P. 1
BAHAN KIMIA PENJERNIH AIR

BAHAN KIMIA PENJERNIH AIR

|Views: 916|Likes:
Published by yiefi

More info:

Published by: yiefi on Feb 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2013

pdf

text

original

BAHAN KIMIA PENJERNIH AIR (KOAGULAN) Posted: Agustus 5, 2008 Koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi

muatan negatif partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel. Dalam pengolahan air sering dipakai garam dari Aluminium, Al (III) atau garam besi (II) dan besi (III). Koagulan yang umum dan sudah dikenal yang digunakan pada pengolahan air adalah seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini : REAKSI NAMA Aluminium sulfat, Alum Salum Sodium aluminat Polyaluminium Chloride, PAC Ferri sulfat Ferri klorida sulfat, Alum, FORMULA BENTUK DENGAN AIR Al2(SO4)3.xH2O x = 14,16,18 NaAlO2 atau Na2Al2O4 Aln(OH)mCl3n-m Fe2(SO4)3.9H2O FeCl3.6H2O Bongkah, bubuk Bubuk Asam pH OPTIMUM

6,0 – 7,8

Basa

6,0 – 7,8 6,0 – 7,8 4–9 4–9 > 8,5

Cairan, bubuk Asam Kristal halus Bongkah, cairan Kristal halus Asam Asam Asam

Ferro sulfat FeSO4.7H2O Tabel. Jenis Koagulan

Zat Koagulan terhidrolisa yang paling umum digunakan dalam proses pengolahan air minum adalah garam besi (ion Fe3+ ) atau Aluminium (ion Al3+ ) yang terdapat didalam bentuk yang berbeda-beda seperti tercantum di atas dan bentuk lainnya seperti : 1. AlCl3 2. Aluminium klorida dan sulfat yang bersifat basa/alkalis 3. Senyawa kompleks dari zat-zat tersebut diatas. Alum/Tawas

Jika zat-zat ini dilarutkan dalam air. akan terjadi disosiasi garam menjadi kation logam dan anion. Pada pH > 7 terbentuk Al ( OH )-4.(H2O)6]3+ . untuk aluminium pada pH < 4. Al2 ( OH )2 4+. hal ini disebabkan oleh muatan posistif yang kuat pada permukaan ion logam (hidratasi) dengan membentuk molekul heksaquo (yaitu 6 molekul air yang digabung berdekatan) atau disebut dengan logam (H2O)63+ . . Al ( OH )2 4+. seperti [Al. Reaksi alum dalam larutan dapat dituliskan. Pada pH < 7 terbentuk Al ( OH )2+. Flok –flok Al ( OH )3 mengendap berwarna putih. Semakin banyak ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Dalam cartesian terbentuk hubungan parabola terbuka. Ion logam akan menjadi lapisan dalam larutan dengan konsentrasi lebih rendah dari pada molekul air. untuk Fe pada pH < 2.: Al2S04 + 6 H2O —– Al ( OH )3 + 6 H+ + SO42Reaksi ini menyebabkan pembebasan ion H+ dengan kadar yang tinggi ditambah oleh adanya ion alumunium. Apabila pH tinggi atau boleh dikatakan kekurangan dosis maka air akan nampak seperti air baku karena gugus aluminat tidak terbentuk secara sempurna. Akan tetapi apabila pH rendah atau boleh dikata kelebihan dosis maka air akan tampak keputih – putihan karena terlalu banyak konsentrasi alum yang cenderung berwarna putih.Tawas/Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2S04 11 H2O atau 14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Jika pH meningkat ada proton yang akan lepas dari ion logam yang terikat tadi dan bereaksi sebagai asam. Ion Alumunium bersifat amfoter sehingga bergantung pada suasana lingkungan yang mempengaruhinya. sehingga memerlukan dosis yang tepat dalam proses penjernihan air. Ion seperti ini hanya stabil pada media yang sedikit asam . Gugus utama dalam proses koagulasi adalah senyawa aluminat yang optimum pada pH netral. Karena suasananya asam maka alumunium akan juga bersifat asam sehingga pH larutan menjadi turun.

Pada kenyataannya ion Al3+ dalam larutan koagulan terhidrasi dan akan berlangsung dengan ketergantungan kepada pH hidrolisa.2) Atau dengan HCO3− : HCO3− + H+ → CO2 + H2O ……3) Dari reaksi di atas menyebabkan pH air turun. [Al(H2O)6]3+ — [Al(H2O)5OH]2+ + H+ [Al(H2O)5OH]2+ — [Al(H2O)4(OH)2]+ + H+ [Al(H2O)4(OH)2]+ — [Al(H2O)3(OH)3] + H+ endapan [Al(H2O)3(OH)3] — [Al(H2O)2(OH)4]− + H+ terlarut Tahap pertama terbentuk senyawa dengan 5 molekul air dan 1 gugus hidroksil yang muatan total akan turun dari 3+ menjadi 2+ misalnya : [Al(H2O)5OH]2+. nH2O seperti ditunjukkan reaksi : 2Al3+ + (n+3)H2O → Al2O3. jadi pengendapan akan terjadi dalam bentuk flok. menghasilkan pH < 1. Bentuk endapan lainnya adalah Al2O3.1) Jika alkalinitas dalam air cukup. Larutan dengan pH >6 (dipengaruhi oleh Ca2+) akan terbentuk senyawa logam .Sebelum digunakan satu hal yang harus disiapkan yaitu larutan koagulan. koagulan harus lebih efektif. bila berada pada bentuk trivalen (valensi 3) seperti Fe3+ atau Al3+.. Senyawa yang terbentuk bermuatan positip dan dapat berinteraksi dengan zat kotoran seperti koloid. Jika pH naik terus sampai mencapai ±5 maka akan terjadi reaksi tahap kedua dengan senyawa yang mempunyai 4 molekul air dan 2 gugus hidroksil. Reaksi 1) biasanya digunakan untuk menghitung perubahan alkalinitas dan pH.5. Bila larutan alum ditambahkan ke dalam air yang akan diolah terjadi reaksi sebagai berikut : Reaksi hidrolisa : Al3+ + 3H2O → Al(OH)3 + 3H+ …. Di dalam larutan. Kelarutan Al(OH)3 sangant rendah. maka terjadi reaksi : Jika ada CO32− : CO32− + H+ → HCO3− + H2O ………. Reaksi-reaksi hidrolisa yang tercantum di atas merupakan persamaan reaksi hidrolisa secara keseluruhan.nH2O + 6H+ Ion H+ bereaksi dengan alkalinitas.

kapasitas dapar (buffer). Polimerisasi senyawa aluminium hidroksil berlangsung dengan menghasilkan kompleks yang mengandung ion Al yang berbeda berikatan dengan ion lainnya oleh grup OH−. . sebagian besar tergantung pada pH awal. maupun konsentrasi koagulan dan kondisi ionik (Ca2+ dan SO42–) maupun juga dari kondisi pencampuran dan kondisi reaksi. Untuk menghindari terbentuknya senyawa aluminium terlarut. karena ion divalen seperti SO42− dan HPO42− dapat diganti dengan ion-ion OH− dalam kompleks oleh karena itu dapat berpengaruh terhadap sifat-sifat endapan.netral (OH)3 yang tidak bisa larut dan mempunyai volume yang besar dan bisa diendapkan sebagai flok (di IPA). Senyawa yang terbentuk pada pH antara 4 – 6 dan yang terhidrolisa. Komposisi kimia air juga penting. Senyawa itu disebut dengan cationic polynuclier metal hydroxo complex dan sangat bersifat mengadsorpsi dipermukaan zat-zat padat. suhu. Bentuk hidrolisa yang akan terbentuk didalam air .8 ion aluminat [Al(H2O)2(OH)4]− atau hanya Al(OH)4]− yang terbentuk yang bermuatan negatip dan larut dalam air. [Al8(OH)20]4+ . Presipitasi dari hidroksida menjamin adanya ion logam yang bisa dipisahkan dari air karena koefisien kelarutan hidroksida sangat kecil. Jika alkalinitas cukup ion H+ yang terbentuk akan terlepas dan endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3 yang terbentuk. maka jangan dilakukan koagulasi dengan senyawa aluminium pada nilai pH lebih besar dari 7. [Al13(OH)34]5+ Selama koagulasi pengaruh pH air terhadap ion H+ dan OH− adalah penting untuk menentukan muatan hasil hidrolisa. dapat dimanfaatkan untuk polimerisasi dan kondensasi (bersifat membentuk senyawa dengan atom logam lain) misalnya Al6(OH)153+. Aluminium sering membentuk komplek 6 s/d 8 dibandingkan dengan ion Fe (III) yang membentuk suatu rantai polimer yang panjang. seperti : [Al7(OH)17]4+ . Contoh : OH [(H2O)4 Al Al(H2O)4]4+ atau Al2(OH)24+ OH Polinuklir Al kompleks diajukan untuk diadakan. Pada pH lebih besar dari 7.8.

penghilangan warna umumnya dilakukan pada pH yang sedikit asam. Dari beberapa penelitian (untuk air gambut dari daerah Riau). efisiensi penghilangan warna akan baik bila pH lebih kecil dari 6 untuk setiap dosis koagulan alum sulfat yang digunakan.3/1) untuk menaikkan stabilitas sodium aluminat. perpaduan antara sodium aluminat dan alum digunakan untuk menghindari perubahan pH yang besar dan untuk membuat pH relatif konstan. bahkan di beberapa daerah harus lebih kecil dari 5. Walaupun demikian efisiensi penghilangan warna masih tetap tinggi dihasilkan pada koagulasi dengan pH sampai 7.Senyawa Al yang lainnya adalah sodium aluminat. Pada kekeruhan yang disebabkan tanah liat sangat baik dihilangkan dengan batas pH antara 6.2 − 1. CO2 + OH− → HCO3− HCO3− + OH− → CO3 2− + H2O Kadang-kadang bila air tidak mengandung alkalinitas.5) yang ditambahkan dan yang lainnya kelebihan NaOH di dalam sodium aluminat (untuk stabilitas). Kelebihan NaOH yang ditambahkan (rasio Na2O/Al2O3 dalam Na2Al2O4 adalah : 1. 2Al3+ + 3SO42− + 6H2O → 2Al(OH)3 + 3SO2− + 6H+ 6AlO2 + 6Na+ + 12H2O → 6Al(OH)3 + 6Na+ + 6OH− _________________________________________________________ 2Al3+ + 3SO42− + 6Na+ + 6AlO2− + 12H2O → 8Al(OH)3 + 6Na++3SO42− Pada prakteknya satu hal dipertimbangkan memberikan kelebihan asam dari larutan alum (pH 1.8. lebih kecil dari 6. tetapi dengan dosis alum sulfat yang lebih tinggi (sampai 100 mg/l). .0 sampai dengan 7. NaAlO2 atau Na2Al2O4. Penambahan zat ini dalam bentuk larutan akan menghasilkan reaksi berikut : AlO2− + 2H2O → Al(OH)4− Al(OH)4− → Al(OH)3 + OH− Reaksi kedua hanya mungkin bila asiditas dalam air cukup untuk menghilangkan ion OH− yang terbentuk sehingga menyebabkan kenaikan pH.

Jadi jika pH air baku < 4. Air setelah diolah dengan koagulasi – flokulasi untuk menghilangkan warna.5 perlu penambahan bahan alkali (kapur atau soda abu). tanpa penetapan pH pun proses koagulasi – flokulasi tetap dapat berlangsung. karena pada pH tersebut bentuk aluminium tidak larut.5.tetapi bila dosis alum sulfat lebih kecil (60 mg/l) pada pH yang sama (sampai dengan 7).5 (kurang dari 7. jadi residu Al3+ terlarut didalam air dapat dihilangkan/dikurangi. kemungkinan akan terjadi pengendapan alum di reservoir atau pada jaringan pipa distribusi. terjadi penurunan efisiensi penghilangan warna secara drastis (sampai dengan 10 %). pH harus ditetapkan diatas 6. pada pH > 7. Setelah itu baru boleh dilakukan penambahan kembali kapur atau soda abu untuk proses Stabilisasi dengan harapan tidak akan terjadi perubahan alum terlarut menjadi alum endapan. pada koagulasi dengan koagulan garam Al ion H+ yang terbentuk akan diambil dan terbentuk endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3. dimana bentuk ini bermanfaat pada pertumbuhan flok ( mekanisme adsorpsi ). [Al(H2O)2(OH)4]– Untuk hal ini dilakukan penambahan kapur sebelum proses filtrasi. dan biarkan aluminium berubah bentuk menjadi bentuk tidak larut/endapan supaya dapat dihilangkan dengan penyaringan.8) sebelum air disaring. Dengan cara ini residu Al3+ dapat ditekan sampai tingkat yang diijinkan. tetapi pembentukan flok tidak optimum.8 bentuk Al adalah Al terlarut yaitu ion aluminat. PAC ( Poly Aluminium Chloride ) . sehingga beban filter akan bertambah. akibat penambahan kapur atau soda abu untuk proses stabilisasi dilakukan setelah air keluar dari filter. seperti halnya yang dilakukan pada pengolahan air yang biasa ( tidak berwarna ). hanya flok-flok halus yang terbentuk. Bila cara diatas tidak dilakukan. Jika kehadiran alkalinitas didalam air cukup. Proses koagulasi dengan koagulan lain seperti halnya garam Fe (III) yang mempunyai rentang pH lebih besar (4–9) dan penggunaan koagulan Polyaluminium chloride (PAC). Adanya alkalinitas didalam air jika pH air > 4.

amida dan penyusun minyak dan lipida. terkecuali bagi air tertentu. PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas. dengan demikian tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH.Senyawa Al yang lain yang penting untuk koagulasi adalah Polyaluminium chloride (PAC). ion hidroksil serta ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai pembentuk polynuclear mempunyai rumus umum Alm(OH)nCl(3m-n). 2. seperti ditunjukkan reaksi berikut : n AlCl3 + m OH− . Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatif akan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatan karbon nitrogen yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk suatau makromolekul terutama gugusan protein. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan. sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat. 4. Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawa karboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga mudah untuk diikat membentuk flok. besi klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh. PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek. 3. Beberapa keunggulan yang dimiliki PAC dibanding koagulan lainnya adalah : 1. amina. Aln(OH)mCl3n-m. Jika digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garis linier artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil kekeruhan yang relatif sama dengan dosis optimum sehingga penghematan bahan kimia dapat . m Na+ → Al n (OH) m Cl 3n-m + m Na+ + m Cl− Senyawa ini dibuat dengan berbagai cara menghasilkan larutan PAC yang agak stabil. Ada beberapa cara yang sudah dipatenkan untuk membuat polyaluminium chloride yang dapat dihasilkan dari hidrolisa parsial dari aluminium klorida.

dengan demikian walaupun ukuran kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi overload bagi instalasi yang ada. penambahan gugus hidroksil kedalam rantai koloid yang hidrofobik akan menambah berat molekul.8 untuk Al3+. tipe hidrolisa yang sama dapat berlangsung seperti : Fe3+ + 3H2O → Fe(OH)3 + 3H+ Reaksi di atas dilanjutkan dengan reaksi H+ dengan alkalinitas seperti ditunjukkan oleh reaksi 2) dan 3). Senyawa Besi Untuk senyawa besi. sebagai contoh pH 9 untuk koagulasi dengan Fe3+ dan 7. 5. khusus ini dengan berarti struktur disamping polielektrolite yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan air. 7. PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkan dari gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat koloid yang ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus polielektrolite sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat. Pembentukan [Fe(H2O)2(OH)4]− atau Fe(OH)4− hanya terjadi pada pH tinggi. mengandung pemakaian suatu bahan polimer pembantu. kapasitas produksi relatif tidak terpengaruh. Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam air sehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat dilakukan. Terdapat pula ion ferri hidrat seperti : [Fe(H2O)6]3+ dengan persamaan reaksi yang sama dengan hidrolisa [Al(H2O)6]3+. jadi batas pH untuk koagulasi dengan Fe3+ lebih besar dari pada untuk Al3+.dilakukan. . hal ini perlu ketepatan dosis. tetapi tidak biasa ditemui pada pengolahan secara konvensional. PAC dalam 6. Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik parabola terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan menaikkan kekeruhan hasil akhir.

3. Semakin tinggi dosis koagulan yang digunakan akan menghasilkan efisiensi penghilangan warna yang lebih besar pula. FeCl3. Pada pH yang optimum.Senyawa besi mempunyai tendensi membentuk jenis polinuklir yang lebih kecil dibandingkan dengan aluminium. Aln(OH)mCl3n-m . Polyaluminium chloride. Koagulasi dengan poli alumunium klorida dapat dengan mudah memproduksi flok yang kuat dalam air dengan jangkauan dosis yang lebih kecil dan rentang pH yang lebih besar. Jenis koagulan → koagulan yang dapat digunakan untuk menghilangkan warna adalah : Garam aluminium : Alum sulfat/tawas. Hal ini erat hubungannya dengan sisa konsentrasi warna. Fe2(SO4)3.com/2008/08/05/bahan-kimia-penjernih-air- . sisa warna berkurang secara proporsional dengan penambahan dosis koagulan. 2. Dosis kagulan yang diperlukan tergantung pada : 1. polialumunium klorida (PAC) dapat digunakan sebagai koagulan pilihan selain tawas. PAC (PACl).Garam besi (III) : Ferri sulfat. Konsentrasi warna.wordpress.xH2O. Sumber: koagulan/ http://smk3ae.xH2O. Al2(SO4)3. Ferri klorida. akan tetapi residu koagulan akan semakin besar. Zeta potential (pengukuran mobilitas elektroforesa) juga merupakan faktor penting untuk menghilangkan warna secara efektif. tanpa mempertimbangkan kehadiran alkalinitas yang cukup. Pada kasus pembentukan flok yang lemah dengan menggunakan dosis tawas optimum untuk menghilangkan warna.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->