GUBERNUR BANK INDONESIA

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya menyambut gembira atas selesainya Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) revisi 2008, yang merupakan petunjuk lebih teknis dari standar akuntansi keuangan yang terkait dengan perbankan. Sebagai badan usaha yang memiliki tanggung jawab publik, perbankan dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang berkualitas tinggi sehingga dapat memberikan informasi yang akurat dan komprehensif bagi seluruh pihak yang berkepentingan dan mencerminkan kinerja bank secara utuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar dan pedoman akuntansi yang berlaku perlu terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan transaksi dan produk keuangan dewasa ini serta harmonisasi dengan standar akuntansi internasional. Sebagaimana telah diketahui, Ikatan Akuntan Indonesia pada akhir Desember 2006 telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 (Revisi 2006) tentang Pengakuan dan Pengukuran Instrumen Keuangan dan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Penyajian dan Pengungkapan Instrumen Keuangan, serta beberapa standar akuntansi lain sebagai bagian dari proses konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Dengan penyempurnaan standar akuntansi dimaksud, maka PAPI sebagai petunjuk yang sifatnya lebih teknis juga perlu disempurnakan dengan menambahkan penjelasan dan contohcontoh perhitungan yang diharapkan dapat mempermudah pemahaman terhadap PSAK yang berlaku, khususnya PSAK 55 (Revisi 2006) dan PSAK 50 (Revisi 2006) yang disadari merupakan standar akuntansi yang cukup kompleks karena berupaya mengakomodasi kebutuhan pengaturan instrumen keuangan yang berkembang demikian pesat. Dengan berbagai penyempurnaan tersebut, baik dari sisi PSAK maupun PAPI, diharapkan kelengkapan, kewajaran, keakuratan, dan kejelasan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bank dapat ditingkatkan, sehingga informasi tersebut lebih dipahami dan dipercaya
iii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

oleh masyarakat. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap informasi-informasi yang disampaikan oleh bank-bank pada gilirannya dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional secara keseluruhan. Akhir kata pada kesempatan ini saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia, Tim Penyempurnaan PAPI, narasumber, praktisi perbankan, dan seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi dan masukan untuk penyempurnaan PAPI (Revisi 2008). Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008 GUBERNUR BANK INDONESIA,

BOEDIONO

iv

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia
Kegiatan usaha perbankan di Indonesia mengalami perkembangan yang semakin komplek dan pesat. Dinamisasi perkembangan tersebut berjalan seiring dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti perubahan regulasi, perkembangan teknologi, perkembangan produk dan tuntutan pelanggan. Perkembangan kegiatan usaha tersebut agar dapat berjalan dengan baik memerlukan berbagai infrastruktur pendukung yang memadai. Salah satu bentuk infrastruktur yang diperlukan adalah ketentuan-ketentuan yang terkait dengan akuntansi. Akuntansi dipandang sebagai salah satu infrastruktur yang penting karena melalui proses akuntansi inilah seluruh kegiatan, khususnya yang bersifat kuantitatif, akan didokumentasikan. Selanjutnya, melalui proses akuntansi ini, juga akan dihasilkan suatu laporan keuangan yang sangat berguna sebagai dasar untuk pengambilan keputusan para stakeholder perbankan. Laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan usaha harus memiliki kualitas yang baik. Suatu laporan keuangan dikatakan berkualitas jika memenuhi syarat karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari andal, relevan, dapat diperbandingkan (comparability), dan dapat dipahami (understandability). Untuk mencapai kualitas tersebut, suatu laporan keuangan harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU). Pondasi utama dari PABU di Indonesia adalah kerangka dasar (conceptual framework), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasinya. Sejalan dengan hal tersebut di atas dan terkait dengan penerapan revisi PSAK 50 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, maka menjadi sangat penting untuk revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Revisi PAPI ini juga diperlukan untuk memutakhirkan ketentuan dan peraturan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pedoman ini diharapkan sangat membantu bagi para pelaksana perbankan dalam mencatat transaksi perbankan sesuai dengan PSAK dan ketentuan perbankan terkini. Sehingga hal ini dapat lebih meningkatkan kredibilitas dan transparansi dunia perbankan.

v

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Akhirnya pada kesempatan ini kami Dewan Pengurus Nasional IAI mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan Bank Indonesia, khususnya Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, atas jerih payah dan kerja samanya dalam merevisi buku Pedoman Akuntansi ini. Semoga kerja sama ini dapat terus ditingkatkan lagi di masa mendatang.

Jakarta, Desember 2008 Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia

AHMADI HADIBROTO Ketua

vi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Pesatnya perkembangan industri perbankan, kompleksitas transaksi yang terjadi di dalamnya, dan besarnya tuntutan masyarakat akan transparansi bank, memicu perbankan untuk meningkatkan kemampuannya dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat. Demikian juga pada sisi pengaturan diperlukan adanya peraturan yang relevan dan dapat diimplementasikan dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan perkembangan terkini standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia terutama PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (revisi 2006): Pengakuan dan Pengukuran, maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ini perlu disempurnakan dengan standar terkini dan berbagai regulasi di sektor perbankan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Selanjutnya untuk menyempurnakan PAPI tersebut Bank Indonesia telah membentuk Tim Penyempurnaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Proses penyempurnaan PAPI dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan. Pertama, penelaahan atas PAPI tahun 2001 untuk mengidentifikasi ketentuan-ketentuan yang sudah tidak relevan. Kedua, penyusunan sistematika dan substansi isi PAPI tahun 2008. Ketiga, pengumpulan materi untuk penyempurnaan PAPI. Keempat, pembentukan tim kecil untuk merumuskan dan menelaah permasalahan tertentu. Kelima, perumusan draf PAPI tahun 2008. Keenam, Penyelenggaraan limited hearing untuk menampung masukan dari kalangan terbatas yang dianggap sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan akuntansi dalam bank. Ketujuh, menyempurnakan draft final PAPI. Dan kedelapan, menyerahkan PAPI kepada Bank Indonesia untuk disahkan pemberlakuannya. PAPI revisi tahun 2008 ini akan diterbitkan dalam 2 bagian, dimana bagian pertama (buku ini) diterbitkan terlebih dahulu yang didalamnya mengatur mengenai perlakuan dan pencatatan atas Surat berharga, Kredit, Penurunan nilai, Transaksi derivatif dan transaksi ekspor impor, sedangkan perlakuan dan pencatatan atas Ekuitas, Aset tetap, Laporan pendapatan dan beban, Laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, Catatan atas laporan keuangan dan Ilustrasi laporan keuangan akan disajikan dalam terbitan selanjutnya. Jakarta, Desember 2008 Tim Penyempurnaan PAPI

vii

Siti Ch. Herdiana Achdan 15. Bank Niaga Citibank PT. Bank Rakyat Indonesia PT. Lestari Shitadewi 2. Bank Mandiri PT. Eko Bramantyo 20. Adri Triwicahyo TIM TEKNIS 1. Teguh Supangkat 3. Fathor Rachman 12. M. Hari Sundjojo 18. Nurwidodo Pristwanto Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia PT. Rouli Erlyana A 16. Jusuf Wibisana B. SWD Murniastuti 5. M. Ahdi Jumhari Luddin 7. TIM PENGARAH 1. Bintoro Nurcahyo 17. G. Lestari Shitadewi 5. Bank Mandiri PT. Faisal Muttaqien Issom 10. Hadad 3. Bahrudin 8. Indira 4. Halim Alamsyah 4. Wisnu Kameswara A 13. Bank Negara Indonesia PT. Benny Hilman 21. Khairani Syafitri 7. Fadjrijah 2. Mustofa 8. Yakub 4.A. Darmawan 19. Sri Yanita Dewi Irmawan 6. I Gde Made Sadguna 6. Muliaman D. Jacobie Henry W 14. Rabobank International Indonesia C. Bank Central Asia PT.Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia A. TIM PERUMUS 1. Sri Yanto 11. Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia viii . Teddie Pramono 9. Bank Rakyat Indonesia PT. Agus Edy Siregar 2. Khairani Syafitri 3.

............................................ D........................... 14...................................................... Bangun Prinsip Akuntansi Umum ........ 13.... Bab I Pendahuluan ............. Konsistensi penyajian............... Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ..................................... 1....... Ketentuan Lain-lain ...... 2......................................................................................................................................................................... 12.............................. A................. 8................................ 7................................................. A........................................................................... 9...................... Saling hapus (Offse ng) ...... ix iv v vii viii 1 1 1 1 3 3 3 4 5 5 5 5 5 5 5 6 6 8 8 8 9 9 9 9 10 12 12 Bab II .... Latar Belakang..................... Keterbatasan Laporan Keuangan ....... Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . Laporan keuangan interim ....................................................................... Laporan keuangan konsolidasi ....................................................................................... Tanggung jawab atas laporan keuangan ..........................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Daftar Isi Sambutan Gubernur Bank Indonesia .............. 3...................................................................... Penyajian ................... Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia ....................................................... Tujuan laporan keuangan ... Informasi komparatif ............................................................................................................................................................................................... 1.................. Bahasa laporan keuangan ............................................... Periode pelaporan ............ Komponen Laporan Keuangan ... 11....................................................... 10........................ D..................................................................... Materialitas dan agregasi........................................................................................................................................... Ruang Lingkup ............................. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing ........ 4................................................................................................... Mata uang pelaporan .. Kerangka Dasar ............................................................................ 5.................. Tujuan dan Ruang Lingkup .......................................... B..................... Tujuan .................................. 2........................................................................................ B.................. C................................. Acuan Penyusunan ..................................................................... Kebijakan akuntansi .................................................................................................................... 6..................... Komponen laporan keuangan ...................... C............................. Laporan Keuangan............................................................................ E........................................

........................... Contoh kasus ........................................................................... 3....................................... A..................................................................................................................................................................... Ketentuan Lain-lain .............. Dasar Pengaturan ............ F............... A........................................................ C.................................................................................................................................................................................................................... B.......... Definisi ................................................................ E...................................................................................................................... Dasar Pengaturan .................................................................... B.......................................... Definisi ..................... Perlakuan Akuntansi ............ Penjelasan............................................... A.................................................................................................................... Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali ................. C.......................... Bab IV Surat Berharga ........................................................................................................... 1....................... Perlakuan Akuntansi ........................................................................................................ F.............. B...... H.............................................................................................................. Ketentuan Transisi ........................................................... A. 15 15 15 26 27 27 29 31 31 31 31 41 45 48 58 61 62 72 72 72 73 74 74 78 78 78 81 83 85 86 88 90 90 90 x ................. Penjelasan........................... 2...... D..... Contoh Kasus .............................................................................. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali .......... Dasar Pengaturan ................................................................ Ilustrasi Jurnal ...... Penerapan Secara Prospektif ........................................................................ D....................................................................................................................... B.............. Ilustrasi jurnal ........................ A................ Dasar Pengaturan .................................................... Surat Berharga ........................ Perlakuan Akuntansi .................................... Laporan Keuangan Komparasi ............................................................... G...... Pengungkapan .........................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab III Penjelasan Umum ... Definisi .... B..................................................................... B...................... G............ C............................................................... Aset Keuangan . Penjelasan........................... Pengungkapan ..................... A..................................... E.. Definisi ..... Kewajiban Keuangan ....... 1...................................................................................................................................... E.................. D.......... 4....... Aset dan Kewajiban Keuangan .................................................................................................................................................. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali ................................. 2..................................... Ilustrasi Jurnal ..

...................................... D......... A......... D.. A Definisi ................................................................. Contoh Kasus ..................................................................................................................................................................... Contoh Kasus ..................................................................................... 2................... Penjelasan .... Penjelasan.......................................... Dasar Pengaturan ................................... B......... B................................................... G........................................... Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit ............................................................................................. C........................................................... G........................................................... C................................................................................................... C..... E Ilustrasi Jurnal .......................................... Pengungkapan ......... F.............. Perlakuan Akuntansi .... D................... Pengungkapan .................................................................. Perlakuan Akuntansi ...................................... F.................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia C................................................................................................. Penjelasan ........................... A...... F....................... E................................................................................ E.................................. Penjelasan........................................................................................................................................................................... Definisi ................ Pengungkapan ................................................. 92 94 95 96 96 98 98 98 105 107 108 112 112 117 117 117 118 124 132 138 149 152 178 178 178 182 201 203 205 206 206 xi ........ D......................................................... Surat Berharga yang Diterbitkan ........................................................................... Perlakuan Akuntansi ...................... Contoh Kasus ............ B.............................................................. 1............................ Ketentuan Lain-lain .................................... G............................. H.............................. G.............................. Contoh kasus......... Bab V Kredit ....................... F...................................... Ilustrasi Jurnal ............................ Definisi ... Ilustrasi Jurnal ................ Dasar Pengaturan ....................................................................................................................... Ilustrasi Jurnal ...................................................................................................................... Perlakuan Akuntansi ........ 5...................................................................................................................................................................... E................................... Pengungkapan ................................ Dasar Pengaturan ............................................................................................................ Pemberian dan Penyaluran ......................................................................................................................

..................................................... B..............................................................................................................................................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab VI Transaksi Derivatif ................................................................................................................................ C.................Impor .............................................. E................................................................................................. Ilustrasi Jurnal ............................. Bab VII Transaksi Ekspor .............................................................................................. F.................................... Definisi ......... Pengungkapan ........................................ Ketentuan Lain-lain ............................................................................................................................................. F.............. Contoh Kasus ............................................................................ Contoh kasus................................................................................... Penjelasan ............... 217 217 218 227 260 270 279 281 289 289 291 297 301 308 323 323 324 xii ......... Dasar Pengaturan.......... H. Definisi .......................... Dasar Pengaturan.................................................................................................................................................................. Ilustrasi Jurnal ........................................... D.......... E......................................................................................... D...... Penjelasan .................................................. A............. G............................................................................... G.................. B..................................... Perlakuan Akuntansi ............ Pengungkapan ...... A.......... Perlakuan Akuntansi ..... C...............................

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiii .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiv .

karena secara umum laporan keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. b) kreditur. e) Bank Indonesia. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I1 . dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. Walaupun demikian. dalam beberapa hal bank perlu menyediakan informasi nonkeuangan yang mempunyai pengaruh keuangan di masa depan. Akan tetapi. Oleh karena itu. Untuk membantu pengguna dalam menyusun laporan keuangan agar sesuai dengan tujuannya. c) pemegang saham. B. andal dan dapat diperbandingkan.Bab I I P e n d a h u l u a n Bab I Pendahuluan A. Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami. kinerja serta perubahan posisi keuangan. Tujuan dan Ruang Lingkup 1. relevan. perlu disadari pula bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bank. Latar Belakang Laporan keuangan bank bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. Selain itu laporan keuangan bank juga bertujuan untuk pengambilan keputusan. Tujuan Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) antara lain adalah: a. d) otoritas pengawasan. yaitu untuk: 1) Pengambilan keputusan investasi dan kredit Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. informasinya harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan antara lain meliputi: a) deposan.

Menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan. dan pembayaran dividen. Deposan. 2 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . 3) Memberikan informasi atas sumber daya ekonomi Pelaporan keuangan bertujuan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi bank (economic resources). Namun keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam PAPI tidak menghalangi masing-masing bank untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan sesuai kondisi masing-masing bank. investor. dan kreditur akan memaksimalkan pengembalian dana yang telah mereka tanamkan dan akan melakukan penyesuaian terhadap risiko yang mereka perkirakan akan terjadi pada bank yang bersangkutan. Persepsi mereka umumnya dipengaruhi oleh harapan atas tingkat pengembalian dan risiko dari dana yang mereka tanamkan. Prospek penerimaan kas sangat tergantung pada kemampuan bank untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Persepsi dari pihak-pihak yang berkepentingan atas kemampuan bank tersebut akan mempengaruhi harga pasar efek bank yang bersangkutan. dan h) masyarakat. g) lembaga penjamin simpanan. c. kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham.Bab I I P e n d a h u l u a n f) pemerintah. dan kepastian dalam penerimaan kas di masa depan. sehingga meningkatkan daya banding diantara laporan keuangan bank. serta kemungkinan terjadinya transaksi dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan sumber daya tersebut. kreditur dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah. saat. kebutuhan operasional. 2) Menilai prospek arus kas Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung deposan. investor. b. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh perbankan dalam menyusun laporan keuangan. reinvestasi dalam operasi.

Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. 2. Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum. Bangun Prinsip Akuntansi Umum 1. Acuan Penyusunan Penyusunan PAPI didasarkan pada acuan yang relevan. 5. kecuali untuk hal-hal yang tidak diatur dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia tersebut. maka unit usaha syariah tersebut menggunakan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia. Dalam hal bank umum konvensional mempunyai unit usaha syariah. Rerangka prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia adalah sebagai berikut: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I3 . kesepakatan antar negara dan standar akuntansi negara lain. maka diwajibkan untuk mengikuti ketentuan Bank Indonesia. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ISAK). Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). Ruang Lingkup PAPI berlaku untuk bank umum konvensional. yaitu: 1. 4. Jika PSAK memberikan pilihan atas perlakuan akuntansi. Perlakuan akuntansi atas suatu transaksi yang terjadi dalam bank harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 3. D. International Accounting Standard (IAS)/International Financial Reporting Standards (IFRS).Bab I I P e n d a h u l u a n 2. C. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan laporan keuangan.

Ketentuan Lain-lain 1. 4 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . Setiap lapisan di bawahnya menjadi landasan bagi lapisan yang berada di atasnya. ketentuan PSAK. 3. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam PAPI menggambarkan akuntansi secara manual dan tidak ada transaksi antar kantor/cabang. ketentuan Bank Indonesia. Rerangka ini digambarkan seperti suatu bangunan rumah ‘Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia’. Dengan demikian bank dapat mengembangkan metode pencatatan dan pembukuan sesuai sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil akhir yang tidak berbeda. Dalam hal terjadi pertentangan antara prinsip akuntansi dari berbagai sumber tersebut. IAS/IFRS. E. 3. maka harus mengikuti perlakukan akuntansi yang diatur di dalam kelompok yang posisinya menjadi landasan atau pada lapisan yang terletak lebih di bawah. Transaksi bank yang dicantumkan pada PAPI diprioritaskan pada transaksi yang umum terjadi pada setiap bank. 2. PAPI secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan. PAPI merupakan bagian dari Pedoman atau Kodifikasi Praktik Akuntansi Industri dalam struktur Rerangka Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia. dan ketentuan lainnya yang terkait dengan sektor perbankan. Jurnal dan pos yang digunakan dalam PAPI hanya merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat.Bab I I P e n d a h u l u a n 2.

4. perubahan ekuitas. Bahasa laporan keuangan Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Komponen laporan keuangan Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca. Tujuan laporan keuangan Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I5 . Kerangka Dasar 1. Apabila transaksi bank menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. maka laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan periode). 3. Mata uang pelaporan Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. dan catatan atas laporan keuangan. kinerja. Selanjutnya. 2. laporan laba rugi. laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu yang sama dengan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia. laporan arus kas. Tanggung jawab atas laporan keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan.Bab II I L a p o r a n Keuangan Bab II Laporan Keuangan A. Jika laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia. 5. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. laporan perubahan ekuitas.

Kebijakan akuntansi Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. penghasilan dan beban yang ditetapkan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan. perubahan ekuitas. c. b. maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: a. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan. dan dapat diandalkan. Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan. penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa. 7. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas. Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. pengukuran. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan: a. kewajiban. persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait.Bab II I L a p o r a n Keuangan 6. sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. kriteria pengakuan dan pengukuran aset. Penyajian a. 3) netral. dengan pengertian: 1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan. disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan b. definisi. dan pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b. 2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya. yaitu bebas dari keberpihakan. kinerja keuangan. c. dan 5) mencakup semua hal yang material. dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank. 6 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . 4) mencerminkan kehati-hatian. b.

2) Perubahan kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila: a) penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku.Bab II I L a p o r a n Keuangan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank dan kegiatan lainnya. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca. Selain itu. termasuk komitmen dan kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia e. atau b) diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan. f. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. I7 . Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru. Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase. d. juga wajib diungkapkan pengaruh material dari perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periodeperiode berikutnya. Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Perubahan estimasi akuntansi Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya. Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. g. laporan laba rugi dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.

b. 9. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuangan. maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk memastikan daya banding. Saling hapus (Offsetting) a. kecuali: 1) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perbankan. 8 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . h. i. laporan arus kas. 10. Selain itu alasan reklasifikasi juga harus diungkapkan. 8. atau 2) perubahan tersebut diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar-periode harus konsisten. dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”. sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Konsistensi penyajian a. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah. c. Materialitas dan agregasi a.Bab II I L a p o r a n Keuangan 3) Terdapat kesalahan mendasar Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Pada setiap lembar neraca. Informasi dianggap material apabila kelalaian untuk mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil. dan jumlah. Di samping hal-hal di atas. Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban. laporan laba rugi. penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. b. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya. sifat.

Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan. bank dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif. dengan mencantumkan: a. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan. laporan perubahan ekuitas. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. laporan arus kas. kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung nilai. laporan arus kas. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan. Periode pelaporan Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. laporan keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I9 . b. 13. laporan laba rugi. Penyusunan laporan interim dapat dilakukan secara bulanan.Bab II I L a p o r a n Keuangan b. Laporan keuangan konsolidasi Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi. serta dengan aset dan kewajiban yang disalinghapuskan sebagaimana dimaksud di atas. dan catatan atas laporan keuangan. Dalam hal bank baru berdiri. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Selain itu untuk kepentingan pihak lainnya. Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam neraca. 12. laporan perubahan ekuitas. dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan. b. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca. 11. triwulanan atau periode lain yang kurang dari satu tahun. Laporan keuangan interim a. Sedangkan untuk laporan laba rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan. laporan laba rugi. Informasi komparatif a. 14. laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. b.

Neraca. dibutuhkan adanya laporan keuangan bank yang menyediakan informasi-informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. kinerja. yang timbul dari transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi. 2. Laporan arus kas. Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan sepanjang: 1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. Laporan perubahan ekuitas. Oleh karena itu. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi. Laporan keuangan bank untuk tujuan umum terdiri dari: a. maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut: a. dan Catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi. Untuk tujuan konsolidasi. Laporan laba rugi. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi. e. c. peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. e. dan catatan atas laporan keuangan. B. Komponen Laporan Keuangan 1. pendapatan. d. b. ekuitas. Perbankan wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan kepada bank sentral dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi.Bab II I L a p o r a n Keuangan sejenis dari aset. perubahan posisi keuangan. seperti dicerminkan dalam laporan-laporan berikut ini: 10 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan beban. dan 2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. b. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi. c. d. kewajiban. tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank.

struktur keuangan. Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas. kebutuhan investasi. serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas bank dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan aset bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan atau kerugian yang berasal dari kegiatan bank selama periode yang bersangkutan. Laporan Posisi Keuangan Posisi keuangan bank dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan. baik jangka pendek maupun jangka panjang. informasi ini berguna dalam perumusan tentang efektivitas bank dalam memanfaatkan sumber daya. Laporan Kinerja Informasi kinerja bank diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. c. dan pendanaan. Informasi ini berguna untuk memprediksi kemampuan bank di masa depan dalam menghasilkan kas dan setara kas. dan solvabilitas. 2) Perubahan ekuitas Informasi perubahan ekuitas bank menggambarkan peningkatan atau penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus kas. memprediksi kemampuan bank dalam memenuhi komitmen keuangan pada saat jatuh tempo. Selain itu. antara lain: 1) Perubahan kas dan setara kas Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai kemampuan bank menghasilkan arus kas dan setara kas serta kebutuhan bank untuk menggunakan arus kas pada setiap aktivitas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 11 . Laporan Perubahan Posisi Keuangan Informasi perubahan posisi keuangan bank. Informasi posisi keuangan bank tergambar dalam neraca. Informasi kinerja bank tergambar dalam laporan laba rugi. investasi.Bab II I L a p o r a n Keuangan a. likuiditas. pendistribusian hasil pengembangan dan arus kas. b. Informasi ini bermanfaat untuk menilai aliran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi.

b. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan saja. maka dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang paling kecil. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. 3.Bab II I L a p o r a n Keuangan C. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing 1. multi currency (lebih dari satu jenis mata uang). D. Keterbatasan Laporan Keuangan Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. yaitu kurs tengah yang merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul 16. antara lain: 1. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang digunakan yaitu mata uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR). 3. Pengertian dan karakteristik: a. Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas). Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing terdapat dua metode yang dapat digunakan yaitu: a. Hal ini disebabkan laporan keuangan memiliki keterbatasan. Apabila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos. 7. single currency (satu jenis mata uang). 12 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Hanya melaporkan informasi yang material. 5. 4. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran. baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. 6. Bersifat umum. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar-bank.00 WIB setiap hari. 2. 2.

b. b. Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan sebagai berikut: a. Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut: 1) neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing asal (original currency) yang digunakan. 3) penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata uang asing. Penjabaran ekuivalen rupiah dari rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan neraca. 3) penjurnalan menggunakan pos rekening perantara. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal (original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut. Jika menggunakan multi currency 1) Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam mata uang asal. 4. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 13 . dan 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan melalui rekening perantara mata uang asing. 2) Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak menimbulkan selisih kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari. Jika menggunakan single currency Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam Rupiah. saldo rekening biaya dan pendapatan mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya dan pendapatan rupiah. diterbitkan neraca dalam base currency. 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan langsung per rekening yang bersangkutan. 2) untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata uang.Bab II I L a p o r a n Keuangan Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut: 1) neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah. 2) saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara extracomptable.

Bab II I L a p o r a n Keuangan Halaman ini sengaja dikosongkan 14 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Aset Keuangan 1. Istilah diperdagangkan umumnya mencerminkan aktivitas pembelian dan penjualan yang bersifat aktif dan berulang. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Aset keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut: 1) Diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 15 . b) Merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). Aset dan Kewajiban Keuangan A. atau c) Merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Kategori Aset Keuangan a. yaitu: a) Diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat (lazimnya 90 hari).Bab III I P e n j e l a s a n Umum Bab III Penjelasan Umum 1. FVO hanya dapat digunakan: a) Untuk pengukuran instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran (combined/hybrid instrument) yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat yang ditetapkan oleh bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 2) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option/FVO). dan instrumen keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan umumnya digunakan untuk tujuan memperoleh laba atau fluktuasi harga jangka pendek atau marjin. Keputusan bank untuk menetapkan aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi serupa dengan pilihan kebijakan akuntansi.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Sejalan dengan PSAK 55. yaitu dalam sub kategori Diperdagangkan kecuali derivatif tersebut merupakan instrumen lindung nilai yang mengikuti penerapan akuntansi lindung nilai. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran nilai wajar tidak dihindari dengan melekatkan instrumen derivatif pada kontrak atau instrumen keuangan lainnya yang tidak diukur pada nilai wajar. Pendekatan mixed measurement dalam PSAK 55 yang memungkinkan kategori aset dan kewajiban keuangan diukur berdasarkan biaya (cost). atau bagian dari kelompok aset dan kewajiban keuangan yang terkait untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Transaksi aset dan kewajiban keuangan tidak perlu dilakukan pada saat yang bersamaan untuk memastikan keterkaitan antara 16 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). atau nilai wajar (fair value) dapat menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch). instrumen derivatif harus diakui dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Aset dan kewajiban keuangan yang saling terkait pada saat pengakuan awal dapat diakui dalam kategori yang berbeda sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya mismatch pada saat pengukuran selanjutnya karena terjadinya perubahan nilai aset dan kewajiban sehingga berdampak pada pengakuan keuntungan atau kerugian. b) Jika dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan karena: (1) Mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasardasar yang berbeda. PSAK 55 juga mensyaratkan derivatif melekat untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi sebagaimana halnya derivatif yang berdiri sendiri (freestanding deriva ves). kelompok aset dan kewajiban yang terkait. bank dapat menetapkan aset keuangan dan kewajiban keuangan yang terkait. Untuk dapat mengeliminasi atau mengurangi mismatch tersebut secara signifikan.

Sebagai contoh: Bank menerbitkan obligasi bersuku bunga tetap dan mengkategorikan sebagai Kewajiban Lainnya yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Dokumentasi dilakukan secara basis portofolio. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari bank. dan penetapan untuk menggunakan FVO dilakukan pada saat pengakuan awal aset dan kewajiban keuangan. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Bank dapat menyimpulkan bahwa laporan keuangan akan memberikan informasi yang relevan jika aset dan kewajiban masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (a) Penetapan nilai wajar (FVO) harus dilakukan terhadap seluruh instrumen keuangan yang dikelola dan dievaluasi secara bersama-sama. (2) Kelompok aset keuangan. Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi tersebut selanjutnya diinvestasikan dalam aset keuangan yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual dan diukur pada nilai wajar. serta terdapat hubungan ekonomis antara aset dan kewajiban keuangan. dan tidak perlu dilakukan terhadap setiap item instrumen keuangan. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. yaitu menggunakan FVO. misalnya Direksi. Hal ini menimbulkan ketidakkonsistenan atau perbedaan pengukuran terhadap aset dan kewajiban yang saling terkait tersebut. Transaksi dapat dilakukan dalam suatu rentang waktu yang wajar berdasarkan spesifikasi dari instrumen keuangan tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 17 . (b) Dokumentasi harus mencukupi sehingga dapat menunjukkan bahwa penggunaan FVO konsisten dengan manajemen risiko atau strategi investasi bank.Bab III I P e n j e l a s a n Umum keduanya. Penetapan tidak dapat dilakukan hanya terhadap beberapa instrumen keuangan dalam suatu kelompok yang dikelola bersama sebagai suatu portofolio.

atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 3) Bank memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang telah ditetapkan. serta bank mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Tersedia untuk Dijual 1) Aset keuangan non derivatif yang ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 2) Termasuk aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual antara lain mencakup investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. c. kecuali: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. b. dan 18 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab III I P e n j e l a s a n Umum (c) Evaluasi manajemen dan kinerja kelompok aset dan kewajiban keuangan harus didasarkan atas total laba (return) yang terkait dengan laba atas aset dan/atau kewajiban keuangan sebagai suatu portofolio atau kelompok dan bukan atas setiap item instrumen keuangan. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2) Penilaian terhadap intensi positif dan kemampuan bank harus dilakukan pada saat pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya setiap tanggal neraca (termasuk neraca interim). Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan.

4) Bank memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. sepanjang bank sebagai pemegang aset keuangan memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki hingga dibeli kembali oleh penerbitnya atau hingga jatuh tempo. 6) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo. sepanjang pembayaran kontraktual sudah ditetapkan atau dapat ditentukan. d. serta Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang pada saat pengakuan awal Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 19 . kecuali: a) Aset keuangan yang dimaksudkan oleh bank untuk dijual dalam waktu dekat.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) tidak bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu kecuali dalam situasi yang tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi sebelumnya. yaitu hak untuk meminta penerbit melunasi atau membeli kembali aset keuangan sebelum jatuh tempo. dan c) aset keuangan yang mengalami kemacetan pembayaran. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. 5) Termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) aset keuangan dengan suku bunga variabel. atau b) tidak terdapat peraturan hukum atau batasan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. dimana bank memiliki opsi jual. dan b) Aset keuangan yang dapat dijual kembali. yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. b) aset keuangan yang dapat dibeli kembali oleh penerbitnya atas dasar opsi beli dan bank dapat memperoleh kembali nilai tercatat aset keuangan secara substansial.

c) Penempatan pada Bank Indonesia. baik yang berasal dari pembelian maupun penerbitan oleh bank sendiri. dan diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dan c) Investasi dalam instrumen utang yang dicatatkan di pasar aktif. 20 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab III I P e n j e l a s a n Umum oleh bank ditetapkan sebagai aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan tidak memenuhi definisi instrumen ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. b) Investasi dalam reksadana atau yang serupa. tidak dikuotasikan di pasar aktif. b) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. b) Piutang usaha. 4) Perbedaan utama antara kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang dengan kategori aset keuangan lainnya adalah bahwa kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang bukan merupakan subyek dari tainting rule yang berlaku bagi kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 2) Aset keuangan yang dapat memenuhi definisi aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Kredit yang diberikan. 3) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Aset keuangan dimana bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh investasi awalnya selain karena penurunan kualitas kreditnya. d) Penempatan pada bank lain. investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. Misalnya. atau c) Aset keuangan dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial selain yang disebabkan oleh penurunan kualitas aset keuangan. dan e) Penempatan dalam bentuk saham preferen di bank lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan.

Setiap keuntungan atau kerugian yang telah diakui dalam laporan laba rugi tidak boleh dijurnal balik. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 21 . c) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori lainnya ke dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi setelah pengakuan awal. dapat direklasifikasi ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. b) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya jika pada saat pengakuan awal instrumen keuangan tersebut telah ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (FVO). bank dapat mereklasifikasi aset keuangan (yang ditujukan untuk dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat) dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. mana yang dapat diterapkan. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Diperdagangkan. d) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. Reklasifikasi Aset Keuangan a. 2) Dalam kondisi yang jarang terjadi (rare circumstances). b) Kondisi yang jarang terjadi dapat timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. c) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1) Bank tidak dapat: a) mereklasifikasi instrumen derivatif dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya selama instrumen derivatif tersebut dimiliki.

tidak berulang. c) Bank telah memperoleh kembali secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadual pembayaran atau bank telah memperoleh pelunasan dipercepat. yang dapat mencakup hal-hal berikut: (1) Penurunan kredibilitas penerbit atau debitur secara signifikan. dapat diandalkan. atau (b) penurunan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal bank. 22 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (2) Perubahan peraturan perpajakan yang mengeliminasi atau secara signifikan mengurangi status pengampunan pajak (tax forgiveness) atas pendapatan bunga yang diperoleh dari aset keuangan. misalnya penurunan peringkat 2 tingkat atau lebih dibandingkan peringkat awal. b) Aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (misalnya kurang dari 3 bulan sebelum jatuh tempo) dimana diperkirakan dalam jangka waktu tersebut tidak terjadi perubahan suku bunga yang akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan. yang dapat tercermin dari: (a) penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat yang tidak dapat diantisipasi secara logis. atau d) Penjualan atau reklasifikasi tersebut terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali bank. sepanjang pendekatan digunakan secara konsisten. Penjualan atau Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Bank dapat menjual sebelum jatuh tempo atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual tanpa menimbulkan pertanyaan mengenai intensi dan kemampuan bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo hanya jika: a) Jumlah aset keuangan yang dijual atau direklasifikasi tidak lebih dari jumlah yang tidak signifikan (not more than insignificant) dibandingkan dengan total seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b. dan obyektif. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh bank.

4) Dalam hal bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi pada angka 1) tersebut di atas. maka aset keuangan tersebut harus direklasifikasikan menjadi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dimana manajemen baru memutuskan untuk menjual sebagian aset keuangan tersebut untuk mendanai strategi ekspansi yang telah ditetapkan dan disetujui Direksi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (3) Penggabungan usaha menyeluruh atau pelepasan unit atau segmen usaha yang penting yang mengharuskan bank menjual atau mengalihkan aset keuangan untuk mempertahankan tingkat risiko suku bunga dan/atau tetap mematuhi kebijakan risiko kredit. Penjualan atau reklasifikasi tersebut akan menimbulkan pertanyaan mengenai intensi bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 2) Dalam hal terjadi perubahan intensi atau kemampuan bank sehingga aset keuangan tidak tepat lagi diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dan (5) Perubahan ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM). (4) Perubahan ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang secara signifikan mengubah aturan mengenai jenis investasi dalam aset keuangan yang diperbolehkan atau jumlah maksimum investasi jenis tertentu sehingga bank harus menjual aset keuangan. 3) Termasuk sebagai penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena perubahan intensi adalah penjualan atau reklasifikasi yang disebabkan perubahan manajemen. yaitu peningkatan signifikan tingkat kecukupan modal dan/atau peningkatan signifikan bobot risiko aset keuangan sehingga memaksa bank harus melakukan perampingan dengan menjual aset keuangan. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 23 . maka bank: a) tidak dapat mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo selama periode tahun berjalan terjadinya penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dan 2 tahun buku berikutnya.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) wajib mereklasifkasi sisa portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke dalam kategori Tersedia untuk Dijual (tainting rule). maka harus dipastikan bahwa: a) Bank memang memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. atau c) pengenaan sanksi untuk tidak boleh mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo telah terlewati. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Bank dapat mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo jika: a) terdapat perubahan intensi atau kemampuan bank. maka hal yang sama juga diberlakukan terhadap seluruh perusahaan anak (termasuk yang berada di negara lain) yang memenuhi kriteria untuk dikonsolidasi sehingga akan tercermin dalam laporan konsolidasi bank. b) dilakukan dalam kondisi yang jarang terjadi yang timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. 6) Jika bank telah menjual atau mereklasifikaskan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi lainnya sebagaimana pada angka 1) diatas. c. dalam hal bank wajib dikenakan ketentuan dalam angka 4) di atas. Bank tidak memiliki intensi positif jika: 24 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank tidak dapat mengklasifikasikan setiap aset keuangan yang dimilikinya dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi. 2) Apabila bank mereklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena terjadi perubahan intensi atau kemampuan. 5) Penetapan batasan jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) didasarkan pada persentase tertentu dari total seluruh aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Artinya. sehingga ukuran yang andal atas nilai wajar tidak lagi tersedia.

3) Dalam kondisi yang jarang terjadi. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. (2) bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu sebagai reaksi terhadap perubahan suku bunga atau risiko pasar. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Tersedia untuk Dijual. jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (1) bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang di masa datang yang belum ditetapkan. perubahan ketersediaan dan tingkat imbal hasil atas investasi aset keuangan lain. Bank tidak memiliki kemampuan jika: (1) tidak memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. atau (2) bank adalah subyek dari peraturan hukum yang berlaku atau batasan lainnya yang dapat mengganggu intensinya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. kebutuhan likuiditas. b) Setiap keuntungan dan kerugian atas aset tersebut yang telah diakui secara langsung dalam ekuitas (pendapatan komprehensif lainnya) harus dicatat dengan cara sebagai berikut: (1) dalam hal aset keuangan memiliki jatuh tempo yang tetap. 4) Reklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. maka keuntungan atau kerugian yang terjadi diamortisasi pada laporan laba rugi selama sisa umur investasi dimiliki hingga jatuh tempo dengan menggunakan metode suku bunga efektif. atau perubahan risiko mata uang asing. atau (3) penerbit aset keuangan memiliki hak untuk melakukan pembayaran kembali atau pelunasan pada suatu jumlah yang secara signifikan lebih rendah dari biaya perolehan diamortisasi. b) Bank memang memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 25 . perubahan sumber dan syarat pembiayaan.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum (2) dalam hal aset keuangan tidak memiliki jatuh tempo yang tetap. Kewajiban lainnya Kewajiban keuangan selain yang memenuhi kriteria kewajiban keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 3) Kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. Kewajiban Keuangan Kewajiban keuangan dapat dikategorikan sebagai: 1. dan 4) Kewajiban keuangan yang merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama-sama dan atas bagian tersebut ditemukan bukti adanya pola ambil untung jangka pendek terkini. Kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi yang sama dengan kondisi penetapan aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). Kewajiban keuangan yang masuk kategori Diperdagangkan antara lain mencakup: 1) Kewajiban derivatif yang tidak dilaporkan sebagai instrumen lindung nilai. b. 2. 26 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. c) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. 2) Kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller. mana yang dapat diterapkan. maka keuntungan atau kerugian tetap diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dijual atau dilepaskan dan pada saat itu keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi. yaitu bank yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut. B.

. . Penerapan secara prospektif dilakukan untuk transaksi yang dilakukan mulai 1 Januari 2010.Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 27 .Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Instrumen keuangan surat berharga Bank dapat mereklasifikasi surat berharga yang dimiliki pada 1 Januari 2010 tanpa terkena dampak reklasifikasi (tainting rule dan larangan mengklasifikasikan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam tahun berjalan dan dua tahun berikutnya). Sedangkan untuk transaksi yang terjadi sebelum 1 Januari 2010 dan masih memiliki saldo pada 1 Januari 2010.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Diukur pada Nilai Wajar Nilai tercatat 1 melalui Januari 2010 Laporan Laba Rugi Biaya perolehan yang diamortisasi dengan suku bunga efektif 2.Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Tersedia untuk Dijual Nilai tercatat 1 Januari 2010 Pinjaman ditambah/dikurangi yang biaya transaksi dan Diberikan dan premi/diskonto yang Piutang belum diamortisasi (nilai tercatat awal) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Nilai wajar Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). Instrumen keuangan selain surat berharga Kategori Pengukuran Awal Pengukuran Selanjutnya Nilai wajar Keterangan Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). Ketentuan Transisi A. . . maka perlakuan akuntansi sebagai berikut: 1. Penerapan Secara Prospektif PAPI diterapkan secara prospektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada 1 Januari 2010.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).

.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Bab III I P e n j e l a s a n Umum Dampak reklasifikasi pada 1 Januari 2010 diakui dalam laporan laba rugi atau ekuitas tahun 2010 dan pengukuran awal adalah sebagai berikut: Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi . .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. . .Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal. Sda - - Tersedia untuk Dijual Diperdagangkan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Saldo selisih penilaian dikeDiukur pada Nilai luarkan dari ekuitas dan diakui Wajar melalui Lalangsung pada laporan laba poran Laba Rugi rugi untuk Tersedia Tersedia Dijual untuk Dijual Dimiliki Hingga Saldo selisih penilaian di ekuiJatuh Tempo tas diamortisasi dan diakui Pinjaman yang pada laporan laba rugi sampai Diberikan dan dengan jatuh tempo Piutang Sda Sda Sda 28 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Laporan Keuangan Komparasi Dalam menyajikan laporan keuangan komparasi yaitu untuk posisi Desember 2009 dan Desember 2010. bank harus mengungkapkan perbedaan yang disebabkan oleh perubahan standar akuntansi maupun kebijakan akuntansi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui secara langsung pada laporan laba rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Tersedia untuk dijual - Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui pada ekuitas - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Sda Sda B. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 29 . bank tidak harus menyesuaikan penyajian atau klasifikasi pospos dalam laporan keuangan posisi Desember 2009 untuk memastikan daya banding jika penyesuaian tersebut tidak praktis dilakukan. Namun.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 30 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

5. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. B. Efek beragun aset adalah surat berharga yang diterbitkan oleh penerbit berdasarkan aset keuangan yang dialihkan oleh kreditur asal. Obligasi konversi (convertible bond) adalah obligasi yang mengandung fitur opsi konversi (convertible option) yang memberikan hak kepada pembeli obligasi untuk mengkonversi obligasi ke dalam sejumlah saham tertentu pada tanggal yang telah ditetapkan dan harga konversi yang telah disepakati. 2. Definisi 1. Surat berharga adalah surat pengakuan utang. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 31 . (PSAK 55: Paragraf 38) 2. 4.Bab IV I S u r a t Berharga Bab IV Surat Berharga 1. sekuritas kredit. 3. (PSAK 55: Paragraf 14) Pembelian atau penjualan aset keuangan yang lazim (reguler) diakui dan dihentikan pengakuannya menggunakan salah satu di antara akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA68–PA71). atau suatu kewajiban dari penerbit. obligasi. jika dan hanya jika. Dasar Pengaturan 1. atau setiap derivatifnya. wesel. Surat Berharga A. atau kepentingan lain.

pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. 8.. Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) aset keuangan diakui menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian sebagaimana dijabarkan dalam paragraf PA70 dan PA71.Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). 5. (PSAK 55: PA 79) . lihat juga paragraf 91). Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 49) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. biaya pendanaan (financing costs). (PSAK 55: Paragraf 8) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif... entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). entitas mengukur pada nilai wajarnya. Untuk tujuan ini. 32 I P e d o m a n .. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Metode yang digunakan diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan aset keuangan yang masuk dalam kategori aset keuangan yang sama sebagaimana didefinisikan dalam paragraf 8. konsultan. perantara efek dan pedagang efek. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut.. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. (PSAK 55: PA68) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. (PSAK 55: PA26) Akuntansi Perbankan Indonesia 4. 7. aset yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari aset yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan.. 6.Bab IV I S u r a t Berharga 3.

atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA29– PA38). Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. kecuali: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 33 . Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a.Bab IV I S u r a t Berharga 9. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7 tentang Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa). atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). (PSAK 55: Paragraf 8) 10. b. atau (ii) kelompok aset keuangan. misalnya Direksi. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar.

2: C. (Panduan Implementasi No. investasi yang ditetapkan oleh entitas dalam kelompok Tersedia untuk Dijual.. tidak berulang.18) 12.. investasi yang sebelum pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.2: B. dan investasi yang memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang.. (PSAK 55: Paragraf 8) 11. Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo umumnya tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok investasi dimiliki hingga jatuh tempo karena tidak konsisten dengan tujuan pembelian fitur konversi tersebut. b. (ii) terjadi setelah entitas berhasil menagih hampir seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pembayaran awal. (Panduan Implementasi No. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas.Bab IV I S u r a t Berharga a. Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. atau (iii) terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali entitas. c. Namun demikian. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut.3) 34 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut: (i) dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya.. yaitu memperoleh hak untuk mengkonversi menjadi ekuitas merupakan derivatif melekat. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo).Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo) dimana perubahan suku bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut. .

atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. piutang dagang.. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang.. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. (PSAK 55: Paragraf 8) 16. maka biaya-biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut (lihat paragraf 8 dan PA29–PA38). 15.. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. (PSAK 55: PA39). Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. (b) investasi yang diklasifi kasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Namun. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. investasi dalam instrumen utang. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 35 .. (PSAK 55: Paragraf 8) 14.Bab IV I S u r a t Berharga 13.

termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. jika harga yang dikuotasikan tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin dari bursa. atau pelepasan lain. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. pedagang efek (dealer).1. maka entitas dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi risiko yang saling hapus tersebut dan menerapkan harga penawaran atau harga permintaan terhadap posisi terbuka neto. Setelah pengakuan awal. (Panduan Implementasi No. kelompok industri. sementara untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki adalah harga permintaanya.Bab IV I S u r a t Berharga 17. perantara efek (broker).. badan pengawas (pricing service or regulatory agency). maka biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: Paragraf 46) 21. (PSAK 55: PA86) 19. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. . Jika aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. (PSAK 55: PA87) 20. maka harga yang digunakan dalam transaksi terkini memberi bukti mengenai nilai wajar saat ini. entitas mengukur aset keuangan. Jika entitas memiliki aset yang dan kewajiban dimana risiko pasarnya saling hapus. Untuk aset keuangan tersedia untuk dijual. dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar.2: E. Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur 36 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pada nilai wajarnya. maka biaya transaksi diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif.. mana yang lebih sesuai.. Kuotasi harga pasar yang sesuai bagi aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan biasanya sama dengan harga penawaran yang berlaku.. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan.1) 18. biaya transaksi diakui dalam ekuitas sebagai bagian dari perubahan nilai wajar pada penilaian kembali. sepanjang kondisi ekonomi tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak transaksi tersebut terjadi. Apabila harga penawaran dan harga permintaan tidak tersedia.

Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule). dan seluruh premium atau diskonto lainnya. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). (PSAK 55: Paragraf 8) 22. Jika.. (PSAK 55: Paragraf 53) 24. (PSAK 55: Paragraf 57) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 37 . opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. (PSAK 55: PA20) 25. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.. Pada saat menghitung suku bunga efektif.. Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8.. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. atau jika lebih tepat. (PSAK 55: Paragraf 52) 23... Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.. biaya transaksi.. dan melalui proses amortisasi.Bab IV I S u r a t Berharga dari instrumen keuangan. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi.

maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). c. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. (PSAK 55: Paragraf 59) 27. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. pihak pemberi pinjaman. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. f. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). 38 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 26. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. e. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikaskan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan d. b. Jika terdapat bukti tersebut. jika dan hanya jika. pelanggaran kontrak. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai.

(PSAK 55: Paragraf 64) 29. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. (PSAK 55: Paragraf 60) 28. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual.Bab IV I S u r a t Berharga sejak pengakuan awal aset dimaksud. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. (PSAK 55: Paragraf 65) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 39 . dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59).

Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 68) 32. Jika. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. (PSAK 55: Paragraf 17) 35. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau 40 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. jika dan hanya jika: a. (PSAK 55: Paragraf 66) 31. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 71) 33. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. pada periode berikutnya. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. b. Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). baik secara langsung. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: Paragraf 8) 34. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga 30. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit penerbit). pada periode berikutnya. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. Jika.

antara lain. credit links notes. Penjelasan 1.Bab IV I S u r a t Berharga kewajiban jasa pengelolaan. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. dan reksa dana (termasuk penempatan dana awal bank sebagai sponsor dalam reksa dana). Dalam pengertian surat berharga termasuk. 2. Efek Beragun Aset (EBA). Sertifikat Bank Indonesia. Surat berharga yang dapat dimiliki bank mengikuti peraturan perundang-undangan dan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Surat berharga yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari surat berharga yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. bank dapat menggunakan tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian yang harus diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan surat berharga yang masuk dalam kategori yang sama. 3. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. Surat Utang Negara. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 41 . Dalam pembukuan surat berharga. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. negosiasi wesel ekspor. (PSAK 55: Paragraf 24) C.

Secara umum. Pinjaman yang Di. 1) Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Kategori Surat Berharga Keterangan 1) Surat berharga yang dimiliki/dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat. yaitu: No. Dimiliki Hingga 2) Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk Jatuh Tempo memiliki surat berharga tersebut hingga jatuh tempo. Kategori Surat Berharga a. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. 1 2 3 4 b. 1) Surat berharga yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. yang bukan disebabkan penurunan kualitas surat berharga.Bab IV I S u r a t Berharga 4. Surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo terbatas pada surat berharga utang dengan tujuan memperoleh pendapatan bunga dan surat berharga utang tersebut baru akan dicairkan pada saat jatuh tempo.Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah berikan dan Piutang ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. 2) Surat berharga yang pada saat dibeli ditetapkan Diukur pada Nilai untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Wajar melalui LaporRugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan an Laba Rugi untuk diperjualbelikan. surat berharga yang dimiliki/dibeli dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. Tersedia untuk Dijual 2) Surat berharga yang dimiliki/dibeli dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok surat berharga tersebut secara substansial. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. Surat berharga utang tidak boleh diklasifikasikan dalam kategori ini apabila maksud pemilikannya hanya untuk periode yang tidak ditentukan dan Tersedia untuk Dijual untuk menghadapi: 42 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Penurunan Nilai a. 6. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia b. Kuotasi di pasar aktif. 3) perubahan dalam ketersediaan dan hasil investasi alternatif. 5. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. b. I 43 . Evaluasi penurunan nilai untuk surat berharga dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar surat berharga dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap surat berharga dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2) kebutuhan likuiditas.Bab IV I S u r a t Berharga 1) Perubahan tingkat bunga pasar dan perubahan yang berhubungan dengan risiko yang sejenis. 8. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. 7. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. dan 4) perubahan dalam risiko mata uang asing.

yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat surat berharga sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. atau 2) Bank telah mentransfer surat berharga tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Pemulihan penurunan nilai a. 9. issuer melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebihi antisipasi bank. Dalam laporan keuangan. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari issuer untuk membayar pokok atau bunga. 2) Apabila issuer melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas surat berharga yang dibeli/dimiliki jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut. maka setiap penerimaan pembayaran dari issuer akan langsung mengurangi nilai tercatat surat berharga. 10. 44 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Misalnya. Nilai tercatat surat berharga setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. b. Dalam kondisi tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga c. Pembayaran setelah surat berharga mengalami penurunan nilai 1) Setelah surat berharga mengalami penurunan nilai. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit issuer). Penghentian Pengakuan a. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat surat berharga. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. Oleh karena itu.

12. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Dalam laporan keuangan konsolidasi. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat surat berharga dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. Surat berharga dalam kategori Pencatatan pada saat pembelian 1 2 3 4 Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada Diukur pada Nilai Wajar melalui saat pengakuan awal umumnya sama dengan Laporan Laba Rugi harga pembelian surat berharga Tersedia untuk Dijual Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo memperhitungkan pendapatan dan/atau bePinjaman yang Diberikan dan ban yang dapat diatribusikan langsung pada pembelian surat berharga. bank mengakui “Surat berharga yang dimiliki” sebesar nilai wajar. D. c d 11. Surat berharga dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. Pada saat pembelian surat berharga. Pelaksanaan penghapusbukuan surat berharga dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih.Bab IV I S u r a t Berharga b. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 45 . yaitu: No. Meskipun tidak termasuk dalam kriteria penghentian pengakuan bank dapat mengeluarkan surat berharga yang dihapusbuku dari neraca. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan surat berharga yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat surat berharga karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari surat berharga tersebut. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1.

bank mencatat “Surat berharga yang dimiliki” sebagai berikut: No. Keuntungan atau kerugian yang Tersedia untuk Dijual timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui secara langsung dalam ekuitas. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui 46 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan dan pokok.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Setelah pembelian surat berharga. Sebesar nilai wajar. 4. Untuk surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Keuntungan atau kerugian yang Diukur pada Nilai Wajar melalui timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga Laporan Laba Rugi diakui pada laporan laba rugi. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. 1 Surat berharga dalam kategori Pencatatan setelah pembelian 2 3 4 Sebesar nilai wajar. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. maka pembayaran bunga tersebut bukan merupakan bagian dari biaya perolehan. tetapi dimasukkan dalam pos pendapatan bunga yang masih akan diterima. Selanjutnya. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi Piutang kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. b. Dalam hal surat berharga dibeli di antara tanggal pembayaran bunga. 3.

Perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. namun harus diamortisasi selama masa manfaat surat berharga dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi atau diskonto. harus diakui sebagai berikut: a. Reklasifikasi surat berharga diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. penghentian pengakuan dan hapus buku/hapus tagih surat berharga mengacu pada Bab mengenai Kredit. 6. Selanjutnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 47 . 7. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. b. 5. pemulihan penurunan nilai. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.Bab IV I S u r a t Berharga dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi.

Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1. yaitu: No. Surat berharga dalam kategori Penyajian pada neraca Diukur pada Nilai Wajar melalui 1 Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar 2 Tersedia untuk Dijual 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Beban/pendapatan Kr/Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 48 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara Pinjaman yang Diberikan dan nilai awal dan nilai jatuh temponya dan dikurangi 4 Piutang penurunan nilai. Pada tanggal transaksi Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Surat berharga disajikan di neraca sesuai kategori..Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db/Kr../Giro BI 3. Kas/Rekening. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Surat berharga . Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . E. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas surat berharga yang dimiliki. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. Rekening lawan .

Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db./Giro BI Kr. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Surat berharga . Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Kas/Rekening. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr..Bab IV I S u r a t Berharga b. Pada saat realisasi penerimaan bunga Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 4. Pada tanggal penyelesaian Db. Pendapatan bunga surat berharga 7. Rekening lawan . Pendapatan bunga yang akan diterima 8. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr. Surat berharga . Penyesuaian nilai wajar a.. Tagihan komitmen pembelian surat berharga 6 Pada saat pengakuan bunga Db./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5. Surat berharga .. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Kas/Rekening..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 49 . Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db.

Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Db/Kr. Pada saat penjualan: a.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Realisasi keuntungan/kerugian dari penjualan surat berharga Db. Surat berharga . Kas/Rekening... Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Kas/Rekening. Pada saat menjual: Db. Surat berharga ./Giro BI Kr. Pendapatan bunga d.. Kas/Rekening. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a. c./Giro BI Kr. Kas/Rekening. Surat berharga . Surat berharga .. Surat berharga . Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db/Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db.. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b.. Surat berharga .. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Pada saat jatuh tempo: Db./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db/Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b./Giro BI atau Db/Kr.. Surat Berharga yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (asumsi menggunakan tanggal perdagangan) 1..Bab IV I S u r a t Berharga 9.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db/Kr. Pada saat membeli: Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db.. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Kerugian/keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga ./Giro BI (Sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. e../Giro BI Kr. 50 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.

Kas/Rekening. Pada saat pembelian surat berharga Db. c./Giro BI Db.. e.Bab IV I S u r a t Berharga 2.. Kas/Rekening./Kr./Giro BI Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db/Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a.. Kas/Rekening.. 3. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr.. f. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b.. Pada saat membeli: Db.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Kas/Rekening.../Giro BI atau Db/Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo Db. d. Kas/Rekening./Giro BI Kr./Giro BI (sebesar harga pembelian) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 51 .. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.

Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Kas/Rekening../Giro BI (sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b. Kas/Rekening. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a. Kas/Rekening.. f./Giro BI Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI Kr.. Kas/Rekening. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi: Db.. Kas/Rekening. Kas/Rekening../Giro BI Db/Kr./Giro BI atau Db/Kr.. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. e./Giro BI atau Db/Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.. 52 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ... Kas/Rekening..... Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat menjual: Db. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db... Pada saat membeli: Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c. d. 4.. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga b. Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr.

/Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr.. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. 5./Giro BI Db/Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr.. Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. e. f. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo d. Pendapatan bunga yang akan diterima Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan kepada issuer dijurnal balik jika penerbit menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable./Giro BI Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db... Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi: Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 53 . Kas/Rekening. Kas/Rekening. b. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. Pendapatan bunga surat berharga Db.. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. a./Kr. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Membatalkan pengakuan pendapatan bunga Db. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Asumsi penurunan nilai terjadi pada periode berjalan. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga c. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dan bukan merupakan adjusting subsequent event.Bab IV I S u r a t Berharga 6. Kerugian penurunan nilai surat berharga jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. c. b. dan bukan merupakan adjusting subsequent event. 54 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana penyesuaian tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Pendapatan 8. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event). 7. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. Db. c. Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya issuer rating). Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Db. Pendapatan b. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. a. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku. Saldo laba jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kerugian penurunan nilai surat berharga Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. a. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Db. Db.

Bab IV I S u r a t Berharga Surat berharga yang Tersedia untuk Dijual (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1.Pendapatan komprehensif lain Kr. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 55 . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual b. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Kas/Rekening. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Pendapatan/Beban bunga (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) 3. Ekuitas ... Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Rekening lawan ./Giro BI Kr/Db.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db..Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5.Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Rekening lawan . Pada saat penyelesaian Db. Ekuitas . 4. Pada tanggal transaksi Db../Giro BI atau Db/Kr.Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Kas/Rekening. Kas/Rekening..

Pendapatan komprehensif lain Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr.Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) b. Keuntungan/kerugian kumulatif pada ekuitas diakui dalam laporan laba rugi Db./Giro BI Kr. Pada saat penjualan: a. 9. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db.. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db.Tersedia untuk Dijual Db.. Ekuitas . Kas/Rekening. 56 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ./Db Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Selisih antara pembayaran yang diterima dengan nilai tercatat diakui sebagai keuntungan/kerugian penjualan surat berharga Db Kas/Rekening.. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat: Db. Penyesuaian nilai wajar: a. 7.Bab IV I S u r a t Berharga 6. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr. Surat berharga .. Surat berharga ./Kr. Ekuitas . Ekuitas ./Giro BI Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr/Db. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) Kr. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi: Db./Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima 8.

Bab IV I S u r a t Berharga 10. Ekuitas . a. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 57 .Pendapatan komprehensif lain Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db.Tersedia untuk Dijual Pengakuan kerugian penurunan nilai Db. Cadangan kerugian penurunan nilai atau Melakukan reklasifikasi atas pendapatan komprehensif lain pada ekuitas ke dalam laporan laba rugi (jika sebelumnya bank telah mengakui penurunan nilai wajar) Db.Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat) atau Db. Asumsi bukti obyektif diperoleh pada periode berjalan. Surat berharga . Reklasifikasi Surat Berharga 1. Melakukan jurnal balik pendapatan komprehensif lain pada ekuitas (jika sebelumnya bank telah mengakui peningkatan nilai wajar) Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Db. d. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Apabila terdapat penurunan nilai.Tersedia untuk Dijual Kr. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku pada periode berjalan Db. Surat berharga . c. Ekuitas . Pendapatan b. Ekuitas .Pendapatan komprehensif lain Kr.

Pendapatan bunga Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai wajar pada saat pengalihan) Amortisasi untuk penyesuaian nilai wajar surat berharga ke nilai nominal sampai jatuh tempo 1) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih kecil dari nilai nominal Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Surat berharga . F. Keuntungan dari perubahan nilai wajar 2) Jika saldonya negatif Db. b. Surat berharga . Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Saat reklasifikasi Db. Pendapatan bunga 2) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih besar dari nilai nominal Db. Surat berharga .Pendapatan komprehensif lain Kr. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Kerugian dari perubahan nilai wajar Kr. 58 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Ekuitas .Bab IV I S u r a t Berharga 2. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo a.Pendapatan komprehensif lain b. Amortisasi atas selisih penilaian surat berharga yang belum direalisasi (ekuitas) 1) Jika saldonya positif Db. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga dalam penyusunan laporan keuangan.

b. b. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. d. 5. nilai tercatat surat berharga yang tetap diakui bank. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. c. b. jika bank tetap mengakui sebagian surat berharga sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 3. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. Pengalihan surat berharga yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh surat berharga. Tersedia untuk Dijual. d. jika bank tetap mengakui seluruh bagian surat berharga.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Total nilai tercatat surat berharga awal yang dialihkan. c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 59 . dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). dengan rincian berikut: a. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan surat berharga yang masih tetap berada di bank. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan nilai tercatat kewajiban terkait. Nilai tercatat surat berharga dan kewajiban terkait. Jenis surat berharga. 6. 7. c. 4. yaitu: a. Jumlah surat berharga yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.

(2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 8. Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga. c. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. Analisis tersebut mencakup: a. b. 60 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (3) Jumlah ekposur surat berharga yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. Informasi mengenai kualitas kredit diluar surat berharga yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada) Pengungkapan kuantitatif 9. dan pihak penjual proteksi surat berharga dalam transaksi credit derivative). kebijakan. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada butir a diatas. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. Tujuan.

10. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. antara lain sektor ekonomi dan geografi. dan d. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Jumlah surat berharga yang dimiliki berdasarkan segmentasi. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas surat berharga sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank. berdasarkan jangka waktu. G. 2) Tipe/jenis penerbit.Bab IV I S u r a t Berharga (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 61 . Nilai tercatat surat berharga yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 11. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). mata uang. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga. (2) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat internal.

Bab IV I S u r a t Berharga H. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. (Lihat Tabel 1) 62 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.425 dengan tagihan bunga (purchased interest) sebesar Rp. Surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada tanggal 1 Juni 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp.000.000 dengan kupon bunga 8% pada 99.000.000. Untuk membeli obligasi dimaksud.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. Obligasi ini dibeli untuk dimiliki hingga jatuh tempo pada tanggal 1 Juni 2011. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.1.000. Contoh Kasus 1.30. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010. 15.000.000. 20. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.

000.382.616.000.00 1.441 475.532 7.270 505.00 1.924.000.444.609.954) (3.038.Tabel 1: Estimasi Arus kas masa datang surat berharga-Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Effective Interest Rate: 7.000.000.888.250.000.00 1.564 455.000.000.678 7.000.393.763 999.000.314 7.399.567 480.771 513.466.237) (513.675 6.624.000.000.000.000.840 493.000.126.745 487.000.000.487 997.000.00 1.111.901 7.649.357.075.889 7.270 505.840 493.000 7.00 1.437.111 7.298 997.000.000.111 6.750.000.899.000.567 480.348) (1.111 6.634 7.007.000.444 7.790 498.923 998.00 1.00 1.889 7.202 468.000.00 1.000 994.000) (5.111 6.532 995.000.771 513.111 6.00 1.000.111.468) (4.000.606.000.(b) Diskonto/ Preimum yang belum Diamortisasi (e) 04-Jun-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 1.513) (2.000.952 7.532 476.466 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif (c) Amortisasi Diskono/ Premium (d) = (c) .000.077) (1.000.111.513.534 0 Pembayaran Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R 399.968.790 498.00 Bab IV I S u r a t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Berharga I 63 .111.888.811 494.111.587.111 7.591.000.111.350.000.699) (3.532 476.652 998.598.889 7.000.088 998.00 1.000.811 494.961.466 (5.901) (4.441 475.000.301 996.745 487.700 7.888.099 995.111.466) 0 994.992.577 399.715 7.533.89% Tanggal Kupon 1.000.486.00 6.000.912) (1.873.553 7.564 455.202 468.364.046 996.562.111 6.00 1.702) (2.000.000.605.031.486.660 7.

000. c. 6.399.250. 1. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp./Giro BI Rp. Rp. 6. Kas/Rekening. Tagihan komitmen .000 Db. Rp. Beban pembayaran fee Kr. Tagihan komitmen .pembelian surat berharga Rp.pembelian surat berharga Rp.000 Kr.000. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp.000 b. Kas/Rekening.532 Kr. 64 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 399. Pendapatan bunga surat berharga Rp. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db... Rekening lawan tagihan komitmen Rp.000. 36.532 Kr.399.surat berharga Kr. 994. Pendapatan bunga yang akan diterima .250.000 Rp.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db. 15.000 15. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.250.024. 36.250. 30.000 d. 399..000./Giro BI Rp./Giro BI Pencatatan surat berharga pada tanggal 4 Juni 2010 Db.000 994.000 Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 30 Juni 2010 1) Pengakuan bunga dan amortisasi diskon Db.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Kas/Rekening.000 Kr. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db. 994..250.532 2) Pembayaran kupon obligasi Db.. 994. Rp..532 e.250. 994.

000. Pada saat jatuh tempo tanggal 1 Juni 2011 Db.000 Rp. 4.000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp 15..000. yaitu tanggal 1 Juli 2010. 1.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Untuk menjual obligasi dimaksud..000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000.000. 15.000. 4. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp..000./Giro BI Rp. 1.000.000.000..Tersedia untuk Dijual Kr.000 b. Rp.000 Rp..000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Jurnal Transaksi a. Tagihan komitmen . Rp. Kas/Rekening. Diasumsikan pengakuan keuntungan penjualan surat berharga dilakukan pada saat tanggal penyelesaian.000.000. 20.000.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal untuk pengakuan bunga. Untuk membeli obligasi dimaksud. 15. Rekening lawan Tagihan komitmen Rp. 4. Kas/Rekening.1.000. Surat berharga . Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.000 15. Surat berharga .000.000 2. 4.000.. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010.000.000 Kr.pembelian surat berharga Rp.000. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 1 Juni 2010.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp. Beban pembayaran fee Kr.000 dan kupon bunga 8% per tahun pada harga par. Kas/Rekening. bank XYZ membeli 4 (empat) obligasi pemerintah dengan nilai nominal Rp. Pada tanggal 29 Juni 2010 bank XYZ menjual surat berharga pada 102.000.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 65 . amortisasi diskon dan pembayaran bunga selanjutnya sama dengan jurnal di atas./Giro BI Kr. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db. c. f./Giro BI Pada saat penyelesaian tanggal 4 Juni 2010 Db.000.

000. h. Kas/Rekening. Pendapatan bunga surat berharga (4.000. 4.pembelian surat berharga Rp. 24..000.000. Rp.000. 4.000. Beban pembayaran fee Kr..000.000 f. 4. 4.000 g./Giro BI Rp.000 X 0.000 Kr.080.000.penjualan surat berharga Rp. Tagihan komitmen . Pendapatan bunga yang akan diterima Surat berharga Kr.000 Kr.000. 4. Kas/Rekening.000.000.000 66 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 29 Juni 2010 Db.000.000 24.000 Kr. Rp.000 15.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp. Kewajiban komitmen . 15. Rp. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. 4.000 Kr.080../Giro BI Rp.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.000. Kewajiban komitmen . 4.080. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.000 Melakukan jurnal balik komitmen penjualan surat berharga Db. Surat berharga .000. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.Bab IV I S u r a t Berharga d.000.Tersedia untuk Dijual Rp.penjualan surat berharga Rp..000. 4.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 29 Juni 2010 Db. 80. Rekening lawan .000 Pada saat pengakuan bunga pada tanggal 30 Juni 2010 Db. Penyelesaian transaksi penjualan pada tanggal 1 Juli 2010 Db.000 Kr.08 X 27/360) e.000.000. Rekening lawan .080.080.

Asumsi harga pasar pada tanggal 31 Juli 2010 adalah 99. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.50 dan penyelesaian dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2010. Bank XYZ membeli obligasi Rp. 15.000.219.000.000.250.000 dengan kupon bunga 5% pada 99 dengan accrued interest sebesar Rp. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. Untuk membeli obligasi dimaksud.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 9 Juli 2010.1.86. Amortisasi diskon dari tanggal 1 Agustus sampai dengan tanggal 4 Agustus 2010 adalah Rp. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. (Lihat Tabel 2) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 67 . Pada tanggal 4 Agustus 2010 bank menjual obligasi pada 99.000.Bab IV I S u r a t Berharga 3. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 6 Juli 2010. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.000. 20.1.30.000.

303 992.139 996.305.000.667 277.861) (3.580.000.891 4.000.859.180.717 4.000.000 990.960.116 997.116.305.000.261 Keuntungan/ Kerugian yang Belum Direalisasi pada Ekutias 990.000.123.444.000.446 654.444 694.305.550 678.978 689.000.000.793 679.000 19.000 1.303 992.550 678.139 996.000.110 991.890) (8.80% Tanggal Kupon 1.819 5.264 703.000.022 999.705 3.592 1.592) (9.697) (7.632 995.404 479.620) (1.205.610 995.900.819.000 1.000.444.146.684.222.419.000 1.151.542 993.854.000.434) (2.419.293 682.000) (9.556 4.164.127.222.556 4.444.000 1.093 319.000 1.193 672.140.604.000.427 696.000.444 4.165 990.953.000 1.444.610 995.853.444.978) (688.444.222 4.738 5.242 4.446 654.542 993.110 991.368) (4.444 4.749 993.000.798 621.000.145.010.000 Pendapatan Bunga Sesuai Suku Bunga Efektif (c) 3.427 696.983.778 4.859.000.444 4.273 688.900.835 990.854.000.408 990.027.020.835 994.476.638 520.566 997.000.000.444 4.180.893 798.670.000 1.444 416.835.165) (5.976.748 5.458) (6.000.295 (0) - “Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e)” (10.798 621.444 4.000.000.000 29.960 62.426 41.099.973 4.793 679.705 990.087 5.472.426 41.642 707.000 1.749 993.000 476.642.000 990.994.000.315.380 998.632 995.000.474.994 4.755 5.000.311.380 998.000.529 671.444 4.444 4.449 1.556 476.472 991.395.000 1.273 688.133.853.116 997.000.000.000.777.415 3.000.449 103.000 1.000 1.000 1.000.684.(b) Berharga Akuntansi Perbankan Indonesia 09-Jul-10 31-Jul-10 04-Agust-10 06-Agust-10 07-Agust-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Agust-11 30-Sep-11 1.000 1.000 1.525.444.638 520.022 999.000.000.357.525.000.638 648.992.556 4.794.140.884) (2.251) (6.528) (8.164.642 707.556 4.604.835 994.638 648.000.000.778 3.305.978 689.000 1.390) (4.566 997.000.000 1.305.205.542.542.476.860 4.264 703.000 1.474.960 62.449 990.148.000.194.551) (9.983 5.165) (9.295 (0) Pembayaran Pokok (a” Pendapatan Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat amount (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R Nilai Wajar pada akhir periode Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .523.000.705) (0) .348 5.525.529 671.457.68 I P e d o m a n Bab IV I S u r a t Effective Interest Rate Tabel 2: Estimasi Arus Kas Masa Datang Surat Berharga – Tersedia untuk Dijual : 5.649.311.525.000.000.193 672.357.472 991.293 682.449 103.

Beban pembayaran fee Kr. Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp.444. Tagihan komitmen .000. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp.000.pembelian surat berharga Rp.pendapatan komprehensif lain * Harga wajar 993.088* b. g.506.250.000 476. Kas/Rekening. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 6 Juli 2010 Db.000.000.000 1. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.444 2. Pendapatan bunga surat berharga Rp. Ekuitas . Pencatatan penerimaan bunga pada tanggal 31 Juli 2010 Db. Rp.250..893 4. Pencatatan pengakuan bunga (selama 4 hari) pada tanggal 4 Agustus 2010 Db..775 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 69 .000 990. 990.. Rp.194. c.000 x 0.. Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 31 Juli 2010 Db.000.05 x 8/360)] Kr.556 [(1./Giro BI Kr. Rp.000.000.444 4.444.000 x 0.000. Pendapatan bunga yang akan diterima Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Juli 2010 Db.449 3.444 3. Db./Giro BI Rp. Surat berharga .000. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Rp.000 991.000 Nilai buku 990. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Db. 15.000. Rp. d. Rp.000.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 6 Juli 2010 Db.000 Kr.506. Rp.05 x 4/360)] Db. Kas/Rekening. f. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. 86./Giro BI Penyelesaian transaksi pada tanggal 9 Juli 2010 Db. Rp.surat berharga Rp.922 Keuntungan yang belum direalisasi 2. [(1.219 Kr Pendapatan bunga . 990.506.088 Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima [(1.000 15.05 x 23/360)] Kr.088* 2.670.000.Tersedia untuk Dijual Rp. e.493. 555..000 x 0. 641.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a..

Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal perdagangan.000 dengan kupon 8% pada harga par. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010.141 Kr. 4.088 Kr Surat berharga . Bank XYZ menjual surat berharga di 102 pada tanggal 6 Februari 2010 dengan tanggal penyelesaian 7 Februari 2010. 994. 991. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 4 Agustus 2010 Db.000. Untuk membeli obligasi dimaksud. 991.000. 70 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .468 Db.580.580.. Surat berharga dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Diperdagangkan) Pada tanggal 14 Januari 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp.141 Pencatatan penyelesaian penjualan surat berharga pada tanggal 5 Agustus 2010 Db. Rekening lawan . Kas/Rekening.000.580.000.859 (995.506.580.Tersedia untuk Dijual Rp. 4.141 Kr Keuntungan penjualan surat berharga Rp.penjualan surat berharga Rp.556 i.000. Asumsi : Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. 991. Kewajiban komitmen . harga pasar 101. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.000 – 990. 555.419.049.Bab IV I S u r a t Berharga h..141) Kr Pendapatan bunga yang akan diterima – surat berharga Rp. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Rp./Giro BI Rp. 15.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.1. 2. Pada tanggal 31 Januari 2010.

000. Rp. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.. Pendapatan bunga surat berharga (1.333. 1.000 Rp.000 x 0.. 15. Rp.surat berharga Kr.333. Rp. Rp.556 d./Giro BI [(1.333.010.000.000. Surat berharga .000.000. Beban pembayaran fee Kr.000 x 0.222 Rp.333 b.333 1.000. Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. 10. Keuntungan atas surat berharga Pengakuan bunga pada tanggal 6 Februari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Kas/Rekening.surat berharga Kr. Rp. 10.000.surat berharga Kr. Kas/Rekening. Rp.000 Rp./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 14 Januari 2010 Db.000.000.000.000 x 0.000.028.000 15.555.000 Rp.000. Pendapatan bunga yang akan diterima .000. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 14 Januari 2010 Db. g.000 3./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima ./Giro BI Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima . Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Pendapatan bunga surat berharga (1.333 3.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.333 f.08 x 6/360) Penjualan surat berharga pada tanggal 7 Februari 2010 Db Kas/Rekening. 1.556 3.222. 1.222 Rp. Kas/Rekening. Rp.000 1.08 x 16/360) Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Januari 2010 Db.000 10.. 8. 1.surat berharga Kr..555.333. e..000. Rp.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 71 .000. 3.000. c.08 x 15/360] Pembelian surat berharga pada tanggal 14 Januari 2010 Db..222. Rp...

Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut. 72 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan Surat Berharga. maka pihak yang mentransfer akan mereklasifikasi aset dimaksud di neracanya. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset tersebut akan dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pihak pemberi pinjaman. Jika pihak yang menerima transfer memiliki hak untuk menjual atau menggadaikan aset dimaksud. maka aset tersebut tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji dibeli Kembali A. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – aset yang secara substansial sama. atau jika aset keuangan tersebut dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset dimaksud akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan 2. misalnya sebagai aset yang dijaminkan atau piutang pembelian kembali. b. Definisi Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) adalah surat pengakuan utang jangka pendek dan jangka panjang yang diterbitkan oleh bank atau pihak ketiga bukan bank yang dijual dengan janji untuk dibeli kembali dari pembeli dengan harga yang telah disepakati pada awal transaksi. B. (Panduan Implementasi No.2: B.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Namun demikian.18) Contoh-contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip penghentian pengakuan dalam Pernyataan ini. a. Dasar Pengaturan 1.

Bab IV I S u r a t Berharga dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pemberi pinjaman. Untuk transaksi repo yang tidak memenuhi kriteria penghentian pengakuan (derecognition) maka surat berharga tetap berada pada pihak bank penjual dan tetap disajikan sebagai portofolio surat berharga bank. atau transaksi serupa untuk transaksi dengan jaminan surat berharga... maka aset dimaksud tidak dihentikan pengakuannya. atau jika aset keuangan dipinjamkan atau dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 73 . Jika perjanjian penjualan efek dengan janji dibeli kembali dengan harga pembelian kembali yang sudah ditetapkan atau harga yang setara dengan harga jual awal ditambah keuntungan pemberi pinjaman. Penjelasan 1. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – hak substitusi. Dalam transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). bank menjual surat berharga kepada pihak lain dengan harga tertentu dan berjanji untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu. Jika bank memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau 2. Dalam hal bank melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. maka aset yang dijual atau dijaminkan dalam transaksi pembelian kembali atau transaksi dengan jaminan surat berharga tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. Selanjutnya. maka bank harus memastikan dapat mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban pembelian kembali surat berharga yang dijual dengan syarat repo. c. karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset tersebut. Bank dapat melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam seluruh kategori surat berharga. memberi hak kepada penerima transfer untuk mensubstitusi aset yang ditransfer dengan aset serupa dan memiliki nilai wajar yang setara pada tanggal pembelian kembali. (PSAK 55: PA66) C.

Bab IV I S u r a t Berharga memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. Pengakuan dan pengukuran surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali mengacu pada perlakuan akuntansi untuk Surat Berharga. Dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban. Penyajian Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan dalam pos yang terpisah dari surat berharga lainnya yang tidak di-repo. 3. 74 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Ilustrasi jurnal Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali 1. maka bank harus melakukan amortisasi sampai dengan jatuh tempo kontrak repo. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali Kr. D.. Surat berharga yang dimiliki dan diserahkan sebagai jaminan pinjaman yang diterima tanpa perjanjian repo tidak termasuk dalam surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Surat berharga Penerimaan dana dari transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. 3. 2. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali tetap diakui sebagai aset keuangan dalam neraca bank. Reklasifikasi surat berharga Db.. maka bank harus mereklasifikasikan surat berharga tersebut. E./Giro BI Kr. Kas/Rekening. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (Jika terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan pada transaksi repo dan memenuhi persyaratan amortisasi.) 2.

2. b. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Tersedia untuk Dijual. 4. d. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a.Bab IV I S u r a t Berharga F. b. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. 3. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. yaitu: a. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 5. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). c. c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 75 . b. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. 6.

b. dan sebagainya). (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Informasi mengenai kualitas kredit surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. kebijakan.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 7. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. 76 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Analisis tersebut mencakup: a. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. commercial loans. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Pengungkapan kuantitatif 8. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. consumer loans. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). Tujuan. Analisis terhadap surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan klasifikasi surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diperingkat dan yang tidak diperingkat.

berdasarkan jangka waktu.Bab IV I S u r a t Berharga b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. (2) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat internal. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 10. dan c. antara lain sektor ekonomi dan geografi. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. mata uang. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan segmentasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 77 . Nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 2) Tipe/jenis penerbit. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. 9. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

jika dan hanya jika. 3.. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. lihat juga paragraf PA91). Dasar Pengaturan 1.Bab IV I S u r a t Berharga 3. (PSAK 55: Paragraf 49) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: (a) Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. 5. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. (PSAK 55: PA 79) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini.. B. 78 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali A. 4. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Definisi Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali adalah tagihan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 14) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. entitas mengukur pada nilai wajarnya. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. atau 2. (PSAK 55: Paragraf 43) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima...

. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. (b) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. 8. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. misalnya Direksi. (b) investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo..Bab IV I S u r a t Berharga (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). maka biaya- 7. (PSAK 55: PA39) Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didoku-mentasikan. …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. (PSAK 55: paragraf 8) . atau (ii) kelompok aset keuangan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 79 . Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. (PSAK 55: paragraf 8) 6. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihakpihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi...

yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. atau pelepasan lain. Setelah pengakuan awal. (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo sesuai definisi paragraf 8. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi 80 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . biaya pendanaan (financing costs). (PSAK 55: PA26) 11. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. (PSAK 55: Paragraf 8) 10. entitas mengukur aset keuangan. pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 46) 12. diukur pada biaya perolehan. dan (c) investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. (PSAK 55: PA82) 9. perantara efek dan pedagang efek.. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. konsultan. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang..Bab IV I S u r a t Berharga biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.

terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). … Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: paragraf 60) 14. (PSAK 55 : PA20) 13. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal . Dalam hal transaksi reverse repo memenuhi kriteria penghentian pengakuan.Bab IV I S u r a t Berharga yang telah direvisi. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. maka bank pembeli akan mencatat sebagai tagihan reverse repo. Penjelasan 1.. 2. dimana surat berharga tetap diakui oleh bank penjual.. bank membeli surat berharga dengan harga tertentu dan berjanji untuk menjual kembali dengan harga tertentu. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 81 . (PSAK 55: paragraf 8) C. jika dan hanya jika. Dalam transaksi pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi.

Kuotasi dipasar aktif. Kategori Tagihan Reverse Repo Secara umum. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. 1) 2 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 2) Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). 3 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. 4. tagihan reverse repo dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. 82 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kategori Tagihan Reverse repo Keterangan 1) Tagihan reverse repo yang dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Reklasifikasi Tagihan Reverse Repo Penjelasan mengenai reklasifikasi tagihan reverse repo dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. yang bukan disebabkan penurunan kualitas tagihan reverse repo. 1) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. yaitu: No. 5.Bab IV I S u r a t Berharga 3. 4 Tersedia untuk Dijual 2) Tagihan reverse repo yang dimiliki dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok tagihan reverse repo tersebut secara substansial. Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki tagihan reverse repo tersebut hingga jatuh tempo.

D. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Evaluasi penurunan nilai untuk tagihan reverse repo dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. bank mengakui “Tagihan reverse repo” sebesar nilai wajar. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. Pada saat melakukan transaksi reverse repo. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 83 . Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada Pinjaman yang Diberikan dan tagihan tersebut. yaitu: Tagihan reverse repo dalam kategori No. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi.Bab IV I S u r a t Berharga b. Penurunan Nilai a b Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap tagihan reverse repo dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. yang pada saat pengakuan awal Diukur pada Nilai Wajar melalui umumnya sama dengan jumlah pembayaran yang Laporan Laba Rugi dikeluarkan. 6. 7 Penghentian Pengakuan Penghentian pengakuan tagihan reverse repo dapat mengacu pada penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit.

Bab IV I S u r a t Berharga 2. 84 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Keuntungan/kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam ekuitas. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Selanjutnya. Keuntungan/kerugian yang timbul Diukur pada Nilai Wajar melalui dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba Laporan Laba Rugi rugi. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Piutang efektif. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar. b. Selanjutnya. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Untuk tagihan reverse repo dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Setelah pengakuan awal bank mencatat “Tagihan reverse repo” sebagai berikut: Tagihan reverse repo dalam kategori No. 3. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).

. Kas/Rekening.. Beban bunga/Pendapatan bunga Kr/Db. Tagihan reverse repo Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Pada awal transaksi tagihan reverse repo: Db.. Kas/Rekening. 3./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi biaya transaksi: Db. yaitu: No.. Tagihan reverse repo (sebesar pendapatan bunga dan amortisasi biaya transaksi) Kr. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Keterangan 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).. Tagihan reverse repo Kr../Giro BI atau Db/Kr. Pendapatan bunga tagihan reverse repo Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo Db./Giro BI Kr.. I 85 . yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Pinjaman yang Diberikan dan efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai Piutang jatuh temponya dan dikurangi penurunan nilai. Ilustrasi Jurnal 1. Tagihan reverse repo Kr/Db. 4. E. Kas/Rekening. 1 2 3 Tagihan reverse repo dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Tagihan reverse repo disajikan di neraca sesuai kategori./Giro BI (sebesar jumlah yang dibayarkan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas tagihan tersebut.. Kas/Rekening.

Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. 5. c. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 4. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. b. 86 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Asumsi penetapan nilai wajar tagihan reverse repo (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan reverse repo) dan agunan. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Pengungkapan kualitatif 7. c. Perubahan nilai wajar atas tagihan reverse repo yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. b. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas tagihan reverse repo sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. d. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. yaitu: a. kebijakan.Bab IV I S u r a t Berharga F. Tujuan. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan reverse repo. 3. 2. 6. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan reverse repo dalam penyusunan laporan keuangan. Tersedia untuk Dijual. b. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan reverse repo dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan tagihan reverse repo yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Jumlah tagihan reverse repo yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification).

Analisis terhadap tagihan reverse repo berdasarkan klasifikasi tagihan reverse repo yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan reverse repo. (3) Jumlah ekposur tagihan reverse repo yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kuantitatif 8. b. maka pengungkapan mencakup: c. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan reverse repo pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. Informasi mengenai kualitas kredit diluar tagihan reverse repo yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. Analisis tersebut mencakup: a. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan reverse repo sebagaimana pada butir a) di atas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 87 . (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

88 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. berdasarkan jangka waktu.000. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. (2) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat internal. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. dan d.000. dan tingkat bunga tagihan reverse repo yang dihitung secara rata-rata.000. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. antara lain sektor ekonomi dan geografi. mata uang. 9. 1.000.Bab IV I S u r a t Berharga (1) Proses pemeringkatan internal. 5.000. 10. Contoh kasus Karena kelebihan dana (likuiditas). Untuk membeli surat berharga dimaksud. G. Jumlah tagihan reverse repo yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung sebesar Rp. dimana Bank A setuju untuk melakukan pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali kepada Bank B sebesar Rp.000. 2) Tipe/jenis penerbit. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian penempatan dana dalam bentuk transaksi pembelian surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali. Jumlah tagihan reverse repo yang dimiliki berdasarkan segmentasi. 20. Nilai tercatat tagihan reverse repo yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan reverse repo. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate).

000. Beban pembayaran fee – tagihan reverse repo Kr.333. Kas/Rekening. Kas/Rekening.000.. 1.333. Tagihan reverse repo Kr.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi 1. Rp.666. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 4.333 3.6667 6. 1./Giro BI 3. Pengakuan bunga tanggal 15 Februari 2010 Db..666.000.000..6667 Rp. 5.000./Giro BI 2. 1.000 Rp. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 5. Rp. Penyelesaian transaksi pada tanggal 2 Januari 2010 Db.010./Giro BI Kr.000. Tagihan reverse repo Rp. Tagihan reverse repo Kr. Tagihan reverse repo Kr. 3. 6.. 1.000. Rp.000 Rp. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db.000 5.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 89 ..000 Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo tanggal 15 Februari 2010 Db. Rp.000.010. Pengakuan bunga tanggal 31 Januari 2010 Db. Kas/Rekening..000 Rp.333 Rp.

Dasar Pengaturan 1. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a) Kewajiban kontraktual: (i) Untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. 90 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . . atau (ii) Untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. B. Definisi Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali adalah kewajiban kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). jika dan hanya jika. (PSAK 55: Paragraf 14) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. 3.Bab IV I S u r a t Berharga 4. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali A.. (PSAK 50: Paragraf 7) 2. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif)..

. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. atau (ii) kelompok aset keuangan. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. entitas mengukur pada nilai wajarnya. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. . ditambah atau dikurangi dengan amortisasi 6. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi:…. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. (PSAK 55: PA28) 5.. misalnya Direksi. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 91 . Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). b) kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller (yaitu entitas yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut). Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok.Bab IV I S u r a t Berharga b. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif.

dan melalui proses amortisasi. C. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). (PSAK 55: Paragraf 39) 8. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dapat timbul dari: a. (PSAK 55: Paragraf 8) 7. (PSAK 55: Paragraf 8) Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. yaitu bank yang membeli surat berharga dengan janji dijual kembali. kewajiban keuangan tersebut berakhir. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. (PSAK 55: Paragraf 57) Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. atau transaksi short sell yang dilakukan oleh bank reverse repo. 9.. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. 92 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali yang dilakukan bank repo. jika dan hanya jika. Penjelasan 1. b. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih..Bab IV I S u r a t Berharga kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya.

Reklasifikasi Kewajiban Atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b. yaitu: No. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Kuotasi dipasar aktif. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) 3. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). 4. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. Kategori Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali merupakan kewajiban keuangan yang dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Kategori Kewajiban Keuangan 1) Keterangan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang timbul dari transaksi short sell (sebagaimana pada angka 1) b). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 93 .

Setelah pengakuan awal. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. 1 3. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. bank mengakui “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebesar nilai wajar. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi untuk kredit. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 94 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank mencatat “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebagai berikut: No. Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada kewajiban tersebut. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. 2 Diamortisasi (amortised cost) 2. Pada saat timbul kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. yaitu nilai wajar kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan 2 Biaya Perolehan Diamortisasi janji dibeli kembali yang diukur pada saat pengakuan awal (amortised cost) dikurangi pembayaran pokok. yaitu: No. 4. 1 Kewajiban dalam kategori Pencatatan pada saat penerbitan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar yang pada saat pengakuan awal umumnya melalui Laporan Laba Rugi Biaya Perolehan sama dengan jumlah pembayaran yang diterima.Bab IV I S u r a t Berharga D. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1.

Mencatat pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Kas/Rekening.. Pada saat jatuh tempo transaksi repo Db. Beban bunga Kr....Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (kewajiban repo) (sebesar jumlah pembayaran yang diterima) 2. Kewajiban repo 4. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).Kewajiban repo Kr. yaitu 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. yaitu: No... Kewajiban repo Kr. Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. Kas/Rekening. Ilustrasi Jurnal 1./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Amortisasi beban bunga dan biaya transaksi Db. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar./Giro BI Kr. I 95 ../Giro BI atau Db. Beban bunga Kr. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Keterangan E./Giro BI Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3.

Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank A sebesar Rp. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp.000. 1. Contoh kasus Karena kekurangan dana (likuiditas). b.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 96 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu: a. Untuk menjual surat berharga dimaksud. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.000. 3. 5.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian perolehan dana dalam bentuk transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali. b. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan.000. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. 2.Bab IV I S u r a t Berharga F. dimana Bank A setuju untuk melakukan penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali dari Bank B sebesar Rp.000. G. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.000. 20.

Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db. 1. 3.333 3.000.667 6.000 5.000.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal transaksi a. 1.000 Rp. Db.010. Beban bunga – Kewajiban repo Kr. Kas/Rekening. Pengakuan beban bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db. Rp./Giro BI Kr.000 Rp.666.000.000 Rp. Kewajiban repo c.000 Pencatatan penyelesaian transaksi repo pada tanggal 2 Januari 2010 Rp.666.000. 6.000../Giro BI b.000. Kas/Rekening.. Kewajiban repo Kr. Pengakuan beban bunga pada tanggal 15 Februari 2010 Db.010. Beban bunga – kewajiban repo Kr./Giro BI Rp.333 Rp.667 Rp. Rp. Kewajiban repo e. Rp..000.. 1.. Pada saat jatuh tempo transaksi repo tanggal 31 Januari 2010 Db. Beban pembayaran fee Kr. 1.000.333.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 97 .. Kas/Rekening. Kewajiban repo d. 5.333.

untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pihak lainnya (holder). dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang.Bab IV I S u r a t Berharga 5. Definisi Surat berharga adalah surat pengakuan utang. atau suatu kewajiban dari penerbit. (PSAK 50: Paragraf 7) b. 2. Dasar Pengaturan 1. atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan pemegang instrumen ekuitas (holder) dalam kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan pihak penerbit. atau kepentingan lain. kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu: (i) non derivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. obligasi. Surat Berharga yang Diterbitkan A. pihak penerbit tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk melakukan distribusi 98 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a. wesel. atau (ii) untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. atau (ii) derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. sekuritas kredit. Untuk tujuan ini. instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa yang akan datang. Fitur penting dalam membedakan antara kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas adalah adanya kewajiban kontraktual satu pihak dari instrumen keuangan (penerbit). Kewajiban kontraktual: (i) untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. Walaupun pemegang instrumen ekuitas mungkin berhak menerima dividen atau bentuk distribusi ekuitas lainnya secara pro rata. atau setiap derivatifnya. B.

8. (PSAK 50: Paragraf 15) Instrumen keuangan yang tidak secara eksplisit menciptakan kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya. baik tanpa hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya. merupakan dasar bagi penggolongannya dalam neraca entitas. maka kewajiban tersebut memenuhi definisi kewajiban keuangan. (PSAK 50: Paragraf 13) 3. Beberapa jenis instrumen keuangan memiliki bentuk hukum berupa ekuitas tetapi secara substansi merupakan kewajiban dan bentuk lainnya mungkin berupa kombinasi dari fitur instrumen ekuitas dan fitur kewajiban keuangan.... Suatu rangkaian hak atau kewajiban kontraktual memenuhi definisi instrumen keuangan apabila hak atau kewajiban tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penerimaan atau pembayaran kas atau menyebabkan perolehan atau penerbitan instrumen ekuitas. menyerahkan atau mempertukarkan instrumen keuangan merupakan suatu instrumen keuangan. (PSAK 50: Paragraf 14) Jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menghindari penyelesaian kewajiban kontraktualnya berupa penyerahan kas atau aset keuangan lainnya. maupun dengan hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya dengan persyaratan pengembalian pokok utang yang sangat sulit atau dalam jangka waktu yang sangat lama dimasa datang. dan surat saham (capital notes)) biasanya memberikan hak kontraktual kepada pemegangnya untuk menerima pembayaran bunga setiap tanggal tertentu dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak terbatas. bisa saja secara tidak langsung menciptakan kewajiban melalui persyaratan dan kondisi yang ada padanya. Substansi dan bentuk hukumnya umumnya sejalan.. (PSAK 50: Paragraf 16) Instrumen utang perpetual (seperti obligasi perpetual. dan kewajiban kontraktual terkait dari penjamin untuk membayar pemberi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 4. (PSAK 50: PA6) Hak atau kewajiban kontraktual untuk menerima. Substansi dari instrumen keuangan. 6. walau tidak selalu. Sebagai contoh...Bab IV I S u r a t Berharga tersebut karena penerbit instrumen ekuitas tidak diwajibkan untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada pihak lain.. (PSAK 50: PA7) Kemampuan untuk melaksanakan hak kontraktual atau persyaratan pemenuhan kewajiban kontraktual dapat bersifat absolut atau bersifat kontinjen atas terjadinya suatu peristiwa di masa datang. 5. bukan bentuk hukumnya. jaminan keuangan merupakan hak kontraktual bagi pemberi pinjaman untuk menerima sejumlah kas dari penjamin. I 99 . 7.. debentures.

