FRASA

1.

Pebgertian Frasa
Banyak sering memeprmasalahkan antara frasa dengan kata, ada yang membedakannya dan ada juga yang mengatakan bahwa keduanya itu sama. Seperti yang telah dipelajari dalam morfologi bahwa kata adalah adalah satuan gramatis yang masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Frasa adalah satuan konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi ata u jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa. Contoh: 1. gedung sekolah itu 2. yang akan pergi 3. sedang membaca 4. sakitnya bukan main 5. besok lusa 6. di depan.

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Jika contoh itu ditaruh dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja. Gedung sekolah itu(S) luas(P). Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket). Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O). Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P). Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P). Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket). Jadi, walau terdiri dari dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pe madu kalimat. Contoh: Mereka(S) sering terlambat(P). Mereka(S) terlambat(P). Ket: ( _ ) frasa. Pada kalimat pertama kata µmereka¶ yang terdiri dari satu kata adalah frasa. Sedangkan pada kedua kata berikutnya hanya kata µsering¶ saja yang termasuk frasa karena pada jabatan itu terdiri dari sua kata dan kata µsering sebagai pemadunya. Pada kalimat kedua, kedua katanya adalah frasa karena hanya terdiri dari satu kata pada tiap jabatannya. Dari kedua pendapat tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan. Jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung pada jumlah fungsi yang terdapat pada kalimat itu juga. Sebelum mengenal lebih jauh tentang frasa, alangkah lebih baiknya jika mengenal tentang fungsi -fungsi sintaksisi, karena fungsi-fungsi itula yang disebut frasa. Fungsi sintaksisi ada lima, yaitu Subjek(S), Predikat(P), Objek(O), Pelengkap(Pel), dan Keterangan(Ket). Dari kelima fungsi tersebut hanya karakteristik dari Keterangan saja yang tidak mempunyai lawan. Subjek dan Predikat. 1. Bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan

1. 2.

1.

µApa atau Siapa yang tersebut dalam predikat¶. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan µyang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lainlain¶. Contoh: Sedang belajar(P) mereka itu(S). Fungsi tersebut bisa dibuktikan dengan pertanyaan µSiapa yang sedang belajar? Jawabannya µmereka itu¶.
2. 3. Berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi. Jika diubah menjadi kalimat tan ya, subjek tidak dapat diberi partikel ±kah. Predikat dapat diberi partikel ±kal. Contoh: Merka itu(S) sedang belajar(P). Sedang belajarkah mereka itu? Merekakah sedang belajar? (salah)

2. adjektiva. Orang itu(S) berjualan(P) es kelapa muda(Pel). dan pengganti nomina. Orang itu(S) berjualan(P). Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek. 2. predikat. 2. µSejumlah mahasiswa¶ adalah frasa endosentris. Frasa Endosentris Koordinatif. yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris. Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semi -transitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba int ransitif(tidak memerlukan objek). Orang itu(S) menjual(P) es kelapa muda(O) Semi-transitif (bisa atau ti dak perlu objek) 1. 4. Keterangan. . 2. 1. Organisasi itu(S) berlandaskan(P) kegotongroyongan(Pel). 3. 3. verba. 1. 3. yaitu frasa endosentris yang disamping mempu nyai unsur pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Tidak lengkap. kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap. 2. 1. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat. Objek dan Pelengkap. Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya. frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat. Orang itu(S) mandi(P). Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. 8. 1. yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) µdan¶ atau µatau¶. Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga. 3. Mudah dipindah-pindah. Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya µSejumlah di teras¶ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P). (Salah) 2. 4. 1. Contoh: Transitif(memerlukan objek) 1. kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu. 2. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang diseb ut unsur pusat (UP). Semi-lengkap. sedangkan pelengkap berupa frasa nomina. Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya). preposisi. Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. (salah) 2. 6. 1. tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan. 7. Orang itu(S) minum(P). 2. dan konjungsi. Orang itu(S) menjual(P). 3. 2. 2.2. Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa -frasa di atasseperti adalah unsur pusat. Intransitif(tidak memerlukan objek). Contoh: rumah pekarangan suami istri dua tiga (hari) ayah ibu pembinaan dan pembangunan pembangunan dan pembaharuan belajar atau bekerja. Jenis Frasa Jenis frasa dibagi menjadi dua. 3. 2. 3. Es kelapa muda(S) diminum(P) orang itu(O). Dengan kata lain. 3. objek atau pelengkap. dpat digantikan oleh unsurnya. Organisasi itu(S) berlandaskan(P). Frasa Endosentris Atributif. sedangkan kata -kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya. Berupa frasa nomina. numeralia. Contoh: pembangunan lima tahun sekolah Inpres buku baru orang itu malam ini sedang belajar sangat bahagia. Lengkap. 1. 5. Jadi. frasa dibagi menjadi dua. 5. preposisi. 1. Contoh: Dulu(Ket) orang itu(S) menjual(P) es kelapa muda(O) di jalan surabaya(Ket). 1. 1. yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. Orang itu(S) minum(P) es kelapa muda(O). 1. Frasa Endosentris.

