KATA PENGANTAR HUKUM waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.

telah mengubah hukum waris Arab pra-Islam dan sekaligus merombak struktur hubungan kekerabatannya, bahkan merombak sistem pemilikan masyarakat tersebut atas harta benda, khususnya harta pusaka. Sebelumnya, dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak diperkenankan memiliki harta benda --kecuali wanita dari kalangan elite-- bahkan wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Islam merinci dan menjelaskan --melalui Al-Qur'an Al-Karim-- bagian tiap-tiap ahli waris dengan tujuan mewujudkan keadilan didalam masyarakat. Meskipun demikian, sampai kini persoalan pembagian harta waris masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Ternyata, disamping karena keserakahan dan ketamakan manusianya, kericuhan itu sering disebabkan oleh kekurangtahuan ahli waris akan hakikat waris dan cara pembagiannya. Kekurangpedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak kita pungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya: "Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu faraid." Atas dasar itulah kami terpacu untuk makalah tentang hukum islam tentang waris, mudah-mudahan apa yang kami persembahkan kepada pembaca menjadi suatu amal kebajikan dan menjadi bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Penulis

WARIS DALAM PANDANGAN ISLAM SYARIAT Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil.HUKUM ISLAM TENTANG WARIS I. dari seluruh kerabat dan nasabnya. kecuali hukum waris ini. kakek. ibu. besar atau kecil. atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Oleh karena itu. Al-Qur'an merupakan acuan utama hukum dan penentuan pembagian waris. Al-Qur'an menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. apakah dia sebagai anak. sedangkan ketetapan tentang kewarisan yang diambil dari hadits Rasulullah saw. istri. ayah. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia. Dapat dikatakan bahwa dalam hukum dan syariat Islam sedikit sekali ayat AlQur'an yang merinci suatu hukum secara detail dan rinci. dan ijma' para ulama sangat sedikit. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Hal demikian disebabkan kewarisan merupakan salah satu bentuk kepemilikan yang legal dan dibenarkan AlIah SWT. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris. cucu. suami. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Di samping bahwa harta merupakan tonggak penegak kehidupan baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. . paman.

" (al-Qashash: 58) Selain itu kita dapati dalam hadits Nabi saw. Jadi.. Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup.. Definisi Waris Al-miirats. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain'. Ayat-ayat Al-Qur'an banyak menegaskan hal ini.. atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'i. Di antaranya Allah berfirman: "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud . atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya)." (an-Naml: 16) ". baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang). baik berupa harta (uang) atau lainnya. . demikian pula sabda Rasulullah saw.  Pengertian Peninggalan Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan.. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan harta. Dan Kami adalah pewarisnya.: 'Ulama adalah ahli waris para nabi'. dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsanmiiraatsan.. tanah. atau dari suatu kaum kepada kaum lain.A. tetapi mencakup harta benda dan non harta benda.

Artinya. suami. dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. ayah. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. kemudian kepada para 'ashabah (kerabat mayit yang berhak menerima sisa harta waris --jika ada-. As-Sunnah. dengan catatan tidak boleh berlebihan. Di antaranya. Adapun penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah sebagian harta tersebut diambil untuk membiayai keperluan pemakamannya. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. 2. 3.setelah ashhabul furudh menerima bagian). . istri. 4. Hak-hak yang Berkaitan dengan Harta Peninggalan Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 1. pembelian kain kafan. dan kesepakatan para ulama (ijma'). Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. dan lainnya). misalnya ibu. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. Wajib menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. biaya memandikan. Dalam hal ini dimulai dengan memberikan warisan kepada ashhabul furudh (ahli waris yang telah ditentukan jumlah bagiannya. biaya pemakaman. Setelah itu barulah seluruh harta peninggalan pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur'an. termasuk diambil untuk membayar utangnya. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris. sejak wafatnya hingga pemakamannya.

paman (saudara ibu). Ashabat nasabiyah. Yang dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yang masih memiliki kaitan rahim --tidak termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Misalnya. dan ijma'. barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. 3. bibi (saudara ibu). Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya: 1. Mewariskan kepada kerabat. Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Setelah ashhabul furudh. jika ternyata tidak ada ahli waris lainnya. As-Sunnah. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan. bila pewaris tidak . Bahkan. saudara kandung pewaris. bibi (saudara ayah). cucu dari anak lakilaki pewaris. 4. paman kandung. Misalnya anak laki-laki pewaris. Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa. dan seterusnya. Derajat Ahli Waris Antara ahli waris yang satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Mereka adalah orang-orang yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Qur'an. maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. cucu laki-laki dari anak perempuan. Maka. Golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan. dan cucu perempuan dari anak perempuan. Ashhabul furudh.B. sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. 2. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima sisa harta warisan yang telah dibagikan.

7. Misalnya. maka istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian.mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh. 6. juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim. Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah. Dengan demikian. seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan. maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Yang dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yang memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). tidak pula 'ashabah. Misalnya. istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Yang dimaksud di sini ialah orang lain. 5. Misalnya. artinya bukan salah seorang dan ahli waris. dan sebagai 'ashabah. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal. Tetapi pada masa kini sudah tidak ada lagi. seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya. sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Tambahan hak waris bagi suami atau istri. . maka orang yang pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya. Ashabah karena sebab.

y Hak waris secara tambahan. C. 2. sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya. saudara. Pernikahan. anak. dan seterusnya. Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat --seperti yang saya jelaskan-.maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untuk kemaslahatan umum. Bentuk-bentuk Waris y Hak waris secara fardh (yang telah ditentukan bagiannya). Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Karena itu Allah SWT . yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Baitulmal (kas negara). 3. Al-Wala. Disebut juga wala al-'itqi dan wala anni'mah. y Hak waris secara 'ashabah (kedekatan kekerabatan dari pihak ayah). Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Kerabat hakiki (yang ada ikatan nasab). D. yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar'i) antara seorang laki-laki dan perempuan. y Hak waris secara pertalian rahim. tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Sebab-sebab Adanya Hak Waris Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris: 1.8. Adapun pernikahan yang batil atau rusak. paman. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. seperti kedua orang tua.

bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki. dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. Rukun Waris Rukun waris ada tiga: 1. E. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). tanah. dan sebagainya. atau lainnya. yaitu mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan. Syarat Waris Syarat-syarat waris juga ada tiga: 1. Ahli waris. Pewaris. F. 2. 2. termasuk jumlah bagian masing-masing. Harta warisan. G. 3. yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris. 3. baik berupa uang. dalam hal ini ada tiga: . baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. Penggugur Hak Waris Penggugur hak waris seseorang maksudnya kondisi yang menyebabkan hak waris seseorang menjadi gugur. yakni orang yang meninggal dunia.menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan.

Misalnya. Alhasil. maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. " Dari pemahaman hadits Nabi tersebut lahirlah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan fuqaha yang sekaligus dijadikan sebagai kaidah: "Siapa yang menyegerakan agar mendapatkan sesuatu sebelum waktunya." Ada perbedaan di kalangan fuqaha tentang penentuan jenis pembunuhan. 2. Budak Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak). atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya. mazhab Hanafi menentukan bahwa pembunuhan yang dapat menggugurkan hak waris adalah semua jenis pembunuhan yang wajib membayar kafarat. semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik. secara langsung menjadi milik tuannya. Pembunuhan Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya). Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak.1. maka dia tidak mendapatkan bagiannya. mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal). Mazhab Hambali berpendapat bahwa pembunuhan yang dinyatakan sebagai penggugur hak waris adalah setiap jenis pembunuhan .: "Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. hanya pembunuhan yang disengaja atau yang direncanakan yang dapat menggugurkan hak waris. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni). Sedangkan mazhab Maliki berpendapat.

pembunuhan dengan segala cara dan macamnya tetap menjadi penggugur hak waris. Menurut saya. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal r. yang mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi orang kafir. .a. Selain itu tidak tergolong sebagai penggugur hak waris. dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim. Dalam hal ini ulama membuat kesepakatan bahwa murtad termasuk dalam kategori perbedaan agama.yang mengharuskan pelakunya diqishash. tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. apa pun agamanya. tidak ada yang mengunggulinya). atau membayar kafarat. dalam sabdanya: "Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir. Sedangkan menurut mazhab Syafi'i. 3. Alasan mereka adalah bahwa Islam ya'lu walaayu'la 'alaihi (unggul. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. yakni murtad. Orang yang telah keluar dari Islam dinyatakan sebagai orang murtad. Perbedaan Agama Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim. termasuk keempat imam mujtahid." (Bukhari dan Muslim) Jumhur ulama berpendapat demikian. pendapat mazhab Hambali yang paling adil. karenanya orang murtad tidak dapat mewarisi orang Islam. Wallahu a'lam. atau bahkan hanya membenarkan kesaksian para saksi lain dalam pelaksanaan qishash atau hukuman mati pada umumnya. sekalipun hanya memberikan kesaksian palsu dalam pelaksanaan hukuman rajam. Sebagian ulama ada yang menambahkan satu hal lagi sebagai penggugur hak mewarisi. membayar diyat.

dan Hambali (jumhur ulama) bahwa seorang muslim tidak berhak mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad. (6) saudara laki-laki seayah. Ali bin Abi Thalib. Menurut penulis. di kalangan ulama terjadi perbedaan pandangan mengenai kerabat orang yang murtad. orang yang murtad berarti telah keluar dari ajaran Islam sehingga secara otomatis orang tersebut telah menjadi kafir. Ahli Waris dari Golongan Laki-laki Ahli waris (yaitu orang yang berhak mendapatkan warisan) dari kaum laki-laki ada lima belas: (1) anak laki-laki. dan lainnya. (12) anak laki-laki dari paman . dalam haditsnya. bahwa antara muslim dan kafir tidaklah dapat saling mewarisi. seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. (3) bapak. menurut mereka. Ibnu Mas'ud. (5) saudara kandung laki-laki. (11) paman (saudara bapak seayah). Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan: "Seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. H. (10) paman (saudara kandung bapak). bolehkah seorang muslim mewarisi harta kerabatnya yang telah murtad? Menurut mazhab Maliki." Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq. (7) saudara laki-laki seibu. Sebab. Sedangkan menurut mazhab Hanafi. (4) kakek (dari pihak bapak).Sementara itu. pendapat ulama mazhab Hanafi lebih rajih (kuat dan tepat) dibanding yang lainnya. (9) anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu. (2) cucu laki-laki (dari anak laki-laki). karena harta warisan yang tidak memiliki ahli waris itu harus diserahkan kepada baitulmal. Karena itu. Maksudnya. apakah dapat mewarisinya ataukah tidak. (8) anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki. Syafi'i. baik yang bertaraf nasional ataupun internasional. Padahal pada masa sekarang tidak kita temui baitulmal yang dikelola secara rapi. seperti ditegaskan Rasulullah saw.

(saudara kandung ayah). I. (5) nenek (ibu dari bapak). . (2) ibu. (15) laki-laki yang memerdekakan budak. (7) saudara perempuan seayah. (10) perempuan yang memerdekakan budak. (13) anak laki-laki paman seayah. (8) saudara perempuan seibu. (4) nenek (ibu dari ibu). (14) suami. (9) istri. (3) anak perempuan (dari keturunan anak laki-laki). Ahli Waris dari Golongan Wanita Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh: (1) anak perempuan. (6) saudara kandung perempuan.