BUDAYA NUSANTARA

KEBUDAYAAN BALI

Disusun oleh:

I Gede Yudi Paramartha (18) I Made Adi Primanta (19) I Wayan Primadyantara (20) Nur Aini (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata (island God/island Paradise) merupakan salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Bedugul, Ubud, Sukawati, Lovina, dan lain lain merupakan tempat wisata yang terkenal di Bali. Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, tetapi kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Selain itu, kebudayaan Hindu yang sudah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3'40" - 8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" - 115°42'40" Bujur Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut: • • • • Utara : Laut Bali Timur : Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) Selatan : Samudera Indonesia Barat : Selat Bali (Propinsi Jawa Timur)

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. • Tabel Luas Wilayah Tiap Kabupaten di Provinsi Bali

Kabupaten/Ko Ibukota ta Jembrana Tabanan Badung Denpasar Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Buleleng Jumlah Negara Tabanan Badung Denpasar Gianyar Semarapura Bangli Amlapura Singaraja

Luas (km²) 841,80 839,30 420,09 123,98 368,00 315,00 520,81 839,54 1.365,88 5.634,40

Persentas e (%) 14,94 14,90 7,43 2,20 6,53 5,59 9,25 14,90 24,25 100,00

Sumber: Master Plan Penunjang Investasi Provinsi Bali Tahun 2006-2010

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam

Pura Batukau. Arah membujur dari pegunungan tersebut menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali Utara dan Bali Selatan. Pegunungan tersebut mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan sedikit bahasa. Pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu 2. yaitu: 1. yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). Pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal 6. Pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu 4.486 ha.(15-40%) seluas 190. Klungkung). letak susunan rumah kuil. Gianyar.189 ha. Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu 7. dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132. Berarti untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan dan kelod berarti utara. Pada satu status sosial atas dasar warna 5. Buyan. Hal ini berlaku sebaliknya untuk orang di daerah selatan. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit dan daerah-daerah di bagian selatan Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas 3. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan. Dalam bahasa Bali kaja berarti ke gunung dan kelod berarti ke laut. dsb. SEJARAH Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. dan terutama Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. Badung. sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. dalam upacara agama. Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali. Kedua arah tersebut sama baik di Bali Utara maupun Bali Selatan. Tamblingan dan Danau Batur. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Masyarakat . Perbedaan ini tidak hanya tampak pada penunjukan arah dalam bahasa Bali. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Di pegunungan tersebut terletak puri-puri (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali seperti Pura Pulaki. Besarnya arti dari konsep kaja-kelod dalam masyarakat Bali tampak pula dalam kehidupan sehari-hari.

Kalimantan Tengah. sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatra Selatan. Kecuali di pulau Bali. Sulawesi dan Nusa Tenggara. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya. Sekarang ini komunikasi modern. Masa Prasejarah Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut 3. Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya. Pedawa. masa konversi Islam di Pulau Jawa. Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita. yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana 2. Tigawasa di Kabupaten Buleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. ada juga orang Bali di bagian barat dari Pulau Lombok. Orang Bali-Aga umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran. pendidikan. 1. kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi: 1. Masa bercocok tanam 4. merekalah yang akhirnya membentuk kultur Bali yang merupakan suatu bentuk sinkretisasi dari kultur Jawa klasik dengan banyak tambahan elemen Bali. gelombang ketiga dan terakhir juga datang dari Jawa sekitar abad ke15 dan 16.Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. gelombang kedua adalah migrasi sedikit demi sedikit dari Jawa pada zaman Hindu. Kenyataannya memang leluhur suku Bali kebanyakan berasal dari Pulau Jawa. Masa perundagian Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng . Cempaga Sidatapa. Leluhur orang Bali masuk ke Bali dalam tiga periode: gelombang pertama adalah suku proto-Melayu yang datang dari Jawa dan Kalimantan pada zaman prasejarah. para aristrokrat Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit melarikan diri dari ke Bali untuk menghindari pengkonversion Islam. serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut.

walaupun kedatangan kebudayaan agama Hindu. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding. Persekutuan kepemimpinan tersebut masih ada sekarang dan tetap dipertahankan di desa-desa Bali Aga. Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran. mereka tidak berani menghias wadahnya dengan kertas. Manusia Bali keturunan Austronesia pada masa itu hidup berkelompok dan dipimpin secara kolektif oleh 16 Jro yang umumnya disebut dengan Sahing 16. dan kepala suku atau pimpinannya disebut dengan nama Jro Gede yang penunjukannya dilakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia tertua anggota persekutuan. diantaranya adalah Pasek Taro. Pecatu (Badung). 1. Mereka yang dikelompokkan sebagai warga Bali Mula. kapak berimbas. padang-padang. Kebudayaan Bali Mula masih melanjutkan tradisi bangsa Austronesia. kapas dan lain-lainnya. plawa dan sebagainya. lalu muncullah istilah beya tanem. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). terutama dalam hal adat. Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. dengan ketua kelompok yang kemudian disebut dengan Pasek Bali. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar yaitu goa Karang Boma. Goa ini terletak di pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. tetapi mereka hanya menerima upacara dan upakaranya saja. serut dan sebagainya. dan di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam. Memasuki Masa Sejarah . misalnya ngaben mereka terima tapi membakar mayat tidak. Dan saat ngaben. parasbaan. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. mereka hanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti ambu. Manusia Austronesia inilah yang menjadi leluhur sebagian orang Bali Mula. yang kemudian membaur pada masa berikutnya dengan orang-orang yang datang dari luar Bali.Timur). belincung dan panarah batang pohon. tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana.

1. Masuknya Agama Hindu Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masamasa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata Walidwipa. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah panglapuan. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah pakiran-kiran i jro makabaihan. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya

dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja. 2. Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. 3. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460-1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). 4. Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil

ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

FILOSOFI MASYARAKAT

Panca Sradha Panca Sradha merupakan kepercayaan pokok masayarakat Hindu di Bali yang terdiri atas lima bagian, yaitu : 1. Brahman, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Atma, percaya kepada roh atau jiwa pada setiap makhluk hidup yang berasal dari percikan suci Tuhan 3. Karma Phala, percaya akan adanya hukum sebab akibat. Setiap perbuatan(karma) pasti akan mendatangkan akibat (pahala) 4. Samsara atau reinkarnasi, percaya akan adanya kehidupan/lahir kembali yang disebabkan karena adanya karma.

yaitu: a. Orang Bali percaya bahwa positf dan negatif itu selalu berjalan berdampingan. antara lain 1. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha berarti tiga macam tingkah laku yang patut disucikan. Keseluruhan konsep di atas diwujudkan melalui pelaksanaan Yadnya. Jadi. Tri Hita Karana Tri Hita Karana secara harfiah berarti tiga penyebab kebahagiaan. Yadnya berarti korban suci yang tulus ikhlas. Moksa. Pebuatan yang baik (Kayika Parisudha) 1. Perkataan yang baik (Wachika Parisudha) c. Bhuana AgungBhuana Alit. Tinggal bagaimana manusia menyikapi hal-hal tersebut. sedangkan bhuana alit adalah manusia. seperti konsep Skala-Niskala. Pikiran yang baik(Manachika Parisudha) b. Pembahasan mengenai yadnya akan ada pada bab berikutnya yang berkaitan dengan sistem adat dan religi. Orang Bali percaya bahwa kebahagiaan dalam kehidupan ini bisa terwujud apabila tercipta keselarasan dan keharmonisan antara manusia dengan tiga penyebab berikut ini a. Bhuana Agung berarti bumi atau alam semesta. tujuan akhir makhluk hidup yaitu bersatunya kembali atma dengan brahman. Pawongan (sesama manusia0 c.5. setiap perbuatan atau kegiatan yang dilaksanakan harus memperhatikan keselarasan antara alam nyata dengan tidak nyata. Baik dan buruk. Konsep skala-niskala menunjukkan bahwa orang Bali percaya akan adanya alam nyata (skala) dan alam tak nyata/tak kasat mata (niskala). Berdasarkan kepercayaan pokok inilah lahir ajaran-ajaran/filosofi lain sebagai implementasi dalam kehidupan. suka dan duka adalah hal-hal yang selalu terjadi di dunia. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan manusia mengganggu atau merusak alam yang tidak nyata karena bila terjadi dapat menyebabkan hal-hal yang tidak baik. sudah sepatutnya manusia dan alam bekerja sama untuk saling menjaga kelangsungan kehidupan. Konsep Rwa Bhineda mungkin mirip dengan konsep Yin dan Yang. Oleh karena itu. Parahyangan (Tuhan Yang Maha Esa) b. . Palemahan (alam lingkungan) Selain itu ada juga filosofi-filosfi lain yang mendasari setiap aspek kehidupan masarakat Bali. Pengorbanan itu bisa berupa materi maupun berupa hal-hal imaterial. Orang Bali percaya bahwa manusia dan alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur yang sama. Rwa Bhineda. dan Tat twam asi. hitam dan putih.

bunga dan hasil hutan seperti cengkih. karena dengan itu barulah ia dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat. restauran. Sedangkan sisanya terdiri dari pedagang. bebek. dan sejenisnya. buah. Orang Bali juga terkenal akan keahliannya dalam bidang seni sehingga ada banyak orang yang berprofesi sebagai pengrajian. Kawasan Bali bagian selatan merupakan dataran rendah yang cocok untuk sawah padi. SISTEM KEKERABATAN Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. pengrajin. dan lain sebagainya. Selain itu. ukiran. Sehingga cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya dalam dunia pariwisata. seperti irigasi dan hal-hal lainnya. dan kerbau. dan penjual cendramata. karyawan atau PNS. dan nelayan. kacang-kacangan. Kegiatan beternak umumnya merupakan kegiatan sampingan. mulai dari perhotelan. Kawasan Bali Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan hawa yang dingin sehingga merupakan tempat yang cocok untuk perkebunan sayur. peternak. memasuki zaman global ini semakin banyak orang yang meninggalkan profes sebagai petani dan mulai beralih kepada profesi lainnya. guider. Hasil ternak ini umumnya untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan upacara keagamaan. jagung. Bali terkenal dengan pariwisatanya. lukisan. Daya tarik pariwisata terutama berasal dari kebudayaan unik masyarakat sendiri yang ditunjang dengan alam yang indah. Pertanian di Bali cukup bervariatif sesuai dengan keadaan geografis Bali yang beragam. Bali terkenal dengan Subak sebagai organisasi untuk mengatur masalah pertanian. Hasil ternak yang banyak dijumpai adalah babi. perhiasan.Mata Pencharian Sebanyak kira-kira 70% orang Bali menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. Profesi ini banyak digeluti oleh masyakat yang terutama tinggal di daerah Gianyar dan Klungkung. maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen. Akan tetapi. sapi. ayam. Hasil dari kerajinan ini antara lain patung. atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang . Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. buruh bangunan.

dan secara fisik suami-isteri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama. Orang-orang se-klen (tunggal kawitan. yang umumnya bersifat exogam.dianggap sederajat dalam kasta. Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen. yaitu dengan cara meminang (memadik. dan demikian juga dalam kasta. Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa seperti kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawini. Dahulu apabila terjadi perkawinan campuran yang demikian. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah). tetapi rupa-rupanya adat ini terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar. serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita tersebut. walaupun tidak sedikit juga suami isteri baru yang menetap secara neolokal dan mencari atau membangun . berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh). atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat. sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. dan pada waktu ini perkawinan campuran antar-kasta sudah relatif lebih banyak dilaksanakan. antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya. ngidih) kepada keluarga seorang gadis. karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga. sudah menghilang. karena perkawinan yang demikian itu dianggap mendatangkan bencana (panes). dan antara seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya). suami isteri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. dan akhirnya lagi suatu kunjungan resmi dari keluarga si pemuda ke rumah orang tua si gadis untuk minta diri kepada ruh leluhurnya. ngrorod). Lain bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki isteri (makedengan ngad). tunggal dadia. seorang pemuda Bali itu dapat memperoleh seorang isteri dengan dua cara. hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi. sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar-kasta yang berbeda derajatnya. maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya. tunggal sanggah) di Bali itu adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama. Kedua cara itu berdasarkan adat. Perkawinan pantang yang dianggap melanggar norma kesusilaan sehingga merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya. upacara perkawinan (masakapan). perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen. Pada umumnya. ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. Demikian. Sesudah pernikahan. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya. Semenjak tahun 1951.

Dengan demikian. menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. yang disebut kemulan taksu. Struktur dari tunggal dadia ini berbeda-beda dipelbagai tempat di Bali.  Klen Kecil dan Klen Besar Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Karena poligini diijinkan. Demikian pula anak-anak dan keturunan mereka yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri. Sebaliknya. Keluarga Luas. ia memisahkan diri dari rumah tangga orang tua dan mendirikan rumah dan rumah tangga sendiri yang baru (ngarangin). dan Rumah Tangga Akibat dari perkawinan adalah terbentuknya suatu keluarga batih. sering ditambah dengan anak-anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan lain-lain orang yang menumpang. Kalau suami isteri tinggal secara virilokal. Salah satu dari anak laki-laki biasanya tetap tinggal di kompleks perumahan orang tua (ngerobin) untuk nanti dapat membantu orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya lagi dan untuk menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. sebenarnya suatu rumah tangga yang sudah tua terdiri dari suatu keluarga luas virilokal yang terdiri dari suatu keluarga batih senior dengan beberapa keluarga batih yunior yang hidup bersama dalam satu kompleks perumahan (uma) sebagai kesatuan yang formil. dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal. keluarga-keluarga yang bersifat poligini ini hanya terbatas dalam lingkungan-lingkungan tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak. maka ada juga keluarga-keluarga batih yang sifatnya poligini. Di desa-desa di tanah datar. ada pula suatu adat perkawinan di mana suami isteri baru itu menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan lari si isteri (nyeburin).rumah baru.  Keluarga Batih. kalau seorang anak laki-laki sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mempu untuk berdiri sendiri. Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami. baik orang yang masih kerabat maupun yang bukan kerabat (pembantu rumah tangga dan lain-lain). maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa). tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di masing-masing kediamannya. Sesudah beberapa. dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan). dan bentuk keluarga batih ini tergantung pula dari macam perkawinan itu. Walaupun demikian. Di desa-desa di pegunungan. Tempat di mana suami isteri itu menetap. Di samping .

pretasti) sendiri-sendiri yang masing-masing kembali sampai pada sejarah penaklukan oleh Majapahit dalam abad ke-14. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarganya yang merasakan dirinya senior. maka klen-klen di Bali daerah dataran. Kelompok kerabat yang demikian dapat disebut klen besar. Dalam praktek. karena itu tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai kelompok-kelompok kerabat yang bersifat patrilineal. Gelar-gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa. Di Bali daerah pegunungan. Ada pelbagai klen yang mempunyai sejarah keturunan (babad. Karena proses sejarah yang kembali ke zaman Majapahit. Sistem ini terpengaruhi oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu Kuno. Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya. Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja pura leluhur yang sama disebut pura paibon atau panti. suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Susunan tinggi rendah dari klen-klen di daerah dataran tampak pada gelargelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. Waisya. yaitu Brahmana. Orang-orang bangga apabila dapat menyusur keturunan mereka sampai pada raja-raja atau bangsawan-bangsawan dari zaman Majapahit itu. tersusun dalam suatu susunan berlapis tinggi rendah berdasarkan jarak hubungan kekerabatan dari leluhur-leluhur dari klen-klen itu dengan seorang tokoh raja atau bangsawan dari Majapahit. Satria. yaitu keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. Vaisya. yaitu sistem keempat kasta: Brahmana. sedangkan ketiga lapisan yang pertama . dan Sudra. susunan klen berlapis tinggi rendah serupa itu tidak ada. Pelbagai keturunan inilah yang memberikan susunan yang lebih kompleks kepada klen-klen patrileneal yang terdapat di Bali daratan. Ksatrya. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama. keluarga batih yang hidup neolokal seperti juga masih terikat oleh dan masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap pura asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka. SISTEM KEMASYARAKATAN  Sistem Pelapisan Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan.itu. bahkan batas-batas antara klen-klen dalam kehidupan masyarakat tidak tampak begitu nyata. dan dengan demikian suatu pura serupa itu mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota dari suatu klen kecil. pamancangah. dan Sudra.

Sebagian dari tanah wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu. 1. Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan. Konsep desa memiliki dua pengertian.  Lembaga Tradisional Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa. gelar bagi warga klen-klen Satria adalah Cokorda. kurang dari 15% yang termasuk anya sebagian kecil dari rakyat Bali. yaitu desa adat dan desa dinas. Sesudah kawin. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. dan lapisan yang keempat disebut Jaba. dan warga klen-klen yang termasuk Jaba tinggalnya lebih terpusat pada daerah-daerah terbatas. Pendeta-pendeta tidak usah lagi berasal dari wangsa Brahmana. dan bagi warga klen-klen Wesia adalah Gusti. lagipula warga klen-klen besar yang termasuk Triwangsa biasanya tersebar luas di seluruh Bali. atau secara konkret dibawah pengawasan pimpinan desa. lebih dari 85% dari rakyat Bali termasuk warga Jaba. Misalnya undang-undang (awig-awig) yang menghukum adanya perkawinan antara gadis yang lebih tinggi dengan laki-laki yang wangsa-nya lebih rendah telah dihapuskan. Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan dan desa-desa adat di daerah datar. Selain itu banyak gelar-gelar lain yang diturunkan oleh klen-klen tertentu tetapi yang kurang terang mengenai kedudukannya dalam wangsa. tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak pengawasan desa. Desa Desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat. lainnya berpendapat bahwa gelar-gelar serupa itu termasuk wangsa-wangsa yang rendah dan demikian selalu memang ada perselisihan mengenai kedudukan dari orang-orang yang mempunyai gelar-gelar tadi dalam upacara adat dan dalam sopan santun pergaulan Bali.sebagai kesatuan disebut Triwangsa. orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa). kurang dari 15% yang termasuk Triwangsa. subak dan seka/sekaha. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang memiliki wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. dan akhir-akhir ini mereka malahan sudah dianggap sederajat dengan pendeta-pendeta dari wangsa Brahmana. Zaman modern dengan pendidikannya telah banya membawa perubahan dalam sistem pelapisan wangsa ini. Pemegang gelar-gelar serupa itu tentu akan mengakuinya sebagai gelar wangsa tinggi. mendapat tempat duduk yang . Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita. banjar. Desadesa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. Sebaliknya. Hanya sebagian kecil dari rakyat Bali.

Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Gianyar. kaja berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali. lumbung. sebaliknya untuk orang Bali Selatan. Misalnya saja pada arah kaja diletakkan Pura Desa. Catatan: Dalam bahasa Bali. tempat untuk menerima tamu. Di samping kesatuan wilayah maka sebuah desa merupakan pula suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga.khas di balai desa yang disebut balai agung. Seperti telah diterangkan sebelumnya. Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. dibangun diatas suatu pekarangan yang bisanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit. Klungkung). Desa-desa di daerah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar luas. Sedapat mungkin bangunan-bangunan dari desa disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. Klasifikasi dualistis ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangunan-bangunan pusat dari desa. Dengan demikian untuk orang Bali Utara. Pura Desa merupakan tempat berstananya Dewa Brahma yang dimanifestasikan sebagai pencipta. Di antara komplek bangunan itu terdapat bangunan untuk tidur. Dimana Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa. Badung. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerahdaerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan. sanggah. dan pura untuk keluarga (sanggah). Pura keluarga yang dianggap suci terletak di bagian kaja. kaja berarti utara. Hal yang keramat diletakkan pada arah kaja. dan sebagainya pada umumnya menuruti pola susunan tertentu. Mengenai letak dari bale. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan. Bale (bangunan) masing-masing mempunyai nama tersendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-hari. Seluruh komplek sebagai suatu kesatuan disebut uma. dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap. dan hal-hal biasa yang tidak keramat diletakkan pada arah kelod. Pada komplek bangunan (bale) yang ditempati keluarga inti maupun keluarga luas. Pura Puseh dan Pura Dalem. dan pada arah kelod diletakkan Pura Dalem (pura yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian). . satu atau beberapa dapur. Biasanya ketiga Pura Kahyangan Tiga tersebut tempatnya dipisahkan satu sama lain. kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. Ada kalanya juga Pura Puseh dan Pura Desa dijadikan satu. Sedang tempat kediaman berada pada arah kelod. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dimanisfetasikan sebagai pemelihara dan Pura Dalem yang merupakan berstananya Dewa Çiwa yang dimanifestasikan sebagai pelebur. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa.

Karena fungsinya sebagai pusat maka bale banjar ini biasanya didirikan di tengah-tengah wilayah tersebut. ada pula warga suatu banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan yang mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Bahkan seringkali harus juga memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah dan dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya. kesenian hingga agama. Bale banjar ini biasanya dilengkapi dengan Pura Banjar dan Bale Kukul sebagai tempat untuk menaruh kukul (kentongan). Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga suatu subak itu tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. Hal ini dimaksud untuk memudahkan krama banjar. Subak Subak di Bali berdiri seolah-olah lepas dari banjar dan mempunyai seorang kepala sendiri. sinoman dan penyarikan. Bale banjar ini juga sebagai bangunan serbaguna untuk menunjang kegiatan umum masyarakat banjar. tetapi di dalam beberapa banjar. Untuk lama masa jabatan tertentu sesuai dengan awig-awig (undang-undang) banjar bersangkutan. Sebaliknya. Dengan demikian warga banjar tadi itu akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. adat dan urusan yang bersifat administratif. Adapun tugas dari kelian ini adalah mengurus segala urusan sosial kemasyarakatan. Selain itu kelian juga mengurus urusan agama. 3. Sudah tentu tidak semua pemilik atau penggarap tadi hidup dalam satu banjar. Masyarakat tersebut dipersilahkan menjadi anggota banjar jika orang tersebut menghendaki. . Banjar Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan oleh kesatuan wilayah. Seperti olahraga. Warga subak adalah para pemilik atau penggarp sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. tetapi juga orang dari wilayah lain yang kebetulan menetap sementara/seterusnya di wilayah banjar tersebut. Kelian banjar sebagai tetua banjar dipilih langsung oleh para krama (warga) banjar dalam suatu sangkep (pertemuan).2. Kesatuan wilayah ini diperkuat oleh kesatuan adat dan budaya. Bale banjar ini merupakan pusat dari banjar tersebut. Banjar dipimpin oleh seorang kelian banjar dan dibantu oleh beberapa orang sebagai wakil kelian. Dalam hal ini tiap-tiap banjar memiliki awig-awig yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing banjar. Anggota banjar tidak mutlak dari orang asli di daerah tersebut. Untuk mengakomodasikan kegiatannya maka dibangunlah sebuah bangunan yang terbuka yang dikenal dengan nama bale banjar. Di bale banjar inilah diadakan pertemuan (sangkep) setiap bulan mengevaluasi kegiatan banjar selama sebulan.

dinding rumah. Seka ini bisa didirikan untuk waktu yang lama. Hanya di dalam hal ini khusus kerja bakti untuk keperluan agama. panen. seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam). Terakhir ada suatu sistem gotong royong yang lebih menyerupai sifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah. misalnya suatu perkumpulan gamelan ‘ditarik’ untuk ikut serta dangan suatu seka lain dalam hal menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. 5. dengan suatu sopan santun yang telah digariskan oleh adat dan dengan pengertian bahwa ia wajib untuk membalas bantuan tenaga yang disumbangkan kepadanya itu dengan bantuan tenaga juga. bahkan untuk waktu yang meliputi angkatanangkatan yang turun temurun. Sistem kerja bakti semacam . seka manyi (perkumpulan menuai). Dalam hal ini suatu seka tertentu. Cara semacam ini di sebut ngedeng (menarik). atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. yaitu organisasi seka. menggali sumur.4. dan sebagainya). antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah. Selain nguopin masih ada cara gotong royong antara seka dengan seka. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian cara gotong royong nguopin masih banyak diterapkan. seka truna (perkumpulan para pemuda). Seka dalam arti ini tentu sifatnya permanen. tetapi ada pula yang bersifat sementara. Nguopin dalam aktivitas sekitar rumah tangga di kota dan di banyak desa sudah mulai hilang dan mulai diganti dengan sistem menyewa tenaga upahan karena sistem menyewa sekarang dianggap lebih praktis dan seringkali lebih murah (karena tidak perlu menyediakan jamuan dan sebagainya). ada beberapa macam cara dan sistem gotong royong. Ada sekaseka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara yang berkenaan dengan desa misalnya seka baris (perkumpulan tari baris). menyiangi. Gotong royong semacam itu disebut nguopin (membantu) dan meliputi berbagai aktivitas di sawah (seperti menanam. dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga. Hanya dalam perayaan dan upacara. dan sebagainya). seperti misalnya ikut membantu membangun pura atau memperbaiki sebuah pura yang sudah ada. yaitu seka-seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. Gotong Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat desa di Bali. Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan-perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. seka daha (perkumpulan gadis-gadis). tetapi ada juga seka-seka yang bersifat sementara. seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. Seka/Sekaha Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus. Di dalam hal itu ada seorang atau suatu keluarga minta bantuan dari tetangganya atau keluarga lain.

ini disebut ngayah atau ngayang. No . SISTEM ADAT DAN RELIGI Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan sebuah sinergi antara unsur-unsur adat dan budaya lokal yang telah dianut masyarakat dari zaman dulu dengan kebudayaan Hindu yang masuk dari India. bisa merupakan suatu aktivitas yang ramai dan penuh kemeriahan. 1 Religi Prasejarah Religi Hindu Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang . Sinergi itu dapat terjadi karena pada dasarnya terdapat kesamaan di antara keduanya. Persamaan-persamaan tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut.

Emabang/ Sang Hyang Tuduh 2 Widhi Wasa Dewa yang bersemayam di Puncak Dewa yang besemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir Gunung Agung disebut Bhatara Giripati atau Mahadewa Gunung. sungai. yakni timur dan yakni utarea dan timur yang disebut utara Uttara dan Purva Adanya persembahan dan bekal adanya persembahan dan bekal kubur kubur berupa upaca yajna 9 10 Sumber: PHDI Pusat Kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali itu diwujudkan dengan melakukan Yadnya yang sumber-sumbernya berasal dari kitab suci dan tata cara pelaksanaannya disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. candi. Membuat tiruan gunung berupa mambuat tiruan kahyangan dan gunung punden berundak. prasada. Perlu diingat bahwa setiap banjar ataupun desa bisa memiliki adat yang berbeda-beda. dan meru tahta batu Tinggalan ditemukan dipanggur situs Gilimanuk tradisi panggur disebut gigi manusia telah mepandes atau metatah upacara 6 7 8 Tinggalan sikap jenazah pada kepercayaan terhadap kelahiran kembali sakofagus dalam menyerupai bayi yang disebut samsara atau punarbhawa dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali Adanya arah orientasi yang adanya orientasi yang dipandang suci. menhir dan berupa pura. Yadnya itu terbagi atas lima bagian yang disebut Panca Yadnya. dan laut Percaya terhadap kekuatan alam kekuatan yang disebut Hyang Dewa suci adalah nama 3 4 5 alam disebut dengan Percaya terhadap roh suci leluhur percaya terhadap roh suci leluhur yang dengan perawatan jenazah dan disebut atma dan atma yang suci roh suci dianggap brsemayam di bersemayam di pincak-puncak gunung puncak gunung. yaitu: . dipandang suci. sungai. dan Laut Tempat yang dipandang merupakan tempat yang suci gunung.

menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. memberikan sesuatu yang baik dan layak. Berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja. Upacara keagamaan di Bali disesuaikan dengan masing-masing Desa Adat (desa kala patra) masing-masing daerah. atman-nya tidak. Ngaben adalah . Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: – – – Berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. Berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci).1. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti. Pitra Yadnya Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. Dewa Yadnya Dewa Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça dan seluruh manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas.  Ngaben Kematian. apah (zat cair). 2. bayu (angin). bagi masyarakat Bali tak bisa lepas dari upacara adat ngaben. Contoh Dewa Yadnya: menyelenggarakan upacara piodalan dimasing-masing Desa Adat yang ada di Bali. Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum perayaan hari raya Nyepi. Kematian bagi orang Bali adalah kembalinya manusia kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta: pertiwi (zat padat). Contoh Pitra Yadnya adalah upacara ngaben. Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atman (roh). teja (zat panas). dan akasa (ruang hampa) sesuai dengan ajaran Hindu Bali.

juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah tidak diketemukan. dilakukan prosesi ngaben di kuburan (setra) desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah. kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dengan mengambil sekepal tanah di lokasi meninggalnya kemudian dibakar. Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selanjutnya adalah prosesi ngajum. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik (dewasa) untuk melaksanakan ngaben. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah. Namun cenderung disetujui pendapat bahwa ngaben berasal dari kata ngapen (ng + api + an = ngapian > ngapen > ngaben). Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Ketika ada yang meninggal.upacara penyucian atman (roh). Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah). ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu). ngajum. Selesai memandikan. . pembakaran dan nyekah. dll. Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal. Pada hari H-nya. jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh. atau seperti saat Peristiwa Bom Bali I dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan. Wadah biasanya berbentuk padma sebagai simbol rumah Tuhan. yaitu tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan. Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon (memandikan jenazah). Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya.

atau ngaben bersama. Cara pelaksanaan ngaben ngamasa ada dua. Umumnya dapat dibagi menjadi dua. lahir sebagai seorang bangsawan.Sesampainya di kuburan. Di sini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari klan brahmana). tanpa mengurangi makna pelaksanaan upacara ngaben. Banjar adat tidak mencampuri waktu pelaksanaannya. Masing-masing desa adat di Bali memiliki awig-awig (undang-undang) tersendiri tentang tata cara melaksanakan upacara ngaben. tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. Sebenarnya ada bermacam-macam cara melaksanakan upacara ngaben di Bali. jumlahnya tidak seberapa. Oleh karena itu. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Terlepas dari ini. baik berupa tenaga maupun materi. Ngaben Ngamasa berarti melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal. Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal. ngaben massal. sesuai dengan keinginannya. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Ngaben Ngamasa Ngaben Niri artinya melaksanakan upacara ngaben sendiri (Niri = diri = sendiri). yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu. jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. tetapi hanya memberi bantuan tenaga dan materi (dikenal dengan sebutan patus banjar). . Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai). yaitu: 1. terbilang relatif berat. sesuai situasi dan kondisi yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. Dalam hal ini berarti bahwa keluarga duka dapat melaksanakan upacara ngaben pada waktu tertentu. Ngaben Niri 2. jenazahnya harus dikubur. ngaben niri juga dilaksanakan oleh keluarga keturunan bangsawan. Bahkan ada kalanya sama sekali tidak mendapatkan bantuan banjar. dibandingkan dengan jumlah tenaga dan materi yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan rangkaian upacara ngaben. Istilah lain ngaben ngamasa adalah ngaben ngerit. Upacara ngaben ngamasa dilaksanakan dengan maksud menghemat biaya dan waktu. karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Patus banjar. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi. sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali.

warga banjar yang diharapkan memberi bantuan menjadi bingung dan kacau. barulah dibuat oleh masing-masing anggota. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. ngaben ngemasa dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri. 4.Pertama. maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga. Biaya yang disiapkan oleh warga yang akan melaksanakan upacara ngaben relatif lebih kecil. Tidak menganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta. Pelaksanaan upacara ngaben seperti ini dikenal dengan sebutan ngaben bersama. pisang. Kelemahannya. karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua. bambu. Keuntungannya. maka masing-masing warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar 750. Biaya bagi warga masyarakat yang lainnya (patus) juga kecil. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25. Cuma waktunya bersamaan. dan jumlah warga yang ngaben 30 orang. 2. karena kewajiban mengeluarkan (patus) juga dirancang hanya satu untuk semua. upacara ngaben dilaksanakan pada waktu. Jumlah ini tidak dapat dianggap enteng. Kedua. Konsekuensinya. sehingga segala aktivitas yang terkait dengan upacara tersebut dapat dijadwalkan. Masingmasing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. ngaben ngamasa dengan cara ‘satu untuk semua’ ini dikenal dengan istilah ngaben kinembulan. Mereka dituntut harus pintar membagi waktu agar dapat memberi bantuan kepada sebanyak mungkin warga yang kebetulan melaksanakan upacara ngaben. Untuk memudahkan. 5. antara lain: 1. karena segala bantuan tenaga diatur oleh panitia banjar dengan pola satu untuk semua. Di Desa Pakraman Celuk. ada hubungan dengan bantuan materi (patus) kepada warga yang melaksanakan upacara ngaben. Kesulitan lainnya. cara dan oleh panitia yang sama. jauh hari sebelum puncak acara. Dengan ngaben .000.000. termasuk memohon cuti. dan lainnya) yang lumayan banyak. Sebabnya. kalau jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben sedikit dan anggota anggota banjar lumayan banyak. Sukawati. Sebaliknya kalau warga yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit. karena lebih mudah mengatur waktu. Ada yang berpendapat bahwa ngaben kinembulan ini akan menjadi pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara ngaben masa depan. Upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa. tempat. 3. biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben. maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. Artinya. pelaksanaan upacara ngaben dengan mudah dapat diketahui. ngaben ngamasa dilaksanakan dengan cara ‘satu untuk semua’. Dapat menghemat waktu dan tenaga. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan.

Upacara otonan . antara lain: Pertama. 1. Ngaben kinembulan mengandung beberapa kelemahan. dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan. sebelum mereka harus turut ‘berkorban’ demi kepentingan upacara ngaben. sebagai sesuatu yang lebih rendah maknanya dibandingkan dengan ngaben niri. Upacara nglepas hawon 5. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah desa kala patra (tempat-waktu-keadaan) sangat penting. lebih memungkinkan bagi tumbuhtumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat. tidak rela bergerak seiring dan sejalan. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan. sehingga satu golongan merasa sebagai golongan bangsawan yang berkedudukan tinggi dan harus dihormati dan golongan lainnya dianggap sebagai rakyat biasa (panjak). Upacara nelu bulanin 7. sulit dilaksanakan di desa adat yang termasuk desa pakraman nyatur (terdiri dari empat kasta). Magedong-gedongan 2. Manusa Yadnya Manusa Yadnya adalah suatu persembahan suci yang tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia. Oleh karena itu maka kasta tertentu yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari kasta yang lainnya. kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi atas dasar semangat ‘satu untuk semua’ pada waktu melaksanakan upacara ngaben. berkedudukan rendah dan harus menghormati golongan bangsawan.ngamasa atau kinembulan. dengan cara menjual harta warisan yang berupa tanah. Kedua. Mereka yang masih yakin akan hal ini menganggap melaksanakan upacara ngaben dengan cara kinembulan atau ‘satu untuk semua’. Upacara kepus puser 4. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis. masih ada anggapan bahwa melaksanakan upacara ngaben merupakan satu-satunya cara untuk melaksanakan Pitra Yadnya dalam arti ‘membayar hutang’ kepada leluhur. Anggapan ini menyebabkan banyak orang yang rela melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran. Upacara kambuhan 6. sehingga perlu diupacarai atau diselamati. Upacara kelahiran 3. Jenis-jenis Manusa Yadnya berdasarkan urutan pelaksanaannya: 1.

canang genten. 4. tangan kanannya memegang bambu runcing. di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu. Tangan kiri suami memegang benang. tidak harus persis karena dapat disesuaikan dengan hari baik (dewasa). Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan. Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan.Upacara rajaswala 11. dan dilanjutkan di depan sanggah (semacam pura kecil yang ada pada setiap rumah). Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia. selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup. kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian. pekarangan. 6. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab. dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita.Upacara pawiwahan  Magedong-gedongan Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari. selanjutnya ditutup kernbali. Sang istri menjunjung tempat rempah-rempah. 5. demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Setelah ari-ari dibersihkan. Upacara makupak 10.Upacara mepandes 12.8. Upacara ngempugin 9. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. halaman rumah. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan. Tujuannya agar atman/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan. 2. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Dalam hal tidak ada keluarga tertua.  Upacara Kelahiran Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama. Apabila mempergunakan kelapa. 3. tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup. Upacara magedonggedongan dilaksanakan di dalam rumah. Upacara kelahiran dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dan dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan. canang sari. sang ayah dapat melaksanakan upacara ini. sampiyan dan penyeneng. pada bagian tutup kendil atau . 2. lstri yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda. Sang suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing sang istri sampai air dan ikannya tumpah.

 Upacara Nglepas Hawon Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut upacara ngelepas hawon. di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna. Si bayi beserta kedua orangtuanya natab di sanggah kamulan. dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah. 2. Untuk upacara yang lebih besar si bayi terlebih dahulu di-lukat di dapur.belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA. Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si bayi. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita. tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki. Proses selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah. Sang Anggapati.  Upacara Nelu Bulanin . dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara. pala. Si bayi biasanya baru diberi nama demikian pula sang catur sanak (saudara keempat yang dipercaya ikut menemani kelahiran si bayi) setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga. umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. 3. di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala). Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya. 4. di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma. 3. Wisnu dan Siwa. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk. di permandian.  Upacara Kambuhan Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. 3. dan terakhir di sanggah kamulan. Banaspati dan Mrajapati. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi. tempat menaruh sesajian. Upacaranya dilakukan di dapur. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. lada dan lain-lain.  Upacara Kepus Puser Upacara ini dilakukan pada saat puser bayi lepas. 2.

semacam memperingati hari ulang tahun. misalnya keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh. 4. Bila keadaan tidak memungkinkan. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Ini dilakukan pada otonan pertama kali. sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.  Upacara Otonan Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. 4. dilakukan oleh orangtuanya. 3. yang berarti memohon keselamatan. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: . memerciki tirta (air suci) pada sajen dan pada si bayi. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang. Biasanya digabungkan dengan upacara otonan (210 hari kelahiran bayi). Pendeta melakukan pemujaan. Pendeta sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya. Pendeta memohon tirta panglukatan. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban.Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. Semakin dewasa. upacara bisa ditunda. terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirta. Si bayi diberikan tirta pengening (tirta amertha) kemudian ngayab jejanganan. atau tiga bulan dalam hitungan pawukon (1 bulan = 35 hari). untuk otonan selanjutnya tidak dilakukan. Doa dan persembahyangan untuk si bayi. semakin sederhana pula sarana upacaranya.  Upacara Ngempugin Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu. Pemujaan terhadap Siwa Raditya dan penghormatan terhadap leluhur. Selanjutnya dilaksanakan setiap 210 hari. 3. 2. 2. 6. kalung dan lain-lain. 5.

pusar.1. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.  Upacara Rajaswala Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Waça dengan 3. Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi mempersembahkan segala sesajen yang tersedia. taring. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian. Upacara ini dapat pula disatukan dengan otonan berikutnya. namun sebaiknya sebelum anak itu kawin.  Upacara Pawiwahan . Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama. 4. gigi atas. Upacara dilanjutkan oieh sangging (yang bertugas memotong gigi) dengan menyucikan peralatannya. 6. dada. Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa. 2. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. gigi bawah. 2. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Sang Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak.  Upacara Mepandes Upacara mepandes atau potong gigi ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) yang ada pada diri si anak. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu.  Upacara Mekupak Upacara ini dilakukan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. lidah. bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip. Si bayi natab mohon keselamatan. Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah daha) ini. 3. 5. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kemudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya. paha barulah diperciki tirta pesangihan.

berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian. peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. dengan mempertimbangkan duniawi. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi. yang mampu melihat secara jelas. nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi. derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. Jadi bagi umat Hindu. melalui proses upacara agama yang disebut mekala-kalaan (natab banten). kecantikan. Setelah jaman Dharma Sastra. karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. Peralatan upacara mekala-kalaan: . Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. kegantengan dan lain-lain.Yang dimaksud upacara pawiwahan adalah upacara pernikahan. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad). Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya. perkawinan ditentukan oleh seorang Resi. seperti kecantikan fisik. oleh sebab itu pada jaman Weda. Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam sebel kandel. melebihi penglihatan rohani. biasanya di-puput oleh seorang pinandita. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. Makala-kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi. seperti menjaga martabat keluarga. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista. namun oleh raja atau orang tua mempelai. Menurut UU Perkawinan no 1 th 1974. Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral. sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai. sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. pertimbangan kekayaan. Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (daiwi sampad). pasangan yang akan dikawinkan. Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari.

Sanggah Surya Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita. serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin. terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu. Benang Putih Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter. Keris Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris. . dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) Simbol calon pengantin. Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual. Perangkat tegen-tegenan: – Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Ida Sang Hyang Widhi Waça. dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama. Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Waça dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya. tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni). Tegen-tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil-alihan tanggung jawab sekala dan niskala. kebijaksanaan simbol pengantin pria. secara manis. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. sebagai dewa kebajikan. Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Ida Sang Hyang Widhi Waça dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih. yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan. ketampanan.

tamas). Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain. Sambuk Kupakan (serabut kelapa) Serabut kelapa dibelah tiga. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa . Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga. Siwa) mengisyaratkan kesucian. yang berisi talas.– – – – Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Tetimpug Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma. kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Selalu ingat dengan penyucian diri. berkarma berdasarkan dharma. Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam. Periuk simbol windhu. Telor bebek merupakan simbol manik. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi). di dalamnya diisi sebutir telor bebek. Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma. agar kekuatan triguna dapat terkendali. Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita. berdasarkan ucapan baik. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. rajas. kunir. Wisnu. Sapu Lidi (3 tangkai) Simbol Tri Kaya Parisudha. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah. isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna. prilaku yang baik dan pikiran yang baik. Cangkul sebagai alat bekerja. Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan. setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. Dagang-dagangan Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.

dan mengamalkan ajaranajaran para 5. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. 2. Pawintenan dengan ayaban bebangkit untuk yang medium. Pinandita. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur. dan mengembangkan ajaran agama. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). orang-orang suci. Resi. Menghaturkan/memberikan punia pada saat. tukang banten. 3. sangging. Membangun tempat. menghayati.  Mawinten Mawinten asal katanya dalam Bahasa Kawi. Pada dasarnya semua orang terutama yang akan mengakhiri masa Grahasta (pensiun) perlu mawinten dengan tujuan mensucikan diri menjelang pulang ke sunia-loka. pawintenan tingkat ini untuk para brahmacari misalnya yang belajar agama. membina. undagi. Mentaati. Pawintenan dengan ayaban bebangkit adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana sebagai putra Siwa yang berfungsi sebagai . dll. dalang. Resi Yadnya Resi Yadnya adalah suatu upacara yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. Pada akhirnya manusia Hindu setelah meninggal dunia dan di-aben. Pawintenan dengan ayaban saraswati adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan. Pawintenan dengan ayaban catur yang paling utama. pegawai kantor agama. Sulinggih. 1. Jadi orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang kemilau karena lahir bathinnya sudah disucikan. yang senang gegitaan. Mereka yang wajib mawinten karena profesinya antara lain: pemangku. dan 3. mawa artinya bersinar-sinar dan inten artinya intan (permata).lahir anak yang suputra. Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça. Pawintenan dengan ayaban saraswati termasuk yang paling sederhana. Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. Tingkat pawintenan ada tiga menurut besar/kecilnya upacara pawintenan yaitu: 1. diwinten dengan upacara Askara. dll. 2.saat tertentu kepada Sulinggih. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: 1.tempat pemujaan untuk Sulinggih. 4.

Makin tinggi tingkat pawintenan-nya makin ketat pelaksanaan brata. karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ariari. tumbuh. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. Brahma. yoga. Mereka yang sudah mawinten wajib menggelar brata. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan.pelindung manusia. Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta. Dalam persembahan tersebut. Contoh lain dari Bhuta Yadnya adalah segehan. Selain itu. pawintenan tingkat ini untuk para pemangku. Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan Ida Sanghyang Widhi Waça. pawintenan tingkat ini untuk para undagi.tumbuhan. maka jenis segehan itu pun ada . Karena tempat masegeh ada tiga. dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. dll. tapa. yoga. sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan. samadi-nya. dalang. tukang banten. tapa. dll. Selain berwujud tumpeng. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça. Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra. samadi. nasi menjadi satu komponen penting. Samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia. Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. Mahadewa. Getih. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucarabucari supaya tidak mengganggu. Pawintenan dengan ayaban catur adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara. baik secara sekala maupun niskala. dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. rumah serta lebuh. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali. hewan (binatang). Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). Lamas. nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi.  Segehan Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu di natar Merajan. Bhuta Yadnya Bhuta Yadnya adalah suatu korban suci kepada sarwa bhuta yaitu makhlukmakhluk rendahan. Yeh Nyom. 1. Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. sangging. pinandita.

seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga). leher. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. tetapi simbol keletehan dan adharma. bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan.tiga. Tapi. Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung. sejak hari Minggu (tiga hari sebelum Galungan) umat Hindu didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Disebutkan dalam pustaka-pustaka Hindu bahwa dalam rangkaian peringatan Galungan. Namun tidak berarti bahwa dunia ini lahir pada hari Budha Kliwon Dungulan. adalah Hari Raya Kuningan. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga. kelapa. Ini adalah hari raya khusus. Dengan mempelajari pustaka-pustaka. termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. jagung. tangan. Galungan itu berarti peperangan. dimana para leluhur yang setelah . Terakhir diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing. Menurut arti bahasa. lengkap dengan kepala. Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia. Berjuang. di antaranya Panji Amalat Rasmi (Zaman Jenggala) pada abad ke11 di Jawa Timur. jajanan dan lain-lain. Hari Raya Terkenal di Bali  Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan. Tuhan sebagai pencipta dipuji dan dipuja. ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja. juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Dalam pararaton zaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke-16. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. badan. Kemudian pada hari Saniscara (Sabtu) Keliwon Wuku Kuningan. Galungan itu sudah dirayakan. Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. dan kaki. Jadi dalam hal ini umat Hindu berperang. kemudian disusul oleh Hari Raya Kuningan setelah sepuluh hari. dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Mereka adalah simbol angkara.

pada malam Siwaratri. Pengrupukan. Pada hari itu dibuat nasi kuning. Konon. Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar.beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing. Sedangkan di pedesaan biasanya ada beberapa Barong ngelawang diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan. datanglah satu batalyon tentara surga yang dikirim oleh Bhatara Siwa. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa. Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. melakukan intervensi pada keputusan Bhatara Yama. dan Melasti . Bhatara Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa. untuk menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta). Agar tidak dimakan binatang buas. membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu. si Lubdaka naik ke pohon. dan membawa Lubdaka ke sorga. dalam usaha menimbulkan kesadaran diri. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta (air kehidupan). Saat yang bersamaan. saat Bhatara Yama melakukan pengadilan. si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Bhatara Siwa. Siwaratri juga disebut hari suci pajagran. upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara). dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan. Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa tepat di saat beliau beryoga. Agar tetap terjaga. sebagai pengusir kantuk.  Nyepi Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Çaka. Berikut perinciannya: Tawur (Pecaruan). lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih umat Hindu menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa bahan-bahan sandang dan pangan. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri. Di Bali. pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.  Siwaratri Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waça dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Bhatara Siwa sudah terlanjur ’sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga. Padahal. Bhatara Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Bhatara Siwa melakukan yoga. karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sementara. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak tidur). Maka ketika Lubdaka meninggal.

Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak diwujudkan dengan matekep guwungan (ditutup sangkar ayam). pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan. karena laut dianggap sebagai sumber amerta. yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut. segala hal yang bersifat peralihan. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah 9 paket beserta lauk pauknya. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah. Khusus di Bali. menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu. Wanita yang beralih dari masa kanakkanak ke dewasa. Upacara ini dilakukan di laut. Menurut umat Hindu. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian dan terdiri dari: – – – – Amati Geni (tidak menggunakan dan/atau menghidupkan api) Amati Karya (tidak bekerja) Amati Lelungan (tidak bepergian/keluar rumah) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Demikianlah untuk masa baru. Untuk memulai hidup dalam tahun baru pun. Pañca Sanak (sedang). Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. yaitu pada Tilem Kesanga. dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Ngembak Geni . tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan. yaitu menyebar-nyebar nasi tawur. Selambat-lambatnya pada tilem sore. serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja. pekarangan. umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing. ditempuh secara baru lahir. mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan.Sehari sebelum Nyepi. dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu manusia. Bhuta Kala dan Bhatara Kala. dan kemudian dibakar. dan Tawur Agung (besar). Tahap terakhir adalah melasti. sehingga ada masa amati geni. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil). melasti harus selesai. selalu didahului dengan perlambang gelap. dan lingkungan sekitar. serta menyucikan pratima. Nyepi Keesokan harinya. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Bhuta Kala. seperti ayam berbulu brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. dasar ini dipergunakan.

Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondongbondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Khusus untuk daerah Denpasar. saling maaf memaafkan satu sama lain. banyak yang begadang di pantai. yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontarlontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. Pada hari raya Saraswati. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata. membaca pustaka-pustaka. Mereka begadang sampai pagi. manusia menjadi beradab dan berkebudayaan. kesusilaan dan sebagainya. Dewi Saraswati merupakan sakti (istri) dari Dewa Brahma. mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. di pura. Berkat anugerah Dewi Saraswati. pura atau merajan. atau melakukan Dharma Gita atau kekawin di tempat-tempat suci. lontar-lontar. di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa . bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke pura. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi.  Saraswati Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu pengetahuan). Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa). Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan yaitu burung besar serupa angsa.Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Çaka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal ping pisan (satu) sasih kedasa (kesepuluh). persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat. Pada hari inilah Tahun Baru Çaka tersebut dimulai. tetapi dapat terbang tinggi. semua pustaka-pustaka. kesadaran (widya). Di Bali. Untuk generasi muda. dibersihkan. dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat. dan sastra. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan. buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaranajaran agama. Tangan yang lain memegang Wina (alat musik sejenis rebab) dan sekuntum bunga teratai. bersama teman-temannya. Umat Hindu seling mengunjungi keluarga besar dan tetangga. Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan Mesambang Semadhi.

apresiasi terhadap kesenian sangat tinggi 5. Keesokan harinya. sangat menghormati pemimpin 6. Percaya kepada hal-hal mistik 2.yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran. Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari. yakni di pagi buta membasuh muka dengan air kumkuman (air kembang). masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai.menyukai keindahan 11. KARAKTERISTIK ORANG BALI SECARA UMUM 1. cenderung santai 8. Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur. hormat kepada leluhur dan orang yang lebih tua 9. dilaksanakan Banyu Pinaruh. senang berjudi atau taruhan 7.menjunjung tinggi adat yang telah ditetapkan dan disepakati (demokrasi) PRODUK BUDAYA . ramah dan sopan 10. menganggap semua orang adalah keluarga yang distilahkan dengan Nyama 4. overtoleran 3.

Sekar Madya Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan. baik upacara adat maupun agama. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. Sekar alit Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat). yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat. 2. 3. Yang ada di dalamnya adalah pembagian-pembagian seperti : Pangawit Pembuka Pamawak bagian yang pendek Panama bagian yang panjang Pangawak bagian utama dari tembang 4. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. Kakawin adalah puisi Bali . Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok: 1. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empatempat suku kata (ketukan). Seni Tembang Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. yang biasa disebut tembang macapat. kelompok Sekar Alit. gaguritan atau pupuh. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian. Gegendingan Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. baik upacara adat maupun agama.SENI SUARA a. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Dikatakan bebas karena benarbenar tidak ada ikatannya. dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. Sekar Agung Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. Isinya pada umumnya pendek. umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. dan sederhana.

yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan 2. Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:  Aswalalita  Wasantatilaka  Tanukerti  Sardulawikradita  Watapatia Wangeasta  Wirat  Çekarini  Girisa  Prtiwitala  Puspitagra  b.klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia. SENI DRAMA DAN TARI Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. Tidak hanya menghibur hati. tentang baik dan buruk. sehingga mempunyai kekhasan tersendiri. Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab. Jenis dan macam-macam drama dan tari antara lain : 1. Abuang Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin. Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian sebagai berikut: Pengawit (penyemak) Panampi ( pangisep) Pangumbang Pamalet Kakawin pembukaan dilakukan dengan diselingi terjemahannya. Arja . tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari. Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol. sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi. tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih.

Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif. Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana. Made Umbara. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena. Sampik Ingtai. . Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya. Galuh. pemainnya semua pria. pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura. Mantri Manis.Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Linggar Petak. • Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang). Arja adalah semacam opera khas Bali. Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat). Pakang Raras. Panasar. merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Cipta Kelangen. Liku. Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat. Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. I Godogan. Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing masing terdiri dari Punta dan Kartala. Limbur. Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an. menghadirkan komedi segar. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari. dimainkan oleh satu orang). sebagian memerankan wanita. Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani. Desak (Desak Rai). • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah: • munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.

1. macan. Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. . Dari wujudnya. Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern. 4. Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa. Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Arja. Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit. Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang. ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan). Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Barong dan Rangda Barong dipercaya sebagai pelindung desa masyarakat Bali. sapi atau boma.

lugas dan dinamis. begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Tari Baris Sebagai tarian upacara. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain : 1. perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda.jenis tari Baris yang ada. kelompok penarinya membawa senjata.Para pemain mengenakan busana tradisional Bali. Baris Tamiang 2. Baris Kupu-Kupu . Baris Presi 6. Walaupun demikian. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun 2. Baris Pendet 7. Baris Bajra 8. Baris Dadap 5. Baris Katekok Jago 3. dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. yang kemudian menjadi nama dari jenis. Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Setiap jenis. umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh. Baris Tumbak 4. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja.

Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Kecak Bila mendengar nama Bali.9. apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. Selain Tari Kecak. Baris Kelemet 6. Baris Kuning 24. seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Baris Ketujeng 20. Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana. Baris Omang 22. Pada tari Sang Hyang. Sita dan Hanoman. juga ada Tari Barong dan Legong. Baris Tengklong 10. yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama. Baris Gowak 21. Baris Gayung 16. Baris Cendekan 13. Baris Cina 12. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Baris Bedil 11. Baris Cerekuak 18. Baris Demang 17. Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Baris Jojor 23. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut. Baris Jangkang 15. Ya! Tari Kecak. Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya . Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Baris Mamedi 19. Baris Panah 14. tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik.

Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. Ia bertingkah dengan sangat liar. untuk tempat duduk. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. Dan beberapa kali ia menendangnya. pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. sambil melemparkan pandangan ke arah penonton. maka ia pun akan menari di atasnya. dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. Nantinya. kita akan melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah. acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat. Padang Tegal Kelod. di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat. Bali. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai. selain tiket. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. Yakni setiap Selasa. hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan. Kenapa harus perawan.00 Wita. yaitu agar aman dari bara api yang . Suara mereka sangat merdu. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. Mereka adalah rombongan penari kecak. tidak terdengar sumbang sedikit pun. kita akan melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. Kamis dan Jumat pada pukul 19. Ini salah satu alasan memilih bangku belakang. tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton. Ubud. Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. Untuk menikmati tarian sendiri. lalu membakarnya. pengunjung dibebaskan memilih. Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api. Namun. yang kebanyakan turis dari luar negeri. Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrakjingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . Sesaat sebelum kita memasuki pelataran pura. Sekitar lima menit kemudian. acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. karena keperawanannya berarti kesucian. yang terbagi menjadi lima babak. Apabila sempat menikmati tarian ini secara langsung.di Jl Hanoman.

Dari segi tempat pementasan. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang. Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak. rasanya kurang lengkap. ilmu hitam maupun ilmu putih. Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur. 7. Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. Rangda dan Celuluk. Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (muridmurid). Bebarongan. Putri. yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket.melayang akibat tendangan si penari. Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong. pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi . Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan. maupun Gong Kebyar. sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX.Calonarang Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir. Anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini. sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali. menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin).

Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. terutama bagi muda mudi. yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi.9. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria. • Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang- . Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX. Jenis tari Jauk ini antara lain • Jauk Keras (Jauk Enggang). Jauk Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana.Janger Merupakan jenis tarian pergaulan. Sunda Upasunda dan lain sebagainya. Penarinya adalah pria. 9. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible. masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. 8. ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. • Jauk Manis (Jauk longgor). sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita. Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha.(trajangan atau tingga) dan pohon papaya. mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis.

Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung. Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali. binatang. 10. Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi. kertas.• • kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak). para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari). Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. manusia. Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar). . kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. setan dan lainlainnya. Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.Topeng Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu. topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung).

Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada. Di Bali.Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua). 11. Panasar (Kelihan . Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). petik dan sebagainya. Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. Seni karawitan Seni Karawitan adalah seni mengolah bunyi benda atau alat bunyibunyian (instrumen) tradisional.yang lebih tua. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres. yakni topeng Sidakarya. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. sesuai rasa estetik individu penatanya. Cak Rina Setan Bercanda Ngelawang Cak Subali . kaprahnya. Di dalam tarian baru ini elemenelemen seni klasik/ tradisional Bali dipergunakan secara bebas dan kreatif.Sugriwa Barong-Barongan c. Dalam gamelan ada alat musik tabuh. gesek. muncul sejak makin maraknya pertumbuhan tari-tarian Bali kreasi baru di awal tahun 1970. tiup. dan Cenikan yang lebih kecil). Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. alat bunyi-bunyian tradisional disebut gamelan atau gambelan. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan.Tari Kontemporer Salah satu tarian kreasi baru yang mempunyai ungkapan artistik yang bebas. . Kreativitas seperti ini melahirkan garapan tari baru yang inovatif yang menawarkan gagasan atau nafas-nafas baru yang dapat dikelompokkan sebagai tari Bali modern.

yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX. Beberapa gamelan golongan tua antara lain :  Angklung  Balaganjur  Bebonangan  Caruk  Gambang  Gender Wayang  Genggong  Gong Beri  Gong Luwang  Selonding Barungan madya. Kalaupun ada kendang. Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:  Gamelan Wayah  Gamelan Madya  Gamelan Anyar Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV.Menurut jamannya. Dalam barungan ini. Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang. merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumeninstrumen bermoncol (berpencon). Beberapa barungan madya antara lain :  Batel Barong . dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. kendang sudah mulai memainkan peranan penting.

Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang. maupun sebagai hiburan semata. yang meliputi jenisjenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX. masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu. Di desa-desa maupun di kota. yaitu: Wayang Lemah ( Wayan Gedog) Wayang Peteng Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih . upacara adat Bali. Beberapa gamelan anyar antara lain :  Adi Merdangga  Bumbung Gebyog  Gamelan Bumbang  Gamelan Geguntangan  Gamelan Genta Pinara Pitu  Gamelan Gong Kebyar  Gamelan Janger  Gamelan Joged Bumbung  Gamelan Manikasanti  Gamelan Semaradana  Gong Suling  Jegog  Kendang Mabarung  Okokan / Grumbungan  Tektekan Instrumen-instrumen gamelan tersebut adalah: 12. seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya. Wayang  Wayang Kulit Wayang Kulit. Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis. adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat.      Bebarongan Gamelan Joged Pingitan Gamelan Penggambuhan Gong Gede Pelegongan Semar Pagulingan Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru.

Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini. spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa. gerak dan suara. Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur. pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M). 1975). Di lingkungan budaya Bali. kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral. Betapa tidak. dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. Sebagai sajian tugas akhir. dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana. Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa. yadnya. baik untuk menyelesaikan program . Belakangan ini dalang muda berbakat. Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalangdalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria. Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari. Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak). sastra. Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka. Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat. dari India ataupun dari negara lain. pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang. ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali. wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali.diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia. pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa. pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing. Di Bali. etika dan lain-lain.

Nama ini diberikan berdasarkan kenyataan bahwa dalam pertunjukannya terdapat perpaduan dua unsur penting yaitu : pemain wayang kulit Bali dengan permainan atau proyeksi cahaya lampu listrik. pemakaian overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang.  Wayang Orang Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong). Misalnya: • • • • • • Penggunaan layar lebar berganda. Pertunjukan pertama wayang listrik ini dilakukan di San Fransisco dan pada tahun 1996 yang lalu juga dipentaskan di Bali dalam rangka Festival Wayang Walter Spies. spotlights. Dalam hal iringan. I Nyoman Catra. Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali. gamelan Selonding dan Selukat juga telah dicoba untuk mengiringi pertunjukan wayang Bali. . Pada beberapa bagian pertunjukan. yang didukung oleh Gamelan Sekar Jaya di bawah asuhan komposer muda. Masih merupakan bagian dari perkembangan wayang kulit Bali adalah wayang Listrik yang merupakan hasil kerja patungan antara seniman (I Made Sidja. penggunaan tata-lampu modern. dan lain sebagainya. para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait . Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan. semua penari berdialog. I Dewa Bratha. dan sebagainya.bait penting dari Kakawin. pemakaian pemain wayang dalam jumlah yang banyak dengan satu orang dalang sebagai narator. para mahasiswa juga telah melakukan berbagai percobaan. pemakaian wayang golek besar.Seniman (setingkat Sarjana) pada jurusan Seni Pedalangan di STSI Denpasar. Amerika Serikat. semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. seperti lampu strobo. Desak Suarthi Laksmi) dengan seniman dalang Larry Reed dari San Francisco.

13. kecuali para punakawan. Parwa terdapat di desa-desa: • • Sukawati. dan Wayang Wong Parwa. Bualu (Badung). ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana. Telepud. Apuan. BAHASA DAN AKSARA ➢ Bahasa Bali Dr. Sulahan (Bangli). Tunjuk. Hampir semua penari mengenakan topeng. Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. Pujung (Gianyar) Blahkiuh (Badung). yaitu Wayang Wong Ramayana. Tatkala masuk pengaruh Majapahit.Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong. Wates Tengah (Karangasem). seperti Malen. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan. Prancak. Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja. Marga. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan . terutama di naskah-naskah lontar. Terdapat di desa-desa: • • • • • • Mas. Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna. Den Tiyis (Gianyar). Karena itulah. Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng. Merdah. Delem. Pertama. Batuagung (Jembrana) Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa). Teges. Sanggut. Klating (Tabanan). Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro.

dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. Selain itu. dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara. ra. ca. bisah (h). Bahasa Bali kuno itu. ung. walaupun tidak sebanyak seperti dalam bahasa Jawa. bulatan. u. kasar.nama bahasa Bali Mula. Artinya. o. Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. misalnya: a. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. Dewa Brahma dengan lambang api.utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai saat berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi telah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh modernisasi dan demokrasi. e. Contoh pangangge tengenan: cecek (ng). huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan. Jika kita perhatikan tulisan aksara mang. pada masa berikutnya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit. Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan. i. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit). satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari . bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga. Peninggalanpeninggalan prasasti dari jaman Hindu-Bali menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti. dan aad. mang) dan modre atau aksara lukisan magis. bahasa Bali tidak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. na.) dan nadha (bintang. misalnya: ong. selain mengandung banyak kata-kata Sansekerta. ang. terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali). segi tiga). bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini. kedua. asah. surang (r). ➢ Aksara Bali Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -. Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. windu (matahari. Bahasa Bali juga mengenal apa yang disebut ”perbendaharaan kata-kata hormat”. yaitu pada masa pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -. misalnya: a. dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara. Misalnya kata gamang.aksara yang dipergunakan sehari-hari. Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa. ka. Dilihat dari perbendaharaan kata dan strukturnya.

Kalender Bali bisa dianggap istimewa sebab kalender Saka Bali adalah penanggalan "konvensi". sampai 30 pada bulan mati. sampai 15 yaitu purnama. Derajat ketelitiannya cukup bagus. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Hari ini dinamakan pangunalatri. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. namun tidak pula seperti kalender Jawa. 14. Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. Setelah purnama. Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Untuk menyelaraskan itu. Panjang bulan Dalam 1 bulan candra atau sasih. sering dipakai titi. disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa. KALENDER BALI Kalender Saka Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India. Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru. tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya. Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Idealnya awal tahun . Dalam perhitungan matematis. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal.huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Dikatakan konvensi atau kompromistis. karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya. setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra tambahan yang merupakan bulan kabisat. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Tidak mutlak astronomis seperti kalender Hijriyah. 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong. untuk membedakan warna. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal. menggunakan warna merah pada kalender cetakan.

diundur 1 hari. yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). Tahun Baru Tahun baru bagi Kalender Saka Bali. Sejak hari raya Nyepi. angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini. 15. Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa). Dengan demikian sasihsasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. nangka muda. Sebetulnya be guling dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam. Pada tahun 1993. Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2. pepaya muda dengan bumbu lengkap Bali. MAKANAN KHAS BALI Lawar Lawar merupakan makanan khas Bali yang dibuat dari campuran daging. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi. tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa). Idealnya pada penanggal 1.surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu). Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi dan disantap sehabis melaksanakan upacara adat dengan cara prasmanan. Babi guling adalah sejenis lauk pauk yang di buat dari anak babi betina atau jantan secara utuh . sehingga tahun baru Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April. Babi Guling Nama babi guling untuk daerah bali lebih dikenal dengan be guling. dan angka tahun dari sasih terakhir. diperingati sebagai hari raya Nyepi.

dibuang bagian luarnya. Kemudian irisan gedebog dimasukkan ke dalam kaldu. Jukut Ares Jukut Ares. dalm bahasa Indonesia Sayur Ares. laos. namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung. Kemudian irisan ini harus diremas dengan garam agar getahnya hilang.kecuali isi perutnya dikeluarkan seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon. sampai ketemu bagian muda. Babi guling yang paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar. jahe. Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan. kemudian masak hingga matang. cabe. dan merica 'kalo suka". Kemudian dibuat rebusan kaldu ayam ato babi. Kemudian ditambah bumbu "basa genep" atau bumbu lengkap yang terdiri dari: bawang merah. Entil Pupuan . Makanan ini dari batang pohon pisang yang muda. Batang pohon pisang dikuliti. Bahan yang dipakai batang pohon pisang batu atau batang pohon pisang yang lain. terasi.Bali . Tambahkan daun salam agar wangi dan garam supaya tidak hambar. kunyit. Cara memasaknya mudah. kemudian dicuci untuk menghilangkan rasa asin garam. bawang putih. terus diiris-iris. dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai denga warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah. rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali. kencur. orang Bali menyebutnya "gedebong".

Aling-Aling 9. Arsitektur Tradisional Bangunan Hunian 1. Pamesu/Kori . mirip lontong sayur.Entil biasanya dimakan dingin. tempat 6. sayur urap. Pura Keluarga (Merajan) tempat memuja leluhur dan Hyang Guru 2. Tempat Tidur (Meten) 3. 16. Satu porsi terdiri dari entil 2 bungkus. tidak manis seperti serundeng umumnya ) kemudian disiram dengan "be jeruk" yang sedikit berkuah. Bale Dangin. tempat menyimpan gabah/padi 7. serundeng ( parutan kelapanya besar-besar dan kering. Paon (dapur) 8. dan berkuah warnanya kuning. Jineng/lumbung. "be jeruk" merupakan sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir-suir dicampur sama kelapa parut. Bale Dauh sebagai tempat beraktivitas 4.

di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri sendiri. tempat ibadah) berada dalam satu atap.melaksanakan aktivitas ritual seperti menaruh dan membuat sesajen 5. Sekenem.Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. 17. Pura Kahyangan Jagat Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum. Pura Rambut Siwi. Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah. Pura Luhur Batukaru. -pore). Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga. -puri. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. atau kota dengan menara atau istana. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan alingaling. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Pura Sakenan. -pura. yang artinya adalah kota. lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. sedang daerah publik dan bangunan pendukung (paon. PURA Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur. dan Pura Luhur Uluwatu. yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi). sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa . tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Di sini pula tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu. ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali. tempat menerima tamu Hunian pada masyarakat Bali. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci. Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah. sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti. digunakan sebagai tempat pemujaan. Secara umum pura diklasifikasikan menjadi : 1. adalah bangunan paling awal dibangun. atau anak gadis. sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). merupakan arah masuk ke hunian. pamerajan (sebagai pura keluarga). . Pamerajan atau sanggah. kota berbenteng. Pura Lempuyang. istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah. -puram.

Pedharman dan sejenisnya.2. Paibon. 3. Sanggah-Pemerajan. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti. Pura Ulunsuwi. untuk para pedagang adalah Pura Melanting. Panti. para petani dengan Pura Subak. Penataran Dadia. 4. Pura Bedugul. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada. Pratiwi. perkantoran pemerintah maupun swasta. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa. Pura Kawitan Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut. . Pura Kahyangan Desa Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma. Pura Swagina Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. Dadia atau Dalem Dadia. Termasuk ke dalam kategori ini adalah. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel. dan Pura Uluncarik.

Kegiatan pariwisata hanya menyebabkan perubahan-perubahan fisik saja dan tidak sampai pada sendi-sendi masyarakat dan kebudayaan Bali. Pada awal zaman kemerdekaaan. Sekarang ini telah tampak bahwa proses perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali yang cepat mendapat efek sampai ke sendi- . Namun karena sistem pendidikan hanya terbatas kepada tingkat SD. masyarakat dan kebudayaan Bali masih tampak sama seperti berabad-abad lalu. Banyak pemuda Bali yang pergi ke luar Bali dan ke luar negeri untuk belajar sampai akhirnya universitas-universitas didirikan di Bali. sedangkan jumlah dari sekolahsekolah itu amat terbatas pada beberapa buah yang ada di dua-tiga kota saja. Segera setelah itu proses perubahan tumbuh dengan cepat. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan sekolah dikembangkan dengan intensif dan ekstensif. maka proses perubahan itu berjalan amat lambat.MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Proses perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan Bali itu memang sudah dimulai sejak zaman kolonial. dengan adanya sistem pendidikan sekolah-sekolah dan dengan kegiatan pariwisata yang sudah dikembangkan secara luas waktu itu.

tidak sempat lagi untuk mengikuti detail adatistiadat serta upacara-upacara keagamaan Hindu-Bali secara teliti sehingga dalam waktusingkat akan terjadi penyederhanaan dalam sistem upacara keagamaan. Selain itu. Saat itu—awal Januari 2003—mulai terdengar program-program . perhotelan.sendinya. Bali seakan terpuruk. risiko ini harus dipikul bersama karena proses modernisasi tidak dapat dihindari lagi dan mutlak harus kita alami semua. dibalik itu orang Bali juga mulai merasakan aspek-aspek negatif dari perkembangan tersebut yang dapat mengancam nilai-nilai budaya yang mereka junjung tinggi. Bandara Ngurah Rai selalu penuh dengan antrean keberangkatan tanpa ada antrean kedatangan. Berbagai program tayangan promosi Bali terus dilakukan. Kondisi inilah kemudian yang menjadi “tersalah” dalam terpuruk dan ambruknya pariwisata Bali. Sontak setelah tertangkapnya pelaku bom Oktober 2002 dan 2005. PASCA BOM BALI Pascabom Bali Oktober 2002 dan Oktober 2005. rekreasi dan transportasi untuk berkembang. Walaupun demikian. Bali dijadikan daerah pariwisata yang utama.Oleh karena itu para penduduk daerah Bali harus tetap menjunjung nilai budaya mereka dengan tetap melaksanakan serta melestarikan kebudayaan Bali yang telah diwariskan nenek moyang mereka. Dilema ini sedang dan akan dialami oleh masyarakat yang mengalami zaman transisi pembangunan dan proses modernisasi. Bali menjadi seperti pulau yang hanya menunggu untuk karam saja tanpa pariwisata. Sektor kepariwisataan telah memberi lapangan kerja pada banyak orang Bali serta telah menstimulasi sektor kerajinan. karena kesibukannya sehari-hari. Keketatan hukum adat mengenai sistem kasta dan klen sudah mulai kendor. Hotel-hotel kelas melati perlahan-lahan tutup. Beragam kegiatan dibuat untuk mengembalikan citra pariwisata Bali yang terpuruk karena Bom Bali dan berturut-turut Perang Amerika—Irak dan wabah SARS. Namun. Berbagai usaha mempromosikan pariwisata Bali terus menerus dilakukan. masyarakat Bali menyambutnya dengan gembira. Sebagian warganya yang bekerja di hotel-hotel mengeluh penghasilannya menurun drastis. pengangguran semakin membludak dan tentu saja desa-desa adat di Bali “gerah” dengan kondisi seperti ini. pembaharuan dalam kehidupan dan pendidikan agama Hindu-Bali juga sengaja dibina oleh majelis agama tertinggi bernama Parisada Hindu Darma. seni lukis. Harapan pada denyut nadi pariwisata hancur lebur. Wisatawan kabur karena takut bom susulan datang. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) berlangsung silih berganti. Saat ini. kondisi ini menjadi semacam senasib sepenanggungan akibat Bom Bali. seni tari dan seni suara. Akhirnya. Kaum terpelajar dan cendekiawan Bali.

Sebelumnya. lembaga-lembaga tradisi seperti desa adat/pakraman (desa-desa di Bali).“Recovery Bali” dan dikuti dengan “Bali For The World”. Maka. mulailah dilakukan program-program untuk nindihin Bali tersebut. Kini. pecalangan (satuan pengamanan tradisonal Bali) serta seluruh perangkat desa pakraman di Bali juga semakin memproteksi dirinya. bahwa cap teroris ternyata menggangu dan menjadi musuh bersama orang Bali. Dalam obrolan di warung-warung desa di Bali. tapi melawan teroris dan orang-orang yang merusak kebudayaan Bali. dan soroh. Karena. Dan sampai saat ini kelompok-kelompok ini memendam identitas dalam identitas ke-Bali-an. “Tiang (saya) siap nindihin (membela sampai mati) Bali melawan teroris. Bali adalah hasil dari pertarungan. pertengahan Juli ini. Dalam perspektif berpikir beberapa orang Bali. Ini sebenarnya potensi konflik dan kekerasan secara horizontal. pentas musik sensasional “Voice Of Star” dan berbagai event hiburan dan pertemuan-pertemuan nasional serta internasional yang dilangsung di Bali. jujur harus diakui. Salah satu hal yang dilakukan desa adat/pakraman dengan jajarannya adalah sweeping dan pendataan penduduk pendatang. saat zaman kerajaan dan perang-perang kemerdekaan 1942-1945. Selain mengembalikan pariwisata Bali. Ada sebuah usaha untuk menjadikan Bali sebagai pusat dari pemulihan pariwisata. yang juga sebenarnya menyimpan konflik dan kekerasan yang terpendam. Tentu saja pemicunya adalah persaingan antar puri (tempat raja di Bali yang . Belum lama berselang. Bom Bali dan teroris adalah kala (mahluk jahat) yang bisa menghancurkan Bali. membuat masyarakat Bali semakin waspada dan siaga setiap saat. Pascabom Bali dan ditengah keranjingan menjaga Bali tidak terpukul dua kali. Ini dilakukan dengan serempak mulai awal 2003 hingga kini dan menjadi perdebatan hangat di Bali dan juga mendapat respon nasional pada Maret—Juni 2003 dan mulai meredup dan menjadi keharusan pasca Bom Bali 2005. dilakukan roadshow ke seluruh kabupaten di Bali untuk penandatanganan prasasti Ajeg Bali oleh bupati se-Bali. Jargon yang sebenarnya dimulai dari propaganda sebuah media terbesar di Bali yang kemudian diikuti oleh promosi ke berbagai kabupaten di Bali. idenitas. jika merunut sejarah. sebuah sikap wujud kecintaan pada tanah air Bali. Ajeg Bali adalah pemurnian Bali dalam hal pemurnian ras. Bali terkenal dengan semangat puputan (perjuangan melawan penjajah sampai titik darah penghabisan). Ini karena Bali memiliki citra “Bali” hasil konstruksi eksotika dan ketergantungan negara luar Bali sebagai kunjungan wisata.“ kata seorang warga masyarakat di warung desa. Ternyata dengan adanya Bom Bali 2002 dan 2005. Nindihin bagi masyarakat Bali adalah sebuah pembelaan. lahir jargon Ajeg Bali. semangat puputan ditunjukkan dengan sikap nindihin Bali bukan melawan kolonial Belanda dan Jepang. pembantaian dan pembersihan soroh-soroh. Ternyata.

kecemasan. namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan. lewat program Dharma Wacana (pencerahan keagamaan) setiap sore hari. dan waisya) dalam teori kelas dan kasta di Bali. Dalam titik inilah. Yang paling penting tentunya–dari kiprah Ida Pedanda Made Gunung—adalah mengidentitaskan. hubungan darah. Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. . ksatria. Maka munculnya Ida Pedanda Made Gunung yang melayani semua pertanyaan. dan keturunan. dan pencarian identitas dan esensi ke-Bali-an. Dalam istilah Balinya. Bali sangat merindukan seorang pendeta sebagai pencerah kehidupan agama Hindu Bali. Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi. menanamkan dewa-dewa yang dipuja orang Hindu Bali. orang Bali seakan mendapat pencerahan. komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan. Kiprah pendeta ini dicuatkan oleh media televisi lokal. kedewan-dewan (hidupnya selalu memikirkan dewa. Dengan masalah-masalah upakara (sesajen untuk upacara-upacara). Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian.sekarang masih ada) ataupun pendobrakan kelas-kelas sudra (pasek. Kerinduan untuk mencari asal-usul. Inilah bentuk kerinduankerinduan orang Hindu Bali yang kemudian bisa dipenuhi oleh Ida Pedanda Made Gunung. dan mulai mendapatkan pembenaran secara alamiah—melalui sastra agama dan tentunya keyakinan yang disampaikan Ida Pedanda Made Gunung. sedang dampak postif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Lihat Ruastiti 2005. Tuhannya). pande. jati diri. juga sebagai jago kebudayaan Ajeg Bali. Di tengah kebingungan inilah. grup media terbesar di Bali (baca: Bali Post).) terhadap kelas tri wangsa (brahamana. muncul penyejuk dan pemersatu umat. Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. Ardika 2004). pernyataan akan “kebenaran” tingkah laku dan sikap beragama. dll.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful