BUDAYA NUSANTARA

KEBUDAYAAN BALI

Disusun oleh:

I Gede Yudi Paramartha (18) I Made Adi Primanta (19) I Wayan Primadyantara (20) Nur Aini (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata (island God/island Paradise) merupakan salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Bedugul, Ubud, Sukawati, Lovina, dan lain lain merupakan tempat wisata yang terkenal di Bali. Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, tetapi kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Selain itu, kebudayaan Hindu yang sudah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3'40" - 8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" - 115°42'40" Bujur Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut: • • • • Utara : Laut Bali Timur : Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) Selatan : Samudera Indonesia Barat : Selat Bali (Propinsi Jawa Timur)

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. • Tabel Luas Wilayah Tiap Kabupaten di Provinsi Bali

Kabupaten/Ko Ibukota ta Jembrana Tabanan Badung Denpasar Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Buleleng Jumlah Negara Tabanan Badung Denpasar Gianyar Semarapura Bangli Amlapura Singaraja

Luas (km²) 841,80 839,30 420,09 123,98 368,00 315,00 520,81 839,54 1.365,88 5.634,40

Persentas e (%) 14,94 14,90 7,43 2,20 6,53 5,59 9,25 14,90 24,25 100,00

Sumber: Master Plan Penunjang Investasi Provinsi Bali Tahun 2006-2010

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam

Masyarakat .486 ha. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Di pegunungan tersebut terletak puri-puri (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali seperti Pura Pulaki. dalam upacara agama. Badung. Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali. Kedua arah tersebut sama baik di Bali Utara maupun Bali Selatan.189 ha. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan. Pada satu status sosial atas dasar warna 5. sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Hal ini berlaku sebaliknya untuk orang di daerah selatan. Dalam bahasa Bali kaja berarti ke gunung dan kelod berarti ke laut. Pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu 4. letak susunan rumah kuil. Berarti untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan dan kelod berarti utara. Besarnya arti dari konsep kaja-kelod dalam masyarakat Bali tampak pula dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. SEJARAH Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Tamblingan dan Danau Batur. Klungkung). Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu 7. Gianyar. Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial. yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132. Perbedaan ini tidak hanya tampak pada penunjukan arah dalam bahasa Bali. yaitu: 1. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan sedikit bahasa. Pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas 3. dsb. Pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu 2. Pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal 6. Pegunungan tersebut mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. Buyan. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit dan daerah-daerah di bagian selatan Bali Tengah (kabupaten Tabanan. dan terutama Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung.(15-40%) seluas 190. Pura Batukau. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Arah membujur dari pegunungan tersebut menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali Utara dan Bali Selatan.

Masa perundagian Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng . tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya. para aristrokrat Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit melarikan diri dari ke Bali untuk menghindari pengkonversion Islam. masa konversi Islam di Pulau Jawa. pendidikan. yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Tigawasa di Kabupaten Buleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Cempaga Sidatapa. maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita. sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatra Selatan. Orang Bali-Aga umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya. Pedawa. Masa bercocok tanam 4. Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. Kalimantan Tengah. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut 3. Sulawesi dan Nusa Tenggara. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana 2. kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi: 1.Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Leluhur orang Bali masuk ke Bali dalam tiga periode: gelombang pertama adalah suku proto-Melayu yang datang dari Jawa dan Kalimantan pada zaman prasejarah. Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. Kenyataannya memang leluhur suku Bali kebanyakan berasal dari Pulau Jawa. serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut. gelombang ketiga dan terakhir juga datang dari Jawa sekitar abad ke15 dan 16. ada juga orang Bali di bagian barat dari Pulau Lombok. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali. Sekarang ini komunikasi modern. Kecuali di pulau Bali. 1. merekalah yang akhirnya membentuk kultur Bali yang merupakan suatu bentuk sinkretisasi dari kultur Jawa klasik dengan banyak tambahan elemen Bali. gelombang kedua adalah migrasi sedikit demi sedikit dari Jawa pada zaman Hindu. Masa Prasejarah Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali.

diantaranya adalah Pasek Taro. 1. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. belincung dan panarah batang pohon. Dan saat ngaben. Persekutuan kepemimpinan tersebut masih ada sekarang dan tetap dipertahankan di desa-desa Bali Aga. lalu muncullah istilah beya tanem. tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. yang kemudian membaur pada masa berikutnya dengan orang-orang yang datang dari luar Bali. Kebudayaan Bali Mula masih melanjutkan tradisi bangsa Austronesia. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. kapak berimbas. mereka tidak berani menghias wadahnya dengan kertas. walaupun kedatangan kebudayaan agama Hindu. padang-padang. Manusia Bali keturunan Austronesia pada masa itu hidup berkelompok dan dipimpin secara kolektif oleh 16 Jro yang umumnya disebut dengan Sahing 16. Goa ini terletak di pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. dan kepala suku atau pimpinannya disebut dengan nama Jro Gede yang penunjukannya dilakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia tertua anggota persekutuan. plawa dan sebagainya. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding. Manusia Austronesia inilah yang menjadi leluhur sebagian orang Bali Mula. terutama dalam hal adat. dan di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar. mereka hanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti ambu. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. Mereka yang dikelompokkan sebagai warga Bali Mula. Memasuki Masa Sejarah . parasbaan. serut dan sebagainya. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). kapas dan lain-lainnya. tetapi mereka hanya menerima upacara dan upakaranya saja. dengan ketua kelompok yang kemudian disebut dengan Pasek Bali. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran. Pecatu (Badung). misalnya ngaben mereka terima tapi membakar mayat tidak.Timur). Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar yaitu goa Karang Boma.

1. Masuknya Agama Hindu Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masamasa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata Walidwipa. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah panglapuan. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah pakiran-kiran i jro makabaihan. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya

dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja. 2. Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. 3. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460-1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). 4. Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil

ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

FILOSOFI MASYARAKAT

Panca Sradha Panca Sradha merupakan kepercayaan pokok masayarakat Hindu di Bali yang terdiri atas lima bagian, yaitu : 1. Brahman, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Atma, percaya kepada roh atau jiwa pada setiap makhluk hidup yang berasal dari percikan suci Tuhan 3. Karma Phala, percaya akan adanya hukum sebab akibat. Setiap perbuatan(karma) pasti akan mendatangkan akibat (pahala) 4. Samsara atau reinkarnasi, percaya akan adanya kehidupan/lahir kembali yang disebabkan karena adanya karma.

Orang Bali percaya bahwa manusia dan alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur yang sama. Parahyangan (Tuhan Yang Maha Esa) b. Rwa Bhineda. Moksa. Pikiran yang baik(Manachika Parisudha) b. Bhuana AgungBhuana Alit. sudah sepatutnya manusia dan alam bekerja sama untuk saling menjaga kelangsungan kehidupan. Orang Bali percaya bahwa positf dan negatif itu selalu berjalan berdampingan. Jadi. Tri Hita Karana Tri Hita Karana secara harfiah berarti tiga penyebab kebahagiaan. Orang Bali percaya bahwa kebahagiaan dalam kehidupan ini bisa terwujud apabila tercipta keselarasan dan keharmonisan antara manusia dengan tiga penyebab berikut ini a. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha berarti tiga macam tingkah laku yang patut disucikan. antara lain 1. Baik dan buruk. Konsep Rwa Bhineda mungkin mirip dengan konsep Yin dan Yang. dan Tat twam asi. Yadnya berarti korban suci yang tulus ikhlas. yaitu: a. Pembahasan mengenai yadnya akan ada pada bab berikutnya yang berkaitan dengan sistem adat dan religi. Berdasarkan kepercayaan pokok inilah lahir ajaran-ajaran/filosofi lain sebagai implementasi dalam kehidupan. Bhuana Agung berarti bumi atau alam semesta. sedangkan bhuana alit adalah manusia. setiap perbuatan atau kegiatan yang dilaksanakan harus memperhatikan keselarasan antara alam nyata dengan tidak nyata.5. hitam dan putih. Keseluruhan konsep di atas diwujudkan melalui pelaksanaan Yadnya. Pengorbanan itu bisa berupa materi maupun berupa hal-hal imaterial. Perkataan yang baik (Wachika Parisudha) c. seperti konsep Skala-Niskala. Konsep skala-niskala menunjukkan bahwa orang Bali percaya akan adanya alam nyata (skala) dan alam tak nyata/tak kasat mata (niskala). suka dan duka adalah hal-hal yang selalu terjadi di dunia. Oleh karena itu. . Pawongan (sesama manusia0 c. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan manusia mengganggu atau merusak alam yang tidak nyata karena bila terjadi dapat menyebabkan hal-hal yang tidak baik. Tinggal bagaimana manusia menyikapi hal-hal tersebut. Palemahan (alam lingkungan) Selain itu ada juga filosofi-filosfi lain yang mendasari setiap aspek kehidupan masarakat Bali. tujuan akhir makhluk hidup yaitu bersatunya kembali atma dengan brahman. Pebuatan yang baik (Kayika Parisudha) 1.

jagung. Kegiatan beternak umumnya merupakan kegiatan sampingan. Orang Bali juga terkenal akan keahliannya dalam bidang seni sehingga ada banyak orang yang berprofesi sebagai pengrajian. Pertanian di Bali cukup bervariatif sesuai dengan keadaan geografis Bali yang beragam. Selain itu. dan kerbau. Kawasan Bali Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan hawa yang dingin sehingga merupakan tempat yang cocok untuk perkebunan sayur. Hasil dari kerajinan ini antara lain patung. guider. Daya tarik pariwisata terutama berasal dari kebudayaan unik masyarakat sendiri yang ditunjang dengan alam yang indah. atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang . dan nelayan. Hasil ternak ini umumnya untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan upacara keagamaan. Akan tetapi. maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen. Kawasan Bali bagian selatan merupakan dataran rendah yang cocok untuk sawah padi. Sehingga cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya dalam dunia pariwisata. dan penjual cendramata. ukiran.Mata Pencharian Sebanyak kira-kira 70% orang Bali menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. SISTEM KEKERABATAN Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. Bali terkenal dengan pariwisatanya. restauran. Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). memasuki zaman global ini semakin banyak orang yang meninggalkan profes sebagai petani dan mulai beralih kepada profesi lainnya. dan sejenisnya. ayam. sapi. buruh bangunan. bebek. buah. Hasil ternak yang banyak dijumpai adalah babi. Profesi ini banyak digeluti oleh masyakat yang terutama tinggal di daerah Gianyar dan Klungkung. dan lain sebagainya. Sedangkan sisanya terdiri dari pedagang. kacang-kacangan. peternak. karyawan atau PNS. perhiasan. bunga dan hasil hutan seperti cengkih. dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. lukisan. Bali terkenal dengan Subak sebagai organisasi untuk mengatur masalah pertanian. karena dengan itu barulah ia dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat. pengrajin. seperti irigasi dan hal-hal lainnya. mulai dari perhotelan.

Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen. tetapi rupa-rupanya adat ini terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar. karena perkawinan yang demikian itu dianggap mendatangkan bencana (panes). Sesudah pernikahan. suami isteri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. Perkawinan pantang yang dianggap melanggar norma kesusilaan sehingga merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya. Orang-orang se-klen (tunggal kawitan. seorang pemuda Bali itu dapat memperoleh seorang isteri dengan dua cara. Demikian. maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya. hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi. berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh). sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar-kasta yang berbeda derajatnya. ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga. atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat. Kedua cara itu berdasarkan adat. Lain bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki isteri (makedengan ngad). sudah menghilang. walaupun tidak sedikit juga suami isteri baru yang menetap secara neolokal dan mencari atau membangun . perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen.dianggap sederajat dalam kasta. ngrorod). Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya. dan pada waktu ini perkawinan campuran antar-kasta sudah relatif lebih banyak dilaksanakan. Semenjak tahun 1951. antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya. dan secara fisik suami-isteri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama. dan demikian juga dalam kasta. tunggal dadia. upacara perkawinan (masakapan). Dahulu apabila terjadi perkawinan campuran yang demikian. ngidih) kepada keluarga seorang gadis. Pada umumnya. yaitu dengan cara meminang (memadik. serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita tersebut. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah). yang umumnya bersifat exogam. Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa seperti kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawini. dan akhirnya lagi suatu kunjungan resmi dari keluarga si pemuda ke rumah orang tua si gadis untuk minta diri kepada ruh leluhurnya. dan antara seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya). tunggal sanggah) di Bali itu adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama.

Struktur dari tunggal dadia ini berbeda-beda dipelbagai tempat di Bali. Sebaliknya. yang disebut kemulan taksu. dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Kalau suami isteri tinggal secara virilokal. tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di masing-masing kediamannya. Walaupun demikian. Di desa-desa di tanah datar. sering ditambah dengan anak-anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan lain-lain orang yang menumpang.rumah baru.  Keluarga Batih. Keluarga Luas. maka ada juga keluarga-keluarga batih yang sifatnya poligini. ada pula suatu adat perkawinan di mana suami isteri baru itu menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan lari si isteri (nyeburin). Di desa-desa di pegunungan. Salah satu dari anak laki-laki biasanya tetap tinggal di kompleks perumahan orang tua (ngerobin) untuk nanti dapat membantu orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya lagi dan untuk menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. dan bentuk keluarga batih ini tergantung pula dari macam perkawinan itu. Demikian pula anak-anak dan keturunan mereka yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri. kalau seorang anak laki-laki sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mempu untuk berdiri sendiri. orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal. dan Rumah Tangga Akibat dari perkawinan adalah terbentuknya suatu keluarga batih. baik orang yang masih kerabat maupun yang bukan kerabat (pembantu rumah tangga dan lain-lain).  Klen Kecil dan Klen Besar Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan). menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. keluarga-keluarga yang bersifat poligini ini hanya terbatas dalam lingkungan-lingkungan tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak. dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa). Sesudah beberapa. Dengan demikian. Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami. Di samping . sebenarnya suatu rumah tangga yang sudah tua terdiri dari suatu keluarga luas virilokal yang terdiri dari suatu keluarga batih senior dengan beberapa keluarga batih yunior yang hidup bersama dalam satu kompleks perumahan (uma) sebagai kesatuan yang formil. ia memisahkan diri dari rumah tangga orang tua dan mendirikan rumah dan rumah tangga sendiri yang baru (ngarangin). Tempat di mana suami isteri itu menetap. Karena poligini diijinkan.

maka klen-klen di Bali daerah dataran. sedangkan ketiga lapisan yang pertama . Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja pura leluhur yang sama disebut pura paibon atau panti. Karena proses sejarah yang kembali ke zaman Majapahit. Susunan tinggi rendah dari klen-klen di daerah dataran tampak pada gelargelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. keluarga batih yang hidup neolokal seperti juga masih terikat oleh dan masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap pura asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka. Waisya. Vaisya. Orang-orang bangga apabila dapat menyusur keturunan mereka sampai pada raja-raja atau bangsawan-bangsawan dari zaman Majapahit itu. tersusun dalam suatu susunan berlapis tinggi rendah berdasarkan jarak hubungan kekerabatan dari leluhur-leluhur dari klen-klen itu dengan seorang tokoh raja atau bangsawan dari Majapahit. pretasti) sendiri-sendiri yang masing-masing kembali sampai pada sejarah penaklukan oleh Majapahit dalam abad ke-14. Ksatrya. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarganya yang merasakan dirinya senior. Dalam praktek. pamancangah. yaitu keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama. dan Sudra. Di Bali daerah pegunungan. susunan klen berlapis tinggi rendah serupa itu tidak ada. bahkan batas-batas antara klen-klen dalam kehidupan masyarakat tidak tampak begitu nyata. SISTEM KEMASYARAKATAN  Sistem Pelapisan Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan. Kelompok kerabat yang demikian dapat disebut klen besar. Gelar-gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa.itu. dan dengan demikian suatu pura serupa itu mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota dari suatu klen kecil. yaitu sistem keempat kasta: Brahmana. dan Sudra. Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya. Ada pelbagai klen yang mempunyai sejarah keturunan (babad. yaitu Brahmana. karena itu tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai kelompok-kelompok kerabat yang bersifat patrilineal. suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Sistem ini terpengaruhi oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu Kuno. Pelbagai keturunan inilah yang memberikan susunan yang lebih kompleks kepada klen-klen patrileneal yang terdapat di Bali daratan. Satria.

dan lapisan yang keempat disebut Jaba. Desadesa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. 1. Pendeta-pendeta tidak usah lagi berasal dari wangsa Brahmana. banjar. dan akhir-akhir ini mereka malahan sudah dianggap sederajat dengan pendeta-pendeta dari wangsa Brahmana. Konsep desa memiliki dua pengertian. Sebaliknya. atau secara konkret dibawah pengawasan pimpinan desa.sebagai kesatuan disebut Triwangsa. mendapat tempat duduk yang . Desa Desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat. dan warga klen-klen yang termasuk Jaba tinggalnya lebih terpusat pada daerah-daerah terbatas. Hanya sebagian kecil dari rakyat Bali. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. Misalnya undang-undang (awig-awig) yang menghukum adanya perkawinan antara gadis yang lebih tinggi dengan laki-laki yang wangsa-nya lebih rendah telah dihapuskan. lagipula warga klen-klen besar yang termasuk Triwangsa biasanya tersebar luas di seluruh Bali. orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa). Selain itu banyak gelar-gelar lain yang diturunkan oleh klen-klen tertentu tetapi yang kurang terang mengenai kedudukannya dalam wangsa. dan bagi warga klen-klen Wesia adalah Gusti. subak dan seka/sekaha. lainnya berpendapat bahwa gelar-gelar serupa itu termasuk wangsa-wangsa yang rendah dan demikian selalu memang ada perselisihan mengenai kedudukan dari orang-orang yang mempunyai gelar-gelar tadi dalam upacara adat dan dalam sopan santun pergaulan Bali. yaitu desa adat dan desa dinas. lebih dari 85% dari rakyat Bali termasuk warga Jaba. kurang dari 15% yang termasuk anya sebagian kecil dari rakyat Bali. tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak pengawasan desa. gelar bagi warga klen-klen Satria adalah Cokorda. Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. Sesudah kawin. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan dan desa-desa adat di daerah datar. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang memiliki wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan. Sebagian dari tanah wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu. Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita. Zaman modern dengan pendidikannya telah banya membawa perubahan dalam sistem pelapisan wangsa ini. Pemegang gelar-gelar serupa itu tentu akan mengakuinya sebagai gelar wangsa tinggi.  Lembaga Tradisional Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa. kurang dari 15% yang termasuk Triwangsa.

Pura Desa merupakan tempat berstananya Dewa Brahma yang dimanifestasikan sebagai pencipta. konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. Seluruh komplek sebagai suatu kesatuan disebut uma. Mengenai letak dari bale. Hal yang keramat diletakkan pada arah kaja. kaja berarti utara. dan hal-hal biasa yang tidak keramat diletakkan pada arah kelod. Sedang tempat kediaman berada pada arah kelod. Di antara komplek bangunan itu terdapat bangunan untuk tidur. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali. Biasanya ketiga Pura Kahyangan Tiga tersebut tempatnya dipisahkan satu sama lain. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dimanisfetasikan sebagai pemelihara dan Pura Dalem yang merupakan berstananya Dewa Çiwa yang dimanifestasikan sebagai pelebur. Klungkung). Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan.khas di balai desa yang disebut balai agung. satu atau beberapa dapur. Catatan: Dalam bahasa Bali. kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. . dan pada arah kelod diletakkan Pura Dalem (pura yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian). Gianyar. Pura Puseh dan Pura Dalem. Sedapat mungkin bangunan-bangunan dari desa disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap. Pada komplek bangunan (bale) yang ditempati keluarga inti maupun keluarga luas. Di samping kesatuan wilayah maka sebuah desa merupakan pula suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga. sanggah. tempat untuk menerima tamu. Misalnya saja pada arah kaja diletakkan Pura Desa. dan sebagainya pada umumnya menuruti pola susunan tertentu. kaja berarti selatan. sebaliknya untuk orang Bali Selatan. Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. Dengan demikian untuk orang Bali Utara. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa. Desa-desa di daerah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar luas. Dimana Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa. lumbung. dan pura untuk keluarga (sanggah). Badung. Bale (bangunan) masing-masing mempunyai nama tersendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-hari. Seperti telah diterangkan sebelumnya. Pura keluarga yang dianggap suci terletak di bagian kaja. Ada kalanya juga Pura Puseh dan Pura Desa dijadikan satu. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerahdaerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Klasifikasi dualistis ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangunan-bangunan pusat dari desa. dibangun diatas suatu pekarangan yang bisanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit.

2. 3. Anggota banjar tidak mutlak dari orang asli di daerah tersebut. Bale banjar ini biasanya dilengkapi dengan Pura Banjar dan Bale Kukul sebagai tempat untuk menaruh kukul (kentongan). Bale banjar ini merupakan pusat dari banjar tersebut. kesenian hingga agama. Banjar dipimpin oleh seorang kelian banjar dan dibantu oleh beberapa orang sebagai wakil kelian. adat dan urusan yang bersifat administratif. Bahkan seringkali harus juga memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah dan dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya. Di bale banjar inilah diadakan pertemuan (sangkep) setiap bulan mengevaluasi kegiatan banjar selama sebulan. Dalam hal ini tiap-tiap banjar memiliki awig-awig yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing banjar. Banjar Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan oleh kesatuan wilayah. Sudah tentu tidak semua pemilik atau penggarap tadi hidup dalam satu banjar. Hal ini dimaksud untuk memudahkan krama banjar. Seperti olahraga. sinoman dan penyarikan. Kesatuan wilayah ini diperkuat oleh kesatuan adat dan budaya. . tetapi di dalam beberapa banjar. tetapi juga orang dari wilayah lain yang kebetulan menetap sementara/seterusnya di wilayah banjar tersebut. Bale banjar ini juga sebagai bangunan serbaguna untuk menunjang kegiatan umum masyarakat banjar. Subak Subak di Bali berdiri seolah-olah lepas dari banjar dan mempunyai seorang kepala sendiri. Untuk lama masa jabatan tertentu sesuai dengan awig-awig (undang-undang) banjar bersangkutan. Untuk mengakomodasikan kegiatannya maka dibangunlah sebuah bangunan yang terbuka yang dikenal dengan nama bale banjar. ada pula warga suatu banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan yang mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Karena fungsinya sebagai pusat maka bale banjar ini biasanya didirikan di tengah-tengah wilayah tersebut. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga suatu subak itu tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. Dengan demikian warga banjar tadi itu akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. Kelian banjar sebagai tetua banjar dipilih langsung oleh para krama (warga) banjar dalam suatu sangkep (pertemuan). Sebaliknya. Warga subak adalah para pemilik atau penggarp sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Selain itu kelian juga mengurus urusan agama. Adapun tugas dari kelian ini adalah mengurus segala urusan sosial kemasyarakatan. Masyarakat tersebut dipersilahkan menjadi anggota banjar jika orang tersebut menghendaki.

Seka/Sekaha Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus. dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga. dengan suatu sopan santun yang telah digariskan oleh adat dan dengan pengertian bahwa ia wajib untuk membalas bantuan tenaga yang disumbangkan kepadanya itu dengan bantuan tenaga juga. misalnya suatu perkumpulan gamelan ‘ditarik’ untuk ikut serta dangan suatu seka lain dalam hal menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. seka manyi (perkumpulan menuai). bahkan untuk waktu yang meliputi angkatanangkatan yang turun temurun. Ada sekaseka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara yang berkenaan dengan desa misalnya seka baris (perkumpulan tari baris). seperti misalnya ikut membantu membangun pura atau memperbaiki sebuah pura yang sudah ada. seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. dan sebagainya). Seka dalam arti ini tentu sifatnya permanen. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian cara gotong royong nguopin masih banyak diterapkan. Sistem kerja bakti semacam . Seka ini bisa didirikan untuk waktu yang lama. Hanya dalam perayaan dan upacara. Cara semacam ini di sebut ngedeng (menarik). yaitu seka-seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam). panen. Nguopin dalam aktivitas sekitar rumah tangga di kota dan di banyak desa sudah mulai hilang dan mulai diganti dengan sistem menyewa tenaga upahan karena sistem menyewa sekarang dianggap lebih praktis dan seringkali lebih murah (karena tidak perlu menyediakan jamuan dan sebagainya). Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan-perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. seka daha (perkumpulan gadis-gadis). sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah. Selain nguopin masih ada cara gotong royong antara seka dengan seka. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. 5. ada beberapa macam cara dan sistem gotong royong. dinding rumah. dan sebagainya). menyiangi. tetapi ada pula yang bersifat sementara. Hanya di dalam hal ini khusus kerja bakti untuk keperluan agama. menggali sumur. seka truna (perkumpulan para pemuda). Dalam hal ini suatu seka tertentu. tetapi ada juga seka-seka yang bersifat sementara. Di dalam hal itu ada seorang atau suatu keluarga minta bantuan dari tetangganya atau keluarga lain.4. yaitu organisasi seka. antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. Gotong Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat desa di Bali. Terakhir ada suatu sistem gotong royong yang lebih menyerupai sifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah. Gotong royong semacam itu disebut nguopin (membantu) dan meliputi berbagai aktivitas di sawah (seperti menanam.

Sinergi itu dapat terjadi karena pada dasarnya terdapat kesamaan di antara keduanya. No .ini disebut ngayah atau ngayang. SISTEM ADAT DAN RELIGI Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan sebuah sinergi antara unsur-unsur adat dan budaya lokal yang telah dianut masyarakat dari zaman dulu dengan kebudayaan Hindu yang masuk dari India. bisa merupakan suatu aktivitas yang ramai dan penuh kemeriahan. Persamaan-persamaan tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut. 1 Religi Prasejarah Religi Hindu Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang .

dan meru tahta batu Tinggalan ditemukan dipanggur situs Gilimanuk tradisi panggur disebut gigi manusia telah mepandes atau metatah upacara 6 7 8 Tinggalan sikap jenazah pada kepercayaan terhadap kelahiran kembali sakofagus dalam menyerupai bayi yang disebut samsara atau punarbhawa dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali Adanya arah orientasi yang adanya orientasi yang dipandang suci. yaitu: . sungai. Yadnya itu terbagi atas lima bagian yang disebut Panca Yadnya. Membuat tiruan gunung berupa mambuat tiruan kahyangan dan gunung punden berundak. menhir dan berupa pura. candi. yakni timur dan yakni utarea dan timur yang disebut utara Uttara dan Purva Adanya persembahan dan bekal adanya persembahan dan bekal kubur kubur berupa upaca yajna 9 10 Sumber: PHDI Pusat Kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali itu diwujudkan dengan melakukan Yadnya yang sumber-sumbernya berasal dari kitab suci dan tata cara pelaksanaannya disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. Perlu diingat bahwa setiap banjar ataupun desa bisa memiliki adat yang berbeda-beda. dan laut Percaya terhadap kekuatan alam kekuatan yang disebut Hyang Dewa suci adalah nama 3 4 5 alam disebut dengan Percaya terhadap roh suci leluhur percaya terhadap roh suci leluhur yang dengan perawatan jenazah dan disebut atma dan atma yang suci roh suci dianggap brsemayam di bersemayam di pincak-puncak gunung puncak gunung. prasada. dipandang suci. dan Laut Tempat yang dipandang merupakan tempat yang suci gunung. sungai.Emabang/ Sang Hyang Tuduh 2 Widhi Wasa Dewa yang bersemayam di Puncak Dewa yang besemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir Gunung Agung disebut Bhatara Giripati atau Mahadewa Gunung.

Upacara keagamaan di Bali disesuaikan dengan masing-masing Desa Adat (desa kala patra) masing-masing daerah. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: – – – Berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. Kematian bagi orang Bali adalah kembalinya manusia kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta: pertiwi (zat padat). Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci). bagi masyarakat Bali tak bisa lepas dari upacara adat ngaben. memberikan sesuatu yang baik dan layak. Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum perayaan hari raya Nyepi.1. Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja. mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. atman-nya tidak. Contoh Pitra Yadnya adalah upacara ngaben. Ngaben adalah . apah (zat cair).  Ngaben Kematian. bayu (angin). menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atman (roh). Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas. teja (zat panas). Pitra Yadnya Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. dan akasa (ruang hampa) sesuai dengan ajaran Hindu Bali. Contoh Dewa Yadnya: menyelenggarakan upacara piodalan dimasing-masing Desa Adat yang ada di Bali. Berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 2. Dewa Yadnya Dewa Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça dan seluruh manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta. Berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.

Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon (memandikan jenazah). Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah. juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah tidak diketemukan. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. Namun cenderung disetujui pendapat bahwa ngaben berasal dari kata ngapen (ng + api + an = ngapian > ngapen > ngaben). Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya.upacara penyucian atman (roh). Selesai memandikan. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dengan mengambil sekepal tanah di lokasi meninggalnya kemudian dibakar. pembakaran dan nyekah. dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh. Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Dimulai dari memandikan jenazah. Wadah biasanya berbentuk padma sebagai simbol rumah Tuhan. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu). jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. ngajum. Pada hari H-nya. keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik (dewasa) untuk melaksanakan ngaben. yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah). Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. Ketika ada yang meninggal. dilakukan prosesi ngaben di kuburan (setra) desa setempat. yaitu tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan. . Jenazah akan dibawa menggunakan wadah. kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. Selanjutnya adalah prosesi ngajum. atau seperti saat Peristiwa Bom Bali I dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan. dll. fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah.

Cara pelaksanaan ngaben ngamasa ada dua. ngaben niri juga dilaksanakan oleh keluarga keturunan bangsawan. Ngaben Ngamasa berarti melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal. . Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi. karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Umumnya dapat dibagi menjadi dua. sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku. jenazahnya harus dikubur. tetapi hanya memberi bantuan tenaga dan materi (dikenal dengan sebutan patus banjar). sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Upacara ngaben ngamasa dilaksanakan dengan maksud menghemat biaya dan waktu. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. ngaben massal. Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal. jumlahnya tidak seberapa. yaitu: 1. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. dibandingkan dengan jumlah tenaga dan materi yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan rangkaian upacara ngaben. jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai). Banjar adat tidak mencampuri waktu pelaksanaannya. sesuai situasi dan kondisi yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. terbilang relatif berat. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ngaben Ngamasa Ngaben Niri artinya melaksanakan upacara ngaben sendiri (Niri = diri = sendiri). Masing-masing desa adat di Bali memiliki awig-awig (undang-undang) tersendiri tentang tata cara melaksanakan upacara ngaben. tanpa mengurangi makna pelaksanaan upacara ngaben. yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu. Di sini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari klan brahmana). Terlepas dari ini. Patus banjar. Bahkan ada kalanya sama sekali tidak mendapatkan bantuan banjar. Istilah lain ngaben ngamasa adalah ngaben ngerit. Ngaben Niri 2. baik berupa tenaga maupun materi. Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi. Dalam hal ini berarti bahwa keluarga duka dapat melaksanakan upacara ngaben pada waktu tertentu.Sesampainya di kuburan. tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. lahir sebagai seorang bangsawan. atau ngaben bersama. Sebenarnya ada bermacam-macam cara melaksanakan upacara ngaben di Bali.

maka masing-masing warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar 750. warga banjar yang diharapkan memberi bantuan menjadi bingung dan kacau. Kesulitan lainnya. karena segala bantuan tenaga diatur oleh panitia banjar dengan pola satu untuk semua. Sukawati. Ada yang berpendapat bahwa ngaben kinembulan ini akan menjadi pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara ngaben masa depan.000. jauh hari sebelum puncak acara. Konsekuensinya. Jumlah ini tidak dapat dianggap enteng. 4. barulah dibuat oleh masing-masing anggota. kalau jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben sedikit dan anggota anggota banjar lumayan banyak. Keuntungannya. cara dan oleh panitia yang sama. Cuma waktunya bersamaan. Mereka dituntut harus pintar membagi waktu agar dapat memberi bantuan kepada sebanyak mungkin warga yang kebetulan melaksanakan upacara ngaben. ngaben ngemasa dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri. pelaksanaan upacara ngaben dengan mudah dapat diketahui. karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25. maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben. dan jumlah warga yang ngaben 30 orang. 3. ngaben ngamasa dengan cara ‘satu untuk semua’ ini dikenal dengan istilah ngaben kinembulan. Tidak menganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta. Untuk memudahkan. pisang. termasuk memohon cuti. Masingmasing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. Dengan ngaben . tempat. Pelaksanaan upacara ngaben seperti ini dikenal dengan sebutan ngaben bersama. sehingga segala aktivitas yang terkait dengan upacara tersebut dapat dijadwalkan. 5. Upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa. upacara ngaben dilaksanakan pada waktu. antara lain: 1. ada hubungan dengan bantuan materi (patus) kepada warga yang melaksanakan upacara ngaben. dan lainnya) yang lumayan banyak. bambu. karena lebih mudah mengatur waktu. maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga. Dapat menghemat waktu dan tenaga.000. karena kewajiban mengeluarkan (patus) juga dirancang hanya satu untuk semua.Pertama. Kelemahannya. Kedua. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan. ngaben ngamasa dilaksanakan dengan cara ‘satu untuk semua’. Biaya yang disiapkan oleh warga yang akan melaksanakan upacara ngaben relatif lebih kecil. 2. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. Biaya bagi warga masyarakat yang lainnya (patus) juga kecil. Di Desa Pakraman Celuk. Artinya. Sebaliknya kalau warga yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit. Sebabnya.

Manusa Yadnya Manusa Yadnya adalah suatu persembahan suci yang tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia. Mereka yang masih yakin akan hal ini menganggap melaksanakan upacara ngaben dengan cara kinembulan atau ‘satu untuk semua’. Oleh karena itu maka kasta tertentu yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari kasta yang lainnya. Upacara nelu bulanin 7. Magedong-gedongan 2. kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi atas dasar semangat ‘satu untuk semua’ pada waktu melaksanakan upacara ngaben. tidak rela bergerak seiring dan sejalan. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan. Ngaben kinembulan mengandung beberapa kelemahan. sebagai sesuatu yang lebih rendah maknanya dibandingkan dengan ngaben niri.ngamasa atau kinembulan. sehingga perlu diupacarai atau diselamati. Upacara kelahiran 3. sehingga satu golongan merasa sebagai golongan bangsawan yang berkedudukan tinggi dan harus dihormati dan golongan lainnya dianggap sebagai rakyat biasa (panjak). Upacara otonan . berkedudukan rendah dan harus menghormati golongan bangsawan. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan. lebih memungkinkan bagi tumbuhtumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat. Jenis-jenis Manusa Yadnya berdasarkan urutan pelaksanaannya: 1. Upacara nglepas hawon 5. sebelum mereka harus turut ‘berkorban’ demi kepentingan upacara ngaben. dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah desa kala patra (tempat-waktu-keadaan) sangat penting. Upacara kambuhan 6. masih ada anggapan bahwa melaksanakan upacara ngaben merupakan satu-satunya cara untuk melaksanakan Pitra Yadnya dalam arti ‘membayar hutang’ kepada leluhur. antara lain: Pertama. 1. Upacara kepus puser 4. Anggapan ini menyebabkan banyak orang yang rela melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran. Kedua. dengan cara menjual harta warisan yang berupa tanah. sulit dilaksanakan di desa adat yang termasuk desa pakraman nyatur (terdiri dari empat kasta).

Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tujuannya agar atman/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan. 2. lstri yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda. 2. 4. 3. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan.8. Apabila mempergunakan kelapa.Upacara mepandes 12. Upacara kelahiran dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dan dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan.Upacara pawiwahan  Magedong-gedongan Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari. sampiyan dan penyeneng. Dalam hal tidak ada keluarga tertua. Upacara ngempugin 9. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab. kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian. sang ayah dapat melaksanakan upacara ini. selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup. Tangan kiri suami memegang benang. tangan kanannya memegang bambu runcing. 5. pekarangan. tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup. canang genten. Sang suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing sang istri sampai air dan ikannya tumpah.Upacara rajaswala 11.  Upacara Kelahiran Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama. demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Upacara makupak 10. Setelah ari-ari dibersihkan. halaman rumah. pada bagian tutup kendil atau . di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu. dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita. dan dilanjutkan di depan sanggah (semacam pura kecil yang ada pada setiap rumah). 6. Sang istri menjunjung tempat rempah-rempah. Upacara magedonggedongan dilaksanakan di dalam rumah. canang sari. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia. selanjutnya ditutup kernbali. tidak harus persis karena dapat disesuaikan dengan hari baik (dewasa). Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan.

 Upacara Nelu Bulanin . Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. pala. Untuk upacara yang lebih besar si bayi terlebih dahulu di-lukat di dapur. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh.  Upacara Kambuhan Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah. di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma. dan terakhir di sanggah kamulan. 2. Banaspati dan Mrajapati. Sang Anggapati. Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si bayi. 3. Proses selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah. di permandian. tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki. digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi. di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala).  Upacara Kepus Puser Upacara ini dilakukan pada saat puser bayi lepas. di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna. 4. Si bayi beserta kedua orangtuanya natab di sanggah kamulan. lada dan lain-lain. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya.  Upacara Nglepas Hawon Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut upacara ngelepas hawon. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita. dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara. tempat menaruh sesajian.belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi. 2. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga. Si bayi biasanya baru diberi nama demikian pula sang catur sanak (saudara keempat yang dipercaya ikut menemani kelahiran si bayi) setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja. Upacaranya dilakukan di dapur. 3. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk. 3. Wisnu dan Siwa.

Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: . dilakukan oleh orangtuanya. Pendeta melakukan pemujaan. terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirta. 2.  Upacara Ngempugin Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Selanjutnya dilaksanakan setiap 210 hari. 3. semacam memperingati hari ulang tahun. Semakin dewasa. upacara bisa ditunda. Pendeta memohon tirta panglukatan. Biasanya digabungkan dengan upacara otonan (210 hari kelahiran bayi). Pemujaan terhadap Siwa Raditya dan penghormatan terhadap leluhur. 2. Bila keadaan tidak memungkinkan. Doa dan persembahyangan untuk si bayi. Pendeta sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya. 4. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). memerciki tirta (air suci) pada sajen dan pada si bayi.Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. 5. Ini dilakukan pada otonan pertama kali. 3. Si bayi diberikan tirta pengening (tirta amertha) kemudian ngayab jejanganan. sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban. 6.  Upacara Otonan Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik. semakin sederhana pula sarana upacaranya. 4. untuk otonan selanjutnya tidak dilakukan. kalung dan lain-lain. atau tiga bulan dalam hitungan pawukon (1 bulan = 35 hari). yang berarti memohon keselamatan. misalnya keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1.

Upacara ini dapat pula disatukan dengan otonan berikutnya. bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip. taring. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama. Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kemudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya. gigi atas. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita. namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah daha) ini. 3. Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi mempersembahkan segala sesajen yang tersedia. lidah. Upacara dilanjutkan oieh sangging (yang bertugas memotong gigi) dengan menyucikan peralatannya. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Sang Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak. 2. Waça dengan 3. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian. 5.  Upacara Mekupak Upacara ini dilakukan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah. paha barulah diperciki tirta pesangihan. dada. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1.  Upacara Rajaswala Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi. 6. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan.  Upacara Pawiwahan . pusar.1. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. Si bayi natab mohon keselamatan. gigi bawah. 2. 4. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen.  Upacara Mepandes Upacara mepandes atau potong gigi ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) yang ada pada diri si anak.

Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. biasanya di-puput oleh seorang pinandita. cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. kegantengan dan lain-lain. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista. oleh sebab itu pada jaman Weda. Makala-kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi. Menurut UU Perkawinan no 1 th 1974.Yang dimaksud upacara pawiwahan adalah upacara pernikahan. nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari. melebihi penglihatan rohani. kecantikan. pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi. Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral. yang mampu melihat secara jelas. seperti menjaga martabat keluarga. perkawinan ditentukan oleh seorang Resi. sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam sebel kandel. seperti kecantikan fisik. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi. Jadi bagi umat Hindu. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. pertimbangan kekayaan. berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini. pasangan yang akan dikawinkan. karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. melalui proses upacara agama yang disebut mekala-kalaan (natab banten). namun oleh raja atau orang tua mempelai. derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (daiwi sampad). Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad). sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Setelah jaman Dharma Sastra. dengan mempertimbangkan duniawi. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. Peralatan upacara mekala-kalaan: .

Perangkat tegen-tegenan: – Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas. Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita. dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan. .Sanggah Surya Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. kebijaksanaan simbol pengantin pria. Benang Putih Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama. secara manis. Biasanya nyungklit keris. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) Simbol calon pengantin. serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. sebagai dewa kebajikan. Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Ida Sang Hyang Widhi Waça dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih. terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu. Kalau dipandang dari sudut spiritual. yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin. ketampanan. Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Waça dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Ida Sang Hyang Widhi Waça. tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni). dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Tegen-tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil-alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Keris Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria.

yang berisi talas. Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita. Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan. tamas). Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah. kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Sapu Lidi (3 tangkai) Simbol Tri Kaya Parisudha. serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung.– – – – Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna. Dagang-dagangan Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi). Wisnu. Telor bebek merupakan simbol manik. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain. disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga. kunir. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa . Tetimpug Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma. Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma. Cangkul sebagai alat bekerja. Periuk simbol windhu. Sambuk Kupakan (serabut kelapa) Serabut kelapa dibelah tiga. berkarma berdasarkan dharma. prilaku yang baik dan pikiran yang baik. Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam. diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. agar kekuatan triguna dapat terkendali. beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. di dalamnya diisi sebutir telor bebek. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. Siwa) mengisyaratkan kesucian. Selalu ingat dengan penyucian diri. rajas. berdasarkan ucapan baik.

sangging. Jadi orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang kemilau karena lahir bathinnya sudah disucikan. dan mengamalkan ajaranajaran para 5. 2. dll. pegawai kantor agama. 3. Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. Membangun tempat. Pawintenan dengan ayaban saraswati adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan. mawa artinya bersinar-sinar dan inten artinya intan (permata). menghayati. Pada akhirnya manusia Hindu setelah meninggal dunia dan di-aben. dalang. Pawintenan dengan ayaban saraswati termasuk yang paling sederhana. Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça. Mentaati. diwinten dengan upacara Askara. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. dan 3. yang senang gegitaan. Sulinggih.saat tertentu kepada Sulinggih. 1. Pawintenan dengan ayaban catur yang paling utama.tempat pemujaan untuk Sulinggih. pawintenan tingkat ini untuk para brahmacari misalnya yang belajar agama. Tingkat pawintenan ada tiga menurut besar/kecilnya upacara pawintenan yaitu: 1. Pawintenan dengan ayaban bebangkit adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana sebagai putra Siwa yang berfungsi sebagai . 2. Pada dasarnya semua orang terutama yang akan mengakhiri masa Grahasta (pensiun) perlu mawinten dengan tujuan mensucikan diri menjelang pulang ke sunia-loka. Menghaturkan/memberikan punia pada saat. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). dll. Resi. dan mengembangkan ajaran agama. Pinandita. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. Mereka yang wajib mawinten karena profesinya antara lain: pemangku. 4. tukang banten.lahir anak yang suputra. Resi Yadnya Resi Yadnya adalah suatu upacara yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. undagi. orang-orang suci.  Mawinten Mawinten asal katanya dalam Bahasa Kawi. membina. Pawintenan dengan ayaban bebangkit untuk yang medium.

Bhuta Yadnya Bhuta Yadnya adalah suatu korban suci kepada sarwa bhuta yaitu makhlukmakhluk rendahan. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali. samadi-nya. Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. Getih. samadi. nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan. karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ariari. Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. dll. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta. Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra. maka jenis segehan itu pun ada . kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. pinandita. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Lamas. Contoh lain dari Bhuta Yadnya adalah segehan. Karena tempat masegeh ada tiga. rumah serta lebuh. baik secara sekala maupun niskala. pawintenan tingkat ini untuk para pemangku. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucarabucari supaya tidak mengganggu. Brahma. yoga. Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. pawintenan tingkat ini untuk para undagi. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. dll. sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan. tapa. Dalam persembahan tersebut. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia. nasi menjadi satu komponen penting. hewan (binatang).pelindung manusia. tukang banten. Samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Mereka yang sudah mawinten wajib menggelar brata. Selain itu.tumbuhan. Makin tinggi tingkat pawintenan-nya makin ketat pelaksanaan brata. Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu di natar Merajan. Yeh Nyom. Mahadewa. dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). Selain berwujud tumpeng. Pawintenan dengan ayaban catur adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara. 1. sangging. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. dalang.  Segehan Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. tumbuh. tapa. yoga.

sejak hari Minggu (tiga hari sebelum Galungan) umat Hindu didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Hari Raya Terkenal di Bali  Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. kemudian disusul oleh Hari Raya Kuningan setelah sepuluh hari. juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. leher. dimana para leluhur yang setelah . Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga. Galungan itu berarti peperangan. Disebutkan dalam pustaka-pustaka Hindu bahwa dalam rangkaian peringatan Galungan. Terakhir diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Tapi. di antaranya Panji Amalat Rasmi (Zaman Jenggala) pada abad ke11 di Jawa Timur. Menurut arti bahasa.tiga. termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. Dengan mempelajari pustaka-pustaka. Tuhan sebagai pencipta dipuji dan dipuja. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. dan kaki. Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah. adalah Hari Raya Kuningan. badan. jajanan dan lain-lain. tetapi simbol keletehan dan adharma. Kemudian pada hari Saniscara (Sabtu) Keliwon Wuku Kuningan. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan. Dalam pararaton zaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke-16. Mereka adalah simbol angkara. seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga). Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia. segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). kelapa. Berjuang. Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. lengkap dengan kepala. tangan. jagung. Jadi dalam hal ini umat Hindu berperang. Galungan itu sudah dirayakan. Ini adalah hari raya khusus. Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung. ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja. bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. Namun tidak berarti bahwa dunia ini lahir pada hari Budha Kliwon Dungulan.

untuk menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta). Pada hari itu dibuat nasi kuning. Pengrupukan. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta (air kehidupan).  Nyepi Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Çaka. Sementara. dan membawa Lubdaka ke sorga. membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Bhatara Siwa. sebagai pengusir kantuk. Siwaratri juga disebut hari suci pajagran.beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing. Bhatara Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Bhatara Siwa melakukan yoga. datanglah satu batalyon tentara surga yang dikirim oleh Bhatara Siwa. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak tidur). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar.  Siwaratri Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waça dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa tepat di saat beliau beryoga. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu. pada malam Siwaratri. dalam usaha menimbulkan kesadaran diri. upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara). karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Saat yang bersamaan. si Lubdaka naik ke pohon. melakukan intervensi pada keputusan Bhatara Yama. Agar tidak dimakan binatang buas. Sedangkan di pedesaan biasanya ada beberapa Barong ngelawang diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan. Padahal. Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri. Konon. dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan. lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih umat Hindu menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa bahan-bahan sandang dan pangan. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa. Maka ketika Lubdaka meninggal. Di Bali. dan Melasti . pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa. Bhatara Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa. Agar tetap terjaga. Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Berikut perinciannya: Tawur (Pecaruan). saat Bhatara Yama melakukan pengadilan. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Bhatara Siwa sudah terlanjur ’sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga.

dan Tawur Agung (besar). Selambat-lambatnya pada tilem sore. dan kemudian dibakar. dan lingkungan sekitar. ditempuh secara baru lahir. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian dan terdiri dari: – – – – Amati Geni (tidak menggunakan dan/atau menghidupkan api) Amati Karya (tidak bekerja) Amati Lelungan (tidak bepergian/keluar rumah) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. dasar ini dipergunakan. serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. selalu didahului dengan perlambang gelap. serta menyucikan pratima. Nyepi Keesokan harinya. Untuk memulai hidup dalam tahun baru pun. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan. umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing. dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Bhuta Kala. tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. yaitu pada Tilem Kesanga. menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu. pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan. segala hal yang bersifat peralihan. Ngembak Geni . Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja. seperti ayam berbulu brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah. karena laut dianggap sebagai sumber amerta. Upacara ini dilakukan di laut.Sehari sebelum Nyepi. Demikianlah untuk masa baru. Pañca Sanak (sedang). Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. Khusus di Bali. Tahap terakhir adalah melasti. Wanita yang beralih dari masa kanakkanak ke dewasa. yaitu menyebar-nyebar nasi tawur. yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah 9 paket beserta lauk pauknya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil). dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu manusia. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak diwujudkan dengan matekep guwungan (ditutup sangkar ayam). sehingga ada masa amati geni. Menurut umat Hindu. melasti harus selesai. yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut. mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan. pekarangan. dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Bhuta Kala dan Bhatara Kala. upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit).

kesadaran (widya). dan sastra. dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat. persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa . Berkat anugerah Dewi Saraswati. saling maaf memaafkan satu sama lain. banyak yang begadang di pantai. yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontarlontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. Mereka begadang sampai pagi. Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondongbondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan yaitu burung besar serupa angsa. membaca pustaka-pustaka. bersama teman-temannya. Pada hari inilah Tahun Baru Çaka tersebut dimulai. Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa). kesusilaan dan sebagainya. mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. pura atau merajan. di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. Di Bali. atau melakukan Dharma Gita atau kekawin di tempat-tempat suci.  Saraswati Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu pengetahuan). Pada hari raya Saraswati. tetapi dapat terbang tinggi. dibersihkan. Umat Hindu seling mengunjungi keluarga besar dan tetangga. Tangan yang lain memegang Wina (alat musik sejenis rebab) dan sekuntum bunga teratai.Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Çaka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal ping pisan (satu) sasih kedasa (kesepuluh). Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan Mesambang Semadhi. Khusus untuk daerah Denpasar. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. manusia menjadi beradab dan berkebudayaan. lontar-lontar. di pura. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata. buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaranajaran agama. bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke pura. biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. Untuk generasi muda. Dewi Saraswati merupakan sakti (istri) dari Dewa Brahma. semua pustaka-pustaka.

hormat kepada leluhur dan orang yang lebih tua 9. overtoleran 3. Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari. sangat menghormati pemimpin 6. cenderung santai 8. senang berjudi atau taruhan 7. dilaksanakan Banyu Pinaruh. Percaya kepada hal-hal mistik 2. menganggap semua orang adalah keluarga yang distilahkan dengan Nyama 4. Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur. yakni di pagi buta membasuh muka dengan air kumkuman (air kembang).menyukai keindahan 11.menjunjung tinggi adat yang telah ditetapkan dan disepakati (demokrasi) PRODUK BUDAYA . masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai.yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran. ramah dan sopan 10. apresiasi terhadap kesenian sangat tinggi 5. KARAKTERISTIK ORANG BALI SECARA UMUM 1. Keesokan harinya.

Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. Yang ada di dalamnya adalah pembagian-pembagian seperti : Pangawit Pembuka Pamawak bagian yang pendek Panama bagian yang panjang Pangawak bagian utama dari tembang 4. Gegendingan Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. yang biasa disebut tembang macapat.SENI SUARA a. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empatempat suku kata (ketukan). Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. baik upacara adat maupun agama. 3. baik upacara adat maupun agama. Seni Tembang Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Sekar Agung Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu. dan sederhana. yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan. terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Dikatakan bebas karena benarbenar tidak ada ikatannya. dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Isinya pada umumnya pendek. Sekar alit Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat). Kakawin adalah puisi Bali . gaguritan atau pupuh. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. Sekar Madya Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan. 2. kelompok Sekar Alit. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok: 1.

Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol. yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan 2. Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan.klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia. Abuang Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin. Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI. Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:  Aswalalita  Wasantatilaka  Tanukerti  Sardulawikradita  Watapatia Wangeasta  Wirat  Çekarini  Girisa  Prtiwitala  Puspitagra  b. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab. tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah. SENI DRAMA DAN TARI Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya. tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. sehingga mempunyai kekhasan tersendiri. Tidak hanya menghibur hati. Arja . tentang baik dan buruk. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari. Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian sebagai berikut: Pengawit (penyemak) Panampi ( pangisep) Pangumbang Pamalet Kakawin pembukaan dilakukan dengan diselingi terjemahannya. Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Jenis dan macam-macam drama dan tari antara lain : 1. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung.

Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat. • Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang). Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani. Limbur. Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an. Linggar Petak. Arja adalah semacam opera khas Bali. dimainkan oleh satu orang). Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Sampik Ingtai. pemainnya semua pria. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif. kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura. • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). menghadirkan komedi segar. sebagian memerankan wanita. Pakang Raras. Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana. merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat.Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Desak (Desak Rai). Mantri Manis. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah: • munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan. Liku. Panasar. . Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena. Galuh. Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat). Made Umbara. Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing masing terdiri dari Punta dan Kartala. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya. pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Cipta Kelangen. I Godogan. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.

1. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). sapi atau boma. Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari. Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Barong dan Rangda Barong dipercaya sebagai pelindung desa masyarakat Bali. macan. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Arja. . Dari wujudnya. Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. 4. Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern. Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit. ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan). ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa. Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar).

Tari Baris Sebagai tarian upacara. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda. Baris Bajra 8. Setiap jenis. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. Walaupun demikian. Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Baris Tamiang 2.Para pemain mengenakan busana tradisional Bali. kelompok penarinya membawa senjata. Baris Katekok Jago 3. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Baris Pendet 7. Baris Dadap 5. yang kemudian menjadi nama dari jenis. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain. Baris Kupu-Kupu . Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja.jenis tari Baris yang ada. begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun 2. dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Baris Presi 6. Baris Tumbak 4. lugas dan dinamis. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain : 1. umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh.

Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tari Sang Hyang. Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Baris Demang 17. Baris Cina 12. juga ada Tari Barong dan Legong. Baris Cerekuak 18. Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana. seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Selain Tari Kecak. Baris Gowak 21. Baris Gayung 16. Baris Cendekan 13. Baris Ketujeng 20. Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria. Baris Mamedi 19. Ya! Tari Kecak. Baris Jangkang 15. Sita dan Hanoman. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut.9. Baris Tengklong 10. Kecak Bila mendengar nama Bali. Baris Kelemet 6. Baris Bedil 11. Baris Kuning 24. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Baris Jojor 23. apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik. yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama. Baris Omang 22. Baris Panah 14. Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya .

pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat. maka ia pun akan menari di atasnya. Padang Tegal Kelod.di Jl Hanoman. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api. Bali. tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrakjingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. karena keperawanannya berarti kesucian. Kamis dan Jumat pada pukul 19. Namun. acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. Ubud. yaitu agar aman dari bara api yang . Sekitar lima menit kemudian. yang terbagi menjadi lima babak. Apabila sempat menikmati tarian ini secara langsung. Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. Sesaat sebelum kita memasuki pelataran pura. lalu membakarnya. Kenapa harus perawan. Ia bertingkah dengan sangat liar. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai. dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. sambil melemparkan pandangan ke arah penonton. kita akan melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah. Yakni setiap Selasa. Ini salah satu alasan memilih bangku belakang. Nantinya. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. Suara mereka sangat merdu. tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton.00 Wita. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. Dan beberapa kali ia menendangnya. Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana. Mereka adalah rombongan penari kecak. hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan. selain tiket. kita akan melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. tidak terdengar sumbang sedikit pun. yang kebanyakan turis dari luar negeri. Untuk menikmati tarian sendiri. untuk tempat duduk. Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari. pengunjung dibebaskan memilih.

menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin). Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak. Anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini.melayang akibat tendangan si penari. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean. yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket. maupun Gong Kebyar. pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi .Calonarang Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir. Dari segi tempat pementasan. Rangda dan Celuluk. Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur. rasanya kurang lengkap. ilmu hitam maupun ilmu putih. 7. Putri. Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (muridmurid). Bebarongan. Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting. Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan. sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali.

sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita. masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria. terutama bagi muda mudi. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX. Jenis tari Jauk ini antara lain • Jauk Keras (Jauk Enggang). ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible. yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. • Jauk Manis (Jauk longgor). Penarinya adalah pria. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan.(trajangan atau tingga) dan pohon papaya. Sunda Upasunda dan lain sebagainya. Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha. • Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang- . mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali. 8. Jauk Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana. merupakan perkembangan dari tari sanghyang.Janger Merupakan jenis tarian pergaulan. 9.9.

kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. setan dan lainlainnya. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung. kertas. binatang. Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar). para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari).• • kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak). Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. 10. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi. topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung).Topeng Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu. manusia. . Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong.

gesek. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. muncul sejak makin maraknya pertumbuhan tari-tarian Bali kreasi baru di awal tahun 1970.Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua). Di Bali. 11. Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan. yakni topeng Sidakarya.yang lebih tua. alat bunyi-bunyian tradisional disebut gamelan atau gambelan. Kreativitas seperti ini melahirkan garapan tari baru yang inovatif yang menawarkan gagasan atau nafas-nafas baru yang dapat dikelompokkan sebagai tari Bali modern.Sugriwa Barong-Barongan c. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada. dan Cenikan yang lebih kecil). Seni karawitan Seni Karawitan adalah seni mengolah bunyi benda atau alat bunyibunyian (instrumen) tradisional. kaprahnya. . Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres.Tari Kontemporer Salah satu tarian kreasi baru yang mempunyai ungkapan artistik yang bebas. sesuai rasa estetik individu penatanya. Panasar (Kelihan . Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. Cak Rina Setan Bercanda Ngelawang Cak Subali . Dalam gamelan ada alat musik tabuh. tiup. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. Di dalam tarian baru ini elemenelemen seni klasik/ tradisional Bali dipergunakan secara bebas dan kreatif. maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. petik dan sebagainya.

Beberapa gamelan golongan tua antara lain :  Angklung  Balaganjur  Bebonangan  Caruk  Gambang  Gender Wayang  Genggong  Gong Beri  Gong Luwang  Selonding Barungan madya. Kalaupun ada kendang. Beberapa barungan madya antara lain :  Batel Barong . dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX. Dalam barungan ini. kendang sudah mulai memainkan peranan penting. merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumeninstrumen bermoncol (berpencon).Menurut jamannya. Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:  Gamelan Wayah  Gamelan Madya  Gamelan Anyar Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV. Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang.

Wayang  Wayang Kulit Wayang Kulit. Di desa-desa maupun di kota. adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya. maupun sebagai hiburan semata. Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang. upacara adat Bali. Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis. yaitu: Wayang Lemah ( Wayan Gedog) Wayang Peteng Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih . Beberapa gamelan anyar antara lain :  Adi Merdangga  Bumbung Gebyog  Gamelan Bumbang  Gamelan Geguntangan  Gamelan Genta Pinara Pitu  Gamelan Gong Kebyar  Gamelan Janger  Gamelan Joged Bumbung  Gamelan Manikasanti  Gamelan Semaradana  Gong Suling  Jegog  Kendang Mabarung  Okokan / Grumbungan  Tektekan Instrumen-instrumen gamelan tersebut adalah: 12. yang meliputi jenisjenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX. masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu.      Bebarongan Gamelan Joged Pingitan Gamelan Penggambuhan Gong Gede Pelegongan Semar Pagulingan Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru.

Sebagai sajian tugas akhir. ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali. spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa. Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini. dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali. Di Bali. baik untuk menyelesaikan program . kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral. pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. Belakangan ini dalang muda berbakat. Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalangdalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria. Di lingkungan budaya Bali. sastra. pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang. bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur. Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. etika dan lain-lain. Betapa tidak. dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa. dari India ataupun dari negara lain.diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa. 1975). Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak). Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari. Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap. pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka. dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana. gerak dan suara. wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M). yadnya. atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing.

para mahasiswa juga telah melakukan berbagai percobaan. semua penari berdialog. spotlights. yang didukung oleh Gamelan Sekar Jaya di bawah asuhan komposer muda. Misalnya: • • • • • • Penggunaan layar lebar berganda.bait penting dari Kakawin. pemakaian wayang golek besar. . gamelan Selonding dan Selukat juga telah dicoba untuk mengiringi pertunjukan wayang Bali. seperti lampu strobo. semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. dan lain sebagainya. Amerika Serikat. Desak Suarthi Laksmi) dengan seniman dalang Larry Reed dari San Francisco. Pertunjukan pertama wayang listrik ini dilakukan di San Fransisco dan pada tahun 1996 yang lalu juga dipentaskan di Bali dalam rangka Festival Wayang Walter Spies. Dalam hal iringan. Masih merupakan bagian dari perkembangan wayang kulit Bali adalah wayang Listrik yang merupakan hasil kerja patungan antara seniman (I Made Sidja. dan sebagainya. Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali.  Wayang Orang Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong).Seniman (setingkat Sarjana) pada jurusan Seni Pedalangan di STSI Denpasar. Nama ini diberikan berdasarkan kenyataan bahwa dalam pertunjukannya terdapat perpaduan dua unsur penting yaitu : pemain wayang kulit Bali dengan permainan atau proyeksi cahaya lampu listrik. pemakaian pemain wayang dalam jumlah yang banyak dengan satu orang dalang sebagai narator. Pada beberapa bagian pertunjukan. para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait . penggunaan tata-lampu modern. I Nyoman Catra. Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan. I Dewa Bratha. pemakaian overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang.

Wates Tengah (Karangasem). perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. Delem. Apuan. 13. Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna. bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan. Hampir semua penari mengenakan topeng. Terdapat di desa-desa: • • • • • • Mas. Karena itulah. Bualu (Badung). Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng. yaitu Wayang Wong Ramayana. Batuagung (Jembrana) Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa). seperti Malen. Merdah. Sanggut. BAHASA DAN AKSARA ➢ Bahasa Bali Dr. Den Tiyis (Gianyar).Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. Telepud. bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan . Pujung (Gianyar) Blahkiuh (Badung). Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana. Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja. Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. terutama di naskah-naskah lontar. Parwa terdapat di desa-desa: • • Sukawati. Sulahan (Bangli). dan Wayang Wong Parwa. Prancak. Teges. Klating (Tabanan). Pertama. Marga. Tunjuk. kecuali para punakawan. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. Tatkala masuk pengaruh Majapahit.

ka. walaupun tidak sebanyak seperti dalam bahasa Jawa. Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan. i. o. Misalnya kata gamang. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit). kedua. bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini.) dan nadha (bintang. kasar. bisah (h). asah. Dewa Brahma dengan lambang api. dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. misalnya: a. Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa. satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari . u. ➢ Aksara Bali Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -. misalnya: a. Bahasa Bali juga mengenal apa yang disebut ”perbendaharaan kata-kata hormat”. bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga. surang (r). Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai saat berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi telah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh modernisasi dan demokrasi. ra. Jika kita perhatikan tulisan aksara mang. Selain itu. ca. misalnya: ong. Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. yaitu pada masa pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. Peninggalanpeninggalan prasasti dari jaman Hindu-Bali menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. dan aad. pada masa berikutnya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit.aksara yang dipergunakan sehari-hari. mang) dan modre atau aksara lukisan magis. Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -. Dilihat dari perbendaharaan kata dan strukturnya. Bahasa Bali kuno itu. ung. dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. windu (matahari. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). Artinya. dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara. Contoh pangangge tengenan: cecek (ng). dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara. bulatan. segi tiga).nama bahasa Bali Mula. ang. selain mengandung banyak kata-kata Sansekerta. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. e.utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati. na. bahasa Bali tidak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan. terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali).

14. Untuk menyelaraskan itu. sampai 30 pada bulan mati. 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar.huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. menggunakan warna merah pada kalender cetakan. namun tidak pula seperti kalender Jawa. untuk membedakan warna. setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra tambahan yang merupakan bulan kabisat. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal. Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru. hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun. Dikatakan konvensi atau kompromistis. Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kalender Bali bisa dianggap istimewa sebab kalender Saka Bali adalah penanggalan "konvensi". Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa. Setelah purnama. karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya. Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India. kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Panjang bulan Dalam 1 bulan candra atau sasih. tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal. KALENDER BALI Kalender Saka Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Derajat ketelitiannya cukup bagus. sering dipakai titi. Hari ini dinamakan pangunalatri. Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Idealnya awal tahun . Tidak mutlak astronomis seperti kalender Hijriyah. namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. Dalam perhitungan matematis. Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. sampai 15 yaitu purnama. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra.

Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78.surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu). yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa. nangka muda. Pada tahun 1993. bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa). Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi dan disantap sehabis melaksanakan upacara adat dengan cara prasmanan. pepaya muda dengan bumbu lengkap Bali. dan angka tahun dari sasih terakhir. Sebetulnya be guling dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam. Sejak hari raya Nyepi. Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2. 15. diperingati sebagai hari raya Nyepi. Babi guling adalah sejenis lauk pauk yang di buat dari anak babi betina atau jantan secara utuh . angka tahun Saka bertambah 1 tahun. diundur 1 hari. Dengan demikian sasihsasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa). MAKANAN KHAS BALI Lawar Lawar merupakan makanan khas Bali yang dibuat dari campuran daging. Idealnya pada penanggal 1. Babi Guling Nama babi guling untuk daerah bali lebih dikenal dengan be guling. Tahun Baru Tahun baru bagi Kalender Saka Bali. sehingga tahun baru Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi. tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa).

kemudian dicuci untuk menghilangkan rasa asin garam. Tambahkan daun salam agar wangi dan garam supaya tidak hambar. Kemudian dibuat rebusan kaldu ayam ato babi. rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali.Bali . jahe. dan merica 'kalo suka". sampai ketemu bagian muda. terasi. dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai denga warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah. Kemudian irisan ini harus diremas dengan garam agar getahnya hilang. laos. Bahan yang dipakai batang pohon pisang batu atau batang pohon pisang yang lain. Entil Pupuan . kemudian masak hingga matang. kencur. namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung. Jukut Ares Jukut Ares. Cara memasaknya mudah. Babi guling yang paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar.kecuali isi perutnya dikeluarkan seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon. Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan. terus diiris-iris. dibuang bagian luarnya. dalm bahasa Indonesia Sayur Ares. orang Bali menyebutnya "gedebong". Kemudian irisan gedebog dimasukkan ke dalam kaldu. cabe. Batang pohon pisang dikuliti. Kemudian ditambah bumbu "basa genep" atau bumbu lengkap yang terdiri dari: bawang merah. kunyit. bawang putih. Makanan ini dari batang pohon pisang yang muda.

Entil biasanya dimakan dingin. Arsitektur Tradisional Bangunan Hunian 1. Bale Dangin. Pamesu/Kori . tempat 6. Pura Keluarga (Merajan) tempat memuja leluhur dan Hyang Guru 2. Jineng/lumbung. dan berkuah warnanya kuning. Satu porsi terdiri dari entil 2 bungkus. "be jeruk" merupakan sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir-suir dicampur sama kelapa parut. tidak manis seperti serundeng umumnya ) kemudian disiram dengan "be jeruk" yang sedikit berkuah. Bale Dauh sebagai tempat beraktivitas 4. Paon (dapur) 8. sayur urap. tempat menyimpan gabah/padi 7. Aling-Aling 9. Tempat Tidur (Meten) 3. 16. serundeng ( parutan kelapanya besar-besar dan kering. mirip lontong sayur.

sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah. Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah. pamerajan (sebagai pura keluarga). Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. tempat ibadah) berada dalam satu atap. sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. dan Pura Luhur Uluwatu. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali. . Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan alingaling. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga. -pore). Pura Kahyangan Jagat Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum. Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah. Di sini pula tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu. 17. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding. sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa . atau kota dengan menara atau istana. Pura Luhur Batukaru. -puram. merupakan arah masuk ke hunian. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci. Pura Lempuyang. ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Secara umum pura diklasifikasikan menjadi : 1.melaksanakan aktivitas ritual seperti menaruh dan membuat sesajen 5. Pamerajan atau sanggah. PURA Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur. lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir.Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. -pura. sedang daerah publik dan bangunan pendukung (paon. adalah bangunan paling awal dibangun. Sekenem. -puri. atau anak gadis. yang artinya adalah kota. yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi). di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri sendiri. tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pura Sakenan. kota berbenteng. digunakan sebagai tempat pemujaan. tempat menerima tamu Hunian pada masyarakat Bali. Pura Rambut Siwi. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti.

Pura Kahyangan Desa Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel. Termasuk ke dalam kategori ini adalah. Pratiwi. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada. Paibon. Pura Bedugul. Pura Kawitan Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut. para petani dengan Pura Subak. Sanggah-Pemerajan. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti. Dadia atau Dalem Dadia. untuk para pedagang adalah Pura Melanting. dan Pura Uluncarik. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa. 3. Pedharman dan sejenisnya. Pura Ulunsuwi. Penataran Dadia.2. 4. Panti. perkantoran pemerintah maupun swasta. Pura Swagina Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. .

Namun karena sistem pendidikan hanya terbatas kepada tingkat SD. Banyak pemuda Bali yang pergi ke luar Bali dan ke luar negeri untuk belajar sampai akhirnya universitas-universitas didirikan di Bali. Kegiatan pariwisata hanya menyebabkan perubahan-perubahan fisik saja dan tidak sampai pada sendi-sendi masyarakat dan kebudayaan Bali. Pada awal zaman kemerdekaaan. maka proses perubahan itu berjalan amat lambat. Sekarang ini telah tampak bahwa proses perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali yang cepat mendapat efek sampai ke sendi- . Segera setelah itu proses perubahan tumbuh dengan cepat. dengan adanya sistem pendidikan sekolah-sekolah dan dengan kegiatan pariwisata yang sudah dikembangkan secara luas waktu itu. sedangkan jumlah dari sekolahsekolah itu amat terbatas pada beberapa buah yang ada di dua-tiga kota saja. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan sekolah dikembangkan dengan intensif dan ekstensif.MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Proses perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan Bali itu memang sudah dimulai sejak zaman kolonial. masyarakat dan kebudayaan Bali masih tampak sama seperti berabad-abad lalu.

Sektor kepariwisataan telah memberi lapangan kerja pada banyak orang Bali serta telah menstimulasi sektor kerajinan. Saat itu—awal Januari 2003—mulai terdengar program-program . perhotelan. risiko ini harus dipikul bersama karena proses modernisasi tidak dapat dihindari lagi dan mutlak harus kita alami semua. dibalik itu orang Bali juga mulai merasakan aspek-aspek negatif dari perkembangan tersebut yang dapat mengancam nilai-nilai budaya yang mereka junjung tinggi. Hotel-hotel kelas melati perlahan-lahan tutup. PASCA BOM BALI Pascabom Bali Oktober 2002 dan Oktober 2005. Kondisi inilah kemudian yang menjadi “tersalah” dalam terpuruk dan ambruknya pariwisata Bali. Bali seakan terpuruk. Selain itu. Walaupun demikian. Bali menjadi seperti pulau yang hanya menunggu untuk karam saja tanpa pariwisata. Kaum terpelajar dan cendekiawan Bali. Dilema ini sedang dan akan dialami oleh masyarakat yang mengalami zaman transisi pembangunan dan proses modernisasi.sendinya. Bali dijadikan daerah pariwisata yang utama. Wisatawan kabur karena takut bom susulan datang. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) berlangsung silih berganti. tidak sempat lagi untuk mengikuti detail adatistiadat serta upacara-upacara keagamaan Hindu-Bali secara teliti sehingga dalam waktusingkat akan terjadi penyederhanaan dalam sistem upacara keagamaan. karena kesibukannya sehari-hari. Berbagai program tayangan promosi Bali terus dilakukan. pembaharuan dalam kehidupan dan pendidikan agama Hindu-Bali juga sengaja dibina oleh majelis agama tertinggi bernama Parisada Hindu Darma. seni lukis. kondisi ini menjadi semacam senasib sepenanggungan akibat Bom Bali. Beragam kegiatan dibuat untuk mengembalikan citra pariwisata Bali yang terpuruk karena Bom Bali dan berturut-turut Perang Amerika—Irak dan wabah SARS. Keketatan hukum adat mengenai sistem kasta dan klen sudah mulai kendor. Namun. pengangguran semakin membludak dan tentu saja desa-desa adat di Bali “gerah” dengan kondisi seperti ini.Oleh karena itu para penduduk daerah Bali harus tetap menjunjung nilai budaya mereka dengan tetap melaksanakan serta melestarikan kebudayaan Bali yang telah diwariskan nenek moyang mereka. rekreasi dan transportasi untuk berkembang. Harapan pada denyut nadi pariwisata hancur lebur. Berbagai usaha mempromosikan pariwisata Bali terus menerus dilakukan. Bandara Ngurah Rai selalu penuh dengan antrean keberangkatan tanpa ada antrean kedatangan. Sebagian warganya yang bekerja di hotel-hotel mengeluh penghasilannya menurun drastis. Sontak setelah tertangkapnya pelaku bom Oktober 2002 dan 2005. masyarakat Bali menyambutnya dengan gembira. seni tari dan seni suara. Saat ini. Akhirnya.

Ini karena Bali memiliki citra “Bali” hasil konstruksi eksotika dan ketergantungan negara luar Bali sebagai kunjungan wisata. Pascabom Bali dan ditengah keranjingan menjaga Bali tidak terpukul dua kali. dan soroh. Bali terkenal dengan semangat puputan (perjuangan melawan penjajah sampai titik darah penghabisan). Karena. jujur harus diakui. Salah satu hal yang dilakukan desa adat/pakraman dengan jajarannya adalah sweeping dan pendataan penduduk pendatang. Tentu saja pemicunya adalah persaingan antar puri (tempat raja di Bali yang .“Recovery Bali” dan dikuti dengan “Bali For The World”. Bali adalah hasil dari pertarungan. Maka. “Tiang (saya) siap nindihin (membela sampai mati) Bali melawan teroris. Ada sebuah usaha untuk menjadikan Bali sebagai pusat dari pemulihan pariwisata. mulailah dilakukan program-program untuk nindihin Bali tersebut. pentas musik sensasional “Voice Of Star” dan berbagai event hiburan dan pertemuan-pertemuan nasional serta internasional yang dilangsung di Bali. Dalam perspektif berpikir beberapa orang Bali. bahwa cap teroris ternyata menggangu dan menjadi musuh bersama orang Bali. Bom Bali dan teroris adalah kala (mahluk jahat) yang bisa menghancurkan Bali. sebuah sikap wujud kecintaan pada tanah air Bali. lahir jargon Ajeg Bali.“ kata seorang warga masyarakat di warung desa. Ini dilakukan dengan serempak mulai awal 2003 hingga kini dan menjadi perdebatan hangat di Bali dan juga mendapat respon nasional pada Maret—Juni 2003 dan mulai meredup dan menjadi keharusan pasca Bom Bali 2005. Dalam obrolan di warung-warung desa di Bali. idenitas. saat zaman kerajaan dan perang-perang kemerdekaan 1942-1945. semangat puputan ditunjukkan dengan sikap nindihin Bali bukan melawan kolonial Belanda dan Jepang. Ternyata dengan adanya Bom Bali 2002 dan 2005. yang juga sebenarnya menyimpan konflik dan kekerasan yang terpendam. lembaga-lembaga tradisi seperti desa adat/pakraman (desa-desa di Bali). Ajeg Bali adalah pemurnian Bali dalam hal pemurnian ras. pembantaian dan pembersihan soroh-soroh. Belum lama berselang. Ternyata. Sebelumnya. Dan sampai saat ini kelompok-kelompok ini memendam identitas dalam identitas ke-Bali-an. Ini sebenarnya potensi konflik dan kekerasan secara horizontal. pecalangan (satuan pengamanan tradisonal Bali) serta seluruh perangkat desa pakraman di Bali juga semakin memproteksi dirinya. dilakukan roadshow ke seluruh kabupaten di Bali untuk penandatanganan prasasti Ajeg Bali oleh bupati se-Bali. tapi melawan teroris dan orang-orang yang merusak kebudayaan Bali. pertengahan Juli ini. Jargon yang sebenarnya dimulai dari propaganda sebuah media terbesar di Bali yang kemudian diikuti oleh promosi ke berbagai kabupaten di Bali. Selain mengembalikan pariwisata Bali. Kini. membuat masyarakat Bali semakin waspada dan siaga setiap saat. jika merunut sejarah. Nindihin bagi masyarakat Bali adalah sebuah pembelaan.

pernyataan akan “kebenaran” tingkah laku dan sikap beragama. Di tengah kebingungan inilah. Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. Maka munculnya Ida Pedanda Made Gunung yang melayani semua pertanyaan. orang Bali seakan mendapat pencerahan. Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi. Tuhannya). sedang dampak postif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Lihat Ruastiti 2005. namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan. Dalam istilah Balinya. Inilah bentuk kerinduankerinduan orang Hindu Bali yang kemudian bisa dipenuhi oleh Ida Pedanda Made Gunung. Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian. dan waisya) dalam teori kelas dan kasta di Bali. Kerinduan untuk mencari asal-usul. kecemasan. jati diri.) terhadap kelas tri wangsa (brahamana. hubungan darah. kedewan-dewan (hidupnya selalu memikirkan dewa. komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan. dan pencarian identitas dan esensi ke-Bali-an. dan keturunan. muncul penyejuk dan pemersatu umat. Kiprah pendeta ini dicuatkan oleh media televisi lokal. Dengan masalah-masalah upakara (sesajen untuk upacara-upacara). menanamkan dewa-dewa yang dipuja orang Hindu Bali. Yang paling penting tentunya–dari kiprah Ida Pedanda Made Gunung—adalah mengidentitaskan. juga sebagai jago kebudayaan Ajeg Bali. ksatria. pande. dll.sekarang masih ada) ataupun pendobrakan kelas-kelas sudra (pasek. Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. Bali sangat merindukan seorang pendeta sebagai pencerah kehidupan agama Hindu Bali. grup media terbesar di Bali (baca: Bali Post). dan mulai mendapatkan pembenaran secara alamiah—melalui sastra agama dan tentunya keyakinan yang disampaikan Ida Pedanda Made Gunung. Dalam titik inilah. . lewat program Dharma Wacana (pencerahan keagamaan) setiap sore hari. Ardika 2004).