P. 1
PAPI - 2008

PAPI - 2008

|Views: 408|Likes:
Published by Sichaa Jess Jess

More info:

Published by: Sichaa Jess Jess on Feb 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • Bab I Pendahuluan
  • A. Latar Belakang
  • B. Tujuan dan Ruang Lingkup
  • 1. Tujuan
  • 2. Ruang Lingkup
  • C. Acuan Penyusunan
  • D. Bangun Prinsip Akuntansi Umum
  • E. Ketentuan Lain-lain
  • Bab II Laporan Keuangan
  • A. Kerangka Dasar
  • 1. Tujuan laporan keuangan
  • 3. Komponen laporan keuangan
  • 4. Bahasa laporan keuangan
  • 5. Mata uang pelaporan
  • 6. Kebijakan akuntansi
  • 7. Penyajian
  • 8. Konsistensi penyajian
  • 9. Materialitas dan agregasi
  • 10. Saling hapus (Offset ng)
  • 11. Periode pelaporan
  • 12. Informasi komparatf
  • 13. Laporan keuangan interim
  • 14. Laporan keuangan konsolidasi
  • B. Komponen Laporan Keuangan
  • C. Keterbatasan Laporan Keuangan
  • D. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing
  • Bab III Penjelasan Umum
  • 1. Aset dan Kewajiban Keuangan
  • A. Aset Keuangan
  • B. Kewajiban Keuangan
  • 2. Ketentuan Transisi
  • A. Penerapan Secara Prospektf
  • B. Laporan Keuangan Komparasi
  • Bab IV Surat Berharga
  • 1. Surat Berharga
  • G. Ketentuan Lain-lain
  • H. Contoh Kasus
  • 2. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji dibeli Kembali
  • E. Ilustrasi jurnal
  • 3. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali
  • G. Contoh kasus
  • 4. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali
  • G. Contoh kasus
  • 5. Surat Berharga yang Diterbitkan
  • 1. Pemberian dan Penyaluran
  • E Ilustrasi Jurnal
  • 2. Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit
  • A Definisi
  • Bab VI Transaksi Deriva f
  • A. Definisi
  • B. Dasar Pengaturan
  • C. Penjelasan
  • D. Perlakuan Akuntansi
  • F. Pengungkapan
  • G. Contoh Kasus
  • Bab VII Transaksi Ekspor Impor
  • E. Ilustrasi Jurnal

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (Revisi 2008

)

TIM PERUMUS PAPI DESEMBER 2008

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Hak cipta @ 2008, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor: 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagai mana dimaksud dalam ayat (1), dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Cetakan Revisi Desember 2008

Pedoman akuntansi perbankan Indonesia/disusun oleh tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. -- Jakarta: Bank Indonesia, 2008 349 hlm; 3 cm Diterbitkan atas kerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ISBN: 978 - 979 - 9020 - 31 - 4

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT)

—— Tanggapan dan masukan tertulis atas ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pedoman Akuntansi Indonesia Revisi 2008 dapat disampaikan ke Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia. Up. Tim Pembinaan dan Pengawasan. Nomor fax. (021) 231 1672.

ii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

GUBERNUR BANK INDONESIA

SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya menyambut gembira atas selesainya Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) revisi 2008, yang merupakan petunjuk lebih teknis dari standar akuntansi keuangan yang terkait dengan perbankan. Sebagai badan usaha yang memiliki tanggung jawab publik, perbankan dituntut untuk menyajikan laporan keuangan yang berkualitas tinggi sehingga dapat memberikan informasi yang akurat dan komprehensif bagi seluruh pihak yang berkepentingan dan mencerminkan kinerja bank secara utuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, standar dan pedoman akuntansi yang berlaku perlu terus disempurnakan sejalan dengan perkembangan transaksi dan produk keuangan dewasa ini serta harmonisasi dengan standar akuntansi internasional. Sebagaimana telah diketahui, Ikatan Akuntan Indonesia pada akhir Desember 2006 telah menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 55 (Revisi 2006) tentang Pengakuan dan Pengukuran Instrumen Keuangan dan PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Penyajian dan Pengungkapan Instrumen Keuangan, serta beberapa standar akuntansi lain sebagai bagian dari proses konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Dengan penyempurnaan standar akuntansi dimaksud, maka PAPI sebagai petunjuk yang sifatnya lebih teknis juga perlu disempurnakan dengan menambahkan penjelasan dan contohcontoh perhitungan yang diharapkan dapat mempermudah pemahaman terhadap PSAK yang berlaku, khususnya PSAK 55 (Revisi 2006) dan PSAK 50 (Revisi 2006) yang disadari merupakan standar akuntansi yang cukup kompleks karena berupaya mengakomodasi kebutuhan pengaturan instrumen keuangan yang berkembang demikian pesat. Dengan berbagai penyempurnaan tersebut, baik dari sisi PSAK maupun PAPI, diharapkan kelengkapan, kewajaran, keakuratan, dan kejelasan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bank dapat ditingkatkan, sehingga informasi tersebut lebih dipahami dan dipercaya
iii

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

oleh masyarakat. Pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap informasi-informasi yang disampaikan oleh bank-bank pada gilirannya dapat menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional secara keseluruhan. Akhir kata pada kesempatan ini saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Ikatan Akuntan Indonesia, Tim Penyempurnaan PAPI, narasumber, praktisi perbankan, dan seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi dan masukan untuk penyempurnaan PAPI (Revisi 2008). Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008 GUBERNUR BANK INDONESIA,

BOEDIONO

iv

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia
Kegiatan usaha perbankan di Indonesia mengalami perkembangan yang semakin komplek dan pesat. Dinamisasi perkembangan tersebut berjalan seiring dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, seperti perubahan regulasi, perkembangan teknologi, perkembangan produk dan tuntutan pelanggan. Perkembangan kegiatan usaha tersebut agar dapat berjalan dengan baik memerlukan berbagai infrastruktur pendukung yang memadai. Salah satu bentuk infrastruktur yang diperlukan adalah ketentuan-ketentuan yang terkait dengan akuntansi. Akuntansi dipandang sebagai salah satu infrastruktur yang penting karena melalui proses akuntansi inilah seluruh kegiatan, khususnya yang bersifat kuantitatif, akan didokumentasikan. Selanjutnya, melalui proses akuntansi ini, juga akan dihasilkan suatu laporan keuangan yang sangat berguna sebagai dasar untuk pengambilan keputusan para stakeholder perbankan. Laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan usaha harus memiliki kualitas yang baik. Suatu laporan keuangan dikatakan berkualitas jika memenuhi syarat karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari andal, relevan, dapat diperbandingkan (comparability), dan dapat dipahami (understandability). Untuk mencapai kualitas tersebut, suatu laporan keuangan harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU). Pondasi utama dari PABU di Indonesia adalah kerangka dasar (conceptual framework), Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasinya. Sejalan dengan hal tersebut di atas dan terkait dengan penerapan revisi PSAK 50 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (Revisi 2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, maka menjadi sangat penting untuk revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). Revisi PAPI ini juga diperlukan untuk memutakhirkan ketentuan dan peraturan perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Pedoman ini diharapkan sangat membantu bagi para pelaksana perbankan dalam mencatat transaksi perbankan sesuai dengan PSAK dan ketentuan perbankan terkini. Sehingga hal ini dapat lebih meningkatkan kredibilitas dan transparansi dunia perbankan.

v

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Akhirnya pada kesempatan ini kami Dewan Pengurus Nasional IAI mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada Tim Penyusun dan Bank Indonesia, khususnya Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, atas jerih payah dan kerja samanya dalam merevisi buku Pedoman Akuntansi ini. Semoga kerja sama ini dapat terus ditingkatkan lagi di masa mendatang.

Jakarta, Desember 2008 Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia

AHMADI HADIBROTO Ketua

vi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia
Pesatnya perkembangan industri perbankan, kompleksitas transaksi yang terjadi di dalamnya, dan besarnya tuntutan masyarakat akan transparansi bank, memicu perbankan untuk meningkatkan kemampuannya dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat. Demikian juga pada sisi pengaturan diperlukan adanya peraturan yang relevan dan dapat diimplementasikan dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan perkembangan terkini standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia terutama PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK 55 (revisi 2006): Pengakuan dan Pengukuran, maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ini perlu disempurnakan dengan standar terkini dan berbagai regulasi di sektor perbankan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Selanjutnya untuk menyempurnakan PAPI tersebut Bank Indonesia telah membentuk Tim Penyempurnaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. Proses penyempurnaan PAPI dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan. Pertama, penelaahan atas PAPI tahun 2001 untuk mengidentifikasi ketentuan-ketentuan yang sudah tidak relevan. Kedua, penyusunan sistematika dan substansi isi PAPI tahun 2008. Ketiga, pengumpulan materi untuk penyempurnaan PAPI. Keempat, pembentukan tim kecil untuk merumuskan dan menelaah permasalahan tertentu. Kelima, perumusan draf PAPI tahun 2008. Keenam, Penyelenggaraan limited hearing untuk menampung masukan dari kalangan terbatas yang dianggap sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan akuntansi dalam bank. Ketujuh, menyempurnakan draft final PAPI. Dan kedelapan, menyerahkan PAPI kepada Bank Indonesia untuk disahkan pemberlakuannya. PAPI revisi tahun 2008 ini akan diterbitkan dalam 2 bagian, dimana bagian pertama (buku ini) diterbitkan terlebih dahulu yang didalamnya mengatur mengenai perlakuan dan pencatatan atas Surat berharga, Kredit, Penurunan nilai, Transaksi derivatif dan transaksi ekspor impor, sedangkan perlakuan dan pencatatan atas Ekuitas, Aset tetap, Laporan pendapatan dan beban, Laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, Catatan atas laporan keuangan dan Ilustrasi laporan keuangan akan disajikan dalam terbitan selanjutnya. Jakarta, Desember 2008 Tim Penyempurnaan PAPI

vii

Bank Mandiri PT. Hari Sundjojo 18. Lestari Shitadewi 2. Wisnu Kameswara A 13. TIM PENGARAH 1. Bintoro Nurcahyo 17. I Gde Made Sadguna 6. Bank Mandiri PT. Indira 4. Bahrudin 8. Fadjrijah 2. Yakub 4.Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia A. Ahdi Jumhari Luddin 7. Faisal Muttaqien Issom 10. TIM PERUMUS 1. Rabobank International Indonesia C. Jusuf Wibisana B. Halim Alamsyah 4. Bank Negara Indonesia PT. Darmawan 19. Rouli Erlyana A 16. Nurwidodo Pristwanto Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia PT. Bank Rakyat Indonesia PT. M. Khairani Syafitri 3. Muliaman D. Teddie Pramono 9. Hadad 3. Jacobie Henry W 14. Benny Hilman 21. Adri Triwicahyo TIM TEKNIS 1. Teguh Supangkat 3. Bank Indonesia Bank Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia Ikatan Akuntan Indonesia viii . Bank Niaga Citibank PT. Lestari Shitadewi 5. Eko Bramantyo 20.A. Mustofa 8. Sri Yanto 11. Sri Yanita Dewi Irmawan 6. Siti Ch. SWD Murniastuti 5. Bank Rakyat Indonesia PT. G. Herdiana Achdan 15. M. Fathor Rachman 12. Agus Edy Siregar 2. Bank Central Asia PT. Khairani Syafitri 7.

..................................................................................... Kebijakan akuntansi ............................................. 11............................................................................................................ D........... Mata uang pelaporan ................................................................................................................................... Konsistensi penyajian...................................... A.................................................... Tanggung jawab atas laporan keuangan ................................................................................. ix iv v vii viii 1 1 1 1 3 3 3 4 5 5 5 5 5 5 5 6 6 8 8 8 9 9 9 9 10 12 12 Bab II .......... Bangun Prinsip Akuntansi Umum .................... Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing ............... Tujuan ........................................................ B............... 2.................................. 8............ 14...................... Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia .......... 1........ C...... Kata Pengantar Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia ......... Kerangka Dasar .......................................... 7....... Laporan Keuangan............ 13......................... 2..................................................................... Keterbatasan Laporan Keuangan .......................... C.............................. D.. Laporan keuangan interim ................................................................................................................................................................................. Acuan Penyusunan .................................................................................... 9...................................... Materialitas dan agregasi.......................................................................................... Komponen laporan keuangan ............................................................................................................. Penyajian ... Tujuan laporan keuangan ............. 5........ Ketentuan Lain-lain ................................................................................. Latar Belakang......................... 4......................................................................................................... 3............................... Komponen Laporan Keuangan ................... Saling hapus (Offse ng) ......................... E...............................................................................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Daftar Isi Sambutan Gubernur Bank Indonesia ................... Sambutan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia ............................ A.... 1......... 12....... Informasi komparatif .............. Laporan keuangan konsolidasi .......................................... B........................................................................ 6.......................................................................................... Ruang Lingkup ...................................................... Tujuan dan Ruang Lingkup ........................................ 10.............................................. Bahasa laporan keuangan ... Bab I Pendahuluan ............................... Periode pelaporan .................................

......................................................................................................................... Laporan Keuangan Komparasi ..................................... 15 15 15 26 27 27 29 31 31 31 31 41 45 48 58 61 62 72 72 72 73 74 74 78 78 78 81 83 85 86 88 90 90 90 x .. Definisi ......... Pengungkapan ......................................................................................................................................................................................... Aset Keuangan ........................................................ Penjelasan............................ B................................................................................................ Perlakuan Akuntansi ............................................................... Ketentuan Lain-lain ....................... D........................ Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali .............. Ilustrasi Jurnal ..................... Perlakuan Akuntansi ............................................................ Contoh kasus .................... F...... Contoh Kasus ..................................... A....................... B................................................................................................... 3....................................................... Definisi ..................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab III Penjelasan Umum ............................................... Penerapan Secara Prospektif ............. Ilustrasi jurnal . 2............... A........................................................................................ Surat Berharga .......... 1....... Penjelasan........................... Definisi .................................................. C.................................................................................... Penjelasan........................................ Ilustrasi Jurnal .............................................. F................. Ketentuan Transisi ............................................................................................... C.......................................... D........................ E............................. A....... H.............. B........................ B........ B........................................ 2........................ E.............. Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali ................................. G..................... D............. Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali ............... Dasar Pengaturan ................ Definisi .... G... Perlakuan Akuntansi .............................. Dasar Pengaturan ............. 1............................................................................................................... Aset dan Kewajiban Keuangan .......... Bab IV Surat Berharga ..... B. Dasar Pengaturan ................................... A........................................................................................................................................................................................ Pengungkapan .................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... C.............. Dasar Pengaturan ............................................................. A................. Kewajiban Keuangan ............. E.............................................. 4................................................................................................................... A.........

........... D.................. Ilustrasi Jurnal ............................................ F............. E..........Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia C............................................................................. Pengungkapan .............................. G.......................... G...................................................................................................................................................................... E Ilustrasi Jurnal ......................................................................... C............ F.................................... E.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... Pengungkapan ............................ F.................................................. C...................................................................... H.................................................. Pengungkapan ......... G................. G.................................................... Ilustrasi Jurnal .................................................................... Contoh kasus................................................................................ Pemberian dan Penyaluran . D.............................................. A....................................................................................................... Penjelasan............. Surat Berharga yang Diterbitkan .... B.................. Dasar Pengaturan ............................... Pengungkapan ............. 5................................................... Perlakuan Akuntansi ................. Contoh Kasus .... C... 2........................................................................................... 1.. Ketentuan Lain-lain ............................................................................... A................................................................................................................................ Contoh Kasus . Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit ................................................................. Definisi ...................................... Perlakuan Akuntansi ...................................................................................... D......................................................................................... Perlakuan Akuntansi ..................................................... B.................. D............... Dasar Pengaturan ................................ F.................... E............................... Perlakuan Akuntansi ............................................................. Ilustrasi Jurnal ............................. Contoh Kasus ........................................................................................................................................ Penjelasan .. Bab V Kredit ...... Definisi ......................................................................................................... Penjelasan....................................... Dasar Pengaturan .................... 92 94 95 96 96 98 98 98 105 107 108 112 112 117 117 117 118 124 132 138 149 152 178 178 178 182 201 203 205 206 206 xi ............. Penjelasan ................. A Definisi ............. B..................................

............................................... E............................ A................................................................................................................................................................................................. Ketentuan Lain-lain ...... C............................................................................................................ Pengungkapan ............................................................................................................................................. Pengungkapan .................................................................................................................. Perlakuan Akuntansi ... A............... Dasar Pengaturan............ 217 217 218 227 260 270 279 281 289 289 291 297 301 308 323 323 324 xii ................... Contoh Kasus ........................................................................................................... Definisi .. E........... F.............................................. F.............................................................. B........................................................................ G............................................ C................ H. Ilustrasi Jurnal .. Ilustrasi Jurnal ........................ Penjelasan .............................................................................. Perlakuan Akuntansi ................................................ Penjelasan ...... D............................................................................................................................................. D. Definisi ..................Impor ................................................................ Contoh kasus.....................................................................................Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab VI Transaksi Derivatif ........ Dasar Pengaturan......................................................... B...................................................... G........... Bab VII Transaksi Ekspor .........................

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiii .

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Halaman ini sengaja dikosongkan xiv .

Akan tetapi. dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non-keuangan. b) kreditur. kinerja serta perubahan posisi keuangan. relevan. Tujuan dan Ruang Lingkup 1. c) pemegang saham. perlu disadari pula bahwa laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bank. dalam beberapa hal bank perlu menyediakan informasi nonkeuangan yang mempunyai pengaruh keuangan di masa depan. Latar Belakang Laporan keuangan bank bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. yaitu untuk: 1) Pengambilan keputusan investasi dan kredit Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional.Bab I I P e n d a h u l u a n Bab I Pendahuluan A. Tujuan Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) antara lain adalah: a. informasinya harus dapat dipahami oleh pelaku bisnis dan ekonomi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan antara lain meliputi: a) deposan. andal dan dapat diperbandingkan. Selain itu laporan keuangan bank juga bertujuan untuk pengambilan keputusan. karena secara umum laporan keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu. e) Bank Indonesia. d) otoritas pengawasan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I1 . Suatu laporan keuangan akan bermanfaat apabila informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dapat dipahami. B. Untuk membantu pengguna dalam menyusun laporan keuangan agar sesuai dengan tujuannya. Walaupun demikian. Oleh karena itu.

Persepsi mereka umumnya dipengaruhi oleh harapan atas tingkat pengembalian dan risiko dari dana yang mereka tanamkan. reinvestasi dalam operasi. kreditur dan pihak-pihak lain dalam memperkirakan jumlah. serta kemungkinan terjadinya transaksi dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan sumber daya tersebut. 2 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . sehingga meningkatkan daya banding diantara laporan keuangan bank. Deposan. kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham. Prospek penerimaan kas sangat tergantung pada kemampuan bank untuk menghasilkan kas guna memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. kebutuhan operasional. 3) Memberikan informasi atas sumber daya ekonomi Pelaporan keuangan bertujuan memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi bank (economic resources). 2) Menilai prospek arus kas Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mendukung deposan. saat. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh perbankan dalam menyusun laporan keuangan. b.Bab I I P e n d a h u l u a n f) pemerintah. investor. Namun keseragaman penyajian sebagaimana diatur dalam PAPI tidak menghalangi masing-masing bank untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan sesuai kondisi masing-masing bank. c. dan kreditur akan memaksimalkan pengembalian dana yang telah mereka tanamkan dan akan melakukan penyesuaian terhadap risiko yang mereka perkirakan akan terjadi pada bank yang bersangkutan. Persepsi dari pihak-pihak yang berkepentingan atas kemampuan bank tersebut akan mempengaruhi harga pasar efek bank yang bersangkutan. investor. Menciptakan keseragaman dalam penerapan perlakuan akuntansi dan penyajian laporan keuangan. dan kepastian dalam penerimaan kas di masa depan. dan h) masyarakat. g) lembaga penjamin simpanan. dan pembayaran dividen.

Rerangka prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia adalah sebagai berikut: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I3 . 2. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ISAK). Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). 4. 5. Peraturan perundang-undangan yang relevan dengan laporan keuangan. 3. maka diwajibkan untuk mengikuti ketentuan Bank Indonesia. Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Perlakuan akuntansi atas suatu transaksi yang terjadi dalam bank harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. yaitu: 1. Jika PSAK memberikan pilihan atas perlakuan akuntansi. C. Bangun Prinsip Akuntansi Umum 1. International Accounting Standard (IAS)/International Financial Reporting Standards (IFRS). Dalam hal bank umum konvensional mempunyai unit usaha syariah. kecuali untuk hal-hal yang tidak diatur dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia tersebut. Ruang Lingkup PAPI berlaku untuk bank umum konvensional. D. maka unit usaha syariah tersebut menggunakan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia. Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum. Acuan Penyusunan Penyusunan PAPI didasarkan pada acuan yang relevan. kesepakatan antar negara dan standar akuntansi negara lain.Bab I I P e n d a h u l u a n 2.

ketentuan PSAK. Dengan demikian bank dapat mengembangkan metode pencatatan dan pembukuan sesuai sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil akhir yang tidak berbeda. IAS/IFRS. Ketentuan Lain-lain 1. Jurnal dan pos yang digunakan dalam PAPI hanya merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat. Dalam hal terjadi pertentangan antara prinsip akuntansi dari berbagai sumber tersebut. 3. PAPI secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan. dan ketentuan lainnya yang terkait dengan sektor perbankan. Setiap lapisan di bawahnya menjadi landasan bagi lapisan yang berada di atasnya. maka harus mengikuti perlakukan akuntansi yang diatur di dalam kelompok yang posisinya menjadi landasan atau pada lapisan yang terletak lebih di bawah. 4 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . PAPI merupakan bagian dari Pedoman atau Kodifikasi Praktik Akuntansi Industri dalam struktur Rerangka Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia. Rerangka ini digambarkan seperti suatu bangunan rumah ‘Prinsip-prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia’.Bab I I P e n d a h u l u a n 2. 3. ketentuan Bank Indonesia. Transaksi bank yang dicantumkan pada PAPI diprioritaskan pada transaksi yang umum terjadi pada setiap bank. E. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam PAPI menggambarkan akuntansi secara manual dan tidak ada transaksi antar kantor/cabang. 2.

Bab II I L a p o r a n Keuangan Bab II Laporan Keuangan A. maka laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama (tanggal posisi dan cakupan periode). Bahasa laporan keuangan Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. laporan keuangan dalam bahasa lain tersebut harus diterbitkan dalam waktu yang sama dengan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia. 4. laporan laba rugi. Selanjutnya. 5. Tujuan laporan keuangan Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan. Tanggung jawab atas laporan keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan. dan catatan atas laporan keuangan. 2. Apabila transaksi bank menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dijabarkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Mata uang pelaporan Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. laporan arus kas. Jika laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia. arus kas dan informasi lainnya yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. kinerja. 3. Komponen laporan keuangan Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari: neraca. laporan perubahan ekuitas. Kerangka Dasar 1. perubahan ekuitas. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan menggunakan kurs laporan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I5 .

kriteria pengakuan dan pengukuran aset. pengukuran. dan pernyataan yang dibuat oleh badan pembuat standar lain dan praktik industri yang lazim sepanjang konsisten dengan huruf a dan b. penghasilan dan beban yang ditetapkan dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK). dan 5) mencakup semua hal yang material. Apabila PSAK belum mengatur masalah pengakuan. relevan terhadap kebutuhan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan. perubahan ekuitas. 2) menggambarkan substansi ekonomi dari suatu kejadian atau transaksi dan tidak semata-mata bentuk hukumnya. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal bank. dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam melakukan pertimbangan tersebut manajemen memperhatikan: a. Penyajian a. b. c. definisi. kewajiban. kinerja keuangan. dan dapat diandalkan. 4) mencerminkan kehati-hatian. 7. sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya. Kebijakan akuntansi Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan mencakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK. maka manajemen harus menetapkan kebijakan untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi: a. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas. 6 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa. Manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menetapkan kebijakan akuntansi yang memberikan informasi bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. dengan pengertian: 1) mencerminkan kejujuran penyajian hasil dan posisi keuangan perusahaan.Bab II I L a p o r a n Keuangan 6. 3) netral. disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan b. yaitu bebas dari keberpihakan. b. persyaratan dan pedoman PSAK yang mengatur hal-hal yang mirip dengan masalah terkait. c.

Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Perubahan estimasi akuntansi Estimasi akuntansi dapat diubah apabila terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya. juga wajib diungkapkan pengaruh material dari perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periodeperiode berikutnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia e. I7 . d. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya yang dikelompokkan secara berjenjang (multiple step) dari kegiatan utama bank dan kegiatan lainnya. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian sesuai komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan.Bab II I L a p o r a n Keuangan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca. 2) Perubahan kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi dapat diubah apabila: a) penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundangan atau standar akuntansi keuangan yang berlaku. atau b) diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan menghasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan. Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Dalam hal ini yang dimaksud dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa termasuk pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. laporan laba rugi dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan. g. f. Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya atau mengikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku apabila terdapat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru. termasuk komitmen dan kontinjensi serta transaksi-transaksi lainnya. Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase. Selain itu.

b. Selain itu alasan reklasifikasi juga harus diungkapkan. Materialitas dan agregasi a. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan keuangan. Konsistensi penyajian a. dan laporan perubahan ekuitas harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”. 10. 9. b. Pada setiap lembar neraca.Bab II I L a p o r a n Keuangan 3) Terdapat kesalahan mendasar Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar-periode harus konsisten. sifat. Saling hapus (Offsetting) a. 8 I Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya. Informasi dianggap material apabila kelalaian untuk mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil. h. c. laporan arus kas. maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk memastikan daya banding. dan jumlah. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas. sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. 8. Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset lain kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan prakiraan realisasi atau penyelesaian aset atau kewajiban. Di samping hal-hal di atas. kecuali: 1) terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi perbankan. atau 2) perubahan tersebut diperkenankan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah. laporan laba rugi. penyajian laporan keuangan bagi bank wajib mengikuti ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. i.

laporan laba rugi. b. serta dengan aset dan kewajiban yang disalinghapuskan sebagaimana dimaksud di atas. Laporan keuangan interim a. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca. 14. Periode pelaporan Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim. 11. b. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan. Penyusunan laporan interim dapat dilakukan secara bulanan. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali apabila relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan. laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. Sedangkan untuk laporan laba rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan. Informasi komparatif a. Laporan keuangan konsolidasi Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi. dengan mencantumkan: a. bank dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif. laporan perubahan ekuitas. Selain itu untuk kepentingan pihak lainnya. laporan arus kas. b. dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara komparatif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. triwulanan atau periode lain yang kurang dari satu tahun. 13. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan. laporan keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I9 . Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam neraca. laporan perubahan ekuitas. kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung nilai. laporan laba rugi. dan catatan atas laporan keuangan. Dalam hal bank baru berdiri.Bab II I L a p o r a n Keuangan b. laporan arus kas. 12.

2.Bab II I L a p o r a n Keuangan sejenis dari aset. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi. perubahan posisi keuangan. Neraca. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi. dan beban. dibutuhkan adanya laporan keuangan bank yang menyediakan informasi-informasi tersebut untuk pengambilan keputusan. b. Komponen Laporan Keuangan 1. b. B. Untuk tujuan konsolidasi. c. Perbankan wajib membuat laporan keuangan sebagai laporan kepada bank sentral dan pengguna lainnya yang menyangkut posisi keuangan. Laporan arus kas. kinerja. seperti dicerminkan dalam laporan-laporan berikut ini: 10 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank. maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut: a. d. Laporan keuangan bank untuk tujuan umum terdiri dari: a. kewajiban. ekuitas. Laporan perubahan ekuitas. pendapatan. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi. Laporan laba rugi. e. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi. Oleh karena itu. dan catatan atas laporan keuangan. peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan sepanjang: 1) perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan. e. c. d. dan 2) peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan harus dieliminasi. dan Catatan atas laporan keuangan. yang timbul dari transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi.

Laporan Perubahan Posisi Keuangan Informasi perubahan posisi keuangan bank. Laporan Posisi Keuangan Posisi keuangan bank dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi yang dikendalikan. kebutuhan investasi.Bab II I L a p o r a n Keuangan a. dan solvabilitas. Informasi ini berguna untuk memprediksi kemampuan bank di masa depan dalam menghasilkan kas dan setara kas. struktur keuangan. Selain itu. informasi ini berguna dalam perumusan tentang efektivitas bank dalam memanfaatkan sumber daya. 2) Perubahan ekuitas Informasi perubahan ekuitas bank menggambarkan peningkatan atau penurunan aset bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Informasi ini berguna untuk memprediksi kapasitas bank dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Informasi ini bermanfaat untuk menilai aliran kas dan setara kas yang berasal dari aktivitas operasi. Informasi kinerja bank tergambar dalam laporan laba rugi. dan pendanaan. Informasi perubahan kas dan setara kas tergambar dalam laporan arus kas. serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. pendistribusian hasil pengembangan dan arus kas. baik jangka pendek maupun jangka panjang. antara lain: 1) Perubahan kas dan setara kas Informasi perubahan kas dan setara kas berguna untuk menilai kemampuan bank menghasilkan arus kas dan setara kas serta kebutuhan bank untuk menggunakan arus kas pada setiap aktivitas. memprediksi kemampuan bank dalam memenuhi komitmen keuangan pada saat jatuh tempo. investasi. Laporan Kinerja Informasi kinerja bank diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi ini bermanfaat untuk mengetahui perubahan aset bersih yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham dan jumlah keuntungan atau kerugian yang berasal dari kegiatan bank selama periode yang bersangkutan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 11 . c. Informasi posisi keuangan bank tergambar dalam neraca. likuiditas. b. Informasi perubahan ekuitas tergambar dalam laporan perubahan ekuitas.

Keterbatasan Laporan Keuangan Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Pengertian dan karakteristik: a. Apabila terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos. 3. 4. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar-bank. Hal ini disebabkan laporan keuangan memiliki keterbatasan. 7. Bersifat umum. baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. 2. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan saja. 5. Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing 1. Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing terdapat dua metode yang dapat digunakan yaitu: a. 6.Bab II I L a p o r a n Keuangan C. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base currency) yang digunakan yaitu mata uang rupiah/Indonesian Rupiah (IDR). 3. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran. 12 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . antara lain: 1. multi currency (lebih dari satu jenis mata uang). Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Hanya melaporkan informasi yang material. 2. single currency (satu jenis mata uang). Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas). maka dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aset yang paling kecil. b. yaitu kurs tengah yang merupakan rata-rata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul 16.00 WIB setiap hari. D.

Pencatatan biaya dan pendapatan mata uang asing dilakukan sebagai berikut: a. saldo rekening biaya dan pendapatan mata uang asing tersebut dipindahbukukan ke rekening biaya dan pendapatan rupiah. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal (original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut. b. dan 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan melalui rekening perantara mata uang asing. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 13 . 3) penjurnalan tidak menggunakan pos rekening perantara mata uang asing. 2) saldo rekening dalam mata uang asing dicatat secara extracomptable. 3) penjurnalan menggunakan pos rekening perantara. Jika menggunakan multi currency 1) Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam mata uang asal. Penjabaran ekuivalen rupiah dari rekening-rekening tersebut hanya dilakukan dalam rangka pelaporan neraca. b. 4) penjabaran (revaluasi) saldo rekening mata uang asing dilakukan langsung per rekening yang bersangkutan. 4. 2) Agar saldo biaya dan pendapatan mata uang asing tidak menimbulkan selisih kurs revaluasi maka pada setiap akhir hari. Jika menggunakan single currency Seluruh biaya dan pendapatan mata uang asing dicatat dalam Rupiah. diterbitkan neraca dalam base currency.Bab II I L a p o r a n Keuangan Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut: 1) neraca yang diterbitkan hanya dalam mata uang rupiah. Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut: 1) neraca dapat diterbitkan dalam setiap mata uang asing asal (original currency) yang digunakan. 2) untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata uang.

Bab II I L a p o r a n Keuangan Halaman ini sengaja dikosongkan 14 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Aset Keuangan 1. Aset dan Kewajiban Keuangan A.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Bab III Penjelasan Umum 1. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 15 . b) Merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). atau c) Merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). FVO hanya dapat digunakan: a) Untuk pengukuran instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran (combined/hybrid instrument) yang mengandung satu atau lebih derivatif melekat yang ditetapkan oleh bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Istilah diperdagangkan umumnya mencerminkan aktivitas pembelian dan penjualan yang bersifat aktif dan berulang. 2) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan bank untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option/FVO). yaitu: a) Diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat (lazimnya 90 hari). Keputusan bank untuk menetapkan aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi serupa dengan pilihan kebijakan akuntansi. Kategori Aset Keuangan a. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Aset keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut: 1) Diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan. dan instrumen keuangan yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan umumnya digunakan untuk tujuan memperoleh laba atau fluktuasi harga jangka pendek atau marjin.

Pendekatan mixed measurement dalam PSAK 55 yang memungkinkan kategori aset dan kewajiban keuangan diukur berdasarkan biaya (cost). bank dapat menetapkan aset keuangan dan kewajiban keuangan yang terkait. yaitu dalam sub kategori Diperdagangkan kecuali derivatif tersebut merupakan instrumen lindung nilai yang mengikuti penerapan akuntansi lindung nilai. biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Transaksi aset dan kewajiban keuangan tidak perlu dilakukan pada saat yang bersamaan untuk memastikan keterkaitan antara 16 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . instrumen derivatif harus diakui dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. PSAK 55 juga mensyaratkan derivatif melekat untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi sebagaimana halnya derivatif yang berdiri sendiri (freestanding deriva ves). Untuk dapat mengeliminasi atau mengurangi mismatch tersebut secara signifikan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum Sejalan dengan PSAK 55. Aset dan kewajiban keuangan yang saling terkait pada saat pengakuan awal dapat diakui dalam kategori yang berbeda sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya mismatch pada saat pengukuran selanjutnya karena terjadinya perubahan nilai aset dan kewajiban sehingga berdampak pada pengakuan keuntungan atau kerugian. kelompok aset dan kewajiban yang terkait. atau nilai wajar (fair value) dapat menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch). b) Jika dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan karena: (1) Mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasardasar yang berbeda. atau bagian dari kelompok aset dan kewajiban keuangan yang terkait untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran nilai wajar tidak dihindari dengan melekatkan instrumen derivatif pada kontrak atau instrumen keuangan lainnya yang tidak diukur pada nilai wajar.

misalnya Direksi. Bank dapat menyimpulkan bahwa laporan keuangan akan memberikan informasi yang relevan jika aset dan kewajiban masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. (b) Dokumentasi harus mencukupi sehingga dapat menunjukkan bahwa penggunaan FVO konsisten dengan manajemen risiko atau strategi investasi bank. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari bank. dan penetapan untuk menggunakan FVO dilakukan pada saat pengakuan awal aset dan kewajiban keuangan. dan tidak perlu dilakukan terhadap setiap item instrumen keuangan. Dokumentasi dilakukan secara basis portofolio. Sebagai contoh: Bank menerbitkan obligasi bersuku bunga tetap dan mengkategorikan sebagai Kewajiban Lainnya yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Hal ini menimbulkan ketidakkonsistenan atau perbedaan pengukuran terhadap aset dan kewajiban yang saling terkait tersebut. serta terdapat hubungan ekonomis antara aset dan kewajiban keuangan. yaitu menggunakan FVO. Penetapan tidak dapat dilakukan hanya terhadap beberapa instrumen keuangan dalam suatu kelompok yang dikelola bersama sebagai suatu portofolio. Transaksi dapat dilakukan dalam suatu rentang waktu yang wajar berdasarkan spesifikasi dari instrumen keuangan tersebut. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 17 . (2) Kelompok aset keuangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (a) Penetapan nilai wajar (FVO) harus dilakukan terhadap seluruh instrumen keuangan yang dikelola dan dievaluasi secara bersama-sama. Dana yang diperoleh dari penerbitan Obligasi tersebut selanjutnya diinvestasikan dalam aset keuangan yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual dan diukur pada nilai wajar.Bab III I P e n j e l a s a n Umum keduanya.

kecuali: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 3) Bank memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang telah ditetapkan. 2) Penilaian terhadap intensi positif dan kemampuan bank harus dilakukan pada saat pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya setiap tanggal neraca (termasuk neraca interim). b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. c.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (c) Evaluasi manajemen dan kinerja kelompok aset dan kewajiban keuangan harus didasarkan atas total laba (return) yang terkait dengan laba atas aset dan/atau kewajiban keuangan sebagai suatu portofolio atau kelompok dan bukan atas setiap item instrumen keuangan. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. atau c) Aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2) Termasuk aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual antara lain mencakup investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. Tersedia untuk Dijual 1) Aset keuangan non derivatif yang ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai: a) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. serta bank mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. dan 18 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. b) Investasi yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual.

sepanjang bank sebagai pemegang aset keuangan memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki hingga dibeli kembali oleh penerbitnya atau hingga jatuh tempo. serta Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang pada saat pengakuan awal Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 19 . d. 4) Bank memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) bank memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. yaitu hak untuk meminta penerbit melunasi atau membeli kembali aset keuangan sebelum jatuh tempo. b) aset keuangan yang dapat dibeli kembali oleh penerbitnya atas dasar opsi beli dan bank dapat memperoleh kembali nilai tercatat aset keuangan secara substansial. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang 1) Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. kecuali: a) Aset keuangan yang dimaksudkan oleh bank untuk dijual dalam waktu dekat. dan c) aset keuangan yang mengalami kemacetan pembayaran. 5) Termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) aset keuangan dengan suku bunga variabel. sepanjang pembayaran kontraktual sudah ditetapkan atau dapat ditentukan. yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) tidak bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu kecuali dalam situasi yang tidak berulang dan tidak dapat diantisipasi sebelumnya. dan b) Aset keuangan yang dapat dijual kembali. 6) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo antara lain mencakup: a) Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo. atau b) tidak terdapat peraturan hukum atau batasan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. dimana bank memiliki opsi jual.

20 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b) Investasi dalam reksadana atau yang serupa. dan diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 2) Aset keuangan yang dapat memenuhi definisi aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Kredit yang diberikan. 3) Tidak termasuk aset keuangan dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang antara lain mencakup: a) Aset keuangan dimana bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh investasi awalnya selain karena penurunan kualitas kreditnya. d) Penempatan pada bank lain.Bab III I P e n j e l a s a n Umum oleh bank ditetapkan sebagai aset keuangan yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 4) Perbedaan utama antara kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang dengan kategori aset keuangan lainnya adalah bahwa kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang bukan merupakan subyek dari tainting rule yang berlaku bagi kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. dan e) Penempatan dalam bentuk saham preferen di bank lain dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan. dan c) Investasi dalam instrumen utang yang dicatatkan di pasar aktif. investasi dalam fixed rate interest only strip yang dibeli melalui transaksi sekuritisasi dan merupakan subyek dari risiko pelunasan dipercepat. b) Piutang usaha. tidak dikuotasikan di pasar aktif. dan tidak memenuhi definisi instrumen ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. baik yang berasal dari pembelian maupun penerbitan oleh bank sendiri. b) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. Misalnya. c) Penempatan pada Bank Indonesia. atau c) Aset keuangan dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial selain yang disebabkan oleh penurunan kualitas aset keuangan.

d) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. 2) Dalam kondisi yang jarang terjadi (rare circumstances). Setiap keuntungan atau kerugian yang telah diakui dalam laporan laba rugi tidak boleh dijurnal balik. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Diperdagangkan. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1) Bank tidak dapat: a) mereklasifikasi instrumen derivatif dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya selama instrumen derivatif tersebut dimiliki. mana yang dapat diterapkan. dapat direklasifikasi ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan (yang ditujukan untuk dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat) dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang.Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. b) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi ke kategori lainnya jika pada saat pengakuan awal instrumen keuangan tersebut telah ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (FVO). c) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 21 . Reklasifikasi Aset Keuangan a. b) Kondisi yang jarang terjadi dapat timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. c) mereklasifikasi setiap instrumen keuangan dari kategori lainnya ke dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi setelah pengakuan awal. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang.

tidak berulang.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b. sepanjang pendekatan digunakan secara konsisten. dapat diandalkan. (2) Perubahan peraturan perpajakan yang mengeliminasi atau secara signifikan mengurangi status pengampunan pajak (tax forgiveness) atas pendapatan bunga yang diperoleh dari aset keuangan. atau (b) penurunan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal bank. yang dapat mencakup hal-hal berikut: (1) Penurunan kredibilitas penerbit atau debitur secara signifikan. b) Aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (misalnya kurang dari 3 bulan sebelum jatuh tempo) dimana diperkirakan dalam jangka waktu tersebut tidak terjadi perubahan suku bunga yang akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan. 22 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau d) Penjualan atau reklasifikasi tersebut terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali bank. dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh bank. misalnya penurunan peringkat 2 tingkat atau lebih dibandingkan peringkat awal. c) Bank telah memperoleh kembali secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadual pembayaran atau bank telah memperoleh pelunasan dipercepat. dan obyektif. Penjualan atau Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 1) Bank dapat menjual sebelum jatuh tempo atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual tanpa menimbulkan pertanyaan mengenai intensi dan kemampuan bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo hanya jika: a) Jumlah aset keuangan yang dijual atau direklasifikasi tidak lebih dari jumlah yang tidak signifikan (not more than insignificant) dibandingkan dengan total seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. yang dapat tercermin dari: (a) penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat yang tidak dapat diantisipasi secara logis.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum (3) Penggabungan usaha menyeluruh atau pelepasan unit atau segmen usaha yang penting yang mengharuskan bank menjual atau mengalihkan aset keuangan untuk mempertahankan tingkat risiko suku bunga dan/atau tetap mematuhi kebijakan risiko kredit. 3) Termasuk sebagai penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena perubahan intensi adalah penjualan atau reklasifikasi yang disebabkan perubahan manajemen. (4) Perubahan ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang secara signifikan mengubah aturan mengenai jenis investasi dalam aset keuangan yang diperbolehkan atau jumlah maksimum investasi jenis tertentu sehingga bank harus menjual aset keuangan. Penjualan atau reklasifikasi tersebut akan menimbulkan pertanyaan mengenai intensi bank untuk memiliki sisa aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 2) Dalam hal terjadi perubahan intensi atau kemampuan bank sehingga aset keuangan tidak tepat lagi diklasifikasikan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. maka aset keuangan tersebut harus direklasifikasikan menjadi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. dimana manajemen baru memutuskan untuk menjual sebagian aset keuangan tersebut untuk mendanai strategi ekspansi yang telah ditetapkan dan disetujui Direksi. dan (5) Perubahan ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM). maka bank: a) tidak dapat mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo selama periode tahun berjalan terjadinya penjualan atau reklasifikasi aset keuangan dan 2 tahun buku berikutnya. yaitu peningkatan signifikan tingkat kecukupan modal dan/atau peningkatan signifikan bobot risiko aset keuangan sehingga memaksa bank harus melakukan perampingan dengan menjual aset keuangan. 4) Dalam hal bank menjual atau mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi pada angka 1) tersebut di atas. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 23 .

maka bank tidak dapat mengklasifikasikan setiap aset keuangan yang dimilikinya dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi. b) dilakukan dalam kondisi yang jarang terjadi yang timbul dari suatu kejadian yang tidak biasa dan sangat tidak mungkin terjadi secara berulang dalam jangka pendek. maka hal yang sama juga diberlakukan terhadap seluruh perusahaan anak (termasuk yang berada di negara lain) yang memenuhi kriteria untuk dikonsolidasi sehingga akan tercermin dalam laporan konsolidasi bank. dalam hal bank wajib dikenakan ketentuan dalam angka 4) di atas. atau c) pengenaan sanksi untuk tidak boleh mengklasifikasikan seluruh portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo telah terlewati. 2) Apabila bank mereklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo karena terjadi perubahan intensi atau kemampuan. Reklasifikasi aset keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Bank dapat mereklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo jika: a) terdapat perubahan intensi atau kemampuan bank. maka harus dipastikan bahwa: a) Bank memang memiliki intensi positif untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. 6) Jika bank telah menjual atau mereklasifikaskan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam laporan keuangan konsolidasi dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) dan tidak memenuhi kondisi lainnya sebagaimana pada angka 1) diatas. sehingga ukuran yang andal atas nilai wajar tidak lagi tersedia. Bank tidak memiliki intensi positif jika: 24 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Artinya. c. 5) Penetapan batasan jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) didasarkan pada persentase tertentu dari total seluruh aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.Bab III I P e n j e l a s a n Umum b) wajib mereklasifkasi sisa portofolio aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke dalam kategori Tersedia untuk Dijual (tainting rule).

Bab III I P e n j e l a s a n Umum (1) bermaksud memiliki aset keuangan untuk suatu periode yang di masa datang yang belum ditetapkan. Bank tidak memiliki kemampuan jika: (1) tidak memiliki sumber daya keuangan yang tersedia untuk melanjutkan pendanaan investasi hingga jatuh tempo. atau (2) bank adalah subyek dari peraturan hukum yang berlaku atau batasan lainnya yang dapat mengganggu intensinya untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. kebutuhan likuiditas. b) Setiap keuntungan dan kerugian atas aset tersebut yang telah diakui secara langsung dalam ekuitas (pendapatan komprehensif lainnya) harus dicatat dengan cara sebagai berikut: (1) dalam hal aset keuangan memiliki jatuh tempo yang tetap. perubahan sumber dan syarat pembiayaan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 25 . atau perubahan risiko mata uang asing. (2) bermaksud menjual aset keuangan tersebut sewaktu-waktu sebagai reaksi terhadap perubahan suku bunga atau risiko pasar. 4) Reklasifikasi aset keuangan dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Aset keuangan harus direklasifikasi pada nilai wajar pada tanggal reklasifikasi. ke dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. yang sebenarnya dapat memenuhi definisi kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. b) Bank memang memiliki kemampuan untuk memiliki aset keuangan hingga jatuh tempo. perubahan ketersediaan dan tingkat imbal hasil atas investasi aset keuangan lain. jika bank memiliki intensi dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut selama jangka waktu di masa datang yang dapat diprediksi atau sampai jatuh tempo. bank dapat mereklasifikasi aset keuangan yang pada saat pengakuan awal masuk kategori Tersedia untuk Dijual. atau (3) penerbit aset keuangan memiliki hak untuk melakukan pembayaran kembali atau pelunasan pada suatu jumlah yang secara signifikan lebih rendah dari biaya perolehan diamortisasi. maka keuntungan atau kerugian yang terjadi diamortisasi pada laporan laba rugi selama sisa umur investasi dimiliki hingga jatuh tempo dengan menggunakan metode suku bunga efektif. 3) Dalam kondisi yang jarang terjadi.

tergantung pada perubahan nilai wajarnya). c) Nilai wajar aset keuangan pada tanggal reklasifikasi menjadi biaya perolehan yang baru atau biaya perolehan diamortisasi. yaitu bank yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut. Kewajiban keuangan yang masuk kategori Diperdagangkan antara lain mencakup: 1) Kewajiban derivatif yang tidak dilaporkan sebagai instrumen lindung nilai.Bab III I P e n j e l a s a n Umum (2) dalam hal aset keuangan tidak memiliki jatuh tempo yang tetap. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi yang sama dengan kondisi penetapan aset keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan 4) Kewajiban keuangan yang merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama-sama dan atas bagian tersebut ditemukan bukti adanya pola ambil untung jangka pendek terkini. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a. 2) Kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller. Kewajiban Keuangan Kewajiban keuangan dapat dikategorikan sebagai: 1. maka keuntungan atau kerugian tetap diakui dalam ekuitas sampai aset keuangan tersebut dijual atau dilepaskan dan pada saat itu keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi. 3) Kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. 26 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . mana yang dapat diterapkan. B. Kewajiban lainnya Kewajiban keuangan selain yang memenuhi kriteria kewajiban keuangan dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 2. b.

Penerapan secara prospektif dilakukan untuk transaksi yang dilakukan mulai 1 Januari 2010. Penerapan Secara Prospektif PAPI diterapkan secara prospektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada 1 Januari 2010.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. Tersedia untuk Dijual Nilai tercatat 1 Januari 2010 Pinjaman ditambah/dikurangi yang biaya transaksi dan Diberikan dan premi/diskonto yang Piutang belum diamortisasi (nilai tercatat awal) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Nilai wajar Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost).Bab III I P e n j e l a s a n Umum 2. Instrumen keuangan surat berharga Bank dapat mereklasifikasi surat berharga yang dimiliki pada 1 Januari 2010 tanpa terkena dampak reklasifikasi (tainting rule dan larangan mengklasifikasikan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dalam tahun berjalan dan dua tahun berikutnya). Diukur pada Nilai Wajar Nilai tercatat 1 melalui Januari 2010 Laporan Laba Rugi Biaya perolehan yang diamortisasi dengan suku bunga efektif 2. . maka perlakuan akuntansi sebagai berikut: 1. Sedangkan untuk transaksi yang terjadi sebelum 1 Januari 2010 dan masih memiliki saldo pada 1 Januari 2010.Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal.Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). . Instrumen keuangan selain surat berharga Kategori Pengukuran Awal Pengukuran Selanjutnya Nilai wajar Keterangan Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). Ketentuan Transisi A. . . .Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 27 .

Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik. . .Bab III I P e n j e l a s a n Umum Dampak reklasifikasi pada 1 Januari 2010 diakui dalam laporan laba rugi atau ekuitas tahun 2010 dan pengukuran awal adalah sebagai berikut: Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi .Suku bunga efektif dihitung berdasarkan arus kas masa depan setelah 1 Januari 2010 terhadap nilai tercatat awal. .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Nilai tercatat pada 1 Januari 2010 dianggap sebagai harga perolehan (deemed cost). .Saldo biaya transaksi dan premi/diskon pada 1 Januari 2010 langsung diakui dalam laporan laba rugi. Sda - - Tersedia untuk Dijual Diperdagangkan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Saldo selisih penilaian dikeDiukur pada Nilai luarkan dari ekuitas dan diakui Wajar melalui Lalangsung pada laporan laba poran Laba Rugi rugi untuk Tersedia Tersedia Dijual untuk Dijual Dimiliki Hingga Saldo selisih penilaian di ekuiJatuh Tempo tas diamortisasi dan diakui Pinjaman yang pada laporan laba rugi sampai Diberikan dan dengan jatuh tempo Piutang Sda Sda Sda 28 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Biaya transaksi dan premi/diskonto yang telah diakui dalam laporan laba rugi periode sebelumnya tidak dilakukan jurnal balik.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 29 .Bab III I P e n j e l a s a n Umum Reklasifikasi Dari Ke Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Dampak Terhadap Laporan Laba Rugi Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui secara langsung pada laporan laba rugi Dampak Terhadap Ekuitas Nilai Tercatat Awal Setelah Reklasifikasi - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Tersedia untuk dijual - Selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat diakui pada ekuitas - Sda Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang - Sda Sda B. Namun. Laporan Keuangan Komparasi Dalam menyajikan laporan keuangan komparasi yaitu untuk posisi Desember 2009 dan Desember 2010. bank tidak harus menyesuaikan penyajian atau klasifikasi pospos dalam laporan keuangan posisi Desember 2009 untuk memastikan daya banding jika penyesuaian tersebut tidak praktis dilakukan. bank harus mengungkapkan perbedaan yang disebabkan oleh perubahan standar akuntansi maupun kebijakan akuntansi.

Bab III I P e n j e l a s a n Umum Halaman ini sengaja dikosongkan 30 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

5.Bab IV I S u r a t Berharga Bab IV Surat Berharga 1. Efek beragun aset adalah surat berharga yang diterbitkan oleh penerbit berdasarkan aset keuangan yang dialihkan oleh kreditur asal. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 31 . obligasi. atau suatu kewajiban dari penerbit. 3. Surat Berharga A. B. 2. (PSAK 55: Paragraf 38) 2. (PSAK 55: Paragraf 14) Pembelian atau penjualan aset keuangan yang lazim (reguler) diakui dan dihentikan pengakuannya menggunakan salah satu di antara akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA68–PA71). Obligasi konversi (convertible bond) adalah obligasi yang mengandung fitur opsi konversi (convertible option) yang memberikan hak kepada pembeli obligasi untuk mengkonversi obligasi ke dalam sejumlah saham tertentu pada tanggal yang telah ditetapkan dan harga konversi yang telah disepakati. jika dan hanya jika. wesel. dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. Reksa dana adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Dasar Pengaturan 1. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. sekuritas kredit. atau kepentingan lain. atau setiap derivatifnya. Surat berharga adalah surat pengakuan utang. Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). Definisi 1. 4.

entitas mengukur pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. (PSAK 55: PA26) Akuntansi Perbankan Indonesia 4. (PSAK 55: PA68) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. (PSAK 55: Paragraf 49) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. 32 I P e d o m a n . 7. lihat juga paragraf 91)... 5. Untuk tujuan ini. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs).. Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) aset keuangan diakui menggunakan akuntansi tanggal perdagangan atau akuntansi tanggal penyelesaian sebagaimana dijabarkan dalam paragraf PA70 dan PA71.. (PSAK 55: PA 79) . pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. perantara efek dan pedagang efek. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. konsultan. 6. aset yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari aset yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. biaya pendanaan (financing costs). (PSAK 55: Paragraf 8) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif.. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan.Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). Metode yang digunakan diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan aset keuangan yang masuk dalam kategori aset keuangan yang sama sebagaimana didefinisikan dalam paragraf 8. 8..Bab IV I S u r a t Berharga 3.

karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidak-konsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7 tentang Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa). Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking). sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. misalnya Direksi. atau (ii) kelompok aset keuangan. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo (lihat Pedoman Aplikasi paragraf PA29– PA38). Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. kecuali: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 33 .Bab IV I S u r a t Berharga 9. (PSAK 55: Paragraf 8) 10. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. b.

. investasi yang ditetapkan oleh entitas dalam kelompok Tersedia untuk Dijual.. (Panduan Implementasi No.2: B. (ii) terjadi setelah entitas berhasil menagih hampir seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pembayaran awal. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. dan investasi yang memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. (PSAK 55: Paragraf 8) 11. kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut: (i) dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya. c.18) 12.Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. atau (iii) terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali entitas. yaitu memperoleh hak untuk mengkonversi menjadi ekuitas merupakan derivatif melekat. Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempo umumnya tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok investasi dimiliki hingga jatuh tempo karena tidak konsisten dengan tujuan pembelian fitur konversi tersebut.3) 34 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . . tidak berulang..2: C. b. investasi yang sebelum pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut. Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo. (Panduan Implementasi No.Bab IV I S u r a t Berharga a. kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo) dimana perubahan suku bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut. Namun demikian. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo). dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas.

Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut (lihat paragraf 8 dan PA29–PA38). (PSAK 55: Paragraf 8) 14. (PSAK 55: PA39). Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. piutang dagang. Namun. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 35 . Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang... Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. maka biaya-biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (b) investasi yang diklasifi kasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. investasi dalam instrumen utang. atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi... Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan.Bab IV I S u r a t Berharga 13. 15. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. (PSAK 55: Paragraf 8) 16.

Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif. entitas mengukur aset keuangan. pedagang efek (dealer). Setelah pengakuan awal. maka harga yang digunakan dalam transaksi terkini memberi bukti mengenai nilai wajar saat ini. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas.. (PSAK 55: PA86) 19. (PSAK 55: Paragraf 46) 21. Kuotasi harga pasar yang sesuai bagi aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan biasanya sama dengan harga penawaran yang berlaku.2: E. dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar.. atau pelepasan lain. maka entitas dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi risiko yang saling hapus tersebut dan menerapkan harga penawaran atau harga permintaan terhadap posisi terbuka neto. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. Jika aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur 36 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . mana yang lebih sesuai. . (Panduan Implementasi No. pada nilai wajarnya. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan.1. Jika entitas memiliki aset yang dan kewajiban dimana risiko pasarnya saling hapus. jika harga yang dikuotasikan tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin dari bursa. badan pengawas (pricing service or regulatory agency).Bab IV I S u r a t Berharga 17. perantara efek (broker).. Untuk aset keuangan tersedia untuk dijual. Apabila harga penawaran dan harga permintaan tidak tersedia. biaya transaksi diakui dalam ekuitas sebagai bagian dari perubahan nilai wajar pada penilaian kembali. maka biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.. sepanjang kondisi ekonomi tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak transaksi tersebut terjadi. (PSAK 55: PA87) 20.1) 18. kelompok industri. sementara untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki adalah harga permintaanya. maka biaya transaksi diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif.

Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. dan seluruh premium atau diskonto lainnya.. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya.. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. dan melalui proses amortisasi. (PSAK 55: Paragraf 52) 23. (PSAK 55: Paragraf 57) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 37 .Bab IV I S u r a t Berharga dari instrumen keuangan.. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan.. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule). Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). (PSAK 55: PA20) 25... Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 53) 24. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya. Jika.. atau jika lebih tepat. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. Pada saat menghitung suku bunga efektif. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. biaya transaksi.. (PSAK 55: Paragraf 8) 22.

Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). c. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. pelanggaran kontrak.Bab IV I S u r a t Berharga 26. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). 38 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikaskan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. Jika terdapat bukti tersebut. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan d. e. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. f. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. jika dan hanya jika. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: Paragraf 59) 27. pihak pemberi pinjaman.

atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. (PSAK 55: Paragraf 65) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 39 . Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. (PSAK 55: Paragraf 60) 28. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi.Bab IV I S u r a t Berharga sejak pengakuan awal aset dimaksud. (PSAK 55: Paragraf 64) 29. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak.

atau dengan menyesuaikan pos cadangan. (PSAK 55: Paragraf 68) 32. pada periode berikutnya. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau 40 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jika dan hanya jika: a. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit penerbit). hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. b. Jika.Bab IV I S u r a t Berharga 30. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). (PSAK 55: Paragraf 71) 33. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. Jika. baik secara langsung. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. (PSAK 55: Paragraf 66) 31. pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 8) 34. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 17) 35. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan.

2. negosiasi wesel ekspor. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. Dalam pengertian surat berharga termasuk. Surat Utang Negara. dan reksa dana (termasuk penempatan dana awal bank sebagai sponsor dalam reksa dana). Efek Beragun Aset (EBA). maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. Surat berharga yang dapat dimiliki bank mengikuti peraturan perundang-undangan dan ketentuan Bank Indonesia yang berlaku. 3.Bab IV I S u r a t Berharga kewajiban jasa pengelolaan. Dalam pembukuan surat berharga. Sertifikat Bank Indonesia. Surat berharga yang diklasifikasikan dalam kategori Diperdagangkan membentuk kategori yang terpisah dari surat berharga yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 41 . Penjelasan 1. credit links notes. (PSAK 55: Paragraf 24) C. antara lain. bank dapat menggunakan tanggal perdagangan atau tanggal penyelesaian yang harus diterapkan secara konsisten terhadap seluruh pembelian dan penjualan surat berharga yang masuk dalam kategori yang sama. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27.

Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut.Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah berikan dan Piutang ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. 1) Surat berharga dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. 1) Surat berharga yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 1 2 3 4 b. Dimiliki Hingga 2) Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk Jatuh Tempo memiliki surat berharga tersebut hingga jatuh tempo. Tersedia untuk Dijual 2) Surat berharga yang dimiliki/dibeli dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok surat berharga tersebut secara substansial. Surat berharga utang tidak boleh diklasifikasikan dalam kategori ini apabila maksud pemilikannya hanya untuk periode yang tidak ditentukan dan Tersedia untuk Dijual untuk menghadapi: 42 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Secara umum. Kategori Surat Berharga Keterangan 1) Surat berharga yang dimiliki/dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Pinjaman yang Di. 2) Surat berharga yang pada saat dibeli ditetapkan Diukur pada Nilai untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Wajar melalui LaporRugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan an Laba Rugi untuk diperjualbelikan. surat berharga yang dimiliki/dibeli dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. yaitu: No. yang bukan disebabkan penurunan kualitas surat berharga.Bab IV I S u r a t Berharga 4. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Kategori Surat Berharga a. Surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo terbatas pada surat berharga utang dengan tujuan memperoleh pendapatan bunga dan surat berharga utang tersebut baru akan dicairkan pada saat jatuh tempo. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option.

Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. 7. Evaluasi penurunan nilai untuk surat berharga dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. I 43 . b. 8.Bab IV I S u r a t Berharga 1) Perubahan tingkat bunga pasar dan perubahan yang berhubungan dengan risiko yang sejenis. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap surat berharga dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 5. dan 4) perubahan dalam risiko mata uang asing. 2) kebutuhan likuiditas. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. 6. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. Kuotasi di pasar aktif. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Penurunan Nilai a. 3) perubahan dalam ketersediaan dan hasil investasi alternatif. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar surat berharga dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia b.

tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari issuer untuk membayar pokok atau bunga. 9. Oleh karena itu. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat surat berharga. maka setiap penerimaan pembayaran dari issuer akan langsung mengurangi nilai tercatat surat berharga. Pemulihan penurunan nilai a. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit issuer). yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. Penghentian Pengakuan a. Pembayaran setelah surat berharga mengalami penurunan nilai 1) Setelah surat berharga mengalami penurunan nilai. Nilai tercatat surat berharga setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Misalnya. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas surat berharga yang dibeli/dimiliki jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut. atau 2) Bank telah mentransfer surat berharga tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. issuer melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebihi antisipasi bank. b. 2) Apabila issuer melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat surat berharga sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai. Dalam laporan keuangan. kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. 44 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga c. 10. Dalam kondisi tersebut.

12. D. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan surat berharga yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat surat berharga karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari surat berharga tersebut. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 45 . Dalam laporan keuangan konsolidasi. Pada saat pembelian surat berharga. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat surat berharga dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. yaitu: No. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. Meskipun tidak termasuk dalam kriteria penghentian pengakuan bank dapat mengeluarkan surat berharga yang dihapusbuku dari neraca. c d 11. Pelaksanaan penghapusbukuan surat berharga dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih.Bab IV I S u r a t Berharga b. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Surat berharga dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. bank mengakui “Surat berharga yang dimiliki” sebesar nilai wajar. Surat berharga dalam kategori Pencatatan pada saat pembelian 1 2 3 4 Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada Diukur pada Nilai Wajar melalui saat pengakuan awal umumnya sama dengan Laporan Laba Rugi harga pembelian surat berharga Tersedia untuk Dijual Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Dimiliki Hingga Jatuh Tempo memperhitungkan pendapatan dan/atau bePinjaman yang Diberikan dan ban yang dapat diatribusikan langsung pada pembelian surat berharga.

dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan dan pokok. 4. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi Piutang kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Keuntungan atau kerugian yang Diukur pada Nilai Wajar melalui timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga Laporan Laba Rugi diakui pada laporan laba rugi. Untuk surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui 46 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Sebesar nilai wajar. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam hal surat berharga dibeli di antara tanggal pembayaran bunga.Bab IV I S u r a t Berharga 2. maka pembayaran bunga tersebut bukan merupakan bagian dari biaya perolehan. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). tetapi dimasukkan dalam pos pendapatan bunga yang masih akan diterima. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. b. Setelah pembelian surat berharga. bank mencatat “Surat berharga yang dimiliki” sebagai berikut: No. 1 Surat berharga dalam kategori Pencatatan setelah pembelian 2 3 4 Sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang Tersedia untuk Dijual timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui secara langsung dalam ekuitas. Selanjutnya. 3.

penghentian pengakuan dan hapus buku/hapus tagih surat berharga mengacu pada Bab mengenai Kredit. pemulihan penurunan nilai.Bab IV I S u r a t Berharga dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. harus diakui sebagai berikut: a. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. Perlakuan akuntansi untuk penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 47 . b. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. Selanjutnya. Reklasifikasi surat berharga diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. 7. untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. 6. 5. namun harus diamortisasi selama masa manfaat surat berharga dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi atau diskonto.

. E. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db/Kr. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Beban/pendapatan Kr/Db. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara Pinjaman yang Diberikan dan nilai awal dan nilai jatuh temponya dan dikurangi 4 Piutang penurunan nilai./Giro BI 3. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas surat berharga yang dimiliki.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 48 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Surat berharga disajikan di neraca sesuai kategori. Kas/Rekening. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db.Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2. Surat berharga dalam kategori Penyajian pada neraca Diukur pada Nilai Wajar melalui 1 Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar 2 Tersedia untuk Dijual 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Rekening lawan . Surat berharga . Pada tanggal transaksi Db.. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal. yaitu: No.

Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga . Pada tanggal penyelesaian Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga . Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Pada saat realisasi penerimaan bunga Db. Pendapatan bunga yang akan diterima 8..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 49 .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 4.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db. Pendapatan bunga surat berharga 7. Surat berharga ./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr./Giro BI Kr. Rekening lawan . Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga b. Penyesuaian nilai wajar a. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr. Kas/Rekening. Surat berharga . Kerugian karena penurunan nilai wajar surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b.. Surat berharga . Tagihan komitmen pembelian surat berharga 6 Pada saat pengakuan bunga Db.. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.

Surat berharga . Surat berharga . Surat berharga . Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Surat berharga ... Pendapatan bunga d. Surat berharga . c.. Kas/Rekening./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db/Kr./Giro BI Kr. e.. Kas/Rekening.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr./Giro BI atau Db/Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Pada saat jatuh tempo: Db. Kas/Rekening....Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db./Giro BI Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Realisasi keuntungan/kerugian dari penjualan surat berharga Db. Kas/Rekening. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a. 50 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening.. Kerugian/keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga .. Pada saat membeli: Db./Giro BI (Sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr.. Kas/Rekening.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Db/Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db/Kr. Surat Berharga yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (asumsi menggunakan tanggal perdagangan) 1.. Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db/Kr./Giro BI Kr.. Pada saat penjualan: a. Pada saat menjual: Db.Bab IV I S u r a t Berharga 9. Surat berharga .

/Giro BI Db../Giro BI Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db/Kr.. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. Kas/Rekening. 3. c. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr.. d.. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Kas/Rekening. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo Db. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga Db./Giro BI atau Db/Kr./Kr. Kas/Rekening. Pada saat membeli: Db.... Kas/Rekening... Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db./Giro BI Kr. e... Pada saat pembelian surat berharga Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo b.. Kas/Rekening. f. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db./Giro BI (sebesar harga pembelian) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 51 ../Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr.

. Pada saat membeli: Db./Giro BI Kr... Kas/Rekening. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga b./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Kas/Rekening./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi: Db.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c./Giro BI Kr. Beban/Pendapatan bunga Kr/Db. Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. Kas/Rekening.. Kas/Rekening. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db. Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr. 4. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat menjual: Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a./Giro BI atau Db/Kr. Kas/Rekening./Giro BI atau Db/Kr. 52 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db.. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr/Db.. f. e../Giro BI Db/Kr.... d../Giro BI (sebesar harga pembelian) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr... Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr..

./Giro BI Kr. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr... Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku./Giro BI Kr../Giro BI Db/Kr. Pendapatan bunga surat berharga Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Db/Kr. a. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi: Db. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. f. maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db.. Kas/Rekening.. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Pendapatan bunga yang akan diterima Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan kepada issuer dijurnal balik jika penerbit menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Kas/Rekening. Pendapatan bunga yang akan diterima Pada saat penjualan surat berharga Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 53 ./Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat jatuh tempo: Db. b. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Membatalkan pengakuan pendapatan bunga Db. Asumsi penurunan nilai terjadi pada periode berjalan. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo d.Bab IV I S u r a t Berharga c. Kas/Rekening. e. 5. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Kr.

Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya issuer rating). Pendapatan 8. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. 54 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab IV I S u r a t Berharga 6. Saldo laba jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. a. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. c. Pendapatan b. Db. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana penyesuaian tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). dan bukan merupakan adjusting subsequent event. c. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event). 7. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. Db. a. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Kerugian penurunan nilai surat berharga jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca. Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db. Kerugian penurunan nilai surat berharga Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. Db. b. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

Jurnal balik komitmen pembelian surat berharga Db. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr... Rekening lawan . Pada saat penyelesaian Db./Giro BI (sebesar harga pembelian) 5. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual b.. 4. Pada tanggal transaksi Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Kas/Rekening.Tagihan komitmen pembelian surat berharga Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr. Pendapatan/Beban bunga (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) 3.. Rekening lawan ./Giro BI atau Db/Kr.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db. Kas/Rekening. Pencatatan biaya transaksi terkait pembelian surat berharga Db. Penyesuaian nilai wajar surat berharga a. Kas/Rekening.Tagihan komitmen pembelian surat berharga 2.Bab IV I S u r a t Berharga Surat berharga yang Tersedia untuk Dijual (asumsi menggunakan tanggal penyelesaian) 1. Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr./Giro BI Kr/Db.. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.Pendapatan komprehensif lain Kr. Tagihan komitmen pembelian surat berharga Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 55 .. Ekuitas .

Ekuitas .. Surat berharga . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi) Kr. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat: Db. 7. Pendapatan bunga yang akan diterima Kr/Db. Penyesuaian nilai wajar: a. Pendapatan bunga yang akan diterima 8.. Ekuitas . Keuntungan/kerugian kumulatif pada ekuitas diakui dalam laporan laba rugi Db. 56 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ..Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) b.Pendapatan komprehensif lain Kr./Kr. Pada saat penjualan: a. Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi premium/diskonto dan/atau biaya transaksi: Db.Bab IV I S u r a t Berharga 6. 9. Surat berharga . Ekuitas . Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (setelah memperhitungkan amortisasi pada angka 3 di atas) Kr./Giro BI Kr. Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga b./Giro BI Kr./Kr.Pendapatan komprehensif lain Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat: Db./Db Kerugian/keuntungan penjualan surat berharga Selisih antara pembayaran yang diterima dengan nilai tercatat diakui sebagai keuntungan/kerugian penjualan surat berharga Db Kas/Rekening.Tersedia untuk Dijual Db..Pendapatan komprehensif lain Kr. Pendapatan bunga surat berharga Pada saat realisasi penerimaan bunga: Db. Kas/Rekening.

Bab IV I S u r a t Berharga 10. Melakukan jurnal balik pendapatan komprehensif lain pada ekuitas (jika sebelumnya bank telah mengakui peningkatan nilai wajar) Db. a.Tersedia untuk Dijual Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Pada saat menerima pembayaran untuk surat berharga yang sudah dihapus buku pada periode berjalan Db. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr.Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat) atau Db. Cadangan kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Ekuitas . Reklasifikasi Surat Berharga 1. c. Cadangan kerugian penurunan nilai atau Melakukan reklasifikasi atas pendapatan komprehensif lain pada ekuitas ke dalam laporan laba rugi (jika sebelumnya bank telah mengakui penurunan nilai wajar) Db. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr.Tersedia untuk Dijual Pengakuan kerugian penurunan nilai Db. Pendapatan b. Kerugian penurunan nilai surat berharga Kr. Surat berharga . Ekuitas . Asumsi bukti obyektif diperoleh pada periode berjalan. Surat berharga . Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain (jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 57 . d. Apabila terdapat penurunan nilai. Ekuitas . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. Db.Pendapatan komprehensif lain Pada saat penghapusbukuan surat berharga Db.Pendapatan komprehensif lain Kr.

Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. b.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo c. Ekuitas .Pendapatan komprehensif lain b. Surat berharga .Pendapatan komprehensif lain Kr. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Surat berharga . Pendapatan bunga Kr.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Surat berharga yang dipindahkan dari surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual ke dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo a. 58 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pendapatan bunga 2) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih besar dari nilai nominal Db. Amortisasi atas selisih penilaian surat berharga yang belum direalisasi (ekuitas) 1) Jika saldonya positif Db.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual (sebesar nilai wajar pada saat pengalihan) Amortisasi untuk penyesuaian nilai wajar surat berharga ke nilai nominal sampai jatuh tempo 1) Apabila nilai wajar pada saat reklasifikasi lebih kecil dari nilai nominal Db. Keuntungan dari perubahan nilai wajar 2) Jika saldonya negatif Db. Kerugian dari perubahan nilai wajar Kr. Saat reklasifikasi Db. Ekuitas . Surat berharga . dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. F. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga dalam penyusunan laporan keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga 2.

Jenis surat berharga. b. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan surat berharga yang masih tetap berada di bank. c. dan nilai tercatat kewajiban terkait. dengan rincian berikut: a. c. 6. jika bank tetap mengakui sebagian surat berharga sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. Jumlah surat berharga yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). b. 5. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a.Bab IV I S u r a t Berharga 2. 3. Nilai tercatat surat berharga dan kewajiban terkait. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 59 . nilai tercatat surat berharga yang tetap diakui bank. Total nilai tercatat surat berharga awal yang dialihkan. d. 7. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). d. Pengalihan surat berharga yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh surat berharga. b. jika bank tetap mengakui seluruh bagian surat berharga. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. yaitu: a. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Tersedia untuk Dijual. c. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 4.

dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada) Pengungkapan kuantitatif 9. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. c. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada butir a diatas. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. dan pihak penjual proteksi surat berharga dalam transaksi credit derivative). 60 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tujuan. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 8. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. Analisis tersebut mencakup: a. yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. b. Informasi mengenai kualitas kredit diluar surat berharga yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat. kebijakan. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga.

3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). Jumlah surat berharga yang dimiliki berdasarkan segmentasi. (2) Jumlah eksposur surat berharga untuk setiap tingkatan peringkat internal. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas surat berharga sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank. G. Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga.Bab IV I S u r a t Berharga (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. dan d. mata uang. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. Nilai tercatat surat berharga yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. 10. 11. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 61 . antara lain sektor ekonomi dan geografi. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 2) Tipe/jenis penerbit. berdasarkan jangka waktu. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal.

30. 15. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010. (Lihat Tabel 1) 62 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Untuk membeli obligasi dimaksud. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian.000.000.Bab IV I S u r a t Berharga H.000. Surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pada tanggal 1 Juni 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp. Obligasi ini dibeli untuk dimiliki hingga jatuh tempo pada tanggal 1 Juni 2011. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp. Contoh Kasus 1.000.425 dengan tagihan bunga (purchased interest) sebesar Rp.000 dengan kupon bunga 8% pada 99.000. 20.000.000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.1.000.

270 505.899.000.961.567 480.923 998.237) (513.Tabel 1: Estimasi Arus kas masa datang surat berharga-Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Effective Interest Rate: 7.007.000.992.466.000.889 7.000.357.609.562.000.000.437.715 7.000.634 7.000.513.466) 0 994.000.577 399.889 7.000.250.702) (2.873.111 6.399.364.513) (2.111.750.270 505.466 (5.771 513.000.000.111 7.888.111 6.000.111 6.000.00 1.771 513.624.533.000.954) (3.567 480.000.000.678 7.00 1.000.000.099 995.444.790 498.652 998.840 493.564 455.763 999.587.901) (4.000.441 475.077) (1.89% Tanggal Kupon 1.038.031.912) (1.924.745 487.(b) Diskonto/ Preimum yang belum Diamortisasi (e) 04-Jun-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 1.888.000.00 1.000.046 996.000.111 7.111.000) (5.553 7.591.000.532 476.000.111.00 1.111 6.393.111 6.968.000.000.598.000.000.000.00 1.616.00 1.111.901 7.700 7.840 493.301 996.00 6.649.487 997.00 1.00 1.111.000.202 468.605.790 498.441 475.00 1.699) (3.534 0 Pembayaran Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R 399.000.202 468.000.952 7.466 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif (c) Amortisasi Diskono/ Premium (d) = (c) .468) (4.000.564 455.075.111.000 994.111.606.675 6.745 487.000 7.000.811 494.889 7.00 1.532 7.00 1.486.532 476.000.888.00 Bab IV I S u r a t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Berharga I 63 .350.382.000.444 7.298 997.486.532 995.126.000.000.000.811 494.660 7.088 998.314 7.348) (1.

532 Kr. 6. 15. 36. 994..000.000 Rp. 399. 6./Giro BI Rp.250.pembelian surat berharga Rp.surat berharga Kr.000 Kr. Kas/Rekening.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000 d.532 Kr.399. Rp. 994..399. Tagihan komitmen .. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp. Rp. Tagihan komitmen . Rekening lawan tagihan komitmen Rp. 994. 399. Pendapatan bunga yang akan diterima .000 Db. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. Kas/Rekening.000 15. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Db.000 994.532 e.pembelian surat berharga Rp.000. Surat berharga – Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp.000 b. 994. Rp.. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000.250. 36. Pendapatan bunga yang akan diterima surat berharga Rp. Pendapatan bunga surat berharga Rp.024. 64 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. 1. 30. Beban pembayaran fee Kr..Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a.250.250. Kas/Rekening.250. Rekening lawan tagihan komitmen Rp.250./Giro BI Rp. c.532 2) Pembayaran kupon obligasi Db.000 Kr./Giro BI Pencatatan surat berharga pada tanggal 4 Juni 2010 Db.000 Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 30 Juni 2010 1) Pengakuan bunga dan amortisasi diskon Db.000.

yaitu tanggal 1 Juli 2010. 15.000. 4. 4./Giro BI Rp.000 Rp.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 65 . Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.Tersedia untuk Dijual Kr. Beban pembayaran fee Kr. Kas/Rekening.000 2.000. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2010.000 b.000. amortisasi diskon dan pembayaran bunga selanjutnya sama dengan jurnal di atas.000.. Jurnal Transaksi a. 20.000. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal untuk pengakuan bunga. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 1 Juni 2010.000.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Juni 2010 Db.pembelian surat berharga Rp. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp./Giro BI Kr. Surat berharga . Kas/Rekening. 4.000..000. Pada saat jatuh tempo tanggal 1 Juni 2011 Db. Untuk membeli obligasi dimaksud. Rekening lawan Tagihan komitmen Rp.1./Giro BI Pada saat penyelesaian tanggal 4 Juni 2010 Db. Rp.000. Pada tanggal 29 Juni 2010 bank XYZ menjual surat berharga pada 102.000 dan kupon bunga 8% per tahun pada harga par. Diasumsikan pengakuan keuntungan penjualan surat berharga dilakukan pada saat tanggal penyelesaian.000.Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Rp.. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp 15. 1.000.000 Kr. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 1 Juni 2010 Db.000.000. 1. f.000. Untuk menjual obligasi dimaksud. 4. 15.000. Surat berharga .000.000 Rp. Kas/Rekening. Tagihan komitmen ..000. Rp.000. c. bank XYZ membeli 4 (empat) obligasi pemerintah dengan nilai nominal Rp..000 15.000.000.000..000.

000 Melakukan jurnal balik komitmen penjualan surat berharga Db.000.080. 4.000. 4. Surat berharga .000 66 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 29 Juni 2010 Db.080. 4.000 Kr.000.000.000 24.000./Giro BI Rp. 4.080. Rekening lawan tagihan komitmen Rp. Rekening lawan .000. Tagihan komitmen . 4.000.000 g.000.000 Kr.000. Keuntungan penjualan surat berharga Rp. Kewajiban komitmen .000. Rekening lawan .000 Kr.000. 4. 15.000 Pada saat pengakuan bunga pada tanggal 30 Juni 2010 Db. Rp.Bab IV I S u r a t Berharga d.000. Rp.000.000.pembelian surat berharga Rp. 4.000.000 Kr. Kas/Rekening.08 X 27/360) e.penjualan surat berharga Rp.080.000 15.000 X 0. Pendapatan bunga surat berharga (4. Kas/Rekening..000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 29 Juni 2010 Db.penjualan surat berharga Rp. Pendapatan bunga yang akan diterima Surat berharga Kr. Rp.080. Pada saat melakukan jurnal balik komitmen pembelian surat berharga tanggal 4 Juni 2010 Db. 4. h.Tersedia untuk Dijual Rp.000 f. 24..Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp../Giro BI Rp. Penyelesaian transaksi penjualan pada tanggal 1 Juli 2010 Db.000 Kr.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.. 80.000.000. Kewajiban komitmen .000. Beban pembayaran fee Kr.

000.250. (Lihat Tabel 2) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 67 . Amortisasi diskon dari tanggal 1 Agustus sampai dengan tanggal 4 Agustus 2010 adalah Rp.000.1. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. 20. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp.50 dan penyelesaian dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2010.000.1.000. Surat berharga dalam kategori Tersedia untuk Dijual Pada tanggal 6 Juli 2010.86. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada surat berharga di bank XYZ sebesar Rp.30. Bank XYZ membeli obligasi Rp.219. Asumsi harga pasar pada tanggal 31 Juli 2010 adalah 99.000.000. Asumsi: − − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. Pada tanggal 4 Agustus 2010 bank menjual obligasi pada 99. 15.000.000 dengan kupon bunga 5% pada 99 dengan accrued interest sebesar Rp.Bab IV I S u r a t Berharga 3. Untuk membeli obligasi dimaksud. Tidak terdapat perubahan nilai wajar antara tanggal perdagangan dengan tanggal penyelesaian. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 9 Juli 2010.

550 678.738 5.000.127.900.705) (0) .264 703.860 4.305.476.251) (6.000 1.(b) Berharga Akuntansi Perbankan Indonesia 09-Jul-10 31-Jul-10 04-Agust-10 06-Agust-10 07-Agust-10 31-Agust-10 30-Sep-10 31-Okt-10 30-Nop-10 31-Des-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-Mei-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Agust-11 30-Sep-11 1.444.427 696.978 689.556 4.748 5.542.794.133.000.295 (0) Pembayaran Pokok (a” Pendapatan Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat amount (f) = (a) + (e) Pengakuan Amortisasi dalam L/R Nilai Wajar pada akhir periode Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .900.315.449 103.148.444 4.426 41.642 707.390) (4.632 995.444 4.295 (0) - “Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e)” (10.368) (4.684.638 648.205.444 4.525.000.000.994.303 992.529 671.395.819.592) (9.893 798.798 621.667 277.205.000.525.978 689.000.457.222.427 696.632 995.140.472.000.151.357.415 3.861) (3.311.000 19.529 671.000 1.000.446 654.140.80% Tanggal Kupon 1.264 703.000.953.793 679.000.778 4.000.000 29.000.610 995.523.890) (8.000 1.000 1.419.976.020.458) (6.164.449 103.000.853.000.000.835 994.835.670.242 4.000.566 997.000.556 476.000 1.638 648.165) (9.859.434) (2.638 520.835 990.022 999.542.087 5.000 1.973 4.027.542 993.000 1.116 997.000 476.604.305.592 1.222.380 998.180.444 4.474.000.444.891 4.642 707.476.474.426 41.194.145.193 672.819 5.444.305.705 990.550 678.853.556 4.649.000.000.528) (8.000.273 688.604.000) (9.798 621.000 1.222 4.305.293 682.854.000 1.697) (7.303 992.960 62.165) (5.000.992.000.000 1.983 5.960 62.139 996.444.000 Pendapatan Bunga Sesuai Suku Bunga Efektif (c) 3.000.000.305.000 1.610 995.261 Keuntungan/ Kerugian yang Belum Direalisasi pada Ekutias 990.000 1.165 990.099.139 996.638 520.380 998.446 654.000.854.444 4.778 3.835 994.093 319.000 1.348 5.793 679.000.556 4.642.000.525.542 993.983.110 991.000.000.525.311.449 1.146.022 999.444.110 991.705 3.000 1.551) (9.000.755 5.000.684.472 991.000.000.580.749 993.193 672.273 688.000.293 682.116.449 990.444 416.960.472 991.357.68 I P e d o m a n Bab IV I S u r a t Effective Interest Rate Tabel 2: Estimasi Arus Kas Masa Datang Surat Berharga – Tersedia untuk Dijual : 5.444 694.419.994 4.620) (1.749 993.000.408 990.000 990.444.404 479.000 1.566 997.010.978) (688.123.000.444 4.000.000.000.000.000 1.180.859.000.116 997.444.444 4.556 4.000 990.777.000 1.884) (2.717 4.000.164.

000.000. Rp. 555.000 Nilai buku 990.000.088* 2.088 Rp. Ekuitas . Pencatatan pengakuan bunga (selama 4 hari) pada tanggal 4 Agustus 2010 Db... Pencatatan penerimaan bunga pada tanggal 31 Juli 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp. 641. Pendapatan bunga surat berharga Rp.000 x 0.000.444.000. Rp.556 [(1.000. Pengakuan bunga dan amortisasi diskon pada tanggal 31 Juli 2010 Db.506. Pendapatan bunga yang akan diterima [(1.000.444.000 x 0.922 Keuntungan yang belum direalisasi 2.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a.000 15.05 x 23/360)] Kr.. Db. Rp.pendapatan komprehensif lain * Harga wajar 993. Kas/Rekening.250. e. [(1. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Db. Beban pembayaran fee Kr. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Kr.444 3.000 Kr.893 4. 86. Pendapatan bunga yang akan diterima Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Juli 2010 Db. Kas/Rekening. f.000 Pencatatan brokerage fee pada tanggal 6 Juli 2010 Db.088* b. 990./Giro BI Kr.194. d.000. Rp..Tersedia untuk Dijual Rp.670. Rp.449 3. Surat berharga . c.05 x 8/360)] Kr.775 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 69 . 990.000 990. 15.05 x 4/360)] Db.506./Giro BI Rp./Giro BI Penyelesaian transaksi pada tanggal 9 Juli 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima Rp. Surat berharga – Tersedia untuk Dijual Rp. Kas/Rekening.444 2.000 1.493.000.250.000 476..surat berharga Rp. Rp..000 x 0.000.000.506.000 991. Pencatatan komitmen pembelian surat berharga pada tanggal 6 Juli 2010 Db. g.219 Kr Pendapatan bunga . Rp.pembelian surat berharga Rp.000. Tagihan komitmen . Rekening lawan tagihan komitmen Rp.444 4.

Asumsi : Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.Kewajiban komitmen penjualan surat berharga Rp.580.Tersedia untuk Dijual Rp. 994.419.000. Rekening lawan .088 Kr Surat berharga .000. 70 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .506.141) Kr Pendapatan bunga yang akan diterima – surat berharga Rp.468 Db.141 Kr Keuntungan penjualan surat berharga Rp..000 dengan kupon 8% pada harga par. bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Rp. 15. 991. harga pasar 101.penjualan surat berharga Rp. Pada tanggal 31 Januari 2010.580. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal perdagangan. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010.141 Kr. 4.580.049./Giro BI Rp..000. Pencatatan komitmen penjualan surat berharga pada tanggal 4 Agustus 2010 Db.000. 4.556 i. Surat berharga dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Diperdagangkan) Pada tanggal 14 Januari 2010 Bank XYZ membeli obligasi Rp. 991.000 – 990.141 Pencatatan penyelesaian penjualan surat berharga pada tanggal 5 Agustus 2010 Db.000. Bank XYZ menjual surat berharga di 102 pada tanggal 6 Februari 2010 dengan tanggal penyelesaian 7 Februari 2010. 991. 2. Kewajiban komitmen . 555. Untuk membeli obligasi dimaksud.1.Bab IV I S u r a t Berharga h.580.859 (995. Kas/Rekening.

000 Rp.000.028.333 f. Rp./Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima .000. Pendapatan bunga yang akan diterima .000 Rp.555.333. 8. Rp../Giro BI Pengakuan bunga pada tanggal 14 Januari 2010 Db. Rp.000.333. Kas/Rekening. Kas/Rekening..222 Rp. 1.08 x 16/360) Penyesuaian nilai wajar pada tanggal 31 Januari 2010 Db. Pendapatan bunga yang akan diterima .222..000.000 15. e.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Rp..000. Kas/Rekening.000 x 0.000 x 0.000. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 14 Januari 2010 Db. Rp./Giro BI [(1.surat berharga Kr. Pendapatan bunga surat berharga (1.000.000 Rp. 10. g.556 d.010.surat berharga Kr.000.222. Rp.surat berharga Kr. 1. 1.. Keuntungan atas surat berharga Pengakuan bunga pada tanggal 6 Februari 2010 Db Pendapatan bunga yang akan diterima.. Rp.222 Rp. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. 10.333 b. Rp.000.000.000.556 3. Rp. 15. 3.08 x 6/360) Penjualan surat berharga pada tanggal 7 Februari 2010 Db Kas/Rekening./Giro BI Kr. Surat berharga – Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000 x 0.555. Pendapatan bunga surat berharga (1. Surat berharga .000.333.000.000. Keuntungan penjualan surat berharga Rp.08 x 15/360] Pembelian surat berharga pada tanggal 14 Januari 2010 Db..333.333 1.surat berharga Kr.000. 1.000 1.333 3.000.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 71 . c. Rp.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi a. Beban pembayaran fee Kr.000 10.000 3..

maka pihak yang mentransfer akan mereklasifikasi aset dimaksud di neracanya. Dasar Pengaturan 1. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset tersebut akan dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pihak pemberi pinjaman. Jika pihak yang menerima transfer memiliki hak untuk menjual atau menggadaikan aset dimaksud. Namun demikian. atau jika aset keuangan tersebut dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset dimaksud akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – aset yang secara substansial sama. b. Jika aset keuangan dijual dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan 2. Definisi Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) adalah surat pengakuan utang jangka pendek dan jangka panjang yang diterbitkan oleh bank atau pihak ketiga bukan bank yang dijual dengan janji untuk dibeli kembali dari pembeli dengan harga yang telah disepakati pada awal transaksi. Surat Berharga yang Dijual dengan Janji dibeli Kembali A. Maksud dan kemampuan entitas untuk memiliki instrumen utang hingga jatuh tempo tidak serta merta menjadi terbatas jika instrumen tersebut digadaikan sebagai agunan atau menjadi subyek repurchase agreement atau kesepakatan peminjaman surat berharga. entitas tidak mempunyai maksud yang sungguh-sungguh dan kemampuan untuk memiliki instrumen utang tersebut hingga jatuh tempo jika entitas memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap instrumen tersebut.2: B. (Panduan Implementasi No. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan Surat Berharga. 72 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka aset tersebut tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. misalnya sebagai aset yang dijaminkan atau piutang pembelian kembali. a.18) Contoh-contoh berikut mengilustrasikan penerapan prinsip penghentian pengakuan dalam Pernyataan ini. B.Bab IV I S u r a t Berharga 2.

(PSAK 55: PA66) C.Bab IV I S u r a t Berharga dibeli kembali pada harga yang telah ditetapkan atau pada harga jual semula ditambah keuntungan untuk pemberi pinjaman. bank menjual surat berharga kepada pihak lain dengan harga tertentu dan berjanji untuk membeli kembali dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu. Dalam hal bank melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. memberi hak kepada penerima transfer untuk mensubstitusi aset yang ditransfer dengan aset serupa dan memiliki nilai wajar yang setara pada tanggal pembelian kembali. c.. maka bank harus memastikan dapat mempertahankan atau memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 73 .. atau transaksi serupa untuk transaksi dengan jaminan surat berharga. maka aset dimaksud tidak dihentikan pengakuannya. Penjelasan 1. Bank dapat melakukan transaksi repo atas surat berharga dalam seluruh kategori surat berharga. atau jika aset keuangan dipinjamkan atau dijaminkan dengan kesepakatan bahwa aset yang sama atau yang secara substansial sama akan dikembalikan pada pihak yang mentransfer. Jika perjanjian penjualan efek dengan janji dibeli kembali dengan harga pembelian kembali yang sudah ditetapkan atau harga yang setara dengan harga jual awal ditambah keuntungan pemberi pinjaman. Selanjutnya. maka aset yang dijual atau dijaminkan dalam transaksi pembelian kembali atau transaksi dengan jaminan surat berharga tidak dihentikan pengakuannya karena pihak yang mentransfer secara substansial masih memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset dimaksud. Jika bank memperkirakan tidak mampu mempertahankan atau 2. dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban pembelian kembali surat berharga yang dijual dengan syarat repo. Perjanjian Penjualan Efek dengan Janji Dibeli Kembali dan Jaminan surat berharga – hak substitusi. Untuk transaksi repo yang tidak memenuhi kriteria penghentian pengakuan (derecognition) maka surat berharga tetap berada pada pihak bank penjual dan tetap disajikan sebagai portofolio surat berharga bank. Dalam transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo).

/Giro BI Kr.) 2. Dana yang diterima oleh bank penjual surat berharga pada transaksi repo diakui sebagai kewajiban. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. maka bank harus melakukan amortisasi sampai dengan jatuh tempo kontrak repo. Surat berharga yang dimiliki dan diserahkan sebagai jaminan pinjaman yang diterima tanpa perjanjian repo tidak termasuk dalam surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali.. 3. Surat berharga Penerimaan dana dari transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. D. Kas/Rekening.. Ilustrasi jurnal Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali 1. maka bank harus mereklasifikasikan surat berharga tersebut. Pengakuan dan pengukuran surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali mengacu pada perlakuan akuntansi untuk Surat Berharga. Reklasifikasi surat berharga Db. 74 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Penyajian Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan dalam pos yang terpisah dari surat berharga lainnya yang tidak di-repo. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali Kr. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali tetap diakui sebagai aset keuangan dalam neraca bank.Bab IV I S u r a t Berharga memperoleh kembali aksesnya terhadap surat berharga tersebut. E. 2. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (Jika terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan pada transaksi repo dan memenuhi persyaratan amortisasi. 3.

Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. d. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 3. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. yaitu: a. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a.Bab IV I S u r a t Berharga F. Asumsi penetapan nilai wajar surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran surat berharga) dan agunan. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). c. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). b. b. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. 2. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Tersedia untuk Dijual. Perubahan nilai wajar atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. c. Kategorisasi dan nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. 5. 4. b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 75 . 6.

Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kualitatif 7. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. kebijakan. a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. Pengungkapan kuantitatif 8. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). dan sebagainya). yang meliputi: 1) Analisis eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. b. Informasi mengenai kualitas kredit surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Analisis terhadap surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan klasifikasi surat berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Analisis tersebut mencakup: a. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat. Tujuan. 76 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . commercial loans. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. (3) Jumlah ekposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. consumer loans.

Bab IV I S u r a t Berharga b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. maka pengungkapan mencakup: (1) Proses pemeringkatan internal. mata uang. antara lain sektor ekonomi dan geografi. berdasarkan jangka waktu. dan tingkat bunga surat berharga yang dihitung secara rata-rata. Nilai tercatat surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. (2) Jumlah eksposur surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali untuk setiap tingkatan peringkat internal. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali berdasarkan segmentasi. 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. dan c. 9. 10. 2) Tipe/jenis penerbit. Jumlah surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 77 .

jika dan hanya jika. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. 3. (PSAK 55: Paragraf 49) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: (a) Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.Bab IV I S u r a t Berharga 3. 78 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .... entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)). Tagihan Atas Surat Berharga yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali A. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian. (PSAK 55: Paragraf 43) Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. entitas mengukur pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 14) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. 5. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. Definisi Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali adalah tagihan kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. atau 2. (PSAK 55: PA 79) Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. B. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. 4. lihat juga paragraf PA91). Dasar Pengaturan 1.

. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. 8... atau (c) aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: paragraf 8) 6. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 79 . Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan.. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. atau (ii) kelompok aset keuangan. (b) Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihakpihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). (PSAK 55: PA39) Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai (a) pinjaman yang diberikan atau piutang. …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. maka biaya- 7. (b) investasi yang diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. misalnya Direksi. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. (PSAK 55: paragraf 8) .Bab IV I S u r a t Berharga (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didoku-mentasikan. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar.

(PSAK 55: PA82) 9. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya.. biaya pendanaan (financing costs). yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. entitas mengukur aset keuangan. Setelah pengakuan awal.Bab IV I S u r a t Berharga biaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi 80 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. diukur pada biaya perolehan. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. perantara efek dan pedagang efek.. konsultan. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo sesuai definisi paragraf 8. atau pelepasan lain. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). (PSAK 55: Paragraf 46) 12. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). (PSAK 55: Paragraf 8) 10. dan (c) investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. (PSAK 55: PA26) 11. pada nilai wajarnya.

dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal . Penjelasan 1. … Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi.. maka bank pembeli akan mencatat sebagai tagihan reverse repo. jika dan hanya jika. Dalam hal transaksi reverse repo memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut.. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 81 . (PSAK 55: paragraf 8) C. Dalam transaksi pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (reverse repo). 2. bank membeli surat berharga dengan harga tertentu dan berjanji untuk menjual kembali dengan harga tertentu. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan).Bab IV I S u r a t Berharga yang telah direvisi. dimana surat berharga tetap diakui oleh bank penjual. (PSAK 55 : PA20) 13. (PSAK 55: paragraf 60) 14. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi.

1) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 1) 2 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 2) Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga 3. yaitu: No. Reklasifikasi Tagihan Reverse Repo Penjelasan mengenai reklasifikasi tagihan reverse repo dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Kuotasi dipasar aktif. Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki tagihan reverse repo tersebut hingga jatuh tempo. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Kategori Tagihan Reverse repo Keterangan 1) Tagihan reverse repo yang dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat. 4. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. 82 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Tagihan reverse repo dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Tagihan reverse repo yang pada saat pengakuan awal ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. yang bukan disebabkan penurunan kualitas tagihan reverse repo. tagihan reverse repo dapat dibukukan dalam 4 (empat) kategori aset keuangan. Kategori Tagihan Reverse Repo Secara umum. 4 Tersedia untuk Dijual 2) Tagihan reverse repo yang dimiliki dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok tagihan reverse repo tersebut secara substansial. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 5.

7 Penghentian Pengakuan Penghentian pengakuan tagihan reverse repo dapat mengacu pada penghentian pengakuan sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. bank mengakui “Tagihan reverse repo” sebesar nilai wajar. yaitu: Tagihan reverse repo dalam kategori No. 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. 6.Bab IV I S u r a t Berharga b. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Penurunan Nilai a b Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap tagihan reverse repo dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Evaluasi penurunan nilai untuk tagihan reverse repo dapat mengacu pada penurunan nilai sebagaimana dalam Bab mengenai Kredit. Pada saat melakukan transaksi reverse repo. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada Pinjaman yang Diberikan dan tagihan tersebut. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Piutang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 83 . D. yang pada saat pengakuan awal Diukur pada Nilai Wajar melalui umumnya sama dengan jumlah pembayaran yang Laporan Laba Rugi dikeluarkan.

Selanjutnya. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Untuk tagihan reverse repo dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Selanjutnya. Setelah pengakuan awal bank mencatat “Tagihan reverse repo” sebagai berikut: Tagihan reverse repo dalam kategori No. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 3. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar tagihan reverse repo) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. b. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. 84 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 1 2 3 4 Keterangan Sebesar nilai wajar. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Keuntungan/kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam ekuitas. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Sebesar nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga 2. Keuntungan/kerugian yang timbul Diukur pada Nilai Wajar melalui dari perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba Laporan Laba Rugi rugi. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Piutang efektif.

Pendapatan bunga tagihan reverse repo Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo Db. Kas/Rekening. Tagihan reverse repo Kr. Beban bunga/Pendapatan bunga Kr/Db. 1 2 3 Tagihan reverse repo dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar. Kas/Rekening. Tagihan reverse repo Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2.. Ilustrasi Jurnal 1. Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Keterangan 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost)... yaitu: No. Pada awal transaksi tagihan reverse repo: Db. E. Kas/Rekening./Giro BI atau Db/Kr. I 85 . Tagihan reverse repo (sebesar pendapatan bunga dan amortisasi biaya transaksi) Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas tagihan tersebut../Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Pada saat pengakuan bunga dan amortisasi biaya transaksi: Db.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Tagihan reverse repo disajikan di neraca sesuai kategori... 3. 4.. Tagihan reverse repo Kr/Db. yaitu nilai wajar tagihan reverse repo yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga Pinjaman yang Diberikan dan efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai Piutang jatuh temponya dan dikurangi penurunan nilai./Giro BI (sebesar jumlah yang dibayarkan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan: Db/Kr./Giro BI Kr. Kas/Rekening..

b. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Pengungkapan kualitatif 7. 2. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan tagihan reverse repo yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Tujuan. kebijakan. Perubahan nilai wajar atas tagihan reverse repo yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. c. Jumlah tagihan reverse repo yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). d. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan reverse repo (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan reverse repo) dan agunan. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan reverse repo dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).Bab IV I S u r a t Berharga F. 6. Tersedia untuk Dijual. 86 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). 3. 5. yaitu: a. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas tagihan reverse repo sebagaimana pada angka 7 sampai 8 di bawah. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan reverse repo. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. b. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan reverse repo dalam penyusunan laporan keuangan. c. 4. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo.

a) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. Informasi mengenai kualitas kredit diluar tagihan reverse repo yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. (2) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat.Bab IV I S u r a t Berharga Pengungkapan kuantitatif 8. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan. (3) Jumlah ekposur tagihan reverse repo yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. dan credit derivative) 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan reverse repo. yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan reverse repo. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan reverse repo pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya. maka pengungkapan mencakup: (1) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat. Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan reverse repo sebagaimana pada butir a) di atas. (4) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Analisis terhadap tagihan reverse repo berdasarkan klasifikasi tagihan reverse repo yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama. b. maka pengungkapan mencakup: c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 87 . Analisis tersebut mencakup: a.

berdasarkan jangka waktu. dan tingkat bunga tagihan reverse repo yang dihitung secara rata-rata. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian penempatan dana dalam bentuk transaksi pembelian surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali. 2) Tipe/jenis penerbit. 10. mata uang.000. 5. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung sebesar Rp.Bab IV I S u r a t Berharga (1) Proses pemeringkatan internal.000. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari.000. Untuk membeli surat berharga dimaksud. 88 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (3) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.000. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. Jumlah tagihan reverse repo yang dimiliki berdasarkan segmentasi. dimana Bank A setuju untuk melakukan pembelian surat berharga dengan janji dijual kembali kepada Bank B sebesar Rp. antara lain sektor ekonomi dan geografi. 1. dan d.000. Nilai tercatat tagihan reverse repo yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. Jumlah tagihan reverse repo yang diterbitkan oleh pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan reverse repo. G. Contoh kasus Karena kelebihan dana (likuiditas). 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan penerbit (default rate). 9. 20.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. (2) Jumlah eksposur tagihan reverse repo untuk setiap tingkatan peringkat internal.000.

000. 5. Tagihan reverse repo Kr./Giro BI Kr.333.000 5. Penyelesaian transaksi pada tanggal 2 Januari 2010 Db. Beban pembayaran fee – tagihan reverse repo Kr. Rp.333 3. 1. Pengakuan bunga tanggal 15 Februari 2010 Db.000. Kas/Rekening.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal Transaksi 1.000.000 Rp.000 Rp.. Kas/Rekening. Rp. Pengakuan bunga tanggal 31 Januari 2010 Db. 1.. Kas/Rekening. 6. Rp.666./Giro BI 2.666. 1. Tagihan reverse repo Rp. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 5../Giro BI 3.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 89 .000.333.000 Pada saat jatuh tempo transaksi reverse repo tanggal 15 Februari 2010 Db.. Tagihan reverse repo Kr.000.333 Rp.000.000.000.6667 Rp..000 Rp.010. Pendapatan bunga – tagihan reverse repo 4.6667 6. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db.. Tagihan reverse repo Kr. 3. Rp. 1.010.

Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. 3.. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini.. Dasar Pengaturan 1. . (PSAK 50: Paragraf 7) 2. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali A. atau (ii) Untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga 4. 90 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . B. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a) Kewajiban kontraktual: (i) Untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. jika dan hanya jika. Definisi Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali adalah kewajiban kepada bank dan pihak ketiga bukan bank yang berasal dari kontrak penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali (repo). (PSAK 55: Paragraf 14) Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (regular)).

b) kewajiban untuk menyerahkan aset keuangan yang dipinjam oleh short seller (yaitu entitas yang menjual aset keuangan yang dipinjamnya meski belum memiliki aset tersebut). atau (ii) kelompok aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 43) Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. entitas mengukur pada nilai wajarnya. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). . Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi:…. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 91 . (PSAK 55: PA28) 5. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. tergantung pada perubahan nilai wajarnya).Bab IV I S u r a t Berharga b. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi 6. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. misalnya Direksi. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan.. atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan.. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif.

(PSAK 55: Paragraf 57) Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali yang dilakukan bank repo. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dapat timbul dari: a. 9..Bab IV I S u r a t Berharga kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. atau transaksi short sell yang dilakukan oleh bank reverse repo. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. (PSAK 55: Paragraf 8) 7. yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. b. jika dan hanya jika.. 92 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55: Paragraf 8) Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. (PSAK 55: Paragraf 39) 8. C. yaitu bank yang membeli surat berharga dengan janji dijual kembali. dan melalui proses amortisasi. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. kewajiban keuangan tersebut berakhir. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). Penjelasan 1.

Kategori Kewajiban atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali merupakan kewajiban keuangan yang dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. 4. atau 3) Penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Reklasifikasi Kewajiban Atas Surat Berharga yang Dijual dengan Janji Dibeli Kembali Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. Kuotasi dipasar aktif. Kategori Kewajiban Keuangan 1) Keterangan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang timbul dari transaksi short sell (sebagaimana pada angka 1) b). b. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 93 . Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar atas kewajiban yang timbul dari transaksi short selling dilakukan berdasarkan hirarki berikut a. 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) 3. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). yaitu: No. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif.Bab IV I S u r a t Berharga 2. 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar.

1 Kewajiban dalam kategori Pencatatan pada saat penerbitan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar yang pada saat pengakuan awal umumnya melalui Laporan Laba Rugi Biaya Perolehan sama dengan jumlah pembayaran yang diterima. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). yaitu nilai wajar kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan 2 Biaya Perolehan Diamortisasi janji dibeli kembali yang diukur pada saat pengakuan awal (amortised cost) dikurangi pembayaran pokok. bank mengakui “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebesar nilai wajar. 94 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. Setelah pengakuan awal.Bab IV I S u r a t Berharga D. Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit. 2 Diamortisasi (amortised cost) 2. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi untuk kredit. Pada saat timbul kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. 1 3. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. 4. Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar. bank mencatat “kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali” sebagai berikut: No. yaitu: No. Sebesar nilai wajar dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada kewajiban tersebut. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi.

yaitu: No. Kewajiban repo Kr. Kas/Rekening../Giro BI atau Db. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Beban bunga Kr. Ilustrasi Jurnal 1../Giro BI (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) Amortisasi beban bunga dan biaya transaksi Db. I 95 .. Pada awal transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali Db. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost)./Giro BI Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Beban bunga Kr. Keterangan E. Pada saat jatuh tempo transaksi repo Db. yaitu 2 Biaya Perolehan Diamortisasi (amortised cost) nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal.. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Sebesar nilai wajar./Giro BI Kr. Mencatat pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (kewajiban repo) (sebesar jumlah pembayaran yang diterima) 2. Kewajiban repo 4... Kas/Rekening..Kewajiban repo Kr.Bab IV I S u r a t Berharga Penyajian Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan..

96 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 3. 20. dimana Bank A setuju untuk melakukan penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali dari Bank B sebesar Rp. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 2 Januari 2010.000 dengan jangka waktu 45 hari dan tingkat suku bunga sebesar 8%. 5. 2. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1.000. Contoh kasus Karena kekurangan dana (likuiditas). Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. pada tanggal 1 Januari 2010 Bank A dan Bank B membuat perjanjian perolehan dana dalam bentuk transaksi penjualan surat berharga dengan janji dibeli kembali. b. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga F. b.000.000.000. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. G.000. 1. yaitu: a. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank A sebesar Rp. Bank A membayar brokerage fee sebesar Rp. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa.000. Untuk menjual surat berharga dimaksud. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan.

Pada saat jatuh tempo transaksi repo tanggal 31 Januari 2010 Db. Pengakuan beban bunga pada tanggal 15 Februari 2010 Db.000.666.667 6. Rp. Beban bunga – kewajiban repo Kr. Beban pembayaran fee Kr. 1. Kas/Rekening. Rp.010.000 Pencatatan penyelesaian transaksi repo pada tanggal 2 Januari 2010 Rp. 1. Kas/Rekening. Kewajiban repo Kr.000..010.000 Rp.000.333 Rp. Kewajiban repo e..000 Rp. 1. Rp.333. Kas/Rekening.000./Giro BI Rp. 5.Bab IV I S u r a t Berharga Jurnal transaksi a. Pengakuan beban bunga pada tanggal 31 Januari 2010 Db.000. 3. 6. 1.000.667 Rp. Kewajiban repo c..666./Giro BI Kr.333 3. Kewajiban repo d./Giro BI b.000 5.000. Beban bunga – Kewajiban repo Kr.000. Pencatatan brokerage fee pada tanggal 1 Januari 2010 Db.000 Rp.. Db.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 97 ...333.

sekuritas kredit. Fitur penting dalam membedakan antara kewajiban keuangan dan instrumen ekuitas adalah adanya kewajiban kontraktual satu pihak dari instrumen keuangan (penerbit). obligasi. atau setiap derivatifnya. atau kepentingan lain. wesel. Walaupun pemegang instrumen ekuitas mungkin berhak menerima dividen atau bentuk distribusi ekuitas lainnya secara pro rata. Surat Berharga yang Diterbitkan A.Bab IV I S u r a t Berharga 5. untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada pihak lainnya (holder). (PSAK 50: Paragraf 7) b. kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu: (i) non derivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut tidak termasuk instrumen yang merupakan kontrak untuk menerima atau menyerahkan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas tersebut di masa yang akan datang. dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang. Definisi Surat berharga adalah surat pengakuan utang. B. atau suatu kewajiban dari penerbit. Untuk tujuan ini. pihak penerbit tidak memiliki kewajiban kontraktual untuk melakukan distribusi 98 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau (ii) derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset keuangan lain dengan sejumlah tertentu instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas. atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan pemegang instrumen ekuitas (holder) dalam kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan pihak penerbit. atau (ii) untuk mempertukarkan aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi tidak menguntungkan entitas tersebut. Kewajiban kontraktual: (i) untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas lain. 2. Dasar Pengaturan 1. Kewajiban keuangan adalah setiap kewajiban berupa: a.

(PSAK 50: PA7) Kemampuan untuk melaksanakan hak kontraktual atau persyaratan pemenuhan kewajiban kontraktual dapat bersifat absolut atau bersifat kontinjen atas terjadinya suatu peristiwa di masa datang. (PSAK 50: PA6) Hak atau kewajiban kontraktual untuk menerima. baik tanpa hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya. dan surat saham (capital notes)) biasanya memberikan hak kontraktual kepada pemegangnya untuk menerima pembayaran bunga setiap tanggal tertentu dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang tidak terbatas.Bab IV I S u r a t Berharga tersebut karena penerbit instrumen ekuitas tidak diwajibkan untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada pihak lain. walau tidak selalu. merupakan dasar bagi penggolongannya dalam neraca entitas. (PSAK 50: Paragraf 14) Jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menghindari penyelesaian kewajiban kontraktualnya berupa penyerahan kas atau aset keuangan lainnya... bisa saja secara tidak langsung menciptakan kewajiban melalui persyaratan dan kondisi yang ada padanya. bukan bentuk hukumnya.. 6. jaminan keuangan merupakan hak kontraktual bagi pemberi pinjaman untuk menerima sejumlah kas dari penjamin. (PSAK 50: Paragraf 13) 3. Suatu rangkaian hak atau kewajiban kontraktual memenuhi definisi instrumen keuangan apabila hak atau kewajiban tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penerimaan atau pembayaran kas atau menyebabkan perolehan atau penerbitan instrumen ekuitas.. dan kewajiban kontraktual terkait dari penjamin untuk membayar pemberi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 4.. Sebagai contoh.. Substansi dan bentuk hukumnya umumnya sejalan. 8. I 99 . debentures.. (PSAK 50: Paragraf 15) Instrumen keuangan yang tidak secara eksplisit menciptakan kewajiban kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya. Substansi dari instrumen keuangan. menyerahkan atau mempertukarkan instrumen keuangan merupakan suatu instrumen keuangan. maupun dengan hak untuk menerima pengembalian pokok utangnya dengan persyaratan pengembalian pokok utang yang sangat sulit atau dalam jangka waktu yang sangat lama dimasa datang. 5.. (PSAK 50: Paragraf 16) Instrumen utang perpetual (seperti obligasi perpetual. Beberapa jenis instrumen keuangan memiliki bentuk hukum berupa ekuitas tetapi secara substansi merupakan kewajiban dan bentuk lainnya mungkin berupa kombinasi dari fitur instrumen ekuitas dan fitur kewajiban keuangan. maka kewajiban tersebut memenuhi definisi kewajiban keuangan. 7.

dan instrumen ekuitas. Penerbit instrumen keuangan pada saat pengakuan awal harus mengklasifikasikan instrumen tersebut atau komponen-komponennya sebagai kewajiban keuangan. 100 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jika penerima pinjaman wanprestasi. (PSAK 55: Paragraf 14) 10. meskipun kemampuan pemberi pinjaman untuk melaksanakan haknya dan keharusan penjamin untuk memenuhi kewajibannya bersifat kontinjen atas kejadian wanprestasi oleh penerima pinjaman dimasa datang. atau instrumen ekuitas sesuai dengan substansi perjanjian kontraktual dan definisi kewajiban keuangan. (PSAK 50: Paragraf 11) 12. Aset keuangan atau kewajiban keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi adalah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang memenuhi salah satu kondisi berikut ini: a. Hak dan kewajiban kontraktual timbul akibat transaksi atau peristiswa masa lalu (dengan asumsi terdapat penjaminan). Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. Hak dan kewajiban yang bersifat kontinjen memenuhi definisi aset dan kewajiban keuangan. Beberapa hak dan kewajiban kontinjen mungkin merupakan kontrak asuransi dalam ruang lingkup PSAK 36 dan PSAK 28. (ii) merupakan bagian dari portofolio instrumen keuangan tertentu yang dikelola bersama dan terdapat bukti mengenai pola ambil untung dalam jangka pendek (short term profit taking) yang terkini. atau (iii) merupakan derivatif (kecuali derivatif yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau sebagai instrumen lindung nilai yang ditetapkan dan efektif). entitas mengukur pada nilai wajarnya. yaitu jika: (i) diperoleh atau dimiliki terutama untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. jika dan hanya jika. aset keuangan. Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. (PSAK 55: Paragraf 43) 11. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). aset keuangan. meskipun aset dan kewajiban tersebut tidak selalu diakui dalam laporan keuangan. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 50: PA8) 9. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga pinjaman.

(PSAK 55: Paragraf 8) 13... misalnya Direksi. kewajiban keuangan atau keduanya dikelola dan kinerjanya dievaluasi berdasarkan nilai wajar. tergantung pada perubahan nilai wajarnya).. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan.Bab IV I S u r a t Berharga b. dan informasi tentang kelompok tersebut disediakan secara internal kepada manajemen kunci dari entitas (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa). atau ketika melakukannya akan menghasilkan informasi yang lebih relevan. dimana penerbitnya dapat membeli kembali instrumen tersebut dalam waktu dekat.. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. sesuai dengan manajemen risiko atau strategi investasi yang didokumentasikan. (PSAK 55: Paragraf 8) 15. (PSAK 55: PA28) 14. Pada saat pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh.. atau (ii) kelompok aset keuangan. (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 101 . Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung pada perolehan. Kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan meliputi: . ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Entitas dapat menggunakan penetapan ini hanya bila memenuhi paragraf 11. (c) kewajiban keuangan yang diterbitkan dengan suatu intensi untuk dibeli kembali dalam waktu dekat (misalnya instrumen utang yang memiliki pasar aktif. karena: (i) mengeliminasi atau mengurangi secara signifikan ketidakkonsistenan pengukuran dan pengakuan (kadang diistilahkan sebagai accounting mismatch) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau kewajiban atau pengakuan keuntungan dan kerugian karena penggunaan dasar-dasar yang berbeda. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.

namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. atau (b) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan. biaya pendanaan (financing costs). kecuali: (a) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. entitas mengukur seluruh kewajiban keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 12) 18. seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. termasuk derivatif yang diakui sebagai kewajiban. perantara efek dan pedagang efek. konsultan. Setelah pengakuan awal.Bab IV I S u r a t Berharga 16. diukur pada biaya perolehan. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. kecuali untuk: (a) kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. Kewajiban tersebut. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. diukur pada nilai wajarnya. (PSAK 55: Paragraf 11) 17. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. 102 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . kecuali untuk derivatif kewajiban yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif seperti diatas dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal. (PSAK 55: PA26) 19.

digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. Pada saat menghitung suku bunga efektif. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. biaya transaksi. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). atau jika lebih tepat.. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. dalam kasus yang jarang terjadi. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. (PSAK 55: Paragraf 8) 21. (PSAK 55: Paragraf 47) 20. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut.Bab IV I S u r a t Berharga (b) kewajiban keuangan yang timbul ketika sebuah transfer aset keuangan tidak memenuhi syarat penghentian pengakuan atau transfer yang dicatat menggunakan pendekatan keterlibatan berkelanjutan. Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan. Namun demikian. paragraf 29 dan 31 diterapkan dalam pengukuran kewajiban keuangan tersebut. dan seluruh premium atau diskonto lainnya. (PSAK 55: PA19) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 103 ..

Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas.. maka entitas mengalokasikan nilai tercatat sebelumnya dari kewajiban keuangan tersebut kepada bagian yang tetap diakui dan bagian yang dihentikan pengakuannya berdasarkan 104 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. (PSAK 55: PA20) 23. (PSAK 55: Paragraf 57) 24. Pertukaran diantara peminjam dan pemberi pinjaman yang saat ini ada atas instrumen utang dengan persyaratan yang berbeda secara substansial dicatat sebagai penghapusan (extinguishment) kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. Selisih antara (a) nilai tercatat kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) yang berakhir atau yang ditransfer pada pihak lain. Jika entitas membeli kembali bagian dari kewajiban keuangan. modifikasi secara substansial atas ketentuan kewajiban keuangan yang saat ini ada atau bagian dari kewajiban keuangan tersebut (terlepas ada atau tidak keterkaitannya dengan kesulitan keuangan debitur) dicatat sebagai penghapusan kewajiban keuangan awal dan pengakuan kewajiban keuangan baru. (PSAK 55: Paragraf 41) 28. dan melalui proses amortisasi. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa. diakui dalam laporan laba rugi. (PSAK 55: Paragraf 8) 25. Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban keuangan) dari neracanya. (PSAK 55: Paragraf 39) 26. jika dan hanya jika. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya. (PSAK 55: Paragraf 40) 27. Demikian juga. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. kewajiban keuangan tersebut berakhir.Bab IV I S u r a t Berharga 22.

Bab IV I S u r a t Berharga nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal pembelian kembali. dengan (b) jumlah yang dibayarkan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 105 . (PSAK 55: Paragraf 42) C. 3. Selisih antara (a) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian yang dihentikan pengakuannya. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option. untuk bagian yang dihentikan pengakuannya tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. Kategori Surat Berharga Surat berharga yang diterbitkan yang merupakan kewajiban keuangan dapat diklasifikasikan dalam 2 kategori kewajiban keuangan. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. 1 Diukur pada Nilai wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) 2 Biaya perolehan diamortisasi Surat berharga yang tidak Diukur pada Nilai Wajar melalui (amortised cost) Laporan Laba Rugi. Kategori Surat Berharga 1) Keterangan Surat berharga yang diterbitkan untuk dibeli kembali dalam waktu dekat. 2. Penjelasan 1. termasuk aset non kas yang ditransfer atau kewajiban yang ditanggung. Surat berharga yang pada saat diterbitkan ditetapkan untuk Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. Bank yang menerbitkan surat berharga pada saat pengakuan awal harus menetapkan apakah surat berharga tersebut merupakan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas yang didasarkan pada substansi perjanjian kontraktual dan bukan pada bentuk hukumnya. Reklasifikasi Surat Berharga Penjelasan mengenai reklasifikasi surat berharga dapat mengacu pada Bab mengenai Penjelasan Umum. yaitu: No.

2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Kuotasi dipasar aktif. 7. bank dapat menghentikan pengakuan atas surat berharga yang diterbitkan jika dan hanya jika: 1) Bank tidak lagi memiliki kewajiban kontraktual atas arus kas masa datang dari surat berharga tersebut karena kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak telah berakhir. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Instrumen Majemuk Untuk surat berharga yang mengandung komponen ekuitas dan kewajiban keuangan. Dalam laporan keuangan. b. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer). Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar.Bab IV I S u r a t Berharga 4. atau 2) Bank menerbitkan surat berharga yang baru dengan persyaratan yang berbeda secara substansial untuk menggantikan surat berharga sebelumnya atau memodifikasi secara substansial surat berharga yang telah diterbitkan. komponen-komponen tersebut harus diklasifikasikan secara terpisah. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. baik karena dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluarsa. Instrumen Campuran Surat berharga yang mengandung derivatif melekat (embedded derivative) merupakan instrumen campuran yang diatur lebih lanjut dalam Bab mengenai Derivatif. 5. Penghentian Pengakuan (Derecognition) a. 106 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 6.

b Evaluasi penghentian pengakuan surat berharga dilakukan sama seperti penghentian pengakuan pada kredit. Pada saat penerbitan surat berharga. Setelah penerbitan surat berharga. 2 2. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. bank mengakui “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebesar nilai wajar. Dengan demikian bank harus mengkonsolidasikan seluruh laporan anak perusahaan sebelum melakukan evaluasi penghentian pengakuan. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi. 1 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 107 . D. kriteria penghentian pengakuan akan diberlakukan pada tingkat konsolidasi. bank mencatat “Surat Berharga yang Diterbitkan” sebagai berikut: No. yaitu: No. Sebesar nilai wajar surat berharga dengan Biaya perolehan diamortisasi memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang (amortised cost) dapat diatribusikan langsung pada penerbitan surat berharga. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 2 Biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Surat berharga dalam kategori 1 Pencatatan pada saat penerbitan Sebesar nilai wajar surat berharga yang pada saat Diukur pada Nilai Wajar melalui pengakuan awal umumnya sama dengan harga Laporan Laba Rugi penerbitan surat berharga. Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan Sebesar nilai wajar.Bab IV I S u r a t Berharga Dalam laporan keuangan konsolidasi.

Keterangan 2 E./Giro BI Pada saat pengakuan beban bunga Db. Penyajian Surat berharga yang diterbitkan disajikan di neraca sesuai kategori kewajiban keuangan. Beban Kr. 1 Kategori Kewajiban Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Sebesar nilai wajar. 4. Kas/Rekening.. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif (amortised cost) menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. 4. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Beban bunga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi terkait penerbitan surat berharga Db.. Kas/Rekening. Ilustrasi Jurnal Surat Berharga yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 1. Pada saat menerbitkan Db. yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan Biaya Perolehan Diamortisasi awal. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Perlakuan akuntansi untuk penghentian pengakuan surat berharga yang diterbitkan mengacu pada perlakuan akuntansi pada Bab mengenai Kredit. yaitu: No..Bab IV I S u r a t Berharga 3. 3./Giro BI 2.../Giro BI Kr. Laporan Laba Rugi Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga yang diterbitkan mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi sebagaimana pada Bab mengenai Kredit. Kas/Rekening.. Surat berharga . 108 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

. Surat berharga . Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 109 . Surat berharga dengan sistem diskonto (bunga dibayar dimuka) a.Bab IV I S u r a t Berharga 5. Beban bunga Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Pada saat menerbitkan Db. Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatat Db./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db./Giro BI b. Surat berharga – amortised cost Pada saat jatuh tempo Db.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Kas/Rekening.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi b..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.. Kerugian karena peningkatan nilai wajar surat berharga-Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost Kr.. Surat berharga ./Giro BI Kr. Surat berharga – amortised cost Kr. c.. Kas/Rekening../Giro BI atau Db.... Penyesuaian nilai wajar a. Kas/Rekening. 6. Kas/Rekening./Giro BI Surat Berharga yang Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi (Amortised Cost) 1. Pada saat pelunasan Db.. Keuntungan karena peningkatan nilai wajar surat berharga . Beban bunga Kr. d. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan dikurangi bunga dibayar dimuka) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Surat berharga .

. Beban bunga Kr. Kas/Rekening. c. Kas/Rekening. Pada saat menerbitkan Db./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat perhitungan bunga dan amortisasi biaya transaksi Db./Giro BI Kr./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) b. e. Beban bunga Kr... Surat berharga – amortised cost Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi penerimaan bunga Db.../Giro BI b.Bab IV I S u r a t Berharga 2.. Pada saat menerbitkan Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi biaya transaksi) Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Kas/Rekening.. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Surat berharga – amortised cost Kr.../Giro BI atau Db. Surat berharga dengan sistem bunga (at par) a./Giro BI atau Db../Giro BI Pada saat jatuh tempo Db. 110 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Beban bunga Kr...../Giro BI Kr. 3. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Surat berharga – amortised cost Kr.. Surat berharga dengan sistem bunga (at premium) a. d. Kas/Rekening..

/Db. Kas/Rekening. Surat berharga – amortised cost Kr.. e.. c.. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 111 .. Beban bunga Kr./Giro BI d. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi diskonto dan biaya transaksi) Kr./Giro BI Pada saat jatuh tempo Db.. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Beban bunga Kr. Kas/Rekening. Beban bunga yang masih harus dibayar Pada saat realisasi beban bunga Db. 4./Giro BI Kr. d./Giro BI atau Db. Pada saat menerbitkan Db.Bab IV I S u r a t Berharga c.. Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi premium dan biaya transaksi Db.. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. Surat berharga dengan sistem bunga (at discount) a../Kr. Kas/Rekening. Beban bunga Kr. Surat berharga – amortised cost (Sebesar harga penerbitan) Pencatatan biaya transaksi yang dapat diatribusikan Db. Surat berharga – amortised cost (sebesar nilai amortisasi premium dan biaya transaksi) Kr. Surat berharga – amortised cost Kr./Giro BI b./Giro BI (apabila biaya transaksi tidak perlu diamortisasi) Pada saat pengakuan beban bunga dan amortisasi diskonto dan biaya transaksi Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr.... Kas/Rekening..

b. yaitu: a.000.000. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Diukur pada Biaya Perolehan Diamortisasi. Kas/Rekening./Giro BI F.000. 3.1. Contoh Kasus Pada tanggal 1 Desember 2010 Bank XYZ menerbitkan obligasi Rp. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. G. Bunga dibayarkan setiap tanggal 24 Februari dan 24 Agustus.5% pada 99.000 dengan kupon bunga 7. 20.000. Surat berharga – amortised cost Kr. Pada saat jatuh tempo Db.Bab IV I S u r a t Berharga e. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. Bank XYZ membayar brokerage fee sebesar Rp. Bank XYZ mencatat transaksi pembelian surat berharga menggunakan pendekatan tanggal penyelesaian. Obligasi tersebut jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020.. Penyelesaian dilakukan pada tanggal 3 Desember 2010. Untuk menerbitkan obligasi dimaksud. Kategorisasi dan nilai tercatat kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali. b. 112 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali dalam penyusunan laporan keuangan.375. 2. Jumlah transaksi kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali yang diterbitkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

000.Bab IV I S u r a t Berharga Asumsi: − − Jumlah hari perhitungan bunga dalam satu tahun aktual/360 hari. (lihat tabel) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 113 . 20.000. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di bank XYZ sebesar Rp.

832.938 991.691.173) (7.000 1.000 140.416 1.311.889 1.000 1.246.617.753) (17.000.028.090 39.538.515 989.708.916.284 1.000.000 Beban Bunga sesuai Suku Bunga Efektif Amortisasi Diskonto/ Premium (d) = (c) .000 .485) (10.333 37.702) (1.333.408 (23.591 1.500 1.893) (11.000 1.043.482 1.705 1.000 1.925.753.122.284 1.708.000.000.000.443 1.333.708.566.875.776 39.448.000.708.336) (13.073.054) (19.708.603.742 (24.833.333 37.333.597) 974.586) (15.830.029 979.333 37.169.221.075 925.219 1.281 39.144.333 38.168 1.333 5.000 1.308.916 1.557.000.267.458.250.333.366.617 40.171.145 976.088.238.333 39.952.798.992 156.333 38.783 1.518 39.108 925.062) (8.875.311.000.001.971) 38.391.000.247 982.000.333 38.144.667 38.107 988.000.000 1.047.000.461.000 31-Dec-10 - 31-Jan-11 - 24-Feb-11 - 24-Aug-11 - 24-Feb-12 - Akuntansi Perbankan Indonesia 24-Aug-12 - 24-Feb-13 - 24-Aug-13 - 24-Feb-14 - 24-Aug-14 - 24-Feb-15 - 24-Aug-15 - 24-Feb-16 - 24-Aug-16 - 24-Feb-17 - 24-Aug-17 - 24-Feb-18 - 24-Aug-18 - 24-Feb-19 - 24-Aug-19 - 24-Feb-20 - 24-Aug-20 1.000 1.423 1.742 978.000.708.167 1.518 1.258 1.291.956.167 38.408 1.000 1.000.754 38.478.496 985.946 980.741.729 981.000.219 (21.948 1.875.855) 5.000.000.Bab IV I S u r a t Tabel: Surat Berharga yang Diterbitkan 114 I P e d o m a n Pokok (a) Beban Bunga sesuai Kupon (b) Nilai Tercatat (f) = (a) + (e) 5.005.088 39.000 1.038 39.667 38.734.709.(b) Pengakuan amortisasi dalam L/R Diskonto/ Premium yang belum Diamortisasi (e) Berharga Tanggal Kupon Pembayaran 3-Dec-10 1.408 1.058.566.408 1.734.827 992.975.000.691) (5.633.000 1.584.000 37.776.000.501 1.339.295 5.000.333 37.694.490.414 984.423 1.000.407.108 122.000 1.333 37.133.916 (20.000.879.810 978.000.333.058.916.708.333 37.000.000 1.190) 39.504) (14.108 (25.333 37.370.000 1.001.852 1.339.298 998.333 38.000.634.000.250.000.014 996.333.482 1.000.000 1.552 977.258 (22.000.583 1.171.223.448.238.900.614.000.124.000.000) 973.083 1.889 1.442.000.000.490.382.890.754) 0 39.000.754 26.000.000.364) 973.000.201.973.074.271) (18.000 1.694.309 994.078.000.659 (25.000.000.000 1.926.969 140.448) 38.571.000.267.137.000 1.636 (26.116 1.705 1.664 986.866.986) (3.168 1.333.403 975.333 37.783 39.000.000 1.109.095.659 122.333 38.442.333.832.333.333 38.672.258.778.750.000.781.000.708.948 1.636 156.333 38.000 1.000.000 1.000.000 - - 1.705) 974.088.741 39.904.708.553 1.862.816 40.222 39.443 1.741 978.246 0 6.000.636 (26.333 6.370.333 37.083 39.603.166.

.108 Kr. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Rp 5. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.108 Kr.750. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Januari 2011 Db..000. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp Kr. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost 3.000.973..969 140..458. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.833.000.291. 5.000 20.992 156.333 Rp. Pencatatan pada saat penyelesaian tanggal 3 Desember 2010 Db. 20.291. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr. Kas/Rekening. Pengakuan bunga./Giro BI Kr. Pengakuan bunga. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Rp 122. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Februari 2011 Db. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 5.Bab IV I S u r a t Berharga Ilustrasi Jurnal 1. Kas/Rekening. Rp./Giro BI 2.000 Pengakuan bunga.000 Rp.666 17.750. 5.000 993. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.333 Rp Rp 6.614.666 Jurnal untuk pengakuan dan pembayaran bunga serta amortisasi selanjutnya sama dengan jurnal di atas Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 115 ./Giro BI Rp 17.. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp. Pembayaran bunga pada tanggal 24 Februari 2011 Db. Rp. 993. Rp.000 6. Kas/Rekening.. Rp. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr. Beban bunga yang masih harus dibayar – surat berharga yang diterbitkan Rp 6.636 4.122. Pencatatan pembayaran brokerage fee tanggal 1 Desember 2010 Db. amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 31 Desember 2010 Db.659 5.

333 Rp. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Kr.037.088 1. 1.333 Rp Rp 39.000. Kas/Rekening.. Beban bunga yang masih harus dibayar .000.000 116 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .708.708. Beban bunga – surat berharga yang diterbitkan Kr.584.754 h) Pencatatan pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo pada tanggal 24 Agustus 2020 Db..surat berharga yang diterbitkan Rp 37./Giro BI Rp Rp 37. Beban bunga yang masih harus dibayar surat berharga yang diterbitkan Kr.875. Surat berharga yang diterbitkan – amortised cost Db.Bab IV I S u r a t Berharga 7.333 1.708. Pencatatan amortisasi diskonto dan biaya transaksi pada tanggal 24 Agustus 2020 Db.

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Definisi 1. Kredit Two Step Loans (TSL) adalah kredit oleh bank yang seluruh dananya berasal dari pinjaman luar negeri yang diterima pemerintah untuk membiayai pengembangan sektor usaha tertentu sesuai perjanjian kredit antara peme- 2. dan bank dapat menanggung atau tidak menanggung risiko atas kredit yang disalurkan. 3. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 117 . Dalam hal ini bank bertindak sebagai pengelola atas seluruh kredit tersebut. risiko. ditetapkan berdasarkan perjanjian. Penerusan kredit dibedakan menjadi: a.Bab V I K r e d i t Bab V Kredit 1. Pemberian dan Penyaluran A. dan pendapatan (bunga dan provisi/komisi) sesuai porsi kepesertaan masing-masing anggota sindikasi. Bank tidak menanggung risiko atas kredit dan untuk tugas tersebut bank menerima imbalan jasa berupa fee atau bagian dari bunga. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Sumber dana dan risiko kredit yang ditanggung bank. b. Kredit Channeling (Channeling Loan) adalah kredit yang seluruh dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan diberikan untuk sektor usaha/debitur tertentu yang ditetapkan oleh pihak penyedia dana. Pasal 1 angka 11) Kredit Sindikasi (Syndication Loans) adalah kredit secara bersama-sama oleh dua bank atau lebih atau perusahaan pembiayaan lainnya dengan pembagian dana. c. Kredit Executing adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pemerintah atau pihak penyedia dana lainnya dan sebagian lagi berasal dari bank. Penerusan Kredit adalah kredit yang seluruh atau sebagian dananya berasal dari pihak lain. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (UU No. Kredit sindikasi disebut juga kredit dalam rangka pembiayaan bersama.

(PSAK 1: Paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif... komitmen. Kredit yang Dijamin adalah kredit yang seluruh atau sebagian risikonya ditanggung oleh pemerintah/asuransi atau pihak lain. (PSAK 1: Paragraf 71) 3. 5. 6... laporan laba rugi. 118 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. kecuali: 2. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . B. 7. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. Kartu Kredit (Credit Card) adalah fasilitas/kredit yang diberikan oleh bank yang penarikannya dilakukan melalui pembayaran transaksi jasa dan perdagangan serta penarikan tunai (cash advance) sampai dengan jumlah tertentu sesuai dengan batas/limit yang ditentukan oleh bank. EBA (Efek Beragun Aset) adalah Instrumen keuangan yang sumber utama pembayarannya berasal dari aliran kas yang dihasilkan oleh underlying asetnya dan bukan dari kemampuan membayar dari perusahaan yang memiliki aset tersebut (originator). Anjak Piutang (Factoring) adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi usaha.. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen.Bab V I K r e d i t rintah dan pemberi dana (lender). Dasar Pengaturan 1. 4.. laporan arus kas. Bank tetap menanggung risiko atas kegagalan pemberian kredit tersebut atau sesuai perjanjian.

pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. investasi dalam instrumen utang. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. Namun. 6. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/kriteria untuk pengklasifikasian tersebut… (PSAK 55: PA39) Jika. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. instrumen tersebut tidak tepat lagi diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. c. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan.Bab V I K r e d i t a. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. maka investasi tersebut harus direklasifikasi menjadi investasi dalam kelompok tersedia untuk dijual dan diukur kembali pada nilai wajarnya… (PSAK 55: Paragraf 52) Jika terjadi penjualan atau reklasifikasi atas investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan yang tidak memenuhi salah satu kriteria paragraf 8. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual. lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. karena perubahan intensi atau kemampuan entitas. maka sisa investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo harus direklasifikasikan menjadi investasi dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 5. piutang dagang. I 119 . serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Kepemilikan atas kelompok aset yang bukan merupakan pinjaman yang diberikan atau piutang (seperti kepemilikan atas Reksadana atau yang serupa) tidak dapat diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan atau piutang. b. (PSAK 55: Paragraf 8) 4. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan.

… (PSAK 55: Paragraf 49) 11. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima. perantara efek dan pedagang efek. jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. menerbitkan atau melepaskan instrumen keuangan. telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo)… (PSAK 55: Paragraf 8) …Pada saat pengakuan awal suatu aset keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. . (PSAK 55: PA39) Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. (PSAK 55: Paragraf 43) 8. 10.Bab V I K r e d i t kelompok tersedia untuk dijual (tainting rule)… (PSAK 55: Paragraf 53) 7. biaya pendanaan 120 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . entitas mengukur pada nilai wajarnya. konsultan. (PSAK 55: Paragraf 8 ) 13. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). lihat juga paragraf 91)… (PSAK 55: PA 79) 12. Bukti terbaik dari nilai wajar adalah harga kuotasi di pasar yang aktif. penerbitan atau pelepasan aset keuangan atau kewajiban keuangan (lihat Pedoman Aplikasi paragraf 13). Biayabiaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. 9. Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo.. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. entitas dapat menetapkan aset keuangan tersebut sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Biaya transaksi adalah biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan. Biaya tambahan adalah biaya yang tidak akan terjadi apabila entitas tidak memperoleh. Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif. entitas menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian..

yaitu nilai setelah dikurangi fee yang diterimanya. atau pelepasan lain. (PSAK 55: PA 26) 14... tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. maka entitas mengakui pinjaman tersebut pada nilai wajarnya... termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. . ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. Jika entitas memberikan pinjaman dengan suku bunga diluar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk pinjaman serupa adalah 8 persen) dan menerima fee dimuka sebagai kompensasinya.Bab V I K r e d i t (financing costs). (PSAK 55: Paragraf 8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 121 . Untuk tujuan pengukuran nilai aset keuangan setelah pengakuan awal. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. (PSAK 55: Paragraf 46) 17. (PSAK 55: Paragraf 45) 16. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). Entitas mengakui diskon yang terjadi pada laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. pada nilai wajarnya. (PSAK 55: PA 80) 15. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: (a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. Setelah pengakuan awal. dan (d) aset keuangan tersedia untuk dijual Keempat kategori diatas menggunakan pengukuran dan pengakuan laba atau rugi berdasarkan Pernyataan ini. entitas mengukur aset keuangan. Pernyataan ini mengklasifikasikan aset keuangan dalam empat kategori sebagaimana didefinisikan pada paragraf 8: (a) aset keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (b) investasi dimiliki hingga jatuh tempo (c) pinjaman yang diberikan atau piutang.

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran atau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari instrumen keuangan.Bab V I K r e d i t 18. Hal ini dapat terjadi apabila variabel yang terkait dengan fee. Dalam 122 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka entitas tersebut biasanya mengamortisasi setiap fee. biaya transaksi. Dalam beberapa kasus. Perhitungan ini mencakup seluruh komisi dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima oleh para pihak dalam kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif (lihat PSAK 23: Pendapatan). Apabila entitas menerapkan metode suku bunga efektif. Secara umum arus kas dan perkiraan umur dari kelompok instrumen keuangan yang serupa dapat diestimasi secara handal. (PSAK 55: PA17) 20. Metode suku bunga efektif adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok aset keuangan atau kewajiban keuangan) dan metode untuk mengalokasikan pendapatan bunga atau beban bunga selama periode yang relevan. opsi beli (call option) dan opsi serupa lainnya). Namun. Namun demikian. Pada saat menghitung suku bunga efektif. namun tidak mempertimbangkan kerugian kredit di masa datang. Entitas harus memasukkan kerugian kredit yang terjadi tersebut dalam estimasi arus kas ketika menghitung suku bunga efektif. apabila tidak mungkin mengestimasi arus kas atau perkiraan umur instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) secara handal. atau jika lebih tepat. poin yang dibayarkan atau diterima. poin yang dibayarkan atau diterima. entitas mengestimasi arus kas dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut (seperti pelunasan dipercepat. dan premium atau diskonto lainnya yang termasuk dalam perhitungan suku bunga efektif selama perkiraan umur instrumen tersebut. aset keuangan diperoleh dengan diskon yang sangat besar yang pada dasarnya mencerminkan kerugian kredit yang terjadi. poin yang dibayarkan atau diterima. biaya transaksi. dan premium atau diskonto lainnya. periode yang lebih singkat digunakan apabila periode tersebut terkait dengan fee. biaya transaksi. biaya transaksi. maka entitas menggunakan arus kas kontraktual selama periode kontraktual dari instrumen keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) tersebut. dalam kasus yang jarang terjadi. digunakan periode yang lebih singkat untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. (PSAK 55: Paragraf 8) 19. dan premium atau diskonto lainnya disesuaikan dengan suku bunga pasar sebelum perkiraan jatuh tempo atas instrumen tersebut. dan seluruh premium atau diskonto lainnya.

Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual tidak memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban dalam laporan laba rugi. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa datang menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan tersebut. Suatu aset diperoleh dengan harga UMU100 ditambah komisi pembelian UMU2..Bab V I K r e d i t kasus tersebut. Awalnya. aset dinilai sebesar UMU100 (tanpa memperhitungkan besarnya komisi pada saat penjualan) dan kerugian sebesar UMU2 harus diakui dalam ekuitas.. (PSAK 55: PA20) 23. (PSAK 55: PA82) 24. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang. Apabila aset keuangan atau kewajiban keuangan dengan suku bunga mengambang pertama kali diakui pada nilai setara dengan jumlah pokok piutang atau utang saat jatuh tempo. aset tersebut diakui pada UMU102. Contoh berikut ini mengilustrasikan akuntansi untuk biaya-biaya transaksi yang terjadi saat pengukuran awal dan setelahnya untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.. maka biaya-biaya transaksi diamortisasi ke laporan laba rugi menggunakan metode suku bunga efektif. …Jika suatu aset keuangan tersedia untuk dijual memiliki pembayaran tetap atau yang telah ditentukan. periode amortisasi yang tepat adalah periode sampai dengan tanggal penyesuaian nilai berikutnya. (PSAK 55: PA82) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 123 . maka estimasi ulang yang dilakukan atas pembayaran bunga di masa datang biasanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tercatat aset atau kewajiban tersebut.(PSAK 55: PA18) 21. (PSAK 55: PA19) 22. komisi yang harus dibayarkan adalah UMU3. maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah direvisi. Tanggal pelaporan keuangan berikutnya terjadi sehari setelah pengakuan awal ketika harga kuotasi pasar atas aset tersebut adalah UMU100. estimasi ulang yang dilakukan secara berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku bunga pasar akan mempengaruhi suku bunga efektifnya. Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya.. Pada tanggal tersebut. Jika aset tersebut dijual. maka biayabiaya transaksi diakui dalam laporan laba rugi apabila aset tersebut kemudian dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai.

b. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan tidak dapat secara memadai mengkompensasi penyediaaan jasa yang diberikan. maka entitas mengakui kontrak pengelolaan tersebut sebagai aset jasa pengelolaan atau kewajiban jasa pengelolaan. Penjelasan 1. b. maka aset jasa pengelolaan diakui sebagai hak jasa pengelolaan dengan jumlah yang ditentukan berdasarkan alokasi dari nilai tercatat aset keuangan yang lebih besar sesuai dengan paragraf 27. jika dan hanya jika: a. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. Jika entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan untuk keseluruhan nilainya dan entitas tersebut masih memiliki hak pengelolaan atas aset keuangan tersebut dengan imbalan tertentu (fee). Kredit investasi. f. aktivitas peminjaman uang atau tagihan sebesar plafon yang disepakati. Kredit berdasarkan pengertiannya antara lain memiliki unsur-unsur sebagai berikut: a. b. persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam. e. Jika imbalan (fee) yang akan diterima diperkirakan lebih dari cukup untuk mengkompensasi penyediaan jasa yang diberikan. 124 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . jangka waktu tertentu. (PSAK 55: Paragraf 24) C. 2. antara lain: a. maka kewajiban jasa pengelolaan untuk kewajiban penyediaan jasa tersebut diakui pada nilai wajar. risiko. dan Kredit konsumsi. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas (PSAK 55: Paragraf 8) 26. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. (PSAK 55: Paragraf 17) 27. c. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan.Bab V I K r e d i t 25. c. d. pendapatan berupa bunga atau imbalan atau pembagian keuntungan. Kredit modal kerja. dan jaminan dan atau agunan (jika ada) Jenis kredit menurut penggunaannya.

dan macet (M). 11. Pokok kredit adalah saldo kredit yang telah digunakan debitur dan belum dilunasi oleh debitur (biasa disebut sebagai baki debet). L/C. yaitu jika terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut (peristiwa yang merugikan). 12. pembelian surat berharga debitur yang dilengkapi dengan note purchase agreement (NPA). kredit yang berasal dari bank garansi. 4. kurang lancar (KL). diragukan (D). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 125 . 7. Kewajiban debitur adalah seluruh kewajiban debitur kepada bank berupa pokok kredit ditambah tagihan bunga. 6. Bunga cerukan adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas penggunaan kredit yang melebihi plafon yang telah ditentukan dan biasanya dinyatakan dalam persentase.Bab V I K r e d i t 3. Penggolongan kredit menurut kualitas. dan biaya lainnya sesuai dengan perjanjian kredit. Kredit yang mengalami penurunan nilai. Termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama. 8. Plafon adalah jumlah maksimum kredit yang diterima oleh debitur sebagaimana tercantum dalam surat perjanjian/kredit. serta cerukan. Kelonggaran tarik adalah fasilitas kredit yang masih dapat ditarik oleh debitur dari plafon yang tersedia. dan Kredit yang tidak mengalami penurunan nilai. Bunga kredit adalah imbalan yang dibayarkan oleh debitur atas kredit yang diterimanya dan biasanya dinyatakan dalam persentase. kredit dalam restrukturisasi. Cerukan (overdraft) adalah jumlah penarikan yang melebihi dana yang tersedia pada pos giro atau penggunaan kredit yang melebihi plafon yang disetujui. 10. 5. atau fasilitas lainnya yang tidak dapat diselesaikan (wanprestasi) dan dialihkan menjadi kredit. Jenis kredit berdasarkan evaluasi mengenai terdapat atau tidaknya bukti obyektif bahwa kredit mengalami penurunan nilai terdiri dari: a. terdiri dari kredit dengan kualitas lancar (L). dalam perhatian khusus (DPK). 9. Penggolongan ini dilakukan untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian bank (prudential regulation). denda (penalty). b.

bank yang terlibat dalam pemberian kredit tersebut dapat bertindak sebagai: a.Bab V I K r e d i t 13. untuk itu bank mencatat sebagai aset keuangan (executing) sebesar risiko kredit yang ditanggung. hanya bertindak sebagai administrator terhadap kredit yang diberikan oleh pihak ketiga. 17. 126 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam aktivitas kredit sindikasi. c. c. Berdasarkan fungsi tersebut. a. Dalam kredit executing. 16. sehingga bank tidak mencatat aset maupun kewajiban keuangan. Denda (penalty) adalah imbalan yang harus dibayar oleh debitur atas keterlambatan pembayaran pokok dan atau bunga atau kewajiban lainnya. Bank sebagai agent akan menerima agent fee dan atau management fee. bank menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit bank menanggung sebagian atau seluruh risiko kredit. Bank sebagai Participant akan menerima provisi kredit dari maksimum kredit dan commitment fee dari kredit yang belum ditarik (undrawn portion) secara proporsional dengan bank peserta lain. maka pendapatan provisi yang diterima bank berbedabeda bentuknya. Agent: bank yang bertindak sebagai pemimpin kelompok bank peserta sindikasi atau disebut juga Bank Induk. b. bank dapat: a. Participant: bank yang ikut serta mendanai pemberian kredit sindikasi tersebut. Dalam kredit chanelling. selain bertindak sebagai administrator. 15. b. 18. tidak terdapat aliran dana masuk atau keluar melalui bank. Arranger: bank yang mensponsori/memfasilitasi terbentuknya kelompok “Bank Sindikasi”. 14. bertindak sebagai administrator dan menerima aliran dana masuk (mencatat kewajiban keuangan) dan saat menyalurkan kredit mengurangi kewajiban keuangannya (risiko kredit ditanggung oleh pihak ketiga). Provisi kredit adalah biaya yang harus dibayar debitur pada saat kredit disetujui dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Commitment fee adalah biaya yang harus dibayar debitur atas bagian kredit yang belum digunakan. b. Bank sebagai arranger akan menerima arranger fee.

kredit yang diberikan dengan maksud dijual kembali secara langsung atau melalui skema sekuritisasi. − Kredit yang pada saat diberikan/dibeli ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option) meskipun tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan. 2 Dimiliki Hingga − Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Jatuh Tempo ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan. yang bukan disebabkan penurunan kualitas kredit. Kuotasi dipasar aktif. Penjelasan mengenai reklasifikasi kredit mengacu pada Bab Penjelasan Umum mengenai Reklasifikasi Aset Keuangan. Untuk dapat diukur pada nilai wajar tersebut. dan atau untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 127 . 21. Misalnya. Pada saat pengakuan awal. kredit diukur pada nilai wajar atau nilai wajar ditambah biaya transaksi. Tersedia untuk − Kredit yang pada saat pengakuan awal ditetapkan Dijual dalam kategori Tersedia untuk Dijual − Kredit yang diberikan dimana bank mungkin tidak akan memperoleh kembali pokok kredit secara substansial. Secara umum. Piutang 3 4 20. Penentuan nilai wajar menggunakan hirarki berikut: a. kredit yang diberikan dapat dibukukan dalam 4 kategori aset keuangan. − Bank memiliki intensi positif dan kemampuan untuk memiliki hingga jatuh tempo. Pinjaman yang Kredit yang memiliki pembayaran tetap atau telah Diberikan dan ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. bank harus memenuhi persyaratan dalam PSAK 55 dan ketentuan yang berlaku lainnya mengenai penggunaan fair value option.Bab V I K r e d i t 19. yaitu: No 1 Kategori Aset Keuangan Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Keterangan − Kredit yang diberikan atau dibeli untuk dijual kembali dalam waktu dekat.

Suku bunga efektif (r) adalah = 10. bunga. yaitu sebesar arus kas keluar (pokok ditambah/dikurangi biaya transaksi berupa pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dan/ atau premium atau diskonto) CF = arus kas bersih berdasarkan persyaratan kontraktual (seperti penerimaan pokok. 22.000. yaitu: 5. Dalam pemberian fasilitas tersebut. dapat dihitung suku bunga efektif dengan formula sebagai berikut: CF CF CF PV = ———— + ———— + · · · · + ———— (1 + r)1 (1 + r)2 (1 + r)t dimana: PV = nilai wajar yang merupakan present value dari kredit yang diberikan.000 5.000 5.Bab V I K r e d i t b. berdasarkan nilai wajar tersebut.000 55. 2) Harga dari transaksi pasar terkini dari aset lain yang sejenis.53482%. 50 juta.000 = —————— + —————— + —————— + —————— + —————— (1 + r) 1 (1 + r)2 (1 + r)3 (1 + r)4 (1 + r)5 128 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.000.000 5. call option dan lainnya) r = suku bunga efektif (effective interest rate) t = jangka waktu Contoh: Pada tanggal 1 Januari 2010 bank memberikan fasilitas kredit kepada PT. yang berdasarkan formula tersebut di atas. denda. Kredit berjangka waktu 5 tahun dan akan jatuh tempo pada 31 Desember 2014. Teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. ABC sebesar Rp. pelunasan dipercepat. Nilai wajar kredit pada saat pengakuan awal adalah sebesar pokok kredit yang dicairkan oleh debitur. Selanjutnya.000.000. atau 3) Analisa arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga pasar (dapat menggunakan suku bunga yang ditawarkan bank) yang berlaku untuk kredit sejenis. bank menerima provisi kredit sehingga dana yang dibayarkan kepada debitur sebesar 98% dari total kredit.000 49. Suku bunga kredit sebesar 10% yang dibayarkan setiap tahun.000.

waktu penarikan dan jumlah pada setiap penarikan telah diketahui. maka nilai wajar kredit harus diestimasi menggunakan teknik penilaian. 24. Suku bunga efektif yang dihitung berdasarkan arus kas kontraktual pada dasarnya tidak dapat diubah sampai dengan seluruh kewajiban debitur dibayar lunas. perhitungan suku bunga efektif didasarkan pada arus kas dengan menggunakan suku bunga yang diestimasi pada awal pemberian kredit. maka hal tersebut sudah harus diperhitungkan pada saat perhitungan awal arus kas untuk menentukan suku bunga efektif. Dalam menghitung suku bunga efektif. bank harus memperhatikan secara cermat biaya transaksi yang meliputi pendapatan dan beban selain bunga (yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit) yang harus diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang. b.Bab V I K r e d i t 23. Jenis-jenis pendapatan dan beban tersebut antara lain: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 129 . yaitu berdasarkan estimasi arus kas masa datang yang didiskontokan menggunakan suku bunga pasar yang berlaku untuk jenis kredit serupa (dalam hal mata uang. d. Kredit dengan suku bunga mengambang. Jika bagian dari penyerahan dana kepada debitur ditujukan untuk hal selain pemberian/pembelian kredit tersebut. 25. Ketentuan penetapan suku bunga efektif adalah sebagai berikut: a. termasuk ketika bank memberikan keringanan suku bunga melalui restrukturisasi kredit atau melakukan revisi estimasi pembayaran atau penerimaan bunga dan pokok. Kredit dengan suku bunga tetap memiliki satu suku bunga efektif yang dihitung pada awal pemberian kredit. Apabila bank memberikan kredit dengan skema bunga meningkat atau menurun (step up/down) yang sudah diketahui sejak awal (sudah diperjanjikan). Amortisasi pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung dilanjutkan dengan menggunakan suku bunga efektif yang baru. jenis suku bunga. c. Suku bunga efektif akan berubah setiap kali dilakukan perubahan estimasi arus kas masa datang yang dihasilkan dari perubahan tingkat suku bunga. dan faktor lainnya) dan memiliki peringkat kredit yang serupa. syarat-syarat. Selanjutnya suku bunga efektif akan disesuaikan pada saat penyesuaian suku bunga berikutnya. Kredit dengan suku bunga tetap dengan penyaluran secara bertahap atas jumlah plafon kredit memiliki suku bunga efektif tersendiri untuk setiap tahapan penarikan kredit kecuali pada awal pemberian kredit.

Jika fee/provisi kredit diterima sekaligus untuk kredit dengan penarikan secara bertahap maka fee/provisi tersebut dialokasikan secara proporsional sesuai jumlah penarikan kredit dalam setiap tahap. Seluruh pendapatan dan beban yang dapat diakui sekaligus sebagaimana dimaksud pada angka 12 Perlakuan Akuntansi . Dalam laporan keuangan. bank dapat menghentikan pengakuan (derecognition) atas kredit yang diberikan jika dan hanya jika: a. Bank tidak lagi memiliki hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit tersebut. Denda (penalty) yang dikenakan kepada debitur atas opsi pelunasan sebelum jatuh tempo yang tertuang dalam perjanjian kredit. 27. Biaya yang dikeluarkan bank dalam rangka pemberian/pembelian kredit seperti: 1) Fee atau imbalan yang dibayarkan kepada developer. Opsi pelunasan sebelum jatuh tempo harus dievaluasi lebih lanjut apakah merupakan derivatif melekat yang memenuhi persyaratan untuk dipisahkan dari Kredit sebagai kontrak utamanya (host contract) (lebih lanjut lihat Bab mengenai Tagihan dan Kewajiban Derivatif). atau Bank telah mentransfer kredit tersebut dimana transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan. karena opsi tersebut menyebabkan bank tidak dapat menerima bunga secara penuh hingga jatuh tempo.Pengakuan dan Pengukuran. Denda/penalty yang dikenakan terkait dengan biaya administrasi tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang.Bab V I K r e d i t a. c. Fee yang terkait dengan jangka waktu kredit. biaya appraisal dan lain-lain. tinjauan lokasi debitur (on-thespot). dan 2) Biaya konsultan untuk notaris dan hukum. karyawan atau pihak lain untuk setiap aplikasi kredit yang disetujui. b. b. sepanjang fee/provisi tersebut secara langsung timbul pada saat pemberian/pembelian kredit (akuisisi aset). dan/atau Pendapatan dan beban lainnya yang tidak dapat diatribusikan secara langsung dengan pemberian/pembelian kredit. b. antara lain fee (seperti origination fee dan commitment fee) dan provisi kredit yang tertuang dalam perjanjian kredit. Jenis-jenis pendapatan dan beban yang tidak dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang antara lain: a. 26. 130 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Terdapat pass-through-arrangement yang dipenuhi dengan 3 kondisi yaitu: 1) Bank tidak wajib membayar penerima akhir.Bab V I K r e d i t 28. Jika bank mentransfer atau mengalihkan kredit. b. dan secara terpisah mengakui sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut. sehingga bank menentukan apakah bank masih memiliki pengendalian atas kredit tersebut. 2) Jika bank secara substansial tidak mentransfer dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. Kriteria penghentian pengakuan atas kredit sebagaimana dimaksud pada angka 27 b antara lain: a. 2) Bank tidak diperkenankan menjual atau mengagunkan kredit yang ditransfer kecuali untuk menjamin hak penerima akhir untuk menerima arus kas masa datang. Dalam hal ini: 1) Jika bank secara substansial mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit. dan giro pada bank lain selama periode penyelesaian jangka pendek. maka bank mengevaluasi sejauh mana bank tetap memiliki risiko dan manfaat atas kepemilikan kredit tersebut. maka bank menghentikan pengakuan kredit dan mengakui secara terpisah sebagai aset atau kewajiban untuk setiap hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut (contoh penjualan kredit tanpa syarat. giro pada Bank Indonesia. 3) Bank berkewajiban untuk menyerahkan setiap arus kas masa datang yang ditagihnya untuk dan atas nama penerima akhir tanpa penundaan yang signifikan. kecuali jika bank memperoleh jumlah yang setara dari kredit awalnya. Bank hanya dapat menempatkan dana tersebut pada kas. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 131 . Dalam hal ini: a) Jika bank tidak lagi memiliki pengendalian. yaitu antara tanggal penagihan dan tanggal pembayaran kepada penerima akhir. maka bank menghentikan pengakuan kredit tersebut. dan pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan tersebut (jika ada) harus diserahkan kepada penerima akhir. baik dengan mentransfer hak kontraktual atau tetap memiliki hak kontraktual namun menanggung kewajiban kontraktual (passthrough arrangement). penjualan kredit dengan opsi untuk membeli kembali pada nilai wajarnya saat pembelian kembali).

2. kredit modal kerja (KMK) plafon menurun atau kredit konsumsi. kredit yang dihapusbuku dapat dikeluarkan dari neraca. maka bank tetap mengakui kredit sebesar keterlibatan berkelanjutannya dengan kredit. bank mengakui sebagai ”Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang diberikan kepada debitur” sebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwal penarikan/penggunaan kredit yang disepakati bank dengan debitur. Bank masih memiliki pengendalian atas kredit yang ditransfer apabila penerima transfer tidak memiliki kemampuan praktis untuk menjual kredit yang ditransfer tersebut. Pada saat pencairan kredit. D. 29. yaitu: a. kecuali untuk penerusan kredit. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. Jumlah kewajiban komitmen fasilitas kredit tersebut dapat berkurang atau bertambah selama jangka waktu kredit sesuai jenis kreditnya. Kredit investasi. b. Pada saat penandatanganan perjanjian kredit dengan debitur. bank mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan” sebesar nilai wajar. Kredit modal kerja/rekening koran akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan akan bertambah pada saat diterima setoran. Terkait dengan karakteristik khusus industri perbankan. meskipun tidak mengikuti kriteria penghentian pengakuan. yaitu: 132 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . akan berkurang pada saat dilakukan penarikan dan tetap/tidak bertambah pada saat diterima setoran.Bab V I K r e d i t b) Jika bank masih memiliki pengendalian. Tidak termasuk dalam pengertian penghentian pengakuan adalah penghapusbukuan kredit yang telah mengalami penurunan nilai dimana bank telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar nilai tercatat kredit karena bank masih memiliki hak kontraktual atas penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari kredit.

Pada saat pencairan kredit. dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit tersebut. pendapatan fee atas pengelolaan rekening debitur. Misalnya. biaya talangan. Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak terkait dengan jangka waktu kredit.Bab V I K r e d i t No 1 Kredit dalam kategori Pencatatan pada saat pencairan Diukur pada Nilai Wajar Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat melalui Laporan Laba pengakuan awal sama dengan harga transaksi. dan/atau Pendapatan dan/atau beban tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. b. 2 3 4 3. bank tidak perlu melakukan kapitalisasi atas pendapatan dan/atau beban pada biaya perolehan kredit dan dapat mengakui secara langsung sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika: a. dan/atau biaya yang dikeluarkan bank karena debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya. yaitu sebesar pokok kredit yang dicairkan. Rugi Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Sebesar nilai wajar kredit yang pada saat pengakuan awal sama dengan harga transaksi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 133 . tetapi sebagai “Kredit yang diberikan” kepada debitur. 4. Kredit dalam rangka pembiayaan bersama (kredit sindikasi) diakui sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihan bank yang bersangkutan (baik sebagai bank induk maupun sebagai bank peserta) dikurangi atau ditambah pendapatan dan/ atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembiayaan bersama tersebut. maka atas dana tersebut tidak dapat diakui sebagai “Pinjaman yang diterima dari bank peserta”. tetapi langsung dikreditkan ke pos giro debitur di bank induk (escrow account). Apabila bank menjadi bank induk sindikasi (agent) dan menerima transfer dana dari bank peserta sindikasi (participant bank). Demikian juga bank peserta sindikasi tidak mengakui sebagai “Tagihan kepada bank induk”.

yaitu nilai wajar kredit yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran Pinjaman yang Diberikan pokok. Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. 7. Namun. ditambah atau dikurangi dengan amordan Piutang tisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. maka bank tidak diperkenankan mengakui sebagai “Kredit yang diberikan”. 3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 4 Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui pada laporan laba rugi Sebesar nilai wajar. apabila bank menanggung risiko maka bank mengakuinya sebagai “Kredit yang diberikan” sebesar risiko yang ditanggung. b. tetapi mengungkapkannya pada catatan atas laporan keuangan sebagai penerusan kredit. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. bank mencatat kredit yang diberikan sebagai berikut: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 Tersedia untuk Dijual Pencatatan setelah pencairan Sebesar nilai wajar. maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi. Untuk kredit dalam kategori Tersedia untuk Dijual: a. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar kredit diakui secara langsung dalam ekuitas 6. Selanjutnya. dalam hal terjadi perubahan nilai wajar. Setelah pencairan kredit. Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Dalam hal bank memberikan kredit berdasarkan perjanjian penerusan kredit (channeling) atau kredit kelolaan.Bab V I K r e d i t 5. 134 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

memberikan kredit dengan suku bunga di luar suku bunga pasar (misalnya 5 persen sedangkan suku bunga pasar untuk kredit sejenis adalah 8 persen). keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas. b. Reklasifikasi kredit diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari kredit dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Tersedia untuk Dijual ke kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi. untuk kredit yang direklasifikasi dari kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ke kategori Tersedia untuk Dijual. harus diakui sebagai berikut: a. nilai tercatat (carrying amount) pada saat pengakuan awal dapat berbeda dengan nilai kredit yang akan diperoleh pada saat jatuh tempo. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 135 . Dalam menentukan suku bunga pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b. misalnya base lending rate ditambah risk premium dan profit margin untuk kredit sejenis. laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah. b. Untuk kredit yang dicatat berdasarkan biaya perolehan diamortisasi.Bab V I K r e d i t Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian kredit (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar kredit tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. namun harus diamortisasi selama masa manfaat kredit dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premium atau diskonto. c. 8. bank dapat menggunakan suku bunga acuan yang berlaku di bank. menerima pendapatan (di luar bunga) dan/atau mengeluarkan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit tersebut. dan/atau memberikan/membeli kredit secara diskonto atau premium. 9. yaitu jika bank: a. Selanjutnya.

000. Dalam hal bank mengalami kerugian. Sebagai contoh. material. Total biaya transaksi sebesar 5% atau kurang dari rata-rata laba sebelum pajak selama 3 tahun terakhir dianggap tidak material. 13. 14. Selisih antara nilai tercatat kredit (yang merupakan biaya perolehan diamortisasi) dengan nilai kredit yang akan diterima pada saat jatuh tempo kredit diamortisasi selama periode berjalan menggunakan metode suku bunga efektif. 5. 11. Bank harus menetapkan tingkat materialitas dan mendokumentasikan dalam kebijakan akuntansi. pinjaman rekening koran.Bab V I K r e d i t 10. Bank dapat menggunakan metode garis lurus dalam melakukan amortisasi untuk: a.000.000.000 (5% x 100.000. Dalam hal hak kontraktual atas arus kas masa datang dari kredit yang diberikan telah berakhir dan/atau bank telah mentransfer keseluruhan kredit yang 136 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia b. Penghentian pengakuan kredit a. . 12. 2) perbedaan suku bunga kredit yang diberikan dan suku bunga pasar atas kredit sejenis. 100. dan besarnya: 1) pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit. apabila bank memiliki laba sebelum pajak sebesar Rp. dan/atau 3) diskonto atau premium atas pemberian/pembelian kredit. Bank dapat tidak melakukan amortisasi atas pendapatan dan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pemberian/pembelian kredit dan mengakui sekaligus sebagai pendapatan atau beban pada periode berjalan jika besarnya pendapatan dan biaya transaksi tersebut tidak material. kredit dengan skedul penarikan dan pembayaran (arus kas) yang sulit diprediksi. Total biaya transaksi secara agregat ini merupakan batas maksimal dari akumulasi biaya transaksi individual yang dianggap tidak material. maka biaya transaksi secara agregat sebesar Rp.000.000. dan kartu kredit. Tingkat materialitas ditetapkan secara agregat dengan membandingkan total biaya transaksi dengan laba sebelum pajak. Tingkat materialitas secara individu ditetapkan oleh manajemen dengan berdasarkan kepada estimasi angka agregat.000.000) dianggap tidak material. laba sebelum pajak menggunakan rata-rata 3 tahun terakhir sebelum bank mengalami kerugian untuk menentukan tingkat materialitas secara agregat. misalnya kredit yang bersifat revolving.

diakui pada laporan laba rugi. yaitu nilai wajar kredit yang Pinjaman yang Diberikan dan diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. Penyajian 1. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 137 . ditambah atau dikurangi Piutang dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif. selisih antara (i) nilai tercatat yang dialokasikan pada bagian kredit yang ditransfer.Bab V I K r e d i t b. maka bank tidak lagi mengakui sebagai ”Kredit yang diberikan”. dan (ii) jumlah dari pembayaran yang diterima atas bagian kredit yang ditranfer tersebut ditambah/dikurangi keuntungan/kerugian kumulatif atas bagian kredit tersebut yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. Kredit sindikasi disajikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank. Selanjutnya. termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. Kredit yang dijamin disajikan berdasarkan kredit yang disalurkan bank. 2. yaitu: No Kredit dalam kategori 1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2 3 4 Tersedia untuk Dijual Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Penyajian pada neraca Sebesar nilai wajar. maka bank tidak lagi mengakui bagian kredit tersebut sebagai ”Kredit yang diberikan” dan nilai tercatat sebelumnya (nilai wajar atau biaya perolehan diamortisasi) dari keseluruhan kredit harus dialokasikan pada bagian yang tetap diakui dan bagian yang telah dihentikan pengakuannya berdasarkan nilai wajar relatif dari kedua bagian tersebut pada tanggal transfer. Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). 3. Dalam hal bank telah mentransfer sebagian kredit yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan. memenuhi kriteria penghentian pengakuan. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas kredit yang diberikan. Kredit disajikan di neraca sesuai kategori.

Pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. disajikan sebagai tagihan bunga kredit atau pendapatan bunga kredit yang akan diterima. Kas/Rekening…/Giro BI 138 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t 4. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi a. Kredit . Kredit .amortised cost atau Kr. Kredit . Rekening lawan . Kredit kelolaan disajikan pada pos kredit yang diberikan berdasarkan porsi kredit yang risikonya ditanggung bank termasuk biaya transaksi yang terkait dengan porsi kredit dimaksud. Pendapatan bunga (Apabila nilai provisi kredit yang diterima tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. pendapatan bunga dari kredit yang tidak diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang yang dibuat pada saat pengakuan awal kredit atau pada penyesuaian suku bunga kredit dicatat pada rekening administratif.fasilitas kredit yang belum digunakan b. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.amortised cost Kr. 5. Kewajiban komitmen . E Ilustrasi Jurnal 1. Pendapatan bunga dari kredit (yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang pada saat pengakuan awal kredit atau pada saat penyesuaian suku bunga kredit) yang telah diakui sebagai pendapatan tetapi belum diterima pembayarannya. Sementara itu.amortised cost Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Pada saat pencairan kredit kepada debitur Db.

Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Dalam hal ketentuan tersebut tidak diatur dalam perundang-undangan. Db. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Kewajiban komitmen . Kr. Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db.amortised cost Pendapatan bunga kredit Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 139 . Db. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. d./Kr. Kredit .fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.amortised cost Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kredit . maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing bank. Rekening lawan .fasilitas kredit yang belum digunakan c. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.

Pendapatan arranger fee kredit sindikasi 2) Agent/management fee Db. Nasabah notaris/perusahaan asuransi f. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. agent/management fee dan provisi kredit sindikasi dari debitur 1) Arranger fee Db. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Giro BI (berdasarkan porsi bank lain yang menjadi wakil agent) 140 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan biaya .hasil klaim asuransi h.Bab V I K r e d i t e. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat menerima pembayaran arranger fee. Pendapatan agent/management fee kredit sindikasi Kr. Kas/Rekening. Tagihan klaim asuransi 2.biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db. Tagihan klaim asuransi Kr. Pada saat menerima klaim asuransi dari perusahaan asuransi Db. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris./Giro BI Kr.. Tagihan biaya .biaya kredit g. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai Bank Induk/ agent/lead manager a. premi asuransi barang agunan) Db. Kredit . Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db..amortised cost . Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Bab V I K r e d i t 3) Provisi kredit Db. Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit (berdasarkan porsi bank tersebut) Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Rekening perantara kredit sindikasi f. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris.fasilitas kredit yang belum digunakan c. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 141 . Kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank induk) Kr. Pada saat pencairan kredit kepada debitur 1) Penyediaan dana oleh bank induk Db. dicatat sama dengan butir 1. c Pada saat menerima setoran dari debitur dicatat sama dengan butir 1. Rekening perantara kredit sindikasi Kr. Rekening lawan . premi asuransi barang agunan). Kewajiban komitmen . dicatat sama dengan butir 1. Kredit sindikasi-bank induk (berdasarkan porsi bank tersebut) Kr. Giro BI/Bank peserta Kr. Giro BI (berdasarkan porsi bank peserta) b. Pada saat melakukan amortisasi dan perhitungan dan pembebanan bunga kredit sindikasi yang besarnya sesuai dengan porsi kredit bank bersangkutan. Pada saat meneruskan penerimaan bunga dan atau pokok kredit sindikasi porsi bank peserta Db. Rekening escrow debitur 2) Penerimaan dana dari bank peserta Db. Kas/Rekening…/Giro BI g. e dengan asumsi penagihan kepada debitur dilakukan oleh bank induk sindikasi e. d dengan tambahan jurnal untuk penerimaan bunga dan pokok porsi bank peserta Db. Rekening escrow debitur d.kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur Kr.

maka Bank tidak menerima provisi kredit (debitur tidak membayar provisi kredit). Kas/Rekening…/Giro BI Kr. pada umumnya penarikan kredit oleh debitur dilakukan melalui bank induk/agent dan bank peserta harus memindahkan (transfer) dana atau kredit yang akan ditarik kepada bank induk/ agent. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Dana untuk penyaluran kredit (rekening penampungan dana sementara) 2) Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur Karena risiko kredit ditanggung penyedia dana. Kredit sindikasi/kredit dalam rangka pembiayaan bersama sebagai bank peserta (Participant Bank) Pada prinsipnya akuntansi pada bank peserta kredit sindikasi sama dengan akuntansi Kredit. dengan perbedaan: a. Rekening perantara kredit sindikasi (berdasarkan porsi bank peserta) i. Pada saat menerima commitment fee atas bagian kredit yang belum ditarik (undrawn portion) oleh debitur Db. Pada saat meneruskan pembayaran commitment fee kredit sindikasi porsi bank peserta Db.Bab V I K r e d i t h. Pendapatan commitment fee kredit (berdasarkan porsi bank bersangkutan) Kr. bunga dan biaya) dari bank induk/agent. Pembayaran kredit (pokok. Kas/Rekening…/Giro BI 3. b. 4. 142 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Penarikan kredit oleh debitur pada hakekatnya dilakukan sesuai dengan perjanjian kredit sindikasi. Bank menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan 1) Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. bunga dan biaya) oleh debitur dibukukan melalui bank induk/agent dan bank peserta akan menerima transfer dana pembayaran (pokok. Namun demikian. Penerusan kredit tanpa risiko a. Rekening perantara kredit sindikasi Kr.

Kewajiban lain . Pendapatan fee penerusan kredit Kr. Kewajiban lain .Setoran pokok kredit channeling Kr. Kas/Rekening…/Giro BI 8) Apabila fee harus ditagihkan kepada penyedia dana a) Pada saat menagih Db.Setoran bunga kredit channeling Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Setoran pokok kredit channeling 7) Pada saat menyelesaikan pembayaran bunga dan atau pokok kredit setelah dikurangi dengan fee penerusan kredit kepada penyedia dana Db. Pendapatan fee penerusan kredit b) Pada saat menerima fee kredit channeling dari penyedia dana Db. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Kr. Kewajiban lain . dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 6) Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kewajiban lain . Dana untuk penyaluran kredit (rekening sementara) Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pendapatan fee penerusan kredit yang akan diterima (rekening sementara) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 143 . Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat pada extracomptable rekening penerusan kredit 4) Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur dicatat pada extracomptable 5) Pada saat menerima pembayaran bunga kredit dari debitur Db.Setoran bunga kredit channeling Bersamaan dengan itu. 3) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.Bab V I K r e d i t Tidak mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan.

d. Pada saat perhitungan dan pembebanan bunga kredit kepada debitur (1) Untuk dana yang berasal dari bank sama. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. maka bank mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan berdasarkan porsi yang ditanggung bank. Pendapatan bunga kredit kelolaan yang akan diterima (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. c. Kredit kelolaan (sebesar dana yang ditanggung oleh bank) Kr. Pada saat penerimaan pendapatan bunga dari debitur Db. 2) Tata cara pembukuan lainnya sama seperti apabila bank menerima dana dari penyedia dana. (2) Untuk dana yang berasal dari penyedia dana dicatat pada extracomptable. 1) Pada saat menerima perintah untuk membukukan bukti penarikan kredit dicatat pada extracomptable. Pada saat menerima dana dari penyedia dana Db. bank hanya diminta mengadministrasikannya. Bank tidak menerima dana dari penyedia dana untuk disalurkan. Pada saat penandatanganan penyaluran kredit dengan debitur. Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Dana kelolaan (Pinjaman yang Diterima) b. Penarikan kredit sudah dilakukan oleh debitur langsung ke penyedia dana. 5. c. Kredit kelolaan a.Bab V I K r e d i t b. e. dicatat sama dengan butir 1. Kas/Rekening…/Giro BI Bersamaan dengan itu mencatat extracomptable kredit kelolaan yang dananya berasal dari penyedia dana. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. dilakukan jurnal balik atas catatan extracomptable 144 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Bersamaan dengan itu. Kewajiban lain . Karena sebagian risiko kredit ditanggung bank.

Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.. Pendapatan bunga kredit c. Kewajiban lain .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kas/Rekening. Kredit dengan Penjaminan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku.Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr.. 8. Pendapatan bunga (sebesar provisi/komisi/diskonto yang diterima) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang. Pada saat menerima pembayaran pokok kredit dari debitur Db. 7. 6.Bab V I K r e d i t f./Giro BI Db/Kr. Kredit Two Steps Loan Jurnal pemberian kredit dilakukan sebagaimana pemberian kredit umum yang berlaku. Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 145 . Kredit . Kr. Kewajiban lain . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kredit kelolaan (berdasarkan porsi yang ditanggung bank) Kr. Db. Kewajiban lain . b.Setoran pokok kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Pada saat transfer setoran pokok dan atau bunga kepada penyedia dana Db. Giro BI/rekening pihak penyedia dana g.Setoran bunga kredit kelolaan (berdasarkan porsi penyedia dana) Db.

Pada saat menjual kredit Db.Tersedia untuk Dijual Kr. Kredit . Kredit . Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kredit Tersedia untuk Dijual a. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi e. Pendapatan bunga (apabila nilainya tidak material untuk dilakukan amortisasi) 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 9. Kr. Keuntungan (kerugian) karena peningkatan (penurunan) nilai wajar (MTM) Kredit .Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi d.Tersedia untuk Dijual Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kas/Rekening…/Giro BI 146 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t 2) Sebesar setoran bunga debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit Db.fasilitas kredit yang belum digunakan b. Kredit .fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Rekening lawan . Pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai Kredit Tersedia untuk Dijual 1) Menerima provisi kredit dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya Db/Kr.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr/Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kredit . Kas/Rekening…/Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Kredit . Kewajiban komitmen . Kredit .Tersedia untuk Dijual atau Kr.

Pada saat menerima setoran dari debitur diprioritaskan menyelesaikan kewajiban sesuai estimasi arus kas masa datang 1) Sebesar pembebanan bunga dalam estimasi arus kas masa datang Db.Bab V I K r e d i t Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kewajiban komitmen . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Catatan: Jurnal amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur dilakukan jurnal balik jika debitur menunggak dan dalam jumlah yang sama dicatat pada catatan extracomptable. Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima atau 2) Sebesar setoran debitur untuk menyelesaikan angsuran/penyelesaian pokok kredit dicatat Db. Dalam hal tidak terdapat ketentuan yang mengatur. Penentuan saat penghentian pencatatan pembebanan bunga extracomptable ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Kredit . Pada saat amortisasi dan pembebanan tagihan bunga kepada debitur (apabila dilakukan amortisasi) Db.fasilitas kredit yang belum digunakan c.fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.Tersedia untuk Dijual Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 147 . maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan manajemen masing-masing bank. Kredit . d. Kr.Tersedia untuk Dijual Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pendapatan bunga kredit Db/Kr. Rekening lawan .

Pendapatan komprehensif lain Penurunan nilai wajar Db. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan kredit 148 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Tersedia untuk Dijual Db/Kr. Tagihan biaya-biaya kredit (apabila merupakan beban debitur dan tidak atas beban pokok kredit) atau Db Beban operasional (apabila merupakan beban bank) Kr. Kredit .Pendapatan komprehensif lain Kr/Db. premi asuransi barang agunan) Db. Kas/Rekening…/Giro BI f.Bab V I K r e d i t e. Kas/Rekening …/Giro BI Kr. Kas/Rekening …/Giro BI Kredit . Pada saat klaim kepada perusahan asuransi Db. Ekuitas . Kredit – Tersedia untuk Dijual Kr. Tagihan klaim asuransi Kr. Db. Tagihan klaim asuransi i. Mencatat penerimaan klaim asuransi dari perusahaan asuransi. Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya (dihitung dari selisih antara nilai tercatat dengan harga pasar) Peningkatan nilai wajar Db. Ekuitas . Kr. Pada saat menerima pembayaran dari debitur atas biaya kredit yang menjadi beban debitur Db. Kredit – Tersedia untuk Dijual j. Kas/Rekening …/Giro BI Kr. Pada saat menjual kredit Db. Tagihan biaya-biaya kredit g.hasil klaim asuransi h. Pada saat membayar biaya kredit (antara lain biaya notaris.

2. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan dengan perkreditan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan. Kategorisasi dan nilai tercatat kredit. Tersedia untuk Dijual. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting. Jenis kredit. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. b. c. Asumsi penetapan nilai wajar kredit (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran kredit) dan agunan. dengan rincian berikut: a. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan kredit yang masih tetap berada di bank. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 149 . d. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. F. Kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo Jurnal kredit yang Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dilakukan sebagaimana kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Perubahan nilai wajar atas kredit yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. b. dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). b. Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian.Bab V I K r e d i t 10. c. Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) kredit dalam penyusunan laporan keuangan. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. 6. 4. Pengalihan kredit yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh kredit. termasuk namun tidak terbatas pada: a. yaitu: a. b. 5. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Jumlah kredit yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. 3.

consumer loans. Total nilai tercatat kredit awal yang dialihkan. d. nilai tercatat kredit yang tetap diakui bank. Nilai tercatat kredit dan kewajiban terkait. jika bank tetap mengakui seluruh bagian kredit. dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko kredit dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada). Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur kredit sebagaimana pada butir a) di atas. commercial loans. 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan. jika bank tetap mengakui sebagian kredit sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan dan credit derivative). yang meliputi: 150 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas perkreditan sebagaimana pada angka 8 sampai 9 di bawah. dan sebagainya). dan pihak penjual proteksi kredit dalam transaksi credit derivative). dan nilai tercatat kewajiban terkait. Tujuan. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko kredit pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya. 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya. Analisis tersebut mencakup: a.Bab V I K r e d i t c. kebijakan. Pengungkapan kuantitatif 9. 7. dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya. Informasi mengenai kualitas kredit diluar kredit yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. Pengungkapan kualitatif 8. b. c.

Bab V I K r e d i t 1) Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. berdasarkan jangka waktu. 10. namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi. (c) Jumlah ekposur kredit yang diperingkat dan yang tidak diperingkat. 11. mata uang. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 151 . 3) Tipe/jenis debitur. 4) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate). 13. 12. (d) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah penerusan kredit (channeling loan/kredit kelolaan). 5) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas kredit. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai. Nilai tercatat kredit yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai. maka pengungkapan mencakup: (a) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat. (b) Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat. antara lain sektor ekonomi dan geografi. (b) Jumlah eksposur kredit untuk setiap tingkatan peringkat internal. (c) Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. Jumlah kredit berdasarkan segmentasi. 2) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas kredit. d. maka pengungkapan mencakup: (a) Proses pemeringkatan internal. Jumlah kredit kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. dan tingkat bunga kredit yang dihitung secara rata-rata.

000.000 . Asumsi: − Debitur memenuhi seluruh kewajibannya (lancar).520.25%/bulan 0. 14.000). 14.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit. 14.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1. Berdasarkan data di atas.500. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.000.000.500. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga tetap) Pada tanggal 1 Januari 2010. Contoh Kasus 1.000/bulan.20.500. 35. − Suku bunga kredit sama dengan suku bunga pasar.Rp.000. 14.Bab V I K r e d i t G. Lihat Tabel 1: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost dan Tabel 2: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja.000 = (Rp.1 % atau Rp. 152 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. 35. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000 + Rp. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000.500.500. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.000. 20.14.

000) (1.250.513.717.904.655.237% (Original Effective Interest Rate/EIR) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Keterangan p = pokok Trx = transaksi i = suku bunga kontraktual Bab V I K r e d i t I 153 .000 Suku Bunga Efektif Awal 1.324.826.520.902) (1.532.000) (181.250.781.803.511.446.513.250.250.Tabel 1 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja – Amortised Cost Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F 14.503.321) (1.630.884 14.000) (1.250.826.123 14.654.221 179.098 (14.250.250.000 8 31-Jul-10 181.904.000.520.250.921 179.518.627 14.250.905 14.172.595.501.250.602) (1.760.979 14.999.000) (181.000 4 30-Mar-10 181.250.503.979 14.000) 179.334) (1.250.594.250.000 11 31-Oct-10 181.250.008 14.896) 179.489.910.507.856) (1.000 10 30-Sep-10 181.250.000 14.250.655.826.000 12 30-Nov-10 181.179) 14.144 179.008 14.614.517.510.505.250.512.821 (181.324.000) 179.000) (1.000) (181.411.507.221) 179.635.411.000 7 30-Jun-10 181.905 14.250.505.000 13 31-Dec-10 14.000) 179.515.000 3 28-Feb-10 181.124) (1.916) 179.679 (181.681.172.517.696.058 14.512.500.084 (181.500.948 14.468.515.910.627.821 14.221 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (14.666 (181.398 (181.500.104 (181.779 179.675.000 14.123 14.000) 179.250.000 5 30-Apr-10 181.508.282 14.282 14.553.500.569) (1.000) (1.250.289.501.250.634.999.627.738.574.520.000) 2 31-Jan-10 181.079) (1.655.627 14.518.250.948 14.876 (181.289.884 14.821 14.000 6 31-May-10 181.250.615.508.000) (181.630.058 14.510.431 179.423.000) (181.000 9 31-Aug-10 181.250.

000 31-Dec-10 14.000.000 14.250.500.000) 81.250.000) (181.500.000.000 81.000 14.000 14.500.000.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.500.000 81.000.000.000 14.250.500.500.000.000 14.250.500.000.000 14.500.000 14.000 81.000.000.250.000 14.500.250.250.000.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 30-Mar-10 14.000 (181.000.500.000) 14.000 14.000.000 14.000.500.500.500.000 (181.000) (181.000 81.000 28-Feb-10 14.500.000 14.500.500.000.000 14.500.500.000 31-Jul-10 14.000.000.250.000) 81.500.000 14.000) (181.000 14.000.500.000.000.000 81.000 14.000.500.500.000 14.500.000.500.000) 81.000 14.500.000.250.250.000) (181.500.000 14.000.000.250.000) (181.000 31-May-10 14.000.500.000 30-Jun-10 14.000 14.250.000 81.250.000.000 81.250.000.250.250.500.000.000) (181.000 30-Nov-10 14.500.500.000 (181.000 14.Tabel 2 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akrual Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 154 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.250.000 30-Apr-10 14.000.000.000 14.250.000 (14.000 31-Oct-10 14.250.000 (181.000 81.000.000.250.000 31-Aug-10 14.500.500.250.000 81.000.000.000.000.500.250.000.500.000) .000 30-Sep-10 14.000) (181.500.000.250.500.000) (181.500.250.000 14.

Bab V I K r e d i t Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 155 .

Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 3 sd 12 sama dengan transaksi no.423. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.779 181. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250.000 14. Rp.000 20.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 156 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .250. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000 1. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000 14.000 20.000 181.000 181. Kr. Rp.000.. Rp.595. Kr.500.000 1.250. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.500. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250.000 20.amortised cost Rp. 2.821 181. 5) Pada saat pelunasan pokok kepada debitur Db.000 Jurnal transaksi untuk no. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.amortised cost Rp..000. Kr. Kr. Pendapatan bunga kredit Rp. 181.826. Pendapatan bunga kredit Rp.250. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Tanggal 31 Desember 2010.654.221 179. Kredit . Kredit .250.179 179. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.amortised cost Rp. Kr. Kas/Rekening. Rp. Kr. 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.000 181. c./Giro BI Kr. Kredit .

Bab V I K r e d i t 2.5%/bulan. 35. suku bunga berubah menjadi 1.520.35%/bulan pada tanggal 31 Juli 2010.500. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.500.000.500.000.25%/bulan 0.000/bulan.500.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp.000). Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit modal kerja dengan suku bunga mengambang) Pada tanggal 1 Januari 2010.000 1 tahun atau 12 bulan Modal Kerja 15%/tahun atau 1. 1 Juli 2010. 14.000.Rp. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp. 35.000.20.1 % atau Rp.000 + Rp. 14. Berdasarkan data di atas. 20.000. 14. 14. Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.000 . Asumsi: − − Pada tanggal 1 Januari 2010 diasumsikan bahwa suku bunga diprediksikan akan meningkat menjadi 1.500. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.000.000 = (Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 157 .14.000. Lihat Tabel 3 sampai dengan Tabel 6.

591.000) (195.487.700.973) 14.000) 186.000 13 31-Dec-10 14.841.145.627 186.566 14.250.553.000 14.332.913.509.079 14.664) (8.536.750.397 14.553.750.000) 5.401 14.545.750.914.352.520.750.107.948.736.518.548.401 14.250.408.208 186.154.060.000 8 31-Jul-10 195.566 14.250.285% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .531.801.623 (181.250.520.299 33.000) (195.852.450.250.972) (8.Tabel 3: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (asumsi pada 1 Januari 2010 suku bunga diprediksikan akan meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.000) 5.336 187.986.397 14.250.774 4.844.408.881.637 (181.750.536.000) 186.720.154.573 (14.852.000) 186.332.107.000) 186.444.750.680 (181.506 5.545.456 14.344.456 (181.027 186.973 186.230 14.000 7 30-Jun-10 181.520.531.500.029.250.844.509.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.000 10 30-Sep-10 195.000 9 31-Aug-10 195.262.525.381.000) (195.835.750.250.000) (195.542.680 5.548.759 14.000 5 30-Apr-10 181.35%/bulan) Bab V I K r e d i t 158 I P e d o m a n No C 14.000) 5.250.373) (9.028 (195.079 14.456 14.750.506 (181.202 (8.750.527.973 0 186.500.000) (195.759 14.770.637 5.262.903 14.792) (9.695.437.774 14.250.750.000 4 30-Mar-10 181.689.750.299 (181.527.623 186.250.525.456 D E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.427) (9.500.444.518.903 sub total 14.230 14.000) 2 31-Jan-10 181.000 3 28-Feb-10 181.536.750.000.000 12 30-Nov-10 195.542.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.631.437.663.604.202 Tahun Expected Cashflow Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dgn EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit A B 1 1-Jan-10 (14.202 14.262.000 11 31-Oct-10 195.250.352.881.000) 186.536.

000.500.500.000) 181.Tabel 4 : Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000.500.250.000.500.000 (195.000 14.000 30-Nov-10 14.250.000.500.500.000.000 14.750.750.750.000.000 14.500.750.000.000.000) 181.750.250.000 30-Jun-10 14.000 (181.250.000 181.000 195.000) 181.000) (195.000 195.000 14.000 14.500.750.250.000.750.500.000.500.500.000.000 Bab V I K r e d i t I 159 .000.000.000 181.000.000.000) (195.000 (181.000 14.500.000 31-Oct-10 14.000 14.000 31-Jul-10 14.500.250.500.750.000.500.000.000 195.000 (14.250.500.500.750.000.000.500.000 14.000.500.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.000 181.250.000 14.000) 14.000.000.000) (181.500.000.000 14.000) (195.500.000.000 195.500.000 31-May-10 14.500.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.000 (181.250.500.000.000 14.750.000.250.000.500.000 31-Aug-10 14.500.000 195.000 14.000 14.500.000.500.500.000 30-Sep-10 14.000 14.750.000.500.250.000 14.000 (181.000 14.000 14.000) 195.000 30-Apr-10 14.000) 14.000 14.000.000 30-Mar-10 14.500.000.000.000.500.000) (195.500.250.750.000.500.000 14.500.000) sub total 14.000.500.000 14.000.000 (181.000.000) (195.000.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-10 14.500.000 28-Feb-10 14.500.

334.913.306 208.694) (9.500.000) 208.000.506 5.461.753 14.623 186.844.842.536.000) (217.852.000) (217.456 G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 14.907.449) (8.456 14.770.299 33.000 3 28-Feb-10 181.250.781.000 10 30-Sep-10 217.827 (14.542.310 208.500.000 14.527.450.553.186.525.500.690) 14.520.680) (8.591.509.506 186.202 (8.881.000) 2 31-Jan-10 181.397 14.320 208.250.863 14.548.536.000 5 30-Apr-10 181.456 14.520.542.464.250.759 14.637 186.202 14.000) (217.520.531.551 (217.381.863 14.000) sub total 14.379 14.285% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .250.631.379 14.035.717.107.461.000 11 31-Oct-10 217.520.844.296.509.903 14.296.637 5.250.545.000 12 30-Nov-10 217.500.186.000 8 31-Jul-10 217.500.986.250.700.500.250.500.500.332.500.736.525.000) (181.000) (181.500.444.397 14.079 14.000 14.500.545.000) 5.250.690 0 5.000) (217.536.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 6 31-May-10 181.000 7 30-Jun-10 181.500.5%/bulan) Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok F (181.753 14.165.592.405.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.43% 208.500.250.202 Tagihan Bunga D E = D x EIR Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi Biaya dengen EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit 160 I P e d o m a n No C Tahun Expected Cashflow A B 1 1-Jan-10 (14.759 14.718.000) (181.000) (217.000) (181.841.405.000 9 31-Aug-10 217.203.657.518.299 186.497.881.444.332.536.484 208.079 14.Bab V I K r e d i t Tabel 5 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang – Amortised Cost (suku bunga meningkat pada tanggal 31 Juli 2010 menjadi 1.073 14.250.296.000 4 30-Mar-10 181.553.852.518.500.000) (181.500.623 5.903 186.680 5.456 14.173) (9.680 186.500.107.344.548.497.690 Suku Bunga Efektif Baru 1.516) (9.250.250.527.073 14.531.000 13 31-Dec-10 14.663.

000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Dec-09 14.500.000 31-Oct-10 14.000 14.000.500.500.000 30-Nov-09 14.500.500.500.000.000) (217.000) 81.500.500.000 (181.500.000.250.000 Bab V I K r e d i t I 161 .250.000.000.000 14.000.000 14.000.500.500.000 28-Feb-10 14.000 181.500.500.000.000 14.500.000.500.000 14.250.500.000 (14.000.000 14.000 (181.500.000 30-Sep-10 14.500.000 14.000.000) (217.000 31-May-10 14.500.000 14.000.500.250.000.000 14.000 14.000.000.250.000 M=K+L N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 14.500.000.000.000.000.000 17.000.000.000.000.250.500.500.000 sub total 14.250.000) 14.500.500.000 (181.000 14.500.000.000.500.Tabel 6: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Modal Kerja dengan Suku Bunga Mengambang REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 14.000.250.000) 181.000) (217.500.000 30-Mar-10 14.500.000) (217.000.000.000) 181.000 14.000) 14.250.000 17.500.000 31-Aug-10 14.500.500.000.500.000.500.500.500.250.000 (217.000 217.000 17.500.000 14.250.000 (181.000.000 (181.500.000) (217.000) 81.000.000) 17.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J K 1-Jan-10 - 31-Jan-10 14.500.500.500.500.000.000 30-Jun-10 14.000 14.500.000 31-Jul-10 14.000 14.500.000 14.000.000) 181.500.000 30-Apr-10 14.000.500.000.500.500.000 (181.000 14.500.000 14.000 14.250.500.000 217.000.000.000 14.

000 162 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 b. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.500.000 35.500. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Rp.amortised cost Kr.000 20. Rp. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Kredit .000. Kredit ./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif.. 14. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000.. Rp. 14. Rp. Kas/Rekening.500. 14.000.000 14.000 14.500. Kas/Rekening. Kas/Rekening.500.000.000./Giro BI Kr.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db.000 20.amortised cost Kr.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur. 14.000 20. Kredit ./Giro BI Rp...500. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Rp.500.000 Kr. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db. Kas/Rekening.. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000. Rp. Rp..000 Rp. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr.500.. Db.000.000 14. Rp. 20../Giro BI Kr.000 35. Tanggal 31 Januari 2010.000 14. Rp. Tanggal 1 Januari 2010.

456 181. Kr.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. c.250. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pendapatan bunga kredit Rp.250. Pendapatan bunga kredit Rp.000 20.842. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kr.000 Jurnal untuk transaksi no. 181. Kas/Rekening. Kredit . 12 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no.000 217.000 5. Db.000 181.500. 9 sampai dengan no. Db. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. Rp.000 20.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.amortised cost Rp.456 186. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 163 . Rp.500./Giro BI Kr. 8. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. 20. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar.. 7 dalam Tabel 5 sama dengan jurnal untuk transaksi no. pada saat terjadi penyesuaian suku bunga mengambang. Jurnal untuk transaksi no. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 8. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.amortised cost Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp..250. Rp.631. 2.449 208.000 20. Kr. Kr. Tanggal 31 Juli 2010.000 217. Kredit . 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.551 217.657.500.381. 3 sampai dengan no.

000 9. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Kr.000 20.500. Kr. Kas/Rekening.310 217. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.500. 20.000 217.000 20. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.000 20.500. Tanggal 31 Desember 2010.Bab V I K r e d i t d.500. Rp.000 14. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp.amortised cost Rp.690 208.000 14.000. Kredit . Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. 164 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. Rp..203.000../Giro BI Kr. Kr.000 217. Pendapatan bunga kredit Rp. Rp. Kredit .amortised cost Rp. Kr.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.500. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.296.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 165 .25%/bulan 0.000. Berdasarkan data di atas. Rp.000.000.000. 20.000.000. 15.000 .000.000. 25.000.000.000/bulan. 100.000.000 25.000 Semester I 2010 Semester II 2010 Semester I 2011 Semester II 2011 Pelunasan kredit dilakukan diakhir periode kredit.000.000 25.920. 100.Rp.000 Beban bank yang dapat diatribusikan secara langsung Rp. Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp. Rp.000.100.000. Rp.000.000 25. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.Bab V I K r e d i t 3.000.000 + Rp. Lihat Tabel 7 dan Tabel 8.000. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi (ilustrasi kredit investasi) Pada tanggal 1 Januari 2010.000.000.1 % atau Rp.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1. Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.20. Rp.000. 99.000). 100.000 = (Rp. 20. Bank XYZ memberikan kredit kepada debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Maksimum kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Rp.

632.960 74.625.163 74.710.000) (312.825.814.312.960 74.719.980.502.000) (1.846.250.213.611.622.000 312.000) (312.954.000 312.500.000.779.940.958.388.500.000.250.145 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.716 1.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual .000.797 99.017 24.000 Suku Bunga Efektif Awal 1.250.107.026.230 627.920.982.982.776 74.825.982.984 5.046 24.924.974.255.000.950.547 74.000.000.000) 4.992.000) (1.367 24.878 941.000.930.196.537 4.500.107.367 24.898 74.000.982.624 5.552.062.543.071.000) (625.872.779.050 99.372.702 313.674 99.500.666 4.537 941.250.903 627.000) (312.930.017 24.626 74.000) (937.026.000 937.000) (25.000 25.810 313.000.988.000) (937.716 313.994.413 941.819 313.000 99.050 5.254.500.000.500.379 627.000) 1.046 24.000) (625.962.651 24.237.000) (1.677.940.921.350 49.814.000.441.620.500.163 74.744.970.592 49.958.997.166 627.992.000) (312.500.344 24.145 (1.000 1.413 3.000 937.000.000 625.970.980.719.819 1.250.034 941.362 49.250.710.878 3.459.000 937.729 49.000) (1.995.196.362 49.197 49.959.790.000) (25.543.945.982.101 5.988.000.000.000.500.985.520.703.744.166 2.703.935.000.500.122.571.000.855 0 Tahun Akuntansi Perbankan Indonesia No Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 B 1-Jan-10 31-Jan-10 28-Feb-10 31-Mar-10 30-Apr-10 31-May-10 30-Jun-10 31-Jul-10 31-Aug-10 30-Sep-10 31-Oct-10 30-Nov-10 31-Dec-10 31-Jan-11 28-Feb-11 31-Mar-11 30-Apr-11 31-May-11 30-Jun-11 31-Jul-11 31-Aug-11 30-Sep-11 31-Oct-11 30-Nov-11 31-Dec-11 Estimasi Arus Kas C (99.502.302.000 312.478.855 627.000) (937.658 99.288 627.134.500.255.000 312.000.849.000.500.447 49.344 24.898 74.525 24.651 24.998.974.288 2.849.000 1.632.000) (625.250.521.250.379 2.000.000 625.470.920.172.255.702 1.000) (312.977.000.000.997.213.500.000) (937.935.139 1.000.050 99.500.255.306.978.500.958.500.888.350 49.250.000 625.920.855 2.000 625.000.500.547 74.250.406.950.255.000 26.044.000.000) (1.635 313.000) (625.000 25.000.000) 99.000 25.937.903 2.998.945.624 1.977.158 1.000) (625.966.197 49.991.000.941.855 (25.776 74.158 313.846.994.000.000 312.906.737.000 937.991.000 99.924.923.000) (937.982.230 2.797 99.250.966.000.552.970.810 1.611.626 74.101 1.592 49.034 4.958.000 625.640.500.401.620.525 24.674 99.666 941.020.000) (312.000 937.062.139 5.000.521.000.Tabel 7: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi – Amortised Cost Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Angsuran Pokok F Tagihan Bunga G=pxi Amortisasi dengan EIR H=E-G 166 I P e d o m a n (25.962.237.050 1.000.954.500.250.772 941.635 1.421.401.000 1.677.302.984 1.000.729 49.447 49.423.306.000) (625.500.044.790.000 1.737.134.500.500.995.640.172.500.772 3.500.000) 1.985.658 99.000.000) (937.000.

000.000.000.000.000 25.000 312.000.000 I 167 31-Dec-11 25.000) (312.000.000 75.000.500.000.000.000.000.000 50.000.000.000 75.000.000.000 31-Mar-10 100.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Oct-11 25.000.000.000 75.000.000) (312.000.000 100.000.000.000.000.000 31-Oct-10 75.000 31-Aug-11 25.000.000.000 50.000.500.500.000.000.000.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000.000 25.000) 1.000.000) (312.000.000.000 (25.000.250.500.000 31-Aug-10 75.000.000.000.250.000 31-Mar-11 50.000.000.000.000.000.000) (625.000.000 1.000.500.000 75.000) (937.000.000 100.000 31-May-11 50.000.000.000 75.000.000 937.000 50.000.000.000.000.000.000 25.000 50.000.000.000.000.000.000 25.500.000.000 (1.000.000 100.000.000 312.000 30-Sep-10 75.000 312.000.000.000.000 312.000) (937.500.250.000) M=K+L 100.000.000.000.500.000 (1.000.000.000) 1.000 (25.000.000.000.000.000 31-Jul-11 25.250.000.000 937.000 (1.000.000 (937.000 312.000.000.000) 937.000 (25.000 31-Jan-11 50.500.000.000.000.000.500.000 625.000.000) 25.000.000.000) (625.500.000.000.000.000.000.000.000 30-Apr-11 50.000) 1.000 625.000.500.250.000.000.000.000.000 30-Sep-11 25.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000.250.000.000.000 50.000 31-Dec-10 75.000 28-Feb-11 50.500.000.000.250.000.000.000.000.000 31-Jul-10 75.000 100.500.000) 1.000 75.500.000.000 25.000 (1.000 100.000) 75.000.000.000.000.000.000 625.000.000) 1.000.000.000 (1.000.000 30-Jun-11 50.000.000) (625.000) (937.000.500.000 30-Jun-10 100.000.000.000) (625.000.000 (25.000 625.000) (312.000 (937.000.000 50.250.000 25.000.000.000 937.000) (312.000.000 28-Feb-10 100.500.000.000.000.250.000.000.000.000 312.000.000 50.Tabel 8: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000.000.500.000 100.000 75.000.000) 50.000) (937.000 937.000 625.000.000.000 50.000.000.000) (312.000.000.500.000.000.000 75.000.000.000 100.000.000.000.000 50.000.000 30-Apr-10 100.000 25.000.000.000.000.000.000.000.000 50.000.000 100.000) 25.250.250.000 625.000 100.000.000) 75.000.000 31-May-10 100.000.000 .000.000 25.000.000 30-Nov-10 75.000.500.000.000.000.250.000.000 25.000.000.000) (625.000 75.000.500.000 25.000.500.000.500.000 937.000.000 Bab V I K r e d i t 30-Nov-11 25.000 75.000.000.000 50.500.000.000) (625.000.000.000.000 (1.000 100.

Kas/Rekening. Tanggal 1 Januari 2010./Giro BI Kr.000. 20. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. Kas/Rekening. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kredit .000.000. Kas/Giro/Giro BI Kr.. Rp.amortised cost 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db./Giro BI Rp. Tanggal 31 Januari 2010.000.000 20. Kas/Rekening.000 Rp.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal untuk mengurangi kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan debitur.000 Kr. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.. Db.000.000 20. 100. Rp. Kredit . Rp.000 b. 100. 100. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.000 Rp. 100..000.000.amortised cost Kr./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db.000 20..000 20.amortised cost Kr. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. Rp.. 100. Rp..000 20.000 Rp. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 100. Rp.000.000 Rp.000.000. 100.000 168 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a.000. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000. 100.000. Kredit .

no. Kredit .250.208 1.000 20. Kr.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 20.250. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.208 1. Kr. Kr. Rp.000 1. 24 dalam Tabel 7 sama dengan jurnal untuk transaksi no. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Kr. Db. no.amortised cost Rp. Pendapatan bunga kredit Rp.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp.000.000.000. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. 12. 13. 7. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok.250. 8 sampai dengan no.255. Kas/Giro/Giro BI Kr. dan no.208 1. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db. 3 sampai dengan no. 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db. 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 18 dan no. 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.066. Kas/Rekening…/Giro Bi Rp.000 5. Kr. Db.000 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Rp.000. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 169 .066.000. 20. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.066. 19. 20 sampai dengan no. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000.000 5. 6.250. c.255.000 20.066. 2.000 25.250.000.208 1.000 25. Kredit . Pendapatan bunga kredit Rp.250. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar. Jurnal untuk transaksi no. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.000 Jurnal untuk transaksi no. Tanggal 30 Juni 2010. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. 14 sampai dengan no. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.000.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Rp.000. 23 dalam Tabel 7 sama dengan transaksi no.000 1.amortised cost Rp. Kredit . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.amortised cost Rp.

100. harga pasar kredit adalah Rp.000 1 Februari 2010.500.500. Bank XYZ membeli kredit dari Bank DEF dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Nilai pasar Informasi lain − − 31 Januari 2010. 13.000.000. 14. kredit tersebut dijual seharga Rp.25%/bulan atau Rp.000 (asumsi) 170 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 1 tahun atau 12 bulan Investasi 15%/tahun atau 1. 187.000 (perbulan) 90% atau Rp.Bab V I K r e d i t 4. Kredit diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Pada tanggal 1 Januari 2010.000. 14.000.000 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (diperdagangkan) Rp.000.000. 15.

Rp.000.000 Kr.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. Rp.000 Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr./Giro BI Rp.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr.000.500.000. Peningkatan nilai wajar kredit . 500. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.500. Kredit ..500. Keuntungan penjualan kredit d.000.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Kr. 500. Kredit . Rp.000 Kr.000 Tanggal 1 Februari 2010.500. Rp. Db. 500. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Peningkatan nilai wajar kredit .500.000 500.000. 13. Tanggal 31 Januari 2010. pada saat menerima setoran dari debitur Db..000. 13..000 187.500.500. pada saat menjual kredit 1) Jurnal balik penyesuaian nilai wajar Db. Rp. 187. 187.000 Tanggal 31 Januari 2010.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi 2) Realisasi keuntungan penjualan kredit Db.100. pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya. pada saat pembelian kredit atau pada awal ditetapkan sebagai kredit yang diukur pada nilai wajar.000. Tanggal 1 Januari 2010.000 13. sebesar nilai wajarnya Db./Giro BI Kr.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 171 .000 b. Kredit . 187. Kredit . pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. Rp. e.000 600. Pendapatan bunga kredit c.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.000. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 14.000. Rp.Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp..Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi Rp.000 Tanggal 31 Januari 2010.

000.000.000 2 tahun atau 24 bulan Investasi untuk pembelian mesin 15%/tahun atau 1.000 .1 Juli 2010. Harga pasar pada tanggal 30 Juni 2010 sebesar Rp.000.000 25.000 Tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit di Bank XYZ sebesar Rp.920. 99.000.000). Lihat Tabel 9 dan Tabel 10 172 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000. Bank XYZ memberikan kredit kepada Debitur ABC dengan data sesuai perjanjian kredit sebagai berikut: Tujuan kepemilikan Outstanding kredit Jangka waktu Jenis kredit Bunga Provisi Jadwal angsuran pokok Tersedia untuk Dijual Rp.100. 20.000.000.000. 90. 100.000.000 Bank membebankan fee pengelolaan rekening sebesar Rp.000. Harga pasar pada tanggal 31 Januari 2010 sebesar Rp.000.000.000.000.1 % atau Rp. 15.25%/bulan 0.000.000. total dana yang dikeluarkan bank sebesar Rp.000 = (Rp. Berdasarkan data di atas.000/bulan Informasi lain: .000.000 25.000.20. 99.000 25. Kredit tersedia untuk dijual Pada tanggal 1 Januari 2010.000.000.Bab V I K r e d i t 5.000.000 + Rp.000 Beban bank yang dapat diatribusikan langsung sebesar Rp.000 Semester I 2010 Rp Semester II 2010 Rp Semester I 2011 Rp Semester II 2011 Rp 25.000. 20. kredit tersebut dijual seharga Rp.000.000.Rp.000. 90. 100.000. 100.000.

000.000 13 31-Dec-10 25.696.255.000.461.777.942.250.114.428 74.000 10 30-Sep-10 937.000) (625.989.000) 5.000.500.500.500.328 99.000) (625.500.934 313.000 18 31-May-11 625.196.558.920.250.509.147 49.000) 941.937.000.000.984.129.500.995.945.000) 5.445 (937.194.930.302.000.250.981.277 (1.051 99.892 24.000 14 31-Jan-11 625.521 1.925.935.000) (625.434 74.310.850 99.129.000.042.000.843 1.491.000) (937.625.688.500.367.737 24.731.000.737 313.912 74.938 49.978.981.000) (937.971.437.649.000 Bab V I K r e d i t Suku Bunga Efektif Awal 1.274.581.000.991.000 20 31-Jul-11 312.951.325.000.000) 2 31-Jan-10 1.975.000 8 31-Jul-10 937.000) 5.955.500.286 941.652 49.959.971.765.224 49.000 99.092.184 627.000 7 30-Jun-10 26.274.994.392.307 74.392.000) 1.478 3.945.000) 627.343 (25.593 627.000.331 627.558.871.777.967.344.302.934 1.585 (1.817 49.250.907.107 (937.000 15 28-Feb-11 625.959.542.288 941.000 3 28-Feb-10 1.288 4.997.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 22 30-Sep-11 312.871.955.250.390.250.000.255.910.434 74.310.500.000) (625.509.208 99.835.773 24.259.817 49.986.000) (312.995.765.425.000.500.595 49.000) (937.250.649.322 74.000 21 31-Aug-11 312.938 49.255.773 24.255.000) (1.843 (1.910.500.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual I 173 .500.196.644.000.107 4.000 9 31-Aug-10 937.000) 941.892 24.286 2.000.000) 5.259.000.000.000.325.437.000 6 31-May-10 1.075.500.331 2.925.957 24.978.595 49.184 1.000.652 49.121 2.986.442.835.322 74.731.000) (625.989.500.075.940.963.940.984.343 2.992.000 11 31-Oct-10 937.930.000 99.066.390.951.208 99.000.961.066.121 (25.935.250.845 1.000 4 31-Mar-10 1.000) (312.194.255.051 99.981 1.505 627.020.000.981 627.581.000.963.224 49.250.000) 5.000) 941.000.000 5 30-Apr-10 1.000) 5.443.717 E = D x EIR F G=pxi H=E-G I=D+E+F+G Suku Bunga Efektif (EIR) Angsuran Pokok Tagihan Bunga Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx C Tahun Estimasi Arus Kas A B 1 1-Jan-10 (99.912 74.688.943.781.066.000.800.147 49.878 4.000 17 30-Apr-11 625.344.965 4.250.500.925.000 19 30-Jun-11 25.Tabel 9: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi .000.500.994.000 12 30-Nov-10 937.000.592.144.250.000.208 99.975.357 74.878 941.965 (937.066.907.307 74.505 2.850 99.328 99.585 1.000.920.975.521 (1.000) (625.196.500.000.000) (312.277 1.800.357 74.250.845 313.208 (1.428 74.593 2.478 (25.000.445 3.000.975.Tersedia Untuk Dijual Saldo Awal Arus Kas Kredit D 99.000.920.967.255.500.114.367.000 16 31-Mar-11 625.781.957 24.992.500.

000.000.000.500.000.000.000.000.000.000 .000.500.000.000 1.000) 1.250.000.000.000.000 50.000) (312.500.000) 1.000.000 Saldo Akhir Pokok Saldo Awal Tagihan Bunga Akru Bunga Angsuran bunga Outstanding Debitur Saldo Akhir Tagihan Bunga Bab V I K r e d i t 174 I P e d o m a n Tahun Saldo Awal Pokok J 1-Jan-10 K - 31-Jan-10 100.000 50.000.000.000.000) (625.000.000.000 31-Oct-11 25.000 100.000.000 100.000.000.000 75.000.Tersedia Untuk Dijual REKENING KORAN DEBITUR Mutasi L 100.000 Akuntansi Perbankan Indonesia 31-Jul-10 75.500.000.000 312.000 75.000 31-Aug-10 75.000) 1.000.000.000.000.000 (937.000.000 28-Feb-10 100.000.000.000.000) (312.000.000.000 625.000.000.000.000.000.000 25.000.000.500.000) 75.000.000.000.000.000.000.000.000.000 75.000.000 75.000 50.000 312.000.000.000.000.000.000 100.000 31-Jul-11 25.000.000.000.000.500.000 50.500.000.Tabel 10: Mutasi Rekening Koran Debitur Kredit Investasi .500.000 30-Apr-11 50.000 25.000.000.000.000.000 (937.250.000.000.000.000.000.000.000.000 31-Jan-11 50.000 625.000.000 100.000 75.000.000 (25.000.000.000.250.000.000.250.000 25.000 937.000.000.000.000 31-May-11 50.000.000 31-Aug-11 25.000 75.000.500.000.000.000.000 50.000.000 25.000 937.000.000.000 312.500.000.250.000 50.000.000 (25.000) 25.250.000 (25.000.000 30-Nov-10 75.000 (1.000.000.000 25.000 937.250.500.000.000.000 31-Mar-10 100.000 31-Mar-11 50.000.000.000) 25.000.000) (937.000.000 28-Feb-11 50.000 625.000 100.000) (312.000.000.000) (625.000.000 (1.000.000) (312.000.000.000 (1.250.000.500.000.000.500.500.000 625.500.000.000 100.000.000.000 30-Apr-10 100.500.000.000 31-Dec-10 75.000) 75.000.000 N O=pxi P Q=N+O+P R=N+Q 100.000) (937.000.000.000.000.000 100.000 50.000) M=K+L 100.000.000 31-Oct-10 75.000 (25.000 (1.000.000.000 50.000 312.000.000.000 100.000 25.000.500.250.000 75.000.000.250.000.000.000 30-Jun-10 100.000.000 100.000) 1.000.000 937.500.500.000.000.000 (1.000 25.000 75.000.000 25.000.000.000.000.000.000 (1.000.000.000.000 75.000) (625.000.000.000.000) (625.500.000) (937.000.000 30-Jun-11 50.000.000.000) (625.000.500.000.000) (312.000.000.000 312.000.000 625.000 30-Sep-11 25.000.000 312.000.000 31-May-10 100.000.000.000) (625.000) (937.000.000.000 937.500.000 625.000 25.000 75.000.250.000.000 30-Nov-11 25.000) (312.000 100.000 50.000.000.000.000 50.000.000 31-Dec-11 25.000.000.000) 50.000.000.000) 937.000.500.000) 1.000.000 30-Sep-10 75.000.500.250.000.000.000.000 25.000.000.000.000 50.000.

Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: a. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan Rp.000 Rp.000.000../Giro BI Rp.Tersedia untuk Dijual Kr.000. Rp.000 20.000 100.000 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 175 . Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kredit .. Kas/Rekening.000 Rp. 100.. 20.000./Giro BI Kr.000. Kas/Rekening. Rp. pada saat penandatanganan perjanjian kredit/akad kredit dan penarikan kredit oleh debitur 1) Menerima provisi kredit dari nasabah Db. Rp.. Rp.000 20. 100. Rp.000.000 Bersamaan dengan itu dilakukan jurnal balik untuk menghilangkan kewajiban komitmen fasilitas kredit.000. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db./Giro BI 3) Mencatat kewajiban komitmen fasilitas kredit Db. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Kr. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening. 100.000. 100.000. 100. Db.. Kas/Rekening. Kas/Rekening. Rp.000 20.000. Kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum digunakan 4) Pada saat penarikan kredit oleh debitur Db.000 Rp. 100./Giro BI Kr..000.000 20.Tersedia untuk Dijual Kr. Kredit .000. Tanggal 31 Januari 2010.000 Kr..000 Rp.Tersedia untuk Dijual 2) Pembayaran beban yang dapat diatribusikan Db. Kredit .000.000 b.000. Rekening lawan fasilitas kredit yang belum digunakan Rp. Tanggal 1 Januari 2010.000. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr.000 20.000. 100..

000 1. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 20. Rp. bunga kepada nasabah dan amortisasi berdasarkan suku bunga efektif serta penerimaan angsuran pokok 1) Pada saat pembebanan fee kepada debitur Db.250. Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp. Kredit .255. 1.000 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db.000 1. Kas/Rekening…/Giro BI Rp. c. Pendapatan bunga kredit Rp.99.000. 14 sampai dengan no. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.066.000.Rp. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.000 20.392. Kr. 4) Pada saat menerima setoran bunga dari debitur Db.478 1. 3 sampai dengan no.000 5.925. Db. Kredit .066.208 1.Pendapatan komprehensif lain Rp.208 (Rp. Pendapatan fee pengelolaan rekening 2) Pada saat menerima setoran fee dari debitur Db.392.000.250. 925. Tagihan fee pengelolaan rekening Kr. Rp. no.000.250. 20.208 .066. Tanggal 30 Juni 2010.208 = Rp.000 20.000. pada saat pembebanan fee kelolaan rekening.208 Kr. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.066.000) Jurnal untuk transaksi no.000 5) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp. 8 sampai dengan no. Pendapatan bunga kredit Rp. Ekuitas . Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Rp.250.Tersedia untuk Dijual Rp. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual. 20 sampai dengan no.208 1. Rp.Tersedia untuk Dijual Rp.99. 6.250.925. no.000.Tersedia untuk Dijual Rp.000 5.478 1. Kr.000.Bab V I K r e d i t 3) Pada saat pembebanan tagihan kepada debitur Db. 99.000. 23 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no.250.000 (asumsi) Db. 12.255.000. Db. 2. Tagihan fee pengelolaan rekening Rp. Kredit .000.000 1.066.066. Kas/Giro/Giro BI Kr. Kr. 176 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 925. 18 dan no.

Rp.000. Kredit .Tersedia untuk Dijual Rp.74.xxx Sebesar penyesuaian harga yang telah diakui pada periode sebelumnya (tidak dijelaskan dalam illustrasi).951.088 Kr.088 (Rp. Ekuitas . Kredit . 15. Kr.000.Tersedia untuk Dijual Rp.000. dengan asumsi debitur membayar kewajibannya dengan lancar dan kredit tidak dijual.632.90. 13.Pendapatan komprehensif lain Kr.000. d.xxx. Rp.xxx. 25.000 25.367.000 15.828 . Ekuitas .000.Rp. no.048. xxx.000. 7.632.000 (asumsi) Db.. 90.90.048. Ekuitas .15. Kas/Rekening…/Giro BI Rp.000.000.632. Kas/Rekening. 24 dalam Tabel 9 sama dengan jurnal untuk transaksi no.xxx Db/Kr.Pendapatan komprehensif lain Rp. 7) Pada saat melakukan penyesuaian dengan harga pasarnya yaitu sebesar Rp.632.911./Giro BI Db. Rp.000 15.Tersedia untuk Dijual Rp.088 = Rp.000 6) Pada saat melakukan jurnal balik terhadap jurnal penyesuaian dengan harga pasar periode sebelumnya Db/Kr. dan no.088 90. xxx.048.Tersedia untuk Dijual Kr. Tanggal 1 Juli 2010. Kredit.. Kredit .000.632. pada saat menjual kredit Db.000.Pendapatan komprehensif lainnya Rp. 15.Bab V I K r e d i t 5) Pada saat menerima pelunasan pokok dari debitur Db.000) Jurnal untuk transaksi no.000. 19.088 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 177 .000. Keuntungan penjualan kredit Rp.048.048.

Bab V I K r e d i t 2. 178 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Nilai tercatat kredit adalah nilai kredit neto pada tanggal pelaporan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai atau nilai wajar kredit pada tanggal pelaporan untuk kredit dengan klasifikasi diukur pada nilai wajar melalui rugi laba. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal kredit tersebut. 2. 3. Penghapusbukuan kredit (hapus buku) adalah tindakan administratif bank untuk menghapus buku kredit macet dari neraca sebesar kewajiban debitur tanpa menghapus hak tagih bank kepada debitur. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang 2. jika dan hanya jika. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). 5. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan). Dasar Pengaturan 1. 4. Penghapusan hak tagih kredit (hapus tagih) adalah tindakan bank menghapus semua kewajiban debitur yang tidak dapat diselesaikan. B. Jika terdapat bukti tersebut. (PSAK 55: Paragraf 59) Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal. Penurunan Nilai dan Penghapusbukuan Kredit A Definisi 1. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok Tersedia untuk Dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal.

f. pihak pemberi pinjaman. pelanggaran kontrak. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. termasuk: 1) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 179 . hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga.Bab V I K r e d i t atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. Bukti obyektf bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. c. atau 2) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. (PSAK 55: Paragraf 60) d. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. b. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. e.

Bab V I K r e d i t 3. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. 180 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). (PSAK 55: Paragraf 64) Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. (PSAK 55: Paragraf 65) Jika. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. pada periode berikutnya. dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau tetap diakui. (PSAK 55: Paragraf 66) Ketika penurunan nilai wajar atas aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual telah diakui secara langsung dalam ekuitas dan terdapat bukti obyektif bahwa aset tersebut mengalami penurunan nilai (lihat paragraf 60). maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). 5. baik secara langsung. 6. maka kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung 4.

Bab V I K r e d i t dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. (PSAK 55: Paragraf 71) 8. Agunan tersebut tidak diakui sebagai aset secara terpisah dari aset keuangan yang mengalami penurunan nilai kecuali memenuhi kriteria pengakuan aset sesuai dengan PSAK lain. Jumlah kerugian kumulatif yang dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi sesuai paragraf 68 merupakan selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini. Proses estimasi terhadap penurunan nilai mempertimbangkan seluruh eksposur pinjaman yang diberikan. dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan laba rugi. maka entitas tersebut harus mempertimbangkan seluruh peringkat pinjaman yang diberikan. Sebagai contoh. (PSAK 55: Paragraf 68) 7. (PSAK 55: Paragraf 69) Kerugian penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi atas investasi instrumen ekuitas yang diklasifikasikan sebagai instrumen ekuitas yang tersedia untuk dijual tidak boleh dipulihkan melalui laporan laba rugi.8) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 181 . 9. maka kerugian penurunan nilai tersebut harus dipulihkan melalui laporan laba rugi. (PSAK 55: PA 101) 11. 2 E. 10.4. jika entitas menggunakan sistem pemeringkatan kredit internal. pada periode berikutnya. (PSAK 55: Paragraf 70) Jika. dan tidak hanya peringkat yang mencerminkan penurunan kualitas pinjaman yang diberikan yang tajam. Proses estimasi terhadap jumlah kerugian penurunan nilai dapat menghasilkan satu nilai kerugian atau kisaran (range) nilai kerugian yang mungkin terjadi… (PSAK 55: PA 102) 12. bukan hanya yang berkualitas rendah. nilai wajar instrumen utang yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual meningkat dan peningkatan tersebut dapat secara obyektif dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi setelah pengakuan kerugian penurunan nilai pada laporan laba rugi. Pengukuran aset keuangan yang mengalami penurunan nilai mencerminkan nilai wajar agunannya. (Panduan Implementasi No.

2) Untuk membatasi judgement/diskresi yang cenderung bersifat subyektif. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: a. 2. keputusan dan proses evaluasi. namun juga mencakup gabungan antara aturan formal dan judgement/diskresi manajemen. termasuk pengakuan dan pengukuran penurunan nilai. 2) Bank harus memiliki standar pendokumentasian atas seluruh analisa. Didukung dengan dokumentasi yang memadai 1) Evaluasi harus disertai dengan dokumentasi yang bertujuan untuk: a) mendorong kedisiplinan dalam proses estimasi. 2) Identifikasi bukti obyektif penurunan nilai. dan 6) Proses dokumentasi. Evaluasi penurunan nilai dilakukan terhadap kredit dalam kategori selain yang Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. 5) Pembentukan cadangan. dan b) memfasilitasi proses kaji ulang dan validasi.Bab V I K r e d i t C. yang antara lain mencakup: 1) Periode evaluasi kredit (loan reviews). Sistematis dan konsisten sepanjang waktu Evaluasi harus dilakukan secara periodik dan konsisten sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan bank. Beberapa jenis dokumentasi yang terkait dengan evaluasi penurunan nilai dapat mencakup hal-hal berikut: 182 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . c. harus sejalan dengan kriteria yang telah ditetapkan. estimasi. maka diperlukan suatu kerangka evaluasi yang memadai dan terdokumentasi dengan baik yang menekankan obyektivitas dalam melakukan evaluasi penurunan nilai. Sejalan dengan kriteria yang bersifat obyektif 1) Evaluasi. Penjelasan 1. Kriteria dimaksud tidak hanya didasarkan pada aturan dan formula. asumsi. 3) Metode estimasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. 4) Penilaian agunan/jaminan. b. Dalam melakukan evaluasi penurunan nilai.

dan e) 3. Kriteria evaluasi penurunan nilai a. Secara individual 1) Bank wajib menentukan tingkat signifikansi kredit yang akan dievaluasi secara individual yang disertai dengan dokumentasi yang memadai yang harus dikaji ulang secara periodik.Bab V I K r e d i t a) internal rating atau klasifikasi kredit yang digunakan. Faktor-faktor ini dan faktor-faktor lainnya. disertai dengan analisis dasar perhitungan dan mendokumentasikan dalam kebijakan bank. metodologi yang digunakan untuk menerapkan estimasi kerugian pada kelompok kredit. kecuali peristiwa di masa datang yang diperkirakan dapat menimbulkan kerugian. b. dapat menjadi bukti obyektif yang cukup bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi dalam kredit atau kelompok kredit. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 183 . Identifikasi bukti obyektif a. solvabilitas. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan entitas dalam menentukan apakah terdapat bukti obyektif bahwa kerugian akibat penurunan nilai telah terjadi meliputi informasi mengenai likuiditas. c. baik secara individual maupun secara bersama. tren dan kondisi ekonomi nasional dan lokal. c) metodologi yang digunakan dalam evaluasi penurunan nilai dari kredit individual. dan eksposur risiko usaha dan risiko keuangan pihak debitur atau pihak penerbit. Bank harus menetapkan peristiwa-peristiwa yang memenuhi kriteria sebagai bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit berdasarkan pengalaman dan trend historis (experience credit judgement). d) basis dalam mengelompokkan suatu kredit dalam kategori kredit. b) basis dalam mengidentifikasi kredit individual untuk melakukan evaluasi penurunan nilai. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. tingkat atau tren terjadinya tunggakan (delinquencies) untuk aset keuangan serupa. informasi yang tersedia. dan nilai wajar agunan dan jaminan. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. 4.

ketersediaan garansi. 4) Evaluasi secara individual didasarkan pada 2 konsep. serta memperhatikan berbagai faktor seperti: a) kekuatan finansial dan kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajiban (repayment capacity). Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif mencakup seluruh kredit yang: a) tidak dievaluasi secara individual. 3) Dalam hal terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual namun tidak terdapat kerugian penurunan nilai. dan b) estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount). maka kredit tersebut tidak dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. 6) Estimasi jumlah yang dapat diperoleh kembali didasarkan pada identifikasi arus kas masa datang dan estimasi nilai kini dari arus kas tersebut. namun tidak terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. yaitu: a) estimasi jumlah kerugian kredit. maka kredit tersebut harus dimasukkan ke dalam kategori kredit yang akan dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif. dan b) jenis dan jumlah agunan. 184 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dimana nilai kini arus kas agunan sama dengan atau lebih besar dari nilai tercatat kredit. c) d) prospek usaha debitur di masa datang. Contoh: ketika debitur berada dalam kondisi macet (tidak ada estimasi arus kas selain arus kas dari agunan). 5) Estimasi jumlah kerugian kredit didasarkan pada seluruh informasi yang tersedia dan experienced credit judgement.Bab V I K r e d i t 2) Dalam hal tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai dari kredit yang dievaluasi secara individual. b. dan b) dievaluasi secara individual.

industri. lokasi geografis. bank harus melakukan evaluasi apakah terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. lokasi geografis. Halhal yang perlu diperhatikan antara lain: a) Terdapat data yang dapat diobservasi yang mengindikasikan terjadinya penurunan dalam estimasi arus kas masa datang yang dapat diukur dari kelompok kredit. b) Penurunan yang dapat diukur tersebut telah terjadi sejak pengakuan awal kredit. 3) Pengelompokkan kredit berdasarkan kesamaan karakteristik tersebut harus disertai dengan dokumentasi yang memadai yang dikaji ulang secara periodik. status tunggakan. Sebagai contoh. status tunggakan. tipe jaminan. dan karakteristik yang relevan lainnya dari aset yang sedang dievaluasi dan data kerugian yang terkait. Model risiko kredit atau metode untuk mengestimasi arus kas masa datang yang diperkirakan yang lebih kompleks (canggih) dapat mengkombinasikan beberapa faktor. tipe pihak kedua (contoh. dan c) Penurunan tersebut belum dapat diidentifikasi terkait dengan kredit tertentu dalam kelompok kredit. c) e) f) g) d) tipe jaminan. dan jatuh tempo.Bab V I K r e d i t 2) Bank wajib mengelompokkan kredit yang akan dinilai secara kolektif berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yang mengindikasikan kemampuan debitur untuk membayar seluruh kewajiban yang jatuh tempo sesuai persyaratan kontrak. pinjaman beragun aset atau pinjaman kartu kredit). 4) Terhadap kredit yang dikelompokkan tersebut. seperti evaluasi risiko kredit atau proses pemeringkatan yang memperhitungkan tipe aset. kredit dapat dikelompokkan berdasarkan satu atau lebih karakteristik berikut ini: a) estimasi probabilitas terjadinya gagal bayar atau peringkat risiko kredit. b) tipe (contohnya. konsumen. bisnis. atau pemerintah). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 185 .

bank perlu mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat serta ketersediaan informasi dan data historis. bank wajib mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif bahwa kredit atau kelompok kredit mengalami penurunan nilai. Setiap akhir bulan atau paling lambat setiap akhir triwulan. Periode evaluasi penurunan nilai a. 5. b. Segera setelah penurunan nilai suatu kredit secara individual dalam kelompok kredit tersebut diidentifikasi. c. Evaluasi terhadap penurunan nilai tidak hanya didasarkan pada suatu pendekatan atau metode yang bersifat standar (prescriptive rules/formulae) tetapi juga didasarkan pada experienced credit judgement oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan mengingat pengalaman kerugian historis maupun data yang dapat diobservasi bersifat terbatas atau mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini. 186 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . yaitu: b. namun terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai sebelum tanggal evaluasi berikutnya. maka bank wajib mengestimasi kembali arus kas masa datang dan cadangan kerugian penurunan nilai untuk kredit tersebut. 6. maka kredit tersebut harus dikeluarkan dari kelompok kredit dan selanjutnya dinilai secara individual. Dalam hal bank melakukan evaluasi setiap akhir triwulan.Bab V I K r e d i t 5) Evaluasi penurunan nilai secara kolektif merupakan langkah antara sampai penurunan nilai kredit secara individual dapat diidentifikasi. Secara individual Bank dapat menggunakan beberapa teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai dan mengukur kerugian penurunan nilai. Namun bank dapat mempertimbangkan analisa biaya dan manfaat yang dituangkan dalam kebijakan internal bank untuk menentukan apakah analisa individual perlu dilakukan. Teknik evaluasi penurunan nilai a. baik secara individual maupun kolektif. Bank dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi penurunan nilai. Dalam memilih dan menggunakan teknik evaluasi penurunan nilai.

Suku bunga efektif tersebut tidak berubah dan digunakan untuk mengevaluasi kerugian penurunan nilai kredit. (1) Bank harus menetapkan estimasi kisaran jumlah dan/atau waktu kemungkinan perubahan suku bunga referensi. dimana suku bunga kontraktual berubah dari waktu ke waktu bergantung pada suku bunga referensi. suku bunga efektif dapat diidentifikasi setelah memperhitungkan seluruh biaya (termasuk perolehan fee) yang dapat diatribusikan secara langsung pada kredit. (4) Pendekatan apapun yang digunakan. suku bunga kontraktual tidak berubah selama jangka waktu kredit. penggunaan suku bunga efektif yang berbeda dari waktu ke waktu dapat menyulitkan bank melacak terjadinya kerugian penurunan nilai. d) Untuk kredit bersuku bunga mengambang (variable interest rate). (2) Namun. bank dapat menggunakan suku bunga efektif terkini pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan. c) Untuk kredit bersuku bunga tetap. bank harus menerapkan secara konsisten dalam mengevaluasi penurunan nilai terhadap kredit dengan suku bunga mengambang. karena bank tidak akan dapat memperoleh kembali seluruh jumlah kredit yang telah diberikan kepada debitur. (3) Sebagai alternatif.Bab V I K r e d i t 1) Discounted Cash Flow a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai dicatat berdasarkan jumlah yang didiskonto (discounted value) dan bukan berdasarkan nilai buku. maka suku bunga efektif juga dapat berubah. Oleh karena itu. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 187 . Suku bunga efektif tersebut dapat digunakan dalam mengevaluasi penurunan nilai selanjutnya. b) Jumlah yang didiskonto (discounted value) diperoleh dengan mengestimasi arus kas masa datang (mencakup pembayaran pokok dan bunga) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit.

yaitu jika pelunasan kredit hanya bersumber dari agunan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengestimasi nilai wajar agunan antara lain: (1) Penunjukkan pihak independen (baik pihak internal bank maupun lembaga penilai) yang akan melakukan penilaian agunan. d) Bank harus menggunakan informasi yang tersedia untuk mengestimasi nilai wajar agunan seakurat mungkin. 188 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka bank dapat menggunakan teknik penilaian yang andal. (2) Identifikasi taksiran biaya yang terkait dengan penjualan agunan. (2) Sulit untuk menentukan jumlah dan saat penerimaan arus kas masa datang yang berasal dari pokok kredit dan/atau bunga dengan andal. c) Bukti terbaik dari nilai wajar agunan adalah berdasarkan kuotasi harga di pasar aktif. dan/atau (3) Pengambilalihan agunan kemungkinan besar terjadi dan didukung dengan aspek legal pengikatan agunan. misalnya legal costs. termasuk perkiraan waktu realisasi atau penjualan agunan tersebut. (1) jika tidak tersedia kuotasi harga agunan di pasar aktif. (3) Identifikasi nilai agunan yang dapat direalisasi setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan. bank dapat memperhitungkan arus kas masa datang dari pengambilalihan agunan. maka bank dapat menggunakan harga dari transaksi terkini atas agunan serupa.Bab V I K r e d i t 2) Fair Value of Collateral a) Kredit yang telah mengalami penurunan nilai juga dapat dicatat berdasarkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable value). b) Dalam menentukan jumlah kredit yang dapat diperoleh kembali. dan (2) jika tidak tersedia harga dari agunan yang serupa. yaitu jika memenuhi salah satu kondisi berikut: (1) Kredit bersifat collateral dependent. e) f) Nilai agunan yang dapat diperhitungkan adalah nilai yang terendah antara nilai wajar dan nilai pengikatan agunan.

Bab V I K r e d i t (4) Penetapan waktu penjualan/realisasi agunan. Secara kolektif 1) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit dilakukan berdasarkan estimasi arus kas kontraktual masa datang dan tingkat kerugian historis (historical loss rate atau historical net charge-off rate) dari kelompok kredit. misalnya untuk kredit commercial real estate. maka harga pasar tersebut dapat digunakan sebagai nilai wajar kredit dengan memperhitungkan perkiraan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut. dan independensi perusahaan penilai (appraisal company). 3) Observable Market Price a) Dalam kondisi dimana jumlah dan periode arus kas masa datang tidak dapat dipastikan dan kuotasi harga kredit di pasar aktif dapat diobservasi melalui informasi dan data pasar. dimana informasi dan data mengenai harga pasar properti tersebut tersedia setiap saat. dan (5) Penetapan nilai kini dari hasil penjualan/realisasi agunan dalam hal terdapat jeda waktu (time lag) antara tanggal penentuan nilai wajar dan waktu penjualan/realisasi agunan. (2) Rincian penyesuaian terhadap harga penilaian (appraisal value). dan (4) Dokumentasi mengenai kualifikasi. b) Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengukur kerugian penurunan nilai. (3) Penjelasan mengenai bagaimana bank memperoleh estimasi nilai wajar. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 189 . keahlian. sumber informasi dan tanggal atas harga pasar tersebut. g) Beberapa standar minimum yang harus dipenuhi dalam melakukan estimasi nilai wajar agunan mencakup: (1) Deskripsi mengenai proses penilaian (appraisal process) yang dilakukan. bank harus memiliki informasi yang lengkap mengenai jumlah. misalnya haircut/diskon atau estimasi biaya penjualan agunan. c) Jika pendekatan ini digunakan. d.

e) f) 5) Evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit secara kolektif juga mencakup kerugian yang telah terjadi namun belum dapat diidentifikasi secara tersendiri pada tanggal laporan (incurred but not yet identified). pengaruh nilai waktu dari uang (time value of money). d) kondisi terkini. b) umur kredit dalam kelompok kredit (ageing of balances). 6) Bank dapat menggunakan beberapa pendekatan dalam menetapkan tingkat kerugian kelompok kredit. Berdasarkan data kerugian historis dari suatu kelompok kredit setelah memperhitungkan tingkat pengembalian (recovery rate). Untuk itu. Periode observasi apapun yang digunakan. 4) Dalam menetapkan tingkat kerugian untuk kelompok kredit. Namun. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih panjang. bank harus memiliki data kerugian historis selama minimal 3 tahun sehingga dapat menghasilkan estimasi kerugian yang lebih andal dan berarti. dalam menetapkan periode tersebut. Umumnya emergence period tidak melampaui 12 bulan kecuali dalam kondisi tertentu di luar perkiraan. yaitu periode waktu antara terjadinya peristiwa yang merugikan dalam kelompok kredit sampai bukti obyektif dapat diidentifikasi atas kredit secara individual. bank juga perlu mempertimbangkan faktor emergence period. sementara dalam kondisi ekonomi yang berfluktuasi. disarankan menggunakan periode observasi yang lebih pendek. 3) Bank dapat menentukan sendiri periode observasi data kerugian historis. Emergence period tersebut harus ditetapkan berdasarkan data empiris. bank perlu memperhatikan hal-hal berikut: a) c) analisa penurunan nilai kelompok kredit. dan tidak menghasilkan suatu tingkat kerugian historis yang mengharuskan pengakuan kerugian pada saat pengakuan awal kredit.Bab V I K r e d i t 2) Data mengenai kerugian historis merupakan titik awal dalam melakukan evaluasi penurunan nilai terhadap kelompok kredit. perlu diperhatikan bahwa dalam kondisi ekonomi yang stabil. bank dapat mengestimasi arus kas masa datang dan tingkat kerugian kelompok kredit pada saat ini. arus kas dari seluruh sisa umur kredit (tidak hanya tahun berikutnya). yaitu: 190 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik internal maupun eksternal.

000.000 (2%) Tingkat kerugian historis adalah rata-rata kerugian bersih selama 3 triwulan. misalnya tingkat kematian (death rate) debitur.000 800. Hasil observasi bank menunjukkan bahwa tingkat kematian (death rate) dari tahun ke tahun cenderung tidak berubah. 1 Tw. bank memiliki portofolio kartu kredit sebesar Rp. periode observasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kerugian historis lebih panjang dibandingkan pada contoh di atas.000.000. beberapa debitur dalam kelompok kartu kredit bisa jadi telah meninggal dunia pada tahun tersebut yang mengindikasikan terjadinya kerugian penurunan nilai atas kredit tersebut.000 (2.000. bank dapat menentukan bahwa salah satu penyebab utama terjadinya penurunan nilai kartu kredit adalah karena kematian pemegang kartu kredit (card holders).Bab V I K r e d i t a) Pendekatan Berbasis Formula (Formula Based) (1) Pendekatan ini menggunakan formula tertentu yang relatif sederhana untuk menghitung tingkat kerugian historis.6% + 1. Contoh: Sepanjang tahun 2010. 2 Tw. bank belum mengetahui debitur mana yang meninggal dunia.000 Pengembalian yang diterima (Rp) 200.000.dengan data-data sebagai berikut: Periode 2010 Tw.000.000.000.000.000 Kerugian bersih (Rp) 800..100. 3 Kerugian penurunan nilai berdasarkan death rate (Rp) 1. yaitu (2.000. Namun demikian.3%) 600.000 1. 30.6%) 400.000 400. meskipun pada akhir tahun. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 191 .000.000 (1. Bank harus mengakui kerugian yang sudah terjadi namun belum dilaporkan (incurred but not yet identified) sebagai kerugian akibat penurunan nilai.3% + 2%)/3 = 1.000.000.000 500.97% Umumnya. (2) Berdasarkan data kerugian historis.

dan Default Rate. tingkat Probability of Default (PD) dan Loss Given Default (LGD) dihitung berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi hapus buku. Roll Rates. maka persentase PD dan LGD untuk kredit tersebut harus dikurangi dengan persentase tingkat pengembalian (recovery rate). Migration Analysis Migration Analysis menggunakan internal loan grading system (rating system) dan bukan berdasarkan 192 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bahwa bank dapat menagih sebagian porsi kredit yang sudah dihapusbuku (write-off) dimaksud. yaitu tingkat kemungkinan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. Selanjutnya. antara lain Migration Analysis. apabila berdasarkan data historis dapat diestimasi secara andal. tingkat PD dan LGD pada kondisi hapus buku tersebut digunakan untuk menghitung tingkat kerugian pada setiap periode tunggakan.Bab V I K r e d i t (3) Bank tidak dapat mengakui adanya kerugian akibat penurunan nilai untuk kejadian yang diperkirakan akan terjadi di masa datang karena peristiwa kerugian (misalnya meninggalnya debitur) belum terjadi. yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan. PD dan LGD adalah sebesar 100% atau tidak akan tertagih (default). Vintage Analysis. Namun. Selanjutnya. − Roll Rates Analysis Roll Rates Analysis menggunakan internal loan grading system. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis tingkat kerugian kredit pada setiap periode tunggakan (deliquency stage). b) Metode Statistik (Statistical Model Analysis) (1) Penetapan tingkat kerugian historis dapat dilakukan dengan menggunakan metode statistik berdasarkan internal loan grades masing-masing bank. (2) Perhitungan tingkat kerugian historis secara statistik menggunakan parameter berikut: (a) Probability of Default.

37% Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 193 .244.947 3.539. Selanjutnya.433.106 33.65% 16.387.02% 3.289 52.274 863.00% 11.605 15.69% 25.166.359 32.095 Hapus Buku Jumlah 2.784. tingkat migrasi tersebut digunakan untuk menentukan tingkat kerugian kelompok kartu kredit berdasarkan setiap periode tunggakan.126.583.615.641 391.777 1.512 194.481.544 4. umumnya loan grading ditentukan berdasarkan periode tunggakan (delinquency stage).778 391.583.10% 26.387.978. Dalam kasus portofolio kartu kredit.273 863.77% x 25.366.23% 12.755 Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.748.962 70.37% Formula = 3.321 550.946 49.519 55.324 227.885.2% 25.23% + (1.842.885.021.584.23% x 14.51% 6.513. Pendekatan ini dilakukan dengan menganalisa tingkat migrasi outstanding kredit dari grade tertinggi ke grade terendah.784.45% 14. tingkat migrasi dihitung berdasarkan persentase nilai kredit atau jumlah rekening yang berpindah dari satu periode tunggakan terendah ke periode tunggakan dimana kartu kredit dinilai tidak akan tertagih (default).108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan 89.583.615.885.842.37%) + 12.819 7.166.37% 63. Selanjutnya.544 4.92% = 25.875 91.337.778 391.973.293.264.711 1.293.807 102.332 21.497 27.73% Probalility of Default 4.07% Tunggakan 61-90 hari 1.150 165.021.69%) = (7% x 25.615.23% 18.949 50.455 41.466.784.33% Tunggakan 31-60 hari 5.424.37%) + (5.512 194.949 72.544 4.Bab V I K r e d i t pengalaman kerugian sebagaimana halnya pendekatan Historical Loss Rate.78% 61.323 240.656.274 863.021.493.293.000 180. Contoh: Periode Tunggakan Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari Tunggakan 61-90 hari Tunggakan > 90 hari Saldo awal (31 Desember 2010) 3.43% 47.512 194.77% 7.166.87% > 90 hari 3.108 Saldo (31 Desember 2011) Tidak ada tunggakan Tunggakan 31-60 hari 61-90 hari > 90 hari Pembayaran 138.465.

(b) Loss Given Default. bank diberikan masa transisi selama 1 tahun sampai akhir Desember 2010 untuk menghitung kerugian penurunan nilai secara kolektif menggunakan dasar perhitungan pembentukan cadangan umum.Bab V I K r e d i t Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tingkat kemungkinan kelompok kartu kredit tanpa tunggakan menjadi kredit dengan tunggakan lebih dari 90 hari adalah sebesar 4. maupun data kerugian yang dialami industri perbankan. misalnya perubahan tingkat pengangguran. yaitu besarnya tingkat kerugian yang diakibatkan kegagalan debitur memenuhi kewajiban. harga properti.45%. Oleh karena itu. yaitu minimum sebesar 1% sesuai ketentuan BI yang berlaku mengenai penilaian kualitas aktiva. harga komoditas. perlu diperhatikan bahwa tingkat kerugian historis yang diterapkan pada suatu kelompok kredit harus merupakan tingkat kerugian yang diperoleh berdasarkan observasi atas data kerugian masa lalu pada kelompok kredit yang sama atau serupa. 194 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Tingkat migrasi tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi terkini yang mencakup kondisi eksternal maupun internal. (3) Metode ini dapat menggunakan data tingkat kerugian bank (bank-specific data) seperti data mengenai internal loan grades. Collateral Shortfall. dan dengan data dan informasi yang relevan yang dapat diobservasi yang mencerminkan kondisi terkini. dan Loss on Disposal. antara lain Expected Recoveries. metode yang digunakan harus mampu menghubungkan setiap kelompok kredit dengan data dan informasi mengenai kerugian masa lalu yang pernah dialami oleh kelompok kredit dengan karakteristik risiko kredit serupa. 8) Dalam hal bank menggunakan tingkat kerugian historis dalam mengestimasi arus kas masa datang. status pembayaran. 7) Estimasi terhadap perubahan arus kas masa datang harus mencerminkan dan memiliki arah yang konsisten dengan perubahan data dan informasi terkait yang dapat diobservasi dari satu periode ke periode berikutnya. 9) Dalam hal bank belum memiliki data tingkat kerugian historis. atau faktor-faktor lainnya yang merupakan indikasi timbulnya kerugian dalam kelompok kredit serta besarannya. yang dapat diukur berdasarkan beberapa pendekatan.

dan perundanganundangan mengenai kepailitan (2) Kondisi internal. tingkat kerugian historis harus disesuaikan agar mencerminkan kondisi terkini yang tidak terjadi pada periode perolehan data kerugian historis dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang terjadi pada periode tersebut yang saat ini sudah tidak relevan lagi. praktek pengelolaan risiko. dan pertimbangan manajemen. pengalaman bank lain dalam peer. yaitu dalam hal bank: a) tidak memiliki data kerugian historis yang cukup memadai atas kelompok kredit. c) memberikan kredit kepada industri atau sektor yang belum dilakukan sebelumnya. dan pengalaman serta kemampuan manajemen dan loan officer. bank dapat menggunakan data kerugian historis dari peer group atas kelompok kredit yang serupa sampai bank dapat memiliki data sendiri. misalnya perubahan dalam standar/prosedur pemberian dan pemantauan kredit. inflasi. dan/atau d) baru didirikan. b) tidak pernah mengalami kerugian dari kelompok kredit atau tidak memiliki pengalaman kerugian yang memadai. permasalahan industri. prosedur audit internal. a) Penyesuaian terhadap kerugian historis dapat mencakup: (1) Kondisi eksternal. 11) Tingkat kerugian historis kadangkala bukan merupakan indikator kemungkinan kerugian yang cukup memadai. b) Penyesuaian terhadap kondisi terkini dilakukan berdasakan data dan informasi yang dapat diobservasi. Oleh karena itu. kecukupan dan kepatuhan terhadap prosedur yang terkait dengan penagihan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 195 . ketersediaan dan kecukupan agunan. suku bunga. tingkat tunggakan bunga dan kredit bermasalah saat ini. misalnya tingkat produk domestik bruto (PDB). hapus buku dan perolehan kembali kredit (recoveries). tingkat pengangguran.Bab V I K r e d i t 10) Untuk selanjutnya. konsentrasi portofolio.

Bab V I K r e d i t Contoh: Bank memiliki rata-rata tingkat kerugian historis atas kelompok kredit kendaraan bermotor sebesar 10% selama 5 tahun terakhir.5%. Untuk meningkatkan konsistensi dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. serta meminimalkan perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dan jumlah kerugian aktual. bank harus memperhatikan hal-hal berikut: 1) dilakukan secara akurat dalam hal jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang. 12) Selanjutnya. 13) Metodologi dan asumsi yang digunakan dalam mengukur tingkat kerugian historis harus dikaji ulang secara berkala untuk mengurangi perbedaan antara estimasi jumlah kerugian dengan jumlah kerugian aktual. 2) meliputi jangka waktu sampai jatuh tempo dan tidak hanya satu tahun. 7. Dalam kondisi perekonomian yang mengalami resesi dimana tingkat inflasi dan pengangguran meningkat. bank telah memperketat standar dan prosedur persetujuan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat menurunkan tingkat kerugian historis sebesar 1%. tingkat kerugian historis yang telah disesuaikan dengan kondisi terkini tersebut digunakan untuk menyesuaikan nilai tercatat kredit dalam kelompok kredit. 196 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .5% dan meningkatkan cadangan kerugian untuk mengantisipasi tekanan ekonomi yang dialami kelompok debitur. Estimasi arus kas masa datang a. 3) sejalan dengan perubahan kondisi terkini berdasarkan data dan informasi yang dapat diobservasi dari waktu ke waktu. bank perlu meningkatkan persentase kemungkinan kerugian sebesar 2. Di lain pihak. 4) dikaji ulang secara periodik untuk memastikan metodologi dan asumsi yang digunakan dapat diandalkan. Dengan demikian. tingkat kerugian historis disesuaikan dengan peningkatan sebesar 1. dan 5) kerugian historis harus digunakan sebagai basis untuk mengestimasi arus kas masa datang.5%. yaitu menjadi 11.

a) Estimasi arus kas masa datang terhadap kredit yang mengalami penurunan nilai harus mempertimbangkan apakah bank akan melakukan skenario penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit. yaitu konsesi yang tidak akan diberikan apabila tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. bank memberikan konsesi khusus kepada debitur. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai kini dari arus kas masa datang merupakan cadangan yang harus dibentuk untuk kerugian penurunan nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 3) Realisasi agunan a) I 197 . sehingga bank tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. termasuk denda bunga. c) Persyaratan penjaminan dan kondisi keuangan penjamin harus diidentifikasi sebelum memperhitungkan jaminan atau ganti rugi dalam perhitungan estimasi arus kas masa datang. a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari jaminan finansial dari pihak ketiga (termasuk perusahaan asuransi). b) Dalam restrukturisasi kredit.Bab V I K r e d i t b. 2) Jaminan dari pihak ketiga dan ganti rugi dari perusahaan asuransi. Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat bersumber dari realisasi agunan terlepas apakah bank akan mengambil alih dan menjual agunan atau tidak. maka nilai kini arus kas masa datang mungkin tidak akan berada di bawah nilai tercatat. Namun. c) Estimasi terbaik atas arus kas masa datang harus didiskonto dengan menggunakan suku bunga kontrak sebelum kredit tersebut direstrukturisasi. b) Untuk dapat diperhitungkan sebagai arus kas masa datang. berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum. bank harus melakukan evaluasi secara periodik dan obyektif terhadap kemungkinan perubahan kemampuan debitur dalam memenuhi persyaratan restrukturisasi yang telah disepakati. Estimasi arus kas masa datang antara lain dapat bersumber dari ekspektasi: 1) Penerimaan pokok dan bunga. d) Apabila kredit diperkirakan akan dibayar penuh. bank harus menilai kemungkinan penjamin tersebut memenuhi kewajibannya.

legal. b) Disamping menggunakan kuotasi harga tersebut.Bab V I K r e d i t b) Agunan dapat diperhitungkan dalam estimasi arus kas masa datang apabila memenuhi kondisi sebagaimana pada butir 6. 2) di atas. terlepas apakah bank akan merealisasikan skenario tersebut atau tidak. Perkiraan tersebut harus didasarkan pada penawaran nyata atau penilaian dari pihak yang memiliki keahlian berdasarkan penjualan bisnis serupa di pasar. operasional. 198 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . utang. c. pemegang saham. Dalam hal ini. Dalam melakukan estimasi arus kas masa datang. aset. maka bank dapat mempertimbangkan aset yang dimiliki debitur dan memperkirakan bagian yang akan diterima bank dari penjualan/likuidasi aset tersebut. c. sistem dan prosedur. bank harus melakukan estimasi berdasarkan rencana restrukturisasi dan kemungkinan restrukturisasi tersebut akan memulihkan kondisi debitur atau sebaliknya. antara lain: 1) Restrukturisasi Debitur a) Pengertian restrukturisasi dalam arti luas mencakup perubahan struktur organisasi. bank juga perlu mempertimbangkan berbagai langkah yang dilakukan debitur maupun kondisi lainnya yang terkait dengan kemampuan debitur dalam menyelesaikan kewajibannya. dan sebagainya. bank perlu memperkirakan nilai dari perusahaan/bisnis debitur untuk mengestimasi arus kas yang akan diterima dari penjualan tersebut. keuangan. Dalam kasus ini. 2) Likuidasi karena debitur pailit Apabila debitur dalam kondisi atau proses pailit dan kredit tidak dijamin. manajemen. b) Apabila restrukturisasi debitur tidak berjalan sesuai ekspektasi. maka kemungkinan sebagian atau seluruh usaha debitur dijual untuk memenuhi kewajibannya. c. khususnya jika terdapat bukti yang kuat secara hukum atas perolehan likuidasi aset debitur. bank juga harus memperkirakan waktu realisasi atau penjualan kredit tersebut sebagaimana pada butir 6. 2) f). 4) Penjualan kredit di pasar sekunder a) Estimasi arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai dapat mempertimbangkan skenario penjualan kredit di pasar sekunder sepanjang terdapat kuotasi harga di pasar aktif.

b. Nilai tercatat kredit setelah penurunan nilai merupakan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang mencakup arus kas yang bersumber dari pokok dan bunga yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. 8. tidak diperlukan proses pengalokasian atas pembayaran yang diterima dari debitur untuk membayar pokok atau bunga. Dengan demikian. Oleh karena itu. Perhitungan estimasi arus kas masa datang harus didokumentasikan dan didasarkan atas kebijakan internal bank yang memadai untuk kepentingan pemeriksaan oleh audit internal maupun eksternal. Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai a. 3) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk sesuai dengan mata uang denominasi kredit yang diberikan. 9. nilai kini dari arus kas masa datang tidak hanya diestimasi pada saat pertama kali terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai. melainkan secara periodik sebagaimana pada angka 5 di atas. Perubahan dalam jumlah dan waktu realisasi arus kas masa datang dapat berdampak pada perubahan estimasi terjadinya penurunan nilai dan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. 2) Bank tidak diperbolehkan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai melebihi jumlah yang dapat dikaitkan pada kredit individual atau kelompok kredit kolektif dan didukung dengan bukti obyektif penurunan nilai. bank mungkin tidak perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. Setelah kredit mengalami penurunan nilai.Bab V I K r e d i t d. e. maka setiap penerimaan pembayaran dari debitur akan langsung mengurangi nilai tercatat kredit. Pembayaran Setelah Kredit Mengalami Penurunan Nilai a. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 199 . Dalam mengukur dan membentuk cadangan kerugian penurunan nilai. khususnya jika nilai wajar agunan yang diperhitungkan dalam estimasi arus kas jauh melebihi baki debet dari kredit. bank harus memperhatikan hal-hal berkut: 1) Cadangan kerugian penurunan nilai dibentuk berdasarkan selisih antara nilai tercatat kredit dan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif. Dalam kasus tertentu.

kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dengan menyesuaikan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai. debitur melakukan pembayaran kewajiban yang tidak diantisipasi atau melebih antisipasi bank. yaitu maksimal sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang sudah dibentuk. 10. Pemulihan Penurunan Nilai a. Hapus Buku dan Hapus Tagih a. Pelaksanaan penghapusbukuan kredit dapat dilakukan bersamaan dengan penghapusan hak tagih. yaitu jika nilai kini estimasi arus kas masa datang melebihi nilai tercatat sehingga jumlah kerugian penurunan nilai berkurang. Penghapusbukuan dilakukan secara keseluruhan terhadap nilai tercatat kredit dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. maka bank harus melakukan estimasi arus kas kembali dan menyesuaikan nilai tercatat kredit. Kredit dapat dihapus buku apabila cadangan kerugian penurunan nilai telah dibentuk sebesar 100%. Apabila debitur melakukan pembayaran dengan jumlah yang berbeda dengan estimasi arus kas masa datang. d. b. c. Terdapat kondisi tertentu dimana pada periode-periode selanjutnya terjadi pemulihan penurunan nilai.Bab V I K r e d i t b. maka jumlah yang dihapus buku adalah sebesar selisih kurang antara nilai wajar agunan yang diambil alih setelah memperhitungkan taksiran biaya penjualan dengan nilai tercatat kredit. 11. b. Dalam kondisi tersebut. dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). Dalam hal penghapusbukuan kredit merupakan kelanjutan dari tindakan penyelesaian kredit dengan cara pengambilalihan agunan. Misalnya. 200 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Bab V I K r e d i t D. atau 2) koreksi saldo laba. atau 2) koreksi saldo laba. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 201 . maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungkan penurunan nilai. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual. maka bank: a. b. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan Pengukuran 1. mengakui sebagai ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). atau b. 2. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi. dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). dan membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan: 1) jurnal balik. mengakui sebagai ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca dan mengakui ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas. c. maka bank: a. atau 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan Bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya.

4. dan mengakui aset yang diambil alih yang perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK yang berlaku. dan melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. yang mengatur mengenai aset tetap yang tersedia untuk dijual. mengakui pendapatan bunga yang baru yang dihitung dengan menggunakan suku bunga efektif atas dasar nilai kredit setelah memperhitungan penurunan nilai. 6. melakukan jurnal balik atas ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. maka bank: a. Kredit yang telah dihapus buku dapat direstrukturisasi dengan terlebih dahulu membukukan kembali ”Kredit” dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” di neraca. Penerimaan kas atas kredit yang telah dihapusbuku diakui sebagai pendapatan operasional selain bunga. 7. maka bank: a. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. c. 202 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . memperhitungkan ganti rugi tersebut dalam estimasi arus kas masa datang yang akan diterima. 5. b. Pada saat penerimaan ganti rugi dari perusahaan asuransi atau lembaga penjamin kredit diakui.Bab V I K r e d i t 3) jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. b. yaitu paling tinggi sebesar cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk. Kredit yang dihapus buku wajib dicatat secara extracomptable. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah penurunan nilai berkurang yang disebabkan terjadinya suatu peristiwa tertentu setelah pengakuan penurunan nilai. 3. Apabila aset yang dijaminkan diambil alih. maka bank memulihkan kerugian penurunan nilai yang telah diakui tersebut dengan menjurnal balik ”Kerugian penurunan nilai kredit” pada laporan laba rugi dan ”Cadangan kerugian penurunan nilai” pada neraca. 8.

2. Pada saat terdapat bukti obyektif penurunan nilai a. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai pos pengurang dari “Kredit” sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari kredit tersebut. Db. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. Kredit yang telah dihapus buku dapat dihapus tagih antara lain apabila dalam jangka waktu tertentu tidak diperoleh pembayaran setelah dilakukan usaha-usaha penagihan dan merupakan keputusan manajemen. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit 2) Membatalkan pendapatan bunga yang telah diakui dan belum diterima pembayarannya dengan melakukan jurnal balik apabila penurunan nilai terjadi pada periode berjalan: Db. Ilustrasi Jurnal 1.amortised cost I 203 . atau mengoreksi saldo laba. Kredit . Kr. Penyajian 1.amortised cost Db. Kredit . Kr./Kr. jika bukti obyektif penurunan nilai kredit yang diperoleh setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan menunjukkan terjadinya penurunan nilai sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event). Kerugian penurunan nilai kredit disajikan sebagai beban operasional pada pos “Kerugian penurunan nilai kredit”./Kr. Kredit diukur pada biaya perolehan diamortisasi 1) Membentuk cadangan kerugian penurunan nilai Db. E. Saldo laba Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Pendapatan bunga kredit Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Db.Bab V I K r e d i t 9.

Kredit 204 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab V I K r e d i t atau jika penurunan nilai terjadi pada periode berjalan dan bank masih memiliki saldo tagihan bunga yang pendapatannya telah diakui pada periode sebelumnya. Pendapatan b. c. Kerugian penurunan nilai Jika pemulihan penurunan nilai diketahui setelah tanggal neraca tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan dimana peristiwa tersebut terjadi sebelum atau pada tanggal neraca (adjusting subsequent event) Db. Pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya peristiwa yang menguntungkan yang menyebabkan jumlah penurunan nilai berkurang (misalnya meningkatnya peringkat kredit debitur) a. maka saldo tagihan bunga tersebut dijurnal balik dan bank mengakui kerugian penurunan nilai pada periode berjalan. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit b. Kredit yang diklasifikasikan dalam kategori Tersedia untuk Dijual 1) Mengakui kerugian penurunan nilai yang sebelumnya dicatat pada ekuitas Db. Kerugian penurunan nilai kredit Kr. 3. Ekuitas – Pendapatan komprehensif lain 2) Untuk pembatalan pengakuan pendapatan bunga mengacu pada huruf a di atas 2. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Pendapatan bunga kredit yang akan diterima Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Jika pemulihan penurunan nilai terjadi pada periode berjalan Db. Pada saat penghapusbukuan kredit Db. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Kerugian penurunan nilai Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Kr. Db. Saldo laba Jika pemulihan penurunan nilai terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Db.

misalnya tunggakan < 3 bulan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 205 . Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Analisis tersebut mencakup: a. Kredit yang berdasarkan evaluasi secara individual telah mengalami penurunan nilai. termasuk faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menetapkan penurunan nilai. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang terkait dengan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. Bank dapat menentukan sendiri skala waktu tunggakan yang sesuai. dan penanganan kredit yang mengalami penurunan nilai. Analisis terhadap kredit berdasarkan klasifikasi kredit yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya klasifikasi residential mortgage. Pendekatan yang digunakan untuk melakukan evaluasi penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif. Saldo laba Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event. Pada saat menerima pembayaran untuk kredit yang sudah dihapus buku a. b. penyisihan. consumer loans. Kredit dengan tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) tetapi tidak mengalami penurunan nilai berdasarkan skala waktu tunggakan. tetapi sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan (adjusting subsequent event) Db.Bab V I K r e d i t 4. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. Kerugian penurunan nilai kredit Jika penerimaan kembali terjadi setelah tanggal neraca. 3. Jika penerimaan kembali terjadi pada periode berjalan Db. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan. c. antara lain: 1. yang meliputi: 1) Nilai tercatat sebelum dikurangi kerugian penurunan nilai. dan lebih dari 12 bulan. F. 3–6 bulan. Pendapatan b. commercial loans. Db. dan sebagainya). Kas/Rekening…/Giro BI Kr. 6–12 bulan. 2) Jumlah kerugian penurunan nilai. penghapusan. dan 2.

g. Jumlah kredit yang sudah dihentikan pembebanan bunganya.Bab V I K r e d i t c. yang menunjukkan saldo awal tahun. 7. saldo awal tahun (a). 5. selisih kurs karena penjabaran cadangan dalam mata uang asing (b). H. kredit yang telah dilakukan hapus tagih dan saldo akhir tahun. saldo akhir tahun (a) + (b) + (c) – (d) – (e) – (f). Ikhtisar perubahan pos cadangan kerugian penurunan nilai (baik cadangan kerugian untuk penurunan nilai kredit secara individual maupun kolektif) untuk setiap kategori kredit yang menunjukkan: a. 4. c. 6. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit berdasarkan segmentasi tertentu. d. Ketentuan Lain-lain Bank tetap menilai kualitas kredit sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku. e. penerimaan kembali kredit yang telah dihapus buku (e). dengan tambahan informasi sebagai berikut: 206 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . pemulihan cadangan selama tahun berjalan (d). penghapusbukuan kredit selama tahun berjalan (f). Jenis serta nilai wajar agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya untuk setiap pengungkapan pada butir a dan b diatas. b. G. Ikhtisar kredit yang dihapus buku. penghapusbukuan kredit dalam tahun berjalan. f. yaitu contoh 3 berupa kredit investasi yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. Contoh Kasus Contoh kasus untuk penurunan nilai menggunakan contoh yang sama pada Bagian mengenai Pemberian dan Penyaluran Kredit. cadangan yang dibentuk selama tahun berjalan (c).

Bab V I K r e d i t 1. Berdasarkan bukti obyektif tersebut. yaitu kegagalan debitur membayar kewajiban bunga pada tanggal 30 September 2010. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 207 . bank melakukan kembali estimasi arus kas masa datang yang mungkin akan diperoleh yang selanjutnya didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal untuk memperoleh nilai kini atas arus kas tersebut. Lihat Tabel 11. Terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai atas kredit Berdasarkan evaluasi periodik yang dilakukan bank. Selisih kurang antara nilai tercatat kredit sebelum terdapat bukti obyektif penurunan nilai dan nilai kini estimasi arus kas masa datang merupakan cadangan kerugian penurunan nilai yang harus dibentuk. pada akhir September 2010 terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit.

573.999 48.404.943 911.000) (500.411 599.951.693.000.199.076.257.980.965 72.850 99.997.000) 72.000) (937.436.711 74.938 617.241.259.912 74.985.965 Cadangan kerugian penurunan nilai 2.255.000.310.801 633.000 463.711 74.721 643.434 74.920.746 922.000) (1.255.945.573.322 (28.000.975.276.742.208 99.174.328 99.000.507 585.199.255.439 47.508.255.940.277 1.133 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 500.000.843 1.528.866.259.959.848.000.866.955.500.500.811.000.178.048 49.000.208 1.423 47.174.000.984 592.439.439.274.000 43.564.295.920.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.191.000) (500.000) 911.205.942.940 51.250.220 934.442.241.357 50.364.112 49.834 47.507 585.000 99.930.522.649.191.000 4 31-Mar-10 1.793.000.500.521 5.000) (1.250.985.434 74.165 601.766.842.302.129.508.000.920.064 616.392.000.500.000.535.178.194.481.000) 2 31-Jan-10 1.793.945.955.000.521 1.997.129.816.589.445 941.057 (500.000.931 46.506 625.506 625.663.000.935.570.000 7 30-Jun-10 26.836.250.842.000) 1.389.357 (25.444.000 5 30-Apr-10 1.364.000) (52.000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 13 31-Dec-10 28.836.850 99.000.000 430.938 617.000) (1.208 99.585 1.542.051 99.048 49.980.178.530.250.367.000.325.478 941.801.367.991.274.000 446.000 9 31-Aug-10 937.721 643.051 99.912 74.478 3.076.082.193.930.193.902.178.959.250.542.500.043.196.468.277 5.276.439 47.250.000.479 23 30-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 52.742.750.322 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 72.943 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.049 608.057 72.050 49.468.510 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 500.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 208 I P e d o m a n 99.086 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 500.250.066.325.649.000.931 46.801 633.920.569.066.000.000 99.357 74.661 51.050 49.746 922.392.000.500.556 50.205.000.304.390.940 51.663.310.208 5.328 99.390.250.758 Suku Bunga Efektif Awal 1.250.250.250.411 599.000 6 31-May-10 1.000.965 73.997.984 592.196.589.997.066.468.583 635.522.445 3.583 635.965 73.843 5.801.Tabel 11: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Terdapat Bukti Obyektif Penurunan Nilai .000) (1.043.000.965 (1.999 48.000 3 28-Feb-10 1.000 8 31-Jul-10 937.556 50.281 651.256% (Original Effective Interest Rate / EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .491.000.255.000) (937.049 608.834 47.066.902.816.975.564.661 51.194.112 49.585 5.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.940.357 50.281 651.082.220 934.935.528.357 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.750.570.255.250.766.000) 5.925.530.569.000 27.811.481.436.000) (1.500.404.925.569.064 616.869.257.165 601.848.302.951.423 47.000.569.

530.220 Kr.000. Pendapatan bunga Rp.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan pula bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit. Rp. 922.357 (apabila masih terdapat tagihan bunga pada saat penurunan nilai. 24 dalam Tabel 11 sama dengan jurnal untuk transaksi no.220 Tanggal 31 Desember 2010.000 28. 11 sampai dengan no. Kerugian penurunan nilai Kr.389.000 c. Tanggal 30 September 2010.750. Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 209 . Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.304. Kredit – amortised cost Rp.980. Jurnal untuk transaksi no. 13 dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. Pendapatan bunga Rp. 922.573.573. Rp. maka dilakukan jurnal balik) 2) Pengakuan bunga pada saat terjadi penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat bank tidak menerima pembayaran dari debitur) b. pada saat pengakuan amortisasi bunga (interest unwinding) Db. Kredit – amortised cost e. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.507 28. 14 sampai dengan no. Rp. 934.530. Tanggal 31 Oktober 2010. Kredit – amortised cost Rp.000. d. 911.746 Tanggal 30 November 2010.389. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.304.750.507 934. 2. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat kerugian penurunan nilai Db. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.980. 911.746 Kr. a.357 2. Rp. Kredit – amortised cost Kr.

057 52. Lihat Tabel 12. Kredit – amortised cost Kr.500. Kas/Rekening…/Giro BI Kr. bank harus melakukan evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang secara periodik atau pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai selanjutnya.389. 2. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db.257.389. 651. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.257.304.Bab V I K r e d i t f. bank mengestimasikan akan menerima arus kas masa datang yang lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sehingga bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai. Tanggal 31 Desember 2011. Jika pada 31 Desember 2010. 210 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 52. Kredit – amortised cost Rp. Rp.357 2. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang pada saat evaluasi selanjutnya Sebagaimana dipersyaratkan. Rp.500. 2. Rp.304.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db. Kredit– amortised cost Rp.057 651.000. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.000.357 Kr.

000 11 31-Oct-10 12 30-Nov-10 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.000) (1.000 99.220 (15.310.000 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.920.823.225.303.330 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 25.592 1.000.997.000 99.575 409.721 28.942.939 911.098 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 5.259.000.390.196.000) (25.000.250.255.521 5.528.500.357 74.275.400.886.576.000 15.275.434 74.850 99.935.000.000.198.575 409.975.951.600 35.980.920.378 399.000) (937.807 24.081.404.331 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Bab V I K r e d i t I 211 Suku Bunga Efektif Awal 1.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas D E = D x EIR F G=pxi H=E-G Saldo Awal Arus Kas Kredit Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) Amortisasi dengan EIR Saldo Akhir Arus Kas Kredit No Trx Tahun Estimasi Arus Kas 99.355 302.798.000 8 31-Jul-10 937.602.372 310.392.000.000.478 941.000.618 404.000.051 99.345.975.000.250.250.600 35.355 302.051 99.000.602 31.291 450.126.491.991.364.877.576.255.310.853.965 (1.000 21.342.058 306.891.925.945.377.000) (1.162 24.408 72.980 32.737.383.328 99.000 4.232 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 5.548 351.250.711 911.390.000.000) 5.416.433.445 941.126.000.481.250.592 0 Perhitungan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai 74.720.000.208 99.434 74.853.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .930.689.194.940.877.500.220 445.223.958.325.196.000) 2 31-Jan-10 1.935.000.273.173 28.000.000.000) (937.965 72.000.000) 445.000.000 4 31-Mar-10 1.599 32.000.Tabel 12: Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi Setelah Evaluasi Penurunan Nilai secara Periodik .600 Cadangan kerugian penurunan nilai 23.416.328 99.066.122.446.843 1.746 922.500.000) (1.712 456.508.066.255.000.886.446.392.776 356.303.000 7 30-Jun-10 26.000.000) 50.345.522.476.486.445 3.058 306.291 450.997.231.925.309 360.442.000.746 922.277 1.000.711 74.000 4.585 1.446.220 24.476.468.497 28.081.481.737.000 5 30-Apr-10 1.231.208 5.951.162 24.122.000.569.823.446.000.250.600 35.273.066.000.508.250.000 3 28-Feb-10 1.955.000) (1.930.357 (25.748.372 310.912 74.513.404.000.920.720.530.528.000.000) 72.000) (5.208 1.367.585 5.000.345.618 404.980 32.530.259.000.478 3.194.850 99.400.931 35.000 9 31-Aug-10 937.325.000) (5.959.104.322 A B C 1 1-Jan-10 (99.500.000.342.548 351.104.602 31.129.250.433.000.220 24.748.689.997.521 1.364.649.345.569.129.980.497 28.000.250.000 14 31-Jan-11 15 28-Feb-11 16 31-Mar-11 5.012.012.250.000.378 399.255.309 360.776 356.367.500.163.912 74.721 28.255.931 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 50.965 73.602.639.277 5.891.066.798.383.408 (5.691.843 5.255.965 I=D+E+F+G 99.250.250.000) (1.205.377.513.302.965 73.712 456.602.250.945.000.486.649.000 6 31-May-10 1.955.890 36.000.940.599 32.208 99.000.890 36.816.569.173 28.602.807 24.250.000.198.000 4.

000.000 Tanggal 31 Januari 2011.486.712 Kr.Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi: Diasumsikan bahwa estimasi arus kas masa datang tidak berubah hingga penyelesaian akhir kredit.446. d.404. Kredit – amortised cost Rp.000. Pendapatan bunga Rp. Rp.231. 445.508. 14 sampai dengan no. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db. Rp. 25 dalam Tabel 12 sama dengan jurnal untuk transaksi no. Kredit – amortised cost Rp.000. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. Rp. Rp.378 456.958.000 c.331 = Rp. 17 sampai dengan no. 450. 74.231. Kredit – amortised cost Rp.823.000. pada saat pengakuan amortisasi bunga Db.486.823.958.600) 2) Pengakuan bunga pada awal penurunan nilai (tidak ada pengakuan bunga pada saat awal pencatatan nilai kini estimasi arus kas masa datang) 3) Mencatat penerimaan arus kas Db. 23.331 (Rp. 212 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 15./Giro BI Kr. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit 1) Mencatat tambahan cadangan kerugian penurunan nilai Db.000. 23. Tanggal 31 Desember 2010. Kredit – amortised cost Kr. Kerugian penurunan nilai Rp. Jurnal untuk transaksi no.000. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 23.000 5.163.000. Kas/Rekening. 450. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.163.712 Tanggal 31 Maret 2011.291 Kr. dengan asumsi debitur membayar sesuai dengan estimasi arus kas. 50.000 15.000.291 Tanggal 28 Februari 2011. Rp. Kredit – amortised cost b.345.378 5..958.331 Kr. Pendapatan bunga Rp. 16. 445.931 – Rp.. a. 456. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db. e.163.

958.347. Oleh karenanya. Pendapatan bunga 2) Penerimaan arus kas sesuai estimasi Db. pada saat pengakuan amortisasi bunga dan penerimaan arus kas terakhir sesuai estimasi 1) Mencatat pengakuan amortisasi bunga Db.000. Rp.122.467. Kas/Rekening…/Giro BI Kr.408 310. 310.357) 3.347.688 (Rp.000. Tanggal 31 Desember 2011.408 25.347. 2. bank harus membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai untuk menyesuaikan nilai tercatat sebelumnya menjadi nihil. 26.304.Bab V I K r e d i t f.000 3) Penghentian pengakuan kredit dengan menjurnal cadangan kerugian penurunan nilai Db.331 + Rp. Rp.122. 23.000. Kredit – amortised cost Rp.467.688 = Rp. 26. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp.000.000 25.163.688 Kr.389.467. 26. Terjadi perubahan estimasi arus kas masa datang dan hapus buku Jika pada saat evaluasi dan estimasi kembali arus kas masa datang pada bulan Maret 2011. bank mengestimasikan bahwa tidak terdapat penerimaan atau sangat sulit bagi bank untuk memperoleh kembali arus kas masa datang dari kredit yang mengalami penurunan nilai tersebut. Kredit – amortised cost Rp. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 213 . Rp. Lihat Tabel 13. Kredit – amortised cost Kr.

066.000.310.302.940.Tabel 13 : Estimasi Arus Kas Masa Datang Kredit Investasi dan Hapus Buku .528.997.000.000 99.600 35.196.208 4 31-Mar-10 1.600 15 28-Feb-11 35.712 911.342.208 99.220 445.259.912 74.231.255.000.000.129.521 1.392.250.066.400.345.576.935.585 5.569.342.000.255.975.945.890 Evaluasi penurunan nilai secara periodik dan hapus buku 16 31-Mar-11 17 30-Apr-11 18 31-May-11 19 30-Jun-11 20 31-Jul-11 21 31-Aug-11 22 30-Sep-11 23 31-Oct-11 24 30-Nov-11 25 31-Dec-11 - Suku Bunga Efektif Awal 1.066.576.521 5.500.129.920.945.322 911.530.965 11 31-Oct-10 72.000.602 Perhitungan tambahan cadangan kerugian penurunan nilai kredit adalah sebagai berikut: Nilai tercatat sebelum penurunan nilai (31 Maret 2011) 36.500.000.000.255.980.Amortised Cost Nilai Kini Arus Kas F G=pxi Bab V I K r e d i t Saldo Awal Arus Kas Kredit D Angsuran Pokok Tagihan Bunga Suku Bunga Efektif (EIR) E = D x EIR Amortisasi dengan EIR H=E-G 214 I P e d o m a n 1.000 74.250.277 1.959.255.481.434 8 31-Jul-10 937.231.823.442.000) 5.000.649.250.980.194.445 941.843 5.392.208 1.930.390.602 No Trx Tahun Estimasi Arus Kas Akuntansi Perbankan Indonesia A B C 1 1-Jan-10 (99.955.000.277 5.711 Evaluasi penurunan nilai secara periodik 13 31-Dec-10 15.997.649.891.400.000) (1.746 922.000.250.250.400.500.955.000.434 74.850 99.250.196.194.051 99.500.446.000 3 28-Feb-10 1.912 9 31-Aug-10 937.000.328 6 31-May-10 1.569.367.000.000) 2 31-Jan-10 1.000 99.357 Terdapat bukti obyektif penurunan nilai 10 30-Sep-10 937.585 1.000.446.000) (1.965 73.000 50.256% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan: p = pokok i = suku bunga kontraktual .000.528.000) (1.000.066.891.925.000 99.843 1.357 74.390.310.000) (1.000 99.508.931 35.328 99.965 (25.530.250.997.935.259.000 99.965 12 30-Nov-10 73.208 5.965 Saldo Akhir Arus Kas Kredit I=D+E+F+G 99.250.000.000) 445.942.291 450.404.951.325.890 36.000 99.478 3.000 74.920.000.250.975.250.920.000) (1.250.930.000) (937.325.000.481.823.711 74.250.000) (937.000 72.569.220 (15.342.367.746 922.602 Nilai kini estimasi arus kas masa datang 0 Tambahan cadangan kerugian penurunan nilai 36.000.255.051 5 30-Apr-10 1.000 99.000) (1.940.446.712 72.255.991.345.951.500.291 450.445 3.345.600 14 31-Jan-11 35.850 7 30-Jun-10 26.925.478 941.491.

868.291 450.290 Kr.868.163.342.290 b. Kerugian penurunan nilai Rp. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Rp.302. 62.000) 445.689.331 + Rp.000. Tanggal 31 Maret 2011.400.602 Kr.290 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 215 .Bab V I K r e d i t Jurnal transaksi a. Cadangan kerugian penurunan nilai Rp. 23.342. pada saat terdapat bukti obyektif terjadinya penurunan nilai kredit Db. 62. dengan rincian sebagai berikut: Rekonsiliasi atas nilai kini kredit adalah sebagai berikut: a) Nilat tercatat kredit diamortisasi Nilai tercatat sebelum penurunan nilai amortisasi bunga (31-Okt-10) amortisasi bunga (30-Nov-10) Penerimaan arus kas masa datang (31-Dec-10) amortisasi bunga (31-Jan-11) amortisasi bunga (28-Feb-11) 74.602 Dengan pembentukan cadangan tersebut maka nilai kini kredit menjadi nihil Pada saat manajemen bank memutuskan untuk menghapus buku kredit 1) Penghapusbukuan kredit Db.220 (15.357 + Rp.689.689. 36.689. Setelah pencatatan jurnal di atas maka nilai tercatat kredit adalah nihil.231. 36.823.400.712 62. 62.322 911. Nilai tersebut merupakan nilai tercatat sebelum penurunan nilai yang dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk.602) 2) Pencatatan extracomptable atau rekening memorial Db.530.689. Kredit – amortised cost Rp.868.689.980.958. Kr. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit Rp.959. Memorial kredit yang dihapus buku Rp.290 = Rp. 62.304.868.290 (Rp.868.290 62.342. 36.868.746 922.000. 2.400.389.

Rp.400. xxxxxxxx xxxxxxxx 216 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Rp. Pendapatan 2) Penyesuaian atas rekening memorial Db.342.602 62.Bab V I K r e d i t b) Cadangan kerugian penurunan nilai yang telah dibentuk Terdapat bukti obyektif (30 Sep-10) 2..304. 1) Pencatatan penerimaan kas Db.958. Memorial kredit yang dihapus buku Rp. Pada saat Bank menerima setoran kas dari debitur atas kredit yang telah dihapus buku pada tahun berjalan (asumsi penerimaan kembali setelah tanggal neraca dan bukan merupakan adjusting subsequent event).331 Penilaian kembali arus kas masa datang (31 Mar-11) 36.163.. xxxxxxxx xxxxxxxx Rp. Rekening lawan-memorial kredit yang dihapus buku Kr./Giro BI Kr.689.868.290 c. Kas/Rekening.389.357 Penilaian kembali arus kas masa datang (31-Des-10) 23.

6.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bab VI Transaksi Deriva f A. suatu komitmen pasti (firm commitment). Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction) Tagihan derivatif adalah tagihan yang merupakan potensi keuntungan berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih positif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. 3. Kewajiban derivatif adalah kewajiban yang merupakan potensi kerugian berdasarkan proses valuasi atas perjanjian/kontrak derivatif yang mencerminkan selisih negatif antara nilai kontrak dengan nilai wajar transaksi derivatif pada tanggal laporan. Definisi 1. I 217 . 4. Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Derivatif melekat (embedded derivative) adalah instrumen derivatif yang melekat pada kontrak lainnya yang merupakan kontrak utama (host contract) yang dapat menyebabkan perubahan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak utama sejalan dengan perubahan variabel tertentu yang mendasari (underlying variable). prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable forecast transaction) atau investasi neto pada operasi di luar negeri (net investment in a foreign operation) yang merupakan item yang dilindung nilai (hedged item) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak keuangan lain dengan karakteristik sebagai berikut: a. dan c. Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. 5. Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan/ yang mendasari (underlying) b. Lindung nilai (hedging) adalah strategi pengelolaan risiko dengan menggunakan instrumen keuangan (hedging instrument) untuk melakukan saling hapus (offset) atas perubahan nilai wajar atau arus kas dari aset atau kewajiban keuangan tertentu.

8. peringkat kredit atau indeks kredit. indeks harga atau indeks suku bunga. c. variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak: 2) tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar. (PSAK 55 paragraf 8) Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan mengunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Valuasi adalah suatu proses pengukuran nilai wajar yang dapat didasarkan pada harga kuotasi di pasar yang aktif (mark to market) maupun didasarkan pada teknik penilaian (valuation technique). Dasar Pengaturan 1. (PSAK 10 paragraf 7) Pada setiap tanggal neraca: 1) Pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. antara lain: suku bunga. 218 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . nilai tukar mata uang asing. Untuk variabel non keuangan. Prakiraan transaksi (forecast transaction) adalah transaksi di masa datang yang belum mengikat namun telah diantisipasi. Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang termasuk dalam ruang lingkup Pernyataan ini (lihat paragraf 2–7) dengan tiga karakteristik berikut ini: 1) nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah ditentukan (sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying). dan 3) diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang. atau variabel lainnya. b. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca. 9. harga instrumen keuangan. dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang objektif. B. harga komoditas. Komitmen pasti (firm commitment) adalah perjanjian yang mengikat untuk mempertukarkan sumber daya dalam kuantitas tertentu pada tingkat harga tertentu dan pada tanggal atau tanggal-tanggal tertentu di masa datang.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7. Derivatif a.

karena komitmen dimaksud memiliki jangka waktu pendek. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 219 . Sebaliknya. (PSAK 10 paragraf 13) Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk disatukan/diinkorporasikan dengan laporan keuangan perusahaan pelapor.” (PSAK 55 PA24) Kontrak yang mensyaratkan atau mengijinkan penyelesaian neto terhadap perubahan nilai kontrak bukan merupakan kontrak reguler.. kontrak tersebut dicatat sebagai derivatif pada periode antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian.. (PSAK 55 PA69) e. dan 3) Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. selisih penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca. (PSAK 55 paragraf 8) “Suatu pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) akan menimbulkan komitmen harga yang telah ditetapkan antara tanggal perdagangan dan tanggal penyelesaian yang memenuhi definisi suatu derivatif. f. Meskipun demikian. g. digunakan prosedur sebagai berikut: 1) Aset dan kewajiban entitas asing. Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18. maka tidak diakui sebagai instrumen keuangan derivatif. h. baik moneter maupun nonmoneter dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (closing rate) 2) Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada tanggal transaksi 3) Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai ”selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan” dan disajikan sebagai bagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto yang bersangkutan. (PSAK 10 paragraf 9) d. tetapi harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi. (PSAK 11 paragraf 14) Pembelian atau penjualan yang lazim (reguler) adalah pembelian atau penjualan aset keuangan berdasarkan kontrak yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kurun waktu yang umumnya ditetapkan dengan peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar.

namun jika kontrak utamanya bukan merupakan instrumen keuangan.. peringkat kredit atau indeks kredit. harga instrumen keuangan. Selain yang dinyatakan dalam paragraf 10. dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan.” (PSAK 55 paragraf 9) Derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utamanya dan dicatat sebagai derivatif berdasarkan Pernyataan ini. maka harus dicatat berdasarkan Pernyataan lain yang sesuai tetapi PSAK 50 tidak mengatur apakah derivatif melekat disajikan secara terpisah dalam laporan keuangan. jika kontrak memiliki satu atau lebih derivatif melekat. maka kontrak utamanya harus dicatat berdasarkan PSAK 55 jika kontrak utamanya merupakan instrumen keuangan. nilai tukar mata uang asing. Derivatif Melekat a. Jika derivatif melekat dipisahkan. atau variabel lainnya. jika dan hanya jika: 1) karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak berkaitan erat dengan karakteristik ekonomi dan risiko dari kontrak utama. Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam kontrak. atau 2) terlihat jelas dengan sedikit atau tanpa analisa ketika instrumen campuran yang digabungkan atau instrumen campuran yang serupa pertama kali dipertimbangkan bahwa pemisahan derivatif melekat tidak diperkenankan.. antara lain: suku bunga. entitas dapat menetapkan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 55 paragraf 10) c. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak memodifikasi secara signifikan arus kas yang dipersyaratkan oleh kontrak. seperti opsi pelunasan lebih awal yang melekat dalam pinjaman yang memungkinkan b. 2) instrumen terpisah yang memiliki persyaratan yang sama dengan derivatif melekat memenuhi definisi sebagai derivatif. indeks harga atau indeks suku bunga. dan 3) instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (dengan kata lain derivatif yang melekat pada aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dipisahkan). 220 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2. “Derivatif melekat merupakan komponen dari instrumen keuangan campuran (hybrid instrument) atau instrumen keuangan yang digabungkan (combined instrument) dimana didalamnya termasuk pula kontrak utama non derivatif yang mengakibatkan sebagian arus kas yang berasal dari instrumen yang digabungkan bervariasi seperti derivatif yang berdiri sendiri.

maka ketentuan dalam paragraf 12 diterapkan dan entitas memperlakukan keseluruhan kontrak yang digabungkan tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. maka entitas memperlakukan keseluruhan kontrak dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. f. apabila kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan berdasarkan Pernyataan ini.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif pemegangnya untuk melunasi lebih awal pinjamannya sebesar kurang lebih biaya yang diamortisasi. (PSAK 55 paragraf 13) Penetapan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dapat digunakan terlepas apakah paragraf 10 mensyaratkan derivatif melekat untuk dipisahkan dari kontrak utamanya atau dilarang dipisahkan. (PSAK 55 PA48) e. baik pada saat perolehan ataupun pada tanggal pelaporan keuangan berikutnya. 3. (PSAK 55 paragraf 12) Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara handal berdasarkan persyaratan dan kondisi derivatif tersebut (misalnya karena derivatif melekat didasarkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi). maka nilai wajar derivatif melekat merupakan selisih antara nilai wajar dari instrumen yang digabungkan atau instrumen campuran dengan nilai wajar dari kontrak utama. Namun demikian. namun entitas tersebut tidak dapat mengukur derivatif melekatnya secara terpisah. Lindung Nilai a. paragraf 11 tidak memperkenankan penetapan instrumen campuran (instrumen yang digabungkan) untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi apabila terdapat kondisi sebagaimana dimaksud dalam paragraf 11 (a) dan (b) karena hal tersebut tidak akan mengurangi kompleksitas atau meningkatkan keandalan. Akuntansi lindung nilai mengakui pengaruh saling hapus pada laporan laba rugi atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Jika entitas diharuskan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak utamanya. Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat menggunakan metode ini. (PSAK 55 paragraf 87) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 221 . (PSAK 55 paragraf 11) d.

suatu prakiraan transaksi yang merupakan subyek dari suatu lindung nilai harus bersifat kemungkinan besar terjadi dan terdapat eksposur perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi. jika dan hanya jika. dan cara yang akan digunakan entitas untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai tersebut dalam rangka saling hapus eksposur yang berasal dari perubahan dalam nilai wajar item yang dilindung nilai atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. kewajiban. 222 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . atau bagian yang telah diidentifikasi dari aset. 1) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen risiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai. 2) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif dalam rangka saling hapus atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. atau komitmen pasti yang belum diakui. item atau transaksi yang dilindung nilai. Hubungan lindung nilai terdiri dari tiga jenis: 1) lindung nilai atas nilai wajar: suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau kewajiban yang telah diakui. seluruh kondisi berikut ini terpenuhi. 3) lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 10 mengenai Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11 mengenai Penjabaran dalam Mata Uang Asing.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. konsisten dengan strategi manajemen risiko yang telah didokumentasikan diawal untuk hubungan lindung nilai tersebut. 2) lindung nilai atas arus kas: suatu lindung nilai terhada peksposur variabilitas arus kas yang (i) dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga di masa datang atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi (highly probable). Pendokumentasian tersebut harus meliputi identifikasi instrumen lindung nilai. dan (ii) dapat mempengaruhi laporan laba rugi. c. atau komitmen pasti tersebut. sifat dari risiko yang dilindung nilai. 3) Untuk lindung nilai atas arus kas. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. (PSAK 55 paragraf 88) Suatu hubungan lindung nilai memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai sesuai paragraf 91-105.

termasuk dengan: a) membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari item yang dilindung nilai yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas di masa lalu dari instrumen lindung nilai. Harapan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa cara. (PSAK 55 PA126) 4. dan nilai wajar instrumen lindung nilai tersebut harus dapat diukur secara andal.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. Efektivitas dievaluasi. Entitas dapat memilih rasio lindung nilai selain satu banding satu dalam rangka meningkatkan efektivitas lindung nilai sebagaimana yang dijabarkan dalam paragraf PA120. Lindung Nilai atas Nilai Wajar a.. 5) Lindung nilai dinilai secara berkesinambungan dan ditentukan bahwa efektivitasnya sangat tinggi sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan.. “Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: 1) Pada saat dimulainya lindung nilai dan periode-periode sesudahnya. 2) Hasil aktual dari lindung nilai berada dalam kisaran 80–125 persen. pada waktu entitas menyiapkan laporan keuangan tahunan atau interim. atau b) menunjukkan korelasi statistik yang tinggi antara nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai dengan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. (PSAK 55 paragraf 90) d. maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) keuntungan atau kerugian yang berasal dari pengukuran kembali instrumen lindung nilai pada nilai wajar (untuk instrumen lindung nilai derivatif) atau komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diukur berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 223 . lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai selama periode lindung nilai tersebut. minimal.” (PSAK 55 PA125) e. yaitu nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai. Jika suatu lindung nilai atas nilai wajar memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan.

maka lindung nilai tersebut harus dicatat sebagai: 1) bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan). Entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai wajar sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 91 jika: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. dan 2) bagian yang tidak efektif atas keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada laporan laba rugi diterapkan jika item yang dilindung nilai merupakan aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai telah kadaluwarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). dan 2) keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dengan menyesuaikan nilai tercatat item yang dilindung nilai dan diakui pada laporan laba rugi. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. (PSAK 55 paragraf 91) b. Jika suatu lindung nilai atas arus kas memenuhi kondisi pada paragraf 90 selama periode pelaporan keuangan. (PSAK 55 paragraf 98) Dalam setiap situasi berikut. dihentikan atau dilaksanakan (untuk tujuan ini. entitas secara prospektif menghentikan penerapan akuntansi lindung nilai arus kas: 1) instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. penggantian atau perpanjangan terhadap instrumen lindung nilai dengan instrumen lindung nilai lainnya tidak dapat dianggap sebagai b. Ketentuan ini berlaku jika item yang dilindung nilai tidak diukur pada biaya perolehan. atau 3) entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Uang Asing (untuk instrumen lindung nilai non derivatif) diakui pada laporan laba rugi. Lindung Nilai atas Arus Kas a. 2) lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai. 224 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55 Paragraf 94) 5.

Jika transaksi tersebut terjadi. atau 103 diterapkan. 101. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. dalam hal ini setiap keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) diakui dalam laporan laba rugi. 101. maka paragraf 100. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi. maka paragraf 100. atau 103 diterapkan. atau 103 diterapkan. (PSAK 55 paragraf 104) 6. Prakiraan transaksi yang kemungkinan besar tidak terjadi (lihat paragraf 90(c)) mungkin masih diharapkan terjadi. 3) suatu prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi. maka paragraf 100. Dalam hal ini. Lindung Nilai atas Investasi Neto Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. Dalam hal ini. keuntungan atau kerugian kumulatif atas instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai tersebut efektif (lihat paragraf 98(a)) tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Apabila transaksi tersebut tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Apabila transaksi tersebut terjadi. 4) Entitas membatalkan penetapan yang telah dilakukan. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai dalam paragraf 90. dicatat dengan cara yang serupa seperti lindung nilai atas arus kas: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 225 . Untuk lindung nilai atas prakiraan transaksi. 101. termasuk lindung nilai atas item moneter yang dicatat sebagai bagian dari investasi neto (berdasarkan PSAK 10: Transaksi dalam Mata Uang Asing dan PSAK 11: Penjabaran dalam Mata Uang Asing).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif telah kadaluarsa atau telah dihentikan apabila penggantian atau perpanjangan tersebut merupakan bagian dari strategi lindung nilai yang didokumentasikan entitas). Jika transaksi tersebut terjadi.

10. entitas menerapkan Pedoman Aplikasi PA84 – PA98. (PSAK 55 paragraf 105) b. jika entitas dapat mengidentifikasi peristiwa atau perubahan keadaan yang menyebabkan hubungan lindung nilai gagal memenuhi kriteria efektivitas. dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam suatu hubungan lindung nilai. Proporsi dari keseluruhan instrumen lindung nilai. hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk satu bagian saja dari periode waktu dimana instrumen lindung nilai masih berjalan. 9. Pengukuran Nilai Wajar Dalam menentukan nilai wajar aset keuangan atau kewajiban keuangan untuk menerapkan Pernyataan ini atau PSAK 50 (revisi 2006) Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan. dan (c) dimungkinkan untuk memastikan bahwa terdapat penetapan yang spesifik dari instrumen lindung nilai dan posisi risiko yang berbeda. (PSAK 55 PA 134) 8. dan bagian yang tidak efektif diakui pada laporan laba rugi. entitas menghentikan akuntansi lindung nilai sejak tanggal terjadinya peristiwa atau perubahan keadaan tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif a. Namun demikian. dan dapat membuktikan bahwa lindung nilai telah berjalan efektif sebelum peristiwa atau perubahan keadaan tersebut terjadi. (PSAK 55 paragraf 77) Jika entitas tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. (PSAK 55 paragraf 48) 226 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bagian dari keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui secara langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas (lihat PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan). (b) efektivitas dari lindung nilai dapat dibuktikan. misalnya 50 persen dari jumlah nosional. Namun. (PSAK 55 paragraf 76) Satu instrumen lindung nilai dapat ditetapkan sebagai lindung nilai atas lebih dari satu jenis risiko sepanjang (a) risiko yang dilindung nilai dapat diidentifikasi secara jelas. 7. Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai yang terkait dengan bagian lindung nilai yang efektif yang sebelumnya telah diakui secara langsung dalam ekuitas harus diakui pada laporan laba rugi ketika investasi dalam operasi luar negeri tersebut dilepaskan. maka entitas harus menghentikan akuntansi lindung nilainya sejak tanggal terakhir entitas tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai tersebut.

Derivatif a. c) Instrumen derivatif dapat mensyaratkan suatu pembayaran dengan jumlah yang telah ditetapkan atau pembayaran yang jumlahnya dapat berubah (tapi tidak proporsional terhadap perubahan item yang mendasarinya) sebagai akibat dari suatu peristiwa di masa datang yang tidak berkaitan dengan jumlah nosional. harga kredit atau indeks kredit b) Instrumen derivatif biasanya memiliki suatu jumlah nosional berupa sejumlah mata uang. atau ukuran lain yang ditetapkan dalam kontrak. Contoh variabel yang mendasari antara lain: Jenis Kontrak Swap suku bunga (Interest rate swap) Interest Rate Future Swap mata uang (Currency Swap) Variabel yang Mendasari Suku bunga Suku bunga Nilai tukar mata uang b. Penjelasan 1. saham. unit bobot atau volume. Namun. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 227 . Instrumen keuangan derivatif adalah instrumen keuangan yang memberikan hak (kewajiban) kepada pemegang (penerbit) untuk menerima (membayar) kas atau instrumen keuangan lainnya dalam jumlah yang ditentukan berdasarkan perubahan variabel yang mendasari (underlying) dimasa yang akan datang. instrumen derivatif tidak mensyaratkan pemegangnya atau penerbitnya membayar atau menerima jumlah nosional pada saat kontrak dimulai (inception date). Karakteristik derivatif 1) Perubahan nilai sebagai akibat dari perubahan variabel yang mendasari (underlying) a) Variabel yang mendasari (underlying) adalah suatu variabel yang bersama dengan suatu nilai nosional atau suatu syarat pembayaran akan menentukan jumlah yang akan diselesaikan dalam suatu derivatif.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif C. Pembelian atau penerbitan opsi mata uang (Purchased or Written Currency Nilai tukar mata uang Option) Currency Futures Credit Derivative Nilai tukar mata uang Rating kredit.

jika LIBOR 6 bulan meningkat 1%. Sebagai contoh: (1) Kontrak opsi memenuhi definisi sebagai derivatif karena jumlah premi yang harus dibayar lebih rendah dibanding investasi yang dibutuhkan untuk memperoleh instrumen keuangan yang mendasari opsi tersebut. Sebagai contoh. 228 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . suatu kontrak mensyaratkan pembayaran tetap sejumlah Rp 1 milyar. 2) Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal neto dalam jumlah yang lebih kecil Derivatif tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal yang lebih kecil dibandingkan investasi yang dibutuhkan untuk kontrak jenis lain yang diperkirakan akan memberi respon serupa terhadap perubahan faktor-faktor pasar. 3) Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa depan Tanggal penyelesaian tertentu dimasa depan dalam kontrak derivatif mempunyai beberapa pengertian. kontrak opsi yang tidak menguntungkan pihak pemegang opsi untuk mengeksekusi opsi tersebut (out the money). kontrak foreign exchange forward mempunyai tanggal penyelesaian (settlement date) di masa depan dimana terjadi pertukaran kas untuk mata uang berbeda antara pembeli dan penjual. antara lain: a) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal pertukaran kas Sebagai contoh.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Sebagai contoh. b) Margin deposit pada suatu transaksi derivatif yang harus disimpan pada suatu rekening merupakan setoran jaminan atas suatu transaksi derivatif dan tidak dapat diperhitungkan sebagai suatu investasi awal. a) b) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal berakhirnya kontrak (expire date) tanpa adanya pertukaran kas. Margin deposit harus dicatat secara terpisah dari transaksi derivatif. (2) Kontrak swap mata uang yang mensyaratkan pertukaran awal dalam mata uang yang berbeda namun memiliki nilai wajar yang setara memenuhi definisi sebagai derivatif karena investasi neto awal adalah sebesar nol. Kontrak dimaksud merupakan suatu derivatif meski jumlah nosional tidak ditentukan.

Forward Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 229 . kontrak interest rate swap yang mempunyai beberapa tanggal penyelesain bunga dimasa depan. Transaksi derivatif yang ditujukan untuk tujuan perdagangan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi yaitu sub kategori Diperdagangkan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Tanggal penyelesaian sebagai tanggal-tanggal pembayaran bunga. maka transaksi derivatif tersebut diperlakukan sebagaimana transaksi derivatif yang dilakukan untuk tujuan perdagangan. Transaksi derivatif harus diakui dalam neraca karena menimbulkan aset dan/atau kewajiban keuangan bagi bank Transaksi derivatif yang umum ditransaksikan antara lain: Transaksi Keterangan Forward adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk membeli atau menjual suatu instrumen keuangan pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. d. Sebagai contoh. c. Suatu kontrak forward diperdagangkan secara over the counter (OTC) dan jangka waktu penyelesaian transaksi forward adalah lebih dari dua hari kerja setelah tanggal transaksi. Dalam transaksi forward terdapat satu pihak yang setuju untuk membeli suatu instrumen keuangan yang mendasari (underlying asset) pada tanggal tertentu dimasa depan pada suatu harga tertentu (long position). Derivatif dapat digunakan untuk tujuan: 1) Perdagangan (trading/speculative activities). maka akuntansi lindung nilai dapat diterapkan. b) Dalam hal transaksi derivatif yang digunakan untuk lindung nilai tidak memenuhi kriteria penerapan akuntansi lindung nilai. sedangkan pihak lawan setuju untuk menjual suatu instrumen keuangan yang bersangkutan pada tanggal dan harga yang sama (short position). 2) Lindung nilai terhadap risiko tertentu dalam kegiatan usaha bank. e. a) Dalam hal transaksi derivatif secara khusus dilakukan untuk mengelola risiko dimana hubungan antara instrumen derivatif dan item yang dilindung nilai memenuhi kriteria tertentu.

3) Pertukaran arus kas pokok pada akhir periode kontrak. 230 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Pembayaran biasanya secara neto. Dalam suatu periode pembayaran bunga. Secara umum suatu swap mata uang mempunyai arus kas sebagai berikut: 1) Pertukaran arus kas pokok pada awal kontrak 2) Pembayaran arus kas bunga diantara periode kontrak. Option Opsi (option) adalah suatu kontrak yang memberikan pemegang opsi suatu hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli atau menjual suatu aset yang mendasari pada harga tertentu dan tanggal tertentu. satu pihak akan membayar pada suku bunga tetap/mengambang dan pihak lainnya akan menerima pada suku bunga mengambang/tetap. Opsi tipe Amerika memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari setiap saat sampai opsi itu jatuh tempo. sedangkan opsi tipe Eropa memberikan pilihan kepada pemegang opsi untuk membeli atau menjual aset yang mendasari hanya pada tanggal jatuh tempo. Swap suku bunga adalah instrumen keuangan yang paling umum digunakan untuk lindung nilai atas risiko suku bunga. 1) Swap suku bunga (interest rate swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam mata uang yang sama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Swap Swap adalah suatu perjanjian antara 2 pihak untuk saling mempertukarkan arus kas dari suatu instrumen keuangan yang mendasari pada periode tertentu dimasa depan. misalnya suku bunga dan mata uang. Arus kas didasarkan pada kinerja dari variabel yang mendasari. 2) Swap mata uang (cross currency swap) adalah suatu kontrak pertukaran arus kas pembayaran bunga dalam suatu mata uang tertentu dengan arus kas pembayaran bunga mata uang lainya.

maka bank dapat menggunakan nilai tengah dari harga pasar sebagai dasar untuk menentukan nilai wajar posisi terbuka neto. Penetapan Nilai Wajar Penetapan nilai wajar instrumen derivatif dilakukan berdasarkan hirarki berikut: a. mana yang lebih sesuai. Jika bank memiliki aset atau kewajiban dimana risiko pasar diantara aset dan kewajiban tersebut saling hapus. untuk membeli suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo. tetapi bukan kewajiban. pembeli opsi harus membayar premi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Transaksi Keterangan Dalam transaksi opsi. dan bagi penjual opsi tidak terbatas. Risiko kerugian bagi pembeli opsi adalah sebatas premi yang dibayarkan. sementara risiko futures lebih kecil karena adanya jaminan dari bursa. tetapi bukan kewajiban. Futures 2. 2) Risiko transaksi forward relatif lebih besar karena bersifat bilateral dimana terdapat risiko kegagalan pihak lawan memenuhi kewajiban. Terdapat 2 tipe Standard option yaitu: 1) Call option memberikan hak kepada pemegang kontrak. Transaksi futures mempunyai banyak kemiripan dengan forward. 2) Put option memberikan hak kepada pemegang kontrak. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 231 . sementara forward diperdagangkan secara over the counter. Futures adalah suatu perjanjian untuk membeli atau menjual suatu aset pada tanggal tertentu dimasa depan pada harga tertentu. Standard option juga dikenal sebagai Vanilla option mempunyai persyaratan yang sudah diketahui pada awal transaksi sedangkan Exoctic option mempunyai beberapa persyaratan yang tergantung pada kondisi tertentu selama periode opsi. Kuotasi di pasar aktif. yaitu berdasarkan bid price (harga beli yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan atau ask price (harga jual yang dikuotasikan oleh broker atau dealer) untuk aset yang akan diperoleh atau kewajiban yang dimiliki. Secara umum terdapat 2 jenis kontrak opsi yaitu: Standard option dan Exoctic option. Sementara perbedaan antara kontrak futures dan forward antara lain: 1) Futures diperdagangkan melalui bursa (exchange) dan mempunyai syarat yang telah distandardisasi. untuk menjual suatu aset yang mendasari pada suatu harga tertentu sebelum atau pada waktu jatuh tempo.

2) Harga dari transaksi pasar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama. Karakteristik perubahan arus kas tersebut serupa dengan derivatif yang berdiri sendiri. b. 3. d. Derivatif melekat (embedded derivative) 1) Derivatif melekat dapat menyebabkan perubahan atas arus kas dari kontrak utama berdasarkan perubahan variabel-variabel tertentu. dan (2) Kontrak derivatif yang melekat pada kontrak utama (embedded derivative). kontrak sewa. 3) Kontrak penjualan atau pembelian dalam mata uang asing dapat mengandung derivatif melekat jika mata uang asing tersebut bukan merupakan: a) Jenis mata uang yang secara rutin digunakan untuk transaksi produk tersebut pada perdagangan internasional. 232 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . bank dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi: 1) Harga dari transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar. Kontrak utama dapat berbentuk instrumen utang atau ekuitas. kontrak penjualan atau pembelian instrumen keuangan atau kontrak asuransi. atau 3) penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi. Instrumen keuangan campuran merupakan campuran atau gabungan antara kontrak utama dan kontrak derivatif. b) Pembayaran bunga mengambang dalam instrumen keuangan yang terkait pada suku bunga cap atau floor.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif b. c) Pembayaran bunga atau pokok yang terkait pada indeks harga saham atau komoditas. atau c. Dalam hal tidak terdapat pasar aktif. 2) Contoh derivatif melekat antara lain: a) Fitur konversi saham pada instrumen surat berharga (convertible securities). b) Mata uang yang digunakan dalam pelaporan bagi ke dua pihak dalam kontrak perdagangan. Instrumen Keuangan Campuran (Hybrid instrument) dan Derivatif Melekat (Embedded Derivative) a. Instrumen keuangan campuran mencakup: (1) Kontrak utama yang merupakan instrumen non derivatif.

Yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu instrumen campuran pada tanggal awal pengakuan antara lain: 1) Mengidentifikasi kontrak utama dan derivatif melekat dalam instrumen campuran. Langkah-langkah untuk menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak dari kontrak utama dapat dilihat pada bagan berikut: f. dan 3) Menentukan nilai kontrak utama dan derivatif melekat.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) e. g. Berdasarkan bagan tersebut. derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama jika memenuhi seluruh kriteria berikut: 1) Instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 2) Menentukan apakah derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama dalam instrumen campuran. Mata uang yang secara umum digunakan dalam perekonomian dimana transaksi tersebut terjadi. dan 3) Karakteristik ekonomi dan risiko dari derivatif melekat tidak secara jelas dan erat berkaitan dengan kontrak utama. 2) Jika derivatif melekat dipisahkan dapat merupakan instrumen derivatif yang berdiri sendiri (freestanding derivative) yang memenuhi kriteria derivatif sesuai PSAK 55. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 233 .

atau harga/indeks saham atau instrumen utang komoditas Opsi beli pada instrumen ekuitas atau Kontrak sewa yang terkait dengan tingkat instrumen utang dengan strike price yang inflasi (inflation-indexed) telah ditentukan Opsi perpanjangan (extension option) pada Cap dan floor dalam kontrak penjualan dan instrumen utang bersuku bunga tetap pembelian 234 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . antara lain: “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Opsi jual pada instrumen utang dengan strike price yang terkait dengan perubahan kurs Interest rate swap yang melekat pada mata uang. namun lebih mendasarkan pada pemahaman konsep melalui berbagai contoh ilustrasi. Sementara itu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif h. sementara PSAK 55 tidak memberikan pedoman lebih lanjut mengenai pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat”. Kontrak utama Utang dan Asuransi Ekuitas Sewa Suku bunga Inflasi Risiko kredit Harga saham Suku bunga Inflasi Risiko inheren 3) PSAK 55 . Tabel berikut menggambarkan risiko inheren dari kontrak utama. 2) Derivatif melekat yang memodifikasi risiko inheren dari kontrak utama (misalnya swap dari suku bunga tetap ke suku bunga mengambang) dapat dikatakan berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama.Pedoman Aplikasi (PA) 43 dan 46 memberikan contoh jenis derivatif melekat dengan karakteristik ekonomi dan risiko yang berkaitan secara jelas dan erat dengan kontrak utama maupun sebaliknya. derivatif melekat yang mengubah karakteristik risiko inheren dari kontrak utama tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Pengertian dari “berkaitan secara jelas dan erat” 1) Penentuan adanya suatu hubungan yang jelas dan erat antara derivatif melekat dan kontrak utama relatif sulit.

Bank A tidak harus memisahkan derivatif melekat (Interest Rate Cap) dari kontrak utama (surat berharga). Kontrak forward mata uang asing dengan secara rutin digunakan atas penjualan pembayaran dalam mata uang dari salah satu atau pembelian produk dalam pihak yang bertransaksi perdagangan internasional. 4) Dalam hal terdapat instrumen campuran dan derivatif melekat yang tidak masuk dalam contoh di atas. Penjualan atau pembelian barang atau jasa dalam mata uang asing yang: bukan merupakan mata uang fungsional bagi ke dua pihak. Contoh: a) Bank A menerbitkan surat berharga sebesar Rp. atau tidak digunakan secara umum dalam kegiatan perekonomian dimana transaksi terjadi. maka bank harus melakukan analisa apakah ada hubungan yang jelas dan erat antara kontrak utama dan derivatif melekat. Hal ini disebabkan variabel yang mendasari derivatif melekat adalah tingkat suku bunga yang berkaitan jelas dan erat dengan kontrak utama. 100 milyar dengan suku bunga mengambang LIBOR + 0.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif “Tidak berkaitan secara jelas dan erat” “Berkaitan secara jelas dan erat” Instrumen utang dengan suku bunga yang Obligasi dengan dua mata uang (dual currency terkait (linked) ke kurs mata uang. atau opsi percepatan instrumen utang dimana harga eksekusi opsi pelunasan (prepayment option) pada (exercise price) diperkirakan sama dengan instrumen utang biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) atas instrumen utang pada setiap tanggal eksekusi Credit derivatives yang melekat pada instrumen utang Cap dan floor atas suku bunga dalam instrumen utang jika cap ditetapkan pada atau diatas suku bunga pasar dan floor ditetapkan pada atau dibawah suku bunga pasar pada saat instrumen utang diterbitkan. atau opsi percepatan pelunasan (prepayment option) pada Opsi beli. opsi jual. Surat berharga tersebut mempunyai batas maksimal suku bunga (cap) 7%. atau bonds) harga/indeks saham atau komoditas Opsi konversi menjadi saham (equity Instrumen utang dalam mata uang asing conversion) pada instrumen utang Opsi beli. dan derivatif melekat tersebut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 235 .75%. opsi jual. Suku bunga LIBOR saat penerbitan adalah 5%.

d) Bank G di Indonesia menerima pinjaman dari Bank H di Singapura dalam mata uang Yen. bagi Bank E. atau 236 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000 dengan tingkat suku bunga tetap sebesar 10%. Sementara itu.5%. Bank F harus memisahkan derivatif melekat (opsi mata uang) dari kontrak utama (deposito berjangka) karena: (1) derivatif melekat yang merupakan suatu opsi mata uang tidak berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama yang berbasis tingkat suku bunga.000. Bank D harus mencatat secara terpisah antara kontrak utama (surat berharga) dan derivatif melekat (opsi untuk mengkoversi ke saham Bank E). b) Bank D membeli surat berharga yang diterbitkan oleh Bank E sebesar Rp 100 milyar dengan suku bunga tetap. Meskipun derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. (2) opsi mata uang memenuhi persyaratan sebagai suatu derivatif. namun dapat dianggap tidak berkaitan dan harus dipisahkan apabila memenuhi kondisi berikut: 1) instrumen campuran dapat diselesaikan dengan cara yang mengakibatkan pemegang instrumen campuran tidak akan memperoleh kembali seluruh nilai investasi secara substansial. i. meskipun ke dua pihak tidak melakukan transaksi di Jepang dalam jumlah yang signifikan. Bank D mempunyai opsi untuk mengkonversikan surat berharga tersebut dengan 1 juta saham Bank E. Bank G harus memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama karena karakteristik ekonomi dan risiko dari pinjaman yang diterima tidak berkaitan erat dengan foreign exchange forward. Tingkat suku bunga pasar pada saat penerbitan adalah 4. Pinjaman yang diterima Bank G merupakan kontrak utama dengan derivatif melekat dalam bentuk foreign exchange forward untuk membeli Yen. dan (3) keseluruhan instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. instrumen yang diterbitkan harus dicatat sebagai instrumen utang atau ekuitas sesuai PSAK 50.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tidak menggandakan hasil dari suku bunga pasar ketika surat berharga diterbitkan. c) Bank F menerbitkan deposito berjangka USD 1. Kontrak tersebut memberikan hak kepada Bank F untuk memilih mata uang (USD atau IDR) yang akan digunakan untuk mengembalikan nilai pokok deposito pada saat jatuh tempo.

Jika derivatif melekat dipisahkan dari kontrak utama. kecuali instrumen derivatif tersebut ditetapkan dan memenuhi kriteria sebagai instrumen lindung nilai. khususnya jika: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 237 . Jika derivatif melekat berkaitan erat dan jelas dengan kontrak utama. Keseluruhan instrumen campuran yang memenuhi kondisi pada angka (1) dan (2) diatas diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. dan dapat menghasilkan tingkat pengembalian setidaknya dua kali lebih besar dibandingkan tingkat pengembalian pasar atas kontrak yang memiliki syarat yang sama dengan kontrak utama. maka derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama dan keseluruhan instrumen campuran harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. maka derivatifderivatif tersebut dicatat secara terpisah satu dengan lainnya. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dimana derivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu. maka derivatif melekat tersebut harus diakui sebagai instrumen derivatif yang berdiri sendiri dan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. kecuali: 1) derivatif melekat tersebut tidak akan merubah atau memodifikasi secara signifikan arus kas sesuai persyaratan pada kontrak utama. misalnya opsi pelunasan dipercepat (prepayment option) yang melekat pada fasilitas Kredit yang memungkinkan debitur melunasi pinjamannya lebih awal. namun instrumen campuran tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. n. k. kontrak utama diakui dan diukur sesuai PSAK 55 jika merupakan instrumen keuangan. j. m. l. atau PSAK lain yang sesuai jika bukan merupakan instrumen keuangan. maka bank menetapkan keseluruhan instrumen campuran tersebut sebagai aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). yaitu kurang lebih sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). atau 2) pada instrumen campuran tertentu dimana dipertimbangkan bahwa derivatif melekat tersebut memang tidak boleh dipisahkan dari kontrak utama. Bank dapat tidak melakukan langkah-langkah untuk menetapkan apakah derivatif melekat harus dipisahkan atau tidak sebagaimana huruf f) diatas. Jika derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama sebagaimana huruf l) di atas. Selanjutnya. serta independen antara satu dengan lainnya.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) derivatif melekat tersebut dapat sekurang-kurangnya menggandakan tingkat pengembalian awal yang diperoleh pemegang instrumen campuran.

bank dapat menggunakan teknik penilaian. maka nilai wajar derivatif melekat dapat ditentukan berdasarkan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar kontrak utama hanya jika kedua nilai wajar tersebut dapat ditentukan. Selanjutnya. p. dan/atau 3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. terhadap suatu instrumen campuran yang kompleks yang masuk kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dan diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost). Penetapan nilai wajar derivatif melekat 1) Derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utama harus diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. 2) proses pemisahan menimbulkan beban tambahan bagi bank. maka bank dapat tidak memisahkan derivatif melekat dan selanjutnya keseluruhan instrumen campuran tersebut ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). 2) Bukti terbaik atas nilai wajar adalah kuotasi harga di pasar aktif. bank menetapkan untuk mengukur instrumen campuran tersebut pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. bank dapat tidak melakukan penilaian terhadap pemenuhan kriteria 2 dan 3 pada huruf f) di atas dan tidak memisahkan derivatif melekat dari kontrak utama.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) pemisahan sulit dilakukan karena kompleksitas dari instrumen campuran. Asumsi yang digunakan dalam teknik penilaian harus didokumentasikan dan diterapkan secara konsisten. 238 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika tidak terdapat pasar aktif yang menggambarkan syarat dan kondisi yang sama dengan derivatif melekat. o. 4) Jika metode pengukuran nilai wajar sebagaimana pada angka (3) diatas tidak dapat dilakukan. maka bank menetapkan instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value option). 3) Apabila bank tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara andal. Perlakuan terhadap derivatif melekat sebagaimana diatur dalam PSAK 55 antara lain bertujuan untuk memastikan bahwa pengukuran derivatif melekat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi tidak dihindari dengan melekatkan pada kontrak utama yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Sebagai contoh.

b. arus kas. risiko nilai tukar. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 239 . Tidak seluruh lindung nilai ekonomi dapat memenuhi persyaratan untuk akuntansi lindung nilai berdasarkan PSAK 55. Hal ini akan menimbulkan ketidaksesuaian (mismatch) periode pengakuan keuntungan (gain) dan kerugian (loss) dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. (2) jenis risiko yang dilindung nilai. dll). dll) 2) Akuntansi lindung nilai (hedge accounting) merupakan suatu perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi lindung nilai yang mencakup instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. Lindung nilai ekonomi dan akuntansi lindung nilai 1) Lindung nilai ekonomi (economic hedges) merupakan suatu transaksi yang bertujuan untuk mengurangi eksposur risiko (misalnya risiko suku bunga. biaya perolehan diamortisasi. maka instrumen lindung nilai (yang umumnya merupakan instrumen derivatif) akan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. atau nilai wajar sesuai kategori instrumen keuangan tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4. sementara item yang dilindung nilai (umumnya merupakan instrumen keuangan) akan diukur berdasarkan biaya perolehan. (4) identifikasi jenis hubungan lindung nilai yang digunakan (misalnya lindung nilai atas nilai wajar. Akuntansi Lindung Nilai (Hedge Accounting) a. Bank harus membuat suatu dokumentasi formal atas hubungan suatu lindung nilai yang sekurangkurangnya mencakup: (1) tujuan manajemen risiko serta strategi pelaksanaan lindung nilai. Dengan akuntansi lindung nilai. (3) identifikasi instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. bank dapat melakukan saling hapus antara keuntungan dan kerugian pada periode yang sama berdasarkan nilai wajar dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi pada periode yang sama Jika akuntansi lindung nilai tidak diterapkan. Persyaratan akuntansi lindung nilai 1) Penerapan akutansi lindung nilai hanya diperbolehkan jika memenuhi seluruh kondisi berikut: a) Pada saat dimulainya lindung nilai terdapat penetapan dan pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (5) tanggal dimulainya penetapan hubungan lindung nilai. maka. 240 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Jika hal-hal tersebut diatas tidak ditetapkan secara tertulis. dan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. e) Hubungan lindung nilai dievaluasi secara berkesinambungan dan lindung nilai sangat efektif sepanjang periode pelaporan keuangan di mana lindung nilai tersebut ditetapkan. 2) Jika tidak memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai. (2) Pengukuran efektivitas tersebut harus didukung dengan sistem yang secara periodik dapat mengidentifikasi dan mengukur perubahan nilai dari item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai sejak penetapan awal hubungan lindung nilai. baik secara prospektif maupun retrospektif. c) Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif (highly effective). termasuk periode waktu dimana transaksi tersebut diharapkan akan terjadi. dan (6) cara yang akan digunakan untuk menilai efektivitas instrumen lindung nilai. (3) Bank dapat menggunakan model kuantitatif atau statistik untuk melakukan analisis dan penilaian efektivitas lindung nilai. Metode dan prosedur penilaian dan pengukuran efektivitas lindung nilai harus dijelaskan secara detail dan konsisten selama periode lindung nilai. transaksi lindung nilai tidak memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. maka bank harus menghentikan secara permanen akuntansi lindung nilai sejak tanggal terakhir lindung nilai tersebut mampu memenuhi kriteria efektivitas lindung nilai dimaksud. b) Prakiraan transaksi (forecast transactions) yang dilindung nilai sangat mungkin terjadi (highly probable) dan terekspos pada risiko perubahan arus kas yang dapat mempengaruhi laporan laba rugi Bank harus mengidentifikasi dan mendokumentasikan seluruh data dan informasi terkait yang dapat mendukung proses penetapan hubungan lindung nilai atas prakiraan transaksi tersebut. yang dapat berbeda pada setiap jenis lindung nilai. d) Efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal (1) Bank harus dapat mengukur nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai. (4) Metode penilaian efektivitas lindung nilai didasarkan pada strategi manajemen risiko.

c. b) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. instrumen lindung nilai juga dapat berupa aset atau kewajiban keuangan non derivatif. yaitu: a) Instrumen derivatif yang ditetapkan (designated derivative) untuk tujuan lindung nilai (1) PSAK 55 mendefinisikan instrumen lindung nilai sebagai suatu instrumen derivatif yang ditetapkan untuk lindung nilai dimana perubahan nilai wajar atau arus kas diharapkan saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang ditetapkan untuk dilindung nilai. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai instrumen lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Bank dapat menetapkan suatu hubungan lindung nilai baru atas item yang dilindung nilai tersebut sepanjang semua persyaratan akuntansi lindung nilai dipenuhi. yang dapat dilakukan antara lain dengan menetapkan: a) instrumen lindung nilai lainnya. Penetapan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen derivatif harus ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai secara keseluruhan. (2) Meskipun perusahaan dalam grup usaha bank saling melakukan transaksi lindung nilai. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 241 . namun tidak memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. (2) Instrumen yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai juga dapat mencakup derivatif melekat yang dipisahkan dari kontrak utamanya. (3) Khusus untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. dan/atau b) risiko lain yang akan dilindung nilai. hanya instrumen yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifikasi sebagai instrumen lindung nilai. transaksi tersebut akan tereliminasi dalam laporan keuangan konsolidasi. Instrumen lindung nilai (hedging instrument) 1) Instrumen keuangan dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai hanya jika instrumen tersebut memenuhi kondisi berikut. Transaksi lindung nilai intra-group tersebut dapat memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai untuk laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual).

Sebagai contoh. bank tidak diperbolehkan hanya menentukan komponen mata uang dari suatu swap mata uang (cross currency swap) sebagai instrumen lindung nilai tanpa mengikutsertakan komponen suku bunga. Jika harga eksekusi lebih besar dari harga pasar saat ini. (2) Pengecualian hanya diperkenankan jika bank: (a) memisahkan nilai intrinsik1 dan nilai waktu2 dari kontrak opsi dan hanya menetapkan perubahan nilai intrinsik dari opsi tersebut sebagai instrumen lindung nilai. maka nilai wajar opsi sama dengan nilai waktu. 1 242 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . maka nilai intrinsik sama dengan nol. 60% dari jumlah nosional suatu instrumen derivatif dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai. dan (b) memisahkan elemen bunga dan harga saat ini (spot price) dari kontrak berjangka (forward contract) dan hanya menetapkan spot price sebagai instrumen lindung nilai. c) Bank dapat menetapkan suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai terhadap lebih dari satu jenis risiko sepanjang: (1) risiko-risiko tersebut dapat diidentifikasi secara jelas. termasuk lindung nilai atas portofolio aset atau kewajiban keuangan. Pengecualian-pengecualian tersebut diperkenankan karena nilai intrinsik suatu opsi dan premi dari kontrak berjangka (spot price) umumnya dapat diukur secara terpisah. d) Portofolio derivatif (dua atau lebih instrumen derivatif) atau proporsi dari instrumen-instrumen tersebut dapat ditetapkan secara bersama sebagai instrumen lindung nilai. Jika nilai intrinsik nol. (2) efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Bank tidak diperbolehkan menggunakan komponen tertentu saja dari suatu instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. dan (3) terdapat penetapan khusus atas instrumen lindung nilai dan posisi risiko-risiko yang dilindung nilai. b) Bank dapat menetapkan porsi tertentu dari keseluruhan instrumen derivatif sebagai instrumen lindung nilai. Sebagai contoh. 2 Nilai waktu adalah perbedaan antara nilai wajar opsi (premi) dan nilai intrinsik. Nilai intrinsik adalah perbedaan antara harga eksekusi (strike price) dan harga pasar saat ini dari variabel yang mendasari.

Dalam setiap periode pelaporan. Hubungan lindung nilai tidak dapat ditetapkan hanya untuk bagian tertentu dari periode waktu berlakunya instrumen lindung nilai. dan pengakuan instrumen keuangan baru. aset keuangan dalam mata uang asing digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas kewajiban keuangan dalam mata uang asing. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 243 . 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai antara lain mencakup: a) Instrumen bukan derivatif (non-derivative) Instrumen non derivative tidak memenuhi persyaratan sebagai instrumen lindung nilai. dimana selisih bersih dari ke dua opsi tersebut merupakan opsi yang dibeli (purchased option). bank tidak perlu merubah nilai instrumen lindung nilai. penghentian pengakuan aset dan kewajiban keuangan. Sebagai contoh. instrumen derivatif dengan jangka waktu 5 tahun tidak boleh ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai hanya untuk 3 tahun pertama saja. jumlah aset dan kewajiban keuangan akan berubah berdasarkan ekpektasi pelunasan dipercepat. b) Instrumen yang tidak memiliki kuotasi (unquoted instrument) Instrumen derivatif yang dikaitkan pada instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi dan harus diselesaikan dengan penyerahan instrumen ekuitas tersebut tidak dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai karena nilai wajar instrumen tersebut tidak dapat diukur secara andal c) Instrumen ekuitas yang diterbitkan bank (own equity instrument) d) Opsi yang diterbitkan (written option) Opsi yang diterbitkan tidak bisa digunakan sebagai instrumen lindung nilai kecuali digabungkan dengan opsi yang dibeli (purchased option). Sebagai contoh. melainkan menambah instrumen lindung nilai baru ke dalam hubungan lindung nilai. Hal ini berarti dalam suatu portofolio. kecuali instrumen non derivative yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. nilai item yang dilindung nilai dapat berubah dari waktu ke waktu.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif e) Sebagai contoh: Bank memiliki portofolio aset dan kewajiban keuangan yang dilindung nilai terhadap risiko pelunasan dipercepat (prepayment risk). Namun.

kewajiban. atau investasi neto pada operasi di luar negeri (khususnya lindung nilai atas risiko nilai tukar).Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. yang memiliki karakteristik risiko yang serupa. komitmen pasti. Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai harus memperhatikan hal-hal berikut: a) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya suatu bagian tertentu (portion) 244 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . namun tidak dalam laporan keuangan konsolidasi dari grup usaha bank. (2) Akuntansi lindung nilai dapat diterapkan atas transaksi antar perusahaan dalam grup usaha bank dalam laporan keuangan setiap perusahaan secara tersendiri (individual). prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. kewajiban. b) Aset atau kewajiban non keuangan secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang terkespos risiko nilai tukar saja. komitmen pasti. atau investasi neto pada operasi di luar negeri. c) Instrumen melibatkan pihak eksternal (1) Untuk tujuan akuntansi lindung nilai. 2) Penetapan instrumen keuangan sebagai item yang dilindung nilai. kewajiban. Instrumen keuangan tersebut diatas merupakan instrumen keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang terekspos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat menyebabkan perubahan nilai wajar atau arus kas sehingga berdampak pada pada laporan laba rugi dalam periode berjalan atau periode mendatang. yaitu: a) Instrumen keuangan ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (designated item). prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. komitmen pasti. dan/atau (3) Bagian tertentu dari portofolio aset atau kewajiban keuangan yang terkespos risiko yang sama yang dilindung nilai. hanya aset. Item yang dilindung nilai (hedged item) 1) Instrumen keuangan dapat merupakan item yang dilindung nilai hanya jika memenuhi kondisi berikut. (2) Sekelompok aset. yang berdasarkan PSAK 55 dapat mencakup: (1) Suatu aset. dan transaksi yang diperkiraan kemungkinan besar terjadi yang melibatkan pihak eksternal bank yang dapat memenuhi kualifkasi sebagai item yang dilindung nilai.

(2) Instrumen keuangan tersebut juga dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. bank dapat menetapkan hanya bagian eksposur suku bunga dari aset keuangan tersebut yang ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. b) Suatu kelompok instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai (1) Dalam hal aset atau kewajiban keuangan individual dalam suatu kelompok memiliki kemiripan dan terekspos pada risiko yang sama. item yang dilindung nilai dapat meliputi bagian tertentu dari arus kas kontraktual atau persentase tertentu dari nilai wajar. Dalam hal ini. posisi neto yang dinyatakan dalam suatu jumlah mata uang asing dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Bank A dapat menetapkan item yang dilindung nilai sebesar US$ 50. Sebagai contoh: Bank A memiliki aset keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 300 dan kewajiban keuangan bersuku bunga tetap sebesar US$ 250 yang terekspos pada karakterisitik risiko yang sama. maka aset dan kewajiban tersebut dapat dilindung nilai sebagai suatu kelompok item yang dilindung nilai (group of hedged item). sepanjang efektivitas lindung nilai dapat diukur secara andal. c) Instrumen non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atau hanya atas risiko nilai tukar. posisi neto secara keseluruhan (overall net position) tidak dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai. Namun. yaitu atas suatu bagian tertentu saja dari nilai wajar atau arus kas. Sebagai alternatif.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Instrumen keuangan dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan. Sebagai contoh: Aset keuangan bersuku bunga tetap dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai dari perubahan nilai wajar. yaitu seluruh nilai wajar atau seluruh arus kas. (2) Dalam kelompok item yang dilindung nilai tersebut. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 245 .

(2) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai atas perubahan nilai wajar yang dapat diatribusikan pada risiko nilai tukar. Kedua cara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda serta tingkat kemungkinan terjadi yang berbeda. (2) kemampuan keuangan dan operasionl bank dalam melakukan transaksi tersebut. (5) kemungkinan dilakukannya alternatif transaksi lain. (6) kuantitas dan rentang waktu transaksi. (4) besarnya kerugian atau gangguan yang dapat terjadi jika transaksi tidak dilakukan. (3) adanya komitmen sumber daya yang substansial/nyata bagi aktivitas tertentu. bank dapat melakukan dengan berbagai cara seperti menerbitkan saham atau memperoleh pinjaman. 246 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Sebaliknya. dan/atau (7) rencana bisnis bank. Sebagai contoh: jika ingin memperoleh pendanaan (funding). seperti halnya perubahan suku bunga pasar yang dapat mempengaruhi nilai dari surat berharga.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Aset atau kewajiban non keuangan hanya dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai secara keseluruhan atas seluruh jenis risiko. bank harus memperhatikan fakta-fakta yang dapat diobservasi dan kondisi-kondisi seperti: (1) frekuensi transaksi serupa di masa lalu. semakin panjang rentang waktu perkiraan (forecast). Dalam mengukur kemungkinan terjadinya transaksi. semakin kecil kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. Semakin besar kuantitas (jumlah atau nilai) yang akan ditransaksi. semakin besar kemungkinan terjadinya transaksi tersebut. Hal ini dikarenakan perubahan nilai dari suatu komponen pada item non keuangan yang dilindung nilai tidak dapat diukur dan mempengaruhi nilai dari item non keuangan tersebut. Hal ini dikarenakan eksposur mata uang asing dari aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing dapat diukur secara terpisah. d) Suatu prakiraan transaksi dapat ditetapkan sebagai item yang dilindung nilai sepanjang kemungkinan besar akan terjadi.

setiap risiko keuangan yang timbul dalam kegiatan usaha bank dapat dilindung nilai. kecuali aset keuangan yang terkespos pada risiko nilai tukar atau risiko kredit yang dapat dilindung nilai. 3) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen non keuangan antara lain mencakup risiko nilai tukar dan risiko nilai wajar secara keseluruhan. dan risiko kredit. d) Instrumen derivatif (kecuali opsi yang dibeli sebagai item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar). atau kantor cabang di luar negeri. dan e) Semua transaksi yang terkait dengan saham (ekuitas) yang diterbitkan bank (own equity). b) Penyertaan pada perusahaan anak (subsidiaries) atau perusahaan asosiasi (assosiated companies) yang dikonsolidasikan atau diukur menggunakan metode ekuitas (equity method). yaitu selisih antara aset dan kewajiban. e. c) Posisi terbuka neto (net open position) dari suatu portofolio. bank tetap wajib melakukan evaluasi terjadinya penurunan nilai (impairment) berdasarkan bukti obyektif setelah memperhitungkan perubahan nilai wajar. PSAK 55 menyatakan bahwa: a) Hanya risiko tertentu yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan untuk dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Instrumen keuangan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai item yang dilindung nilai antara lain mencakup: a) Aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 247 . risiko nilai tukar. perusahaan asosiasi. sehingga tidak akan terekspos pada risiko dari perubahan suku bunga pasar atau pelunasan dini. Hal ini dikarenakan pengakuan keuntungan atau kerugian bersumber dari laba atau rugi perusahaan anak atau perusahaan asosiasi dan bukan dari perubahan nilai wajar investasi. dan b) Risiko-risiko tersebut dapat berdampak pada laporan laba rugi. Risiko yang dilindung nilai (hedged risk) 1) Pada prinsipnya. 2) Jenis-jenis risiko yang dapat dilindung nilai untuk instrumen keuangan antara lain mencakup risiko suku bunga. karena aset keuangan tersebut dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan jatuh tempo. kecuali penyertaan bersih pada perusahaan anak. 4) Terhadap item yang dilindung. Namun. risiko pelunasan dipercepat.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 4) Untuk memenuhi kualifikasi akuntansi lindung nilai. lindung nilai harus terkait dengan risiko yang telah diidentifikasi dan ditetapkan secara spesifik dan mempengaruhi laporan laba rugi. f. a) Penilaian secara prospektif (prospective test) yang dilakukan pada tanggal awal penetapan hubungan lindung nilai dan pada periode-periode selanjutnya (lihat Bagan di bawah). dan b) Hasil aktual dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dan perubahan nilai wajar atau arus kas yang diharapkan dari item yang dilindung nilai saling menghapus pada kisaran 80%– 125%. Bank dapat menggunakan berbagai metode penilaian yang didasarkan pada strategi manajemen risiko dan didokumentasikan dengan jelas. Metode penilaian tersebut harus ditetapkan pada awal hubungan lindung nilai dan pada periodeperiode selanjutnya. 2) Lindung nilai dianggap sangat efektif jika kedua kondisi di bawah ini terpenuhi: a) Lindung nilai tersebut diharapkan akan sangat efektif untuk saling hapus terhadap perubahan nilai wajar atau arus kas yang diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai pada saat dimulainya lindung nilai dan periode selanjutnya selama periode lindung nilai tersebut. yaitu diakui pada laporan laba rugi untuk instrumen dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi atau diakui secara langsung dalam ekuitas untuk instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. 3) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai (effectiveness test) Penilaian efektivitas hubungan lindung nilai harus dilakukan secara prospektif dan retrospektif yang meliputi penilaian kualitatif maupun kuantitatif. Efektivitas lindung nilai (hedge effectiveness) 1) Efektivitas lindung nilai merupakan penilaian sejauh mana perubahan nilai wajar atau arus kas dari item yang dilindungi yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai dapat saling hapus dengan perubahan nilai wajar atau arus kas dari instrumen lindung nilai. 5) Jika risiko yang dilindung nilai hanya risiko-risiko tertentu yang dapat diatribusikan pada item yang dilindung nilai. maka perubahan yang diakui dalam nilai wajar item yang dilindung nilai yang tidak berkaitan dengan risiko yang dilindung nilai diakui berdasarkan kategori item yang dilindung nilai. 248 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (1) Penilaian ini didasarkan pada perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal lindung nilai dan pada periode selanjutnya. tanggal jatuh tempo atau tanggal penyesuaian suku bunga (repricing dates) dan variabel yang mendasari) serta nilai wajar derivatif adalah nol pada tanggal awal (inception date). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 249 . yang disertai dengan bukti yang dapat mendukung perkiraan tersebut. antara lain: (a) Critical Terms Comparison Method Merupakan metode yang paling sederhana yang bersifat kualitatif dengan membandingkan persyaratan-persyaratan utama antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. hubungan lindung nilai adalah efektif jika item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai bersifat identik (yaitu terdapat kesamaan antara lain dalam hal jumlah nosional. (3) Perkiraan terhadap efektivitas lindung nilai secara prospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. (2) Bank juga harus memperkirakan bahwa hubungan lindung nilai tersebut sejalan dengan strategi manajemen risiko. Dalam metode ini.

diperlukan penilaian efektivitas yang dilakukan secara retrospektif.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Perysaratan yang identik antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai tidak menjamin bahwa lindung nilai akan selalu efektif. Indikator pengukuran dalam metode ini antara lain RSquare (Coefficient of determination) yang menunjukkan persentase perubahan pada item yang dilindung nilai yang dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. namun tidak dapat mengukur mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif. Oleh karena itu. bank tetap harus melakukan pengukuran efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif. karena dapat terjadi perubahan kondisi. misalnya perubahan kredibilitas pihak lawan dalam transaksi derivatif lindung nilai. (1) Jika suatu lindung nilai telah menunjukkan hubungan yang efektif secara prospektif. (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang bersifat kuantitatif untuk memperkirakan hubungan lindung nilai di masa datang dengan membandingkan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari item yang dilindung nilai dengan perubahan nilai wajar atau arus kas masa lalu dari instrumen lindung nilai dan melihat korelasi statistik diantara kedua perubahan tersebut yang dapat mendukung pengukuran yang sama dimasa yang akan datang. 250 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . b) Penilaian secara retrospektif (retrospective test) yang dilakukan setiap tanggal pelaporan interim (paling kurang setiap 3 bulan) dan tanggal pelaporan akhir tahun.85 menunjukkan bahwa 85% dari perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai dapat dijelaskan oleh instrumen lindung nilai. Sebagai contoh: R-Square sebesar 0. Umumnya R-Square harus berada dalam kisaran 80%-100% Meskipun Regression Analysis dapat membuktikan apakah hubungan antara item yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai cukup efektif untuk memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai.

125%. Efektivitas dapat diukur berdasarkan 2 pendekatan. Perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai Rasio Lindung nilai = —————————————— ——————— Perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Suatu hubungan lindung nilai adalah sangat efektif jika rasio lindung nilai berada dalam kisaran antara 80% . yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak tanggal terakhir penilaian. yaitu: − Periode ke periode (period by period basis). (3) Efektivitas lindung nilai harus dinilai secara berkesinambungan dan ditetapkan sangat efektif selama periode laporan keuangan dimana hubungan lindung nilai ditetapkan. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 251 . Dalam hal bank menetapkan untuk menggunakan pendekatan Kumulatif. maka bank hanya menetapkan 75% dari eksposur tersebut sebagai item yang dilindung nilai dan efektivitas hanya dinilai atas dasar 75% dari eksposur tersebut. (a) Dollar Offset Method Metode ini merupakan metode yang paling sederhana untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara retrospektif dengan membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai selama periode waktu tertentu sebelum tanggal penilaian. (4) Penilaian efektivitas lindung nilai secara retrospektif dapat dilakukan dengan berbagai metode. antara lain:. Kumulatif (cumulative basis). yaitu pendekatan yang membandingkan perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai dengan item yang dilindung nilai sejak penetapan awal lindung nilai. − Pemilihan pendekatan harus ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (2) Penilaian ini didasarkan pada evaluasi terhadap efektivitas aktual. Jika bank melakukan lindung nilai terhadap kurang dari 100% nilai eksposur (misalnya 75%).

maka hal tersebut harus telah ditetapkan sejak penetapan awal lindung nilai dan menjadi bagian dari dokumentasi formal hubungan dan strategi lindung nilai. Pendekatan Periode ke Pendekatan Kumulatif Periode Periode Lindung nilai Lindung Obligasi Swap yang tidak Rasio lindung nilai yang Rasio lindung nilai nilai efektif tidak efektif Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4 100 60 (40) 120 (90) (65) 20 (120) 10 (100-90) (5) (60-65) (20) (-40+20) 0 (120-120) 10 (100-90) 5 108% (65/60) (160-155) 50% (15) (20/40) (120-135) 100% (15) (120/120) (240-255) 90% (90/100) 90% (90/100) 97% (155/160) 113% (135/120) 106% (255/240) Perubahan Nilai Wajar Penggunaan Dollar Offset Method memiliki kelebihan. baik pada saat dimulainya lindung nilai maupun pada periode selanjutnya. yaitu dengan menetapkan suatu transaksi derivatif yang serupa dengan arus kas yang dilindung nilai (yang memiliki jumlah dan 252 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif maka ketidakefektifan lindung nilai yang terjadi pada suatu periode tertentu tidak serta merta menjadi alasan bagi pelarangan atau penghentian penerapan akuntansi lindung nilai (lihat ilustrasi dalam tabel berikut). c) Pengukuran efektivitas lindung nilai dapat dilaksanakan dengan dasar setelah pajak (after tax basis). yaitu dapat mengukur bagian yang tidak efektif dalam suatu lindung nilai yang efektif (b) Regression Analysis Method Merupakan metode yang sama yang digunakan untuk menilai efektivitas hubungan lindung nilai secara prospektif. e) Dalam melakukan pengukuran efektivitas lindung nilai atas arus kas (cash flow hedge) dimana item yang dilindung nilai belum diakui dalam neraca. bank dapat menggunakan suatu proxy derivative atau hypothetical derivative. d) Bank harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya wanprestasi oleh pihak lawan (counterparty) terhadap instrumen lindung nilai dalam menilai efektivitas lindung nilai. Jika bank akan mengukur lindung nilai dengan dasar setelah pajak.

275.83% 101.550.00% 99. Untuk mengukur efektivitas lindung nilai.60 196. (1) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (over hedge).125% sehingga dikatakan sangat efektif. bank menggunakan hypothetical derivative yang menyerupai FRN sebagai item yang dilindung nilai.20 503.27 199.11% 101. a) Dalam Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif secara otomatis diakui pada laporan laba rugi.52 205.81 204.83 0 99.70 720.08 514.918.098.837. b) Dalam Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) Bagian dari lindung nilai yang tidak efektif diukur berdasarkan Dollar Offset Method yang diakui pada laporan laba rugi. Perubahan Perubahan Nilai Wajar Nilai Wajar Hypothetical IRS Derivative 0 111.81 315.275.468.854.340.92% 102.14 Kumulatif Perubahan Nilai Wajar Hypothetical Derivative 0 111. 4) Bagian yang tidak efektif dalam lindung nilai yang efektif Meskipun rasio lindung nilai secara prospektif dan restrospektif berada dalam kisaran 80% . bank melakukan transaksi interest rate swap (IRS).29 Kumulatif Efektivitas Efektivitas Perubahan Lindung Lindung Nilai Wajar Nilai Nilai IRS Kumulatif 0 111.42% 102. Untuk melindung nilai terhadap perubahan arus kas yang disebabkan perubahan suku bunga.254.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal jatuh tempo yang sama) serta memiliki nilai wajar nol pada saat pengakuan awal. maka Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 253 .60 196.50% Tanggal 14 Jul 09 31 Jul 09 31 Aug 09 30 Sep 09 31 Oct 09 Lindung nilai dinilai efektif karena rasio lindung nilai secara kumulatif berada pada kisaran 80%-125%. namun terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif yang harus diakui dalam laporan laba rugi.918.15 709.62% 100. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan floating rate note (FRN) dengan suku bunga mengambang.496.81 307. Hasil dari transaksi lindung nilai dapat dilihat pada tabel berikut.936.95 205.020.92% 103.340.254.14 0 111.

SBI). dan/atau (4) kredibilitas perusahaan dan pihak lawan (counterparty) dalam hubungan lindung nilai. maka tidak terdapat bagian yang tidak efektif. (2) jatuh tempo (maturity) atau tanggal penyesuaian suku bunga berikutnya (repricing dates). atau tanggal penyerahan. 254 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .5 (10) 85% - 5) Hubungan lindung nilai yang tidak efektif (ineffectiveness) a) Hubungan lindung nilai yang berada diluar kisaran 80%-125% tidak lagi memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai sehingga harus dihentikan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif selisih lebih tersebut merupakan bagian yang tidak efektif dan diakui pada laporan laba rugi. (3) kuantitas. b) Sumber penyebab ketidakefektifan suatu hubungan lindung nilai adalah terdapatnya perbedaan antara instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai. misalnya perbedaan mata uang (USD vs. lokasi. (2) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih kecil dari pada perubahan nilai wajar (nilai kini) kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai (under hedge). GBP) atau perbedaan suku bunga referensi (JIBOR vs. yaitu meliputi perbedaan: (1) basis. Nilai Wajar Kondisi 1 2 (overhedge) 3 (underhedge) Instrumen Lindung Nilai 7 12 Item yang Dilindung Nilai (10) (10) Rasio Lindung Nilai 70% 120% Keterangan Lindung nilai tidak efektif Lindung nilai efektif Bagian yang tidak efektif sebesar 2 diakui dalam laba rugi Lindung nilai efektif Tidak terdapat bagian yang tidak efektif 8.

Strategi manajemen risiko Bank A adalah sumber pendanaan dalam suku bunga mengambang sehingga Bank A memutuskan untuk membeli swap suku bunga dengan nilai nosional sebesar Rp. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi. namun bank c. 100 milyar yang mewajibkan Bank A membayar suku bunga mengambang (LIBOR) dan menerima suku bunga tetap sebesar 7%. Akuntansi Lindung Nilai atas Nilai Wajar (Fair Value Hedge) a. Pengukuran efekivitas hubungan lindung nilai ditentukan dengan mengukur rasio perubahan nilai wajar dari swap suku bunga dan perubahan nilai wajar atas obligasi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. Lindung nilai atas nilai wajar antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas nilai wajar Kredit bersuku bunga tetap Meskipun Kredit dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang (Loans and Receivables) umumnya akan dimiliki hingga jatuh tempo. sehingga keuntungan/kerugian dari keduanya diakui dalam periode yang sama dan selanjutnya dapat dilakukan saling hapus. Namun. yaitu dengan menarik ke depan pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai ke periode pengakuan keuntungan/kerugian atas perubahan nilai wajar dari instrumen lindung nilai. Bank A menetapkan swap suku bunga sebagai instrumen lindung nilai untuk risiko suku bunga atas obligasi yang diterbitkan. dan 3) Bagian tertentu yang telah diidentifikasi dari aset. Perlakuan akuntansi lindung nilai atas nilai wajar memberikan pengecualian dari perlakuan akuntansi secara umum. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 255 . b. 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan tingkat suku bunga tetap sebesar 7%/tahun. Komitmen pasti hanya dapat dilindung nilai dengan lindung nilai atas nilai wajar. kewajban. Lindung nilai atas nilai wajar merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan nilai wajar dari: 1) Aset dan kewajiban 2) Komitmen pasti. atau komitmen pasti. lindung nilai atas risiko nilai tukar dari komitmen pasti dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau lindung nilai atas arus kas. Sebagai contoh: Bank A menerbitkan obligasi sejumlah Rp.

dan 4) Lindung nilai atas nilai wajar komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset non keuangan (misalnya kontrak untuk membeli atau menjual emas di masa datang pada harga yang sudah ditetapkan). Penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar dapat dihentikan secara prospektif dalam 3 kondisi. Oleh karena itu. 2) Lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. Penghentian harus dilakukan sejak 256 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . dan 2) prakiraan transaksi yang tidak terekspos pada risiko perubahan nilai wajar akan diperlakukan seolah-olah terekspos pada risiko tersebut. e. Kredit bersuku bunga tetap yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) juga terekspos risiko suku bunga dan bank dapat melakukan lindung nilai menggunakan lindung nilai atas nilai wajar. Oleh karena itu. dihentikan atau dieksekusi. termasuk jika kemungkinan terjadinya wanprestasi pihak lawan (counterparty) semakin besar (probable). Berbeda halnya dengan aset keuangan dalam kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo yang juga diukur pada biaya perolehan diamortisasi. prakiraan transaksi hanya dapat dilindung nilai menggunakan lindung nilai atas arus kas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dapat mereklasifikasikan atau menjual Kredit dimaksud. dijual. dimana bank mempunyai intensi untuk memiliki aset keuangan tersebut sampai jatuh tempo sehingga tidak perlu dilindung nilai baik atas risiko suku bunga maupun risiko pelunasan dipercepat. 2) Lindung nilai atas nilai wajar aset keuangan dalam kategori Tersedia Untuk Dijual. d. Lindung nilai atas nilai wajar tidak dapat digunakan untuk prakiraan transaksi karena: 1) dapat menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban sebelum bank menjadi pihak dalam kontrak. yaitu: 1) Instrumen lindung nilai kadaluarsa. 3) Lindung nilai atas nilai wajar aset non keuangan. Penggantian atau perpanjangan instrumen lindung nilai bukan merupakan kondisi berakhirnya lindung nilai jika dilakukan sebagai bagian dari strategi lindung nilai yang terdokumentasi.

Akuntansi Lindung Nilai atas Arus Kas (Cash Flow Hedge) a. dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 257 . b. namun strategi manajemen risiko mengharuskan Bank A mempertahankan suku bunga mengambang maksimal 8%. Sebagai contoh: Bank A menerima pinjaman dari Bank B sebesar USD 100 juta selama 3 tahun dengan suku bunga mengambang LIBOR + 2%. Lindung nilai atas arus kas merupakan suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan (variabilitas) arus kas dari: 1) Aset dan kewajiban. 2) Prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. Bank A akan menerima pembayaran sejumlah USD 100 Juta x (LIBOR – 8%). Bank A dapat menetapkan interest rate cap sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai atas arus kas untuk risiko suku bunga. Untuk melindungi dari risiko kenaikan suku bunga diatas 8%. 2) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari prakiraan transaksi penjualan aset. bank dapat menggunakan instrumen lindung nilai tersebut untuk ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai pada hubungan lindung nilai yang baru. Pembatalan penetapan hubungan lindung nilai dapat dilakukan jika dianggap sudah tidak relevan lagi. 3) Bank membatalkan penetapan hubungan lindung nilai. Bank A mengkhawatirkan tingkat suku bunga akan meningkat di masa depan. Lindung nilai atas arus kas antara lain meliputi: 1) Lindung nilai atas perubahan arus kas dari pendapatan bunga atas surat berharga bersuku bunga mengambang. dan 4) Komitmen pasti dalam mata uang asing. Bank A membeli interest rate cap dari Bank B dimana ketika suku bunga LIBOR naik diatas 8%. dimana yang dilindung nilai adalah risiko nilai tukar. dan prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi. 6. Selanjutnya. 3) Bagian terentu yang dapat diidentifikasi dari aset.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tanggal evaluasi terakhir yang menunjukan hubungan lindung nilai efektif atau tanggal terjadinya perubahan kondisi yang menyebabkan hubungan lindung nilai menjadi tidak efektif. kewajban. yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi.

Investasi neto pada operasi di luar negeri mencakup item moneter yang merupakan piutang dari atau utang pada operasi di luar negeri yang berjangka panjang. dan 2) Prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi sehingga lindung nilai dapat dihentikan. c. karena masih diharapkan dapat terjadi. Nilai bersih aset perusahaan anak tersebut adalah HKD 50 milyar. Bank A melakukan transaksi jual forward sebesar HKD 50 milyar dan membeli IDR pada harga yang telah ditentukan. Penghentian akuntansi lindung nilai atas arus kas Akuntansi lindung nilai atas arus kas dapat dihentikan secara prospektif dalam kondisi-kondisi berikut. Instrumen derivatif (seperti forwards dan swaps) dan non derivatif (seperti Kredit dalam mata uang asing) dapat digunakan sebagai instrumen lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. perusahaan asosiasi. Untuk melindungi nilai investasi di perusahaan anak terhadap risiko nilai tukar. Item moneter dapat merupakan item yang penyelesaiannya tidak direncanakan maupun tidak akan mungkin terjadi di masa datang. Penghentian tidak dapat dilakukan jika transaksi diperkirakan masih akan terjadi namun kemungkinannya tidak besar (no longer highly probable). perusahaan patungan. c. b. 7.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Lindung nilai atas komitmen pasti untuk membeli atau menjual aset atau kewajiban non keuangan dalam mata uang asing. yaitu: 1) Tiga kondisi sebagaimana pada penghentian akuntansi lindung nilai atas nilai wajar pada angka 5 huruf e) di atas. yang mencakup perusahaan anak. Bank A dapat menerapkan akuntansi lindung nilai atas investasi neto pada perusahaan anak di Hong Kong sebesar HKD 50 milyar dengan transaksi foreign exchange forward. 258 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Akuntansi Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri a. Lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri merupakan lindung nilai atas kepentingan (interest) bank pelapor atas aset bersih pada operasi di luar negeri. Sebagai contoh: Bank A di Indonesia mempunyai perusahaan anak di Hong Kong dengan mata uang fungsional HKD. dan/atau cabang dari bank pelapor yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri atau dalam mata uang yang berbeda dengan bank pelapor.

Lindung nilai portofolio dapat dilakukan dengan lindung nilai atas nilai wajar atau arus kas bergantung pada portofolio risiko yang dilindung nilai. yang dapat meliputi aset atau kewajiban atau kombinasi dari keduanya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 259 . 4) Penetapan posisi terbuka neto (net open position) pada setiap periode dan jumlah posisi terbuka neto yang akan dilindung nilai. atau prakiraan transaksi yang sangat mungkin terjadi dengan karakteristik risiko yang sejenis. sepanjang memenuhi 2 kondisi berikut: 1) Item individual dalam portofolio terekspos risiko yang sama yang akan dilindung nilai. 6) Penetapan instrumen lindung nilai untuk setiap periode. Posisi terbuka neto dari suatu portofolio bukan merupakan item yang dilindung nilai. 3) Penetapan portofolio ke dalam periode-periode tertentu. c. yaitu suatu jumlah aset atau kewajiban keuangan tertentu yang sama dengan jumlah posisi terbuka neto. yang dapat meliputi suatu portofolio derivatif dengan posisi risiko yang dapat saling hapus dengan item yang dilindung nilai. Umumnya. Akuntansi Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedge) a. Lindung nilai portofolio merupakan lindung nilai terhadap sekelompok komitmen pasti. misalnya periode berdasarkan tanggal penyesuaian tingkat bunga atau pelunasan dipercepat sesuai perkiraan dan bukan sesuai kontrak. aset. kewajiban. b.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 8. namun bank harus menetapkan posisi yang merupakan item yang dilindung nilai pada setiap periode. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapan akuntansi lindung nilai portofolio antara lain mencakup: 1) Identifikasi portofolio item yang akan dilindung nilai. 2) Penetapan secara spesifik risiko yang akan dilindung nilai. dan 2) Perubahan nilai wajar dari setiap item individual dalam portofolio yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai diperkirakan proporsional dengan perubahan nilai wajar secara keseluruhan. risiko yang dilindung nilai berdasarkan basis portofolio adalah risiko suku bunga dan pelunasan dipercepat. 5) Penetapan item yang akan dilindung nilai. Portofolio aset atau kewajiban yang akan dilindung nilai harus merupakan item yang juga telah memenuhi persyaratan lindung nilai secara individual. misalnya risiko suku bunga acuan (benchmark interest rate risk). Meskipun suatu portofolio dapat mencakup posisi aset dan kewajiban keuangan.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 7) Pengukuran efektivitas lindung nilai pada saat penetapan awal dan periode selanjutnya untuk memastikan bahwa lindung nilai sangat efektif. 260 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . nilai wajar instrumen derivatif harus diukur menggunakan harga penawaran (bid price) untuk long position atau harga permintaan (ask price) untuk short position pada setiap akhir hari. Derivatif a. nilai wajar instrumen derivatif pada saat pengakuan awal adalah nol. yang diakui pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. jika lindung nilai tidak efektif. Umumnya. b. yang diakui dan diukur pada harga perolehan sampai tanggal berakhirnya transaksi tersebut. Namun. baik laporan interim maupun laporan tahunan. Bank harus memiliki prosedur dan dokumentasi untuk memastikan efektivitas lindung nilai. maka perbedaan antara perubahan nilai instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. kecuali: 1) Instrumen derivatif dengan variabel yang mendasari (underlying) dalam bentuk instrumen ekuitas yang tidak mempunyai kuotasi harga pasar (unquoted equity instrument). maka dampak neto terhadap laporan laba rugi adalah nol. Bank dapat menggunakan nilai tengah (mid price) dari harga pasar untuk menentukan nilai wajar dari setiap long maupun short position yang terekspos pada risiko pasar yang saling hapus (yaitu jika memiliki kesamaan pada variable yang mendasari dan tanggal jatuh tempo) dan melakukan penyesuaian ke harga penawaran atau permintaan (bid-ask spread adjustment) atas posisi terbuka neto pada setiap tanggal laporan. instrumen derivatif diakui di neraca dan diukur pada nilai wajar terlepas apakah memenuhi kriteria akuntansi lindung nilai atau tidak. dan 2) Instrumen derivatif yang nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal. Pada saat pengukuran selanjutnya. Pada saat pengakuan awal (inception date) dan pengukuran selanjutnya. 8) Pengukuran perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang terkait dengan risiko yang dilindung nilai dan instrumen lindung nilai. Jika lindung nilai 100% efektif. Perlakuan Akuntansi Pengakuan dan pengukuran 1. 9) Pengakuan efektivitas lindung nilai. D.

Pemisahan derivatif melekat dari kontrak utama pada instrumen campuran tidak harus dilakukan. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai tagihan derivatif di sisi aset. Selanjutnya. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 261 . antara lain: (1) tidak memenuhi seluruh kriteria pemisahan (bifurcation). Lindung Nilai atas Nilai Wajar 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas nilai wajar yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Untuk instrumen lindung nilai (1) Instrumen lindung nilai yang umumnya merupakan instrumen derivatif diakui dalam neraca dan diukur berdasarkan nilai wajar. 2. Derivatif melekat yang memenuhi kriteria untuk dipisahkan dari kontrak utama diakui sebagai derivatif dan diukur berdasarkan nilai wajar sebagaimana pada angka 1) di atas. Kontrak utama diakui dan diukur berdasarkan PSAK yang sesuai. 3) Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui pada laporan laba rugi sejak tanggal transaksi (trade date). 2) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi kerugian (potential loss) bagi bank. dan/atau (3) pemisahan tidak memberikan manfaat karena dapat memberikan informasi yang tidak andal mengenai nilai wajar derivatif. c. maka bank mengakui transaksi derivatif sebagai kewajiban derivatif di sisi kewajiban. bank dimungkinkan untuk menetapkan seluruh instrumen campuran tersebut untuk diukur pada nilai wajar (fair value option). kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif pada lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi diluar negeri. (2) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen derivatif diakui dalam laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 1) Apabila nilai wajar suatu instrumen derivatif mencerminkan potensi keuntungan (potential gain) bagi bank. termasuk PSAK 55. b. misalnya karena berbagai pertimbangan. Derivatif Melekat a. 3. (2) pemisahan sulit dilakukan atau menimbulkan beban tambahan. Lindung Nilai a.

b) Untuk item yang dilindung nilai (1) Perlakuan akuntansi untuk item yang dilindung nilai dalam lindung nilai atas nilai wajar berbeda-beda bergantung pada kategori item yang dilindung nilai. maka instrumen tersebut diukur berdasarkan nilai wajar. Dalam hal amortisasi atas penyesuaian nilai tercatat dengan menggunakan suku bunga efektif yang dihitung kembali tersebut tidak praktis. Suku bunga efektif yang digunakan harus dihitung kembali berdasarkan penyesuaian keuntungan atau kerugian tersebut.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (3) Dalam hal instrumen lindung nilai bukan merupakan instrumen derivatif (non derivative) yang digunakan untuk lindung nilai atas risiko nilai tukar. dan selanjutnya mempengaruhi nilai tercatat item tersebut dalam neraca. Penyesuaian tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo. (a) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Tersedia untuk Dijual Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual. (b) Item yang dilindung nilai yang masuk kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang yang diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) menggunakan suku bunga efektif. maka hanya komponen mata uang asing dari nilai tercatat yang diakui dalam laporan laba rugi. maka amortisasi dapat menggunakan metode garis lurus (straight line). 262 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (2) Perubahan nilai wajar dari item yang dilindung nilai yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. dan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan menyesuaikan nilai tercatat dari item yang dilindung nilai.

Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif (c) Item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen pasti Jika item yang dilindung nilai merupakan komitmen pasti. diakui berdasarkan kategori instrumen keuangan. perubahan nilai wajar kumulatif yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai diakui sebagai aset atau kewajiban. (3) Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar atas item yang dilindung nilai yang bukan merupakan bagian dari hubungan lindung nilai (yang dapat terjadi ketika hanya risiko tertentu yang dilindung nilai). Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 263 . Selanjutnya. keuntungan atau kerugian yang yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai diakui dalam laporan laba rugi.

pasti. diamortisasi. maka instrumen tersebut selanjutnya diukur berdasarkan nilai wajar melalui ekuitas. dihentikan instrumen lindung nilai akan terus diakui dalam laporan atau dieksekusi laba rugi. 264 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Bank membatalkan penetapan .Jika item yang dilindung nilai diukur pada biaya perolehan kriteria akuntansi lindung nilai. dan (b) Perubahan kumulatif dari nilai kini ekspektasi arus kasa masa datang dari item yang dilindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. . Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Perlakuan akuntansi Instrumen lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluKeuntungan atau kerugian yang telah direalisasi atas warsa atau dijual. (2) Total keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui secara terpisah dalam ekuitas dibatasi pada jumlah yang terendah antara: (a) Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai sejak pengakuan awal lindung nilai. maka penyesuaian terhadap nilai tercatat karena pengakuan keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi Komitmen pasti tidak lagi mememenggunakan suku bunga efektif sampai item yang nuhi kriteria komitmen pasti.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai. Lindung Nilai atas Arus Kas 1) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas arus kas yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: a) Bagian yang efektif (effective portion) (1) Bagian dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang ditetapkan sebagai lindung nilai yang efektif diakui diakui secara langsung dan terpisah dalam ekuitas. Item yang dilindung nilai Lindung nilai tidak lagi memenuhi .Jika item yang dilindung nilai merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual.Jika item yang dilindung nilai yang merupakan komitmen yang telah dilakukan. dilindung nilai tersebut jatuh tempo. b. maka aset atau kewajiban yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik.

(2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. bank mengakui aset atau kewajiban keuangan. (1) Aset atau kewajiban keuangan Ketika prakiraan transaksi yang dilindung nilai telah terealisasi dan menyebabkan pengakuan aset atau kewajiban keuangan. 2) Lindung Nilai atas Arus Kas dari Prakiraan Transaksi a) Sebelum transaksi (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai pada awalnya diakui secara terpisah dalam ekuitas. b) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. (3) Bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dan diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi pada periode yang sama ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. atau aset atau kewajiban non keuangan. b) Setelah transaksi Pada saat prakiraan transaksi terealisasi. maka bagian keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan dalam ekuitas sebelum transaksi tersebut terealisasi harus direklasifikasi ke dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 265 .

misalnya jika terdapat pengakuan beban penyusutan atau penurunan nilai aset non keuangan. (2) Aset atau kewajiban non keuangan Ketika prakiraan traksaksi yang dilindung nilai mengakibatkan pengakuan aset dan kewajiban non keuangan.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif laporan laba rugi pada periode yang sama atau pada periode-periode dimana aset keuangan yang diperoleh atau kewajiban keuangan yang diterbitkan mempengaruhi laporan laba rugi. (b) Penerapan penyesuaian dasar (basis adjustment) atas aset atau kewajiban non keuangan yang akan diperoleh dan prakiraan transaksi. maka bank dapat memilih diatara 2 perlakuan akuntansi berikut: (a) Perlakuan akuntansi yang sama yang digunakan untuk pengakuan aset atau kewajiban keuangan. misalnya jika terdapat pengakuan pendapatan atau beban bunga atau penurunan nilai aset atau kewajiban keuangan tersebut. atau tetap mengakui dalam ekuitas dan mereklasifikasi ke dalam laporan laba rugi ketika aset atau kewajiban non keuangan tersebut mempengaruhi laporan laba rugi. 266 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Dalam perlakuan akuntansi ini. Hal ini berarti bank dapat segera mereklasifikasi keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai ke ddalah laporan laba rugi. keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai yang semula diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui sebagai bagian dari nilai tercatat awal aset atau kewajiban non keuangan. Pendekatan apapun yang dipilih harus diterapkan secara konsisten. karena dianggap mewakili bagian dari harga perolehan.

Faktor penghentian akuntansi lindung nilai Instrumen lindung nilai kadaluwarsa atau dijual. Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui Bank membatalkan penetapan secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi yang telah dilakukan. 3) Pada saat pelepasan atau pembubaran operasi diluar negeri. maka perlakuan kriteria akuntansi lindung nilai. Keuntungan atau kerugian kumulatif yang terkait dengan instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode pada saat lindung nilai efektif direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi. tersebut terjadi atau tidak lagi diperkirakan akan terjadi. Lindung Nilai atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai atas invetasi bersih pada operasi di luar negeri yang memenuhi seluruh persyaratan adalah sebagai berikut: 1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. maka perlakuan akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3) Perlakuan akuntansi pada saat penghentian penerapan akuntansi lindung nilai. jumlah yang tersisa pada ekuitas dari instrumen lindung nilai dan item yang dilindung nilai diakui pada laporan laba rugi pada saat yang bersamaan. Apabila prakiraan transaksi terjadi. Prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi c. dihentikan atau dieksekusi Perlakuan akuntansi Keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai yang masih diakui secara langsung dalam ekuitas sejak periode dimana lindung nilai efektif tetap diakui secara terpisah dalam ekuitas hingga prakiraan transaksi Lindung nilai tidak lagi memenuhi terjadi. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 267 . Selisih yang timbul dari perubahan nilai tukar mata uang asing atas investasi neto juga diakui pada ekuitas. akuntansi mengacu pada angka (2) huruf (b) di atas. 2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Apabila prakiraan transaksi terjadi.

Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) 1) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Suku Bunga Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga sama dengan lindung nilai atas nilai wajar dimana keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. maka jumlah keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. ketika prakiraan transaksi terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif d. Bagian keuntungan atau kerugian yang tersisa diakui segera dalam laporan laba rugi. yaitu: (1) Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas. b) Keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke laporan laba rugi dalam periode yang sama atau periode ketika item yang dilindung nilai mempengaruhi laporan laba rugi. 2) Lindung Nilai Portofolio atas Risiko Pelunasan Dipercepat (Prepayment Risk) a) Perlakuan akuntansi untuk lindung nilai portofolio atas risiko pelunasan dipercepat sama dengan lindung nilai atas arus kas. (2) Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi. Total keuntungan atau kerugian yang diakui dalam ekuitas adalah jumlah yang terendah antara keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai dan perubahan kumulatif dari nilai wajar dari item yang dilindung nilai. 268 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Misalnya.

3. Bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif disajikan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 269 . maka derivatif-derivatif melekat tersebut disajikan secara terpisah satu dengan lainnya. b. Jika prakiraan transaksi tidak diharapkan akan terjadi. maka keuntungan atau kerugian kumulatif yang diakui dalam ekuitas akan direklasifikasi dan diakui dalam laporan laba rugi. Jika instrumen campuran memiliki lebih dari satu derivatif melekat dan derivatifderivatif tersebut berkaitan dengan eksposur risiko yang berbeda dan dapat dipisahkan sewaktu-waktu serta independen antara satu dengan lainnya. Instrumen campuran dimana derivatif melekat harus dipisahkan dari kontrak utama. maka keseluruhan instrumen campuran yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi disajikan sebagai satu kesatuan di neraca dan masuk dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. c. maka: 1) Kontrak utama disajikan di neraca sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Derivatif Melekat Instrumen campuran (hybrid instrumen) disajikan sebagai berikut: a. Lindung Nilai Keuntungan atau kerugian atas suatu derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai terdiri dari dua komponen yaitu. Penyajian 1. dan 2) Derivatif melekat disajikan sebagai tagihan atau kewajiban derivatif sebesar nilai wajar. maka keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi terjadi.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c) Jika instrumen lindung nilai dihentikan atau lindung nilai tidak lagi memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai (misalnya prakiraan transaksi kemungkinan tidak akan terjadi). 2. bagian dari lindung nilai yang efektif dan bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. Jika instrumen campuran dimana derivatif melekat tidak harus dipisahkan dari kontrak utama. Tagihan dan Kewajiban Derivatif Derivatif disajikan sebesar nilai wajar pada neraca sebagai tagihan atau kewajiban derivatif.

bank dapat tidak menggunakan rekening antara. Transaksi pembelian foreign exchange forward untuk tujuan perdagangan (trading) a. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif dalam pos yang sama dengan keuntungan atau kerugian dari item yang dilindung nilai. pada pos aset yang terpisah dalam neraca. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Lindung Nilai Portofolio (Portfolio Hedging) Dalam lindung nilai portofolio atas risiko suku bunga. Contra account Db. 4. Kerugian transaksi derivatif Kr. Keuntungan transaksi derivatif 2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar4 Dalam prakteknya. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan3 Kr. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Tagihan derivatif forward Kr. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan kewajiban. sedangkan bagian keuntungan atau kerugian dari derivatif yang ditentukan sebagai instrumen lindung nilai yang tidak efektif disajikan pada pos yang sama dengan derivatif yang tidak ditentukan sebagai instrumen lindung nilai. b. b. Ilustrasi Jurnal 1. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya. atau pada pos kewajiban yang terpisah dalam neraca. E. 3 4 Valuta lawan adalah valuta yang diterima Valuta dasar adalah valuta yang diserahkan 270 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . penyesuaian yang timbul dari keuntungan atau kerugian yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai disajikan sebagai berikut: a. Contra account Kr. jika item yang dilindung nilai pada suatu periode jatuh tempo tertentu merupakan aset.

Contra account Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kewajiban derivatif – IRS Pada awal hari berikutnya. Kerugian transaksi derivatif – forward 3) Pencatatan penerimaan Db. Transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) a. Nostro valuta lawan Db/Kr. Tagihan derivatif – forward b) Potensi kerugian bagi bank Db.. Tagihan derivatif – IRS Kr. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr.. Swap jual – IRS Pada saat melakukan valuasi 1) Potensi keuntungan bagi bank Db.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. Keuntungan transaksi derivatif . Kas/Rekening. Kewajiban derivatif. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. b.forward Kr.forward Kr. Mencatat komitment pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Keuntungan transaksi derivatif – IRS 2) Potensi kerugian bagi bank Db. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 271 .. Contra account Db. Swap beli – IRS Kr. /Giro BI valuta dasar 2. Kerugian transaksi derivatif – IRS Kr. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.

. Utang premi Kr. Kewajiban derivatif – IRS Kr.. Kontrak pembelian put option – valuta dasar 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Swap beli – IRS 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Contra account Kr.. Utang premi 3) Mencatat pembayaran premi Db... Kas/Rekening . Biaya premi opsi Kr. Keuntungan transaksi derivatif – IRS Kr. Biaya premi opsi Akuntansi Perbankan Indonesia 272 I P e d o m a n . Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Contra account Kr. Opsi Beli (Call option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Db.../Giro BI Db/Kr. Kas/Rekening . Kerugian/keuntungan transaksi derivatif – IRS 3. Contra account Db./Giro BI Db.. Swap jual – IRS Kr. Kerugian transaksi derivatif – IRS d. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c. e. Tagihan derivatif – IRS b) Potensi kerugian bagi bank Db.. Mencatat pembayaran/penerimaan bunga Db/Kr. Kas/Rekening ./Giro BI Db/Kr. Transaksi pembelian foreign exchange option a.

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – call option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – call option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – call option Kr. Kewajiban derivatif – call option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – call option Kr. Tagihan derivatif – call option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – call option Kr. Kerugian transaksi derivatif – call option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 273

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b.

Opsi Jual (Put option) 1) Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Db. Kontrak pembelian call option – valuta lawan Kr. Contra account 2) Mencatat premi yang harus dibayar pada tanggal kontrak Db. Biaya premi opsi Kr. Utang premi 3) Mencatat pembayaran Db. Utang premi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Biaya premi opsi 4) Mencatat valuasi atas opsi pada akhir hari berdasarkan nilai wajar a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif – put option Kr. Keuntungan transaksi derivatif – put option b) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif – put option Kr. Kewajiban derivatif – put option Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. 5) Pada saat option dilaksanakan/exercise (sebelum atau pada saat kontrak berakhir) a) Jurnal balik atas komitmen: Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan

274 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif option (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif – put option Kr. Tagihan derivatif – put option (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif – put option Kr. Kerugian transaksi derivatif – put option 6) Mencatat penerimaan Db. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta lawan Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI – valuta dasar 7) Pada saat option tidak dilaksanakan/exercise Db. Kontrak pembelian put option – valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak pembelian call option – valuta lawan 4. Transaksi penjualan foreign exchange forward untuk tujuan lindung nilai, dimana lindung nilai memenuhi persyaratan penerapan akuntansi lindung nilai. a. Mencatat komitmen pada tanggal transaksi sebesar jumlah nosional Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward jual dasar Db. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan Kr. Contra account Dalam prakteknya, bank dapat tidak menggunakan rekening antara. b. Pada saat melakukan valuasi pada akhir hari kerja berdasarkan nilai wajar 1) Dalam lindung nilai atas nilai wajar a) Valuasi terhadap foreign exchange forward sebagai instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 275

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

b) Valuasi terhadap item yang dilindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Item yang dilindung nilai (menambah nilai tercatat) *) Kr. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (mengurangi nilai tercatat) *) *) Jika item yang dilindung nilai diukur berdasarkan biaya perolehan diamortisasi, maka penyesuaian nilai tercatat tersebut selanjutnya diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif (yang dihitung kembali) sampai item yang dilindung nilai jatuh tempo c) Keuntungan atau kerugian atas instrumen lindung nilai dapat saling hapus dengan kerugian atau keuntungan atas item yang dilindung nilai.

2) Dalam lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri, meskipun rasio lindung nilai secara berada dalam kisaran 80% - 125% berdasarkan Dollar Offset Method sehingga dinilai sangat efektif, namun mungkin saja terdapat bagian dari lindung nilai yang tidak efektif. a) Bagian yang tidak efektif (ineffective portion) Jika keuntungan atau kerugian kumulatif dari instrumen lindung nilai lebih besar dari pada perubahan nilai wajar kumulatif dari arus kas masa depan dari item yang dilindung nilai, maka selisih lebih yang merupakan bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui dalam laporan laba rugi (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Keuntungan transaksi derivatif (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kerugian transaksi derivatif Kr. Kewajiban derivatif forward b) Bagian yang efektif Bagian yang efektif dari keuntungan atau kerugian dari instrumen lindung nilai diakui secara terpisah dalam ekuitas

276 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

(1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Tagihan derivatif forward Kr. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Kr. Kewajiban derivatif forward Pada awal hari berikutnya, seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. c. Pada saat penghentian akuntansi lindung nilai karena kontrak foreign exchange forward jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db. Kontrak berjangka forward jual valuta dasar Kr. Contra account Db. Contra account Kr. Kontrak berjangka forward beli valuta lawan 2) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas nilai wajar a) Instrumen lindung nilai (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif - forward Kr. Tagihan derivatif – forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif- forward Kr. Kerugian transaksi derivatif – forward (1) Jika merupakan item yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, maka tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian pada nilai tercatat, melainkan akan tetap diamortisasi ke dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif sampai jatuh tempo. (2) Jika merupakan instrumen dalam kategori Tersedia untuk Dijual, tidak diperlukan jurnal balik atas pengakuan keuntungan atau kerugian

b) Item yang dilindung nilai

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 277

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

pada nilai tercatat, dan keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar selanjutnya diakui dalam ekuitas. (3) Jika merupakan komitmen pasti, maka aset atau kewajiban keuangan yang telah diakui di neraca dihentikan pengakuannya dengan melakukan jurnal balik. (a) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai Kr. Item yang dilindung nilai (b) Potensi kerugian bagi bank Db. Item yang dilindung nilai Kr. Kerugian perubahan nilai wajar item yang dilindung nilai 3) Jurnal balik tagihan atau kewajiban derivatif untuk lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri. a) Bagian yang tidak efektif (1) Potensi keuntungan bagi bank Db. Keuntungan transaksi derivatif Kr. Tagihan derivatif forward (2) Potensi kerugian bagi bank Db. Kewajiban derivatif forward Kr. Kerugian transaksi derivatif b) Bagian yang efektif Keuntungan atau kerugian dalam ekuitas akan tetap diakui dalam ekuitas sampai prakiraan transaksi tidak lagi diharapkan akan terjadi atau investasi neto pada operasi di luar negeri dilepaskan. Pada saat prakiraan transaksi terealisasi, keuntungan atau kerugian yang sebelumnya diakui dalam ekuitas direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi, atau pada periode-periode selanjutnya ketika bank mengakui pendapatan bunga atas aset keuangan yang berasal dari prakiraan transaksi tersebut sesuai kebijakan akuntansi yang diterapkan. d. Pencatatan penerimaan atau pembayaran atas transaksi derivatif Db. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta lawan Db/Kr. Kerugian (keuntungan) revaluasi Kr. Kas/Rekening ..../Giro BI - valuta dasar

278 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VI I Tr a n s a k s i

Derivatif

F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain: 1. Kebijakan akuntansi Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang antara lain deskripsi mengenai tujuan dan kebijakan manajemen risiko, termasuk kebijakan lindung nilai atas setiap jenis risiko dan jenis lindung nilai yang digunakan. 2. Informasi kualitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. b. c. 3. eksposur risiko dan bagaimana risiko tersebut timbul; tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko, termasuk metode pengukuran risiko tersebut; dan setiap perubahan pada a atau b dari periode sebelumnya

Informasi kuantitatif untuk setiap jenis risiko atas instrumen derivatif, yang antara lain mencakup: a. ikhtisar data kuantitatif mengenai eksposur risiko pada tanggal pelaporan. Pengungkapan tersebut harus didasarkan pada informasi yang disajikan secara internal kepada manajemen (seperti didefinisikan dalam PSAK 7: Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa), misalnya dewan direksi atau Direktur Utama. risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuditas, kecuali risiko tersebut tidak material; dan konsentrasi risiko, jika tidak terlihat dari a dan b.

b. c. 4.

Derivatif Melekat a. Jika bank menerbitkan instrumen yang mengandung komponen kewajiban dan ekuitas (lihat paragraf 28 PSAK 50) dan instrumen tersebut memiliki beberapa derivatif melekat yang nilainya saling tergantung satu sama lain (seperti callable convertible debt instrument), maka bank harus mengungkapkan keberadaan fitur tersebut. Dalam hal derivatif melekat tidak dipisahkan dan disajikan sebagai bagian dari instrumen campuran, maka bank perlu mengungkapkan metode valuasi terhadap nilai wajar instrumen campuran tersebut.

b.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 279

280 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . namun tidak lagi diharapkan akan terjadi. Akuntansi Lindung Nilai a. 2) uraian instrumen keuangan yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai and nilai wajarnya pada tanggal neraca. 2) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas arus kas. Informasi mengenai lindung nilai atas arus kas. yang antara lain mencakup: 1) uraian setiap jenis lindung nilai. dan 3) sifat risiko yang dilindung nilai. yang antara lain mencakup: 1) periode ketika arus kas diperkirakan akan terealisasi dan mempengaruhi laporan laba rugi. c. Informasi lainnya mengenai lindung nilai. dan 5) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas selama periode berjalan dan diakui sebagai bagian dari biaya perolehan awal atau nilai tercatat dari aset non keuangan atau kewajiban non keuangan yang diperoleh atau diterbitkan melalui transaksi transaksi prakiraan yang sangat mungkin terjadi yang dilindung nilai. 2) uraian atas setiap prakiraan transaksi dimana akuntansi lindung nilai sebelumnya telah diterapkan. b. yang antara lain mencakup: 1) keuntungan atau kerugian yang diakui dalam lindung nilai atas nilai wajar dari: a) instrumen lindung nilai. dan 3) bagian dari keuntungan atau kerugian yang tidak efektif yang diakui dalam laporan laba rugi yang timbul dari lindung nilai atas investasi neto dalam operasi luar negeri. dan b) item yang dilindung nilai yang dapat diatribusikan pada risiko yang dilindung nilai.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 5. 4) jumlah yang telah direklasifikasi dari ekuitas dan diakui dalam laporan laba rugi selama periode berjalan. Informasi untuk setiap jenis lindung nilai secara terpisah (lindung nilai atas nilai wajar. lindung nilai atas arus kas dan lindung nilai atas investasi neto pada operasi di luar negeri). 3) jumlah yang telah diakui dalam ekuitas selama periode berjalan.

.76 b.300 Jurnal transaksi a.pada tanggal 31 Maret 2009. c. Rp. 151. 9. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Tanggal 31/01/2009 Forward rate USD untuk 31/03/2009 USD1=Rp. Kerugian transaksi derivatif Rp. Pada tanggal transaksi 31 Januari 2009 Db. Kr.350 Nilai wajar bersih (Rp) [9. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.146.146. Rp. Contra account Kr. 9.000 151. dengan nasabahnya dengan forward rate USD1 = Rp. 481.983.300–9. Kontrak forward beli Kr.146. Kontrak forward beli Kr. 9. Contoh Kasus 1.76 (1 + 10%/12)2 [9.47 Kr. Kontrak forward jual atau tanpa rekening antara (single entry) Db. Bank A melakukan transaksi foreign exchange forward USD/Rp. Rp.146. Pada saat melakukan valuasi akhir hari berdasarkan nilai wajar Db. 151. Pada saat melakukan valuasi akhir hari tanggal 28 Februari 2009 berdasarkan nilai wajar Db.000 151. Rp.000 151. Rp.200 ——————————————— = 318. Transaksi foreign exchange forward Pada tanggal 31 Januari 2009.666.666.47) (1 + 10%/12)1 29/02/2009 USD1=Rp.200 dan menjual Rp. Keuntungan transaksi derivatif Rp.330.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif G.983.666. Contra account Db.000 151.146. Kontrak forward jual Rp.350–9.330) x USD 16. 481.330) x USD 16. Tagihan derivatif forward Rp.dimana bank A setuju untuk membeli USD 16.146.. Pada awal hari berikutnya.76 318. Diasumsikan tingkat diskonto (discount rate) sebesar 10%. Kewajiban derivatif forward Rp.000 318.983.000.000 151.146.47 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 281 .200 ——————————————— = (481.

melainkan sebagai kewajiban keuangan dalam bentuk instrumen campuran. Pada saat kontrak jatuh tempo 1) Jurnal balik atas komitmen Db.Berikut adalah perhitungan nilai 282 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000.146. Penerbitan obligasi konversi tersebut merupakan suatu kontrak yang akan diselesaikan oleh Bank B dengan penyerahan instrumen ekuitas miliknya sebagai pengganti kas dengan jumlah yang bervariasi yang tidak dapat diakui sebagai instrumen ekuitas sesuai PSAK 50.470. Rp. diasumsikan nilai wajar opsi konversi adalah Rp.. sesuai PSAK 55 opsi konversi harus dipisahkan dari obligasi sebagai kontrak utamanya..Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Pada awal hari berikutnya.500..000 2.146.000 151.146.dengan jangka waktu 10 tahun dan bunga 5%/tahun yang dibayar secara tahunan. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Contra account 2) Pencatatan penerimaan Db. Pada tanggal 1 Januari 2009. Rp. Kas/Rekening .. Contra account Kr. obligasi konversi tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.sehingga nilai wajar obligasi adalah Rp 8. 10. Pemegang obligasi mempunyai hak untuk mengkonversikan obligasi tersebut pada tanggal jatuh tempo dan menerima sejumlah saham Bank B pada harga rata-rata pasar dari saham tersebut selama 10 hari terakhir. Rp.000. 151. dan opsi konversi memenuhi persyaratan sebagai instrumen derivatif. Kas/Rekening . Instrumen campuran (hybrid instrument) Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank B menerbitkan obligasi konversi (convertible bond) pada nilai par sebesar Rp.146. Dengan demikian./Giro BI *) Spot rate USD 1=Rp.000 151. 9.000 151. d./Giro BI *) Kr.500. Rp. Kontrak forward jual Kr.000.000 151.. Kontrak forward beli Db.. Rp.000 151. Selanjutnya.. Keuntungan revaluasi Kr.000. Opsi konversi yang merupakan derivatif melekat tidak mempunyai hubungan yang erat dengan obligasi Disamping itu.146.000 324. Rp.. 1. opsi konversi tersebut harus diukur pada nilai wajar dan selisih antara nilai wajar instrumen campuran dan nilai wajar opsi konversi merupakan nilai wajar obligasi yang akan diakui dan diukur pada harga perolehan yang diamortisasi (amortised cost).350- Rp.

790) (30.437.987 9.987 9.000 Kewajiban Derivatif Db (Kr) (1.696.000) (500.437.15%) 607.096 652.797 8.310 700.076 26.023 1.301 8.790 30.614 642.500.775 9.000) (500.177 9.055 35.076 26.000) (500.15% serta nilai wajar opsi konversi.000) (11.402 25.233 1.000.076) (26.383 21.841 23.000) (500.594 1.723.614 642.611.799.257 663.032 9.384 1.979.797 615.023 20.810 687.418 Perubahan nilai wajar Opsi Konversi Periode 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 Nilai tercatat awal Obligasi 8.418 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 283 .296 Jurnal transaksi Tanggal Kas Db (Kr) 01/01/09 31/12/09 31/12/10 31/12/11 31/12/12 31/12/13 31/12/14 31/12/15 31/12/16 31/12/17 31/12/18 10.144 674.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif tercatat obligasi sampai tanggal jatuh tempo yang diamortisasi menggunakan suku bunga efektif sebesar 7.000) (500.539.418) 1.000) (500.096 652.764 632.500.383 21.000 (500.723.764 632.296 10.706 Beban Bunga Db (Kr) 607.706) Obligasi Db (Kr) (8.000) Pembayaran Nilai tercatat beban akhir bunga Obligasi (5%) 8.000) (500.505) (123.810) (187.383) (21.000.611.679 9.849 33.310) (200.979.841) (23.797 615.649 1.402 25.000) (500.704) 10.000) (19.729.704 Kerugian (Keuntungan) Transaksi Derivatif Db (Kr) 19.505 623.869 28.500.000) (500.847.000.810 687.144) (174.310 700.869 28.121.849) (33.055) (35.505 623.790 30.841 23.519.274. Beban bunga (7.000) (500.000) (500.121.000 8.257) (163.000 8.177 9.799.032 9.607.607.797 8.000) (500.288 1.500.725 1.000) (500.849 33.000 Nilai wajar Opsi Konversi 1.869) (28.000) (107.665.679 9.764.561.636.065 8.000 1.023 20.144 674.775 9.704 (500.500.257 663.000) (500.764.000) (500.301 8.706 19.065 8.000) (500.797) (115.406 1.584.096) (152.500.055 35.247 1.847.000) (500.402) (25.274.764) (132.023) (20.764.000) (500.000 8.609.614) (142.

000 491.000.000 Rp.. Suku bunga mengambang akan disesuaikan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Tanggal 1 Januari 2008 1) Penerbitan obligasi Db.554.000 284 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .000)/2] (1 + 10%/2)n 2 ) Σ n 8 Jurnal transaksi a.Bank C memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar. Akuntansi lindung nilai atas nilai wajar Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank C menerbitkan obligasi sebesar Rp 100 milyar dengan jangka waktu 5 tahun dan suku bunga tetap 10% yang dibayar setiap 6 bulan.000..000.000.000. 500.095 1) (17.554.000. .) 500. 500. .11%) x (Rp.777.905 517. Bank C memutuskan untuk melakukan lindung nilai atas risiko suku bunga dengan melakukan transaksi swap suku bunga (interest rate swap/IRS) dengan bank lain untuk jangka waktu 1 tahun.Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai kini arus kas IRS sebesar 10%.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 3.189 Nilai wajar IRS (Rp.000.) 0 8.Untuk memudahkan perhitungan. 500.222. 500. Obligasi Rp.5%) x (Rp.884./Giro BI Kr.000.769. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang.000.000)/2] (1 + 10%/2)n [ (10% .5% 10% 11% Nilai wajar Obligasi (Rp. Kas/Rekening.000. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: IRS untuk 31 Desember 2013 JIBOR Fixed (6 bulan) + 1% 10% 9% 10% 9. baik secara prospektif maupun retrospektif. Asumsi: . Swap suku bunga mensyaratkan Bank C menerima suku bunga tetap sebesar 10% dan membayar suku bunga mengambang 1% diatas JIBOR.9.115.189) 2) 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 ) Σ n 9 [ (10% .769.

Kas/Rekening BI Rp. Tanggal 31 Desember 2008 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db.777. Obligasi Rp. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp.000.000.554.000.000. 8.000. Db. 500. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. Pada awal hari berikutnya. Rp. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari.095 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Transaksi swap suku bunga Db. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp. 17. Kr. Tanggal 30 Juni 2008 Rp.250.769.777.000 25.000.000. c.000 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db.000 23. Obligasi Rp.884.000 Rp.000.000.000 25.777.000. 17.884.769. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.095 Kr. Kewajiban derivatif swap Rp.884.000 1. Keuntungan perubahan nilai wajar Obligasi Rp. Swap – suku bunga tetap b.189 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 285 . Pendapatan bunga Rp. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp. 8.000.554. 500. Kr. Swap – suku bunga mengambang Kr. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db. Beban bunga Kr.095 Kr.000.000 1. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.884.000.000.750.095 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus.250. 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db.777. 25. 8.189 Kr.750.000. 8.000.000 25. Kr.000 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar obligasi karena suku bunga meningkat 1% Db.000 23.

000 25..769. 14 juta. Kr. 23. maka Bank D akan mengeksekusi opsi beli.000 Rp.000 Rp.000. Pendapatan bunga Rp. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Rp..000.000 Rp. Kas/Rekening.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar swap karena harus membayar suku bunga mengambang yang meningkat Db. Pada awal hari berikutnya. 17. 100 milyar untuk jangka waktu 5 tahun dengan suku bunga 9% yang dibayar setiap 6 bulan. Atas pembelian opsi beli tersebut.250.000.000.000. 100 milyar dengan suku bunga 9% dan jatuh tempo pada 31 Januari 2009 (strike date). Beban bunga Kr.189 Kr. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Akuntansi lindung nilai atas arus kas Pada tanggal 1 Januari 2009 Bank D memprakirakan akan melakukan transaksi pembelian Surat Utang Negara SUN (forecast transaction) pada tanggal 31 Januari 2009 sebesar Rp.554. Beban bunga yang masih harus dibayar Kr. 25. 286 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 17.000 1.000. Jika suku bunga SUN turun dibawah 9%.000. Rp.000.769.000.000.000 25.000 5) Mencatat pembayaran dan penerimaan bunga Db. maka Bank D tidak akan mengeksekusi opsi beli dan membeli SUN di pasar.000. 25.000 23. Beban bunga yang masih harus dibayar 4) Mengakui akrual pembayaran bunga IRS Db. Beban bunga yang masih harus dibayar Rp.554.750. dan sebaliknya jika suku bunga meningkat diatas 9%. 3) Mengakui akrual pembayaran bunga Obligasi Db. 4.189 Keuntungan atau kerugian obligasi dan IRS dapat saling hapus. Pendapatan bunga yang masih harus diterima Kr./Giro BI Rp.250. Bank D membayar premi sebesar Rp. Kerugian transaksi derivatif – swap Rp.750. Bank D berkeinginan untuk mempertahankan suku bunga yang akan diperoleh dari SUN tersebut (locking in) dengan melakukan strategi lindung nilai melalui pembelian opsi beli (call option) atas SUN sebesar Rp.000. Db. 1. Bank D menetapkan transaksi pembelian opsi beli tersebut sebagai instrumen lindung nilai dan lindung nilai akan diukur berdasarkan akumulasi perubahan nilai wajar SUN dan nilai intrinsik (intrinsic value) dari opsi. Kewajiban derivatif swap Rp.

890 1) - ) Σ n 9 [ (9% .8%) x (Rp..000 Kr.395. Tagihan derivatif opsi Kr. Informasi selanjutnya adalah sebagai berikut: Forward rate SUN untuk posisi 31 Desember 2009 01/01/2009 30/06/2009 31/12/2009 1 Nilai wajar Opsi Beli (nilai waktu) Rp./Giro BI Rp.634. 6.248 2) Mengakui kerugian atas perubahan nilai wajar opsi Db.447. 3.000 8.000 b.000. 0 9% 8% - 4. Tagihan derivatif opsi Rp.395.000 14.634.055. Tagihan derivatif opsi Rp. Tanggal 1 Januari 2009 (1) Pembelian opsi beli (call option) Db. Tanggal 30 Juni 2009 1) Mengakui keuntungan atas perubahan nilai wajar opsi (nilai intrinsik) karena forward rate suku bunga SUN meningkat 1% Db. Untuk memudahkan perhitungan.248 Kr.000.000)/2] (1 + 4.000. 14. Kas/Rekening . Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp. 6. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 287 .5%/2)n Jurnal transaksi a. Rp.000.000 0 Nilai wajar Opsi Beli (nilai intrinsik) Rp.000 Pada awal hari berikutnya. 3. seluruh jurnal yang berkaitan dengan valuasi dilakukan jurnal balik dan selanjutnya dilakukan valuasi kembali sesuai dengan nilai wajar pada akhir hari. Discount rate yang digunakan untuk mengukur nilai intrinsik opsi adalah sebesar 9%.000. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp. baik secara prospektif maupun retrospektif.000..000.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif Asumsi: Bank D memenuhi seluruh kondisi akuntansi lindung nilai atas nilai wajar. dalam contoh kasus ini tidak dilakukan estimasi perubahan suku bunga mengambang. 100.. 14.000.

/Giro BI Rp.000.634. 3. Db.000 Kr. Kerugian transaksi derivatif – opsi Rp.000 3) Sesuai kebijakan akuntansi bank. 8. Tanggal 31 Desember 2009 1) Menghentikan pengakuan tagihan derivatif opsi karena pada saat jatuh tempo nilai waktu opsi menjadi nol Db.000.248 Kr. Ekuitas – Pendapatan Komprehensif lain Rp.000. Keuntungan transaksi derivatif Rp.634..100.248 288 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/Rekening. keuntungan instrumen lindung nilai yang diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi dalam periode yang sama dengan realisasi dan pengakuan aset keuangan dari suatu prakiraan transaksi.. 3..000.100.000. Tagihan derivatif opsi Rp. 8.000. Surat Utang Negara Kr.395.Bab VI I Tr a n s a k s i Derivatif c.395.000 Rp.000 2) Mengeksekusi opsi beli SUN dengan suku bunga 9% Db.

7. Paying bank adalah bank yang melakukan pembayaran sight LC atau deferred payment LC. Reimbursing bank adalah bank yang telah mendapat otorisasi dari issuing bank untuk membayar reimbursement claim dari negotiating bank. Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Definisi 1. 3. 9. Catatan: Dalam Bab VII termasuk pengaturan transaksi Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa LC dibuka (penerima LC). Accepting bank adalah bank yang menjamin pembayaran wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance LC dengan melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan. 6. 4. 8.Bab VII I E k s p o r Impor Bab VII Transaksi Ekspor Impor A. 10. Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada issuing bank untuk membuka LC. Negotiating bank adalah bank yang melakukan pembayaran kepada eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada issuing bank atau paying bank atau reimbursing bank. 2. Advising bank adalah bank yang diminta oleh issuing bank untuk menyampaikan LC kepada Beneficiary. Issuing bank adalah bank penerbit LC. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 289 . 5. Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 11. Confirming bank adalah bank yang ikut menjamin pembayaran LC kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai syarat LC dengan membubuhkan konfirmasinya pada LC yang bersangkutan.

melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. 13. 16.Bab VII I E k s p o r Impor 12. atas penyerahan dokumen. Bank Koresponden (corresponding bank) adalah bank yang mempunyai hubungan korespondensi (misal pertukaran kode swift. Acceptance LC adalah LC yang mengharuskan wesel yang ditarik oleh beneficiary diaksep oleh accepting bank yang akseptasinya dilakukan sepanjang dokumen-dokumen yang diajukan telah memenuhi syarat LC. Letter of credit (LC) adalah setiap janji tertulis yang dikeluarkan/diterbitkan oleh bank atas permintaan importir (applicant) dimana bank berjanji akan melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) jika telah memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam LC. memberi kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran kepada Penerima atau ordernya. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) atau lazim dikenal sebagai “Letter of credit” (LC) Dalam Negeri adalah setiap janji tertulis berdasarkan permintaan tertulis pemohon (applicant) yang mengikat bank pembuka (issuing bank) untuk: a. Negotiation LC adalah LC yang pembayarannya kepada Beneficiary dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana negotiating bank. 17. 15. Discounting bank adalah bank yang mendiskonto wesel yang ditarik berdasarkan LC. 14. Irrevocable LC adalah LC yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. Deferred payment LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan LC. memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi wesel yang ditarik oleh Penerima. atau c. 21. 290 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 18. atau mengaksep dan membayar wesel yang ditarik oleh Penerima. Sight LC adalah LC yang pembayarannya kepada beneficiary dilakukan pada saat dokumen-dokumen LC diajukan kepada bank. b. sepanjang persyaratan dan kondisi SKBDN dipenuhi sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang berlaku mengenai SKBDN. 20. 19. Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh eksportir atas dasar suatu LC. test key).

.. 4. komitmen. laporan arus kas. Namun demikian. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan kewajiban (misalnya. (c) pengungkapan lain termasuk kontinjensi.. kalau dalam keadaan tertentu kriteria pengakuan terpenuhi. 5.Bab VII I E k s p o r Impor 22. Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen. Dasar Pengaturan 1.. I 291 . (PSAK 1: paragraf 71) 3. laporan laba rugi. B.. kewajiban (obligations) menurut kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya. Dalam praktik. pengakuan kewajiban mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang bersangkutan. Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam neraca. (KDPPLK: paragraf 92) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2. Nostro adalah rekening/simpanan bank pada suatu bank di luar negeri dalam bentuk mata uang negara tersebut. dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat non-keuangan. (KDPPLK: paragraf 91) Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. kewajiban (obligation) semacam itu dapat memenuhi definisi kewajiban dan. catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: . maka kewajiban (obligation) tersebut dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban yang timbul dari pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar). Dalam kasus ini.. (PSAK 1: paragraf 70) Dalam rangka membantu pengguna laporan memahami laporan keuangan dan membandingkannya dengan laporan keuangan perusahaan lain. kewajiban atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada umumnya tidak diakui sebagai kewajiban dalam laporan keuangan. (KDPPLK: paragraf 89) Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.

9. dan c. dan simpanan pada bank) dapat berpotensi untuk memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang. investasi dalam instrumen utang.. 8. (PSAK 55: PA39) 292 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Namun. 10. Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran yang telah ditetapkan atau pembayaran yang dapat ditentukan (termasuk aset pinjaman yang diberikan. Dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. (PSAK 57: paragaf 28) Entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca. entitas mengukur pada nilai wajarnya. suatu aset keuangan yang memiliki kuotasi di pasar aktif (seperti instrumen utang yang memiliki kuotasi di Bursa. Nilai wajar aset keuangan pada saat pengakuan awal biasanya sama dengan harga transaksinya (yaitu nilai wajar pembayaran yang diserahkan atau diterima … (PSAK 55: PA 79) 12.Bab VII I E k s p o r Impor 6. perusahaan memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu.. besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya. b. (PSAK 55: paragraf 14) 7. nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut. Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. (PSAK 55: paragraf 43) 11. (PSAK 57: paragraf 15) Perusahaan tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi. entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada kontrak instrumen tersebut (lihat paragraf 38 yang berkaitan dengan pembelian aset keuangan yang lazim (reguler)). lihat paragraf PA86) tidak memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan sebagai suatu pinjaman yang diberikan atau piutang. jika dan hanya jika. piutang dagang. (KDPPLK: paragraf 94) Kewajiban diestimasi harus diakui apabila ketiga kondisi berikut dipenuhi: a. Pada saat pengakuan awal aset keuangan atau kewajiban keuangan. estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat. Aset keuangan yang tidak memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang dapat diklasifikasikan sebagai investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo apabila aset keuangan memenuhi persyaratan/ kriteria untuk pengklasifikasian tersebut.

c. konsultan. atau biaya administrasi internal atau biaya penyimpanan (holding costs). (PSAK 55: PA26) 15. kecuali: a. tanpa harus dikurangi biaya transaksi yang mungkin timbul saat penjualan. entitas mengukur aset keuangan. 16. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau diskonto utang. pinjaman yang diberikan dan piutang yang dimaksudkan oleh entitas untuk dijual dalam waktu dekat. yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. kecuali untuk aset keuangan berikut ini: a) pinjaman yang diberikan dan piutang sesuai definisi paragraf 8. dan diklasifikasikan sebagai kelompok tersedia untuk dijual. pungutan wajib yang dilakukan oleh pihak regulator dan bursa efek. dan dikurangi penurunan (baik secara langsung maupun menggunakan perkiraan cadangan) untuk penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih. Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen (termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent). atau pelepasan lain. Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset keuangan atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok. (PSAK 55: paragraf 8) b.. pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal ditetapkan dalam kelompok tersedia untuk dijual..Bab VII I E k s p o r Impor 13. yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi. serta pajak dan bea yang dikenakan atas transfer yang dilakukan. Setelah pengakuan awal. perantara efek dan pedagang efek. (PSAK 55: paragraf 8) 14.. serta pinjaman yang diberikan dan piutang yang pada saat pengakuan awal oleh entitas ditetapkan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.. ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya. termasuk derivatif yang diakui sebagai aset. atau pinjaman yang diberikan dan piutang dalam hal pemilik mungkin tidak akan memperoleh kembali investasi awal secara substansial kecuali yang disebabkan oleh penurunan kualitas pinjaman yang diberikan dan piutang. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. (PSAK 55: paragraf 46) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 293 . biaya pendanaan (financing costs). pada nilai wajarnya.

Bab VII I E k s p o r Impor 17. Bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi data yang dapat diobservasi yang menjadi perhatian dari pemegang aset tersebut mengenai peristiwa-peristiwa yang merugikan berikut ini: a. terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan). Aset keuangan atau kelompok aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi. keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan tersebut dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam. c. dan melalui proses amortisasi. seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga. dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Penurunan nilai pada dasarnya disebabkan oleh dampak kombinasi dari beberapa peristiwa. atau paragraf 68 (untuk aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual) untuk menentukan jumlah kerugian dari penurunan nilai tersebut. d.. kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam. maka entitas harus menerapkan paragraf 64 (untuk aset keuangan yang ditatat pada biaya perolehan yang diamortisasi). Sulit untuk mengidentifikasi satu peristiwa tertentu yang menyebabkan penurunan nilai. Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat paragraf 46 dan 47). 294 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . (PSAK 55: paragraf 57) 18. Kerugian yang diperkirakan timbul akibat peristiwa di masa datang tidak dapat diakui. terlepas hal tersebut sangat mungkin terjadi. Jika terdapat bukti tersebut. b. pelanggaran kontrak. jika dan hanya jika. pihak pemberi pinjaman. terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya. memberikan keringanan (konsesi) pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut. (PSAK 55: paragraf 59) 19. Pada setiap tanggal neraca entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. paragraf 67 (untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan)..

Bab VII I E k s p o r Impor e. dan untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual terdapat bukti penurunan nilai secara individual atau kolektif (lihat paragraf 59). Jumlah kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi. baik secara langsung maupun menggunakan pos cadangan. Nilai tercatat aset tersebut dikurangi. turunnya harga minyak untuk pinjaman yang diberikan kepada produsen minyak. maka jumlah kerugian tersebut diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa datang yang belum terjadi) yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut (yaitu suku bunga efektif yang dihitung pada saat pengakuan awal). maka entitas memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual. termasuk: (i) memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut (misalnya meningkatnya tunggakan pembayaran atau meningkatnya jumlah pihak peminjam kartu kredit yang mencapai batas kreditnya dan hanya mampu membayar cicilan bulanan minimal). Jika entitas menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual. Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi atas pinjaman yang diberikan dan piutang atau investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. turunnya harga properti untuk kredit properti di wilayah yang relevan. atau (ii) kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut (misalnya bertambahnya tingkat pengangguran di area geografis pihak peminjam. atau data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud. hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan. (PSAK 55: paragraf 60) 20. f. terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak. (PSAK 55: paragraf 64) 21. dan untuk itu kerugian penurunan nilai Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 295 . atau memburuknya kondisi industri yang mempengaruhi pihak peminjam dalam kelompok tersebut). Entitas pertama kali menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut.

Pemulihan tersebut tidak boleh mengakibatkan nilai tercatat aset keuangan melebihi biaya perolehan diamortisasi sebelum adanya pengakuan penurunan nilai pada tanggal pemulihan dilakukan. (PSAK 55: paragraf 17) 296 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . baik secara langsung. Penghentian pengakuan adalah pengeluaran aset keuangan atau kewajiban keuangan yang sebelumnya telah diakui dari neraca entitas. Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan. (PSAK 55: paragraf 65) 22.Bab VII I E k s p o r Impor diakui atau tetap diakui. pada periode berikutnya. b. jika dan hanya jika: a. atau entitas mentransfer aset keuangan seperti dijelaskan pada paragraf 18 dan 19. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi. jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui (seperti meningkatnya peringkat kredit debitur). hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir. dan transfer tersebut memenuhi kriteria penghentian pengakuan pada paragraf 20. (PSAK 55: paragraf 66) 23. maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan. atau dengan menyesuaikan pos cadangan. (PSAK 55: paragraf 8) 24. tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. Jika.

issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang. Mekanisme transaksi ekspor-impor Sight LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 & 11 Tindakan Importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani sales contract Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 297 . Apabila dokumen clean. Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. negotiating bank akan melakukan pembayaran terlebih dahulu kepada beneficiary dengan hak recourse. Penjelasan 1.Bab VII I E k s p o r Impor C.

Bab VII I E k s p o r Impor Usance LC/SKBDN Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan usance LC kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan usance LC kepada Beneficiary melalui perantaraan advising bank Advising bank meneruskan usance LC kepada Beneficiary Beneficiary melakukan pengiriman barang dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan dalam LC Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi LC. issuing bank akan mengirimkan teleks akseptasi ke negotiating bank Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank dan mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran barang Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada saat jatuh tempo Issuing bank akan melakukan pembayaran ke negotiating bank 298 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Proses ini dikenal dengan istilah diskonto. negotiating bank dapat melakukan pembayaran di muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen dikurangi diskon/bunga. Negotiating bank akan mengirimkan dokumen-dokumen tersebut ke issuing bank Issuing bank akan memeriksa dokumen. Apabila dokumen clean.

Reimbursing melakukan pembayaran kepada negotiating bank (claiming bank) Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary Issuing bank melakukan pembayaran kepada reimbursing bank Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menyerahkan dokumen kepada applicant untuk menebus/mengambil barang Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 299 .Bab VII I E k s p o r Impor Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing bank dimana advising bank bukan negotiating bank Langkah 1 2 3a 3b 4 5 6 7a 7b 8 9 10 11 12 Tindakan Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary) menandatangani kontrak penjualan Applicant mengajukan permohonan pembukaan LC/SKBDN kepada issuing bank Issuing bank menerbitkan LC/SKBDN kepada beneficiary melalui perantaraan advising bank Issuing bank memberikan reimbursement authorization kepada reimbursing bank Advising bank meneruskan LC/SKBDN kepada beneficiary Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai permintaan dalam LC/SKBDN Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke negotiating bank Negotiating bank mengirimkan dokumen kepada issuing bank Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing bank untuk melakukan pembayaran.

LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon (applicant). Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang berasal dari hak dan kewajiban kontraktual. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab mengenai surat berharga. Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary. LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance). Berdasarkan cara penyelesaian pembayarannya. LC/SKBDN dibedakan menjadi: a. dan komisi negosiasi dokumen. 3. Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank. antara lain untuk tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil alih bank. Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi.Bab VII I E k s p o r Impor 2. Akuntansi yang terkait dengan kewajiban kontinjensi dan kewajiban diestimasi. bank melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut. LC/SKBDN atas unjuk (sight payment). b. LC/KBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk meminta pembayaran kepada issuing bank melalui bank korespondennya berdasarkan pemenuhan persyaratan yang tercantum dalam LC/SKBDN. 9. 4. Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi akseptasi. b. biaya pengiriman dokumen. komisi pembukaan LC/SKBDN. antara lain untuk jaminan keuangan (financial guarantee) seperti shipping guarantee. 5. LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment). advising bank meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary. sesuai dengan jenis LC/SKBDN: 300 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. yaitu: a. 8. c. 7. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation). d. 6. SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC tunduk pada Uniform Customs and Practice for Documentary Credits/UCPDC.

Bab VII I E k s p o r

Impor

a.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan kemudian meneruskan dokumendokumen yang diterima kepada issuing bank.

b.

LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN) Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.

c.

LC/SKBDN yang ditagih dengan collection Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank untuk ditagihkan pembayarannya tanpa terlebih dahulu melakukan pembayaran kepada beneficiary. LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara lain: 1) dokumen yang diajukan terdapat penyimpangan (discrepancy/ies); atau 2) tidak ada bank yang bersedia sebagai negotiating bank

10. Bank pendiskonto (discounting bank) membayar kepada beneficiary sebesar nilai LC/ SKBDN atau nilai realisasi setelah dikurangi diskonto. 11. Negotiating bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dengan hak regres (with right of recourse) berdasarkan wesel dan dokumen yang diajukan oleh beneficiary, kecuali status negotiating bank sebagai confirming bank. 12. Instrumen (dokumen keuangan/financial document) untuk penyelesaian pembayaran semua jenis LC/SKBDN digunakan wesel (draft/bill of exchange). 13. Khusus untuk deferred payment, instrumen pembayaran pada dasarnya adalah promisory notes, namun dalam praktek perbankan Indonesia telah lazim digunakan wesel yang diperlakukan sebagai tagihan.

D. Perlakuan Akuntansi
Pengakuan dan Pengukuran Transaksi Ekspor 1. Pada saat menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank mengadministrasikan LC/SKBDN yang diterima. Advising bank mengakui pendapatan provisi (advising fee) yang dipungut, dan pendapatan administrasi atas telex/swift atau pengiriman dokumen pada saat terjadinya.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 301

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Dalam hal advising bank juga bertindak sebagai confirming bank untuk menjamin pembayaran LC/SKBDN maka advising bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada saat yang sama mengakui tagihan komitmen kepada issuing bank. Confirming bank mengakui pendapatan provisi (advising fee dan/atau confirming fee) secara sekaligus atau dialokasikan selama jangka waktu komitmen. Untuk LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN), pada saat pembayaran dokumendokumen yang diajukan beneficiary, bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank dalam pos tagihan lainnya sight LC/SKBDN kepada bank. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) a. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, bank mengakui tagihan kepada accepting bank sebagai pos tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary sebagai pos kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank terlebih dahulu “telah menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary dan membukukan wesel ekspor sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu wesel ekspor. Pada saat yang sama bank menjurnal balik tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Apabila sebelum jatuh tempo bank melakukan pendiskontoan/negosiasi dan bank ”belum menerima” akseptasi dari accepting bank, maka bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan mengakui tagihan kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN serta mengakui pendapatan yang ditangguhkan sebesar nilai diskonto dan diamortisasi selama jangka waktu tagihan. Pada saat bank menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank membukukan tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi. Pada saat yang sama bank membukukan wesel ekspor berjangka dan melakukan jurnal balik atas tagihan kepada beneficiary serta menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi. Pada saat jatuh tempo, apabila bank yang melakukan pembayaran (paying bank) kepada beneficiary menerima pembayaran dari issuing bank, maka bank membukukan pada pos nostro/giro B.I/Rekening Antar cabang dan menjurnal balik pos wesel ekspor berjangka.

3.

4.

b.

c.

302 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

d.

Apabila bank tidak melakukan pendiskontoan/negosiasi tetapi hanya melakukan penagihan (on collection) atas permintaan beneficiary, maka pada saat jatuh tempo bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi. Pembayaran dari issuing bank dibukukan pada pos nostro/Giro BI/Rekening Antar Cabang dan mengkredit rekening beneficiary sebesar nilai LC/SKBDN dikurangi dengan biaya administrasi.

5.

LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN) a. Dalam hal negosiasi LC/SKBDN dimana wesel unjuk (sight) diambil alih oleh negotiating bank (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat bersamaan negotiating bank mengakui tagihan kepada issuing bank sebagai pos tagihan lainnya - sight LC/SKBDN kepada bank koresponden yang akan diselesaikan pada saat menerima pembayaran dari issuing bank. b. Dalam hal bank menegosiasi wesel berjangka yang belum diaksep (with right of recourse), maka negotiating bank membayar kepada beneficiary sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dikurangi diskonto dan dikurangi atau ditambah pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan secara langsung (bila ada). Pada saat bersamaan, bank mengakui tagihan kepada beneficiary dalam pos tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum diakseptasi. c. Pada saat menerima akseptasi dari accepting bank, maka bank mengakui tagihan akseptasi dan kewajiban akseptasi sebesar nilai realisasi LC/SKBDN ditambah/ dikurangi dengan biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi. Selanjutnya biaya/pendapatan tersebut diamortisasi selama jangka waktu tagihan akseptasi. Dalam hal bank menerima akseptasi dari accepting bank setelah bank melakukan pendiskontoan/negosiasi maka perlakuan akuntansi sebagaimana diatur pada butir 4. c di atas. Perlakuan akuntansi untuk wesel ekspor mengacu pada bab mengenai surat berharga. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan pada saat pengakuan awal Sebesar nominal tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dikurangi pendapatan/beban (bila ada).

6.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 303

Bab VII I E k s p o r

Impor

7. Setelah pengakuan awal, bank mengakui tagihan akseptasi dan tagihan lainnya sebagai berikut:
Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya dalam kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Pencatatan setelah pengakuan awal Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada saat pengakuan awal ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

8. 9.

Perlakuan akuntansi untuk amortisasi biaya transaksi mengacu pada Bab mengenai Kredit. Pada saat pengakuan awal, bank mengakui kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebesar nilai wajar yaitu:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori

Pencatatan pada saat pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya yang diukur sebesar diamortisasi) nilai wajar, yang pada umumnya adalah sebesar kewajiban bruto.

10. Setelah pengakuan awal, bank mencatat kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya sebagai berikut:
Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya dalam Kategori Pencatatan setelah pengakuan awal

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. Pada saat membuka LC/SKBDN, bank mencatat ke dalam pos: a. b. c. 2. kewajiban komitmen LC/SKBDN dalam mata uang asing sebesar nilai LC/SKBDN; setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam LC/SKBDN sebesar setoran yang diterima; pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN sebesar provisi yang diterima.

Pendapatan provisi penerbitan LC/SKBDN yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat diterima.
Akuntansi Perbankan Indonesia

304 I P e d o m a n

Bab VII I E k s p o r

Impor

3.

LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN) a. b. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan selama masa pemeriksaan tidak dilakukan penjurnalan. Apabila dokumen pengapalan (shipping document) telah diterima dan diperiksa dan tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh applicant, maka issuing bank mengakui kewajiban atau melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan mengakui tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada pos tagihan lainnya (tagihan kepada applicant). Pada saat yang sama, issuing bank melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN.

c. Apabila dokumen pengapalan belum diterima dan applicant meminta bank untuk menerbitkan shipping guarantee, maka applicant harus membayar lunas kekurangan dari setoran jaminan atas realisasi LC/SKBDN dan issuing bank mengakui kewajiban kepada bank koresponden sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan bank membebankan biaya endors kepada applicant. Pada saat yang sama, bank mengakui tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran, serta melakukan jurnal balik atas pos kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi LC/SKBDN. Pada saat dokumen pengapalan diterima dan diperiksa, maka issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban kontinjensi kepada maskapai pelayaran dan tagihan kontinjensi shipping guarantee kepada applicant. Issuing bank melakukan pembayaran kepada bank koresponden dengan membukukan pada pos nostro/ Giro BI/Rekening antar cabang dan menjurnal balik pos kewajiban kepada bank koresponden. 4. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment). a. Bila issuing bank mengaksep wesel Pada saat bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada applicant, serta membebankan biaya akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/ SKBDN sebesar nilai realisasi.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 305

Bab VII I E k s p o r

Impor

Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada negotiating bank maka kewajiban accepting bank beralih dari kewajiban akseptasi kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada negotiating bank. Negotiating bank dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada pihak lainnya sehingga kewajiban accepting bank beralih kepada bonafide holder. b. Bila issuing bank bukan accepting bank Dalam hal accepting bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka 1) Accepting bank mengakui kewajiban akseptasi kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep dan tagihan akseptasi kepada issuing bank. 2). Issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant. Pada saat yang sama issuing bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen LC/SKBDN sebesar nilai realisasi. 5. LC/SKBDN dengan negosiasi (Negotiation LC/SKBDN). a. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel unjuk (LC/SKBDN sight), maka issuing bank mengakui kewajiban lainnya kepada negotiating bank sebesar nilai realisasi LC/SKBDN dan pada saat yang sama mengakui tagihan lainnya kepada applicant sebesar nilai yang sama. Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh bank lain, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada accepting bank sebesar nilai wesel yang diaksep dan mengakui tagihan akseptasi kepada applicant.

b. 1)

2) Dalam hal negotiating bank menegosiasi wesel berjangka yang diaksep oleh issuing bank, maka issuing bank mengakui kewajiban akseptasi kepada negotiating bank dan tagihan akseptasi kepada applicant. 6. Pengakuan awal dan pengakuan selanjutnya atas tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi impor mengacu pada tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya dalam transaksi ekspor. Saat applicant melunasi kewajibannya (saat jatuh tempo), bank mendebet rekening applicant dan setoran jaminan impor serta mengkredit rekening bank koresponden, dan pada saat yang sama menjurnal balik kewajiban akseptasi dan tagihan akseptasi.

7.

306 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

8.

Penurunan nilai (impairment) Perlakuan penurunan nilai tagihan akseptasi mengacu kepada Bab mengenai Kredit.

Penyajian Transaksi Ekspor 1. Tagihan akseptasi dan tagihan lainnya disajikan di neraca sesuai kategori aset keuangan, yaitu:
Kategori Aset Keuangan Penyajian di Neraca

Sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar tagihan akseptasi dan tagihan lainnya yang diukur pada Pinjaman yang Diberikan dan saat pengakuan awal ditambah dengan amortisasi kumulatif Piutang menggunakan metode suku bunga efektif. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account.

Kewajiban akseptasi dan kewajiban lainnya disajikan sebagai berikut:
Kategori Kewajiban Keuangan Penyajian di Neraca

Kewajiban lainnya (biaya perolehan Sebesar kewajiban bruto. diamortisasi)

Transaksi Impor 1. 2. 3. 4. Kewajiban komitmen atas penerbitan LC/SKBDN diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan sebesar jumlah penerbitan LC/SKBDN. Setoran jaminan impor disajikan di neraca sebesar jumlah setoran jaminan. Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di neraca sebesar nilai wajar dikurangi amortisasi kumulatif pendapatan/beban yang dapat diatribusikan. Penyajian tagihan dan kewajiban akseptasi serta tagihan dan kewajiban lainnya mengacu kepada penyajian transaksi ekspor.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 307

../Giro BI Kr. Pendapatan administrasi beneficiary b../Giro BI Kr. dimana issuing bank claiming bank bank koresponden belum membayar 7 *) Negotiating bank dapat bertindak sebagai claiming bank bila dipersyaratkan dalam LC/ SKBDN untuk melakukan klaim kepada reimbursing bank 308 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/rekening.. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Negotiating bank Tidak ada penjurnalan Terima pembayaran dari reDb.... No 1 2 3 4 Sight atau LC/SKBDN ... Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada bank koresponden Kr. Ilustrasi Jurnal 1. Nostro/Giro BI/Rekening antar cabang Saat terima pembayaran Negotiating bank/ Kr. Antar Cabang imbursing/issuing bank dan Negotiating bank Kr. kiriman dokumen dan biaya telex (bila ada) Db./Giro BI pembayaran kepada eksportir/ Kr. Kas/rekening...... Tagihan lainnya – sight LC/SKBDN kepada dari issuing bank claiming bank*) bank koresponden Bila issuing bank terlambat Negotiating bank/ Db. No 1 2 3 Negosiasi Sight LC/SKBDN Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank Negotiating bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db../Giro BI/Nostro bayar claiming bank Kr./Giro BI Kr. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Db.Pembayaran kepada eksportir setelah terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank – on collection Keterangan Saat terima LC/SKBDN Provisi advising Pengiriman dokumen Status Bank Advising bank Advising bank LC/SKBDN atas unjuk (sight) Tidak ada penjurnalan Db. Kas/rekening. Kas/rekening. Transaksi Ekspor a..Bab VII I E k s p o r Impor E./Giro BI Pembebanan komisi negosiasi. Pendapatan bunga – sight LC/SKBDN Bila sight LC/SKBDN sudah Db. Kas/rekening.. Nostro/Giro BI/Rek. Tagihan lainnya-sight LC/SKBDN kepada hari. Pendapatan administrasi 4 Saat negosiasi dokumen Negotiating bank 5 6 Db. Kas/rekening. Kredit yang diberikan jatuh tempo dan melebihi 14 Negotiating bank/ Kr..

. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Db.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr...Bab VII I E k s p o r Impor c.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Pembebanan biaya yang diakui langsung: Db. Kas/rekening.. Kas/rekening../Giro BI Kr. LC/SKBDN berjangka (usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (deferred payment) Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Tidak ada penjurnalan Db. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tidak ada penjurnalan Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db./Giro BI Kr. Pendapatan fee Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Amortisasi: Db. Kas/rekening.. Pendapatan fee yang diamortisasi No 1 2 3 4 Saat terima LC/SKBDN Advising bank Provisi advising Pengiriman dokumen Saat terima akseptasi Advising bank Negotiating bank Negotiating bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 309 ./Giro BI Kr..

Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Kas/rekening. Surat berharga . bank melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db.wesel ekspor usance 310 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr.wesel ekspor: Db. biaya telex) Penyesuaian dengan harga pasar: Harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. kiriman dokumen. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr.wesel ekspor Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor: Db.. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – wesel eskpor Db/Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga .. Surat berharga . 1 s/d 4. Pendapatan adm../Giro BI (diakui sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurang diskonto) Mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db.wesel ekspor usance Kr Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db.. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) dan sudah terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi (Trading) Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/discounting bank *) Setelah jurnal no. (komisi negosiasi. Kas/rekening. Surat berharga . Surat berharga .Bab VII I E k s p o r Impor No 5 Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian a.wesel ekspor usance Kr./Giro BI Kr..wesel ekspor usance Penjualan surat berharga .

Surat berharga .wesel ekspor usance Kr..Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian 2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang Diberikan dan Piutang Saat mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. Pendapatan bunga wesel ekspor Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/ reimbursing bank): Db. Kiriman dokumen. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 311 .. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) Melakukan jurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Surat berharga . Kas/rekening. Pendapatan adm (komisi negosiasi../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr./Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db.wesel ekspor usance Kr. 1 s/d 4. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. bank membukukan surat Discounting bank berharga wesel ekspor: Db. Kas/rekening.wesel ekspor usance Kr... Surat berharga ..

wesel ekspor usance 312 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . 1 s/d 4. Pendapatan adm (komisi negosiasi.wesel ekspor: Db../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db.. bank menjurnal balik Discounting bank tagihan dan kewajiban akseptasi Db.. Surat berharga .wesel ekspor Kr. Surat berharga .wesel ekspor usance Penjualan surat berharga .ekuitas Db/Kr. Surat berharga . Peningkatan (penurunan) nilai wajar . Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr.wesel ekspor usance Kr. Kas/rekening. Kas/rekening.. Surat berharga .ekuitas Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db. biaya telex) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Saat mendiskonto dokumen Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Negotiating bank/ Setelah jurnal no.wesel ekspor usance Kr Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Kiriman dokumen. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .. Surat berharga .wesel ekspor usance Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga ./Giro BI Kr.

Kas/rekening. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary saat jatuh tempo . Kiriman dokumen.on collection Saat jatuh tempo Negotiating bank/ (terima pembayaran claiming bank dari reimbursing/issuing bank) Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 313 . biaya telex) Db. Pendapatan adm (komisi negosiasi. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Kr. Kas/rekening. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. bank melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.../Giro BI Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian Setelah jurnal no.. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Kr../Giro BI b.. 1 s/d 4..

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

c. Jika dibayar kepada eksportir/beneficiary sebelum jatuh tempo (diskonto) tetapi belum terima akseptasi dari accepting bank 1) Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (trading) Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3 diatas, bank membukukan diskonto wesel ekspor yang belum diakseptasi: discounting Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor bank*) belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Biaya/pendapatan yang diakui langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, Kiriman dokumen, biaya telex) Saat bank menerima akseptasi: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari harga beli: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Jika harga pasar lebih rendah dari harga beli: Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db/Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Db/Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance *) Negotiating bank disebut juga discounting bank bila melakukan diskonto atas wesel ekspor.

314 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

2) Dimiliki Hingga Jatuh Tempo 3) Pinjaman yang diberikan dan Piutang Mendiskonto dokumen Negotiating bank/ Setelah jurnal no. 1 s/d 3, bank membukukan Discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi: Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (di buku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex) Terima akseptasi Bank menerima akseptasi atas wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 315

Bab VII I E k s p o r

Impor

No

Keterangan 4) Tersedia untuk Dijual Mendiskonto dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/ pembayaran kemudian

N e g o t i a t i n g / Setelah jurnal no. 1 s/d 3 di atas, bank membukukan discounting bank diskonto wesel yang belum diakseptasi Db. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Kr. Kas/rekening..../Giro BI (dibuku sebesar nominal wesel ekspor yang belum diaksep dikurangi diskonto dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) Bank mengakui biaya/pendapatan secara langsung: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan adm (komisi negosiasi, kiriman dokumen, biaya telex)

Terima akseptasi

Bank menerima akseptasi wesel ekspor Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Tagihan kepada beneficiary - wesel ekspor belum akseptasi Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Pendapatan bunga wesel ekspor Penyesuaian dengan harga pasar: Jika harga pasar lebih tinggi dari nilai tercatat Db. Surat berharga - wesel ekspor usance Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar – ekuitas Jika harga pasar lebih rendah dari nilai tercatat Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar - ekuitas Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance Penjualan surat berharga - wesel ekspor: Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db./Kr. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor - ekuitas Db./Kr. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga - wesel ekspor Kr. Surat berharga - wesel ekspor usance

316 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

Transaksi Impor a.
No 1

LC/SKBDN Atas Unjuk (Sight LC/SKBDN)
Keterangan Issue LC/SKBDN Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight) Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/Cabang Komisi endors LC/SKBDN dan SSG: Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Melakukan jurnal balik komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekeninglawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

2 3 4

Provisi pembukaan LC/ SKBDN Terima setoran jaminan impor Terima pembayaran dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN)

Issuing bank Issuing bank Issuing bank

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 317

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden a. Terima dokumen impor, rekening issuing belum didebet dan applicant belum melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN atas unjuk (sight)

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, Melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Pengakuan tagihan dan kewajiban Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Pembayaran kepada bank koresponden/ cabang: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

318 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan b. Terima dokumen impor, rekening Nostro sudah didebet dan applicant belum melakukan pelunasan Penerimaan dokumen

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 3 di atas, menjurnal balik kewajiban komitmen (off balance sheet) : Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Db. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Pelunasan oleh applicant: Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan LC/SKBDN sight kepada applicant Penerimaan setoran pajak impor (bila nasabah bayar melalui bank): Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB

Pelunasan oleh importir/ applicant (jika setoran jaminan tidak 100% dari LC/SKBDN

Issuing bank

c. Terima dokumen impor ex-endors B/L, importir/ applicant sudah melakukan pelunasan sebelumnya. Penerimaan dokumen Issuing bank Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 319

Bab VII I E k s p o r

Impor

No Keterangan d. Jika importir/applicant mengambil barang dengan menggunakan SSG (shipping guarantee) Penerbitan shipping guarantee

Status Bank

Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian

Issuing bank

Setelah jurnal no 1 s/d 4 di atas, Saat penerbitan SSG: Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Pembayaran kepada bank koresponden: Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang Kr. Giro BI/nostro/Rek. antar cabang Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG: Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rek. lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Penyelesaian SSG pada umumnya dilakukan 14 hari setelah jatuh tempo atau SSG dikembalikan.

Penerimaan dokumen

Issuing bank

320 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

. lawan . Rek. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. lawan .kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Bila pengambilan barang disertai SSG. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr. maka off balance sheet SSG juga dibalik Db../Giro BI Kr. Rekening lawan . Kewajiban komitmen LC/SKBDN Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Db.. berjangka kepada bank koresponden Rek. Kas/rekening.kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden 5 Penerimaan dokumen impor dan pelunasan kewajiban kepada bank koresponden Penerimaan dokumen Issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db..Bab VII I E k s p o r Impor b. Pendapatan provisi LC/SKBDN Db. Kas/rekening..kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 321 .kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. berjangka kepada bank koresponden Rek.. lawan . Setoran jaminan impor No Keterangan 1 Bank menerbitkan LC/ SKBDN 2 Bank mengakui provisi pembukaan LC/SKBDN Bank menerima setoran jaminan impor Issuing bank 3 Issuing bank 4 Issuing bank Terima promes dari importir/applicant sementara dokumen impor belum diterima oleh issuing bank Bank melakukan jurnal balik atas kewajiban komitmen (off balance sheet): Db./Giro BI Kr. LC/SKBDN Berjangka (Usance) dan LC dengan pembayaran kemudian (Deferred payment): Status Bank Issuing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Db.

Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Pendapatan fee yang diamortisasi 322 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kas/rekening./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db./Giro BI Kr.. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Mengakui amortisasi: Db. Kas/rekening. Kas/rekening. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Saat akseptasi Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Accepting bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Pendapatan fee Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan a... Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Pembebanan biaya diakui langsung: Db.../Giro BI Kr. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db.....

issuing bank Db../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden .. Giro BI/nostro/Rek.negotiating bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db.accepting bank Pembebanan biaya diakui langsung: Db.. Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang dapat diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan b.issuing bank Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kas/rekening..accepting bank Mengakui amortisasi Db. antar cabang Kr. antar cabang Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Bila issuing bank bukan accepting bank Status Bank Accepting bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya: Db. Kas/rekening. Giro BI/nostro/Rek. Pendapatan fee yang diamortisasi Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 323 ..negotiating bank Mengakui amortisasi Db./Giro BI Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi Issuing bank Bila biaya transaksi diakui langsung atau tidak ada biaya Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.issuing bank Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Pendapatan fee Accepting bank Bila terdapat biaya transaksi yang diatribusikan langsung pada tagihan akseptasi: Db. Tagihan akseptasi kepada applicant Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden .

Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. Setoran jaminan impor Db. Setoran jaminan impor Db. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (accepting bank) Accepting bank Issuing bank Issuing bank 324 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia ...accepting bank Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan 6 Saat jatuh tempo (pelunasan oleh applicant dan pembayaran kepada bank koresponden) a. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden . Kas/rekening. Bila issuing bank bukan accepting bank Accepting bank Menerima pembayaran dari issuing bank Db. Giro BI/nostro (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant Db. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden .. Bila issuing bank juga sebagai accepting bank Status Bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Issuing bank Pelunasan oleh applicant: Db. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank): Db..issuing bank Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db.negotiating bank Kr. Giro BI/nostro/Rek./Giro BI Kr.. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Kas/rekening. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden (accepting bank): Db.. Giro BI/nostro (issuing bank) Kr./Giro BI Kr. antar cabang b. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.

Bila pelunasan LC/SKBDN melalui reimbursing bank Status Bank Reimbursing bank Negosiasi LC/SKBDN berjangka/pembayaran kemudian Melakukan pembayaran kepada negotiating bank Db. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden ... Kas/rekening. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (reimbursing bank) Issuing bank Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 325 . Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (issuing bank) Kr./Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr.reimbursing bank Kr.Bab VII I E k s p o r Impor No Keterangan c. Setoran jaminan impor Db. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Pembayaran kepada bank koresponden (reimbursing bank) Db.. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang (negotiating bank) Menerima pelunasan oleh applicant: Db.

dan Penetapan tingkat diskonto (discount rate). 3. 2. d. Pengungkapan Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain: 1. b. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi. Jenis LC/SKBDN. d. b. Perubahan nilai wajar tagihan LC/SKBDN yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi Jumlah tagihan LC/SKBDN yang berpindah dari atau ke setiap kategori dan latar belakang perpindahan kategori tersebut (reclassification). Kategorisasi dan dasar pengukuran (measurement basis) tagihan atau kewajiban LC/SKBDN dalam penyusunan laporan keuangan. 4. Asumsi penetapan nilai wajar tagihan LC/SKBDN (dalam hal bank menggunakan nilai wajar dalam pengukuran tagihan atau kewajiban LC/SKBDN) dan agunan. Jenis risiko dan manfaat (risk and reward) atas kepemilikan LC/SKBDN yang masih tetap berada di bank. dan Kebijakan akuntansi lainnya yang relevan yang dapat mendukung pemahaman terhadap laporan keuangan.Bab VII I E k s p o r Impor F. Pinjaman yang Diberikan dan Piutang. dengan rincian berikut: a. Pengalihan tagihan LC/SKBDN yang tidak memenuhi kualifikasi penghentian pengakuan (derecognition) baik sebagian atau seluruh LC/SKBDN. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN dan kewajiban terkait. Metode dan teknik penilaian (valuasi) yang antara lain mencakup: a. 6. c. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. b. nilai tercatat tagihan Akuntansi Perbankan Indonesia 326 I P e d o m a n . Penggunaan kuotasi harga di pasar aktif atau teknik penilaian. Kategorisasi dan nilai tercatat tagihan atau kewajiban LC/SKBDN. Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting yang termasuk namun tidak terbatas pada: a. yaitu: a. serta perubahan asumsi yang dapat mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan. Tersedia untuk Dijual. 5. c. c. b. jika bank tetap mengakui seluruh bagian tagihan LC/SKBDN Total nilai tercatat tagihan LC/SKBDN awal yang dialihkan.

Bab VII I E k s p o r

Impor

LC/SKBDN yang tetap diakui bank, dan nilai tercatat kewajiban terkait, jika bank tetap mengakui sebagian tagihan LC/SKBDN sebesar keterlibatan berkelanjutan (continuing involvement). 7. Informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi jenis dan besarnya risiko yang timbul dari aktivitas LC/SKBDN sebagaimana pada angka 8 sampai 9 dibawah.

Pengungkapan kualitatif 8. Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode pengukuran risiko tagihan LC/SKBDN dan perubahan dari periode sebelumnya (jika ada).

Pengungkapan kuantitatif 9. Analisis terhadap tagihan LC/SKBDN berdasarkan klasifikasi yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama (misalnya berdasarkan industri, geografis). Analisis tersebut mencakup: a. b. Jumlah yang mencerminkan eksposur risiko tagihan LC/SKBDN pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya; Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko lainnya atas eksposur tagihan LC/SKBDN sebagaimana pada butir a diatas. Informasi lainnya yang harus diungkapkan meliputi: 1) Kebijakan dan proses penilaian dan pengelolaan agunan dan bentuk mitigasi risiko lainnya (seperti jaminan, dan credit derivative); 2) Jenis agunan dan mitigasi risiko lainnya; 3) Pihak lawan (counterparties) yang menerbitkan agunan dan mitigasi risiko lainnya (misalnya penerbit surat berharga yang diagunkan, dan pihak penjual proteksi LC/SKBDN dalam transaksi credit derivative); dan 4) Informasi mengenai konsentrasi risiko dalam agunan dan mitigasi risiko lainnya; c. Informasi mengenai kualitas tagihan LC/SKBDN di luar yang mengalami tunggakan bunga dan/atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, yang meliputi: 1) Analisis eksposur tagihan LC/SKBDN, baik menggunakan sistem pemeringkatan internal (internal credit grading system) maupun peringkat yang diterbitkan lembaga pemeringkat.

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 327

Bab VII I E k s p o r

Impor

a)

Apabila bank menggunakan peringkat dari lembaga pemeringkat dalam mengelola dan memantau kualitas kredit, maka pengungkapan mencakup: i Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat; ii Lembaga pemeringkat yang menerbitkan peringkat; iii Jumlah ekposur tagihan LC/SKBDN yang diperingkat dan yang tidak diperingkat; iv Hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat.

b) Apabila bank menggunakan peringkat berdasarkan sistem pemeringkatan internal dalam mengelola dan memantau kualitas tagihan LC/SKBDN , maka pengungkapan mencakup: i Proses pemeringkatan internal beserta asumsi-asumsi yang digunakan dalam penerapan pemeringkat interna. ii Jumlah eksposur tagihan LC/SKBDN untuk setiap tingkatan peringkat internal; iii Penjelasan struktur peringkat internal serta hubungan dan keterkaitan antara peringkat dari sistem pemeringkatan internal dan peringkat dari lembaga pemeringkat. 2) Tipe/jenis debitur; 3) Informasi historis mengenai tingkat kegagalan debitur (default rate); 4) Informasi lainnya yang digunakan dalam menilai kualitas tagihan LC/SKBDN ; dan d. Nilai tercatat tagihan LC/SKBDN yang tidak mengalami tunggakan bunga dan/ atau pokok (past due) atau mengalami penurunan nilai, namun telah mengalami restrukturisasi atau perubahan syarat dan kondisi.

10. Jumlah tagihan LC/SKBDN berdasarkan segmentasi, antara lain sektor ekonomi dan geografi, berdasarkan jangka waktu, mata uang, dan tingkat bunga tagihan LC/SKBDN yang dihitung secara rata-rata. 11. Jumlah tagihan LC/SKBDN kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 12. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang dibiayai.

328 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

G. Ketentuan Lain-lain
1. 2. Ketentuan UCP yang berlaku. Bank tetap menilai kualitas tagihan sesuai ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai kualitas aktiva untuk kepentingan penerapan prinsip kehati-hatian dan perhitungan KPMM bank.

H. Contoh kasus
Impor 1. LC atas unjuk (Sight) - Pengambilan barang dengan Shipping Guarantee (SSG) PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut, pada tanggal 2 Februari 2012 PT Maju membuka LC sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10 %. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 14 Pebruari 2012 barang sudah tiba di pelabuhan dan importir menebus barang dengan meminta bank membuat SSG. PIB (bea masuk,PPN &PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000,00. Biaya/komisi penerbitan SSG Rp. 200.000 dan komisi PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 18 Februari 2012 dokumen asli diterima oleh Bank XYZ dan penyelesain kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Sight kepada bank koresponden 2) Mengakui pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Mengakui penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 329

Bab VII I E k s p o r

Impor

b.

Tanggal 14 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari importir Db. Setoran jaminan impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank koresponden/cabang USD USD USD 1.000 9.000 10.000 200.000 200.000

2) Mengakui pendapatan komisi dari mengendors LC/SKBDN dan SSG Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp Kr. Pendapatan komisi LC/SKBDN Rp

3) Menerima setoran pajak impor (apabila nasabah membayar melalui bank) Db. Kas/rekening..../Giro BI Rp 20.050.000 Kr. Kewajiban pajak impor Rp 20.000.000 Kr. Pendapatan komisi PIB Rp 50.000 3) Melakukan jurnal balik pembukuan komitmen Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden Kr. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN sight kepada bank koresponden 4) Menerbitkan SSG Db. Rekening lawan-kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi c. Tanggal 18 Februari 2012 1) Melakukan pembayaran kepada bank koresponden Db. Kewajiban LC/SKBDN sight kepada bank korensponden/cabang Kr. Giro BI /nostro/rekening antar cabang 2) Melakukan jurnal balik atas kewajiban SSG Db. Kewajiban kontinjensi SSG kepada perusahaan ekspedisi Kr. Rekening lawan - kewajiban kontijensi SSG berjangka kepada perusahaan ekspedisi

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

USD USD

10.000 10.000

330 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

2.

LC berjangka (usance/deferred) - Pengambilan barang dengan dokumen asli (setelah dokumen tiba): PT Maju, nasabah Bank XYZ Jakarta hendak mengimpor barang dari luar negeri. Untuk kebutuhan impor tersebut pada tanggal 02 Pebruari 2012 PT Maju membuka LC berjangka (usance) sebesar USD 10,000 dengan setoran jaminan sebesar 10%. Bank XYZ memungut komisi pembukaan LC sebesar 0,25%. Pada tanggal 18 Februari 2012, Bank XYZ menerima dokumen dari negotiating bank. Importir menebus barang dengan akseptasi promes/wesel, biaya atas PIB (bea masuk, PPN & PPNBM, PPh) sebesar Rp 20.000.000. Komisi akseptasi yang diterima sebesar USD25 dan PIB sebesar Rp 50.000. Tanggal 2 April 2012, LC jatuh tempo dan dilakukan penyelesaian kepada bank koresponden. Jurnal transaksi a. Tanggal 2 Februari 2012 1) Penerbitan LC/SKBDN Db. Rekening lawan - kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden Kr. Kewajiban komitmen LC/SKBDN Berjangka kepada bank koresponden 2) Pencatatan pendapatan provisi pembukaan LC/SKBDN Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan provisi LC/SKBDN 3) Pencatatan penerimaan setoran jaminan impor 10% Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Setoran jaminan impor b. Tanggal 18 Februari 2012 1) Penerimaan setoran pajak impor Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Kewajiban pajak impor Kr. Pendapatan komisi PIB Rp Rp Rp 20.050.000 20.000.000 50.000

USD USD USD USD USD USD

10.000 10.000 25 25 1.000 1.000

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 331

Bab VII I E k s p o r

Impor

2) Melakukan jurnal balik atas komitmen (off balance sheet) Db. Kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD Kr. Rekening lawan-kewajiban komitmen LC/SKBDN berjangka kepada bank koresponden USD

10.000 10.000

3) Pengakuan tagihan akseptasi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 10.000 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Pembebanan biaya diakui langsung Db. Kas/rekening..../Giro BI Kr. Pendapatan fee

USD USD

25 25

Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor-impor di Bank XYZ adalah USD 50 (= IDR 500.000). Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 9.975 Db. Kas/rekening..../Giro BI 25 Kr. Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Amortisasi atas biaya/pendapatan yang diatribusikan secara langsung Db. Tagihan akseptasi kepada applicant USD 0,55 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi USD 0,55 Amortisasi dilakukan sampai dengan jatuh tempo/pembayaran dari importir menggunakan suku bunga efektif; penggunaan metode garis lurus diperbolehkan sesuai ketentuan.

332 I P e d o m a n

Akuntansi Perbankan Indonesia

Bab VII I E k s p o r

Impor

c.

Tanggal 2 April 2012 1) Pelunasan oleh applicant saat jatuh tempo Db. Setoran jaminan impor Db Kas/rekening..../Giro BI Kr. Tagihan akseptasi kepada applicant Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD USD USD 1.000.00 9.000.00 9.999.44 0,56

2) Pembayaran kepada bank koresponden (negotiating bank) Db. Kewajiban akseptasi kepada bank korespondennegotiating bank USD Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD

10.000 10.000

Tabel 1: Amortisasi Biaya Transaksi Jika tingkat materialitas untuk biaya transaksi dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung pada transaksi ekspor impor di Bank XYZ adalah USD 20 (= IDR 200.000).
No. Trx A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Estimasi arus kas C (9,975) Saldo awal AngsurSuku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok D 9.975,00 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.979,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 E = D x EIR 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 F G=pxi H=E–G 0,55 0,55 0,55 0,55 0,55 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 0,56 Saldo akhir Tagihan Akseptasi I=D+E+F+G 9.975,55 9.976,11 9.976,66 9.977,22 9.977,77 9.978,33 9.978,88 9.979,44 9.978,99 9.980,55 9.981,11 9.981,66 9.982,22 9.982,77 9.983,33 9.983,88 9.984,44 9.984,99

Tanggal B 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12

Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

I 333

56 9.11 9.66 0.999.56 0.99 0.56 9.55 0.997.66 9.987.993.987.56 0.996.55 9.77 0.988.89 9.988.999.10 0.998. Trx A 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Tanggal B 07-Mar-12 09-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 Estimasi arus kas C 10.33 0.66 0.44 0.993.000) 0.44 0.56 9.22 9.56 0.56 9.11 0.994.56 0.989.998.989.94 0.33 9.991.56 0.989.22 0.56 0.986.996.56 9.55 0.88 0.55 9.998.99 9.996.89 0.78 9.987.992.33 0.000 Saldo awal AngsurSaldo akhir Suku bunga Tagihan Amortisasi tagihan an Tagihan efektif (EIR) bunga dengan EIR akseptasi pokok Akseptasi D E = D x EIR F G=pxi H=E–G I=D+E+F+G 9.56 9.56 9.995.56 0.56 0.66 0.56 0.56 0.Bab VII I E k s p o r Impor No.22 0.56 9.994.56 9.996.56 0.988.992.56 9.56 9.56 9.99 0.992.77 0.56 0.56 0.56 9.56 9.56 0.985.997.56 9.33 9.56 (10.10 9.56 9.986.56 9.56 9.990.55 0.993.990.33 9.994.22 9.56 9.56 9.99 9.56 0.56 9.99 0.56 0.77 9.77 9.991.56 0.56 0.994.88 0.10 9.56 0.56 0 Suku Bunga Efektif Awal 0.985.44 9.56 9.78 0.995.21 0.997.56 9.993.988.66 9.44 9.56 0.21 9.984.56 0.55 9.88 9.44 9.986.991.997.56 9.989.56 0.56 9.991.992.56 0.33 0.88 9.56 9.56 0.006% (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 334 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .998.56 0.10 0.986.56 0.66 9.987.

. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Perhitungan: lihat tabel amortisasi di bawah) USD USD 100. Setelah dokumen diperiksa.. Tanggal 19 Februari 2012 1) Menerima pembayaran dari reimbursing/issuing bank dan pembayaran kepada eksportir/beneficiary Db. LC berjangka (usance) yang dinegosiasi/didiskonto Pada tanggal 2 Februari 2012.50 2. Tanggal 16 Februari 2012 PT Aneka mendiskontokan tagihannya kepada Bank XYZ. Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 335 ./Giro BI Kr.. Tanggal 11 Februari 2012 Menerima pendapatan provisi advising Db. kiriman dokumen. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 10 Februari 2012.. PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi. menerima LC sebesar USD10.000) = USD 37.000 Kr.25%. Biaya pengiriman dokumen sebesar USD25. Atas pendiskontoan tersebut Bank XYZ membebankan bunga/diskonto 4% p. komisi/ biaya administrasi 0.000 b. Kas/rekening.125%. PT Aneka (eksportir) menerima LC dengan pembayaran dilakukan 2 bulan setelah tanggal pengapalan barang sebesar USD 10. PT Aneka (eksportir). Komisi advising LC Rp100. Antar Cabang USD 100.125% x USD 10.000 100. Pada tanggal 6 April 2012 bank XYZ menerima pembayaran dari issuing.50 Kr.000.. Bank XYZ menerima pembayaran dari issuing bank pada tanggal 19 Februari 2012./Giro BI USD 9.Bab VII I E k s p o r Impor Ekspor 1.000. Pengiriman barang keluar negeri dilakukan pada tanggal 6 Februari 2012. Nostro/Giro BI/Rek. Biaya pengiriman dokumen USD25. Jurnal transaksi a. Pada tanggal 15 Februari 2012 Bank XYZ menerima akseptasi dari issuing bank.962. bank XYZ membebankan biaya advising LC Rp100..50 Perhitungan: USD 25 + (0. Dokumen diperiksa oleh Bank XYZ dan dokumen dikirim ke issuing bank. Pada tanggal 11 Februari 2012 PT Aneka mempresentasikan dokumen pengiriman barang kepada Bank XYZ. LC atas unjuk (sight) Pada tanggal 2 Februari 2012. Pada tanggal 07 Februari 2012.000.a.000.00. Kas/rekening. biaya telex) USD 37. komisi negosiasi 0.

.000 Kr.wesel ekspor usance USD 10.000 Pengukuran Wesel Ekspor 1.000)/{360 + (4% x 50)} = 9./Giro BI USD 10. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary Rp Rp 100.Bab VII I E k s p o r Impor Asumsi untuk wesel ekspor dalam kategori Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi dan Tersedia untuk Dijual.000 100.944...000 2) Membukukan surat berharga wesel ekspor Db. Tanggal 7 Februari 2012 Menerima provisi advising Db.. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang Kr. USD USD 10.. Jurnal transaksi a.000 (dibukukan sebesar harga pembelian yaitu nominal wesel ekspor dikurangi diskonto) Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10./Giro BI Kr.000 b.000 10. Tanggal 16 Februari 2012 1) Mendiskonto dokumen dengan menjurnal balik tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10..000 Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10. Pendapatan komisi advising LC/SKBDN Tanggal 15 Februari 2012 Menerima akspetasi dari accepting bank Db. Pada tanggal 5 Maret 2012 wesel ekspor tersebut dijual kepada bank ABC dengan diskonto 2% (dalam hal ini diasumsikan menggunakan rumus true discount) untuk kondisi 1 dan 4. Kas/rekening. Surat berharga . Kas/rekening. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi a.60 336 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .

.51 . Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 41. Kas/rekening.60 = 41.wesel ekspor usance Kr. Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan wesel ekspor Db.25 41. Surat berharga .000)/{360 + (3% x 50)} = 9. Surat berharga .53 Kr. Keuntungan penjualan surat berharga .944.60 = 37.982.13 37.wesel ekspor usance USD 41.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.65 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10.986.wesel ekspor USD USD USD USD 9..5% x 33)}= 9.982.Bab VII I E k s p o r Impor 3) Mengakui biaya/pendapatan yang dapat diatribusikan langsung Db.25 .9.65 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 337 .986. Pendapatan administrasi USD 50 Perhitungan: USD25 + (0. Tanggal 4 Maret 2012 Penyesuaian dengan harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 98. Db.91 b.91 Kr.9.25 MTM = 9.53 c.51 MTM = 9.13 MTM = 9..982.000) = USD50 4) Penyesuaian harga pasar dengan harga pasar wesel ekspor senilai 97 (diskonto 3%) Db.wesel ekspor usance USD 13. Surat berharga .944.53 9.53 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.60 = 13. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang Db./Giro BI USD 50 Kr.9.000)/{360 + (1.958.13 .25% x USD10.91 Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor USD 13.986.50.958. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor Kr.944.

Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.000 Kr.08 Kr. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 10.wesel ekspor usance USD 1.91 Kr.944.60 9. Surat berharga ./Giro BI USD 9. Pendapatan fee yang diamortisasi (sisa fee yang belum diamortisasi) USD 0 Lihat tabel amortisasi di halaman selanjutnya 4. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo. Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD 10. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD Kr. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD 10.000 – 9.000 0 338 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia . Kewajiban akseptasi kepada beneficiary USD Kr. Kas/rekening.. 3.60 2) Melakukan amortisasi Db.000 10.944. Tersedia untuk Dijual a. Tanggal 5 Maret 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.944.40 3) Saat jatuh tempo (terima pembayaran dari issuing/reimbursing bank) Db.Bab VII I E k s p o r Impor 2..60 = 55.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10.000)/{360 + (4% x 50)} = 9.. Pendapatan bunga wesel ekspor (sisa bunga wesel ekspor yang belum diamortisasi) USD 1.000 Kr.944.09 Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db.wesel ekspor usance USD Kr. Tanggal 16 Februari 2012 1) Melakukan jurnal balik atas tagihan dan kewajiban akseptasi Db. Surat berharga .wesel ekspor usance USD 998.60 Diskonto = 10. dan Pinjaman yang Diberikan dan Piutang a. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden/cabang USD 10.000 Kr. Surat berharga .

wesel ekspor usance USD 1. Surat berharga .83 USD USD 12.40 Catatan: Dalam soal ini.944. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas Perhitungan: Nilai tunai = (360 x 10.000) = USD 50 USD USD 50 50 4) Amortisasi diskonto wesel ekspor: Db.wesel ekspor usance USD 9.000)/{360 + (3% x 50)}= 9. Surat berharga .83 12.60 Diskonto = 10.. Kas/rekening.08 Perhitungan: Hari bunga dari tanggal 16 Februari 2012 sampai 6 April 2012 = 50 hari Nilai tunai = (360 x 10./Giro BI USD 9.wesel ekspor usance Kr...945. Pendapatan administrasi (komisi negosiasi.83 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 339 .958. biaya telex) Perhitungan: USD 25 + (0. Kiriman dokumen.945 Dibukukan sebesar nominal wesel ekspor dikurangi diskon dikurangi/ditambah pendapatan/biaya yang dapat diatribusikan) 3) Mengakui biaya/pendapatan secara diakui langsung: Db..08 Kr.51 .60 = 55.000)/{360 + (4% x 50)} = 9..000 – 9.51 MTM = 9. Surat berharga ./Giro BI Kr. 5) Penyesuaian dengan harga pasar: Db.945 Kr.25% x USD 10.9. Kas/rekening.68 = 12.958.Bab VII I E k s p o r Impor 2) Mengakui surat berharga wesel ekspor Db. Pendapatan bunga wesel ekspor USD 1.944. amortisasi dilakukan tiap hari..

61 37.13 MTM = 9. Peningkatan (penurunan) nilai wajar ekuitas USD 22.966.25 22. 9.13 .ekuitas USD Kr.982.982.5% (lihat Tabel 2) 340 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .wesel ekspor usance USD 22.50) Db.12 = 22.Bab VII I E k s p o r Impor b.wesel ekspor USD Perhitungan: Sisa hari bunga dari 5 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 32 hari Nilai tunai = (360 x 10. Surat berharga .65 Informasi untuk perhitungan amortisasi diskonto wesel ekspor sebagai berikut: Nilai nominal : USD10.25 .01 Kr.60 = 37.000)/{360 + (2% x 32)} = 9.01 9.01 Perhitungan: Sisa hari bunga dari 4 Maret 2012 sampai 6 April 2012 = 33 hari Nilai tunai = (360 x 10.986.944. Keuntungan (kerugian) penjualan Surat berharga . Tanggal 4 Maret 2012 Melakukan penyesuaian dengan harga pasar (misalkan harga pasar wesel ekspor adalah 98.wesel ekspor usance USD Kr. Surat berharga .25 Laba(rugi) = 9.wesel ekspor Db. Peningkatan (penurunan) nilai wajar wesel ekspor .964.9.000 dengan tingkat diskonto 4% Tanggal terbit : 16 Februari 2012 Tanggal jatuh tempo : 6 April 2012 Tanggal rediskonto : 5 Maret 2012 dengan tingkat diskonto 2% Harga pasar tanggal 16 Februari 2012 : 3% Harga pasar tanggal 4 Maret 2012 : 1.9.982.65 c.986.5% x 33)} = 9.000)/{360 + (1. Giro BI/nostro/Rekening antar cabang USD Db.01 Tanggal 5 Maret 2012 Penjualan surat berharga .

959.09 9.982.946.33 9.965.08 1.970.09 9.08 1.72 9.15 9.972.950.945.08 9.50 1.20 1.09 9.953.08 9.59 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.03 9.981.09 9.78 9.971.09 F Tagihan bunga Amortisasi dengan EIR Saldo akhir Wesel Ekspor B C 16-Feb-12 (9.955.964.977.948.09 1.95 9.09 9.50 9.961.36 9.09 1.08 1.951.08 9.954.08 1.68 9.979.09 1.09 1.951.85 9.08 1.08 9.09 1.08 1.955.44 9.81 1.954.969.29 1.63 1.968.41 9.29 9.02 9.967.02 1.979.947.09 9.957.38 9.08 9.09 1.09 9.89 1.69 1.08 1.08 9.09 9.95 1.86 1.09 1.08 9.15 1. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Tanggal Estimasi arus kas Saldo awal Wesel Ekspor D 9.956.08 9.08 9.60) 17-Feb-12 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 29-Feb-12 01-Mar-12 02-Mar-12 03-Mar-12 04-Mar-12 05-Mar-12 06-Mar-12 07-Mar-12 08-Mar-12 09-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 - G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.08 1.945.980.973.24 1.950.09 9.72 1.08 9.41 1.27 9.52 9.978.946.09 1.12 9.958.09 1.12 1.03 1.08 9.94 9.38 1.981.09 9.980.983.944.06 9.09 9.89 9. Trx.08 1.09 1.09 9.966.08 9.960.09 1.966.09 1.44 1.67 Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia I 341 .09 9.09 1.958.978.09 9.52 1.977.968.964.09 1.09 9.69 9.970.06 1.974.09 1.46 1.85 1.Bab VII I E k s p o r Impor Tabel 2: Amortisasi Diskonto No.78 1.36 1.973.61 1.27 1.63 9.19 9.94 1.953.59 1.09 9.09 1.09 9.09 1.08 1.98 1.10 9.972.19 1.08 1.46 9.60 9.963.09 1.965.08 9.68 1.09 9.971.957.09 1.24 9.81 9.956.959.982.963.86 9.947.77 9.976.09 9.967.974.08 1.961.08 9.33 1.948.20 9.77 1.08 1.61 9.55 9.09 9.08 1.09 1.976.10 1.09 9.952.960.952.55 1.98 9.08 9.969.944.08 1.

996.00 Saldo awal Wesel Ekspor D 9.29 9.82 1.984.09 9.988.994.989.09 0.76 1.09 9.67 9. A 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Tanggal Estimasi arus kas B C 23-Mar-12 24-Mar-12 25-Mar-12 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 01-Apr-12 02-Apr-12 03-Apr-12 04-Apr-12 05-Apr-12 06-Apr-12 10.989.09 F (10.09 1.09 9.991.20 1.47 1.94 1.11 9.985.64 1.91 1.09 1.00 Tagihan bunga Suku Bunga Efektif Awal (Original Effective Interest Rate/EIR) Keterangan p = pokok i = suku bunga kontraktual 342 I P e d o m a n Akuntansi Perbankan Indonesia .38 9.09 9.09 1.09 9.09 1.03 9.998.29 1.03 1.38 1.82 9.09 9.09 1.000.09 9. Trx.73 9.986.56 1.983.09 1.09 1.20 9.997.997.85 1.Bab VII I E k s p o r Impor No.09 9.09 1.991.09 9.09 1.990.09 9.995.993.994.64 9.984.73 1.986.09 1.56 9.985.988.09 9.09 1.94 9.85 9.993.996.992.09 9.09 1.000.00) Amortisasi Saldo akhir dengan Wesel Ekspor EIR G=pxi H=E-G I=D+E+F+G 1.09 1.990.09 9.998.09 9.91 Suku bunga Pelunasan efektif (EIR) E = D x EIR 1.09 1.76 9.992.995.47 9.11 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->