P. 1
Laporan MAGK RSUP Persahabatan

Laporan MAGK RSUP Persahabatan

|Views: 2,510|Likes:
Published by yudhi adrianto
buat anak gizi yang pusing dengan laporan magk
buat anak gizi yang pusing dengan laporan magk

More info:

Published by: yudhi adrianto on Feb 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2015

pdf

text

original

Pelayanan Gizi adalah rangkaian kegiatan terapi gizi medis yang dilakukan
di institusi kesehatan ( rumah sakit), puskesmas dan institusi kesehatan lain untuk
memenuhi kebutuhan gizi klen atau pasien (Depkes, 2003).
Implementasi pelayanan gizi hendaknya sesuai dengan rencana yang disusun
dalam hal penyediaan diet yang tepat secara oral, enteral, atau parenteral,
pengukuran biokimia darah dan urin yang diperlukan, pengukuran atropometri,
serta penyuluhan dan konsultasi gizi yang sesuai.
Perskripsi diet atau rencana diet adalah kebutuhan zat gizi pasien yang
dihitung berdasarkan status gizi, degenerasi penyakit dan kondisi
kesehatannya.Berikut bentuk makanan yang diberikan kepada pasien dalam
keadaan khusus, yaitu:
1.Makanan Lunak
Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah dikunyah,
ditelan dan dicerna dibandingkan makanan biasa. Makanan lunak diberikan
kepada pasien sesudah operasi tertentu, pasien penyakit infeksi dengan
kenaikan suhu tubuh tidak terlalu tinggi, pasien dengan kesulitan mengunyah
dan menelan, serta sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan
lunak.
2.Makanan Saring

Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai tekstur lebih
halus daripada makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna.

TDE : BEE X FA X IF

7

Menurut keadaan penyakit, makanan saring dapat diberikan kepada pasien
sesudah mengalami operasi tertentu, pada infeksi akut termasuk infeksi
saluran cerna, serta kepada pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan,
atau sebagai perpindahan dari makanan cair ke makanan lunak.

3.Makanan Cair
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga
kental. Makanan ini diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan
mengunyah, menelan dan mencerba makanan yang disebaabkan oleh
menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, serta pra dan pasca
bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau parenteral.
Pemberian makanan bagi pasien disesuaikan dengan jenis diet yang diberikan.
Adapun jenis-jenis dietnya adalah
1.Diabetes mellitus (DM)
Diabetes mellitus (DM) adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
hormone insulin secara absolute atau relaive. Pelaksanaan diet hendaknya
disertai dengan latihan jasmani dan perubahan perilaku tentang makanan. Diet
yang digunakan sebagai bagian dari penatalaksanaan disbetes mellitus
dikontrol berdasarkan energy, protein, lemak dan karbohidrat.
2.Diet Hati

•Diet Hati I

Diet hati I diberikan bila pasien dalam keadaan akut atau bila pre koma dapat
diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Melihat keadaan
pasien, makanan yang diberikan dalam bentuk cincang atau lunak. Pemberian
protein dibatasi (30g/hari) dan lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna.
Formula enteral dengan asam amino rantai cabang yaitu leusin, isoleusin dan
valin dapat digunakan. Bila ada asites dan dieresis belum sempurna,
pemberian cairan minimal 1 liter per hari. Makanan ini rendah energi, protein,
kalsium, zat besi dan thiamin, oleh karena itu sebaiknya diberikan selama
beberapa hari saja. Menurut beratnya retensi garam atau air, makanan

8

diberikan sebagai diet hati I rendah garam. Bila ada asites hebat dan tanda-
tanda diuresis belum membaik, diberikan Diet Hati I. untuk menambah
kandungan energy, selain makanan peroral juga diberikan makanan parenteral
berupa cairan glukosa.

•Diet Hati II

Diet hati II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati I kepada
pasien yang nafsu makannya cukup. Menurut keadaan pasien, makanan
diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Makanan ini mengandung cukup
energi, zat besi, vitamin A dan C, tetapi kurang kalsium dan tiamin. Menurut
beratnya retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai diet hati II garam
rendah. Bila ada asites hebat dan dieresis belum baik, diet mengikuti pola Diet
Rendah Garam I.

•Diet Hati III

Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati II atau
kepada pasein hepatitis akut dan sirosis hati yang nafsu makannya telah baik,
dapat menerima protein, dan tidak menunjukan gejala sirosis hati aktif.
Menurut kesanggupan pasien, makanan diberikan dalam bentuk lunak atau
biasa.. makanan ini mengandung cukup energi, protein, lemak, mineral dan
vitamin, tetapi tinggi karbohidrat. Menurut beratnya retensi garam dan air,
makanan diberikan sebagai Diet Hati III Rendah Garam I.

3.Diet Jantung

•Diet Jantung I

Diet Jantung diberikan pada pasien penyakit jantung akut seperti
dekompensasi kordis berat. Diet diberikan berupa 1-1,5 liter cairan/hari
selama 1-2 hari pertama bila pasien dapat menerimanya. Diet ini sangat
rendah garam dan semua zat gizi, sehingga sebaiknya diberikan 1-3 hari.

•Diet Jantung II

Diet Jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Diet
diberikan sebagai perpindahan dari Diet Jantung II atau setelah faseakut dapat

9

diatasi. Jika disertai hipertensi atau edema, diberikan sebagai Diet Jantung II
Rendah Garam. Diet ini rendah energi, protein, tiamin dan kalsium.

•Diet Jantung III

Diet Jantung III diberikan dalam bentuk lunak atau biasa. Diet diberikan
sebagai perpindahan dari diet jantung III atau kepada pasien jantung dengan
kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi atau edema, diberikan
sebagai Diet Jantung III Rendah Garam. Diet ini rendah energy dan kalsium
tapi cukup zat gizi lainnya.

•Diet Jantung IV

Diet Jantung IV diberikan dalam bentuk makanan biasa. Diet ini diberikan
sebagai perpindahan dari Diet Jantung III atau kepada pasien jantung dengan
kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi dan atau edema,
diberikan sebagai Diet Jantung IV Garam Rendah. Diet ini cukup energi dan
zat gizi lain, kecuali kalsium.
4.Diet Rendah Garam
Diet Rendah Garam adalah garam natrium seperti yang terdapat di dalam
garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natium benzoate,
dan vetsin (Monosodium Glutamat). Asupan natrium yang berlebihan,
terutama dalam bentuk natrium klorida, dapat menyebabkan edema atau asites
dan hipertensi. Penyakit-penyakit tertentu seperti yang terjadi pada penyakit
dekompensasi kordis, sirosis hati, penyakit ginjal tertentu, toksemia pada
kehamilan, dan hipertensi esensial dapat menyebabkan gejala edema atau
asites atau hipertensi. Dalam keadaan demikian asupan garam natrium perlu
dibatasi.

•Diet Rendah Garam I (200-400 mg Na)

Diet Rendah Garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam
dapur.

•Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)

Diet Rendah Garam II diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet

10

Rendah Garam I. pada pengolahan makanannya boleh menggunakan ½ sdt (2
gr) garam dapur. Hindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

•Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)

Diet Rendah Garam III diberikan kepada pasien dengn edema, asites dan atau
hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan Diet Rendah
Garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 1 sdt (4 gr)
garam dapur.
5.Diet Lambung

•Diet Lambung I

Diet lambung I diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, pasca
pendarahan dan tifus abdominalis berat. Makanan diberikan dalam bentuk
saring dan merupakan perpindahan dari Diet Pasca-Hematemesis-Melena, atau
setelah fase akut teratasi. Makanan diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja
karena membosankan serta kurang energy, zat besi, tiamin dan vitamin C.

•Diet Lambung II

Diet Lambung II diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung I, kepada
pasien dengan Ulkus Peptikum atau Gastritis Kronis dan Tifus Abdominalis
ringan. Makanan berbentuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali
makanan lengkap dan 2-3 kali makanan selingan. Makanan ini cukup energy,
protein, vitamin C, tetapi kurang thiamin.

•Diet Lambung III

Diet Lambung III diberikan sebagai perpindahan dari Diet Lambung II pada
pasien dengan Ulkus Peptikum, Gastritis kronik atau tifus abdominalis yang
hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau biasa tergantung pada
toleransi pasien. Makanan ini cukup energy dan zat gizi lainnya.
6.Diet Rendah Protein
Diet Rendah Protein dalam pemakaian bahan makanan yang mengandung
protein sangat dibatasi. Untuk diet rendah protein 40 gram diberikan nasi, lauk
hewani, sayur dan buah, sedangkan lauk nabati tidak diberikan.
7.Diet Rendah Purin
Penggunaan bahan makanan adalah makanan yang rendah purin. Makanan
yang diberikan berupa nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah.

11

8.Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP)
Diet ini diberikan dalam bentuk makan biasa atau lunak ditambah bahan
makanan sumber protein tinggi seperti susu, telur dan daging. Diet ini
diberikan bila pasien telah mempunyai cukup nafsu makan dan dapat
menerima makanan lengkap. Diet dalam keadaan khusus diterjemahkan sesuai
dengan kebutuhan energi dan zat gizi pasien. Kebutuhan energi dan zat gizi ini
dalam implementasinya perlu untuk direncanakan sesuai dengan status gizi
pasien.

2.3.1 Implementasi Pelayanan Gizi

Implementasi pelayanan gizi disesuaikan dengan rencana yang disusun
dalam hal penyediaan diet yang tepat secara oral, enteral atau parenteral,
pengukuran biokimia darah dan urin yang diperlukan, pengukuran antropometri,
serta penyuluhan dan konsultasi gizi yang sesuai. Implementasi pelayanan gizi
dapat dilakukan melalui pengambilan studi kasus pasien (Almatsier, 2006).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->