P. 1
Peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan Usaha Kecil Menengah dan koperasi di daerah erupsi Merapi

Peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan Usaha Kecil Menengah dan koperasi di daerah erupsi Merapi

|Views: 3,762|Likes:
Published by elifelta
Peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan Usaha Kecil Menengah dan koperasi di daerah erupsi Merapi
Peran Pemerintah Daerah dalam memberdayakan Usaha Kecil Menengah dan koperasi di daerah erupsi Merapi

More info:

Published by: elifelta on Feb 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Di banyak negara, baik negara maju mauoun negara berkembang tumbuh kesadaran betapa pentingya peranan UKM terutama dalam hal kemampuannya menyerap tenaga kerja. Dengan sifat bisnisnya yang fleksibel UKM terbukti lebih tahan terhadap gejolak ekonomi, seperti yang terjadi di Indonesia pada awal masa krisi ekonomi tahun 1997. Usaha yang tergolong kecil menengah relatif sangat mudah melakukan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan.

Dari berbagai kelebihan UKM sebagai pelaku usaha, keberadaan UKM dipandang berperan penting dalam struktur ekonomi suatu negara.

Berdasarkan hal di atas maka dapat dilihat pentingnya UKM dalam perekonomian dalam mengatasi masalah krisis yang terjadi karena UKM adalah salah satu pelaku bisnis dalam domain dunia usaha. Menurut Halomoan Tamba (2002) dalam Gede (2009:2), agar UKM menjadi pelaku bisnis yang unggul (market leader) baik di pasar domestik (domestic market) maupun di pasar intemasional (international market), peranan aparatur pemerintah dalam membuat kebijakan publik yang kondusif adalah sangat besar sehingga dapat meningkatkan daya saing UKM. Pengertian daya saing di sini adalah kemampuan UKM melakukan kompetisi dengan pelaku ekonomi lain di pasar domestik maupun internasional. Daya saing berhubungan dengan bargaining potition dan bargaining potition terkait erat dengan peluang yang kita miliki. Dalam hal ini, peranan pemerintah sangat nyata untuk membuka dan memperbesar peluang pasar produk UKM.

Menurut Purnama (2004) dalam Gede (2009:2), dalam pengembangan UKM peranan pemerintah yang efektif dan optimal diwujudkan sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator. Sebagai fasilitator, pemerintah memiliki peran dalam memfasilitasi UKM untuk mencapai tujuan pengembangan usaha yang dimiliki oleh UKM. Jika UKM mempunyai kelemahan di bidang produksi, tugas fasilitator adalah memberikan kemampuan UKM dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan pelatihan. Demikian pula jika

UKM lemah dalam hal pendanaan, tugas fasilitator adalah membantu mencari jalan keluar agar UKM mampu mendapat pendanaan yang dibutuhkan, tetapi harus dilakukan secara hati±hati agar posisi UKM menjadi tergantung.

Fungsi pemerintah sebagai regulator adalah membuat kebijakankebijakan sehingga mempermudah usaha UKM dalam mengembangkan usahanya. Sebagai regulator, pemerintah berfungsi untuk menjaga kondisi lingkungan usaha tetap kondusif untuk melakukan investasi yang dilakukan dengan mengatur Suku Bunga Bank Indonesia (SBI) dan membuat kebijakan tentang aturan-aturan persaingan usaha. Fungsi terakhir dari pemerintah adalah sebagai katalisator yaitu mempercepat terjadinya pertumbuhan perkembangan dari UKM. Menurut Choeryanto (2007) dalam Gede (2009:3), fungsi sebagai katalisator ini merupakan fungsi yang kurang dikembangkan oleh pemerintah sampai saat ini. Jika pemerintah tidak menjalankan ketiga fungsinya secara maksimal, peran pemerintah dalam pegembangan UKM akan menjadi kurang efektif dan optimal. Pengembangan UKM merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan mulai sektor wilayah khusus bukan umum secara nasional karena sebagian besar UKM di Indonesia bergerak di pasar wilayah belum mencapai nasional. Hal ini mengakibatkan untuk dapat mengembangkan UKM secara efisien. Oleh karena itu, pemerintah daerah yang seharusnnya berperan karena

mampu mengembangkan melalui keunikan wilayahnya dan tempat UKM tersebut melakukan kegiatan. Selain itu, dengan adanya Pelaksanaan Otonomi Daerah (OTODA), tugas pengembangan daerah, melalui peningkatan peran UKM, merupakan peran pemerintah daerah. 1.2 Perumusan Masalah Letusan Merapi tanggal 26 Oktober 2010 menyebabkan berbagai kerusakan, baik secara materiil maupun non-materiil. Para pelaku usaha kecil menengah dan koperasi di kawasan Merapi banyak mengalami kerugian, selain kerugian materiil mereka juga masih harus menanggung angsuran beban kredit usahanya. Ratusan petani salak pondoh, usaha restoran, dan home

industry di Kaliurang Yogyakarta, juga hotel di sekitar Merapi dalam radius 20 Km terkena imbasnya (Media Indonesia, 11 November 2010).

Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan mengungkapkan, beban kredit yang harus ditanggung UKM sekitar Rp59 miliar. Namun demikian, dia melanjutkan, tidak semua kredit koperasi atau UKM akan dihapuskan. Koperasi dan UKM yang menderita kerusakan tidak terlalu parah, kredit bisa direstrukturisasi. Syarif menargetkan pada 2011 sudah bisa dimulai program pemulihan kegiatan koperasi dan UKM di kawasan tersebut (www.bisnis.vivanews.com). Untuk menjalankan pemulihan ekonomi masyarakat Merapi, pemerintah daerah sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator harus menjalankan tugasnya secara maksimal. Namun, sebelum terjadi erupsi Merapipun hal tersebut belum terjadi karena kurang optimalnya peran pemerintah sebagai fasilitator, regulator dan katalisator dalam pengembangan UKM, apalagi dalam masa recovery ini, peran pemerintah sangat dibutuhkan. Hal tersebutlah yang mendasari mengapa penulis melihat perlu meninjau hal-hal yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah agar mampu berperan sebagai fasilitator, katalisator dan regulator dalam pengembangan UKM, terutama dalam masa pemulihan pasca erupsi Merapi. 1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah agar mampu berperan sebagai katalisator dalam pengembangan UKM, terutama untuk memulihkan perekonomian di kawasan Merapi pasca-erupsi. Dengan demikian dapat menjadi bahan tinjauan bagi pemerintah daerah sehingga mampu mengembangkan UKM dengan efektif dan optimal. Dengan kata lain, pemerintah daerah akan mampu menjalankan fungsi sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator secara optimal. Dengan adanya kesadaran akan pentingnya peran katalisator pemerintah, akan tumbuh pemikiran-pemikiran baru dalam pengembangan peran pemerintah daerah sebagai regulator, fasilitator dan katalisator.

PEMBAHASAN

2.

Pemerintah sebagai Regulator, Fasilitaor dan Katalisator Pengembangan UKM dalam Masa Pemulihan Pasca-bencana Merapi Pelaksanaan Otonomi Daerah (OTDA) merupakan wacana pada era reformasi karena mempunyai bobot stratejik dan menjadi titik fokus perhatian penting dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Jika dilihat berdasarkan teori aliran discretion (diskreasi) Keyness, kesejahteraan masyarakat dilakukan dengan menciptakan kreasi ekonomi kecil menengah (pengembangan UKM). Pengembangannya sendiri disesuaikan dengan potensi dan kekhasan daerah masing-masing. Untuk itu diperlukan pelaksnaan fungsi katalisator pemerintah daerah.

2.1

Pemerintah sebagai Regulator Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sesungguhnya memiliki nilai strategis di dalam perekonomian Indonesia. Sektor UKM telah memberikan bukti, di tengah krisis ekonomi melanda pada tahun 1997 bahkan sampai sekarang, UKM mampu bertahan. Bahkan, ketika BBM melejit pun UKM walaupun ikut terpukul mampu menghadapi realitas perubahan iklim perekonomian. Jika kita membandingkan usaha skala besar dan UKM dari sisi permodalan. Rata-rata UKM paling tinggi membutuhkan dana untuk melakukan produksi tidak mencapai Rp 1 miliar. Sebut saja kalau setiap UKM bisa dibangun dengan dana sebesar Rp 50 juta, akan ada ribuan tenaga kerja yang bisa terserap. Selain itu, UKM lebih memiliki hubungan langsung dengan banyak lapisan masyarakat di daerah, sehingga manfaatnya b isa lebih dirasakan oleh masyarakat secara langsung. Sedangkan, usaha skala besar keuntungan yang diperoleh lebih banyak dinikmati oleh para pemilik usaha tersebut.

Pemerintah pada saat ini memang tengah mendorong pertumbuhan UKM di Indonesia. Sebagai regulator, pemerintah harus mampu memberikan gambaran peluang usaha yang memiliki prospek tinggi pada masa datang. 2.1.1 Kebijakan di Bidang Permodalan Mengingat kerusakan parah yang dialami pelaku UKM di kawasan Merapi, masalah permodalan menjadi isu yang sangat penting. Pemerintah telah mendata 1200 ekor sapi peternak mati, budidaya salak pondoh rusak, restoran dan home industry di Kaliurang, Sleman rusak, bahkan bangunan koperasi juga hancur (Media Indonesia, 20 November 2010). Pemerintah bisa mengambil kebijakan restrukturisasi permodalan dengan penjadwalan ulang pembayaran dan bahkan pemutihan kredit UKM berdsarkan klasifikasi usaha dan besarnya kerusakan. Salah satu kebijakan pemerintah untuk mengganti sapi peternak yang mati adalah kebijakan yang perlu diapresiasi dan ditingkatkan. Sumber dana kebijakan restrukturisasi modal ini bisa diambil dari APBN/APBD dan bantuan yang diterima baik dari dalam maupun luar negeri. 2.1.2 Kebijakan di Bidang Perizinan Pendirian Usaha Dalam pendirian usaha baru sering kali pengusaha dihadapkan dengan masalah perizinan yang berbelit, banyaknya pungutan liar dan lamanya proses pelayanan instansi pemerintah selalu menjadi kendala utama. Masa pemulihan ekonomi kawasan Merapi ini seharusnya bisa menjadi momentum yang tepat untuk perbaikan tubuh instansi pemerintah daerah setempat dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Secara teknis pemerintah daerah setempat bisa mengadopsi sistem pelayanan satu atap atau one stop service seperti yang sudah diterapkan oleh Pemkab Sragen atau Pemkot Surakarta. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tentang Sinkronisasi Pelaksanaan Pelayanan Modal di Daerah tanggal

15 September 2010 yang memprioritaskan pelayanan prima terhadap dunia usaha. Kaitannya dengan ini, pemerintah harus memberikan pelayanan prima kepada korban Merapi yang ingin memulai kembali usahanya yang telah hancur atau mendirikan usaha baru. Proses pemulihan ekonomi pascabencana tak akan berhasil tanpa peran pemerintah dalam pelayanan publik. 2.2 Pemerintah sebagai Fasilitator Sebagai fasilitator, pemerintah memiliki peran dalam memfasilitasi UKM untuk mencapai tujuan pengembangan usaha yang dimiliki oleh UKM. Jika UKM mempunyai kelemahan di bidang produksi, tugas fasilitator adalah memberikan kemampuan UKM dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan pelatihan. Demikian pula jika UKM lemah dalam hal pendanaan, tugas fasilitator adalah membantu mencari jalan keluar agar UKM mampu mendapat pendanaan yang dibutuhkan, tetapi harus dilakukan secara hati hati ± agar posisi UKM menjadi tergantung. 2.2.1 Fasilitator di Bidang Pendampingan Untuk bisa mandiri dalam melanjutkan dan meningkatkan usaha, UKM memerlukan pendampingan dalam hal manajemen usahanya. Pemerintah bisa mengambil kebijakan dengan mengundang perguruan tinggi, korporasi atau organisasi lain baik dalam atau luar negeri untuk memberi bantuan dalam bentuk pendampingan usaha. Pendampingan usaha ini bisa diimplementasikan dengan pemberian pelatihan, pendidikan dan peningkatan keterampilan. Japan International Cooperation Agency (JICA) telah menyatakan komitmennya dalam perannya memulihkan korban Merapi dan mengembalikan industri di kawasan Yogyakarta yang terkena dampak letusan Merapi. JICA menegaskan pentingnya recovery di sekitar Merapi. Dari hasil pertemuan Wapres Boediono dengan Presiden JICA, Sadako Ogata di Tokyo 15 September 2010 menyatakan bahwa kemungkinan JICA akan membantu korban Merapi di bidang finansial dan teknik asistensi.

Industri furnitur dan kerajinan di Yogyakarta banyak yang terkena imbas bencana, mereka telah kehilangan pasar yang menjadi mata pencaharian mereka. JICA sedang menyiapkan program refinancing dan pendampingan manajemen untuk usaha kecil di Yogyakarta, di sinilah peran pemerintah sebagai fasilitator dibutuhkan untuk memfasilitasi bantuan yang datang, terutama bidang pendampingan manajemen usaha. Pemerintah harus bisa mem-follow up tawaran dari JICA ini, selanjutnya untuk proses pelaksanaan pendampingan pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi, mengingat Yogyakarta dan Jawa Tengah mempunyai banyak perguruan tinggi yang mempunyai Lembaga Pengabdian Masyarakan (LPM). 2.2.2 Fasilitator di Bidang Pendanaan dan Permodalan Disamping memberikan bantuan pendampingan JICA juga

memprogramkan untuk memberi bantuan finansial kepada korban Merapi. Selain dari JICA ada banyak bantuan asing yang datang baik dari badan pemerintah maupun LSM asing. Sedangkan bantuan dari dalam negeri datang dari pemerintah pusat, masyarakat maupun dari pihak swasta. Tujuan pemberi bantuan adalah untuk merekonstruksi usaha bisnis korban erupsi. Untuk bisa mencapai tujuan itu dana yang ada harus didistribusikan dengan tepat sasaran dan harus terhindar dari terjadinya penyimpangan dana bantuan. Mulai dari pendataan, penaksiran, penyusunan rencana program, pelaksanaan program, pengawasan dan evaluasi merupakan tugas pemerintah daerah. Untuk itu koordinasi dan pengelolaan dana bantuan dari pemerintah daerah sangat diperlukan, di sini peran pemerintah daerah sebagai fasilitator permodalan untuk korban bencana dibutuhkan. 2.3 Pemerintah sebagai Katalisator Secara harfiah katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Menurut Rahmana (2008) dalam (Gede, 2009:6) peran pemerintah daerah sebagai kalatisator pengembangan UKM adalah mempercepat proses berkembangnya UKM

menjadi Fast Moving Enterprise. Fast Moving Enterprise, yaitu UKM yang

telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar. Untuk mencapai perkembangan Fast Moving Enterprise, seperti halnya sebuah katalis pemerintah daerah terkadang ikut terlibat dalam dalam proses tersebut namun tidak terlibat dalam mengatur proses keseluruhan proses perubahannya. Keterlibatan pemerintah daerah dalam keseluruhan proses tidak boleh dilakukan karena keterlibatan peran pemerintah terlalu banyak dalam kegiatan perekonomian akan menyebabkan perekonomian menjadi tidak efisien lagi sebab pasar tidak dapat bergerak secara alami. 2.3.1 Mengembangkan Komunikasi Kreatif Komunitas kreatif adalah kelompok yang memiliki kreativitas, imajinasi dan inovasi di dalam menciptakan dan menghasilkan produk-produk kreatif seperti musik, gambar, video maupun konten kreatif multimedia lainnya. Sampai saat ini sebagian komunitas kreatif belum dikembangkan bahkan keberadaannya hanyalah sebagai konsumen barang-barang kreatif. Jika pun melakukan kegiatan produksi biasanya hanya dilakukan untuk diri sendiri sehingga tidak memiliki nilai ekonomis. Untuk memberdayakan komunitas kreatif ini dapat dilakukan dengan membuat sebuah wadah tempat berkumpulnya komunitas kreatif. Dengan adanya wadah ini komunitas kreatif diharapkan dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman di antara komunitas seniman-pencinta seni-masyarakat umum dan mampu menjadi tempat untuk saling memicu para pekerja kreatif untuk terus berkarya. Yang terpenting dengan adanya wadah ini, hasil karya yang dihasilkan komunitas kreatif dapat memiliki nilai ekonomis sehingga mampu menciptakan bibit-bibit UKM. Di Yogyakarta sudah terdapat banyak wadah komunikasi kreatif seperti Jogja Art Crime, Lesehan Studio, Paguyuban Kembang Seroja, dan sebagainya. Pemerintah perlu merangkul wadah-wadah komunikasi kreatif tersebut untuk bekerjasama menyumbangkan ide-ide kreatif mereka kepada para korban bencana. 2.3.2 Memberikan Pengahargaan Pemberian penghargaan dari pemerintah tersebut akan memberikan ³rangsangan´ positif kepada keseluruhan UKM, baik yang mendapat

penghargaan maupun yang tidak. UKM yang menerima penghargaan akan merasa puas secara emosional dan psikologis sebab adanya penghargaan terhadap hasil kerja yang telah dilakukan. Bagi UKM lainnya, penghargaan dapat menjadi goal UKM tersebut, dapat menjadi dorongan untuk berinovasi lebih baik. Dengan demikian inovasi akan bertambah secara signifikan baik dari segi kuantitas maupun kualitas akibat adanya persaingan. Inovasi yang semakin berkembang menyebabkan UKM di daerah tersebut secara keseluruhan akan berkembang. 2.3.3 Memberikan Prasarana Intelektual Hak kekayaan intelektual (HKI) mempunyai potensi ekonomi yang besar. Selama ini pembajakan atas HKI sudah terjadi sehari-hari dan sudah tidak dianggap sebagai kejahatan. Dalam hal pemahaman HKI negara kita tertinggal jauh dibanding negara lain. HKI UKM dinilai sangat penting untuk mendorong daya saing dengan produk lain yang sejenis, selain sebagai akses perlindungan hukum atas produk yang dimilikinya dan upaya mengembangkan asset finansial perusahaan dari UKM mitra usaha dan mitra binaan lainnya. Sebagai contoh, awalnya, Korea dan Cina tidak bisa memproduksi mobil maupun alat elektronik sendiri. Namun, dengan memanfaatkan rezim HKI, mereka mengembangkan teknologi mereka sehingga akhirnya produk-produknya terkenal. Dari hal tersebut terlihat pentingnya HKI bagi industri tidak terkecuali UKM. Hal ini menjadi sesesuatu yang sangat penting dilakukan mengingat semakin dekatnya saat-saat dilaksanakannya pasar bebas. Ketika terjadi pasar bebas, barangbarang produksi dari seluruh belahan dunia akan mudah masuk ke Indonesia. Hal ini akan mempermudah terjadinya peniruan sebuah produk. Saat ini sebagian besar UKM di Indonesia tidak memiliki kesadaran pentingnya mendaftarkan produk hasil produksinya ke Kemenkumham. Oleh sebab itu kekayaan intelektual UKM di Indonesia sangat terancam dengan diberlakukannya pasar bebas. Ketika pasar bebas diberlakukan, kemungkinan produk-produk UKM di Indonesia akan ditiru semakin besar. Bukan tidak mungkin peniru produk tersebut nantinya akan mendaftarkan produk tersebut atas namanya sehingga yang mendapatkan keuntungan maksimal atas produk tersebut adalah si peniru.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu meberikan prasarana intelektual kepada UKM. Salah satu bentuk prasarana intelektual yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan HKI terhadap seluruh produk-produk hasil produksi UKM. Untuk melakukan hal tersebut, pemerintah daerah harus melakukan sosialisasi tentang pentingnya kepemilikan atas HKI kepada UKM dan mempermudah birokrasi kepemilikan atas HKI bagi UKM. Sebab dengan memiliki HKI produk UKM akan lebih berpeluang memasuki persaingan global dan tidak dibajak lagi karena sudah memiliki perlindungan hukum tetap. Dengan demikian akan tercipta rasa aman dalam berusaha dan memasuki pasar global, perusahaan akan dapat fokus dalam pengembangan dan pemasaran produk. Hal tersebut akan membuat UKM akan mampu berkembang lebih besar. Selain masalah HKI, pemerintah daerah dapat pula memberikan prasarana intelektual dengan menyediakan akses internet yang cepat kepada UKM. Mungkin penyediakan akses internet yang cepat kepada UKM saat ini masih sulit dilakukan. Namun, hal tersebut merupakan sebuah rencana stratejik dalam pengembangan sebuah usaha pada masa saat ini. Dengan melakukan pemasaran melalu dunia maya akan menyebabkan produk lebih dikenal oleh masyarakat luas dan citra perusahaan akan lebih baik.

PENUTUP

Peran pemerintah daerah dalam rangka pemulihan usaha dan bisnis di kawasan erupsi Merapi sebagai regulator, fasilitator dan kalatisator pengembangan UKM adalah dengan menerapkan kebijakan yang probisnis, memfasilitasi bantuan yang masuk dalam hal permodalan, teknis

pendampingan / binaan dan mempercepat proses berkembangnya UKM menjadi Fast Moving Enterprise. Pelaksanaan peran pemerintah daerah sebagai regulator, fasilitator dan katalisator akan mampu untuk mengembangkan UKM. Perkembangan UKM tersebut terjadi karena dengan melaksanakan peran sebangai regulator mampu menciptakan iklim investasi yang positif, sebagai fasilitator mampu memberikan mediasi dan prasarana yang baik dan sebagai katalisator mampu menciptakan keunikan (diffrentiation) dan biaya rendah (lower cost) dalam produk dari UKM.

DAFTAR PUSTAKA Gede, Diva: 2009. Mengembangkan UKM Melalui Pemberdayaan Peran Pemerintah Daerah. Bakrie School of Management, Jakarta Media Indonesia Edisi 12 Novmber 2010 Media Indonesia Edisi 20 Novmber 2010

PEMBERDAYAAN PERAN PEMERINTAH DAERAH SEBAGAI REGULATOR, FASILITATOR DAN KATALISATOR DALAM USAHA PEMULIHAN SEKTOR USAHA KECIL DAN MENENGAH DI WILAYAH ERUPSI MERAPI 2010

MAKALAH

DISUSUN OLEH NAMA: ELIF ARDIANTO NIM: D2D005223

ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->