BUDAYA NUSANTARA

KEBUDAYAAN BALI

Disusun oleh:

I Gede Yudi Paramartha (18) I Made Adi Primanta (19) I Wayan Primadyantara (20) Nur Aini (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata (island God/island Paradise) merupakan salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Bedugul, Ubud, Sukawati, Lovina, dan lain lain merupakan tempat wisata yang terkenal di Bali. Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, tetapi kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Selain itu, kebudayaan Hindu yang sudah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3'40" - 8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" - 115°42'40" Bujur Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut: • • • • Utara : Laut Bali Timur : Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) Selatan : Samudera Indonesia Barat : Selat Bali (Propinsi Jawa Timur)

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. • Tabel Luas Wilayah Tiap Kabupaten di Provinsi Bali

Kabupaten/Ko Ibukota ta Jembrana Tabanan Badung Denpasar Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Buleleng Jumlah Negara Tabanan Badung Denpasar Gianyar Semarapura Bangli Amlapura Singaraja

Luas (km²) 841,80 839,30 420,09 123,98 368,00 315,00 520,81 839,54 1.365,88 5.634,40

Persentas e (%) 14,94 14,90 7,43 2,20 6,53 5,59 9,25 14,90 24,25 100,00

Sumber: Master Plan Penunjang Investasi Provinsi Bali Tahun 2006-2010

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam

486 ha. letak susunan rumah kuil. Pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas 3. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu.189 ha. Arah membujur dari pegunungan tersebut menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali Utara dan Bali Selatan. Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali. dsb. Perbedaan ini tidak hanya tampak pada penunjukan arah dalam bahasa Bali. Klungkung). Badung. Di pegunungan tersebut terletak puri-puri (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali seperti Pura Pulaki. Gianyar.(15-40%) seluas 190. Pura Batukau. Dalam bahasa Bali kaja berarti ke gunung dan kelod berarti ke laut. Kedua arah tersebut sama baik di Bali Utara maupun Bali Selatan. SEJARAH Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Hal ini berlaku sebaliknya untuk orang di daerah selatan. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan sedikit bahasa. Tamblingan dan Danau Batur. dan terutama Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. Berarti untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan dan kelod berarti utara. Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan. Buyan. Pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal 6. Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu 7. Pada satu status sosial atas dasar warna 5. yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132. dalam upacara agama. Pegunungan tersebut mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. Besarnya arti dari konsep kaja-kelod dalam masyarakat Bali tampak pula dalam kehidupan sehari-hari. yaitu: 1. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit dan daerah-daerah di bagian selatan Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Masyarakat . Pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu 4. Pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu 2.

sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatra Selatan. Tigawasa di Kabupaten Buleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. Leluhur orang Bali masuk ke Bali dalam tiga periode: gelombang pertama adalah suku proto-Melayu yang datang dari Jawa dan Kalimantan pada zaman prasejarah. Cempaga Sidatapa. para aristrokrat Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit melarikan diri dari ke Bali untuk menghindari pengkonversion Islam. merekalah yang akhirnya membentuk kultur Bali yang merupakan suatu bentuk sinkretisasi dari kultur Jawa klasik dengan banyak tambahan elemen Bali. gelombang ketiga dan terakhir juga datang dari Jawa sekitar abad ke15 dan 16. yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Sekarang ini komunikasi modern. Orang Bali-Aga umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran. Kecuali di pulau Bali. Masa Prasejarah Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali. kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi: 1. Sulawesi dan Nusa Tenggara. Kalimantan Tengah. 1. Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. masa konversi Islam di Pulau Jawa. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya. Masa bercocok tanam 4.Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut 3. Kenyataannya memang leluhur suku Bali kebanyakan berasal dari Pulau Jawa. serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut. gelombang kedua adalah migrasi sedikit demi sedikit dari Jawa pada zaman Hindu. ada juga orang Bali di bagian barat dari Pulau Lombok. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana 2. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali. pendidikan. Masa perundagian Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng . tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya. maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita. Pedawa.

dengan ketua kelompok yang kemudian disebut dengan Pasek Bali. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Mereka yang dikelompokkan sebagai warga Bali Mula. lalu muncullah istilah beya tanem. tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. belincung dan panarah batang pohon. Goa ini terletak di pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar yaitu goa Karang Boma. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding. Memasuki Masa Sejarah . parasbaan. plawa dan sebagainya. serut dan sebagainya. Manusia Bali keturunan Austronesia pada masa itu hidup berkelompok dan dipimpin secara kolektif oleh 16 Jro yang umumnya disebut dengan Sahing 16. misalnya ngaben mereka terima tapi membakar mayat tidak. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. kapas dan lain-lainnya. Kebudayaan Bali Mula masih melanjutkan tradisi bangsa Austronesia. kapak berimbas. yang kemudian membaur pada masa berikutnya dengan orang-orang yang datang dari luar Bali. Persekutuan kepemimpinan tersebut masih ada sekarang dan tetap dipertahankan di desa-desa Bali Aga. mereka tidak berani menghias wadahnya dengan kertas. Dan saat ngaben. mereka hanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti ambu. 1. tetapi mereka hanya menerima upacara dan upakaranya saja. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. terutama dalam hal adat. padang-padang.Timur). dan di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam. walaupun kedatangan kebudayaan agama Hindu. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar. Manusia Austronesia inilah yang menjadi leluhur sebagian orang Bali Mula. dan kepala suku atau pimpinannya disebut dengan nama Jro Gede yang penunjukannya dilakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia tertua anggota persekutuan. Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). diantaranya adalah Pasek Taro. Pecatu (Badung).

1. Masuknya Agama Hindu Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masamasa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata Walidwipa. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah panglapuan. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah pakiran-kiran i jro makabaihan. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya

dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja. 2. Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. 3. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460-1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). 4. Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil

ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

FILOSOFI MASYARAKAT

Panca Sradha Panca Sradha merupakan kepercayaan pokok masayarakat Hindu di Bali yang terdiri atas lima bagian, yaitu : 1. Brahman, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Atma, percaya kepada roh atau jiwa pada setiap makhluk hidup yang berasal dari percikan suci Tuhan 3. Karma Phala, percaya akan adanya hukum sebab akibat. Setiap perbuatan(karma) pasti akan mendatangkan akibat (pahala) 4. Samsara atau reinkarnasi, percaya akan adanya kehidupan/lahir kembali yang disebabkan karena adanya karma.

setiap perbuatan atau kegiatan yang dilaksanakan harus memperhatikan keselarasan antara alam nyata dengan tidak nyata. tujuan akhir makhluk hidup yaitu bersatunya kembali atma dengan brahman. Bhuana Agung berarti bumi atau alam semesta. Konsep Rwa Bhineda mungkin mirip dengan konsep Yin dan Yang. hitam dan putih. Rwa Bhineda. Orang Bali percaya bahwa kebahagiaan dalam kehidupan ini bisa terwujud apabila tercipta keselarasan dan keharmonisan antara manusia dengan tiga penyebab berikut ini a. Moksa. Pengorbanan itu bisa berupa materi maupun berupa hal-hal imaterial. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha berarti tiga macam tingkah laku yang patut disucikan. yaitu: a. Palemahan (alam lingkungan) Selain itu ada juga filosofi-filosfi lain yang mendasari setiap aspek kehidupan masarakat Bali. Pembahasan mengenai yadnya akan ada pada bab berikutnya yang berkaitan dengan sistem adat dan religi. seperti konsep Skala-Niskala. Jadi. Berdasarkan kepercayaan pokok inilah lahir ajaran-ajaran/filosofi lain sebagai implementasi dalam kehidupan. Pikiran yang baik(Manachika Parisudha) b. suka dan duka adalah hal-hal yang selalu terjadi di dunia. antara lain 1. . Pawongan (sesama manusia0 c. Pebuatan yang baik (Kayika Parisudha) 1. sedangkan bhuana alit adalah manusia. Orang Bali percaya bahwa positf dan negatif itu selalu berjalan berdampingan. Orang Bali percaya bahwa manusia dan alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur yang sama. Perkataan yang baik (Wachika Parisudha) c. Konsep skala-niskala menunjukkan bahwa orang Bali percaya akan adanya alam nyata (skala) dan alam tak nyata/tak kasat mata (niskala). dan Tat twam asi. Baik dan buruk. Tinggal bagaimana manusia menyikapi hal-hal tersebut. Oleh karena itu.5. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan manusia mengganggu atau merusak alam yang tidak nyata karena bila terjadi dapat menyebabkan hal-hal yang tidak baik. Yadnya berarti korban suci yang tulus ikhlas. Tri Hita Karana Tri Hita Karana secara harfiah berarti tiga penyebab kebahagiaan. Bhuana AgungBhuana Alit. Parahyangan (Tuhan Yang Maha Esa) b. Keseluruhan konsep di atas diwujudkan melalui pelaksanaan Yadnya. sudah sepatutnya manusia dan alam bekerja sama untuk saling menjaga kelangsungan kehidupan.

Hasil dari kerajinan ini antara lain patung. buruh bangunan. dan penjual cendramata. Bali terkenal dengan Subak sebagai organisasi untuk mengatur masalah pertanian. restauran. dan nelayan. buah. Pertanian di Bali cukup bervariatif sesuai dengan keadaan geografis Bali yang beragam. sapi. Orang Bali juga terkenal akan keahliannya dalam bidang seni sehingga ada banyak orang yang berprofesi sebagai pengrajian. SISTEM KEKERABATAN Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. peternak. ukiran. Bali terkenal dengan pariwisatanya. atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang . Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). dan lain sebagainya.Mata Pencharian Sebanyak kira-kira 70% orang Bali menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. Kawasan Bali bagian selatan merupakan dataran rendah yang cocok untuk sawah padi. Hasil ternak ini umumnya untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan upacara keagamaan. Daya tarik pariwisata terutama berasal dari kebudayaan unik masyarakat sendiri yang ditunjang dengan alam yang indah. Kawasan Bali Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan hawa yang dingin sehingga merupakan tempat yang cocok untuk perkebunan sayur. perhiasan. Kegiatan beternak umumnya merupakan kegiatan sampingan. karena dengan itu barulah ia dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat. bebek. guider. dan sejenisnya. Sehingga cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya dalam dunia pariwisata. seperti irigasi dan hal-hal lainnya. Sedangkan sisanya terdiri dari pedagang. dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. mulai dari perhotelan. dan kerbau. memasuki zaman global ini semakin banyak orang yang meninggalkan profes sebagai petani dan mulai beralih kepada profesi lainnya. pengrajin. Profesi ini banyak digeluti oleh masyakat yang terutama tinggal di daerah Gianyar dan Klungkung. Selain itu. kacang-kacangan. jagung. bunga dan hasil hutan seperti cengkih. karyawan atau PNS. Akan tetapi. ayam. Hasil ternak yang banyak dijumpai adalah babi. maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen. lukisan.

tetapi rupa-rupanya adat ini terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar. antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya. hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi. atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat. dan pada waktu ini perkawinan campuran antar-kasta sudah relatif lebih banyak dilaksanakan. Kedua cara itu berdasarkan adat. Lain bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki isteri (makedengan ngad). sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar-kasta yang berbeda derajatnya. sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. yang umumnya bersifat exogam. Dahulu apabila terjadi perkawinan campuran yang demikian. berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh). maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya. dan secara fisik suami-isteri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama. Perkawinan pantang yang dianggap melanggar norma kesusilaan sehingga merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya. sudah menghilang. tunggal dadia. Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen. yaitu dengan cara meminang (memadik. Pada umumnya. ngidih) kepada keluarga seorang gadis. karena perkawinan yang demikian itu dianggap mendatangkan bencana (panes). serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita tersebut. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah). ngrorod). seorang pemuda Bali itu dapat memperoleh seorang isteri dengan dua cara. Demikian. walaupun tidak sedikit juga suami isteri baru yang menetap secara neolokal dan mencari atau membangun . dan akhirnya lagi suatu kunjungan resmi dari keluarga si pemuda ke rumah orang tua si gadis untuk minta diri kepada ruh leluhurnya. dan demikian juga dalam kasta. Sesudah pernikahan. perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen. Semenjak tahun 1951.dianggap sederajat dalam kasta. suami isteri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. tunggal sanggah) di Bali itu adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama. upacara perkawinan (masakapan). karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga. dan antara seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya). Orang-orang se-klen (tunggal kawitan. ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa seperti kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawini.

Sesudah beberapa. ada pula suatu adat perkawinan di mana suami isteri baru itu menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan lari si isteri (nyeburin). Di samping . keluarga-keluarga yang bersifat poligini ini hanya terbatas dalam lingkungan-lingkungan tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak. dan bentuk keluarga batih ini tergantung pula dari macam perkawinan itu. Tempat di mana suami isteri itu menetap. sering ditambah dengan anak-anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan lain-lain orang yang menumpang. Di desa-desa di tanah datar. menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. ia memisahkan diri dari rumah tangga orang tua dan mendirikan rumah dan rumah tangga sendiri yang baru (ngarangin). Sebaliknya. kalau seorang anak laki-laki sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mempu untuk berdiri sendiri. Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami. dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Keluarga Luas.  Keluarga Batih. Karena poligini diijinkan. Struktur dari tunggal dadia ini berbeda-beda dipelbagai tempat di Bali. Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan). dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Walaupun demikian. baik orang yang masih kerabat maupun yang bukan kerabat (pembantu rumah tangga dan lain-lain). maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa). Demikian pula anak-anak dan keturunan mereka yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri. maka ada juga keluarga-keluarga batih yang sifatnya poligini. orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di masing-masing kediamannya. Kalau suami isteri tinggal secara virilokal. dan Rumah Tangga Akibat dari perkawinan adalah terbentuknya suatu keluarga batih.  Klen Kecil dan Klen Besar Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya.rumah baru. Di desa-desa di pegunungan. Salah satu dari anak laki-laki biasanya tetap tinggal di kompleks perumahan orang tua (ngerobin) untuk nanti dapat membantu orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya lagi dan untuk menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal. Dengan demikian. sebenarnya suatu rumah tangga yang sudah tua terdiri dari suatu keluarga luas virilokal yang terdiri dari suatu keluarga batih senior dengan beberapa keluarga batih yunior yang hidup bersama dalam satu kompleks perumahan (uma) sebagai kesatuan yang formil. yang disebut kemulan taksu.

keluarga batih yang hidup neolokal seperti juga masih terikat oleh dan masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap pura asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka. Susunan tinggi rendah dari klen-klen di daerah dataran tampak pada gelargelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. Gelar-gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa. Orang-orang bangga apabila dapat menyusur keturunan mereka sampai pada raja-raja atau bangsawan-bangsawan dari zaman Majapahit itu. sedangkan ketiga lapisan yang pertama . yaitu sistem keempat kasta: Brahmana. Sistem ini terpengaruhi oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu Kuno. Ada pelbagai klen yang mempunyai sejarah keturunan (babad. Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja pura leluhur yang sama disebut pura paibon atau panti. dan dengan demikian suatu pura serupa itu mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota dari suatu klen kecil. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama. Waisya. Dalam praktek. pamancangah. Karena proses sejarah yang kembali ke zaman Majapahit. Ksatrya. bahkan batas-batas antara klen-klen dalam kehidupan masyarakat tidak tampak begitu nyata. Kelompok kerabat yang demikian dapat disebut klen besar. pretasti) sendiri-sendiri yang masing-masing kembali sampai pada sejarah penaklukan oleh Majapahit dalam abad ke-14. karena itu tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai kelompok-kelompok kerabat yang bersifat patrilineal. yaitu Brahmana. dan Sudra. Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya. maka klen-klen di Bali daerah dataran. Pelbagai keturunan inilah yang memberikan susunan yang lebih kompleks kepada klen-klen patrileneal yang terdapat di Bali daratan. Di Bali daerah pegunungan. Vaisya.itu. Satria. dan Sudra. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarganya yang merasakan dirinya senior. tersusun dalam suatu susunan berlapis tinggi rendah berdasarkan jarak hubungan kekerabatan dari leluhur-leluhur dari klen-klen itu dengan seorang tokoh raja atau bangsawan dari Majapahit. yaitu keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. susunan klen berlapis tinggi rendah serupa itu tidak ada. SISTEM KEMASYARAKATAN  Sistem Pelapisan Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan. suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja.

orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa). banjar. Sebaliknya. 1. Desadesa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. Selain itu banyak gelar-gelar lain yang diturunkan oleh klen-klen tertentu tetapi yang kurang terang mengenai kedudukannya dalam wangsa. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan dan desa-desa adat di daerah datar. atau secara konkret dibawah pengawasan pimpinan desa. Zaman modern dengan pendidikannya telah banya membawa perubahan dalam sistem pelapisan wangsa ini. lebih dari 85% dari rakyat Bali termasuk warga Jaba. subak dan seka/sekaha. lagipula warga klen-klen besar yang termasuk Triwangsa biasanya tersebar luas di seluruh Bali. Sebagian dari tanah wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu. dan lapisan yang keempat disebut Jaba. Pendeta-pendeta tidak usah lagi berasal dari wangsa Brahmana. tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak pengawasan desa. lainnya berpendapat bahwa gelar-gelar serupa itu termasuk wangsa-wangsa yang rendah dan demikian selalu memang ada perselisihan mengenai kedudukan dari orang-orang yang mempunyai gelar-gelar tadi dalam upacara adat dan dalam sopan santun pergaulan Bali. Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita. dan akhir-akhir ini mereka malahan sudah dianggap sederajat dengan pendeta-pendeta dari wangsa Brahmana. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang memiliki wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.sebagai kesatuan disebut Triwangsa. Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan. gelar bagi warga klen-klen Satria adalah Cokorda. yaitu desa adat dan desa dinas. Pemegang gelar-gelar serupa itu tentu akan mengakuinya sebagai gelar wangsa tinggi.  Lembaga Tradisional Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa. Sesudah kawin. Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. Hanya sebagian kecil dari rakyat Bali. Konsep desa memiliki dua pengertian. dan warga klen-klen yang termasuk Jaba tinggalnya lebih terpusat pada daerah-daerah terbatas. Desa Desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. Misalnya undang-undang (awig-awig) yang menghukum adanya perkawinan antara gadis yang lebih tinggi dengan laki-laki yang wangsa-nya lebih rendah telah dihapuskan. kurang dari 15% yang termasuk anya sebagian kecil dari rakyat Bali. dan bagi warga klen-klen Wesia adalah Gusti. mendapat tempat duduk yang . kurang dari 15% yang termasuk Triwangsa.

tempat untuk menerima tamu. dan pura untuk keluarga (sanggah). Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan. dan hal-hal biasa yang tidak keramat diletakkan pada arah kelod.khas di balai desa yang disebut balai agung. Bale (bangunan) masing-masing mempunyai nama tersendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-hari. Hal yang keramat diletakkan pada arah kaja. dan sebagainya pada umumnya menuruti pola susunan tertentu. Pura keluarga yang dianggap suci terletak di bagian kaja. Klungkung). konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. lumbung. Seluruh komplek sebagai suatu kesatuan disebut uma. Di antara komplek bangunan itu terdapat bangunan untuk tidur. Pura Desa merupakan tempat berstananya Dewa Brahma yang dimanifestasikan sebagai pencipta. Ada kalanya juga Pura Puseh dan Pura Desa dijadikan satu. satu atau beberapa dapur. Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. Catatan: Dalam bahasa Bali. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Sedang tempat kediaman berada pada arah kelod. dan pada arah kelod diletakkan Pura Dalem (pura yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian). dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap. . sanggah. Dimana Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa. Biasanya ketiga Pura Kahyangan Tiga tersebut tempatnya dipisahkan satu sama lain. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali. Dengan demikian untuk orang Bali Utara. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerahdaerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa. Gianyar. Klasifikasi dualistis ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangunan-bangunan pusat dari desa. dibangun diatas suatu pekarangan yang bisanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit. Misalnya saja pada arah kaja diletakkan Pura Desa. Badung. kaja berarti selatan. sebaliknya untuk orang Bali Selatan. Pada komplek bangunan (bale) yang ditempati keluarga inti maupun keluarga luas. Seperti telah diterangkan sebelumnya. kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. Sedapat mungkin bangunan-bangunan dari desa disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. Pura Puseh dan Pura Dalem. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dimanisfetasikan sebagai pemelihara dan Pura Dalem yang merupakan berstananya Dewa Çiwa yang dimanifestasikan sebagai pelebur. Di samping kesatuan wilayah maka sebuah desa merupakan pula suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga. kaja berarti utara. Mengenai letak dari bale. Desa-desa di daerah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar luas.

tetapi di dalam beberapa banjar. Untuk mengakomodasikan kegiatannya maka dibangunlah sebuah bangunan yang terbuka yang dikenal dengan nama bale banjar. Selain itu kelian juga mengurus urusan agama. kesenian hingga agama. Warga subak adalah para pemilik atau penggarp sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Kesatuan wilayah ini diperkuat oleh kesatuan adat dan budaya. . Subak Subak di Bali berdiri seolah-olah lepas dari banjar dan mempunyai seorang kepala sendiri. Karena fungsinya sebagai pusat maka bale banjar ini biasanya didirikan di tengah-tengah wilayah tersebut. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga suatu subak itu tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. Banjar Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan oleh kesatuan wilayah. Bale banjar ini merupakan pusat dari banjar tersebut. Bale banjar ini juga sebagai bangunan serbaguna untuk menunjang kegiatan umum masyarakat banjar. adat dan urusan yang bersifat administratif. Di bale banjar inilah diadakan pertemuan (sangkep) setiap bulan mengevaluasi kegiatan banjar selama sebulan. Dalam hal ini tiap-tiap banjar memiliki awig-awig yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing banjar. Bale banjar ini biasanya dilengkapi dengan Pura Banjar dan Bale Kukul sebagai tempat untuk menaruh kukul (kentongan).2. Banjar dipimpin oleh seorang kelian banjar dan dibantu oleh beberapa orang sebagai wakil kelian. Sudah tentu tidak semua pemilik atau penggarap tadi hidup dalam satu banjar. Masyarakat tersebut dipersilahkan menjadi anggota banjar jika orang tersebut menghendaki. Sebaliknya. Kelian banjar sebagai tetua banjar dipilih langsung oleh para krama (warga) banjar dalam suatu sangkep (pertemuan). Anggota banjar tidak mutlak dari orang asli di daerah tersebut. tetapi juga orang dari wilayah lain yang kebetulan menetap sementara/seterusnya di wilayah banjar tersebut. Seperti olahraga. Untuk lama masa jabatan tertentu sesuai dengan awig-awig (undang-undang) banjar bersangkutan. sinoman dan penyarikan. Dengan demikian warga banjar tadi itu akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. Bahkan seringkali harus juga memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah dan dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya. Adapun tugas dari kelian ini adalah mengurus segala urusan sosial kemasyarakatan. Hal ini dimaksud untuk memudahkan krama banjar. 3. ada pula warga suatu banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan yang mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak.

seperti misalnya ikut membantu membangun pura atau memperbaiki sebuah pura yang sudah ada. yaitu seka-seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. seka truna (perkumpulan para pemuda). 5. sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah. bahkan untuk waktu yang meliputi angkatanangkatan yang turun temurun. Ada sekaseka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara yang berkenaan dengan desa misalnya seka baris (perkumpulan tari baris).4. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. Gotong royong semacam itu disebut nguopin (membantu) dan meliputi berbagai aktivitas di sawah (seperti menanam. misalnya suatu perkumpulan gamelan ‘ditarik’ untuk ikut serta dangan suatu seka lain dalam hal menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. seka manyi (perkumpulan menuai). tetapi ada pula yang bersifat sementara. Sistem kerja bakti semacam . dan sebagainya). atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian cara gotong royong nguopin masih banyak diterapkan. Hanya di dalam hal ini khusus kerja bakti untuk keperluan agama. yaitu organisasi seka. dinding rumah. dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga. Cara semacam ini di sebut ngedeng (menarik). ada beberapa macam cara dan sistem gotong royong. Terakhir ada suatu sistem gotong royong yang lebih menyerupai sifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah. Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan-perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. menyiangi. seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam). antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. Seka/Sekaha Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus. Gotong Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat desa di Bali. Seka dalam arti ini tentu sifatnya permanen. Seka ini bisa didirikan untuk waktu yang lama. dan sebagainya). seka daha (perkumpulan gadis-gadis). Hanya dalam perayaan dan upacara. Di dalam hal itu ada seorang atau suatu keluarga minta bantuan dari tetangganya atau keluarga lain. dengan suatu sopan santun yang telah digariskan oleh adat dan dengan pengertian bahwa ia wajib untuk membalas bantuan tenaga yang disumbangkan kepadanya itu dengan bantuan tenaga juga. Dalam hal ini suatu seka tertentu. seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. tetapi ada juga seka-seka yang bersifat sementara. menggali sumur. Nguopin dalam aktivitas sekitar rumah tangga di kota dan di banyak desa sudah mulai hilang dan mulai diganti dengan sistem menyewa tenaga upahan karena sistem menyewa sekarang dianggap lebih praktis dan seringkali lebih murah (karena tidak perlu menyediakan jamuan dan sebagainya). Selain nguopin masih ada cara gotong royong antara seka dengan seka. panen.

ini disebut ngayah atau ngayang. Sinergi itu dapat terjadi karena pada dasarnya terdapat kesamaan di antara keduanya. SISTEM ADAT DAN RELIGI Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan sebuah sinergi antara unsur-unsur adat dan budaya lokal yang telah dianut masyarakat dari zaman dulu dengan kebudayaan Hindu yang masuk dari India. bisa merupakan suatu aktivitas yang ramai dan penuh kemeriahan. No . Persamaan-persamaan tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut. 1 Religi Prasejarah Religi Hindu Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang .

yakni timur dan yakni utarea dan timur yang disebut utara Uttara dan Purva Adanya persembahan dan bekal adanya persembahan dan bekal kubur kubur berupa upaca yajna 9 10 Sumber: PHDI Pusat Kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali itu diwujudkan dengan melakukan Yadnya yang sumber-sumbernya berasal dari kitab suci dan tata cara pelaksanaannya disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. dipandang suci. Yadnya itu terbagi atas lima bagian yang disebut Panca Yadnya. dan Laut Tempat yang dipandang merupakan tempat yang suci gunung. dan meru tahta batu Tinggalan ditemukan dipanggur situs Gilimanuk tradisi panggur disebut gigi manusia telah mepandes atau metatah upacara 6 7 8 Tinggalan sikap jenazah pada kepercayaan terhadap kelahiran kembali sakofagus dalam menyerupai bayi yang disebut samsara atau punarbhawa dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali Adanya arah orientasi yang adanya orientasi yang dipandang suci. sungai. Membuat tiruan gunung berupa mambuat tiruan kahyangan dan gunung punden berundak.Emabang/ Sang Hyang Tuduh 2 Widhi Wasa Dewa yang bersemayam di Puncak Dewa yang besemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir Gunung Agung disebut Bhatara Giripati atau Mahadewa Gunung. menhir dan berupa pura. prasada. Perlu diingat bahwa setiap banjar ataupun desa bisa memiliki adat yang berbeda-beda. yaitu: . dan laut Percaya terhadap kekuatan alam kekuatan yang disebut Hyang Dewa suci adalah nama 3 4 5 alam disebut dengan Percaya terhadap roh suci leluhur percaya terhadap roh suci leluhur yang dengan perawatan jenazah dan disebut atma dan atma yang suci roh suci dianggap brsemayam di bersemayam di pincak-puncak gunung puncak gunung. sungai. candi.

Contoh Pitra Yadnya adalah upacara ngaben. Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum perayaan hari raya Nyepi. dan akasa (ruang hampa) sesuai dengan ajaran Hindu Bali. Dewa Yadnya Dewa Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça dan seluruh manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta. apah (zat cair). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atman (roh). atman-nya tidak. teja (zat panas). Upacara keagamaan di Bali disesuaikan dengan masing-masing Desa Adat (desa kala patra) masing-masing daerah. Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci). Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas. Berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. 2. menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya.  Ngaben Kematian. Contoh Dewa Yadnya: menyelenggarakan upacara piodalan dimasing-masing Desa Adat yang ada di Bali. mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. bagi masyarakat Bali tak bisa lepas dari upacara adat ngaben. memberikan sesuatu yang baik dan layak. Kematian bagi orang Bali adalah kembalinya manusia kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta: pertiwi (zat padat). bayu (angin). Ngaben adalah . Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti. Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: – – – Berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit.1. Pitra Yadnya Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha.

Selesai memandikan. Selanjutnya adalah prosesi ngajum. ngajum. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dengan mengambil sekepal tanah di lokasi meninggalnya kemudian dibakar. Pada hari H-nya. dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah. ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu). Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. yaitu tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon (memandikan jenazah). dilakukan prosesi ngaben di kuburan (setra) desa setempat. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah. Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. . Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah tidak diketemukan. Ketika ada yang meninggal. Wadah biasanya berbentuk padma sebagai simbol rumah Tuhan. yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. dll. Namun cenderung disetujui pendapat bahwa ngaben berasal dari kata ngapen (ng + api + an = ngapian > ngapen > ngaben). Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah). Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali.upacara penyucian atman (roh). fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. pembakaran dan nyekah. jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik (dewasa) untuk melaksanakan ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah. Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal. atau seperti saat Peristiwa Bom Bali I dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.

tanpa mengurangi makna pelaksanaan upacara ngaben. ngaben niri juga dilaksanakan oleh keluarga keturunan bangsawan. sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku. Sebenarnya ada bermacam-macam cara melaksanakan upacara ngaben di Bali. Banjar adat tidak mencampuri waktu pelaksanaannya. jenazahnya harus dikubur. atau ngaben bersama. yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu. tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan. jumlahnya tidak seberapa. sesuai dengan keinginannya. Dalam hal ini berarti bahwa keluarga duka dapat melaksanakan upacara ngaben pada waktu tertentu. Upacara ngaben ngamasa dilaksanakan dengan maksud menghemat biaya dan waktu. Ngaben Ngamasa Ngaben Niri artinya melaksanakan upacara ngaben sendiri (Niri = diri = sendiri). Istilah lain ngaben ngamasa adalah ngaben ngerit. Patus banjar. sesuai situasi dan kondisi yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. Ngaben Ngamasa berarti melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal. Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal. Oleh karena itu. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai).Sesampainya di kuburan. Cara pelaksanaan ngaben ngamasa ada dua. Terlepas dari ini. Ngaben Niri 2. Masing-masing desa adat di Bali memiliki awig-awig (undang-undang) tersendiri tentang tata cara melaksanakan upacara ngaben. terbilang relatif berat. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. dibandingkan dengan jumlah tenaga dan materi yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan rangkaian upacara ngaben. . yaitu: 1. Di sini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari klan brahmana). baik berupa tenaga maupun materi. Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi. Umumnya dapat dibagi menjadi dua. tetapi hanya memberi bantuan tenaga dan materi (dikenal dengan sebutan patus banjar). Bahkan ada kalanya sama sekali tidak mendapatkan bantuan banjar. ngaben massal. lahir sebagai seorang bangsawan.

termasuk memohon cuti. Tidak menganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta. karena kewajiban mengeluarkan (patus) juga dirancang hanya satu untuk semua. karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua. 2. maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. Kesulitan lainnya. dan lainnya) yang lumayan banyak. Sebabnya. dan jumlah warga yang ngaben 30 orang.000. ada hubungan dengan bantuan materi (patus) kepada warga yang melaksanakan upacara ngaben. Pelaksanaan upacara ngaben seperti ini dikenal dengan sebutan ngaben bersama. upacara ngaben dilaksanakan pada waktu. pisang. Artinya. Sebaliknya kalau warga yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit. tempat. jauh hari sebelum puncak acara. Biaya bagi warga masyarakat yang lainnya (patus) juga kecil. barulah dibuat oleh masing-masing anggota. karena segala bantuan tenaga diatur oleh panitia banjar dengan pola satu untuk semua. kalau jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben sedikit dan anggota anggota banjar lumayan banyak. ngaben ngamasa dengan cara ‘satu untuk semua’ ini dikenal dengan istilah ngaben kinembulan. Kedua.000. sehingga segala aktivitas yang terkait dengan upacara tersebut dapat dijadwalkan. Masingmasing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. Sukawati. Di Desa Pakraman Celuk.Pertama. 4. Upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa. Ada yang berpendapat bahwa ngaben kinembulan ini akan menjadi pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara ngaben masa depan. Jumlah ini tidak dapat dianggap enteng. cara dan oleh panitia yang sama. biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben. 5. maka masing-masing warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar 750. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25. Biaya yang disiapkan oleh warga yang akan melaksanakan upacara ngaben relatif lebih kecil. karena lebih mudah mengatur waktu. antara lain: 1. Dapat menghemat waktu dan tenaga. Kelemahannya. 3. warga banjar yang diharapkan memberi bantuan menjadi bingung dan kacau. ngaben ngamasa dilaksanakan dengan cara ‘satu untuk semua’. Keuntungannya. Untuk memudahkan. Cuma waktunya bersamaan. Konsekuensinya. bambu. ngaben ngemasa dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri. Mereka dituntut harus pintar membagi waktu agar dapat memberi bantuan kepada sebanyak mungkin warga yang kebetulan melaksanakan upacara ngaben. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan. Dengan ngaben . pelaksanaan upacara ngaben dengan mudah dapat diketahui. maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga.

sehingga satu golongan merasa sebagai golongan bangsawan yang berkedudukan tinggi dan harus dihormati dan golongan lainnya dianggap sebagai rakyat biasa (panjak). Oleh karena itu maka kasta tertentu yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari kasta yang lainnya. sebagai sesuatu yang lebih rendah maknanya dibandingkan dengan ngaben niri. masih ada anggapan bahwa melaksanakan upacara ngaben merupakan satu-satunya cara untuk melaksanakan Pitra Yadnya dalam arti ‘membayar hutang’ kepada leluhur. Upacara nelu bulanin 7. Upacara kambuhan 6. sulit dilaksanakan di desa adat yang termasuk desa pakraman nyatur (terdiri dari empat kasta). Jenis-jenis Manusa Yadnya berdasarkan urutan pelaksanaannya: 1. sehingga perlu diupacarai atau diselamati. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan. sebelum mereka harus turut ‘berkorban’ demi kepentingan upacara ngaben. Upacara kelahiran 3. dengan cara menjual harta warisan yang berupa tanah. tidak rela bergerak seiring dan sejalan. Upacara nglepas hawon 5. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi atas dasar semangat ‘satu untuk semua’ pada waktu melaksanakan upacara ngaben. dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta. antara lain: Pertama. Upacara otonan . 1. Manusa Yadnya Manusa Yadnya adalah suatu persembahan suci yang tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis. Upacara kepus puser 4. Kedua. lebih memungkinkan bagi tumbuhtumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat. Mereka yang masih yakin akan hal ini menganggap melaksanakan upacara ngaben dengan cara kinembulan atau ‘satu untuk semua’. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah desa kala patra (tempat-waktu-keadaan) sangat penting.ngamasa atau kinembulan. Anggapan ini menyebabkan banyak orang yang rela melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran. Ngaben kinembulan mengandung beberapa kelemahan. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan. Magedong-gedongan 2. kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. berkedudukan rendah dan harus menghormati golongan bangsawan.

Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 3.Upacara pawiwahan  Magedong-gedongan Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari. pada bagian tutup kendil atau . canang sari. Apabila mempergunakan kelapa.  Upacara Kelahiran Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama. dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita. Upacara kelahiran dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dan dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan. tangan kanannya memegang bambu runcing. Upacara ngempugin 9. tidak harus persis karena dapat disesuaikan dengan hari baik (dewasa). Tujuannya agar atman/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan. Setelah ari-ari dibersihkan. Tangan kiri suami memegang benang. 2. Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan. tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup. sampiyan dan penyeneng. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan. 2. Sang istri menjunjung tempat rempah-rempah. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia. lstri yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda. canang genten. demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Upacara makupak 10. Sang suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing sang istri sampai air dan ikannya tumpah. 5. dan dilanjutkan di depan sanggah (semacam pura kecil yang ada pada setiap rumah). Upacara magedonggedongan dilaksanakan di dalam rumah.8. sang ayah dapat melaksanakan upacara ini. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan. 6. Dalam hal tidak ada keluarga tertua. pekarangan. selanjutnya ditutup kernbali. selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup.Upacara rajaswala 11. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu. halaman rumah. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab. 4. kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian.Upacara mepandes 12.

belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA. Wisnu dan Siwa.  Upacara Nglepas Hawon Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut upacara ngelepas hawon. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya. Upacaranya dilakukan di dapur. dan terakhir di sanggah kamulan. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh. dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara. Sang Anggapati. 3.  Upacara Kambuhan Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki. digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi. Si bayi beserta kedua orangtuanya natab di sanggah kamulan. di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna. 2. di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma. 4. pala.  Upacara Kepus Puser Upacara ini dilakukan pada saat puser bayi lepas. tempat menaruh sesajian. 2. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Proses selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah. umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. 3.  Upacara Nelu Bulanin . di permandian. Banaspati dan Mrajapati. di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala). Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk. Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si bayi. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga. Untuk upacara yang lebih besar si bayi terlebih dahulu di-lukat di dapur. Si bayi biasanya baru diberi nama demikian pula sang catur sanak (saudara keempat yang dipercaya ikut menemani kelahiran si bayi) setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja. dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah. lada dan lain-lain. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 3. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita.

Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu.  Upacara Ngempugin Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: . Biasanya digabungkan dengan upacara otonan (210 hari kelahiran bayi). misalnya keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh. Selanjutnya dilaksanakan setiap 210 hari. 3. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). Doa dan persembahyangan untuk si bayi. kalung dan lain-lain. 3. Bila keadaan tidak memungkinkan. Pendeta melakukan pemujaan. Pemujaan terhadap Siwa Raditya dan penghormatan terhadap leluhur. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik.  Upacara Otonan Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Semakin dewasa.Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. dilakukan oleh orangtuanya. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang. upacara bisa ditunda. 2. terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirta. 4. untuk otonan selanjutnya tidak dilakukan. Ini dilakukan pada otonan pertama kali. 6. sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna. 5. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban. Si bayi diberikan tirta pengening (tirta amertha) kemudian ngayab jejanganan. Pendeta sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya. memerciki tirta (air suci) pada sajen dan pada si bayi. atau tiga bulan dalam hitungan pawukon (1 bulan = 35 hari). Pendeta memohon tirta panglukatan. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan. 4. 2. semakin sederhana pula sarana upacaranya. semacam memperingati hari ulang tahun. yang berarti memohon keselamatan.

Upacara ini dapat pula disatukan dengan otonan berikutnya. paha barulah diperciki tirta pesangihan. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kemudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.  Upacara Mepandes Upacara mepandes atau potong gigi ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) yang ada pada diri si anak. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah. 6. Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi mempersembahkan segala sesajen yang tersedia. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. pusar. 5. Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa.1. namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. dada. lidah. taring. 4. Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi. gigi bawah. 2. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Upacara dilanjutkan oieh sangging (yang bertugas memotong gigi) dengan menyucikan peralatannya. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Si bayi natab mohon keselamatan.  Upacara Rajaswala Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Sang Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri.  Upacara Mekupak Upacara ini dilakukan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. 3. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip. Waça dengan 3. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita. gigi atas. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian. 2. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama.  Upacara Pawiwahan . Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah daha) ini.

Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. pasangan yang akan dikawinkan. dengan mempertimbangkan duniawi. pertimbangan kekayaan. Jadi bagi umat Hindu. seperti kecantikan fisik. karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. seperti menjaga martabat keluarga. pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi. Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian. nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih.Yang dimaksud upacara pawiwahan adalah upacara pernikahan. yang mampu melihat secara jelas. perkawinan ditentukan oleh seorang Resi. Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. namun oleh raja atau orang tua mempelai. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral. sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam sebel kandel. Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (daiwi sampad). Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. melebihi penglihatan rohani. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad). biasanya di-puput oleh seorang pinandita. Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini. Setelah jaman Dharma Sastra. kegantengan dan lain-lain. Menurut UU Perkawinan no 1 th 1974. sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. oleh sebab itu pada jaman Weda. cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. kecantikan. melalui proses upacara agama yang disebut mekala-kalaan (natab banten). sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista. Peralatan upacara mekala-kalaan: . Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. Makala-kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi.

Benang Putih Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter. yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin. Keris Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria.Sanggah Surya Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. ketampanan. Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Waça dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya. secara manis. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Ida Sang Hyang Widhi Waça. Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) Simbol calon pengantin. . sebagai dewa kebajikan. tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni). Biasanya nyungklit keris. Tegen-tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil-alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Perangkat tegen-tegenan: – Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas. kebijaksanaan simbol pengantin pria. dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Ida Sang Hyang Widhi Waça dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama. yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria. dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita. serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan.

Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita. isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa . disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga. rajas. berdasarkan ucapan baik. Tetimpug Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.– – – – Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi). yang berisi talas. beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain. Cangkul sebagai alat bekerja. di dalamnya diisi sebutir telor bebek. Sapu Lidi (3 tangkai) Simbol Tri Kaya Parisudha. Selalu ingat dengan penyucian diri. prilaku yang baik dan pikiran yang baik. serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. tamas). setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma. kunir. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah. Siwa) mengisyaratkan kesucian. Wisnu. Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam. Telor bebek merupakan simbol manik. Sambuk Kupakan (serabut kelapa) Serabut kelapa dibelah tiga. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. berkarma berdasarkan dharma. Dagang-dagangan Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang. agar kekuatan triguna dapat terkendali. Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan. Periuk simbol windhu. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu).

dan mengamalkan ajaranajaran para 5. dan mengembangkan ajaran agama. diwinten dengan upacara Askara. pawintenan tingkat ini untuk para brahmacari misalnya yang belajar agama. Pada dasarnya semua orang terutama yang akan mengakhiri masa Grahasta (pensiun) perlu mawinten dengan tujuan mensucikan diri menjelang pulang ke sunia-loka. 1. 2. Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. dalang. tukang banten. Pawintenan dengan ayaban saraswati adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan.saat tertentu kepada Sulinggih. Pawintenan dengan ayaban catur yang paling utama. mawa artinya bersinar-sinar dan inten artinya intan (permata). pegawai kantor agama. 3. 2.  Mawinten Mawinten asal katanya dalam Bahasa Kawi. Mentaati. yang senang gegitaan. Pawintenan dengan ayaban saraswati termasuk yang paling sederhana. Pada akhirnya manusia Hindu setelah meninggal dunia dan di-aben. undagi. Tingkat pawintenan ada tiga menurut besar/kecilnya upacara pawintenan yaitu: 1. Pinandita. 4. Sulinggih. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça. Membangun tempat. orang-orang suci. Resi. Menghaturkan/memberikan punia pada saat. menghayati. Jadi orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang kemilau karena lahir bathinnya sudah disucikan. Resi Yadnya Resi Yadnya adalah suatu upacara yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. dll. Pawintenan dengan ayaban bebangkit adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana sebagai putra Siwa yang berfungsi sebagai . dan 3. Mereka yang wajib mawinten karena profesinya antara lain: pemangku. sangging. Pawintenan dengan ayaban bebangkit untuk yang medium.tempat pemujaan untuk Sulinggih. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. membina. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: 1.lahir anak yang suputra. dll.

yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. Brahma. dll. sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan. dll. Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu di natar Merajan. rumah serta lebuh. pawintenan tingkat ini untuk para undagi. yoga. Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. Mereka yang sudah mawinten wajib menggelar brata.pelindung manusia. nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi. Bhuta Yadnya Bhuta Yadnya adalah suatu korban suci kepada sarwa bhuta yaitu makhlukmakhluk rendahan. Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. tapa. samadi-nya. 1. pinandita. Selain berwujud tumpeng. samadi.tumbuhan. tukang banten. dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. Karena tempat masegeh ada tiga. Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan Ida Sanghyang Widhi Waça. nasi menjadi satu komponen penting. Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia. Contoh lain dari Bhuta Yadnya adalah segehan. baik secara sekala maupun niskala. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. pawintenan tingkat ini untuk para pemangku. Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. Selain itu. Makin tinggi tingkat pawintenan-nya makin ketat pelaksanaan brata. Dalam persembahan tersebut. yoga. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucarabucari supaya tidak mengganggu. Pawintenan dengan ayaban catur adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara. Yeh Nyom. sangging. hewan (binatang). baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ariari. Getih. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta. Lamas. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali. tapa. dalang. maka jenis segehan itu pun ada . Mahadewa. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça. tumbuh. Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos.  Segehan Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. Samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Waça. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan.

Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung. lengkap dengan kepala. Dalam pararaton zaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke-16. dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi. Hari Raya Terkenal di Bali  Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. leher. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. dan kaki. kelapa. Tapi. Ini adalah hari raya khusus. kemudian disusul oleh Hari Raya Kuningan setelah sepuluh hari. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. Berjuang. tetapi simbol keletehan dan adharma. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Galungan itu berarti peperangan. Galungan itu sudah dirayakan. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan. Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja. adalah Hari Raya Kuningan. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga.tiga. Tuhan sebagai pencipta dipuji dan dipuja. Kemudian pada hari Saniscara (Sabtu) Keliwon Wuku Kuningan. sejak hari Minggu (tiga hari sebelum Galungan) umat Hindu didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Disebutkan dalam pustaka-pustaka Hindu bahwa dalam rangkaian peringatan Galungan. seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga). juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Jadi dalam hal ini umat Hindu berperang. termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. Namun tidak berarti bahwa dunia ini lahir pada hari Budha Kliwon Dungulan. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. Mereka adalah simbol angkara. dimana para leluhur yang setelah . Terakhir diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing. Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia. jagung. Menurut arti bahasa. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. jajanan dan lain-lain. badan. di antaranya Panji Amalat Rasmi (Zaman Jenggala) pada abad ke11 di Jawa Timur. segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. tangan. Dengan mempelajari pustaka-pustaka.

Maka ketika Lubdaka meninggal. Di Bali. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. saat Bhatara Yama melakukan pengadilan. jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa tepat di saat beliau beryoga. Agar tidak dimakan binatang buas. Pada hari itu dibuat nasi kuning. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta (air kehidupan). Bhatara Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa. melakukan intervensi pada keputusan Bhatara Yama. si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Bhatara Siwa. Sementara. Bhatara Siwa sudah terlanjur ’sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga. karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. pada malam Siwaratri. Agar tetap terjaga. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak tidur). Saat yang bersamaan. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa. lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih umat Hindu menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa bahan-bahan sandang dan pangan. Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. dan membawa Lubdaka ke sorga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri. dan Melasti . Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu. dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan.  Nyepi Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Çaka. Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. untuk menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta).beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing.  Siwaratri Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waça dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar. Siwaratri juga disebut hari suci pajagran. Konon. sebagai pengusir kantuk. pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa. Sedangkan di pedesaan biasanya ada beberapa Barong ngelawang diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan. membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. dalam usaha menimbulkan kesadaran diri. Bhatara Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Bhatara Siwa melakukan yoga. upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara). Padahal. Pengrupukan. si Lubdaka naik ke pohon. datanglah satu batalyon tentara surga yang dikirim oleh Bhatara Siwa. Berikut perinciannya: Tawur (Pecaruan).

mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan. Demikianlah untuk masa baru. dasar ini dipergunakan. Menurut umat Hindu. pekarangan. pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan. sehingga ada masa amati geni. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak diwujudkan dengan matekep guwungan (ditutup sangkar ayam). yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut. Untuk memulai hidup dalam tahun baru pun. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian dan terdiri dari: – – – – Amati Geni (tidak menggunakan dan/atau menghidupkan api) Amati Karya (tidak bekerja) Amati Lelungan (tidak bepergian/keluar rumah) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. Pañca Sanak (sedang). yaitu pada Tilem Kesanga. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan. Selambat-lambatnya pada tilem sore. yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Khusus di Bali. yaitu menyebar-nyebar nasi tawur. serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. dan lingkungan sekitar. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah 9 paket beserta lauk pauknya. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja. Upacara ini dilakukan di laut. dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu manusia. ditempuh secara baru lahir. upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit).Sehari sebelum Nyepi. Nyepi Keesokan harinya. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah. selalu didahului dengan perlambang gelap. serta menyucikan pratima. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil). karena laut dianggap sebagai sumber amerta. seperti ayam berbulu brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing. dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Bhuta Kala. melasti harus selesai. segala hal yang bersifat peralihan. Bhuta Kala dan Bhatara Kala. dan kemudian dibakar. Tahap terakhir adalah melasti. Ngembak Geni . dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. dan Tawur Agung (besar). menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu. Wanita yang beralih dari masa kanakkanak ke dewasa.

Di Bali. Dewi Saraswati merupakan sakti (istri) dari Dewa Brahma. saling maaf memaafkan satu sama lain. dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat. bersama teman-temannya. Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa). Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan yaitu burung besar serupa angsa. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Khusus untuk daerah Denpasar. Umat Hindu seling mengunjungi keluarga besar dan tetangga. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata. semua pustaka-pustaka. atau melakukan Dharma Gita atau kekawin di tempat-tempat suci. Tangan yang lain memegang Wina (alat musik sejenis rebab) dan sekuntum bunga teratai. pura atau merajan. Untuk generasi muda. di pura. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi. kesadaran (widya). di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. Berkat anugerah Dewi Saraswati. buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaranajaran agama. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan. pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontarlontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. dan sastra. banyak yang begadang di pantai. lontar-lontar. dibersihkan.  Saraswati Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu pengetahuan). Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondongbondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan Mesambang Semadhi. membaca pustaka-pustaka. Pada hari raya Saraswati. Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). tetapi dapat terbang tinggi. mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa . Pada hari inilah Tahun Baru Çaka tersebut dimulai. Mereka begadang sampai pagi. kesusilaan dan sebagainya. persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa.Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Çaka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal ping pisan (satu) sasih kedasa (kesepuluh). bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke pura. manusia menjadi beradab dan berkebudayaan.

menyukai keindahan 11. masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai. menganggap semua orang adalah keluarga yang distilahkan dengan Nyama 4. Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur. hormat kepada leluhur dan orang yang lebih tua 9.yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran. sangat menghormati pemimpin 6. KARAKTERISTIK ORANG BALI SECARA UMUM 1. Keesokan harinya. Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari. ramah dan sopan 10. apresiasi terhadap kesenian sangat tinggi 5.menjunjung tinggi adat yang telah ditetapkan dan disepakati (demokrasi) PRODUK BUDAYA . cenderung santai 8. Percaya kepada hal-hal mistik 2. overtoleran 3. senang berjudi atau taruhan 7. yakni di pagi buta membasuh muka dengan air kumkuman (air kembang). dilaksanakan Banyu Pinaruh.

Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empatempat suku kata (ketukan). gaguritan atau pupuh. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. baik upacara adat maupun agama. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. yang biasa disebut tembang macapat. umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. Seni Tembang Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Gegendingan Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. 2. dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. 3. terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Dikatakan bebas karena benarbenar tidak ada ikatannya. Kakawin adalah puisi Bali . dan sederhana. Sekar alit Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat). Yang ada di dalamnya adalah pembagian-pembagian seperti : Pangawit Pembuka Pamawak bagian yang pendek Panama bagian yang panjang Pangawak bagian utama dari tembang 4. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok: 1. Sekar Agung Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu. Sekar Madya Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan. dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa.SENI SUARA a. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian. Isinya pada umumnya pendek. kelompok Sekar Alit. yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat. pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. baik upacara adat maupun agama.

Arja . Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih. Jenis dan macam-macam drama dan tari antara lain : 1. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab. Abuang Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin. Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol. tentang baik dan buruk. tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. sehingga mempunyai kekhasan tersendiri. yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan 2. Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:  Aswalalita  Wasantatilaka  Tanukerti  Sardulawikradita  Watapatia Wangeasta  Wirat  Çekarini  Girisa  Prtiwitala  Puspitagra  b. Tidak hanya menghibur hati.klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia. SENI DRAMA DAN TARI Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya. Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian sebagai berikut: Pengawit (penyemak) Panampi ( pangisep) Pangumbang Pamalet Kakawin pembukaan dilakukan dengan diselingi terjemahannya. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari.

Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Sampik Ingtai. Made Umbara. .Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah: • munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan. Liku. Cipta Kelangen. I Godogan. Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing masing terdiri dari Punta dan Kartala. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya. Desak (Desak Rai). pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari. Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat. Arja adalah semacam opera khas Bali. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif. Limbur. • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). dimainkan oleh satu orang). Linggar Petak. merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an. pemainnya semua pria. Panasar. menghadirkan komedi segar. sebagian memerankan wanita. Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani. Mantri Manis. Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat). Galuh. Pakang Raras. • Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang). Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena. Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana. kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura.

Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari. ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan). Dari wujudnya. ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.1. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Barong dan Rangda Barong dipercaya sebagai pelindung desa masyarakat Bali. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang. . Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa. macan. sapi atau boma. 4. Arja.

Baris Dadap 5. sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. kelompok penarinya membawa senjata. Walaupun demikian. Baris Tamiang 2. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. lugas dan dinamis. sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain. dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. yang kemudian menjadi nama dari jenis. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. Baris Kupu-Kupu . Baris Bajra 8. begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Baris Presi 6. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun 2. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Tari Baris Sebagai tarian upacara. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda. Setiap jenis. Baris Tumbak 4. Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain : 1. Baris Pendet 7.jenis tari Baris yang ada.Para pemain mengenakan busana tradisional Bali. umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh. Baris Katekok Jago 3.

Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Baris Omang 22. seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Baris Jojor 23. Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Baris Kuning 24. Baris Mamedi 19. Baris Gayung 16. Sita dan Hanoman. Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana. juga ada Tari Barong dan Legong. Baris Panah 14.9. Baris Demang 17. Baris Cina 12. Kecak Bila mendengar nama Bali. Baris Tengklong 10. tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik. Baris Cendekan 13. apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. Selain Tari Kecak. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut. Baris Bedil 11. Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria. Baris Kelemet 6. Baris Ketujeng 20. Baris Cerekuak 18. yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Ya! Tari Kecak. Baris Jangkang 15. Baris Gowak 21. Pada tari Sang Hyang. Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya .

Ia bertingkah dengan sangat liar. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrakjingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . Sekitar lima menit kemudian.00 Wita. hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan. karena keperawanannya berarti kesucian. yang terbagi menjadi lima babak. Kenapa harus perawan. untuk tempat duduk. sambil melemparkan pandangan ke arah penonton. maka ia pun akan menari di atasnya. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian. pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. Kamis dan Jumat pada pukul 19. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. yang kebanyakan turis dari luar negeri. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api. Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton. Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. yaitu agar aman dari bara api yang . selain tiket. Bali. Untuk menikmati tarian sendiri. dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. Ubud. Nantinya. acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari. tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat. Ini salah satu alasan memilih bangku belakang. Dan beberapa kali ia menendangnya. Apabila sempat menikmati tarian ini secara langsung. Suara mereka sangat merdu. Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. Sesaat sebelum kita memasuki pelataran pura. Namun. kita akan melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat. pengunjung dibebaskan memilih. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai. Yakni setiap Selasa. Padang Tegal Kelod. lalu membakarnya. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. kita akan melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah. Mereka adalah rombongan penari kecak. acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. tidak terdengar sumbang sedikit pun.di Jl Hanoman.

maupun Gong Kebyar. 7. pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi . Putri. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang. Bebarongan. rasanya kurang lengkap.melayang akibat tendangan si penari. sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur. Anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini.Calonarang Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir. Rangda dan Celuluk. menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin). Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean. Dari segi tempat pementasan. Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan. Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (muridmurid). yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket. Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket. Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak. Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting. ilmu hitam maupun ilmu putih.

masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. 8. mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible. • Jauk Manis (Jauk longgor). Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX. yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi.9. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria. Jauk Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana. ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita. terutama bagi muda mudi. Sunda Upasunda dan lain sebagainya. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. Penarinya adalah pria. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali. 9. Jenis tari Jauk ini antara lain • Jauk Keras (Jauk Enggang). Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha.(trajangan atau tingga) dan pohon papaya. • Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang- . Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka.Janger Merupakan jenis tarian pergaulan.

Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. . kertas.• • kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak). Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar).Topeng Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi. manusia. setan dan lainlainnya. topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. binatang. Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong. kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari). sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali. 10. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung.

Seni karawitan Seni Karawitan adalah seni mengolah bunyi benda atau alat bunyibunyian (instrumen) tradisional.Tari Kontemporer Salah satu tarian kreasi baru yang mempunyai ungkapan artistik yang bebas. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres.yang lebih tua. gesek. tiup. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Cak Rina Setan Bercanda Ngelawang Cak Subali . maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. Di Bali. Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan.Sugriwa Barong-Barongan c. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. alat bunyi-bunyian tradisional disebut gamelan atau gambelan. kaprahnya. Panasar (Kelihan . Di dalam tarian baru ini elemenelemen seni klasik/ tradisional Bali dipergunakan secara bebas dan kreatif. sesuai rasa estetik individu penatanya. petik dan sebagainya. 11. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. yakni topeng Sidakarya. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada. Kreativitas seperti ini melahirkan garapan tari baru yang inovatif yang menawarkan gagasan atau nafas-nafas baru yang dapat dikelompokkan sebagai tari Bali modern. dan Cenikan yang lebih kecil).Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua). Dalam gamelan ada alat musik tabuh. muncul sejak makin maraknya pertumbuhan tari-tarian Bali kreasi baru di awal tahun 1970. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan. .

Menurut jamannya. Kalaupun ada kendang. Beberapa gamelan golongan tua antara lain :  Angklung  Balaganjur  Bebonangan  Caruk  Gambang  Gender Wayang  Genggong  Gong Beri  Gong Luwang  Selonding Barungan madya. Dalam barungan ini. Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang. yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX. dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. Beberapa barungan madya antara lain :  Batel Barong . merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumeninstrumen bermoncol (berpencon). Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:  Gamelan Wayah  Gamelan Madya  Gamelan Anyar Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV. kendang sudah mulai memainkan peranan penting.

seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya.      Bebarongan Gamelan Joged Pingitan Gamelan Penggambuhan Gong Gede Pelegongan Semar Pagulingan Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru. Wayang  Wayang Kulit Wayang Kulit. maupun sebagai hiburan semata. Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis. masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu. Beberapa gamelan anyar antara lain :  Adi Merdangga  Bumbung Gebyog  Gamelan Bumbang  Gamelan Geguntangan  Gamelan Genta Pinara Pitu  Gamelan Gong Kebyar  Gamelan Janger  Gamelan Joged Bumbung  Gamelan Manikasanti  Gamelan Semaradana  Gong Suling  Jegog  Kendang Mabarung  Okokan / Grumbungan  Tektekan Instrumen-instrumen gamelan tersebut adalah: 12. adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. upacara adat Bali. yaitu: Wayang Lemah ( Wayan Gedog) Wayang Peteng Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih . Di desa-desa maupun di kota. Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang. yang meliputi jenisjenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX.

dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. Di Bali. Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak). baik untuk menyelesaikan program . Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalangdalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria. etika dan lain-lain. pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa. yadnya. ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali. Di lingkungan budaya Bali. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa. dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana. sastra. wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. dari India ataupun dari negara lain. Betapa tidak. pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang. Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka. dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali. pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap. spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa. Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. Sebagai sajian tugas akhir. gerak dan suara.diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia. bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur. kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral. Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M). atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing. Belakangan ini dalang muda berbakat. Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari. Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini. 1975).

Dalam hal iringan. pemakaian pemain wayang dalam jumlah yang banyak dengan satu orang dalang sebagai narator. Masih merupakan bagian dari perkembangan wayang kulit Bali adalah wayang Listrik yang merupakan hasil kerja patungan antara seniman (I Made Sidja. yang didukung oleh Gamelan Sekar Jaya di bawah asuhan komposer muda. pemakaian overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang. I Nyoman Catra. Pertunjukan pertama wayang listrik ini dilakukan di San Fransisco dan pada tahun 1996 yang lalu juga dipentaskan di Bali dalam rangka Festival Wayang Walter Spies.bait penting dari Kakawin. Misalnya: • • • • • • Penggunaan layar lebar berganda. . gamelan Selonding dan Selukat juga telah dicoba untuk mengiringi pertunjukan wayang Bali. penggunaan tata-lampu modern. Desak Suarthi Laksmi) dengan seniman dalang Larry Reed dari San Francisco.Seniman (setingkat Sarjana) pada jurusan Seni Pedalangan di STSI Denpasar. para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait . Pada beberapa bagian pertunjukan. I Dewa Bratha. spotlights. semua penari berdialog. seperti lampu strobo. dan lain sebagainya.  Wayang Orang Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong). pemakaian wayang golek besar. Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan. Amerika Serikat. para mahasiswa juga telah melakukan berbagai percobaan. semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali. Nama ini diberikan berdasarkan kenyataan bahwa dalam pertunjukannya terdapat perpaduan dua unsur penting yaitu : pemain wayang kulit Bali dengan permainan atau proyeksi cahaya lampu listrik. dan sebagainya.

BAHASA DAN AKSARA ➢ Bahasa Bali Dr. Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. Merdah. Delem. terutama di naskah-naskah lontar. Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan. Pertama. Karena itulah. Telepud. seperti Malen. Klating (Tabanan). Den Tiyis (Gianyar). Apuan. Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna. Tunjuk. Bualu (Badung). Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja. Sulahan (Bangli). Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng. dan Wayang Wong Parwa. bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan . Terdapat di desa-desa: • • • • • • Mas. Hampir semua penari mengenakan topeng. Marga. Sanggut. Teges. Parwa terdapat di desa-desa: • • Sukawati. 13. kecuali para punakawan. yaitu Wayang Wong Ramayana. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro.Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong. ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana. Prancak. Tatkala masuk pengaruh Majapahit. perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. Pujung (Gianyar) Blahkiuh (Badung). Wates Tengah (Karangasem). Batuagung (Jembrana) Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa).

Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti. Dilihat dari perbendaharaan kata dan strukturnya. Dewa Brahma dengan lambang api. ca. misalnya: a. dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara. Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -. satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari . Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. i. dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali). ra. bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga. o. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit). Jika kita perhatikan tulisan aksara mang. kedua. Bahasa Bali kuno itu. Artinya. Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. Misalnya kata gamang. selain mengandung banyak kata-kata Sansekerta. e. Peninggalanpeninggalan prasasti dari jaman Hindu-Bali menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang.aksara yang dipergunakan sehari-hari. ka. windu (matahari. walaupun tidak sebanyak seperti dalam bahasa Jawa.) dan nadha (bintang. bisah (h). bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini. u. yaitu pada masa pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. segi tiga). Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai saat berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi telah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh modernisasi dan demokrasi. ➢ Aksara Bali Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). misalnya: a. Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -. misalnya: ong.utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati.nama bahasa Bali Mula. surang (r). ung. dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara. dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. Bahasa Bali juga mengenal apa yang disebut ”perbendaharaan kata-kata hormat”. ang. kasar. Contoh pangangge tengenan: cecek (ng). Selain itu. asah. bulatan. dan aad. huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan. bahasa Bali tidak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. pada masa berikutnya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit. mang) dan modre atau aksara lukisan magis. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa. na.

untuk membedakan warna. tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya. KALENDER BALI Kalender Saka Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal. Idealnya awal tahun . 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong. namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa. sampai 15 yaitu purnama. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Kalender Bali bisa dianggap istimewa sebab kalender Saka Bali adalah penanggalan "konvensi". Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Dalam perhitungan matematis. Tidak mutlak astronomis seperti kalender Hijriyah. setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra tambahan yang merupakan bulan kabisat. namun tidak pula seperti kalender Jawa. Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Setelah purnama. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru. Panjang bulan Dalam 1 bulan candra atau sasih. hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun. Dikatakan konvensi atau kompromistis. karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya. sampai 30 pada bulan mati. Untuk menyelaraskan itu. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. 14. diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Hari ini dinamakan pangunalatri. kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru.huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. sering dipakai titi. Derajat ketelitiannya cukup bagus. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika.

diperingati sebagai hari raya Nyepi. angka tahun Saka bertambah 1 tahun. bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa). karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi. 15. Babi Guling Nama babi guling untuk daerah bali lebih dikenal dengan be guling. sehingga tahun baru Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April. Sejak hari raya Nyepi. Idealnya pada penanggal 1. MAKANAN KHAS BALI Lawar Lawar merupakan makanan khas Bali yang dibuat dari campuran daging. Pada tahun 1993. dan angka tahun dari sasih terakhir. yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). pepaya muda dengan bumbu lengkap Bali. diundur 1 hari. Babi guling adalah sejenis lauk pauk yang di buat dari anak babi betina atau jantan secara utuh . Tahun Baru Tahun baru bagi Kalender Saka Bali. Dengan demikian sasihsasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini.surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu). Sebetulnya be guling dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam. Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa). Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. nangka muda. karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa. Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2. Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi dan disantap sehabis melaksanakan upacara adat dengan cara prasmanan.

Tambahkan daun salam agar wangi dan garam supaya tidak hambar. Kemudian irisan gedebog dimasukkan ke dalam kaldu. dan merica 'kalo suka". dalm bahasa Indonesia Sayur Ares. Batang pohon pisang dikuliti. kemudian dicuci untuk menghilangkan rasa asin garam. bawang putih. kemudian masak hingga matang. dibuang bagian luarnya. dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai denga warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah. Bahan yang dipakai batang pohon pisang batu atau batang pohon pisang yang lain. jahe. kencur. terasi. cabe. Babi guling yang paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar. Makanan ini dari batang pohon pisang yang muda. sampai ketemu bagian muda. Cara memasaknya mudah. Kemudian dibuat rebusan kaldu ayam ato babi. Entil Pupuan . Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan. kunyit. namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung. laos. Jukut Ares Jukut Ares. rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali. terus diiris-iris. Kemudian ditambah bumbu "basa genep" atau bumbu lengkap yang terdiri dari: bawang merah. orang Bali menyebutnya "gedebong".kecuali isi perutnya dikeluarkan seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon. Kemudian irisan ini harus diremas dengan garam agar getahnya hilang.Bali .

Paon (dapur) 8. 16.Entil biasanya dimakan dingin. Pamesu/Kori . mirip lontong sayur. dan berkuah warnanya kuning. Satu porsi terdiri dari entil 2 bungkus. Tempat Tidur (Meten) 3. sayur urap. tidak manis seperti serundeng umumnya ) kemudian disiram dengan "be jeruk" yang sedikit berkuah. Bale Dauh sebagai tempat beraktivitas 4. tempat menyimpan gabah/padi 7. Pura Keluarga (Merajan) tempat memuja leluhur dan Hyang Guru 2. "be jeruk" merupakan sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir-suir dicampur sama kelapa parut. Arsitektur Tradisional Bangunan Hunian 1. Jineng/lumbung. serundeng ( parutan kelapanya besar-besar dan kering. Aling-Aling 9. tempat 6. Bale Dangin.

di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri sendiri. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Pura Sakenan. -puram. dan Pura Luhur Uluwatu. Pura Lempuyang. yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi). lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. -puri. sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga. tempat menerima tamu Hunian pada masyarakat Bali. tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. atau kota dengan menara atau istana. pamerajan (sebagai pura keluarga). Pamerajan atau sanggah.Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah. kota berbenteng. tempat ibadah) berada dalam satu atap. PURA Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur. adalah bangunan paling awal dibangun. sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa . Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan alingaling. yang artinya adalah kota. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci. ditata menurut konsep Tri Hita Karana. -pore). digunakan sebagai tempat pemujaan. sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Di sini pula tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu. Pura Luhur Batukaru. sedang daerah publik dan bangunan pendukung (paon. 17. atau anak gadis. merupakan arah masuk ke hunian. . Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah. Pura Rambut Siwi. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti. Pura Kahyangan Jagat Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali.melaksanakan aktivitas ritual seperti menaruh dan membuat sesajen 5. Secara umum pura diklasifikasikan menjadi : 1. Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah. Sekenem. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. -pura.

dan Pura Uluncarik. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel. Panti. Pedharman dan sejenisnya. 4. 3. para petani dengan Pura Subak.2. Paibon. perkantoran pemerintah maupun swasta. untuk para pedagang adalah Pura Melanting. Pura Ulunsuwi. Pura Kahyangan Desa Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti. Penataran Dadia. Pura Kawitan Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut. . Pura Bedugul. Sanggah-Pemerajan. Dadia atau Dalem Dadia. Termasuk ke dalam kategori ini adalah. Pura Swagina Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. Pratiwi.

masyarakat dan kebudayaan Bali masih tampak sama seperti berabad-abad lalu. Namun karena sistem pendidikan hanya terbatas kepada tingkat SD. Kegiatan pariwisata hanya menyebabkan perubahan-perubahan fisik saja dan tidak sampai pada sendi-sendi masyarakat dan kebudayaan Bali. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan sekolah dikembangkan dengan intensif dan ekstensif. Segera setelah itu proses perubahan tumbuh dengan cepat. Pada awal zaman kemerdekaaan. sedangkan jumlah dari sekolahsekolah itu amat terbatas pada beberapa buah yang ada di dua-tiga kota saja. maka proses perubahan itu berjalan amat lambat. dengan adanya sistem pendidikan sekolah-sekolah dan dengan kegiatan pariwisata yang sudah dikembangkan secara luas waktu itu.MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Proses perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan Bali itu memang sudah dimulai sejak zaman kolonial. Banyak pemuda Bali yang pergi ke luar Bali dan ke luar negeri untuk belajar sampai akhirnya universitas-universitas didirikan di Bali. Sekarang ini telah tampak bahwa proses perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali yang cepat mendapat efek sampai ke sendi- .

dibalik itu orang Bali juga mulai merasakan aspek-aspek negatif dari perkembangan tersebut yang dapat mengancam nilai-nilai budaya yang mereka junjung tinggi. karena kesibukannya sehari-hari. Keketatan hukum adat mengenai sistem kasta dan klen sudah mulai kendor. Bali dijadikan daerah pariwisata yang utama. Namun. Bandara Ngurah Rai selalu penuh dengan antrean keberangkatan tanpa ada antrean kedatangan. tidak sempat lagi untuk mengikuti detail adatistiadat serta upacara-upacara keagamaan Hindu-Bali secara teliti sehingga dalam waktusingkat akan terjadi penyederhanaan dalam sistem upacara keagamaan. pembaharuan dalam kehidupan dan pendidikan agama Hindu-Bali juga sengaja dibina oleh majelis agama tertinggi bernama Parisada Hindu Darma. seni tari dan seni suara. perhotelan. Harapan pada denyut nadi pariwisata hancur lebur. rekreasi dan transportasi untuk berkembang. Wisatawan kabur karena takut bom susulan datang. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) berlangsung silih berganti. kondisi ini menjadi semacam senasib sepenanggungan akibat Bom Bali. Bali seakan terpuruk. Dilema ini sedang dan akan dialami oleh masyarakat yang mengalami zaman transisi pembangunan dan proses modernisasi. risiko ini harus dipikul bersama karena proses modernisasi tidak dapat dihindari lagi dan mutlak harus kita alami semua. Hotel-hotel kelas melati perlahan-lahan tutup. Kaum terpelajar dan cendekiawan Bali. Akhirnya. Walaupun demikian.sendinya. Kondisi inilah kemudian yang menjadi “tersalah” dalam terpuruk dan ambruknya pariwisata Bali. masyarakat Bali menyambutnya dengan gembira. Beragam kegiatan dibuat untuk mengembalikan citra pariwisata Bali yang terpuruk karena Bom Bali dan berturut-turut Perang Amerika—Irak dan wabah SARS. Saat itu—awal Januari 2003—mulai terdengar program-program . Berbagai program tayangan promosi Bali terus dilakukan.Oleh karena itu para penduduk daerah Bali harus tetap menjunjung nilai budaya mereka dengan tetap melaksanakan serta melestarikan kebudayaan Bali yang telah diwariskan nenek moyang mereka. Selain itu. Sontak setelah tertangkapnya pelaku bom Oktober 2002 dan 2005. Sektor kepariwisataan telah memberi lapangan kerja pada banyak orang Bali serta telah menstimulasi sektor kerajinan. seni lukis. Berbagai usaha mempromosikan pariwisata Bali terus menerus dilakukan. Sebagian warganya yang bekerja di hotel-hotel mengeluh penghasilannya menurun drastis. Saat ini. pengangguran semakin membludak dan tentu saja desa-desa adat di Bali “gerah” dengan kondisi seperti ini. PASCA BOM BALI Pascabom Bali Oktober 2002 dan Oktober 2005. Bali menjadi seperti pulau yang hanya menunggu untuk karam saja tanpa pariwisata.

Salah satu hal yang dilakukan desa adat/pakraman dengan jajarannya adalah sweeping dan pendataan penduduk pendatang. Ternyata. dilakukan roadshow ke seluruh kabupaten di Bali untuk penandatanganan prasasti Ajeg Bali oleh bupati se-Bali. pentas musik sensasional “Voice Of Star” dan berbagai event hiburan dan pertemuan-pertemuan nasional serta internasional yang dilangsung di Bali. Ajeg Bali adalah pemurnian Bali dalam hal pemurnian ras. mulailah dilakukan program-program untuk nindihin Bali tersebut. Dan sampai saat ini kelompok-kelompok ini memendam identitas dalam identitas ke-Bali-an. idenitas. Pascabom Bali dan ditengah keranjingan menjaga Bali tidak terpukul dua kali. tapi melawan teroris dan orang-orang yang merusak kebudayaan Bali. sebuah sikap wujud kecintaan pada tanah air Bali. Dalam perspektif berpikir beberapa orang Bali. pembantaian dan pembersihan soroh-soroh. semangat puputan ditunjukkan dengan sikap nindihin Bali bukan melawan kolonial Belanda dan Jepang. Ada sebuah usaha untuk menjadikan Bali sebagai pusat dari pemulihan pariwisata. saat zaman kerajaan dan perang-perang kemerdekaan 1942-1945. Maka. Bom Bali dan teroris adalah kala (mahluk jahat) yang bisa menghancurkan Bali. Jargon yang sebenarnya dimulai dari propaganda sebuah media terbesar di Bali yang kemudian diikuti oleh promosi ke berbagai kabupaten di Bali. Tentu saja pemicunya adalah persaingan antar puri (tempat raja di Bali yang .“Recovery Bali” dan dikuti dengan “Bali For The World”. Ternyata dengan adanya Bom Bali 2002 dan 2005. pecalangan (satuan pengamanan tradisonal Bali) serta seluruh perangkat desa pakraman di Bali juga semakin memproteksi dirinya. lahir jargon Ajeg Bali. Nindihin bagi masyarakat Bali adalah sebuah pembelaan. Sebelumnya. Ini dilakukan dengan serempak mulai awal 2003 hingga kini dan menjadi perdebatan hangat di Bali dan juga mendapat respon nasional pada Maret—Juni 2003 dan mulai meredup dan menjadi keharusan pasca Bom Bali 2005. Bali terkenal dengan semangat puputan (perjuangan melawan penjajah sampai titik darah penghabisan). Belum lama berselang. lembaga-lembaga tradisi seperti desa adat/pakraman (desa-desa di Bali). dan soroh. membuat masyarakat Bali semakin waspada dan siaga setiap saat. jika merunut sejarah.“ kata seorang warga masyarakat di warung desa. Karena. Ini sebenarnya potensi konflik dan kekerasan secara horizontal. Bali adalah hasil dari pertarungan. “Tiang (saya) siap nindihin (membela sampai mati) Bali melawan teroris. Ini karena Bali memiliki citra “Bali” hasil konstruksi eksotika dan ketergantungan negara luar Bali sebagai kunjungan wisata. bahwa cap teroris ternyata menggangu dan menjadi musuh bersama orang Bali. pertengahan Juli ini. Selain mengembalikan pariwisata Bali. yang juga sebenarnya menyimpan konflik dan kekerasan yang terpendam. jujur harus diakui. Kini. Dalam obrolan di warung-warung desa di Bali.

Tuhannya). ksatria. Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. Dengan masalah-masalah upakara (sesajen untuk upacara-upacara). pande. kedewan-dewan (hidupnya selalu memikirkan dewa. pernyataan akan “kebenaran” tingkah laku dan sikap beragama. orang Bali seakan mendapat pencerahan. Yang paling penting tentunya–dari kiprah Ida Pedanda Made Gunung—adalah mengidentitaskan.sekarang masih ada) ataupun pendobrakan kelas-kelas sudra (pasek. Dalam istilah Balinya. namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan. Kerinduan untuk mencari asal-usul. Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. dan pencarian identitas dan esensi ke-Bali-an. dan mulai mendapatkan pembenaran secara alamiah—melalui sastra agama dan tentunya keyakinan yang disampaikan Ida Pedanda Made Gunung. juga sebagai jago kebudayaan Ajeg Bali. menanamkan dewa-dewa yang dipuja orang Hindu Bali. hubungan darah. kecemasan. dll. lewat program Dharma Wacana (pencerahan keagamaan) setiap sore hari. Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi. Di tengah kebingungan inilah. Bali sangat merindukan seorang pendeta sebagai pencerah kehidupan agama Hindu Bali.) terhadap kelas tri wangsa (brahamana. . jati diri. grup media terbesar di Bali (baca: Bali Post). Inilah bentuk kerinduankerinduan orang Hindu Bali yang kemudian bisa dipenuhi oleh Ida Pedanda Made Gunung. Dalam titik inilah. muncul penyejuk dan pemersatu umat. dan keturunan. dan waisya) dalam teori kelas dan kasta di Bali. komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan. Kiprah pendeta ini dicuatkan oleh media televisi lokal. sedang dampak postif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Lihat Ruastiti 2005. Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian. Maka munculnya Ida Pedanda Made Gunung yang melayani semua pertanyaan. Ardika 2004).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful