P. 1
Korporatisasi Pendidikan di Indonesia

Korporatisasi Pendidikan di Indonesia

|Views: 206|Likes:
Published by missjustitia

More info:

Published by: missjustitia on Feb 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2015

pdf

text

original

SISTEM SOSIAL INDONESIA “KORPORATISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA”

DISUSUN OLEH ANNISA JUSTITIA FRANSISKUS DELI KHARISMA NATALIA NURUL FATKHIYAH R. R. ADRINA SHEILA KARTIKA P. P YUNIA RISWATI (0906612945) (0906613304) (0906613405) (0906613626) (0906614250) (0906613834) (0906614004)

PROGRAM STUDI S1 EKSTENSI KOMUNIKASI MASSA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA 2010

PENDAHULUAN Ada sebuah kutipan dari Francis Bacon, “Knowledge is power.” yang diartikan “Pengetahuan adalah kekuatan.” Sejak lahir manusia membutuhkan pendidikan. Manusia belajar berjalan, berbicara, berkomunikasi, dan berinteraksi karena mereka diajarkan. Dari lahir bahkan hingga tua dan tutup usia, manusia tidak pernah berhenti belajar. Selain pembelajaran dari lingkungan, adapula pembelajaran formal dan institusi pendidikan. Pendidikan itulah yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini. Pendidikan menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dikaitkan dengan kesejahteraan hidup. Masalahnya adalah tidak semua orang dapat mengakses pendidikan, penyebaran pendidikan belum merata. Ada sebagian besar masyarakat Indonesia dengan tingkat kesejahteraan yang rendah tidak mampu membayar biaya pendidikan. Di sisi lain, negara menjadi pihak yang bertanggunjawab untuk mensejahterakan warganya. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa salah satu tujuan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kenyataannya tidaklah seideal yang telah ditetapkan. Jumlah individu yang buta aksara di negara kita masih banyak. Pendidikan formal hingga ke jenjang yang tinggi hanya dapat dijangkau oleh kalangan tingkat ekonomi menengah ke atas. Pemerintah menganggarkan APBN untuk pendidikan sebesar 20%. Apakah anggaran tersebut sudah sepenuhnya diberikan dan cukup? Kebijakan baru yang ada justru membuat peran andil pemerintah menjadi berkurang. Institusi pendidikan menjadi badan hukum milik negara (BHMN) dan kemudian menjadi badan hukum pendidikan (BHP). Dengan begitu, institusi pendidikan tidak lagi menerima subsidi dari pemerintah. Institusi pendidikan tidak lagi hanya menjadi unit pelaksana tetapi harus memikirkan bagaimana mendapatkan pemasukan untuk biaya operasional. Lagi-lagi yang terkena imbasnya adalah masyarakat. Biaya pendidikan naik dan semakin tak terjangkau. Jika demikian bagaimana kualitas sumber daya manusia dapat meningkat? Pendidikan menjadi sebuah komoditas bisnis yang diperjualbelikan. Dengan desentralisasi, masalah yang ada di daerah menjadi sepenuhnya tanggung jawab pemerintah daerah, termasuk masalah pendidikan. Ditambah dengan era globalisasi dan kebijakan ekonomi neoliberal. Investasi dari asing untuk pendidikan dapat masuk langsung hingga ke daerah-daerah. Bagaimanakah kualitas pendidikan di Indonesia? Mampukah pendidikan Indonesia meningkatkan kualitas di tengah kebijakan neoliberal?

