P. 1
ian Kualitas Udara Dengan Penggunaan Bahan Bakar Bensin Tanpa Timbal (Pb)

ian Kualitas Udara Dengan Penggunaan Bahan Bakar Bensin Tanpa Timbal (Pb)

|Views: 499|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhammad Sadiqul Iman on Feb 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2013

pdf

text

original

1

Pengelolaan Kualitas Lingkungan

PENGENDALIAN KUALITAS UDARA DENGAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BENSIN TANPA TIMBAL (PB)

Dosen Pembimbing Nopi Stiyati P, S.Si, MT.

Oleh Agustina Budi Astuti H1E108051

DEPARTEMAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULAS TEKNIK PROGRAM S-1 TEKNIK LINGKUNGAN BANJARBARU 2009

2

ABSTRAK In Indonesia, approximately 70% of air pollution caused by motor vehicle emissions. Motor vehicles out harmful substances which can have negative impacts both on human health or the environment, such as lead / lead (Pb), suspended particulate matter (SPM), oxides of nitrogen (NOx), hydrocarbons (HC), carbon monoxide (CO), and photochemical oxides (Ox). reduction of air pollution can be done by reducing the pollutants with the tools, change the pollutant, pollutants and dissolved pollutants mendispersikan Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). penanggulangan pencemaran udara dapat dilakukan dengan cara mengurangi polutan dengan alat-alat, mengubah polutan, melarutkan polutan dan mendispersikan polutan. Key word: Timbal (Pb), kualitas udara

PENDAHULUAN Latar Belakang Udara merupakan campuran beberapa macam gas yang perbandingannya tidak tetap, tergantung pada keadaan suhu udara / tekanan udara dan lingkungan sekitarnya. Udara adalah juga atmosfer yang berada disekeliling bumi yang berfungsi sangat penting bagi kehidupan didunia ini. Dalam udara terdapat oksigen (O2) untuk bernapas, karbondioksida untuk proses fotosintesis oleh khlorofil daun dan ozon (O3) untuk menahan sinar ultra violet. Gas-gas lain yang terdapat dalam udara antara lain gas-gas mulia, nitrogen oksida, hidrogen, methana, belerang dioksida, amonia dan lain-lain. Apabila susunan udara menglami perubahan dari susunan keadaan normal seperti tersebut diatas dan kemudian mengganggu kehidupan manusia, hewan dan binatang, maka udara telah tercemar. Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Proses penurunan kualitas lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh masuknya zat pencemar ke dalam lingkungan udara tersebut, baik alami (seperti: kebakaran hutan oleh teriknya matahari, debu vulkanik, debu meteorit, pancaran

3

garam dari laut dan sebagainya) maupun akibat aktivitas manusia yang justru sering menimbulkan masalah (seperti pancaran gas beracun dari pemupukan pembasmian hama, asap rumah tangga, transportasi, produk sampingan dari industri dan sebagainya). Penanggulangan pencemaran udara tidak dapat dilakukan tanpa menanggulangi penyebabnya. Mempertimbangkan sektor transportasi sebagai kontributor utama pencemaran udara, maka sektor ini harus mendapat perhatian utama. WALHI menyerukan kepada pemerintah untuk memperbaiki system transportasi dengan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau oleh publik. Prioritas utama harus diberikan pada system transportasi massal dan tidak berbasis kendaraan pribadi. Selain itu WALHI juga menyerukan kepada pemerintah untuk segera memenuhi komitmennya untuk memberlakukan pemakaian bensin tanpa timbal. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas udara setelah di lakukan pengendalian pencemaran udara dengan penerapan penggunaan bahan bakar bensin tanpa timbal yang dilakukan di Kota Denpasar Bali yang rentan akan pencemaran udara oleh timbal karena merupakan kota wisata. Batasan Masalah Masalah yang dibahas akan dibatasi hanya pada penjelasan mengenai pengendalian pencemaran udara dengan menerapkan penggunaan bahan bakar bensin tanpa timbal. Metode Penulisan Penulisan makalah ini menggunakan metode yang berupa media online yang membantu penulis menyelesaikan isi dari tulisan ini.

TINJAUAN PUSTAKA Baku Mutu Kualitas Udara Kualitas udara ambien merupakan tahap awal untuk memahami dampak negatif cemaran udara terhadap lingkungan. Kualitas udara ambien ditentukan oleh: (1) kuantitas emisi cemaran dari sumber cemaran (2) proses transportasi, konversi dan penghilangan cemaran di atmosfer. Kualitas udara ambien akan menentukan dampak negatif cemaran udara terhadap kesehatan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat (tumbuhan, hewan, material dan lain-lainnya).

4

Baku mutu kualitas udara lingkungan/ambien ditetapkan untuk cemaran yaitu: O3 (ozon), CO (karbon monoksida), NOX (nitrogen oksida), SO2 (sulfur oksida), hidrokarbon non-metana, dan partikulat. Baku Mutu Kualitas Udara Nasional Amerika yang telah dikaji oleh National Academics of Science and Environmental Protection Agency (NEPA) menetapkan baku mutu primer dan baku mutu sekunder.
Tabel 1. Baku Mutu Kualitas Udara Nasional (USA)

Baku mutu primer ditetapkan untuk melindungi pada batas keamanan yang mencukupi (adequate margin safety) kesehatan masyarakat dimana secara umum ditetapkan untuk melindungi sebagian masyarakat (15-20%) yang rentan terhadap pencemaran udara. Baku mutu sekunder ditetapkan untuk melindungi kesejahteraan masyarakat (material,tumbuhan, hewan) dari setiap efek negatif pencemaran udara yang telah diketahui atau yang dapat diantisipasi. Baku Mutu

5

Kualitas Udara Ambien Indonesia yang ditetapkan dengan mempertimbangkan dan mengacu baku mutu negara lain di antara Baku Mutu Kualitas Udara Ambien USA disajikan pada Tabel berikut. Tabel 2. Baku Mutu Udara Ambien (Indonesia)

Berdasarkan baku mutu kualitas udara ambien ditentukan baku mutu emisi berdasarkan antisipasi bahwa dengan emisi cemaran dibawah baku mutu dan adanya proses transportasi,konversi, dan penghilangan cemaran maka kualitas udara ambien tidak akan melampaui baku mutunya. Pencemaran Udara Pencemaran udara dapat didefinisikan sebagai adanya satu atau lebih kontaminan seperti debu, asap, gas, kabut, dan uap air pada udara bebas, dalam jumlah, kuantitas, karakterisitik dan durasinya membahayakan manusia, tumbuhan, dan hewan, ataupun material fisik, atau yang dapat mengganggu kenyamanan hidup. Prediksi dampak adalah kajian lebih spesifik apabila dibandingkan dengan identifikasi dampak, karena pada prediksi dampak penyusun AMDAL harus dapat menunjukkan dampak yang muncul dengan lebih jelas. Hal ini akan menjadi lebih baik apabila dampak yang muncul dapat dikuantifikasi. Tidak semua dampak yang muncul dapat di kuantifikasi, tetapi untuk komponen fisik-kimia biasanya tidak terlalu sulit untuk dikuantifikasi. Zat pencemar udara sangat dipengaruhi sifat bahan baku dan bahan penolong. Sebagai contoh, minyak bumi pada umumnya didapat dalam keadaan tidak murni artinya mengandung bahan ikutan seperti Sulfur, Nitrogen, dan lain sebagainya, sehingga didalam proses pengilangan sering teremisi zat pencemar udara seperti SO2, H2S, NOx dan sebagainya. Begitu pula dengan bahan penolong, sebagai contoh pada pabrik gula yang mempergunakan proses sulfitrasi seringkali limbahnya berbau busuk karena mengandung gas H2S, karena pada proses tersebut digunakan bahan penolong Sulfur. Contoh lain, bensin yang diberi anti knock TEL (tetraethyl lead) sebagai bahan penolong agar mesin tidak lekas rusak, maka emisi gas knalpotnya akan mengandung lead. Jadi jenis zat pencemar yang diemisikan sangat tergantung pada bahan ikutan yang terdapat didalam bahan baku tersebut.Untuk memperkirakan kuantitas gas yang diemisikan dapat

6

mempergunakan performance factor atau faktor emisi yang dapat diperoleh dari pustaka yang ada. Lazimnya bahan bakar mengandung belerang, sehingga zat yang diemisikan ke udara juga mengandung SO2, selain itu karena proses pembakaran bahan bakar biasanya tidak sempurna maka sering kali diemisikan CO, aldehid serta sisa bahan bakar yang tidak ikut terbakar.Emisi zat pencemar tersebut dapat diperhitungkan dari sertifikat bahan bakar yang bersangkutan, atau dengan melakukan sampling pada emisi zat pencemar yang dibuang melalui cerobong asap. Untuk memperkirakan besarnya emisi zat pencemar dari kendaraan bermotor dapat mempergunakan data-data yang terdapat pada pustaka. Biasanya kuantitas zat pencemar yang diakibatkan kendaraan bermotor diperhitungkan berdasarkan kecepatan, jenis bahan bakar yang dipergunakan dan umur kendaraan yang bersangkutan. Dimensi zat pencemar yang diemisikan pada sumber stationer, seperti pada cerobong asap adalah kg/NM2, namun untuk sumber bergerak, seperti kendaraan bermotor, adalah kg/km panjang jalan. Sedangkan baku mutu yang dipergunakan berbeda satu sama lain. Kualitas udara disampaikan ke masyarakat dalam bentuk indeks standar pencemar udara atau disingkat ISPU. ISPU adalah laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara kita dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan kita setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam atau hari. Penetapan ISPU ini mempertimbangkan tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika. Berdasarkan Keputusan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor KEP-107/Kabapedal/11/1997, penyampaian ISPU kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media massa dan elektronika serta papan peraga di tempat-tempat umum. ISPU ditetapkan berdasarkan 5 pencemar utama, yaitu: CO, SO2, NO2, Ozon permukaan (O3), dan partikel debu (PM10). Agar lebih mudah dipahami ISPU dapat dibayangkan seperti penggaris angka 1 hingga 1000. Semakin tinggi nilai ISPU maka semakin tinggi tingkat pencemaran dan semakin berbahaya dampaknya terhadap kesehatan. Sebagai contoh, ISPU 30 menunjukkan kualitas udara baik dan tidak ada dampak yang berbahaya terhadap kesehatan. Ketika kondisi ISPU di bawah 100 dipandang tidak berbahaya terhadap masyarakat secara umum. Namun ketika ISPU beranjak melebihi 100 maka pertama-tama kelompok masyarakat yang sensitif seperti penderita asma dan anak-anak serta orang dewasa yang aktif di luar ruangan, akan paling awal merasakan dampak kualitas udara yang tidak sehat. Sejalan dengan meningkatnya ISPU maka akan semakin banyak yang merasakan dampak, hingga akhirnya seluruh masyarakat akan menderita karena dampak kesehatan yang terjadi. Pencemaran Udara Oleh Timbal Padatnya kendaraan angkutan umum, simpang siur dan kemacetan lalu lintas, adalah pemandangan sehari-hari jalan raya. Hiruk pikuknya pemakai jalan raya tersebut berebut jalur tak terkecuali di jalan ” bebas hambatan” yang selalu macet pada jam sibuk . Kemacetan rutin ini tidak hanya membuang percuma

7

jutaan uang bensin di jalanan, akan tetapi juga mempertebal pencemaran udara, akibat gas buang kendaraan bermotor. Bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia sampai saat ini nyaris semua masih mengandung konsentrasi timbal yang lebih tinggi dari ukuran minimum internasional. Menurut spesifikasi resmi Ditjen Migas, kandungan maksimum timbal dalam bahan bakar yang diizinkan adalah 0,45 gram perliter. Sementara, menurut ukuran internasional, ambang batas maksimum kandungan timbal adalah 0,15 gram per liter. Timbal, atau Tetra Etil Lead (TEL) yang banyak pada bahan bakar terutama bensin, diketahui bisa menjadi racun yang merusak sistem pernapasan, sistem saraf, serta meracuni darah. Penggunaan timbal dalam bahan bakar semula tak lain tak bukan adalah untuk meningkatkan oktan bahan bakar. Penambahan kandungan timbal dalam bahan bakar, dilakukan sejak sekitar tahun 1920-an oleh kalangan kilang minyak. Tetra Etil Lead (TEL), selain meningkatkan oktan, juga dipercaya berfungsi sebagai pelumas dudukan katup mobil (produksi di bawah tahun 90-an), sehingga katup terjaga dari keausan, lebih awet, dan tahan lama. Penggunaan timbal dalam bensin lebih disebabkan oleh keyakinan bahwa tingkat sensitivitas timbal tinggi dalam menaikkan angka oktan. Setiap 0,1 gram timbal perliter bensin, menurut ahli tersebut mampu menaikkan angka oktan 1,5 samapai 2 satuan. Selain itu, harga timbal relatif murah untuk meningkatkan satu oktan dibandingkan dengan senyawa lainnya. Penggunaan timbal juga dapat menekan kebutuhan senyawa aromatik, sehingga proses produksi relatif lebih murah dibandingkan memproduksi bansin tanpa timbal. Pencemaran udara merupakan permasalahan yang rumit, karena menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik fisik, sumber emisi zat pencemar (macam sumber, laju pencemaran, kecepatan dan tinggi emisi, elemen iklim yang mempengaruhi penyebaran zat pencemar di lokasi di mana zat pencemar diemisikan maupun kondisi iklim lokal di daerah penerima pencemaran udara). Polusi udara dapat disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu antara lain oleh industri, alat transportasi, power plant, aktivitas rumah tangga dan perkantoran. Diantara sumber polutan tersebut kendaraan bermotor merupakan sumber polutan terbesar, dimana pada kota besar 98 % polutan udara berasal dari kendaraan bermotor. Pb sebagai gas buang kendaraan bermotor dapat membahayakan kesehatan dan merusak lingkungan. Pb yang terhirup oleh manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan kemudian ditabung da dalam darah. Bentuk Kimia Pb merupakan faktor penting yang mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb segara dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb organik diabsorbsi terutama melalui saluran pencernaan dan pernafasan dan merupakan sumber Pb utama di dalam tubuh. Tidak semua Pb yang terisap atau tertelan ke dalam tubuh akan tertinggal di dalam tubuh. Kira-kira 5-10 % dari jumlah yang tertelan akan diabsorbsi melalui saluran pencernaan, dan kira-kira 30 % dari jumlah yang terisap melalui hidung akan diabsorbsi melalui saluran pernafasan akan tinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi oleh ukuran partikel-partikelnya. Di dalam tubuh Pb dapat menyebabkan keracunan akut maupun keracunan kronik. Jumlah Pb minimal di dalam darah yang dapat menyebabkan keracunan berkisar antara 60-100 mikro

8

gram per 100 ml darah. Pada keracunan akut biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang larut dalam asam atau menghirup uap Pb tersebut. Gejalagejala yang timbul berupa mual, muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi otak, anemi berat, kerusakan ginjal bahkan kematian dapat terjadi dalam 1-2 hari. Kelainan fungsi otak terjadi karena Pb ini secara kompetitif menggantikan mineral-mineral utama seperti seng, tembaga, dan besi dalam mengatur fungsi mental kita. Melihat betapa besarnya dampak negatif oleh pencemaran timbal tersebut maka perlu mendapat perhatian khusus. Pada awal keracunan timbal biasanya tidak jelas, sehingga perlu pengukuran kandungan timbal dalam tubuh orang yang terpapar. Bila kadar timbal dalam darah sudah ditentukan maka dapat dilakukan terapi dengan kelator (suatu antagonis logam berat yang berkompetisi dengan gugus reaktif logam berat tersebut sehingga peningkatan pengeluaran logam dari tubuh dan mencegah/menghilangkan efek toksiknya). Menurut Umar Fahmi Achmad menyatakan pengendalian Pb yang merupakan sebagian dari gas buang kendaraan bermotor cukup sulit karena cukup banyak variabel yang mempengaruhinya di antaranya cara mengemudi, ketaatan perawatan, Kemacetan, banyaknya kendaraan pribadi, kendaraan dapat berpindahpindah, dan terkonsentrasi pada suatu wilayah. Untuk itu perlu dilakukan beberapa pendekatan antara lain : 1. Pendekatan Teknis 2. Pendekatan Planatologi, administrasi dan hukum 3. Pendekatan Edukatif METODE PENELITIAN Metode analisa sampel yang dipergunakan untuk masing-masing parameter adalah sebagai berikut: Debu dengan metode Gravimetri, Timbal (Pb) dengan menggunakan metode Dithizon, Karbon monoksida (CO) dengan iodium pentoksida, Belerang Dioksida (SO2) dengan menggunakan metode West Gueka, dan Nitrogen Dioksida (NO2) dengan menggunakan metode Saltzman. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk mengetahui peningkatan kualitas udara Kota Denpasar pasca pemberlakuan bensin tanpa timbal (Pb) untuk kehidupan meliputi upaya pengukuran dan pemantauan kualitas udara. Sampel yang telah diambil (data primer) di tiap-tiap lokasi akan dianalisis di laboratorium dan hasil analisis dibandingkan dengan baku mutu udara ambien. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di lapangan dan di laboratorium, diperoleh hasil sebagai berikut: a. Debu Untuk parameter kualitas udara yaitu debu total, dari hasil analisis pengujian kualitas udara terlihat bahwa konsentrasinya pada empat lokasi pengambilan

9

sampel ternyata konsentrasi parameter debunya semua berada diatas standart baku mutu lingkungan yang di perbolehkan. Adanya kandungan debu dalam atmosfer/udara ambient sebagian besar disebabkan karena kontribusi zat pencemar partikulat yang bersumber dari kendaraan bermotor, mengingat semua lokasi pengambilan sampel yang berada ditepi jalan utama pusat kota yang banyak dilalui oleh kendaraan bermotor terutama kendaraan besar. Sebagian besar partikel halus ini berasal dar senyawa sulfur dan senyawa nitrogen yang dalam selang waktu beberapa jam atau beberapa hari berubah dari gas menjadi padat. b. Timbal (Pb)

Untuk parameter timbal (Pb), dari 4 lokasi pengambilan sampel konsentrasi timbalnya menunjukan nilai dibawah standar baku mutu lingkungan yang diijinkan yaitu sebesar 2 μg/m3. Adanya konsentrasi dari timbal di udara merupakan kontribusi dari gas buang kendaraan bermotor yang dalam bahan bakarnya terutama bensin masih mengandung timbal walaupun kecil sekali kandungannya dalam bahan bakar (0,014 μg/m3), karena sifat dari gas timbale adalah bersifat akumulatif (kurniawan, 2001). Logam berat yang berwarna kelabu keperakan dan sangat beracun yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. Peningkatan kandungan Pb dalam darah akan dapat menyebabkan orang merasa pusing-pusing, mual bahkan muntah, dan pada ibu hamil akan dapat mengakibatkan keguguran. c. Karbondioksida

Konsentrasi gas karbon monoksida (CO) pada ke-4 lokasi sampling semuanya masih berada dibawah standar baku mutu yang diperbolehkan yaitu 30.000 μg/m3. Adanya konsentrasi gas Karbon Monoksida di udara ambien lebih banyak disebabkan dari kontribusi asap kendaraan bermotor yang banyak melintas di lokasi sampling. Menurut kurniawan (2001), sebagian besar gas CO yang ada di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor (80%) dan ini menunjukkan korelasi yang positif dengan kepadatan lalu lintas dan kegiatan lain yang ikut sebagai penyumbang gas CO di atmosfer. Pada bahan bakar yang mengandung karbon (seperti bensin dan solar) terbakar dengan tidak sempurna maka akan menghasilkan suatu senyawa berupa gas yang tidak bewarna dan tidak berbau yang sering kita kenal dengan sebutan gas CO (karbon monoksida). Selain dari asap kendaraan bermotor sumber pencemar lain terhadap gas CO ini adalah hasil pembakaran sampah pertanian dan pembakaran limbah padat lainnya. Dampak dari peningkatan kadar CO dalam darah akan dapat mengikat kadar oksogen dalam darah dan dapat mengurangi pasokan oksigen keseluruh tubuh yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan rasa pusing bahkan pingsan.
d.

Sulfur Dioksida (SO2)

Parameter kimia lainnya adalah Sulfur Dioksida, dari hasil analisis sampel udara terlihat bahwa konsentrasi gas SO2 di keempat lokasi sampling masih di bawah standar baku mutu lingkungan yaitu 900 μg/m3. Gas sulfur dioksida ini

10

terbentuk ketika sulfur bubuk berwarna kuning keemasan yang terdapat dalam batu bara dan bahan bakar terbakar. Sumber lain dari gas sulfur dioksida ini selain asap kendaraan bermotor adalah dari pemanasan dalam rumah tangga dan pembakaran sampah/arang kayu. Setelah berjam-jam atau berhari-hari tercampur di udara, sulfur dioksida ini membentuk partikel yang amat halus yang disebut sulfat dan dapat menembus bagian terdalam paru-paru dan bercampur dengan air didalam paru-paru membentuk asam belerang, tetapi bila diudara sulfat ini akan bereaksi dengan air diatmosfer dan akan mengakibatkan terjadinya hujan asam. Selain pengaruhnya terhadap kesehatan manusia, Sulfur Dioksida juga berpengaruh terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO2 pada manusia. Pada tumbuh-tumbuhan sulfur dioksida berpengaruh terjadinya perubahan warna daun dari hijau dapat berubah menjadi kuning atau terjadi bercak-bercak putih pada daun tanaman.
e.

Nitrogen Dioksida (NO2)

Dari hasil analisis kualitas udara konsentrasi gas nitrogen dioksida (NO2) di keempat lokasi pengambilan sampel masih berada dibawah standar baku mutu lingkungan yaitu sebesar 400 μg/m3. Adanya konsentrasi gas nitrogen dioksida di udara selain disebabkan dari asap kendaraan bermotor/transportasi (sebesar 39,3%) juga dari proses pembakaran sampah, arang kayu dan pembakaran gas alam. Konsentrasi NO2 di udara dalam suatu tempat suatu tempat bervariasi sepanjang hari tergantung dari sinar matahari dan mobilitas kendaraan dan aktivitas penduduknya. Dari perhitungan kecepatan emisi NOx diketahui bahwa waktu tinggal rata-rata NO2 di atmosfer kira-kira adalah 3 hari, sedangkan waktu tinggal NO adalah 4 hari, dan gas ini bersifat akumulasi di udara yang bila bercampur dengan air akan menyebabkan terjadinya hujan asam.

Penggulangan Peningkatan Kebisingan dan Penurunan Kualitas Udara

Terkait akan hasil penelitian diatas terhadap kebisingan dan kualitas udara, secara keseluruhan dapat dilakukan beberapa cara untuk pencegahan dan penanggulangan kebisingan dan penurunan kualitas udara yaitu: 1. 2. 3. 4. Melakukan pengaturan arus lalu lintas agar tidak terlalu padat atau menumpuk pada satu jalur padat Membuat pedestarian pada jalur lalu lintas yang padat. Melakukan pengaturan jam kerja yang berbeda masing-masing instansi sehingga tidak terjadi kepadatan lalu lintas pada jam-jam tertentu saja. Untuk Dinas Perhubungan, perlu dilakukan pengujian asap yang ketat terhadap semua kendaraan umum dan pribadi serta pembatasan umur kendaraan yang layak operasi maksimal 10 tahun dari tahun produksi.

11

KESIMPULAN

Dari hasil pengukuran terhadap kualitas lingkungan untuk komponen udara, hasil analisis laboratorium secara menyeluruh untuk semua parameter-parameter di wilayah pemerintah kota Denpasar dapat disimpulkan bahwa:
1.

Kualitas udara di Kota Denpasar untuk parameter kualitas udara yaitu debu total, konsentrasinya di udara ambient sudah melebihi standar baku mutu lingkungan untuk semua lokasi sampling di Kota Denpasar, sedangkan untuk parameter lainnya yaitu: Timbal (Pb), Carbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), dan Nitrogen Dioksida (NO2), konsentrasi gas-gas tersebut masih dibawah standar baku mutu lingkungan. Konsentrasi gas-gas polutan pada hari-hari tertentu, terjadi perbedaan yang signifikan, hal ini disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan roda empat yang beroperasional dan kendaraan bermotor lainnya yang ada di Kota Denpasar (0,1%). Perlu dilakukan kegiatan-kegiatan pencegahan dan penanggulanagan secara myeluruh oleh pemerintah Kota Denpasar dan masyarakat untuk mengurangi peningkatan kebisingan dan penurunan kualitas udara Kota Denpasar.

2.

3.

DAFTAR PUSTAKA

Agung Gede Sugiarta. 2008. Dampak Bising dan Kualitas Udara Pada Lingkungan Kota Denpasar http:// pdf-search-engine.com/jurnal-pencemaran udara.pdf.html diakses tanggal: 13 Maret 2010 Adolf Leopold. 2008. Metode Prediksi Komponen Kualitas Udara http://Adolf Leopold’s.blogspot.com diakses tanggal: 15 Maret 2010 Anonim 1. 2009. Polusi Udara http:// www.wikipedia.com diakses tanggal: 13 Maret 2010 Bushido. 2007. ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) http:// www.wordpress.com diakses tanggal: 15 Maret 2010

12

Devi Nurani Santi. 2001. Pencemaran Udara Oleh Timbal (Pb) Serta Penanggulangannya http://pdf-search-engine.com/jurnal-pencemaran udara.pdf.html diakses tanggal: 16 Maret 2010 Supani Setyawati Rahayu, 2009. Pencemaran Udara Ambient http://www.chem-is-try.org diakses tanggal: 15 Maret 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->