P. 1
Buku Pendidikan Karakter Hlm 1-197

Buku Pendidikan Karakter Hlm 1-197

|Views: 2,183|Likes:
Published by Nur Kholiq

More info:

Published by: Nur Kholiq on Feb 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

1

2

da setumpuk harapan disandarkan kepada dunia pendidikan. Para orangtua kerap berharap: mampukah pendidikan mencetak generasi yang berkarakter kuat? Bilakah pendidikan mampu menghasilkan orang-orang berintegritas tinggi di negeri ini? Sebuah keinginan yang boleh jadi terdengar berlebihan, meski sesungguhnya amat wajar, mengingat pendidikan memanglah tumpuan solusi dari sekian banyak persoalan sumber daya manusia dan problem kemasyarakatan. Pendidikan pada hakikatnya adalah perubahan perilaku. Mengikuti kerangka berfikir seperti ini, sudah selayaknya proses pendidikan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku sesuai harapan. Acapkali kita mendengar obrolan wali murid tentang buah hatinya. Umumnya mereka menilai anak sekarang itu pandaipandai, mengalahkan generasi sebelumnya. “Lihat, kecil-kecil mereka sudah pada bisa main komputer”. “Heran, cepat sekali mereka menguasai cara menggunakan hape”. Tetapi manakala obrolan itu berlanjut, maka pujian itu pada ujungnya bergeser menjadi keluhan dan keprihatinan. Ini tatkala mereka sudah berbincang soal sikap dan perilaku generasi muda pada umum-

A

3

nya. Anak sekarang susah diatur, tak punya sopan santun! Banyak pihak berandai-andai, kalau saja setiap kepandaian dibarengi dengan kepribadian yang mulia tentu akan lebih indah. Andai peningkatan kepintaran diiringi kematangan mental tentu akan melegakan dada semua orangtua. Sayangnya kini “ilmu padi” tidak laku lagi. Makin berisi makin merunduk sudah tidak populer lagi. Sebagaimana lagu Pergi Sekolah karya Ibu Sud yang kian jarang didendangkan anak-anak. Padahal, liriknya amat bernas. …………………………………… Selamat belajar Nak, penuh semangat Rajinlah selalu tentu kau dapat Hormati gurumu sayangi teman, Itulah tandanya kau murid budiman. Ya, kini menjadi budiman seolah bukan kebanggaan lagi. Padahal itulah puncak capaian pendidikan: menjadi pribadi budiman, menyayangi sesama, memiliki empati, dan berkepedulian sosial tinggi. Sudah seharusnya semakin berprestasi seseorang semakin berbudi. Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan oleh “Bapak” Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”. Mengapa dunia pendidikan terkesan abai dengan hal-hal

4

Foto: kabarpalingheboh.blogspot.com.

OKI NOVENDRA

JONATHAN PRADANA MAILOA

demikian? Sekolah kini lebih sibuk dengan sisi akademik agar siswa mendapat nilai tinggi. Keberadaan pembelajaran nilainilai moral dan karakter mulai dipertanyakan kembali. Pada level makro, juga muncul keinginan kuat agar pendidikan nasional mampu melahirkan generasi Indonesia yang jujur dan berdaya saing tinggi. Tingginya harapan masyarakat terhadap dunia pendidikan tersebut agaknya dipicu oleh kenyataan masih senjangnya harapan dengan kenyataan di lapangan. Harus diakui dalam berbagai aspek, pendidikan di negeri ini mengalami kemajuan, bahkan pesat. Sarana dan prasarana sekolah terus mengalami perbaikan. Peningkatan anggaran pendidikan jelas wujud nyata dari tekad Pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan. Prestasi pelajar dan mahasiswa kita di berbagai ajang kompetisi internasional juga membanggakan. Generasi penerus itu

5

setidaknya mampu membuat dada kita mengembang bangga. Lihatlah anak-anak kita ternyata mampu berkiprah di forum internasional. Ambil misal Jonathan Pradana Mailoa dari SMAK 1 PENABUR Jakarta yang mampu meraih medali emas dan Absolute Winner Olympiade Fisika Internasional tahun 2006 di Singapura. Ada Oki Novendra, siswa Kelas X SMAN I Bogor yang mampu menganalisis misteri kematian penyanyi Michael Jackson dengan rumus matematika. Teorinya mampu mengantar dia merebut medali emas International Conference Young Scientist. Juga muncul nama Susanto Mega Ranto sebagai grand master catur termuda di Indonesia. Mereka memberi bukti nyata bahwa sebetulnya sumber daya manusia kita mampu berjaya bilamana kita bersungguhsungguh mengupayakannya. Kita bukan bangsa kuli atau inlander bodoh sebagaimana stempel yang ditempelkan kepada kita selama ratusan tahun oleh penjajah. Realitas Buram Di sela-sela prestasi gemilang tersebut di atas, memang harus diakui masih terpampang sisi buram di sekitar kita. Jumlah kaum muda pengguna narkoba masih mencemaskan. Informasi dari Balai Diklat Badan Narkotika Nasional, menyebut, terdapat sekitar 3,6 juta pecandu narkoba di Indonesia (Tempo Interaktif, 27/8/2009). Kekerasan juga masih belum sepenuhnya teratasi. Kekerasan pada saat masa orientasi siswa (MOS) masih saja terjadi. Oknum kepala sekolah menempeleng siswa, siswa mengeroyok guru, hingga guru BK mengadu dua siswanya untuk berkelahi di halaman sekolah. Tawuran antarpelajar di jalanan tetap me-

6

repotkan petugas keamanan. Bahkan kini kelakuan buruk itu juga merembet ke “kakaknya”. Para mahasiswa tidak malu lagi bentrok fisik dan baku lempar batu dengan sesama mahasiswa, dengan warga kampung, bahkan dengan polisi. Gang perempuan ramai-ramai menghajar lawan gangnya di lorong sekolah. Dari sisi susila juga ada sederet fakta yang membuat kita mengelus dada. Longgarnya pergaulan pria wanita membuat remaja kebablasan. Angka aborsi di kalangan remaja masih tinggi. Kondisi sosial yang semakin permisif, minimnya sanksi sosial, membuat mereka gampang melanggar susila. Kini kian sering saja tersiar kabar beredarnya video mesum di ponselponsel para pelajar, dan ironisnya “aktor-aktris”nya adalah rekan-rekan mereka sendiri. Penggunaan internet yang semakin meluas memang menambah wawasan dan jaringan bagi penggunanya, namun ada dampak ikutan yang harus dicegah yaitu beredar luasnya pornografi. Tidak hanya remaja, perilaku orang dewasa juga banyak yang tidak patut ditiru. Dekadensi moral, rendahnya tanggung jawab dan sikap amanah, dipertontonkan secara telanjang di depan publik. Betapa banyak pejabat publik yang diseret ke meja hijau gara-gara menelan uang rakyat. Angka korupsi negeri ini membubung amat tinggi. Maret 2010, lembaga survei yang bermarkas di Hongkong yaitu Political & Economic Risk Consultancy (PERC) masih menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di Asia Pasifik, mengalahkan posisi Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Tidak sedikit ulah para wakil rakyat yang terhormat yang membikin geleng kepala rakyat yang diwakilinya, dan masih gemar berantem tatkala bersidang. Zaman memang terus berubah. Itu hukum alam. Tentu tidak menjadi masalah sepanjang perubahan itu menuju ke arah

7

yang lebih baik. Namun kenyataanya, tidak semua perubahan membuat kita tersenyum senang. Bahkan dalam beberapa hal, perubahan lebih bermakna kemerosotan. Kejujuran, umpamanya, telah menjadi barang langka. Kecurangan diperagakan secara “sembunyi-sembunyi” tapi massal pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berlangsung. Tetapi syukurlah, Kementerian Pendidikan Nasional terus berupaya memperbaiki sistem dan mekanisme Ujian Nasional, sehingga kecurangan secara bertahap dapat dieleminasi. Kini di mana-mana juga berkembang tekad untuk kembali ke jalan yang benar melalui penandatanganan pakta kejujuran. Disiplin dan tertib berlalu lintas, budaya antri, budaya baca, hingga budaya bersih kita juga masih jauh di bawah standar. Kebanggaan kita terhadap jati diri dan kekayaan budaya sendiri juga masih rendah. Sebagai bangsa, agaknya kita masih saja mengidap “minder kolektif”, terbukti masih suka tergila-gila dan melahap tanpa seleksi terhadap segala produk dan budaya asing. Dengan potret buram dan mozaik realitas seperti itu wajar jika membuat banyak orang risau. Mendiknas Mohammad Nuh juga tak kalah gelisahnya. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam banyak kesempatan berharap agar jajaran menterinya membuat langkah serius untuk mengatasi masalah-masalah itu. Mengapa pendidikan belum mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik? Mengapa kejujuran, komitmen, keuletan, kerja keras, hingga kesalehan seolah lepas dari persoalan pendidikan. Kini semua pihak bertanya ulang: bagaimana karakter bangsa ini? Atau dalam pertanyaan yang lebih konseptual tapi

8

bernada waswas: bagaimana masa depan Indonesia bila generasi penerusnya tidak memiliki karakter dan jati diri? “Pembangunan watak (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society),” demikian pesan Presiden pada perayaan Hari Raya Nyepi di Jakarta. Sudah saatnya dibangun kembali kesadaran akan pentingnya pembinaan karakter bagi insan Indonesia. Topik character building memang mulai mengemuka akhir-akhir ini. Berbagai pelatihan secara sporadis dilakukan untuk karyawan di perusahaan-perusahaan besar dalam bentuk outbound maupun workshop. Tentu itu aktivitas yang bagus, tapi belumlah cukup. Perlu ada upaya bersama, sistemik, dan terpadu agar pendidikan karakter menjadi efektif dan bergaung. Gerakan Nasional Demi menjawab kegelisahan itu, Kementerian Pendidikan Nasional menggelar acara ”Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” di Hotel Bidakara Jakarta pada 14 Januari 2010. Sekitar 200 orang yang terdiri dari pakar pendidikan, tokoh masyarakat, budayawan, rohaniwan, akademisi, birokrat, praktisi, pengelola pendidikan, dan pihak lain yang terkait hadir dalam acara tersebut. Pada akhir sarasehan disepakati komitmen pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara ke-

9

lembagaan perlu diwadahi secara utuh, dan “proyek” besar ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orangtua. Acara sarasehan tersebut kemudian ditindaklanjuti tim khusus dengan melakukan pertemuan-pertemuan intensif untuk menggodok rancangan desain induk (grand design) pendidikan karakter yang dilengkapi panduan pada setiap satuan pendidikan beserta merancang pelaksanaannya sebagai sebuah gerakan nasional. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan pelaksanaan Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa pada Puncak Peringatan Hardiknas 2010. Istilah yang digunakan menjadi pembangunan karakter, bukan
GERAKAN nasional pendidikan karakter perlu dukungan semua pemangku kepentingan.

10

lagi pendidikan karakter, sebab gerakan ini ternyata tidak hanya didukung oleh Kementerian Pendidikan Nasional saja, tetapi meluas lintaskementerian yang meliputi Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perhubungan dan Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Peranan Wanita dan kementerian lain terkait. Sasaran gerakan ini adalah seluruh pemangku kepentingan/ lintaskementerian demi terbangunnya karakter bangsa yang kokoh. Khusus di bidang pendidikan, fokus utamanya adalah pada sekolah (peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan), keluarga (anak, orangtua, saudara, pembantu), masyarakat (orang-orang di sekitar peserta didik), dan lingkungan. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan (multiyears) Ke depan Pemerintah memasukkan pendidikan karakter melalui penguatan kurikulum mulai dari tingkat satuan pendidikan terendah hingga perguruan tinggi sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Namun perlu ditegaskan tidak akan ada penambahan mata pelajaran tersendiri. Pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, di samping lewat pembiasaan dalam budaya sekolah, juga melalui ko-kurikuler dan ektrakurikuler, serta melibatkan partisipasi lingkungan, keluarga, dan masyarakat. (*)

11

12

pakah pendidikan karakter itu? Pertanyaan pendek ini bisa memunculkan jawaban panjang dan beragam. Bahkan tak mustahil menjebak kita ke dalam kumparan definisi yang rumit, silang argumen yang memancing selisih pendapat. Walaupun pertanyaan itu melahirkan sederet pengertian, namun semua pasti sepakat dalam satu hal yaitu betapa pentingnya pendidikan karakter bagi pengembangan generasi dan masyarakat Indonesia. Sejalan dengan hal itu Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, menegaskan bahwa tidak ada yang menolak tentang pentingnya karakter. “Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana menyusun dan menyistemasikan, sehingga anak-anak dapat lebih berkarakter dan lebih berbudaya,” katanya pada suatu kesempatan. Buku ini tidak berpretensi mengulas tuntas mengenai definisi pendidikan karakter, melainkan lebih memilih memberi informasi dan panduan praktis. Dalam realitas di lapangan sebenarnya diam-diam pendidikan karakter sudah banyak diterap-

A

13

kan di berbagai sekolah di Indonesia meskipun mereka tidak khusus atau tidak secara eksplisit menyatakan bahwa yang mereka lakukan adalah pendidikan karakter. Ada sekolah yang menyebutnya sebagai pendidikan nilai-nilai kemanusiaan, ada yang menyebut dengan pembinaan akhlak, bahkan ada yang tidak memberi label sama sekali. Beberapa sekolah unggulan dan sekolah alternatif di kotakota besar telah berupaya menyelenggarakan pendidikan karakter dengan berbagai variasi dengan mempertimbangkan konteks dan kebutuhan lingkungannya, Bahkan pondok pesantren dan sekolah berbasis agama lainnya sudah lama mengembangkan pembinaan mental spiritual sehingga mampu melahirkan alumni yang berkepribadian dan beriman kuat. Pada halaman-halaman berikutnya, kita akan dapat melihat bagaimana penerapan nilai-nilai dari pendidikan karakter di beberapa sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Mereka siap berbagi pengalaman tentang bagaimana proses, kendala, dan hasil positif yang dicapai. Meski demikian sebagai sebuah catatan pengantar, tetap perlu diuraikan pengertian pendidikan karakter secara umum agar dapat dipakai sebagai dasar pijakan serta untuk menyamakan persepsi bersama. Sebagai suatu konsep akademis, karakter memiliki makna substantif dan proses psikologis yang sangat mendasar. Aristoteles menyebut pengertian karakter yang baik adalah kehidupan berperilaku baik dan penuh kebajikan, berperilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta), dan terhadap diri sendiri. Karakter terdiri dari tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu tahu arti kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berperilaku baik (Lickona,1991:51). Ketiga substansi dan proses psi-

14

kologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Dengan kata lain, karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik, Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan Karakter terbitan Kementerian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Yang jelas pendidikan karakter selayaknya dikembangkan dengan pendekatan terpadu dan menyeluruh. Efektivitas pendidikan karakter tidak selalu harus dengan menambah program tersendiri, melainkan bisa melalui transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Melalui pendidikan karakter semua berkomitmen untuk menumbuhkembangkan peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasi kebajikan (tahu dan mau), dan terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini, secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih bermakna bagi individu, tidak sekadar memberi pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh tataran afektif dan psikomotor melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Olahraga. Namun harus diakui semua itu belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap pesatnya perubahan. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dirancang-ulang dalam wadah yang lebih komprehensif dan lebih bermakna. Pendidikan karakter perlu direformulasikan

15

dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan. Secara kejiwaan dan sosial budaya pembentukan karakter dalam diri seseorang merupakan fungsi dari seluruh potensi individu (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosiokultural (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dapat dikelompokan dalam olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), serta olah rasa dan karsa (affective, attitude and social development).Ke empat proses psikososial tersebut secara terpadu saling berkait dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur. Hubungan keempat proses itu digambarkan diagram pada

16

halaman 16. Pada masing-masing lingkaran terkandung sejumlah nilai pokok karakter yang hendak dikembangkan. Pada kelompok olah pikir nilai inti yang dikembangkan adalah cerdas dan kreatif. Olah hati fokus pada soal kejujuran dan bertanggung jawab. Sedang bidang garap olah rasa dan karsa adalah nilai kepedulian, gotong royong, dan suka menolong. Lingkaran olah raga mengembangkan nilai hidup sehat dan budaya bersih. Masing-masing kelompok atau kluster nilai luhur tersebut tidaklah terpisah secara tegas tetapi saling bersinggungan satu sama lain. Manakala empat lingkaran kluster tersebut berpotongan (intersection) dan bertemu dalam satu bidang, maka itulah kristalisasi nilai-nilai luhur dan perilaku berkarakter yang dicita-citakan bersama. Pengelompokan nilai tersebut sangat berguna untuk kepentingan perencanaan. Dalam proses pembelajaran dan pembiasaan keempat kelompok nilai luhur tersebut akan terintegrasi melalui proses internalisasi dan personalisasi pada diri masingmasing individu. Aneka Penerapan di Lapangan Penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah selama ini cenderung sporadis, variatif, dan berangkat dari inisiatif internal, sehingga tidak berjalan terpadu dan tidak memiliki efek yang signifikan secara nasional. Meski demikian mencermati best practice dari lapangan tetaplah berguna, sebab dapat memberikan acuan praktis, contoh konkret, dan inspirasi bagi sekolah lain. Dalam buku ini akan disajikan praktik pembelajaran pendidikan karakter di 10 satuan pendidikan mulai dari TK sampai

17

SMA/SMK. Tentu saja sekolah-sekolah ini sekadar contoh. Masih banyak lembaga pendidikan lain yang juga telah melakukan pembinaan karakter dengan cara dan metode tersendiri pula. Pengambilan contoh ini berdasarkan pertimbangan pada aspek praktik nyata pengembangan pendidikan kararter, bukan dari aspek letak demografi sekolah maupun basis agamanya. Harapannya semoga contoh-contoh itu nanti ini dapat memberi gambaran konkret dan memancing inspirasi. Adapun sepuluh satuan pendidikan yang memaparkan praktik terbaiknya (best practices) adalah: TK Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya TK Budi Mulia Dua Pandeansari Yogyakarta SD Insan Teladan Bogor SD Al Hikmah Surabaya SMP Negeri 115 Jakarta SMP Labschool Jakarta SMAK 1 PENABUR Jakarta SMA Plus Muthahhari Bandung SMK Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Jepara SMK Negeri 7 Semarang TK Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya dipilih sebab menginspirasi pemanfaatan alam untuk pengembangan potensi siswa, TK Budi Mulia Dua Pandeansari Yogyakarta berhasil mengembangkan aspek moral semenjak dini. SD Insan Teladan Bogor memberikan wawasan bagaimana mencipta harmoni dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan. SD Al Hikmah Surabaya memberi gambaran konkret cara melibatkan orangtua siswa demi mengembangkan akhlak dan karakter anak didik. SMPN 115 Jakarta mewakili sekolah yang mengembangkan

18

kedisiplinan dan prestasi akademik yang efektif. SMP Labshool Jakarta dipilih karena mampu mengeksplorasi kegiatan ekstrakurikuler dan membangun sekolah umum yang religius. SMAK 1 PENABUR Jakarta layak ditampilkan sebagai wujud sekolah yang mampu mencetak ilmuwan muda. Sekolah ini paling banyak mengirim siswanya ke even olimpiade sains dan mampu merebut banyak medali emas. Sedang SMA Plus Muthahhari Bandung berbagi serpihan kisah empati dalam membangun karakter olah karsa dan rasa (peduli, gotong royong, dan suka menolong). Sekolah kejuruan diwakili SMK Negeri 7 Semarang yang memberi solusi penyiapan calon tenaga kerja produktif yang kompeten. Sedang SMK Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Jepara menampilkan perpaduan unik antara gaya sekolah kejuruan dengan model pendidikan pesantren, yang terbukti mampu meneguhkan sikap mandiri dan budaya hidup bersih. Masing-masing sekolah itu secara umum memaparkan berbagai kiat dan aktivitas pembelajaran yang telah mereka terapkan, khususnya yang berkait dengan pendidikan karakter. Dari kegiatan mereka segera terlihat nanti bahwa suatu program pengembangan karakter tidak selalu identik dengan biaya tinggi, (sesuatu yang selalu dikeluhkan sebagian besar guru bilamana sudah bicara soal program), bahkan ada beberapa aktivitas gratis. Yang lebih dibutuhkan ternyata inisiatif, kreativitas, komitmen, dan konsistensi pelaksanaan. Mereka memang tidak secara eksplisit mengembangkan nilai-nilai pokok karakter (cerdas dan kreatif, jujur dan tanggung jawab, peduli, gotong royong dan suka menolong, serta bersih dan sehat) namun demikian nilai-nilai tersebut secara tidak langsung sudah ikut terkembangkan.

19

Setiap sekolah mengutarakan dengan gaya tutur dan cara ungkap sendiri-sendiri. Sah saja. Dalam iklim keterbukaan dan dalam budaya bhineka tunggal ika, kita selayaknya membiasakan diri berlapang hati dengan keanekaragamanan seperti itu. Ke depan direncanakan akan diterbitkan lagi buku kumpulan pengalaman inspiratif edisi berikutnya, tentu dengan menampilkan jenis sekolah yang lebih variatif dan letaknya lebih meluas ke berbagai pelosok daerah di Nusantara. Selamat mengikuti. (*)

20

21

22

MASA emas perlu diisi berbagai aktivitas positif.

asa kanak-kanak adalah masa emas. Menurut pakar, usia 0 hingga 6 tahun adalah periode emas pertumbuhan. Inilah masa paling tepat untuk mengungkit dan mengembangkan segala potensi dalam dirinya. Psikologi perkembangan menekankan betapa pentingnya masalah pengasuhan dan pembimbingan pada fase golden age ini. Periode inilah yang akan menentukan perkembangan seseorang pada masa dewasa. Bila dalam periode ini anak mendapat stimulus memadai, memperoleh asupan bergizi, serta pola pengasuhan yang tepat, maka perkembangan fisik maupun psikhisnya akan optimal. Sebuah ungkapan bijak juga menegaskan bahwa mendidik anak usia muda itu bagai kita mengukir di atas batu, sedang mendidik orangtua ibarat mengukir di atas pasir.

M

23

Ukiran di batu pasti lebih membekas dan tahan lama, sementara ukiran di pasir pantai bakal segera sirna disapu ombak lautan. Maka penanaman kebiasaan baik, nilai-nilai moral, hingga ketauhidan pada usia anak tentu lebih melekat, asalkan cara penyampaiannya selaras dengan perkembangan mental anak yang bersangkutan. Taman Kanak-kanak Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (TK SAIMS) menyadari benar akan pentingnya masa usia emas tersebut. Oleh karena itu sekolah yang berada di Jl. Medokan Semampir Indah 99-101 ini menyelenggarakan berbagai program pembelajaran demi mengungkit potensi anak didiknya yang sedang dalam periode emas tersebut. Pengembangan potensi ini tidak hanya dari sisi intelektual saja, tapi juga mengembangkan sikap, emosi, dan kemampuan motorik, termasuk mengembangkan karakter anak didik. Di sekolah ini segala aktivitas dikemas dalam kegiatan belajar melalui bermain, karena dilandasi pemahaman bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Sesuai dengan namanya, sekolah alam, maka alam dieksplorasi sebagai sumber inspirasi belajar. Siswa dikenalkan dengan alam. Mempelajari semua keterampilan yang dibutuhkan untuk bisa survive di dalamnya, mengakrabi kembali habitat dan kehidupan sosialnya. Konsekuensinya, kegiatan pembelajaran tidak selalu di dalam kelas. Berikut ini beberapa aktivitas seharihari di TK SAIMS yang diniatkan untuk memekarkan potensi dan membentuk kepribadian siswa. Salim di Gerbang Sekolah Pagiku cerahku

24

Matahari bersinar Kugendong tas merahku di pundak Slamat pagi semua Ustadz ustadzahku menanti Di depan pintu gerbang sekolah Seperti potongan bait lagu di atas, keceriaan pagi anakanak dimulai dari pintu gerbang sekolah. Masih terngiang di telinga ajakan untuk enam S (senyum, salam, sapa, salim, sabar, syukur) yang biasa diucapkan anak-anak bersama guru dengan tepuk hikmah. Saatnya sekarang, teladan itu dicontohkan guru yang menyambut kedatangan siswa di depan pintu gerbang. “Saya bangga… hari ini Nana masuk tanpa mama lagi”. “Wah, hebat…!!! Mana senyumnya Rangga… nah begitu pinter sudah bisa menjawab salam”. Guru memberikan penguatan-penguatan positif, menghargai setiap gerak perubahan perilaku siswa sebagai upaya penguatan agar siswa lebih termotivasi memunculkan perilaku baiknya. Dengan senyum dan salam yang selalu terucap, anakanak pun membalas dengan salam dan mencium tangan ustadz- ustadzah. “Ritual” pagi biasanya dilakukan dengan cara yang berbeda setiap harinya, agar tidak menjemukan. Terkadang guru harus “melonjak” berlarian mengejar siswa yang dengan sengaja menggoda tidak mau bersalaman. Pagi kali lain guru perlu berjongkok untuk menyalami siswa yang kecil agar bisa saling bertatap mata dan melempar senyum. Penyambutan di gerbang ini selalu disertai harapan agar hari ini menjadi hari yang lebih indah dari hari kemarin. Guru berdiri di depan pintu pagar sekolah, agar dapat me-

25

nyambut siswa-siswanya. Menggoda mereka yang baru turun dari kendaraan atau mencoba mengajak bercanda siswa yang sedang ngambek lantaran bekalnya tertinggal di rumah. Guru akan tersenyum pada pengantar atau orangtua yang mengantar putra-putrinya, ini sekaligus untuk meyakinkan bahwa putra-putri mereka aman bersama guru-guru di sekolah. Rasa hormat kepada orangtua, nilai-nilai kebersamaan, peduli dan rasa sayang terhadap sesama berusaha ditumbuhkan dalam kegiatan pagi yang kelihatannya sederhana itu. Menjadi Pemimpin Kecil Waktu sudah menunjukkan pukul 07.45, siswa-siswi TK SAIMS masih asyik bermain di luar kelas, ada yang berlari, ada yang main jungkat-jungkit, atau sekadar duduk-duduk di arena bermain sekolah. Semua tampak riang dan bersemangat. Ah, dunia anak-anak memang indah. Bel berbunyi nyaring, begitu jarum jam menunjuk tepat pukul 08.00. Tunas-tunas bangsa itu berhamburan. Sungguh menakjubkan ternyata mereka bergegas dengan tertib dan langsung meletakkan tas dan sepatu pada rak yang disediakan di depan kelas. Sesekali terlihat guru mengingatkan beberapa anak untuk menyudahi kegiatannya dan langsung memben-

26

tuk barisan. Namun, namanya juga anak, dalam barisan, sebagian dari mereka tetap bercanda dan sibuk berceloteh tentang game barunya atau bercerita tentang bekal makannya. Riuh sekali. Khas anak-anak. Tidak berapa lama barisan sudah terbentuk. Barisan anak laki-laki dan anak perempuan sudah di posisinya masing-masing. Mereka sudah paham bagaimana membentuk barisan. Pagi itu ada salah satu siswa yang bertugas menjadi pemimpin untuk mengatur barisan. Petugas ini dipilih dari siswa sendiri secara bergilir. Dengan demikian setiap anak merasakan menjadi pemimpin. Mengatur barisan adalah hal yang sangat dinantikan anak-anak, mungkin mereka berkesempatan untuk tampil dan unjuk suara. Kegiatan ini memang dirancang guru dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Pemimpin kecil itu berhak menentukan sekaligus memutuskan barisan mana yang berhak masuk kelas terlebih dahulu. Kriterianya? Bisa dari kerapian, bisa juga dari tingkat semangat dan kekompakan mereka meneriakkan yelyel atau nyanyian sesuai instruksi pemimpin. Kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan di pagi hari tersebut dirancang dengan muatan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Juga untuk melatih kepemimpinan dan kemam-

27

puan memecahkan masalah betapapun sederhananya problem mereka. Kartu Budi Pekerti Untuk mengawali kegiatan pagi, tak jarang guru ingin tahu apa yang dilakukan siswa sebelum berangkat ke sekolah, apa yang mereka lakukan kemarin malam sehingga keadaannya menjadi bahagia atau sedih ketika masuk kelas. Akan terasa bahagia, jika guru bisa berbagi kebahagiaan dengan kebahagiaan yang terkadang dicoba disembunyikan. Kini saatnya bermain kartu budi pekerti. Penanaman nilainilai dalam bersikap dan beramal dituangkan dalam kegiatan ini. Guru menyediakan empat kartu yang masing-masing kartu memiliki warna dan gambar yang berbeda. Merah melambangkan kejujuran, kuning kebersihan, hijau kasih sayang, dan biru bermakna tanggung jawab dan kemandirian Aturan permainannya begini: Beberapa hari sebelumnya (misalnya Jumat), guru menyampaikan informasi bahwa ada kegiatan menggambar orangtua bersama anak yang dilakukan di rumah. Temanya nilai-nilai luhur sebagaimana tertera pada kartu budi pekerti. Pesan tersebut disampaikan kepada wali murid dan siswa melalui buku penghubung. Pada Senin di minggu berikutnya, siswa sudah membawa hasil karya keroyokan bersama orangtuanya. Dimas, misalnya, memilih kartu biru (nilai tanggung jawab), pada gambarnya terlihat aktivitas Dimas di rumah membantu papa mencuci mobil. Sedangkan Cacha menggambar aktivitasnya yang memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar yaitu tidak membuang sampah sembarangan dan dapat berkreasi dengan menggunakan barang-barang bekas untuk bermain. Itu dilakukan Ca-

28

MENYIRAM bunga sekaligus memupuk tanggung jawab.

cha karena dia mengambil kartu kuning. Kemudian siswa mengeluarkan kartu sesuai pilihannya. Sembari menunjukkan gambar yang dibuat, mereka secara bergantian bercerita tentang apa yang sudah mereka lakukan di rumah dan apa yang akan dilakukan di hari itu. Pada kali lain pengembangan perilaku juga dilaksanakan melalui kegiatan pementasan panggung boneka yang dimainkan guru. Sayangi Ciptaan Tuhan Di halaman kelas, anak-anak berbaris rapi sambil mengenakan celemek, sepatu boot, memanggul cangkul kecil, dan alat penyiram air. Mereka bersiap menuju kebun untuk menanam jagung Anak-anak selalu tidak betah menunggu. Mereka cepatcepat menuju lahan sambil mendendangkan lagu Memanam Jagung. Di sekolah alam ini terdapat lahan tanam lumayan luas sehingga bisa menjadi media siswa untuk bercocok tanam.

29

Anak-anak berlatih tanggung jawab sederhana dengan memelihara dan menanam berbagai macam tumbuhan dan sayuran di sana. Ada tomat, sayur sawi, hingga jagung. Setiap hari, ketika datang ke sekolah dan siang sebelum pulang, anak-anak meluangkan waktu untuk menyiram dan menengok hasil tanamnya.Jika dirasa sudah cukup untuk dipanen, anak-anak dibantu guru mengagendakan acara “panen raya”. Sejauh ini mereka berlatih memiliki tanggung jawab. Guru membagi tugas piket untuk merawat tanaman setiap harinya. Tugas ini bergilir untuk setiap minggunya. Setiap permasalahan dibicarakan. Misalnya, mengapa ada yang lalai menyiram? Mengapa ada yang sengaja mencabut tanaman untuk dibuat mainan? Guru berperan merefleksikan setiap kejadian kemudian menyisipi aspek moral untuk dicermati bersama. Pembiasaan siswa dalam hal tanggung jawab, peduli tanaman ciptaan Allah terangkum dalam kegiatan memelihara tanaman ini. Pada kesempatan lain anak-anak juga diajak menyayangi ciptaan Tuhan yang lain yaitu binatang. Di TK SAIMS siswa masih bisa menemukan kupu-kupu, capung, atau belalang karena sekolah ini memiliki areal sekitar 1,1 hektare, yang sebagian ditanami beraneka pohon dan perdu. Mereka diajak mengamati dan bermain dengan serangga. Guru bertugas mendampingi dan menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan binatang yang ada. Setelah itu mereka melepaskan serangga itu. Untuk menanamkan sebentuk tanggung jawab sederhana, siswa kadang diminta membawa binatang dari rumah untuk kemudian dipelihara beberapa hari di sekolah. Maka berdata-

30

nganlah berbagai binatang: ikan hias, kura-kura, kelinci, sampai hamster. Anak-anak diajak memberi makan minum dan membersihkan kandangnya. Menyulap Sampah Sudah semestinya aspek kreativitas mendapat perhatian lebih, sebagaimana ungkapan kata-kata mutiara, “Di tangan orang kreatif, batu bisa menjelma menjadi emas”. Orang kreatif selalu bisa menemukan peluang di sekitarnya, bahkan mampu membalikkan hambatan menjadi peluang yang menguntungkan. Demikian halnya sampah. Sesuatu yang dijumpai dalam keseharian anak. Bagaimana ya membuat lingkungan menjadi bersih sekaligus menyulap sampah menjadi sesuatu yang lebih menarik dan bermanfaat. Ide-ide dari guru dan anak-anak pun mulai berlompatan. Hari ini kebetulan hari Jumat. Di sekolah SAIMS (mulai tingkat TK sampai SMA) ada kegiatan bersama-sama yaitu Aksi Bersih Lingkungan. Untuk siswa TK ditawarkan permainan bersih-bersih yang berbeda. Siswa dibagi menjadi empat kelompok kecil. Ada kelompok daun, plastik, botol, dan kelompok kertas. Empat kelompok tersebut akan berlomba mengumpulkan sampah-sampah yang berada di kelas ataupun di halaman se-

31

kolah lalu dimasukkan ke kantung plastik Siapa yang berhasil mengumpulkan sampah paling banyak itulah juaranya. Sampah plastik, botol, dan kertas yang terkumpul kemudian didaur ulang, disulap menjadi kerajinan tangan. Wah, hasilnya luar biasa, menjadi vas bunga, robot hingga hiasan gantung. Demikianlah penanaman nilai peduli lingkungan bersih, cerdas dalam memilah sampah serta kreatif dalam menyulap sampah menjadi hiasan cantik dengan daur ulang di sekolah ini. Budaya Cuci Piring Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, tepat pukul 11.00 WIB siswa TK makan siang bersama. Seluruh siswa tertib antre menunggu giliran mengambil menu makan siang di ruang makan. Saat mengantre mereka membawa piring dan sendok sendiri-sendiri. “Harus sabar, tidak pakai dorong-dorong, tidak pakai nyerobot barisan…!” kata anak-anak mengingatkan temannya. Kadang nasihat dari teman sebaya justru lebih mengena ketimbang dari orang dewasa. Guru melayani mengambilkan nasi, sayur, lauk, dan buah. Eit, sebelum makan jangan lupa baca doa dahulu. Mereka enjoy menikmati makan siang dan didampingi oleh guru yang setia menghibur dan merayu manakala mereka tidak mau menghabiskan makan siangnya. Makan siang ditutup dengan

32

berdoa. Setelah itu mereka mengantri ke tempat cuci piring. Tak lupa membuang sisa makanan pada tempatnya. “Ayo lomba membersihkan piring”. “Aku bisa mencuci piring sendiri lho…”. Kebiasaan ini dilakukan setiap hari dengan pendampingan guru untuk membiasakan hidup sehat dan bersih, melatih kesabaran dan toleransi berbudaya antri, tanggung jawab, serta kemandirian siswa. Memang acara cuci piring mandiri ini membuat pemakaian air dan sabun menjadi lebih boros. Apalagi banyak di antara mereka yang tetap saja suka bermain busa dan tidak hentihentinya bercipratan air. Tetapi tidak terlampau masalah, itulah ongkos wajar sebuah pembelajaran. Kaleng Peduli Sesama Pagi itu udara sangat cerah, semua anak bermain di halaman sekolah. Tiba-tiba guru ingat harus meletakkan sebuah kaleng kecil cantik di dekat pintu kelas sebelum anak-anak masuk. Benda itu cukup mengundang perhatian. Mereka berkerumun dan bertanya-tanya untuk apa kaleng itu disediakan. Guru menerangkan, kaleng itu untuk memasukkan uang recehan siswa yang nantinya akan diberikan kepada yang membutuhkan. Setelah satu minggu uang recehan anak-anak perkelas ter-

33

kumpul, kemudian anak-anak bertanya kepada guru tentang bagaimana caranya jika uang recehan mereka sudah penuh. Untuk mengatasi hal ini guru membuat bank kecil yang petugasnya terdiri dari anak-anak sendiri. Tugas bank kecil ini adalah mengumpulkan uang recehan tersebut dari kelas-kelas dan dicatat oleh teller dengan bantuan ustadzah. Kemudian jika sudah terkumpul akan disalurkan kepada yang membutuhkan. Petugas bank kecil dilakukan bergiliran oleh siswa-siswa. Ada yang menjadi sie keamanan, ada yang mengatur dan siswa TK

B yang menjadi teller. “Aku ingin hebat dan jadi prince agar bisa jadi petugas bank kecil,” celetuk salah satu siswa. Memang menjadi petugas Bank Kecil merupakan salah satu reward dan penghargaan dari sekolah apabila siswa berakhlak baik di kelas. Dalam kegiatan tersebut, nilai-nilai luhur seperti peduli, cerdas, jujur dan tanggung jawab berusaha dibudayakan agar siswa terbiasa mewujudkan dalam kesehariannya. Anak-anak menyukai kegiatan ini. Mereka bersemangat memasukkan sebagian uang saku mereka. Terkadang mereka sengaja minta kepada orangtuanya untuk turut mengisi kaleng amal itu.

34

Wali Murid Jadi Guru Di TK SAIMS, orangtua tidak boleh cuek dengan pendidikan putra-putrinya di sekolah. Mereka harus aktif mendukung dan turut mengembangkan potensi buah hatinya. Komitmen ini sudah mereka sepakati semenjak awal mendaftarkan anaknya ke sekolah ini. Ya, di sekolah ini setiap calon siswa dan calon wali murid harus mengikuti semacam wawancara dengan psikolog sekolah. Bukan untuk mengetes kemampuan siswa, tetapi lebih kepada melihat kesiapan mental anak memasuki

dunia taman kanak-kanak dan sejauh mana kesiapan orangtua untuk turut membina putranya. Ada beberapa kegiatan yang melibatkan peran serta orangtua dalam rangka membina anak lebih berkarakter di antaranya mengajak menggambar bersama antara siswa dengan orangtuanya. Mereka juga diharap intensif membangun komunikasi dan keakraban dengan anaknya, antara lain dengan mendongeng sebelum tidur. Sekolah juga memberi kesempatan kepada wali murid untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Salah satunya ada-

35

lah pengenalan profesi orangtua kepada anak-anak. Di luar dugaan, banyak orangtua bersedia untuk terlibat. Suatu awal yang bagus. Macam-macam profesi mereka, mulai dari pelaut, dokter, sampai pelatih balet profesional. Akhirnya dijadwalkanlah para orangtua itu untuk menjadi guru tamu. Mamanya Ocha (Ibu Yuni), seorang belerina profesional, mengajari anak-anak tarian sederhana. Begitu intro musik mengalun, serempak anak-anak bersorak, “Lagunya Sherinaaaaa…”. Yup! benar! Siang itu Mamanya Ocha berbaik hati mau mengajari anak-anak menari Hari yang Cerah. Anak-anak berlatih penuh semangat, terutama Ocha. Dia terlihat bangga karena yang menjadi “ibu guru” siang itu adalah mamanya. Mama Ocha tak kalah gembira. Dia puas setelah melihat sambutan yang begitu heboh. Suatu pengalaman tak terlupakan: Mengajar teman-teman anaknya sendiri. Demikian juga yang dialami dokter Ferdy. Meski awal tam-

DOKTER gigi pun bersemangat jadi guru tamu.

36

pilnya agak grogi tetapi dia menikmati. Dokter gigi itu mengaku, seumur-umur baru kali ini berhadapan dengan anak-anak yang menyambutnya dengan begitu antusias. Bukan hal yang mudah untuk menyampaikan informasi dan menarik parhatian bocah. Untuk itu dia membekali diri dengan berbagai alat peraga medis. Dokter ini berkenan hadir lantaran anaknya, Haqi, memintanya untuk menjadi guru tamu. “Ayahku bawa gigi palsu lho…,” celoteh Haqi di hadapan teman-temannya. Kesaksian Wali Murid

Kemandirian Tumbuh
“Yang terlihat paling menonjol tentang perkembangan perilaku dari anak saya, Athaya, adalah selalu berusaha untuk mandiri. Meskipun Athaya belum bisa melakukannya secara sempurna. Contoh, memakai baju sendiri meski terkadang terbalik. Kadang-kadang halhal kecil seperti ini lupa kami ajarkan. Selain itu, Athaya terbiasa berdoa sebelum melakukan sesuatu. SAIMS selain mengajarkan pengetahuan juga mengenalkan perilaku dan sikap yang terpuji pada anak didiknya.” Permadi Kustantyo K & Ratih Astiati Dewi, Orangtua Al Athaya N.H.

Peka Lingkungan
“Zaha (Chacha) lebih mandiri dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Dia tidak membuang sampah sembarangan dan dapat berkreasi dengan barang bekas untuk bermain. Rasa empati terhadap saudara, orangtua dan teman. Keberanian yang semakin bertambah dan percaya diri yang tinggi sehingga dapat menyelesaikan permasalahan. Suasana sekolah yang tidak terlalu formal membuat anak tidak bosan.” Alit Arswendo Orangtua Zaha Kalisha Azra

37

Tidak Tertekan Lagi
“Pada awalnya anak kami kurang berani berekspresi, hal ini terkait dengan pengalaman Naufal (Ifal) saat di PG yang membuat dia “trauma sekolah”. Karena sistem di sekolah yang lama masih mewajibkan anak duduk manis mendengarkan guru di depan kelas, dan cenderung membatasi kreativitas dan ekspresi anak. Setelah Ifal sekolah di SAIMS, dia jauh lebih ekspresif dan mampu mengungkapkan pendapatnya. Ifal juga mampu bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya.” Wido Nugroho & dr. Maya Indrawati Orangtua Naufal Nur Fakhri

38

39

40

BERMAIN berarti belajar bersosialisasi.

B

egitu memasuki kompleks sekolah ini, kita seolah memasuki sebuah kerajaan anak-anak. Betapa tidak, ratusan siswa usia dini riuh bermain berlarian di halaman “istana” teduh, yang diayomi daun-daun lebar pohon biola cantik ini. Ya, TK Budi Mulia Dua Pandeansari Yogyakarta ini setiap hari dihuni 447 siswa (termasuk 60 siswa Kids Home), yang tertampung dalam 20 rombongan belajar. Bahkan beberapa tahun sebelumnya pernah mencapai 540 siwa, sehingga sekolah yang didirikan Ibu Kusnasriyati Amien Rais ini sempat disebut-sebut sebagai TK terbesar se-Asia Tenggara. Generasi penerus bangsa itu tampak asyik bermain, ada yang main papan luncur berkelok-kelok atau bertualang di jembatan goyang. “Aku bisa!,” begitu teriak siswa manakala berani mencoba atraksi baru seraya sedikit-sedikit melanggar aturan kelaziman yaitu berdiri pada palang besi paling tinggi.

41

Ada juga bocah, yang bikin ngeri, berani berdiri di puncak mainan bola dunia, “Hoi…, aku sampai langit!” serunya kepada dunia. Sementara itu suara orkestra serangga tonggeret di pohon turut meningkahi keceriaan di kawasan kompleks Pandeansari, tepatnya di Blok II No. 4 Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta itu. Mengapa TK ini memperoleh jumlah siswa sebesar itu? Tentu ini sebuah kepercayaan dari masyarakat yang diperoleh dari proses kerja keras dan panjang. Padahal di awal berdirinya, tahun 1987, cuma punya 9 siswa. Sekolah ini berdiri lantaran pendirinya menyadari arti pentingnya pendidikan usia dini, sehingga merelakan sebagian kediamannya direnov jadi ruang kelas. Barangkali itulah sebabnya mereka memberi nama TK Budi Mulia Dua. Sebuah ikhtiar untuk turut mencetak generasi gemilang yang berbudi mulia. Sedang kata dua di belakangnya ternyata bukanlah bilangan. Kabarnya, dua itu sebuah akronim yang artinya dunia dan akhirat. Menurut pengakuan sebagian wali murid TK ini layak dipilih lantaran berkualitas. Berkualitas di sini mengandung unsur nilainilai keagamaan, akademik maupun nonakademik. Banyak pihak juga sering berkunjung ke sini melakukan studi banding untuk kepentingan pendirian sekolah maupun untuk pengembangan satuan pendidikan yang sudah mereka miliki. Untuk itu ada baiknya kita juga mencoba menimba ilmu bagaimana penerapan pendidikan karakter di tempat ini yang pelaksanaannya diintegrasikan ke dalam kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Bukan Sekadar Bermain Sambil bermain membentuk karakter. Prinsip ini membawa

42

konsekuensi guru harus sejauh mungkin menghindari caracara yang bersifat indoktrinatif dalam menanamkan nilai-nilai. Semua pembiasaan dan pelajaran selalu disampaikan lewat media permainan. Ada berbagai permainan yang dirancang oleh guru, di antaranya bermain bakiak raksasa, simpai, hingga berpetualangan di arena bermain. Sepasang bakiak raksasa bisa dipakai bersamaan oleh tiga anak sekaligus. Ini melatih kekompakan gerak. Bila angkat kakinya tidak bareng, mereka pasti tidak bisa melangkah maju. Ada olah raga di sini yaitu kelincahan menggerakkan kaki dan melenturkan otot. Juga ada unsur olah pikir, karena game ini butuh konsentrasi, memadukan pikiran dengan gerakan kaki. Nilai olah rasa dan karsa bisa ditunjukkan dengan adanya rasa kerja sama dan rasa peduli antarteman. Sedangkan olah hati bisa diwujudkan lewat rasa tanggung jawab terhadap kelompoknya. Pada kali lain guru mengajak siswa bermain simpai atau
LOMBA bakiak raksasa butuh kekompakan dan kerja sama.

43

holahop. Anak-anak segera berebut mencobanya. Bu guru memeragakan cara bermain alat berbentuk gelang besar terbuat dari rotan itu. Guru mengajak Nikko untuk memegang salah satu sisi simpai sedangkan guru memegang sisi yang lain. Dua anak diminta bergandengan lalu memasuki simpai secara bergantian tanpa melepas gandengan tangannya. “Karena simpainya terbatas, yang ingin main harus sabar tunggu giliran,” kata guru mengajarkan budaya antre. Anakanak menurut, tapi toh beberapa di antaranya tetap gelisah lantaran tidak betah menunggu. Terdengar sorak-sorai setiap kali ada teman yang sukses memasuki simpai. Seperti halnya bermain bakiak, permainan ini juga kaya muatan nilai-nilai karakter. Bermain bebas di luar juga menjadi favorit anak-anak. Banyak yang memilih bermain bola. Sebagian lagi lebih suka berhamburan menuju arena bermain. Yup... langsung perosotan, ayunan, panjatan, putaran, atau berjungkat-jungkit. Guru mengawasi dan bergabung dengan mereka. Dengan bermain bebas sesungguhnya terjadi praktik bersosialisasi dalam arti yang sesungguhnya. Dalam kegiatan ini keempat kuadran (olah hati, olah pikir, olah rasa-karsa, dan olah raga) akan terasah. Anakanak tengah belajar menaati aturan permainan (rule of the game) hingga mengatasi gesekan dan pertengkaran (problem solving) yang bisa terjadi setiap saat. Pada bulan tertentu digelar acara istimewa, misalnya masak bersama atau praktik belanja. Guru mendisplai “pasar tradisional” di halaman sekolah. Ada siswa yang berperan sebagai pedagang ada pula yang menjadi pembeli. Merekapun tak sabar ingin segera bertransaksi. Calon pembeli membuat daftar belanjaan apa yang akan dimasak hari itu. Dengan uang seribu

44

rupiah mereka membeli beberapa item barang: sayuran, bawang, minyak goreng, dan bumbu. Belanja selesai, merekapun sibuk masak bersama. Praktik kerja sama, saling menghargai, kebersamaan, berbagi, mengendalikan amarah, empati, kemandirian, memecahkan masalah, dan berkomunikasi terlihat jelas dalam kegiatan yang diberi nama cooking class itu. Jangan Marah, Ma... Anak-anak sungguh peka dengan nilai-nilai kebenaran. Begitu menerima satu informasi tentang nilai-nilai positif segera dicerna dan diinternalisasikan ke dalam dirinya. Ini sangat bagus walau kadang juga membawa dampak ikutan, terutama dalam relasi di rumah. Kadang terjadi kesenjangan antara nilai-nilai yang dipelajari di sekolah dengan yang berlaku di rumah. Masih beruntung bila orangtua segera menyadari lalu berupaya menyelaraskan perbedaan itu. Tetapi bagi mereka yang tidak peduli bisa membuat anak hidup dalam aturan ganda yang membingungkan. Saat jam istirahat, seorang wali murid TK Budi Mulai Dua menghampiri guru. “Bu, saya malu sama anak saya,” katanya. “Kok malu? Memangnya ada apa?” Lalu sang ibu pun bercerita, kemarin dirinya sempat memarahi anaknya gara-gara sesuatu hal. Tetapi tanpa dinyana anaknya balik mengatakan begini: “Laa taghdlob walakaljannah, jangan suka marah maka bagimu surga. Jangan marah ya Ma... nanti gak masuk surga lho...”. Perempuan muda itu terpekur. Hatinya mengaku malu lantaran ditegur anaknya sendiri yang umurnya belum genap 5

45

tahun. “Tapi saya sangat bersyukur,” katanya dengan raut muka bahagia, “karena anak saya bisa menyerap apa yang diajarkan gurunya. Terima kasih ya Bu Guru”. Hadits larangan marah tersebut memang sering diucapkan anak-anak di kelas. Ini pengingat agar setiap pribadi senantiasa mengendalikan emosi. Terbukti anak-anak tidak cuma menghafal tetapi juga mampu mengingatkan teman-temannya dan bahkan orangtuanya. Manakala ada teman marah-marah pasti ada yang “mengerem” dengan hadits itu. Selain mengolah hati untuk dapat meredam amarah, pembiasaan seperti ini juga melatih anak-anak untuk bertanggung jawab terhadap perilakunya, jangan sampai membuat orang lain marah. Anak-anak juga menjadi lebih care terhadap orang lain. Budaya Cinta Buku Budaya bukan barang instan, dia harus dicipta. Demikian juga budaya cinta buku, harus dibangun semenjak kecil. Demikian penting keberadaan buku sebab dia merupakan jendela pengetahuan yang akan mengantarkan anak didik menjadi insan fathonah, kreatif, dan cerdas. Dalam kesehariannya anak di sekolah ini diberikan kebebasan mengunjungi perpustakaan sekolah untuk melihat aneka buku warna-warni penuh gambar dan memilih beberapa eksemplar yang disukai. Selanjutnya “harta karun” itu boleh dibawa ke kelas agar anak bisa melihat (kadang membaca sedikit-sedikit) isi buku secara bebas di kelas. Mereka juga bisa menceritakan gambar-gambar yang tercetak di buku atau membincangkan bentuk buku, warna buku, dan ukurannya. Kegiatan mendialogkan buku tidak berhenti sampai di kelas, tapi

46

TAMPIL di depan kelas, memupuk keberanian dan percaya diri.

anak membawa hasil diskripsinya kepada keluarga di rumah. Seusai belajar di perpustakaan, mereka diberi kebebasan olah pikir dengan cara mendiskripsikan isi buku secara bebas melalui pengamatan bermacam-macam gambar sehingga memunculkan pengalaman baru dari setiap anak. Sejak kecil anak diajak tanggung jawab memelihara buku, dibangun rasa memilikinya dengan tidak mencoret atau menyobek buku. Setiap anak diberi kesempatan meminjam buku sekali dalam seminggu untuk dibawa pulang. Tentu mereka wajib mengembalikan buku tepat waktu agar terbangun kedisiplinannya. Pada saat di perpustakaan, setiap anak punya kesempatan sama untuk memilih berbagai buku tetapi mereka juga harus belajar menenggang rasa manakala buku yang diincarnya keburu dipungut teman lain.Tidak boleh berebut, hormati pilihan teman lain. Olah rasa dan karsa menjadi pembiasaan anak sejak dini.

47

Saatnya Salat Duha Setiap Rabu anak-anak praktik salat duha di musala sekolah. Guna melancarkan jalannya acara, mereka dianjurkan sudah wudlu dari rumah. Bagi yang belum wudlu, diajak wudlu bersama. Dengan tertib anak-anak melepas sepatu dan menatanya dengan rapi di rak. Rak sepatu sudah diberi nama kelas masing-masing dari B1 sampai B8. Anak-anak masuk musala dan langsung menempatkan diri sesuai shafnya. Sajadah-sajadah kecil mulai digelar, anak putri sibuk mengenakan mukena. Ada beberapa anak yang masih kerepotan memakainya, sehingga membutuhkan bantuan guru. Namun untuk membangun sikap mandiri, guru tidak langsung menolongnya. Guru hanya menuntun cara memakai mukena. Siswa dibimbing mengerjakan sendiri, sedang campur tangan guru diupayakan seminim mungkin. Anak-anak duduk dengan tenang menunggu temannya yang belum datang sambil menunggu saat salat duha dimulai. Sekitar pukul 07.15, Pak Jakfar, imam salat, bangkit berdiri tanda salat berjamaah segera dimulai. Bocah-bocah segera mengikuti. Mereka merapatkan dan meluruskan barisan, siap mendirikan salat duha dengan tenang dan tertib. Kegiatan diakhiri dengan membaca doa bersama. Selesai salat, mereka dibiasakan melipat sajadah dan mengemasi mukena dengan rapi. Kemudian anak-anak keluar musala secara berurutan dari kelompok B1 hingga B8 untuk melanjutkan belajar di kelas masing-masing. Diharapkan dengan kegiatan ini anak-anak mampu menjalankan ibadah sunnah. Di samping itu juga melatih rasa tanggung jawab melepas dan meletakkan sepatu dengan rapi,

48

memakai dan melipat peralatan salat, dan berdiri dengan rapi sesuai barisan salat. Yel-yel Pembangun Semangat Untuk menumbuhkan semangat dan menyalurkan enerji anak-anak, sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai anakanak berkumpul di halaman dan melakukan yel-yel bersama dipimpin oleh salah satu guru. TK Budi Mulia... Kami dari TK A... TK Budi Mulia Tempatku bermain, tempatku belajar Jadi anak pintar, hormat orangtua Yes... yes... yes... yeeeeee.... Teriakan bersama itu dilakukan dengan gerakan tangan dan tubuh. Dengan yel-yel anak-anak telah melakukan olah raga dan olah pikir yaitu menyelaraskan gerakan dengan yel yang

49

diucapkan. Ungkapan jadi anak pintar dan hormat orangtua merupakan penyemangat anak-anak dalam mengolah hati untuk bertanggung jawab terhadap ucapan tersebut. Sementara itu untuk menumbuhkan budaya sapa, para guru dan satpam, setiap pagi sebelum anak didik datang telah siap di depan pintu gerbang sekolah untuk menyambut anak didik. Setiap pengantar yang datang diarahkan melalui satu jalur sesuai rambu-rambu. Setiap anak yang datang langsung disambut senyum ramah oleh bapak ibu guru. Assalamualaikum... demikian salam sapa anak-anak menghampiri guru dan mengulurkan tangan serta mencium tangan guru. Setelah itu mereka antusias menuju arena bermain bergabung dengan temannya. Demikian pula pada saat pulang sekolah, mereka melakukan hal serupa. Setiap Senin kelompok B berlatih upacara bendera. Petugas upacara dijadwal secara bergiliran, sehingga semua anak berkesempatan menjadi petugas upacara. Kegiatan ini melatih anak untuk bisa mengolah hati yaitu bertanggung jawab terhadap tugas sebagai petugas maupun sebagai peserta upacara. Selain itu olah karsa juga dapat diasah melalui kegiatan ini yaitu kepedulian anak akan aba-aba dari teman yang harus dilaksanakan. Dari sisi olah raga juga dapat dirasakan anakanak yaitu dengan bersikap tegap dalam barisan serta keberadaan anak di halaman yang terkena langsung sinar matahari pagi bermanfaat untuk kesehatan mereka. Oh ya, latihan upacara juga memupuk rasa nasionalisme. Saya Dalang Komputer Terdorong rasa dan tanggung jawab untuk mendidik siswa-

50

nya selaras dengan zamannya, TK Budi Mulia Dua Pandeansari, sejak lima tahun terakhir ini, telah menerapkan pembelajaran komputer untuk anak-anak. Kini para pemain komputer yang dijuluki dalang-dalang komputer itu banyak bermunculan dan siap menghadapi tantangan masa depan yang serba komputerisasi. Suasana kebebasan dalam mengoperasikan komputer dengan jadwal tertentu membentuk keterampilan khusus yang dimiliki anak saat mengoperasikan di depan layar. Jiwa keberanian, kemampuan berimajinasi, serta kemampuan memecahkan masalah menjadi terbentuk sewaktu dan sesudah proses pembelajaran disampaikan. Untuk memfasilitasi olah pikir anak, mereka diberi kesempatan mendiskripsikan secara bebas melalui pengamatan bermacam-macam gambar. Mereka akan menjelajah pengetahuan baru melalui file-file sains dan teknologi. Di samping itu, anak diberi fasilitas mengolah hati melalui kegiatan memelihara dan merawat komputer yang dia pakai. Memiliki tanggung jawab dan kedisiplinan saat dia paham kapan dia bermain dengan komputer dan kapan memberi kesempatan kepada teman yang lain. Jarak antara laboratorium komputer dengan kelas sekitar 100 meter. Saat moving (berpindah) otomatis mereka berolah raga. Anak-anak masuk ke ruang komputer secara bergiliran dan menyerahkan kartu bimbingan kepada guru komputer. Guru memandu sesuai dengan materi yang telah direncanakan. Anak dengan percaya diri mengoperasikan komputer sesuai perintah guru. Anak membantu teman yang mengalami kesulitan mengerjakan tugas. Setelah selesai melaksanakan tugas, anak dipersi-

51

lahkan kembali ke kelas. Mengenal Adab Bertamu Bersilaturrahmi (home visit) juga menjadi bagian dari kiat pendidikan karakter di TK ini. Kegiatan ini sebagai wadah untuk mengenalkan adab bertamu dan menjadi tuan rumah yang baik kepada anak. Bersilaturrahmi adalah kegiatan berkunjung ke rumah salah satu teman. Pada saat itu anak dan keluarga yang menjadi tuan rumah menunggu kehadiran teman-teman dan guru di rumah. Guru dan anak-anak mempersiapkan segala sesuatunya misalnya oleh-oleh, kendaraan (bila diperlukan), serta bekal makanan dan minuman supaya tidak merepotkan tuan rumah. Sesampai di tempat tujuan anak-anak mempraktikkan adab bertamu yang baik mulai dari mengetuk pintu dan mengucap salam.
BELAJAR tata krama menjadi tamu.

52

Selama menunggu dibukakan pintu tidak diperkenankan melihat-lihat lewat jendela atau mengetuk pintu berulang-ulang. Setelah dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk anakanak masuk dan bersalaman dengan tuan rumah lalu duduk setelah dipersilahkan. “Nama saya Pak Hanafi, ayahnya Azka. Ini Bu Astrid, bundanya Azka,” begitu tuan rumah memperkenalkan diri. “Ini adikku lho, namanya Faqih,” Azka menimpali. Kemudian tamu cilik itu beramah tamah dengan tuan rumah. Acara dilanjutkan dengan makan bekal yang dibawa. Anak-anak bermain secukupnya. Ketika akan pulang mereka memberikan kenang-kenangan kepada Azka. Mereka berpamitan pulang, bersalaman dengan tuan rumah dan mengucap salam. Bel Terakhir Berbunyi Sebagai catatan penutup, perlu diutarakan suasana di akhir tahun pelaajaran di sekolah ini, bukan tentang kemeriahan pentas seni tapi adansebuah seremoni yang cukup menyentuh. Begitu bel terakhir berbunyi, dewan guru dan karyawan berdiri berderet siap menyalami satu-persatu siswanya yang siap berdiri mengular di halaman sekolah. Orangtua mereka, tahu-tahu sudah ikut menyusup dalam barisan, di belakang masing-masing buah hatinya. Anak-anak pun segera menyadari bahwa inilah hari terakhir mereka menghuni istana nan rindang itu. Lagu himne guru mengalun merdu menggetarkan hati. Kalau sudah begitu, tanpa disuruh, anak-anak larut dalam keharuan. Mata mereka basah, bahkan tidak sedikit yang tersedu-sedu. Ibu-ibunya tak jauh beda, tidak pandai menyimpan airmata.

53

Perpisahan selalu terasa berat, padahal itu bukan sebuah kesalahan. Betapapun berat, burung-burung mungil itu harus segera terbang tinggi, untuk memetik bintang-bintang di angkasa cita-cita. Suara Wali Murid
“Saya merasa puas. Apa yang saya cari ada di TK ini, baik itu pendidikan agama, adab dalam bersosialisasi dengan teman, kemandirian, dan kreativitas. Rasa kasih sayang Sari (putri kami) terhadap temannya juga sangat tinggi. Dari sisi pendidikan agama sudah baik, seperti iqro’, hafalan surat-surat pendek, dan hafalan hadis pendek juga sudah diajarkan. Dari segi kemandirian, menurut saya sudah sangat baik. Sari dulu anaknya sangat pemalu, bahkan ketemu orang lain takut. Tapi sekarang, Alhamdulillah, percaya dirinya tinggi sekali, sampai dipilih untuk ikut lomba menari mewakili sekolah pun dia mau.” Rohana Saragih Wali murid Nafiza Suci Azahri (Sari) “Kami sebagai orangtua merasa senang karena selama anak kami sekolah di TK Budi Mulia Dua pemahaman tentang agama, cara beribadah, berdoa dan hafalan hadis semakin baik. Watak anak kami terbentuk, terbukti Rafi menjadi tidak egois, pintar, dan kritis dalam menyampaikan pendapat. Anak kami bisa mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang memberikan sesuatu kepadanya, bisa mengucapkan kata tolong bila minta bantuan, dan bisa mengucapkan maaf apabila memang bersalah. Pengertian dan pemahaman itu mengalir seperti air, tidak ada tekanan atau pemaksaan sehingga anak kami tidak merasa tertekan.” Kus Endarto Wali murid Rafi Kusuma Daniswara (Rafi)

54

55

56

S

etiap anak Indonesia berhak terhadap pendidikan yang mengembangkan karakter dengan baik. Karena dengan pendidikan karakter, pendidikan bukan hanya menghasilkan anak-anak yang cerdas tetapi juga anak yang mempunyai budi pekerti luhur. Sekolah Dasar Insan Teladan Bogor memang tidak secara

MEMPELAJARI daun tidak sekadar pelajaran IPA.

57

eksplisit mengajarkan pendidikan karakter. Sekolah yang beralamat di Desa Kalisuren, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor ini menggunakan istilah Pendidikan Nilai-nilai Kemanusiaan (PNK) yang pada esensinya ternyata selaras dengan pendidikan karakter. PNK ini dibagi menjadi lima nilai utama yaitu kebenaran, kebajikan, kedamaian, cinta kasih, dan berperilaku tanpa kekerasan. Nilai-nilai ini yang dianut oleh seluruh warga sekolah dimulai dari pendiri, pemangku kepentingan (stakeholders), guru, siswa, dan seluruh wali murid. Semua pihak saling bahu-membahu menciptakan iklim sekolah yang kondusif, agar penerapan PNK dapat berjalan dengan optimal. Harapannya nilai-nilai utama itu dapat dipraktikkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memudahkan pendidikan karakter ada berbagai macam teknik yang digunakan di antaranya melalui berdoa, kutipan, kata-kata mutiara, penguatan positif, duduk hening, bercerita, bernyanyi, hingga kegiatan kelompok berupa permainan, bermain peran, diskusi kelompok, dan lain-lain. Program-program SD Insan Teladan yang sangat berpengaruh terhadap perubahan karakter adalah duduk hening, integrasi nilai kemanusiaan ke dalam mata pelajaran, dan kelas integrasi khusus yang menghubungkan satu tema tertentu dengan banyak mata pelajaran. Selalu Duduk Hening Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran, 86 siswa wajib mengikuti kegiatan duduk hening. Seperti namanya, siswa diajak duduk tenang dalam posisi bersila. Dalam keadaan mata terpejam mereka mengatur nafas sembari meresapi makna kalimat-kalimat yang diungkapkan guru pembimbing mereka. Aca-

58

ra ini berlangsung selama sekitar 10 menit. Dalam duduk hening siswa diminta menegakkan badan dan mengatur napas secara perlahan-lahan dan berkonsentrasi. “Sekarang pusatkan seluruh perhatian kepada nafas. Bayangkan di hadapan kita ada sebuah cahaya. Cahaya ini adalah cahaya kasih sayang yang datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa,” kata guru memandu duduk hening. BERKONSENTRASI Kemudian guru itu memembangun harmoni. ngajak siswa membiarkan cahaya itu masuk melalui kening menerangi seluruh pikiran sehingga pikiran dipenuhi kasih sayang. Cahaya itu dibayangkan perlahan turun menerangi dan membersihkan perasaan, sehingga hati menjadi bersih diliputi rasa tentram dan selalu peduli penderitaan orang lain, menerangi kedua tangan hingga membuat kita mampu mengerjakan hal-hal yang berguna. Cahaya turun ke kaki sehingga menuntun setiap langkah ke tempat-tempat yang baik dan bertemu orang-orang baik. Ringkasnya, cahaya itu beredar ke seluruh organ tubuh yang membuat kita menjadi senantasa berbuat kebajikan. Tidak lupa pemandu duduk hening juga mengajak siswa mengirimkan cahaya itu kepada orangtua, saudara, guru, teman, kepada semua makhluk ciptaan Tuhan.

59

................................. Kita berada dalam cahaya Cahaya berada dalam diri kita Kita adalah cahaya. Sesi duduk hening ini diakhiri dengan membuka mata secara perlahan-lahan. Dan kelihatan betul pengaruhnya. Mereka terlihat tenang dan siap memulai aktivitas belajar hari itu dalam rasa damai. Berdasar pengalaman pihak pengelola sekolah, duduk hening itu terbukti bermanfaat untuk mengubah karakter anak. Untaian kata-kata yang berisi penguatan positif yang diucapkan guru ketika memimpin duduk hening, dan itu secara terusmenerus disampaikan setiap hari, akhirnya tertanam di ingatan anak dan menjadi kebiasaan baik. Resapi Nilai Lewat Lagu Bernyanyi adalah kegiatan yang menyenangkan siswa. Oleh karena itu perlu dibuatkan lagu-lagu dengan lirik yang sarat dengan pesan moral tetapi mudah dicerna. Lewat berdendang anak akan mengenang nilai-nilai bahkan sampai akhir hayat mereka. Di bawah ini salah satu lagu favorit siswa Insan Teladan yang menggugah untuk menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Jika Engkau Tak Berhasil Coba coba coba lagi Jangan menyerah Jangan putus asa Akhirnya kau kan berhasil

60

BELAJAR empati dengan merasakan beratnya pekerjaan petani.

Akan berhasil Dunia ini banyak tantangan Harus brani menghadapi Coba dengan kerja keras Jangan tergantung nasib Ayo...! Gunakan sluruh kemampuanmu Yakin dan percayalah Bahwa kan kau hadapi stiap cobaan Dan kaukan berhasil...! Memaknai Sebutir Gabah Pagi yang cerah, murid-murid kelas IV turun ke sawah untuk

61

melihat proses pengolahan padi, dimulai dengan menuai, merontokkan, menjemur, kemudian menggiling padi. Mereka begitu bersemangat dan gembira berjalan di pematang sawah yang kecil, bertegur sapa dengan petani dengan sopan. Ketika sampai di sawah mereka membantu petani menuai padi dengan menggunakan sabit. Anak-anak pagi itu tengah belajar ilmu penting tentang empati sosial: merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi seorang petani. Batang padi yang sudah dipotong dikumpulkan di pinggir sawah lalu diangkut ke sebuah lapangan. Siswa melihat bagaimana petani merontokkan padi dan dengan antusias mereka secara bergantian membantu. Termasuk membantu mengumpulkan rontokan padi dan menjemurnya. Guru sudah menyiapkan padi kering dalam karung ukuran kecil yang memungkinkan diangkut siswa. Satu-persatu siswa secara bergantian memanggul karung padi ke tempat penggilingan. Saat berada di tempat penggilingan, spontan Akbar bertanya kepada gurunya.“Bu guru, berarti kita harus melepaskan perbuatan-perbuatan yang tidak baik ya?” “Memangnya kenapa, Akbar?” tanya guru menanggapi. “Lihat bu, agar menjadi beras yang bersih, padi harus melepaskan kulitnya. Kita harus seperi itu, Bu”. Ibu guru tertegun dan bangga, Akbar yang baru kelas IV SD, sudah bisa mengambil nilai dari sebuah proses penggilingan padi. Sekembalinya dari sawah, Guru meminta siswa untuk mengambil nilai-nilai yang mereka dapatkan. “Kita harus bersyukur dengan rezeki yang diberikan Tuhan,” kata Gita sambil mengangkat tangan. “Kita harus menghargai jerih payah petani,” kata Hani.

62

Beberapa siswa lain pun menambahkan hasil refleksinya. Itu semua makna yang dapat mereka SANDAL cantik mengantar langkah menuju cita. ungkapkan dalam bahasa lisan. Namun guru menemukan pelajaran yang paling berharga yang tidak diungkapkan siswa lewat kata-kata. Sejak saat itu tidak ada sebutir nasipun yang tersisa di piring mereka ketika makan siang bersama di sekolah. Kakiku Melangkah Pasti Beberapa siswa sibuk menyiapkan kertas kado bekas, karton, lem, dan peralatan yang lainnya. Hari ini mereka praktik membuat sandal. Masing-masing siswa membuat rancangan hingga mengerjakannya. Selama proses pembuatan sandal anakanak saling berceloteh, menunjukkan betapa menyenangkan pelajaran ini. “Sandalku sudah jadi nih!” kata Junaidi dengan bangga. Teman-temannya menoleh kepadanya. “ Yaa, baru sebelah!” kata Apit mengeritik. “ Tidak apa-apa ya Bu Guru?” Junaidi membela diri. “Ya, sudahlah diselesaikan satunya ya, Jun!” Bu Aliyah menengahi pembicaraan. Suasana kelas kembali swnyap. Mereka asyik menyelesaikan tugasnya. Dari tangan mereka lahir aneka sandal jepit dan kelompen penuh hiasan. Bila diberi keleluasaan, segera terlihat bahwa sebetulnya setiap anak sangatlah kreatif.

63

Begitu pekerjaan mereka selesai -seperti biasa- guru mengajak duduk hening sebentar. “Mari kita merenungkan, apa yang bisa kita pelajari dari membuat sandal ini?” pinta bu guru Aliyah. Kelas hening beberapa saat. Tiba-tiba Diki berdiri sambil memakai sandal rancangannya, “Kakiku akan melangkah mengejar cita-citaku!” Dari arah depan kelas Yusuf menyambung sambil mengacungkan sandalnya, “kakiku akan selalu kurawat dan kujaga”. “Kalau kakiku melangkah ke tempat yang baik, pasti akan bertemu dengan orang yang baik,” kata Gita. “Kalau aku, kakiku akan melangkah untuk menolong orang lain ah,” kata Widya dengan santainya. Sepintas barangkali terasa agak janggal, bagaimana mungkin anak kelas IV SD mampu membuat refleksi mendalam dan bahkan terasa filosofis seperti itu? Tetapi ini fakta. Guru Insan Teladan sendiri mengaku kadang dirinya juga terkejut. “Tetapi,” kata Bu Aliyah, “bila ajakan untuk selalu merenung seperti itu sering dilakukan, terbukti anak-anak mampu menemukan makna seperti itu”. Kegiatan praktik membuat sandal ini diakhiri dengan memajang karya-karya “masterpiece” itu, disertai teks buah renungan mereka, di majalah dinding. Pembuatan sandal ini merupakan bagian dari mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Di sekolah ini guru tidak hanya berusaha memenuhi standar kompetensi sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum nasional, tetapi juga mengarahkan anak-anak terbiasa memetik nilai-nilai dari pelajaran tersebut. Inilah yang lazim mereka sebut dengan mengintegrasikan PNK (Pendidikan Nilai-nilai Kemanusian) ke dalam

64

setiap mata pelajaran. Kali lain, pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, siswa diajak praktik membuat makanan murah tapi bergizi: tempe. Dalam hal ini, target pembelajaran tidak hanya “agar siswa dapat menjelaskan tentang cara membuat sesuatu” tetapi juga mengajak memungut nilai-nilai kesabaran. Bahwa ternyata membuat tempe itu makan waktu lumayan lama. Ada nilai persatuan, untuk menjadi tempe kita butuh ragi untuk menyatukannya. Bahkan sempat muncul pendapat dari siswa yang cukup orsinil. “Kalau menyelesaikan persoalan, kita harus dengan kepala dingin,” katanya. “Maksudmu?” guru mengail pendapat. “Lihat, kedelai harus didinginkan dahulu sebelum dicampur ragi,” jawab jenius kecil itu. Kelas Integrasi, Wow... Seru ! Ada lagi satu proses pembelajaraan unik di sekolah ini. Mereka menyebutnya dengan nama kelas integrasi. Sebulan sekali, siswa tidak dikelompokkan berdasar kelas. Mereka dibaurkan menjadi satu mulai dari anak TK hingga siswa SD kelas V (di sekolah ini angkatan pertama masih kelas V). Nah, segera kelihatan betapa padat unsur pendidikan karakternya. Di situ bakal terjadi interaksi yang unik. Kakak kelas belajar memimpin dan membimbing adik-adiknya. Siswa kecil pasti gembira dapat bersahabat dengan anak besar. Siswa belajar keterampilan mahal yaitu menjalin relasi sosial. Juga terjadi gesekan ilmu. Bukankah putihnya beras lantaran gesekan dengan sesama beras? “Siap graaak….!” Diki menyiapkan barisan dengan gagah. Di barisan lain setiap ketua regu juga melakukan hal serupa. Wakil ketua regu, adik kelas Diki, juga aktif membantu mera-

65

pikan barisan. Hari itu kelas integrasi dibagi dalam lima kelompok. Aha, barisan terlihat tidak begitu rapi. Maklum tinggi dan besar badan anggota kelompok (5 hingga 6 siswa) tidak merata. Lalu bagaimana pelajarannya? Kelas integrasi ini lebih menekankan pada kegiatan praktik, bukan materi teori. Untuk benang merah pengikat dibuatkan tema tertentu. Kali ini tema yang disepakati adalah warna. Tema ditentukan sendiri oleh siswa dengan cara mengisi angket. Caranya, guru menebar angket berisi pilihan tema misalnya air, udara, plastik. Mirip Pemilu, siswa tinggal mencontreng! Guru menyiapkan kelasnya masing-masing, berdasar mata pelajaran, agar proses belajar menjadi aktif dan menyenangkan. Ada juga yang memilih lokasi di luar kelas. Setiap kelompok secara berputar (moving class) akan memasuki kelas mata pelajaran misalnya, kelas matematika, ba-

MENGGERUS pewarna alami. Kerja kelompok melatih tenggang rasa.

66

hasa, seni, IPA, IPS, hingga PKN. Di kelas Bahasa Inggris mereka bermain mengelompok-kan nama benda-benda berda-sarkan warnanya. Pada kelas Seni mereka membuat warna- warna dari bahan-bahan alami seperti dari daun suji, kunyit, maupun arang. Di kelas IPS dan PKN siswa intregrasi sibuk mewarnai gambar orang yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Wali murid Bersih-bersih Sekolah Sekolah akan berkembang maju bila semua warga sekolah terlibat secara aktif untuk saling membantu. Pihak sekolah dan orangtua harus memiliki visi sama, sebab semua memiliki tanggung jawab bersama untuk mengarahkan anak-anak. Orangtua adalah bagian terpenting dalam proses pendidikan karakter anak. Di SD Insan Teladan wali murid dan guru saling bertemu dalam program parenting. Melalui forum ini ditemukan keselarasan antara pembinaan di rumah dengan sistem pendidikan di sekolah. Bukan bermaksud membual, wali murid di sekolah ini mempunyai tanggung jawab dan peran yang luar biasa. Barangkali ini semacam imbal balik alami. Di sekolah yang didirikan Institute of Sathya Sai Education Indonesia (ISSEI) dan Yayasan Nur Illahi pada 2004 ini, wali murid tidak dipungut biaya pendidikan sepeserpun, meski putra mereka mendapat makan siang setiap hari. Oleh karena itu wali murid jadi ringan tangan, bersedia membersihkan sekolah, menata kebun sekolah, dan memasak secara bergantian.

67

Berikut kesaksian warga sekolah dan sekitarnya berkaitan dengan keberadaan SD Insan Teladan Bogor.
“Sejak anak saya sekolah di Insan Teladan, perilakunya berubah. Tadinya dewi itu malas kalau disuruh dan sering membantah. Tapi sekarang dia jadi rajin, punya tanggung jawab, dan hormat sama orangtua.” Mung Orangtua Dewi Safitri “Walaupun hanya seorang pedagang tanaman saya sangat bangga, anak saya dapat bersekolah di Insan Teladan. Anak saya mempunyai semangat belajar dan ingin mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Ia ingin jadi guru.” Marta Orangtua murid Yunifa “Kami merasa terbantu dengan kehadiran sekolah ini. Karena itu kami juga merasa bertanggung jawab terhadap kebersihan sekolah, kegiatan memasak di dapur, dan membina kepribadian anak.” Nemi Ketua Komite sekolah “Sekolah ini benar-benar telah merubah (mengubah.red) cara berfikir masyarakat di lingkungan sekitar sini. Sebelumnya tidak terfikirkan oleh kami untuk nyekolahkan anak sampai tinggi.” Ahmad Ketua RW 05 Desa Kalisuren “Pendidikan itu untuk dibagi-bagikan bukan untuk diperjualbelikan. Untuk itulah maka kami tidak memungut biaya dari siswa. Dengan demikian kita mengharapkan anak-anak ini nantinya menjadi pemimpin yang peduli, tidak mementingkan diri sendiri, tapi lebih mengutamakan lingkungan dan negaranya” Pritam Kishordas Direktur ISSEI

68

69

70

Telepon Subuh Keteladanan jauh lebih berpengaruh ketimbang sanksi atau ancaman. Banyak orang sependapat dengan ungkapan itu, namun sayang tidak banyak yang bertekad melaksanakannya. Krisis kepemimpinan, ketidakpercayaan publik, sampai kenakalan remaja, kalau dirunut berawal dari minimnya suri tauladan ini. Tetapi keteladanan memang gampang dilisankan, sebaliknya sungguh berat untuk diterapkan. Apalagi bila faktor lingkungan tidak mendukung. Maka harus ada dorongan kuat dan kesadaran diri yang tinggi bila ingin mewujudkannya. Dari Surabaya, ada satu contoh konkret bagaimana keteladanan diterapkan oleh para pengasuh sekolah. Sekolah Dasar Al-Hikmah Surabaya mengembangkan pendidikan karakter antara lain dengan pendekatan keteladanan. Logikanya sederhana: bila guru dan orangtua memberi contoh yang baik, maka anak-anak Insya Allah akan mengikuti. Sebaliknya, seperti dongeng fabel klasik, bila induk kepiting berjalan miring maka otomatis anak-anaknya ikut miring. Di sekolah yang berlokasi di Jl Kebonsari Tengah No 10

71

Surabaya ini, bel masuk kelas secara formal berbunyi pukul 07.10 WIB, tanda dimulainya pelajaran jam pertama. Namun sesungguhnya secara nonformal proses pembelajaran telah berlangsung beberapa jam sebelum itu, sekitar pukul 04.00 WIB, ketika adzan Subuh belum berkumandang. Di sekolah ini ada program yang bernama Subuh Call atau telepon Subuh. Ini berarti, pada jam segitu, wali kelas SD Al Hikmah sudah bangun dan sibuk memulai proses pendidikan pembiasaan: menelepon siswa-siswanya untuk bangun dan bergegas mendirikan Salat Subuh. Sekilas menelepon adalah pekerjaan ringan, tetapi Subuh Call yang sudah didesain menjadi program sekolah tentu tidak segampang itu. Perlu perencanaan, koordinasi, pengawasan, hingga evaluasi secara berkesinambungan. Kegiatan ini juga melibatkan siswa- siswa lain dengan cara melakukan telepon berantai. Dengan cara itu akan terdeteksi siapa yang aktif dan siapa pula yang masih sering melepas kewajiban salatnya. Pada awal program ini diluncurkan, sekitar tahun 2002, tidak semua orangtua langsung menerima. Beberapa walimu-

72

rid mengaku kurang nyaman bila pagi-pagi teleponnya sudah berteriak. Bahkan ada yang terang-terangan berkomentar bahwa Subuh Call itu melanggar wilayah privacy. “Subuhan itu kan sudah urusan rumah, mengapa sekolah masih ikut campur?” ujarnya. Namun melalui pembinaan dan komunikasi intens, dan terbukti membawa hasil nyata, wali murid akhirnya memahami bahkan berbalik mendukung program tersebut. Seusai halo Subuh, saat siswa masih di rumah, proses pembiasaan berperilaku baik pun berlanjut. Siswa wajib melakukan berbagai aktivitas terpuji seperti merapikan tempat tidur hingga berpamitan kepada orangtua, salim sambil mencium tangan. Ada 17 butir pembiasaan yang diharapkan dikembangkan wali murid di rumah dan 16 butir pembiasaan yang dikontrol wali kelas di sekolah. Kegiatan pembiasaan ini dipantau dengan menggunakan panduan Buku Penghubung. Orangtua maupun wali kelas tinggal memberi tanda ceklist, bilamana anakanak melakukan perbuatan baik. Buku penghubung ini juga berisi pesan guru ke orangtua

73

atau sebaliknya. “Maaf Bu, di kelas tadi Ananda berjanji mulai hari ini akan selalu menggosok gigi sebelum tidur. Mohon diingatkan lagi, terima kasih,” demikian contoh pesan wali kelas di buku itu. Sesampai siswa di gerbang sekolah, keteladanan guru kembali diperlihatkan. Setiap siswa disambut jabat tangan dan sapaan ramah oleh 10 guru di selasar depan. Konsekuensi dari “prosesi” ini adalah guru tidak boleh terlambat. Mereka harus sudah berjajar di gerbang sebelum siswa pertama menginjakkan kaki di halaman sekolah. Bukan hanya guru, kepala sekolah pun tidak terkecuali. Bukankah keteladan seyogyanya datang dari pucuk pimpinan? “Lho, Bapak Kepala Sekolah kok pagi-pagi sudah ada di sini?” celetuk Nina, seorang siswa, suatu saat. Sungguh, datang pagi di sekolah bukan perkara mudah. Sebab ada sederet alasan “rasional” siap dilontarkan, mulai dari jalanan macet, kendaraan mogok, urusan keluarga mendadak, dan banyak lagi. “Ya..awal-awalnya memang berat. Tetapi ini komitmen yang harus diwujudkan bersama. Tapi lama-lama jadi terbiasa,” kata Bapak Anwar, Kepala SD Al Hikmah Surabaya, yang rutin stanby menyalami anak didiknya. Moral Nomor Satu Bila sempat berjalan-jalan di lingkungan sekolah ini, kita akan menemukan slogan (teks line) di beberapa tempat yang berbunyi Berbudi dan Berprestasi. Rupanya itulah acuan kiprah sekolah. Di era sekarang ini tidak banyak sekolah yang berani menaruh budi pekerti di depan kata berprestasi, sebab bertentangan dengan cara berfikir orang-orang “modern” yang

74

lebih memilih mengejar prestasi daripada menyempurnakan budi pekerti. Tanpa mengesampingkan prestasi akademis, pendidikan karakter menjadi tujuan pokok sekolah ini. Anak-anak dibimbing menjadi disiplin, jujur, mandiri, taat beribadah, hormat dan patuh pada orangtua, bertanggung jawab, berbudaya bersih, senang membaca, berkomunikasi santun, dan mencintai Al Quran. Strategi utamanya melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dan di rumah. Pembiasaan di sekolah, setara dengan empat jam pelajaran per hari dikemas dalam beberapa kegiatan. Sedangkan pembiasaan di rumah dilakukan oleh orangtua melalui panduan Buku Penghubung. Oleh karena itu pada jam pertama pelajaran, sekolah rutin menjalankan program Bina Karakter. Sekitar 20 menit guru memberi nasihat, taushiyah singkat, mendoakan kawan yang sakit sebagai wujud empati kepada sesama, mendiskusikan mengapa masih ada yang terlambat salat atau lupa mengerjakan tugas, dilanjutkan bersama-sama menghitung infak yang didapat pagi itu, Dari sekian butir akhlak yang dikembangkan program Bina Karakter, ada satu yang mendapat penekanan khusus yaitu soal kejujuran. Kejujuran harus digenggam teguh di manapun dan kapanpun, karena keberhasilan bila diraih tanpa kejujuran pada hakikatnya adalah kegagalan. Mencontek pada saat ulangan adalah perbuatan tercela, maka guru langsung tegas bertindak. Pada musim Ujian Nasional 2009, siswa dan pihak pemangku sekolah bersepakat untuk tetap jujur pada pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Manfaat pembia-

75

saan jujur dalam menghadapi ulangan adalah tumbuhnya budaya belajar yang tinggi pada diri anak, sehingga mampu memetik nilai UASBN yang memuaskan. Penghargaan dari semua kerja keras itu, siswa kelas VI mendapat anugerah Al Hikmah Honesty Award dari Yayasan sekolah. Bila sikap jujur sudah terpatri, perilaku anak jadi berbeda. Pernah terjadi, pada saat UASBN 2009, ada oknum pengawas —yang mungkin berniat baik— membantu seorang siswa. “Yang itu salah Mbak, yang betul yang ini,” katanya sembari menuding lembar jawaban siswa. “Tidak Bu…, saya yakin jawaban saya benar,” jawab siswi itu bersikukuh. Sangat mungkin jawaban bantuan dari pengawas itu yang benar, namun siswa yang satu ini agaknya juga menemukan kebenaran yang lebih tinggi yaitu bahwa kejujuran dan keyakinan diri mempunyai nilai tersendiri. Sekolah Bebas Sampah Sejak berdiri pada 1990, SD Al Hikmah menempatkan budaya bersih dan sehat sebagai prioritas. Pembiasaan hidup bersih, sehat dan bugar melalui olahraga, dan optimalisasi peran UKS merupakan pilar utama untuk mencapai cita-cita itu. Buah konkret dari komitmen itu, pada tahun 1996 sekolah ini dinobatkan sebagai juara nasional lomba lingkungan sekolah sehat. Pembiasaan hidup bersih dimulai dari bersih diri seperti berpakaian bersih dan rapi, membiasakan anak menggosok gigi, memotong rambut hingga rapi, memotong kuku setiap Jumat, dan berwudhu sebelum tidur. Untuk anak kelas I dan II, sekolah menyediakan seorang pembimbing khusus untuk membimbing anak-anak pada saat ke toilet (toilet training).

76

Pembiasaan hidup bersih juga dilakukan dengan cara merapikan dan membersihkan kelas sebelum dan sesudah pelajaran dimulai, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum makan, menyiram toilet, dan membuang sisa makanan pada tempatnya. Sekolah juga menyediakan kamar mandi dan perlengkapan mandi. Tempat ini disediakan bagi siswi yang akan melakukan “mandi besar”. Jika ada siswi yang masa haidnya selesai di jam sekolah, maka wali kelas mengarahkan dia untuk segera melakukan mandi besar dan melaksanakan salat wajib. Untuk mendukung suksesnya pola hidup bersih, sekolah menggalakkan program Jumat Bersih. Setiap Jumat guru bersama anak membersihkan kelas dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan pola hidup sehat dimulai dari kegiatan olahraga. Untuk mengukur kebugaran siswa, secara berkala sekolah melakukan uji kebugaran dengan treadmill.

PEMERIKSAAN gigi sebagai salah satu bentuk pendidikan hidup sehat.

77

Ala Bisa Karena Biasa Jam di dinding kelas menunjukkan pukul 11.30 WIB. “Baiklah anak-anak, mari kita bersiap-siap melaksanakan salat zuhur,” kata Bapak Suprayitno. Anak-anak segera berbaris dan bergerak menuju masjid. Sebelum berwudhu mereka melepas sepatu dan menaruh di rak dengan tertib dan rapi. Sekolah menjadikan aktivitas menaruh dan mengambil sepatu dengan tertib dan rapi ini sebagai pendidikan tanggung jawab. Demikian pula aktivitas berwudhu, salat berjamaah dengan tertib merupakan bentuk tanggung jawab anak pada Allah SWT. Ala bisa, karena biasa, itulah peribahasa lama yang diterapkan dalam pendidikan karakter di sini. Siswa bisa bertanggung jawab, manakala dibiasakan untuk bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Saat berwudhu, ada sejumlah anggota Tim Penegak Disiplin Sekolah (TPDS) yang bertugas menjaga ketertiban dan mengecek kesempurnaan wudhu. Dialog berikut ini sering didengar saat anak-anak berwudhu: “Ayo, diulangi membasuh tangannya…, tuh sikutnya masih garing (kering)”. Usai mendirikan salat zuhur anak-anak makan siang bersama. Selain bimbingan adab dan tata cara makan, anak-anak diberi tanggung jawab untuk membuang sisa makanan dan sampah pada tempatnya, serta mengembalikan peralatan makan pada tempatnya. Sementara itu untuk memupuk karakter tanggung jawab juga dapat dilakukan melalui kegiatan berkebun, Children’s Garden begitu anak-anak menyebutnya. Setiap anak diberi tanggung jawab untuk merawat tanaman masing-masing. Untuk meningkatkan intensitas pembiasaan ini, sekolah bekerja sama dengan orangtua. Beberapa tanggung jawab anak

78

yang hendaknya dikembangkan di rumah antara lain memakai dan melepas pakaian sendiri, menaruh tas dan sepatu pada tempatnya, dan merapikan tempat tidur sendiri. Cerdas dengan Membaca Membangun gedung dan fasilitas sekolah boleh berhenti sementara waktu, tetapi kita tidak boleh berhenti membeli buku. Itulah tekad pengurus yayasan untuk mendukung budaya membaca anak-anak. Kini program ini sangat dirasakan buahnya. Setiap hari sekitar 2000 eksemplar buku siap dipinjam dan dibaca 1156 siswa. Perpustakaan melayani peminjaman buku hingga pukul 17.00. Pada tahun 2008 pemerintah menetapkan perpustakaan sekolah ini sebagai perpustakaan terbaik tingkat nasional. Lalu bagaimana sekolah ini menumbuhkan minat baca siswanya? Ada beberapa program. Pertama, jam perpustakaan dua jam perminggu. Tujuan program ini adalah agar siswa tahu tata cara mencari, meminjam, dan mengembalikan buku, memahami klasifikasi buku, sekaligus memotivasi siswa untuk gemar ke perpustakaan. Kedua, program membaca yang bertujuan agar siswa tertarik dan terbiasa untuk membaca buku. Ketiga, program Aku Membaca, Aku Menulis diniatkan untuk melatih siswa memahami isi buku serta pelajaran. mengungkapkan kembali secara tertulis. Untuk mewadahi tulisan anakanak sekolah menerbitkan majalah AHA. Keempat, program bercerita yang bertujuan agar anak mampu mengungkapkan secara lisan apa yang sudah dibaca dan ditulis. Hal ini juga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi anak-anak. Untuk meningkatkan layanan dan minat baca anak, perpustakaan selalu memajang buku-buku baru setiap hari Kamis,

79

memberikan hadiah kepada anak dengan minat baca tertinggi di setiap akhir semester. Melengkapi upaya di atas, guru membuat daftar minat baca siswa yang di pampang di kelas, dan diisi setiap hari oleh anak-anak. Tidak berhenti sampai di sini, budaya membaca, menulis, dan berbicara juga dikembangkan melalui kegiatan tematik. Setelah anak menyelesaikan satu tema mereka akan membuat produk berupa rangkuman, kerajinan tangan, atau dalam bentuk karya lainnya. Mereka lalu mempresentasikan karyanya di hadapan teman sekelasnya dalam bentuk General Assembly. Satu lagi upaya mendidik anak menjadi cerdas yaitu presentasi tugas akhir. Saat duduk di kelas VI, siswa wajib menyusun tugas akhir. Bentuknya membuat karya alat dan karya tulis sederhana. Contoh karya alat antara lain miniatur lift, roket sederhana, kereta listrik, atau alat pendeteksi logam. Sedang deskripsi singkat dan cara kerja karya alat itu dituangkan menjadi karya tulis sederhana. Dengan menggunakan program komputer power point, anak-anak berpresentasi di hadapan orangtua, teman sekelas, dan beberapa orang guru. Presentasi itu juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab. Kreatif Kompetitif Menghadapi dunia global yang kian kompetitif, dibutuhkan SDM yang berdaya saing dan kreatif. Untuk itu maka kreativitas mutlak dikembangkan semenjak dini. Kegiatan melukis merupakan salah satu ajang untuk mengangkat daya kreatif siswa. Di sinilah olah cipta, rasa, dan karsa dikembangkan. Setiap siswa kelas V wajib memamerkan minimal dua lukisan. Pada saat pameran berlangsung, pelukis-pelukis cilik itu dengan sigap menjelaskan maksud dari lukisannya, bahan yang digunakan,

80

MENGGELAR pameran lukisan. Bila laku, harus mau berbagi.

proses pembuatan, modal yang digunakan, sekaligus harga jualnya. Lukisan yang dipamerkan selama tiga hari itu dapat dibeli pengunjung, utamanya wali murid. Dari hasil penjualan ini ditentukan aturan sebagai berikut: lima persen untuk panitia yang juga terdiri dari siswa, 2,5 persen untuk infak kegiatan sosial, dan 82,5 persen menjadi hak pelukis. Jadi selain memupuk kreativitas anak, pameran ini juga diarahkan untuk menumbuhkan rasa peduli kepada sesama. Pengembangan kreativitas juga dapat dikembangkan melalui kegiatan lain. Setiap akhir semester sekolah ini juga menampilkan berbagai macam atraksi dan kreasi anak misalnya teater, parade puisi, hingga seni beladiri. Demikian pula untuk memupuk rasa peduli, setiap awal tahun atau semester anak-anak memberikan bantuan biaya

81

pendidikan kepada mereka yang membutuhkan. Dana ini merupakan akumulasi hasil infak yang dikumpulkan anak setiap pagi. Ada lagi kegiatan pasar sekolah atau Business Day. Lewat program ini siswa merencanakan apa yang akan dijual, berapa modal yang dibutuhkan, hingga perkiraan laba yang akan diraih. Pembelinya adalah semua warga sekolah, termasuk sebagian orangtua. Banyak pembelajaran yang dikembangkan di antaranya menanamkan pengertian konsep jual beli, penjumlahan, pengurangan, keterampilan berkomunikasi, termasuk mengenal ragam produk khas dan makanan daerah. Kejujuran dalam bertransaksi dan kreativitas mencari kiat agar dagangan laris manis, juga ikut terasah. Tema yang diusung dalam pasar sekolah kali ini adalah Jujur Bisnisku, Berkah Rezekiku.
WALI murid berkesempatan menguji tugas akhir siswa.

82

Membangun Segitiga Emas Jika dicermati hampir 60% hingga 70% waktu anak adalah bersama orangtuanya. Ini berarti kesempatan orangtua jauh lebih besar daripada guru. Apalagi secara alamiah orangtua memiliki hubungan emosional yang kuat dengan anak sejak mereka lahir. Untuk itu keterlibatan orangtua sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, terutama dalam hal pembentukan karakter. Setiap tahun ajaran baru, sekolah ini membuat komitmen bersama orangtua. Mereka hadir di sekolah untuk mendengar dan sharing tentang apa yang akan dicapai selama satu semester, bagaimana mencapainya, serta apa peran orangtua dalam program tersebut. Pada tahap kedua, diadakan kontrak belajar. Setiap anak bersama kedua orangtuanya wajib hadir di kelas bertemu dengan wali kelasnya. Anak diminta menulis target yang akan dicapai serta rencana usaha yang bakal dilakukan untuk mencapai target tersebut. Lalu wali murid menulis komitmen apa saja yang akan dilakukan untuk mendukung target anaknya. Tidak ketinggalan wali kelas juga akan menuliskan komitmennya. Format kontrak belajar itu ditandatangani oleh ketiga pihak. Lembar asli dibawa oleh anak dan orangtua sedangkan salinannya disimpan wali kelas. Itulah rangkaian aktivitas untuk membentuk komitmen orangtua dalam pendidikan karakter. Berikutnya wali kelas akan berkomunikasi dengan wali murid melalui buku penghubung. Sarana komunikasi lain yang dilakukan wali kelas adalah berkunjung ke rumah siswa (home visit). Dalam satu tahun ajaran, setiap anak minimal pernah dikunjungi satu kali. Kun-

83

WALI kelas mengunjungi rumah siswa. Menyambung hati sambil mengurai kendala siswa.

jungan ini selain untuk mempererat hubungan juga dimanfaatkan untuk mendiskusikan pencapaian target kontrak belajar, kendala yang dihadapi, dan mencari solusi bersama. Ada satu aturan yang harus ditaati: Selama home visit wali kelas dilarang menerima hadiah apapun dari wali murid! Sekolah menyadari bahwa latar belakang, pengetahuan, dan pengalaman wali murid berbeda-beda. Untuk itu maka diadakanlah pembinaan wali murid berupa parenting skill class. Kegiatan ini berguna untuk menyamakan pemahaman wali murid dengan pengelola sekolah. Pembinaan ini juga membekali wali murid keterampilan praktis mendidik anak. Dengan adanya kesamaan antara, orangtua, dan guru, maka akan terjadi efektivitas dalam pembentukan karakter anak. Sinergi tiga pihak yaitu murid, orangtua, dan guru ini biasa disebut dengan “segi tiga emas”.

84

Apa Kata Mereka
“Jujur adalah sifat yang sudah saya rasakan dari anak saya, sudah bisa membedakan yang baik dan buruk karena Allah, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan shalat.” Nana Roesdiyana Orangtua ananda Adam Emir Rosyando Syah “Enam anak kami dididik di SD Al Hikmah, karena ada garansi anak menjadi berakhlak, tanpa mengabaikan prestasi akademik. Di sini pendidikan akhlaknya aplikatif, bukan teoritik. Guru mengawal langsung amaliah siswa, ibadah, muamalah, maupun akhlak sehari-harinya.” Misbahul Huda Orangtua ananda Fauzan Zaid “Pada tahun 2000 kami memutuskan untuk menyekolahkan tiga anak kami di Al Hikmah. Kini anak kami tumbuh dengan mental dan karakter yang sangat baik dan matang. Kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kerja keras. sudah terbentuk dan makin baik. Bangun malam untuk shalat tahajud, belajar, mengaji, puasa sunnah Senin-Kamis, santun kepada guru dan orangtua, peduli dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Ini semua atas kerja keras dan doa semua gurunya.” Keppy Damayanti Orangtua ananda Kunde

85

86

87

88

P

endidikan akademik dan pendidikan karakter adalah dua pilar yang tidak bisa dipisahkan, oleh karena itu pendidikan karakter ditanamkan secara terintegrasi ke dalam setiap pembelajaran. Demikian sikap yang diyakini Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 115 Jakarta. Hal ini juga sejalan dengan UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengamanatkan pendidikan berkarakter pula. Menyadari begitu besar peranan pendidikan karakter, maka sekolah yang beralamat Jl. K.H. Abdullah Syafei Tebet Jakarta Selatan ini berupaya menanamkan dan mengembangkan pendidikan karakter yang kuat dengan memberikan keleluasaan bagi peserta didik untuk berani mengambil inisiatif dengan tetap menekankan rasa tanggung jawab. Berikut ini beberapa kegiatan yang berkait dengan pengembangan karakter tersebut. Pembinaan Wali Kelas Jam pertama sekolah adalah waktu yang terbagus dibanding jam-jam sekolah lainnya. Pada saat itu siswa —juga guru— kondisi fisiknya masih bugar dan mentalnya siap menangkap pelajaran. Demikian strategisnya jam pertama itu, maka SMPN

89

115 Jakarta memanfaatkannya untuk menanamkan ha-hal yang juga strategis. Jam pertama di sekolah ini tidak serta merta langsung masuk pelajaran inti. Awal pagi itu dimulai dengan acara pembinaan oleh wali kelas. “Anak-anak, pada pertemuan yang lalu kita telah bersamasama membahas pentingnya budaya senyum, sekarang akan kita bahas pentingnya disiplin diri. Tepat waktu adalah salah satu contoh disiplin diri. Jika kalian tidak membiasakan dari sekarang, maka akan menjadi kebiasaan yang amat buruk dan berdampak pada kehidupan kalian kelak,” kata Ibu Wisma, Wali kelas IX – 9. Kegiatan Pembinaan Wali Kelas ini dialokasikan dalam jadwal rutin harian jam pertama kegiatan belajar mengajar. Harapannya, pembinaan dan pembiasaan ini bisa lebih melekat dan menjadi karakter pada diri peserta didik. Kegiatan ini diselenggarakan dengan melibatkan wali kelas dan guru lainnya sebagai narasumber. Adapun tema yang diusung setiap pagi bervariasi, misalnya ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cinta tanah air, bela negara, budaya salam, hormat pada guru, disiplin diri, dan lain-lain. Dalam kegiatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk berdialog secara terbuka mengungkapkan hal-hal atau ide ide sehingga mereka merasa bebas dalam berekspresi dan berkreasi. Peduli Sampah Bila jam istirahat tiba, terlihat pemandangan unik di sekolah ini. Sejumlah siswa keluar meninggalkan ruang kelas, sebagian menuju ke kantin dan sebagian lain langsung menuju lapangan untuk bermain. Terlihat mereka keluar sambil menenteng kantung kresek hitam. Isinya sekumpulan sampah. Tas plastik itu berfungsi sebagai tempat penampungan sementara.

90

Menjelang pulang, siswa bergegas memilah-milah sampah yang mereka kumpulkan sewaktu istirahat. Siswa akan membuang sampah pada tong sampah yang telah bertuliskan jenisjenis sampah. Dengan kesadaran mereka akan membuang sampah sesuai jenis-jenis sampah. Pemandangan di atas merupakan wujud konkret dari pembiasaan budaya hidup bersih. Dengan cara ini diharapkan peserta didik terbiasa dengan kebersihan, hidup sehat dengan lingkungan yang asri dan menyenangkan. Melalui pembiasaan ini, kepada peserta didik ditanamkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar sekaligus bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan. Mengajak hidup bersih tidaklah mudah, sebab ini menyangkut masalah perilaku budaya. Butuh waktu dan penyesuaian serta kesabaran yang tinggi dalam penegakan pendidikan karakter yang satu ini. Mula-mula memang harus melalui paksaan, tetapi paksaan tersebut lama-lama akan menjadi suatu kebiasaan. Asalkan konsisten, progam ini akan banyak manfaatnya baik bagi peserta didik maupun lingkungan. Kotak Peduli Sosial Bencana alam yang kerap menimpa negeri ini, tak urung mengakibatkan kerugian dan penderitaan para warga. Banjir yang sering melanda di berbagai daerah, kebakaran yang tidak mengenal toleransi, ataupun bencana bencana lainnya dapat menggugah empati kita terhadap warga yang mengalami musibah itu. Salah satu bentuk kepedulian peserta didik terhadap situasi seperti itu biasanya dengan pembiasaan membuka Kotak Peduli Sosial. Jika mendengar ada bencana alam, maka sudah menjadi tradisi warga SMPN 115 segera memberikan bantuan.

91

Jenis bantuan biasanya bersifat situasional. Meskipun tidak ada bencana, kotak peduli sosial tetap dibuka. Guru secara rutin menginformasikan kepada peserta didik tentang jenis barang yang bisa disumbangkan sesuai tema yang ditentukan sebelumnya, misalnya minggu ini berkaitan dengan buku, minggu depan pakaian layak pakai atau lainnya. Dengan demikian, begitu terbetik kabar ada bencana alam mendadak di suatu tempat, maka bantuan itu sudah siap untuk diluncurkan ke lokasi bencana. Kotak Peduli Sosial ini merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter yang penekannya kepada olah hati. Peserta didik diajak lebih peka terhadap lingkungan sekitar, mengembangkan tenggang rasa dan empati terhadap penderitaan sesama. Kantung Barang Temuan Bermula dari banyaknya siswa yang mengeluh kehilangan barang. Mulai dari yang kecil-kecil seperti alat-alat tulis, topi,

92

dasi, kaus, baju, uang, hingga telepon seluler. Malah kadang sepatu juga hilang. Bagaimana anak ini, sepatu bisa hilang? Kalau terus-terusan menampung keluhan anak, bagian Bimbingan Konseling (BK) capai juga. Maka muncullah ide membuat kantung atau kotak barang temuan atau lost and found. Barang siapa menemukan barang tertentu, maka diminta kesadarannya untuk memasukkan ke tempat tersebut. Ada tiga kantung hijau yang ditempatkan di tiga titik strategis yaitu di ruang piket, di dekat ruang guru, dan di ruang BK. Siswa yang menemukan barang diminta mengisi buku khusus yang berisi catatan tentang siapa menemukan apa dan kapan. Kiat sederhana tersebut ternyata cukup efektif. Jumlah keluhan jadi berkurang. Banyak pemilik barang menemukan kembali harta bendanya. Begitu menemukan barangnya, si pemilik barang juga perlu menuliskan pengakuan atau semacam konfirmasi bahwa barang tersebut telah diambil pemiliknya. Contoh: Nama Herman, tgl 12 Januari 2010 pukul 11.00, sudah

93

mengambil dasi. Toni, siswa kelas VIII-6, bingung mondar-mandir mengelilingi kelasnya. Kotak pensilnya raib. “Tadi waktu istirahat aku sempat bawa keluar kelas tapi setelah itu aku lupa naruhnya,” katanya. Teman dekatnya ikut mencari dan menanyakan kepada teman lainnya. Tapi tidak ketemu juga. “Kalo gitu kita cek saja di kotak lost and found,” kata Iwan. Benar, di sana terlihat ada kotak pensil merah miliknya. “Tuh benar kan, ada teman kita yang menemukan dan mengembalikannya,” kata Iwan. Sisi positif dari program ini adalah munculnya perasaan pada diri siswa, bahwa barangnya yang hilang kemungkinan besar dapat ditemukan kembali. Sedang bagi yang menemukan dia telah belajar “ilmu mahal” yaitu mengembalikan segala sesuatu yang bukan haknya. Inilah pelajaran dasar antikorupsi yang perlu dikenal siswa semenjak dini. Kotak temuan juga mampu memupuk kejujuran dan tanggung jawab pribadi. Tetapi ada perkembangan menarik. Biasanya kalau yang hilang itu kaus olah raga, baju atau benda lainnya, sang pemilik cenderung tak peduli. Barang temuan itu lalu menumpuk lama. Daripada membuat pemandangan yang tidak sedap, barangbarang itu dicuci kemudian dikumpulkan lalu dimasukkan ke Kotak Peduli Siswa. Manakala barang sudah menumpuk banyak, siswa bersama guru BK mengirimkannya ke panti asuhan atau ke korban bencana. Kegiatan sosial menyerahkan sumbangan itu dapat membangkitkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain dan memunculkan rasa bersyukur, “ternyata saya sangat beruntung masih diberi orangtua berkecukupan”. Sementara jika yang masuk kantung barang temuan itu be-

94

rupa uang, dan pemiliknya tidak juga mengambil, maka dicarikan jalan pintas yang bijak, “Sudah sana, masukin kotak amal masjid sekolah..!” Semua warga sekolah sepakat dengan solusi itu. Kegiatan-kegiatan sosial yang sering diselenggarakan sekolah ternyata membawa dampak nyata terhadap perilaku dan kesadaran siswa. Mereka jadi punya empati yang tinggi dan peduli. Dalam kesehariannya di sekolahpun anak-anak menjadi baik dan sopan kepada guru, karyawan, bahkan kepada sesama teman. Beberapa wali murid mengaku, bahagia dan bersyukur atas perubahan perilaku anak-anaknya yang kini menjadi lebih mengerti kondisi orangtuanya. Begitu pula pada saat di sekolah, terutama di kantin kejujuran, di mana siswa bebas mengambil makanan, kemudian membayar sesuai harganya. Jika ada siswa yang kedapatan akan berbuat curang, maka temannya mengingatkan, “Hei jangan begitu, perbuatan kamu itu dosa, seberapa sih keuntungan dari jualan itu?” Teguran kecil dari teman seperti itu kadang lebih merasuk ke hati, sehingga muncul kesadaran untuk tidak mengulangi perbuatan tercela lagi. Slogan Motivasi Jika kita sempat berkeliling di arena sekolah SMPN 115 Jakarta, pasti akan menjumpai aneka slogan (labeling) yang bergelantungan di sepanjang koridor, terpampang di pojokan majalah dinding, di sekitar tangga, dan beberapa tempat lainnya. Slogan yang dituliskan di atas playwood itu berisikan kata-kata bijak, slogan, atau pesan moral yang tujuannya untuk memotivasi warga sekolah, khususnya para peserta didik agar

95

tergerak untuk berkreasi atau bertindak positif. Kata-kata mutiara atau ungkapan bijak memang bukanlah kalimat biasa. Dia merupakan “ekstrak” dari pengalaman mendalam ataupun buah perenungan penciptanya, oleh karena itu wajar jika memiliki daya sentuh kepada membacanya. Ambil misal ungkapan, kegagalan adalah sukses yang tertunda, budayakan tepat waktu, tiada hari tanpa prestasi, marilah biasakan 4S (senyum, sapa, sopan, dan serasi). Labeling ini juga berfungsi untuk mengingatkan warga sekolah untuk senantiasa melakukan hal-hal yang lebih baik. Misalnya “ Sudah Senyumkah Anda!” Ungkapan ini akan membuat kita selalu tampil ramah, bersahabat, tidak memperlihatkan tabiat sombong. Izin Keluar Kelas Kegiatan belajar yang baik tentu membutuhkan kondisi lingkungan yang kondusif serta dukungan dari semua komponen pembelajar baik guru maupun peserta didik. Seringnya siswa minta izin meninggalkan ruangan kelas, bahkan kadang ramairamai, dapat menyebabkan pecahnya konsentrasi dan mengacaukan proses pembelajaran. Untuk menyikapi problem ini maka dibuatlah aturan khusus yang disebut Izin Keluar Kelas (IKK). IKK adalah sejenis name

96

tag yang dikalungkan di leher, yang berfungsi untuk legalisasi bagi peserta didik ketika meninggalkan ruang kelasnya. Setiap kelas diberi jatah IKK hanya dua buah. Ini artinya sekolah membatasi untuk izin keluar kelas maksimal dua orang (tentu tetap ada sedikit perkecualian manakala ada halhal yang bersifat khusus). Jika dijumpai ada seorang siswa ada yang hilir-mudik di luar kelas tanpa berkalung IKK, maka guru piket akan menegurnya. Dengan pembiasaan IKK ini diharapkan peserta didik memiliki disiplin diri yang kuat dengan penuh rasa tanggung jawab. Pengenalan Profesi Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, oleh karena ini SMPN 115 Jakarta ini memiliki program rutin mengundang “guru” dari luar untuk berbagi ilmu. Narasumber itu bisa berasal dari wali murid atau orang-orang profesional. Acara ini di-

PENGENALAN profesi. Siswa mendapat contoh nyata perilaku orang sukses.

97

kemas dalam program Pengenalan Profesi. Berbagai profesi dihadirkan di kelas, mulai dokter, polisi, pramugari, pilot, pelukis, perajin, pengusaha, sampai sekretaris. Mereka menyampaikan materi sesuai dengan profesi yang digelutinya. Misalnya ayah dari salah satu peserta didik adalah seorang polisi, maka dia menyampaikan seputar profesinya sebagai polisi. Mulai dari disiplinnya, tata tertibnya, ataupun kondisi di lapangan lainnya. Yang membuat suasana jadi menarik adalah nara sumber tersebut mengenakan pakaian seragam layaknya saat dia sedang bertugas. Dalam kesempatan pengenalan profesi itu siswa berkesempatan bertanya jawab mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan profesi atau pekerjaan nara sumber. Seperti, “apa suka dukanya menjadi dokter?” atau “bagaimana caranya agar bisa menjadi pengusaha sukses Bapak seperti sekarang?” Pengenalan profesi ini penting diinformasikan sejak dini agar siswa memiliki gambaran konkret tentang masa depan, peluang pekerjaan, dan mendapat inspirasi sesuai profesi yang diimpikan. Cerita-cerita narasumber tentang susah payahnya menggapai sukses, akan memberi pemahaman kepada siswa pentingnya keuletan dan bekerja keras dalam hidup. Sikap dan perilaku narasumber yang tampil juga akan memberi ilham buat siswa untuk bertindak serupa bila kelak ingin menjadi sosok seperti itu. Kegiatan ini selain bertujuan menambah wawasan siswa (olah pikir), juga menginspirasikan kepada siswa hal-hal yang harus diteladani jika ingin mencapai cita-cita. Siswa bisa meneladani karakter polisi yang selalu mengedepankan kedisiplinan, meneladani karakter dokter yang ulet, seorang ustad yang jujur atau yang lainnya. Dengan menghadirkan contoh kongkret

98

tersebut, diharapkan siswa dapat mengembangkan karakter karakter positif. Kreatif dan Mandiri Kreatif dan mandiri juga perlu ditanamkan ke dalam pribadi siswa. Sebab dua hal tersebut sangat berguna bagi kesuksesan hidupnya kelak. Kreativitas sangat dibutuhkan di saat persaingan kehidupan sudah demikian ketat. Hanya orang-orang kreatif yang mampu melihat peluang dan sisi lain yang tidak dilihat orang kebanyakan. Hanya orang yang berkepribadian mandiri yang tidak terlalu risau saat menghadapi ulangan atau menghadapi sempitnya lowongan pekerjaan. Pribadi mandiri tidak suka bersandar kepada orang lain, sebab mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari). Siswa yang kreatif dan mandiri hendaknya tidak hanya berkiprah di sekolah saja, sebaiknya dia juga menularkan kepada

99

sesama teman di lingkungan masyarakat tempat dia tinggal. Memberikan contoh kegiatan positif produktif seperti mengajak ramai-ramai mendaur ulang benda-benda bekas menjadi produk yang menarik dan berdaya jual tinggi. Seorang siswa bernama Joko melakukan hal seperti itu. Setiap hari sepulang sekolah, siswa ini menawarkan beberapa produk mie instan ke kantin dan sekitarnya dengan harga relatif murah dibanding toko biasa. Berkat keluwesannya dalam menawarkan barang dagangan, secara bertahap relasinya bertambah. Ada beberapa kantin yang menjadi pelanggannya, dengan begitu Joko mendapat tambahan uang jajan dan biaya untuk membeli alat-alat tulis. Setiap pulang sekolah Joko kulakan ke pusat grosir, paginya sambil bersekolah dia membawa barang pesanan itu ke kantin. Ada satu lagi contoh siswi kreatif dan mandiri. Andri setiap harinya membawa dagangan milik orangtuanya ke sekolah. Berbagai kue ditawarkan kepada teman-teman sekelasnya.
BERJUALAN di sekolah tak ada salahnya, asal tidak mengganggu tugas pokok siswa.

100

MEMBUAT poster, kegiatan kreatif menyebarkan kesadaran.

Awalnya bisnis itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dia takut kena tegur guru. “Temen-temen saya punya kue nih, ada yang mau beli? Kue ini buatan mama saya lho... enak...,” katanya mencoba menarik minat calon pembeli. Ternyata respon temannya positif. Dalam tempo singkat dagangan itu sudah ludes. Melihat perkembangan yang bagus tersebut dia makin bersemangat, apalagi guru BK mengizinkan kegiatan itu asal dengan syarat Andri tetap mengutamakan pelajarannya. Laba yang diperoleh itu digunakan untuk keperluan sehari-hari dan sebagian ditabung, sehingga dapat ikut meringankan beban ekonomi orangtuanya. Tindakan siswa ini menunjukkan bukti bahwa dia memiliki kreativitas dan inisiatif tinggi untuk menanggulangi kebutuhan sendiri. Ini layak ditiru oleh anak-anak seusianya karena anak tersebut memiliki pendirian lebih baik usaha sendiri daripada

101

meminta sama orang lain. Dengan memahami bahwa mencari uang itu tidaklah mudah, maka kita harus belajar mencari uang sejak dini, sehingga kelak tidak canggung atau kaget. Testimoni Wali Murid
“Setelah sekolah di SMPN 115, saya merasa si Djeri Oktafyan banyak perubahan sekarang. Dulunya anak saya bangunnya siang dan agak malas ke sekolah. Tapi sekarang bangunnya pagi-pagi, langsung mandi dan shalat subuh. Sepertinya dia tidak mau terlambat sampai sekolah.” Ny. Yani Wowiling Wali murid Djeri Oktafyan W

102

103

104

OUTBOUND bersama Kostrad TNI AD, menggembleng mental.

ermula dari Sekolah Laboratorium. Pada 12 Februari 1968 IKIP Jakarta mendirikan sekolah ini untuk praktik mengajar, penelitian, dan inovasi pendidikan, yang kemudian dikenal sebagai Laboratory School. Tahun 1972, misi tersebut dianggap selesai, lalu diubah menjadi Comprehensive School sebagai tempat pembinaan keterampilan (Proyek TPK) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 1974, sekolah ini menjadi sekolah PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) guna menguji coba ide-ide pendidikan untuk masukan bagi pembaharuan pendidikan nasional. Sekolah PPSP berlangsung hingga 1986. Seluruh sekolah PPSP dari jenjang SD hingga SMA, dijadikan sekolah negeri, , dan menyisakan TK yang tetap dikelola Yayasan Pembina IKIP . Atas permintaan masyarakat, pada 1992 Yayasan Pembina IKIP

B

105

Jakarta membuka SMP dan SMA. Tahun 1999, TK, SMP dan , SMA tersebut menggunakan nama Labschool. Labschool mengusung visi mencetak siswa yang beriman, berilmu, beramal, yang dituangkan dalam slogan “membentuk pribadi kreatif dan berprestasi”. Visi tersebut diwujudkan dalam sistem pendidikan yang komprehensif, yang memenuhi rumusan Unesco menyangkut empat pilar pendidikan, yakni belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi (learning to be). Pilar pendidikan tersebut sejalan dengan empat pilar karakter yakni olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa, serta olah hati. Semua pilar itu dirangkum dalam program pendidikan yang hangat, yang membuat para siswa memiliki kedekatan dengan seluruh pendidik. Mendorong Jujur dan Tanggung Jawab Suatu waktu, sekolah ini mendengar kabar tak sedap. Beberapa siswa dilaporkan tengah merokok di luar sekolah. Mendengar berita tersebut, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan memanggil mereka dan menanyakan apakah betul laporan tersebut. Tanpa harus didesak, mereka mengakui perbuatannya. Mereka mengakui itu bukan perbuatan yang baik, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Mereka tahu, sekolah menghargai kejujuran. Maka para siswa memilih untuk jujur meskipun harus menanggung sanksi bila berbuat salah. Penanaman kejujuran tersebut dibangun dengan landasan pendidikan spiritualitas yang didasarkan pada keyakinan pendidik bahwa siswa memiliki jiwa murni yang harus ditumbuhkembangkan dan diberi kepercayaan. Hal tersebut dimulai sejak pagi, saat pimpinan sekolah dan beberapa guru sudah siap di

106

gerbang menyambut mereka. Siswa sekolah ini datang dari berbagai daerah sekitar, termasuk dari Bogor dan Bekasi yang berasal dari berbagai lapis kalangan berbeda. Semua disambut secara sama. Labschool dianggap sebagai salah satu pelopor sekolah yang pimpinannya menyambut dan menyalami siswa setiap pagi. Suara sapaan Assalamualaikum atau Selamat Pagi menjadi nuansa sekolah ini semenjak awal berdiri. Begitu ‘jam sekolah’ mulai, siswa tak langsung berhadapan dengan pelajaran. Dibimbing guru, siswa muslim wajib tadarus atau membaca ayat Al-Quran lebih dahulu. Hal itu berlangsung rutin Senin hingga Kamis. Khusus Jumat, waktu diperpanjang 40 menit guna memperkuat hafalan siswa. Diharapkan siswa sudah harus hafal setidaknya Juz 30 Al-Quran selama masa pendidikan. Sementara itu siswa Nasrani berkumpul untuk mendapat bimbingan tersendiri. Hanya setelah pendalaman agama selama 15 menit itu dilakukan, penyampaian pelajaran dapat dilakukan. Pendidikan spiritualitas demikian dilanjutkan lagi saat zuhur. Begitu adzan berkumandang di masjid sekolah, Masjid Baitul Ilmi, guru dan siswa bergegas salat berjamaah. Guru akan bergantian menjadi imam salat. Sesudahnya, diadakan ceramah “kultum” selama 5-7 menit yang akan diisi siswa secara bergiliran setiap hari. Ini untuk melatih keberanian siswa tampil di publik, mengembangkan inspirasi, sekaligus untuk pendalaman keagamaan. Berbagai pendekatan tersebut menguatkan posisi Labschool sebagai sekolah umum yang kuat dalam pendekatan relijiusnya. Kantor Direktorat Pendidikan Agama Islam Dirjen Pendidikan Islam menyebut sebagai Sekolah Menengah Pertama berciri khas Islam. Seorang alumnus menyebut, kalau libur anak-anak

107

SMP Labschool suka main ke mal-mal. “Tapi anak-anak pasti menyempatkan salat kalau waktunya tiba”. Karakter itu disebutnya sebagai kelebihan sekolah ini. Labschool mengemban visi mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang bertakwa, berintegritas tinggi, memunyai daya juang yang kuat, mempunyai kepribadian yang utuh,

budi pekerti yang luhur, mandiri, serta memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Sekolah mendorong siswa untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab melalui berbagai kegiatan, di antaranya adalah pelatihan kepemimpinan, yang puncaknya adalah pelatihan melalui OSIS/MPK. Studi dan Apresiasi Kepemimpinan Siswa Indonesia yang

108

biasa disebut SAKSI merupakan program penting untuk melatih tanggung jawab dan kepemimpinan siswa. Program ini oleh Harian Media Indonesia edisi 21 Februari 2010 diberi judul Berlatih jadi pemimpin di bawah komando Kostrad. Melalui program ini pula pengurus digembleng menjadi pemimpin, setelah melalui proses seleksi yang ketat baik menyangkut pres-

tasi akademis, uji fisik dan kesehatan, seleksi mental, kemampuan retorika dan```` presentasi, serta berbagai uji lainnya. Dengan prosesnya yang ketat, menjadi pengurus OSIS/MPK merupakan kebanggaan bagi setiap siswa. Pengurus dibina secara intensif untuk menjadi teladan bagi rekannya. Setiap Jumat pagi, mereka sudah harus di sekolah

109

05.30 untuk lari bersama dan melatih kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama dan solidaritas. Mereka juga ditempa dengan Latihan Dasar Kepemimpinan dan Manajemen Siswa (LKMS) yang menghadirkan narasumber dari mantan-mantan aktivis kampus serta pembinaan fisik dari Kostrad TNI AD. Selain itu, pembinaan mental juga dilakukan melalui kegiatan pesantren atau retret untuk memperkuat pondasi spiritualitas mereka. Dengan berbagai pendekatan itu, sekolah ini mendidik siswa siap menjadi calon pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab. Dua sikap ini tecermin dalam perilaku sehari-hari siswa, seperti selalu menyampaikan pada guru piket juga menemukan barang atau uang, berterus terang saat mengakui kesalahan, serta siap menerima sanksi dengan senang hati bila melakukan pelanggaran. Mengasah Kecerdasan dan Kreativitas Pembelajaran di kelas merupakan salah satu aktivitas penting untuk mengasah kecerdasan siswa. Pembelajaran dilakukan dengan cara interaktif yang membuat siswa antusias untuk mengikutinya. Hubungan guru dan murid yang sangat dekat membantu proses belajar tersebut. Pengajaran menjadi tidak satu arah, namun berkembang secara diskusif. “Di Labschool enak, gurunya bisa diajak bercanda semua. Tapi kita tetap hormat...,” kata seorang siswa. Selain melalui pengajaran di kelas, beberapa kegiatan lain juga mempertajam olah pikir siswa. Di antara kegiatan itu adalah studi lapangan, pembuatan dan presentasi karya ilmiah, dan pembinaan kelompok siswa pencinta mata pelajaran. Kegiatan studi lapangan dilakukan di kelas VII dan VIII dalam bentuk kunjungan museum atau kunjungan industri, bahkan

110

"Labschool adalah sekolah yang menonjolkan proses pembelajaran interaktif serta praktik-praktik laboratorium, sehingga memberikan jaminan kepercayaan pada orangtua murid untuk mendidik putra-putri mereka agar menjadi insan yang bermakna bagi lingkungan, keluarga, dan bangsa. Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, sekolah ini telah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi generasi yang akan menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia. Dengan adanya suatu ciri khas proses pembelajaran yang berbeda, selaku salah satu orangtua murid Labschool saya berkeyakinan bahwa siswa-siswi hasil didikan sekolah ini akan dapat bersaing secara sehat di tengah-tengah perkembangan dunia yang semakin penuh dengan tantangan dewasa ini. Di samping itu, komitmen yang telah ditunjukkan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah ini tentu akan menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang kreatif, produktif, dan bermoral. Pada kesempatan baik ini, saya menyampaikan rasa bangga dan hormat kepada pimpinan dan para pengajar bahwa proses pembelajaran yang diterapkan memberikan suasana kekeluargaan sedemikian rupa, sehingga dapat meringankan beban pikiran orangtua di tengah-tengah perkembangan situasi yang dapat berpengaruh kepada sikap, perilaku, dan pola pikir generasi muda. Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu Orangtua dari Riano Patria Amanza

turun ke sawah. Kegiatan ini berupaya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman langsung dari objek pembelajaran yang berada di alam atau masyarakat. Teknik pembelajaran dari kegiatan ini adalah siswa melakukan observasi atau pengamatan lapangan sebagai aplikasi dari kegiatan penelitian sederhana. Hasil pengamatan lapangan dilaporkan dalam bentuk pembuatan displai dan makalah ilmiah yang dipresentasikan secara kelompok di kelas masing-masing.

111

Dari proses tersebut akan ditemukan kelompok terbaik dari masing-masing kelas. Langkah berikutnya, setiap kelompok terbaik itu mempresentasikan secara panel di hadapan seluruh siswa pada kelas paralel dengan mengundang narasumber yang berhubungan dengan tema yang diangkat oleh kelompok yang maju presentasi. Peraih juara mendapat reward pada saat upacara bendera. Kegiatan wajib yang harus dilakukan oleh siswa sebagai salah satu profil lulusan sekolah ini adalah pembuatan dan presentasi karya tulis ilmiah —siswa sering menyebutnya Kartul. Kartul harus ditempuh siswa kelas VIII. Kegiatan ini dimulai dengan membuat karya tulis ilmiah berdasarkan hasil studi pustaka, survei, wawancara, pengamatan, atau hasil penelitian. Untuk mengapresiasi karya tulis mereka, dilakukanlah sidang karya tulis yang dijadwalkan pada pertengahan semester II. Kegiatan olah pikir juga diorientasikan untuk membentuk

112

siswa berdaya saing tinggi. Mereka dibina dalam kelompok siswa Pencinta Mata Pelajaran. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti berbagai jenis lomba. Siswa pecinta matematika masuk dalam wadah Go Team (Go to The Champion Olympiad Mathematic). Siswa yang berbakat fisika dikelompokkan dalam Pot Labs (Physic Olympiad Training Labschool), dan siswa siswa penggemar biologi pasti bangga bergabung dengan Bio Pro (Biology Programe for Olympiad). Labschool berhasil mengirim siswanya pada International Junior Science Olympiad tingkat Nasional dan juara dalam Olimpiade Sains dan Matematika tingkat Nasional, International World Youth Mathematics Intercity Competition, International Mathematics Competition, dan lain-lain. Olah pikir yang berorientasi pada pengembangan kreativitas dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Terdapat 33 jenis ekskul yang dapat dipilih siswa di sekolah ini. Untuk mendapat gambaran tentang potensi minat, bakat, dan kreativitas dengan jenis ekskul yang cocok, di awal kelas VII siswa mengikuti tes psikologi minat dan bakat dengan pendekatan multiple inteligence. Pada saat kenaikan kelas nilai ekskul dijadikan salah satu syarat kenaikan kelas. Untuk memamerkan hasil pembinaan ekskul, pada minggu pertama awal tahun pelajaran siswa menggelar Ekspo Ekstrakurikuler. Mereka membuka stan, demo, atau atraksi. Selain itu juga mengadakan Pentas seni dan mengisi acara pada berbagai kegiatan seperti seminar, menyambut tamu, upacara, penerimaan siswa baru, dan pelulusan siswa. Antusiasme, tanggung jawab, dan totalitas seringkali ditunjukkan oleh siswa pada saat mereka tampil dalam acara-acara tersebut. Untuk mengapresiasi minat, bakat, dan kreativitas sis-

113

wa diadakan pentas seni dan pembuatan majalah sekolah (majalah Gema). Pentas seni menampilkan atraksi seni dari berbagai jenis ekskul, seni/budaya nasional, dan atraksi dari sekolah-sekolah lain yang diundang. Kegiatan yang memerlukan dana cukup besar ini mendidik siswa secara mandiri untuk memiliki jiwa kewirausahaan. Panitia pelaksana yang semuanya siswa (sementara guru hanya panitia pengarah), berupaya untuk menyukseskan acara dengan mengatur kepanitiaan layaknya sebagai event organizer (EO), menyebar proposal ke berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta untuk mencari sponsor atau donatur. Kemampuan komunikasi sangat menentukan keberhasilan menggandeng sponsor untuk kegiatan tersebut. Pembuatan majalah sekolah selain mengimplementasikan potensi siswa di bidang jurnalistik, juga menanamkan nilai-nilai interpreneur kepada siswa khususnya redaktur majalah, karena untuk pencetakan, distribusi dan penjualan majalah memerlukan seni tersendiri supaya majalah tersebut tetap eksis dan diminati. Majalah Gema terbit dua edisi dalam satu tahun dan 90% isi dari majalah adalah karya siswa. Guna menumbuhkan minat dan bakat dilakukan juga dengan mendatangkan tokoh karir yang sukses. Kegiatan ini lazim dikenal dengan Career Day. Membiasakan Bersih dan Sehat Sesuai dengan posisinya, bersih merupakan salah satu wajah Labschool. Hal ini dikaitkan pula dengan nilai-nilai spiritualitas, dengan menekankan “kebersihan merupakan sebagian dari iman”. Dalam menekankan soal kebersihan, guru bertindak aktif memberikan teladan.

114

Kebersihan sekolah bukan hanya merupakan tanggung jawab petugas kebersihan. Bila mendapati sampah, guru akan langsung mengambilnya dan itu menjadi teladan bagi seluruh siswa, sehingga hidup bersih merupakan nilai-nilai yang diaplikasikan oleh seluruh keluarga Labschool. Selain itu guru juga memberi teladan dalam hidup sehat termasuk dalam berolah raga. Setiap Jumat, guru dan pegawai sekolah ramai-ramai bersama siswa lari pagi keluar kompleks sekolah. Ini kegiatan terpisah, di luar pelajaran olah raga. Suasana kebersamaan dan menghibur ditekankan dalam kegiatan tersebut. Setiap minggu keempat diadakan pertandingan olahraga, di antaranya sepakbola. Pertandingan dilakukan baik antarkelas, antarangkatan, maupun dengan guru serta pegawai sekolah. Ada juga program Lari Lintas Juang sejauh 12 km yang melibatkan orangtua siswa. Kegiatan ini dilakukan berkait dengan pelantikan pengurus OSIS/MPK. OSIS/MPK juga aktif menyelenggarakan even olahraga. Setiap tahun mereka menggelar pesta olah raga dengan mengundang sekolah lain di wilayah Jakarta dengan nama In Labs. Penyelenggara kegiatan adalah siswa sendiri, termasuk dalam

115

penggalangan dananya. Sekolah hanya bertindak sebagai pembimbing dan pengawas. Menumbuhkan Jiwa Peduli dan Gotong Royong Salah satu tantangan yang dihadapi sekolah di metropolis Jakarta adalah bagaimana mendidik siswa yang kehidupan sehari-harinya diselimuti iklim budaya hedonis, materialistis, dan individualistis. Sekolah berupaya untuk meminimalisasi hal tersebut dengan berbagai kegiatan. Kegiatan menumbuhkembangkan kesadaran dan kepekaan sosial terhadap sesama dikenal dengan Labscare (Labschool Student Social Care). Labscare wajib dilakukan minimal 20 jam selama mereka menjadi siswa, dapat dilaksanakan secara individu atau kelompok di lingkungan tempat tinggal siswa, tempat ibadah, atau tempat-tempat yang memungkinkan mereka dapat melakukan kegiatan sosial. Mengajar pramuka di sekolah asal, menjadi “guru cilik” di

116

“Sekolah adalah ruang formal di luar aspek lingkungan sosial dan keluarga yang mengemban tugas menumbuhkembangkan akal budi siswa-siswi. Akal budi akan tumbuh bila aspek sains, estetika, teknologi dan etika ditumbuhkembangkan di berbagai kegiatan sehari-hari di sekolah, dan dari ruang kelas dan berbagai ekstrakurikuler. Sebutlah dengan berorganisasi siswa melatih diri bermasyarakat dan mengelola daya hidup keutamaan berbangsa (disiplin, respek, kritis). Dengan berkesenian, lingkungan, dan melatih berbagai penciptaan membaca lingkungan dan ruang yang bersahaja untuk tumbuh kembang tubuh dan pikiran serta rasa. Sementara dengan aktivitas teknologi dan sains, daya penemuan dikembangkan. Dan dengan aktivitas sosial, maka daya rasa kemanusiaan ditumbuhkan. Sebagai orangtua murid, saya merasakan Labschool memberi ruang pilihan bagi pengembangan akal budi. Sebuah pengembangan yang hanya bisa dilakukan dengan kecintaan guru-guru dan pendiri kepada pendidikan dan keindahan pertumbuhan siswa-siswi. Pada yang terakhir ini, sesungguhnya modal sosial terbesar Labschool untuk mengemban daya tumbuh akal budi.” Garin Nugroho, Budayawan Wali murid Adinda Fudia Hanamichi

sekolah, membereskan sajadah di masjid selesai salat Jumat, kerja bakti di lingkungan RT, RW, atau kelurahan, membantu menyiapkan buka puasa bersama, sampai membersihkan makam merupakan contoh kegiatan yang akrab dilakukan siswa. Sebagai tanda bukti telah melakukan kegiatan, setiap siswa memiliki buku Labscare yang harus ditandatangani/paraf/dicap oleh orang yang berwenang di tempat kegiatan berlangsung. “Terima kasih Pak atas kegiatan Labscarenya, karena anak saya ternyata dapat menghibur anak-anak di panti asuhan dengan mendongeng dan mengajar menggambar,” kata seorang Ibu kepada wakil kepala sekolah bidang akademik. Selain dalam bentuk Labscare, pengurus OSIS dan MPK setiap Jumat mengumpulkan dana (infak Jumat) dari uang saku siswa. Menjelang akhir masa kepengurusannya selain me-

117

ngumpulkan uang mereka juga mengumpulkan pakaian pantas pakai, alat tulis, dan berbagai kebutuhan sekolah. Dana dan barang yang terkumpul disalurkan kepada siswa yang kurang mampu, sekolah, panti asuhan, panti jompo, dan sekolah singgah. Kegiatan ini dikenal dengan teman asuh. Suatu saat, guru BK melaporkan ada orangtua siswa dari salah satu SMA Negeri unggulan Jakarta Timur datang ke sekolah dan berterima kasih karena anaknya dapat melanjutkan sekolah dengan biaya uang pangkal dan SPP bulanan sampai kelas XII ditanggung oleh salah satu orangtua siswa melalui kegiatan teman asuh ini. Pendidikan karakter di sekolah tidak semata-mata dilakukan oleh guru dan siswa, tetapi peranan orangtua siswa juga tak kalah penting. Untuk meningkatkan peran serta orangtua dalam pembentukan karakter maka setahun sekali sekolah mengadakan kegiatan Orangtua Berbagi Wawasan (Parent’s Day). Kegiatan ini ditargetkan untuk mendekatkan hubungan orangtua dengan sekolah dan orangtua dengan siswa di sekolah. Kegiatan dimulai dengan olahraga pagi bersama, yaitu lari pagi

118

dan senam, dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah istirahat, di setiap kelas, tampil satu atau lebih orangtua menjadi guru. Mereka berbagi pengalaman sesuai dengan latar belakang pendidikan atau profesi orang yang bersangkutan. Kegiatan ini sangat menarik karena orangtua dapat merasakan tugas dan peran guru di kelas dan juga dapat memberikan informasi (materi pelajaran) yang sesuai dengan bidang keahliannya sehingga lebih pas dipahami siswa. (*)

119

120

121

122

GEMAR meneliti, ciri utama calon ilmuwan.

Sesampai di rumah, seorang pelajar memasuki pintu rumah, dengan wajah ceria memanggil ibunya. Di tangannya sebuah piala digenggam erat. "Bu, aku menang lomba hari ini. Terima kasih, Ibu memberiku dukungan!,'" katanya sambil memeluk sang ibu. "Ya. Puji Tuhan. Terima kasih juga kepada Bapak dan Ibu guru di sekolahmu!'" jawab ibunya tersenyum bangga. Tetangga seberang rumah yang kebetulan sedang mengandung, melihat dengan haru. Dia membayangkan anaknya kelak akan bertabiat seperti pelajar itu.

emang orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas karakter putra-putri mereka. Termasuk di dalamnya, memilih sekolah yang tepat. Hal itu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dalam rangka membentuk seorang pribadi yang baik. Begitu pula dengan SMAK 1 PENABUR Jakarta. Sekolah yang terletak di Jalan Tanjung Duren Raya No. 4 Jakarta Barat ini terkenal dengan banyaknya jumlah siswa yang

M

123

meraih juara dalam berbagai bidang. Mereka bahkan meraih berbagai medali di tingkat internasional. Walaupun begitu, pendidikan karakter siswa tetap menjadi perhatian. Seluruh kegiatan dikemas sedemikian rupa dengan harapan dapat membentuk pribadi yang berkarakter. Sambut Pagi dengan 3S Pagi hari sebelum pukul 06.30, sekolah sudah bersiap menyambut warganya dengan memperdengarkan lagu-lagu yang membangkitkan semangat untuk menjalani hari itu. Di pintu masuk semua orang dapat melihat Pojok Budaya, di mana berbagai budaya daerah Indonesia ditampilkan. Dengan Pojok Budaya —yang setiap bulannya diperbarui— ini diharapkan siswa dapat mengenal dan merasa memiliki budaya negaranya. Tepat di pintu masuk sekolah dua guru petugas menyalami siapa saja datang. Senyum, Sapa, dan Santun (3S) dari guru yang bertugas mendorong siswa untuk juga menyapa dan tersenyum kepada teman-temannya. Sebelum memulai semua aktivitas, seluruh warga sekolah menyediakan waktu sejenak untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan, dipimpin oleh siswa atau guru secara bergantian. Dengan harapan, agar seluruh kegiatan berjalan dengan lancar. Doa dan ucapan syukur dilaksanakan pula setelah seluruh aktivitas selesai dilakukan. Semua harus selalu ingat akan satu

124

hal mendasar: Bahwa tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Pendidikan karakter sederhana pun dilanjutkan. Setelah renungan, sebelum memulai pelajaran, semua siswa memberi salam kepada guru. Salam dilakukan sebelum dan sesudah pelajaran. Karena dalam satu hari ada sembilan jam pelajaran, sesering itu pula siswa memberi salam. Mungkin sekilas tampak sepele, tapi siswa SMA jadi terbiasa memberi hormat kepada orang lain, termasuk orangtuanya. Dalam setiap proses pembelajaran, guru selalu berusaha menyisipkan atau menghubungkan materi pelajaran dengan nilai-nilai hidup luhur sehari-hari. Pada saat istirahat, di mana siswa bisa makan, ngobrol, dan berinteraksi satu sama lain, sekolah juga memberikan batasan dan aturan demi kebaikan mereka sendiri. Salah satu tata tertib sekolah yang diterapkan dengan tegas adalah para siswa dilarang keras berpacaran di sekolah! Hal ini penting agar siswa dapat konsentrasi pada proses belajar. Guru-guru bimbingan konseling di sini sering mengingatkan, masa di SMA adalah masa yang paling baik untuk bergaul dengan banyak orang. Maka jika siswa berpacaran, dengan sendirinya lingkup pergaulannya mereka menjadi terbatas. Pada dasarnya, sekolah tidak melarang siswa memiliki pacar atau teman spesial. Tapi aktivitas berpacaran, seperti berpegangan tangan, berduaan, atau bermesraan, tidak diperbolehkan di lingkungan sekolah. Hal ini diatur secara eksplisit dalam Pasal 20 Tata Tertib Siswa yang melarang siswa melakukan aktivitas berpacaran atau bermesraan di lingkungan sekolah apalagi melakukan kontak fisik. Dengan adanya tata tertib ini, siswa dan guru bisa langsung

125

menegur siswa yang kelihatannya mulai menunjukkan aktivitas berpacaran. Ketika ada indikasi seperti itu, kadang guru atau teman segera mengingatkan: "Awas, pasal 20!" BiMOS bukan ajang kekerasan. asanya mereka dapat menerima teguran itu dan mengubah perilakunya. Sedangkan di luar sekolah bukanlah tanggung jawab sekolah, tapi tanggung jawab orangtua dan siswa itu sendiri. Namun jika guru melihat prestasi belajar siswa menurun gara-gara berpacaran, maka guru segera memberi pembinaan. Tata Tertib sekolah juga mengatur penampilan siswa, mulai dari cara berpakaian, tata rambut, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Tong sampah diletakkan pada tempat-tempat yang mudah dijangkau supaya siswa gampang membuang sampah. Tata Tertib wajib dipatuhi. Tidak ada alasan untuk melanggar karena sudah disosialisasi sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di sekolah ini. Ya, pengenalan tata tertib sekolah dimulai sejak dini. Pertama memasuki lingkungan sekolah, seluruh siswa kelas X harus mengikuti masa orientasi siswa (MOS). Masa di mana mereka mulai mengenal lebih jauh tentang sekolah barunya. Kegiatan MOS merupakan sarana sosialisasi dan interaksi antara sekolah dengan siswanya. Diawali dengan pengenalan visi dan misi sekolah. Visi sekolah adalah mewujudkan sumber daya manusia berkualitas unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta

126

peduli terhadap sesama berdasarkan nilai-nilai hidup Kristiani. Sedangkan misinya yang menonjol adalah menyiapkan calon inventor/ilmuwan masa depan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kreatif, inovatif, mandiri dan proaktif serta mempunyai landasan iman yang teguh. Tidak ada kekerasan pada saat MOS, malahan kakak-kakak kelas sering memberi tips bagaimana kiat belajar. Yang pasti kegiatan berkelompok selama MOS, membuat siswa saling mengenal, menjadi akrab, dan dapat bekerja sama dengan baik. Setelah MOS, di awal tahun pelajaran, siswa baru dan guru berkumpul untuk kebaktian dan upacara bersama, dilanjutkan dengan berkenalan dengan guru dan tenaga kependidikan lainnya. Upacara bendera rutin dilakukan sebulan sekali guna memupuk rasa cinta kepada bangsa. Rasa cinta negara ini terbukti terus berkembang bahkan setelah mereka lulus. Sangat banyak lulusan SMAK 1 PENABUR Jakarta yang melanjutkan studi ke luar negeri, namun tatkala musim liburan mau berbagi pengalaman di almamaternya. Bahkan ada yang rela mengajar di kelas untuk materi-materi tertentu yang mereka kuasai. Alumni itu masih suka bertandang ke sekolah dan berbincang dengan gurunya. Mereka bercerita di negara tempat mereka kuliah ada komunitas mahasiswa Indonesia. Mereka bisa saling menghibur ketika rindu kampung halaman. Mereka juga berusaha menampilkan seni budaya Indonesia di kampus mereka. Waktu terjadi bencana gempa di Padang, mereka berusaha menggalang dana di kampus untuk korban bencana tersebut. Setiap siswa harus memilih satu kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini harus diikuti sekali dalam seminggu selama satu

127

tahun pelajaran. Sedikitnya ada 28 pilihan ekstrakurikuler di sekolah ini, mulai dari berbagai olah raga hingga seni pertunjukan modern dan tradisional. Ada juga ekskul bahasa (Mandarin, Jepang, dan Korea), igo, aikido, desain web dan grafis, club robotic, fotografi, Youth Christian Community, PMR, paskibra, hingga kerajinan tangan. Pilihan berarti tanggung jawab. Oleh karena itu siswa harus hadir pada kelas ekstrakurikuler yang dipilihnya.

Adu Kreativitas Setiap siswa di SMAK 1 PENABUR Jakarta belajar banyak hal. Berbagai kegiatan dijalani mulai dari kelas X sampai kelas XII. Pelajaran muatan lokal (mulok) contohnya. Kegiatan pembelajaran ini difokuskan pada pemunculan ide-ide kreatif tentang pemberdayaan lingkungan dan hasilnya akan dipamerkan pada hari Kreativitas. Pada hari itu seluruh siswa menampilkan karya kreasi dan inovasi terbaiknya.

128

Lihat, siswa kelas X memamerkan karya berbasis barang bekas, di antaranya boneka cantik, tas, lampu tidur, akuarium, dan lain-lain. Sementara di ruangan lain siswa kelas XI menampilkan hasil penelitian karya ilmiah. Ada yang melaporkan hasil penelitian tentang proses perkembangbiakan bakteri pada suhu yang berbeda, ada pula yang membuat detektor erupsi gunung berapi dan banyak lagi lainnya. Semua siswa dan wali murid mengunjungi pameran

di hari Kreativitas tersebut. Di situ terjadi suasana belajar, berbagi dan berapresiasi. ‘Character Building’ Ala Marinir Selain Hari Kreativitas dan Perayaan Paskah, seluruh kegiatan bermuatan pendidikan karakter dilaksanakan pada semester ganjil. Pada waktu yang bersamaan, siswa kelas X mengikuti character building, kelas XI retret, dan kelas XII mengadakan

129

karya wisata. Dua tahun lalu, siswa kelas X mengikuti Live-in di Sukabumi. Mereka tinggal di rumah penduduk desa dan mengikuti seluruh kegiatan warga setempat selama tiga hari. Dengan kegiatan itu beberapa siswa mengaku menemukan kesadaran baru bahwa ternyata sulit juga jadi orang desa. Petani dan buruh tani harus bekerja MENANAM mangrove, peduli lingkungan. keras di sawah berlumpur. Program ini mendidik siswa jadi belajar bertanggung jawab serta menghargai orang lain. Di sana peserta live-in juga berbagi pengetahuan kepada anak-anak desa. Mereka datang ke sekolah yang sangat sederhana dan bersemangat membantu guru-guru mengajar. Diajar kakak kelas seperti itu boleh jadi justru membantu adikadik kecil itu lebih mengingat pelajaran. Akan tetapi tahun ini siswa kelas X tidak pergi Live-in. Mereka mengikuti Character Building dengan bimbingan Marinir. Di Markas Marinir di Cilandak mental mereka dibentuk dengan tata cara prajurit. Hasilnya siswa menjadi lebih tangguh (be

130

tough), disiplin, bertanggung jawab dan menghargai orang lain, serta kerja sama. Lain halnya dengan siswa kelas XI. Mereka mengikuti retret. Mereka mengikuti berbagai sesi yang banyak mengajarkan hidup yang baik dan benar terhadap sesama manusia dan di hadapan Tuhan. Pada kesempatan itu mereka diingatkan lagi akan nilai-nilai luhur yang dikenal di lingkungan PENABUR sebagai N2K atau Nilai-nilai Kristiani: Nilai diri berdasarkan Kristus, pengendalian diri dan kedisiplinan, keberanian, kejujuran, kerendahan hati, cinta kasih, kepedulian, kesetiaan dan tanggung jawab, kebaikan hati, damai, kebijaksanaan, dan keadilan. Keinginan untuk melakukan hal yang buruk sering mengalahkan yang baik. Untuk itu, solusi yang tepat adalah memohon kekuatan dari Tuhan untuk dapat melawan keinginan yang tidak baik.

MENJELAJAH alam membentuk pribadi tangguh.

131

Karya wisata adalah kegiatan untuk kelas XII. Siswa disertai beberapa guru mengunjungi beberapa pabrik dan industri perumahan di wilayah Jakarta, Bogor, dan Bandung. Di tempattempat tersebut banyak pelajaran yang dapat dipetik, mulai dari penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah hingga bagaimana cara hidup masyarakat yang berhubungan dengan industri tersebut. Mereka juga mengunjungi pusat budaya Sunda Saung Mang Ujo di Bandung. Sungguh suatu karya yang mulia mengembangkan seni budaya tradisional sambil mengembangkan masyarakat sekitar. Selain ketiga kegiatan yang dilaksakanan berbarengan itu, masih banyak kegiatan lain yang mengasah kepedulian sosial seperti, kunjungan ke panti asuhan/werdha, menyantuni penjaga lintasan kereta api atau penyapu jalan. Selain itu juga ada bakti sosial seperti buka puasa bersama, pembagian sembako, membantu korban gempa, donor darah, sunatan massal, peduli lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, dan go green. Acara yang disebut paling akhir ini adalah kegiatan menanam 3.000 pohon bakau di kawasan pantai oleh siswa, guru, dan orangtua. Tujuannya adalah membantu menyelamatkan pantai dan bumi. Ada lagi satu kegiatan simpatik guna melatih siswa peduli sesama (share with society). Namanya program Sahabat Masa Depan. Dalam program ini siswa secara sukarela menentukan sendiri besar sumbangan yang akan diberikan setiap bulannya. Sumbangan itu bertujuan untuk membantu biaya sekolah adikadik asuh yang berada di kantung-kantung daerah miskin seperti Kebumen, Sukabumi, Gunung Kidul, dan sebagian wilayah DKI Jakarta sendiri. Jumlah sumbangan tidak ditentukan

132

besarnya. Yang penting konstan jumlahnya dan siswa harus disiplin membayar sesuai dengan janjinya, sebab hal itu berkait dengan kelangsungan sekolah adik-adik asuh mereka. Kiprah Mendunia Untuk mengasah kemampuan siswa dalam mata pelajaran dan menyiapkan mereka agar mampu berkiprah mendunia (excel world-wide) sekolah juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pendukung. Ketika siswa duduk di kelas XI mereka mengikuti Science Camp. Pada perkemahan sains itu siswa kelas IPA belajar melihat penerapan teori dan rumus-rumus fisika, matematika, kimia, dan biologi dalam kehidupan sehari-hari. Di perkemahan lain siswa kelas IPS belajar penerapan ilmuilmu sosial dalam masyarakat. Mengasyikkan dan cukup menantang. Masih berkait dengan sains, sekolah juga mengadakan peMENGEMBANGKAN olah pikir secara maksimal berbuah prestasi gemilang.

133

ngayaan untuk siswa yang berminat mengikuti olimpiade sains. Kegiatan ini disebut Science Club. Peserta klub ini harus berkomitmen untuk selalu hadir pada waktu pelatihan dan bersedia diikutsertakan lomba. Banyak piala berhasil diraih oleh peserta klub sains ini. Setiap tahunnya tidak sedikit prestasi yang dihasilkan siswa SMAK 1 PENABUR Jakarta, baik untuk kegiatan akademis dan nonakademis. Prestasi tersebut diperoleh mulai dari tingkat provinsi, nasional, dan internasional. Setiap tahun ada saja medali kompetisi internasional yang diraih. Pada 2009 sekolah ini mengirimkan tujuh siswa untuk membawa nama bangsa Indonesia berlaga di olimpiade internasional seperti IPhO (International Physics Olympiad), IMO (International Mathematics Olympiad), IChO (International Chemistry Olympiad), IBO (International Biology Olympiad), dan IOI (International Olympiad in Informatics). Dari ketujuh siswa tersebut enam orang di antaranya berhasil memboyong medali. Tahun-tahun sebelumnya juga banyak siswa yang maju di

134

ajang internasional dan memperoleh prestasi. Prestasi dalam bidang Astronomi diperoleh pada 2008 (International Olympiad in Astronomy and Astrophysics - IOAA). Bahkan pada 2006, Jonathan Pradana Mailoa berhasil mengharumkan nama bangsa dengan keberhasilannya memperoleh medali emas dan Absolute Winner pada Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) 2006 di Singapura. Selain prestasi internasional dalam bidang akademis, SMAK 1 PENABUR Jakarta juga berpengalaman mengikuti kompetisi Paduan Suara se-Asia dan berhasil memperoleh medali perak. Di SMAK 1 PENABUR juga ada program Tutorial. Beberapa siswa menjadi tutor bagi teman-temannya. Ketentuan untuk menjadi tutor tidak harus peserta olimpiade tetapi siapa saja yang berminat dan mendapat referensi dari guru. Peserta tutorial adalah siapa saja siswa yang merasa perlu penjelasan mengenai materi-materi tambahan tersebut. Di sini terjadi kegiatan berbagi pengetahuan (sharing knowledge) dalam suasana saling berbagi dan menghargai. Banyak siswa yang mau jadi tutor karena mereka akan mendapat surat rekomendasi dari sekolah. Kelak surat itu akan mereka gunakan sebagai referensi memasuki perguruan tinggi. Untuk menambah cakrawala wawasan setiap tahun sekolah ini mengadakan program study tour ke Singapura. Dengan kunjungan ini siswa diperkenalkan cara belajar dan cara hidup di luar negeri. Para siswa disertai guru mengunjungi beberapa universitas kenamaan di Singapura. Karena tidak murah, kegiatan ini tidak diwajibkan kepada semua siswa. Dalam kesempatan tersebut siswa juga dipahamkan bahwa universitas di luar negeri memang kelihatannya baik, tapi uni-

135

versitas di dalam negeri juga sudah banyak yang bermutu. Siswa diharapkan mampu memilih perguruan tinggi yang paling tepat untuknya sehingga dapat menjadi orang sukses dan bijaksana, serta berguna bagi kemajuan bangsa Indonesia. Jumpa Motivator Inventor Sekolah PENABUR juga menyelenggarakan seminar untuk seluruh siswa. Hal ini penting karena guru bukan satu-satunya sumber belajar. Masing-masing tingkat mengikuti seminar yang berbeda. Untuk siswa kelas X, dihadirkan seorang motivator andal guna membantu memompa semangat belajar dan berkreasi. Siswa kelas XI dapat bertemu langsung dengan ilmuwan/ inventor. Pada kesempatan ini sekolah mengundang inventor yang memang sudah memiliki hak paten untuk temuannya. Dari para ilmuwan ini siswa belajar bagaimana sang inventor membuat temuannya dan mendapat hak paten untuk itu. Sementara itu siswa kelas XII berkesempatan bertemu dengan beberapa alumni yang sudah menjadi pengusaha atau orang yang sudah berhasil di bidangnya. Hal ini akan memotivasi siswa karena mereka dapat melihat contoh konkret seseorang yang pernah bersekolah di tempat yang sama dengan mereka kini telah menjadi “orang”. Demokratis dan Jujur Bukan hanya menghargai tetapi juga dihargai. Itulah yang dipelajari siswa di sekolah. Ketika siswa merasa perlu memberikan usul atau saran kepada sekolah, ada sarana khusus tersedia. Selain menyampaikan saran melalui pengurus OSIS, ada juga sarana Forum Komunikasi setiap akhir semester. Dalam

136

forum ini siswa berkumpul dalam suatu pertemuan bersama kepala sekolah dan wakilnya. Tidak ada guru yang hadir, sehingga siswa merasa leluasa curhat, menyampaikan saran dan kritiknya terhadap sekolah. Ini dilakukan memang demi kemajuan sekolah. Sedangkan untuk meningkatkan kejujuran siswa, sekolah sengaja membuka Koperasi Kejujuran berupa kantin. Kantin ini dikelola pengurus OSIS dan dipantau guru. Kantin ini menyediakan berbagai alat tulis. Di kantin ini tersedia kotak uang terdiri dari beberapa sekat: ada sekat uang recehan Rp. 500,- , Rp. 1.000,-, Rp. 2.000,-, dan Rp. 5.000,- atau lebih. Transaksi jual beli terjadi secara swalayan. Pembeli tinggal mengambil barang yang dibutuhkan lalu mencemplungkan uangnya ke kotak sesuai dengan pecahannya dan boleh mengambil sendiri kembaliannya. Modal awal kantin Rp. 2,5 juta, berasal dari uang OSIS. Sejumlah Rp.1,35 juta digunakan untuk membeli etalase dan sisanya untuk membeli barang dagangan. Harga barang yang

137

dijual di kantin sangat kompetitif, semua harganya di bawah harga toko di luar sekolah. Petugas dari OSIS berbelanja sebulan sekali ke toko grosir dengan harga yang sangat murah. Mereka juga secara bergantian memeriksa barang keluar dan uang masuk setiap harinya. Kali pertama kantin kejujuran dibuka, pada awal-awal tahun pelajaran lalu, beberapa kali terjadi kerugian tetapi kadang juga ada uang berlebih. Kemungkinan ada siswa yang hari sebelumnya tidak membawa uang lalu membayar di hari kemudian. Yang jelas, belakangan ini uang masuk sudah sesuai dengan barang yang keluar. Bahkan kantin kejujuran ini sudah mendatangkan keuntungan yang dapat dipakai untuk menambah modal penjualan setiap bulannya. Jalinan Orangtua - Sekolah Peranan orangtua dalam mendidik anak juga perlu diperhatikan. Sering orangtua terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan putra-putrinya. Hal ini kadang mengakibatkan rengWALIMURID sangat berperan dalam mendukung suksesnya pembinaan karakter siswa.

138

gangnya hubungan antara orangtua dengan sekolah. Untuk mengantisipasi hal itu sekolah menyediakan wadah sebagai sarana komunikasi antara sekolah dan orangtua serta antara orangtua dengan orangtua lainnya. Dengan berdiskusi dengan orangtua lainnya, sering masalah-masalah dapat dipecahkan dengan lebih mudah. Wadah ini disebut Parent Cell Group. Orangtua juga dapat mengikuti career club di mana perguruan tinggi dapat memperkenalkan jurusan-jurusan yang paling diminati di masa mendatang. Career Club diselenggarakan di luar jam sekolah sehingga tidak mengganggu jam pelajaran. Demikianlah pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan SMAK 1 PENABUR Jakarta. Diharapkan akan lahir lulusan yang berkualitas unggul dalam iman, ilmu, dan pelayanan, serta memiliki BEST character. BEST (Be tough, Excel world-wide, Share with society, Trust in God) yang berarti tangguh, mendunia, berbagi dengan sesama, dan percaya pada Tuhan. Tuhan memberkati. Kesaksian-kesaksian
"Menurut saya, karakter anak-anak SMAK 1 PENABUR baik. Kalau ada yang nakal, ditegur sekali saja mereka sudah menurut, tidak pernah membantah. Mereka sopan, dan suka menegur-sapa kepada saya. Rahma Sekuriti lobi "Mereka rajin, sopan, suka menyapa, tidak sombong, dan tidak mudah menyerah." Eva Petugas kebersihan "Ketika mengerjakan soal-soal, mereka tidak macam-macam

139

kepada pengawas, selama ujian mereka tidak pernah melanggar tata tertib. Mereka sopan dan memperlakukan guru pengawas dari luar sama dengan guru mereka sendiri. Suryani Pengawas UN dari SMA BHK "Sikap anak-anak SMAK 1 PENABUR Jakarta sangat baik. Mereka sangat baik, sopan. Kalau ada yang ulang tahun atau acara lain, mereka selalu menawarkan makanan ke kita di sini (para penjaga kantin), 'Mbak, mau kue gak?" Ribka Pengelola kantin "Sejak masuk SMUKIE, kita belajar bertanggung jawab. Walaupun liburan, kita berbiasa bagi waktu untuk main dan belajar. Hal itu membuat kita tidak stres, tetapi tugas-tugas tetap bisa diselesaikan." Chelsea Siswi kelas XI "Saya biasa berjuang untuk mendapatkan suatu nilai. Saya merasa hal itu penting, karena nantinya jika kita sudah terbiasa berjuang, kita akan mendapatkan prestasi yang lebih baik." Feby Siswi kelas XI "Karena teman-teman sudah terbiasa dengan peraturan yang ketat dan banyak tugas yang harus dikerjakan, maka tidak ada waktu lagi untuk nge-geng atau jalan-jalan nge-club." Abednego Siswa kelas XI

140

141

142

S

ekolahnya unik, meski tak begitu besar. Bahkan mungkin terbilang kecil bagi sekolah menengah atas pada umumnya. Tapi siswa di sekolah itu boleh berbangga dalam beberapa hal. Pertama, di atas pintu masuk sekolah itu terpampang kaligrafi khas dengan sebaris doa untuk mengantar mereka masuk ke dalamnya: Berbahagialah orang yang menyucikan dirinya, dan merugilah orang yang mengotorinya (Qad aflaha man zakkaha, wa qad khaaba man dassaha). Nama sekolah itu SMA Plus Muthahhari. Dalam bahasa Arab, Muthahhari artinya “yang disucikan”. Para pendiri dan guru di sini percaya bahwa pendidikan adalah proses penyucian untuk mengantarkan manusia pada tingkat kesempurnaan setinggi-tingginya. Seluruh pembelajaran mesti ditujukan untuk membentuk kepribadian yang suci dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Tugas yang tak ringan, namun begitu mulia untuk diemban. Hal kedua yang dibanggakan anak-anak adalah justru hikmah dari bangunan relatif kecil itu. Karena tak banyak ruang bergerak, mereka semakin dekat satu dengan yang lainnya. Di dunia yang semakin ditopang oleh komunikasi virtual, hubu-

143

ngan interpersonal menjadi semakin jarang. Karena itulah interaksi sosial di antara murid-murid mengisi ruang yang hilang dari dampak kemajuan teknologi. Di Muthahhari, anak-anak bisa terhubung dengan alumni sejak angkatan I hingga angkatan XVIII sekarang ini. Mereka mengikatkan diri dalam satu kafilah ruhani: Keluarga besar SMA Plus Muthahhari. Yang ketiga, masih karena blessing in disguise dari lokasi sekolah, adalah kesadaran dan keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sekolah ini terletak di antara perumahan penduduk, tepatnya di Jln. Kampus II No. 13-17, Babakan Sari Kiara Condong, Bandung. Sekolah ini tergabung dalam RW 08 yang pernah ditunjuk walikota Bandung sebagai RW Bermartabat. Di RW ini ada sembilan rukun tetangga (RT), tapi bila ada peringatan hari besar, seperti kegiatan memperingati ulang tahun kemerdekaan, anak-anak Muthahhari berperan sebagai RT ke sepuluh. Bagaimana hal ini bisa tumbuh? Karena sebagian murid-murid itu tinggal berbaur bersama warga. Banyak aktivitas ekonomi warga juga yang tumbuh karena kehadiran anak-anak Muthahhari. Karena itu juga, mereka sama-sama membantu, memantau, dan membina. Barangkali, inilah bentuk konkret community based school. Manfaat bagi sekolah adalah tumbuhnya partisipasi aktif murid-murid dalam hal-hal aktual yang berkembang di tengah masyarakat. SMA yang berdiri 1992 ini memiliki misi mengembangkan intelejensi, kreativitas, dan akhlak. Mereka lazim menyingkatnya menjadi IKA. Akhlak ditempatkan terakhir justru dengan harapan bahwa pencapaian akademis yang tinggi dan kreativitas yang baik haruslah bermuara pada penyempurnaan akhlak. Murid boleh saja pandai, tetapi jadi berbahaya bila tidak ber-

144

MENGABDI di panti menimbulkan empati.

akhlak. Murid bisa saja kreatif, tetapi akan timpang bila tidak berakhlak. Berikut beberapa program yang selalu dilandasi dengan tujuan berakhlak mulia demi menghasilkan generasi yang berkarakter. Baksos Tumbuhkan Empati Suatu hari, datang orangtua murid dari Jakarta hendak bertemu dengan Wakasek Kemuridan (di sekolah ini istilah kesiswaan diganti dengan kemuridan, sebagai penjabaran dari istilah “murid dan mursyid” dalam tradisi tasawuf). Ketika bertemu dengan Wakasek Kemuridan, segera beliau mengucapkan

145

terima kasih atas apa yang telah dilakukan sekolah pada putra semata wayangnya. Padahal, sepanjang pengetahuan guru, murid yang bersangkutan seharusnya dihukum karena melanggar beberapa aturan. Sesuai dengan sistem yang berlaku di sekolah, murid tersebut harus menjalani hukuman kifarat (untuk mengganti/menghapus) sebagai sanksi. Hukuman itu berupa bakti sosial: ia harus berkhidmat di Panti Asuhan Bayi Sehat (PABS). Menurut orangtuanya, murid yang satu ini sangat membenci anak kecil. Setiap liburan, ia selalu menghindar jika dalam pertemuan keluarga banyak anak kecilnya. Padahal, anak-anak kecil itu saudaranya sendiri. Sekarang, ia harus mengurus anak-anak yatim piatu. Mencuci bekas ompol, menyiapkan susu, membacakan cerita, atau sekadar mengajaknya bermain. Rupanya hal itu berdampak besar pada perubahan sikapnya. Dalam sebuah pertemuan keluarga, seluruh familinya terkejut melihat sikap anak itu. Ia yang biasanya membenci anak-anak berubah menjadi seorang yang penuh perhatian terhadap anak-anak. Tidak segan-segan ia menggendong anak kecil untuk sekadar mengajak bermain, atau memberi kue. Perubahan inilah yang menyebabkan orangtua murid tadi datang ke sekolah untuk berterima kasih dan menyampaikan berita gembira ini. “Buat kami,” kata orangtua murid tadi, “perubahan sikap putra saya itu lebih membahagiakan daripada putra saya mendapat nilai sepuluh dalam ulangan”. Dengan program kifarat ternyata murid dapat terasah rasa peduli dan tanggung jawabnya. Selain ke Panti Asuhan, SMA Plus Muthahhari juga bekerja sama dengan beberapa panti sosial lainnya, seperti Yayasan Wiyata Guna untuk saudarasaudara tunanetra ataupun Panti Wreda untuk para pinisepuh

146

yang lansia. Ada banyak kisah menarik dalam bakti sosial ini. Umpamanya, anak-anak Muthahhari kadang merayakan ulang tahun bersama penghuni panti jompo, bahkan ada seorang murid mengajak serta seluruh keluarganya untuk berlebaran di tempat itu. Sungguh, apa yang sebelumnya dilakukan mungkin dengan terpaksa, berubah menjadi sebuah kepedulian yang tidak perlu diminta. Uniknya lagi, anak-anak tidak pernah memandang kifarat ini sebagai sesuatu yang memalukan. Mereka bahkan menjalaninya dengan suka hati, dan teman-teman mereka pun memberikan dukungan yang begitu berarti. Kampung Kerja Ruhaniah “Pak, lihat nih, foto-foto waktu aku membersihkan dan mengecat sekolah!” kata seorang murid perempuan kepada gurunya seraya memamerkan gambar-gambar yang agaknya menyimpan kenangan begitu membekas di hatinya.

MEMBERSIHKAN sekolah di desa, sebentuk kepedulian.

147

Foto itu adalah rekaman kegiatan Spiritual Workcamp (SWC), sebuah acara perkemahan spiritual yang mengajak siswa tinggal di desa berbaur dengan warga setempat. Lalu, dia berkata lagi, “Waktu pertama kali kami datang ke kampung Cieter (kawasan Kecamatan Ciwidey, Kabupaten

MEMBAUR dengan masyarakat membangkitkan kepedulian sosial.

Bandung. pen) lantai sekolah ini penuh dengan tanah. Ketika kami bersihkan dengan gotong royong, ternyata ketebalan tanahnya hampir lima sentimeter”. Masih dengan nada semangat murid itu melanjutkan ceritanya, “Akhirnya, kami dapat mengubah penampilan sekolah itu. Sekolah yang tadinya kusam

148

dan kotor berubah menjadi bersih dan indah. Hebat kami kan, Pak?” Itulah sepenggal dari setumpuk cerita yang dibawa pulang peserta SWC. Ternyata kisah indah itu tidak terajut sejak mereka berangkat. Malah sebagian besar murid, pada awalnya emoh ikut. Tidak sedikit, murid yang berusaha menghindar dengan cara membuat surat izin palsu. Banyak juga wali murid yang memintakan dispensasi karena tidak tega anak-anaknya harus tinggal di daerah kumuh. Tapi, karena kegiatan ini bersifat wajib, meski saat ini mangkir, tetap saja tahun berikutnya harus mengikutinya. Akhirnya, semua ikut, tanpa kecuali. Program kampung kerja ruhaniah atau SWC ini menarik untuk dicermati. Murid-murid harus tinggal di rumah-rumah penduduk miskin. Mereka harus melakukan kegiatan seharihari sebagaimana layaknya tuan rumah. Singkat cerita, mereka harus berkhidmat kepada sesama. Memasak, mencuci piring, bersih-bersih rumah menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Bila tuan rumah yang mereka tinggali seorang petani, maka mereka harus ikut turun ke sawah. Begitu juga, bila tuan rumah mereka ternyata seorang tukang kupat tahu di pasar, maka Subuh dini hari mereka harus bangun untuk menemani tuan rumah berjualan kupat di pasar. Setelah beberapa hari kegiatan itu berjalan, alih-alih berdemo untuk pulang lebih cepat, mereka malah mengusulkan untuk tinggal lebih lama lagi. Mereka merasa belum cukup untuk memberikan bantuan bagi “orangtua sementara” mereka. Hal ini terbukti, saat akhir tahun ajaran atau libur Ramadan, mereka biasanya bertandang ke tempat itu. Tidak sekadar menengok, mereka membawa sesuatu. Makanan , pakaian,

149

buku, obat-obatan; apa saja yang dibutuhkan orang-orang daerah tadi. Tidak jarang diajak pula orangtua kandung mereka untuk berkunjung ke tempat itu. Menjelang ujian, di antara “ritual” yang biasa mereka lakukan adalah kembali ke tempat perkhidmatan mereka, memohon restu dan doa dari orangtua asuh mereka. Spiritual Workcamp ini adalah program kedua setelah Spiritual Camp. Ide SWC ini diilhami konsep riyadhah dalam tarekattarekat sufiyah. Dalam bentuknya di dunia modern, Bobbie de Porter mengamalkannya dalam SuperCamp, yang mengilhami pendidikan dan pembelajaran dengan metode Quantum Learning. Gabungan dari kedua konsep ini juga yang dicoba untuk dikembangkan dalam program-program lainnya. SWC dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sekitar. Juga melahirkan sikap kreatif ketika mereka dihadapkan untuk membuat dan memberi sesuatu yang baru di daerah yang mereka tinggali sementara. Program ini mempererat persaudaraan, menyuburkan kepedulian, dan menanamkan pola-pola kehidupan yang bersih dan sehat, yang dapat disesuaikan dengan tempat di mana saja mereka berada dan mengabdi. ‘Smuth Point’ Pencatat Amal Setiap akhir upacara, murid-murid menjadi antusias, karena mereka sebentar lagi akan mengetahui siapa siswa yang masuk top ten of the month bulan ini. Istilah ini ada sejak mulai sekolah meluncurkan program Smuth Point. Smuth Point adalah kitab catatan amal baik dan buruk mereka selama bersekolah di SMA Percontohan Berbasis Budi Pekerti ini. Setiap awal bulan, dalam upacara, akan diumumkan

150

siapa saja yang berhak menyandang gelar peraih poin positif terbanyak setiap bulan. Sepuluh murid akan berdiri dengan bangga di lapangan upacara, di hadapan kawan-kawan mereka. Mereka akan mendapatkan pin untuk hasil jerih payah mereka selama sebulan itu. Meski “hanya” mendapatkan sebuah pin yang akan mereka pakai di baPIN amal, mengajak ke arah kebaikan. ju selama sebulan, tapi pin itu menandakan bahwa murid itu telah banyak melakukan kebaikan. Hal ini ternyata memicu murid-murid yang lain untuk melakukan hal yang sama. Sederhana memang. Setiap kebaikan yang mereka lakukan akan dicatat oleh guru, piket, atau pimpinan sekolah, sesuai dengan kriterianya. Apa sajakah yang dapat masuk dalam smuth point? Setiap sikap atau perilaku yang baik, akan mendapat smuth positif point. Sebaliknya setiap sikap atau perilaku yang buruk, akan mendapat smuth negative point. Dengan adanya kitab pencatat amalan ini, murid jadi terpacu untuk berlomba melakukan kebaikan. Ada yang secara individual seperti membantu teman dalam belajar (tutor sebaya), aktif dalam pembelajaran, dan lain-lain. Ada juga yang secara komunal seperti menjaga ke-

151

bersihan, menata kelas, menjadi kelas terbaik kehadirannya, dan sebagainya. Sekarang, melalui fasilitas jaringan teknologi informasi komunikasi, data poin ini dapat diakses lewat internet oleh murid berikut orangtua melalui situs sekolah. Ujian yang Ditunggu Setiap akan menghadapi ujian, sebagian murid selalu dihinggapi rasa takut dan cemas. Tapi lain halnya dengan ujian Bahasa di sekolah ini. Mata Pelajaran Bahasa yang masuk dalam program X-Day diujikan dalam bentuk Festival Bahasa. Dalam festival itu, murid diharuskan menyajikan beberapa hal: Menghadirkan suasana budaya dan bahasa yang mereka pelajari. Berpakaian dengan memakai pakaian khas negara tersebut. Memeragakan satu atau dua bentuk kesenian dengan menggunakan bahasa tersebut. Menjual makanan khas negara tersebut. Teknisnya, murid
UJIAN Bahasa penuh tantangan dan kegembiraan.

152

diberi modal oleh sekolah. Mereka diharapkan dapat mengelola modal tersebut. Di akhir kegiatan mereka harus mengembalikan kewajibannya. Menampilkan sebuah acara menarik (seperti kuis, game, dan lain-lain) yang menggunakan bahasa yang mereka pelajari. Untuk ujian bahasa ini, murid-murid harus mempersiapkannya lebih lama, lebih menantang, dan lebih menguras tenaga. Tetapi ujian ini justru yang paling mereka sukai, karena ujian ini menstimulus kecerdasan, kreativitas, kejujuran, dan tanggung jawab mereka. Di sekolah ini prestasi siswa amat dihargai. Kesuksesan mereka tercantum dalam Wall of Fame di dinding sekolah. Setiap murid yang berprestasi menorehkan kenangan indah di dinding sekolah yang memotivasi adik-adik kelasnya untuk meneruskan jejak mereka. Di dinding itu, nama mereka tercantum dengan prestasi yang mereka ukir. Testimoni Orangtua
“Saya memiliki delapan orang anak, dan lima di antaranya sekolah di SMA Muthahhari. Yang pertama kedua ketiga sudah selesai. Yang dua masih bersekolah di sana. Kesan saya, anak-anak saya berubah secara signifikan saat sekolah di SMA Muthahhari. Karakter mereka menjadi lebih baik, lebih sopan pada orangtua dan keluarga, lebih peduli terhadap lingkungan, dan lebih memiliki keinginan untuk hal-hal yang bersifat spiritual dan intelektual. Muthahhari memiliki program-program yang sangat membangun karakter seperti Spiritual Camp, memiliki guru-guru yang dekat dengan siswa, turut membantu siswa untuk menemukan dirinya, memiliki lingkungan intelektual maupun library yang luar biasa bagus, dan program pendidikan yang fleksibel namun tanpa mengabaikan disiplin. Selayaknya saya sebagai orangtua mengucapkan terima kasih sebe-

153

sar-besarnya bagi managemen SMA Muthahhari dan para guru dan karyawan yang telah membina anak-anak yang saya titipkan di sana, hingga mereka menjadi anak-anak yang memiliki akhlaqul karimah, mampu mengembangkan intelektualisme dan potensi diri, dan memahami how we choose to be happy!” Dr. Dimitri Mahayana, M Eng, Dosen Elektro di Institut Teknologi Bandung SAYA sangat terkesan dengan pendidikan yang diterapkan di SMA Plus Muthahhari, terutama pendidikan karakternya. Salah satunya adalah Sahur Bersama, yang dilakukan setiap Ramadan, siswa disebar untuk tinggal di rumah kaum duafa. Mereka membawa bahan makanan untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga dhuafa pada saat sahur. Dengan kegiatan ini para siswa dapat menghayati kehidupan kaum duafa yang dapat berpengaruh terhadap pembentukan karakternya. Demikian juga dengan kegiatan Festival Bahasa, di mana para siswa berlomba menampilkan kemahiran berbahasa asing dan kemampuan dalam bidang seni. Kedua anak saya pada kegiatan ini menampilkan kemampuan bahasa asing pilihannya, yaitu Bahasa Jepang. Selain itu, anak saya yang pertama mulai mengembangkan bakat seninya di SMA Plus Muthahhari sehingga dia memilih melanjutkan studi seni rupa. Heri Suherman, SH Sekretaris KPUD Jabar

154

155

156

S

ebagai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan pesantren, tentu saja banyak hal spesifik pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin, Balekambang, Jepara. Salah satunya adalah dalam hal membina karakter bagi santrinya. Pendidikan karakter yang diselenggarakan tentu saja diselaraskan dengan tatanan yang telah ditetapkan pondok pesantren (ponpes).

LINGKUNGAN luas dan nyaman mendukung iklim kondusif.

157

Di sekolah yang beralamat di Desa Balekambang, Gemiring Lor, Gang 02/07, Kec. Nalumsari, Kab. Jepara ini peserta didik tidak disebut siswa melainkan dipanggil dengan sebutan santri. Ternyata ada implikasi positif pada kepribadian ketika mereka disebut santri — di samping sebagai ciri khas sekolah ini. Berbagai pendidikan karakter dikembangkan di tempat asri ini, tetapi yang menonjol adalah kemandirian, tanggung jawab, kedisiplinan dan kebersihan, kreativitas, solidaritas dan kebersamaan, hingga pengembangan ilmu dan akhlak. Mari kita kaji satu demi satu. Teguhkan Kemandirian Hari sudah malam, sekitar pukul 21.00. Dalam gelap seorang santriwati lari tunggang langgang di pematang sawah. Remaja ini berusaha secepatnya menjauhi areal kompleks ponpes Roudlotul Mubtadiin. “Ada santri kabur...!” Salah seorang pengurus mengetahui tindakan wanita itu. Cepat-cepat dia melapor ke pengelola pondok dan segera dilakukan pengejaran. Berkat bantuan pengurus pondok putra, santri tersebut dapat ditemukan. Dia dibawa ke kantor dan diberi nasihat oleh pengurus. Kisah santri melarikan diri dari ponpes adalah cerita klasik yang selalu saja terulang hingga kini. Kasus semacam ini sangat wajar terjadi karena mereka belum terbiasa dengan lingkungan baru, tiba-tiba mereka harus pisah dengan orangtua dan masuk ke dalam lingkungan yang pola hidup dan tata caranya juga baru. Nyaris menjadi pemandangan rutin, setiap tahun selalu ada santri yang dilanda homesick, menangis saban malam sambil

158

merengek minta pulang, kabur, atau ngambek tidak mau sekolah. Tentu bervariasi penyebabnya, tapi umumnya karena belum terbiasa melakukan segala sesuatu secara mandiri dengan tangannya sendiri. Begitu masuk pesantren, maka mereka “dipaksa” untuk mandiri dan ternyata, seiring dengan perjalanan waktu, mereka bisa melaksanakannya. Terbukti dengan contoh peristiwa di pematang sawah tadi. Tiga tahun kemudian santri tersebut dengan penuh percaya diri siap menjalani ujian akhir sekolah. Artinya dia sukses menjalani kehidupan di pesantren. Kemandirian yang menjadi ciri utama pesantren diajarkan tidak melalui mata pelajaran akan tetapi lingkungan pesantrenlah yang membentuknya, dan itu melalui proses yang panjang. Di pesantren, anak dituntut melakukan segala sesuatu dengan diri sendiri —hal yang mungkin itu tidak pernah dilakoni tatkala mereka masih tinggal di rumah. Mencuci baju, menyetrika, membersihkan kamar, hingga mengatur jadwal kegiatan harus dilakukan sendiri. Kemandirian secara otomatis akan menghilangkan ketergantungan. Ketergantungan hanya menyebabkan manusia malas untuk berbuat sesuatu, karena mereka berpikiran tanpa berbuatpun mereka bakal mendapatkan bantuan dan kemudahan. Jika sejak sekarang generasi muda dilatih mandiri, maka di masa mendatang Indonesia akan menjadi negara kokoh tanpa harus menunggu uluran tangan negara lain. Siaga Piket Masak “Apa yang akan terjadi jika kalian terlambat masak pagi ?” tanya salah satu pengurus pondok, suatu pagi. Salah satu anak yang piket masak nyeletuk, “ seluruh santri akan terlambat

159

PIKET memasak, belajar memikul tanggung jawab secara bergiliran.

makan, terus terlambat deh masuk sekolahnya”. “Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi hal semacam itu?” lanjut pengurus. Para santri petugas piket masak itu terdiam, tetapi mereka paham bahwa merekalah yang harus memikul kesalahan bilamana hal itu sampai terjadi. Ya, di pesantren ini seluruh santri putri, 652 orang, secara bergiliran mendapat jatah piket masak. Mereka yang kena piket masak pagi harus sudah bekerja di dapur sejak pukul 03.00 hingga 05.30 untuk menyiapkan sarapan bagi 1365 santri ponpes. Piket masak siang dilakukan pukul 08.30 sampai 11.30, dan masak sore pukul 15.30 sampai 19.00. Ini semua dilakukan agar santri memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugasnya. Rasa tanggung jawab setiap santri ditumbuhkan melalui berbagai tugas, di antaranya tugas ketua kelompok musyawarah

160

(belajar malam), tugas piket kebersihan, piket masak, tugas keorganisasian, dan beberapa tugas kepengurusan lain dalam ekstrakurikuler. Untuk menunjang dalam pelaksanaan tugas tersebut mereka dibekali pelatihan kepemimpinan, keorganisasian, dan team building. Dalam pelatihan tersebut santri diperkenalkan dengan tanggung jawab sesuai dengan kapasitasnya. Pelatihan ini dikemas dalam beberapa permainan yang berkaitan dengan materi pembinaan. Begitu antusiasnya, tidak jarang para peserta itu minta tambahan jam pelatihan. Pelatihan ini setidaknya juga memberi pelajaran baru tentang tanggung jawab dan kebersamaan. Pembinaan rasa tanggung jawab juga dilakukan lewat pemberian ta’ziran bagi anak yang melakukan pelanggaran, Misalnya harus membantu pekerjaan tukang batu dan membersihkan lingkungan sekitar. Ini mengajarkan agar anak berani bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya. Buah dari pembinaan tanggung jawab dari pesantren tersebut dapat terlihat pada saat santri melaksanakan praktik kerja industri (prakerin). Pada umumnya para pemilik tempat prakerin itu mengaku senang bila ditempati praktik anak-anak pesantren lantaran perilakunya baik dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Beberapa di antara pengusaha itu bahkan minta tambahan peserta pakerin dari pesantren Roudlotul Mubtadiin. Disiplin dan Bersih Pembinaan kedisiplinan di SMK ini dapat dilacak pada jadwal kegiatan harian para santri. Kegiatan santri dimulai pukul 03.30. Pagi dini hari itu seluruh pengurus membangunkan guna mendirikan salat tahajud. Setelah itu dilanjutkan dengan salat

161

Subuh berjamaah. Pengajian Al-Quran yang diampu oleh beberapa guru dilakukan setelah salat shubuh. Saat pukul 06.00 mereka melakukan persiapan sekolah dengan mandi dan makan, serta piket kebersihan. Piket kebersihan ini dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 12 orang. Petugas kebersihan semuanya dilakukan santri, mulai dari membersihkan lingkungan sekitar sampai membersihkan kamar mandi dan toilet. Ini dilakukan agar muncul kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan memiliki kesadaran akan budaya bersih dan sehat. Maka menjadi pemandangan yang lazim bila pagi maupun sore banyak santri sedang menyapu halaman, membersihkan pintu gerbang, lumut tembok, serta mencabuti rumput-rumput liar. “Saya sebel kalau pulang ke rumah,” keluh seorang santri. “Kenapa ?” tanya temannya. “Ya, karena rumahku kotor” jawabnya. Ucapan tersebut terlontar setelah santri itu hidup beberapa bulan di pesantren ini. Dia mengaku kalimat itu tidak pernah terlontarkan sebelum dia nyantri. Setelah terbiasa hidup di lingkungan bersih, dia menjadi tidak nyaman berada di lingkungan kumuh. Kedisiplinan juga bisa dilihat dari jadwal pulang mengunjungi orangtua. Setiap santri diizinkan pulang ke rumah satu bulan satu kali.Ketika ada santri yang molor, melewati batas ketentuan, maka akan dikenai ta’ziran yang berupa menghafalkan beberapa surat dalam Al Quran. Dampaknya positif. Bahkan ada beberapa anak yang hafal beberapa surat dalam kitab suci justru gara-gara dia sering melanggar peraturan itu.

162

PENANAMAN disiplin perlu berkesinambungan.

Kedisiplinan juga diterapkan dalam mengikuti kegiatan salat berjamaah lima waktu. Apabila ada anak yang mangkir atau terlambat berjamaah, lagi-lagi dia akan dikenai ta’ziran. Dilihat dari jadwal yang demikian padat (dari pukul 03.30 sampai pukul 22.00), maka santri harus cermat membagi waktu. Dari sinilah proses pembinaan kedisiplinan benar-benar diterapkan. Siap Berbagi Salah satu peraturan yang berlaku di sekolah ini adalah para santri tidak boleh menyimpan makanan, ketika punya makanan atau dapat kiriman dari orangtua, maka harus dihabiskan saat itu juga. Tingkat ekonomi wali santri sangat variatif, ada yang kaya, sedang, miskin, bahkan ada yang berada di bawah garis kemiskinan. Kenyataan ini menimbulkan kesenjangan. Oleh karena itu dibuatlah aturan yang bisa menumbuhkan solidaritas sosial dan kebersamaan. Di antaranya dengan peraturan seperti di atas. Coba bayangkan kalau masalah seperti itu tidak diatur? maka akan terjadi kecemburuan sosial dan persaingan tidak sehat. Kegiatan lain yang mendukung solidaritas sosial dan keber-

163

UNJUK prestasi dan kreativitas lewat ekspo karya santri.

samaan adalah seringkali pesantren mengajak santri untuk melakukan kerja sosial, misalnya membantu pekerjaan tukang batu atau turut mengecor bangunan bersama-sama. Pada awalnya memang banyak anak dan wali santri yang keberatan dengan peraturan tersebut, tapi setelah dipahamkan maksud dan tujuannya akhirnya mereka menerima. Di samping itu, pengurus juga sering memberi taushiyah tentang pentingnya berbagi dengan sesama. Sedangkan untuk mengembangkan kreativitas santri, SMK ini menyelenggarakan beberapa ekstrakurikuler, di antaranya seni kaligrafi, seni hadrah, keterampilan sablon, membatik, beladiri, klub bahasa, pramuka PMR, dan Karya Ilmiah Remaja. Untuk mengasah kreativitas santri dalam bidang jurnalistik, sekolah membuat sebuah majalah yang semuanya dikelola oleh santri. Untuk memberi rangsangan dan menambah daya kreatif santri, setiap tahun SMK ini mengadakan ekspos hasil karya

164

santri, yang menampilkan berbagai karya santri. Kerja itu Ibadah Etos kerja juga menjadi perhatian utama. Pembinaan etos kerja berkaitan erat dengan daya saing santri setelah mereka lulus dari SMK. Artinya pesantren berupaya menyiapkan tenaga kerja yang beretos kerja tinggi. Pembinaan etos kerja dibentuk dengan pembiasaan disiplin kerja. Sejalan dengan itu, dalam beberapa kali prakerin, para pengguna jasa SMK (dunia usaha dan dunia industri atau DU/DI) juga menguatkan pentingnya soal kedisiplinan kerja, karena hal ini yang akan menentukan berkembang atau tidaknya sebuah usaha. Kedisiplinan kerja diaplikasikan dalam beberapa hal, seperti tepat waktu dalam mengawali dan mengakhiri kerja, tertib mengenakan seragam kerja selama pakerin. Kemudian soal keselamatan kerja. Pada kali pertama santri praktik kerja, umumnya santri belum tahu mengenai keselamatan kerja. Misalnya saat praktik mengelas, tidak mengenakan kacamata las. Solder panas dijadikan mainan. Oleh karena itu sebelum kegiatan prakerin, guru tak bosan-bosan memberi pengarahan tentang keselamatan kerja maupun tentang prosedur standar operasional kepada santri program studi Teknik Audio Video (Elektronika), Teknik Kendaraan Ringan (Otomotif), maupun Busana Butik (Tata Busana). Motivasi kerja juga harus dibangun semenjak dini. Pekerja akan melakukan tugas dengan disiplin dan penuh tanggung jawab manakala ada motivasi dalam bekerja. Di sekolah ini motivasi ditanamkan melalui pemahaman bahwa bekerja itu ibadah. Ajaran ini memberikan kesadaran kepada santri bahwa ibadah itu bukan salat atau puasa saja, tapi banyak bentuk

165

ibadah selainnya, di antaranya bekerja. Kerja akan bernilai ibadah bila mana dilandasi niat yang baik dan benar. Materi yang didapatkan dari bekerja adalah bukan tujuan tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Motivasi juga bisa dibangun lewat pengenalan tokoh. Secara berkala sekolah mengundang tokoh pengusaha dan untuk berbagi pengalaman dengan santri. Lewat para tokoh itu, akan dapat dipetik teladan bahwa sukses itu tidak gampang, butuh proses panjang dan terjal. Rasa tanggung jawab santri sangat ditekankan ketika melakukan praktik di laboratorium. Setiap anak diberi tanggung jawab yang berbeda untuk menjaga barang-barang laboratorium. Ketika praktik selesai semua peralatan wajib kembali ke tempat semula. Di dalam laboratorium tersedia buku catatan keluar masuk barang yang berfungsi untuk memantau tangDISIPLIN tinggi wajib dilaksanakan pada setiap praktik kerja.

166

gung jawab santri dalam menggunakan peralatan. Sebagai sekolah yang berada di dalam pondok pesantren penggunaaan laboratorium bisa kapan saja, asalkan tidak mengganggu aktivitas lainnya. Syaratnya: mereka harus bertanggung jawab terhadap keberadaan laboraturium. Alim Amil Nasyir Satu hal yang menjadi landasan sekolah adalah mencetak santri yang berilmu dan berakhlak mulia. Kerapkali ditekankan kepada santri, “apa guna kecerdasan kalau tidak disertai dengan akhlak mulia?” Sesungguhnya martabat seseorang dinilai dari akhlaknya, sebagaimana diajarkan dalam kitab rujukan pembinaan akhlak para santri, yaitu kitab Ta’limul muta’alim. Untuk menumbuhkan keilmuan, sekolah mewajibkan santri rutin belajar malam mulai pukul 20.30 hingga 21.30. Kegiatan belajar dibagi dalam beberapa kelompok. Pada setiap kelompok dipilih satu orang yang dianggap mampu untuk membimbing teman-temannya yang kurang mampu atau biasa disebut tutor sebaya. Ketika ada pekerjaan rumah kemudian ada anak yang belum mengerjakan, maka yang bertanggung jawab adalah semua anggota kelompok anak tersebut. Di sini ditanamkan ajaran tanggung jawab sosial. Selain itu, untuk menambah kecakapan berbahasa Inggris, pengelola SMK mengadakan kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat yang berupa mendatangkan relawan dari Eropa untuk tinggal di pesantren selama satu tahun. Kehadiran native speaker ini sangat membantu dalam penguasaan bahasa asing dan pengembangan wawasan santri. Pembinaan ahlaqul karimah terhadap para santri dilakukan dengan banyak cara di antaranya penambahan jam mata pe-

167

lajaran agama, mengaji Al Quran seusai berjamaah Subuh, istighotsah rutin setelah salat Magrib. Kegiatan ini merupakan terapi hati. Juga dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan kecanduan dan mengendalikan perilaku. Selain itu masih ada lagi yaitu pengajian balahan (pengajian umum). Dalam balahan inilah santri sering mendapatkan nasihat, pelajaran yang tidak didapatkan di dalam kelas. Peserta pengajian balahan tidak dibatasi umur. Jadi di situ berbaur guru dan murid, tua dan muda. Ngaji balahan adalah contoh konkret tentang belajar sepanjang hayat (long live education). Puasa sunnah (Senin Kamis atau puasa Daud) dan salat duha sebagai proses pembinaan akhlak dan riyadah sangat dianjurkan untuk dijalankan para santri. Pembinaan akhlak di sini banyak merujuk kepada kitab-kitab klasik. Dalam salah satu kitab disebutkan betapa banyak orang yang berilmu tetapi tidak mendapatkan kemanfaatan ilmu. Apa manfaat ilmu itu? Yaitu mengamalkan dan menyebarkannya. Oleh karena itu SMK PP Roudlotul Mubtadiin bertekad untuk menghadirkan para santri yang alim (cerdas/pandai) sekaligus amil (mau melakukan) dan nasyir (mau menyebarkan). Semoga. Testimoni
“Pendidikan yang diterapkan di SMK Roudlotul Mubtadiin, menurut saya sebagai wali santri sangat menarik, karena setiap anak harus berada di pondok. Sebagai orangtua, saat ini sangat khawatir dengan pergaulan yang terjadi di antara para remaja, sehingga saya berfikir bagaimana supaya anak saya tidak terjangkiti virus negatif yang banyak menimpa para remaja. Memasukkan anak ke Pesantren Balekambang adalah solusi yang saya pilih. Dan ternyata tidak salah memilih. Saya tidak khawatir lagi dengan anak saya, karena selama

168

24 jam diawasi oleh pihak sekolah/pesantren. Sebagai orangtua, saya ingin anak saya menjadi anak yang taat kepada orangtua, rajin beribadah dan tidak menjadi anak yang salah memilih jalan. Dan di SMK Roudlotul Mubtadiin sangat menekankan akhlaq alkarimah.” Ahmad Sutiyo Wali santri “Pada waktu kami menerima peserta praktek kerja industri (prakerin) dari SMK Roudlotul Mubtadiin, kami berfikir para peserta sama saja dengan peserta prakerin dari sekolah lain. ternyata setelah pelaksanaan berjalan ada sesuatu yang berbeda, yaitu dalam kedisiplinan dan ketaatan terhadap pemilik tempat usaha. Mereka datang tepat waktu, kalau ada keperluan mereka tidak langsung pergi, tetapi meminta izin terlebih dahulu. Kemudian perilakunya juga menyenangkan. Mereka mau mengikuti kegiatan masyarakat setempat misalnya jamaah shalat, mau jadi muadzin di mushala. Oleh karena itu kami tidak ragu lagi ketika akan menerima peserta prakerin dari SMK Roudlotul Mubtadiin.” Warno Pengusaha Wartronik, tempat praktik kerja santri “Proses pembinaan kemandirian anak yang diterapkan menyebabkan kami memercayakan anak kami untuk dididik di SMK Ponpes Roudlotul Mubtadiin.” Syafik Wali murid “Segala sesuatu harus dilakukan oleh para santri. Memasak, mencuci baju dan mengatur waktu menjadi rutinitas yang harus dijalani anak saya. Ketergantungan kepada orang lain sudah mulai berkurang.” Imam Santoso Wali murid

169

170

171

172

PRAKTIK membuat kompos perlu kesungguhan.

S

ekolah Menengah Kejuruan (SMK) didirikan dengan niat untuk menghasilkan tenaga kerja terampil yang diharapkan siap pakai dan segera terserap ke dalam dunia kerja. SMK dibangun berdasarkan kebutuhan tenaga industri, sesuai dengan tingkat, jenis dan syarat jabatan yang dibutuhkan industri secara kualitatif maupun kuantitatif. Jadi dunia SMK adalah dunia kerja. Berbeda dengan SMA, di sekolah kejuruan porsi praktik lebih tinggi bobotnya ketimbang pelajaran teori. Hal ini juga terlihat pada praktik pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Semarang. Bahkan di sini, pada satu tahun terakhir para siswa full praktik (lama belajar di sekolah ini empat tahun). Tentu menyiapkan calon tenaga terampil dibutuhkan ba-

173

nyak hal. Mulai dari penyiapan kurikulum yang relevan, strategi pembelajaran yang tepat, fasilitas praktik yang menunjang, guru yang mumpuni, serta lingkungan dunia usaha dan dunia industri (DU/DI) setempat yang mendukung. SMK yang beralamat di Jl. Simpang Lima Semarang ini misalnya mengembangan berbagai strategi untuk keperluan ini. Mereka menggunakan kurikulum dengan pola pendekatan

pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran berbasis produksi (production based training). Tetapi semua itu dirasa belum lengkap. Agar sukses memasuki dunia kerja yang kian kompetitif, dibutuhkan SDM yang punya nilai plus. Dia tidak saja hanya cakap di bidang keahlian atau lazim disebut hard skill, tetapi harus punya kemampuan tambahan

174

yang sering kali justru lebih penting yaitu soft skill. Keahlian berkomunikasi, mengola informasi, keuletan, keluwesan mengatasi persoalan, hingga etos kerja yang tinggi merupakan beberapa contoh keahlian itu. Keterampilan soft skill sungguh dekat kaitannya dengan pendidikan karakter. Lulusan SMK musti disiapkan bukan saja sebagai calon tenaga kerja terampil tetapi juga tenaga kerja pro-

duktif yang berkarakter kuat, memiliki kejujuran tinggi dan bertanggung jawab, cerdas, peduli dan kreatif, serta berstamina dan berbudaya bersih. Bagaimana mengembangkan pendidikan karakter yang khas untuk siswa kejuruan? SMK yang merupakan Kelompok Teknologi dan Industri di Semarang ini ikut berbagi pengalaman

175

Songsong Dunia Kerja Pada abad 20 dunia kerja ditandai dengan produksi massal dan terstandar untuk menurunkan ongkos produksi. Proses produksi semacam ini bersifat mekanistis yang memerlukan tenaga kerja khusus namun kontrol tenaga kerja terbatas, sistem kendali mutu jelas, dan proses produksi harus dijauhkan dari kemalasan tenaga kerja. Namun proses produksi pada abad 21 telah berubah. Pasar dewasa ini bersifat fleksibel, harus dapat segera menanggapi perubahan, dan kerja sama dalam menyusun ongkos merupakan kunci utama untuk dapat menang dalam persaingan. Oleh karena itu dunia kerja saat ini memerlukan tenaga kerja yang memiliki skill yang berbeda-beda dan skill yang lebih tinggi serta lebih terdidik. Pergeseran struktur tenaga kerja dalam dunia industri dewasa ini memberikan implikasi kepada sekolah-sekolah kejuruan. Oleh karena itu SMKN 7 mengantisipasi dengan tiga langkah strategis yang meliputi pengembangan kemampuan dasar siswa, kemampuan pengembangan di tempat kerja, dan mengembangan metoda pembelajaran yang relevan dan efektif. Pengembangan pertama menyangkut pemekaran tiga keterampilan mendasar yaitu basic skill, thinking skill, personal skill. Basic skill meliputi keterampilan siswa dalam hal membaca dan menginterpretasikan informasi yang diterima, mampu menulis dan mengembangkan informasi, matematik dan berhitung, mendengarkan, dan berbicara. Thinking skill terdiri dari kreativitas, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan penalaran. Sedang keterampilan personal mencakup kemampuan mengendalikan diri, tanggung jawab, punya harga diri, menjalin relasi sosial, dan integritas serta kejujuran.

176

PEMBINAAN karakter di antara kegiatan pembelajaran.

Sementara itu kemampuan mengembangkan di tempat kerja, mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi, mengorganisasi, merencanakan dan mengalokasi sumber-sumber, mampu bekerja sama dengan orang lain, menguasai dan memanfaatkan informasi, memahami hubungan sosial, organisasi, dan teknologi yang kompleks dan dapat bekerja sesuai dengan sistem serta menyempurnakan sistem yang ada. Selain itu juga mampu bekerja dengan berbagai teknologi, termasuk pemilihan, aplikasi, perawatan dan memecahkan problem. Kegiatan praktik di SMKN yang berdiri sejak 7 Juni 1972 ini dirancang dan digarap dengan sungguh-sungguh, terpadu, dan berkelanjutan. Agar efektif sistem pengelolaan penyampaian bahan pelajaran diberikan dengan pendekatan tematik dengan

177

mengombinasikan beberapa pokok bahasan yang bersifat lintas bidang. Pengajaran diarahkan ke model guru tim (team teaching) bukan lagi individual. Model pembelajaran kooperatif lebih dominan daripada pembelajaran individual. Sebagaimana tuntutan dunia industri, di samping menguasai hard skill dalam bidangnya masing-masing, lulusan SMK juga dituntut memiliki kompetensi soft skill. Pengembangan keterampilan ini dikembangkan dengan selalu mendengar masukan-masukan dari dunia industri melalui angket kepuasan pelanggan. Dengan soft Skill yang memadai diharapkan siswa terampil menyesuaikan diri dalam dunia kerja serta mampu mengelola dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Mengingat perkembangan teknologi dewasa ini berkembang demikian pesat, sekolah kejuruan ini selalu mengevaluasi

178

relevansi materi pelajaran dengan kebutuhan dunia kerja di luar. Sekolah perlu mengurangi materi yang “out of date” dan menambah materi-materi baru sesuai yang diperlukan oleh dunia industri di masa mendatang. Membangun jembatan antara sekolah dan dunia kerja menjadi program prioritas sekolah. Hal ini tidak berarti bahwa teori dan sesuatu yang abstrak tidak perlu dipelajari, melainkan sebaliknya, dalam dunia yang berubah dengan cepat, semakin banyak teori, konsep, dan pemahaman dimiliki oleh seseorang, semakin besar kemampuan orang tersebut untuk mentransfer dan menjual skill yang dimiliki. Aktif Praktik Kerja Ciri khas pembelajaran di SMK yang menonjol adalah adanya praktek kerja di dunia industri atau dunia usaha untuk siswa pada tingkat akhir. Hal ini merupakan implementasi dari pembelajaran berbasis produksi. Pembelajaran ini selain menekankan pencapaian kompetensi yang harus dikuasai, juga menekankan pada pemberian pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui proses kerja yang sesungguhnya. Masingmasing jurusan memiliki institusi pasangan yang sesuai dengan kompetensinya. Kini sekolah yang dulu bernama STM Pembangunan ini telah berhasil menggandeng kerja sama formal dengan ratusan dunia usaha/industri yang memunyai kualifikasi nasional dan internasional. Institusi bisnis tersebut di samping digunakan sebagai tempat praktik kerja juga berpartisipasi untuk melakukan uji kompetensi kepada siswa untuk menentukan apakah seorang siswa sudah kompeten atau perlu diasah lagi. Kerja sama itu bahkan sudah berkembang lebih jauh dengan

179

terbentuknya pengelolaan usaha bersama antara sekolah dengan produsen dengan kesepakatan tertentu. Pengelolaan usaha ini sepenuhnya menjadi wewenang SMK setempat di bawah pengawasan dan koordinasi penyedia produk. Sebagai contoh, kini telah terpilih 32 SMK se-Indonesia sebagai perakit, distribusi, dan pemasaran dari komputer merek tertentu yang cukup terkenal di Indonesia. Produk komputer tersebut merupakan hasil karya SMK dalam bidang teknologi informasi dan telah mendapatkan pengakuan dari industri komputer nasional dengan merek baru. Dengan pendekatan teaching factory seperti itu, produk komputer tersebut ternyata justru dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau masyarakat luas. Untuk memaksimalkan bidang-bidang tertentu, SMKN 7 juga menjalin program kerja sama dengan lembaga-lembaga

180

keterampilan tertentu yang berada dekat dengan lingkungan sekolah. Pembelajaran Bahasa Inggris ditekankan pada kemampuan berkomunikasi dengan pendekatan melalui Test of English for International Communication (TOEIC) bekerja sama dengan salah satu lembaga pendidikan bahasa. Sekolah dengan luas areal 33.575 m2 ini memiliki 60 rombongan belajar dengan jumlah siswa 2.077. Sebanyak 1.573 siswa (kelas X-XII) aktif belajar di sekolah, sedang sejumlah 504 siswa (kelas XIII) praktik kerja industri dan bahkan sebagian sudah bekerja. Jenis kejuruan yang dikembangkan meliputi Kompetensi keahlian Teknik Bangunan, Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Informasi. Pembinaan Karakter Ada beberapa kegiatan di sekolah yang diarahkan untuk

181

pengembangan karakter anak didik, di antaranya Kemah Bhakti Tahunan. Kegiatan rutin tahunan diikuti siswa kelas X dan kelas XI. Pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan kelas XII dan XIII yang mengikuti Ujian Nasional. Kemah ini memiliki arti penting sebagai wadah pembinaan siswa untuk hidup mandiri, tanggung jawab, saling menghormati, dan masih banyak lagi aspek kejiwaan yang dapat dibentuk. Selama empat hari kegiatan di lokasi perkemahan cukup padat mulai dari kero-

hanian, olah raga, pentas seni, hingga karya bakti dengan masyarakat sekitar. Ada lagi program perkemahan Sabtu–Minggu (Persami). Ini salah satu bagian dari kegiatan Pramuka yang bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi, sehingga anak-anak dapat meningkatkan sikap mental, disiplin, rasa percaya diri, tanggung jawab, menghormati orang lain, dan tidak kalah pentingnya adalah adanya perubahan sikap dan perilaku siswa menuju kedewasaan. Ketahanan Sekolah sering disebut dengan singkatan Han-

182

sek, merupakan kegiatan pembinaan sikap mental disiplin dan wajib diikuti siswa SMKN 7 Semarang. Targetnya, siswa-siswa dapat menghadapi hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan baik dari dalam maupun luar sekolah dan bisa membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang dihindari. Kegiatan ini hansek dipandu institusi lain yaitu TNI. Kerjasama dengan institusi militer ini sudah terjalin sejak lama dengan sekolah.

Pembiasaan Pembiasaan yang dilakukan di sekolah ini merupakan perwujudan dari tradisi yang sudah dibangun sejak berdirinya sekolah. Dilakukan secara terus-menerus dan senantiasa dilakukan perbaikan yang berkelanjutan. Adapun pembiasaan yang sampai kini konsisten dilaksanakan antara lain, siswa masuk sekolah sebelum pukul 07.00, melalui pintu 2 (tersendiri). Siswa pengendara sepeda motor wajib memiliki SIM dan STNK, dan saat sampai di pintu gerbang sekolah mesin motor dimatikan dan dituntun sampai ke tempat parkir. Jaket/sweeter ataupun

183

rompi wajib dilepas, sehingga yang tampak baju seragam sekolah. Membudayakan senyum antara siswa dan guru di pintu masuk. Sebelum pelajaran dimulai siswa selalu berdoa demikian juga pada jam akhir sekolah. Siswa yang terlambat masuk sekolah wajib mengetuk pintu untuk izin masuk/ mengikuti kegiatan. Pada saat upacara bendara siswa wajib memakai seragam upacara dan mengikuti dengan tertib dan hikmat. Pada saat upacara hari Senin senantiasa digaungkan semboyan “Tiada hari tanpa prestasi” sebagai upaya sekolah untuk memberikan motivasi agar warga sekolah berusaha berprestasi. Seusai upacara diumumkan prestasi yang diraih siswa serta penyerahan piala dari para juara kepada kepala sekolah. Hal ini diharapkan mampu menumbuhkan kebanggaan pada siswa yang telah berprestasi maksimal dan memberikan dorongan pada siswa yang masih belum mendapatkan juara. Pembiasaan juga diterapkan pada saat pelajaran praktik, sebab ini berkait dengan penanaman sikap profesional dalam bekerja, termasuk menyangkut keselamatan kerja. Pelajaran praktik memberi pengalaman nyata memasuki dunia kerja yang sesungguhnya, dengan menggunakan benda kerja yang sebenarnya. Maka kepada siswa benar-benar ditanamkan disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan konsentrasi penuh, karena sekecil apapun kesalahan dalam dunia kerja tentu akan ada dampaknya. Dengan berbagai pembiasaan tersebut masing-masing individu akan memiliki modal untuk mencari lapangan kerja yang sesuai. Di samping itu diharapkan mampu mendorong lulusan SMK untuk berani menjadi wirausaha muda yang tangguh.

184

Taat Prosedur Operasional Setidaknya ada tiga hal pokok yang menjadi prioritas berkait dengan penyiapan tenaga terampil di sekolah ini yaitu masalah standard operational procedur (SOP), keselamatan kerja, dan team work. Taat SOP adalah kata kunci. Selama proses praktik kerja siswa wajib tunduk kepada prosedur. Berbagai tulisan standar operasi terpampang di dinding ruang praktik dan tempat terbuka lainnya. Bila kondisi awal ruang kerja terlihat rapi maka selesai bekerja kondisi akhir ruangan harus rapi kembali. Letakkanlah semua peralatan kerja pada tempatnya. Sebelum bekerja, siswa memeriksa peralatan (tools) dengan mengisi checklist. Kalau dijumpai ada peralatan yang kurang maka siswa harus mencatat dan segera melaporkan kepada guru atau supervisor. Kehilangan barang merupakan tanggung jawab kelompok siswa yang praktik pada jam atau hari sebelumnya. Dengan demikian terjadi mekanisme tanggung jawab kerja yang berangkai, antara kelompok siswa dengan kelompok siswa lainnya. Semua kegiatan yang melanggar SOP adalah pelanggaran, dan itu indikasi nyata bahwa yang bersangkutan belum berkompeten. Pada saat praktik kerja, misalnya menyervis mobil, siswa dibiasakan mencatat barang-barang konsumen yang ditinggal di dalam mobil. Ada STNK dan dompet di dalam laci, ada buku dan tas di bangku mobil dan lain-lain. Catatan itu ditandatangani oleh konsumen. Ini melatih tanggung jawab profesi sekaligus kejujuran siswa. Kemudian soal keselamatan kerja. Seringkali kecelakaan kerja terjadi berawal dari kelalaian manusia (human error). Maka hal itu harus dieleminasi dengan cara taat SOP seperti selalu

185

mengenakan kacamata bila hendak mengelas. Kompresor harus selalu dipantau, bila tabung penuh harus segera dimatikan agar tidak sampai meledak. Siswa dilarang mengenakan kalung tatkala praktik di bengkel sebab logam tersebut merupakan penghantar listrik yang kuat, yang bisa memancing kecelakaan kerja. Keterampilan individual memang penting tetapi kemampuan bekerja dalam tim (team work) lebih penting. Pembiasaan kerja tim terlihat pada penugasan-penugasan. Satu kelompok siswa menggarap proyek bersama dengan menggunakan satu alat secara bersama-sama, seperti membuat presisi baut hingga menyervis mobil. Kerja tim haruslah solid. Pekerja tidak boleh egois, sebab sikap ini kerap menjadi biang kecelakaan dan ketidakprofesionalan. Egois cenderung membentuk kepercayaan diri yang berlebihan dan enggan menerima masukan orang lain. Dia lalu berani menyiasati SOP , seperti tidak segera mengganti suku cadang mesin yang rusak, tetapi “mengakali” dengan mengutak-atik suku cadang yang rusak tersebut sampai berfungsi lagi. Padahal tindakan yang kelihatan “cerdik” ini justru riskan dan membahayakan jiwa orang lain. Sekecil apapun kesalahan dalam dunia kerja tentu akan ada dampaknya. Ringkasnya, penanaman sikap profesional dalam bekerja, termasuk menyangkut keselamatan kerja, menjadi acuan sekolah. Kepada siswa benar-benar ditanamkan disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan konsentrasi penuh. Dengan berbagai pembiasaan tersebut siswa memiliki modal untuk mencari lapangan kerja yang sesuai. Di samping itu diharapkan mampu mendorong lulusan SMK untuk berani menjadi wirausaha muda yang tangguh.

186

Testimoni
“Saya melihat kedisiplinan sudah tertanam di siswa SMKN 7 Semarang. Itu terlihat dari cara mereka masuk kantor tepat waktu, bekerja sesuai prosedur operasional. Pelanggan saya mengaku puas walaupun dilayani siswa OJT atau siswa praktik. Katnya, hasilnya sama dengan pelayanan yang diberikan pegawai tetap bengkel kami.” Beni Morthe Dinata Kepala Bengkel Nasmoro, Kaligawe

187

188

189

190

endidikan di dunia, termasuk di Indonesia, melakukan pembaharuan pendidikan dengan menengok dan akhirnya mengambil pola pendidikan negara-negara maju. Bagaimanakah sebetulnya potret sekolah di negaranegara Barat? Profesor Svi Shapiro dari University of North Carolina meninjau kembali situasi pendidikan di Amerika dalam Losing Heart: The Moral and Spiritual Miseducation of America’s Children. Ia menyaksikan sekolah-sekolah yang bersaing keras satu sama lain demi mencapai kualifikasi tertinggi sesuai dengan alat ukur yang ditetapkan pemerintah; ruang-ruang kelas yang lebih mirip pabrik untuk memproduksi sumber daya manusia yang akan dijual di pasar tenaga kerja; guru-guru yang sibuk mempersiapkan, melaksanakan, dan memeriksa hasil tes yang makin lama makin canggih; para siswa yang mengarahkan seluruh perhatiannya untuk lulus dalam tes-tes itu dengan ukuran dan kelulusan yang makin lama makin berat; orangtua yang memberikan wejangan “Belajarlah yang rajin, dapatkan nilai yang tinggi”, bukan lagi “Belajarlah yang rajin, jadilah orang yang bijak bestari”. Pendidikan sudah berubah menjadi sekadar bersekolah. Guru tidak lagi mendidik, ia hanya mengajar. Murid tidak lagi tumbuh, ia hanya belajar. Suasana sekolah yang menyenangkan, menggairahkan, dan mengesankan telah digantikan oleh

P

191

situasi yang menegangkan, melumpuhkan, dan membosankan. Dari lembaga-lembaga pendidikan, keluarlah orangorang yang mengubah kearifan menjadi informasi, masyarakat menjadi pasar, agama menjadi komoditas, politik menjadi rekayasa, dan kesetiakawanan menjadi nepotisme. Semuanya itu terjadi karena pendidikan telah kehilangan jiwanya, telah dilepaskan dari esensinya. “Education worthy of the name is essentially education of character,” kata Martin Buber. Tujuan pembelajaran ialah menghasilkan pelajar yang lulus dalam ujian sekolah. Tujuan pendidikan ialah menghasilkan anak didik yang lulus dalam ujian kehidupan. Hasil belajar adalah pengetahuan. Hasil pendidikan adalah karakter. “The dimensions of character are knowing, loving, and doing the good,” kata Thomas Lickona. Saya yakin bahwa para pendidik bangsa ini dahulu mendirikan sekolah agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan mengamalkan yang baik. Bersama mereka, kami membangun sebuah sekolah kecil dengan cita-cita besar, SMA Plus Muthahhari untuk “mengembangkan intelijensi, kreativitas, dan akhlak”. Sekarang ini, bersama Kementerian Pendidikan, kami bergabung dengan seluruh lembaga pendidikan di Indonesia, melancarkan bahtera dengan mengibarkan bendera “membangun karakter dan budaya bangsa.” Jauh dalam ufuk kerinduan kami, anak-anak didik kami bersimpuh di depan Ibu Pertiwi, menangis pilu, bukan karena tidak lulus ujian, tetapi karena mereka menggumamkan, “Kulihat Ibu Pertiwi... sedang bersusah hati...”.
Penulis adalah Pakar komunikasi

192

WALIMURID salah satu pilar penyangga pendidikan karakter.

etelah membaca berbagai kiprah dan model pembelajaran bermuatan pendidikan karakter di 10 sekolah contoh, yang disajikan pada halaman-halaman sebelumnya, kita mendapat gambaran nyata dan boleh jadi memetik beberapa manfaat. Kisah dan pengalaman mereka dapat memberi inspirasi dan menggerakkan semangat, dan mungkin menyulut penyadaran baru yang memungkinkan kita berseru, “ Wah, kalau cuma gitu kami juga bisa”. Lalu muncullah hasrat untuk mewujudkannya. Best practices tersebut setidaknya telah memberi panduan

S

193

konkret bahwa sesungguhnya pendidik karakter dapat diterapkan secara realistis, menyenangkan, dan murah. Bahkan pada beberapa jenis kegiatan ternyata gratis. Justru yang dibutuhkan adalah kreativitas, komitmen, dan perencanaan yang sistematik. Ambil misal kegiatan bersalaman dengan siswa di gerbang sekolah adalah kegiatan sederhana, segera dapat ditiru, tetapi pengaruhnya luar biasa. Anak merasa disambut dan mereka jadi berpakaian rapi agar tidak ditegur guru. Berdasar pantauan jumlah murid terlambat bisa menurun dengan sendirinya. Secara umum terlihat kegiatan pendidikan karakter di 10 sekolah tersebut dilaksanakan dalam tiga ranah. Pertama pengembangan nilai-nilai pokok karakter yang diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas. Ranah kedua, memadukan pendidikan karakter dengan aktivitas ko-kurikuler yaitu kegiatan belajar di luar kelas yang terkait langsung pada suatu materi dari suatu mata pelajaran, juga kegiatan ektrakuriluler, serta program-program khusus seperti perkemahan atau menggelar pameran di sekolah. Bahkan, ranah ketiga, ada juga yang sudah mulai melibatkan wali murid untuk ikut membangun pembiasaan yang selaras dengan yang dikembangkan di sekolahan. Walimurid diminta mencatat atau “sekadar” memberi contreng, buku penghubung tentang berbagai kebiasaan yang telah dilakukan anak saat di rumah. Juga ada sekolah yang intensif mengadakan pertemuan dengan wali murid (parenting forum) untuk menyamakan persepsi dan memaksimalkan bimbingan karakter terhadap anak didik. Namun dari segi porsi, secara umum sekolah-sekolah tersebut masih dominan menggarap pendidikan karakter di lingkungan kelas dan seputar halaman

194

Integrasi ke dalam KBM pada setiap Mapel

Pembiasaan dalam kehidupan keseharian di satuan pendidikan

KBM DI KELAS

BUDAYA SEKOLAH KEGIATAN KEHIDUPAN KESEHARIAN DI SATUAN PENDIDIKAN

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

KEGIATAN KESEHARIAN DI RUMAH

Integrasi ke dalam kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka Olahraga, Karya Tulis, Dsb.

Penerapan pembiasaan kehidupan keseharian di rumah yang sama dengan di satuan pendidikan

sekolah. Padahal pembudayaan dan pembiasaan karakter, sebagaimana diuraikan pada bagian prolog, selain dikembangkan di dalam kelas memang harus dikembangkan melalui budaya sekolah, kegiatan ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler, serta dalam kegiatan keseharian di rumah. Secara diagram dapat dilukiskan seperti pada gambar di halaman ini. Tantangan ke depan kita bersama adalah bagaimana kegiatan pendidikan karakter yang sudah mulai intensif dilaksanakan di sekolah-sekolah itu, juga mendapat proses penguatan (reinforcement) dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Sehingga berbagai perilaku yang dikembangkan di sekolah juga menjadi kegiatan keseharian di rumah maupun di lingkungan masyarakat masing-masing. Dalam konteks masyarakat secara nasional, kerja sama lintas sektoral sangat penting dalam mendukung keseluruhan proses pendidikan karakter sebagai suatu gerakan nasional. Syukurlah beberapa kementerian aktif terlibat yaitu Kementerian

195

Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementarian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perhubungan dan Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Peranan Wanita dan kementerian lain terkait. Pendidikan karakter setidaknya dapat dilaksanakan melalui dua cara yaitu, proses intervensi dan pembiasaan. Proses intervensi dikembangkan dan dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan berbagai kegiatan terstruktur. Dalam proses pembelajaran tersebut guru

KEGIATAN bersama walimurid dengan sekolah, menunjang pembinaan karakter.

196

sebagai pendidik yang mencerdaskan dan mendewasakan dan sekaligus sebagai sosok panutan. Sedang lewat proses pembiasaan diciptakan dan ditumbuhkembangkan aneka situasi dan kondisi yang berisi aneka penguatan yang memungkinkan siswa di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai yang diharapkan. Siswa juga didorong untuk menjadikan perangkat nilai yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi melalui proses olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa dan karsa itu sebagai karakter atau watak. Inilah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai yang dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis. Tentu butuh kesungguhan, kerja keras, dan proses panjang untuk mewujudkannya. Semoga di masa mendatang, kita sebagai orangtua bisa duduk tenang bahkan berbangga, manakala menyaksikan keberadaan generasi penerus yang berkarakter kuat dan mampu menghadapi tantangan pada zamannya. (*)

197

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->