PEMBAHASAN Pokok masalah dalam artikel “Mensiasati Ideologi Neoliberal” Hadirnya neoliberalisasi pendidikan di Indonesia menimbulkan masalah yang harus dihadapi. Pokok-pokok masalah dalam artikel “Mensiasati Ideologi Neoliberal” adalah pertama, adanya jalinan kerjasama dengan negara tetangga. Yang akibatnya cenderung menyebabkan : Ketergantungan, Penetrasi dan akulturasi budaya barat serta budaya mancanegara melalui Perguruan Tinggi Asing, dan Sosialisasi agenda neoliberal. Kedua, dukungan kebijakan negara terhadap liberalisme atau neoliberalisme sehingga menyimpang dari konstitusi negara yang berdasarkan ekonomi Pancasila, kesejahteraan rakyat, ekonomi subtitusi dan UUD ’45. Contoh kebijakan yang mendukung neoliberalisme pada sektor pendidikan adalah BHMN, BHP diselenggarakannya UN pada era desentralisasi. Ketiga, neoliberalisme pendidikan mengakibatkan : Terbentuknya kaum Elitis, makin mahalnya biaya, pendidikan, lower class makin susah masuk ke sektor pendidikan, serta jurang antara upper dan lower class makin dalam. Keempat, elit politik yang tidak sensitif terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Ditambah lagi Indonesia menempati peringkat pertama paling korup di Asia Pasifik menurut survei bisnis yang dirilis Political & Economic Risk Consultancy atau PERC Posisi kedua ditempati Kamboja, kemudian Vietnam, Filipina, Thailand, India, China, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Makao, Jepang, Amerika Serikat, Hongkong, Australia, dan Singapura sebagai negara yang paling bersih. Kelima, aspek negatif industrialisasi pendidikan. Hubungan korporatisasi / industrialisasi neoliberalisme di Indonesia. pendidikan desentralisasi pada era

Menurut H.A.R Tilaar, ada tiga hal urgensi pendidikan, yaitu : (a) pembangunan masyarakat demokrasi; (b) pengembangan social capital; dan (c) peningkatan daya saing bangsa. Mcdonaldisasi pendidikan tinggi akibat dari industrialisasi pendidikan yang mementingkan pemasukan tidak bisa atau belum bisa diantisipasi daerah-daerah. Seperti dalam hal; (1) Sumber Daya Manusia; (2) sarana dan prasarana mereka belum tersedia; (3) anggaran pendapatan asli daerah (PAD) mereka sangat rendah; (4) secara psikologis, mental mereka terhadap perubahan belum siap, (5) mereka juga gamang atau takut terhadap upaya pembaruan. Hasil dari hubungan korporatisasi / industrialisasi pendidikan dan desentralisasi pada era neoliberalisme di Indonesia adalah terciptanya sangkar besi pada industrialisasi pendidikan tinggi. Industrialisasi pendidikan tinggi yang berpijak pada pola pikir kalkulatif dan mengedepankan pada pengejaran ekonomi semata telah terperosok dalam sangkar besi kekuasaan pasar. Max Weber mengatakan bahwa industrialisasi yang menerapkan prinsipprinsip rasionalisasi dan teknologisasi di berbagai bidang telah menghasilkan fenomena disenchantment of the world, yaitu suatu proses memudarnya pesona dunia karena segala hal yang ada di bumi ini dapat dikalkulasi secara rasional. Akibat yang ditimbulkan dari rasionalisasi adalah terjadinya penurunan kualitas kehidupan manusia atau dehumanisasi, karena segala hal yang sebelumnya bersifat subyektif dapat diubah menjadi obyektif, yang kualitatif menjadi kuantitatif (Nugroho, 2002:10).

Mekanise ketimpangan pendidikan tinggi di Indonesia dipertahankan sehingga tetap melembaga dan terus melahirkan elitisme Ketimpangan pendidikan tinggi di Indonesia dipertahankan sehingga tetap melembaga dan terus melahirkan elitisme. Mekanisme ketimpangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Ketika perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, terseret arus besar neoliberal, yang menjelma dalam komodifikasi pendidikan, maka mereka juga tidak luput masuk ke dalam dilema industrial. Perguruan tinggi bisa menggali pendanaan lokal dengan menjual jasa pendidikan kepada masyarakat secara cepat dan menguntungkan, di sisi lain di dalam PT itu sendiri terjadi degradasi kualitas pendidikan. Supaya pendidikan tinggi bisa cepat saji, cepat disantap oleh konsumen, cepat berproduksi lagi, cepat menciptakan kesejahteraan. Maka terjadilah “Mcdonaldisasi pendidikan tinggi”. Menurut Heru Nugroho (2003,14-15), ada empat ciri Mcdonaldisasi yang sedang melanda pendidikan tinggi kita: 1. Kuantifikasi, yakni ketika cara evaluasi Hasil dan produk pendidikan tinggi hanya dilihat dari kuantitas saja. 2. Efisiensi, yaitu program studi yang dinilai menghasilkan uang semakindidorong dan difasilitasi, sedang yang kurang menghasilkan terancam ditutup. 3. Prinsip keterprediksian, artinya kurikulum yang didesain harus mampu mengantisipasi kebutuhan pasar tenaga kerja tanpa melihat dimensi lainnya sehingga justrumenciptakan pendidikan ala robot. 4. Prinsip teknologisasi, yaitu penyelenggaraan pendidikan selalu menggunakan teknologi modern atau bahkan hi-tech. Namun pada saat yang sama, lembaga pendidikan tidak mampu mengontrol penerapan teknologi dalam masyarakat. Mcdonaldisasi pendidikan pada awalnya memang bermula dari sesuatu yang rasional, yaitu otonomi kampus, namun berakhir dengan irasionalitas, yaitu dehumanisasi, penurunan kualitas pendidikan tinggi dan komersialisasi pendidikan tinggi yang hanya berorientasi pada pengerukan keuntungan semata. PTN yang dahulu berpihak pada rakyat kecil, dan memikirkan nasib rakyat kecil agar mereka dapat mengenyam pendidikan yang sama seperti orang-orang kaya, sekarang mula berbalik arah. Keberpihakannya sekarang mulai digantikan dengan pengerukan keuntungan yang diakibatkan oleh komersialisasi pendidikan tinggi. Intervensi pemerintah dalam dunia pendidikan semakin dipersempit ruang geraknya, sehingga yang berlaku adalah hukum pasar , siapa yang kuat dialah yang akan memenangkan kompetisi. Pergerseran nilai pendidikan yang semua tidak mengenal status sosial tertentu secaratidak langsung telah berubah wajah menjadi elitis. Pendidikan sekarang hanya mampu diakses oleh kaum the upper class sehingga mereka yang tergolong the lower class akan tetap pada kemiskinan dan hidup serba kekurangan. Kondisi tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pola pendidikan yang digagas oleh Van de Venter sebagai wujud dan pemberlakuan politik etis di Indonesia yang dilaksanakan secara otoriter dan anarkis. Namun di era kemerdekaan, gagasan Van de Venter tersebut telah ‘berubah wajah’ menjadi elitisme pendidikan yang disebabkan oleh melambungnya biaya pendidikan dan himpitan globalisasi yang terus menganga dalam sekat-sekat kehidupan. Tantangan-tantangan dalam membangun dunia pendidikan tinggi yang bebas ideologi neoliberalisme Dalam ideologi neoliberalisme, negara dituntut untuk menyerahkan semua sektor usaha yang dikelolanya pada pihak swasta, termasuk pendidikan. Konsep ini sangat mirip dengan BHMN, di mana PTN dituntut untuk mandiri dari segala sisi, termasuk finansial, yang

mendorong adanya semacam swastanisasi pendidikan. Efek dari swastanisasi merubah tujuan utama PTN yaitu menyediakan pendidikan berkualitas dengan biaya kecil. Sehingga PTN diisi oleh mahasiswa berkualitas tanpa perbedaan kelas ekonomi. Namun sejak otonomi kampus diberlakukan, tujuan PTN berubah. PTN wajib mencari sumber pendapatan sendiri yang berdampak pada melonjaknya biaya pendidikan. Selain itu, negara juga dianggap perlu mendorong kompetisi antar individu, antar perusahaan, dan antar entitas teritorial. Tidak heran jika kini di kota besar seperti Jakarta sudah banyak perguruan tinggi asing (PTA), khususnya Amerika. Tentu saja hal ini kemudian memunculkan tantangan-tantangan dalam membangun dunia pendidikan tinggi, seperti : 1. PTN justru menjadi sebuah industri bisnis. Dengan adanya BHMN, PTN dipaksa untuk mengindustrialisasikan institusinya untuk membiayai kesejahteraan sivitas akademinya. Hal ini merembet pada ketidakmerataan pendidikan bagi rakyat miskin. 2. Terjadi pergeseran dalam dunia pendidikan. Mahasiswa lebih tertarik pada program studi yang berorientasi pada lapangan kerja, yang menyebabkan sikap pragmatis dan tidak lagi bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri. 3. Penetrasi budaya. Masuknya lembaga pendidikan asing ke Indonesia, telah mentransformasikan berbagai nilai-nila budaya mereka, dan cenderung melunturkan nilai nasionalisme. 4. Indonesia tidak lagi memiliki bargaining position yang kuat. Karena ketidak jelasan peraturan pemerintah, pendidikan di Indonesia berpotensi menjadi lahan industri yang subur bagi para pemodal asing, yang tujuan utamanya bukan lagi menyediakan jasa pendidikan, tetapi lebih kepada komersialisme. Dalam hal ini, Indonesia berada pada posisi yang lemah dan cenderung bergantung pada negara asing, karena dikuasai oleh industri asing itu sendiri. 5. Semakin merosotnya nilai prestasi pendidikan di Indonesia. Akibat dari berubahnya orientasi lembaga pendidikan pada komersialisme, maka kualitas pendidikan tidak lagi diperhatikan, dan meyebabkan penurunan prestasi dari tahun ke tahun. 6. Rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Rendahnya pendidikan yang didapat oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, mengakibatkan sumber daya manusianya turut menjadi randah dalam hal kualitas, dan tidak dapat bersaing dengan SDM lain di berbagai bidang.

PENUTUP Kritik Neoliberalisme adalah upaya sederhana merujuk serangkaian kebijakan ekonomi dan politik yang didasarkan pada keyakinan kuat terhadap sumbangsih besar pasar bebas. Definisi yang sering dikutip dari Paul Treanor dalam "Neoliberalism: Origins, Theory, Definition”, "Neoliberalisme adalah satu filosofi dalam mana keberadaan dan operasi pasar dinilai dalam dirinya sendiri, terpisah dari hubungannya dengan produksi barang dan jasa terdahulu...dan dimana operasi pasar atau struktur serupa pasar dipandang sebagai etika dalam pasar itu sendiri, berkemampuan untuk berlaku sebagai penuntun bagi semua aksi manusia dan mengganti semua keyakinan etik yang telah ada sebelumnya." Beberapa praktik neoliberalisme pendidikan antara lain adalah, pertama, berupaya untuk melepas tanggung jawab pemerintah dalam mendanai pendidikan. Pendidikan publik yang mestinya menjadi hak dari tiap warga negara dilepas dari tanggung jawab negara kemudian menjadi komoditi bagi kalangan pemodal menjadi bagian dari bisnis mereka. Dalam pelepasan tanggung jawab tersebut, pemerintah menyerahkannya sebagai tanggung jawab masyarakat bersama. Kedua, menyamakan dunia pendidikan dengan dunia industri. Sekolah dan kampus dikelola dalam nalar perusahaan (korporasi, menjadi korporatisasi) dengan banyak pertimbangan ekonomis, seperti efektivitas, efesiensi, produktivitas, dan lainnya. Dunia pendidikan menjadi sebuah industri baru di dunia. Institusi pendidikan bisa dianggap sebagai sebuah pabrik yang siap mengolah murid-muridnya, dengan syarat mampu secara ekonomi. Pendidikan dihitung berdasarkan untung-rugi, seperti salah satu gejala mcdonaldisasi yaitu, jurusan yang laku diperbesar sedangkan yang tidak laku akan dihilangkan. Nalar ini menjadikan institusi pendidikan sebagai sarana mengeruk dan memupuk untung materi. Akibatnya terjadi perubahan tujuan utamanya, dari proses pemanusiaan, pemerdekaan, pengembangan ilmu pengetahuan menjadi sebuah industri. Ketiga, dunia pendidikan sekadar menjadi subsistem dari tatanan ekonomi neoliberal. Poin ini membuat seluruh cititas akademik memiliki doktrin modernisme-neoliberal. Pengarahan pandangan hidup pada pencapaian kesuksesan hidup ala kaum neolib, diarahkan pembangunan sosialbudaya ala borjuis-kapitalis, dan ikut dalam pandangan dan gaya hidup kaum borjuiskapitalis. Kecenderungan neoliberalisme pendidikan tersebut kemudian dilegitimasi oleh beberapa kebijakan pemerintah, diantaranya Undang-Undang No. 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP). Pemerintah Indonesia yang tidak lagi mensubsidi pendidikan negeri membuat perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Ketiadaan subsidi pendidikan membuat perguruan tinggi menetapkan usaha-usaha untuk membiayai sendiri pengelolaan PTN. Seperti, (1) menaikkan biaya pendidikan, sehingga mahasiswa pun kini berubah dari subjek pendidikan menjadi tak lebih dari konsumen ekonomi biasa; (2) membina kemitraan di bidang riset dengan industri, namun ini menghancurkan tujuan mulia pendidikan karena universitas menjadi melulu memburu laba; (3) memperbanyak tenaga kontrak, namun justru ini yang membuat pengajar tidak berkapasitas mendorong mahasiswa untuk mewujudkan demokrasi madani karena mahasiswa hanya dituntut mengejar nilai ekonomi dari pendidikan. Singkatnya, universitas-universitas telah memeluk neoliberalisme. Neoliberalisme pendidikan setidaknya menyebabkan tiga permasalahan krusial dalam pendidikan, pertama, adalah semakin mahalnya biaya pendidikan yang mesti ditanggung masyarakat luas, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini karena institusi

pendidikan publik seperti kampus-kampus negeri tidak lagi akan mendapatkan subsidi, melainkan hanya dalam bentuk hibah. Sedangkan untuk pendidikan dasar dan menengah juga tidak memperhatikan siswa yang tidak mampu dan bodoh, yang diperhatikan hanya yang tidak mampu dan pintar, terlebih lagi yang di sekolah-sekolah swasta pinggiran kota atau pelosok desa, seakan memang pemerintah tiada peduli nasib pendidikan. Kalau hanya orangorang yang berduit yang mampu mendapatkan pendidikan memadai sampai kuliah, maka posisi-posisi strategis di masyarakat akan dikuasai oleh kalangan menengah ke atas saja, akses bagi kaum miskin untuk melakukan mobilisasi sosial vertikal semakin sempit karena biaya kuliah mahal. Berdasarkan praktek neoliberalisme yang telah berlangsung, pemerintah terlalu tunduk dengan kepentingan moneter sehingga melupakan tanggung jawab membangun bangsa seperti tercantum pada konstitusi UUD ’45 bahwa negara “mencerdaskan kehidupan bangsa”, pada bab XIII pasal 31 ayat (1) UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa, “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”, dan ayat (2) berbunyi, “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Walaupun pemerintah sudah mengubah status PTN menjadi BHMN, seyogyanya pemerintah tetap membatasi komersialisasi pendidikan agar pemerataan pendidikan tetap terlaksana. Sedangkan dari sisi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), keputusan pengalihan status dimanfaatkan sedemikian rupa dengan mengambil langkah-langkah pemberdayaan fasilitas pendidikan kepada upper class dan middle class, walaupun masih sedikit memperhatikan lower class. Tindakan berikutnya adalah PTN seharusnya tetap mempertahankan posisi sebagai perguruan tinggi negeri dimana kualitas dan biaya yang terjangkau adalah perbedaan yang mendasar dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Masuknya perguruan tinggi asing (PTA) ke Indonesia memang bisa dijadikan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Tapi, yang perlu diperhatikan adalah kesiapan bangsa Indonesia menerima dan menelaah segala bentuk budaya asing tersebut. Indonesia, dengan segala kondisi perekonomian,sosial, dan budayanya, masih belum siap dengan segala kebijakan otonomi kampus di era neoliberalisme yang diterapkan pemerintah. Berbeda dengan negara-negara maju, yang secara financial telah siap menghadapi pendidikan dalam konteks liberal. Selain itu, pemerintah juga terlalu lemah dalam menghadapi globalisasi dan tekanantekanan dari lembaga asing, seperti IMF. Sehingga menyebabkan perguruan tinggi asing (PTA), dengan segala ideologi dan budaya baratnya, masuk ke Indonesia dengan mudah. Pemerintah memberikan kebijakan otonomi kampus agar dapat meningkatkan fasilitas sesuai dengan standar-standar internasional. Namun, tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Melihat keadaan Indonesia saat ini, tidak berarti globalisasi harus ditentang atau ditolak mentah-mentah, tapi sebaiknya diimbangi dengan kesiapan ekonomi, maupun budaya, karena PTA juga mensosialisasikan budaya barat kepada masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya melakukan filterisasi terhadap budaya-budaya asing. Jika kita tidak melakukan filterisasi budaya, maka penjajahan tidak hanya di bidang pendidikan, namun juga di bidang budaya. Saran Saran-saran yang dapat kami berikan terhadap tantangan-tantangan dan kritik-kritik dari materi korporatisasi pendidikan di Indonesia adalah: • Stabilitas sosial-politik-ekonomi

Apabila kondisi sosial-politik-ekonomi suatu negara berada dalam situasi yang stabil, otomatis kesejahteraan rakyatanya bisa terjamin. Oleh sebab itu, masyarakat bisa lebih berpikir untuk menempuh pendidikan lanjut. • Komitmen pemerintah terhadap biaya pendidikan Pemerintah harus konsisten dengan kebijakan yang telah disusun di awal. Anggaran yang memang diperuntukkan bagi perkembangan pendidikan Indonesia, harus bisa dilaksanakan dan direalisasikan sesuai tujuan awal, tanpa ada mafia-mafia pendidikan yang dapat menghalangi kelangsungan proses ini. • Masyarakat bisa menuntut tentang pengkajian ulang UU BHP ke Mahkamah Konstitusi Jika masyarakat merasa isi dalam UU BHP belum sesuai dan belum dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, masyarakat dapat menuntut pada Mahkamah Konstitusi untuk melakukan perbaikan UU tersebut. • Penanaman pengertian bahwa pendidikan sangat penting bagi kemajuan bangsa Sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat harus ditingkatkan lagi, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat bahwa pendidikan bukan merupakan suatu kewajiban, namun merupakan sebuah kebutuhan. • Perbaikan pembangunan pendidikan baik dari segi suprastruktur dan fasilitas infrastrukturnya Pembangunan suprastruktur dan infrastruktur harus dilakukan agar segala fasilitas yang ada dapat mendukung perkembangan tersebut. Jika tidak bisa sebanding dengan standar internasional, paling tidak sesuai dengan standar nasional yang ada. • Peningkatan kualitas para pengajarnya Peningkatan mutu dan kualitas para pengajar harus ditingkatkan agar dapat menghasilkan anak bangsa yang sanggup berkompetisi dengan seluruh umat manusia. • Pembatasan saham asing yang masuk ke Indonesia Untuk menghindari terjadinya monopoli terhadap dunia pendidikan Indonesia oleh saham asing, hal tersebut harus diatur dalam sebuah regulasi konkrit. • Perlu adanya pencegahan agar pendidikan tidak dijadikan sarana sosialisasi agenda neoliberal. Belajar ke luar negeri bukanlah hal yang buruk, harus diakui atau tidak, mereka lebih maju dibandingkan negara kita. Tapi sebagai catatan, penting untuk terus dikembangkan sikap kritis pada setiap individu untuk menghadapi arus global. Perlu diketahui bahwa pendidikan tidak hanya transfer pengetahuan tetapi juga nilai-nilai peradaban (transfer knowledge and value). Oleh karena itu, kita harus pintar menyaring mana yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak bertentangan dengan norma-norma di Indonesia, dan mana yang tidak. Kita harus siap sehingga tidak mudah terbawa arus ideologi neoliberal yang dibawa oleh negara-negara barat dengan bercokolnya perguruan tinggi asing di Indonesia. REFERENSI Buku: H.A.R Tilaar. Membenahi Pendidikan Nasional. (Jakarta: Rineka Cipta, 2002) hlm.20 Lihat dan bandingkan, H.A.R Tilaar. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. (Jakarta: Rineka Cipta, 2002) hlm. 6-18 Nugroho,2002:14-15 Internet:

www.kompas.com (diakses pada hari Minggu, 8 Maret 2010) www.pendidikan.net (diakses pad hari Minggu, 13 Maret 2010)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->