BISNIS & MANAJEMEN

Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 2 No. 3 Mei 2006 Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Ernie Hendrawaty Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Iban Sofyan Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek (Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Mahrinasari MS. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Mustafid Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham Di Pasar Modal Sri Hasnawati Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham A. Zubaidi Indra

Jurnal

JURNAL BISNIS dan MANAJEMEN

Vol. 2

No.3

Hal. 159 -256

Bandarlampung Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

Volume 2 No. 3, Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN
TIM REDAKSI
Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc. (Pembantu Rektor I Universitas Lampung) : Dr. John Hendri, M.S. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung) : Toto Gunarto, S.E., M.S. (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung) : Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

Pembina

Pemimpin Umum

Dewan Editor Ketua Anggota

: Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si. : Dr. Wispandono, S.E.. S.Si. Iban Sofyan, S.E., M.Si. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M. Asep Unik, S.E., M.Si. M. Syatibi Ch., S.E.

Redaksi Pelaksana Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Tata Usaha dan Kearsipan Distribusi dan Sirkulasi Alamat Redaksi

: : : : : : :

Habibullah Djimat, S.E., M.Si. Rinaldi Bursan, S.E., M.Si. Muslimin, S.E. Aida Sari, S.E., M.Si. Nasir Teguh Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1 Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145 Telp. (0721)704622

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Volume 2 No. 3, Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI
Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Ernie Hendrawaty ………………………………………………………….. 159 Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Iban Sofyan ……………………………………..………………………….. 173 Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek (Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Mahrinasari MS. …………………………….…………………………….. 189 Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Mustafid …………………………………………………………………….. 205 Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham Di Pasar Modal Sri Hasnawati ………………………………….………………………….. 213 Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham A. Zubaidi Indra ……………………………….………………………….. 239

The validation TQM is done by conducting Factor Analysis. Facility Management. Manajemen Mutu Terpadu 1. Those factors are Education and Analysis Tools Supporting. Mesurement and Benchmarking.1 Latar Belakang Dalam era perdagangan bebas masalah daya saing merupakan isu kunci dan sekaligus sebagai tantangan yang tidak ringan. Universitas Lampung . perkembangan teknologi yang cepat dan kondisi dinamis lainnya yang pada akhirnya menuntut BUMN untuk menjadi Badan Usaha berkarakteristik 1 Dosen Jurusan Manajemen. The study was conducted to determine the perception of respondent managers and head of departments as to the critical strategy that should define a particular MMT. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai suatu badan usaha yang bergerak hampir di seluruh aspek ekonomi juga tak terkecuali menghadapi tantangan ketatnya persaingan global.DAFTAR ISI Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Oleh : Ernie Hendrawaty1 ABSTRACT This research was aimed to develop TQM concept for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch by determining which elements stated important for developing TQM for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch and this study was willing to know the adoption of those elements at State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch. Customer Focus. Number of respondent companies involved in this study is 21 branch offices. PENDAHULUAN 1. The respondents who participate in this study are branch managers and head of department from each of branch office. Keywords : Total Quality Management. Management Commitment and Quality Leadership. The result from the survey is that the original of 72 elements of MMT is remain 45 elements which are grouped into 6 (six) factors. Fakultas Ekonomi.

DAFTAR ISI

perusahaan kelas dunia, sehingga BUMN perlu melakukan reorientasi terhadap struktur dan strategi usahanya untuk mencapai sasaran menjadi Badan Usaha berkarakteristik perusahaan kelas dunia. Untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dalam Master Plan BUMN tersebut harus didukung oleh suatu sistim Manajemen yang handal. Manajemen Badan Usaha harus melakukan perubahan (transformasi) dari paradigma manajemen tradisional menuju paradigma Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Bagi BUMN, MMT telah menjadi suatu program yang harus dilaksanakan karena sesuai dengan amanat Menneg BUMN No. S-910/M-MBU/2003 tanggal 18 Februari 2003. MMT adalah suatu pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Manfaat bagi badan usaha dengan diterapkannya MMT adalah perbaikan pelayanan, pengurangan biaya dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem manajemen dan kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Sebagai tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan keahlian, semangat dan rasa percaya diri karyawan, peningkatan akuntabilitas dan transparansi serta peningkatan produktifitas dan efisiensi pelayanan pelanggan. Namun demikian, di sisi lain sesungguhnya masih banyak para pelaku bisnis masih mengahadapi kesulitan dalam memahami kekuatan dan manfaat MMT dalam memenuhi kualitas dan kinerja usaha yang direncanakan. Penyebabnya adalah adalah sebagai suatu bidang ilmu belum ada suatu definisi standar atau tunggal dan menyeluruh tentang program-program MMT. MMT hanya merujuk pada sebuah pendekatan, sebuah sistem, sebuah alat, sebuah teknik dan atau atau filosofi yang ditujukan untuk mencapai target kualitas tertentu (V. Talavera, 2004, 356). 1.2 Rumusan Masalah Dengan demikian maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah : “Elemen-elemen MMT mana sajakah yang dipersepsikan penting dalam Pengembangan Konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung ?” 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung. Konsep MMT bagi

160

DAFTAR ISI

1.4 Kerangka Penelitian 1.4.1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang MMT telah banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu konsep untuk merumuskan komponen-komponen yang penting dalam MMT. Sebelumnya terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencoba untuk mengumpulkan dan mensintesa berbagai macam elemen MMT. Diantaranya seperti yang dikutip dari V. Talavera (2004, 357) adalah penelitian Saraph (1989); Powell (1995); Ahire (1996); Flynn (1996) dan Black dan Porter (1996). Masingmasing penelitian menghasilkan suatu konsep MMT yang memiliki elemenelemen yang tidak sama, mengingat penelitian yang dilakukan memiliki perbedaan dalam hal jenis industri, sampling frame dan uji kevalidan maupun kereliabelan. Penelitian V. Talavera (2004) dilakukan terhadap 347 orang manajer yang berasal dari 63 perusahaan responden yang meliputi industri elektronik, pengolahan makanan, otomotive, farmasi, semen dan lain-lain. Hasil analisis pada survey tahap pertama menunjukkan semula terdapat 12 elemen (72 item program MMT) yang dipersepsikan penting dalam system manajemen mutu. Namun sesudah dilakukan uji kevalidan dengan Analisis Faktor ternyata hanya terdapat 7 elemen ( terdiri dari 35 item pernyataan strategi ) yang dipersepsikan penting oleh responden, yaitu (1) Getting feedback in designing QM Strategies (2) Customer Focus (3) Employement of Kaizen and 5S (4) Quality Monitoring and Control (5) QM Technique Orientation (6) Employee Involvement dan (7) Incentive and Recognition System. 1.4.2 Landasan Teori 1.4.2.1 Mengapa Mutu itu Penting Mutu sangat penting. Dimulai pada tahun 1970an, perusahaan manufacture di Jepang dengan bantuan konsultan Amerika, yang bernama W. Edward Demming mulai menggunakan mutu sebagai daya saing perusahaan. Mutu menjadi salah satu faktor selain harga yang menentukan tingkat permintaan konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggannya akan menjadi perusahaan yang berhasil. Pada dasarnya mutu dapat mempengaruhi perusahaan dalam empat cara, yaitu : (1) Biaya dan Pangsa Pasar (2) Reputasi Perusahaan (3) Pertanggungjawaban produk dan (4) Implikasi internasional. Mutu yang baik dapat mengarah pada peningkatan pangsa pasar, produktivitas dan penghematan biaya. Perbaikan mutu juga berarti penurunan kerusakan produk 161

DAFTAR ISI

dan biaya jasa. Selanjutnya reputasi perusahaan akan ditentukan oleh reputasi mutu yang dihasilkan buruk atau baik. 1.4.2.2 Konsep Manajemen Mutu Terpadu a. Definisi Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Mutu Terpadu mengambarkan penekanan mutu yang memacu seluruh organisasi, mulai dari pemasok sampai konsumen. Definisi MMT juga bermacam-macam. Definisi yang berbeda-beda akan menurunkan perbedaan pula dalam unsur atau prinsip pokok dalam MMT. Pengertian mutu yang diadopsi oleh American Society for Quality Control : bahwa Mutu adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi (Render dan Haizer, 2001 : 92). Meskipun demikian pendapat lain mengatakan bahwa definisi mutu menyangkut berbagai kategori. Beberapa dari definisi tersebut berorientasi pada pengguna dan berorientasi pada produk. Krajewski (1996, 14) menyatakan bahwa pelanggan mendefinisikan mutu dengan berbagai macam cara, yaitu (1) Conformance to Specifications atau kesesuain dengan spesifikasi (2) Value atau nilai/harga (3) Fitness of Use atau modelnya, keawetannya, pelayanannya (4) Support atau dukungan layanan (5) Psychological Impressions atau image, keindahan, kebersihan. Menurut Goetsch dan Davis (1997:3) Mutu adalah keadaan dinamik yang diasosiasikan dengan produk, jasa, orang, proses, lingkungan yang mencapai atau melebihi harapan. Definisi MMT menurut Ishikawa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4), MMT diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan kepuasan pelanggan. Santosa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4) menyatakan bahwa MMT adalah: MMT merupakan sistim yang mengangkat mutu sebagai strategi usaha dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan melibatkan seluruh anggota organisasi. Menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) Manajemen Mutu Terpadu adalah : Suatu pendekatan untuk menjalankan bisnis yang berusaha untuk memaksimalkan persaingan sebuah organisasi melalui perbaikan yang terusmenerus atas mutu produk, jasa, orang, proses, dan lingkungannya. Hingga saat ini belum ada definisi mutu yang diterima secara universal, namun dari beberapa definisi mutu terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemenelemen sebagai berikut :

162

obsesi terhadap mutu. V. yaitu (1) Perbaikan yang terus menerus (2) Pemberdayaan karyawan (3) Perbandingan kinerja (Patok duga/Benchmark) (4) Penyediaan kebutuhan yang tepat waktu (Just In Time) dan (5) Pengetahuan mengenai peralatan MMT. jasa. Prinsip dan Unsur Pokok dalam Manajemen Mutu Terpadu Prinsip-prinsip dan unsur pokok dalam MMT menurut Krajewski (1996. 163 . pendekatan ilmiah. Pendapat yang lain mengenai MMT dikemukakan oleh Tenner dan Detoro yang dikutip oleh Hamidah (2003. 2. yaitu : (1) Komitmen Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement). Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan Mutu mencakup produk. Variabel-varibel MMT menurut Goetsch. Diagram Sebab Akibat dan pengendalian Proses secara statistik. komitmen jangka panjang. Keterlibatan terpadu (total involvement) dimana ketiga sub sistem tersebut saling berkaitan. proses dan lingkungan Mutu merupakan suatu kondisi yang selalu berubah. kesatuan tujuan. dan Keterlibatan dan pemberian wewenang kepada karyawan.DAFTAR ISI 1. manusia. dan Davis (1997:3) adalah : MMT didasarkan pada strategi. kerja kelompok. Render dan Heizer (2001. 140-141) adalah MMT menekankan tiga prinsip. peningkatan terus-menerus. 98) mengembangkan lima konsep MMT yang efektif. kebebasan melalui kontrol. Diagram Pareto. seperti Metode Taguchi. employee involvement dan continous improvement. b. 3. Talavera (2004. focus kepada pelanggan. yaitu customer satisfaction. 276) yang menyatakan bahwa MMT dapat diuraikan menjadi tiga subsistem yaitu (1) Fokus pada pelanggan (customer focus) (2) Perbaikan proses berkesinambungan (continous process improvement) dan (3). 358-360) juga berhasil merumuskan konsep MMT hasil telaah pustaka yang terdiri dari 12 (dua belas) elemen MMT.

2 Populasi dan Sample Populasi obyek penelitian adalah seluruh BUMN Jasa Keuangan yang beroperasi di Bandarlampung yang berasal dari kelompok usaha Perbankan.5. Tabel 1 : BUMN Jasa Keuangan Kelompok Bank Badan Usaha BRI BTN BNI Bank Mandiri Jiwasraya Jasaraharja Taspen Jamsostek Askes Jasindo Pegadaian Jumlah KC 2 1 3 5 1 1 1 1 1 1 4 Asuransi Pembiayaan Penelitian ini akan mengumpulkan data dari seluruh populasi obyek penelitian. yang berkedudukan sebagai kantor cabang utama. Asuransi dan Jasa Pembiayaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan menggunakan daftar pertanyaan (questioner) sebagai alat pengumpul data yang pokok.DAFTAR ISI Penelitian ini akan menggunakan prinsip dan unsur pokok atau variablevariabel MMT yang berasal dari konsep yang disusun oleh V.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif.5 Metode Penelitian 1. 1. 1.5. Data tentang populasi dan sample tersaji pada table berikut ini : 164 . Populasi responden adalah kepala cabang masing-masing badan usaha dan kepala departemen atau setingkat dengannya dari departemen-departemen yang berbeda. Talavera (2004) karena memiliki cakupan yang luas. yaitu sebanyak 21 buah.

yaitu data persepsi dari responden mengenai tingkat kepentingan (perception of importance) elemen MMT. 1. 1.5. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10. 165 . harus dilakukan uji kereliabelan (reliability) dan uji kevalidan (validity) daftar pertanyaan Penelitian ini menggunakan uji kevalidan internal menggunakan Teknik Alpha.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah elemen-elemen MMT hasil kajian pustaka V.DAFTAR ISI Tabel 2 : Populasi Obyek Penelitian dan Responden Tahap Pengujian MMT Pengujian dengan menggunakan ‘perception of importance’ sebagai dasar Target Ukuran Populasi 21 Badan Usaha 102 responden Teknik Sensus Realisasi 21 Badan Usaha 100 responden Pendapat responden dibutuhkan untuk melakukan validasi konsep MMT.4 Instrumen Penelitian Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan. Sebelum dilakukan pengujian. Talavera (2004). Variabel tersebut adalah: (1) Komitmen Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) (12) Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement).5. Pada penelitian ini uji kevalidan yang digunakan adalah Construct Validity. Menurut Sekaran (1992: 173) Construct Validity testifies how well the result obtained from the use of measure fits theories around which the test is designed.

Untuk itu digunakan alat analisis Measure of Sampling Adequacy (MSA) atau Barlett’s test. Melakukan uji Anova untuk melihat apakah factor yang terbentuk berbeda nyata dengan factor lain. Output Analisis Faktor dengan menggunakan SPSS adalah ternyata dari 72 variabel awal.5. Faktor yang sebenarnya terbentuk adalah factor-faktor yang merupakan komponen MMT yang dipersepsikan sebagai factor yang penting oleh BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung.9552.52%. yang tersisa atau tereduksi hanya 45 variabel dengan rata-rata loading 0. Uji construct validity dengan Analisis Faktor. HASIL DAN PEMBAHASAN 2.2 Analisis Faktor Dalam penelitian ini. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10.733. Tahap-tahap pada analisis faktor : 1.1 Pengujian Reliabilitas Alat Ukur Hasil Uji Reliabilitas menunjukkan bahwa nilai koefisien reliabilitas instrument daftar pertanyaan sebesar 0. 5. Tabel 3 menunjukkan distribusi variable MMT pada ke-6 faktor. Nilai ini memberi makna bahwa tingkat kepercayaan dan konsistensi pertanyaan maupun pernyataan bernilai tinggi yaitu sebesar 95. 166 . 2. 3. 2. 4. ANALISIS FAKTOR Analisis factor akan meringkas beberapa variable MMT menjadi beberapa faktor saja yang paling penting dalam mendukung keberhasilan MMT.DAFTAR ISI 1. Dalam hal ini digunakan metode Principal Component Melakukan rotasi factor untuk memperjelas apakah factor yang terbentuk sudah secara signifikan berbeda dengan factor lain. variabel yang diproses dengan analisis factor sebanyak 72 variabel dengan jumlah populasi sebanyak 100 responden. Analisis Data 1. Memilih variable yang layak dimasukkan dalam analisis faktor.5. Analisis factor berupaya mengelompokkan sejumlah variable. 2. Melakukan ekstrasi variable menjadi satu atau beberapa factor.

705 0. diagram Pareto.732 0.864 SDM DIK 3 DIK 5 DIK 6 IKC 1 Nama Variabel Manajemen memberikan balas jasa (imbalan) kepada karyawan untuk usaha-usaha perbaikan kualitas Semua karyawan dilatih tentang Team Building / Group Dynamics Mengintegrasikan materi pelatihan pada proses pekerjaan sehari-hari Melakukan pelatihan karyawan secara berkala (rutin) Investasi dalam peralatan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas dalam operasi /proses Menggunakan piranti data numerik (check sheet.862 0. mulai dari tahap input.605 IKC 4 0.DAFTAR ISI Tabel 3 Distribusi variable MMT Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance 17.692 0.736 IKC 5 0.851 PTM 1 0.766 167 .686 IKC 3 0.717 PTM 2 0. proses/transformasi.719 0. output dan customer Melakukan pengawasan kualitas dengan menggunakan survey kepuasan pelanggan metode statistik atau teknik lain untuk memonitor kualitas produk / jasa yang dihasilkan Menggunakan siklus PDCA (PlanDo-Check-Action) untuk melakukan perbaikan dan pengendalian proses secara berkesinambungan Membuat perencanaan dan program yang berkesinambungan untuk mengurangi siklus waktu operasi perusahaan Item Loading 1 12. diagram sebab akibat) guna mendiagnosis masalah kualitas dan masalah kelemahan proses Pengendalian kinerja proses dilakukan pada setiap tahap . brainstorming. run chart dll) dan piranti data verbal (flow chart.

office supplies hanya yang benar-benar dibutuhkan saja Item Loading PTM 3 0.868 0. bersih dan teratur/rapi Adanya sistim manajemen pencatatan/arsip yang efektif Karyawan memiliki disiplin dan inisiatif untuk mematuhi peraturan dengan tertib Pemeliharaan fasilitas dilakukan secara berkala dan dilakukan monitoring serta evaluasi terhadapnya Penyediaan peralatan kantor. dokumen.859 0.796 168 .798 PTM 4 0.703 0.834 0. pelayanan dan perancangan proses Menerapkan program evaluasi terhadap pemasok Manajemen bekerjasama dengan pemasok untuk meningkatkan kualitas Fasilitas yang nyaman.936 0.902 MKP 4 MKP 5 MKP 6 RAP 1 RAP 2 RAP 3 RAP 4 0.286 MKP 1 MKP 2 MKP 3 0.DAFTAR ISI Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Membuat perencanaan dan program yang berkesinambungan untuk memikirkan berbagai cara untuk memperbaiki kualitas produk dan pelayanan Manajemen puncak menyediakan bantuan teknis.286 14.756 0. finansial dan pendidikan bagi program manajemen kualitas perusahaan Memfasilitasi program pengembangan produk untuk dapat segera merespon kebutuhan pasar Kejelasan dan keformalan dalam menuliskan sasaran kualitas Manajemen memiliki rencana kualitas untuk pemasok Kualitas menjadi pertimbangan utama dalam memilih pemasok Bekerjasama dengan tidak terlalu banyak pemasok namun dapat diandalkan Memasukkan umpan balik dari pemasok untuk memperbaiki produk.779 IKD 5 PKS 2 2 10.93 RAP 5 0.926 0.848 0.742 0.849 0.

405 6.876 SDM 5 DIK 1 DIK 2 MKI 4 MKI 5 PTM 6 0. departemen-departemen untuk keperluan identifikasi dan memudahkan mencari lokasi/letaknya.3 10. pelayanan dan perancangan proses Mengumpulkan umpan balik dari para ahli dalam perancangan produk/jasa Pengkajian (review) sasaran dan tujuan departemen-departemen untuk menyelaraskan dengan rencana organisasi secara keseluruhan Melakukan tindakan pencegahan dan pemeliharaan secara berkala terhadap peralatan/perangkat sistim operasional perusahaan Item Loading RAP 6 0.626 5 4.905 3 7.714 0.DAFTAR ISI Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Pemberian tanda/papan penunjuk/label terhadap assetasset.762 9.788 0.708 169 .621 PKS 5 0.139 KMP 1 0.816 4 6.762 FKP 5 0.708 IKD 4 0.392 IKD 2 0.851 0. Manajemen Puncak terlibat secara penuh dalam implementasi dan tindak lanjut program Manajemen Mutu Pemberian penghargaan kepada karyawan yang mencapai sasaran kualitas Semua karyawan dilatih tentang konsep Manajemen Mutu Terpadu Semua karyawan dilatih tentang Quality Control Menyediakan data kualitas yang terbaru dan lengkap dan dilaporkan pada semua departemen Seluruh karyawan dapat mengakses data kualitas Manajemen melakukan audit sistim manajemen kualitas secara periodic baik audit internal maupun eksternal Terdapat suatu proses efektif untuk memproses informasi tentang ekspektasinasabah Mempertimbangkan keinginan pelanggan dan umpan balik pemasok untuk memperbaiki produk.864 0.703 0.118 IKC 6 0.

DAFTAR ISI Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Adanya sistim database untuk mengumpulkan. mengontrol dan menyimpan data kualitas kegiatan operasi untuk menyediakan informasi yang relevan yang dibutuhkan untuk mengukur kualitas dari output yang dihasilkan Menerapkan sertifikat ISO 9000 untuk memenuhi standar kualitas internasional Manajemen mempelajari praktek fungsi-fungsi usaha dari perusahaan terkemuka dalam industri yang sama dan dari pesaing utama untuk mengembangkan sasaran kualitasdan untuk memperbaiki operasi perusahaan Manajemen mempelajari praktek fungsi-fungsi usaha dari perusahaan terkemuka dalam industri yang berbeda untuk mengembangkan sasaran kualitas dan untuk memperbaiki operasi perusahaan Menganalisis.683 PDG 5 0.251 PDG 1 0. Faktor 2 terdiri dari 12 item yang dinamakan Manajemen Fasilitas 170 .634 PDG 6 0. Faktor 1 terdiri dari 14 item yang dinamakan Faktor Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis. 2.737 PDG 4 0. mengadopsi dan mengimplementasikan praktek terbaik strategi manajemen kualitas dari perusahaan mitra patok duga yang menjadi teladan patok duga Memastikan bahwa kegiatan patok duga yang dilakukan menghasilkan perbaikan kualitas yang signifikan Sepanjang waktu target patok duga dan metode-metode patok duga dievaluasi kembali Item Loading MKI 2 0.626 6 3.621 PDG 3 0.691 Nama ke-6 faktor tersebut adalah : 1.781 5.765 PDG 2 0.

Addison-Wesley P:ublishing Company.1 Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan. Muchsinati. Hamidah. Repositioning dan Perubahan Peran Fungsi Departemen Sumber Daya Manusia Sebagai Upaya Mencapai Keunggulan Kompetitif. 6. 5. Faktor 3 terdiri dari 8 item yang dinamakan Komitmen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas. and Larry P. Jakarta Krajewski. 03. Lee J. 2003. 2001. Manajemen Mutu Total. DAFTAR PUSTAKA Goetssch. 2002. maka bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung yang akan mengadopsi konsep MMT sebaiknya memprioritaskan keenam factor dari hasil analisis factor tersebut dalam program MMTnya. Stanley B. SIMPULAN DAN SARAN 3. 3-8. 4. Operations Management : Strategy and Analysis. Usahawan No. Ritzman.DAFTAR ISI 3. Faktor 4 terdiri dari 3 item yang dinamakan Fokus Pelanggan Faktor 5 terdiri dari 3 item yang dinamakan Pengukuran Faktor 6 terdiri dari 5 item yang dinamakan Patok Duga 3. Penerbit PT Prenhalindo. 1996. Maret 2001. maka disimpulkan bahwa konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung adalah : (1) Faktor Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis (2) Faktor Manajemen Fasilitas (3) Faktor Komitemen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas (4) Faktor Fokus pada Pelanggan (5) Faktor Pengukuran dan (6) Faktor Patok Duga 3. David L and Davis. Evi Silvana. September 2003. Inc. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen. Th XXX. Pengaruh Manajemen Mutu Terpadu terhadap Perilaku Produktif Karyawan Industri Tekstil Berskala Besar di Kota Bandung. 275-290. Edisi ke dua. 171 .2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan.

Husen. Barry dan Jay Haizer. Development and Validation of TQM Construct. 2001.2004. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. Penerbit Andi Offset Yogyakarta.Jakarta. Usahawan No. Research Methods For Business: A Skill Building Approach. 2001. Penerbit Ghalia Indonesia. 3 September 2004: 355-380. Jakarta. 1992. Supranto. Penerbit Rineka Cipta. Prinsip-prinsip Manajemen Operasi. 172 . Ma Gloria. Uma. Salemba Empat. No. V. 2004. 3-6 Tjiptono. The Philippine Experience. Arah Privatisasi BUMN. Edisi Pertama. Inc. Adig. Umar. Jakarta Sekaran. Master Plan BUMN 2002-2006. __________BUMN On Line. Analisis Multivariat.M.2000.2004. Fandy dan Anastasia Diana. Suwandi.Gadjah Mada International Journal of Business Volume 6.2000. Second Edition. John Wiley & Sons. J . Total Quality Management. Talavera. Gramedia Pustaka Utama. Manajemen Mutu Terpadu.DAFTAR ISI Nasution.N. 5 Th XXX Mei 2001. Bogor Selatan Render.

Based on the result of this reseach.000 unit usaha tahun 1997 menjadi 2.143. . researcher is prepairing strategic standar and business commitment for the small business to enter global business.2000) 2 Dosen Jurusan Manajemen. Key words: Working Capital management.8 juta dollar Amerika pada akhir tahun 2001. Universitas Lampung.600 orang tahun 1999. I.500 unit usaha pada tahun 1999.5 persen per tahun ( Puji Wahono. secara persentase rata-rata kenaikan nilai ekspor usaha kecil meningkat dengan 30. sementara jumlah tenaga kerja yang diserap juga meningkat dari 5. secara kuantitatif dapat dibuktikan dari pemerataan usaha dan peluasan lapangan kerja. PENDAHULUAN Usaha kecil di Indonesia di era reformasi ini mempunyai peranan yang sangat berarti dalam menunjang perekonomian.755.DAFTAR ISI Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Oleh : Iban Sofyan2 ABTRACT The reseach aims to analyze : (1) the influencing factors of working capital from small business and determining alternative solution. (2) the creating of business innovation. The types of data are : (1) the secondary time series data which analyzed by financial models and (2) the primery data of owner from the small business which analyzed by description approach. The result shows that the small business in Bandar lampung need to improve their working capital trough : (1) the increasing level of effectivities from their business.800 orang tahun 1997 menjadi 10. (2) alternative strategic management from small business.justru usaha kecil semakin bergairah untuk berkembang. Fakultas Ekonomi. Lebih jauh lagi jika dilihat dari sumbangannya pada ekspor nonmigas yaitu dari 102 juta dollar Amerika tahun 1998 terus naik menjadi 136. (3) making commitment about business efficiency and competitiveness.yang berkembang dari 1. Banyak usaha besar pada saat ini mengalami keterpurukan sebagai akibat resesi ekonomi berkepanjangan.113.308.

1999). Korea.termasuk dalam manajemen modal kerja( Suryadi Soedirdja. Kenyataan ini akan menambah beban berat bagi usaha kecil.dan kelemahan dalam mengakses permodalan. seyogyanyalah mendapat perhatian kita semua. yaitu : (1) Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur usaha kecil. baik yang disuarakan oleh pemerintah maupun oleh pengusaha besar selaku mitra usaha.khususnya dalam menghadapi pasar bebas versi AFTA ataupun versi Dunia nantinya akan berdampak serius bagi perkembangan usaha kecil di Indonesia umumnya dan secara khusus pada usaha kecil di Bandar Lampung. Penghambat lain yang juga dapat dikatakan secara structural usaha kecil umumnya di Indonesia menghadapi kendala-kndala bersifat internal.maupun pembinaan manajemen baru sebatas pernyataan atau retorika politik. Malaysia. dimana kita tidak dapat lagi membantasi barang masuk dengan pembatasan tarif masuk antar negara-negara ASEAN. Hasil pengamatan ada beberapa hal yang menghambat pembinaan usaha kecil di Indonesia ( Indra Ismawan.DAFTAR ISI Peranan usaha kecil yang penting ini. terutama yang berhabungan dengan modal khususnya modal kerja.permodalan. jika kurang mendapat binaan yang serius di masa mendatang.benar sudah direalisasikan.yaitu kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah.dan mungkin juga akan dialami oleh perusahaan besar yang tidak efisien. Kondisi usaha kecil Indonesia yang demikian ini.dewasa ini.1998). kelemahan dalam struktur permodalan.Taiwan.walaupun sekarang rancangan undang-undang (RUU) itu mungkin sudah disahkan menjadi undang-undang namun realisasinya dan sosialisasi sampai saat ini belum jelas adanya . Apalagi jika penerapan pasar bebas AFTA ini benar. Bukti-bukti telah mununjukkan pada kita betapa kewalahannya usaha otomatif kita menghadapi serbuan produk –produk otomotif China. Situasi ini akan menjadi siutasi sulit bagi usaha-usaha kita khususnya usaha kecil jika dikaitkan dengan kelemahan usaha kecil kita yang telah diuangkapkan sebelumnya. (2) masih lemahnya komitmen dalam pembinaan usaha kecil. tetapi pada kenyataan sekjarang banyak hambatan dan pembinaan yang kurang serius baik dari pemerintah maupun pihak-pihak lain yang terkait termasuk perguruan tinggi. kerena didorong oleh kebutuhan hidup. Usaha kecil menurut Levi dan Sarnat (1989) justru membutuhkan tambahan modal kerja relatif lebih besar dari kebutuhan usaha menengah 174 . Kenyataan di lapangan dapat kita lihat pada saat ini banyak usaha kecil kita kewalahan dalam menghadapi serbuan produk-produk dari luar negari yang sampai saat ini sudah meramba ke berbagai pelosok Indonesia. masih banyak lagi produk-produk dari Negara jiran seperti Thailand. dan Singapura yang sudah lama beroperasi di Negara kita.sehingga semua kebijakan selalu tidak menyentu pengembangan usaha kecil. sehingga dapat dikatakan bahwa usaha kecil itu ada dan berkembang sepenuhnya atas usaha mereka sendiri. Janji-janji untuk memberi kemudahan baik dalam perizinan.

Dan diperkirakan jumlah ini akan naik lagi selama era reformasi ini.terutama jika berhubungan degan pihak ketiga ( bank maupun mitra usaha lainnya yang sifatnya sangat selektif ). Usaha kecil di Bandar Lampung umumnya lemah dalam permodalan. A. ini jelas apabilah usaha kecil itu lemah dalam modal kerja akan berdampak serius pada keunggulan bersaing baik secara lokal apalagi dalam mengahadapi persaingan di pasar bebas. Peranan usaha kecil di Lampung khususnya di Bandar Lampung tidak terlalu berbeda dengan peranan usaha kecil secara nasional. Perumusan Masalah Masalah yang dapat ditarik dari uraian sebelumnya adalah: (1) Apakah pengelolaan modal kerja usaha kecil yang telah dioperasikan oleh usaha kecil di Bandar Lampung telah dilakukan secara efektif atau secara optimal.2001). ini berarti bahwa manajemen usaha kecil itu merupakan suatu sistem. 175 . yaitu kesenjangan antara usaha menengah dan usaha besar semakin melebar.sehinga salah satu dari sistem ini terganggu akan berdampak serius pada sistem secara keseluruhan ( Collins and Devana. Jumlah usaha kecil juga meningkat dari 12.ini terlihat dari sumbangan industri kecilnya mampu memberi 21.067 unit usaha kecil telah meningkat menjadi 18. apakah itu versi AFTA atau secara global.488 unit usaha kecil sampai tahun tahaun 1998( BPS). Kelemahan ini tentunya berdampak luas pada daya saing dan kemantapan berusaha. Kunci keberhasilan usaha kecil menurut Steiner.1993).kelemahan dalam manajemen. sulitnya mendapatkan modal termasuk modal kerja. Kondisi ini setelah ditelusuri lebih jauh merupakan suatu sistem dalam kegiatan manajemen.DAFTAR ISI maupun usaha besar.0 persen ekspor komoditi non migas yang dihasilkan oleh Lampung (BPS. Hal ini terjadi kerena usaha kecil umumnya tidak mampu mengakses modal. Kedala yang dihadapi dalam pengembangkan usaha kecil di Lampung khususnya usaha kecil di Bandar Lampung hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh usaha kecil secara nasional. dan rendahnya kualitas sumberdaya manusia. sementara perusahaan besar dan menengah justru mengalamai stagnan karena masih dipengaruhi oleh dampak resesi ekonomi yang sampai saat ini belum dikatakan membaik. apalagi dihubungkan dengan inovatif. Kesulitan yang terbesar pada usaha kecil dalam modal kerja terletak pada usaha pemisahan antara kebutuhan modal kerja dengan kebutuhan hidup pengusaha dan keluarga sehari-hari.Goerge(1985) justru terletak pada usaha inovatifnya.

memperhitungan kebutuhan modal kerja. (3) Strategi apa sebaiknya digunakan oleh usaha kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ancaman persaingan degan produk-produk luar sekarang dan di era pasar bebas. (4) Merumuskan teknik Pembinaan yang tepat dan fleksibel untuk usaha ecil di Bandar Lampung. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi usaha kecil di Bandar Lampung terutama yang berhubungan dengan manajemen modal kerjanya. (2) Memberikan solusi manajemen dalam mengatasi masalah manajemen modal kerja setelah menganalisis modal kerja. KERANGKA PENDEKATAN Kerangka pendekatan yang digunakan dalam pemecahan maslah ini dapat dilihat dari bagan alur berikut : 176 . B. (3) Merumuskan strategi bersaing yang sesuai dengan kekuatan .kelemahan. peluang dan ancaman yang bakal dihadapi di masa yang akan datang. II. dan teknik mengakses modal khususnya modal kerja.DAFTAR ISI (2) Teknik manajemen apa yang tepat yang harus diterapkan oleh pengusaha kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ketatnya persaingan di era basar bebas.

dan menumbuhkan inovatif digunakan konsep dari Glueck(1998). et al (2000). Fred.R (1998). dan banyak sistesa yang dibuat oleh peneliti dan pengalaman mengajar manajemen strategi. Memisah-misah hasil sesuai Dengan tujuan penelitian yang sudah di Tetapkan. (b) Pengolahan data : Tabulasi. yaitu : (a) tahap penelitian. (c ) tahap menganalisis hasil yang telah dipisahkan secara jelas. Solusi berdasarkan Manajemen modal Kerja (c) Solusi berdasarkan manajemen strategi bersaing Penyusun Pedoman Manajemen usaha kecil Terutama yang berhubungan Manajemen modal kerja dan Teknik inovatif untuk mening.Konsep Collins and Devanna (1995). Konsep yang digunakan untuk mencari teknik bersaing.Levi and Sarnad ( 1983). menghitung.menggunakan metode penelitian yang sesuai sehingga didapatkan data yang valid dari respondenyang telah dipilih. Pendekatan yang digunakan untuk penyelesaian masalah modal kerja digunakan pendekatan Keown. 177 . Weston and Copland (1987). memisah-misah hasil sesuai dengan tujuan untuk analisis.perhitungan Dan analisis. Vanhorn(2000).DAFTAR ISI (a) Peneliti melakukan survey Usaha kecil yang telah ditentukan Mendapatkan data manajemen Modal kerja. Bagan Alur Pemecahan Masalah Penelitian Gambar 1.yaitu berdasarkan konsep manajemen keuangan khususnya manajemen modal kerja dan konsep manajemen stratetegi bersaing.(b) tahap pengolahan data dengan tabulasi.katkan daya saing Gambar 1. (d) tahap penyusunan pedoman pembinaan mananjemen berdasarkan’manajemen modal kerja dan manajemen strategi bersaing. beberapa konsep dari David. ini menujukkan bahwa penyelesaian masalah penelitian akan dilakukan melalui empat tahap. Kenichi Ohmae(1996).

7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Usaha Kerajinan Keripik Tanaman hias Tukang Jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Usaha bengkel Motor Usaha Bengkel mobil Usaha Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk Ikan Total Jumlah(unit) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15 C. METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian. Metode Penarikan Sampel Metode penarik sampel adalah menggunakan metode Purposive random Sampling. Hiptesis (1) (2) Pengololaan modal kerja usaha kecil di Bandar Lampung belum optimal. Responden No 1. Usaha kecil yang diambil satu unit berdasarkan jenisjenis usaha.DAFTAR ISI III. yaitu sebagai berikut: Tabel 1. 178 . yang diambil usaha kecil yang yang potensial yang ada di Kota Madya Bandar lampung. 2 3 4 5 6. Strategi inovasi adalah pilihan yang tepat untuk usaha kecil untuk tetap bertahan hidup dan bersaing di era pasar bebas. pada bulan Mei 2006. Penelitian ini telah dilakukan di Kotamadya Bandar Lampung. B.

dan dianalisis berdasarkan konsep manajemen modal kerja yaitu menghitung perputaran modal kerja. Alat analisis. Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul diolah secara tabulasi.dapat dilihat dari Tabel 2 berikut : 179 . IV.sedangkan untuk memilih dan menerapkan konsep manajemen strategi.Fred (1998).dari data yang ada dikaji berdasarkan TOWS Matrix dari David. HASIL DAN PEMBAHASAN A. H1 ≠ Nilai modal kerja yang optmal (2) Untuk membuktikan hipotesis keduadigunakan pendekatan manajemen strategi. Modal kerja optmal bila Working Capitan (WC)≤ 0. Alat analisis yang digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diangkat adalah menggunakan : (1) Untuk membuktikan bahwa modal kerja usaha kecil belum optimal digunakan pendekatan manajemen keuangan konsep dari Weston and Copland (1998). yaitu dengan cara membagikan volume penjualan yang dicapai dengan jumlah hari perputaran seruhan modal kerja yang digunakan dalam usaha kecil. dihitung.DAFTAR ISI D. Hasil Perhitungan Hasil perhitungan dimulai dari perputran modal kerja. Rumus hipotesisnya : Ho = Nilai modal yang terpakai. Rumus hipotesisnya: Ho = usaha kecil tidak inovatif H1 ≠ Usaha kecil inovatif E.kebutuhan modal kerja.menghitung kebutuhan modal kerja optimal sesuai dengan perkembangan jumlah permintaan. dibandingkan dengan realiasi modal kerja dan realisasi volume penjualan.

448.78 599.805.52 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Sumber : Data diolah (2006) Tabel 3.398.29 109.893.76 557.448. 56 23.55 -9.95 283.00 Jumlah Kebutuhan Modal Kerja seharusnya berdasarkan volume Penjualan/Hr (Rp) 24.875.95 16.67 223.291.916.877.666.488.471.405.288.35 37.805.77 328.45 104.666.44 113.89 Volume Penjuan yang dicapai/hr (Rp) 45.42 223.23 +17.444.96 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jenis Usaha Kecil Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Keterangan +11.342.95 16.44 291.67 366.586.415.79 +49.33 123.33 68.69 73.50 12.DAFTAR ISI Tabel 2.194.711.21 +96.67 36.11 26.444. Hasil Perhitungan Berdasarkan Manajemen Modal Kerja Usaha Kecil No Jenis Usaha (1 unit) Modal KerjaYang dioperasikan /hr (Rp) 12.67 60.320.540.45 236.11 466.811.67 46.953.35 37.28 82.664.500.80 158.68 443.000.67 60.74 109.130.29 109.87 +269.291.38 12.360.715.288.28 31.44 Jumlah hari Perputaran modal kerja (satu tahun) 68.21.130.750.00 56.916.888.67 388.90 77. 56 23.95 283.56 321.38 12.953.67 744. Perbandingan Modal Kerja Yang Diopersikan Dengan Kebutuhan Modal Kerja Seharusnya Berdasarkan Volume Penjualan Modal Kerja yang dioperasikan/hr (Rp) 12.811.611.06 +141.665.43 169.58 80.523.666.28 189.43 591.43 591.53 Jumlah Kebutuhan Modal kerja seharusnya/hr (Rp) 24.44 45.229.96 180 .48 -118.56 321.89 142.288.89 60.360.16.034.301.826.87 338.78 154.299.72 195.937.64 590.540.875.96 36.67 223.118.50 12.78 599.190.826.14 70.05 +91.90 77.398.11 113.28 31.548.611.502.833.69 73.67 20.66 309.26 480.363.126.715.937.946.112.33 123.97 +25.666.666.11 26.434.190.26 208.502.301.66 309.26 480.89 142.01 +86.034.76 390.126.112.

91 Sumber : Data Diolah (2006) B.67 20.89 Jumlah Kebutuhan Modal Kerja seharusnya berdasarkan volume Penjualan/Hr (Rp) 36.54 20.44 +113.44 +10.679.34 20.72 195.000.89 60.421.88 38.99 43. Tingkat Pencapaian Margin Usaha Kesil Di Bandar Lampung No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NamaJenis Usaha Kecil Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Pencapaian Volume Penjualan harian(Rp) 45.711.40 73.833.67 366.44 291.63 Sumber : Data Diolah (2006) Tabel 4.28 82.444.233.16.67 388.235.) yang efektif dalam penggunaan modal kerjanya.ini dibuktikan oleh adanya kelebihan ( bertanda +) dalam penggunaan modal kerja.308.299. Ketentuan 181 .44 45.52 Keterangan +15.548.761.666.78 31.750.DAFTAR ISI No 12 13 14 15 Jenis Usaha Kecil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Modal Kerja yang dioperasikan/hr (Rp) 21.77 61.11.288.349. Pembahasan 1.194.666. Hasil ini menunjukkan bahwa hampir rata-rata perusahaan kecil atau 87% usaha kecil di Bandar Lampung umum belum optimal dalam penggunaan modal kerjanya.44 Biaya Variabel Harian(Rp) 32.38 56.444.33 63.00 226.066.45 104.33 68.666.900.946.78 154.70 21.902.24 44.33 21.30 58.48 107.877.50 13.44 113.471.34 310.405.14 70.67 744.488.126.11 113.00 229.76 Persentase Kontribusi margin 28.415.900.210.666.00 56.66 +214.888.183.58 80.771.920.67 46.33 11.77 328.93 54.500.66 34.666.00 25.14 42.33 193.020.00 34.23 54.014. dan hanya 13% (bertanda . Kajian Berdasarkan Manajemen Modal Kerja Hasil dari riset terhadap lima belas jenis usaha kecil yang beroperasi di Bandar Lampung setelah diuji berdasarkan kebutuhan modal yang seharusnya berdasarkan rumusan yang membagi total penjualan dengan lamanya hari rata perputaran setiap item modal kerja maka didapatlah hasil lengkap seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 1.29 50.49 44.

Fred (1998) yang dikenal dengan TWOS Marix Analysis.DAFTAR ISI penggunaan modal kerja yang optimal menurut Weston dan Copland (1998). Kelemahan ini umumnya karena lemahnya manajemen modal kerja sebagai akibat dari banyaknya keterbatasan sumberdaya dari usaha kecil itu sendiri. karena kesulitan dalam mengakses modal kerja. Kajian Berdasarkan Manajemen Strategi Hasil perhitungan dimulai dari Tabel 1.sehingga perputaran piutang rendah. dan Tabel 3. Kemampuan menggunakan sumberdana dari bantuan bank. dan ancaman dari manajemen usaha kecil itu dituangkan dalam matrik TOWS sebagai berikut: Matrik TOWS Usaha Kecil Di Bandar Lampung 182 . Kalaupun ada pada umumnya mereka tidak begitu tertarik menggunakan sumberdana ini karena dipandang terlalu sulit dan sangat birokrasi.dan persyatan ini tidak dapat dipenuhi oleh banyak perusahaan kecil. peluang. Kelemahan ini juga umumnya disebabkan adanya keterbatasan modal kerja secara umum. adalah tercapai jika WC ≤ 0 . 2. Sumber-sumber dana yang ada umumnya adalah bersifat individu dengan ratarata tingkat suku bunga yang tinggi. ditambah dengan fakta lingkungan yang ada pada usaha kecil sekarang dan prediksi di masa yang akan datang. Tabel 2. Kondisi seperti ini tentukannya akan mempersulit usaha kecil untuk dapat eksis di era pasar bebas pada tingkat AFTA apalagi pada tingkat dunia.disisi lain kurang efektif dalam penagihan piutang. dapat dijadikan dasar dalam kajian lingkungan usaha kecil. Akibatnya banyak usaha kecil berjalan seadanya dan orientasi usaha hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. sehingga banyak usaha kecil memiliki tingkat perputuran persediaan yang rendah . Berdasarkan kajian ini kekuatan. KUK dari koperasi atau instansi pemerintah umumnya masih jarang.kelemahan. diantaranya banyak perusahaan harus menalang atau menggunakan persekot uang muka dalam pengadaan pesediaan untuk menjaga stabilitas produksi. Guna menyusun strategi pengembangan usaha kecil sekarang dan yang akan datang digunakan pendekatan David.

2.jangka menengah. Matriks TOWS. Prospek pasar lokal Prospek pasar luar Binaan Pemerintah T= Ancaman 4. 2. Usaha Kecil di Bandar Lampung S= Kekuatan KSF Internal 1. Persaingan Teknologi Perubahan trand/mode 1.selain itu melalui matriks TOWS ini dapat dirancang strategi apa yang layak diterapkan dalam jangka pendek . Kontrak BB W. 1. 3. 1. 6. 3. dan jangka panjang terutama dikaitkan dengan persaingan secara bebas di era AFTA maupun era Global.O Memperbaiki manajemen modal kerja 2. 183 . 3. jika biaya operasional rutin ini dapat diefisienkan maka usaha tersebut akan tetap eksis dan berkembang secara mandiri apalagi jika menggunkan dana binaan pemerintah atau yang disalurkan melalui Bank atau non Bank. (3) Selain itu kekuatan lain adalah hampir semua produk yang ditawarkan oleh usaha kecil dapat diterima pasar local karena itu sampai saat ini masalah penjualan tetap baik. 2. Kontribusi margin (ratarata ±41% ) pada bahan baku Keuletan berusaha Volume Penjualan Modal kerja Naik terus S-O Melakukan inovasi Pengembangan usaha Peningkatan mutu S. kelemahan. 2. 5. W=Kelemahan Ketergantung Tinggi Manajemen Akses modal W. (2) Rata-rata pengusaha kecil ini memiliki keuletan dalam berusaha karena terdorong oleh motivasi untuk mempertahan hidup secara mandiri. 2. dan ancaman dari keberadaan usaha kecil di masa yang akan datang . Pelatihan SDM 3. KSF O= Peluang 1.. 3.DAFTAR ISI Gambar 1.T Penguatan Penguasaan pasar Antipasi Perubahan tek nologi 1. Kekuatan dari saha kecil di Bandar Lampung berdasarkan kajian hasil survei ada tiga pilar yaitu (1) setiap usaha kecil umumnya memiliki kontribusi margin yang tinggi yaitu berkisar rata-rata antara 41%. peluang.T Menambah wawasan SDM tentang Persaingan dan pening katan modal kerja Hasil kajian lingkungan berdasarkan TOWS ini secara umum menggambarkan peta kekuatan. Masalahnya terletak pada kemampuan mengatur biaya operasional usaha. ini menunjukkan bahwa usaha kecil ini secara bisnis masih cukup potensial kalau dikelola dengan benar.

Tindakan jangka menengah adalah : (1) Meningkatkan mutu dan perbaikan sistem pelayanan kepada setiap konsumen baik secara lokal maupun untuk meningkatkan pelayanan di luar Bandar Lampung.tetapi lebih banyak didorong oleh adanya rasa takut kehabisan bahan baku. (2) Menerapkan sistem pemasaran yang moderen dengan memperbaiki pelayanan. 184 . dengan cara meningkatkan pengetahuan mengenai modal kerja. Ancaman usaha kecil kedepan antara lain (1) datang dari semakin ketatnya persaingan baik secara lokal maupun global .maupun bentuk pelayanan purna servis. (2) Melakukan peningkatan dengan suplier lokal sehingga terjalin harmonisasi hubungan dan kontinyuitas pemasokan dapat terjamin sesuai dengan kebutuhan. (3) selain itu ancaman datang dari peningkatan mutu dan pe layanan sebagai akibat adanya perkembangan teknologi produksi yang baru.dll. (3) Melatih SDM agar mampu menguasai ketearampilan bisnis moderen dan mampu menyerap binaan atau bantuan modal kerja dari pemerintah yang disalurkan melalui Bank atau dana KUK. (2) Tingginya dukukung pemerintah melalaui binaan manajemen ataupun bantuan modal yang dapat dimanfaat untuk mengembangkan usaha kecil. cara mengatur persediaan. cara mengatur seluruh kebutuhan operasional termasuk melakukan efisiensi usaha. Kajian –kajian TOWS inilah yang dijadikan dasar untuk menyusun langkah atau strategi usaha kecil ke depan agar dapat bertahan dan bekembang terutama di era pasar bebas. (2) Kelemahan ini hampir dilakukan oleh setiap usaha kecil sebagai akibat masih rendahnya SDM yang ada. Tindakan strategi yang harus diambail dalam jangka pendek adalah : (1) Memperbaiki modal kerja. termasuk sulitnya memisahkan kebutuhan rumah tangga dengan kebutuhan usaha. memgatur persediaan.peningkatan daya kerja produk. cara mengatur piutang. apakah itu di era pasar bebas AFTA atau pada era Global. sehingga mereka belum sadar dan sungguh-sungguh mengatur penagihan piutang. (2 ) ancaman datang di era pasar bebas adalah semakin cepatnya trend/perubahan mode yang berpengaruh pada perubahan salera konsumen. dimulai dari perbaikan kemasan.DAFTAR ISI Kelemahan usaha kecil di Bandar Lampung umumnya (1) masih rendahnya pengetahuan mengena modal kerja. Peluang usaha kecil di Bandar Lampung diantaranya (1) masih terbukanya peluang untuk menggarap pasar local maupun non local. (3) Masalah pengadaan bahan baku belum diatur berdasarkan perkiraan kebutuhan produksi. yaitu keterampilan berbisnis secara profesional .sehingga mereka banyak yang bertjaga-jaga secara berkelebihan pada pengaadaan bahan baku dan pelengkap.

DAFTAR ISI Tidakan strategi jangka panjang adalah (1) berusaha untuk mengganti teknologi yang ada dengan teknologi yang baru sesuai dengan kemajuan zaman . Hal dapat dikembangkan berkat kesadaran mengenai pemahaman salera konsumen dan ketersediaan teknologi. sehingga dapat mengkuti perkembangan pasar dan perubahan salera konsumen secara tepat dan cepat b) Hasil penelitian ini harus disosialisasikan sehingga setiap usaha kecil mengetahui strategi apa yang harus mereka terapkan. dengan alasan sebagai berikut : (a) Hasil perhitungan kebutuhan modal kerja berdasarkan besaran pencapaian volume penjualan umumnya menunjukkan hampir ( 87% ) usaha kecil itu menggunakan modal kerjanya secara berkelebihan ( WC>0). 2. Koperasi. (b) Efek dari buruknya manajemen modal kerja ini juga berpengaruh pada kemampuan bersaing dari usaha kecil sehingga jika ini diteruskan tanpa dicari solusi tidak tertutup kemungkinannya akan berpengaruh pada keberadaan dan daya saing usaha kecil itu di masa yang akan datang terutama pada era AFTA ataupun era Global. maupun masyakat yang peduli seperti masyarakat kampus untuk melakukan binaan manajemen modal kerja dan teknik mengakses modal serta peningkatan wawasan SDM usaha kecil mengenai keterampilan bisnis moderen. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Menurut ketentuan manajemen kerja yang diungkapkan oleh Weston dan Copland yang menyatakan bahwa modal kerja yang optimum adalah jika working of capital (WC) ≤0. hal ini dap.( 2) strategi inovasi menjadi andalan utama.1 Kesimpulan Hasil perhitungan dan kajian yang telah dilakukankan meunjukkan bahwa secara umum hipotesis yang diungkapkan pada penelitian ini dapat dibuktikan. dan UKM ataupun instansi pemerintah atau swasta yang terkait. Saran a) Dianjurkan kepada semua pihak yang terkait dimulai dari Departemen atau dinas Perindustrian. V. agar tetap bertahan dan berkembang di masa yang akan datang . sehingga mampu membaca kebutuhan pasar dengan cepat. Strategi itu adalah : 185 .

3. Indra Ismawan.2000. Managing in a borderless World.2001. Strategi jangka pendek : (a) Memperbaiki modal kerja. yang secara tidak lansung berpengaruhi terhadap efektivitas item persediaan. Intoduction to Management Science.Bandar Kenoichi Ohmae. Keown..9th-ed Basic Financial Management.1997. 8th.England: Wildwood House. Menghapus Kesenjangan: Makalah Seminar Pembinaan Usaha Kecil. The Skill of Communicating.(b)Usaha kecil perlu meningkatkan hubungan baik dengan supliernya sehingga terjamin kontinyuitas produksi.Inc. Strategi jangkah menengah yang perlu diambil oleh usaha kecil adalah : (a) meningkatkan mutu dan sistem pelayanan kepada konsumen lokal maupun di luar Bandar Lampung. The Portable MBA. Manajemen Keuangan.Virginia 186 .David. perbaikan kemasan.Jakarta. 2.67. :Prentioce-Hall.Taylor III.New York: Harvard University Review .1996. Collin and Devana.DAFTAR ISI 1. (b) mengembangkan inovasi produk. Virginia: Pearson Education-Prentice Hall. (c) Usaha kecil perlu mengikuti pelatihan SDM khususnya untuk menambah wawasan bisnis moderen.1999. September 21.New York : John Wiley & Sons.Martin.Inc. sehingga kedua item ini dapat efektif dimanfaatkan sebagai bagian dari modal kerja yang dapat memperbaiki kinerja modal kerja. (b) menerapkan sistem pemasaran moderen dengan memperbaiki pelayanan. Daftar Pustaka Bernard W.2000. sebagai keunggulan bersaing di era AFTA maupun era global. Strategi jangka panjang yang perlu diambil adalah : (a) berusaha mengganti teknologi dengan teknologi yang moderen sesuai dengan kemajuan zaman .p 153. Konsep dan Aplikasi Lampung: Penerbit Lamda Sains.ed Bill Scott.and Petty. dengan memperhatikan lebih intensif pada item persediaan dan piutang. daya kerja produk maupun pelayanan purna servis. Iban Sofyan.

Steiner. Great Britain: Kogan Page Limited.Singapore: Prentice Hall International. Punji Wahono. Suryadi Soedirdja.PerbankanKomersil.2000. Faktor Penghambat Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar Antar Instasi. New Yersey : Printice Hall.1989.Philip.2001. New York : Collier Macmilan Publishers. Starting A Successful Small Business. Kunci Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar-Kerja sama antar Lembaga. 187 .1998. Richard E.1983. George. Jakata.Inc.1998. Feinberg-Valeriana Kallap.Jakarta.23 April. 19 Juni.DAFTAR ISI Levi and Sarnat. Copetitive Advantage. Capital Investment and Financial Decisions.Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Fundamentals of Financial Management.di Ketiga.2000.Weston and Copland. . Dunia Vanhorn.2000.

Nilai bagi konsumen adalah perolehan Manfaat Fungsional. Hermawan Kertajaya (On Brand. dan Emosional. These 14 factors are taken from the KMO’s and MSA’s values of The Factor Analysis more than 0. 11) Satisfied with easily transaction. 7) be Satisfied with supporting facilities. 11) mengungkapkan bahwa merek merupakan indikator nilai (Value) suatu produk. 6) Asociate the brand with the product atributes. as follows: 1) Top Of Mind of the saving account brand. 10) Satisfied with keeping in promise. Brand Asociation. 5) Asociate the brand with the facilities and services.DAFTAR ISI (Studi Pada Produk Tabungan. Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Oleh : Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek Mahrinasari MS. On-Line Technology.50. hal. and Services offered by human Resources. Brand Awareness. 2) Aware the brand because of Advertising. determined by 67 indicators. 4) Asociate the brand with the product function. Unila . 2004. Key Words: Brand Equity. 13)CustomerLoyalty because of customers Liking and commits. Pendahuluan Merek produk berkembang menjadi sumber aset terbesar dan merupakan faktor penting dalam kegiatan pemasaran perusahaan. and Brand Loyalty. 9)Satisfied with office location. Fakultas Ekonomi. Manfaat fungsional adalah manfaat langsung berkaitan dengan fungsi-fungsi yang diciptakan oleh suatu produk. 14) customers loyalty because of no brand swiching. 12)Satisfied with additonal benefit. The research result shows that the determining factors of the equity brand value are 14 factors. 3)Aware the brand because of On Line Mareketng. Sedangkan 3 Dosen Jurusan Manajemen. 8)Satisfied with fisical facilities. Brand Perceived Quality.3 ABSTRACT The objective of this research is to explore what the brand equity factors especially study in the biggest three general is banking in Lampung Province.

nama.4). khususnya pada 190 . Asosiasi Merek (Brand Association). e. d. Sitinjak Tony (2001. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek. Sugiarto. menunjukkan kesanggupan seseorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu. Persepsi Kualitas (Perceived Quality). harga pesaing. adalah Seperangkat aset dan liabilitas merek yang terkait dengan suatu merek. sehingga menciptakan kepuasan pelanggan. Perbankan nasional di Indonesia saat ini memperlihatkan persaingan yang ketat dalam merebut konsumen dan mengembangkan pangsa pasar. Sitinjak Tony. yang mampu menambah atau mengurangi nilai sebuah produk atau jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan. Sugiarto.DAFTAR ISI manfaat emosional adalah manfaat yang diperoleh berupa stimulasi terhadap emosi dan perasaannya. 2001. atribut produk. Elemen ekuitas merek yang kelima ini secara langsung dipengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut. Menurut David A. Aaker (1998) yang dikutip oleh Darmadi Durianto. ekuitas merek memiliki beberapa elemen. maka aset dan liabilitas merek harus berhubungan dengan nama atau sebuah simbol sehingga jika dilakukan perubahan terhadap nama dan simbol merek. Persaingan di antara merek yang beroperasi di pasar semakin meningkat. mencerminkan tingkat keterikatan konsumen dengan suatu merek produk. hal. gaya hidup. yaitu : a. selebritis dan lainlain. 4). Loyalitas Merek (Brand Loyalty). mencerminkan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas/keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud yang diharapkan. merebut dan menguasai pasar (Durianto. beberapa atau semua aset dan liabilitas yang menjadi dasar ekuitas merek akan berubah pula. dan hanya produk yang memiliki ekuitas merek yang kuat akan tetap mampu bersaing. hal. mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan. c. simbol. 3). Aset-aset Merek Lainnya (Other Proprietary Brand Assets). b. Darmadi. manfaat. Kesadaran Merek (Brand Awareness). Ekuitas Merek menurut Darmadi Durianto. geografis. Sitinjak Tony (2001. hal. Sugiarto.

14). 14) Hasil survey MARS tahun 2005 (Siti Sumaryati dalam artikel Sajian Utama. dan PT BNI (persero) Tbk di Provinsi Lampung (Sumber: Bank Indonesia Bandarlampung. Desember 2005. dan bahkan nilai pengendapan dana cukup lama dibandingkan dengan giro dan deposito. Juli – Agustus 2005. 15. Posisi dana demikian berdampak terhadap perolehan pangsa pasar bank atas produk simpanannya. dengan produk tabungan Mandiri Fiesta. Volume XXVII. serta Bank Negara Indonesia dengan aset Rp147. dan tawaran hadiah beberapa mobil mewah BMW dan Mercy. Vol. Di Propinsi Lampung eksistensi ke tiga perbankan tersebut menunjukkan suatu bank yang besar baik dari jumlah aset.DAFTAR ISI produk tabungan. 36.842 Juta menawarkan program iklan “Berburu Hadiah. dan peringkat berikutnya diikuti oleh BRI. hal. Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. No. Secara Nasional. 44) menunjukkan bahwa BCA memiliki peringkat pertama sebagai “The Best Corporate Brand”. dalam InfoBank. dengan produk tabungan Tahapan BCA. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tawaran promosi yang begitu agresif dan menarik dalam bentuk iklan di media elektronik. XXI. September 2005). dan hal.083 Juta menawarkan program tayangan “Layar BNI dan Undian Berhadiah menarik” dengan produk tabungan “Taplus BNI” (Info Bank. BNI. maupun perolehan dana pihak III. dan Lippo. SWA. XXVII. Vol. dan pemberian hadiah. Tabungan merupakan sumber dana pihak III yang masih menjadi primadona sebab biaya dana yang dikeluarkan berada pada nilai tengah dan relatif stabil. hal.783. Sebagai contoh. 191 . terdapat 3 bank Indonesia yang memiliki aset terbesar posisi september 2005. yaitu Bank mandiri dengan aset Rp256. Faktor – faktor apakah yang menentukan nilai ekuitas merek ?.297 Juta menawarkan beberapa ratus hadiah mobil mewah dan intensitas iklan melalui program tayangan di Indosiar TV “Gebyar BCA” .550. iklan di media cetak. dimana pangsa pasar produk tabungan selama tiga tahun terakhir tertinggi dimiliki oleh PT BCA. PT BCA memiliki pangsa pasar tabungan tertinggi dibandingkan dengan PT BNI. begitupun pada Bank BCA dengan aset Rp148. Mandiri.675. SKEM. dan PT Bank Mandiri (Sumber: Mark Plus dan Biro Riset Info Bank. hal. kemudian menyusul PT Bank Mandiri.

and sometime the prestige. it helps to assure him of Quality. 438. term. Sebagai bahan informasi bagi pengambil keputusan yang terkait dengan produk perbankan pada umumnya. Merek memegang peranan sangat penting.9) Merek menurut bahasa kamus dalam menyebutkan: Encyclopedia Americana. Defenisi tersebut di atas juga menunjukkan bahwa begitu pentingnya arti dan keberadaan sebuah merek. 2. For the consumer. khususnya pada perusahaan perbankan. aid promotional efforts. and offer him the security. atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual tertentu. hal. 1989. Pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen pemasaran perusahaan. Tinjauan Teori Merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo. differentiate products or services. used to identify a product or service of a seller. cap. 1997 hal. dengan demikian membedakannya dari barangbarang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor. and maintain a corporate image. maintain prices. associated with the Brand of the product or service and its owne. symbol or design or a combination of two or more of these.DAFTAR ISI Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: • • Untuk mengetahui fator-faktor yang menentukan ekuitas merek. kelebihan-kelebihan produk. Suatu merek pada gilirannya memberi tanda pada konsumen mengenai sumber produk tersebut. thus differentiating the product or service from others. For the owner it helps to stimulate buying. Brand is a word.Aaker. kualitas produk. A Brand name has value to both the owner of the name and the consumer. dan melindungi konsumen maupun produsen dari para pesaing yang berusaha memberikan produk-produk yang tampak identik. salah satunya adalah menjembatani harapan konsumen pada saat kita menjanjikan sesuatu kepada konsumen. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk: 1. Dengan demikian dapat diketahui adanya ikatan emosional yang tercipta antara 192 .(David A. Sebagai bahan informasi bagi manajemen bank dalam mengeksekusi atau merencanakan program pemasaran produk Tabungan pada masa depan.

5. Pesaing bisa saja menawarkan produk yang mirip. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. Contoh yang paling fenomenal adalah Coca Cola yang berhasil menjadi “Global Brand”. Ekuitas merek menurut Aaker. potensi ini akan meningkatkan Citra Merek. (1997: 22) adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek. kebanggaan ataupun atribut lain yang melekat pada merek tersebut. Merek mampu membuat janji emosi menjadi konsisten dan stabil. 6. David A. Dengan adanya merek. makin kuat pula interaksinya dengan konsumen dan makin banyak Asosiasi Merek yang terbentuk dalam merek tersebut. Semakin kuat suatu merek.DAFTAR ISI konsumen dengan perusahaan penghasil produk melalui merek. Ekuitas Merek merupakan aset yang dapat memberikan nilai tersendiri dimata pelanggannya. Aset yang dikandungnya dapat membantu pelanggan dalam 193 . Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. 2. karena beberapa faktor seperti: 1. 3. Emosi konsumen terkadang turun naik. Merek menjadi sangat penting saat ini. Bisa dilihat bahwa suatu merek yang kuat mampu diterima diseluruh dunia dan budaya. Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen. tapi mereka tidak mungkin menawarkan janji emosional yang sama. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa Coca Cola Company yang memiliki Stock Market Value (SMV) yang besar ternyata 97 % dari SMV tersebut merupakan nilai merek. Jika Asosiasi Merek yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. Merek yang kuat akan sanggup merubah perilaku konsumen. nama dan simbol yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. diterima dimana saja dan kapan saja di seluruh dunia. 4. konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan dengan kualitas. Merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. kepuasan.

ketiganya tetap dapat mengurangi keinginan atau rangsangan konsumen untuk mencoba merek-merek lain. Promosi yang dilakukan akan lebih efektif jika merek dikenal. Loyalitas merek adalah salah satu elemen Ekuitas Merek yang dipengaruhi oleh elemen ekuitas merek lainnya. Asosiasi-asosiasi merek. dan mengurangi ketergantungan pada promosi sehingga dapat diperoleh laba yang lebih tinggi. memproses. Menurut Durianto Darmadi . Ekuitas Merek yang kuat dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap kualitas merek. Ekuitas Merek yang kuat dapat digunakan sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perluasan merek kepada produk lainnya atau menciptakan bidang bisnis baru yang terkait yang biayanya akan jauh lebih mahal untuk dimasuki tanpa merek yang memiliki Ekuitas Merek tersebut. dan loyalitas merek dapat mempengaruhi alasan pembelian konsumen.Tony Sitinjak. Ekuitas Merek juga memberikan nilai bagi perusahaan dalam bentuk : 1. 2. Empat dimensi Ekuitas Merek: Kesadaran merek. Kualitas yang dipersepsikan atas merek. Kualitas yang dipersepsikan atas merek. Loyalitas merek yang telah diperkuat merupakan hal penting dalam merespon inovasi yang dilakukan para pesaing. 2001 hal. Ekuitas Merek yang kuat dapat mempertinggi keberhasilan program dalam memikat konsumen baru atau merangkul kembali konsumen lama. 5. 6. 194 . Ekuitas Merek dapat mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam pengambilkan keputusan pembelian atas dasar pengalaman masa lalu dalam penggunaan atau kedekatan asosiasi dengan berbagai karakteristik merek.Sugiarto . 4.DAFTAR ISI menafsirkan. dan menyimpan informasi yang terkait dengan produk dan merek tersebut. Asosiasi Merek juga sangat penting sebagai dasar penciptaan Kesan Merek yang kuat dan strategi perluasan produk. Salah satu cara memperkuat Ekuitas Merek adalah dengan melakukan promosi besar-besaran yang membutuhkan biaya besar. 7) disamping memberi nilai bagi konsumen. 3. Ekuitas Merek yang kuat memungkinkan perusahaan memperoleh imbuhan nilai yang lebih tinggi dengan menerapkan harga premium. Bahkan jika Kesadaran merek. dan Asosiasi-asosiasi merek tidak begitu penting diperhatikan dalam proses pemilihan merek.

DAFTAR ISI

7.

Ekuitas Merek yang kuat dapat meningkatkan nilai penjualan karena mampu menciptakan loyalitas saluran distribusi. Produk dengan Ekuitas Merek yang kuat akan dicari oleh pedagang karena mereka yakin bahwa produk dengan merek tersebut akan memberikan keuntungan bagi mereka. Dengan Ekuitas Merek yang kuat, saluran distribusi dapat berkembang sehingga semakin banyak tempat penjualan yang pada akhirnya akan memperbesar nilai/volume penjualan produk tersebut, dan mempertinggi perolehan pangsa pasar. Aset-aset Ekutias Merek lainnya dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan dengan memanfaatkan celah-celah yang tidak dimiliki pesaing. Biasanya, bila empat faktor penentu utama dari Ekuitas Merek yaitu Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek sudah sangat kuat, secara otomatis aset Ekuitas Merek lainnya juga akan kuat.

8.

Dengan demikian, perusahaan yang ingin tetap bertahan dan melangkah lebih maju untuk memenangkan persaingan, sangat perlu mengetahui kondisi Ekuitas Merek produknya melalui penelitian faktor-faktor penentu elemen Ekuitas Merek (Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek). Metode Penelitian Objek penelitian pada produk Tabungan Bank Umum PT. Bank Mandiri Tbk, PT BCA Tbk, dan PT BNI Tbk (Persero) di Provinsi Lampung. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dengan pengambilan data melalui survey lapangan pada bulan September 2005 hingga bulan Desember 2005. Jumlah sampel terpilih menggunakan pendapat Slovin (Husein Umar, 1997, hal. 59-60) dengan mengasumsikan populasi berdistibusi normal dan tingkat kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%. Populasi nasabah tabungan pada ketiga bank masing-masing sebanyak di atas 50.000, sehingga besarnya jumlah sampel diperoleh minimal sebesar 100. Dengan demikian jumlah sampel keseluruhan adalah 300 responden. Responden terpilih disurvey pada kantor cabang utama, dan kantor cabang pembantu dengan lokasi kantor di kota/kota kabupaten terpadat atau terbanyak respondennya melebihi 5000 nasabah, sehingga jumlah sampel pada masing-masing kantor cabang dan cabang pembantu dipilih secara proporsional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non -probability sampling, khususnya dengan jugjemen sampling atau sampling pertimbangan (Moh. Nasir, 1999, hal.332). Pendekatan 195

DAFTAR ISI

ini dilakukan karena karakteristik populasi nasabah bank responden tidak dapat diketahui dengan pasti dan nasabah diperkirakan homogen. Oleh karena itu, penulis menentukan pertimbangan yang menjadi responden adalah nasabah aktif yang berarti nasabah melakukan transaksi menabung minimal satu kali dalam satu bulan pada bank responden dan pernah menjadi dan atau sedang menjadi nasabah pada produk tabungan bank lainnya. Hasil Dan Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas Hasil pengujian validitas dengan metode analisis Korelasi Pearson yang dapat dilihat pada Tabel 1. berdasarkan aplikasi komputer Software SPSS Versi 11.5, dan mengunakan 30 sampel responden pada peubah Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kepentingan, Kepuasan, dan Loyalitas menunjukkan nilai tingkat signifikansi P lebih kecil (<) dari 0.05. Dengan demikian, alat ukur yang digunakan dalam pengukuran Ekuitas Merek dapat diyakini kevalidannya/keakuratannya. Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan metode statistik “Cronbach’s Alpha menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,9468 atau 95%. Nilai Cronbach’s Alpha ini masuk dalam kategori tingkat kereliabelan sangat tinggi. Dengan demikian, skala pengukuran dikatakan reliabel atau tepat untuk digunakan pada penelitian selanjutnya. Tabel 1. No Hasil Pengujian Validitas Pengukuran Ekuitas Merek Peubah Ekuitas Merek Nilai Korelasi Pearson 0,553 0,406 0,464 0,648 0,646 Hasil Signifikansi= < 0,05, Berarti Valid 0.002 0,026 0,010 0,000 0,000

1 Loyalitas pada Merek 2 Kesadaran pada merek 3 Asosiasi atas Merek 4 Kepentingan pada Merek 5 Kepuasan atas Merek Sumber: Data diolah, 2005 Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek

Analisis faktor penentu ekuitas merek menggunakan model analisis faktor. Hasil Model analisis faktor I dilakukan tampa terjadi reduksi indikator menunjukkan bahwa angka KMO (Kaiser-Meyer-Olkin,) – MSA (Mesure of Sampling Adequacy) sebesar 0,874. Angka ini berarti bahwa pengukuran atas 196

DAFTAR ISI

peubah ekuitas merek dapat diproses dan digunakan dalam model selanjutnya. Nilai Bartlett’s Test yang dilihat pada angka Kai Kuadrat (Chi-Square) sebesar 10890,365 dengan signifikansi sebesar 0,000, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan. Namun, besaran MSA pada peubah Loyalitas, khususnya pada indikator Pembeli Kebiasaan sebagai bagian dari peubah ekuitas merek menunjukkan nilai di bawah 0,50. Hal ini berarti perhitungan analisis faktor I perlu diulang dengan cara menghilangkan peubah indikator “kebiasaan”. Model analisis faktor II setelah menghilangkan peubah kebiasaan menunjukkan bahwa nilai KMO- MSA (Kaiser-Meyer-Olkin, Measure of Sampling Adequacy) sebagai pengukuran ketepatan model dapat digunakan sebesar 0,876. Nilai Bartlett’sTest of Sphericity yang dilihat pada angka Kai Kuadrat sebesar 10823,739 dengan signifikansi sebesar 0,000 yaitu kurang dari nilai signifikansi kepercayaan 0,05, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan. Nilai MSA pada Model faktor II menunjukkan bahwa masing-masing peubah ekuitas merek memiliki nilai lebih tinggi dari 0,50. Kemudian nilai faktor komponen matrik korelasi terdiri 15 faktor. Penentuan masing-masing indikator yang masuk dalam suatu faktor komponen matrik korelasi yaitu dilihat dari nilai korelasi matrik terbesar pada masing-masing komponen. Namun, nilai komponen matrik korelasi pada faktor 13 yang terdiri dari indikator KPS 6 ( Lokasi Strategis dekat dengan tempat tinggal) serta faktor 12 yang terdiri dari indikator BA 13 (Asosiasi Penggunaan layanan Auto Debet) dan BA 14 (komunikasi Pemasaran On-Line)_memiliki 2 nilai faktor komponen matrik korelasi yang berdekatan hampir sama, maka peneliti mencoba menggabungkan faktor 13 nilai indikator KPS 6 ke dalam faktor 3 serta faktor 12 nilai indikator BA 13 ke dalam faktor 4, dan nilai indikator BA14 pada faktor komponen 12 ke dalam faktor komponen 14. Sehingga jumlah faktor penentu nilai ekuitas merek secara keseluruhan menjadi 14 faktor. 14 faktor ini adalah 1) Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind); 2) Pengenalan Merek karena Promosi Media Iklan Dalam dan Luar Ruangan; 3) Pengenalan Merek Karena Komunikasi Pemasaran On-Line; 4) Asosiasi yang dibentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah, suku bunga tinggi, dan aman; 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses layanan aman dan nyaman; 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk berkesan: profesional, Layanan Simpati, dan Tanggung Jawab serta Integritas; 7) Kepuasan atas produk tabungan karena tawaran fasilitas teknologi on-line dan layanan oleh SDM tepat, cepat, dan aman; 8) Kepuasan atas tawaran fasilitas fisik yang melekat pada ruang kantor (Gedung mewah, ruang tunggu, dan halaman parkir luas); 9) Kepuasan Atas Lokasi Strategis, 10) Kepuasan atas kepastian dan ketepatan janji sesuai fungsi inti produk berupa: suku bunga 197

676 0. Rekapitulasi Hasil Faktor Komponen Matrik Korelasi Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi I Nama Faktor Pengingatan Puncak Atas Merek Indikator Pikiran Puncak (Top of Mind) 1. 12) Kepuasan atas manfaat tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik. Kapan Saja. desain kartu ATM menarik. Iklan TV Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0.DAFTAR ISI tinggi.465 0. Akses Jaringan Kantor Luas danj Akses ATM banyak 2. Fasilitas Antrian Nyaman 4. serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya perpindahan merek. Suku Bunga Tinggi 3. Tayangan “Bill Board” Ruangan. Bebas Pulsa 3.536). Akses layanan Phone Banking 24 Jam. nasabah akan cenderung berpindah walaupun nasabah harus mengeluarkan biaya perpindahan atas merek.504 0. Fasilitas Transaksi penarikan Dana . yang berarti jika ada tawaran yang menarik dari bank lain. Nilai ini menunjukkan hubungan yang cukup erat. 6. Iklan Radio Pengenalan Merek 3. Berupa: Asosiasi Terbentuk karena Pemanfaatan Fasilitas dan Akses Layanan. Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai korelasi matrik antara indikator dan faktor menunjukkan rerata korelasi di atas 50% (0. Rekomendasi Teman 3 4 5 Pengenalan Merek karena Asosiasi Terbentuk Karena Fungsi Produk.728 0. Aman 1. Biaya Administrasi Rendah 2.600 0.648 0. dan komitmen nasabah terhadap merek produk tabungan pada ke tiga bank responden. Tabel 1. Majalah dan Luar 5.418 0.689 2 198 .303 0.522 0.766 0. 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan. aman dan nyaman 2. Pameran 7. Berupa. berikut ini. biaya administrasi rendah. dan hadiah undian serta hadiah langsung menarik.769 0. kesukaan. Dimana Saja.476 0. Surat Kabar Karena Promosi Iklan Media Dalam 4.742 0.765 0.789 0. Berupa: 1. Pemasaran On-Line 1. Tabulasi hasil faktor komponen matrik korelasi terdiri dari 14 faktor dapat dilihat pada Tabel 1. Tampa Batasan Jumlah 5. parkir gratis.605 0. 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi. Akses layanan cepat.

Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri yang tinggi kepada nasabah 8. Karyawan ramah dalam memberikan informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat 11. Layanan transaksi oleh karyawan cepat 7.817 0.607 0.678 0.692 0.DAFTAR ISI Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi Nama Faktor Indikator 6. Berupa: 199 . Teknologi Informasi On-Line 3.481 0.573 0. kemampuan Karyawan dalam menjelaskan produk dan layanan denagn baik dan tepat 6. Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah 1. Layanan Simpati Atribut Produk Berkesan: 3. Ruang Tunggu Bertransaksi Sejuk 5. Ruang tunggu Bertransaksi Bersih 4.446 0. Berupa: 8.832 0. Profesionalisme karyawan dalam pelayanan 5. dan Air 8.607 0.465 0.629 0.780 0. Kepuasan atas Fasilitas Fisik yang Melekat pada Ruang kantor.573 0.412 0. Profesional 7 Kepuasan Atas Fasilitas Pelengkap. Gedung Mewah 2. Pelayanan prima oleh Karyawan 14.757 0.547 0. Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan saja dan tampa batasan jumlah dana 10. Ruang antrian nyaman 2. Dilengkapi dengan Buku Transaksi 4.780 6 Asosiasi Terbentuk Karena 2.832 0.325 0. Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” Pembayaran Listrik.533 0.343 0. Telephone.754 0. Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0. Ruang Tunggu Bertransaksi Nyaman 1.717 0. Karyawan cepat tanggap atas keluhan dan masalah nasabah 12. Teknologi dan Layanan SDM. Ruang Tunggu Bertransakasi Luas 3. Tanggung jawab dan Integritas 1. FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga penabung 9. Karyawan penuh semangat bersedia membantu menjawab pertanyaan nasabah 13.683 0.633 0. Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah 7.

Berupa: Loyalitas Nasabah Terbentuk Karena: Loyalitas Nasabah Terbentuk .775 0.784 0. Dekat dengan tempat tinggal/Usaha 2.634 0. Kepuasan 2. Hadiah undian tabungan 4.789 0. Fasilitas Call Center 10 11 Kepuasan atas Kemudahan Bertransaksi. Desain Kartu ATM menarik 1.604 0. Biaya administrasi rendah 3. Tidak Adanya Perpindahan Merek 12 Kepuasan atas Manfaat Tambahan. Komitmen 1.Aplikasi SPSS Versi 11.832 0.768 0. Memanfaatkan fasilitas Auto Debit 1.749 9 Kepuasan Atas Lokasi Strategis Kepuasan atas Kepastian dan Ketepatan Janji Sesuai Fungsi Inti Produk 1.494 0. Fasilitas SMS Banking 3.403 0. Halaman Parkir Luas Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0. Fasilitas Internet Banking 2. Halaman parkir gratis 2.50.663 0. Tampilan fisik karyawan cantik/ ganteng. Dengan: 4. Hadiah langsung menarik 1.50. Januari 2006 Tabel 1. Simpulan a. Mudah Dijangkau dengan Alat Transportasi 1.526 0.691 menarik 0. Kesukaan 3. Suku bunga tinggi dan menarik 2. dan menarik 3.DAFTAR ISI Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi Nama Faktor Indikator 6. Memanfaatkan Jaringan ATM Bank Lain 5.437 0.748 0.497 0.481 0. Memanfaatkan Fasilitas Ruang Antrian Kantor 6. Memanfattkan fasilitas ATM sendiri yang banyak 7.799 0.5. Sehingga penentu ekuitas merek yang kuat dari masing-masing indikator adalah nilai yang menghasilkan korelasi faktor di atas 0. tersebut memberikan makna bahwa nilai korelasi faktor matrik yang besar diperoleh dari nilai di atas 0.780 0. Karena: 13 14 Sumber: Data Diolah dengan Metode Analisis Faktor .387 0. 200 Analisis faktor membuktikan ada 14 Faktor dari 67 Indikator Peubah .396 0.

Strategis. dan Tampa Batasan Jumlah. 3) Pengenalan Merek Karena Pemasaran On-Line. Karyawan cepat tanggap atas keluhan dan masalah nasabah. Karyawan penuh semangat bersedia membantu menjawab pertanyaan nasabah. 201 . Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri yang tinggi kepada nasabah. Telephone. 10) Kepuasan atas kepastian dan ketepatan janji sesuai dengan fungsi inti produk berupa: Suku bunga tinggi dan menarik. 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses layanan berupa: Akses Jaringan Kantor Luas dan Akses ATM banyak. Radio. dan suku bunga tinggi. dan pemanfaatan Auto Debit. Biaya administrasi rendah Hadiah undian tabungan menarik Hadiah langsung menarik. serta Halaman Parkir Luas). 8) Kepuasan atas Fasilitas Fisik yang melekat pada Ruang Kantor (Ruang tunggu Bertransaksi Bersih. 4) Asosiasi Terbentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah. Kapan Saja. Fasilitas Transaksi penarikan Dana.. dan Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah. Layanan transaksi oleh karyawan cepat. 12) Kepuasan atas Manfaat Tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik. Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah. FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga penabung. Layanan Simpati. 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi: internet banking. Akses layanan Phone Banking 24 Jam dan Bebas Pulsa. 9) Kepuasan Atas Lokasi . dan komitmen nasabah.50 adalah 1) Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind). dan Air. 14 Faktor penentu Ekuitas Merek yang kuat dilihat dari hasil nilai korelasi faktor matrik rotasi indikator di atas 0. Akses layanan cepat. Fasilitas Antrian Nyaman. b. Sejuk. Pelayanan prima oleh Karyawan.5. Teknologi on-line dan Layanan oleh SDM berupa: Profesionalisme karyawan. Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan saja dan tampa batasan jumlah dana. SMS banking. Dimana Saja. aman dan nyaman. Call Center. 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan. Surat Kabar. dan Tanggung Jawab serta Integritas.DAFTAR ISI penentu ekuitas merek dengan memiliki nilai KMO-MSA (Kayser-MeyerOlkin. Measure of Sampling Adequacy). Karyawan ramah dalam memberikan informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat. 2) Pengenalan Merek karena Promosi Iklan Media Dalam dan Luar Ruangan berupa: Iklan TV. dan Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja. 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk berkesan: profesional. 7) Kepuasan atas Fasilitas Pendukung. Majalah dan Bill Board . yaitu nilai penentu kecukupan sampling sebagai penentu faktor model yang tepat untuk digunakan sebesar di atas 0. dan Nyaman. kesukaan. Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” Pembayaran Listrik. serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya perpindahan merek.

David. Alih Bahasa Ananda Aris. Penguatan kesan pada merek dengan penciptaan asosiasi seperti merek memiliki makna profesional. Toni. Jakarta. 2000. Menciptakan biaya peralihan tinggi sehingga menyulitkan nasabah untuk berpaling ke bank lain Menciptakan program relationship marketing terpadu. layanan simpati. Gramedia Pustaka Utama. 6th. Spektrum Mitra UtamaPrentice Hall. Kottler Phillip.DAFTAR ISI Saran Ekuitas merek dapat ditingkatkan dengan memperbaiki beberapa aspek yaitu: a. layanan cepat dan aman. Manajemen Perbankan. 2000. Chicago Durianto. Strategi Menaklukkan Pasar. 2000. dan biaya administrasi rendah. Cravens. Husein Umar. The Millenium Edition. akses layanan 24 jam. Ed. Hermawan Kertajaya On Branding. Aspek kesadaran ditingkatkan melalui pengenalan dan penyadaran merek untuk menciptakan Pikiran Puncak atas Merek produk (Top of Mind) melalui program promosi intensif. A. Manajemen Ekuitas Merek: Memanfaatkan Nilai dari Suatu Merek. dan layanan prima. b. Sitinjak. 202 . Peningkatan kepuasan nasabah dengan memberikan beban biaya administrasi rendah. Darmadi. dan agresif. Hermawan Kartajaya. Irwin. Jakarta. 2004. Strategic Marketing. 1997. DAFTAR PUSTAKA Aaker. d. DW. Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. 2000. Jakarta. Bandung Indonesia. Mizan Media Utama. e. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. c. Prentice Hall International. Sugiarto. Marketing Management. Kasmir. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. 2001. Riset Strategi Pemasaran.

. Interaksara. Valerie. Yogyakarta. Penerbit Rineka Cipta. Bitner. International Edition. No. Reliabilitas dan Validitas. Journal Mandiri. Suharsimi Arikunto. 1999. Encyclopedia Americana. Moh. Jakarta -------------------. _______________.. Penerbit: Quantum Bisnis dan Manajemen (PT Mizan Publika). Delivering Quality Service: Balancing Customer Perception and Expectations. Indonesian Best Brand 2003. L. Jakarta Temporal. 3. cetakan kesebelas. “Power Branding”. Analsis Elemen Ekuitas Merek pada PT Bank Mandiri Tbk (Persero). Juli 2003. Penerbit: Prenada Media. Parasuraman and Leonard. Inc. Metode Penelitian. Nasir. Jakarta. Hari. 2003. 2001. Printed and Manufactured in the USA Buletin Mandiri. Jakarta.DAFTAR ISI Lukman Dendawijaya. Syaifudin Anwar. dikutif dalam “Jurnal Ilmiah – Entrepreneurship”. 1997. 2004.B. PT. Susanto. 203 . The Free Press A. Gramedia Pustaka Utama. edisi revisi. Ghalia Indonesia. No. Alih bahasa Suminto. 1990. Agustus 2003. alih Bahasa. Mary Jo. 14. Himawan. Division of Macmillan. Majalah SWA. Untuk Menaikkan pangsa pasar. Edisi Volume XIX. Nicolino. dkk. A. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. dan Wijarnako. Sugiarto. Jakarta. A. 1996. Jakarta. 2004. Jakarta. A. 1997. Patricia F. Jakarta Indonesia. oleh Sugiri. Paul. Pahlawan Jauhari.. Valerie. Service Marketing. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Penerbit Pustaka Pelajar. Berry. Rineka Cipta. Manajemen Perbankan. McGraw Hill. Zeithaml. 2001. ISSN 1693-1696.. 1989. Brand Management. A. Zeithaml. Penerbit Galia Indonesia. 2003. Teknik Sampling. 2001-2005. 1999. Volume 1. Jakarta. Branding in Asia (Membangun Merek di Asia).

Majalah SWA. Indonesian Best Brand 2004. Jakarta. 321. Juli – Agustus 2004. Peringkat Merek Memuaskan. September 2005. Edisi Volume XX. No. Juni 2004. -------------------. No. 15. 204 . Jakarta. Desember 2005. Nasabah Mulai Gelisah. No. Edisi Volume XXVII. Jakarta. 15. -------------------. Majalah SWA. No. 21 Juli – 3 Agustus 2005. No. 303. Indonesian Best Brand 2005. Edisi Volume XXI. -------------------. Majalah SWA. Edisi Volume XXI. Majalah Info Bank. Jakarta. Rating 134 Bank. -------------------. Peringkat Merek Memuaskan 2005. Majalah SWA. 19. Jakarta. Edisi Volume XX.DAFTAR ISI -------------------. Edisi Volume XXVI. No. 19. Juli 2003. Majalah SWA. -------------------.

73% dari Kabupaten Way Kanan. in marketing of coffee commodity. 2004. village traders. to use distribution from farmers district traders exporters. satu4 Dosen Jurusan Manajemen. and exporters is more effective (0. Fakultas Ekonomi. district traders 0. district traders.79% dari Kabupaten Lampung Tengah. yaitu dari Kabupaten Lampung Barat. and exporters is 0. 4. 29.21% dari Kabupaten Tanggamus.375) than that from others.99 . and at distribution channel III 0. it proves that exporters are more efficient than collecting traders and farmers (exporters 0.453. Keywords : Coffee. 0. Based on the conclusion. village traders 0.14%. Therefore.300. at distribution channel II 0. Farming PENDAHULUAN Ekspor dari sektor pertanian dan kehutanan Propinsi Lampung memberikan devisa negara sebanyak 271. The average efficiency level at distribution channel I is 0.617. and exporters is 0. and farmers 0. 0. regency traders 0.83). Bank Indonesia Cabang Bandar Lampung.DAFTAR ISI Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Oleh : Mustafid4 ABSTRACT The research analysis result shows that the distribution channel I form farmers. 9. district traders. Dan Kopi Biji menduduki tempat yang penting dalam devisa dimana luas dan hasil produksi kopi biji di Propinsi Lampung sekitar 41.98.99.95. it is suggested.12% dari Kabupaten Lampung Utara.50% dari Kabupaten Lampung Selatan.88 ton dengan nilai seharga US$ 250.333.69% dari Kabupaten Lampung Timur.33% dari Kabupaten Tulang Bawang. While in efficiency and margin. And the value of distribution from farmers.94. Unila . it is necessary to activate association to be involved in blocking marketing of coffee commodity in general and especially helping coffee farmers in carrying out their farming. dan 0.97. and it is better for exporters to help coffee commodity farmers to increase margin. 0.345. regency traders. The value of distribution from farmers. 14. Exporters.05% dari Kota Bandar Lampung.93. village traders.

Jumlah sampel tersebut di ambil secara proporsif (proporsive random sampling) atas dasar homogenitas (relatif sama) yang diharapkan dapat mewakili dari populasi yang ada. 2. 7 dari Kabupaten Tanggamus. METODE PENELITIAN Penelitian lapangan terdiri dari observasi dan mempelajari hal-hal yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Hal ini didasarkan pada proporsi hasil produksi di wilayah tersebut. bahwa besarnya sampel produk hasil pertanian dapat di ambil antara 10% sampai dengan 20% dari populasi petani produsen komoditas kopi biji sebanyak 410 orang di sentra produksi komoditas kopi biji di Lampung yang terdiri dari 21 dari Kabupaten Lampung Barat. Dalam analisis kualitatif akan digunakan analisis berdasarkan teori pemasaran dengan membandingkannya. Selain analisis kualitatif juga akan dilakukan analisis dengan pendekatan kuantitatif. 9 dari Kabupaten Lampung Barat. Pedagang kabupaten sebanyak 7 pedagang. Jumlah sampel yang diambil dari petani produsen sebanyak 47 rensponden. 5 dari Kabupaten Tanggamus. Daerah penelitian adalah daerah Propinsi Lampung. 10 dari Kabupaten Way Kanan. 3 dari Kabupaten Lampung Barat. Pedagang desa sebanyak 17 pedagang. yaitu: 2. Dalam menyusun penelitian ini akan digunakan analisis kualitatif dan kuantitatif yang ada kaitannya dengan masalah yang terjadi.DAFTAR ISI satunya daerah yang tidak menghasilkan kopi biji adalah Kota Metro (Dinas Perkebunan Propinsi Lampung. Ruang lingkup penelitian lapangan meliputi: 1. 16 dari Kabupaten Tanggamus. Kabupaten Tanggamus. dan 2 dari Kabupaten Way Kanan. 2004). dan 2 dari Kabupaten Way Kanan. dan 4 dari Kabupaten Way Kanan. khususnya dengan tata niaganya. Sedangkan Eksportir sebanyak 2 responden. dan Kabupaten Way Kanan. yaitu Kabupaten Lampung Barat. 2 dari Kabupaten Tanggamus. 10 pedangang dari Kabupaten Lampung Barat. 206 . antara lain menganalisis tentang efektivitas dan efisiensi tata niaga pemasaran komoditas kopi biji di Propinsi Lampung. 1. Pedagang kecamatan sebanyak 20 pedagang. hal ini didasarkan dari pendapat Mubiarto (1993:95).

dan Irawan 2000:314). dan Irawan (2000:314) digunakan rumus: n Ni = ∑ Tj. b.1 sampai dengan 0. 3.H. Untuk Mengetahui tingkat efisiensi tata niaga pada setiap lembaga menurut Noegroho Besar Koesnadi (1990:5) adalah dengan rumus sebagai berikut: e = Z + Zm . Untuk mengukur tingkat efisiensi pemasaran kopi biji di Lampung sehingga dapat diketahui margin yang diperoleh masing-masing lembaga yang terkait dalam pemasaran kopi biji termasuk margin yang diperoleh produsen. C + Cm 207 .. Faktor-faktor itu tidak dapat berdiri sendiri. bahwa ntuk mengukur tingkat efektivitas digunakan metode faktor tertimbang menurut Basu Swastha D. n dan 0 ≤ Tj ≤ 1. 3. promosi. pada 0 ≤ Fij ≤ 0. Timbangan faktor tidak dapat dipisahkan dengan nilai faktornya.H. Produk. Asumsi-asumsi untuk metode ini adalah: 1.30 (Basu Swastha D. = Timbangan pada faktorj. Tj = 1 = 1 = Nilai kebijaksanaan I pada faktor j. 2. 2.5 Kriteria penentuan efektif adalah jika Ni > 0. dan lingkungan dianggap tetap.5). = 1. harga.Fij j=1 Keterangan: Ni Tj j n ∑ j Fij = Nilai total untuk kebijaksanaan saluran disrtibusi(I). 4.. . Menggunakan skala jarak tertentu (0.DAFTAR ISI a.

Kebijaksanaan promosi yang dilaksanakan relatif terbatas. Asumsi-asumsi yang dianggap konstan. 5. 4. Kriteria penentuan efisien adalah jika e > 1. Biaya penyaluran dan pemasaran yang dikeluarkan oleh produsen persatuan barang. 208 . 2.DAFTAR ISI Keterangan: e Z C Zm Cm = = = = = Efisiensi saluran perlembaga. 3. dengan demikian bersifat given. Faktor kebudayaan. karena peraturan pemerintah harus dipatuhi. Keuntungan yang diterima oleh lembaga tata niaga persatuan barang. Kebijaksanaan produk. Biaya saluran persatuan barang. 6. Teknologi. Kondisi perekonomian yang tidak dapat dipengaruhi secara parsial atauperubahannya berlaku umum. hal ini didasarkan berlakunya bersifat umum dan tidak setiap perubahan teknologi langsung dapat diikuti.yang perubahannya relatif lambat. dengan alasan komoditas kopi biji sangat dipangaruhi olah faktor alam. Peraturan Pemerintah. yaitu: 1. Pendapatan produsen dari hasil penjualan persatuan barang.

4 0.1 x T j .075 3 0.5 Nilai Faktor (Fij) 0.060 0.30 x 0.10 perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah invest asi at au biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan unt uk menut upi kerugian 0. 1 Faktor Efektivitas untuk mencapai pembeli atau konsumen Laba yang diperoleh jika alternatif saluran yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah investasi atau biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan untuk menutupi kerugian Tj 0.120 5 0.375 Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.20 Nilai T ot al x 0.10 x 0.25 yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman 0. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran I No.3 0.1 Tj .25 x 0. 209 .Fij 0.100 x 0.4 0.2 x 0.060 0.050 4 x 0.20 x 0.060 2 0.15 konsumen Laba yang diperoleh jika alt ernat if saluran 0.Fij 0.15 0. 1 Fakt or Tj 0.345 Nilai Total Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.045 2 3 Efekt ivitas unt uk mencapai pembeli at au 0.30 x 0.3 0.5 Nilai Fakt or (Fij) 0. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran II No. Tabel 2.030 4 0.DAFTAR ISI HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Efektivitas Tabel 1.120 5 0.2 0.

Berdasarkan analisis efektivitas tata niaga komoditas kopi biji Propinsi Lampung bahwa tata niaga I ( Petani Produsen ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir) lebih efektif dengan nilai 0.075 3 0.5 x Nilai Faktor (Fij) 0.94 Pedagang Kabupaten Eksportir Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian. II. Analisis Efisiensi Tabel 4.DAFTAR ISI Tabel 3. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran III No. 1 Keterangan Saluran I Saluran II Saluran III 2 3 Petani 0.25 x 0.93 Pedagang Kecamatan Eksportir Petani Pedagang Desa 0.345 dan tata niaga III (Petani Produsen --->Pedagang Kabupaten --> Eksportir) dengan nilai 0.375 dari bentuk tata niaga II (Petani Produsen ---> Pedagang Desa ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir} dengan nilai 0.040 0. dan III Komoditas Kopi Biji Propinsi Lampung No.300 Nilai Total Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.20 x 0.075 2 0.090 5 0.3 0. 210 .020 4 0. Hasil Perhitungan Tingkat Efisiensi Tata Niaga I.15 0.30 x 0.Fij 0. 1 Faktor Efektivitas untuk mencapai pembeli atau konsumen Laba yang diperoleh jika alternatif saluran yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah investasi atau biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan untuk menutupi kerugian Tj 0.1 Tj .10 x 0.2 0.300.95 Pedagang Kecamatan Eksportir Petani Pedagang Desa 0.4 0.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan. pedagang kecamatan. Marketing Management Millenium Edition. terlihat adanya usaha untuk menyelenggarakan tata niaga komoditas kopi biji di Lampung seefektif dan seefisien mungkin terlihat dari angka perhitungannya yang lebih dari 70 %. Eksportir juga dapat membantu petani komoditas kopi agar marjin yang diperolehnya meningkat. Lampung Dalam Angka. eksportir). pedagang desa.35. Analisis efisiensi pada tata niaga II lebih tinggi daripada tata niaga yang lain. yaitu 0.H. 211 . Jakarta: Salemba Empat. 2000. Yogyakarta: LPFE UGM. pedagang kecamatan. 1999. Sedangkan bila mengutamakan efisiensinya. New York: Irwin McGraw – Hill.S. maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga I (petani.00. Lampung: Bappeda Tingkat I Lampung dan Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. tata niaga I rata-rata sebesar 0. Philip.375. International Marketing. P. 2004. maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga II (petani. 2004. jika lebih mengutamakan efektivitasnya.94. Craven. dan tata niaga III rata-rata sebesar 0. D. eksportir) lebih efektif daripada bentuk saluran distibusi lainnya dengan nilai 0. pedagang kecamatan. Siswoputranto.95.1. eksportir). Buletin Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan No. Prentice Hall. Strategic Marketing International Edition. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia.DAFTAR ISI KESIMPULAN Kesimpulan penelitian jika dilihat secara parsial. 2000.Kotler. Efektivitas tata niaga I (petani. Manajemen Pemasaran. Untuk itu perlu diaktifkannya peran serta lembaga asosiasi untuk ikut serta meningkatkan pendapatan pada tata niaga kopi biji. 2000. Philip. 07. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. Swastha D. Kotler.. 1999.93.W. Jakarta: Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Basu dan Irawan. Indonesian Commodity Review.

Universitas Lampung Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.DAFTAR ISI Universitas Lampung. 1999. Lampung: 212 .

.DAFTAR ISI Penilaian Saham. Keinginan manusia seperti itu adalah naluri manusia di mana saja. Long term investment in stocks based on a fundamental approach seems more promising. Gejala mi telah 5 Doctor of Finance. Kelangkaan bunga tulip yang disebabkan oleh hama telah menyebabkan harga bibit bunga tulip dalam bentuk siung (bulb) meningkat dengan cepat. Memahami Cara Berinventasi Saham di Pasar Modal Oleh : Sri Hasnawati5 ABSTRACT This paper is to discuss the Discounted Dividend Model for investing in stocks. The Discounted Dividend Model is a fundamental approach to investment that looks into the earning growth of the companies in question. Keywords : Discounted divident.. Stocks are one of the investment alternatives with both high expected return and high risk. Constant Discounted Dividend Model. Three varieties of the model are presented here. Sejarah telah mencatat bagaimana misalnya masyarakat di Negeri Belanda pada abad ke enam belas beramai-ramai memborong bibit bunga tulip dalam rangka mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam waktu yang singkat. Faculty of Economy. and Multi Stages Discounted Dividend Model. varietes model I. but long-term investment based on rumors may not be profitable. Latar Belakang “The madness of crowds” itulah istilah yang digunakan oleh Burton G. Rumors might work well for short-term investment.Malkiel dalam bukunya yang berjudul: “A Random Walk Down Wall Street”. Lecturer of University of Lampung. Management Dept. earning growth. Constant Growth Discounted Dividend Model. untuk menggambarkan masyarakat yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa dasar pemikiran yang rasional.

vicieotronics dan masih banyak lagi. masyarakat sangat menyenangi saham-saham yang namanya berbau “trons” seperti Astron. Hukum ekonomi mengatakan bahwa dengan suplai yang tetap. Akhir cenita sama dengan kejadian di Belanda. Akibatnya setelah meningkat dengan cepat. Masyarakat lagi-lagi beramai-ramai membeli saham perusahaan pelayaran “The South Sea” yang tidak jelas benar kinerja keuangannya. Kejadian seperti ini lagi-lagi membawa korban. sebagian inasyarakat mengalami kerugian karena perusahaan itu sendini tidak pernah mendatangkan dividen. Harga-harga saham meningkat dengan cepat dari indeks sebesar 68 menjadi sekitar 600 dalam waktu kurang dari tiga tahun. Harga saham yang berbau dua kata ajaib tersebut meningkat dengan cepat walaupun tanpa didukung oleh kinerja keuangan ( financial performance) perusahaan yang jelas.3 menjadi 637.0 ditahun 1998 karena situasi krisis. Dutron. Masyarakat membeli saham semata-mata karena meinbeli saham memberikan status simbol tertentu.4 .DAFTAR ISI memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi mereka yang telah terlanjur membeli bibit tersebut. Vulcatron dan Transitron dan juga yang berbau “onics” seperti circuitronics. supronics. Pada akhirnya tulip tetaplah tulip yang tidak dapat menghasilkan emas. Demiikianlah harga meningkat dari hari ke hari sampai pada suatu titik di mana harga sudah menjadi terlalu tinggi untuk bibit bunga tulip yang nilai intrinsiknya rendah. Keuntungan yang dinikmati oleh segelintir orang ini telah mendorong yang lain untuk membeli bunga tulip lebih banyak lagi. “The madness of crowds” juga terjadi di Indonesia. 214 . Nampaknya masyarakat di manapun tidak pernah mau belajar dan sejarah. Di abad keduapuluh sekarangpun masyarakat mengulangi kesalahan yang sama. harga kembali turun juga dalam waktu yang singkat dan timbul korban. Menyadari hal tersebut di atas masyarakat tidak lagi mau membeli tulip sehingga harga turun dengan cepat. tambahan permintaan akan menyebabkan harga akan meningkat (ceteris paribus). Pada tahun enampuluhan di Amerika Serikat.Kemudian tahun 1992 IHSG meningkat dari 274. syukur-syukur kalau yang menjadi korban adalah mereka orang lugu (the innocent). Akibatnya banyak masyarakat yang menderita kerugian. lalu terjun menjadi 398. Kejadian di Negeri Belanda terulang kembali di Inggris pada Abad ke delapan belas. Kalau para profesional ikut-ikutan “mad” tentunya sudah sangat keterlaluan. Kemudian seperti telah dapat diduga hargaharga saham meluncur ke indeks 240 pada bulan November 1991.

215 . Ruang Lingkup dan Tujuan Penulisan Tulisan ini bertujuan untuk membahas teori... 3........ Selain itu juga akan dibahas asumsi-asumsi...... pokok pemikiran yang melandasi teori.. tengah tahunan.... bulanan atau harian)... 2.. Misal... metode dan formula yang digunakan untuk menghitung nilai intrinsik suatu aset tersebut..DAFTAR ISI Untuk nenghindari “madness” atau kegilaan tersebut..... penulis merasa perlu untuk mencoba menjelaskan teori atau forsula yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya dari suatu aset atau saham..... r atau required rate of return atau risk adjusted discount rate atau “hurdle rate” adalah tingkat bunga yang dituntut oleh investor sehubungan dengan oppurtunity cost7 dan resiko yang 6 7 Yang dimaksud umur ekonomis dapat didefinisikan sebagai jangka waktu suatu aset dapat dimanfaatkan secara ekonomis ( man faat lebih besar dan biaya)..... kuartalan...(1) Po = Ʃ -----------t =l (l+r)t Ct adalah arus kas (cash flow) untuk peniode t.... t adalah periode (tahun..... seseorang memilih saham sebagai alternatif investasi maka oppurtunity costnya adalah nilai manfaat dan bunga yang dihasilkai~ oleh obligasi atau alternatif investasi lainnya seperti bunga deposito kalau investor berniat memegang (hold) saham dalam jangka pendek kurang dari satu tahun... Oppurtunity cost dapat didefinisikan sebagai pengorbanan yang timbul karena alternatif investasi tertentu dipilih... Penghitungan oppurtunity cost ini dimaksudkan agar investor mengetahui alternatif terbaik dari sumber dana yang terbatas.. Penilaian Aset Secara Umum Nilai intrinsik (intrinsic value) atau harga yang pantas suatu aset baik aset fisik (phisical assets) maupun aset keuangan adalah penjumlahan nilai sekarang (present value) dari arus uang (cash flow) yang diciptakan oleh aset yang bersangkutan selama umur ekonomis aset tersebut 6... Secara matematis nilai intrinsik suatu aset (P0) adalah: C1 -----(1+r)1 C2 -------(1+r)2 C3 -------(l+r)3 Ct --------(l+r)t P 0= + + + N Ct . pendekatan yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya sari suatu aset khususnya saham.............

Konsekuensi dari perbedaan ini . Oleh karena itu tidak aneh kalau tingkat bunga meningkat.. Konsep oppurtunity cost inii diyakini oleh para ekonom yang berbeda dengan konsep biaya yang diyakini oleh para akuntan..... Semakin tinggi required rate of return semakin rendah harga atau nila! intrinsik saham.. rpi= risk premium atau premium resiko adalah tambahan return yang dituntut oleh investor karena ia mau menanggung resiko.... 4...... Oleh karena itu Persamaan satu di atas dapat dirubah menjadi: N Po = Dt .. Persamaan dua di atas disebut juga Discounted Dividen Model atau DDM.... Besarnya resiko ini dapat dinyatakan oleh besarnya deviasi standar dari return dan koefisien ß yang akan dijelaskan kemudian....... r1 = rf + rpi rf = risk free rate atau tingkat bunga bebas default risk............. return bagi akuntan adalah profit sementara return bagi ekonom adalah cash flow yang lebih mencerminkan return yang sesungguhnya .. harga saham akan turun seperti terjadi di Indonesia tatkala pemenintah memberlakukan TMP (Tight Money Policy)... Semakin tinggi dividen yang dibagikan semakin tinggi harga saham dan sebaliknya. Untuk saham maka cash flow yang dihasilkan adalah arus dividen yang akan diterima oleh investor di masa yang akan datang.......... Akuntan di dalam melihat biaya lebih memperhatikan kapan biaya itu mulai benlaku (historic cost).. Menentukan Nilai Intrinsik Saham Seperti telah dijelaskan sebelumnya nilai intninsik suatu aset adalah penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang dihasilkan oleh aset yang bersangkutan.. untuk peniode mana suatu biaya itu akan dibebankan (konsep accrual accounting dan defferral accounting)..... Menurut model ini nilai intrinsik dari saham akan sangat tergantung pada d!viden yang dibagikan dan required rate of return.DAFTAR ISI melekat pada aset i...... Profit mempunyai kelemahan karena keuntungan diperoleh berdasarkan prinsip dan metode akuntansi yang menawarkan angka profit yang berbeda-beda tergantung pada pninsip dan metode akuntansi yang digunakan 216 ...(2) Ʃ ------------t=1 (l+r) di mana: r = required rate of return t = peniode Dt= dividen untuk peniode t P0= Nilai intrinsik atau harga saham pada saat sekarang.

Secana teoritis terdapat tiga kemungkinan pola perkembangan dividen di masa yang akan datang yang sekaligus pula akan memberikan model atau formula yang berbeda. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang konstan akan menghasilkan Constant Growth Discounted Dividen Model. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang berbeda untuk berbagai tahap (stages) suatu penusahaan akan menghasilkan Multi Stages Growth Discounted Dividen Model. Dividen tetap (saham preferen atau preferred stock sama dengan obligasi) akan menghasilkan Discounted Fixed Dividen Model. c. Konsep keuntungan adakalanya tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lain kanena keuntungan merupakan definisi return yang diturunkan (derived) oleh akuntan yang dilandasi oleh metode dan prinsip akuntansi tententu.DAFTAR ISI Dari persamaan di atas akhinnya kita dapat menyimpulkan bahwa estimasi harga saham akan sangat tergantung pada keakuratan kita mengestimasi dividen dan required rate of return di masa yang akan datang. Konsep arus kas (cash flow) merupakan konsep yang lebih baik bila d!bandingkan dengan konsep keuntungan (profit) kanena arus kas lebih mencerminkan final return dan lebih dapat dibandingkan (comparable). Saham bonus baru merupakan potensi daya beli. Konsep nilai waktu dari uang merupakan konsep yang memperhatikan oppurtunity cost dari sumber ekonomi (dana) yang tenbatas sehingga keputusan investasi yang dibuat secara otomatis mencerminkan keputusan yang optimal. Penjelasan bagaimana kita dapat mengestimasi dividen dan required nate of return di masa yang akan datang akan dijelaskan kemudian. b. dapat ditarik kesimpulan bahwa dividen yang dihargai adalah dividen tunai sementara saham bonus atau Pay In Kind (P1K) dividen tidak dapat dimasukkan sebagai “final return”. Metode dan prinsip yang berbeda akan menghas!lkan def inisi keuntungan atau kerugian yang berbeda. Keunggulan Discounted Dividen Model: Dari persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini diturunkan dani konsep nilai waktu dari uang (time value of money) dan konsep arus kas (cash flow). Dari persamaan di atas. Saham bonus dapat menjadi final return kalau saham tersebut 217 . Pola tersebut adalah: a.

Sebaliknya di Indonesia saham bonus diambilkan dari pos agio. Misal sebelum dibagikan saham bonus. Pembagian saham bonus dapat berarti positif kalau pembagian tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa pemilik perusahaan merasa yakin bahwa perusahaaan mempunyai “proyek” atau peluang investasi yang menawarkan ROE (return on equity) yang lebih besar dari required rate of return perusahaan. Di Amenika serikat bila suatu perusahaan membagikan stock dividen itu benarti berita baik investor.. maka harga yang pantas adalah Rp 4000. 218 . Dengan demikian untuk mempertahankan PER=l0. Modus operandi pembagian saham bonus biasanya dikombinasikan dengan merger dan akuisis perusahaan lain.Sehingga Price Earning Ratio adalah 10 (diasums!kan pula bahwa PER =10 ini adalah ideal dalam arti sesuai denga PER ratarata industn).DAFTAR ISI telah diuangkan. Untuk labih jelasnya lihat contoh berikut. Alasannya itu tadi. Idealnya saham bonus diambilkan dani pos retained earnings perusahaan dan ini lazim dilakukan di Amenika. pengelola perusahaan merasa yakin bahwa tersedia peluang business yang bagus. kekayaan pemegang saham akan bertambah secara riil. Pemilik perusahaan yakin bahwa dengan penundaan pembagian dividen tunai (perusahaan hanya membagikan saham bonus) dapat melaksanakan pengembangan usaha yang mendatangkan ROE sebesar 35 %.8 Sesungguhnya pembagian saham bonus tidak selalu berarti negatif. Dalam kasus ini pembagian saham bonus sama sekali tidak merugikan investor karena mereka memperoleh kelebihan sebesar 5% (net) atas pengorbanan mereka menenima “kertas” atau saham bonus sebagai balas jasa. Penundaan itu diberi imbalan. ini sudah keterlaluan atau istilah Kwik Kian Gie disebutnya sebagai brutal. Merger dan akuisisi ini adalah cara yang digunakan untuk menarik kas yang ada diperusahaan di dalam pos tambahan modal disetor berupa agio. Dalam kasus yang terakhir ini investor hanya menunda sementara penerimaan uang tunai. maka harga saham cenderung akan turun. Dengan perkataan lain para pengelola penusahaan merasa yakin bahwa dengan menunda pembagian dividen tunai. Earning per share saham perusahaan X adalah Rp 600 dan harga saham adalah Rp 6000. 8 Saham bonus berdampak pada penambahan jumlah saham yang beredar yang pada akhirnya akan menurunkan earning pen share (EPS).-. Sekarang setelah saham bonus dibagikan Earning Per Share turun menjad! Rpi400. Dengan asumsi PER adalah tetap. Pemilik perusahaan (pemegang saham) mempunyai required of return 27% (22 % merupakan balas jasa risk free rate dan 5% adalah premium resiko).

9 Teori ini berdasarkan faktor-faktor psikis investor. Hanya “X” yang Maha mengetahui. Manusia tidak mungkin dapat menjelaskan seluruh fenomena yang ada di dunia ini. meminjam istilah Bapak Charles Naibaho dan Dana Reksa dan Bapak DR Wahyudi Prakasa dari UI “janganlah menjadi ekstrimis atau terlalu fanatik pada konsep atau pandangan fundamentalis di satu pihak dan technical analysis di lain pihak”. Kapas tetaplah kapas dan tidak pernah akan berubah menjadi emas. iklim investasi akan baik. Adalah Lord Keynes (seorang investor yang sukses) yang menyatakan bahwa sesungguhnya tugas seorang analis adalah bagaimana ia dapat menangkap mood (suasana hati) investor khususnya pada saat perekonomian mengalami booming. perusahaan akan mendatangkan keuntungan. Tidak ada salahnya kita menggunakan keduanya dengan bijaksana. Yang pasti kita ketahui (sejarah telah membuktikannya) saham-saham yang harganya sangat jauh di atas nilai intrinsiknya pada akhirnya akan jatuh. masyarakat akan membentuk “The castle in the air” atau angan-angan mereka tentang masa depan bahwa perekonomian akan baik. Bisa saja harga saham ditentukan oleh faktor—faktor di luar faktor fundamental seperti earning dan deviden seperti dijelaskan oleh “The Castle In The Air Theory”9 ****. akan tetapi pada titik tertentu harga saham akan ditentukan oleh nilai intrinsik saham.DAFTAR ISI Kelemahan Discounted Dividen Model: Dani persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini secana tidak langsung mengasumsikan bahwa investor akan memegang saham untuk jangka waktu yang tak terhingga dan mengabaikan capital gain. Pada periode booming investor merasa optimistis terhadap masa depan. Adapun kelebihan dari nilal intrinsik tersebut merupakan hasil dari faktor-faktor di luar model seperti faktor psikologis investor. dividen akan meningkat dan demikian juga harga saham akan meningkat 219 . Asumsi-asumsi ini jelas sangat tidak realistis karena investor sangat mementingkan capital gain dan jarang sekali atau mungkin tidak ada investor yang bersedia memegang saham untuk jangka waktu yang tak terhingga. Dengan demikian akan timbul pentanyaan “Buat apa kita mempelajari model tensebut kalau kita ketahui model tensebut dilandasi oleh asums! yang tidak realistis ?“ Jawabnya pasti: “Tetap ada manfaat mempelajari model tersebut meskipun asumsinya tidak masuk akal” Asumsi yang tidak masuk akal tersebut dipilih sebagai cerminan kita sebagai manusia yang penuh keterbatasan.Yang penting bagi analis. Kemudian dengan model ini paling tidak kita mengetahui berapa nilai intrinsik suatu aset khususnya saham sebagai batas bawah atau standar.

.... .............................= 0 (l+r) nilai dari persamaan tiga (3) di atas dapat diubah menjadi: D0 P0= Do x 1/r = ----------.......DAFTAR ISI 4.... Persamaan tersebut membantu kita untuk memahami model yang lebih rumit seperti model yang akan dijelaskan kemudian...... .............................----------------(1 + r)t \P0= D0 x---------------------.................. Kelemahan: Penggunaannya relatif terbatas....... maka: 1 --------------------......................................(1) t=l (l+r)t Karena D0=D1=D2= .. Karena t inendekati tak terhingga...1 Constant Discounted Deviden Model: Untuk saham yang menjanjikan deviden dalarn jumlah tetap....................................... hanya dapat digunakan untuk saham preferen dan atau obligasi................ 220 ... maka dapat disederhanakan menjadi: 1 1 ................... (3) r Rumus di atas tidak lain adalah rumus penghitungan nilai sekarang dari cash flow yang diterima di masa yang akan datang dalam jumlah yang sama untuk setiap periode atau anuitas (annuity). = Dt.....................(4) r Keunggulan: Persamaan empat tersebut di atas karena kesederhanaannya relatif mudah untuk diaplikasikan................. nilai intrinsiknya secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: N Dt Po = Ʃ ______ ..................................

+ ----------... jika harga yang berlaku lebih nendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya maka saham perusahaan adalah “over priced” atau terlalu mahal...............+ ---------.. + ----------(l+r)1 (l+r)2 (1-r)3 (l+r)t ....+ ... Secara matematis dapat dinyatakan sebagai benkut: D0(l+g)1 D0(1+g)2 D0(l-1-g)3 D0(1+g)t P0= ---------............. Sebaliknya jika harga yang berlaku lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya maka berarti saham tersebut “under priced” dan harus dibeli.. Nilai intninsik kemudian dibandingkan dengan harga yang berlaku (current market price) .... Dalam kasus ini berarti saham tersebut harus dijual......(5) Di mana: P0 = Harga saham sekarang r = required rate of return g =laju pertumbuhan deviden (cosntant untuk jangka waktu tak terhingga)......DAFTAR ISI Nilai Intrinsik Saham Yang Membagikan Dividen Yang Berkembang Pada Tingkat Pertumbuhan Yang Tetap (Constant Growth Discounted Dividen Model)... Decision rules: if current price > intrinsic value =>over priced => sell if current price < intrinsic value =>under pniced=> buy 221 ........................... Karena jangka waktu adalah tak terhingga maka persamaan 5 di atas dapat dirubah menjadi: D1 D0(1+g) --------.= -----------(r-g) (r-g) P0= ..(6) Di mana: R = requiered rate of return g = laju pertumbuhan deviden Do = besarnya deviden terakhir yang dibagikan D1 = estimasi deviden untuk satu tahun yang akan datang......................

.. Untuk memudahkan kita cantumkan lagi: N P 0= Ʃ t=1 Dt ------(l+r)t . 222 . Kelemahan dua model terdahulu telah medorong para pakar untuk memodifikasinya lebih lanjut.............. Pensamaan enam dapat digunakan untuk mengestiniasikan nilai intrinsik saham yang menawarkan pertumbuhan yang kosntan... 4.......DAFTAR ISI Keunggulan Persamaan enam (6): Secara umum persamaan enam jauh lebih baik bila dibandingkan dengan persamaan dua (3) di atas.................. Model ini pada dasarnya merupakan modifikasi dan rumus dasar pada persamaan 1 di atas..........3 Nilai Intrinsik Saham Yang Menawarkan Pertumbuhan Deviden Yang Berbeda Untuk Masing-Masing Periode/Tahap (Multi Stages Discounted Dividen Model). Kemungkinan pola perkembangan pertumbuhan deviden di masa yang akan datang secara detail akan dibahas kemudian........ Kelemahan: Persamaan tersebut secara langsung mengasumsikan bahwa pertumbuhan saham di masa yang akan datang adalah tetap (constant) .(1) Persamaan di atas dapat dimodifikasi ke dalam berbagai fase atau tahap... Asumsi ini adalah terlalu naif karena di dalam dunia nyata tidak ada saham yangmenawarkan dividen yang berkembang secara terus menerus pada tingkat yang tetap...... Untuk memudahkan pembahasan berikut akan disajikan model dua tahap (Two Stages Model) Model Dua Tahap (Two Stages Model): Misal pola perkembangan perusahaan hanya ada dua yaitu fase pertumbuhan cepat dan fase pertumbuhan melambat (tidak tenlalu cepat bila dibandingkan fase sebelumnya)..

X Pn (1+r)n Po = n Dt P0= Ʃ -----. D1 D2 D3 D4 1 -----+ --------+ -------.DAFTAR ISI g1=15% <-------------------. ---------.g2 Menghitung harga saham sekarang (nilai intrinsik) P0 yaitu penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang akan diterima sampai dengan periode 4. -------------------------------------------1 2 3 4 -------->g2=10% Fase I Fase II n= 4 Langkah perhitungan: a) Menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat: D5 ---------r-g2 D4(1+g2) ---------------r-g2 P 4= = b) Menghitung D4: D4 = D0(l+g1)4 c) Hasil langkah a dan langkah b digabung: D0(1+g1)4(1+g2) P4= ------------------------r .+ ------. ---------.x P4 (l+r)1 (l+r)2 (1+r)3 (l+r)4 (1+r) 4 1 -------. --------..+ -------..+ t=l (l+r)t di mana: n < N n = jumlah periode tahap I 223 .

+ ----------x P4 (l+r)2 (1+r)3 (1+r)4 (1+ r)4 Po = 224 . D0(1+g1) -----------.+ (l+r)1 D0(l+g1)2 D0(1+g1)3 D0(1+g1)4 1 ----------.959.08 0. Deviden tahun terakhir (D0) =Rp 300.= Rp 3.= ------------------r — g2 0.+ ------------. per lembar saham.- c) menggabungkan hasil perhitungan langkah a dan langkah b: D4(l+g2) P4= ---------.DAFTAR ISI Contoh: Misal Bank BNI untuk peniode 4 tahun mendatang menjanjikan pentumbuhan deviden sebesar 10 % per tahun.12 menghitung harga saham Bank BNI yang wajar. Nilai intrinsik merupakan penjumlahan nilai sekarang (present value) dan cash flow yang diciptakan oleh saham Bank BNI berupa deviden selama empat periode berturut-turut dan harga saham pada periode keempat.12 Rp439(1+0. Untuk peniode setelahnya diperkirakan laju pertumbuhan deviden tunun menjadi 8%.= --------------. Jawaban: a) menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat: D5 D5 D4(l+g2) = ----------------. Harga saham yang wajar adalah harga saham yang sama dengan nilal intrinsiknya.10) Rp300xl.+ ----------.20—0.12 P 4= b) menghitung deviden pada akhir tahun keempat: P4 = D0(1+g1)4 = Rp300 (14-0.0.08) -------------------.= 0.4641 = Rp439. Pertanyaan: Berapa harga saham Bank Duta yang pantas dengan asumsi pola pertumbuhan seperti di atas dan required rate of return 20 %.

Pola Umum Pertumbuhan Revenue.l.DAFTAR ISI Po = Rp300(1+0.+ (1+0. Dividen yang dapat diterima oleh pemegang saham akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan “earning”.82 +Rpl906.0 + Rp 250.1)3 + -----------------. profit margin dan penerimaan dari hasil penjualan .(1+0. —Jika hanga saham Bank BNI pada saat tententu adalah Rp 2600.20)4 Po = Rp275.953.0 +Rp 211.-. 5.2)4 (1+0.1)1 -----------------. Decision Rules: If V0 = P0 = lntrinsic Value > current market prcie ==> Buy If V0= P0 =I ntrinsic Value < current market price ==>Sell Keunggulan: Model dua tahap ini dapat dikembangkan menjadi model tiga tahap dan seterusnya.l)4 1 +-----------------.0 + Rp210.20)3 Rp300(1+0.+ (1+0. Kelemahan: Dari contoh perhitungan di atas jelas model ini lebih rumit bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya.+ -------------x Rp3.20)1 Rp300(1+0. Profit Margin dan Earnings. maka harga saham Bank BNI adalah “under priced ”. Dengan demikian model ini (Multi Stages Dividen Growth Model) lebih realistis bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya. Memperkirakan Pola Perkembangan Pertumbuhan Dividen Suatu Perusahaan Dengan memperhatikan constant growth discounted dividend model maupun multi stages growth discounted dividend kita dapat melihat bahwa hasil perhitungan nilai intrinsik suatu saham sangat tergantung pada besarnya laju pertumbuhan deviden atau besarnya g.1)2 ------------------(1+0. Hubungan ketiga komponen tersebut dapat digambarkan oleh siklus keuntungan perusahaan berikut ini: 225 .34 =Rp2 . Oleh karena itu pemahaman tentang berbagai kemungkinan pola pertumbuhan devidem dan metode yang digunakan memperkinakan pertumbuhan deviden mutlak diperlukan 5.855.20)2 Rp300(1+o.

Seperti digambarkan pada gamban 1 di atas. margin keuntungan dan earning perusahaan. Bukan perusahaan yang untung karena akal-akalan akuntan yang menyajikan laporan keuangan. 226 .DAFTAR ISI Gambar 1: Life Cycle of Profit: : : + + + * * * : : : : : : I : : + + + + : : : * : : : : : : + : * : + ? Revenue * : * : : : : : : : IV Profit Margin Earnings II : : III time Sumber: 1992 CFA Reading:Industry Analysis. Edward D. pada tahap ini perusahaan baru saja mengalami titik pulang pokok. Perusahaan yang go public adalah perusahaan yang sungguh—sungghuh menawarkan keuntungan bagi investor dalam jangka panjang atau mempunyai prospek yang baik.Cohen. Keterangan: Tahap I (Early Development): Fase pertumbuhan awal ditandai oleh peningkatan laju pertumbuhan penerimaan penjualan. Jerome B. Skenario seperti ini adalah skenario yang lazim terjadi di pasar modal yang telah maju. Keuntungan yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan (profit margin) dan keuntungan bersih adalah positif dan memberikan trend yang positif. Zinbarg and Anthun Zeikel.

profit margin dan earning yang tinggi dimungkinkan oleh kemampuan perusahaan meningkatkan produksi sedemikian rupa sehingga biaya per unit menjadi minimum.DAFTAR ISI Saham perusahaan yang ada pada tahap ini lazim disebut saham pertumbuhan (growth stock). Pertumbuhan revenue. Gejala ini sering juga disebut dengan “economic of scale”. Pertumbuhan deviden pada tahap ini belum akan begitu cepat karena perusahaan baru saja melewati batas kritis yaitu titik pulang pokok. Dengan perkataan lain masalah “timing” sangat penting di dalam proses pengambilan keputusan investasi. profit margin dan earning yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya dan periode sesudahnya. Tugas analis adalah menernukan “growth stock” seperti ini dan jika telah menemukan jenis saham seperti itu segera melaksanakan pembelian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar fungsi biaya rata-rata berikut ini: Gambar 2: Fungsi Biaya Rata-rata Average Cost/Marginal Cost * * * : MC * : * : : * * II Quantity Produced 227 * AC I 0 . Tahap II (Rapid Expansion): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap satu. Saham ini tidak memberikan “current dividend” dalam jumlah yang besar akan tetapi menjanjikan pertumbuhan dividen yang tinggi di masa yang akan datang. Tahap ini ditandai oleh laju pertumbuhan revenue. karena kalau terlambat harganya sudah terlanjur tinggi.

pemilihan teknologi perusahaan. produks!. Pada tahap ini kemungkinan besar laju pertumbuhan deviden akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Selain itu gejala yang nampak adalah penurunan margin keuntungan (profit margin) perusahaan. Pada tingkat tertentu akan timbul ketidakefisienan di dalam pengelolaan perusahaan yang ditanda! oleh peningkatan biaya marjinal yang lebih cepat bila dibandingkan dengan peningkatan biaya ratarata. Dari gambar 1 di atas kita dapat melihat gejala di mana revenue dan earning perusahaan secara absolut masih meningkat akan tetapi dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (rapid expansion).DAFTAR ISI Kalau kita perhatikan tahap I dari gamban 2 di atas nampak biaya rata—rata per unit barang yang dihasilkan semakin lama menurun sampai pada titik minimum. harus segera dilaksanakan. Kebijaksanaan mendasar seperti penggantian direksi dan pemilik lama (kelompok keluarga) ke kelompok profesional. Apabila perusahaan memasuki tahap ini. pemasaran dan lain sebagainya. Penurunan biaya per unit tidak mungkin terjadi selamanya. Analis keuangan yang baik harus menghindari perusahaan yang memberikan gejala seperti di atas. upaya pemasaran yang lebih efektif dan lain sebagainya. Secara alamiah akan timbul masalah antara lain “span of control” berbagai aspek perusahaan seperti keuangan. Pada tahap ini perusahaan justru memasuki tahap “disenomic of scale”. Pada tahap ini laju pertumbuhan dividen mengalami penurunan bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan deviden pada tahap selanjutnya. Biaya produksi yang menurun memungkinkan perusahaan untuk menjual lebih banyak dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Akibat dari semua gejala ini tentunya adalah penurunan keuntungan perusahaan. Kalau tidak ada upaya serius maka perusahaan akan memasuki tahap selanjutnya yaitu tahap penurunan yang merupakan gambaran kematian suatu perusahaan. Tambahan produksi justru meningkatkan biaya secara lebih cepat. 228 . pimpinan/pemilik perusahaan harus berhati-hati. Taflap III (Mature Growtfl): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya. Gejala ini sejalan dengan pola perkembangan biaya perusahaan yang digambarkan oleh gambar 2 di atas. Perusahaan-penusahaan keluarga yang sangat agnesif di dalam upaya pengembangannya harus dihindari. Perusahaan-perusahaan yang “higly geared” atau perusahaan yang terlalu banyak menggunakan hutang apapun bentuknya (termasuk Convertible Bonds) harus ditelaah secara hati-hati.

.. Pada tahap ini kemungkinan besar perusahaan tidak akan membagikan deviden karena perusahaan mengalami kerugian..... Berikut ini kita akan melihat model yang dapat digunakan untuk memperkinakan pertumbuhan deviden di masa yang akan datang.............. selera konsumen...(8) Dividend per Share Dividend Pay Out Ratio = --------------------------......................... 5............... Kalau suatu perusahaan sampai pada tahap ini berarti terjadi kesalahan di dalam pengelolaan perusahaan yangterjadi pada periodeperiode sebelumnya......................DAFTAR ISI Tahap IV menurun (Decline): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap III kalau tidak ada upaya yang serius dan berhasil untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam lingkungan perusahaan...2 Model Dupont: Sejauh ini k!ta belum lagi membahas bagaimana cara memperkirakan besarnya pertumbuhan deviden secara mendalam... Pola tersebut seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu sangat ditentukan oleh tahap-tahap yang dilewati oleh suatu perusahaan di dalam siklus pertumbuhan/perkembangan perusahaan........ Misal kesalahan pihak direksi di dalam mengantisipasi perubahan teknologi..... Di dalam pasar modal yang telah maju selalu ada mekanisme yang mengatur kejadian seperti di atas......... Sekarang kita lihat rumus penentuan nilai intrinsik saham secara detail: E(D1) E(E1)x(1—b) P0 = V0 = -----------.....(9) Earning per Share R = required rate of return 229 . persaingan dengan perusahaan lain dan lain sebagainya.......... Perusahaan yang memasuki tahap IV ini akan diambil alih oleh pihak lain dan selalu akan terjadi penggantian pimpinan perusahaan...............(7) (r-g) (n-g) b = Plow back ratio = (1 DividendPayOutRatio) .......= ------------------......... Kita baru sampai pada tahap pengenalan kemungkinan pola pertumbuhan deviden di masa yang akan datang....

.......................x -----------------... required rate of return sama dengan 25%................ pertumbuhan dividen sama dengan 10 % maka besarnya nilai intrinsik Saham Bank BNI adalah: E(E1) x (1—b) = ---------------------(r-g) Rp800 x 0...x ------... 25—0..................x -------------------. 10) = Rp2133...x ------E0 E0 I ROE dapat diubah menjadi : Net Income Pretax Income EBIT Sales Total Assets ROE = -------------------......x ----------------Pretax Income EBIT Sales Total Assets Equity (a) (b) ( c) (d) (e) .. Expected dividend itu sendiri ditentukan oleh perkalian expected earnings per share satu tahun yang akan datang dengan Dividend Payout Ratio..-......... (10) 10 Untuk mendapatkan rumus g=ROEx(l-Dividen Pay Out Ratio) perhatikan penjelasan berikut: Per definisi....... expected growth rate of earnings = perubahan earnings dibagi current earnings: ∆E I ∆E g = --------... required rate of return dan laju pertumbuhan dividen. Dividend Pay Out Ratio (DPR) sama dengan 40%.....DAFTAR ISI Dari persamaan tujuh di atas dapat dilihat bahwa nilai intrinsik saham akan ditentukan oleh expected dividen setahun yang akan datang. Hubungan tersebut dapat dinyatakan oleh persamaan berikut: g = ROE x (1-Dividen Pay Out Ratio) 10 ....... Contoh: Misal Saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menghasilkan Earning per Share sebesan Rp 800.= ------..40 = ---------------------(0..........- P0 = V0 = nilai intrinsik saham Benikut ini akan dilihat hubungan antara laju pertumbuhan dividen dengan Return On Equity dan Plowback Ratio...........11) Catatan : EBIT= Earning Before Interest and Tax 230 ..

Contoh perhitungan: ROE saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menjadi 15% dan Dividend Pay Out Ratio sama dengan 0.4)= 9% Persamaan 12 tesebut di atas kalau dilihat lebih jauh ternyata terdiri dari lima komponen utama yaitu: • • • • • komponen a merupakan Tax Burden komponen b merupakan Interest Burden komponen c merupakan Profit Margin (profit on sales) komponen d merupakan Assets Turn Over komponen e merupakan Financial Leverage Dengan memahami kelima komponen ROE di atas kita dapat dengan mudah memahami faktor—faktor apa yang menentukan besar kecilnya ROE yang juga menentukan besar kecilnya g atau pertumbuhan deviden. Tax burden yang meningkat dinyatakan oleh rasio antara Net Income dan Pretax Income yang semakin keci1. semakin besar tax burden .4. Tax Burden: Semakin besar tax rate. Maka besarnya laju pertumbuhan dividen adalah: g= ROE x (1—b)= 15% x (1—0. Semakin besar tax burden per definis! (ceteris paribus) ROE semakin kecil.DAFTAR ISI dimana : Net Income ROE = Return On Equity = ----------------Equity Lebih lanjut dengan menggunakan Du pont Mode Dari persamaan 11 tersebut di atas pertumbuhan dividen dapat dihitung asalkan besarnya ROE dan besarnya retention ratio dan plowback ratio diketahui. 231 .

Interest Burden: Komponen Interest Burden (Pretax Prof it/EBIT) yang dirubah menjadi: Pretax Profit -----------------EBIT EBIT-Intenest Expense = --------------------------------------. Tax Burden yang berbeda dapat pula disebabkan oleh kemampuan perusahaan memanipulasi pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.............. .. Rasio sama dengan satu adalah angka yang maksimum.... Interest burden mempunyai hubungan yang erat dengan financial leverage suatu perusahaan.(13) Equity Equity Profit Magin Per definii EBIT Profit Margin = ----------------------Sales 232 .. Perlu diingat bahwa Interest burden yang tinggi dinyatakan oleh rendahnya rasio antara Pretax Income dan Earnings Before Interest and Tax Adapun hubungan financial leverage (Assets/Equity) dengan debt to equity ratio dapat dinyatakan oleh persamaan benikut: (Financial Leverage) Assets = -------------. Semakin tinggi financial leverage (semakin banyak debt digunakan) semakin tinggi interest burden.(12) EBIT Dari rumus interest burden di atas dapat dilihat bahwa jika suatu perusahaan sama sekali tidak menggunakan pinjaman atau interest expense sama dengan nol......= Equity Equity+ Debt Debt ---------------.. per definisi (ceteris paribus) ROE semakin kecil. maka interest burden atau rasio antara pretax profit dengan EBIT sama dengan satu. Sebaliknya jika kita membedakan dua perusahaan yang berada pada tax bracket yang berbeda pajak dapat mempenganuhi hasil perhitungan ROE.. Semakin tinggi interest burden . maka rasio ini akan semakin kecil (kurang dan satu)... Jika perusahaan banyak menggunakan pinjaman beranti interest expensenya besar......= 1+ -------------.... Jika dua perusahaan berada pada tax bracket yang sama maka tax burden tidak terlalu berpengaruh pada hasil perhitungan ROE.DAFTAR ISI Hal ini disebabkan karena pajak selamanya akan mengurangi earning yang dapat dibagikan kepada pemilik perusahaan atau pemegang saham.

..67.. 233 ... Financial Leverage dapat mem”boost” atau meningkatkan ROE dengan ketentuan bahwa ROA (Return On Assets) lebih besar bila dibandingkan dengan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaan.. Profit margin 10% berarti untuk set!ap dollar penjualan keuntungan sebesar 10 sen dollar. semakin tinggi ROE suatu perusahaan. Dengan perkataan lain pemegang saham dirugikan...(14) Dari pensamaan 15 di atas dapat dilihat bahwa jika ROA lebih kecil bila dibandingkan dengan interest rate maka ROE akan turun berarti akan terjadi dilusi (dilution) dari earning yang dapat diterima oleh pemegang saham...= 1 + Equity Debt -----------Equity Jika Financial Leverage = l... Untuk jelasnya lihat modifikas! Persamaan dua belas di atas benikut ini: Debt ROE = (1-TaxRate) ⃒ ROA + (ROA-InterestRate) --------Equity ..1 = Equity 67 ---------100 Debt to Equity Rat!o = Dan persamaan duabelas tersebut di atas dapat dilihat bahwa semakin tinggi financial leverage. Debt ----------.67 maka... Assets Turn Over Komponen ini menggambankan efisiensi pemanfaatan aset perusahaan.= 1.DAFTAR ISI Semakin tinggi profit margin........ Financial Leverage: Per definisi: Financial Leverage = Assets -----------------. Profit margin disebut juga sebagai return on sales menunjukkan keuntungan untuk setiap satu dollar atau rupiah penjualan. semakin tinggi ROE. Semakin efisien pemanfaatan aset suatu penusahaan (yang dicerminkan assets turn over yang tinggi) semakin tinggi ROE.

65 maka dengan mudah kita dapat memperkinakan benapa besarnya g atau laju pertumbuhan deviden di masa yang akan datang ya!tu 22. maka usaha yang harus dilakukan adalah meningkatkan Financial Leverage setinggi mungkin.7 Pretax Income Atau Tax Rate = 30% Perusahaan B 0. Dividen Pay Out Ratio adalah 0.75% Contoh Perhitungan ROE: Perusahaan A Ta x Burden Net Income = -------------------------. Dengan mengetahui ROE dan Dividen Pay Out Ratio kita dapat menentukan berapa besannya pertumbuhan deviden di masa yang akan datang. Masalahnya adalah kalau financial leverage terlalu tinggi.= 0. KESIMPULAN: Jadi jelaslah dengan memahami berbagai komponen dari ROE kita lebih dapat memahami mengapa ROE suatu perusahaan lebih rendah bila dibandingkan oleh perusahaan lain yang sejenis.DAFTAR ISI Dan persamaan 15 tersebut di atas dapat pula disimpulkan bahwa kalau pemilik perusahaan yang ada yakin bahwa ROA akan leb!h besar bila dibandingkan dengan interest rate yang akan dibayarkan.73 234 .= EBIT 0. Kemungkinan besar hal itu disebabkan misalnya oleh perusahaan tensebut tidak efisien dalam memanfaatkan asetnya.7 Pretax Income Interest Burden = ---------------------. Contoh Perhitungan Laju Pertumbuhan Deviden: Perusahaan metniliki ROE = 35 %.67 0. resiko keuangan (financial risk) suatu perusahaan menjadi tinggi dalam arti kalau terjadi sesuatu dengan hasil penjualan (misal menurun tajam) maka perusahaan kemungkinan besar tidak dapat memenuhi kewajibannya dan dapat dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi. Dari uraian ini jelaslah bahwa salah satu motivasi perusahaan go public adalah dalam rangka menurunkan financial risk.

2388 Dan contoh perhitungan ROE tersebut kita dapat melihat bahwa ROE Perusahaan A (0.1.5 1.5. Seperti telah dijelaskan sebelumnya financial leverage dapat mem~boost” ROE aset ROA lebih besar bila dibandingkan dengan interest rate yang harus dibayarkan. dibandingkan dengan 1.5% 235 . Benikut adalah perhitungan ROA untuk Perusahaan A dan Perusahaan B: ROA = Profit Margin x Assets Turn Over Perusahaan A Operating Margin EBIT = -------Sales Sales = ---------Total Assets 12% Perusahaan B 17% Assets Turn Ove 3x 2.2532 0.= Sales 12% 17% Sales Assets Turn Over = ------------------.2532) lebih tinggi bila dibandingkan dengan ROE Perusahaan B (0.2388).5 x Leverage Financial Total Assets = ------------------------------Equity = 1. Hal ini utamanya disebabkan oleh: a) Perusahaan A lebih efisien dalam menggunakan asetnya.5 x ROA 36% 42.1 ROE 0.= Total Assets 3x 2.1 kali b) Financial Leverage perusahaan B lebih rendah bila dibandingkan dengan financial leverage perusahaan B yaitu 1.DAFTAR ISI Profit Margin EBIT = -----------------.5 kali dibandingkan dengan 1. Hal ini terbukti dengan angka assets turnover yang lebih besar yaitu 1.

Tingkat bunga yang dibayarkan oleh Perusahaan B terlalu tinggi yaitu 127.35 interes rate = 0.7J42.7x 54% — 0.008925 = 127.23.5%—interes rate)x 0. Tingkat bunga ini tidak sebanding dengan ROA yang dimiliki oleh Perusahaan B yaitu hanya 42.238=0.5%.2532 = 0.5 1 0.725%-0.8% = 0.238=0.5% interest rate Dan Contoh perhitungan di atas yang menjadi penyebab utama mengapa Perusahaari B memiliki ROE yang yang rendah bila dibandingkan dengan Perusahaan A walaupun Perusahaan B memiliki ROA yang lebih baik dan Financial Leverage yang tidak terlalu tinggi adalah kenyataan bahwa Perusahaan B memilih pembiayaan yang salah.2532 = (0.5 interest rate) = 37.35 interest rate 0.0.378—0.l interest rate l 0.5%+(42.94% Interest rate Perusahaan B : ROE=(1—0.18% — 0.5%+4.11 0.25%—0.7146.3) 136% + ( 36%-interest rate) x 0.5%.7) 136% + 0. 236 .238=32.07 interes rate 0.1188 Interest rate = 0.75%—0.5 interest rate l 0.3394 x 100 % = 33.DAFTAR ISI Berikut ini adalah hasil perhitungan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh Perusahaan A dan Perusahaan B: Debt ROE(1-Tax Rate) ⃒ ROA + (ROA.l interest rate l 0.725% .07 interest rate = 32.7 x 0.2532=0.Interest Rate) ----------Equity Interest rate Perusahaan A: ROE = (1-0.8% .7) 142.

DAFTAR PUSTAKA Bodie. akan tetapi perlu menganalisa secara detail fundamental perusahaan.W Norton & Company. 2006. New York-London 1990 237 . Kane and Marcus. KESIMPULAN Berdasarkan pada uraian tulisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa seorang investor atau analis sekuritas khususnya saham di pasar modal apabila akan melakukan investasi pada saham tidak boleh hanya ikut-ikutan . Irwin.Malkiel. W. Nilai intrinsik saham dapat digunakan sebagai cut of point untuk memutuskan belu atau menjual saham apabila sudah dimiliki saham tersebut.DAFTAR ISI Kalau seandainya Perusahaan B menggunakan tingkat bunga yang tidak tenlalu tinggi maka ROE Perusahaan B kemungkinan akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan Perusahaan A. Investment. Kedua yang tidak kalah penting adalah perlu memperhatikan laverage perusahaan. karena akan mempengaruhi tingkat suku bunga yang harus dibayarkan perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi ROE yang akan dihasilkan. Hal penting yang harus diperhatikan adalah earning perusahaan. A Random Walk Down Wall Street.Homewood Burton G. Karena earning akan menentukan besarnya dividen dan pertumbuhan dividen yang akan menentuakan nilai intrisik saham.

rasio A. stakeholder. ROE. PENDAHULUAN Latar Belakang Pasar modal saat ini dipandang sebagai sarana efektif untuk mempercepat pembangunan suatu negara. Satu keunggulan penting yang dimiliki pasar modal dibandingkan bank adalah bahwa untuk mendapatkan dana sebuah perusahaan tidak perlu menyediakan agunan. Keywords : faktor fundamental. PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. Biasanya para pemodal 11 Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung . EPS. Sumber pembiayaan yang sudah sangat populer adalah bank yang digolongkan sebagai sumber pembiayaan tradisional. Dengan menunjukkan prospek yang baik. sebagaimana dituntut oleh bank. Hal ini sejalan dengan fungsi pasar modal yaitu meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan kriteria pasarnya secara efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan.DAFTAR ISI Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham Oleh : A. dengan memanfaatkan dana dari pasar modal perusahaan tidak perlu menyediakan dana tiap bulan atau setiap tahun untuk membayar bunga. Faktor-faktor fundamental seperti DER. Kegiatan investasi yang dilakukan investor adalah kegiatan untuk menempatkan dana pada suatu atau lebih suatu aset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Sebagai gantinya perusahaan harus membayar dividen pada investor. Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat ROE nya rendah. Di samping itu. jika memang perusahaan memperoleh untung. Zubaidi Indra11 ABSTRAK Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. Melalui pasar modal dimungkinkan terciptanya usahawan yang dapat menggalang penyerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor produktif. maka surat berharga perusahaan tersebut akan laku dijual di pasar modal.

Penggunaan data akuntansi juga dapat menghasilkan peningkatan kualitas pengambilan keputusan pada setiap lini dari pembuat keputusan individu. systematic component reflects common movement of a single security’s return with the average return of all other securities in the market. the greater the riskiness of the security a β of the implies an averages riskiness” dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa beta atau risiko sistematis suatu saham merupakan indikator yang menunjukkan sensitivitas pergerakan return saham terhadap pergerakan return saham-saham lainnya di pasar. Hanafi dan Ari Wibowo (Kelola.. Laporan keuangan yang diumumkan tampaknya dipergunakan oleh investor dalam kegiatan di bursa. Kettle dan Scholes (1970) : “A. dan investor sudah sangat sadar untuk memperhatikan faktor fundamental perusahaan. Sumber risiko dapat dibagi atas 2 (dua) kelompok yaitu risiko sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan dan resiko tidak sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi atau (sekelompok kecil) perusahaan. Hasil penelitian Suad Husnan. Faktor-faktor fundamental adalah merupakan data akuntansi berupa ratio-ratio yang dapat membantu investor untuk memprediksi risiko suatu saham. Jika kaitan antara aspek fundamental tersebut diketahui maka akan sangat membantu investor dalam menganalisa kepekaan pergerakan return saham terhadap pergerakan saham. Dari latar belakang di atas maka permasahan yang diangkat adalah bagaimanakah pengaruh faktor-faktor fundamental keuangan perusahaan terhadap risiko saham. 3. menunjukkan bahwa pengumuman laporan keuangan perusahaan emiten juga mempunyai pengaruh terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan. Laporan keuangan Desember mempunyai dampak yang lebih besar dibanding dengan bulan Maret. Risiko sistematis menurut Beaver. 2. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara perdagangan pada saat sebelum dan sesudah pengumuman laporan keuangan. 1997). the larger the value. Hal ini menunjukkan bahwa ada factor yang harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis investasi yang akan dimasuki seperti risiko yang akan ditanggung.DAFTAR ISI tidak akan menempatkan seluruh dana yang tersedianya pada satu jenis aset. Dari hasil penelitian ini bisa dikatakan bahwa peranan laporan keuangan sudah sangat penting. Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. M. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian lainnya oleh Hanafi (Kelola. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih 240 . ini terlihat dari relatif tingginya perdagangan di hari pengumuman dibanding dengan kegiatan diluar hari pengumuman tersebut. Mahduh. 1997) yang tetap menyatakan bahwa pengumuman informasi laporan keuangan perusahaan emiten menunjukkan dampak yang besar terhadap aktivitas perdagangan saham di pasar modal Indonesia. Adanya kaitan antara saham individual dengan pasar membawa pemikiran bahwa besarnya risiko sistematis suatu saham seharusnya dapat diperkirakan dari aspek fundamental perusahaan dengan karakteristik pasar.

Formula CAPM dapat ditulis sebagai berikut : Ri = RF + (RM – RF) βi 241 . Konsep Model Security Market Line Seperti dijelaskan sebelumnya. dan mendukung dengan risiko yang akurat. Untuk dapat memilih investasi yang aman. TINJAUAN TEORITIS 1. diperlukan satu analisis yang cermat. sementara itu risiko tidak sistematis atau sering disebut risiko financial adalah risiko yang berhubungan dengan risiko usaha yang ditunjukkan oleh variabilitas ini akan semakin besar jika penggunaan hutang semakin besar yang pada akhirnya akan mempengaruhi risiko financial. teliti. Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut manager keuangan harus mampu memanfaatkan dana yang tersedia untuk investasi pada suatu investasi yang menguntungkan. Keputusan Investasi Dalam teori manajemen keuangan modern disebutkan bahwa tujuan perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan para pemegang saham. 2. seberapa ekspansi investasi yang dilakukan dan kapan investasi seharusnya dilaksanakan. Alat yang dipakai untuk melakukan analisis adalah rasio keuangan yang pada dasarnya melihat hubungan antar pos dalam laporan keuangan perusahaan yang mencerminkan keadaan keuangan serta hasil operasional perusahaan. Salah satu analisis yang dapat digunakan oleh calon investor adalah analisis fundamental. Analisis ini sangat berhubungan dengan kondisi perusahaan. investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu. Investor terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana konsep dasar investasi yang menjadi dasar pijakan dalam setiap tahap pembuatan keputusan investasi yang akan dibuat. Pemilihan teknik yang benar dalam analisis akan mengurangi risiko investor dalam investasi. Untuk mengukur nondiversifiable risk ini dapat menggunakan koefisien beta untuk mengukur Nondiversifiable risk.DAFTAR ISI memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. Proses keputusan investasi berkenaan dengan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan mengenai pemilihan sekuritas. B. Pendapat lain dari Jogiyanto (1998). bahwa risiko total terdiri dari risiko dan risiko tidak sistematis. Data yang dipakai sebenarnya adalah data historis yaitu risiko yang telah lewat. Hal penting dan mendasar dalam setiap proses keputusan investasi adalah pemahaman hubungan antara return yang diharapkan dengan risiko suatu investasi.

dan sebaliknya semakin rendah risiko semakin rendah pula return yang diharapkan.5 1. maka akan diperoleh gambar sebagai berikut : Gambar 1. Hubungan Antara Beta dengan Return yang Dinyatakan Sebagai Security Market Line Return 17 15 Rz =13 Rm=11 9 Rf = 7 5 3 1 Beta 0 brf . Makin besar beta maka return yang diharapkan juga semakin besar. Garis yang menghubungkan return dan beta ini disebut sebagai Security Market Line.DAFTAR ISI Keterangan: = Tingkat return yang diucapkan Ri RF = Tingkat bunga bebas risiko βi = Koefisien beta saham RM = Tingkat Keuntungan portofolio pasar Dari formula di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi risiko. semakin tinggi return yang diharapkan.5 bz 2.0 br 1. 242 . Jika hubungan antara beta dan return digambarkan dalam sebuah gambar.0 Market Risk Premium 4% Asset Z’s Risk Premium (6%) Gambar di atas menunjukkan adanya hubungan yang linier antara return dan beta atau risiko.

Dari definisi tersebut di atas risiko dipandang sebagai peluang menderita kerugian keuangan. sehingga belum diketahui dengan tepat berapa nilainya. sebenarnya investor belum mengetahui tingkat return (rate of return) karena return yang diharapkan (expected return) memang belum terjadi. ataupun sebaliknya. (1998): Dalam membuat keputusan investasi. Hubungan Positif antara Return Ekspektasi dengan Risiko Return Ekspektasi opsi Saham Waran Obligasi Pemerintah RBR Obligasi Perusahaan Risiko 243 .DAFTAR ISI 3. Ketidakpastian tingkat return (rate of return) ini berkaitan dengan risiko. Gambar 2. Assets with greater chances of loss are viewer as more risky than those with lesser chance of loss”. Semakin besar risiko suatu sekuritas. Hubungan positif antara tingkat return yang diharapkan dengan risiko dapat digambarkan sebagai berikut. Menurut William (1997) risiko didefinisikan sebagai berikut : “Risk can be defined as the chance of financial loss. Risk dan Return Pengertian risiko pada umumnya sering dikaitkan dengan memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. maka tingkat return yang diharapkan juga semakin besar. Menurut Jogiyanto.

Semakin besar kemungkinan perbedaannya berarti semakin besar risiko investasi tersebut. yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Semakin besar proporsi utang yang digunakan. Risiko tidak sistematis bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada setiap jenis saham. Risiko inflasi biasa disebut sebagai risiko daya beli. 6. Fluktuasi pasar biasanya ditunjukkan oleh berubahnya indeks pasar saham secara keseluruhan. jika inflasi meningkat biasanya menuntut tambahan premium inflasi untuk mengkompensasikan penurunan daya beli yang dialaminya. Sedangkan risiko tidak sistematis merupakan risiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keseluruhan tetapi lebih terkait pada perubahan kondisi mikro perusahaan penerbit saham. sering disebut sebagai capital gain atau menunggu dividend. semakin besar risiko financial yang diahadapi perusahaan. artinya jika suku bunga meningkat maka harga saham akan turun. ceteris paribus. Risiko ini berkaitan dengan kondisi stabilitas politik suatu negara. 4. Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu saham yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. yaitu menjual saham hingga harganya menguat. Risiko financial. Dalam manajemen investasi modern dikenal pembagian risiko total investasi ke dalam dua jenis risiko. 5. yaitu bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. 2. Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata uang domestik terhadap nilai mata uang Negara lain dan sering disebut sebagai currency risk atau exchange rate risk. Risiko pasar. Investasi saham akan memberikan keuntungan atau return dalam dua cara. Risiko sistematis merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi secara keseluruhan dimana perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi variabilitas return atas suatu investasi. Perubahan pasar dipengaruhi oleh banyak faktor serta munculnya resesi ekonomi. Risiko Negara atau country risk. ataupun perubahan politik. Risiko likuiditas. Risiko nilai tukar mata uang. demikian sebaliknya jika suku bunga turun harga saham akan naik. semakin cepat suatu saham bisa diperdagangkan maka semakin likuid saham tersebut. Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan pinjaman dalam pembiayaan modalnya. 7. Return atau hasil investasi merupakan tujuan utama bagi investor. Risiko inflasi. kerusuhan. Risiko suku bunga dimana perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik. Menurut Jogiyanto. Ada beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi menurut Tandelin (2001) yaitu : 1. (1998) menyatakan bahwa: return total merupakan return keseluruhan dari suatu 244 .DAFTAR ISI Dari pengertian di atas dapat disebutkan bahwa risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return yang sebenarnya diterima dengan return yang diharapkan. 3.

return total dapat di nyatakan sebagai berikut : Return = Pt Pt-1 Pt − Pt −1 Pt −1 = Harga saham sekarang (periode t) = Harga saham periode lalu (periode t-1) Dengan cara yang sama. dan yield dianggap tidak diperhitungkan sehingga dengan demikian. return ekspektasi dapat dirumuskan sebagai berikut (Jogiyanto.DAFTAR ISI investasi dalam suatu periode tertentu. investor juga perlu menghitung berapa besarnya risiko yang terkait dengan investasi pada saham yang bersangkutan. 1998). return total sering disebut return saja. Risiko sebagai sisi lain dari return menunjukkan kemungkinan penyimpangan return yang diharapkan dari return actual yang diperoleh. Banyak 245 . E (Ri) = ∑R P i =t i n i Keterangan : E (Ri) = Perolehan diekspektasi suatu aktiva atau sekuritas Ri = Hasil masa depan ke-i Pi = Probabilitas hasil masa depan ke-i n = jumlah dari hasil masa depan Disamping mengestimasi return yang diharapkan dari suatu investasi saham. Return total terdiri dari Capital gain dan yield Return = Capital gain (loss) + Yield Capital gain (loss) merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. Jika digunakan IHSG adalah : Rmt = IHSG t − IHSG IHSG t -1 t -1 Rmt IHSG t IHSG t-1 = Return pasar untuk periode t = merupakan indeks pasar periode t = merupakan indeks pasar periode t-1 Return ekspektasi (expected return) dapat dihitung dengan mengalikan masing-masing hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya dan menjumlah semua produk perkalian tersebut. secara matematik. tingkat pengembalian pasar (rate of market return).

dan Scholes yaitu beberapa variabel fundamental dapat digunakan sebagai dugaan awal untuk penelitian tesis ini. hal itu akan merupakan peningkatan dalam pengambilan keputusan bagi investor untuk keperluan analisis portofolio. Pada saat akan digunakan. we should know that the risk a firm should be determined by some combination on the firm’s fundamental of the firm’s stock. PEMBAHASAN C. Kettler dan Scholes menyatakan jika data akuntansi dapat digunakan untuk meramalkan risiko.DAFTAR ISI metode yang tersedia untuk mengukur risiko. If these relationship could be determined. semakin besar varians atau standar deviasi investasi tersebut.1. tetapi secara umum risiko diukur dalam bentuk probabilistik atau dalam bentuk varians (standar deviasi). semakin besar penyebarannya. Sementara jika dari modal sendiri (equity). Alat ukur yang paling umum digunakan untuk menjelaskan sejauh mana penyimpangan expected return dari actual return adalah dengan varians atau standard deviasi. Faktor-faktor Fundamental Beta merupakan ukuran risiko yang dinyatakan dalam “Sensitivity to market” yaitu ukuran risiko yang didasarkan pada sensitivitas pergerakan return suatu saham terhadap market return. they would help us to understand betas and to better forecast betas”. Menurut Beaver. Debt Equity Ratio (DER) Setiap sumber dana selalu mempunyai biaya masing-masing yang biasa disebut cost of funds. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko pasar. however. Varians maupun standar deviasi merupakan besarnya penyebaran variabel random diantara rata-ratanya. Lebih lanjut Beaver. pi ⎞⎟⎠ i =1 C. Meskipun tidak ada standar untuk menetapkan variabel-variabel mana yang diduga memiliki pengaruh terhadap risiko sistematis (beta saham) namun variabel-variabel yang digunakan Beaver. dengan hanya membatasi variabel-variabel penelitian sebagai berikut : 1. dana dari luar perusahaan dalam bentuk hutang atau obligasi dan biasanya akan timbul biaya-biaya (cost of debt) yang minimal harus ditanggung adalah sebesar biaya bunga. maka 246 . Secara matematis rumus untuk menghitung varians atau standar deviasi adalah sebagai berikut : M Var R = i ( ) ∑ ⎛⎜⎝ [Ri − E (Ri)]2 . Mengingat begitu bervariasinya biaya dari luar maupun dari dalam perusahaan. Kettler dan Scholes (Grubber:1995) menyatakan : “Beta is risk measure that arises from the relationship between the return on a stock and the return on the market. meskipun tidak ada metode yang standar. Kettler. akan timbul biaya yang tidak kelihatan yang merupakan opportunity cost dari modal tersebut.

DAFTAR ISI perlu dipertimbangkan dengan seksama sebaiknya dari sumber dana mana investasi yang harus dibiayai. maka semakin tinggi DER akan mengakibatkan saham perusahaan tersebut semakin dihindari investor. Dengan mengetahui tingkat ROE. karena akan berpengaruh terhadap harga saham di bursa. sehingga harga saham akan semakin rendah. Dalam menentukan pilihannya. ROE akan berubah jika EAT atau equity mengalami perubahan. maka diperlukan perhitungan laba bersih yang sudah dikurangi dengan biaya bunga dari modal asing (cost of debt) dan pajak perseroan (income tax). Formulasi struktur modal itu sendiri adalah sebagai berikut : DER = Long Term Debt Equity DER yang semakin besar akan mengakibatkan risiko financial perusahaan yang semakin tinggi. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hubungan DER dengan beta saham adalah positif artinya semakin tinggi tingkat DER akan mengakibatkan semakin tinggi risiko pasar dan sebaliknya tingkat DER yang rendah akan mengakibatkan risiko sahamnya rendah. 2. Return On Equity (ROE) Return on equity menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham (earning available for common stockholder’s) agar bisa terlihat seberapa besar kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba. investor biasanya akan mempertimbangkan perusahaan yang mampu memberikan kontribusi ROE yang lebih besar. investor dapat menilai prospek perusahaan di masa mendatang. Indikator ROE sangat penting diperhatikan untuk mengetahui sejauh mana investasi yang akan dilakukan investor di suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang diharapkan investor. Bagi investor semakin tinggi ROE menunjukkan risiko investasi kecil. ROE bisa dihitung dengan formula sebagai berikut : Return On Equity (ROE) = Earnings after Tax and Interest equity Dari sudut pandang investor ROE merupakan salah satu indikator penting untuk menilai prospek perusahaan di masa mendatang. Investor biasanya selalu menghindari risiko. Sedangkan modal yang dihitung adalah modal sendiri yang bekerja dalam perusahaan. Dengan penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang. Atau dengan kata lain dikatakan bahwa 247 . Penggunaan hutang dalam valuta asing juga akan menimbulkan currency risk dimana risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata uang domestik terhadap mata uang Negara lain. investor dapat melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Dengan mengetahui tingkat ROE.

Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan. 3.DAFTAR ISI semakin tinggi ROE akan mengakibatkan beta saham tersebut semakin rendah sebaliknya bila ROE rendah akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi. Rumus untuk menghitung EPS suatu perusahaan adalah sebagai berikut : Earning Per Share (EPS) = Earning after Tax (EAT) and Interest Number of Share EPS = ROE X Book Value per Share EPS = Earning after Tax and Investment Equity x Number of share Equity 4. Meskipun tidak semua perusahaan mencantumkan besarnya EPS perusahaan bersangkutan dalam laporan keuangannya. Rumus PER juga dapat ditulis sebagai berikut : PER = D1 / E1 k−g Keterangan : D1/E1 = Tingkat dividend payout ratio yang diharapkan k = Tingkat return yang diharapkan g = Tingkat pertumbuhan yang diharapkan Dari persamaan di atas. Price Earning Ratio Informasi PER mengindikasikan besarnya Rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu Rupiah earnings perusahaan atau dengan kata lain. Earning Per Share (EPS) Informasi earning per share suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. yaitu : a. PER menunjukkan besarnya harga setiap satu Rupiah earning perusahaan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa PER juga merupakan ukuran harga relatif dari saham perusahaan. besarnya EPS dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan rugi laba perusahaan. ada tiga komponen untuk menghitung PER. Dividend payout ratio (DPR) yang diharapkan yang menunjukkan besarnya dividen yang akan dibayarkan perusahaan dari total earning yang diperoleh perusahaan 248 .

Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari beta masing-masing sekuritas. Operating Profit Margin (OPM) Operating profit margin mengukur presentase setiap penjualan setelah semua cost and expenses diluar biaya bunga dan pajak. Beta Beta adalah pengukur risiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio relatif terhadap risiko pasar.Beta suatu sekuritas menunjukkan risiko sistematiknya yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. investor akan memilih perusahaan yang memiliki OPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang hanya memiliki OPM rendah.2. 5. maka beta masing-masing sekuritas perlu dihitung terlebih dahulu. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g). Dapat dikatakan semakin tinggi OPM akan semakin rendah beta sahamnya. 1998). Formula untuk menghitung operating profit margin sudah dikenal luas sebagai berikut : Operating Profit Margin = Operating Profit Sales OPM adalah salah satu alat untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan. Dalam memilih investasi saham. sebaliknya semakin rendah OPM akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi. Tingkat return yang diisyaratkan (k) yang menunjukkan tingkat return yang diisyaratkan investor atas suatu saham. C.DAFTAR ISI b. Untuk menghitung beta portofolio. yang merupakan fungsi dari besarnya ROE dan tingkat laba ditahan perusahaan. 249 . Secara matematis tingkat return yang diisyaratkan adalah : k = R f + Rp Keterangan: K = tingkat return bebas risiko + premi risiko c. Bagi investor yang diinginkan tentunya adalah operating profit margin. Oleh karena itu rasio ini sangat penting bagi investor untuk menilai masa depan perusahaan. sebagai kompesasi atas risiko yang harus ditanggung investor. OPM menunjukkan laba murni (pure profit) yang diperoleh dari setiap penjualan. Tanpa profit. perusahaan tidak akan menarik bagi investor. Mengetahui beta masing-masing sekuritas juga berguna untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut kedalam portofolio yang akan dibentuk (Jogiyanto. Mengetahui beta suatu sekuritas atau beta suatu portofolio merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio tersebut. Bagi investor perusahaan yang memiliki tingkat OPM yang tinggi memberikan indikasi bahwa risiko pada perusahaan tersebut adalah rendah.

risiko yang tidak dapat didiversifikasikan oleh portofolio disebut dengan nondiversifible risk atau risiko pasar (market risk) atau risiko umum (general risk) atau risiko sistematik (systematic risk). Beta fundamental Dapat diestimasi dengan menggunakan data histories berupa variabel-variabel fundamental perusahaan (Dividen pay out. 3. Beta pasar Dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai histories return dari sekuritas dan return dari pasar selama periode tertentu. Beberapa beta historis berdasarkan jenis data yang akan digunakan yaitu: 1. penelitian yang berhasil atau tidak berhasil dan lain sebagainya. dan lain sebagainya. Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian di luar kegiatan perusahaan. misalnya 60 bulan untuk return bulanan atau 200 hari untuk return harian. Contoh dari diversifiable risk adalah pemogokan buruh. yaitu hal yang buruk terjadi di suatu perusahaan dapat diimbangi dengan hal yang baik terjadi diperusahaan lain. 2000). leverage. Karena risiko ini unik untuk suatu perusahaan. Risiko total (total risk) merupakan penjumlahan dari diversifiable dan nondiversifiable risk sebagai berikut : Risiko total = Risiko dapat di-diversifikasi + Risiko tidak dapat di-diversifikasi = Risiko perusahaan + risiko pasar = Risiko tidak sistematik + risiko sistematik = Risiko spesifik (unik) + risiko umum Gambar 3. (Jogiyanto. Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengestimasi beta masa mendatang. Sebaliknya. Beta akuntansi Beta akuntansi dapat dihitung dengan menggunakan data histories yang berupa data akuntansi seperti laba perusahaan dan laba indeks pasar. 2000). 2. seperti inflasi. berikut ini menunjukkan risiko total dan komponennya yang berupa risiko yang dapat di-diversifikasi dan risiko yang dapat didiversifikasi. 250 . asset growth. maka risiko ini dapat didiversifikasi di dalam portofolio. tuntutan dari pihak lain. Bagian dari risiko sekuritas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang well-diversified disebut dengan risiko yang dapat didiversifikasi (diversifiable risk) atau risiko perusahaan (company risk) atau risiko spesifik (specific risk) atau risiko unik (Unique risk) atau risiko yang tidak sistematik (unsystematic risk). dan lainnya) (Jogiyanto. Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa beta histories mampu menyediakan informasi tentang beta masa depan (Elton dan Gruber : 1994).DAFTAR ISI Beta sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang menggunakan data histories. resesi.

sehingga semakin tinggi risikonya. 251 . menunjukkan semakin peka pergerakan harga saham tersebut terhadap pergerakan haraga saham di pasar. Dengan menggunakan persamaan regresi dari single indeks model maka beta untuk tiap saham dapat dihitung seperti tampak pada Gambar 4. yang kemudian dipergunakan sebagai taksiran beta masa datang. risiko yang dapat di-diversifikasi dan yang tidak dapat risiko fortofolio (%) Risiko dapat di-diversifikasi Atau risiko perusahaan Atau risiko spesifik Atau risiko unik Atau risiko tidak sistematik Risiko total Risiko tidak dapat di-diversikfikasi Atau risiko pasar atau risiko umum Atau risiko sistematik Jumlah saham Estimasi Nilai Beta Metode yang paling banyak digunakan untuk menetukan beta adalah cara penaksiran dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta masa itu. Beta menunjukkan pergerakan vertikal (stock return) per unit pergerakan horizontal (market return).DAFTAR ISI Gambar 3. Beta saham tidak akan merupakan kemiringan (scope) garis regresi tersebut. Semakin besar beta. Risiko Total.

Jerome (1987). saham-saham jenis ini lebih peka sehingga mempunyai risiko yang tinggi. Saham-saham dengan beta lebih besar dari satu (β > 1) digolongkan sebagai sahamsaham agresif (aggressive stock) karena saham melonjak lebih cepat daripada pasar dalam situasi boom (bull market) sebaliknya jatuh lebih tajam daripada pasar pada situasi lesu (bear market). Estimasi besarnya risiko sistematis (β) dihitung dengan menggunakan formula standar (Elton/Gruber: 1995) sebagai berikut : βi = σ im σ 2m t =1 = ∑ [(Rit − R it )(Rmt . nilai alpha merepresentasikan return saham yang diakibatkan oleh faktor-faktor di luar pergerakan pasar atau dikenal sebagai independent component.R mt ) 2 ] 252 . Garis Regresi Untuk Mengukur Beta Saham Rit β α Rmt Alpha merupakan intersep dari garis regresi.R mt )] N ∑ [(R N t =1 mt . keuntungan saham ini berfluktuasi kurang dari kondisi pasar secara keseluruhan. Nilai alpha dan beta dapat bernilai positif. Saham-saham dengan beta sama dengan satu. Saham-saham dengan beta kurang dari satu (β < 1) digolongkan sebagai saham-saham defensive (defensive stocks). negatif atau nol.DAFTAR ISI Gambar 4. merupakan saham-saham netral karena pergerakan return saham sejalan dengan market return.

σi2 = βi2σm2 + σei2 Covariance tingkat keuntungan saham i dan j. : varian market return. Cara lain adalah dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta waktu lalu yang dipergunakan sebagai taksiran beta di masa yang akan datang.DAFTAR ISI Keterangan. Secara sistematis. Penggunaan model indeks tunggal menghasilkan tingkat keuntungan yang diharapkan. σei = βiβjσm2 253 . yaitu yang independent dari perubahan pasar dan yang dipengaruhi oleh pasar. : Resiko sistematis untuk saham i βi σ σ im 2 im : kovarian antara return saham Ri dengan market return RM.Variance tingkat keuntungan. deviasi standar tingkat keuntungan dan covariance antar saham sebagai berikut : Tingkat keuntungan yang diharapkan. Persamaan di atas juga merupakan persamaan regresi linier sederhana yang dihitung dengan Ri sebagai variabel dependent dan Rm sebagai variabel independent. beta memerlukan penaksiran beta dari saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. : Rata-rata dari return on security : rata-rata dari market return Rit Rmt Penggunaan konsep model indeks tunggal dalam menaksir. E (Ri) = αi + βi E (Rm) . model indeks tunggal adalah sebagai berikut : Ri =αi + βiRm + ei Keterangan: Ri : return saham i Rm : return indeks pasar : bagian return saham i yang tidak dipengaruhi kinerja pasar : ukuran kepekaan return saham i terhadap perubahan return saham : kesalahan residual αi βi ei Persamaan tersebut hanyalah memecah tingkat keuntungan suatu saham menjadi dua bagian.

sebaliknya covariance semata-mata tergantung pada risiko pasar. PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. βp = ∑ X i βi Demikian juga alpha portofolio (αp) adalah. Pada masa krisis juga diduga banyak perusahaan yang memiliki tingkat earning per share yang rendah karena kemampuan menghasilkan laba yang rendah. Yaitu risiko yang unik (σei2) dan risiko yang berhubungan dengan pasar βi2σm2.DAFTAR ISI Model indeks tunggal menunjukkan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan terdiri dari dua komponen yaitu αi dan bagian yang berhubungan dengan pasar yaitu βiE(Rm). KESIMPULAN DAN SARAN Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. maka risiko portofolio akan mendekati : σ p = β p 2σ m 2 = βpσm = σm [ ∑ X i β i ] D. kalau resiko residual dianggap nol. EPS. Salah satu alasan penggunaan model indeks tunggal adalah untuk mengurangi jumlah variabel yang perlu ditaksir karena untuk portofolio model indeks tunggal mempunyai karakteristik yaitu bahwa beta portofolio (βp) merupakan rata-rata tertimbang dari beta saham-saham yang membentuk portofolio tersebut. Faktor-faktor fundamental seperti DER. Demikian juga variance tingkat keuntungan terdiri dari dua bagian. Sehubungan dengan hal tersebut. Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat ROE nya rendah. α p = ∑ X iα i Untuk variance portofolio rumusnya adalah sebagai berikut: α p 2 = β p 2σ m 2 + ∑ X i 2σ ei 2 Resiko yang tidak bisa dihilangkan kalau bentuk portofolio merupakan risiko yang berkaitan dengan βp. 254 . ROE. maka penelitian ini menganalisis variabelvariabel yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental yang diperkirakan dapat menjelaskan risiko sistematis.

Stephen E. Martin J. Hal 654-682.Steward C. Pandji dan Piji Pakarti.S. Di lain pihak telah banyak studi dan penelitian yang dilakukan kurang meneliti hubungan faktor-faktor makro ekonomi terhadap risiko sistematis seperti perubuhan tingkat inflasi dan tingkat suku bunga terhadap risiko sistematis. . Brealey. Scholes. Lawrence J. Inc. Alih Bahasa. “Pengantar Pasar Modal”. 1993. J. Elton. Richard. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. Eskew. Salno. A Erich. “Principles of Managerial Finance”. Edwin J. Helfert. E&FN Spon. Zaki dan H. 2000.Kettler. New York. Myers. “Investment Decision – A Quantitative Approach”. Rineka Cipta.1 Ikantan Akuntan Indonesia. and Gruber. “Analisis Perataan Penghasilan (Income Smoothing) : Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia. 5th Edition. Herman Wibowo. dan M. Beaver. “Teknik Analisis Keuangan”. 9th Edition. DAFTAR PUSTAKA Anoraga.DAFTAR ISI Alasan yang lain pada penggunaan variabel-variabel fundamental adalah karena dalam berbagai studi literatur menunjukkan masih kurangnya penelitian yang mengkaitkan antara risiko sistematis saham dengan faktor-faktor fundamental yang dapat menjelaskannya. 2000. (Januari 1979). USA. R. Gitman. Indonesia.” Modern Portfolio Theory and Investment Analysis”. “The Association Between Market Determined and Accounting Determined Risk Measures”. PT. London. Jhon Wiley & Sons. Penerbit Airlangga. Hargitay. Jakarta. Berbagai alasan dikemukakan terhadap kurangnya penelitian yang menitikberatkan pada pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko sistematis (risiko pasar) diantaranya adalah masih dalam dugaan bahwa faktor-faktor tersebut kurang memberikan penjelasan yang berarti pada risiko sistematis suatu saham. 255 . “Fundmental of corporate Finance” Fifth Edition.1997. Accounting Review 45.M. New York. Jakarta. Baridwan. and Ming Yu Shi. Mc Graw Hill. P.3 No. “The Association Between Market Determined Measure of Risk and Alternative Measure of risk” Accounting Review 50 (January 1975). “The Forecasting Ability of Accounting Risk Measure Some Additional Evidence”. 1995.K. Accounting Review 54. 1998. Bildersee. 1995. Edisi Kedelapan.A. (October 1970).

1997. Sembel. Fred. Penerbit Liberty. Yogyakarta.. Munawir.William. Haryanto. “Manajemen Keuangan”. Copeland. Jakarta. David F. “Membidik Pasar Indonesia. Po. William. UPP AMP YKPN. “Basic Financial Management” 7th New York. Charles P. New York. Edisi Kedelapan. Edisi Keempat. Gramedia Pustaka Utama. Roy. “Indonesia Capital market Directory 2000. John Wiley & Sons. Jogiyanto. 1997. Elex Media Komputindo. Megginson. Thomas E. Prentice Hall.. Edisi Pertama. James. Jakarta. Keown. Kasali. Petty. Segmentasi. Arthur J.”. 2001. J. Rhenald. “Corporate Finance Theory”. “SPSS / Statistical Product and Service Solution” Elex Media Komputindo. Teori Portfoliodan Analisis Investasi”. Sixth Edition. Prasetio Utomo. 1986. “Pengaruh Operating And Financial Leverage Terhadap Risiko Sistematis Pada Beberapa Perusahaan Unggulan di Bursa Efek Jakarta Periode 1998—2001” Tahun 2004. Addison-Wesley Educational Publisher Inc. S. Santoso. Martin. Yogyakarta. Jakarta. 1st edition.2001. PT. Weston. MBA. “Dasar-dasar Teori Portfolio dan analisa sekuritas”. 2001. Prentice Hall International. “Berfikir Ekonomis di Masa Krisis”. Van Horne. Suad Husnan DR. 1998. 256 . Scott. Eduardus. Positioning. 2000. John D. BPFE. “Analisa Laporan Keuangan”. 2003”. Edisi kedua. 1994. Yogyakarta. “Investment”. JR. Edisi Pertama. Targeting. 1996. Edisi ke-2. Jones. J. 7th edition. “Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio”. Jakarta.DAFTAR ISI Institude for Economic and Financial Research. “A Financial Management and Policy”. Yogyakarta. L. BPFE-Yogyakarta. Tandellilin. Inc. Singgih. Penerbit Erlangga. 1996.