Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (Revisi 2008

)

TIM PERUMUS PAPI DESEMBER 2008

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Hak cipta @ 2008, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam ayat (1), dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Cetakan Revisi Desember 2008

Pedoman akuntansi perbankan Indonesia/disusun oleh tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. -- Jakarta: Bank Indonesia, 2008 349 hlm; 3 cm Diterbitkan atas kerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ISBN: 978 - 979 - 9020 - 31 - 4

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

—— Tanggapan dan masukan tertulis atas ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pedoman Akuntansi Indonesia Revisi 2008 dapat disampaikan ke Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia. Up. Tim Pembinaan dan Pengawasan. Nomor fax. (021) 231 1672.

ii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

GUBERNUR BANK INDONESIA

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya menyambut gembira atas selesainya Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) revisi 2008, yang merupakan petunjuk lebih teknis dari standar akuntansi keuangan yang terkait dengan perbankan. Sebagai badan usaha yang memiliki tanggung jawab publik, perbankan dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang berkualitas tinggi sehingga dapat memberikan informasi yang akurat dan komprehensif bagi seluruh pihak yang berkepentingan dan mencerminkan kinerja bank secara utuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar dan pedoman akuntansi yang berlaku perlu terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan transaksi dan produk keuangan dewasa ini serta harmonisasi dengan standar akuntansi internasional. Sebagaimana telah diketahui, Ikatan Akuntan Indonesia pada akhir Desember 2006 telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 (Revisi 2006) tentang Pengakuan dan Pengukuran Instrumen Keuangan dan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Penyajian dan Pengungkapan Instrumen Keuangan, serta beberapa standar akuntansi lain sebagai bagian dari proses konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Dengan penyempurnaan standar akuntansi dimaksud, maka PAPI sebagai petunjuk yang sifatnya lebih teknis juga perlu disempurnakan dengan menambahkan penjelasan dan contohcontoh perhitungan yang diharapkan dapat mempermudah pemahaman terhadap PSAK yang berlaku, khususnya PSAK 55 (Revisi 2006) dan PSAK 50 (Revisi 2006) yang disadari merupakan standar akuntansi yang cukup kompleks karena berupaya mengakomodasi kebutuhan pengaturan instrumen keuangan yang berkembang demikian pesat. Dengan berbagai penyempurnaan tersebut, baik dari sisi PSAK maupun PAPI, diharapkan kelengkapan, kewajaran, keakuratan, dan kejelasan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bank dapat ditingkatkan, sehingga informasi tersebut lebih dipahami dan dipercaya
iii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

oleh masyarakat. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap informasi-informasi yang disampaikan oleh bank-bank pada gilirannya dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional secara keseluruhan. Akhir kata pada kesempatan ini saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia, Tim Penyempurnaan PAPI, narasumber, praktisi perbankan, dan seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi dan masukan untuk penyempurnaan PAPI (Revisi 2008). Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008 GUBERNUR BANK INDONESIA,

BOEDIONO

iv

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia
Kegiatan usaha perbankan di Indonesia mengalami perkembangan yang semakin komplek dan pesat. Dinamisasi perkembangan tersebut berjalan seiring dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti perubahan regulasi, perkembangan teknologi, perkembangan produk dan tuntutan pelanggan. Perkembangan kegiatan usaha tersebut agar dapat berjalan dengan baik memerlukan berbagai infrastruktur pendukung yang memadai. Salah satu bentuk infrastruktur yang diperlukan adalah ketentuan-ketentuan yang terkait dengan akuntansi. Akuntansi dipandang sebagai salah satu infrastruktur yang penting karena melalui proses akuntansi inilah seluruh kegiatan, khususnya yang bersifat kuantitatif, akan didokumentasikan. Selanjutnya, melalui proses akuntansi ini, juga akan dihasilkan suatu laporan keuangan yang sangat berguna sebagai dasar untuk pengambilan keputusan para stakeholder perbankan. Laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan usaha harus memiliki kualitas yang baik. Suatu laporan keuangan dikatakan berkualitas jika memenuhi syarat karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari andal, relevan, dapat diperbandingkan (comparability), dan dapat dipahami (understandability). Untuk mencapai kualitas tersebut, suatu laporan keuangan harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU). Pondasi utama dari PABU di Indonesia adalah kerangka dasar (conceptual framework), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasinya. Sejalan dengan hal tersebut di atas dan terkait dengan penerapan revisi PSAK 50 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, maka menjadi sangat penting untuk revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Revisi PAPI ini juga diperlukan untuk memutakhirkan ketentuan dan peraturan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pedoman ini diharapkan sangat membantu bagi para pelaksana perbankan dalam mencatat transaksi perbankan sesuai dengan PSAK dan ketentuan perbankan terkini. Sehingga hal ini dapat lebih meningkatkan kredibilitas dan transparansi dunia perbankan.

v

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Akhirnya pada kesempatan ini kami Dewan Pengurus Nasional IAI mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan Bank Indonesia, khususnya Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, atas jerih payah dan kerja samanya dalam merevisi buku Pedoman Akuntansi ini. Semoga kerja sama ini dapat terus ditingkatkan lagi di masa mendatang.

Jakarta, Desember 2008 Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia

AHMADI HADIBROTO Ketua

vi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Pesatnya perkembangan industri perbankan, kompleksitas transaksi yang terjadi di dalamnya, dan besarnya tuntutan masyarakat akan transparansi bank, memicu perbankan untuk meningkatkan kemampuannya dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat. Demikian juga pada sisi pengaturan diperlukan adanya peraturan yang relevan dan dapat diimplementasikan dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan perkembangan terkini standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia terutama PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (revisi 2006): Pengakuan dan Pengukuran, maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ini perlu disempurnakan dengan standar terkini dan berbagai regulasi di sektor perbankan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Selanjutnya untuk menyempurnakan PAPI tersebut Bank Indonesia telah membentuk Tim Penyempurnaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Proses penyempurnaan PAPI dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan. Pertama, penelaahan atas PAPI tahun 2001 untuk mengidentifikasi ketentuan-ketentuan yang sudah tidak relevan. Kedua, penyusunan sistematika dan substansi isi PAPI tahun 2008. Ketiga, pengumpulan materi untuk penyempurnaan PAPI. Keempat, pembentukan tim kecil untuk merumuskan dan menelaah permasalahan tertentu. Kelima, perumusan draf PAPI tahun 2008. Keenam, Penyelenggaraan limited hearing untuk menampung masukan dari kalangan terbatas yang dianggap sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan akuntansi dalam bank. Ketujuh, menyempurnakan draft final PAPI. Dan kedelapan, menyerahkan PAPI kepada Bank Indonesia untuk disahkan pemberlakuannya. PAPI revisi tahun 2008 ini akan diterbitkan dalam 2 bagian, dimana bagian pertama (buku ini) diterbitkan terlebih dahulu yang didalamnya mengatur mengenai perlakuan dan pencatatan atas Surat berharga, Kredit, Penurunan nilai, Transaksi derivatif dan transaksi ekspor impor, sedangkan perlakuan dan pencatatan atas Ekuitas, Aset tetap, Laporan pendapatan dan beban, Laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, Catatan atas laporan keuangan dan Ilustrasi laporan keuangan akan disajikan dalam terbitan selanjutnya. Jakarta, Desember 2008 Tim Penyempurnaan PAPI

vii

Khairani Syafitri 7. Lestari Shitadewi 2. TIM PENGARAH 1. Bank Niaga Citibank PT. Teguh Supangkat 3. Faisal Muttaqien Issom 10. Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia viii . Teddie Pramono 9. Bank Rakyat Indonesia PT. Bank Mandiri PT. Jusuf Wibisana B. Bahrudin 8. Hari Sundjojo 18. Yakub 4. Adri Triwicahyo TIM TEKNIS 1.Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia A. M. Bank Mandiri PT. Indira 4.A. Agus Edy Siregar 2. Khairani Syafitri 3. Nurwidodo Pristwanto Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia PT. Jacobie Henry W 14. M. Sri Yanto 11. Benny Hilman 21. Fadjrijah 2. I Gde Made Sadguna 6. Halim Alamsyah 4. Fathor Rachman 12. Ahdi Jumhari Luddin 7. Darmawan 19. Bintoro Nurcahyo 17. Bank Central Asia PT. Muliaman D. G. Hadad 3. Lestari Shitadewi 5. Mustofa 8. SWD Murniastuti 5. Siti Ch. Rouli Erlyana A 16. Bank Rakyat Indonesia PT. Wisnu Kameswara A 13. Eko Bramantyo 20. Rabobank International Indonesia C. TIM PERUMUS 1. Herdiana Achdan 15. Bank Negara Indonesia PT. Sri Yanita Dewi Irmawan 6.

............................................................... Kerangka Dasar ........ 8....................................... Ruang Lingkup .......................................... Tanggung jawab atas laporan keuangan ............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. C..................... 12.............................................. B..................................................................................... E.................. Ketentuan Lain-lain .......................... 3................................................... Materialitas dan agregasi................................................................................................. 1. 11................................................................... Laporan keuangan interim ............ B................................................................................................................................................. 6............................................................ Bab I Pendahuluan .. 2.................. Kebijakan akuntansi .. Mata uang pelaporan ...... Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ..... Tujuan dan Ruang Lingkup ............................... Acuan Penyusunan .................. Bahasa laporan keuangan ............................................................. A........................................................................................................ 7........... Periode pelaporan ............................................... C..... 13........................ 14............................... Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing ..................... 4............................. D.................................. Komponen Laporan Keuangan ........... Laporan Keuangan........................................................................................... 5.......... Tujuan ........ Konsistensi penyajian.......Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Daftar Isi Sambutan Gubernur Bank Indonesia ............................ Saling hapus (Offse ng) ...................... Latar Belakang............................... 2.......................... A........... Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia ................................................................. Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ............................. Tujuan laporan keuangan .............................................................................................................................. Laporan keuangan konsolidasi .......... Informasi komparatif ............................. Penyajian .................................. 9.................................................................................. Bangun Prinsip Akuntansi Umum .................... 10.... ix iv v vii viii 1 1 1 1 3 3 3 4 5 5 5 5 5 5 5 6 6 8 8 8 9 9 9 9 10 12 12 Bab II ............................................................ 1.................................... Komponen laporan keuangan .............................................................. D. Keterbatasan Laporan Keuangan ..........................

.......................................................................................................................................................... A......................................................... 2....................................................................................................... Ilustrasi jurnal ........................................................................... Laporan Keuangan Komparasi ....................................... E.... Perlakuan Akuntansi ..................................... Definisi ........ Ketentuan Transisi .................. Dasar Pengaturan ......... Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali ............ B..................... 15 15 15 26 27 27 29 31 31 31 31 41 45 48 58 61 62 72 72 72 73 74 74 78 78 78 81 83 85 86 88 90 90 90 x .................................................................................... Contoh kasus .................................................................................................................................................... 2...... D........................................................................................... Ilustrasi Jurnal ............................................................................................. C.................................................... B............................................................................. 3.......................................................................................................................................... Pengungkapan ....................................... Pengungkapan ......... A.................................... D............. B.................... B.... F....................................... Dasar Pengaturan ...................................................... C................................ F..................... Definisi .... Perlakuan Akuntansi ......................... Ilustrasi Jurnal .............. C....... A.. 1............................................... Aset dan Kewajiban Keuangan .... 1...... Kewajiban Keuangan ................ A....................................................... B................................................................................................ Dasar Pengaturan ...................... B..... Aset Keuangan ........................ A... Definisi ........ D............... Penerapan Secara Prospektif ....... Ketentuan Lain-lain .................................... Penjelasan...... Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali ........................................................................................... Penjelasan....................................................... Contoh Kasus ...................................................................................................................................................................... Penjelasan...... A................................................................................................................. E............................. Dasar Pengaturan ..................................................................... Surat Berharga ................................................................. G...................................................................... 4... Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali .......... E............................................................................................................................................................... H................... Perlakuan Akuntansi ..............................................................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab III Penjelasan Umum .. Definisi .................................. Bab IV Surat Berharga ..... G...................

............................................................................................................... F............................................................ Dasar Pengaturan .................................... B.................................................................... Definisi ................................ Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit ............................................... Bab V Kredit ............... D.............................................................................................. Dasar Pengaturan ................................................................. E....................... 92 94 95 96 96 98 98 98 105 107 108 112 112 117 117 117 118 124 132 138 149 152 178 178 178 182 201 203 205 206 206 xi ............................ Contoh Kasus ..................................................................................................... E................................................................. B.................................... Penjelasan............................. G.......... B. E Ilustrasi Jurnal ............. C............................................. Perlakuan Akuntansi .................................. Perlakuan Akuntansi . Pemberian dan Penyaluran ........................... C............... Contoh Kasus ............................................ Dasar Pengaturan ....................................................................................................................... 2.................. G.. A....................... A Definisi .................................................................................................................................. Contoh kasus..................................................................................................... 5........................ E............................................................................. Surat Berharga yang Diterbitkan ................................................................................................ D..... Ilustrasi Jurnal .................................. Perlakuan Akuntansi ........... Pengungkapan ...................................................................... D...................................... D............................... F... Penjelasan ..................................... Contoh Kasus .......................................................................................................................................... H.................. Ketentuan Lain-lain .................................................................................... Pengungkapan ............. Ilustrasi Jurnal .................. A.........Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia C. Ilustrasi Jurnal . Perlakuan Akuntansi ...................................................................................................................... 1....................................................... C.................. G.................................................................................................................................................................................................................................. G........................................ Pengungkapan ............... Pengungkapan ................................. Penjelasan .............. Definisi ....................... F............ Penjelasan................................................................................................................. F.............................................................

..................... Pengungkapan .............................................................................................................................. 217 217 218 227 260 270 279 281 289 289 291 297 301 308 323 323 324 xii ............................. A....................................... C.................................................................................. B........Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab VI Transaksi Derivatif ............ Penjelasan ..... Ilustrasi Jurnal ........................................Impor ......................................................................................................... Contoh kasus............. Ketentuan Lain-lain ........... B........................................................................................................................................................... Dasar Pengaturan................................................................................................................................. F.................................. C.............................. Contoh Kasus ............................................................. Perlakuan Akuntansi ............................................................. Pengungkapan ....................... Ilustrasi Jurnal .................................................... G........... Definisi ..................................................... Perlakuan Akuntansi . G.......................... E.... D........................................................... Dasar Pengaturan.................................................. E.............................................................................. Penjelasan ............................................................................................................................. F....................... A..................... Bab VII Transaksi Ekspor ............................................................... Definisi ............... D............................................................... H.........................................

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiii .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiv .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I1 . dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami. Akan tetapi. Tujuan Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) antara lain adalah: a. Walaupun demikian. c) pemegang saham. d) otoritas pengawasan. Selain itu laporan keuangan bank juga bertujuan untuk pengambilan keputusan. e) Bank Indonesia. Latar Belakang Laporan keuangan bank bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. Untuk membantu pengguna dalam menyusun laporan keuangan agar sesuai dengan tujuannya. relevan. informasinya harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan antara lain meliputi: a) deposan.Bab I I P e n d a h u l u a n Bab I Pendahuluan A. yaitu untuk: 1) Pengambilan keputusan investasi dan kredit Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. B. Oleh karena itu. Tujuan dan Ruang Lingkup 1. andal dan dapat diperbandingkan. perlu disadari pula bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bank. karena secara umum laporan keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. dalam beberapa hal bank perlu menyediakan informasi nonkeuangan yang mempunyai pengaruh keuangan di masa depan. kinerja serta perubahan posisi keuangan. b) kreditur.

Persepsi dari pihak-pihak yang berkepentingan atas kemampuan bank tersebut akan mempengaruhi harga pasar efek bank yang bersangkutan. serta kemungkinan terjadinya transaksi dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan sumber daya tersebut. saat. sehingga meningkatkan daya banding diantara laporan keuangan bank. investor. 2) Menilai prospek arus kas Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung deposan. dan h) masyarakat. kreditur dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah. 2 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab I I P e n d a h u l u a n f) pemerintah. kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham. Persepsi mereka umumnya dipengaruhi oleh harapan atas tingkat pengembalian dan risiko dari dana yang mereka tanamkan. reinvestasi dalam operasi. kebutuhan operasional. investor. dan kepastian dalam penerimaan kas di masa depan. Prospek penerimaan kas sangat tergantung pada kemampuan bank untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh perbankan dalam menyusun laporan keuangan. dan kreditur akan memaksimalkan pengembalian dana yang telah mereka tanamkan dan akan melakukan penyesuaian terhadap risiko yang mereka perkirakan akan terjadi pada bank yang bersangkutan. c. 3) Memberikan informasi atas sumber daya ekonomi Pelaporan keuangan bertujuan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi bank (economic resources). g) lembaga penjamin simpanan. dan pembayaran dividen. b. Deposan. Namun keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam PAPI tidak menghalangi masing-masing bank untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan sesuai kondisi masing-masing bank.

kesepakatan antar negara dan standar akuntansi negara lain. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). D. 2. 4. 5. maka unit usaha syariah tersebut menggunakan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia. Jika PSAK memberikan pilihan atas perlakuan akuntansi. Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan laporan keuangan.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. kecuali untuk hal-hal yang tidak diatur dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia tersebut. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ISAK). maka diwajibkan untuk mengikuti ketentuan Bank Indonesia. C. Dalam hal bank umum konvensional mempunyai unit usaha syariah. Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Acuan Penyusunan Penyusunan PAPI didasarkan pada acuan yang relevan. International Accounting Standard (IAS)/International Financial Reporting Standards (IFRS). Bangun Prinsip Akuntansi Umum 1. 3. yaitu: 1. Perlakuan akuntansi atas suatu transaksi yang terjadi dalam bank harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Ruang Lingkup PAPI berlaku untuk bank umum konvensional. Rerangka prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia adalah sebagai berikut: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I3 .

PAPI merupakan bagian dari Pedoman atau Kodifikasi Praktik Akuntansi Industri dalam struktur Rerangka Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia. IAS/IFRS. E. dan ketentuan lainnya yang terkait dengan sektor perbankan. Setiap lapisan di bawahnya menjadi landasan bagi lapisan yang berada di atasnya. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam PAPI menggambarkan akuntansi secara manual dan tidak ada transaksi antar kantor/cabang. PAPI secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan. Dalam hal terjadi pertentangan antara prinsip akuntansi dari berbagai sumber tersebut. Jurnal dan pos yang digunakan dalam PAPI hanya merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. 3. 2. 4 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . ketentuan Bank Indonesia. Ketentuan Lain-lain 1. maka harus mengikuti perlakukan akuntansi yang diatur di dalam kelompok yang posisinya menjadi landasan atau pada lapisan yang terletak lebih di bawah. Dengan demikian bank dapat mengembangkan metode pencatatan dan pembukuan sesuai sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil akhir yang tidak berbeda. ketentuan PSAK. Rerangka ini digambarkan seperti suatu bangunan rumah ‘Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia’. 3. Transaksi bank yang dicantumkan pada PAPI diprioritaskan pada transaksi yang umum terjadi pada setiap bank.

laporan arus kas. 3. Selanjutnya. Tujuan laporan keuangan Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan.Bab II I L a p o r a n Keuangan Bab II Laporan Keuangan A. Kerangka Dasar 1. perubahan ekuitas. 4. laporan laba rugi. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu yang sama dengan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia. Bahasa laporan keuangan Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. 2. Komponen laporan keuangan Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca. Apabila transaksi bank menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Tanggung jawab atas laporan keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan. maka laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan periode). 5. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I5 . Jika laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia. dan catatan atas laporan keuangan. laporan perubahan ekuitas. kinerja. Mata uang pelaporan Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah.

Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. definisi. c. 7. kinerja keuangan. persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait. Penyajian a. dan 5) mencakup semua hal yang material. Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan. dengan pengertian: 1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan. yaitu bebas dari keberpihakan. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan. penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa. c. kewajiban. b. penghasilan dan beban yang ditetapkan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). 3) netral. perubahan ekuitas. 4) mencerminkan kehati-hatian. pengukuran. Kebijakan akuntansi Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. kriteria pengakuan dan pengukuran aset. dan dapat diandalkan. dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya. 6 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan b. dan pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan: a. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas. maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: a. b. relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank.Bab II I L a p o r a n Keuangan 6.

Selain itu. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca. d. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia e.Bab II I L a p o r a n Keuangan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. juga wajib diungkapkan pengaruh material dari perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periodeperiode berikutnya. Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. I7 . Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. g. 2) Perubahan kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila: a) penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. f. laporan laba rugi dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan. atau b) diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank dan kegiatan lainnya. Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Perubahan estimasi akuntansi Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya. Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru. termasuk komitmen dan kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya.

maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk memastikan daya banding. dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”. atau 2) perubahan tersebut diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). kecuali: 1) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perbankan.Bab II I L a p o r a n Keuangan 3) Terdapat kesalahan mendasar Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. b. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuangan. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar-periode harus konsisten. dan jumlah. h. Di samping hal-hal di atas. 10. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah. Konsistensi penyajian a. sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Materialitas dan agregasi a. Informasi dianggap material apabila kelalaian untuk mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya. Selain itu alasan reklasifikasi juga harus diungkapkan. c. Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban. laporan laba rugi. laporan arus kas. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas. sifat. penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. 8 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . Saling hapus (Offsetting) a. 8. i. Pada setiap lembar neraca. b. 9.

Informasi komparatif a. Laporan keuangan interim a. laporan laba rugi. Selain itu untuk kepentingan pihak lainnya. Laporan keuangan konsolidasi Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi. 14. dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan. triwulanan atau periode lain yang kurang dari satu tahun. laporan perubahan ekuitas. 12. 13. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca. bank dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif. laporan laba rugi. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. b.Bab II I L a p o r a n Keuangan b. kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung nilai. laporan perubahan ekuitas. b. Dalam hal bank baru berdiri. serta dengan aset dan kewajiban yang disalinghapuskan sebagaimana dimaksud di atas. dengan mencantumkan: a. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. 11. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan. laporan arus kas. Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam neraca. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan. Periode pelaporan Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. laporan arus kas. dan catatan atas laporan keuangan. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan. Sedangkan untuk laporan laba rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan. Penyusunan laporan interim dapat dilakukan secara bulanan. laporan keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I9 . b.

Untuk tujuan konsolidasi. perubahan posisi keuangan. tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank.Bab II I L a p o r a n Keuangan sejenis dari aset. B. d. dan 2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. c. dibutuhkan adanya laporan keuangan bank yang menyediakan informasi-informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. b. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi. Laporan perubahan ekuitas. dan Catatan atas laporan keuangan. Komponen Laporan Keuangan 1. Oleh karena itu. pendapatan. maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut: a. e. 2. Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan sepanjang: 1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. Neraca. Laporan keuangan bank untuk tujuan umum terdiri dari: a. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi. dan beban. dan catatan atas laporan keuangan. ekuitas. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi. b. kinerja. e. d. kewajiban. Laporan laba rugi. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi. yang timbul dari transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi. c. Perbankan wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan kepada bank sentral dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan. peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. Laporan arus kas. seperti dicerminkan dalam laporan-laporan berikut ini: 10 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Informasi ini berguna untuk memprediksi kemampuan bank di masa depan dalam menghasilkan kas dan setara kas. memprediksi kemampuan bank dalam memenuhi komitmen keuangan pada saat jatuh tempo. dan solvabilitas. investasi. pendistribusian hasil pengembangan dan arus kas. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus kas. struktur keuangan. Selain itu.Bab II I L a p o r a n Keuangan a. Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas bank dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. informasi ini berguna dalam perumusan tentang efektivitas bank dalam memanfaatkan sumber daya. b. Laporan Kinerja Informasi kinerja bank diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi kinerja bank tergambar dalam laporan laba rugi. Laporan Posisi Keuangan Posisi keuangan bank dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan. likuiditas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 11 . kebutuhan investasi. baik jangka pendek maupun jangka panjang. Laporan Perubahan Posisi Keuangan Informasi perubahan posisi keuangan bank. serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan aset bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan atau kerugian yang berasal dari kegiatan bank selama periode yang bersangkutan. Informasi posisi keuangan bank tergambar dalam neraca. c. 2) Perubahan ekuitas Informasi perubahan ekuitas bank menggambarkan peningkatan atau penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. antara lain: 1) Perubahan kas dan setara kas Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai kemampuan bank menghasilkan arus kas dan setara kas serta kebutuhan bank untuk menggunakan arus kas pada setiap aktivitas. dan pendanaan. Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas. Informasi ini bermanfaat untuk menilai aliran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi.

Pengertian dan karakteristik: a. antara lain: 1. Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing terdapat dua metode yang dapat digunakan yaitu: a. 6. baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. 5. Hanya melaporkan informasi yang material. 3. 2. Bersifat umum. Keterbatasan Laporan Keuangan Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. D. multi currency (lebih dari satu jenis mata uang). 3. 12 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu kurs tengah yang merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul 16.00 WIB setiap hari. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan saja. 4. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar-bank.Bab II I L a p o r a n Keuangan C. Hal ini disebabkan laporan keuangan memiliki keterbatasan. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing 1. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 7. Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas). Apabila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos. single currency (satu jenis mata uang). 2. b. maka dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang paling kecil. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang digunakan yaitu mata uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR).

2) untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata uang. 3) penjurnalan menggunakan pos rekening perantara. saldo rekening biaya dan pendapatan mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya dan pendapatan rupiah. Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan sebagai berikut: a. diterbitkan neraca dalam base currency. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 13 . Penjabaran ekuivalen rupiah dari rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan neraca. 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan langsung per rekening yang bersangkutan.Bab II I L a p o r a n Keuangan Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut: 1) neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal (original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut. Jika menggunakan single currency Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam Rupiah. 2) saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara extracomptable. Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut: 1) neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing asal (original currency) yang digunakan. dan 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan melalui rekening perantara mata uang asing. 4. b. 2) Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak menimbulkan selisih kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari. Jika menggunakan multi currency 1) Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam mata uang asal. b. 3) penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata uang asing.

Bab II I L a p o r a n Keuangan Halaman ini sengaja dikosongkan 14 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Istilah diperdagangkan umumnya mencerminkan aktivitas pembelian dan penjualan yang bersifat aktif dan berulang. b) Merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). Kategori Aset Keuangan a. yaitu: a) Diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat (lazimnya 90 hari).Bab III I P e n j e l a s a n Umum Bab III Penjelasan Umum 1. atau c) Merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). dan instrumen keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan umumnya digunakan untuk tujuan memperoleh laba atau fluktuasi harga jangka pendek atau marjin. Keputusan bank untuk menetapkan aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi serupa dengan pilihan kebijakan akuntansi. 2) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option/FVO). Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Aset keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut: 1) Diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. Aset dan Kewajiban Keuangan A. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 15 . Aset Keuangan 1. FVO hanya dapat digunakan: a) Untuk pengukuran instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran (combined/hybrid instrument) yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat yang ditetapkan oleh bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Transaksi aset dan kewajiban keuangan tidak perlu dilakukan pada saat yang bersamaan untuk memastikan keterkaitan antara 16 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau bagian dari kelompok aset dan kewajiban keuangan yang terkait untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Untuk dapat mengeliminasi atau mengurangi mismatch tersebut secara signifikan. yaitu dalam sub kategori Diperdagangkan kecuali derivatif tersebut merupakan instrumen lindung nilai yang mengikuti penerapan akuntansi lindung nilai. PSAK 55 juga mensyaratkan derivatif melekat untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi sebagaimana halnya derivatif yang berdiri sendiri (freestanding deriva ves). Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran nilai wajar tidak dihindari dengan melekatkan instrumen derivatif pada kontrak atau instrumen keuangan lainnya yang tidak diukur pada nilai wajar.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Sejalan dengan PSAK 55. atau nilai wajar (fair value) dapat menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch). bank dapat menetapkan aset keuangan dan kewajiban keuangan yang terkait. biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Pendekatan mixed measurement dalam PSAK 55 yang memungkinkan kategori aset dan kewajiban keuangan diukur berdasarkan biaya (cost). Aset dan kewajiban keuangan yang saling terkait pada saat pengakuan awal dapat diakui dalam kategori yang berbeda sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya mismatch pada saat pengukuran selanjutnya karena terjadinya perubahan nilai aset dan kewajiban sehingga berdampak pada pengakuan keuntungan atau kerugian. kelompok aset dan kewajiban yang terkait. b) Jika dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan karena: (1) Mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasardasar yang berbeda. instrumen derivatif harus diakui dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi.

dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari bank. Hal ini menimbulkan ketidakkonsistenan atau perbedaan pengukuran terhadap aset dan kewajiban yang saling terkait tersebut. Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi tersebut selanjutnya diinvestasikan dalam aset keuangan yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual dan diukur pada nilai wajar. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. (b) Dokumentasi harus mencukupi sehingga dapat menunjukkan bahwa penggunaan FVO konsisten dengan manajemen risiko atau strategi investasi bank. Transaksi dapat dilakukan dalam suatu rentang waktu yang wajar berdasarkan spesifikasi dari instrumen keuangan tersebut. Bank dapat menyimpulkan bahwa laporan keuangan akan memberikan informasi yang relevan jika aset dan kewajiban masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. serta terdapat hubungan ekonomis antara aset dan kewajiban keuangan. dan penetapan untuk menggunakan FVO dilakukan pada saat pengakuan awal aset dan kewajiban keuangan. dan tidak perlu dilakukan terhadap setiap item instrumen keuangan. (2) Kelompok aset keuangan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 17 . Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (a) Penetapan nilai wajar (FVO) harus dilakukan terhadap seluruh instrumen keuangan yang dikelola dan dievaluasi secara bersama-sama. misalnya Direksi. Sebagai contoh: Bank menerbitkan obligasi bersuku bunga tetap dan mengkategorikan sebagai Kewajiban Lainnya yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum keduanya. yaitu menggunakan FVO. Penetapan tidak dapat dilakukan hanya terhadap beberapa instrumen keuangan dalam suatu kelompok yang dikelola bersama sebagai suatu portofolio. Dokumentasi dilakukan secara basis portofolio. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar.

b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dan 18 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tersedia untuk Dijual 1) Aset keuangan non derivatif yang ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 3) Bank memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang telah ditetapkan. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. serta bank mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. 2) Termasuk aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual antara lain mencakup investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. kecuali: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 2) Penilaian terhadap intensi positif dan kemampuan bank harus dilakukan pada saat pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya setiap tanggal neraca (termasuk neraca interim).Bab III I P e n j e l a s a n Umum (c) Evaluasi manajemen dan kinerja kelompok aset dan kewajiban keuangan harus didasarkan atas total laba (return) yang terkait dengan laba atas aset dan/atau kewajiban keuangan sebagai suatu portofolio atau kelompok dan bukan atas setiap item instrumen keuangan. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. c.

6) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) tidak bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu kecuali dalam situasi yang tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi sebelumnya. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. serta Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang pada saat pengakuan awal Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 19 . kecuali: a) Aset keuangan yang dimaksudkan oleh bank untuk dijual dalam waktu dekat. 4) Bank memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. sepanjang bank sebagai pemegang aset keuangan memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki hingga dibeli kembali oleh penerbitnya atau hingga jatuh tempo. yaitu hak untuk meminta penerbit melunasi atau membeli kembali aset keuangan sebelum jatuh tempo. dan b) Aset keuangan yang dapat dijual kembali. b) aset keuangan yang dapat dibeli kembali oleh penerbitnya atas dasar opsi beli dan bank dapat memperoleh kembali nilai tercatat aset keuangan secara substansial. atau b) tidak terdapat peraturan hukum atau batasan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. dimana bank memiliki opsi jual. sepanjang pembayaran kontraktual sudah ditetapkan atau dapat ditentukan. 5) Termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) aset keuangan dengan suku bunga variabel. d. dan c) aset keuangan yang mengalami kemacetan pembayaran.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum oleh bank ditetapkan sebagai aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan c) Investasi dalam instrumen utang yang dicatatkan di pasar aktif. c) Penempatan pada Bank Indonesia. b) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 4) Perbedaan utama antara kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang dengan kategori aset keuangan lainnya adalah bahwa kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang bukan merupakan subyek dari tainting rule yang berlaku bagi kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 2) Aset keuangan yang dapat memenuhi definisi aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Kredit yang diberikan. d) Penempatan pada bank lain. atau c) Aset keuangan dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial selain yang disebabkan oleh penurunan kualitas aset keuangan. baik yang berasal dari pembelian maupun penerbitan oleh bank sendiri. dan tidak memenuhi definisi instrumen ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. 3) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Aset keuangan dimana bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh investasi awalnya selain karena penurunan kualitas kreditnya. 20 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . tidak dikuotasikan di pasar aktif. b) Investasi dalam reksadana atau yang serupa. dan diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dan e) Penempatan dalam bentuk saham preferen di bank lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan. b) Piutang usaha. Misalnya. investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat.

2) Dalam kondisi yang jarang terjadi (rare circumstances). dapat direklasifikasi ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. d) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan (yang ditujukan untuk dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat) dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1) Bank tidak dapat: a) mereklasifikasi instrumen derivatif dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya selama instrumen derivatif tersebut dimiliki. c) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori lainnya ke dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi setelah pengakuan awal. b) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya jika pada saat pengakuan awal instrumen keuangan tersebut telah ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (FVO).Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Setiap keuntungan atau kerugian yang telah diakui dalam laporan laba rugi tidak boleh dijurnal balik. mana yang dapat diterapkan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 21 . b) Kondisi yang jarang terjadi dapat timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. Reklasifikasi Aset Keuangan a. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. c) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Diperdagangkan.

dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh bank. sepanjang pendekatan digunakan secara konsisten. Penjualan atau Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Bank dapat menjual sebelum jatuh tempo atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual tanpa menimbulkan pertanyaan mengenai intensi dan kemampuan bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo hanya jika: a) Jumlah aset keuangan yang dijual atau direklasifikasi tidak lebih dari jumlah yang tidak signifikan (not more than insignificant) dibandingkan dengan total seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b) Aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (misalnya kurang dari 3 bulan sebelum jatuh tempo) dimana diperkirakan dalam jangka waktu tersebut tidak terjadi perubahan suku bunga yang akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan. dan obyektif. atau d) Penjualan atau reklasifikasi tersebut terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali bank. (2) Perubahan peraturan perpajakan yang mengeliminasi atau secara signifikan mengurangi status pengampunan pajak (tax forgiveness) atas pendapatan bunga yang diperoleh dari aset keuangan. 22 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . misalnya penurunan peringkat 2 tingkat atau lebih dibandingkan peringkat awal.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b. yang dapat tercermin dari: (a) penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat yang tidak dapat diantisipasi secara logis. yang dapat mencakup hal-hal berikut: (1) Penurunan kredibilitas penerbit atau debitur secara signifikan. atau (b) penurunan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal bank. c) Bank telah memperoleh kembali secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadual pembayaran atau bank telah memperoleh pelunasan dipercepat. dapat diandalkan. tidak berulang.

3) Termasuk sebagai penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena perubahan intensi adalah penjualan atau reklasifikasi yang disebabkan perubahan manajemen. 2) Dalam hal terjadi perubahan intensi atau kemampuan bank sehingga aset keuangan tidak tepat lagi diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (3) Penggabungan usaha menyeluruh atau pelepasan unit atau segmen usaha yang penting yang mengharuskan bank menjual atau mengalihkan aset keuangan untuk mempertahankan tingkat risiko suku bunga dan/atau tetap mematuhi kebijakan risiko kredit. maka aset keuangan tersebut harus direklasifikasikan menjadi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. (4) Perubahan ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang secara signifikan mengubah aturan mengenai jenis investasi dalam aset keuangan yang diperbolehkan atau jumlah maksimum investasi jenis tertentu sehingga bank harus menjual aset keuangan. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 23 . dimana manajemen baru memutuskan untuk menjual sebagian aset keuangan tersebut untuk mendanai strategi ekspansi yang telah ditetapkan dan disetujui Direksi. dan (5) Perubahan ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM). yaitu peningkatan signifikan tingkat kecukupan modal dan/atau peningkatan signifikan bobot risiko aset keuangan sehingga memaksa bank harus melakukan perampingan dengan menjual aset keuangan. 4) Dalam hal bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi pada angka 1) tersebut di atas. Penjualan atau reklasifikasi tersebut akan menimbulkan pertanyaan mengenai intensi bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. maka bank: a) tidak dapat mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo selama periode tahun berjalan terjadinya penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dan 2 tahun buku berikutnya.

6) Jika bank telah menjual atau mereklasifikaskan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi lainnya sebagaimana pada angka 1) diatas. b) dilakukan dalam kondisi yang jarang terjadi yang timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. sehingga ukuran yang andal atas nilai wajar tidak lagi tersedia. atau c) pengenaan sanksi untuk tidak boleh mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo telah terlewati.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) wajib mereklasifkasi sisa portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke dalam kategori Tersedia untuk Dijual (tainting rule). c. maka harus dipastikan bahwa: a) Bank memang memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. 5) Penetapan batasan jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) didasarkan pada persentase tertentu dari total seluruh aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 2) Apabila bank mereklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena terjadi perubahan intensi atau kemampuan. Bank tidak memiliki intensi positif jika: 24 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka hal yang sama juga diberlakukan terhadap seluruh perusahaan anak (termasuk yang berada di negara lain) yang memenuhi kriteria untuk dikonsolidasi sehingga akan tercermin dalam laporan konsolidasi bank. dalam hal bank wajib dikenakan ketentuan dalam angka 4) di atas. maka bank tidak dapat mengklasifikasikan setiap aset keuangan yang dimilikinya dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi. Artinya. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Bank dapat mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo jika: a) terdapat perubahan intensi atau kemampuan bank.

kebutuhan likuiditas. Bank tidak memiliki kemampuan jika: (1) tidak memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. 3) Dalam kondisi yang jarang terjadi. jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. 4) Reklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 25 . atau perubahan risiko mata uang asing. perubahan ketersediaan dan tingkat imbal hasil atas investasi aset keuangan lain. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. perubahan sumber dan syarat pembiayaan. atau (2) bank adalah subyek dari peraturan hukum yang berlaku atau batasan lainnya yang dapat mengganggu intensinya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. b) Bank memang memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. (2) bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu sebagai reaksi terhadap perubahan suku bunga atau risiko pasar. atau (3) penerbit aset keuangan memiliki hak untuk melakukan pembayaran kembali atau pelunasan pada suatu jumlah yang secara signifikan lebih rendah dari biaya perolehan diamortisasi.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (1) bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang di masa datang yang belum ditetapkan. maka keuntungan atau kerugian yang terjadi diamortisasi pada laporan laba rugi selama sisa umur investasi dimiliki hingga jatuh tempo dengan menggunakan metode suku bunga efektif. b) Setiap keuntungan dan kerugian atas aset tersebut yang telah diakui secara langsung dalam ekuitas (pendapatan komprehensif lainnya) harus dicatat dengan cara sebagai berikut: (1) dalam hal aset keuangan memiliki jatuh tempo yang tetap. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Tersedia untuk Dijual.

c) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. 2. Kewajiban keuangan yang masuk kategori Diperdagangkan antara lain mencakup: 1) Kewajiban derivatif yang tidak dilaporkan sebagai instrumen lindung nilai. Kewajiban Keuangan Kewajiban keuangan dapat dikategorikan sebagai: 1. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Kewajiban lainnya Kewajiban keuangan selain yang memenuhi kriteria kewajiban keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. B.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (2) dalam hal aset keuangan tidak memiliki jatuh tempo yang tetap. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. mana yang dapat diterapkan. 2) Kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller. 26 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. dan 4) Kewajiban keuangan yang merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama-sama dan atas bagian tersebut ditemukan bukti adanya pola ambil untung jangka pendek terkini. yaitu bank yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut. 3) Kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). Kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi yang sama dengan kondisi penetapan aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. maka keuntungan atau kerugian tetap diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dijual atau dilepaskan dan pada saat itu keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi.

Instrumen keuangan selain surat berharga Kategori Pengukuran Awal Pengukuran Selanjutnya Nilai wajar Keterangan Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). Tersedia untuk Dijual Nilai tercatat 1 Januari 2010 Pinjaman ditambah/dikurangi yang biaya transaksi dan Diberikan dan premi/diskonto yang Piutang belum diamortisasi (nilai tercatat awal) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Nilai wajar Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). Penerapan Secara Prospektif PAPI diterapkan secara prospektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada 1 Januari 2010. Penerapan secara prospektif dilakukan untuk transaksi yang dilakukan mulai 1 Januari 2010. Diukur pada Nilai Wajar Nilai tercatat 1 melalui Januari 2010 Laporan Laba Rugi Biaya perolehan yang diamortisasi dengan suku bunga efektif 2. maka perlakuan akuntansi sebagai berikut: 1. .Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal. .Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 27 .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Instrumen keuangan surat berharga Bank dapat mereklasifikasi surat berharga yang dimiliki pada 1 Januari 2010 tanpa terkena dampak reklasifikasi (tainting rule dan larangan mengklasifikasikan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam tahun berjalan dan dua tahun berikutnya).Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. . . Ketentuan Transisi A.Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Sedangkan untuk transaksi yang terjadi sebelum 1 Januari 2010 dan masih memiliki saldo pada 1 Januari 2010.

.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). . . .Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. Sda - - Tersedia untuk Dijual Diperdagangkan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Saldo selisih penilaian dikeDiukur pada Nilai luarkan dari ekuitas dan diakui Wajar melalui Lalangsung pada laporan laba poran Laba Rugi rugi untuk Tersedia Tersedia Dijual untuk Dijual Dimiliki Hingga Saldo selisih penilaian di ekuiJatuh Tempo tas diamortisasi dan diakui Pinjaman yang pada laporan laba rugi sampai Diberikan dan dengan jatuh tempo Piutang Sda Sda Sda 28 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Dampak reklasifikasi pada 1 Januari 2010 diakui dalam laporan laba rugi atau ekuitas tahun 2010 dan pengukuran awal adalah sebagai berikut: Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi . .

Namun. Laporan Keuangan Komparasi Dalam menyajikan laporan keuangan komparasi yaitu untuk posisi Desember 2009 dan Desember 2010. bank harus mengungkapkan perbedaan yang disebabkan oleh perubahan standar akuntansi maupun kebijakan akuntansi. bank tidak harus menyesuaikan penyajian atau klasifikasi pospos dalam laporan keuangan posisi Desember 2009 untuk memastikan daya banding jika penyesuaian tersebut tidak praktis dilakukan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 29 .Bab III I P e n j e l a s a n Umum Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui secara langsung pada laporan laba rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Tersedia untuk dijual - Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui pada ekuitas - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Sda Sda B.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 30 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). atau setiap derivatifnya. 4. (PSAK 55: Paragraf 14) Pembelian atau penjualan aset keuangan yang lazim (reguler) diakui dan dihentikan pengakuannya menggunakan salah satu di antara akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA68–PA71). Surat Berharga A. B. atau suatu kewajiban dari penerbit. obligasi. Dasar Pengaturan 1. Efek beragun aset adalah surat berharga yang diterbitkan oleh penerbit berdasarkan aset keuangan yang dialihkan oleh kreditur asal. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Surat berharga adalah surat pengakuan utang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 31 . dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang.Bab IV I S u r a t Berharga Bab IV Surat Berharga 1. sekuritas kredit. atau kepentingan lain. (PSAK 55: Paragraf 38) 2. Obligasi konversi (convertible bond) adalah obligasi yang mengandung fitur opsi konversi (convertible option) yang memberikan hak kepada pembeli obligasi untuk mengkonversi obligasi ke dalam sejumlah saham tertentu pada tanggal yang telah ditetapkan dan harga konversi yang telah disepakati. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. 3. jika dan hanya jika. 2. wesel. Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). 5. Definisi 1.

... entitas mengukur pada nilai wajarnya. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan.Bab IV I S u r a t Berharga 3. (PSAK 55: PA68) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. Untuk tujuan ini.. (PSAK 55: PA26) Akuntansi Perbankan Indonesia 4. (PSAK 55: PA 79) . lihat juga paragraf 91). (PSAK 55: Paragraf 8) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). 5. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) aset keuangan diakui menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian sebagaimana dijabarkan dalam paragraf PA70 dan PA71. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. 7.. (PSAK 55: Paragraf 49) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. 32 I P e d o m a n .Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent).. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. perantara efek dan pedagang efek. aset yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari aset yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. konsultan. 8. 6. biaya pendanaan (financing costs). Metode yang digunakan diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan aset keuangan yang masuk dalam kategori aset keuangan yang sama sebagaimana didefinisikan dalam paragraf 8.

atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7 tentang Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa). sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. atau (ii) kelompok aset keuangan. misalnya Direksi. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. kecuali: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 33 .Bab IV I S u r a t Berharga 9. b. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA29– PA38). Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. (PSAK 55: Paragraf 8) 10. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11.

telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo).3) 34 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo) dimana perubahan suku bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut. (ii) terjadi setelah entitas berhasil menagih hampir seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pembayaran awal. yaitu memperoleh hak untuk mengkonversi menjadi ekuitas merupakan derivatif melekat. atau (iii) terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali entitas... Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo umumnya tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok investasi dimiliki hingga jatuh tempo karena tidak konsisten dengan tujuan pembelian fitur konversi tersebut. kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut: (i) dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya. Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. investasi yang ditetapkan oleh entitas dalam kelompok Tersedia untuk Dijual. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya.2: C. (Panduan Implementasi No.2: B. dan investasi yang memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. tidak berulang. (Panduan Implementasi No. investasi yang sebelum pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. .Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut.. (PSAK 55: Paragraf 8) 11..Bab IV I S u r a t Berharga a. c. Namun demikian. b.18) 12.

piutang dagang. (PSAK 55: Paragraf 8) 14. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. maka biaya-biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut (lihat paragraf 8 dan PA29–PA38). (PSAK 55: Paragraf 8) 16. Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang.. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. (PSAK 55: PA39).. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 35 .Bab IV I S u r a t Berharga 13. (b) investasi yang diklasifi kasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Namun. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan.. investasi dalam instrumen utang. 15.

Apabila harga penawaran dan harga permintaan tidak tersedia. pada nilai wajarnya. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas.Bab IV I S u r a t Berharga 17.2: E. (PSAK 55: Paragraf 46) 21. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. pedagang efek (dealer). jika harga yang dikuotasikan tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin dari bursa. maka entitas dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi risiko yang saling hapus tersebut dan menerapkan harga penawaran atau harga permintaan terhadap posisi terbuka neto. maka harga yang digunakan dalam transaksi terkini memberi bukti mengenai nilai wajar saat ini. perantara efek (broker). kelompok industri. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur 36 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ..1) 18. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif. mana yang lebih sesuai..1. Kuotasi harga pasar yang sesuai bagi aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan biasanya sama dengan harga penawaran yang berlaku. entitas mengukur aset keuangan. Setelah pengakuan awal. . Jika aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar.. sepanjang kondisi ekonomi tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak transaksi tersebut terjadi. (PSAK 55: PA86) 19. (PSAK 55: PA87) 20. Jika entitas memiliki aset yang dan kewajiban dimana risiko pasarnya saling hapus. maka biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. biaya transaksi diakui dalam ekuitas sebagai bagian dari perubahan nilai wajar pada penilaian kembali.. badan pengawas (pricing service or regulatory agency). termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. maka biaya transaksi diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Untuk aset keuangan tersedia untuk dijual. (Panduan Implementasi No. sementara untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki adalah harga permintaanya. atau pelepasan lain.

opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya).. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan)...Bab IV I S u r a t Berharga dari instrumen keuangan. (PSAK 55: Paragraf 53) 24. Pada saat menghitung suku bunga efektif. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan.. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. (PSAK 55: Paragraf 8) 22. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. (PSAK 55: PA20) 25. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.. (PSAK 55: Paragraf 52) 23. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. atau jika lebih tepat. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule). dan seluruh premium atau diskonto lainnya.. (PSAK 55: Paragraf 57) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 37 . Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8.. biaya transaksi. Jika. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. dan melalui proses amortisasi. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut..