Frasa Eksosentris. dan kata µsudah¶ untuk verba keadaan. Contoh: 3. sedangkan unsur µanak Pak Sastro¶ merupakan aposisi. dan secara sintaktis dapat diberi kata µsedang¶ yang menunjukkan verba aktif. menjadi frasa endosentris atributif. Contoh: Dia berlari. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat. 2.3. Frasa Endosentris Apositif. Dala m frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor. Berdasarkan Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya. 1. Frasa verba tidak dapat diberi kata¶ sangat¶. frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. Frasa Numeralia. Unsur µAhmad¶ merupakan unsur pusat. atributif. 1. frasa yang UP -nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia. maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan. Secara morfologis. adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa Preposisi. Frasa yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif. kota pelajar Indonesia. tidak bisa diberi kata µsedang¶ atau µsudah¶. Tetapi bisa diberi kata µsangat¶). sangat. se-nya. 2. frasa yang UP -nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. frasa verba terdapat (dapat diberi) kata µsedang¶ untuk verba aktif. dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba. alangkah -nya. yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. temanku. 2. frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP. Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi. Jika diberi aposisi. menjadi frasa endosentris apositif. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain. Contoh: Rumahnya besar. Ahmad. karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. dan lain -lain. 4. 4. Presiden RI Mamad.anak Pak Sastro sedang belajar. tanah airku Bapak SBY. 1. Secara sintaktis. 3. kata berlari terdapat afiks ber-. . Frasa Ajektifa. «««. UP frasa nomina itu berupa: nomina sebenarnya contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan pronomina contoh: dia itu musuh saya nama contoh: Dian itu manis kata-kata selain nomina. sedang belajar. frasa dibagi menjadi enam. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. dan biasanya menduduki fungsi predikat. 3. Yaitu kata -kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. UP -nya dapat diberi afiks ter (paling).sedang belajar. frasa yang UP -nya berupa kata yang termasuk kategori verba. begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia. Jika diberi atribut. buah. Contoh: dua buah tiga ekor lima biji duapuluh lima orang. 5. 4. Contoh lain: Yogya. Frasa Verba. menjadi frasa endosentris koordinatif 2. Frasa nomina. dan apositif. Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba. Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras. Jadi. Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama. 2. paling agak. Secara morfologis. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor dua itu sedikit dia berlari berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva. ««. frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. Contoh: Ahmad. anak Pak Sastro.

tetapi dalam r ealisasinya P itu bias juga tidak muncul misalnya dalam kalimta jawaban atau dalam bahasa Indonesia lisan tidak resmi. S juga sering juga dibuangkan. Ketiga dasar itu adalah (1) Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya (BSI). Demikian seterusnya. berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek (S) dan predikat (P). Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak. Contoh : Pertanyaan : kamu memanggil siapa? Jawaban : teman satu kampus S dan P-nya dihilangkan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan : 1. Frasa Konjungsi. klausa terdiri atas P. Oleh karena itu. karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi. Pengertian Klausa Klausa ialah satuan gramatikal. maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya. Mereka pergi ke kampus. karena sebagian besar kalimat terdiri dari dua unsur klausa (Rusmaji. (2) Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P (BUN). Jenis-jenis Klausa Ada tiga dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. tetapi yang menjadi klausa bukan hanya P. Sangat besar rumah itu. dan jangan. ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan.Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras ke rumah teman dari sekolah untuk saya 6. mempunyai P) Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ. Namun demikian. Klausa versi. Contoh : 2. Klausa inversi. Penanda klausa adalah P. Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa. jika mempunyai S.Penanda klausa adalah P. Klausa sudah pasti mempunyai P. klausa terdiri dari atas S. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. tetapi yang dianggap sebagai unsure inti klausa adalah S dan P. berikut klasifikasinya : 1. Mobil itu masih baru. frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Sementara itu kalimat sudah mempunyai intonasi lengkap yang ditandai dengan adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut sudah selesai. dan O. dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana dkk. Atas dasar itu. Mahasiswa itu mengerjakan tugas. Karena penanda klausa adalah predikat. Klausa merupakan bagian dari kalimat. Klausa Tidak Lengkap Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. 1980:208). tak. yaitu S dan P. bukan. maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat. Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi : 1. P. Contoh pada bahasa tidak resmi : saya telat! P-nya dihilangkan. 2. 113). 2. baik diikuti oleh subjek. Contoh : Sudah baik kondisinya. yaitu klausa yang S-nya mendahului P. klausa bukan kalimat. Klausa Positif Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. dan kalimat jawaban (Ramlan. 2. sedangkan kalimat belum tentu mempunyai P. Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa adalah satuan gramatik y ang terdiri atas predikat. belum. Unsur inti klausa adalah S dan P. objek. Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia. Dengan demikian. pelengkap. Klausa Negatif Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P. dan Ket. Rumah itu sangat besar. dan (3) Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P (BKF). Contoh : Ariel seorang penyanyi terkenal. Berikut hasil klasifikasi nya : 1. Sintaksis. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan. misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa. Jika mempunyai S. . Klausa ialah unsur kalimat. yaitu klausa yang P -nya mendahului S. jika tidak memiliki O dan Ket. Contoh : Kondisinya sudah baik. 1981:62. 2. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya. unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P. klausa terdiri atas S dan P. Klausa belum mempunyai intonasi lengkap. Masih baru mobil itu. sedangkan P sebagai u nsur inti klausa selalu hadir. Penanda klausa adalah P. Klausa Lengkap Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir. O. KLAUSA 1. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa. keterangan atau tidak dan merupakan bagian dari kalimat.

5. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas : 1. Contoh : Dia membantu para korban banjir. Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah. dalam klausa Dia tidak mengambil pisau. 2. dan kalimat telegram. Dalam klausa Dia tidak tidur. Gedung itu sangat tinggi. melainkan sendok. Nenek saya penari. motto. Oscar Rusmaji (116) berpendapat mengenai beberapa jenis klausa. kami sedang belajar. Tetapi. Klausa Bawahan Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain. judul. Mahasiswanya sembilan orang. Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat. Contoh : Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah. Contoh : Anak itu badannya panas. 2. Klausa Bebas Klausa bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa. Semua tersangkan diinterograsi. klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu. klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P. Mahasiswa itu belum mengerjakan tugas. Hotel itu sudah tua. Mereka bukan sopir angkot. Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. kecuali dia. Temannya dua puluh orang. pepatah. kata negasi itu secara sematik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. salam. Berdasarkan tatarannya dalam kalimat. Contoh : Dia seorang sukarelawan. Orang tuanya di Jakarta. hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Meskipun sedikit. Klausa Numeralia Klausa numeralia ialah klausa yang P -nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia. misalnya. Klausa Verba Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba. Contoh : Anaknya lima ekor. kami tahu tentang hal itu . . Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya. tetapi kakinya sangat dingin. Contoh : Ketika paman datang. tetapi secara sematik belum ten tu menegatifkan P. Dengan perkataan lain. Klausa Adjektiva Klausa adjektiva ialah klausa yang P -nya berupa frasa yang termasuk kategori fra sa adjektiva. memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Pemuda itu menolong nenek tua. Baju saya di dalam lemari. Klausa Atasan Klausa atasan ialah klausa yang tidak menduduki f ungsi sintaksis dari klausa yang lain. Mereka tidak pergi ke kampus. Jadi. Contoh : Sepatu itu di bawah meja. 5. Kalau yang dimaksudkan 'Dia tidak mengambil sesuatu apapun'. Contoh : Adiknya sangat gemuk. 4. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau. Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. Contoh : Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum : pangilan. klausa dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Menurutnya klausa juga dapa t diklasifikasikan berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat. 4. yaitu kalimat. 2. 3. Klausa Preposisiona Klausa preposisiona ialah klausa yang P -nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona. 6.Ariel bukan seorang penyanyi terkenal. Klausa Pronomia Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial. Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya. Klausa Nomina Klausa nomina ialah klausa yang P -nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina. 3. klausa dapat dibedakan atas : 1. Klausa terikat Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Contoh : Dia mengira bahwa hari ini akan hujan. sehingga kembali kepada wuju dnya semula. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. maka kata negasi itu menegatifkan O.

