BUDAYA NUSANTARA

KEBUDAYAAN BALI

Disusun oleh:

I Gede Yudi Paramartha (18) I Made Adi Primanta (19) I Wayan Primadyantara (20) Nur Aini (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata (island God/island Paradise) merupakan salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Bedugul, Ubud, Sukawati, Lovina, dan lain lain merupakan tempat wisata yang terkenal di Bali. Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, tetapi kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Selain itu, kebudayaan Hindu yang sudah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3'40" - 8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" - 115°42'40" Bujur Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut: • • • • Utara : Laut Bali Timur : Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) Selatan : Samudera Indonesia Barat : Selat Bali (Propinsi Jawa Timur)

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. • Tabel Luas Wilayah Tiap Kabupaten di Provinsi Bali

Kabupaten/Ko Ibukota ta Jembrana Tabanan Badung Denpasar Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Buleleng Jumlah Negara Tabanan Badung Denpasar Gianyar Semarapura Bangli Amlapura Singaraja

Luas (km²) 841,80 839,30 420,09 123,98 368,00 315,00 520,81 839,54 1.365,88 5.634,40

Persentas e (%) 14,94 14,90 7,43 2,20 6,53 5,59 9,25 14,90 24,25 100,00

Sumber: Master Plan Penunjang Investasi Provinsi Bali Tahun 2006-2010

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam

Di pegunungan tersebut terletak puri-puri (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali seperti Pura Pulaki. Perbedaan ini tidak hanya tampak pada penunjukan arah dalam bahasa Bali. dalam upacara agama. Masyarakat . Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu 7. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan. sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. SEJARAH Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Gianyar. Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali. dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha. Tamblingan dan Danau Batur. Berarti untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan dan kelod berarti utara. Klungkung). Pada satu status sosial atas dasar warna 5. Pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu 2. dan terutama Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung.486 ha. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. letak susunan rumah kuil. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan sedikit bahasa. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Kedua arah tersebut sama baik di Bali Utara maupun Bali Selatan. Arah membujur dari pegunungan tersebut menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali Utara dan Bali Selatan. Dalam bahasa Bali kaja berarti ke gunung dan kelod berarti ke laut. Pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu 4. Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit dan daerah-daerah di bagian selatan Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Pegunungan tersebut mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). Pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal 6. Hal ini berlaku sebaliknya untuk orang di daerah selatan. yaitu: 1. Pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas 3. Besarnya arti dari konsep kaja-kelod dalam masyarakat Bali tampak pula dalam kehidupan sehari-hari. Buyan.(15-40%) seluas 190. dsb. Pura Batukau. Badung.

Masa bercocok tanam 4. pendidikan. yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana 2. Kenyataannya memang leluhur suku Bali kebanyakan berasal dari Pulau Jawa. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya. Kecuali di pulau Bali. Orang Bali-Aga umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran. Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita. 1. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali. Cempaga Sidatapa. Sekarang ini komunikasi modern.Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi: 1. gelombang ketiga dan terakhir juga datang dari Jawa sekitar abad ke15 dan 16. Pedawa. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut 3. Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. Leluhur orang Bali masuk ke Bali dalam tiga periode: gelombang pertama adalah suku proto-Melayu yang datang dari Jawa dan Kalimantan pada zaman prasejarah. sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatra Selatan. merekalah yang akhirnya membentuk kultur Bali yang merupakan suatu bentuk sinkretisasi dari kultur Jawa klasik dengan banyak tambahan elemen Bali. Kalimantan Tengah. tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya. Masa Prasejarah Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali. gelombang kedua adalah migrasi sedikit demi sedikit dari Jawa pada zaman Hindu. masa konversi Islam di Pulau Jawa. Sulawesi dan Nusa Tenggara. ada juga orang Bali di bagian barat dari Pulau Lombok. Masa perundagian Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng . para aristrokrat Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit melarikan diri dari ke Bali untuk menghindari pengkonversion Islam. serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut. Tigawasa di Kabupaten Buleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem.

parasbaan. dan di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam. tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. diantaranya adalah Pasek Taro. dengan ketua kelompok yang kemudian disebut dengan Pasek Bali. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. Manusia Austronesia inilah yang menjadi leluhur sebagian orang Bali Mula. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. kapas dan lain-lainnya. 1. dan kepala suku atau pimpinannya disebut dengan nama Jro Gede yang penunjukannya dilakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia tertua anggota persekutuan. Persekutuan kepemimpinan tersebut masih ada sekarang dan tetap dipertahankan di desa-desa Bali Aga. walaupun kedatangan kebudayaan agama Hindu. kapak berimbas. tetapi mereka hanya menerima upacara dan upakaranya saja. Pecatu (Badung). Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. plawa dan sebagainya. belincung dan panarah batang pohon.Timur). Manusia Bali keturunan Austronesia pada masa itu hidup berkelompok dan dipimpin secara kolektif oleh 16 Jro yang umumnya disebut dengan Sahing 16. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar yaitu goa Karang Boma. mereka hanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti ambu. Dan saat ngaben. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar. serut dan sebagainya. Mereka yang dikelompokkan sebagai warga Bali Mula. Goa ini terletak di pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding. terutama dalam hal adat. Kebudayaan Bali Mula masih melanjutkan tradisi bangsa Austronesia. Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran. Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. yang kemudian membaur pada masa berikutnya dengan orang-orang yang datang dari luar Bali. lalu muncullah istilah beya tanem. misalnya ngaben mereka terima tapi membakar mayat tidak. padang-padang. mereka tidak berani menghias wadahnya dengan kertas. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. Memasuki Masa Sejarah .

1. Masuknya Agama Hindu Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masamasa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata Walidwipa. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah panglapuan. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah pakiran-kiran i jro makabaihan. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya

dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja. 2. Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. 3. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460-1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). 4. Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil

ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

FILOSOFI MASYARAKAT

Panca Sradha Panca Sradha merupakan kepercayaan pokok masayarakat Hindu di Bali yang terdiri atas lima bagian, yaitu : 1. Brahman, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Atma, percaya kepada roh atau jiwa pada setiap makhluk hidup yang berasal dari percikan suci Tuhan 3. Karma Phala, percaya akan adanya hukum sebab akibat. Setiap perbuatan(karma) pasti akan mendatangkan akibat (pahala) 4. Samsara atau reinkarnasi, percaya akan adanya kehidupan/lahir kembali yang disebabkan karena adanya karma.

. yaitu: a. Konsep Rwa Bhineda mungkin mirip dengan konsep Yin dan Yang. Pengorbanan itu bisa berupa materi maupun berupa hal-hal imaterial. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan manusia mengganggu atau merusak alam yang tidak nyata karena bila terjadi dapat menyebabkan hal-hal yang tidak baik. Jadi. Perkataan yang baik (Wachika Parisudha) c. Orang Bali percaya bahwa positf dan negatif itu selalu berjalan berdampingan. Keseluruhan konsep di atas diwujudkan melalui pelaksanaan Yadnya. Berdasarkan kepercayaan pokok inilah lahir ajaran-ajaran/filosofi lain sebagai implementasi dalam kehidupan. Moksa. sudah sepatutnya manusia dan alam bekerja sama untuk saling menjaga kelangsungan kehidupan. Pembahasan mengenai yadnya akan ada pada bab berikutnya yang berkaitan dengan sistem adat dan religi. Baik dan buruk. Rwa Bhineda. Bhuana AgungBhuana Alit. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha berarti tiga macam tingkah laku yang patut disucikan. Tinggal bagaimana manusia menyikapi hal-hal tersebut. Orang Bali percaya bahwa kebahagiaan dalam kehidupan ini bisa terwujud apabila tercipta keselarasan dan keharmonisan antara manusia dengan tiga penyebab berikut ini a. hitam dan putih. antara lain 1. Orang Bali percaya bahwa manusia dan alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur yang sama. Parahyangan (Tuhan Yang Maha Esa) b. Konsep skala-niskala menunjukkan bahwa orang Bali percaya akan adanya alam nyata (skala) dan alam tak nyata/tak kasat mata (niskala). Pebuatan yang baik (Kayika Parisudha) 1. Pawongan (sesama manusia0 c. Tri Hita Karana Tri Hita Karana secara harfiah berarti tiga penyebab kebahagiaan. sedangkan bhuana alit adalah manusia.5. suka dan duka adalah hal-hal yang selalu terjadi di dunia. Bhuana Agung berarti bumi atau alam semesta. Yadnya berarti korban suci yang tulus ikhlas. Pikiran yang baik(Manachika Parisudha) b. seperti konsep Skala-Niskala. tujuan akhir makhluk hidup yaitu bersatunya kembali atma dengan brahman. Palemahan (alam lingkungan) Selain itu ada juga filosofi-filosfi lain yang mendasari setiap aspek kehidupan masarakat Bali. setiap perbuatan atau kegiatan yang dilaksanakan harus memperhatikan keselarasan antara alam nyata dengan tidak nyata. Oleh karena itu. dan Tat twam asi.

buruh bangunan. dan nelayan. mulai dari perhotelan. Pertanian di Bali cukup bervariatif sesuai dengan keadaan geografis Bali yang beragam. dan sejenisnya. Kegiatan beternak umumnya merupakan kegiatan sampingan. Hasil ternak yang banyak dijumpai adalah babi. Selain itu. atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang . memasuki zaman global ini semakin banyak orang yang meninggalkan profes sebagai petani dan mulai beralih kepada profesi lainnya. Sedangkan sisanya terdiri dari pedagang. dan kerbau. sapi. pengrajin. guider. Bali terkenal dengan Subak sebagai organisasi untuk mengatur masalah pertanian. ayam. jagung. Sehingga cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya dalam dunia pariwisata. Bali terkenal dengan pariwisatanya. dan lain sebagainya. bebek.Mata Pencharian Sebanyak kira-kira 70% orang Bali menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. lukisan. Hasil ternak ini umumnya untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan upacara keagamaan. dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. ukiran. kacang-kacangan. karena dengan itu barulah ia dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat. bunga dan hasil hutan seperti cengkih. Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). Orang Bali juga terkenal akan keahliannya dalam bidang seni sehingga ada banyak orang yang berprofesi sebagai pengrajian. Profesi ini banyak digeluti oleh masyakat yang terutama tinggal di daerah Gianyar dan Klungkung. restauran. Kawasan Bali Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan hawa yang dingin sehingga merupakan tempat yang cocok untuk perkebunan sayur. Akan tetapi. SISTEM KEKERABATAN Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. seperti irigasi dan hal-hal lainnya. karyawan atau PNS. peternak. dan penjual cendramata. maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen. Daya tarik pariwisata terutama berasal dari kebudayaan unik masyarakat sendiri yang ditunjang dengan alam yang indah. buah. Kawasan Bali bagian selatan merupakan dataran rendah yang cocok untuk sawah padi. perhiasan. Hasil dari kerajinan ini antara lain patung.

sudah menghilang. Semenjak tahun 1951. walaupun tidak sedikit juga suami isteri baru yang menetap secara neolokal dan mencari atau membangun . sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi. karena perkawinan yang demikian itu dianggap mendatangkan bencana (panes). ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen. suami isteri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. dan pada waktu ini perkawinan campuran antar-kasta sudah relatif lebih banyak dilaksanakan. ngrorod). tetapi rupa-rupanya adat ini terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar. serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita tersebut. berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh). Dahulu apabila terjadi perkawinan campuran yang demikian. seorang pemuda Bali itu dapat memperoleh seorang isteri dengan dua cara. Orang-orang se-klen (tunggal kawitan. tunggal dadia. sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar-kasta yang berbeda derajatnya. antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya. dan akhirnya lagi suatu kunjungan resmi dari keluarga si pemuda ke rumah orang tua si gadis untuk minta diri kepada ruh leluhurnya. Lain bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki isteri (makedengan ngad). ngidih) kepada keluarga seorang gadis. dan antara seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya). karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga. Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa seperti kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawini.dianggap sederajat dalam kasta. yaitu dengan cara meminang (memadik. Kedua cara itu berdasarkan adat. Sesudah pernikahan. Pada umumnya. maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya. atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat. perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen. Demikian. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah). upacara perkawinan (masakapan). tunggal sanggah) di Bali itu adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama. Perkawinan pantang yang dianggap melanggar norma kesusilaan sehingga merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya. yang umumnya bersifat exogam. dan secara fisik suami-isteri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama. dan demikian juga dalam kasta.

dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. yang disebut kemulan taksu. ia memisahkan diri dari rumah tangga orang tua dan mendirikan rumah dan rumah tangga sendiri yang baru (ngarangin). dan Rumah Tangga Akibat dari perkawinan adalah terbentuknya suatu keluarga batih.  Keluarga Batih. Struktur dari tunggal dadia ini berbeda-beda dipelbagai tempat di Bali. ada pula suatu adat perkawinan di mana suami isteri baru itu menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan lari si isteri (nyeburin). dan bentuk keluarga batih ini tergantung pula dari macam perkawinan itu. maka ada juga keluarga-keluarga batih yang sifatnya poligini. Di desa-desa di tanah datar. Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan). Kalau suami isteri tinggal secara virilokal. Salah satu dari anak laki-laki biasanya tetap tinggal di kompleks perumahan orang tua (ngerobin) untuk nanti dapat membantu orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya lagi dan untuk menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa). Sebaliknya. baik orang yang masih kerabat maupun yang bukan kerabat (pembantu rumah tangga dan lain-lain). Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami.rumah baru. Dengan demikian. Di desa-desa di pegunungan. Sesudah beberapa. Walaupun demikian. dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Di samping . orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal. keluarga-keluarga yang bersifat poligini ini hanya terbatas dalam lingkungan-lingkungan tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak. Keluarga Luas. orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di masing-masing kediamannya.  Klen Kecil dan Klen Besar Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). sebenarnya suatu rumah tangga yang sudah tua terdiri dari suatu keluarga luas virilokal yang terdiri dari suatu keluarga batih senior dengan beberapa keluarga batih yunior yang hidup bersama dalam satu kompleks perumahan (uma) sebagai kesatuan yang formil. menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. sering ditambah dengan anak-anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan lain-lain orang yang menumpang. kalau seorang anak laki-laki sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mempu untuk berdiri sendiri. Demikian pula anak-anak dan keturunan mereka yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri. Karena poligini diijinkan. tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. Tempat di mana suami isteri itu menetap.

Kelompok kerabat yang demikian dapat disebut klen besar. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama. yaitu Brahmana. Dalam praktek. yaitu keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. Ksatrya. keluarga batih yang hidup neolokal seperti juga masih terikat oleh dan masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap pura asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka. Satria. pamancangah. Vaisya. Karena proses sejarah yang kembali ke zaman Majapahit. Ada pelbagai klen yang mempunyai sejarah keturunan (babad. Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya. Gelar-gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa. suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. dan dengan demikian suatu pura serupa itu mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota dari suatu klen kecil. dan Sudra. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarganya yang merasakan dirinya senior. Orang-orang bangga apabila dapat menyusur keturunan mereka sampai pada raja-raja atau bangsawan-bangsawan dari zaman Majapahit itu. sedangkan ketiga lapisan yang pertama . bahkan batas-batas antara klen-klen dalam kehidupan masyarakat tidak tampak begitu nyata. Sistem ini terpengaruhi oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu Kuno. susunan klen berlapis tinggi rendah serupa itu tidak ada. karena itu tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai kelompok-kelompok kerabat yang bersifat patrilineal. SISTEM KEMASYARAKATAN  Sistem Pelapisan Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan. Di Bali daerah pegunungan. dan Sudra. Pelbagai keturunan inilah yang memberikan susunan yang lebih kompleks kepada klen-klen patrileneal yang terdapat di Bali daratan. pretasti) sendiri-sendiri yang masing-masing kembali sampai pada sejarah penaklukan oleh Majapahit dalam abad ke-14. yaitu sistem keempat kasta: Brahmana.itu. Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja pura leluhur yang sama disebut pura paibon atau panti. Waisya. Susunan tinggi rendah dari klen-klen di daerah dataran tampak pada gelargelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. tersusun dalam suatu susunan berlapis tinggi rendah berdasarkan jarak hubungan kekerabatan dari leluhur-leluhur dari klen-klen itu dengan seorang tokoh raja atau bangsawan dari Majapahit. maka klen-klen di Bali daerah dataran.

Misalnya undang-undang (awig-awig) yang menghukum adanya perkawinan antara gadis yang lebih tinggi dengan laki-laki yang wangsa-nya lebih rendah telah dihapuskan. dan warga klen-klen yang termasuk Jaba tinggalnya lebih terpusat pada daerah-daerah terbatas. tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak pengawasan desa. Sesudah kawin. dan akhir-akhir ini mereka malahan sudah dianggap sederajat dengan pendeta-pendeta dari wangsa Brahmana. banjar. subak dan seka/sekaha. kurang dari 15% yang termasuk anya sebagian kecil dari rakyat Bali. Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. Zaman modern dengan pendidikannya telah banya membawa perubahan dalam sistem pelapisan wangsa ini. yaitu desa adat dan desa dinas. lainnya berpendapat bahwa gelar-gelar serupa itu termasuk wangsa-wangsa yang rendah dan demikian selalu memang ada perselisihan mengenai kedudukan dari orang-orang yang mempunyai gelar-gelar tadi dalam upacara adat dan dalam sopan santun pergaulan Bali. Sebagian dari tanah wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu. Pendeta-pendeta tidak usah lagi berasal dari wangsa Brahmana. lagipula warga klen-klen besar yang termasuk Triwangsa biasanya tersebar luas di seluruh Bali. dan bagi warga klen-klen Wesia adalah Gusti. atau secara konkret dibawah pengawasan pimpinan desa. Pemegang gelar-gelar serupa itu tentu akan mengakuinya sebagai gelar wangsa tinggi. lebih dari 85% dari rakyat Bali termasuk warga Jaba. gelar bagi warga klen-klen Satria adalah Cokorda. Sebaliknya. Konsep desa memiliki dua pengertian. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. Desadesa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. 1. Selain itu banyak gelar-gelar lain yang diturunkan oleh klen-klen tertentu tetapi yang kurang terang mengenai kedudukannya dalam wangsa. dan lapisan yang keempat disebut Jaba. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan dan desa-desa adat di daerah datar.  Lembaga Tradisional Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang memiliki wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita. mendapat tempat duduk yang . kurang dari 15% yang termasuk Triwangsa. Hanya sebagian kecil dari rakyat Bali. orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa). Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan.sebagai kesatuan disebut Triwangsa. Desa Desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat.

Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerahdaerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan. konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. Pada komplek bangunan (bale) yang ditempati keluarga inti maupun keluarga luas. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa. dan hal-hal biasa yang tidak keramat diletakkan pada arah kelod. Badung. dibangun diatas suatu pekarangan yang bisanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit. sebaliknya untuk orang Bali Selatan. Dimana Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa. Bale (bangunan) masing-masing mempunyai nama tersendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-hari.khas di balai desa yang disebut balai agung. Biasanya ketiga Pura Kahyangan Tiga tersebut tempatnya dipisahkan satu sama lain. Pura keluarga yang dianggap suci terletak di bagian kaja. Sedang tempat kediaman berada pada arah kelod. lumbung. kaja berarti selatan. Hal yang keramat diletakkan pada arah kaja. Klasifikasi dualistis ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangunan-bangunan pusat dari desa. sanggah. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan. dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap. satu atau beberapa dapur. Misalnya saja pada arah kaja diletakkan Pura Desa. Di antara komplek bangunan itu terdapat bangunan untuk tidur. Sedapat mungkin bangunan-bangunan dari desa disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. dan pada arah kelod diletakkan Pura Dalem (pura yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian). Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Ada kalanya juga Pura Puseh dan Pura Desa dijadikan satu. tempat untuk menerima tamu. Dengan demikian untuk orang Bali Utara. Klungkung). Di samping kesatuan wilayah maka sebuah desa merupakan pula suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga. Gianyar. Seperti telah diterangkan sebelumnya. Pura Puseh dan Pura Dalem. dan sebagainya pada umumnya menuruti pola susunan tertentu. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dimanisfetasikan sebagai pemelihara dan Pura Dalem yang merupakan berstananya Dewa Çiwa yang dimanifestasikan sebagai pelebur. Pura Desa merupakan tempat berstananya Dewa Brahma yang dimanifestasikan sebagai pencipta. kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali. kaja berarti utara. Desa-desa di daerah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar luas. . Seluruh komplek sebagai suatu kesatuan disebut uma. dan pura untuk keluarga (sanggah). Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. Catatan: Dalam bahasa Bali. Mengenai letak dari bale.

Adapun tugas dari kelian ini adalah mengurus segala urusan sosial kemasyarakatan. Warga subak adalah para pemilik atau penggarp sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Anggota banjar tidak mutlak dari orang asli di daerah tersebut. Di bale banjar inilah diadakan pertemuan (sangkep) setiap bulan mengevaluasi kegiatan banjar selama sebulan.2. tetapi di dalam beberapa banjar. Bahkan seringkali harus juga memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah dan dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya. Bale banjar ini merupakan pusat dari banjar tersebut. Dalam hal ini tiap-tiap banjar memiliki awig-awig yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing banjar. Sudah tentu tidak semua pemilik atau penggarap tadi hidup dalam satu banjar. Masyarakat tersebut dipersilahkan menjadi anggota banjar jika orang tersebut menghendaki. sinoman dan penyarikan. kesenian hingga agama. Hal ini dimaksud untuk memudahkan krama banjar. Kesatuan wilayah ini diperkuat oleh kesatuan adat dan budaya. ada pula warga suatu banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan yang mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Untuk mengakomodasikan kegiatannya maka dibangunlah sebuah bangunan yang terbuka yang dikenal dengan nama bale banjar. Untuk lama masa jabatan tertentu sesuai dengan awig-awig (undang-undang) banjar bersangkutan. Bale banjar ini biasanya dilengkapi dengan Pura Banjar dan Bale Kukul sebagai tempat untuk menaruh kukul (kentongan). Seperti olahraga. Bale banjar ini juga sebagai bangunan serbaguna untuk menunjang kegiatan umum masyarakat banjar. Sebaliknya. Dengan demikian warga banjar tadi itu akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. Banjar dipimpin oleh seorang kelian banjar dan dibantu oleh beberapa orang sebagai wakil kelian. Kelian banjar sebagai tetua banjar dipilih langsung oleh para krama (warga) banjar dalam suatu sangkep (pertemuan). Subak Subak di Bali berdiri seolah-olah lepas dari banjar dan mempunyai seorang kepala sendiri. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga suatu subak itu tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. Banjar Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan oleh kesatuan wilayah. tetapi juga orang dari wilayah lain yang kebetulan menetap sementara/seterusnya di wilayah banjar tersebut. 3. Selain itu kelian juga mengurus urusan agama. adat dan urusan yang bersifat administratif. Karena fungsinya sebagai pusat maka bale banjar ini biasanya didirikan di tengah-tengah wilayah tersebut. .

atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian cara gotong royong nguopin masih banyak diterapkan. menyiangi. seka truna (perkumpulan para pemuda). Di dalam hal itu ada seorang atau suatu keluarga minta bantuan dari tetangganya atau keluarga lain. menggali sumur. seperti misalnya ikut membantu membangun pura atau memperbaiki sebuah pura yang sudah ada. misalnya suatu perkumpulan gamelan ‘ditarik’ untuk ikut serta dangan suatu seka lain dalam hal menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga. dan sebagainya). Gotong Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat desa di Bali. seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan-perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. tetapi ada pula yang bersifat sementara.4. Gotong royong semacam itu disebut nguopin (membantu) dan meliputi berbagai aktivitas di sawah (seperti menanam. Nguopin dalam aktivitas sekitar rumah tangga di kota dan di banyak desa sudah mulai hilang dan mulai diganti dengan sistem menyewa tenaga upahan karena sistem menyewa sekarang dianggap lebih praktis dan seringkali lebih murah (karena tidak perlu menyediakan jamuan dan sebagainya). Seka dalam arti ini tentu sifatnya permanen. dan sebagainya). Cara semacam ini di sebut ngedeng (menarik). 5. dengan suatu sopan santun yang telah digariskan oleh adat dan dengan pengertian bahwa ia wajib untuk membalas bantuan tenaga yang disumbangkan kepadanya itu dengan bantuan tenaga juga. tetapi ada juga seka-seka yang bersifat sementara. Seka/Sekaha Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus. Selain nguopin masih ada cara gotong royong antara seka dengan seka. Seka ini bisa didirikan untuk waktu yang lama. Hanya dalam perayaan dan upacara. sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah. Ada sekaseka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara yang berkenaan dengan desa misalnya seka baris (perkumpulan tari baris). yaitu seka-seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. Hanya di dalam hal ini khusus kerja bakti untuk keperluan agama. yaitu organisasi seka. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. seka manyi (perkumpulan menuai). seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam). panen. Terakhir ada suatu sistem gotong royong yang lebih menyerupai sifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah. dinding rumah. Sistem kerja bakti semacam . bahkan untuk waktu yang meliputi angkatanangkatan yang turun temurun. ada beberapa macam cara dan sistem gotong royong. Dalam hal ini suatu seka tertentu. seka daha (perkumpulan gadis-gadis).

ini disebut ngayah atau ngayang. bisa merupakan suatu aktivitas yang ramai dan penuh kemeriahan. Persamaan-persamaan tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut. SISTEM ADAT DAN RELIGI Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan sebuah sinergi antara unsur-unsur adat dan budaya lokal yang telah dianut masyarakat dari zaman dulu dengan kebudayaan Hindu yang masuk dari India. Sinergi itu dapat terjadi karena pada dasarnya terdapat kesamaan di antara keduanya. 1 Religi Prasejarah Religi Hindu Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang . No .

candi.Emabang/ Sang Hyang Tuduh 2 Widhi Wasa Dewa yang bersemayam di Puncak Dewa yang besemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir Gunung Agung disebut Bhatara Giripati atau Mahadewa Gunung. Yadnya itu terbagi atas lima bagian yang disebut Panca Yadnya. dan Laut Tempat yang dipandang merupakan tempat yang suci gunung. menhir dan berupa pura. Perlu diingat bahwa setiap banjar ataupun desa bisa memiliki adat yang berbeda-beda. dipandang suci. Membuat tiruan gunung berupa mambuat tiruan kahyangan dan gunung punden berundak. dan laut Percaya terhadap kekuatan alam kekuatan yang disebut Hyang Dewa suci adalah nama 3 4 5 alam disebut dengan Percaya terhadap roh suci leluhur percaya terhadap roh suci leluhur yang dengan perawatan jenazah dan disebut atma dan atma yang suci roh suci dianggap brsemayam di bersemayam di pincak-puncak gunung puncak gunung. dan meru tahta batu Tinggalan ditemukan dipanggur situs Gilimanuk tradisi panggur disebut gigi manusia telah mepandes atau metatah upacara 6 7 8 Tinggalan sikap jenazah pada kepercayaan terhadap kelahiran kembali sakofagus dalam menyerupai bayi yang disebut samsara atau punarbhawa dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali Adanya arah orientasi yang adanya orientasi yang dipandang suci. yakni timur dan yakni utarea dan timur yang disebut utara Uttara dan Purva Adanya persembahan dan bekal adanya persembahan dan bekal kubur kubur berupa upaca yajna 9 10 Sumber: PHDI Pusat Kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali itu diwujudkan dengan melakukan Yadnya yang sumber-sumbernya berasal dari kitab suci dan tata cara pelaksanaannya disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. sungai. prasada. sungai. yaitu: .

1. Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja. 2. teja (zat panas). dan akasa (ruang hampa) sesuai dengan ajaran Hindu Bali. menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum perayaan hari raya Nyepi. Upacara keagamaan di Bali disesuaikan dengan masing-masing Desa Adat (desa kala patra) masing-masing daerah. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas. bagi masyarakat Bali tak bisa lepas dari upacara adat ngaben. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti. memberikan sesuatu yang baik dan layak. Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci). Contoh Dewa Yadnya: menyelenggarakan upacara piodalan dimasing-masing Desa Adat yang ada di Bali. bayu (angin).  Ngaben Kematian. Berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atman (roh). Berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. Kematian bagi orang Bali adalah kembalinya manusia kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta: pertiwi (zat padat). Ngaben adalah . apah (zat cair). Dewa Yadnya Dewa Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça dan seluruh manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta. mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: – – – Berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. atman-nya tidak. Contoh Pitra Yadnya adalah upacara ngaben. Pitra Yadnya Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana.

atau seperti saat Peristiwa Bom Bali I dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan. . keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik (dewasa) untuk melaksanakan ngaben. Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu). Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah. Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Dimulai dari memandikan jenazah. dll. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah). Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Namun cenderung disetujui pendapat bahwa ngaben berasal dari kata ngapen (ng + api + an = ngapian > ngapen > ngaben). Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal. Ketika ada yang meninggal. kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya. pembakaran dan nyekah. Selesai memandikan. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dengan mengambil sekepal tanah di lokasi meninggalnya kemudian dibakar. yaitu tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan. jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Pada hari H-nya. Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Selanjutnya adalah prosesi ngajum. juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah tidak diketemukan.upacara penyucian atman (roh). Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon (memandikan jenazah). dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh. Wadah biasanya berbentuk padma sebagai simbol rumah Tuhan. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah. ngajum. dilakukan prosesi ngaben di kuburan (setra) desa setempat. fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah.

Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. Umumnya dapat dibagi menjadi dua. sesuai dengan keinginannya. jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan. atau ngaben bersama. Masing-masing desa adat di Bali memiliki awig-awig (undang-undang) tersendiri tentang tata cara melaksanakan upacara ngaben. Di sini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari klan brahmana). Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal. Upacara ngaben ngamasa dilaksanakan dengan maksud menghemat biaya dan waktu. terbilang relatif berat. Terlepas dari ini. tanpa mengurangi makna pelaksanaan upacara ngaben. . tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. ngaben massal. jenazahnya harus dikubur. sesuai situasi dan kondisi yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. Ngaben Ngamasa berarti melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal. Oleh karena itu. lahir sebagai seorang bangsawan. Istilah lain ngaben ngamasa adalah ngaben ngerit. sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku.Sesampainya di kuburan. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. dibandingkan dengan jumlah tenaga dan materi yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan rangkaian upacara ngaben. Ngaben Ngamasa Ngaben Niri artinya melaksanakan upacara ngaben sendiri (Niri = diri = sendiri). Banjar adat tidak mencampuri waktu pelaksanaannya. karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. tetapi hanya memberi bantuan tenaga dan materi (dikenal dengan sebutan patus banjar). Cara pelaksanaan ngaben ngamasa ada dua. Dalam hal ini berarti bahwa keluarga duka dapat melaksanakan upacara ngaben pada waktu tertentu. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai). Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. yaitu: 1. Bahkan ada kalanya sama sekali tidak mendapatkan bantuan banjar. yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu. baik berupa tenaga maupun materi. ngaben niri juga dilaksanakan oleh keluarga keturunan bangsawan. Ngaben Niri 2. jumlahnya tidak seberapa. Patus banjar. Sebenarnya ada bermacam-macam cara melaksanakan upacara ngaben di Bali. Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi.

warga banjar yang diharapkan memberi bantuan menjadi bingung dan kacau. ngaben ngemasa dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri. 2. jauh hari sebelum puncak acara. Dapat menghemat waktu dan tenaga. karena lebih mudah mengatur waktu. Sebaliknya kalau warga yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit. Pelaksanaan upacara ngaben seperti ini dikenal dengan sebutan ngaben bersama. Tidak menganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta.000. Konsekuensinya. Ada yang berpendapat bahwa ngaben kinembulan ini akan menjadi pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara ngaben masa depan. Dengan ngaben . dan lainnya) yang lumayan banyak. Di Desa Pakraman Celuk. Artinya. pisang. dan jumlah warga yang ngaben 30 orang. Sukawati.000. Masingmasing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. Sebabnya. Keuntungannya. 3. Mereka dituntut harus pintar membagi waktu agar dapat memberi bantuan kepada sebanyak mungkin warga yang kebetulan melaksanakan upacara ngaben. upacara ngaben dilaksanakan pada waktu. 5. antara lain: 1. Biaya yang disiapkan oleh warga yang akan melaksanakan upacara ngaben relatif lebih kecil. Upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa. Kesulitan lainnya. cara dan oleh panitia yang sama. karena segala bantuan tenaga diatur oleh panitia banjar dengan pola satu untuk semua. ngaben ngamasa dengan cara ‘satu untuk semua’ ini dikenal dengan istilah ngaben kinembulan. termasuk memohon cuti. karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua. 4. pelaksanaan upacara ngaben dengan mudah dapat diketahui. biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben. tempat. Kelemahannya.Pertama. sehingga segala aktivitas yang terkait dengan upacara tersebut dapat dijadwalkan. ngaben ngamasa dilaksanakan dengan cara ‘satu untuk semua’. maka masing-masing warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar 750. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. barulah dibuat oleh masing-masing anggota. maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. Biaya bagi warga masyarakat yang lainnya (patus) juga kecil. Cuma waktunya bersamaan. bambu. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25. karena kewajiban mengeluarkan (patus) juga dirancang hanya satu untuk semua. Kedua. maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga. ada hubungan dengan bantuan materi (patus) kepada warga yang melaksanakan upacara ngaben. Jumlah ini tidak dapat dianggap enteng. Untuk memudahkan. kalau jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben sedikit dan anggota anggota banjar lumayan banyak. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan.

antara lain: Pertama. masih ada anggapan bahwa melaksanakan upacara ngaben merupakan satu-satunya cara untuk melaksanakan Pitra Yadnya dalam arti ‘membayar hutang’ kepada leluhur. sebagai sesuatu yang lebih rendah maknanya dibandingkan dengan ngaben niri. Mereka yang masih yakin akan hal ini menganggap melaksanakan upacara ngaben dengan cara kinembulan atau ‘satu untuk semua’. dengan cara menjual harta warisan yang berupa tanah. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis. sebelum mereka harus turut ‘berkorban’ demi kepentingan upacara ngaben. Ngaben kinembulan mengandung beberapa kelemahan. Oleh karena itu maka kasta tertentu yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari kasta yang lainnya. Upacara nelu bulanin 7. Upacara kambuhan 6. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah desa kala patra (tempat-waktu-keadaan) sangat penting. Upacara otonan . sehingga perlu diupacarai atau diselamati. Anggapan ini menyebabkan banyak orang yang rela melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran. 1. Upacara nglepas hawon 5. kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Magedong-gedongan 2. sehingga satu golongan merasa sebagai golongan bangsawan yang berkedudukan tinggi dan harus dihormati dan golongan lainnya dianggap sebagai rakyat biasa (panjak). sulit dilaksanakan di desa adat yang termasuk desa pakraman nyatur (terdiri dari empat kasta). Manusa Yadnya Manusa Yadnya adalah suatu persembahan suci yang tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia.ngamasa atau kinembulan. dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta. lebih memungkinkan bagi tumbuhtumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan. Kedua. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi atas dasar semangat ‘satu untuk semua’ pada waktu melaksanakan upacara ngaben. tidak rela bergerak seiring dan sejalan. berkedudukan rendah dan harus menghormati golongan bangsawan. Upacara kepus puser 4. Jenis-jenis Manusa Yadnya berdasarkan urutan pelaksanaannya: 1. Upacara kelahiran 3.

halaman rumah. dan dilanjutkan di depan sanggah (semacam pura kecil yang ada pada setiap rumah). 2. 6. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia. pekarangan. Sang istri menjunjung tempat rempah-rempah. tidak harus persis karena dapat disesuaikan dengan hari baik (dewasa). 3. 5. Tangan kiri suami memegang benang. canang sari. Tujuannya agar atman/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan.8. Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan.Upacara rajaswala 11. kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian. Upacara makupak 10. sampiyan dan penyeneng. Upacara magedonggedongan dilaksanakan di dalam rumah. 2. 4. sang ayah dapat melaksanakan upacara ini. selanjutnya ditutup kernbali. Dalam hal tidak ada keluarga tertua. Upacara kelahiran dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dan dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan. pada bagian tutup kendil atau . di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu. Upacara ngempugin 9. Sang suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing sang istri sampai air dan ikannya tumpah. Setelah ari-ari dibersihkan. Apabila mempergunakan kelapa. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan.  Upacara Kelahiran Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama. tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. canang genten. dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab. demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup.Upacara mepandes 12. tangan kanannya memegang bambu runcing. lstri yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda.Upacara pawiwahan  Magedong-gedongan Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari.

pala. Upacaranya dilakukan di dapur. Untuk upacara yang lebih besar si bayi terlebih dahulu di-lukat di dapur. dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah. di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma. Wisnu dan Siwa. tempat menaruh sesajian. 3. tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya. 2. 3. 2. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita. umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara. Si bayi biasanya baru diberi nama demikian pula sang catur sanak (saudara keempat yang dipercaya ikut menemani kelahiran si bayi) setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja. di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna.  Upacara Nglepas Hawon Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut upacara ngelepas hawon. Si bayi beserta kedua orangtuanya natab di sanggah kamulan. digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi.  Upacara Kepus Puser Upacara ini dilakukan pada saat puser bayi lepas. lada dan lain-lain. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. dan terakhir di sanggah kamulan. Proses selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah. 3. Sang Anggapati. Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si bayi. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 4.  Upacara Nelu Bulanin . Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga.  Upacara Kambuhan Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. di permandian. Banaspati dan Mrajapati.belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA. di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala). Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi.

Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Semakin dewasa. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: . Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. semakin sederhana pula sarana upacaranya. dilakukan oleh orangtuanya. 2. 3. untuk otonan selanjutnya tidak dilakukan. Pendeta sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya. upacara bisa ditunda. 2. 6. 3. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik.Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). yang berarti memohon keselamatan. 4. sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna. 4. Selanjutnya dilaksanakan setiap 210 hari. Biasanya digabungkan dengan upacara otonan (210 hari kelahiran bayi). Pendeta melakukan pemujaan. atau tiga bulan dalam hitungan pawukon (1 bulan = 35 hari). Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu. kalung dan lain-lain. Pendeta memohon tirta panglukatan. memerciki tirta (air suci) pada sajen dan pada si bayi. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang. Doa dan persembahyangan untuk si bayi.  Upacara Otonan Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. 5. Si bayi diberikan tirta pengening (tirta amertha) kemudian ngayab jejanganan. Pemujaan terhadap Siwa Raditya dan penghormatan terhadap leluhur.  Upacara Ngempugin Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban. misalnya keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh. semacam memperingati hari ulang tahun. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan. Ini dilakukan pada otonan pertama kali. Bila keadaan tidak memungkinkan. terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirta.

Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi mempersembahkan segala sesajen yang tersedia. gigi bawah. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kemudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah. 3. Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa. Waça dengan 3. 2.1.  Upacara Mepandes Upacara mepandes atau potong gigi ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) yang ada pada diri si anak.  Upacara Rajaswala Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Sang Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. 6. Upacara ini dapat pula disatukan dengan otonan berikutnya. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya.  Upacara Pawiwahan . Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan. namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. 4. taring. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen. dada. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 5. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian. paha barulah diperciki tirta pesangihan. pusar. bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip. lidah. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi.  Upacara Mekupak Upacara ini dilakukan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. gigi atas. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Upacara dilanjutkan oieh sangging (yang bertugas memotong gigi) dengan menyucikan peralatannya. Si bayi natab mohon keselamatan. 2. Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah daha) ini.

Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. seperti menjaga martabat keluarga. melebihi penglihatan rohani. yang mampu melihat secara jelas. Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya. biasanya di-puput oleh seorang pinandita. Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini. sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam sebel kandel. dengan mempertimbangkan duniawi. cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. pertimbangan kekayaan. Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral. berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita.Yang dimaksud upacara pawiwahan adalah upacara pernikahan. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista. sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad). seperti kecantikan fisik. Menurut UU Perkawinan no 1 th 1974. nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. kegantengan dan lain-lain. karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. melalui proses upacara agama yang disebut mekala-kalaan (natab banten). Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi. derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. oleh sebab itu pada jaman Weda. Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. perkawinan ditentukan oleh seorang Resi. kecantikan. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Setelah jaman Dharma Sastra. Makala-kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Jadi bagi umat Hindu. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. Peralatan upacara mekala-kalaan: . namun oleh raja atau orang tua mempelai. Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (daiwi sampad). pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi. pasangan yang akan dikawinkan.

Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Ida Sang Hyang Widhi Waça. Kalau dipandang dari sudut spiritual. sebagai dewa kebajikan. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) Simbol calon pengantin. Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. ketampanan. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan. tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni). Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. . berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.Sanggah Surya Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita. secara manis. kebijaksanaan simbol pengantin pria. Tegen-tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil-alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Ida Sang Hyang Widhi Waça dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih. Biasanya nyungklit keris. dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria. Benang Putih Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter. Keris Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin. Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Waça dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya. yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu. serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. Perangkat tegen-tegenan: – Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas.

berdasarkan ucapan baik. Selalu ingat dengan penyucian diri. berkarma berdasarkan dharma. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi). serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah. Sambuk Kupakan (serabut kelapa) Serabut kelapa dibelah tiga. Telor bebek merupakan simbol manik. disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga. setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Tetimpug Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma. Wisnu. Siwa) mengisyaratkan kesucian. Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita. Periuk simbol windhu. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa . Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain. Cangkul sebagai alat bekerja. diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. agar kekuatan triguna dapat terkendali. yang berisi talas. Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma. kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan. beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna.– – – – Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. tamas). Dagang-dagangan Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam. di dalamnya diisi sebutir telor bebek. kunir. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. rajas. prilaku yang baik dan pikiran yang baik. Sapu Lidi (3 tangkai) Simbol Tri Kaya Parisudha.

dan mengembangkan ajaran agama. diwinten dengan upacara Askara. yang senang gegitaan. pegawai kantor agama. Resi. tukang banten. sangging. Pawintenan dengan ayaban bebangkit adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana sebagai putra Siwa yang berfungsi sebagai . 1. dan 3. Pawintenan dengan ayaban saraswati termasuk yang paling sederhana. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Resi Yadnya Resi Yadnya adalah suatu upacara yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. Pinandita. Membangun tempat. Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça. Jadi orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang kemilau karena lahir bathinnya sudah disucikan. dan mengamalkan ajaranajaran para 5. Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. Mereka yang wajib mawinten karena profesinya antara lain: pemangku. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. dll. Sulinggih. mawa artinya bersinar-sinar dan inten artinya intan (permata). dalang.tempat pemujaan untuk Sulinggih. undagi. menghayati. Menghaturkan/memberikan punia pada saat. dll.lahir anak yang suputra. pawintenan tingkat ini untuk para brahmacari misalnya yang belajar agama. orang-orang suci.  Mawinten Mawinten asal katanya dalam Bahasa Kawi. 3. Pada dasarnya semua orang terutama yang akan mengakhiri masa Grahasta (pensiun) perlu mawinten dengan tujuan mensucikan diri menjelang pulang ke sunia-loka. 2. Pada akhirnya manusia Hindu setelah meninggal dunia dan di-aben. Tingkat pawintenan ada tiga menurut besar/kecilnya upacara pawintenan yaitu: 1. 2. Pawintenan dengan ayaban catur yang paling utama. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. 4. membina.saat tertentu kepada Sulinggih. Mentaati. Pawintenan dengan ayaban bebangkit untuk yang medium. Pawintenan dengan ayaban saraswati adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan.

dll. Bhuta Yadnya Bhuta Yadnya adalah suatu korban suci kepada sarwa bhuta yaitu makhlukmakhluk rendahan. karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ariari. tukang banten. samadi-nya. sangging. maka jenis segehan itu pun ada .pelindung manusia. Samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Waça. rumah serta lebuh. Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. Mereka yang sudah mawinten wajib menggelar brata. dll. samadi. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. 1. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia. Contoh lain dari Bhuta Yadnya adalah segehan. Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. Makin tinggi tingkat pawintenan-nya makin ketat pelaksanaan brata. hewan (binatang). tapa. dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam persembahan tersebut. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça. nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi. Yeh Nyom. tapa. nasi menjadi satu komponen penting. yoga. Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu di natar Merajan. Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra. Brahma. Getih. baik secara sekala maupun niskala. Selain itu. Karena tempat masegeh ada tiga. Selain berwujud tumpeng. pawintenan tingkat ini untuk para undagi. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Pawintenan dengan ayaban catur adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara. sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan. dalang. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali. Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. pinandita. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucarabucari supaya tidak mengganggu. pawintenan tingkat ini untuk para pemangku. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan.  Segehan Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. tumbuh.tumbuhan. yoga. Lamas. Mahadewa.

bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. lengkap dengan kepala. Dalam pararaton zaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke-16. Hari Raya Terkenal di Bali  Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan. badan. segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. Dengan mempelajari pustaka-pustaka. Tuhan sebagai pencipta dipuji dan dipuja. dimana para leluhur yang setelah . Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Kemudian pada hari Saniscara (Sabtu) Keliwon Wuku Kuningan. Mereka adalah simbol angkara. Galungan itu sudah dirayakan. Jadi dalam hal ini umat Hindu berperang. Terakhir diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga. Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia. leher. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. adalah Hari Raya Kuningan. dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. dan kaki. Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung. Berjuang. Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah. ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja. sejak hari Minggu (tiga hari sebelum Galungan) umat Hindu didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Namun tidak berarti bahwa dunia ini lahir pada hari Budha Kliwon Dungulan. Tapi. tangan.tiga. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan. kemudian disusul oleh Hari Raya Kuningan setelah sepuluh hari. jagung. Galungan itu berarti peperangan. seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga). termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. di antaranya Panji Amalat Rasmi (Zaman Jenggala) pada abad ke11 di Jawa Timur. juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Menurut arti bahasa. tetapi simbol keletehan dan adharma. kelapa. Disebutkan dalam pustaka-pustaka Hindu bahwa dalam rangkaian peringatan Galungan. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). Ini adalah hari raya khusus. jajanan dan lain-lain.

beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak tidur). Maka ketika Lubdaka meninggal. dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan. Berikut perinciannya: Tawur (Pecaruan). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu. Sedangkan di pedesaan biasanya ada beberapa Barong ngelawang diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan. si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Bhatara Siwa. Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar. Pengrupukan. dan Melasti . Agar tidak dimakan binatang buas. Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga.  Nyepi Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Çaka. Di Bali. upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara). Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta (air kehidupan). pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa. sebagai pengusir kantuk. untuk menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta). Padahal. Agar tetap terjaga. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa. si Lubdaka naik ke pohon. karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa tepat di saat beliau beryoga. datanglah satu batalyon tentara surga yang dikirim oleh Bhatara Siwa. Konon. lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih umat Hindu menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa bahan-bahan sandang dan pangan. pada malam Siwaratri.  Siwaratri Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waça dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Bhatara Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa. Pada hari itu dibuat nasi kuning. Bhatara Siwa sudah terlanjur ’sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga. saat Bhatara Yama melakukan pengadilan. Sementara. Bhatara Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Bhatara Siwa melakukan yoga. Saat yang bersamaan. dalam usaha menimbulkan kesadaran diri. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri. dan membawa Lubdaka ke sorga. Siwaratri juga disebut hari suci pajagran. melakukan intervensi pada keputusan Bhatara Yama.

melasti harus selesai. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah 9 paket beserta lauk pauknya. upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Khusus di Bali. dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. yaitu menyebar-nyebar nasi tawur. menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan. Menurut umat Hindu. seperti ayam berbulu brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. dasar ini dipergunakan. dan kemudian dibakar. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja. dan lingkungan sekitar.Sehari sebelum Nyepi. dan Tawur Agung (besar). yaitu pada Tilem Kesanga. yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut. Tahap terakhir adalah melasti. Untuk memulai hidup dalam tahun baru pun. umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing. segala hal yang bersifat peralihan. serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. pekarangan. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. Pañca Sanak (sedang). Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil). Ngembak Geni . Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak diwujudkan dengan matekep guwungan (ditutup sangkar ayam). Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian dan terdiri dari: – – – – Amati Geni (tidak menggunakan dan/atau menghidupkan api) Amati Karya (tidak bekerja) Amati Lelungan (tidak bepergian/keluar rumah) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. ditempuh secara baru lahir. yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Upacara ini dilakukan di laut. tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. serta menyucikan pratima. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Bhuta Kala. Bhuta Kala dan Bhatara Kala. Demikianlah untuk masa baru. Selambat-lambatnya pada tilem sore. Nyepi Keesokan harinya. karena laut dianggap sebagai sumber amerta. Wanita yang beralih dari masa kanakkanak ke dewasa. sehingga ada masa amati geni. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah. pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan. mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan. selalu didahului dengan perlambang gelap. dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu manusia.

semua pustaka-pustaka. Dewi Saraswati merupakan sakti (istri) dari Dewa Brahma. di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. saling maaf memaafkan satu sama lain. Khusus untuk daerah Denpasar. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa . Umat Hindu seling mengunjungi keluarga besar dan tetangga.Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Çaka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal ping pisan (satu) sasih kedasa (kesepuluh). Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaranajaran agama. Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa). tetapi dapat terbang tinggi. lontar-lontar. Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondongbondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. manusia menjadi beradab dan berkebudayaan. di pura. persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa. banyak yang begadang di pantai. yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontarlontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. dibersihkan. bersama teman-temannya. pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan yaitu burung besar serupa angsa. pura atau merajan. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan. mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat. Di Bali. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat. Tangan yang lain memegang Wina (alat musik sejenis rebab) dan sekuntum bunga teratai. dan sastra. biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). membaca pustaka-pustaka. kesadaran (widya). Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Pada hari inilah Tahun Baru Çaka tersebut dimulai. Untuk generasi muda.  Saraswati Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu pengetahuan). Mereka begadang sampai pagi. atau melakukan Dharma Gita atau kekawin di tempat-tempat suci. Berkat anugerah Dewi Saraswati. Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan Mesambang Semadhi. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi. bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke pura. kesusilaan dan sebagainya. Pada hari raya Saraswati.

KARAKTERISTIK ORANG BALI SECARA UMUM 1. Percaya kepada hal-hal mistik 2. cenderung santai 8. masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai. sangat menghormati pemimpin 6.yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran. overtoleran 3. yakni di pagi buta membasuh muka dengan air kumkuman (air kembang). Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari. hormat kepada leluhur dan orang yang lebih tua 9.menyukai keindahan 11. senang berjudi atau taruhan 7. apresiasi terhadap kesenian sangat tinggi 5.menjunjung tinggi adat yang telah ditetapkan dan disepakati (demokrasi) PRODUK BUDAYA . Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur. ramah dan sopan 10. dilaksanakan Banyu Pinaruh. Keesokan harinya. menganggap semua orang adalah keluarga yang distilahkan dengan Nyama 4.

Sekar Madya Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok: 1. Isinya pada umumnya pendek. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. Seni Tembang Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. yang biasa disebut tembang macapat. yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat.SENI SUARA a. baik upacara adat maupun agama. gaguritan atau pupuh. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. dan sederhana. Sekar alit Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat). baik upacara adat maupun agama. Yang ada di dalamnya adalah pembagian-pembagian seperti : Pangawit Pembuka Pamawak bagian yang pendek Panama bagian yang panjang Pangawak bagian utama dari tembang 4. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan. terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. 3. dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. Sekar Agung Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu. Kakawin adalah puisi Bali . kelompok Sekar Alit. Dikatakan bebas karena benarbenar tidak ada ikatannya. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian. 2. Gegendingan Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empatempat suku kata (ketukan).

Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab. SENI DRAMA DAN TARI Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan 2. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian sebagai berikut: Pengawit (penyemak) Panampi ( pangisep) Pangumbang Pamalet Kakawin pembukaan dilakukan dengan diselingi terjemahannya. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung. tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah. sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Tidak hanya menghibur hati. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan. sehingga mempunyai kekhasan tersendiri. tentang baik dan buruk. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih. tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol. Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:  Aswalalita  Wasantatilaka  Tanukerti  Sardulawikradita  Watapatia Wangeasta  Wirat  Çekarini  Girisa  Prtiwitala  Puspitagra  b. Arja . Dilihat dari segi penggunaan bahasanya. Jenis dan macam-macam drama dan tari antara lain : 1. Abuang Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin. Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari.klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi.

Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). dimainkan oleh satu orang). pemainnya semua pria. Galuh. menghadirkan komedi segar. Made Umbara. . Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat). Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena. Panasar. Pakang Raras. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya. • Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang). Cipta Kelangen. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah: • munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan. Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing masing terdiri dari Punta dan Kartala. Sampik Ingtai. Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an. Linggar Petak. Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani. Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. sebagian memerankan wanita. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif. Desak (Desak Rai). Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari. I Godogan. Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat. kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura. pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana. Arja adalah semacam opera khas Bali. Limbur. Liku. merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Mantri Manis. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.

. Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap.1. macan. Arja. Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa. Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Dari wujudnya. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit. Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). 4. ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan). Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern. sapi atau boma. ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Barong dan Rangda Barong dipercaya sebagai pelindung desa masyarakat Bali. Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya.

Baris Tamiang 2. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. Baris Presi 6. Baris Tumbak 4. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. Baris Bajra 8. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain : 1. Walaupun demikian. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede.jenis tari Baris yang ada. yang kemudian menjadi nama dari jenis. kelompok penarinya membawa senjata. sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh. perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda. begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. lugas dan dinamis. Baris Dadap 5. Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Baris Katekok Jago 3. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Setiap jenis. Baris Kupu-Kupu . Tari Baris Sebagai tarian upacara. sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain.Para pemain mengenakan busana tradisional Bali. Baris Pendet 7. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun 2. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja.

Pada tari Sang Hyang. seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Baris Kuning 24. Baris Panah 14. yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama. Baris Gayung 16. Baris Kelemet 6. tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik. Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya . Selain Tari Kecak. Kecak Bila mendengar nama Bali. Baris Gowak 21. Ya! Tari Kecak. juga ada Tari Barong dan Legong. Baris Cina 12. Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Baris Jangkang 15. Baris Cerekuak 18. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Baris Jojor 23. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut. Baris Omang 22. apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria. Baris Ketujeng 20. Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Baris Mamedi 19. Baris Cendekan 13. Baris Demang 17. Baris Tengklong 10. Baris Bedil 11. Sita dan Hanoman.9.

Mereka adalah rombongan penari kecak. yang kebanyakan turis dari luar negeri. hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrakjingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. yaitu agar aman dari bara api yang . dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai.di Jl Hanoman. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat. Untuk menikmati tarian sendiri. Suara mereka sangat merdu. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian. acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. pengunjung dibebaskan memilih. karena keperawanannya berarti kesucian. Sesaat sebelum kita memasuki pelataran pura. Ia bertingkah dengan sangat liar. kita akan melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah. Kenapa harus perawan. Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. Apabila sempat menikmati tarian ini secara langsung. Kamis dan Jumat pada pukul 19. acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari. Namun. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. kita akan melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. Nantinya. pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. Ini salah satu alasan memilih bangku belakang. sambil melemparkan pandangan ke arah penonton. tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton. maka ia pun akan menari di atasnya. Sekitar lima menit kemudian. Padang Tegal Kelod. lalu membakarnya. Yakni setiap Selasa. Ubud. selain tiket. tidak terdengar sumbang sedikit pun. Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. Bali.00 Wita. tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api. Dan beberapa kali ia menendangnya. untuk tempat duduk. Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. yang terbagi menjadi lima babak.

Anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong. rasanya kurang lengkap. pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi .Calonarang Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir. maupun Gong Kebyar. Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket. Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak. 7. Bebarongan. Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur. Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting.melayang akibat tendangan si penari. Dari segi tempat pementasan. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean. dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. ilmu hitam maupun ilmu putih. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang. yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket. menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin). Rangda dan Celuluk. Putri. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan. sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX. Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (muridmurid). sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali.

8. terutama bagi muda mudi. yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX. • Jauk Manis (Jauk longgor). ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. Sunda Upasunda dan lain sebagainya. mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis. Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible. masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. 9.Janger Merupakan jenis tarian pergaulan. merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Penarinya adalah pria. Jenis tari Jauk ini antara lain • Jauk Keras (Jauk Enggang).(trajangan atau tingga) dan pohon papaya. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria. • Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang- .9. Jauk Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana.

Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi. Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. binatang. topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung).Topeng Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu. para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari). 10. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali. Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar). setan dan lainlainnya. kertas. Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong. kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. . manusia.• • kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak). Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung. Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.

Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres. yakni topeng Sidakarya. petik dan sebagainya. gesek. Seni karawitan Seni Karawitan adalah seni mengolah bunyi benda atau alat bunyibunyian (instrumen) tradisional. tiup. dan Cenikan yang lebih kecil). Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan.Tari Kontemporer Salah satu tarian kreasi baru yang mempunyai ungkapan artistik yang bebas. Di Bali. muncul sejak makin maraknya pertumbuhan tari-tarian Bali kreasi baru di awal tahun 1970. Kreativitas seperti ini melahirkan garapan tari baru yang inovatif yang menawarkan gagasan atau nafas-nafas baru yang dapat dikelompokkan sebagai tari Bali modern. Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. Cak Rina Setan Bercanda Ngelawang Cak Subali . Dalam gamelan ada alat musik tabuh. Di dalam tarian baru ini elemenelemen seni klasik/ tradisional Bali dipergunakan secara bebas dan kreatif. maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. .Sugriwa Barong-Barongan c. kaprahnya. alat bunyi-bunyian tradisional disebut gamelan atau gambelan. 11. sesuai rasa estetik individu penatanya. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada.Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua). seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. Panasar (Kelihan .yang lebih tua.

yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX. Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:  Gamelan Wayah  Gamelan Madya  Gamelan Anyar Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV. Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang. merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumeninstrumen bermoncol (berpencon). Kalaupun ada kendang. Beberapa gamelan golongan tua antara lain :  Angklung  Balaganjur  Bebonangan  Caruk  Gambang  Gender Wayang  Genggong  Gong Beri  Gong Luwang  Selonding Barungan madya. dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. Dalam barungan ini. Beberapa barungan madya antara lain :  Batel Barong . kendang sudah mulai memainkan peranan penting.Menurut jamannya.

      Bebarongan Gamelan Joged Pingitan Gamelan Penggambuhan Gong Gede Pelegongan Semar Pagulingan Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru. adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. Wayang  Wayang Kulit Wayang Kulit. upacara adat Bali. yang meliputi jenisjenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX. maupun sebagai hiburan semata. masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu. Beberapa gamelan anyar antara lain :  Adi Merdangga  Bumbung Gebyog  Gamelan Bumbang  Gamelan Geguntangan  Gamelan Genta Pinara Pitu  Gamelan Gong Kebyar  Gamelan Janger  Gamelan Joged Bumbung  Gamelan Manikasanti  Gamelan Semaradana  Gong Suling  Jegog  Kendang Mabarung  Okokan / Grumbungan  Tektekan Instrumen-instrumen gamelan tersebut adalah: 12. Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang. Di desa-desa maupun di kota. Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis. yaitu: Wayang Lemah ( Wayan Gedog) Wayang Peteng Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih . seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya.

diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia. Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap. pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang. dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). Sebagai sajian tugas akhir. kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral. sastra. Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalangdalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria. atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing. Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. etika dan lain-lain. pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa. 1975). Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak). Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M). wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka. Belakangan ini dalang muda berbakat. pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. baik untuk menyelesaikan program . dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana. Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari. Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa. Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. Betapa tidak. Di Bali. yadnya. bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur. Di lingkungan budaya Bali. ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali. dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali. gerak dan suara. spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa. dari India ataupun dari negara lain.

Desak Suarthi Laksmi) dengan seniman dalang Larry Reed dari San Francisco. para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait .bait penting dari Kakawin. Dalam hal iringan. yang didukung oleh Gamelan Sekar Jaya di bawah asuhan komposer muda. Masih merupakan bagian dari perkembangan wayang kulit Bali adalah wayang Listrik yang merupakan hasil kerja patungan antara seniman (I Made Sidja. pemakaian pemain wayang dalam jumlah yang banyak dengan satu orang dalang sebagai narator. spotlights. Pada beberapa bagian pertunjukan. Nama ini diberikan berdasarkan kenyataan bahwa dalam pertunjukannya terdapat perpaduan dua unsur penting yaitu : pemain wayang kulit Bali dengan permainan atau proyeksi cahaya lampu listrik. semua penari berdialog. pemakaian overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang. dan lain sebagainya. Pertunjukan pertama wayang listrik ini dilakukan di San Fransisco dan pada tahun 1996 yang lalu juga dipentaskan di Bali dalam rangka Festival Wayang Walter Spies. para mahasiswa juga telah melakukan berbagai percobaan. pemakaian wayang golek besar. . gamelan Selonding dan Selukat juga telah dicoba untuk mengiringi pertunjukan wayang Bali.  Wayang Orang Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong).Seniman (setingkat Sarjana) pada jurusan Seni Pedalangan di STSI Denpasar. dan sebagainya. I Nyoman Catra. penggunaan tata-lampu modern. Misalnya: • • • • • • Penggunaan layar lebar berganda. semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali. seperti lampu strobo. I Dewa Bratha. Amerika Serikat. Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan.

dan Wayang Wong Parwa. perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja. Parwa terdapat di desa-desa: • • Sukawati. Den Tiyis (Gianyar). Batuagung (Jembrana) Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa). Marga. Wates Tengah (Karangasem). BAHASA DAN AKSARA ➢ Bahasa Bali Dr. Terdapat di desa-desa: • • • • • • Mas. Tunjuk. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. Merdah. Sanggut. Tatkala masuk pengaruh Majapahit. Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng. kecuali para punakawan. 13. yaitu Wayang Wong Ramayana. Klating (Tabanan). Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna. Karena itulah. Sulahan (Bangli). Telepud. Bualu (Badung). Pujung (Gianyar) Blahkiuh (Badung). Teges. terutama di naskah-naskah lontar. Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. Hampir semua penari mengenakan topeng. Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. seperti Malen. Delem. Pertama. Apuan. bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan .Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong. bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan. Prancak. ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana.

ung.) dan nadha (bintang. Peninggalanpeninggalan prasasti dari jaman Hindu-Bali menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. yaitu pada masa pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. misalnya: a. kasar. Bahasa Bali kuno itu. ang. mang) dan modre atau aksara lukisan magis. satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari . Contoh pangangge tengenan: cecek (ng).utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati. walaupun tidak sebanyak seperti dalam bahasa Jawa. bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga. ra. dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. dan aad. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit). misalnya: ong. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai saat berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi telah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh modernisasi dan demokrasi. selain mengandung banyak kata-kata Sansekerta. bahasa Bali tidak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. Jika kita perhatikan tulisan aksara mang. ➢ Aksara Bali Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. segi tiga). Artinya. huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan. kedua. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. Selain itu. bulatan. na.aksara yang dipergunakan sehari-hari. o. surang (r). u. Misalnya kata gamang. dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara. Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. windu (matahari. e. bisah (h). asah. i. Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -. pada masa berikutnya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit. ka. Dewa Brahma dengan lambang api. Bahasa Bali juga mengenal apa yang disebut ”perbendaharaan kata-kata hormat”. bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -. ca. Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti.nama bahasa Bali Mula. Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa. misalnya: a. Dilihat dari perbendaharaan kata dan strukturnya. dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali). dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara. Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik.

menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal. untuk membedakan warna. Dikatakan konvensi atau kompromistis. Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru. sering dipakai titi. Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Untuk menyelaraskan itu. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya. Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India. sampai 15 yaitu purnama. Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru. Idealnya awal tahun . disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa. Setelah purnama. setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra tambahan yang merupakan bulan kabisat. hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun. Tidak mutlak astronomis seperti kalender Hijriyah. Dalam perhitungan matematis. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. namun tidak pula seperti kalender Jawa. sampai 30 pada bulan mati. Hari ini dinamakan pangunalatri. Kalender Bali bisa dianggap istimewa sebab kalender Saka Bali adalah penanggalan "konvensi". Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal.huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. Panjang bulan Dalam 1 bulan candra atau sasih. 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong. KALENDER BALI Kalender Saka Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). 14. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Derajat ketelitiannya cukup bagus. namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya.

Sebetulnya be guling dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam. Tahun Baru Tahun baru bagi Kalender Saka Bali. diundur 1 hari. Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2. Idealnya pada penanggal 1. yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). MAKANAN KHAS BALI Lawar Lawar merupakan makanan khas Bali yang dibuat dari campuran daging. karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. dan angka tahun dari sasih terakhir.surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu). 15. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi. tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). Babi guling adalah sejenis lauk pauk yang di buat dari anak babi betina atau jantan secara utuh . Pada tahun 1993. Dengan demikian sasihsasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini. bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa). nangka muda. sehingga tahun baru Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April. Babi Guling Nama babi guling untuk daerah bali lebih dikenal dengan be guling. Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa). angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi dan disantap sehabis melaksanakan upacara adat dengan cara prasmanan. karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa. Sejak hari raya Nyepi. diperingati sebagai hari raya Nyepi. pepaya muda dengan bumbu lengkap Bali.

Jukut Ares Jukut Ares. jahe. terasi. dalm bahasa Indonesia Sayur Ares. Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan. dibuang bagian luarnya. Kemudian irisan gedebog dimasukkan ke dalam kaldu. Babi guling yang paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar. kunyit. Makanan ini dari batang pohon pisang yang muda. sampai ketemu bagian muda. Batang pohon pisang dikuliti. laos. rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali. Kemudian ditambah bumbu "basa genep" atau bumbu lengkap yang terdiri dari: bawang merah. orang Bali menyebutnya "gedebong". dan merica 'kalo suka". Bahan yang dipakai batang pohon pisang batu atau batang pohon pisang yang lain. namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung. Kemudian irisan ini harus diremas dengan garam agar getahnya hilang. kencur. Kemudian dibuat rebusan kaldu ayam ato babi. bawang putih. Cara memasaknya mudah. kemudian masak hingga matang. cabe. dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai denga warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah.kecuali isi perutnya dikeluarkan seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon. kemudian dicuci untuk menghilangkan rasa asin garam. Tambahkan daun salam agar wangi dan garam supaya tidak hambar. Entil Pupuan . terus diiris-iris.Bali .

Aling-Aling 9. Tempat Tidur (Meten) 3. Arsitektur Tradisional Bangunan Hunian 1. Bale Dauh sebagai tempat beraktivitas 4. Paon (dapur) 8. Pamesu/Kori . Pura Keluarga (Merajan) tempat memuja leluhur dan Hyang Guru 2.Entil biasanya dimakan dingin. dan berkuah warnanya kuning. sayur urap. tidak manis seperti serundeng umumnya ) kemudian disiram dengan "be jeruk" yang sedikit berkuah. serundeng ( parutan kelapanya besar-besar dan kering. "be jeruk" merupakan sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir-suir dicampur sama kelapa parut. 16. tempat menyimpan gabah/padi 7. Jineng/lumbung. Bale Dangin. mirip lontong sayur. Satu porsi terdiri dari entil 2 bungkus. tempat 6.

-pura. lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. digunakan sebagai tempat pemujaan. Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah. -puri. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan alingaling. -puram. istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah. Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah. Pura Kahyangan Jagat Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali. di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri sendiri. . atau kota dengan menara atau istana. PURA Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci. sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. adalah bangunan paling awal dibangun.Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. tempat ibadah) berada dalam satu atap. kota berbenteng. Secara umum pura diklasifikasikan menjadi : 1. Pura Sakenan. tempat menerima tamu Hunian pada masyarakat Bali. sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa . Pura Rambut Siwi. Pura Lempuyang. pamerajan (sebagai pura keluarga). Pura Luhur Batukaru. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. yang artinya adalah kota. ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga. sedang daerah publik dan bangunan pendukung (paon. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi). Di sini pula tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu. Sekenem. sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). dan Pura Luhur Uluwatu. merupakan arah masuk ke hunian. Pamerajan atau sanggah.melaksanakan aktivitas ritual seperti menaruh dan membuat sesajen 5. -pore). atau anak gadis. 17.

Pura Kahyangan Desa Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma. 4. perkantoran pemerintah maupun swasta. Dadia atau Dalem Dadia. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel. Pura Kawitan Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa. Pura Swagina Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. Termasuk ke dalam kategori ini adalah. Pura Ulunsuwi. 3. Penataran Dadia. Sanggah-Pemerajan. Pedharman dan sejenisnya. dan Pura Uluncarik. Pura Bedugul. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada.2. para petani dengan Pura Subak. untuk para pedagang adalah Pura Melanting. Panti. Pratiwi. . Paibon. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti.

Banyak pemuda Bali yang pergi ke luar Bali dan ke luar negeri untuk belajar sampai akhirnya universitas-universitas didirikan di Bali. Segera setelah itu proses perubahan tumbuh dengan cepat. Kegiatan pariwisata hanya menyebabkan perubahan-perubahan fisik saja dan tidak sampai pada sendi-sendi masyarakat dan kebudayaan Bali. Sekarang ini telah tampak bahwa proses perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali yang cepat mendapat efek sampai ke sendi- . maka proses perubahan itu berjalan amat lambat. dengan adanya sistem pendidikan sekolah-sekolah dan dengan kegiatan pariwisata yang sudah dikembangkan secara luas waktu itu. Pada awal zaman kemerdekaaan.MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Proses perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan Bali itu memang sudah dimulai sejak zaman kolonial. masyarakat dan kebudayaan Bali masih tampak sama seperti berabad-abad lalu. sedangkan jumlah dari sekolahsekolah itu amat terbatas pada beberapa buah yang ada di dua-tiga kota saja. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan sekolah dikembangkan dengan intensif dan ekstensif. Namun karena sistem pendidikan hanya terbatas kepada tingkat SD.

Oleh karena itu para penduduk daerah Bali harus tetap menjunjung nilai budaya mereka dengan tetap melaksanakan serta melestarikan kebudayaan Bali yang telah diwariskan nenek moyang mereka. Sektor kepariwisataan telah memberi lapangan kerja pada banyak orang Bali serta telah menstimulasi sektor kerajinan. rekreasi dan transportasi untuk berkembang. Harapan pada denyut nadi pariwisata hancur lebur. perhotelan. Berbagai usaha mempromosikan pariwisata Bali terus menerus dilakukan. risiko ini harus dipikul bersama karena proses modernisasi tidak dapat dihindari lagi dan mutlak harus kita alami semua. Keketatan hukum adat mengenai sistem kasta dan klen sudah mulai kendor. Selain itu. Sebagian warganya yang bekerja di hotel-hotel mengeluh penghasilannya menurun drastis. Hotel-hotel kelas melati perlahan-lahan tutup. Berbagai program tayangan promosi Bali terus dilakukan. tidak sempat lagi untuk mengikuti detail adatistiadat serta upacara-upacara keagamaan Hindu-Bali secara teliti sehingga dalam waktusingkat akan terjadi penyederhanaan dalam sistem upacara keagamaan. Saat itu—awal Januari 2003—mulai terdengar program-program . Beragam kegiatan dibuat untuk mengembalikan citra pariwisata Bali yang terpuruk karena Bom Bali dan berturut-turut Perang Amerika—Irak dan wabah SARS. Saat ini. Bali dijadikan daerah pariwisata yang utama.sendinya. Namun. Kondisi inilah kemudian yang menjadi “tersalah” dalam terpuruk dan ambruknya pariwisata Bali. pembaharuan dalam kehidupan dan pendidikan agama Hindu-Bali juga sengaja dibina oleh majelis agama tertinggi bernama Parisada Hindu Darma. seni tari dan seni suara. Bandara Ngurah Rai selalu penuh dengan antrean keberangkatan tanpa ada antrean kedatangan. Bali seakan terpuruk. Kaum terpelajar dan cendekiawan Bali. Akhirnya. seni lukis. pengangguran semakin membludak dan tentu saja desa-desa adat di Bali “gerah” dengan kondisi seperti ini. Wisatawan kabur karena takut bom susulan datang. kondisi ini menjadi semacam senasib sepenanggungan akibat Bom Bali. Sontak setelah tertangkapnya pelaku bom Oktober 2002 dan 2005. Walaupun demikian. karena kesibukannya sehari-hari. PASCA BOM BALI Pascabom Bali Oktober 2002 dan Oktober 2005. dibalik itu orang Bali juga mulai merasakan aspek-aspek negatif dari perkembangan tersebut yang dapat mengancam nilai-nilai budaya yang mereka junjung tinggi. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) berlangsung silih berganti. Dilema ini sedang dan akan dialami oleh masyarakat yang mengalami zaman transisi pembangunan dan proses modernisasi. Bali menjadi seperti pulau yang hanya menunggu untuk karam saja tanpa pariwisata. masyarakat Bali menyambutnya dengan gembira.

Sebelumnya. Ini sebenarnya potensi konflik dan kekerasan secara horizontal. mulailah dilakukan program-program untuk nindihin Bali tersebut. Ajeg Bali adalah pemurnian Bali dalam hal pemurnian ras. bahwa cap teroris ternyata menggangu dan menjadi musuh bersama orang Bali. yang juga sebenarnya menyimpan konflik dan kekerasan yang terpendam. Tentu saja pemicunya adalah persaingan antar puri (tempat raja di Bali yang . Bali terkenal dengan semangat puputan (perjuangan melawan penjajah sampai titik darah penghabisan). idenitas. Dalam obrolan di warung-warung desa di Bali. jika merunut sejarah. Kini. Jargon yang sebenarnya dimulai dari propaganda sebuah media terbesar di Bali yang kemudian diikuti oleh promosi ke berbagai kabupaten di Bali. Pascabom Bali dan ditengah keranjingan menjaga Bali tidak terpukul dua kali.“ kata seorang warga masyarakat di warung desa. Karena. pecalangan (satuan pengamanan tradisonal Bali) serta seluruh perangkat desa pakraman di Bali juga semakin memproteksi dirinya. Ini karena Bali memiliki citra “Bali” hasil konstruksi eksotika dan ketergantungan negara luar Bali sebagai kunjungan wisata. membuat masyarakat Bali semakin waspada dan siaga setiap saat. lahir jargon Ajeg Bali. Dan sampai saat ini kelompok-kelompok ini memendam identitas dalam identitas ke-Bali-an. Dalam perspektif berpikir beberapa orang Bali. Ini dilakukan dengan serempak mulai awal 2003 hingga kini dan menjadi perdebatan hangat di Bali dan juga mendapat respon nasional pada Maret—Juni 2003 dan mulai meredup dan menjadi keharusan pasca Bom Bali 2005. pentas musik sensasional “Voice Of Star” dan berbagai event hiburan dan pertemuan-pertemuan nasional serta internasional yang dilangsung di Bali. tapi melawan teroris dan orang-orang yang merusak kebudayaan Bali. pembantaian dan pembersihan soroh-soroh. sebuah sikap wujud kecintaan pada tanah air Bali. Nindihin bagi masyarakat Bali adalah sebuah pembelaan. Salah satu hal yang dilakukan desa adat/pakraman dengan jajarannya adalah sweeping dan pendataan penduduk pendatang. Bali adalah hasil dari pertarungan. Maka. saat zaman kerajaan dan perang-perang kemerdekaan 1942-1945. Bom Bali dan teroris adalah kala (mahluk jahat) yang bisa menghancurkan Bali. semangat puputan ditunjukkan dengan sikap nindihin Bali bukan melawan kolonial Belanda dan Jepang. pertengahan Juli ini.“Recovery Bali” dan dikuti dengan “Bali For The World”. “Tiang (saya) siap nindihin (membela sampai mati) Bali melawan teroris. dilakukan roadshow ke seluruh kabupaten di Bali untuk penandatanganan prasasti Ajeg Bali oleh bupati se-Bali. Ternyata dengan adanya Bom Bali 2002 dan 2005. Selain mengembalikan pariwisata Bali. Ternyata. Belum lama berselang. lembaga-lembaga tradisi seperti desa adat/pakraman (desa-desa di Bali). jujur harus diakui. dan soroh. Ada sebuah usaha untuk menjadikan Bali sebagai pusat dari pemulihan pariwisata.

Dalam titik inilah. dan waisya) dalam teori kelas dan kasta di Bali. kedewan-dewan (hidupnya selalu memikirkan dewa. Dengan masalah-masalah upakara (sesajen untuk upacara-upacara). pernyataan akan “kebenaran” tingkah laku dan sikap beragama.sekarang masih ada) ataupun pendobrakan kelas-kelas sudra (pasek. muncul penyejuk dan pemersatu umat.) terhadap kelas tri wangsa (brahamana. Dalam istilah Balinya. juga sebagai jago kebudayaan Ajeg Bali. komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan. sedang dampak postif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Lihat Ruastiti 2005. Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. Inilah bentuk kerinduankerinduan orang Hindu Bali yang kemudian bisa dipenuhi oleh Ida Pedanda Made Gunung. Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian. pande. menanamkan dewa-dewa yang dipuja orang Hindu Bali. kecemasan. . dan mulai mendapatkan pembenaran secara alamiah—melalui sastra agama dan tentunya keyakinan yang disampaikan Ida Pedanda Made Gunung. Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. dll. Kerinduan untuk mencari asal-usul. Ardika 2004). Kiprah pendeta ini dicuatkan oleh media televisi lokal. Bali sangat merindukan seorang pendeta sebagai pencerah kehidupan agama Hindu Bali. jati diri. grup media terbesar di Bali (baca: Bali Post). Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi. Yang paling penting tentunya–dari kiprah Ida Pedanda Made Gunung—adalah mengidentitaskan. Tuhannya). Maka munculnya Ida Pedanda Made Gunung yang melayani semua pertanyaan. hubungan darah. Di tengah kebingungan inilah. lewat program Dharma Wacana (pencerahan keagamaan) setiap sore hari. dan keturunan. ksatria. orang Bali seakan mendapat pencerahan. dan pencarian identitas dan esensi ke-Bali-an. namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful