P. 1
Tugas Kepabeanan dan Cukai prekusor n farmasi

Tugas Kepabeanan dan Cukai prekusor n farmasi

|Views: 107|Likes:
Published by AntonYogasvara

More info:

Published by: AntonYogasvara on Feb 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/15/2012

pdf

text

original

Tugas Kepabeanan dan Cukai

Nama : Jurusan : NPM : Anton Yogasvara Administrasi Fiskal 2009 0906533386

1. Jawaban Latihan Kegiatan Belajar 4
Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetik. Alat kesehatan adalah instrument, apparatus, mesin, atau implant yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan, dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau untuk membentuk struktur dan mampu memperbaiki fungsi tubuh. Sedangkan obat tradisional adalah bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Untuk sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat kesehatan harus memenuhi standard an/atau persyaratan yang berlaku sebagai berikut : a. Standar untuk obat adalah buku farmakope Indonesia. Apabila belum ditetapkan, digunakan standar dari buku faramakope lain atau buku standar lain. b. Standar untuk obat tradisional dalah buku Materia Medika c. Standar untuk kosmetika adalah buku Kodeks Kosmetika Indonesia d. Untuk alat kesehatan ditetapkan berdasarkan persyaratan yang berlaku. Sediaan Farmasi dan Alat kesehatan diatur dalam PP No.72/1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Pada sediaan farmasi dan alat kesehatan diperbolehkan untuk diproduksi hanya badan usaha yang telah memenuhi izin usaha industry sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sedangkan untuk obat tradisional, standardisasi hanya diberlakukan bagi industi obat tradisional yang diproduksi dalam skala besar yang juga diatur dalam Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (ketentuan pidana).

Pscudoefedrin. Ergotamin.4-Metilon dioksi fenil-2 propanon.00. Safrol. Asam Fenil asetat. 3. Daftar jenis prekursor yang harus dilakukan pemantauan dan pengawasan : Kelompok I Anhidrida asetat.6.03181 tanggal 18 Desember 1997 Tentang Pemantauan Prekursor Psikotropika. HK. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan tentang Pemantauan Prekursor Psikotropika. Asam sulfat. 1-fenil 2-propanon. . Asam Lisergat. Penambahan dan perubahan jenis prekursor mengacu kepada jenis prekursor yang ditetapkan oleh intenasional di bidang psikotropika.06. Kalium Permanganat. Norefedrin. Jawaban Latihan Kegiatan Belajar 3 Prekursor diartikan sebagai zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika (Prekursor Narkotika) atau yang dapat digunakan dalam pembuatan psikotropika (Prekursor Psikotropika). Piperonal. Aseton. Ergometrin. Metil etil keton. Asam N asetil antranilat. Etil eter. Termasuk garam-garam dan sediaan-sediaannya yang mengandung satu atau lebih bahan tersebut kecuali asam klorida dan asam sulfat. Isosafrol. Prekursor perlu dilakukan pemantauan dan pengawasan untuk mencegah penyalahgunaan pembuatan narkotika maupun psikotropika. Ephedrin. Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No. Piperidin. Toluen. Kelompok II Asam antranilat. Asam klorida.2.

(2) Impor dan ekspor Prekursor harus dilengkapi dengan dokumen yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggunakan Prekursor di bidang farmasi diatur oleh Menteri. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh Surat Persetujuan Impor atau Surat Persetujuan Ekspor Prekursor untuk: a. b. industri farmasi diatur oleh Menteri. industri non farmasi diatur oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2010 Tentang Prekursor mengatur mengenai pengawasan dan pemantauan terhadap impor dan ekspor prekursor. atau c. (3) Setiap melakukan kegiatan impor dan ekspor Prekursor harus memperoleh Surat Persetujuan Impor atau Surat Persetujuan Ekspor. . untuk lebih jelasnya terlampir dalam Bab V Tentang Impor dan Ekspor dengan penjelasan sebagi berikut : BAB V IMPOR DAN EKSPOR Bagian Kesatu Surat Persetujuan Impor dan Surat Persetujuan Ekspor Pasal 10 (1) Impor dan ekspor Prekursor hanya dapat dilakukan oleh badan usaha yang memiliki izin usaha importir atau eksportir. atau yang menggunakan Prekursor di bidang non farmasi diatur oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.

dan c. Bagian Ketiga Transito Pasal 12 (1) Transito Prekursor harus dilengkapi dengan dokumen persetujuan impor atau persetujuan ekspor yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Bagian Kedua Pengangkutan Pasal 11 (1) Setiap pengangkutan Prekursor harus disertai dan dilengkapi dengan dokumen pengangkutan Prekursor yang sah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengangkutan Prekursor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Menteri dan/atau menteri terkait sesuai dengan kewenangannya. (2) Setiap perubahan negara tujuan ekspor Prekursor pada Transito. Pasal 13 . pemerintah negara pengekspor Prekursor. b. harus mendapat persetujuan dari: a. pemerintah negara pengimpor atau tujuan semula ekspor Prekursor. pemerintah negara tujuan perubahan ekspor Prekursor. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Menteri dan/atau menteri terkait sesuai dengan kewenangannya.

13. 12. 11.4-metilen dioksifenil 2-propanon 6. Berikut Jenis prekursor yang apabila diimpor atau diekspor wajib dilaporkan kepada Kepala Kantor : 1. 8. Pseudoefedrine.(1) Pengemasan dan pengemasan kembali Prekursor pada Transito hanya dapat dilakukan pada Prekursor yang kemasannya mengalami kerusakan. 1-Fenil –2 Propanon 7. Efedrin. Piperonal. Asam Lisergat 5. 9. 3. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengemasan dan pengemasan kembali Prekursor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Menteri dan/atau menteri terkait sesuai dengan kewenangannya. (2) Pengemasan dan pengemasan kembali Prekursor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan di bawah pengawasan dan tanggung jawab pejabat yang berwenang. Asam Fenil Asetat. Ergometrin 3. Anhidrida Asam Asetat. Ergotamin. Kalium Permanganat. 10. Metil etil keton . Asam N-Asetil Antranilat 2. Isosafrol 4. Safrol.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->