P. 1
HADIS MUTAWATIR AHAD

HADIS MUTAWATIR AHAD

|Views: 729|Likes:
Published by Syam Ibn Affan

More info:

Published by: Syam Ibn Affan on Feb 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rasulullah SAW bersabda “Telah aku tinggalkan untuk kalian dua hal.

Barangsiapa berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat untuk selamanya, dua hal tersebut adalah Kitab Allah dan Sunnahku”.1 Dengan demikian setelah Al-Qur'an, umat muslim mengenal hadits sebagai sumber hukum kedua. Peranan hadits menjadi amat signifikan karena pada kenyataannya, hadits merupakan penjelas Al-Qur'an dalam bentuk segala perilaku dan ucapan Nabi, sehingga Al-Qur'an tidak dapat terlepas dari Hadits. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata tidak semua apa yang dihadapi oleh umat Islam dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur'an, sehingga para sahabat maupun tabi’in mencoba berusaha mengingat bagaimana Nabi pernah bersabda atau bersikap apabila menghadapi suatu permasalahan. Hadist biasa dijadikan dasar pijakan untuk memutuskan sebuah permasalahan karena hadits sebagai penjelas dari Al-Qur'an. Oleh karenanya perlu untuk mengklasifikasikan hadits, karena tidak semua hadits dapat dijadikan hujjah atau pedoman dalam menyelesaikan suatu persoalan. Dalam makalah ini mencoba menelaah pengklasifikasian hadits berdasar kualitas sanad dan matan hadits, supaya jelas hadits-hadits mana yang dapat dijadikan sebagai hujjah. B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan sanad ? 2. Bagaimana pembagian hadits berdasarkan kualitas sanad ? 3. Apakah yang dimaksud dengan matan ? 4. Bagaimana pembagian hadits berdasar matan ?

1

Munzier Suparta, Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), p. 9

1

C. Tujuan Pembahasan 1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan sanad 2. Mengetahui pembagian hadits berdasar kualitas sanad 3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan matan 4. Mengetahui pembagian hadits berdasar kualitas matan

2

BAB II PEMBAHASAN A. Sanad 1. Pengertian Sanad Menurut bahasa, sanad adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran.2 Sedangkan menurut istilah terdapat banyak pendapat diantaranya adalah menurut Al-Badru bin Jama’ah yang diungkapkan dalam Muzer Suparta bahwa sanad adalah:

‫الءخــبار عن طريق المتن‬
“Berita tentang jalannya matan”3 Yang lain menyebutkan:

‫سلسلــة الرجال الموصلة للمتن‬ ّ
“Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadits) yang menyampaikannya pada matan hadits4” Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad yaitu :

‫الطريقة الموصل إلى المتن‬ ّ
“Jalan yang menyampaikan pada matan hadits”5 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sanad adalah silsilah orang-orang yang menyampaikan hadits (perawi) dari sumbernya yang pertama. 2. Kesahihan Sanad Hadits Yang dimaksud dengan kesahihan sanad hadits menurut Subhi Shalih dalam Noor Kholis yaitu segala syarat atau criteria yang harus dipenuhi oleh suatu sanad hadits yang berkualitas shahih.6 Adapun criteria kesahihan sanad hadits yaitu: a. Ittishal as sanad (sanad bersambung). Yaitu tiap perawi dalam sanad hadits dari perawi pertama sampai terakhir menerima riwayat hadits dari perawi sebelumnya, yaitu sahabat.
2 3

Muhammad Ahmad dan Muzhakir. Ulumul Hadits, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), p. 51 Munzier Suparta, Ilmu Hadits…, p. 45 4 Ibid., p. 45 5 Muhammad Ahmad dan Mudzakir, Ulumul…, p. 51 6 Nur Kholis, Pengantar Studi Al-Qur'an dan Al-Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2008). p/ 252

3

Maka ulama’ membagi hadits berdasar sanadnya menjadi hadits mutawatir dan hadits ahad. 3. p. hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya. Terhindar syudzudz (kejanggalan). sebagian ulama membaginya menjadi 3 bagian yaitu hadits mutawatir. Ulumul…. masyhur dan ahad. beragama Islam. d. 129 8 9 Munzier Suparta. Ilmu Hadits…. 268 10 Muhammad Ahmad dan Mudzakir. 1995). 59 Nur Kholis. p. Kaedah-Kesahihan Sanad Hadits. mutawatir ialah mutatabi’ yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain tanpa jarak. melaksanakan ketentuan agama dan memelihara muru’ah. p. Yaitu memenuhi kriteria mukallaf.8 Sedangkan sebagian ulama’ yang lain menyatakan bahwa hadits masyhur bukan merupakan hadits yang berdiri sendiri. 65 4 . Terhindar dari ‘illah (cacat). a. Perawi bersifat dhabit.b. p. Pengantar Studi…. Hal ini sesuai dengan ulama’ ushul yaitu Abu Bakar Al Jasis yang menjadikan hadits masyhur berdiri sendiri. tetapi merupakan bagian dari hadits ahad.9 Sedangkan menurut istilah: ‫الحدديث المتواتر مارواه جمع تحل العادة تواطئهم على الكذب عن مثلهــم مــن‬ . Pembagian Hadits Berdasar Kualitas Sanad Ulama’ berbeda pendapat tentang pembagian hadits ditinjau dari sanad (kuantitas/jumlah perawi). (Jakarta: PT. e.10 Sementara Nur ad-Din ‘Atar mendefinisikan: ٌ ‫الذي يرواه جمع كثير‬ 7 Syuhudi Ismail. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan”. Hadits Mutawatir Secara bahasa. Bulan BIntang. Perawi bersifat ‘adil.7 c. Yaitu kuat hafalan atau hafal dengan sempurna. ‫اول السند الى منتهاه على ان يحتل هذا الجمع فى اي طبعة من طبعات السند‬ ّ ّ ّ ّ “Hadits mutawatir ialah suatu hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta.

mengenai batasan jumlah perawi terdapat perbedaan diantara ulama’ yaitu: a) Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. b) Al-Qodhi Al-Baqillani sekurang-kurangnya 5 orang.“Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang terhindar dari kesepakatan mereka untuk berdusta sejak awal sanad sampai dengan akhir sanad dengan didasarkan panca indera”. yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta”. Syarat-syarat Hadits Mutawatir 1) Diriwayatkan oleh sejumlah perawi Dalam hal ini bilangan perawi mencapai jumlah tertentu yang menurut adat mustahil bersepakat untuk berdusta.11 Ulama lain menyatakan hadits mutawatir yaitu: ‫هو خير عن‬ “Suatu hadits tanggapan pancaindera. Ilmu Hadits…. hal ini diqiyaskan dengan jumlah Nabi yang mendapat gelar ulul azmi. c) Al-Isthakhary menetapkan minimal 10 orang. 97 Muhammad Ahmad dan Mudzakir…. 11 12 Munzier Suparta. yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. d) Ulama’ lain menentukan minimal 12 orang berdasarkan pada firman Allah (QS. p. sebab jumlah 10 itu merupakan awal bilangan banyak. hal ini berdasarkan pengqiyasan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. Al-Maidah: 12). 64 5 . p. (12 : ‫وبعثنا منهم اثنى عشر نقيبا )المائدة‬ “…dan telah Kami angkat di antara mereka 120 orang pemimpin”.12 Dari uraian pendapat di atas dapat dikatakan bahwa hadits mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang memenuhi syarat tertentu yang beriringan antara satu dengan yang lain dan mustahil untuk bersepakat dan berdusta.

Al-Anfal : 65). niscaya mereka dapat mengalahkan duaratus orang musuh”. bukan dari hasil renungan. Hal ini berkaitan dengan peristiwa historic ketika ayat diturunkan jumlah umat Islam baru mencapai 40 orang. Noor Sulaiman PI. Al-A’raf: 155). g) Ulama’ lain menentukan sebanyak 70 orang. Penentuan jumlah perawi seperti dikemukakan di atas. Al-Anfal : 64). sebab yang diinginkan dengan banyak perawi adalah terhindarnya dari berbohong. Al-Anfal (7) : 155). 13 14 M. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa keseimbangan jumlah perawi pada tiap thabaqat tidaklah terlalu penting.14 3) Berdasarkan tanggapan panca indera Hadits yang disampaikan oleh perawi harus berdasarkan tanggapan panca indera artinya harus benar-benar dari hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. 2008). p. Ilmu Hadits…. 100 6 . p. sudah dapat dikategorikan sebagai hadits mutawatir. 87 Munzier Suparta. (65 : ‫إن يكن منكم عشرون صابرون يغلبوا مائتين )النفال‬ “Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu.13 2) Seimbang jumlah perawi Dalam hal ini adanya keseimbangan jumlah perawi sejak pada thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun berikutnya. f) Ulama’ lainya menentukan minimal 40 orang berdasarkan (QS. (QS. (Jakarta: Gaung Persada Press. sebetulnya bukan hal yang prinsip pokok yang dijadikan ukuran sekalipun jumlah perawinya tidak banyak asalkan telah memberikan keyakinan bahwa berita yang disampaikan diyakini benar. (155 : ‫واختار موسى قومه سبعين رجل لميقاتنا )العراف‬ ً “Dan Nabi Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon taubat dari Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan”. sesuai dengan firman Allah SWT (QS. Antologi Ilmu Hadits.e) Ulama’ yang lain menentukan minimal 20 orang berdasarkan firman Allah (QS.

15 Muhadditsin memberi pengertian hadits mutawatir lafdzi yaitu: ‫ما اتفقن الفاظ الرواة فيه ولو حكما‬ ّ “Suatu (hadits) yang sama mufakat bunyi lafadz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya”.. p. Menurut Al-Bazzar. Hal ini menurut Ibnu Al Shalah dan Al-Nawawi. hadits di atas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat.17 Contoh hadits mutawatir lafdzi: ‫قال رسول ال صلى ال عليه وسلم من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار‬ ّ ّ “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. p. menjadikan jumlah ini sangat sedikit. p. 101 7 . Sedangkan menurut Al-Nawawi hadits tersebut diriwayatkan oleh 200 orang sahabat. Macam-macam Hadits Mutawatir Hadits mutawatir terbagi atas: 1) Hadits Mutawatir lafdzi Mutawatir lafdzi yaitu : ‫ما تواترات روايته على لفظ واحد‬ ٍ “Hadits yang mutawatir periwayatannya dalam suatu lafdzi”. 15 16 Ibid. 101 Nur Kholis. Ilmu….16 Dengan demikian hadits mutawatir lafdzi yaitu periwayatan hadits oleh banyak rawi dalam satu lafal yang sama. Pengertian lainnya yaitu: ٍ ‫هو تواتر لفظه مارواه بلفظه جمع عن جمع‬ “Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafadznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi”. atau hasil instimbath dari dalil lain. Berat dan ketatnya kriteria hadits mutawatir lafdzi seperti di atas. Sedangkan menurut Ibnu Hibban dan AlAazimi hadits mutawatir lafdzi tidak ada.pemikiran atau rangkuman dari suatu peristiwa lain. Pengantar Studi …. 272-273 17 Munzier Suparta. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka”.

2) Hadits Mutawatir ma’nawi Yaitu : ّ ‫مااختلفوا فى لفظه ومعناه مع رجوعه لمعنى كلي‬ “Hadits yang berlainan bunyi lafadz dan maknanya. Atau: . Contoh: ‫كان النبي صلى ال عليه وسلم ل يرفع يديه فــى شــيئ مــن دعــائه إل فــى‬ .(‫الستسقاء وانه يرفع حتى يرى بياض ابطيه )متفق عليه‬ “Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa’-do’anya selain dalam do’a salat istisqo’ dan beliau mengangkat tangannya hingga nampak putih-putih kedua ketiaknya”.‫قال فرفع يديه حتى رأيت بياض ابطيه فاستسق ولقد رفع يديه فاستسقى‬ 3) Hadits Mutawatir Amali Yaitu : ‫ما علم من الــذين بالضـرورة وتــواتر بيــن المســلمين ان النــبي صــلى الـ‬ ّ . Antara lain hadits yang ditakhrij oleh Imam Ahmad. ‫عليه وسلم فعله او امر به او غير ذلك‬ “Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal tersebut berasal dari agama dan telah mutawatir diantara kaum muslimin bahwa 8 . hadits mutawatir ma’nawi yaitu hadits yang berasal dari berbagai periwayatan dengan lafadz yang berbeda-beda. Hadits yang semakna dengan hadits di atas tidak kurang dari 30 redaksi yang berbeda. tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum”. Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi: ‫قال فرفع يديه وما نرى فى السماء ســحابة فمــد يــديه حــتى رأيــت بيــاض‬ ّ ّ ‫إبطيه بستسقي ال عز وجل‬ . Dengan demikian. ‫ما اتفقت فتكتبه على معناه من غير مطابقة فى اللفط‬ “Hadits yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafadz”. tetapi mempunyai makna umum yang sama.

shalat janazah. tiga orang. raka’at shalat. dua orang atau lebih tetapi belum mencapai syarat untuk dimasukkan ke dalam hadits mutawatir. Jadi hadits mutawatir amali disebut juga ta’rif ijma’ yaitu urusan agama yang telah mutawatir antara umat Islam bahwa Nabi SAW mengerjakannya. Antologi. Macam-macam Hadits Ahad 18 19 Ibid. PL. ‫مالم تبلغ نقلته فى الكثرة مبلــغ الخــبر المتــواتر ســواء كــان المخــبر واحــدا أو‬ ‫اثنين أو ثلثا او أربعة أو خمسة أو إلى غير ذلك من العداد التى ل تشعر بلن‬ ً ‫الخبر دخل بها فى خبر المتواتر‬ “Suatu hadits yang jumlah pemberitanya tidak mencapai jumlah pemberita hadits mutawatir. empat orang. yang berarti satuan.. p.19 Sedang menurut istilah hadits ahad yaitu: ‫مال يجتمع فيه شروط التواتر‬ “Suatu hadits yang padanya tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir”. baik pemberita itu seorang. lima orang dan seterusnya. tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadits tersebut masuk ke dalam hadits mutawatir”. shalad i’ed. menyuruhnya atau selain dari itu. dua orang.. Dan sebagian ulama’ sepakat menjadikan hadits mutawatir sebagai hujjah. kadar zakat dan lain-lain.. b.Nabi SAW melakukannya atau memrintahkannya untuk melakukannya atau serupa dengan itu”. Hadits mutawatir dapat dipastikan sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW dan dapat dipastikan keshahihan pada matannya karena persyaratan pada hadits mutawatir begitu ketat dan mustahil perawinya berdusta. Sedang menurut istilah yaitu hadits yang diriwayatkan perorangan. haji. Hadits Ahad Kata ahad bentuk jamak dari wahid. 106 Noor Sulaiman. 90 9 . p.18 Contoh hadits mutawatir amali banyak jumlahnya seperti hadits yang menerangkan waktu shalat.

kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan orang setelah mereka”. p. Ulumul…. 20 21 Ibid.21 Pendapat lain mengatakan: ‫الحديث المشــهور اوالحــديث المســتفيض هــو الحــديث الــذى رواه الثلثــة‬ .‫بعده‬ “Hadits yang diriwayatkan dari sahabat tetapi bilangannya tidak sampai pada tingkatan mutawatir.Dilihat dari jumlah rawi.. ‫فاكثر ولم يصل درجة التواتر‬ “Hadits masyhur (hadits mustafid) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rawi atau lebih dan belum mencapai derajat mutawatir”. 94 10 .20 1) Hadits masyhur (hadits mustafid) Menurut bahasa masyhur berarti sesuatu yang sudah tersebar atau populer. misalnya: ‫المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده‬ “Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang Islam lainnya dari lidah dan tangannya”. b) Masyhur di kalangan ahli hadits dan ulama’ lain. Ulama’ ahli hadits membanginya menjadi dua yaitu hadits masyhur dan ghairu masyhur. hadits aziz. hadits ahad terbagi dalam 3 bagian yaitu hadits masyhur (hadits mustafid). p. Dimana hadits ghairu masyhur terbagi atas hadits aziz dan ghairu aziz. p. Antologi…. dan hadits gharib. sedangkanmenurut istilah antara lain: ‫مارواه من الصحابة عدد ليبلغ حتى التواتر ثم تواتر بعــد الصــحابة ومــن‬ ّ ّ . 90 M. Bukhari Muslim). 91 22 Muhammad Ahmad dan Mudzakir. Noor Sulaiman PL. (HR.22 Hadits masyhur dapat digolongkan menjadi: a) Masyhur di kalangan ahli hadits: Contoh yaitu hadits yang menerangkan Rasulullah SAW membaca do’a qunut sesudah ruku’ selama satu bulan penuh berdo’a atas golongan RII dan Dzakwan yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.

‫فله اجر‬ ٌ “Apabila seorang hakim memutuskan suatu perkara. d) Masyhur di kalangan ushul fiqh seperti : ‫إذا حكم الحاكم ثم اجتهد فأصاب فله جزان وإذا حكم فاجتهد ث ـم أخطــأ‬ ّ . karena keshahihan tidak dilihat dari masyhurnya tetapi dari kualitas sanad dan matan. seperti: ‫كنت كنزا مخفيا فأجنبت أن أعرف فخلقت الخلق فى بى عرفونى‬ ً “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. maka dia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenaran) dan apabila ijtihadnya itu salah. Dan masih banyak lagi hadits yang kemasyhurannya hanya di kalangan tertentu sesuai dengan disiplin ilmu dengan bidangnya masing-masing. 11 .c) Masyhur di kalangan fuqoha’ seperti : ‫ابغض الحلل الى ال الطلق‬ “Sesuatu yang halal dan dibenci Allah adalah thalaq”. kemudian ia berijtihad dan ijtihadnya itu benar. Namun demikian tidak semua hadits masyhur shahih. kemudian aku ingin dikenal. maka kuciptakan makhluk dan melalui aku mereka pun mengenalku”. maka dia memperoleh satu pahala (pahala ijtihad)”. ‫نهى رسول ال صلى ال عليه وسلم عن بيع الغرر‬ “Rasulullah SAW melarang jual beli yang di dalamnya terdapat tipu daya”.) ض‬sebab kami dari golongan orang-orang Quraish”. seperti: ‫العجل من الشيطان‬ “tergesa-gesa adalah perbuatan syetan” g) Masyhur di kalangan ulama Arab seperti ungkapan “Kami orang Arab yang paling fasih mengucapkan dad ( ‫ . e) Masyhur di kalangan ahli sufi. f) Masyhur di kalangan umum.

Ash-Shiddieqi. Hadits ini didhaifkan oleh Ahmad Al-Baihaqi dan lain-lain. Sedangkan menurut istilah. antara lain didefinisikan sebagai berikut: ‫ماجاء فى طبقة من طبقات رواته أو أكثر من طبقة اثنان‬ “Hadits yang perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua tabaqat sanad”.a) Hadits masyhur sahih seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: ‫اذا جاءكم الجمعة فليغتسل‬ “Barangsiapa yang hendak pergi melaksanakan shalat Jum’at. Hadits Aziz Aziz menurut bahasa berasal dari kata ‘azza-ya’izzu yang berarti layakadu yujadu atau qalla wa nadir (sedikit atau jarang adanya). 71 12 .24 2) Hadits ghairu masyhur Hadits ghairu masyhur oleh ulama’ hadits digolongkan menjadi hadits ‘aziz dan hadits gharib. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits. b) Hadits masyhur yang berstatus hasan: ‫ل ضرر ول ضرار‬ “Tidak memberikan bahaya atau membalas dengan bahaya yang setimpal.23 c) Hadits masyhur yang berstatus dhaif: ٍ ‫طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة‬ ٍ ّ “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”. (Jakarta: Bulan Bintang. 1987). ‫روه بعد ذلك جماعة‬ ٌ 23 24 Nurkholis. Pengantar Studi…. hendaklah ia mandi”. ّ ٍ ‫الحديث العزيز هو الحديث الذى رواه اثنان ولو كان فــى طبقــة واحــدة ث ـم‬ . 91 Hasbi. p. p.

Dalam tradiri hadits. hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya. Contoh hadits gharib mutlak yaitu: 25 26 Muhammad Ahmad dan Mudzakir. p. p. Ulumul…. Ulumul…. Bukhari dan Muslim).25 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu hadits dapat dikatakan hadits ‘aziz bukan hanya yang diriwayatkan dua orang pada setiap tingkatnya tetapi selagi ada tingkatan yang diriwayatkan oleh dua orang rawi maka tetap dapat dikategorikan sebagai hadits aziz. baik yang menyendiri itu namanya maupun selainnya. sekalipun penyendirian tersebut hanya terdapat dalam satu thabaqat. 95 13 . Contoh hadits aziz: ‫ليؤمن أحدكم حتى أكون أحبى اليه من ولده وولده والناس أجمعين‬ “Tidak beriman seseorang di antara kamu. sehingga aku lebih dicintainya daripada dirinya. Dilihat dari bentuk penyendirian perawi terbagi atas gharib mutlak dan gharib nisbi.“Hadits Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi. ‫ما تفرد بروايته شخض واحد فى اي موضع وقع التفرد به السند‬ ّ ّ ّ “Hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya.26 Sedangkan menurut Ibn Hajar yang dimaksud dengan hadits gharib yaitu: . dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi”. kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja. Hadits Gharib Hadits gharib. Noor Sulaiman PL. menurut bahasa berarti “al-munfarid” menyendiri. dan semua manusia”. 95 M. orang tuanya. a) Gharib mutlak yaitu apabila penyendirian itu mengenai personalianya. (HR. dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi”.

hanya saja Abu Hanifah menetapkan syarat tsiqqah dan adil bagi perawinya serta amaliahnya tidak menyalahi hadits yang diriwayatkan. Contoh hadits gharib nisbi: ‫كان يقرأ بــه رســول الـ صـلى الـ عليــه وســلم فـى الضــحى والفطربــق‬ . Lebih rendah dari hadits mutawatir Pengetahuan Kedudukan 14 . (HR. Perbedaan hadits mutawatir dengan hadits ahad: Hadits Mutawatir Jumlah rawi Diriwayatkan oleh banyak para perawi yang mustahil sepakat untuk berdusta. sama dengan kekerabatan dengan nasab. Lebih tinggi dari hadits ahad dalam kedudukan sebagai Hadits Ahad Diriwayatkan oleh para rawi dalam jumlah yang menurut adat kebiasaan masih mungkin sepakat untuk berdusta Menghasilkan ilmu bersifat dzanni (bersifat dugaan) bahwa hadits berasal dari Rasulullah sehingga kebenarannya masih berupa dugaan pula. Muslim) Kedudukan Hadits Ahad Jumhur ulama sepakat bahwa beramal dengan hadits ahad yang telah memenuhi ketentuan maqbul hukumnya wajib. tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan”. sebagai sumber ajaran Islam. berada di bawah kedudukan hadits mutawatir.‫الولء لحمة كلحمة النسبى ليباع ول يودهب‬ “Kekerabatan dengan jalan kemerdekaan. Menghasilkan ilmu qath’i (pasti) dan ilmu daruri (mendesak untuk diyakini) bahwa benar-benar berasal dari Rasulullah dan diyakini kebenarannya.(‫والقران المجيد واقتربت الساعة وانشق القمر )رواه مسلم‬ ّ “Konon Rasulullah pada hari raya qurban dan hari raya fitrah membaca surat qof dan surat Al-Qomar”. Karena hadits ahad diduga (zanni) berasal dari Rasulullah SAW. maka kedudukan hadits ahad. Abu Hanifah. Imam Al-Syafi’i dan Imam Ahmad memakai hadits ahad bila syarat-syarat periwayatannya shahih terpenuhi. b) Gharib nisbi adalah apabila penyendiriannya itu mengenai sifat atau keadaan tertentu dari sang perawi.

mengeluarkan. p. Pengertian Matan Hadits Matan menurut bahasa berarti ma irtafa’a min al-ardhi artinya tanah yang meninggi. Sedangkan menurut Al- 27 28 Munzier Suparta. 46 Muhammad Ahmad dan Mudzakir…. yakni sabda Nabi SAW yang disebut sesudah hadits disebut sanadnya”. Matan 1.27 Yang lain mengartikan sebagai membelah. . Contoh: ‫عن محمد عن ابى سلمة عن ابى هريرة ان النبي صلى ال عليه وسلم قال : لـو ل‬ (‫ان اشق على أمتي لمرتهم بالسواك عند كل صلة .Kebenaran sumber ajaran Islam Pada hadits mutawatir dapat ditegaskan bahwa keterangan matan hadits mutawatir mustahil bertentangan dengan keterangan ayat dalam Al-Qur'an Tidak mustahil bertentangan dengan Al-Qur'an karena ada kemungkinan hadits tersebut tidak berasal dari Rasulullah. )رواه البخارى والترمذى‬ ٍ ّ ّ Maka yang disebut dengan matan adalah yang bergaris bawah.28 ‫ما ينتهى إليه السند من الكلم‬ “Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad”. matan yaitu: . Sedangkan menurut istilah ahli hadits. Ilmu Hadits…. ‫ما انتهى إليه لسند من الكلم فهو نفس الحديث الذي ذكر السناد له‬ ّ “Perkataan yang disebut pada akhir sanad. 2. Dengan demikian yang dimaksud dengan matan ialah materi atau lafadz hadits itu sendiri. mengikat. p. ‫الفاظ الحديث التى تتقوم بها معانيه‬ “Lafadz-lafadz hadits yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu”. B. Kesahihan Matan Hadits Dalam Noor Kholis disebutkan bahwa unsur yang harus dipenuhi oleh suatu matan yang berkualitas shahih ada dua macam yakni terhindar dari syudzuz (kejanggalan) dan ‘illat (cacat). 52 15 .

95 16 . e.31 Al-Suyuthi juga mendefinisikannya secara ringkas sebagaimana dikutip oleh Munzier berikut: 29 30 Nurkholis. Ilmu Hadits…. Ikhtisar Musthalahul Hadits. 263 Munzier Suparta. Tidak bertentangan dengan akal sehat. Hadits Shahih Beberapa pengertian tentang hadits shahih ini adalah sebagai berikut: Pengertian hadits shahih menurut Ibnu As-Shalah yang dikutip oleh Munzier adalah: ‫الحديث الصحيح هو الحديث المسند الـذى يتصـل اســناده بنقــل العــدل الضـابط‬ ّ . p. Al-Ma’arif. sempurna ingatan. p.Khatib Al Baghdadiy. Tidak bertentangan dengan hadits mutawatir.29 3. ‫عن العدل الضابط إلى منتهاه ول يكون شاذا ول معـلل‬ ّ “Hadits shahih yaitu hadits musnad yang bersambung sanadnya dengan periwayatan ileh orang yang adil dhabith dari orang yang adil lagi dhabith juga hingga akhir sanad. p. b. suatu matan barulah dinyatakan sebagai shahih yaitu: a. tidak ber’illat dan tidak janggal”. 129 31 Fatchur Rahman. Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti. Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat. 1985). ‫ما نقله عدل تام الضبط متصل السند غير معـلل ول شاذ‬ ٍ ّ ٌ “Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawy yang adil. (Bandung: PT. Pembagian Hadits Dilihat dari Kualitas Matan a. d. c. serta tidak ada kejanggalan dan cacat”. sanadnya bersambung-sambung.30 Hal senada juga diungkapkan oleh Muhadditsiin sebagai berikut: . Pengantar Studi…. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (salaf). Tidak bertentangan dengan hukum Al-Qur'an yang telah muhkam (ketentuan hukum yang tetap). f.

diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabith.33 Jadi sanad dalam hadits shahih itu harus berkesinambungan sejak awal sampai akhir. kuat ingatannya. ‫ما اتصل سنده بالعدول الضابطين من غير شذوذ ول علة‬ ّ ّ ّ “Hadits yang bersambung sanadnya. (Jakarta: Bulan Bintang. Syarat-syarat Hadits Sahih Sebuah hadits bisa dikatakan shahih jika memenuhi syaratsyarat tertentu. dalam artian bahwa rangkaian para perawi hadits shahih sejak perawi terakhir sampai kepada perawi pertama (para sahabat) yang menerima hadits langsung dari Nabi Muhammad SAW bersambung dalam periwayatannya. 129 Muhammad Syuhudi Ismail. 2000). Kaidah Keshahihan Sanad Hadits. 1987). tidak ada kejanggalan yang menyimpang dari ayat. Pustaka Setia. (Bandung: CV.. b) Menjauhi dosa kecil yang dapat merendahkan martabat dirinya. 2) Periwayatannya yang Adil Keadilan perawi di sini berarti : a) Selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad dari hadits itu”. serta tidak cacat.32 Jadi. p. diriwayatkan oleh perawi yang adil. 127 34 Muhammad Ahmad dan Muhammad Mudzakir. Syarat-syarat hadits shahih adalah sebagai berikut: 1) Sanadnya Bersambung Sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Suhudi Ismail dari Muhammad Al-Shabbagh disebutkan bahwa “yang dimaksud dengan sanad bersambung ialah tiap-tiap periwayat dalam sanad hadits menerima riwayat hadits dari periwayat terdekat sebelumnya. p. c) Tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan penyesalan.34 Ibid. secra umum yang dimaksud dengan hadits shahih adalah hadits yang sanadnya muttasil. tidak syaz dan tidak ber’illat”. serta menjauhi perbuatan maksiat.. p 103 33 32 17 .

Faktor-faktor keadilan yang lain adalah sebagai berikut: 1) Beragama Islam. Ilmu…. Karena keempat hal tersebut merusak sifat ‘adil seorang periwayat hadits. Al-Baqarah: 282). Sementara orang yang tidak beragama Islam pasti tidak mendapatkan keridhaan seperti itu. 3) Penerapan kaidah Al-Jarh wa al-ta’dil. “Perawi yang dhabith adalah mereka yang kuat hafalannya terhadap apa yang pernah didengarnya. perawinya yang terkenal dengan keutamaan pribadinya. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal ini merupakan suatu paradigma akan kesanggupan memikul tanggung jawab mengemban kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Ulumul Hadits I (Terjemahan dari Manhaj An-Naqd Fi ‘Ulumul Al Hadits). 2) Baligh. 3) Berakal sehat. Kemudian mampu menyampaikan hafalan tersebut kapan saja diperlukan”. 64-65 36 Suparta. Ilmu…. p. menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani. gila maupun orang fasik tidak dapat diterima riwayatnya. (QS.37 35 Nuruddin. p. bila tidak ada kesepakatan di antara para kritikus perawi hadits mengenai kualitas pribadi para perawi tertentu. Sifat-sifat adil perawi dapat diketahui melalui: 1) Popularitas keutamaan perawi di kalangan ulama’ ahli hadits. 132 18 . yaitu menjauhi dosa-dosa besar dan tidak membiasakan perbuatan-perbuatan dosa kecil. Hal ini berdasarkan firman Allah : ‫ممن ترضون من الشهداء‬ ّ …dari saksi-saksi yang Engkauridhoi. 131 37 Suparta.35 Jadi orang yang bukan Islam. 1994). Sifat ini harus dimiliki oleh seorang periwayat agar dapat berlaku jujur dan berbicara tepat. p. masih kecil. 2) Penilaian dari para kritikus perawi hadits tentang kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri perawinya yang dimaksud.36 3) Periwayatannya yang Dhabith Sebagaimana yang dikutip oleh Munzier Suparta. 4) Takwa.

Kaedah…. kemudian dia menghafalnya dengan sungguh-sungguh dan dia berhasil hafal dengan sempurna sehingga dia mampu menyampaikan hafalannya itu kepada orang lain dengan baik”. Yang demikian itu tidak dianggap sebagai orang yang kurang ingatannya. 132-133 40 Ibid.38 Jadi secara umum perawi yang dhabit itu memiliki kemampuan untuk: a) Mengingat dengan baik b) Mendengarkan riwayat yang didengarnya c) Memahami riwayat yang didengarnya d) Menghafal riwayat yang telah diterimanya e) Menyampaikan riwayat yang diterimanya dengan baik. Namun demikian ada sebagian ulama’ yang menganggap bahwa orang yang memiliki kemampuan menghafal dengan baik. tetapi tidak memiliki kecerdasan dalam memahami riwayat yang ia dengar termasuk orang yang dhabith. Ilmu…. p.Menurut Muhammad Abu Zahra dalam kutipan Muhammad Suhudi Islmail. “orang dhabit ialah orang yang mendengarkan pembicaraan sebagaimana seharusnya dia memahami arti pembicaraan itu secara benar. menghafal dan menyampaikan riwayatnya dengan baik.40 38 39 Ismail. Adapun sifat-sifat kedhabitan perawi. Dan tentunya tingkatan periwayat seperti ini berada setelah ( di bawah) periwayat yang memiliki kemampuan untuk mendengar. menurut para ulama’ dapat diketahui melalui:39 1) Kesaksian para ulama 2) Berdasarkan kesesuaian riwayatnya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhabithannya. Mungkin saja kekeliruan atau keslahan itu sesekali terjadi pada seorang perawi. mengingat. 19 . Kedhabitan seorang perawi tidak berarti ia terhindar sama sekali dari kekeliruan. memahami.p135 Suparta..

Namun kebanyakan yang terjadi adalah ‘illat pada sanadnya. cacat atau penyakit. 20 . suatu hadits dikatakan shahih jika terbebas dari cacat baik cacat dalam sanad maupun matannya. Jadi. Misalnya meriwayatkan hadits secara muttasil (bersambung) terhadap hadits mursal (yang gugur seorang sahabat yang meriwayatkannya) atau terhadap hadits yang munqathi’ (yang gugur salah sorang rawinya) dan sebaliknya. Menurut Al-Hakim Al-Naysabury sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Syuhudi Ismail. dan lain sebagainya.42 Lebih kuat di sini dilihat dari segi kekuatan ingatannya. Sehingga orang yang meneliti ‘illat suatu hadits pun harus benar-benar orang-orang yang memiliki kemampuan yang lebih. Demikian juga dapat dianggap suatu illat hadits. Ikhtisar… p 100 Ahmad dan Mudzakir. yang dapat menodai kesahihan suatu hadits. ia berpendapat bahwa. Menurut As-Syafi’i sebagaimana yang diungkapkan oleh Munzier. Penelitian tentang ‘illat suatu hadits sangat memerlukan kejelian dan ketelitian. “acuan utama penelitian ‘illat hadits ialah hafalan. jumlah yang lebih banyak. yang dimaksud dengan syadz atau syuduz (jamak dari syadz) di sini adalah hadits yang bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat atau lebih tsiqqah. 41 42 Rachman. atau bahkan pada keduanya secara bersama-sama. ‘Illat hadits ialah suatu penyakit yang samara-samar. pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang hadits”. 5) Tidak ada Kejanggalan/Kerancuan (Syadz) Kerancuan (syadz) adalah suatu kondisi dimana seorang rawi berbeda denganrawi lain yang lebih kuat posisinya.41 ‘Illat hadits itu bisa terjadi pada sanad maupun matannya.4) Tidak Adanya ‘Illat Hadits ‘Illat bisa kita artikan cela. yaitu suatu sisian yang terdapat pada matan hadits.

hal-hal yang dapat menutupi kekurangan yang menimpanya itu”. p.Pengertian tersebut menunjukkan bahwa hadits yang tidak syadz adalah hadits yang matannya tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih kuat. tetapi mereka masih terkenal orang yang jujur.43 43 Rachman. 101 21 . lalu didapati padanya dari jalan lain yang serupa atau lebih kuat. ‫او ارجع ما يخبر ذلك القصور الواقع فيه‬ “Hadits yang keadaan rawy-rawynya kurang hafidz dan dhabith. Klasifikasi Hadits Shahih Hadits shahih itu dibagi menjadi 2 macam yaitu: a. b. hingga karenanya berderajat hasan. Shahih Lidzatihi Menurut Ibnu As-Shalah yang diungkapkan oleh Munzier menyebutkan bahwa shahih lidzatihi yaitu hadits yang memenuhi syarat-syarat atau sifat-sifat hadits maqbul secara sempurna. yaitu syarat-syarat yang lima. janganlah dua orang berbisik tanpa ikut serta orang ketiga”. Shahih Lighairihi Hasbi Ash Shiddieqy menunjukkan pengertian hadits shahih lighairihi sebagai berikut: ‫هو ما كان رواته متـأخرا عـن درجـة الحـافظ الضـابط مـع كـونه مشـهورا‬ ‫بالصدق حتى يكون حديثه حسنا ثم وجد فيه من طريق اخر مساو لطريقــة‬ ّ . Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari: ‫حدثنا عبد ال بن يوسف اخبرنا مالك عن نافع عن عبد ال أن رسول الــ‬ ٍ ‫صلى ال عليه وسلم قــال : اذا كــانوا ثلثــة فل يتنــاجى اثنــان دون الثــالث‬ (‫)رواه البخارى‬ Artinya: “Bukhari berkata: Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila mereka bertiga. Ikhtisar….

yang pada awalnya bukan hadits shahih. 135 Muhammad Ahmad dan Mudzakir.44 Berhujjah dengan Hadits Shahih Mengenai penggunaan hadits shahih sebagai hujjah ini para ulama memiliki pendapat yang berbeda. p. niscaya akan kuperintahkan bersiwak pada setiap kali hendak melaksanakan shalat”. namun akhirnya naik derajatnya menjadi hadits shahih karena ada faktor pendukung yang dapat menutupi kekurangan yang ada padanya. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan pada matannya”. PI. Antologi…. (HR. Namun ada sebagian pendapat yang menjadikan hadits shahih sebagai hujjah dalam persoalan aqidah. Hadits Hasan 1. ‫لو ل ان اشق على أمتي او على الناسى لمرتهم بالسواك مع كل صــلة‬ ٍ ّ ّ (‫)رواه البخارى‬ Artinya: “Andaikan tidak memberatkan pada umatku. tapi tidak dalam hal aqidah. p. Ilmu….45 b. hadits shahih lighairihi ini adalah hadits yang tidak memenuhi sifat-sifat hadits maqbul/shahih secara sempurna. 108 46 M. Noor Saliman. Sebagian ulama’ sepakat menjadikan hadits shahih sebagai hujjah yang wajib diamalkan dalam masalah halal-haramnya sesuatu. Bukhari).. Pengertian Hadits Hasan Mengenai arti hadits hasan ini ada beberapa pendapat yang mengungkapkannya. (tapi) tak begitu kokok ingatannya. p. Contohnya adalah hadits shahih lighairihi yang diriwayatkan oleh Bukhari yang dicontohkan oleh Abu Muhammad sebagaimana yang ditulis oleh Munzeir berikut ini: . 103 22 .‫مانقله عدل قليل الضبط متصل السند غير معلل ول شاذ‬ ّ ّ “Hadits yang dinukilkan oleh seorang adil.Jadi. Ulumul.46 44 45 Suparta. Pendapat para ulama mengenai pengertian hadits hasan adalah: .

Perawinya dhabith. Yang membedakan adalah kalau hadits shahih itu tingkat kedhabitan perawinya itu sempurna. 145 23 . namun tingkat ke-dhabithannya masih kurang sempurna. dan e. hanya saja tingkat ke-dhabitan perawinya kurang sempurna. Ilmu…. ‫الصحيح لذاته فإن قل الضبط فالحسن لذاته‬ ّ “Khabar ahad yang dinukilkan melalui perawi yang adil. hadits hasan ini hampir saja mirip dengan hadits shahih. bersambung sanadnya dengan tanpa ber’illah dan syadz. 144 Suparta. tidak ada cacat dan kejanggalan.47 Jadi yang dimaksud dengan hadits hasan adalah suatu hadits yang sanadnya bersambung.Sementara itu Ibnu Hajar mendefinisikan hadits hasan sebagai berikut: ‫وخبره الحد بنقل عدل تام الضــبط متصــل الســند غيــر معلــل ول شــاد هــو‬ . syarat-syarat hadits hasan sebagai berikut: a.. d. Sehingga. perawinya adil dan dhabith. Syarat-syarat Hadits Hasan Secara rinci. Tidak terdapat kejanggalan atau syudz. yang membedakan syarat-syarat hadits hasan dengan hadits shahih adalah tingkat kecerdasan dan kekuatan 47 48 Munzeir Suparta. Sanadnya bersambung b. tetapi kualitas ke-dhabitannya di bawah ke-dhabitan perawi hadits shahih. sedangkan dalam hadits hasan. Perawinya adil c.. tingkat kedhabitannya masih kurang sempurna.48 Sebenarnya syarat-syarat tersebut sama dengan syarat-syarat hadits hasan. sempurna ingatannya.p. Ilmu Hadits. namun bila kekuatan ingatannya kurang kokoh (sempurna) disebut hasan”. Tidak ber’illat. Jadi. 2. p.

Akhirnya digolongkan hadits itu ke ruang lingkup antara shahih dan dha’if yaitu yang dinamai dengan hadits hasan. 3.hafalannya saja. yakni karena matan dan para perawinya memenuhi syarat-syarat hadits shahih. Hasan Lighairihi Hadits hasan lighairihi adalah : 49 50 Ahmad dan Mudzakir. Klasifikasi Hadits Hasan Sebagaimana hadits shahih. hadits hasan juga dibagi menjadi dua bagian: a.50 b. tapi persyaratan shahihnya kurang terpenuhi sehingga tidak pas jika digolongkan ke dalam hadits shahih. tapi tidak pas jika digolongkan ke dalam hadits dha’if karena hampir semua persyaratan shahih hampir terpenuhi. p. Tapi juga seakan-akan mirip shahih. Istilah hadits hasan ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh Imam Turmudzi. 115 Munzier Suparta. Sedangkan pada hadits shahih tingkat kecerdasan para perawinya sempurna.49 Contoh hadits hasan lidzatihi : ‫عن محمدبن عمرو عن أبى سلمة عن أبى هريرة ان رسول ال صلى‬ ‫ال عليه وسلم قال : لول ان اشق على امتى لمرتهم بالسواك مع كل‬ . bahwa Rasulullah SAW berkata. Niscaya aku perintah mereka bersiwak (gosok gigi) untuk setiap kali hendak shalat”. Penyebab dimunculkannya istilah hadits hasan ini adalah karena hadits seperti itu seakan-akan dha’if. Hasan Li-Dzatihi Hadits hasan lidzatihi adalah hadits yang terwujud karena dirinya sendiri. p. kecuali keadaan rawi (rawinya kurang dhabith). ‫صلة‬ “Dari Muhammad Ibn ‘Amar dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. 146 24 . “Sekiranya tidak merepotkan kepada umatku. Ilmu Hadits….

Ikhtisar…. Jika hadits-hadits tersebut sangat lemah. ‫ارضيت من نفسك وما لك بنعلين ؟ قالت نعم فأجاز‬ “Apakah engkau rela menyerahkan dirimu dan hartamu dengan hanya sepasang sepatu? Perempuan tersebut menjawab: Ya. Contoh: . ‫نحوه من وجه اخر‬ “Hadits yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur tidak nyata keahliannya. maka tidak bisa naik ke derajat hasan. maka Nabi SAW pun memperbolehkannya”. Penggunaan Hadits Hasan Sebagai Hujjah Jumhur ulama’ mengatakan bahwa kehujjahan hadits hasan (hasan lidzatihi maupun hasan lighairihi) seperti hadits shahih meskipun derajatnya tidak sama. Hadits gha’if yang bisa naik ke hadits hasan ini hanyalah hadits yang tidak terlalu lemah dan diperkluat riwayat-riwayat lain yang dapat mengangkatnya. tidak nampak adanya sebab yang menjadikannya fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain”. 111 25 .‫مال يخلو إسناده مستور لم تتحقق اهليته وليــس مغفل كــثير الخطــاء‬ ّ ‫ول ظهر منه سبب مفسق ويكون متن الحديث معروفا برواية مثله أو‬ . Namun ada juga sebagian ulama’ yang mengatakan bahwa hadits hasan yang bisa dijadikan hujjah adalah hadits hasan lidzatihi. p.51 Maksud pengertian tersebut adalah bahwa hadits hasan lighairihi merupakan hadits dho’if yang dikarenakan rawinya mastur (tidak diketahui keahliannya). namun dia bukan seorang pelupa yang banyak melakukan kesalahan dalam periwayatannya dan juga bukan orang yang dituduh berbuat dusta dan fasik yang kemudian hadits tersebut naik derajatnya (ke tingkat hasan) karena dibantu oleh hadits-hadits lain yang semisal dan semakna (muttabi’ dan syahid). bukan pelupa yang banyak salahnya. 4. Sedangkan untuk hadits hasan 51 Rachman.

p. ‫الحديث الصحيح مالم يجتمع فيه صفات الصحيح ول صفات الحسن‬ “Hadits shahih yang di dalamnya tidak ada sifat shahih dan sifat hasan”53 Senada dengan pengertian itu disebutkan bahwa hadits dhaif: . Noor Sulaiman PI. ‫ما فقد شرطا او اكثر من شروط الصحيح او الحسن‬ “Ialah hadits yang kehilangan salah satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shahih atau hadits hasan”. maka ia bisa dijadikan hujjah. p. 151-152 26 . c. Jadi hadits dhaif adalah hadits yang lemah. pengertian hadits dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan diterimanya suatu hadits sebagai hadits shahih atau hasan”. Atau : . Hadits Dhaif 1. Pengertian Hadits Dhaif Dhaif artinya adalah lemah. Antologi…. Jadi secara umum. 2.lighairihi jika kekurangan-kekurangannya dapat ditutupi oleh banyaknya riwayat lain. Ilmu…. ‫الحديث الضعيف هو ما فقد شرطا او اكثر من شروط القبول‬ “Hadits dhaif adalah hadits yang tidak menemui satu syarat atau lebih dari syarat-syarat diterimanya suatu hadits”. Sebab-sebab Hadits Dha’if Tertolak Kalau dalam membahas hadits maqbul (shahih dan hasan) yang kita ungkapkan di antaranya adalah persyaratan suatu hadits 52 53 M. Adapun secara istilah. para ulama’ banyak yang mendefinisikannya dengan berbagai macam pengertian tetapi maknanya/kandungannya sama. lawan dari kuat. 105 Munzier Suparta.52 Definisi Al-Nawawi yang dikutip oleh Munzeir menyebutkan bahwa hadits dha’if adalah: ‫مالم يوجد فيه شروط الصححة ول شروط الحسن‬ “Hadits yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shahih dan syarat-syarat hadits hasan”.

f) Banyak wahamnya. c) Fasiq d) Banyak salah e) Lengah dalam menghafal. Haditsnya disebut mudraj bila ada penambahan sisipan. b) Gugur pada sanad terakhir (sahabat) disebut mursal. 54 Munzeir Suparta. i) Penganut bid’ah j) Tidak baik hafalannya. Hadits yang rawinya tertuduh dusta disebut matruk. maka haditsnya menjadi disebut hadits munkar. haditsnya disebut hadits mu’allal. sedangkan ketika kita membahas hadits mardud (dhaif) maka bahasa yang tepat bukanlah “persyaratan” tetapi “sebab-sebab ditolaknya suatu hadits”. p.dikatakab shahih dan hasan. h) Tidak diketahui identitasnya disebut mubham. 151-152 27 . Hadits yang rawinya dusta disebut maudhu’ b) Tertuduh dusta. yaitu:54 a. bila diputar balikan disebut maqlub disebut mudhtharib bila perawinya tertukar-tukar dan disebut muharraf bila yang tertukar adalah huruf syakal dan disebut mushahhaf bila perubahan itu meliputi titik kata. disebut syadz dan muktalith 2) Sanadnya tidak bersambung a) Gugur pada sanad pertama disebut mu’allaq. Ilmu…. g) Menyalahi riwayat yang lebih siqoh atau dipercaya. Para ahli hadits mengemukakan sebab-sebab tertolaknya hadits ini bisa dilihat dari dua jurusan. Sanad Hadits Dari sisi sanad hadits ini diperinci ke dalam dua bagian: 1) Ada kecacatan pada para perawinya baik meliputi keadilannya maupun kedhabithannya yang diuraikan dalam 10 macam: a) Dusta.

Hadits ahad yaitu hadits yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai syarat mutawatir. serta tidak cacat. hasan dan dha’if. 6. perbuatan atau taqririnya tetapi sandarannya terhenti pada thabaqat sahabat. BAB III PENUTUP Kesimpulan 1. Hadits mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang memenuhi syarat tertentu yang beriringan antara satu dengan yang lain dan mustahil untuk bersepakat dan berdusta. Dari kualitas matan hadits terbagi atas hadits shahih. 2) Hadits maqthu’ yaitu hadits yang diriwayatkan dari tabi’in dan disandarkan kepadanya baik perkataan maupun perbuatan. diriwayatkan oleh perawi yang adil. 5. b.c) Gugur dua orang rawi atau lebih secara berurutan haditsnya disebut mu’dszal. 4. d) Gugur rawi tidak berturut-turut disebut munqathi’. tidak ada kejanggalan yang menyimpang dari ayat. Matan hadits yaitu materi atau lafadz hadits. 3. Dari kualitas sanad hadits dibagi atas hadits mutawatir dan hadits ahad. Sanad hadits yaitu silsilah orang-orang yang menyampaikan hadits (perawi) dari sumbernya yang pertama. 2. 28 . Matan Hadits 1) Hadits mauquf yaitu perkataan sahabat. Hadits shahih yaitu hadits yang sanadnya muttasil. kuat ingtannya.

Syuhudi. 2004. Pokok-pokok Dirayat Hadits. Yogyakarta: Teras Rahman. Kaedah Kesahihan Sanad Hadits. Raja Grafindo Persada. Muhammad Mustafa. 1996. Azami. 2008. Hadits hasan yaitu suatu hadits yang sanadnya bersambung. Bandung: Pustaka Setia. Fathchur. Ulumul Hadits. 2002. Hadits dha’if yaitu hadits yang tidak memenuhi persyaratan diterimanya suatu hadits sebagai hadis shahih ataupun hasan. Bandung: PT. tidak cacat dan kejanggalan. Jakarta: Bulan Bintang. Al-Ma’arif Suparta. 2000. perawinya adil dan dhabith namun tingkat kedhabitannya masih kurang. Munzeir. Nur. 1985. Bandung: Pustaka Hidayah. Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. Jakarta: Pustaka Firdaus.7. 8. Jakarta: PT. Ikhtisar Musthalahul Hadits. Ilmu Hadits. Azami. Kholis. Jakarta: Bulan Bintang. Ismail. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Muhammad dan Mudzakir. Hasbi. 29 . 1987. 1995. Ashssiddieqi. Pengantar Studi Al-Qur'an dan Al-Hadits.

30 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->