P. 1
agresi

agresi

|Views: 195|Likes:
Published by khoronx

More info:

Published by: khoronx on Feb 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2015

pdf

text

original

PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA PUTRI YANG BERBEDA STATUS SOSIAL EKONOMI Hesti Septiyanti Eka Supono 10502102

ABSTRAK Di Indonesia, beberapa tahun yang lalu beberapa media masa mencatat kekerasan yang dilakukan oleh anak perempuan. Pada tahun 2002 pertengahan bulan Juli, harian Kompas menampilkan artikel tentang berita penculikkan dan penganiayaan beberapa siswi baru yang didalangi oleh sekelompok kakak kelas dan alumni yang juga perempuan. Setiap orang dapat melakukan agresi, baik orang kaya maupun orang miskin. Agresi yang dilakukan dapat berbeda-beda, tergantung bagaimana seseorang menyikapi stimulus yang datang kepadanya. Stimulus tersebut dapat berbeda pada setiap orang, dimana perbedaan tersebut terjadi karena dipangaruhi oleh beberapa hal, salah satu diantaranya adalah kondisi status sosial ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk perilaku agresif pada remaja putri dengan status sosial ekonomi atas dan status sosial ekonomi bawah, perbedaan perilaku agresif pada remaja putri dengan status sosial ekonomi orang tua, dan faktor – faktor yang mempengaruhi timbulnya perilaku agresif pada remaja putri yang berstatus sosial ekonomi atas dan status sosial ekonomi bawah. Dengan tujuan tersebut, maka pendekatan penelitian yang tepat adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah dua orang remaja putri yang berperilaku agresif dan berasal masing-masing berasal dari status sosial ekonomi atas dan status sosial ekonomi bawah. Dari hasil analisis data yang dilakukan, maka dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan perilaku agresif antara subjek 1 yang berasal dari status sosial ekonomi atas dan subjek 2 yang berasal dari status sosial ekonomi bawah. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya perilaku agresif pada subjek penelitian dengan status sosial ekonomi yang berbeda ini juga, akan tetapi pada umumnya faktor-faktor yang mempengaruhi subjek untuk berperilaku agresif adalah pengaruh kelompok, kepribadian dan kondisi fisik.

Kata kunci : perilaku agresif, remaja putri, status sosial ekonomi. 1. PENDAHULUAN Pada tahun 2002 pertengahan bulan Juli, harian Kompas menampilkan artikel tentang berita penculikan dan penganiayaan beberapa siswi baru yang didalangi oleh sekelompok kakak kelas dan alumni yang juga perempuan. Belasan siswi baru diculik dari halaman sekolah, disuruh masuk kedalam mobil kakak kelas dan ditutup matanya. Dalam perjalanan mereka ditampari dan wajahnya dicoret-coret. Kejadian tersebut dapat terkuak karena para korban melaporkan tindakan kekerasan tersebut kepada pihak yang berwajib. Sangat mungkin banyak kejadian yang seperti itu terjadi di bumi ini tanpa sempat terpublikasi. Bila dilihat dari berita diatas sepertinya remaja putri menggunakan agresifitas langsung untuk menyakiti remaja putri yang lainnya (Rts, 2002) Sarwono (1999) mendefinisikan perilaku agresif itu sendiri adalah perilaku yang merugikan atau menimbulkan korban pada pihak lain. Sedangkan menurut Sears (1991) agresi adalah setiap tindakan yang bertujuan menyakiti orang lain dalam diri seseorang. Baron & Byrne mengemukakan agresi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda, dimana faktor-faktor tersebut secara potensial dapat mengarah kepada perilaku agresif. Provokasi adalah salah satu diantaranya, seringkali perilaku agresif merupakan hasil dari provokasi verbal atau fisik. Biasanya perilaku agresif diawali dengan saling memprovokasi secara verbal seperti mengejek dan menghina, akan tetapi hal tersebut dapat memicu menjadi suatu bentuk kekerasan fisik. Faktor lain yang dapat menimbulkan terjadinya agresi adalah frustrasi, yaitu sesuatu yang dinilai aversif, pengalaman yang tidak menyenangkan dan frustrasi dapat mengarah pada agresi (Berkowitz, 1994). Setiap orang dapat melakukan agresi, baik orang kaya maupun orang miskin. Agresi yang dilakukan dapat berbeda-beda, tergantung bagaimana seseorang menyikapi stimulus yang datang kepadanya. Stimulus tersebut dapat berbeda pada setiap orang, dimana perbedaan tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh

untuk makan. Status sosial dalam masyarakat dapat dibedakan dalam tiga kelompok sosial. Sedangkan remaja wanita merupakan sosok yang emosional. penghasilannya sangat kecil. Luth & Fernandez (2000) menjelaskan. cerdas. berdasarkan uraian di atas bahwa perilaku agresif tidak dilakukan oleh ramaja pria saja akan tetapi dapat dilakukan oleh remaja putri dan juga bahwa kemungkinan terdapat perilaku agresif pada remaja yang berbeda status sosial ekonomi. Freedman dan Peplau (1994) pada seseorang dengan status sosial ekonomi atas. dan karena adanya rasa segolongan dalam kelas itu masing-masing sehingga kelas yang satu dapat dibedakan dari kelas lainnya. Lubis (2005) mengemukakan bahwa remaja pria merupakan sosok yang bernalar. punya rencana masa depan. mengatakan bahwa agresi merupakan bagian dari ego. Oleh karena itu. yaitu kelas atas yang ditandai dengan besarnya kekayaan. tingkat pendidikan. perilaku agresif yang ditampilkan akan dipikirkan terlebih dahulu dampaknya. bijak. .beberapa hal. Terlepas dari gejala peningkatan dan sebab-sebabnya. karena perilaku agresif tersebut dapat merusak reputasi didalam masyarakat dikarenakan memiliki kedudukan yang terhormat didalam masyarakat. Kelas menengah ditandai dengan pendapatan dan tingkat pendidikan yang tinggi. 2003). dan juga penakut. agresi yang dilakukan oleh wanita tetap berbeda dengan agresi yang dilakukan pria. ambisius. peneliti bermaksud untuk meneliti perilaku agresif pada remaja putri yang berbeda status sosial ekonomi. Mereka dapat bertindak apa saja demi untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti kosmetik. 2000). Orang–orang dari kelas bawah yang dibesarkan dalam kemiskinan seringkali berbicara kasar dengan aksen yang berat dan kosakata yang terbatas. Pada umumnya mereka miskin. dikarenakan keterbatasan uang saku yang mereka terima dari orang tua mereka. dan tingkat pendidikan yang tinggi. salah satu diantaranya adalah kondisi status sosial ekonomi. 2. 1996) Menurut Shadily (dalam Luth & Fernandez. dan memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kebutuhan menabung. Status sosial ekonomi memiliki kaitan yang signifikan dengan indeks perilaku agresif (Voekl. Pengertian Penyesuaian Diri Agresi menurut Baron (dalam Berkowitz. dan tidak menonjol dalam perilaku agresi. bergantung. 1995) adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuik menyakiti atau melukai makhluk hidup lain dimana makhluk hidup tersebut tidak dapat menolak perlakuan tersebut. Dorongan agresif sehat. TINJAUAN PUSTAKA A. dan lain sebagainya. Sedangkan kelas bawah merupakan masyarakat yang paling rendah. penghasilan yang tinggi. atau untuk kegiatan senang-senang lainnya yang semuanya tidak bisa mereka dapatkan dari orang tua mereka. kehidupan yang stabil. pendapatan. dan kuat. Baron & Richardson (dalam Krahe. Para anggotanya hampir dapat dikatakan tidak mempunyai penghasilan dan kalau pun ada. buta huruf. jenis kegiatan rekreasi. 1988) mengemukakan bahwa pria lebih agresif dibandingkan wanita adalah realitas yang universal. tidak bernalar. kesehatan kurang baik. 2000 ) kelas sosial adalah golongan yang terbentuk karena adanya perbedaan kedudukan yang tinggi dan rendah. jabatan dalam organisasi. pasif. faktor yang utama dalam menentukan kelas sosial diantaranya adalah jenis aktivitas ekonomi. Wrighstman dan Deux (dalam Dayaksini dan Hudaniyah. perilaku agresi pada remaja berasal dari lingkungan keluarga dengan status sosial ekonomi bawah yang pada umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Menurut Sears. yakni taraf agresifitas serta intensitas dan frekuensi tingkah laku agresif pada wanita lebih rendah dibanding dengan pria. Dalam penelitian ini peneliti membatasi pembahasan hanya pada masyarakat dengan status sosial ekonomi atas dan status sosial ekonomi bawah hal ini didasari pertimbangan bahwa masyarakat dengan status sosial ekonomi menengah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan keberadaannya di masyarakat tidak terlalu menonjol yang terlihat dari harta kekayaan yang dimilikinya. dan tidak mempunyai mata pencaharian lengkap ( Luth & Fernandez. Jhon Whiting dan Pope (dalam Koeswara. memiliki pekerjaan tetap. independen. karena merupakan usaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang nyata dari menusia. tipe rumah tinggal. lemah. perintis. 2005) mendefinisikan agresi adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari. Menurut Koeswara (1988). Masing-masing kelas tersebut mempunyai nilai dan pengakuan yang berbeda dalam pandangan masyarakat.

pasif. B. 1988). termasuk cara agresif. tidak langsung contohnya. Agresi verbal. Stres Selye (dalam Koeswara. pasif. h. menolak menjawab pertanyaan. Jenis-Jenis Perilaku Agresi Menurut Morgan (dalam Riyanti & Probowo. Kamus umum Random House mendefinisikan stres sebagai sebagai suatu stimilus seperti ketakutan atau kesakitan. tidak langsung contohnya. c. b.Moore dan Fine (dalam Koeswara. C. aktif. menolak melakukan tugas-tugas yang seharusnya (misalnya menolak berpindah ketika melakukan aksi duduk). aktif. e. d. baik secara fisik maupun verbal. b. langsung contohnya. membuat perangkap untuk orang lain. tidak langsung contohnya tidak mau membuat komentar verbal misal menolak berbicara ke orang lain yang menyerang dirinya bila ia di kritik secara tidak fair Secara umum Myers (dalam Sarwono. langsung contohnya menolak berbicara ke orang lain. Stres menuju kepada segenap proses. Faktor-faktor Pengarah dan Pencetus Agresi Menurut Koeswara (1988). Agresi verbal. langsung contohnya. atau adaptasi fisiologi terhadap stimulus eksternal atau perubaahan lingkungan. kematian pada korban. Frustrasi Frustrasi yaitu gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan tertentu yang diinginkannya. melukai. membagi agresi menjadi beberapa bentuk yaitu: a. 1988) menyatakan frustasi bisa mengarahkan individu pada tindakan agresif. aktif. yang mengganggu atau menghambat mekanisme-mekanisme fisiologis yang normal dari organisme. Agresi verbal. pasif. Agresi fisik. menghina orang lain. b. menyebarkan gosip atau rumors yang jahat terhadap orang lain. Berkowitz (dalam Koeswara. dan mencelakai orang lain. yaitu: a. yaitu agresi yang dilakukan oleh individu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan tertentu. a. 1998). yaitu agresi yang dilakukan semata-mata sebagai pelampiasan keinginan untuk melukai. pasif. menikam. memukul. Agresi verbal. Individu akan memilih tindakan agresif sebagai reaksi atau cara untuk mengatasi frustrasi yang dialaminya apabila terdapat stimulus-stimulusnya yang menunjangnya kearah tindakan agresif itu. Agresi fisik. menyakiti dan juga meninbulkan efek kerusakan. 2002) membagi agresi sebagai berikut: Agresi rasa benci atau agresi emosi (hostile aggression) adalah perilaku agresi yang ditandai dengan emosi yang tinggi dan dilakukan semata-mata sebagai pelampiasan keinginan untuk melukai atau menyakiti. 1988). Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud perilaku agresif adalah segala tingkah laku yang ditujukan untuk menyakiti. karena frustrasi bagi individu merupakan situasi yang tidak menyenangkan dan dia ingin mengatasi atau menghindarinya dengan berbagai cara. membedakan agresi menurut sasarannya kedalam dua jenis. atau menembak orang lain. Agresi fisik. b. Menurut Engle (dalam Koeswara. Stres merupakan sebagai reaksi. Agresi Instrumental. f. tidak langsung contohnya. menyewa seorang pembunuh untuk membunuh. aktif. baik . Berkowitz (1995). Sedangkan Atkinson (1993) mendefinisikan agresi sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain (secara fisik maupun verbal) atau merusak harta benda. Agresi fisik. stres meliputi sumber-sumber stimulasi internal dan eksternal. g. mendefinisikan agresi sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun verbal terhadap individu lain atau terhadap objek-objek. Agresi Impulsif. secara fisik mencegah orang lain memperoleh tujuan yang diinginkan atau memunculkan tindakan yang diinginkan (misal aksi duduk dalam demonstrasi). faktor-faktor yang mengarahkan perilaku agresi adalah sebagai berikut: a. 1988). respon. langsung contohnya. Agresi instrumental adalah perilaku agresi yang dilakukan oleh individu sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. atau mengalami hambatan untuk bebas bertindak dalam rangka mencapai tujuan.

Semua orang dan anak khususnya. Para pemegang kekuasaan yang diktatorial amat lazim mengekploitasi kepatuhan pengikutnya untuk menyingkirkan oposan-oposan dalam rangka memelihara establisment kekuasaannya. g. Penghilangan identitas pelaku dan identitas diri korban serta penghilangan keterlibatan emosional pelaku terhadap korbannya terhadap korbannya yang menandai terjadinya deindividuasi. 2) Stres internal Hubungan aantara stres internal dan agresi masih belum begitu jelas. 1988).. Kepatuhan individu kepada penguasa mengarahkan individu kepada egresi yang lebih intens sebab. individu kehilangan tanggung jawab atas tindakan-tindakannya serta meletakan tanggung jawab kepada penguasa. karena deindividuasi menyingkirkan atau mengurangi peranan beberapa aspek yang terdapat pada individu. baik somatik maupun behavioral. Imitasi Menurut Sears (1995). kekurangan privasi. Peran Atribusi Suatu kejadian akan menimbulkan amarah dan perilaku agresif bila sang korban mengamati serangan atau frustrasi dimaksudkan sebagai tindakan yang menimbulkan bahaya. Dimana munculnya efek agresi berasal dari efek behavioral. Stres bisa muncul berupa stimulus internal (intrapsikis). d. dalam situasi kepatuhan. identitas dirinya merupakan hambatan personal yang bisa mencegah pengungkapan agresi atau setidaknya bisaa membatasi intensitas agresi yang dilakukannya. Bangkitnya dorongan yang timbul dari beberapa sumber bisa meningkatkan perilaku agresif. Imitasi terjadi pada setiap jenis perilaku. Dunn dan Rogers (dalam Koeswara. 1988 ). Bagi setiap individu yang secara psilokogis sehat. kepadatan penduduk. 1988) agresi sebagai tindakan nonemosional sebagai akibat penggunaan teknik-teknik dan senjata modern. yang diterima atau dialami individu sebagai hal yang tidak menyenangkan atau menyakitan serta menuntut penyesuaian dan menghasilkan efek. Gagasan tersebut muncul dari teori dua faktor Schacter tentang persepsi emosi. Penguatan (Reinforced) . dengan asumsi bahwa deindividuasi meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku agresi. e. sebab stres internal sulit untuk diukur secara objektif. ketidakbebasan. mempunyai kecendrungan yang kuat untuk meniru orang lain. yang menisyaratkan adanya proses deindividuasi. c. sumber-sumber stres eksternal yang memicu munculnya agresi adalah isolasi. dalam Koeswara 1988). mengungkapkan bahwa deindividuasi memiliki efek memperbesar keleluasaan individu untuk melakukan agresi. memiliki efek langsung maupun tidak langsung terhadap kemunculan agresi. Peranan kekuasaan sebagai pengaruh kemunculan agresi tidak dapat dipisahkan dari salah satu aspek penunjang kekuasaan yaitu kepatuhan (compliance). Kekuasaan dan Kepatuhan Menurut Acton (dalam Koeswara. Hipotesis yang didasarkan atas teori psikoanalisis Freud menerangkan bahwa tindak kekerasan dan psikopatologi pada umumnya adalah adaptasi terhadap stres eksternal dan internal (Meningger. termasuk agresi. penyalahgunaan kekuasaan dapat berubah menjadi kekuatan yang memaksa (coercive). adalah akibat dari kegagalan ego untuk mengadaptasi hambatan-hambatan. dan perpindahan tempat tinggal atau mobilisasi sosial. adan atau sempitnya ruang hidup. 1) Stres ekternal Menurut Schlesinger dan Revitch (dalam Koeswara. dan keterlibatan emosional individu pelaku agresi terhadap korbannya. termasuk didalamnya agresi. irama kehidupan yang rutin dan menonton. Meningger mengungkapkan bahwa tingkah laku yang tidak terkendali. selama hasl itu dikatakan sebagai rasa marah. Deindividuasi Menurut Lorenz (dalam Koeswara. yakni identitas diri atau personalitas individu pelaku maupun identitas diri korban agresi. 1988) kekuasaan cenderung seiring disalahgunakan. yang mengarahkan individu kepada keleluasaan dalam melakukan agresi sehingga agresi yang dilakukanya menjadi lebih intens. Teori atribusi menyatakan bahwa jenis (munculnya) dorongan emosional yang lain kadang-kadang dapat disalah artikan secara kemarahan. f. imitasi merupakan mekanisme lain yang membentuk perilaku anak. sekaligus sebagai upaya untuk memelihara keseimbangan intrapsikis.yang bersumber pada kondisi-kondisi internal maupun lingkungan eksternal yang menuntut penyesuaian atas organisme.

yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang rendah dengan mengacu pada pengelompokan menurut kekayaan. kelas sosial adalah kedudukan secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain. Ukuran kekayaan Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak. Artinya. adanya deindividuasi (identitas sebagai individu tidak di kenal) c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Agresi Sarwono (1999). Selain itu. Menurut Soerjono Soekanto (1990). adanya desakan kelompok dan identitas kelompok (kalau tidak ikut di anggap bukan anggota kelompok).2000) adalah golongan yang terbentuk karena adanya perbedaan kedudukan yang tinggi dan rendah. a. akan lebih mudah sekali mendapatkan tanah. dalam arti lingkungan pergaulannya. prestisenya. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. mobil pribadi. membagi faktor-faktor yang mencetuskan agresi yang berupa rangsangan atau pengaruh terhadap agresifitas itu dapat datang dari luar diri sendiri (yaitu kondisi lingkungan atau pengaruh kelompok) atau dapat juga berasal dari dalam diri (pengaruh kondisi fisik dan kepribadian). Berdasarkan pendapat para ahli diatas. termasuk dalam lapisan teratas. Berbagai keadaan arousal terlepas dari sumber dan jenisnya memang dapat saling memperkuat perilaku agresif. cara mereka berpakaian serta bahan pakaian yang dipakainya. E. Peningkatan agresifitas di daerah yang sesak berhubungan dengan penurunan perasaan akan kemampuan diri untuk mengendalikan lingkungan sehingga terjadi frustrasi. misalnya meningkatkan rangsangan dalam tubuh sehingga orang yang bersangkutan lebih siap dan lebih cepat berreaksi. yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi ke yang lebih rendah dengan mengacu pada pengelompokkan menurut kekayaan Kelas sosial biasa digunakan hanya untuk lapisan berdasarkan unsur ekonomis. kemungkinan besar individu akan mengulangi perilaku dimasa mendatang. . Diantara lapisan atasan dengan yang terendah. Bila suatu perilaku tertentu diberi ganjaran. Pengaruh kelompok Pengaruh kelompok terhadap perilaku agresif. b. Demikian pula pada saat adanya serangan cenderung memicu agresi karena pihak yang diserang cenderung membalas. di mana didasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal. Ukuran untuk Menggolongkan Anggota-anggota Masyarakat kedalam Suatu Lapisan Menurut Soerjono (1990) ukuran atau kiteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu lapisan adalah: a. terdapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. kekuasaan dan mungkin juga kehormatan. Kondisi lingkungan Pada manusia. dan karena adanya rasa segolongan dalam kelas itu masing – masing sehingga kelas yang satu dapat dibedakan dari kelas yang lain. D. Pengaruh kepribadian dan kondisi fisik Kondisi diri atau fisik juga mempengaruhi agresifitas. maka dapat di simpulkan bahwa pada dasarnya kelas sosial ekonomi adalah status atau kedudukan seseorang di masyarakat. Biasanya lapisan atasan. Rasa sesak (crowding) juga dapat memicu agresi. di mana berdasarkan pada pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal. Selain itu. Pengertian Status Sosial Ekonomi Kelas sosial menurut Shadily (dalam Luth & Fernandez. perilaku agresif dapat di pengaruhi pula oleh adanya perancuan tanggung jawab (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai). tidak hanya memiliki satu macam saja apa yang dihargai oleh masyarakat. Sitorus (2000) mendefenisikan status sosial bahwa hal tersebut merupakan kedudukan seseorang di masyarakat. melainkan juga sakit hati (psikis). bukan hanya sakit fisik yang dapat memicu agresi.kekayaan tersebut misalnya pada bentuk rumah pribadi. kebiasaan berbelanja barang-barang mahal. Banyaknya kadar adrenalin dalam tubuh. dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya. antara lain adalah menurunkan hambatan dari kendali moral. udara yang sangat panas juga lebih cepat memicu kemarahan dan agresi.Salah satu mekanisme utama untuk memunculkan proses belajar adalah penguatan atau peneguhan. mereka yang mempunyai uang lebih banyak. F. Seseorang dapat ikut terpengaruh oleh kelompok dalam melakukan agresi.

Sedangkan Sitorus (2000) mendefenisikan status sosial ekonomi atas adalah status atau kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut harta kekayaan. Ciri-ciri Kelas Sosial Basuki (2000) mengemukakan mengenai ciri-ciri umum keluarga dengan status sosial ekonomi atas dan bawah yaitu : a. di mana harta kekayaan yang dimiliki di atas rata-rata masyarakat pada umumnya dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. dipakai oleh masyarakat yang mengahargai ilmu pengetahuan. yaitu berusia di atas 60 tahun dan sakit-sakitan. yang sering menempati posisi teratas dari kekuasaan. tukang sampah. Ciri-ciri keluarga dengan status sosial ekonomi bawah : 1) Tinggal di rumah kontrakan atau rumah sendiri namun kondisinya masih amat sederhana seperti terbuat dari kayu atau bahan lain dan bukan dari batu. dimana harta kekayaan yang dimiliki termasuk kurang jika dibandingkan dengan rata-rata masyarakat pada umumnya serta tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. b. . 2) Tanggungan keluarga kurang dari lima orang atau pencari nafkah masih produktif yang berusia dibawah 60 tahun dan tidak sakit 3) Kepala rumah tangga bekerja dan biasanya menduduki tingkat profesional ke atas 4) Memiliki modal usaha b. Sedangkan menurut Havinghurst dan Taba (dalam Wijaksana. mendapat tempat teratas. Status sosial bawah Menurut Sitorus (2000) status sosial ekonomi bawah adalah kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut kekayaan. Calhoun. H. Ukuran ilmu pengetahuan Ilmu pengetahuan sebagai ukuran. Status sosial ekonomi atas Status sosial ekonomi atas adalah kelas sosial yang berada paling atas dari tingkatan sosial yang terdiri dari orang-orang yang sangat kaya. d. Berdasarkan pendapat para ahli diatas. Havinghurst dan Taba (dalam Wijaksana. menempati lapisan atasan. Ukuran kehormatan Orang yang paling disegani atau dihormati. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa. Ciri –ciri keluarga dengan status sosial ekonomi atas : 1) Tinggal di rumah-rumah mewah dengan pagar yang tinggi dan berbagai model yang modern dengan status hak milik. di mana harta yang dimiliki di atas rata-rata masyarakat pada umumnya dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik. 1992) mengemukakan masyarakat dengan status sosial ekonomi bawah adalah masyarakat dalam jumlah keluarga yang cukup besar dan juga pada umumnya cenderung selalu konflik dengan aparat hukum. Ukuran semacan ini banyak ditemui pada masyarakat tradisional. 3) Kepala rumah tangga menganggur dan hidup dari bantuan sanak saudara dan bekerja sebagi buruh atau pekerja rendahan seperti pembantu rumah tangga. 2) Tanggungan keluarga lebih dari lima orang atau pencari nafkah sudah tidak produktif lagi. dan lainnya.dkk (1997) mendefenisikan kelas atas terdiri dari keluarga yang memiliki properti dalam jumlah yang besar ( termasuk saham di perusahaan-perusahaan besar dan real estat) serta menikmati kemewahan dan otoritas yang diperoleh dari semacam kepemilikan.b. Ukuran kekuasaan Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempuyai wewenag terbesar. c.1992) mengemukakan masyarakat dengan status sosial yaitu sekelompok keluarga dalam masyarakat yang jumlahnya relatif sedikit dan tinggal di kawasan elit perkotaan. 4) Tidak memiliki modal usaha. G. Klasifikasi Status Sosial Ekonomi Klasifikasi status sosial ekonomi menurut Coleman & Cressey (1996) adalah: a. maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya status sosial ekonomi atas adalah status sosial atau kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut kekayaan.

misalnya tinggi badan. K. diawali dengan masa puber yaitu proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual. remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu. positif. “terlalu besar untuk celananya” dan dimarahi karena mencoba bertindak seperti orang dewasa. Faktor exogen (nurture) Pandangan faktor exogen menyatakan bahwa perubahan dan perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri. Masa remaja sebagai periode yang penting. Kalau remaja berusaha berperilaku seperti orang dewasa. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap. teman. Ciri-ciri Masa Remaja Ciri-ciri masa remaja (Hurlock. Kedua. bagi perkembangan dan pertumbuhan individu. independen. Masa remaja sebagai usia bermasalah Setiap periode mempunyai masalah sendiri-sendiri. bijak. nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya. bergantung. Selama awal masa remaja. ia akan diajari untuk “bertindak sesuai umurnya”. dan lain sebagainya. Di lain pihak. maka perubahan sikap dan prilaku menurun juga. 2003) dengan mengatakan remaja secara psikologis adalah usia dimana individu remaja berintegerasi dengan masyarakat dewasa. Kalau remaja berperilaku seperti anak-anak. perintis.I. menolak bantuan dari orang tua. tidak bernalar. namun masalah remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. nilai dan minat baru. pasif. ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat. Faktor endogen (nature) Dalam pandangan ini dinyatakan bahwa perubahan-perubahan fisik maupun psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang bersifat herediter yaitu yang diturunkan orang tuanya. Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat. Faktor ini diantaranya berupa lingkungan fisik. ambisius. kecerdasan. dan lain sebagainya. Menurut Lubis (2005). terutama pada masa awal remaja. Piaget (dalam Mukhtar dkk. Kalau perubahan fisik menurun. lembaga sosial. Pengertian Remaja Menurut Papalia (dalam Mukhtar dkk. Masa remaja sebagai periode peralihan Dalam setiap periode peralihan. lembaga pendidikan. 1980) adalah sebagai berikut: a. Interaksi antara endogen dan ekxogen Para ahli perkembangan sekarang Papalia. 2004) meyakini bahwa kedua faktor itu internal maupun eksternal tersebut mempunyai peran yang sama besarnya. J Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja Menurut pandangan Gunarsa dan Gunarsa (dalam Dariyo. c. 2004) bahwa secara umum ada 2 faktor yang mempengaruhi perkembangan individu (bersifat dichotomy). status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. dan juga penakut. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir ini memungkinkannya untuk mencapai integerasi dalam hubungan sosial orang dewasa. bakat minat. dan sebagainya. cerdas. masalah anak-anak sebagian diseleseikan oleh orang tua. 2003) remaja sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke dewasa. Olds dan Feldman (dalam Dariyo. Maupun lingkungan sosial seperti tetangga. sepanjang masa kanak-kanak. sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Pada masa ini. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. karena para remaja merasa diri mandiri. yakni : a. usia dimana anak merasa pada tingkatan yang sama dengan orang-orang yang lebih tua. ia sering kali dituduh. d. dan kuat. b. . lemah. Integerasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek afektif. iklim. c. 1980). cuaca. remaja putra merupakan sosok yang bernalar. b. yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini (Hurlock. perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. cotohnya letak geografis. sehingga mereka ingin mengatasi sendiri masalahnya . kurang lebih berhubungan dengan masa puber. kognisi dan psikososial yang berkaitan satu sama lain. status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku. Sedangkan remaja putri merupakan sosok yang emosional. Pertama.

Masa remaja sebagai ambang masa dewasa Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah. Subjek juga pernah melakukan agresi verbal pasif langsung seperti sering menolak untuk berbicara ketika memiliki suasana hati yang jelek . Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara mendalam. f. “Anggapan stereotipe budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih. yang tidak dapat dipercaya. agresi fisik pasif tidak langsung yaitu menolak perintah orang untuk melakukan seperti menolak untuk belajar. Gambaran bentuk-bentuk perilaku agresif pada subjek remaja putri dengan status sosial ekonomi orang tua atas dan status sosial ekonomi bawah dalam penelitian ini tampaknya sama.e. atau menembak orang lain menggunakan pistol plastik yang menyebabkan korban terluka. 4. Semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia mejadi marah. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagai mana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya. para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Hal ini dapat disimpulkan berdasarkan bentuk-bentuk perilaku agresif yang dimunculkan oleh kedua remaja putri tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Agresi fisik pasif langsung yaitu berdemonstrasi dengan aksi duduk di jalanan di kantor Gubernur. yaitu merokok. memukul dengan cara menampar. Pendekatan kualitatif melakukan penelitian pada latar belakang alamiah. Agresi verbal aktif langsung seperti berkata-kata kasar dengan Satpol PP. maka dalam bab ini dapat digambarkan bentuk-bentuk perilaku agresif dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku agresif pada remaja putri yang berbeda status sosial ekonomi orang tuanya. 1. terlebih dalam hal cita-cita. Oleh karena itu. h. Subjek dengan status sosial ekonomi atas memiliki bentuk perilaku agresif yaitu agresi fisik aktif langsung seperti melukai dengan cara menggigit. dan terlibat dengan perbuatan seks. minum minuman keras. Masa remaja sebagai masa mencari identitas Pada tahun-tahun awal masa remaja. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal. seperti sebelumnya. tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya. g. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan Seperti ditunjukan oleh Majeres. Agresi fisik aktif tidak langsung seperti menjebak orang lain dengan cara menyengkat kaki orang yang tidak disukai subjek dan memberikan perintah kepada orang lain seperti memberikan perintah kepada teman untuk memukul orang yang tidak disukai oleh subjek. dan cenderung merusak. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang remaja putri yang berasal dari status sosial ekonomi atas dan status sosial ekonomi bawah yang berusia antara 15 sampai 18 tahun dan memiliki perilaku agresif. 1990). Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belum cukup. penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan 3. menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasai kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. Subjek dengan status sosial ekonomi atas tidak pernah melakukan agresi verbal aktif tidak langsung seperti menyebarkan gosip. banyak diantaranya yang bersifat negatif. Walikota atau DPRD. remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan pada status dewasa. menggunakan obat-obatan. Cita-cita yang tidak realistik ini. dan sayangnya. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri. HASIL PENELITIAN Bedasarkan hasil analisis wawancara dari dua orang subjek dan dua orang significant other. memaki kakak kelas. menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awal masa remaja. “Banyak anggapan populer tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai. dan menghina orang lain yang tidak disukai oleh subjek. Bogdan & Taylor (dalam Moleong. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Minat Remaja dalam Pemilihan Bidang Karir pada Status Sosial Ekonomi Keluarga Tingkat Atas. 2004. 1996. sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan. Subjek diharapkan lebih berempati terhadap orang lain sehingga subjek dapat mengurangi sifat agresifnya. Alih bahasa : Istiwidayanti & Soedjarwo. DAFTAR PUSTAKA Adi Wijaksana. Agresi fisik pasif langsung yaitu berdemonstrasi dengan aksi duduk di sekolah. 6. Dalam menerapkan metode penelitian disarankan agar menggunakan metode kuantitatif. memukul dengan cara menampar. Agresi fisik pasif tidak langsung yaitu menolak perintah orang seperti malas belajar. Rita L. Bagi keluarga subjek. L. Saran Berdasarkan penelitian yang dilakukan. Subjek diharapkan untuk tidak menggunakan kelebihan dan kekurangan kondisi fisik yang dimiliki sebagai pemicu berperilaku agresif. E. Atkinson.Jakarta: PT. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. perilaku agresif dipengaruhi oleh pengaruh kelompok dan kepribadian dan kondisi fisik. diharapkan dapat menjadi pembimbing dan pengontrol yang baik untuk perilaku subjek. Akan tetapi. Pustaka Binaman Pressindo. 5. faktor kepribadian. Akan tetapi subjek tidak pernah melakukan agresi verbal aktif tidak langsung yaitu menyebarkan gosip. 4. Sedangkan remaja putri dengan status sosial ekonomi bawah yaitu kondisi lingkungan sosial dan fisik. Ernest R. 3.. Berkowitz. B. 2. faktor kepribadian. Faktor-faktor yang mempengaruhi remaja putri dengan status sosial ekonomi atas untuk berperilaku agresif adalah pengaruh kelompok..B. NY: Harper Collins College Publishers. James William and Cressey. Jakarta: Ghalia Indonesia. dan kondisi fisik. dan kondisi fisik. Edisi kedelapan. Psikologi Perkembangan Remaja. maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut : Bagi subjek diharapkan agar bisa lebih mengembangkan nilai-nilai dalam diri agar bisa menahan diri untuk tidak berprilaku agresif dan tidak mudah untuk dipengaruhi kelompok bermainnya. Sekripsi. memaki supir angkot yang terkadang tidak mau mengangkut anak sekolah. Jakarta:Erlangga. Agresi verbal pasif tidak langsung seperti menolak berbicara pada orang yang telah menyerang secara tidak fair dan pernah menyerang ketika subjek dikritik mengenai badan subjek. 1980. dan menghina orang yang tidak disukai subjek.1994. secara umum pada subjek. Pengantar Psikologi I. 1992. Coleman. Agresi verbal aktif langsung seperti berkata-kata kasar dengan menyebutkan nama-nama binatang. Agresi fisik aktif tidak langsung seperti menjebak orang yang tidak disukai oleh subjek dengan menguncinya di kamar mandi dan memberikan perintah kepada kakak kelas untuk menyakiti orang lain. A. Agresi verbal pasif tidak langsung seperti menolak berbicara pada orang yang telah menyerang subjek secara tidak fair dan tidak masuk akal. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Agresi I Sebab dan Akibatnya. Dariyo. Richard C. 1993. Hurlock. (edisi kelima).2. pengaruh kelompok. Hilgard. Bagi penelitian selanjutnya yang ingin mengembangkan atau melanjutkan penelitian hendaknya meninjau agresi dari sisi tingkat pendidikan dan pekerjaan. Jakarta: Erlangga. Subjek juga pernah melakukan agresi verbal pasif langsung seperti sering menolak untuk berbicara kepada orang-orang yang tidak disukai dan menolak menjawab pertanyaan ketika ada adikmkelas yang semena-mena terhadap subjek. Atkinson. 1. Sedangkan subjek yang berasal dari status sosial ekonomi bawah memiliki bentuk perilaku agresi fisik aktif langsung seperti melukai dengan cara melemparkan serokan sampah hingga korban berdarah. dan menolak menjawab pertanyaan ke orang lain. Donald R. Menengah dan Bawah. Remaja putri dengan status sosial ekonomi atas dan status sosial ekonomi bawah dalam penelitian ini memiliki perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi mereka untuk perilaku agresif . serta memberikan pemahaman mengenai kondisi fisik yang dimiliki subjek. . Social Problems : Sixth Edition.

W. Myers. Soerjono Soekanto.com . Nursal.Psikologi Sosial Jilid 2. Hudaniah. Dwi. Welte. Daniel.Luth. 1998.L and Peplau.July 18). F. Ardiyanti.1999.Kompas dari http://www. L.Jakarta:PT.JKD Pedagagan. Psikologi Sosial: Edisi Revisi.com Riyanti. Freedman.P. 1996. 1990. M. Kristin E. Bandung: Cahaya Budi. Sitorus. H. J. Sarwono. N.2000. Persekolahan dan Delikuensi di Kalangan Remaja Kulit Putih dan African American.Sosiologi I: untuk SMU Kelas 2.Kompas. G. Jakarta: Gunadarma.1991. A. Prabowo. David. W. Jakarta: Rahasta Semesta. http : // www. Wieczorek. & Sulistiyaningsih. Konsep Diri Remaja: Menuju Pribadi yang Mandiri. Psikologi Sosial: Individu dan Teori – Teori Psikologi Sosial. Galaxy Puspa Mega. 34: 69-88. 2003. Inc.Jakarta: Balai Pustaka. .. Hendro. B. Drs.2000.1983.. Journal Of Urban Education.Fernandez.Malang: Universitas Muhammadiyah Sears. NY: Mc Graw Hill. Mukhtars. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada. Sosiologi. Sosiologi Suatu Pengantar.. J.siswi SMU 82 Lapor ke Polisi karena Dianiaya Senior. Social Psychologi.2003.. David O. Orgs/Rts (2002.Jakarta: Balai Pustaka Voekl. Tri Dayaksini. Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->