P. 1
BUDAYA BALI OKEE

BUDAYA BALI OKEE

|Views: 2,492|Likes:
Published by Aini Nohr

More info:

Published by: Aini Nohr on Feb 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2012

pdf

text

original

BUDAYA NUSANTARA

KEBUDAYAAN BALI

Disusun oleh:

I Gede Yudi Paramartha (18) I Made Adi Primanta (19) I Wayan Primadyantara (20) Nur Aini (30)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

IDENTIFIKASI GEOGRAFIS

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata (island God/island Paradise) merupakan salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia bahkan dunia. Kuta, Sanur, Nusa Dua, Bedugul, Ubud, Sukawati, Lovina, dan lain lain merupakan tempat wisata yang terkenal di Bali. Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, tetapi kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Selain itu, kebudayaan Hindu yang sudah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3'40" - 8°50'48" Lintang Selatan dan 114°25'53" - 115°42'40" Bujur Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut: • • • • Utara : Laut Bali Timur : Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat) Selatan : Samudera Indonesia Barat : Selat Bali (Propinsi Jawa Timur)

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai mencapai 529 km. • Tabel Luas Wilayah Tiap Kabupaten di Provinsi Bali

Kabupaten/Ko Ibukota ta Jembrana Tabanan Badung Denpasar Gianyar Klungkung Bangli Karangasem Buleleng Jumlah Negara Tabanan Badung Denpasar Gianyar Semarapura Bangli Amlapura Singaraja

Luas (km²) 841,80 839,30 420,09 123,98 368,00 315,00 520,81 839,54 1.365,88 5.634,40

Persentas e (%) 14,94 14,90 7,43 2,20 6,53 5,59 9,25 14,90 24,25 100,00

Sumber: Master Plan Penunjang Investasi Provinsi Bali Tahun 2006-2010

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam

Perbedaan ini tidak hanya tampak pada penunjukan arah dalam bahasa Bali. Tamblingan dan Danau Batur. Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial. Pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu 4.(15-40%) seluas 190. Klungkung). Di pegunungan tersebut terletak puri-puri (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali seperti Pura Pulaki. Pegunungan tersebut mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. Berarti untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan dan kelod berarti utara. Walaupun ada kesadaran yang demikian namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Masyarakat . Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali. Pada satu status sosial atas dasar warna 5. dsb. letak susunan rumah kuil. Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu 7. Besarnya arti dari konsep kaja-kelod dalam masyarakat Bali tampak pula dalam kehidupan sehari-hari. Buyan. dalam upacara agama. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit dan daerah-daerah di bagian selatan Bali Tengah (kabupaten Tabanan. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan sedikit bahasa. dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132. Pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu 2. yaitu: 1. Arah membujur dari pegunungan tersebut menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali Utara dan Bali Selatan. Hal ini berlaku sebaliknya untuk orang di daerah selatan.189 ha. Badung.486 ha. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu. Pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas 3. Gianyar. SEJARAH Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya. Kedua arah tersebut sama baik di Bali Utara maupun Bali Selatan. yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). Pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal 6. Pura Batukau. sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan. dan terutama Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. Dalam bahasa Bali kaja berarti ke gunung dan kelod berarti ke laut.

Masa perundagian Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng . Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali. sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatra Selatan. gelombang kedua adalah migrasi sedikit demi sedikit dari Jawa pada zaman Hindu. kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi: 1. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali. ada juga orang Bali di bagian barat dari Pulau Lombok. Pedawa. para aristrokrat Jawa terutama dari Kerajaan Majapahit melarikan diri dari ke Bali untuk menghindari pengkonversion Islam. Kalimantan Tengah. Kecuali di pulau Bali. Leluhur orang Bali masuk ke Bali dalam tiga periode: gelombang pertama adalah suku proto-Melayu yang datang dari Jawa dan Kalimantan pada zaman prasejarah. Tigawasa di Kabupaten Buleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Masa Prasejarah Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali. Orang Bali-Aga umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran. 1. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana 2. pendidikan. Kenyataannya memang leluhur suku Bali kebanyakan berasal dari Pulau Jawa. Sulawesi dan Nusa Tenggara. tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya. gelombang ketiga dan terakhir juga datang dari Jawa sekitar abad ke15 dan 16. Cempaga Sidatapa. Sekarang ini komunikasi modern. serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut. yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut 3. Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita. Masa bercocok tanam 4. merekalah yang akhirnya membentuk kultur Bali yang merupakan suatu bentuk sinkretisasi dari kultur Jawa klasik dengan banyak tambahan elemen Bali.Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. masa konversi Islam di Pulau Jawa.

1. Manusia Austronesia inilah yang menjadi leluhur sebagian orang Bali Mula. kapas dan lain-lainnya. Memasuki Masa Sejarah . Persekutuan kepemimpinan tersebut masih ada sekarang dan tetap dipertahankan di desa-desa Bali Aga. lalu muncullah istilah beya tanem. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar. tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran. yang kemudian membaur pada masa berikutnya dengan orang-orang yang datang dari luar Bali. mereka hanya menggunakan bahan-bahan lokal seperti ambu. walaupun kedatangan kebudayaan agama Hindu. mereka tidak berani menghias wadahnya dengan kertas. misalnya ngaben mereka terima tapi membakar mayat tidak. parasbaan. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. belincung dan panarah batang pohon. Persekutuan hukum inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal desa-desa di Bali. serut dan sebagainya. dan kepala suku atau pimpinannya disebut dengan nama Jro Gede yang penunjukannya dilakukan dengan sistem hulu apad yaitu sistem giliran menurut usia tertua anggota persekutuan. padang-padang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding. plawa dan sebagainya. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar yaitu goa Karang Boma. tetapi mereka hanya menerima upacara dan upakaranya saja. diantaranya adalah Pasek Taro. Mereka yang dikelompokkan sebagai warga Bali Mula. terutama dalam hal adat. Pecatu (Badung). Manusia Bali keturunan Austronesia pada masa itu hidup berkelompok dan dipimpin secara kolektif oleh 16 Jro yang umumnya disebut dengan Sahing 16. Goa ini terletak di pegunungan gamping di semenanjung Benoa. dan di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam. kapak berimbas. Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang.Timur). dengan ketua kelompok yang kemudian disebut dengan Pasek Bali. Kebudayaan Bali Mula masih melanjutkan tradisi bangsa Austronesia. Dan saat ngaben.

1. Masuknya Agama Hindu Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masamasa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata Walidwipa. Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus, Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah panglapuan. Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah pakiran-kiran i jro makabaihan. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya

dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja. 2. Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. 3. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460-1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550-1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). 4. Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil

ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

FILOSOFI MASYARAKAT

Panca Sradha Panca Sradha merupakan kepercayaan pokok masayarakat Hindu di Bali yang terdiri atas lima bagian, yaitu : 1. Brahman, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Atma, percaya kepada roh atau jiwa pada setiap makhluk hidup yang berasal dari percikan suci Tuhan 3. Karma Phala, percaya akan adanya hukum sebab akibat. Setiap perbuatan(karma) pasti akan mendatangkan akibat (pahala) 4. Samsara atau reinkarnasi, percaya akan adanya kehidupan/lahir kembali yang disebabkan karena adanya karma.

Pengorbanan itu bisa berupa materi maupun berupa hal-hal imaterial. dan Tat twam asi. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha berarti tiga macam tingkah laku yang patut disucikan. hitam dan putih. yaitu: a. Orang Bali percaya bahwa positf dan negatif itu selalu berjalan berdampingan. Konsep Rwa Bhineda mungkin mirip dengan konsep Yin dan Yang. sedangkan bhuana alit adalah manusia. Pebuatan yang baik (Kayika Parisudha) 1. Jangan sampai perbuatan yang dilakukan manusia mengganggu atau merusak alam yang tidak nyata karena bila terjadi dapat menyebabkan hal-hal yang tidak baik. Jadi. Baik dan buruk. Pikiran yang baik(Manachika Parisudha) b. tujuan akhir makhluk hidup yaitu bersatunya kembali atma dengan brahman. Oleh karena itu. setiap perbuatan atau kegiatan yang dilaksanakan harus memperhatikan keselarasan antara alam nyata dengan tidak nyata. . Tri Hita Karana Tri Hita Karana secara harfiah berarti tiga penyebab kebahagiaan. Pawongan (sesama manusia0 c. Rwa Bhineda.5. Konsep skala-niskala menunjukkan bahwa orang Bali percaya akan adanya alam nyata (skala) dan alam tak nyata/tak kasat mata (niskala). suka dan duka adalah hal-hal yang selalu terjadi di dunia. Tinggal bagaimana manusia menyikapi hal-hal tersebut. Bhuana AgungBhuana Alit. Orang Bali percaya bahwa manusia dan alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur yang sama. Pembahasan mengenai yadnya akan ada pada bab berikutnya yang berkaitan dengan sistem adat dan religi. Bhuana Agung berarti bumi atau alam semesta. Palemahan (alam lingkungan) Selain itu ada juga filosofi-filosfi lain yang mendasari setiap aspek kehidupan masarakat Bali. sudah sepatutnya manusia dan alam bekerja sama untuk saling menjaga kelangsungan kehidupan. antara lain 1. Perkataan yang baik (Wachika Parisudha) c. Parahyangan (Tuhan Yang Maha Esa) b. Orang Bali percaya bahwa kebahagiaan dalam kehidupan ini bisa terwujud apabila tercipta keselarasan dan keharmonisan antara manusia dengan tiga penyebab berikut ini a. Keseluruhan konsep di atas diwujudkan melalui pelaksanaan Yadnya. Berdasarkan kepercayaan pokok inilah lahir ajaran-ajaran/filosofi lain sebagai implementasi dalam kehidupan. Yadnya berarti korban suci yang tulus ikhlas. seperti konsep Skala-Niskala. Moksa.

atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang . ayam. guider. mulai dari perhotelan. seperti irigasi dan hal-hal lainnya. dan lain sebagainya. Daya tarik pariwisata terutama berasal dari kebudayaan unik masyarakat sendiri yang ditunjang dengan alam yang indah. Pertanian di Bali cukup bervariatif sesuai dengan keadaan geografis Bali yang beragam. karena dengan itu barulah ia dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat.Mata Pencharian Sebanyak kira-kira 70% orang Bali menggantungkan hidupnya pada dunia pertanian. Sedangkan sisanya terdiri dari pedagang. Hasil dari kerajinan ini antara lain patung. dan nelayan. buruh bangunan. Profesi ini banyak digeluti oleh masyakat yang terutama tinggal di daerah Gianyar dan Klungkung. sapi. Orang Bali juga terkenal akan keahliannya dalam bidang seni sehingga ada banyak orang yang berprofesi sebagai pengrajian. Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). Kegiatan beternak umumnya merupakan kegiatan sampingan. Bali terkenal dengan pariwisatanya. SISTEM KEKERABATAN Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali. peternak. buah. maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan di antara warga se-klen. kacang-kacangan. Hasil ternak yang banyak dijumpai adalah babi. karyawan atau PNS. Selain itu. dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. Kawasan Bali bagian selatan merupakan dataran rendah yang cocok untuk sawah padi. dan sejenisnya. dan penjual cendramata. jagung. ukiran. Akan tetapi. bebek. restauran. perhiasan. Hasil ternak ini umumnya untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan upacara keagamaan. Kawasan Bali Utara merupakan daerah dataran tinggi dengan hawa yang dingin sehingga merupakan tempat yang cocok untuk perkebunan sayur. bunga dan hasil hutan seperti cengkih. dan kerbau. lukisan. Sehingga cukup banyak orang yang menggantungkan hidupnya dalam dunia pariwisata. pengrajin. memasuki zaman global ini semakin banyak orang yang meninggalkan profes sebagai petani dan mulai beralih kepada profesi lainnya. Bali terkenal dengan Subak sebagai organisasi untuk mengatur masalah pertanian.

atau dengan cara melarikan seorang gadis (mrangkat. Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian peristiwa-peristiwa seperti kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawini. antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya. Demikian. Orang-orang se-klen (tunggal kawitan. Dahulu apabila terjadi perkawinan campuran yang demikian. sudah menghilang. tunggal sanggah) di Bali itu adalah orang-orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama. Di beberapa daerah di Bali (tidak di semua daerah). dan akhirnya lagi suatu kunjungan resmi dari keluarga si pemuda ke rumah orang tua si gadis untuk minta diri kepada ruh leluhurnya. Kedua cara itu berdasarkan adat. serta menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita tersebut. karena suatu perkawinan serupa itu akan membawa malu pada keluarga. karena perkawinan yang demikian itu dianggap mendatangkan bencana (panes). dan demikian juga dalam kasta. Perkawinan pantang yang dianggap melanggar norma kesusilaan sehingga merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya. tetapi rupa-rupanya adat ini terutama di antara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar. Lain bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki isteri (makedengan ngad). Semenjak tahun 1951. perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen. sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klen-nya terjagalah kemungkinan-kemungkinan akan ketegangan-ketegangan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar-kasta yang berbeda derajatnya. berlaku pula adat penyerahan mas kawin (patuku luh). dan secara fisik suami-isteri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama. Pada umumnya. yang umumnya bersifat exogam. seorang pemuda Bali itu dapat memperoleh seorang isteri dengan dua cara. sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. Keadaan ini memang agak menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen. Sesudah pernikahan. upacara perkawinan (masakapan). ngrorod). ngidih) kepada keluarga seorang gadis. maka wanita itu akan dinyatakan keluar dari dadia-nya.dianggap sederajat dalam kasta. dan pada waktu ini perkawinan campuran antar-kasta sudah relatif lebih banyak dilaksanakan. suami isteri baru biasanya menetap secara virilokal di kompleks perumahan (uma) dari orang tua si suami. walaupun tidak sedikit juga suami isteri baru yang menetap secara neolokal dan mencari atau membangun . dan antara seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya). ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. tunggal dadia. hukum semacam itu tidak pernah dijalankan lagi. yaitu dengan cara meminang (memadik. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya.

rumah baru. Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan). Walaupun demikian. dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. ada pula suatu adat perkawinan di mana suami isteri baru itu menetap secara uxorilokal di kompleks perumahan lari si isteri (nyeburin). yang disebut kemulan taksu. Di desa-desa di tanah datar. Struktur dari tunggal dadia ini berbeda-beda dipelbagai tempat di Bali. baik orang yang masih kerabat maupun yang bukan kerabat (pembantu rumah tangga dan lain-lain). Karena poligini diijinkan. Salah satu dari anak laki-laki biasanya tetap tinggal di kompleks perumahan orang tua (ngerobin) untuk nanti dapat membantu orang tua kalau mereka sudah tidak berdaya lagi dan untuk menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua. keluarga-keluarga yang bersifat poligini ini hanya terbatas dalam lingkungan-lingkungan tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak. Tempat di mana suami isteri itu menetap.  Keluarga Batih. Kalau suami isteri tinggal secara virilokal. ia memisahkan diri dari rumah tangga orang tua dan mendirikan rumah dan rumah tangga sendiri yang baru (ngarangin).  Klen Kecil dan Klen Besar Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). dan bentuk keluarga batih ini tergantung pula dari macam perkawinan itu. tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. menentukan perhitungan garis keturunan dan hak waris dari anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya. Sebaliknya. orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal. Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami. dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Di desa-desa di pegunungan. dan Rumah Tangga Akibat dari perkawinan adalah terbentuknya suatu keluarga batih. kalau seorang anak laki-laki sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mempu untuk berdiri sendiri. orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan di masing-masing kediamannya. Demikian pula anak-anak dan keturunan mereka yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri. maka ada juga keluarga-keluarga batih yang sifatnya poligini. maka anak-anak mereka dan keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa). Dengan demikian. Sesudah beberapa. Di samping . Keluarga Luas. sebenarnya suatu rumah tangga yang sudah tua terdiri dari suatu keluarga luas virilokal yang terdiri dari suatu keluarga batih senior dengan beberapa keluarga batih yunior yang hidup bersama dalam satu kompleks perumahan (uma) sebagai kesatuan yang formil. sering ditambah dengan anak-anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan lain-lain orang yang menumpang.

Sistem ini terpengaruhi oleh sistem kasta yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu Kuno. Ada pelbagai klen yang mempunyai sejarah keturunan (babad.itu. Vaisya. keluarga batih yang hidup neolokal seperti juga masih terikat oleh dan masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap pura asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka. Di Bali daerah pegunungan. Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja pura leluhur yang sama disebut pura paibon atau panti. susunan klen berlapis tinggi rendah serupa itu tidak ada. maka klen-klen di Bali daerah dataran. pretasti) sendiri-sendiri yang masing-masing kembali sampai pada sejarah penaklukan oleh Majapahit dalam abad ke-14. Satria. dan Sudra. Ksatrya. yaitu Brahmana. SISTEM KEMASYARAKATAN  Sistem Pelapisan Sistem pelapisan masyarakat di Bali didasarkan atas keturunan. dan dengan demikian suatu pura serupa itu mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota dari suatu klen kecil. Orang-orang bangga apabila dapat menyusur keturunan mereka sampai pada raja-raja atau bangsawan-bangsawan dari zaman Majapahit itu. Gelar-gelar itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan atas sistem pelapisan wangsa. Susunan tinggi rendah dari klen-klen di daerah dataran tampak pada gelargelar yang dipakai oleh warganya di depan nama mereka. Waisya. tersusun dalam suatu susunan berlapis tinggi rendah berdasarkan jarak hubungan kekerabatan dari leluhur-leluhur dari klen-klen itu dengan seorang tokoh raja atau bangsawan dari Majapahit. Pelbagai keturunan inilah yang memberikan susunan yang lebih kompleks kepada klen-klen patrileneal yang terdapat di Bali daratan. Di Bali wangsa-wangsa dalam sistem pelapisan mempunyai sebutan yang sama. suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. pamancangah. Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya. dan Sudra. sedangkan ketiga lapisan yang pertama . Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarganya yang merasakan dirinya senior. yaitu keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen. Kelompok kerabat yang demikian dapat disebut klen besar. Dalam praktek. Karena proses sejarah yang kembali ke zaman Majapahit. yaitu sistem keempat kasta: Brahmana. bahkan batas-batas antara klen-klen dalam kehidupan masyarakat tidak tampak begitu nyata. karena itu tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan mengenai kelompok-kelompok kerabat yang bersifat patrilineal.

Misalnya undang-undang (awig-awig) yang menghukum adanya perkawinan antara gadis yang lebih tinggi dengan laki-laki yang wangsa-nya lebih rendah telah dihapuskan. Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan. dan bagi warga klen-klen Wesia adalah Gusti. 1. subak dan seka/sekaha. lagipula warga klen-klen besar yang termasuk Triwangsa biasanya tersebar luas di seluruh Bali. Hanya sebagian kecil dari rakyat Bali. banjar. lebih dari 85% dari rakyat Bali termasuk warga Jaba. Sebagian dari tanah wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu. Pada umumnya tampak beberapa perbedaan antara desa-desa adat di pegunungan dan desa-desa adat di daerah datar. yaitu desa adat dan desa dinas. Konsep desa memiliki dua pengertian. Sebaliknya.sebagai kesatuan disebut Triwangsa. Zaman modern dengan pendidikannya telah banya membawa perubahan dalam sistem pelapisan wangsa ini. kurang dari 15% yang termasuk anya sebagian kecil dari rakyat Bali. Selain itu banyak gelar-gelar lain yang diturunkan oleh klen-klen tertentu tetapi yang kurang terang mengenai kedudukannya dalam wangsa. gelar bagi warga klen-klen Satria adalah Cokorda. Pendeta-pendeta tidak usah lagi berasal dari wangsa Brahmana. dan lapisan yang keempat disebut Jaba. Sesudah kawin. kurang dari 15% yang termasuk Triwangsa. atau secara konkret dibawah pengawasan pimpinan desa. Pemegang gelar-gelar serupa itu tentu akan mengakuinya sebagai gelar wangsa tinggi. Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. mendapat tempat duduk yang . orang itu langsung menjadi warga desa adat (krama desa). dan akhir-akhir ini mereka malahan sudah dianggap sederajat dengan pendeta-pendeta dari wangsa Brahmana.  Lembaga Tradisional Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa. lainnya berpendapat bahwa gelar-gelar serupa itu termasuk wangsa-wangsa yang rendah dan demikian selalu memang ada perselisihan mengenai kedudukan dari orang-orang yang mempunyai gelar-gelar tadi dalam upacara adat dan dalam sopan santun pergaulan Bali. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang memiliki wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Gelar-gelar bagi warga klen-klen Brahmana adalah Ida Bagus untuk laki-laki dan Ida Ayu untuk wanita. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. Desa Desa di Bali didasarkan atas kesatuan tempat. Desadesa adat di pegunungan biasanya sifatnya lebih kecil dan keanggotaannya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu juga. dan warga klen-klen yang termasuk Jaba tinggalnya lebih terpusat pada daerah-daerah terbatas. tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah hak pengawasan desa.

. sanggah. Gianyar. dan berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan secara teratur pada hari-hari yang tetap. satu atau beberapa dapur. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali. kaja berarti selatan.khas di balai desa yang disebut balai agung. dan sebagainya pada umumnya menuruti pola susunan tertentu. dibangun diatas suatu pekarangan yang bisanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit. tempat untuk menerima tamu. Pura keluarga yang dianggap suci terletak di bagian kaja. Di samping kesatuan wilayah maka sebuah desa merupakan pula suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga. Dengan demikian untuk orang Bali Utara. lumbung. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu yang dimanisfetasikan sebagai pemelihara dan Pura Dalem yang merupakan berstananya Dewa Çiwa yang dimanifestasikan sebagai pelebur. Klasifikasi dualistis ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangunan-bangunan pusat dari desa. Hal yang keramat diletakkan pada arah kaja. Badung. Pura Puseh dan Pura Dalem. Klungkung). tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa. kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke (arah) laut. Di antara komplek bangunan itu terdapat bangunan untuk tidur. Adapun mengenai arah timur (kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan kelod. Biasanya ketiga Pura Kahyangan Tiga tersebut tempatnya dipisahkan satu sama lain. konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. Catatan: Dalam bahasa Bali. Sedapat mungkin bangunan-bangunan dari desa disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. dan pura untuk keluarga (sanggah). Bale (bangunan) masing-masing mempunyai nama tersendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-hari. Begitu juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali Selatan berarti selatan. Seluruh komplek sebagai suatu kesatuan disebut uma. Sedang tempat kediaman berada pada arah kelod. kaja berarti utara. Pada komplek bangunan (bale) yang ditempati keluarga inti maupun keluarga luas. Pura Desa merupakan tempat berstananya Dewa Brahma yang dimanifestasikan sebagai pencipta. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerahdaerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan. sebaliknya untuk orang Bali Selatan. dan pada arah kelod diletakkan Pura Dalem (pura yang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian). dan hal-hal biasa yang tidak keramat diletakkan pada arah kelod. Mengenai letak dari bale. Dimana Kahyangan Tiga ini adalah Pura Desa. Ada kalanya juga Pura Puseh dan Pura Desa dijadikan satu. Desa-desa di daerah datar biasanya sifatnya besar dan meliputi daerah yang tersebar luas. Misalnya saja pada arah kaja diletakkan Pura Desa. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan. Seperti telah diterangkan sebelumnya.

ada pula warga suatu banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan yang mendapat airnya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Banjar dipimpin oleh seorang kelian banjar dan dibantu oleh beberapa orang sebagai wakil kelian. Karena fungsinya sebagai pusat maka bale banjar ini biasanya didirikan di tengah-tengah wilayah tersebut. Dalam hal ini tiap-tiap banjar memiliki awig-awig yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing banjar. Subak Subak di Bali berdiri seolah-olah lepas dari banjar dan mempunyai seorang kepala sendiri. Di bale banjar inilah diadakan pertemuan (sangkep) setiap bulan mengevaluasi kegiatan banjar selama sebulan. Seperti olahraga. tetapi juga orang dari wilayah lain yang kebetulan menetap sementara/seterusnya di wilayah banjar tersebut. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi warga suatu subak itu tidak semuanya sama dengan orang-orang yang menjadi warga suatu banjar. Dengan demikian warga banjar tadi itu akan menggabungkan diri dengan semua subak di mana ia mempunyai sebidang sawah. Bale banjar ini juga sebagai bangunan serbaguna untuk menunjang kegiatan umum masyarakat banjar. Untuk lama masa jabatan tertentu sesuai dengan awig-awig (undang-undang) banjar bersangkutan. Hal ini dimaksud untuk memudahkan krama banjar. Sudah tentu tidak semua pemilik atau penggarap tadi hidup dalam satu banjar. sinoman dan penyarikan. Anggota banjar tidak mutlak dari orang asli di daerah tersebut. adat dan urusan yang bersifat administratif. . Kelian banjar sebagai tetua banjar dipilih langsung oleh para krama (warga) banjar dalam suatu sangkep (pertemuan). Bahkan seringkali harus juga memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah dan dianggap ahli dalam adat banjar pada umumnya. 3. kesenian hingga agama. Masyarakat tersebut dipersilahkan menjadi anggota banjar jika orang tersebut menghendaki. tetapi di dalam beberapa banjar. Sebaliknya.2. Untuk mengakomodasikan kegiatannya maka dibangunlah sebuah bangunan yang terbuka yang dikenal dengan nama bale banjar. Bale banjar ini merupakan pusat dari banjar tersebut. Adapun tugas dari kelian ini adalah mengurus segala urusan sosial kemasyarakatan. Bale banjar ini biasanya dilengkapi dengan Pura Banjar dan Bale Kukul sebagai tempat untuk menaruh kukul (kentongan). Banjar Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan oleh kesatuan wilayah. Warga subak adalah para pemilik atau penggarp sawah-sawah yang menerima air irigasinya dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Selain itu kelian juga mengurus urusan agama. Kesatuan wilayah ini diperkuat oleh kesatuan adat dan budaya.

atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. bahkan untuk waktu yang meliputi angkatanangkatan yang turun temurun. Hanya di dalam hal ini khusus kerja bakti untuk keperluan agama. Seka dalam arti ini tentu sifatnya permanen. misalnya suatu perkumpulan gamelan ‘ditarik’ untuk ikut serta dangan suatu seka lain dalam hal menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. dan sebagainya). Hanya dalam perayaan dan upacara. Gotong Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat desa di Bali. menyiangi. ada beberapa macam cara dan sistem gotong royong. menggali sumur. tetapi ada pula yang bersifat sementara. Cara semacam ini di sebut ngedeng (menarik). dinding rumah. seperti misalnya seka mamula (perkumpulan menanam). sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah. 5. dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga. dan sebagainya). tetapi ada juga seka-seka yang bersifat sementara. Selain nguopin masih ada cara gotong royong antara seka dengan seka. Ada sekaseka yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara yang berkenaan dengan desa misalnya seka baris (perkumpulan tari baris). yaitu seka-seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu. Terakhir ada suatu sistem gotong royong yang lebih menyerupai sifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah. Dalam hal ini suatu seka tertentu. seka gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. seka truna (perkumpulan para pemuda). dengan suatu sopan santun yang telah digariskan oleh adat dan dengan pengertian bahwa ia wajib untuk membalas bantuan tenaga yang disumbangkan kepadanya itu dengan bantuan tenaga juga. Nguopin dalam aktivitas sekitar rumah tangga di kota dan di banyak desa sudah mulai hilang dan mulai diganti dengan sistem menyewa tenaga upahan karena sistem menyewa sekarang dianggap lebih praktis dan seringkali lebih murah (karena tidak perlu menyediakan jamuan dan sebagainya). panen. Seka ini bisa didirikan untuk waktu yang lama. seka daha (perkumpulan gadis-gadis). seka manyi (perkumpulan menuai). Seka-seka seperti ini biasanya juga merupakan perkumpulan-perkumpulan yang terlepas dari organisasi desa dan banjar. Sistem kerja bakti semacam . seperti misalnya ikut membantu membangun pura atau memperbaiki sebuah pura yang sudah ada. Di dalam hal itu ada seorang atau suatu keluarga minta bantuan dari tetangganya atau keluarga lain. antara individu dan individu atau antara keluarga dan keluarga. atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian cara gotong royong nguopin masih banyak diterapkan. yaitu organisasi seka.4. Gotong royong semacam itu disebut nguopin (membantu) dan meliputi berbagai aktivitas di sawah (seperti menanam. Seka/Sekaha Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus.

No . SISTEM ADAT DAN RELIGI Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan sebuah sinergi antara unsur-unsur adat dan budaya lokal yang telah dianut masyarakat dari zaman dulu dengan kebudayaan Hindu yang masuk dari India. Persamaan-persamaan tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut. 1 Religi Prasejarah Religi Hindu Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang . bisa merupakan suatu aktivitas yang ramai dan penuh kemeriahan.ini disebut ngayah atau ngayang. Sinergi itu dapat terjadi karena pada dasarnya terdapat kesamaan di antara keduanya.

Emabang/ Sang Hyang Tuduh 2 Widhi Wasa Dewa yang bersemayam di Puncak Dewa yang besemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir Gunung Agung disebut Bhatara Giripati atau Mahadewa Gunung. sungai. dipandang suci. dan meru tahta batu Tinggalan ditemukan dipanggur situs Gilimanuk tradisi panggur disebut gigi manusia telah mepandes atau metatah upacara 6 7 8 Tinggalan sikap jenazah pada kepercayaan terhadap kelahiran kembali sakofagus dalam menyerupai bayi yang disebut samsara atau punarbhawa dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali Adanya arah orientasi yang adanya orientasi yang dipandang suci. menhir dan berupa pura. Perlu diingat bahwa setiap banjar ataupun desa bisa memiliki adat yang berbeda-beda. candi. sungai. prasada. yaitu: . Yadnya itu terbagi atas lima bagian yang disebut Panca Yadnya. dan Laut Tempat yang dipandang merupakan tempat yang suci gunung. yakni timur dan yakni utarea dan timur yang disebut utara Uttara dan Purva Adanya persembahan dan bekal adanya persembahan dan bekal kubur kubur berupa upaca yajna 9 10 Sumber: PHDI Pusat Kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali itu diwujudkan dengan melakukan Yadnya yang sumber-sumbernya berasal dari kitab suci dan tata cara pelaksanaannya disesuaikan dengan adat masyarakat setempat. dan laut Percaya terhadap kekuatan alam kekuatan yang disebut Hyang Dewa suci adalah nama 3 4 5 alam disebut dengan Percaya terhadap roh suci leluhur percaya terhadap roh suci leluhur yang dengan perawatan jenazah dan disebut atma dan atma yang suci roh suci dianggap brsemayam di bersemayam di pincak-puncak gunung puncak gunung. Membuat tiruan gunung berupa mambuat tiruan kahyangan dan gunung punden berundak.

dan akasa (ruang hampa) sesuai dengan ajaran Hindu Bali. Berhutang budi yang disebut dengan istilah Anadatha. Contoh Dewa Yadnya: menyelenggarakan upacara piodalan dimasing-masing Desa Adat yang ada di Bali. Pitra Yadnya Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur (pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang disebut Atma Wedana. 2.  Ngaben Kematian. Contoh Pitra Yadnya adalah upacara ngaben. Berhutang jiwa yang disebut dengan istilah Pranadatha. Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum perayaan hari raya Nyepi. Hal tersebut dilaksanakan atas kesadaran bahwa sebagai keturunannya ia telah berhutang kepada orangtuanya (leluhur) seperti: – – – Berhutang badan yang disebut dengan istilah Sarirakrit. mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga. Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atman (roh). bagi masyarakat Bali tak bisa lepas dari upacara adat ngaben. Adapun tujuan dari pelaksanaan Pitra Yadnya ini adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas. menghormati serta merawat hidup di hari tuanya juga termasuk pelaksanaan Yadnya. apah (zat cair). Kematian bagi orang Bali adalah kembalinya manusia kepada asalnya yaitu Panca Maha Bhuta: pertiwi (zat padat). memberikan sesuatu yang baik dan layak. Memperhatikan kepentingan orang tua dengan jalan mewujudkan rasa bakti. Upacara keagamaan di Bali disesuaikan dengan masing-masing Desa Adat (desa kala patra) masing-masing daerah. atman-nya tidak. teja (zat panas). Dewa Yadnya Dewa Yadnya adalah persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça dan seluruh manifestasi-Nya yang terdiri dari Dewa Brahma selaku Maha Pencipta. bayu (angin). Ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar saja. Ngaben adalah . Dewa Wisnu selaku Maha Pemelihara dan Dewa Siwa selaku Maha Pralina (pengembali kepada asalnya) dengan mengadakan serta melaksanakan persembahyangan Tri Sandhya (bersembahyang tiga kali dalam sehari) serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci).1.

. jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon (memandikan jenazah). ngajum. Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sebagai dewa pencipta juga adalah dewa api. kecelakaan pesawat yang jenazahnya sudah hangus terbakar. Api yang digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah. Pada hari H-nya. Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah). pembakaran dan nyekah. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. ada juga yang mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu). Banyak tahap yang dilakukan dalam ngaben. dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh. Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah. Selesai memandikan. Ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar. Ngaben dilakukan untuk manusia yang meninggal dan masih ada jenazahnya. dll. Ketika ada yang meninggal. atau seperti saat Peristiwa Bom Bali I dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan. keluarganya akan menghadap ke pendeta untuk menanyakan kapan ada hari baik (dewasa) untuk melaksanakan ngaben. yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain bergambar unsur-unsur penyucian roh. Untuk prosesi ngaben yang jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dengan mengambil sekepal tanah di lokasi meninggalnya kemudian dibakar. Biasanya akan diberikan waktu yang tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya. Dimulai dari memandikan jenazah. fase pertama sebagai kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah.upacara penyucian atman (roh). Namun cenderung disetujui pendapat bahwa ngaben berasal dari kata ngapen (ng + api + an = ngapian > ngapen > ngaben). juga manusia meninggal yang tidak ada jenazahnya seperti orang tewas terseret arus laut dan jenazah tidak diketemukan. Ada yang mengatakan ngaben dari kata beya yang artinya bekal. Wadah biasanya berbentuk padma sebagai simbol rumah Tuhan. yaitu tempat jenazah yang akan diusung ke kuburan. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yang berbeda-beda. Prosesi ngaben dilakukan dengan berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sebagai simbol-simbol seperti halnya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu Bali. Selanjutnya adalah prosesi ngajum. dilakukan prosesi ngaben di kuburan (setra) desa setempat.

jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan. Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi. Masing-masing desa adat di Bali memiliki awig-awig (undang-undang) tersendiri tentang tata cara melaksanakan upacara ngaben. Banjar adat tidak mencampuri waktu pelaksanaannya. jenazahnya harus dikubur. Di sini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yang dianggap mampu untuk itu (biasanya dari klan brahmana). baik berupa tenaga maupun materi. Upacara ngaben ngamasa dilaksanakan dengan maksud menghemat biaya dan waktu. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. dibandingkan dengan jumlah tenaga dan materi yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan rangkaian upacara ngaben. Bahkan ada kalanya sama sekali tidak mendapatkan bantuan banjar. sesuai situasi dan kondisi yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. lahir sebagai seorang bangsawan. Patus banjar. tapi memakai api dari kompor minyak tanah yang menggunakan angin. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. yaitu: 1. Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada keluarganya meninggal. Dalam hal ini berarti bahwa keluarga duka dapat melaksanakan upacara ngaben pada waktu tertentu. ngaben massal. . Istilah lain ngaben ngamasa adalah ngaben ngerit. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai). Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang melekat ditubuh. atau ngaben bersama. tetapi hanya memberi bantuan tenaga dan materi (dikenal dengan sebutan patus banjar). Oleh karena itu. Sebenarnya ada bermacam-macam cara melaksanakan upacara ngaben di Bali. Terlepas dari ini. Umumnya dapat dibagi menjadi dua. Ngaben Ngamasa Ngaben Niri artinya melaksanakan upacara ngaben sendiri (Niri = diri = sendiri). sesuai ketentuan awig-awig yang berlaku.Sesampainya di kuburan. karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Cara pelaksanaan ngaben ngamasa ada dua. sesuai dengan keinginannya. tanpa mengurangi makna pelaksanaan upacara ngaben. Ngaben Ngamasa berarti melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit. jumlahnya tidak seberapa. ngaben niri juga dilaksanakan oleh keluarga keturunan bangsawan. Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi. terbilang relatif berat. yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu. Ngaben Niri 2.

kalau jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben sedikit dan anggota anggota banjar lumayan banyak. pelaksanaan upacara ngaben dengan mudah dapat diketahui. Kelemahannya. Upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa. Keuntungannya. Cuma waktunya bersamaan. ngaben ngemasa dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri. maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga. Di Desa Pakraman Celuk. Sukawati. karena kewajiban mengeluarkan (patus) juga dirancang hanya satu untuk semua. Ada yang berpendapat bahwa ngaben kinembulan ini akan menjadi pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara ngaben masa depan. karena segala bantuan tenaga diatur oleh panitia banjar dengan pola satu untuk semua. Artinya.000. antara lain: 1. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25. karena lebih mudah mengatur waktu. Sebabnya. jauh hari sebelum puncak acara. Biaya yang disiapkan oleh warga yang akan melaksanakan upacara ngaben relatif lebih kecil. ngaben ngamasa dilaksanakan dengan cara ‘satu untuk semua’. Dengan ngaben . Sebaliknya kalau warga yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit. barulah dibuat oleh masing-masing anggota. Kesulitan lainnya. Konsekuensinya. maka masing-masing warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar 750. sehingga segala aktivitas yang terkait dengan upacara tersebut dapat dijadwalkan. Untuk memudahkan. dan jumlah warga yang ngaben 30 orang.Pertama. 5. 3. warga banjar yang diharapkan memberi bantuan menjadi bingung dan kacau. 4. 2. Kedua. Biaya bagi warga masyarakat yang lainnya (patus) juga kecil. maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. Tidak menganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta. Mereka dituntut harus pintar membagi waktu agar dapat memberi bantuan kepada sebanyak mungkin warga yang kebetulan melaksanakan upacara ngaben. bambu. Masingmasing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. pisang. ngaben ngamasa dengan cara ‘satu untuk semua’ ini dikenal dengan istilah ngaben kinembulan. biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumlah warga yang melaksanakan upacara ngaben. Dapat menghemat waktu dan tenaga. Pelaksanaan upacara ngaben seperti ini dikenal dengan sebutan ngaben bersama. karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan. ada hubungan dengan bantuan materi (patus) kepada warga yang melaksanakan upacara ngaben. cara dan oleh panitia yang sama. dan lainnya) yang lumayan banyak. upacara ngaben dilaksanakan pada waktu. termasuk memohon cuti.000. tempat. Jumlah ini tidak dapat dianggap enteng.

Upacara kelahiran 3. sehingga satu golongan merasa sebagai golongan bangsawan yang berkedudukan tinggi dan harus dihormati dan golongan lainnya dianggap sebagai rakyat biasa (panjak). Oleh karena itu maka kasta tertentu yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari kasta yang lainnya. sehingga perlu diupacarai atau diselamati. berkedudukan rendah dan harus menghormati golongan bangsawan. antara lain: Pertama. kesehatan dan lain-lain guna persiapan menempuh kehidupan bermasyarakat. Di dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnya masalah desa kala patra (tempat-waktu-keadaan) sangat penting. Dalam menyelenggarakan segala usaha serta kegiatan spiritual tersebut masih ada lagi kegiatan dalam bentuk yang lebih nyata demi kemajuan pendidikan. Anggapan ini menyebabkan banyak orang yang rela melaksanakan upacara ngaben secara besar-besaran. masih ada anggapan bahwa melaksanakan upacara ngaben merupakan satu-satunya cara untuk melaksanakan Pitra Yadnya dalam arti ‘membayar hutang’ kepada leluhur. Kedua. Upacara nelu bulanin 7. 1. sebagai sesuatu yang lebih rendah maknanya dibandingkan dengan ngaben niri. Secara umum upacara itu dilaksanakan pada saat anak mengalami masa peralihan.ngamasa atau kinembulan. dengan cara menjual harta warisan yang berupa tanah. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi atas dasar semangat ‘satu untuk semua’ pada waktu melaksanakan upacara ngaben. Upacara kepus puser 4. Magedong-gedongan 2. Ngaben kinembulan mengandung beberapa kelemahan. dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta. Jenis-jenis Manusa Yadnya berdasarkan urutan pelaksanaannya: 1. sebelum mereka harus turut ‘berkorban’ demi kepentingan upacara ngaben. Upacara otonan . Manusa Yadnya Manusa Yadnya adalah suatu persembahan suci yang tulus ikhlas demi kesempurnaan hidup manusia. Upacara nglepas hawon 5. Sebab ada anggapan bahwa pada saat-saat itulah anak dalam keadaan kritis. lebih memungkinkan bagi tumbuhtumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat. tidak rela bergerak seiring dan sejalan. Upacara kambuhan 6. Mereka yang masih yakin akan hal ini menganggap melaksanakan upacara ngaben dengan cara kinembulan atau ‘satu untuk semua’. sulit dilaksanakan di desa adat yang termasuk desa pakraman nyatur (terdiri dari empat kasta).

Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan. Upacara kelahiran dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah dan dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan. halaman rumah. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. sampiyan dan penyeneng. canang sari. 5. 3. Upacara magedonggedongan dilaksanakan di dalam rumah. Apabila mempergunakan kelapa. pada bagian tutup kendil atau . Upacara makupak 10.Upacara mepandes 12. Dalam hal tidak ada keluarga tertua. Sang istri menjunjung tempat rempah-rempah. selanjutnya ditutup kernbali. di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu.8. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan. sang ayah dapat melaksanakan upacara ini.Upacara rajaswala 11. kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian. tidak harus persis karena dapat disesuaikan dengan hari baik (dewasa). Tangan kiri suami memegang benang. tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup. 2.Upacara pawiwahan  Magedong-gedongan Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari. selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan. tangan kanannya memegang bambu runcing. dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita. 6. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. pekarangan. Sang suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing sang istri sampai air dan ikannya tumpah. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si bayi di dunia. demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. dan dilanjutkan di depan sanggah (semacam pura kecil yang ada pada setiap rumah). Tujuannya agar atman/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan. lstri yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda. 2. Upacara ngempugin 9. Setelah ari-ari dibersihkan.  Upacara Kelahiran Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab. canang genten. 4.

3. Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si bayi. umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. Wisnu dan Siwa. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. 2. Si bayi biasanya baru diberi nama demikian pula sang catur sanak (saudara keempat yang dipercaya ikut menemani kelahiran si bayi) setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja. Proses selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah. 3. Upacaranya dilakukan di dapur. dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah. 4. Si bayi beserta kedua orangtuanya natab di sanggah kamulan. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1.  Upacara Kambuhan Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita.belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi.  Upacara Nelu Bulanin . di permandian. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga. di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negatif (mala). 2. 3. Banaspati dan Mrajapati. lada dan lain-lain. dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara.  Upacara Kepus Puser Upacara ini dilakukan pada saat puser bayi lepas. tempat menaruh sesajian. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya. pala. digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi. dan terakhir di sanggah kamulan. Untuk upacara yang lebih besar si bayi terlebih dahulu di-lukat di dapur. di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk. tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki.  Upacara Nglepas Hawon Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut upacara ngelepas hawon. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam ketupat kukur (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh. Sang Anggapati. di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna.

Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. atau tiga bulan dalam hitungan pawukon (1 bulan = 35 hari). 2.  Upacara Otonan Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Ini dilakukan pada otonan pertama kali. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut).  Upacara Ngempugin Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. semakin sederhana pula sarana upacaranya. Biasanya digabungkan dengan upacara otonan (210 hari kelahiran bayi). Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang. terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirta. Pendeta sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Waça dengan segala manifestasinya. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan. 3. Bila keadaan tidak memungkinkan. untuk otonan selanjutnya tidak dilakukan. 5. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik. Si bayi diberikan tirta pengening (tirta amertha) kemudian ngayab jejanganan. semacam memperingati hari ulang tahun. Pendeta memohon tirta panglukatan. Pemujaan terhadap Siwa Raditya dan penghormatan terhadap leluhur. 2. 6.Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. misalnya keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh. sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna. Doa dan persembahyangan untuk si bayi. Pendeta melakukan pemujaan. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: . dilakukan oleh orangtuanya. memerciki tirta (air suci) pada sajen dan pada si bayi. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Semakin dewasa. yang berarti memohon keselamatan. kalung dan lain-lain. Selanjutnya dilaksanakan setiap 210 hari. 4. 4. upacara bisa ditunda. 3.

Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. Waça dengan 3.  Upacara Rajaswala Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen. namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. lidah. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri.  Upacara Mekupak Upacara ini dilakukan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. dada. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi. 6.1. Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan. pusar. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita. 5. 4. paha barulah diperciki tirta pesangihan. taring. Upacara ini dapat pula disatukan dengan otonan berikutnya. Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi mempersembahkan segala sesajen yang tersedia. Upacara dilanjutkan oieh sangging (yang bertugas memotong gigi) dengan menyucikan peralatannya. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Sang Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak. 3. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama. bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip. gigi bawah. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.  Upacara Mepandes Upacara mepandes atau potong gigi ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (enam musuh yang ada dalam diri manusia) yang ada pada diri si anak. Si bayi natab mohon keselamatan. Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa.  Upacara Pawiwahan . 2. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kemudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya. gigi atas. Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah daha) ini. 2. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1.

Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai dasar pertimbangan. Setelah jaman Dharma Sastra. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana Sista. sekaligus menyucikan benih yang dikandung kedua mempelai. seperti menjaga martabat keluarga. yang mampu melihat secara jelas. Jadi bagi umat Hindu. derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat rohani. pasangan pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi. perkawinan ditentukan oleh seorang Resi. pasangan yang akan dikawinkan. peran orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. karena dapat dipastikan akan berakibat fatal bagi kedua mempelai bersangkutan. nyomia Sang Hyang Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. seperti kecantikan fisik. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi. Menurut UU Perkawinan no 1 th 1974.Yang dimaksud upacara pawiwahan adalah upacara pernikahan. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan jodohnya sendiri. Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Makala-kalaan berasal dari kata kala yang berarti energi. namun oleh raja atau orang tua mempelai. dengan mempertimbangkan duniawi. Peralatan upacara mekala-kalaan: . Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini. melalui proses upacara agama yang disebut mekala-kalaan (natab banten). Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan rencana perkawinannya. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. kegantengan dan lain-lain. oleh sebab itu pada jaman Weda. melebihi penglihatan rohani. Jadi dengan mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari. pertimbangan kekayaan. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki mutu keraksasaan (asuri sampad). Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan kedua mempelai melalui proses penyucian. sahnya suatu perkawinan adalah sesuai hukum agama masing-masing. Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral. berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita. sehingga dapat memberi pengaruh kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam sebel kandel. biasanya di-puput oleh seorang pinandita. cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat dilihat dengan jelas. kecantikan. Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia) kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau untuk merubah menjadi mutu kedewataan (daiwi sampad).

yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin. Tegen-tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil-alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Biasanya nyungklit keris. Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) Simbol calon pengantin. ketampanan. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari. tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni). Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Ida Sang Hyang Widhi Waça dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih. yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan. secara manis. sebagai dewa kebajikan. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut.Sanggah Surya Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. Kalau dipandang dari sudut spiritual. serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Waça dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya. Benang Putih Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter. Perangkat tegen-tegenan: – Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas. berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama. . terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu. dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Ida Sang Hyang Widhi Waça. dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria. Keris Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. kebijaksanaan simbol pengantin pria.

kunir. Siwa) mengisyaratkan kesucian. setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita.– – – – Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam. prilaku yang baik dan pikiran yang baik. Sambuk Kupakan (serabut kelapa) Serabut kelapa dibelah tiga. Tetimpug Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi). rajas. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. Periuk simbol windhu. Cangkul sebagai alat bekerja. berdasarkan ucapan baik. isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna. Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma. Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita. Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan. Wisnu. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa . serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. tamas). diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. yang berisi talas. agar kekuatan triguna dapat terkendali. kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). berkarma berdasarkan dharma. Sapu Lidi (3 tangkai) Simbol Tri Kaya Parisudha. Dagang-dagangan Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang. disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga. beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. Selalu ingat dengan penyucian diri. di dalamnya diisi sebutir telor bebek. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain. Telor bebek merupakan simbol manik.

Pada akhirnya manusia Hindu setelah meninggal dunia dan di-aben. dan 3.lahir anak yang suputra. tukang banten. Pawintenan dengan ayaban saraswati termasuk yang paling sederhana. 2. 2. undagi. orang-orang suci. Tingkat pawintenan ada tiga menurut besar/kecilnya upacara pawintenan yaitu: 1. dan mengembangkan ajaran agama. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi).saat tertentu kepada Sulinggih. Menghaturkan/memberikan punia pada saat. Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Waça. 4. pawintenan tingkat ini untuk para brahmacari misalnya yang belajar agama. Pawintenan dengan ayaban saraswati adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan.tempat pemujaan untuk Sulinggih. diwinten dengan upacara Askara. dll. 3. Sulinggih. pegawai kantor agama. Jadi orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang kemilau karena lahir bathinnya sudah disucikan. Pawintenan dengan ayaban bebangkit untuk yang medium. yang senang gegitaan. Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. Penobatan calon sulinggih menjadi sulinggih yang disebut Upacara Diksa. mawa artinya bersinar-sinar dan inten artinya intan (permata). Mentaati. Pawintenan dengan ayaban catur yang paling utama. sangging. Resi Yadnya Resi Yadnya adalah suatu upacara yadnya berupa karya suci keagamaan yang ditujukan kepada para Maha Resi. Pawintenan dengan ayaban bebangkit adalah pensucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Gana sebagai putra Siwa yang berfungsi sebagai . Pinandita. 1. Pada dasarnya semua orang terutama yang akan mengakhiri masa Grahasta (pensiun) perlu mawinten dengan tujuan mensucikan diri menjelang pulang ke sunia-loka. Resi. Membangun tempat. dalang. menghayati. dll.  Mawinten Mawinten asal katanya dalam Bahasa Kawi. Mereka yang wajib mawinten karena profesinya antara lain: pemangku. dan mengamalkan ajaranajaran para 5. membina. Guru yang di dalam pelaksanaannya dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. Membantu pendidikan agama di dalam menggiatkan pendidikan budi pekerti luhur.

dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan. Makin tinggi tingkat pawintenan-nya makin ketat pelaksanaan brata. kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Waça. Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari. Tapa adalah pengendalian diri agar selalu dalam jalur Dharma. dll. Satu di antara sekian jenis segehan itu ada diwujudkan seperti manusia. Mereka yang sudah mawinten wajib menggelar brata. sebagai tanda manusia memberikan perhatian pada saudara empat-nya karena telah memberikan perlindungan. 1. Selain itu. dll. dan Wisnu sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa. yoga. baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala). Brata adalah pengekangan hawa nafsu panca indra. tukang banten. Manusia dalam upayanya mengucap syukur selalu melakukan persembahan. nasi menjadi satu komponen penting. maka jenis segehan itu pun ada . Ia hadir dalam berbagai bentuk dan nama pada bebantenan Bali. Dalam persembahan tersebut. dalang. Pawintenan dengan ayaban catur adalah pensucian diri dengan memuja para Dewa: Iswara. samadi-nya. tumbuh.tumbuhan. Yeh Nyom. Getih. tapa. baik secara sekala maupun niskala. rumah serta lebuh. Contoh lain dari Bhuta Yadnya adalah segehan. Lamas. Adapun pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dapat berupa: Upacara yadnya (korban suci) yang ditujukan kepada makhluk yang kelihatan/alam semesta. tapa. pawintenan tingkat ini untuk para undagi. samadi. Persembahan itu dihaturkan di bawah yaitu di natar Merajan. pawintenan tingkat ini untuk para pemangku. hewan (binatang). Yoga adalah senantiasa memuja kebesaran dan kemuliaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Brahma. Selanjutnya di natar sanggah pamerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. sangging. Bhuta Yadnya Bhuta Yadnya adalah suatu korban suci kepada sarwa bhuta yaitu makhlukmakhluk rendahan. Mahadewa. Karena tempat masegeh ada tiga.pelindung manusia. Selain berwujud tumpeng. nasi juga dipakai untuk membuat berbagai segehan yang dihaturkan di pertiwi. Pada umumnya dihaturkan pada kala bucarabucari supaya tidak mengganggu. Samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri secara total pada kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Lantas yang terakhir di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Ke bawah pun dilakukan dalam wujud segehan. karena di natar rumah ditanam I Catur Sanak yaitu Ariari.  Segehan Tak hanya vertikal ke atas persembahan manusia Hindu ditujukan. yang disebut dengan istilah Mecaru atau Tawur Agung. pinandita. yoga.

Jenis segehan ini dibentuk menyerupai wujud manusia. Kemudian pada hari Saniscara (Sabtu) Keliwon Wuku Kuningan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang. jajanan dan lain-lain. di antaranya Panji Amalat Rasmi (Zaman Jenggala) pada abad ke11 di Jawa Timur. Namun tidak berarti bahwa dunia ini lahir pada hari Budha Kliwon Dungulan. Menurut arti bahasa. sejak hari Minggu (tiga hari sebelum Galungan) umat Hindu didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sedangkan segehan wong-wongan (ada juga yang menyebut nasi wong-wongan) hanya dihaturkan orang yang nyungsung ataupun memiliki sakit tertentu. lengkap dengan kepala. ada juga hanya mengambil bentuk bagian tubuh manusia saja. seperti dada dan rusuk (nasi tangkah-iga). kemudian disusul oleh Hari Raya Kuningan setelah sepuluh hari. Mereka adalah simbol angkara.tiga. Disebutkan dalam pustaka-pustaka Hindu bahwa dalam rangkaian peringatan Galungan. berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. jagung. Ini adalah hari raya khusus. adalah Hari Raya Kuningan. segehan lima (5) di natar merajan dan segehan sia (9) di lebuh. bukanlah melawan musuh berbentuk fisik. Dalam pararaton zaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke-16. juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Galungan itu sudah dirayakan. Tuhan sebagai pencipta dipuji dan dipuja. Jenis segeh itu yaitu segehan pat (4) dihaturkan di natar rumah. Tapi. leher. Berjuang. dimana para leluhur yang setelah . dan kaki. Ketiga jenis segehan tersebut termasuk segehan umum yang dihaturkan oleh umat Hindu. perayaan semacam ini juga sudah diadakan. kelapa. Dengan mempelajari pustaka-pustaka. tangan. Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Penjor selamat datang dibuat dari bambu melengkung. Galungan itu berarti peperangan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini. Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan. termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. Hari Raya Terkenal di Bali  Galungan dan Kuningan Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan. dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi. Terakhir diisi sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-masing. Sesajen menyambut kedatangan leluhur itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga. Jadi dalam hal ini umat Hindu berperang. Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). tetapi simbol keletehan dan adharma. badan.

si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya dan kebetulan di bawah pohon tersebut ada sebuah lingga Bhatara Siwa. upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara). saat Bhatara Yama melakukan pengadilan. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri. Di Bali. dan membawa Lubdaka ke sorga. Maka ketika Lubdaka meninggal.  Siwaratri Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waça dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. dalam usaha menimbulkan kesadaran diri. Bhatara Siwa sudah terlanjur ’sayang’ dengan Lubdaka yang menemaninya satu malam beryoga. karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Padahal. melakukan intervensi pada keputusan Bhatara Yama. Siwaratri juga disebut hari suci pajagran. Sementara. Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang lebih besar. Pada hari itu dibuat nasi kuning. Agar tidak dimakan binatang buas. untuk menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta). Bhatara Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi Lubdaka sebagai pemburu adalah dosa. pada malam Siwaratri. Pengrupukan. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (bulan mati kesembilan) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta (air kehidupan). sebagai pengusir kantuk. datanglah satu batalyon tentara surga yang dikirim oleh Bhatara Siwa. Sedangkan di pedesaan biasanya ada beberapa Barong ngelawang diikuti sekolompok anak-anak dengan tetabuhan. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Bhatara Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan ‘menemani’ Bhatara Siwa melakukan yoga. jadi secara tidak langsung Lubdaka melakukan pemujaan kepada Bhatara Siwa tepat di saat beliau beryoga. Siwaratri selalu dikaitkan dengan cerita Lubdaka. dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan. lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terima kasih umat Hindu menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa bahan-bahan sandang dan pangan. membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. Berikut perinciannya: Tawur (Pecaruan).beberapa saat berada dengan keluarga sekali lagi disuguhkan sesajen dalam upacara perpisahan untuk kembali ke stananya masing-masing. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat Hindu. Agar tetap terjaga. Saat yang bersamaan. si Lubdaka naik ke pohon. dan Melasti . Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa. pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa. Bhatara Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. Konon.  Nyepi Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Çaka. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak tidur).

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan. yaitu menyebar-nyebar nasi tawur. serta menyucikan pratima. Untuk memulai hidup dalam tahun baru pun. dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. selalu didahului dengan perlambang gelap. Selambat-lambatnya pada tilem sore. dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah. seperti ayam berbulu brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil). tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih.Sehari sebelum Nyepi. pekarangan. Tahap terakhir adalah melasti. karena laut dianggap sebagai sumber amerta. Demikianlah untuk masa baru. Wanita yang beralih dari masa kanakkanak ke dewasa. yaitu pada Tilem Kesanga. Menurut umat Hindu. sehingga ada masa amati geni. Bhuta Kala dan Bhatara Kala. ditempuh secara baru lahir. Upacara ini dilakukan di laut. Khusus di Bali. Pañca Sanak (sedang). dasar ini dipergunakan. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar. mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan. segala hal yang bersifat peralihan. pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut Catur Brata Penyepian dan terdiri dari: – – – – Amati Geni (tidak menggunakan dan/atau menghidupkan api) Amati Karya (tidak bekerja) Amati Lelungan (tidak bepergian/keluar rumah) Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang) Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu manusia. dan kemudian dibakar. Nyepi Keesokan harinya. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja. Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian Bhuta Kala. melasti harus selesai. dan lingkungan sekitar. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak diwujudkan dengan matekep guwungan (ditutup sangkar ayam). Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah 9 paket beserta lauk pauknya. yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut. Ngembak Geni . dan Tawur Agung (besar). umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing.

Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan yaitu burung besar serupa angsa. mahasiswa dan instansi pendidikan serta instansi pemerintahan. Dewi Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan. Namun muncul kesan negatif dari hal ini yaitu generasi muda terutama para siswa . Khusus untuk daerah Denpasar. membaca pustaka-pustaka. kesusilaan dan sebagainya. Pada hari inilah Tahun Baru Çaka tersebut dimulai. Di pagi hari para generasi muda terutama siswa akan berbondongbondong menuju sekolah masing-masing untuk bersembahyang bersama kemudian dilanjutkan Pura Jagatnata. atau melakukan Dharma Gita atau kekawin di tempat-tempat suci. semua pustaka-pustaka.  Saraswati Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu pengetahuan). manusia menjadi beradab dan berkebudayaan. Banyak kelompok Dharma Gita atau Pesantian yang biasanya melakukan semadhi. Pada hari raya Saraswati. Umat Hindu seling mengunjungi keluarga besar dan tetangga. Tangan yang lain memegang Wina (alat musik sejenis rebab) dan sekuntum bunga teratai. Selain itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa). Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. Berkat anugerah Dewi Saraswati. Di Bali. persembahyangan Saraswati biasanya didominasi oleh para penuntut ilmu yaitu siswa. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. banyak yang begadang di pantai. Dari pagi hari sampai malam harinya tetap saja masih ada yang datang ke Pura Jagatnata. Mereka begadang sampai pagi. bahkan di malam harinya biasanya sampai terjadi antrian dan berdesak-desakan untuk masuk ke pura. di pura. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat. dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat. biasanya tangan-tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). tetapi dapat terbang tinggi. kesadaran (widya). Perayaan Saraswati juga dilakukan dengan Mesambang Semadhi. lontar-lontar. Dewi Saraswati merupakan sakti (istri) dari Dewa Brahma. saling maaf memaafkan satu sama lain. yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontarlontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan Ida Hyang Saraswati. di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai. pura atau merajan. buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaranajaran agama. pura yang biasanya paling ramai adalah dijadikan tempat bersembahyang adalah Pura Jagatnata yang terletak di pusat kota Denpasar. dan sastra. Untuk generasi muda. bersama teman-temannya. dibersihkan.Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Çaka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal ping pisan (satu) sasih kedasa (kesepuluh).

apresiasi terhadap kesenian sangat tinggi 5. Setelah melakukan upacara dan semadhi di malam hari. sangat menghormati pemimpin 6. senang berjudi atau taruhan 7. ramah dan sopan 10. cenderung santai 8. yakni di pagi buta membasuh muka dengan air kumkuman (air kembang). Pantai yang paling ramai dikunjungi biasanya pantai Sanur.yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran. masyarakat akan beramai-ramai menuju pantai dan melakukan Banyu Pinaruh serta mandi di pantai. menganggap semua orang adalah keluarga yang distilahkan dengan Nyama 4. overtoleran 3.menjunjung tinggi adat yang telah ditetapkan dan disepakati (demokrasi) PRODUK BUDAYA .menyukai keindahan 11. dilaksanakan Banyu Pinaruh. hormat kepada leluhur dan orang yang lebih tua 9. Percaya kepada hal-hal mistik 2. Keesokan harinya. KARAKTERISTIK ORANG BALI SECARA UMUM 1.

Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan. Kakawin adalah puisi Bali .SENI SUARA a. Sekar Madya Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan. 2. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. Gegendingan Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. Sekar alit Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat). Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. yang biasa disebut tembang macapat. Seni Tembang Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa. Yang ada di dalamnya adalah pembagian-pembagian seperti : Pangawit Pembuka Pamawak bagian yang pendek Panama bagian yang panjang Pangawak bagian utama dari tembang 4. umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. 3. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok: 1. dan sederhana. dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara. Dikatakan bebas karena benarbenar tidak ada ikatannya. Isinya pada umumnya pendek. baik upacara adat maupun agama. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. gaguritan atau pupuh. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Sekar Agung Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu. kelompok Sekar Alit. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empatempat suku kata (ketukan). yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat. baik upacara adat maupun agama.

yang ditampilkan sehari setelah upacara tersebut dan tari ini terdapat di desa Tenganan 2. Jenis dan macam-macam drama dan tari antara lain : 1. Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:  Aswalalita  Wasantatilaka  Tanukerti  Sardulawikradita  Watapatia Wangeasta  Wirat  Çekarini  Girisa  Prtiwitala  Puspitagra  b. Simbolisme yang digambarkan oleh para seniman drama dan tari di Bali sangat komunikatif. Ini menunjukkan bahwa budaya kita sangat beradab. Abuang Abuang atau Mabuang merupakan tari hiburan dalam upacara penyimpanan Bhatara Bagus Selonding atau disebut upacara ngalemekin. sama-sama mengandung rasa dan aroma yang tidak berbeda. Budaya Bali memiliki banyak sekali ragam kesenian Drama dan Tari. tentang baik dan buruk. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya. Drama dan tari penuh dengan simbol-simbol. SENI DRAMA DAN TARI Drama dan tari tidak dapat dipisahkan. Drama dan tari tidak hanya menghubungkan nalar dan rasa antar manusia. Arja . Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan. Baik simbol dari kehidupan nyata maupun simbol kehidupan alam lain dan mimpi-mimpi. sehingga mempunyai kekhasan tersendiri. tetapi juga menghubungkan alam sekala dan niskala manusia secara harmonis dan estetis. Keduanya seperti dua warna permukaan daun sirih. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian sebagai berikut: Pengawit (penyemak) Panampi ( pangisep) Pangumbang Pamalet Kakawin pembukaan dilakukan dengan diselingi terjemahannya. tetapi dapat memberikan pedoman yang mudah dicerna tentang benar dan salah. Tidak hanya menghibur hati.klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Hanya peradaban manusia yang mengerti arti simbol. Mengalir terus dipenuhi dengan inovasi baru yang tak pernah terbendung. Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI.

. Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya. Arja juga menampilkan lakon-lakon dari cerita rakyat seperti Jayaprana. pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Cipta Kelangen. Arja ini disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat karena. menghadirkan komedi segar.Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. dimainkan oleh satu orang). Liku. • Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang). Limbur. Linggar Petak. Galuh. Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi Arja disebut Gaguntangan yang bersuara lirih dan merdu sehingga dapat menambah keindahan tembang yang dilantunkan oleh para penari. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat. • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah: • munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan. Sampik Ingtai. Made Umbara. merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. pemainnya semua pria. Pakang Raras. Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat). Panasar. Mantri Manis. Hampir semua daerah di Bali masih memiliki grup-grup Arja yang masih aktif. Desak (Desak Rai). Cilinaya dan Dempu Awang yang dikenal secara luas oleh masyarakat. Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing masing terdiri dari Punta dan Kartala. kemudian lahirlah sejumlah cerita seperti Bandasura. Basur dan Cupak Grantang serta beberapa lakon yang diangkat dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Arja adalah semacam opera khas Bali. I Godogan. sebagian memerankan wanita. Menjelang berakhirnya abad XX lahir Arja Muani.

1. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Dari wujudnya. Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit. Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa. ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan). Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern. Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari. ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Barong dan Rangda Barong dipercaya sebagai pelindung desa masyarakat Bali. Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang. Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Arja. macan. 4. Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). sapi atau boma. satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. .

Baris Tamiang 2. dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain : 1. Baris Pendet 7.Para pemain mengenakan busana tradisional Bali. Baris Presi 6.jenis tari Baris yang ada. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun 2. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja. begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. kelompok penarinya membawa senjata. Tari Baris Sebagai tarian upacara. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. Baris Dadap 5. umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh. Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Walaupun demikian. Baris Katekok Jago 3. yang kemudian menjadi nama dari jenis. lugas dan dinamis. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Baris Bajra 8. sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain. sesuai dengan namanya "Baris" yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda. Baris Kupu-Kupu . Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. Baris Tumbak 4. Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Setiap jenis.

Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana. Baris Jojor 23. Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Kecak Bila mendengar nama Bali. Baris Jangkang 15. tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik. seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Baris Gowak 21. Baris Kelemet 6. Baris Cerekuak 18. Sita dan Hanoman. Baris Mamedi 19. Ya! Tari Kecak. yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama. Baris Ketujeng 20. Baris Bedil 11.9. apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. Baris Cina 12. Baris Cendekan 13. Baris Demang 17. Pada tari Sang Hyang. Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya . Selain Tari Kecak. Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut. Baris Omang 22. Baris Kuning 24. juga ada Tari Barong dan Legong. Baris Panah 14. Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Baris Tengklong 10. Baris Gayung 16.

acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari. yang terbagi menjadi lima babak. Namun. Nantinya. sambil melemparkan pandangan ke arah penonton. Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai. Ini salah satu alasan memilih bangku belakang. tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton. dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. Bali. untuk tempat duduk.00 Wita. Apabila sempat menikmati tarian ini secara langsung. selain tiket. kita akan melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat. Suara mereka sangat merdu. Sesaat sebelum kita memasuki pelataran pura. Kamis dan Jumat pada pukul 19. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrakjingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. pengunjung dibebaskan memilih. Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. kita akan melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian. lalu membakarnya. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api. Ia bertingkah dengan sangat liar. Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. Ubud. maka ia pun akan menari di atasnya.di Jl Hanoman. tidak terdengar sumbang sedikit pun. Untuk menikmati tarian sendiri. Dan beberapa kali ia menendangnya. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat. pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana. yang kebanyakan turis dari luar negeri. Sekitar lima menit kemudian. Yakni setiap Selasa. Kenapa harus perawan. Mereka adalah rombongan penari kecak. karena keperawanannya berarti kesucian. yaitu agar aman dari bara api yang . Padang Tegal Kelod. Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai.

Karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan (memperagakan adegan kematian bangke-bangkean. rasanya kurang lengkap. maupun Gong Kebyar. yakni Babarongan diwakili oleh Barong Ket. Karena pagelaran dramatari ini selalu melibatkan Barong Ket maka Calonarang sering disamakan dengan Barong Ket. ilmu hitam maupun ilmu putih. Cerita lain yang juga sering ditampilkan dalam drama tari ini adalah cerita Basur. Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak. menusuk rangda dengan senjata tajam secara bebas) maka Calonarang sering dianggap sebagai pertunjukan adu kekebalan (batin). Dramatari ini pada intinya merupakan perpaduan dari tiga unsur penting. Unsur Pagambuhan diwakili oleh Condong. 7. Bebarongan. Patih Manis (Panji) dan Patih Keras (Pandung) dan Palegongan diwakili oleh Sisiya-sisiya (muridmurid). Dari segi tempat pementasan. Lakon-lakon yang ditampilkan pada umumnya berakar dari cerita Calonarang. Tokoh penting lainnya dari dramatari ini adalah Matah Gede dan Bondres. Putri. Rangda dan Celuluk. Pertunjukan Calonarang bisa diiringi dengan Gamelan Semar Pagulingan. sebuah cerita semi sejarah dari zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa timur) pada abad ke IX.melayang akibat tendangan si penari.Calonarang Dramatari ritual magis yang melakonkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir. pertunjukan Calonarang biasanya dilakukan dekat kuburan (Pura Dalem) dan arena pementasannya selalu dilengkapi dengan sebuah balai tinggi . Anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini. dikenal dengan Pangiwa / Pangleyakan dan Panengen. sebuah cerita rakyat yang amat populer dikalangan masyarakat Bali.

(trajangan atau tingga) dan pohon papaya. yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat. Sunda Upasunda dan lain sebagainya.Janger Merupakan jenis tarian pergaulan.9. Jenis tari Jauk ini antara lain • Jauk Keras (Jauk Enggang). Penarinya adalah pria. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria. Tarian ini lebih bersifat improvisasi dengan struktur koreografi yang fleksible. 8. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. • Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang- . Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX. • Jauk Manis (Jauk longgor). ditambah dengan gelungan jauk dan kaos tangan yang berkuku panjang. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali. sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita. 9. merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Jauk Tarian bertopeng yang menggambarkan seorang raja raksasa yang sedang berkelana. mengenakan busana yang terdiri dari awiran yang berlapis-lapis. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. terutama bagi muda mudi.

10. Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan. setan dan lainlainnya. sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali.• • kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak). manusia. binatang. topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Dari yang berbentuk wajah dewa-dewi. Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar). kertas. para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari). Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad. Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung. . Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong. kain dan bahan lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda.Topeng Topeng berarti penutup muka yang terbuat dari kayu.

tiup. Cak Rina Setan Bercanda Ngelawang Cak Subali . 11. Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah: Topeng Pajegan yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. . maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. kaprahnya. dan Cenikan yang lebih kecil).Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua). alat bunyi-bunyian tradisional disebut gamelan atau gambelan. Topeng Panca yang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres. Di Bali. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada. Panasar (Kelihan . seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. petik dan sebagainya. gesek. Di dalam tarian baru ini elemenelemen seni klasik/ tradisional Bali dipergunakan secara bebas dan kreatif. Dalam gamelan ada alat musik tabuh. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan.Sugriwa Barong-Barongan c. Kreativitas seperti ini melahirkan garapan tari baru yang inovatif yang menawarkan gagasan atau nafas-nafas baru yang dapat dikelompokkan sebagai tari Bali modern. Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). yakni topeng Sidakarya.Tari Kontemporer Salah satu tarian kreasi baru yang mempunyai ungkapan artistik yang bebas.yang lebih tua. muncul sejak makin maraknya pertumbuhan tari-tarian Bali kreasi baru di awal tahun 1970. Seni karawitan Seni Karawitan adalah seni mengolah bunyi benda atau alat bunyibunyian (instrumen) tradisional. sesuai rasa estetik individu penatanya.

merupakan barungan gamelan yang sudah memakai kendang dan instrumeninstrumen bermoncol (berpencon). Dalam barungan ini. yang berasal dari sekitar abad XVI-XIX. Beberapa barungan madya antara lain :  Batel Barong .Menurut jamannya. kendang sudah mulai memainkan peranan penting. Kalaupun ada kendang. Beberapa gamelan golongan tua antara lain :  Angklung  Balaganjur  Bebonangan  Caruk  Gambang  Gender Wayang  Genggong  Gong Beri  Gong Luwang  Selonding Barungan madya. Gamelan Bali dibagi menjadi 3 bagian besar:  Gamelan Wayah  Gamelan Madya  Gamelan Anyar Gamelan wayah atau gamelan tua diperkirakan telah ada sebelum abad XV. dapat dipastikan bahwa peranan instrumen ini tidak begitu menonjol. Umumnya didominir oleh alat-alat berbentuk bilahan dan tidak mempergunakan kendang.

upacara adat Bali. maupun sebagai hiburan semata. seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya. Di desa-desa maupun di kota. adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. yang meliputi jenisjenis barungan gamelan yang muncul pada abad XX. Beberapa gamelan anyar antara lain :  Adi Merdangga  Bumbung Gebyog  Gamelan Bumbang  Gamelan Geguntangan  Gamelan Genta Pinara Pitu  Gamelan Gong Kebyar  Gamelan Janger  Gamelan Joged Bumbung  Gamelan Manikasanti  Gamelan Semaradana  Gong Suling  Jegog  Kendang Mabarung  Okokan / Grumbungan  Tektekan Instrumen-instrumen gamelan tersebut adalah: 12. Wayang  Wayang Kulit Wayang Kulit. yaitu: Wayang Lemah ( Wayan Gedog) Wayang Peteng Asal-usul Wayang Kulit di Indonesia hingga kini masih . Barungan gamelan ini nampak pada ciri-ciri yang menonjolkan permainan kendang. Wayang Kulit Bali terdiri dari dua jenis.      Bebarongan Gamelan Joged Pingitan Gamelan Penggambuhan Gong Gede Pelegongan Semar Pagulingan Gamelan Anyar adalah gamelan golongan baru. masyarakat masih sering mempergelarkan Wayang Kulit dalam kaitan dengan upacara agama Hindu.

Ida Bagus Sudiksa berkali-kali mementaskan wayang kulit Parwa dengan iringan gamelan Angklung lengkap. yadnya. pertunjukan Wayang Kulit yang memadukan berbagai unsur seni rupa. baik untuk menyelesaikan program . dari India ataupun dari negara lain. atau memalui kerja patungan atau kolaborasi dengan seniman luar atau asing. dari zaman pemerintahan raja Ugrasena di Bali. etika dan lain-lain. ditemukan sejumlah istilah seni pertunjukan yang diyakini berarti wayang atau pertunjukan wayang (baca : Serba Neka Wayang Kulit Bali. Di Bali.diperdebatkan oleh para ahli dan masih belum ada kesepakatan apakah Wayang Kulit memang asli Indonesia. Oleh masyarakat penonton semuanya ini dijadikan pedoman dan tuntunan bagi kehidupan mereka sehari-hari. gerak dan suara. kesenian ini juga menyajikan petuah-petuah mengenai nilai-nilai moral. Sementara para dalang secara kreatif melakukan penyegaran kesenian mereka. dalam pementasannya tidak saja menampilkan lakon-lakon literer yang diambil dari karya-karya sastra klasik terutama Mahabrata dan Ramayana. Betapa tidak. pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang (tututan). sastra. 1975). Dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun Çaka 818 ( 896 M). Di lingkungan budaya Bali. wayang-wayang kreasi baru sudah banyak diciptakan sehingga menambah perbendaharaan seni perwayangan di pulau ini. pertunjukan Wayang Kulit melibatkan antara 3 orang sampai 15 orang yang meliputi : dalang. Dalam usahanya memberikan nafas baru dalam wayang Parwa. bahkan pernah dengan gamelan Balaganjur. Yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya dalangdalang wanita berbakat yang siap bersaing dengan para dalang pria. Sebagai sajian tugas akhir. pertunjukan Wayang Kulit diperkirakan sudah ada sejak sekitar abad ke IX. Komando tertinggi dalam pertunjukan Wayang Kulit ada pada si dalang. dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah (Buduk) memasukan gamelan Suling atau Pegambuhan. Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125 130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak). spiritual dan sosial sehingga masyarakat yang buta huruf akan memperoleh ajaran-ajaran tatwa. Belakangan ini dalang muda berbakat. Kiranya belumlah lengkap jika pembahasan mengenai seni pewayangan Bali tidak dilengkapi dengan adanya beberapa usaha inovasi dan kreatif dari para seniman dalang di pulau ini. Sejak masa lampau pertunjukan Wayang Kulit menjadi salah satu media pendidikan informal bagi warga masyarakat.

Misalnya: • • • • • • Penggunaan layar lebar berganda. dan lain sebagainya. Dalam hal iringan. Pada beberapa bagian pertunjukan. pemakaian wayang golek besar. yang didukung oleh Gamelan Sekar Jaya di bawah asuhan komposer muda. gamelan Selonding dan Selukat juga telah dicoba untuk mengiringi pertunjukan wayang Bali.  Wayang Orang Wayang Wong pada dasarnya adalah seni pertunjukan topeng dan perwayangan dengan pelaku-pelaku manusia atau orang (wong). Amerika Serikat. seperti lampu strobo. I Nyoman Catra. semua penari berdialog. Pertunjukan pertama wayang listrik ini dilakukan di San Fransisco dan pada tahun 1996 yang lalu juga dipentaskan di Bali dalam rangka Festival Wayang Walter Spies. . Nama ini diberikan berdasarkan kenyataan bahwa dalam pertunjukannya terdapat perpaduan dua unsur penting yaitu : pemain wayang kulit Bali dengan permainan atau proyeksi cahaya lampu listrik.bait penting dari Kakawin. penggunaan tata-lampu modern. semua tokoh utama memakai bahasa Kawi sedangkan para punakawan memakai bahasa Bali. I Dewa Bratha.Seniman (setingkat Sarjana) pada jurusan Seni Pedalangan di STSI Denpasar. Desak Suarthi Laksmi) dengan seniman dalang Larry Reed dari San Francisco. pemakaian overhead-projector untuk menciptakan citra-citra realistis sebagai latar belakang. dan sebagainya. Masih merupakan bagian dari perkembangan wayang kulit Bali adalah wayang Listrik yang merupakan hasil kerja patungan antara seniman (I Made Sidja. spotlights. pemakaian pemain wayang dalam jumlah yang banyak dengan satu orang dalang sebagai narator. para mahasiswa juga telah melakukan berbagai percobaan. Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali. Dalam membawakan tokoh-tokoh yang dimainkan. para penari juga menyanyi dengan menampilkan bait .

Delem. Tatkala masuk pengaruh Majapahit. Tunjuk. Wates Tengah (Karangasem). Sanggut. Klating (Tabanan). Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna. Teges. Para penarinya umumnya tidak mengenakan topeng. Den Tiyis (Gianyar). perkembangan bahasa Bali sendiri dibagi dalam tiga babakan. Hampir semua penari mengenakan topeng. 13. Wayang Wong Ramayana kemudian disebut Wayang Wong saja. Parwa terdapat di desa-desa: • • Sukawati. kecuali para punakawan. Pertama. Marga. Pujung (Gianyar) Blahkiuh (Badung). Terdapat di desa-desa: • • • • • • Mas. Bualu (Badung). bahasa Kawi-Bali pun mulai digunakan. Diiringi dengan gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. BAHASA DAN AKSARA ➢ Bahasa Bali Dr. Batuagung (Jembrana) Wayang Wong Parwa yang biasa disebut Parwa yakni dramatari wayang wong yang mengambil lakon wira carita Mahabrata (Asta Dasa Parwa). Apuan.Di Bali ada dua Jenis Wayang Wong. terutama di naskah-naskah lontar. Sulahan (Bangli). bahasa Bali Kuno yang sering juga disebut dengan . Diiringi gamelan Batel Wayang yang berlaras Slendro. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuna dominan digunakan dalam prasasti-prasasti periode awal zaman Bali Kuna. yaitu Wayang Wong Ramayana. Karena itulah. seperti Malen. dan Wayang Wong Parwa. Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan bahasa dan aksara Jawa Kuna. Prancak. ialah dramatari perwayangan yang hanya mengambil lakon dari wira carita Ramayana. Merdah. Telepud.

dan adeg-adeg atau tanda bunyi mati. Bahasa hormat (basa alus) yang dipakai saat berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi telah mengalami beberapa perubahan karena pengaruh modernisasi dan demokrasi. Selain itu. dalam aksara Bali ada yang disebut pangangge tengenan. Tengenan ini dilukiskan dengan pangangge tengenan serta gantungan (ditulis di bawah aksara) atau gempelan (digabungkan dengan aksara di depannya). misalnya: a. Bahasa Bali kuno itu. yaitu pada masa pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. bahasa Bali Tengahan atau sering disebut Kawi-Bali dan ketiga. huruf mati) yang terletak pada akhir kata yang melambangkan fonem konsonan.) dan nadha (bintang. Aksara biasa terdiri atas aksara wreastra -.utpatti-sthiti-pralina atau lahir-hidup-mati. ➢ Aksara Bali Aksara Bali terbagi atas aksara biasa dan aksara suci. o. Contoh pangangge tengenan: cecek (ng). Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini.nama bahasa Bali Mula. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. dapat ditulis ma dengan cecek sebagai aksara biasa atau ma dengan amsa sebagai aksara wijaksara/bijaksara. terdiri atas 18 aksara (lihat boks penjelasan aksara Bali). windu (matahari. Ketiganya melambangkan Dewa Tri Murti -. bulatan. ka. ung. segi tiga). Dewa Brahma dengan lambang api. na. kasar.aksara yang dipergunakan sehari-hari. dan aksara swalalita atau aksara yang dipergunakan pada kesusastraan Kawi yang terdiri atas 47 aksara. surang (r). satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari . ang. kedua. bisah (h). bahasa Bali tidak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. e. Peninggalanpeninggalan prasasti dari jaman Hindu-Bali menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. Aksara amsa terdiri atas ardhacandra (bulan sabit). pada masa berikutnya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit. Tengenan adalah aksara wianjana (huruf konsonan. dan aad. misalnya: a. selain mengandung banyak kata-kata Sansekerta. Bahasa Bali juga mengenal apa yang disebut ”perbendaharaan kata-kata hormat”. u. Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. Dilihat dari perbendaharaan kata dan strukturnya. Dewa Wisnu dengan simbol air dan Dewa Siwa atau Iswara dengan lambang udara. Aksara suci terbagi atas aksara wijaksara atau bijaksara (aksara swalalita + aksara amsa. ca. mang) dan modre atau aksara lukisan magis. Artinya. ra. Misalnya kata gamang. asah. Jika kita perhatikan tulisan aksara mang. misalnya: ong. i. Aksara amsa adalah lambang Hyang Widhi dalam wujud Tri Murti. walaupun tidak sebanyak seperti dalam bahasa Jawa. bahasa Bali Kapara atau bahasa Bali modern yang diwarisi hingga saat ini.

sering dipakai titi. Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Tidak mutlak astronomis seperti kalender Hijriyah. Dikatakan konvensi atau kompromistis. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru. KALENDER BALI Kalender Saka Bali adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. karena sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya. Panjang bulan Dalam 1 bulan candra atau sasih. Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India. Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong.huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata dimaksud. Dalam perhitungan matematis. tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya. diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. 14. kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari setelah purnama sampai 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Idealnya awal tahun . Setelah purnama. setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra tambahan yang merupakan bulan kabisat. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru. disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa. Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Jadi penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal. Derajat ketelitiannya cukup bagus. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. namun tidak pula seperti kalender Jawa. hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. sampai 15 yaitu purnama. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Hari ini dinamakan pangunalatri. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal. Untuk menyelaraskan itu. untuk membedakan warna. sampai 30 pada bulan mati. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Kalender Bali bisa dianggap istimewa sebab kalender Saka Bali adalah penanggalan "konvensi". Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra.

MAKANAN KHAS BALI Lawar Lawar merupakan makanan khas Bali yang dibuat dari campuran daging. Babi Guling Nama babi guling untuk daerah bali lebih dikenal dengan be guling. 15. dan angka tahun dari sasih terakhir. Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2. Idealnya pada penanggal 1. karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga.surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu). angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. nangka muda. diperingati sebagai hari raya Nyepi. Sejak hari raya Nyepi. Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa). tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa. Tahun Baru Tahun baru bagi Kalender Saka Bali. diundur 1 hari. Pada tahun 1993. Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi. Dengan demikian sasihsasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. sehingga tahun baru Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April. Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi dan disantap sehabis melaksanakan upacara adat dengan cara prasmanan. yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). pepaya muda dengan bumbu lengkap Bali. Sebetulnya be guling dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam. Babi guling adalah sejenis lauk pauk yang di buat dari anak babi betina atau jantan secara utuh . bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa).

namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung. Bahan yang dipakai batang pohon pisang batu atau batang pohon pisang yang lain. terus diiris-iris. cabe. rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali. Jukut Ares Jukut Ares. kemudian dicuci untuk menghilangkan rasa asin garam. dalm bahasa Indonesia Sayur Ares. jahe. terasi. Kemudian irisan gedebog dimasukkan ke dalam kaldu. Kemudian dibuat rebusan kaldu ayam ato babi. Makanan ini dari batang pohon pisang yang muda. dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai denga warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah. Babi guling yang paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar. Tambahkan daun salam agar wangi dan garam supaya tidak hambar. Cara memasaknya mudah. bawang putih. orang Bali menyebutnya "gedebong". Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan. dibuang bagian luarnya.Bali . Kemudian irisan ini harus diremas dengan garam agar getahnya hilang. kencur. sampai ketemu bagian muda. Entil Pupuan . kemudian masak hingga matang. dan merica 'kalo suka". kunyit. Batang pohon pisang dikuliti. laos.kecuali isi perutnya dikeluarkan seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon. Kemudian ditambah bumbu "basa genep" atau bumbu lengkap yang terdiri dari: bawang merah.

Jineng/lumbung. tempat menyimpan gabah/padi 7. Pamesu/Kori . Aling-Aling 9. Tempat Tidur (Meten) 3. "be jeruk" merupakan sebutan makanan khas bali yang isinya daging ayam suir-suir dicampur sama kelapa parut. sayur urap. Satu porsi terdiri dari entil 2 bungkus. serundeng ( parutan kelapanya besar-besar dan kering. Bale Dangin. tidak manis seperti serundeng umumnya ) kemudian disiram dengan "be jeruk" yang sedikit berkuah. 16. dan berkuah warnanya kuning. Pura Keluarga (Merajan) tempat memuja leluhur dan Hyang Guru 2. Arsitektur Tradisional Bangunan Hunian 1.Entil biasanya dimakan dingin. tempat 6. Bale Dauh sebagai tempat beraktivitas 4. Paon (dapur) 8. mirip lontong sayur.

PURA Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur. -pura. tempat menerima tamu Hunian pada masyarakat Bali. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas.melaksanakan aktivitas ritual seperti menaruh dan membuat sesajen 5. sedang daerah publik dan bangunan pendukung (paon. -pore). Di sini pula tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga. Pura Sakenan. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti. istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah. atau anak gadis. yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi). sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). kota berbenteng. . 17. tempat ibadah) berada dalam satu atap. sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. yang artinya adalah kota. Pura Lempuyang. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci. dan Pura Luhur Uluwatu. -puram. sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa . merupakan arah masuk ke hunian. lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah. Pura Kahyangan Jagat Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum. pamerajan (sebagai pura keluarga). atau kota dengan menara atau istana. di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri sendiri. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan alingaling. Sekenem. Pura Luhur Batukaru. tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Pamerajan atau sanggah. digunakan sebagai tempat pemujaan. Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah. adalah bangunan paling awal dibangun. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding. -puri.Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali. Secara umum pura diklasifikasikan menjadi : 1. Pura Rambut Siwi. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian.

Pura Ulunsuwi. Pura Kahyangan Desa Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada. Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu Çiwa. dan Pura Uluncarik. Panti. Pura Swagina Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. untuk para pedagang adalah Pura Melanting. Pratiwi. . Sanggah-Pemerajan. Pura Kawitan Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut. Termasuk ke dalam kategori ini adalah. Dadia atau Dalem Dadia. Pura Bedugul. perkantoran pemerintah maupun swasta. 4.2. para petani dengan Pura Subak. Paibon. Penataran Dadia. Pedharman dan sejenisnya. Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata pencaharian seperti. 3.

Kegiatan pariwisata hanya menyebabkan perubahan-perubahan fisik saja dan tidak sampai pada sendi-sendi masyarakat dan kebudayaan Bali. Segera setelah itu proses perubahan tumbuh dengan cepat. masyarakat dan kebudayaan Bali masih tampak sama seperti berabad-abad lalu. sedangkan jumlah dari sekolahsekolah itu amat terbatas pada beberapa buah yang ada di dua-tiga kota saja.MASALAH PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Proses perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan Bali itu memang sudah dimulai sejak zaman kolonial. Pada awal zaman kemerdekaaan. Namun karena sistem pendidikan hanya terbatas kepada tingkat SD. maka proses perubahan itu berjalan amat lambat. dengan adanya sistem pendidikan sekolah-sekolah dan dengan kegiatan pariwisata yang sudah dikembangkan secara luas waktu itu. Banyak pemuda Bali yang pergi ke luar Bali dan ke luar negeri untuk belajar sampai akhirnya universitas-universitas didirikan di Bali. Sekarang ini telah tampak bahwa proses perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali yang cepat mendapat efek sampai ke sendi- . Hal ini dikarenakan sistem pendidikan sekolah dikembangkan dengan intensif dan ekstensif.

pembaharuan dalam kehidupan dan pendidikan agama Hindu-Bali juga sengaja dibina oleh majelis agama tertinggi bernama Parisada Hindu Darma. Selain itu. Keketatan hukum adat mengenai sistem kasta dan klen sudah mulai kendor. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) berlangsung silih berganti. masyarakat Bali menyambutnya dengan gembira. rekreasi dan transportasi untuk berkembang. seni tari dan seni suara.sendinya. pengangguran semakin membludak dan tentu saja desa-desa adat di Bali “gerah” dengan kondisi seperti ini. Bali menjadi seperti pulau yang hanya menunggu untuk karam saja tanpa pariwisata. Wisatawan kabur karena takut bom susulan datang. PASCA BOM BALI Pascabom Bali Oktober 2002 dan Oktober 2005. Bali dijadikan daerah pariwisata yang utama. Kondisi inilah kemudian yang menjadi “tersalah” dalam terpuruk dan ambruknya pariwisata Bali. Saat ini. Namun. risiko ini harus dipikul bersama karena proses modernisasi tidak dapat dihindari lagi dan mutlak harus kita alami semua. Bali seakan terpuruk.Oleh karena itu para penduduk daerah Bali harus tetap menjunjung nilai budaya mereka dengan tetap melaksanakan serta melestarikan kebudayaan Bali yang telah diwariskan nenek moyang mereka. Hotel-hotel kelas melati perlahan-lahan tutup. Walaupun demikian. Bandara Ngurah Rai selalu penuh dengan antrean keberangkatan tanpa ada antrean kedatangan. dibalik itu orang Bali juga mulai merasakan aspek-aspek negatif dari perkembangan tersebut yang dapat mengancam nilai-nilai budaya yang mereka junjung tinggi. perhotelan. Akhirnya. Sektor kepariwisataan telah memberi lapangan kerja pada banyak orang Bali serta telah menstimulasi sektor kerajinan. kondisi ini menjadi semacam senasib sepenanggungan akibat Bom Bali. karena kesibukannya sehari-hari. tidak sempat lagi untuk mengikuti detail adatistiadat serta upacara-upacara keagamaan Hindu-Bali secara teliti sehingga dalam waktusingkat akan terjadi penyederhanaan dalam sistem upacara keagamaan. Dilema ini sedang dan akan dialami oleh masyarakat yang mengalami zaman transisi pembangunan dan proses modernisasi. Harapan pada denyut nadi pariwisata hancur lebur. Berbagai program tayangan promosi Bali terus dilakukan. Berbagai usaha mempromosikan pariwisata Bali terus menerus dilakukan. Kaum terpelajar dan cendekiawan Bali. Sebagian warganya yang bekerja di hotel-hotel mengeluh penghasilannya menurun drastis. seni lukis. Saat itu—awal Januari 2003—mulai terdengar program-program . Beragam kegiatan dibuat untuk mengembalikan citra pariwisata Bali yang terpuruk karena Bom Bali dan berturut-turut Perang Amerika—Irak dan wabah SARS. Sontak setelah tertangkapnya pelaku bom Oktober 2002 dan 2005.

Ini karena Bali memiliki citra “Bali” hasil konstruksi eksotika dan ketergantungan negara luar Bali sebagai kunjungan wisata. Ternyata dengan adanya Bom Bali 2002 dan 2005.“Recovery Bali” dan dikuti dengan “Bali For The World”. “Tiang (saya) siap nindihin (membela sampai mati) Bali melawan teroris. Pascabom Bali dan ditengah keranjingan menjaga Bali tidak terpukul dua kali. semangat puputan ditunjukkan dengan sikap nindihin Bali bukan melawan kolonial Belanda dan Jepang. Bali terkenal dengan semangat puputan (perjuangan melawan penjajah sampai titik darah penghabisan). Ada sebuah usaha untuk menjadikan Bali sebagai pusat dari pemulihan pariwisata. Ternyata. Dalam perspektif berpikir beberapa orang Bali. Maka. Ini dilakukan dengan serempak mulai awal 2003 hingga kini dan menjadi perdebatan hangat di Bali dan juga mendapat respon nasional pada Maret—Juni 2003 dan mulai meredup dan menjadi keharusan pasca Bom Bali 2005. Dalam obrolan di warung-warung desa di Bali. bahwa cap teroris ternyata menggangu dan menjadi musuh bersama orang Bali. Bom Bali dan teroris adalah kala (mahluk jahat) yang bisa menghancurkan Bali. jujur harus diakui. Dan sampai saat ini kelompok-kelompok ini memendam identitas dalam identitas ke-Bali-an.“ kata seorang warga masyarakat di warung desa. pertengahan Juli ini. Bali adalah hasil dari pertarungan. Belum lama berselang. Selain mengembalikan pariwisata Bali. sebuah sikap wujud kecintaan pada tanah air Bali. dan soroh. membuat masyarakat Bali semakin waspada dan siaga setiap saat. Tentu saja pemicunya adalah persaingan antar puri (tempat raja di Bali yang . Sebelumnya. Ajeg Bali adalah pemurnian Bali dalam hal pemurnian ras. pecalangan (satuan pengamanan tradisonal Bali) serta seluruh perangkat desa pakraman di Bali juga semakin memproteksi dirinya. Ini sebenarnya potensi konflik dan kekerasan secara horizontal. Jargon yang sebenarnya dimulai dari propaganda sebuah media terbesar di Bali yang kemudian diikuti oleh promosi ke berbagai kabupaten di Bali. Kini. lahir jargon Ajeg Bali. Nindihin bagi masyarakat Bali adalah sebuah pembelaan. pembantaian dan pembersihan soroh-soroh. saat zaman kerajaan dan perang-perang kemerdekaan 1942-1945. Salah satu hal yang dilakukan desa adat/pakraman dengan jajarannya adalah sweeping dan pendataan penduduk pendatang. lembaga-lembaga tradisi seperti desa adat/pakraman (desa-desa di Bali). Karena. mulailah dilakukan program-program untuk nindihin Bali tersebut. pentas musik sensasional “Voice Of Star” dan berbagai event hiburan dan pertemuan-pertemuan nasional serta internasional yang dilangsung di Bali. yang juga sebenarnya menyimpan konflik dan kekerasan yang terpendam. tapi melawan teroris dan orang-orang yang merusak kebudayaan Bali. jika merunut sejarah. dilakukan roadshow ke seluruh kabupaten di Bali untuk penandatanganan prasasti Ajeg Bali oleh bupati se-Bali. idenitas.

dan waisya) dalam teori kelas dan kasta di Bali. orang Bali seakan mendapat pencerahan. Dalam konteks seni pertunjukan tradisional pengaruh positif dan negatif juga terjadi. Maka munculnya Ida Pedanda Made Gunung yang melayani semua pertanyaan. Bali sangat merindukan seorang pendeta sebagai pencerah kehidupan agama Hindu Bali. pande. grup media terbesar di Bali (baca: Bali Post). pernyataan akan “kebenaran” tingkah laku dan sikap beragama. komodifikasi dan profanisasi yang mengarah pada penggerusan. sedang dampak postif adalah terpacunya kreativitas seni budaya penduduk lokal untuk memenuhi kepentingan pariwisata (Lihat Ruastiti 2005. juga sebagai jago kebudayaan Ajeg Bali. dll. Dampak negatif adalah terjadinya komersialisasi. Inilah bentuk kerinduankerinduan orang Hindu Bali yang kemudian bisa dipenuhi oleh Ida Pedanda Made Gunung. Munculnya kreativitas nyata sekali terlihat pada berkembang pesatnya berbagai jenis seni pertunjukan di Bali termasuk meningkatnya jumlah penggiat kesenian. Dengan masalah-masalah upakara (sesajen untuk upacara-upacara). muncul penyejuk dan pemersatu umat. Dalam titik inilah. ksatria. dan keturunan.sekarang masih ada) ataupun pendobrakan kelas-kelas sudra (pasek. namun pada saat yang sama beberapa tarian sakral termasuk elemen prosesi ritual mengalami profanisasi karena mulai dipertunjukkan kepada wisatawan. kecemasan. Dalam istilah Balinya. dan pencarian identitas dan esensi ke-Bali-an. Ardika 2004). kedewan-dewan (hidupnya selalu memikirkan dewa. Yang paling penting tentunya–dari kiprah Ida Pedanda Made Gunung—adalah mengidentitaskan. Di tengah kebingungan inilah. . jati diri. Dampak atau pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan Bali oleh para peneliti dikatakan sebagai negatif dan positif. menanamkan dewa-dewa yang dipuja orang Hindu Bali. hubungan darah. Kerinduan untuk mencari asal-usul. dan mulai mendapatkan pembenaran secara alamiah—melalui sastra agama dan tentunya keyakinan yang disampaikan Ida Pedanda Made Gunung. Tuhannya).) terhadap kelas tri wangsa (brahamana. Kiprah pendeta ini dicuatkan oleh media televisi lokal. lewat program Dharma Wacana (pencerahan keagamaan) setiap sore hari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->