Penerbit instrumen keuangan pada saat pengakuan awal harus mengklasifikasikan instrumen tersebut atau komponen-komponennya sebagai kewajiban keuangan. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. dan instrumen ekuitas. (PSAK 55: Paragraf 43) 11. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). 100 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 14) 10. entitas mengukur pada nilai wajarnya. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. aset keuangan. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. jika penerima pinjaman wanprestasi. meskipun aset dan kewajiban tersebut tidak selalu diakui dalam laporan keuangan. jika dan hanya jika. Hak dan kewajiban kontraktual timbul akibat transaksi atau peristiswa masa lalu (dengan asumsi terdapat penjaminan). (PSAK 50: Paragraf 11) 12. (PSAK 50: PA8) 9. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Beberapa hak dan kewajiban kontinjen mungkin merupakan kontrak asuransi dalam ruang lingkup PSAK 36 dan PSAK 28.Bab IV I S u r a t Berharga pinjaman. meskipun kemampuan pemberi pinjaman untuk melaksanakan haknya dan keharusan penjamin untuk memenuhi kewajibannya bersifat kontinjen atas kejadian wanprestasi oleh penerima pinjaman dimasa datang. atau instrumen ekuitas sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi kewajiban keuangan. Hak dan kewajiban yang bersifat kontinjen memenuhi definisi aset dan kewajiban keuangan.

Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan.. (PSAK 55: Paragraf 8) 15.Bab IV I S u r a t Berharga b. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. (PSAK 55: Paragraf 8) 13. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat.. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar.. (PSAK 55: PA28) 14. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 101 . menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. misalnya Direksi. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. atau (ii) kelompok aset keuangan. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya.. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi: . dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. (c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif.

perantara efek dan pedagang efek. biaya pendanaan (financing costs). (PSAK 55: Paragraf 12) 18. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. kecuali untuk derivatif kewajiban yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif seperti diatas dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. Kewajiban tersebut. diukur pada biaya perolehan. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. atau (b) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). diukur pada nilai wajarnya. kecuali untuk: (a) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 102 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya.Bab IV I S u r a t Berharga 16. kecuali: (a) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. Setelah pengakuan awal. termasuk derivatif yang diakui sebagai kewajiban. (PSAK 55: Paragraf 11) 17. konsultan. entitas mengukur seluruh kewajiban keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. (PSAK 55: PA26) 19.

entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. paragraf 29 dan 31 diterapkan dalam pengukuran kewajiban keuangan tersebut. (PSAK 55: Paragraf 8) 21. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. Pada saat menghitung suku bunga efektif. Namun demikian.. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. (PSAK 55: PA19) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 103 . atau jika lebih tepat. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. dalam kasus yang jarang terjadi. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. biaya transaksi. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang.. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). (PSAK 55: Paragraf 47) 20.Bab IV I S u r a t Berharga (b) kewajiban keuangan yang timbul ketika sebuah transfer aset keuangan tidak memenuhi syarat penghentian pengakuan atau transfer yang dicatat menggunakan pendekatan keterlibatan berkelanjutan.

Pertukaran diantara peminjam dan pemberi pinjaman yang saat ini ada atas instrumen utang dengan persyaratan yang berbeda secara substansial dicatat sebagai penghapusan (extinguishment) kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya.. jika dan hanya jika. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 8) 25. (PSAK 55: Paragraf 39) 26. (PSAK 55: PA20) 23. Jika entitas membeli kembali bagian dari kewajiban keuangan. modifikasi secara substansial atas ketentuan kewajiban keuangan yang saat ini ada atau bagian dari kewajiban keuangan tersebut (terlepas ada atau tidak keterkaitannya dengan kesulitan keuangan debitur) dicatat sebagai penghapusan kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. Demikian juga. (PSAK 55: Paragraf 41) 28. kewajiban keuangan tersebut berakhir. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas.. Selisih antara (a) nilai tercatat kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) yang berakhir atau yang ditransfer pada pihak lain.Bab IV I S u r a t Berharga 22. diakui dalam laporan laba rugi. maka entitas mengalokasikan nilai tercatat sebelumnya dari kewajiban keuangan tersebut kepada bagian yang tetap diakui dan bagian yang dihentikan pengakuannya berdasarkan 104 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: Paragraf 40) 27. (PSAK 55: Paragraf 57) 24. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. dan melalui proses amortisasi. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. (PSAK 55: Paragraf 42) C. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 105 . Kategori Surat Berharga 1) Keterangan Surat berharga yang diterbitkan untuk dibeli kembali dalam waktu dekat. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Penjelasan 1. untuk bagian yang dihentikan pengakuannya tersebut diakui dalam laporan laba rugi. 3.Bab IV I S u r a t Berharga nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal pembelian kembali. Bank yang menerbitkan surat berharga pada saat pengakuan awal harus menetapkan apakah surat berharga tersebut merupakan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas yang didasarkan pada substansi perjanjian kontraktual dan bukan pada bentuk hukumnya. Kategori Surat Berharga Surat berharga yang diterbitkan yang merupakan kewajiban keuangan dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori kewajiban keuangan. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. 1 Diukur pada Nilai wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) 2 Biaya perolehan diamortisasi Surat berharga yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui (amortised cost) Laporan Laba Rugi. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. Selisih antara (a) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian yang dihentikan pengakuannya. yaitu: No. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 2. Surat berharga yang pada saat diterbitkan ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung.

atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. 6. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. bank dapat menghentikan pengakuan atas surat berharga yang diterbitkan jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki kewajiban kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut karena kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak telah berakhir. komponen-komponen tersebut harus diklasifikasikan secara terpisah. Instrumen Majemuk Untuk surat berharga yang mengandung komponen ekuitas dan kewajiban keuangan. b. 7. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. baik karena dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluarsa.Bab IV I S u r a t Berharga 4. 106 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau 2) Bank menerbitkan surat berharga yang baru dengan persyaratan yang berbeda secara substansial untuk menggantikan surat berharga sebelumnya atau memodifikasi secara substansial surat berharga yang telah diterbitkan. 5. Kuotasi dipasar aktif. Penghentian Pengakuan (Derecognition) a. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Dalam laporan keuangan.

Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. b Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan pada kredit. Pada saat penerbitan surat berharga. bank mengakui “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebesar nilai wajar. Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Biaya perolehan diamortisasi memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang (amortised cost) dapat diatribusikan langsung pada penerbitan surat berharga. D. Surat berharga dalam kategori 1 Pencatatan pada saat penerbitan Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada saat Diukur pada Nilai Wajar melalui pengakuan awal umumnya sama dengan harga Laporan Laba Rugi penerbitan surat berharga. Setelah penerbitan surat berharga. bank mencatat “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebagai berikut: No. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. 1 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 107 . 2 2. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1.Bab IV I S u r a t Berharga Dalam laporan keuangan konsolidasi. yaitu: No. Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. 2 Biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi.

/Giro BI Pada saat pengakuan beban bunga Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi terkait penerbitan surat berharga Db.. 108 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Penyajian Surat berharga yang diterbitkan disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan.. Kas/Rekening. yaitu: No. Pada saat menerbitkan Db. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan Biaya Perolehan Diamortisasi awal. Kas/Rekening. 3. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga yang diterbitkan mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi sebagaimana pada Bab mengenai Kredit. Surat berharga ./Giro BI 2. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Laporan Laba Rugi Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Kas/Rekening.. Beban Kr. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1. Keterangan 2 E.. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Sebesar nilai wajar. 4./Giro BI Kr..Bab IV I S u r a t Berharga 3. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi pada Bab mengenai Kredit. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif (amortised cost) menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. 4. Beban bunga Kr..

/Giro BI Surat Berharga yang Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortised Cost) 1. c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 109 . Surat berharga – amortised cost Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db.... Surat berharga ./Giro BI atau Db. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan dikurangi bunga dibayar dimuka) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Bab IV I S u r a t Berharga 5. Surat berharga – amortised cost Kr. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a. Kas/Rekening.. 6. Beban bunga Kr. Kerugian karena peningkatan nilai wajar surat berharga-Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b. Pada saat pelunasan Db./Giro BI Kr. Surat berharga . Penyesuaian nilai wajar a..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat Db.. Surat berharga – amortised cost Pada saat jatuh tempo Db. Kas/Rekening.. Kas/Rekening. d. Kas/Rekening. Pada saat menerbitkan Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Kas/Rekening.. Beban bunga Kr../Giro BI b.

e./Giro BI b.. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi penerimaan bunga Db... Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Kas/Rekening./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b.../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a. Surat berharga – amortised cost Kr./Giro BI Kr. Pada saat menerbitkan Db... Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db./Giro BI atau Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. 110 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Beban bunga Kr.. Beban bunga Kr. Kas/Rekening. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. Surat berharga – amortised cost Kr. c.. Surat berharga – amortised cost Kr. Beban bunga Kr. Kas/Rekening./Giro BI Pada saat jatuh tempo Db. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db.. Kas/Rekening.. Kas/Rekening. d... Kas/Rekening. Pada saat menerbitkan Db.Bab IV I S u r a t Berharga 2.. 3./Giro BI Kr. Kas/Rekening.../Giro BI atau Db.

Beban bunga yang masih harus dibayar Kr../Db../Giro BI atau Db../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db. Kas/Rekening. 4. Surat berharga – amortised cost Kr. e.Bab IV I S u r a t Berharga c. Beban bunga Kr./Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening.../Giro BI Pada saat jatuh tempo Db.. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. c.... d. Beban bunga Kr.. Surat berharga – amortised cost Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db./Giro BI d./Giro BI b./Giro BI Kr. Pada saat menerbitkan Db. Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi premium dan biaya transaksi) Kr.. Kas/Rekening. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a. Kas/Rekening.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 111 . Beban bunga Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan biaya transaksi) Kr. Kas/Rekening.

Contoh Kasus Pada tanggal 1 Desember 2010 Bank XYZ menerbitkan obligasi Rp.000.5% pada 99.375. b. yaitu: a. b.000. Bunga dibayarkan setiap tanggal 24 Februari dan 24 Agustus. Untuk menerbitkan obligasi dimaksud.000 dengan kupon bunga 7. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. G. 2. Surat berharga – amortised cost Kr.. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Kas/Rekening. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. 20. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan.000..Bab IV I S u r a t Berharga e. Pada saat jatuh tempo Db. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. 112 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ./Giro BI F. 3. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 3 Desember 2010.1. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan.000.

(lihat tabel) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 113 . 20.000.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank XYZ sebesar Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.

298 998.708.948 1.333 37.000) 973.862.000 1.219 (21.566.830.382.339.956.000.636 156.311.336) (13.000 1.659 (25.000.694.614.333.171.734.552 977.000.705 1.295 5.504) (14.133.583 1.000.866.000.000 1.168 1.000 1.729 981.333 5.000.490.586) (15.798.108 925.875.222 39.753.810 978.742 978.000.538.975.000.000 1.485) (10.875.333 37.333 37.000.408 1.617.946 980.062) (8.000 31-Dec-10 - 31-Jan-11 - 24-Feb-11 - 24-Aug-11 - 24-Feb-12 - Akuntansi Perbankan Indonesia 24-Aug-12 - 24-Feb-13 - 24-Aug-13 - 24-Feb-14 - 24-Aug-14 - 24-Feb-15 - 24-Aug-15 - 24-Feb-16 - 24-Aug-16 - 24-Feb-17 - 24-Aug-17 - 24-Feb-18 - 24-Aug-18 - 24-Feb-19 - 24-Aug-19 - 24-Feb-20 - 24-Aug-20 1.000.741 978.173) (7.783 39.416 1.258 (22.058.333.333 37.448) 38.308.108 122.591 1.667 38.247 982.904.000 1.201.291.238.518 1.267.090 39.083 39.781.000 1.776.333 37.741.333 38.124.501 1.664 986.952.364) 973.000.948 1.221.250.708.333 37.000 .734.000 1.691) (5.088.916.000.992 156.832.000 1.754) 0 39.267.584.000.311.333 37.001.000 1.000.407.000.000.333.000.500 1.408 (23.058.043.000 1.741 39.168 1.333 37.333 38.754 26.333 38.889 1.000.900.281 39.246.000.461.000.000 1.054) (19.893) (11.694.333 6.000.038 39.000 1.250.448.333 38.000 1.167 1.000.333 37.333 38.816 40.636 (26.753) (17.000.078.705) 974.116 1.028.000.000.414 984.490.702) (1.776 39.095.408 1.333.889 1.708.938 991.246 0 6.333 38.166.855) 5.926.223.423 1.083 1.333.088.986) (3.443 1.783 1.515 989.171.000.000 - - 1.000.448.633.047.366.827 992.754 38.000.333.659 122.557.333 39.553 1.391.879.000.423 1.000 1.708.969 140.333.000 1.000.833.636 (26.000 1.107 988.973.000.617 40.408 1.333.691.708.258 1.458.518 39.000 140.000.000.708.925.634.000.108 (25.000 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .916 (20.482 1.709.705 1.778.000.916.284 1.000.742 (24.144.000.403 975.000.333 38.144.075 925.482 1.169.875.708.074.(b) Pengakuan amortisasi dalam L/R Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e) Berharga Tanggal Kupon Pembayaran 3-Dec-10 1.258.443 1.284 1.238.122.442.370.000.603.014 996.708.000 1.145 976.708.Bab IV I S u r a t Tabel: Surat Berharga yang Diterbitkan 114 I P e d o m a n Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) 5.000 1.001.571.672.000.916 1.000.370.333.339.029 979.597) 974.603.190) 39.832.309 994.000 1.000.496 985.167 38.566.890.852 1.000.000.271) (18.109.971) 38.219 1.088 39.750.478.442.005.000.667 38.000.000 37.000.073.137.

. Pengakuan bunga. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Desember 2010 Db. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 5. Pencatatan pembayaran brokerage fee tanggal 1 Desember 2010 Db.992 156.000 20. 20./Giro BI Rp 17. Kas/Rekening.666 Jurnal untuk pengakuan dan pembayaran bunga serta amortisasi selanjutnya sama dengan jurnal di atas Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 115 . Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Rp 122.750. 5.. Kas/Rekening. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp Kr. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost 3.969 140.333 Rp.000 6.000 Rp. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.636 4. Rp.833. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.291.666 17. 5. Rp.. Kas/Rekening. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr. Rp.000 993.000 Pengakuan bunga. Pembayaran bunga pada tanggal 24 Februari 2011 Db.659 5. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.333 Rp Rp 6.122.000.000.458. Pencatatan pada saat penyelesaian tanggal 3 Desember 2010 Db. Pengakuan bunga. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp. 993.000./Giro BI 2.Bab IV I S u r a t Berharga Ilustrasi Jurnal 1.. Rp./Giro BI Kr.614. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 6. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Rp 5..108 Kr.973.291.. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Februari 2011 Db. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Januari 2011 Db.750.108 Kr.

088 1.754 h) Pencatatan pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020 Db.584.surat berharga yang diterbitkan Rp 37. Beban bunga yang masih harus dibayar surat berharga yang diterbitkan Kr. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr./Giro BI Rp Rp 37.037.708.708. Beban bunga yang masih harus dibayar .000.000.Bab IV I S u r a t Berharga 7. 1. Kas/Rekening.333 Rp Rp 39.000 116 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ..333 1.875..333 Rp. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Db.708. Pencatatan amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Agustus 2020 Db.

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. ditetapkan berdasarkan perjanjian. 3. Pemberian dan Penyaluran A. Kredit sindikasi disebut juga kredit dalam rangka pembiayaan bersama. Bank tidak menanggung risiko atas kredit dan untuk tugas tersebut bank menerima imbalan jasa berupa fee atau bagian dari bunga. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 117 . Penerusan kredit dibedakan menjadi: a. Kredit Two Step Loans (TSL) adalah kredit oleh bank yang seluruh dananya berasal dari pinjaman luar negeri yang diterima pemerintah untuk membiayai pengembangan sektor usaha tertentu sesuai perjanjian kredit antara peme- 2. Pasal 1 angka 11) Kredit Sindikasi (Syndication Loans) adalah kredit secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih atau perusahaan pembiayaan lainnya dengan pembagian dana.Bab V I K r e d i t Bab V Kredit 1. Kredit Executing adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan sebagian lagi berasal dari bank. Sumber dana dan risiko kredit yang ditanggung bank. dan bank dapat menanggung atau tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan. Penerusan Kredit adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pihak lain. dan pendapatan (bunga dan provisi/komisi) sesuai porsi kepesertaan masing-masing anggota sindikasi. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Kredit Channeling (Channeling Loan) adalah kredit yang seluruh dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan diberikan untuk sektor usaha/debitur tertentu yang ditetapkan oleh pihak penyedia dana. Definisi 1. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (UU No. Dalam hal ini bank bertindak sebagai pengelola atas seluruh kredit tersebut. risiko. c. b.

. komitmen. 4....Bab V I K r e d i t rintah dan pemberi dana (lender). 7.. kecuali: 2. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. Kredit yang Dijamin adalah kredit yang seluruh atau sebagian risikonya ditanggung oleh pemerintah/asuransi atau pihak lain. Dasar Pengaturan 1. EBA (Efek Beragun Aset) adalah Instrumen keuangan yang sumber utama pembayarannya berasal dari aliran kas yang dihasilkan oleh underlying asetnya dan bukan dari kemampuan membayar dari perusahaan yang memiliki aset tersebut (originator). catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan.. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. 5. (PSAK 1: Paragraf 71) 3. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. B. Anjak Piutang (Factoring) adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi usaha. Bank tetap menanggung risiko atas kegagalan pemberian kredit tersebut atau sesuai perjanjian. 6. (PSAK 1: Paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. laporan laba rugi. Kartu Kredit (Credit Card) adalah fasilitas/kredit yang diberikan oleh bank yang penarikannya dilakukan melalui pembayaran transaksi jasa dan perdagangan serta penarikan tunai (cash advance) sampai dengan jumlah tertentu sesuai dengan batas/limit yang ditentukan oleh bank. 118 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . laporan arus kas.

pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. Namun. 6. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. I 119 . lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.Bab V I K r e d i t a. b. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. piutang dagang. investasi dalam instrumen utang. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 5. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya… (PSAK 55: Paragraf 52) Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. c. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut… (PSAK 55: PA39) Jika.

telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo)… (PSAK 55: Paragraf 8) …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. … (PSAK 55: Paragraf 49) 11. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan. 10. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. lihat juga paragraf 91)… (PSAK 55: PA 79) 12. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). perantara efek dan pedagang efek. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian.Bab V I K r e d i t kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule)… (PSAK 55: Paragraf 53) 7. biaya pendanaan 120 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . konsultan. (PSAK 55: Paragraf 8 ) 13. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif.. 9. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 43) 8.. entitas mengukur pada nilai wajarnya. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. . (PSAK 55: PA39) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.

atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). dan (d) aset keuangan tersedia untuk dijual Keempat kategori diatas menggunakan pengukuran dan pengakuan laba atau rugi berdasarkan Pernyataan ini.Bab V I K r e d i t (financing costs). (PSAK 55: PA 80) 15. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 121 . pada nilai wajarnya.... (PSAK 55: Paragraf 45) 16. entitas mengukur aset keuangan. Setelah pengakuan awal. Pernyataan ini mengklasifikasikan aset keuangan dalam empat kategori sebagaimana didefinisikan pada paragraf 8: (a) aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo (c) pinjaman yang diberikan atau piutang. atau pelepasan lain.. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Jika entitas memberikan pinjaman dengan suku bunga diluar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk pinjaman serupa adalah 8 persen) dan menerima fee dimuka sebagai kompensasinya. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. (PSAK 55: Paragraf 46) 17. maka entitas mengakui pinjaman tersebut pada nilai wajarnya. (PSAK 55: PA 26) 14. yaitu nilai setelah dikurangi fee yang diterimanya. . tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. Entitas mengakui diskon yang terjadi pada laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Untuk tujuan pengukuran nilai aset keuangan setelah pengakuan awal. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.

maka entitas tersebut biasanya mengamortisasi setiap fee. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). dan premium atau diskonto lainnya disesuaikan dengan suku bunga pasar sebelum perkiraan jatuh tempo atas instrumen tersebut.Bab V I K r e d i t 18. (PSAK 55: Paragraf 8) 19. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. atau jika lebih tepat. Namun demikian. Dalam 122 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . biaya transaksi. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. Entitas harus memasukkan kerugian kredit yang terjadi tersebut dalam estimasi arus kas ketika menghitung suku bunga efektif. Dalam beberapa kasus. periode yang lebih singkat digunakan apabila periode tersebut terkait dengan fee. Hal ini dapat terjadi apabila variabel yang terkait dengan fee. poin yang dibayarkan atau diterima. dan premium atau diskonto lainnya. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). Namun. dalam kasus yang jarang terjadi. biaya transaksi. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. biaya transaksi. Pada saat menghitung suku bunga efektif. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. Apabila entitas menerapkan metode suku bunga efektif. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. biaya transaksi. poin yang dibayarkan atau diterima. (PSAK 55: PA17) 20. aset keuangan diperoleh dengan diskon yang sangat besar yang pada dasarnya mencerminkan kerugian kredit yang terjadi. poin yang dibayarkan atau diterima. dan premium atau diskonto lainnya yang termasuk dalam perhitungan suku bunga efektif selama perkiraan umur instrumen tersebut. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang.

aset dinilai sebesar UMU100 (tanpa memperhitungkan besarnya komisi pada saat penjualan) dan kerugian sebesar UMU2 harus diakui dalam ekuitas.Bab V I K r e d i t kasus tersebut. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. aset tersebut diakui pada UMU102. (PSAK 55: PA82) 24. periode amortisasi yang tepat adalah periode sampai dengan tanggal penyesuaian nilai berikutnya. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 123 . (PSAK 55: PA20) 23. …Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Contoh berikut ini mengilustrasikan akuntansi untuk biaya-biaya transaksi yang terjadi saat pengukuran awal dan setelahnya untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. Jika aset tersebut dijual. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Suatu aset diperoleh dengan harga UMU100 ditambah komisi pembelian UMU2. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang.(PSAK 55: PA18) 21. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. maka biayabiaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: PA19) 22. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. Awalnya. Pada tanggal tersebut. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. komisi yang harus dibayarkan adalah UMU3.. Tanggal pelaporan keuangan berikutnya terjadi sehari setelah pengakuan awal ketika harga kuotasi pasar atas aset tersebut adalah UMU100.. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif...

b. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. Kredit berdasarkan pengertiannya antara lain memiliki unsur-unsur sebagai berikut: a. Kredit investasi. risiko. b. e. aktivitas peminjaman uang atau tagihan sebesar plafon yang disepakati. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas (PSAK 55: Paragraf 8) 26. antara lain: a. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. c. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. dan jaminan dan atau agunan (jika ada) Jenis kredit menurut penggunaannya. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. d. (PSAK 55: Paragraf 24) C. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan.Bab V I K r e d i t 25. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau kewajiban jasa pengelolaan. dan Kredit konsumsi. f. b. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. Kredit modal kerja. pendapatan berupa bunga atau imbalan atau pembagian keuntungan. (PSAK 55: Paragraf 17) 27. persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. jika dan hanya jika: a. 124 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). 2. jangka waktu tertentu. Penjelasan 1.

dan biaya lainnya sesuai dengan perjanjian kredit. 12. 8. 4. L/C. serta cerukan. Termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama. 6. dan Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 125 . Jenis kredit berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti obyektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai terdiri dari: a. dalam perhatian khusus (DPK). Penggolongan ini dilakukan untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian bank (prudential regulation). pembelian surat berharga debitur yang dilengkapi dengan note purchase agreement (NPA). Kelonggaran tarik adalah fasilitas kredit yang masih dapat ditarik oleh debitur dari plafon yang tersedia. kurang lancar (KL). b. Pokok kredit adalah saldo kredit yang telah digunakan debitur dan belum dilunasi oleh debitur (biasa disebut sebagai baki debet). Penggolongan kredit menurut kualitas. 11. 7. 5. Kewajiban debitur adalah seluruh kewajiban debitur kepada bank berupa pokok kredit ditambah tagihan bunga. yaitu jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan). terdiri dari kredit dengan kualitas lancar (L). kredit dalam restrukturisasi. denda (penalty). kredit yang berasal dari bank garansi.Bab V I K r e d i t 3. 10. dan macet (M). Plafon adalah jumlah maksimum kredit yang diterima oleh debitur sebagaimana tercantum dalam surat perjanjian/kredit. Cerukan (overdraft) adalah jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia pada pos giro atau penggunaan kredit yang melebihi plafon yang disetujui. Bunga cerukan adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas penggunaan kredit yang melebihi plafon yang telah ditentukan dan biasanya dinyatakan dalam persentase. 9. Kredit yang mengalami penurunan nilai. Bunga kredit adalah imbalan yang dibayarkan oleh debitur atas kredit yang diterimanya dan biasanya dinyatakan dalam persentase. atau fasilitas lainnya yang tidak dapat diselesaikan (wanprestasi) dan dialihkan menjadi kredit. diragukan (D).

16. Participant: bank yang ikut serta mendanai pemberian kredit sindikasi tersebut. maka pendapatan provisi yang diterima bank berbedabeda bentuknya. b. Denda (penalty) adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas keterlambatan pembayaran pokok dan atau bunga atau kewajiban lainnya. Bank sebagai agent akan menerima agent fee dan atau management fee. 18. a. c. Provisi kredit adalah biaya yang harus dibayar debitur pada saat kredit disetujui dan biasanya dinyatakan dalam persentase. 126 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank sebagai Participant akan menerima provisi kredit dari maksimum kredit dan commitment fee dari kredit yang belum ditarik (undrawn portion) secara proporsional dengan bank peserta lain. sehingga bank tidak mencatat aset maupun kewajiban keuangan.Bab V I K r e d i t 13. bertindak sebagai administrator dan menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit mengurangi kewajiban keuangannya (risiko kredit ditanggung oleh pihak ketiga). bank yang terlibat dalam pemberian kredit tersebut dapat bertindak sebagai: a. 14. Bank sebagai arranger akan menerima arranger fee. Arranger: bank yang mensponsori/memfasilitasi terbentuknya kelompok “Bank Sindikasi”. bank dapat: a. Dalam kredit executing. 15. Commitment fee adalah biaya yang harus dibayar debitur atas bagian kredit yang belum digunakan. untuk itu bank mencatat sebagai aset keuangan (executing) sebesar risiko kredit yang ditanggung. c. 17. Dalam kredit chanelling. tidak terdapat aliran dana masuk atau keluar melalui bank. selain bertindak sebagai administrator. Berdasarkan fungsi tersebut. Agent: bank yang bertindak sebagai pemimpin kelompok bank peserta sindikasi atau disebut juga Bank Induk. b. b. bank menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit bank menanggung sebagian atau seluruh risiko kredit. Dalam aktivitas kredit sindikasi. hanya bertindak sebagai administrator terhadap kredit yang diberikan oleh pihak ketiga.

Penjelasan mengenai reklasifikasi kredit mengacu pada Bab Penjelasan Umum mengenai Reklasifikasi Aset Keuangan. kredit diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah biaya transaksi. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. yang bukan disebabkan penurunan kualitas kredit. Misalnya. kredit yang diberikan dapat dibukukan dalam 4 kategori aset keuangan. kredit yang diberikan dengan maksud dijual kembali secara langsung atau melalui skema sekuritisasi. Kuotasi dipasar aktif. Piutang 3 4 20. Secara umum. 2 Dimiliki Hingga − Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Jatuh Tempo ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. − Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki hingga jatuh tempo. Pada saat pengakuan awal. yaitu: No 1 Kategori Aset Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan − Kredit yang diberikan atau dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 127 . Tersedia untuk − Kredit yang pada saat pengakuan awal ditetapkan Dijual dalam kategori Tersedia untuk Dijual − Kredit yang diberikan dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok kredit secara substansial. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. − Kredit yang pada saat diberikan/dibeli ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Penentuan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 21. Pinjaman yang Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Diberikan dan ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif.Bab V I K r e d i t 19.

Suku bunga kredit sebesar 10% yang dibayarkan setiap tahun. Kredit berjangka waktu 5 tahun dan akan jatuh tempo pada 31 Desember 2014. ABC sebesar Rp. 22.000.000.000. berdasarkan nilai wajar tersebut. bank menerima provisi kredit sehingga dana yang dibayarkan kepada debitur sebesar 98% dari total kredit. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. yaitu sebesar arus kas keluar (pokok ditambah/dikurangi biaya transaksi berupa pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dan/ atau premium atau diskonto) CF = arus kas bersih berdasarkan persyaratan kontraktual (seperti penerimaan pokok.000. yang berdasarkan formula tersebut di atas. Nilai wajar kredit pada saat pengakuan awal adalah sebesar pokok kredit yang dicairkan oleh debitur.000 49.000 5.000 = —————— + —————— + —————— + —————— + —————— (1 + r) 1 (1 + r)2 (1 + r)3 (1 + r)4 (1 + r)5 128 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pelunasan dipercepat. atau 3) Analisa arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar (dapat menggunakan suku bunga yang ditawarkan bank) yang berlaku untuk kredit sejenis. denda.000 55. bunga. call option dan lainnya) r = suku bunga efektif (effective interest rate) t = jangka waktu Contoh: Pada tanggal 1 Januari 2010 bank memberikan fasilitas kredit kepada PT. yaitu: 5. Selanjutnya. 50 juta. Suku bunga efektif (r) adalah = 10. Dalam pemberian fasilitas tersebut.Bab V I K r e d i t b.000 5. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari aset lain yang sejenis.000.000 5.000. dapat dihitung suku bunga efektif dengan formula sebagai berikut: CF CF CF PV = ———— + ———— + · · · · + ———— (1 + r)1 (1 + r)2 (1 + r)t dimana: PV = nilai wajar yang merupakan present value dari kredit yang diberikan.53482%.

Dalam menghitung suku bunga efektif. Apabila bank memberikan kredit dengan skema bunga meningkat atau menurun (step up/down) yang sudah diketahui sejak awal (sudah diperjanjikan). 24. Suku bunga efektif akan berubah setiap kali dilakukan perubahan estimasi arus kas masa datang yang dihasilkan dari perubahan tingkat suku bunga. Jenis-jenis pendapatan dan beban tersebut antara lain: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 129 . Ketentuan penetapan suku bunga efektif adalah sebagai berikut: a. bank harus memperhatikan secara cermat biaya transaksi yang meliputi pendapatan dan beban selain bunga (yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit) yang harus diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. syarat-syarat. Selanjutnya suku bunga efektif akan disesuaikan pada saat penyesuaian suku bunga berikutnya. jenis suku bunga. yaitu berdasarkan estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk jenis kredit serupa (dalam hal mata uang.Bab V I K r e d i t 23. termasuk ketika bank memberikan keringanan suku bunga melalui restrukturisasi kredit atau melakukan revisi estimasi pembayaran atau penerimaan bunga dan pokok. Kredit dengan suku bunga mengambang. Kredit dengan suku bunga tetap dengan penyaluran secara bertahap atas jumlah plafon kredit memiliki suku bunga efektif tersendiri untuk setiap tahapan penarikan kredit kecuali pada awal pemberian kredit. b. dan faktor lainnya) dan memiliki peringkat kredit yang serupa. Amortisasi pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dilanjutkan dengan menggunakan suku bunga efektif yang baru. maka nilai wajar kredit harus diestimasi menggunakan teknik penilaian. perhitungan suku bunga efektif didasarkan pada arus kas dengan menggunakan suku bunga yang diestimasi pada awal pemberian kredit. waktu penarikan dan jumlah pada setiap penarikan telah diketahui. d. Suku bunga efektif yang dihitung berdasarkan arus kas kontraktual pada dasarnya tidak dapat diubah sampai dengan seluruh kewajiban debitur dibayar lunas. c. Jika bagian dari penyerahan dana kepada debitur ditujukan untuk hal selain pemberian/pembelian kredit tersebut. maka hal tersebut sudah harus diperhitungkan pada saat perhitungan awal arus kas untuk menentukan suku bunga efektif. 25. Kredit dengan suku bunga tetap memiliki satu suku bunga efektif yang dihitung pada awal pemberian kredit.

130 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. atau Bank telah mentransfer kredit tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Opsi pelunasan sebelum jatuh tempo harus dievaluasi lebih lanjut apakah merupakan derivatif melekat yang memenuhi persyaratan untuk dipisahkan dari Kredit sebagai kontrak utamanya (host contract) (lebih lanjut lihat Bab mengenai Tagihan dan Kewajiban Derivatif).Pengakuan dan Pengukuran. tinjauan lokasi debitur (on-thespot). biaya appraisal dan lain-lain. karyawan atau pihak lain untuk setiap aplikasi kredit yang disetujui. dan/atau Pendapatan dan beban lainnya yang tidak dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit.Bab V I K r e d i t a. Fee yang terkait dengan jangka waktu kredit. dan 2) Biaya konsultan untuk notaris dan hukum. Jika fee/provisi kredit diterima sekaligus untuk kredit dengan penarikan secara bertahap maka fee/provisi tersebut dialokasikan secara proporsional sesuai jumlah penarikan kredit dalam setiap tahap. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas kredit yang diberikan jika dan hanya jika: a. Biaya yang dikeluarkan bank dalam rangka pemberian/pembelian kredit seperti: 1) Fee atau imbalan yang dibayarkan kepada developer. Jenis-jenis pendapatan dan beban yang tidak dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang antara lain: a. 26. Seluruh pendapatan dan beban yang dapat diakui sekaligus sebagaimana dimaksud pada angka 12 Perlakuan Akuntansi . Denda (penalty) yang dikenakan kepada debitur atas opsi pelunasan sebelum jatuh tempo yang tertuang dalam perjanjian kredit. 27. b. Denda/penalty yang dikenakan terkait dengan biaya administrasi tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit tersebut. c. Dalam laporan keuangan. b. antara lain fee (seperti origination fee dan commitment fee) dan provisi kredit yang tertuang dalam perjanjian kredit. sepanjang fee/provisi tersebut secara langsung timbul pada saat pemberian/pembelian kredit (akuisisi aset). karena opsi tersebut menyebabkan bank tidak dapat menerima bunga secara penuh hingga jatuh tempo.

2) Bank tidak diperkenankan menjual atau mengagunkan kredit yang ditransfer kecuali untuk menjamin hak penerima akhir untuk menerima arus kas masa datang. Terdapat pass-through-arrangement yang dipenuhi dengan 3 kondisi yaitu: 1) Bank tidak wajib membayar penerima akhir. dan pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan tersebut (jika ada) harus diserahkan kepada penerima akhir. b. yaitu antara tanggal penagihan dan tanggal pembayaran kepada penerima akhir. dan giro pada bank lain selama periode penyelesaian jangka pendek. sehingga bank menentukan apakah bank masih memiliki pengendalian atas kredit tersebut.Bab V I K r e d i t 28. Jika bank mentransfer atau mengalihkan kredit. Bank hanya dapat menempatkan dana tersebut pada kas. penjualan kredit dengan opsi untuk membeli kembali pada nilai wajarnya saat pembelian kembali). kecuali jika bank memperoleh jumlah yang setara dari kredit awalnya. dan secara terpisah mengakui sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut. 3) Bank berkewajiban untuk menyerahkan setiap arus kas masa datang yang ditagihnya untuk dan atas nama penerima akhir tanpa penundaan yang signifikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 131 . maka bank mengevaluasi sejauh mana bank tetap memiliki risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. baik dengan mentransfer hak kontraktual atau tetap memiliki hak kontraktual namun menanggung kewajiban kontraktual (passthrough arrangement). maka bank menghentikan pengakuan kredit dan mengakui secara terpisah sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut (contoh penjualan kredit tanpa syarat. maka bank menghentikan pengakuan kredit tersebut. Kriteria penghentian pengakuan atas kredit sebagaimana dimaksud pada angka 27 b antara lain: a. Dalam hal ini: 1) Jika bank secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit. 2) Jika bank secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. Dalam hal ini: a) Jika bank tidak lagi memiliki pengendalian. giro pada Bank Indonesia.

maka bank tetap mengakui kredit sebesar keterlibatan berkelanjutannya dengan kredit. Pada saat penandatanganan perjanjian kredit dengan debitur. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. kredit modal kerja (KMK) plafon menurun atau kredit konsumsi. kredit yang dihapusbuku dapat dikeluarkan dari neraca. kecuali untuk penerusan kredit. akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan tetap/tidak bertambah pada saat diterima setoran. bank mengakui sebagai ”Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur” sebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwal penarikan/penggunaan kredit yang disepakati bank dengan debitur. Bank masih memiliki pengendalian atas kredit yang ditransfer apabila penerima transfer tidak memiliki kemampuan praktis untuk menjual kredit yang ditransfer tersebut. yaitu: 132 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan kredit yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat kredit karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari kredit. D. 29. Jumlah kewajiban komitmen fasilitas kredit tersebut dapat berkurang atau bertambah selama jangka waktu kredit sesuai jenis kreditnya. Terkait dengan karakteristik khusus industri perbankan.Bab V I K r e d i t b) Jika bank masih memiliki pengendalian. Kredit investasi. b. yaitu: a. Pada saat pencairan kredit. Kredit modal kerja/rekening koran akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan akan bertambah pada saat diterima setoran. meskipun tidak mengikuti kriteria penghentian pengakuan. bank mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan” sebesar nilai wajar.

yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. dan/atau Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. Pada saat pencairan kredit. tetapi sebagai “Kredit yang diberikan” kepada debitur. biaya talangan. dan/atau biaya yang dikeluarkan bank karena debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya. Rugi Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat pengakuan awal sama dengan harga transaksi. dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit tersebut. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama (kredit sindikasi) diakui sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan (baik sebagai bank induk maupun sebagai bank peserta) dikurangi atau ditambah pendapatan dan/ atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembiayaan bersama tersebut. 2 3 4 3. Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak terkait dengan jangka waktu kredit. maka atas dana tersebut tidak dapat diakui sebagai “Pinjaman yang diterima dari bank peserta”. b. 4. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 133 . bank tidak perlu melakukan kapitalisasi atas pendapatan dan/atau beban pada biaya perolehan kredit dan dapat mengakui secara langsung sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika: a. Demikian juga bank peserta sindikasi tidak mengakui sebagai “Tagihan kepada bank induk”.Bab V I K r e d i t No 1 Kredit dalam kategori Pencatatan pada saat pencairan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat melalui Laporan Laba pengakuan awal sama dengan harga transaksi. Apabila bank menjadi bank induk sindikasi (agent) dan menerima transfer dana dari bank peserta sindikasi (participant bank). tetapi langsung dikreditkan ke pos giro debitur di bank induk (escrow account). Misalnya. pendapatan fee atas pengelolaan rekening debitur.

b. ditambah atau dikurangi dengan amordan Piutang tisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. tetapi mengungkapkannya pada catatan atas laporan keuangan sebagai penerusan kredit. 134 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Untuk kredit dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui secara langsung dalam ekuitas 6. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam hal bank memberikan kredit berdasarkan perjanjian penerusan kredit (channeling) atau kredit kelolaan. 7. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. maka bank tidak diperkenankan mengakui sebagai “Kredit yang diberikan”. Setelah pencairan kredit. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui pada laporan laba rugi Sebesar nilai wajar. bank mencatat kredit yang diberikan sebagai berikut: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 Tersedia untuk Dijual Pencatatan setelah pencairan Sebesar nilai wajar. yaitu nilai wajar kredit yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan pokok. 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). apabila bank menanggung risiko maka bank mengakuinya sebagai “Kredit yang diberikan” sebesar risiko yang ditanggung. Selanjutnya. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas.Bab V I K r e d i t 5. Namun.

Bab V I K r e d i t Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Selanjutnya. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 135 . b. b. Dalam menentukan suku bunga pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b. yaitu jika bank: a. 9. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. misalnya base lending rate ditambah risk premium dan profit margin untuk kredit sejenis. Reklasifikasi kredit diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. c. nilai tercatat (carrying amount) pada saat pengakuan awal dapat berbeda dengan nilai kredit yang akan diperoleh pada saat jatuh tempo. dan/atau memberikan/membeli kredit secara diskonto atau premium. harus diakui sebagai berikut: a. 8. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. bank dapat menggunakan suku bunga acuan yang berlaku di bank. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari kredit dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. memberikan kredit dengan suku bunga di luar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk kredit sejenis adalah 8 persen). namun harus diamortisasi selama masa manfaat kredit dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premium atau diskonto. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. menerima pendapatan (di luar bunga) dan/atau mengeluarkan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit tersebut. Untuk kredit yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi.

000. Dalam hal bank mengalami kerugian. 12. 100. Bank dapat tidak melakukan amortisasi atas pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit dan mengakui sekaligus sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika besarnya pendapatan dan biaya transaksi tersebut tidak material. dan besarnya: 1) pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. material. misalnya kredit yang bersifat revolving. Tingkat materialitas secara individu ditetapkan oleh manajemen dengan berdasarkan kepada estimasi angka agregat.000. apabila bank memiliki laba sebelum pajak sebesar Rp. pinjaman rekening koran. Bank harus menetapkan tingkat materialitas dan mendokumentasikan dalam kebijakan akuntansi. Dalam hal hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit yang diberikan telah berakhir dan/atau bank telah mentransfer keseluruhan kredit yang 136 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia b. 13.000. 2) perbedaan suku bunga kredit yang diberikan dan suku bunga pasar atas kredit sejenis.000.000 (5% x 100. dan/atau 3) diskonto atau premium atas pemberian/pembelian kredit.000. Total biaya transaksi sebesar 5% atau kurang dari rata-rata laba sebelum pajak selama 3 tahun terakhir dianggap tidak material. Tingkat materialitas ditetapkan secara agregat dengan membandingkan total biaya transaksi dengan laba sebelum pajak. Total biaya transaksi secara agregat ini merupakan batas maksimal dari akumulasi biaya transaksi individual yang dianggap tidak material.000. 11. Sebagai contoh. . dan kartu kredit. Selisih antara nilai tercatat kredit (yang merupakan biaya perolehan diamortisasi) dengan nilai kredit yang akan diterima pada saat jatuh tempo kredit diamortisasi selama periode berjalan menggunakan metode suku bunga efektif. laba sebelum pajak menggunakan rata-rata 3 tahun terakhir sebelum bank mengalami kerugian untuk menentukan tingkat materialitas secara agregat.000.Bab V I K r e d i t 10. 5. maka biaya transaksi secara agregat sebesar Rp. Bank dapat menggunakan metode garis lurus dalam melakukan amortisasi untuk: a.000) dianggap tidak material. 14. kredit dengan skedul penarikan dan pembayaran (arus kas) yang sulit diprediksi. Penghentian pengakuan kredit a.

diakui pada laporan laba rugi. yaitu: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 3 4 Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Penyajian pada neraca Sebesar nilai wajar. Penyajian 1. dan (ii) jumlah dari pembayaran yang diterima atas bagian kredit yang ditranfer tersebut ditambah/dikurangi keuntungan/kerugian kumulatif atas bagian kredit tersebut yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. Kredit sindikasi disajikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank. maka bank tidak lagi mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan”. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas kredit yang diberikan. yaitu nilai wajar kredit yang Pinjaman yang Diberikan dan diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Selanjutnya. 3. selisih antara (i) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian kredit yang ditransfer. Dalam hal bank telah mentransfer sebagian kredit yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan. 2. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 137 . Kredit yang dijamin disajikan berdasarkan kredit yang disalurkan bank. ditambah atau dikurangi Piutang dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.Bab V I K r e d i t b. maka bank tidak lagi mengakui bagian kredit tersebut sebagai ”Kredit yang diberikan” dan nilai tercatat sebelumnya (nilai wajar atau biaya perolehan diamortisasi) dari keseluruhan kredit harus dialokasikan pada bagian yang tetap diakui dan bagian yang telah dihentikan pengakuannya berdasarkan nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal transfer. Kredit disajikan di neraca sesuai kategori. memenuhi kriteria penghentian pengakuan.

Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. disajikan sebagai tagihan bunga kredit atau pendapatan bunga kredit yang akan diterima. Rekening lawan . Kredit .amortised cost atau Kr. Sementara itu. Kredit .Bab V I K r e d i t 4. Kas/Rekening…/Giro BI 138 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . E Ilustrasi Jurnal 1. 5.fasilitas kredit yang belum digunakan b. Kewajiban komitmen . Pendapatan bunga dari kredit (yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang pada saat pengakuan awal kredit atau pada saat penyesuaian suku bunga kredit) yang telah diakui sebagai pendapatan tetapi belum diterima pembayarannya. Kredit kelolaan disajikan pada pos kredit yang diberikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. Pada saat pencairan kredit kepada debitur Db. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi a. Pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db.amortised cost Kr.amortised cost Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Pendapatan bunga (Apabila nilai provisi kredit yang diterima tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. pendapatan bunga dari kredit yang tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang yang dibuat pada saat pengakuan awal kredit atau pada penyesuaian suku bunga kredit dicatat pada rekening administratif. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

Kredit . Db. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Kr. Db.amortised cost Pendapatan bunga kredit Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 139 .amortised cost Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kredit . Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank./Kr. Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. d. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db. Rekening lawan . Kewajiban komitmen .

Kas/Rekening.biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db. Pendapatan arranger fee kredit sindikasi 2) Agent/management fee Db. Pada saat menerima klaim asuransi dari perusahaan asuransi Db. Tagihan klaim asuransi Kr. Nasabah notaris/perusahaan asuransi f. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. premi asuransi barang agunan) Db.amortised cost . Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai Bank Induk/ agent/lead manager a. agent/management fee dan provisi kredit sindikasi dari debitur 1) Arranger fee Db.Bab V I K r e d i t e. Pendapatan agent/management fee kredit sindikasi Kr./Giro BI Kr. Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr. Giro BI (berdasarkan porsi bank lain yang menjadi wakil agent) 140 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan biaya . Pada saat menerima pembayaran arranger fee.. Tagihan klaim asuransi 2. Tagihan biaya .hasil klaim asuransi h.biaya kredit g..

Kredit sindikasi-bank induk (berdasarkan porsi bank tersebut) Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan c. dicatat sama dengan butir 1. e dengan asumsi penagihan kepada debitur dilakukan oleh bank induk sindikasi e. d dengan tambahan jurnal untuk penerimaan bunga dan pokok porsi bank peserta Db. Pada saat pencairan kredit kepada debitur 1) Penyediaan dana oleh bank induk Db.Bab V I K r e d i t 3) Provisi kredit Db. Rekening escrow debitur 2) Penerimaan dana dari bank peserta Db. Kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank induk) Kr. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 141 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit (berdasarkan porsi bank tersebut) Db. Rekening lawan . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rekening perantara kredit sindikasi f. Giro BI/Bank peserta Kr. Kewajiban komitmen . Kas/Rekening…/Giro BI g. c Pada saat menerima setoran dari debitur dicatat sama dengan butir 1.kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur Kr. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Pada saat meneruskan penerimaan bunga dan atau pokok kredit sindikasi porsi bank peserta Db. premi asuransi barang agunan). Giro BI (berdasarkan porsi bank peserta) b. Pada saat melakukan amortisasi dan perhitungan dan pembebanan bunga kredit sindikasi yang besarnya sesuai dengan porsi kredit bank bersangkutan. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. dicatat sama dengan butir 1. Rekening escrow debitur d.

bunga dan biaya) oleh debitur dibukukan melalui bank induk/agent dan bank peserta akan menerima transfer dana pembayaran (pokok. Namun demikian. bunga dan biaya) dari bank induk/agent.Bab V I K r e d i t h. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Dana untuk penyaluran kredit (rekening penampungan dana sementara) 2) Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur Karena risiko kredit ditanggung penyedia dana. Pada saat menerima commitment fee atas bagian kredit yang belum ditarik (undrawn portion) oleh debitur Db. dengan perbedaan: a. Penerusan kredit tanpa risiko a. Bank menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan 1) Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. b. Penarikan kredit oleh debitur pada hakekatnya dilakukan sesuai dengan perjanjian kredit sindikasi. maka Bank tidak menerima provisi kredit (debitur tidak membayar provisi kredit). Pendapatan commitment fee kredit (berdasarkan porsi bank bersangkutan) Kr. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai bank peserta (Participant Bank) Pada prinsipnya akuntansi pada bank peserta kredit sindikasi sama dengan akuntansi Kredit. 142 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pada umumnya penarikan kredit oleh debitur dilakukan melalui bank induk/agent dan bank peserta harus memindahkan (transfer) dana atau kredit yang akan ditarik kepada bank induk/ agent. Pembayaran kredit (pokok. Kas/Rekening…/Giro BI 3. Pada saat meneruskan pembayaran commitment fee kredit sindikasi porsi bank peserta Db. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. 4. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rekening perantara kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank peserta) i.

Kewajiban lain . dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 6) Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 143 . Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat pada extracomptable rekening penerusan kredit 4) Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur dicatat pada extracomptable 5) Pada saat menerima pembayaran bunga kredit dari debitur Db. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit channeling 7) Pada saat menyelesaikan pembayaran bunga dan atau pokok kredit setelah dikurangi dengan fee penerusan kredit kepada penyedia dana Db.Bab V I K r e d i t Tidak mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan. Kewajiban lain .Setoran bunga kredit channeling Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 8) Apabila fee harus ditagihkan kepada penyedia dana a) Pada saat menagih Db. 3) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan fee penerusan kredit b) Pada saat menerima fee kredit channeling dari penyedia dana Db.Setoran bunga kredit channeling Bersamaan dengan itu. Kewajiban lain . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan fee penerusan kredit Kr. Dana untuk penyaluran kredit (rekening sementara) Kr.Setoran pokok kredit channeling Kr.

Pada saat penerimaan pendapatan bunga dari debitur Db. Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur (1) Untuk dana yang berasal dari bank sama. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. maka bank mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan berdasarkan porsi yang ditanggung bank. e. (2) Untuk dana yang berasal dari penyedia dana dicatat pada extracomptable. d. Bank tidak menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 144 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Bersamaan dengan itu. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) Db. 1) Pada saat menerima perintah untuk membukukan bukti penarikan kredit dicatat pada extracomptable. c. c. Pendapatan bunga kredit kelolaan yang akan diterima (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. Kewajiban lain . Karena sebagian risiko kredit ditanggung bank.Bab V I K r e d i t b. Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat extracomptable kredit kelolaan yang dananya berasal dari penyedia dana. 5. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) b. dicatat sama dengan butir 1. Kredit kelolaan a. 2) Tata cara pembukuan lainnya sama seperti apabila bank menerima dana dari penyedia dana. bank hanya diminta mengadministrasikannya. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur. Kredit kelolaan (sebesar dana yang ditanggung oleh bank) Kr. Penarikan kredit sudah dilakukan oleh debitur langsung ke penyedia dana.

8. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Kredit dengan Penjaminan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Pada saat transfer setoran pokok dan atau bunga kepada penyedia dana Db. Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Kredit kelolaan (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr./Giro BI Db/Kr. Pendapatan bunga (sebesar provisi/komisi/diskonto yang diterima) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Db. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan bunga kredit c. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Kr..Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 6. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar Db.Bab V I K r e d i t f. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 145 . Kr. Giro BI/rekening pihak penyedia dana g. b. Kredit Two Steps Loan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. 7. Kewajiban lain . Kredit Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kas/Rekening..

Tersedia untuk Dijual Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 146 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kredit .Tersedia untuk Dijual Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kewajiban komitmen . Kredit .fasilitas kredit yang belum digunakan b.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kredit .Tersedia untuk Dijual atau Kr.Bab V I K r e d i t 2) Sebesar setoran bunga debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db. Kredit . Keuntungan (kerugian) karena peningkatan (penurunan) nilai wajar (MTM) Kredit . Kr. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kredit . Kredit Tersedia untuk Dijual a. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 9.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi e. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya Db/Kr. Pada saat menjual kredit Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai Kredit Tersedia untuk Dijual 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Pendapatan bunga (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi d. Rekening lawan .

Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit . Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable.Tersedia untuk Dijual Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 147 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kewajiban komitmen . Db.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Rekening lawan . maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan manajemen masing-masing bank. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit dicatat Db. Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. d.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.Tersedia untuk Dijual Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pendapatan bunga kredit Db/Kr. Kr. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dalam hal tidak terdapat ketentuan yang mengatur.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Kredit .

Tagihan klaim asuransi Kr. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Kr. Tagihan biaya-biaya kredit g. Db. Ekuitas . Kas/Rekening …/Giro BI Kredit . premi asuransi barang agunan) Db. Tagihan klaim asuransi i. Mencatat penerimaan klaim asuransi dari perusahaan asuransi. Ekuitas . Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Kas/Rekening …/Giro BI Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr/Db. Kredit – Tersedia untuk Dijual j. Kas/Rekening…/Giro BI f. Pada saat menjual kredit Db.Tersedia untuk Dijual Db/Kr. Kr. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya (dihitung dari selisih antara nilai tercatat dengan harga pasar) Peningkatan nilai wajar Db.Pendapatan komprehensif lain Penurunan nilai wajar Db. Kredit – Tersedia untuk Dijual Kr. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db.Bab V I K r e d i t e. Tagihan biaya-biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr.hasil klaim asuransi h. Kredit . Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 148 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening …/Giro BI Kr.

Tersedia untuk Dijual. Pengalihan kredit yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh kredit. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. d. termasuk namun tidak terbatas pada: a. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Jumlah kredit yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). b. Kategorisasi dan nilai tercatat kredit. 2. yaitu: a. c. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. F. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Jurnal kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dilakukan sebagaimana kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). c. Asumsi penetapan nilai wajar kredit (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran kredit) dan agunan. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. b. Jenis kredit. 5. 3. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan perkreditan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a.Bab V I K r e d i t 10. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting. Perubahan nilai wajar atas kredit yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 149 . b. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kredit dalam penyusunan laporan keuangan. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. 6. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan kredit yang masih tetap berada di bank. dengan rincian berikut: a. 4.

consumer loans. dan nilai tercatat kewajiban terkait. dan pihak penjual proteksi kredit dalam transaksi credit derivative). Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan dan credit derivative). 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur kredit sebagaimana pada butir a) di atas. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko kredit pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. Nilai tercatat kredit dan kewajiban terkait. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. jika bank tetap mengakui seluruh bagian kredit. yang meliputi: 150 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan sebagainya). Analisis tersebut mencakup: a. nilai tercatat kredit yang tetap diakui bank. d. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko kredit dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). Tujuan. commercial loans. Total nilai tercatat kredit awal yang dialihkan. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. kebijakan. jika bank tetap mengakui sebagian kredit sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). Informasi mengenai kualitas kredit diluar kredit yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas perkreditan sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. 7. Pengungkapan kualitatif 8. b. c. Pengungkapan kuantitatif 9.Bab V I K r e d i t c.

10. Nilai tercatat kredit yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. (b) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. maka pengungkapan mencakup: (a) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat. (b) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat internal. (d) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. mata uang. 4) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate). Jumlah kredit kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Jumlah kredit berdasarkan segmentasi. 3) Tipe/jenis debitur.Bab V I K r e d i t 1) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. 13. dan tingkat bunga kredit yang dihitung secara rata-rata. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai. 12. (c) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. antara lain sektor ekonomi dan geografi. 5) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas kredit. 11. maka pengungkapan mencakup: (a) Proses pemeringkatan internal. (c) Jumlah ekposur kredit yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. Jumlah penerusan kredit (channeling loan/kredit kelolaan). berdasarkan jangka waktu. 2) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 151 . d.

Bab V I K r e d i t G. 14.1 % atau Rp.000 + Rp. − Suku bunga kredit sama dengan suku bunga pasar.000. 35.000 = (Rp.500. Lihat Tabel 1: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost dan Tabel 2: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000.500.500. Contoh Kasus 1.000).000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1.000.000.500.000/bulan.500. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga tetap) Pada tanggal 1 Januari 2010. 14. 35.000. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.25%/bulan 0.000 .520. Asumsi: − Debitur memenuhi seluruh kewajibannya (lancar). 14.14. Berdasarkan data di atas. 14.20. 152 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Rp. 20.000.000. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.

679 (181.508.505.979 14.250.627 14.910.250.884 14.979 14.518.000 3 28-Feb-10 181.000 6 31-May-10 181.104 (181.250.520.008 14.250.250.517.666 (181.058 14.144 179.411.282 14.321) (1.999.518.500.916) 179.905 14.172.826.627.000) (181.513.517.098 (14.Tabel 1 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F 14.760.250.821 14.553.431 179.515.738.803.250.856) (1.250.821 14.681.512.999.058 14.446.250.000) 179.000.334) (1.000 9 31-Aug-10 181.904.000) 179.250.948 14.250.500.289.008 14.000) (181.000 11 31-Oct-10 181.398 (181.250.000 4 30-Mar-10 181.489.000) (181.520.508.717.250.324.221 179.000 5 30-Apr-10 181.000) (1.602) (1.503.512.655.000) (1.910.000 7 30-Jun-10 181.503.500.000) (181.654.123 14.237% (Original Effective Interest Rate/EIR) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Keterangan p = pokok Trx = transaksi i = suku bunga kontraktual Bab V I K r e d i t I 153 .507.569) (1.124) (1.902) (1.630.423.500.696.221 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (14.000 8 31-Jul-10 181.574.779 179.513.000) 179.411.615.000) (1.250.511.627.000 14.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.000) 2 31-Jan-10 181.821 (181.468.000) (1.501.905 14.510.921 179.896) 179.904.000 10 30-Sep-10 181.000 12 30-Nov-10 181.634.000) (181.630.655.250.000 14.876 (181.781.532.250.250.614.172.123 14.655.079) (1.675.627 14.250.510.507.948 14.179) 14.505.000 13 31-Dec-10 14.515.221) 179.595.884 14.594.289.826.250.250.826.520.084 (181.635.501.250.000) 179.282 14.250.250.324.250.

250.000 31-Jul-10 14.000 14.000) (181.000 14.500.250.000 14.250.000) (181.500.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.500.500.000.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 30-Mar-10 14.250.000 30-Apr-10 14.250.000 14.000.000 14.000.500.500.500.500.500.500.000.500.250.000) (181.000 14.500.Tabel 2 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 14.000) .000 30-Sep-10 14.000.000 81.000.250.500.000 (14.000.250.250.500.500.000 14.500.250.000.000.500.000 14.250.000.500.000 31-Dec-10 14.500.000 30-Jun-10 14.500.000.000.000 81.000.250.000 14.000.000 14.000 14.000.000.000 14.000.000 30-Nov-10 14.000.000 81.250.000.000 31-May-10 14.000 (181.000.000 81.250.000 14.000 14.000.500.000) (181.000 14.000 81.000 14.000.000.500.250.500.000 81.500.500.000.250.000 14.000 81.500.250.000 14.000) 14.000) (181.000.000.000.250.500.250.000 14.000.500.000 31-Aug-10 14.000) (181.000 28-Feb-10 14.000 (181.000 14.000.000) 81.000) 81.500.500.000.500.500.000 81.500.000.000 31-Oct-10 14.000.000) (181.250.000) (181.250.500.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akrual Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 154 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.000.000.500.000 81.000 (181.500.250.000.250.000 (181.500.000.000) 81.000 14.000.250.

Bab V I K r e d i t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 155 .

2. Tanggal 31 Desember 2010. Kr. Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 20.423. 181.000.779 181./Giro BI Kr. c. 3 sd 12 sama dengan transaksi no.000 181.250.000 181. Rp.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 20.amortised cost Rp. Kredit .000.221 179. Kredit . Kr. Kr.amortised cost Rp.179 179.250.amortised cost Rp.000 14. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.826. 5) Pada saat pelunasan pokok kepada debitur Db. Pendapatan bunga kredit Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.500.000 Jurnal transaksi untuk no..250. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.500. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000 20.250. 20.000 1. Rp. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 14. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit . Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 156 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .250. Rp.000 1.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db..595.250. Rp. Kas/Rekening.654. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.821 181. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 181. Kr. Pendapatan bunga kredit Rp.

35.500.500.000. 14.500.20. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga mengambang) Pada tanggal 1 Januari 2010.Rp. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.1 % atau Rp.35%/bulan pada tanggal 31 Juli 2010.000 + Rp.25%/bulan 0.000. Berdasarkan data di atas.500.000.000. 14.000 .000.500. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. 20. 14. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 157 . Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.Bab V I K r e d i t 2.14.5%/bulan. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.000. 14. suku bunga berubah menjadi 1.000/bulan. 1 Juli 2010. Asumsi: − − Pada tanggal 1 Januari 2010 diasumsikan bahwa suku bunga diprediksikan akan meningkat menjadi 1.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1. Lihat Tabel 3 sampai dengan Tabel 6.520.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.000).000. 35.000 = (Rp.

531.230 14.373) (9.000 12 30-Nov-10 195.027 186.299 (181.973 186.591.518.000 4 30-Mar-10 181.437.456 D E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.145.835.801.750.525.000) 186.262.631.520.774 4.000) 186.079 14.948.250.750.000) 186.397 14.250.500.332.623 186.202 (8.903 sub total 14.000 11 31-Oct-10 195.332.663.720.401 14.154.000) 186.285% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .637 (181.527.972) (8.000) (195.381.627 186.750.35%/bulan) Bab V I K r e d i t 158 I P e d o m a n No C 14.000 10 30-Sep-10 195.536.028 (195.750.545.637 5.841.736.914.623 (181.548.202 Tahun Expected Cashflow Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dgn EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit A B 1 1-Jan-10 (14.520.973 0 186.250.250.689.852.542.750.401 14.774 14.000) 5.680 (181.695.000 5 30-Apr-10 181.000 7 30-Jun-10 181.750.250.408.336 187.250.250.000 3 28-Feb-10 181.444.299 33.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.408.000) 186.520.536.000) 5.553.750.506 (181.154.506 5.566 14.444.553.573 (14.750.456 (181.542.750.604.250.250.759 14.202 14.000) 2 31-Jan-10 181.792) (9.000 9 31-Aug-10 195.000) (195.437.456 14.518.250.000 13 31-Dec-10 14.208 186.750.852.230 14.397 14.000) (195.548.000) (195.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.973) 14.000) 5.352.664) (8.527.844.250.509.536.456 14.000) (195.000 8 31-Jul-10 195.881.Tabel 3: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (asumsi pada 1 Januari 2010 suku bunga diprediksikan akan meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.536.545.500.986.262.700.531.913.352.750.500.450.000 14.107.680 5.525.107.427) (9.881.250.029.079 14.750.903 14.759 14.844.262.344.566 14.487.509.060.000.770.

000 181.000.500.000.000 Bab V I K r e d i t I 159 .000 14.500.500.000.000.000.000.000) 14.000.250.000 31-May-10 14.000.000 14.000.000.000 14.500.500.000 30-Mar-10 14.000 14.000.000.750.500.000) 181.000.000 14.000 30-Apr-10 14.000 14.000 30-Jun-10 14.Tabel 4 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000.500.500.000.000 195.500.500.250.500.000.500.000) 181.750.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000 (195.000 14.000.000 14.000) (195.500.250.000.000.000 14.250.250.500.500.000 195.000 14.000.000 14.500.250.000 30-Sep-10 14.500.500.000 (181.000 14.500.000 (181.000 14.000) (181.750.000.500.000.000 14.000.000 195.000.000) (195.750.000) (195.000) 181.250.000) (195.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-10 14.000 195.000 14.250.000 (181.750.000.500.750.500.500.000 (181.000.500.250.000 31-Jul-10 14.000.000 181.000.000 195.000 181.500.500.500.750.750.250.000 30-Nov-10 14.500.750.750.000.000 (181.500.000) 14.000.500.000 31-Aug-10 14.000.000.000 31-Oct-10 14.250.500.000 14.000) 195.000 14.000.500.500.500.000 28-Feb-10 14.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.500.000) (195.000.000.000 14.750.500.000 14.750.000.500.000 14.000.000) sub total 14.000.250.000 (14.

000) 2 31-Jan-10 181.525.165.553.250.500.035.591.000 9 31-Aug-10 217.405.202 (8.000.397 14.000) (181.107.296.296.299 186.000) (217.852.531.623 5.173) (9.250.759 14.332.000) sub total 14.903 14.700.753 14.663.000 8 31-Jul-10 217.852.405.379 14.506 186.000) (181.000) (217.680) (8.548.690 Suku Bunga Efektif Baru 1.334.520.202 Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dengen EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit 160 I P e d o m a n No C Tahun Expected Cashflow A B 1 1-Jan-10 (14.444.844.500.186.000 14.000 12 30-Nov-10 217.456 14.631.444.497.500.520.680 5.736.500.000) (181.690 0 5.073 14.545.527.637 186.079 14.506 5.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.000) (181.545.842.285% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .000 11 31-Oct-10 217.518.250.203.000 7 30-Jun-10 181.509.520.250.000) (181.250.657.913.449) (8.753 14.079 14.694) (9.542.000 4 30-Mar-10 181.456 14.881.770.000) (217.500.332.520.202 14.310 208.500.299 33.531.186.536.903 186.525.000 14.344.623 186.250.536.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.500.497.250.000) 5.250.250.000) (217.536.500.637 5.500.500.500.107.456 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.551 (217.509.250.827 (14.718.Bab V I K r e d i t Tabel 5 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (suku bunga meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.759 14.306 208.863 14.000) (217.073 14.592.844.986.863 14.000 5 30-Apr-10 181.680 186.536.484 208.000 10 30-Sep-10 217.548.461.250.907.450.542.381.881.456 14.320 208.500.5%/bulan) Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F (181.000) 208.397 14.516) (9.500.553.717.518.000 13 31-Dec-10 14.527.500.43% 208.296.464.781.500.250.379 14.500.841.690) 14.000 3 28-Feb-10 181.461.

000.000 14.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.000 14.500.000.000 14.500.250.500.000 (181.500.500.000.000.000 30-Apr-10 14.250.250.250.500.000 14.000.250.000.000.000 14.000.500.000.000 14.500.000 14.500.000 31-May-10 14.500.000.500.000 30-Jun-10 14.000.500.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000.500.000) (217.000 sub total 14.000 14.500.500.500.500.000) 181.000.000.000) 14.000) 14.000.500.000 (14.500.000 30-Sep-10 14.000 31-Oct-10 14.500.000.500.000 217.250.500.250.000.500.250.000.500.500.000 14.250.000) 17.500.000 17.250.000 14.500.000.000.000) (217.Tabel 6: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 31-Jul-10 14.000.000 181.000.000 14.000.000) (217.000 14.000 14.000 31-Aug-10 14.500.500.500.000.500.000 (217.250.500.000.000 217.000.000 30-Mar-10 14.000.500.000.000.500.500.000) (217.000 Bab V I K r e d i t I 161 .500.000 14.000.000 14.000 (181.000 14.000) 181.000 17.500.500.000 (181.500.500.000.000 17.000.500.500.000.250.000 30-Nov-09 14.000.000 (181.500.500.500.500.000 (181.500.000 14.500.000 (181.500.000.000.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-09 14.000) 181.000.000) (217.000 14.000 28-Feb-10 14.000) 81.500.000.000 14.000 14.000) 81.

14..000 35.000 162 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ./Giro BI Kr.500.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 20. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000 14.. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif.000. Rp..amortised cost Kr.500.500.. 14. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000 Rp. Rp. Rp. Kredit .Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. Db. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.500.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db. Rp.000. Tanggal 31 Januari 2010.500./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Rp./Giro BI Rp.000 35. Kas/Rekening.000. Rp.000 20. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db./Giro BI Kr.. Kredit .500. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Rp. Rp. 20.500. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 14.000.000.000 14. Kas/Rekening. Kas/Rekening.000 Kr. Kas/Rekening.500. Kredit ..000 20...000 b. Tanggal 1 Januari 2010. 14.amortised cost Kr.000 14.000 14.000.000. Rp.

Kredit .500. 181.381.000 20.456 181. 8.842. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp./Giro BI Kr. Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.500. Rp.. 2.000 8. 9 sampai dengan no. Db. pada saat terjadi penyesuaian suku bunga mengambang. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.amortised cost Rp. 3 sampai dengan no.250.000 217. Kr. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Db.000 20. Jurnal untuk transaksi no. Pendapatan bunga kredit Rp.631.250.amortised cost Rp.449 208. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kr. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 12 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 20. Rp.500. Pendapatan bunga kredit Rp. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 Jurnal untuk transaksi no. Kr. 7 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no.000 181. Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 163 .000 217.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.. Tanggal 31 Juli 2010. Kredit . c.000 20.456 186.657.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.250. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.551 217. Kas/Rekening.000 5. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.

Kr.500. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 20. Kas/Rekening.Bab V I K r e d i t d.000.310 217. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 20.000 217.500.000. 164 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kr. Tanggal 31 Desember 2010.500. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Kr.000 217. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.296. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db./Giro BI Kr.203.amortised cost Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp.500. Pendapatan bunga kredit Rp. Rp.000 20. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp..000 9. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 14.amortised cost Rp.000 14.000 20..500.690 208. Kredit . Kredit . Rp. Rp. Kr.

000.000.000.000. 20.000. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.20.000 Semester I 2010 Semester II 2010 Semester I 2011 Semester II 2011 Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. 20.Rp. Rp.000 25.000 25. Lihat Tabel 7 dan Tabel 8.000. 100.000.000. Rp. Rp. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.25%/bulan 0.Bab V I K r e d i t 3. 25.000.000.100.000.000. 100.1 % atau Rp.000. 99. Berdasarkan data di atas.000.920. 100.000.000 . 15.000/bulan. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit investasi) Pada tanggal 1 Januari 2010.000 25.000 + Rp. Bank XYZ memberikan kredit kepada debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.000.000).000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000 = (Rp.000.000.000.000.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 165 . Rp.

000.050 1.937.000) (312.997.500.525 24.982.716 1.980.500.923.050 5.772 3.666 4.984 1.500.447 49.101 5.000) (312.255.000.992.101 1.034 4.537 4.710.447 49.954.107.502.166 2.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .982.000 937.500.537 941.500.478.797 99.000 625.350 49.945.940.991.958.651 24.413 3.974.000.000) (937.344 24.924.302.626 74.719.388.250.230 2.000.958.982.134.814.362 49.000.000.000.994.362 49.500.139 5.920.849.000.995.000 1.250.046 24.776 74.312.000 312.046 24.930.825.134.000 937.050 99.500.962.716 313.624 1.500.250.000.521.960 74.000.139 1.500.000) 99.000) 4.000.000 937.970.000.Tabel 7: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi – Amortised Cost Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Angsuran Pokok F Tagihan Bunga G=pxi Amortisasi dengan EIR H=E-G 166 I P e d o m a n (25.017 24.729 49.000 625.958.790.421.000 937.000.903 627.658 99.288 627.898 74.000 937.000.898 74.255.000.000 625.000) (937.020.846.625.197 49.635 1.401.050 99.703.729 49.872.500.000.985.000.959.500.500.674 99.441.000.500.237.500.379 627.350 49.000.703.737.000.000 312.950.000.000.000 99.000.000) (625.744.543.984 5.000) (312.500.940.819 313.000) (625.044.000.960 74.000) (937.620.163 74.000) (1.520.230 627.998.000 25.571.000 25.145 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.250.250.406.062.878 3.306.992.855 0 Tahun Akuntansi Perbankan Indonesia No Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 B 1-Jan-10 31-Jan-10 28-Feb-10 31-Mar-10 30-Apr-10 31-May-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Aug-10 30-Sep-10 31-Oct-10 30-Nov-10 31-Dec-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-May-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Aug-11 30-Sep-11 31-Oct-11 30-Nov-11 31-Dec-11 Estimasi Arus Kas C (99.000 99.658 99.254.250.552.302.779.172.702 313.994.000) (937.982.000.640.855 (25.158 1.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.288 2.966.000) 1.797 99.521.000) (1.026.974.920.000) (1.367 24.991.000) (312.500.977.172.935.196.710.970.849.000) (625.071.552.547 74.000 26.814.995.250.000) (25.962.855 2.592 49.122.250.000 312.500.500.500.306.966.000) (1.470.921.982.000.000) (937.000 25.250.941.930.624 5.034 941.988.000 312.635 313.250.000.459.977.810 313.367 24.737.250.810 1.344 24.250.044.980.878 941.677.000 1.158 313.145 (1.985.744.620.950.213.000 625.166 627.213.954.062.413 941.592 49.000) (625.163 74.379 2.525 24.626 74.500.888.000.372.000.998.640.970.500.000.819 1.026.000) (625.000) 1.500.779.255.237.197 49.000) (312.666 941.924.702 1.611.000 625.677.776 74.920.674 99.000.988.632.651 24.772 941.935.611.906.978.632.000 1.401.017 24.500.107.846.825.719.000.622.997.000) (25.903 2.423.196.000 1.502.790.000.547 74.000.000 312.958.255.855 627.000) (1.500.255.000.945.982.543.000) (312.000) (625.000) (937.

000 50.000) (625.500.000.000) (625.000.000.000 100.000.000.000 312.000 (25.000.000 30-Sep-11 25.500.000) 75.000 625.500.000.000.000.000.000.000.000 625.000 937.000) 937.000.000.000.000 50.000.000 25.000.500.000.000 100.000.000 625.000.000.000.000.000 312.000.000 (1.000 25.000 75.000.250.000 31-May-11 50.000.000.000 30-Jun-11 50.000 (1.000 31-Oct-10 75.000.000 I 167 31-Dec-11 25.250.500.000) (312.000 31-Mar-10 100.000.500.000 31-Jan-11 50.000 (937.000.000.000.000 30-Sep-10 75.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000 100.000.000) 1.000.000.000.000.500.000.000) (625.000 31-Jul-10 75.000.000.000 (1.000.500.000 50.000.000.000) M=K+L 100.000.500.000 75.000) 50.000 25.000.000 31-Jul-11 25.000.000.000 (25.000) (312.000 30-Jun-10 100.000 75.000.000 30-Nov-10 75.000 312.000.000.000.000 30-Apr-10 100.250.000.000.000 25.000.000.500.000 31-Mar-11 50.000) 25.000) 1.000.500.000.000.000.000.000 31-Dec-10 75.000 (25.000 312.000.000.000 25.000 100.000.000.000) (312.250.000.000.000.000.000.000.000.000 75.000.000.000.000.000.000 (1.000) (937.000.000.500.000.000 312.000.000.000.000.000 50.000) (625.000 50.000.000.000) 1.000.500.000.000.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000 937.000.000.000 28-Feb-10 100.000 625.000.000) (625.000) (937.000.000.000 75.000.000 50.000.000 75.000.500.000.000) (937.000.000.500.000.000.000.000 .000.000.000.000.000.000.000 75.000.000 (937.000.000.000 31-Aug-10 75.000.000.000 (25.000.500.500.000 50.000) (312.000.000 100.000.000 100.000.000 50.000 50.250.500.000 50.000.000.000 25.000 937.000 100.000.000.500.000.000 (1.000) 1.000.000.000 30-Apr-11 50.250.000.000) (937.000.500.500.000 31-Aug-11 25.000.000.000.000.000 Bab V I K r e d i t 30-Nov-11 25.000.000.000) 75.000.250.000 28-Feb-11 50.000.000.000.000.000 (1.000.000 1.000.000.000) (312.000.000.000 50.000) (312.000.000 25.000 100.250.250.000 25.000 75.000.000.500.000.000.000 312.000.000.500.000.000 625.000 625.250.000) (625.000.000.000.000 25.000 31-May-10 100.000.000.000.000.000 937.000.000 937.000.000.000.000 100.000 75.000 75.000.250.000.250.000.000) 1.000.000.000.000.500.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Oct-11 25.000.000.000.000.000.000) 25.000 25.000.000.Tabel 8: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000.000 100.

000.000.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Rp..000 100. Kas/Rekening.. Tanggal 1 Januari 2010./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 100. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Rp.000 168 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.000 Rp..000. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. 100. Kas/Rekening. 100. 100./Giro BI Kr.000.000 Rp.000. 100.amortised cost Kr. Kredit . pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000. Rp. Rp. Rp.000./Giro BI Rp.000 b. 100.000.000 Rp. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000.000 20. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000. Kas/Giro/Giro BI Kr.000 20.000 Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Rp. Kredit . Db.000 Kr. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000.000.000 20.000 20.000 20.. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000.amortised cost Kr.. Kas/Rekening. Kredit . 100.000.000. 20. Tanggal 31 Januari 2010..000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.

000. no. 14 sampai dengan no. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.066. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 8 sampai dengan no.208 1. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok. Kr. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.000 5. c. 3 sampai dengan no.250. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250. 18 dan no. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Kr.000. Db. Kr. Pendapatan bunga kredit Rp.000 20. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000 20.000.000. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.000 25.000 20.250. Tanggal 30 Juni 2010. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 169 .000.000. Kas/Giro/Giro BI Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. 24 dalam Tabel 7 sama dengan jurnal untuk transaksi no.066. Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Kr. dan no. Kredit . Rp. Rp.000. Kredit .000.000 25.250. Kredit . 13.amortised cost Rp.000 1.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 1. 19.255.255. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp.000 1.000.250. Jurnal untuk transaksi no. 20. Pendapatan bunga kredit Rp.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 6.000 Jurnal untuk transaksi no.208 1. Kr. 23 dalam Tabel 7 sama dengan transaksi no.208 1.amortised cost Rp.000 5.066.000.amortised cost Rp. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. no. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 12. 20 sampai dengan no. 7.000 1. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Db.066.250.208 1. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 2. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.

000. Kredit diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Pada tanggal 1 Januari 2010. Bank XYZ membeli kredit dari Bank DEF dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Nilai pasar Informasi lain − − 31 Januari 2010.000 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (diperdagangkan) Rp. 14.000.500. 187.000. 15. 14.000 1 tahun atau 12 bulan Investasi 15%/tahun atau 1.000 1 Februari 2010.000 (asumsi) 170 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .500. kredit tersebut dijual seharga Rp. 13.100.000.000. harga pasar kredit adalah Rp.000 (perbulan) 90% atau Rp.25%/bulan atau Rp.Bab V I K r e d i t 4.000.

.500.500. Peningkatan nilai wajar kredit .000 Kr. Rp.000 Kr.000 500.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.000. Rp.500./Giro BI Kr. pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya.000.000 600.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.000 Tanggal 31 Januari 2010.000 14.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 13. Peningkatan nilai wajar kredit . Kredit .Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar.. 187.000. sebesar nilai wajarnya Db. Kas/Rekening./Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit c. pada saat menjual kredit 1) Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db. Kas/Rekening.100. Tanggal 31 Januari 2010. Kredit . Tanggal 1 Januari 2010.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp. Rp.000 187.000 Tanggal 1 Februari 2010. 500.000..000.000 b.. Rp. 500. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.500. 187.000 Kr.500. Rp.000. pada saat menerima setoran dari debitur Db.500. Keuntungan penjualan kredit d.000 13. Rp. Db.000 Tanggal 31 Januari 2010. 13. Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr.000.500. Kredit . Kredit .000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 171 . 500.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Realisasi keuntungan penjualan kredit Db. 187. e.000.

kredit tersebut dijual seharga Rp. 99.000.000.000 .000.000).000.920.000. 100.000 Beban bank yang dapat diatribusikan langsung sebesar Rp. Kredit tersedia untuk dijual Pada tanggal 1 Januari 2010.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000 25. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Tersedia untuk Dijual Rp.000 Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. 100.000 25.20.000 + Rp.000.000 Semester I 2010 Rp Semester II 2010 Rp Semester I 2011 Rp Semester II 2011 Rp 25.000. 20. Harga pasar pada tanggal 31 Januari 2010 sebesar Rp.25%/bulan 0.000.000. Lihat Tabel 9 dan Tabel 10 172 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Rp.000.000.000/bulan Informasi lain: . 99.000. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. 90.000.000. 15.000.100.000 25.000.000. Berdasarkan data di atas. 90. 20.000. 100.Bab V I K r e d i t 5.1 Juli 2010.000 Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000.000.000.000.000 = (Rp.000.1 % atau Rp. Harga pasar pada tanggal 30 Juni 2010 sebesar Rp.000.000.000.000.

000.208 99.800.989.092.938 49.367.994.500.000.000) (625.000) (312.066.000 15 28-Feb-11 625.478 3.957 24.147 49.491.994.500.328 99.425.307 74.288 941.592.593 627.595 49.910.940.250.367.250.995.000.500.000.997.978.500.500.000 12 30-Nov-10 937.000.509.971.920.208 (1.322 74.000 20 31-Jul-11 312.000.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual I 173 .940.625.343 (25.255.Tersedia Untuk Dijual Saldo Awal Arus Kas Kredit D 99.585 (1.Tabel 9: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi .975.000) (937.000) 5.357 74.000 Bab V I K r e d i t Suku Bunga Efektif Awal 1.255.843 1.505 627.129.434 74.000 6 31-May-10 1.935.331 627.274.196.984.250.000 16 31-Mar-11 625.000.717 E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Suku Bunga Efektif (EIR) Angsuran Pokok Tagihan Bunga Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (99.845 1.000.000.649.500.955.991.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 22 30-Sep-11 312.250.971.322 74.000.930.390.951.934 313.042.357 74.984.255.817 49.428 74.000) (625.542.000.000 99.051 99.310.773 24.959.967.777.871.075.737 313.558.344.075.975.000) 1.442.121 2.224 49.955.000.000.731.975.051 99.644.912 74.066.000) (625.925.437.938 49.521 (1.981.000.443.000 11 31-Oct-10 937.989.250.000 13 31-Dec-10 25.000) 941.250.310.277 1.967.000 19 30-Jun-11 25.942.194.737 24.835.000.959.000.000 10 30-Sep-10 937.981 1.000) 5.992.184 1.843 (1.250.255.129.331 2.000) 5.000) 627.835.000) 5.845 313.000.000 17 30-Apr-11 625.688.000 14 31-Jan-11 625.957 24.000 9 31-Aug-10 937.184 627.907.992.107 4.208 99.892 24.343 2.965 (937.250.000.593 2.521 1.000 99.437.000.945.920.500.000) (625.505 2.943.995.286 2.912 74.000) (1.445 (937.951.965 4.986.000.781.652 49.500.878 941.478 (25.328 99.461.910.196.144.196.934 1.000) 5.434 74.302.000 3 28-Feb-10 1.986.000 4 31-Mar-10 1.652 49.428 74.259.250.781.390.000.731.000) (625.558.773 24.500.277 (1.000.392.255.250.925.585 1.935.325.920.925.975.114.765.817 49.274.000) (937.000.000) (312.963.000.800.871.978.500.000) (312.850 99.000 18 31-May-11 625.500.937.963.500.500.107 (937.878 4.020.066.649.000 5 30-Apr-10 1.509.500.000.114.892 24.981.500.302.000.000 8 31-Jul-10 937.259.696.688.344.500.250.945.121 (25.392.224 49.208 99.765.000) 941.286 941.850 99.000) (937.325.581.000) 2 31-Jan-10 1.000.000.000.255.000) 5.500.147 49.000) (625.500.000.961.000.581.066.000 7 30-Jun-10 26.445 3.194.907.000) 941.250.777.288 4.000.595 49.000.307 74.000 21 31-Aug-11 312.930.981 627.

500.500.000 625.000.000.000) (625.000 31-May-10 100.000) (937.000.000.000.250.000 937.000 50.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Jul-10 75.000.000.000.000.000 (1.000.000.000.000.000.000 30-Jun-10 100.250.000.000) 75.000.000.000.000.000.000) 1.000.250.000.000 28-Feb-10 100.000) (937.000.000 625.000 312.000 25.000 75.000 50.000) M=K+L 100.000 937.000.000.000.000.000.000 50.000.000) 75.000 100.000.000 50.000.250.000.000.000 .000.500.000.000 (1.000.000.000 (1.500.000.000 75.000 937.000.000.000.000.000.000 (25.000 100.000) (312.000.000.000.000.000) (625.000.000.000 50.000 31-Dec-10 75.000.000.000.000 25.000) (312.000 31-Aug-11 25.000 31-Jul-11 25.000 312.000.500.000.000.000.250.000 75.000.000.000 312.000) 25.000 100.000.000.000.000.000.500.000 1.Tersedia Untuk Dijual REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000.500.000 31-Dec-11 25.000.000.000.000) (625.000.000.000 31-May-11 50.000.000) 1.000.000.000 30-Apr-11 50.000) 1.000.000 (937.000 312.000 (25.500.500.000.000 937.000) 937.500.000.000 75.000 100.000 25.000.000.000.500.000.000.250.000.000 30-Nov-10 75.000.000 312.000) (625.000) (625.000.000.000.000.000.000 30-Sep-11 25.000 (937.000.000 30-Apr-10 100.000 625.500.000 25.000.000 937.000 100.000 28-Feb-11 50.000 31-Oct-10 75.000) 1.500.000.000.000.000.000.000.250.000.000.000.500.000.000 50.000 25.000.000.000) (312.000) (937.000.000) 25.000.000.000 50.000 75.000.500.000.000.000 100.000.000) 1.500.000.000.000.500.000.250.000.000 (25.000 (25.000.000.000.000) (625.000.000 25.000.000.000 100.250.000 31-Mar-11 50.000.000) (312.000.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000 31-Oct-11 25.000.000 50.000.000 75.000 (1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.500.000 100.000 (1.000) 50.000.000.000 30-Jun-11 50.000.000 625.000.000.250.000.000 30-Nov-11 25.000.000.000 625.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 174 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000 75.000 625.000.000.000.000) (312.000.000.000.000.000.000 312.Tabel 10: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi .000.000 50.500.000.000.500.000 75.500.000 30-Sep-10 75.500.000 25.000 75.000.250.000.000) (937.000 25.000.000) (312.000.000.000.000 50.000 100.000.500.250.000.500.000 50.000.000.000.000.000 31-Mar-10 100.000.000.000.000.000.000.000.000 75.000 25.000 (1.000.000 25.000 100.000 31-Jan-11 50.000.000.000.000.000 31-Aug-10 75.

000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 175 . 100. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000..000 20.000..000. Tanggal 31 Januari 2010.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal balik untuk menghilangkan kewajiban komitmen fasilitas kredit. Tanggal 1 Januari 2010.000 20.000 20..000 b. 100.000.000 Rp.000. 100.Tersedia untuk Dijual Kr. Rp. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.Tersedia untuk Dijual 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.000. 100.000.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000 20..000. 20.Tersedia untuk Dijual Kr. Kredit . Kas/Rekening.000. Kredit . Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Rp. 100. Kas/Rekening. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.. Db. 100.000 Rp./Giro BI Rp.000 Rp. Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.000./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.000.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kredit .000. Rp.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db./Giro BI Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 Rp.000 20.000 100.. Rp. Kas/Rekening../Giro BI Kr.000. 100. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit dan penarikan kredit oleh debitur 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db. Rp.000..000 Kr. Kas/Rekening.

Kr.000 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250. 176 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 5) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp. 6.000 20. 925. 12.000.066.066.255.000 1.000 1. 23 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no. Tanggal 30 Juni 2010.000. c.208 1.000.208 = Rp.000. 925.000.Tersedia untuk Dijual Rp. 18 dan no.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.250.250.Tersedia untuk Dijual Rp.Rp. 20 sampai dengan no.925. Pendapatan bunga kredit Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.99. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.000. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.478 1.255. no. 2. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 14 sampai dengan no.000 (asumsi) Db.392.250. no.066.000 5. Db. 3 sampai dengan no.208 .066. 20.250.925. 8 sampai dengan no.208 Kr. Kr. Rp. Pendapatan bunga kredit Rp. 99. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Rp. Rp.478 1.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.392. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.000) Jurnal untuk transaksi no.208 1.99. Kredit .Pendapatan komprehensif lain Rp. Kredit . Ekuitas .000.Tersedia untuk Dijual Rp. Kr.000 5. 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000.066. Kredit . Kas/Giro/Giro BI Kr. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.208 (Rp.000 20.066. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Db.000.250. Kr.000.

Rp.048.632.000.Tersedia untuk Dijual Rp.632. Tanggal 1 Juli 2010.828 . xxx. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.088 (Rp. 19.90. Rp. Kredit. Ekuitas .000.048. 90.Tersedia untuk Dijual Kr. 15.367.048.Pendapatan komprehensif lain Rp.088 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 177 . Kredit . d.000 15.Tersedia untuk Dijual Rp.632.632. Rp.088 90.000 (asumsi) Db.Pendapatan komprehensif lainnya Rp.Rp. 7) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp.088 Kr. Kas/Rekening.911. xxx.000 25.088 = Rp.000.000.Tersedia untuk Dijual Rp.000 15..15. Ekuitas .xxx.048.000.xxx.90.Pendapatan komprehensif lain Kr. Kredit . Keuntungan penjualan kredit Rp. 15.xxx Db/Kr.xxx Sebesar penyesuaian harga yang telah diakui pada periode sebelumnya (tidak dijelaskan dalam illustrasi).74. no.951.048. 13.000 6) Pada saat melakukan jurnal balik terhadap jurnal penyesuaian dengan harga pasar periode sebelumnya Db/Kr.000. 25.Bab V I K r e d i t 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. 24 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no.000.632. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.000.000. Kr. dan no./Giro BI Db.000.000) Jurnal untuk transaksi no. Kredit ..000. 7.000. Ekuitas . pada saat menjual kredit Db.

maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). 178 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. jika dan hanya jika. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal. Jika terdapat bukti tersebut. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok Tersedia untuk Dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. 3. 4. 2. Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal. (PSAK 55: Paragraf 59) Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. 5. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). B. Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit A Definisi 1. Nilai tercatat kredit adalah nilai kredit neto pada tanggal pelaporan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai atau nilai wajar kredit pada tanggal pelaporan untuk kredit dengan klasifikasi diukur pada nilai wajar melalui rugi laba.Bab V I K r e d i t 2. Dasar Pengaturan 1. Penghapusan hak tagih kredit (hapus tagih) adalah tindakan bank menghapus semua kewajiban debitur yang tidak dapat diselesaikan. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Penghapusbukuan kredit (hapus buku) adalah tindakan administratif bank untuk menghapus buku kredit macet dari neraca sebesar kewajiban debitur tanpa menghapus hak tagih bank kepada debitur. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang 2.

memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. pihak pemberi pinjaman. b. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. termasuk: 1) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud.Bab V I K r e d i t atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. atau 2) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. (PSAK 55: Paragraf 60) d. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 179 . e. pelanggaran kontrak. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. f. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. Bukti obyektf bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. c.

dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. 180 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. 5. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif.Bab V I K r e d i t 3. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. (PSAK 55: Paragraf 64) Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. (PSAK 55: Paragraf 65) Jika. pada periode berikutnya. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). baik secara langsung. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung 4. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. 6. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). (PSAK 55: Paragraf 66) Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60).

(PSAK 55: Paragraf 71) 8. Pengukuran aset keuangan yang mengalami penurunan nilai mencerminkan nilai wajar agunannya. dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi. Jumlah kerugian kumulatif yang dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi sesuai paragraf 68 merupakan selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini. 9.4. (PSAK 55: Paragraf 70) Jika. pada periode berikutnya. dan tidak hanya peringkat yang mencerminkan penurunan kualitas pinjaman yang diberikan yang tajam. maka entitas tersebut harus mempertimbangkan seluruh peringkat pinjaman yang diberikan. 10. Proses estimasi terhadap penurunan nilai mempertimbangkan seluruh eksposur pinjaman yang diberikan. (PSAK 55: Paragraf 69) Kerugian penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi atas investasi instrumen ekuitas yang diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas yang tersedia untuk dijual tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. Proses estimasi terhadap jumlah kerugian penurunan nilai dapat menghasilkan satu nilai kerugian atau kisaran (range) nilai kerugian yang mungkin terjadi… (PSAK 55: PA 102) 12. (Panduan Implementasi No. (PSAK 55: PA 101) 11.8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 181 . jika entitas menggunakan sistem pemeringkatan kredit internal. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. bukan hanya yang berkualitas rendah. (PSAK 55: Paragraf 68) 7. Sebagai contoh.Bab V I K r e d i t dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. Agunan tersebut tidak diakui sebagai aset secara terpisah dari aset keuangan yang mengalami penurunan nilai kecuali memenuhi kriteria pengakuan aset sesuai dengan PSAK lain. 2 E.

4) Penilaian agunan/jaminan. 2. keputusan dan proses evaluasi. termasuk pengakuan dan pengukuran penurunan nilai. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: a. Didukung dengan dokumentasi yang memadai 1) Evaluasi harus disertai dengan dokumentasi yang bertujuan untuk: a) mendorong kedisiplinan dalam proses estimasi. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap kredit dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. dan b) memfasilitasi proses kaji ulang dan validasi. harus sejalan dengan kriteria yang telah ditetapkan. namun juga mencakup gabungan antara aturan formal dan judgement/diskresi manajemen. Kriteria dimaksud tidak hanya didasarkan pada aturan dan formula. b. Sistematis dan konsisten sepanjang waktu Evaluasi harus dilakukan secara periodik dan konsisten sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan bank. 5) Pembentukan cadangan. asumsi. estimasi. Sejalan dengan kriteria yang bersifat obyektif 1) Evaluasi. 2) Identifikasi bukti obyektif penurunan nilai. c. dan 6) Proses dokumentasi. 2) Bank harus memiliki standar pendokumentasian atas seluruh analisa. 3) Metode estimasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. Beberapa jenis dokumentasi yang terkait dengan evaluasi penurunan nilai dapat mencakup hal-hal berikut: 182 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka diperlukan suatu kerangka evaluasi yang memadai dan terdokumentasi dengan baik yang menekankan obyektivitas dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. Penjelasan 1. yang antara lain mencakup: 1) Periode evaluasi kredit (loan reviews). 2) Untuk membatasi judgement/diskresi yang cenderung bersifat subyektif.Bab V I K r e d i t C.

Faktor-faktor ini dan faktor-faktor lainnya. c) metodologi yang digunakan dalam evaluasi penurunan nilai dari kredit individual. baik secara individual maupun secara bersama. 4. dan e) 3. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. Identifikasi bukti obyektif a. b. b) basis dalam mengidentifikasi kredit individual untuk melakukan evaluasi penurunan nilai. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan entitas dalam menentukan apakah terdapat bukti obyektif bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi meliputi informasi mengenai likuiditas. metodologi yang digunakan untuk menerapkan estimasi kerugian pada kelompok kredit. kecuali peristiwa di masa datang yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian. tren dan kondisi ekonomi nasional dan lokal. c. dan eksposur risiko usaha dan risiko keuangan pihak debitur atau pihak penerbit. dapat menjadi bukti obyektif yang cukup bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi dalam kredit atau kelompok kredit.Bab V I K r e d i t a) internal rating atau klasifikasi kredit yang digunakan. tingkat atau tren terjadinya tunggakan (delinquencies) untuk aset keuangan serupa. disertai dengan analisis dasar perhitungan dan mendokumentasikan dalam kebijakan bank. informasi yang tersedia. solvabilitas. Secara individual 1) Bank wajib menentukan tingkat signifikansi kredit yang akan dievaluasi secara individual yang disertai dengan dokumentasi yang memadai yang harus dikaji ulang secara periodik. dan nilai wajar agunan dan jaminan. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. Bank harus menetapkan peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria sebagai bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit berdasarkan pengalaman dan trend historis (experience credit judgement). d) basis dalam mengelompokkan suatu kredit dalam kategori kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 183 . Kriteria evaluasi penurunan nilai a.

ketersediaan garansi. 3) Dalam hal terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai. namun tidak terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. dan b) dievaluasi secara individual. maka kredit tersebut tidak dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. 5) Estimasi jumlah kerugian kredit didasarkan pada seluruh informasi yang tersedia dan experienced credit judgement. Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif mencakup seluruh kredit yang: a) tidak dievaluasi secara individual. serta memperhatikan berbagai faktor seperti: a) kekuatan finansial dan kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajiban (repayment capacity). yaitu: a) estimasi jumlah kerugian kredit. Contoh: ketika debitur berada dalam kondisi macet (tidak ada estimasi arus kas selain arus kas dari agunan). maka kredit tersebut harus dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. 6) Estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut. dimana nilai kini arus kas agunan sama dengan atau lebih besar dari nilai tercatat kredit. c) d) prospek usaha debitur di masa datang. b. dan b) jenis dan jumlah agunan. dan b) estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount). 4) Evaluasi secara individual didasarkan pada 2 konsep.Bab V I K r e d i t 2) Dalam hal tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual. 184 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

status tunggakan. tipe pihak kedua (contoh. industri. atau pemerintah). pinjaman beragun aset atau pinjaman kartu kredit). lokasi geografis. dan c) Penurunan tersebut belum dapat diidentifikasi terkait dengan kredit tertentu dalam kelompok kredit. bank harus melakukan evaluasi apakah terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. 4) Terhadap kredit yang dikelompokkan tersebut. bisnis. dan karakteristik yang relevan lainnya dari aset yang sedang dievaluasi dan data kerugian yang terkait. lokasi geografis.Bab V I K r e d i t 2) Bank wajib mengelompokkan kredit yang akan dinilai secara kolektif berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yang mengindikasikan kemampuan debitur untuk membayar seluruh kewajiban yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak. Sebagai contoh. b) tipe (contohnya. status tunggakan. Halhal yang perlu diperhatikan antara lain: a) Terdapat data yang dapat diobservasi yang mengindikasikan terjadinya penurunan dalam estimasi arus kas masa datang yang dapat diukur dari kelompok kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 185 . seperti evaluasi risiko kredit atau proses pemeringkatan yang memperhitungkan tipe aset. 3) Pengelompokkan kredit berdasarkan kesamaan karakteristik tersebut harus disertai dengan dokumentasi yang memadai yang dikaji ulang secara periodik. b) Penurunan yang dapat diukur tersebut telah terjadi sejak pengakuan awal kredit. kredit dapat dikelompokkan berdasarkan satu atau lebih karakteristik berikut ini: a) estimasi probabilitas terjadinya gagal bayar atau peringkat risiko kredit. konsumen. dan jatuh tempo. Model risiko kredit atau metode untuk mengestimasi arus kas masa datang yang diperkirakan yang lebih kompleks (canggih) dapat mengkombinasikan beberapa faktor. c) e) f) g) d) tipe jaminan. tipe jaminan.

Dalam memilih dan menggunakan teknik evaluasi penurunan nilai. Teknik evaluasi penurunan nilai a. Periode evaluasi penurunan nilai a. 5.Bab V I K r e d i t 5) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif merupakan langkah antara sampai penurunan nilai kredit secara individual dapat diidentifikasi. c. Namun bank dapat mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat yang dituangkan dalam kebijakan internal bank untuk menentukan apakah analisa individual perlu dilakukan. yaitu: b. baik secara individual maupun kolektif. Bank dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai. Evaluasi terhadap penurunan nilai tidak hanya didasarkan pada suatu pendekatan atau metode yang bersifat standar (prescriptive rules/formulae) tetapi juga didasarkan pada experienced credit judgement oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengingat pengalaman kerugian historis maupun data yang dapat diobservasi bersifat terbatas atau mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini. maka bank wajib mengestimasi kembali arus kas masa datang dan cadangan kerugian penurunan nilai untuk kredit tersebut. bank perlu mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat serta ketersediaan informasi dan data historis. bank wajib mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa kredit atau kelompok kredit mengalami penurunan nilai. Dalam hal bank melakukan evaluasi setiap akhir triwulan. Secara individual Bank dapat menggunakan beberapa teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai dan mengukur kerugian penurunan nilai. Segera setelah penurunan nilai suatu kredit secara individual dalam kelompok kredit tersebut diidentifikasi. b. namun terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai sebelum tanggal evaluasi berikutnya. maka kredit tersebut harus dikeluarkan dari kelompok kredit dan selanjutnya dinilai secara individual. 186 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 6. Setiap akhir bulan atau paling lambat setiap akhir triwulan.

(4) Pendekatan apapun yang digunakan. bank harus menerapkan secara konsisten dalam mengevaluasi penurunan nilai terhadap kredit dengan suku bunga mengambang. Oleh karena itu. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 187 . dimana suku bunga kontraktual berubah dari waktu ke waktu bergantung pada suku bunga referensi. suku bunga efektif dapat diidentifikasi setelah memperhitungkan seluruh biaya (termasuk perolehan fee) yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit. penggunaan suku bunga efektif yang berbeda dari waktu ke waktu dapat menyulitkan bank melacak terjadinya kerugian penurunan nilai. Suku bunga efektif tersebut tidak berubah dan digunakan untuk mengevaluasi kerugian penurunan nilai kredit. (2) Namun. b) Jumlah yang didiskonto (discounted value) diperoleh dengan mengestimasi arus kas masa datang (mencakup pembayaran pokok dan bunga) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit. Suku bunga efektif tersebut dapat digunakan dalam mengevaluasi penurunan nilai selanjutnya. (1) Bank harus menetapkan estimasi kisaran jumlah dan/atau waktu kemungkinan perubahan suku bunga referensi. d) Untuk kredit bersuku bunga mengambang (variable interest rate). karena bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh jumlah kredit yang telah diberikan kepada debitur.Bab V I K r e d i t 1) Discounted Cash Flow a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai dicatat berdasarkan jumlah yang didiskonto (discounted value) dan bukan berdasarkan nilai buku. bank dapat menggunakan suku bunga efektif terkini pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan. (3) Sebagai alternatif. maka suku bunga efektif juga dapat berubah. c) Untuk kredit bersuku bunga tetap. suku bunga kontraktual tidak berubah selama jangka waktu kredit.

(3) Identifikasi nilai agunan yang dapat direalisasi setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan. maka bank dapat menggunakan teknik penilaian yang andal. d) Bank harus menggunakan informasi yang tersedia untuk mengestimasi nilai wajar agunan seakurat mungkin. b) Dalam menentukan jumlah kredit yang dapat diperoleh kembali. e) f) Nilai agunan yang dapat diperhitungkan adalah nilai yang terendah antara nilai wajar dan nilai pengikatan agunan. maka bank dapat menggunakan harga dari transaksi terkini atas agunan serupa. yaitu jika pelunasan kredit hanya bersumber dari agunan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengestimasi nilai wajar agunan antara lain: (1) Penunjukkan pihak independen (baik pihak internal bank maupun lembaga penilai) yang akan melakukan penilaian agunan. c) Bukti terbaik dari nilai wajar agunan adalah berdasarkan kuotasi harga di pasar aktif. termasuk perkiraan waktu realisasi atau penjualan agunan tersebut. (1) jika tidak tersedia kuotasi harga agunan di pasar aktif. yaitu jika memenuhi salah satu kondisi berikut: (1) Kredit bersifat collateral dependent. dan/atau (3) Pengambilalihan agunan kemungkinan besar terjadi dan didukung dengan aspek legal pengikatan agunan. (2) Identifikasi taksiran biaya yang terkait dengan penjualan agunan. dan (2) jika tidak tersedia harga dari agunan yang serupa. (2) Sulit untuk menentukan jumlah dan saat penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari pokok kredit dan/atau bunga dengan andal. 188 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank dapat memperhitungkan arus kas masa datang dari pengambilalihan agunan.Bab V I K r e d i t 2) Fair Value of Collateral a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai juga dapat dicatat berdasarkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable value). misalnya legal costs.

3) Observable Market Price a) Dalam kondisi dimana jumlah dan periode arus kas masa datang tidak dapat dipastikan dan kuotasi harga kredit di pasar aktif dapat diobservasi melalui informasi dan data pasar. sumber informasi dan tanggal atas harga pasar tersebut. (2) Rincian penyesuaian terhadap harga penilaian (appraisal value). dan (5) Penetapan nilai kini dari hasil penjualan/realisasi agunan dalam hal terdapat jeda waktu (time lag) antara tanggal penentuan nilai wajar dan waktu penjualan/realisasi agunan. (3) Penjelasan mengenai bagaimana bank memperoleh estimasi nilai wajar. bank harus memiliki informasi yang lengkap mengenai jumlah. g) Beberapa standar minimum yang harus dipenuhi dalam melakukan estimasi nilai wajar agunan mencakup: (1) Deskripsi mengenai proses penilaian (appraisal process) yang dilakukan. b) Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengukur kerugian penurunan nilai. dimana informasi dan data mengenai harga pasar properti tersebut tersedia setiap saat.Bab V I K r e d i t (4) Penetapan waktu penjualan/realisasi agunan. keahlian. maka harga pasar tersebut dapat digunakan sebagai nilai wajar kredit dengan memperhitungkan perkiraan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut. c) Jika pendekatan ini digunakan. dan independensi perusahaan penilai (appraisal company). d. dan (4) Dokumentasi mengenai kualifikasi. misalnya haircut/diskon atau estimasi biaya penjualan agunan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 189 . Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit dilakukan berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang dan tingkat kerugian historis (historical loss rate atau historical net charge-off rate) dari kelompok kredit. misalnya untuk kredit commercial real estate.

baik internal maupun eksternal. bank dapat mengestimasi arus kas masa datang dan tingkat kerugian kelompok kredit pada saat ini. 6) Bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menetapkan tingkat kerugian kelompok kredit. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih pendek. Berdasarkan data kerugian historis dari suatu kelompok kredit setelah memperhitungkan tingkat pengembalian (recovery rate). Namun. yaitu periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kredit sampai bukti obyektif dapat diidentifikasi atas kredit secara individual. Untuk itu. bank harus memiliki data kerugian historis selama minimal 3 tahun sehingga dapat menghasilkan estimasi kerugian yang lebih andal dan berarti. Emergence period tersebut harus ditetapkan berdasarkan data empiris. 4) Dalam menetapkan tingkat kerugian untuk kelompok kredit. sementara dalam kondisi ekonomi yang berfluktuasi. arus kas dari seluruh sisa umur kredit (tidak hanya tahun berikutnya). b) umur kredit dalam kelompok kredit (ageing of balances). d) kondisi terkini. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih panjang. bank perlu memperhatikan hal-hal berikut: a) c) analisa penurunan nilai kelompok kredit. e) f) 5) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit secara kolektif juga mencakup kerugian yang telah terjadi namun belum dapat diidentifikasi secara tersendiri pada tanggal laporan (incurred but not yet identified).Bab V I K r e d i t 2) Data mengenai kerugian historis merupakan titik awal dalam melakukan evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit. Periode observasi apapun yang digunakan. dan tidak menghasilkan suatu tingkat kerugian historis yang mengharuskan pengakuan kerugian pada saat pengakuan awal kredit. dalam menetapkan periode tersebut. pengaruh nilai waktu dari uang (time value of money). perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang stabil. yaitu: 190 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank juga perlu mempertimbangkan faktor emergence period. Umumnya emergence period tidak melampaui 12 bulan kecuali dalam kondisi tertentu di luar perkiraan. 3) Bank dapat menentukan sendiri periode observasi data kerugian historis.

000.000 400. Bank harus mengakui kerugian yang sudah terjadi namun belum dilaporkan (incurred but not yet identified) sebagai kerugian akibat penurunan nilai.000.000 800.000 Pengembalian yang diterima (Rp) 200. (2) Berdasarkan data kerugian historis. 3 Kerugian penurunan nilai berdasarkan death rate (Rp) 1.6%) 400.000 1.3% + 2%)/3 = 1.97% Umumnya. Contoh: Sepanjang tahun 2010. Hasil observasi bank menunjukkan bahwa tingkat kematian (death rate) dari tahun ke tahun cenderung tidak berubah.000. 2 Tw. 30.6% + 1.000.Bab V I K r e d i t a) Pendekatan Berbasis Formula (Formula Based) (1) Pendekatan ini menggunakan formula tertentu yang relatif sederhana untuk menghitung tingkat kerugian historis.000.000.dengan data-data sebagai berikut: Periode 2010 Tw.100..000 Kerugian bersih (Rp) 800.000.3%) 600.000 (2%) Tingkat kerugian historis adalah rata-rata kerugian bersih selama 3 triwulan.000.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 191 . yaitu (2.000.000. bank dapat menentukan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya penurunan nilai kartu kredit adalah karena kematian pemegang kartu kredit (card holders). bank belum mengetahui debitur mana yang meninggal dunia. Namun demikian.000. beberapa debitur dalam kelompok kartu kredit bisa jadi telah meninggal dunia pada tahun tersebut yang mengindikasikan terjadinya kerugian penurunan nilai atas kredit tersebut.000.000 (1. meskipun pada akhir tahun.000 500. periode observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kerugian historis lebih panjang dibandingkan pada contoh di atas. bank memiliki portofolio kartu kredit sebesar Rp. 1 Tw. misalnya tingkat kematian (death rate) debitur.000 (2.

Vintage Analysis. b) Metode Statistik (Statistical Model Analysis) (1) Penetapan tingkat kerugian historis dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik berdasarkan internal loan grades masing-masing bank. yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. Namun. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan (deliquency stage). maka persentase PD dan LGD untuk kredit tersebut harus dikurangi dengan persentase tingkat pengembalian (recovery rate). apabila berdasarkan data historis dapat diestimasi secara andal. − Roll Rates Analysis Roll Rates Analysis menggunakan internal loan grading system. Roll Rates. tingkat Probability of Default (PD) dan Loss Given Default (LGD) dihitung berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi hapus buku. bahwa bank dapat menagih sebagian porsi kredit yang sudah dihapusbuku (write-off) dimaksud. dan Default Rate.Bab V I K r e d i t (3) Bank tidak dapat mengakui adanya kerugian akibat penurunan nilai untuk kejadian yang diperkirakan akan terjadi di masa datang karena peristiwa kerugian (misalnya meninggalnya debitur) belum terjadi. yaitu tingkat kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. Selanjutnya. antara lain Migration Analysis. tingkat PD dan LGD pada kondisi hapus buku tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kerugian pada setiap periode tunggakan. (2) Perhitungan tingkat kerugian historis secara statistik menggunakan parameter berikut: (a) Probability of Default. Migration Analysis Migration Analysis menggunakan internal loan grading system (rating system) dan bukan berdasarkan 192 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . PD dan LGD adalah sebesar 100% atau tidak akan tertagih (default). Selanjutnya.

819 7.332 21.583.656.23% 18.77% x 25.69%) = (7% x 25. tingkat migrasi dihitung berdasarkan persentase nilai kredit atau jumlah rekening yang berpindah dari satu periode tunggakan terendah ke periode tunggakan dimana kartu kredit dinilai tidak akan tertagih (default).293.095 Hapus Buku Jumlah 2.37% Formula = 3.946 49.289 52.337.2% 25.293.539.584.92% = 25.842.78% 61.615.021.778 391.126.512 194.321 550.51% 6.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan 89.842.544 4.544 4.949 50. tingkat migrasi tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kerugian kelompok kartu kredit berdasarkan setiap periode tunggakan.166.264.02% 3.43% 47.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari 61-90 hari > 90 hari Pembayaran 138.711 1.021.021.166.87% > 90 hari 3.45% 14.481.615.69% 25.07% Tunggakan 61-90 hari 1.00% 11.37%) + (5.615.466.424.166. Contoh: Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.77% 7.784.455 41.387.323 240.885. Dalam kasus portofolio kartu kredit.973.65% 16.359 32.875 91.37%) + 12.605 15.512 194.106 33.885. Pendekatan ini dilakukan dengan menganalisa tingkat migrasi outstanding kredit dari grade tertinggi ke grade terendah.37% Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 193 .748.465.641 391.947 3.244.000 180.324 227.978.885.784.544 4.949 72. Selanjutnya.366.497 27. umumnya loan grading ditentukan berdasarkan periode tunggakan (delinquency stage).273 863.37% 63.778 391.33% Tunggakan 31-60 hari 5.583. Selanjutnya.583.513.Bab V I K r e d i t pengalaman kerugian sebagaimana halnya pendekatan Historical Loss Rate.512 194.293.962 70.807 102.274 863.23% 12.23% x 14.433.150 165.73% Probalility of Default 4.10% 26.387.274 863.755 Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.519 55.23% + (1.777 1.784.493.

harga properti. Collateral Shortfall. 9) Dalam hal bank belum memiliki data tingkat kerugian historis. status pembayaran. misalnya perubahan tingkat pengangguran. yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. 8) Dalam hal bank menggunakan tingkat kerugian historis dalam mengestimasi arus kas masa datang. Tingkat migrasi tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi terkini yang mencakup kondisi eksternal maupun internal. metode yang digunakan harus mampu menghubungkan setiap kelompok kredit dengan data dan informasi mengenai kerugian masa lalu yang pernah dialami oleh kelompok kredit dengan karakteristik risiko kredit serupa. maupun data kerugian yang dialami industri perbankan. (b) Loss Given Default. dan Loss on Disposal. (3) Metode ini dapat menggunakan data tingkat kerugian bank (bank-specific data) seperti data mengenai internal loan grades. bank diberikan masa transisi selama 1 tahun sampai akhir Desember 2010 untuk menghitung kerugian penurunan nilai secara kolektif menggunakan dasar perhitungan pembentukan cadangan umum. dan dengan data dan informasi yang relevan yang dapat diobservasi yang mencerminkan kondisi terkini.45%. yaitu besarnya tingkat kerugian yang diakibatkan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. harga komoditas. yaitu minimum sebesar 1% sesuai ketentuan BI yang berlaku mengenai penilaian kualitas aktiva. 7) Estimasi terhadap perubahan arus kas masa datang harus mencerminkan dan memiliki arah yang konsisten dengan perubahan data dan informasi terkait yang dapat diobservasi dari satu periode ke periode berikutnya. atau faktor-faktor lainnya yang merupakan indikasi timbulnya kerugian dalam kelompok kredit serta besarannya.Bab V I K r e d i t Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat kemungkinan kelompok kartu kredit tanpa tunggakan menjadi kredit dengan tunggakan lebih dari 90 hari adalah sebesar 4. Oleh karena itu. perlu diperhatikan bahwa tingkat kerugian historis yang diterapkan pada suatu kelompok kredit harus merupakan tingkat kerugian yang diperoleh berdasarkan observasi atas data kerugian masa lalu pada kelompok kredit yang sama atau serupa. 194 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . antara lain Expected Recoveries.

inflasi. tingkat kerugian historis harus disesuaikan agar mencerminkan kondisi terkini yang tidak terjadi pada periode perolehan data kerugian historis dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang terjadi pada periode tersebut yang saat ini sudah tidak relevan lagi. dan pengalaman serta kemampuan manajemen dan loan officer. yaitu dalam hal bank: a) tidak memiliki data kerugian historis yang cukup memadai atas kelompok kredit. 11) Tingkat kerugian historis kadangkala bukan merupakan indikator kemungkinan kerugian yang cukup memadai. konsentrasi portofolio. dan pertimbangan manajemen. b) Penyesuaian terhadap kondisi terkini dilakukan berdasakan data dan informasi yang dapat diobservasi. tingkat pengangguran. ketersediaan dan kecukupan agunan. prosedur audit internal. bank dapat menggunakan data kerugian historis dari peer group atas kelompok kredit yang serupa sampai bank dapat memiliki data sendiri. dan/atau d) baru didirikan. dan perundanganundangan mengenai kepailitan (2) Kondisi internal. tingkat tunggakan bunga dan kredit bermasalah saat ini. misalnya perubahan dalam standar/prosedur pemberian dan pemantauan kredit. hapus buku dan perolehan kembali kredit (recoveries). b) tidak pernah mengalami kerugian dari kelompok kredit atau tidak memiliki pengalaman kerugian yang memadai. suku bunga. Oleh karena itu. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 195 . a) Penyesuaian terhadap kerugian historis dapat mencakup: (1) Kondisi eksternal.Bab V I K r e d i t 10) Untuk selanjutnya. permasalahan industri. c) memberikan kredit kepada industri atau sektor yang belum dilakukan sebelumnya. praktek pengelolaan risiko. kecukupan dan kepatuhan terhadap prosedur yang terkait dengan penagihan. misalnya tingkat produk domestik bruto (PDB). pengalaman bank lain dalam peer.

Di lain pihak. yaitu menjadi 11. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: 1) dilakukan secara akurat dalam hal jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang. bank telah memperketat standar dan prosedur persetujuan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat menurunkan tingkat kerugian historis sebesar 1%. tingkat kerugian historis yang telah disesuaikan dengan kondisi terkini tersebut digunakan untuk menyesuaikan nilai tercatat kredit dalam kelompok kredit. Dengan demikian. serta meminimalkan perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dan jumlah kerugian aktual. 7. 196 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank perlu meningkatkan persentase kemungkinan kerugian sebesar 2.5%. 13) Metodologi dan asumsi yang digunakan dalam mengukur tingkat kerugian historis harus dikaji ulang secara berkala untuk mengurangi perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dengan jumlah kerugian aktual. 12) Selanjutnya.Bab V I K r e d i t Contoh: Bank memiliki rata-rata tingkat kerugian historis atas kelompok kredit kendaraan bermotor sebesar 10% selama 5 tahun terakhir.5%. Untuk meningkatkan konsistensi dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. dan 5) kerugian historis harus digunakan sebagai basis untuk mengestimasi arus kas masa datang. 2) meliputi jangka waktu sampai jatuh tempo dan tidak hanya satu tahun. 3) sejalan dengan perubahan kondisi terkini berdasarkan data dan informasi yang dapat diobservasi dari waktu ke waktu. Dalam kondisi perekonomian yang mengalami resesi dimana tingkat inflasi dan pengangguran meningkat. Estimasi arus kas masa datang a.5% dan meningkatkan cadangan kerugian untuk mengantisipasi tekanan ekonomi yang dialami kelompok debitur. tingkat kerugian historis disesuaikan dengan peningkatan sebesar 1. 4) dikaji ulang secara periodik untuk memastikan metodologi dan asumsi yang digunakan dapat diandalkan.

a) Estimasi arus kas masa datang terhadap kredit yang mengalami penurunan nilai harus mempertimbangkan apakah bank akan melakukan skenario penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit. termasuk denda bunga. c) Estimasi terbaik atas arus kas masa datang harus didiskonto dengan menggunakan suku bunga kontrak sebelum kredit tersebut direstrukturisasi. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai kini dari arus kas masa datang merupakan cadangan yang harus dibentuk untuk kerugian penurunan nilai. Estimasi arus kas masa datang antara lain dapat bersumber dari ekspektasi: 1) Penerimaan pokok dan bunga. c) Persyaratan penjaminan dan kondisi keuangan penjamin harus diidentifikasi sebelum memperhitungkan jaminan atau ganti rugi dalam perhitungan estimasi arus kas masa datang. 2) Jaminan dari pihak ketiga dan ganti rugi dari perusahaan asuransi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3) Realisasi agunan a) I 197 . a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari jaminan finansial dari pihak ketiga (termasuk perusahaan asuransi). Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari realisasi agunan terlepas apakah bank akan mengambil alih dan menjual agunan atau tidak. b) Dalam restrukturisasi kredit. Namun. bank harus melakukan evaluasi secara periodik dan obyektif terhadap kemungkinan perubahan kemampuan debitur dalam memenuhi persyaratan restrukturisasi yang telah disepakati. maka nilai kini arus kas masa datang mungkin tidak akan berada di bawah nilai tercatat. bank memberikan konsesi khusus kepada debitur. sehingga bank tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. d) Apabila kredit diperkirakan akan dibayar penuh.Bab V I K r e d i t b. yaitu konsesi yang tidak akan diberikan apabila tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. b) Untuk dapat diperhitungkan sebagai arus kas masa datang. bank harus menilai kemungkinan penjamin tersebut memenuhi kewajibannya. berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum.

c. maka kemungkinan sebagian atau seluruh usaha debitur dijual untuk memenuhi kewajibannya. terlepas apakah bank akan merealisasikan skenario tersebut atau tidak.Bab V I K r e d i t b) Agunan dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang apabila memenuhi kondisi sebagaimana pada butir 6. legal. b) Apabila restrukturisasi debitur tidak berjalan sesuai ekspektasi. khususnya jika terdapat bukti yang kuat secara hukum atas perolehan likuidasi aset debitur. bank juga perlu mempertimbangkan berbagai langkah yang dilakukan debitur maupun kondisi lainnya yang terkait dengan kemampuan debitur dalam menyelesaikan kewajibannya. 2) f). 2) di atas. 4) Penjualan kredit di pasar sekunder a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat mempertimbangkan skenario penjualan kredit di pasar sekunder sepanjang terdapat kuotasi harga di pasar aktif. Dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. sistem dan prosedur. c. Perkiraan tersebut harus didasarkan pada penawaran nyata atau penilaian dari pihak yang memiliki keahlian berdasarkan penjualan bisnis serupa di pasar. bank harus melakukan estimasi berdasarkan rencana restrukturisasi dan kemungkinan restrukturisasi tersebut akan memulihkan kondisi debitur atau sebaliknya. 2) Likuidasi karena debitur pailit Apabila debitur dalam kondisi atau proses pailit dan kredit tidak dijamin. dan sebagainya. Dalam hal ini. operasional. keuangan. utang. 198 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . antara lain: 1) Restrukturisasi Debitur a) Pengertian restrukturisasi dalam arti luas mencakup perubahan struktur organisasi. bank juga harus memperkirakan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut sebagaimana pada butir 6. Dalam kasus ini. bank perlu memperkirakan nilai dari perusahaan/bisnis debitur untuk mengestimasi arus kas yang akan diterima dari penjualan tersebut. c. b) Disamping menggunakan kuotasi harga tersebut. aset. maka bank dapat mempertimbangkan aset yang dimiliki debitur dan memperkirakan bagian yang akan diterima bank dari penjualan/likuidasi aset tersebut. manajemen. pemegang saham.

2) Bank tidak diperbolehkan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai melebihi jumlah yang dapat dikaitkan pada kredit individual atau kelompok kredit kolektif dan didukung dengan bukti obyektif penurunan nilai. e. Dalam mengukur dan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. bank harus memperhatikan hal-hal berkut: 1) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk berdasarkan selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Oleh karena itu.Bab V I K r e d i t d. Nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai a. 3) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk sesuai dengan mata uang denominasi kredit yang diberikan. khususnya jika nilai wajar agunan yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas jauh melebihi baki debet dari kredit. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari debitur untuk membayar pokok atau bunga. melainkan secara periodik sebagaimana pada angka 5 di atas. 8. nilai kini dari arus kas masa datang tidak hanya diestimasi pada saat pertama kali terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. Dalam kasus tertentu. Dengan demikian. b. bank mungkin tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. maka setiap penerimaan pembayaran dari debitur akan langsung mengurangi nilai tercatat kredit. Pembayaran Setelah Kredit Mengalami Penurunan Nilai a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 199 . Perubahan dalam jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang dapat berdampak pada perubahan estimasi terjadinya penurunan nilai dan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. Perhitungan estimasi arus kas masa datang harus didokumentasikan dan didasarkan atas kebijakan internal bank yang memadai untuk kepentingan pemeriksaan oleh audit internal maupun eksternal. Setelah kredit mengalami penurunan nilai. 9.

Dalam hal penghapusbukuan kredit merupakan kelanjutan dari tindakan penyelesaian kredit dengan cara pengambilalihan agunan. Hapus Buku dan Hapus Tagih a. maka jumlah yang dihapus buku adalah sebesar selisih kurang antara nilai wajar agunan yang diambil alih setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan dengan nilai tercatat kredit.Bab V I K r e d i t b. b. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. Pemulihan Penurunan Nilai a. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. Misalnya. 200 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat kredit. b. Apabila debitur melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. Dalam kondisi tersebut. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. 11. c. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat kredit dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. d. Kredit dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. Pelaksanaan penghapusbukuan kredit dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. 10. debitur melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebih antisipasi bank.

c. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. mengakui sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca dan mengakui ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungkan penurunan nilai. atau 2) koreksi saldo laba. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). mengakui sebagai ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 201 . b. atau 2) koreksi saldo laba. maka bank: a. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. maka bank: a. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). 2. atau b. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi.Bab V I K r e d i t D. atau 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan Bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya.

melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. c. yaitu paling tinggi sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. maka bank: a. Penerimaan kas atas kredit yang telah dihapusbuku diakui sebagai pendapatan operasional selain bunga. 6. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. b. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah penurunan nilai berkurang yang disebabkan terjadinya suatu peristiwa tertentu setelah pengakuan penurunan nilai. Kredit yang telah dihapus buku dapat direstrukturisasi dengan terlebih dahulu membukukan kembali ”Kredit” dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” di neraca. 3. Kredit yang dihapus buku wajib dicatat secara extracomptable. 8. Pada saat penerimaan ganti rugi dari perusahaan asuransi atau lembaga penjamin kredit diakui. 202 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungan penurunan nilai. 5. maka bank memulihkan kerugian penurunan nilai yang telah diakui tersebut dengan menjurnal balik ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. memperhitungkan ganti rugi tersebut dalam estimasi arus kas masa datang yang akan diterima. maka bank: a. 7. dan melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. yang mengatur mengenai aset tetap yang tersedia untuk dijual. 4.Bab V I K r e d i t 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. dan mengakui aset yang diambil alih yang perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK yang berlaku. b. Apabila aset yang dijaminkan diambil alih.

Kredit yang telah dihapus buku dapat dihapus tagih antara lain apabila dalam jangka waktu tertentu tidak diperoleh pembayaran setelah dilakukan usaha-usaha penagihan dan merupakan keputusan manajemen. Db. Kredit ./Kr.Bab V I K r e d i t 9. Kredit . Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi 1) Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. Ilustrasi Jurnal 1. Penyajian 1. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit 2) Membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan jurnal balik apabila penurunan nilai terjadi pada periode berjalan: Db. Kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai beban operasional pada pos “Kerugian penurunan nilai kredit”./Kr. Saldo laba Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Pendapatan bunga kredit Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Db.amortised cost I 203 . 2. E. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai pos pengurang dari “Kredit” sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit tersebut. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Kr. atau mengoreksi saldo laba. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai a. Kr.amortised cost Db.

Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Saldo laba Jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya peringkat kredit debitur) a. Db. Pada saat penghapusbukuan kredit Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Kerugian penurunan nilai Kr. Pendapatan b. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Db. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. c. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db.Bab V I K r e d i t atau jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. Kredit 204 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain 2) Untuk pembatalan pengakuan pendapatan bunga mengacu pada huruf a di atas 2. Kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Mengakui kerugian penurunan nilai yang sebelumnya dicatat pada ekuitas Db. Kerugian penurunan nilai Jika pemulihan penurunan nilai diketahui setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana peristiwa tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event) Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit b. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr.

consumer loans. Bank dapat menentukan sendiri skala waktu tunggakan yang sesuai. Kredit yang berdasarkan evaluasi secara individual telah mengalami penurunan nilai. Kerugian penurunan nilai kredit Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 205 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. b. F. c. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event) Db. penyisihan. Pendapatan b. Db. antara lain: 1. 2) Jumlah kerugian penurunan nilai. yang meliputi: 1) Nilai tercatat sebelum dikurangi kerugian penurunan nilai. commercial loans. 6–12 bulan. misalnya tunggakan < 3 bulan. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Analisis tersebut mencakup: a. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. termasuk faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menetapkan penurunan nilai. 3–6 bulan. dan penanganan kredit yang mengalami penurunan nilai. dan 2. Pendekatan yang digunakan untuk melakukan evaluasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif.Bab V I K r e d i t 4. Pada saat menerima pembayaran untuk kredit yang sudah dihapus buku a. 3. penghapusan. dan sebagainya). Kredit dengan tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) tetapi tidak mengalami penurunan nilai berdasarkan skala waktu tunggakan. dan lebih dari 12 bulan. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang terkait dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

6. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku (e). c. Contoh Kasus Contoh kasus untuk penurunan nilai menggunakan contoh yang sama pada Bagian mengenai Pemberian dan Penyaluran Kredit. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas kredit sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank. G. cadangan yang dibentuk selama tahun berjalan (c). Cadangan kerugian penurunan nilai kredit berdasarkan segmentasi tertentu. yang menunjukkan saldo awal tahun. Ikhtisar kredit yang dihapus buku. Jenis serta nilai wajar agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya untuk setiap pengungkapan pada butir a dan b diatas. kredit yang telah dilakukan hapus tagih dan saldo akhir tahun. 7. yaitu contoh 3 berupa kredit investasi yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku. dengan tambahan informasi sebagai berikut: 206 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 5. saldo akhir tahun (a) + (b) + (c) – (d) – (e) – (f). Jumlah kredit yang sudah dihentikan pembebanan bunganya. Ikhtisar perubahan pos cadangan kerugian penurunan nilai (baik cadangan kerugian untuk penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif) untuk setiap kategori kredit yang menunjukkan: a. saldo awal tahun (a). pemulihan cadangan selama tahun berjalan (d). penghapusbukuan kredit dalam tahun berjalan. H. selisih kurs karena penjabaran cadangan dalam mata uang asing (b). d. e. g. b. f. penghapusbukuan kredit selama tahun berjalan (f).Bab V I K r e d i t c. 4.

Terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai atas kredit Berdasarkan evaluasi periodik yang dilakukan bank. Selisih kurang antara nilai tercatat kredit sebelum terdapat bukti obyektif penurunan nilai dan nilai kini estimasi arus kas masa datang merupakan cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. Lihat Tabel 11. bank melakukan kembali estimasi arus kas masa datang yang mungkin akan diperoleh yang selanjutnya didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal untuk memperoleh nilai kini atas arus kas tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 207 . pada akhir September 2010 terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit. Berdasarkan bukti obyektif tersebut.Bab V I K r e d i t 1. yaitu kegagalan debitur membayar kewajiban bunga pada tanggal 30 September 2010.

912 74.411 599.295.801.528.000) 1.842.811.000.165 601.310.589.Tabel 11: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Terdapat Bukti Obyektif Penurunan Nilai .843 5.746 922.478 941.556 50.000) (1.955.274.193.991.836.000 99.000.965 Cadangan kerugian penurunan nilai 2.478 3.082.930.066.445 3.174.050 49.000.500.573.051 99.522.178.000.043.302.000) (1.980.711 74.521 1.194.801.935.965 72.208 99.869.193.129.746 922.000 446.834 47.999 48.959.811.938 617.357 50.000.000) 72.569.500.000.506 625.050 49.000.816.367.250.404.220 934.000.649.112 49.064 616.390.920.468.255.133 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 500.500.000.325.000) (1.940 51.208 5.057 72.367.000.500.980.250.423 47.750.945.000.112 49.000) 2 31-Jan-10 1.742.276.997.850 99.866.259.931 46.066.436.364.241.000 27.178.570.585 5.241.174.931 46.208 1.535.758 Suku Bunga Efektif Awal 1.984 592.191.194.000.945.434 74.302.199.250.742.434 74.481.076.250.389.834 47.250.256% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .522.392.866.357 (25.721 643.310.250.959.940.564.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 208 I P e d o m a n 99.569.436.250.920.902.000) 5.940 51.392.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.663.066.439.196.250.322 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 72.250.965 73.000.000) (937.585 1.000) (1.766.000.208 99.468.912 74.049 608.000.985.663.711 74.510 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 500.649.178.997.000) (500.920.506 625.848.951.082.000.556 50.000.793.086 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 500.281 651.076.000) (1.304.000.530.542.064 616.000) (937.057 (500.328 99.902.589.000.583 635.277 5.000.274.276.569.178.411 599.984 592.281 651.842.508.205.390.048 49.043.000 43.000) 911.000.439.191.250.528.000 8 31-Jul-10 937.277 1.468.938 617.000 4 31-Mar-10 1.255.257.423 47.000.943 911.000.000.975.439 47.491.570.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 13 31-Dec-10 28.165 601.000 7 30-Jun-10 26.925.801 633.942.442.000.530.000.000 463.250.357 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.000 3 28-Feb-10 1.357 74.220 934.661 51.129.935.997.985.051 99.439 47.507 585.542.259.000 430.507 585.925.357 50.721 643.445 941.255.836.196.066.000.199.850 99.000 9 31-Aug-10 937.766.000) (500.801 633.920.661 51.843 1.048 49.564.250.573.049 608.255.000 99.000 6 31-May-10 1.255.569.325.444.205.975.943 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.930.750.999 48.404.481.955.479 23 30-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 52.500.848.693.508.940.322 (28.364.500.000) (52.583 635.328 99.816.521 5.257.000 5 30-Apr-10 1.793.951.255.965 (1.997.500.965 73.

Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. 13 dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.220 Tanggal 31 Desember 2010.389.980.304.980. Rp. d.000 28. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 209 . Rp.000. 24 dalam Tabel 11 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 911. Kredit – amortised cost e.530. 922.750.746 Tanggal 30 November 2010. Tanggal 31 Oktober 2010. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan pula bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit.220 Kr. 934. Pendapatan bunga Rp.000.357 2. Tanggal 30 September 2010.304.357 (apabila masih terdapat tagihan bunga pada saat penurunan nilai.000 c. Jurnal untuk transaksi no. maka dilakukan jurnal balik) 2) Pengakuan bunga pada saat terjadi penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat bank tidak menerima pembayaran dari debitur) b.389. Kerugian penurunan nilai Kr.746 Kr. 911.507 28.750. Rp. Kredit – amortised cost Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rp.507 934.530. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. Rp. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat kerugian penurunan nilai Db. pada saat pengakuan amortisasi bunga (interest unwinding) Db. 922. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 14 sampai dengan no.573.573. Pendapatan bunga Rp. Kredit – amortised cost Rp. Kredit – amortised cost Kr. 11 sampai dengan no. 2. a.

2.357 Kr.389. 210 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp.357 2.500.057 651. Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.000. Tanggal 31 Desember 2011.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db.257. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.389. 651. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.500.257. bank harus melakukan evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang secara periodik atau pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai selanjutnya.000 52.057 52.304. 2.Bab V I K r e d i t f. Jika pada 31 Desember 2010. Kredit – amortised cost Rp.304.000. Kredit– amortised cost Rp. Lihat Tabel 12. Kredit – amortised cost Kr. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang pada saat evaluasi selanjutnya Sebagaimana dipersyaratkan. Rp. bank mengestimasikan akan menerima arus kas masa datang yang lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sehingga bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai.

508.689.569.345.434 74.931 35.129.367.000 9 31-Aug-10 937.291 450.250.220 24.255.255.104.372 310.000 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 5.277 5.255.000.000 99.600 Cadangan kerugian penurunan nilai 23.955.000.416.000 3 28-Feb-10 1.737.958.000 7 30-Jun-10 26.445 941.058 306.446.816.500.955.585 5.776 356.569.476.000) (1.486.528.000) (1.602 31.250.491.798.000) (1.945.940.310.639.325.912 74.521 5.807 24.931 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 50.198.000.208 99.850 99.194.530.250.220 445.126.273.980 32.122.408 (5.446.383.925.208 1.250.104.000) 5.173 28.575 409.807 24.530.000.649.481.618 404.250.000) 50.940.000.711 74.342.390.259.891.959.920.255.000.400.173 28.649.522.935.066.377.980 32.000.162 24.599 32.331 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab V I K r e d i t I 211 Suku Bunga Efektif Awal 1.345.689.746 922.445 3.342.303.000) (1.345.355 302.712 456.000.843 5.602.548 351.000.330 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 25.357 74.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .823.250.328 99.000.478 941.220 (15.378 399.508.408 72.357 (25.250.000.886.890 36.886.232 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 5.000.Tabel 12: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Evaluasi Penurunan Nilai secara Periodik .975.066.208 99.364.000.250.980.259.325.600 35.585 1.468.877.255.476.776 356.575 409.930.935.500.372 310.930.309 360.980.711 911.208 5.497 28.194.513.997.404.273.721 28.600 35.275.920.303.939 911.602.000.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.997.746 922.302.000.012.748.081.098 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 5.000.000.012.345.390.000 4 31-Mar-10 1.500.618 404.000.309 360.912 74.890 36.592 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.965 72.843 1.355 302.877.196.223.434 74.000.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas D E = D x EIR F G=pxi H=E-G Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx Tahun Estimasi Arus Kas 99.000.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.576.051 99.392.250.000.000) (937.798.850 99.000.250.891.163.576.965 I=D+E+F+G 99.364.737.000.442.416.196.162 24.383.521 1.000.433.322 A B C 1 1-Jan-10 (99.066.920.000.000.404.433.602 31.310.951.000 4.602.720.000.513.000 8 31-Jul-10 937.220 24.600 35.823.569.720.129.377.058 306.000) 2 31-Jan-10 1.367.000) 445.528.975.198.945.446.250.942.712 456.000.602.951.250.126.000) 72.000.392.691.000) (1.000.000.965 (1.277 1.721 28.000.122.275.965 73.000 21.500.378 399.599 32.500.486.081.000 4.328 99.051 99.000.000) (5.997.000.205.925.748.446.000.000.000 5 30-Apr-10 1.225.250.231.250.000) (25.255.592 1.497 28.991.000 15.000.400.066.000.478 3.000 6 31-May-10 1.000.291 450.548 351.000) (937.231.853.965 73.853.000) (5.481.000 4.000 99.

Rp.508.000.331 (Rp. 212 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .712 Tanggal 31 Maret 2011. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.000 c.000 Tanggal 31 Januari 2011. Rp. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Kredit – amortised cost b. Rp. e.000. 23. Kredit – amortised cost Rp. Pendapatan bunga Rp.291 Kr.378 456.000 15.. Tanggal 31 Desember 2010. 25 dalam Tabel 12 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 450. 50. 445.486.958. 23. 450. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.331 Kr.000. 445.404. dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.712 Kr.823.231. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db. 74.600) 2) Pengakuan bunga pada awal penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat awal pencatatan nilai kini estimasi arus kas masa datang) 3) Mencatat penerimaan arus kas Db.163. Rp./Giro BI Kr.000. Kredit – amortised cost Rp.291 Tanggal 28 Februari 2011.931 – Rp.331 = Rp. 456.823. Kas/Rekening.163.446.958.345. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.163. Kredit – amortised cost Kr. a.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit.000. 23.958. Jurnal untuk transaksi no.231. Kerugian penurunan nilai Rp. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat tambahan cadangan kerugian penurunan nilai Db. Rp.378 5. 15. 17 sampai dengan no.000. d.. Pendapatan bunga Rp.000. 16.000 5.000.486. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. 14 sampai dengan no. Kredit – amortised cost Rp.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr.467.347. Kredit – amortised cost Rp. Rp. Lihat Tabel 13.688 (Rp.122.122. 26.688 = Rp. 310.Bab V I K r e d i t f.467.958. Rp. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.000.000. bank mengestimasikan bahwa tidak terdapat penerimaan atau sangat sulit bagi bank untuk memperoleh kembali arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai tersebut. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang dan hapus buku Jika pada saat evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang pada bulan Maret 2011.000.331 + Rp.467.000 25. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. 26. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.408 310. 26.347. Kredit – amortised cost Rp. 23.408 25.688 Kr.000. Oleh karenanya.389. 2.304.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db. bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai untuk menyesuaikan nilai tercatat sebelumnya menjadi nihil.357) 3. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 213 . Kredit – amortised cost Kr. Rp. Tanggal 31 Desember 2011.347.163.

066.940.959.602 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.912 74.000 99.925.250.000) 445.000) (1.997.491.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .400.000.600 35.291 450.129.000.530.208 5.890 36.277 5.208 99.951.602 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 0 Tambahan cadangan kerugian penurunan nilai 36.342.920.576.528.000.000.345.259.291 450.208 4 31-Mar-10 1.400.342.955.302.000) (1.310.600 15 28-Feb-11 35.850 7 30-Jun-10 26.250.231.850 99.220 445.390.528.500.997.945.000.000.445 941.569.920.000.000.250.250.600 14 31-Jan-11 35.250.000 99.930.521 1.196.925.325.390.000.000) (937.508.328 99.250.000 99.446.000) (1.000) (1.000 99.940.823.066.196.231.569.585 5.000.446.891.325.066.965 12 30-Nov-10 73.712 72.945.000 99.965 (25.000.000.000 74.357 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 214 I P e d o m a n 1.478 941.Tabel 13 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi dan Hapus Buku .481.000.129.890 Evaluasi penurunan nilai secara periodik dan hapus buku 16 31-Mar-11 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 - Suku Bunga Efektif Awal 1.342.000 99.000 3 28-Feb-10 1.935.445 3.446.000.194.000.000) 5.997.000.000.935.250.367.955.891.322 911.328 6 31-May-10 1.746 922.991.066.345.250.000.746 922.000) (937.843 5.434 74.277 1.649.255.000) (1.649.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.000.404.951.345.250.920.975.500.000 72.931 35.208 1.434 8 31-Jul-10 937.912 9 31-Aug-10 937.442.000 74.975.500.500.823.255.576.585 1.712 911.942.530.051 5 30-Apr-10 1.602 Perhitungan tambahan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai (31 Maret 2011) 36.000 99.000) (1.250.000.259.930.843 1.367.980.392.481.194.392.980.500.310.965 11 31-Oct-10 72.250.220 (15.255.711 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.255.478 3.000.521 5.255.569.357 74.255.400.250.000 50.965 73.051 99.000) 2 31-Jan-10 1.711 74.

Kerugian penurunan nilai Rp. 36. Memorial kredit yang dihapus buku Rp.400.389.304.868.290 62.868. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Rp.290 = Rp. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit Db. 62.746 922.290 (Rp. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Kredit – amortised cost Rp.959.290 Kr.868.958.400.331 + Rp. Kr.689.602 Dengan pembentukan cadangan tersebut maka nilai kini kredit menjadi nihil Pada saat manajemen bank memutuskan untuk menghapus buku kredit 1) Penghapusbukuan kredit Db.220 (15.689. 62. 36.602) 2) Pencatatan extracomptable atau rekening memorial Db.231.291 450.712 62.823.000) 445.163. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Rp.342. 62. 2.357 + Rp. Nilai tersebut merupakan nilai tercatat sebelum penurunan nilai yang dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk.290 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 215 .689.342.689.342.530.000. Setelah pencatatan jurnal di atas maka nilai tercatat kredit adalah nihil.400. Tanggal 31 Maret 2011.689. 62. 36.868.290 b.000.322 911. 23. dengan rincian sebagai berikut: Rekonsiliasi atas nilai kini kredit adalah sebagai berikut: a) Nilat tercatat kredit diamortisasi Nilai tercatat sebelum penurunan nilai amortisasi bunga (31-Okt-10) amortisasi bunga (30-Nov-10) Penerimaan arus kas masa datang (31-Dec-10) amortisasi bunga (31-Jan-11) amortisasi bunga (28-Feb-11) 74.868.602 Kr.302.980.689.868.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi a.

389.400. Kas/Rekening.290 c. Pada saat Bank menerima setoran kas dari debitur atas kredit yang telah dihapus buku pada tahun berjalan (asumsi penerimaan kembali setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event).163.Bab V I K r e d i t b) Cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk Terdapat bukti obyektif (30 Sep-10) 2.304.689.342..602 62.331 Penilaian kembali arus kas masa datang (31 Mar-11) 36.868. Pendapatan 2) Penyesuaian atas rekening memorial Db./Giro BI Kr. xxxxxxxx xxxxxxxx Rp. Memorial kredit yang dihapus buku Rp. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Kr. 1) Pencatatan penerimaan kas Db.357 Penilaian kembali arus kas masa datang (31-Des-10) 23. Rp.. Rp.958. xxxxxxxx xxxxxxxx 216 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

6. Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Derivatif melekat (embedded derivative) adalah instrumen derivatif yang melekat pada kontrak lainnya yang merupakan kontrak utama (host contract) yang dapat menyebabkan perubahan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak utama sejalan dengan perubahan variabel tertentu yang mendasari (underlying variable). I 217 . 4. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak keuangan lain dengan karakteristik sebagai berikut: a.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bab VI Transaksi Deriva f A. Kewajiban derivatif adalah kewajiban yang merupakan potensi kerugian berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih negatif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. suatu komitmen pasti (firm commitment). Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction) Tagihan derivatif adalah tagihan yang merupakan potensi keuntungan berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih positif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. dan c. Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan/ yang mendasari (underlying) b. Lindung nilai (hedging) adalah strategi pengelolaan risiko dengan menggunakan instrumen keuangan (hedging instrument) untuk melakukan saling hapus (offset) atas perubahan nilai wajar atau arus kas dari aset atau kewajiban keuangan tertentu. 3. Definisi 1. 5. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable forecast transaction) atau investasi neto pada operasi di luar negeri (net investment in a foreign operation) yang merupakan item yang dilindung nilai (hedged item) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2.

