BUDAYA NUSANTARA

KEBUDAYAAN BALI

Disusun oleh:

I Gede Yudi Paramartha (18) I Made Adi Primanta (19) I Wayan Primadyantara (20) Nur Aini (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata (island God/island Paradise) merupakan salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Bedugul, Ubud, Sukawati, Lovina, dan lain lain merupakan tempat wisata yang terkenal di Bali. Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, tetapi kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Selain itu, kebudayaan Hindu yang sudah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3'40" - 8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" - 115°42'40" Bujur Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut: • • • • Utara : Laut Bali Timur : Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) Selatan : Samudera Indonesia Barat : Selat Bali (Propinsi Jawa Timur)

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. • Tabel Luas Wilayah Tiap Kabupaten di Provinsi Bali

Kabupaten/Ko Ibukota ta Jembrana Tabanan Badung Denpasar Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Buleleng Jumlah Negara Tabanan Badung Denpasar Gianyar Semarapura Bangli Amlapura Singaraja

Luas (km²) 841,80 839,30 420,09 123,98 368,00 315,00 520,81 839,54 1.365,88 5.634,40

Persentas e (%) 14,94 14,90 7,43 2,20 6,53 5,59 9,25 14,90 24,25 100,00

Sumber: Master Plan Penunjang Investasi Provinsi Bali Tahun 2006-2010

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam

Pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu 4.189 ha. dsb. dalam upacara agama. Dalam bahasa Bali kaja berarti ke gunung dan kelod berarti ke laut. Pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal 6. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit dan daerah-daerah di bagian selatan Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Pura Batukau. Klungkung). yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Perbedaan ini tidak hanya tampak pada penunjukan arah dalam bahasa Bali. Buyan. dan terutama Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. Tamblingan dan Danau Batur.(15-40%) seluas 190. Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali. Pegunungan tersebut mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk.486 ha. yaitu: 1. Kedua arah tersebut sama baik di Bali Utara maupun Bali Selatan. Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Besarnya arti dari konsep kaja-kelod dalam masyarakat Bali tampak pula dalam kehidupan sehari-hari. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan sedikit bahasa. Arah membujur dari pegunungan tersebut menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali Utara dan Bali Selatan. Gianyar. dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132. Pada satu status sosial atas dasar warna 5. letak susunan rumah kuil. Masyarakat . Pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu 2. Hal ini berlaku sebaliknya untuk orang di daerah selatan. Badung. Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu 7. Berarti untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan dan kelod berarti utara. sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas 3. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. SEJARAH Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Di pegunungan tersebut terletak puri-puri (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali seperti Pura Pulaki.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya. Sulawesi dan Nusa Tenggara. merekalah yang akhirnya membentuk kultur Bali yang merupakan suatu bentuk sinkretisasi dari kultur Jawa klasik dengan banyak tambahan elemen Bali. gelombang ketiga dan terakhir juga datang dari Jawa sekitar abad ke15 dan 16. Orang Bali-Aga umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran. 1. ada juga orang Bali di bagian barat dari Pulau Lombok. Masa perundagian Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng . Sekarang ini komunikasi modern. masa konversi Islam di Pulau Jawa. maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita. yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Leluhur orang Bali masuk ke Bali dalam tiga periode: gelombang pertama adalah suku proto-Melayu yang datang dari Jawa dan Kalimantan pada zaman prasejarah. tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya. kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi: 1. serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut 3. Tigawasa di Kabupaten Buleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Kalimantan Tengah. Cempaga Sidatapa. para aristrokrat Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit melarikan diri dari ke Bali untuk menghindari pengkonversion Islam. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana 2. sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatra Selatan. Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. Kecuali di pulau Bali. gelombang kedua adalah migrasi sedikit demi sedikit dari Jawa pada zaman Hindu. Masa bercocok tanam 4. pendidikan. Pedawa. Masa Prasejarah Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali. Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. Kenyataannya memang leluhur suku Bali kebanyakan berasal dari Pulau Jawa.Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri.

Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran. kapak berimbas. mereka hanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti ambu. parasbaan. terutama dalam hal adat. Dan saat ngaben. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. mereka tidak berani menghias wadahnya dengan kertas. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding. dan kepala suku atau pimpinannya disebut dengan nama Jro Gede yang penunjukannya dilakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia tertua anggota persekutuan. kapas dan lain-lainnya. Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Manusia Bali keturunan Austronesia pada masa itu hidup berkelompok dan dipimpin secara kolektif oleh 16 Jro yang umumnya disebut dengan Sahing 16.Timur). belincung dan panarah batang pohon. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar. diantaranya adalah Pasek Taro. Kebudayaan Bali Mula masih melanjutkan tradisi bangsa Austronesia. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar yaitu goa Karang Boma. Memasuki Masa Sejarah . misalnya ngaben mereka terima tapi membakar mayat tidak. Goa ini terletak di pegunungan gamping di semenanjung Benoa. serut dan sebagainya. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. walaupun kedatangan kebudayaan agama Hindu. Persekutuan kepemimpinan tersebut masih ada sekarang dan tetap dipertahankan di desa-desa Bali Aga. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. Manusia Austronesia inilah yang menjadi leluhur sebagian orang Bali Mula. plawa dan sebagainya. 1. Pecatu (Badung). tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. lalu muncullah istilah beya tanem. tetapi mereka hanya menerima upacara dan upakaranya saja. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). dengan ketua kelompok yang kemudian disebut dengan Pasek Bali. Mereka yang dikelompokkan sebagai warga Bali Mula. padang-padang. dan di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam. yang kemudian membaur pada masa berikutnya dengan orang-orang yang datang dari luar Bali.

1. Masuknya Agama Hindu Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masamasa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata Walidwipa. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah panglapuan. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah pakiran-kiran i jro makabaihan. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya

dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja. 2. Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. 3. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460-1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). 4. Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil

ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

FILOSOFI MASYARAKAT

Panca Sradha Panca Sradha merupakan kepercayaan pokok masayarakat Hindu di Bali yang terdiri atas lima bagian, yaitu : 1. Brahman, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Atma, percaya kepada roh atau jiwa pada setiap makhluk hidup yang berasal dari percikan suci Tuhan 3. Karma Phala, percaya akan adanya hukum sebab akibat. Setiap perbuatan(karma) pasti akan mendatangkan akibat (pahala) 4. Samsara atau reinkarnasi, percaya akan adanya kehidupan/lahir kembali yang disebabkan karena adanya karma.

. Pengorbanan itu bisa berupa materi maupun berupa hal-hal imaterial. Orang Bali percaya bahwa kebahagiaan dalam kehidupan ini bisa terwujud apabila tercipta keselarasan dan keharmonisan antara manusia dengan tiga penyebab berikut ini a. Berdasarkan kepercayaan pokok inilah lahir ajaran-ajaran/filosofi lain sebagai implementasi dalam kehidupan. tujuan akhir makhluk hidup yaitu bersatunya kembali atma dengan brahman. Palemahan (alam lingkungan) Selain itu ada juga filosofi-filosfi lain yang mendasari setiap aspek kehidupan masarakat Bali. Bhuana AgungBhuana Alit. Orang Bali percaya bahwa manusia dan alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur yang sama. sedangkan bhuana alit adalah manusia. Konsep Rwa Bhineda mungkin mirip dengan konsep Yin dan Yang. Orang Bali percaya bahwa positf dan negatif itu selalu berjalan berdampingan. Rwa Bhineda. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan manusia mengganggu atau merusak alam yang tidak nyata karena bila terjadi dapat menyebabkan hal-hal yang tidak baik. Pikiran yang baik(Manachika Parisudha) b. Pawongan (sesama manusia0 c. suka dan duka adalah hal-hal yang selalu terjadi di dunia. Keseluruhan konsep di atas diwujudkan melalui pelaksanaan Yadnya. dan Tat twam asi. sudah sepatutnya manusia dan alam bekerja sama untuk saling menjaga kelangsungan kehidupan. hitam dan putih. Konsep skala-niskala menunjukkan bahwa orang Bali percaya akan adanya alam nyata (skala) dan alam tak nyata/tak kasat mata (niskala). Tinggal bagaimana manusia menyikapi hal-hal tersebut. Bhuana Agung berarti bumi atau alam semesta. Pembahasan mengenai yadnya akan ada pada bab berikutnya yang berkaitan dengan sistem adat dan religi. seperti konsep Skala-Niskala. antara lain 1. Oleh karena itu. yaitu: a. Tri Hita Karana Tri Hita Karana secara harfiah berarti tiga penyebab kebahagiaan. setiap perbuatan atau kegiatan yang dilaksanakan harus memperhatikan keselarasan antara alam nyata dengan tidak nyata.5. Moksa. Baik dan buruk. Perkataan yang baik (Wachika Parisudha) c. Jadi. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha berarti tiga macam tingkah laku yang patut disucikan. Pebuatan yang baik (Kayika Parisudha) 1. Yadnya berarti korban suci yang tulus ikhlas. Parahyangan (Tuhan Yang Maha Esa) b.

bunga dan hasil hutan seperti cengkih. maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen. dan kerbau. ukiran. ayam. Profesi ini banyak digeluti oleh masyakat yang terutama tinggal di daerah Gianyar dan Klungkung. Bali terkenal dengan pariwisatanya. Hasil ternak yang banyak dijumpai adalah babi. restauran. bebek. Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). guider. atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang . dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. Hasil ternak ini umumnya untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan upacara keagamaan. kacang-kacangan. buruh bangunan. Pertanian di Bali cukup bervariatif sesuai dengan keadaan geografis Bali yang beragam. dan sejenisnya. sapi. memasuki zaman global ini semakin banyak orang yang meninggalkan profes sebagai petani dan mulai beralih kepada profesi lainnya. Kegiatan beternak umumnya merupakan kegiatan sampingan.Mata Pencharian Sebanyak kira-kira 70% orang Bali menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. Sedangkan sisanya terdiri dari pedagang. mulai dari perhotelan. karyawan atau PNS. dan lain sebagainya. lukisan. Daya tarik pariwisata terutama berasal dari kebudayaan unik masyarakat sendiri yang ditunjang dengan alam yang indah. peternak. Bali terkenal dengan Subak sebagai organisasi untuk mengatur masalah pertanian. Kawasan Bali bagian selatan merupakan dataran rendah yang cocok untuk sawah padi. seperti irigasi dan hal-hal lainnya. Kawasan Bali Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan hawa yang dingin sehingga merupakan tempat yang cocok untuk perkebunan sayur. Orang Bali juga terkenal akan keahliannya dalam bidang seni sehingga ada banyak orang yang berprofesi sebagai pengrajian. perhiasan. buah. pengrajin. dan penjual cendramata. Akan tetapi. Selain itu. jagung. SISTEM KEKERABATAN Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. Hasil dari kerajinan ini antara lain patung. dan nelayan. Sehingga cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya dalam dunia pariwisata. karena dengan itu barulah ia dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat.

tunggal sanggah) di Bali itu adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama. dan antara seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya). seorang pemuda Bali itu dapat memperoleh seorang isteri dengan dua cara. Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen. tunggal dadia. Kedua cara itu berdasarkan adat. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah). Sesudah pernikahan. suami isteri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen. ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. ngidih) kepada keluarga seorang gadis. sudah menghilang. ngrorod). Orang-orang se-klen (tunggal kawitan. berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh). sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar-kasta yang berbeda derajatnya. Perkawinan pantang yang dianggap melanggar norma kesusilaan sehingga merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya. Pada umumnya. serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita tersebut. sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya. dan akhirnya lagi suatu kunjungan resmi dari keluarga si pemuda ke rumah orang tua si gadis untuk minta diri kepada ruh leluhurnya. yang umumnya bersifat exogam. dan demikian juga dalam kasta. tetapi rupa-rupanya adat ini terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya. dan secara fisik suami-isteri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama. upacara perkawinan (masakapan). dan pada waktu ini perkawinan campuran antar-kasta sudah relatif lebih banyak dilaksanakan. Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa seperti kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawini. Demikian. atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat. karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga. yaitu dengan cara meminang (memadik.dianggap sederajat dalam kasta. Lain bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki isteri (makedengan ngad). Dahulu apabila terjadi perkawinan campuran yang demikian. Semenjak tahun 1951. karena perkawinan yang demikian itu dianggap mendatangkan bencana (panes). walaupun tidak sedikit juga suami isteri baru yang menetap secara neolokal dan mencari atau membangun . hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi. antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya.

Dengan demikian. yang disebut kemulan taksu. Di desa-desa di pegunungan. keluarga-keluarga yang bersifat poligini ini hanya terbatas dalam lingkungan-lingkungan tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak. Salah satu dari anak laki-laki biasanya tetap tinggal di kompleks perumahan orang tua (ngerobin) untuk nanti dapat membantu orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya lagi dan untuk menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. sering ditambah dengan anak-anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan lain-lain orang yang menumpang. dan Rumah Tangga Akibat dari perkawinan adalah terbentuknya suatu keluarga batih. kalau seorang anak laki-laki sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mempu untuk berdiri sendiri. Di desa-desa di tanah datar. ia memisahkan diri dari rumah tangga orang tua dan mendirikan rumah dan rumah tangga sendiri yang baru (ngarangin). Keluarga Luas. Sebaliknya. sebenarnya suatu rumah tangga yang sudah tua terdiri dari suatu keluarga luas virilokal yang terdiri dari suatu keluarga batih senior dengan beberapa keluarga batih yunior yang hidup bersama dalam satu kompleks perumahan (uma) sebagai kesatuan yang formil. ada pula suatu adat perkawinan di mana suami isteri baru itu menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan lari si isteri (nyeburin).  Keluarga Batih. Karena poligini diijinkan. maka ada juga keluarga-keluarga batih yang sifatnya poligini. dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Struktur dari tunggal dadia ini berbeda-beda dipelbagai tempat di Bali. baik orang yang masih kerabat maupun yang bukan kerabat (pembantu rumah tangga dan lain-lain). dan bentuk keluarga batih ini tergantung pula dari macam perkawinan itu.rumah baru. Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan). Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami. orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di masing-masing kediamannya. Sesudah beberapa.  Klen Kecil dan Klen Besar Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Di samping . dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Kalau suami isteri tinggal secara virilokal. Tempat di mana suami isteri itu menetap. menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. Demikian pula anak-anak dan keturunan mereka yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri. orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal. Walaupun demikian. maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa).

pretasti) sendiri-sendiri yang masing-masing kembali sampai pada sejarah penaklukan oleh Majapahit dalam abad ke-14. Waisya. pamancangah. Orang-orang bangga apabila dapat menyusur keturunan mereka sampai pada raja-raja atau bangsawan-bangsawan dari zaman Majapahit itu. Dalam praktek. Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja pura leluhur yang sama disebut pura paibon atau panti. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarganya yang merasakan dirinya senior. dan Sudra. SISTEM KEMASYARAKATAN  Sistem Pelapisan Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan. yaitu Brahmana. dan Sudra. Susunan tinggi rendah dari klen-klen di daerah dataran tampak pada gelargelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. yaitu keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. Ada pelbagai klen yang mempunyai sejarah keturunan (babad.itu. Satria. suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Ksatrya. sedangkan ketiga lapisan yang pertama . bahkan batas-batas antara klen-klen dalam kehidupan masyarakat tidak tampak begitu nyata. susunan klen berlapis tinggi rendah serupa itu tidak ada. Sistem ini terpengaruhi oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu Kuno. Vaisya. keluarga batih yang hidup neolokal seperti juga masih terikat oleh dan masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap pura asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka. karena itu tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai kelompok-kelompok kerabat yang bersifat patrilineal. Kelompok kerabat yang demikian dapat disebut klen besar. yaitu sistem keempat kasta: Brahmana. Gelar-gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa. Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya. Pelbagai keturunan inilah yang memberikan susunan yang lebih kompleks kepada klen-klen patrileneal yang terdapat di Bali daratan. maka klen-klen di Bali daerah dataran. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama. tersusun dalam suatu susunan berlapis tinggi rendah berdasarkan jarak hubungan kekerabatan dari leluhur-leluhur dari klen-klen itu dengan seorang tokoh raja atau bangsawan dari Majapahit. Karena proses sejarah yang kembali ke zaman Majapahit. Di Bali daerah pegunungan. dan dengan demikian suatu pura serupa itu mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota dari suatu klen kecil.

Zaman modern dengan pendidikannya telah banya membawa perubahan dalam sistem pelapisan wangsa ini. Konsep desa memiliki dua pengertian. orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa). Hanya sebagian kecil dari rakyat Bali. lagipula warga klen-klen besar yang termasuk Triwangsa biasanya tersebar luas di seluruh Bali. 1.  Lembaga Tradisional Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa. mendapat tempat duduk yang . Misalnya undang-undang (awig-awig) yang menghukum adanya perkawinan antara gadis yang lebih tinggi dengan laki-laki yang wangsa-nya lebih rendah telah dihapuskan. atau secara konkret dibawah pengawasan pimpinan desa. dan bagi warga klen-klen Wesia adalah Gusti. dan akhir-akhir ini mereka malahan sudah dianggap sederajat dengan pendeta-pendeta dari wangsa Brahmana. yaitu desa adat dan desa dinas. Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan. Sebaliknya.sebagai kesatuan disebut Triwangsa. Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita. Selain itu banyak gelar-gelar lain yang diturunkan oleh klen-klen tertentu tetapi yang kurang terang mengenai kedudukannya dalam wangsa. kurang dari 15% yang termasuk anya sebagian kecil dari rakyat Bali. subak dan seka/sekaha. Pendeta-pendeta tidak usah lagi berasal dari wangsa Brahmana. tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak pengawasan desa. Pemegang gelar-gelar serupa itu tentu akan mengakuinya sebagai gelar wangsa tinggi. Desadesa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. Sebagian dari tanah wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang memiliki wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Sesudah kawin. banjar. lainnya berpendapat bahwa gelar-gelar serupa itu termasuk wangsa-wangsa yang rendah dan demikian selalu memang ada perselisihan mengenai kedudukan dari orang-orang yang mempunyai gelar-gelar tadi dalam upacara adat dan dalam sopan santun pergaulan Bali. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan dan desa-desa adat di daerah datar. dan lapisan yang keempat disebut Jaba. gelar bagi warga klen-klen Satria adalah Cokorda. dan warga klen-klen yang termasuk Jaba tinggalnya lebih terpusat pada daerah-daerah terbatas. Desa Desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. kurang dari 15% yang termasuk Triwangsa. lebih dari 85% dari rakyat Bali termasuk warga Jaba.

dan sebagainya pada umumnya menuruti pola susunan tertentu. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa.khas di balai desa yang disebut balai agung. Ada kalanya juga Pura Puseh dan Pura Desa dijadikan satu. Di samping kesatuan wilayah maka sebuah desa merupakan pula suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga. Pura Puseh dan Pura Dalem. Di antara komplek bangunan itu terdapat bangunan untuk tidur. Dengan demikian untuk orang Bali Utara. Gianyar. Pura keluarga yang dianggap suci terletak di bagian kaja. Hal yang keramat diletakkan pada arah kaja. Seperti telah diterangkan sebelumnya. satu atau beberapa dapur. Dimana Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa. Sedang tempat kediaman berada pada arah kelod. Mengenai letak dari bale. dan pura untuk keluarga (sanggah). dan pada arah kelod diletakkan Pura Dalem (pura yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian). Sedapat mungkin bangunan-bangunan dari desa disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. Pura Desa merupakan tempat berstananya Dewa Brahma yang dimanifestasikan sebagai pencipta. . Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dimanisfetasikan sebagai pemelihara dan Pura Dalem yang merupakan berstananya Dewa Çiwa yang dimanifestasikan sebagai pelebur. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan. Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. kaja berarti selatan. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerahdaerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Bale (bangunan) masing-masing mempunyai nama tersendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-hari. Catatan: Dalam bahasa Bali. Klungkung). konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. Badung. kaja berarti utara. kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. sanggah. Seluruh komplek sebagai suatu kesatuan disebut uma. lumbung. sebaliknya untuk orang Bali Selatan. dan hal-hal biasa yang tidak keramat diletakkan pada arah kelod. tempat untuk menerima tamu. Klasifikasi dualistis ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangunan-bangunan pusat dari desa. Desa-desa di daerah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar luas. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Pada komplek bangunan (bale) yang ditempati keluarga inti maupun keluarga luas. Misalnya saja pada arah kaja diletakkan Pura Desa. dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap. Biasanya ketiga Pura Kahyangan Tiga tersebut tempatnya dipisahkan satu sama lain. dibangun diatas suatu pekarangan yang bisanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit.

Bale banjar ini biasanya dilengkapi dengan Pura Banjar dan Bale Kukul sebagai tempat untuk menaruh kukul (kentongan). Sebaliknya. Sudah tentu tidak semua pemilik atau penggarap tadi hidup dalam satu banjar. Banjar dipimpin oleh seorang kelian banjar dan dibantu oleh beberapa orang sebagai wakil kelian. Banjar Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan oleh kesatuan wilayah. Kelian banjar sebagai tetua banjar dipilih langsung oleh para krama (warga) banjar dalam suatu sangkep (pertemuan). . 3. adat dan urusan yang bersifat administratif. Selain itu kelian juga mengurus urusan agama. Bahkan seringkali harus juga memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah dan dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya. Bale banjar ini juga sebagai bangunan serbaguna untuk menunjang kegiatan umum masyarakat banjar. Untuk mengakomodasikan kegiatannya maka dibangunlah sebuah bangunan yang terbuka yang dikenal dengan nama bale banjar. kesenian hingga agama. Masyarakat tersebut dipersilahkan menjadi anggota banjar jika orang tersebut menghendaki. Kesatuan wilayah ini diperkuat oleh kesatuan adat dan budaya. Subak Subak di Bali berdiri seolah-olah lepas dari banjar dan mempunyai seorang kepala sendiri. Dalam hal ini tiap-tiap banjar memiliki awig-awig yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing banjar. Seperti olahraga. Karena fungsinya sebagai pusat maka bale banjar ini biasanya didirikan di tengah-tengah wilayah tersebut. Hal ini dimaksud untuk memudahkan krama banjar. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga suatu subak itu tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. ada pula warga suatu banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan yang mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. tetapi juga orang dari wilayah lain yang kebetulan menetap sementara/seterusnya di wilayah banjar tersebut. Di bale banjar inilah diadakan pertemuan (sangkep) setiap bulan mengevaluasi kegiatan banjar selama sebulan. Warga subak adalah para pemilik atau penggarp sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Untuk lama masa jabatan tertentu sesuai dengan awig-awig (undang-undang) banjar bersangkutan. Dengan demikian warga banjar tadi itu akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. sinoman dan penyarikan. tetapi di dalam beberapa banjar.2. Anggota banjar tidak mutlak dari orang asli di daerah tersebut. Bale banjar ini merupakan pusat dari banjar tersebut. Adapun tugas dari kelian ini adalah mengurus segala urusan sosial kemasyarakatan.

misalnya suatu perkumpulan gamelan ‘ditarik’ untuk ikut serta dangan suatu seka lain dalam hal menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. menggali sumur. Terakhir ada suatu sistem gotong royong yang lebih menyerupai sifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah. seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam). dengan suatu sopan santun yang telah digariskan oleh adat dan dengan pengertian bahwa ia wajib untuk membalas bantuan tenaga yang disumbangkan kepadanya itu dengan bantuan tenaga juga. yaitu seka-seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. Cara semacam ini di sebut ngedeng (menarik). Hanya di dalam hal ini khusus kerja bakti untuk keperluan agama. Seka/Sekaha Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus. dan sebagainya). seka manyi (perkumpulan menuai). dan sebagainya). bahkan untuk waktu yang meliputi angkatanangkatan yang turun temurun. Di dalam hal itu ada seorang atau suatu keluarga minta bantuan dari tetangganya atau keluarga lain. seka daha (perkumpulan gadis-gadis). dinding rumah. seperti misalnya ikut membantu membangun pura atau memperbaiki sebuah pura yang sudah ada. Selain nguopin masih ada cara gotong royong antara seka dengan seka. tetapi ada pula yang bersifat sementara. 5. Gotong Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat desa di Bali. Hanya dalam perayaan dan upacara. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian cara gotong royong nguopin masih banyak diterapkan. tetapi ada juga seka-seka yang bersifat sementara. Seka ini bisa didirikan untuk waktu yang lama. Nguopin dalam aktivitas sekitar rumah tangga di kota dan di banyak desa sudah mulai hilang dan mulai diganti dengan sistem menyewa tenaga upahan karena sistem menyewa sekarang dianggap lebih praktis dan seringkali lebih murah (karena tidak perlu menyediakan jamuan dan sebagainya). antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. Seka dalam arti ini tentu sifatnya permanen. Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan-perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. Dalam hal ini suatu seka tertentu. yaitu organisasi seka. ada beberapa macam cara dan sistem gotong royong.4. panen. Gotong royong semacam itu disebut nguopin (membantu) dan meliputi berbagai aktivitas di sawah (seperti menanam. menyiangi. Sistem kerja bakti semacam . sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah. seka truna (perkumpulan para pemuda). Ada sekaseka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara yang berkenaan dengan desa misalnya seka baris (perkumpulan tari baris). atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga.

Persamaan-persamaan tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut. Sinergi itu dapat terjadi karena pada dasarnya terdapat kesamaan di antara keduanya. bisa merupakan suatu aktivitas yang ramai dan penuh kemeriahan. 1 Religi Prasejarah Religi Hindu Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang . No . SISTEM ADAT DAN RELIGI Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan sebuah sinergi antara unsur-unsur adat dan budaya lokal yang telah dianut masyarakat dari zaman dulu dengan kebudayaan Hindu yang masuk dari India.ini disebut ngayah atau ngayang.

dipandang suci. candi. prasada. menhir dan berupa pura. sungai. Yadnya itu terbagi atas lima bagian yang disebut Panca Yadnya. dan meru tahta batu Tinggalan ditemukan dipanggur situs Gilimanuk tradisi panggur disebut gigi manusia telah mepandes atau metatah upacara 6 7 8 Tinggalan sikap jenazah pada kepercayaan terhadap kelahiran kembali sakofagus dalam menyerupai bayi yang disebut samsara atau punarbhawa dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali Adanya arah orientasi yang adanya orientasi yang dipandang suci. Membuat tiruan gunung berupa mambuat tiruan kahyangan dan gunung punden berundak. Perlu diingat bahwa setiap banjar ataupun desa bisa memiliki adat yang berbeda-beda. sungai. dan laut Percaya terhadap kekuatan alam kekuatan yang disebut Hyang Dewa suci adalah nama 3 4 5 alam disebut dengan Percaya terhadap roh suci leluhur percaya terhadap roh suci leluhur yang dengan perawatan jenazah dan disebut atma dan atma yang suci roh suci dianggap brsemayam di bersemayam di pincak-puncak gunung puncak gunung.Emabang/ Sang Hyang Tuduh 2 Widhi Wasa Dewa yang bersemayam di Puncak Dewa yang besemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir Gunung Agung disebut Bhatara Giripati atau Mahadewa Gunung. dan Laut Tempat yang dipandang merupakan tempat yang suci gunung. yakni timur dan yakni utarea dan timur yang disebut utara Uttara dan Purva Adanya persembahan dan bekal adanya persembahan dan bekal kubur kubur berupa upaca yajna 9 10 Sumber: PHDI Pusat Kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali itu diwujudkan dengan melakukan Yadnya yang sumber-sumbernya berasal dari kitab suci dan tata cara pelaksanaannya disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. yaitu: .

Berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. Ngaben adalah . Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja. mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atman (roh). atman-nya tidak. menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. apah (zat cair). Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: – – – Berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. bagi masyarakat Bali tak bisa lepas dari upacara adat ngaben. Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci). memberikan sesuatu yang baik dan layak. Kematian bagi orang Bali adalah kembalinya manusia kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta: pertiwi (zat padat).1.  Ngaben Kematian. 2. Dewa Yadnya Dewa Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça dan seluruh manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta. teja (zat panas). Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum perayaan hari raya Nyepi. Contoh Dewa Yadnya: menyelenggarakan upacara piodalan dimasing-masing Desa Adat yang ada di Bali. Berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. Upacara keagamaan di Bali disesuaikan dengan masing-masing Desa Adat (desa kala patra) masing-masing daerah. Contoh Pitra Yadnya adalah upacara ngaben. bayu (angin). Pitra Yadnya Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. dan akasa (ruang hampa) sesuai dengan ajaran Hindu Bali.

dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh. Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah. Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. dll. Selanjutnya adalah prosesi ngajum. Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. atau seperti saat Peristiwa Bom Bali I dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan. Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon (memandikan jenazah). Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal. Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya. yaitu tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan. ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu). Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Ketika ada yang meninggal. yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. Dimulai dari memandikan jenazah. Selesai memandikan. . Jenazah akan dibawa menggunakan wadah. dilakukan prosesi ngaben di kuburan (setra) desa setempat. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. pembakaran dan nyekah. fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dengan mengambil sekepal tanah di lokasi meninggalnya kemudian dibakar. Namun cenderung disetujui pendapat bahwa ngaben berasal dari kata ngapen (ng + api + an = ngapian > ngapen > ngaben). Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah tidak diketemukan. Pada hari H-nya. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah). kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. ngajum.upacara penyucian atman (roh). Wadah biasanya berbentuk padma sebagai simbol rumah Tuhan. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik (dewasa) untuk melaksanakan ngaben.

Ngaben Ngamasa Ngaben Niri artinya melaksanakan upacara ngaben sendiri (Niri = diri = sendiri). atau ngaben bersama. baik berupa tenaga maupun materi. Ngaben Niri 2. Bahkan ada kalanya sama sekali tidak mendapatkan bantuan banjar. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku. sesuai dengan keinginannya. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. Oleh karena itu. Di sini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari klan brahmana). Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal. sesuai situasi dan kondisi yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi. jenazahnya harus dikubur. ngaben niri juga dilaksanakan oleh keluarga keturunan bangsawan. karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. lahir sebagai seorang bangsawan. tetapi hanya memberi bantuan tenaga dan materi (dikenal dengan sebutan patus banjar). tanpa mengurangi makna pelaksanaan upacara ngaben.Sesampainya di kuburan. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai). Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi. ngaben massal. tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. terbilang relatif berat. Sebenarnya ada bermacam-macam cara melaksanakan upacara ngaben di Bali. dibandingkan dengan jumlah tenaga dan materi yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan rangkaian upacara ngaben. Cara pelaksanaan ngaben ngamasa ada dua. yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu. Masing-masing desa adat di Bali memiliki awig-awig (undang-undang) tersendiri tentang tata cara melaksanakan upacara ngaben. jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan. . jumlahnya tidak seberapa. Ngaben Ngamasa berarti melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal. Istilah lain ngaben ngamasa adalah ngaben ngerit. Terlepas dari ini. Banjar adat tidak mencampuri waktu pelaksanaannya. Patus banjar. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Upacara ngaben ngamasa dilaksanakan dengan maksud menghemat biaya dan waktu. yaitu: 1. Dalam hal ini berarti bahwa keluarga duka dapat melaksanakan upacara ngaben pada waktu tertentu. Umumnya dapat dibagi menjadi dua.

Kelemahannya. Untuk memudahkan. upacara ngaben dilaksanakan pada waktu. Keuntungannya. antara lain: 1. tempat. ngaben ngamasa dengan cara ‘satu untuk semua’ ini dikenal dengan istilah ngaben kinembulan. karena lebih mudah mengatur waktu. sehingga segala aktivitas yang terkait dengan upacara tersebut dapat dijadwalkan. Jumlah ini tidak dapat dianggap enteng. Kedua. karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua. maka masing-masing warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar 750. kalau jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben sedikit dan anggota anggota banjar lumayan banyak. Konsekuensinya. Biaya bagi warga masyarakat yang lainnya (patus) juga kecil.Pertama. Tidak menganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta. Artinya. 4. maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. Sebaliknya kalau warga yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit. karena kewajiban mengeluarkan (patus) juga dirancang hanya satu untuk semua. Dapat menghemat waktu dan tenaga. Mereka dituntut harus pintar membagi waktu agar dapat memberi bantuan kepada sebanyak mungkin warga yang kebetulan melaksanakan upacara ngaben. karena segala bantuan tenaga diatur oleh panitia banjar dengan pola satu untuk semua. ngaben ngemasa dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri. Biaya yang disiapkan oleh warga yang akan melaksanakan upacara ngaben relatif lebih kecil. cara dan oleh panitia yang sama. barulah dibuat oleh masing-masing anggota. Kesulitan lainnya. Masingmasing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. Ada yang berpendapat bahwa ngaben kinembulan ini akan menjadi pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara ngaben masa depan. Dengan ngaben . bambu. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. Sukawati. warga banjar yang diharapkan memberi bantuan menjadi bingung dan kacau. 3. Upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa. Di Desa Pakraman Celuk. dan lainnya) yang lumayan banyak. Cuma waktunya bersamaan. Pelaksanaan upacara ngaben seperti ini dikenal dengan sebutan ngaben bersama. Sebabnya. maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga. 2. ngaben ngamasa dilaksanakan dengan cara ‘satu untuk semua’.000.000. dan jumlah warga yang ngaben 30 orang. pelaksanaan upacara ngaben dengan mudah dapat diketahui. ada hubungan dengan bantuan materi (patus) kepada warga yang melaksanakan upacara ngaben. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25. biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan. termasuk memohon cuti. jauh hari sebelum puncak acara. 5. pisang.

Upacara nelu bulanin 7. Manusa Yadnya Manusa Yadnya adalah suatu persembahan suci yang tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia. Upacara kelahiran 3. Kedua. Ngaben kinembulan mengandung beberapa kelemahan. Mereka yang masih yakin akan hal ini menganggap melaksanakan upacara ngaben dengan cara kinembulan atau ‘satu untuk semua’. sehingga perlu diupacarai atau diselamati. antara lain: Pertama. dengan cara menjual harta warisan yang berupa tanah. sulit dilaksanakan di desa adat yang termasuk desa pakraman nyatur (terdiri dari empat kasta). Upacara otonan . dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah desa kala patra (tempat-waktu-keadaan) sangat penting. lebih memungkinkan bagi tumbuhtumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi atas dasar semangat ‘satu untuk semua’ pada waktu melaksanakan upacara ngaben. Anggapan ini menyebabkan banyak orang yang rela melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran. Magedong-gedongan 2. Jenis-jenis Manusa Yadnya berdasarkan urutan pelaksanaannya: 1. sehingga satu golongan merasa sebagai golongan bangsawan yang berkedudukan tinggi dan harus dihormati dan golongan lainnya dianggap sebagai rakyat biasa (panjak). berkedudukan rendah dan harus menghormati golongan bangsawan. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis. Oleh karena itu maka kasta tertentu yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari kasta yang lainnya. masih ada anggapan bahwa melaksanakan upacara ngaben merupakan satu-satunya cara untuk melaksanakan Pitra Yadnya dalam arti ‘membayar hutang’ kepada leluhur. tidak rela bergerak seiring dan sejalan. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan. Upacara kepus puser 4. sebelum mereka harus turut ‘berkorban’ demi kepentingan upacara ngaben. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan. kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. 1. Upacara nglepas hawon 5.ngamasa atau kinembulan. sebagai sesuatu yang lebih rendah maknanya dibandingkan dengan ngaben niri. Upacara kambuhan 6.

Upacara ngempugin 9. Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan. dan dilanjutkan di depan sanggah (semacam pura kecil yang ada pada setiap rumah). canang sari. 4. pekarangan. Dalam hal tidak ada keluarga tertua.8. tangan kanannya memegang bambu runcing. 2. 5. selanjutnya ditutup kernbali. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia. sampiyan dan penyeneng. di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu. Upacara magedonggedongan dilaksanakan di dalam rumah. sang ayah dapat melaksanakan upacara ini. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan. Upacara makupak 10. Tujuannya agar atman/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan. canang genten. 3. pada bagian tutup kendil atau . Upacara kelahiran dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dan dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan. kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian. tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan. selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup. Apabila mempergunakan kelapa. halaman rumah. lstri yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda. dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita. Sang suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing sang istri sampai air dan ikannya tumpah. Sang istri menjunjung tempat rempah-rempah. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tangan kiri suami memegang benang. demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya.Upacara rajaswala 11. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 2. Setelah ari-ari dibersihkan. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab.Upacara mepandes 12. tidak harus persis karena dapat disesuaikan dengan hari baik (dewasa).Upacara pawiwahan  Magedong-gedongan Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari.  Upacara Kelahiran Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama. 6.

Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga. 3. Si bayi biasanya baru diberi nama demikian pula sang catur sanak (saudara keempat yang dipercaya ikut menemani kelahiran si bayi) setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja. di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma. dan terakhir di sanggah kamulan. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk. tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya. 4. digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi. Wisnu dan Siwa. Untuk upacara yang lebih besar si bayi terlebih dahulu di-lukat di dapur. Si bayi beserta kedua orangtuanya natab di sanggah kamulan. dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah. Sang Anggapati. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh. Proses selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah. Upacaranya dilakukan di dapur. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita. 2. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. di permandian.  Upacara Nelu Bulanin .  Upacara Nglepas Hawon Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut upacara ngelepas hawon.  Upacara Kepus Puser Upacara ini dilakukan pada saat puser bayi lepas. lada dan lain-lain. Banaspati dan Mrajapati. 3. 2.  Upacara Kambuhan Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna. tempat menaruh sesajian. dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara. Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si bayi.belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA. pala. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi. di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala). 3.

2. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang. Selanjutnya dilaksanakan setiap 210 hari. 3. Doa dan persembahyangan untuk si bayi. terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirta. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan.  Upacara Otonan Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. untuk otonan selanjutnya tidak dilakukan.  Upacara Ngempugin Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Semakin dewasa. atau tiga bulan dalam hitungan pawukon (1 bulan = 35 hari). upacara bisa ditunda. 2. kalung dan lain-lain. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: . semacam memperingati hari ulang tahun. dilakukan oleh orangtuanya. memerciki tirta (air suci) pada sajen dan pada si bayi. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik. Si bayi diberikan tirta pengening (tirta amertha) kemudian ngayab jejanganan. Ini dilakukan pada otonan pertama kali. sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. Biasanya digabungkan dengan upacara otonan (210 hari kelahiran bayi). 5. 6. Bila keadaan tidak memungkinkan. Pemujaan terhadap Siwa Raditya dan penghormatan terhadap leluhur. misalnya keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh. Pendeta melakukan pemujaan. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban. semakin sederhana pula sarana upacaranya. 3. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 4. Pendeta sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya. yang berarti memohon keselamatan. Pendeta memohon tirta panglukatan. 4.

gigi atas. namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. 4. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. 3. Upacara ini dapat pula disatukan dengan otonan berikutnya. Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Waça dengan 3. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.  Upacara Pawiwahan . lidah. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kemudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya. Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama. 5.  Upacara Rajaswala Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. paha barulah diperciki tirta pesangihan. Upacara dilanjutkan oieh sangging (yang bertugas memotong gigi) dengan menyucikan peralatannya. pusar. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Sang Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak. 6. Si bayi natab mohon keselamatan. gigi bawah. taring. Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah daha) ini. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. 2. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi.1. dada. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita. 2.  Upacara Mepandes Upacara mepandes atau potong gigi ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) yang ada pada diri si anak.  Upacara Mekupak Upacara ini dilakukan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi mempersembahkan segala sesajen yang tersedia.

Makala-kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi. Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari. biasanya di-puput oleh seorang pinandita. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan.Yang dimaksud upacara pawiwahan adalah upacara pernikahan. karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. kegantengan dan lain-lain. Jadi bagi umat Hindu. Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (daiwi sampad). cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian. derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. perkawinan ditentukan oleh seorang Resi. Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya. seperti kecantikan fisik. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad). Menurut UU Perkawinan no 1 th 1974. melalui proses upacara agama yang disebut mekala-kalaan (natab banten). Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi. sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. pasangan yang akan dikawinkan. Peralatan upacara mekala-kalaan: . dengan mempertimbangkan duniawi. nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai. peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. namun oleh raja atau orang tua mempelai. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral. Setelah jaman Dharma Sastra. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista. Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. seperti menjaga martabat keluarga. sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam sebel kandel. kecantikan. oleh sebab itu pada jaman Weda. yang mampu melihat secara jelas. pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini. berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. melebihi penglihatan rohani. pertimbangan kekayaan.

tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni). Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Waça dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya. serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual. dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Ida Sang Hyang Widhi Waça. berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan. Keris Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu. Benang Putih Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter. yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin. sebagai dewa kebajikan. ketampanan. dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih.Sanggah Surya Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. kebijaksanaan simbol pengantin pria. . secara manis. Tegen-tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil-alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) Simbol calon pengantin. Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Ida Sang Hyang Widhi Waça dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Perangkat tegen-tegenan: – Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas. Biasanya nyungklit keris.

Cangkul sebagai alat bekerja. Sapu Lidi (3 tangkai) Simbol Tri Kaya Parisudha. Selalu ingat dengan penyucian diri. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. yang berisi talas. Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam. rajas. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi). Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita. Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan. disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga. isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna. setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Telor bebek merupakan simbol manik. berdasarkan ucapan baik. Periuk simbol windhu. Wisnu. agar kekuatan triguna dapat terkendali. tamas). Tetimpug Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma. prilaku yang baik dan pikiran yang baik. beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). di dalamnya diisi sebutir telor bebek. berkarma berdasarkan dharma. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa . Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain.– – – – Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. Siwa) mengisyaratkan kesucian. kunir. Sambuk Kupakan (serabut kelapa) Serabut kelapa dibelah tiga. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. Dagang-dagangan Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang. serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma.

Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. sangging. Pada akhirnya manusia Hindu setelah meninggal dunia dan di-aben. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. Pawintenan dengan ayaban bebangkit adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana sebagai putra Siwa yang berfungsi sebagai . Resi Yadnya Resi Yadnya adalah suatu upacara yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. dll. Resi. Pada dasarnya semua orang terutama yang akan mengakhiri masa Grahasta (pensiun) perlu mawinten dengan tujuan mensucikan diri menjelang pulang ke sunia-loka. Jadi orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang kemilau karena lahir bathinnya sudah disucikan. dan mengamalkan ajaranajaran para 5. menghayati. Tingkat pawintenan ada tiga menurut besar/kecilnya upacara pawintenan yaitu: 1. pawintenan tingkat ini untuk para brahmacari misalnya yang belajar agama. Mentaati. undagi. 2.saat tertentu kepada Sulinggih. dan mengembangkan ajaran agama. diwinten dengan upacara Askara.lahir anak yang suputra. Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. pegawai kantor agama. 1. yang senang gegitaan. tukang banten. Mereka yang wajib mawinten karena profesinya antara lain: pemangku. mawa artinya bersinar-sinar dan inten artinya intan (permata). Membangun tempat. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. Pawintenan dengan ayaban saraswati termasuk yang paling sederhana. dan 3. Pinandita. Pawintenan dengan ayaban bebangkit untuk yang medium. dll.  Mawinten Mawinten asal katanya dalam Bahasa Kawi. Pawintenan dengan ayaban saraswati adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan. dalang. membina. Sulinggih. Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça. Menghaturkan/memberikan punia pada saat. 3. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Pawintenan dengan ayaban catur yang paling utama. 4. 2.tempat pemujaan untuk Sulinggih. orang-orang suci.

Yeh Nyom. Bhuta Yadnya Bhuta Yadnya adalah suatu korban suci kepada sarwa bhuta yaitu makhlukmakhluk rendahan. Mahadewa. yoga. pinandita. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucarabucari supaya tidak mengganggu. maka jenis segehan itu pun ada . pawintenan tingkat ini untuk para undagi.  Segehan Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. Pawintenan dengan ayaban catur adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara. Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan Ida Sanghyang Widhi Waça. dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. dll. Selain berwujud tumpeng. Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. Mereka yang sudah mawinten wajib menggelar brata. dalang. pawintenan tingkat ini untuk para pemangku. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. dll. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia. nasi menjadi satu komponen penting. Samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Waça. sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. tapa. samadi. yoga.pelindung manusia. Makin tinggi tingkat pawintenan-nya makin ketat pelaksanaan brata. sangging.tumbuhan. Lamas. tumbuh. Selain itu. Contoh lain dari Bhuta Yadnya adalah segehan. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). Karena tempat masegeh ada tiga. Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu di natar Merajan. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan. Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali. Dalam persembahan tersebut. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça. nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi. samadi-nya. hewan (binatang). tapa. tukang banten. karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ariari. Brahma. Getih. 1. rumah serta lebuh. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta. Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra. baik secara sekala maupun niskala.

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Galungan itu sudah dirayakan. Disebutkan dalam pustaka-pustaka Hindu bahwa dalam rangkaian peringatan Galungan. Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah. Tuhan sebagai pencipta dipuji dan dipuja. dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi. Ini adalah hari raya khusus. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. tetapi simbol keletehan dan adharma. dan kaki. ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja. Jadi dalam hal ini umat Hindu berperang. segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. di antaranya Panji Amalat Rasmi (Zaman Jenggala) pada abad ke11 di Jawa Timur. adalah Hari Raya Kuningan. dimana para leluhur yang setelah . Namun tidak berarti bahwa dunia ini lahir pada hari Budha Kliwon Dungulan. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. tangan.tiga. termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. kelapa. badan. Mereka adalah simbol angkara. Dalam pararaton zaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke-16. Hari Raya Terkenal di Bali  Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. leher. lengkap dengan kepala. Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung. kemudian disusul oleh Hari Raya Kuningan setelah sepuluh hari. Tapi. Menurut arti bahasa. Kemudian pada hari Saniscara (Sabtu) Keliwon Wuku Kuningan. bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga. jagung. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). jajanan dan lain-lain. Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. sejak hari Minggu (tiga hari sebelum Galungan) umat Hindu didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. Galungan itu berarti peperangan. Berjuang. Terakhir diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing. Dengan mempelajari pustaka-pustaka. seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga).

Sedangkan di pedesaan biasanya ada beberapa Barong ngelawang diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan. dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan. Pengrupukan. melakukan intervensi pada keputusan Bhatara Yama. Pada hari itu dibuat nasi kuning. si Lubdaka naik ke pohon. datanglah satu batalyon tentara surga yang dikirim oleh Bhatara Siwa. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak tidur). si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Bhatara Siwa. Bhatara Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Bhatara Siwa melakukan yoga. Agar tidak dimakan binatang buas. pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa. Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar. untuk menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta). sebagai pengusir kantuk. pada malam Siwaratri. Konon. Berikut perinciannya: Tawur (Pecaruan). Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri. Siwaratri juga disebut hari suci pajagran. Bhatara Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa. Maka ketika Lubdaka meninggal.  Siwaratri Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waça dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa tepat di saat beliau beryoga. Agar tetap terjaga. lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih umat Hindu menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa bahan-bahan sandang dan pangan. dan Melasti . karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sementara. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta (air kehidupan). upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara).  Nyepi Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Çaka. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa. saat Bhatara Yama melakukan pengadilan. membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu. Saat yang bersamaan. Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Di Bali. dalam usaha menimbulkan kesadaran diri. Padahal. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing. Bhatara Siwa sudah terlanjur ’sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga. dan membawa Lubdaka ke sorga.

dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. karena laut dianggap sebagai sumber amerta. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian dan terdiri dari: – – – – Amati Geni (tidak menggunakan dan/atau menghidupkan api) Amati Karya (tidak bekerja) Amati Lelungan (tidak bepergian/keluar rumah) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak diwujudkan dengan matekep guwungan (ditutup sangkar ayam).Sehari sebelum Nyepi. Nyepi Keesokan harinya. dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. dan kemudian dibakar. Selambat-lambatnya pada tilem sore. sehingga ada masa amati geni. Tahap terakhir adalah melasti. serta menyucikan pratima. yaitu menyebar-nyebar nasi tawur. mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja. seperti ayam berbulu brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu manusia. Khusus di Bali. selalu didahului dengan perlambang gelap. pekarangan. Bhuta Kala dan Bhatara Kala. umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing. Wanita yang beralih dari masa kanakkanak ke dewasa. yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan. yaitu pada Tilem Kesanga. tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Demikianlah untuk masa baru. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah 9 paket beserta lauk pauknya. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. Untuk memulai hidup dalam tahun baru pun. dan lingkungan sekitar. melasti harus selesai. segala hal yang bersifat peralihan. menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu. Menurut umat Hindu. dasar ini dipergunakan. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Bhuta Kala. ditempuh secara baru lahir. Ngembak Geni . Upacara ini dilakukan di laut. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil). yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut. dan Tawur Agung (besar). Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah. Pañca Sanak (sedang). pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan.

bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke pura. Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan Mesambang Semadhi. tetapi dapat terbang tinggi. lontar-lontar. pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaranajaran agama. yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontarlontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. Pada hari inilah Tahun Baru Çaka tersebut dimulai. persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata. mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. Mereka begadang sampai pagi. dibersihkan. Berkat anugerah Dewi Saraswati. Dewi Saraswati merupakan sakti (istri) dari Dewa Brahma. dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat. membaca pustaka-pustaka. kesusilaan dan sebagainya. Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa). kesadaran (widya). semua pustaka-pustaka. Di Bali. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi. Khusus untuk daerah Denpasar. di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan yaitu burung besar serupa angsa. biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Tangan yang lain memegang Wina (alat musik sejenis rebab) dan sekuntum bunga teratai. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan. Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondongbondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. Pada hari raya Saraswati. manusia menjadi beradab dan berkebudayaan. bersama teman-temannya. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa .  Saraswati Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu pengetahuan). dan sastra. atau melakukan Dharma Gita atau kekawin di tempat-tempat suci. di pura. banyak yang begadang di pantai. Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. saling maaf memaafkan satu sama lain. pura atau merajan. Untuk generasi muda.Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Çaka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal ping pisan (satu) sasih kedasa (kesepuluh). Umat Hindu seling mengunjungi keluarga besar dan tetangga.

overtoleran 3. menganggap semua orang adalah keluarga yang distilahkan dengan Nyama 4. Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari. Keesokan harinya.menyukai keindahan 11.menjunjung tinggi adat yang telah ditetapkan dan disepakati (demokrasi) PRODUK BUDAYA . Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur. cenderung santai 8. ramah dan sopan 10. KARAKTERISTIK ORANG BALI SECARA UMUM 1.yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran. Percaya kepada hal-hal mistik 2. masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai. hormat kepada leluhur dan orang yang lebih tua 9. senang berjudi atau taruhan 7. dilaksanakan Banyu Pinaruh. apresiasi terhadap kesenian sangat tinggi 5. sangat menghormati pemimpin 6. yakni di pagi buta membasuh muka dengan air kumkuman (air kembang).

Kakawin adalah puisi Bali . dan sederhana. kelompok Sekar Alit. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empatempat suku kata (ketukan). 3. Sekar alit Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat). Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa.SENI SUARA a. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok: 1. Dikatakan bebas karena benarbenar tidak ada ikatannya. Gegendingan Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. baik upacara adat maupun agama. dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. Sekar Madya Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian. Seni Tembang Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan. baik upacara adat maupun agama. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. yang biasa disebut tembang macapat. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. gaguritan atau pupuh. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. 2. Isinya pada umumnya pendek. Sekar Agung Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu. Yang ada di dalamnya adalah pembagian-pembagian seperti : Pangawit Pembuka Pamawak bagian yang pendek Panama bagian yang panjang Pangawak bagian utama dari tembang 4. pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara.

Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia. Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:  Aswalalita  Wasantatilaka  Tanukerti  Sardulawikradita  Watapatia Wangeasta  Wirat  Çekarini  Girisa  Prtiwitala  Puspitagra  b. sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung. Jenis dan macam-macam drama dan tari antara lain : 1. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian sebagai berikut: Pengawit (penyemak) Panampi ( pangisep) Pangumbang Pamalet Kakawin pembukaan dilakukan dengan diselingi terjemahannya. tentang baik dan buruk. sehingga mempunyai kekhasan tersendiri. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. Arja . Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab. Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah. Tidak hanya menghibur hati. tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya. yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan 2. Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan.klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih. SENI DRAMA DAN TARI Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari. Abuang Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin.

• Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang). I Godogan. pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. . • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya. Arja adalah semacam opera khas Bali. Liku. Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat. Cipta Kelangen. sebagian memerankan wanita. menghadirkan komedi segar. dimainkan oleh satu orang). kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena. Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani. Desak (Desak Rai). Mantri Manis. merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Pakang Raras.Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an. Limbur. Linggar Petak. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif. Galuh. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah: • munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan. pemainnya semua pria. Panasar. Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana. Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat). Made Umbara. Sampik Ingtai. Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing masing terdiri dari Punta dan Kartala. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.

Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali.1. . Arja. Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa. Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari. ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit. sapi atau boma. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). 4. satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang. Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan). Barong dan Rangda Barong dipercaya sebagai pelindung desa masyarakat Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Dari wujudnya. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). macan. Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern.

Baris Pendet 7.Para pemain mengenakan busana tradisional Bali. Baris Presi 6. Baris Kupu-Kupu . Walaupun demikian. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda. Baris Katekok Jago 3. Tari Baris Sebagai tarian upacara. kelompok penarinya membawa senjata. Baris Bajra 8. lugas dan dinamis. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain. Setiap jenis. Baris Dadap 5.jenis tari Baris yang ada. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain : 1. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja. Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. yang kemudian menjadi nama dari jenis. begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Baris Tamiang 2. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun 2. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. Baris Tumbak 4. dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong.

Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Baris Jojor 23. Baris Demang 17. Baris Omang 22. Baris Cendekan 13. apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya . juga ada Tari Barong dan Legong. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tari Sang Hyang. Selain Tari Kecak. Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut. tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik. seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Baris Bedil 11. Baris Kuning 24. Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria. Baris Cina 12. Ya! Tari Kecak. yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama. Sita dan Hanoman. Baris Panah 14. Baris Cerekuak 18.9. Baris Gayung 16. Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana. Baris Kelemet 6. Baris Ketujeng 20. Baris Mamedi 19. Kecak Bila mendengar nama Bali. Baris Tengklong 10. Baris Jangkang 15. Baris Gowak 21.

Sesaat sebelum kita memasuki pelataran pura. untuk tempat duduk. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian. kita akan melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. Ini salah satu alasan memilih bangku belakang. Namun. lalu membakarnya. sambil melemparkan pandangan ke arah penonton. Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai. Ubud. tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. karena keperawanannya berarti kesucian. Ia bertingkah dengan sangat liar. Padang Tegal Kelod. acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai. Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. yang kebanyakan turis dari luar negeri. Nantinya. Apabila sempat menikmati tarian ini secara langsung. di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. Untuk menikmati tarian sendiri. acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. kita akan melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. pengunjung dibebaskan memilih. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. yang terbagi menjadi lima babak. Bali. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api. Yakni setiap Selasa. tidak terdengar sumbang sedikit pun. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrakjingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton. Suara mereka sangat merdu. Kamis dan Jumat pada pukul 19.00 Wita. maka ia pun akan menari di atasnya. Kenapa harus perawan. Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana. Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. selain tiket.di Jl Hanoman. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. yaitu agar aman dari bara api yang . Sekitar lima menit kemudian. Mereka adalah rombongan penari kecak. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat. Dan beberapa kali ia menendangnya. hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan.

Rangda dan Celuluk. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean. pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi . Putri. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan. Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (muridmurid).melayang akibat tendangan si penari. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur. sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. 7. Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak. yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket. Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting. Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong. maupun Gong Kebyar. Bebarongan. Dari segi tempat pementasan.Calonarang Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir. menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin). ilmu hitam maupun ilmu putih. rasanya kurang lengkap. Anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini. sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang. Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket.

ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. Jenis tari Jauk ini antara lain • Jauk Keras (Jauk Enggang). yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. 9. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. Penarinya adalah pria. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. • Jauk Manis (Jauk longgor). Sunda Upasunda dan lain sebagainya. sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita. Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha. Jauk Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana. mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria.(trajangan atau tingga) dan pohon papaya. merupakan perkembangan dari tari sanghyang.9. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX. 8.Janger Merupakan jenis tarian pergaulan. terutama bagi muda mudi. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. • Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang- .

para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari). setan dan lainlainnya.• • kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak). kertas. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali. binatang. manusia. topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar). Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong. . 10. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung. Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.Topeng Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi. Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda.

seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. yakni topeng Sidakarya. muncul sejak makin maraknya pertumbuhan tari-tarian Bali kreasi baru di awal tahun 1970. Dalam gamelan ada alat musik tabuh. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan.Sugriwa Barong-Barongan c. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. alat bunyi-bunyian tradisional disebut gamelan atau gambelan. maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. petik dan sebagainya. Seni karawitan Seni Karawitan adalah seni mengolah bunyi benda atau alat bunyibunyian (instrumen) tradisional. Di Bali. gesek. Kreativitas seperti ini melahirkan garapan tari baru yang inovatif yang menawarkan gagasan atau nafas-nafas baru yang dapat dikelompokkan sebagai tari Bali modern.Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua). Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres. Di dalam tarian baru ini elemenelemen seni klasik/ tradisional Bali dipergunakan secara bebas dan kreatif.Tari Kontemporer Salah satu tarian kreasi baru yang mempunyai ungkapan artistik yang bebas. Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). . 11.yang lebih tua. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada. Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. kaprahnya. Cak Rina Setan Bercanda Ngelawang Cak Subali . Panasar (Kelihan . sesuai rasa estetik individu penatanya. tiup. dan Cenikan yang lebih kecil).

Kalaupun ada kendang. Beberapa barungan madya antara lain :  Batel Barong . Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang. merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumeninstrumen bermoncol (berpencon). Dalam barungan ini. Beberapa gamelan golongan tua antara lain :  Angklung  Balaganjur  Bebonangan  Caruk  Gambang  Gender Wayang  Genggong  Gong Beri  Gong Luwang  Selonding Barungan madya.Menurut jamannya. Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:  Gamelan Wayah  Gamelan Madya  Gamelan Anyar Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV. dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX. kendang sudah mulai memainkan peranan penting.

yaitu: Wayang Lemah ( Wayan Gedog) Wayang Peteng Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih . Beberapa gamelan anyar antara lain :  Adi Merdangga  Bumbung Gebyog  Gamelan Bumbang  Gamelan Geguntangan  Gamelan Genta Pinara Pitu  Gamelan Gong Kebyar  Gamelan Janger  Gamelan Joged Bumbung  Gamelan Manikasanti  Gamelan Semaradana  Gong Suling  Jegog  Kendang Mabarung  Okokan / Grumbungan  Tektekan Instrumen-instrumen gamelan tersebut adalah: 12. adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. yang meliputi jenisjenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX. seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya. Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis. Di desa-desa maupun di kota. maupun sebagai hiburan semata. Wayang  Wayang Kulit Wayang Kulit. Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang.      Bebarongan Gamelan Joged Pingitan Gamelan Penggambuhan Gong Gede Pelegongan Semar Pagulingan Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru. masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu. upacara adat Bali.

dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana. Betapa tidak. ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali. Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini. Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap. kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral. dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa. wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari. Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. Di lingkungan budaya Bali. Di Bali. Sebagai sajian tugas akhir. yadnya. dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa. bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur. baik untuk menyelesaikan program . pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang. gerak dan suara. Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak). 1975). Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka. pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalangdalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M).diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia. pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). dari India ataupun dari negara lain. Belakangan ini dalang muda berbakat. atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing. sastra. spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa. etika dan lain-lain.

I Nyoman Catra.bait penting dari Kakawin. para mahasiswa juga telah melakukan berbagai percobaan. dan sebagainya. Misalnya: • • • • • • Penggunaan layar lebar berganda. pemakaian overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang. Amerika Serikat. Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali. pemakaian wayang golek besar. dan lain sebagainya. . gamelan Selonding dan Selukat juga telah dicoba untuk mengiringi pertunjukan wayang Bali. Desak Suarthi Laksmi) dengan seniman dalang Larry Reed dari San Francisco. penggunaan tata-lampu modern. Nama ini diberikan berdasarkan kenyataan bahwa dalam pertunjukannya terdapat perpaduan dua unsur penting yaitu : pemain wayang kulit Bali dengan permainan atau proyeksi cahaya lampu listrik. Pada beberapa bagian pertunjukan. semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. Masih merupakan bagian dari perkembangan wayang kulit Bali adalah wayang Listrik yang merupakan hasil kerja patungan antara seniman (I Made Sidja. pemakaian pemain wayang dalam jumlah yang banyak dengan satu orang dalang sebagai narator. Pertunjukan pertama wayang listrik ini dilakukan di San Fransisco dan pada tahun 1996 yang lalu juga dipentaskan di Bali dalam rangka Festival Wayang Walter Spies. semua penari berdialog. Dalam hal iringan.  Wayang Orang Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong). spotlights.Seniman (setingkat Sarjana) pada jurusan Seni Pedalangan di STSI Denpasar. seperti lampu strobo. para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait . yang didukung oleh Gamelan Sekar Jaya di bawah asuhan komposer muda. I Dewa Bratha. Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan.

Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna. Prancak. kecuali para punakawan. seperti Malen. bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan . Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. Terdapat di desa-desa: • • • • • • Mas. Telepud. Tunjuk. Den Tiyis (Gianyar). Parwa terdapat di desa-desa: • • Sukawati. Merdah. Pujung (Gianyar) Blahkiuh (Badung). terutama di naskah-naskah lontar. Sulahan (Bangli). Tatkala masuk pengaruh Majapahit. yaitu Wayang Wong Ramayana. Klating (Tabanan). Apuan. Marga. BAHASA DAN AKSARA ➢ Bahasa Bali Dr. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. Batuagung (Jembrana) Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa). Delem. Wates Tengah (Karangasem). 13. dan Wayang Wong Parwa. ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana. perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. Bualu (Badung). bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan. Teges. Hampir semua penari mengenakan topeng. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. Karena itulah.Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong. Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng. Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. Sanggut. Pertama. Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja.

Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -. Artinya. Peninggalanpeninggalan prasasti dari jaman Hindu-Bali menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. u. ca. Bahasa Bali juga mengenal apa yang disebut ”perbendaharaan kata-kata hormat”. bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini. Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan. ra. Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai saat berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi telah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh modernisasi dan demokrasi. Dilihat dari perbendaharaan kata dan strukturnya. Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit). ang. kasar. satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari . na. kedua. bisah (h). Contoh pangangge tengenan: cecek (ng). asah. Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga.utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. dan aad. Jika kita perhatikan tulisan aksara mang. Dewa Brahma dengan lambang api. Bahasa Bali kuno itu. pada masa berikutnya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit. ung. Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. segi tiga). Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa. o. e. yaitu pada masa pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. walaupun tidak sebanyak seperti dalam bahasa Jawa. Selain itu. dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara. windu (matahari. i. misalnya: ong. misalnya: a. huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan. ➢ Aksara Bali Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. misalnya: a. surang (r). ka. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). bahasa Bali tidak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali). Misalnya kata gamang.aksara yang dipergunakan sehari-hari. mang) dan modre atau aksara lukisan magis.) dan nadha (bintang.nama bahasa Bali Mula. dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. selain mengandung banyak kata-kata Sansekerta. bulatan. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara.

huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Derajat ketelitiannya cukup bagus. setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra tambahan yang merupakan bulan kabisat. Dalam perhitungan matematis. Kalender Bali bisa dianggap istimewa sebab kalender Saka Bali adalah penanggalan "konvensi". Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal. diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. 14. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Panjang bulan Dalam 1 bulan candra atau sasih. kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. sampai 30 pada bulan mati. untuk membedakan warna. Idealnya awal tahun . Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Untuk menyelaraskan itu. 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong. namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Setelah purnama. tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya. Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru. Tidak mutlak astronomis seperti kalender Hijriyah. Hari ini dinamakan pangunalatri. Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India. namun tidak pula seperti kalender Jawa. menggunakan warna merah pada kalender cetakan. sering dipakai titi. KALENDER BALI Kalender Saka Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. sampai 15 yaitu purnama. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru. hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun. Dikatakan konvensi atau kompromistis.

Sebetulnya be guling dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam. 15. Idealnya pada penanggal 1. diundur 1 hari. dan angka tahun dari sasih terakhir. yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). MAKANAN KHAS BALI Lawar Lawar merupakan makanan khas Bali yang dibuat dari campuran daging. Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini. tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa).surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu). Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa. Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi dan disantap sehabis melaksanakan upacara adat dengan cara prasmanan. Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2. Dengan demikian sasihsasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. diperingati sebagai hari raya Nyepi. Tahun Baru Tahun baru bagi Kalender Saka Bali. pepaya muda dengan bumbu lengkap Bali. sehingga tahun baru Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi. Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa). bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa). Sejak hari raya Nyepi. Babi guling adalah sejenis lauk pauk yang di buat dari anak babi betina atau jantan secara utuh . Pada tahun 1993. nangka muda. angka tahun Saka bertambah 1 tahun. karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Babi Guling Nama babi guling untuk daerah bali lebih dikenal dengan be guling.

bawang putih. Kemudian irisan gedebog dimasukkan ke dalam kaldu. Kemudian irisan ini harus diremas dengan garam agar getahnya hilang. dalm bahasa Indonesia Sayur Ares. Kemudian dibuat rebusan kaldu ayam ato babi. Entil Pupuan . dibuang bagian luarnya. Tambahkan daun salam agar wangi dan garam supaya tidak hambar. kunyit. kencur.Bali . Cara memasaknya mudah. dan merica 'kalo suka". namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung. Makanan ini dari batang pohon pisang yang muda. kemudian dicuci untuk menghilangkan rasa asin garam. terasi. Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan. jahe. dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai denga warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah.kecuali isi perutnya dikeluarkan seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon. orang Bali menyebutnya "gedebong". terus diiris-iris. Babi guling yang paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar. sampai ketemu bagian muda. Bahan yang dipakai batang pohon pisang batu atau batang pohon pisang yang lain. cabe. laos. Kemudian ditambah bumbu "basa genep" atau bumbu lengkap yang terdiri dari: bawang merah. kemudian masak hingga matang. Batang pohon pisang dikuliti. rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali. Jukut Ares Jukut Ares.

Entil biasanya dimakan dingin. mirip lontong sayur. Paon (dapur) 8. serundeng ( parutan kelapanya besar-besar dan kering. 16. Aling-Aling 9. sayur urap. dan berkuah warnanya kuning. tidak manis seperti serundeng umumnya ) kemudian disiram dengan "be jeruk" yang sedikit berkuah. Tempat Tidur (Meten) 3. tempat 6. tempat menyimpan gabah/padi 7. Bale Dauh sebagai tempat beraktivitas 4. Bale Dangin. Arsitektur Tradisional Bangunan Hunian 1. Pura Keluarga (Merajan) tempat memuja leluhur dan Hyang Guru 2. Pamesu/Kori . Satu porsi terdiri dari entil 2 bungkus. "be jeruk" merupakan sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir-suir dicampur sama kelapa parut. Jineng/lumbung.

lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. PURA Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur. . digunakan sebagai tempat pemujaan. Pura Kahyangan Jagat Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum. yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi). yang artinya adalah kota. dan Pura Luhur Uluwatu. Pamerajan atau sanggah. istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah. sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Pura Rambut Siwi. -puri. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding. Pura Luhur Batukaru. atau anak gadis. tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Secara umum pura diklasifikasikan menjadi : 1. -pore). Pura Sakenan. sedang daerah publik dan bangunan pendukung (paon. atau kota dengan menara atau istana. pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah. merupakan arah masuk ke hunian. di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri sendiri. 17. tempat menerima tamu Hunian pada masyarakat Bali. sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa . Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga. -pura. tempat ibadah) berada dalam satu atap. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci. -puram.Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti. adalah bangunan paling awal dibangun. ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan alingaling. Sekenem. sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan.melaksanakan aktivitas ritual seperti menaruh dan membuat sesajen 5. Pura Lempuyang. kota berbenteng. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali. Di sini pula tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu.

4. Sanggah-Pemerajan. Pura Kahyangan Desa Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma. dan Pura Uluncarik. 3. para petani dengan Pura Subak. perkantoran pemerintah maupun swasta. Pura Ulunsuwi. Paibon. Pura Kawitan Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut. Pura Bedugul. Termasuk ke dalam kategori ini adalah. Pedharman dan sejenisnya. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa.2. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti. Panti. Dadia atau Dalem Dadia. untuk para pedagang adalah Pura Melanting. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada. Penataran Dadia. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel. . Pratiwi. Pura Swagina Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional.

Sekarang ini telah tampak bahwa proses perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali yang cepat mendapat efek sampai ke sendi- . Kegiatan pariwisata hanya menyebabkan perubahan-perubahan fisik saja dan tidak sampai pada sendi-sendi masyarakat dan kebudayaan Bali. dengan adanya sistem pendidikan sekolah-sekolah dan dengan kegiatan pariwisata yang sudah dikembangkan secara luas waktu itu. maka proses perubahan itu berjalan amat lambat. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan sekolah dikembangkan dengan intensif dan ekstensif. sedangkan jumlah dari sekolahsekolah itu amat terbatas pada beberapa buah yang ada di dua-tiga kota saja. Segera setelah itu proses perubahan tumbuh dengan cepat. masyarakat dan kebudayaan Bali masih tampak sama seperti berabad-abad lalu. Namun karena sistem pendidikan hanya terbatas kepada tingkat SD. Banyak pemuda Bali yang pergi ke luar Bali dan ke luar negeri untuk belajar sampai akhirnya universitas-universitas didirikan di Bali. Pada awal zaman kemerdekaaan.MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Proses perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan Bali itu memang sudah dimulai sejak zaman kolonial.

Walaupun demikian. Akhirnya. Saat ini. pembaharuan dalam kehidupan dan pendidikan agama Hindu-Bali juga sengaja dibina oleh majelis agama tertinggi bernama Parisada Hindu Darma. dibalik itu orang Bali juga mulai merasakan aspek-aspek negatif dari perkembangan tersebut yang dapat mengancam nilai-nilai budaya yang mereka junjung tinggi. Kaum terpelajar dan cendekiawan Bali. Hotel-hotel kelas melati perlahan-lahan tutup. Bali seakan terpuruk. Harapan pada denyut nadi pariwisata hancur lebur. PASCA BOM BALI Pascabom Bali Oktober 2002 dan Oktober 2005. risiko ini harus dipikul bersama karena proses modernisasi tidak dapat dihindari lagi dan mutlak harus kita alami semua. Bali dijadikan daerah pariwisata yang utama.sendinya. Beragam kegiatan dibuat untuk mengembalikan citra pariwisata Bali yang terpuruk karena Bom Bali dan berturut-turut Perang Amerika—Irak dan wabah SARS. Bandara Ngurah Rai selalu penuh dengan antrean keberangkatan tanpa ada antrean kedatangan. Sektor kepariwisataan telah memberi lapangan kerja pada banyak orang Bali serta telah menstimulasi sektor kerajinan. Wisatawan kabur karena takut bom susulan datang. rekreasi dan transportasi untuk berkembang. kondisi ini menjadi semacam senasib sepenanggungan akibat Bom Bali. Kondisi inilah kemudian yang menjadi “tersalah” dalam terpuruk dan ambruknya pariwisata Bali. perhotelan. Keketatan hukum adat mengenai sistem kasta dan klen sudah mulai kendor. Dilema ini sedang dan akan dialami oleh masyarakat yang mengalami zaman transisi pembangunan dan proses modernisasi. Saat itu—awal Januari 2003—mulai terdengar program-program . Berbagai program tayangan promosi Bali terus dilakukan.Oleh karena itu para penduduk daerah Bali harus tetap menjunjung nilai budaya mereka dengan tetap melaksanakan serta melestarikan kebudayaan Bali yang telah diwariskan nenek moyang mereka. karena kesibukannya sehari-hari. masyarakat Bali menyambutnya dengan gembira. Sebagian warganya yang bekerja di hotel-hotel mengeluh penghasilannya menurun drastis. Bali menjadi seperti pulau yang hanya menunggu untuk karam saja tanpa pariwisata. Sontak setelah tertangkapnya pelaku bom Oktober 2002 dan 2005. seni lukis. Selain itu. seni tari dan seni suara. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) berlangsung silih berganti. tidak sempat lagi untuk mengikuti detail adatistiadat serta upacara-upacara keagamaan Hindu-Bali secara teliti sehingga dalam waktusingkat akan terjadi penyederhanaan dalam sistem upacara keagamaan. Berbagai usaha mempromosikan pariwisata Bali terus menerus dilakukan. pengangguran semakin membludak dan tentu saja desa-desa adat di Bali “gerah” dengan kondisi seperti ini. Namun.

Belum lama berselang.“ kata seorang warga masyarakat di warung desa. Bali terkenal dengan semangat puputan (perjuangan melawan penjajah sampai titik darah penghabisan). jujur harus diakui. Maka. membuat masyarakat Bali semakin waspada dan siaga setiap saat. idenitas. Bali adalah hasil dari pertarungan. tapi melawan teroris dan orang-orang yang merusak kebudayaan Bali. Jargon yang sebenarnya dimulai dari propaganda sebuah media terbesar di Bali yang kemudian diikuti oleh promosi ke berbagai kabupaten di Bali. dilakukan roadshow ke seluruh kabupaten di Bali untuk penandatanganan prasasti Ajeg Bali oleh bupati se-Bali. Dan sampai saat ini kelompok-kelompok ini memendam identitas dalam identitas ke-Bali-an. Karena. Ada sebuah usaha untuk menjadikan Bali sebagai pusat dari pemulihan pariwisata. pentas musik sensasional “Voice Of Star” dan berbagai event hiburan dan pertemuan-pertemuan nasional serta internasional yang dilangsung di Bali. sebuah sikap wujud kecintaan pada tanah air Bali. Salah satu hal yang dilakukan desa adat/pakraman dengan jajarannya adalah sweeping dan pendataan penduduk pendatang. Tentu saja pemicunya adalah persaingan antar puri (tempat raja di Bali yang . pembantaian dan pembersihan soroh-soroh. saat zaman kerajaan dan perang-perang kemerdekaan 1942-1945. Nindihin bagi masyarakat Bali adalah sebuah pembelaan. Kini. dan soroh. Selain mengembalikan pariwisata Bali. semangat puputan ditunjukkan dengan sikap nindihin Bali bukan melawan kolonial Belanda dan Jepang. Dalam obrolan di warung-warung desa di Bali. pertengahan Juli ini. jika merunut sejarah. Dalam perspektif berpikir beberapa orang Bali. Ini dilakukan dengan serempak mulai awal 2003 hingga kini dan menjadi perdebatan hangat di Bali dan juga mendapat respon nasional pada Maret—Juni 2003 dan mulai meredup dan menjadi keharusan pasca Bom Bali 2005. lembaga-lembaga tradisi seperti desa adat/pakraman (desa-desa di Bali). lahir jargon Ajeg Bali. yang juga sebenarnya menyimpan konflik dan kekerasan yang terpendam. Pascabom Bali dan ditengah keranjingan menjaga Bali tidak terpukul dua kali. Bom Bali dan teroris adalah kala (mahluk jahat) yang bisa menghancurkan Bali.“Recovery Bali” dan dikuti dengan “Bali For The World”. bahwa cap teroris ternyata menggangu dan menjadi musuh bersama orang Bali. Sebelumnya. “Tiang (saya) siap nindihin (membela sampai mati) Bali melawan teroris. Ternyata dengan adanya Bom Bali 2002 dan 2005. Ini karena Bali memiliki citra “Bali” hasil konstruksi eksotika dan ketergantungan negara luar Bali sebagai kunjungan wisata. Ajeg Bali adalah pemurnian Bali dalam hal pemurnian ras. Ternyata. pecalangan (satuan pengamanan tradisonal Bali) serta seluruh perangkat desa pakraman di Bali juga semakin memproteksi dirinya. mulailah dilakukan program-program untuk nindihin Bali tersebut. Ini sebenarnya potensi konflik dan kekerasan secara horizontal.

Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. menanamkan dewa-dewa yang dipuja orang Hindu Bali. komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan. dan waisya) dalam teori kelas dan kasta di Bali. juga sebagai jago kebudayaan Ajeg Bali. hubungan darah. Inilah bentuk kerinduankerinduan orang Hindu Bali yang kemudian bisa dipenuhi oleh Ida Pedanda Made Gunung. kedewan-dewan (hidupnya selalu memikirkan dewa. Bali sangat merindukan seorang pendeta sebagai pencerah kehidupan agama Hindu Bali.sekarang masih ada) ataupun pendobrakan kelas-kelas sudra (pasek. Kerinduan untuk mencari asal-usul. sedang dampak postif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Lihat Ruastiti 2005. muncul penyejuk dan pemersatu umat. Kiprah pendeta ini dicuatkan oleh media televisi lokal. dan pencarian identitas dan esensi ke-Bali-an. pernyataan akan “kebenaran” tingkah laku dan sikap beragama. kecemasan. Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi. dan mulai mendapatkan pembenaran secara alamiah—melalui sastra agama dan tentunya keyakinan yang disampaikan Ida Pedanda Made Gunung. lewat program Dharma Wacana (pencerahan keagamaan) setiap sore hari. grup media terbesar di Bali (baca: Bali Post). namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan. orang Bali seakan mendapat pencerahan. Dengan masalah-masalah upakara (sesajen untuk upacara-upacara). . Yang paling penting tentunya–dari kiprah Ida Pedanda Made Gunung—adalah mengidentitaskan. Tuhannya). Maka munculnya Ida Pedanda Made Gunung yang melayani semua pertanyaan. Di tengah kebingungan inilah. dan keturunan. Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. jati diri. ksatria. Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian. Dalam titik inilah. Dalam istilah Balinya. Ardika 2004).) terhadap kelas tri wangsa (brahamana. pande. dll.