Jika terdapat bukti tersebut. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. (PSAK 55: Paragraf 59) 27. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikaskan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. pelanggaran kontrak. c. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai.Bab IV I S u r a t Berharga 26. jika dan hanya jika. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan d. b. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. e. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. f. pihak pemberi pinjaman. 38 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa.

dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). (PSAK 55: Paragraf 64) 29. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. (PSAK 55: Paragraf 65) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 39 . Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 60) 28. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut).Bab IV I S u r a t Berharga sejak pengakuan awal aset dimaksud. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi.

atau dengan menyesuaikan pos cadangan. Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. Jika. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit penerbit). Jika. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau 40 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jika dan hanya jika: a. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. (PSAK 55: Paragraf 66) 31. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. b. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. baik secara langsung. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 68) 32. pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 17) 35. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 8) 34. (PSAK 55: Paragraf 71) 33. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. pada periode berikutnya.Bab IV I S u r a t Berharga 30.

dan reksa dana (termasuk penempatan dana awal bank sebagai sponsor dalam reksa dana). 2. antara lain. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 41 . maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. negosiasi wesel ekspor. Sertifikat Bank Indonesia. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. 3. credit links notes. Surat berharga yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari surat berharga yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Dalam pembukuan surat berharga. Efek Beragun Aset (EBA). Surat Utang Negara. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. Surat berharga yang dapat dimiliki bank mengikuti peraturan perundang-undangan dan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. Penjelasan 1. bank dapat menggunakan tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian yang harus diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan surat berharga yang masuk dalam kategori yang sama. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. (PSAK 55: Paragraf 24) C. Dalam pengertian surat berharga termasuk.Bab IV I S u r a t Berharga kewajiban jasa pengelolaan.

Dimiliki Hingga 2) Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk Jatuh Tempo memiliki surat berharga tersebut hingga jatuh tempo. 1) Surat berharga yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Tersedia untuk Dijual 2) Surat berharga yang dimiliki/dibeli dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok surat berharga tersebut secara substansial. 1 2 3 4 b.Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah berikan dan Piutang ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. Kategori Surat Berharga a. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo terbatas pada surat berharga utang dengan tujuan memperoleh pendapatan bunga dan surat berharga utang tersebut baru akan dicairkan pada saat jatuh tempo. 1) Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Kategori Surat Berharga Keterangan 1) Surat berharga yang dimiliki/dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat.Bab IV I S u r a t Berharga 4. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. yaitu: No. surat berharga yang dimiliki/dibeli dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. Pinjaman yang Di. Surat berharga utang tidak boleh diklasifikasikan dalam kategori ini apabila maksud pemilikannya hanya untuk periode yang tidak ditentukan dan Tersedia untuk Dijual untuk menghadapi: 42 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2) Surat berharga yang pada saat dibeli ditetapkan Diukur pada Nilai untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Wajar melalui LaporRugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan an Laba Rugi untuk diperjualbelikan. Secara umum. yang bukan disebabkan penurunan kualitas surat berharga.

I 43 . 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar surat berharga dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. 7. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. 5. 6. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia b. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. 2) kebutuhan likuiditas. Penurunan Nilai a. b. dan 4) perubahan dalam risiko mata uang asing. 3) perubahan dalam ketersediaan dan hasil investasi alternatif. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap surat berharga dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Evaluasi penurunan nilai untuk surat berharga dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit.Bab IV I S u r a t Berharga 1) Perubahan tingkat bunga pasar dan perubahan yang berhubungan dengan risiko yang sejenis. Kuotasi di pasar aktif. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. 8.

yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari issuer untuk membayar pokok atau bunga. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat surat berharga. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas surat berharga yang dibeli/dimiliki jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga c. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit issuer). Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. b. 2) Apabila issuer melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. Dalam laporan keuangan. 10. 44 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau 2) Bank telah mentransfer surat berharga tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. 9. maka setiap penerimaan pembayaran dari issuer akan langsung mengurangi nilai tercatat surat berharga. Pemulihan penurunan nilai a. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat surat berharga sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. Oleh karena itu. Nilai tercatat surat berharga setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Misalnya. issuer melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebihi antisipasi bank. Pembayaran setelah surat berharga mengalami penurunan nilai 1) Setelah surat berharga mengalami penurunan nilai. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. Dalam kondisi tersebut. Penghentian Pengakuan a.

kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Dalam laporan keuangan konsolidasi. D. Pelaksanaan penghapusbukuan surat berharga dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. Meskipun tidak termasuk dalam kriteria penghentian pengakuan bank dapat mengeluarkan surat berharga yang dihapusbuku dari neraca. Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Pada saat pembelian surat berharga. yaitu: No. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. c d 11. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan surat berharga yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat surat berharga karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari surat berharga tersebut. Surat berharga dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. 12. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 45 . Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat surat berharga dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai.Bab IV I S u r a t Berharga b. bank mengakui “Surat berharga yang dimiliki” sebesar nilai wajar. Surat berharga dalam kategori Pencatatan pada saat pembelian 1 2 3 4 Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada Diukur pada Nilai Wajar melalui saat pengakuan awal umumnya sama dengan Laporan Laba Rugi harga pembelian surat berharga Tersedia untuk Dijual Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo memperhitungkan pendapatan dan/atau bePinjaman yang Diberikan dan ban yang dapat diatribusikan langsung pada pembelian surat berharga.

Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. 1 Surat berharga dalam kategori Pencatatan setelah pembelian 2 3 4 Sebesar nilai wajar. bank mencatat “Surat berharga yang dimiliki” sebagai berikut: No. 3. Setelah pembelian surat berharga. Dalam hal surat berharga dibeli di antara tanggal pembayaran bunga. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui 46 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 4. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. maka pembayaran bunga tersebut bukan merupakan bagian dari biaya perolehan. b. Keuntungan atau kerugian yang Diukur pada Nilai Wajar melalui timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga Laporan Laba Rugi diakui pada laporan laba rugi. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi Piutang kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. tetapi dimasukkan dalam pos pendapatan bunga yang masih akan diterima. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Sebesar nilai wajar. Selanjutnya. Untuk surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Keuntungan atau kerugian yang Tersedia untuk Dijual timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui secara langsung dalam ekuitas.Bab IV I S u r a t Berharga 2. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan dan pokok. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar.

Perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b. 5. Reklasifikasi surat berharga diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. 6.Bab IV I S u r a t Berharga dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. Selanjutnya. 7. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 47 . harus diakui sebagai berikut: a. pemulihan penurunan nilai. penghentian pengakuan dan hapus buku/hapus tagih surat berharga mengacu pada Bab mengenai Kredit. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. namun harus diamortisasi selama masa manfaat surat berharga dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi atau diskonto. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual.

Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Surat berharga disajikan di neraca sesuai kategori. Surat berharga . Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a./Giro BI 3. Surat berharga dalam kategori Penyajian pada neraca Diukur pada Nilai Wajar melalui 1 Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar 2 Tersedia untuk Dijual 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost)..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 48 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db/Kr. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara Pinjaman yang Diberikan dan nilai awal dan nilai jatuh temponya dan dikurangi 4 Piutang penurunan nilai.Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Rekening lawan . Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas surat berharga yang dimiliki.. Pada tanggal transaksi Db. yaitu: No. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Beban/pendapatan Kr/Db. E. Kas/Rekening.

./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5.Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Bab IV I S u r a t Berharga b. Pada tanggal penyelesaian Db. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga .. Kas/Rekening. Tagihan komitmen pembelian surat berharga 6 Pada saat pengakuan bunga Db. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga ...Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 4.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 49 . Pendapatan bunga yang akan diterima 8. Surat berharga . Penyesuaian nilai wajar a. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Surat berharga . Kas/Rekening. Pendapatan bunga surat berharga 7. Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db. Rekening lawan .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db./Giro BI Kr.

e.. Pada saat penjualan: a. Pendapatan bunga d.Bab IV I S u r a t Berharga 9. Surat berharga . Surat Berharga yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (asumsi menggunakan tanggal perdagangan) 1./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db/Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Realisasi keuntungan/kerugian dari penjualan surat berharga Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a..Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.. Kas/Rekening./Giro BI Kr. Pada saat membeli: Db.. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Surat berharga . Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db/Kr. Surat berharga .. Pada saat menjual: Db.. Surat berharga .Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI Kr. c. Kerugian/keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Kas/Rekening.. 50 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Surat berharga ./Giro BI (Sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr./Giro BI atau Db/Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Pada saat jatuh tempo: Db.. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Db/Kr.. Kas/Rekening.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db/Kr... Kas/Rekening./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db.

Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db. 3. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr./Giro BI Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr.. Kas/Rekening. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db.... Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. Kas/Rekening.. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db.. Pada saat pembelian surat berharga Db. d. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b.. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. e./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db...Bab IV I S u r a t Berharga 2.. f.. Kas/Rekening./Giro BI Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db/Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Kas/Rekening./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo Db. c. Pada saat membeli: Db./Giro BI Db../Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.. Kas/Rekening./Giro BI (sebesar harga pembelian) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 51 . Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a./Giro BI atau Db/Kr.

/Giro BI atau Db/Kr. Pada saat membeli: Db. Kas/Rekening. Kas/Rekening. f. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat menjual: Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db.. Kas/Rekening.. Kas/Rekening. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. 4./Giro BI Db/Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db./Giro BI (sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a.. 52 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . d. Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi: Db. Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr./Giro BI atau Db/Kr.. Kas/Rekening... Kas/Rekening..... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr./Giro BI Kr..../Giro BI Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b.. e. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db..Bab IV I S u r a t Berharga b. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c..

Bab IV I S u r a t Berharga c. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr.. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr./Giro BI Kr.. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Kas/Rekening. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai.. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db. Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo d. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. Kas/Rekening. a. Kas/Rekening.. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Membatalkan pengakuan pendapatan bunga Db. Asumsi penurunan nilai terjadi pada periode berjalan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 53 . Pendapatan bunga surat berharga Db. e.. 5../Giro BI Db/Kr. f. Pendapatan bunga yang akan diterima Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan kepada issuer dijurnal balik jika penerbit menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi: Db. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. b./Kr.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku. Db. Kerugian penurunan nilai surat berharga jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. c. dan bukan merupakan adjusting subsequent event. b. Db. 7. Pendapatan 8. Db. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya issuer rating). Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. a. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana penyesuaian tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Db. dan bukan merupakan adjusting subsequent event.Bab IV I S u r a t Berharga 6. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. a. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event). c. Kerugian penurunan nilai surat berharga Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Saldo laba jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. 54 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendapatan b.

Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db./Giro BI atau Db/Kr. Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Rekening lawan . Kas/Rekening./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Ekuitas .Pendapatan komprehensif lain Kr. Pada saat penyelesaian Db../Giro BI Kr/Db.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db..Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 55 . Kas/Rekening. Pendapatan/Beban bunga (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) 3.. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Rekening lawan .. Pada tanggal transaksi Db.Bab IV I S u r a t Berharga Surat berharga yang Tersedia untuk Dijual (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1. Kas/Rekening.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.. 4. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual b.

Kas/Rekening.. Ekuitas . Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi: Db. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b. Surat berharga .Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db./Db Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Selisih antara pembayaran yang diterima dengan nilai tercatat diakui sebagai keuntungan/kerugian penjualan surat berharga Db Kas/Rekening.. Ekuitas .. Surat berharga . 9../Giro BI Kr.Tersedia untuk Dijual Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr/Db. Pada saat penjualan: a. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. 56 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Keuntungan/kerugian kumulatif pada ekuitas diakui dalam laporan laba rugi Db. 7. Penyesuaian nilai wajar: a. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) Kr. Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr.Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) b. Pendapatan bunga yang akan diterima 8.Bab IV I S u r a t Berharga 6.Pendapatan komprehensif lain Kr. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat: Db./Giro BI Kr./Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr./Kr.

Surat berharga .Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat) atau Db. c. Asumsi bukti obyektif diperoleh pada periode berjalan. Cadangan kerugian penurunan nilai atau Melakukan reklasifikasi atas pendapatan komprehensif lain pada ekuitas ke dalam laporan laba rugi (jika sebelumnya bank telah mengakui penurunan nilai wajar) Db. Pendapatan b. Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 57 . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku pada periode berjalan Db.Tersedia untuk Dijual Kr. Ekuitas .Tersedia untuk Dijual Pengakuan kerugian penurunan nilai Db. Reklasifikasi Surat Berharga 1. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. d. Apabila terdapat penurunan nilai.Bab IV I S u r a t Berharga 10. Ekuitas . a. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Surat berharga . Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr. Ekuitas . Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Melakukan jurnal balik pendapatan komprehensif lain pada ekuitas (jika sebelumnya bank telah mengakui peningkatan nilai wajar) Db. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual.Pendapatan komprehensif lain Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db.

Ekuitas . 58 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . F.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Keuntungan dari perubahan nilai wajar 2) Jika saldonya negatif Db. Saat reklasifikasi Db. Pendapatan bunga Kr. Surat berharga . Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo a. Ekuitas . Surat berharga . Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.Bab IV I S u r a t Berharga 2. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Pendapatan bunga 2) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih besar dari nilai nominal Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c. b.Pendapatan komprehensif lain Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai wajar pada saat pengalihan) Amortisasi untuk penyesuaian nilai wajar surat berharga ke nilai nominal sampai jatuh tempo 1) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih kecil dari nilai nominal Db.Pendapatan komprehensif lain b. Amortisasi atas selisih penilaian surat berharga yang belum direalisasi (ekuitas) 1) Jika saldonya positif Db. Surat berharga . Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga dalam penyusunan laporan keuangan. Kerugian dari perubahan nilai wajar Kr.

jika bank tetap mengakui sebagian surat berharga sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). b. c. yaitu: a. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan surat berharga yang masih tetap berada di bank. 7. b. Pengalihan surat berharga yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh surat berharga. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga. Total nilai tercatat surat berharga awal yang dialihkan. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dan nilai tercatat kewajiban terkait. jika bank tetap mengakui seluruh bagian surat berharga. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 3. Jumlah surat berharga yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). nilai tercatat surat berharga yang tetap diakui bank. c. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Tersedia untuk Dijual. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 59 . d. b. 5.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. c. 4. Jenis surat berharga. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). dengan rincian berikut: a. d. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. 6. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Nilai tercatat surat berharga dan kewajiban terkait.

60 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. Analisis tersebut mencakup: a. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. kebijakan. Tujuan. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga. b. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. dan pihak penjual proteksi surat berharga dalam transaksi credit derivative). Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. c. Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 8. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. Informasi mengenai kualitas kredit diluar surat berharga yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada) Pengungkapan kuantitatif 9. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada butir a diatas.

antara lain sektor ekonomi dan geografi. 2) Tipe/jenis penerbit. 10. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 61 . namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. berdasarkan jangka waktu. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas surat berharga sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank. Nilai tercatat surat berharga yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. mata uang. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga. Jumlah surat berharga yang dimiliki berdasarkan segmentasi. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga. 11.Bab IV I S u r a t Berharga (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. dan d. G. Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. (2) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat internal.

425 dengan tagihan bunga (purchased interest) sebesar Rp. Surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada tanggal 1 Juni 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp.30. Obligasi ini dibeli untuk dimiliki hingga jatuh tempo pada tanggal 1 Juni 2011. (Lihat Tabel 1) 62 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. 20. Contoh Kasus 1.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp.000.1.000.000.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010.000. Untuk membeli obligasi dimaksud.000.Bab IV I S u r a t Berharga H.000 dengan kupon bunga 8% pada 99. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.000. 15. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.

000.202 468.605.350.111 7.466 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif (c) Amortisasi Diskono/ Premium (d) = (c) .077) (1.000.000.000.000.000.715 7.126.111 6.609.532 7.952 7.567 480.(b) Diskonto/ Preimum yang belum Diamortisasi (e) 04-Jun-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 1.111.598.111.250.533.000.111.771 513.616.357.000) (5.901 7.441 475.532 995.00 6.444 7.513.111.111 6.675 6.763 999.00 1.000.00 1.840 493.364.000.649.046 996.00 1.466.393.00 1.444.111 6.745 487.00 1.000.000.924.532 476.007.000.000.Tabel 1: Estimasi Arus kas masa datang surat berharga-Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Effective Interest Rate: 7.000.399.099 995.348) (1.532 476.00 1.000.700 7.000.437.699) (3.591.745 487.00 1.634 7.00 1.000 7.660 7.000.000.811 494.678 7.000.000.534 0 Pembayaran Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R 399.270 505.901) (4.486.652 998.298 997.088 998.790 498.000.468) (4.000.466) 0 994.587.889 7.954) (3.000.000.889 7.111.750.553 7.202 468.000.923 998.702) (2.873.000.888.00 1.486.889 7.314 7.564 455.000.00 Bab IV I S u r a t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Berharga I 63 .111.000.466 (5.564 455.577 399.961.111 6.89% Tanggal Kupon 1.301 996.912) (1.888.000.441 475.000.968.237) (513.771 513.811 494.624.111 6.075.487 997.270 505.000.382.111 7.606.000.513) (2.000.00 1.790 498.000.038.562.992.000.031.111.899.840 493.000.000.00 1.000.000.000 994.888.000.567 480.

.000 Kr. 15. 36. Tagihan komitmen . Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db. 994.532 2) Pembayaran kupon obligasi Db.000 994.532 e..Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. 399.000.399./Giro BI Rp.pembelian surat berharga Rp.000 Db.. Beban pembayaran fee Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp.250.pembelian surat berharga Rp.024. Pendapatan bunga surat berharga Rp. Rp. 6. 399.532 Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima . Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. Rp. Rp.. 30. 994. Kas/Rekening.399.250.000 Rp. 994./Giro BI Pencatatan surat berharga pada tanggal 4 Juni 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp.000.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db.250. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. 64 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. 6../Giro BI Rp.000 b. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp.532 Kr. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db. Kas/Rekening.250. 36. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. 994.250.000 d.000 Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 30 Juni 2010 1) Pengakuan bunga dan amortisasi diskon Db.250.000 Kr. 1. Tagihan komitmen . Kas/Rekening. c.000 15.surat berharga Kr.000.000.

Untuk menjual obligasi dimaksud. yaitu tanggal 1 Juli 2010.000.000.000 Rp.000.000. bank XYZ membeli 4 (empat) obligasi pemerintah dengan nilai nominal Rp. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp... c.000.000.000 2. Rp. 15. Kas/Rekening. Rp.000. Untuk membeli obligasi dimaksud.000. Kas/Rekening.000.000 Rp.000. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 1 Juni 2010.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db. amortisasi diskon dan pembayaran bunga selanjutnya sama dengan jurnal di atas. 1. 4. Pada saat jatuh tempo tanggal 1 Juni 2011 Db.. Diasumsikan pengakuan keuntungan penjualan surat berharga dilakukan pada saat tanggal penyelesaian.000. Surat berharga .pembelian surat berharga Rp.000.. 4...000.000.1.000.000. Rekening lawan Tagihan komitmen Rp. 4. Pada tanggal 29 Juni 2010 bank XYZ menjual surat berharga pada 102. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.000 dan kupon bunga 8% per tahun pada harga par.000./Giro BI Pada saat penyelesaian tanggal 4 Juni 2010 Db. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp.Tersedia untuk Dijual Kr. Surat berharga . Jurnal Transaksi a. 15. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db. Beban pembayaran fee Kr.000.000.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 65 ./Giro BI Kr.000 Kr. 4. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp 15.000 15.000 b.000. f./Giro BI Rp. Kas/Rekening.000.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp. Tagihan komitmen .Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal untuk pengakuan bunga. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010.000. 20. 1. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.

.000.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.080.000.000 Kr.000. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.000 Kr.000.000.Tersedia untuk Dijual Rp. Beban pembayaran fee Kr.000.000 Pada saat pengakuan bunga pada tanggal 30 Juni 2010 Db./Giro BI Rp.080. 80. Kas/Rekening.000 Kr. 4. Kewajiban komitmen .000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 29 Juni 2010 Db.penjualan surat berharga Rp.000.000 Kr.000 24.000 15.000.08 X 27/360) e. Tagihan komitmen ..000.pembelian surat berharga Rp. 4. Pendapatan bunga surat berharga (4. Rp./Giro BI Rp.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.000..080. Kas/Rekening..000 Melakukan jurnal balik komitmen penjualan surat berharga Db. Rekening lawan .080. 24.penjualan surat berharga Rp. 4. Kewajiban komitmen . Surat berharga . 4.000. Rekening lawan .000 X 0.000.000 f. h. 4.000 g.000.000. 15.000 66 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 4.000. Penyelesaian transaksi penjualan pada tanggal 1 Juli 2010 Db. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 29 Juni 2010 Db.000 Kr. Rp.000.000.080. 4. 4.000.Bab IV I S u r a t Berharga d. Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima Surat berharga Kr.

15. Asumsi harga pasar pada tanggal 31 Juli 2010 adalah 99. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp.30.000.Bab IV I S u r a t Berharga 3.000 dengan kupon bunga 5% pada 99 dengan accrued interest sebesar Rp. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Bank XYZ membeli obligasi Rp. Pada tanggal 4 Agustus 2010 bank menjual obligasi pada 99. Amortisasi diskon dari tanggal 1 Agustus sampai dengan tanggal 4 Agustus 2010 adalah Rp.000. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. Untuk membeli obligasi dimaksud.219.86.250. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.50 dan penyelesaian dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2010.1. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 6 Juli 2010. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 9 Juli 2010.000. (Lihat Tabel 2) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 67 .000.000.1.000.000. 20.

476.000.444 4.022 999.642.408 990.368) (4.861) (3.305.165) (5.000 1.992.164.426 41.000.000.348 5.449 103.305.000.133.093 319.000.020.978 689.705) (0) .983.978 689.705 3.193 672.580.295 (0) - “Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e)” (10.099.528) (8.976.000.261 Keuntungan/ Kerugian yang Belum Direalisasi pada Ekutias 990.891 4.000.000 29.273 688.960.697) (7.000.145.000.222.444.542 993.749 993.194.550 678.529 671.000.446 654.419.205.000.556 476.819 5.426 41.000.793 679.357.472.960 62.444 694.620) (1.000.000 1.68 I P e d o m a n Bab IV I S u r a t Effective Interest Rate Tabel 2: Estimasi Arus Kas Masa Datang Surat Berharga – Tersedia untuk Dijual : 5.472 991.000 1.556 4.000.642 707.305.000 1.000 1.000.303 992.000.000 1.446 654.705 990.311.146.000.000.000.000.000 1.749 993.525.222.193 672.890) (8.604.264 703.000 476.444.110 991.251) (6.000.893 798.853.000.293 682.000.835 994.755 5.000 1.642 707.427 696.853.315.566 997.983 5.457.419.000.139 996.449 103.474.474.000.449 990.164.151.900.123.242 4.978) (688.000.148.000.264 703.000 990.778 3.(b) Berharga Akuntansi Perbankan Indonesia 09-Jul-10 31-Jul-10 04-Agust-10 06-Agust-10 07-Agust-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Agust-11 30-Sep-11 1.000 1.80% Tanggal Kupon 1.000.357.000.444.000.638 520.000.566 997.205.632 995.794.000.293 682.632 995.670.472 991.000 1.994.458) (6.303 992.684.884) (2.592 1.000.592) (9.000 1.165 990.305.444 4.434) (2.295 (0) Pembayaran Pokok (a” Pendapatan Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat amount (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R Nilai Wajar pada akhir periode Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .180.444 4.529 671.180.140.717 4.556 4.604.444.000.667 277.390) (4.305.793 679.000 19.273 688.748 5.777.859.427 696.649.819.127.000.000 Pendapatan Bunga Sesuai Suku Bunga Efektif (c) 3.542.444.000.556 4.380 998.444.140.542.022 999.798 621.444 4.444 4.854.550 678.684.222 4.000.444.960 62.415 3.000 1.000 1.854.116 997.110 991.000.778 4.404 479.000.311.638 648.000) (9.525.116 997.900.449 1.000 1.165) (9.476.139 996.525.953.835.523.638 648.638 520.380 998.551) (9.000 1.738 5.444 4.835 994.835 990.000 1.859.087 5.000.444 4.116.798 621.973 4.000 1.610 995.556 4.525.027.610 995.444 416.395.000.542 993.860 4.000.010.000 990.994 4.000.

990.556 [(1. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp.088* b. Ekuitas .000.250.219 Kr Pendapatan bunga .000.000 991. Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 31 Juli 2010 Db.pendapatan komprehensif lain * Harga wajar 993.000..05 x 23/360)] Kr.000.670. Rp.000 Kr.444 4.pembelian surat berharga Rp. Tagihan komitmen .05 x 4/360)] Db.. Rp. [(1. c. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.000 Nilai buku 990. Pencatatan pengakuan bunga (selama 4 hari) pada tanggal 4 Agustus 2010 Db. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Db.000 x 0.05 x 8/360)] Kr.444.000.000. Beban pembayaran fee Kr./Giro BI Kr./Giro BI Penyelesaian transaksi pada tanggal 9 Juli 2010 Db. 990.000 x 0.250.088 Rp.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 6 Juli 2010 Db.444 3. e.000 476.000 990.194. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.Tersedia untuk Dijual Rp. f.000. Db. 555.000. Surat berharga ..Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 6 Juli 2010 Db..000.000 x 0. Rp. 86.449 3.000 15.000. Kas/Rekening.000 1.506.893 4. Pendapatan bunga yang akan diterima [(1. 641.088* 2. Pendapatan bunga yang akan diterima Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Juli 2010 Db.506..506.000./Giro BI Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Rp. Rp.922 Keuntungan yang belum direalisasi 2.surat berharga Rp. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Rp.775 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 69 . g. Rp.493. 15. Rp.444..000. Pencatatan penerimaan bunga pada tanggal 31 Juli 2010 Db.444 2. Pendapatan bunga surat berharga Rp. d.

Bab IV I S u r a t Berharga h.859 (995.000 dengan kupon 8% pada harga par. Asumsi : Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Bank XYZ menjual surat berharga di 102 pada tanggal 6 Februari 2010 dengan tanggal penyelesaian 7 Februari 2010. 555. 15. 4.141) Kr Pendapatan bunga yang akan diterima – surat berharga Rp. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010.Tersedia untuk Dijual Rp.141 Kr Keuntungan penjualan surat berharga Rp.141 Kr. Kas/Rekening./Giro BI Rp.000.506.088 Kr Surat berharga . Surat berharga dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Diperdagangkan) Pada tanggal 14 Januari 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp.000 – 990.141 Pencatatan penyelesaian penjualan surat berharga pada tanggal 5 Agustus 2010 Db.000..1.580.580. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Rp.468 Db.000. 994. Untuk membeli obligasi dimaksud.000..556 i. 991. Kewajiban komitmen .580.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.419.penjualan surat berharga Rp.049. 991. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. 70 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 991.580. harga pasar 101. Rekening lawan . Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 4 Agustus 2010 Db. 2. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal perdagangan.000. 4. Pada tanggal 31 Januari 2010.

.000.. Rp. Rp. 10.000. Rp./Giro BI [(1.333 3. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 71 . Rp.555. Pendapatan bunga yang akan diterima .surat berharga Kr.333.08 x 15/360] Pembelian surat berharga pada tanggal 14 Januari 2010 Db.000.333./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima .000.556 3.556 d.000.333 f. Rp.000 1.000 x 0.000 x 0.010.222 Rp.000 Rp. Kas/Rekening. Pendapatan bunga surat berharga (1.surat berharga Kr.333.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. c. 15.surat berharga Kr. 1./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 14 Januari 2010 Db.000... Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. e. 3.08 x 6/360) Penjualan surat berharga pada tanggal 7 Februari 2010 Db Kas/Rekening.333 b.000.surat berharga Kr./Giro BI Kr.000. Kas/Rekening..000 3. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.08 x 16/360) Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Januari 2010 Db. Rp.000 Rp.. Rp. Keuntungan atas surat berharga Pengakuan bunga pada tanggal 6 Februari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima. Rp. 8.. 1.222.000 x 0.000 15. 10.222. Rp.333 1.000. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 14 Januari 2010 Db. Pendapatan bunga surat berharga (1.555..000 10.000.000.333.000. 1.000.222 Rp. 1. Beban pembayaran fee Kr. Kas/Rekening.000.000.028.000 Rp. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. g. Surat berharga .000.

B. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut. maka pihak yang mentransfer akan mereklasifikasi aset dimaksud di neracanya. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan Surat Berharga. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – aset yang secara substansial sama. Jika pihak yang menerima transfer memiliki hak untuk menjual atau menggadaikan aset dimaksud. misalnya sebagai aset yang dijaminkan atau piutang pembelian kembali. Definisi Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) adalah surat pengakuan utang jangka pendek dan jangka panjang yang diterbitkan oleh bank atau pihak ketiga bukan bank yang dijual dengan janji untuk dibeli kembali dari pembeli dengan harga yang telah disepakati pada awal transaksi. (Panduan Implementasi No.2: B. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset tersebut akan dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pihak pemberi pinjaman. atau jika aset keuangan tersebut dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset dimaksud akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer.18) Contoh-contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip penghentian pengakuan dalam Pernyataan ini. a. Dasar Pengaturan 1. b. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji dibeli Kembali A. maka aset tersebut tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. Namun demikian. 72 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 2. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan 2. Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga.

Bank dapat melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam seluruh kategori surat berharga. bank menjual surat berharga kepada pihak lain dengan harga tertentu dan berjanji untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu. atau jika aset keuangan dipinjamkan atau dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Penjelasan 1. Jika bank memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau 2.. karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset tersebut. atau transaksi serupa untuk transaksi dengan jaminan surat berharga. c. maka aset dimaksud tidak dihentikan pengakuannya. Dalam transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). maka bank harus memastikan dapat mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. maka aset yang dijual atau dijaminkan dalam transaksi pembelian kembali atau transaksi dengan jaminan surat berharga tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. (PSAK 55: PA66) C. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 73 . Selanjutnya. memberi hak kepada penerima transfer untuk mensubstitusi aset yang ditransfer dengan aset serupa dan memiliki nilai wajar yang setara pada tanggal pembelian kembali. dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban pembelian kembali surat berharga yang dijual dengan syarat repo. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – hak substitusi. Jika perjanjian penjualan efek dengan janji dibeli kembali dengan harga pembelian kembali yang sudah ditetapkan atau harga yang setara dengan harga jual awal ditambah keuntungan pemberi pinjaman.. Untuk transaksi repo yang tidak memenuhi kriteria penghentian pengakuan (derecognition) maka surat berharga tetap berada pada pihak bank penjual dan tetap disajikan sebagai portofolio surat berharga bank. Dalam hal bank melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.Bab IV I S u r a t Berharga dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pemberi pinjaman.

Dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban./Giro BI Kr. maka bank harus melakukan amortisasi sampai dengan jatuh tempo kontrak repo. Penyajian Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan dalam pos yang terpisah dari surat berharga lainnya yang tidak di-repo. Ilustrasi jurnal Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali 1. E. maka bank harus mereklasifikasikan surat berharga tersebut. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (Jika terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan pada transaksi repo dan memenuhi persyaratan amortisasi. Surat berharga yang dimiliki dan diserahkan sebagai jaminan pinjaman yang diterima tanpa perjanjian repo tidak termasuk dalam surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 74 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali tetap diakui sebagai aset keuangan dalam neraca bank. D. Surat berharga Penerimaan dana dari transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. 2.. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Reklasifikasi surat berharga Db.Bab IV I S u r a t Berharga memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut.) 2. Pengakuan dan pengukuran surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali mengacu pada perlakuan akuntansi untuk Surat Berharga. 3. 3.. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali Kr.

yaitu: a. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. 5. b. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. b. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. c. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. c. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. 3. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. d.Bab IV I S u r a t Berharga F. b. 6. Tersedia untuk Dijual. 4. 2. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 75 . dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang.

76 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . consumer loans. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. b. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. dan sebagainya). Informasi mengenai kualitas kredit surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 7. Pengungkapan kuantitatif 8. kebijakan. Analisis terhadap surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan klasifikasi surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Tujuan. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. Analisis tersebut mencakup: a. commercial loans. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

dan c. (2) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat internal. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan segmentasi. berdasarkan jangka waktu. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). 2) Tipe/jenis penerbit. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. antara lain sektor ekonomi dan geografi. mata uang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 77 . Nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 9. 10.Bab IV I S u r a t Berharga b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata.

yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. (PSAK 55: PA 79) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. entitas mengukur pada nilai wajarnya. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. 5. 4. 3. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). atau 2. jika dan hanya jika.. B. 78 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 3. (PSAK 55: Paragraf 14) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. lihat juga paragraf PA91). Dasar Pengaturan 1. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. (PSAK 55: Paragraf 43) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. (PSAK 55: Paragraf 49) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: (a) Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif.. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca.. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali A.. Definisi Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali adalah tagihan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo).

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 79 . atau (ii) kelompok aset keuangan.. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.Bab IV I S u r a t Berharga (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. 8. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11... sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didoku-mentasikan.. maka biaya- 7. (PSAK 55: PA39) Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. (b) investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. (PSAK 55: paragraf 8) 6. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. misalnya Direksi. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihakpihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). (b) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 8) .

Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. (PSAK 55: Paragraf 46) 12. diukur pada biaya perolehan. Setelah pengakuan awal. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). (PSAK 55: PA82) 9. (PSAK 55: PA26) 11. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.Bab IV I S u r a t Berharga biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. atau pelepasan lain. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut. dan (c) investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. konsultan.. entitas mengukur aset keuangan. biaya pendanaan (financing costs). perantara efek dan pedagang efek. (PSAK 55: Paragraf 8) 10. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo sesuai definisi paragraf 8. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan.. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi 80 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). pada nilai wajarnya. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.

maka bank pembeli akan mencatat sebagai tagihan reverse repo. 2. (PSAK 55 : PA20) 13. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal . Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 8) C. Dalam hal transaksi reverse repo memenuhi kriteria penghentian pengakuan.Bab IV I S u r a t Berharga yang telah direvisi. … Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 81 . Penjelasan 1. dimana surat berharga tetap diakui oleh bank penjual. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. Dalam transaksi pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). (PSAK 55: paragraf 60) 14. bank membeli surat berharga dengan harga tertentu dan berjanji untuk menjual kembali dengan harga tertentu. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). jika dan hanya jika.. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut.

Kuotasi dipasar aktif. Reklasifikasi Tagihan Reverse Repo Penjelasan mengenai reklasifikasi tagihan reverse repo dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. 4 Tersedia untuk Dijual 2) Tagihan reverse repo yang dimiliki dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok tagihan reverse repo tersebut secara substansial. yang bukan disebabkan penurunan kualitas tagihan reverse repo. yaitu: No. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. 1) 2 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 2) Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. 82 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). 4. 5. Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki tagihan reverse repo tersebut hingga jatuh tempo. Kategori Tagihan Reverse Repo Secara umum. Kategori Tagihan Reverse repo Keterangan 1) Tagihan reverse repo yang dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat. 3 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan.Bab IV I S u r a t Berharga 3. tagihan reverse repo dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. 1) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual.

yaitu: Tagihan reverse repo dalam kategori No. 7 Penghentian Pengakuan Penghentian pengakuan tagihan reverse repo dapat mengacu pada penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Pada saat melakukan transaksi reverse repo.Bab IV I S u r a t Berharga b. Penurunan Nilai a b Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap tagihan reverse repo dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. yang pada saat pengakuan awal Diukur pada Nilai Wajar melalui umumnya sama dengan jumlah pembayaran yang Laporan Laba Rugi dikeluarkan. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. D. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 83 . 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada Pinjaman yang Diberikan dan tagihan tersebut. 6. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Evaluasi penurunan nilai untuk tagihan reverse repo dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. bank mengakui “Tagihan reverse repo” sebesar nilai wajar.

Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. 3. Selanjutnya. b. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Piutang efektif. 84 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. Selanjutnya. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. Keuntungan/kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam ekuitas. Keuntungan/kerugian yang timbul Diukur pada Nilai Wajar melalui dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba Laporan Laba Rugi rugi. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Untuk tagihan reverse repo dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Setelah pengakuan awal bank mencatat “Tagihan reverse repo” sebagai berikut: Tagihan reverse repo dalam kategori No. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi.

Beban bunga/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI Kr. Ilustrasi Jurnal 1.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Tagihan reverse repo disajikan di neraca sesuai kategori.. Kas/Rekening. I 85 . yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Pinjaman yang Diberikan dan efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai Piutang jatuh temponya dan dikurangi penurunan nilai./Giro BI (sebesar jumlah yang dibayarkan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. Kas/Rekening. Tagihan reverse repo Kr. E. 1 2 3 Tagihan reverse repo dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar. Kas/Rekening.. Kas/Rekening.. Tagihan reverse repo Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. 4. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas tagihan tersebut. yaitu: No. Pendapatan bunga tagihan reverse repo Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo Db. 3. Tagihan reverse repo (sebesar pendapatan bunga dan amortisasi biaya transaksi) Kr./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi biaya transaksi: Db./Giro BI atau Db/Kr. Pada awal transaksi tagihan reverse repo: Db. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Keterangan 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).. Tagihan reverse repo Kr/Db.....

c. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan reverse repo. 3. c. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan tagihan reverse repo yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. b. Jumlah tagihan reverse repo yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Tujuan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan reverse repo (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan reverse repo) dan agunan. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 4.Bab IV I S u r a t Berharga F. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas tagihan reverse repo sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. b. 86 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kebijakan. yaitu: a. Pengungkapan kualitatif 7. 6. b. Perubahan nilai wajar atas tagihan reverse repo yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan reverse repo dalam penyusunan laporan keuangan. d. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan reverse repo dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). Tersedia untuk Dijual. 5. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a.

Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kuantitatif 8. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. maka pengungkapan mencakup: c. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan reverse repo pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. Analisis terhadap tagihan reverse repo berdasarkan klasifikasi tagihan reverse repo yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. b. (3) Jumlah ekposur tagihan reverse repo yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 87 . Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan reverse repo sebagaimana pada butir a) di atas. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat. Analisis tersebut mencakup: a. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan reverse repo. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. Informasi mengenai kualitas kredit diluar tagihan reverse repo yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya.

Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung sebesar Rp. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). dan d.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. Nilai tercatat tagihan reverse repo yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian penempatan dana dalam bentuk transaksi pembelian surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali.000. 1.Bab IV I S u r a t Berharga (1) Proses pemeringkatan internal.000. 9. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. 5. mata uang. 88 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . antara lain sektor ekonomi dan geografi. 10. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. Jumlah tagihan reverse repo yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. berdasarkan jangka waktu.000.000. dimana Bank A setuju untuk melakukan pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali kepada Bank B sebesar Rp. Untuk membeli surat berharga dimaksud.000. 20. 2) Tipe/jenis penerbit. Jumlah tagihan reverse repo yang dimiliki berdasarkan segmentasi. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. dan tingkat bunga tagihan reverse repo yang dihitung secara rata-rata.000. Contoh kasus Karena kelebihan dana (likuiditas). 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan reverse repo. G. (2) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat internal.

Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 4.000.010. Rp. Tagihan reverse repo Kr.010.000 Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo tanggal 15 Februari 2010 Db.333.6667 Rp.333 Rp. 1.000 5.000 Rp.333 3..666.. Kas/Rekening.666.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi 1. Rp. 1.000..000 Rp.. 1.000. Tagihan reverse repo Rp.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 89 .000 Rp. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 5. Tagihan reverse repo Kr.000. Rp. Rp. Pengakuan bunga tanggal 31 Januari 2010 Db. Penyelesaian transaksi pada tanggal 2 Januari 2010 Db.000./Giro BI 2...000.000. 6.6667 6. Beban pembayaran fee – tagihan reverse repo Kr. Kas/Rekening. 1. Tagihan reverse repo Kr. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db./Giro BI 3.000. 5.333. Kas/Rekening./Giro BI Kr. Pengakuan bunga tanggal 15 Februari 2010 Db. 3.

. atau (ii) Untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. 90 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. (PSAK 55: Paragraf 14) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. (PSAK 50: Paragraf 7) 2. jika dan hanya jika. Dasar Pengaturan 1. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a) Kewajiban kontraktual: (i) Untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain.. B. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini.. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali A.Bab IV I S u r a t Berharga 4. 3. Definisi Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali adalah kewajiban kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.

Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. tergantung pada perubahan nilai wajarnya).. b) kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller (yaitu entitas yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut). (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga b. . Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi:…. misalnya Direksi. atau (ii) kelompok aset keuangan. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi 6. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa).. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. entitas mengukur pada nilai wajarnya. (PSAK 55: PA28) 5. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 91 .

dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. yaitu bank yang membeli surat berharga dengan janji dijual kembali. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali yang dilakukan bank repo. (PSAK 55: Paragraf 8) Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. kewajiban keuangan tersebut berakhir. (PSAK 55: Paragraf 57) Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. 92 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dapat timbul dari: a. (PSAK 55: Paragraf 8) 7. Penjelasan 1. atau transaksi short sell yang dilakukan oleh bank reverse repo.. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. b. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. C. (PSAK 55: Paragraf 39) 8.. 9.Bab IV I S u r a t Berharga kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. jika dan hanya jika. dan melalui proses amortisasi.

atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) 3. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. 4. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. b. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 93 . 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Kuotasi dipasar aktif. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Kategori Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali merupakan kewajiban keuangan yang dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori. yaitu: No. Reklasifikasi Kewajiban Atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Kategori Kewajiban Keuangan 1) Keterangan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang timbul dari transaksi short sell (sebagaimana pada angka 1) b).Bab IV I S u r a t Berharga 2.

94 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada kewajiban tersebut. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi untuk kredit. 1 3. Setelah pengakuan awal. bank mengakui “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebesar nilai wajar. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost).Bab IV I S u r a t Berharga D. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. yaitu nilai wajar kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan 2 Biaya Perolehan Diamortisasi janji dibeli kembali yang diukur pada saat pengakuan awal (amortised cost) dikurangi pembayaran pokok. 4. bank mencatat “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebagai berikut: No. yaitu: No. 2 Diamortisasi (amortised cost) 2. 1 Kewajiban dalam kategori Pencatatan pada saat penerbitan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar yang pada saat pengakuan awal umumnya melalui Laporan Laba Rugi Biaya Perolehan sama dengan jumlah pembayaran yang diterima. Pada saat timbul kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar.

/Giro BI atau Db..Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan.. Kewajiban repo Kr. Pada saat jatuh tempo transaksi repo Db.. Kas/Rekening./Giro BI Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3./Giro BI Kr. Kewajiban repo 4./Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Amortisasi beban bunga dan biaya transaksi Db. Kas/Rekening.. Ilustrasi Jurnal 1. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (kewajiban repo) (sebesar jumlah pembayaran yang diterima) 2. Keterangan E.. Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db.Kewajiban repo Kr. Kas/Rekening... Kas/Rekening. yaitu: No. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Mencatat pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. I 95 . Beban bunga Kr. yaitu 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. Beban bunga Kr.. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar.

Contoh kasus Karena kekurangan dana (likuiditas). 5. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.Bab IV I S u r a t Berharga F. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. 3. G. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. 2. 20. dimana Bank A setuju untuk melakukan penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali dari Bank B sebesar Rp. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. yaitu: a. b.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan.000. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi.000. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1.000.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank A sebesar Rp. 96 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian perolehan dana dalam bentuk transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 1. b.000. Untuk menjual surat berharga dimaksud.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010.

Kas/Rekening. Beban pembayaran fee Kr.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal transaksi a./Giro BI b. Pengakuan beban bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db. Rp.667 6. Rp. Kewajiban repo e.000 Rp..000./Giro BI Kr.. 6. Pada saat jatuh tempo transaksi repo tanggal 31 Januari 2010 Db.000.666.666. Pengakuan beban bunga pada tanggal 15 Februari 2010 Db.000. Kewajiban repo d.333. Kewajiban repo c.333.010.000 Pencatatan penyelesaian transaksi repo pada tanggal 2 Januari 2010 Rp.000. Beban bunga – Kewajiban repo Kr. 3.000. Kas/Rekening. 1. Beban bunga – kewajiban repo Kr.000 Rp.333 Rp.010. 5. Rp. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db.000.333 3.667 Rp.000 5. Db..000.. Kewajiban repo Kr..000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 97 . 1. 1../Giro BI Rp. 1.000 Rp.000. Kas/Rekening.

kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu: (i) non derivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. obligasi. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a. (PSAK 50: Paragraf 7) b. Definisi Surat berharga adalah surat pengakuan utang. instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa yang akan datang. atau (ii) derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. pihak penerbit tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk melakukan distribusi 98 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pihak lainnya (holder). atau setiap derivatifnya. wesel. Kewajiban kontraktual: (i) untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. Walaupun pemegang instrumen ekuitas mungkin berhak menerima dividen atau bentuk distribusi ekuitas lainnya secara pro rata. sekuritas kredit. Untuk tujuan ini. atau suatu kewajiban dari penerbit.Bab IV I S u r a t Berharga 5. atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan pemegang instrumen ekuitas (holder) dalam kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan pihak penerbit. dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. Fitur penting dalam membedakan antara kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas adalah adanya kewajiban kontraktual satu pihak dari instrumen keuangan (penerbit). B. Surat Berharga yang Diterbitkan A. 2. Dasar Pengaturan 1. atau kepentingan lain. atau (ii) untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut.

merupakan dasar bagi penggolongannya dalam neraca entitas. I 99 .. menyerahkan atau mempertukarkan instrumen keuangan merupakan suatu instrumen keuangan. baik tanpa hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya. 6.. (PSAK 50: PA7) Kemampuan untuk melaksanakan hak kontraktual atau persyaratan pemenuhan kewajiban kontraktual dapat bersifat absolut atau bersifat kontinjen atas terjadinya suatu peristiwa di masa datang. Substansi dan bentuk hukumnya umumnya sejalan.. bisa saja secara tidak langsung menciptakan kewajiban melalui persyaratan dan kondisi yang ada padanya. maupun dengan hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya dengan persyaratan pengembalian pokok utang yang sangat sulit atau dalam jangka waktu yang sangat lama dimasa datang. jaminan keuangan merupakan hak kontraktual bagi pemberi pinjaman untuk menerima sejumlah kas dari penjamin. (PSAK 50: Paragraf 13) 3.. (PSAK 50: Paragraf 16) Instrumen utang perpetual (seperti obligasi perpetual. dan surat saham (capital notes)) biasanya memberikan hak kontraktual kepada pemegangnya untuk menerima pembayaran bunga setiap tanggal tertentu dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak terbatas... 5. bukan bentuk hukumnya. 7. Substansi dari instrumen keuangan. dan kewajiban kontraktual terkait dari penjamin untuk membayar pemberi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 4. 8. Sebagai contoh. Beberapa jenis instrumen keuangan memiliki bentuk hukum berupa ekuitas tetapi secara substansi merupakan kewajiban dan bentuk lainnya mungkin berupa kombinasi dari fitur instrumen ekuitas dan fitur kewajiban keuangan. (PSAK 50: Paragraf 14) Jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menghindari penyelesaian kewajiban kontraktualnya berupa penyerahan kas atau aset keuangan lainnya. walau tidak selalu. (PSAK 50: Paragraf 15) Instrumen keuangan yang tidak secara eksplisit menciptakan kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya.. (PSAK 50: PA6) Hak atau kewajiban kontraktual untuk menerima. maka kewajiban tersebut memenuhi definisi kewajiban keuangan. debentures. Suatu rangkaian hak atau kewajiban kontraktual memenuhi definisi instrumen keuangan apabila hak atau kewajiban tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penerimaan atau pembayaran kas atau menyebabkan perolehan atau penerbitan instrumen ekuitas.Bab IV I S u r a t Berharga tersebut karena penerbit instrumen ekuitas tidak diwajibkan untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada pihak lain..

nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 43) 11. atau instrumen ekuitas sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi kewajiban keuangan. 100 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Hak dan kewajiban kontraktual timbul akibat transaksi atau peristiswa masa lalu (dengan asumsi terdapat penjaminan). dan instrumen ekuitas. meskipun aset dan kewajiban tersebut tidak selalu diakui dalam laporan keuangan. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). jika penerima pinjaman wanprestasi. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Penerbit instrumen keuangan pada saat pengakuan awal harus mengklasifikasikan instrumen tersebut atau komponen-komponennya sebagai kewajiban keuangan. (PSAK 50: Paragraf 11) 12. (PSAK 50: PA8) 9. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. aset keuangan. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini.Bab IV I S u r a t Berharga pinjaman. entitas mengukur pada nilai wajarnya. Beberapa hak dan kewajiban kontinjen mungkin merupakan kontrak asuransi dalam ruang lingkup PSAK 36 dan PSAK 28. jika dan hanya jika. meskipun kemampuan pemberi pinjaman untuk melaksanakan haknya dan keharusan penjamin untuk memenuhi kewajibannya bersifat kontinjen atas kejadian wanprestasi oleh penerima pinjaman dimasa datang. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Hak dan kewajiban yang bersifat kontinjen memenuhi definisi aset dan kewajiban keuangan. (PSAK 55: Paragraf 14) 10.

Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi: . dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh.. tergantung pada perubahan nilai wajarnya). (PSAK 55: PA28) 14. atau (ii) kelompok aset keuangan. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. misalnya Direksi..Bab IV I S u r a t Berharga b. (PSAK 55: Paragraf 8) 13. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 101 .. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. (PSAK 55: Paragraf 8) 15.. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. (c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif.. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan.

Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). diukur pada nilai wajarnya. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. (PSAK 55: PA26) 19. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya.Bab IV I S u r a t Berharga 16. kecuali untuk derivatif kewajiban yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif seperti diatas dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. (PSAK 55: Paragraf 12) 18. 102 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. Kewajiban tersebut. Setelah pengakuan awal. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. kecuali untuk: (a) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 11) 17. perantara efek dan pedagang efek. biaya pendanaan (financing costs). entitas mengukur seluruh kewajiban keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. konsultan. diukur pada biaya perolehan. atau (b) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. kecuali: (a) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. termasuk derivatif yang diakui sebagai kewajiban. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya.

paragraf 29 dan 31 diterapkan dalam pengukuran kewajiban keuangan tersebut. atau jika lebih tepat. Namun demikian. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya).. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. (PSAK 55: Paragraf 8) 21.. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Pada saat menghitung suku bunga efektif. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. (PSAK 55: PA19) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 103 . Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. (PSAK 55: Paragraf 47) 20. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. dalam kasus yang jarang terjadi.Bab IV I S u r a t Berharga (b) kewajiban keuangan yang timbul ketika sebuah transfer aset keuangan tidak memenuhi syarat penghentian pengakuan atau transfer yang dicatat menggunakan pendekatan keterlibatan berkelanjutan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. biaya transaksi. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat.

Selisih antara (a) nilai tercatat kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) yang berakhir atau yang ditransfer pada pihak lain. (PSAK 55: Paragraf 40) 27. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). diakui dalam laporan laba rugi. Pertukaran diantara peminjam dan pemberi pinjaman yang saat ini ada atas instrumen utang dengan persyaratan yang berbeda secara substansial dicatat sebagai penghapusan (extinguishment) kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. Jika entitas membeli kembali bagian dari kewajiban keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga 22. (PSAK 55: Paragraf 8) 25. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. (PSAK 55: PA20) 23. dan melalui proses amortisasi. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. jika dan hanya jika. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. kewajiban keuangan tersebut berakhir.. maka entitas mengalokasikan nilai tercatat sebelumnya dari kewajiban keuangan tersebut kepada bagian yang tetap diakui dan bagian yang dihentikan pengakuannya berdasarkan 104 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. Demikian juga. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas.. (PSAK 55: Paragraf 57) 24. (PSAK 55: Paragraf 41) 28. modifikasi secara substansial atas ketentuan kewajiban keuangan yang saat ini ada atau bagian dari kewajiban keuangan tersebut (terlepas ada atau tidak keterkaitannya dengan kesulitan keuangan debitur) dicatat sebagai penghapusan kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. (PSAK 55: Paragraf 39) 26. Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung.

Bank yang menerbitkan surat berharga pada saat pengakuan awal harus menetapkan apakah surat berharga tersebut merupakan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas yang didasarkan pada substansi perjanjian kontraktual dan bukan pada bentuk hukumnya. Surat berharga yang pada saat diterbitkan ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan.Bab IV I S u r a t Berharga nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal pembelian kembali. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. 1 Diukur pada Nilai wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) 2 Biaya perolehan diamortisasi Surat berharga yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui (amortised cost) Laporan Laba Rugi. untuk bagian yang dihentikan pengakuannya tersebut diakui dalam laporan laba rugi. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Penjelasan 1. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Selisih antara (a) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian yang dihentikan pengakuannya. Kategori Surat Berharga Surat berharga yang diterbitkan yang merupakan kewajiban keuangan dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori kewajiban keuangan. yaitu: No. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 105 . termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. (PSAK 55: Paragraf 42) C. Kategori Surat Berharga 1) Keterangan Surat berharga yang diterbitkan untuk dibeli kembali dalam waktu dekat. 2. 3. dengan (b) jumlah yang dibayarkan.

Kuotasi dipasar aktif. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. Penghentian Pengakuan (Derecognition) a. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. atau 2) Bank menerbitkan surat berharga yang baru dengan persyaratan yang berbeda secara substansial untuk menggantikan surat berharga sebelumnya atau memodifikasi secara substansial surat berharga yang telah diterbitkan. 106 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . komponen-komponen tersebut harus diklasifikasikan secara terpisah. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. baik karena dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluarsa. 5.Bab IV I S u r a t Berharga 4. b. 6. Dalam laporan keuangan. Instrumen Majemuk Untuk surat berharga yang mengandung komponen ekuitas dan kewajiban keuangan. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. bank dapat menghentikan pengakuan atas surat berharga yang diterbitkan jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki kewajiban kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut karena kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak telah berakhir. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). 7.

ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Pada saat penerbitan surat berharga. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. bank mencatat “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebagai berikut: No. bank mengakui “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebesar nilai wajar. Surat berharga dalam kategori 1 Pencatatan pada saat penerbitan Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada saat Diukur pada Nilai Wajar melalui pengakuan awal umumnya sama dengan harga Laporan Laba Rugi penerbitan surat berharga. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Biaya perolehan diamortisasi memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang (amortised cost) dapat diatribusikan langsung pada penerbitan surat berharga. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Setelah penerbitan surat berharga. 2 2. b Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan pada kredit. 1 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 107 . 2 Biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. D. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi.Bab IV I S u r a t Berharga Dalam laporan keuangan konsolidasi. yaitu: No. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1.

Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi terkait penerbitan surat berharga Db. Beban bunga Kr. Kas/Rekening. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif (amortised cost) menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga yang diterbitkan mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi sebagaimana pada Bab mengenai Kredit. Kas/Rekening. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1. 108 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu: No. 4. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db./Giro BI Kr. Laporan Laba Rugi Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Keterangan 2 E. Pada saat menerbitkan Db. Surat berharga . Penyajian Surat berharga yang diterbitkan disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr./Giro BI 2. 3./Giro BI Pada saat pengakuan beban bunga Db.. 4... Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi pada Bab mengenai Kredit. Beban Kr....Bab IV I S u r a t Berharga 3. Kas/Rekening. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Sebesar nilai wajar. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan Biaya Perolehan Diamortisasi awal.

. Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost Pada saat jatuh tempo Db. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a.. Surat berharga – amortised cost Kr. Pada saat pelunasan Db. 6. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan dikurangi bunga dibayar dimuka) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db./Giro BI b. Pada saat menerbitkan Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 109 .Bab IV I S u r a t Berharga 5.. Kerugian karena peningkatan nilai wajar surat berharga-Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. c. Beban bunga Kr. Kas/Rekening.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Beban bunga Kr..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b. Kas/Rekening./Giro BI Surat Berharga yang Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortised Cost) 1../Giro BI atau Db. Kas/Rekening. Penyesuaian nilai wajar a. Kas/Rekening. Surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Surat berharga – amortised cost Kr.. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Surat berharga ./Giro BI Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db.. Surat berharga .. d...

3. Pada saat menerbitkan Db... Beban bunga Kr.. 110 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 2. Surat berharga – amortised cost Kr.. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi penerimaan bunga Db.. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. Kas/Rekening.. Surat berharga – amortised cost Kr.. Beban bunga Kr../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b.. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Kas/Rekening./Giro BI Kr. e. c./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db./Giro BI b. Kas/Rekening.. Kas/Rekening.. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db./Giro BI atau Db./Giro BI Pada saat jatuh tempo Db... Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Pada saat menerbitkan Db../Giro BI Kr. Surat berharga – amortised cost Kr. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Beban bunga Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a.. Kas/Rekening. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Kas/Rekening. d./Giro BI atau Db..

d. Surat berharga – amortised cost Kr. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Beban bunga Kr.../Giro BI Pada saat jatuh tempo Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi premium dan biaya transaksi) Kr.Bab IV I S u r a t Berharga c... 4./Giro BI b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 111 . Kas/Rekening. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a. Pada saat menerbitkan Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan biaya transaksi) Kr./Giro BI Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr... Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Kas/Rekening. Beban bunga Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db.. c../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db. Beban bunga Kr./Giro BI atau Db./Giro BI d. Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost Kr.. Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi Db.. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. e../Kr./Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Kas/Rekening.

Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Kas/Rekening.375. 2. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 3 Desember 2010. b. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. 3. Contoh Kasus Pada tanggal 1 Desember 2010 Bank XYZ menerbitkan obligasi Rp. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. b.Bab IV I S u r a t Berharga e. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian.1. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. Pada saat jatuh tempo Db.. yaitu: a.000.000. 20. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.000 dengan kupon bunga 7../Giro BI F.000. Untuk menerbitkan obligasi dimaksud.000. 112 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020. Surat berharga – amortised cost Kr.5% pada 99. Bunga dibayarkan setiap tanggal 24 Februari dan 24 Agustus. G.

(lihat tabel) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 113 .000.Bab IV I S u r a t Berharga Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank XYZ sebesar Rp. 20.000.

705 1.000.000 1.992 156.000.969 140.000 1.407.925.443 1.975.000 1.875.633.000.000) 973.708.311.000.754 26.000 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .501 1.Bab IV I S u r a t Tabel: Surat Berharga yang Diterbitkan 114 I P e d o m a n Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) 5.478.833.403 975.571.448.116 1.000.515 989.672.223.617.000.971) 38.000.247 982.095.333 38.916.557.866.691.855) 5.461.000 1.946 980.167 1.889 1.250.005.144.948 1.586) (15.916 (20.058.000 140.267.617 40.238.659 122.741 978.078.753) (17.000 1.708.000.391.000.000.168 1.778.284 1.926.482 1.090 39.333.705) 974.709.281 39.636 (26.000.742 (24.168 1.333.783 39.000.952.781.000.000.776.583 1.222 39.408 1.258 (22.333 37.000 1.219 1.000.370.000.333 37.000.741 39.490.000.875.708.190) 39.708.038 39.000.295 5.948 1.333 37.109.133.083 1.333 37.000.750.088.047.490.000 1.552 977.000.333 38.333 37.028.029 979.000 1.145 976.734.664 986.271) (18.973.916.000.000.832.000.173) (7.798.258 1.900.000.518 39.442.000 1.107 988.000 - - 1.000.333 37.000.144.088 39.333.000 1.443 1.001.667 38.000 1.370.000.448.073.659 (25.000 31-Dec-10 - 31-Jan-11 - 24-Feb-11 - 24-Aug-11 - 24-Feb-12 - Akuntansi Perbankan Indonesia 24-Aug-12 - 24-Feb-13 - 24-Aug-13 - 24-Feb-14 - 24-Aug-14 - 24-Feb-15 - 24-Aug-15 - 24-Feb-16 - 24-Aug-16 - 24-Feb-17 - 24-Aug-17 - 24-Feb-18 - 24-Aug-18 - 24-Feb-19 - 24-Aug-19 - 24-Feb-20 - 24-Aug-20 1.171.000.000 1.538.201.333 38.000.311.333 6.000.442.298 998.702) (1.423 1.986) (3.000.000.000 1.333 37.753.500 1.591 1.284 1.166.705 1.000.597) 974.333.553 1.000.088.014 996.250.708.754) 0 39.000 37.414 984.083 39.708.364) 973.238.000.000 .636 (26.691) (5.167 38.333.485) (10.000.308.000 1.889 1.875.916 1.742 978.333 38.584.333 38.694.169.458.062) (8.000.108 122.108 (25.734.171.246.956.333.054) (19.333 37.001.000.827 992.904.893) (11.741.518 1.333.333 37.667 38.408 1.754 38.000.382.816 40.000.000 1.614.852 1.137.333 39.000.258.448) 38.408 1.058.333 38.074.862.416 1.000 1.000.603.566.708.219 (21.075 925.221.246 0 6.729 981.108 925.309 994.938 991.603.408 (23.333.504) (14.496 985.482 1.043.830.339.336) (13.832.122.694.634.000.566.000.(b) Pengakuan amortisasi dalam L/R Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e) Berharga Tanggal Kupon Pembayaran 3-Dec-10 1.333 5.810 978.333 38.783 1.890.000 1.000 1.124.000.291.708.366.776 39.000 1.000 1.339.267.000.879.708.636 156.423 1.333.

000 Rp. Pengakuan bunga./Giro BI Rp 17.969 140. 5. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.000.636 4. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Januari 2011 Db.333 Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Ilustrasi Jurnal 1.333 Rp Rp 6.122. 5. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Rp 5. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Desember 2010 Db. Kas/Rekening../Giro BI 2. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr..000 Pengakuan bunga.833.750.108 Kr. 993. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr. Pencatatan pembayaran brokerage fee tanggal 1 Desember 2010 Db.614. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost 3.291.000. 20.000 993.992 156.666 Jurnal untuk pengakuan dan pembayaran bunga serta amortisasi selanjutnya sama dengan jurnal di atas Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 115 .973.291. Kas/Rekening. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Rp 122. Pencatatan pada saat penyelesaian tanggal 3 Desember 2010 Db. Rp.. Rp.750./Giro BI Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 5.000. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.108 Kr. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.458.659 5. Kas/Rekening. Pembayaran bunga pada tanggal 24 Februari 2011 Db.000 6... Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp Kr. Rp. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 6.000 20. Pengakuan bunga.666 17. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Februari 2011 Db. Rp.. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp.

708.333 1..708. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Db. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.000 116 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Beban bunga yang masih harus dibayar ..000.088 1.708.037.000. Beban bunga yang masih harus dibayar surat berharga yang diterbitkan Kr.333 Rp Rp 39. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.surat berharga yang diterbitkan Rp 37./Giro BI Rp Rp 37.754 h) Pencatatan pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020 Db. Pencatatan amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Agustus 2020 Db.Bab IV I S u r a t Berharga 7. 1.875.584.333 Rp. Kas/Rekening.

Pasal 1 angka 11) Kredit Sindikasi (Syndication Loans) adalah kredit secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih atau perusahaan pembiayaan lainnya dengan pembagian dana. Kredit Channeling (Channeling Loan) adalah kredit yang seluruh dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan diberikan untuk sektor usaha/debitur tertentu yang ditetapkan oleh pihak penyedia dana. Penerusan Kredit adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pihak lain. Pemberian dan Penyaluran A. c. risiko. Kredit sindikasi disebut juga kredit dalam rangka pembiayaan bersama.Bab V I K r e d i t Bab V Kredit 1. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. dan bank dapat menanggung atau tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (UU No. Definisi 1. Kredit Two Step Loans (TSL) adalah kredit oleh bank yang seluruh dananya berasal dari pinjaman luar negeri yang diterima pemerintah untuk membiayai pengembangan sektor usaha tertentu sesuai perjanjian kredit antara peme- 2. Penerusan kredit dibedakan menjadi: a. Bank tidak menanggung risiko atas kredit dan untuk tugas tersebut bank menerima imbalan jasa berupa fee atau bagian dari bunga. Sumber dana dan risiko kredit yang ditanggung bank. 3. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 117 . Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Dalam hal ini bank bertindak sebagai pengelola atas seluruh kredit tersebut. ditetapkan berdasarkan perjanjian. dan pendapatan (bunga dan provisi/komisi) sesuai porsi kepesertaan masing-masing anggota sindikasi. b. Kredit Executing adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan sebagian lagi berasal dari bank.

Kredit yang Dijamin adalah kredit yang seluruh atau sebagian risikonya ditanggung oleh pemerintah/asuransi atau pihak lain.. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif..Bab V I K r e d i t rintah dan pemberi dana (lender). Dasar Pengaturan 1. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen.. (PSAK 1: Paragraf 71) 3. (PSAK 1: Paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. 6. Bank tetap menanggung risiko atas kegagalan pemberian kredit tersebut atau sesuai perjanjian. kecuali: 2. EBA (Efek Beragun Aset) adalah Instrumen keuangan yang sumber utama pembayarannya berasal dari aliran kas yang dihasilkan oleh underlying asetnya dan bukan dari kemampuan membayar dari perusahaan yang memiliki aset tersebut (originator). dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. Anjak Piutang (Factoring) adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi usaha. 5. komitmen. laporan arus kas. B.... laporan laba rugi. 7. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. Kartu Kredit (Credit Card) adalah fasilitas/kredit yang diberikan oleh bank yang penarikannya dilakukan melalui pembayaran transaksi jasa dan perdagangan serta penarikan tunai (cash advance) sampai dengan jumlah tertentu sesuai dengan batas/limit yang ditentukan oleh bank. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . 4. 118 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

I 119 . c. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 5. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas.Bab V I K r e d i t a. Namun. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut… (PSAK 55: PA39) Jika. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. piutang dagang. b. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. investasi dalam instrumen utang. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya… (PSAK 55: Paragraf 52) Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. 6.

Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. lihat juga paragraf 91)… (PSAK 55: PA 79) 12. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). konsultan. Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. … (PSAK 55: Paragraf 49) 11. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. perantara efek dan pedagang efek. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). (PSAK 55: Paragraf 8 ) 13. 9. 10.Bab V I K r e d i t kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule)… (PSAK 55: Paragraf 53) 7. (PSAK 55: Paragraf 43) 8. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. (PSAK 55: PA39) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. entitas mengukur pada nilai wajarnya. Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo)… (PSAK 55: Paragraf 8) …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. biaya pendanaan 120 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian.. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan. . nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut.

. dan (d) aset keuangan tersedia untuk dijual Keempat kategori diatas menggunakan pengukuran dan pengakuan laba atau rugi berdasarkan Pernyataan ini. (PSAK 55: PA 80) 15.. pada nilai wajarnya. maka entitas mengakui pinjaman tersebut pada nilai wajarnya.Bab V I K r e d i t (financing costs). dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. Jika entitas memberikan pinjaman dengan suku bunga diluar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk pinjaman serupa adalah 8 persen) dan menerima fee dimuka sebagai kompensasinya. (PSAK 55: Paragraf 45) 16. Entitas mengakui diskon yang terjadi pada laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). Untuk tujuan pengukuran nilai aset keuangan setelah pengakuan awal. Pernyataan ini mengklasifikasikan aset keuangan dalam empat kategori sebagaimana didefinisikan pada paragraf 8: (a) aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo (c) pinjaman yang diberikan atau piutang. yaitu nilai setelah dikurangi fee yang diterimanya. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 121 . entitas mengukur aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 46) 17. Setelah pengakuan awal. (PSAK 55: PA 26) 14. .. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. atau pelepasan lain.. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

biaya transaksi. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). Hal ini dapat terjadi apabila variabel yang terkait dengan fee. biaya transaksi. dan premium atau diskonto lainnya yang termasuk dalam perhitungan suku bunga efektif selama perkiraan umur instrumen tersebut. dan premium atau diskonto lainnya. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. dan premium atau diskonto lainnya disesuaikan dengan suku bunga pasar sebelum perkiraan jatuh tempo atas instrumen tersebut. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. (PSAK 55: Paragraf 8) 19. poin yang dibayarkan atau diterima. poin yang dibayarkan atau diterima. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. Dalam beberapa kasus. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. Namun demikian. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. atau jika lebih tepat. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). (PSAK 55: PA17) 20. Entitas harus memasukkan kerugian kredit yang terjadi tersebut dalam estimasi arus kas ketika menghitung suku bunga efektif. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. poin yang dibayarkan atau diterima. Pada saat menghitung suku bunga efektif. aset keuangan diperoleh dengan diskon yang sangat besar yang pada dasarnya mencerminkan kerugian kredit yang terjadi. periode yang lebih singkat digunakan apabila periode tersebut terkait dengan fee. dalam kasus yang jarang terjadi. Dalam 122 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Namun.Bab V I K r e d i t 18. Apabila entitas menerapkan metode suku bunga efektif. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. biaya transaksi. maka entitas tersebut biasanya mengamortisasi setiap fee. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. biaya transaksi.

Awalnya. maka biayabiaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Suatu aset diperoleh dengan harga UMU100 ditambah komisi pembelian UMU2. Pada tanggal tersebut. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Jika aset tersebut dijual. Tanggal pelaporan keuangan berikutnya terjadi sehari setelah pengakuan awal ketika harga kuotasi pasar atas aset tersebut adalah UMU100. periode amortisasi yang tepat adalah periode sampai dengan tanggal penyesuaian nilai berikutnya.Bab V I K r e d i t kasus tersebut. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang... (PSAK 55: PA20) 23. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut. aset tersebut diakui pada UMU102. aset dinilai sebesar UMU100 (tanpa memperhitungkan besarnya komisi pada saat penjualan) dan kerugian sebesar UMU2 harus diakui dalam ekuitas. komisi yang harus dibayarkan adalah UMU3. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Contoh berikut ini mengilustrasikan akuntansi untuk biaya-biaya transaksi yang terjadi saat pengukuran awal dan setelahnya untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. (PSAK 55: PA19) 22... (PSAK 55: PA82) 24. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. …Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya.(PSAK 55: PA18) 21. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 123 . maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi.

Kredit modal kerja. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). c. (PSAK 55: Paragraf 17) 27. b. jika dan hanya jika: a. persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam.Bab V I K r e d i t 25. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. b. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. d. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau kewajiban jasa pengelolaan. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. antara lain: a. aktivitas peminjaman uang atau tagihan sebesar plafon yang disepakati. (PSAK 55: Paragraf 24) C. Kredit berdasarkan pengertiannya antara lain memiliki unsur-unsur sebagai berikut: a. jangka waktu tertentu. Penjelasan 1. e. Kredit investasi. c. 2. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas (PSAK 55: Paragraf 8) 26. 124 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. pendapatan berupa bunga atau imbalan atau pembagian keuntungan. risiko. f. dan Kredit konsumsi. b. dan jaminan dan atau agunan (jika ada) Jenis kredit menurut penggunaannya.

Penggolongan ini dilakukan untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian bank (prudential regulation). kurang lancar (KL). 9. 8. diragukan (D). Cerukan (overdraft) adalah jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia pada pos giro atau penggunaan kredit yang melebihi plafon yang disetujui. 10. dan biaya lainnya sesuai dengan perjanjian kredit. kredit yang berasal dari bank garansi. Plafon adalah jumlah maksimum kredit yang diterima oleh debitur sebagaimana tercantum dalam surat perjanjian/kredit. 5. Jenis kredit berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti obyektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai terdiri dari: a. Kelonggaran tarik adalah fasilitas kredit yang masih dapat ditarik oleh debitur dari plafon yang tersedia. Pokok kredit adalah saldo kredit yang telah digunakan debitur dan belum dilunasi oleh debitur (biasa disebut sebagai baki debet). terdiri dari kredit dengan kualitas lancar (L). Kredit yang mengalami penurunan nilai. 4. dan Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 125 . Bunga cerukan adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas penggunaan kredit yang melebihi plafon yang telah ditentukan dan biasanya dinyatakan dalam persentase. kredit dalam restrukturisasi. Penggolongan kredit menurut kualitas. 6. dalam perhatian khusus (DPK). b. Bunga kredit adalah imbalan yang dibayarkan oleh debitur atas kredit yang diterimanya dan biasanya dinyatakan dalam persentase. 7.Bab V I K r e d i t 3. yaitu jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan). L/C. atau fasilitas lainnya yang tidak dapat diselesaikan (wanprestasi) dan dialihkan menjadi kredit. Kewajiban debitur adalah seluruh kewajiban debitur kepada bank berupa pokok kredit ditambah tagihan bunga. denda (penalty). serta cerukan. pembelian surat berharga debitur yang dilengkapi dengan note purchase agreement (NPA). Termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama. dan macet (M). 11. 12.

Agent: bank yang bertindak sebagai pemimpin kelompok bank peserta sindikasi atau disebut juga Bank Induk. b. Bank sebagai Participant akan menerima provisi kredit dari maksimum kredit dan commitment fee dari kredit yang belum ditarik (undrawn portion) secara proporsional dengan bank peserta lain. Berdasarkan fungsi tersebut. Provisi kredit adalah biaya yang harus dibayar debitur pada saat kredit disetujui dan biasanya dinyatakan dalam persentase. bank menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit bank menanggung sebagian atau seluruh risiko kredit. 16. b. Participant: bank yang ikut serta mendanai pemberian kredit sindikasi tersebut. b. 17. maka pendapatan provisi yang diterima bank berbedabeda bentuknya. c. bank yang terlibat dalam pemberian kredit tersebut dapat bertindak sebagai: a. a. 14. Arranger: bank yang mensponsori/memfasilitasi terbentuknya kelompok “Bank Sindikasi”. Dalam aktivitas kredit sindikasi. bertindak sebagai administrator dan menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit mengurangi kewajiban keuangannya (risiko kredit ditanggung oleh pihak ketiga). 126 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . untuk itu bank mencatat sebagai aset keuangan (executing) sebesar risiko kredit yang ditanggung.Bab V I K r e d i t 13. Commitment fee adalah biaya yang harus dibayar debitur atas bagian kredit yang belum digunakan. Dalam kredit chanelling. 15. Dalam kredit executing. Bank sebagai arranger akan menerima arranger fee. 18. bank dapat: a. sehingga bank tidak mencatat aset maupun kewajiban keuangan. c. Denda (penalty) adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas keterlambatan pembayaran pokok dan atau bunga atau kewajiban lainnya. Bank sebagai agent akan menerima agent fee dan atau management fee. selain bertindak sebagai administrator. hanya bertindak sebagai administrator terhadap kredit yang diberikan oleh pihak ketiga. tidak terdapat aliran dana masuk atau keluar melalui bank.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 127 . bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. kredit yang diberikan dengan maksud dijual kembali secara langsung atau melalui skema sekuritisasi. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. − Kredit yang pada saat diberikan/dibeli ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. 2 Dimiliki Hingga − Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Jatuh Tempo ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Kuotasi dipasar aktif. yang bukan disebabkan penurunan kualitas kredit. Piutang 3 4 20. 21. Pada saat pengakuan awal. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. − Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki hingga jatuh tempo. kredit diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah biaya transaksi. kredit yang diberikan dapat dibukukan dalam 4 kategori aset keuangan. Secara umum.Bab V I K r e d i t 19. Misalnya. Pinjaman yang Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Diberikan dan ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. yaitu: No 1 Kategori Aset Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan − Kredit yang diberikan atau dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Tersedia untuk − Kredit yang pada saat pengakuan awal ditetapkan Dijual dalam kategori Tersedia untuk Dijual − Kredit yang diberikan dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok kredit secara substansial. Penentuan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. Penjelasan mengenai reklasifikasi kredit mengacu pada Bab Penjelasan Umum mengenai Reklasifikasi Aset Keuangan.

000 5. Selanjutnya. atau 3) Analisa arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar (dapat menggunakan suku bunga yang ditawarkan bank) yang berlaku untuk kredit sejenis.000.Bab V I K r e d i t b. yaitu sebesar arus kas keluar (pokok ditambah/dikurangi biaya transaksi berupa pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dan/ atau premium atau diskonto) CF = arus kas bersih berdasarkan persyaratan kontraktual (seperti penerimaan pokok. berdasarkan nilai wajar tersebut.000 55. ABC sebesar Rp.000. Dalam pemberian fasilitas tersebut.000.000.000 49. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari aset lain yang sejenis. Suku bunga kredit sebesar 10% yang dibayarkan setiap tahun. pelunasan dipercepat.53482%.000. Suku bunga efektif (r) adalah = 10. call option dan lainnya) r = suku bunga efektif (effective interest rate) t = jangka waktu Contoh: Pada tanggal 1 Januari 2010 bank memberikan fasilitas kredit kepada PT. dapat dihitung suku bunga efektif dengan formula sebagai berikut: CF CF CF PV = ———— + ———— + · · · · + ———— (1 + r)1 (1 + r)2 (1 + r)t dimana: PV = nilai wajar yang merupakan present value dari kredit yang diberikan. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. yaitu: 5. bank menerima provisi kredit sehingga dana yang dibayarkan kepada debitur sebesar 98% dari total kredit.000 5. denda. Kredit berjangka waktu 5 tahun dan akan jatuh tempo pada 31 Desember 2014. 50 juta. 22. Nilai wajar kredit pada saat pengakuan awal adalah sebesar pokok kredit yang dicairkan oleh debitur. bunga.000 = —————— + —————— + —————— + —————— + —————— (1 + r) 1 (1 + r)2 (1 + r)3 (1 + r)4 (1 + r)5 128 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.000 5. yang berdasarkan formula tersebut di atas.

dan faktor lainnya) dan memiliki peringkat kredit yang serupa.Bab V I K r e d i t 23. d. 25. yaitu berdasarkan estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk jenis kredit serupa (dalam hal mata uang. maka nilai wajar kredit harus diestimasi menggunakan teknik penilaian. waktu penarikan dan jumlah pada setiap penarikan telah diketahui. bank harus memperhatikan secara cermat biaya transaksi yang meliputi pendapatan dan beban selain bunga (yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit) yang harus diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. Kredit dengan suku bunga tetap memiliki satu suku bunga efektif yang dihitung pada awal pemberian kredit. termasuk ketika bank memberikan keringanan suku bunga melalui restrukturisasi kredit atau melakukan revisi estimasi pembayaran atau penerimaan bunga dan pokok. Suku bunga efektif yang dihitung berdasarkan arus kas kontraktual pada dasarnya tidak dapat diubah sampai dengan seluruh kewajiban debitur dibayar lunas. c. Selanjutnya suku bunga efektif akan disesuaikan pada saat penyesuaian suku bunga berikutnya. perhitungan suku bunga efektif didasarkan pada arus kas dengan menggunakan suku bunga yang diestimasi pada awal pemberian kredit. Apabila bank memberikan kredit dengan skema bunga meningkat atau menurun (step up/down) yang sudah diketahui sejak awal (sudah diperjanjikan). Dalam menghitung suku bunga efektif. Suku bunga efektif akan berubah setiap kali dilakukan perubahan estimasi arus kas masa datang yang dihasilkan dari perubahan tingkat suku bunga. syarat-syarat. Jenis-jenis pendapatan dan beban tersebut antara lain: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 129 . Amortisasi pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dilanjutkan dengan menggunakan suku bunga efektif yang baru. Kredit dengan suku bunga mengambang. Jika bagian dari penyerahan dana kepada debitur ditujukan untuk hal selain pemberian/pembelian kredit tersebut. b. Kredit dengan suku bunga tetap dengan penyaluran secara bertahap atas jumlah plafon kredit memiliki suku bunga efektif tersendiri untuk setiap tahapan penarikan kredit kecuali pada awal pemberian kredit. Ketentuan penetapan suku bunga efektif adalah sebagai berikut: a. maka hal tersebut sudah harus diperhitungkan pada saat perhitungan awal arus kas untuk menentukan suku bunga efektif. jenis suku bunga. 24.

b. Opsi pelunasan sebelum jatuh tempo harus dievaluasi lebih lanjut apakah merupakan derivatif melekat yang memenuhi persyaratan untuk dipisahkan dari Kredit sebagai kontrak utamanya (host contract) (lebih lanjut lihat Bab mengenai Tagihan dan Kewajiban Derivatif). 26. atau Bank telah mentransfer kredit tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Jenis-jenis pendapatan dan beban yang tidak dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang antara lain: a.Bab V I K r e d i t a. 27. Jika fee/provisi kredit diterima sekaligus untuk kredit dengan penarikan secara bertahap maka fee/provisi tersebut dialokasikan secara proporsional sesuai jumlah penarikan kredit dalam setiap tahap. karena opsi tersebut menyebabkan bank tidak dapat menerima bunga secara penuh hingga jatuh tempo. karyawan atau pihak lain untuk setiap aplikasi kredit yang disetujui. Denda (penalty) yang dikenakan kepada debitur atas opsi pelunasan sebelum jatuh tempo yang tertuang dalam perjanjian kredit. 130 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c. Seluruh pendapatan dan beban yang dapat diakui sekaligus sebagaimana dimaksud pada angka 12 Perlakuan Akuntansi . dan/atau Pendapatan dan beban lainnya yang tidak dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit. antara lain fee (seperti origination fee dan commitment fee) dan provisi kredit yang tertuang dalam perjanjian kredit. tinjauan lokasi debitur (on-thespot). bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas kredit yang diberikan jika dan hanya jika: a. Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit tersebut. Dalam laporan keuangan. b. Biaya yang dikeluarkan bank dalam rangka pemberian/pembelian kredit seperti: 1) Fee atau imbalan yang dibayarkan kepada developer. Fee yang terkait dengan jangka waktu kredit. biaya appraisal dan lain-lain. dan 2) Biaya konsultan untuk notaris dan hukum. b. Denda/penalty yang dikenakan terkait dengan biaya administrasi tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. sepanjang fee/provisi tersebut secara langsung timbul pada saat pemberian/pembelian kredit (akuisisi aset).Pengakuan dan Pengukuran.

kecuali jika bank memperoleh jumlah yang setara dari kredit awalnya. Dalam hal ini: a) Jika bank tidak lagi memiliki pengendalian. Dalam hal ini: 1) Jika bank secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit. b. Terdapat pass-through-arrangement yang dipenuhi dengan 3 kondisi yaitu: 1) Bank tidak wajib membayar penerima akhir. giro pada Bank Indonesia.Bab V I K r e d i t 28. Bank hanya dapat menempatkan dana tersebut pada kas. baik dengan mentransfer hak kontraktual atau tetap memiliki hak kontraktual namun menanggung kewajiban kontraktual (passthrough arrangement). sehingga bank menentukan apakah bank masih memiliki pengendalian atas kredit tersebut. dan giro pada bank lain selama periode penyelesaian jangka pendek. maka bank mengevaluasi sejauh mana bank tetap memiliki risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. 2) Jika bank secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. Jika bank mentransfer atau mengalihkan kredit. 3) Bank berkewajiban untuk menyerahkan setiap arus kas masa datang yang ditagihnya untuk dan atas nama penerima akhir tanpa penundaan yang signifikan. dan secara terpisah mengakui sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut. penjualan kredit dengan opsi untuk membeli kembali pada nilai wajarnya saat pembelian kembali). maka bank menghentikan pengakuan kredit dan mengakui secara terpisah sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut (contoh penjualan kredit tanpa syarat. 2) Bank tidak diperkenankan menjual atau mengagunkan kredit yang ditransfer kecuali untuk menjamin hak penerima akhir untuk menerima arus kas masa datang. Kriteria penghentian pengakuan atas kredit sebagaimana dimaksud pada angka 27 b antara lain: a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 131 . yaitu antara tanggal penagihan dan tanggal pembayaran kepada penerima akhir. dan pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan tersebut (jika ada) harus diserahkan kepada penerima akhir. maka bank menghentikan pengakuan kredit tersebut.

meskipun tidak mengikuti kriteria penghentian pengakuan. Jumlah kewajiban komitmen fasilitas kredit tersebut dapat berkurang atau bertambah selama jangka waktu kredit sesuai jenis kreditnya. Pada saat penandatanganan perjanjian kredit dengan debitur. Bank masih memiliki pengendalian atas kredit yang ditransfer apabila penerima transfer tidak memiliki kemampuan praktis untuk menjual kredit yang ditransfer tersebut. bank mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan” sebesar nilai wajar. Kredit modal kerja/rekening koran akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan akan bertambah pada saat diterima setoran. kecuali untuk penerusan kredit. Pada saat pencairan kredit. maka bank tetap mengakui kredit sebesar keterlibatan berkelanjutannya dengan kredit. 2. 29. kredit modal kerja (KMK) plafon menurun atau kredit konsumsi.Bab V I K r e d i t b) Jika bank masih memiliki pengendalian. b. Kredit investasi. kredit yang dihapusbuku dapat dikeluarkan dari neraca. Terkait dengan karakteristik khusus industri perbankan. bank mengakui sebagai ”Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur” sebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwal penarikan/penggunaan kredit yang disepakati bank dengan debitur. yaitu: a. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan tetap/tidak bertambah pada saat diterima setoran. D. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan kredit yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat kredit karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari kredit. yaitu: 132 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

4. bank tidak perlu melakukan kapitalisasi atas pendapatan dan/atau beban pada biaya perolehan kredit dan dapat mengakui secara langsung sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika: a. Misalnya. Apabila bank menjadi bank induk sindikasi (agent) dan menerima transfer dana dari bank peserta sindikasi (participant bank). dan/atau biaya yang dikeluarkan bank karena debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya. Demikian juga bank peserta sindikasi tidak mengakui sebagai “Tagihan kepada bank induk”. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 133 . b. Rugi Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat pengakuan awal sama dengan harga transaksi. Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak terkait dengan jangka waktu kredit. 2 3 4 3. tetapi sebagai “Kredit yang diberikan” kepada debitur. dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit tersebut. pendapatan fee atas pengelolaan rekening debitur. Pada saat pencairan kredit. maka atas dana tersebut tidak dapat diakui sebagai “Pinjaman yang diterima dari bank peserta”. biaya talangan. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama (kredit sindikasi) diakui sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan (baik sebagai bank induk maupun sebagai bank peserta) dikurangi atau ditambah pendapatan dan/ atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembiayaan bersama tersebut.Bab V I K r e d i t No 1 Kredit dalam kategori Pencatatan pada saat pencairan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat melalui Laporan Laba pengakuan awal sama dengan harga transaksi. dan/atau Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. tetapi langsung dikreditkan ke pos giro debitur di bank induk (escrow account). yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan.

Dalam hal bank memberikan kredit berdasarkan perjanjian penerusan kredit (channeling) atau kredit kelolaan. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. yaitu nilai wajar kredit yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan pokok. b. Setelah pencairan kredit. Selanjutnya. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas.Bab V I K r e d i t 5. apabila bank menanggung risiko maka bank mengakuinya sebagai “Kredit yang diberikan” sebesar risiko yang ditanggung. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui secara langsung dalam ekuitas 6. 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). tetapi mengungkapkannya pada catatan atas laporan keuangan sebagai penerusan kredit. 7. bank mencatat kredit yang diberikan sebagai berikut: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 Tersedia untuk Dijual Pencatatan setelah pencairan Sebesar nilai wajar. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui pada laporan laba rugi Sebesar nilai wajar. Namun. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. 134 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank tidak diperkenankan mengakui sebagai “Kredit yang diberikan”. Untuk kredit dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. ditambah atau dikurangi dengan amordan Piutang tisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

dan/atau memberikan/membeli kredit secara diskonto atau premium. memberikan kredit dengan suku bunga di luar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk kredit sejenis adalah 8 persen). menerima pendapatan (di luar bunga) dan/atau mengeluarkan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit tersebut. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. b. namun harus diamortisasi selama masa manfaat kredit dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premium atau diskonto. Reklasifikasi kredit diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi.Bab V I K r e d i t Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. harus diakui sebagai berikut: a. Dalam menentukan suku bunga pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. misalnya base lending rate ditambah risk premium dan profit margin untuk kredit sejenis. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 135 . 8. nilai tercatat (carrying amount) pada saat pengakuan awal dapat berbeda dengan nilai kredit yang akan diperoleh pada saat jatuh tempo. Untuk kredit yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari kredit dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b. Selanjutnya. yaitu jika bank: a. bank dapat menggunakan suku bunga acuan yang berlaku di bank. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. c. 9.

Bab V I K r e d i t 10.000. Selisih antara nilai tercatat kredit (yang merupakan biaya perolehan diamortisasi) dengan nilai kredit yang akan diterima pada saat jatuh tempo kredit diamortisasi selama periode berjalan menggunakan metode suku bunga efektif.000.000 (5% x 100. 11.000) dianggap tidak material. .000. Tingkat materialitas ditetapkan secara agregat dengan membandingkan total biaya transaksi dengan laba sebelum pajak. 5. 12. misalnya kredit yang bersifat revolving. Bank dapat menggunakan metode garis lurus dalam melakukan amortisasi untuk: a. Dalam hal bank mengalami kerugian.000. dan/atau 3) diskonto atau premium atas pemberian/pembelian kredit.000. kredit dengan skedul penarikan dan pembayaran (arus kas) yang sulit diprediksi. Total biaya transaksi secara agregat ini merupakan batas maksimal dari akumulasi biaya transaksi individual yang dianggap tidak material. Bank dapat tidak melakukan amortisasi atas pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit dan mengakui sekaligus sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika besarnya pendapatan dan biaya transaksi tersebut tidak material. dan besarnya: 1) pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. Penghentian pengakuan kredit a. pinjaman rekening koran. Bank harus menetapkan tingkat materialitas dan mendokumentasikan dalam kebijakan akuntansi. material.000. Sebagai contoh. Dalam hal hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit yang diberikan telah berakhir dan/atau bank telah mentransfer keseluruhan kredit yang 136 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia b.000. 14. 13. 100. dan kartu kredit. 2) perbedaan suku bunga kredit yang diberikan dan suku bunga pasar atas kredit sejenis. Tingkat materialitas secara individu ditetapkan oleh manajemen dengan berdasarkan kepada estimasi angka agregat. Total biaya transaksi sebesar 5% atau kurang dari rata-rata laba sebelum pajak selama 3 tahun terakhir dianggap tidak material. apabila bank memiliki laba sebelum pajak sebesar Rp. laba sebelum pajak menggunakan rata-rata 3 tahun terakhir sebelum bank mengalami kerugian untuk menentukan tingkat materialitas secara agregat. maka biaya transaksi secara agregat sebesar Rp.

Bab V I K r e d i t b. maka bank tidak lagi mengakui bagian kredit tersebut sebagai ”Kredit yang diberikan” dan nilai tercatat sebelumnya (nilai wajar atau biaya perolehan diamortisasi) dari keseluruhan kredit harus dialokasikan pada bagian yang tetap diakui dan bagian yang telah dihentikan pengakuannya berdasarkan nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal transfer. Kredit yang dijamin disajikan berdasarkan kredit yang disalurkan bank. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas kredit yang diberikan. maka bank tidak lagi mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan”. 2. dan (ii) jumlah dari pembayaran yang diterima atas bagian kredit yang ditranfer tersebut ditambah/dikurangi keuntungan/kerugian kumulatif atas bagian kredit tersebut yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. selisih antara (i) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian kredit yang ditransfer. yaitu nilai wajar kredit yang Pinjaman yang Diberikan dan diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Dalam hal bank telah mentransfer sebagian kredit yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Kredit disajikan di neraca sesuai kategori. Kredit sindikasi disajikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank. ditambah atau dikurangi Piutang dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 3. termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. yaitu: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 3 4 Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Penyajian pada neraca Sebesar nilai wajar. Selanjutnya. memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 137 . diakui pada laporan laba rugi. Penyajian 1.

Kewajiban komitmen . Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi a. Kas/Rekening…/Giro BI 138 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kredit kelolaan disajikan pada pos kredit yang diberikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. Kredit .fasilitas kredit yang belum digunakan b. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. pendapatan bunga dari kredit yang tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang yang dibuat pada saat pengakuan awal kredit atau pada penyesuaian suku bunga kredit dicatat pada rekening administratif.amortised cost Kr. disajikan sebagai tagihan bunga kredit atau pendapatan bunga kredit yang akan diterima. Sementara itu.amortised cost atau Kr.amortised cost Kr. 5. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Rekening lawan . Pada saat pencairan kredit kepada debitur Db. Kredit . Pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Pendapatan bunga (Apabila nilai provisi kredit yang diterima tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. E Ilustrasi Jurnal 1.Bab V I K r e d i t 4. Pendapatan bunga dari kredit (yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang pada saat pengakuan awal kredit atau pada saat penyesuaian suku bunga kredit) yang telah diakui sebagai pendapatan tetapi belum diterima pembayarannya.

Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Kewajiban komitmen . Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Db. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Kredit . Db./Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. d.amortised cost Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kredit .amortised cost Pendapatan bunga kredit Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 139 . Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rekening lawan . Kr.

Tagihan biaya .biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db. Tagihan klaim asuransi Kr. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Kas/Rekening. Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr. agent/management fee dan provisi kredit sindikasi dari debitur 1) Arranger fee Db. Tagihan klaim asuransi 2. Nasabah notaris/perusahaan asuransi f. Tagihan biaya . Pada saat menerima pembayaran arranger fee. Giro BI (berdasarkan porsi bank lain yang menjadi wakil agent) 140 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db.. Pendapatan agent/management fee kredit sindikasi Kr.Bab V I K r e d i t e./Giro BI Kr.. Pendapatan arranger fee kredit sindikasi 2) Agent/management fee Db.amortised cost .hasil klaim asuransi h. Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat menerima klaim asuransi dari perusahaan asuransi Db. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai Bank Induk/ agent/lead manager a. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.biaya kredit g. premi asuransi barang agunan) Db. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

c Pada saat menerima setoran dari debitur dicatat sama dengan butir 1. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 141 . premi asuransi barang agunan). dicatat sama dengan butir 1. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank induk) Kr. Pada saat melakukan amortisasi dan perhitungan dan pembebanan bunga kredit sindikasi yang besarnya sesuai dengan porsi kredit bank bersangkutan. Kewajiban komitmen . Kredit sindikasi-bank induk (berdasarkan porsi bank tersebut) Kr. Rekening lawan . Rekening escrow debitur 2) Penerimaan dana dari bank peserta Db. d dengan tambahan jurnal untuk penerimaan bunga dan pokok porsi bank peserta Db.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Pada saat meneruskan penerimaan bunga dan atau pokok kredit sindikasi porsi bank peserta Db. dicatat sama dengan butir 1. Rekening perantara kredit sindikasi f.kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur Kr. Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit (berdasarkan porsi bank tersebut) Db. Rekening escrow debitur d. e dengan asumsi penagihan kepada debitur dilakukan oleh bank induk sindikasi e. Pada saat pencairan kredit kepada debitur 1) Penyediaan dana oleh bank induk Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t 3) Provisi kredit Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. Giro BI (berdasarkan porsi bank peserta) b. Kas/Rekening…/Giro BI g. Giro BI/Bank peserta Kr.

maka Bank tidak menerima provisi kredit (debitur tidak membayar provisi kredit). 142 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai bank peserta (Participant Bank) Pada prinsipnya akuntansi pada bank peserta kredit sindikasi sama dengan akuntansi Kredit. Kas/Rekening…/Giro BI 3. bunga dan biaya) oleh debitur dibukukan melalui bank induk/agent dan bank peserta akan menerima transfer dana pembayaran (pokok. dengan perbedaan: a. Penerusan kredit tanpa risiko a. 4. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. pada umumnya penarikan kredit oleh debitur dilakukan melalui bank induk/agent dan bank peserta harus memindahkan (transfer) dana atau kredit yang akan ditarik kepada bank induk/ agent. Pembayaran kredit (pokok. Penarikan kredit oleh debitur pada hakekatnya dilakukan sesuai dengan perjanjian kredit sindikasi. Bank menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan 1) Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. Pada saat menerima commitment fee atas bagian kredit yang belum ditarik (undrawn portion) oleh debitur Db. Rekening perantara kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank peserta) i.Bab V I K r e d i t h. Dana untuk penyaluran kredit (rekening penampungan dana sementara) 2) Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur Karena risiko kredit ditanggung penyedia dana. bunga dan biaya) dari bank induk/agent. Namun demikian. b. Pendapatan commitment fee kredit (berdasarkan porsi bank bersangkutan) Kr. Pada saat meneruskan pembayaran commitment fee kredit sindikasi porsi bank peserta Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

Setoran pokok kredit channeling 7) Pada saat menyelesaikan pembayaran bunga dan atau pokok kredit setelah dikurangi dengan fee penerusan kredit kepada penyedia dana Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kewajiban lain . Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 143 . Pendapatan fee penerusan kredit Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Setoran bunga kredit channeling Db.Setoran bunga kredit channeling Bersamaan dengan itu. Kewajiban lain . Dana untuk penyaluran kredit (rekening sementara) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 8) Apabila fee harus ditagihkan kepada penyedia dana a) Pada saat menagih Db. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 6) Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db.Setoran pokok kredit channeling Kr. 3) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Pendapatan fee penerusan kredit b) Pada saat menerima fee kredit channeling dari penyedia dana Db. Kewajiban lain .Bab V I K r e d i t Tidak mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan. Kewajiban lain . Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat pada extracomptable rekening penerusan kredit 4) Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur dicatat pada extracomptable 5) Pada saat menerima pembayaran bunga kredit dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur. c. bank hanya diminta mengadministrasikannya. Kewajiban lain .Bab V I K r e d i t b. Pada saat penerimaan pendapatan bunga dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit kelolaan yang akan diterima (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. Bank tidak menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan. Penarikan kredit sudah dilakukan oleh debitur langsung ke penyedia dana. Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur (1) Untuk dana yang berasal dari bank sama. d. 2) Tata cara pembukuan lainnya sama seperti apabila bank menerima dana dari penyedia dana. e. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat extracomptable kredit kelolaan yang dananya berasal dari penyedia dana. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) Db. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 144 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. (2) Untuk dana yang berasal dari penyedia dana dicatat pada extracomptable. 5. Karena sebagian risiko kredit ditanggung bank. maka bank mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan berdasarkan porsi yang ditanggung bank. Kredit kelolaan (sebesar dana yang ditanggung oleh bank) Kr. dicatat sama dengan butir 1. c. 1) Pada saat menerima perintah untuk membukukan bukti penarikan kredit dicatat pada extracomptable. Kredit kelolaan a.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Bersamaan dengan itu. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) b.

8. b. Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Kr. Kredit kelolaan (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. Kredit dengan Penjaminan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku.. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 145 . Giro BI/rekening pihak penyedia dana g. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t f.Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Pada saat transfer setoran pokok dan atau bunga kepada penyedia dana Db.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Db. Kredit Two Steps Loan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. 7. Kewajiban lain . Kredit Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kas/Rekening. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang. Kr./Giro BI Db/Kr. Kredit . Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db.. Pendapatan bunga (sebesar provisi/komisi/diskonto yang diterima) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 6. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar Db. Pendapatan bunga kredit c. Kewajiban lain .

Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db.Tersedia untuk Dijual Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan b. Kredit . Kredit Tersedia untuk Dijual a. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai Kredit Tersedia untuk Dijual 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi d.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kredit . Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.Tersedia untuk Dijual Kr. Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 146 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit . Pada saat menjual kredit Db. Kewajiban komitmen . Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya Db/Kr.Bab V I K r e d i t 2) Sebesar setoran bunga debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 9.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi e. Rekening lawan . Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Tersedia untuk Dijual atau Kr. Pendapatan bunga (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Keuntungan (kerugian) karena peningkatan (penurunan) nilai wajar (MTM) Kredit .

d. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit dicatat Db. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Kewajiban komitmen . Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Db.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit .Tersedia untuk Dijual Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 147 . Rekening lawan . Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Kredit . Dalam hal tidak terdapat ketentuan yang mengatur.Tersedia untuk Dijual Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pendapatan bunga kredit Db/Kr. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan manajemen masing-masing bank. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.

Kredit – Tersedia untuk Dijual Kr. Pada saat menjual kredit Db.Pendapatan komprehensif lain Kr/Db. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris. Kas/Rekening…/Giro BI f. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Kas/Rekening …/Giro BI Kr.Tersedia untuk Dijual Db/Kr. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Kr.Bab V I K r e d i t e. Kas/Rekening …/Giro BI Kredit .hasil klaim asuransi h. Db. Tagihan klaim asuransi i. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 148 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Ekuitas . Tagihan biaya-biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr. Kas/Rekening …/Giro BI Kr. Ekuitas . Kredit – Tersedia untuk Dijual j. Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db.Pendapatan komprehensif lain Penurunan nilai wajar Db. Kr. Mencatat penerimaan klaim asuransi dari perusahaan asuransi. premi asuransi barang agunan) Db. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya (dihitung dari selisih antara nilai tercatat dengan harga pasar) Peningkatan nilai wajar Db. Tagihan biaya-biaya kredit g. Kredit . Tagihan klaim asuransi Kr.

Asumsi penetapan nilai wajar kredit (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran kredit) dan agunan. b. b. Pengalihan kredit yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh kredit. c. yaitu: a. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting. c. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kredit dalam penyusunan laporan keuangan. 6. Jumlah kredit yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). F. 4. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Tersedia untuk Dijual. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Jurnal kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dilakukan sebagaimana kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan kredit yang masih tetap berada di bank. b. 3. Kategorisasi dan nilai tercatat kredit. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 5. d. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Jenis kredit. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 2. b. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate).Bab V I K r e d i t 10. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 149 . termasuk namun tidak terbatas pada: a. Perubahan nilai wajar atas kredit yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan perkreditan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. dengan rincian berikut: a.

kebijakan. 7. Tujuan. consumer loans. d. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. yang meliputi: 150 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan dan credit derivative). Informasi mengenai kualitas kredit diluar kredit yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. dan pihak penjual proteksi kredit dalam transaksi credit derivative). Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. jika bank tetap mengakui seluruh bagian kredit. c. Pengungkapan kuantitatif 9. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas perkreditan sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. dan nilai tercatat kewajiban terkait. Analisis tersebut mencakup: a.Bab V I K r e d i t c. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur kredit sebagaimana pada butir a) di atas. commercial loans. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko kredit pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. jika bank tetap mengakui sebagian kredit sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). Pengungkapan kualitatif 8. b. Total nilai tercatat kredit awal yang dialihkan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko kredit dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). nilai tercatat kredit yang tetap diakui bank. dan sebagainya). Nilai tercatat kredit dan kewajiban terkait.

(c) Jumlah ekposur kredit yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. (c) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah penerusan kredit (channeling loan/kredit kelolaan).Bab V I K r e d i t 1) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. mata uang. 5) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas kredit. 3) Tipe/jenis debitur. 12. maka pengungkapan mencakup: (a) Proses pemeringkatan internal. 4) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate). (d) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. (b) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat internal. berdasarkan jangka waktu. Jumlah kredit kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 2) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 151 . Nilai tercatat kredit yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. dan tingkat bunga kredit yang dihitung secara rata-rata. maka pengungkapan mencakup: (a) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat. (b) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. 13. d. 10. Jumlah kredit berdasarkan segmentasi. 11. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. antara lain sektor ekonomi dan geografi.

000. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000 = (Rp. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. 35.000. 14.000.20.Rp.000 + Rp.000. 35. Lihat Tabel 1: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost dan Tabel 2: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja. Asumsi: − Debitur memenuhi seluruh kewajibannya (lancar).500.520. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.500.000.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. 14.000 . Berdasarkan data di atas. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.500. 14.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1.1 % atau Rp.25%/bulan 0.000/bulan.000. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga tetap) Pada tanggal 1 Januari 2010.500.000.500. 20.14. 14.Bab V I K r e d i t G.000). Contoh Kasus 1. − Suku bunga kredit sama dengan suku bunga pasar. 152 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

655.250.602) (1.124) (1.179) 14.000 14.515.500.630.324.446.856) (1.948 14.948 14.250.423.503.595.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.411.615.000 14.250.826.000 5 30-Apr-10 181.250.500.000 3 28-Feb-10 181.501.250.000) (1.058 14.000) (181.250.574.000) 179.508.250.250.876 (181.627.289.821 14.508.123 14.468.000 4 30-Mar-10 181.627.910.000 10 30-Sep-10 181.979 14.489.517.627 14.123 14.250.000 6 31-May-10 181.505.512.084 (181.398 (181.250.250.079) (1.282 14.000 7 30-Jun-10 181.679 (181.921 179.511.532.250.821 (181.515.500.655.289.979 14.826.000) 2 31-Jan-10 181.614.999.821 14.507.000 13 31-Dec-10 14.000) (181.517.513.518.505.520.717.250.250.512.501.221 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (14.905 14.098 (14.000) (181.738.910.172.321) (1.681.104 (181.553.431 179.000.594.221) 179.250.000 9 31-Aug-10 181.905 14.008 14.058 14.627 14.221 179.000 8 31-Jul-10 181.250.513.000 11 31-Oct-10 181.999.Tabel 1 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F 14.518.250.250.000) 179.000) 179.503.826.884 14.250.803.237% (Original Effective Interest Rate/EIR) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Keterangan p = pokok Trx = transaksi i = suku bunga kontraktual Bab V I K r e d i t I 153 .250.635.411.896) 179.000) 179.520.000) (1.902) (1.334) (1.779 179.781.510.510.250.000) (1.904.696.655.008 14.000) (1.884 14.666 (181.760.250.904.654.569) (1.000) (181.000 12 30-Nov-10 181.630.282 14.520.144 179.507.172.916) 179.000) (181.250.634.324.250.500.675.

500.250.500.000.000.250.500.000) 81.000.000) 14.500.500.Tabel 2 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 14.250.000 14.000) (181.000.500.000.000 31-Oct-10 14.500.250.000.500.000 14.000 14.250.500.250.500.000 14.000.000) (181.000 31-Jul-10 14.250.000.000) (181.000) (181.000 14.250.250.000 31-Aug-10 14.000.250.500.500.500.000.000.250.000) .000.500.000 (14.000.000.000 31-May-10 14.000 14.500.500.000 30-Jun-10 14.000.500.000.500.500.000.250.000.000 (181.000 14.250.250.000 14.000 81.000 81.000 14.500.250.000 14.500.000 30-Sep-10 14.000.500.000.000.000 81.500.500.000 81.500.000 14.000.500.000 30-Apr-10 14.500.000) (181.000.000 (181.000 81.000) (181.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 30-Mar-10 14.500.500.500.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akrual Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 154 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.000 14.000.500.000 81.500.000.000.000.000 14.000.000.250.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000 14.000 28-Feb-10 14.000 (181.500.000) 81.250.000.000) (181.000 81.250.000 14.000.000) (181.000 (181.250.000.500.000 14.000 81.500.000 14.500.000.000.250.000 81.250.000.250.250.250.000 14.000 14.000 14.000) 81.000 31-Dec-10 14.000.000 14.000.000 30-Nov-10 14.500.

Bab V I K r e d i t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 155 .

000 181. 5) Pada saat pelunasan pokok kepada debitur Db.000 Jurnal transaksi untuk no.amortised cost Rp.250.250.250.. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.779 181. Pendapatan bunga kredit Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kr.000 181.000 14.amortised cost Rp.595.000 20. Kas/Rekening. Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Rp. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.654.000. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000 1.000 1.amortised cost Rp. Kredit . Rp.821 181.826. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250.250.000 20.500. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 156 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 20. Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.500. Rp. Rp. Kredit . Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000 20. Tanggal 31 Desember 2010. Kredit .221 179. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 3 sd 12 sama dengan transaksi no./Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.250.000 181. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kr. Pendapatan bunga kredit Rp.000 14.423. Kr. 2.000.179 179. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. 181. c..000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 157 .14. Berdasarkan data di atas.000. 1 Juli 2010. 35.000/bulan.Bab V I K r e d i t 2.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. suku bunga berubah menjadi 1.25%/bulan 0. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga mengambang) Pada tanggal 1 Januari 2010. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. 35. 14.000 .000.000).000.5%/bulan.1 % atau Rp. 14. 20.000 = (Rp.500.500.500.Rp. Lihat Tabel 3 sampai dengan Tabel 6. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. 14.000.500.35%/bulan pada tanggal 31 Juli 2010.000.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp. 14.520.500.000.000. Asumsi: − − Pada tanggal 1 Januari 2010 diasumsikan bahwa suku bunga diprediksikan akan meningkat menjadi 1. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.20.000 + Rp.

604.373) (9.623 (181.250.35%/bulan) Bab V I K r e d i t 158 I P e d o m a n No C 14.230 14.631.250.518.736.332.352.000 8 31-Jul-10 195.397 14.000.437.299 (181.444.000) (195.230 14.548.750.000) 5.450.408.000) (195.000) (195.536.520.079 14.250.250.250.903 sub total 14.573 (14.000 12 30-Nov-10 195.456 (181.Tabel 3: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (asumsi pada 1 Januari 2010 suku bunga diprediksikan akan meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.527.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.627 186.881.456 14.332.250.844.000 7 30-Jun-10 181.352.154.000 5 30-Apr-10 181.759 14.750.000 11 31-Oct-10 195.531.000) 186.262.664) (8.456 D E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.029.000) (195.107.079 14.689.509.852.542.000) 186.000 9 31-Aug-10 195.637 (181.525.520.903 14.623 186.750.262.202 14.750.401 14.542.437.591.680 (181.000) 5.841.000 10 30-Sep-10 195.770.208 186.336 187.381.506 5.000) (195.750.299 33.202 (8.750.250.637 5.720.527.801.000) 186.000 4 30-Mar-10 181.553.500.750.774 4.948.250.506 (181.750.000 13 31-Dec-10 14.759 14.536.250.408.548.986.250.566 14.695.518.000) 2 31-Jan-10 181.545.000) 186.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.285% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .750.914.973 186.060.500.509.545.553.792) (9.456 14.202 Tahun Expected Cashflow Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dgn EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit A B 1 1-Jan-10 (14.700.145.027 186.881.250.852.680 5.154.972) (8.835.750.663.536.000 3 28-Feb-10 181.344.844.262.913.520.500.107.973) 14.028 (195.401 14.487.397 14.973 0 186.000) 5.000) 186.536.525.531.750.750.427) (9.250.566 14.444.000 14.774 14.

500.500.000.000 14.000.000 (181.500.250.250.000 14.000.000 31-Jul-10 14.500.000 14.500.000.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000 14.000.500.000.500.Tabel 4 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 195.000) 181.000 14.500.500.000 (181.000 14.500.000.000 14.250.500.000 (181.000 30-Apr-10 14.000.000 14.000 14.000 14.000 14.000 31-Oct-10 14.500.750.000.750.000.000.500.000.000.500.500.750.000.500.000) 195.000) 14.250.250.000.000) sub total 14.750.500.000 195.000.000.000.500.750.000.500.500.000 (14.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-10 14.000) (195.250.750.750.250.000 30-Sep-10 14.000 (181.000 30-Nov-10 14.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.750.000.000 14.000 30-Jun-10 14.000 31-May-10 14.500.000.500.500.000 (181.000.000.000.500.000.000.000.750.000) (195.500.000 195.500.000 31-Aug-10 14.500.000.000.000.750.000.500.500.000.750.250.000 28-Feb-10 14.250.000 181.000.500.500.000) (181.000 14.500.000) (195.500.000.000 14.250.000 Bab V I K r e d i t I 159 .000 14.500.000) 181.000.000.000.000) (195.000 14.000 181.250.500.000 195.000 195.000 (195.000 14.000) (195.500.750.000 14.000 14.000 30-Mar-10 14.000.000) 181.500.000 181.250.000) 14.000 14.

250.332.520.536.631.299 186.000 11 31-Oct-10 217.000) 208.500.250.623 5.690 Suku Bunga Efektif Baru 1.107.516) (9.527.000) (217.000) (181.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.506 5.657.000 7 30-Jun-10 181.500.500.497.680 5.405.000) (217.456 14.500.827 (14.250.000) (217.759 14.250.542.500.000) (217.306 208.5%/bulan) Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F (181.332.536.334.500.000) (181.680) (8.250.903 14.250.852.545.531.536.484 208.000) (217.525.551 (217.509.881.509.000) (181.553.000 12 30-Nov-10 217.770.518.450.456 14.000) (181.844.500.500.718.500.000) sub total 14.250.903 186.405.43% 208.296.456 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.000 13 31-Dec-10 14.202 14.700.506 186.250.285% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .000 5 30-Apr-10 181.000 14.680 186.444.344.863 14.461.186.165.000 4 30-Mar-10 181.500.461.520.079 14.310 208.456 14.202 (8.548.690 0 5.497.397 14.781.545.397 14.250.173) (9.073 14.444.623 186.518.690) 14.500.852.548.736.299 33.107.000 8 31-Jul-10 217.542.694) (9.881.379 14.250.525.500.637 186.913.186.759 14.841.079 14.527.531.753 14.863 14.073 14.500.592.000.379 14.753 14.250.637 5.000) 2 31-Jan-10 181.320 208.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.250.203.000 14.035.907.520.Bab V I K r e d i t Tabel 5 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (suku bunga meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.000 3 28-Feb-10 181.500.844.536.296.296.842.449) (8.500.717.000) (181.663.000) 5.381.000 9 31-Aug-10 217.202 Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dengen EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit 160 I P e d o m a n No C Tahun Expected Cashflow A B 1 1-Jan-10 (14.500.553.000 10 30-Sep-10 217.520.986.464.591.

000 217.000) (217.500.000 217.500.500.000 31-Jul-10 14.000.500.500.250.000.000 14.250.000 30-Sep-10 14.000 14.000 28-Feb-10 14.250.250.500.500.000 sub total 14.000.000 (181.500.000 (181.500.500.000.500.500.000 30-Mar-10 14.500.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000.000.000 17.000 (217.000 31-Oct-10 14.000 14.500.000.000.500.000 (181.250.000) 14.000) 14.000 14.000.500.000 14.250.000 14.000 (181.250.000.500.000.000 14.500.500.500.000.500.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.000 17.000.000.000 30-Apr-10 14.500.000) (217.250.000) 81.000 14.000.000) 181.000.000 (181.000 181.000) (217.500.500.000.500.000.000 17.250.250.500.000 14.000 14.500.000 30-Nov-09 14.500.000.250.000) 17.000 14.500.000 14.000.500.500.500.000.500.500.000.000 14.000.000.000 14.000 14.000 Bab V I K r e d i t I 161 .000 14.000.000 14.500.500.000.500.500.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-09 14.250.500.000.000.500.000.000.000.000.000.000.000.000) 181.Tabel 6: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.500.000) (217.000 31-May-10 14.500.500.000 31-Aug-10 14.500.000 14.500.000) 181.000 14.500.500.000 (14.500.500.000) 81.000) (217.000.000 (181.000 30-Jun-10 14.000.500.000 14.000.

000./Giro BI Kr.000. Rp.000 b. 20.000 Kr..amortised cost Kr. Tanggal 31 Januari 2010. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 20. 14. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.. Kas/Rekening. Rp.000.500.000 14./Giro BI Kr.. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.500.500.500. Rp. Kredit . Rp. Tanggal 1 Januari 2010.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000 14. Kredit . Rp.500. Kas/Rekening. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif.. Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kas/Rekening. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 20.000 35.500.500.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Rp.000. Rp. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.000. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Kas/Rekening.000 14.000 14. 14.. 14.000.000 35.. Db. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000 Rp.500.amortised cost Kr.000 20.000.000. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr../Giro BI Rp. Rp. Kredit . 14.000 162 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Kr. 3 sampai dengan no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.449 208. Pendapatan bunga kredit Rp.000 20. pada saat terjadi penyesuaian suku bunga mengambang.000 8.250. Kr. Kr.000 217. Rp.456 181.500. 9 sampai dengan no. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.. Db. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. 7 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 5. 20. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 8.381. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Rp./Giro BI Kr.631.842. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000 217. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.551 217. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 20. Kas/Rekening. 2. 12 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no.456 186..amortised cost Rp. Kr. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. 181.000 Jurnal untuk transaksi no.657. Kredit .000 181.500. c. Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.amortised cost Rp.500.250. Kredit . Tanggal 31 Juli 2010. Pendapatan bunga kredit Rp. Rp.000 20.250. Jurnal untuk transaksi no. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 163 . dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.

203. Rp. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp. Kr.500.000 14.296.000. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000.. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Kr. Kr.000 14.. Kas/Rekening. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 164 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 20.Bab V I K r e d i t d.500.amortised cost Rp.690 208.000 217.500. Rp.500. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Rp. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit Rp. Tanggal 31 Desember 2010.000 20. Kredit .500. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db./Giro BI Kr. Kr.000 9.310 217. Kredit .amortised cost Rp.000 217. 20.

Rp. Bank XYZ memberikan kredit kepada debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. Rp. 100.000 = (Rp.000.000.000.000 25. 25.000.Bab V I K r e d i t 3.000.000.25%/bulan 0.000.000. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit investasi) Pada tanggal 1 Januari 2010. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.1 % atau Rp. 15. 20. Rp. 20. Rp.000 25.000.000 25.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000/bulan.20.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000 Semester I 2010 Semester II 2010 Semester I 2011 Semester II 2011 Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. 100.000.100. Berdasarkan data di atas. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. 100.000). Lihat Tabel 7 dan Tabel 8.Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 165 .000 + Rp.000. 99.000.000.000.000 .000.000.920.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.000.000.000.

000) (625.702 313.710.945.158 1.995.537 941.000.719.250.500.101 1.312.413 3.500.255.855 (25.071.940.000.107.000.980.000 625.716 1.050 99.163 74.776 74.958.991.000) (625.302.423.814.107.000 25.898 74.846.998.930.250.197 49.772 3.000 625.970.000.000.992.000.000 312.250.250.441.255.819 313.995.000 25.213.658 99.849.000.000.044.172.413 941.000) (937.044.062.552.000.145 (1.988.026.998.172.941.000.367 24.994.000) (1.624 1.000.744.459.306.250.046 24.000) (312.000 937.797 99.935.954.145 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.950.406.306.344 24.000) (312.703.611.954.978.350 49.923.250.543.710.000) (1.997.401.000) (25.958.502.500.674 99.000) 1.000 26.898 74.950.935.500.500.974.046 24.500.500.737.903 627.000.632.000.737.367 24.000.000) (1.000) (937.543.000.379 627.158 313.622.000.625.000.744.250.000.017 24.000 1.772 941.940.034 4.000.620.237.196.000 1.000 312.362 49.250.547 74.970.702 1.984 1.985.500.790.677.982.924.237.960 74.000 1.000.017 24.447 49.982.640.000) (25.000 937.814.500.982.962.632.000.520.846.997.624 5.716 313.930.163 74.849.974.994.888.000) (937.000.980.Tabel 7: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi – Amortised Cost Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Angsuran Pokok F Tagihan Bunga G=pxi Amortisasi dengan EIR H=E-G 166 I P e d o m a n (25.977.379 2.372.937.250.197 49.500.000 99.000.825.000 99.790.101 5.000 1.677.000) (625.819 1.500.421.000) (625.797 99.122.288 2.050 1.666 4.920.250.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .250.050 5.000 625.626 74.500.502.000) (625.855 0 Tahun Akuntansi Perbankan Indonesia No Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 B 1-Jan-10 31-Jan-10 28-Feb-10 31-Mar-10 30-Apr-10 31-May-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Aug-10 30-Sep-10 31-Oct-10 30-Nov-10 31-Dec-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-May-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Aug-11 30-Sep-11 31-Oct-11 30-Nov-11 31-Dec-11 Estimasi Arus Kas C (99.062.350 49.344 24.810 1.000.000) (937.620.000) (312.250.000.166 627.000 937.230 627.000.984 5.525 24.729 49.903 2.985.810 313.825.255.960 74.779.626 74.658 99.447 49.034 941.500.230 2.571.592 49.855 2.500.000 312.000) (937.134.635 1.000) (1.537 4.026.000.966.000 625.134.000) (312.050 99.552.878 941.855 627.000.500.592 49.000 25.254.000.500.982.000.388.000 937.970.000.666 941.000.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.196.977.020.288 627.478.139 5.779.255.920.000 937.000) (625.000) (312.906.729 49.921.719.872.651 24.500.982.000 312.924.000.000 312.500.401.521.000) (312.255.959.000.640.992.166 2.525 24.000 625.776 74.966.213.000) 99.000.470.500.945.139 1.521.988.362 49.500.703.500.878 3.651 24.958.000) (1.000) 1.962.000) 4.302.500.674 99.958.611.635 313.547 74.000) (937.991.500.500.982.920.

000 .500.000.000.000.000.000) 1.000.000 28-Feb-11 50.000 312.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000 28-Feb-10 100.500.000 Bab V I K r e d i t 30-Nov-11 25.000 75.000.000 (937.000 25.000) 25.000) 1.000.000.000.000.000) (625.000.000 937.000.000.000.000.000.000.000.000.000 50.000.000 50.000.000) (312.000.000 50.000.000.000 75.000.500.000.250.000.000.000 (25.000.500.000 31-Mar-10 100.000.000) (625.000.250.000 31-Jul-11 25.000.000 50.000.000.000.000.000.250.000.000.000 625.000.000.000.000.000 (1.000.000.250.000 30-Sep-11 25.000.000 75.500.000.000.000.500.000.000) (937.000.000.000.000 (25.000 50.000 75.000.000.000.000.250.000) 1.000.500.000.000.000 75.000) 1.000 30-Apr-10 100.000 625.000 31-Aug-10 75.000.000) (625.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Oct-11 25.000 25.000) 75.000) (937.000.000) (312.000.000 31-Dec-10 75.000 100.000 25.000.000) 937.000.000.000.000 (1.000.000) M=K+L 100.000 25.000 25.000 1.000.000) (625.500.000.000.000) (937.000 I 167 31-Dec-11 25.000) (312.000.000.000) (312.000.000.000 75.000.000 25.000.000 937.000 625.000.000.000.000.000.000.000.000 75.000.000 31-Jul-10 75.500.000) (937.000) 50.000 50.000.000.000 75.000.000.000.000.000 625.250.000.000.000.250.000 31-Oct-10 75.000.000.000.500.000.000.250.000.500.000.000.000.000.000.000 625.000.250.000.000.000 625.500.000.000.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000.000.000.000.000.000.000 100.000) 75.000 100.000.500.000.000.000 75.000 100.000.000 100.000 (1.000 312.500.000.000 30-Apr-11 50.000.000 312.000.000.000 312.500.000 (937.000.000) (625.000.000 31-May-11 50.000.000) 25.000 937.000 50.000 100.000 31-Aug-11 25.000) (625.000 25.500.000.000 100.000.000 50.000 30-Sep-10 75.000 (25.000 31-May-10 100.500.000) (312.250.000.000.250.000 50.000.000.000 312.500.000.000 25.500.000.000.000) (312.000.500.000.000 100.000.000.000.000.500.000.000.000.000.000 (1.000.250.000.000.000.000.000 (25.000.500.000.000.Tabel 8: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000 937.000.000.000.000.000 25.000 50.500.000 312.000.000 (1.000 31-Mar-11 50.000.000 30-Nov-10 75.000 30-Jun-11 50.000.000 30-Jun-10 100.000.000.000.000.000.000 100.000.000.000 50.000 25.000 937.000.000 31-Jan-11 50.000 75.500.000 (1.000.000.000.000) 1.000.000.000 100.000.000.

Rp.000.000. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. 100.000.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.000.000.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.amortised cost Kr.000. Kas/Rekening. Kas/Rekening.000.000.000 20.000.000.. 100. Rp.000 20. 100. Rp./Giro BI Kr../Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.000.000. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.. Db. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000.000 Rp. 100. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a...000 Rp. Rp. 100. Kas/Giro/Giro BI Kr.. 100. 20. Kas/Rekening.000.000 Kr.000. Tanggal 31 Januari 2010. Kredit . Rp. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000.000 b. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000 168 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 100.amortised cost Kr. 100.000 20.000 20. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db./Giro BI Rp.000 20.000 Rp.000 Rp. Rp. Kredit . Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kredit . Tanggal 1 Januari 2010.

250. 3 sampai dengan no.255.000. Kredit . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kr. Kredit . 20 sampai dengan no. 8 sampai dengan no.000 1. Pendapatan bunga kredit Rp. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000 20. 23 dalam Tabel 7 sama dengan transaksi no. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 169 .000 1. dan no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok.amortised cost Rp. 14 sampai dengan no. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 Jurnal untuk transaksi no. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.000.208 1.250. no.amortised cost Rp. Db. 1. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Rp. Kas/Giro/Giro BI Kr.000.250. 20.000 20.000.000 25. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 6. no.000. Pendapatan bunga kredit Rp. Kr. Kr.000.000 5. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.255. Rp. 19.000. 12.000 20. Kr.208 1.066. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.000.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 5. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Rp.000 25. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.250.000.066. Kr.amortised cost Rp.250.208 1.250. Db. 13.208 1. Kredit . Jurnal untuk transaksi no. Tanggal 30 Juni 2010. 7.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 1. 2.066. c. 18 dan no.066. 24 dalam Tabel 7 sama dengan jurnal untuk transaksi no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.

Bank XYZ membeli kredit dari Bank DEF dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Nilai pasar Informasi lain − − 31 Januari 2010. Kredit diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Pada tanggal 1 Januari 2010.000. harga pasar kredit adalah Rp.000.000.500.000.25%/bulan atau Rp.000.000 1 tahun atau 12 bulan Investasi 15%/tahun atau 1.000.000 1 Februari 2010. 14.100. 15.000 (perbulan) 90% atau Rp.Bab V I K r e d i t 4.000 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (diperdagangkan) Rp. 14. 187. 13.000 (asumsi) 170 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .500. kredit tersebut dijual seharga Rp.

/Giro BI Rp.000.500.000 Tanggal 31 Januari 2010. Rp.000 13.000 Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.500.500. pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar.000 Kr. pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Kredit . 500.000 600.500.000. Tanggal 31 Januari 2010.000 14.000.000 Kr. 187.000 b.500.000.000 Tanggal 1 Februari 2010..000. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. 187. Rp. Rp. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. sebesar nilai wajarnya Db.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.100. 13. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 187. Pendapatan bunga kredit c. 187.. Peningkatan nilai wajar kredit . Rp.000.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Realisasi keuntungan penjualan kredit Db. Kredit . Kredit . Kredit . Rp.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp. Kas/Rekening.500.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 171 . 500. pada saat menjual kredit 1) Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db. 13. Tanggal 1 Januari 2010. Rp.000 Tanggal 31 Januari 2010.500. Rp. e. Kas/Rekening.000. Peningkatan nilai wajar kredit . Keuntungan penjualan kredit d. Db.. pada saat menerima setoran dari debitur Db. 500. pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya.000.000 500../Giro BI Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.

kredit tersebut dijual seharga Rp.000.000.1 % atau Rp.000 + Rp. 99.100. 100.20.000.000.920. 100. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000 Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.Bab V I K r e d i t 5.000 = (Rp.000.000.000.000.000.1 Juli 2010.000 25.000.000.000.000.000/bulan Informasi lain: .000 25.000. 100. 15. 99. 20.000. 90.000.Rp.000.000 25.000). Berdasarkan data di atas.000. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Tersedia untuk Dijual Rp.000 Beban bank yang dapat diatribusikan langsung sebesar Rp. Lihat Tabel 9 dan Tabel 10 172 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.000.000.000 Semester I 2010 Rp Semester II 2010 Rp Semester I 2011 Rp Semester II 2011 Rp 25. Harga pasar pada tanggal 30 Juni 2010 sebesar Rp.000 Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. 90. Harga pasar pada tanggal 31 Januari 2010 sebesar Rp.000.000. 20.000.000.25%/bulan 0.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000 . Kredit tersedia untuk dijual Pada tanggal 1 Januari 2010.000.000.

000) (625.500.878 4.585 1.367.688.478 (25.000 16 31-Mar-11 625.000 21 31-Aug-11 312.975.940.000.649.971.737 24.773 24.250.129.000.328 99.000 11 31-Oct-10 937.000.500.259.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual I 173 .505 2.777.196.930.121 (25.500.000) (625.955.288 941.817 49.509.000.500.843 1.020.075.581.000.000 8 31-Jul-10 937.625.000.000) 941.649.000 6 31-May-10 1.092.521 (1.995.942.274.595 49.000.835.781.255.765.000.000) (312.194.250.000) 941.910.000.843 (1.288 4.592.000.994.000) (312.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 22 30-Sep-11 312.945.042.000) 5.000.000.184 627.817 49.428 74.121 2.934 313.208 99.357 74.196.961.107 (937.500.000.910.196.920.000.255.500.302.437.737 313.250.992.500.850 99.595 49.443.250.147 49.322 74.331 2.000) 5.255.920.777.907.845 1.688.967.981 627.075.307 74.331 627.957 24.286 941.000.114.989.255.975.000) 2 31-Jan-10 1.328 99.000 14 31-Jan-11 625.224 49.277 (1.208 99.255.925.307 74.981 1.478 3.000) 627.343 (25.997.978.943.250.000 12 30-Nov-10 937.995.912 74.000 Bab V I K r e d i t Suku Bunga Efektif Awal 1.000.000) 941.000 15 28-Feb-11 625.114.250.892 24.445 3.Tersedia Untuk Dijual Saldo Awal Arus Kas Kredit D 99.000.959.000.935.965 (937.445 (937.000) (625.934 1.194.500.066.000 99.392.971.940.000 19 30-Jun-11 25.938 49.000.920.051 99.521 1.984.000) (937.000.250.731.994.937.986.652 49.945.500.000 3 28-Feb-10 1.Tabel 9: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi .644.925.975.250.461.000 17 30-Apr-11 625.428 74.051 99.437.957 24.344.434 74.951.975.800.255.773 24.731.144.717 E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Suku Bunga Efektif (EIR) Angsuran Pokok Tagihan Bunga Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (99.892 24.000 18 31-May-11 625.835.250.500.505 627.878 941.224 49.652 49.000) 5.000.000) (625.000) (625.208 (1.984.963.000 20 31-Jul-11 312.850 99.696.000.000) 5.390.310.951.277 1.491.558.000) (625.000) (937.907.208 99.989.129.800.871.000.509.000 99.357 74.344.765.955.000 9 31-Aug-10 937.991.442.066.343 2.250.000) 1.781.325.000 5 30-Apr-10 1.500.000 13 31-Dec-10 25.000) 5.500.147 49.593 627.066.000 4 31-Mar-10 1.259.000) (937.585 (1.000.912 74.434 74.959.000.500.500.274.925.000.965 4.500.302.542.930.000.250.000 7 30-Jun-10 26.000.000.250.593 2.322 74.107 4.981.581.978.981.500.871.000.367.000.325.558.992.000) (312.286 2.938 49.000.392.310.184 1.963.986.500.425.500.390.000) (1.845 313.066.000 10 30-Sep-10 937.000.000) 5.935.967.

000) 25.500.Tabel 10: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi .000) (625.000.000.000.500.000) (937.000.000 312.250.000.000 31-Jan-11 50.500.000.000.000 75.000 100.000.000 75.000 75.000 30-Apr-11 50.000.250.000.000.000 75.000 50.000.250.000.000.000) (625.000.000.000.000 100.000 100.000.000 75.000 (937.000.000.000.000.000.000.000 25.000 75.000.000.250.000.000.000.000.500.000.000.000.000.000.000 75.000.000.000.000.000.000 937.250.000.000.000.000) (625.000.000 31-Dec-11 25.000 100.000.000.000 312.000 625.000.500.000 30-Nov-11 25.000 (25.000.000 25.000 50.000.000) (312.000.000.000.000.000 25.000 25.000.000 50.000.000.000 50.000.000) M=K+L 100.000.000.000.000) (937.250.000.000.000.000 31-Aug-11 25.000.000.000.000 31-May-10 100.000.000.000.000 625.000 28-Feb-11 50.000.000 75.250.000.000.000 31-Oct-10 75.000.000.500.000.000 30-Nov-10 75.000 (1.000 75.000.000) 1.000 25.000.000.000.000.000.250.000.000.000 1.000.000 312.250.000.000) 1.000.000 31-Dec-10 75.000 31-Oct-11 25.000.500.000.000 50.000 100.000 100.000 (937.000.000 31-Mar-10 100.000.000 (1.000 937.000 25.000.000.000 30-Jun-11 50.000 312.000.000.000.000.000 100.000) 1.000.250.000) 75.000.000 (1.000.000.000.000) 25.000.000) (937.000.000.500.000 100.000 (1.500.500.000) (937.000 (25.000.000.000.250.000 625.000.000.500.000) (312.000 .000) 1.000 625.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 174 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.500.000.000.000.000.000.000.000.000 50.000.500.000.000 25.000 625.000) 50.000.000.000) 937.000 50.000.000.000.000 30-Apr-10 100.000.000.000 31-May-11 50.000.000.500.000.000 50.250.000.000 75.000 30-Sep-11 25.500.000.000) (625.000.000.000.000.000.000 50.500.000.000.000 937.000 (25.000.000.000 25.000.500.000) 75.000.000.000 28-Feb-10 100.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000 312.000) (625.000 312.000.Tersedia Untuk Dijual REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000.000.500.000 (1.000 31-Aug-10 75.000.500.000.000.000 50.500.000.000.000) (312.000.000) (312.000 100.000.000.000 937.000.000.000 25.000.000.000.000 30-Jun-10 100.000.000) 1.000 31-Jul-11 25.000.000.000 50.000.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Jul-10 75.000.000.000.500.000.000 100.000.000 30-Sep-10 75.500.000.000 (1.000.000) (312.000.500.000.500.000) (625.000 937.000) (312.000.000.000.000.000 625.000 (25.000 25.000 31-Mar-11 50.

20./Giro BI Rp.000.000.Tersedia untuk Dijual 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.000 Rp. 100. Kas/Rekening.000 Rp. 100. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000 Kr.. Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kredit .000 100. Db.000 Rp.000 b... Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000 20..000.Tersedia untuk Dijual Kr.000 20. Rp..000. Kas/Rekening. 100.000.000 Rp.Tersedia untuk Dijual Kr.000. 100. Kredit . Rp. 100.000.. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. Kredit . 100.000 20.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 175 .000.000.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.000 20. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Rp./Giro BI Kr.000. Rp. Rp.. Kas/Rekening.000. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit dan penarikan kredit oleh debitur 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000.000. Kas/Rekening./Giro BI Kr.. 100. Tanggal 1 Januari 2010. Tanggal 31 Januari 2010.000 20. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal balik untuk menghilangkan kewajiban komitmen fasilitas kredit.000. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.

000 5) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp. Rp.208 Kr.250. 2.000) Jurnal untuk transaksi no.066. 925. 14 sampai dengan no.066.066. 20 sampai dengan no. Kredit .000 (asumsi) Db. Rp.250.208 1.000.478 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kredit . Kr. Db. no. 23 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 8 sampai dengan no. Kr.925.066.Tersedia untuk Dijual Rp.392. Kr.000.066.000. 925. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. no.000 1. Rp.000 1.208 .208 (Rp. Pendapatan bunga kredit Rp.Tersedia untuk Dijual Rp. Kas/Giro/Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000 20. 18 dan no.392. 99.925. 1.255. Tanggal 30 Juni 2010. 3 sampai dengan no. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000 1. Kr. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.478 1. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.Tersedia untuk Dijual Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.99. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000. Kredit .000 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.250.99.255.000 20.250. Ekuitas . 176 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.Rp.208 1.000. Pendapatan bunga kredit Rp. c. 20.208 = Rp. 12. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000.066.000.250.000 5.250.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Db. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.Pendapatan komprehensif lain Rp.000.000 5. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 6.000.

.088 Kr. pada saat menjual kredit Db.000 25. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.Tersedia untuk Dijual Kr. Kas/Rekening.. d.90. xxx. 90.088 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 177 .xxx Sebesar penyesuaian harga yang telah diakui pada periode sebelumnya (tidak dijelaskan dalam illustrasi). Kr.088 = Rp. Rp.000.000.Bab V I K r e d i t 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. 24 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no.000.000. Rp.000. Kredit .911. Ekuitas .Tersedia untuk Dijual Rp.632.xxx.000 15.Pendapatan komprehensif lainnya Rp.000.Pendapatan komprehensif lain Rp.000 (asumsi) Db.048.048. Kredit . Kredit .Rp.048.xxx Db/Kr.048. Tanggal 1 Juli 2010. 15. 25.632. 7) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp. xxx. Ekuitas .74. dan no.Tersedia untuk Dijual Rp. 15.000.Tersedia untuk Dijual Rp.048. Kredit. Keuntungan penjualan kredit Rp.828 . Rp.951. 13.632.000.000 6) Pada saat melakukan jurnal balik terhadap jurnal penyesuaian dengan harga pasar periode sebelumnya Db/Kr. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.088 90.15.367. no.000.000.000 15. 7.xxx.632. Ekuitas ./Giro BI Db.Pendapatan komprehensif lain Kr.000.000) Jurnal untuk transaksi no.632.90. 19.000.088 (Rp.

2. 4. 3. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. B. (PSAK 55: Paragraf 59) Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang 2. Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit A Definisi 1. Nilai tercatat kredit adalah nilai kredit neto pada tanggal pelaporan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai atau nilai wajar kredit pada tanggal pelaporan untuk kredit dengan klasifikasi diukur pada nilai wajar melalui rugi laba. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). Dasar Pengaturan 1. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal. Penghapusbukuan kredit (hapus buku) adalah tindakan administratif bank untuk menghapus buku kredit macet dari neraca sebesar kewajiban debitur tanpa menghapus hak tagih bank kepada debitur. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok Tersedia untuk Dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut.Bab V I K r e d i t 2. Jika terdapat bukti tersebut. Penghapusan hak tagih kredit (hapus tagih) adalah tindakan bank menghapus semua kewajiban debitur yang tidak dapat diselesaikan. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). 178 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jika dan hanya jika. 5.

meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. termasuk: 1) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. atau 2) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. pelanggaran kontrak. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak.Bab V I K r e d i t atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Bukti obyektf bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). f. e. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 179 . pihak pemberi pinjaman. c. (PSAK 55: Paragraf 60) d. b. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan.

6. (PSAK 55: Paragraf 65) Jika. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. (PSAK 55: Paragraf 66) Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. pada periode berikutnya. 180 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. (PSAK 55: Paragraf 64) Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. 5. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. baik secara langsung. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung 4. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.Bab V I K r e d i t 3. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan.

(PSAK 55: PA 101) 11.Bab V I K r e d i t dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. Jumlah kerugian kumulatif yang dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi sesuai paragraf 68 merupakan selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini. Sebagai contoh. 9. (PSAK 55: Paragraf 68) 7. (PSAK 55: Paragraf 71) 8. Proses estimasi terhadap penurunan nilai mempertimbangkan seluruh eksposur pinjaman yang diberikan. jika entitas menggunakan sistem pemeringkatan kredit internal. 2 E. (PSAK 55: Paragraf 70) Jika.4. Proses estimasi terhadap jumlah kerugian penurunan nilai dapat menghasilkan satu nilai kerugian atau kisaran (range) nilai kerugian yang mungkin terjadi… (PSAK 55: PA 102) 12.8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 181 . (Panduan Implementasi No. (PSAK 55: Paragraf 69) Kerugian penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi atas investasi instrumen ekuitas yang diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas yang tersedia untuk dijual tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi. pada periode berikutnya. Agunan tersebut tidak diakui sebagai aset secara terpisah dari aset keuangan yang mengalami penurunan nilai kecuali memenuhi kriteria pengakuan aset sesuai dengan PSAK lain. dan tidak hanya peringkat yang mencerminkan penurunan kualitas pinjaman yang diberikan yang tajam. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. bukan hanya yang berkualitas rendah. maka entitas tersebut harus mempertimbangkan seluruh peringkat pinjaman yang diberikan. 10. Pengukuran aset keuangan yang mengalami penurunan nilai mencerminkan nilai wajar agunannya. dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi.

Sejalan dengan kriteria yang bersifat obyektif 1) Evaluasi. maka diperlukan suatu kerangka evaluasi yang memadai dan terdokumentasi dengan baik yang menekankan obyektivitas dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. 3) Metode estimasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. 4) Penilaian agunan/jaminan. termasuk pengakuan dan pengukuran penurunan nilai. yang antara lain mencakup: 1) Periode evaluasi kredit (loan reviews). Sistematis dan konsisten sepanjang waktu Evaluasi harus dilakukan secara periodik dan konsisten sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan bank. harus sejalan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Didukung dengan dokumentasi yang memadai 1) Evaluasi harus disertai dengan dokumentasi yang bertujuan untuk: a) mendorong kedisiplinan dalam proses estimasi. 2) Bank harus memiliki standar pendokumentasian atas seluruh analisa. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap kredit dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Penjelasan 1. estimasi. 2) Untuk membatasi judgement/diskresi yang cenderung bersifat subyektif. namun juga mencakup gabungan antara aturan formal dan judgement/diskresi manajemen. 2. Kriteria dimaksud tidak hanya didasarkan pada aturan dan formula. Dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. dan 6) Proses dokumentasi. b. Beberapa jenis dokumentasi yang terkait dengan evaluasi penurunan nilai dapat mencakup hal-hal berikut: 182 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t C. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: a. 5) Pembentukan cadangan. asumsi. 2) Identifikasi bukti obyektif penurunan nilai. dan b) memfasilitasi proses kaji ulang dan validasi. c. keputusan dan proses evaluasi.

Bank harus menetapkan peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria sebagai bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit berdasarkan pengalaman dan trend historis (experience credit judgement). solvabilitas. dan nilai wajar agunan dan jaminan. Faktor-faktor ini dan faktor-faktor lainnya. Identifikasi bukti obyektif a. Kriteria evaluasi penurunan nilai a. informasi yang tersedia. dan eksposur risiko usaha dan risiko keuangan pihak debitur atau pihak penerbit. b) basis dalam mengidentifikasi kredit individual untuk melakukan evaluasi penurunan nilai. dan e) 3. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. c) metodologi yang digunakan dalam evaluasi penurunan nilai dari kredit individual. Secara individual 1) Bank wajib menentukan tingkat signifikansi kredit yang akan dievaluasi secara individual yang disertai dengan dokumentasi yang memadai yang harus dikaji ulang secara periodik. b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 183 . c.Bab V I K r e d i t a) internal rating atau klasifikasi kredit yang digunakan. dapat menjadi bukti obyektif yang cukup bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi dalam kredit atau kelompok kredit. tren dan kondisi ekonomi nasional dan lokal. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. tingkat atau tren terjadinya tunggakan (delinquencies) untuk aset keuangan serupa. baik secara individual maupun secara bersama. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan entitas dalam menentukan apakah terdapat bukti obyektif bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi meliputi informasi mengenai likuiditas. disertai dengan analisis dasar perhitungan dan mendokumentasikan dalam kebijakan bank. d) basis dalam mengelompokkan suatu kredit dalam kategori kredit. kecuali peristiwa di masa datang yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian. 4. metodologi yang digunakan untuk menerapkan estimasi kerugian pada kelompok kredit.

3) Dalam hal terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai. namun tidak terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. serta memperhatikan berbagai faktor seperti: a) kekuatan finansial dan kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajiban (repayment capacity). 184 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif mencakup seluruh kredit yang: a) tidak dievaluasi secara individual. b. dan b) dievaluasi secara individual. maka kredit tersebut tidak dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif.Bab V I K r e d i t 2) Dalam hal tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual. dan b) jenis dan jumlah agunan. dimana nilai kini arus kas agunan sama dengan atau lebih besar dari nilai tercatat kredit. ketersediaan garansi. maka kredit tersebut harus dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. dan b) estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount). 4) Evaluasi secara individual didasarkan pada 2 konsep. c) d) prospek usaha debitur di masa datang. yaitu: a) estimasi jumlah kerugian kredit. 5) Estimasi jumlah kerugian kredit didasarkan pada seluruh informasi yang tersedia dan experienced credit judgement. 6) Estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut. Contoh: ketika debitur berada dalam kondisi macet (tidak ada estimasi arus kas selain arus kas dari agunan).

status tunggakan. Model risiko kredit atau metode untuk mengestimasi arus kas masa datang yang diperkirakan yang lebih kompleks (canggih) dapat mengkombinasikan beberapa faktor. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 185 . 4) Terhadap kredit yang dikelompokkan tersebut. bank harus melakukan evaluasi apakah terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai.Bab V I K r e d i t 2) Bank wajib mengelompokkan kredit yang akan dinilai secara kolektif berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yang mengindikasikan kemampuan debitur untuk membayar seluruh kewajiban yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak. dan jatuh tempo. 3) Pengelompokkan kredit berdasarkan kesamaan karakteristik tersebut harus disertai dengan dokumentasi yang memadai yang dikaji ulang secara periodik. lokasi geografis. atau pemerintah). seperti evaluasi risiko kredit atau proses pemeringkatan yang memperhitungkan tipe aset. tipe jaminan. dan karakteristik yang relevan lainnya dari aset yang sedang dievaluasi dan data kerugian yang terkait. Sebagai contoh. tipe pihak kedua (contoh. b) tipe (contohnya. status tunggakan. industri. konsumen. pinjaman beragun aset atau pinjaman kartu kredit). dan c) Penurunan tersebut belum dapat diidentifikasi terkait dengan kredit tertentu dalam kelompok kredit. c) e) f) g) d) tipe jaminan. Halhal yang perlu diperhatikan antara lain: a) Terdapat data yang dapat diobservasi yang mengindikasikan terjadinya penurunan dalam estimasi arus kas masa datang yang dapat diukur dari kelompok kredit. lokasi geografis. bisnis. b) Penurunan yang dapat diukur tersebut telah terjadi sejak pengakuan awal kredit. kredit dapat dikelompokkan berdasarkan satu atau lebih karakteristik berikut ini: a) estimasi probabilitas terjadinya gagal bayar atau peringkat risiko kredit.

baik secara individual maupun kolektif. Dalam memilih dan menggunakan teknik evaluasi penurunan nilai. namun terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai sebelum tanggal evaluasi berikutnya. Secara individual Bank dapat menggunakan beberapa teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai dan mengukur kerugian penurunan nilai. maka kredit tersebut harus dikeluarkan dari kelompok kredit dan selanjutnya dinilai secara individual. Segera setelah penurunan nilai suatu kredit secara individual dalam kelompok kredit tersebut diidentifikasi. c. bank wajib mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa kredit atau kelompok kredit mengalami penurunan nilai. Teknik evaluasi penurunan nilai a. 6. Dalam hal bank melakukan evaluasi setiap akhir triwulan. 186 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Namun bank dapat mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat yang dituangkan dalam kebijakan internal bank untuk menentukan apakah analisa individual perlu dilakukan. maka bank wajib mengestimasi kembali arus kas masa datang dan cadangan kerugian penurunan nilai untuk kredit tersebut. Setiap akhir bulan atau paling lambat setiap akhir triwulan. yaitu: b. Bank dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai. Evaluasi terhadap penurunan nilai tidak hanya didasarkan pada suatu pendekatan atau metode yang bersifat standar (prescriptive rules/formulae) tetapi juga didasarkan pada experienced credit judgement oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengingat pengalaman kerugian historis maupun data yang dapat diobservasi bersifat terbatas atau mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini. b.Bab V I K r e d i t 5) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif merupakan langkah antara sampai penurunan nilai kredit secara individual dapat diidentifikasi. 5. Periode evaluasi penurunan nilai a. bank perlu mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat serta ketersediaan informasi dan data historis.

c) Untuk kredit bersuku bunga tetap. Suku bunga efektif tersebut dapat digunakan dalam mengevaluasi penurunan nilai selanjutnya. (3) Sebagai alternatif. b) Jumlah yang didiskonto (discounted value) diperoleh dengan mengestimasi arus kas masa datang (mencakup pembayaran pokok dan bunga) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit.Bab V I K r e d i t 1) Discounted Cash Flow a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai dicatat berdasarkan jumlah yang didiskonto (discounted value) dan bukan berdasarkan nilai buku. dimana suku bunga kontraktual berubah dari waktu ke waktu bergantung pada suku bunga referensi. karena bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh jumlah kredit yang telah diberikan kepada debitur. suku bunga efektif dapat diidentifikasi setelah memperhitungkan seluruh biaya (termasuk perolehan fee) yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit. (2) Namun. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 187 . bank dapat menggunakan suku bunga efektif terkini pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan. maka suku bunga efektif juga dapat berubah. d) Untuk kredit bersuku bunga mengambang (variable interest rate). penggunaan suku bunga efektif yang berbeda dari waktu ke waktu dapat menyulitkan bank melacak terjadinya kerugian penurunan nilai. Oleh karena itu. (4) Pendekatan apapun yang digunakan. Suku bunga efektif tersebut tidak berubah dan digunakan untuk mengevaluasi kerugian penurunan nilai kredit. bank harus menerapkan secara konsisten dalam mengevaluasi penurunan nilai terhadap kredit dengan suku bunga mengambang. suku bunga kontraktual tidak berubah selama jangka waktu kredit. (1) Bank harus menetapkan estimasi kisaran jumlah dan/atau waktu kemungkinan perubahan suku bunga referensi.

d) Bank harus menggunakan informasi yang tersedia untuk mengestimasi nilai wajar agunan seakurat mungkin. Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengestimasi nilai wajar agunan antara lain: (1) Penunjukkan pihak independen (baik pihak internal bank maupun lembaga penilai) yang akan melakukan penilaian agunan. maka bank dapat menggunakan harga dari transaksi terkini atas agunan serupa. dan/atau (3) Pengambilalihan agunan kemungkinan besar terjadi dan didukung dengan aspek legal pengikatan agunan. (1) jika tidak tersedia kuotasi harga agunan di pasar aktif. c) Bukti terbaik dari nilai wajar agunan adalah berdasarkan kuotasi harga di pasar aktif. 188 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (3) Identifikasi nilai agunan yang dapat direalisasi setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan. (2) Identifikasi taksiran biaya yang terkait dengan penjualan agunan. misalnya legal costs. bank dapat memperhitungkan arus kas masa datang dari pengambilalihan agunan. yaitu jika pelunasan kredit hanya bersumber dari agunan. dan (2) jika tidak tersedia harga dari agunan yang serupa. termasuk perkiraan waktu realisasi atau penjualan agunan tersebut. (2) Sulit untuk menentukan jumlah dan saat penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari pokok kredit dan/atau bunga dengan andal. maka bank dapat menggunakan teknik penilaian yang andal. yaitu jika memenuhi salah satu kondisi berikut: (1) Kredit bersifat collateral dependent.Bab V I K r e d i t 2) Fair Value of Collateral a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai juga dapat dicatat berdasarkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable value). e) f) Nilai agunan yang dapat diperhitungkan adalah nilai yang terendah antara nilai wajar dan nilai pengikatan agunan. b) Dalam menentukan jumlah kredit yang dapat diperoleh kembali.

Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit dilakukan berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang dan tingkat kerugian historis (historical loss rate atau historical net charge-off rate) dari kelompok kredit. misalnya untuk kredit commercial real estate. dan (4) Dokumentasi mengenai kualifikasi. maka harga pasar tersebut dapat digunakan sebagai nilai wajar kredit dengan memperhitungkan perkiraan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut.Bab V I K r e d i t (4) Penetapan waktu penjualan/realisasi agunan. (3) Penjelasan mengenai bagaimana bank memperoleh estimasi nilai wajar. b) Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengukur kerugian penurunan nilai. dan (5) Penetapan nilai kini dari hasil penjualan/realisasi agunan dalam hal terdapat jeda waktu (time lag) antara tanggal penentuan nilai wajar dan waktu penjualan/realisasi agunan. keahlian. dan independensi perusahaan penilai (appraisal company). 3) Observable Market Price a) Dalam kondisi dimana jumlah dan periode arus kas masa datang tidak dapat dipastikan dan kuotasi harga kredit di pasar aktif dapat diobservasi melalui informasi dan data pasar. (2) Rincian penyesuaian terhadap harga penilaian (appraisal value). d. dimana informasi dan data mengenai harga pasar properti tersebut tersedia setiap saat. c) Jika pendekatan ini digunakan. g) Beberapa standar minimum yang harus dipenuhi dalam melakukan estimasi nilai wajar agunan mencakup: (1) Deskripsi mengenai proses penilaian (appraisal process) yang dilakukan. bank harus memiliki informasi yang lengkap mengenai jumlah. sumber informasi dan tanggal atas harga pasar tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 189 . misalnya haircut/diskon atau estimasi biaya penjualan agunan.

yaitu: 190 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Emergence period tersebut harus ditetapkan berdasarkan data empiris. yaitu periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kredit sampai bukti obyektif dapat diidentifikasi atas kredit secara individual. bank perlu memperhatikan hal-hal berikut: a) c) analisa penurunan nilai kelompok kredit. Untuk itu. 3) Bank dapat menentukan sendiri periode observasi data kerugian historis. bank dapat mengestimasi arus kas masa datang dan tingkat kerugian kelompok kredit pada saat ini.Bab V I K r e d i t 2) Data mengenai kerugian historis merupakan titik awal dalam melakukan evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit. bank harus memiliki data kerugian historis selama minimal 3 tahun sehingga dapat menghasilkan estimasi kerugian yang lebih andal dan berarti. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih panjang. Namun. d) kondisi terkini. Berdasarkan data kerugian historis dari suatu kelompok kredit setelah memperhitungkan tingkat pengembalian (recovery rate). dan tidak menghasilkan suatu tingkat kerugian historis yang mengharuskan pengakuan kerugian pada saat pengakuan awal kredit. perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang stabil. 6) Bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menetapkan tingkat kerugian kelompok kredit. Periode observasi apapun yang digunakan. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih pendek. dalam menetapkan periode tersebut. Umumnya emergence period tidak melampaui 12 bulan kecuali dalam kondisi tertentu di luar perkiraan. bank juga perlu mempertimbangkan faktor emergence period. 4) Dalam menetapkan tingkat kerugian untuk kelompok kredit. pengaruh nilai waktu dari uang (time value of money). b) umur kredit dalam kelompok kredit (ageing of balances). e) f) 5) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit secara kolektif juga mencakup kerugian yang telah terjadi namun belum dapat diidentifikasi secara tersendiri pada tanggal laporan (incurred but not yet identified). sementara dalam kondisi ekonomi yang berfluktuasi. baik internal maupun eksternal. arus kas dari seluruh sisa umur kredit (tidak hanya tahun berikutnya).

(2) Berdasarkan data kerugian historis. misalnya tingkat kematian (death rate) debitur.000 1.000 800. Bank harus mengakui kerugian yang sudah terjadi namun belum dilaporkan (incurred but not yet identified) sebagai kerugian akibat penurunan nilai. bank memiliki portofolio kartu kredit sebesar Rp.000 400.000.dengan data-data sebagai berikut: Periode 2010 Tw.000.000.3% + 2%)/3 = 1.97% Umumnya.000.6% + 1.000.000. bank belum mengetahui debitur mana yang meninggal dunia. 2 Tw.000 (2. 30.000 Kerugian bersih (Rp) 800.3%) 600.000. yaitu (2.000. Hasil observasi bank menunjukkan bahwa tingkat kematian (death rate) dari tahun ke tahun cenderung tidak berubah.6%) 400.000.000 Pengembalian yang diterima (Rp) 200. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 191 ..000.100.Bab V I K r e d i t a) Pendekatan Berbasis Formula (Formula Based) (1) Pendekatan ini menggunakan formula tertentu yang relatif sederhana untuk menghitung tingkat kerugian historis. beberapa debitur dalam kelompok kartu kredit bisa jadi telah meninggal dunia pada tahun tersebut yang mengindikasikan terjadinya kerugian penurunan nilai atas kredit tersebut. Contoh: Sepanjang tahun 2010.000. Namun demikian.000 (1.000. 3 Kerugian penurunan nilai berdasarkan death rate (Rp) 1.000 (2%) Tingkat kerugian historis adalah rata-rata kerugian bersih selama 3 triwulan.000 500. periode observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kerugian historis lebih panjang dibandingkan pada contoh di atas. 1 Tw. bank dapat menentukan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya penurunan nilai kartu kredit adalah karena kematian pemegang kartu kredit (card holders).000. meskipun pada akhir tahun.

maka persentase PD dan LGD untuk kredit tersebut harus dikurangi dengan persentase tingkat pengembalian (recovery rate). yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. tingkat PD dan LGD pada kondisi hapus buku tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kerugian pada setiap periode tunggakan. tingkat Probability of Default (PD) dan Loss Given Default (LGD) dihitung berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi hapus buku. Selanjutnya. yaitu tingkat kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. antara lain Migration Analysis. − Roll Rates Analysis Roll Rates Analysis menggunakan internal loan grading system. Namun. b) Metode Statistik (Statistical Model Analysis) (1) Penetapan tingkat kerugian historis dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik berdasarkan internal loan grades masing-masing bank. Migration Analysis Migration Analysis menggunakan internal loan grading system (rating system) dan bukan berdasarkan 192 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan Default Rate. (2) Perhitungan tingkat kerugian historis secara statistik menggunakan parameter berikut: (a) Probability of Default. PD dan LGD adalah sebesar 100% atau tidak akan tertagih (default). Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan (deliquency stage). Roll Rates.Bab V I K r e d i t (3) Bank tidak dapat mengakui adanya kerugian akibat penurunan nilai untuk kejadian yang diperkirakan akan terjadi di masa datang karena peristiwa kerugian (misalnya meninggalnya debitur) belum terjadi. Selanjutnya. Vintage Analysis. apabila berdasarkan data historis dapat diestimasi secara andal. bahwa bank dapat menagih sebagian porsi kredit yang sudah dihapusbuku (write-off) dimaksud.

37% 63.77% 7.293.778 391.949 50.Bab V I K r e d i t pengalaman kerugian sebagaimana halnya pendekatan Historical Loss Rate. tingkat migrasi dihitung berdasarkan persentase nilai kredit atau jumlah rekening yang berpindah dari satu periode tunggakan terendah ke periode tunggakan dimana kartu kredit dinilai tidak akan tertagih (default).108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari 61-90 hari > 90 hari Pembayaran 138. tingkat migrasi tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kerugian kelompok kartu kredit berdasarkan setiap periode tunggakan.10% 26.33% Tunggakan 31-60 hari 5.433.493.78% 61.513.947 3.23% + (1.150 165.755 Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.885.656.778 391.584.07% Tunggakan 61-90 hari 1.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan 89.289 52.166.466.37%) + (5.095 Hapus Buku Jumlah 2.00% 11.37% Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 193 .973.465. Selanjutnya.324 227. umumnya loan grading ditentukan berdasarkan periode tunggakan (delinquency stage).021.512 194.65% 16.481.583.615.949 72.641 391.293.359 32.583.875 91.321 550.748.497 27.424.69%) = (7% x 25.605 15.2% 25.87% > 90 hari 3.842.784.962 70.000 180.807 102.387.387.45% 14.784.77% x 25.23% 18.615.337.37% Formula = 3.615.519 55.784.366.332 21.51% 6.885.885.92% = 25.274 863.23% x 14.512 194.978.512 194.021.43% 47.544 4.69% 25.539.777 1.946 49.711 1.73% Probalility of Default 4.819 7.37%) + 12.544 4. Pendekatan ini dilakukan dengan menganalisa tingkat migrasi outstanding kredit dari grade tertinggi ke grade terendah.323 240. Dalam kasus portofolio kartu kredit.02% 3.293.544 4.166.23% 12.842.274 863. Contoh: Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.455 41.264.166.126.244. Selanjutnya.106 33.273 863.583.021.

(3) Metode ini dapat menggunakan data tingkat kerugian bank (bank-specific data) seperti data mengenai internal loan grades. misalnya perubahan tingkat pengangguran. yaitu besarnya tingkat kerugian yang diakibatkan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. Collateral Shortfall. perlu diperhatikan bahwa tingkat kerugian historis yang diterapkan pada suatu kelompok kredit harus merupakan tingkat kerugian yang diperoleh berdasarkan observasi atas data kerugian masa lalu pada kelompok kredit yang sama atau serupa. 9) Dalam hal bank belum memiliki data tingkat kerugian historis. yaitu minimum sebesar 1% sesuai ketentuan BI yang berlaku mengenai penilaian kualitas aktiva. maupun data kerugian yang dialami industri perbankan. 194 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan Loss on Disposal. Tingkat migrasi tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi terkini yang mencakup kondisi eksternal maupun internal. bank diberikan masa transisi selama 1 tahun sampai akhir Desember 2010 untuk menghitung kerugian penurunan nilai secara kolektif menggunakan dasar perhitungan pembentukan cadangan umum. antara lain Expected Recoveries. dan dengan data dan informasi yang relevan yang dapat diobservasi yang mencerminkan kondisi terkini. yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. harga komoditas. atau faktor-faktor lainnya yang merupakan indikasi timbulnya kerugian dalam kelompok kredit serta besarannya. status pembayaran. 8) Dalam hal bank menggunakan tingkat kerugian historis dalam mengestimasi arus kas masa datang.Bab V I K r e d i t Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat kemungkinan kelompok kartu kredit tanpa tunggakan menjadi kredit dengan tunggakan lebih dari 90 hari adalah sebesar 4. (b) Loss Given Default. 7) Estimasi terhadap perubahan arus kas masa datang harus mencerminkan dan memiliki arah yang konsisten dengan perubahan data dan informasi terkait yang dapat diobservasi dari satu periode ke periode berikutnya.45%. harga properti. metode yang digunakan harus mampu menghubungkan setiap kelompok kredit dengan data dan informasi mengenai kerugian masa lalu yang pernah dialami oleh kelompok kredit dengan karakteristik risiko kredit serupa. Oleh karena itu.

b) tidak pernah mengalami kerugian dari kelompok kredit atau tidak memiliki pengalaman kerugian yang memadai. bank dapat menggunakan data kerugian historis dari peer group atas kelompok kredit yang serupa sampai bank dapat memiliki data sendiri. dan pertimbangan manajemen. tingkat tunggakan bunga dan kredit bermasalah saat ini. pengalaman bank lain dalam peer. Oleh karena itu. misalnya tingkat produk domestik bruto (PDB). dan perundanganundangan mengenai kepailitan (2) Kondisi internal. ketersediaan dan kecukupan agunan. konsentrasi portofolio. prosedur audit internal. dan/atau d) baru didirikan. tingkat kerugian historis harus disesuaikan agar mencerminkan kondisi terkini yang tidak terjadi pada periode perolehan data kerugian historis dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang terjadi pada periode tersebut yang saat ini sudah tidak relevan lagi. 11) Tingkat kerugian historis kadangkala bukan merupakan indikator kemungkinan kerugian yang cukup memadai. hapus buku dan perolehan kembali kredit (recoveries). misalnya perubahan dalam standar/prosedur pemberian dan pemantauan kredit.Bab V I K r e d i t 10) Untuk selanjutnya. praktek pengelolaan risiko. a) Penyesuaian terhadap kerugian historis dapat mencakup: (1) Kondisi eksternal. permasalahan industri. yaitu dalam hal bank: a) tidak memiliki data kerugian historis yang cukup memadai atas kelompok kredit. inflasi. c) memberikan kredit kepada industri atau sektor yang belum dilakukan sebelumnya. suku bunga. dan pengalaman serta kemampuan manajemen dan loan officer. tingkat pengangguran. kecukupan dan kepatuhan terhadap prosedur yang terkait dengan penagihan. b) Penyesuaian terhadap kondisi terkini dilakukan berdasakan data dan informasi yang dapat diobservasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 195 .

7. tingkat kerugian historis yang telah disesuaikan dengan kondisi terkini tersebut digunakan untuk menyesuaikan nilai tercatat kredit dalam kelompok kredit. bank perlu meningkatkan persentase kemungkinan kerugian sebesar 2.5% dan meningkatkan cadangan kerugian untuk mengantisipasi tekanan ekonomi yang dialami kelompok debitur.5%. Dengan demikian. 12) Selanjutnya. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: 1) dilakukan secara akurat dalam hal jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang.Bab V I K r e d i t Contoh: Bank memiliki rata-rata tingkat kerugian historis atas kelompok kredit kendaraan bermotor sebesar 10% selama 5 tahun terakhir. bank telah memperketat standar dan prosedur persetujuan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat menurunkan tingkat kerugian historis sebesar 1%.5%. dan 5) kerugian historis harus digunakan sebagai basis untuk mengestimasi arus kas masa datang. 196 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 4) dikaji ulang secara periodik untuk memastikan metodologi dan asumsi yang digunakan dapat diandalkan. serta meminimalkan perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dan jumlah kerugian aktual. Di lain pihak. Estimasi arus kas masa datang a. 2) meliputi jangka waktu sampai jatuh tempo dan tidak hanya satu tahun. Dalam kondisi perekonomian yang mengalami resesi dimana tingkat inflasi dan pengangguran meningkat. Untuk meningkatkan konsistensi dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. 13) Metodologi dan asumsi yang digunakan dalam mengukur tingkat kerugian historis harus dikaji ulang secara berkala untuk mengurangi perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dengan jumlah kerugian aktual. 3) sejalan dengan perubahan kondisi terkini berdasarkan data dan informasi yang dapat diobservasi dari waktu ke waktu. tingkat kerugian historis disesuaikan dengan peningkatan sebesar 1. yaitu menjadi 11.

Estimasi arus kas masa datang antara lain dapat bersumber dari ekspektasi: 1) Penerimaan pokok dan bunga. d) Apabila kredit diperkirakan akan dibayar penuh. yaitu konsesi yang tidak akan diberikan apabila tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari jaminan finansial dari pihak ketiga (termasuk perusahaan asuransi). sehingga bank tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. Namun. bank harus melakukan evaluasi secara periodik dan obyektif terhadap kemungkinan perubahan kemampuan debitur dalam memenuhi persyaratan restrukturisasi yang telah disepakati. a) Estimasi arus kas masa datang terhadap kredit yang mengalami penurunan nilai harus mempertimbangkan apakah bank akan melakukan skenario penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit. termasuk denda bunga. bank harus menilai kemungkinan penjamin tersebut memenuhi kewajibannya. maka nilai kini arus kas masa datang mungkin tidak akan berada di bawah nilai tercatat. c) Estimasi terbaik atas arus kas masa datang harus didiskonto dengan menggunakan suku bunga kontrak sebelum kredit tersebut direstrukturisasi. berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum. b) Untuk dapat diperhitungkan sebagai arus kas masa datang.Bab V I K r e d i t b. Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari realisasi agunan terlepas apakah bank akan mengambil alih dan menjual agunan atau tidak. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai kini dari arus kas masa datang merupakan cadangan yang harus dibentuk untuk kerugian penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3) Realisasi agunan a) I 197 . 2) Jaminan dari pihak ketiga dan ganti rugi dari perusahaan asuransi. c) Persyaratan penjaminan dan kondisi keuangan penjamin harus diidentifikasi sebelum memperhitungkan jaminan atau ganti rugi dalam perhitungan estimasi arus kas masa datang. bank memberikan konsesi khusus kepada debitur. b) Dalam restrukturisasi kredit.

b) Disamping menggunakan kuotasi harga tersebut. manajemen. legal. utang. Dalam kasus ini. pemegang saham. keuangan. bank harus melakukan estimasi berdasarkan rencana restrukturisasi dan kemungkinan restrukturisasi tersebut akan memulihkan kondisi debitur atau sebaliknya. bank perlu memperkirakan nilai dari perusahaan/bisnis debitur untuk mengestimasi arus kas yang akan diterima dari penjualan tersebut. c. b) Apabila restrukturisasi debitur tidak berjalan sesuai ekspektasi. Dalam hal ini. 198 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2) di atas. sistem dan prosedur. c. Dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. aset. maka kemungkinan sebagian atau seluruh usaha debitur dijual untuk memenuhi kewajibannya. 4) Penjualan kredit di pasar sekunder a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat mempertimbangkan skenario penjualan kredit di pasar sekunder sepanjang terdapat kuotasi harga di pasar aktif. 2) f). khususnya jika terdapat bukti yang kuat secara hukum atas perolehan likuidasi aset debitur. operasional. 2) Likuidasi karena debitur pailit Apabila debitur dalam kondisi atau proses pailit dan kredit tidak dijamin. bank juga perlu mempertimbangkan berbagai langkah yang dilakukan debitur maupun kondisi lainnya yang terkait dengan kemampuan debitur dalam menyelesaikan kewajibannya. antara lain: 1) Restrukturisasi Debitur a) Pengertian restrukturisasi dalam arti luas mencakup perubahan struktur organisasi. bank juga harus memperkirakan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut sebagaimana pada butir 6. maka bank dapat mempertimbangkan aset yang dimiliki debitur dan memperkirakan bagian yang akan diterima bank dari penjualan/likuidasi aset tersebut. dan sebagainya. Perkiraan tersebut harus didasarkan pada penawaran nyata atau penilaian dari pihak yang memiliki keahlian berdasarkan penjualan bisnis serupa di pasar.Bab V I K r e d i t b) Agunan dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang apabila memenuhi kondisi sebagaimana pada butir 6. c. terlepas apakah bank akan merealisasikan skenario tersebut atau tidak.

b. bank harus memperhatikan hal-hal berkut: 1) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk berdasarkan selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Setelah kredit mengalami penurunan nilai. bank mungkin tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. Pembayaran Setelah Kredit Mengalami Penurunan Nilai a. e. Dalam mengukur dan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai.Bab V I K r e d i t d. melainkan secara periodik sebagaimana pada angka 5 di atas. Nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. 9. Oleh karena itu. nilai kini dari arus kas masa datang tidak hanya diestimasi pada saat pertama kali terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. 8. Dalam kasus tertentu. Dengan demikian. 2) Bank tidak diperbolehkan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai melebihi jumlah yang dapat dikaitkan pada kredit individual atau kelompok kredit kolektif dan didukung dengan bukti obyektif penurunan nilai. maka setiap penerimaan pembayaran dari debitur akan langsung mengurangi nilai tercatat kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 199 . khususnya jika nilai wajar agunan yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas jauh melebihi baki debet dari kredit. Perubahan dalam jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang dapat berdampak pada perubahan estimasi terjadinya penurunan nilai dan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari debitur untuk membayar pokok atau bunga. Perhitungan estimasi arus kas masa datang harus didokumentasikan dan didasarkan atas kebijakan internal bank yang memadai untuk kepentingan pemeriksaan oleh audit internal maupun eksternal. Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai a. 3) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk sesuai dengan mata uang denominasi kredit yang diberikan.

Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat kredit dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. Pelaksanaan penghapusbukuan kredit dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. debitur melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebih antisipasi bank.Bab V I K r e d i t b. Misalnya. b. Apabila debitur melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). Hapus Buku dan Hapus Tagih a. d. 11. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. Dalam kondisi tersebut. Kredit dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. 200 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam hal penghapusbukuan kredit merupakan kelanjutan dari tindakan penyelesaian kredit dengan cara pengambilalihan agunan. c. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat kredit. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. 10. maka jumlah yang dihapus buku adalah sebesar selisih kurang antara nilai wajar agunan yang diambil alih setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan dengan nilai tercatat kredit. b. Pemulihan Penurunan Nilai a.

atau b. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). maka bank: a. atau 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan Bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 201 . b. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungkan penurunan nilai. maka bank: a. c. mengakui sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca dan mengakui ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas.Bab V I K r e d i t D. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. 2. atau 2) koreksi saldo laba. atau 2) koreksi saldo laba. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. mengakui sebagai ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi.

6. Kredit yang dihapus buku wajib dicatat secara extracomptable. melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Apabila aset yang dijaminkan diambil alih. yang mengatur mengenai aset tetap yang tersedia untuk dijual. maka bank: a. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. 202 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c. Pada saat penerimaan ganti rugi dari perusahaan asuransi atau lembaga penjamin kredit diakui. dan melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah penurunan nilai berkurang yang disebabkan terjadinya suatu peristiwa tertentu setelah pengakuan penurunan nilai. 8. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungan penurunan nilai. maka bank memulihkan kerugian penurunan nilai yang telah diakui tersebut dengan menjurnal balik ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. memperhitungkan ganti rugi tersebut dalam estimasi arus kas masa datang yang akan diterima. 7. yaitu paling tinggi sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. Penerimaan kas atas kredit yang telah dihapusbuku diakui sebagai pendapatan operasional selain bunga. b. 5. Kredit yang telah dihapus buku dapat direstrukturisasi dengan terlebih dahulu membukukan kembali ”Kredit” dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” di neraca. dan mengakui aset yang diambil alih yang perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK yang berlaku. maka bank: a.Bab V I K r e d i t 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. 3. 4. b.

amortised cost Db. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event).Bab V I K r e d i t 9. atau mengoreksi saldo laba. Ilustrasi Jurnal 1. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit 2) Membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan jurnal balik apabila penurunan nilai terjadi pada periode berjalan: Db. 2. Db. E. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai pos pengurang dari “Kredit” sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit tersebut. Kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai beban operasional pada pos “Kerugian penurunan nilai kredit”. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai a. Kredit yang telah dihapus buku dapat dihapus tagih antara lain apabila dalam jangka waktu tertentu tidak diperoleh pembayaran setelah dilakukan usaha-usaha penagihan dan merupakan keputusan manajemen. Kr./Kr./Kr.amortised cost I 203 . Kr. Kredit . Penyajian 1. Saldo laba Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Pendapatan bunga kredit Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Db. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi 1) Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. Kredit .

Pendapatan b. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Pada saat penghapusbukuan kredit Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit b. Kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Mengakui kerugian penurunan nilai yang sebelumnya dicatat pada ekuitas Db. 3. Kredit 204 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain 2) Untuk pembatalan pengakuan pendapatan bunga mengacu pada huruf a di atas 2. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. c. Saldo laba Jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Kerugian penurunan nilai Kr. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya peringkat kredit debitur) a. Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. Kerugian penurunan nilai Jika pemulihan penurunan nilai diketahui setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana peristiwa tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event) Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Db.Bab V I K r e d i t atau jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr.

F. penyisihan. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang terkait dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. 6–12 bulan. penghapusan. Bank dapat menentukan sendiri skala waktu tunggakan yang sesuai. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendekatan yang digunakan untuk melakukan evaluasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. b. dan penanganan kredit yang mengalami penurunan nilai. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan. dan lebih dari 12 bulan. antara lain: 1. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. misalnya tunggakan < 3 bulan. Analisis tersebut mencakup: a. 3. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event.Bab V I K r e d i t 4. Pendapatan b. 3–6 bulan. Kredit yang berdasarkan evaluasi secara individual telah mengalami penurunan nilai. commercial loans. 2) Jumlah kerugian penurunan nilai. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 205 . consumer loans. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event) Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. yang meliputi: 1) Nilai tercatat sebelum dikurangi kerugian penurunan nilai. Kredit dengan tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) tetapi tidak mengalami penurunan nilai berdasarkan skala waktu tunggakan. Kerugian penurunan nilai kredit Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Db. Pada saat menerima pembayaran untuk kredit yang sudah dihapus buku a. c. dan 2. dan sebagainya). termasuk faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menetapkan penurunan nilai. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db.

penghapusbukuan kredit dalam tahun berjalan. G. Jenis serta nilai wajar agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya untuk setiap pengungkapan pada butir a dan b diatas. kredit yang telah dilakukan hapus tagih dan saldo akhir tahun. f. b. penghapusbukuan kredit selama tahun berjalan (f). yang menunjukkan saldo awal tahun. Ikhtisar kredit yang dihapus buku. d. cadangan yang dibentuk selama tahun berjalan (c). dengan tambahan informasi sebagai berikut: 206 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t c. 7. pemulihan cadangan selama tahun berjalan (d). selisih kurs karena penjabaran cadangan dalam mata uang asing (b). saldo akhir tahun (a) + (b) + (c) – (d) – (e) – (f). penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku. saldo awal tahun (a). yaitu contoh 3 berupa kredit investasi yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. 6. H. e. 4. g. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas kredit sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit berdasarkan segmentasi tertentu. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku (e). Jumlah kredit yang sudah dihentikan pembebanan bunganya. Contoh Kasus Contoh kasus untuk penurunan nilai menggunakan contoh yang sama pada Bagian mengenai Pemberian dan Penyaluran Kredit. Ikhtisar perubahan pos cadangan kerugian penurunan nilai (baik cadangan kerugian untuk penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif) untuk setiap kategori kredit yang menunjukkan: a. c. 5.

bank melakukan kembali estimasi arus kas masa datang yang mungkin akan diperoleh yang selanjutnya didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal untuk memperoleh nilai kini atas arus kas tersebut. Terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai atas kredit Berdasarkan evaluasi periodik yang dilakukan bank. pada akhir September 2010 terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit. Lihat Tabel 11. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 207 . Berdasarkan bukti obyektif tersebut. Selisih kurang antara nilai tercatat kredit sebelum terdapat bukti obyektif penurunan nilai dan nilai kini estimasi arus kas masa datang merupakan cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk.Bab V I K r e d i t 1. yaitu kegagalan debitur membayar kewajiban bunga pada tanggal 30 September 2010.

965 Cadangan kerugian penurunan nilai 2.661 51.000.367.250.000) (500.129.000.082.542.241.746 922.442.530.133 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 500.985.920.000) (1.392.959.250.000.816.000.255.649.000.940 51.965 73.193.930.174.500.357 74.000.000 6 31-May-10 1.357 (25.766.064 616.585 5.569.255.693.256% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .364.569.250.076.048 49.194.766.259.048 49.325.570.980.583 635.193.191.000) 2 31-Jan-10 1.389.500.478 941.834 47.050 49.000) (937.866.000.920.997.811.392.500.955.999 48.000.000) 911.000.850 99.423 47.000) (500.411 599.295.528.742.191.357 50.165 601.951.522.661 51.984 592.000 99.208 1.276.439 47.064 616.000) 72.250.528.000 8 31-Jul-10 937.938 617.250.255.066.521 1.801 633.750.468.842.570.943 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.508.801 633.436.866.000.000.423 47.573.935.000) 5.043.241.322 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 72.843 5.000.255.649.220 934.746 922.178.834 47.205.500.129.000) (1.196.556 50.506 625.000 27.589.277 1.506 625.000) (1.066.793.112 49.000 446.583 635.573.959.985.434 74.500.975.250.945.250.000 3 28-Feb-10 1.522.082.556 50.000.848.481.051 99.049 608.000) 1.000.205.535.000 43.302.390.742.000.276.569.920.468.721 643.999 48.468.439.902.043.434 74.310.404.920.411 599.589.257.357 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.836.000.364.436.302.178.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.508.793.000.507 585.711 74.310.165 601.328 99.965 (1.066.257.942.997.530.281 651.758 Suku Bunga Efektif Awal 1.367.843 1.848.000 463.178.057 72.850 99.000.510 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 500.Tabel 11: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Terdapat Bukti Obyektif Penurunan Nilai .938 617.521 5.322 (28.439 47.935.940.076.663.997.255.328 99.057 (500.925.277 5.816.000 4 31-Mar-10 1.479 23 30-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 52.000 9 31-Aug-10 937.000.250.902.259.250.208 5.931 46.174.000 7 30-Jun-10 26.000.925.721 643.984 592.943 911.220 934.445 941.050 49.066.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.250.000 430.274.569.086 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 500.811.940 51.564.199.491.663.051 99.869.049 608.945.000 99.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 13 31-Dec-10 28.975.000) (1.000.991.178.000.564.250.542.000.801.965 73.000.444.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 208 I P e d o m a n 99.980.912 74.955.304.930.196.000.997.940.585 1.000.112 49.478 3.507 585.274.801.208 99.000) (1.194.711 74.439.951.931 46.000.250.208 99.965 72.390.481.325.255.836.404.445 3.199.500.842.000 5 30-Apr-10 1.281 651.357 50.750.000) (52.500.912 74.000) (937.

24 dalam Tabel 11 sama dengan jurnal untuk transaksi no. 911.000. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db. Kerugian penurunan nilai Kr.750.530. Rp. 922. 2. 922. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 209 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Tanggal 30 September 2010.507 934. Rp. Rp.000 28.220 Tanggal 31 Desember 2010.750. Rp. a. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.746 Tanggal 30 November 2010.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan pula bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit. 11 sampai dengan no.304. 13 dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas.389. 911. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Rp. maka dilakukan jurnal balik) 2) Pengakuan bunga pada saat terjadi penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat bank tidak menerima pembayaran dari debitur) b. Jurnal untuk transaksi no. 14 sampai dengan no. d.980.530.746 Kr.304. Pendapatan bunga Rp. Pendapatan bunga Rp.389. 934. Kredit – amortised cost Rp. Tanggal 31 Oktober 2010.000 c.573. Kredit – amortised cost e. Kredit – amortised cost Rp. pada saat pengakuan amortisasi bunga (interest unwinding) Db. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat kerugian penurunan nilai Db.220 Kr.507 28.000.980. Kredit – amortised cost Kr.357 2.357 (apabila masih terdapat tagihan bunga pada saat penurunan nilai.573.

500.357 Kr.389. Kredit – amortised cost Kr. 2.304. Tanggal 31 Desember 2011. Kredit – amortised cost Rp. bank mengestimasikan akan menerima arus kas masa datang yang lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sehingga bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai.500.304. bank harus melakukan evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang secara periodik atau pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai selanjutnya. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang pada saat evaluasi selanjutnya Sebagaimana dipersyaratkan. Rp.389. Rp. Kredit– amortised cost Rp. 210 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2.000. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rp. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.057 52. 651.357 2.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db.257. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.Bab V I K r e d i t f. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.000 52.000.057 651. Lihat Tabel 12.257. Jika pada 31 Desember 2010.

331 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab V I K r e d i t I 211 Suku Bunga Efektif Awal 1.433.599 32.383.486.051 99.000) (937.576.416.446.250.920.000.162 24.649.585 5.000) (937.277 5.000.330 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 25.746 922.000.823.711 911.000.434 74.930.325.920.925.486.600 35.364.390.250.051 99.816.259.000 4 31-Mar-10 1.122.000 8 31-Jul-10 937.991.309 360.000.173 28.548 351.721 28.000.955.850 99.220 445.975.367.000) 50.997.322 A B C 1 1-Jan-10 (99.497 28.000 3 28-Feb-10 1.277 1.965 73.291 450.000.309 360.058 306.126.378 399.000.500.122.163.000.302.000) (5.442.890 36.Tabel 12: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Evaluasi Penurunan Nilai secara Periodik .000) (1.377.530.372 310.618 404.367.975.491.250.232 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 5.000.383.081.259.689.408 72.104.500.404.000) 5.000 15.162 24.196.965 73.997.776 356.000 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 5.746 922.500.877.000.737.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.303.508.250.807 24.000.602.602 31.521 1.255.720.000 21.500.935.600 Cadangan kerugian penurunan nilai 23.345.345.931 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 50.478 3.931 35.250.965 (1.912 74.951.965 I=D+E+F+G 99.939 911.886.342.481.000.408 (5.600 35.250.400.000.853.000) (1.000.965 72.173 28.980.000.592 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.691.310.250.823.378 399.807 24.012.798.446.575 409.058 306.508.891.500.208 99.000.602.255.798.231.000) (25.231.392.081.000.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .291 450.843 1.357 74.000.599 32.104.000 4.689.445 3.446.345.955.980.602.576.000) (1.445 941.000.198.000.012.328 99.000.925.416.000 6 31-May-10 1.000 5 30-Apr-10 1.433.345.220 (15.446.066.255.208 99.886.066.877.548 351.000.000.404.585 1.250.310.997.528.434 74.000.478 941.390.000) (5.000.530.476.000 99.196.513.000 7 30-Jun-10 26.569.850 99.776 356.940.000 4.935.129.959.250.958.377.649.066.000.000) (1.066.468.513.000.712 456.618 404.000.711 74.255.000.748.891.575 409.920.522.476.392.126.275.223.940.639.250.602 31.400.273.481.250.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas D E = D x EIR F G=pxi H=E-G Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx Tahun Estimasi Arus Kas 99.737.853.372 310.000) 72.364.721 28.945.000.250.205.355 302.198.569.521 5.250.194.592 1.945.942.273.208 1.000.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.250.355 302.712 456.980 32.255.000.980 32.208 5.000 99.000 9 31-Aug-10 937.000.357 (25.000.000) (1.912 74.000) 445.000.000.194.843 5.275.569.951.748.000.325.528.000 4.255.602.225.497 28.303.328 99.098 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 5.220 24.930.129.342.220 24.000) 2 31-Jan-10 1.890 36.000.720.600 35.

Rp. Rp.231. 15. 212 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .291 Kr. Tanggal 31 Desember 2010. Jurnal untuk transaksi no.231.000. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.712 Tanggal 31 Maret 2011.378 456. 23.486. Kredit – amortised cost Rp. e.163.331 = Rp. Rp. Kredit – amortised cost Rp.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit. Rp.823.331 Kr.000.345. 25 dalam Tabel 12 sama dengan jurnal untuk transaksi no.378 5.958. 450.446. 23.000.331 (Rp.291 Tanggal 28 Februari 2011.958.931 – Rp. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.000.. 14 sampai dengan no. Kas/Rekening. Kredit – amortised cost Rp. Kredit – amortised cost Kr.000.823. a.712 Kr.000 5. Kerugian penurunan nilai Rp.958.000 c. 23. 74. 456.486. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db. Pendapatan bunga Rp. dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas. 50.600) 2) Pengakuan bunga pada awal penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat awal pencatatan nilai kini estimasi arus kas masa datang) 3) Mencatat penerimaan arus kas Db.000./Giro BI Kr.000. Kredit – amortised cost b. 17 sampai dengan no.163. 450. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. Rp.163.000 15. d. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. 445.. 16. 445. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.404.508.000. Pendapatan bunga Rp. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat tambahan cadangan kerugian penurunan nilai Db.000 Tanggal 31 Januari 2011.

26.000.688 Kr.958.347. 26.122. 23.688 = Rp.389. Lihat Tabel 13.331 + Rp. Kredit – amortised cost Kr. Rp.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db. 2. Kredit – amortised cost Rp.122. Oleh karenanya. bank mengestimasikan bahwa tidak terdapat penerimaan atau sangat sulit bagi bank untuk memperoleh kembali arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai tersebut.467.357) 3. Kredit – amortised cost Rp.000.163. 310. bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai untuk menyesuaikan nilai tercatat sebelumnya menjadi nihil.304.000. Rp. Tanggal 31 Desember 2011. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.467.Bab V I K r e d i t f.408 310. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang dan hapus buku Jika pada saat evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang pada bulan Maret 2011. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.000.467.000 25.688 (Rp.347.408 25.347. 26. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 213 . Rp.

000.000.Tabel 13 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi dan Hapus Buku .250.000.600 14 31-Jan-11 35.000 74.000) (937.585 5.500.434 8 31-Jul-10 937.208 4 31-Mar-10 1.357 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.342.357 74.310.000) (1.231.925.000.000 99.255.231.930.945.521 5.823.000.345.255.931 35.000.912 74.530.342.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 214 I P e d o m a n 1.850 7 30-Jun-10 26.000.528.600 35.585 1.259.220 445.942.569.310.000) (1.129.250.250.890 36.259.000.208 5.345.965 12 30-Nov-10 73.521 1.255.250.250.980.000) 445.277 5.000.325.000 74.000.711 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.404.400.442.066.711 74.328 99.925.500.250.649.481.000 99.129.576.302.392.602 Perhitungan tambahan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai (31 Maret 2011) 36.000) 2 31-Jan-10 1.569.843 1.478 941.367.649.712 911.569.935.935.000) (1.342.000) (1.000.500.196.291 450.891.446.890 Evaluasi penurunan nilai secara periodik dan hapus buku 16 31-Mar-11 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 - Suku Bunga Efektif Awal 1.208 1.277 1.997.250.530.940.051 99.991.446.951.965 73.528.000) (937.000 99.328 6 31-May-10 1.000 50.250.220 (15.000 99.445 941.325.390.000 99.255.920.390.997.000.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .955.481.000.000) (1.255.508.255.000 72.400.930.980.066.194.000.291 450.322 911.000.500.000.912 9 31-Aug-10 937.000.196.965 11 31-Oct-10 72.250.000 99.000 3 28-Feb-10 1.392.000.400.066.746 922.576.000 99.975.500.746 922.000.000) 5.478 3.434 74.000.446.951.920.602 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.600 15 28-Feb-11 35.712 72.194.959.891.000.000) (1.940.823.843 5.491.997.250.602 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 0 Tambahan cadangan kerugian penurunan nilai 36.250.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.208 99.367.445 3.965 (25.051 5 30-Apr-10 1.975.920.850 99.066.345.250.945.955.

868. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Rp.689.980.304. Memorial kredit yang dihapus buku Rp. 2.389.000.689. 36.291 450.712 62.823. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. dengan rincian sebagai berikut: Rekonsiliasi atas nilai kini kredit adalah sebagai berikut: a) Nilat tercatat kredit diamortisasi Nilai tercatat sebelum penurunan nilai amortisasi bunga (31-Okt-10) amortisasi bunga (30-Nov-10) Penerimaan arus kas masa datang (31-Dec-10) amortisasi bunga (31-Jan-11) amortisasi bunga (28-Feb-11) 74.000) 445.689.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi a.163.342. 62.290 b.530.290 (Rp.602) 2) Pencatatan extracomptable atau rekening memorial Db.231.290 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 215 . Nilai tersebut merupakan nilai tercatat sebelum penurunan nilai yang dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. 62.342. Setelah pencatatan jurnal di atas maka nilai tercatat kredit adalah nihil.746 922.302. Kredit – amortised cost Rp.959. Kerugian penurunan nilai Rp.958.290 Kr. 23.290 = Rp.400.868.331 + Rp.602 Kr.357 + Rp.689.689. 36. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit Db. 36.400.290 62. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Rp.220 (15. Kr.322 911.602 Dengan pembentukan cadangan tersebut maka nilai kini kredit menjadi nihil Pada saat manajemen bank memutuskan untuk menghapus buku kredit 1) Penghapusbukuan kredit Db.868. Tanggal 31 Maret 2011. 62.868.689.868.400. 62.342.000.868.

Rp. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Kr. Memorial kredit yang dihapus buku Rp. xxxxxxxx xxxxxxxx 216 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ..357 Penilaian kembali arus kas masa datang (31-Des-10) 23.331 Penilaian kembali arus kas masa datang (31 Mar-11) 36. Pada saat Bank menerima setoran kas dari debitur atas kredit yang telah dihapus buku pada tahun berjalan (asumsi penerimaan kembali setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event)..342.868.389.Bab V I K r e d i t b) Cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk Terdapat bukti obyektif (30 Sep-10) 2. 1) Pencatatan penerimaan kas Db. Pendapatan 2) Penyesuaian atas rekening memorial Db. Kas/Rekening.163.304.689.602 62./Giro BI Kr.958.290 c. xxxxxxxx xxxxxxxx Rp. Rp.400.

Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction) Tagihan derivatif adalah tagihan yang merupakan potensi keuntungan berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih positif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. dan c. Lindung nilai (hedging) adalah strategi pengelolaan risiko dengan menggunakan instrumen keuangan (hedging instrument) untuk melakukan saling hapus (offset) atas perubahan nilai wajar atau arus kas dari aset atau kewajiban keuangan tertentu. Kewajiban derivatif adalah kewajiban yang merupakan potensi kerugian berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih negatif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan/ yang mendasari (underlying) b. suatu komitmen pasti (firm commitment). 3. 5. Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Derivatif melekat (embedded derivative) adalah instrumen derivatif yang melekat pada kontrak lainnya yang merupakan kontrak utama (host contract) yang dapat menyebabkan perubahan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak utama sejalan dengan perubahan variabel tertentu yang mendasari (underlying variable). I 217 . Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak keuangan lain dengan karakteristik sebagai berikut: a. 4. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable forecast transaction) atau investasi neto pada operasi di luar negeri (net investment in a foreign operation) yang merupakan item yang dilindung nilai (hedged item) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. Definisi 1.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bab VI Transaksi Deriva f A. 6.

B.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7. atau variabel lainnya. 8. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang termasuk dalam ruang lingkup Pernyataan ini (lihat paragraf 2–7) dengan tiga karakteristik berikut ini: 1) nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying). Prakiraan transaksi (forecast transaction) adalah transaksi di masa datang yang belum mengikat namun telah diantisipasi. Valuasi adalah suatu proses pengukuran nilai wajar yang dapat didasarkan pada harga kuotasi di pasar yang aktif (mark to market) maupun didasarkan pada teknik penilaian (valuation technique). (PSAK 10 paragraf 7) Pada setiap tanggal neraca: 1) Pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang objektif. b. antara lain: suku bunga. Dasar Pengaturan 1. Derivatif a. 9. Untuk variabel non keuangan. variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak: 2) tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. harga komoditas. nilai tukar mata uang asing. dan 3) diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca. Komitmen pasti (firm commitment) adalah perjanjian yang mengikat untuk mempertukarkan sumber daya dalam kuantitas tertentu pada tingkat harga tertentu dan pada tanggal atau tanggal-tanggal tertentu di masa datang. harga instrumen keuangan. c. indeks harga atau indeks suku bunga. (PSAK 55 paragraf 8) Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan mengunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. peringkat kredit atau indeks kredit. 218 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

(PSAK 11 paragraf 14) Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) adalah pembelian atau penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kurun waktu yang umumnya ditetapkan dengan peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar. karena komitmen dimaksud memiliki jangka waktu pendek... Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18. maka tidak diakui sebagai instrumen keuangan derivatif. Meskipun demikian. tetapi harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. h. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 219 . baik moneter maupun nonmoneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate) 2) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi 3) Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai ”selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan. selisih penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan. (PSAK 10 paragraf 9) d. g. kontrak tersebut dicatat sebagai derivatif pada periode antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian. Sebaliknya. (PSAK 55 PA69) e.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca. (PSAK 10 paragraf 13) Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasikan dengan laporan keuangan perusahaan pelapor. digunakan prosedur sebagai berikut: 1) Aset dan kewajiban entitas asing.” (PSAK 55 PA24) Kontrak yang mensyaratkan atau mengijinkan penyelesaian neto terhadap perubahan nilai kontrak bukan merupakan kontrak reguler. dan 3) Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. f. (PSAK 55 paragraf 8) “Suatu pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) akan menimbulkan komitmen harga yang telah ditetapkan antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian yang memenuhi definisi suatu derivatif.

(PSAK 55 paragraf 10) c. maka harus dicatat berdasarkan Pernyataan lain yang sesuai tetapi PSAK 50 tidak mengatur apakah derivatif melekat disajikan secara terpisah dalam laporan keuangan. 2) instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat memenuhi definisi sebagai derivatif. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. jika dan hanya jika: 1) karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama. Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak. nilai tukar mata uang asing. “Derivatif melekat merupakan komponen dari instrumen keuangan campuran (hybrid instrument) atau instrumen keuangan yang digabungkan (combined instrument) dimana didalamnya termasuk pula kontrak utama non derivatif yang mengakibatkan sebagian arus kas yang berasal dari instrumen yang digabungkan bervariasi seperti derivatif yang berdiri sendiri.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2... Derivatif Melekat a. Jika derivatif melekat dipisahkan. seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan b. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. maka kontrak utamanya harus dicatat berdasarkan PSAK 55 jika kontrak utamanya merupakan instrumen keuangan. dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. atau variabel lainnya. atau 2) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen campuran yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. harga instrumen keuangan. 220 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . namun jika kontrak utamanya bukan merupakan instrumen keuangan. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.” (PSAK 55 paragraf 9) Derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utamanya dan dicatat sebagai derivatif berdasarkan Pernyataan ini. dan 3) instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (dengan kata lain derivatif yang melekat pada aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dipisahkan). indeks harga atau indeks suku bunga. peringkat kredit atau indeks kredit. antara lain: suku bunga.

maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Namun demikian.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. 3. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. maka ketentuan dalam paragraf 12 diterapkan dan entitas memperlakukan keseluruhan kontrak yang digabungkan tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. f. (PSAK 55 paragraf 87) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 221 . Akuntansi lindung nilai mengakui pengaruh saling hapus pada laporan laba rugi atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. (PSAK 55 paragraf 12) Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara handal berdasarkan persyaratan dan kondisi derivatif tersebut (misalnya karena derivatif melekat didasarkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi). Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat menggunakan metode ini. (PSAK 55 paragraf 13) Penetapan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dapat digunakan terlepas apakah paragraf 10 mensyaratkan derivatif melekat untuk dipisahkan dari kontrak utamanya atau dilarang dipisahkan. apabila kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan berdasarkan Pernyataan ini. (PSAK 55 paragraf 11) d. Lindung Nilai a. maka nilai wajar derivatif melekat merupakan selisih antara nilai wajar dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran dengan nilai wajar dari kontrak utama. paragraf 11 tidak memperkenankan penetapan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi apabila terdapat kondisi sebagaimana dimaksud dalam paragraf 11 (a) dan (b) karena hal tersebut tidak akan mengurangi kompleksitas atau meningkatkan keandalan. (PSAK 55 PA48) e.

item atau transaksi yang dilindung nilai. jika dan hanya jika. 2) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif dalam rangka saling hapus atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. seluruh kondisi berikut ini terpenuhi. Pendokumentasian tersebut harus meliputi identifikasi instrumen lindung nilai. dan (ii) dapat mempengaruhi laporan laba rugi. suatu prakiraan transaksi yang merupakan subyek dari suatu lindung nilai harus bersifat kemungkinan besar terjadi dan terdapat eksposur perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi. 3) lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 10 mengenai Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11 mengenai Penjabaran dalam Mata Uang Asing. Hubungan lindung nilai terdiri dari tiga jenis: 1) lindung nilai atas nilai wajar: suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau kewajiban yang telah diakui. atau komitmen pasti tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. (PSAK 55 paragraf 88) Suatu hubungan lindung nilai memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai sesuai paragraf 91-105. 2) lindung nilai atas arus kas: suatu lindung nilai terhada peksposur variabilitas arus kas yang (i) dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga di masa datang atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable). sifat dari risiko yang dilindung nilai. c. atau bagian yang telah diidentifikasi dari aset. 222 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. 3) Untuk lindung nilai atas arus kas. 1) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen risiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai. dan cara yang akan digunakan entitas untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai tersebut dalam rangka saling hapus eksposur yang berasal dari perubahan dalam nilai wajar item yang dilindung nilai atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. konsisten dengan strategi manajemen risiko yang telah didokumentasikan diawal untuk hubungan lindung nilai tersebut. kewajiban. atau komitmen pasti yang belum diakui.

maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) keuntungan atau kerugian yang berasal dari pengukuran kembali instrumen lindung nilai pada nilai wajar (untuk instrumen lindung nilai derivatif) atau komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diukur berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 223 . “Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: 1) Pada saat dimulainya lindung nilai dan periode-periode sesudahnya. atau b) menunjukkan korelasi statistik yang tinggi antara nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai dengan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai.” (PSAK 55 PA125) e. (PSAK 55 paragraf 90) d. Lindung Nilai atas Nilai Wajar a.. Harapan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa cara. yaitu nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. 5) Lindung nilai dinilai secara berkesinambungan dan ditentukan bahwa efektivitasnya sangat tinggi sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai selama periode lindung nilai tersebut. Jika suatu lindung nilai atas nilai wajar memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. dan nilai wajar instrumen lindung nilai tersebut harus dapat diukur secara andal. Efektivitas dievaluasi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal.. Entitas dapat memilih rasio lindung nilai selain satu banding satu dalam rangka meningkatkan efektivitas lindung nilai sebagaimana yang dijabarkan dalam paragraf PA120. pada waktu entitas menyiapkan laporan keuangan tahunan atau interim. 2) Hasil aktual dari lindung nilai berada dalam kisaran 80–125 persen. minimal. termasuk dengan: a) membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari item yang dilindung nilai yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari instrumen lindung nilai. (PSAK 55 PA126) 4.

Lindung Nilai atas Arus Kas a. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. 224 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55 Paragraf 94) 5. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. atau 3) entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. dan 2) keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan menyesuaikan nilai tercatat item yang dilindung nilai dan diakui pada laporan laba rugi. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan). penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai b. 2) lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai. (PSAK 55 paragraf 98) Dalam setiap situasi berikut. dan 2) bagian yang tidak efektif atas keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai arus kas: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Ketentuan ini berlaku jika item yang dilindung nilai tidak diukur pada biaya perolehan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Uang Asing (untuk instrumen lindung nilai non derivatif) diakui pada laporan laba rugi. Entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai wajar sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 91 jika: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada laporan laba rugi diterapkan jika item yang dilindung nilai merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai telah kadaluwarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). Jika suatu lindung nilai atas arus kas memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. (PSAK 55 paragraf 91) b.

Dalam hal ini. Prakiraan transaksi yang kemungkinan besar tidak terjadi (lihat paragraf 90(c)) mungkin masih diharapkan terjadi. maka paragraf 100. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. Untuk lindung nilai atas prakiraan transaksi. Jika transaksi tersebut terjadi. termasuk lindung nilai atas item moneter yang dicatat sebagai bagian dari investasi neto (berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Uang Asing). atau 103 diterapkan. Lindung Nilai atas Investasi Neto Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. 4) Entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. Apabila transaksi tersebut terjadi. maka paragraf 100. maka paragraf 100. Dalam hal ini. dalam hal ini setiap keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) diakui dalam laporan laba rugi. 101. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai dalam paragraf 90. (PSAK 55 paragraf 104) 6. Apabila transaksi tersebut tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Jika transaksi tersebut terjadi. atau 103 diterapkan. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif telah kadaluarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). atau 103 diterapkan. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. 101. 101. dicatat dengan cara yang serupa seperti lindung nilai atas arus kas: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 225 . keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. 3) suatu prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi.

dan dapat membuktikan bahwa lindung nilai telah berjalan efektif sebelum peristiwa atau perubahan keadaan tersebut terjadi. entitas menghentikan akuntansi lindung nilai sejak tanggal terjadinya peristiwa atau perubahan keadaan tersebut. 10. dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam suatu hubungan lindung nilai. bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan). maka entitas harus menghentikan akuntansi lindung nilainya sejak tanggal terakhir entitas tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai tersebut. dan bagian yang tidak efektif diakui pada laporan laba rugi. Namun demikian. Namun. Pengukuran Nilai Wajar Dalam menentukan nilai wajar aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk menerapkan Pernyataan ini atau PSAK 50 (revisi 2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. misalnya 50 persen dari jumlah nosional. 7. Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang terkait dengan bagian lindung nilai yang efektif yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi ketika investasi dalam operasi luar negeri tersebut dilepaskan. dan (c) dimungkinkan untuk memastikan bahwa terdapat penetapan yang spesifik dari instrumen lindung nilai dan posisi risiko yang berbeda. Proporsi dari keseluruhan instrumen lindung nilai. (PSAK 55 paragraf 77) Jika entitas tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. (PSAK 55 PA 134) 8. entitas menerapkan Pedoman Aplikasi PA84 – PA98. (b) efektivitas dari lindung nilai dapat dibuktikan. 9. (PSAK 55 paragraf 76) Satu instrumen lindung nilai dapat ditetapkan sebagai lindung nilai atas lebih dari satu jenis risiko sepanjang (a) risiko yang dilindung nilai dapat diidentifikasi secara jelas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif a. hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk satu bagian saja dari periode waktu dimana instrumen lindung nilai masih berjalan. (PSAK 55 paragraf 105) b. (PSAK 55 paragraf 48) 226 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jika entitas dapat mengidentifikasi peristiwa atau perubahan keadaan yang menyebabkan hubungan lindung nilai gagal memenuhi kriteria efektivitas.

saham. instrumen derivatif tidak mensyaratkan pemegangnya atau penerbitnya membayar atau menerima jumlah nosional pada saat kontrak dimulai (inception date). Karakteristik derivatif 1) Perubahan nilai sebagai akibat dari perubahan variabel yang mendasari (underlying) a) Variabel yang mendasari (underlying) adalah suatu variabel yang bersama dengan suatu nilai nosional atau suatu syarat pembayaran akan menentukan jumlah yang akan diselesaikan dalam suatu derivatif. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 227 . Namun.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif C. harga kredit atau indeks kredit b) Instrumen derivatif biasanya memiliki suatu jumlah nosional berupa sejumlah mata uang. Contoh variabel yang mendasari antara lain: Jenis Kontrak Swap suku bunga (Interest rate swap) Interest Rate Future Swap mata uang (Currency Swap) Variabel yang Mendasari Suku bunga Suku bunga Nilai tukar mata uang b. Derivatif a. unit bobot atau volume. atau ukuran lain yang ditetapkan dalam kontrak. c) Instrumen derivatif dapat mensyaratkan suatu pembayaran dengan jumlah yang telah ditetapkan atau pembayaran yang jumlahnya dapat berubah (tapi tidak proporsional terhadap perubahan item yang mendasarinya) sebagai akibat dari suatu peristiwa di masa datang yang tidak berkaitan dengan jumlah nosional. Instrumen keuangan derivatif adalah instrumen keuangan yang memberikan hak (kewajiban) kepada pemegang (penerbit) untuk menerima (membayar) kas atau instrumen keuangan lainnya dalam jumlah yang ditentukan berdasarkan perubahan variabel yang mendasari (underlying) dimasa yang akan datang. Penjelasan 1. Pembelian atau penerbitan opsi mata uang (Purchased or Written Currency Nilai tukar mata uang Option) Currency Futures Credit Derivative Nilai tukar mata uang Rating kredit.

228 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . antara lain: a) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal pertukaran kas Sebagai contoh. Sebagai contoh. Kontrak dimaksud merupakan suatu derivatif meski jumlah nosional tidak ditentukan. a) b) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal berakhirnya kontrak (expire date) tanpa adanya pertukaran kas. 2) Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil Derivatif tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal yang lebih kecil dibandingkan investasi yang dibutuhkan untuk kontrak jenis lain yang diperkirakan akan memberi respon serupa terhadap perubahan faktor-faktor pasar. b) Margin deposit pada suatu transaksi derivatif yang harus disimpan pada suatu rekening merupakan setoran jaminan atas suatu transaksi derivatif dan tidak dapat diperhitungkan sebagai suatu investasi awal. Margin deposit harus dicatat secara terpisah dari transaksi derivatif. suatu kontrak mensyaratkan pembayaran tetap sejumlah Rp 1 milyar. Sebagai contoh: (1) Kontrak opsi memenuhi definisi sebagai derivatif karena jumlah premi yang harus dibayar lebih rendah dibanding investasi yang dibutuhkan untuk memperoleh instrumen keuangan yang mendasari opsi tersebut. kontrak foreign exchange forward mempunyai tanggal penyelesaian (settlement date) di masa depan dimana terjadi pertukaran kas untuk mata uang berbeda antara pembeli dan penjual. (2) Kontrak swap mata uang yang mensyaratkan pertukaran awal dalam mata uang yang berbeda namun memiliki nilai wajar yang setara memenuhi definisi sebagai derivatif karena investasi neto awal adalah sebesar nol. kontrak opsi yang tidak menguntungkan pihak pemegang opsi untuk mengeksekusi opsi tersebut (out the money). 3) Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Tanggal penyelesaian tertentu dimasa depan dalam kontrak derivatif mempunyai beberapa pengertian. jika LIBOR 6 bulan meningkat 1%.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Sebagai contoh.

Suatu kontrak forward diperdagangkan secara over the counter (OTC) dan jangka waktu penyelesaian transaksi forward adalah lebih dari dua hari kerja setelah tanggal transaksi. Transaksi derivatif yang ditujukan untuk tujuan perdagangan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi yaitu sub kategori Diperdagangkan. b) Dalam hal transaksi derivatif yang digunakan untuk lindung nilai tidak memenuhi kriteria penerapan akuntansi lindung nilai. maka akuntansi lindung nilai dapat diterapkan. d. Sebagai contoh.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal-tanggal pembayaran bunga. e. sedangkan pihak lawan setuju untuk menjual suatu instrumen keuangan yang bersangkutan pada tanggal dan harga yang sama (short position). Transaksi derivatif harus diakui dalam neraca karena menimbulkan aset dan/atau kewajiban keuangan bagi bank Transaksi derivatif yang umum ditransaksikan antara lain: Transaksi Keterangan Forward adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk membeli atau menjual suatu instrumen keuangan pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. Dalam transaksi forward terdapat satu pihak yang setuju untuk membeli suatu instrumen keuangan yang mendasari (underlying asset) pada tanggal tertentu dimasa depan pada suatu harga tertentu (long position). kontrak interest rate swap yang mempunyai beberapa tanggal penyelesain bunga dimasa depan. Derivatif dapat digunakan untuk tujuan: 1) Perdagangan (trading/speculative activities). 2) Lindung nilai terhadap risiko tertentu dalam kegiatan usaha bank. a) Dalam hal transaksi derivatif secara khusus dilakukan untuk mengelola risiko dimana hubungan antara instrumen derivatif dan item yang dilindung nilai memenuhi kriteria tertentu. c. Forward Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 229 . maka transaksi derivatif tersebut diperlakukan sebagaimana transaksi derivatif yang dilakukan untuk tujuan perdagangan.

Opsi tipe Amerika memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari setiap saat sampai opsi itu jatuh tempo. 3) Pertukaran arus kas pokok pada akhir periode kontrak. 2) Swap mata uang (cross currency swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam suatu mata uang tertentu dengan arus kas pembayaran bunga mata uang lainya. Option Opsi (option) adalah suatu kontrak yang memberikan pemegang opsi suatu hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu aset yang mendasari pada harga tertentu dan tanggal tertentu. sedangkan opsi tipe Eropa memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari hanya pada tanggal jatuh tempo. Arus kas didasarkan pada kinerja dari variabel yang mendasari.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Swap Swap adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk saling mempertukarkan arus kas dari suatu instrumen keuangan yang mendasari pada periode tertentu dimasa depan. misalnya suku bunga dan mata uang. Pembayaran biasanya secara neto. satu pihak akan membayar pada suku bunga tetap/mengambang dan pihak lainnya akan menerima pada suku bunga mengambang/tetap. Secara umum suatu swap mata uang mempunyai arus kas sebagai berikut: 1) Pertukaran arus kas pokok pada awal kontrak 2) Pembayaran arus kas bunga diantara periode kontrak. Dalam suatu periode pembayaran bunga. 230 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 1) Swap suku bunga (interest rate swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam mata uang yang sama. Swap suku bunga adalah instrumen keuangan yang paling umum digunakan untuk lindung nilai atas risiko suku bunga.

tetapi bukan kewajiban. maka bank dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi terbuka neto. dan bagi penjual opsi tidak terbatas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 231 . 2) Risiko transaksi forward relatif lebih besar karena bersifat bilateral dimana terdapat risiko kegagalan pihak lawan memenuhi kewajiban. pembeli opsi harus membayar premi. tetapi bukan kewajiban. Secara umum terdapat 2 jenis kontrak opsi yaitu: Standard option dan Exoctic option. sementara forward diperdagangkan secara over the counter. mana yang lebih sesuai. untuk menjual suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Transaksi futures mempunyai banyak kemiripan dengan forward. untuk membeli suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. Terdapat 2 tipe Standard option yaitu: 1) Call option memberikan hak kepada pemegang kontrak. Sementara perbedaan antara kontrak futures dan forward antara lain: 1) Futures diperdagangkan melalui bursa (exchange) dan mempunyai syarat yang telah distandardisasi. Futures 2. sementara risiko futures lebih kecil karena adanya jaminan dari bursa. 2) Put option memberikan hak kepada pemegang kontrak. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Dalam transaksi opsi. Standard option juga dikenal sebagai Vanilla option mempunyai persyaratan yang sudah diketahui pada awal transaksi sedangkan Exoctic option mempunyai beberapa persyaratan yang tergantung pada kondisi tertentu selama periode opsi. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar instrumen derivatif dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. Risiko kerugian bagi pembeli opsi adalah sebatas premi yang dibayarkan. Futures adalah suatu perjanjian untuk membeli atau menjual suatu aset pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. Kuotasi di pasar aktif. Jika bank memiliki aset atau kewajiban dimana risiko pasar diantara aset dan kewajiban tersebut saling hapus.

atau c. dan (2) Kontrak derivatif yang melekat pada kontrak utama (embedded derivative). Karakteristik perubahan arus kas tersebut serupa dengan derivatif yang berdiri sendiri. 3. 3) Kontrak penjualan atau pembelian dalam mata uang asing dapat mengandung derivatif melekat jika mata uang asing tersebut bukan merupakan: a) Jenis mata uang yang secara rutin digunakan untuk transaksi produk tersebut pada perdagangan internasional. b) Pembayaran bunga mengambang dalam instrumen keuangan yang terkait pada suku bunga cap atau floor. kontrak sewa. Instrumen Keuangan Campuran (Hybrid instrument) dan Derivatif Melekat (Embedded Derivative) a. d. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. 2) Contoh derivatif melekat antara lain: a) Fitur konversi saham pada instrumen surat berharga (convertible securities).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. kontrak penjualan atau pembelian instrumen keuangan atau kontrak asuransi. c) Pembayaran bunga atau pokok yang terkait pada indeks harga saham atau komoditas. Derivatif melekat (embedded derivative) 1) Derivatif melekat dapat menyebabkan perubahan atas arus kas dari kontrak utama berdasarkan perubahan variabel-variabel tertentu. b) Mata uang yang digunakan dalam pelaporan bagi ke dua pihak dalam kontrak perdagangan. Kontrak utama dapat berbentuk instrumen utang atau ekuitas. 232 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Instrumen keuangan campuran mencakup: (1) Kontrak utama yang merupakan instrumen non derivatif. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Instrumen keuangan campuran merupakan campuran atau gabungan antara kontrak utama dan kontrak derivatif. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. b. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar.

Langkah-langkah untuk menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak dari kontrak utama dapat dilihat pada bagan berikut: f. Mata uang yang secara umum digunakan dalam perekonomian dimana transaksi tersebut terjadi. derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama jika memenuhi seluruh kriteria berikut: 1) Instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. g. dan 3) Karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak secara jelas dan erat berkaitan dengan kontrak utama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) e. 2) Jika derivatif melekat dipisahkan dapat merupakan instrumen derivatif yang berdiri sendiri (freestanding derivative) yang memenuhi kriteria derivatif sesuai PSAK 55. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 233 . Yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu instrumen campuran pada tanggal awal pengakuan antara lain: 1) Mengidentifikasi kontrak utama dan derivatif melekat dalam instrumen campuran. Berdasarkan bagan tersebut. dan 3) Menentukan nilai kontrak utama dan derivatif melekat. 2) Menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dalam instrumen campuran.

namun lebih mendasarkan pada pemahaman konsep melalui berbagai contoh ilustrasi. 2) Derivatif melekat yang memodifikasi risiko inheren dari kontrak utama (misalnya swap dari suku bunga tetap ke suku bunga mengambang) dapat dikatakan berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Sementara itu. Kontrak utama Utang dan Asuransi Ekuitas Sewa Suku bunga Inflasi Risiko kredit Harga saham Suku bunga Inflasi Risiko inheren 3) PSAK 55 .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif h. derivatif melekat yang mengubah karakteristik risiko inheren dari kontrak utama tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. atau harga/indeks saham atau instrumen utang komoditas Opsi beli pada instrumen ekuitas atau Kontrak sewa yang terkait dengan tingkat instrumen utang dengan strike price yang inflasi (inflation-indexed) telah ditentukan Opsi perpanjangan (extension option) pada Cap dan floor dalam kontrak penjualan dan instrumen utang bersuku bunga tetap pembelian 234 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tabel berikut menggambarkan risiko inheren dari kontrak utama. sementara PSAK 55 tidak memberikan pedoman lebih lanjut mengenai pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat”.Pedoman Aplikasi (PA) 43 dan 46 memberikan contoh jenis derivatif melekat dengan karakteristik ekonomi dan risiko yang berkaitan secara jelas dan erat dengan kontrak utama maupun sebaliknya. antara lain: “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Opsi jual pada instrumen utang dengan strike price yang terkait dengan perubahan kurs Interest rate swap yang melekat pada mata uang. Pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat” 1) Penentuan adanya suatu hubungan yang jelas dan erat antara derivatif melekat dan kontrak utama relatif sulit.

atau opsi percepatan instrumen utang dimana harga eksekusi opsi pelunasan (prepayment option) pada (exercise price) diperkirakan sama dengan instrumen utang biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) atas instrumen utang pada setiap tanggal eksekusi Credit derivatives yang melekat pada instrumen utang Cap dan floor atas suku bunga dalam instrumen utang jika cap ditetapkan pada atau diatas suku bunga pasar dan floor ditetapkan pada atau dibawah suku bunga pasar pada saat instrumen utang diterbitkan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Instrumen utang dengan suku bunga yang Obligasi dengan dua mata uang (dual currency terkait (linked) ke kurs mata uang. dan derivatif melekat tersebut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 235 . Penjualan atau pembelian barang atau jasa dalam mata uang asing yang: bukan merupakan mata uang fungsional bagi ke dua pihak. atau tidak digunakan secara umum dalam kegiatan perekonomian dimana transaksi terjadi. atau opsi percepatan pelunasan (prepayment option) pada Opsi beli. Bank A tidak harus memisahkan derivatif melekat (Interest Rate Cap) dari kontrak utama (surat berharga). opsi jual. maka bank harus melakukan analisa apakah ada hubungan yang jelas dan erat antara kontrak utama dan derivatif melekat. 100 milyar dengan suku bunga mengambang LIBOR + 0. Surat berharga tersebut mempunyai batas maksimal suku bunga (cap) 7%. atau bonds) harga/indeks saham atau komoditas Opsi konversi menjadi saham (equity Instrumen utang dalam mata uang asing conversion) pada instrumen utang Opsi beli. Contoh: a) Bank A menerbitkan surat berharga sebesar Rp. Hal ini disebabkan variabel yang mendasari derivatif melekat adalah tingkat suku bunga yang berkaitan jelas dan erat dengan kontrak utama. 4) Dalam hal terdapat instrumen campuran dan derivatif melekat yang tidak masuk dalam contoh di atas. Suku bunga LIBOR saat penerbitan adalah 5%. opsi jual. Kontrak forward mata uang asing dengan secara rutin digunakan atas penjualan pembayaran dalam mata uang dari salah satu atau pembelian produk dalam pihak yang bertransaksi perdagangan internasional.75%.

Bank G harus memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama karena karakteristik ekonomi dan risiko dari pinjaman yang diterima tidak berkaitan erat dengan foreign exchange forward.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tidak menggandakan hasil dari suku bunga pasar ketika surat berharga diterbitkan. dan (3) keseluruhan instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Sementara itu. b) Bank D membeli surat berharga yang diterbitkan oleh Bank E sebesar Rp 100 milyar dengan suku bunga tetap.000. meskipun ke dua pihak tidak melakukan transaksi di Jepang dalam jumlah yang signifikan.5%. i. Bank D harus mencatat secara terpisah antara kontrak utama (surat berharga) dan derivatif melekat (opsi untuk mengkoversi ke saham Bank E). Bank F harus memisahkan derivatif melekat (opsi mata uang) dari kontrak utama (deposito berjangka) karena: (1) derivatif melekat yang merupakan suatu opsi mata uang tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama yang berbasis tingkat suku bunga. namun dapat dianggap tidak berkaitan dan harus dipisahkan apabila memenuhi kondisi berikut: 1) instrumen campuran dapat diselesaikan dengan cara yang mengakibatkan pemegang instrumen campuran tidak akan memperoleh kembali seluruh nilai investasi secara substansial. d) Bank G di Indonesia menerima pinjaman dari Bank H di Singapura dalam mata uang Yen. (2) opsi mata uang memenuhi persyaratan sebagai suatu derivatif. bagi Bank E. Kontrak tersebut memberikan hak kepada Bank F untuk memilih mata uang (USD atau IDR) yang akan digunakan untuk mengembalikan nilai pokok deposito pada saat jatuh tempo.000 dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 10%. Meskipun derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Bank D mempunyai opsi untuk mengkonversikan surat berharga tersebut dengan 1 juta saham Bank E. atau 236 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pinjaman yang diterima Bank G merupakan kontrak utama dengan derivatif melekat dalam bentuk foreign exchange forward untuk membeli Yen. instrumen yang diterbitkan harus dicatat sebagai instrumen utang atau ekuitas sesuai PSAK 50. c) Bank F menerbitkan deposito berjangka USD 1. Tingkat suku bunga pasar pada saat penerbitan adalah 4.

maka bank menetapkan keseluruhan instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dimana derivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu. khususnya jika: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 237 . misalnya opsi pelunasan dipercepat (prepayment option) yang melekat pada fasilitas Kredit yang memungkinkan debitur melunasi pinjamannya lebih awal. j. maka derivatifderivatif tersebut dicatat secara terpisah satu dengan lainnya. kontrak utama diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan. atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. maka derivatif melekat tersebut harus diakui sebagai instrumen derivatif yang berdiri sendiri dan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. k. namun instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau 2) pada instrumen campuran tertentu dimana dipertimbangkan bahwa derivatif melekat tersebut memang tidak boleh dipisahkan dari kontrak utama. l. Jika derivatif melekat dipisahkan dari kontrak utama. yaitu kurang lebih sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). dan dapat menghasilkan tingkat pengembalian setidaknya dua kali lebih besar dibandingkan tingkat pengembalian pasar atas kontrak yang memiliki syarat yang sama dengan kontrak utama. kecuali instrumen derivatif tersebut ditetapkan dan memenuhi kriteria sebagai instrumen lindung nilai. Keseluruhan instrumen campuran yang memenuhi kondisi pada angka (1) dan (2) diatas diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) derivatif melekat tersebut dapat sekurang-kurangnya menggandakan tingkat pengembalian awal yang diperoleh pemegang instrumen campuran. n. Jika derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Bank dapat tidak melakukan langkah-langkah untuk menetapkan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak sebagaimana huruf f) diatas. Jika derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama sebagaimana huruf l) di atas. serta independen antara satu dengan lainnya. m. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak akan merubah atau memodifikasi secara signifikan arus kas sesuai persyaratan pada kontrak utama. Selanjutnya. maka derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama dan keseluruhan instrumen campuran harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

bank dapat tidak melakukan penilaian terhadap pemenuhan kriteria 2 dan 3 pada huruf f) di atas dan tidak memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) pemisahan sulit dilakukan karena kompleksitas dari instrumen campuran. 3) Apabila bank tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara andal. 2) proses pemisahan menimbulkan beban tambahan bagi bank. o. dan/atau 3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. bank menetapkan untuk mengukur instrumen campuran tersebut pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Jika tidak terdapat pasar aktif yang menggambarkan syarat dan kondisi yang sama dengan derivatif melekat. Asumsi yang digunakan dalam teknik penilaian harus didokumentasikan dan diterapkan secara konsisten. bank dapat menggunakan teknik penilaian. maka bank dapat tidak memisahkan derivatif melekat dan selanjutnya keseluruhan instrumen campuran tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). Sebagai contoh. Selanjutnya. Perlakuan terhadap derivatif melekat sebagaimana diatur dalam PSAK 55 antara lain bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran derivatif melekat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dihindari dengan melekatkan pada kontrak utama yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Penetapan nilai wajar derivatif melekat 1) Derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utama harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. p. maka nilai wajar derivatif melekat dapat ditentukan berdasarkan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar kontrak utama hanya jika kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan. 4) Jika metode pengukuran nilai wajar sebagaimana pada angka (3) diatas tidak dapat dilakukan. 2) Bukti terbaik atas nilai wajar adalah kuotasi harga di pasar aktif. maka bank menetapkan instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). terhadap suatu instrumen campuran yang kompleks yang masuk kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dan diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 238 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4. sementara item yang dilindung nilai (umumnya merupakan instrumen keuangan) akan diukur berdasarkan biaya perolehan. maka instrumen lindung nilai (yang umumnya merupakan instrumen derivatif) akan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. biaya perolehan diamortisasi. Bank harus membuat suatu dokumentasi formal atas hubungan suatu lindung nilai yang sekurangkurangnya mencakup: (1) tujuan manajemen risiko serta strategi pelaksanaan lindung nilai. atau nilai wajar sesuai kategori instrumen keuangan tersebut. dll). Akuntansi Lindung Nilai (Hedge Accounting) a. Dengan akuntansi lindung nilai. (4) identifikasi jenis hubungan lindung nilai yang digunakan (misalnya lindung nilai atas nilai wajar. Hal ini akan menimbulkan ketidaksesuaian (mismatch) periode pengakuan keuntungan (gain) dan kerugian (loss) dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Persyaratan akuntansi lindung nilai 1) Penerapan akutansi lindung nilai hanya diperbolehkan jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai. (3) identifikasi instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. arus kas. Lindung nilai ekonomi dan akuntansi lindung nilai 1) Lindung nilai ekonomi (economic hedges) merupakan suatu transaksi yang bertujuan untuk mengurangi eksposur risiko (misalnya risiko suku bunga. b. risiko nilai tukar. yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama Jika akuntansi lindung nilai tidak diterapkan. (2) jenis risiko yang dilindung nilai. bank dapat melakukan saling hapus antara keuntungan dan kerugian pada periode yang sama berdasarkan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. dll) 2) Akuntansi lindung nilai (hedge accounting) merupakan suatu perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi lindung nilai yang mencakup instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Tidak seluruh lindung nilai ekonomi dapat memenuhi persyaratan untuk akuntansi lindung nilai berdasarkan PSAK 55. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 239 .

Jika hal-hal tersebut diatas tidak ditetapkan secara tertulis. transaksi lindung nilai tidak memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. b) Prakiraan transaksi (forecast transactions) yang dilindung nilai sangat mungkin terjadi (highly probable) dan terekspos pada risiko perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi Bank harus mengidentifikasi dan mendokumentasikan seluruh data dan informasi terkait yang dapat mendukung proses penetapan hubungan lindung nilai atas prakiraan transaksi tersebut. maka. maka bank harus menghentikan secara permanen akuntansi lindung nilai sejak tanggal terakhir lindung nilai tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai dimaksud. yang dapat berbeda pada setiap jenis lindung nilai. d) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal (1) Bank harus dapat mengukur nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai. e) Hubungan lindung nilai dievaluasi secara berkesinambungan dan lindung nilai sangat efektif sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (5) tanggal dimulainya penetapan hubungan lindung nilai. baik secara prospektif maupun retrospektif. dan (6) cara yang akan digunakan untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai. termasuk periode waktu dimana transaksi tersebut diharapkan akan terjadi. 2) Jika tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. 240 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif (highly effective). (2) Pengukuran efektivitas tersebut harus didukung dengan sistem yang secara periodik dapat mengidentifikasi dan mengukur perubahan nilai dari item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai sejak penetapan awal hubungan lindung nilai. dan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. (4) Metode penilaian efektivitas lindung nilai didasarkan pada strategi manajemen risiko. Metode dan prosedur penilaian dan pengukuran efektivitas lindung nilai harus dijelaskan secara detail dan konsisten selama periode lindung nilai. (3) Bank dapat menggunakan model kuantitatif atau statistik untuk melakukan analisis dan penilaian efektivitas lindung nilai.

yang dapat dilakukan antara lain dengan menetapkan: a) instrumen lindung nilai lainnya. transaksi tersebut akan tereliminasi dalam laporan keuangan konsolidasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 241 . namun tidak memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai instrumen lindung nilai. yaitu: a) Instrumen derivatif yang ditetapkan (designated derivative) untuk tujuan lindung nilai (1) PSAK 55 mendefinisikan instrumen lindung nilai sebagai suatu instrumen derivatif yang ditetapkan untuk lindung nilai dimana perubahan nilai wajar atau arus kas diharapkan saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang ditetapkan untuk dilindung nilai. Instrumen lindung nilai (hedging instrument) 1) Instrumen keuangan dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai hanya jika instrumen tersebut memenuhi kondisi berikut. Transaksi lindung nilai intra-group tersebut dapat memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). (3) Khusus untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. (2) Instrumen yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai juga dapat mencakup derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utamanya. (2) Meskipun perusahaan dalam grup usaha bank saling melakukan transaksi lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Bank dapat menetapkan suatu hubungan lindung nilai baru atas item yang dilindung nilai tersebut sepanjang semua persyaratan akuntansi lindung nilai dipenuhi. b) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. c. dan/atau b) risiko lain yang akan dilindung nilai. Penetapan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen derivatif harus ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai secara keseluruhan. instrumen lindung nilai juga dapat berupa aset atau kewajiban keuangan non derivatif. hanya instrumen yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifikasi sebagai instrumen lindung nilai.

Nilai intrinsik adalah perbedaan antara harga eksekusi (strike price) dan harga pasar saat ini dari variabel yang mendasari. maka nilai wajar opsi sama dengan nilai waktu. Sebagai contoh. maka nilai intrinsik sama dengan nol. b) Bank dapat menetapkan porsi tertentu dari keseluruhan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. 1 242 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank tidak diperbolehkan hanya menentukan komponen mata uang dari suatu swap mata uang (cross currency swap) sebagai instrumen lindung nilai tanpa mengikutsertakan komponen suku bunga. Sebagai contoh. c) Bank dapat menetapkan suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai terhadap lebih dari satu jenis risiko sepanjang: (1) risiko-risiko tersebut dapat diidentifikasi secara jelas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Bank tidak diperbolehkan menggunakan komponen tertentu saja dari suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. dan (b) memisahkan elemen bunga dan harga saat ini (spot price) dari kontrak berjangka (forward contract) dan hanya menetapkan spot price sebagai instrumen lindung nilai. dan (3) terdapat penetapan khusus atas instrumen lindung nilai dan posisi risiko-risiko yang dilindung nilai. (2) efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. 2 Nilai waktu adalah perbedaan antara nilai wajar opsi (premi) dan nilai intrinsik. 60% dari jumlah nosional suatu instrumen derivatif dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai. termasuk lindung nilai atas portofolio aset atau kewajiban keuangan. Jika harga eksekusi lebih besar dari harga pasar saat ini. d) Portofolio derivatif (dua atau lebih instrumen derivatif) atau proporsi dari instrumen-instrumen tersebut dapat ditetapkan secara bersama sebagai instrumen lindung nilai. (2) Pengecualian hanya diperkenankan jika bank: (a) memisahkan nilai intrinsik1 dan nilai waktu2 dari kontrak opsi dan hanya menetapkan perubahan nilai intrinsik dari opsi tersebut sebagai instrumen lindung nilai. Pengecualian-pengecualian tersebut diperkenankan karena nilai intrinsik suatu opsi dan premi dari kontrak berjangka (spot price) umumnya dapat diukur secara terpisah. Jika nilai intrinsik nol.

b) Instrumen yang tidak memiliki kuotasi (unquoted instrument) Instrumen derivatif yang dikaitkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi dan harus diselesaikan dengan penyerahan instrumen ekuitas tersebut tidak dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai karena nilai wajar instrumen tersebut tidak dapat diukur secara andal c) Instrumen ekuitas yang diterbitkan bank (own equity instrument) d) Opsi yang diterbitkan (written option) Opsi yang diterbitkan tidak bisa digunakan sebagai instrumen lindung nilai kecuali digabungkan dengan opsi yang dibeli (purchased option). Hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk bagian tertentu dari periode waktu berlakunya instrumen lindung nilai. Sebagai contoh. dan pengakuan instrumen keuangan baru. Hal ini berarti dalam suatu portofolio. Dalam setiap periode pelaporan. jumlah aset dan kewajiban keuangan akan berubah berdasarkan ekpektasi pelunasan dipercepat. penghentian pengakuan aset dan kewajiban keuangan. nilai item yang dilindung nilai dapat berubah dari waktu ke waktu. bank tidak perlu merubah nilai instrumen lindung nilai. dimana selisih bersih dari ke dua opsi tersebut merupakan opsi yang dibeli (purchased option). Sebagai contoh. melainkan menambah instrumen lindung nilai baru ke dalam hubungan lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif e) Sebagai contoh: Bank memiliki portofolio aset dan kewajiban keuangan yang dilindung nilai terhadap risiko pelunasan dipercepat (prepayment risk). instrumen derivatif dengan jangka waktu 5 tahun tidak boleh ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai hanya untuk 3 tahun pertama saja. kecuali instrumen non derivative yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai antara lain mencakup: a) Instrumen bukan derivatif (non-derivative) Instrumen non derivative tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 243 . aset keuangan dalam mata uang asing digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas kewajiban keuangan dalam mata uang asing. Namun.

hanya aset. namun tidak dalam laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. atau investasi neto pada operasi di luar negeri. komitmen pasti. Instrumen keuangan tersebut diatas merupakan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang terekspos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat menyebabkan perubahan nilai wajar atau arus kas sehingga berdampak pada pada laporan laba rugi dalam periode berjalan atau periode mendatang. yang berdasarkan PSAK 55 dapat mencakup: (1) Suatu aset. komitmen pasti.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai. c) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. kewajiban. yang memiliki karakteristik risiko yang serupa. yaitu: a) Instrumen keuangan ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (designated item). (2) Akuntansi lindung nilai dapat diterapkan atas transaksi antar perusahaan dalam grup usaha bank dalam laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). dan/atau (3) Bagian tertentu dari portofolio aset atau kewajiban keuangan yang terkespos risiko yang sama yang dilindung nilai. b) Aset atau kewajiban non keuangan secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang terkespos risiko nilai tukar saja. dan transaksi yang diperkiraan kemungkinan besar terjadi yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifkasi sebagai item yang dilindung nilai. Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya suatu bagian tertentu (portion) 244 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . komitmen pasti. Item yang dilindung nilai (hedged item) 1) Instrumen keuangan dapat merupakan item yang dilindung nilai hanya jika memenuhi kondisi berikut. prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. kewajiban. (2) Sekelompok aset. kewajiban. atau investasi neto pada operasi di luar negeri (khususnya lindung nilai atas risiko nilai tukar).

posisi neto secara keseluruhan (overall net position) tidak dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. c) Instrumen non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya atas risiko nilai tukar. (2) Instrumen keuangan tersebut juga dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. (2) Dalam kelompok item yang dilindung nilai tersebut. Sebagai contoh: Aset keuangan bersuku bunga tetap dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai dari perubahan nilai wajar. Namun. b) Suatu kelompok instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (1) Dalam hal aset atau kewajiban keuangan individual dalam suatu kelompok memiliki kemiripan dan terekspos pada risiko yang sama. Dalam hal ini. Sebagai alternatif. maka aset dan kewajiban tersebut dapat dilindung nilai sebagai suatu kelompok item yang dilindung nilai (group of hedged item). sepanjang efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. Sebagai contoh: Bank A memiliki aset keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 300 dan kewajiban keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 250 yang terekspos pada karakterisitik risiko yang sama. yaitu seluruh nilai wajar atau seluruh arus kas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 245 . item yang dilindung nilai dapat meliputi bagian tertentu dari arus kas kontraktual atau persentase tertentu dari nilai wajar. bank dapat menetapkan hanya bagian eksposur suku bunga dari aset keuangan tersebut yang ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. yaitu atas suatu bagian tertentu saja dari nilai wajar atau arus kas. posisi neto yang dinyatakan dalam suatu jumlah mata uang asing dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Bank A dapat menetapkan item yang dilindung nilai sebesar US$ 50.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan.