B. atau variabel lainnya. antara lain: suku bunga. harga komoditas. dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang objektif. Prakiraan transaksi (forecast transaction) adalah transaksi di masa datang yang belum mengikat namun telah diantisipasi. 218 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dasar Pengaturan 1. harga instrumen keuangan. 9. c. nilai tukar mata uang asing. Komitmen pasti (firm commitment) adalah perjanjian yang mengikat untuk mempertukarkan sumber daya dalam kuantitas tertentu pada tingkat harga tertentu dan pada tanggal atau tanggal-tanggal tertentu di masa datang. Derivatif a. Untuk variabel non keuangan. indeks harga atau indeks suku bunga. dan 3) diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang. variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak: 2) tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. 8. (PSAK 55 paragraf 8) Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan mengunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Valuasi adalah suatu proses pengukuran nilai wajar yang dapat didasarkan pada harga kuotasi di pasar yang aktif (mark to market) maupun didasarkan pada teknik penilaian (valuation technique). b. (PSAK 10 paragraf 7) Pada setiap tanggal neraca: 1) Pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7. peringkat kredit atau indeks kredit. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang termasuk dalam ruang lingkup Pernyataan ini (lihat paragraf 2–7) dengan tiga karakteristik berikut ini: 1) nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying). Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca.

(PSAK 10 paragraf 9) d. karena komitmen dimaksud memiliki jangka waktu pendek. baik moneter maupun nonmoneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate) 2) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi 3) Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai ”selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan. kontrak tersebut dicatat sebagai derivatif pada periode antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian. (PSAK 55 paragraf 8) “Suatu pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) akan menimbulkan komitmen harga yang telah ditetapkan antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian yang memenuhi definisi suatu derivatif. h. selisih penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. dan 3) Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan..Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca. g. (PSAK 11 paragraf 14) Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) adalah pembelian atau penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kurun waktu yang umumnya ditetapkan dengan peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar. (PSAK 55 PA69) e. tetapi harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. Sebaliknya.” (PSAK 55 PA24) Kontrak yang mensyaratkan atau mengijinkan penyelesaian neto terhadap perubahan nilai kontrak bukan merupakan kontrak reguler. (PSAK 10 paragraf 13) Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasikan dengan laporan keuangan perusahaan pelapor. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 219 . Meskipun demikian. f. maka tidak diakui sebagai instrumen keuangan derivatif. digunakan prosedur sebagai berikut: 1) Aset dan kewajiban entitas asing. Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18..

maka harus dicatat berdasarkan Pernyataan lain yang sesuai tetapi PSAK 50 tidak mengatur apakah derivatif melekat disajikan secara terpisah dalam laporan keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2. 220 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan 3) instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (dengan kata lain derivatif yang melekat pada aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dipisahkan). nilai tukar mata uang asing. namun jika kontrak utamanya bukan merupakan instrumen keuangan. harga instrumen keuangan. atau 2) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen campuran yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. Jika derivatif melekat dipisahkan... seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan b. atau variabel lainnya.” (PSAK 55 paragraf 9) Derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utamanya dan dicatat sebagai derivatif berdasarkan Pernyataan ini. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. (PSAK 55 paragraf 10) c. 2) instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat memenuhi definisi sebagai derivatif. jika dan hanya jika: 1) karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama. antara lain: suku bunga. Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. indeks harga atau indeks suku bunga. Derivatif Melekat a. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. peringkat kredit atau indeks kredit. dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan. “Derivatif melekat merupakan komponen dari instrumen keuangan campuran (hybrid instrument) atau instrumen keuangan yang digabungkan (combined instrument) dimana didalamnya termasuk pula kontrak utama non derivatif yang mengakibatkan sebagian arus kas yang berasal dari instrumen yang digabungkan bervariasi seperti derivatif yang berdiri sendiri. maka kontrak utamanya harus dicatat berdasarkan PSAK 55 jika kontrak utamanya merupakan instrumen keuangan.

Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat menggunakan metode ini. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. maka ketentuan dalam paragraf 12 diterapkan dan entitas memperlakukan keseluruhan kontrak yang digabungkan tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55 paragraf 87) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 221 . apabila kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan berdasarkan Pernyataan ini. Lindung Nilai a. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. Namun demikian. (PSAK 55 paragraf 11) d. (PSAK 55 PA48) e. f. (PSAK 55 paragraf 13) Penetapan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dapat digunakan terlepas apakah paragraf 10 mensyaratkan derivatif melekat untuk dipisahkan dari kontrak utamanya atau dilarang dipisahkan. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. Akuntansi lindung nilai mengakui pengaruh saling hapus pada laporan laba rugi atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. maka nilai wajar derivatif melekat merupakan selisih antara nilai wajar dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran dengan nilai wajar dari kontrak utama. paragraf 11 tidak memperkenankan penetapan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi apabila terdapat kondisi sebagaimana dimaksud dalam paragraf 11 (a) dan (b) karena hal tersebut tidak akan mengurangi kompleksitas atau meningkatkan keandalan. 3. (PSAK 55 paragraf 12) Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara handal berdasarkan persyaratan dan kondisi derivatif tersebut (misalnya karena derivatif melekat didasarkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi). maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi.

Hubungan lindung nilai terdiri dari tiga jenis: 1) lindung nilai atas nilai wajar: suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau kewajiban yang telah diakui. 1) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen risiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai. suatu prakiraan transaksi yang merupakan subyek dari suatu lindung nilai harus bersifat kemungkinan besar terjadi dan terdapat eksposur perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi. item atau transaksi yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. c. jika dan hanya jika. atau komitmen pasti yang belum diakui. 2) lindung nilai atas arus kas: suatu lindung nilai terhada peksposur variabilitas arus kas yang (i) dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga di masa datang atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable). 3) lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 10 mengenai Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11 mengenai Penjabaran dalam Mata Uang Asing. atau bagian yang telah diidentifikasi dari aset. 2) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif dalam rangka saling hapus atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. (PSAK 55 paragraf 88) Suatu hubungan lindung nilai memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai sesuai paragraf 91-105. Pendokumentasian tersebut harus meliputi identifikasi instrumen lindung nilai. dan (ii) dapat mempengaruhi laporan laba rugi. 222 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . konsisten dengan strategi manajemen risiko yang telah didokumentasikan diawal untuk hubungan lindung nilai tersebut. kewajiban. sifat dari risiko yang dilindung nilai. atau komitmen pasti tersebut. 3) Untuk lindung nilai atas arus kas. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. seluruh kondisi berikut ini terpenuhi. dan cara yang akan digunakan entitas untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai tersebut dalam rangka saling hapus eksposur yang berasal dari perubahan dalam nilai wajar item yang dilindung nilai atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai.

Lindung Nilai atas Nilai Wajar a. dan nilai wajar instrumen lindung nilai tersebut harus dapat diukur secara andal.. pada waktu entitas menyiapkan laporan keuangan tahunan atau interim. “Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: 1) Pada saat dimulainya lindung nilai dan periode-periode sesudahnya. Harapan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa cara.. (PSAK 55 paragraf 90) d. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) keuntungan atau kerugian yang berasal dari pengukuran kembali instrumen lindung nilai pada nilai wajar (untuk instrumen lindung nilai derivatif) atau komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diukur berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 223 . lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai selama periode lindung nilai tersebut. atau b) menunjukkan korelasi statistik yang tinggi antara nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai dengan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. (PSAK 55 PA126) 4.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. minimal. 2) Hasil aktual dari lindung nilai berada dalam kisaran 80–125 persen. yaitu nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. 5) Lindung nilai dinilai secara berkesinambungan dan ditentukan bahwa efektivitasnya sangat tinggi sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. Efektivitas dievaluasi.” (PSAK 55 PA125) e. Jika suatu lindung nilai atas nilai wajar memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. termasuk dengan: a) membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari item yang dilindung nilai yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari instrumen lindung nilai. Entitas dapat memilih rasio lindung nilai selain satu banding satu dalam rangka meningkatkan efektivitas lindung nilai sebagaimana yang dijabarkan dalam paragraf PA120.

(PSAK 55 Paragraf 94) 5. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai b. (PSAK 55 paragraf 98) Dalam setiap situasi berikut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Uang Asing (untuk instrumen lindung nilai non derivatif) diakui pada laporan laba rugi. Ketentuan ini berlaku jika item yang dilindung nilai tidak diukur pada biaya perolehan. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai telah kadaluwarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). dan 2) keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan menyesuaikan nilai tercatat item yang dilindung nilai dan diakui pada laporan laba rugi. Lindung Nilai atas Arus Kas a. Entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai wajar sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 91 jika: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. 224 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2) lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan). dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai arus kas: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Jika suatu lindung nilai atas arus kas memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. Pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada laporan laba rugi diterapkan jika item yang dilindung nilai merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. atau 3) entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. dan 2) bagian yang tidak efektif atas keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. (PSAK 55 paragraf 91) b.

keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. (PSAK 55 paragraf 104) 6. Lindung Nilai atas Investasi Neto Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif telah kadaluarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). atau 103 diterapkan. Apabila transaksi tersebut tidak lagi diperkirakan akan terjadi. atau 103 diterapkan. maka paragraf 100. Dalam hal ini. Prakiraan transaksi yang kemungkinan besar tidak terjadi (lihat paragraf 90(c)) mungkin masih diharapkan terjadi. dalam hal ini setiap keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) diakui dalam laporan laba rugi. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. maka paragraf 100. Untuk lindung nilai atas prakiraan transaksi. 101. 3) suatu prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi. 101. Jika transaksi tersebut terjadi. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai dalam paragraf 90. termasuk lindung nilai atas item moneter yang dicatat sebagai bagian dari investasi neto (berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Uang Asing). 101. maka paragraf 100. Apabila transaksi tersebut terjadi. 4) Entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. atau 103 diterapkan. Jika transaksi tersebut terjadi. dicatat dengan cara yang serupa seperti lindung nilai atas arus kas: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 225 . Dalam hal ini. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi.

maka entitas harus menghentikan akuntansi lindung nilainya sejak tanggal terakhir entitas tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai tersebut. entitas menerapkan Pedoman Aplikasi PA84 – PA98. dan bagian yang tidak efektif diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55 paragraf 105) b. misalnya 50 persen dari jumlah nosional. Pengukuran Nilai Wajar Dalam menentukan nilai wajar aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk menerapkan Pernyataan ini atau PSAK 50 (revisi 2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. (b) efektivitas dari lindung nilai dapat dibuktikan. (PSAK 55 paragraf 48) 226 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55 paragraf 76) Satu instrumen lindung nilai dapat ditetapkan sebagai lindung nilai atas lebih dari satu jenis risiko sepanjang (a) risiko yang dilindung nilai dapat diidentifikasi secara jelas. 9. dan dapat membuktikan bahwa lindung nilai telah berjalan efektif sebelum peristiwa atau perubahan keadaan tersebut terjadi. (PSAK 55 PA 134) 8. dan (c) dimungkinkan untuk memastikan bahwa terdapat penetapan yang spesifik dari instrumen lindung nilai dan posisi risiko yang berbeda. Proporsi dari keseluruhan instrumen lindung nilai. Namun. entitas menghentikan akuntansi lindung nilai sejak tanggal terjadinya peristiwa atau perubahan keadaan tersebut. hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk satu bagian saja dari periode waktu dimana instrumen lindung nilai masih berjalan. 7. Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang terkait dengan bagian lindung nilai yang efektif yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi ketika investasi dalam operasi luar negeri tersebut dilepaskan. Namun demikian. 10. bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif a. (PSAK 55 paragraf 77) Jika entitas tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam suatu hubungan lindung nilai. jika entitas dapat mengidentifikasi peristiwa atau perubahan keadaan yang menyebabkan hubungan lindung nilai gagal memenuhi kriteria efektivitas.

Derivatif a. Instrumen keuangan derivatif adalah instrumen keuangan yang memberikan hak (kewajiban) kepada pemegang (penerbit) untuk menerima (membayar) kas atau instrumen keuangan lainnya dalam jumlah yang ditentukan berdasarkan perubahan variabel yang mendasari (underlying) dimasa yang akan datang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 227 . Namun. unit bobot atau volume.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif C. saham. c) Instrumen derivatif dapat mensyaratkan suatu pembayaran dengan jumlah yang telah ditetapkan atau pembayaran yang jumlahnya dapat berubah (tapi tidak proporsional terhadap perubahan item yang mendasarinya) sebagai akibat dari suatu peristiwa di masa datang yang tidak berkaitan dengan jumlah nosional. harga kredit atau indeks kredit b) Instrumen derivatif biasanya memiliki suatu jumlah nosional berupa sejumlah mata uang. Penjelasan 1. Karakteristik derivatif 1) Perubahan nilai sebagai akibat dari perubahan variabel yang mendasari (underlying) a) Variabel yang mendasari (underlying) adalah suatu variabel yang bersama dengan suatu nilai nosional atau suatu syarat pembayaran akan menentukan jumlah yang akan diselesaikan dalam suatu derivatif. Pembelian atau penerbitan opsi mata uang (Purchased or Written Currency Nilai tukar mata uang Option) Currency Futures Credit Derivative Nilai tukar mata uang Rating kredit. atau ukuran lain yang ditetapkan dalam kontrak. instrumen derivatif tidak mensyaratkan pemegangnya atau penerbitnya membayar atau menerima jumlah nosional pada saat kontrak dimulai (inception date). Contoh variabel yang mendasari antara lain: Jenis Kontrak Swap suku bunga (Interest rate swap) Interest Rate Future Swap mata uang (Currency Swap) Variabel yang Mendasari Suku bunga Suku bunga Nilai tukar mata uang b.

antara lain: a) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal pertukaran kas Sebagai contoh. kontrak foreign exchange forward mempunyai tanggal penyelesaian (settlement date) di masa depan dimana terjadi pertukaran kas untuk mata uang berbeda antara pembeli dan penjual. (2) Kontrak swap mata uang yang mensyaratkan pertukaran awal dalam mata uang yang berbeda namun memiliki nilai wajar yang setara memenuhi definisi sebagai derivatif karena investasi neto awal adalah sebesar nol. 228 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kontrak opsi yang tidak menguntungkan pihak pemegang opsi untuk mengeksekusi opsi tersebut (out the money). Kontrak dimaksud merupakan suatu derivatif meski jumlah nosional tidak ditentukan. Sebagai contoh. jika LIBOR 6 bulan meningkat 1%.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Sebagai contoh. Sebagai contoh: (1) Kontrak opsi memenuhi definisi sebagai derivatif karena jumlah premi yang harus dibayar lebih rendah dibanding investasi yang dibutuhkan untuk memperoleh instrumen keuangan yang mendasari opsi tersebut. suatu kontrak mensyaratkan pembayaran tetap sejumlah Rp 1 milyar. 3) Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Tanggal penyelesaian tertentu dimasa depan dalam kontrak derivatif mempunyai beberapa pengertian. b) Margin deposit pada suatu transaksi derivatif yang harus disimpan pada suatu rekening merupakan setoran jaminan atas suatu transaksi derivatif dan tidak dapat diperhitungkan sebagai suatu investasi awal. a) b) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal berakhirnya kontrak (expire date) tanpa adanya pertukaran kas. 2) Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil Derivatif tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal yang lebih kecil dibandingkan investasi yang dibutuhkan untuk kontrak jenis lain yang diperkirakan akan memberi respon serupa terhadap perubahan faktor-faktor pasar. Margin deposit harus dicatat secara terpisah dari transaksi derivatif.

Dalam transaksi forward terdapat satu pihak yang setuju untuk membeli suatu instrumen keuangan yang mendasari (underlying asset) pada tanggal tertentu dimasa depan pada suatu harga tertentu (long position).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal-tanggal pembayaran bunga. Transaksi derivatif yang ditujukan untuk tujuan perdagangan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi yaitu sub kategori Diperdagangkan. maka transaksi derivatif tersebut diperlakukan sebagaimana transaksi derivatif yang dilakukan untuk tujuan perdagangan. d. 2) Lindung nilai terhadap risiko tertentu dalam kegiatan usaha bank. e. Sebagai contoh. maka akuntansi lindung nilai dapat diterapkan. b) Dalam hal transaksi derivatif yang digunakan untuk lindung nilai tidak memenuhi kriteria penerapan akuntansi lindung nilai. a) Dalam hal transaksi derivatif secara khusus dilakukan untuk mengelola risiko dimana hubungan antara instrumen derivatif dan item yang dilindung nilai memenuhi kriteria tertentu. kontrak interest rate swap yang mempunyai beberapa tanggal penyelesain bunga dimasa depan. Transaksi derivatif harus diakui dalam neraca karena menimbulkan aset dan/atau kewajiban keuangan bagi bank Transaksi derivatif yang umum ditransaksikan antara lain: Transaksi Keterangan Forward adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk membeli atau menjual suatu instrumen keuangan pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. c. Suatu kontrak forward diperdagangkan secara over the counter (OTC) dan jangka waktu penyelesaian transaksi forward adalah lebih dari dua hari kerja setelah tanggal transaksi. Forward Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 229 . sedangkan pihak lawan setuju untuk menjual suatu instrumen keuangan yang bersangkutan pada tanggal dan harga yang sama (short position). Derivatif dapat digunakan untuk tujuan: 1) Perdagangan (trading/speculative activities).

sedangkan opsi tipe Eropa memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari hanya pada tanggal jatuh tempo. Arus kas didasarkan pada kinerja dari variabel yang mendasari. satu pihak akan membayar pada suku bunga tetap/mengambang dan pihak lainnya akan menerima pada suku bunga mengambang/tetap. Opsi tipe Amerika memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari setiap saat sampai opsi itu jatuh tempo. 230 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam suatu periode pembayaran bunga. Option Opsi (option) adalah suatu kontrak yang memberikan pemegang opsi suatu hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu aset yang mendasari pada harga tertentu dan tanggal tertentu. 2) Swap mata uang (cross currency swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam suatu mata uang tertentu dengan arus kas pembayaran bunga mata uang lainya. Pembayaran biasanya secara neto. Secara umum suatu swap mata uang mempunyai arus kas sebagai berikut: 1) Pertukaran arus kas pokok pada awal kontrak 2) Pembayaran arus kas bunga diantara periode kontrak. 1) Swap suku bunga (interest rate swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam mata uang yang sama. 3) Pertukaran arus kas pokok pada akhir periode kontrak.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Swap Swap adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk saling mempertukarkan arus kas dari suatu instrumen keuangan yang mendasari pada periode tertentu dimasa depan. misalnya suku bunga dan mata uang. Swap suku bunga adalah instrumen keuangan yang paling umum digunakan untuk lindung nilai atas risiko suku bunga.

pembeli opsi harus membayar premi. tetapi bukan kewajiban. Standard option juga dikenal sebagai Vanilla option mempunyai persyaratan yang sudah diketahui pada awal transaksi sedangkan Exoctic option mempunyai beberapa persyaratan yang tergantung pada kondisi tertentu selama periode opsi. 2) Put option memberikan hak kepada pemegang kontrak. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki. Transaksi futures mempunyai banyak kemiripan dengan forward. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar instrumen derivatif dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. sementara forward diperdagangkan secara over the counter. sementara risiko futures lebih kecil karena adanya jaminan dari bursa. Futures 2. untuk membeli suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Secara umum terdapat 2 jenis kontrak opsi yaitu: Standard option dan Exoctic option. 2) Risiko transaksi forward relatif lebih besar karena bersifat bilateral dimana terdapat risiko kegagalan pihak lawan memenuhi kewajiban. mana yang lebih sesuai. Kuotasi di pasar aktif. dan bagi penjual opsi tidak terbatas. maka bank dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi terbuka neto. untuk menjual suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Terdapat 2 tipe Standard option yaitu: 1) Call option memberikan hak kepada pemegang kontrak.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Dalam transaksi opsi. tetapi bukan kewajiban. Risiko kerugian bagi pembeli opsi adalah sebatas premi yang dibayarkan. Jika bank memiliki aset atau kewajiban dimana risiko pasar diantara aset dan kewajiban tersebut saling hapus. Sementara perbedaan antara kontrak futures dan forward antara lain: 1) Futures diperdagangkan melalui bursa (exchange) dan mempunyai syarat yang telah distandardisasi. Futures adalah suatu perjanjian untuk membeli atau menjual suatu aset pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 231 .

2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. b) Mata uang yang digunakan dalam pelaporan bagi ke dua pihak dalam kontrak perdagangan. 232 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . d. 3. b) Pembayaran bunga mengambang dalam instrumen keuangan yang terkait pada suku bunga cap atau floor. kontrak sewa. Kontrak utama dapat berbentuk instrumen utang atau ekuitas. b. atau c. Derivatif melekat (embedded derivative) 1) Derivatif melekat dapat menyebabkan perubahan atas arus kas dari kontrak utama berdasarkan perubahan variabel-variabel tertentu. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. dan (2) Kontrak derivatif yang melekat pada kontrak utama (embedded derivative). Karakteristik perubahan arus kas tersebut serupa dengan derivatif yang berdiri sendiri. Instrumen Keuangan Campuran (Hybrid instrument) dan Derivatif Melekat (Embedded Derivative) a. c) Pembayaran bunga atau pokok yang terkait pada indeks harga saham atau komoditas. 3) Kontrak penjualan atau pembelian dalam mata uang asing dapat mengandung derivatif melekat jika mata uang asing tersebut bukan merupakan: a) Jenis mata uang yang secara rutin digunakan untuk transaksi produk tersebut pada perdagangan internasional. Instrumen keuangan campuran mencakup: (1) Kontrak utama yang merupakan instrumen non derivatif. Instrumen keuangan campuran merupakan campuran atau gabungan antara kontrak utama dan kontrak derivatif. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. 2) Contoh derivatif melekat antara lain: a) Fitur konversi saham pada instrumen surat berharga (convertible securities). bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. kontrak penjualan atau pembelian instrumen keuangan atau kontrak asuransi.

g. Berdasarkan bagan tersebut. 2) Jika derivatif melekat dipisahkan dapat merupakan instrumen derivatif yang berdiri sendiri (freestanding derivative) yang memenuhi kriteria derivatif sesuai PSAK 55. dan 3) Menentukan nilai kontrak utama dan derivatif melekat. dan 3) Karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak secara jelas dan erat berkaitan dengan kontrak utama. derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama jika memenuhi seluruh kriteria berikut: 1) Instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Mata uang yang secara umum digunakan dalam perekonomian dimana transaksi tersebut terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) e. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 233 . Yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu instrumen campuran pada tanggal awal pengakuan antara lain: 1) Mengidentifikasi kontrak utama dan derivatif melekat dalam instrumen campuran. Langkah-langkah untuk menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak dari kontrak utama dapat dilihat pada bagan berikut: f. 2) Menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dalam instrumen campuran.

Sementara itu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif h. Tabel berikut menggambarkan risiko inheren dari kontrak utama. Kontrak utama Utang dan Asuransi Ekuitas Sewa Suku bunga Inflasi Risiko kredit Harga saham Suku bunga Inflasi Risiko inheren 3) PSAK 55 . sementara PSAK 55 tidak memberikan pedoman lebih lanjut mengenai pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat”. derivatif melekat yang mengubah karakteristik risiko inheren dari kontrak utama tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat” 1) Penentuan adanya suatu hubungan yang jelas dan erat antara derivatif melekat dan kontrak utama relatif sulit. namun lebih mendasarkan pada pemahaman konsep melalui berbagai contoh ilustrasi.Pedoman Aplikasi (PA) 43 dan 46 memberikan contoh jenis derivatif melekat dengan karakteristik ekonomi dan risiko yang berkaitan secara jelas dan erat dengan kontrak utama maupun sebaliknya. 2) Derivatif melekat yang memodifikasi risiko inheren dari kontrak utama (misalnya swap dari suku bunga tetap ke suku bunga mengambang) dapat dikatakan berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. antara lain: “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Opsi jual pada instrumen utang dengan strike price yang terkait dengan perubahan kurs Interest rate swap yang melekat pada mata uang. atau harga/indeks saham atau instrumen utang komoditas Opsi beli pada instrumen ekuitas atau Kontrak sewa yang terkait dengan tingkat instrumen utang dengan strike price yang inflasi (inflation-indexed) telah ditentukan Opsi perpanjangan (extension option) pada Cap dan floor dalam kontrak penjualan dan instrumen utang bersuku bunga tetap pembelian 234 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

atau bonds) harga/indeks saham atau komoditas Opsi konversi menjadi saham (equity Instrumen utang dalam mata uang asing conversion) pada instrumen utang Opsi beli. maka bank harus melakukan analisa apakah ada hubungan yang jelas dan erat antara kontrak utama dan derivatif melekat. 4) Dalam hal terdapat instrumen campuran dan derivatif melekat yang tidak masuk dalam contoh di atas. atau opsi percepatan pelunasan (prepayment option) pada Opsi beli. 100 milyar dengan suku bunga mengambang LIBOR + 0. Contoh: a) Bank A menerbitkan surat berharga sebesar Rp. atau opsi percepatan instrumen utang dimana harga eksekusi opsi pelunasan (prepayment option) pada (exercise price) diperkirakan sama dengan instrumen utang biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) atas instrumen utang pada setiap tanggal eksekusi Credit derivatives yang melekat pada instrumen utang Cap dan floor atas suku bunga dalam instrumen utang jika cap ditetapkan pada atau diatas suku bunga pasar dan floor ditetapkan pada atau dibawah suku bunga pasar pada saat instrumen utang diterbitkan. Hal ini disebabkan variabel yang mendasari derivatif melekat adalah tingkat suku bunga yang berkaitan jelas dan erat dengan kontrak utama. atau tidak digunakan secara umum dalam kegiatan perekonomian dimana transaksi terjadi. Kontrak forward mata uang asing dengan secara rutin digunakan atas penjualan pembayaran dalam mata uang dari salah satu atau pembelian produk dalam pihak yang bertransaksi perdagangan internasional. Surat berharga tersebut mempunyai batas maksimal suku bunga (cap) 7%.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Instrumen utang dengan suku bunga yang Obligasi dengan dua mata uang (dual currency terkait (linked) ke kurs mata uang. Penjualan atau pembelian barang atau jasa dalam mata uang asing yang: bukan merupakan mata uang fungsional bagi ke dua pihak. opsi jual.75%. Bank A tidak harus memisahkan derivatif melekat (Interest Rate Cap) dari kontrak utama (surat berharga). dan derivatif melekat tersebut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 235 . Suku bunga LIBOR saat penerbitan adalah 5%. opsi jual.

c) Bank F menerbitkan deposito berjangka USD 1. Kontrak tersebut memberikan hak kepada Bank F untuk memilih mata uang (USD atau IDR) yang akan digunakan untuk mengembalikan nilai pokok deposito pada saat jatuh tempo. atau 236 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 10%.000. instrumen yang diterbitkan harus dicatat sebagai instrumen utang atau ekuitas sesuai PSAK 50. Bank D mempunyai opsi untuk mengkonversikan surat berharga tersebut dengan 1 juta saham Bank E. Meskipun derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tidak menggandakan hasil dari suku bunga pasar ketika surat berharga diterbitkan. d) Bank G di Indonesia menerima pinjaman dari Bank H di Singapura dalam mata uang Yen. Bank G harus memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama karena karakteristik ekonomi dan risiko dari pinjaman yang diterima tidak berkaitan erat dengan foreign exchange forward. dan (3) keseluruhan instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. b) Bank D membeli surat berharga yang diterbitkan oleh Bank E sebesar Rp 100 milyar dengan suku bunga tetap. Pinjaman yang diterima Bank G merupakan kontrak utama dengan derivatif melekat dalam bentuk foreign exchange forward untuk membeli Yen.5%. i. meskipun ke dua pihak tidak melakukan transaksi di Jepang dalam jumlah yang signifikan. Sementara itu. Tingkat suku bunga pasar pada saat penerbitan adalah 4. Bank D harus mencatat secara terpisah antara kontrak utama (surat berharga) dan derivatif melekat (opsi untuk mengkoversi ke saham Bank E). bagi Bank E. (2) opsi mata uang memenuhi persyaratan sebagai suatu derivatif. Bank F harus memisahkan derivatif melekat (opsi mata uang) dari kontrak utama (deposito berjangka) karena: (1) derivatif melekat yang merupakan suatu opsi mata uang tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama yang berbasis tingkat suku bunga. namun dapat dianggap tidak berkaitan dan harus dipisahkan apabila memenuhi kondisi berikut: 1) instrumen campuran dapat diselesaikan dengan cara yang mengakibatkan pemegang instrumen campuran tidak akan memperoleh kembali seluruh nilai investasi secara substansial.

j. atau 2) pada instrumen campuran tertentu dimana dipertimbangkan bahwa derivatif melekat tersebut memang tidak boleh dipisahkan dari kontrak utama. n. khususnya jika: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 237 . Jika derivatif melekat dipisahkan dari kontrak utama. atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. m. k.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) derivatif melekat tersebut dapat sekurang-kurangnya menggandakan tingkat pengembalian awal yang diperoleh pemegang instrumen campuran. Jika derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama sebagaimana huruf l) di atas. l. maka derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama dan keseluruhan instrumen campuran harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. maka derivatif melekat tersebut harus diakui sebagai instrumen derivatif yang berdiri sendiri dan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. kontrak utama diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan. misalnya opsi pelunasan dipercepat (prepayment option) yang melekat pada fasilitas Kredit yang memungkinkan debitur melunasi pinjamannya lebih awal. yaitu kurang lebih sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). maka bank menetapkan keseluruhan instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). Bank dapat tidak melakukan langkah-langkah untuk menetapkan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak sebagaimana huruf f) diatas. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak akan merubah atau memodifikasi secara signifikan arus kas sesuai persyaratan pada kontrak utama. namun instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Selanjutnya. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dimana derivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu. serta independen antara satu dengan lainnya. maka derivatifderivatif tersebut dicatat secara terpisah satu dengan lainnya. dan dapat menghasilkan tingkat pengembalian setidaknya dua kali lebih besar dibandingkan tingkat pengembalian pasar atas kontrak yang memiliki syarat yang sama dengan kontrak utama. Jika derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. kecuali instrumen derivatif tersebut ditetapkan dan memenuhi kriteria sebagai instrumen lindung nilai. Keseluruhan instrumen campuran yang memenuhi kondisi pada angka (1) dan (2) diatas diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan.

terhadap suatu instrumen campuran yang kompleks yang masuk kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dan diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) pemisahan sulit dilakukan karena kompleksitas dari instrumen campuran. 2) proses pemisahan menimbulkan beban tambahan bagi bank. Asumsi yang digunakan dalam teknik penilaian harus didokumentasikan dan diterapkan secara konsisten. Jika tidak terdapat pasar aktif yang menggambarkan syarat dan kondisi yang sama dengan derivatif melekat. 4) Jika metode pengukuran nilai wajar sebagaimana pada angka (3) diatas tidak dapat dilakukan. Selanjutnya. Penetapan nilai wajar derivatif melekat 1) Derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utama harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. o. maka bank dapat tidak memisahkan derivatif melekat dan selanjutnya keseluruhan instrumen campuran tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). bank dapat tidak melakukan penilaian terhadap pemenuhan kriteria 2 dan 3 pada huruf f) di atas dan tidak memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama. 3) Apabila bank tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara andal. bank menetapkan untuk mengukur instrumen campuran tersebut pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 238 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank dapat menggunakan teknik penilaian. Sebagai contoh. Perlakuan terhadap derivatif melekat sebagaimana diatur dalam PSAK 55 antara lain bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran derivatif melekat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dihindari dengan melekatkan pada kontrak utama yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan/atau 3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. maka nilai wajar derivatif melekat dapat ditentukan berdasarkan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar kontrak utama hanya jika kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan. p. maka bank menetapkan instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). 2) Bukti terbaik atas nilai wajar adalah kuotasi harga di pasar aktif.

bank dapat melakukan saling hapus antara keuntungan dan kerugian pada periode yang sama berdasarkan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Hal ini akan menimbulkan ketidaksesuaian (mismatch) periode pengakuan keuntungan (gain) dan kerugian (loss) dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Tidak seluruh lindung nilai ekonomi dapat memenuhi persyaratan untuk akuntansi lindung nilai berdasarkan PSAK 55. yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama Jika akuntansi lindung nilai tidak diterapkan. (3) identifikasi instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. sementara item yang dilindung nilai (umumnya merupakan instrumen keuangan) akan diukur berdasarkan biaya perolehan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 239 . Bank harus membuat suatu dokumentasi formal atas hubungan suatu lindung nilai yang sekurangkurangnya mencakup: (1) tujuan manajemen risiko serta strategi pelaksanaan lindung nilai. Akuntansi Lindung Nilai (Hedge Accounting) a. Lindung nilai ekonomi dan akuntansi lindung nilai 1) Lindung nilai ekonomi (economic hedges) merupakan suatu transaksi yang bertujuan untuk mengurangi eksposur risiko (misalnya risiko suku bunga. atau nilai wajar sesuai kategori instrumen keuangan tersebut. Persyaratan akuntansi lindung nilai 1) Penerapan akutansi lindung nilai hanya diperbolehkan jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai. (2) jenis risiko yang dilindung nilai. b. dll). arus kas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4. (4) identifikasi jenis hubungan lindung nilai yang digunakan (misalnya lindung nilai atas nilai wajar. dll) 2) Akuntansi lindung nilai (hedge accounting) merupakan suatu perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi lindung nilai yang mencakup instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Dengan akuntansi lindung nilai. risiko nilai tukar. biaya perolehan diamortisasi. maka instrumen lindung nilai (yang umumnya merupakan instrumen derivatif) akan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

(4) Metode penilaian efektivitas lindung nilai didasarkan pada strategi manajemen risiko. termasuk periode waktu dimana transaksi tersebut diharapkan akan terjadi. yang dapat berbeda pada setiap jenis lindung nilai. maka bank harus menghentikan secara permanen akuntansi lindung nilai sejak tanggal terakhir lindung nilai tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai dimaksud. dan (6) cara yang akan digunakan untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (5) tanggal dimulainya penetapan hubungan lindung nilai. c) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif (highly effective). baik secara prospektif maupun retrospektif. dan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. d) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal (1) Bank harus dapat mengukur nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai. Metode dan prosedur penilaian dan pengukuran efektivitas lindung nilai harus dijelaskan secara detail dan konsisten selama periode lindung nilai. maka. 240 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . e) Hubungan lindung nilai dievaluasi secara berkesinambungan dan lindung nilai sangat efektif sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. 2) Jika tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. (3) Bank dapat menggunakan model kuantitatif atau statistik untuk melakukan analisis dan penilaian efektivitas lindung nilai. Jika hal-hal tersebut diatas tidak ditetapkan secara tertulis. transaksi lindung nilai tidak memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. (2) Pengukuran efektivitas tersebut harus didukung dengan sistem yang secara periodik dapat mengidentifikasi dan mengukur perubahan nilai dari item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai sejak penetapan awal hubungan lindung nilai. b) Prakiraan transaksi (forecast transactions) yang dilindung nilai sangat mungkin terjadi (highly probable) dan terekspos pada risiko perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi Bank harus mengidentifikasi dan mendokumentasikan seluruh data dan informasi terkait yang dapat mendukung proses penetapan hubungan lindung nilai atas prakiraan transaksi tersebut.

Instrumen lindung nilai (hedging instrument) 1) Instrumen keuangan dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai hanya jika instrumen tersebut memenuhi kondisi berikut. Transaksi lindung nilai intra-group tersebut dapat memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Bank dapat menetapkan suatu hubungan lindung nilai baru atas item yang dilindung nilai tersebut sepanjang semua persyaratan akuntansi lindung nilai dipenuhi. Penetapan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen derivatif harus ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai secara keseluruhan. yang dapat dilakukan antara lain dengan menetapkan: a) instrumen lindung nilai lainnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 241 . transaksi tersebut akan tereliminasi dalam laporan keuangan konsolidasi. (3) Khusus untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. instrumen lindung nilai juga dapat berupa aset atau kewajiban keuangan non derivatif. (2) Instrumen yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai juga dapat mencakup derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utamanya. yaitu: a) Instrumen derivatif yang ditetapkan (designated derivative) untuk tujuan lindung nilai (1) PSAK 55 mendefinisikan instrumen lindung nilai sebagai suatu instrumen derivatif yang ditetapkan untuk lindung nilai dimana perubahan nilai wajar atau arus kas diharapkan saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang ditetapkan untuk dilindung nilai. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai instrumen lindung nilai. namun tidak memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. hanya instrumen yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifikasi sebagai instrumen lindung nilai. (2) Meskipun perusahaan dalam grup usaha bank saling melakukan transaksi lindung nilai. b) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. dan/atau b) risiko lain yang akan dilindung nilai. c.

b) Bank dapat menetapkan porsi tertentu dari keseluruhan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. bank tidak diperbolehkan hanya menentukan komponen mata uang dari suatu swap mata uang (cross currency swap) sebagai instrumen lindung nilai tanpa mengikutsertakan komponen suku bunga. maka nilai wajar opsi sama dengan nilai waktu. 2 Nilai waktu adalah perbedaan antara nilai wajar opsi (premi) dan nilai intrinsik.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Bank tidak diperbolehkan menggunakan komponen tertentu saja dari suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. Pengecualian-pengecualian tersebut diperkenankan karena nilai intrinsik suatu opsi dan premi dari kontrak berjangka (spot price) umumnya dapat diukur secara terpisah. (2) efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. Jika nilai intrinsik nol. maka nilai intrinsik sama dengan nol. dan (3) terdapat penetapan khusus atas instrumen lindung nilai dan posisi risiko-risiko yang dilindung nilai. Sebagai contoh. 60% dari jumlah nosional suatu instrumen derivatif dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai. (2) Pengecualian hanya diperkenankan jika bank: (a) memisahkan nilai intrinsik1 dan nilai waktu2 dari kontrak opsi dan hanya menetapkan perubahan nilai intrinsik dari opsi tersebut sebagai instrumen lindung nilai. c) Bank dapat menetapkan suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai terhadap lebih dari satu jenis risiko sepanjang: (1) risiko-risiko tersebut dapat diidentifikasi secara jelas. Sebagai contoh. 1 242 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . d) Portofolio derivatif (dua atau lebih instrumen derivatif) atau proporsi dari instrumen-instrumen tersebut dapat ditetapkan secara bersama sebagai instrumen lindung nilai. dan (b) memisahkan elemen bunga dan harga saat ini (spot price) dari kontrak berjangka (forward contract) dan hanya menetapkan spot price sebagai instrumen lindung nilai. Nilai intrinsik adalah perbedaan antara harga eksekusi (strike price) dan harga pasar saat ini dari variabel yang mendasari. termasuk lindung nilai atas portofolio aset atau kewajiban keuangan. Jika harga eksekusi lebih besar dari harga pasar saat ini.

jumlah aset dan kewajiban keuangan akan berubah berdasarkan ekpektasi pelunasan dipercepat.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif e) Sebagai contoh: Bank memiliki portofolio aset dan kewajiban keuangan yang dilindung nilai terhadap risiko pelunasan dipercepat (prepayment risk). Namun. Dalam setiap periode pelaporan. aset keuangan dalam mata uang asing digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas kewajiban keuangan dalam mata uang asing. kecuali instrumen non derivative yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. Hal ini berarti dalam suatu portofolio. melainkan menambah instrumen lindung nilai baru ke dalam hubungan lindung nilai. Hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk bagian tertentu dari periode waktu berlakunya instrumen lindung nilai. b) Instrumen yang tidak memiliki kuotasi (unquoted instrument) Instrumen derivatif yang dikaitkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi dan harus diselesaikan dengan penyerahan instrumen ekuitas tersebut tidak dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai karena nilai wajar instrumen tersebut tidak dapat diukur secara andal c) Instrumen ekuitas yang diterbitkan bank (own equity instrument) d) Opsi yang diterbitkan (written option) Opsi yang diterbitkan tidak bisa digunakan sebagai instrumen lindung nilai kecuali digabungkan dengan opsi yang dibeli (purchased option). dan pengakuan instrumen keuangan baru. Sebagai contoh. penghentian pengakuan aset dan kewajiban keuangan. 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai antara lain mencakup: a) Instrumen bukan derivatif (non-derivative) Instrumen non derivative tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai. Sebagai contoh. bank tidak perlu merubah nilai instrumen lindung nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 243 . dimana selisih bersih dari ke dua opsi tersebut merupakan opsi yang dibeli (purchased option). nilai item yang dilindung nilai dapat berubah dari waktu ke waktu. instrumen derivatif dengan jangka waktu 5 tahun tidak boleh ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai hanya untuk 3 tahun pertama saja.

2) Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai. Item yang dilindung nilai (hedged item) 1) Instrumen keuangan dapat merupakan item yang dilindung nilai hanya jika memenuhi kondisi berikut. Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya suatu bagian tertentu (portion) 244 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kewajiban. kewajiban. Instrumen keuangan tersebut diatas merupakan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang terekspos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat menyebabkan perubahan nilai wajar atau arus kas sehingga berdampak pada pada laporan laba rugi dalam periode berjalan atau periode mendatang. c) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. hanya aset. atau investasi neto pada operasi di luar negeri. dan/atau (3) Bagian tertentu dari portofolio aset atau kewajiban keuangan yang terkespos risiko yang sama yang dilindung nilai. (2) Sekelompok aset. dan transaksi yang diperkiraan kemungkinan besar terjadi yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifkasi sebagai item yang dilindung nilai. yaitu: a) Instrumen keuangan ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (designated item). namun tidak dalam laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. yang berdasarkan PSAK 55 dapat mencakup: (1) Suatu aset. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. yang memiliki karakteristik risiko yang serupa.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. b) Aset atau kewajiban non keuangan secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang terkespos risiko nilai tukar saja. atau investasi neto pada operasi di luar negeri (khususnya lindung nilai atas risiko nilai tukar). komitmen pasti. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. (2) Akuntansi lindung nilai dapat diterapkan atas transaksi antar perusahaan dalam grup usaha bank dalam laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). komitmen pasti. kewajiban. komitmen pasti.

bank dapat menetapkan hanya bagian eksposur suku bunga dari aset keuangan tersebut yang ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. item yang dilindung nilai dapat meliputi bagian tertentu dari arus kas kontraktual atau persentase tertentu dari nilai wajar. posisi neto yang dinyatakan dalam suatu jumlah mata uang asing dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Sebagai contoh: Bank A memiliki aset keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 300 dan kewajiban keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 250 yang terekspos pada karakterisitik risiko yang sama. sepanjang efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. maka aset dan kewajiban tersebut dapat dilindung nilai sebagai suatu kelompok item yang dilindung nilai (group of hedged item). yaitu atas suatu bagian tertentu saja dari nilai wajar atau arus kas. Sebagai contoh: Aset keuangan bersuku bunga tetap dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai dari perubahan nilai wajar. posisi neto secara keseluruhan (overall net position) tidak dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan. b) Suatu kelompok instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (1) Dalam hal aset atau kewajiban keuangan individual dalam suatu kelompok memiliki kemiripan dan terekspos pada risiko yang sama. Bank A dapat menetapkan item yang dilindung nilai sebesar US$ 50. (2) Dalam kelompok item yang dilindung nilai tersebut. Dalam hal ini. yaitu seluruh nilai wajar atau seluruh arus kas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 245 . Namun. Sebagai alternatif. (2) Instrumen keuangan tersebut juga dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. c) Instrumen non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya atas risiko nilai tukar.

(3) adanya komitmen sumber daya yang substansial/nyata bagi aktivitas tertentu. seperti halnya perubahan suku bunga pasar yang dapat mempengaruhi nilai dari surat berharga. Semakin besar kuantitas (jumlah atau nilai) yang akan ditransaksi. semakin kecil kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. bank dapat melakukan dengan berbagai cara seperti menerbitkan saham atau memperoleh pinjaman. (6) kuantitas dan rentang waktu transaksi. (2) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai atas perubahan nilai wajar yang dapat diatribusikan pada risiko nilai tukar. (2) kemampuan keuangan dan operasionl bank dalam melakukan transaksi tersebut. d) Suatu prakiraan transaksi dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai sepanjang kemungkinan besar akan terjadi. Hal ini dikarenakan eksposur mata uang asing dari aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing dapat diukur secara terpisah. Hal ini dikarenakan perubahan nilai dari suatu komponen pada item non keuangan yang dilindung nilai tidak dapat diukur dan mempengaruhi nilai dari item non keuangan tersebut. Dalam mengukur kemungkinan terjadinya transaksi. Sebagai contoh: jika ingin memperoleh pendanaan (funding).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atas seluruh jenis risiko. bank harus memperhatikan fakta-fakta yang dapat diobservasi dan kondisi-kondisi seperti: (1) frekuensi transaksi serupa di masa lalu. (5) kemungkinan dilakukannya alternatif transaksi lain. semakin panjang rentang waktu perkiraan (forecast). 246 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (4) besarnya kerugian atau gangguan yang dapat terjadi jika transaksi tidak dilakukan. dan/atau (7) rencana bisnis bank. Sebaliknya. Kedua cara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda serta tingkat kemungkinan terjadi yang berbeda. semakin besar kemungkinan terjadinya transaksi tersebut.

risiko pelunasan dipercepat. Hal ini dikarenakan pengakuan keuntungan atau kerugian bersumber dari laba atau rugi perusahaan anak atau perusahaan asosiasi dan bukan dari perubahan nilai wajar investasi. Namun. yaitu selisih antara aset dan kewajiban. Risiko yang dilindung nilai (hedged risk) 1) Pada prinsipnya.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai item yang dilindung nilai antara lain mencakup: a) Aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. risiko nilai tukar. perusahaan asosiasi. 3) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen non keuangan antara lain mencakup risiko nilai tukar dan risiko nilai wajar secara keseluruhan. c) Posisi terbuka neto (net open position) dari suatu portofolio. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 247 . sehingga tidak akan terekspos pada risiko dari perubahan suku bunga pasar atau pelunasan dini. PSAK 55 menyatakan bahwa: a) Hanya risiko tertentu yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan untuk dilindung nilai. kecuali aset keuangan yang terkespos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat dilindung nilai. dan risiko kredit. d) Instrumen derivatif (kecuali opsi yang dibeli sebagai item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar). 2) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen keuangan antara lain mencakup risiko suku bunga. b) Penyertaan pada perusahaan anak (subsidiaries) atau perusahaan asosiasi (assosiated companies) yang dikonsolidasikan atau diukur menggunakan metode ekuitas (equity method). e. 4) Terhadap item yang dilindung. atau kantor cabang di luar negeri. karena aset keuangan tersebut dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan jatuh tempo. dan e) Semua transaksi yang terkait dengan saham (ekuitas) yang diterbitkan bank (own equity). setiap risiko keuangan yang timbul dalam kegiatan usaha bank dapat dilindung nilai. bank tetap wajib melakukan evaluasi terjadinya penurunan nilai (impairment) berdasarkan bukti obyektif setelah memperhitungkan perubahan nilai wajar. dan b) Risiko-risiko tersebut dapat berdampak pada laporan laba rugi. kecuali penyertaan bersih pada perusahaan anak.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Untuk memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai. 3) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai (effectiveness test) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai harus dilakukan secara prospektif dan retrospektif yang meliputi penilaian kualitatif maupun kuantitatif. 5) Jika risiko yang dilindung nilai hanya risiko-risiko tertentu yang dapat diatribusikan pada item yang dilindung nilai. maka perubahan yang diakui dalam nilai wajar item yang dilindung nilai yang tidak berkaitan dengan risiko yang dilindung nilai diakui berdasarkan kategori item yang dilindung nilai. 2) Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: a) Lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada saat dimulainya lindung nilai dan periode selanjutnya selama periode lindung nilai tersebut. Efektivitas lindung nilai (hedge effectiveness) 1) Efektivitas lindung nilai merupakan penilaian sejauh mana perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindungi yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dapat saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. a) Penilaian secara prospektif (prospective test) yang dilakukan pada tanggal awal penetapan hubungan lindung nilai dan pada periode-periode selanjutnya (lihat Bagan di bawah). dan b) Hasil aktual dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dan perubahan nilai wajar atau arus kas yang diharapkan dari item yang dilindung nilai saling menghapus pada kisaran 80%– 125%. 248 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank dapat menggunakan berbagai metode penilaian yang didasarkan pada strategi manajemen risiko dan didokumentasikan dengan jelas. f. Metode penilaian tersebut harus ditetapkan pada awal hubungan lindung nilai dan pada periodeperiode selanjutnya. yaitu diakui pada laporan laba rugi untuk instrumen dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi atau diakui secara langsung dalam ekuitas untuk instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. lindung nilai harus terkait dengan risiko yang telah diidentifikasi dan ditetapkan secara spesifik dan mempengaruhi laporan laba rugi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 249 . (2) Bank juga harus memperkirakan bahwa hubungan lindung nilai tersebut sejalan dengan strategi manajemen risiko. antara lain: (a) Critical Terms Comparison Method Merupakan metode yang paling sederhana yang bersifat kualitatif dengan membandingkan persyaratan-persyaratan utama antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Dalam metode ini. (3) Perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai secara prospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. tanggal jatuh tempo atau tanggal penyesuaian suku bunga (repricing dates) dan variabel yang mendasari) serta nilai wajar derivatif adalah nol pada tanggal awal (inception date). hubungan lindung nilai adalah efektif jika item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai bersifat identik (yaitu terdapat kesamaan antara lain dalam hal jumlah nosional.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Penilaian ini didasarkan pada perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal lindung nilai dan pada periode selanjutnya. yang disertai dengan bukti yang dapat mendukung perkiraan tersebut.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Perysaratan yang identik antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai tidak menjamin bahwa lindung nilai akan selalu efektif.85 menunjukkan bahwa 85% dari perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. (1) Jika suatu lindung nilai telah menunjukkan hubungan yang efektif secara prospektif. Oleh karena itu. Sebagai contoh: R-Square sebesar 0. 250 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . misalnya perubahan kredibilitas pihak lawan dalam transaksi derivatif lindung nilai. diperlukan penilaian efektivitas yang dilakukan secara retrospektif. karena dapat terjadi perubahan kondisi. bank tetap harus melakukan pengukuran efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif. (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang bersifat kuantitatif untuk memperkirakan hubungan lindung nilai di masa datang dengan membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari item yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari instrumen lindung nilai dan melihat korelasi statistik diantara kedua perubahan tersebut yang dapat mendukung pengukuran yang sama dimasa yang akan datang. namun tidak dapat mengukur mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif. Indikator pengukuran dalam metode ini antara lain RSquare (Coefficient of determination) yang menunjukkan persentase perubahan pada item yang dilindung nilai yang dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. Umumnya R-Square harus berada dalam kisaran 80%-100% Meskipun Regression Analysis dapat membuktikan apakah hubungan antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai cukup efektif untuk memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai. b) Penilaian secara retrospektif (retrospective test) yang dilakukan setiap tanggal pelaporan interim (paling kurang setiap 3 bulan) dan tanggal pelaporan akhir tahun.

maka bank hanya menetapkan 75% dari eksposur tersebut sebagai item yang dilindung nilai dan efektivitas hanya dinilai atas dasar 75% dari eksposur tersebut. Jika bank melakukan lindung nilai terhadap kurang dari 100% nilai eksposur (misalnya 75%). Perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai Rasio Lindung nilai = —————————————— ——————— Perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Suatu hubungan lindung nilai adalah sangat efektif jika rasio lindung nilai berada dalam kisaran antara 80% . (a) Dollar Offset Method Metode ini merupakan metode yang paling sederhana untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif dengan membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai selama periode waktu tertentu sebelum tanggal penilaian. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 251 .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (2) Penilaian ini didasarkan pada evaluasi terhadap efektivitas aktual. Efektivitas dapat diukur berdasarkan 2 pendekatan. (4) Penilaian efektivitas lindung nilai secara retrospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. antara lain:. yaitu: − Periode ke periode (period by period basis). yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak tanggal terakhir penilaian. − Pemilihan pendekatan harus ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. Kumulatif (cumulative basis). (3) Efektivitas lindung nilai harus dinilai secara berkesinambungan dan ditetapkan sangat efektif selama periode laporan keuangan dimana hubungan lindung nilai ditetapkan. yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak penetapan awal lindung nilai.125%. Dalam hal bank menetapkan untuk menggunakan pendekatan Kumulatif.

c) Pengukuran efektivitas lindung nilai dapat dilaksanakan dengan dasar setelah pajak (after tax basis). baik pada saat dimulainya lindung nilai maupun pada periode selanjutnya. d) Bank harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya wanprestasi oleh pihak lawan (counterparty) terhadap instrumen lindung nilai dalam menilai efektivitas lindung nilai. maka hal tersebut harus telah ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. Jika bank akan mengukur lindung nilai dengan dasar setelah pajak. bank dapat menggunakan suatu proxy derivative atau hypothetical derivative. yaitu dapat mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang sama yang digunakan untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara prospektif.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif maka ketidakefektifan lindung nilai yang terjadi pada suatu periode tertentu tidak serta merta menjadi alasan bagi pelarangan atau penghentian penerapan akuntansi lindung nilai (lihat ilustrasi dalam tabel berikut). e) Dalam melakukan pengukuran efektivitas lindung nilai atas arus kas (cash flow hedge) dimana item yang dilindung nilai belum diakui dalam neraca. yaitu dengan menetapkan suatu transaksi derivatif yang serupa dengan arus kas yang dilindung nilai (yang memiliki jumlah dan 252 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendekatan Periode ke Pendekatan Kumulatif Periode Periode Lindung nilai Lindung Obligasi Swap yang tidak Rasio lindung nilai yang Rasio lindung nilai nilai efektif tidak efektif Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 100 60 (40) 120 (90) (65) 20 (120) 10 (100-90) (5) (60-65) (20) (-40+20) 0 (120-120) 10 (100-90) 5 108% (65/60) (160-155) 50% (15) (20/40) (120-135) 100% (15) (120/120) (240-255) 90% (90/100) 90% (90/100) 97% (155/160) 113% (135/120) 106% (255/240) Perubahan Nilai Wajar Penggunaan Dollar Offset Method memiliki kelebihan.

Untuk melindung nilai terhadap perubahan arus kas yang disebabkan perubahan suku bunga. bank melakukan transaksi interest rate swap (IRS).496. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan floating rate note (FRN) dengan suku bunga mengambang.42% 102.14 Kumulatif Perubahan Nilai Wajar Hypothetical Derivative 0 111.854. Untuk mengukur efektivitas lindung nilai.81 307. b) Dalam Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif diukur berdasarkan Dollar Offset Method yang diakui pada laporan laba rugi. Perubahan Perubahan Nilai Wajar Nilai Wajar Hypothetical IRS Derivative 0 111.837.11% 101.340.60 196.50% Tanggal 14 Jul 09 31 Jul 09 31 Aug 09 30 Sep 09 31 Oct 09 Lindung nilai dinilai efektif karena rasio lindung nilai secara kumulatif berada pada kisaran 80%-125%.27 199.340.08 514.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal jatuh tempo yang sama) serta memiliki nilai wajar nol pada saat pengakuan awal. bank menggunakan hypothetical derivative yang menyerupai FRN sebagai item yang dilindung nilai. namun terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif yang harus diakui dalam laporan laba rugi.254.550. maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 253 .83% 101.275. a) Dalam Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif secara otomatis diakui pada laporan laba rugi.14 0 111.62% 100.29 Kumulatif Efektivitas Efektivitas Perubahan Lindung Lindung Nilai Wajar Nilai Nilai IRS Kumulatif 0 111.15 709.52 205. (1) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (over hedge).918.83 0 99.468.60 196.275. 4) Bagian yang tidak efektif dalam lindung nilai yang efektif Meskipun rasio lindung nilai secara prospektif dan restrospektif berada dalam kisaran 80% .098.20 503.92% 102.00% 99. Hasil dari transaksi lindung nilai dapat dilihat pada tabel berikut.95 205.936.70 720.918.92% 103.81 315.125% sehingga dikatakan sangat efektif.81 204.020.254.

lokasi. GBP) atau perbedaan suku bunga referensi (JIBOR vs. b) Sumber penyebab ketidakefektifan suatu hubungan lindung nilai adalah terdapatnya perbedaan antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. misalnya perbedaan mata uang (USD vs. Nilai Wajar Kondisi 1 2 (overhedge) 3 (underhedge) Instrumen Lindung Nilai 7 12 Item yang Dilindung Nilai (10) (10) Rasio Lindung Nilai 70% 120% Keterangan Lindung nilai tidak efektif Lindung nilai efektif Bagian yang tidak efektif sebesar 2 diakui dalam laba rugi Lindung nilai efektif Tidak terdapat bagian yang tidak efektif 8.5 (10) 85% - 5) Hubungan lindung nilai yang tidak efektif (ineffectiveness) a) Hubungan lindung nilai yang berada diluar kisaran 80%-125% tidak lagi memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai sehingga harus dihentikan. maka tidak terdapat bagian yang tidak efektif. dan/atau (4) kredibilitas perusahaan dan pihak lawan (counterparty) dalam hubungan lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif selisih lebih tersebut merupakan bagian yang tidak efektif dan diakui pada laporan laba rugi. yaitu meliputi perbedaan: (1) basis. SBI). (3) kuantitas. atau tanggal penyerahan. (2) jatuh tempo (maturity) atau tanggal penyesuaian suku bunga berikutnya (repricing dates). (2) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih kecil dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (under hedge). 254 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

yaitu dengan menarik ke depan pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai ke periode pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai. b. Lindung nilai atas nilai wajar antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas nilai wajar Kredit bersuku bunga tetap Meskipun Kredit dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang (Loans and Receivables) umumnya akan dimiliki hingga jatuh tempo. 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan tingkat suku bunga tetap sebesar 7%/tahun. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan obligasi sejumlah Rp.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. namun bank c. sehingga keuntungan/kerugian dari keduanya diakui dalam periode yang sama dan selanjutnya dapat dilakukan saling hapus. lindung nilai atas risiko nilai tukar dari komitmen pasti dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau lindung nilai atas arus kas. Strategi manajemen risiko Bank A adalah sumber pendanaan dalam suku bunga mengambang sehingga Bank A memutuskan untuk membeli swap suku bunga dengan nilai nosional sebesar Rp. Lindung nilai atas nilai wajar merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai wajar dari: 1) Aset dan kewajiban 2) Komitmen pasti. kewajban. Perlakuan akuntansi lindung nilai atas nilai wajar memberikan pengecualian dari perlakuan akuntansi secara umum. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 255 . Pengukuran efekivitas hubungan lindung nilai ditentukan dengan mengukur rasio perubahan nilai wajar dari swap suku bunga dan perubahan nilai wajar atas obligasi. Komitmen pasti hanya dapat dilindung nilai dengan lindung nilai atas nilai wajar. Bank A menetapkan swap suku bunga sebagai instrumen lindung nilai untuk risiko suku bunga atas obligasi yang diterbitkan. Akuntansi Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) a. dan 3) Bagian tertentu yang telah diidentifikasi dari aset. Namun. 100 milyar yang mewajibkan Bank A membayar suku bunga mengambang (LIBOR) dan menerima suku bunga tetap sebesar 7%. atau komitmen pasti.

Oleh karena itu. yaitu: 1) Instrumen lindung nilai kadaluarsa. 2) Lindung nilai atas nilai wajar aset keuangan dalam kategori Tersedia Untuk Dijual. d. dijual.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dapat mereklasifikasikan atau menjual Kredit dimaksud. Kredit bersuku bunga tetap yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) juga terekspos risiko suku bunga dan bank dapat melakukan lindung nilai menggunakan lindung nilai atas nilai wajar. 3) Lindung nilai atas nilai wajar aset non keuangan. dan 2) prakiraan transaksi yang tidak terekspos pada risiko perubahan nilai wajar akan diperlakukan seolah-olah terekspos pada risiko tersebut. dimana bank mempunyai intensi untuk memiliki aset keuangan tersebut sampai jatuh tempo sehingga tidak perlu dilindung nilai baik atas risiko suku bunga maupun risiko pelunasan dipercepat. e. Penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar dapat dihentikan secara prospektif dalam 3 kondisi. Berbeda halnya dengan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang juga diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Oleh karena itu. Penggantian atau perpanjangan instrumen lindung nilai bukan merupakan kondisi berakhirnya lindung nilai jika dilakukan sebagai bagian dari strategi lindung nilai yang terdokumentasi. dan 4) Lindung nilai atas nilai wajar komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset non keuangan (misalnya kontrak untuk membeli atau menjual emas di masa datang pada harga yang sudah ditetapkan). 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. prakiraan transaksi hanya dapat dilindung nilai menggunakan lindung nilai atas arus kas. dihentikan atau dieksekusi. Penghentian harus dilakukan sejak 256 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Lindung nilai atas nilai wajar tidak dapat digunakan untuk prakiraan transaksi karena: 1) dapat menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban sebelum bank menjadi pihak dalam kontrak. termasuk jika kemungkinan terjadinya wanprestasi pihak lawan (counterparty) semakin besar (probable).

Sebagai contoh: Bank A menerima pinjaman dari Bank B sebesar USD 100 juta selama 3 tahun dengan suku bunga mengambang LIBOR + 2%. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 257 . dimana yang dilindung nilai adalah risiko nilai tukar. dan 4) Komitmen pasti dalam mata uang asing. Bank A mengkhawatirkan tingkat suku bunga akan meningkat di masa depan. 6. Lindung nilai atas arus kas antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari pendapatan bunga atas surat berharga bersuku bunga mengambang. Pembatalan penetapan hubungan lindung nilai dapat dilakukan jika dianggap sudah tidak relevan lagi. 3) Bagian terentu yang dapat diidentifikasi dari aset.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal evaluasi terakhir yang menunjukan hubungan lindung nilai efektif atau tanggal terjadinya perubahan kondisi yang menyebabkan hubungan lindung nilai menjadi tidak efektif. Lindung nilai atas arus kas merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan (variabilitas) arus kas dari: 1) Aset dan kewajiban. bank dapat menggunakan instrumen lindung nilai tersebut untuk ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai pada hubungan lindung nilai yang baru. kewajban. Akuntansi Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) a. dan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. Bank A membeli interest rate cap dari Bank B dimana ketika suku bunga LIBOR naik diatas 8%. 3) Bank membatalkan penetapan hubungan lindung nilai. 2) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari prakiraan transaksi penjualan aset. Selanjutnya. Bank A akan menerima pembayaran sejumlah USD 100 Juta x (LIBOR – 8%). Untuk melindungi dari risiko kenaikan suku bunga diatas 8%. Bank A dapat menetapkan interest rate cap sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai atas arus kas untuk risiko suku bunga. 2) Prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. b. namun strategi manajemen risiko mengharuskan Bank A mempertahankan suku bunga mengambang maksimal 8%.

Bank A dapat menerapkan akuntansi lindung nilai atas investasi neto pada perusahaan anak di Hong Kong sebesar HKD 50 milyar dengan transaksi foreign exchange forward. Penghentian akuntansi lindung nilai atas arus kas Akuntansi lindung nilai atas arus kas dapat dihentikan secara prospektif dalam kondisi-kondisi berikut. yaitu: 1) Tiga kondisi sebagaimana pada penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar pada angka 5 huruf e) di atas. Sebagai contoh: Bank A di Indonesia mempunyai perusahaan anak di Hong Kong dengan mata uang fungsional HKD. dan 2) Prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi sehingga lindung nilai dapat dihentikan. Instrumen derivatif (seperti forwards dan swaps) dan non derivatif (seperti Kredit dalam mata uang asing) dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. Akuntansi Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri a. Investasi neto pada operasi di luar negeri mencakup item moneter yang merupakan piutang dari atau utang pada operasi di luar negeri yang berjangka panjang. karena masih diharapkan dapat terjadi. yang mencakup perusahaan anak. Untuk melindungi nilai investasi di perusahaan anak terhadap risiko nilai tukar. 7. Nilai bersih aset perusahaan anak tersebut adalah HKD 50 milyar. Penghentian tidak dapat dilakukan jika transaksi diperkirakan masih akan terjadi namun kemungkinannya tidak besar (no longer highly probable). perusahaan patungan. Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri merupakan lindung nilai atas kepentingan (interest) bank pelapor atas aset bersih pada operasi di luar negeri. dan/atau cabang dari bank pelapor yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri atau dalam mata uang yang berbeda dengan bank pelapor. b. Item moneter dapat merupakan item yang penyelesaiannya tidak direncanakan maupun tidak akan mungkin terjadi di masa datang. Bank A melakukan transaksi jual forward sebesar HKD 50 milyar dan membeli IDR pada harga yang telah ditentukan. c. 258 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . perusahaan asosiasi. c.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Lindung nilai atas komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing.

kewajiban. 3) Penetapan portofolio ke dalam periode-periode tertentu. yang dapat meliputi suatu portofolio derivatif dengan posisi risiko yang dapat saling hapus dengan item yang dilindung nilai. Posisi terbuka neto dari suatu portofolio bukan merupakan item yang dilindung nilai. Akuntansi Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedge) a. misalnya risiko suku bunga acuan (benchmark interest rate risk). Meskipun suatu portofolio dapat mencakup posisi aset dan kewajiban keuangan. 2) Penetapan secara spesifik risiko yang akan dilindung nilai. misalnya periode berdasarkan tanggal penyesuaian tingkat bunga atau pelunasan dipercepat sesuai perkiraan dan bukan sesuai kontrak. yang dapat meliputi aset atau kewajiban atau kombinasi dari keduanya. 6) Penetapan instrumen lindung nilai untuk setiap periode. Lindung nilai portofolio merupakan lindung nilai terhadap sekelompok komitmen pasti. sepanjang memenuhi 2 kondisi berikut: 1) Item individual dalam portofolio terekspos risiko yang sama yang akan dilindung nilai. Lindung nilai portofolio dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau arus kas bergantung pada portofolio risiko yang dilindung nilai. risiko yang dilindung nilai berdasarkan basis portofolio adalah risiko suku bunga dan pelunasan dipercepat. aset. b. Portofolio aset atau kewajiban yang akan dilindung nilai harus merupakan item yang juga telah memenuhi persyaratan lindung nilai secara individual. c. yaitu suatu jumlah aset atau kewajiban keuangan tertentu yang sama dengan jumlah posisi terbuka neto. Umumnya. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapan akuntansi lindung nilai portofolio antara lain mencakup: 1) Identifikasi portofolio item yang akan dilindung nilai. namun bank harus menetapkan posisi yang merupakan item yang dilindung nilai pada setiap periode. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 259 . 5) Penetapan item yang akan dilindung nilai. atau prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi dengan karakteristik risiko yang sejenis. dan 2) Perubahan nilai wajar dari setiap item individual dalam portofolio yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai diperkirakan proporsional dengan perubahan nilai wajar secara keseluruhan. 4) Penetapan posisi terbuka neto (net open position) pada setiap periode dan jumlah posisi terbuka neto yang akan dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 8.

Pada saat pengukuran selanjutnya. Pada saat pengakuan awal (inception date) dan pengukuran selanjutnya. 8) Pengukuran perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai. D. Jika lindung nilai 100% efektif. maka perbedaan antara perubahan nilai instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Namun. Bank dapat menggunakan nilai tengah (mid price) dari harga pasar untuk menentukan nilai wajar dari setiap long maupun short position yang terekspos pada risiko pasar yang saling hapus (yaitu jika memiliki kesamaan pada variable yang mendasari dan tanggal jatuh tempo) dan melakukan penyesuaian ke harga penawaran atau permintaan (bid-ask spread adjustment) atas posisi terbuka neto pada setiap tanggal laporan. Umumnya. instrumen derivatif diakui di neraca dan diukur pada nilai wajar terlepas apakah memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai atau tidak. 260 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang diakui pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7) Pengukuran efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal dan periode selanjutnya untuk memastikan bahwa lindung nilai sangat efektif. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. kecuali: 1) Instrumen derivatif dengan variabel yang mendasari (underlying) dalam bentuk instrumen ekuitas yang tidak mempunyai kuotasi harga pasar (unquoted equity instrument). 9) Pengakuan efektivitas lindung nilai. nilai wajar instrumen derivatif harus diukur menggunakan harga penawaran (bid price) untuk long position atau harga permintaan (ask price) untuk short position pada setiap akhir hari. dan 2) Instrumen derivatif yang nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal. maka dampak neto terhadap laporan laba rugi adalah nol. Derivatif a. Bank harus memiliki prosedur dan dokumentasi untuk memastikan efektivitas lindung nilai. yang diakui dan diukur pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. nilai wajar instrumen derivatif pada saat pengakuan awal adalah nol. jika lindung nilai tidak efektif. baik laporan interim maupun laporan tahunan. b.

maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai tagihan derivatif di sisi aset. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai kewajiban derivatif di sisi kewajiban. Kontrak utama diakui dan diukur berdasarkan PSAK yang sesuai. 3. Pemisahan derivatif melekat dari kontrak utama pada instrumen campuran tidak harus dilakukan. Derivatif melekat yang memenuhi kriteria untuk dipisahkan dari kontrak utama diakui sebagai derivatif dan diukur berdasarkan nilai wajar sebagaimana pada angka 1) di atas. antara lain: (1) tidak memenuhi seluruh kriteria pemisahan (bifurcation). Derivatif Melekat a. 2) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi kerugian (potential loss) bagi bank. b. c. Lindung Nilai atas Nilai Wajar 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas nilai wajar yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Untuk instrumen lindung nilai (1) Instrumen lindung nilai yang umumnya merupakan instrumen derivatif diakui dalam neraca dan diukur berdasarkan nilai wajar. dan/atau (3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. (2) pemisahan sulit dilakukan atau menimbulkan beban tambahan. (2) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen derivatif diakui dalam laporan laba rugi. 3) Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi sejak tanggal transaksi (trade date).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi keuntungan (potential gain) bagi bank. Lindung Nilai a. Selanjutnya. kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif pada lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi diluar negeri. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 261 . misalnya karena berbagai pertimbangan. 2. termasuk PSAK 55. bank dimungkinkan untuk menetapkan seluruh instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar (fair value option).

Penyesuaian tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo. maka hanya komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diakui dalam laporan laba rugi. dan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. (a) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. (2) Perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 262 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (b) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) menggunakan suku bunga efektif. b) Untuk item yang dilindung nilai (1) Perlakuan akuntansi untuk item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar berbeda-beda bergantung pada kategori item yang dilindung nilai. dan selanjutnya mempengaruhi nilai tercatat item tersebut dalam neraca. maka instrumen tersebut diukur berdasarkan nilai wajar.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (3) Dalam hal instrumen lindung nilai bukan merupakan instrumen derivatif (non derivative) yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. Suku bunga efektif yang digunakan harus dihitung kembali berdasarkan penyesuaian keuntungan atau kerugian tersebut. maka amortisasi dapat menggunakan metode garis lurus (straight line). Dalam hal amortisasi atas penyesuaian nilai tercatat dengan menggunakan suku bunga efektif yang dihitung kembali tersebut tidak praktis. maka keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan menyesuaikan nilai tercatat dari item yang dilindung nilai.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (c) Item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen pasti Jika item yang dilindung nilai merupakan komitmen pasti. Selanjutnya. perubahan nilai wajar kumulatif yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai diakui sebagai aset atau kewajiban. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 263 . diakui berdasarkan kategori instrumen keuangan. keuntungan atau kerugian yang yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. (3) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar atas item yang dilindung nilai yang bukan merupakan bagian dari hubungan lindung nilai (yang dapat terjadi ketika hanya risiko tertentu yang dilindung nilai).

maka instrumen tersebut selanjutnya diukur berdasarkan nilai wajar melalui ekuitas.Jika item yang dilindung nilai diukur pada biaya perolehan kriteria akuntansi lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai. maka aset atau kewajiban yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. dan (b) Perubahan kumulatif dari nilai kini ekspektasi arus kasa masa datang dari item yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. dilindung nilai tersebut jatuh tempo.Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Perlakuan akuntansi Instrumen lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluKeuntungan atau kerugian yang telah direalisasi atas warsa atau dijual. dihentikan instrumen lindung nilai akan terus diakui dalam laporan atau dieksekusi laba rugi. 264 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. pasti.Jika item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen yang telah dilakukan. diamortisasi. Bank membatalkan penetapan . Lindung Nilai atas Arus Kas 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas arus kas yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Bagian yang efektif (effective portion) (1) Bagian dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui diakui secara langsung dan terpisah dalam ekuitas. maka penyesuaian terhadap nilai tercatat karena pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi Komitmen pasti tidak lagi mememenggunakan suku bunga efektif sampai item yang nuhi kriteria komitmen pasti. Item yang dilindung nilai Lindung nilai tidak lagi memenuhi . . (2) Total keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui secara terpisah dalam ekuitas dibatasi pada jumlah yang terendah antara: (a) Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai.

(3) Bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi pada periode yang sama ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. b) Setelah transaksi Pada saat prakiraan transaksi terealisasi. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. atau aset atau kewajiban non keuangan. b) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. bank mengakui aset atau kewajiban keuangan. 2) Lindung Nilai atas Arus Kas dari Prakiraan Transaksi a) Sebelum transaksi (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai pada awalnya diakui secara terpisah dalam ekuitas. maka bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dalam ekuitas sebelum transaksi tersebut terealisasi harus direklasifikasi ke dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 265 . (1) Aset atau kewajiban keuangan Ketika prakiraan transaksi yang dilindung nilai telah terealisasi dan menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban keuangan.

266 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . misalnya jika terdapat pengakuan beban penyusutan atau penurunan nilai aset non keuangan. (b) Penerapan penyesuaian dasar (basis adjustment) atas aset atau kewajiban non keuangan yang akan diperoleh dan prakiraan transaksi. Dalam perlakuan akuntansi ini. maka bank dapat memilih diatara 2 perlakuan akuntansi berikut: (a) Perlakuan akuntansi yang sama yang digunakan untuk pengakuan aset atau kewajiban keuangan. (2) Aset atau kewajiban non keuangan Ketika prakiraan traksaksi yang dilindung nilai mengakibatkan pengakuan aset dan kewajiban non keuangan. atau tetap mengakui dalam ekuitas dan mereklasifikasi ke dalam laporan laba rugi ketika aset atau kewajiban non keuangan tersebut mempengaruhi laporan laba rugi. karena dianggap mewakili bagian dari harga perolehan. misalnya jika terdapat pengakuan pendapatan atau beban bunga atau penurunan nilai aset atau kewajiban keuangan tersebut. Pendekatan apapun yang dipilih harus diterapkan secara konsisten. Hal ini berarti bank dapat segera mereklasifikasi keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai ke ddalah laporan laba rugi. keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang semula diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui sebagai bagian dari nilai tercatat awal aset atau kewajiban non keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif laporan laba rugi pada periode yang sama atau pada periode-periode dimana aset keuangan yang diperoleh atau kewajiban keuangan yang diterbitkan mempengaruhi laporan laba rugi.

maka perlakuan akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 267 . Selisih yang timbul dari perubahan nilai tukar mata uang asing atas investasi neto juga diakui pada ekuitas. akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. 2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. jumlah yang tersisa pada ekuitas dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui pada laporan laba rugi pada saat yang bersamaan. Keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai efektif direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi. Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui Bank membatalkan penetapan secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi yang telah dilakukan. Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas invetasi bersih pada operasi di luar negeri yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: 1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. dihentikan atau dieksekusi Perlakuan akuntansi Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi Lindung nilai tidak lagi memenuhi terjadi. maka perlakuan kriteria akuntansi lindung nilai. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Apabila prakiraan transaksi terjadi. tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. 3) Pada saat pelepasan atau pembubaran operasi diluar negeri. Apabila prakiraan transaksi terjadi. Prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi c.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai.

yaitu: (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. 2) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Pelunasan Dipercepat (Prepayment Risk) a) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko pelunasan dipercepat sama dengan lindung nilai atas arus kas. Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) 1) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Suku Bunga Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga sama dengan lindung nilai atas nilai wajar dimana keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 268 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Total keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas adalah jumlah yang terendah antara keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai dan perubahan kumulatif dari nilai wajar dari item yang dilindung nilai. ketika prakiraan transaksi terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. Misalnya. Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. b) Keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama atau periode ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. maka jumlah keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi.

Instrumen campuran dimana derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama. Penyajian 1. Bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif disajikan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 269 . Jika prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. maka derivatif-derivatif melekat tersebut disajikan secara terpisah satu dengan lainnya. Derivatif Melekat Instrumen campuran (hybrid instrumen) disajikan sebagai berikut: a. maka: 1) Kontrak utama disajikan di neraca sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Lindung Nilai Keuntungan atau kerugian atas suatu derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai terdiri dari dua komponen yaitu. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dan derivatifderivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu serta independen antara satu dengan lainnya. maka keseluruhan instrumen campuran yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi disajikan sebagai satu kesatuan di neraca dan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. maka keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi terjadi. Tagihan dan Kewajiban Derivatif Derivatif disajikan sebesar nilai wajar pada neraca sebagai tagihan atau kewajiban derivatif. Jika instrumen campuran dimana derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama. 3. dan 2) Derivatif melekat disajikan sebagai tagihan atau kewajiban derivatif sebesar nilai wajar. b.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Jika instrumen lindung nilai dihentikan atau lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai (misalnya prakiraan transaksi kemungkinan tidak akan terjadi). 2. c. bagian dari lindung nilai yang efektif dan bagian dari lindung nilai yang tidak efektif.

pada pos aset yang terpisah dalam neraca. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan kewajiban. sedangkan bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang tidak efektif disajikan pada pos yang sama dengan derivatif yang tidak ditentukan sebagai instrumen lindung nilai. E. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. bank dapat tidak menggunakan rekening antara. Contra account Db. Transaksi pembelian foreign exchange forward untuk tujuan perdagangan (trading) a. Keuntungan transaksi derivatif 2) Potensi kerugian bagi bank Db. penyesuaian yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai disajikan sebagai berikut: a. Tagihan derivatif forward Kr. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) Dalam lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar4 Dalam prakteknya. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. atau pada pos kewajiban yang terpisah dalam neraca. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan aset. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya. 4. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan3 Kr. Ilustrasi Jurnal 1. 3 4 Valuta lawan adalah valuta yang diterima Valuta dasar adalah valuta yang diserahkan 270 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Contra account Kr. b.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dalam pos yang sama dengan keuntungan atau kerugian dari item yang dilindung nilai. b.

Contra account Kr. b. Contra account Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Kas/Rekening. Kerugian transaksi derivatif – forward 3) Pencatatan penerimaan Db. Mencatat komitment pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Contra account Db. Kewajiban derivatif. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 271 .. Swap jual – IRS Pada saat melakukan valuasi 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. /Giro BI valuta dasar 2. Tagihan derivatif – forward b) Potensi kerugian bagi bank Db. Swap beli – IRS Kr. Kewajiban derivatif – IRS Pada awal hari berikutnya.forward Kr. Contra account Kr.. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Nostro valuta lawan Db/Kr. Keuntungan transaksi derivatif . Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) a. Tagihan derivatif – IRS Kr.forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – IRS Kr. Keuntungan transaksi derivatif – IRS 2) Potensi kerugian bagi bank Db.

Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS 3../Giro BI Db. Biaya premi opsi Kr.../Giro BI Db/Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c./Giro BI Db/Kr. Contra account Kr. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Contra account Db. Utang premi 3) Mencatat pembayaran premi Db. Kewajiban derivatif – IRS Kr. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. Keuntungan transaksi derivatif – IRS Kr. Kerugian transaksi derivatif – IRS d. Biaya premi opsi Akuntansi Perbankan Indonesia 272 I P e d o m a n .. Kas/Rekening .. Contra account Kr. Utang premi Kr. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr... Kontrak pembelian put option – valuta dasar 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Kas/Rekening . Swap beli – IRS 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db.. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Contra account Db. Swap jual – IRS Kr. Tagihan derivatif – IRS b) Potensi kerugian bagi bank Db. Opsi Beli (Call option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Kas/Rekening . Transaksi pembelian foreign exchange option a. e.. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr.

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – call option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – call option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kewajiban derivatif – call option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – call option Kr. Tagihan derivatif – call option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – call option Kr. Kerugian transaksi derivatif – call option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 273

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b.

Opsi Jual (Put option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Contra account 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Biaya premi opsi Kr. Utang premi 3) Mencatat pembayaran Db. Utang premi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Biaya premi opsi 4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – put option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – put option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Kewajiban derivatif – put option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

274 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif option (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – put option Kr. Tagihan derivatif – put option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – put option Kr. Kerugian transaksi derivatif – put option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan 4. Transaksi penjualan foreign exchange forward untuk tujuan lindung nilai, dimana lindung nilai memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. a. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward jual dasar Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan Kr. Contra account Dalam prakteknya, bank dapat tidak menggunakan rekening antara. b. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Dalam lindung nilai atas nilai wajar a) Valuasi terhadap foreign exchange forward sebagai instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 275

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Valuasi terhadap item yang dilindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Item yang dilindung nilai (menambah nilai tercatat) *) Kr. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (mengurangi nilai tercatat) *) *) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, maka penyesuaian nilai tercatat tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif (yang dihitung kembali) sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo c) Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dapat saling hapus dengan kerugian atau keuntungan atas item yang dilindung nilai.

2) Dalam lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri, meskipun rasio lindung nilai secara berada dalam kisaran 80% - 125% berdasarkan Dollar Offset Method sehingga dinilai sangat efektif, namun mungkin saja terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. a) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai, maka selisih lebih yang merupakan bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward b) Bagian yang efektif Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas

276 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

(1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. c. Pada saat penghentian akuntansi lindung nilai karena kontrak foreign exchange forward jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas nilai wajar a) Instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif - forward Kr. Tagihan derivatif – forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif- forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – forward (1) Jika merupakan item yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, maka tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian pada nilai tercatat, melainkan akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai jatuh tempo. (2) Jika merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual, tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian

b) Item yang dilindung nilai

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 277

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

pada nilai tercatat, dan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar selanjutnya diakui dalam ekuitas. (3) Jika merupakan komitmen pasti, maka aset atau kewajiban keuangan yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. (a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (b) Potensi kerugian bagi bank Db. Item yang dilindung nilai Kr. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai 3) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. a) Bagian yang tidak efektif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif Kr. Tagihan derivatif forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif forward Kr. Kerugian transaksi derivatif b) Bagian yang efektif Keuntungan atau kerugian dalam ekuitas akan tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi atau investasi neto pada operasi di luar negeri dilepaskan. Pada saat prakiraan transaksi terealisasi, keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi, atau pada periode-periode selanjutnya ketika bank mengakui pendapatan bunga atas aset keuangan yang berasal dari prakiraan transaksi tersebut sesuai kebijakan akuntansi yang diterapkan. d. Pencatatan penerimaan atau pembayaran atas transaksi derivatif Db. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta lawan Db/Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta dasar

278 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain: 1. Kebijakan akuntansi Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang antara lain deskripsi mengenai tujuan dan kebijakan manajemen risiko, termasuk kebijakan lindung nilai atas setiap jenis risiko dan jenis lindung nilai yang digunakan. 2. Informasi kualitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. b. c. 3. eksposur risiko dan bagaimana risiko tersebut timbul; tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko, termasuk metode pengukuran risiko tersebut; dan setiap perubahan pada a atau b dari periode sebelumnya

Informasi kuantitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. ikhtisar data kuantitatif mengenai eksposur risiko pada tanggal pelaporan. Pengungkapan tersebut harus didasarkan pada informasi yang disajikan secara internal kepada manajemen (seperti didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa), misalnya dewan direksi atau Direktur Utama. risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuditas, kecuali risiko tersebut tidak material; dan konsentrasi risiko, jika tidak terlihat dari a dan b.

b. c. 4.

Derivatif Melekat a. Jika bank menerbitkan instrumen yang mengandung komponen kewajiban dan ekuitas (lihat paragraf 28 PSAK 50) dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat yang nilainya saling tergantung satu sama lain (seperti callable convertible debt instrument), maka bank harus mengungkapkan keberadaan fitur tersebut. Dalam hal derivatif melekat tidak dipisahkan dan disajikan sebagai bagian dari instrumen campuran, maka bank perlu mengungkapkan metode valuasi terhadap nilai wajar instrumen campuran tersebut.

b.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 279

namun tidak lagi diharapkan akan terjadi. c. 3) jumlah yang telah diakui dalam ekuitas selama periode berjalan. b. yang antara lain mencakup: 1) periode ketika arus kas diperkirakan akan terealisasi dan mempengaruhi laporan laba rugi. Informasi untuk setiap jenis lindung nilai secara terpisah (lindung nilai atas nilai wajar. yang antara lain mencakup: 1) uraian setiap jenis lindung nilai. dan 5) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas selama periode berjalan dan diakui sebagai bagian dari biaya perolehan awal atau nilai tercatat dari aset non keuangan atau kewajiban non keuangan yang diperoleh atau diterbitkan melalui transaksi transaksi prakiraan yang sangat mungkin terjadi yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. dan 3) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas investasi neto dalam operasi luar negeri. Akuntansi Lindung Nilai a. 4) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi selama periode berjalan. yang antara lain mencakup: 1) keuntungan atau kerugian yang diakui dalam lindung nilai atas nilai wajar dari: a) instrumen lindung nilai. 2) uraian atas setiap prakiraan transaksi dimana akuntansi lindung nilai sebelumnya telah diterapkan. Informasi mengenai lindung nilai atas arus kas. 2) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas arus kas. 2) uraian instrumen keuangan yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai and nilai wajarnya pada tanggal neraca. 280 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Informasi lainnya mengenai lindung nilai. dan 3) sifat risiko yang dilindung nilai. lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri). dan b) item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai.

666. Rp. Pada awal hari berikutnya.146.200 dan menjual Rp.76 318.76 (1 + 10%/12)2 [9. Diasumsikan tingkat diskonto (discount rate) sebesar 10%.666. Kontrak forward jual atau tanpa rekening antara (single entry) Db. Bank A melakukan transaksi foreign exchange forward USD/Rp. Contoh Kasus 1.dimana bank A setuju untuk membeli USD 16. Pada tanggal transaksi 31 Januari 2009 Db.47) (1 + 10%/12)1 29/02/2009 USD1=Rp.146.330) x USD 16.000 318. Pada saat melakukan valuasi akhir hari berdasarkan nilai wajar Db.330.146.983.666.300–9.000 151.000 151.330) x USD 16.300 Jurnal transaksi a. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Kontrak forward beli Kr. Keuntungan transaksi derivatif Rp.146. Kontrak forward jual Rp.350–9. Pada saat melakukan valuasi akhir hari tanggal 28 Februari 2009 berdasarkan nilai wajar Db.146. Kontrak forward beli Kr. dengan nasabahnya dengan forward rate USD1 = Rp. 9. 9. 481. Rp.200 ——————————————— = 318.000.200 ——————————————— = (481. Rp.pada tanggal 31 Maret 2009.350 Nilai wajar bersih (Rp) [9. Rp. Kewajiban derivatif forward Rp. Rp. Contra account Kr.983. Kerugian transaksi derivatif Rp.47 Kr.47 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 281 .983..146. c. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Tanggal 31/01/2009 Forward rate USD untuk 31/03/2009 USD1=Rp.000 151. Contra account Db. 151.000 151. Kr..76 b. Tagihan derivatif forward Rp. 151. Transaksi foreign exchange forward Pada tanggal 31 Januari 2009.000 151.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif G. 481. 9.146.

500.000.. opsi konversi tersebut harus diukur pada nilai wajar dan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar opsi konversi merupakan nilai wajar obligasi yang akan diakui dan diukur pada harga perolehan yang diamortisasi (amortised cost). Rp. 151.sehingga nilai wajar obligasi adalah Rp 8.. Pemegang obligasi mempunyai hak untuk mengkonversikan obligasi tersebut pada tanggal jatuh tempo dan menerima sejumlah saham Bank B pada harga rata-rata pasar dari saham tersebut selama 10 hari terakhir. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.000 151. Contra account Kr. Kas/Rekening . d.000 151. Keuntungan revaluasi Kr.. obligasi konversi tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.000.000. Rp.000 151./Giro BI *) Kr. diasumsikan nilai wajar opsi konversi adalah Rp. 10.dengan jangka waktu 10 tahun dan bunga 5%/tahun yang dibayar secara tahunan. sesuai PSAK 55 opsi konversi harus dipisahkan dari obligasi sebagai kontrak utamanya. 1.500. Kontrak forward beli Db. Penerbitan obligasi konversi tersebut merupakan suatu kontrak yang akan diselesaikan oleh Bank B dengan penyerahan instrumen ekuitas miliknya sebagai pengganti kas dengan jumlah yang bervariasi yang tidak dapat diakui sebagai instrumen ekuitas sesuai PSAK 50. Instrumen campuran (hybrid instrument) Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank B menerbitkan obligasi konversi (convertible bond) pada nilai par sebesar Rp. dan opsi konversi memenuhi persyaratan sebagai instrumen derivatif. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db.146.146./Giro BI *) Spot rate USD 1=Rp. Opsi konversi yang merupakan derivatif melekat tidak mempunyai hubungan yang erat dengan obligasi Disamping itu. 9. Rp.000 151..146.146. Selanjutnya..146..000 324.Berikut adalah perhitungan nilai 282 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. Dengan demikian. Rp.000 2. melainkan sebagai kewajiban keuangan dalam bentuk instrumen campuran.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Pada awal hari berikutnya. Rp.000.000 151.470.350- Rp. Contra account 2) Pencatatan penerimaan Db. Kontrak forward jual Kr.. Rp. Pada tanggal 1 Januari 2009. Kas/Rekening .

177 9.500.849 33.797 615.000) (500.032 9.121.987 9.797) (115.849) (33.000) (500.000) (19.706) Obligasi Db (Kr) (8.775 9.519.614) (142.810 687.869 28.500.797 8.000 Nilai wajar Opsi Konversi 1.418 Perubahan nilai wajar Opsi Konversi Periode 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 Nilai tercatat awal Obligasi 8.418 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 283 .384 1.649 1.000) (500.055 35.301 8.301 8.000) (500.000) (500.247 1.790 30.144 674.799.000 Kewajiban Derivatif Db (Kr) (1.383 21.723.611.679 9.505 623.402) (25.539.607.000) (500. Beban bunga (7.799.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tercatat obligasi sampai tanggal jatuh tempo yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif sebesar 7.310) (200.000) (500.065 8.076 26.764.764) (132.000) (500.257 663.000 8.296 Jurnal transaksi Tanggal Kas Db (Kr) 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 10.000.257 663.810 687.406 1.614 642.594 1.764.032 9.636.979.383) (21.000.810) (187.288 1.500.841 23.704 (500.696.847.418) 1.000 8.704 Kerugian (Keuntungan) Transaksi Derivatif Db (Kr) 19.797 615.611.561.055) (35.000 1.055 35.607.500.000) (500.847.076) (26.177 9.023 20.065 8.584.000) (500.383 21.000) (11.679 9.725 1.723.000 8.000 (500.023 20.296 10.402 25.437.310 700.500.310 700.233 1.000) (107.790) (30.797 8.000) (500.000) (500.000) (500.000) (500.144) (174.096) (152.000) Pembayaran Nilai tercatat beban akhir bunga Obligasi (5%) 8.609.15%) 607.096 652.121.790 30.764 632.704) 10.000) (500.665.000) (500.869 28.023 1.729.987 9.402 25.000) (500.979.869) (28.144 674.841 23.849 33.096 652.841) (23.764.437.076 26.706 19.15% serta nilai wajar opsi konversi.706 Beban Bunga Db (Kr) 607.505 623.614 642.274.257) (163.505) (123.500.023) (20.000.274.000) (500.775 9.764 632.

000.884..769.5% 10% 11% Nilai wajar Obligasi (Rp. .000 491. 500.000.000.000. Asumsi: . Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: IRS untuk 31 Desember 2013 JIBOR Fixed (6 bulan) + 1% 10% 9% 10% 9.769./Giro BI Kr.554.) 0 8.189 Nilai wajar IRS (Rp.777.000. 500.000)/2] (1 + 10%/2)n [ (10% .000)/2] (1 + 10%/2)n 2 ) Σ n 8 Jurnal transaksi a. Kas/Rekening. Bank C memutuskan untuk melakukan lindung nilai atas risiko suku bunga dengan melakukan transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) dengan bank lain untuk jangka waktu 1 tahun. baik secara prospektif maupun retrospektif.5%) x (Rp.115.000 284 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 500. Obligasi Rp.189) 2) 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 ) Σ n 9 [ (10% .000. Swap suku bunga mensyaratkan Bank C menerima suku bunga tetap sebesar 10% dan membayar suku bunga mengambang 1% diatas JIBOR.Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai kini arus kas IRS sebesar 10%.554.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3. Suku bunga mengambang akan disesuaikan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli.Untuk memudahkan perhitungan.000.Bank C memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar.000.095 1) (17.000. Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank C menerbitkan obligasi sebesar Rp 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan suku bunga tetap 10% yang dibayar setiap 6 bulan.000. Tanggal 1 Januari 2008 1) Penerbitan obligasi Db. 500.. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.222.9. .) 500.000 Rp.11%) x (Rp.905 517.

000 25.000 1. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp. 8. Swap – suku bunga mengambang Kr.884.769.000 25. Obligasi Rp. Tanggal 31 Desember 2008 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp.000.000 23.000 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. Beban bunga Kr.000 25.750. Db.884. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db.189 Kr.000.000.000. c. Swap – suku bunga tetap b. Obligasi Rp.000.000. 8. Tanggal 30 Juni 2008 Rp.095 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. 500. Kr. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.095 Kr.000. Kr. Kr. 25.000.777.777.000 Rp.000 23.095 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db.000. Pada awal hari berikutnya. 17. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.769. Pendapatan bunga Rp.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Transaksi swap suku bunga Db.884. 8.750. Kewajiban derivatif swap Rp. 500. Rp.095 Kr.000. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.777.250.777.189 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 285 . Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.000 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db.000. 8. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.000. 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db.554.000. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.250. Kas/Rekening BI Rp.000.554.000.884.000. 17.000 1.

dan sebaliknya jika suku bunga meningkat diatas 9%.250. 17.554.750. 23. 286 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. Beban bunga yang masih harus dibayar 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.250.000. Atas pembelian opsi beli tersebut. Bank D berkeinginan untuk mempertahankan suku bunga yang akan diperoleh dari SUN tersebut (locking in) dengan melakukan strategi lindung nilai melalui pembelian opsi beli (call option) atas SUN sebesar Rp.000 Rp. 4. Rp. Kewajiban derivatif swap Rp. Akuntansi lindung nilai atas arus kas Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank D memprakirakan akan melakukan transaksi pembelian Surat Utang Negara SUN (forecast transaction) pada tanggal 31 Januari 2009 sebesar Rp.000 Rp.000.000. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Kr.769. Jika suku bunga SUN turun dibawah 9%. Bank D membayar premi sebesar Rp.000.000 1. 14 juta.189 Kr. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db. 100 milyar untuk jangka waktu 5 tahun dengan suku bunga 9% yang dibayar setiap 6 bulan.000. 1.000.000. Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. 25.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db.000 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.000 23. 25. 100 milyar dengan suku bunga 9% dan jatuh tempo pada 31 Januari 2009 (strike date). maka Bank D tidak akan mengeksekusi opsi beli dan membeli SUN di pasar. 17.189 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. Pendapatan bunga Rp. Beban bunga Kr. Bank D menetapkan transaksi pembelian opsi beli tersebut sebagai instrumen lindung nilai dan lindung nilai akan diukur berdasarkan akumulasi perubahan nilai wajar SUN dan nilai intrinsik (intrinsic value) dari opsi. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.000 Rp./Giro BI Rp.000 25.000. Db. Pada awal hari berikutnya. maka Bank D akan mengeksekusi opsi beli.750.769.000.000 25. Kas/Rekening.. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.554.000..000.

395.000)/2] (1 + 4. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.634. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 287 . Tanggal 1 Januari 2009 (1) Pembelian opsi beli (call option) Db.000..000.395.. 100./Giro BI Rp. Tagihan derivatif opsi Rp. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Forward rate SUN untuk posisi 31 Desember 2009 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 Nilai wajar Opsi Beli (nilai waktu) Rp.000.000 8.. 3. Rp. Tagihan derivatif opsi Kr.248 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar opsi Db.000 Kr. 6.5%/2)n Jurnal transaksi a. 14.000. baik secara prospektif maupun retrospektif. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.000. 0 9% 8% - 4. Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai intrinsik opsi adalah sebesar 9%.055. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.634.447.890 1) - ) Σ n 9 [ (9% .000. Kas/Rekening .8%) x (Rp. 3.000 0 Nilai wajar Opsi Beli (nilai intrinsik) Rp. 6. Tanggal 30 Juni 2009 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar opsi (nilai intrinsik) karena forward rate suku bunga SUN meningkat 1% Db.000 14.000.000. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.000 b. Tagihan derivatif opsi Rp. 14.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Asumsi: Bank D memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar. Untuk memudahkan perhitungan.248 Kr.000 Pada awal hari berikutnya.

Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.000.248 288 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . keuntungan instrumen lindung nilai yang diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi dalam periode yang sama dengan realisasi dan pengakuan aset keuangan dari suatu prakiraan transaksi. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp. Kas/Rekening. 8.000.248 Kr. 3.000 Rp..100. Tanggal 31 Desember 2009 1) Menghentikan pengakuan tagihan derivatif opsi karena pada saat jatuh tempo nilai waktu opsi menjadi nol Db.000. Tagihan derivatif opsi Rp. 3.000. Keuntungan transaksi derivatif Rp. Surat Utang Negara Kr.634.000 3) Sesuai kebijakan akuntansi bank.395. Db.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.000 2) Mengeksekusi opsi beli SUN dengan suku bunga 9% Db. 8./Giro BI Rp.000.000.634..000 Kr.395.100..

8. Confirming bank adalah bank yang ikut menjamin pembayaran LC kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai syarat LC dengan membubuhkan konfirmasinya pada LC yang bersangkutan. Advising bank adalah bank yang diminta oleh issuing bank untuk menyampaikan LC kepada Beneficiary. 3. Negotiating bank adalah bank yang melakukan pembayaran kepada eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada issuing bank atau paying bank atau reimbursing bank. Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 289 . Issuing bank adalah bank penerbit LC. 6. Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada issuing bank untuk membuka LC. Reimbursing bank adalah bank yang telah mendapat otorisasi dari issuing bank untuk membayar reimbursement claim dari negotiating bank.Bab VII I E k s p o r Impor Bab VII Transaksi Ekspor Impor A. Accepting bank adalah bank yang menjamin pembayaran wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance LC dengan melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan. 7. Definisi 1. Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa LC dibuka (penerima LC). 4. 9. 11. Catatan: Dalam Bab VII termasuk pengaturan transaksi Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 10. 2. 5. Paying bank adalah bank yang melakukan pembayaran sight LC atau deferred payment LC.

atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. 17. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. b. 16. 13. Bank Koresponden (corresponding bank) adalah bank yang mempunyai hubungan korespondensi (misal pertukaran kode swift. atas penyerahan dokumen.Bab VII I E k s p o r Impor 12. 290 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 14. memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh Penerima. Sight LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada saat dokumen-dokumen LC diajukan kepada bank. melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. 15. 19. memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. sepanjang persyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang berlaku mengenai SKBDN. 20. 21. Deferred payment LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC. Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh eksportir atas dasar suatu LC. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai “Letter of credit” (LC) Dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis pemohon (applicant) yang mengikat bank pembuka (issuing bank) untuk: a. atau c. 18. Negotiation LC adalah LC yang pembayarannya kepada Beneficiary dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana negotiating bank. Letter of credit (LC) adalah setiap janji tertulis yang dikeluarkan/diterbitkan oleh bank atas permintaan importir (applicant) dimana bank berjanji akan melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) jika telah memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam LC. Acceptance LC adalah LC yang mengharuskan wesel yang ditarik oleh beneficiary diaksep oleh accepting bank yang akseptasinya dilakukan sepanjang dokumen-dokumen yang diajukan telah memenuhi syarat LC. Discounting bank adalah bank yang mendiskonto wesel yang ditarik berdasarkan LC. Irrevocable LC adalah LC yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya. test key).

Bab VII I E k s p o r Impor 22. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar). kalau dalam keadaan tertentu kriteria pengakuan terpenuhi. kewajiban (obligations) menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. Dalam praktik.. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan kewajiban (misalnya.. Dasar Pengaturan 1. (KDPPLK: paragraf 89) Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. maka kewajiban (obligation) tersebut dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. (PSAK 1: paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. kewajiban (obligation) semacam itu dapat memenuhi definisi kewajiban dan. 5. kewajiban atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada umumnya tidak diakui sebagai kewajiban dalam laporan keuangan. (KDPPLK: paragraf 91) Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. laporan laba rugi. 4. Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . (PSAK 1: paragraf 71) 3.. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. B. laporan arus kas. pengakuan kewajiban mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang bersangkutan. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. Nostro adalah rekening/simpanan bank pada suatu bank di luar negeri dalam bentuk mata uang negara tersebut. (KDPPLK: paragraf 92) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2.. Dalam kasus ini. Namun demikian. komitmen.. I 291 .

Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/ kriteria untuk pengklasifikasian tersebut. piutang dagang. jika dan hanya jika. entitas mengukur pada nilai wajarnya. besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. (PSAK 55: paragraf 43) 11.Bab VII I E k s p o r Impor 6. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima … (PSAK 55: PA 79) 12. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). Namun. (KDPPLK: paragraf 94) Kewajiban diestimasi harus diakui apabila ketiga kondisi berikut dipenuhi: a. 10. b. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan... 9. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. (PSAK 55: paragraf 14) 7. dan c. (PSAK 55: PA39) 292 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. (PSAK 57: paragaf 28) Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. investasi dalam instrumen utang. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu. Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 57: paragraf 15) Perusahaan tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi. estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. 8.

atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). (PSAK 55: paragraf 46) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 293 . serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8.. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. 16. (PSAK 55: PA26) 15. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. biaya pendanaan (financing costs). c. kecuali: a. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. perantara efek dan pedagang efek. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. konsultan. atau pelepasan lain.Bab VII I E k s p o r Impor 13. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. (PSAK 55: paragraf 8) 14. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 8) b.. Setelah pengakuan awal. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual.. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. pada nilai wajarnya. entitas mengukur aset keuangan. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual.. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs).

Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. b. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: paragraf 57) 18. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. (PSAK 55: paragraf 59) 19. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. 294 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. pihak pemberi pinjaman. d. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi).Bab VII I E k s p o r Impor 17. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan).. c. Jika terdapat bukti tersebut. pelanggaran kontrak.. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. jika dan hanya jika. dan melalui proses amortisasi.

terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. f. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. dan untuk itu kerugian penurunan nilai Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 295 . Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). (PSAK 55: paragraf 60) 20. atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). (PSAK 55: paragraf 64) 21.Bab VII I E k s p o r Impor e. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual.

pada periode berikutnya. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan.Bab VII I E k s p o r Impor diakui atau tetap diakui. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. b. (PSAK 55: paragraf 17) 296 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. (PSAK 55: paragraf 8) 24. jika dan hanya jika: a. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 66) 23. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: paragraf 65) 22. baik secara langsung. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). Jika. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan.

negotiating bank akan melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada beneficiary dengan hak recourse. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 297 . Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang. Penjelasan 1. Mekanisme transaksi ekspor-impor Sight LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 & 11 Tindakan Importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani sales contract Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC.Bab VII I E k s p o r Impor C. Apabila dokumen clean.

Bab VII I E k s p o r Impor Usance LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan usance LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan usance LC kepada Beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan usance LC kepada Beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. issuing bank akan mengirimkan teleks akseptasi ke negotiating bank Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada saat jatuh tempo Issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank 298 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Apabila dokumen clean. Proses ini dikenal dengan istilah diskonto. Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. negotiating bank dapat melakukan pembayaran di muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen dikurangi diskon/bunga.

Bab VII I E k s p o r Impor Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing bank dimana advising bank bukan negotiating bank Langkah 1 2 3a 3b 4 5 6 7a 7b 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan LC/SKBDN kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Issuing bank memberikan reimbursement authorization kepada reimbursing bank Advising bank meneruskan LC/SKBDN kepada beneficiary Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai permintaan dalam LC/SKBDN Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Negotiating bank mengirimkan dokumen kepada issuing bank Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing bank untuk melakukan pembayaran. Reimbursing melakukan pembayaran kepada negotiating bank (claiming bank) Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary Issuing bank melakukan pembayaran kepada reimbursing bank Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menyerahkan dokumen kepada applicant untuk menebus/mengambil barang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 299 .

LC/SKBDN atas unjuk (sight payment). 3. Akuntansi yang terkait dengan kewajiban kontinjensi dan kewajiban diestimasi. komisi pembukaan LC/SKBDN. advising bank meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary. dan komisi negosiasi dokumen. 9. 7. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation).Bab VII I E k s p o r Impor 2. yaitu: a. LC/SKBDN dibedakan menjadi: a. sesuai dengan jenis LC/SKBDN: 300 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment). 8. Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi. Berdasarkan cara penyelesaian pembayarannya. b. Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang berasal dari hak dan kewajiban kontraktual. biaya pengiriman dokumen. Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary. Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. d. LC/KBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk meminta pembayaran kepada issuing bank melalui bank korespondennya berdasarkan pemenuhan persyaratan yang tercantum dalam LC/SKBDN. antara lain untuk jaminan keuangan (financial guarantee) seperti shipping guarantee. bank melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut. Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance). Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank. SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC tunduk pada Uniform Customs and Practice for Documentary Credits/UCPDC. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab mengenai surat berharga. 5. b. 4. 6. Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi akseptasi. antara lain untuk tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil alih bank. LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon (applicant). c.

Bab VII I E k s p o r

Impor

a.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan kemudian meneruskan dokumendokumen yang diterima kepada issuing bank.

b.

LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN) Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.

c.

LC/SKBDN yang ditagih dengan collection Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank untuk ditagihkan pembayarannya tanpa terlebih dahulu melakukan pembayaran kepada beneficiary. LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara lain: 1) dokumen yang diajukan terdapat penyimpangan (discrepancy/ies); atau 2) tidak ada bank yang bersedia sebagai negotiating bank

10. Bank pendiskonto (discounting bank) membayar kepada beneficiary sebesar nilai LC/ SKBDN atau nilai realisasi setelah dikurangi diskonto. 11. Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dengan hak regres (with right of recourse) berdasarkan wesel dan dokumen yang diajukan oleh beneficiary, kecuali status negotiating bank sebagai confirming bank. 12. Instrumen (dokumen keuangan/financial document) untuk penyelesaian pembayaran semua jenis LC/SKBDN digunakan wesel (draft/bill of exchange). 13. Khusus untuk deferred payment, instrumen pembayaran pada dasarnya adalah promisory notes, namun dalam praktek perbankan Indonesia telah lazim digunakan wesel yang diperlakukan sebagai tagihan.

D. Perlakuan Akuntansi
Pengakuan dan Pengukuran Transaksi Ekspor 1. Pada saat menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank mengadministrasikan LC/SKBDN yang diterima. Advising bank mengakui pendapatan provisi (advising fee) yang dipungut, dan pendapatan administrasi atas telex/swift atau pengiriman dokumen pada saat terjadinya.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 301

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Dalam hal advising bank juga bertindak sebagai confirming bank untuk menjamin pembayaran LC/SKBDN maka advising bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada saat yang sama mengakui tagihan komitmen kepada issuing bank. Confirming bank mengakui pendapatan provisi (advising fee dan/atau confirming fee) secara sekaligus atau dialokasikan selama jangka waktu komitmen. Untuk LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN), pada saat pembayaran dokumendokumen yang diajukan beneficiary, bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank dalam pos tagihan lainnya sight LC/SKBDN kepada bank. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) a. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, bank mengakui tagihan kepada accepting bank sebagai pos tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary sebagai pos kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank terlebih dahulu “telah menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dan membukukan wesel ekspor sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu wesel ekspor. Pada saat yang sama bank menjurnal balik tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank ”belum menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan mengakui tagihan kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN serta mengakui pendapatan yang ditangguhkan sebesar nilai diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu tagihan. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank membukukan tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Pada saat yang sama bank membukukan wesel ekspor berjangka dan melakukan jurnal balik atas tagihan kepada beneficiary serta menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi. Pada saat jatuh tempo, apabila bank yang melakukan pembayaran (paying bank) kepada beneficiary menerima pembayaran dari issuing bank, maka bank membukukan pada pos nostro/giro B.I/Rekening Antar cabang dan menjurnal balik pos wesel ekspor berjangka.

3.

4.

b.

c.

302 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

d.

Apabila bank tidak melakukan pendiskontoan/negosiasi tetapi hanya melakukan penagihan (on collection) atas permintaan beneficiary, maka pada saat jatuh tempo bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi. Pembayaran dari issuing bank dibukukan pada pos nostro/Giro BI/Rekening Antar Cabang dan mengkredit rekening beneficiary sebesar nilai LC/SKBDN dikurangi dengan biaya administrasi.

5.

LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN) a. Dalam hal negosiasi LC/SKBDN dimana wesel unjuk (sight) diambil alih oleh negotiating bank (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat bersamaan negotiating bank mengakui tagihan kepada issuing bank sebagai pos tagihan lainnya - sight LC/SKBDN kepada bank koresponden yang akan diselesaikan pada saat menerima pembayaran dari issuing bank. b. Dalam hal bank menegosiasi wesel berjangka yang belum diaksep (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung (bila ada). Pada saat bersamaan, bank mengakui tagihan kepada beneficiary dalam pos tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum diakseptasi. c. Pada saat menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank mengakui tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi sebesar nilai realisasi LC/SKBDN ditambah/ dikurangi dengan biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi. Selanjutnya biaya/pendapatan tersebut diamortisasi selama jangka waktu tagihan akseptasi. Dalam hal bank menerima akseptasi dari accepting bank setelah bank melakukan pendiskontoan/negosiasi maka perlakuan akuntansi sebagaimana diatur pada butir 4. c di atas. Perlakuan akuntansi untuk wesel ekspor mengacu pada bab mengenai surat berharga. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan pada saat pengakuan awal Sebesar nominal tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dikurangi pendapatan/beban (bila ada).

6.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 303

Bab VII I E k s p o r

Impor

7. Setelah pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebagai berikut:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan setelah pengakuan awal Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

8. 9.

Perlakuan akuntansi untuk amortisasi biaya transaksi mengacu pada Bab mengenai Kredit. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori

Pencatatan pada saat pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya yang diukur sebesar diamortisasi) nilai wajar, yang pada umumnya adalah sebesar kewajiban bruto.

10. Setelah pengakuan awal, bank mencatat kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebagai berikut:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori Pencatatan setelah pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. Pada saat membuka LC/SKBDN, bank mencatat ke dalam pos: a. b. c. 2. kewajiban komitmen LC/SKBDN dalam mata uang asing sebesar nilai LC/SKBDN; setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam LC/SKBDN sebesar setoran yang diterima; pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN sebesar provisi yang diterima.

Pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat diterima.
Akuntansi Perbankan Indonesia

304 I P e d o m a n

Bab VII I E k s p o r

Impor

3.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) a. b. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan selama masa pemeriksaan tidak dilakukan penjurnalan. Apabila dokumen pengapalan (shipping document) telah diterima dan diperiksa dan tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh applicant, maka issuing bank mengakui kewajiban atau melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan mengakui tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada pos tagihan lainnya (tagihan kepada applicant). Pada saat yang sama, issuing bank melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN.

c. Apabila dokumen pengapalan belum diterima dan applicant meminta bank untuk menerbitkan shipping guarantee, maka applicant harus membayar lunas kekurangan dari setoran jaminan atas realisasi LC/SKBDN dan issuing bank mengakui kewajiban kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan bank membebankan biaya endors kepada applicant. Pada saat yang sama, bank mengakui tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran, serta melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat dokumen pengapalan diterima dan diperiksa, maka issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran dan tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant. Issuing bank melakukan pembayaran kepada bank koresponden dengan membukukan pada pos nostro/ Giro BI/Rekening antar cabang dan menjurnal balik pos kewajiban kepada bank koresponden. 4. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment). a. Bila issuing bank mengaksep wesel Pada saat bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada applicant, serta membebankan biaya akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/ SKBDN sebesar nilai realisasi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 305

Bab VII I E k s p o r

Impor

Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada negotiating bank maka kewajiban accepting bank beralih dari kewajiban akseptasi kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada negotiating bank. Negotiating bank dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada pihak lainnya sehingga kewajiban accepting bank beralih kepada bonafide holder. b. Bila issuing bank bukan accepting bank Dalam hal accepting bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka 1) Accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada issuing bank. 2). Issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi. 5. LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN). a. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel unjuk (LC/SKBDN sight), maka issuing bank mengakui kewajiban lainnya kepada negotiating bank sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan pada saat yang sama mengakui tagihan lainnya kepada applicant sebesar nilai yang sama. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh bank lain, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant.

b. 1)

2) Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh issuing bank, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada negotiating bank dan tagihan akseptasi kepada applicant. 6. Pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya atas tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi impor mengacu pada tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi ekspor. Saat applicant melunasi kewajibannya (saat jatuh tempo), bank mendebet rekening applicant dan setoran jaminan impor serta mengkredit rekening bank koresponden, dan pada saat yang sama menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi.

7.

306 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

8.

Penurunan nilai (impairment) Perlakuan penurunan nilai tagihan akseptasi mengacu kepada Bab mengenai Kredit.

Penyajian Transaksi Ekspor 1. Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya disajikan di neraca sesuai kategori aset keuangan, yaitu:
Kategori Aset Keuangan Penyajian di Neraca

Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah dengan amortisasi kumulatif Piutang menggunakan metode suku bunga efektif. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account.

Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya disajikan sebagai berikut:
Kategori Kewajiban Keuangan Penyajian di Neraca

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. 2. 3. 4. Kewajiban komitmen atas penerbitan LC/SKBDN diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebesar jumlah penerbitan LC/SKBDN. Setoran jaminan impor disajikan di neraca sebesar jumlah setoran jaminan. Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di neraca sebesar nilai wajar dikurangi amortisasi kumulatif pendapatan/beban yang dapat diatribusikan. Penyajian tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya mengacu kepada penyajian transaksi ekspor.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 307

. Kas/rekening. Nostro/Giro BI/Rekening antar cabang Saat terima pembayaran Negotiating bank/ Kr./Giro BI Pembebanan komisi negosiasi./Giro BI Kr. Ilustrasi Jurnal 1./Giro BI/Nostro bayar claiming bank Kr. kiriman dokumen dan biaya telex (bila ada) Db. Antar Cabang imbursing/issuing bank dan Negotiating bank Kr. Kas/rekening. Nostro/Giro BI/Rek. Transaksi Ekspor a. Kas/rekening. Kas/rekening.. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Negotiating bank Tidak ada penjurnalan Terima pembayaran dari reDb. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada bank koresponden Kr. Kas/rekening... Pendapatan administrasi 4 Saat negosiasi dokumen Negotiating bank 5 6 Db. Kredit yang diberikan jatuh tempo dan melebihi 14 Negotiating bank/ Kr../Giro BI Kr. Pendapatan bunga – sight LC/SKBDN Bila sight LC/SKBDN sudah Db.Pembayaran kepada eksportir setelah terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank – on collection Keterangan Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db...../Giro BI Kr... No 1 2 3 4 Sight atau LC/SKBDN . Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada dari issuing bank claiming bank*) bank koresponden Bila issuing bank terlambat Negotiating bank/ Db... Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Db... Pendapatan administrasi beneficiary b... Tagihan lainnya-sight LC/SKBDN kepada hari./Giro BI pembayaran kepada eksportir/ Kr.Bab VII I E k s p o r Impor E. Kas/rekening.. dimana issuing bank claiming bank bank koresponden belum membayar 7 *) Negotiating bank dapat bertindak sebagai claiming bank bila dipersyaratkan dalam LC/ SKBDN untuk melakukan klaim kepada reimbursing bank 308 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . No 1 2 3 Negosiasi Sight LC/SKBDN Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank Negotiating bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db.

. Pendapatan fee Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Tidak ada penjurnalan Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Kas/rekening.. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Db... Kas/rekening.../Giro BI Kr. Kas/rekening./Giro BI Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi No 1 2 3 4 Saat terima LC/SKBDN Advising bank Provisi advising Pengiriman dokumen Saat terima akseptasi Advising bank Negotiating bank Negotiating bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 309 . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Amortisasi: Db..Bab VII I E k s p o r Impor c. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.../Giro BI Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Pembebanan biaya yang diakui langsung: Db.

.. bank melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db. kiriman dokumen.. Surat berharga . Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) dan sudah terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Trading) Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/discounting bank *) Setelah jurnal no. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga . Kas/rekening./Giro BI (diakui sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurang diskonto) Mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db.wesel ekspor: Db.wesel ekspor usance Penjualan surat berharga .Bab VII I E k s p o r Impor No 5 Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian a. Pendapatan adm. biaya telex) Penyesuaian dengan harga pasar: Harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db./Giro BI Kr.wesel ekspor Kr. Kas/rekening.. Surat berharga . Surat berharga . (komisi negosiasi..wesel ekspor usance 310 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr.wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – wesel eskpor Db/Kr.wesel ekspor usance Kr Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. 1 s/d 4.. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor: Db. Surat berharga .

./Giro BI Kr. 1 s/d 4./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db.wesel ekspor usance Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian 2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. bank membukukan surat Discounting bank berharga wesel ekspor: Db.. Kiriman dokumen. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Surat berharga .wesel ekspor usance Kr. Surat berharga . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 311 . Surat berharga . Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) Melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db... Pendapatan adm (komisi negosiasi. Kas/rekening. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.wesel ekspor usance Kr... Kas/rekening. Pendapatan bunga wesel ekspor Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/ reimbursing bank): Db.

wesel ekspor Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.. bank menjurnal balik Discounting bank tagihan dan kewajiban akseptasi Db.. 1 s/d 4.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Saat mendiskonto dokumen Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Negotiating bank/ Setelah jurnal no.ekuitas Db/Kr.wesel ekspor usance Kr.wesel ekspor usance Kr Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Kiriman dokumen. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Surat berharga .wesel ekspor usance Penjualan surat berharga ..wesel ekspor usance Kr. Surat berharga ./Giro BI Kr.wesel ekspor: Db. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Kas/rekening... Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr..ekuitas Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor . Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db. Surat berharga . Kas/rekening. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Surat berharga . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Surat berharga .wesel ekspor usance 312 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Setelah jurnal no./Giro BI b. Kiriman dokumen.. biaya telex) Db.. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary saat jatuh tempo .. 1 s/d 4.. bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.on collection Saat jatuh tempo Negotiating bank/ (terima pembayaran claiming bank dari reimbursing/issuing bank) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 313 .. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Kas/rekening./Giro BI Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Kas/rekening.

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

c. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) tetapi belum terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (trading) Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3 diatas, bank membukukan diskonto wesel ekspor yang belum diakseptasi: discounting Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor bank*) belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Saat bank menerima akseptasi: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Jika harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Db/Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance *) Negotiating bank disebut juga discounting bank bila melakukan diskonto atas wesel ekspor.

314 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang diberikan dan Piutang Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3, bank membukukan Discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi: Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex) Terima akseptasi Bank menerima akseptasi atas wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 315

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Mendiskonto dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

N e g o t i a t i n g / Setelah jurnal no. 1 s/d 3 di atas, bank membukukan discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex)

Terima akseptasi

Bank menerima akseptasi wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar - ekuitas Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db./Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor - ekuitas Db./Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance

316 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Transaksi Impor a.
No 1

LC/SKBDN Atas Unjuk (Sight LC/SKBDN)
Keterangan Issue LC/SKBDN Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/Cabang Komisi endors LC/SKBDN dan SSG: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Melakukan jurnal balik komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekeninglawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

2 3 4

Provisi pembukaan LC/ SKBDN Terima setoran jaminan impor Terima pembayaran dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN)

Issuing bank Issuing bank Issuing bank

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 317

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden a. Terima dokumen impor, rekening issuing belum didebet dan applicant belum melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight)

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, Melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Pengakuan tagihan dan kewajiban Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Pembayaran kepada bank koresponden/ cabang: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

318 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan b. Terima dokumen impor, rekening Nostro sudah didebet dan applicant belum melakukan pelunasan Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, menjurnal balik kewajiban komitmen (off balance sheet) : Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Pelunasan oleh applicant: Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

c. Terima dokumen impor ex-endors B/L, importir/ applicant sudah melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen Issuing bank Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 319

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan d. Jika importir/applicant mengambil barang dengan menggunakan SSG (shipping guarantee) Penerbitan shipping guarantee

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat penerbitan SSG: Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG: Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rek. lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Penyelesaian SSG pada umumnya dilakukan 14 hari setelah jatuh tempo atau SSG dikembalikan.

Penerimaan dokumen

Issuing bank

320 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Rek.. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Setoran jaminan impor No Keterangan 1 Bank menerbitkan LC/ SKBDN 2 Bank mengakui provisi pembukaan LC/SKBDN Bank menerima setoran jaminan impor Issuing bank 3 Issuing bank 4 Issuing bank Terima promes dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db.kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Bila pengambilan barang disertai SSG. lawan . Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr./Giro BI Kr.kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden Penerimaan dokumen Issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kas/rekening./Giro BI Kr. LC/SKBDN Berjangka (Usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (Deferred payment): Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Db. berjangka kepada bank koresponden Rek.. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kas/rekening.Bab VII I E k s p o r Impor b.. maka off balance sheet SSG juga dibalik Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Db. lawan . berjangka kepada bank koresponden Rek.. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr.kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 321 .kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr.. lawan .. Rekening lawan .

Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db.. Kas/rekening./Giro BI Kr. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Saat akseptasi Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Accepting bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db.. Pendapatan fee yang diamortisasi 322 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db... Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Pendapatan fee Db. Kas/rekening. Kas/rekening.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan a.. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr./Giro BI Kr... Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr./Giro BI Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Mengakui amortisasi: Db..

Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi Db.negotiating bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan b. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden .. Bila issuing bank bukan accepting bank Status Bank Accepting bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db.issuing bank Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.issuing bank Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden ./Giro BI Kr.accepting bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . antar cabang Kr.negotiating bank Mengakui amortisasi Db. antar cabang Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 323 . Kas/rekening. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Kas/rekening../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Db.. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Giro BI/nostro/Rek.issuing bank Db. Pendapatan fee yang diamortisasi Issuing bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya Db... Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Giro BI/nostro/Rek. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db.accepting bank Mengakui amortisasi Db.

Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (accepting bank) Accepting bank Issuing bank Issuing bank 324 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ../Giro BI Kr. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Issuing bank Pelunasan oleh applicant: Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Giro BI/nostro (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. antar cabang b.issuing bank Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db.. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden (accepting bank): Db...Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 6 Saat jatuh tempo (pelunasan oleh applicant dan pembayaran kepada bank koresponden) a. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .. Bila issuing bank bukan accepting bank Accepting bank Menerima pembayaran dari issuing bank Db./Giro BI Kr. Giro BI/nostro (issuing bank) Kr.accepting bank Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank): Db.negotiating bank Kr. Giro BI/nostro/Rek..

/Giro BI Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (reimbursing bank) Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (issuing bank) Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ..reimbursing bank Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan c. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (reimbursing bank) Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 325 . Bila pelunasan LC/SKBDN melalui reimbursing bank Status Bank Reimbursing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Melakukan pembayaran kepada negotiating bank Db.. Setoran jaminan impor Db.. Kas/rekening. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant: Db.

Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. jika bank tetap mengakui seluruh bagian tagihan LC/SKBDN Total nilai tercatat tagihan LC/SKBDN awal yang dialihkan. b. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. b. d. yaitu: a. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. b. 3. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan LC/SKBDN (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan atau kewajiban LC/SKBDN) dan agunan.Bab VII I E k s p o r Impor F. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN dan kewajiban terkait. Perubahan nilai wajar tagihan LC/SKBDN yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Jumlah tagihan LC/SKBDN yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Tersedia untuk Dijual. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan atau kewajiban LC/SKBDN. c. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. b. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. d. 5. 4. dengan rincian berikut: a. Jenis LC/SKBDN. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. c. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan atau kewajiban LC/SKBDN dalam penyusunan laporan keuangan. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. c. 2. Pengalihan tagihan LC/SKBDN yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh LC/SKBDN. nilai tercatat tagihan Akuntansi Perbankan Indonesia 326 I P e d o m a n . 6. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan LC/SKBDN yang masih tetap berada di bank. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate).

Bab VII I E k s p o r

Impor

LC/SKBDN yang tetap diakui bank, dan nilai tercatat kewajiban terkait, jika bank tetap mengakui sebagian tagihan LC/SKBDN sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 7. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas LC/SKBDN sebagaimana pada angka 8 sampai 9 dibawah.

Pengungkapan kualitatif 8. Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan LC/SKBDN dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

Pengungkapan kuantitatif 9. Analisis terhadap tagihan LC/SKBDN berdasarkan klasifikasi yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya berdasarkan industri, geografis). Analisis tersebut mencakup: a. b. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan LC/SKBDN pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya; Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan LC/SKBDN sebagaimana pada butir a diatas. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan, dan credit derivative); 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya; 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan, dan pihak penjual proteksi LC/SKBDN dalam transaksi credit derivative); dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya; c. Informasi mengenai kualitas tagihan LC/SKBDN di luar yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan LC/SKBDN, baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 327

Bab VII I E k s p o r

Impor

a)

Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit, maka pengungkapan mencakup: i Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat; ii Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat; iii Jumlah ekposur tagihan LC/SKBDN yang diperingkat dan yang tidak diperingkat; iv Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan LC/SKBDN , maka pengungkapan mencakup: i Proses pemeringkatan internal beserta asumsi-asumsi yang digunakan dalam penerapan pemeringkat interna. ii Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat internal; iii Penjelasan struktur peringkat internal serta hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 2) Tipe/jenis debitur; 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate); 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan LC/SKBDN ; dan d. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/ atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi.

10. Jumlah tagihan LC/SKBDN berdasarkan segmentasi, antara lain sektor ekonomi dan geografi, berdasarkan jangka waktu, mata uang, dan tingkat bunga tagihan LC/SKBDN yang dihitung secara rata-rata. 11. Jumlah tagihan LC/SKBDN kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 12. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai.

328 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

G. Ketentuan Lain-lain
1. 2. Ketentuan UCP yang berlaku. Bank tetap menilai kualitas tagihan sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank.

H. Contoh kasus
Impor 1. LC atas unjuk (Sight) - Pengambilan barang dengan Shipping Guarantee (SSG) PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut, pada tanggal 2 Februari 2012 PT Maju membuka LC sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10 %. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 14 Pebruari 2012 barang sudah tiba di pelabuhan dan importir menebus barang dengan meminta bank membuat SSG. PIB (bea masuk,PPN &PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000,00. Biaya/komisi penerbitan SSG Rp. 200.000 dan komisi PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 18 Februari 2012 dokumen asli diterima oleh Bank XYZ dan penyelesain kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden 2) Mengakui pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Mengakui penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 329

Bab VII I E k s p o r

Impor

b.

Tanggal 14 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari importir Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang USD USD USD 1.000 9.000 10.000 200.000 200.000

2) Mengakui pendapatan komisi dari mengendors LC/SKBDN dan SSG Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Rp

3) Menerima setoran pajak impor (apabila nasabah membayar melalui bank) Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp 20.050.000 Kr. Kewajiban pajak impor Rp 20.000.000 Kr. Pendapatan komisi PIB Rp 50.000 3) Melakukan jurnal balik pembukuan komitmen Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden 4) Menerbitkan SSG Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi c. Tanggal 18 Februari 2012 1) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank korensponden/cabang Kr. Giro BI /nostro/rekening antar cabang 2) Melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rekening lawan - kewajiban kontijensi SSG berjangka kepada perusahaan ekspedisi

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

330 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

LC berjangka (usance/deferred) - Pengambilan barang dengan dokumen asli (setelah dokumen tiba): PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut pada tanggal 02 Pebruari 2012 PT Maju membuka LC berjangka (usance) sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10%. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 18 Februari 2012, Bank XYZ menerima dokumen dari negotiating bank. Importir menebus barang dengan akseptasi promes/wesel, biaya atas PIB (bea masuk, PPN & PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000. Komisi akseptasi yang diterima sebesar USD25 dan PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 2 April 2012, LC jatuh tempo dan dilakukan penyelesaian kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Berjangka kepada bank koresponden 2) Pencatatan pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Pencatatan penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor b. Tanggal 18 Februari 2012 1) Penerimaan setoran pajak impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB Rp Rp Rp 20.050.000 20.000.000 50.000

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 331

Bab VII I E k s p o r

Impor

2) Melakukan jurnal balik atas komitmen (off balance sheet) Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD

10.000 10.000

3) Pengakuan tagihan akseptasi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 10.000 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Pembebanan biaya diakui langsung Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan fee

USD USD

25 25

Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 9.975 Db. Kas/rekening..../Giro BI 25 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Amortisasi atas biaya/pendapatan yang diatribusikan secara langsung Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 0,55 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi USD 0,55 Amortisasi dilakukan sampai dengan jatuh tempo/pembayaran dari importir menggunakan suku bunga efektif; penggunaan metode garis lurus diperbolehkan sesuai ketentuan.

332 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

c.

Tanggal 2 April 2012 1) Pelunasan oleh applicant saat jatuh tempo Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD USD USD 1.000.00 9.000.00 9.999.44 0,56

2) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Kewajiban akseptasi kepada bank korespondennegotiating bank USD Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD

10.000 10.000

Tabel 1: Amortisasi Biaya Transaksi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor impor di Bank XYZ adalah USD 20 (= IDR 200.000).
No. Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Estimasi arus kas C (9,975) Saldo awal AngsurSuku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok D 9.975,00 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.979,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 E = D x EIR 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 F G=pxi H=E–G 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 Saldo akhir Tagihan Akseptasi I=D+E+F+G 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.978,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 9.984,99

Tanggal B 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 333

56 0.33 0.56 9.10 0.66 9.993.56 0.55 9.992.77 9.78 9.56 9.996.994.33 0.998.89 9.998.77 0.56 9.56 9.11 9.989.993.56 9.56 9.55 9.996.99 0.88 0.56 0.22 9.44 0.56 9.56 0.56 0.56 9.991.987.56 0.99 0.88 9.44 9.56 0.998.56 0 Suku Bunga Efektif Awal 0.993.985.986.988.990.55 0.987.66 0.56 9.995.992.56 9.992.56 9.988.44 0.994.66 0.10 9.88 9.995.56 9.989.56 0.10 0.986.56 9.56 0.56 0.10 9.22 0.44 9.56 0.997.56 9.11 0.66 9.56 0.56 (10.56 9.56 9.991.56 9.999.56 9.55 9.56 0.56 0.56 9.56 0.56 0.000) 0.56 0.33 9.78 0.988.986.77 9.56 9.21 0.99 9.33 9.56 0.997.000 Saldo awal AngsurSaldo akhir Suku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an Tagihan efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok Akseptasi D E = D x EIR F G=pxi H=E–G I=D+E+F+G 9.56 0.33 0.66 0.21 9.991.994.56 9.987.986.984.56 9.997.989.989.990.56 0.988.999.992.22 9.985.99 0.993.55 0.56 9.987.33 9.88 0.77 0.99 9.994.997.006% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 334 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .998.991.996.Bab VII I E k s p o r Impor No.94 0.56 0.55 0.56 0.56 0.44 9.89 0.66 9.56 0.56 9. Trx A 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Tanggal B 07-Mar-12 09-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 Estimasi arus kas C 10.22 0.56 0.56 0.56 9.996.56 9.

/Giro BI Kr.000) = USD 37. Nostro/Giro BI/Rek. komisi/ biaya administrasi 0.000. Kas/rekening. Setelah dokumen diperiksa. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 10 Februari 2012.. PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. bank XYZ membebankan biaya advising LC Rp100. menerima LC sebesar USD10.. Pada tanggal 15 Februari 2012 Bank XYZ menerima akseptasi dari issuing bank. Pada tanggal 07 Februari 2012. PT Aneka (eksportir). Tanggal 11 Februari 2012 Menerima pendapatan provisi advising Db. Tanggal 16 Februari 2012 PT Aneka mendiskontokan tagihannya kepada Bank XYZ.962.125%. Bank XYZ menerima pembayaran dari issuing bank pada tanggal 19 Februari 2012.. kiriman dokumen. Komisi advising LC Rp100. LC berjangka (usance) yang dinegosiasi/didiskonto Pada tanggal 2 Februari 2012.000.000.25%.50 Perhitungan: USD 25 + (0. PT Aneka (eksportir) menerima LC dengan pembayaran dilakukan 2 bulan setelah tanggal pengapalan barang sebesar USD 10. komisi negosiasi 0. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 6 Februari 2012. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD 100.Bab VII I E k s p o r Impor Ekspor 1. Jurnal transaksi a.a.50 Kr.000.125% x USD 10. Biaya pengiriman dokumen USD25. Atas pendiskontoan tersebut Bank XYZ membebankan bunga/diskonto 4% p. biaya telex) USD 37. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 335 .50 2. Pada tanggal 11 Februari 2012 PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ.000 Kr. Dokumen diperiksa oleh Bank XYZ dan dokumen dikirim ke issuing bank. LC atas unjuk (sight) Pada tanggal 2 Februari 2012.. Antar Cabang USD 100. Kas/rekening. Pada tanggal 6 April 2012 bank XYZ menerima pembayaran dari issuing..000 b./Giro BI USD 9.00. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi. Tanggal 19 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari reimbursing/issuing bank dan pembayaran kepada eksportir/beneficiary Db..000 100. Biaya pengiriman dokumen sebesar USD25.

Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10.000 Pengukuran Wesel Ekspor 1. USD USD 10.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr../Giro BI USD 10.wesel ekspor usance USD 10.000 100.. Tanggal 16 Februari 2012 1) Mendiskonto dokumen dengan menjurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.944.000 Kr.Bab VII I E k s p o r Impor Asumsi untuk wesel ekspor dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi dan Tersedia untuk Dijual..000)/{360 + (4% x 50)} = 9. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Rp Rp 100.000 Kr.000 10.000 2) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db.000 b.60 336 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ./Giro BI Kr. Tanggal 7 Februari 2012 Menerima provisi advising Db.. Pada tanggal 5 Maret 2012 wesel ekspor tersebut dijual kepada bank ABC dengan diskonto 2% (dalam hal ini diasumsikan menggunakan rumus true discount) untuk kondisi 1 dan 4. Kas/rekening. Surat berharga .000 (dibukukan sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.. Kas/rekening. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tanggal 15 Februari 2012 Menerima akspetasi dari accepting bank Db. Jurnal transaksi a. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.

53 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10. Surat berharga . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 13.Bab VII I E k s p o r Impor 3) Mengakui biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung Db.986. Keuntungan penjualan surat berharga .wesel ekspor usance USD 13. Kas/rekening. Pendapatan administrasi USD 50 Perhitungan: USD25 + (0.25 .000) = USD50 4) Penyesuaian harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 97 (diskonto 3%) Db.wesel ekspor usance Kr.25% x USD10.5% x 33)}= 9.944.53 Kr.9.986.51 .60 = 41.91 Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 41.944.9.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.944..982.958.50.65 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 337 .13 MTM = 9.91 Kr. Surat berharga .51 MTM = 9.60 = 13.53 9.25 41.13 .25 MTM = 9..986.53 c.9.982. Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan wesel ekspor Db.000)/{360 + (3% x 50)} = 9. Tanggal 4 Maret 2012 Penyesuaian dengan harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 98../Giro BI USD 50 Kr. Surat berharga .65 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10. Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr.91 b. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db.wesel ekspor USD USD USD USD 9.958.982.60 = 37.wesel ekspor usance USD 41.13 37.000)/{360 + (1.

Kas/rekening.000 0 338 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10.60 Diskonto = 10.08 Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) USD 1. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD 10.000 – 9. 3.944.60 2) Melakukan amortisasi Db.944.60 = 55. Tersedia untuk Dijual a.60 9. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 10.Bab VII I E k s p o r Impor 2.000 10. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang a. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 0 Lihat tabel amortisasi di halaman selanjutnya 4.. Surat berharga .wesel ekspor usance USD 998. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD Kr./Giro BI USD 9.944. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.944.09 Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD Kr. Surat berharga . Surat berharga .. Tanggal 5 Maret 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.wesel ekspor usance USD Kr.wesel ekspor usance USD 1.40 3) Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank) Db. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.000)/{360 + (4% x 50)} = 9.000 Kr.91 Kr.. Tanggal 16 Februari 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Kr.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.000 Kr.

wesel ekspor usance Kr.944. amortisasi dilakukan tiap hari.60 = 55. Surat berharga .wesel ekspor usance USD 9.08 Kr.945.. Surat berharga .60 Diskonto = 10. biaya telex) Perhitungan: USD 25 + (0..000)/{360 + (4% x 50)} = 9.51 . Surat berharga .000)/{360 + (3% x 50)}= 9.945 Kr.68 = 12./Giro BI USD 9. Kas/rekening.51 MTM = 9.000 – 9.wesel ekspor usance USD 1.83 12.40 Catatan: Dalam soal ini.. Kiriman dokumen.000) = USD 50 USD USD 50 50 4) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi.83 USD USD 12.958./Giro BI Kr.9.944. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.958...Bab VII I E k s p o r Impor 2) Mengakui surat berharga wesel ekspor Db. Kas/rekening.83 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 339 .08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.25% x USD 10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10. 5) Penyesuaian dengan harga pasar: Db.945 Dibukukan sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) 3) Mengakui biaya/pendapatan secara diakui langsung: Db..

9.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.25 .13 .986.01 9.01 Kr.61 37.13 MTM = 9.01 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.25 22.50) Db. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .Bab VII I E k s p o r Impor b.966.9. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD Db.5% (lihat Tabel 2) 340 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .60 = 37.wesel ekspor USD Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10.964. Tanggal 4 Maret 2012 Melakukan penyesuaian dengan harga pasar (misalkan harga pasar wesel ekspor adalah 98. Surat berharga .65 Informasi untuk perhitungan amortisasi diskonto wesel ekspor sebagai berikut: Nilai nominal : USD10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas USD 22.5% x 33)} = 9.ekuitas USD Kr.wesel ekspor usance USD 22.000)/{360 + (1.wesel ekspor Db.25 Laba(rugi) = 9.944.982. 9.01 Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan surat berharga .wesel ekspor usance USD Kr.982.986.000 dengan tingkat diskonto 4% Tanggal terbit : 16 Februari 2012 Tanggal jatuh tempo : 6 April 2012 Tanggal rediskonto : 5 Maret 2012 dengan tingkat diskonto 2% Harga pasar tanggal 16 Februari 2012 : 3% Harga pasar tanggal 4 Maret 2012 : 1.982.12 = 22.65 c. Surat berharga .

978.08 1.974.982.55 1.09 9.08 9.961.81 9.69 9.60 9.08 9.977.60) 17-Feb-12 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12 07-Mar-12 08-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 - G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.41 9.952.08 1.950.02 1.08 1.08 9.20 9.03 9.50 1.953.29 1.Bab VII I E k s p o r Impor Tabel 2: Amortisasi Diskonto No.06 9.46 1.85 1.947.78 9.46 9.08 1.52 9.970.86 9.09 9.09 1.08 9.958.981.09 9.08 1.09 9.09 9.08 1.968.972.10 1.960.77 1.09 9.27 1.89 1.08 9.89 9.09 9.979.948.09 9.964.968.946.72 9.980.09 9.09 F Tagihan bunga Amortisasi dengan EIR Saldo akhir Wesel Ekspor B C 16-Feb-12 (9.03 1.947.969.09 1.09 1.980.09 1.41 1.86 1.27 9.72 1.09 1.63 1.09 1.33 9.08 1.946.951.954.976.944.06 1.02 9.08 9.08 1.957.971.09 1.09 1.68 1.08 1.963.965.09 1.973.978.15 9.09 1.953.19 9.29 9.982.98 9.44 9.981.12 9.09 9.81 1.08 9.955.972.08 9.09 1.955.24 1.967.983.68 9.956.974.09 9.952.09 9.38 9.09 9.77 9.08 9.08 1.09 1.12 1.09 1.09 1.09 9.98 1.94 1.52 1.09 9.67 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 341 .950.95 1.956.951.964.08 1.08 9. Trx.09 9.09 1.44 1.09 1.09 9.961.963.09 1.09 1.95 9.960.09 9.20 1.08 1.69 1.36 9.08 9.970.959.15 1.09 9.08 1.945.945.09 1.63 9.969.944.965.973.967.10 9.85 9.59 1.38 1.09 9.958.966.19 1.979.08 9.948.954. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Tanggal Estimasi arus kas Saldo awal Wesel Ekspor D 9.08 9.24 9.966.959.971.59 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.08 9.61 1.78 1.09 1.36 1.977.957.09 9.976.61 9.08 9.08 1.08 1.33 1.55 9.50 9.94 9.

47 1.09 9.000.09 9.985. Trx.998.00) Amortisasi Saldo akhir dengan Wesel Ekspor EIR G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.03 1.09 9.996.09 1.09 9.09 1.64 9.85 1.09 1.990.73 1.67 9.09 9.94 9.09 9.09 9.988.91 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.998.94 1.56 1.38 1.11 9.76 9.986.09 1.09 1.47 9.988.73 9.997.09 1.994.29 9.991.56 9.09 9.09 1.992.09 9.986.85 9.09 9.91 1.03 9.09 1.990. A 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Tanggal Estimasi arus kas B C 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 03-Apr-12 04-Apr-12 05-Apr-12 06-Apr-12 10.20 1.00 Saldo awal Wesel Ekspor D 9.82 9.09 9.09 1.985.000.11 1.82 1.09 9.Bab VII I E k s p o r Impor No.00 Tagihan bunga Suku Bunga Efektif Awal (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 342 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .992.995.09 9.09 0.997.989.20 9.38 9.09 1.993.09 9.29 1.64 1.991.994.983.76 1.09 1.993.984.09 1.995.989.984.996.09 1.09 F (10.09 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful