P. 1
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

|Views: 1,417|Likes:
Published by Dwinanto SPd

More info:

Published by: Dwinanto SPd on Feb 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

Sections

1. Prestasi belajar

Prestasi belajar berarti penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang

dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes

atau angka nilai yang diberikan oleh guru ( Tu’u, 2004:75 ).

Berdasarkan hal itu, prestasi belajar siswa dapat dirumuskan sebagai

berikut :

1. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika

mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di

sekolah.

2. Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya

karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan

atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa dan evaluasi.

3. Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau

angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas

siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya

(Tu’u, 2004:75).

Menurut Siman (1988 : 27) dikutip dari Sumaryani prestasi belajar

merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan

tes.

9

10

Dari definisi tersebut dapat diperoleh unsur prestasi belajar adalah sebagai

berikut :

1. Prestasi merupakan kecakapan yang nyata

2. Kecakapan tersebut dapat diukur secara langsung

3. Sebagai alat pengukur adalah tes

Jadi prestasi belajar ekonomi merupakan hasil yang dicapai siswa

berupa penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan oleh

mata pelajaran ekonomi yang ditunjukkan dengan nilai tes ekonomi.

Menurut Sudjana (1989:28) belajar adalah suatu proses yang ditandai

dengan adanya perubahan pada diri seseorang.

Perubahan yang terjadi setelah proses belajar adalah perubahan yang

positif. Jadi subjek belajar akan mengalami perubahan tingkah laku

menjadi lebih baik setelah adanya pengalaman dan latihan.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang ( 1990 : 30 ) menyatakan

bahwa :

Hasil belajar harus memenuhi syarat – syarat, bahwa hasil belajar

merupakan :

1. Pencapaian tujuan belajar

2. Hasil dari proses yang disadari

3. Hasil dari latihan yang diujicoba atau disengaja

4. Perbuatan yang berfungsi mempengaruhi tingkah laku dalam kurun

waktu tertentu.

11

Jadi hasil belajar adalah perbuatan yang merupakan pencapaian dari

tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya, proses yang disadari, dan

latihan yang telah diujicoba, yang berfungsi mempengaruhi tingkah laku

dalam kurun waktu tertentu.

Oemar Hamalik ( 2003 : 30 ) mengungkapkan bahwa :

Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek – aspek

tingkah laku manusia. Adapun aspek – aspek tersebut adalah :

1. Pengetahuan

2. Pengertian

3. Kebiasaan

4. Ketrampilan

5. Apresiasi

6. Emosional

7. Hubungan sosial

8. Jasmani

9. Etis atau budi pekerti

10. Sikap

Hasil belajar akan terjadi pada aspek – aspek tingkah laku manusia

sesuai dengan tujuan dan jenis belajar yang dilakukan.

Menurut Nasution, dan kawan-kawan dalam Djamarah (2002 : 141)

belajar bukanlah suatu aktivitas yang berdiri sendiri. Ada unsur lain yang

terlibat langsung di dalamnya, yaitu raw input, learning teaching process,

output, environmental input dan instrumental input.

12

Gambar 2.1 : Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar

Sumber : Djamarah (2002 : 142)

Dalam gambaran di atas disajikan gagasan, bahwa masukan mentah

(raw input ) merupakan bahan pengalaman belajar tertentu dalam proses

belajar mengajar ( learning teching process ) dengan harapan dapat

berubah menjadi keluaran ( output ) dengan kualifikasi tertenut. Di dalam

proses belajar mengajar itu ikut berpengaruh sejumlah faktor lingkungan,

yang merupakan masukan dari lingkungan ( environmental input ) dan

sejumlah faktor instrumental ( instrumental input ) yang dengan sengaja

dirancang dan dimanipulasikan guna menunjang tercapainya keluaran

yang dikehendaki.

Dalam proses belajar mengajar tersebut akan diperoleh hasil belajar /

prestasi belajar. Dengan demikian komponen atau faktor yang

mempengaruhi proses belajar mengajar akan mempengaruhi prestasi

belajar. Menurut Djamarah (2002 : 48) komponen / faktor tersebut

meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat,

sumber, dan evaluasi.

ENVIRONMENTAL
INPUT

LEARNING TEACHING
PROCESS

INSTRUMENTAL
INPUT

RAW INPUT

OUTPUT

13

2. Tujuan

Menurut Djamarah ( 1996 : 48) tujuan adalah suatu cita - cita yang

ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan

yang diprogramkan tanpa tujuan karena hal itu adalah suatu hal yang tidak

memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan

dibawa.

Dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan adalah cita – cita yang ingin

dicapai dalam kegiatannya. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran

adalah suatu cita – cita yang bernilai normatif. Dengan perkataan lain,

dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak

didik. Nilai – nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap

dan berbuat dalam lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di luar

sekolah.

Menurut Roestiyah dalam Djamarah ( 1996 : 49 ) dikatakan bahwa

suatu tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku

(performance) murid – murid yang kita harapkan setelah mereka

mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran

mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan

sekedar suatu proses dari pengajaran itu sendiri.

Menurut Hamalik ( 2003 : 63 ), aspek tujuan instruksional adalah

yang paling utama, yang harus dirumuskan secara jelas dan spesifik karena

menentukan arah tindakan belajar dan mengajar. Tujuan – tujuan

instruksional harus berpusat pada perubahan perilaku siswa yang

14

diinginkan, dan karenanya harus dirumuskan secara operasional, dapat

diukur dan dapat diamati ketercapaiannya.

Jadi tujuan yang dimaksud adalah cita – cita yang hendak

diwujudkan yang berfungsi sebagai pedoman dalam kegiatan belajar

mengajar, bersifat normatif dan berpusat pada siswa.

Tujuan memiliki nilai yang sangat penting di dalam pengajaran.

Bahkan barangkali dapat dikatakan bahwa tujuan merupakan faktor yang

terpenting dalam kegiatan dan proses belajar mengajar. Nilai – nilai tujuan

dalam pengajarandi antaranya adalah sebagai berikut :

1. Tujuan pendidikan mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan

murid dalam proses pengajaran.

2. Tujuan pendidikan memberikan motivasi kepada guru dan siswa

3. Tujuan pendidikan memberikan pedoman atau petunjuk kepada guru

dalam rangka memilih dan menentukan metode mengajar atau

menyediakan lingkungan belajar bagi siswa

4. Tujuan pendidikan penting maknanya dalm rangka memilih dan

menentukan alat peraga pendidikan yang akan digunakan

5. Tujuan pendidikan penting dalam menentukan alat / teknik penilaian

guru terhadap hasil belajar siswa

( Hamalik, 2003 : 80 )

Dengan demikian tujuan mempunyai nilai yang sangat vital dalam

pendidikan dan harus ditempatkan pada tempat yang utama.

15

Tujuan mempunyai jenjang dari yang luas dan umum sampai

kepada yang sempit / khusus. Semua tujuan itu berhubungan antara yang

satu dengan yang lainnya, dan tujuan di bawahnya menunjang tujuan di

atasnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai, maka tujuan di atasnya tidak

tercapai, sebab rumusan tujuan terendah biasanya menjadikan tujuan di

atasnya sebagai pedoman. Ini berarti bahwa dalam merumuskan tujuan

harus benar – benar memperhatikan kesinambungan setiap jenjang tujuan

dalam pendidikan dan pengajaran.

Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat di bagi menjadi empat

tingkatan atau jenjang sesuai dengan ruang lingkup dan sasaran yang

hendak dicapai oleh tujuan itu. Tingkatan tujuan tersebut adalah

1. Tujuan pendidikan nasional

Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan umum dari sistem

pendidikan nasional. Tujuan ini merupakan tujuan jangka panjang dan

sangat luas dan menjadi pedoman dari semua kegiatan atau usaha

pendidikan di negara kita.

2. Tujuan lembaga pendidikan

Tujuan dari masing – masing lembaga pendidikan yang disesuaikan

dengan jenis lembaga dan untuk siapa lembaga itu disediakan.

3. Tujuan kurikuler

Kurikulum harus mempersiapkan anak didik untuk dapat berdiri

sendiri dalam masyarakat sebagai manusia Pancasila.

16

4. Tujuan mata pelajaran

Merupakan tujuan dari masing –masing mata pelajaran yang diajarkan

( Hamalik 2003 : 81 ).

Menurut Langeveld dalam Barnadib ( 1986 : 49 ) terdapat enam

macam tujuan di dalam pendidikan yang meliputi :

1. Tujuan Umum

Merupakan tujuan yang pada akhirnya akan di caapi oleh pendidik

terhadap anak didik

2. Tujuan Khusus

Merupakan penjelasan dari tujuan umum.

3. Tujuan Seketika ( Insidentil )

Merupakan tujuan tersendiri yang bersifat seketika ( momentil ).

4. Tujuan Sementara

Merupakan tempat sementara menuju ke tujuan umum.

5. Tujuan Tidak Lengkap

Tujuan ini mempunyai hubungan dengan aspek kepribadian manusia,

sebagai fungsi kerohanian pada bidang – bidang etika, keagamaan,

estetika dan sikap sosial daripada orang itu.

6. Tujuan Perantara ( Intermediair )

Tujuan ini sama dengan tujuan sementara, tetapi khusus mengenai

pelaksanaan teknis daripada tugas belajar.

Dari tiap jenjang dan jenis tujuan tersebut mempunyai hubungan yang

sangat erat dan tidak dapat berdiri sendiri – sendiri.

17

Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel tujuan harus dirumuskan secara

jelas agar tujuan ini dapat dicapai secara optimal.

3. Bahan pelajaran

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam

proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar

tidak akan berjalan. Karena itu guru yang akan mengajar pasti memiliki

dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik.

Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni

penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap

(Djamarah, 1996 : 50).

Menurut Suharsimi dalam Djamarah ( 1996 : 50 ) bahan pelajaran

merupakan inti yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, karena

memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak

didik.

Jadi bahan pelajaran merupakan substansi inti yang disampaikan

guru untuk dikuasai anak didik pada kegiatan belajar mengajar. Bahan

pelajaran ini terdiri dari bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran

pelengkap.

Maslow dalam Djamarah ( 1996 : 51 ) berkeyakinan bahwa minat

seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya. Jadi

bahan pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan anak didik akan

memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu.

18

Selayaknya guru mengerti dan memahami kebutuhan siswa dalam

memilih dan menyampaikan bahan pelajaran. Dengan demikian siswa

akan dapat termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Selain

itu juga harus diperhatikan kelengkapan bahan pelajaran. Hal ini akan

dapat menambah pengetahuan ekonomi baru bagi siswa.

4. Kegiatan belajar mengajar

Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan.

Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses

belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua

komponen pengajaran dan akan menentukan sejauh mana tujuan yang

telah ditetapkan dapat tercapai (Djamarah, 1996 : 51).

Jadi kegiatan belajar mengajar merupakan pelaksanaan program

dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Proses ini

akan melibatkan semua komponen pengajaran. Tingkat efektifitas kegiatan

belajar mengajar akan membantu mewujudkan tujuan pembelajaran yang

hendak dicapai.

5. Metode

Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan

yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode

diperlukan guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang

ingin dicapai setelah pengajaran berakhir (Djamarah, 1996 : 53 ).

19

Tujuan dan materi yang baik belum tentu memberikan hasil yang

baik tanpa memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan

dan materi tersebut.

Menurut Winarno dalam Djamarah ( 1996 : 53 ) faktor yang

mempengaruhi penggunaan metode mengajar adalah :

1. Tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya

2. Anak didik yang berbagai tingkat kematangannya

3. Situasi yang berbagai keadaannya

4. Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya

5. Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda – beda.

Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang

kedudukan metode yaitu :

1. Metode sebagai alat motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman ( 1988 : 90 ) adalah motif –

motif yang aktif yang berfungsinya, karena adanya perangsang dari

luar. Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar

yang dapat membangkitkan belajar seseorang.

Pada dasarnya penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan

dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar

mengajar di sekolah.

2. Metode sebagai strategi pengajaran

Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu

berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik

20

terhadap bahan juga bermacam - macam. Hal ini memerlukan strategi

pengajaran yang tepat, salah satunya dengan pemilihan metode.

Menurut Roestiyah ( 1989 : 1 ) salah satu langkah untuk memiliki

strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien,

mengena pada tujuan yang diharapkan adalah harus menguasai teknik -

teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar. Dengan

demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat

untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

3. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan

Guru sebaiknya menggunakan dan memanfaatkan metode secara

akurat yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar sehingga

dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan

pengajaran.

Macam – macam metode mengajar meliputi :

1. Metode proyek

Metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik

tolak dari suatu masalah kemudian dibahas dari berbagai segi yang

berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan

bermakna.

2. Metode eksperimen

Metode eksperimen ( percobaan ) adalah cara penyajian pelajaran

dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan

membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

21

3. Metode tugas dan resitasi

Metode resitasi ( penugasan ) adalah metode penyajian bahan dimana

guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan

belajar. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik

secara individual maupun secara kelompok. Karena itu tugas diberikan

secara individual maupun secara kelompok.

Langkah – langkah dalam penggunaan metode tugas atau resitasi

adalah :

1. Fase pemberian tugas

2. Langkah pelaksanaan tugas

3. Fase mempertanggungjawabkan tugas

4. Metode diskusi

Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa – siswa

dihadapkan pada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau

berupa pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan

dipecahkan bersama.

5. Metode sosiodrama

Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam

hubungannya dengan masalah sosial.

6. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan

meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi,

22

atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya maupun

tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.

7. Metode problem solving

Metode problem solving ( metode pemecahan masalah ) bukan hanya

sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir,

sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode lainnya

yang dimulai dengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.

8. Metode karyawisata

Metode karyawisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan

mengajar siswa ke suatu tempat atau objek tertentu diluar sekolah

untuk mempelajari/menyelidiki sesuatu.

9. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk

pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi

dapat pula dari siswa kepada guru.

10. Metode latihan

Metode latihan merupakan suatu cara yang baik untuk menanamkan

dan memelihara kebiasaan tertentu.

11. Metode Ceramah

Metode ceramah merupakan suatu cara mengajar yang digunakan

untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang

suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan

( Djamarah, 1996 : 82 – 110 ).

23

Jadi metode mempunyai nilai yang sangat berarti dalam usaha

mencapai tujuan. Metode yang tepat dapat membantu membangkitkan

motivasi siswa, meniadakan verbalitas dan melatih belajar mandiri.

Dengan demikian pemilihan metode harus dilakukan secara tepat.

6. Alat

Menurut Marimba dalam Djamarah ( 1996 : 54) alat adalah segala

sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.

Alat tersebut mempunyai fungsi yang meliputi alat sebagai perlengkapan,

alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat

sebagai tujuan.

Jadi alat merupakan sarana yang digunakan dalam pengajaran

untuk mencapai tujuan. Kelengkapan alat yang memadai dapat

mempermudah dalam memcapai tujuan.

7. Sumber pelajaran

Menurut Djamarah ( 1996 : 55 ) sumber belajar merupakan bahan /

materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal – hal

baru bagi si pelajar.

Dari sumber pelajaran ini akan dirumuskan materi pelajaran yang

akan disampaikan kepada siswa.

Menurut Winataputra dalam Djamarah (1996 : 57 ) terdapat

sekurang - kuramgnya lima macam sumber belajar, yaitu :

1. Manusia

2. Buku / perpustakaan

24

3. Media massa

4. Alam lingkungan

a. Alam lingkungan terbuka

b. Alam lingkungan sejarah / peninggalan sejarah

c. Alam lingkungan manusia

5. Media pendidikan

Sumber pelajaran yang digunakan harus dipilih secara tepat sesuai

dengan kondisi kenyataan lingkungan. Hal tersebut akan mampu

meningkatkan motivasi belajar siswa. Siswa akan lebih mudah memahami

isi sumber pelajaran yang dipelajari.

Jadi sumber belajar merupakan sumber dari materi pelajaran yang

akan disampaikan kepada siswa dan bersifat baru. Maka dari itu

hendaknya penggunaannya dilakukan secara tepat agar dapat menambah

pengetahuan ekonomi baru bagi siswa.

8. Evaluasi

Menurut Roestiyah dalam Djamarah ( 1996 : 58 ) evaluasi adalah

kegiatan mengumpulkan data seluas – luasnya, sedalam – dalamnya, yang

bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan

hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan

kemampuan belajar.

Aspek penilaian ( evaluasi ) merupakan aspek yang penting yang

berguna untuk mengukur dan menilai seberapa jauh tujuan instruksional

telah tercapai atau hingga mana terdapat kemajuan belajar siswa dan

25

bagaimana tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan instruksional

tersebut.

Karena evaluasi dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa,

maka evaluasi mempinyai fungsi sebagai berikut :

a. Untuk memberikan umpan balik ( feed back ) kepada guru sebagai

dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar serta mengadakan

perbaikan program bagi murid.

b. Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil

belajar dari setiap murid. Antara lain digunakan dalam rangka

pemberian laporan kemajuan belajar murid kepada orang tua,

penentuan kenaikan kelas, serta penentuan lulus tidaknya seorang

murud.

c. Untuk menentukan murid di dalam situasi belajar mengajar yang tepat,

sesuai dengan tingkat kemampuan ( dan karakteristik lainnya ) yang

dimiliki oleh murid.

d. Untuk mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan

belajar, nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan

kesulitan – kesulitan belajar yang timbul

( Djamarah, 1996 : 59 ).

Evaluasi ( penilaian ) mendapat tanggung jawab untuk

melaksanakan fungsi – fungsi pokok sebagai berikut :

26

1. Fungsi Edukatif

Evaluasi adalah suatu subsistem dari sistem pendidikan yang bertujuan

untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan sistem dan atau

salah satu subsistem pendidikan. Bahkan dengan evaluasi dapat

diungkapkan hal – hal yang tersembunyi dalam proses pendidikan.

2. Fungsi Institusional

Evaluasi berfungsi mengumpulkan informasi akurat tentang input dan

output pembelajaran disamping proses pembelajaran itu sendiri.

Dengan evaluasi dapat diketahui sejauh mana siswa mengalami

kemajuan dalam proses belajar setelah mengalami proses

pembelajaran.

1. Fungsi Diagnostik

Dengan evaluasi dapat diketahui kesulitan masalah – masalah yang

sedang dihadapi siswa dalam proses atau kegiatan belajarnya.

2. Fungsi Administratif

Evaluasi menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa, yang pada

gilirannya berguna untuk memberikan sertifikasi ( tanda kelulusan )

dan untuk melanjutkan studi lebih lanjut dan atau untuk kenaikan

kelas. Evaluasi juga digunakan untuk mengetahui kemampuan guru

dalam proses belajar mengajar, hal ini berdaya guna untuk kepentingan

supervisi.

27

3. Fungsi Kurikuler

Evaluasi berfungsi menyediakan data dan informasi yang akurat dan

berdayaguna bagi pengembangan kurikulum.

4. Fungsi Manajemen

Komponen evaluasi merupakan bagian integral dalam sistem

manajemen, hasil evaluasi berdaya guna sebagai bahan bagi pimpinan

untuk membuat keputusan manajemen pada semua jenjeng manajemen

( Hamalik, 2003 : 147 ).

Jadi evaluasi merupakan kegiatan yang sangat penting dan tidak

dapat diabaikan karena fungsi dan manfaatnya untuk mengukur dan

menilai prestasi siswa, sebagai dasar dalam program perbaikan, dan

sebagai dasar dalam pemecahan masalah kesulitan belajar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->