P. 1
Soekarno, DN Aidit Dan PKI

Soekarno, DN Aidit Dan PKI

|Views: 1,441|Likes:
Published by Peter Kasenda
Di hari ulang tahun PKI ke-45 ada seratus ribu yang datang ke stadion Bung Karno pada 23 Mei 1965. Mereka yang dijuluki semut merah yang berbaris memasuki stadion. Banyaknya tak terbilang, tertib, disiplin, siap mengorbankan diri, dan militan, dan sanggup menyengat jika diganggu. Semut merah ini, mata Soekarno merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Presiden Soekarno menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari podium, penuh pujian terhadap patriotisme PKI dan semangat perjuangnya melawan kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme dunia. Tidak ada partai politik lain yang dapat berharap untuk mengorganisasi rapat sebesar itu. PKI memiliki kombinasi yang langkah antara kecukupan dana, keanggotaan yang sangat luas dan dukungan presiden.

Sebagai seorang yang menaruh minat studi tentang sejarah pemikiran Soekarno, ada baiknya kalau saya mencoba memberi sedikit penjelasan tentang kaitan antara Soekarno dengan DN Aidit dan PKI. Dengan kata lain, lewat tulisan ini sebenarnya pertanyaan yang harus diajukan adalah di manakah tempat PKI dalam pemikiran politik Soekarno.

Tetapi sebelum saya berbicara panjang lebar tentang hal diatas, izinkanlah saya mengutip pendapat Moh Hatta dalam bukunya, Bung Hatta Menjawab, mengenai hubungan Soekarno dengan DN Aidit. Menurut M Hatta, ia ketika itu selaku penasehat pada balatentara Jepang, berkantor di Jalan Pegangsaan. DN Aidit adalah satu dari satu pegawai dari sejumlah pegawai orang Indonesia, Di kantor itu hanyalah terdiri dari orang Indonesia dan memang M Hatta tidak menghendaki mempunyai pegawai orang Jepang.

Menurut Moh Hatta, ketika Soekarno memasuki ruangan, semua orang yang ada di ruangan biasanya langsung berdiri. Tetapi DN Aidit tidak beranjak dari tempat duduknya dan melihat perilaku yang diperlihatkan DN Aidit, Soekarno marah dan langsung mengajukan pertanyaan, mengapa tidak tetap duduk dan tidak berdiri seperti pegawai yang lainnya.

Teguran Soekarno, dijawab DN Aidit dengan menyatakan,” Biasanya orang datang dan memberi salam, baru kami bediri. Ini Bung masuk, tanpa memberi salam. Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, dia memberi salam terlebih dahulu, baru kami berdiri membalasnya. Ini, Bung minta berdiri. Ini sistem Jepang. Kami tidak biasa demikian ,”

Menurut pengakuan Moh Hatta, melihat situasi semacam itu, akhirnya Hatta memutuskan untuk memindahkan DN Aidit ke kantor yang agak berjauhan tempat. Sebab kalau Hatta membiarkan DN Aidit berada di tempat semula, hanya merepotkan dirinya saja. Tampaknya Hatta mengerti betul tabiat kawan seperjuangannya, Soekarno.

Sebenarnya pengakuan Moh Hatta, telah menunjukkan bahwa Soekarno dan DN Aidit mempunyai bibit-bibit saling tidak menyukai satu sama lain. Tetapi dalam perjalanannya, masyarakat politik kemudian melihat hubungan Soekarno dengan DN Aidit begitu mesra. Sebagaimana yang diperlihatkan di dalam perayaan ulang tahun PKI ke 45. Indonesia di bawah Demokrasi Terpimpin semakin bergeser ke kiri saja.
Di hari ulang tahun PKI ke-45 ada seratus ribu yang datang ke stadion Bung Karno pada 23 Mei 1965. Mereka yang dijuluki semut merah yang berbaris memasuki stadion. Banyaknya tak terbilang, tertib, disiplin, siap mengorbankan diri, dan militan, dan sanggup menyengat jika diganggu. Semut merah ini, mata Soekarno merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Presiden Soekarno menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari podium, penuh pujian terhadap patriotisme PKI dan semangat perjuangnya melawan kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme dunia. Tidak ada partai politik lain yang dapat berharap untuk mengorganisasi rapat sebesar itu. PKI memiliki kombinasi yang langkah antara kecukupan dana, keanggotaan yang sangat luas dan dukungan presiden.

Sebagai seorang yang menaruh minat studi tentang sejarah pemikiran Soekarno, ada baiknya kalau saya mencoba memberi sedikit penjelasan tentang kaitan antara Soekarno dengan DN Aidit dan PKI. Dengan kata lain, lewat tulisan ini sebenarnya pertanyaan yang harus diajukan adalah di manakah tempat PKI dalam pemikiran politik Soekarno.

Tetapi sebelum saya berbicara panjang lebar tentang hal diatas, izinkanlah saya mengutip pendapat Moh Hatta dalam bukunya, Bung Hatta Menjawab, mengenai hubungan Soekarno dengan DN Aidit. Menurut M Hatta, ia ketika itu selaku penasehat pada balatentara Jepang, berkantor di Jalan Pegangsaan. DN Aidit adalah satu dari satu pegawai dari sejumlah pegawai orang Indonesia, Di kantor itu hanyalah terdiri dari orang Indonesia dan memang M Hatta tidak menghendaki mempunyai pegawai orang Jepang.

Menurut Moh Hatta, ketika Soekarno memasuki ruangan, semua orang yang ada di ruangan biasanya langsung berdiri. Tetapi DN Aidit tidak beranjak dari tempat duduknya dan melihat perilaku yang diperlihatkan DN Aidit, Soekarno marah dan langsung mengajukan pertanyaan, mengapa tidak tetap duduk dan tidak berdiri seperti pegawai yang lainnya.

Teguran Soekarno, dijawab DN Aidit dengan menyatakan,” Biasanya orang datang dan memberi salam, baru kami bediri. Ini Bung masuk, tanpa memberi salam. Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, dia memberi salam terlebih dahulu, baru kami berdiri membalasnya. Ini, Bung minta berdiri. Ini sistem Jepang. Kami tidak biasa demikian ,”

Menurut pengakuan Moh Hatta, melihat situasi semacam itu, akhirnya Hatta memutuskan untuk memindahkan DN Aidit ke kantor yang agak berjauhan tempat. Sebab kalau Hatta membiarkan DN Aidit berada di tempat semula, hanya merepotkan dirinya saja. Tampaknya Hatta mengerti betul tabiat kawan seperjuangannya, Soekarno.

Sebenarnya pengakuan Moh Hatta, telah menunjukkan bahwa Soekarno dan DN Aidit mempunyai bibit-bibit saling tidak menyukai satu sama lain. Tetapi dalam perjalanannya, masyarakat politik kemudian melihat hubungan Soekarno dengan DN Aidit begitu mesra. Sebagaimana yang diperlihatkan di dalam perayaan ulang tahun PKI ke 45. Indonesia di bawah Demokrasi Terpimpin semakin bergeser ke kiri saja.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Feb 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Soekarno, DN Aidit dan PKI

Di hari ulang tahun PKI ke-45 ada seratus ribu yang datang ke stadion Bung Karno pada 23 Mei 1965. Mereka yang dijuluki semut merah yang berbaris memasuki stadion. Banyaknya tak terbilang, tertib, disiplin, siap mengorbankan diri, dan militan, dan sanggup menyengat jika diganggu. Semut merah ini, mata Soekarno merupakan pemandangan kejayaan yang megah. Presiden Soekarno menyambut acara itu dengan bahagia dan menyampaikan pidato berapi-api dari podium, penuh pujian terhadap patriotisme PKI dan semangat perjuangnya melawan kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme dunia. Tidak ada partai politik lain yang dapat berharap untuk mengorganisasi rapat sebesar itu. PKI memiliki kombinasi yang langkah antara kecukupan dana, keanggotaan yang sangat luas dan dukungan presiden. Sebagai seorang yang menaruh minat studi tentang sejarah pemikiran Soekarno, ada baiknya kalau saya mencoba memberi sedikit penjelasan tentang kaitan antara Soekarno dengan DN Aidit dan PKI. Dengan kata lain, lewat tulisan ini sebenarnya pertanyaan yang harus diajukan adalah di manakah tempat PKI dalam pemikiran politik Soekarno. Tetapi sebelum saya berbicara panjang lebar tentang hal diatas, izinkanlah saya mengutip pendapat Moh Hatta dalam bukunya, Bung Hatta Menjawab, mengenai hubungan Soekarno dengan DN Aidit. Menurut M Hatta, ia ketika itu selaku penasehat pada balatentara Jepang, berkantor di Jalan Pegangsaan. DN Aidit adalah satu dari satu pegawai dari sejumlah pegawai orang Indonesia, Di kantor itu hanyalah terdiri dari orang Indonesia dan memang M Hatta tidak menghendaki mempunyai pegawai orang Jepang. Menurut Moh Hatta, ketika Soekarno memasuki ruangan, semua orang yang ada di ruangan biasanya langsung berdiri. Tetapi DN Aidit tidak beranjak dari tempat duduknya dan melihat perilaku yang diperlihatkan DN Aidit, Soekarno marah dan langsung mengajukan pertanyaan, mengapa tidak tetap duduk dan tidak berdiri seperti pegawai yang lainnya. Teguran Soekarno, dijawab DN Aidit dengan menyatakan,´ Biasanya orang datang dan memberi salam, baru kami bediri. Ini Bung masuk, tanpa memberi salam. Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, dia memberi salam terlebih dahulu, baru kami berdiri membalasnya. Ini, Bung minta berdiri. Ini sistem Jepang. Kami tidak biasa demikian ,´ Menurut pengakuan Moh Hatta, melihat situasi semacam itu, akhirnya Hatta memutuskan untuk memindahkan DN Aidit ke kantor yang agak berjauhan tempat. Sebab kalau Hatta membiarkan DN Aidit berada di tempat semula, hanya merepotkan dirinya saja. Tampaknya Hatta mengerti betul tabiat kawan seperjuangannya, Soekarno. Sebenarnya pengakuan Moh Hatta, telah menunjukkan bahwa Soekarno dan DN Aidit mempunyai bibit-bibit saling tidak menyukai satu sama lain. Tetapi dalam perjalanannya, masyarakat politik kemudian melihat hubungan Soekarno dengan DN Aidit begitu mesra. Sebagaimana yang diperlihatkan di dalam perayaan ulang tahun PKI ke 45. Indonesia di bawah Demokrasi Terpimpin semakin bergeser ke kiri saja.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda

Kemarahan
Gerakan komunisme di Indonesia mengalami perjalanan panjang yang seringkali diwarnai gelombang pasang surut. Dalam kurun waktu pergolakan pergerakan nasional pada abad ke-20, gerakan komunis bersama dengan gerakan lainnya yang dilandasi oleh berbagai ideologi seperti Islam dan nasionalisme mengekspresikan diri dalam bentuk aksi perlawanan terhadap penguasa kolonial Hindia Belanda. Aksi perlawanan itu disalurkan melalui protes terhadap berbagai kepentingan penguasa kolonial. Yang paling konkret berupa aksi konfrontasi secara frontal yang mengandalkan kekuatan fisik. Keterlibatan PKI dalam pergulatan ini terlihat dengan meletusnya aksi perlawanan yang dirancang dan sekaligus dilakukan organisasi itu sepanjang tahun 1921-1927. Akan tetapi penguasa kolonial Hindia Belanda berhasil menumpas aksi itu. Penguasa kolonial kemudian melakukan penangkapan terhadap mereka yang terlihat secara besar-besaran. Jumlahnya mencapai ribuan dan kemudian diantaranya dibuang ke daerah incognito Boven Digul di pedalaman Papua Gerakan ini membuka mata pemerintah kolonial Belanda akan bahaya eksploisif dan pergerakan rakyat. Boven Digul ± sebagai tempat pengasingan ± pun diperkenalkan. Ketika proklamasi Indonesia dikumandangkan. Proklamasi 17 Agustus 1945 yang prinsipnya merupakan deklarasi resmi bahwa Indonesia untuk menentukan eksistensi, hidup, dan masa depan sendiri yang bebas dari belenggu kekuatan asing, telah menempatkan berbagai kekuatan politik di masa kolonial Belanda, untuk memainkan peranan dalam konstelasi politik nasional pasca-proklamasi PKI sebagai salah satu dari kekuatan itu muncul kembali secara legal pada 21 Oktober 1945. Terlebih lagi sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah 3 November 1945 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, partai-partai politik semakin mencuat ke permukaan. Kegiatan PKI sendiri mulai ofensif. Di beberapa tempat terjadi ³revolusi dalam revolusi.´ DN Aidit baru melibatkan diri, setelah Aidit bebas dari pembuangan yang dilakukan oleh tentara Inggris ke Penjara Onrust. Secara nasional PKI melakukan konsolidasi partai pertama dalam atmosfer repiblik, yaitu Kongres Nasional IV di Surakarta pada bulan Januari 1947. PKI seolaholah mendapat ³suntikan baru³ sejak kembalinya tokoh lama Musso. Karena meletus pemberontakan 1926-1927, ia tertahan dan terus menetap di Rusia dan baru kembali pada 11 Agustus 1948. Ia menyamar bernama Soeparto, sekretaris Suripno, Pada saat negara RI yang masih sangat muda menghadapi ancaman yang paling serius dan desakan kolonial Belanda, FDR/PKI melancarkan pemberontakan di Madiun. Hanya berselang tiga tahun dari berdirinya PKI. Kalau pemberontakan tahun 1926-1927 ditujukan kepada kekuasaan kolonial Hindia Belanda, kini tindakan itu ditujukan kepada pemerintah yang sah. Bukankah dengan cara itu PKI telah memperkenalkan bencana perang saudara dalam perjuangan nasional melawan Belanda yang ingin kembali menguasai tanah jajahannya yang begitu kaya.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda

Pada tanggal 19 September 1948 Presiden Soekarno mengucapkan pidato radionya. Ia menjelaskan kepada rakyat tentang betapa pentingnya arti persatuan dan kesatuan dalam menghadapi ancaman Belanda dan pengacau dalam negeri. Selain itu Soekarno juga menguraikan tentang terjadinya kerusuhan di Solo dan akhirnya PKI-Musso mengangkat senjata melawan pemerintahan yang sah. Selanjutnya Presiden Soekarno berseru kepada rakyat antara lain : ³Atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka, aku berseru kepadamu. Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan aku sekalipun mengalami percobaan yang sebesarbesarnya dalam menentukan nasib kita sendiri, dan kita adalah memilih antara dua : ikut Musso dengan PKI-nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga.´ Walaupun Musso dalam pidato jawabannya tantangan Soekarno, mengatakan bahwa Soekarno adalah budak-budak Jepang, penjual Romusha dan kini menjual rakyat Indonesia kepada Imperialisme Amerika. Tetapi, apa yang terjadi selanjutnya. Ternyata PKI tidak mendapat dukungan massa untuk mengadakan pemberontakan massa untuk berhasil mencetuskan pemberontakan umum. Hanyalah merupakan suatu usaha sia-sia belaka, apa yang dikatakan Musso tentang Soekarno, ternyata tidak mendapat tempat dalam pikiran rakyat. Jelasnya, bangsa Indonesia lebih suka atau menaruh kepercayaan Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno-Hatta, tidak kepada Musso dengan PKI-nya. Pemerintah dan TNI berhasil memadamkan pemberontakan ini, tetapi sekian banyak yang tidak berdosa ikut menjadi korban. Kekuatan Republik pun terkuras. Ketika itulah Belanda melakukan pemerasan politiknya. Agresi militer pun dilancarkan, Yogyakarta diduduki. Para pemimpin pemerintah ditangkap dan dibuang. Pemerintah Darurat Republik Indonesia didirikan dan perjuangan lewat bersenjata dilancarkan di bawah Panglima Besar Sudirman. Sebagai akibat perbuatannya itu terpaksa PKI harus turun panggung politik untuk sementara waktu. Di sinilah hebatnya Soekarno dalam menempatkan dirinya sebagai lambang persatuan negara yang masih muda usia ini. Sehingga seruannya dapat diartikan sebagai kesanggupan dari Soekarno untuk menanamkan kepercayaan kepada bangsanya untuk bangkit melawan pemberontakan itu. Militer yang mempunyai andil besar dalam memadamkan pemberontakan tersebut secepat mungkin. Lewat pengalaman pahit inilah militer tidak pernah lagi menaruh kepercayaan terhadap PKI. Oleh karena itu, bisa dipahami kalau antara PKI dengan militer terjadi saling curiga bahkan saling memusuhi. Dalam kedudukan serta dalam organisasi, yang melampui kekuatan organisasi lain, posisi Soekarno pun secara otomatis bertambah meningkat, apalagi karena dari dia diharapkan, kata putus mengenai segala sesuatu. Menurut John D Legge, yang dikenal sebagai ahli Soekarno, menyebutkan bahwa kemelut sejarah ini mempunyai arti penting bagi pribadi Soekarno. Kata sarjana berkebangsaan Australia itu, Soekarno tetap menganggap bahwa PKI sebagai unsur asli dari revolusi Indonesia
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda dan kutukan atas pemberontakan tersebut adalah kutukan terhadap penyimpangan PKI dari jalan yang benar, seperti yang dilakukan pada tahun 1926-1927.

Tampil Kembali
Hasil pemilu untuk parlemen (DPR) yang berlangsung pada tanggal 29 September itu baru diumumkannya pada tanggal 1 Maret 1956. Hasil tersebut memperlihatkan empat besar sebagai partai papan atas, yaitu PNI (22,1%), Masyumi (20,9), NU (18,4 %) dan PKI (16,3 %) dengan jumlah suara berbeda mencolok dengan partai-partai lainnya. Bagi PKI, hasil itu merupakan suatu yang menakjubkan dan bertolak belakang dengan citra buruk PKI selama ini, sebab trauma politik peristiwa Madiun 1948 tidak berpengaruh. Perolehan suara itu sebagian besar datang dari pulau Jawa. Berbicara tentang kemenangan PKI pada pemilihan umum 1955, terasa sulit tanpa melibatkan Soekarno dalam perbincangan. Betapa pandai issu yang digunakan untuk memenangkan pemilihan umum itu, mereka mengatakan kepada rakyat bahwa apabila PKI menang, PKI memilih Soekarno sebagai Presiden. PKI menjadi salah satunya partai yang memberikan pernyataan demikian itu. PNI sendiri tidak melakukannya, meskipun tentunya bagi PNI dengan sendirinya akan memilih Soekarno sebagai presiden. Dengan demikian nyata benar, bagi PKI secara lihai sekali menunggangi kepopuleran Presiden Soekarno pada waktu itu. Dengan diawali adanya Demokrasi Terpimpin, inilah PKI mulai lagi memainkan peranan yang penting dalam peta politik Indonesia. Naik panggungnya PKI tidak lepas dari pemikiran politik Soekarno. Untuk itu ada baiknya saya menjelaskan sedikit mengenai masa transisi ke arah Demokrasi Terpimpin. Konsepsi Presiden, 21 Februari 1957, di mana Soekarno ingin membentuk Kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional. Artinya, kabinet semacam itu diartikan Soekarno dengan menggunakan bahasa Belanda,´ Alle kinderen aan een eettafel aan werktafel .´ (Semua makan bersama di satu meja dan kerja). Maksudnya Soekarno adalah di dalam kabinet itu, nantinya semua partai dan golongan yang mempunyai suara minimal di DPR harus diikutsertakan. Dengan demikian Presiden Soekarno secara tidak langsung mengkondisikan PKI dimasukkan dalam kabinet itu, sebagaimana pemerintah 4 besar dalam Pemilihan Umum 1955 dan dibantu oleh partai-partai kecil, maksudnya agar kabinet semacam itu lebih mampu menjalankan koalisi yang senantiasa diganggu oposisi. Walaupun hasilnya tidak seperti yang diiinginkan Soekarno. Tentang gagasan Soekarno ± Kabinet Gotong Royong- itu, tampaknya mendapat tantangan dari mantan wakil presiden, Moh Hatta yang pernah mendampingi Soekarno sejak tahun 1945 hingga tahun 1956 dalam suatu kesempatan acara makan di kediaman Hatta atas keinginan Soekarno, sebelum kepergian Presiden Soekarno ke Tokyo pada awal tahun 1959. Moh Hatta bertanya sambil memperingatkan Soekarno, ³Kalau begini terus menerus, negara ini kamu sampaikan kepada PKI. Kau naikkan PKI dengan cara ³ kuda berkaki empat´ Maksud Hatta adalah melibatkan PKI dalam kabinet. Situasi pada saat itu, terjadi aksi corat-coret yang berisikan tuntutan agar PKI sebagai partai pemenang ke 4, dalam pemilihan umum 1955. agar bisa masuk kabinet pada waktu itu.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Bisa diduga aksi-aksi tersebut dilakukan oleh pendukung-pendukung PKI, yang merasa bahwa PKI berhak duduk dalam kabinet karena PKI adalah partai besar. Berkaitan dengan itu, ternyata Soekarno mempunyai pandangan yang berbeda dengan kawan seperjuangannya, Hatta. Dalam jawabannya terhadap Hatta, Soekarno menjawab : ³Ya, PKI di sini lain. Berbeda dengan partai komunis di negeri-negeri lain.´ Tetapi Moh Hatta menukas jawaban Soekarno tersebut.´ Tidak lain. Sama saja. Tunduk pada Moskow dan mengikuti kemauan-kemauannya.´ Walaupun Moh Hatta telah memperingatkan akan bahaya bekerja sama dengan PKI yang pernah mengadakan makar pada tahun 1926-1827 dan 1948, tetapi Soekarno tetap teguh dengan pendiriannya dengan menganggap Komunis di Indonesia bersifat lain. Tampaknya Soekarno menganggap PKI bisa diatur dan akan menuruti langkah-langkahnya. Dilihat dari pemikiran politik Soekarno, yang pernah dinyatakan pada tahun 1920-an tentang bersatunya tiga isme mau direalisir kembali. Bukankah ini berarti bahwa Soekarno ingin mempertahankan PKI dalam persatuan nasional. Seperti apa yang dikatakan dalam pidatonya.´ Laksana Malaikat yang Menyerbu dari Langit: Jalannya Revolusi Kita 17 Agustus 1960,´ Soekarno menegaskan bahwa di Indonesia, ada tiga golongan besar revolutionaire krachten yang tidak dapat diingkari keberadaannya di Indonesia, yaitu Nasakom yang merupakan kerja sama aliran-aliran politik yang bersifat ideologis. Dan seringkali Soekarno menegaskan tentang Nasakom sebagai suatu kebenaran yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Perubahan kecil, namun penting, yang terjadi dalam ideologi PKI selama periode ini menunjukkan sejauh mana dengan mengorbankan kesetiaan mereka pada doktrin. Pada tahun 1964, doktrin kelas dinomorduakan demi aliansi nasional untuk melawan musuh dari luar dan sekutu-sekutunya di dalam negeri. Aliran, bukannya pengelompokan atas dasar kelas, yang menjadi titik pusat dari program front persatuan nasional. Perjuangan untuk meruntuhkan imperialisme di Asia Tenggara dan di seluruh dunia menjadi perhatian utama dari kebijakan dan tindakan PKI, jadi bukan perjuangan untuk perombakan masyarakat Indonesia. Dengan memberikan dukungan kepada ideologi dan struktur politik Soekarno, mengagung-agungkan peranan nasionalnya, dan setuju menyusaikan diri dengan garis-garis besar haluan negara, golongan komunis di tarik ke arah akomodasi yang lebih jelas ke arah tradisi. Namun, walaupun berbeda terdapat persamaan antara kedua ideologi atau kepentingan (dari Soekarno dan PKI). Misalnya, antiimperialisme yang radikal dan antiasing, yang dituangkan dalam kampanye-kampanye pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaya sebagai suatu perang suci. Tetapi ada konflik yang terselubung antara keduanya dalam tujuan yang ingin dicapai masing-masing pihak. Jika Soekarno sebagai sumber kekuasaan dan perwujudan nilai-nilai priyayi, berusaha menggabungkan massa Jawa dengan massa suku lainnya menjadi satu kesatuan yang secara sosial bersifat kolektif dan dipimpin oleh para pemimpin mereka, sedangkan golongan komunis, sebagai pihak yang haus kekuasaan dan juru bicara dari kaum abangan kelas rendah, mencoba memobilisir massa untuk menumbangkan kesatuan sosial yang diinginkan Soekarno. Walaupun nantinya mereka berdua gagal mencapai ambisinya.
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Soekarno gagal mempersatukan ketiga aliran itu dan golongan komunis juga gagal menanamkan kesadaran kelas yang tinggi atau bisa dikatakan terdapat kesadaran kelas yang palsu ( false class conciousness ). Walaupun PKI pengaruhnya semakin dirasakan disemua bidang kehidupan sosial-politik, wakil-wakil PKI duduk dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga tertinggi negara, itu terjadi berkat kelihaian DN Aidit dan perlindungan Soekarno. Tetapi sebenarnya DN Aidit tidak puas terhadap peranan dan posisi PKI yang tidak menentu dalam alam Soekarnoisme ( Soekarno telah mengatakan dalam autobiografinya, bahwa terdapat perbedaan ideologis antara Soekarnoisme dengan Komunisme). Tampaknya DN Aidit menyadari semakin lama bergandengan dengan Soekarno, tipis harapan untuk menghancurkan Soekarnoisme. Begitu kata Rex Mortimer yang menulis masalah Komunisme di Indonesia, Pada permulaan bulan Mei 1964, DN Aidit mengejutkan kalangan politisi di Jakarta, sewaktu mempertanyakan sahnya Pancasila sebagai falsafah negara DN Aidit mengatakan demikian,´ Dan disinilah betulnya Pancasila sebagai alat pemersatu. Pancasila tidak perlu lagi apabila kita sudah bersatu. Sebab Pancasila alat pemersatu, bukan. Kalau sudah ³satu´ semuanya apa yang kita persatukan lagi. Justru kita berbeda, perlunya Pancasila itu. Ada ³Nas´, ada ³A´, ada ³ Kom´, perlu Pancasila itu sebagai alat pemersatu. Juga Bhinneka Tunggal Ika harus pegang teguh, berbeda-beda tapi satu jua. Ada alat pemersatu kita, Pancasila kita. Nasakom kita. Ini, saya kira, sebagai peserta-peserta dalam persatuan NASAKOM masing-masing pihak mengakui adanya berbagai aliran itu. ³ Tampaknya. Ketua CC PKI DN Aidit ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi yang dia inginkan. Tampaknya Soekarno sangat terpengaruh oleh pernyataan DN Aidit yang hendak menggantikan Pancasila apabila persatuan Indonesia sudah tercapai, maka tiba-tiba saja Presiden Soekarno menuntut diadakan peringatan Hari Lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni 1964. Tentu saja, kejadian itu mengejutkan berbagai pihak, kenapa baru sekarang diperingati. Dan untuk acara peringatan itu digunakan slogan-solgan ³sepanjang massa.´ Dari kenyataan ini memperlihatkan betapa bertolak pandangan Soekarno dengan DN Aidit mengenai Pancasila. DN Aidit melihat Pancasila sebagai alat pemersatu, sebaliknya Soekarno lebih jauh dari itu. Pancasila juga dilihat sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang bisa bertahan sepanjang massa.

Hancurnya PKI
PKI tampil sebagai ancaman bagi kekuatan angkatan darat di panggung politik. Dua komandan tertinggi, AH Nasution dan Ahmad Yani, yang sangat memusuhi PKI, senantiasa bersiasat untuk menghambat pertumbuhan PKI selama bertahun-tahun. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa komando tertinggi angkatan darat tidak pernah membiarkan PKI merebut kekuasaan negara, baik melalui kotak suara maupun dengan peluru. Dua lembaga ini pada tahun 1960-an mati langkah. PKI menguasai politik sipil, sedangkan Angkatan Darat mengendalikan lebih dari 300.000 prajurit bersenjata.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Diantara dua kekuatan yang saling berhadapan ini, berdirilah Presiden Soekarno. Setelah membubarkan parlemen hasil pemilu 1955 pada tahun 1959, ia berperan ibarat sebagai pengganjal dua kekuatan itu. Banyak perwira militer dan politisi antikomunis dengan harapan Presiden Soekarno akan menjadi perintang bagi PKI. Banyak orang percaya ketika itu bahwa PKI akan merebut suara terbanyak seandainya pemilu diadakan lagi. Pada tahun 1063 elemenelemen antikomunis memprakarsai mosi di DPR yang mengangkat Soekarno sebagai ³Presiden Seumur Hidup´ untuk memastikan bahwa seorang komunis tidak akan pernah menguasai pemerintah. Dibawah Demokrasi Terpimpin, Soekarno sebagai perisai bagi mereka yang anti komunis dan sekaligus bagi mereka yang mendukung komunis. Presiden Soekarno membutuhkan PKI sebagai basis massa untuk mempopulerkan agendanya, terutama perjuangannya melawan the establish forces dan kekuatan Nekolim (neokolonialisme, kolonialisme dan imperialisme). Presiden Soekarno juga membutuhkan PKI sebagai kekuatan tawar dalam urusannya dengan Angkatan Darat. PKI merupakan jaminan baginya bahwa Angkatan Darat tidak akan dapat mendongkelnya. Saat ini baik Angkatan Darat maupun PNI sedang mencari kesempatan untuk menguasai kehidupan politik. Di atas segalanya Presiden Soekarno memerlukan Indonesia yang bersatu untuk merebut Irian Barat. Perimbangan kekuatan segitiga ± PKI, Angkatan Darat dan Presiden Soekarno ± tidak pecah berantakan ketika PKI semakin menjadi besar. Presiden Soekarno tetap berdiri kokoh pada sikap politik yang antikapitalisme dan antiimperialisme. Kelompok±kelompok antikomunis menjadi semakin cemas pada 1965, merapatkan barisan di belakang Angkatan Darat dan percaya bahwa kegunaan Presiden Soekarno sebagai penghambat PKI sudah selesai. Sisi segitiga ini mulai membayangkan satu sistem di luar Presiden Soekarno. Begitu kata John Rossa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal. Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto.(2008). Pimpinan PKI cukup menyadari bahwa hasil-hasil yang mereka peroleh itu dimungkinkan oleh adanya politik perlindungan dari Presiden Soekarno. Karena itu, timbul persoalan bagaimana nasib partai komunis apabila Presiden Soekarno tidak ada lagi. Kekhawatiran itu terjadi ketika sekitar awal bulan Agustus 1965, ketika tim dokter dari RRC datang ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan ganjal yang sudah lama diderita Presiden Soekarno. Tim dokter RRC ini kemudian memberi informasi kepada DN Aidit, bahwa penyakit Soekarno itu amat parah serta Soekarno tidak akan bertahan lama lagi. Menurut sumber PKI sendiri, para dokter itu memberi keterangan semacam itu, berdasarkan atas perintah dari Peking. Berita dari dokter RRC itu, tentunya menjadi bahan pembicaraan utama dalam sidang-sidang CC PKI. Atas dasar perhitungan bahwa TNI-AD juga akan berusaha merebut kekuasaan apabila Presiden meninggal, PKI mengambil keputusan untuk tidak tinggal menunggu tetapi mendahului ³memukul ³. Sementara itu, permusuhan antara Soekarno dengan DN Aidit meledak lagi, dua hari sebelum Gerakan 30 September. Tepatnya pada tanggal 28 September, malam. pada hari itu terakhir rapat umum organisasi komunis Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) di Istora Senayan. Setelah Soekarno tidak menuruti kemauan mahasiswa komunis untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dengan diiringi yel-yel mahasiswa ±mahasiswa komunis., DN Aidit secara tidak langsung dalam rapat itu mengeritik pemerintahan di bawah
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda kepemimpinan Soekarno dengan mengtakan,´ Ada pemimpin-pemimpin palsu yang merampok uang rakyat dan memelihara bini empat sampai lima,´ Kritik ini tentu saja ditujukan orang-orang yang berada di sekitar Soekarno. Tetapi dua minggu, sebelumnya, DN Aidit mengeritik secara tidak langsung Soekarno dengan mengatakan,´ Ada seorang pemimpin revolusi yang merasa dirugikan oleh revolusi bukanlah seorang pemimpin yang sejati.´ Hanya dua malam kemudian, pada tanggal 30 September 1965, meletuslah Peristiwa Gerakan 30 September di Jakarta. Tetapi pemberontakan itu tidak dibiarkan berlangsung lama dengan cepat dalam tempo sehari, pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh TNI AD di bawah kepemimpinan Jendral Soeharto, yang dikenal sebagai seorang Jendral yang memimpin operasi pembebasan Irian Barat. Kalau ada berita-berita dan isu-isu tentang adanya Dewan Jendral yang bekerja sama dengan Nekolim akan diadakan kudeta, merupakan suatu reasoning bagi PKI untuk melakukan kudeta lebih dahulu. Tetapi dengan terjadinya pemberontakan ini, tanpa ragu-ragu dengan dijadikan sebagai dasar oleh Angkatan Darat untuk secara bebas menghantam dan membinasakan PKI sebagai musuh negara yang mengancam keutuhan dan keselamatan seluruh bangsa. Sejak itulah peranan Presiden Soekarno sebenarnya telah berkurang banyak dan berarti rontoknya perimbangan kekuatan politik antara PKI dan TNI AD yang sejak lama secara sengaja maupun tidak, telah dipertahankan dan diciptakan Presiden Soekarno. Bisa jadi dia prihatin atau kecewa dengan hilangnya PKI yang sering mendukung kebijakannya, tetapi ia lebih sedih lagi melihat betapa persatuan nasional yang dibinanya sejak muda hancur begitu saja. Soekarno benar-benar negeri melihat suatu bangsa yang bersatu ditemukan oleh pemandangan di mana orang Indonesia membunuh kejam orang-orang Indonesia lainnya. Oleh karena itu, tidak usah heran, kalau Soekarno berkata,´«telah mengganggu sukmaku, telah membuatku sedih, membuat khawatir«dengan terus terang kukatakan aku meratap kepada Allah, bagaimana Allah, Robbi, bagaimana semua ini dapat terjadi ?´ Peringatan Soekarno kepada bangsanya,´ kalau kita melanjutkan keadaan seperti ini, saudara-saudara kita akan masuk ke dalam neraka, benar-benar kita akan masuk neraka.´ Ternyata tidak diindahkan sebagian rakyatnya, ini tentu membuat ia bersedih hati dan kecewa. Dan itulah kenyataan yang dihadapi pada akhir kekuasaan Presiden Soekarno. Dengan kebesaran jiwa dan disertai kearifan Soekarno, dan kebijaksanaan Jendral Soeharto, akhirnya Soekarno menyerahkan kekuasaannya kepada Jendral Soeharto. Presiden Soekarno rela surut dari panggung politik untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari perpecahan nasional. Itulah jalan yang terbaik yang harus ditempuh. Apabila Indonesia terkoyakkoyak hanya menguntungkan Nekolim. Sebenarnya kekuasaan yang diberikan PKI adalah untuk membeli warisan kekuasaan Soekarno apabila yang terakhir ini meninggal dunia. Dan kata hubungan Soekarno-DN Aidit bersifat semu belaka, seandainya Persitiwa Gerakan 30 September sukses, bukan tidak mungkin

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

Peter Kasenda Aidit bakal tidak sabar menunggu meninggalnya Soekarno. Ingat apa yang terjadi dengan LeninStalin, berakhir dengan antagonis. Kalau kita berbicara tentang Peristiwa Gerakan 30 September seringkali muncul pertanyaan, Apakah Soekarno terlihat dalam gerakan itu, dengan melihat begitu dekatnya hubungan Soekarno dengan PKI. Memang pada waktu itu ada tuduhan bahwa Soekarno terlibat dalam gerakan itu, tetapi betul tidaknya kita tidak tahu. Dan kita tidak pernah tahu. Karena prengadilan belum berbicara dan tidak akan pernah berbicara. Hingga kini pun tidak ada bukti kalau Soekarno terlibat dalam Gerakan 30 September dan untuk itu, kemudian pemerintahan Soeharto mengenangnya sebagai Pahlawan Paroklamator.

Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com, peterkasenda@rocketmail.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->