Semakin besar kuantitas (jumlah atau nilai) yang akan ditransaksi. d) Suatu prakiraan transaksi dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai sepanjang kemungkinan besar akan terjadi. 246 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Hal ini dikarenakan perubahan nilai dari suatu komponen pada item non keuangan yang dilindung nilai tidak dapat diukur dan mempengaruhi nilai dari item non keuangan tersebut. (6) kuantitas dan rentang waktu transaksi. Hal ini dikarenakan eksposur mata uang asing dari aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing dapat diukur secara terpisah. (5) kemungkinan dilakukannya alternatif transaksi lain. Dalam mengukur kemungkinan terjadinya transaksi. (2) kemampuan keuangan dan operasionl bank dalam melakukan transaksi tersebut. Sebaliknya. (2) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai atas perubahan nilai wajar yang dapat diatribusikan pada risiko nilai tukar. seperti halnya perubahan suku bunga pasar yang dapat mempengaruhi nilai dari surat berharga. bank harus memperhatikan fakta-fakta yang dapat diobservasi dan kondisi-kondisi seperti: (1) frekuensi transaksi serupa di masa lalu. (3) adanya komitmen sumber daya yang substansial/nyata bagi aktivitas tertentu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atas seluruh jenis risiko. Kedua cara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda serta tingkat kemungkinan terjadi yang berbeda. (4) besarnya kerugian atau gangguan yang dapat terjadi jika transaksi tidak dilakukan. Sebagai contoh: jika ingin memperoleh pendanaan (funding). dan/atau (7) rencana bisnis bank. semakin besar kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. semakin kecil kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. semakin panjang rentang waktu perkiraan (forecast). bank dapat melakukan dengan berbagai cara seperti menerbitkan saham atau memperoleh pinjaman.

bank tetap wajib melakukan evaluasi terjadinya penurunan nilai (impairment) berdasarkan bukti obyektif setelah memperhitungkan perubahan nilai wajar. risiko pelunasan dipercepat. 2) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen keuangan antara lain mencakup risiko suku bunga. risiko nilai tukar. 3) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen non keuangan antara lain mencakup risiko nilai tukar dan risiko nilai wajar secara keseluruhan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai item yang dilindung nilai antara lain mencakup: a) Aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. PSAK 55 menyatakan bahwa: a) Hanya risiko tertentu yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan untuk dilindung nilai. dan e) Semua transaksi yang terkait dengan saham (ekuitas) yang diterbitkan bank (own equity). dan b) Risiko-risiko tersebut dapat berdampak pada laporan laba rugi. Hal ini dikarenakan pengakuan keuntungan atau kerugian bersumber dari laba atau rugi perusahaan anak atau perusahaan asosiasi dan bukan dari perubahan nilai wajar investasi. karena aset keuangan tersebut dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan jatuh tempo. 4) Terhadap item yang dilindung. dan risiko kredit. yaitu selisih antara aset dan kewajiban. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 247 . e. Namun. d) Instrumen derivatif (kecuali opsi yang dibeli sebagai item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar). setiap risiko keuangan yang timbul dalam kegiatan usaha bank dapat dilindung nilai. perusahaan asosiasi. Risiko yang dilindung nilai (hedged risk) 1) Pada prinsipnya. b) Penyertaan pada perusahaan anak (subsidiaries) atau perusahaan asosiasi (assosiated companies) yang dikonsolidasikan atau diukur menggunakan metode ekuitas (equity method). atau kantor cabang di luar negeri. sehingga tidak akan terekspos pada risiko dari perubahan suku bunga pasar atau pelunasan dini. kecuali penyertaan bersih pada perusahaan anak. kecuali aset keuangan yang terkespos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat dilindung nilai. c) Posisi terbuka neto (net open position) dari suatu portofolio.

lindung nilai harus terkait dengan risiko yang telah diidentifikasi dan ditetapkan secara spesifik dan mempengaruhi laporan laba rugi. Metode penilaian tersebut harus ditetapkan pada awal hubungan lindung nilai dan pada periodeperiode selanjutnya. Bank dapat menggunakan berbagai metode penilaian yang didasarkan pada strategi manajemen risiko dan didokumentasikan dengan jelas. maka perubahan yang diakui dalam nilai wajar item yang dilindung nilai yang tidak berkaitan dengan risiko yang dilindung nilai diakui berdasarkan kategori item yang dilindung nilai. yaitu diakui pada laporan laba rugi untuk instrumen dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi atau diakui secara langsung dalam ekuitas untuk instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Efektivitas lindung nilai (hedge effectiveness) 1) Efektivitas lindung nilai merupakan penilaian sejauh mana perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindungi yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dapat saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. 2) Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: a) Lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada saat dimulainya lindung nilai dan periode selanjutnya selama periode lindung nilai tersebut. 3) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai (effectiveness test) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai harus dilakukan secara prospektif dan retrospektif yang meliputi penilaian kualitatif maupun kuantitatif. dan b) Hasil aktual dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dan perubahan nilai wajar atau arus kas yang diharapkan dari item yang dilindung nilai saling menghapus pada kisaran 80%– 125%.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Untuk memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai. f. 5) Jika risiko yang dilindung nilai hanya risiko-risiko tertentu yang dapat diatribusikan pada item yang dilindung nilai. 248 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . a) Penilaian secara prospektif (prospective test) yang dilakukan pada tanggal awal penetapan hubungan lindung nilai dan pada periode-periode selanjutnya (lihat Bagan di bawah).

yang disertai dengan bukti yang dapat mendukung perkiraan tersebut. Dalam metode ini. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 249 .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Penilaian ini didasarkan pada perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal lindung nilai dan pada periode selanjutnya. (3) Perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai secara prospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. hubungan lindung nilai adalah efektif jika item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai bersifat identik (yaitu terdapat kesamaan antara lain dalam hal jumlah nosional. antara lain: (a) Critical Terms Comparison Method Merupakan metode yang paling sederhana yang bersifat kualitatif dengan membandingkan persyaratan-persyaratan utama antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. (2) Bank juga harus memperkirakan bahwa hubungan lindung nilai tersebut sejalan dengan strategi manajemen risiko. tanggal jatuh tempo atau tanggal penyesuaian suku bunga (repricing dates) dan variabel yang mendasari) serta nilai wajar derivatif adalah nol pada tanggal awal (inception date).

diperlukan penilaian efektivitas yang dilakukan secara retrospektif. Oleh karena itu. karena dapat terjadi perubahan kondisi. (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang bersifat kuantitatif untuk memperkirakan hubungan lindung nilai di masa datang dengan membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari item yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari instrumen lindung nilai dan melihat korelasi statistik diantara kedua perubahan tersebut yang dapat mendukung pengukuran yang sama dimasa yang akan datang.85 menunjukkan bahwa 85% dari perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. 250 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Sebagai contoh: R-Square sebesar 0. (1) Jika suatu lindung nilai telah menunjukkan hubungan yang efektif secara prospektif. b) Penilaian secara retrospektif (retrospective test) yang dilakukan setiap tanggal pelaporan interim (paling kurang setiap 3 bulan) dan tanggal pelaporan akhir tahun. Umumnya R-Square harus berada dalam kisaran 80%-100% Meskipun Regression Analysis dapat membuktikan apakah hubungan antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai cukup efektif untuk memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai. Indikator pengukuran dalam metode ini antara lain RSquare (Coefficient of determination) yang menunjukkan persentase perubahan pada item yang dilindung nilai yang dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. misalnya perubahan kredibilitas pihak lawan dalam transaksi derivatif lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Perysaratan yang identik antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai tidak menjamin bahwa lindung nilai akan selalu efektif. bank tetap harus melakukan pengukuran efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif. namun tidak dapat mengukur mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif.

Jika bank melakukan lindung nilai terhadap kurang dari 100% nilai eksposur (misalnya 75%).125%. Kumulatif (cumulative basis). − Pemilihan pendekatan harus ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. Efektivitas dapat diukur berdasarkan 2 pendekatan. Dalam hal bank menetapkan untuk menggunakan pendekatan Kumulatif. (3) Efektivitas lindung nilai harus dinilai secara berkesinambungan dan ditetapkan sangat efektif selama periode laporan keuangan dimana hubungan lindung nilai ditetapkan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 251 . (4) Penilaian efektivitas lindung nilai secara retrospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. Perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai Rasio Lindung nilai = —————————————— ——————— Perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Suatu hubungan lindung nilai adalah sangat efektif jika rasio lindung nilai berada dalam kisaran antara 80% . yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak penetapan awal lindung nilai. maka bank hanya menetapkan 75% dari eksposur tersebut sebagai item yang dilindung nilai dan efektivitas hanya dinilai atas dasar 75% dari eksposur tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (2) Penilaian ini didasarkan pada evaluasi terhadap efektivitas aktual. (a) Dollar Offset Method Metode ini merupakan metode yang paling sederhana untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif dengan membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai selama periode waktu tertentu sebelum tanggal penilaian. yaitu: − Periode ke periode (period by period basis). yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak tanggal terakhir penilaian. antara lain:.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif maka ketidakefektifan lindung nilai yang terjadi pada suatu periode tertentu tidak serta merta menjadi alasan bagi pelarangan atau penghentian penerapan akuntansi lindung nilai (lihat ilustrasi dalam tabel berikut). e) Dalam melakukan pengukuran efektivitas lindung nilai atas arus kas (cash flow hedge) dimana item yang dilindung nilai belum diakui dalam neraca. maka hal tersebut harus telah ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. yaitu dapat mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang sama yang digunakan untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara prospektif. d) Bank harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya wanprestasi oleh pihak lawan (counterparty) terhadap instrumen lindung nilai dalam menilai efektivitas lindung nilai. Jika bank akan mengukur lindung nilai dengan dasar setelah pajak. bank dapat menggunakan suatu proxy derivative atau hypothetical derivative. Pendekatan Periode ke Pendekatan Kumulatif Periode Periode Lindung nilai Lindung Obligasi Swap yang tidak Rasio lindung nilai yang Rasio lindung nilai nilai efektif tidak efektif Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 100 60 (40) 120 (90) (65) 20 (120) 10 (100-90) (5) (60-65) (20) (-40+20) 0 (120-120) 10 (100-90) 5 108% (65/60) (160-155) 50% (15) (20/40) (120-135) 100% (15) (120/120) (240-255) 90% (90/100) 90% (90/100) 97% (155/160) 113% (135/120) 106% (255/240) Perubahan Nilai Wajar Penggunaan Dollar Offset Method memiliki kelebihan. yaitu dengan menetapkan suatu transaksi derivatif yang serupa dengan arus kas yang dilindung nilai (yang memiliki jumlah dan 252 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik pada saat dimulainya lindung nilai maupun pada periode selanjutnya. c) Pengukuran efektivitas lindung nilai dapat dilaksanakan dengan dasar setelah pajak (after tax basis).

Sebagai contoh: Bank A menerbitkan floating rate note (FRN) dengan suku bunga mengambang.468.81 315.550.60 196.08 514.92% 102.275. Perubahan Perubahan Nilai Wajar Nilai Wajar Hypothetical IRS Derivative 0 111.918. bank melakukan transaksi interest rate swap (IRS).275. Untuk melindung nilai terhadap perubahan arus kas yang disebabkan perubahan suku bunga.254. (1) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (over hedge).62% 100.098. Untuk mengukur efektivitas lindung nilai.496.92% 103.254.936.020.20 503. a) Dalam Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif secara otomatis diakui pada laporan laba rugi. maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 253 . b) Dalam Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif diukur berdasarkan Dollar Offset Method yang diakui pada laporan laba rugi. bank menggunakan hypothetical derivative yang menyerupai FRN sebagai item yang dilindung nilai.81 307.95 205.340.29 Kumulatif Efektivitas Efektivitas Perubahan Lindung Lindung Nilai Wajar Nilai Nilai IRS Kumulatif 0 111.00% 99.854.70 720.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal jatuh tempo yang sama) serta memiliki nilai wajar nol pada saat pengakuan awal.14 Kumulatif Perubahan Nilai Wajar Hypothetical Derivative 0 111. namun terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif yang harus diakui dalam laporan laba rugi.81 204.340.918.83 0 99.27 199.14 0 111.52 205.83% 101. 4) Bagian yang tidak efektif dalam lindung nilai yang efektif Meskipun rasio lindung nilai secara prospektif dan restrospektif berada dalam kisaran 80% .50% Tanggal 14 Jul 09 31 Jul 09 31 Aug 09 30 Sep 09 31 Oct 09 Lindung nilai dinilai efektif karena rasio lindung nilai secara kumulatif berada pada kisaran 80%-125%.837.42% 102.125% sehingga dikatakan sangat efektif.60 196.11% 101.15 709. Hasil dari transaksi lindung nilai dapat dilihat pada tabel berikut.

dan/atau (4) kredibilitas perusahaan dan pihak lawan (counterparty) dalam hubungan lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif selisih lebih tersebut merupakan bagian yang tidak efektif dan diakui pada laporan laba rugi.5 (10) 85% - 5) Hubungan lindung nilai yang tidak efektif (ineffectiveness) a) Hubungan lindung nilai yang berada diluar kisaran 80%-125% tidak lagi memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai sehingga harus dihentikan. (2) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih kecil dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (under hedge). GBP) atau perbedaan suku bunga referensi (JIBOR vs. maka tidak terdapat bagian yang tidak efektif. atau tanggal penyerahan. 254 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Nilai Wajar Kondisi 1 2 (overhedge) 3 (underhedge) Instrumen Lindung Nilai 7 12 Item yang Dilindung Nilai (10) (10) Rasio Lindung Nilai 70% 120% Keterangan Lindung nilai tidak efektif Lindung nilai efektif Bagian yang tidak efektif sebesar 2 diakui dalam laba rugi Lindung nilai efektif Tidak terdapat bagian yang tidak efektif 8. (3) kuantitas. b) Sumber penyebab ketidakefektifan suatu hubungan lindung nilai adalah terdapatnya perbedaan antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. yaitu meliputi perbedaan: (1) basis. lokasi. misalnya perbedaan mata uang (USD vs. SBI). (2) jatuh tempo (maturity) atau tanggal penyesuaian suku bunga berikutnya (repricing dates).

Lindung nilai atas nilai wajar merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai wajar dari: 1) Aset dan kewajiban 2) Komitmen pasti. Perlakuan akuntansi lindung nilai atas nilai wajar memberikan pengecualian dari perlakuan akuntansi secara umum.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. dan 3) Bagian tertentu yang telah diidentifikasi dari aset. yaitu dengan menarik ke depan pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai ke periode pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai. 100 milyar yang mewajibkan Bank A membayar suku bunga mengambang (LIBOR) dan menerima suku bunga tetap sebesar 7%. Strategi manajemen risiko Bank A adalah sumber pendanaan dalam suku bunga mengambang sehingga Bank A memutuskan untuk membeli swap suku bunga dengan nilai nosional sebesar Rp. Pengukuran efekivitas hubungan lindung nilai ditentukan dengan mengukur rasio perubahan nilai wajar dari swap suku bunga dan perubahan nilai wajar atas obligasi. Akuntansi Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) a. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan obligasi sejumlah Rp. Namun. Komitmen pasti hanya dapat dilindung nilai dengan lindung nilai atas nilai wajar. Lindung nilai atas nilai wajar antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas nilai wajar Kredit bersuku bunga tetap Meskipun Kredit dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang (Loans and Receivables) umumnya akan dimiliki hingga jatuh tempo. 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan tingkat suku bunga tetap sebesar 7%/tahun. kewajban. Bank A menetapkan swap suku bunga sebagai instrumen lindung nilai untuk risiko suku bunga atas obligasi yang diterbitkan. lindung nilai atas risiko nilai tukar dari komitmen pasti dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau lindung nilai atas arus kas. sehingga keuntungan/kerugian dari keduanya diakui dalam periode yang sama dan selanjutnya dapat dilakukan saling hapus. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 255 . namun bank c. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. b. atau komitmen pasti.

Penghentian harus dilakukan sejak 256 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 2) Lindung nilai atas nilai wajar aset keuangan dalam kategori Tersedia Untuk Dijual. yaitu: 1) Instrumen lindung nilai kadaluarsa. dan 2) prakiraan transaksi yang tidak terekspos pada risiko perubahan nilai wajar akan diperlakukan seolah-olah terekspos pada risiko tersebut. Lindung nilai atas nilai wajar tidak dapat digunakan untuk prakiraan transaksi karena: 1) dapat menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban sebelum bank menjadi pihak dalam kontrak. Penggantian atau perpanjangan instrumen lindung nilai bukan merupakan kondisi berakhirnya lindung nilai jika dilakukan sebagai bagian dari strategi lindung nilai yang terdokumentasi. Oleh karena itu. prakiraan transaksi hanya dapat dilindung nilai menggunakan lindung nilai atas arus kas. e. Oleh karena itu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dapat mereklasifikasikan atau menjual Kredit dimaksud. Berbeda halnya dengan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang juga diukur pada biaya perolehan diamortisasi. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. d. Kredit bersuku bunga tetap yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) juga terekspos risiko suku bunga dan bank dapat melakukan lindung nilai menggunakan lindung nilai atas nilai wajar. 3) Lindung nilai atas nilai wajar aset non keuangan. dihentikan atau dieksekusi. termasuk jika kemungkinan terjadinya wanprestasi pihak lawan (counterparty) semakin besar (probable). dimana bank mempunyai intensi untuk memiliki aset keuangan tersebut sampai jatuh tempo sehingga tidak perlu dilindung nilai baik atas risiko suku bunga maupun risiko pelunasan dipercepat. dan 4) Lindung nilai atas nilai wajar komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset non keuangan (misalnya kontrak untuk membeli atau menjual emas di masa datang pada harga yang sudah ditetapkan). dijual. Penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar dapat dihentikan secara prospektif dalam 3 kondisi.

2) Prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. Selanjutnya. b. 2) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari prakiraan transaksi penjualan aset. dan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal evaluasi terakhir yang menunjukan hubungan lindung nilai efektif atau tanggal terjadinya perubahan kondisi yang menyebabkan hubungan lindung nilai menjadi tidak efektif. Bank A akan menerima pembayaran sejumlah USD 100 Juta x (LIBOR – 8%). Pembatalan penetapan hubungan lindung nilai dapat dilakukan jika dianggap sudah tidak relevan lagi. Lindung nilai atas arus kas antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari pendapatan bunga atas surat berharga bersuku bunga mengambang. bank dapat menggunakan instrumen lindung nilai tersebut untuk ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai pada hubungan lindung nilai yang baru. Lindung nilai atas arus kas merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan (variabilitas) arus kas dari: 1) Aset dan kewajiban. dan 4) Komitmen pasti dalam mata uang asing. Sebagai contoh: Bank A menerima pinjaman dari Bank B sebesar USD 100 juta selama 3 tahun dengan suku bunga mengambang LIBOR + 2%. Bank A mengkhawatirkan tingkat suku bunga akan meningkat di masa depan. Bank A dapat menetapkan interest rate cap sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai atas arus kas untuk risiko suku bunga. Untuk melindungi dari risiko kenaikan suku bunga diatas 8%. kewajban. namun strategi manajemen risiko mengharuskan Bank A mempertahankan suku bunga mengambang maksimal 8%. 3) Bank membatalkan penetapan hubungan lindung nilai. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. 6. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 257 . dimana yang dilindung nilai adalah risiko nilai tukar. Bank A membeli interest rate cap dari Bank B dimana ketika suku bunga LIBOR naik diatas 8%. 3) Bagian terentu yang dapat diidentifikasi dari aset. Akuntansi Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) a.

yaitu: 1) Tiga kondisi sebagaimana pada penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar pada angka 5 huruf e) di atas. Item moneter dapat merupakan item yang penyelesaiannya tidak direncanakan maupun tidak akan mungkin terjadi di masa datang. Bank A melakukan transaksi jual forward sebesar HKD 50 milyar dan membeli IDR pada harga yang telah ditentukan. dan 2) Prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi sehingga lindung nilai dapat dihentikan. c. perusahaan patungan. yang mencakup perusahaan anak. perusahaan asosiasi. karena masih diharapkan dapat terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Lindung nilai atas komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing. Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri merupakan lindung nilai atas kepentingan (interest) bank pelapor atas aset bersih pada operasi di luar negeri. Bank A dapat menerapkan akuntansi lindung nilai atas investasi neto pada perusahaan anak di Hong Kong sebesar HKD 50 milyar dengan transaksi foreign exchange forward. 7. Nilai bersih aset perusahaan anak tersebut adalah HKD 50 milyar. Penghentian akuntansi lindung nilai atas arus kas Akuntansi lindung nilai atas arus kas dapat dihentikan secara prospektif dalam kondisi-kondisi berikut. Untuk melindungi nilai investasi di perusahaan anak terhadap risiko nilai tukar. Akuntansi Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri a. b. Instrumen derivatif (seperti forwards dan swaps) dan non derivatif (seperti Kredit dalam mata uang asing) dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. c. 258 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Sebagai contoh: Bank A di Indonesia mempunyai perusahaan anak di Hong Kong dengan mata uang fungsional HKD. dan/atau cabang dari bank pelapor yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri atau dalam mata uang yang berbeda dengan bank pelapor. Investasi neto pada operasi di luar negeri mencakup item moneter yang merupakan piutang dari atau utang pada operasi di luar negeri yang berjangka panjang. Penghentian tidak dapat dilakukan jika transaksi diperkirakan masih akan terjadi namun kemungkinannya tidak besar (no longer highly probable).

3) Penetapan portofolio ke dalam periode-periode tertentu. 4) Penetapan posisi terbuka neto (net open position) pada setiap periode dan jumlah posisi terbuka neto yang akan dilindung nilai. Umumnya. 2) Penetapan secara spesifik risiko yang akan dilindung nilai. sepanjang memenuhi 2 kondisi berikut: 1) Item individual dalam portofolio terekspos risiko yang sama yang akan dilindung nilai. b. dan 2) Perubahan nilai wajar dari setiap item individual dalam portofolio yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai diperkirakan proporsional dengan perubahan nilai wajar secara keseluruhan. 5) Penetapan item yang akan dilindung nilai. kewajiban. aset. c. atau prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi dengan karakteristik risiko yang sejenis. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapan akuntansi lindung nilai portofolio antara lain mencakup: 1) Identifikasi portofolio item yang akan dilindung nilai. yaitu suatu jumlah aset atau kewajiban keuangan tertentu yang sama dengan jumlah posisi terbuka neto. Akuntansi Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedge) a. Meskipun suatu portofolio dapat mencakup posisi aset dan kewajiban keuangan. yang dapat meliputi suatu portofolio derivatif dengan posisi risiko yang dapat saling hapus dengan item yang dilindung nilai. yang dapat meliputi aset atau kewajiban atau kombinasi dari keduanya. Portofolio aset atau kewajiban yang akan dilindung nilai harus merupakan item yang juga telah memenuhi persyaratan lindung nilai secara individual. misalnya periode berdasarkan tanggal penyesuaian tingkat bunga atau pelunasan dipercepat sesuai perkiraan dan bukan sesuai kontrak. Lindung nilai portofolio dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau arus kas bergantung pada portofolio risiko yang dilindung nilai. misalnya risiko suku bunga acuan (benchmark interest rate risk). namun bank harus menetapkan posisi yang merupakan item yang dilindung nilai pada setiap periode. Lindung nilai portofolio merupakan lindung nilai terhadap sekelompok komitmen pasti. Posisi terbuka neto dari suatu portofolio bukan merupakan item yang dilindung nilai. risiko yang dilindung nilai berdasarkan basis portofolio adalah risiko suku bunga dan pelunasan dipercepat.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 8. 6) Penetapan instrumen lindung nilai untuk setiap periode. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 259 .

260 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . instrumen derivatif diakui di neraca dan diukur pada nilai wajar terlepas apakah memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai atau tidak. jika lindung nilai tidak efektif. Derivatif a. kecuali: 1) Instrumen derivatif dengan variabel yang mendasari (underlying) dalam bentuk instrumen ekuitas yang tidak mempunyai kuotasi harga pasar (unquoted equity instrument). maka dampak neto terhadap laporan laba rugi adalah nol. nilai wajar instrumen derivatif harus diukur menggunakan harga penawaran (bid price) untuk long position atau harga permintaan (ask price) untuk short position pada setiap akhir hari. 8) Pengukuran perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai. yang diakui dan diukur pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. maka perbedaan antara perubahan nilai instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. b. Pada saat pengukuran selanjutnya. Namun. Bank dapat menggunakan nilai tengah (mid price) dari harga pasar untuk menentukan nilai wajar dari setiap long maupun short position yang terekspos pada risiko pasar yang saling hapus (yaitu jika memiliki kesamaan pada variable yang mendasari dan tanggal jatuh tempo) dan melakukan penyesuaian ke harga penawaran atau permintaan (bid-ask spread adjustment) atas posisi terbuka neto pada setiap tanggal laporan. yang diakui pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. Bank harus memiliki prosedur dan dokumentasi untuk memastikan efektivitas lindung nilai. Jika lindung nilai 100% efektif. nilai wajar instrumen derivatif pada saat pengakuan awal adalah nol. baik laporan interim maupun laporan tahunan. Pada saat pengakuan awal (inception date) dan pengukuran selanjutnya. dan 2) Instrumen derivatif yang nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal. 9) Pengakuan efektivitas lindung nilai. Umumnya. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7) Pengukuran efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal dan periode selanjutnya untuk memastikan bahwa lindung nilai sangat efektif. D.

termasuk PSAK 55. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai tagihan derivatif di sisi aset. Derivatif melekat yang memenuhi kriteria untuk dipisahkan dari kontrak utama diakui sebagai derivatif dan diukur berdasarkan nilai wajar sebagaimana pada angka 1) di atas. Kontrak utama diakui dan diukur berdasarkan PSAK yang sesuai. Lindung Nilai a. (2) pemisahan sulit dilakukan atau menimbulkan beban tambahan. (2) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen derivatif diakui dalam laporan laba rugi. Lindung Nilai atas Nilai Wajar 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas nilai wajar yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Untuk instrumen lindung nilai (1) Instrumen lindung nilai yang umumnya merupakan instrumen derivatif diakui dalam neraca dan diukur berdasarkan nilai wajar. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 261 . dan/atau (3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. 3) Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi sejak tanggal transaksi (trade date). b. bank dimungkinkan untuk menetapkan seluruh instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar (fair value option). 3. c. kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif pada lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi diluar negeri. antara lain: (1) tidak memenuhi seluruh kriteria pemisahan (bifurcation). 2) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi kerugian (potential loss) bagi bank. misalnya karena berbagai pertimbangan. Selanjutnya. 2. Derivatif Melekat a. Pemisahan derivatif melekat dari kontrak utama pada instrumen campuran tidak harus dilakukan. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai kewajiban derivatif di sisi kewajiban.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi keuntungan (potential gain) bagi bank.

(b) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) menggunakan suku bunga efektif. b) Untuk item yang dilindung nilai (1) Perlakuan akuntansi untuk item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar berbeda-beda bergantung pada kategori item yang dilindung nilai. 262 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan menyesuaikan nilai tercatat dari item yang dilindung nilai. maka instrumen tersebut diukur berdasarkan nilai wajar. Penyesuaian tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo. dan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. dan selanjutnya mempengaruhi nilai tercatat item tersebut dalam neraca. (2) Perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka hanya komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diakui dalam laporan laba rugi. (a) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Dalam hal amortisasi atas penyesuaian nilai tercatat dengan menggunakan suku bunga efektif yang dihitung kembali tersebut tidak praktis. Suku bunga efektif yang digunakan harus dihitung kembali berdasarkan penyesuaian keuntungan atau kerugian tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (3) Dalam hal instrumen lindung nilai bukan merupakan instrumen derivatif (non derivative) yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. maka amortisasi dapat menggunakan metode garis lurus (straight line).

(3) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar atas item yang dilindung nilai yang bukan merupakan bagian dari hubungan lindung nilai (yang dapat terjadi ketika hanya risiko tertentu yang dilindung nilai). diakui berdasarkan kategori instrumen keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (c) Item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen pasti Jika item yang dilindung nilai merupakan komitmen pasti. perubahan nilai wajar kumulatif yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai diakui sebagai aset atau kewajiban. keuntungan atau kerugian yang yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 263 . Selanjutnya.

(2) Total keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui secara terpisah dalam ekuitas dibatasi pada jumlah yang terendah antara: (a) Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai.Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dan (b) Perubahan kumulatif dari nilai kini ekspektasi arus kasa masa datang dari item yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Perlakuan akuntansi Instrumen lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluKeuntungan atau kerugian yang telah direalisasi atas warsa atau dijual. Item yang dilindung nilai Lindung nilai tidak lagi memenuhi . . b. 264 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Lindung Nilai atas Arus Kas 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas arus kas yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Bagian yang efektif (effective portion) (1) Bagian dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui diakui secara langsung dan terpisah dalam ekuitas. pasti. maka penyesuaian terhadap nilai tercatat karena pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi Komitmen pasti tidak lagi mememenggunakan suku bunga efektif sampai item yang nuhi kriteria komitmen pasti.Jika item yang dilindung nilai diukur pada biaya perolehan kriteria akuntansi lindung nilai. dihentikan instrumen lindung nilai akan terus diakui dalam laporan atau dieksekusi laba rugi. diamortisasi. Bank membatalkan penetapan . maka aset atau kewajiban yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. maka instrumen tersebut selanjutnya diukur berdasarkan nilai wajar melalui ekuitas.Jika item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen yang telah dilakukan. dilindung nilai tersebut jatuh tempo.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. bank mengakui aset atau kewajiban keuangan. b) Setelah transaksi Pada saat prakiraan transaksi terealisasi. (3) Bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi pada periode yang sama ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. b) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. 2) Lindung Nilai atas Arus Kas dari Prakiraan Transaksi a) Sebelum transaksi (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai pada awalnya diakui secara terpisah dalam ekuitas. (1) Aset atau kewajiban keuangan Ketika prakiraan transaksi yang dilindung nilai telah terealisasi dan menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban keuangan. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dalam ekuitas sebelum transaksi tersebut terealisasi harus direklasifikasi ke dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 265 . atau aset atau kewajiban non keuangan.

266 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank dapat memilih diatara 2 perlakuan akuntansi berikut: (a) Perlakuan akuntansi yang sama yang digunakan untuk pengakuan aset atau kewajiban keuangan. (b) Penerapan penyesuaian dasar (basis adjustment) atas aset atau kewajiban non keuangan yang akan diperoleh dan prakiraan transaksi. atau tetap mengakui dalam ekuitas dan mereklasifikasi ke dalam laporan laba rugi ketika aset atau kewajiban non keuangan tersebut mempengaruhi laporan laba rugi. misalnya jika terdapat pengakuan pendapatan atau beban bunga atau penurunan nilai aset atau kewajiban keuangan tersebut. Dalam perlakuan akuntansi ini. Pendekatan apapun yang dipilih harus diterapkan secara konsisten.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif laporan laba rugi pada periode yang sama atau pada periode-periode dimana aset keuangan yang diperoleh atau kewajiban keuangan yang diterbitkan mempengaruhi laporan laba rugi. misalnya jika terdapat pengakuan beban penyusutan atau penurunan nilai aset non keuangan. keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang semula diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui sebagai bagian dari nilai tercatat awal aset atau kewajiban non keuangan. (2) Aset atau kewajiban non keuangan Ketika prakiraan traksaksi yang dilindung nilai mengakibatkan pengakuan aset dan kewajiban non keuangan. Hal ini berarti bank dapat segera mereklasifikasi keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai ke ddalah laporan laba rugi. karena dianggap mewakili bagian dari harga perolehan.

Apabila prakiraan transaksi terjadi. Selisih yang timbul dari perubahan nilai tukar mata uang asing atas investasi neto juga diakui pada ekuitas. Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui Bank membatalkan penetapan secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi yang telah dilakukan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai. Apabila prakiraan transaksi terjadi. Keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai efektif direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi. Prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi c. tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. maka perlakuan akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas invetasi bersih pada operasi di luar negeri yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: 1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. jumlah yang tersisa pada ekuitas dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui pada laporan laba rugi pada saat yang bersamaan. dihentikan atau dieksekusi Perlakuan akuntansi Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi Lindung nilai tidak lagi memenuhi terjadi. akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. 2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 267 . maka perlakuan kriteria akuntansi lindung nilai. 3) Pada saat pelepasan atau pembubaran operasi diluar negeri.

2) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Pelunasan Dipercepat (Prepayment Risk) a) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko pelunasan dipercepat sama dengan lindung nilai atas arus kas. Total keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas adalah jumlah yang terendah antara keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai dan perubahan kumulatif dari nilai wajar dari item yang dilindung nilai. Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) 1) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Suku Bunga Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga sama dengan lindung nilai atas nilai wajar dimana keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Misalnya. 268 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . ketika prakiraan transaksi terjadi. yaitu: (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka jumlah keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. b) Keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama atau periode ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d.

Lindung Nilai Keuntungan atau kerugian atas suatu derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai terdiri dari dua komponen yaitu. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. Jika prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi. maka keseluruhan instrumen campuran yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi disajikan sebagai satu kesatuan di neraca dan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Penyajian 1. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dan derivatifderivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu serta independen antara satu dengan lainnya. Tagihan dan Kewajiban Derivatif Derivatif disajikan sebesar nilai wajar pada neraca sebagai tagihan atau kewajiban derivatif. bagian dari lindung nilai yang efektif dan bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. c. dan 2) Derivatif melekat disajikan sebagai tagihan atau kewajiban derivatif sebesar nilai wajar.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Jika instrumen lindung nilai dihentikan atau lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai (misalnya prakiraan transaksi kemungkinan tidak akan terjadi). b. maka keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi terjadi. maka: 1) Kontrak utama disajikan di neraca sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. 3. Jika instrumen campuran dimana derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama. Instrumen campuran dimana derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama. 2. Bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif disajikan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 269 . maka derivatif-derivatif melekat tersebut disajikan secara terpisah satu dengan lainnya. Derivatif Melekat Instrumen campuran (hybrid instrumen) disajikan sebagai berikut: a.

Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) Dalam lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga. pada pos aset yang terpisah dalam neraca. b. bank dapat tidak menggunakan rekening antara. 3 4 Valuta lawan adalah valuta yang diterima Valuta dasar adalah valuta yang diserahkan 270 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Keuntungan transaksi derivatif 2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan3 Kr. E. atau pada pos kewajiban yang terpisah dalam neraca. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar4 Dalam prakteknya. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan kewajiban.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dalam pos yang sama dengan keuntungan atau kerugian dari item yang dilindung nilai. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan aset. Contra account Db. Transaksi pembelian foreign exchange forward untuk tujuan perdagangan (trading) a. 4. b. penyesuaian yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai disajikan sebagai berikut: a. Ilustrasi Jurnal 1. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Tagihan derivatif forward Kr. Contra account Kr. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. sedangkan bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang tidak efektif disajikan pada pos yang sama dengan derivatif yang tidak ditentukan sebagai instrumen lindung nilai.

Mencatat komitment pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Kewajiban derivatif – IRS Pada awal hari berikutnya. Keuntungan transaksi derivatif .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr.. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Contra account Db.forward Kr. Kewajiban derivatif. Nostro valuta lawan Db/Kr.forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif – IRS 2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kerugian transaksi derivatif – IRS Kr. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 271 . Transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) a. Contra account Db... seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Kerugian transaksi derivatif – forward 3) Pencatatan penerimaan Db. Swap jual – IRS Pada saat melakukan valuasi 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. b. Tagihan derivatif – forward b) Potensi kerugian bagi bank Db. /Giro BI valuta dasar 2. Tagihan derivatif – IRS Kr. Contra account Kr. Contra account Kr. Swap beli – IRS Kr. Kas/Rekening.

. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Swap beli – IRS 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Utang premi Kr.. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS 3.... Contra account Db. Contra account Kr. Transaksi pembelian foreign exchange option a.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. Utang premi 3) Mencatat pembayaran premi Db. Kas/Rekening ./Giro BI Db. Opsi Beli (Call option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Biaya premi opsi Akuntansi Perbankan Indonesia 272 I P e d o m a n . Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr./Giro BI Db/Kr... e. Kerugian transaksi derivatif – IRS d. Kewajiban derivatif – IRS Kr. Kas/Rekening ../Giro BI Db/Kr. Contra account Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. Keuntungan transaksi derivatif – IRS Kr. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Kas/Rekening . Swap jual – IRS Kr. Biaya premi opsi Kr.. Tagihan derivatif – IRS b) Potensi kerugian bagi bank Db. Contra account Kr.

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – call option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – call option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kewajiban derivatif – call option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – call option Kr. Tagihan derivatif – call option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – call option Kr. Kerugian transaksi derivatif – call option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 273

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b.

Opsi Jual (Put option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Contra account 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Biaya premi opsi Kr. Utang premi 3) Mencatat pembayaran Db. Utang premi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Biaya premi opsi 4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – put option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – put option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Kewajiban derivatif – put option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

274 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif option (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – put option Kr. Tagihan derivatif – put option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – put option Kr. Kerugian transaksi derivatif – put option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan 4. Transaksi penjualan foreign exchange forward untuk tujuan lindung nilai, dimana lindung nilai memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. a. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward jual dasar Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan Kr. Contra account Dalam prakteknya, bank dapat tidak menggunakan rekening antara. b. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Dalam lindung nilai atas nilai wajar a) Valuasi terhadap foreign exchange forward sebagai instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 275

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Valuasi terhadap item yang dilindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Item yang dilindung nilai (menambah nilai tercatat) *) Kr. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (mengurangi nilai tercatat) *) *) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, maka penyesuaian nilai tercatat tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif (yang dihitung kembali) sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo c) Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dapat saling hapus dengan kerugian atau keuntungan atas item yang dilindung nilai.

2) Dalam lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri, meskipun rasio lindung nilai secara berada dalam kisaran 80% - 125% berdasarkan Dollar Offset Method sehingga dinilai sangat efektif, namun mungkin saja terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. a) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai, maka selisih lebih yang merupakan bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward b) Bagian yang efektif Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas

276 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

(1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. c. Pada saat penghentian akuntansi lindung nilai karena kontrak foreign exchange forward jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas nilai wajar a) Instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif - forward Kr. Tagihan derivatif – forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif- forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – forward (1) Jika merupakan item yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, maka tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian pada nilai tercatat, melainkan akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai jatuh tempo. (2) Jika merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual, tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian

b) Item yang dilindung nilai

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 277

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

pada nilai tercatat, dan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar selanjutnya diakui dalam ekuitas. (3) Jika merupakan komitmen pasti, maka aset atau kewajiban keuangan yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. (a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (b) Potensi kerugian bagi bank Db. Item yang dilindung nilai Kr. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai 3) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. a) Bagian yang tidak efektif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif Kr. Tagihan derivatif forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif forward Kr. Kerugian transaksi derivatif b) Bagian yang efektif Keuntungan atau kerugian dalam ekuitas akan tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi atau investasi neto pada operasi di luar negeri dilepaskan. Pada saat prakiraan transaksi terealisasi, keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi, atau pada periode-periode selanjutnya ketika bank mengakui pendapatan bunga atas aset keuangan yang berasal dari prakiraan transaksi tersebut sesuai kebijakan akuntansi yang diterapkan. d. Pencatatan penerimaan atau pembayaran atas transaksi derivatif Db. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta lawan Db/Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta dasar

278 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain: 1. Kebijakan akuntansi Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang antara lain deskripsi mengenai tujuan dan kebijakan manajemen risiko, termasuk kebijakan lindung nilai atas setiap jenis risiko dan jenis lindung nilai yang digunakan. 2. Informasi kualitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. b. c. 3. eksposur risiko dan bagaimana risiko tersebut timbul; tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko, termasuk metode pengukuran risiko tersebut; dan setiap perubahan pada a atau b dari periode sebelumnya

Informasi kuantitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. ikhtisar data kuantitatif mengenai eksposur risiko pada tanggal pelaporan. Pengungkapan tersebut harus didasarkan pada informasi yang disajikan secara internal kepada manajemen (seperti didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa), misalnya dewan direksi atau Direktur Utama. risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuditas, kecuali risiko tersebut tidak material; dan konsentrasi risiko, jika tidak terlihat dari a dan b.

b. c. 4.

Derivatif Melekat a. Jika bank menerbitkan instrumen yang mengandung komponen kewajiban dan ekuitas (lihat paragraf 28 PSAK 50) dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat yang nilainya saling tergantung satu sama lain (seperti callable convertible debt instrument), maka bank harus mengungkapkan keberadaan fitur tersebut. Dalam hal derivatif melekat tidak dipisahkan dan disajikan sebagai bagian dari instrumen campuran, maka bank perlu mengungkapkan metode valuasi terhadap nilai wajar instrumen campuran tersebut.

b.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 279

2) uraian instrumen keuangan yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai and nilai wajarnya pada tanggal neraca. Informasi untuk setiap jenis lindung nilai secara terpisah (lindung nilai atas nilai wajar. dan 3) sifat risiko yang dilindung nilai. yang antara lain mencakup: 1) periode ketika arus kas diperkirakan akan terealisasi dan mempengaruhi laporan laba rugi. Informasi lainnya mengenai lindung nilai. dan b) item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. b. 2) uraian atas setiap prakiraan transaksi dimana akuntansi lindung nilai sebelumnya telah diterapkan. yang antara lain mencakup: 1) keuntungan atau kerugian yang diakui dalam lindung nilai atas nilai wajar dari: a) instrumen lindung nilai. lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri). Informasi mengenai lindung nilai atas arus kas. 280 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c. namun tidak lagi diharapkan akan terjadi. yang antara lain mencakup: 1) uraian setiap jenis lindung nilai. 2) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas arus kas. 4) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi selama periode berjalan. Akuntansi Lindung Nilai a. dan 5) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas selama periode berjalan dan diakui sebagai bagian dari biaya perolehan awal atau nilai tercatat dari aset non keuangan atau kewajiban non keuangan yang diperoleh atau diterbitkan melalui transaksi transaksi prakiraan yang sangat mungkin terjadi yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. 3) jumlah yang telah diakui dalam ekuitas selama periode berjalan. dan 3) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas investasi neto dalam operasi luar negeri.

. dengan nasabahnya dengan forward rate USD1 = Rp.000 151. Contra account Db. 9. Transaksi foreign exchange forward Pada tanggal 31 Januari 2009. Kontrak forward beli Kr. Rp.983.200 dan menjual Rp. Rp.000 151.dimana bank A setuju untuk membeli USD 16.146. Pada awal hari berikutnya.350–9. Tagihan derivatif forward Rp.pada tanggal 31 Maret 2009. Kerugian transaksi derivatif Rp.. Keuntungan transaksi derivatif Rp.47) (1 + 10%/12)1 29/02/2009 USD1=Rp.146.000 151.47 Kr. Kontrak forward beli Kr.666. Pada saat melakukan valuasi akhir hari tanggal 28 Februari 2009 berdasarkan nilai wajar Db. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Tanggal 31/01/2009 Forward rate USD untuk 31/03/2009 USD1=Rp.200 ——————————————— = (481.76 318.47 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 281 .330) x USD 16. Bank A melakukan transaksi foreign exchange forward USD/Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Rp. 9. Rp.146.983.146.350 Nilai wajar bersih (Rp) [9.666. Kontrak forward jual atau tanpa rekening antara (single entry) Db.330.000.000 318.666. Contra account Kr. 151.983.000 151. 481.300 Jurnal transaksi a. 481.76 b.200 ——————————————— = 318. 9.146.146.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif G. Kewajiban derivatif forward Rp.000 151.330) x USD 16. Kontrak forward jual Rp. Pada tanggal transaksi 31 Januari 2009 Db. Rp. 151. Contoh Kasus 1. Kr.300–9. c.76 (1 + 10%/12)2 [9.146. Pada saat melakukan valuasi akhir hari berdasarkan nilai wajar Db. Diasumsikan tingkat diskonto (discount rate) sebesar 10%.

.146.146.sehingga nilai wajar obligasi adalah Rp 8..000 151. Kas/Rekening . Rp.000 151.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Pada awal hari berikutnya. diasumsikan nilai wajar opsi konversi adalah Rp.dengan jangka waktu 10 tahun dan bunga 5%/tahun yang dibayar secara tahunan.Berikut adalah perhitungan nilai 282 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. Contra account 2) Pencatatan penerimaan Db.146.. 1. Rp.000. dan opsi konversi memenuhi persyaratan sebagai instrumen derivatif. Instrumen campuran (hybrid instrument) Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank B menerbitkan obligasi konversi (convertible bond) pada nilai par sebesar Rp./Giro BI *) Spot rate USD 1=Rp. d. Rp. Rp. Opsi konversi yang merupakan derivatif melekat tidak mempunyai hubungan yang erat dengan obligasi Disamping itu.../Giro BI *) Kr. sesuai PSAK 55 opsi konversi harus dipisahkan dari obligasi sebagai kontrak utamanya. 151. Kas/Rekening .146. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db.000 151.500.000. Kontrak forward jual Kr.146. obligasi konversi tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi..000 151. Rp. Pemegang obligasi mempunyai hak untuk mengkonversikan obligasi tersebut pada tanggal jatuh tempo dan menerima sejumlah saham Bank B pada harga rata-rata pasar dari saham tersebut selama 10 hari terakhir.470. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 10. Keuntungan revaluasi Kr.000. Penerbitan obligasi konversi tersebut merupakan suatu kontrak yang akan diselesaikan oleh Bank B dengan penyerahan instrumen ekuitas miliknya sebagai pengganti kas dengan jumlah yang bervariasi yang tidak dapat diakui sebagai instrumen ekuitas sesuai PSAK 50.000 2.350- Rp. Pada tanggal 1 Januari 2009.500.. Rp..000 324. melainkan sebagai kewajiban keuangan dalam bentuk instrumen campuran. Kontrak forward beli Db. Contra account Kr. opsi konversi tersebut harus diukur pada nilai wajar dan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar opsi konversi merupakan nilai wajar obligasi yang akan diakui dan diukur pada harga perolehan yang diamortisasi (amortised cost).000 151. Selanjutnya. 9. Dengan demikian.

505 623.723.649 1.764 632.696.607.065 8.023 20.797 8.000 1.000) (500.000 (500.000) (11.000) (500.790) (30.310) (200.723.539.799.869 28.000) (500.000) Pembayaran Nilai tercatat beban akhir bunga Obligasi (5%) 8.729.000) (500.500.144) (174.841) (23.076 26. Beban bunga (7.614 642.611.706 19.000 Kewajiban Derivatif Db (Kr) (1.000) (500.764 632.000) (500.15%) 607.584.076 26.847.402 25.274.096 652.790 30.500.418) 1.810 687.987 9.636.764.177 9.500.310 700.841 23.032 9.607.979.810) (187.000) (500.301 8.679 9.144 674.000) (500.000.055 35.402 25.000) (500.505) (123.561.790 30.437.15% serta nilai wajar opsi konversi.000) (19.000 Nilai wajar Opsi Konversi 1.000) (500.764) (132.000) (500.065 8.257 663.000) (500.704 (500.614 642.594 1.023 20.121.096) (152.725 1.437.000) (500.614) (142.706) Obligasi Db (Kr) (8.665.797 615.418 Perubahan nilai wajar Opsi Konversi Periode 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 Nilai tercatat awal Obligasi 8.505 623.000 8.301 8.096 652.869 28.257 663.979.849 33.233 1.987 9.144 674.032 9.384 1.500.797 615.609.418 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 283 .310 700.274.000) (500.500.764.500.611.177 9.000) (500.810 687.000) (500.000.849 33.000 8.764.023 1.247 1.799.849) (33.704 Kerugian (Keuntungan) Transaksi Derivatif Db (Kr) 19.296 10.383) (21.076) (26.841 23.775 9.000) (107.406 1.383 21.296 Jurnal transaksi Tanggal Kas Db (Kr) 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 10.797) (115.121.869) (28.055) (35.000) (500.000) (500.023) (20.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tercatat obligasi sampai tanggal jatuh tempo yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif sebesar 7.797 8.519.055 35.000.288 1.679 9.847.402) (25.706 Beban Bunga Db (Kr) 607.383 21.775 9.257) (163.000 8.704) 10.

000. Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank C menerbitkan obligasi sebesar Rp 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan suku bunga tetap 10% yang dibayar setiap 6 bulan.000 491. 500./Giro BI Kr.) 500.. baik secara prospektif maupun retrospektif.000. Bank C memutuskan untuk melakukan lindung nilai atas risiko suku bunga dengan melakukan transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) dengan bank lain untuk jangka waktu 1 tahun.554.000.Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai kini arus kas IRS sebesar 10%.000.5%) x (Rp.554. Swap suku bunga mensyaratkan Bank C menerima suku bunga tetap sebesar 10% dan membayar suku bunga mengambang 1% diatas JIBOR. .222.905 517.777. Tanggal 1 Januari 2008 1) Penerbitan obligasi Db.) 0 8.000 284 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000)/2] (1 + 10%/2)n 2 ) Σ n 8 Jurnal transaksi a.000.189 Nilai wajar IRS (Rp. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.000 Rp.884. 500.000.11%) x (Rp. Obligasi Rp. Kas/Rekening.Untuk memudahkan perhitungan.000.9.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3.. Suku bunga mengambang akan disesuaikan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. . Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: IRS untuk 31 Desember 2013 JIBOR Fixed (6 bulan) + 1% 10% 9% 10% 9.Bank C memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar.115.189) 2) 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 ) Σ n 9 [ (10% .000.000)/2] (1 + 10%/2)n [ (10% .769. Asumsi: .000.5% 10% 11% Nilai wajar Obligasi (Rp.000. 500.769.095 1) (17. 500.

000. Swap – suku bunga tetap b.750.000.000.250. Kr.000.554.000 1. Kewajiban derivatif swap Rp.884.777. Beban bunga Kr. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.000 Rp. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp.095 Kr. Tanggal 30 Juni 2008 Rp.189 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 285 . 8.000 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db.769.000 23. 8.000. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Pada awal hari berikutnya.000 25.777.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Transaksi swap suku bunga Db. c.769.095 Kr. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.884.000.000 25.000.250.000.000 25. Obligasi Rp.554.000. Tanggal 31 Desember 2008 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. 25. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.189 Kr. Kr. Kas/Rekening BI Rp. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp.884. Swap – suku bunga mengambang Kr.095 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db. 500. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db.000.000.000. 8.750.000 23. Pendapatan bunga Rp.777.095 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db. 17. 8. Kr. Db.000.000. 500.000.000 1.884. Rp. 17.000. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.777.000 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db. Obligasi Rp.

