P. 1
PROPOSAL SKRIPSI

PROPOSAL SKRIPSI

|Views: 2,453|Likes:
Published by Liana Styawindari

More info:

Published by: Liana Styawindari on Feb 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2014

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat, nikmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan proposal penelitian dengan judul “Penerapan Prinsip Akuntabilitas, Transparansi, Dan Partisipasi Publik Dalam Mewujudkan Good Governance Di Pemerintahan Lokal (Studi Deskriptif Kualitatif Di Kec.Wiyung Surabaya) ”. Penyusunan proposal penelitian ini dapat selesai tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Karena itu pada kesempatan ini saya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Seluruh jajaran dosen PMPKn program studi S1 Ilmu Administrasi Negara yang telah memberikan bekal ilmu, dukungan, serta banyak membantu dalam kelancaran penyusunan proposal penelitian ini. 2. Teman-teman program studi S1 Ilmu Administrasi Negara yang memberikan dukungan, sehingga saya bisa menyelesaikan proposal penelitian ini. 3. Semua pihak yang telah membantu dari awal hingga akhir penyusunan proposal ini yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Saya menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat saya nantikan demi perbaikan dan kesempurnaan proposal saya selanjutnya.

Surabaya, 07 Februari 2011

Penulis

1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………… DAFTAR ISI ……………………………………………………………. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……………………………………………………… B. Rumusan Masalah …………………………………………………… C. Tujuan dan Manfaat Penelitian …………..………………………… BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep dan Asas Pemerintah Daerah ……………………………… 1. Konsep pembentukan pemerintah daerah ……………………….. 2. Asas penyelenggaraan pemerintah daerah ………………………. B. Good Governance dalam Pemerintahan Lokal ……………………… 1. Good govenance …………………………………………………. 2. Pewujudan good governance dalam pemerintahan lokal ………… C. Prinsip Akuntabilitas, Transparansi, dan Partisipasi Publik ………… 1. Akuntabilitas ……………………………………………………. . 2. Transparansi ……………………………………………………… 3. Partisipasi Publik ………………………………………………… BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ………………………………………. . B. Jenis Penelitian ……………………………………………………… C. Populasi dan Sampel ………………………………………………… D. Sumber Data ………………………………………………………… E. Teknik Pengumpulan Data …………………………………………. F. Definisi Operasional Variabel ………………………………………. G. Instrumen Pengumpulan Data………………………………………. H. Teknik Analisis Data ………………………………………………. DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 27 27 27 28 28 29 30 30 31 8 8 9 12 12 16 19 19 21 23 3 7 7 1 2

D. Penelitian Terdahulu …………………………………………………. 25

2

BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 yang lalu memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah menyadari bahwa terpuruknya Indonesia dalam krisis ini disebabkan oleh berbagai faktor, yang salah satunya adalah penyelenggaraan negara yang buruk (poor governance) atau populer dengan sebutan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Akses pada sumberdaya ekonomi yang tersedia hanya terbatas pada segelintir komponen masyarakat, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi (sebelum krisis) pada kenyataannya hanya dinikmati sebagian kecil penduduk. Hal ini menyadarkan kita akan pentingnya reorientasi terhadap tata kehidupan bernegara (governance) untuk mewujudkan kehidupan yang demokratis, yaitu yang menjamin berlakunya mekanisme check and balance, distribusi kekuasaan secara sehat dan fair, adanya akuntabilitas pemerintahan, tegaknya supremasi hukum dan hak asasi manusia (HAM), serta struktur ekonomi yang adil dan berorientasi kepada masyarakat luas. Salah satu aspek reformasi yang mendapat perhatian hingga kini adalah persoalan kebijakan otonomi daerah. Sejalan dengan proses demokratisasi yang tengah berlangsung pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan desentralisasi (politik dan fiskal) dengan mengunakan kerangka hukum Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang - Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang kemudian direvisi dengan Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang - Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dengan landasan tersebut membawa perubahan yang cukup berarti terhadap hubungan pusat dan daerah. Suatu perubahan selalu ada sisi positif dan negatifnya, demikian juga dengan desentralisasi. Diharapkan melalui kebijakan desentralisasi tersebut dapat menyuburkan reformasi pada tingkat lokal dan memberi ruang gerak pada bidang politik, pengelolaan keuangan daerah dan pemanfaatan sumber-sumber daya daerah untuk kepentingan masyarakat lokal. Sehingga tercipta corak pembangunan baru di daerah. (Alfitra Salamm, 2005. hal v)

3

Selain keuntungan sebagaimana tersebut di atas desentralisasi juga mempunyai kecenderungan atau efek kurang baik. Sadu Wasistiono (2003) mencatat paling sedikit ada lima gejala umum dampak negatif dari desentralisasi yang nampak yaitu; Pertama, menguatnya rasa kedaerahan yang sempit dalam pemanfaatan sumber daya alam, penyusunan rencana pembangunan, pemberian layanan umum kepada masyarakat maupun dalam pengisian jabatan birokrasi daerah. Kedua, munculnya gejala ekonomi biaya tinggi sebagai akibat daerah hanya mengejar kepentingan jangka pendek untuk meningkatkan APBD. Ketiga, otonomi daerah masih dipahami secaras sempit sehingga hanya pemerintah daerah yang aktif, sedangkan peran serta masyarakat luas belum nampak. Keempat, adanya gejala ketidakpatuhan daerah dan atau penafsiran secara sepihak terhadap berbagai perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah pusat, padahal demokrasi memerlukan ketaatan hukum yang tinggi. Kelima dengan diberlakukanya Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 ada kecenderungan pergeseran titik pusat kekuasaan di daerah daerah dari eksekutif (executive heavy) ke tangan legislatif (legislative heavy) yang diikuti dengan pergeseran pusat-pusat korupsinya. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa desentralisasi kewenangan kepada pemerintah daerah akan menciptakan raja-raja kecil dan memindahkan praktek KKN ke daerah, jika tidak ditempatkan dalam kerangka demokratisasi (“Otonomi Daerah
Ciptakan Raja Kecil". KOMPAS, 19 Februari 2000).

Dengan kata lain, otonomi daerah belum

tentu menjanjikan keadilan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat, apabila agenda demokratisasi diabaikan di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya berbagai upaya agar desentralisasi ini tidak berimplikasi pemindahan kekuasaan yang otoriter (disertai korupsi, kolusi, nepotisme – KKN) dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, salah satunya yaitu dengan berpegang teguh pada prinsip pemerintahan yang demokratis serta berorientasi terhadap terwujudnya tata pemerintahan yang baik (good governance). Konsep good governance tentunya tidak hanya perlu diaplikasikan di tingkat nasional, tetapi bahkan lebih penting lagi adalah di tingkat lokal. Undang-undang (UU) nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah merupakan perwujudan salah satu prasyarat yang dibutuhkan (necessary), tetapi bukan berarti bahwa regulasi ini sudah mencukupi (sufficient) bagi terwujudnya tata pemerintahan yang baik. Oleh karena itu, pemerintah daerah juga harus dapat membuka ruang bagi 4

