P. 1
ortom muhammadiyah

ortom muhammadiyah

|Views: 2,618|Likes:
Published by Jundi Alfaruq

More info:

Published by: Jundi Alfaruq on Feb 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2013

pdf

text

original

1.

Aisyiyah

adalah sebuah gerakan perempuan Muhammadiyah yang lahir hampir bersamaan dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Dalam kiprahnya hampir satu abad di Indonesia, saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki 33 Pimpinan Wilayah “Aisyiyah (setingkat Propinsi), 370 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (setingkat kabupaten), 2332 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (setingkat Kecamatan) dan 6924 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (setingkat Kelurahan). Selain itu, ‘Aisyiyah juga memiliki amal usaha yang bergerak diberbagai bidang yaitu : pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Amal Usaha dibidang pendidikan saat ini berjumlah 4560 yang terdiri dari Kelompok Bermain, Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, Tempat Penitipan Anak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan lain-lain. Sedangkan amal usaha di bidang Kesehatan yang terdiri dari Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Badan Kesehatan Ibu dan Anak, Balai Pengobatan dan Posyandu berjumlah hingga 280 yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai gerakan yang peduli dengan kesejahteraan sosial kemasyarakatan, ‘Aisyiyah hingga kini juga memiliki sekitar 459 amal usaha yang bergerak di bidang ini meliputi : Rumah Singgah Anak Jalanan, Panti Asuhan, Dana Santunan Sosial, Tim Pengrukti Jenazah dan Posyandu. ‘Aisyiyah menyadari, bahwa harkat martabat perempuan Indonesia tidak akan meningkat tanpa peningkatan kemampuan ekonomi di lingkungan perempuan. Oleh sebab itu, berbagai amal usaha yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi ini diantaranya koperasi, Baitul Maal wa Tamwil, Toko/kios, BU EKA, Simpan Pinjam, home industri, kursus ketrampilan dan arisan. Jumlah amal usaha tersebut hingga 503 buah. Aisyiyah sebagai organisasi perempuan keagamaan terbesar di Indonesia juga memiliki beragam kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat khususnya penyadaran terhadap kehidupan bermasyarakat muslim Indonesia. Hingga saat ini kegiatan yang mencakup pengajian, Qoryah Thayyibah, Kelompok Bimbingan Haji (KBIH), badan zakat infaq dan shodaqoh serta musholla berjumlah 3785.

Di daerah-daerah di Jawa Timur. Terbukti dengan pelaksanaan konferensi-konferensi daerah yang diikuti oleh pimpinan Pemuda Muhammadiyah cabang dan ranting. Muhammadiyah Bagian Pemuda dijadikan suatu ortom yang mempunyai kewenangan mengurusi rumah tangga organisasinya sendiri. hingga pada Konggres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 diputuskan berdirinya Muhammadiyah Bagian Pemuda. Pertumbuhan Pemuda Muhammadiyah pada dekade 1930-an tergolong dinamis. dilaksanakan konferensi Pemuda Muhammadiyah di berbagai daerah. berdirinya Muhammadiyah sering didahului oleh kegiatan-kegiatan yang dipelopori oleh kalangan pemuda. Akhirnya pada 26 Dzulhijjah 1350 H bertepatan dengan 2 Mei 1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah berdiri sebagai ortom. di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggung jawab mengasuh. Misalnya. sehingga dalam waktu relatif singkat Muhammadiyah Bagian Pemuda telah terbentuk di hampir semua ranting dan cabang Muhammadiyah. . Usaha-usaha pendirian HW dilakukan oleh cabang dan ranting sejak awal pertumbuhan Muhammadiyah. cabang dan ranting mengadakan kegiatan-kegiatan di bidang kepemudaan dan kepanduan. mendidik dan membimbing Pemuda Muhammadiyah diserahkan kepada Majelis Pemuda. Dengan demikian pembinaan Pemuda Muhammadiyah menjadi tanggung jawab pimpinan Muhammadiyah di masing-masing level. Dalam perkembangannya SPP mengalami kemajuan yang pesat. yaitu lembaga yang menjadi kepanjangan tangan dan pembantu Pimpinan Pusat yang memimpin gerakan pemuda. Pemuda Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan awal Muhammadiyah. Keputusan Muhammadiyah tersebut mendapat sambutan luar biasa dari kalangan pemuda keluarga Muhammadiyah. yang merupakan bagian dari organisasi dalam Muhammadiyah yang secara khusus mengasuh dan mendidik para pemuda keluarga Muhammadiyah.Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis dapat dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP). Ahmad Dahlan dapat melakukan kegiatan pembinaan terhadap remaja/pemuda Islam. Pada awal pertumbuhan Muhammadiyah di berbagai daerah. suatu gerakan yang sejak awal diharapkan KH. dan paruh kedua dekade itu setiap cabang memiliki bagian Pemuda Muhammadiyah. Selanjutnya dengan persetujuan Majelis Tanwir. Cabang-cabang dan ranting mengadakan HW yang menjadi wadah pembinaan anak-anak muda Muhammadiyah. Dinamika Gerakan Kendati secara resmi baru berdiri pada 2 Mei 1932. Pada 1937.

pada tahun 1956 didirikan Uni SMA Muhammadiyah yang kemudian merencanakan akan mengadakan musyawarah se-Jawa Tengah. Oleh karena itulah dirasakan perlu hadirnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai organisasi para pelajar yang terpanggil kepada misi Muhammadiyah dan ingin tampil sebagai pelopor. berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan . Pada tahun 1950. Akan tetapi. sebenarnya upaya para pelajar Muhammadiyah untuk mendirikan organisasi pelajar Muhammadiyah sudah dimulai jauh sebelum Ikatan Pelajar Muhammadiyah berdiri pada tahun 1961. Pada tahun 1926. pelangsung penyempurna perjuangan Muhammadiyah. upaya ini mendapat tantangan dari Muhammadiyah. Setelah tahun 1947. Jika merentang sejarah yang lebih luas. Resistensi dari berbagai pihak. termasuk Muhammadiyah. termasuk dari Muhammadiyah sendiri. Latar belakang berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar yang ingin melakukan pemurnian terhadap pengamalan ajaran Islam. Selanjutnya pada tahun 1956 GKPM kembali didirikan di Yogyakarta. Interpretasi sejarah bisa jadi berbeda-beda dalam memandang perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Remaja Muham-madiyah. berdirinya kantong-kantong pelajar Muhammadiyah untuk beraktivitas mulai mendapatkan resistensi dari berbagai pihak. Namun. di Sulawesi (di daerah Wajo) didirikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Merupakan metamorfosis dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang berdiri tahun 1961.2. Pada tahun 1957 juga berdiri IPSM (Ikatan Pelajar Sekolah Muhammadiyah) di Surakarta. tetapi dibubarkan juga oleh Muhammadiyah (yaitu Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah). di Malang dan Surakarta berdiri GKPM (Gabungan Keluarga Pelajar Muham-madiyah). Pada tahun 1954. Selanjutnya pada tahun 1933 berdiri Hizbul Wathan yang di dalamnya berkumpul pelajar-pelajar Muhammadiyah. terhadap upaya mendirikan wadah atau organisasi bagi pelajar Muhammadiyah sebenarnya merupakan refleksi sejarah dan politik di Indonesia yang terjadi pada awal gagasan ini digulirkan. Pada tahun 1919 didirikan Siswo Projo yang merupakan organisasi persatuan pelajar Muham-madiyah di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Jika dilacak jauh ke belakang. proses sejarah organisasi ini memang tidak sederhana. sekaligus sebagai salah satu konsekuensi dari banyaknya sekolah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah untuk membina dan mendidik kader. bahkan para aktifisnya diancam akan dikeluarkan dari sekolah Muhammadiyah bila tetap akan meneruskan rencananya. Setelah GKPM dibubarkan. namun akhirnya dibubarkan oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. di Yogyakarta berdiri GKPM yang berumur 2 bulan karena dibubarkan oleh Muhammadiyah. yang juga mendapatkan resistensi dari Muhammadiyah sendiri.

Mulai saat itulah upaya pendirian organisasi pelajar Muhammdiyah dilakukan dengan serius. Sedangkan Muhammadiyah tetap bertahan di dalam Masyumi sampai Masyumi membubarkan diri pada tahun 1959. yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII). yaitu Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). satu gerakan pelajar Islam. yaitu Pandu Islam (PI). 4). dan untuk segera dilaksanakan setelah mencapai kesepakatan pendapat dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran. Kesepakatan bulat organisasi-organisasi Islam ini tidak dapat bertahan lama. yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). satu gerakan pemuda Islam.sebuah background politik ummat Islam secara keseluruhan. Pembicaraan-pembicaraan mengenai perlunya berdiri organisai pelajar Muhammadiyah banyak dilakukan oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muham-madiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Muktamar Pemuda Muhammadiyah meminta kepa-da Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran supaya memberi kesem-patan dan memnyerahkan kompetensi pemben-tukan IPM kepada PP Pemuda Muhammadiyah. yaitu dengan memutuskan untuk membentuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Keputusan II/No. Bertahannya Muhammadiyah dalam Masyumi akhirnya menjadi mainstream yang kuat bahwa deklarasi Panca Cita hendaknya ditegakkan demi kesatuan ummat Islam Indonesia. organisasi-organisasi Islam di Indonesia merapatkan sebuah barisan dengan membuat sebuah deklarasi (yang kemudian terkenal dengan Deklarasi Panca Cita) yang berisikan tentang satu kesatuan ummat Islam. 2. yaitu ketika pada tahun 1958 Konferensi Pemuda Muhammadiyah Daerah di Garut berusaha melindungi aktifitas para pelajar Muhammadiyah di bawah pengawasan Pemuda Muham-madiyah. dan sistematis. Di samping itu. satu gerakan mahasiswa Islam. . yaitu Masyumi. dan satu Kepanduan Islam. Muktamar Pemuda Muhammadiyah mengama-natkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menyusun konsepsi Ikatan Pelajar Muham-madiyah (IPM) dari pembahasan-pembahasan muktamar tersebut. seperti Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul ‘Aisyiyah. karena pada tahun 1948 PSII keluar dari Masyumi yang kemudian diikuti oleh NU pada tahun 1952. Dengan keputusan konferensi Pemuda Muham-madiyah di Garut tersebut akhirnya diperkuat pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke II yang berlangsung pada tanggal 24-28 Juli 1960 di Yogyakarta. bahwa ummat Islam bersatu dalam satu partai Islam. Keputusan tersebut di antaranya ialah sebagai berikut : 1. Ketika Partai Islam MASYUMI berdiri. yang cukup bisa mengakomodasikan kepentingan para pelajar Muhammadiyah. intensif. resistensi dari Muhammadiyah terhadap gagasan IPM juga disebabkan adanya anggapan yang merasa cukup dengan adanya kantong-kantong angkatan muda Muhammadiyah. Dengan kegigihan dan kemantapan para aktifis pelajar Muhammadiyah pada waktu itu untuk membentuk organisasi kader Muhammadiyah di kalangan pelajar akhirnya mulai mendapat titik-titik terang dan mulai menunjukan keberhasilanya.

akhirnya Pimpinan Pusat IPM membentuk team eksistensi yang bertugas secara khusus menyelesaikan permasalahan ini. Dengan demikian. Tanggal 18 Juli 1961 ditetapkan sebagai hari kelahiran Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Perubahan nama dari IPM ke IRM sebenarnya semakin memperluas jaringan dan jangkauan organisasi ini yang tidak hanya menjangkau pelajar. .B/1. team eksistensi ini merekomendasikan perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Rema ja Muhammadiyah. Pimpinan IPM (tingkat ranting) didirikan di setiap sekolah Muhammadiyah. Sementara di sekolah-sekolah Muhammadiyah juga terdapat organisasi pelajar Muhammadiyah. Bahkan ada yang mengang-gap bahwa IPM tidak memiliki jiwa heroisme sebagai-mana yang dimiliki oleh PII yang tetap tidak mau menga-kui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasinya. Bahkan pada Konferensi Pimpinan Wilayah IPM tahun 1992 di Yogyakarta. yang selanjutnya disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1992 melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muham-madiyah Nomor 53/SK-PP/IV. Namun sesungguhnya perubahan nama tersebut merupakan blessing in disguise (rahmat tersembunyi). Kesepakatan tersebut dicapai pada tanggal 15 Juni 1961 yang ditandatangani bersama antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran. Keputusan pergantian nama ini tertuang dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat IPM Nomor VI/PP. secara resmi perubahan IPM menjadi IRM adalah sejak tanggal 18 Nopember 1992. Dalam situasi kontra-produktif tersebut. anak jalanan.b/1992 tentang pergantian nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. seperti santri. yaitu IPM. Perkembangan IPM akhirnya bisa memperluas jaringan sehingga bisa menjangkau seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia. agar IPM melakukan penye-suaian dengan kebijakan pemerintah.IPM/1992. tetapi juga basis remaja yang lain. Perubahan ini bisa jadi merupakan sebuah peristiwa yang tragis dalam sejarah organisasi. ada dualisme organisasi pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. dan secara nasional melalui forum tersebut IPM dapat berdiri. Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu (Akbar Tanjung) secara khusus dan implisit menyampaikan kebijakan pemerintah kepada IPM. Berdirinya Pimpinan IPM di sekolah-sekolah Muhammadiyah ini akhirnya menimbulkan kontradiksi dengan kebijakan pemerintah Orde Baru dalam UU Keormasan. Dengan demikian. dan lain-lain. Setelah dilakukan pengkajian yang intensif.Kata sepakat akhirnya dapat tercapai antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran tentang organisasi pelajar Muhammadiyah. Rencana pendirian IPM tersebut dimatangkan lagi dalam Konferensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta tanggal 18-20 Juli 1961. karena perubahannya mengandung unsur-unsur kooptasi dari pemerintah. bahwa satu-satunya organisasi siswa di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia hanyalah Organisasi Siswa IntraSekolah (OSIS).

sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. kebodohan. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis 4. Dahlan. Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak. serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk 3. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan. yang berpesan bahwa "dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter. Pada saat itu. khurafat. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah. sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keha-rusan sejarah. serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi 8. pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal. . kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM. serta adanya ancaman komunisme di Indonesia 2.3. KHA. Di samping itu. Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah. sosial. dan kemiskinan 7. Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah. karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. dan politik yang semakin memburuk Dengan latar belakang tersebut. dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. 1990: 102) : 1. Di samping itu. Keinginan tersebut sangat logis dan realistis. serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler 6. bahkan ke-syirik-an. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus. Hisyam (periode 1934-1937). Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah. dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme 5. Kehidupan ekonomi.

baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain. resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dengan demikian.meester. Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi pendirian HMI. Namun demikian. nomor 6 tahun ke-68. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang. Di samping itu. terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). halaman 19). Namun karena berbagai macam hal. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah. sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah. tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah. lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Abdul Kahar Mudzakir . insinyur. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Dengan demikian. Dia bertukar pikiran dengan Prof. sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil. kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi. Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah. gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan. Maret II 1988. gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. Setidaknya. keinginan tersebut belum bisa diwujudkan. Dengan demikian. keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan. pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi'atul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung cukup sengit. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta.

Pemuda Muhammadiyah. pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK).. serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan. Pertama. Bila asumsi itu benar adanya. Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah. Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah .. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM. 1959. 1990: 94).(tokoh Muhammadiyah). Ketiga. yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI. 1990: 98). Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. dan beliau setuju. keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang ". Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni.. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan. maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Nasyi'atul Aisyiyah. gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM. menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah. karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan melalui HMI (Farid Fathoni. yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. perguruan tinggi Muham-madiyah telah banyak didirikan. Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). baik secara pribadi maupun kelembagaan. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM." Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) diseleng-garakan Kongres Mahasiswa Universitas Muham-madiyah di Yogyakarta (saat itu. Pada saat itulah. karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah. dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan Masyumi.. Kedua. Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keempat. karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. Ir. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu. dr. Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah 6. yaitu KHA. Rosyad Saleh (IAIN. Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. undang-undang. Oleh karena itu. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi maha-siswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum. Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adalah sebagai berikut : 1. Tiga bulan setelah penjajagan tersebut. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan ‘Enam Pene-gasan IMM' oleh KHA. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta'ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muham-madiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi Islam dalam rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM 3. sedang-kan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM. 1990: 102). yaitu : 1. Sudibyo Markus (UGM. sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah 4. Drs. Dengan demikian. Badawi. lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM.). Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam 2. peraturan. melangsungkan. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan. Badawi. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa 2.).untuk berdiri sendiri. dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah . Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam 3. serta dasar dan falsafah negara 5. Sebagai upaya menopang.).). Drs.

Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965. ummat.4. . Padang. Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan IMM'. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM. Sukabumi. Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta. dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah 5. Dengan demikian. Medan. maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia. maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 . Membina. dan lain-lain. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo. bentuk kegiatan. Banjarmasin. rancangan kerja. maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal. Jember. dan persyarikatan Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta. termasuk lambang IMM. meningkatkan. seperti Bandung. pelangsung. Jakarta. serta berbagai konsep lainnya. Surakarta. Sebagai pelopor. dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa. Gerak Arah IMM. mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas.13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. dan lain-lain. Tuban.

dan kegiatan keputrian. Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah menanamkan rasa persatuan. mengadakan peringatan hari-hari besar Islam. ia menekankan bahwa perjuangan Muhammadiyah akan sangat terdorong dengan adanya peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para muridnya. seorang kepala guru agama di Standart School Muhammadiyah. Nasyi'atul Aisyiyah (NA) Berdirinya Nasyi'atul Aisyiyah (NA) juga tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan rentang sejarah Muhammadiyah sendiri yang sangat memperhatikan keberlangsungan kader penerus perjuangan. Kegiatan SP Wanita merupakan terobosan yang inovatif dalam melakukan emansipasi wanita di tengah kultur masyarakat feodal saat itu. Namun dengan munculnya SP Wanita. Perkembangan SP cukup pesat. Kultur patriarkhis saat itu benarbenar mendomestifikasi wanita dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga. Aktivitas Tajmilul Akhlak diadakan untuk anak-anak berumur 10-15 tahun. maupun jasmaninya. jama'ah subuh. Gagasan mendirikan NA sebenarnya bermula dari ide Somodirdjo. Setelah lima bulan berjalan. Gagasan Somodirdjo ini digulirkan dalam bentuk menambah pelajaran praktek kepada para muridnya. karena SP . baik dalam bidang spiritual. Pada awalnya.4 . maka pada tahun 1919 Somodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para remaja putra-putri siswa Standart School Muhammadiyah. dan memperdalam agama. Karangkajen. Kegiatan Thalabus Sa'adah diselenggerakan untuk anak-anak di atas umur 15 tahun. intelektual. dan diwadahi dalam kegiatan bersama. memperbaiki akhlak. Muhammadiyah dalam membangun ummat memerlukan kader-kader yang tangguh yang akan meneruskan estafet perjuangan dari para pendahulu di lingkungan Muhammadiyah. SP mempunyai ranting-ranting di sekolah Muhammadiyah yang ada. Kegiatan SP Wanita dipusatkan di rumah Haji Irsyad (sekarang Musholla Aisyiyah Kauman). membunyikan kentongan untuk membangunkan umat Islam Kauman agar menjalankan kewajibannya yaitu shalat shubuh. berpidato. Sementara itu juga diselenggarakan tamasya ke luar kota setiap satu bulan sekali. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya mulai segmented dan terklasifikasi dengan baik. Jam'iatul Athfal dilaksanakan seminggu dua kali untuk anak-anak yang berumut 7-10 tahun. dan Kotagede. Kegiatan SP Wanita adalah pengajian. seorang guru Standart School Muhammadiyah. yaitu di Suronatan. diadakan pemisahan antara anggota laki-laki dan perempuan dalam SP. Para orang tua seringkali melarang anak perempuannya keluar rumah untuk aktifitas-aktifitas yang emansipatif. Seminggu sekali anggota SP Pusat memberi tuntunan ke ranting-ranting. Bausasran. kultur patriarkhis dan feodal tersebut bisa didobrak. Dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah. Hadirnya SP Wanita sangat dirasakan manfaatnya. Dengan bantuan Hadjid. Dirasatul Bannat diselenggarakan dalam bentuk pengajian sesudah Maghrib bagi anak-anak kecil. Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa Praja (SP).

Pada masa sekitar revolusi. Dengan adanya keputusan itu. Perkembangan NA semakin pesat pada tahun 1939 dengan diseleng-garakannya Taman Aisyiyah yang mengakomodasikan potensi. Baru setelah situasi mengijinkan. dan kursus administrasi. yaitu pada tahun 1924. Pada tahun 1923. minat. kegiatan SP Wanita sudah menjangkau cabang-cabang di luar Yogyakarta. yakni suatu gerakan untuk membina anak laki-laki dan perempuan yang berumur 4-5 tahun. Mereka menga-dakan shalat Jum'at bersama-sama. Selain itu. SP Wanita juga menerbitkan buku nyanyian berbahasa Jawa dengan nama Pujian Siswa Praja. Pada tahun 1929. Pada tahun 1926.Wanita membekali wanita dan putri-putri Muhammadiyah dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan. Perkembangan selanjutnya. Organisasi NA mengalami kemacetan. NA hampir tidak terdengar lagi perannya di tengah-tengah masyarakat. NA dijadikan bagian yang diistimewakan dalam Aisyiyah. dari Muktamar Aisyiyah disampaikan sebuah prasaran untuk mengaktifkan anggota NA yang pokok isinya . SP Wanita mulai diintegrasikan menjadi urusan Aisyiyah. Konggres Muhammadiyah yang ke-18 memutuskan bahwa semua cabang Muhammadiyah diharuskan mendirikan SP Wanita dengan sebutan Aisyiyah Urusan Siswa Praja. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan aktifitas yang tidak wajar dilaksanakan oleh wanita pada saat itu. Pada tahun 1931 dalam Konggres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta diputuskan semua nama gerakan dalam Muhammadiyah harus memakai bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Dengan demikian. dan bakat putri-putri NA untuk dikem-bangkan. Taman Aisyiyah juga menghimpun lagu-lagu yang dikarang oleh komponis-komponis Muhammadiyah dan dibukukan dengan diberi nama Kumandang Nasyi'ah. Pada Muktamar Muhammadiyah di Palembang tahun 1957. sehingga terbentuk Pimpinan Aisyiyah seksi NA di seluruh level pimpinan Aisyiyah. percaturan politik dunia yang mempengaruhi Indonesia membawa akibat yang besar atas kehidupan masyarakat. tahun 1950. mengadakan tabligh ke berbagai daerah. yang sekaligus juga menetapkan nyanyian Simbol Padi sebagai Mars NA. Pelajaran pokok yang diberikan adalah dasardasar keislaman pada anak-anak. SP Wanita telah mampu mendirikan Bustanul Athfal. Tahun 1935 NA melaksanakan kegiatan yang semakin agresif menurut ukuran saat itu. karena cabang-cabang Muham-madiyah di luar Jawa sudah banyak yang didirikan (saat itu Muhammadiyah telah mempunyai cabang kurang lebih 400 buah). maka nama Siswa Praja Wanita diganti menjadi Nasyi'atul Aisyiyah (NA) yang masih di bawah koordinasi Aisyiyah. Muhammadiyah mengadakan Muktamar untuk mendinamisasikan gerak dan langkahnya. Pada Konggres Muhammadiyah ke-26 tahun 1938 di Yogyakarta diputuskan bahwa Simbol Padi menjadi simbol NA. Muktamar tersebut memutuskan bahwa Aisyiyah ditingkatkan menjadi otonom. hal ini berarti NA berhak mengadakan konferensi tersendiri.

Prasaran tersebut disampaikan oleh Baroroh. NA diberi kesempatan untuk mengadakan musyawarah tersendiri. Selanjutnya pada Muktamar Muham-madiyah di Jakarta pada tahun 1962. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh NA dengan menghasilkan rencana kerja yang tersistematis sebagai sebuah organisasi. Dalam Munas yang pertama kali. akhirnya dengan secara organisatoris NA berhasil mendapatkan status yang baru sebagai organisasi otonom Muhammadiyah.mengharapkan kepada Aisyiyah untuk memberi hak otonom kepada NA. . Di bawah kepemimpinan Majelis Bimbingan Pemuda. maka berhasillah NA dengan munasnya pada tahun 1965 bersama-sama dengan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bandung. NA yang saat itu diketuai oleh Siti Karimah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk mengadakan musyawarahnya yang pertama di Bandung. tampaklah wajah-wajah baru dari 33 daerah dan 166 cabang dengan penuh semangat. Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 diputuskan untuk memberi status otonom kepada NA. Dengan didahului mengadakan konferensi di Solo.

Ciri khas tersebut dikembangkan melalui proses panjang dalam akar sejarah yang dilaluinya. Sebagaimana seni beladiri di negara-negara lain. Berawal dari aliran pencak silat Banjaran di Pesantren Binorong Banjarnegara pada tahun 1872. aliran ini kemudian berkembang menjadi perguruan seni bela diri di Kauman Yogyakarta karena perpindahan guru (pendekarnya). yaitu mendirikan Perguruan Tapak Suci pada tanggal 31 Juli 1960 yang merupakan keberlanjutan sejarah dari perguruanperguruan sebelumnya. dan banyak yang gugur dalam perlawanan bersenjata. Tradisi pencak silat sudah berurat-berakar di kalangan masyarakat Indonesia sejak lama. Tapak Suci sebagai salah satu varian seni beladiri pencak silat juga memiliki ciri khas yang bisa menunjukkan identitas yang kuat. Perguruan Cikauman banyak melahirkan pendekar-pendekar muda yang akhirnya mengembangkan cabang perguruan untuk memperluas jangkauan yang lebih luas dengan nama Perguruan Seranoman pada tahun 1930. Busyro Syuhada. yang di antaranya ialah Perguruan Kasegu pada tahun 1951. Busyro Syuhada. Perguruan ini menegaskan seluruh pengikutnya untuk bebas dari syirik (menyekutukan Tuhan) dan mengab-dikan perguruan untuk perjuangan agama dan bangsa.5. Di Kauman inilah pendekar KH. Lahirnya pendekar-pendekar muda hasil didikan perguruan Cikauman dan Seranoman memungkinkan untuk mendirikan perguruan-perguruan baru. Atas desakan murid-murid dari Perguruan Kasegu inilah inisiatif untuk menggabungkan semua perguruan silat yang sealiran dimulai. Dengan pendekatan yang intensif dan dengan pertimbangan bahwa harus ada kekuatan fisik yang dimiliki ummat Islam menghadapi kekuatan komunis yang melakukan provokasi terhadap ummat Islam. yaitu KH. Dimyati. Busyro Syuhada mendapatkan murid-murid yang tangguh dan sanggup mewarisi keahliannya dalam seni pencak silat. pencak silat yang merupakan seni beladiri khas Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang dikembangkan untuk mewujudkan identitas. namun mendapatkan tentangan dari para ulama Kauman dan para pendekar tua yang merasa terlangkahi. Seluruh perangkat organisasional dipersiapkan. maka gagasan untuk menyatukan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan dimulai. Pada tahun 1963. . Murid-murid dari perguruan ini kemudian banyak menjadi anggota Laskar Angkatan Perang Sabil (APS) untuk melawan penjajah. Perguruan ini memiliki landasan agama dan kebangsaan yang kuat. Perkembangan kedua perguruan ini semakin hari semakin pesat dengan pertambahan murid yang cukup banyak. desakan itu semakin kuat. dan akhirnya disepakati untuk menggabungkan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan.A Wahib dan Pendekar A. yaitu dua orang murid yang tangguh dari KH. Demikian pula bahwa seni beladiri pencak silat di Indonesia juga beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Perguruan seni pencak silat ini didirikan pada tahun 1925 dan diberi nama Perguruan cik auman yang dipimpin langsung oleh Pendekar M. akibat gerakan perlawanan bersenjata yang dilakukannya sehingga ia menjadi sasaran penangkapan yang dilakukan rezim kolonial Belanda.

karena Tapak Suci Putera Muham-madiyah juga mampu dijadikan wadah pengkaderan Muhammadiyah. dan Perguruan Tapak Suci dikem-bangkan lagi namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah.Pada perkembangan selanjutnya. Dan pada Sidang Tanwir Muham-madiyah tahun 1967. pada tahun 1966 diselenggarakan Konferensi Nasional I Tapak Suci yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pada saat itulah berhasil dirumuskan pemantapan organisasi secara nasional. . Perguruan Tapak Suci yang berkedudukan di Yogyakarta akhirnya berkembang di Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya. Tapak Suci Putera Muhammadiyah ditetapkan menjadi organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah. Setelah meletusnya pemberontakan G30 S/PKI.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). remaja. Induk organisasi HW hanyalah Persyarikatan Muhammadiyah. remaja. umat. artinya keanggotaan HW terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. Ortom Muhammadiyah lainnya adalah: 'Aisyiyah. HW didirikan untuk menyiapkan dan membina anak. bersifat sukarela. bersifat terbuka. Gerakan ini kemudian meleburkan diri ke dalam Gerakan Pramuka pada 1961. artinya secara organisatoris HW tidak berafiliasi kepada salah satu partai politik dan HW tidak melakukan aktivitas politik praktis. dan bangsa. dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). tidak berorientasi pada partai politik. Tapak Suci Putera Muhammadiyah. yang merupakan pendiri Muhammadiyah. . Nasyiatul 'Aisyiyah (NA). atau latar belakang pendidikan. artinya ruang lingkup usaha HW meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Repulik Indonesia. tanpa paksaan atau tekanan orang lain 4. Prakarsa itu timbul saat beliau selesai memberi pengajian di Solo. 2.b/1999 tanggal 10 Sya'ban 1420 H (18 November 1999 M) dan dipertegas dengan SK Nomor 10/Kep/I. Identitas HW 1. profesi. Pemuda Muhammadiyah (PM).Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (disingkat HW) adalah salah satu organisasi otonom (ortom) di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. dan melihat latihan Pandu di alun-alun Mangkunegaran. dan dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan SK Nomor 92/SK-PP/VI-B/1. HW adalah kepanduan islami. dan Ciri Khas HW Sifat HW HW adalah sistem pendidikan untuk anak. dan pemuda yang memiliki aqidah. Sifat. berilmu dan berteknologi serta berakhlak karimah dengan tujuan terwujudnya pribadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan. mental dan fisik. artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik berakhlak mulia. HW berasaskan Islam. artinya dasar seseorang menjadi anggota HW adalah suka dan rela. dan pemuda di luar lingkungan keluarga dan sekolah : 1. usia. Penggolongan keanggotaan HW menurut usia hanyalah untuk membedakan status sebagai peserta didik atau anggota dewasa (pembina). bersifat nasional. 3. HW didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 1336 H (1918 M) atas prakarsa KH Ahmad Dahlan.O/B/2003 tanggal 1 Dzulhijjah 1423 H (2 Februari 2003). tanpa membedakan gender. Identitas.

kegiatan dilakukan di alam terbuka. . kebutuhan. dan menantang. yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan. pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam c. Pelaksanaannya disesuaikan kepentingan. serta kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah. 2. sistem satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri. pengamalan akidah Islamiyah. dan pemuda dengan sistem kepanduan. d. b. remaja. e. 1. pengamalan kode kehormatan pandu. pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu. penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan. kondisi masyarakat. Ciri Khas Hizbul Watahan Ciri khas HW adalah Prinsip Dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan. c. Metode Kepanduan a. Prinsip Dasar Kepanduan adala a. HW adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik anak. b.2. menyenangkan. situasi. pendidikan dengan metode yang menarik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->