P. 1
Pengaruh Pemberian Seresah Dan Cacing Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman Lamtoro(Leucaena Leucocephala Lam de Wit) Dan Turi (Sesbania Gradiflora

Pengaruh Pemberian Seresah Dan Cacing Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman Lamtoro(Leucaena Leucocephala Lam de Wit) Dan Turi (Sesbania Gradiflora

|Views: 1,190|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhammad Sadiqul Iman on Feb 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2013

pdf

text

original

TUGAS PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN PENGARUH PEMBERIAN SERESAH DAN CACING TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN LAMTORO(Leucaena

leucocephala Lam De Wit) DAN TURI (Sesbania gradiflora) PADA MEDIA TANAM TANAH BEKAS PENAMBANGAN BATU BARA

OLEH : NASHIRATUN AMANAH H1E108038 DOSEN NOPI STIYATI P, S.Si, MT

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2010

ABSTRACT
Population of human being which progressively mount, causing requirement of human being also progressively mount. At the present day this processing of experienced resource come up with mining products dredging. Requirement of human being will petrify embers often don’t in line with activity mining of that matter can cause environmental damage, like change unfold nature and can eliminate land;ground of sprout which is good for crop fertility. Intention of writing of this handing out is give understanding about influence of gift of serasah and earth-worm at farm of ex- coal mine as activity of reklamasi pasca mine in order to farm of ex- mine regain fertility and can be made as farm of agriculture like crop of lamtoro(Leucaena leucocephala lam de wit) and turi ( Sesbania gradiflora). Result of attempt indicate that crop at ground of ex- coal mine which is adding serasah and earth-worm more is fertile compared to by topsoil in area of mining and also ground of ex- mine which don’t use serasah and earth-worm. But crop more fertile if only added just serasah. Key words : management of environmental quality, ground of ex- mine, serasah, earthworm, lamtoro and turi.

ABSTRAK Populasi manusia yang semakin meningkat, menyebabkan kebutuhan manusia juga semakin meningkat. Pada zaman sekarang ini pengolahan sumber daya alam sampai pada pengerukan hasil tambang. Kebutuhan manusia akan batu bara sering tidak sejalan dengan kegiatan pertambangan hal itu dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti perubahan bentang alam dan dapat menghilangkan tanah pucuk yang berguna untuk kesuburan tanaman. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah memberikan pemahaman tentang pengaruh pemberian serasah dan cacing tanah pada lahan bekas tambang batu bara sebagai kegiatan reklamasi pasca tambang agar lahan bekas tambang dapat kembali kesuburannya dan dapat dijadikan sebagai lahan pertanian seperti tanaman lamtoro(leucaena leucocephala lam de wit) dan turi (sesbania gradiflora). Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman pada tanah bekas tambang batu bara yang di tambah serasah dan cacing tanah lebih subur dibandingkan dengan dengan topsoil di area pertambangan maupun tanah bekas tambang yang tidak ditambah apa – apa. Tetapi tanaman lebih subur jika hanya ditambah serasah saja. Kata kunci : pengelolaan kualitas lingkungan, tanah bekas tambang, serasah, cacing tanah, lamtoro dan turi.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam, berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia, akan memberikan dampak dan efek bagi manusia lainnya, lingkungan, serta tatanan kehidupan sekitarnya. Pelestarian lingkungan hidup perlu mendapatkan perhatian serius dan tegas oleh semua lapisan masyarakat. Masalah penurunan kualitas lingkungan akan terus meningkat semakin meningkatnya perkembanagn zaman oleh maraknya masalah global dan industrialisasi serta pertambangan. Banyaknya usaha pertambangan saat ini berkaitan erat dengan kebutuhan dunia akan bahan tambang bagi keperluan industri hilir yang sangat tinggi, sehingga menjadikan kegiatan pertambangan menjadi berharga. Tetapi dari dulu hingga kini masalah pertambangan masih sering menjadi topik utama di berbagai media masa selain masalah politik, topik yang menjadi pemberitaan maupun pendapat mengenai pertambangan lebih sering di ekspose sisi negatifnya dari pada sisi positif yang ditimbulkannya. Seringkali kegiatan pertambangan dianggap dan dinilai lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Hal ini disebabkan adanya paradoks dalam kegiatan eksplorasi pertambangan yang seringkali berbenturan dengan kepentingan konservasi sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan hidup.

Batasan Masalah Adapun batasan masalah dari makalah ini adalah bagaimana manusia mengelola kualitas lingkungan saat ini, hal itu di perparah dengan kegaitan pertambangan, untuk itu uji pertumbuhan tanaman pada tanah bekas penambangan batu bara dengan penambahan cacing tanah dan serasah pada tanaman lamtoro dan turi Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini adalah memberikan penjelasan mengenai pengelolaan kualitas lingkungan, mengenalkan tentang tanaman lamtoro dan turi, memberikan pengetahuan tentang serasah dan cacing tanah, memberikan pemahaman mengenai pertambangan batu bara, sejarah seta dampaknya. Selain itu juga menjelaskan tentang pengaruh pemberian serasah dan cacing tanah pada tanah bekas tambang.

Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini, digunakan teori kajian pustaka yang berasal dari buku yang menunjang pembahasan tentang pengelolaan kualitas lingkungan. Selain itu juga berasal dari referensi-referensi di internet yang tentunya memberikan informasi-informasi tambahan yang terbaru. Sumber – sumber tersebut kemudian dikumpulkan dan menjadi analisis untuk pembahasan masalah.

TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Kualitas Lingkungan Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumberdaya alam yang kita perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumberdaya alam tertentu juga mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana. Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak

terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri (Anonim, 2008). Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya alam, namun eksploitasi sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan. Banyak faktor yang menyebabkan kemerosotan kualitas lingkungan serta kerusakan lingkungan yang dapat diidentifikasi dari pengamatan di lapangan, oleh sebab itu dalam makalah ini dicoba diungkap secara umum sebagai gambaran potret lingkungan hidup, khususnya dalam hubungannya dengan pengelolaan lingkungan hidup di era otonomi daerah. Kegiatan pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan telah menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijaksanaan dan program serta kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan lainnya. Sistem tersebut mencakup kemantapan kelembagaan, sumberdaya manusia dan kemitraan lingkungan, di samping perangkat hukum dan perundangan, informasi serta pendanaan. Sifat keterkaitan (interdependensi) dan keseluruhan (holistik) dari esensi lingkungan telah membawa konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri sendiri. Akan tetapi terintegrasi, menjadi roh, dan bersenyawa dengan seluruh pelaksanaan pembangunan di semua sektor (Nasution, 2008). Tanaman Lamtoro dan Turi a. Tanaman Lamtoro Tanaman lamtoro tumbuh hampir di seluruh wilayah indonesia. Rasa asal tanaman lamtoro ini agak pahit dan bersifat netral. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam tanaman lamtoro antara lain adalah kalsium, lemak,fosfor, besi, protein serta vitamin A, B1 dan C. Sementara bijinya mengandung mimosin, leukanin, protein dan leukanol. Biasanya orang-orang mengembangbiakkan tanaman lamtoro dengan menyebarkan bijinya. Cara merawatnya pun relatif

mudah. Tanaman lamtoro cukup disiram air secukupnya, dijaga kelembapan tanahnya dan dipupuk dengan pupuk organik. Klasifikasi ilmiah Tanaman Lamtoro Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Fabales Famili: Fabaceae Upafamili: Mimosoideae Genus: Leucaena Spesies: L. leucocephala Tanaman lamtoro dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan. Manfaat tanaman lamtoro diantaranya adalah sebagai obat cacing, peluruh kencing, patah tulang, luka terpukul, susah tidur (insomnia), bengkak (oedem), radang ginjal, dan kencing manis. Akar tanaman lamtoro ini pun dapat dimanfaatkan sebagai peluruh haid. Selain itu lamtoro juga dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber kayu bakar dan pakan ternak. Di tanah-tanah yang cukup subur, lamtoro tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ukuran dewasanya (tinggi 13— 18 m) dalam waktu 3 sampai 5 tahun. Tegakan yang padat (lebih dari 5000 pohon/ha) mampu menghasilkan riap kayu sebesar 20 hingga 60 m³ perhektare pertahun. Pohon yang ditanam sendirian dapat tumbuh mencapai gemang 50 cm. Kegunaan lain tanaman ini adalah sebagai pagar hidup, sekat api, penahan angin, jalur hijau, rambatan hidup bagi tanaman-tanaman yang melilit seperti lada, panili, markisa dan gadung, serta pohon penaung di perkebunan kopi dan kakao karena pohon lamtoro ini sering ditanam dalam jalur-jalur berjarak 3—10 m, di antara larikan-larikan tanaman pokok. Tanaman lamtoro juga kerap ditanam sebagai tanaman sela untuk mengendalikan hanyutan tanah (erosi) dan meningkatkan kesuburan tanah. Perakaran lamtoro memiliki nodul-nodul akar tempat mengikat nitrogen. b. Tanaman Turi Turi umumnya ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias, di tepi jalan sebagai pohon pelindung, atau ditanam sebagai tanaman pembatas pekarangan.

Tanaman ini dapat ditemukan di bawah 1.200 m dpl. Pohon 'kurus' berumur pendek, tinggi 5-12 m, ranting kerapkali menggantung. Kulit luar berwarna kelabu hingga kecoklatan, tidak rata, dengan alur membujur dan melintang tidak beraturan, lapisan gabus mudah terkelupas. Di bagian dalam berair dan sedikit berlendir. Percabangan baru keluar setelah tinggi tanaman sekitar 5 m. Berdaun majemuk yang letaknya tersebar, dengan daun penumpu yang panjangnya 0,5-1 cm. Panjang daun 20-30 cm, menyirip genap, dengan 20-40 pasang anak daun yang bertangkai pendek. Helaian anak daun berbentuk jorong memanjang, tepi rata, panjang 3-4 cm, lebar 0,8-1,5 cm. Bunganya besar dalam tandan yang keluar dari ketiak daun, letaknya menggantung dengan 2-4 bunga yang bertangkai, kuncupnya berbentuk sabit, panjangnya 7-9 cm. Bila mekar, bunganya berbentuk kupu-kupu. Ada 2 varietas tanaman turi, yaitu berbunga putih dan berbunga merah. Buah bentuk polong yang menggantung, berbentuk pita dengan sekat antara, panjang 20-55 cm, lebar 7-8 mm. Biji 15-50, letak melintang di dalam polong. Akarnya berbintil-bintil, berisi bakteri yang dapat memanfaatkan nitrogen, sehingga bisa menyuburkan tanah. Kegunaan tanaman turi bermacam – macam dan hamper seluruh bagian tubuhnya dapat di manfaatkan. Daun, bunga dan polong muda dapat dimakan sebagai sayur atau dipecel. Bunganya gurih dan manis, biasanya bunga berwarna putih yang dikukus dan dimakan sebagai pecel. Daun dan ranting muda juga merupakan makanan ternak yang kaya protein. Turi juga dipakai sebagai pupuk hijau. Daunnya mengandung saponin sehingga dapat digunakan sebagai pengganti sabun setelah diremas-remas dalam air untuk mencuci pakaian. Sari kulit batang pohon turi digunakan untuk menguatkan dan mewarnai jala ikan. Kulit batang turi merah kadang dijual dengan nama kayu timor. Turi berbunga merah lebih banyak dipakai dalam pengobatan, karena memang lebih berkhasiat. Mungkin kadar taninnya lebih tinggi, sehingga lebih manjur untuk pengobatan luka ataupun disentri. Perbanyakan dengan biji atau stek batang. Serasah dan Cacing Tanah a. Serasah

Serasah atau seresah adalah tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya di atas lantai hutan atau kebun. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga tanah), dan akhirnya menjadi tanah. Lapisan serasah juga merupakan dunia kecil di atas tanah, yang menyediakan tempat hidup bagi berbagai makhluk terutama para dekomposer. Berbagai jenis kumbang tanah, lipan, kaki seribu, cacing tanah, kapang dan jamur serta bakteri bekerja keras menguraikan bahan-bahan organik yang menumpuk, sehingga menjadi unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan kembali oleh makhluk hidup lainnya. Jadi serasah dapat berguna untuk pertumbuhan tanaman. b. Cacing Tanah Planet bumi telah diciptakan untuk menjadi tempat kehidupan yang baik. Didalamnya terdapat berbagai jenis makluk hidup yang memiliki peran dan fungsi berbeda. Segala perbedaan peran yang dijumpai dalam kehidupan mendukung fungsi kehidupan agar dapat berjalan dengan baik. Manusia sebagai makluk dengan tingkatan tertinggi, bertanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan dan kelestarian semua makluk hidup. Salah satu hewan yang berperan penting bagi lingkungan dan kesejahtraan manusia secara umum adalah cacing tanah. Klasifikasi Cacing Tanah Kingdom : Animalia Phylum : Annelida Class : Oligochaeta Famili : Lumbridae Genus : Lumbricus Spesies : Lumbricus sp Charles Darwin telah menghabiskan waktunya selama hampir 40 tahun untuk mengamati kehidupan cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah sebagai mahluk penentu keindahan alam dan pemikat bumi. Para petani pun telah mengetahui secara turun-temurun, bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah pertanian. Lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya akan lebih subur karena tanah yang bercampur dengan kotoran cacing

tanah sudah siap untuk diserap oleh akar tanaman. Cacing tanah yang ada di dalam tanah akan mencampurkan bahan organik pasir ataupun bahan antara lapisan atas dan bawah. Aktivitas ini juga menyebabkan bahan organik akan tercampur lebih merata. Kotoran cacing tanah juga kaya akan unsur hara. Ahliahli pertanian di luar negeri dari tahun ke tahun tertarik oleh gerak-gerak cacing tanah. Mereka menyatakam bahwa kadar kimiawi kotoran cacing dan tanah aslinya banyak perbedaannya. Pada tahun 1941 hasil penelitian T.C. Puh menyatakan, bahwa karena aktivitas cacing tanah, maka N, P, K tersedia dan bahan organik dalam tanah dapat meningkat. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Tahun 1949 Stockli dalam penelitiannya menjelaskan, bahwa humus dan mikroflora kotoran cacing tanah lebih tinggi dari tanah aslinya. Demikian juga percobaan pada tanah-tanah gundul bekas tambang di Ohio (Amerika Serikat) menunjukan, bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kadar K tersedia 19% dan P tersedia 165%. Ahun 1979, Wollny juga menyatakan bahwa cacing tanah mempengaruhi kesuburan dan produktivitas tanah. Dengan adanya cacing tanah, kesuburan dan produkvitas tanah akan meningkat. Selain itu cacing tanah juga dapat meningkatkan daya serap air permukaan (Harun, 2009). Penambangan Batu Bara Batu bara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batu bara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil (Raharjo, 2006a). Batu bara adalah bahan bakar hidrokarbon padat yang terbentuk dari tetumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen dan terkena pengaruh panas serta tekanan yang berlangsung lama (Kepmen LH, 2003). Batu bara dibagi dalam empat kelas: anthracite, bituminous, sub-bituminous, dan lignite. Sejarah Batu Bara Di Indonesia pertambangan batu bara dimulai pada tahun 1849 di Pengaran, Kalimantan Timur. Kegiatan pertambangan secara besar-besaran di

Pulau Sumatera dimulai pada tahun 1880 di lapangan Sungai Durian – Sumatera Barat. Walaupun usaha ini mengalami kegagalan, penyelidikan tetap dilakukan, yaitu sekitar tahun 1868 – 1873 dan kemudian dibukalah tambang batu bara

Proses pembentukan batu bara terdiri dari dua tahap, yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan). Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0,5 – 10 meter. Sedangkan tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari gambut. Dampak Pertambangan Batu Bara Penambangan batu bara secara terbuka diawali dengan menebas vegetasi penutup tanah, mengupas tanah lapisan atas yang relatif subur kemudian menimbun kembali areal bekas penambangan. Cara ini berpotensi menimbulkan kerusakan lahan, antara lain terjadinya perubahan sifat tanah, munculnya lapisan bahan induk yang produktivitasnya rendah, timbulnya lahan masam dan garamgaram yang dapat meracuni tanaman, rusaknya bentang alam, serta terjadinya erosi dan sedimentasi. Perubahan sifat tanah terjadi karena dalam proses penambangan batu bara, bahan-bahan nonbatubara yang jumlahnya 3-6 kali jumlah batu bara yang diperoleh perlu dibongkar dan dipindahkan. Tanah hasil pembongkaran tersebut mempunyai sifat yang berbeda dengan keadaan sebelum

dibongkar, yaitu tanah terlalu padat, struktur tidak mantap, aerasi dan drainase buruk, serta lambat meresapkan air. Masalah lain adalah timbulnya tanah masam. Pirit (FeS2), jarosit, dan epsonit bila teroksidasi menyebabkan pH tanah menjadi masam (4-5). Bahkan pada areal timbunan yang baru, pH tanah sangat masam (2,6-3,6). Kation yang dapat ditukar tinggi, seperti Al (1,7-6,25), Mg (4,45-13,84), dan Ca (3,01-8,72) me/100 g tanah. Kandungan garam-garam sulfat yang tinggi seperti MgSO4, CaSO4, dan AlSO4 dapat menyebabkan tanaman mengalami keracunan Penambangan batu bara secara terbuka akan memunculkan lubang-lubang galian yang sangat dalam dan luas. Tanah yang dibongkar kemudian dipindahkan ke areal tertentu. Sering terjadi lahan yang sebelumnya bukit setelah tanahnya dibongkar berubah menjadi lembah, atau lahan yang sebelumnya lembah lalu ditimbun menjadi bukit. Hal ini menyebabkan stabilitas lingkungan berubah dan tanah mudah longsor (Fitriani, 2007). Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara Setelah dilakukan kegiatan penambangan, dilakukan kegiatan reklamasi lahan yang merupakan upaya rehabilitasi tanah dan lahan. Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. agar menghasilkan lingkungan ekosistem yang baik. Permasalahan meliputi:  Pengisian kembali bekas tambang, penebaran tanah pucuk dan penataan kembali lahan bekas tambang serta lahan bagi pertambangan yang kegiatannya tidak dilakukan pengisian kembali.  Stabilitas jangka panjang, penampungan tailing, kestabilan lereng, dan permukaan timbunan, pengendalian erosi dan pengelolaan air.  Keamanan tambang terbuka, longsoran, pengelolaan B3 dan bahaya radiasi  Karakteristik kandungan bahan nutrien dan sifat beracun tailing atau limbah batuan yang dapat berpengaruh pada kegiatan revegatasi. yang perlu diperhatikan dalam penetapan rencana reklamasi

 

Pencegahan dan penanggulangan air asam tambang. Penanganan potensi timbulnya gas metan dan emisinya dari tambang batubara. Rekonstruksi tanah. Revegatasi lahan (Sofyan, 2009).

 

METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di rumah kawat Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu pada tahun 1999 – 2002. Tanah bekas tambang diambil dari Bukit Sunur, Taba Penanjung, Bengkulu Utara. Tanah topsoil diambil dari lahan di sekitar daerah pertambangan tersebut. Tanah-tanah tersebut dikeringkan kemudian disaring dengan ayakan berdiameter 5 mm, selanjutnya dimasukkan ke karung tempat penanaman. Dari masing – masing karung diambil sedikit tanah, kemudian di campur untuk setiap jenis perlakuan yang akan dilakukan., sehingga terdapat empat sampel komposit, yaitu tanah topsoil dan 3 tanah tambang(tanah tambang yang tidak akan ditambah apapun dalam percobaan, tanah tambang yang akan diberi serasah dan tanah tambang yang akan diberi serasah dan cacing tanah). Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui kandungan Ca, Mg, K, N, P, C organik, Al, pH, tekstur dan kadar airnya. Penelitian ini menggunakan eksperimen faktorial dengan Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama adalah media tumbuh, yaitu: 1) top soil 2) tanah bekas tambang 3) tanah bekas tambang dan serasah 4) tanah bekas tambang, serasah dan cacing tanah Serasah yang digunakan adalah jenis Euphatorium odoratum karena jenis ini terbukti palimg cepat terdekomposisi. Cacing tanah yang digunakan adalah jenis Pontoscolex corethrurus karena jenis ini merupakan jenis lokal di Bengkulu. Faktor kedua adalah jenis tanaman, yaitu: 1) Lamtoro (Leucaena leucocephala Lam de Wit)

2) Turi(Sesbania grandiflora). Tanah topsoil dan tanah tambang masing – masing dimasukkan dalam polibag berukuran 5 L. Setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 3 tanaman. bibit berusia tiga minggu di tanam pada setiap polibag. Kelembaban tanah dijaga dengan penyiraman secara teratur. Serasah kering angin sebayak 50 gram diberikan pada setipa plot,dua minggu sekali untuk perlakuan yang menggunakan serasah. Cacing sebanayk 15 ekor diberikan pada setiap plot untuk perlakuan cacing. Variabel yang diamati adalah kesuburan tanah(kandungan Ca, Mg, K, N, P, C organik, Al dan pH) dan pertumbuhan tanaman (tinggi, diameter batang, jumlah daun dan berat kering biomassa). Pengukuran data pertumbuhan tanamaan dilakukan satu mnggu sekali selama sepuluh minggu. Data dianalisis dengan Anava untuk mengetahiu pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan tanamaan. Uji beda rata – rata dengan LSD digunakan untuk perlakuan yang berpengaruh nyata.

HASIL DAN PEMBAHASAN Permasalah lingkungan yang sering terjadi adalah ulah manusia sendiri. Sudah diketahui bahwa, penambangan batu bara secara terbuka berpotensi menimbulkan kerusakan lahan, antara lain terjadinya perubahan sifat tanah, munculnya lapisan bahan induk yang produktivitasnya rendah, timbulnya lahan masam dan garam-garam yang dapat meracuni tanaman, rusaknya bentang alam, serta terjadinya erosi dan sedimentasi. Tanah hasil pembongkaran pada kegiatan pertambangan mempunyai sifat yang berbeda dengan keadaan sebelum dibongkar, yaitu tanahnya terlalu padat, struktur tidak mantap, aerasi dan drainasenya buruk, serta lambat dalam meresapkan air. Hasil kegiatan tambang yang merugikan dapat ditanggulangi yaitu dengan cara reklamasi lahan bekas tambang batu bara. Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai

akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Salah satu usaha reklamasi ialah menjadikan tanah bekas tambang sebagai lahan pertanian. Dalam mereklamasi lahan tambang untuk pertanian atau yang disebut revegatasi. Pada kegiatan revegatasi diperlukan perbaikan kondisi tanah meliputi perbaikan ruang tubuh, pemberian tanah pucuk dan bahan organik serta pemupukan dasar dan pemberian kapur untuk menetralkankan pH. Secara ekologi, spesies tanaman lokal dapat beradaptasi dengan iklim setempat tetapi tidak untuk kondisi tanah. Untuk itu diperlukan pemilihan spesies yang cocok dengan kondisi setempat, terutama untuk jenis-jenis yang cepat tumbuh, misalnya Turi dan Lamtoro. Tanaman lamtoro dan turi dipilih karena tanaman ini tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia, perawatannya mudah karena hanay denagn menjaga kelebaban denagn penyiraman yang teratur, selain itu tanaman lamtoro dapat di jadikan pagar hidup, dapat mengendalikan hanyutan tanah dan dapat menjaga kesuburan tanah, jadi baik untuk di tanam pada lahan bekas tambang. Pada pertambangan batubara, ada yang hilang percuma tanpa harga, padahal nilainya sangat tinggi sekali, yaitu humus tanah atau biasa disebut topsoil, berupa pucuk tanah yang subur mengandung humus. Pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman ditentukan oleh dua faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam tanah. Unsur – unsur yang penting dalam kesuburan tanah diantaranya : 1.Nitrogen (N) Tanaman menyerap unsur N dalam bentuk ion NO3 dan (NH4 ). Ion mana yang akan lebih dahulu diserap tergantung pada keadaan pH. Pada pH di atas 7 ( keadaan basa) maka ion NH4 ( amonium) yang akan lebih cepat diserap sedangkan pada pH dibawah 7 ( keadaan asam ) maka ion NO3 ( nitrat) yang lebih besar peluang untuk diserap. Hal ini disebabkan karena pada pH di atas 7 ( ke adaan basa ) banyak terdapat ion (OH ) sehingga ion NH3 yang sama - sama valensi satu dan bermuatan negatif akan saling bersaing akibatnya ion NH4 yang berpeluang lebih besar untuk diserap sebaliknya pada pH rendah banyak tersedia

ion H berarti ion NH4 yang sama-sama valensi satu dan bermuatan positif akan berkompetisi sehingga peluang ion NO3 untuk diserap akan jauh lebih besar. 2. Phospor ( P ) Unsur Fosfor (P) dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan dan mineral-mineral di dalam tanah. Fosfor paling mudah diserap oleh tanaman pada pH sekitar 6-7 (Hardjowigeno 2003). Siklus Fosfor sendiri dapat dilihat pada Menurut Leiwakabessy (1988) di dalam tanah terdapat dua jenis fosfor yaitu fosfor organik dan fosfor anorganik. Bentuk fosfor organik biasanya terdapat banyak di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan organik. Kadar P organik dalam bahan organik kurang lebih sama kadarnya dalam tanaman yaitu 0,2 – 0,5 %. Tanah-tanah tua di Indonesia (podsolik dan litosol) umumnya berkadar alami P rendah dan berdaya fiksasi tinggi, sehingga penanaman tanpa memperhatikan suplai P kemungkinan besar akan gagal akibat defisiensi P (Hanafiah 2005). Menurut Foth (1994) jika kekurangan fosfor, pembelahan sel pada tanaman terhambat dan pertumbuhannya kerdil. 3.C-Organik Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik 4. Kalium ( K ) Elemen ini diserap dalam bentuk hampir pada semua proses metabolisme tanaman, mulai dari proses penyerapan air, transpirasi, fotosintesis, respirasi, sintesa enzim dan aktifitas enzim. Esensi unsur K adalah sebagai berikut: 1. K merupakan elemen yang higrokopis ( mudah menyerap air) ini menyebabkan air banyak diserap didalam stomata, tekanan osmotik naik, stomata membuka sehingga protein. 5. Kalsium (Ca) gas CO2 dapat masuk untuk proses fotosintesis. 2. K berperan sebagai aktifitas untuk semua kerja enzim terutama pada sintesa

Elemen ini diserap dalam bentuk Ca. Sebagaian basar terdapat dalam daun dan batang dalam bentuk kalsium pektat yaitu dalam lamella pada dinding sel yang menyebabkan tanaman menpunyai dinding sel yang lebih tebal sehingga tahan serangan hama dan penyakit. Fungsi fisiologis Kalium yang sangat penting dalam tubuh tanaman adalah dalam hubungan dengan sintesa protein yang dibutuhkan untuk pembelahan dan pembesaran sel-sel tanaman, disamping dapat menetralkan asam - asam organik yang dihasilkan pada proses metabolisme tanaman sehingga tanaman terhindardari keracunan, Selain berpengaruh pada pem-bentukan Net pada tanaman melon, elemen ini berperan dalam menaikkan pH. 6. Magnesium (Mg) Magnesium merupakan unsur pembentuk klorofil. Seperti halnya dengan beberapa hara lainnya, kekurangan magnesium mengakibatkan perubahan warna yang khas pada daun. Kadang-kadang pengguguran daun sebelum waktunya merupakan akibat dari kekurangan magnesium. 7. Kapasitas Tukar Kation (KTK) KTK merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2003). Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan tanah topsoil memilki kandingan K, C, N dan Mg lebih tinggi dibangdingkan tanah tambang sedangakn kandungan Pnya lebih rendah dari tanah tambang. Pada sifat fisika tanah, tanah tambang memiliki persentase pasir yang lebih tinggi daripada topsoil. Hal itu berakibat pada tanah tambang kadar airnya menjadi sedikit. Selain itu yang perlu diperhatikan dalam kesuburan tanaman adalah pH tanah. Pengaruh tingkatan pH tanah terhadap tanaman adalah sebagai berikut: a. pH dibawah 4.5 (terlalu asam), menyebabkan akar rusak sehingga kualitas dan jumlah panen turun. Terlihat pada saat perubahan tanaman dari fase vegetatif ke generatif. b. pH 5.5 sampai 6 (rata-rata tanah di Indonesia), terdapat unsur hara yang

optimum

untuk

tanaman

c. pH diatas 6, pada tingkatan ini, tanaman akan terlalu vegetatif. Pada penelitian tersebut secara umum di dapat bahwa semua tanah bekas tambang memilki pH rendah yang berarti tanah bekas tambang bersifat asam karena apabila Pirit (FeS2), jarosit, dan epsonit bila teroksidasi menyebabkan pH tanah menjadi masam (4-5). Kandungan garam-garam sulfat yang tinggi seperti MgSO4, CaSO4, dan AlSO4 dapat menyebabkan tanaman mengalami keracunan. Tetapi pada tanah berkas tambang yang diberi serasah atau tanah bekas tambang yang diberi serasah dan cacing tanah pHnya meningkat, hal ini dapat disebabkan menurunnya kadar H dan Al serta meningkatnya nilai K, Ca dan Mg. Secara umum dilihat dari hasil penelitian tersebut, terlihat perbedaan yang jelas dari keempat perlakuaan yang telah dilakukan. Letak perbedaan yang dilakukan yaitu pada media tanam. Pada media tanam yang pertama dan kedua yang berupa topsoil dan tanah bekas tambang batu bara, hasil tanamannya jauh tertinggal dengan tanaman yang ditanam pada media tanah bekas tambang di tambah serasah dan tanah bekas tambang yang ditambah serasah dan cacing tanah hal ini dapat disebabkan karena kandungan C dan N meningkat. Sedangkan pada media perlakuan tanaman di tambah seresah dan tanaman yang ditambah seresah dan cacing tanah hasilnya lebih bagus hasil yang di tambah seresah saja hal itu dikarenakan kurang maksimalnya pemberian cacing tanah yang berakar dari permasalahan musuh alami cacing tanah. Hal itu terlihat dari banyaknya cacing yang mati pada awal percobaan dan pada akhir percobaan, populasi cacing mengalami penurunan. Padahal pada penelitian ini pemberian cacing tanah bertujuan untuk mempercepat dekomposisi bahan organik yang terkandung pada lahan bekas tambang tersebut. Tetapi secara umum disimpulkan bahwa penambahan serasah atau serasah dan cacing tanah pada tanah bekas tambang dapat meningkatkan kesuburan pada tanah. Indikator yang digunakan untuk peningkatan tanah adalah kesuburan tanaman yaitu dilihat dari tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, berat kering dan massa. Pertambahan tinggi, diameter dan jumlah daun pada tanah

tambang lebih rendah dibandingkan ketiga media lain. Sedangkan pada tanah yang diberi serasah atau serasah dan cacing tanah pertumbuhan tanamananya lebih baik dari pada tanaman pada tanah tambang yang tidak di tambah apa - apa. Tingginya pertumbuhan tanaman ini kemungkinan disebabkan karena cepatnya dekomposisi seresah sehingga ketersediaan hara dalam tanah meningkat.

KESIMPULAN Pengelolaan kualitas lingkungan penting dilakukan, kegiatan tersebut meliputi pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan. Kegiatan pertambangan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan seperti perubahan bentang alam, terjadinya erosi dan sedimentasi, serta dapat menimbulkan tanah asam yang dapat menyebabkan penurunan kesuburan tanah. Perlu dilakukan kegiatan reklamasi atau revegetasi kegiatan pasca penambangan untuk pengelolaan kualitas lingkungan. Tanaman lamtoro dan turi tersebar hingga diseluruh wilayah Indonesia dan mudah pemeliharaannya serta dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga baik ditanam pada tanah bekas tambang batu bara. Seresah dan cacing tanah digunakan dalam peningkatan kesuburan tanah karena dapat terdekomposisi dengan mudah. Penambahan serasah atau serasah dan cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah pada tanah bekas tambang, hal ini dilihat dari pertumbuhan tanaman yaitu bertambahnya tinggi, diameter batang dan jumlah daun.

DAFTAR PUSTAKA Andre. 2009. Sifat Kimia Tanah http://boymarpaung.wordpress.com/2009/02/19/sifat-kimia-tanah/ Diakses tanggal 11 Maret 2010. Anonim1. 2008. Pembangunan Berklelanjutan, Lingkungan Hidup dan Otonomi Daerah. http://geo.ugm.ac.id/archives/125 Diakses tanggal 11 Maret 2010.

Anonim2. 2009. Pengaruh pH Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman. http://ganitri.blogspot.com/2009/05/pengaruh-ph-tanah-terhadappertumbuhan.html Diakses tanggal 11 Maret 2010. Fitriani, Diana. 2007. Teknologi Ucg (Underground Coal Gasification) Sebagai Pengelolaan Batubara Ramah Lingkungan. http://anafio.multiply.com/reviews/item/2 Diakses tanggal 11 Maret 2010. Harun, Rochajat. 2009. Manfaat Cacing Tanah. http://tmo-sumberagung.blogspot.com/2009/05/manfaat-cacing-tanah.html Diakses tanggal 11 Maret 2010. Joko, Sabtanto. 2008. Tinjauan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Dan Aspek Konservasi Bahan Galian. http://www.dim.esdm.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=609&Itemid=528 Diakses tanggal 11 Maret 2010. Madjid, Abdul. 2008. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2008/03/sifat-kimia-tanah.html Diakses tanggal 11 Maret 2010 Nasution B dkk. 2008. Dilema Pengelolaan Lingkungan di Era Otonomi Daerah http://www.analisadaily.com/index.php? option=com_content&view=article&id=46511:dilema-pengelolaan-lingkungandi-era-otonomi-daerah--bagian-pertama-dari-dua-tulisan&catid=78:umum&Itemid=139 Diakses tanggal 11 Maret 2010. Sofyan, H. 2009. Dampak Lingkungan Ekspoitasi Tambang Batubara http://haniyahsofyan.blogspot.com/2009/11/dampak-lingkungan-ekspoitasitambang.html Diakses tanggal 11 Maret 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->