Menyatakan makna "Perbuatan" Contoh : Dinda sedang belajar Frase sedang belajar yang menduduki fungsi P menyatakan makna "Perbuatan" yaitu perbuatan yang sedang dilakukan oleh "pelakunya" yaitu 'Dinda' 2. Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskan bahwa fungsi S terdiri dari N. Contoh : Kepala Sekolah(S) akan menyelenggarakan(P) pentas seni(O). Contoh : Dinda F K M S N Pelaku Menemani P V Pembuatan Adiknya O N Penderita Di tempat tidur Ket 1) FD Tempat Beberapa saat Ket 2) N Waktu 1. Berdasarkan fungsi unsur-usurnya 2. pel. P. Berdasarkan makna unsur-unsurnya. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S. Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-unsurnya Klausa terdiri dari unsur -unsur fungsional yang di sini disebut S. Contoh : Aku F K 3. Analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional. 1. Fungsi-fungsi itu disamping terdiri dari kategori-kategori kata atau frase juga terdiri dari makna -makna yang sudah barang tentu makna unsur pengisi fungsi berkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi yang lain. Analisis Klausa Klasifikasi dapat dianalisis berdasarkan tiga dasar. diperlukan adanya O yang mengikuti P itu. S dan P Contoh : Budi(S) tidak berlari-lari(P) Tidak berlari-lari(P) Budi(S) Badannya(S) sangat lemah(P) Sangat lemah(P) badannya(S) 2. dan mungkin pula terdirri ari golongan -golongan lain. P dan Pel. besar. O dan Pel P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif. P dapat terletak diantara S dan P. V.Jika tidak ada rotan. yaitu : 1. Contoh : Akibat banjir(Ket) desa-desa itu(S) hancur(P) Desa-desa itu(S) hancur(P) akibat banjir(O) 2. Misalnya : . O. P. O. dan dapat terletak di belakang sekali. Pentas seni(S) akan dislenggarakan(P) kepala sekolah(O) 3. 1. P dan O . V. Bil. P. dan parah semuanya merupakan makna keadaan. Makna keadaan dapat dibedakan menjadi empat jenis. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P. Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif. KET Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S. Keadaan relatif singkat. Berbeda dengan O dan Pel yang selalu terletak di belakang dapat. 3. Hanya sudah tent u tidak mungkin terletak di antara P dan O. Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frase yang menjadi Unsurnya. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya 3. fungsi O terdiri dar i N. fungsi Pel terdiri dari N. FD. kadang-kadang terdii dari S. bahkan merupakan l anjutan dari analisis fungsional. FD. Makna Unsur Pengisi P 1. Menyatakan makna "Keadaan" Contoh : Rambutnya hitam dan lebat RUMAH itu sangat besar Lukanya sangat parah Kata-kata hitam. O dan Pel dapat diperkirakan menduduki fungsi Ket. artinya dapat terletak di depan S. dan ket. lebat. akarpun jadi. pel dan ket. Kadang -kadang terdiri dari P saja. fungsi P terdiri dari N. Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur -unsurnya menjadi S. yaitu : 1. karena O dan Pel boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung dibelakang P. P. Bil dan fungsi ket terdiri dari Ket. S N Sudah menghadap P V Komandan O N Tadi Ket Ket Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Makna dan Unsur -unsurnya. Analisis kalusa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur -unsur klausa ini itu disebut analisis kategorional. Keadaan ini mudah berubah. dalam suatu klausa Ket pada umumnya letak yang bebas. mungkin terdiri dai golongan kata verbal intransitif. N.

Keadaan yang merupakan pengalaman kejiwaan. Makna Unsur Pengisi S 1. 3. Menyatakan Makna "pelaku" Contoh : Seorang perempuan tua membeli beras. 4. Menyatakan makna "hasil" Contoh : Rumah-rumah banyak didirikan pemerintah. Kamar itu panas karena perapian. Seorang laki-laki menurunkan dua koper. Menyatakan makna "alat" Contoh : Truk-truk itu mengangkut beras. Jalan-jalan sedang diperbaiki. Menyatakan Makan 'Keberatan" Contoh : Para tamu di ruang depan Ariel berada diruang baca Dinda tinggal di luar kota Kata yang bercetak miring tersebut menjadi unsur pengisi P tidak menyatakan makna "perbuatan" dan "keadaan" melainkan menyatakan makna "keberadaan". Menyatakan makna "sebab" Contoh : Banjir besar itu menghancurkan kota. Menyatakan makna "penderita" Contoh : Benda itu dipukulkannya dengan batu lain. 4.Rumah itu sangat bersih Kami sudah mengantuk 2. 7. Novel itu dikarang oleh pengarang muda dari kalimantan. 6. Menyatakan makana "perolehan" Contoh : Ariel memiliki mobil Dinda mendapat hadiah Sayur-sayuran itu mengandung banyak vitamin 2. Sebuah gambar menghiasi kamar kerjanya. Menyatakan makna "pengenal" Contoh : orang itu adalah pegawai kedutaan Mereka adalah imahasiswa Um Dia adalah teman kecil saya 5. Misalnya : Mahasiswa itu sangat rajin Perempuan itu ramah sekali Pohon cemara itu sangat tinggi 3. Keadaan yang relatif lama dan kecenderungannya tidak mudah berubah. Mahasiswa mengerjakan beberapa tes. Menyatakan makna "jumlah" Contoh : Rumah itu dua rumah Anak orang itu lima Kaki meja itu empat 6. Menyatakan makna "dikenal" Contoh : Orang itu pegawai kedutaan Dia adalah teman saya 10. Misalnya : Orang itu dapat memahami keinginan anaknya. Setiap orang menyukai perbuatan baik Orang itu sangat sayang kepada binatang 3. . Menyatakan makna "terjumlah" Contoh : Kaki meja itu empat Anak orang itu lima Makna Unsur Pengisi O (1) 1. Keadaan yang merupakan runtutan perubahan keadaan yang disebut proses. 3. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Para turis banyak berkunjung ke pantai kutai. Gua itu belum pernah dimasuki orang. Menyatakan makna "penerima" Contoh : Ahmad membeli buku baru untuk anaknya. Menyatakan makna "pengalaman" Contoh : Rambutnya hitam dan lebat Lukanya membesar 9. 5. Keadaan yang semcam ini secara khusus disebut sifat. Menyatakan makna "penderita" Contoh : Ia menebang pohon. Menyatakan makna "penerima" Contoh : Seorang ayah membelikan sepeda baru untuk anaknya Gadis itu akan dibuatkan rok oleh ibunya 8. 2. 2. Misalnya : Hujannya mereda Pengaruhnya semakin meluas 4.

1. Contoh : Penjahit membuatkan kebaya ibu. yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Menyatakan makna "alat" Contoh : Polisi menembak penjahat dengan pistolnya Ia mengikatkan tali pada sebatang pohon. atau pada keduanya (Wijayamartaya. 2. . Kalimat adalah satuan bahasa terkecil. Menyatakan makna "peserta" Contoh : Ariel senang bercakap-cakap denganku Menyatakan makna "alat" Contoh : Anak itu menulis dengan tangan kiri. 10. 2002: 58).Panjang atau pendek. kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Makna Unsur Pengisi PEL Menyatakan makna "penderita". Makna Unsur Pengisi O (2) Menyatakan makna "penderita". dalam wujud lisan atau tulisan. 5. 5. 6. 2. Contoh : Banyak mahasiswa belajar bahasa jerman. 3. Menyatakan makna "hasil" Contoh : Pemerintah membuat jalan -jalan baru. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi. Petani itu menanam ubi-ubian di tegalnya. 3. 8. 1991: 9). pada predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan -tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek. Makna Unsur Pengisi KET Menyatakan makna "tempat" Contoh : Aku mengitari rumah dari samping. MAKNA PENGISI UNTUK UNSUR KLAUSA Predikat Pembuatan keadaan Keberadaan Pengenal Jumlah Pemerolehan subjek Pelaku Alat Sebab Penderita Hasil Tempat Penerima Pengalaman Dikenal Terjumlah Objek (1) Penderita Penerima Tempat Alat Hasil Objek (2) Penderita Hasil Pelengkap Penderita Alat Keterangan Tempat Waktu Cara Penerima Peserta Alat Sebab Pelaku Keseringan Perbandingan Perkecualian KALIMAT Pengertian Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang kalimat dikemukan. Menyatakan makna "perkecualian" Contoh : Anak-anak itu tidak boleh masuk kecuali saya. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Banyak turis mengunjungi candi Borobudur. 7. 4. Contoh : Ariel membelikan anaknya buku baru. 1. 4. Menyatakan makna "sebab" Contoh : Orang itu menjadi gila karena tekanan hidup. 2. 4. baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai. 1. Menyatakan makna "hasil". Menyatakan makna "alat". Menyatakan makna "waktu" Contoh : Bapak kepala daerah pergi ke Jakarta kemarin. 5. Menyatakan makna "cara" Contoh : Pencuri itu lari dengan skripsi. 6.Dinda membelikan baju baru bagi anaknya. Menyatakan makna "keseringan" Contoh : Ariel telah menyerukan kata awas beberapa kali. Contoh : Ia bersenjatakan bambu runcing. 9. 1. Menyatakan makna "perbandingan" Contoh : Ariel sangat pandai seperti kakaknya. Menyatakan makna "pelaku" Contoh : Senayan mulai dihuni oleh beberapa olahragawan.

biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan. berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. 2. yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan -pertanyaan. yaitu uangkapan ide secara tegas. Orang itu badannya sangat gemuk. (Samsuru. Macam-macam Kalimat Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan kenis klausa yang terdapat di dalamnya. sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap. kalim at mayor dapat dibedakan atas: 1. Semboyan. yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi. Salam Contoh : Selamat pagi! Inskripsi. Berdasarkan statusnya. Berdasarkan sumber penurunnya. 1. 1985:278). Kalimat sampingan. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. 1. Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan. Contoh : Bersatu kita teguh. yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan. Satu bagian nujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan. (Dia tetap datang) Kalimat urutan. 2. 1.). merupakan suatu ungkapan topic atau gagasan. sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. Contoh : Bakso! Seruan. Contoh: Terserah saja. 1981:6). dan orang -orang itu bermain kartu. Kalimat minor berstruktur. Berdasarkan statusnya. 2. kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor. (Penyelesainnya ters erah kamu saja) Kalimat jawaban. adala h kalimat (Keraf. Kalimat minor dibedakan atas: 1. bercerai kita runtuh. kalimat minor berstruktur dibedakan atas: Kalimat elips. (2) jenis response yang diharapkan. Contoh : Yang berkaca mata hitam itu teman saya. yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal. yaitu kalimat majemuk yang klausa -klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri. tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa. Contoh : cepat) Meskipun hujan. yaitu kalimat mayor. 1978: 156). Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928. dan baik secara actual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksan dkk. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya. Contoh : Halo! Judul. Kalimat minor tak berstruktur. Kalimat majemuk koordinat. pembentuk yang inti saja. 1985:263) Contoh : Karena itu. . tetapi didahului oleh konjungsi. dan (4) ada tidaknya unsure negative pada kalimat utama. Contoh : Dampak negative penayangan TV. mempunyai pola intonasi final. dalam kalimat mayor. pelengkap. harga minyak naik. kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan. dibedakan atas: Panggilan. 1984:224). atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dala m wacana (Samsuri. 1985:316).Pendapat laing mengatakan. Menurut Kridalaksana. dalam kalimat mayor. Mula-mula dinyalakannya api. Kalimat majemuk subordinatif. (3) sifat hubungan actor_aksi. yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain. yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku. Contoh : Semalam suntuk saya tidur di kursi. yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat. kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri . lukisan dsb. Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong. lalu ditaruhnya cerek diatasnya. terdapat unsure pembentuk yang inti saja. kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenya pan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).

3. Ayah membelikan kakak baju baru. Wanita itu berhias di depan cermin. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (. dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me atau me-i/kan (Samsuri. 1985:198). seperti silahkan. predikat objek. Contoh : Anak itu memetik bunga di taman. 2. Contoh : Masuklah! Marilah kita belajar bersama -sama! Jangan membuang sampah di sembarang tempat! Berdasarkan hubungan actor-aksi. Untuk menegatifkan kalimat perintah. dipersilahkan. Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di . dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri. berkonfiks ke-an.yang didahului oleh kata dasarnya. Menurut teori Darwin. verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber -kan. Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini. Contoh : Rumah itu baru saja diperbaiki. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan obje knya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa -klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan. manusia merupakan keteturunan kera. kalimat dibedakan atas : 1. 3. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut. 3.yang dapat bekombinasi dengan sufiks ±i dan ±kan. demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel -lah. Contoh : Jangan menyiksa diri sendiri. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me . Saya mengerjakana bagian depan. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat.yang dapat dikombinasikan dengan ±I atau ±kan. 1981:10). Kalimat perintah dapat bersifat negative. kata -kata persilahkan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan. Kalimat aktif adalah kali mat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. kita harus berani membunuh lawan. tetapi sekarang sudah rusak. Contoh : Cita-cita anak itu sangat mulia. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri. 1985:276-278). kalau tidak kita sendiri yang dibunuh. Contoh : Kakak sudah menikah? Mengapa anak itu tidak tidur? Siapa pemilik rumah itu? 3. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalim at. Pembantu itu sedang menyapu halaman. mari. 2. 1985:434) Contoh : Badannya dilumuri minyak. maupun keterangan. Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg sub jeknya berperan sebagai penderita. Kita apakan barang-barang ini? Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu. tetapi saya tinggal menempati saja. tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah. baik kesamaan subjek.) seperti ayo. Dalam perang. kalimat dapat dibedakan atas : 1. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. dan kata larangan (jangan) (Ramlan. Kalimat majemuk rapatan. Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). . adik bagian belakang. Berdasarkan response yang diharapkan. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meNdan ber. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut. Contoh : Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan. 4. 2. beprefiks ter-. Saya tidak membawa uang sama sekali. verba dasar yang diikuti oleh kata baku.

Tentu saja diantara definisi -definisi yang diberikan oleh para ahli tersebut. 1986. Karyono. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. tidak akan banyak artinya tanpa mempelajari yang unsu r-unsur itu sendiri (Samsuri. Kalimat firmatif. ( Keraf. dan frase (Ramlan. klausa. Pendapat lain mengatakan. Dengan demikia. klausa. seperti tidak. Syukur. Dan definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa satuan yang tercaku p dalam sintaksis adalah frase dan ka1imat. kalimat. Sintaksis itu mnempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata. klausa. aspek-aspek ketatabahasaan yang tercakup dalam sintaksis adalah jenis kata. memiliki persamaan maupun perbedaan. yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative. M. Surabaya: Sinar Wijaya . frase.V. adverbial. Jakarta: Sastra Budaya. Aspek-aspek Linguistik. Bedasarkan ada tidaknya unsure negative pada klausa utama. bukan. dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan terbesar dalam sintaksis dan setiap bahasa mempu nyai kaidah sintaksis tersendiri yang tidak dapat diterapkan begitu saja pada bahasa yang lain. Sintaksis (Yunani:Sun + tattein = mengatur bersama -sama) ialah bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar -dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. dalam sintaksis. dkk. Berdasarkan definisi tersebut. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. karena (1) strukt ur frase dan kalimat hanya dapat dijelaskan melalui penggolongan (penjenisan) kata (Ramlan. Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang. 1978:153). 1985:74).4. yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsure negative. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Tata Bahasa Indonesia Sintaksis. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang. atau penyangkalan. Sugono. 2. Unsure negative tidak dipakai di depan verba. Oscar. klausa. serta penempatan morfem -morfem supra sekmental (intonasi) sesuai dengan struktur sematik yang diinginkan oleh pembicara sebagai dasarnya. 1984. Rusnaji. Menurut istilah sintaksis dapat mendefinisikan : bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk belu k kalimat. 2001. frase dan kalimat (Moeliono. 1. kalimat. jangan. kelompok kata menjadi kalimat.V. kalimat dibedakan atas : 1. dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan kaidah kombinasi kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar yang berupa frase. 1998. Dendy. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana. 1986:31). Jangan kau biarkan adikmu bergaul dengan dia. d an morfemmorfem 2. Bukan buku itu yang saya cari. Wirjosoedjarmo. adjektiva. atau penyangkalan. Ibrahim. Sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama -sama kata-kata menjadi kelompok kata. dan frasa (Ibrahim. Jakarta: C. Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi. kalimat. 1985:250) Contoh : Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat. pembicaraan mengenai jenis kata mutlak diperlukan. peniadaan. baik dalam jumlah aspek yang tercakup di dalamnya. Unsure negative jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah (samsuri. dan kalimat. dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Indonesia. 1976:27). kelas (jenis) kata tau kategori kata adalah bagian dari sintaksis (Kridalaksana. tetapi di dalam satuan yang kita sebut kali mat (verhaar. Memang. tiada (tak). 1976:103). 1981:70). klausa. Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli bahasa tersebut. Kalimat negative. Bidang sintaksis (Inggris. Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman. Kilat Grafika. Yogyakarta: C. Tetapi. Samsuri. Istilah sintaksis (Belanda. maupun redaksi atau kata-kata yang digunakannya. dengan kata sebagai satuan dasarnya. Cakupan Sintaksis Pembahasan sintaksis mencakup frase. 1985. SINTAKSIS Pengertian Sintaksis Banyak pengertian dan definisi tentang sintaksis. dan (2) Studi tentang kalimat suatu bahasa yang merupakan rangkaian yang berstruktur dari kata-kata. 2001:18). Tata Bahasa Indonesia. Ramlan. IKIP Malang. dkk:1). Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir. syntax) menyelidiki semua hubungan antar kelompok kata (atau antar -frase) dalam satuan dasar sintaksis itu. Contoh : Petani itu membajak sawah. sintaksis adalah studi kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar. Daftar Rujukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. peniadaan. dan morfem -morfem suprasegmental (intonasi).

2004. 2002. Alwi. 1983. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Telaah Bahasa dan Sastra. Asas-asas Linguistik Umum. 2002. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Amran Tasai. Verhaar. Aspek-aspek Sintaksis Bahasa Indonesia.Rusnaji.com/journal/item/38 .multiply. Hasan dan Dery Sugono. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Oscar. Jakarta: Akademika Pressindo. IKIP Malang. Arifin. http://zieper. Zaenal dan S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful