P. 1
Polemik Tentang Soekarno Dan Pancasila

Polemik Tentang Soekarno Dan Pancasila

|Views: 384|Likes:
Published by Peter Kasenda
Sejak usia muda Soekarno telah merasakan pahit getirnya perjuangan bangsa Indonesia. Penderitaan demi penderitaan telah dilewati. Soekarno dipisahkan dari keluarganya dan dijauhkan dari kerumuman massa yang mengaguminya Ia menjadi bagian penting dari setiap fase perjalanan sejarah bangsanya. Berbicara sejarah Indonesia berarti berbicara mengenai Soekarno. Begitu dominan tokoh sejarah ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sehingga dirinya menjadi sangat istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia.

Penulisan sejarah Indonesia yang berkaitan dengan nama mantan presiden Republik Indonesia yang pertama, tidak jarang menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan sepertinya tidak akan pernah berkesudahan. Misalnya, peranan politik Presiden Soekarno pada tahun-tahun sebelum kejatuhannya akibat Peristiwa Gerakan 30 September surat-surat dari Sukamiskin (surat pengampunan Soekarno kepada pemerintah Hindia Belanda) dan Soekarno bukan satu-satunya pembicara tentang Pancasila sebagai dasar negara. Dan ada kemungkinan polemik tentang diri Soekarno berkelanjutan entah tentang apalaginya Soekarno. Tetapi sekarang saya membahas polemik tentang Soekarno dan Pancasila.

Pada tanggal 1947, pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dipublikasikan oleh Departemen Penerangan dengan nama “Lahirnya Pancasila,” Dan sejak itulah menjadi popular dalam masyarakat Indonesia bahwa Pancasila adalah nama dari dasar negara Indonesia Merdeka, walaupun sebenarnya bunyi rumusan dan sistimatika serta metode berpikir usulan dasar negara Soekarno tidak sama dengan dengan dasar negara yang disahkan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1958 dan 1959, Presiden Soekarno memberikan kursus-kursus di Istana Negara, Jakarta dan kuliah umum pada Seminar Pancasila di Yogyakarta. Kemudian kumpulan pidato tersebut beserta pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 dijadikan buku dengan nama Pancasila sebagai Dasar Negara. Sedangkan peringatan hari lahirnya Pancasula sendiri diadakan pada tahun 1964, setelah DN Aidit mulai mempertanyakan tentang sahnya tidak Pancasila sebagai dasar negara setelah cita-cita persatuan Indonesia tercapai. Dalam umur kesembilan belas Pancasila, 1 Juni 1945 diperingati pertama kalinya. Slogan yang dipergunakan untuk peringatan itu adalah “Pancasila Sepanjang Massa.”

Sebenarnya peringatan semacam itu tidak berlangsung lama. Sebab sejak kejatuhan Presiden Soekarno, arah jarum jam berbalik. Gelar-gelar yang disandang Soekarno, seperti Pemimpin Besar Revolusi. Penyambung Lidah Rakyat, Wali al-Amri Daruri bis-Sjauka dicopot. Jasa dan peranannya ditiadakan. Dapat dikatakan bahwa pada saat itu sedang berlangsung DeSoekarnoisasi. Mereka yang dahulu menggantungkan gambar-gambar Soekarno di dinding rumah dengan penuh kebanggaan. Terpaksa menyembunyikan di kolong tempat tidur atau gudang, karena dirasuki perasaan takut. Yang dahulu memuja-muja bagaikan dewa, berbalik arah mengutuknya bagaikan setan kalau ada orang Indonesia yang menulis sejarah berkaitan dengan diri Soekarno. Sulit rasanya menghindarkan diri baik secara sengaja maupun tidak dari jiwa zaman pada waktu itu. Soekarno hendak dibuang dalam keranjang sampah sejarah. Dalam wacana-wacana resmi negara, nama Soekarno tidak dikaitkan dengan hari lahirnya Pancasila. Peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang .

Sejak usia muda Soekarno telah merasakan pahit getirnya perjuangan bangsa Indonesia. Penderitaan demi penderitaan telah dilewati. Soekarno dipisahkan dari keluarganya dan dijauhkan dari kerumuman massa yang mengaguminya Ia menjadi bagian penting dari setiap fase perjalanan sejarah bangsanya. Berbicara sejarah Indonesia berarti berbicara mengenai Soekarno. Begitu dominan tokoh sejarah ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sehingga dirinya menjadi sangat istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia.

Penulisan sejarah Indonesia yang berkaitan dengan nama mantan presiden Republik Indonesia yang pertama, tidak jarang menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan sepertinya tidak akan pernah berkesudahan. Misalnya, peranan politik Presiden Soekarno pada tahun-tahun sebelum kejatuhannya akibat Peristiwa Gerakan 30 September surat-surat dari Sukamiskin (surat pengampunan Soekarno kepada pemerintah Hindia Belanda) dan Soekarno bukan satu-satunya pembicara tentang Pancasila sebagai dasar negara. Dan ada kemungkinan polemik tentang diri Soekarno berkelanjutan entah tentang apalaginya Soekarno. Tetapi sekarang saya membahas polemik tentang Soekarno dan Pancasila.

Pada tanggal 1947, pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dipublikasikan oleh Departemen Penerangan dengan nama “Lahirnya Pancasila,” Dan sejak itulah menjadi popular dalam masyarakat Indonesia bahwa Pancasila adalah nama dari dasar negara Indonesia Merdeka, walaupun sebenarnya bunyi rumusan dan sistimatika serta metode berpikir usulan dasar negara Soekarno tidak sama dengan dengan dasar negara yang disahkan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1958 dan 1959, Presiden Soekarno memberikan kursus-kursus di Istana Negara, Jakarta dan kuliah umum pada Seminar Pancasila di Yogyakarta. Kemudian kumpulan pidato tersebut beserta pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 dijadikan buku dengan nama Pancasila sebagai Dasar Negara. Sedangkan peringatan hari lahirnya Pancasula sendiri diadakan pada tahun 1964, setelah DN Aidit mulai mempertanyakan tentang sahnya tidak Pancasila sebagai dasar negara setelah cita-cita persatuan Indonesia tercapai. Dalam umur kesembilan belas Pancasila, 1 Juni 1945 diperingati pertama kalinya. Slogan yang dipergunakan untuk peringatan itu adalah “Pancasila Sepanjang Massa.”

Sebenarnya peringatan semacam itu tidak berlangsung lama. Sebab sejak kejatuhan Presiden Soekarno, arah jarum jam berbalik. Gelar-gelar yang disandang Soekarno, seperti Pemimpin Besar Revolusi. Penyambung Lidah Rakyat, Wali al-Amri Daruri bis-Sjauka dicopot. Jasa dan peranannya ditiadakan. Dapat dikatakan bahwa pada saat itu sedang berlangsung DeSoekarnoisasi. Mereka yang dahulu menggantungkan gambar-gambar Soekarno di dinding rumah dengan penuh kebanggaan. Terpaksa menyembunyikan di kolong tempat tidur atau gudang, karena dirasuki perasaan takut. Yang dahulu memuja-muja bagaikan dewa, berbalik arah mengutuknya bagaikan setan kalau ada orang Indonesia yang menulis sejarah berkaitan dengan diri Soekarno. Sulit rasanya menghindarkan diri baik secara sengaja maupun tidak dari jiwa zaman pada waktu itu. Soekarno hendak dibuang dalam keranjang sampah sejarah. Dalam wacana-wacana resmi negara, nama Soekarno tidak dikaitkan dengan hari lahirnya Pancasila. Peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang .

More info:

Published by: Peter Kasenda on Feb 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Polemik tentang Soekarno dan Pancasila
Sejak usia muda Soekarno telah merasakan pahit getirnya perjuangan bangsa Indonesia. Penderitaan demi penderitaan telah dilewati. Soekarno dipisahkan dari keluarganya dan dijauhkan dari kerumuman massa yang mengaguminya Ia menjadi bagian penting dari setiap fase perjalanan sejarah bangsanya. Berbicara sejarah Indonesia berarti berbicara mengenai Soekarno. Begitu dominan tokoh sejarah ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sehingga dirinya menjadi sangat istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia. Penulisan sejarah Indonesia yang berkaitan dengan nama mantan presiden Republik Indonesia yang pertama, tidak jarang menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan sepertinya tidak akan pernah berkesudahan. Misalnya, peranan politik Presiden Soekarno pada tahun-tahun sebelum kejatuhannya akibat Peristiwa Gerakan 30 September surat-surat dari Sukamiskin (surat pengampunan Soekarno kepada pemerintah Hindia Belanda) dan Soekarno bukan satu-satunya pembicara tentang Pancasila sebagai dasar negara. Dan ada kemungkinan polemik tentang diri Soekarno berkelanjutan entah tentang apalaginya Soekarno. Tetapi sekarang saya membahas polemik tentang Soekarno dan Pancasila. Pada tanggal 1947, pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dipublikasikan oleh Departemen Penerangan dengan nama ³Lahirnya Pancasila,´ Dan sejak itulah menjadi popular dalam masyarakat Indonesia bahwa Pancasila adalah nama dari dasar negara Indonesia Merdeka, walaupun sebenarnya bunyi rumusan dan sistimatika serta metode berpikir usulan dasar negara Soekarno tidak sama dengan dengan dasar negara yang disahkan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1958 dan 1959, Presiden Soekarno memberikan kursuskursus di Istana Negara, Jakarta dan kuliah umum pada Seminar Pancasila di Yogyakarta. Kemudian kumpulan pidato tersebut beserta pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 dijadikan buku dengan nama Pancasila sebagai Dasar Negara. Sedangkan peringatan hari lahirnya Pancasula sendiri diadakan pada tahun 1964, setelah DN Aidit mulai mempertanyakan tentang sahnya tidak Pancasila sebagai dasar negara setelah cita-cita persatuan Indonesia tercapai. Dalam umur kesembilan belas Pancasila, 1 Juni 1945 diperingati pertama kalinya. Slogan yang dipergunakan untuk peringatan itu adalah ³Pancasila Sepanjang Massa.´ Sebenarnya peringatan semacam itu tidak berlangsung lama. Sebab sejak kejatuhan Presiden Soekarno, arah jarum jam berbalik. Gelar-gelar yang disandang Soekarno, seperti Pemimpin Besar Revolusi. Penyambung Lidah Rakyat, Wali al-Amri Daruri bis-Sjauka dicopot. Jasa dan peranannya ditiadakan. Dapat dikatakan bahwa pada saat itu sedang berlangsung DeSoekarnoisasi. Mereka yang dahulu menggantungkan gambar-gambar Soekarno di dinding rumah dengan penuh kebanggaan. Terpaksa menyembunyikan di kolong tempat tidur atau gudang, karena dirasuki perasaan takut. Yang dahulu memuja-muja bagaikan dewa, berbalik arah mengutuknya bagaikan setan kalau ada orang Indonesia yang menulis sejarah berkaitan dengan diri Soekarno. Sulit rasanya menghindarkan diri baik secara sengaja maupun tidak dari jiwa zaman pada waktu itu. Soekarno hendak dibuang dalam keranjang sampah sejarah. Dalam wacana-wacana resmi negara, nama Soekarno tidak dikaitkan dengan hari lahirnya Pancasila. Peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang .
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda

Situasi polemik
Ketika deSoekarnoisasi sedang berlangsung, muncul keraguan mengenai Soekarno adalah satu-satunya orang yang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia Merdeka. Diantaranya adalah, BJ Boland, H Endang Saifuddin Anshari, A.G. Pringgodigdo dan Nugroho Notosusanto. Kedua orang pertama yang disebut mempersoalkan mengenai Soekarno sebagai satu-satunya orang yang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara secara sekilas, tetapi kedua orang yang disebut belakangan, secara khusus mempersoalkannya. Kendati tulisan tersebut melawan pendapat umum, tetapi tidak terjadi reaksi yang berlebihan.Tulisan BJ Boland dan H Endang Saifuddin Anshari merupakan hasil studi di perguruan tinggi luar negeri dan kemudian diterbitkan menjadi buku. Tulisan Nugroho Notosusanto, yang diperluas dan dimuat dalam majalah Persepsi No 1, tahun 1, April, Mei dan Juni 1979, dengan judul ³ Mengamankan Pancasila sebagai Dasar Negara.´ Tampaknya tulisan tersebut menarik perhatian Dirdjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Dr Dardji Darmodihardjo. Tentunya lewat persetujuan Nugroho Notosusanto dengan sedikit perbaikan, naskah tersebut diterbitkan oleh PN Balai Pustaka tahun 1981. Tulisan Nugroho Notosusanto disertai dengan tulisan Pringgodigdo yang pernah diterbitkan oleh Kodam VII Brawijaya atas prakarsa, Ass Kas Kodam VII/Brawijaya, Kol. Inf, Dardji Darmodihardjo, SH Sebenarnya tulisan Nugroho Notosusanto tersebut merupakan perluasan dari tulisan yang berjudul ³Naskah Proklamasi Yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik.´, yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan (1971) dan diterbitkan ulang pada tahun 1978 oleh PN Balai Pustaka. Kemudian buku tersebut dijadikan bacaan pelengkap para guru sekolah dalam rangka Pengajaran Moral Pancasila. BP7 menggunakannya sebagai buku pegangan dalam Penataran P4. Ketika tulisan Nugroho Notosusanto dimuat di berbagai harian atas permintaan menteri penerangan Ali Moertopo, kemudian timbul reaksi yang bersifat politis, karena menganggap buku tersebut bersifat politis. Misalnya, muncul ³Deklarasi Pancasila´ yang dikeluarkan Lembaga Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1981, di tengah malam, di Monumen Soekarno-Hatta, Jalan Proklamasi. Deklarasi Pancasila ditandatangani oleh 17 orang, antara lain Manai Sophian, Usep Ranawidjaja, Jusuf Hasyim, H.M Sanusi, Slamet Branata, Hugeng dan HR Dharsono. Deklarasi tersebut menyatakan bahwa hari lahirnya Pancasila adalah 1 Juni 1945 dan Soekarno adalah satu-satunya orang yang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara Pengeritik tulisan Nugroho Notosusanto, ada yang mempunyai profesi sebagai sejarawan, seperti Ruben Nalenan (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta), G Moedjanto (IKIP Sanata Dharma), Abdurachman Suryomihardjo (LIPI) dan Kuntowidjojo (UGM). Dua nama yang disebut pertama terlibat dalam polemik di surat kabar Dua nama yang disebut terakhir, hanya memberi komentar yang kritis atas pertanyaan surat kabar. Sejarawan UI, Onghokham menulis dan memberi komentar atas polemik tersebut, tetapi bersifat netral. Di samping itu, Bagin, BM Diah, Sunario dan Roeslan Abdulgani memberi reaksi atas tulisan Nugroho Notosusanto. Tentu
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda saja bersifat politis ketimbang akademis. Roeslan Abdulgani yang suka menulis itu lebih suka memberi komentar terhadap polemik tersebut. Ternyata polemik tersebut menyeret harian untuk terlibat. Suara Karya yang dikenal sebagai media yang dekat dengan pemerintah, memberi dukungan terhadap tulisan Nugroho Notosusanto. Yang bersikap netral adalah Kompas dan Sinar Harapan. Media yang sangat kritis atas tulisan Nugroho Notosusanto, seperti Merdeka, Simponi, Topik dan Indonesia Observer. Keempat media ini dikenal yang mempunyai simpati berlebih terhadap Presiden Soekarno. Buku Muhammad Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi rujukan dari tulisan Nugroho Notosusanto. Naskah tersebut dianggap sebagai sumber primer, karena penyusunnya adalah seorang pelaku dari proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Lagi pula, buku tersebut diterbitkan dengan sebuah kata pengantar oleh Presiden Soekarno yang juga seorang pelaku dari proses perumusan Pancasila Dasar Negara. A.G Pringgodigdo, yang di dalam BPUPKI menjadi wakil kepala Sekretariat dan tugasnya adalah memimpin para stenograf yang mengambil notulen sidang-sidang badan itu, mengatakan kepada Nugroho Notosusanto bahwa isi buku M Yamin itu kata demi kata (wordelijk) saja dengan isi notulischverslag itu. Kritik yang tajam diarahkan kepada Nugroho Notosusanto adalah berkaitan dengan penggunaan sumber primer, adalah buku M Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. Mereka yang menyangsikan bahwa naskah M Yamin itu, dengan kata lain ingin mengatakan bahwa hanya Soekarnolah satu-satunya yang mengemukakan dasar negara Indonesia Merdeka. Tidak ada kritik kecuali menganggap yang dipublikasikan M Yamin itu autentik adalah merupakan suatu kelemahan. Harus diketahui bahwa penggunaan satu sumber saja, menjadi tak asli lagi sebab M Yamin tentunya menyaringnya untuk memperluas posisinya sendiri. Sumber tunggal juga tidak mungkin adanya perbandingan. Oleh karena itu, prosedur ilmiah yang ditempuh Nugroho Notosusanto kurang menyakinkan sehingga kesimpulan yang ditarik Nugroho Notosusanto bersifat sementara. Penempatan pidato yang tidak berurutan terasa janggal. Pidato Soekarno 1 Juni 1945 justru ditempatkan pada urutan pertama, kemudian baru disusul pidato M Yamin sendiri 29 Mei 1945 dan pidato Supomo 31 Mei 1945. Di samping itu M Yamin juga tidak merasa perlu memuat pidato atau orang lain antara 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Dengan tidak menyebutkan hal itu, sebenarnya Nugroho Notosusanto tidak menjalankan suatu metodelogi sejarah. Adanya kata pengantar Presiden Soekarno pada buku M Yamin tidak bisa ditafsirkan sebagai pengakuan secara langsung bahwa naskah buku itu sah adanya sebagai sebagai sumber primer. Sebenarnya M Yamin tidak bermaksud menerbitkan sumber primer dan hanya dipakai untuk mendukung Konsepsi Presiden Soekarno kembali ke UUD 1945 setelah kemacetan sidang konsituante.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Peranan Soekarno sebagai satu-satunya penggali Pancasila dikuatkan oleh saksi yang terlibat dalam proses permusan Pancasila Dasar Negara, antara lain, Dr Radjiman Wedyodiningrat ( Prakata ³Lahirnya Pancasila´, 1947) Surat Wasiat Hatta,1978,´Memoir Hatta´,1979 dan bahkan oleh M Yamin sendiri, Pidato Filsafat Pancasila,5-6-1958, Seminar Pancasila 1-1-1959, Pidato di Deparlu, 2-2-1960,´ Soekarno ialah Penggali Pancasila yang Otentik,´. Pengakuan M Yamin dalam seminar Pancasila tanggal 16 Februari 1959 di Yogyakarta. Menurut sejarah dan kenyataan maka Pancasila penggalian Soekarno. Terlalu sulit untuk mempercayai kata-kata AG Pringgodigdo yang mengatakan bahwa naskah M Yamin kata demi kata sama dengan notulen. Terlebih AG Pringgodigdo tidak pernah men-cek lagi karena notulen tersebut ³dihilangkan³ oleh M Yamin, dan ada kemungkinan besar dan bisa dipastikan kalau M Yamin mengubah ejaan serta bahasa dan memperbaiki kata-kata yang janggal dalam notulen. Yang paling menarik adalah mendengar kata-kata Abdurachman Suryomihardjo. Sejarawan LIPI mengatakan bahwa sejarawan harus hati-hati dalam memuat interprestasi sejarah. ³Kalau interprestasi itu tidak dikaitkan dengan maksud untuk meniadakan peringatan nasional atau kelompok, interprestasi boleh saja dilakukan. Tapi kalau interprestasi itu dipakai membenarkan logika untuk suatu rekomendasi keputusan politik itu bisa dipersoalkan«´ Dengan kata lain, sebenarnya pemberi komentar itu ingin mengatakan bahwa buku Nugroho Notosusanto, Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara merupakan ³pamflet politik³ daripada karya sejarah. Kritik semacam itu mengingat situasi yang cenderung mengabaikan peranan Soekarno dalam sejarah Indonesia. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah Orde Baru yang menyingkirkan Presiden Soekarno panggung politik lebih menyukai tesis dari Nugroho Notosusanto . Mendengar suara-suara semacam itu, Nugroho Notosusanto bukan tidak tanggap. Ia mempunyai jawaban atas kritik tersebut. ³Kalau pendapat saya dalam buku itu sama sama dengan pendapat pemerintah, itu kebetulan saja. Hal ini sudah menjadi pendapat saya sejak lama sekali.´ Begitu kata sejarawan dari Pusat Sejarah ABRI. Tesis utama Nugroho Notosusanto mengenai Soekarno bukan satu-saunya yang mengemukakan dasar negara, sebenarnya telah ditulis Nugroho Notosusanto pada tahun 1971 dengan judul ³Naskah Proklamasi Yang Otentik dan Rumusan Pancasila Yang Otentik.´ oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan, dan kemudian diterbitkan ulang oleh PN Balai Pustaka pada tahun 1978. Yang menarik pendapat dari Ketua Team BP7 (Penasehat Presiden mengenai Pelaksanaan Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Dr Roeslan Abdulgani dalam menanggapi terbitnya buku Nugroho Notosusanto itu dengan mengatakan bahwa penggunaan buku Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar1945 sebagai sumber primer merupakan suatu kesalahan. Sebab menurut Dr Roeslan Abdulgani, buku M Yamin itu diterbitkan bukan merupakan publikasi resmi. Buktinya tidak memuat apa saja yang terjadi pada waktu sidang BPUPKI. Tidak memuat pidato-pidato para pendiri bangsa lainnya pada saat sidang BPUPKI.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Bahkan beberapa bagian isi dari buku tersebut diragukan keakuratannya. Yang lebih diragukan Dr Roeslan Abdulgani mengenai pidato M Yamin 29 Mei 1945. Menurut Karen Brook lewat tulisannya mengenai Soekarno, tindakan Nugroho Notosusanto tersebut mendapat restu pemerintah, sebagai bagian dari usaha untuk menciptakan ³keseimbangan³ perspektif tentang Soekarno. Dengan kata lain, peningkatan idealisasi terhadap Soekarno di kalangan loyalis Soekarno dan generasi muda. Diimbangi dengan usaha-usaha untuk mengasingkan makna penting sang proklamator ini dalam konteks sejarah bangsa Indonesia Kebangkitan kekuasaan nostalgik terhadap Soekarno dan semakin kuatnya mitosmitos tentang Soekarno dalam realitas psikolgis masyarakat sekitar tahun 1978 cukup mengkhawatirkan pemerintahan Soeharto, sehingga Nugroho Notosusanto diinstruksikan untuk melakukan counter dengan cara menciptakan gambaran-gambaran yang illegitimate mengenai Soekarno. Kemudian pada tahun 1984, Lembaga Soekarno ± Hatta menerbitkan buku Sejarah lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, yang mengatakan bahwa hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidak bisa dilepaskan dari Soekarno. Sebab Soekarno adalah satu-satunya orang yang mengemukakan Pancasila sebagai dasar negara di depan sidang BPUPKI 29 Mei - 1 Juni 1945.

Penutup
Ada satu catatan yang penting dalam ilmu sejarah. Ada kecenderungan sering terjadi penyalahgunaan ilmu sejarah. Karena penulisan sejarah mempunyai fungsi untuk memberi legitimasi. Bahaya dari itu adalah fakta sejarah atau proses sejarah dipakai seenaknya oleh politisi atau cendikiawan yang terlibat. Hal ini tentu akan mengaburkan pandangan masyarakat mengenai kedudukan ilmu sejarah dan konsepsinya mengenai sejarah. Dan yang paling penting bagi penelitian sejarah kontemporer, apakah sejarawan mengambil jarak dari sasaran yang dibicarakan? Dapatkah si sejarawan terlepas dari sentimen dan praduga pribadinya, menghadapi hal yang dibicarakan itu dengan wajar. Hal ini penting sebab pengerjaan ilmu sejarah tidak saja menuntut kemampuan teknis dan wawasan teori, tetapi juga integritas yang tinggi. Karena itu, dalam melakukan studi sejarah, sejarawan harus meninjau kecenderungan pribadinya. Makin ia menyadari bahwa ia tidak bisa bersikap adil dan wajar terhadap sasaran studinya, maka makin menjauhlah ia dari sasaran itu. Entah, kalau sejarawan itu lebih ingin menjalankan tugasnya sebagai cendikiawan yang terlibat atau ideologi yang mencari pembenaran. Tak ada salahnya, tetapi masalahnya telah berada di luar bidang sejarah sebagai ilmu. Begitu kata Taufik Abdullah. Terlepas dari urutan peristiwa dan tafsir sejarah yang dikemukakan dalam meninjau proses perumusan Pancasila itu serta berbagai pendapat yang berlawanan dalam mencapai kebenaran dan kejujuran dari para penulisnya, secara teknis metodologis ilmiah segera tampak satu kekurangan yang menyolok. Kekurangan itu ialah tiadanya arsip yang dapat dipakai sebagai sumber primer penulisannya. Ibarat orang ingin menjamah apa yang ingin diraih sebagai pijakan, tetapi orang itu berada di dalam gua yang gelap gulita. Tiada ³Sinar Arsip´ yang dapat dilihat dan dipijak, sehingga pijakan memberikan alasan dan pembuktian menjadi goyah. Akhirnya orang saling mengemukakan percaya atau tidaknya kepada orang yang dipakai sebagai landasan
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda utaiannya. Harapan untuk tidak tergelincir dari pijakan yang goyah itu ialah apabila suatu ketika para peneliti menemukan arsip persidangan itu.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->