seluruh komponen masyarakat untuk dapat terlibat dalam seluruh proses pembangunan. Pelibatan tersebut membutuhkan beberapa prasyarat awal yang harus diimplementasikan oleh pemerintah daerah sendiri, khususnya dalam hal transparansi dan akuntabilitas. Dalam rangka hal tersebut, diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungajwaban pemerintah yang tepat, jelas dan nyata sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berdaya guna, berhasil guna dan bertanggungjawab serta bebas KKN. Menurut Sedarmayanti (2003), perlu diperhatikan pula adanya mekanisme untuk meregulasi akuntabilitas pada setiap instansi pemerintah dan memperkuat peran dan kapasitas parlemen serta tersedianya akses yang sama pada informasi masyarakat luas. Untuk mencegah agar kekuasaan politik, ekonomi, sosial dan budaya tidak dipegang oleh sekelompok elit daerah saja, maka dibutuhkan peranan media massa, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat, dan masyarakat pada umumnya untuk memantau proses pengambilan keputusan, mempedulikan pekerjaan serta kinerja pemerintahan daerah, menuntut adanya transparansi, dan meminta aparat pemerintah daerah untuk dapat mempertanggungjawabkan amanat yang diembannya. Dalam mewujudkan pertanggungjawaban pemerintah terhadap warganya salah satu cara dilakukan dengan menggunakan prinsip transparansi (keterbukaan). Melalui transparansi penyelenggaraan pemerintahan, masyarakat diberikan kesempatan untuk mengetahui kebijakan yang akan dan telah diambil oleh pemerintah. Juga melalui transparansi penyelenggaraan pemerintahan tersebut, masyarakat dapat memberikan feedback atau outcomes terhadap kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah. (BKSI, 2001) Dari sini terlihat bahwa good governance tidaklah terbatas pada bagaimana pemerintah menjalankan wewenangya dengan baik semata, tetapi lebih penting lagi adalah bagaimana masyarakat dapat berpartisipasi dan mengontrol pemerintah untuk menjalankan wewenang tersebut dengan baik (accountable). Karenanya, seringkali tata pemerintahan yang baik dipandang sebagai “sebuah bangunan dengan 3 tiang”. Ketiga tiang penyangga itu adalah transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi. Secara konseptual, hubungan antara ketiga komponen tata pemerintahan yang baik itu mutualistik dan saling mendukung. Efektivitas dan efisiensi sumber daya dalam mencapai tujuannya mensejahterakan bangsa menuntut tingkat akuntabilitas penyelenggara negara (pemerintah) yang relatif tinggi. Tanpa adanya partisipasi publik untuk mengamankan (safeguard) proses penyelenggaraan negara, sulit 5

diharapkan akuntabilitas dan penegakan hukum dapat berjalan dengan baik. Di lain pihak, partisipasi publik tidak mungkin dapat berjalan dengan efektif tanpa adanya hak publik untuk mengakses informasi yang dimilik oleh pemerintah. Sebaliknya, transparansi sendiri tidak mungkin tercipta jika pemerintah tidak bertanggunggugat dan tidak ada jaminan hukum atas hak publik untuk mengakses berbagai informasi tersebut. Jadi, ketiganya saling mengkait dan sulit untuk dapat berjalan sendiri tanpa adanya dukungan dari komponen lainnya. (Max Pohan, 2000) Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam skripsi ini penulis mengambil judul: “Penerapan Prinsip Akuntabilitas, Transparansi, dan Partisipasi Publik Dalam Mewujudkan Good Governance di Pemerintahan Lokal (Studi Deskriptif Kualitatif di Kec.Wiyung Surabaya) “. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Amin Rahmanurrasjid (2008) dengan judul “Akuntabilitas dan Transparansi dalam Pertanggungjawaban Pemerintah Daerah untuk Mewujudkan Pemerintahan yang Baik di Daerah” menekankan implementasi good governance yang mengacu pada PP Nomor 3 Tahun 2007, bahwa perwujudan tata kelola pemerintahan yang baik dalam otomoni daerah adalah dengan melakukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban pemerintah yang akuntabel dan transparan. Hal tersebut merupakan salah satu pendorong penulis melakukan penelitian lebih lanjut mengenai perwujudan good governance di pemerintahan lokal/daerah dengan mengkaitkan prinsip “partisipasi publik” didalamnya, karena penulis memandang bahwa partisipasi masyarakat juga merupakan salah satu faktor penting yang dapat menjaga agar otonomi daerah ini dapat memberikan manfaat (benefits) yang besar bagi masyarakat itu sendiri. Tetapi, tanpa adanya pemerintah lokal yang transparan, akuntabel (bertanggunggugat), dan responsif terhadap keluhan serta masukan masyarakatnya, sulit diharapkan juga good governance dapat berjalan. Sebaliknya, tanpa adanya partisipasi dan kontrol publik, pemerintah pun sulit dapat menjadi accountable dengan sendirinya. Oleh karena itu, penulis tertarik melakukan penelitian dan pengamatan mendalam di wilayah Kecamatan Wiyung Surabaya, karena di wilayah ini masyarakatnya tergolong cukup reaktif dan responsif terhadap segala keputusan maupun tindakan penyelenggara pemerintahan, sehingga hal tersebut dapat menjadi feedback dari masyarakat agar pemerintah dapat lebih akuntabel (bertanggunggugat) terhadap tuntutan publik. Selain itu, dengan kondisi masyarakat yang demokratis 6

tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran bagi penulis mengenai penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik di wilayah tersebut. B. RUMUSAN MASALAH Bertolak dari latar belakang masalah diatas dan untuk membatasi ruang lingkup pembahasan dalam penelitian ini, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana penerapan tiga pilar penting good governance (akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik) di pemerintahan tingkat lokal khususnya di Kecamatan Wiyung Surabaya ? 2. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik dalam mewujudkan good governance di Kecamatan Wiyung Surabaya ? C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan Penelitian : 1. Untuk mengetahui penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik di pemerintahan tingkat lokal khususnya di Kecamatan Wiyung Surabaya. 2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik dalam mewujudkan good governance di Kecamatan Wiyung Surabaya. Manfaat Penelitian : 1. Diharapkan dapat memberikan input kepada kepala instansi atau aparatur pemerintahan yang terkait terutama dalam mewujudkan good governance di pemerintahan tingkat lokal. 2. Memperkaya khasanah ilmu administrasi secara umum dan administrasi pemerintahan secara khusus. 3. Dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang berminat terhadap masalah penyelenggaraan pemerintah daerah.

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP DAN ASAS PEMERINTAH DAERAH 1. Konsep Pembentukan Pemerintah Daerah Sebelum memasuki pembahasan tentang konsep pemerintahan daerah, terlebih dahulu perlu dipahami apa yang dimaksud dengan istilah pemerintahan itu sendiri. Pemerintahan adalah kegiatan penyelenggaraan negara guna memberikan pelayanan dan perlindungan bagi segenap warga masyarakat, melakukan pengaturan, mobilisasi semua sumber daya yang diperlukan, serta membina hubungan baik di dalam lingkungan negara ataupun dengan negara lain. Di tingkat lokal tentu saja membina hubungan dengan pemerintahan nasional dan pemerintahan daerah yang lainya (Syaukani HR, 2002:233). Definisi tersebut tampak masih sangat umum, sehingga sulit untuk menentukan maksud dari kegiatan penyelenggaraan negara yang mana atau siapa yang dimaksud dengan pemerintahan nasional. Oleh karena itu, Syaukani menambahkan bahwa arti pemerintahan tersebut termuat dalam dua bentuk, yaitu pemerintahan dalam arti luas dan pemerintahan dalam arti sempit. Pemerintahan dalam arti luas menyangkut kekuasaan bidang legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sedangkan pemerintahan dalam arti sempit adalah pemerintahan dalam arti lembaga eksekutif saja, yang berfungsi to execute atau melaksanakan apa yang sudah disepakati atau diputuskan oleh pihak legislatif dan yudikatif. Pengertian pemerintahan tersebut, berlaku juga ketika memahami konsep pemerintahan daerah, baik dalam arti luas maupun sempit. Dalam arti luas, pemerintahan daerah merupakan penyelenggaraan pemerintahan oleh lembagalembaga kekusaan di daerah, yang dalam perkembanganya di Indoenesia terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. Sedangkan dalam arti sempit adalah hanyalah penyelenggaraan oleh kepala daerah saja. Pelaksanaan Pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek struktural dari suatu negara sesuai dengan pandangan bahwa negara sebagai sebuah organisasi, jika dilihat dari sudut ketatanegaraan. Sebagai sebuah organisasi, pelaksanaan pemerintahan daerah diharapkan dapat memperlancar mekanisme roda kegiatan organisasi. Pendelegasian sebagian wewenang dari seseorang atau

8

instansi atau suatu organisasi merupakan salah satu azas yang berlaku universal bagi setiap organisasi, yaitu dengan tujuanya agar kebijakan dapat terlaksana dengan efektif, meringankan beban kerja pimpinan, memencarkan peranan pim pinan sehingga terjadi demokratisasi dalam kegiatan organisasi (Mustamin, 1999:24-26). Secara umum pemerintahan daerah dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu pemerintahan perwakilan daerah (local self-government ) dan pemerintahan non perwakilan daerah (local state-government). Namun apabila kedua tipe tersebut digabungkan maka akan diperoleh empat jenis pemerintahan daerah yaitu: a. unit perwakilan dengan tujuan umum, b. unit non perwakilan dengan tujuan umum, c. unit perwakilan dengan tujuan khusus, dan d. unit non perwakilan daerah dengan tujuan khusus. Oleh karena itu, dalam implementasinya telah dikenal dua bentuk daerah yaitu daerah dalam arti otonom dan daerah dalam arti wilayah. Daerah dalam arti otonom yaitu daerah sebagai pelaksana asas desentralisasi. Daerah otonom merupakan daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri menurut undang-undang. Sedangkan daerah dalam arti wilayah, yakni daerah sebagai pelasksana asas dekosentrasi. Daerah wilayah yang dimaksud adalah daerah wilayah administratif, yaitu wilayah jabatan atau wilayah kerja (ambtressort) menurut undang-undang (Irawan Soejito, 1990:25). 2. Asas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Dalam penyelenggaraan pemerintahan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada beberapa asas yang digunakan yaitu : desentralisasi, dekosentrasi dan tugas pembantuan. a. Desentralisasi Keberadaan dan pelaksanaan desentralisasi di Indonesia menjadi penting ketika kekuasaan pusat menyadari semakin sulit untuk mengendalikan sebuah negara secara penuh dan efektif. Desentralisasi sendiri berasal dari bahasa latin yaitu de yang berarti lepas dan Centrum yang berarti pusat. Dengan demikian maka desentralisasi berarti melepas atau menjauh dari pusat. Hoogerwerf sebagaimana dikutip oleh Sarundajang (2001) mengemukakan bahwa :

9

“Desentralisasi

adalah

sebagai

pengakuan

atau

penyerahan

wewenang oleh badan-badan umum yang lebih tinggi kepada badanbadan umum yang lebih rendah yang secara mandiri dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sendiri mengambil keputusan pengaturan dan pemerintahan, serta struktur kewenangan yang terjadi dari hal itu” Sedangkan tentang ciri dari desentralisasi, Smith sebagaimana dikutip oleh Josef Riwu Kaho (2001) menyebutkan sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) penyerahan wewenang untuk melaksanakan fungsi pemerintahan tertentu dari pemerintah pusat kepada daerah otonom. Fungsi yang diserahkan dapat dirinci atau merupakan fungsi Penerima wewenang adalah daerah otonom Penyerahan wewenang berarti wewenang untuk menetapkan yang tersisa (residual functions)

dan melaksanakan kebijakan, wewenang mengatur dan mengurus (regelling en bestur) kepentingan yang bersifat lokal 5) 6) 7) 8) 9) b. Dekosentrasi Dekosentrasi sebenarnya sentralisasi juga tapi lebih halus daripada sentralisasi. Dekosentralisasi adalah pelimpahan wewenang administratif dari pemerintah pusat kepada pejabatnya yang berada pada wilayah negara di luar kantor pusatnya. Dalam konteks ini yang dilimpahkan adalah wewenang administrasi belaka bukan wewenang politis. Wewenang politis tetap dipegang oleh pemerintah pusat (Hanif Nurcholis, 2005:14). Dalam dekosentrasi yang dilimpahkan hanya kebijakan administrasi saja, sedangkan kebijakan politiknya tetap berada pemerintah pusat. Oleh karena itu 10 Wewenag mengatur adalah wewenang untuk menetapkan Wewenang mengurus adalah wewenang untuk menetapkan Keberadaan daerah otonom adalah di luar hierarki organisasi Menunjukan pola hubungan antar organisasi Menciptakan political variety dan diversity of structure dalam norma hukum yang berlaku umum dan bersifat abstrak norma hukum yang bersifat individual dan konkret pemerintahan pusat

sistem politik.

pejabat yang diserahi pelimpahan wewenang tersebut adalah pejabat yang mewakili pemerintah pusat di wilayah kerja masing-masing atau pejabat pusat yang ditempatkan di luar kantor pusatnya. Pejabat tersebut adalah pejabat pusat yang bekerja di daerah, yang bersangkutan diangkat oleh pemerintah pusat, bukan dipilih oleh rakyat yang dilayani. Oleh karena itu, pejabat tersebut bertanggungjawab kepada pejabat yang mengangkatnya. Konsekuensinya, pejabat daerah yang dilimpai wewenang bertindak atas nama pemerintah pusat. Sedangkan tentang ciri dari dekosentrasi, Smith sebagaimana dikutip oleh Hanif Nurcholis (2005) menyebutkan sebagai berikut : 1) Pelimpahan wewenang untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu yang dirinci dari pemerintah pusat kepada pejabat pemerintah pusat yang ada di daerah. 2) Penerima wewenang adalah pejabat pemerintah pusat yang ada di daerah 3) Tidak mencakup kewenangan untuk menetapkan kebijakan dan wewenang yang mengatur 4) Tidak menciptakan otonomi dan daerah otonom tetapi menciptakan wilayah administrasi. 5) Keberadaan field administration berada di dalam hirarki organisasi pemerintah pusat. 6) Menunuukan pola hubungan kekuasaan intra organisasi. 7) Menciptakan keseragaman dalam struktur politik. c. Tugas Pembantuan Selain asas desentralisasi dan dekosentrasi, dalam penyelenggaraan pemerintah daerah di Indonesia dikenal juga apa yang disebut dengan asas pembantuan (medebewind). Menurut Pasal 1 butir 9 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari propinsi kepada kabauapaten/kota dan /atau desa serta dari pemerintah kabupaten kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Dalam sistem medebewind pemerintah pusat atau pemerintah daerah otonom yang lebih tinggi menyerahkan urusan yang menurut peraturan perundangundangan merupakan kewenanganya kepada daerah otonom di bawahnya. 11

Daerah otonom yang dserahi ini lalu melaksanakan melalui perangkatnya (dinas-dinas). Dalam melaksanakan tugas tersebut, aparat pelaksana tidak bertanggungjawab kepada pemerintah pusat atau daerah lebih tinggi tapi kepada kepala daerah. B. GOOD GOVERNANCE DALAM PEMERINTAHAN LOKAL 1. Good Governance Good governance adalah sebuah bentuk ideal mekanisme, praktik dan tata cara pemerintah dalam mengatur dan memecahkan masalah-masalah publik. Adapun beberapa pengertian lain mengenai good governance, antara lain :  Suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, demokratis, dan efektif.  Suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah, dunia usaha swasta, dan masyarakat. Kepemerintahan yang baik (good governance) merupakan isu sentral yang paling mengemuka dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Menurut Sedarmayanti (2003) hal ini dikarenakan adanya tuntutan gencar yang dilakukan oleh masyarakat kepada pemerintah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang baik adalah sejalan dengan meningkatnya tingkat pengetahuan dan pendidikan masyarakat, selain adanya pengaruh globalisasi. Menurut United Nation Development Program (UNDP), governance atau tata pemerintahan memiliki tiga domain yaitu ; a. Negara atau tata pemerintahan (state)       menciptakan kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang stabil; membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan; menyediakan public service yang efektif dan accountable; menegakkan HAM; melindungi lingkungan hidup; mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik Menjalankan industri; Menciptakan lapangan kerja; Menyediakan insentif bagi karyawan; 12

b. Sektor swasta atau dunia usaha dan (private sector)   

    

Meningkatkan standar kehidupan masyarakat; Memelihara lingkungan hidup; Menaati peraturan; Melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pada masyarakat; Menyediakan kredit bagi pengembangan UKM Manjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi; Mempengaruhi kebijakan; Berfungsi sebagai sarana checks and balances pemerintah; Mengawasi penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah; Mengembangkan SDM; Berfungsi sebagai sarana berkomunikasi antar anggota masyarakat.

c. Masyarakat (society)      

STAKEHOLDERS
STATE
Executive Judiciary Legislature Public service Military Police

CITIZENS BUSINESS
Small / medium / large enterprises Multinational Corporations Financial institutions Stock exchange organized into: Community-based organizations Non-governmental organizations Professional Associations Religious groups Women’s groups Media

Ketiga domain tersebut berada dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sektor pemerintahan lebih banyak memainkan peranan sebagai pembuat kebijakan, pengendalian dan pengawasan. Sektor swasta lebih banyak berkecipung dan menjadi penggerak aktifitas di bidang ekonomi. Sedangkan 13

sektor masyarakat merupakan objek sekaligus subjek dari sektor pemerintahan maupun swasta. Karena di dalam masyarakatlah terjadi interaksi di bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. UNDP sebagaimanan yang dikutip oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) mengajukan karakteristik good governance sebagai berikut : a. Partisipasi (Participation) : setiap warga masyarakatmempunyai suara dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili kepentinganya. Partisipasi ini dibangun atas dasar kebeasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif. b. Aturan hukum (Rule of law) : kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang buku, terutama hukum untuk hak asasi manusia. c. Transparansi (Transparency) : Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Proses-proses, lembaga-lembaga dan informasi secara langsung dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Informasi harus dapat dipahami dan dapat dimonitor. d. Daya tangkap (responsiveness) : Lembaga-lembaga dan proses-proses harus mencoba untuk melayani setiap “stakeholders” e. Berorientasi Konsensus (Consensus Orientation) : Good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda utki memperoleh pilihanpilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas baik dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur. f. Berkeadilan (Equity) : Semua warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka. g. Efektivitas dan efisien (Efektiveness and dan efisiency) : Proses-proses dan lembaga-lembaga sebaik mungkin menghasilkan sesuai dengan apa yang digariskan dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. h. Akuntabilitas (Accountability) : Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggungjawab) kepada publik dan lembaga-lembaga. Akuntabilitas ini tergantung pada organisasi dan sifat keputusan yang dibuat, apakah keputusan tersebut untuk kepentingan internal atau eksternal organisasi

14

i. Visi Strategi (Strategi Vision) : Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini. Adapun beberapa manfaat apabila good governace diterapkan secara baik, yakni antara lain: a. Berkurangnya secara nyata praktik KKN di birokrasi yang antara lain Tidak adanya manipulasi pajak; Tidak adanya pungutan liar; Tidak adanya manipulasi tanah; Tidak adanya manipulasi kredit ; Tidak adanya penggelapan uang negara; Tidak adanya pemalsuan dokumen; Tidak adanya pembayaran fiktif; Proses pelelangan (tender) berjalan dengan fair; Tidak adanya penggelembungan nilai kontrak (mark-up); Tidak adanya uang komisi; Tidak adanya penundaan pembayaran kepada rekanan; Tidak adanya kelebihan pembayaran; Tidak adanya ketekoran biaya. Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan Sistem kelembagaan lebih efektif, ramping, fleksibel; Kualitas tata laksana dan hubungan kerja antarlembaga di pusat Sistem administrasi pendukung dan kearsipan lebih efektif dan Dokumen/arsip negara dapat diselamatkan, dilestarikan, dan Terhapusnya peraturan perUU-an dan tindakan yang bersifat ditunjukkan hal-hal berikut ini:              b.

yang bersih, efisien, efektif, transparan, profesional dan akuntabel.  

dan antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota lebih baik;  efisien;  c. terpelihara. diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat.

15

Kualitas pelayanan kepada masyarakat dan dunia usaha swasta SDM, prasarana dan fasilitas pelayanan menjadi lebih baik; Berkurangnya hambatan terhadap penyelenggaraan pelayanan Prosedur dan mekanisme serta biaya yang diperlukan dalam Penerapan sistem merit dalam pelayanan; Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelayanan Penanganan pengaduan masyarakat lebih intensif. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan Berjalannya mekanisme dialog dan musyawarah terbuka dengan

meningkat;  

publik;  pelayanan publik lebih baku dan jelas;  

publik;  d. publik.  masyarakat dalam perumusan program dan kebijakan layanan publik (seperti forum konsultasi publik). e. Terjaminnya konsistensi dan kepastian hukum seluruh peraturan Hukum menjadi landasan bertindak bagi aparatur pemerintahan Kalangan dunia usaha swasta akan merasa lebih aman dan terjamin perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun daerah.  dan masyarakat untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik.  ketika menanamkan modal dan menjalankan usahanya karena ada aturan main (rule of the game) yang tegas, jelas, dan mudah dipahami oleh masyarakat.  Tidak akan ada kebingungan di kalangan pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya serta berkurangnya konflik antarpemerintah daerah serta antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 2. Perwujudan Good Governance dalam Pemerintahan Lokal Dari beberapa pengertian good governance dan karakteristiknya, Joko Widodo (2001) menyimpulkan kebijakan yang dibuat secara bahwa pemerintahan politik, hukum, yang baik adalah ekonomi dan pemerintahan yang mampu mempertanggungjawabkan segala sikap, perilaku dan maupun

16

diinformasikan secara terbuka kepada publik, serta membuka kesempatan publik untuk melakukan pengawasan (kontrol) dan jika dalam prakteknya telah merugikan rakyat, dengan demikian harus mampu mempertanggungjawabkan dan menerima tuntutan hukum atas tindakan tersebut. Sedang sebagai perwujudan konkrit dari implementasi good governance di daerah adalah (Joko Widodo, 2001:30) : a. b. c. d. Pemerintah daerah administrasi publik diharapkan dapat berfungsi Pemerintah daerah dapat menjalankan fungsinya berdasarkan Aparatur pemerintah daerah mampu menghormati legitimasi Pemerintah daerah memiliki daya tanggap terhadap berbagai Untuk mengaplikasikan pemberdayaan masyarakat yang sesungguhnya, dibutuhkan pengembangan kelembagaan di pemerintahan lokal (baik ditingkat desa maupun ditingkat kabupaten/kota) secara menyeluruh yang mencakup beberapa aspek berikut: a. proses pembangunan, yang meliputi formulasi kebijakan (policy formulation), perencanaan (planning), penganggaran (budgeting), dan penetapan peraturan (legislation); b. peranan dan tanggung jawab lembaga negara, pemerintah, dan masyarakat; c. sistem organisasi, yang meliputi lembaga pemerintah di berbagai sektor dan daerah, lembaga negara, dan lembaga masyarakat; d. insentif dalam pembangunan, yang mampu meningkatkan inovasi masyarakat dalam pembangunan; e. kerangka legal, yang lebih memperhatikan kondisi masyarakat yang beranekaragam. (Max Pohan, 2000)  Kelembagaan di tingkat desa Di tingkat desa, UU nomor 22 tahun 1999 dapat dianggap sebagai instrumen yang mendukung proses demokratisasi ini. Desa merupakan satuan administratif dengan otonomi yang sangat luas. Kepala desa (sampai saat ini) merupakan satu-satunya jabatan eksekutif yang dipilih langsung oleh rakyat. Dan sebagai salah satu upaya untuk membatasi kekuasaan kepala desa, masa jabatannya dibatasi hanya untuk 2 periode saja (maksimum 10 tahun). dengan baik dan tidak memboroskan uang rakyat norma dan etika moralitas pemerintahan yang berkeadilan konvensi konstitusional yang mencerminkan kedaulatan rakyat variasi yang berkembang dalam masyarakat.

17

Upaya instalasi nilai-nilai demokratis di tingkat desa ini juga dilakukan melalui pembentukan Badan Perwakilan Desa (atau nama yang lain yang dipilih masyarakat setempat) yang merupakan lembaga yang dipisahkan dari eksekutif (pemerintah desa) dan merupakan perwakilan masyarakat yang dipilih langsung oleh masyarakat desa. Hubungan yang hierarkis antara desa dan kabupaten juga dihilangkan. Ruang bagi implementasi budaya lokal dalam pemerintahan desa kembali dibuka, dengan bebasnya masyarakat desa untuk menentukan sendiri wewenang, perangkat pemerintahan desa, dan penggunaan istilah. Implikasi lain dari UU nomor 22/1999 dan UU nomor 25/1999, adalah lebih dekatnya masyarakat desa dengan salah satu alat produksi terpenting yaitu dana. Alokasi dana yang lebih besar di tingkat kabupaten/kota akan meningkatkan kecepatan penyaluran dan ketepatan penggunaan dana sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Selama ini, proses perencanaan dari bawah (bottom-up) tidak dapat berjalan dengan baik antara lain diakibatkan oleh besarnya sumber dana yang masih dikelola oleh pusat.  Kelembagaan di tingkat kabupaten/kota Jiwa dari UU 22/1999 ini adalah perubahan titik pandang dari centralgovernmentcentered looking menjadi local-government-centered looking. Setiap wilayah bebas untuk menentukan kewenangannya sendiri, di luar beberapa hal yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dan beberapa bidang lain yang wajib diurusi oleh suatu wilayah. Wilayah yang lebih luas (misalnya propinsi) mengambil “sisa” kewenangan yang tidak diambil oleh wilayah yang tercakup di dalamnya (misalnya kabupaten/kota). Untuk mencegah pemindahan budaya otoriter dan top-down dari pusat ke daerah, UU 22/1999 ini juga dilengkapi dengan upaya demokratisasi lokal. Pertama, lembaga legislatif lokal (DPRD Kabupaten/Kota dan Badan Perwakilan Desa) merupakan lembaga kontrol dengan posisi sejajar dengan eksekutif. Kedua, kewenangan DPRD Kabupaten/Kota untuk memilih kepala daerah tanpa persetujuan pusat, mengkaji pertanggungjawaban kepala daerah, dan memberhentikan kepala daerah merupakan beberapa bentuk upaya pembentukan loyalitas yang lebih pada rakyat daripada kepada pemerintah pusat. Ketiga, di kawasan perkotaan diharapkan pemerintah daerah dapat memfasilitasi

18

pembentukan “forum perkotaan” sebagai wadah bagi pemda, masyarakat, dan pihak swasta untuk berinteraksi dan bersinergi untuk kepentingan kotanya. Khusus mengenai yang terakhir, pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa parlemen lokal belum mencukupi untuk menjamin teridentifikasinya kebutuhan masyarakat luas dan terwujudnya mekanisme kontrol terhadap pemerintah, sehingga dibutuhkan adanya partisipasi langsung masyarakat luas (voice mechanism) yang seringkali “dihubungkan” oleh masyarakat sipil (civil society) terutama di tingkat lokal.

19

C. PRINSIP AKUNTABILITAS, TRANSPARANSI, DAN PARTISIPASI PUBLIK 1. Akuntabilitas Pertanggungjawaban sebagai akuntabilitas (accountability) merupakan suatu istilah yang pada awalnya diterapkan untuk mengukur apakah dana publik telah digunakan secara tepat untuk tujuan di mana dana publik tadi ditetapkan dan tidak digunakan secara ilegal. Dalam perkembanganya akuntabilitas digunakan juga bagi pemerintah untuk melihat akuntabilitas efisiensi ekonomi program. Usaha-usaha tadi berusaha untuk mencari dan menemukan apakah ada penyimpangan staf atau tidak, tidak efisien apa tidak prosedur yang tidak diperlukan. Akuntabilitas menunjuk pada pada institusi tentang “cheks and balance” dalam sistem administrasi. (Joko Widodo, 2001:148) Lembaga Administrasi Negara (2000) menyimpulkan akuntabilitas sebagai kewajiban seseorang atau unit organisasi untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalaian sumberdaya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui pertanggungjawaban secara periodik. Akuntabilitas dibedakan dalam beberapa macam atau tipe, Jabra & Dwidevi sebagaiman dijelaskan oleh Sadu Wasistiono (2003) mengemukakan adanya lima perspektif akuntabilitas yaitu : a. akuntabilitas administ atif/organisasi, adalah pertanggungajwaban antara pejabat yang berwenang dengan unit bawahanya dalam hubungan hierarki yang jelas. b. akuntabilitas legal, merujuk pada domain publik dikaitkan dengan proses legislatif dan ydikatif. Bentuknya dapat berupa peninjauan kembali kebijakan yang telah diambil oleh pejabat publik maupun pembatalan suatu peraturan oleh institusi yudikatif. Ukuran akuntabilitas legal adalah peraturan perundang undangan yang berlaku. c. akuntabilitas politik, dalam tipe ini terkait dengan adanya kewenangan pemegang kekuasaan politik untuk mengatur, menetapkan prioritas dan pendistribusian sumber-sumber dab menjamain adanya kepatuhan melaksanakan tanggungjawab administrasi dan legal . Akuntabilitas ini memusatkan pada tekanan demokratik yang dinyatakan oleh administrasi publik 20

d.

akuntabilitas profesional, hal ini berkaitan dengan pelaksnaan

kinerja dan tindakan berdasarkan tolak ukur yang ditetapkan oleh orang profesi yang sejenis. Akuntabilitas ini lebih menekankan pada aspek kualitas kinerja dan tindakan. e. akuntabilitas moral, akunatabilitas ini berkaitan dengan tata nilai yang berlaku di kalagan masyarakat . Hal ini lebih banyak berbicara tentang baik atau buruknya suatu kinerja atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif berdasarkan ukuran tata nilai yang berlaku setempat. Tujuan dari prinsip akuntabilitas yaitu meningkatkan pertanggungjawaban para pengambil keputusan dalam segala bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. Para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat bertanggungjawab, baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang berkepentingan. Seluruh pembuat kebijakan pada semua tingkatan harus memahami bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada masyarakat. Untuk mengukur kinerja mereka secara obyektif perlu adanya indikator yang jelas. Sistem pengawasan perlu diperkuat dan hasil audit harus dipublikasikan, dan apabila terdapat kesalahan harus diberi sanksi. Instrumen dasar akuntabilitas adalah peraturan perundang-undangan yang ada, dengan komitmen laku politik dan akan akuntabilitas pemantauan maupun kinerja mekanisme adalah pertanggungjawan, pedoman tingkah sedangkan instrumen-instrumen sistem pendukungnya

penyelenggara

pemerintahan dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. Indikator-indikator yang dapat digunakan sebagai ukuran dalam penerapan akuntabilitas, antara lain :   Adanya kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar prosedur pelaksanaan; Adanya sanksi yang ditetapkan atas kesalahan atau kelalaian dalam pelaksanaan kegiatan.     Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap pemerintah Tumbuhnya kesadaran masyarakat Meningkatnya keterwakilan berdasarkan pilihan dan kepentingan masyarakat Berkurangnya kasus-kasus KKN.

21

Dengan perangkat pendukung indikator, seperti: adanya mekanisme pertanggungjawaban; laporan tahunan; laporan pertanggungjawaban; sistem pemantauan kinerja penyelenggara negara; sistem pengawasan; mekanisme reward and punishment; dll. 2. Transparansi Akuntabilitas atau accountability adalah kapasitas suatu instansi pemerintahan untuk bertanggung gugat atas keberhasilan maupun kegagalannya dalam melaksanakan misinya dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan secara periodik. Artinya, setiap instansi pemerintah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pencapaian organisasinya dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya, mulai dari tahap perencanaan, implementasi, sampai pada pemantauan dan evaluasi. (Meuthia Ganie Rochman, 1998) Transparansi berarti terbukanya akses bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap setiap informasi terkait (seperti berbagai peraturan dan perundang-undangan, serta kebijakan pemerintah) dengan biaya yang minimal. Informasi sosial, ekonomi, dan politik yang andal (reliable) dan berkala haruslah tersedia dan dapat diakses oleh publik (biasanya melalui filter media massa yang bertanggung jawab). Artinya, transparansi dibangun atas pijakan kebebasan arus informasi yang memadai disediakan untuk dipahami dan (untuk kemudian) dapat dipantau. Transparansi jelas mengurangi tingkat ketidakpastian dalam proses pengambilan pemerintah keputusan dapat dan implementasi kesempatan kebijakan kepada publik. Sebab, penyebarluasan berbagai informasi yang selama ini aksesnya hanya dimiliki memberikan berbagai komponen masyarakat untuk turut mengambil keputusan. Oleh karenanya, perlu dicatat bahwa informasi ini bukan sekedar tersedia, tapi juga relevan dan bisa dipahami publik. Selain itu, transparansi ini dapat membantu untuk mempersempit peluang korupsi di kalangan para pejabat publik dengan “terlihatnya” segala proses pengambilan keputusan oleh masyarakat luas. (Max Pohan, 2000) Makna dari transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat dilihat dalam dua hal yaitu; (1) salah satu wujud pertanggung jawaban pemerintah kepada rakyat, dan (2) upaya peningkatan manajemen pengelolaan dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan mengurangi kesempatan praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). 22

Sedangkan transparansi penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam hubungannya dengan pemerintah daerah perlu kiranya perhatian terhadap beberapa hal berikut; (1) publikasi dan sosialisasi kebijakan-kebijakan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, (2) publikasi dan sosialisasi regulasi yang dikeluarkan pemerintah daerah tentang berbagai perizinan dan prosedurnya, (3) publikasi dan sosialisasi tentang prosedur dan tata kerja dari pemerintah daerah, (4) transparansi dalam penawaran dan penetapan tender atau kontrak proyek-proyek pemerintah daerah kepada pihak ketiga, dan (5) kesempatan masyarakat untuk mengakses informasi yang jujur, benar dan tidak diskriminatif dari pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Informasi adalah suatu kebutuhan penting masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan daerah. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah daerah perlu proaktif memberikan informasi lengkap tentang kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada masyarakat. Pemerintah daerah perlu mendayagunakan berbagai jalur komunikasi seperti melalui brosur, leaflet, pengumuman melalui koran, radio serta televisi lokal. Pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan informasi. Kebijakan ini akan memperjelas bentuk informasi yang dapat diakses masyarakat ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia, bagaimana cara mendapatkan informasi, lama waktu mendapatkan informasi serta prosedur pengaduan apabila informasi tidak sampai kepada masyarakat. Tujuan dari prinsip transparansi itu sendiri adalah utuk menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Transparansi dibangun atas dasar informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintah, lembaga-lembaga, dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Instrumen dasar dari transparansi adalah peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi, sedangkan instrumen-instrumen pendukung adalah fasilitas database dan sarana informasi dan komunikasi dan petunjuk penyebarluasan produk-produk dan informasi yang ada di penyelenggara pemerintah, maupun prosedur pengaduan. 23

Indikator-indikator yang dapat digunakan sebagai ukuran dalam penerapan transparansi, antara lain :  Tersedianya informasi yang memadai pada setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan publik  Adanya akses pada informasi yang siap, mudah dijangkau, bebas diperoleh, dan tepat waktu.  Bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan   Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan daerahnya  Berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan perangkat pendukung indikator, seperti: adanya peraturan yang menjamin hak untuk mendapatkan informasi; pusat/balai informasi; website (egovernment, e-procurement, dsb); iklan layanan masyarakat; media cetak; papan pengumuman; dll. 3. Partisipasi Publik Partisipasi merupakan perwujudan dari berubahnya paradigma mengenai peran masyarakat dalam pembangunan. Masyarakat bukanlah sekedar penerima manfaat (beneficiaries) atau objek belaka, melainkan agen pembangunan (subjek) yang mempunyai porsi yang penting. Dengan prinsip “dari dan untuk rakyat”, mereka harus memiliki akses pada pelbagai institusi yang mempromosikan pembangunan. Karenanya, kualitas hubungan antara pemerintah dengan warga yang dilayani dan dilindunginya menjadi penting di sini. (Max Pohan, 2000) Hubungan yang pertama, mewujud lewat proses suatu pemerintahan dipilih. Pemilihan anggota legislatif dan pimpinan eksekutif yang bebas dan jujur merupakan kondisi inisial yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa hubungan antara pemerintah dengan masyarakat (yang diwakili legislatif) dapat berlangsung dengan baik. Pola hubungan yang kedua, adalah keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Kehadiran tiga domain pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam proses ini amat penting untuk memastikan bahwa

24

proses “pembangunan” tersebut dapat memberikan manfaat yang terbesar atau “kebebasan” bagi masyarakatnya. Max Pohan menambahkan bahwa pemerintah bertugas menciptakan lingkungan politik, ekonomi, dan hukum yang kondusif. Sedangkan sektor swasta menciptakan kesempatan kerja yang implikasinya meningkatkan peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Akan halnya masyarakat sipil (lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, koperasi, serikat pekerja, dan sebagainya) memfasilitasi interaksi sosial-politik untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan politik. Partisipasi bermaksud untuk menjamin agar setiap kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam rangka mengantisipasi berbagai isu yang ada, pemerintah daerah menyediakan saluran komunikasi agar masyarakat dapat mengutarakan pendapatnya. Jalur komunikasi ini meliputi pertemuan umum, temu wicara, konsultasi dan penyampaian pendapat secara tertulis. Bentuk lain untuk merangsang keterlibatan masyarakat adalah melalui perencanaan partisipatif untuk menyiapkan agenda pembangunan, pemantauan, evaluasi dan pengawasan secara partisipatif dan mekanisme konsultasi untuk menyelesaikan isu sektoral. Tujuan dari penerapan prinsip partisipasi ini yaitu, mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan “rasa memiliki” masyarakat terhadap segala kebijakan yang diputuskan. Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kepastian untuk berpartisipasi secara konstruktif. Instrumen dasar partisipasi adalah peraturan yang menjamin hak untuk menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, sedangkan instrumen-instrumen pendukung adalah pedoman-pedoman pemerintahan partisipatif yang mengakomodasi hak penyampaian pendapat dalam segala proses perumusan kebijakan dan peraturan, proses penyusunan strategi pembangunan, tata-ruang, program pembangunan, penganggaran, pengadaan dan pemantauan.

25

Indikator-indikator yang dapat digunakan sebagai ukuran dalam penerapan partisipasi, antara lain :  Adanya pemahaman penyelenggara negara tentang proses/metode partisipatif    Adanya pengambilan keputusan yang didasarkan atas konsensus bersama. Meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah Meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan Meningkatnya kuantitas dan kualitas masukan (kritik dan saran) untuk

daerah  pembangunan daerah dan terjadinya perubahan sikap masyarakat menjadi lebih peduli terhadap setiap langkah pembangunan. Dengan perangkat pendukung indikator, seperti: adanya pedoman pelaksanaan proses partisipatif; forum konsultasi dan temu publik, termasuk forum stakeholders; media massa nasional maupun media lokal sebagai sarana penyaluran aspirasi masyarakat; mekanisme/peraturan untuk mengakomodasi kepentingan yang beragam; dll. D. PENELITIAN TERDAHULU Penelitian sebelumnya dengan judul “Akuntabilitas dan Transparansi dalam Pertanggungjawaban Pemerintah Daerah untuk Mewujudkan Pemerintahan yang Baik di Daerah (Studi di Kabupaten Kebumen)” ditulis oleh Amin Rahmanurrasjid, S.H sebagai persyaratan memperoleh gelar Magister Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro Semarang pada Februari 2008. Penelitian tersebut dilatarbelakangi adanya otonomi daerah pasca reformasi tahun 1997 yang berimplikasi pada pergeseran kekuasaan pemerintahan pusat ke daerah. Pergeseran ini mengakibatkan banyaknya wewenang yang harus dikelola daerah dan dan berkurangnya pengawasan dari pemerintah pusat. Agar otonomi daerah dapat berjalan dengan baik diperlukan adanya tata kelola pemerintahan yang baik yang salah satu perwujudanya adalah perlunya pengembangan dan penerapan sistem pertanggubgjawaban pemerintah yang akuntabel dan transparan sesuai yang diamanatkan dalam PP Nomor 3 Tahun 2007. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui pelaksanaan pertanggungjawaban pemerintah daerah di Kabupaten Kebumen, implementasi

26

prinsip akuntabilitas dalam pertanggungjawaban pemerintah Kabupaten Kebumen dan kendala yang dihadapi dalam implementasi pertanggungjawaban pemerintah daerah. Dalam hasil temuan tesis tersebut menunjukkan bahwa, berdasarkan PP Nomor 3 Tahun 2007, terdapat 3 bentuk pertanggungjawaban yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kebumen yaitu Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban kepada DPRD dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada masyarakat. Impelementasi akuntabilitas dan transparansi dalam pertanggungjawaban pemerintah daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang baik di daerah menemui kendala karena tidak adanya evaluasi dari pemerintah atas penyampaian LPPD, penyampaian LKPJ tidak disertai dengan perhitungan APBD, pembahasan di DPRD yang cenderung bersifat politis dan sikap masyarakat yang apatis terdapat Informasi LPPD yang disampaikan. Amin Rahmanurrasjid menyimpulkan, agar akuntabilitas dan transparasi bisa terwujud dalam pertanggungjawaban pemerintah daerah di Kabupaten Kebumen maka perlu dievaluasi kembali mengenai ketentuan yang mengatur tidak samanya penyampaian LKPJ kepala daerah dan penyampaian Raperda tentang Pelaksanaan APBD dalam satu tahun anggaran, diperlukan adanya evaluasi dari pemerintah atas LPPD yang disampaikan pemerintah kabupaten dan diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat atas informasi LPPD .

27

BAB III METODE PENELITIAN
A. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Di dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti mengambil lokasi penelitian di wilayah Kecamatan Wiyung, Surabaya. Waktu : - 2011 B. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai fakta-fakta di lapangan yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini bersifat normatif yang selalu menitikberatkan pada sumber data sekunder. Sedangkan dasar penelitiannya adalah survei yakni penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung di lapangan (field research). C. POPULASI DAN SAMPEL a. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas subjek/objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik suatu kesimpulan (Sugiono, 2003:90). Jadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penyelenggara pemerintahan lokal dan juga masyarakat yang turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kecamatan Wiyung Surabaya. b. Sampel Dalam memilih sampel penelitian kualitatif menggunakan teknik non probabilitas, yaitu suatu teknik pengambilan sample yang tidak didasarkan pada rumusan statistik tetapi lebih pada pertimbangan subyektif peneliti dengan didasarkan pada jangkauan dan kedalaman masalah yang ditelitinya. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu suatu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Sugiono, 2003:93). Selain data yang diperoleh dari sampel-sampe yang

28

didapat,dalam melengkapi data peneliti juga memperoleh informasi dari masyarakat luar atau unsur pemerintah yang mengetahui masalah yang dibahas. D. SUMBER DATA Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari: a. Data primer adalah kumpulan data dari pengamatan langsung dari lokasi penelitian. b. Data sekunder adalah data yang terdiri dari buku- buku literatur yang membahas tentang good governance, akuntabilitas, transparasi, dan partisipasi publik, serta teori-teori yang berkenaan dengan penyelenggaraan Pemerintah Daerah. E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, digunakan metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Studi Dokumenter Yakni penelitian terhadap berbagai data sekunder yang berkaitan dengan obyek penelitian b. Wawancara Yaitu teknik pengumpulan data dari responden dikumpulkan dengan metode tanya jawab secara langsung dengan responden. Kegiatan wawancata tersebut dilakukan berdasarkan tipe wawancara terarah (directive interview) Responden dalam penelitian ini adalah Penyelenggara Pemerintahan Daerah di Kecamatan Wiyung, tokoh masyarakat/LSM di Kecamatan Wiyung, serta beberapa masyarakat umum di Kecamatan Wiyung Surabaya. c. Observasi Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian untuk melakukan pengamatan khususnya berkenaan dengan penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik di Kecamatan Wiyung Surabaya.

29

F. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL a. Akuntabilitas Akuntabilitas atau accountability adalah kapasitas suatu instansi pemerintahan untuk bertanggung gugat atas keberhasilan maupun kegagalannya dalam melaksanakan misinya dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan secara periodik. Artinya, setiap instansi pemerintah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pencapaian organisasinya dalam pengelolaan sumberdaya yang dipercayakan kepadanya, mulai dari tahap perencanaan, implementasi, sampai pada pemantauan dan evaluasi (Meuthia Ganie Rochman, 1998). b. Transparansi Transparansi berarti terbukanya akses bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap setiap informasi terkait seperti berbagai peraturan dan perundangundangan, serta kebijakan pemerintah dengan biaya yang minimal. Informasi sosial, ekonomi, dan politik yang andal (reliable) dan berkala haruslah tersedia dan dapat diakses oleh publik (biasanya melalui filter media massa yang bertanggung jawab). Artinya, transparansi dibangun atas pijakan kebebasan arus informasi yang memadai disediakan untuk dipahami dan (untuk kemudian) dapat dipantau. c. Partisipasi Publik Partisipasi merupakan perwujudan dari berubahnya paradigma mengenai peran masyarakat dalam pembangunan. Masyarakat bukanlah sekedar penerima manfaat (beneficiaries) atau objek belaka, melainkan agen pembangunan (subjek) yang mempunyai porsi yang penting. Dengan prinsip “dari dan untuk rakyat”, mereka harus memiliki akses pada pelbagai institusi yang mempromosikan pembangunan. Karenanya, kualitas hubungan antara pemerintah dengan warga yang dilayani dan dilindunginya menjadi penting di sini. d. Good Governance Good governance adalah sebuah bentuk ideal mekanisme, praktik dan tata cara pemerintah dalam mengatur dan memecahkan masalah-masalah publik. Adapun beberapa pengertian lain mengenai Good Governance, antara lain :

30

 Suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, demokratis, dan efektif.  Suatu gagasan dan nilai untuk mengatur pola hubungan antara pemerintah, dunia usaha swasta, dan masyarakat. e. Pemerintahan Lokal Dalam arti luas, pemerintahan lokal merupakan penyelenggaraan pemerintahan oleh lembaga-lembaga kekusaan di daerah, yang dalam perkembanganya di Indoenesia terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. Sedangkan dalam arti sempit adalah hanyalah penyelenggaraan oleh kepala daerah saja. G. INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA No. 1. 2. Jenis Metode Wawancara (interview) Pengamatan/observasi (observation) Jenis Instrumen Pedoman wawancara (interview guide), daftar cocok (check-list) Lembar pengamatan, daftar cocok. H. TEKNIK ANALISIS DATA Analisa data penelitian ini dilakukan simultan dengan menggunakan analisa kualitatif, yaitu data sekunder yang berupa teori, definisi dan substansinya dari beberapa literatur dan peraturan perundang-undangan serta data primer yang diperoleh dari wawancara dianalisis dengan teori dan pendapat para pakar yang relevan sehingga didapat kesimpulan tentang penerapan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik dalam mewujudkan good governance di Kecamatan Wiyung Surabaya. panduan

pengamatan, panduan observasi, dan

31

DAFTAR PUSTAKA
Isra, Saldi. 2006. Reformasi Hukum Tata Negara. Padang: Andalas Univ. Press. Lembaga Administrasi Negara dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. 2000. Akuntabilitas Dan Good Goverenance”. Jakarta: LAN dan BPKP Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mr. H. Mustamin DG. Matutu dkk. 1999. Mandat, Delegasi, Attribusi dan Implementasinya di Indonesia. Yogyakarta: UII Press. Nurcholis, Hanif. 2005. Teori dan Praktek Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Jakarta: Grasindo. Salamm, Alfitra. 2005. Menimbang Kembali Kebijakan Otonomi Daerah. Jakarta: LIPI. Sedarmayanti. 2003. Good Governance (Kepemerintahan Yang Baik) Dalam Rangka Otonomi Daerah. Bandung: Mandar Maju. Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Soejito, Irawan. 1990. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Jakarta: Rineka Cipta. Solihin, Dadang. 2007. Pengukuran Good Governance Index. Sekretariat Tim Pengembangan Kebijakan Nasional Tata Kepemerintahan yang Baik BAPPENAS. Syaukani HR., Afan Gaffar dan Ryas Rasyid. 2002. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

32

Wasistiono, Sadu. 2003. Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Bandung: Fokus Media. Widodo, Joko. 2001. Good Governance (Telaah dan Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah). Surabaya: Insan Cendekia. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (revisi dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (revisi dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999) BKSI. Mencari Format Dan Konsep Transparansi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Disajikan pada seminar “Menciptakan Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah: Memberdayakan Momentum Reformasi”. Forum Inovasi dan Kepemerintahan yang Baik, Universitas Indonesia. Depok, 12 Juni 2001. Max Pohan. Mewujudkan Tata Pemerintahan Lokal yang Baik (Local Good Governance) dalam Era Otonomi Daerah. Disampaikan pada Musyawarah Besar Pembangunan Musi Banyuasin ketiga, Sekayu, Oktober 2000. Rochman, Meuthia Ganie. Good Governance dan Tiga Struktur Komunikasi Rakyat dan Pemerintah. Makalah yang disajikan pada Seminar “Good Governance dan Reformasi Hukum” di Jakarta, Agustus 1998. http:/www.geocities.com/arsipda/makalah/reorganisasi.htm http://www.goodgovernance.or.id/ "Otonomi Daerah Ciptakan Raja Kecil". KOMPAS, 19 Februari 2000.

33

PROPOSAL PENELITIAN

PENERAPAN PRINSIP AKUNTABILITAS, TRANSPARANSI, DAN PARTISIPASI PUBLIK DALAM MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE DI PEMERINTAHAN LOKAL
(Studi Deskriptif Kualitatif di Kec.Wiyung Surabaya)

Disusun Oleh :

Liana Styawindari

(074674038)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN PMP-KN S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA 2011

34

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->