/Giro BI Rp. Pendapatan bunga Rp.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db.000. 25. 23. 100 milyar untuk jangka waktu 5 tahun dengan suku bunga 9% yang dibayar setiap 6 bulan. Jika suku bunga SUN turun dibawah 9%. 1. Pada awal hari berikutnya.000. Db.000.000 Rp.000 23. 286 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp. Bank D berkeinginan untuk mempertahankan suku bunga yang akan diperoleh dari SUN tersebut (locking in) dengan melakukan strategi lindung nilai melalui pembelian opsi beli (call option) atas SUN sebesar Rp. 17. 14 juta. Beban bunga yang masih harus dibayar 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr..189 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus.769.000 Rp. Kas/Rekening.189 Kr.000 Rp.250.000.000 25.000 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db.769.000 1. Bank D membayar premi sebesar Rp.000. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db. maka Bank D akan mengeksekusi opsi beli. dan sebaliknya jika suku bunga meningkat diatas 9%. 17.250.000.554..750. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. 25.000. maka Bank D tidak akan mengeksekusi opsi beli dan membeli SUN di pasar.000. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp.000.554.000. Atas pembelian opsi beli tersebut. Kr. Kewajiban derivatif swap Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Kr. 4.000. Bank D menetapkan transaksi pembelian opsi beli tersebut sebagai instrumen lindung nilai dan lindung nilai akan diukur berdasarkan akumulasi perubahan nilai wajar SUN dan nilai intrinsik (intrinsic value) dari opsi.000 25.000. Akuntansi lindung nilai atas arus kas Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank D memprakirakan akan melakukan transaksi pembelian Surat Utang Negara SUN (forecast transaction) pada tanggal 31 Januari 2009 sebesar Rp.750. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp. 100 milyar dengan suku bunga 9% dan jatuh tempo pada 31 Januari 2009 (strike date). Beban bunga Kr.

634. Tanggal 1 Januari 2009 (1) Pembelian opsi beli (call option) Db.000 0 Nilai wajar Opsi Beli (nilai intrinsik) Rp.000 8.000 b.000. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.000.000 Kr.890 1) - ) Σ n 9 [ (9% .395. Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 287 . Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.000 14. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Asumsi: Bank D memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar./Giro BI Rp. 0 9% 8% - 4..248 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar opsi Db. Tagihan derivatif opsi Rp.000 Pada awal hari berikutnya. Kas/Rekening .055. 3..000. 100. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.000)/2] (1 + 4.447. Tagihan derivatif opsi Kr. Tanggal 30 Juni 2009 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar opsi (nilai intrinsik) karena forward rate suku bunga SUN meningkat 1% Db. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Forward rate SUN untuk posisi 31 Desember 2009 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 Nilai wajar Opsi Beli (nilai waktu) Rp.8%) x (Rp. Tagihan derivatif opsi Rp.000.000.395. 6. Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai intrinsik opsi adalah sebesar 9%. 14. 14. baik secara prospektif maupun retrospektif.000.. Untuk memudahkan perhitungan.5%/2)n Jurnal transaksi a.000.000.634. 3. 6.248 Kr.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. Db..000.634.. Tagihan derivatif opsi Rp. Keuntungan transaksi derivatif Rp.395. 8.248 288 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .395.000.000 3) Sesuai kebijakan akuntansi bank.000. 3. Kas/Rekening.000. 8. 3.100.248 Kr.000 Kr..634.000. Tanggal 31 Desember 2009 1) Menghentikan pengakuan tagihan derivatif opsi karena pada saat jatuh tempo nilai waktu opsi menjadi nol Db. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp. Surat Utang Negara Kr. keuntungan instrumen lindung nilai yang diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi dalam periode yang sama dengan realisasi dan pengakuan aset keuangan dari suatu prakiraan transaksi.000 Rp.000 2) Mengeksekusi opsi beli SUN dengan suku bunga 9% Db./Giro BI Rp.100. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.000.

9. 4. Advising bank adalah bank yang diminta oleh issuing bank untuk menyampaikan LC kepada Beneficiary. Paying bank adalah bank yang melakukan pembayaran sight LC atau deferred payment LC. 2. Issuing bank adalah bank penerbit LC. Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 3. 5. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 289 . 7. Confirming bank adalah bank yang ikut menjamin pembayaran LC kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai syarat LC dengan membubuhkan konfirmasinya pada LC yang bersangkutan. Definisi 1.Bab VII I E k s p o r Impor Bab VII Transaksi Ekspor Impor A. 11. 10. Accepting bank adalah bank yang menjamin pembayaran wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance LC dengan melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan. Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Negotiating bank adalah bank yang melakukan pembayaran kepada eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada issuing bank atau paying bank atau reimbursing bank. 8. 6. Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa LC dibuka (penerima LC). Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada issuing bank untuk membuka LC. Catatan: Dalam Bab VII termasuk pengaturan transaksi Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Reimbursing bank adalah bank yang telah mendapat otorisasi dari issuing bank untuk membayar reimbursement claim dari negotiating bank.

18. 290 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Sight LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada saat dokumen-dokumen LC diajukan kepada bank. 17. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai “Letter of credit” (LC) Dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis pemohon (applicant) yang mengikat bank pembuka (issuing bank) untuk: a. Discounting bank adalah bank yang mendiskonto wesel yang ditarik berdasarkan LC. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. Irrevocable LC adalah LC yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya. b. Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh eksportir atas dasar suatu LC. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. 21. 20. melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya.Bab VII I E k s p o r Impor 12. Acceptance LC adalah LC yang mengharuskan wesel yang ditarik oleh beneficiary diaksep oleh accepting bank yang akseptasinya dilakukan sepanjang dokumen-dokumen yang diajukan telah memenuhi syarat LC. test key). Bank Koresponden (corresponding bank) adalah bank yang mempunyai hubungan korespondensi (misal pertukaran kode swift. memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh Penerima. sepanjang persyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang berlaku mengenai SKBDN. Negotiation LC adalah LC yang pembayarannya kepada Beneficiary dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana negotiating bank. atau c. 13. 14. 19. 16. Letter of credit (LC) adalah setiap janji tertulis yang dikeluarkan/diterbitkan oleh bank atas permintaan importir (applicant) dimana bank berjanji akan melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) jika telah memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam LC. 15. atas penyerahan dokumen. Deferred payment LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC. memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya.

laporan arus kas. kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar). (PSAK 1: paragraf 71) 3. (KDPPLK: paragraf 91) Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. pengakuan kewajiban mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang bersangkutan. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. (PSAK 1: paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. (KDPPLK: paragraf 92) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Dalam kasus ini. kalau dalam keadaan tertentu kriteria pengakuan terpenuhi.. kewajiban (obligation) semacam itu dapat memenuhi definisi kewajiban dan. 5. maka kewajiban (obligation) tersebut dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. 4. Dalam praktik. Nostro adalah rekening/simpanan bank pada suatu bank di luar negeri dalam bentuk mata uang negara tersebut. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan kewajiban (misalnya. kewajiban (obligations) menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya... Dasar Pengaturan 1. (KDPPLK: paragraf 89) Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . I 291 . Namun demikian.Bab VII I E k s p o r Impor 22. laporan laba rugi.... B. kewajiban atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada umumnya tidak diakui sebagai kewajiban dalam laporan keuangan. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. komitmen. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan.

Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. dan c. entitas mengukur pada nilai wajarnya. Namun. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan.. 8. perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima … (PSAK 55: PA 79) 12. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut.. (PSAK 55: PA39) 292 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 57: paragaf 28) Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. (PSAK 55: paragraf 43) 11. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. jika dan hanya jika. 10. (PSAK 55: paragraf 14) 7. (PSAK 57: paragraf 15) Perusahaan tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi. 9. piutang dagang. investasi dalam instrumen utang. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/ kriteria untuk pengklasifikasian tersebut. Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya. (KDPPLK: paragraf 94) Kewajiban diestimasi harus diakui apabila ketiga kondisi berikut dipenuhi: a. estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. b. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang.Bab VII I E k s p o r Impor 6. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

. pada nilai wajarnya. biaya pendanaan (financing costs). Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. (PSAK 55: paragraf 8) 14. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs).. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. 16. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual.Bab VII I E k s p o r Impor 13.. perantara efek dan pedagang efek. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. (PSAK 55: paragraf 46) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 293 . pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. c. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. entitas mengukur aset keuangan. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. konsultan. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. kecuali: a. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. (PSAK 55: paragraf 8) b. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. atau pelepasan lain. Setelah pengakuan awal. (PSAK 55: PA26) 15.

maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi).. d. 294 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Jika terdapat bukti tersebut. (PSAK 55: paragraf 59) 19. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui.Bab VII I E k s p o r Impor 17. pihak pemberi pinjaman. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. b. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. jika dan hanya jika. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai.. (PSAK 55: paragraf 57) 18. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. pelanggaran kontrak. c. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. dan melalui proses amortisasi.

atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi.Bab VII I E k s p o r Impor e. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. (PSAK 55: paragraf 64) 21. f. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. (PSAK 55: paragraf 60) 20. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). dan untuk itu kerugian penurunan nilai Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 295 . atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual.

(PSAK 55: paragraf 66) 23. (PSAK 55: paragraf 8) 24. baik secara langsung. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: paragraf 65) 22. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). (PSAK 55: paragraf 17) 296 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. b. pada periode berikutnya. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. Jika. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. jika dan hanya jika: a.Bab VII I E k s p o r Impor diakui atau tetap diakui.

Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. Mekanisme transaksi ekspor-impor Sight LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 & 11 Tindakan Importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani sales contract Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 297 . Penjelasan 1. issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang. Apabila dokumen clean.Bab VII I E k s p o r Impor C. negotiating bank akan melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada beneficiary dengan hak recourse.

Proses ini dikenal dengan istilah diskonto. negotiating bank dapat melakukan pembayaran di muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen dikurangi diskon/bunga. Apabila dokumen clean. issuing bank akan mengirimkan teleks akseptasi ke negotiating bank Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada saat jatuh tempo Issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank 298 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VII I E k s p o r Impor Usance LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan usance LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan usance LC kepada Beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan usance LC kepada Beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen.

Bab VII I E k s p o r Impor Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing bank dimana advising bank bukan negotiating bank Langkah 1 2 3a 3b 4 5 6 7a 7b 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan LC/SKBDN kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Issuing bank memberikan reimbursement authorization kepada reimbursing bank Advising bank meneruskan LC/SKBDN kepada beneficiary Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai permintaan dalam LC/SKBDN Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Negotiating bank mengirimkan dokumen kepada issuing bank Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing bank untuk melakukan pembayaran. Reimbursing melakukan pembayaran kepada negotiating bank (claiming bank) Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary Issuing bank melakukan pembayaran kepada reimbursing bank Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menyerahkan dokumen kepada applicant untuk menebus/mengambil barang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 299 .

4. biaya pengiriman dokumen. LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon (applicant). advising bank meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary. LC/SKBDN dibedakan menjadi: a. SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC tunduk pada Uniform Customs and Practice for Documentary Credits/UCPDC. Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Akuntansi yang terkait dengan kewajiban kontinjensi dan kewajiban diestimasi. Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang berasal dari hak dan kewajiban kontraktual. bank melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut. Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi. Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary. LC/SKBDN atas unjuk (sight payment). Berdasarkan cara penyelesaian pembayarannya. LC/KBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk meminta pembayaran kepada issuing bank melalui bank korespondennya berdasarkan pemenuhan persyaratan yang tercantum dalam LC/SKBDN. antara lain untuk jaminan keuangan (financial guarantee) seperti shipping guarantee. sesuai dengan jenis LC/SKBDN: 300 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 5. Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank. 3. b. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation). 6.Bab VII I E k s p o r Impor 2. Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi akseptasi. c. yaitu: a. LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment). dan komisi negosiasi dokumen. antara lain untuk tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil alih bank. komisi pembukaan LC/SKBDN. b. LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance). 7. Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. d. 9. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab mengenai surat berharga. 8.

Bab VII I E k s p o r

Impor

a.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan kemudian meneruskan dokumendokumen yang diterima kepada issuing bank.

b.

LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN) Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.

c.

LC/SKBDN yang ditagih dengan collection Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank untuk ditagihkan pembayarannya tanpa terlebih dahulu melakukan pembayaran kepada beneficiary. LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara lain: 1) dokumen yang diajukan terdapat penyimpangan (discrepancy/ies); atau 2) tidak ada bank yang bersedia sebagai negotiating bank

10. Bank pendiskonto (discounting bank) membayar kepada beneficiary sebesar nilai LC/ SKBDN atau nilai realisasi setelah dikurangi diskonto. 11. Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dengan hak regres (with right of recourse) berdasarkan wesel dan dokumen yang diajukan oleh beneficiary, kecuali status negotiating bank sebagai confirming bank. 12. Instrumen (dokumen keuangan/financial document) untuk penyelesaian pembayaran semua jenis LC/SKBDN digunakan wesel (draft/bill of exchange). 13. Khusus untuk deferred payment, instrumen pembayaran pada dasarnya adalah promisory notes, namun dalam praktek perbankan Indonesia telah lazim digunakan wesel yang diperlakukan sebagai tagihan.

D. Perlakuan Akuntansi
Pengakuan dan Pengukuran Transaksi Ekspor 1. Pada saat menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank mengadministrasikan LC/SKBDN yang diterima. Advising bank mengakui pendapatan provisi (advising fee) yang dipungut, dan pendapatan administrasi atas telex/swift atau pengiriman dokumen pada saat terjadinya.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 301

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Dalam hal advising bank juga bertindak sebagai confirming bank untuk menjamin pembayaran LC/SKBDN maka advising bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada saat yang sama mengakui tagihan komitmen kepada issuing bank. Confirming bank mengakui pendapatan provisi (advising fee dan/atau confirming fee) secara sekaligus atau dialokasikan selama jangka waktu komitmen. Untuk LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN), pada saat pembayaran dokumendokumen yang diajukan beneficiary, bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank dalam pos tagihan lainnya sight LC/SKBDN kepada bank. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) a. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, bank mengakui tagihan kepada accepting bank sebagai pos tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary sebagai pos kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank terlebih dahulu “telah menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dan membukukan wesel ekspor sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu wesel ekspor. Pada saat yang sama bank menjurnal balik tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank ”belum menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan mengakui tagihan kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN serta mengakui pendapatan yang ditangguhkan sebesar nilai diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu tagihan. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank membukukan tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Pada saat yang sama bank membukukan wesel ekspor berjangka dan melakukan jurnal balik atas tagihan kepada beneficiary serta menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi. Pada saat jatuh tempo, apabila bank yang melakukan pembayaran (paying bank) kepada beneficiary menerima pembayaran dari issuing bank, maka bank membukukan pada pos nostro/giro B.I/Rekening Antar cabang dan menjurnal balik pos wesel ekspor berjangka.

3.

4.

b.

c.

302 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

d.

Apabila bank tidak melakukan pendiskontoan/negosiasi tetapi hanya melakukan penagihan (on collection) atas permintaan beneficiary, maka pada saat jatuh tempo bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi. Pembayaran dari issuing bank dibukukan pada pos nostro/Giro BI/Rekening Antar Cabang dan mengkredit rekening beneficiary sebesar nilai LC/SKBDN dikurangi dengan biaya administrasi.

5.

LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN) a. Dalam hal negosiasi LC/SKBDN dimana wesel unjuk (sight) diambil alih oleh negotiating bank (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat bersamaan negotiating bank mengakui tagihan kepada issuing bank sebagai pos tagihan lainnya - sight LC/SKBDN kepada bank koresponden yang akan diselesaikan pada saat menerima pembayaran dari issuing bank. b. Dalam hal bank menegosiasi wesel berjangka yang belum diaksep (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung (bila ada). Pada saat bersamaan, bank mengakui tagihan kepada beneficiary dalam pos tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum diakseptasi. c. Pada saat menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank mengakui tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi sebesar nilai realisasi LC/SKBDN ditambah/ dikurangi dengan biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi. Selanjutnya biaya/pendapatan tersebut diamortisasi selama jangka waktu tagihan akseptasi. Dalam hal bank menerima akseptasi dari accepting bank setelah bank melakukan pendiskontoan/negosiasi maka perlakuan akuntansi sebagaimana diatur pada butir 4. c di atas. Perlakuan akuntansi untuk wesel ekspor mengacu pada bab mengenai surat berharga. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan pada saat pengakuan awal Sebesar nominal tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dikurangi pendapatan/beban (bila ada).

6.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 303

Bab VII I E k s p o r

Impor

7. Setelah pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebagai berikut:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan setelah pengakuan awal Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

8. 9.

Perlakuan akuntansi untuk amortisasi biaya transaksi mengacu pada Bab mengenai Kredit. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori

Pencatatan pada saat pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya yang diukur sebesar diamortisasi) nilai wajar, yang pada umumnya adalah sebesar kewajiban bruto.

10. Setelah pengakuan awal, bank mencatat kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebagai berikut:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori Pencatatan setelah pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. Pada saat membuka LC/SKBDN, bank mencatat ke dalam pos: a. b. c. 2. kewajiban komitmen LC/SKBDN dalam mata uang asing sebesar nilai LC/SKBDN; setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam LC/SKBDN sebesar setoran yang diterima; pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN sebesar provisi yang diterima.

Pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat diterima.
Akuntansi Perbankan Indonesia

304 I P e d o m a n

Bab VII I E k s p o r

Impor

3.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) a. b. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan selama masa pemeriksaan tidak dilakukan penjurnalan. Apabila dokumen pengapalan (shipping document) telah diterima dan diperiksa dan tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh applicant, maka issuing bank mengakui kewajiban atau melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan mengakui tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada pos tagihan lainnya (tagihan kepada applicant). Pada saat yang sama, issuing bank melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN.

c. Apabila dokumen pengapalan belum diterima dan applicant meminta bank untuk menerbitkan shipping guarantee, maka applicant harus membayar lunas kekurangan dari setoran jaminan atas realisasi LC/SKBDN dan issuing bank mengakui kewajiban kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan bank membebankan biaya endors kepada applicant. Pada saat yang sama, bank mengakui tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran, serta melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat dokumen pengapalan diterima dan diperiksa, maka issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran dan tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant. Issuing bank melakukan pembayaran kepada bank koresponden dengan membukukan pada pos nostro/ Giro BI/Rekening antar cabang dan menjurnal balik pos kewajiban kepada bank koresponden. 4. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment). a. Bila issuing bank mengaksep wesel Pada saat bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada applicant, serta membebankan biaya akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/ SKBDN sebesar nilai realisasi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 305

Bab VII I E k s p o r

Impor

Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada negotiating bank maka kewajiban accepting bank beralih dari kewajiban akseptasi kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada negotiating bank. Negotiating bank dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada pihak lainnya sehingga kewajiban accepting bank beralih kepada bonafide holder. b. Bila issuing bank bukan accepting bank Dalam hal accepting bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka 1) Accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada issuing bank. 2). Issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi. 5. LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN). a. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel unjuk (LC/SKBDN sight), maka issuing bank mengakui kewajiban lainnya kepada negotiating bank sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan pada saat yang sama mengakui tagihan lainnya kepada applicant sebesar nilai yang sama. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh bank lain, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant.

b. 1)

2) Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh issuing bank, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada negotiating bank dan tagihan akseptasi kepada applicant. 6. Pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya atas tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi impor mengacu pada tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi ekspor. Saat applicant melunasi kewajibannya (saat jatuh tempo), bank mendebet rekening applicant dan setoran jaminan impor serta mengkredit rekening bank koresponden, dan pada saat yang sama menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi.

7.

306 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

8.

Penurunan nilai (impairment) Perlakuan penurunan nilai tagihan akseptasi mengacu kepada Bab mengenai Kredit.

Penyajian Transaksi Ekspor 1. Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya disajikan di neraca sesuai kategori aset keuangan, yaitu:
Kategori Aset Keuangan Penyajian di Neraca

Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah dengan amortisasi kumulatif Piutang menggunakan metode suku bunga efektif. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account.

Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya disajikan sebagai berikut:
Kategori Kewajiban Keuangan Penyajian di Neraca

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. 2. 3. 4. Kewajiban komitmen atas penerbitan LC/SKBDN diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebesar jumlah penerbitan LC/SKBDN. Setoran jaminan impor disajikan di neraca sebesar jumlah setoran jaminan. Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di neraca sebesar nilai wajar dikurangi amortisasi kumulatif pendapatan/beban yang dapat diatribusikan. Penyajian tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya mengacu kepada penyajian transaksi ekspor.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 307

/Giro BI pembayaran kepada eksportir/ Kr.. Pendapatan bunga – sight LC/SKBDN Bila sight LC/SKBDN sudah Db./Giro BI/Nostro bayar claiming bank Kr.Pembayaran kepada eksportir setelah terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank – on collection Keterangan Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db.. Kas/rekening.. Nostro/Giro BI/Rek.. Kas/rekening./Giro BI Kr. Kas/rekening. Pendapatan administrasi 4 Saat negosiasi dokumen Negotiating bank 5 6 Db... Kredit yang diberikan jatuh tempo dan melebihi 14 Negotiating bank/ Kr... Kas/rekening./Giro BI Kr. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada bank koresponden Kr.. No 1 2 3 Negosiasi Sight LC/SKBDN Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank Negotiating bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db./Giro BI Pembebanan komisi negosiasi./Giro BI Kr. Kas/rekening. Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada dari issuing bank claiming bank*) bank koresponden Bila issuing bank terlambat Negotiating bank/ Db... No 1 2 3 4 Sight atau LC/SKBDN . dimana issuing bank claiming bank bank koresponden belum membayar 7 *) Negotiating bank dapat bertindak sebagai claiming bank bila dipersyaratkan dalam LC/ SKBDN untuk melakukan klaim kepada reimbursing bank 308 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Db... Kas/rekening.. Nostro/Giro BI/Rekening antar cabang Saat terima pembayaran Negotiating bank/ Kr. Tagihan lainnya-sight LC/SKBDN kepada hari. kiriman dokumen dan biaya telex (bila ada) Db.Bab VII I E k s p o r Impor E.. Ilustrasi Jurnal 1.. Antar Cabang imbursing/issuing bank dan Negotiating bank Kr. Transaksi Ekspor a.. Pendapatan administrasi beneficiary b.. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Negotiating bank Tidak ada penjurnalan Terima pembayaran dari reDb.

Bab VII I E k s p o r Impor c.. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr./Giro BI Kr. Kas/rekening. Pendapatan fee yang diamortisasi No 1 2 3 4 Saat terima LC/SKBDN Advising bank Provisi advising Pengiriman dokumen Saat terima akseptasi Advising bank Negotiating bank Negotiating bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 309 ... Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Pembebanan biaya yang diakui langsung: Db../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr... Pendapatan fee Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db.. Kas/rekening... Kas/rekening. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Tidak ada penjurnalan Db./Giro BI Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Amortisasi: Db.

Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.. Surat berharga . 1 s/d 4.wesel ekspor: Db.. kiriman dokumen. biaya telex) Penyesuaian dengan harga pasar: Harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – wesel eskpor Db/Kr.wesel ekspor usance Penjualan surat berharga . Kas/rekening. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr./Giro BI Kr./Giro BI (diakui sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurang diskonto) Mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. (komisi negosiasi. Pendapatan adm.wesel ekspor usance 310 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .wesel ekspor Kr.. Kas/rekening.wesel ekspor usance Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. bank melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr.wesel ekspor usance Kr Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) dan sudah terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Trading) Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/discounting bank *) Setelah jurnal no.. Surat berharga .. Surat berharga . Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga . Surat berharga .Bab VII I E k s p o r Impor No 5 Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian a. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor: Db.

bank membukukan surat Discounting bank berharga wesel ekspor: Db.wesel ekspor usance Kr. Surat berharga .. Surat berharga .wesel ekspor usance Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Kiriman dokumen. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Kas/rekening.. Kas/rekening. 1 s/d 4.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian 2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 311 .. Pendapatan bunga wesel ekspor Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/ reimbursing bank): Db./Giro BI Kr. Surat berharga . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.wesel ekspor usance Kr../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) Melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Pendapatan adm (komisi negosiasi...

. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db./Giro BI Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor . Surat berharga . Kiriman dokumen. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr.ekuitas Kr. Surat berharga ./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. 1 s/d 4. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Surat berharga . Peningkatan (penurunan) nilai wajar . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr.ekuitas Db/Kr. Surat berharga .. Surat berharga ..wesel ekspor usance Penjualan surat berharga . biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. bank menjurnal balik Discounting bank tagihan dan kewajiban akseptasi Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Saat mendiskonto dokumen Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Negotiating bank/ Setelah jurnal no.wesel ekspor Kr.wesel ekspor usance 312 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/rekening...wesel ekspor usance Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.wesel ekspor usance Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db.. Kas/rekening.wesel ekspor usance Kr Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db.wesel ekspor: Db. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .

on collection Saat jatuh tempo Negotiating bank/ (terima pembayaran claiming bank dari reimbursing/issuing bank) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 313 . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Setelah jurnal no. Kas/rekening... Kas/rekening. bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.. Pendapatan adm (komisi negosiasi.../Giro BI b. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. biaya telex) Db. Kiriman dokumen. 1 s/d 4./Giro BI Kr. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary saat jatuh tempo ..

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

c. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) tetapi belum terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (trading) Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3 diatas, bank membukukan diskonto wesel ekspor yang belum diakseptasi: discounting Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor bank*) belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Saat bank menerima akseptasi: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Jika harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Db/Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance *) Negotiating bank disebut juga discounting bank bila melakukan diskonto atas wesel ekspor.

314 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang diberikan dan Piutang Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3, bank membukukan Discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi: Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex) Terima akseptasi Bank menerima akseptasi atas wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 315

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Mendiskonto dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

N e g o t i a t i n g / Setelah jurnal no. 1 s/d 3 di atas, bank membukukan discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex)

Terima akseptasi

Bank menerima akseptasi wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar - ekuitas Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db./Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor - ekuitas Db./Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance

316 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Transaksi Impor a.
No 1

LC/SKBDN Atas Unjuk (Sight LC/SKBDN)
Keterangan Issue LC/SKBDN Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/Cabang Komisi endors LC/SKBDN dan SSG: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Melakukan jurnal balik komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekeninglawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

2 3 4

Provisi pembukaan LC/ SKBDN Terima setoran jaminan impor Terima pembayaran dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN)

Issuing bank Issuing bank Issuing bank

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 317

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden a. Terima dokumen impor, rekening issuing belum didebet dan applicant belum melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight)

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, Melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Pengakuan tagihan dan kewajiban Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Pembayaran kepada bank koresponden/ cabang: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

318 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan b. Terima dokumen impor, rekening Nostro sudah didebet dan applicant belum melakukan pelunasan Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, menjurnal balik kewajiban komitmen (off balance sheet) : Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Pelunasan oleh applicant: Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

c. Terima dokumen impor ex-endors B/L, importir/ applicant sudah melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen Issuing bank Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 319

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan d. Jika importir/applicant mengambil barang dengan menggunakan SSG (shipping guarantee) Penerbitan shipping guarantee

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat penerbitan SSG: Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG: Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rek. lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Penyelesaian SSG pada umumnya dilakukan 14 hari setelah jatuh tempo atau SSG dikembalikan.

Penerimaan dokumen

Issuing bank

320 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Db. lawan . Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr./Giro BI Kr.kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 321 . berjangka kepada bank koresponden Rek./Giro BI Kr. Setoran jaminan impor No Keterangan 1 Bank menerbitkan LC/ SKBDN 2 Bank mengakui provisi pembukaan LC/SKBDN Bank menerima setoran jaminan impor Issuing bank 3 Issuing bank 4 Issuing bank Terima promes dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. lawan . Kas/rekening.. berjangka kepada bank koresponden Rek. maka off balance sheet SSG juga dibalik Db.. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr. Kas/rekening. lawan .kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. LC/SKBDN Berjangka (Usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (Deferred payment): Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Db. Rek. Rekening lawan .kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden Penerimaan dokumen Issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db..Bab VII I E k s p o r Impor b.. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr..kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Bila pengambilan barang disertai SSG.

/Giro BI Kr... Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Mengakui amortisasi: Db./Giro BI Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db./Giro BI Kr. Pendapatan fee Db. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. Kas/rekening. Kas/rekening. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.... Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Saat akseptasi Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Accepting bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Kas/rekening.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan a. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db.. Pendapatan fee yang diamortisasi 322 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr...

Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan b. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db..issuing bank Kr./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr... Giro BI/nostro/Rek. Giro BI/nostro/Rek. Pendapatan fee yang diamortisasi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 323 . antar cabang Kr. antar cabang Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Kas/rekening.accepting bank Mengakui amortisasi Db..issuing bank Db./Giro BI Kr.accepting bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db.. Pendapatan fee yang diamortisasi Issuing bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya Db.negotiating bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db. Bila issuing bank bukan accepting bank Status Bank Accepting bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Kas/rekening.. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden .negotiating bank Mengakui amortisasi Db.issuing bank Kr.

.. Giro BI/nostro/Rek..accepting bank Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden .. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Issuing bank Pelunasan oleh applicant: Db. Giro BI/nostro (issuing bank) Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden (accepting bank): Db. Kas/rekening.issuing bank Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kas/rekening../Giro BI Kr. Giro BI/nostro (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant Db./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.negotiating bank Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (accepting bank) Accepting bank Issuing bank Issuing bank 324 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Setoran jaminan impor Db. Bila issuing bank bukan accepting bank Accepting bank Menerima pembayaran dari issuing bank Db. Setoran jaminan impor Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 6 Saat jatuh tempo (pelunasan oleh applicant dan pembayaran kepada bank koresponden) a. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank): Db. antar cabang b. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.

Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (issuing bank) Kr..reimbursing bank Kr. Setoran jaminan impor Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening.. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan c. Bila pelunasan LC/SKBDN melalui reimbursing bank Status Bank Reimbursing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Melakukan pembayaran kepada negotiating bank Db./Giro BI Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (reimbursing bank) Db.. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (reimbursing bank) Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 325 .

dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. 3. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). Asumsi penetapan nilai wajar tagihan LC/SKBDN (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan atau kewajiban LC/SKBDN) dan agunan. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan atau kewajiban LC/SKBDN dalam penyusunan laporan keuangan. b. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN dan kewajiban terkait. c. 5. Perubahan nilai wajar tagihan LC/SKBDN yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Jumlah tagihan LC/SKBDN yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Tersedia untuk Dijual. nilai tercatat tagihan Akuntansi Perbankan Indonesia 326 I P e d o m a n . Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 2. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan atau kewajiban LC/SKBDN. yaitu: a. b. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan LC/SKBDN yang masih tetap berada di bank. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. b. Pengalihan tagihan LC/SKBDN yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh LC/SKBDN. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. 4. b. c. c. Jenis LC/SKBDN. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan.Bab VII I E k s p o r Impor F. jika bank tetap mengakui seluruh bagian tagihan LC/SKBDN Total nilai tercatat tagihan LC/SKBDN awal yang dialihkan. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. d. 6. dengan rincian berikut: a. d.

Bab VII I E k s p o r

Impor

LC/SKBDN yang tetap diakui bank, dan nilai tercatat kewajiban terkait, jika bank tetap mengakui sebagian tagihan LC/SKBDN sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 7. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas LC/SKBDN sebagaimana pada angka 8 sampai 9 dibawah.

Pengungkapan kualitatif 8. Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan LC/SKBDN dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

Pengungkapan kuantitatif 9. Analisis terhadap tagihan LC/SKBDN berdasarkan klasifikasi yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya berdasarkan industri, geografis). Analisis tersebut mencakup: a. b. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan LC/SKBDN pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya; Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan LC/SKBDN sebagaimana pada butir a diatas. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan, dan credit derivative); 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya; 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan, dan pihak penjual proteksi LC/SKBDN dalam transaksi credit derivative); dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya; c. Informasi mengenai kualitas tagihan LC/SKBDN di luar yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan LC/SKBDN, baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 327

Bab VII I E k s p o r

Impor

a)

Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit, maka pengungkapan mencakup: i Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat; ii Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat; iii Jumlah ekposur tagihan LC/SKBDN yang diperingkat dan yang tidak diperingkat; iv Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan LC/SKBDN , maka pengungkapan mencakup: i Proses pemeringkatan internal beserta asumsi-asumsi yang digunakan dalam penerapan pemeringkat interna. ii Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat internal; iii Penjelasan struktur peringkat internal serta hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 2) Tipe/jenis debitur; 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate); 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan LC/SKBDN ; dan d. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/ atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi.

10. Jumlah tagihan LC/SKBDN berdasarkan segmentasi, antara lain sektor ekonomi dan geografi, berdasarkan jangka waktu, mata uang, dan tingkat bunga tagihan LC/SKBDN yang dihitung secara rata-rata. 11. Jumlah tagihan LC/SKBDN kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 12. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai.

328 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

G. Ketentuan Lain-lain
1. 2. Ketentuan UCP yang berlaku. Bank tetap menilai kualitas tagihan sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank.

H. Contoh kasus
Impor 1. LC atas unjuk (Sight) - Pengambilan barang dengan Shipping Guarantee (SSG) PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut, pada tanggal 2 Februari 2012 PT Maju membuka LC sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10 %. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 14 Pebruari 2012 barang sudah tiba di pelabuhan dan importir menebus barang dengan meminta bank membuat SSG. PIB (bea masuk,PPN &PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000,00. Biaya/komisi penerbitan SSG Rp. 200.000 dan komisi PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 18 Februari 2012 dokumen asli diterima oleh Bank XYZ dan penyelesain kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden 2) Mengakui pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Mengakui penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 329

Bab VII I E k s p o r

Impor

b.

Tanggal 14 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari importir Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang USD USD USD 1.000 9.000 10.000 200.000 200.000

2) Mengakui pendapatan komisi dari mengendors LC/SKBDN dan SSG Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Rp

3) Menerima setoran pajak impor (apabila nasabah membayar melalui bank) Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp 20.050.000 Kr. Kewajiban pajak impor Rp 20.000.000 Kr. Pendapatan komisi PIB Rp 50.000 3) Melakukan jurnal balik pembukuan komitmen Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden 4) Menerbitkan SSG Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi c. Tanggal 18 Februari 2012 1) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank korensponden/cabang Kr. Giro BI /nostro/rekening antar cabang 2) Melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rekening lawan - kewajiban kontijensi SSG berjangka kepada perusahaan ekspedisi

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

330 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

LC berjangka (usance/deferred) - Pengambilan barang dengan dokumen asli (setelah dokumen tiba): PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut pada tanggal 02 Pebruari 2012 PT Maju membuka LC berjangka (usance) sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10%. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 18 Februari 2012, Bank XYZ menerima dokumen dari negotiating bank. Importir menebus barang dengan akseptasi promes/wesel, biaya atas PIB (bea masuk, PPN & PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000. Komisi akseptasi yang diterima sebesar USD25 dan PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 2 April 2012, LC jatuh tempo dan dilakukan penyelesaian kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Berjangka kepada bank koresponden 2) Pencatatan pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Pencatatan penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor b. Tanggal 18 Februari 2012 1) Penerimaan setoran pajak impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB Rp Rp Rp 20.050.000 20.000.000 50.000

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 331

Bab VII I E k s p o r

Impor

2) Melakukan jurnal balik atas komitmen (off balance sheet) Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD

10.000 10.000

3) Pengakuan tagihan akseptasi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 10.000 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Pembebanan biaya diakui langsung Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan fee

USD USD

25 25

Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 9.975 Db. Kas/rekening..../Giro BI 25 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Amortisasi atas biaya/pendapatan yang diatribusikan secara langsung Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 0,55 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi USD 0,55 Amortisasi dilakukan sampai dengan jatuh tempo/pembayaran dari importir menggunakan suku bunga efektif; penggunaan metode garis lurus diperbolehkan sesuai ketentuan.

332 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

c.

Tanggal 2 April 2012 1) Pelunasan oleh applicant saat jatuh tempo Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD USD USD 1.000.00 9.000.00 9.999.44 0,56

2) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Kewajiban akseptasi kepada bank korespondennegotiating bank USD Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD

10.000 10.000

Tabel 1: Amortisasi Biaya Transaksi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor impor di Bank XYZ adalah USD 20 (= IDR 200.000).
No. Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Estimasi arus kas C (9,975) Saldo awal AngsurSuku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok D 9.975,00 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.979,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 E = D x EIR 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 F G=pxi H=E–G 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 Saldo akhir Tagihan Akseptasi I=D+E+F+G 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.978,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 9.984,99

Tanggal B 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 333

56 0.986.55 9.56 0.56 0.988.56 9.988.44 0.000) 0.66 9.56 0.56 9.993.10 0.999.99 9.56 0.995.991.56 9.33 0.56 0 Suku Bunga Efektif Awal 0.56 9.44 9.10 0.66 9.44 9.56 0.56 0.56 0.99 0.10 9.78 9.33 0.992.006% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 334 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .995.56 9.56 0.22 0.88 0.56 9.33 0.56 9.56 9.997.996.99 9.997.78 0.993.77 9.992.56 9.56 9.987.44 9.996.56 (10.77 9.56 9.994.994.56 0.998.55 0.992.986.99 0.77 0.11 0.991.56 0.56 9.56 0.56 0.985.990.11 9.56 0.56 9.56 9.56 0.56 0.56 0.994.56 0.996.56 9.66 0.56 0.56 9.985.993.999.55 9.991.22 9.56 0.33 9.56 9.989.989.989.56 9.991.997.21 9.993.56 0.56 0.56 9.987.994.66 0.94 0.986.56 0.56 0.56 9.56 9.996.987.56 0.56 9.56 0.55 9.56 9.56 9.998.10 9.77 0.987.89 9.88 9.33 9.56 9.33 9.89 0.21 0. Trx A 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Tanggal B 07-Mar-12 09-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 Estimasi arus kas C 10.22 9.986.990.55 0.992.66 0.66 9.998.55 0.988.44 0.Bab VII I E k s p o r Impor No.984.989.22 0.99 0.56 9.988.000 Saldo awal AngsurSaldo akhir Suku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an Tagihan efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok Akseptasi D E = D x EIR F G=pxi H=E–G I=D+E+F+G 9.997.998.88 9.88 0.

/Giro BI Kr. Atas pendiskontoan tersebut Bank XYZ membebankan bunga/diskonto 4% p.50 Kr.. Jurnal transaksi a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 335 .50 2.125%.000. menerima LC sebesar USD10.000. Kas/rekening. Pada tanggal 15 Februari 2012 Bank XYZ menerima akseptasi dari issuing bank. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 10 Februari 2012.. Dokumen diperiksa oleh Bank XYZ dan dokumen dikirim ke issuing bank.. Biaya pengiriman dokumen sebesar USD25. LC atas unjuk (sight) Pada tanggal 2 Februari 2012.25%. Pada tanggal 6 April 2012 bank XYZ menerima pembayaran dari issuing. PT Aneka (eksportir) menerima LC dengan pembayaran dilakukan 2 bulan setelah tanggal pengapalan barang sebesar USD 10.000.50 Perhitungan: USD 25 + (0.000) = USD 37.. Setelah dokumen diperiksa. Tanggal 19 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari reimbursing/issuing bank dan pembayaran kepada eksportir/beneficiary Db. Komisi advising LC Rp100.Bab VII I E k s p o r Impor Ekspor 1. PT Aneka (eksportir). Tanggal 16 Februari 2012 PT Aneka mendiskontokan tagihannya kepada Bank XYZ. Antar Cabang USD 100. biaya telex) USD 37..a. Nostro/Giro BI/Rek. Bank XYZ menerima pembayaran dari issuing bank pada tanggal 19 Februari 2012.000 Kr.000 100. komisi negosiasi 0./Giro BI USD 9..000 b. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD 100. Pada tanggal 07 Februari 2012. LC berjangka (usance) yang dinegosiasi/didiskonto Pada tanggal 2 Februari 2012. PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ.00. Pada tanggal 11 Februari 2012 PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi. komisi/ biaya administrasi 0. Kas/rekening.125% x USD 10. kiriman dokumen. bank XYZ membebankan biaya advising LC Rp100.962.000. Tanggal 11 Februari 2012 Menerima pendapatan provisi advising Db. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 6 Februari 2012. Biaya pengiriman dokumen USD25.

944. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Rp Rp 100...wesel ekspor usance USD 10.000)/{360 + (4% x 50)} = 9. Kas/rekening. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10.Bab VII I E k s p o r Impor Asumsi untuk wesel ekspor dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi dan Tersedia untuk Dijual. Kas/rekening.000 Kr. Tanggal 16 Februari 2012 1) Mendiskonto dokumen dengan menjurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.. Tanggal 7 Februari 2012 Menerima provisi advising Db.000 Kr. Jurnal transaksi a.000 10../Giro BI Kr.000 100.000 b. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tanggal 15 Februari 2012 Menerima akspetasi dari accepting bank Db. Surat berharga .60 336 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 2) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db. USD USD 10./Giro BI USD 10. Pada tanggal 5 Maret 2012 wesel ekspor tersebut dijual kepada bank ABC dengan diskonto 2% (dalam hal ini diasumsikan menggunakan rumus true discount) untuk kondisi 1 dan 4. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr..000 (dibukukan sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.000 Pengukuran Wesel Ekspor 1.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.

Bab VII I E k s p o r Impor 3) Mengakui biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung Db.25 41. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 13. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db.60 = 41..51 MTM = 9.25% x USD10.13 37.000) = USD50 4) Penyesuaian harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 97 (diskonto 3%) Db.982. Surat berharga .25 .000)/{360 + (1.9.13 MTM = 9./Giro BI USD 50 Kr.wesel ekspor usance USD 41.13 . Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan wesel ekspor Db.51 . Keuntungan penjualan surat berharga .944. Kas/rekening.91 Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10..000)/{360 + (3% x 50)} = 9.wesel ekspor usance USD 13.9.5% x 33)}= 9.91 Kr.60 = 13. Pendapatan administrasi USD 50 Perhitungan: USD25 + (0.982.65 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10.53 9. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr.986.50.60 = 37.986.944.wesel ekspor usance Kr.958.53 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.53 Kr.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.53 c. Surat berharga .91 b. Surat berharga . Tanggal 4 Maret 2012 Penyesuaian dengan harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 98.944.9.982.958.wesel ekspor USD USD USD USD 9..65 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 337 . Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 41.986.25 MTM = 9.

Bab VII I E k s p o r Impor 2. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD Kr.944. Tanggal 5 Maret 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.60 Diskonto = 10. Tanggal 16 Februari 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.60 9. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD 10.wesel ekspor usance USD 1.wesel ekspor usance USD 998.944.000 0 338 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .60 2) Melakukan amortisasi Db. Kas/rekening.944. Surat berharga . Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Surat berharga .08 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 0 Lihat tabel amortisasi di halaman selanjutnya 4.000 10.91 Kr.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10. 3. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD Kr.09 Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.000)/{360 + (4% x 50)} = 9./Giro BI USD 9. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang a. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10..000 Kr.40 3) Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank) Db. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1. Surat berharga . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10..000 – 9.wesel ekspor usance USD Kr..944. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 10. Tersedia untuk Dijual a.000 Kr.60 = 55.000 Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) USD 1.

Bab VII I E k s p o r Impor 2) Mengakui surat berharga wesel ekspor Db.944. Kas/rekening.945 Dibukukan sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) 3) Mengakui biaya/pendapatan secara diakui langsung: Db.944.945.945 Kr.83 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 339 .wesel ekspor usance USD 9.000) = USD 50 USD USD 50 50 4) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db.wesel ekspor usance Kr.83 USD USD 12..000 – 9...51 MTM = 9. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi. Surat berharga .25% x USD 10.08 Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.958. biaya telex) Perhitungan: USD 25 + (0.wesel ekspor usance USD 1../Giro BI Kr.51 .9.40 Catatan: Dalam soal ini.958. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10. Kiriman dokumen.60 = 55.60 Diskonto = 10..000)/{360 + (3% x 50)}= 9..68 = 12. Surat berharga . amortisasi dilakukan tiap hari.83 12. Kas/rekening.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10. Surat berharga .000)/{360 + (4% x 50)} = 9. 5) Penyesuaian dengan harga pasar: Db./Giro BI USD 9.

12 = 22. Surat berharga . Surat berharga . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD Db.9.01 Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan surat berharga .01 Kr.50) Db.wesel ekspor USD Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10.01 9.9.982.986.982.25 Laba(rugi) = 9.000)/{360 + (1.01 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.wesel ekspor Db.13 .966.60 = 37.65 c. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .25 22.61 37.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.25 . Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas USD 22.986. 9.wesel ekspor usance USD Kr.65 Informasi untuk perhitungan amortisasi diskonto wesel ekspor sebagai berikut: Nilai nominal : USD10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .944. Tanggal 4 Maret 2012 Melakukan penyesuaian dengan harga pasar (misalkan harga pasar wesel ekspor adalah 98.5% (lihat Tabel 2) 340 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .964.000 dengan tingkat diskonto 4% Tanggal terbit : 16 Februari 2012 Tanggal jatuh tempo : 6 April 2012 Tanggal rediskonto : 5 Maret 2012 dengan tingkat diskonto 2% Harga pasar tanggal 16 Februari 2012 : 3% Harga pasar tanggal 4 Maret 2012 : 1.5% x 33)} = 9.982.ekuitas USD Kr.wesel ekspor usance USD 22.Bab VII I E k s p o r Impor b.13 MTM = 9.

09 9.06 1.03 1.08 9.Bab VII I E k s p o r Impor Tabel 2: Amortisasi Diskonto No.08 9.81 1.60 9.41 9.94 9.961.67 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 341 .86 1.08 1.24 9.981.08 9.958.50 1.78 1.09 9.06 9.98 9.09 9.09 1.08 9.953.944.946.95 1.954.957.09 9.960.982.59 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.20 9.08 1.08 9.964.72 9.33 1.08 1.69 9.09 1.09 1.982.970.967.09 9.981.08 9.10 1.966.09 1.09 1.29 1.09 1.09 1.963.09 9.08 9.19 9.966.972.08 1.976.945.947. Trx. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Tanggal Estimasi arus kas Saldo awal Wesel Ekspor D 9.979.973.77 1.08 1.09 9.951.947.63 9.69 1.980.44 9.09 9.964.08 9.09 1.09 9.08 1.08 1.55 9.959.68 1.969.08 1.38 9.85 1.09 9.955.29 9.55 1.950.36 1.979.968.977.08 1.09 1.60) 17-Feb-12 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12 07-Mar-12 08-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 - G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.977.08 1.968.63 1.09 1.03 9.12 1.978.956.955.78 9.09 1.52 1.09 9.09 1.27 9.948.976.09 9.956.38 1.946.948.08 1.09 9.09 9.945.953.09 9.974.77 9.08 9.89 1.09 1.15 1.10 9.973.08 9.08 1.974.33 9.965.951.27 1.36 9.59 1.967.61 1.09 1.09 9.08 9.952.961.959.978.09 1.972.957.12 9.970.46 9.954.09 1.958.09 1.09 1.09 9.89 9.19 1.08 9.95 9.09 F Tagihan bunga Amortisasi dengan EIR Saldo akhir Wesel Ekspor B C 16-Feb-12 (9.960.02 1.09 9.08 1.983.963.02 9.72 1.24 1.68 9.94 1.952.86 9.08 9.85 9.08 9.965.50 9.98 1.41 1.08 1.950.09 9.969.09 1.08 9.944.09 9.08 1.09 1.81 9.09 9.980.52 9.20 1.15 9.971.46 1.971.61 9.44 1.

991.988.09 9.984.996.09 1.989.85 9.38 9.09 1.64 9.995.09 1.990.09 9.56 9.992.994.82 1.09 1.989.09 1.09 9.64 1.47 1.992.09 9.09 1.984.09 9.00 Saldo awal Wesel Ekspor D 9.85 1.38 1.73 1.09 1.988.09 9.00 Tagihan bunga Suku Bunga Efektif Awal (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 342 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .00) Amortisasi Saldo akhir dengan Wesel Ekspor EIR G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.03 1.986.998.997.991.998.09 9.993.09 1.11 1.995.996.09 1.09 9.985.09 1.09 9.47 9.29 9.983.76 1.09 1.Bab VII I E k s p o r Impor No.91 1.56 1.29 1.09 1.09 1.91 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.985.94 9.09 9.09 9.994.000.73 9.990. A 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Tanggal Estimasi arus kas B C 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 03-Apr-12 04-Apr-12 05-Apr-12 06-Apr-12 10.94 1.11 9. Trx.09 9.09 9.997.20 1.20 9.82 9.993.76 9.67 9.09 F (10.000.986.09 0.09 1.09 9.03 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful