Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (Revisi 2008

)

TIM PERUMUS PAPI DESEMBER 2008

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Hak cipta @ 2008, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam ayat (1), dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Cetakan Revisi Desember 2008

Pedoman akuntansi perbankan Indonesia/disusun oleh tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. -- Jakarta: Bank Indonesia, 2008 349 hlm; 3 cm Diterbitkan atas kerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ISBN: 978 - 979 - 9020 - 31 - 4

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

—— Tanggapan dan masukan tertulis atas ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pedoman Akuntansi Indonesia Revisi 2008 dapat disampaikan ke Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia. Up. Tim Pembinaan dan Pengawasan. Nomor fax. (021) 231 1672.

ii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

GUBERNUR BANK INDONESIA

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya menyambut gembira atas selesainya Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) revisi 2008, yang merupakan petunjuk lebih teknis dari standar akuntansi keuangan yang terkait dengan perbankan. Sebagai badan usaha yang memiliki tanggung jawab publik, perbankan dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang berkualitas tinggi sehingga dapat memberikan informasi yang akurat dan komprehensif bagi seluruh pihak yang berkepentingan dan mencerminkan kinerja bank secara utuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar dan pedoman akuntansi yang berlaku perlu terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan transaksi dan produk keuangan dewasa ini serta harmonisasi dengan standar akuntansi internasional. Sebagaimana telah diketahui, Ikatan Akuntan Indonesia pada akhir Desember 2006 telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 (Revisi 2006) tentang Pengakuan dan Pengukuran Instrumen Keuangan dan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Penyajian dan Pengungkapan Instrumen Keuangan, serta beberapa standar akuntansi lain sebagai bagian dari proses konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Dengan penyempurnaan standar akuntansi dimaksud, maka PAPI sebagai petunjuk yang sifatnya lebih teknis juga perlu disempurnakan dengan menambahkan penjelasan dan contohcontoh perhitungan yang diharapkan dapat mempermudah pemahaman terhadap PSAK yang berlaku, khususnya PSAK 55 (Revisi 2006) dan PSAK 50 (Revisi 2006) yang disadari merupakan standar akuntansi yang cukup kompleks karena berupaya mengakomodasi kebutuhan pengaturan instrumen keuangan yang berkembang demikian pesat. Dengan berbagai penyempurnaan tersebut, baik dari sisi PSAK maupun PAPI, diharapkan kelengkapan, kewajaran, keakuratan, dan kejelasan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bank dapat ditingkatkan, sehingga informasi tersebut lebih dipahami dan dipercaya
iii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

oleh masyarakat. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap informasi-informasi yang disampaikan oleh bank-bank pada gilirannya dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional secara keseluruhan. Akhir kata pada kesempatan ini saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia, Tim Penyempurnaan PAPI, narasumber, praktisi perbankan, dan seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi dan masukan untuk penyempurnaan PAPI (Revisi 2008). Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008 GUBERNUR BANK INDONESIA,

BOEDIONO

iv

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia
Kegiatan usaha perbankan di Indonesia mengalami perkembangan yang semakin komplek dan pesat. Dinamisasi perkembangan tersebut berjalan seiring dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti perubahan regulasi, perkembangan teknologi, perkembangan produk dan tuntutan pelanggan. Perkembangan kegiatan usaha tersebut agar dapat berjalan dengan baik memerlukan berbagai infrastruktur pendukung yang memadai. Salah satu bentuk infrastruktur yang diperlukan adalah ketentuan-ketentuan yang terkait dengan akuntansi. Akuntansi dipandang sebagai salah satu infrastruktur yang penting karena melalui proses akuntansi inilah seluruh kegiatan, khususnya yang bersifat kuantitatif, akan didokumentasikan. Selanjutnya, melalui proses akuntansi ini, juga akan dihasilkan suatu laporan keuangan yang sangat berguna sebagai dasar untuk pengambilan keputusan para stakeholder perbankan. Laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan usaha harus memiliki kualitas yang baik. Suatu laporan keuangan dikatakan berkualitas jika memenuhi syarat karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari andal, relevan, dapat diperbandingkan (comparability), dan dapat dipahami (understandability). Untuk mencapai kualitas tersebut, suatu laporan keuangan harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU). Pondasi utama dari PABU di Indonesia adalah kerangka dasar (conceptual framework), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasinya. Sejalan dengan hal tersebut di atas dan terkait dengan penerapan revisi PSAK 50 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, maka menjadi sangat penting untuk revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Revisi PAPI ini juga diperlukan untuk memutakhirkan ketentuan dan peraturan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pedoman ini diharapkan sangat membantu bagi para pelaksana perbankan dalam mencatat transaksi perbankan sesuai dengan PSAK dan ketentuan perbankan terkini. Sehingga hal ini dapat lebih meningkatkan kredibilitas dan transparansi dunia perbankan.

v

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Akhirnya pada kesempatan ini kami Dewan Pengurus Nasional IAI mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan Bank Indonesia, khususnya Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, atas jerih payah dan kerja samanya dalam merevisi buku Pedoman Akuntansi ini. Semoga kerja sama ini dapat terus ditingkatkan lagi di masa mendatang.

Jakarta, Desember 2008 Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia

AHMADI HADIBROTO Ketua

vi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Pesatnya perkembangan industri perbankan, kompleksitas transaksi yang terjadi di dalamnya, dan besarnya tuntutan masyarakat akan transparansi bank, memicu perbankan untuk meningkatkan kemampuannya dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat. Demikian juga pada sisi pengaturan diperlukan adanya peraturan yang relevan dan dapat diimplementasikan dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan perkembangan terkini standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia terutama PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (revisi 2006): Pengakuan dan Pengukuran, maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ini perlu disempurnakan dengan standar terkini dan berbagai regulasi di sektor perbankan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Selanjutnya untuk menyempurnakan PAPI tersebut Bank Indonesia telah membentuk Tim Penyempurnaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Proses penyempurnaan PAPI dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan. Pertama, penelaahan atas PAPI tahun 2001 untuk mengidentifikasi ketentuan-ketentuan yang sudah tidak relevan. Kedua, penyusunan sistematika dan substansi isi PAPI tahun 2008. Ketiga, pengumpulan materi untuk penyempurnaan PAPI. Keempat, pembentukan tim kecil untuk merumuskan dan menelaah permasalahan tertentu. Kelima, perumusan draf PAPI tahun 2008. Keenam, Penyelenggaraan limited hearing untuk menampung masukan dari kalangan terbatas yang dianggap sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan akuntansi dalam bank. Ketujuh, menyempurnakan draft final PAPI. Dan kedelapan, menyerahkan PAPI kepada Bank Indonesia untuk disahkan pemberlakuannya. PAPI revisi tahun 2008 ini akan diterbitkan dalam 2 bagian, dimana bagian pertama (buku ini) diterbitkan terlebih dahulu yang didalamnya mengatur mengenai perlakuan dan pencatatan atas Surat berharga, Kredit, Penurunan nilai, Transaksi derivatif dan transaksi ekspor impor, sedangkan perlakuan dan pencatatan atas Ekuitas, Aset tetap, Laporan pendapatan dan beban, Laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, Catatan atas laporan keuangan dan Ilustrasi laporan keuangan akan disajikan dalam terbitan selanjutnya. Jakarta, Desember 2008 Tim Penyempurnaan PAPI

vii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia A. Lestari Shitadewi 2. Jacobie Henry W 14. Bank Negara Indonesia PT. Teguh Supangkat 3. Halim Alamsyah 4. SWD Murniastuti 5. Lestari Shitadewi 5. Bank Rakyat Indonesia PT. Sri Yanto 11. Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia viii . Indira 4. Eko Bramantyo 20. TIM PERUMUS 1. Adri Triwicahyo TIM TEKNIS 1. TIM PENGARAH 1. I Gde Made Sadguna 6. Hadad 3. Rabobank International Indonesia C. Fadjrijah 2. Mustofa 8. Khairani Syafitri 3. Nurwidodo Pristwanto Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia PT. Benny Hilman 21. Muliaman D. Bank Central Asia PT. Bank Niaga Citibank PT. Hari Sundjojo 18. Agus Edy Siregar 2. Siti Ch. Fathor Rachman 12. Bintoro Nurcahyo 17. Faisal Muttaqien Issom 10. Sri Yanita Dewi Irmawan 6. Rouli Erlyana A 16. Jusuf Wibisana B. Bank Mandiri PT. Teddie Pramono 9. Yakub 4. Darmawan 19. Ahdi Jumhari Luddin 7. Wisnu Kameswara A 13. M. Khairani Syafitri 7. Herdiana Achdan 15. Bank Rakyat Indonesia PT.A. Bank Mandiri PT. Bahrudin 8. M. G.

.... Keterbatasan Laporan Keuangan ........................ Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ................ D.......................................................................................................................................................................................... ix iv v vii viii 1 1 1 1 3 3 3 4 5 5 5 5 5 5 5 6 6 8 8 8 9 9 9 9 10 12 12 Bab II ............................................................. 10.............................................................. 7........................ Tanggung jawab atas laporan keuangan .................................................................................................................................... 14....................... E.......................................................... 2..................................................................................................... 9......................................... D....................................................... Informasi komparatif ................... Kerangka Dasar ...................................... B............................. Tujuan laporan keuangan . 6..... B............................................................................. 3.................................. Konsistensi penyajian....................................... Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia ........................... C................................................................ Bangun Prinsip Akuntansi Umum ............. A....................................................................... Tujuan dan Ruang Lingkup . 12........................... A............................................. 11................. Bahasa laporan keuangan ...... Acuan Penyusunan ............................................................................................................................. Ketentuan Lain-lain ................................................... Latar Belakang....... Bab I Pendahuluan .................................................................................................................................................... Laporan keuangan interim ................................. Materialitas dan agregasi........ Penyajian ...... 13................................. Laporan keuangan konsolidasi ............ C....................... Tujuan ..................................... 5........................... Mata uang pelaporan ............................................................. 1. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing ........Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Daftar Isi Sambutan Gubernur Bank Indonesia .......... Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia .......................................................................................... Saling hapus (Offse ng) ................................................................................................................... 2...... Ruang Lingkup ...................... Komponen laporan keuangan .......................................................................................... Kebijakan akuntansi ............ 4... 8......... Periode pelaporan ... 1............................ Laporan Keuangan....................................... Komponen Laporan Keuangan .....................................................................................

...................................... 15 15 15 26 27 27 29 31 31 31 31 41 45 48 58 61 62 72 72 72 73 74 74 78 78 78 81 83 85 86 88 90 90 90 x .......................................................................................................................... C....................................... Dasar Pengaturan ......................... E............... A........................................................... Ilustrasi Jurnal ............. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali ............ A.. A......................................... D.... Ilustrasi jurnal .......................................................................... B............ Penjelasan. Dasar Pengaturan ........................................... Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali ... C..... Penjelasan...................... A..... G................................................. B........................................................................... Perlakuan Akuntansi .. 2................. A..................................................................................................................................... Definisi .............. Aset Keuangan .................................................. F................................... H.......................... Pengungkapan ................... E...... Dasar Pengaturan ........................................................................................ Penerapan Secara Prospektif .................... 2........................................... Kewajiban Keuangan ..................... E......................... Ketentuan Lain-lain ... 1............................................................................................. Dasar Pengaturan ........... C........... Perlakuan Akuntansi ......... B.................................................................................................................................... D................................................................................... Contoh kasus ............................................................................................................................................................................................ Ilustrasi Jurnal .................................................. Bab IV Surat Berharga ........................................................................................................................................................................ Aset dan Kewajiban Keuangan ................................................ Penjelasan................. B....................................................................................... Laporan Keuangan Komparasi .................... Perlakuan Akuntansi ................................................... Definisi .................................................... Contoh Kasus ............................................. Definisi ..................... 1............................................................... Ketentuan Transisi ..................................................................... B..................... G.................................................................................................................................. Definisi ....... B......................................... Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali ........................................................... D................................................................... 4........ F................ A. Surat Berharga ................................................... Pengungkapan .....................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab III Penjelasan Umum .................................................. 3.....................................................

........................................................................................................ Definisi . C..................................................................................................... D............................................ G.......................................... E................................. Surat Berharga yang Diterbitkan ........ Contoh Kasus ................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia C........ C........................................................................................ Pengungkapan .................. Dasar Pengaturan ........... H......................................... E................................. F................................. A.................................................................................................................................... G.............. G................................. Perlakuan Akuntansi .. Contoh Kasus . Perlakuan Akuntansi ................................................ Penjelasan.. B..................... Ketentuan Lain-lain ...... Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit ...................................................................................................................................................................................................... Ilustrasi Jurnal ............................................................................. 2................ Contoh Kasus ................. Penjelasan............... Perlakuan Akuntansi .............................................. F............................. 1............. Penjelasan ........................................ Definisi ........................... 5............ Pengungkapan .................................................................. D. F............................. Dasar Pengaturan ................................................................................................................................................................................................................................................ Pemberian dan Penyaluran ................................. Ilustrasi Jurnal ............ Penjelasan .................... Perlakuan Akuntansi ............... A...................................................... Ilustrasi Jurnal .. G........................... D......................................................................................................................................................... E Ilustrasi Jurnal ...................................................................................................................................................................................................................... B.... Pengungkapan ......... F................................................................................ E...................... Contoh kasus........................................... C......... 92 94 95 96 96 98 98 98 105 107 108 112 112 117 117 117 118 124 132 138 149 152 178 178 178 182 201 203 205 206 206 xi ................... Bab V Kredit ...................................................................................................................... Pengungkapan ............................................................................................................. Dasar Pengaturan ............................. B. A Definisi .......................................... D....................................................................................................................

....................... Dasar Pengaturan............ Penjelasan ... Pengungkapan ............................................................................... H..... Ilustrasi Jurnal .............................................................................................................. Definisi ............ Dasar Pengaturan................................. E................................................................................................................................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab VI Transaksi Derivatif ... 217 217 218 227 260 270 279 281 289 289 291 297 301 308 323 323 324 xii ..................................................... G.............................. Perlakuan Akuntansi ...............................................................................................................................................Impor .......... C................................... Ilustrasi Jurnal .............. Contoh Kasus ......... F............................................ Perlakuan Akuntansi .......................................................... Ketentuan Lain-lain ......................... B............................................. G........................................................................................ Pengungkapan .............................................................................. F........................... Penjelasan ................................................................................................................................................... A............ Definisi ............................... D.............................................................................................. B............. E...... A....................... D.............................. Bab VII Transaksi Ekspor ............ Contoh kasus.............................. C............................................................................................................................................................................

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiii .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiv .

Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami. Walaupun demikian. Tujuan Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) antara lain adalah: a. c) pemegang saham. informasinya harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan antara lain meliputi: a) deposan. b) kreditur. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I1 . Akan tetapi. Oleh karena itu. perlu disadari pula bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bank. d) otoritas pengawasan. andal dan dapat diperbandingkan.Bab I I P e n d a h u l u a n Bab I Pendahuluan A. Untuk membantu pengguna dalam menyusun laporan keuangan agar sesuai dengan tujuannya. e) Bank Indonesia. B. Selain itu laporan keuangan bank juga bertujuan untuk pengambilan keputusan. kinerja serta perubahan posisi keuangan. Latar Belakang Laporan keuangan bank bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. yaitu untuk: 1) Pengambilan keputusan investasi dan kredit Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. dalam beberapa hal bank perlu menyediakan informasi nonkeuangan yang mempunyai pengaruh keuangan di masa depan. relevan. karena secara umum laporan keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. Tujuan dan Ruang Lingkup 1.

investor. 3) Memberikan informasi atas sumber daya ekonomi Pelaporan keuangan bertujuan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi bank (economic resources). Persepsi dari pihak-pihak yang berkepentingan atas kemampuan bank tersebut akan mempengaruhi harga pasar efek bank yang bersangkutan. g) lembaga penjamin simpanan. b. investor. dan kepastian dalam penerimaan kas di masa depan. kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham. Namun keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam PAPI tidak menghalangi masing-masing bank untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan sesuai kondisi masing-masing bank. dan pembayaran dividen. serta kemungkinan terjadinya transaksi dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan sumber daya tersebut. 2 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . kreditur dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah. Menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh perbankan dalam menyusun laporan keuangan. reinvestasi dalam operasi. kebutuhan operasional. 2) Menilai prospek arus kas Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung deposan. dan kreditur akan memaksimalkan pengembalian dana yang telah mereka tanamkan dan akan melakukan penyesuaian terhadap risiko yang mereka perkirakan akan terjadi pada bank yang bersangkutan. sehingga meningkatkan daya banding diantara laporan keuangan bank. dan h) masyarakat. Deposan. Prospek penerimaan kas sangat tergantung pada kemampuan bank untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. saat. c. Persepsi mereka umumnya dipengaruhi oleh harapan atas tingkat pengembalian dan risiko dari dana yang mereka tanamkan.Bab I I P e n d a h u l u a n f) pemerintah.

D. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan laporan keuangan. kecuali untuk hal-hal yang tidak diatur dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia tersebut. Jika PSAK memberikan pilihan atas perlakuan akuntansi. kesepakatan antar negara dan standar akuntansi negara lain. Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). Rerangka prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia adalah sebagai berikut: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I3 . Acuan Penyusunan Penyusunan PAPI didasarkan pada acuan yang relevan. Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. International Accounting Standard (IAS)/International Financial Reporting Standards (IFRS). 5. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ISAK). maka unit usaha syariah tersebut menggunakan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. Ruang Lingkup PAPI berlaku untuk bank umum konvensional. 2. maka diwajibkan untuk mengikuti ketentuan Bank Indonesia. C. 4. Bangun Prinsip Akuntansi Umum 1. 3. yaitu: 1. Perlakuan akuntansi atas suatu transaksi yang terjadi dalam bank harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam hal bank umum konvensional mempunyai unit usaha syariah.

3. IAS/IFRS. Jurnal dan pos yang digunakan dalam PAPI hanya merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat. Dalam hal terjadi pertentangan antara prinsip akuntansi dari berbagai sumber tersebut. Setiap lapisan di bawahnya menjadi landasan bagi lapisan yang berada di atasnya. maka harus mengikuti perlakukan akuntansi yang diatur di dalam kelompok yang posisinya menjadi landasan atau pada lapisan yang terletak lebih di bawah. ketentuan PSAK. 3. ketentuan Bank Indonesia. E. Transaksi bank yang dicantumkan pada PAPI diprioritaskan pada transaksi yang umum terjadi pada setiap bank. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam PAPI menggambarkan akuntansi secara manual dan tidak ada transaksi antar kantor/cabang. Ketentuan Lain-lain 1. Rerangka ini digambarkan seperti suatu bangunan rumah ‘Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia’. PAPI merupakan bagian dari Pedoman atau Kodifikasi Praktik Akuntansi Industri dalam struktur Rerangka Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia. Dengan demikian bank dapat mengembangkan metode pencatatan dan pembukuan sesuai sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil akhir yang tidak berbeda.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. 2. dan ketentuan lainnya yang terkait dengan sektor perbankan. PAPI secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan. 4 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia .

Tujuan laporan keuangan Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan. 4. Komponen laporan keuangan Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I5 . 2. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu yang sama dengan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia. laporan perubahan ekuitas. Bahasa laporan keuangan Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. kinerja.Bab II I L a p o r a n Keuangan Bab II Laporan Keuangan A. laporan laba rugi. maka laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan periode). dan catatan atas laporan keuangan. 3. Jika laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia. Apabila transaksi bank menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Tanggung jawab atas laporan keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan. perubahan ekuitas. Mata uang pelaporan Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. laporan arus kas. Kerangka Dasar 1. 5. Selanjutnya. arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: a. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan: a. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan. definisi. Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. pengukuran. Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan. persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait. c. c. dengan pengertian: 1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan. dan dapat diandalkan. perubahan ekuitas. 7. kinerja keuangan. b. dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan 5) mencakup semua hal yang material. disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan b. penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa. sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. b. 2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya. kriteria pengakuan dan pengukuran aset. 6 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . 4) mencerminkan kehati-hatian. kewajiban. Penyajian a.Bab II I L a p o r a n Keuangan 6. 3) netral. Kebijakan akuntansi Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank. relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan. penghasilan dan beban yang ditetapkan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). yaitu bebas dari keberpihakan. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas. dan pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b.

Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Selain itu. termasuk komitmen dan kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia e. g. 2) Perubahan kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila: a) penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca. Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru. laporan laba rugi dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan. juga wajib diungkapkan pengaruh material dari perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periodeperiode berikutnya.Bab II I L a p o r a n Keuangan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. d. I7 . f. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. atau b) diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase. Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Perubahan estimasi akuntansi Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank dan kegiatan lainnya.

10. i.Bab II I L a p o r a n Keuangan 3) Terdapat kesalahan mendasar Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah. kecuali: 1) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perbankan. Materialitas dan agregasi a. Saling hapus (Offsetting) a. laporan arus kas. 8 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada setiap lembar neraca. laporan laba rugi. 8. dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”. Di samping hal-hal di atas. sifat. c. sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. h. Selain itu alasan reklasifikasi juga harus diungkapkan. b. Informasi dianggap material apabila kelalaian untuk mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil. maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk memastikan daya banding. penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. b. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar-periode harus konsisten. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas. atau 2) perubahan tersebut diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuangan. dan jumlah. 9. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya. Konsistensi penyajian a.

Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca. dengan mencantumkan: a. b. Periode pelaporan Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. bank dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. laporan laba rugi. Selain itu untuk kepentingan pihak lainnya. Informasi komparatif a. b. laporan arus kas. laporan arus kas. 13. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan. Laporan keuangan konsolidasi Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi. dan catatan atas laporan keuangan. 12. triwulanan atau periode lain yang kurang dari satu tahun.Bab II I L a p o r a n Keuangan b. laporan keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I9 . 11. laporan perubahan ekuitas. b. 14. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan. Dalam hal bank baru berdiri. laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. laporan laba rugi. Laporan keuangan interim a. kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung nilai. laporan perubahan ekuitas. serta dengan aset dan kewajiban yang disalinghapuskan sebagaimana dimaksud di atas. Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam neraca. dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan. Penyusunan laporan interim dapat dilakukan secara bulanan. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. Sedangkan untuk laporan laba rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan.

e. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi. seperti dicerminkan dalam laporan-laporan berikut ini: 10 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi. Neraca. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi.Bab II I L a p o r a n Keuangan sejenis dari aset. Laporan laba rugi. Komponen Laporan Keuangan 1. Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan sepanjang: 1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. Perbankan wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan kepada bank sentral dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan. perubahan posisi keuangan. c. b. dibutuhkan adanya laporan keuangan bank yang menyediakan informasi-informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. dan beban. dan Catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan bank untuk tujuan umum terdiri dari: a. tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank. d. kewajiban. peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. d. dan catatan atas laporan keuangan. Laporan perubahan ekuitas. dan 2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. yang timbul dari transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi. 2. B. pendapatan. kinerja. b. ekuitas. maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut: a. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi. Laporan arus kas. e. Oleh karena itu. c. Untuk tujuan konsolidasi.

likuiditas. Laporan Perubahan Posisi Keuangan Informasi perubahan posisi keuangan bank. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 11 . kebutuhan investasi. informasi ini berguna dalam perumusan tentang efektivitas bank dalam memanfaatkan sumber daya. b. 2) Perubahan ekuitas Informasi perubahan ekuitas bank menggambarkan peningkatan atau penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Informasi ini berguna untuk memprediksi kemampuan bank di masa depan dalam menghasilkan kas dan setara kas. Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas. Laporan Posisi Keuangan Posisi keuangan bank dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan aset bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan atau kerugian yang berasal dari kegiatan bank selama periode yang bersangkutan. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus kas. pendistribusian hasil pengembangan dan arus kas. Informasi posisi keuangan bank tergambar dalam neraca. Selain itu. Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas bank dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. c. Laporan Kinerja Informasi kinerja bank diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi ini bermanfaat untuk menilai aliran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi.Bab II I L a p o r a n Keuangan a. dan solvabilitas. antara lain: 1) Perubahan kas dan setara kas Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai kemampuan bank menghasilkan arus kas dan setara kas serta kebutuhan bank untuk menggunakan arus kas pada setiap aktivitas. dan pendanaan. baik jangka pendek maupun jangka panjang. memprediksi kemampuan bank dalam memenuhi komitmen keuangan pada saat jatuh tempo. struktur keuangan. serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. investasi. Informasi kinerja bank tergambar dalam laporan laba rugi.

2.Bab II I L a p o r a n Keuangan C. Keterbatasan Laporan Keuangan Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. multi currency (lebih dari satu jenis mata uang). 2. 12 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 6. 5. yaitu kurs tengah yang merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul 16. baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. Hal ini disebabkan laporan keuangan memiliki keterbatasan. 3. antara lain: 1. Apabila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran. maka dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang paling kecil. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan saja. 3. 4. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing 1. single currency (satu jenis mata uang). Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang digunakan yaitu mata uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR). 7. Bersifat umum. Pengertian dan karakteristik: a. b. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar-bank. Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas). Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing terdapat dua metode yang dapat digunakan yaitu: a. Hanya melaporkan informasi yang material.00 WIB setiap hari. D. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian.

Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal (original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut. 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan langsung per rekening yang bersangkutan. Jika menggunakan single currency Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam Rupiah. diterbitkan neraca dalam base currency. 4. Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan sebagai berikut: a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 13 . 2) Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak menimbulkan selisih kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari. b. 3) penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata uang asing. saldo rekening biaya dan pendapatan mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya dan pendapatan rupiah.Bab II I L a p o r a n Keuangan Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut: 1) neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah. Penjabaran ekuivalen rupiah dari rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan neraca. b. 2) untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata uang. Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut: 1) neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing asal (original currency) yang digunakan. 2) saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara extracomptable. dan 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan melalui rekening perantara mata uang asing. 3) penjurnalan menggunakan pos rekening perantara. Jika menggunakan multi currency 1) Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam mata uang asal.

Bab II I L a p o r a n Keuangan Halaman ini sengaja dikosongkan 14 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Bab III Penjelasan Umum 1. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Aset keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut: 1) Diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. dan instrumen keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan umumnya digunakan untuk tujuan memperoleh laba atau fluktuasi harga jangka pendek atau marjin. Keputusan bank untuk menetapkan aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi serupa dengan pilihan kebijakan akuntansi. yaitu: a) Diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat (lazimnya 90 hari). b) Merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 15 . FVO hanya dapat digunakan: a) Untuk pengukuran instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran (combined/hybrid instrument) yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat yang ditetapkan oleh bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Aset Keuangan 1. Aset dan Kewajiban Keuangan A. atau c) Merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Istilah diperdagangkan umumnya mencerminkan aktivitas pembelian dan penjualan yang bersifat aktif dan berulang. 2) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option/FVO). Kategori Aset Keuangan a.

instrumen derivatif harus diakui dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b) Jika dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan karena: (1) Mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasardasar yang berbeda. atau bagian dari kelompok aset dan kewajiban keuangan yang terkait untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. kelompok aset dan kewajiban yang terkait. Transaksi aset dan kewajiban keuangan tidak perlu dilakukan pada saat yang bersamaan untuk memastikan keterkaitan antara 16 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank dapat menetapkan aset keuangan dan kewajiban keuangan yang terkait. Untuk dapat mengeliminasi atau mengurangi mismatch tersebut secara signifikan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Sejalan dengan PSAK 55. atau nilai wajar (fair value) dapat menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch). Pendekatan mixed measurement dalam PSAK 55 yang memungkinkan kategori aset dan kewajiban keuangan diukur berdasarkan biaya (cost). biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). yaitu dalam sub kategori Diperdagangkan kecuali derivatif tersebut merupakan instrumen lindung nilai yang mengikuti penerapan akuntansi lindung nilai. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran nilai wajar tidak dihindari dengan melekatkan instrumen derivatif pada kontrak atau instrumen keuangan lainnya yang tidak diukur pada nilai wajar. Aset dan kewajiban keuangan yang saling terkait pada saat pengakuan awal dapat diakui dalam kategori yang berbeda sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya mismatch pada saat pengukuran selanjutnya karena terjadinya perubahan nilai aset dan kewajiban sehingga berdampak pada pengakuan keuntungan atau kerugian. PSAK 55 juga mensyaratkan derivatif melekat untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi sebagaimana halnya derivatif yang berdiri sendiri (freestanding deriva ves).

Dokumentasi dilakukan secara basis portofolio. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 17 . Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (a) Penetapan nilai wajar (FVO) harus dilakukan terhadap seluruh instrumen keuangan yang dikelola dan dievaluasi secara bersama-sama. (2) Kelompok aset keuangan. Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi tersebut selanjutnya diinvestasikan dalam aset keuangan yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual dan diukur pada nilai wajar. serta terdapat hubungan ekonomis antara aset dan kewajiban keuangan. yaitu menggunakan FVO. misalnya Direksi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum keduanya. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. Transaksi dapat dilakukan dalam suatu rentang waktu yang wajar berdasarkan spesifikasi dari instrumen keuangan tersebut. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari bank. dan penetapan untuk menggunakan FVO dilakukan pada saat pengakuan awal aset dan kewajiban keuangan. Sebagai contoh: Bank menerbitkan obligasi bersuku bunga tetap dan mengkategorikan sebagai Kewajiban Lainnya yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Bank dapat menyimpulkan bahwa laporan keuangan akan memberikan informasi yang relevan jika aset dan kewajiban masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Hal ini menimbulkan ketidakkonsistenan atau perbedaan pengukuran terhadap aset dan kewajiban yang saling terkait tersebut. (b) Dokumentasi harus mencukupi sehingga dapat menunjukkan bahwa penggunaan FVO konsisten dengan manajemen risiko atau strategi investasi bank. dan tidak perlu dilakukan terhadap setiap item instrumen keuangan. Penetapan tidak dapat dilakukan hanya terhadap beberapa instrumen keuangan dalam suatu kelompok yang dikelola bersama sebagai suatu portofolio.

kecuali: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. c. b. 3) Bank memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang telah ditetapkan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (c) Evaluasi manajemen dan kinerja kelompok aset dan kewajiban keuangan harus didasarkan atas total laba (return) yang terkait dengan laba atas aset dan/atau kewajiban keuangan sebagai suatu portofolio atau kelompok dan bukan atas setiap item instrumen keuangan. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 2) Penilaian terhadap intensi positif dan kemampuan bank harus dilakukan pada saat pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya setiap tanggal neraca (termasuk neraca interim). dan 18 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tersedia untuk Dijual 1) Aset keuangan non derivatif yang ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. serta bank mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. 2) Termasuk aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual antara lain mencakup investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.

sepanjang bank sebagai pemegang aset keuangan memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki hingga dibeli kembali oleh penerbitnya atau hingga jatuh tempo. d. 6) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo. 5) Termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) aset keuangan dengan suku bunga variabel. yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. dimana bank memiliki opsi jual. atau b) tidak terdapat peraturan hukum atau batasan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. b) aset keuangan yang dapat dibeli kembali oleh penerbitnya atas dasar opsi beli dan bank dapat memperoleh kembali nilai tercatat aset keuangan secara substansial. yaitu hak untuk meminta penerbit melunasi atau membeli kembali aset keuangan sebelum jatuh tempo. dan c) aset keuangan yang mengalami kemacetan pembayaran.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) tidak bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu kecuali dalam situasi yang tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi sebelumnya. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. kecuali: a) Aset keuangan yang dimaksudkan oleh bank untuk dijual dalam waktu dekat. dan b) Aset keuangan yang dapat dijual kembali. 4) Bank memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. sepanjang pembayaran kontraktual sudah ditetapkan atau dapat ditentukan. serta Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang pada saat pengakuan awal Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 19 .

dan e) Penempatan dalam bentuk saham preferen di bank lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan. baik yang berasal dari pembelian maupun penerbitan oleh bank sendiri. b) Investasi dalam reksadana atau yang serupa. b) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual.Bab III I P e n j e l a s a n Umum oleh bank ditetapkan sebagai aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. tidak dikuotasikan di pasar aktif. atau c) Aset keuangan dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial selain yang disebabkan oleh penurunan kualitas aset keuangan. c) Penempatan pada Bank Indonesia. 2) Aset keuangan yang dapat memenuhi definisi aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Kredit yang diberikan. dan tidak memenuhi definisi instrumen ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. dan diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. dan c) Investasi dalam instrumen utang yang dicatatkan di pasar aktif. d) Penempatan pada bank lain. Misalnya. 3) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Aset keuangan dimana bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh investasi awalnya selain karena penurunan kualitas kreditnya. 20 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 4) Perbedaan utama antara kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang dengan kategori aset keuangan lainnya adalah bahwa kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang bukan merupakan subyek dari tainting rule yang berlaku bagi kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b) Piutang usaha.

b) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya jika pada saat pengakuan awal instrumen keuangan tersebut telah ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (FVO). dapat direklasifikasi ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. c) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. Setiap keuntungan atau kerugian yang telah diakui dalam laporan laba rugi tidak boleh dijurnal balik. mana yang dapat diterapkan. Reklasifikasi Aset Keuangan a. b) Kondisi yang jarang terjadi dapat timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. c) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori lainnya ke dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi setelah pengakuan awal. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan (yang ditujukan untuk dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat) dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 2) Dalam kondisi yang jarang terjadi (rare circumstances). dengan memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Diperdagangkan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. d) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1) Bank tidak dapat: a) mereklasifikasi instrumen derivatif dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya selama instrumen derivatif tersebut dimiliki. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 21 .

atau d) Penjualan atau reklasifikasi tersebut terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali bank. misalnya penurunan peringkat 2 tingkat atau lebih dibandingkan peringkat awal. dapat diandalkan. Penjualan atau Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Bank dapat menjual sebelum jatuh tempo atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual tanpa menimbulkan pertanyaan mengenai intensi dan kemampuan bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo hanya jika: a) Jumlah aset keuangan yang dijual atau direklasifikasi tidak lebih dari jumlah yang tidak signifikan (not more than insignificant) dibandingkan dengan total seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. (2) Perubahan peraturan perpajakan yang mengeliminasi atau secara signifikan mengurangi status pengampunan pajak (tax forgiveness) atas pendapatan bunga yang diperoleh dari aset keuangan. 22 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . sepanjang pendekatan digunakan secara konsisten. c) Bank telah memperoleh kembali secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadual pembayaran atau bank telah memperoleh pelunasan dipercepat. b) Aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (misalnya kurang dari 3 bulan sebelum jatuh tempo) dimana diperkirakan dalam jangka waktu tersebut tidak terjadi perubahan suku bunga yang akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan. yang dapat tercermin dari: (a) penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat yang tidak dapat diantisipasi secara logis. yang dapat mencakup hal-hal berikut: (1) Penurunan kredibilitas penerbit atau debitur secara signifikan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b. atau (b) penurunan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal bank. tidak berulang. dan obyektif. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh bank.

maka bank: a) tidak dapat mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo selama periode tahun berjalan terjadinya penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dan 2 tahun buku berikutnya. dan (5) Perubahan ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM). dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 23 . 3) Termasuk sebagai penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena perubahan intensi adalah penjualan atau reklasifikasi yang disebabkan perubahan manajemen. yaitu peningkatan signifikan tingkat kecukupan modal dan/atau peningkatan signifikan bobot risiko aset keuangan sehingga memaksa bank harus melakukan perampingan dengan menjual aset keuangan. 2) Dalam hal terjadi perubahan intensi atau kemampuan bank sehingga aset keuangan tidak tepat lagi diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Penjualan atau reklasifikasi tersebut akan menimbulkan pertanyaan mengenai intensi bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. (4) Perubahan ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang secara signifikan mengubah aturan mengenai jenis investasi dalam aset keuangan yang diperbolehkan atau jumlah maksimum investasi jenis tertentu sehingga bank harus menjual aset keuangan. 4) Dalam hal bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi pada angka 1) tersebut di atas. maka aset keuangan tersebut harus direklasifikasikan menjadi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dimana manajemen baru memutuskan untuk menjual sebagian aset keuangan tersebut untuk mendanai strategi ekspansi yang telah ditetapkan dan disetujui Direksi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (3) Penggabungan usaha menyeluruh atau pelepasan unit atau segmen usaha yang penting yang mengharuskan bank menjual atau mengalihkan aset keuangan untuk mempertahankan tingkat risiko suku bunga dan/atau tetap mematuhi kebijakan risiko kredit.

atau c) pengenaan sanksi untuk tidak boleh mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo telah terlewati.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) wajib mereklasifkasi sisa portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke dalam kategori Tersedia untuk Dijual (tainting rule). c. Artinya. sehingga ukuran yang andal atas nilai wajar tidak lagi tersedia. 6) Jika bank telah menjual atau mereklasifikaskan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi lainnya sebagaimana pada angka 1) diatas. 5) Penetapan batasan jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) didasarkan pada persentase tertentu dari total seluruh aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dalam hal bank wajib dikenakan ketentuan dalam angka 4) di atas. maka hal yang sama juga diberlakukan terhadap seluruh perusahaan anak (termasuk yang berada di negara lain) yang memenuhi kriteria untuk dikonsolidasi sehingga akan tercermin dalam laporan konsolidasi bank. b) dilakukan dalam kondisi yang jarang terjadi yang timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. maka bank tidak dapat mengklasifikasikan setiap aset keuangan yang dimilikinya dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi. 2) Apabila bank mereklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena terjadi perubahan intensi atau kemampuan. maka harus dipastikan bahwa: a) Bank memang memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Bank dapat mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo jika: a) terdapat perubahan intensi atau kemampuan bank. Bank tidak memiliki intensi positif jika: 24 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 25 . kebutuhan likuiditas. atau perubahan risiko mata uang asing. perubahan ketersediaan dan tingkat imbal hasil atas investasi aset keuangan lain. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Tersedia untuk Dijual. atau (2) bank adalah subyek dari peraturan hukum yang berlaku atau batasan lainnya yang dapat mengganggu intensinya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. perubahan sumber dan syarat pembiayaan. b) Setiap keuntungan dan kerugian atas aset tersebut yang telah diakui secara langsung dalam ekuitas (pendapatan komprehensif lainnya) harus dicatat dengan cara sebagai berikut: (1) dalam hal aset keuangan memiliki jatuh tempo yang tetap. 4) Reklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. Bank tidak memiliki kemampuan jika: (1) tidak memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. atau (3) penerbit aset keuangan memiliki hak untuk melakukan pembayaran kembali atau pelunasan pada suatu jumlah yang secara signifikan lebih rendah dari biaya perolehan diamortisasi. (2) bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu sebagai reaksi terhadap perubahan suku bunga atau risiko pasar. maka keuntungan atau kerugian yang terjadi diamortisasi pada laporan laba rugi selama sisa umur investasi dimiliki hingga jatuh tempo dengan menggunakan metode suku bunga efektif. ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 3) Dalam kondisi yang jarang terjadi. b) Bank memang memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (1) bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang di masa datang yang belum ditetapkan. jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo.

2. 26 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. Kewajiban Keuangan Kewajiban keuangan dapat dikategorikan sebagai: 1. maka keuntungan atau kerugian tetap diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dijual atau dilepaskan dan pada saat itu keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi. Kewajiban lainnya Kewajiban keuangan selain yang memenuhi kriteria kewajiban keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 3) Kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. 2) Kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller. Kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi yang sama dengan kondisi penetapan aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b. yaitu bank yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (2) dalam hal aset keuangan tidak memiliki jatuh tempo yang tetap. dan 4) Kewajiban keuangan yang merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama-sama dan atas bagian tersebut ditemukan bukti adanya pola ambil untung jangka pendek terkini. mana yang dapat diterapkan. Kewajiban keuangan yang masuk kategori Diperdagangkan antara lain mencakup: 1) Kewajiban derivatif yang tidak dilaporkan sebagai instrumen lindung nilai. B. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.

Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). . Sedangkan untuk transaksi yang terjadi sebelum 1 Januari 2010 dan masih memiliki saldo pada 1 Januari 2010. . Ketentuan Transisi A.Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal. Instrumen keuangan selain surat berharga Kategori Pengukuran Awal Pengukuran Selanjutnya Nilai wajar Keterangan Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Tersedia untuk Dijual Nilai tercatat 1 Januari 2010 Pinjaman ditambah/dikurangi yang biaya transaksi dan Diberikan dan premi/diskonto yang Piutang belum diamortisasi (nilai tercatat awal) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Nilai wajar Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 27 . Diukur pada Nilai Wajar Nilai tercatat 1 melalui Januari 2010 Laporan Laba Rugi Biaya perolehan yang diamortisasi dengan suku bunga efektif 2.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Instrumen keuangan surat berharga Bank dapat mereklasifikasi surat berharga yang dimiliki pada 1 Januari 2010 tanpa terkena dampak reklasifikasi (tainting rule dan larangan mengklasifikasikan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam tahun berjalan dan dua tahun berikutnya). maka perlakuan akuntansi sebagai berikut: 1. . Penerapan secara prospektif dilakukan untuk transaksi yang dilakukan mulai 1 Januari 2010. . Penerapan Secara Prospektif PAPI diterapkan secara prospektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada 1 Januari 2010. .

Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. . . . .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal. .Bab III I P e n j e l a s a n Umum Dampak reklasifikasi pada 1 Januari 2010 diakui dalam laporan laba rugi atau ekuitas tahun 2010 dan pengukuran awal adalah sebagai berikut: Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). . Sda - - Tersedia untuk Dijual Diperdagangkan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Saldo selisih penilaian dikeDiukur pada Nilai luarkan dari ekuitas dan diakui Wajar melalui Lalangsung pada laporan laba poran Laba Rugi rugi untuk Tersedia Tersedia Dijual untuk Dijual Dimiliki Hingga Saldo selisih penilaian di ekuiJatuh Tempo tas diamortisasi dan diakui Pinjaman yang pada laporan laba rugi sampai Diberikan dan dengan jatuh tempo Piutang Sda Sda Sda 28 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Namun. bank harus mengungkapkan perbedaan yang disebabkan oleh perubahan standar akuntansi maupun kebijakan akuntansi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui secara langsung pada laporan laba rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Tersedia untuk dijual - Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui pada ekuitas - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Sda Sda B. Laporan Keuangan Komparasi Dalam menyajikan laporan keuangan komparasi yaitu untuk posisi Desember 2009 dan Desember 2010. bank tidak harus menyesuaikan penyajian atau klasifikasi pospos dalam laporan keuangan posisi Desember 2009 untuk memastikan daya banding jika penyesuaian tersebut tidak praktis dilakukan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 29 .

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 30 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). Efek beragun aset adalah surat berharga yang diterbitkan oleh penerbit berdasarkan aset keuangan yang dialihkan oleh kreditur asal. Surat Berharga A. Surat berharga adalah surat pengakuan utang. 2. dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. atau setiap derivatifnya. Dasar Pengaturan 1. 5. atau suatu kewajiban dari penerbit.Bab IV I S u r a t Berharga Bab IV Surat Berharga 1. sekuritas kredit. 3. Obligasi konversi (convertible bond) adalah obligasi yang mengandung fitur opsi konversi (convertible option) yang memberikan hak kepada pembeli obligasi untuk mengkonversi obligasi ke dalam sejumlah saham tertentu pada tanggal yang telah ditetapkan dan harga konversi yang telah disepakati. B. Definisi 1. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. jika dan hanya jika. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 31 . obligasi. wesel. (PSAK 55: Paragraf 14) Pembelian atau penjualan aset keuangan yang lazim (reguler) diakui dan dihentikan pengakuannya menggunakan salah satu di antara akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA68–PA71). Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). atau kepentingan lain. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. (PSAK 55: Paragraf 38) 2. 4.

(PSAK 55: PA68) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. biaya pendanaan (financing costs). Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif.. perantara efek dan pedagang efek. 8. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. entitas mengukur pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok.. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. 6. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab IV I S u r a t Berharga 3.. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek.. 32 I P e d o m a n . Untuk tujuan ini. 5. (PSAK 55: Paragraf 49) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. (PSAK 55: PA 79) ..Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. aset yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari aset yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. lihat juga paragraf 91). 7. konsultan.. (PSAK 55: Paragraf 8) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) aset keuangan diakui menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian sebagaimana dijabarkan dalam paragraf PA70 dan PA71. (PSAK 55: PA26) Akuntansi Perbankan Indonesia 4. Metode yang digunakan diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan aset keuangan yang masuk dalam kategori aset keuangan yang sama sebagaimana didefinisikan dalam paragraf 8.

(ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. (PSAK 55: Paragraf 8) 10. atau (ii) kelompok aset keuangan. Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan.Bab IV I S u r a t Berharga 9. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. b. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7 tentang Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa). karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). kecuali: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 33 . serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA29– PA38). Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. misalnya Direksi. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11.

18) 12. kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut: (i) dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya. Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo umumnya tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok investasi dimiliki hingga jatuh tempo karena tidak konsisten dengan tujuan pembelian fitur konversi tersebut. (PSAK 55: Paragraf 8) 11. .. tidak berulang. (ii) terjadi setelah entitas berhasil menagih hampir seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pembayaran awal. investasi yang sebelum pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. c.2: B. dan investasi yang memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang.Bab IV I S u r a t Berharga a. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. (Panduan Implementasi No. investasi yang ditetapkan oleh entitas dalam kelompok Tersedia untuk Dijual. kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo) dimana perubahan suku bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut. (Panduan Implementasi No. b. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo).Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga.. atau (iii) terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali entitas.. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut. Namun demikian.2: C. yaitu memperoleh hak untuk mengkonversi menjadi ekuitas merupakan derivatif melekat.3) 34 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo.

(PSAK 55: PA39). (PSAK 55: Paragraf 8) 14... Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. Namun.. 15. (PSAK 55: Paragraf 8) 16. Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. (b) investasi yang diklasifi kasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut (lihat paragraf 8 dan PA29–PA38). piutang dagang. investasi dalam instrumen utang. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. maka biaya-biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 35 .. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang.Bab IV I S u r a t Berharga 13.

atau pelepasan lain.Bab IV I S u r a t Berharga 17. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. maka biaya transaksi diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif.1) 18. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. (PSAK 55: PA87) 20. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan.. maka biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Jika entitas memiliki aset yang dan kewajiban dimana risiko pasarnya saling hapus. . badan pengawas (pricing service or regulatory agency). (PSAK 55: PA86) 19. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. maka harga yang digunakan dalam transaksi terkini memberi bukti mengenai nilai wajar saat ini. Kuotasi harga pasar yang sesuai bagi aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan biasanya sama dengan harga penawaran yang berlaku.. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur 36 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kelompok industri. Setelah pengakuan awal. dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar. Untuk aset keuangan tersedia untuk dijual. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. pada nilai wajarnya.. perantara efek (broker). entitas mengukur aset keuangan. jika harga yang dikuotasikan tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin dari bursa.. Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif. sepanjang kondisi ekonomi tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak transaksi tersebut terjadi.1. maka entitas dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi risiko yang saling hapus tersebut dan menerapkan harga penawaran atau harga permintaan terhadap posisi terbuka neto. (Panduan Implementasi No. Apabila harga penawaran dan harga permintaan tidak tersedia. mana yang lebih sesuai. biaya transaksi diakui dalam ekuitas sebagai bagian dari perubahan nilai wajar pada penilaian kembali. (PSAK 55: Paragraf 46) 21.2: E. pedagang efek (dealer). sementara untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki adalah harga permintaanya.

maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule).. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. (PSAK 55: PA20) 25. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya)... entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut.. (PSAK 55: Paragraf 57) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 37 . keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47).. dan melalui proses amortisasi. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 8) 22. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Jika.. (PSAK 55: Paragraf 53) 24. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). dan seluruh premium atau diskonto lainnya. (PSAK 55: Paragraf 52) 23. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. Pada saat menghitung suku bunga efektif. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. biaya transaksi. Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi...Bab IV I S u r a t Berharga dari instrumen keuangan. atau jika lebih tepat.

b. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. 38 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . f. (PSAK 55: Paragraf 59) 27. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikaskan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. jika dan hanya jika. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). c. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan d. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Jika terdapat bukti tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga 26. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. e. pelanggaran kontrak. pihak pemberi pinjaman. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a.

(PSAK 55: Paragraf 65) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 39 . Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. (PSAK 55: Paragraf 64) 29. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui.Bab IV I S u r a t Berharga sejak pengakuan awal aset dimaksud. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. (PSAK 55: Paragraf 60) 28.

hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). Jika. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit penerbit). dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. (PSAK 55: Paragraf 66) 31. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. Jika. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 68) 32. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. jika dan hanya jika: a. b. (PSAK 55: Paragraf 8) 34. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: Paragraf 71) 33. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 17) 35. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau 40 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik secara langsung.Bab IV I S u r a t Berharga 30. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan.

negosiasi wesel ekspor. Dalam pengertian surat berharga termasuk. Penjelasan 1. Surat berharga yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari surat berharga yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Efek Beragun Aset (EBA).Bab IV I S u r a t Berharga kewajiban jasa pengelolaan. Dalam pembukuan surat berharga. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 41 . antara lain. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. (PSAK 55: Paragraf 24) C. Surat berharga yang dapat dimiliki bank mengikuti peraturan perundang-undangan dan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. bank dapat menggunakan tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian yang harus diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan surat berharga yang masuk dalam kategori yang sama. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. 3. 2. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. dan reksa dana (termasuk penempatan dana awal bank sebagai sponsor dalam reksa dana). Surat Utang Negara. Sertifikat Bank Indonesia. credit links notes.

Tersedia untuk Dijual 2) Surat berharga yang dimiliki/dibeli dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok surat berharga tersebut secara substansial. Pinjaman yang Di. Surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo terbatas pada surat berharga utang dengan tujuan memperoleh pendapatan bunga dan surat berharga utang tersebut baru akan dicairkan pada saat jatuh tempo.Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah berikan dan Piutang ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. yang bukan disebabkan penurunan kualitas surat berharga. 1) Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Dimiliki Hingga 2) Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk Jatuh Tempo memiliki surat berharga tersebut hingga jatuh tempo. surat berharga yang dimiliki/dibeli dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. Kategori Surat Berharga a. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. Kategori Surat Berharga Keterangan 1) Surat berharga yang dimiliki/dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat.Bab IV I S u r a t Berharga 4. Surat berharga utang tidak boleh diklasifikasikan dalam kategori ini apabila maksud pemilikannya hanya untuk periode yang tidak ditentukan dan Tersedia untuk Dijual untuk menghadapi: 42 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu: No. 1) Surat berharga yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 2) Surat berharga yang pada saat dibeli ditetapkan Diukur pada Nilai untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Wajar melalui LaporRugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan an Laba Rugi untuk diperjualbelikan. Secara umum. 1 2 3 4 b. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut.

dan 4) perubahan dalam risiko mata uang asing. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar surat berharga dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. b. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Evaluasi penurunan nilai untuk surat berharga dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. 6. 5. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia b. Kuotasi di pasar aktif. 7. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi.Bab IV I S u r a t Berharga 1) Perubahan tingkat bunga pasar dan perubahan yang berhubungan dengan risiko yang sejenis. 8. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. 3) perubahan dalam ketersediaan dan hasil investasi alternatif. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap surat berharga dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. I 43 . 2) kebutuhan likuiditas. Penurunan Nilai a. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif.

44 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. Oleh karena itu. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat surat berharga sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. 9. Misalnya. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. issuer melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebihi antisipasi bank.Bab IV I S u r a t Berharga c. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. Dalam kondisi tersebut. 10. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat surat berharga. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit issuer). b. atau 2) Bank telah mentransfer surat berharga tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. maka setiap penerimaan pembayaran dari issuer akan langsung mengurangi nilai tercatat surat berharga. Dalam laporan keuangan. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari issuer untuk membayar pokok atau bunga. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas surat berharga yang dibeli/dimiliki jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut. 2) Apabila issuer melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. Pemulihan penurunan nilai a. Nilai tercatat surat berharga setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Penghentian Pengakuan a. Pembayaran setelah surat berharga mengalami penurunan nilai 1) Setelah surat berharga mengalami penurunan nilai.

Pada saat pembelian surat berharga. Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan surat berharga yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat surat berharga karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari surat berharga tersebut. 12. bank mengakui “Surat berharga yang dimiliki” sebesar nilai wajar. Pelaksanaan penghapusbukuan surat berharga dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Surat berharga dalam kategori Pencatatan pada saat pembelian 1 2 3 4 Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada Diukur pada Nilai Wajar melalui saat pengakuan awal umumnya sama dengan Laporan Laba Rugi harga pembelian surat berharga Tersedia untuk Dijual Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo memperhitungkan pendapatan dan/atau bePinjaman yang Diberikan dan ban yang dapat diatribusikan langsung pada pembelian surat berharga. yaitu: No. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 45 . Meskipun tidak termasuk dalam kriteria penghentian pengakuan bank dapat mengeluarkan surat berharga yang dihapusbuku dari neraca. c d 11. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Dalam laporan keuangan konsolidasi. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat surat berharga dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. Surat berharga dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%.Bab IV I S u r a t Berharga b. D.

ditambah atau dikurangi dengan amortisasi Piutang kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. b. 1 Surat berharga dalam kategori Pencatatan setelah pembelian 2 3 4 Sebesar nilai wajar. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). bank mencatat “Surat berharga yang dimiliki” sebagai berikut: No. Keuntungan atau kerugian yang Tersedia untuk Dijual timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui secara langsung dalam ekuitas. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Sebesar nilai wajar. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui 46 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam hal surat berharga dibeli di antara tanggal pembayaran bunga. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. maka pembayaran bunga tersebut bukan merupakan bagian dari biaya perolehan. Selanjutnya. Untuk surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Keuntungan atau kerugian yang Diukur pada Nilai Wajar melalui timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga Laporan Laba Rugi diakui pada laporan laba rugi. tetapi dimasukkan dalam pos pendapatan bunga yang masih akan diterima. Setelah pembelian surat berharga. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. 3. 4. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan dan pokok.

Reklasifikasi surat berharga diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. Selanjutnya. Perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai. 5. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. 6. 7. penghentian pengakuan dan hapus buku/hapus tagih surat berharga mengacu pada Bab mengenai Kredit. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. harus diakui sebagai berikut: a. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 47 . keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. namun harus diamortisasi selama masa manfaat surat berharga dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi atau diskonto. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. pemulihan penurunan nilai. b.Bab IV I S u r a t Berharga dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.

. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db/Kr. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1.. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Pada tanggal transaksi Db. E. Surat berharga . yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara Pinjaman yang Diberikan dan nilai awal dan nilai jatuh temponya dan dikurangi 4 Piutang penurunan nilai. Beban/pendapatan Kr/Db./Giro BI 3. Rekening lawan . yaitu: No.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Surat berharga disajikan di neraca sesuai kategori.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 48 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening.Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas surat berharga yang dimiliki. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Surat berharga dalam kategori Penyajian pada neraca Diukur pada Nilai Wajar melalui 1 Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar 2 Tersedia untuk Dijual 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .

Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db.. Kas/Rekening.Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Bab IV I S u r a t Berharga b. Pendapatan bunga surat berharga 7./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 4.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 49 . Surat berharga . Kas/Rekening. Tagihan komitmen pembelian surat berharga 6 Pada saat pengakuan bunga Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db./Giro BI Kr. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Surat berharga .. Penyesuaian nilai wajar a. Pendapatan bunga yang akan diterima 8. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr. Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Pada tanggal penyelesaian Db.. Rekening lawan . Surat berharga . Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.

Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a. Surat berharga ../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db/Kr.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Kerugian/keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga ./Giro BI atau Db/Kr. Surat Berharga yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (asumsi menggunakan tanggal perdagangan) 1..Bab IV I S u r a t Berharga 9.. Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db/Kr. Kas/Rekening..Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db/Kr.. Surat berharga . Pada saat menjual: Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga . Surat berharga . Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Pada saat jatuh tempo: Db. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db.. Kas/Rekening.. c.. e..Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Db/Kr. Pada saat penjualan: a./Giro BI (Sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b. Surat berharga . Kas/Rekening.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Realisasi keuntungan/kerugian dari penjualan surat berharga Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b. Kas/Rekening./Giro BI Kr. Surat berharga . 50 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada saat membeli: Db. Pendapatan bunga d.../Giro BI Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kas/Rekening. Kas/Rekening./Giro BI Kr.

. e.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo Db. Kas/Rekening..Bab IV I S u r a t Berharga 2. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b. Kas/Rekening.. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr.. Kas/Rekening./Giro BI Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db.. Kas/Rekening.. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a./Giro BI (sebesar harga pembelian) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 51 . Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db../Giro BI Kr.. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Pada saat pembelian surat berharga Db. Kas/Rekening. 3./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db. Pada saat membeli: Db.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr./Giro BI atau Db/Kr.. c. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr../Giro BI Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a../Kr. f. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga Db./Giro BI Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db/Kr. d.

Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr..Bab IV I S u r a t Berharga b. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr.. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a. Pada saat membeli: Db.. Kas/Rekening. d. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c./Giro BI Db/Kr.... Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat menjual: Db. Kas/Rekening. 52 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . e./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi: Db. 4. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. f. Kas/Rekening./Giro BI atau Db/Kr.. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Kas/Rekening.. Kas/Rekening.. Kas/Rekening../Giro BI Kr.. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Kas/Rekening./Giro BI Kr./Giro BI atau Db/Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db../Giro BI (sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr.... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Kas/Rekening..

maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. e. Kas/Rekening. f... b. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo d. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 53 . Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi: Db./Giro BI Kr.... Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db../Giro BI Db/Kr. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan kepada issuer dijurnal balik jika penerbit menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Pendapatan bunga surat berharga Db. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. 5. Asumsi penurunan nilai terjadi pada periode berjalan. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai. a. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Membatalkan pengakuan pendapatan bunga Db. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db./Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga c.

Kerugian penurunan nilai surat berharga Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event). Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr.Bab IV I S u r a t Berharga 6. 54 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Db. Pendapatan b. Kerugian penurunan nilai surat berharga jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku. c. Pendapatan 8. dan bukan merupakan adjusting subsequent event. b. c. Db. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana penyesuaian tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya issuer rating). a. dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Db. 7. a. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Saldo laba jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db.

Surat berharga – Tersedia untuk Dijual b. Kas/Rekening. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 55 . Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Rekening lawan . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr..Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr. Rekening lawan . Kas/Rekening. Pendapatan/Beban bunga (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) 3. Kas/Rekening./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db. Pada saat penyelesaian Db.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.Bab IV I S u r a t Berharga Surat berharga yang Tersedia untuk Dijual (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1...Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. 4. Ekuitas .. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db./Giro BI Kr/Db. Pada tanggal transaksi Db.. Ekuitas ./Giro BI atau Db/Kr..

Pendapatan komprehensif lain Kr./Giro BI Kr. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi: Db./Giro BI Kr. 9. Ekuitas .. Pada saat penjualan: a./Db Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Selisih antara pembayaran yang diterima dengan nilai tercatat diakui sebagai keuntungan/kerugian penjualan surat berharga Db Kas/Rekening./Kr. 56 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) Kr. Ekuitas . Kas/Rekening./Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b.Tersedia untuk Dijual Db.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db..Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) b. Pendapatan bunga yang akan diterima 8.Bab IV I S u r a t Berharga 6. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat: Db. Surat berharga ... Keuntungan/kerugian kumulatif pada ekuitas diakui dalam laporan laba rugi Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr/Db. 7. Penyesuaian nilai wajar: a.Pendapatan komprehensif lain Kr. Ekuitas . Surat berharga . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr.

Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat) atau Db.Tersedia untuk Dijual Kr. Db. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 57 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Melakukan jurnal balik pendapatan komprehensif lain pada ekuitas (jika sebelumnya bank telah mengakui peningkatan nilai wajar) Db.Bab IV I S u r a t Berharga 10. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. Surat berharga . Ekuitas . Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr.Pendapatan komprehensif lain Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. a. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Pendapatan b. Ekuitas . Asumsi bukti obyektif diperoleh pada periode berjalan. Apabila terdapat penurunan nilai. Surat berharga . c. Reklasifikasi Surat Berharga 1. Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku pada periode berjalan Db. d.Pendapatan komprehensif lain Kr.Tersedia untuk Dijual Pengakuan kerugian penurunan nilai Db. Cadangan kerugian penurunan nilai atau Melakukan reklasifikasi atas pendapatan komprehensif lain pada ekuitas ke dalam laporan laba rugi (jika sebelumnya bank telah mengakui penurunan nilai wajar) Db. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr.

Pendapatan bunga 2) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih besar dari nilai nominal Db. Amortisasi atas selisih penilaian surat berharga yang belum direalisasi (ekuitas) 1) Jika saldonya positif Db. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai wajar pada saat pengalihan) Amortisasi untuk penyesuaian nilai wajar surat berharga ke nilai nominal sampai jatuh tempo 1) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih kecil dari nilai nominal Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. b.Bab IV I S u r a t Berharga 2. F. Pendapatan bunga Kr. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga dalam penyusunan laporan keuangan.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Keuntungan dari perubahan nilai wajar 2) Jika saldonya negatif Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c.Pendapatan komprehensif lain b. Surat berharga . Ekuitas . Kerugian dari perubahan nilai wajar Kr. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo a. Ekuitas . Surat berharga . Saat reklasifikasi Db. 58 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan.Pendapatan komprehensif lain Kr. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Surat berharga .

c. 3. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Jumlah surat berharga yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Total nilai tercatat surat berharga awal yang dialihkan. 5.Bab IV I S u r a t Berharga 2. jika bank tetap mengakui seluruh bagian surat berharga. Jenis surat berharga. jika bank tetap mengakui sebagian surat berharga sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). b. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. dan nilai tercatat kewajiban terkait. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. d. c. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan surat berharga yang masih tetap berada di bank. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 59 . Nilai tercatat surat berharga dan kewajiban terkait. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga. d. 4. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. yaitu: a. Tersedia untuk Dijual. c. b. b. Pengalihan surat berharga yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh surat berharga. 6. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. 7. nilai tercatat surat berharga yang tetap diakui bank. dengan rincian berikut: a.

Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. dan pihak penjual proteksi surat berharga dalam transaksi credit derivative). Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. Analisis tersebut mencakup: a. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. b. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada butir a diatas. c. Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. kebijakan. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. Tujuan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada) Pengungkapan kuantitatif 9.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 8. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat. Informasi mengenai kualitas kredit diluar surat berharga yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 60 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang diperingkat dan yang tidak diperingkat.

(2) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat internal. 10. G.Bab IV I S u r a t Berharga (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 11. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. 2) Tipe/jenis penerbit. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga. antara lain sektor ekonomi dan geografi. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas surat berharga sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. Nilai tercatat surat berharga yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 61 . dan d. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. mata uang. berdasarkan jangka waktu. Jumlah surat berharga yang dimiliki berdasarkan segmentasi. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate).

Obligasi ini dibeli untuk dimiliki hingga jatuh tempo pada tanggal 1 Juni 2011. Surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada tanggal 1 Juni 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp.000.30.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Contoh Kasus 1. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010.000. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.425 dengan tagihan bunga (purchased interest) sebesar Rp.000.000.1.000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.Bab IV I S u r a t Berharga H.000.000 dengan kupon bunga 8% pada 99. 15. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. 20.000. (Lihat Tabel 1) 62 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Untuk membeli obligasi dimaksud.

000.466 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif (c) Amortisasi Diskono/ Premium (d) = (c) .715 7.031.000.441 475.00 1.00 1.007.202 468.00 Bab IV I S u r a t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Berharga I 63 .000.466.075.000.924.609.486.840 493.000) (5.486.624.000.399.000.000 7.000.564 455.605.00 1.000.840 493.111.046 996.111.700 7.111 6.00 1.000.534 0 Pembayaran Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R 399.532 476.649.111 6.000.745 487.000.466 (5.466) 0 994.000.350.000.270 505.00 1.000.000.000.771 513.000.393.111 6.00 6.533.000.(b) Diskonto/ Preimum yang belum Diamortisasi (e) 04-Jun-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 1.912) (1.961.000.790 498.606.000.562.099 995.750.532 7.468) (4.000 994.923 998.598.000.126.660 7.675 6.077) (1.901) (4.00 1.811 494.000.954) (3.487 997.000.364.444 7.702) (2.532 476.616.00 1.444.634 7.652 998.888.111.000.088 998.237) (513.889 7.811 494.038.968.000.591.553 7.000.111.889 7.348) (1.873.771 513.111.745 487.000.513.301 996.00 1.000.899.000.000.441 475.532 995.992.111 6.000.000.000.000.Tabel 1: Estimasi Arus kas masa datang surat berharga-Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Effective Interest Rate: 7.00 1.763 999.111 6.111.437.567 480.678 7.382.250.000.00 1.952 7.89% Tanggal Kupon 1.513) (2.357.111 7.587.111.567 480.564 455.000.000.790 498.298 997.888.00 1.314 7.270 505.000.889 7.901 7.000.699) (3.577 399.888.111 7.000.202 468.

000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db. 36.532 e.000 Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 30 Juni 2010 1) Pengakuan bunga dan amortisasi diskon Db. 994..000.399. Pendapatan bunga surat berharga Rp. 6.000 Kr. 6.. 399.250.250. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db.250.. Kas/Rekening. 1./Giro BI Pencatatan surat berharga pada tanggal 4 Juni 2010 Db. c. 994.000 Kr.399. 30.000 Db. 15./Giro BI Rp. Tagihan komitmen . Rekening lawan tagihan komitmen Rp.000 b.532 Kr.250. Beban pembayaran fee Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a.000 Rp.532 Kr..pembelian surat berharga Rp.000. Pendapatan bunga yang akan diterima .024.532 2) Pembayaran kupon obligasi Db.250. Tagihan komitmen .000.000 994. 994. Kas/Rekening. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.250. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp. Rp. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp. 399. Kas/Rekening. 994..000 15.surat berharga Kr. 36./Giro BI Rp.pembelian surat berharga Rp.. Rp.000 d. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. Rp. 64 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.

Kas/Rekening. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp.. Untuk membeli obligasi dimaksud. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 1 Juni 2010. Kas/Rekening.1.000 dan kupon bunga 8% per tahun pada harga par. Kas/Rekening.. bank XYZ membeli 4 (empat) obligasi pemerintah dengan nilai nominal Rp. Diasumsikan pengakuan keuntungan penjualan surat berharga dilakukan pada saat tanggal penyelesaian.000..000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 65 .000. f.Tersedia untuk Dijual Kr. Pada saat jatuh tempo tanggal 1 Juni 2011 Db. 4.000. Jurnal Transaksi a.000.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal untuk pengakuan bunga.000 Rp.000 Rp. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010. Surat berharga . 4.000.000. Surat berharga . 15.000.000.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db. 4.000.000.000.000.000. Untuk menjual obligasi dimaksud. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000. amortisasi diskon dan pembayaran bunga selanjutnya sama dengan jurnal di atas. yaitu tanggal 1 Juli 2010. c. 15.000.000. 4. Tagihan komitmen . Rp../Giro BI Pada saat penyelesaian tanggal 4 Juni 2010 Db.000 2.000 Kr. Rp.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp.000. 1. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp 15. Pada tanggal 29 Juni 2010 bank XYZ menjual surat berharga pada 102.pembelian surat berharga Rp.000. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp./Giro BI Kr.000. Beban pembayaran fee Kr.000 b. Rekening lawan Tagihan komitmen Rp. 1.000. 20./Giro BI Rp..000 15.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari..000.

000.080.000.000 15.000 Kr. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.000./Giro BI Rp. 4. Kewajiban komitmen . Keuntungan penjualan surat berharga Rp. Rp.000. 4.000.080. Kas/Rekening.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.000.000 24. 4.000 Pada saat pengakuan bunga pada tanggal 30 Juni 2010 Db.000. Tagihan komitmen .pembelian surat berharga Rp..000. Rp.000 Kr. 4.080. Kewajiban komitmen .000. 4. 15. Rekening lawan .000 Melakukan jurnal balik komitmen penjualan surat berharga Db.080.. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db.. 80.080.000 f.000 Kr. 4.08 X 27/360) e. Kas/Rekening.000.000.penjualan surat berharga Rp. h.000 X 0.Tersedia untuk Dijual Rp. 4.000 Kr.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 29 Juni 2010 Db. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 29 Juni 2010 Db.000. 4.000. Pendapatan bunga surat berharga (4. Surat berharga .000. 24./Giro BI Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima Surat berharga Kr. Rekening lawan .Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.000.000. Penyelesaian transaksi penjualan pada tanggal 1 Juli 2010 Db.000.penjualan surat berharga Rp. Beban pembayaran fee Kr.000 Kr.000 g. Rp.000 66 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga d.000..

Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. Bank XYZ membeli obligasi Rp. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 9 Juli 2010. 15.250. Pada tanggal 4 Agustus 2010 bank menjual obligasi pada 99. Amortisasi diskon dari tanggal 1 Agustus sampai dengan tanggal 4 Agustus 2010 adalah Rp.000. Asumsi harga pasar pada tanggal 31 Juli 2010 adalah 99. (Lihat Tabel 2) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 67 .000.000 dengan kupon bunga 5% pada 99 dengan accrued interest sebesar Rp.000.000. 20. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 6 Juli 2010.000.50 dan penyelesaian dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2010.Bab IV I S u r a t Berharga 3. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Untuk membeli obligasi dimaksud. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.86.000.219.000.1.30.1.

000 1.000.638 520.542 993.542.632 995.556 476.960 62.242 4.000.000 1.000.444 4.000.697) (7.638 520.444 694.000.305.68 I P e d o m a n Bab IV I S u r a t Effective Interest Rate Tabel 2: Estimasi Arus Kas Masa Datang Surat Berharga – Tersedia untuk Dijual : 5.000.295 (0) - “Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e)” (10.000.705) (0) .994 4.525.472.164.983 5.139 996.000 1.000.705 990.444.295 (0) Pembayaran Pokok (a” Pendapatan Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat amount (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R Nilai Wajar pada akhir periode Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .566 997.426 41.000 29.000.000 1.444.390) (4.222.116 997.610 995.638 648.444 4.000 1.819.000.444.610 995.604.395.592) (9.900.642 707.525.458) (6.000.123.960 62.000.251) (6.900.444 4.449 990.472 991.444 4.305.000.638 648.556 4.749 993.992.684.110 991.000.000.380 998.835 994.000.151.010.193 672.000 476.000 1.884) (2.550 678.264 703.794.444.525.778 4.000.022 999.446 654.000.000 1.000.303 992.620) (1.404 479.000 1.604.566 997.116 997.778 3.580.667 277.000.860 4.205.854.649.859.749 993.264 703.859.000.444.380 998.449 1.476.978 689.000.180.148.000.000 1.000.305.973 4.529 671.164.110 991.983.960.529 671.542.000.311.444 4.978) (688.000.835 994.000 1.890) (8.953.087 5.315.556 4.022 999.893 798.293 682.525.000 Pendapatan Bunga Sesuai Suku Bunga Efektif (c) 3.449 103.146.139 996.528) (8.523.193 672.835.000.116.542 993.592 1.000.000.819 5.305.140.444.976.000 1.000.261 Keuntungan/ Kerugian yang Belum Direalisasi pada Ekutias 990.551) (9.000.748 5.000 1.194.717 4.427 696.000 1.444 416.222 4.273 688.853.140.556 4.000) (9.000.444 4.368) (4.000 1.670.444 4.000 1.684.853.472 991.000 19.000 1.434) (2.798 621.180.000.000 1.426 41.293 682.093 319.476.738 5.642.000 990.145.457.305.854.755 5.000 990.000.415 3.000.165) (5.205.133.165 990.474.777.000.419.474.000.550 678.099.408 990.000.444.303 992.127.357.273 688.861) (3.994.978 689.222.446 654.642 707.000.556 4.020.000.793 679.891 4.000.357.632 995.835 990.348 5.705 3.793 679.427 696.419.311.798 621.000.449 103.(b) Berharga Akuntansi Perbankan Indonesia 09-Jul-10 31-Jul-10 04-Agust-10 06-Agust-10 07-Agust-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Agust-11 30-Sep-11 1.165) (9.80% Tanggal Kupon 1.000.027.

000. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.893 4.05 x 4/360)] Db. Rp.922 Keuntungan yang belum direalisasi 2...05 x 8/360)] Kr.000 Kr. f. Kas/Rekening. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.250. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Rp.000 x 0. 86. 555.pembelian surat berharga Rp. Pencatatan penerimaan bunga pada tanggal 31 Juli 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima [(1.088* b. Rp.556 [(1.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 6 Juli 2010 Db.000 991. [(1. Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 31 Juli 2010 Db.000. Rp.000.000 x 0. Beban pembayaran fee Kr.444 4. Rp.444 2.surat berharga Rp.250./Giro BI Kr.000.670. c. g.444 3... 15.449 3.000.000 15. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp. 990. Rp. Pendapatan bunga surat berharga Rp./Giro BI Rp.000.219 Kr Pendapatan bunga .506. Kas/Rekening.000.000.088 Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a.493. Rp. 641.444. Surat berharga . d.pendapatan komprehensif lain * Harga wajar 993.000 x 0.000.000 Nilai buku 990..775 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 69 .000..000 476. e. Kas/Rekening.506.194.Tersedia untuk Dijual Rp.088* 2. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Db. Ekuitas . Rp. Tagihan komitmen .444. Pendapatan bunga yang akan diterima Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Juli 2010 Db./Giro BI Penyelesaian transaksi pada tanggal 9 Juli 2010 Db.000. 990.000.05 x 23/360)] Kr. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 6 Juli 2010 Db.000 990. Db.000 1.506. Pencatatan pengakuan bunga (selama 4 hari) pada tanggal 4 Agustus 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp.

556 i.000 – 990.580.Tersedia untuk Dijual Rp. 555.000.468 Db.1.000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. 15. 4.049.000 dengan kupon 8% pada harga par.580.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.506. Kas/Rekening.088 Kr Surat berharga .580.580./Giro BI Rp. 991. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal perdagangan. 4. Surat berharga dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Diperdagangkan) Pada tanggal 14 Januari 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp.141 Pencatatan penyelesaian penjualan surat berharga pada tanggal 5 Agustus 2010 Db.419.Bab IV I S u r a t Berharga h.141 Kr Keuntungan penjualan surat berharga Rp. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 4 Agustus 2010 Db. Asumsi : Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari..141 Kr. harga pasar 101. Bank XYZ menjual surat berharga di 102 pada tanggal 6 Februari 2010 dengan tanggal penyelesaian 7 Februari 2010. Kewajiban komitmen . 991.penjualan surat berharga Rp. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010.141) Kr Pendapatan bunga yang akan diterima – surat berharga Rp. 70 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. Rekening lawan . 994. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Rp.000.000.859 (995. 2. Untuk membeli obligasi dimaksud.. 991. Pada tanggal 31 Januari 2010.

Kas/Rekening.333. Rp.. Rp. Rp.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 71 .000.000./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima . Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.surat berharga Kr.333.028. Kas/Rekening. 10.. Keuntungan atas surat berharga Pengakuan bunga pada tanggal 6 Februari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima.333 1.000 x 0.. Pendapatan bunga surat berharga (1.000.556 d.000 Rp.010.000./Giro BI Kr. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 14 Januari 2010 Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Surat berharga . Rp.surat berharga Kr.000 x 0.000.08 x 16/360) Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Januari 2010 Db. 1. Rp. Keuntungan penjualan surat berharga Rp. Rp.000 x 0.000.000 Rp. Pendapatan bunga surat berharga (1. Rp.000. c./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 14 Januari 2010 Db.000. 8.333. 1.. 15.000.555. 10... Rp.000./Giro BI [(1. 1.000.000.000 10. g.222. Rp. e. Pendapatan bunga yang akan diterima .000. 3.08 x 15/360] Pembelian surat berharga pada tanggal 14 Januari 2010 Db.000 15.333 f..333.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Pendapatan bunga yang akan diterima . Kas/Rekening.000. 1.08 x 6/360) Penjualan surat berharga pada tanggal 7 Februari 2010 Db Kas/Rekening.000 1.000.000.555.surat berharga Kr. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.333 3. Beban pembayaran fee Kr.222 Rp.333 b.222 Rp.556 3.. Rp.222.000 3.surat berharga Kr.000 Rp.

(Panduan Implementasi No. Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – aset yang secara substansial sama. a. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan Surat Berharga.2: B.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Dasar Pengaturan 1. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan 2.18) Contoh-contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip penghentian pengakuan dalam Pernyataan ini. Jika pihak yang menerima transfer memiliki hak untuk menjual atau menggadaikan aset dimaksud. misalnya sebagai aset yang dijaminkan atau piutang pembelian kembali. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji dibeli Kembali A. Definisi Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) adalah surat pengakuan utang jangka pendek dan jangka panjang yang diterbitkan oleh bank atau pihak ketiga bukan bank yang dijual dengan janji untuk dibeli kembali dari pembeli dengan harga yang telah disepakati pada awal transaksi. b. maka pihak yang mentransfer akan mereklasifikasi aset dimaksud di neracanya. atau jika aset keuangan tersebut dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset dimaksud akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. 72 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka aset tersebut tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset tersebut akan dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pihak pemberi pinjaman. Namun demikian. B.

Untuk transaksi repo yang tidak memenuhi kriteria penghentian pengakuan (derecognition) maka surat berharga tetap berada pada pihak bank penjual dan tetap disajikan sebagai portofolio surat berharga bank. Jika bank memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau 2.Bab IV I S u r a t Berharga dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pemberi pinjaman. karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset tersebut. maka bank harus memastikan dapat mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. Dalam transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). maka aset yang dijual atau dijaminkan dalam transaksi pembelian kembali atau transaksi dengan jaminan surat berharga tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. bank menjual surat berharga kepada pihak lain dengan harga tertentu dan berjanji untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu. (PSAK 55: PA66) C. atau jika aset keuangan dipinjamkan atau dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 73 .. memberi hak kepada penerima transfer untuk mensubstitusi aset yang ditransfer dengan aset serupa dan memiliki nilai wajar yang setara pada tanggal pembelian kembali.. dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban pembelian kembali surat berharga yang dijual dengan syarat repo. Dalam hal bank melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Penjelasan 1. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – hak substitusi. c. Jika perjanjian penjualan efek dengan janji dibeli kembali dengan harga pembelian kembali yang sudah ditetapkan atau harga yang setara dengan harga jual awal ditambah keuntungan pemberi pinjaman. Bank dapat melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam seluruh kategori surat berharga. atau transaksi serupa untuk transaksi dengan jaminan surat berharga. maka aset dimaksud tidak dihentikan pengakuannya. Selanjutnya.

3. Surat berharga Penerimaan dana dari transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db..Bab IV I S u r a t Berharga memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali Kr. D. Ilustrasi jurnal Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali 1. Reklasifikasi surat berharga Db. 3. 2../Giro BI Kr. Dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban.) 2. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali tetap diakui sebagai aset keuangan dalam neraca bank. E. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (Jika terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan pada transaksi repo dan memenuhi persyaratan amortisasi. maka bank harus melakukan amortisasi sampai dengan jatuh tempo kontrak repo. Surat berharga yang dimiliki dan diserahkan sebagai jaminan pinjaman yang diterima tanpa perjanjian repo tidak termasuk dalam surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 74 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pengakuan dan pengukuran surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali mengacu pada perlakuan akuntansi untuk Surat Berharga. Kas/Rekening. maka bank harus mereklasifikasikan surat berharga tersebut. Penyajian Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan dalam pos yang terpisah dari surat berharga lainnya yang tidak di-repo.

Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 4. 3. d. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. 5. 6. c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 75 . b. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. b. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah.Bab IV I S u r a t Berharga F. Tersedia untuk Dijual. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. c. yaitu: a. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. 2. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi.

(3) Jumlah ekposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Analisis tersebut mencakup: a. kebijakan. Informasi mengenai kualitas kredit surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Pengungkapan kuantitatif 8. Tujuan. b. Analisis terhadap surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan klasifikasi surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. 76 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . consumer loans.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 7. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. dan sebagainya). maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). commercial loans.

9. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. antara lain sektor ekonomi dan geografi. mata uang. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. berdasarkan jangka waktu. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.Bab IV I S u r a t Berharga b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. (2) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat internal. 10. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan segmentasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 77 . dan c. Nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 2) Tipe/jenis penerbit. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.

entitas mengukur pada nilai wajarnya. 5. Dasar Pengaturan 1. atau 2.. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. (PSAK 55: PA 79) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. (PSAK 55: Paragraf 14) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan.. jika dan hanya jika. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. B. (PSAK 55: Paragraf 49) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: (a) Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.Bab IV I S u r a t Berharga 3. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali A. lihat juga paragraf PA91). entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)).. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. 4. 78 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3. Definisi Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali adalah tagihan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). (PSAK 55: Paragraf 43) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat.. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian.

maka biaya- 7. …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. (b) investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihakpihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan.Bab IV I S u r a t Berharga (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). 8. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didoku-mentasikan.... Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 79 . misalnya Direksi. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan.. (PSAK 55: paragraf 8) . (PSAK 55: PA39) Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. (b) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau (ii) kelompok aset keuangan. (PSAK 55: paragraf 8) 6. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan.

(PSAK 55: Paragraf 8) 10. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 46) 12. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. entitas mengukur aset keuangan. serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi 80 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. konsultan. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. diukur pada biaya perolehan. (PSAK 55: PA26) 11. dan (c) investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. biaya pendanaan (financing costs). (PSAK 55: PA82) 9. atau pelepasan lain. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo sesuai definisi paragraf 8.. Setelah pengakuan awal. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. perantara efek dan pedagang efek.

Dalam transaksi pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. dimana surat berharga tetap diakui oleh bank penjual. (PSAK 55: paragraf 60) 14.Bab IV I S u r a t Berharga yang telah direvisi. maka bank pembeli akan mencatat sebagai tagihan reverse repo. (PSAK 55 : PA20) 13. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 81 . Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. Dalam hal transaksi reverse repo memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Penjelasan 1. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal .. jika dan hanya jika. (PSAK 55: paragraf 8) C. 2. … Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. bank membeli surat berharga dengan harga tertentu dan berjanji untuk menjual kembali dengan harga tertentu. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan).. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi.

1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan.Bab IV I S u r a t Berharga 3. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). tagihan reverse repo dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki tagihan reverse repo tersebut hingga jatuh tempo. Kategori Tagihan Reverse repo Keterangan 1) Tagihan reverse repo yang dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. 1) 2 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 2) Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. yaitu: No. yang bukan disebabkan penurunan kualitas tagihan reverse repo. 3 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. Kategori Tagihan Reverse Repo Secara umum. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. 1) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 5. Kuotasi dipasar aktif. 82 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 4. Reklasifikasi Tagihan Reverse Repo Penjelasan mengenai reklasifikasi tagihan reverse repo dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. 4 Tersedia untuk Dijual 2) Tagihan reverse repo yang dimiliki dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok tagihan reverse repo tersebut secara substansial.

Bab IV I S u r a t Berharga b. 6. Penurunan Nilai a b Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap tagihan reverse repo dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. yang pada saat pengakuan awal Diukur pada Nilai Wajar melalui umumnya sama dengan jumlah pembayaran yang Laporan Laba Rugi dikeluarkan. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. bank mengakui “Tagihan reverse repo” sebesar nilai wajar. Pada saat melakukan transaksi reverse repo. yaitu: Tagihan reverse repo dalam kategori No. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada Pinjaman yang Diberikan dan tagihan tersebut. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 83 . D. 7 Penghentian Pengakuan Penghentian pengakuan tagihan reverse repo dapat mengacu pada penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Evaluasi penurunan nilai untuk tagihan reverse repo dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif.

b. 3. Setelah pengakuan awal bank mencatat “Tagihan reverse repo” sebagai berikut: Tagihan reverse repo dalam kategori No. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. Selanjutnya.Bab IV I S u r a t Berharga 2. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Selanjutnya. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Keuntungan/kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam ekuitas. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Untuk tagihan reverse repo dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. Keuntungan/kerugian yang timbul Diukur pada Nilai Wajar melalui dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba Laporan Laba Rugi rugi. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Piutang efektif. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar. 84 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif.

E. Kas/Rekening. yaitu: No.. Tagihan reverse repo Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2... Tagihan reverse repo Kr./Giro BI atau Db/Kr. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Keterangan 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Tagihan reverse repo disajikan di neraca sesuai kategori.. Beban bunga/Pendapatan bunga Kr/Db. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Pinjaman yang Diberikan dan efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai Piutang jatuh temponya dan dikurangi penurunan nilai. Tagihan reverse repo Kr/Db. Pada awal transaksi tagihan reverse repo: Db. Kas/Rekening... Kas/Rekening. 3. 1 2 3 Tagihan reverse repo dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar. 4. Kas/Rekening./Giro BI Kr. Pendapatan bunga tagihan reverse repo Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo Db. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas tagihan tersebut. Tagihan reverse repo (sebesar pendapatan bunga dan amortisasi biaya transaksi) Kr../Giro BI (sebesar jumlah yang dibayarkan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr../Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi biaya transaksi: Db. Ilustrasi Jurnal 1. I 85 .

Bab IV I S u r a t Berharga F. b. Tersedia untuk Dijual. 6. kebijakan. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas tagihan reverse repo sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan tagihan reverse repo yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan reverse repo (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan reverse repo) dan agunan. 5. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan reverse repo dalam penyusunan laporan keuangan. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. yaitu: a. c. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan reverse repo dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). 86 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Jumlah tagihan reverse repo yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. d. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. 4. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan reverse repo. Tujuan. c. Pengungkapan kualitatif 7. 2. 3. b. b. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Perubahan nilai wajar atas tagihan reverse repo yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 87 . dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan reverse repo pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. Informasi mengenai kualitas kredit diluar tagihan reverse repo yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan reverse repo. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. (3) Jumlah ekposur tagihan reverse repo yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya. b. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. Analisis terhadap tagihan reverse repo berdasarkan klasifikasi tagihan reverse repo yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. Analisis tersebut mencakup: a. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kuantitatif 8. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan reverse repo sebagaimana pada butir a) di atas. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. maka pengungkapan mencakup: c.

namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. dimana Bank A setuju untuk melakukan pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali kepada Bank B sebesar Rp. berdasarkan jangka waktu. 5. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung sebesar Rp. 9. Untuk membeli surat berharga dimaksud. Jumlah tagihan reverse repo yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Contoh kasus Karena kelebihan dana (likuiditas).000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%.000. Nilai tercatat tagihan reverse repo yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. dan tingkat bunga tagihan reverse repo yang dihitung secara rata-rata.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010.000. Jumlah tagihan reverse repo yang dimiliki berdasarkan segmentasi.Bab IV I S u r a t Berharga (1) Proses pemeringkatan internal. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian penempatan dana dalam bentuk transaksi pembelian surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali.000. antara lain sektor ekonomi dan geografi. 88 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. 2) Tipe/jenis penerbit. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.000. dan d. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). 20. mata uang. (2) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat internal. 1. G. 10. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan reverse repo. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp.

000. Tagihan reverse repo Rp..666.010.666.000. 5. 6.000 5.000. 1../Giro BI 2. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 5.000. Rp. Kas/Rekening.6667 6.333 Rp.. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db. Pengakuan bunga tanggal 15 Februari 2010 Db. 1.. Kas/Rekening. Pengakuan bunga tanggal 31 Januari 2010 Db.000. 1./Giro BI 3.000. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 4.333..000 Rp.010.000. Kas/Rekening..000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 89 .333.000. Beban pembayaran fee – tagihan reverse repo Kr. Rp. 3. Tagihan reverse repo Kr. Rp. Penyelesaian transaksi pada tanggal 2 Januari 2010 Db.000 Rp. Tagihan reverse repo Kr./Giro BI Kr.333 3. Tagihan reverse repo Kr.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi 1.000 Rp.6667 Rp. 1. Rp.000 Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo tanggal 15 Februari 2010 Db.

yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. 90 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. Dasar Pengaturan 1. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). jika dan hanya jika. Definisi Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali adalah kewajiban kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). (PSAK 50: Paragraf 7) 2.Bab IV I S u r a t Berharga 4. 3. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). (PSAK 55: Paragraf 14) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. B. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a) Kewajiban kontraktual: (i) Untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain.. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. . Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali A. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. atau (ii) Untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut.

tergantung pada perubahan nilai wajarnya). kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar.. entitas mengukur pada nilai wajarnya. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 91 . . dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan.Bab IV I S u r a t Berharga b. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. b) kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller (yaitu entitas yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut). c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi:…. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi 6. (PSAK 55: PA28) 5. misalnya Direksi. atau (ii) kelompok aset keuangan. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda.

C. 92 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. dan melalui proses amortisasi. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dapat timbul dari: a.. atau transaksi short sell yang dilakukan oleh bank reverse repo. 9.. (PSAK 55: Paragraf 8) 7. (PSAK 55: Paragraf 39) 8. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). (PSAK 55: Paragraf 8) Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. Penjelasan 1. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. b. jika dan hanya jika. kewajiban keuangan tersebut berakhir. transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali yang dilakukan bank repo.Bab IV I S u r a t Berharga kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. yaitu bank yang membeli surat berharga dengan janji dijual kembali. (PSAK 55: Paragraf 57) Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas.

Reklasifikasi Kewajiban Atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Kategori Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali merupakan kewajiban keuangan yang dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori. 4. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. yaitu: No.Bab IV I S u r a t Berharga 2. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Kategori Kewajiban Keuangan 1) Keterangan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang timbul dari transaksi short sell (sebagaimana pada angka 1) b). Kuotasi dipasar aktif. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) 3. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 93 . Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. b. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option.

Bab IV I S u r a t Berharga D. bank mengakui “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebesar nilai wajar. Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada kewajiban tersebut. Pada saat timbul kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi untuk kredit. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. yaitu nilai wajar kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan 2 Biaya Perolehan Diamortisasi janji dibeli kembali yang diukur pada saat pengakuan awal (amortised cost) dikurangi pembayaran pokok. bank mencatat “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebagai berikut: No. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. yaitu: No. 4. 1 3. 1 Kewajiban dalam kategori Pencatatan pada saat penerbitan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar yang pada saat pengakuan awal umumnya melalui Laporan Laba Rugi Biaya Perolehan sama dengan jumlah pembayaran yang diterima. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. 94 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Setelah pengakuan awal. 2 Diamortisasi (amortised cost) 2. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan. yaitu 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. Pada saat jatuh tempo transaksi repo Db. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (kewajiban repo) (sebesar jumlah pembayaran yang diterima) 2./Giro BI Kr. Beban bunga Kr. Kewajiban repo 4. I 95 .. Kas/Rekening...Kewajiban repo Kr. Mencatat pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db./Giro BI Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3. Kas/Rekening. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Keterangan E. Ilustrasi Jurnal 1. Kas/Rekening.. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Beban bunga Kr. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar./Giro BI atau Db. Kewajiban repo Kr.. Kas/Rekening. yaitu: No... Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Amortisasi beban bunga dan biaya transaksi Db..

dimana Bank A setuju untuk melakukan penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali dari Bank B sebesar Rp. Contoh kasus Karena kekurangan dana (likuiditas). b. yaitu: a.000. 20. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Untuk menjual surat berharga dimaksud. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank A sebesar Rp. 96 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . G.000. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian perolehan dana dalam bentuk transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi.000.Bab IV I S u r a t Berharga F. 1. 3.000.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. b. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. 5.000. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 2. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa.000. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.

666. Rp./Giro BI Rp. Pengakuan beban bunga pada tanggal 15 Februari 2010 Db.000.000 Rp.000.333 3. 1.667 Rp. Kewajiban repo Kr... Beban pembayaran fee Kr. 1.333 Rp. 1. Pada saat jatuh tempo transaksi repo tanggal 31 Januari 2010 Db. Kas/Rekening. Beban bunga – Kewajiban repo Kr. 5. Db.. Kewajiban repo e. Rp.. Beban bunga – kewajiban repo Kr.666.000 Pencatatan penyelesaian transaksi repo pada tanggal 2 Januari 2010 Rp. 6. 3.010.667 6.010. Kas/Rekening./Giro BI Kr. 1.000. Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal transaksi a. Kas/Rekening.000.000. Pengakuan beban bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 97 ..000 Rp.000 Rp. Kewajiban repo c.333.000.333./Giro BI b.000.000. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db..000 5. Kewajiban repo d.

kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu: (i) non derivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. Dasar Pengaturan 1. B. atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan pemegang instrumen ekuitas (holder) dalam kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan pihak penerbit. atau (ii) derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas.Bab IV I S u r a t Berharga 5. atau suatu kewajiban dari penerbit. wesel. atau (ii) untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. 2. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a. untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pihak lainnya (holder). Fitur penting dalam membedakan antara kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas adalah adanya kewajiban kontraktual satu pihak dari instrumen keuangan (penerbit). Kewajiban kontraktual: (i) untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. Definisi Surat berharga adalah surat pengakuan utang. Surat Berharga yang Diterbitkan A. instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa yang akan datang. atau setiap derivatifnya. obligasi. Walaupun pemegang instrumen ekuitas mungkin berhak menerima dividen atau bentuk distribusi ekuitas lainnya secara pro rata. (PSAK 50: Paragraf 7) b. pihak penerbit tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk melakukan distribusi 98 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. Untuk tujuan ini. sekuritas kredit. atau kepentingan lain.

(PSAK 50: Paragraf 13) 3. 6. (PSAK 50: Paragraf 14) Jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menghindari penyelesaian kewajiban kontraktualnya berupa penyerahan kas atau aset keuangan lainnya. bisa saja secara tidak langsung menciptakan kewajiban melalui persyaratan dan kondisi yang ada padanya. menyerahkan atau mempertukarkan instrumen keuangan merupakan suatu instrumen keuangan. (PSAK 50: PA6) Hak atau kewajiban kontraktual untuk menerima.. merupakan dasar bagi penggolongannya dalam neraca entitas. Sebagai contoh.. 5... dan surat saham (capital notes)) biasanya memberikan hak kontraktual kepada pemegangnya untuk menerima pembayaran bunga setiap tanggal tertentu dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Substansi dari instrumen keuangan. jaminan keuangan merupakan hak kontraktual bagi pemberi pinjaman untuk menerima sejumlah kas dari penjamin.. maupun dengan hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya dengan persyaratan pengembalian pokok utang yang sangat sulit atau dalam jangka waktu yang sangat lama dimasa datang. 7.. bukan bentuk hukumnya. debentures. maka kewajiban tersebut memenuhi definisi kewajiban keuangan. walau tidak selalu. Beberapa jenis instrumen keuangan memiliki bentuk hukum berupa ekuitas tetapi secara substansi merupakan kewajiban dan bentuk lainnya mungkin berupa kombinasi dari fitur instrumen ekuitas dan fitur kewajiban keuangan. (PSAK 50: PA7) Kemampuan untuk melaksanakan hak kontraktual atau persyaratan pemenuhan kewajiban kontraktual dapat bersifat absolut atau bersifat kontinjen atas terjadinya suatu peristiwa di masa datang. Substansi dan bentuk hukumnya umumnya sejalan. baik tanpa hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya. (PSAK 50: Paragraf 16) Instrumen utang perpetual (seperti obligasi perpetual.Bab IV I S u r a t Berharga tersebut karena penerbit instrumen ekuitas tidak diwajibkan untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada pihak lain. 8. (PSAK 50: Paragraf 15) Instrumen keuangan yang tidak secara eksplisit menciptakan kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya. I 99 .. Suatu rangkaian hak atau kewajiban kontraktual memenuhi definisi instrumen keuangan apabila hak atau kewajiban tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penerimaan atau pembayaran kas atau menyebabkan perolehan atau penerbitan instrumen ekuitas. dan kewajiban kontraktual terkait dari penjamin untuk membayar pemberi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 4..

entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. dan instrumen ekuitas. 100 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Penerbit instrumen keuangan pada saat pengakuan awal harus mengklasifikasikan instrumen tersebut atau komponen-komponennya sebagai kewajiban keuangan. jika penerima pinjaman wanprestasi. entitas mengukur pada nilai wajarnya. aset keuangan. jika dan hanya jika. (PSAK 55: Paragraf 14) 10. meskipun kemampuan pemberi pinjaman untuk melaksanakan haknya dan keharusan penjamin untuk memenuhi kewajibannya bersifat kontinjen atas kejadian wanprestasi oleh penerima pinjaman dimasa datang. Hak dan kewajiban yang bersifat kontinjen memenuhi definisi aset dan kewajiban keuangan. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. Hak dan kewajiban kontraktual timbul akibat transaksi atau peristiswa masa lalu (dengan asumsi terdapat penjaminan). (PSAK 50: Paragraf 11) 12. (PSAK 50: PA8) 9. meskipun aset dan kewajiban tersebut tidak selalu diakui dalam laporan keuangan. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. (PSAK 55: Paragraf 43) 11. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif).Bab IV I S u r a t Berharga pinjaman. aset keuangan. Beberapa hak dan kewajiban kontinjen mungkin merupakan kontrak asuransi dalam ruang lingkup PSAK 36 dan PSAK 28. atau instrumen ekuitas sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi kewajiban keuangan. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat.

Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). (PSAK 55: Paragraf 8) 15. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. misalnya Direksi. (PSAK 55: Paragraf 8) 13. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan. (c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif.. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.Bab IV I S u r a t Berharga b. tergantung pada perubahan nilai wajarnya).. (PSAK 55: PA28) 14. Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi: .. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 101 . atau (ii) kelompok aset keuangan. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan...

seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent).Bab IV I S u r a t Berharga 16. kecuali untuk: (a) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. Kewajiban tersebut. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. atau (b) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. diukur pada nilai wajarnya. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. Setelah pengakuan awal. kecuali untuk derivatif kewajiban yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif seperti diatas dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. biaya pendanaan (financing costs). termasuk derivatif yang diakui sebagai kewajiban. entitas mengukur seluruh kewajiban keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. perantara efek dan pedagang efek. konsultan. (PSAK 55: Paragraf 12) 18. (PSAK 55: PA26) 19. 102 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. kecuali: (a) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. diukur pada biaya perolehan. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. (PSAK 55: Paragraf 11) 17. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. Namun demikian. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang. dalam kasus yang jarang terjadi. paragraf 29 dan 31 diterapkan dalam pengukuran kewajiban keuangan tersebut. (PSAK 55: Paragraf 8) 21. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. (PSAK 55: PA19) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 103 . apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. (PSAK 55: Paragraf 47) 20..Bab IV I S u r a t Berharga (b) kewajiban keuangan yang timbul ketika sebuah transfer aset keuangan tidak memenuhi syarat penghentian pengakuan atau transfer yang dicatat menggunakan pendekatan keterlibatan berkelanjutan.. biaya transaksi. Pada saat menghitung suku bunga efektif. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. atau jika lebih tepat. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya).

Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. dan melalui proses amortisasi. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: Paragraf 39) 26.. (PSAK 55: Paragraf 8) 25. (PSAK 55: PA20) 23. jika dan hanya jika. Demikian juga. (PSAK 55: Paragraf 41) 28. diakui dalam laporan laba rugi. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. modifikasi secara substansial atas ketentuan kewajiban keuangan yang saat ini ada atau bagian dari kewajiban keuangan tersebut (terlepas ada atau tidak keterkaitannya dengan kesulitan keuangan debitur) dicatat sebagai penghapusan kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. Pertukaran diantara peminjam dan pemberi pinjaman yang saat ini ada atas instrumen utang dengan persyaratan yang berbeda secara substansial dicatat sebagai penghapusan (extinguishment) kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru.Bab IV I S u r a t Berharga 22. maka entitas mengalokasikan nilai tercatat sebelumnya dari kewajiban keuangan tersebut kepada bagian yang tetap diakui dan bagian yang dihentikan pengakuannya berdasarkan 104 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55: Paragraf 57) 24. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi.. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. Selisih antara (a) nilai tercatat kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) yang berakhir atau yang ditransfer pada pihak lain. Jika entitas membeli kembali bagian dari kewajiban keuangan. (PSAK 55: Paragraf 40) 27. kewajiban keuangan tersebut berakhir. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya.

bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option.Bab IV I S u r a t Berharga nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal pembelian kembali. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 105 . Kategori Surat Berharga Surat berharga yang diterbitkan yang merupakan kewajiban keuangan dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori kewajiban keuangan. 1 Diukur pada Nilai wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) 2 Biaya perolehan diamortisasi Surat berharga yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui (amortised cost) Laporan Laba Rugi. Bank yang menerbitkan surat berharga pada saat pengakuan awal harus menetapkan apakah surat berharga tersebut merupakan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas yang didasarkan pada substansi perjanjian kontraktual dan bukan pada bentuk hukumnya. 2. 3. (PSAK 55: Paragraf 42) C. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. Surat berharga yang pada saat diterbitkan ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. yaitu: No. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Kategori Surat Berharga 1) Keterangan Surat berharga yang diterbitkan untuk dibeli kembali dalam waktu dekat. Selisih antara (a) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian yang dihentikan pengakuannya. Penjelasan 1. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. untuk bagian yang dihentikan pengakuannya tersebut diakui dalam laporan laba rugi.

Penghentian Pengakuan (Derecognition) a. Instrumen Majemuk Untuk surat berharga yang mengandung komponen ekuitas dan kewajiban keuangan. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi.Bab IV I S u r a t Berharga 4. atau 2) Bank menerbitkan surat berharga yang baru dengan persyaratan yang berbeda secara substansial untuk menggantikan surat berharga sebelumnya atau memodifikasi secara substansial surat berharga yang telah diterbitkan. 6. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). b. komponen-komponen tersebut harus diklasifikasikan secara terpisah. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Kuotasi dipasar aktif. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. Dalam laporan keuangan. baik karena dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluarsa. 7. 5. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. 106 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank dapat menghentikan pengakuan atas surat berharga yang diterbitkan jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki kewajiban kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut karena kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak telah berakhir.

2 Biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. yaitu: No. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan.Bab IV I S u r a t Berharga Dalam laporan keuangan konsolidasi. b Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan pada kredit. bank mencatat “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebagai berikut: No. D. 2 2. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Pada saat penerbitan surat berharga. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Surat berharga dalam kategori 1 Pencatatan pada saat penerbitan Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada saat Diukur pada Nilai Wajar melalui pengakuan awal umumnya sama dengan harga Laporan Laba Rugi penerbitan surat berharga. Setelah penerbitan surat berharga. 1 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 107 . Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Biaya perolehan diamortisasi memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang (amortised cost) dapat diatribusikan langsung pada penerbitan surat berharga. bank mengakui “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebesar nilai wajar. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).

3. 4.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi terkait penerbitan surat berharga Db. Kas/Rekening. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Sebesar nilai wajar. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Kas/Rekening./Giro BI Kr. 108 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Beban bunga Kr. Keterangan 2 E. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga yang diterbitkan mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi sebagaimana pada Bab mengenai Kredit./Giro BI 2./Giro BI Pada saat pengakuan beban bunga Db... Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi pada Bab mengenai Kredit.Bab IV I S u r a t Berharga 3. 4. Beban Kr. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1. Pada saat menerbitkan Db. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif (amortised cost) menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya... Laporan Laba Rugi Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Surat berharga . Penyajian Surat berharga yang diterbitkan disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan Biaya Perolehan Diamortisasi awal.. Kas/Rekening.. yaitu: No.

Pada saat pelunasan Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db.. Surat berharga ..Bab IV I S u r a t Berharga 5... Surat berharga – amortised cost Pada saat jatuh tempo Db... Kas/Rekening../Giro BI b. Kas/Rekening.. c. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan dikurangi bunga dibayar dimuka) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Surat berharga ./Giro BI Kr. Penyesuaian nilai wajar a. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 109 . Surat berharga – amortised cost Kr.. d. Beban bunga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b./Giro BI Surat Berharga yang Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortised Cost) 1. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Kas/Rekening. Pada saat menerbitkan Db.. 6. Surat berharga – amortised cost Kr./Giro BI atau Db. Kas/Rekening. Kerugian karena peningkatan nilai wajar surat berharga-Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Beban bunga Kr. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Kas/Rekening./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.

Kas/Rekening. d. Pada saat menerbitkan Db. Kas/Rekening. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a. Beban bunga Kr../Giro BI b. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Pada saat menerbitkan Db. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Kas/Rekening../Giro BI Pada saat jatuh tempo Db.... Beban bunga Kr. Kas/Rekening. 3./Giro BI atau Db.. Surat berharga – amortised cost Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr../Giro BI Kr. Kas/Rekening./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b.Bab IV I S u r a t Berharga 2./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db..... Beban bunga Kr./Giro BI atau Db.. Surat berharga – amortised cost Kr. e. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr... Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. c./Giro BI Kr. Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost Kr.. 110 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ..

Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. e.. Kas/Rekening... Surat berharga – amortised cost Kr../Giro BI d./Giro BI Kr.. c.. Kas/Rekening./Kr. Kas/Rekening./Giro BI atau Db. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Beban bunga Kr. Surat berharga – amortised cost Kr. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db..Bab IV I S u r a t Berharga c. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan biaya transaksi) Kr./Giro BI Pada saat jatuh tempo Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi Db. Beban bunga Kr./Db./Giro BI b.. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 111 . Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi premium dan biaya transaksi) Kr. Pada saat menerbitkan Db. 4. Beban bunga Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db... d.

Bab IV I S u r a t Berharga e. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.5% pada 99. Untuk menerbitkan obligasi dimaksud. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.000.000. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a./Giro BI F. Surat berharga – amortised cost Kr. 112 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2. Kas/Rekening. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa.. 20. b. G. Pada saat jatuh tempo Db. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1.000. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Contoh Kasus Pada tanggal 1 Desember 2010 Bank XYZ menerbitkan obligasi Rp. b. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. 3. yaitu: a.1. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 3 Desember 2010. Bunga dibayarkan setiap tanggal 24 Februari dan 24 Agustus..000. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020.000 dengan kupon bunga 7.375. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan.

Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank XYZ sebesar Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. (lihat tabel) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 113 .000.000. 20.

443 1.407.000.090 39.659 122.000 1.816 40.948 1.734.478.986) (3.781.000 1.754 26.000 1.311.852 1.000 1.952.423 1.382.333 37.000 .250.552 977.083 1.000.000.000.408 (23.298 998.583 1.000.000.482 1.000.167 1.754 38.001.694.614.000.291.190) 39.810 978.000 1.258 1.000.005.047.116 1.108 122.973.000.566.879.414 984.000 1.992 156.000.333.333 37.889 1.074.900.557.971) 38.333.916 (20.783 39.000 1.366.333 37.798.000 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .709.855) 5.893) (11.000 1.246 0 6.219 1.458.333 38.000 - - 1.000.832.000.028.333 37.088 39.000 140.333 37.000 1.(b) Pengakuan amortisasi dalam L/R Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e) Berharga Tanggal Kupon Pembayaran 3-Dec-10 1.000.485) (10.333 38.088.133.073.000.776.000.000 1.171.000.333.339.058.144.482 1.938 991.075 925.734.866.095.742 978.741 978.925.166.168 1.000.571.708.391.000 31-Dec-10 - 31-Jan-11 - 24-Feb-11 - 24-Aug-11 - 24-Feb-12 - Akuntansi Perbankan Indonesia 24-Aug-12 - 24-Feb-13 - 24-Aug-13 - 24-Feb-14 - 24-Aug-14 - 24-Feb-15 - 24-Aug-15 - 24-Feb-16 - 24-Aug-16 - 24-Feb-17 - 24-Aug-17 - 24-Feb-18 - 24-Aug-18 - 24-Feb-19 - 24-Aug-19 - 24-Feb-20 - 24-Aug-20 1.705 1.062) (8.500 1.169.000 1.442.000.267.281 39.778.916 1.333 37.078.667 38.889 1.633.403 975.443 1.000.309 994.408 1.000.333 38.708.333 37.667 38.664 986.461.144.333 37.597) 974.333 38.000 1.636 (26.339.284 1.538.284 1.333 38.333.333.246.000.672.109.518 1.753) (17.566.000.501 1.000 1.423 1.000.000.000.054) (19.168 1.926.222 39.708.000.948 1.586) (15.333.776 39.504) (14.238.000.043.000.416 1.000.553 1.000 1.708.000) 973.311.247 982.691.000.000.333 37.145 976.742 (24.001.370.000.000.Bab IV I S u r a t Tabel: Surat Berharga yang Diterbitkan 114 I P e d o m a n Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) 5.000.000.333.617.705) 974.058.603.448.295 5.267.408 1.636 156.336) (13.729 981.904.617 40.108 925.708.969 140.167 38.634.250.000.000.875.708.705 1.875.515 989.122.496 985.000 1.702) (1.000 1.448.708.124.000.238.333.691) (5.000.659 (25.000.333 6.708.783 1.694.916.000 1.333.107 988.029 979.956.271) (18.862.173) (7.975.000 1.741 39.832.221.591 1.108 (25.000.827 992.000 1.083 39.708.333 38.258.038 39.000 1.000.223.201.137.333 38.875.333 5.890.000.000.741.584.333 39.750.370.088.490.830.946 980.518 39.636 (26.000.442.448) 38.000 37.753.833.171.490.000.308.258 (22.408 1.219 (21.014 996.364) 973.603.916.754) 0 39.

Bab IV I S u r a t Berharga Ilustrasi Jurnal 1./Giro BI Rp 17.000. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Rp 122. Rp.969 140. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 6. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost 3. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp Kr.833. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Desember 2010 Db. Kas/Rekening. Kas/Rekening.108 Kr. Rp.659 5. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.000 Pengakuan bunga. Kas/Rekening.000 993. Pengakuan bunga.750. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Februari 2011 Db. Pencatatan pada saat penyelesaian tanggal 3 Desember 2010 Db. Pembayaran bunga pada tanggal 24 Februari 2011 Db.000.291.000. 5.108 Kr..291.666 Jurnal untuk pengakuan dan pembayaran bunga serta amortisasi selanjutnya sama dengan jurnal di atas Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 115 .992 156.333 Rp Rp 6. Rp. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Rp 5..000 20..750./Giro BI Kr. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.333 Rp. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr./Giro BI 2. 993.636 4..614. 5.000 6. Pengakuan bunga.. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Januari 2011 Db. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 5.. Pencatatan pembayaran brokerage fee tanggal 1 Desember 2010 Db.122. 20.000 Rp.666 17. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp. Rp.973.458.

088 1. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Db.Bab IV I S u r a t Berharga 7.000./Giro BI Rp Rp 37.708.333 Rp. Kas/Rekening.875.708.. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr. Pencatatan amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Agustus 2020 Db. Beban bunga yang masih harus dibayar surat berharga yang diterbitkan Kr.000 116 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .333 Rp Rp 39.surat berharga yang diterbitkan Rp 37..708.333 1. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.037.584. Beban bunga yang masih harus dibayar .000.754 h) Pencatatan pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020 Db. 1.

Dalam hal ini bank bertindak sebagai pengelola atas seluruh kredit tersebut. c. ditetapkan berdasarkan perjanjian. Pasal 1 angka 11) Kredit Sindikasi (Syndication Loans) adalah kredit secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih atau perusahaan pembiayaan lainnya dengan pembagian dana. dan bank dapat menanggung atau tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan. Pemberian dan Penyaluran A. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Bank tidak menanggung risiko atas kredit dan untuk tugas tersebut bank menerima imbalan jasa berupa fee atau bagian dari bunga. risiko. b. Penerusan kredit dibedakan menjadi: a. dan pendapatan (bunga dan provisi/komisi) sesuai porsi kepesertaan masing-masing anggota sindikasi. Penerusan Kredit adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pihak lain. Sumber dana dan risiko kredit yang ditanggung bank. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 117 . Kredit Two Step Loans (TSL) adalah kredit oleh bank yang seluruh dananya berasal dari pinjaman luar negeri yang diterima pemerintah untuk membiayai pengembangan sektor usaha tertentu sesuai perjanjian kredit antara peme- 2. Kredit Executing adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan sebagian lagi berasal dari bank. Definisi 1. Kredit sindikasi disebut juga kredit dalam rangka pembiayaan bersama. 3. Kredit Channeling (Channeling Loan) adalah kredit yang seluruh dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan diberikan untuk sektor usaha/debitur tertentu yang ditetapkan oleh pihak penyedia dana.Bab V I K r e d i t Bab V Kredit 1.

. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. (PSAK 1: Paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . B. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. komitmen. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi... (PSAK 1: Paragraf 71) 3.. 5.Bab V I K r e d i t rintah dan pemberi dana (lender). laporan arus kas.. 4. Kredit yang Dijamin adalah kredit yang seluruh atau sebagian risikonya ditanggung oleh pemerintah/asuransi atau pihak lain. kecuali: 2. EBA (Efek Beragun Aset) adalah Instrumen keuangan yang sumber utama pembayarannya berasal dari aliran kas yang dihasilkan oleh underlying asetnya dan bukan dari kemampuan membayar dari perusahaan yang memiliki aset tersebut (originator).. Anjak Piutang (Factoring) adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi usaha. laporan laba rugi. Bank tetap menanggung risiko atas kegagalan pemberian kredit tersebut atau sesuai perjanjian. Kartu Kredit (Credit Card) adalah fasilitas/kredit yang diberikan oleh bank yang penarikannya dilakukan melalui pembayaran transaksi jasa dan perdagangan serta penarikan tunai (cash advance) sampai dengan jumlah tertentu sesuai dengan batas/limit yang ditentukan oleh bank. Dasar Pengaturan 1. 7. 118 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 6.

atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. c. I 119 . maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya… (PSAK 55: Paragraf 52) Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. Namun. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. b. 6. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. investasi dalam instrumen utang. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 5. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. piutang dagang. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa.Bab V I K r e d i t a. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut… (PSAK 55: PA39) Jika.

(PSAK 55: Paragraf 43) 8. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. . Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. (PSAK 55: PA39) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. konsultan. … (PSAK 55: Paragraf 49) 11. entitas mengukur pada nilai wajarnya. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. perantara efek dan pedagang efek. lihat juga paragraf 91)… (PSAK 55: PA 79) 12. 10. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh.. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo)… (PSAK 55: Paragraf 8) …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. 9. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif.Bab V I K r e d i t kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule)… (PSAK 55: Paragraf 53) 7. (PSAK 55: Paragraf 8 ) 13. biaya pendanaan 120 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

(PSAK 55: PA 26) 14.. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. yaitu nilai setelah dikurangi fee yang diterimanya. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. atau pelepasan lain. Untuk tujuan pengukuran nilai aset keuangan setelah pengakuan awal. (PSAK 55: Paragraf 45) 16. maka entitas mengakui pinjaman tersebut pada nilai wajarnya. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 121 . pada nilai wajarnya. Jika entitas memberikan pinjaman dengan suku bunga diluar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk pinjaman serupa adalah 8 persen) dan menerima fee dimuka sebagai kompensasinya. Pernyataan ini mengklasifikasikan aset keuangan dalam empat kategori sebagaimana didefinisikan pada paragraf 8: (a) aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo (c) pinjaman yang diberikan atau piutang. . dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.. Setelah pengakuan awal. entitas mengukur aset keuangan. Entitas mengakui diskon yang terjadi pada laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. (PSAK 55: Paragraf 46) 17. (PSAK 55: PA 80) 15..Bab V I K r e d i t (financing costs). Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). dan (d) aset keuangan tersedia untuk dijual Keempat kategori diatas menggunakan pengukuran dan pengakuan laba atau rugi berdasarkan Pernyataan ini.. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan.

biaya transaksi. Entitas harus memasukkan kerugian kredit yang terjadi tersebut dalam estimasi arus kas ketika menghitung suku bunga efektif. dan premium atau diskonto lainnya disesuaikan dengan suku bunga pasar sebelum perkiraan jatuh tempo atas instrumen tersebut. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). biaya transaksi. Namun demikian. Apabila entitas menerapkan metode suku bunga efektif. atau jika lebih tepat. biaya transaksi. poin yang dibayarkan atau diterima. Pada saat menghitung suku bunga efektif. dan premium atau diskonto lainnya yang termasuk dalam perhitungan suku bunga efektif selama perkiraan umur instrumen tersebut. Namun. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. dan premium atau diskonto lainnya. Dalam beberapa kasus. poin yang dibayarkan atau diterima. (PSAK 55: Paragraf 8) 19. (PSAK 55: PA17) 20. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. Dalam 122 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . poin yang dibayarkan atau diterima. biaya transaksi.Bab V I K r e d i t 18. Hal ini dapat terjadi apabila variabel yang terkait dengan fee. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. maka entitas tersebut biasanya mengamortisasi setiap fee. periode yang lebih singkat digunakan apabila periode tersebut terkait dengan fee. aset keuangan diperoleh dengan diskon yang sangat besar yang pada dasarnya mencerminkan kerugian kredit yang terjadi. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. dalam kasus yang jarang terjadi. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya).

. maka biayabiaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 123 .. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. …Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Tanggal pelaporan keuangan berikutnya terjadi sehari setelah pengakuan awal ketika harga kuotasi pasar atas aset tersebut adalah UMU100. (PSAK 55: PA82) 24. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi.(PSAK 55: PA18) 21. (PSAK 55: PA19) 22. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut.. Suatu aset diperoleh dengan harga UMU100 ditambah komisi pembelian UMU2. (PSAK 55: PA20) 23. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang. Awalnya. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Jika aset tersebut dijual. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. Pada tanggal tersebut. aset tersebut diakui pada UMU102. aset dinilai sebesar UMU100 (tanpa memperhitungkan besarnya komisi pada saat penjualan) dan kerugian sebesar UMU2 harus diakui dalam ekuitas. komisi yang harus dibayarkan adalah UMU3. Contoh berikut ini mengilustrasikan akuntansi untuk biaya-biaya transaksi yang terjadi saat pengukuran awal dan setelahnya untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. periode amortisasi yang tepat adalah periode sampai dengan tanggal penyesuaian nilai berikutnya. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut..Bab V I K r e d i t kasus tersebut.

Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. 2. jangka waktu tertentu. dan jaminan dan atau agunan (jika ada) Jenis kredit menurut penggunaannya. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). Kredit modal kerja. Kredit investasi. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. aktivitas peminjaman uang atau tagihan sebesar plafon yang disepakati. c.Bab V I K r e d i t 25. persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam. (PSAK 55: Paragraf 24) C. dan Kredit konsumsi. risiko. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. d. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas (PSAK 55: Paragraf 8) 26. antara lain: a. b. c. jika dan hanya jika: a. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. Kredit berdasarkan pengertiannya antara lain memiliki unsur-unsur sebagai berikut: a. Penjelasan 1. 124 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. e. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau kewajiban jasa pengelolaan. b. f. b. (PSAK 55: Paragraf 17) 27. pendapatan berupa bunga atau imbalan atau pembagian keuntungan. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan.

b. denda (penalty). 12. 4. dan Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai. Kewajiban debitur adalah seluruh kewajiban debitur kepada bank berupa pokok kredit ditambah tagihan bunga. 9. Penggolongan ini dilakukan untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian bank (prudential regulation). kredit dalam restrukturisasi. Penggolongan kredit menurut kualitas. 11. Kredit yang mengalami penurunan nilai. dan biaya lainnya sesuai dengan perjanjian kredit. pembelian surat berharga debitur yang dilengkapi dengan note purchase agreement (NPA). Bunga kredit adalah imbalan yang dibayarkan oleh debitur atas kredit yang diterimanya dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Plafon adalah jumlah maksimum kredit yang diterima oleh debitur sebagaimana tercantum dalam surat perjanjian/kredit. 5. Jenis kredit berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti obyektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai terdiri dari: a. Bunga cerukan adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas penggunaan kredit yang melebihi plafon yang telah ditentukan dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Cerukan (overdraft) adalah jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia pada pos giro atau penggunaan kredit yang melebihi plafon yang disetujui. yaitu jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan). Pokok kredit adalah saldo kredit yang telah digunakan debitur dan belum dilunasi oleh debitur (biasa disebut sebagai baki debet). 8. dan macet (M). L/C. 6. kurang lancar (KL). 10. diragukan (D).Bab V I K r e d i t 3. serta cerukan. dalam perhatian khusus (DPK). terdiri dari kredit dengan kualitas lancar (L). atau fasilitas lainnya yang tidak dapat diselesaikan (wanprestasi) dan dialihkan menjadi kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 125 . Kelonggaran tarik adalah fasilitas kredit yang masih dapat ditarik oleh debitur dari plafon yang tersedia. Termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama. 7. kredit yang berasal dari bank garansi.

14. Denda (penalty) adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas keterlambatan pembayaran pokok dan atau bunga atau kewajiban lainnya. maka pendapatan provisi yang diterima bank berbedabeda bentuknya. Agent: bank yang bertindak sebagai pemimpin kelompok bank peserta sindikasi atau disebut juga Bank Induk. Provisi kredit adalah biaya yang harus dibayar debitur pada saat kredit disetujui dan biasanya dinyatakan dalam persentase. c. Participant: bank yang ikut serta mendanai pemberian kredit sindikasi tersebut. Dalam aktivitas kredit sindikasi. bank yang terlibat dalam pemberian kredit tersebut dapat bertindak sebagai: a. b. 126 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank sebagai Participant akan menerima provisi kredit dari maksimum kredit dan commitment fee dari kredit yang belum ditarik (undrawn portion) secara proporsional dengan bank peserta lain. 17. 15. c. Bank sebagai agent akan menerima agent fee dan atau management fee. Berdasarkan fungsi tersebut. bertindak sebagai administrator dan menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit mengurangi kewajiban keuangannya (risiko kredit ditanggung oleh pihak ketiga). 18. Dalam kredit chanelling. b. 16. sehingga bank tidak mencatat aset maupun kewajiban keuangan. tidak terdapat aliran dana masuk atau keluar melalui bank. Arranger: bank yang mensponsori/memfasilitasi terbentuknya kelompok “Bank Sindikasi”. Bank sebagai arranger akan menerima arranger fee. hanya bertindak sebagai administrator terhadap kredit yang diberikan oleh pihak ketiga. Dalam kredit executing. untuk itu bank mencatat sebagai aset keuangan (executing) sebesar risiko kredit yang ditanggung. bank menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit bank menanggung sebagian atau seluruh risiko kredit. b.Bab V I K r e d i t 13. selain bertindak sebagai administrator. Commitment fee adalah biaya yang harus dibayar debitur atas bagian kredit yang belum digunakan. bank dapat: a. a.

Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. yaitu: No 1 Kategori Aset Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan − Kredit yang diberikan atau dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Tersedia untuk − Kredit yang pada saat pengakuan awal ditetapkan Dijual dalam kategori Tersedia untuk Dijual − Kredit yang diberikan dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok kredit secara substansial. Pada saat pengakuan awal. 2 Dimiliki Hingga − Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Jatuh Tempo ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. yang bukan disebabkan penurunan kualitas kredit. Penentuan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a.Bab V I K r e d i t 19. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 127 . Piutang 3 4 20. Penjelasan mengenai reklasifikasi kredit mengacu pada Bab Penjelasan Umum mengenai Reklasifikasi Aset Keuangan. kredit yang diberikan dengan maksud dijual kembali secara langsung atau melalui skema sekuritisasi. kredit diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah biaya transaksi. − Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki hingga jatuh tempo. Kuotasi dipasar aktif. − Kredit yang pada saat diberikan/dibeli ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Pinjaman yang Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Diberikan dan ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Secara umum. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Misalnya. 21. kredit yang diberikan dapat dibukukan dalam 4 kategori aset keuangan.

Selanjutnya. bank menerima provisi kredit sehingga dana yang dibayarkan kepada debitur sebesar 98% dari total kredit. 50 juta. call option dan lainnya) r = suku bunga efektif (effective interest rate) t = jangka waktu Contoh: Pada tanggal 1 Januari 2010 bank memberikan fasilitas kredit kepada PT. ABC sebesar Rp.000.000 = —————— + —————— + —————— + —————— + —————— (1 + r) 1 (1 + r)2 (1 + r)3 (1 + r)4 (1 + r)5 128 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. pelunasan dipercepat. berdasarkan nilai wajar tersebut. bunga. 22. atau 3) Analisa arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar (dapat menggunakan suku bunga yang ditawarkan bank) yang berlaku untuk kredit sejenis.000.000 49. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari aset lain yang sejenis.000 5.Bab V I K r e d i t b.000. dapat dihitung suku bunga efektif dengan formula sebagai berikut: CF CF CF PV = ———— + ———— + · · · · + ———— (1 + r)1 (1 + r)2 (1 + r)t dimana: PV = nilai wajar yang merupakan present value dari kredit yang diberikan. denda. Suku bunga kredit sebesar 10% yang dibayarkan setiap tahun. yaitu: 5. Dalam pemberian fasilitas tersebut.000 5.000 55.000 5. Suku bunga efektif (r) adalah = 10. Kredit berjangka waktu 5 tahun dan akan jatuh tempo pada 31 Desember 2014.000. Nilai wajar kredit pada saat pengakuan awal adalah sebesar pokok kredit yang dicairkan oleh debitur. yaitu sebesar arus kas keluar (pokok ditambah/dikurangi biaya transaksi berupa pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dan/ atau premium atau diskonto) CF = arus kas bersih berdasarkan persyaratan kontraktual (seperti penerimaan pokok.53482%. yang berdasarkan formula tersebut di atas.000.000.

syarat-syarat. yaitu berdasarkan estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk jenis kredit serupa (dalam hal mata uang. bank harus memperhatikan secara cermat biaya transaksi yang meliputi pendapatan dan beban selain bunga (yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit) yang harus diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Dalam menghitung suku bunga efektif. jenis suku bunga.Bab V I K r e d i t 23. Kredit dengan suku bunga tetap memiliki satu suku bunga efektif yang dihitung pada awal pemberian kredit. Kredit dengan suku bunga tetap dengan penyaluran secara bertahap atas jumlah plafon kredit memiliki suku bunga efektif tersendiri untuk setiap tahapan penarikan kredit kecuali pada awal pemberian kredit. Jika bagian dari penyerahan dana kepada debitur ditujukan untuk hal selain pemberian/pembelian kredit tersebut. 25. Apabila bank memberikan kredit dengan skema bunga meningkat atau menurun (step up/down) yang sudah diketahui sejak awal (sudah diperjanjikan). maka nilai wajar kredit harus diestimasi menggunakan teknik penilaian. c. Suku bunga efektif yang dihitung berdasarkan arus kas kontraktual pada dasarnya tidak dapat diubah sampai dengan seluruh kewajiban debitur dibayar lunas. Amortisasi pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dilanjutkan dengan menggunakan suku bunga efektif yang baru. Suku bunga efektif akan berubah setiap kali dilakukan perubahan estimasi arus kas masa datang yang dihasilkan dari perubahan tingkat suku bunga. Ketentuan penetapan suku bunga efektif adalah sebagai berikut: a. maka hal tersebut sudah harus diperhitungkan pada saat perhitungan awal arus kas untuk menentukan suku bunga efektif. dan faktor lainnya) dan memiliki peringkat kredit yang serupa. Kredit dengan suku bunga mengambang. termasuk ketika bank memberikan keringanan suku bunga melalui restrukturisasi kredit atau melakukan revisi estimasi pembayaran atau penerimaan bunga dan pokok. waktu penarikan dan jumlah pada setiap penarikan telah diketahui. perhitungan suku bunga efektif didasarkan pada arus kas dengan menggunakan suku bunga yang diestimasi pada awal pemberian kredit. b. 24. Jenis-jenis pendapatan dan beban tersebut antara lain: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 129 . Selanjutnya suku bunga efektif akan disesuaikan pada saat penyesuaian suku bunga berikutnya. d.

biaya appraisal dan lain-lain. antara lain fee (seperti origination fee dan commitment fee) dan provisi kredit yang tertuang dalam perjanjian kredit. karyawan atau pihak lain untuk setiap aplikasi kredit yang disetujui. Jika fee/provisi kredit diterima sekaligus untuk kredit dengan penarikan secara bertahap maka fee/provisi tersebut dialokasikan secara proporsional sesuai jumlah penarikan kredit dalam setiap tahap. Jenis-jenis pendapatan dan beban yang tidak dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang antara lain: a. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas kredit yang diberikan jika dan hanya jika: a. Dalam laporan keuangan. Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit tersebut. Denda (penalty) yang dikenakan kepada debitur atas opsi pelunasan sebelum jatuh tempo yang tertuang dalam perjanjian kredit. tinjauan lokasi debitur (on-thespot). Biaya yang dikeluarkan bank dalam rangka pemberian/pembelian kredit seperti: 1) Fee atau imbalan yang dibayarkan kepada developer. b. b. 27. 26. sepanjang fee/provisi tersebut secara langsung timbul pada saat pemberian/pembelian kredit (akuisisi aset). dan/atau Pendapatan dan beban lainnya yang tidak dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit. karena opsi tersebut menyebabkan bank tidak dapat menerima bunga secara penuh hingga jatuh tempo.Bab V I K r e d i t a. b. Denda/penalty yang dikenakan terkait dengan biaya administrasi tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Seluruh pendapatan dan beban yang dapat diakui sekaligus sebagaimana dimaksud pada angka 12 Perlakuan Akuntansi . dan 2) Biaya konsultan untuk notaris dan hukum. c. 130 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Fee yang terkait dengan jangka waktu kredit. atau Bank telah mentransfer kredit tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan.Pengakuan dan Pengukuran. Opsi pelunasan sebelum jatuh tempo harus dievaluasi lebih lanjut apakah merupakan derivatif melekat yang memenuhi persyaratan untuk dipisahkan dari Kredit sebagai kontrak utamanya (host contract) (lebih lanjut lihat Bab mengenai Tagihan dan Kewajiban Derivatif).

yaitu antara tanggal penagihan dan tanggal pembayaran kepada penerima akhir. Jika bank mentransfer atau mengalihkan kredit. 2) Jika bank secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. giro pada Bank Indonesia. penjualan kredit dengan opsi untuk membeli kembali pada nilai wajarnya saat pembelian kembali). Bank hanya dapat menempatkan dana tersebut pada kas. sehingga bank menentukan apakah bank masih memiliki pengendalian atas kredit tersebut. maka bank menghentikan pengakuan kredit tersebut. Dalam hal ini: 1) Jika bank secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit. dan secara terpisah mengakui sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut. b. baik dengan mentransfer hak kontraktual atau tetap memiliki hak kontraktual namun menanggung kewajiban kontraktual (passthrough arrangement).Bab V I K r e d i t 28. kecuali jika bank memperoleh jumlah yang setara dari kredit awalnya. dan giro pada bank lain selama periode penyelesaian jangka pendek. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 131 . Terdapat pass-through-arrangement yang dipenuhi dengan 3 kondisi yaitu: 1) Bank tidak wajib membayar penerima akhir. Dalam hal ini: a) Jika bank tidak lagi memiliki pengendalian. 2) Bank tidak diperkenankan menjual atau mengagunkan kredit yang ditransfer kecuali untuk menjamin hak penerima akhir untuk menerima arus kas masa datang. 3) Bank berkewajiban untuk menyerahkan setiap arus kas masa datang yang ditagihnya untuk dan atas nama penerima akhir tanpa penundaan yang signifikan. dan pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan tersebut (jika ada) harus diserahkan kepada penerima akhir. maka bank mengevaluasi sejauh mana bank tetap memiliki risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. maka bank menghentikan pengakuan kredit dan mengakui secara terpisah sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut (contoh penjualan kredit tanpa syarat. Kriteria penghentian pengakuan atas kredit sebagaimana dimaksud pada angka 27 b antara lain: a.

yaitu: a. kecuali untuk penerusan kredit. bank mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan” sebesar nilai wajar. meskipun tidak mengikuti kriteria penghentian pengakuan. Bank masih memiliki pengendalian atas kredit yang ditransfer apabila penerima transfer tidak memiliki kemampuan praktis untuk menjual kredit yang ditransfer tersebut. Jumlah kewajiban komitmen fasilitas kredit tersebut dapat berkurang atau bertambah selama jangka waktu kredit sesuai jenis kreditnya. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan kredit yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat kredit karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari kredit. maka bank tetap mengakui kredit sebesar keterlibatan berkelanjutannya dengan kredit. akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan tetap/tidak bertambah pada saat diterima setoran. Terkait dengan karakteristik khusus industri perbankan. Kredit investasi. b. 2. Pada saat penandatanganan perjanjian kredit dengan debitur. yaitu: 132 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kredit modal kerja (KMK) plafon menurun atau kredit konsumsi. bank mengakui sebagai ”Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur” sebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwal penarikan/penggunaan kredit yang disepakati bank dengan debitur. Kredit modal kerja/rekening koran akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan akan bertambah pada saat diterima setoran. kredit yang dihapusbuku dapat dikeluarkan dari neraca. 29. Pada saat pencairan kredit.Bab V I K r e d i t b) Jika bank masih memiliki pengendalian. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. D.

b. Misalnya. Pada saat pencairan kredit. maka atas dana tersebut tidak dapat diakui sebagai “Pinjaman yang diterima dari bank peserta”. tetapi langsung dikreditkan ke pos giro debitur di bank induk (escrow account). dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit tersebut. Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak terkait dengan jangka waktu kredit.Bab V I K r e d i t No 1 Kredit dalam kategori Pencatatan pada saat pencairan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat melalui Laporan Laba pengakuan awal sama dengan harga transaksi. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. bank tidak perlu melakukan kapitalisasi atas pendapatan dan/atau beban pada biaya perolehan kredit dan dapat mengakui secara langsung sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika: a. pendapatan fee atas pengelolaan rekening debitur. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. tetapi sebagai “Kredit yang diberikan” kepada debitur. Rugi Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat pengakuan awal sama dengan harga transaksi. dan/atau Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 133 . Apabila bank menjadi bank induk sindikasi (agent) dan menerima transfer dana dari bank peserta sindikasi (participant bank). 2 3 4 3. Demikian juga bank peserta sindikasi tidak mengakui sebagai “Tagihan kepada bank induk”. dan/atau biaya yang dikeluarkan bank karena debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya. biaya talangan. 4. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama (kredit sindikasi) diakui sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan (baik sebagai bank induk maupun sebagai bank peserta) dikurangi atau ditambah pendapatan dan/ atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembiayaan bersama tersebut.

Untuk kredit dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. tetapi mengungkapkannya pada catatan atas laporan keuangan sebagai penerusan kredit. Namun. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. bank mencatat kredit yang diberikan sebagai berikut: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 Tersedia untuk Dijual Pencatatan setelah pencairan Sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui secara langsung dalam ekuitas 6. Dalam hal bank memberikan kredit berdasarkan perjanjian penerusan kredit (channeling) atau kredit kelolaan. Setelah pencairan kredit. ditambah atau dikurangi dengan amordan Piutang tisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. 7. 134 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. maka bank tidak diperkenankan mengakui sebagai “Kredit yang diberikan”. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. yaitu nilai wajar kredit yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan pokok. apabila bank menanggung risiko maka bank mengakuinya sebagai “Kredit yang diberikan” sebesar risiko yang ditanggung. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui pada laporan laba rugi Sebesar nilai wajar. Selanjutnya. 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).Bab V I K r e d i t 5.

Selanjutnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 135 . namun harus diamortisasi selama masa manfaat kredit dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premium atau diskonto. memberikan kredit dengan suku bunga di luar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk kredit sejenis adalah 8 persen). bank dapat menggunakan suku bunga acuan yang berlaku di bank. harus diakui sebagai berikut: a. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. c. Dalam menentukan suku bunga pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b. dan/atau memberikan/membeli kredit secara diskonto atau premium. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. b. Reklasifikasi kredit diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. yaitu jika bank: a. Untuk kredit yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari kredit dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. 9. 8. misalnya base lending rate ditambah risk premium dan profit margin untuk kredit sejenis.Bab V I K r e d i t Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. nilai tercatat (carrying amount) pada saat pengakuan awal dapat berbeda dengan nilai kredit yang akan diperoleh pada saat jatuh tempo. b. menerima pendapatan (di luar bunga) dan/atau mengeluarkan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit tersebut.

Dalam hal hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit yang diberikan telah berakhir dan/atau bank telah mentransfer keseluruhan kredit yang 136 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia b. Tingkat materialitas ditetapkan secara agregat dengan membandingkan total biaya transaksi dengan laba sebelum pajak.000. 13. 11.000. 5.Bab V I K r e d i t 10. dan kartu kredit. dan besarnya: 1) pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit.000.000. Tingkat materialitas secara individu ditetapkan oleh manajemen dengan berdasarkan kepada estimasi angka agregat. laba sebelum pajak menggunakan rata-rata 3 tahun terakhir sebelum bank mengalami kerugian untuk menentukan tingkat materialitas secara agregat.000) dianggap tidak material.000. dan/atau 3) diskonto atau premium atas pemberian/pembelian kredit. 100. Bank dapat menggunakan metode garis lurus dalam melakukan amortisasi untuk: a. 14. kredit dengan skedul penarikan dan pembayaran (arus kas) yang sulit diprediksi. Sebagai contoh. Total biaya transaksi sebesar 5% atau kurang dari rata-rata laba sebelum pajak selama 3 tahun terakhir dianggap tidak material.000. Total biaya transaksi secara agregat ini merupakan batas maksimal dari akumulasi biaya transaksi individual yang dianggap tidak material. Penghentian pengakuan kredit a. apabila bank memiliki laba sebelum pajak sebesar Rp. . 12. Dalam hal bank mengalami kerugian. Bank harus menetapkan tingkat materialitas dan mendokumentasikan dalam kebijakan akuntansi. 2) perbedaan suku bunga kredit yang diberikan dan suku bunga pasar atas kredit sejenis. Selisih antara nilai tercatat kredit (yang merupakan biaya perolehan diamortisasi) dengan nilai kredit yang akan diterima pada saat jatuh tempo kredit diamortisasi selama periode berjalan menggunakan metode suku bunga efektif.000 (5% x 100.000. misalnya kredit yang bersifat revolving. maka biaya transaksi secara agregat sebesar Rp. Bank dapat tidak melakukan amortisasi atas pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit dan mengakui sekaligus sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika besarnya pendapatan dan biaya transaksi tersebut tidak material. material. pinjaman rekening koran.

diakui pada laporan laba rugi. memenuhi kriteria penghentian pengakuan. ditambah atau dikurangi Piutang dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Dalam hal bank telah mentransfer sebagian kredit yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas kredit yang diberikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 137 . Selanjutnya. termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud.Bab V I K r e d i t b. Kredit yang dijamin disajikan berdasarkan kredit yang disalurkan bank. dan (ii) jumlah dari pembayaran yang diterima atas bagian kredit yang ditranfer tersebut ditambah/dikurangi keuntungan/kerugian kumulatif atas bagian kredit tersebut yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. maka bank tidak lagi mengakui bagian kredit tersebut sebagai ”Kredit yang diberikan” dan nilai tercatat sebelumnya (nilai wajar atau biaya perolehan diamortisasi) dari keseluruhan kredit harus dialokasikan pada bagian yang tetap diakui dan bagian yang telah dihentikan pengakuannya berdasarkan nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal transfer. Penyajian 1. 3. Kredit sindikasi disajikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank. Kredit disajikan di neraca sesuai kategori. maka bank tidak lagi mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan”. 2. yaitu: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 3 4 Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Penyajian pada neraca Sebesar nilai wajar. yaitu nilai wajar kredit yang Pinjaman yang Diberikan dan diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. selisih antara (i) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian kredit yang ditransfer.

amortised cost Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Rekening lawan . Sementara itu. Kredit . Kewajiban komitmen . Kredit . 5. Pendapatan bunga (Apabila nilai provisi kredit yang diterima tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.Bab V I K r e d i t 4.fasilitas kredit yang belum digunakan b.amortised cost atau Kr. disajikan sebagai tagihan bunga kredit atau pendapatan bunga kredit yang akan diterima.amortised cost Kr. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi a. E Ilustrasi Jurnal 1. Pendapatan bunga dari kredit (yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang pada saat pengakuan awal kredit atau pada saat penyesuaian suku bunga kredit) yang telah diakui sebagai pendapatan tetapi belum diterima pembayarannya. Kredit kelolaan disajikan pada pos kredit yang diberikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. Pada saat pencairan kredit kepada debitur Db. Kredit . Pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. pendapatan bunga dari kredit yang tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang yang dibuat pada saat pengakuan awal kredit atau pada penyesuaian suku bunga kredit dicatat pada rekening administratif. Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Kas/Rekening…/Giro BI 138 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Kredit . maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.amortised cost Pendapatan bunga kredit Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 139 . Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kewajiban komitmen .Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db./Kr. Db. Rekening lawan .amortised cost Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kredit . d. Db. Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kr.

Nasabah notaris/perusahaan asuransi f.hasil klaim asuransi h. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db.. Tagihan biaya . agent/management fee dan provisi kredit sindikasi dari debitur 1) Arranger fee Db. Kredit . Tagihan klaim asuransi Kr.amortised cost . Tagihan biaya . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kas/Rekening. Tagihan klaim asuransi 2. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Pada saat menerima klaim asuransi dari perusahaan asuransi Db. premi asuransi barang agunan) Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan agent/management fee kredit sindikasi Kr. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai Bank Induk/ agent/lead manager a. Pendapatan arranger fee kredit sindikasi 2) Agent/management fee Db. Pada saat menerima pembayaran arranger fee. Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr.biaya kredit g.Bab V I K r e d i t e.biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db. Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db./Giro BI Kr. Giro BI (berdasarkan porsi bank lain yang menjadi wakil agent) 140 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Rekening escrow debitur 2) Penerimaan dana dari bank peserta Db. Giro BI/Bank peserta Kr. Kredit sindikasi-bank induk (berdasarkan porsi bank tersebut) Kr.Bab V I K r e d i t 3) Provisi kredit Db. Pada saat meneruskan penerimaan bunga dan atau pokok kredit sindikasi porsi bank peserta Db. Rekening escrow debitur d. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. premi asuransi barang agunan).kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur Kr. dicatat sama dengan butir 1. dicatat sama dengan butir 1. Rekening perantara kredit sindikasi f. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Pada saat melakukan amortisasi dan perhitungan dan pembebanan bunga kredit sindikasi yang besarnya sesuai dengan porsi kredit bank bersangkutan. e dengan asumsi penagihan kepada debitur dilakukan oleh bank induk sindikasi e. Giro BI (berdasarkan porsi bank peserta) b. Rekening lawan . Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit (berdasarkan porsi bank tersebut) Db. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. Kewajiban komitmen .fasilitas kredit yang belum digunakan c. Pada saat pencairan kredit kepada debitur 1) Penyediaan dana oleh bank induk Db. Kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank induk) Kr. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 141 . c Pada saat menerima setoran dari debitur dicatat sama dengan butir 1. d dengan tambahan jurnal untuk penerimaan bunga dan pokok porsi bank peserta Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI g.

pada umumnya penarikan kredit oleh debitur dilakukan melalui bank induk/agent dan bank peserta harus memindahkan (transfer) dana atau kredit yang akan ditarik kepada bank induk/ agent. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. Pembayaran kredit (pokok. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Penerusan kredit tanpa risiko a. Pendapatan commitment fee kredit (berdasarkan porsi bank bersangkutan) Kr. Pada saat menerima commitment fee atas bagian kredit yang belum ditarik (undrawn portion) oleh debitur Db.Bab V I K r e d i t h. b. Pada saat meneruskan pembayaran commitment fee kredit sindikasi porsi bank peserta Db. bunga dan biaya) oleh debitur dibukukan melalui bank induk/agent dan bank peserta akan menerima transfer dana pembayaran (pokok. dengan perbedaan: a. 142 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka Bank tidak menerima provisi kredit (debitur tidak membayar provisi kredit). Kas/Rekening…/Giro BI 3. Rekening perantara kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank peserta) i. 4. Bank menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan 1) Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. Penarikan kredit oleh debitur pada hakekatnya dilakukan sesuai dengan perjanjian kredit sindikasi. Dana untuk penyaluran kredit (rekening penampungan dana sementara) 2) Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur Karena risiko kredit ditanggung penyedia dana. bunga dan biaya) dari bank induk/agent. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai bank peserta (Participant Bank) Pada prinsipnya akuntansi pada bank peserta kredit sindikasi sama dengan akuntansi Kredit. Namun demikian.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 6) Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Setoran bunga kredit channeling Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t Tidak mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan. Dana untuk penyaluran kredit (rekening sementara) Kr. Kewajiban lain .Setoran bunga kredit channeling Bersamaan dengan itu. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 143 . 3) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kewajiban lain . Kewajiban lain .Setoran pokok kredit channeling 7) Pada saat menyelesaikan pembayaran bunga dan atau pokok kredit setelah dikurangi dengan fee penerusan kredit kepada penyedia dana Db. Kewajiban lain . Kas/Rekening…/Giro BI 8) Apabila fee harus ditagihkan kepada penyedia dana a) Pada saat menagih Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat pada extracomptable rekening penerusan kredit 4) Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur dicatat pada extracomptable 5) Pada saat menerima pembayaran bunga kredit dari debitur Db. Pendapatan fee penerusan kredit Kr.Setoran pokok kredit channeling Kr. Pendapatan fee penerusan kredit b) Pada saat menerima fee kredit channeling dari penyedia dana Db.

(2) Untuk dana yang berasal dari penyedia dana dicatat pada extracomptable. d. maka bank mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan berdasarkan porsi yang ditanggung bank. 5. Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. bank hanya diminta mengadministrasikannya. Kewajiban lain . Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) b. Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat extracomptable kredit kelolaan yang dananya berasal dari penyedia dana. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) Db. dicatat sama dengan butir 1. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 144 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendapatan bunga kredit kelolaan yang akan diterima (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit kelolaan (sebesar dana yang ditanggung oleh bank) Kr.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Bersamaan dengan itu.Bab V I K r e d i t b. c. Penarikan kredit sudah dilakukan oleh debitur langsung ke penyedia dana. 1) Pada saat menerima perintah untuk membukukan bukti penarikan kredit dicatat pada extracomptable. c. 2) Tata cara pembukuan lainnya sama seperti apabila bank menerima dana dari penyedia dana. Pada saat penerimaan pendapatan bunga dari debitur Db. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Karena sebagian risiko kredit ditanggung bank. Kredit kelolaan a. e. Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur (1) Untuk dana yang berasal dari bank sama. Bank tidak menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan.

Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang. Kredit Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a./Giro BI Db/Kr. Kewajiban lain . b. Kewajiban lain . Kredit kelolaan (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr.Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 145 . Kredit Two Steps Loan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.. Kredit dengan Penjaminan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. Pendapatan bunga kredit c.Bab V I K r e d i t f. Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kas/Rekening. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 8. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Giro BI/rekening pihak penyedia dana g.. 7. Kredit . Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Pada saat transfer setoran pokok dan atau bunga kepada penyedia dana Db.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Db. Kr. 6. Pendapatan bunga (sebesar provisi/komisi/diskonto yang diterima) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar Db.

Keuntungan (kerugian) karena peningkatan (penurunan) nilai wajar (MTM) Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan bunga (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Kredit .Bab V I K r e d i t 2) Sebesar setoran bunga debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db.fasilitas kredit yang belum digunakan b. Rekening lawan . Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kewajiban komitmen .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi e. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya Db/Kr. Kredit Tersedia untuk Dijual a. Kredit . Kredit . Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 9. Kredit .fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai Kredit Tersedia untuk Dijual 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Kredit . Pada saat menjual kredit Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db.Tersedia untuk Dijual atau Kr.Tersedia untuk Dijual Kr. Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 146 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi d.Tersedia untuk Dijual Kr.

Db. d.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Dalam hal tidak terdapat ketentuan yang mengatur. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan manajemen masing-masing bank.Tersedia untuk Dijual Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pendapatan bunga kredit Db/Kr. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.Tersedia untuk Dijual Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 147 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. Kredit . Kewajiban komitmen .fasilitas kredit yang belum digunakan c. Kredit . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit dicatat Db. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Rekening lawan . Kr. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.

Kredit – Tersedia untuk Dijual j. Tagihan klaim asuransi Kr. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Ekuitas . Kredit – Tersedia untuk Dijual Kr. Tagihan klaim asuransi i. Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db.Pendapatan komprehensif lain Penurunan nilai wajar Db. Kas/Rekening …/Giro BI Kredit . Kr. Ekuitas . Kas/Rekening …/Giro BI Kr.Tersedia untuk Dijual Db/Kr. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya (dihitung dari selisih antara nilai tercatat dengan harga pasar) Peningkatan nilai wajar Db.Pendapatan komprehensif lain Kr/Db. Kas/Rekening …/Giro BI Kr. Kredit . Pada saat menjual kredit Db. premi asuransi barang agunan) Db. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 148 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Mencatat penerimaan klaim asuransi dari perusahaan asuransi. Tagihan biaya-biaya kredit g.Bab V I K r e d i t e. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Kr. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Tagihan biaya-biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr.hasil klaim asuransi h. Kas/Rekening…/Giro BI f. Db.

Bab V I K r e d i t 10. yaitu: a. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Tersedia untuk Dijual. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 149 . serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. termasuk namun tidak terbatas pada: a. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). dengan rincian berikut: a. Kategorisasi dan nilai tercatat kredit. 5. b. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 4. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Pengalihan kredit yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh kredit. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Perubahan nilai wajar atas kredit yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Jenis kredit. d. c. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kredit dalam penyusunan laporan keuangan. b. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. 3. 6. c. F. 2. b. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan perkreditan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. b. Jumlah kredit yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan kredit yang masih tetap berada di bank. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Jurnal kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dilakukan sebagaimana kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Asumsi penetapan nilai wajar kredit (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran kredit) dan agunan.

Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Tujuan. consumer loans. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko kredit dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). nilai tercatat kredit yang tetap diakui bank. yang meliputi: 150 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas perkreditan sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. kebijakan. dan nilai tercatat kewajiban terkait. Nilai tercatat kredit dan kewajiban terkait. Analisis tersebut mencakup: a. b. 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko kredit pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. commercial loans. jika bank tetap mengakui sebagian kredit sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). jika bank tetap mengakui seluruh bagian kredit. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan dan credit derivative). Pengungkapan kuantitatif 9. 7. Informasi mengenai kualitas kredit diluar kredit yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai.Bab V I K r e d i t c. dan sebagainya). c. dan pihak penjual proteksi kredit dalam transaksi credit derivative). 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. Pengungkapan kualitatif 8. Total nilai tercatat kredit awal yang dialihkan. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur kredit sebagaimana pada butir a) di atas. d.

4) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate). 10. maka pengungkapan mencakup: (a) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat. Jumlah penerusan kredit (channeling loan/kredit kelolaan). (b) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat internal. (b) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. 3) Tipe/jenis debitur. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai. (c) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah kredit berdasarkan segmentasi. 13.Bab V I K r e d i t 1) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. 2) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. 12. antara lain sektor ekonomi dan geografi. 11. Jumlah kredit kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. berdasarkan jangka waktu. 5) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas kredit. Nilai tercatat kredit yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. (c) Jumlah ekposur kredit yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 151 . maka pengungkapan mencakup: (a) Proses pemeringkatan internal. mata uang. d. (d) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. dan tingkat bunga kredit yang dihitung secara rata-rata.

20. 14.000.500.Rp. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga tetap) Pada tanggal 1 Januari 2010.000 + Rp. 35. 14. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1.000.500. Asumsi: − Debitur memenuhi seluruh kewajibannya (lancar). Berdasarkan data di atas.25%/bulan 0.500. 14.000.000 = (Rp.000.500.000. Contoh Kasus 1.Bab V I K r e d i t G. 35. Lihat Tabel 1: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost dan Tabel 2: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja. 152 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000 .000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.520.000. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. 14.14.000/bulan. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.500.000. 20. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.1 % atau Rp. − Suku bunga kredit sama dengan suku bunga pasar.000).

000) (181.250.948 14.250.655.000) (1.250.000 14.237% (Original Effective Interest Rate/EIR) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Keterangan p = pokok Trx = transaksi i = suku bunga kontraktual Bab V I K r e d i t I 153 .172.517.513.000 10 30-Sep-10 181.058 14.250.979 14.446.508.000) 179.489.595.000) (181.500.508.517.250.144 179.518.000) 2 31-Jan-10 181.000) (1.602) (1.884 14.856) (1.000) (181.079) (1.000 14.221 179.084 (181.520.411.250.008 14.321) (1.717.503.948 14.510.615.221) 179.250.324.505.250.000) 179.574.630.000 11 31-Oct-10 181.000 5 30-Apr-10 181.821 14.826.250.000) 179.884 14.594.000 3 28-Feb-10 181.655.821 14.500.760.000) (1.532.008 14.501.000 4 30-Mar-10 181.000) (181.681.876 (181.627 14.520.826.507.627 14.098 (14.000) (1.655.000) (181.250.803.250.104 (181.512.000 9 31-Aug-10 181.250.916) 179.250.666 (181.569) (1.513.910.904.250.500.654.505.250.696.324.000 7 30-Jun-10 181.614.503.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.515.510.058 14.250.553.905 14.123 14.250.000 6 31-May-10 181.Tabel 1 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F 14.627.179) 14.507.468.250.518.999.679 (181.411.896) 179.000.779 179.910.289.124) (1.905 14.902) (1.398 (181.000 8 31-Jul-10 181.904.282 14.000) 179.250.511.630.781.250.520.000 12 30-Nov-10 181.675.515.172.334) (1.250.221 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (14.250.826.282 14.999.635.000 13 31-Dec-10 14.423.979 14.250.921 179.123 14.821 (181.501.289.250.431 179.627.512.738.634.500.

500.000) (181.500.000.000 14.000.500.000 14.500.000 81.500.000 14.500.000 14.000 14.250.000.000 81.000) (181.000.250.000 31-Oct-10 14.000 (181.500.250.000 31-Aug-10 14.000.500.000.000.000 14.000 28-Feb-10 14.500.000 (14.000 (181.000 14.500.000 14.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000 30-Sep-10 14.500.500.000.000 14.000.250.500.000 14.500.Tabel 2 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 31-Dec-10 14.000 14.000) (181.000.000.250.000 81.500.000 81.000 81.000) (181.250.250.000.000.000.500.000.250.000 14.000.500.000.000 14.500.000 14.500.000) (181.000 14.500.000) 81.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 30-Mar-10 14.000 30-Jun-10 14.500.000 81.000.000 (181.250.500.250.000 81.250.000) (181.500.500.000.500.500.000.000 30-Apr-10 14.000) .500.000.500.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akrual Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 154 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.250.000.250.250.250.250.000.000 14.000.000 14.500.000.000) 81.000 31-Jul-10 14.500.000 14.500.000 14.000 14.000.250.250.250.000.250.250.500.000 31-May-10 14.000 81.000) (181.250.500.000) (181.000.500.500.000.250.500.000) 14.000.000 14.000.000 14.000 (181.000.000.000.000.000.250.000 81.000) 81.500.000 30-Nov-10 14.500.000.000.

Bab V I K r e d i t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 155 .

Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 1. c. 20. Kr.000 20. 3 sd 12 sama dengan transaksi no.221 179. Kr.000 20. Kredit . Kr.654. 156 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kr. Pendapatan bunga kredit Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. 2.000 181.250.595. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.500. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 Jurnal transaksi untuk no.000 181. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 181. Rp.000 14. Kr. Kredit .821 181. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr./Giro BI Kr. 5) Pada saat pelunasan pokok kepada debitur Db.000.000.779 181.amortised cost Rp. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit Rp. Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.826.000 14. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.500. 181..250. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.250. Kas/Rekening. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.250.250. Kr.423.amortised cost Rp.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Rp.amortised cost Rp.000 1. Tanggal 31 Desember 2010. Kredit .179 179.250..

35. Berdasarkan data di atas.000.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 157 .500.25%/bulan 0.000.5%/bulan.20. suku bunga berubah menjadi 1.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.Bab V I K r e d i t 2. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. 14.500. Asumsi: − − Pada tanggal 1 Januari 2010 diasumsikan bahwa suku bunga diprediksikan akan meningkat menjadi 1. 14. 35.000/bulan.000.000.Rp.520.000.500. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.000.000 + Rp.000). Lihat Tabel 3 sampai dengan Tabel 6. 14.14.500. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga mengambang) Pada tanggal 1 Januari 2010.000 .000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1.1 % atau Rp. 14.35%/bulan pada tanggal 31 Juli 2010. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. 20. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. 1 Juli 2010. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.500.000 = (Rp.

881.000) 186.250.028 (195.427) (9.750.509.202 Tahun Expected Cashflow Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dgn EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit A B 1 1-Jan-10 (14.792) (9.750.000 7 30-Jun-10 181.623 (181.881.250.759 14.250.000 14.299 33.262.107.542.408.972) (8.506 5.914.250.250.344.000 4 30-Mar-10 181.262.450.250.680 5.525.000) 5.750.000 8 31-Jul-10 195.079 14.520.145.750.518.401 14.506 (181.527.000) (195.623 186.663.536.750.750.456 14.770.444.000 13 31-Dec-10 14.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.456 (181.000 12 30-Nov-10 195.774 4.986.548.801.029.689.208 186.545.000 3 28-Feb-10 181.695.903 14.536.000) 5.566 14.35%/bulan) Bab V I K r e d i t 158 I P e d o m a n No C 14.553.250.542.408.285% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .509.500.903 sub total 14.250.456 14.852.750.604.397 14.591.531.536.444.631.000) 2 31-Jan-10 181.437.250.973 186.397 14.680 (181.000) (195.000) 186.000 9 31-Aug-10 195.774 14.000.973) 14.000 5 30-Apr-10 181.720.000) 186.736.230 14.332.000) (195.841.750.060.759 14.527.381.852.520.250.844.566 14.500.154.401 14.000) 186.637 5.107.456 D E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.Tabel 3: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (asumsi pada 1 Januari 2010 suku bunga diprediksikan akan meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.332.573 (14.548.027 186.553.520.352.202 (8.154.250.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.750.700.637 (181.973 0 186.000 10 30-Sep-10 195.525.352.844.518.437.299 (181.262.536.373) (9.750.202 14.500.531.000) (195.627 186.000) 5.230 14.913.000) (195.000 11 31-Oct-10 195.664) (8.750.487.948.079 14.835.000) 186.250.545.336 187.750.

000.500.750.250.000.000.500.000.000.000 30-Mar-10 14.750.000 14.000) 181.000) 195.000 14.500.000) (181.500.000.500.000.250.500.500.000.750.500.000 (181.000 (195.000.000) (195.000.750.500.500.500.500.000 (181.000 14.500.000) 181.000.750.750.000 14.750.750.000) 181.500.000) sub total 14.000 14.500.000 30-Nov-10 14.500.500.000.000 14.000.000 181.000) 14.250.500.000 14.250.000 14.Tabel 4 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 14.000 30-Sep-10 14.500.000 195.000.500.500.000.500.000 (14.000.500.000) (195.000.000.000 14.500.000.000.000.750.500.000 14.750.000.250.000 181.000) (195.000 31-Jul-10 14.500.250.000) (195.000 (181.000.000.000 (181.500.500.500.000 Bab V I K r e d i t I 159 .000 31-Oct-10 14.250.500.000 195.000.500.000 181.000 30-Jun-10 14.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000.000.000 14.000.500.000.000 14.000.000.000 14.000 14.000 31-Aug-10 14.000 31-May-10 14.000 14.000.500.250.000 14.500.000.750.000) (195.750.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.000 14.000) 14.000.000 195.000.000.000.250.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-10 14.250.500.000 28-Feb-10 14.000.000 (181.000 14.000 14.500.000 30-Apr-10 14.000 195.000 195.500.250.250.

107.379 14.863 14.623 5.000) (217.518.553.690) 14.000 4 30-Mar-10 181.516) (9.680 5.035.250.536.449) (8.000) (181.000 3 28-Feb-10 181.527.444.500.456 14.381.548.000) 2 31-Jan-10 181.548.690 Suku Bunga Efektif Baru 1.464.000 14.000) (217.500.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.450.299 33.202 Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dengen EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit 160 I P e d o m a n No C Tahun Expected Cashflow A B 1 1-Jan-10 (14.000) sub total 14.405.250.500.690 0 5.545.844.405.250.852.334.657.913.509.000 12 30-Nov-10 217.631.536.500.000) (217.000) (181.881.379 14.285% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .203.397 14.250.531.332.500.500.500.484 208.497.542.881.344.518.542.000 14.663.736.500.500.770.310 208.907.250.000.500.591.250.759 14.623 186.073 14.296.500.250.637 186.520.456 14.250.842.456 14.250.079 14.456 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.250.520.520.173) (9.986.520.903 186.000) (181.000 13 31-Dec-10 14.827 (14.000 10 30-Sep-10 217.525.000 9 31-Aug-10 217.186.186.536.250.506 5.320 208.753 14.107.506 186.202 14.296.306 208.717.781.551 (217.497.525.637 5.000) 5.536.700.844.500.202 (8.000) (217.531.Bab V I K r e d i t Tabel 5 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (suku bunga meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.332.694) (9.165.461.299 186.5%/bulan) Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F (181.500.444.000) (217.718.852.461.527.759 14.079 14.296.43% 208.250.073 14.680 186.680) (8.397 14.553.753 14.000) 208.000) (181.000) (181.903 14.509.500.000 11 31-Oct-10 217.500.545.000 5 30-Apr-10 181.000 8 31-Jul-10 217.592.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.000 7 30-Jun-10 181.500.863 14.841.

500.500.000) (217.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000.000.000 14.250.000 31-Oct-10 14.500.000.500.500.000) 17.250.500.000 (181.500.000 14.000 14.000 17.250.500.000.000 14.500.500.000.000.000.000 (181.000 217.000.500.500.000 14.500.000.000 30-Apr-10 14.500.250.000 31-Aug-10 14.500.250.250.000 14.000.000.000 (217.000 14.000.000.500.000 14.000.000 181.000 30-Mar-10 14.000.000) 181.000) 181.000 sub total 14.000 31-May-10 14.000.000 14.500.000 30-Jun-10 14.000) 81.000.000 (181.500.000.000 14.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-09 14.500.500.Tabel 6: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 14.000 14.500.500.000.000.000 30-Nov-09 14.500.000) (217.000 30-Sep-10 14.000) (217.000.000.000.000 14.000 31-Jul-10 14.000.000.000 14.000) 181.000.250.000.000.500.000 14.500.000.500.000 14.000 17.000 14.500.000.000) 81.000) (217.000.000 (181.000 (181.500.500.250.500.000.000.500.000 (181.000) 14.500.000 17.000 217.500.500.500.500.500.500.500.000.000 (14.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.000.500.250.500.250.500.000.000 14.500.500.000 14.250.500.000.500.500.000 14.000 Bab V I K r e d i t I 161 .000.500.250.000 28-Feb-10 14.500.000) (217.000) 14.

500. Kredit .000 20. Db./Giro BI Rp. Kas/Rekening.../Giro BI Kr. 14.000 14... Kas/Rekening.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000..000. Rp.000. Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Rp.500. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000.000 14./Giro BI Kr.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. 14. Rp.000 14. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. 14.. Kas/Rekening. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. 20. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.500. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000 b. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif. Rp.500.000 20.000 14.000.000.amortised cost Kr.000. Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.500.000 162 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kredit ... Rp. Tanggal 1 Januari 2010.500.000 35. Tanggal 31 Januari 2010.000 20.000 35.500.000. 14.500. Kas/Rekening.000 Rp.000 Kr.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.amortised cost Kr. Rp. Kredit .

pada saat terjadi penyesuaian suku bunga mengambang. 12 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 20.250. Rp.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Db. Rp.500.631. Jurnal untuk transaksi no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.250.000 5.657. Kredit .500. 181.381. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. c. Db.000 181.456 181. Rp. 8.amortised cost Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 20. Kr.000 20. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Kr. 2. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.551 217.449 208.000 Jurnal untuk transaksi no. 3 sampai dengan no. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp./Giro BI Kr.000 217.500. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Kr.000 20. Kr.. Kas/Rekening.amortised cost Rp.250. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 9 sampai dengan no. 7 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no.000 217.. Kredit . Tanggal 31 Juli 2010.456 186.000 8. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 163 .842.

Rp.000 14.500.amortised cost Rp. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp.000 217..000 14. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. 164 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000 9. Kr. Kredit .000 20. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.Bab V I K r e d i t d. Kas/Rekening. Kredit .500. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.amortised cost Rp. 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit Rp. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 20.000.500. Kr.310 217. Rp.000.000 20. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.203. Rp.500..500. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Tanggal 31 Desember 2010. Kr.000 217. Kr./Giro BI Kr.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.296.690 208.

000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000. Rp. 99.000.000.Bab V I K r e d i t 3.920. 15.000. Rp.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit investasi) Pada tanggal 1 Januari 2010. 100.000.000.000 + Rp.000. Lihat Tabel 7 dan Tabel 8. 100.000. 100.000 = (Rp.000). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 165 . total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000 Semester I 2010 Semester II 2010 Semester I 2011 Semester II 2011 Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.000 25.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.1 % atau Rp. Berdasarkan data di atas.000/bulan.000. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. 25.000 25. 20. Rp.000.000.000.000. 20.000.000.20.000 25.Rp.000 .000.25%/bulan 0.000. Bank XYZ memberikan kredit kepada debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. Rp.000.100.000.

626 74.000.000.172.977.525 24.000) (625.145 (1.000) 99.250.626 74.000) (312.970.500.500.906.903 2.000 312.034 4.000 25.071.920.992.772 941.000.995.970.921.991.520.500.288 627.000 25.000.255.872.250.Tabel 7: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi – Amortised Cost Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Angsuran Pokok F Tagihan Bunga G=pxi Amortisasi dengan EIR H=E-G 166 I P e d o m a n (25.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .878 941.719.000.635 313.362 49.849.651 24.500.966.966.903 627.702 1.982.500.250.624 1.000 1.500.666 4.776 74.552.632.898 74.666 941.980.000) (1.379 2.620.163 74.500.772 3.107.441.000.107.344 24.000 312.000) (312.000 625.101 1.000) (625.250.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.978.898 74.984 5.237.998.959.797 99.920.500.846.000 625.172.000.421.937.729 49.134.537 4.710.624 5.941.000) (937.122.406.825.423.592 49.158 1.379 627.790.790.500.230 627.000) (25.719.779.000) (937.000.737.447 49.302.000) (1.716 313.000 937.413 3.940.000 625.017 24.302.658 99.000.000) 4.962.000.000.230 2.737.611.255.920.998.250.982.982.677.000 312.525 24.500.500.611.855 (25.250.716 1.935.674 99.139 5.046 24.255.000.000) 1.960 74.984 1.062.196.500.935.000) (937.592 49.000 937.000 25.145 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.945.000) (1.000 937.000) (625.810 1.000.050 99.000 1.350 49.702 313.776 74.982.000) (1.000.000.000) 1.000) (312.000 312.000.000.020.625.703.995.000 26.888.017 24.000 1.521.958.197 49.500.924.640.000) (625.388.974.810 313.930.000.000.571.000.958.991.288 2.658 99.000) (312.000.000 937.543.982.050 5.500.000) (25.000) (937.954.710.250.134.050 99.814.044.367 24.197 49.000) (625.521.000.000.552.362 49.855 0 Tahun Akuntansi Perbankan Indonesia No Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 B 1-Jan-10 31-Jan-10 28-Feb-10 31-Mar-10 30-Apr-10 31-May-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Aug-10 30-Sep-10 31-Oct-10 30-Nov-10 31-Dec-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-May-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Aug-11 30-Sep-11 31-Oct-11 30-Nov-11 31-Dec-11 Estimasi Arus Kas C (99.000) (312.000 937.000.350 49.537 941.000 99.163 74.034 941.982.855 627.988.985.988.478.677.958.000) (625.878 3.413 941.945.312.970.237.547 74.779.635 1.500.000.447 49.166 627.000.158 313.825.814.640.923.000 99.977.997.000 1.401.744.000) (312.196.470.940.306.050 1.000) (1.026.674 99.367 24.744.000.000.401.855 2.255.250.139 1.958.000) (937.250.250.101 5.846.985.620.255.372.254.044.632.500.819 313.974.502.500.960 74.000.250.000.797 99.651 24.000.000 625.000 312.950.250.000.500.500.306.703.000.062.622.500.000.046 24.000.000 625.997.459.992.954.500.729 49.500.543.500.819 1.994.962.994.213.547 74.000) (937.344 24.026.500.166 2.213.980.924.502.849.950.930.

250.000 25.500.000.000 50.000.000.000.000.500.000.000.000 312.000.000.000 625.000.000.000 75.250.500.000 25.000.000.000.000 75.000 25.000 100.000 50.000) 1.000.000.000 31-Jan-11 50.000.500.000.000.000.000 50.000) 1.000 50.000.000.000.000.000) (312.000.000) (937.000.000 (1.000.000.000) (937.000 (1.000) 75.000 30-Jun-10 100.000 75.000.000.000.000 75.000.000.000.000.000.000.500.000 25.000.000 31-Dec-10 75.500.000.000.000 937.000.000.000 75.000) (625.000.000 Bab V I K r e d i t 30-Nov-11 25.000 30-Sep-11 25.000) 1.000 31-Mar-11 50.250.000.000) (312.000.000 30-Apr-11 50.000.000 25.000.000.000.000.000.000 100.000.000 31-Jul-11 25.500.000.000) (937.000) (625.000 31-Aug-11 25.000 75.000.000.000 (25.500.000 28-Feb-11 50.000 28-Feb-10 100.000.500.000 312.000) 50.000.000.000 31-Oct-10 75.000.000.500.000.000.000.000 50.000 625.000.000.000.000 937.000.000.000) (312.000.000 31-May-10 100.000) (625.000.000.000 50.000.000.000.000 100.500.000.000 625.000 31-Aug-10 75.000 100.000.500.000.000.000.000.000.000) (312.000.000.000.000.000.000.000) M=K+L 100.000.000.000.000) (312.250.000.000.000.000 (1.000.000 625.000.500.Tabel 8: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000.000.000 937.000) 937.000.000 (25.250.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000.000.000.000.000.000.000.500.000 30-Jun-11 50.000.250.000.000.000.000.000 31-Jul-10 75.000) (625.000 31-Mar-10 100.000.250.000.500.000.000 100.000 25.000.000.000 (937.000 75.000.000 (1.000 100.000.000.000.000 100.250.000 25.000.000.000 (937.000.000 50.000.000.000.500.000 25.000.000 625.000 312.000 312.000 30-Nov-10 75.000.000.000) (625.000) 1.000.000.000) (312.250.000.000.000 (25.000.500.000.000.000.000.000 75.500.000.000.000.000.000 50.000 (1.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Oct-11 25.000.000.000 937.000 I 167 31-Dec-11 25.000) 25.000) (937.000.500.000.000.000 50.000.000 31-May-11 50.000 (25.500.000 30-Apr-10 100.000.000) 25.000.500.000.000) (625.000 (1.000 25.250.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000 50.000 937.000.500.000) 1.000.000 30-Sep-10 75.000.000 1.000.000) 75.000.000.000.000.000.250.000.000.000.000.000.000.000.000 312.000.000.500.000.000 25.000 312.000.000.500.250.000 75.000.000.000 50.000.000.000.000 100.000 625.000 .000 100.000 100.000.000 75.

Db.000.000 20. 100. Kas/Giro/Giro BI Kr. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 100..000 20. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000.000.000 20. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.. Rp.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.. 100./Giro BI Kr. Kredit . Kas/Rekening.000./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db..000. 100.000. 100. Rp.amortised cost Kr.000.000. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. 20. Kas/Rekening. Kas/Rekening.000 Rp. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Rp.000.000 Rp.000 20. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000.000. 100.. Kredit .000. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000.000.000 20. Tanggal 31 Januari 2010. 100.000 Rp.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.000.amortised cost Kr. Rp.000.000 Kr..000 168 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp.000 b. Rp. 100. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 Rp./Giro BI Rp. Tanggal 1 Januari 2010. Kredit .

250. c.066. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 169 . bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok.066. Kr. Kr. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp. 2. Db. 8 sampai dengan no.000 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Db. 20 sampai dengan no. Tanggal 30 Juni 2010. dan no. 23 dalam Tabel 7 sama dengan transaksi no.250.066.000. no. 12. Kr.208 1. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.000.000 20.255.000.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 14 sampai dengan no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.000 25. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 3 sampai dengan no.000.000.066.000 1.000. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. 6. Pendapatan bunga kredit Rp.208 1. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 18 dan no. Kas/Giro/Giro BI Kr.amortised cost Rp.250. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.000 20. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 25. Kredit . Rp.000 5. 1.amortised cost Rp.000 5. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000.250.208 1.000.000 20. Kr. Kredit . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit Rp. Kr. 20. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 7. no.250.000.208 1.000 Jurnal untuk transaksi no. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 1. 24 dalam Tabel 7 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 19.250.amortised cost Rp. Rp.255. Kredit . Rp. 13.000. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Jurnal untuk transaksi no.

25%/bulan atau Rp.000.500.000.000 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (diperdagangkan) Rp.500.Bab V I K r e d i t 4.000 1 tahun atau 12 bulan Investasi 15%/tahun atau 1. 15.100. Kredit diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Pada tanggal 1 Januari 2010. 14.000. 14.000.000 1 Februari 2010. kredit tersebut dijual seharga Rp.000 (perbulan) 90% atau Rp.000. harga pasar kredit adalah Rp. Bank XYZ membeli kredit dari Bank DEF dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Nilai pasar Informasi lain − − 31 Januari 2010.000. 13.000 (asumsi) 170 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 187.

Rp..500.000.000. Rp. 13. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Tanggal 31 Januari 2010. 500.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar. Kas/Rekening. Peningkatan nilai wajar kredit . Kredit . pada saat menjual kredit 1) Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.500. sebesar nilai wajarnya Db. e. Kredit .500.000 600. pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya. Pendapatan bunga kredit c. pada saat menerima setoran dari debitur Db. 187.000 Tanggal 31 Januari 2010.500. Peningkatan nilai wajar kredit . 187. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Realisasi keuntungan penjualan kredit Db..000 187.000 13. 187./Giro BI Rp. Kredit .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp. Db.000. 500. 500.500.000 14.100.000 Tanggal 31 Januari 2010.000 Kr.500.000.000. Rp.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 171 .000 500.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Tanggal 1 Januari 2010./Giro BI Kr. Kas/Rekening.000. Rp.000. Kredit .500. 13. Keuntungan penjualan kredit d.000 Tanggal 1 Februari 2010.000 Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp. Rp. Rp.000. Rp. pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000...000 b.000 Kr.

000.Rp.000. Lihat Tabel 9 dan Tabel 10 172 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .1 % atau Rp.000 Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.000 .000.000.25%/bulan 0.100.000 25.000 Beban bank yang dapat diatribusikan langsung sebesar Rp.000).000.000.000.000.000 + Rp. 20.000. 90. Harga pasar pada tanggal 31 Januari 2010 sebesar Rp.000.000.000.000 25. 100.Bab V I K r e d i t 5. 99. 99.000.000.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Tersedia untuk Dijual Rp.000 = (Rp.000.920. 20.000.000.000.000.000.000.000 Semester I 2010 Rp Semester II 2010 Rp Semester I 2011 Rp Semester II 2011 Rp 25.000. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.1 Juli 2010. kredit tersebut dijual seharga Rp. 15. 100. Harga pasar pada tanggal 30 Juni 2010 sebesar Rp.000 25.000. 90.000.000.000 Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. Berdasarkan data di atas. Kredit tersedia untuk dijual Pada tanggal 1 Januari 2010. 100.000/bulan Informasi lain: .20.000.000.

208 99.000.937.331 627.910.434 74.971.250.000) 5.000.443.208 99.066.000.322 74.910.912 74.992.092.843 1.000) (625.114.542.322 74.000.Tersedia Untuk Dijual Saldo Awal Arus Kas Kredit D 99.000 99.781.500.000.981 627.000.500.845 313.000.184 627.184 1.955.995.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual I 173 .505 2.250.000 11 31-Oct-10 937.147 49.000.302.000 Bab V I K r e d i t Suku Bunga Efektif Awal 1.593 2.781.000.000) 941.935.942.652 49.000.581.986.978.000 18 31-May-11 625.000 8 31-Jul-10 937.445 (937.000) (937.955.717 E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Suku Bunga Efektif (EIR) Angsuran Pokok Tagihan Bunga Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (99.907.255.224 49.478 3.688.800.367.500.850 99.121 (25.500.984.500.392.328 99.310.000 20 31-Jul-11 312.981.558.000.437.817 49.478 (25.989.194.934 313.965 (937.945.585 1.878 941.000) (312.975.331 2.250.986.224 49.920.649.731.425.994.000) (625.500.000.259.000.581.392.920.938 49.500.000) (937.000) (625.930.765.500.989.051 99.000) 5.961.066.920.020.325.000) (625.871.978.288 941.592.975.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 22 30-Sep-11 312.777.500.777.250.959.000.967.250.107 4.000.595 49.250.925.585 (1.773 24.500.984.000) 627.994.971.328 99.000 99.975.255.250.325.000.000.773 24.194.000 7 30-Jun-10 26.995.066.000 12 30-Nov-10 937.500.196.925.593 627.845 1.925.943.196.871.940.835.461.000 15 28-Feb-11 625.428 74.129.307 74.000) (312.892 24.000) 5.442.595 49.981.343 (25.000.500.114.505 627.051 99.940.000) 941.652 49.737 24.000.850 99.000 16 31-Mar-11 625.000) (625.000) (1.000) 5.000) 1.000) 5.000) (937.000.208 (1.250.625.144.428 74.000 6 31-May-10 1.957 24.000 10 30-Sep-10 937.644.208 99.445 3.491.000.288 4.000.878 4.975.558.907.277 (1.957 24.000.000.509.000.367.912 74.390.000) 2 31-Jan-10 1.357 74.938 49.000 9 31-Aug-10 937.934 1.259.997.951.255.255.000.310.000 14 31-Jan-11 625.500.000.500.000 5 30-Apr-10 1.129.066.000 17 30-Apr-11 625.521 (1.000.250.965 4.357 74.255.000.107 (937.274.250.000 21 31-Aug-11 312.Tabel 9: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi .307 74.649.945.042.992.930.521 1.963.892 24.121 2.000 13 31-Dec-10 25.817 49.991.437.250.800.935.000 19 30-Jun-11 25.843 (1.000 4 31-Mar-10 1.737 313.277 1.302.000) (625.075.000) (312.731.000.196.390.000) 941.765.500.835.344.688.981 1.286 2.959.000.963.500.274.434 74.000) 5.286 941.075.951.147 49.696.343 2.500.509.000.000 3 28-Feb-10 1.255.967.344.500.250.000.

000.500.000) (312.000.000.000.000.000 625.000 75.000 (1.000.000 75.000.000.000.000.000 25.000.000.000.000.000.000) 1.000 25.000.000.000.000 31-Mar-10 100.000.000.000.000.000.000.000 31-Oct-11 25.000.000.000.000 100.000 75.000.000.000 31-May-10 100.000 (25.000 (1.000.000.000.000 312.250.000.000.000.000 312.000 50.000) (625.000.000) 1.000 937.000.000 25.000.000.000 (1.500.000 625.000.000) M=K+L 100.250.000 75.000 75.000.000) 25.000.000.000.000.000.000.500.000.000 937.000.000 625.000.000.000 50.500.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 174 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000 (1.000.000 (25.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Jul-10 75.000) 1.250.000 25.000.500.000.250.500.000.000.000 (1.000) (937.000.500.000 (1.000 30-Apr-11 50.500.000 937.000.000.000.000 .000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 625.000.000.000 75.000) 25.000 100.000 50.000.000 50.000 30-Nov-11 25.500.000.000.000 50.000 (937.000) (312.000.000.250.000.000.000.000.000 25.000 75.000.000) (312.000.000 31-May-11 50.000.000 25.000 25.500.000) (937.000.000.000) 75.000.250.000 100.000 30-Apr-10 100.000 31-Aug-11 25.000.000.000.500.500.000 50.000.000 312.000.000 312.000 31-Dec-11 25.000 50.000.000.000.000) (937.000.000 (25.000.000 30-Jun-11 50.000 625.250.000 (937.500.000.000.000.000.000.000 30-Jun-10 100.000.000.500.000.000) 1.000 100.000.000 50.000 31-Aug-10 75.000.000.000.Tersedia Untuk Dijual REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000 30-Nov-10 75.000.250.000 937.000 75.000.000 312.000.000.000 312.000.500.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000.500.000.000 75.000.000 100.000.000.000 100.000.000.000) 1.000.000 75.250.000 50.000.000 100.000.000 30-Sep-10 75.000.000.000.000 1.500.000.000.000.000.000.000.000 25.000.000.000.500.000.000.000 625.000 31-Jan-11 50.000.000.250.000 937.000.000.000 30-Sep-11 25.000.000.000.000.000) (312.000.000.000) (625.000.000 31-Jul-11 25.000 100.000) (312.000 25.000) (312.000) (937.000 31-Mar-11 50.000 100.000.000 50.000.000) (625.000.000 31-Dec-10 75.000.000.500.Tabel 10: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi .000) (625.500.000) (625.000.500.000 50.000 28-Feb-10 100.000 25.000.500.000.000.000 (25.000) 50.000.000.500.000.000.000.000.000.000.000 100.000.000.250.000) 937.000) (625.000.250.000.000 28-Feb-11 50.000.000.500.000.000.000.000.000) 75.000.000.000 31-Oct-10 75.

Rp.Tersedia untuk Dijual Kr.000 Rp.000.000 20.000..000 b.000 Rp. Rp. Tanggal 31 Januari 2010. Kredit .000. Kas/Rekening.000 Kr.000 20.000. Kas/Rekening./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db./Giro BI Rp.000 Rp.. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.Tersedia untuk Dijual Kr. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000 20.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 100.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal balik untuk menghilangkan kewajiban komitmen fasilitas kredit.000.000./Giro BI Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kas/Rekening.000. Rp. 100.. 100. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Kredit .Tersedia untuk Dijual 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit dan penarikan kredit oleh debitur 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 Rp..000. Tanggal 1 Januari 2010. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000.000. 100.000 20.000.000.000 20.. 100.. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. 100.. 100.000.000. 20.000. Rp.000 100. Rp. Kas/Rekening. Kredit . Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Rp.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 175 ./Giro BI Kr. Db..

925. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.392.000.250.Rp.000.000 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.478 1.208 1. Kr.208 Kr.250.208 .000.925. Kredit .000 5.000 5.250. 12. Rp.99. 20 sampai dengan no. 6.000.392. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual. no. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.066.208 (Rp. 99. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 14 sampai dengan no.000.066. Pendapatan bunga kredit Rp.000 20.250. 925.99.000 (asumsi) Db. 176 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .066.250.Pendapatan komprehensif lain Rp.066.208 1. 3 sampai dengan no. Kr. Pendapatan bunga kredit Rp. Db. Kredit .000.066. Db.Tersedia untuk Dijual Rp.Tersedia untuk Dijual Rp.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000) Jurnal untuk transaksi no. 20.000 1. Rp.000. 8 sampai dengan no.000 20.Tersedia untuk Dijual Rp. Kr. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.255.478 1. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.208 = Rp.000 5) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp. c. Kredit . Ekuitas .066. 1.000. Kas/Giro/Giro BI Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.255.250. no. Tanggal 30 Juni 2010. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 1. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 18 dan no. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000. 925. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Kr. 23 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 2.000.

19.000.088 (Rp.xxx Db/Kr.911.000.000 (asumsi) Db. 7) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp.xxx. 15.632. Kr. 7.Bab V I K r e d i t 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.90. Kredit. Ekuitas .Tersedia untuk Dijual Rp.000 15. xxx. 15.Rp.Tersedia untuk Dijual Rp.632.000. d. xxx.088 Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Kredit .048./Giro BI Db.367. Keuntungan penjualan kredit Rp.xxx Sebesar penyesuaian harga yang telah diakui pada periode sebelumnya (tidak dijelaskan dalam illustrasi).000.000.Pendapatan komprehensif lain Rp.048.828 .951. 24 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no.90.000. Kredit . pada saat menjual kredit Db.088 90.Pendapatan komprehensif lainnya Rp.Tersedia untuk Dijual Rp.74.Pendapatan komprehensif lain Kr.048. Kas/Rekening.000.000) Jurnal untuk transaksi no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.000 6) Pada saat melakukan jurnal balik terhadap jurnal penyesuaian dengan harga pasar periode sebelumnya Db/Kr. dan no.000.000.. 90.Tersedia untuk Dijual Kr.000.632. Ekuitas .000. Rp. 13. no.15.xxx.000.000 25. Ekuitas .000 15.632. Tanggal 1 Juli 2010. Rp.632.048.. Rp.048. Kredit . 25.088 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 177 .088 = Rp.

dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang 2. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal. jika dan hanya jika. Dasar Pengaturan 1. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok Tersedia untuk Dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). Cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal. 4. (PSAK 55: Paragraf 59) Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi.Bab V I K r e d i t 2. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit A Definisi 1. 3. 5. Jika terdapat bukti tersebut. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). 2. Penghapusbukuan kredit (hapus buku) adalah tindakan administratif bank untuk menghapus buku kredit macet dari neraca sebesar kewajiban debitur tanpa menghapus hak tagih bank kepada debitur. Penghapusan hak tagih kredit (hapus tagih) adalah tindakan bank menghapus semua kewajiban debitur yang tidak dapat diselesaikan. 178 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . B. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Nilai tercatat kredit adalah nilai kredit neto pada tanggal pelaporan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai atau nilai wajar kredit pada tanggal pelaporan untuk kredit dengan klasifikasi diukur pada nilai wajar melalui rugi laba. Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 179 . Bukti obyektf bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). b. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. termasuk: 1) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). (PSAK 55: Paragraf 60) d. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. c. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. e. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. pihak pemberi pinjaman.Bab V I K r e d i t atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. atau 2) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. pelanggaran kontrak. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. f. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui.

Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. pada periode berikutnya. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. 180 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. 5. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. (PSAK 55: Paragraf 64) Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). 6. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). (PSAK 55: Paragraf 66) Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). (PSAK 55: Paragraf 65) Jika. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual.Bab V I K r e d i t 3. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. baik secara langsung. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung 4. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59).

Bab V I K r e d i t dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi.8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 181 . (PSAK 55: Paragraf 68) 7. jika entitas menggunakan sistem pemeringkatan kredit internal. pada periode berikutnya. 2 E. Proses estimasi terhadap jumlah kerugian penurunan nilai dapat menghasilkan satu nilai kerugian atau kisaran (range) nilai kerugian yang mungkin terjadi… (PSAK 55: PA 102) 12. bukan hanya yang berkualitas rendah. Agunan tersebut tidak diakui sebagai aset secara terpisah dari aset keuangan yang mengalami penurunan nilai kecuali memenuhi kriteria pengakuan aset sesuai dengan PSAK lain. Proses estimasi terhadap penurunan nilai mempertimbangkan seluruh eksposur pinjaman yang diberikan. dan tidak hanya peringkat yang mencerminkan penurunan kualitas pinjaman yang diberikan yang tajam. (PSAK 55: Paragraf 70) Jika. Sebagai contoh. Jumlah kerugian kumulatif yang dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi sesuai paragraf 68 merupakan selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini. (Panduan Implementasi No. 10. Pengukuran aset keuangan yang mengalami penurunan nilai mencerminkan nilai wajar agunannya. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi. 9. maka entitas tersebut harus mempertimbangkan seluruh peringkat pinjaman yang diberikan. (PSAK 55: Paragraf 69) Kerugian penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi atas investasi instrumen ekuitas yang diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas yang tersedia untuk dijual tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: PA 101) 11. (PSAK 55: Paragraf 71) 8.4.

keputusan dan proses evaluasi. Kriteria dimaksud tidak hanya didasarkan pada aturan dan formula. yang antara lain mencakup: 1) Periode evaluasi kredit (loan reviews). maka diperlukan suatu kerangka evaluasi yang memadai dan terdokumentasi dengan baik yang menekankan obyektivitas dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. Dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. dan b) memfasilitasi proses kaji ulang dan validasi. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: a. namun juga mencakup gabungan antara aturan formal dan judgement/diskresi manajemen. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap kredit dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Beberapa jenis dokumentasi yang terkait dengan evaluasi penurunan nilai dapat mencakup hal-hal berikut: 182 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . termasuk pengakuan dan pengukuran penurunan nilai. dan 6) Proses dokumentasi. Penjelasan 1. 3) Metode estimasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. 2.Bab V I K r e d i t C. b. estimasi. Didukung dengan dokumentasi yang memadai 1) Evaluasi harus disertai dengan dokumentasi yang bertujuan untuk: a) mendorong kedisiplinan dalam proses estimasi. asumsi. Sejalan dengan kriteria yang bersifat obyektif 1) Evaluasi. 2) Bank harus memiliki standar pendokumentasian atas seluruh analisa. c. Sistematis dan konsisten sepanjang waktu Evaluasi harus dilakukan secara periodik dan konsisten sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan bank. harus sejalan dengan kriteria yang telah ditetapkan. 4) Penilaian agunan/jaminan. 2) Identifikasi bukti obyektif penurunan nilai. 2) Untuk membatasi judgement/diskresi yang cenderung bersifat subyektif. 5) Pembentukan cadangan.

Identifikasi bukti obyektif a. dan e) 3. metodologi yang digunakan untuk menerapkan estimasi kerugian pada kelompok kredit. Kriteria evaluasi penurunan nilai a. tren dan kondisi ekonomi nasional dan lokal. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. dapat menjadi bukti obyektif yang cukup bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi dalam kredit atau kelompok kredit. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan entitas dalam menentukan apakah terdapat bukti obyektif bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi meliputi informasi mengenai likuiditas.Bab V I K r e d i t a) internal rating atau klasifikasi kredit yang digunakan. c. d) basis dalam mengelompokkan suatu kredit dalam kategori kredit. informasi yang tersedia. kecuali peristiwa di masa datang yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian. solvabilitas. Faktor-faktor ini dan faktor-faktor lainnya. Secara individual 1) Bank wajib menentukan tingkat signifikansi kredit yang akan dievaluasi secara individual yang disertai dengan dokumentasi yang memadai yang harus dikaji ulang secara periodik. baik secara individual maupun secara bersama. tingkat atau tren terjadinya tunggakan (delinquencies) untuk aset keuangan serupa. dan nilai wajar agunan dan jaminan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 183 . c) metodologi yang digunakan dalam evaluasi penurunan nilai dari kredit individual. 4. Bank harus menetapkan peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria sebagai bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit berdasarkan pengalaman dan trend historis (experience credit judgement). disertai dengan analisis dasar perhitungan dan mendokumentasikan dalam kebijakan bank. b. dan eksposur risiko usaha dan risiko keuangan pihak debitur atau pihak penerbit. b) basis dalam mengidentifikasi kredit individual untuk melakukan evaluasi penurunan nilai.

maka kredit tersebut tidak dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. namun tidak terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. yaitu: a) estimasi jumlah kerugian kredit. maka kredit tersebut harus dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. dan b) estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount). Contoh: ketika debitur berada dalam kondisi macet (tidak ada estimasi arus kas selain arus kas dari agunan). 5) Estimasi jumlah kerugian kredit didasarkan pada seluruh informasi yang tersedia dan experienced credit judgement. 3) Dalam hal terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai. 184 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c) d) prospek usaha debitur di masa datang. dan b) jenis dan jumlah agunan. 4) Evaluasi secara individual didasarkan pada 2 konsep. 6) Estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut. ketersediaan garansi. dimana nilai kini arus kas agunan sama dengan atau lebih besar dari nilai tercatat kredit. Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif mencakup seluruh kredit yang: a) tidak dievaluasi secara individual. dan b) dievaluasi secara individual. serta memperhatikan berbagai faktor seperti: a) kekuatan finansial dan kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajiban (repayment capacity). b.Bab V I K r e d i t 2) Dalam hal tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual.

bisnis. seperti evaluasi risiko kredit atau proses pemeringkatan yang memperhitungkan tipe aset. industri. 4) Terhadap kredit yang dikelompokkan tersebut. c) e) f) g) d) tipe jaminan. lokasi geografis. dan jatuh tempo. Sebagai contoh. status tunggakan. konsumen. lokasi geografis. Halhal yang perlu diperhatikan antara lain: a) Terdapat data yang dapat diobservasi yang mengindikasikan terjadinya penurunan dalam estimasi arus kas masa datang yang dapat diukur dari kelompok kredit. status tunggakan. dan karakteristik yang relevan lainnya dari aset yang sedang dievaluasi dan data kerugian yang terkait. Model risiko kredit atau metode untuk mengestimasi arus kas masa datang yang diperkirakan yang lebih kompleks (canggih) dapat mengkombinasikan beberapa faktor. bank harus melakukan evaluasi apakah terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. atau pemerintah). dan c) Penurunan tersebut belum dapat diidentifikasi terkait dengan kredit tertentu dalam kelompok kredit. tipe pihak kedua (contoh. tipe jaminan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 185 . kredit dapat dikelompokkan berdasarkan satu atau lebih karakteristik berikut ini: a) estimasi probabilitas terjadinya gagal bayar atau peringkat risiko kredit. pinjaman beragun aset atau pinjaman kartu kredit). b) tipe (contohnya.Bab V I K r e d i t 2) Bank wajib mengelompokkan kredit yang akan dinilai secara kolektif berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yang mengindikasikan kemampuan debitur untuk membayar seluruh kewajiban yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak. b) Penurunan yang dapat diukur tersebut telah terjadi sejak pengakuan awal kredit. 3) Pengelompokkan kredit berdasarkan kesamaan karakteristik tersebut harus disertai dengan dokumentasi yang memadai yang dikaji ulang secara periodik.

yaitu: b. Namun bank dapat mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat yang dituangkan dalam kebijakan internal bank untuk menentukan apakah analisa individual perlu dilakukan. Setiap akhir bulan atau paling lambat setiap akhir triwulan. 186 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik secara individual maupun kolektif. namun terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai sebelum tanggal evaluasi berikutnya. bank wajib mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa kredit atau kelompok kredit mengalami penurunan nilai. Segera setelah penurunan nilai suatu kredit secara individual dalam kelompok kredit tersebut diidentifikasi. b. Bank dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai. Dalam hal bank melakukan evaluasi setiap akhir triwulan. Secara individual Bank dapat menggunakan beberapa teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai dan mengukur kerugian penurunan nilai. Evaluasi terhadap penurunan nilai tidak hanya didasarkan pada suatu pendekatan atau metode yang bersifat standar (prescriptive rules/formulae) tetapi juga didasarkan pada experienced credit judgement oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengingat pengalaman kerugian historis maupun data yang dapat diobservasi bersifat terbatas atau mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini. bank perlu mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat serta ketersediaan informasi dan data historis. Dalam memilih dan menggunakan teknik evaluasi penurunan nilai. maka kredit tersebut harus dikeluarkan dari kelompok kredit dan selanjutnya dinilai secara individual. Periode evaluasi penurunan nilai a. maka bank wajib mengestimasi kembali arus kas masa datang dan cadangan kerugian penurunan nilai untuk kredit tersebut. 6. 5. c. Teknik evaluasi penurunan nilai a.Bab V I K r e d i t 5) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif merupakan langkah antara sampai penurunan nilai kredit secara individual dapat diidentifikasi.

c) Untuk kredit bersuku bunga tetap.Bab V I K r e d i t 1) Discounted Cash Flow a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai dicatat berdasarkan jumlah yang didiskonto (discounted value) dan bukan berdasarkan nilai buku. maka suku bunga efektif juga dapat berubah. bank harus menerapkan secara konsisten dalam mengevaluasi penurunan nilai terhadap kredit dengan suku bunga mengambang. d) Untuk kredit bersuku bunga mengambang (variable interest rate). (4) Pendekatan apapun yang digunakan. suku bunga efektif dapat diidentifikasi setelah memperhitungkan seluruh biaya (termasuk perolehan fee) yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit. Suku bunga efektif tersebut tidak berubah dan digunakan untuk mengevaluasi kerugian penurunan nilai kredit. bank dapat menggunakan suku bunga efektif terkini pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan. b) Jumlah yang didiskonto (discounted value) diperoleh dengan mengestimasi arus kas masa datang (mencakup pembayaran pokok dan bunga) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit. Oleh karena itu. karena bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh jumlah kredit yang telah diberikan kepada debitur. suku bunga kontraktual tidak berubah selama jangka waktu kredit. Suku bunga efektif tersebut dapat digunakan dalam mengevaluasi penurunan nilai selanjutnya. penggunaan suku bunga efektif yang berbeda dari waktu ke waktu dapat menyulitkan bank melacak terjadinya kerugian penurunan nilai. (2) Namun. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 187 . (1) Bank harus menetapkan estimasi kisaran jumlah dan/atau waktu kemungkinan perubahan suku bunga referensi. dimana suku bunga kontraktual berubah dari waktu ke waktu bergantung pada suku bunga referensi. (3) Sebagai alternatif.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengestimasi nilai wajar agunan antara lain: (1) Penunjukkan pihak independen (baik pihak internal bank maupun lembaga penilai) yang akan melakukan penilaian agunan. dan/atau (3) Pengambilalihan agunan kemungkinan besar terjadi dan didukung dengan aspek legal pengikatan agunan. bank dapat memperhitungkan arus kas masa datang dari pengambilalihan agunan. (2) Sulit untuk menentukan jumlah dan saat penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari pokok kredit dan/atau bunga dengan andal. yaitu jika memenuhi salah satu kondisi berikut: (1) Kredit bersifat collateral dependent. 188 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank dapat menggunakan teknik penilaian yang andal. yaitu jika pelunasan kredit hanya bersumber dari agunan. c) Bukti terbaik dari nilai wajar agunan adalah berdasarkan kuotasi harga di pasar aktif. (1) jika tidak tersedia kuotasi harga agunan di pasar aktif. e) f) Nilai agunan yang dapat diperhitungkan adalah nilai yang terendah antara nilai wajar dan nilai pengikatan agunan. (2) Identifikasi taksiran biaya yang terkait dengan penjualan agunan. b) Dalam menentukan jumlah kredit yang dapat diperoleh kembali. termasuk perkiraan waktu realisasi atau penjualan agunan tersebut. d) Bank harus menggunakan informasi yang tersedia untuk mengestimasi nilai wajar agunan seakurat mungkin. dan (2) jika tidak tersedia harga dari agunan yang serupa.Bab V I K r e d i t 2) Fair Value of Collateral a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai juga dapat dicatat berdasarkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable value). misalnya legal costs. (3) Identifikasi nilai agunan yang dapat direalisasi setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan. maka bank dapat menggunakan harga dari transaksi terkini atas agunan serupa.

Bab V I K r e d i t (4) Penetapan waktu penjualan/realisasi agunan. misalnya untuk kredit commercial real estate. (2) Rincian penyesuaian terhadap harga penilaian (appraisal value). dan (4) Dokumentasi mengenai kualifikasi. keahlian. sumber informasi dan tanggal atas harga pasar tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 189 . dan independensi perusahaan penilai (appraisal company). (3) Penjelasan mengenai bagaimana bank memperoleh estimasi nilai wajar. misalnya haircut/diskon atau estimasi biaya penjualan agunan. maka harga pasar tersebut dapat digunakan sebagai nilai wajar kredit dengan memperhitungkan perkiraan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut. bank harus memiliki informasi yang lengkap mengenai jumlah. d. dimana informasi dan data mengenai harga pasar properti tersebut tersedia setiap saat. Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit dilakukan berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang dan tingkat kerugian historis (historical loss rate atau historical net charge-off rate) dari kelompok kredit. b) Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengukur kerugian penurunan nilai. g) Beberapa standar minimum yang harus dipenuhi dalam melakukan estimasi nilai wajar agunan mencakup: (1) Deskripsi mengenai proses penilaian (appraisal process) yang dilakukan. c) Jika pendekatan ini digunakan. 3) Observable Market Price a) Dalam kondisi dimana jumlah dan periode arus kas masa datang tidak dapat dipastikan dan kuotasi harga kredit di pasar aktif dapat diobservasi melalui informasi dan data pasar. dan (5) Penetapan nilai kini dari hasil penjualan/realisasi agunan dalam hal terdapat jeda waktu (time lag) antara tanggal penentuan nilai wajar dan waktu penjualan/realisasi agunan.

d) kondisi terkini.Bab V I K r e d i t 2) Data mengenai kerugian historis merupakan titik awal dalam melakukan evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit. Emergence period tersebut harus ditetapkan berdasarkan data empiris. dalam menetapkan periode tersebut. arus kas dari seluruh sisa umur kredit (tidak hanya tahun berikutnya). b) umur kredit dalam kelompok kredit (ageing of balances). bank juga perlu mempertimbangkan faktor emergence period. dan tidak menghasilkan suatu tingkat kerugian historis yang mengharuskan pengakuan kerugian pada saat pengakuan awal kredit. Namun. Periode observasi apapun yang digunakan. baik internal maupun eksternal. yaitu periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kredit sampai bukti obyektif dapat diidentifikasi atas kredit secara individual. sementara dalam kondisi ekonomi yang berfluktuasi. pengaruh nilai waktu dari uang (time value of money). Berdasarkan data kerugian historis dari suatu kelompok kredit setelah memperhitungkan tingkat pengembalian (recovery rate). 4) Dalam menetapkan tingkat kerugian untuk kelompok kredit. Umumnya emergence period tidak melampaui 12 bulan kecuali dalam kondisi tertentu di luar perkiraan. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih panjang. e) f) 5) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit secara kolektif juga mencakup kerugian yang telah terjadi namun belum dapat diidentifikasi secara tersendiri pada tanggal laporan (incurred but not yet identified). 6) Bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menetapkan tingkat kerugian kelompok kredit. perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang stabil. bank perlu memperhatikan hal-hal berikut: a) c) analisa penurunan nilai kelompok kredit. bank dapat mengestimasi arus kas masa datang dan tingkat kerugian kelompok kredit pada saat ini. Untuk itu. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih pendek. bank harus memiliki data kerugian historis selama minimal 3 tahun sehingga dapat menghasilkan estimasi kerugian yang lebih andal dan berarti. yaitu: 190 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3) Bank dapat menentukan sendiri periode observasi data kerugian historis.

dengan data-data sebagai berikut: Periode 2010 Tw.000.000. periode observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kerugian historis lebih panjang dibandingkan pada contoh di atas.000.Bab V I K r e d i t a) Pendekatan Berbasis Formula (Formula Based) (1) Pendekatan ini menggunakan formula tertentu yang relatif sederhana untuk menghitung tingkat kerugian historis.6% + 1.000.000 1..000.000. Namun demikian. yaitu (2.000. 30.3% + 2%)/3 = 1. meskipun pada akhir tahun. misalnya tingkat kematian (death rate) debitur.000 400. bank dapat menentukan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya penurunan nilai kartu kredit adalah karena kematian pemegang kartu kredit (card holders). 3 Kerugian penurunan nilai berdasarkan death rate (Rp) 1.000 500.000.6%) 400.000. 2 Tw.000 800. (2) Berdasarkan data kerugian historis.000 Kerugian bersih (Rp) 800.000 (2.000 (1. bank belum mengetahui debitur mana yang meninggal dunia. beberapa debitur dalam kelompok kartu kredit bisa jadi telah meninggal dunia pada tahun tersebut yang mengindikasikan terjadinya kerugian penurunan nilai atas kredit tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 191 . Contoh: Sepanjang tahun 2010.3%) 600. Bank harus mengakui kerugian yang sudah terjadi namun belum dilaporkan (incurred but not yet identified) sebagai kerugian akibat penurunan nilai.000 Pengembalian yang diterima (Rp) 200. Hasil observasi bank menunjukkan bahwa tingkat kematian (death rate) dari tahun ke tahun cenderung tidak berubah.000 (2%) Tingkat kerugian historis adalah rata-rata kerugian bersih selama 3 triwulan.97% Umumnya.100.000.000.000. 1 Tw. bank memiliki portofolio kartu kredit sebesar Rp.000.

yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. yaitu tingkat kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. − Roll Rates Analysis Roll Rates Analysis menggunakan internal loan grading system. bahwa bank dapat menagih sebagian porsi kredit yang sudah dihapusbuku (write-off) dimaksud. tingkat PD dan LGD pada kondisi hapus buku tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kerugian pada setiap periode tunggakan. Migration Analysis Migration Analysis menggunakan internal loan grading system (rating system) dan bukan berdasarkan 192 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . apabila berdasarkan data historis dapat diestimasi secara andal. Vintage Analysis. Namun. tingkat Probability of Default (PD) dan Loss Given Default (LGD) dihitung berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi hapus buku. antara lain Migration Analysis. PD dan LGD adalah sebesar 100% atau tidak akan tertagih (default).Bab V I K r e d i t (3) Bank tidak dapat mengakui adanya kerugian akibat penurunan nilai untuk kejadian yang diperkirakan akan terjadi di masa datang karena peristiwa kerugian (misalnya meninggalnya debitur) belum terjadi. maka persentase PD dan LGD untuk kredit tersebut harus dikurangi dengan persentase tingkat pengembalian (recovery rate). dan Default Rate. Selanjutnya. Roll Rates. b) Metode Statistik (Statistical Model Analysis) (1) Penetapan tingkat kerugian historis dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik berdasarkan internal loan grades masing-masing bank. (2) Perhitungan tingkat kerugian historis secara statistik menggunakan parameter berikut: (a) Probability of Default. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan (deliquency stage). Selanjutnya.

78% 61.73% Probalility of Default 4.293.10% 26.481.885.166.819 7.Bab V I K r e d i t pengalaman kerugian sebagaimana halnya pendekatan Historical Loss Rate. tingkat migrasi tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kerugian kelompok kartu kredit berdasarkan setiap periode tunggakan.493.512 194.07% Tunggakan 61-90 hari 1.455 41.87% > 90 hari 3.784.497 27.777 1.433.465.584.37%) + 12.264.69% 25.748.387.973.23% + (1. Pendekatan ini dilakukan dengan menganalisa tingkat migrasi outstanding kredit dari grade tertinggi ke grade terendah.513.946 49.293. tingkat migrasi dihitung berdasarkan persentase nilai kredit atau jumlah rekening yang berpindah dari satu periode tunggakan terendah ke periode tunggakan dimana kartu kredit dinilai tidak akan tertagih (default).778 391.842.77% x 25.784.51% 6.293.615.37% Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 193 .108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari 61-90 hari > 90 hari Pembayaran 138.77% 7.37% 63.021.544 4.021.605 15.641 391.021.842.583.274 863.00% 11.784.544 4.37%) + (5.466.359 32.274 863.92% = 25.000 180.656.332 21.583.885.807 102.095 Hapus Buku Jumlah 2.37% Formula = 3.949 72.65% 16.366.885.23% 12.323 240.150 165.33% Tunggakan 31-60 hari 5. Contoh: Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.69%) = (7% x 25.978.512 194.778 391.2% 25.755 Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.519 55.166.23% x 14.424.43% 47.583.387.289 52.962 70.615.337.244.324 227. Selanjutnya.45% 14.875 91.23% 18. Selanjutnya.711 1. umumnya loan grading ditentukan berdasarkan periode tunggakan (delinquency stage).512 194.949 50.615.126.166.273 863. Dalam kasus portofolio kartu kredit.539.544 4.106 33.321 550.02% 3.947 3.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan 89.

8) Dalam hal bank menggunakan tingkat kerugian historis dalam mengestimasi arus kas masa datang. Collateral Shortfall. (b) Loss Given Default. perlu diperhatikan bahwa tingkat kerugian historis yang diterapkan pada suatu kelompok kredit harus merupakan tingkat kerugian yang diperoleh berdasarkan observasi atas data kerugian masa lalu pada kelompok kredit yang sama atau serupa. status pembayaran. dan Loss on Disposal. yaitu minimum sebesar 1% sesuai ketentuan BI yang berlaku mengenai penilaian kualitas aktiva.Bab V I K r e d i t Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat kemungkinan kelompok kartu kredit tanpa tunggakan menjadi kredit dengan tunggakan lebih dari 90 hari adalah sebesar 4. misalnya perubahan tingkat pengangguran.45%. harga properti. Oleh karena itu. dan dengan data dan informasi yang relevan yang dapat diobservasi yang mencerminkan kondisi terkini. maupun data kerugian yang dialami industri perbankan. yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. 9) Dalam hal bank belum memiliki data tingkat kerugian historis. metode yang digunakan harus mampu menghubungkan setiap kelompok kredit dengan data dan informasi mengenai kerugian masa lalu yang pernah dialami oleh kelompok kredit dengan karakteristik risiko kredit serupa. harga komoditas. antara lain Expected Recoveries. 194 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (3) Metode ini dapat menggunakan data tingkat kerugian bank (bank-specific data) seperti data mengenai internal loan grades. Tingkat migrasi tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi terkini yang mencakup kondisi eksternal maupun internal. atau faktor-faktor lainnya yang merupakan indikasi timbulnya kerugian dalam kelompok kredit serta besarannya. 7) Estimasi terhadap perubahan arus kas masa datang harus mencerminkan dan memiliki arah yang konsisten dengan perubahan data dan informasi terkait yang dapat diobservasi dari satu periode ke periode berikutnya. yaitu besarnya tingkat kerugian yang diakibatkan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. bank diberikan masa transisi selama 1 tahun sampai akhir Desember 2010 untuk menghitung kerugian penurunan nilai secara kolektif menggunakan dasar perhitungan pembentukan cadangan umum.

suku bunga. dan pertimbangan manajemen. ketersediaan dan kecukupan agunan. 11) Tingkat kerugian historis kadangkala bukan merupakan indikator kemungkinan kerugian yang cukup memadai. b) tidak pernah mengalami kerugian dari kelompok kredit atau tidak memiliki pengalaman kerugian yang memadai. c) memberikan kredit kepada industri atau sektor yang belum dilakukan sebelumnya. praktek pengelolaan risiko. dan perundanganundangan mengenai kepailitan (2) Kondisi internal. hapus buku dan perolehan kembali kredit (recoveries). misalnya perubahan dalam standar/prosedur pemberian dan pemantauan kredit. Oleh karena itu. pengalaman bank lain dalam peer. dan pengalaman serta kemampuan manajemen dan loan officer. konsentrasi portofolio. tingkat kerugian historis harus disesuaikan agar mencerminkan kondisi terkini yang tidak terjadi pada periode perolehan data kerugian historis dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang terjadi pada periode tersebut yang saat ini sudah tidak relevan lagi. prosedur audit internal. permasalahan industri. yaitu dalam hal bank: a) tidak memiliki data kerugian historis yang cukup memadai atas kelompok kredit. bank dapat menggunakan data kerugian historis dari peer group atas kelompok kredit yang serupa sampai bank dapat memiliki data sendiri. tingkat tunggakan bunga dan kredit bermasalah saat ini. dan/atau d) baru didirikan. misalnya tingkat produk domestik bruto (PDB).Bab V I K r e d i t 10) Untuk selanjutnya. a) Penyesuaian terhadap kerugian historis dapat mencakup: (1) Kondisi eksternal. kecukupan dan kepatuhan terhadap prosedur yang terkait dengan penagihan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 195 . b) Penyesuaian terhadap kondisi terkini dilakukan berdasakan data dan informasi yang dapat diobservasi. tingkat pengangguran. inflasi.

5%. 13) Metodologi dan asumsi yang digunakan dalam mengukur tingkat kerugian historis harus dikaji ulang secara berkala untuk mengurangi perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dengan jumlah kerugian aktual. dan 5) kerugian historis harus digunakan sebagai basis untuk mengestimasi arus kas masa datang. Dalam kondisi perekonomian yang mengalami resesi dimana tingkat inflasi dan pengangguran meningkat. bank perlu meningkatkan persentase kemungkinan kerugian sebesar 2. tingkat kerugian historis disesuaikan dengan peningkatan sebesar 1.5% dan meningkatkan cadangan kerugian untuk mengantisipasi tekanan ekonomi yang dialami kelompok debitur. 3) sejalan dengan perubahan kondisi terkini berdasarkan data dan informasi yang dapat diobservasi dari waktu ke waktu. 196 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Estimasi arus kas masa datang a. Untuk meningkatkan konsistensi dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. Di lain pihak. tingkat kerugian historis yang telah disesuaikan dengan kondisi terkini tersebut digunakan untuk menyesuaikan nilai tercatat kredit dalam kelompok kredit. 2) meliputi jangka waktu sampai jatuh tempo dan tidak hanya satu tahun. 12) Selanjutnya.Bab V I K r e d i t Contoh: Bank memiliki rata-rata tingkat kerugian historis atas kelompok kredit kendaraan bermotor sebesar 10% selama 5 tahun terakhir. bank telah memperketat standar dan prosedur persetujuan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat menurunkan tingkat kerugian historis sebesar 1%. serta meminimalkan perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dan jumlah kerugian aktual.5%. yaitu menjadi 11. 4) dikaji ulang secara periodik untuk memastikan metodologi dan asumsi yang digunakan dapat diandalkan. Dengan demikian. 7. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: 1) dilakukan secara akurat dalam hal jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang.

b) Untuk dapat diperhitungkan sebagai arus kas masa datang. sehingga bank tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. c) Estimasi terbaik atas arus kas masa datang harus didiskonto dengan menggunakan suku bunga kontrak sebelum kredit tersebut direstrukturisasi. termasuk denda bunga. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3) Realisasi agunan a) I 197 . Estimasi arus kas masa datang antara lain dapat bersumber dari ekspektasi: 1) Penerimaan pokok dan bunga. a) Estimasi arus kas masa datang terhadap kredit yang mengalami penurunan nilai harus mempertimbangkan apakah bank akan melakukan skenario penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit. d) Apabila kredit diperkirakan akan dibayar penuh. c) Persyaratan penjaminan dan kondisi keuangan penjamin harus diidentifikasi sebelum memperhitungkan jaminan atau ganti rugi dalam perhitungan estimasi arus kas masa datang. 2) Jaminan dari pihak ketiga dan ganti rugi dari perusahaan asuransi.Bab V I K r e d i t b. Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari realisasi agunan terlepas apakah bank akan mengambil alih dan menjual agunan atau tidak. bank harus menilai kemungkinan penjamin tersebut memenuhi kewajibannya. bank memberikan konsesi khusus kepada debitur. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai kini dari arus kas masa datang merupakan cadangan yang harus dibentuk untuk kerugian penurunan nilai. b) Dalam restrukturisasi kredit. maka nilai kini arus kas masa datang mungkin tidak akan berada di bawah nilai tercatat. Namun. berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum. yaitu konsesi yang tidak akan diberikan apabila tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. bank harus melakukan evaluasi secara periodik dan obyektif terhadap kemungkinan perubahan kemampuan debitur dalam memenuhi persyaratan restrukturisasi yang telah disepakati. a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari jaminan finansial dari pihak ketiga (termasuk perusahaan asuransi).

b) Disamping menggunakan kuotasi harga tersebut. Dalam kasus ini. aset. c. bank juga harus memperkirakan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut sebagaimana pada butir 6.Bab V I K r e d i t b) Agunan dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang apabila memenuhi kondisi sebagaimana pada butir 6. bank harus melakukan estimasi berdasarkan rencana restrukturisasi dan kemungkinan restrukturisasi tersebut akan memulihkan kondisi debitur atau sebaliknya. 2) Likuidasi karena debitur pailit Apabila debitur dalam kondisi atau proses pailit dan kredit tidak dijamin. 2) f). 2) di atas. c. Dalam hal ini. Dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. khususnya jika terdapat bukti yang kuat secara hukum atas perolehan likuidasi aset debitur. manajemen. 4) Penjualan kredit di pasar sekunder a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat mempertimbangkan skenario penjualan kredit di pasar sekunder sepanjang terdapat kuotasi harga di pasar aktif. pemegang saham. legal. utang. dan sebagainya. sistem dan prosedur. c. Perkiraan tersebut harus didasarkan pada penawaran nyata atau penilaian dari pihak yang memiliki keahlian berdasarkan penjualan bisnis serupa di pasar. operasional. maka bank dapat mempertimbangkan aset yang dimiliki debitur dan memperkirakan bagian yang akan diterima bank dari penjualan/likuidasi aset tersebut. 198 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . keuangan. bank juga perlu mempertimbangkan berbagai langkah yang dilakukan debitur maupun kondisi lainnya yang terkait dengan kemampuan debitur dalam menyelesaikan kewajibannya. terlepas apakah bank akan merealisasikan skenario tersebut atau tidak. bank perlu memperkirakan nilai dari perusahaan/bisnis debitur untuk mengestimasi arus kas yang akan diterima dari penjualan tersebut. b) Apabila restrukturisasi debitur tidak berjalan sesuai ekspektasi. maka kemungkinan sebagian atau seluruh usaha debitur dijual untuk memenuhi kewajibannya. antara lain: 1) Restrukturisasi Debitur a) Pengertian restrukturisasi dalam arti luas mencakup perubahan struktur organisasi.

Pembayaran Setelah Kredit Mengalami Penurunan Nilai a. Oleh karena itu. 2) Bank tidak diperbolehkan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai melebihi jumlah yang dapat dikaitkan pada kredit individual atau kelompok kredit kolektif dan didukung dengan bukti obyektif penurunan nilai. khususnya jika nilai wajar agunan yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas jauh melebihi baki debet dari kredit. Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 199 . 9. Perubahan dalam jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang dapat berdampak pada perubahan estimasi terjadinya penurunan nilai dan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. Nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Perhitungan estimasi arus kas masa datang harus didokumentasikan dan didasarkan atas kebijakan internal bank yang memadai untuk kepentingan pemeriksaan oleh audit internal maupun eksternal. Setelah kredit mengalami penurunan nilai. b. bank mungkin tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. Dalam mengukur dan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. bank harus memperhatikan hal-hal berkut: 1) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk berdasarkan selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. maka setiap penerimaan pembayaran dari debitur akan langsung mengurangi nilai tercatat kredit. Dengan demikian. 3) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk sesuai dengan mata uang denominasi kredit yang diberikan. nilai kini dari arus kas masa datang tidak hanya diestimasi pada saat pertama kali terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. 8. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari debitur untuk membayar pokok atau bunga. melainkan secara periodik sebagaimana pada angka 5 di atas. e.Bab V I K r e d i t d. Dalam kasus tertentu.

d. maka jumlah yang dihapus buku adalah sebesar selisih kurang antara nilai wajar agunan yang diambil alih setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan dengan nilai tercatat kredit. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk.Bab V I K r e d i t b. Apabila debitur melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. 11. c. Kredit dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. Dalam hal penghapusbukuan kredit merupakan kelanjutan dari tindakan penyelesaian kredit dengan cara pengambilalihan agunan. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). Dalam kondisi tersebut. Misalnya. 10. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat kredit. 200 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Hapus Buku dan Hapus Tagih a. Pemulihan Penurunan Nilai a. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat kredit dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. b. Pelaksanaan penghapusbukuan kredit dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. b. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. debitur melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebih antisipasi bank. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai.

mengakui sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca dan mengakui ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. maka bank: a. b. atau 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan Bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungkan penurunan nilai. mengakui sebagai ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). maka bank: a. atau 2) koreksi saldo laba.Bab V I K r e d i t D. atau 2) koreksi saldo laba. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. c. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 201 . 2. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. atau b.

Kredit yang telah dihapus buku dapat direstrukturisasi dengan terlebih dahulu membukukan kembali ”Kredit” dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” di neraca.Bab V I K r e d i t 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. Pada saat penerimaan ganti rugi dari perusahaan asuransi atau lembaga penjamin kredit diakui. maka bank: a. maka bank memulihkan kerugian penurunan nilai yang telah diakui tersebut dengan menjurnal balik ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. yaitu paling tinggi sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. 6. Apabila aset yang dijaminkan diambil alih. melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Penerimaan kas atas kredit yang telah dihapusbuku diakui sebagai pendapatan operasional selain bunga. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah penurunan nilai berkurang yang disebabkan terjadinya suatu peristiwa tertentu setelah pengakuan penurunan nilai. b. b. Kredit yang dihapus buku wajib dicatat secara extracomptable. dan melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. 8. 5. 7. 4. yang mengatur mengenai aset tetap yang tersedia untuk dijual. 3. dan mengakui aset yang diambil alih yang perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK yang berlaku. maka bank: a. c. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungan penurunan nilai. memperhitungkan ganti rugi tersebut dalam estimasi arus kas masa datang yang akan diterima. 202 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Ilustrasi Jurnal 1./Kr. Kredit .amortised cost Db. Kr. Kredit yang telah dihapus buku dapat dihapus tagih antara lain apabila dalam jangka waktu tertentu tidak diperoleh pembayaran setelah dilakukan usaha-usaha penagihan dan merupakan keputusan manajemen. Penyajian 1. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi 1) Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db.Bab V I K r e d i t 9. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai pos pengurang dari “Kredit” sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit tersebut. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Kr./Kr. Kredit . atau mengoreksi saldo laba. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai a. 2. Db. Kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai beban operasional pada pos “Kerugian penurunan nilai kredit”. E. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit 2) Membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan jurnal balik apabila penurunan nilai terjadi pada periode berjalan: Db.amortised cost I 203 . Saldo laba Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Pendapatan bunga kredit Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Db. Kerugian penurunan nilai kredit Kr.

maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain 2) Untuk pembatalan pengakuan pendapatan bunga mengacu pada huruf a di atas 2. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Kredit 204 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kerugian penurunan nilai Jika pemulihan penurunan nilai diketahui setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana peristiwa tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event) Db. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. 3. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya peringkat kredit debitur) a. Pada saat penghapusbukuan kredit Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. Saldo laba Jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Pendapatan b. c. Db. Kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Mengakui kerugian penurunan nilai yang sebelumnya dicatat pada ekuitas Db.Bab V I K r e d i t atau jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit b. Kerugian penurunan nilai Kr.

Pada saat menerima pembayaran untuk kredit yang sudah dihapus buku a. Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 205 . Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Analisis tersebut mencakup: a. commercial loans. F. consumer loans. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit dengan tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) tetapi tidak mengalami penurunan nilai berdasarkan skala waktu tunggakan. 6–12 bulan. 2) Jumlah kerugian penurunan nilai. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event) Db. yang meliputi: 1) Nilai tercatat sebelum dikurangi kerugian penurunan nilai. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang terkait dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. Pendapatan b. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t 4. dan lebih dari 12 bulan. penghapusan. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kerugian penurunan nilai kredit Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. misalnya tunggakan < 3 bulan. dan 2. dan penanganan kredit yang mengalami penurunan nilai. antara lain: 1. Bank dapat menentukan sendiri skala waktu tunggakan yang sesuai. Kredit yang berdasarkan evaluasi secara individual telah mengalami penurunan nilai. 3–6 bulan. c. penyisihan. Pendekatan yang digunakan untuk melakukan evaluasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. 3. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. termasuk faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menetapkan penurunan nilai. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan. dan sebagainya). b.

Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas kredit sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank. saldo awal tahun (a). Contoh Kasus Contoh kasus untuk penurunan nilai menggunakan contoh yang sama pada Bagian mengenai Pemberian dan Penyaluran Kredit. 6. 4. saldo akhir tahun (a) + (b) + (c) – (d) – (e) – (f).Bab V I K r e d i t c. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku (e). 5. yang menunjukkan saldo awal tahun. d. pemulihan cadangan selama tahun berjalan (d). Ikhtisar perubahan pos cadangan kerugian penurunan nilai (baik cadangan kerugian untuk penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif) untuk setiap kategori kredit yang menunjukkan: a. Ikhtisar kredit yang dihapus buku. G. f. b. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit berdasarkan segmentasi tertentu. selisih kurs karena penjabaran cadangan dalam mata uang asing (b). e. dengan tambahan informasi sebagai berikut: 206 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . penghapusbukuan kredit dalam tahun berjalan. yaitu contoh 3 berupa kredit investasi yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku. cadangan yang dibentuk selama tahun berjalan (c). H. penghapusbukuan kredit selama tahun berjalan (f). c. 7. g. Jenis serta nilai wajar agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya untuk setiap pengungkapan pada butir a dan b diatas. Jumlah kredit yang sudah dihentikan pembebanan bunganya. kredit yang telah dilakukan hapus tagih dan saldo akhir tahun.

pada akhir September 2010 terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 207 . Berdasarkan bukti obyektif tersebut. bank melakukan kembali estimasi arus kas masa datang yang mungkin akan diperoleh yang selanjutnya didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal untuk memperoleh nilai kini atas arus kas tersebut. Lihat Tabel 11. yaitu kegagalan debitur membayar kewajiban bunga pada tanggal 30 September 2010. Terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai atas kredit Berdasarkan evaluasi periodik yang dilakukan bank. Selisih kurang antara nilai tercatat kredit sebelum terdapat bukti obyektif penurunan nilai dan nilai kini estimasi arus kas masa datang merupakan cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk.Bab V I K r e d i t 1.

439 47.980.985.570.000 6 31-May-10 1.194.196.481.521 1.000.129.843 5.276.848.000) (52.310.721 643.390.920.521 5.569.000) 1.000) (500.951.943 911.178.191.445 3.392.585 1.570.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.661 51.434 74.199.938 617.000 446.955.000 463.404.583 635.357 50.442.000.392.250.589.328 99.000.000 43.801.255.491.220 934.583 635.931 46.836.389.000) (1.390.965 72.250.507 585.468.556 50.133 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 500.965 (1.000 8 31-Jul-10 937.205.959.357 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.357 (25.991.793.564.850 99.066.940 51.129.984 592.793.255.746 922.439.801 633.178.066.997.000.257.000.842.000.746 922.965 73.076.649.000.277 1.468.250.522.250.569.589.367.766.500.920.997.959.411 599.663.066.066.043.259.997.000.250.082.302.850 99.811.866.920.050 49.750.811.064 616.816.194.364.528.564.165 601.000.000.250.000.750.965 73.000 430.930.304.281 651.938 617.220 934.174.766.925.478 3.500.049 608.000) (1.322 (28.943 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.940.940 51.439 47.411 599.508.801 633.208 99.000) (1.082.000.367.848.043.902.423 47.057 (500.742.281 651.508.325.985.902.250.255.955.364.942.530.302.051 99.999 48.000.980.000) 2 31-Jan-10 1.801.000 4 31-Mar-10 1.834 47.322 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 72.051 99.842.000) 5.542.208 1.325.310.000.000.711 74.965 Cadangan kerugian penurunan nilai 2.530.693.931 46.000.649.661 51.478 941.997.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 13 31-Dec-10 28.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.585 5.500.000) 72.076.975.205.000.086 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 500.112 49.439.256% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .500.000 7 30-Jun-10 26.866.255.250.000.522.196.711 74.843 1.573.721 643.193.869.357 74.000.912 74.834 47.000 27.199.742.925.000.000 3 28-Feb-10 1.569.816.000) (937.191.000) (937.000.930.404.112 49.048 49.510 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 500.479 23 30-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 52.257.975.193.920.357 50.434 74.500.057 72.945.241.165 601.174.468.436.000.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 208 I P e d o m a n 99.250.573.542.000.064 616.Tabel 11: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Terdapat Bukti Obyektif Penurunan Nilai .984 592.295.935.000 9 31-Aug-10 937.050 49.328 99.935.500.535.999 48.274.274.445 941.951.481.255.000) 911.507 585.444.178.048 49.178.940.250.000) (1.000.500.436.836.912 74.000.000 99.208 99.255.663.506 625.250.945.049 608.208 5.528.000) (1.000 5 30-Apr-10 1.000) (500.506 625.556 50.241.276.000.000.277 5.000 99.250.423 47.569.259.758 Suku Bunga Efektif Awal 1.

573.980. 24 dalam Tabel 11 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 911. 911. Pendapatan bunga Rp.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan pula bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kerugian penurunan nilai Kr. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 209 . Rp.389. 922. Kredit – amortised cost Kr.750. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.507 28. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. Rp. Rp.980.357 (apabila masih terdapat tagihan bunga pada saat penurunan nilai.220 Tanggal 31 Desember 2010.530.000. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 14 sampai dengan no.573. 934.746 Kr. 2. Kredit – amortised cost Rp.000.357 2.304.746 Tanggal 30 November 2010.530.304.000 c. d.000 28. Rp. Kredit – amortised cost Rp. maka dilakukan jurnal balik) 2) Pengakuan bunga pada saat terjadi penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat bank tidak menerima pembayaran dari debitur) b. 922. Kredit – amortised cost e. Pendapatan bunga Rp. a. 11 sampai dengan no. Tanggal 30 September 2010. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat kerugian penurunan nilai Db. 13 dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.220 Kr. Jurnal untuk transaksi no.750. pada saat pengakuan amortisasi bunga (interest unwinding) Db.507 934. Tanggal 31 Oktober 2010.389. Rp.

500. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit – amortised cost Rp. bank mengestimasikan akan menerima arus kas masa datang yang lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sehingga bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai. Rp. 651.304.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db. Kredit – amortised cost Kr. Jika pada 31 Desember 2010.257. Lihat Tabel 12.000.257. Rp.304.057 52.357 Kr.Bab V I K r e d i t f.000 52. Kredit– amortised cost Rp.357 2. Rp. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang pada saat evaluasi selanjutnya Sebagaimana dipersyaratkan.000. 2. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. Tanggal 31 Desember 2011. bank harus melakukan evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang secara periodik atau pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai selanjutnya.057 651. 2. 210 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .389.500.389.

639.302.711 911.000.959.940.442.255.383.345.890 36.390.886.991.000) (1.530.823.000 9 31-Aug-10 937.291 450.853.816.521 1.208 99.965 73.331 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab V I K r e d i t I 211 Suku Bunga Efektif Awal 1.000.390.220 445.250.445 3.250.250.000) 445.891.012.497 28.965 73.000.975.446.322 A B C 1 1-Jan-10 (99.232 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 5.000.000.309 360.569.250.250.Tabel 12: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Evaluasi Penurunan Nilai secara Periodik .689.600 35.000.776 356.500.939 911.877.000) 50.920.486.508.930.000) (937.618 404.392.000.012.000 99.497 28.850 99.303.491.446.051 99.250.748.877.000.372 310.250.404.255.208 5.975.275.476.931 35.408 (5.000.980 32.891.712 456.935.000) (5.000.163.000.325.920.980.798.259.198.689.748.255.000) (1.250.920.649.720.513.345.255.051 99.000 21.649.446.446.196.400.000.548 351.367.342.592 1.575 409.513.250.000.925.000 8 31-Jul-10 937.569.196.997.508.357 (25.408 72.126.000.853.000) 72.000 3 28-Feb-10 1.273.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .325.000.098 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 5.250.000.081.951.850 99.843 5.548 351.945.592 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.000.309 360.691.000.000 6 31-May-10 1.481.000) (1.500.000.942.345.303.600 35.997.433.602.250.823.364.618 404.416.000.569.231.058 306.000) (1.328 99.330 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 25.000 4.364.500.721 28.931 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 50.000) 5.000.000.776 356.000.746 922.912 74.000.980.955.066.468.522.367.958.445 941.275.000 4 31-Mar-10 1.000) 2 31-Jan-10 1.997.104.355 302.000.721 28.500.530.000) (5.000) (25.807 24.890 36.798.434 74.220 24.372 310.259.000.000.173 28.291 450.599 32.737.000.198.126.162 24.528.000 15.000) (937.066.000 7 30-Jun-10 26.250.383.404.000.000.129.081.481.208 1.310.576.599 32.000 99.500.912 74.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.478 3.925.355 302.225.000.377.945.255.000) (1.602.357 74.951.058 306.433.000.602.066.478 941.255.965 (1.602.930.000.000.129.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas D E = D x EIR F G=pxi H=E-G Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx Tahun Estimasi Arus Kas 99.328 99.378 399.000.807 24.746 922.220 (15.342.521 5.194.955.486.345.940.965 I=D+E+F+G 99.400.220 24.122.378 399.310.737.250.173 28.585 1.602 31.711 74.600 35.000 4.434 74.000 4.205.208 99.000 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 5.223.392.712 456.104.273.600 Cadangan kerugian penurunan nilai 23.476.377.194.000.277 1.000 5 30-Apr-10 1.416.122.935.528.575 409.965 72.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.886.980 32.000.000.576.231.250.602 31.843 1.000.066.720.277 5.585 5.162 24.

000 c. e. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.231. 456.486.000.000. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit.331 = Rp. 23.404.000 5.000. Jurnal untuk transaksi no. Rp. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat tambahan cadangan kerugian penurunan nilai Db.958.000.958.231. a. Kerugian penurunan nilai Rp. 14 sampai dengan no.823. d.291 Kr. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.163.. Tanggal 31 Desember 2010.712 Tanggal 31 Maret 2011. 74. Kredit – amortised cost Rp. dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.000 15.508. Kas/Rekening. Rp.291 Tanggal 28 Februari 2011.446. 450. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 445. Kredit – amortised cost Kr.331 (Rp. Kredit – amortised cost b.000 Tanggal 31 Januari 2011. Pendapatan bunga Rp. 23.958. 25 dalam Tabel 12 sama dengan jurnal untuk transaksi no./Giro BI Kr.163. 445. 15. Pendapatan bunga Rp.931 – Rp.331 Kr. Kredit – amortised cost Rp. Rp. 450.378 5. Rp.486.823.600) 2) Pengakuan bunga pada awal penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat awal pencatatan nilai kini estimasi arus kas masa datang) 3) Mencatat penerimaan arus kas Db.345. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rp. 16.378 456. 23.163. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.000.000.712 Kr. 50.. Kredit – amortised cost Rp.000. 212 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. 17 sampai dengan no.

Bab V I K r e d i t f.408 25. Rp.122.000. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. Oleh karenanya.958. Rp. 26. Tanggal 31 Desember 2011.000.000. Kredit – amortised cost Kr.688 = Rp.122.331 + Rp.688 Kr. Rp. Kredit – amortised cost Rp. 23. 2.467.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 213 .467.357) 3.347.389. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang dan hapus buku Jika pada saat evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang pada bulan Maret 2011. Kredit – amortised cost Rp. bank mengestimasikan bahwa tidak terdapat penerimaan atau sangat sulit bagi bank untuk memperoleh kembali arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai tersebut.000 25.347. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.467. 26.408 310. 26. 310. Lihat Tabel 13.304. bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai untuk menyesuaikan nilai tercatat sebelumnya menjadi nihil. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db.688 (Rp.163.347.

Tabel 13 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi dan Hapus Buku .585 5.649.000.940.000) (1.000 72.930.250.000 99.528.357 74.920.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .434 74.935.945.965 (25.920.445 3.291 450.000.521 1.576.965 73.250.345.392.196.000.711 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.746 922.965 12 30-Nov-10 73.000.711 74.400.000.255.975.500.481.000 3 28-Feb-10 1.000.250.220 445.712 911.000 99.231.980.000.255.310.951.823.434 8 31-Jul-10 937.530.843 1.000) 445.000.066.000.912 9 31-Aug-10 937.890 Evaluasi penurunan nilai secara periodik dan hapus buku 16 31-Mar-11 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 - Suku Bunga Efektif Awal 1.000 99.390.746 922.942.277 1.569.250.000 74.250.129.569.342.000.445 941.931 35.345.000.250.528.208 5.481.530.277 5.000 99.392.000.000.446.602 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.500.951.521 5.310.000 74.945.255.500.000) (1.446.997.935.250.250.843 5.325.328 99.959.000) (1.325.997.000) (937.000) (1.602 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 0 Tambahan cadangan kerugian penurunan nilai 36.250.576.891.342.390.000) 5.446.255.478 941.342.850 7 30-Jun-10 26.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.980.823.478 3.600 15 28-Feb-11 35.442.259.930.000 99.259.000.250.066.000) (937.129.194.208 99.000) (1.400.955.066.000.322 911.925.208 1.066.000.291 450.000) 2 31-Jan-10 1.400.220 (15.357 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.500.000 99.997.965 11 31-Oct-10 72.328 6 31-May-10 1.196.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 214 I P e d o m a n 1.491.255.602 Perhitungan tambahan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai (31 Maret 2011) 36.585 1.600 35.890 36.000.955.712 72.000.255.991.302.051 5 30-Apr-10 1.000.404.250.850 99.891.925.345.649.000.508.051 99.194.000) (1.367.000 50.250.000 99.208 4 31-Mar-10 1.367.600 14 31-Jan-11 35.569.000.920.912 74.940.500.231.975.

000.689. 62. 62.980. Tanggal 31 Maret 2011.322 911. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 23.868. 36. Nilai tersebut merupakan nilai tercatat sebelum penurunan nilai yang dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. dengan rincian sebagai berikut: Rekonsiliasi atas nilai kini kredit adalah sebagai berikut: a) Nilat tercatat kredit diamortisasi Nilai tercatat sebelum penurunan nilai amortisasi bunga (31-Okt-10) amortisasi bunga (30-Nov-10) Penerimaan arus kas masa datang (31-Dec-10) amortisasi bunga (31-Jan-11) amortisasi bunga (28-Feb-11) 74.868.231.602 Kr.342. Kr.290 b.689. Kerugian penurunan nilai Rp.689.000) 445.291 450. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Rp. 2.000.868. Memorial kredit yang dihapus buku Rp.868. 36.290 Kr. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit Db.746 922.342. 62.163. 62.331 + Rp.689.400. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Rp.290 = Rp.530.823.400.302. Setelah pencatatan jurnal di atas maka nilai tercatat kredit adalah nihil.389.220 (15.868. 36.868.958.357 + Rp.689. Kredit – amortised cost Rp.712 62.400.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi a.342.689.290 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 215 .290 (Rp.602) 2) Pencatatan extracomptable atau rekening memorial Db.959.304.290 62.602 Dengan pembentukan cadangan tersebut maka nilai kini kredit menjadi nihil Pada saat manajemen bank memutuskan untuk menghapus buku kredit 1) Penghapusbukuan kredit Db.

Pada saat Bank menerima setoran kas dari debitur atas kredit yang telah dihapus buku pada tahun berjalan (asumsi penerimaan kembali setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event). Rp.Bab V I K r e d i t b) Cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk Terdapat bukti obyektif (30 Sep-10) 2.331 Penilaian kembali arus kas masa datang (31 Mar-11) 36.400./Giro BI Kr.602 62. Kas/Rekening.958..689. Memorial kredit yang dihapus buku Rp. 1) Pencatatan penerimaan kas Db. Pendapatan 2) Penyesuaian atas rekening memorial Db.357 Penilaian kembali arus kas masa datang (31-Des-10) 23. Rp..163. xxxxxxxx xxxxxxxx Rp.304.290 c. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Kr.342. xxxxxxxx xxxxxxxx 216 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .868.389.

Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Derivatif melekat (embedded derivative) adalah instrumen derivatif yang melekat pada kontrak lainnya yang merupakan kontrak utama (host contract) yang dapat menyebabkan perubahan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak utama sejalan dengan perubahan variabel tertentu yang mendasari (underlying variable). Definisi 1.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bab VI Transaksi Deriva f A. Lindung nilai (hedging) adalah strategi pengelolaan risiko dengan menggunakan instrumen keuangan (hedging instrument) untuk melakukan saling hapus (offset) atas perubahan nilai wajar atau arus kas dari aset atau kewajiban keuangan tertentu. dan c. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak keuangan lain dengan karakteristik sebagai berikut: a. 5. Kewajiban derivatif adalah kewajiban yang merupakan potensi kerugian berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih negatif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. 4. I 217 . Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. suatu komitmen pasti (firm commitment). Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan/ yang mendasari (underlying) b. Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction) Tagihan derivatif adalah tagihan yang merupakan potensi keuntungan berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih positif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. 6. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable forecast transaction) atau investasi neto pada operasi di luar negeri (net investment in a foreign operation) yang merupakan item yang dilindung nilai (hedged item) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. 3.

harga instrumen keuangan. atau variabel lainnya. (PSAK 10 paragraf 7) Pada setiap tanggal neraca: 1) Pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. indeks harga atau indeks suku bunga. Dasar Pengaturan 1.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7. 9. dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang objektif. Derivatif a. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang termasuk dalam ruang lingkup Pernyataan ini (lihat paragraf 2–7) dengan tiga karakteristik berikut ini: 1) nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying). variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak: 2) tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. Komitmen pasti (firm commitment) adalah perjanjian yang mengikat untuk mempertukarkan sumber daya dalam kuantitas tertentu pada tingkat harga tertentu dan pada tanggal atau tanggal-tanggal tertentu di masa datang. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca. Prakiraan transaksi (forecast transaction) adalah transaksi di masa datang yang belum mengikat namun telah diantisipasi. nilai tukar mata uang asing. Untuk variabel non keuangan. B. 8. c. Valuasi adalah suatu proses pengukuran nilai wajar yang dapat didasarkan pada harga kuotasi di pasar yang aktif (mark to market) maupun didasarkan pada teknik penilaian (valuation technique). b. 218 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . harga komoditas. dan 3) diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang. (PSAK 55 paragraf 8) Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan mengunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. antara lain: suku bunga. peringkat kredit atau indeks kredit.

(PSAK 55 paragraf 8) “Suatu pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) akan menimbulkan komitmen harga yang telah ditetapkan antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian yang memenuhi definisi suatu derivatif. Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18. Meskipun demikian...Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca. (PSAK 55 PA69) e. dan 3) Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. digunakan prosedur sebagai berikut: 1) Aset dan kewajiban entitas asing. (PSAK 11 paragraf 14) Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) adalah pembelian atau penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kurun waktu yang umumnya ditetapkan dengan peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar. Sebaliknya. baik moneter maupun nonmoneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate) 2) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi 3) Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai ”selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan. (PSAK 10 paragraf 13) Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasikan dengan laporan keuangan perusahaan pelapor. maka tidak diakui sebagai instrumen keuangan derivatif.” (PSAK 55 PA24) Kontrak yang mensyaratkan atau mengijinkan penyelesaian neto terhadap perubahan nilai kontrak bukan merupakan kontrak reguler. selisih penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. kontrak tersebut dicatat sebagai derivatif pada periode antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 219 . h. (PSAK 10 paragraf 9) d. f. karena komitmen dimaksud memiliki jangka waktu pendek. tetapi harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. g.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. “Derivatif melekat merupakan komponen dari instrumen keuangan campuran (hybrid instrument) atau instrumen keuangan yang digabungkan (combined instrument) dimana didalamnya termasuk pula kontrak utama non derivatif yang mengakibatkan sebagian arus kas yang berasal dari instrumen yang digabungkan bervariasi seperti derivatif yang berdiri sendiri.. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. namun jika kontrak utamanya bukan merupakan instrumen keuangan. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10.. Derivatif Melekat a. dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan. Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak. Jika derivatif melekat dipisahkan. maka kontrak utamanya harus dicatat berdasarkan PSAK 55 jika kontrak utamanya merupakan instrumen keuangan. antara lain: suku bunga. 220 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jika dan hanya jika: 1) karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. nilai tukar mata uang asing. indeks harga atau indeks suku bunga. peringkat kredit atau indeks kredit. atau 2) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen campuran yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan.” (PSAK 55 paragraf 9) Derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utamanya dan dicatat sebagai derivatif berdasarkan Pernyataan ini. atau variabel lainnya. harga instrumen keuangan. 2) instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat memenuhi definisi sebagai derivatif. dan 3) instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (dengan kata lain derivatif yang melekat pada aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dipisahkan). seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan b. maka harus dicatat berdasarkan Pernyataan lain yang sesuai tetapi PSAK 50 tidak mengatur apakah derivatif melekat disajikan secara terpisah dalam laporan keuangan. (PSAK 55 paragraf 10) c.

(PSAK 55 paragraf 11) d. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. maka ketentuan dalam paragraf 12 diterapkan dan entitas memperlakukan keseluruhan kontrak yang digabungkan tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. (PSAK 55 paragraf 13) Penetapan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dapat digunakan terlepas apakah paragraf 10 mensyaratkan derivatif melekat untuk dipisahkan dari kontrak utamanya atau dilarang dipisahkan. paragraf 11 tidak memperkenankan penetapan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi apabila terdapat kondisi sebagaimana dimaksud dalam paragraf 11 (a) dan (b) karena hal tersebut tidak akan mengurangi kompleksitas atau meningkatkan keandalan. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 3. Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat menggunakan metode ini. (PSAK 55 paragraf 87) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 221 . (PSAK 55 PA48) e. f. Namun demikian. apabila kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan berdasarkan Pernyataan ini. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. Lindung Nilai a. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. maka nilai wajar derivatif melekat merupakan selisih antara nilai wajar dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran dengan nilai wajar dari kontrak utama. (PSAK 55 paragraf 12) Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara handal berdasarkan persyaratan dan kondisi derivatif tersebut (misalnya karena derivatif melekat didasarkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi). Akuntansi lindung nilai mengakui pengaruh saling hapus pada laporan laba rugi atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai.

Pendokumentasian tersebut harus meliputi identifikasi instrumen lindung nilai. 3) lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 10 mengenai Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11 mengenai Penjabaran dalam Mata Uang Asing. sifat dari risiko yang dilindung nilai. suatu prakiraan transaksi yang merupakan subyek dari suatu lindung nilai harus bersifat kemungkinan besar terjadi dan terdapat eksposur perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. atau komitmen pasti yang belum diakui. c. 1) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen risiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai. atau komitmen pasti tersebut. 3) Untuk lindung nilai atas arus kas. (PSAK 55 paragraf 88) Suatu hubungan lindung nilai memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai sesuai paragraf 91-105. Hubungan lindung nilai terdiri dari tiga jenis: 1) lindung nilai atas nilai wajar: suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau kewajiban yang telah diakui. 222 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . item atau transaksi yang dilindung nilai. atau bagian yang telah diidentifikasi dari aset. dan (ii) dapat mempengaruhi laporan laba rugi. 2) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif dalam rangka saling hapus atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. jika dan hanya jika. seluruh kondisi berikut ini terpenuhi. dan cara yang akan digunakan entitas untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai tersebut dalam rangka saling hapus eksposur yang berasal dari perubahan dalam nilai wajar item yang dilindung nilai atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. konsisten dengan strategi manajemen risiko yang telah didokumentasikan diawal untuk hubungan lindung nilai tersebut. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. kewajiban. 2) lindung nilai atas arus kas: suatu lindung nilai terhada peksposur variabilitas arus kas yang (i) dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga di masa datang atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable).

. termasuk dengan: a) membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari item yang dilindung nilai yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari instrumen lindung nilai. Jika suatu lindung nilai atas nilai wajar memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. atau b) menunjukkan korelasi statistik yang tinggi antara nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai dengan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. pada waktu entitas menyiapkan laporan keuangan tahunan atau interim. (PSAK 55 paragraf 90) d. 5) Lindung nilai dinilai secara berkesinambungan dan ditentukan bahwa efektivitasnya sangat tinggi sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. minimal. dan nilai wajar instrumen lindung nilai tersebut harus dapat diukur secara andal. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) keuntungan atau kerugian yang berasal dari pengukuran kembali instrumen lindung nilai pada nilai wajar (untuk instrumen lindung nilai derivatif) atau komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diukur berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 223 . Harapan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa cara.” (PSAK 55 PA125) e. Entitas dapat memilih rasio lindung nilai selain satu banding satu dalam rangka meningkatkan efektivitas lindung nilai sebagaimana yang dijabarkan dalam paragraf PA120. lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai selama periode lindung nilai tersebut. Efektivitas dievaluasi. Lindung Nilai atas Nilai Wajar a. “Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: 1) Pada saat dimulainya lindung nilai dan periode-periode sesudahnya.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. yaitu nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. 2) Hasil aktual dari lindung nilai berada dalam kisaran 80–125 persen.. (PSAK 55 PA126) 4.

(PSAK 55 paragraf 91) b. atau 3) entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. 2) lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai. Ketentuan ini berlaku jika item yang dilindung nilai tidak diukur pada biaya perolehan. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. Jika suatu lindung nilai atas arus kas memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. dan 2) keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan menyesuaikan nilai tercatat item yang dilindung nilai dan diakui pada laporan laba rugi. Lindung Nilai atas Arus Kas a.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Uang Asing (untuk instrumen lindung nilai non derivatif) diakui pada laporan laba rugi. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan). entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai arus kas: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai wajar sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 91 jika: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. dan 2) bagian yang tidak efektif atas keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 224 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai b. (PSAK 55 Paragraf 94) 5. (PSAK 55 paragraf 98) Dalam setiap situasi berikut. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai telah kadaluwarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). Pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada laporan laba rugi diterapkan jika item yang dilindung nilai merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini.

maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai dalam paragraf 90. Jika transaksi tersebut terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif telah kadaluarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. dalam hal ini setiap keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) diakui dalam laporan laba rugi. 101. atau 103 diterapkan. Prakiraan transaksi yang kemungkinan besar tidak terjadi (lihat paragraf 90(c)) mungkin masih diharapkan terjadi. termasuk lindung nilai atas item moneter yang dicatat sebagai bagian dari investasi neto (berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Uang Asing). atau 103 diterapkan. maka paragraf 100. maka paragraf 100. 3) suatu prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. 101. Dalam hal ini. (PSAK 55 paragraf 104) 6. maka paragraf 100. 101. dicatat dengan cara yang serupa seperti lindung nilai atas arus kas: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 225 . atau 103 diterapkan. Jika transaksi tersebut terjadi. 4) Entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. Untuk lindung nilai atas prakiraan transaksi. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Lindung Nilai atas Investasi Neto Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. Dalam hal ini. Apabila transaksi tersebut terjadi. Apabila transaksi tersebut tidak lagi diperkirakan akan terjadi.

entitas menerapkan Pedoman Aplikasi PA84 – PA98. dan bagian yang tidak efektif diakui pada laporan laba rugi. dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam suatu hubungan lindung nilai. hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk satu bagian saja dari periode waktu dimana instrumen lindung nilai masih berjalan. Proporsi dari keseluruhan instrumen lindung nilai. dan dapat membuktikan bahwa lindung nilai telah berjalan efektif sebelum peristiwa atau perubahan keadaan tersebut terjadi. entitas menghentikan akuntansi lindung nilai sejak tanggal terjadinya peristiwa atau perubahan keadaan tersebut. misalnya 50 persen dari jumlah nosional. 7. 10. (PSAK 55 paragraf 105) b. Namun demikian. (PSAK 55 paragraf 76) Satu instrumen lindung nilai dapat ditetapkan sebagai lindung nilai atas lebih dari satu jenis risiko sepanjang (a) risiko yang dilindung nilai dapat diidentifikasi secara jelas. jika entitas dapat mengidentifikasi peristiwa atau perubahan keadaan yang menyebabkan hubungan lindung nilai gagal memenuhi kriteria efektivitas. (PSAK 55 PA 134) 8. (PSAK 55 paragraf 48) 226 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan). dan (c) dimungkinkan untuk memastikan bahwa terdapat penetapan yang spesifik dari instrumen lindung nilai dan posisi risiko yang berbeda.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif a. (b) efektivitas dari lindung nilai dapat dibuktikan. Pengukuran Nilai Wajar Dalam menentukan nilai wajar aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk menerapkan Pernyataan ini atau PSAK 50 (revisi 2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang terkait dengan bagian lindung nilai yang efektif yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi ketika investasi dalam operasi luar negeri tersebut dilepaskan. 9. (PSAK 55 paragraf 77) Jika entitas tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. Namun. maka entitas harus menghentikan akuntansi lindung nilainya sejak tanggal terakhir entitas tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai tersebut.

c) Instrumen derivatif dapat mensyaratkan suatu pembayaran dengan jumlah yang telah ditetapkan atau pembayaran yang jumlahnya dapat berubah (tapi tidak proporsional terhadap perubahan item yang mendasarinya) sebagai akibat dari suatu peristiwa di masa datang yang tidak berkaitan dengan jumlah nosional. harga kredit atau indeks kredit b) Instrumen derivatif biasanya memiliki suatu jumlah nosional berupa sejumlah mata uang. instrumen derivatif tidak mensyaratkan pemegangnya atau penerbitnya membayar atau menerima jumlah nosional pada saat kontrak dimulai (inception date). atau ukuran lain yang ditetapkan dalam kontrak. Pembelian atau penerbitan opsi mata uang (Purchased or Written Currency Nilai tukar mata uang Option) Currency Futures Credit Derivative Nilai tukar mata uang Rating kredit. Instrumen keuangan derivatif adalah instrumen keuangan yang memberikan hak (kewajiban) kepada pemegang (penerbit) untuk menerima (membayar) kas atau instrumen keuangan lainnya dalam jumlah yang ditentukan berdasarkan perubahan variabel yang mendasari (underlying) dimasa yang akan datang.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif C. Contoh variabel yang mendasari antara lain: Jenis Kontrak Swap suku bunga (Interest rate swap) Interest Rate Future Swap mata uang (Currency Swap) Variabel yang Mendasari Suku bunga Suku bunga Nilai tukar mata uang b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 227 . saham. Derivatif a. Namun. unit bobot atau volume. Penjelasan 1. Karakteristik derivatif 1) Perubahan nilai sebagai akibat dari perubahan variabel yang mendasari (underlying) a) Variabel yang mendasari (underlying) adalah suatu variabel yang bersama dengan suatu nilai nosional atau suatu syarat pembayaran akan menentukan jumlah yang akan diselesaikan dalam suatu derivatif.

suatu kontrak mensyaratkan pembayaran tetap sejumlah Rp 1 milyar. antara lain: a) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal pertukaran kas Sebagai contoh. kontrak opsi yang tidak menguntungkan pihak pemegang opsi untuk mengeksekusi opsi tersebut (out the money). jika LIBOR 6 bulan meningkat 1%. 3) Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Tanggal penyelesaian tertentu dimasa depan dalam kontrak derivatif mempunyai beberapa pengertian. Kontrak dimaksud merupakan suatu derivatif meski jumlah nosional tidak ditentukan. Sebagai contoh.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Sebagai contoh. Margin deposit harus dicatat secara terpisah dari transaksi derivatif. 228 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (2) Kontrak swap mata uang yang mensyaratkan pertukaran awal dalam mata uang yang berbeda namun memiliki nilai wajar yang setara memenuhi definisi sebagai derivatif karena investasi neto awal adalah sebesar nol. a) b) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal berakhirnya kontrak (expire date) tanpa adanya pertukaran kas. 2) Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil Derivatif tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal yang lebih kecil dibandingkan investasi yang dibutuhkan untuk kontrak jenis lain yang diperkirakan akan memberi respon serupa terhadap perubahan faktor-faktor pasar. b) Margin deposit pada suatu transaksi derivatif yang harus disimpan pada suatu rekening merupakan setoran jaminan atas suatu transaksi derivatif dan tidak dapat diperhitungkan sebagai suatu investasi awal. Sebagai contoh: (1) Kontrak opsi memenuhi definisi sebagai derivatif karena jumlah premi yang harus dibayar lebih rendah dibanding investasi yang dibutuhkan untuk memperoleh instrumen keuangan yang mendasari opsi tersebut. kontrak foreign exchange forward mempunyai tanggal penyelesaian (settlement date) di masa depan dimana terjadi pertukaran kas untuk mata uang berbeda antara pembeli dan penjual.

b) Dalam hal transaksi derivatif yang digunakan untuk lindung nilai tidak memenuhi kriteria penerapan akuntansi lindung nilai. maka transaksi derivatif tersebut diperlakukan sebagaimana transaksi derivatif yang dilakukan untuk tujuan perdagangan. Derivatif dapat digunakan untuk tujuan: 1) Perdagangan (trading/speculative activities). c. Forward Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 229 . Suatu kontrak forward diperdagangkan secara over the counter (OTC) dan jangka waktu penyelesaian transaksi forward adalah lebih dari dua hari kerja setelah tanggal transaksi. 2) Lindung nilai terhadap risiko tertentu dalam kegiatan usaha bank. a) Dalam hal transaksi derivatif secara khusus dilakukan untuk mengelola risiko dimana hubungan antara instrumen derivatif dan item yang dilindung nilai memenuhi kriteria tertentu. Sebagai contoh. d. Dalam transaksi forward terdapat satu pihak yang setuju untuk membeli suatu instrumen keuangan yang mendasari (underlying asset) pada tanggal tertentu dimasa depan pada suatu harga tertentu (long position). e. Transaksi derivatif yang ditujukan untuk tujuan perdagangan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi yaitu sub kategori Diperdagangkan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal-tanggal pembayaran bunga. sedangkan pihak lawan setuju untuk menjual suatu instrumen keuangan yang bersangkutan pada tanggal dan harga yang sama (short position). kontrak interest rate swap yang mempunyai beberapa tanggal penyelesain bunga dimasa depan. Transaksi derivatif harus diakui dalam neraca karena menimbulkan aset dan/atau kewajiban keuangan bagi bank Transaksi derivatif yang umum ditransaksikan antara lain: Transaksi Keterangan Forward adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk membeli atau menjual suatu instrumen keuangan pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. maka akuntansi lindung nilai dapat diterapkan.

Opsi tipe Amerika memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari setiap saat sampai opsi itu jatuh tempo. Dalam suatu periode pembayaran bunga. 2) Swap mata uang (cross currency swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam suatu mata uang tertentu dengan arus kas pembayaran bunga mata uang lainya. 3) Pertukaran arus kas pokok pada akhir periode kontrak. 230 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . misalnya suku bunga dan mata uang. Option Opsi (option) adalah suatu kontrak yang memberikan pemegang opsi suatu hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu aset yang mendasari pada harga tertentu dan tanggal tertentu. 1) Swap suku bunga (interest rate swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam mata uang yang sama. Secara umum suatu swap mata uang mempunyai arus kas sebagai berikut: 1) Pertukaran arus kas pokok pada awal kontrak 2) Pembayaran arus kas bunga diantara periode kontrak. sedangkan opsi tipe Eropa memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari hanya pada tanggal jatuh tempo. Pembayaran biasanya secara neto.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Swap Swap adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk saling mempertukarkan arus kas dari suatu instrumen keuangan yang mendasari pada periode tertentu dimasa depan. Arus kas didasarkan pada kinerja dari variabel yang mendasari. satu pihak akan membayar pada suku bunga tetap/mengambang dan pihak lainnya akan menerima pada suku bunga mengambang/tetap. Swap suku bunga adalah instrumen keuangan yang paling umum digunakan untuk lindung nilai atas risiko suku bunga.

dan bagi penjual opsi tidak terbatas. Jika bank memiliki aset atau kewajiban dimana risiko pasar diantara aset dan kewajiban tersebut saling hapus. untuk membeli suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar instrumen derivatif dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. Secara umum terdapat 2 jenis kontrak opsi yaitu: Standard option dan Exoctic option. Futures 2. sementara risiko futures lebih kecil karena adanya jaminan dari bursa. mana yang lebih sesuai. Standard option juga dikenal sebagai Vanilla option mempunyai persyaratan yang sudah diketahui pada awal transaksi sedangkan Exoctic option mempunyai beberapa persyaratan yang tergantung pada kondisi tertentu selama periode opsi. 2) Put option memberikan hak kepada pemegang kontrak. untuk menjual suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Terdapat 2 tipe Standard option yaitu: 1) Call option memberikan hak kepada pemegang kontrak. Futures adalah suatu perjanjian untuk membeli atau menjual suatu aset pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. Risiko kerugian bagi pembeli opsi adalah sebatas premi yang dibayarkan. Kuotasi di pasar aktif. pembeli opsi harus membayar premi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Dalam transaksi opsi. tetapi bukan kewajiban. tetapi bukan kewajiban. Transaksi futures mempunyai banyak kemiripan dengan forward. maka bank dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi terbuka neto. sementara forward diperdagangkan secara over the counter. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 231 . 2) Risiko transaksi forward relatif lebih besar karena bersifat bilateral dimana terdapat risiko kegagalan pihak lawan memenuhi kewajiban. Sementara perbedaan antara kontrak futures dan forward antara lain: 1) Futures diperdagangkan melalui bursa (exchange) dan mempunyai syarat yang telah distandardisasi.

dan (2) Kontrak derivatif yang melekat pada kontrak utama (embedded derivative). kontrak sewa. b) Mata uang yang digunakan dalam pelaporan bagi ke dua pihak dalam kontrak perdagangan. Karakteristik perubahan arus kas tersebut serupa dengan derivatif yang berdiri sendiri. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. kontrak penjualan atau pembelian instrumen keuangan atau kontrak asuransi. Instrumen Keuangan Campuran (Hybrid instrument) dan Derivatif Melekat (Embedded Derivative) a. d.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. 3) Kontrak penjualan atau pembelian dalam mata uang asing dapat mengandung derivatif melekat jika mata uang asing tersebut bukan merupakan: a) Jenis mata uang yang secara rutin digunakan untuk transaksi produk tersebut pada perdagangan internasional. Instrumen keuangan campuran merupakan campuran atau gabungan antara kontrak utama dan kontrak derivatif. 3. b) Pembayaran bunga mengambang dalam instrumen keuangan yang terkait pada suku bunga cap atau floor. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. c) Pembayaran bunga atau pokok yang terkait pada indeks harga saham atau komoditas. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. b. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Kontrak utama dapat berbentuk instrumen utang atau ekuitas. 232 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Instrumen keuangan campuran mencakup: (1) Kontrak utama yang merupakan instrumen non derivatif. 2) Contoh derivatif melekat antara lain: a) Fitur konversi saham pada instrumen surat berharga (convertible securities). Derivatif melekat (embedded derivative) 1) Derivatif melekat dapat menyebabkan perubahan atas arus kas dari kontrak utama berdasarkan perubahan variabel-variabel tertentu. atau c.

derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama jika memenuhi seluruh kriteria berikut: 1) Instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Berdasarkan bagan tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 233 . Yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu instrumen campuran pada tanggal awal pengakuan antara lain: 1) Mengidentifikasi kontrak utama dan derivatif melekat dalam instrumen campuran.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) e. Langkah-langkah untuk menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak dari kontrak utama dapat dilihat pada bagan berikut: f. 2) Jika derivatif melekat dipisahkan dapat merupakan instrumen derivatif yang berdiri sendiri (freestanding derivative) yang memenuhi kriteria derivatif sesuai PSAK 55. Mata uang yang secara umum digunakan dalam perekonomian dimana transaksi tersebut terjadi. dan 3) Karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak secara jelas dan erat berkaitan dengan kontrak utama. g. dan 3) Menentukan nilai kontrak utama dan derivatif melekat. 2) Menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dalam instrumen campuran.

Pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat” 1) Penentuan adanya suatu hubungan yang jelas dan erat antara derivatif melekat dan kontrak utama relatif sulit. antara lain: “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Opsi jual pada instrumen utang dengan strike price yang terkait dengan perubahan kurs Interest rate swap yang melekat pada mata uang. sementara PSAK 55 tidak memberikan pedoman lebih lanjut mengenai pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat”. atau harga/indeks saham atau instrumen utang komoditas Opsi beli pada instrumen ekuitas atau Kontrak sewa yang terkait dengan tingkat instrumen utang dengan strike price yang inflasi (inflation-indexed) telah ditentukan Opsi perpanjangan (extension option) pada Cap dan floor dalam kontrak penjualan dan instrumen utang bersuku bunga tetap pembelian 234 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif h. 2) Derivatif melekat yang memodifikasi risiko inheren dari kontrak utama (misalnya swap dari suku bunga tetap ke suku bunga mengambang) dapat dikatakan berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Tabel berikut menggambarkan risiko inheren dari kontrak utama.Pedoman Aplikasi (PA) 43 dan 46 memberikan contoh jenis derivatif melekat dengan karakteristik ekonomi dan risiko yang berkaitan secara jelas dan erat dengan kontrak utama maupun sebaliknya. Sementara itu. Kontrak utama Utang dan Asuransi Ekuitas Sewa Suku bunga Inflasi Risiko kredit Harga saham Suku bunga Inflasi Risiko inheren 3) PSAK 55 . namun lebih mendasarkan pada pemahaman konsep melalui berbagai contoh ilustrasi. derivatif melekat yang mengubah karakteristik risiko inheren dari kontrak utama tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama.

Contoh: a) Bank A menerbitkan surat berharga sebesar Rp. Bank A tidak harus memisahkan derivatif melekat (Interest Rate Cap) dari kontrak utama (surat berharga). opsi jual. opsi jual. Suku bunga LIBOR saat penerbitan adalah 5%. dan derivatif melekat tersebut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 235 . Surat berharga tersebut mempunyai batas maksimal suku bunga (cap) 7%. 4) Dalam hal terdapat instrumen campuran dan derivatif melekat yang tidak masuk dalam contoh di atas. Hal ini disebabkan variabel yang mendasari derivatif melekat adalah tingkat suku bunga yang berkaitan jelas dan erat dengan kontrak utama.75%. atau opsi percepatan instrumen utang dimana harga eksekusi opsi pelunasan (prepayment option) pada (exercise price) diperkirakan sama dengan instrumen utang biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) atas instrumen utang pada setiap tanggal eksekusi Credit derivatives yang melekat pada instrumen utang Cap dan floor atas suku bunga dalam instrumen utang jika cap ditetapkan pada atau diatas suku bunga pasar dan floor ditetapkan pada atau dibawah suku bunga pasar pada saat instrumen utang diterbitkan. Kontrak forward mata uang asing dengan secara rutin digunakan atas penjualan pembayaran dalam mata uang dari salah satu atau pembelian produk dalam pihak yang bertransaksi perdagangan internasional. maka bank harus melakukan analisa apakah ada hubungan yang jelas dan erat antara kontrak utama dan derivatif melekat. atau tidak digunakan secara umum dalam kegiatan perekonomian dimana transaksi terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Instrumen utang dengan suku bunga yang Obligasi dengan dua mata uang (dual currency terkait (linked) ke kurs mata uang. atau opsi percepatan pelunasan (prepayment option) pada Opsi beli. atau bonds) harga/indeks saham atau komoditas Opsi konversi menjadi saham (equity Instrumen utang dalam mata uang asing conversion) pada instrumen utang Opsi beli. Penjualan atau pembelian barang atau jasa dalam mata uang asing yang: bukan merupakan mata uang fungsional bagi ke dua pihak. 100 milyar dengan suku bunga mengambang LIBOR + 0.

dan (3) keseluruhan instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.000. (2) opsi mata uang memenuhi persyaratan sebagai suatu derivatif. d) Bank G di Indonesia menerima pinjaman dari Bank H di Singapura dalam mata uang Yen. meskipun ke dua pihak tidak melakukan transaksi di Jepang dalam jumlah yang signifikan. Bank G harus memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama karena karakteristik ekonomi dan risiko dari pinjaman yang diterima tidak berkaitan erat dengan foreign exchange forward.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tidak menggandakan hasil dari suku bunga pasar ketika surat berharga diterbitkan. Bank F harus memisahkan derivatif melekat (opsi mata uang) dari kontrak utama (deposito berjangka) karena: (1) derivatif melekat yang merupakan suatu opsi mata uang tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama yang berbasis tingkat suku bunga. Sementara itu. Bank D harus mencatat secara terpisah antara kontrak utama (surat berharga) dan derivatif melekat (opsi untuk mengkoversi ke saham Bank E). Meskipun derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Kontrak tersebut memberikan hak kepada Bank F untuk memilih mata uang (USD atau IDR) yang akan digunakan untuk mengembalikan nilai pokok deposito pada saat jatuh tempo.000 dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 10%.5%. atau 236 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bagi Bank E. namun dapat dianggap tidak berkaitan dan harus dipisahkan apabila memenuhi kondisi berikut: 1) instrumen campuran dapat diselesaikan dengan cara yang mengakibatkan pemegang instrumen campuran tidak akan memperoleh kembali seluruh nilai investasi secara substansial. Bank D mempunyai opsi untuk mengkonversikan surat berharga tersebut dengan 1 juta saham Bank E. b) Bank D membeli surat berharga yang diterbitkan oleh Bank E sebesar Rp 100 milyar dengan suku bunga tetap. instrumen yang diterbitkan harus dicatat sebagai instrumen utang atau ekuitas sesuai PSAK 50. i. c) Bank F menerbitkan deposito berjangka USD 1. Tingkat suku bunga pasar pada saat penerbitan adalah 4. Pinjaman yang diterima Bank G merupakan kontrak utama dengan derivatif melekat dalam bentuk foreign exchange forward untuk membeli Yen.

n. k. m. atau 2) pada instrumen campuran tertentu dimana dipertimbangkan bahwa derivatif melekat tersebut memang tidak boleh dipisahkan dari kontrak utama. kecuali instrumen derivatif tersebut ditetapkan dan memenuhi kriteria sebagai instrumen lindung nilai. atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. Selanjutnya. maka derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama dan keseluruhan instrumen campuran harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. yaitu kurang lebih sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). khususnya jika: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 237 . kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak akan merubah atau memodifikasi secara signifikan arus kas sesuai persyaratan pada kontrak utama. namun instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika derivatif melekat dipisahkan dari kontrak utama. maka derivatifderivatif tersebut dicatat secara terpisah satu dengan lainnya. maka bank menetapkan keseluruhan instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). Jika derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. l. Keseluruhan instrumen campuran yang memenuhi kondisi pada angka (1) dan (2) diatas diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. serta independen antara satu dengan lainnya. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dimana derivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu. maka derivatif melekat tersebut harus diakui sebagai instrumen derivatif yang berdiri sendiri dan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) derivatif melekat tersebut dapat sekurang-kurangnya menggandakan tingkat pengembalian awal yang diperoleh pemegang instrumen campuran. kontrak utama diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan. Jika derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama sebagaimana huruf l) di atas. misalnya opsi pelunasan dipercepat (prepayment option) yang melekat pada fasilitas Kredit yang memungkinkan debitur melunasi pinjamannya lebih awal. j. dan dapat menghasilkan tingkat pengembalian setidaknya dua kali lebih besar dibandingkan tingkat pengembalian pasar atas kontrak yang memiliki syarat yang sama dengan kontrak utama. Bank dapat tidak melakukan langkah-langkah untuk menetapkan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak sebagaimana huruf f) diatas.

Penetapan nilai wajar derivatif melekat 1) Derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utama harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 3) Apabila bank tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara andal. Selanjutnya. Perlakuan terhadap derivatif melekat sebagaimana diatur dalam PSAK 55 antara lain bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran derivatif melekat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dihindari dengan melekatkan pada kontrak utama yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan/atau 3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. bank menetapkan untuk mengukur instrumen campuran tersebut pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Sebagai contoh. terhadap suatu instrumen campuran yang kompleks yang masuk kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dan diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 238 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka nilai wajar derivatif melekat dapat ditentukan berdasarkan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar kontrak utama hanya jika kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan. o.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) pemisahan sulit dilakukan karena kompleksitas dari instrumen campuran. maka bank menetapkan instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). bank dapat tidak melakukan penilaian terhadap pemenuhan kriteria 2 dan 3 pada huruf f) di atas dan tidak memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama. p. bank dapat menggunakan teknik penilaian. Asumsi yang digunakan dalam teknik penilaian harus didokumentasikan dan diterapkan secara konsisten. 4) Jika metode pengukuran nilai wajar sebagaimana pada angka (3) diatas tidak dapat dilakukan. 2) Bukti terbaik atas nilai wajar adalah kuotasi harga di pasar aktif. maka bank dapat tidak memisahkan derivatif melekat dan selanjutnya keseluruhan instrumen campuran tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). 2) proses pemisahan menimbulkan beban tambahan bagi bank. Jika tidak terdapat pasar aktif yang menggambarkan syarat dan kondisi yang sama dengan derivatif melekat.

Hal ini akan menimbulkan ketidaksesuaian (mismatch) periode pengakuan keuntungan (gain) dan kerugian (loss) dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 239 . dll) 2) Akuntansi lindung nilai (hedge accounting) merupakan suatu perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi lindung nilai yang mencakup instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. risiko nilai tukar. Dengan akuntansi lindung nilai. biaya perolehan diamortisasi. Akuntansi Lindung Nilai (Hedge Accounting) a. (4) identifikasi jenis hubungan lindung nilai yang digunakan (misalnya lindung nilai atas nilai wajar. Lindung nilai ekonomi dan akuntansi lindung nilai 1) Lindung nilai ekonomi (economic hedges) merupakan suatu transaksi yang bertujuan untuk mengurangi eksposur risiko (misalnya risiko suku bunga. yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama Jika akuntansi lindung nilai tidak diterapkan. Persyaratan akuntansi lindung nilai 1) Penerapan akutansi lindung nilai hanya diperbolehkan jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai. Tidak seluruh lindung nilai ekonomi dapat memenuhi persyaratan untuk akuntansi lindung nilai berdasarkan PSAK 55. (2) jenis risiko yang dilindung nilai. arus kas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4. bank dapat melakukan saling hapus antara keuntungan dan kerugian pada periode yang sama berdasarkan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. maka instrumen lindung nilai (yang umumnya merupakan instrumen derivatif) akan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dll). (3) identifikasi instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Bank harus membuat suatu dokumentasi formal atas hubungan suatu lindung nilai yang sekurangkurangnya mencakup: (1) tujuan manajemen risiko serta strategi pelaksanaan lindung nilai. sementara item yang dilindung nilai (umumnya merupakan instrumen keuangan) akan diukur berdasarkan biaya perolehan. b. atau nilai wajar sesuai kategori instrumen keuangan tersebut.

Metode dan prosedur penilaian dan pengukuran efektivitas lindung nilai harus dijelaskan secara detail dan konsisten selama periode lindung nilai. Jika hal-hal tersebut diatas tidak ditetapkan secara tertulis. 240 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik secara prospektif maupun retrospektif. dan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. maka. termasuk periode waktu dimana transaksi tersebut diharapkan akan terjadi. dan (6) cara yang akan digunakan untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai. e) Hubungan lindung nilai dievaluasi secara berkesinambungan dan lindung nilai sangat efektif sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. d) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal (1) Bank harus dapat mengukur nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai. transaksi lindung nilai tidak memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. (4) Metode penilaian efektivitas lindung nilai didasarkan pada strategi manajemen risiko. (3) Bank dapat menggunakan model kuantitatif atau statistik untuk melakukan analisis dan penilaian efektivitas lindung nilai. (2) Pengukuran efektivitas tersebut harus didukung dengan sistem yang secara periodik dapat mengidentifikasi dan mengukur perubahan nilai dari item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai sejak penetapan awal hubungan lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (5) tanggal dimulainya penetapan hubungan lindung nilai. 2) Jika tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. b) Prakiraan transaksi (forecast transactions) yang dilindung nilai sangat mungkin terjadi (highly probable) dan terekspos pada risiko perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi Bank harus mengidentifikasi dan mendokumentasikan seluruh data dan informasi terkait yang dapat mendukung proses penetapan hubungan lindung nilai atas prakiraan transaksi tersebut. c) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif (highly effective). yang dapat berbeda pada setiap jenis lindung nilai. maka bank harus menghentikan secara permanen akuntansi lindung nilai sejak tanggal terakhir lindung nilai tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai dimaksud.

transaksi tersebut akan tereliminasi dalam laporan keuangan konsolidasi. (2) Instrumen yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai juga dapat mencakup derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utamanya. yaitu: a) Instrumen derivatif yang ditetapkan (designated derivative) untuk tujuan lindung nilai (1) PSAK 55 mendefinisikan instrumen lindung nilai sebagai suatu instrumen derivatif yang ditetapkan untuk lindung nilai dimana perubahan nilai wajar atau arus kas diharapkan saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang ditetapkan untuk dilindung nilai. (3) Khusus untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. Transaksi lindung nilai intra-group tersebut dapat memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). dan/atau b) risiko lain yang akan dilindung nilai. Penetapan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen derivatif harus ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai secara keseluruhan. hanya instrumen yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifikasi sebagai instrumen lindung nilai. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai instrumen lindung nilai. c.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Bank dapat menetapkan suatu hubungan lindung nilai baru atas item yang dilindung nilai tersebut sepanjang semua persyaratan akuntansi lindung nilai dipenuhi. b) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. namun tidak memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. instrumen lindung nilai juga dapat berupa aset atau kewajiban keuangan non derivatif. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 241 . (2) Meskipun perusahaan dalam grup usaha bank saling melakukan transaksi lindung nilai. Instrumen lindung nilai (hedging instrument) 1) Instrumen keuangan dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai hanya jika instrumen tersebut memenuhi kondisi berikut. yang dapat dilakukan antara lain dengan menetapkan: a) instrumen lindung nilai lainnya.

Jika harga eksekusi lebih besar dari harga pasar saat ini. b) Bank dapat menetapkan porsi tertentu dari keseluruhan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. dan (3) terdapat penetapan khusus atas instrumen lindung nilai dan posisi risiko-risiko yang dilindung nilai. maka nilai intrinsik sama dengan nol. 60% dari jumlah nosional suatu instrumen derivatif dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai. c) Bank dapat menetapkan suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai terhadap lebih dari satu jenis risiko sepanjang: (1) risiko-risiko tersebut dapat diidentifikasi secara jelas. bank tidak diperbolehkan hanya menentukan komponen mata uang dari suatu swap mata uang (cross currency swap) sebagai instrumen lindung nilai tanpa mengikutsertakan komponen suku bunga. Nilai intrinsik adalah perbedaan antara harga eksekusi (strike price) dan harga pasar saat ini dari variabel yang mendasari. Sebagai contoh. Sebagai contoh. maka nilai wajar opsi sama dengan nilai waktu. Jika nilai intrinsik nol. termasuk lindung nilai atas portofolio aset atau kewajiban keuangan. d) Portofolio derivatif (dua atau lebih instrumen derivatif) atau proporsi dari instrumen-instrumen tersebut dapat ditetapkan secara bersama sebagai instrumen lindung nilai. Pengecualian-pengecualian tersebut diperkenankan karena nilai intrinsik suatu opsi dan premi dari kontrak berjangka (spot price) umumnya dapat diukur secara terpisah. 1 242 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2 Nilai waktu adalah perbedaan antara nilai wajar opsi (premi) dan nilai intrinsik. dan (b) memisahkan elemen bunga dan harga saat ini (spot price) dari kontrak berjangka (forward contract) dan hanya menetapkan spot price sebagai instrumen lindung nilai. (2) efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. (2) Pengecualian hanya diperkenankan jika bank: (a) memisahkan nilai intrinsik1 dan nilai waktu2 dari kontrak opsi dan hanya menetapkan perubahan nilai intrinsik dari opsi tersebut sebagai instrumen lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Bank tidak diperbolehkan menggunakan komponen tertentu saja dari suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai.

penghentian pengakuan aset dan kewajiban keuangan. aset keuangan dalam mata uang asing digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas kewajiban keuangan dalam mata uang asing. dimana selisih bersih dari ke dua opsi tersebut merupakan opsi yang dibeli (purchased option). dan pengakuan instrumen keuangan baru. 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai antara lain mencakup: a) Instrumen bukan derivatif (non-derivative) Instrumen non derivative tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai. Namun.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif e) Sebagai contoh: Bank memiliki portofolio aset dan kewajiban keuangan yang dilindung nilai terhadap risiko pelunasan dipercepat (prepayment risk). instrumen derivatif dengan jangka waktu 5 tahun tidak boleh ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai hanya untuk 3 tahun pertama saja. Dalam setiap periode pelaporan. b) Instrumen yang tidak memiliki kuotasi (unquoted instrument) Instrumen derivatif yang dikaitkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi dan harus diselesaikan dengan penyerahan instrumen ekuitas tersebut tidak dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai karena nilai wajar instrumen tersebut tidak dapat diukur secara andal c) Instrumen ekuitas yang diterbitkan bank (own equity instrument) d) Opsi yang diterbitkan (written option) Opsi yang diterbitkan tidak bisa digunakan sebagai instrumen lindung nilai kecuali digabungkan dengan opsi yang dibeli (purchased option). kecuali instrumen non derivative yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. melainkan menambah instrumen lindung nilai baru ke dalam hubungan lindung nilai. bank tidak perlu merubah nilai instrumen lindung nilai. nilai item yang dilindung nilai dapat berubah dari waktu ke waktu. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 243 . jumlah aset dan kewajiban keuangan akan berubah berdasarkan ekpektasi pelunasan dipercepat. Sebagai contoh. Hal ini berarti dalam suatu portofolio. Sebagai contoh. Hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk bagian tertentu dari periode waktu berlakunya instrumen lindung nilai.

b) Aset atau kewajiban non keuangan secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang terkespos risiko nilai tukar saja. dan/atau (3) Bagian tertentu dari portofolio aset atau kewajiban keuangan yang terkespos risiko yang sama yang dilindung nilai. atau investasi neto pada operasi di luar negeri (khususnya lindung nilai atas risiko nilai tukar). namun tidak dalam laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. komitmen pasti. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai. atau investasi neto pada operasi di luar negeri. komitmen pasti. hanya aset. yang berdasarkan PSAK 55 dapat mencakup: (1) Suatu aset.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. c) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. Item yang dilindung nilai (hedged item) 1) Instrumen keuangan dapat merupakan item yang dilindung nilai hanya jika memenuhi kondisi berikut. kewajiban. kewajiban. yang memiliki karakteristik risiko yang serupa. kewajiban. dan transaksi yang diperkiraan kemungkinan besar terjadi yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifkasi sebagai item yang dilindung nilai. (2) Sekelompok aset. komitmen pasti. (2) Akuntansi lindung nilai dapat diterapkan atas transaksi antar perusahaan dalam grup usaha bank dalam laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). Instrumen keuangan tersebut diatas merupakan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang terekspos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat menyebabkan perubahan nilai wajar atau arus kas sehingga berdampak pada pada laporan laba rugi dalam periode berjalan atau periode mendatang. Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya suatu bagian tertentu (portion) 244 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu: a) Instrumen keuangan ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (designated item). prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi.

sepanjang efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. posisi neto yang dinyatakan dalam suatu jumlah mata uang asing dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. item yang dilindung nilai dapat meliputi bagian tertentu dari arus kas kontraktual atau persentase tertentu dari nilai wajar. Sebagai contoh: Aset keuangan bersuku bunga tetap dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai dari perubahan nilai wajar. Namun. b) Suatu kelompok instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (1) Dalam hal aset atau kewajiban keuangan individual dalam suatu kelompok memiliki kemiripan dan terekspos pada risiko yang sama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan. c) Instrumen non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya atas risiko nilai tukar. yaitu seluruh nilai wajar atau seluruh arus kas. Dalam hal ini. yaitu atas suatu bagian tertentu saja dari nilai wajar atau arus kas. (2) Dalam kelompok item yang dilindung nilai tersebut. posisi neto secara keseluruhan (overall net position) tidak dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 245 . Sebagai alternatif. (2) Instrumen keuangan tersebut juga dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. bank dapat menetapkan hanya bagian eksposur suku bunga dari aset keuangan tersebut yang ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Sebagai contoh: Bank A memiliki aset keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 300 dan kewajiban keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 250 yang terekspos pada karakterisitik risiko yang sama. Bank A dapat menetapkan item yang dilindung nilai sebesar US$ 50. maka aset dan kewajiban tersebut dapat dilindung nilai sebagai suatu kelompok item yang dilindung nilai (group of hedged item).

Hal ini dikarenakan eksposur mata uang asing dari aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing dapat diukur secara terpisah. Kedua cara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda serta tingkat kemungkinan terjadi yang berbeda. Sebagai contoh: jika ingin memperoleh pendanaan (funding). (2) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai atas perubahan nilai wajar yang dapat diatribusikan pada risiko nilai tukar. Semakin besar kuantitas (jumlah atau nilai) yang akan ditransaksi. seperti halnya perubahan suku bunga pasar yang dapat mempengaruhi nilai dari surat berharga. bank harus memperhatikan fakta-fakta yang dapat diobservasi dan kondisi-kondisi seperti: (1) frekuensi transaksi serupa di masa lalu. semakin besar kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. Sebaliknya. bank dapat melakukan dengan berbagai cara seperti menerbitkan saham atau memperoleh pinjaman. Dalam mengukur kemungkinan terjadinya transaksi. dan/atau (7) rencana bisnis bank. d) Suatu prakiraan transaksi dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai sepanjang kemungkinan besar akan terjadi. (2) kemampuan keuangan dan operasionl bank dalam melakukan transaksi tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atas seluruh jenis risiko. (5) kemungkinan dilakukannya alternatif transaksi lain. (6) kuantitas dan rentang waktu transaksi. semakin kecil kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. (4) besarnya kerugian atau gangguan yang dapat terjadi jika transaksi tidak dilakukan. semakin panjang rentang waktu perkiraan (forecast). Hal ini dikarenakan perubahan nilai dari suatu komponen pada item non keuangan yang dilindung nilai tidak dapat diukur dan mempengaruhi nilai dari item non keuangan tersebut. (3) adanya komitmen sumber daya yang substansial/nyata bagi aktivitas tertentu. 246 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

yaitu selisih antara aset dan kewajiban. kecuali aset keuangan yang terkespos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat dilindung nilai. risiko nilai tukar. Hal ini dikarenakan pengakuan keuntungan atau kerugian bersumber dari laba atau rugi perusahaan anak atau perusahaan asosiasi dan bukan dari perubahan nilai wajar investasi. 4) Terhadap item yang dilindung. 3) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen non keuangan antara lain mencakup risiko nilai tukar dan risiko nilai wajar secara keseluruhan. dan b) Risiko-risiko tersebut dapat berdampak pada laporan laba rugi. karena aset keuangan tersebut dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan jatuh tempo. sehingga tidak akan terekspos pada risiko dari perubahan suku bunga pasar atau pelunasan dini. 2) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen keuangan antara lain mencakup risiko suku bunga. dan risiko kredit. Risiko yang dilindung nilai (hedged risk) 1) Pada prinsipnya. risiko pelunasan dipercepat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 247 . PSAK 55 menyatakan bahwa: a) Hanya risiko tertentu yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan untuk dilindung nilai. b) Penyertaan pada perusahaan anak (subsidiaries) atau perusahaan asosiasi (assosiated companies) yang dikonsolidasikan atau diukur menggunakan metode ekuitas (equity method). Namun. atau kantor cabang di luar negeri. dan e) Semua transaksi yang terkait dengan saham (ekuitas) yang diterbitkan bank (own equity). d) Instrumen derivatif (kecuali opsi yang dibeli sebagai item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar). setiap risiko keuangan yang timbul dalam kegiatan usaha bank dapat dilindung nilai. bank tetap wajib melakukan evaluasi terjadinya penurunan nilai (impairment) berdasarkan bukti obyektif setelah memperhitungkan perubahan nilai wajar. c) Posisi terbuka neto (net open position) dari suatu portofolio. perusahaan asosiasi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai item yang dilindung nilai antara lain mencakup: a) Aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. kecuali penyertaan bersih pada perusahaan anak. e.

a) Penilaian secara prospektif (prospective test) yang dilakukan pada tanggal awal penetapan hubungan lindung nilai dan pada periode-periode selanjutnya (lihat Bagan di bawah). dan b) Hasil aktual dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dan perubahan nilai wajar atau arus kas yang diharapkan dari item yang dilindung nilai saling menghapus pada kisaran 80%– 125%. maka perubahan yang diakui dalam nilai wajar item yang dilindung nilai yang tidak berkaitan dengan risiko yang dilindung nilai diakui berdasarkan kategori item yang dilindung nilai. 2) Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: a) Lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada saat dimulainya lindung nilai dan periode selanjutnya selama periode lindung nilai tersebut. 3) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai (effectiveness test) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai harus dilakukan secara prospektif dan retrospektif yang meliputi penilaian kualitatif maupun kuantitatif. lindung nilai harus terkait dengan risiko yang telah diidentifikasi dan ditetapkan secara spesifik dan mempengaruhi laporan laba rugi. f. Metode penilaian tersebut harus ditetapkan pada awal hubungan lindung nilai dan pada periodeperiode selanjutnya. 5) Jika risiko yang dilindung nilai hanya risiko-risiko tertentu yang dapat diatribusikan pada item yang dilindung nilai. yaitu diakui pada laporan laba rugi untuk instrumen dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi atau diakui secara langsung dalam ekuitas untuk instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Bank dapat menggunakan berbagai metode penilaian yang didasarkan pada strategi manajemen risiko dan didokumentasikan dengan jelas. 248 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Untuk memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai. Efektivitas lindung nilai (hedge effectiveness) 1) Efektivitas lindung nilai merupakan penilaian sejauh mana perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindungi yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dapat saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai.

(2) Bank juga harus memperkirakan bahwa hubungan lindung nilai tersebut sejalan dengan strategi manajemen risiko. yang disertai dengan bukti yang dapat mendukung perkiraan tersebut. antara lain: (a) Critical Terms Comparison Method Merupakan metode yang paling sederhana yang bersifat kualitatif dengan membandingkan persyaratan-persyaratan utama antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Dalam metode ini. tanggal jatuh tempo atau tanggal penyesuaian suku bunga (repricing dates) dan variabel yang mendasari) serta nilai wajar derivatif adalah nol pada tanggal awal (inception date). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 249 . hubungan lindung nilai adalah efektif jika item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai bersifat identik (yaitu terdapat kesamaan antara lain dalam hal jumlah nosional. (3) Perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai secara prospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Penilaian ini didasarkan pada perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal lindung nilai dan pada periode selanjutnya.

(1) Jika suatu lindung nilai telah menunjukkan hubungan yang efektif secara prospektif. b) Penilaian secara retrospektif (retrospective test) yang dilakukan setiap tanggal pelaporan interim (paling kurang setiap 3 bulan) dan tanggal pelaporan akhir tahun. Indikator pengukuran dalam metode ini antara lain RSquare (Coefficient of determination) yang menunjukkan persentase perubahan pada item yang dilindung nilai yang dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. diperlukan penilaian efektivitas yang dilakukan secara retrospektif. namun tidak dapat mengukur mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif. bank tetap harus melakukan pengukuran efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif.85 menunjukkan bahwa 85% dari perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. 250 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang bersifat kuantitatif untuk memperkirakan hubungan lindung nilai di masa datang dengan membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari item yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari instrumen lindung nilai dan melihat korelasi statistik diantara kedua perubahan tersebut yang dapat mendukung pengukuran yang sama dimasa yang akan datang. misalnya perubahan kredibilitas pihak lawan dalam transaksi derivatif lindung nilai. Sebagai contoh: R-Square sebesar 0. karena dapat terjadi perubahan kondisi. Umumnya R-Square harus berada dalam kisaran 80%-100% Meskipun Regression Analysis dapat membuktikan apakah hubungan antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai cukup efektif untuk memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai. Oleh karena itu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Perysaratan yang identik antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai tidak menjamin bahwa lindung nilai akan selalu efektif.

Kumulatif (cumulative basis). − Pemilihan pendekatan harus ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak penetapan awal lindung nilai. antara lain:. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 251 . Efektivitas dapat diukur berdasarkan 2 pendekatan. (a) Dollar Offset Method Metode ini merupakan metode yang paling sederhana untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif dengan membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai selama periode waktu tertentu sebelum tanggal penilaian. maka bank hanya menetapkan 75% dari eksposur tersebut sebagai item yang dilindung nilai dan efektivitas hanya dinilai atas dasar 75% dari eksposur tersebut. (4) Penilaian efektivitas lindung nilai secara retrospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (2) Penilaian ini didasarkan pada evaluasi terhadap efektivitas aktual. yaitu: − Periode ke periode (period by period basis).125%. (3) Efektivitas lindung nilai harus dinilai secara berkesinambungan dan ditetapkan sangat efektif selama periode laporan keuangan dimana hubungan lindung nilai ditetapkan. Dalam hal bank menetapkan untuk menggunakan pendekatan Kumulatif. Jika bank melakukan lindung nilai terhadap kurang dari 100% nilai eksposur (misalnya 75%). Perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai Rasio Lindung nilai = —————————————— ——————— Perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Suatu hubungan lindung nilai adalah sangat efektif jika rasio lindung nilai berada dalam kisaran antara 80% . yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak tanggal terakhir penilaian.

bank dapat menggunakan suatu proxy derivative atau hypothetical derivative. yaitu dapat mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang sama yang digunakan untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara prospektif. d) Bank harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya wanprestasi oleh pihak lawan (counterparty) terhadap instrumen lindung nilai dalam menilai efektivitas lindung nilai. baik pada saat dimulainya lindung nilai maupun pada periode selanjutnya. c) Pengukuran efektivitas lindung nilai dapat dilaksanakan dengan dasar setelah pajak (after tax basis). yaitu dengan menetapkan suatu transaksi derivatif yang serupa dengan arus kas yang dilindung nilai (yang memiliki jumlah dan 252 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . e) Dalam melakukan pengukuran efektivitas lindung nilai atas arus kas (cash flow hedge) dimana item yang dilindung nilai belum diakui dalam neraca. maka hal tersebut harus telah ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif maka ketidakefektifan lindung nilai yang terjadi pada suatu periode tertentu tidak serta merta menjadi alasan bagi pelarangan atau penghentian penerapan akuntansi lindung nilai (lihat ilustrasi dalam tabel berikut). Pendekatan Periode ke Pendekatan Kumulatif Periode Periode Lindung nilai Lindung Obligasi Swap yang tidak Rasio lindung nilai yang Rasio lindung nilai nilai efektif tidak efektif Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 100 60 (40) 120 (90) (65) 20 (120) 10 (100-90) (5) (60-65) (20) (-40+20) 0 (120-120) 10 (100-90) 5 108% (65/60) (160-155) 50% (15) (20/40) (120-135) 100% (15) (120/120) (240-255) 90% (90/100) 90% (90/100) 97% (155/160) 113% (135/120) 106% (255/240) Perubahan Nilai Wajar Penggunaan Dollar Offset Method memiliki kelebihan. Jika bank akan mengukur lindung nilai dengan dasar setelah pajak.

a) Dalam Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif secara otomatis diakui pada laporan laba rugi.92% 102.550. 4) Bagian yang tidak efektif dalam lindung nilai yang efektif Meskipun rasio lindung nilai secara prospektif dan restrospektif berada dalam kisaran 80% .52 205.60 196.340. Untuk mengukur efektivitas lindung nilai.496.70 720.918. Untuk melindung nilai terhadap perubahan arus kas yang disebabkan perubahan suku bunga.468.08 514.42% 102.254.29 Kumulatif Efektivitas Efektivitas Perubahan Lindung Lindung Nilai Wajar Nilai Nilai IRS Kumulatif 0 111.14 0 111.11% 101.918.340. namun terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif yang harus diakui dalam laporan laba rugi.81 315.14 Kumulatif Perubahan Nilai Wajar Hypothetical Derivative 0 111.60 196.936.275.27 199. maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 253 .00% 99. bank menggunakan hypothetical derivative yang menyerupai FRN sebagai item yang dilindung nilai.62% 100.83% 101.95 205.837.81 204.15 709.92% 103.854. Perubahan Perubahan Nilai Wajar Nilai Wajar Hypothetical IRS Derivative 0 111. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan floating rate note (FRN) dengan suku bunga mengambang. bank melakukan transaksi interest rate swap (IRS).20 503.50% Tanggal 14 Jul 09 31 Jul 09 31 Aug 09 30 Sep 09 31 Oct 09 Lindung nilai dinilai efektif karena rasio lindung nilai secara kumulatif berada pada kisaran 80%-125%. b) Dalam Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif diukur berdasarkan Dollar Offset Method yang diakui pada laporan laba rugi.098.254.83 0 99. Hasil dari transaksi lindung nilai dapat dilihat pada tabel berikut.125% sehingga dikatakan sangat efektif.020.81 307.275. (1) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (over hedge).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal jatuh tempo yang sama) serta memiliki nilai wajar nol pada saat pengakuan awal.

SBI). misalnya perbedaan mata uang (USD vs. b) Sumber penyebab ketidakefektifan suatu hubungan lindung nilai adalah terdapatnya perbedaan antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. (2) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih kecil dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (under hedge). yaitu meliputi perbedaan: (1) basis. GBP) atau perbedaan suku bunga referensi (JIBOR vs. (2) jatuh tempo (maturity) atau tanggal penyesuaian suku bunga berikutnya (repricing dates). Nilai Wajar Kondisi 1 2 (overhedge) 3 (underhedge) Instrumen Lindung Nilai 7 12 Item yang Dilindung Nilai (10) (10) Rasio Lindung Nilai 70% 120% Keterangan Lindung nilai tidak efektif Lindung nilai efektif Bagian yang tidak efektif sebesar 2 diakui dalam laba rugi Lindung nilai efektif Tidak terdapat bagian yang tidak efektif 8. atau tanggal penyerahan. (3) kuantitas. 254 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka tidak terdapat bagian yang tidak efektif. dan/atau (4) kredibilitas perusahaan dan pihak lawan (counterparty) dalam hubungan lindung nilai. lokasi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif selisih lebih tersebut merupakan bagian yang tidak efektif dan diakui pada laporan laba rugi.5 (10) 85% - 5) Hubungan lindung nilai yang tidak efektif (ineffectiveness) a) Hubungan lindung nilai yang berada diluar kisaran 80%-125% tidak lagi memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai sehingga harus dihentikan.

Sebagai contoh: Bank A menerbitkan obligasi sejumlah Rp. Akuntansi Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) a. dan 3) Bagian tertentu yang telah diidentifikasi dari aset.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan tingkat suku bunga tetap sebesar 7%/tahun. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. yaitu dengan menarik ke depan pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai ke periode pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai. Lindung nilai atas nilai wajar merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai wajar dari: 1) Aset dan kewajiban 2) Komitmen pasti. Pengukuran efekivitas hubungan lindung nilai ditentukan dengan mengukur rasio perubahan nilai wajar dari swap suku bunga dan perubahan nilai wajar atas obligasi. Perlakuan akuntansi lindung nilai atas nilai wajar memberikan pengecualian dari perlakuan akuntansi secara umum. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 255 . Bank A menetapkan swap suku bunga sebagai instrumen lindung nilai untuk risiko suku bunga atas obligasi yang diterbitkan. Komitmen pasti hanya dapat dilindung nilai dengan lindung nilai atas nilai wajar. atau komitmen pasti. lindung nilai atas risiko nilai tukar dari komitmen pasti dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau lindung nilai atas arus kas. Namun. namun bank c. 100 milyar yang mewajibkan Bank A membayar suku bunga mengambang (LIBOR) dan menerima suku bunga tetap sebesar 7%. Lindung nilai atas nilai wajar antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas nilai wajar Kredit bersuku bunga tetap Meskipun Kredit dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang (Loans and Receivables) umumnya akan dimiliki hingga jatuh tempo. b. kewajban. Strategi manajemen risiko Bank A adalah sumber pendanaan dalam suku bunga mengambang sehingga Bank A memutuskan untuk membeli swap suku bunga dengan nilai nosional sebesar Rp. sehingga keuntungan/kerugian dari keduanya diakui dalam periode yang sama dan selanjutnya dapat dilakukan saling hapus.

dan 2) prakiraan transaksi yang tidak terekspos pada risiko perubahan nilai wajar akan diperlakukan seolah-olah terekspos pada risiko tersebut. dijual. dihentikan atau dieksekusi. Oleh karena itu. d. e. dan 4) Lindung nilai atas nilai wajar komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset non keuangan (misalnya kontrak untuk membeli atau menjual emas di masa datang pada harga yang sudah ditetapkan). Penggantian atau perpanjangan instrumen lindung nilai bukan merupakan kondisi berakhirnya lindung nilai jika dilakukan sebagai bagian dari strategi lindung nilai yang terdokumentasi. prakiraan transaksi hanya dapat dilindung nilai menggunakan lindung nilai atas arus kas. 3) Lindung nilai atas nilai wajar aset non keuangan. Berbeda halnya dengan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang juga diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Penghentian harus dilakukan sejak 256 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Oleh karena itu. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. Kredit bersuku bunga tetap yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) juga terekspos risiko suku bunga dan bank dapat melakukan lindung nilai menggunakan lindung nilai atas nilai wajar. yaitu: 1) Instrumen lindung nilai kadaluarsa. Lindung nilai atas nilai wajar tidak dapat digunakan untuk prakiraan transaksi karena: 1) dapat menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban sebelum bank menjadi pihak dalam kontrak. termasuk jika kemungkinan terjadinya wanprestasi pihak lawan (counterparty) semakin besar (probable). Penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar dapat dihentikan secara prospektif dalam 3 kondisi. dimana bank mempunyai intensi untuk memiliki aset keuangan tersebut sampai jatuh tempo sehingga tidak perlu dilindung nilai baik atas risiko suku bunga maupun risiko pelunasan dipercepat.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dapat mereklasifikasikan atau menjual Kredit dimaksud. 2) Lindung nilai atas nilai wajar aset keuangan dalam kategori Tersedia Untuk Dijual.

Untuk melindungi dari risiko kenaikan suku bunga diatas 8%. Bank A akan menerima pembayaran sejumlah USD 100 Juta x (LIBOR – 8%). bank dapat menggunakan instrumen lindung nilai tersebut untuk ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai pada hubungan lindung nilai yang baru.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal evaluasi terakhir yang menunjukan hubungan lindung nilai efektif atau tanggal terjadinya perubahan kondisi yang menyebabkan hubungan lindung nilai menjadi tidak efektif. Sebagai contoh: Bank A menerima pinjaman dari Bank B sebesar USD 100 juta selama 3 tahun dengan suku bunga mengambang LIBOR + 2%. dan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. Akuntansi Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) a. b. Lindung nilai atas arus kas antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari pendapatan bunga atas surat berharga bersuku bunga mengambang. Bank A membeli interest rate cap dari Bank B dimana ketika suku bunga LIBOR naik diatas 8%. dan 4) Komitmen pasti dalam mata uang asing. 6. kewajban. 2) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari prakiraan transaksi penjualan aset. namun strategi manajemen risiko mengharuskan Bank A mempertahankan suku bunga mengambang maksimal 8%. Selanjutnya. Bank A dapat menetapkan interest rate cap sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai atas arus kas untuk risiko suku bunga. Pembatalan penetapan hubungan lindung nilai dapat dilakukan jika dianggap sudah tidak relevan lagi. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. 3) Bagian terentu yang dapat diidentifikasi dari aset. Bank A mengkhawatirkan tingkat suku bunga akan meningkat di masa depan. 3) Bank membatalkan penetapan hubungan lindung nilai. dimana yang dilindung nilai adalah risiko nilai tukar. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 257 . 2) Prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. Lindung nilai atas arus kas merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan (variabilitas) arus kas dari: 1) Aset dan kewajiban.

c. perusahaan patungan. Investasi neto pada operasi di luar negeri mencakup item moneter yang merupakan piutang dari atau utang pada operasi di luar negeri yang berjangka panjang. 7. Penghentian akuntansi lindung nilai atas arus kas Akuntansi lindung nilai atas arus kas dapat dihentikan secara prospektif dalam kondisi-kondisi berikut. 258 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank A melakukan transaksi jual forward sebesar HKD 50 milyar dan membeli IDR pada harga yang telah ditentukan. Instrumen derivatif (seperti forwards dan swaps) dan non derivatif (seperti Kredit dalam mata uang asing) dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. b. Bank A dapat menerapkan akuntansi lindung nilai atas investasi neto pada perusahaan anak di Hong Kong sebesar HKD 50 milyar dengan transaksi foreign exchange forward. Nilai bersih aset perusahaan anak tersebut adalah HKD 50 milyar. perusahaan asosiasi. c. Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri merupakan lindung nilai atas kepentingan (interest) bank pelapor atas aset bersih pada operasi di luar negeri. Item moneter dapat merupakan item yang penyelesaiannya tidak direncanakan maupun tidak akan mungkin terjadi di masa datang. Penghentian tidak dapat dilakukan jika transaksi diperkirakan masih akan terjadi namun kemungkinannya tidak besar (no longer highly probable). dan/atau cabang dari bank pelapor yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri atau dalam mata uang yang berbeda dengan bank pelapor. karena masih diharapkan dapat terjadi. dan 2) Prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi sehingga lindung nilai dapat dihentikan. Akuntansi Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri a. yaitu: 1) Tiga kondisi sebagaimana pada penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar pada angka 5 huruf e) di atas. yang mencakup perusahaan anak. Untuk melindungi nilai investasi di perusahaan anak terhadap risiko nilai tukar. Sebagai contoh: Bank A di Indonesia mempunyai perusahaan anak di Hong Kong dengan mata uang fungsional HKD.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Lindung nilai atas komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing.

sepanjang memenuhi 2 kondisi berikut: 1) Item individual dalam portofolio terekspos risiko yang sama yang akan dilindung nilai. dan 2) Perubahan nilai wajar dari setiap item individual dalam portofolio yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai diperkirakan proporsional dengan perubahan nilai wajar secara keseluruhan. Lindung nilai portofolio dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau arus kas bergantung pada portofolio risiko yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 8. risiko yang dilindung nilai berdasarkan basis portofolio adalah risiko suku bunga dan pelunasan dipercepat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 259 . c. Posisi terbuka neto dari suatu portofolio bukan merupakan item yang dilindung nilai. yaitu suatu jumlah aset atau kewajiban keuangan tertentu yang sama dengan jumlah posisi terbuka neto. Akuntansi Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedge) a. yang dapat meliputi aset atau kewajiban atau kombinasi dari keduanya. misalnya risiko suku bunga acuan (benchmark interest rate risk). b. misalnya periode berdasarkan tanggal penyesuaian tingkat bunga atau pelunasan dipercepat sesuai perkiraan dan bukan sesuai kontrak. yang dapat meliputi suatu portofolio derivatif dengan posisi risiko yang dapat saling hapus dengan item yang dilindung nilai. 6) Penetapan instrumen lindung nilai untuk setiap periode. 5) Penetapan item yang akan dilindung nilai. 4) Penetapan posisi terbuka neto (net open position) pada setiap periode dan jumlah posisi terbuka neto yang akan dilindung nilai. 3) Penetapan portofolio ke dalam periode-periode tertentu. 2) Penetapan secara spesifik risiko yang akan dilindung nilai. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapan akuntansi lindung nilai portofolio antara lain mencakup: 1) Identifikasi portofolio item yang akan dilindung nilai. kewajiban. Umumnya. Lindung nilai portofolio merupakan lindung nilai terhadap sekelompok komitmen pasti. Meskipun suatu portofolio dapat mencakup posisi aset dan kewajiban keuangan. atau prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi dengan karakteristik risiko yang sejenis. Portofolio aset atau kewajiban yang akan dilindung nilai harus merupakan item yang juga telah memenuhi persyaratan lindung nilai secara individual. aset. namun bank harus menetapkan posisi yang merupakan item yang dilindung nilai pada setiap periode.

260 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . instrumen derivatif diakui di neraca dan diukur pada nilai wajar terlepas apakah memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai atau tidak.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7) Pengukuran efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal dan periode selanjutnya untuk memastikan bahwa lindung nilai sangat efektif. Pada saat pengukuran selanjutnya. 8) Pengukuran perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai. maka perbedaan antara perubahan nilai instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. yang diakui pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. Umumnya. maka dampak neto terhadap laporan laba rugi adalah nol. dan 2) Instrumen derivatif yang nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal. Namun. Bank harus memiliki prosedur dan dokumentasi untuk memastikan efektivitas lindung nilai. 9) Pengakuan efektivitas lindung nilai. D. Bank dapat menggunakan nilai tengah (mid price) dari harga pasar untuk menentukan nilai wajar dari setiap long maupun short position yang terekspos pada risiko pasar yang saling hapus (yaitu jika memiliki kesamaan pada variable yang mendasari dan tanggal jatuh tempo) dan melakukan penyesuaian ke harga penawaran atau permintaan (bid-ask spread adjustment) atas posisi terbuka neto pada setiap tanggal laporan. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Pada saat pengakuan awal (inception date) dan pengukuran selanjutnya. kecuali: 1) Instrumen derivatif dengan variabel yang mendasari (underlying) dalam bentuk instrumen ekuitas yang tidak mempunyai kuotasi harga pasar (unquoted equity instrument). Derivatif a. Jika lindung nilai 100% efektif. jika lindung nilai tidak efektif. nilai wajar instrumen derivatif pada saat pengakuan awal adalah nol. yang diakui dan diukur pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. b. nilai wajar instrumen derivatif harus diukur menggunakan harga penawaran (bid price) untuk long position atau harga permintaan (ask price) untuk short position pada setiap akhir hari. baik laporan interim maupun laporan tahunan.

antara lain: (1) tidak memenuhi seluruh kriteria pemisahan (bifurcation). Lindung Nilai a. Derivatif melekat yang memenuhi kriteria untuk dipisahkan dari kontrak utama diakui sebagai derivatif dan diukur berdasarkan nilai wajar sebagaimana pada angka 1) di atas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi keuntungan (potential gain) bagi bank. kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif pada lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi diluar negeri. b. c. bank dimungkinkan untuk menetapkan seluruh instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar (fair value option). dan/atau (3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. (2) pemisahan sulit dilakukan atau menimbulkan beban tambahan. Selanjutnya. 3. Lindung Nilai atas Nilai Wajar 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas nilai wajar yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Untuk instrumen lindung nilai (1) Instrumen lindung nilai yang umumnya merupakan instrumen derivatif diakui dalam neraca dan diukur berdasarkan nilai wajar. Kontrak utama diakui dan diukur berdasarkan PSAK yang sesuai. 2. 3) Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi sejak tanggal transaksi (trade date). maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai tagihan derivatif di sisi aset. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 261 . termasuk PSAK 55. Pemisahan derivatif melekat dari kontrak utama pada instrumen campuran tidak harus dilakukan. misalnya karena berbagai pertimbangan. (2) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen derivatif diakui dalam laporan laba rugi. 2) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi kerugian (potential loss) bagi bank. Derivatif Melekat a. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai kewajiban derivatif di sisi kewajiban.

dan selanjutnya mempengaruhi nilai tercatat item tersebut dalam neraca. b) Untuk item yang dilindung nilai (1) Perlakuan akuntansi untuk item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar berbeda-beda bergantung pada kategori item yang dilindung nilai. Suku bunga efektif yang digunakan harus dihitung kembali berdasarkan penyesuaian keuntungan atau kerugian tersebut. maka instrumen tersebut diukur berdasarkan nilai wajar. Penyesuaian tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo. maka amortisasi dapat menggunakan metode garis lurus (straight line). Dalam hal amortisasi atas penyesuaian nilai tercatat dengan menggunakan suku bunga efektif yang dihitung kembali tersebut tidak praktis. maka keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan menyesuaikan nilai tercatat dari item yang dilindung nilai. 262 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (2) Perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (3) Dalam hal instrumen lindung nilai bukan merupakan instrumen derivatif (non derivative) yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. (a) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. (b) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) menggunakan suku bunga efektif. dan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka hanya komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diakui dalam laporan laba rugi.

(3) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar atas item yang dilindung nilai yang bukan merupakan bagian dari hubungan lindung nilai (yang dapat terjadi ketika hanya risiko tertentu yang dilindung nilai). perubahan nilai wajar kumulatif yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai diakui sebagai aset atau kewajiban. diakui berdasarkan kategori instrumen keuangan. Selanjutnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 263 . keuntungan atau kerugian yang yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (c) Item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen pasti Jika item yang dilindung nilai merupakan komitmen pasti.

Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dihentikan instrumen lindung nilai akan terus diakui dalam laporan atau dieksekusi laba rugi. maka aset atau kewajiban yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. maka penyesuaian terhadap nilai tercatat karena pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi Komitmen pasti tidak lagi mememenggunakan suku bunga efektif sampai item yang nuhi kriteria komitmen pasti. b. pasti. (2) Total keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui secara terpisah dalam ekuitas dibatasi pada jumlah yang terendah antara: (a) Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. dan (b) Perubahan kumulatif dari nilai kini ekspektasi arus kasa masa datang dari item yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. Bank membatalkan penetapan . Item yang dilindung nilai Lindung nilai tidak lagi memenuhi .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai.Jika item yang dilindung nilai diukur pada biaya perolehan kriteria akuntansi lindung nilai.Jika item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen yang telah dilakukan. Lindung Nilai atas Arus Kas 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas arus kas yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Bagian yang efektif (effective portion) (1) Bagian dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui diakui secara langsung dan terpisah dalam ekuitas. 264 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . . diamortisasi. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Perlakuan akuntansi Instrumen lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluKeuntungan atau kerugian yang telah direalisasi atas warsa atau dijual. maka instrumen tersebut selanjutnya diukur berdasarkan nilai wajar melalui ekuitas. dilindung nilai tersebut jatuh tempo.

(1) Aset atau kewajiban keuangan Ketika prakiraan transaksi yang dilindung nilai telah terealisasi dan menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. 2) Lindung Nilai atas Arus Kas dari Prakiraan Transaksi a) Sebelum transaksi (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai pada awalnya diakui secara terpisah dalam ekuitas. b) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. b) Setelah transaksi Pada saat prakiraan transaksi terealisasi. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. (3) Bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi pada periode yang sama ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. atau aset atau kewajiban non keuangan. maka bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dalam ekuitas sebelum transaksi tersebut terealisasi harus direklasifikasi ke dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 265 . bank mengakui aset atau kewajiban keuangan.

Hal ini berarti bank dapat segera mereklasifikasi keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai ke ddalah laporan laba rugi. maka bank dapat memilih diatara 2 perlakuan akuntansi berikut: (a) Perlakuan akuntansi yang sama yang digunakan untuk pengakuan aset atau kewajiban keuangan. Pendekatan apapun yang dipilih harus diterapkan secara konsisten. keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang semula diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui sebagai bagian dari nilai tercatat awal aset atau kewajiban non keuangan. Dalam perlakuan akuntansi ini. 266 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . misalnya jika terdapat pengakuan pendapatan atau beban bunga atau penurunan nilai aset atau kewajiban keuangan tersebut. atau tetap mengakui dalam ekuitas dan mereklasifikasi ke dalam laporan laba rugi ketika aset atau kewajiban non keuangan tersebut mempengaruhi laporan laba rugi. karena dianggap mewakili bagian dari harga perolehan. misalnya jika terdapat pengakuan beban penyusutan atau penurunan nilai aset non keuangan. (2) Aset atau kewajiban non keuangan Ketika prakiraan traksaksi yang dilindung nilai mengakibatkan pengakuan aset dan kewajiban non keuangan. (b) Penerapan penyesuaian dasar (basis adjustment) atas aset atau kewajiban non keuangan yang akan diperoleh dan prakiraan transaksi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif laporan laba rugi pada periode yang sama atau pada periode-periode dimana aset keuangan yang diperoleh atau kewajiban keuangan yang diterbitkan mempengaruhi laporan laba rugi.

maka perlakuan akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. Prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi c. dihentikan atau dieksekusi Perlakuan akuntansi Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi Lindung nilai tidak lagi memenuhi terjadi. 2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka perlakuan kriteria akuntansi lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. jumlah yang tersisa pada ekuitas dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui pada laporan laba rugi pada saat yang bersamaan. tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. Apabila prakiraan transaksi terjadi. 3) Pada saat pelepasan atau pembubaran operasi diluar negeri. Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas invetasi bersih pada operasi di luar negeri yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: 1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. Selisih yang timbul dari perubahan nilai tukar mata uang asing atas investasi neto juga diakui pada ekuitas. Apabila prakiraan transaksi terjadi. Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui Bank membatalkan penetapan secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi yang telah dilakukan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 267 . Keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai efektif direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi.

2) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Pelunasan Dipercepat (Prepayment Risk) a) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko pelunasan dipercepat sama dengan lindung nilai atas arus kas. yaitu: (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. Total keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas adalah jumlah yang terendah antara keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai dan perubahan kumulatif dari nilai wajar dari item yang dilindung nilai. maka jumlah keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. Misalnya. ketika prakiraan transaksi terjadi. Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) 1) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Suku Bunga Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga sama dengan lindung nilai atas nilai wajar dimana keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 268 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. b) Keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama atau periode ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi.

Lindung Nilai Keuntungan atau kerugian atas suatu derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai terdiri dari dua komponen yaitu. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dan derivatifderivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu serta independen antara satu dengan lainnya. Bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif disajikan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 269 . Jika prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi. 3. maka: 1) Kontrak utama disajikan di neraca sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. maka keseluruhan instrumen campuran yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi disajikan sebagai satu kesatuan di neraca dan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. bagian dari lindung nilai yang efektif dan bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. Penyajian 1. Tagihan dan Kewajiban Derivatif Derivatif disajikan sebesar nilai wajar pada neraca sebagai tagihan atau kewajiban derivatif. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. b. maka derivatif-derivatif melekat tersebut disajikan secara terpisah satu dengan lainnya.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Jika instrumen lindung nilai dihentikan atau lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai (misalnya prakiraan transaksi kemungkinan tidak akan terjadi). Instrumen campuran dimana derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama. maka keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi terjadi. dan 2) Derivatif melekat disajikan sebagai tagihan atau kewajiban derivatif sebesar nilai wajar. 2. Derivatif Melekat Instrumen campuran (hybrid instrumen) disajikan sebagai berikut: a. Jika instrumen campuran dimana derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama. c.

Contra account Db. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan kewajiban. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. bank dapat tidak menggunakan rekening antara. Ilustrasi Jurnal 1. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. atau pada pos kewajiban yang terpisah dalam neraca. b. Kerugian transaksi derivatif Kr. sedangkan bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang tidak efektif disajikan pada pos yang sama dengan derivatif yang tidak ditentukan sebagai instrumen lindung nilai. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan aset.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dalam pos yang sama dengan keuntungan atau kerugian dari item yang dilindung nilai. Keuntungan transaksi derivatif 2) Potensi kerugian bagi bank Db. 3 4 Valuta lawan adalah valuta yang diterima Valuta dasar adalah valuta yang diserahkan 270 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Contra account Kr. Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) Dalam lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga. 4. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar4 Dalam prakteknya. penyesuaian yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai disajikan sebagai berikut: a. Tagihan derivatif forward Kr. E. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan3 Kr. pada pos aset yang terpisah dalam neraca. Transaksi pembelian foreign exchange forward untuk tujuan perdagangan (trading) a. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya. b.

Swap jual – IRS Pada saat melakukan valuasi 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Nostro valuta lawan Db/Kr. Tagihan derivatif – IRS Kr. Transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) a. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db.. Mencatat komitment pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db.forward Kr. Swap beli – IRS Kr. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. Tagihan derivatif – forward b) Potensi kerugian bagi bank Db. Contra account Kr. Kas/Rekening. Kewajiban derivatif – IRS Pada awal hari berikutnya. Contra account Kr.. /Giro BI valuta dasar 2. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kewajiban derivatif. Keuntungan transaksi derivatif . Kerugian transaksi derivatif – forward 3) Pencatatan penerimaan Db. Kerugian transaksi derivatif – IRS Kr. Contra account Db. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 271 . Contra account Db. Keuntungan transaksi derivatif – IRS 2) Potensi kerugian bagi bank Db..forward Kr.

Swap beli – IRS 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Opsi Beli (Call option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Db. Kewajiban derivatif – IRS Kr. Transaksi pembelian foreign exchange option a. Keuntungan transaksi derivatif – IRS Kr.. Contra account Kr. Kas/Rekening . Contra account Kr. Biaya premi opsi Kr. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr.... Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr./Giro BI Db./Giro BI Db/Kr.. Biaya premi opsi Akuntansi Perbankan Indonesia 272 I P e d o m a n . Utang premi Kr... Tagihan derivatif – IRS b) Potensi kerugian bagi bank Db. Swap jual – IRS Kr. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. e./Giro BI Db/Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kas/Rekening . Kerugian transaksi derivatif – IRS d. Kas/Rekening .. Utang premi 3) Mencatat pembayaran premi Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Contra account Db. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS 3.

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – call option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – call option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kewajiban derivatif – call option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – call option Kr. Tagihan derivatif – call option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – call option Kr. Kerugian transaksi derivatif – call option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 273

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b.

Opsi Jual (Put option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Contra account 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Biaya premi opsi Kr. Utang premi 3) Mencatat pembayaran Db. Utang premi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Biaya premi opsi 4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – put option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – put option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Kewajiban derivatif – put option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

274 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif option (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – put option Kr. Tagihan derivatif – put option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – put option Kr. Kerugian transaksi derivatif – put option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan 4. Transaksi penjualan foreign exchange forward untuk tujuan lindung nilai, dimana lindung nilai memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. a. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward jual dasar Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan Kr. Contra account Dalam prakteknya, bank dapat tidak menggunakan rekening antara. b. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Dalam lindung nilai atas nilai wajar a) Valuasi terhadap foreign exchange forward sebagai instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 275

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Valuasi terhadap item yang dilindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Item yang dilindung nilai (menambah nilai tercatat) *) Kr. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (mengurangi nilai tercatat) *) *) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, maka penyesuaian nilai tercatat tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif (yang dihitung kembali) sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo c) Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dapat saling hapus dengan kerugian atau keuntungan atas item yang dilindung nilai.

2) Dalam lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri, meskipun rasio lindung nilai secara berada dalam kisaran 80% - 125% berdasarkan Dollar Offset Method sehingga dinilai sangat efektif, namun mungkin saja terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. a) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai, maka selisih lebih yang merupakan bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward b) Bagian yang efektif Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas

276 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

(1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. c. Pada saat penghentian akuntansi lindung nilai karena kontrak foreign exchange forward jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas nilai wajar a) Instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif - forward Kr. Tagihan derivatif – forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif- forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – forward (1) Jika merupakan item yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, maka tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian pada nilai tercatat, melainkan akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai jatuh tempo. (2) Jika merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual, tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian

b) Item yang dilindung nilai

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 277

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

pada nilai tercatat, dan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar selanjutnya diakui dalam ekuitas. (3) Jika merupakan komitmen pasti, maka aset atau kewajiban keuangan yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. (a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (b) Potensi kerugian bagi bank Db. Item yang dilindung nilai Kr. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai 3) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. a) Bagian yang tidak efektif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif Kr. Tagihan derivatif forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif forward Kr. Kerugian transaksi derivatif b) Bagian yang efektif Keuntungan atau kerugian dalam ekuitas akan tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi atau investasi neto pada operasi di luar negeri dilepaskan. Pada saat prakiraan transaksi terealisasi, keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi, atau pada periode-periode selanjutnya ketika bank mengakui pendapatan bunga atas aset keuangan yang berasal dari prakiraan transaksi tersebut sesuai kebijakan akuntansi yang diterapkan. d. Pencatatan penerimaan atau pembayaran atas transaksi derivatif Db. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta lawan Db/Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta dasar

278 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain: 1. Kebijakan akuntansi Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang antara lain deskripsi mengenai tujuan dan kebijakan manajemen risiko, termasuk kebijakan lindung nilai atas setiap jenis risiko dan jenis lindung nilai yang digunakan. 2. Informasi kualitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. b. c. 3. eksposur risiko dan bagaimana risiko tersebut timbul; tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko, termasuk metode pengukuran risiko tersebut; dan setiap perubahan pada a atau b dari periode sebelumnya

Informasi kuantitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. ikhtisar data kuantitatif mengenai eksposur risiko pada tanggal pelaporan. Pengungkapan tersebut harus didasarkan pada informasi yang disajikan secara internal kepada manajemen (seperti didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa), misalnya dewan direksi atau Direktur Utama. risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuditas, kecuali risiko tersebut tidak material; dan konsentrasi risiko, jika tidak terlihat dari a dan b.

b. c. 4.

Derivatif Melekat a. Jika bank menerbitkan instrumen yang mengandung komponen kewajiban dan ekuitas (lihat paragraf 28 PSAK 50) dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat yang nilainya saling tergantung satu sama lain (seperti callable convertible debt instrument), maka bank harus mengungkapkan keberadaan fitur tersebut. Dalam hal derivatif melekat tidak dipisahkan dan disajikan sebagai bagian dari instrumen campuran, maka bank perlu mengungkapkan metode valuasi terhadap nilai wajar instrumen campuran tersebut.

b.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 279

280 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang antara lain mencakup: 1) periode ketika arus kas diperkirakan akan terealisasi dan mempengaruhi laporan laba rugi. namun tidak lagi diharapkan akan terjadi. 3) jumlah yang telah diakui dalam ekuitas selama periode berjalan. c. lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri). 2) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas arus kas. yang antara lain mencakup: 1) keuntungan atau kerugian yang diakui dalam lindung nilai atas nilai wajar dari: a) instrumen lindung nilai. Informasi mengenai lindung nilai atas arus kas. dan 3) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas investasi neto dalam operasi luar negeri. Informasi lainnya mengenai lindung nilai. Informasi untuk setiap jenis lindung nilai secara terpisah (lindung nilai atas nilai wajar. 2) uraian atas setiap prakiraan transaksi dimana akuntansi lindung nilai sebelumnya telah diterapkan. 4) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi selama periode berjalan. dan 3) sifat risiko yang dilindung nilai. yang antara lain mencakup: 1) uraian setiap jenis lindung nilai. dan b) item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. 2) uraian instrumen keuangan yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai and nilai wajarnya pada tanggal neraca. Akuntansi Lindung Nilai a. b. dan 5) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas selama periode berjalan dan diakui sebagai bagian dari biaya perolehan awal atau nilai tercatat dari aset non keuangan atau kewajiban non keuangan yang diperoleh atau diterbitkan melalui transaksi transaksi prakiraan yang sangat mungkin terjadi yang dilindung nilai.

000 151. Rp.666.000 318. Pada saat melakukan valuasi akhir hari tanggal 28 Februari 2009 berdasarkan nilai wajar Db.350–9.47) (1 + 10%/12)1 29/02/2009 USD1=Rp. Rp.666. Rp.76 318.000. 151. 151..dimana bank A setuju untuk membeli USD 16.200 ——————————————— = 318.983.76 (1 + 10%/12)2 [9. 481.146.146. c.000 151.330.200 dan menjual Rp.146.146. Contra account Db. Rp. Transaksi foreign exchange forward Pada tanggal 31 Januari 2009. Kontrak forward jual atau tanpa rekening antara (single entry) Db.76 b. Kontrak forward beli Kr.47 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 281 . Kewajiban derivatif forward Rp. Kontrak forward jual Rp.330) x USD 16.000 151. dengan nasabahnya dengan forward rate USD1 = Rp.000 151. Keuntungan transaksi derivatif Rp. Tagihan derivatif forward Rp.pada tanggal 31 Maret 2009. 481.350 Nilai wajar bersih (Rp) [9. Kr.146.146.000 151. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.666.300 Jurnal transaksi a. 9. 9. 9. Kontrak forward beli Kr. Bank A melakukan transaksi foreign exchange forward USD/Rp.983. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Tanggal 31/01/2009 Forward rate USD untuk 31/03/2009 USD1=Rp.983. Kerugian transaksi derivatif Rp. Rp.330) x USD 16. Diasumsikan tingkat diskonto (discount rate) sebesar 10%. Pada tanggal transaksi 31 Januari 2009 Db.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif G. Pada awal hari berikutnya.. Pada saat melakukan valuasi akhir hari berdasarkan nilai wajar Db.300–9. Contra account Kr.146. Contoh Kasus 1.200 ——————————————— = (481.47 Kr.

obligasi konversi tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.... Rp.146.000 2. Kas/Rekening . Contra account Kr. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Rp../Giro BI *) Spot rate USD 1=Rp. Rp. melainkan sebagai kewajiban keuangan dalam bentuk instrumen campuran.Berikut adalah perhitungan nilai 282 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Pada awal hari berikutnya.500. Instrumen campuran (hybrid instrument) Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank B menerbitkan obligasi konversi (convertible bond) pada nilai par sebesar Rp. Keuntungan revaluasi Kr. Rp.000. Rp.000 151. Selanjutnya.000 151.146. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari...000 151. Opsi konversi yang merupakan derivatif melekat tidak mempunyai hubungan yang erat dengan obligasi Disamping itu. d. Penerbitan obligasi konversi tersebut merupakan suatu kontrak yang akan diselesaikan oleh Bank B dengan penyerahan instrumen ekuitas miliknya sebagai pengganti kas dengan jumlah yang bervariasi yang tidak dapat diakui sebagai instrumen ekuitas sesuai PSAK 50.000 151. Dengan demikian. Kontrak forward jual Kr.470.000.000 324. Pemegang obligasi mempunyai hak untuk mengkonversikan obligasi tersebut pada tanggal jatuh tempo dan menerima sejumlah saham Bank B pada harga rata-rata pasar dari saham tersebut selama 10 hari terakhir. 151. opsi konversi tersebut harus diukur pada nilai wajar dan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar opsi konversi merupakan nilai wajar obligasi yang akan diakui dan diukur pada harga perolehan yang diamortisasi (amortised cost)..146. Pada tanggal 1 Januari 2009.sehingga nilai wajar obligasi adalah Rp 8.146. 10. 9. Kas/Rekening .000 151.000. 1.500..146. sesuai PSAK 55 opsi konversi harus dipisahkan dari obligasi sebagai kontrak utamanya. Rp. Contra account 2) Pencatatan penerimaan Db. diasumsikan nilai wajar opsi konversi adalah Rp.dengan jangka waktu 10 tahun dan bunga 5%/tahun yang dibayar secara tahunan.000. Kontrak forward beli Db. dan opsi konversi memenuhi persyaratan sebagai instrumen derivatif.350- Rp./Giro BI *) Kr.

775 9.000.257 663.706) Obligasi Db (Kr) (8.096) (152.055 35.849 33.15% serta nilai wajar opsi konversi.979.869 28.000.000 1.296 10.594 1.764) (132.000 Kewajiban Derivatif Db (Kr) (1.869) (28.841 23.614 642.437.402 25.500.000) (19.849 33.000) (500.810) (187.000) (500.000 Nilai wajar Opsi Konversi 1.790) (30.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tercatat obligasi sampai tanggal jatuh tempo yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif sebesar 7.797) (115.076 26.023) (20.607.000) (500.500.121.609.076) (26.799.847.649 1.679 9.505 623.810 687.065 8.437.000) (500.979.611.704 (500.402) (25.704) 10.614) (142.000) (11. Beban bunga (7.288 1.121.15%) 607.799.177 9.296 Jurnal transaksi Tanggal Kas Db (Kr) 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 10.065 8.418 Perubahan nilai wajar Opsi Konversi Periode 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 Nilai tercatat awal Obligasi 8.611.679 9.505 623.000) (500.775 9.000) (500.500.614 642.000 8.023 20.764.500.764.257 663.257) (163.706 19.000) (500.247 1.847.406 1.000 8.500.023 1.729.076 26.704 Kerugian (Keuntungan) Transaksi Derivatif Db (Kr) 19.987 9.233 1.000.665.797 615.000) (500.000) (500.096 652.519.418 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 283 .032 9.301 8.055) (35.584.301 8.032 9.696.797 8.764 632.790 30.310 700.144) (174.841) (23.725 1.000) (500.384 1.505) (123.144 674.764 632.000) (500.000) (500.539.144 674.055 35.869 28.841 23.607.000) (500.402 25.706 Beban Bunga Db (Kr) 607.797 615.310 700.987 9.096 652.418) 1.000) (500.849) (33.723.797 8.383 21.000) Pembayaran Nilai tercatat beban akhir bunga Obligasi (5%) 8.764.274.723.810 687.274.310) (200.177 9.000) (500.000) (107.790 30.000 8.383) (21.383 21.500.000) (500.000 (500.023 20.561.636.000) (500.000) (500.

Untuk memudahkan perhitungan. 500.000.000)/2] (1 + 10%/2)n 2 ) Σ n 8 Jurnal transaksi a. .11%) x (Rp.Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai kini arus kas IRS sebesar 10%..9.) 500. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: IRS untuk 31 Desember 2013 JIBOR Fixed (6 bulan) + 1% 10% 9% 10% 9.000.189) 2) 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 ) Σ n 9 [ (10% . 500. .000. 500.5%) x (Rp.Bank C memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar. Suku bunga mengambang akan disesuaikan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli.000 491. Obligasi Rp.554.000 284 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.905 517.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3. Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank C menerbitkan obligasi sebesar Rp 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan suku bunga tetap 10% yang dibayar setiap 6 bulan. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.777.) 0 8..000./Giro BI Kr. Swap suku bunga mensyaratkan Bank C menerima suku bunga tetap sebesar 10% dan membayar suku bunga mengambang 1% diatas JIBOR.115.000.769.000 Rp. 500.000.000.000)/2] (1 + 10%/2)n [ (10% .095 1) (17. Asumsi: . Kas/Rekening. baik secara prospektif maupun retrospektif.000. Tanggal 1 Januari 2008 1) Penerbitan obligasi Db.189 Nilai wajar IRS (Rp.000.222. Bank C memutuskan untuk melakukan lindung nilai atas risiko suku bunga dengan melakukan transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) dengan bank lain untuk jangka waktu 1 tahun.769.5% 10% 11% Nilai wajar Obligasi (Rp.554.884.

000.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Transaksi swap suku bunga Db.000. Pendapatan bunga Rp. 8. Obligasi Rp.000. Kr.000 25.000 1.095 Kr.000. Kas/Rekening BI Rp. Swap – suku bunga tetap b.189 Kr. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db.000 Rp.095 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. 25. 8.000.777.189 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 285 .769.554.750. Obligasi Rp. 8.000 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. Db.000. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. Kr.000 25.000 1. 500.777.000. Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.000.884.750. 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp. 17. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp. Kewajiban derivatif swap Rp.777. 8.000. Swap – suku bunga mengambang Kr.000.000 25. c. Tanggal 30 Juni 2008 Rp. Tanggal 31 Desember 2008 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db.000.000. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.000. Pada awal hari berikutnya. Rp.000 23.000 23.000.095 Kr.554.884.777.884.250. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 500.000.769.000.250.095 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. Beban bunga Kr.000 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db.884. 17. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.

maka Bank D tidak akan mengeksekusi opsi beli dan membeli SUN di pasar./Giro BI Rp.000.000 Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.000.000.000. 25. Kewajiban derivatif swap Rp.750. Beban bunga yang masih harus dibayar 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db. 100 milyar dengan suku bunga 9% dan jatuh tempo pada 31 Januari 2009 (strike date).189 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus.000 23. 17.000.189 Kr. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db. Kas/Rekening.250.250. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp. 1. 286 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Atas pembelian opsi beli tersebut.000 25. 100 milyar untuk jangka waktu 5 tahun dengan suku bunga 9% yang dibayar setiap 6 bulan. 25. dan sebaliknya jika suku bunga meningkat diatas 9%. 4. Kr. Bank D membayar premi sebesar Rp.769.554.000. Beban bunga Kr.000 25. 14 juta. maka Bank D akan mengeksekusi opsi beli. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db. 17.000.769.000 Rp. Jika suku bunga SUN turun dibawah 9%. Rp.554. Akuntansi lindung nilai atas arus kas Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank D memprakirakan akan melakukan transaksi pembelian Surat Utang Negara SUN (forecast transaction) pada tanggal 31 Januari 2009 sebesar Rp.000 Rp.000 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db.000.000. Bank D menetapkan transaksi pembelian opsi beli tersebut sebagai instrumen lindung nilai dan lindung nilai akan diukur berdasarkan akumulasi perubahan nilai wajar SUN dan nilai intrinsik (intrinsic value) dari opsi. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.000 1. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.. Bank D berkeinginan untuk mempertahankan suku bunga yang akan diperoleh dari SUN tersebut (locking in) dengan melakukan strategi lindung nilai melalui pembelian opsi beli (call option) atas SUN sebesar Rp. Pada awal hari berikutnya. Db.000.000. 23.750.. Pendapatan bunga Rp.000.

6.5%/2)n Jurnal transaksi a. Tagihan derivatif opsi Rp. Rp.000)/2] (1 + 4.395.000 Pada awal hari berikutnya.000 0 Nilai wajar Opsi Beli (nilai intrinsik) Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 287 .000.000.. 6. Tagihan derivatif opsi Kr. Kas/Rekening . 100.000 b.000 Kr. 14.8%) x (Rp. 0 9% 8% - 4.248 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar opsi Db.634.055. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Forward rate SUN untuk posisi 31 Desember 2009 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 Nilai wajar Opsi Beli (nilai waktu) Rp.248 Kr..890 1) - ) Σ n 9 [ (9% . Tanggal 1 Januari 2009 (1) Pembelian opsi beli (call option) Db.000 8.000. Tanggal 30 Juni 2009 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar opsi (nilai intrinsik) karena forward rate suku bunga SUN meningkat 1% Db. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.000.000.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Asumsi: Bank D memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar. 14. baik secara prospektif maupun retrospektif. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang. 3.000. 3. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.000. Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai intrinsik opsi adalah sebesar 9%./Giro BI Rp. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp. Untuk memudahkan perhitungan.634. Tagihan derivatif opsi Rp..000 14.395.000.447.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.000.000 3) Sesuai kebijakan akuntansi bank.100.000.248 Kr.000. Db.000.000 2) Mengeksekusi opsi beli SUN dengan suku bunga 9% Db.. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.100. Tanggal 31 Desember 2009 1) Menghentikan pengakuan tagihan derivatif opsi karena pada saat jatuh tempo nilai waktu opsi menjadi nol Db.248 288 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. 3.634. Surat Utang Negara Kr. keuntungan instrumen lindung nilai yang diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi dalam periode yang sama dengan realisasi dan pengakuan aset keuangan dari suatu prakiraan transaksi. 8./Giro BI Rp.000.395.634. Kas/Rekening. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.000 Rp. 8.000 Kr. Tagihan derivatif opsi Rp.395. Keuntungan transaksi derivatif Rp. 3...

Bab VII I E k s p o r Impor Bab VII Transaksi Ekspor Impor A. Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 3. 8. 5. Reimbursing bank adalah bank yang telah mendapat otorisasi dari issuing bank untuk membayar reimbursement claim dari negotiating bank. 11. 4. 10. Definisi 1. Accepting bank adalah bank yang menjamin pembayaran wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance LC dengan melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan. 6. Confirming bank adalah bank yang ikut menjamin pembayaran LC kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai syarat LC dengan membubuhkan konfirmasinya pada LC yang bersangkutan. Issuing bank adalah bank penerbit LC. Negotiating bank adalah bank yang melakukan pembayaran kepada eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada issuing bank atau paying bank atau reimbursing bank. 2. Advising bank adalah bank yang diminta oleh issuing bank untuk menyampaikan LC kepada Beneficiary. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 289 . Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada issuing bank untuk membuka LC. 9. Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa LC dibuka (penerima LC). 7. Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Paying bank adalah bank yang melakukan pembayaran sight LC atau deferred payment LC. Catatan: Dalam Bab VII termasuk pengaturan transaksi Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN).

20. melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. Letter of credit (LC) adalah setiap janji tertulis yang dikeluarkan/diterbitkan oleh bank atas permintaan importir (applicant) dimana bank berjanji akan melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) jika telah memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam LC. memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh Penerima. 19. 14. Deferred payment LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC. Bank Koresponden (corresponding bank) adalah bank yang mempunyai hubungan korespondensi (misal pertukaran kode swift. 290 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atas penyerahan dokumen. memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. Irrevocable LC adalah LC yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya. b. Sight LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada saat dokumen-dokumen LC diajukan kepada bank. 17. Negotiation LC adalah LC yang pembayarannya kepada Beneficiary dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana negotiating bank. test key). Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai “Letter of credit” (LC) Dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis pemohon (applicant) yang mengikat bank pembuka (issuing bank) untuk: a. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. 16. 13.Bab VII I E k s p o r Impor 12. Discounting bank adalah bank yang mendiskonto wesel yang ditarik berdasarkan LC. Acceptance LC adalah LC yang mengharuskan wesel yang ditarik oleh beneficiary diaksep oleh accepting bank yang akseptasinya dilakukan sepanjang dokumen-dokumen yang diajukan telah memenuhi syarat LC. 21. atau c. Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh eksportir atas dasar suatu LC. sepanjang persyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang berlaku mengenai SKBDN. 18. 15.

(PSAK 1: paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. kalau dalam keadaan tertentu kriteria pengakuan terpenuhi. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. I 291 .Bab VII I E k s p o r Impor 22. (KDPPLK: paragraf 89) Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.. kewajiban atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada umumnya tidak diakui sebagai kewajiban dalam laporan keuangan. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. (PSAK 1: paragraf 71) 3. laporan arus kas. kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar).. B. Dalam kasus ini. maka kewajiban (obligation) tersebut dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. Dalam praktik.. pengakuan kewajiban mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang bersangkutan. (KDPPLK: paragraf 92) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2.. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: .. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen.. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. kewajiban (obligations) menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya. kewajiban (obligation) semacam itu dapat memenuhi definisi kewajiban dan. laporan laba rugi. 4. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan kewajiban (misalnya. Nostro adalah rekening/simpanan bank pada suatu bank di luar negeri dalam bentuk mata uang negara tersebut. komitmen. Dasar Pengaturan 1. Namun demikian. (KDPPLK: paragraf 91) Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. 5.

(PSAK 57: paragraf 15) Perusahaan tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 8. perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu. piutang dagang. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima … (PSAK 55: PA 79) 12. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). Namun. 10. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. (KDPPLK: paragraf 94) Kewajiban diestimasi harus diakui apabila ketiga kondisi berikut dipenuhi: a. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/ kriteria untuk pengklasifikasian tersebut. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. b.. estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. 9. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. investasi dalam instrumen utang. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal..Bab VII I E k s p o r Impor 6. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. (PSAK 55: PA39) 292 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan c. jika dan hanya jika. entitas mengukur pada nilai wajarnya. (PSAK 55: paragraf 14) 7. (PSAK 57: paragaf 28) Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. (PSAK 55: paragraf 43) 11.

. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. atau pelepasan lain. konsultan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.Bab VII I E k s p o r Impor 13. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. (PSAK 55: PA26) 15. entitas mengukur aset keuangan.. biaya pendanaan (financing costs).. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. (PSAK 55: paragraf 8) 14. c. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. kecuali: a. perantara efek dan pedagang efek. (PSAK 55: paragraf 46) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 293 . atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. pada nilai wajarnya. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Setelah pengakuan awal. (PSAK 55: paragraf 8) b.. 16. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual.

(PSAK 55: paragraf 59) 19. jika dan hanya jika. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. c. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a.. dan melalui proses amortisasi. pihak pemberi pinjaman. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Jika terdapat bukti tersebut. d. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi.Bab VII I E k s p o r Impor 17. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. 294 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). b. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. (PSAK 55: paragraf 57) 18. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui.. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). pelanggaran kontrak. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi.

turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut.Bab VII I E k s p o r Impor e. Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. (PSAK 55: paragraf 60) 20. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). f. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. dan untuk itu kerugian penurunan nilai Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 295 . Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. (PSAK 55: paragraf 64) 21.

atau dengan menyesuaikan pos cadangan. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. jika dan hanya jika: a.Bab VII I E k s p o r Impor diakui atau tetap diakui. (PSAK 55: paragraf 8) 24. (PSAK 55: paragraf 17) 296 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. (PSAK 55: paragraf 65) 22. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. baik secara langsung. pada periode berikutnya. Jika. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. (PSAK 55: paragraf 66) 23. b. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur).

Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. Apabila dokumen clean. negotiating bank akan melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada beneficiary dengan hak recourse. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 297 .Bab VII I E k s p o r Impor C. Penjelasan 1. Mekanisme transaksi ekspor-impor Sight LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 & 11 Tindakan Importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani sales contract Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang.

Proses ini dikenal dengan istilah diskonto. negotiating bank dapat melakukan pembayaran di muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen dikurangi diskon/bunga.Bab VII I E k s p o r Impor Usance LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan usance LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan usance LC kepada Beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan usance LC kepada Beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. Apabila dokumen clean. Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. issuing bank akan mengirimkan teleks akseptasi ke negotiating bank Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada saat jatuh tempo Issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank 298 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Bab VII I E k s p o r Impor Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing bank dimana advising bank bukan negotiating bank Langkah 1 2 3a 3b 4 5 6 7a 7b 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan LC/SKBDN kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Issuing bank memberikan reimbursement authorization kepada reimbursing bank Advising bank meneruskan LC/SKBDN kepada beneficiary Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai permintaan dalam LC/SKBDN Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Negotiating bank mengirimkan dokumen kepada issuing bank Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing bank untuk melakukan pembayaran. Reimbursing melakukan pembayaran kepada negotiating bank (claiming bank) Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary Issuing bank melakukan pembayaran kepada reimbursing bank Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menyerahkan dokumen kepada applicant untuk menebus/mengambil barang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 299 .

antara lain untuk jaminan keuangan (financial guarantee) seperti shipping guarantee. LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance). antara lain untuk tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil alih bank. Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary. b. biaya pengiriman dokumen. LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment). SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC tunduk pada Uniform Customs and Practice for Documentary Credits/UCPDC.Bab VII I E k s p o r Impor 2. bank melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut. Akuntansi yang terkait dengan kewajiban kontinjensi dan kewajiban diestimasi. 5. Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank. 3. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation). sesuai dengan jenis LC/SKBDN: 300 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 6. advising bank meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary. Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. d. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab mengenai surat berharga. c. dan komisi negosiasi dokumen. Berdasarkan cara penyelesaian pembayarannya. komisi pembukaan LC/SKBDN. yaitu: a. 4. LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon (applicant). b. Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang berasal dari hak dan kewajiban kontraktual. LC/SKBDN dibedakan menjadi: a. LC/KBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk meminta pembayaran kepada issuing bank melalui bank korespondennya berdasarkan pemenuhan persyaratan yang tercantum dalam LC/SKBDN. 8. 9. 7. LC/SKBDN atas unjuk (sight payment). Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi. Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi akseptasi.

Bab VII I E k s p o r

Impor

a.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan kemudian meneruskan dokumendokumen yang diterima kepada issuing bank.

b.

LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN) Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.

c.

LC/SKBDN yang ditagih dengan collection Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank untuk ditagihkan pembayarannya tanpa terlebih dahulu melakukan pembayaran kepada beneficiary. LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara lain: 1) dokumen yang diajukan terdapat penyimpangan (discrepancy/ies); atau 2) tidak ada bank yang bersedia sebagai negotiating bank

10. Bank pendiskonto (discounting bank) membayar kepada beneficiary sebesar nilai LC/ SKBDN atau nilai realisasi setelah dikurangi diskonto. 11. Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dengan hak regres (with right of recourse) berdasarkan wesel dan dokumen yang diajukan oleh beneficiary, kecuali status negotiating bank sebagai confirming bank. 12. Instrumen (dokumen keuangan/financial document) untuk penyelesaian pembayaran semua jenis LC/SKBDN digunakan wesel (draft/bill of exchange). 13. Khusus untuk deferred payment, instrumen pembayaran pada dasarnya adalah promisory notes, namun dalam praktek perbankan Indonesia telah lazim digunakan wesel yang diperlakukan sebagai tagihan.

D. Perlakuan Akuntansi
Pengakuan dan Pengukuran Transaksi Ekspor 1. Pada saat menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank mengadministrasikan LC/SKBDN yang diterima. Advising bank mengakui pendapatan provisi (advising fee) yang dipungut, dan pendapatan administrasi atas telex/swift atau pengiriman dokumen pada saat terjadinya.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 301

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Dalam hal advising bank juga bertindak sebagai confirming bank untuk menjamin pembayaran LC/SKBDN maka advising bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada saat yang sama mengakui tagihan komitmen kepada issuing bank. Confirming bank mengakui pendapatan provisi (advising fee dan/atau confirming fee) secara sekaligus atau dialokasikan selama jangka waktu komitmen. Untuk LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN), pada saat pembayaran dokumendokumen yang diajukan beneficiary, bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank dalam pos tagihan lainnya sight LC/SKBDN kepada bank. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) a. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, bank mengakui tagihan kepada accepting bank sebagai pos tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary sebagai pos kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank terlebih dahulu “telah menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dan membukukan wesel ekspor sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu wesel ekspor. Pada saat yang sama bank menjurnal balik tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank ”belum menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan mengakui tagihan kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN serta mengakui pendapatan yang ditangguhkan sebesar nilai diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu tagihan. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank membukukan tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Pada saat yang sama bank membukukan wesel ekspor berjangka dan melakukan jurnal balik atas tagihan kepada beneficiary serta menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi. Pada saat jatuh tempo, apabila bank yang melakukan pembayaran (paying bank) kepada beneficiary menerima pembayaran dari issuing bank, maka bank membukukan pada pos nostro/giro B.I/Rekening Antar cabang dan menjurnal balik pos wesel ekspor berjangka.

3.

4.

b.

c.

302 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

d.

Apabila bank tidak melakukan pendiskontoan/negosiasi tetapi hanya melakukan penagihan (on collection) atas permintaan beneficiary, maka pada saat jatuh tempo bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi. Pembayaran dari issuing bank dibukukan pada pos nostro/Giro BI/Rekening Antar Cabang dan mengkredit rekening beneficiary sebesar nilai LC/SKBDN dikurangi dengan biaya administrasi.

5.

LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN) a. Dalam hal negosiasi LC/SKBDN dimana wesel unjuk (sight) diambil alih oleh negotiating bank (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat bersamaan negotiating bank mengakui tagihan kepada issuing bank sebagai pos tagihan lainnya - sight LC/SKBDN kepada bank koresponden yang akan diselesaikan pada saat menerima pembayaran dari issuing bank. b. Dalam hal bank menegosiasi wesel berjangka yang belum diaksep (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung (bila ada). Pada saat bersamaan, bank mengakui tagihan kepada beneficiary dalam pos tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum diakseptasi. c. Pada saat menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank mengakui tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi sebesar nilai realisasi LC/SKBDN ditambah/ dikurangi dengan biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi. Selanjutnya biaya/pendapatan tersebut diamortisasi selama jangka waktu tagihan akseptasi. Dalam hal bank menerima akseptasi dari accepting bank setelah bank melakukan pendiskontoan/negosiasi maka perlakuan akuntansi sebagaimana diatur pada butir 4. c di atas. Perlakuan akuntansi untuk wesel ekspor mengacu pada bab mengenai surat berharga. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan pada saat pengakuan awal Sebesar nominal tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dikurangi pendapatan/beban (bila ada).

6.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 303

Bab VII I E k s p o r

Impor

7. Setelah pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebagai berikut:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan setelah pengakuan awal Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

8. 9.

Perlakuan akuntansi untuk amortisasi biaya transaksi mengacu pada Bab mengenai Kredit. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori

Pencatatan pada saat pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya yang diukur sebesar diamortisasi) nilai wajar, yang pada umumnya adalah sebesar kewajiban bruto.

10. Setelah pengakuan awal, bank mencatat kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebagai berikut:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori Pencatatan setelah pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. Pada saat membuka LC/SKBDN, bank mencatat ke dalam pos: a. b. c. 2. kewajiban komitmen LC/SKBDN dalam mata uang asing sebesar nilai LC/SKBDN; setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam LC/SKBDN sebesar setoran yang diterima; pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN sebesar provisi yang diterima.

Pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat diterima.
Akuntansi Perbankan Indonesia

304 I P e d o m a n

Bab VII I E k s p o r

Impor

3.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) a. b. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan selama masa pemeriksaan tidak dilakukan penjurnalan. Apabila dokumen pengapalan (shipping document) telah diterima dan diperiksa dan tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh applicant, maka issuing bank mengakui kewajiban atau melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan mengakui tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada pos tagihan lainnya (tagihan kepada applicant). Pada saat yang sama, issuing bank melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN.

c. Apabila dokumen pengapalan belum diterima dan applicant meminta bank untuk menerbitkan shipping guarantee, maka applicant harus membayar lunas kekurangan dari setoran jaminan atas realisasi LC/SKBDN dan issuing bank mengakui kewajiban kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan bank membebankan biaya endors kepada applicant. Pada saat yang sama, bank mengakui tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran, serta melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat dokumen pengapalan diterima dan diperiksa, maka issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran dan tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant. Issuing bank melakukan pembayaran kepada bank koresponden dengan membukukan pada pos nostro/ Giro BI/Rekening antar cabang dan menjurnal balik pos kewajiban kepada bank koresponden. 4. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment). a. Bila issuing bank mengaksep wesel Pada saat bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada applicant, serta membebankan biaya akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/ SKBDN sebesar nilai realisasi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 305

Bab VII I E k s p o r

Impor

Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada negotiating bank maka kewajiban accepting bank beralih dari kewajiban akseptasi kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada negotiating bank. Negotiating bank dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada pihak lainnya sehingga kewajiban accepting bank beralih kepada bonafide holder. b. Bila issuing bank bukan accepting bank Dalam hal accepting bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka 1) Accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada issuing bank. 2). Issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi. 5. LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN). a. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel unjuk (LC/SKBDN sight), maka issuing bank mengakui kewajiban lainnya kepada negotiating bank sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan pada saat yang sama mengakui tagihan lainnya kepada applicant sebesar nilai yang sama. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh bank lain, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant.

b. 1)

2) Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh issuing bank, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada negotiating bank dan tagihan akseptasi kepada applicant. 6. Pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya atas tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi impor mengacu pada tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi ekspor. Saat applicant melunasi kewajibannya (saat jatuh tempo), bank mendebet rekening applicant dan setoran jaminan impor serta mengkredit rekening bank koresponden, dan pada saat yang sama menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi.

7.

306 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

8.

Penurunan nilai (impairment) Perlakuan penurunan nilai tagihan akseptasi mengacu kepada Bab mengenai Kredit.

Penyajian Transaksi Ekspor 1. Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya disajikan di neraca sesuai kategori aset keuangan, yaitu:
Kategori Aset Keuangan Penyajian di Neraca

Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah dengan amortisasi kumulatif Piutang menggunakan metode suku bunga efektif. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account.

Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya disajikan sebagai berikut:
Kategori Kewajiban Keuangan Penyajian di Neraca

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. 2. 3. 4. Kewajiban komitmen atas penerbitan LC/SKBDN diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebesar jumlah penerbitan LC/SKBDN. Setoran jaminan impor disajikan di neraca sebesar jumlah setoran jaminan. Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di neraca sebesar nilai wajar dikurangi amortisasi kumulatif pendapatan/beban yang dapat diatribusikan. Penyajian tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya mengacu kepada penyajian transaksi ekspor.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 307

./Giro BI/Nostro bayar claiming bank Kr.. No 1 2 3 4 Sight atau LC/SKBDN . Antar Cabang imbursing/issuing bank dan Negotiating bank Kr.. Pendapatan administrasi beneficiary b. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada bank koresponden Kr.. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada dari issuing bank claiming bank*) bank koresponden Bila issuing bank terlambat Negotiating bank/ Db./Giro BI Kr. Kas/rekening.. Kredit yang diberikan jatuh tempo dan melebihi 14 Negotiating bank/ Kr. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Db. dimana issuing bank claiming bank bank koresponden belum membayar 7 *) Negotiating bank dapat bertindak sebagai claiming bank bila dipersyaratkan dalam LC/ SKBDN untuk melakukan klaim kepada reimbursing bank 308 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan lainnya-sight LC/SKBDN kepada hari.. Pendapatan bunga – sight LC/SKBDN Bila sight LC/SKBDN sudah Db. Pendapatan administrasi 4 Saat negosiasi dokumen Negotiating bank 5 6 Db. Kas/rekening. Kas/rekening.Bab VII I E k s p o r Impor E./Giro BI pembayaran kepada eksportir/ Kr. Nostro/Giro BI/Rek. Transaksi Ekspor a.. Kas/rekening. Nostro/Giro BI/Rekening antar cabang Saat terima pembayaran Negotiating bank/ Kr....../Giro BI Kr. No 1 2 3 Negosiasi Sight LC/SKBDN Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank Negotiating bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db../Giro BI Kr. Ilustrasi Jurnal 1. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Negotiating bank Tidak ada penjurnalan Terima pembayaran dari reDb.. kiriman dokumen dan biaya telex (bila ada) Db... Kas/rekening.. Kas/rekening../Giro BI Pembebanan komisi negosiasi.Pembayaran kepada eksportir setelah terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank – on collection Keterangan Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db.

Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Db...Bab VII I E k s p o r Impor c. Kas/rekening./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Pembebanan biaya yang diakui langsung: Db./Giro BI Kr.. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Amortisasi: Db. Kas/rekening. Kas/rekening.... Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Tidak ada penjurnalan Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi No 1 2 3 4 Saat terima LC/SKBDN Advising bank Provisi advising Pengiriman dokumen Saat terima akseptasi Advising bank Negotiating bank Negotiating bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 309 ./Giro BI Kr.. Pendapatan fee Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db..

Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor: Db. Pendapatan adm... kiriman dokumen. Kas/rekening.Bab VII I E k s p o r Impor No 5 Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian a./Giro BI Kr. Surat berharga . Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) dan sudah terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Trading) Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/discounting bank *) Setelah jurnal no. bank melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Kas/rekening./Giro BI (diakui sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurang diskonto) Mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. (komisi negosiasi. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .wesel ekspor usance Kr Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – wesel eskpor Db/Kr.wesel ekspor usance Kr. 1 s/d 4.wesel ekspor Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga .. biaya telex) Penyesuaian dengan harga pasar: Harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Surat berharga ..wesel ekspor usance Penjualan surat berharga . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.wesel ekspor usance 310 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Surat berharga ..wesel ekspor: Db..

. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. bank membukukan surat Discounting bank berharga wesel ekspor: Db. Kas/rekening.wesel ekspor usance Kr..wesel ekspor usance Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Surat berharga .. Surat berharga . Kiriman dokumen. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 311 . Surat berharga .Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian 2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no..wesel ekspor usance Kr.. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Pendapatan adm (komisi negosiasi. 1 s/d 4./Giro BI Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/ reimbursing bank): Db./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db.. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) Melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.

Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Kas/rekening. Peningkatan (penurunan) nilai wajar . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor ./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db.wesel ekspor usance 312 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 1 s/d 4.wesel ekspor usance Kr. Surat berharga .wesel ekspor usance Kr Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Surat berharga .. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db.. Surat berharga . Kas/rekening.. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Saat mendiskonto dokumen Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Negotiating bank/ Setelah jurnal no. Surat berharga . Surat berharga . Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr..wesel ekspor usance Kr...wesel ekspor Kr. Kiriman dokumen.wesel ekspor: Db.wesel ekspor usance Penjualan surat berharga ./Giro BI Kr. bank menjurnal balik Discounting bank tagihan dan kewajiban akseptasi Db.ekuitas Db/Kr.ekuitas Kr.

.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Setelah jurnal no.. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary saat jatuh tempo . 1 s/d 4./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr... Kiriman dokumen. biaya telex) Db. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.on collection Saat jatuh tempo Negotiating bank/ (terima pembayaran claiming bank dari reimbursing/issuing bank) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 313 . Kas/rekening. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db.. Kas/rekening../Giro BI b.

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

c. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) tetapi belum terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (trading) Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3 diatas, bank membukukan diskonto wesel ekspor yang belum diakseptasi: discounting Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor bank*) belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Saat bank menerima akseptasi: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Jika harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Db/Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance *) Negotiating bank disebut juga discounting bank bila melakukan diskonto atas wesel ekspor.

314 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang diberikan dan Piutang Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3, bank membukukan Discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi: Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex) Terima akseptasi Bank menerima akseptasi atas wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 315

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Mendiskonto dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

N e g o t i a t i n g / Setelah jurnal no. 1 s/d 3 di atas, bank membukukan discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex)

Terima akseptasi

Bank menerima akseptasi wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar - ekuitas Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db./Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor - ekuitas Db./Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance

316 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Transaksi Impor a.
No 1

LC/SKBDN Atas Unjuk (Sight LC/SKBDN)
Keterangan Issue LC/SKBDN Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/Cabang Komisi endors LC/SKBDN dan SSG: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Melakukan jurnal balik komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekeninglawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

2 3 4

Provisi pembukaan LC/ SKBDN Terima setoran jaminan impor Terima pembayaran dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN)

Issuing bank Issuing bank Issuing bank

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 317

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden a. Terima dokumen impor, rekening issuing belum didebet dan applicant belum melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight)

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, Melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Pengakuan tagihan dan kewajiban Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Pembayaran kepada bank koresponden/ cabang: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

318 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan b. Terima dokumen impor, rekening Nostro sudah didebet dan applicant belum melakukan pelunasan Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, menjurnal balik kewajiban komitmen (off balance sheet) : Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Pelunasan oleh applicant: Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

c. Terima dokumen impor ex-endors B/L, importir/ applicant sudah melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen Issuing bank Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 319

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan d. Jika importir/applicant mengambil barang dengan menggunakan SSG (shipping guarantee) Penerbitan shipping guarantee

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat penerbitan SSG: Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG: Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rek. lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Penyelesaian SSG pada umumnya dilakukan 14 hari setelah jatuh tempo atau SSG dikembalikan.

Penerimaan dokumen

Issuing bank

320 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 321 . Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Db..kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden Penerimaan dokumen Issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db.kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Bila pengambilan barang disertai SSG. Rekening lawan . Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr./Giro BI Kr./Giro BI Kr.. Setoran jaminan impor No Keterangan 1 Bank menerbitkan LC/ SKBDN 2 Bank mengakui provisi pembukaan LC/SKBDN Bank menerima setoran jaminan impor Issuing bank 3 Issuing bank 4 Issuing bank Terima promes dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr. lawan . Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr. Kas/rekening.. lawan ..kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr.. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Rek.. berjangka kepada bank koresponden Rek. Kas/rekening. lawan .Bab VII I E k s p o r Impor b. berjangka kepada bank koresponden Rek. LC/SKBDN Berjangka (Usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (Deferred payment): Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Db. maka off balance sheet SSG juga dibalik Db.

Pendapatan fee yang diamortisasi 322 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Saat akseptasi Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Accepting bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Mengakui amortisasi: Db./Giro BI Kr..Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan a. Kas/rekening./Giro BI Kr. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Db.. Pendapatan fee Db./Giro BI Kr.. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening.... Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening....

negotiating bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan b. Bila issuing bank bukan accepting bank Status Bank Accepting bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Kas/rekening.accepting bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Pendapatan fee yang diamortisasi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 323 .. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . antar cabang Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Pendapatan fee yang diamortisasi Issuing bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya Db. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi Db. Giro BI/nostro/Rek. Giro BI/nostro/Rek.accepting bank Mengakui amortisasi Db./Giro BI Kr./Giro BI Kr..issuing bank Kr... Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden .issuing bank Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . antar cabang Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .issuing bank Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ..negotiating bank Mengakui amortisasi Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .

Kas/rekening... Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Issuing bank Pelunasan oleh applicant: Db.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Bila issuing bank bukan accepting bank Accepting bank Menerima pembayaran dari issuing bank Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ./Giro BI Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden (accepting bank): Db. Giro BI/nostro (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant Db.accepting bank Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 6 Saat jatuh tempo (pelunasan oleh applicant dan pembayaran kepada bank koresponden) a.negotiating bank Kr. antar cabang b. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (accepting bank) Accepting bank Issuing bank Issuing bank 324 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. Setoran jaminan impor Db. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank): Db. Setoran jaminan impor Db.. Giro BI/nostro/Rek. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ../Giro BI Kr.issuing bank Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Giro BI/nostro (issuing bank) Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.

Kas/rekening.... Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (issuing bank) Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr./Giro BI Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (reimbursing bank) Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan c. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (reimbursing bank) Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 325 .reimbursing bank Kr. Bila pelunasan LC/SKBDN melalui reimbursing bank Status Bank Reimbursing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Melakukan pembayaran kepada negotiating bank Db. Setoran jaminan impor Db.

Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.Bab VII I E k s p o r Impor F. 4. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. b. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan LC/SKBDN (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan atau kewajiban LC/SKBDN) dan agunan. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan atau kewajiban LC/SKBDN. d. jika bank tetap mengakui seluruh bagian tagihan LC/SKBDN Total nilai tercatat tagihan LC/SKBDN awal yang dialihkan. nilai tercatat tagihan Akuntansi Perbankan Indonesia 326 I P e d o m a n . Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. yaitu: a. Jenis LC/SKBDN. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan LC/SKBDN yang masih tetap berada di bank. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 3. b. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. c. 2. c. dengan rincian berikut: a. 6. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN dan kewajiban terkait. Pengalihan tagihan LC/SKBDN yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh LC/SKBDN. Tersedia untuk Dijual. b. 5. d. b. c. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Perubahan nilai wajar tagihan LC/SKBDN yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Jumlah tagihan LC/SKBDN yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan atau kewajiban LC/SKBDN dalam penyusunan laporan keuangan.

Bab VII I E k s p o r

Impor

LC/SKBDN yang tetap diakui bank, dan nilai tercatat kewajiban terkait, jika bank tetap mengakui sebagian tagihan LC/SKBDN sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 7. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas LC/SKBDN sebagaimana pada angka 8 sampai 9 dibawah.

Pengungkapan kualitatif 8. Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan LC/SKBDN dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

Pengungkapan kuantitatif 9. Analisis terhadap tagihan LC/SKBDN berdasarkan klasifikasi yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya berdasarkan industri, geografis). Analisis tersebut mencakup: a. b. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan LC/SKBDN pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya; Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan LC/SKBDN sebagaimana pada butir a diatas. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan, dan credit derivative); 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya; 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan, dan pihak penjual proteksi LC/SKBDN dalam transaksi credit derivative); dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya; c. Informasi mengenai kualitas tagihan LC/SKBDN di luar yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan LC/SKBDN, baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 327

Bab VII I E k s p o r

Impor

a)

Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit, maka pengungkapan mencakup: i Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat; ii Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat; iii Jumlah ekposur tagihan LC/SKBDN yang diperingkat dan yang tidak diperingkat; iv Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan LC/SKBDN , maka pengungkapan mencakup: i Proses pemeringkatan internal beserta asumsi-asumsi yang digunakan dalam penerapan pemeringkat interna. ii Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat internal; iii Penjelasan struktur peringkat internal serta hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 2) Tipe/jenis debitur; 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate); 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan LC/SKBDN ; dan d. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/ atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi.

10. Jumlah tagihan LC/SKBDN berdasarkan segmentasi, antara lain sektor ekonomi dan geografi, berdasarkan jangka waktu, mata uang, dan tingkat bunga tagihan LC/SKBDN yang dihitung secara rata-rata. 11. Jumlah tagihan LC/SKBDN kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 12. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai.

328 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

G. Ketentuan Lain-lain
1. 2. Ketentuan UCP yang berlaku. Bank tetap menilai kualitas tagihan sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank.

H. Contoh kasus
Impor 1. LC atas unjuk (Sight) - Pengambilan barang dengan Shipping Guarantee (SSG) PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut, pada tanggal 2 Februari 2012 PT Maju membuka LC sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10 %. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 14 Pebruari 2012 barang sudah tiba di pelabuhan dan importir menebus barang dengan meminta bank membuat SSG. PIB (bea masuk,PPN &PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000,00. Biaya/komisi penerbitan SSG Rp. 200.000 dan komisi PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 18 Februari 2012 dokumen asli diterima oleh Bank XYZ dan penyelesain kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden 2) Mengakui pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Mengakui penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 329

Bab VII I E k s p o r

Impor

b.

Tanggal 14 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari importir Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang USD USD USD 1.000 9.000 10.000 200.000 200.000

2) Mengakui pendapatan komisi dari mengendors LC/SKBDN dan SSG Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Rp

3) Menerima setoran pajak impor (apabila nasabah membayar melalui bank) Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp 20.050.000 Kr. Kewajiban pajak impor Rp 20.000.000 Kr. Pendapatan komisi PIB Rp 50.000 3) Melakukan jurnal balik pembukuan komitmen Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden 4) Menerbitkan SSG Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi c. Tanggal 18 Februari 2012 1) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank korensponden/cabang Kr. Giro BI /nostro/rekening antar cabang 2) Melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rekening lawan - kewajiban kontijensi SSG berjangka kepada perusahaan ekspedisi

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

330 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

LC berjangka (usance/deferred) - Pengambilan barang dengan dokumen asli (setelah dokumen tiba): PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut pada tanggal 02 Pebruari 2012 PT Maju membuka LC berjangka (usance) sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10%. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 18 Februari 2012, Bank XYZ menerima dokumen dari negotiating bank. Importir menebus barang dengan akseptasi promes/wesel, biaya atas PIB (bea masuk, PPN & PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000. Komisi akseptasi yang diterima sebesar USD25 dan PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 2 April 2012, LC jatuh tempo dan dilakukan penyelesaian kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Berjangka kepada bank koresponden 2) Pencatatan pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Pencatatan penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor b. Tanggal 18 Februari 2012 1) Penerimaan setoran pajak impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB Rp Rp Rp 20.050.000 20.000.000 50.000

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 331

Bab VII I E k s p o r

Impor

2) Melakukan jurnal balik atas komitmen (off balance sheet) Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD

10.000 10.000

3) Pengakuan tagihan akseptasi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 10.000 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Pembebanan biaya diakui langsung Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan fee

USD USD

25 25

Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 9.975 Db. Kas/rekening..../Giro BI 25 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Amortisasi atas biaya/pendapatan yang diatribusikan secara langsung Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 0,55 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi USD 0,55 Amortisasi dilakukan sampai dengan jatuh tempo/pembayaran dari importir menggunakan suku bunga efektif; penggunaan metode garis lurus diperbolehkan sesuai ketentuan.

332 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

c.

Tanggal 2 April 2012 1) Pelunasan oleh applicant saat jatuh tempo Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD USD USD 1.000.00 9.000.00 9.999.44 0,56

2) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Kewajiban akseptasi kepada bank korespondennegotiating bank USD Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD

10.000 10.000

Tabel 1: Amortisasi Biaya Transaksi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor impor di Bank XYZ adalah USD 20 (= IDR 200.000).
No. Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Estimasi arus kas C (9,975) Saldo awal AngsurSuku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok D 9.975,00 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.979,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 E = D x EIR 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 F G=pxi H=E–G 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 Saldo akhir Tagihan Akseptasi I=D+E+F+G 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.978,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 9.984,99

Tanggal B 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 333

44 0.991.56 0.22 0.999.998.991.77 9.33 0.44 9.986.998.56 0.993.56 9.56 (10.56 0.66 0.66 9.56 9.56 0.56 9.987.56 0.22 9.56 9.997.56 9.Bab VII I E k s p o r Impor No.56 0.995.994.56 0.993.994.987.56 9.56 0.56 0.56 0.56 0 Suku Bunga Efektif Awal 0.44 9.56 0.988.88 0.56 9.56 0.56 9.66 0.88 9.56 9.55 9.99 9.987.56 0.33 9.000) 0.000 Saldo awal AngsurSaldo akhir Suku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an Tagihan efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok Akseptasi D E = D x EIR F G=pxi H=E–G I=D+E+F+G 9.99 0.006% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 334 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .10 0.991.10 9.988.998.56 9.78 0.996.993.10 0.992.990.989.55 0.56 0.989.33 0.88 9.993.56 9.56 9.992.986.998.989.56 9.996.22 0.989.89 0.985.55 0.992.89 9.55 9.99 9.56 0.988.997.997.56 9.44 0.56 9.78 9.992.66 9.21 0.56 0.56 9.77 0.996.11 0.56 0.56 9.56 9.991.56 9.56 9.66 0.77 0.56 9.986.33 0.21 9.99 0.56 9.986.994. Trx A 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Tanggal B 07-Mar-12 09-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 Estimasi arus kas C 10.990.88 0.996.33 9.10 9.999.56 0.985.56 0.66 9.994.56 0.99 0.56 0.987.56 9.56 0.44 9.995.997.94 0.56 9.22 9.56 0.55 0.56 0.33 9.77 9.56 0.11 9.55 9.56 0.56 9.984.988.56 9.

00.000.000.a.000 b. Dokumen diperiksa oleh Bank XYZ dan dokumen dikirim ke issuing bank. komisi/ biaya administrasi 0. komisi negosiasi 0. Biaya pengiriman dokumen sebesar USD25. Pada tanggal 6 April 2012 bank XYZ menerima pembayaran dari issuing.000. Pada tanggal 11 Februari 2012 PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. PT Aneka (eksportir).. menerima LC sebesar USD10. biaya telex) USD 37. Bank XYZ menerima pembayaran dari issuing bank pada tanggal 19 Februari 2012.000 100. Pada tanggal 07 Februari 2012.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 335 . Biaya pengiriman dokumen USD25. Atas pendiskontoan tersebut Bank XYZ membebankan bunga/diskonto 4% p. kiriman dokumen. Kas/rekening. Jurnal transaksi a.50 2.000.50 Kr.962. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 10 Februari 2012. Nostro/Giro BI/Rek. Kas/rekening. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 6 Februari 2012.. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD 100. LC atas unjuk (sight) Pada tanggal 2 Februari 2012. Tanggal 11 Februari 2012 Menerima pendapatan provisi advising Db.125%.. PT Aneka (eksportir) menerima LC dengan pembayaran dilakukan 2 bulan setelah tanggal pengapalan barang sebesar USD 10.125% x USD 10. LC berjangka (usance) yang dinegosiasi/didiskonto Pada tanggal 2 Februari 2012. bank XYZ membebankan biaya advising LC Rp100. PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. Komisi advising LC Rp100. Setelah dokumen diperiksa.. Tanggal 19 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari reimbursing/issuing bank dan pembayaran kepada eksportir/beneficiary Db. Tanggal 16 Februari 2012 PT Aneka mendiskontokan tagihannya kepada Bank XYZ./Giro BI USD 9. Pada tanggal 15 Februari 2012 Bank XYZ menerima akseptasi dari issuing bank.000 Kr.50 Perhitungan: USD 25 + (0. Antar Cabang USD 100./Giro BI Kr.000) = USD 37.25%. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi.Bab VII I E k s p o r Impor Ekspor 1..

/Giro BI USD 10. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. Surat berharga ./Giro BI Kr.000)/{360 + (4% x 50)} = 9.000 10. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Pada tanggal 5 Maret 2012 wesel ekspor tersebut dijual kepada bank ABC dengan diskonto 2% (dalam hal ini diasumsikan menggunakan rumus true discount) untuk kondisi 1 dan 4. USD USD 10.000 (dibukukan sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.60 336 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/rekening.000 Pengukuran Wesel Ekspor 1.wesel ekspor usance USD 10. Kas/rekening. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Rp Rp 100. Jurnal transaksi a.000 2) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db.944..000 b. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10. Tanggal 16 Februari 2012 1) Mendiskonto dokumen dengan menjurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db... Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tanggal 15 Februari 2012 Menerima akspetasi dari accepting bank Db. Tanggal 7 Februari 2012 Menerima provisi advising Db..000 Kr..000 100..Bab VII I E k s p o r Impor Asumsi untuk wesel ekspor dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi dan Tersedia untuk Dijual.000 Kr.

944.982.51 MTM = 9.60 = 37. Surat berharga .25% x USD10.65 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 337 . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga .25 MTM = 9..000) = USD50 4) Penyesuaian harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 97 (diskonto 3%) Db. Pendapatan administrasi USD 50 Perhitungan: USD25 + (0.wesel ekspor usance Kr.5% x 33)}= 9.wesel ekspor usance USD 41. Kas/rekening.000)/{360 + (1.986.982.53 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.65 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 13.51 .91 Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10..wesel ekspor usance USD 13.986.60 = 13. Surat berharga .60 = 41.53 c.9. Db.9.986. Keuntungan penjualan surat berharga .25 41.25 ..91 b.13 .13 MTM = 9.53 9.53 Kr./Giro BI USD 50 Kr. Tanggal 4 Maret 2012 Penyesuaian dengan harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 98.982.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.000)/{360 + (3% x 50)} = 9. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db.944.944.9. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 41.958.91 Kr.Bab VII I E k s p o r Impor 3) Mengakui biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung Db. Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan wesel ekspor Db.13 37.wesel ekspor USD USD USD USD 9.50.958.

Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD 10.wesel ekspor usance USD Kr.91 Kr.000)/{360 + (4% x 50)} = 9..wesel ekspor usance USD 1. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) USD 1. Surat berharga . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.944. Surat berharga .000 Kr.000 10.000 – 9.000 0 338 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD Kr. Surat berharga . Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 0 Lihat tabel amortisasi di halaman selanjutnya 4.09 Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.60 9.944.000 Kr.Bab VII I E k s p o r Impor 2.944.60 = 55. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo..60 2) Melakukan amortisasi Db.000 Kr.wesel ekspor usance USD 998. Tanggal 5 Maret 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 10.944../Giro BI USD 9.08 Kr. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang a. Tanggal 16 Februari 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.60 Diskonto = 10. 3.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.40 3) Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank) Db. Kas/rekening. Tersedia untuk Dijual a.

Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1. Kas/rekening.000)/{360 + (4% x 50)} = 9. 5) Penyesuaian dengan harga pasar: Db.08 Kr.958.944.83 USD USD 12.Bab VII I E k s p o r Impor 2) Mengakui surat berharga wesel ekspor Db.958. biaya telex) Perhitungan: USD 25 + (0.945 Dibukukan sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) 3) Mengakui biaya/pendapatan secara diakui langsung: Db.945 Kr.25% x USD 10. Surat berharga .945.000) = USD 50 USD USD 50 50 4) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. amortisasi dilakukan tiap hari.51 MTM = 9. Kiriman dokumen./Giro BI Kr.60 Diskonto = 10.40 Catatan: Dalam soal ini.wesel ekspor usance USD 9.83 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 339 ...944. Surat berharga .. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10.9. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi.000)/{360 + (3% x 50)}= 9. Surat berharga .60 = 55... Kas/rekening.51 .wesel ekspor usance Kr../Giro BI USD 9.83 12.000 – 9.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.wesel ekspor usance USD 1.68 = 12.

13 .000 dengan tingkat diskonto 4% Tanggal terbit : 16 Februari 2012 Tanggal jatuh tempo : 6 April 2012 Tanggal rediskonto : 5 Maret 2012 dengan tingkat diskonto 2% Harga pasar tanggal 16 Februari 2012 : 3% Harga pasar tanggal 4 Maret 2012 : 1.01 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.944.ekuitas USD Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .12 = 22.01 Kr.5% (lihat Tabel 2) 340 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VII I E k s p o r Impor b. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas USD 22.9.wesel ekspor usance USD Kr.986.wesel ekspor Db. 9.5% x 33)} = 9.982. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD Db.01 9.25 22.01 Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan surat berharga .wesel ekspor usance USD 22. Surat berharga .000)/{360 + (1.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.65 Informasi untuk perhitungan amortisasi diskonto wesel ekspor sebagai berikut: Nilai nominal : USD10.60 = 37.wesel ekspor USD Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10.9.13 MTM = 9.966.65 c.982.982. Tanggal 4 Maret 2012 Melakukan penyesuaian dengan harga pasar (misalkan harga pasar wesel ekspor adalah 98. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .25 .25 Laba(rugi) = 9.986.964.61 37. Surat berharga .50) Db.

944.974.08 1.95 1.977.948.08 9.968.41 9.27 9.46 9.983.979.08 9.69 9.09 1.08 1.68 1.86 1.945.50 1.08 1.12 1.08 9.944.964.78 9.953.963.964. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Tanggal Estimasi arus kas Saldo awal Wesel Ekspor D 9.09 1.961.72 9.36 1.09 9.972.08 1.977.19 9.978.980.09 1.09 1.85 9.59 1.09 9.38 9.953.09 9.08 9.08 9.02 9.55 1.946.963.09 9.09 1.63 1.06 9.09 1.08 9.86 9.08 1.948.09 9. Trx.981.09 9.63 9.09 9.08 1.970.59 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.947.959.61 1.960.69 1.978.08 9.94 9.29 1.966.969.77 1.27 1.09 9.950.10 9.09 1.09 F Tagihan bunga Amortisasi dengan EIR Saldo akhir Wesel Ekspor B C 16-Feb-12 (9.09 9.09 1.08 1.945.08 9.Bab VII I E k s p o r Impor Tabel 2: Amortisasi Diskonto No.46 1.951.02 1.09 1.973.965.09 1.72 1.33 1.08 1.968.09 1.958.19 1.956.982.12 9.955.951.974.20 1.95 9.972.29 9.08 1.954.08 9.08 9.09 9.09 1.954.955.947.09 9.85 1.976.08 1.09 9.41 1.38 1.08 1.971.89 9.960.08 9.94 1.24 9.81 1.10 1.971.09 9.973.03 9.08 1.982.976.970.967.966.60) 17-Feb-12 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12 07-Mar-12 08-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 - G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.961.03 1.08 9.952.946.09 9.09 1.967.08 1.08 1.981.44 1.09 1.09 9.956.969.50 9.24 1.81 9.965.52 1.957.08 9.09 1.08 9.09 9.09 9.09 1.09 1.55 9.09 9.20 9.980.60 9.09 1.09 9.09 9.959.89 1.68 9.06 1.957.09 1.15 9.09 9.78 1.958.08 1.33 9.98 1.61 9.36 9.67 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 341 .77 9.52 9.950.952.979.44 9.08 9.15 1.09 1.98 9.

09 9.09 9.994.91 1.09 1.998.03 1.56 1.09 9.64 1.20 1.09 9.993.00 Tagihan bunga Suku Bunga Efektif Awal (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 342 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . A 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Tanggal Estimasi arus kas B C 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 03-Apr-12 04-Apr-12 05-Apr-12 06-Apr-12 10.91 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.00 Saldo awal Wesel Ekspor D 9.94 9.67 9. Trx.09 9.73 1.09 F (10.38 9.996.000.56 9.73 9.09 9.09 1.09 9.993.11 1.992.94 1.09 1.82 1.995.00) Amortisasi Saldo akhir dengan Wesel Ekspor EIR G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.990.986.82 9.983.76 9.09 1.984.992.000.994.997.988.985.29 9.09 1.989.20 9.09 0.991.11 9.09 1.47 1.09 1.09 9.09 9.85 1.984.997.09 1.990.38 1.09 9.986.09 1.989.09 9.09 9.09 1.64 9.09 9.985.47 9.09 1.09 9.09 1.988.996.Bab VII I E k s p o r Impor No.76 1.09 1.09 1.29 1.995.03 9.998.991.85 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful