P. 1
Pengelolaan Sumberdaya Air Untuk Pertanian Berkelanjutan

Pengelolaan Sumberdaya Air Untuk Pertanian Berkelanjutan

|Views: 2,041|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhammad Sadiqul Iman on Feb 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2013

pdf

text

original

1

Pengelolaan Kualitas Lingkungan

PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN

Dosen Pembimbing Nopi Stiyati P, S.Si, MT. Oleh Pradistina Marsya H1E108003

DEPARTEMAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULAS TEKNIK PROGRAM S-1 TEKNIK LINGKUNGAN BANJARBARU 2009

2 ABSTRACT This paper discusses problems related to water resources. Based on the study of literatures, some problems are identified. These are among others: water crisis in some provinces; conflict due to increasing competition in the use of water amongst various users; water resources degradation; declining of irrigated agricultural land due to conversion for non agricultural uses; unclear water use rights; weak coordination among departments in managing water resources; and weaknesses in water resource policy. To overcome such problems, appropriate water resources policy is deemed necessary. In order to sustain the availability of water resources that supports the sustainability of agricultural sector the following steps need to be taken: increasing and continuing efforts for preservation and protection of water resources; planning and implementation of programs for thrift and efficient use of water; the issuance of clear regulations on water use rights; strict control on irrigated land conversion; the establishment of institution at national level responsible for coordinating and integrating water resources policy and implementation; and water resources policy adjustments.
Key Words: Water resources problems, sustainable agriculture, water resources policy.

Makalah ini mendiskusikan permasalahan berhubungan dengan sumber daya air. Didasarkan dengan studi dari literatur, dan beberapa permasalahan. Di antaranya: krisis air dalam beberapa provinsi; konflik dalam kaitan dengan meningkatnya kompetisi penggunaan air di antara para pemakai; penurunan sumber daya air; kemerosotan dari daratan agrikultur dalam kaitan dengan konversi untuk penggunaan yang bukan dari agrikultur; air yang belum jelas kebenarannya; koordinasi yang lemah antar departemen sumber daya air; dan kelemahan di kebijakan departemen sumber daya air. Untuk menyelesaikan permasalahan itu, kebijakan sumber daya air yang sesuai dianggap perlu. Dalam rangka mendukung ketersediaan dari sumber daya air ketahanan dari sektor agrikultur langkah-langkah yang berikut perlu untuk diambil: terus meningkatkan dan melanjutkan usaha untuk pemeliharaan dan perlindungan dari sumber daya air; perencanaan dan implementasi dari program untuk penghematan dan penggunaan yang efisien tentang air; kendali yang tegas pada konversi daratan yang diairi; penetapan dari institusi pada tingkatan yang nasional yang bertanggung jawab untuk mengkoordinir dan mengintegrasikan kebijakan sumber daya air dan implementasi; dan penyesuaian kebijakan sumber daya air. Kata Kunci: Water/Air sumber daya permasalahan, pertanian yang yang dapat, kebijakan sumber daya air.

3

PENDAHULUAN Latar Belakang Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam produksi pangan. Jika air tidak tersedia maka produksi pangan akan terhenti. Ini berarti bahwa sumberdaya air menjadi faktor kunci untuk keberlanjutan pertanian khususnya pertanian beririgasi. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) secara sederhana diartikan disini sebagai upaya memelihara, memperpanjang, meningkatkan dan meneruskan kemampuan produktif dari sumberdaya pertanian untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Guna mewujudkan pertanian berkelanjutan, sumberdaya pertanian seperti air dan tanah yang tersedia perlu dimanfaatkan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kebutuhan akan sumberdaya air dan tanah cenderung meningkat akibat pertambahan jumlah penduduk dan perubahan gaya hidup, sehingga kompetisi dalam pemanfaatannya juga semakin tajam baik antara sektor pertanian dengan sektor non-pertanian maupun antar pengguna dalam sektor pertanian itu sendiri. Tujuan Membahas berbagai permasalahan yang terkait dengan sumberdaya air yang berhubungan dengan lahan pertanian. Batasan Masalah 1. Membahas pengertian air secara umum 2. Membahas pengertian pertanian secara umu 3. Permasalahan sumber daya air di lahan pertanian Metode Penulisan Metode penulisan makalah ini menggunakan media internet sebagai bahan referensi dalam rangka memperjelas pembaca akan isi dari makalah yang kami tulis. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Air atau Definisi Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Secara umum pengertian dari pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang termasuk di dalamnya yaitu bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga kehutanan. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Negeri Indonesia adalah sebagai petani, sehingga sektor pertanian sangat penting untuk dikembangkan di negara kita.BentukBentuk Pertanian Di Indonesia :

4 1. Sawah Sawah adalah suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan memerlukan banyak air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut. 2. Tegalan Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian. 3. Pekarangan Perkarangan adalah suatu lahan yang berada di lingkungan dalam rumah (biasanya dipagari dan masuk ke wilayah rumah) yang dimanfaatkan / digunakan untuk ditanami tanaman pertanian. 4. Ladang Berpindah Ladang berpindah adalah suatu kegiatan pertanian yang dilakukan di banyak lahan hasil pembukaan hutan atau semak di mana setelah beberapa kali panen / ditanami, maka tanah sudah tidak subur sehingga perlu pindah ke lahan lain yang subur atau lahan yang sudah lama tidak digarap. METODE PENELITIAN Dengan menganalisis masalah sumber daya air untuk lahan pertanian di lingkungan sekitar. Masalah – masalahnya seperti adanya gejala krisis air, degradasi sumberdaya air, konflik akibat persaingan yang semakin tajam antar pengguna air, menyusutnya lahan pertanian beririgasi akibat alih fungsi, kurang jelasnya ketentuan hak penguasaan air, lemahnya koordinasi antar instansi dalam menangani sumberdaya air, kelemahan dalam kebijaksanaan sumberdaya air. HASIL DAN PEMBAHASAN Berbagai permasalahan sumberdaya air antara lain adalah sebagai berikut:

1. Adanya Gejala Krisis Air Gejala krisis air rupanya sudah mulai nampak dewasa ini. Krisis air dapat diukur dari Indeks Penggunaan Air (IPA) yaitu rasio antara penggunaan dan ketersediaan air. Semakin tinggi angka IPA semakin memprihatinkan ketersediaan air di suatu wilayah.

5 Apabila angka IPA berkisar antara 0,75–1,0 maka dikatakan keadaan “kritis”.Jika lebih dari 1,0 maka suatu wilayah dikatakan “sangat kritis” atau defisit air, sedangkan jika IPA -nya berkisar antara 0,30 – 0,60 tergolong “normal” dari segi ketersediaan air . Pada tahun 2000 diperkirakan Jawa, Madura dan Bali sudah termasuk kategori “sangat kritis” karena untuk Jawa dan Madura diduga mempunyai IPA sebesar 1,89 dan Bali 1,13. Nusa Tenggara Barat tergolong dalam keadaan “kritis” dengan IPA 0,92. Di daerah-daerah lain kecuali Nusa Tenggara Timur ( dengan IPA sekitar 0,73) kondisinya relatif masih baik karena mempunyai IPA di bawah 0,50 ( Osmet, 1996; dan Sugandhy, 1997). Terjadinya krisis air dapat dipicu oleh sikap dan prilaku masyarakat yang cenderung boros dalam memanfaatkan air karena air sebagai milik umum (common property) dianggap tidak terbatas adanya dan karenanya dapat diperoleh secara cuma-cuma atau gratis. Padahal, air sebagai sumberdaya alam, adalah terbatas jumlahnya karena memiliki siklus tata air yang relatif tetap. Ketersediaan air tidak merata penyebarannya dan tidak pernah bertambah. Selain itu tingkat efisiensi pemanfaatan air melalui jaringan irigasi yang masih rendah kiranya dapat menjadi kendala dalam upaya menurunkan IPA. Diperoleh informasi bahwa dari penelitian di berbagai negara Asia kurang lebih 20% air irigasi hilang di perjalanan mulai dari dam sampai ke jaringan primer; 15 % hilang dalam perjalanannya dari jaringan primer ke jaringan sekunder dan tersier; dan hanya 20% yang digunakan pada areal persawahan secara tidak optimal. Diperkirakan tingkat efisiensi jaringan irigasi hanya sekitar 40% (Yakup dan Nusyirwan, 1997). Sebagai akibat dari persaingan dalam pemanfaatan air akan semakin tajam pada masamasa 2. Degradasi Sumberdaya Air Keluhan-keluhan disertai protes oleh masyarakat tentang adanya pencemaran air telah bermunculan di beberapa tempat sebagai akibat adanya limbah industri termasuk limbah dari industri pariwisata seperti hotel dan restoran. Kecenderungan menurunnya kualitas air akan meningkat seiring dengan meningkatnya perkembangan industri yang mengeluarkan limbah, pertumbuhan perumahan secara eksponensial dan pertambahan penggunaan bahan-bahan organik sintetis. Di Bali misalnya pemerhati lingkungan telah mendesak pihak hotel untuk melakukan program penanggulangan limbah karena akumulasi limbah hotel dan rumah tangga di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar diyakini sudah tergolong memprihatinkan yaitu telah mencapai 24%, sedangkan pencemaran air sungai di seluruh Bali secara umum mencapai 7% (Bali Post, Kamis 12 April 2001). Intrusi air laut juga telah terjadi di beberapa tempat karena eksploitasi yang berlebihan terhadap

3. Menyusutnya Lahan Pertanian Beririgasi Akibat Alih Fungsi Alih fungsi lahan pertanian untuk tujuan non-pertanian merupakan proses yang tidak terhindarkan. Hal ini disebabkan karena adanya ledakan jumlah penduduk yang menunutut pertambahan pemukiman , transportasi, pembangunan industri dan berbagai

6 prasarana fisik untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia modern yang semuanya itu niscaya membutuhkan tanah. Misalnya selama kurun waktu 1984-1990 di Jawa Barat telah terjadi alih fungsi lahan sawah untuk non-pertanian seluas 27.768 ha atau rata-rata 5.554 ha per tahun. Selanjutnya di Jawa dan Bali, selama periode 1981- 1986 luas lahan sawah yang telah beralih fungsi mencapai 224.184 ha dengan rata-rata37.364 ha / tahun. Dari sawah seluas 224.184 ha itu 55,77% masih dipergunakan sebagai lahan pertanian sedangkan sisanya sebanyak 44,23 % dialih -fungsikan ke non-pertanian (Nasoetion dan Winoto, 1996 ). Hasil penelitian JICA seperti dikutip oleh Kurnia, dkk (1996) menunjukkan bahwa mulai tahun 1991 sampai tahun 2020 diperkirakan konversi lahan beririgasi di seluruh Indonesia akan mencapai 807.500 ha ( untuk Jawa sekitar 680.000 ha; Bali 30.000 ha; Sumatera 62.500 ha dan Sulawesi 35.000 ha ). Khusus untuk Bali, dalam beberapa tahun belakangan ini areal persawahan yang telah beralih fungsi diperkirakan mencapai 1.000 ha per tahun. Penciutan lahan sawah ini sungguh pesat, lebih-lebih di sekitar kota karena dipicu oleh harga tanah yang meroket, sehingga pemilik sawah tergoda untuk menjual sawahnya. Alih fungsi lahan sawah beririgasi ke nonpertanian merupakan proses yang bersifat irreversible atau tidak dapat balik.Alih fungsi lahan cenderung diiringi dengan perubahan-perubahan orientasi ekonomi,sosial,budaya ,dan politik masyarakat yang umumnya juga bersifat irreversible (Nasoetion dan Winoto. 1996). Khusus untuk kasus di Bali, jika penyusutan areal sawah beririgasi terus berlanjut ,dikhawatirkan organisasi subak yang merupakan warisan leluhur dan sudah terkenal sampai ke manca negara akan terancam punah. Kalau subak hilang, apakah kebudayaan Bali tidak akan mengalami degradasi karena diyakini bahwa subak bersama lembaga tradisional lainnya seperti banjar dan desa adat merupakan tulang punggung kebudayaan Bali. Selain dari pada itu yang tidak kalah memprihatinkannya adalah jika sawah beririgasi sudah tidak ada lagi maka lenyap pula fungsi sawah sebagai pengendali banjir dan pelestarian lingkungan ( flood control and environment preservation). Banjir yang terjadi di beberapa kota besar di Jepang seperti Ichikawa di Propinsi Chiba, Soka di Propinsi Saitama dan Ueno di Propinsi Mie menurut Nagata (1991) disebabkan karena menciutnya areal persawahan di sekitar kota-kota tersebut. Pemerintah setempat telah berusaha keras menanggulangi masalah banjir itu melalui berbagai program, diantaranya program drainase, dan program pemberian subsidi untuk memperlambat proses alih fungsi sawah beririgasi. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air, apabila alih fungsi sawah terjadi di bagian hulu atau tengah dari sistem irigasi, maka pemilik sawah di bagian hilir akan terkena dampaknya yakni berupa pengurangan air secara langsung karena dimanfaatkan untuk kepentingan lain atau bisa sama sekali tidak lagi memperoleh air jika alih fungsi tersebut sampai merusak saluran dan bangunan irigasi yang ada (Kurnia, dkk. 1996).

Saran – saran kebijaksanaan Menyimak berbagai permasalahan yang berkaitan dengan sumberdaya air seperti terurai di atas, maka diperlukan langkah-langkah kebijaksanaan yang meliputi:

7 1. Pelestarian dan Perlindungan Sumberdaya Air Pelestarian dan perlindungan sumberdaya air untuk menjamin keberlanjutan tata air dan pada akhirnya juga keberlanjutan pertanian perlu lebih ditingkatkan. Beberapa cara dapat ditempuh seperti misalnya: (1) Pelaksanaan analisa dampak lingkungan bagi proyek-proyek pembangunan atau investasi. Proyek yang secara potensial dapat mengganggu kelestarian sumberdaya air agar secara tegas dilarang atau dihentikan. (2) Penerapan aturan siapa yang melakukan pencemaran dialah yang harus menanggung beban biaya penanggulangan pencemaran tersebut (polluters pay principle ) dan kepada pelakunya juga harus dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku. (3) Pengendalian pencemaran atas mutu sumberdaya air dengan cara antara lain: (a) pengolahan air tercemar pada badan-badan air seperti sungai dan danau; (b) pengolahan air limbah pada sumber-sumber tercemar seperti pabrik dan pemukiman; dan (c) pengembangan teknologi pengendalian pencemaran (4) Penerapan teknologi irigasi air limbah. Irigasi air limbah adalah suatu metode pengolahan air limbah yang dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Teknologi ini telah berkembang pesat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Israel dan bahkan India (Asmanto, 1993). (5) Rehabilitasi kerusakan daerah hulu sungai (daerah tangkapan). Kerusakan daerah hulu sangat fatal karena dapat mengakibatkan banjir. Adanya erosi karena penggundulan hutan di daerah hulu berakibat pengendapan lumpur pada waduk dan bangunan irigasi. 2. Perencanaan dan Pelaksanaan Program Hemat Air Gerakan Hemat Air yang telah dicanangkan oleh pemerintah sejak tanggal 16 Oktober 1994 perlu ditindak lanjuti dengan perencanaan dan pelaksanaan program hemat air sehingga menjadi lebih operasional guna mencegah terjadinya krisis air di masa depan. Program-program yang relevan antara lain kampanye secara nasional tentang arti pentingnya penghematan air; penyusunan peraturan dan kebijakan yang secara eksplisit mengatur hemat air; penerapan teknologi yang lebih efisien dalam pemanfaatan air; dan penerapan tehnik budidaya tanaman yang dapat menghemat air. 3. Pengendalian Alih Fungsi Lahan Beririgasi Guna menghindari berbagai kerugian dan dampak negatif dari alih fungsi lahan maka daerahdaerah yang telah memiliki Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) perlu memberlakukan RUTR itu secara ketat dan konsisten. Bagi daerah-daerah yang belum memilikinya, agar menyusun RUTR dengan memasukkan potensi dan kebutuhan air pada wilayah yang bersangkutan. Selanjutnya RUTR yang telah disepakati agar disosialisasikan kepada masyarakat dan para perancang dan pelaku program pembangunan. Upaya-upaya lain yang perlu dilakukan dalam rangka pengendalian alih fungsi lahan selain penyusunan dan pemberlakuan RUTR secara tegas adalah: (1) Penetapan mekanisme ganti rugi aset negara dan masyarakat yang terkena alih fungsi misalnya fasilitas irigasi yang tidak dapat berfungsi lagi; dan ganti rugi bagi petani karena air irgasinya terputus.

8 (2) Berbagai peraturan dan perundangan yang telah dibuat oleh pemerintah dalam upaya pengendalian alih fungsi lahan agar benar-benar ditegakkan secara konsekuen dengan sanksi yang tegas tanpa pandang bulu terhadap siapa saja yang melanggar. (3) Jika diizinkan akan ada alih fungsi maka organisasi P3A beserta PU Pengairan perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan guna menghindari timbulnya konflik di belakang hari. KESIMPULAN Beberapa masalah sumberdaya air telah diidentifikasi dan dibahas secara singkat. Permasalahan tersebut antara lain: (1) adanya gejala krisis air; (2) meningkatnya konflik akibat persaingan pemanfaatan air yang semakin tajam; (3) menurunnya kualitas sumberdaya air; (4) menyusutnya lahan pertanian beririgasi akibat alih fungsi; (5) tidak jelasnya ketentuan hak atas air; (6) lemahnya koordinasi antar departemen dalam menangani sumberdaya air; dan (7) adanya beberapa kelemahan dalam kebijaksanaan sumberdaya air. Guna mengatasi permasalahan tersebut di atas, diperlukan langkah-langkah kebijaksanaan yang kiranya perlu ditempuh oleh para pengambil keputusan yaitu antara lain sebagai berikut: (1) peningkatan upaya-upaya pelestarian dan perlindungan sumberdaya air; (2) (2) perencanaan dan pelaksanaan program hemat air; (3) pembuatan peraturan dan ketentuan hak guna air; (4) pengendalian alih fungsi lahan pertanian beririgasi; (5) pembentukan suatu lembaga tingkat nasional untuk mengatur dan menguru sumberdaya air; dan (6) penyesuaian kebijaksanaan sumberdaya air. DAFTAR PUSTAKA

Atmanto, Sudar Dwi., 1993. “ Pertanian dan Irigasi Air Limbah.”, dalam Irigasi Petani No.11/V/1993.hlm. 1-3, Jakarta: Pusat Studi dan Pengembangan Irigasi (PSPI), LP3ES. Helmi., 1997. “ Kearah Pengelolaan Sumberdaya Air yang Berkelanjutan: Tantangan dan Agendauntuk Penyesuaian Kebijaksanaan dan Birokrasi di Masa Depan”. Dalam VISI IrigasiIndonesia Nomor 13 (7) 1997.hlm. 3-12, Jakarta: Pusat Studi Irigasi Universitas Andalas.

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->