P. 1
Fenomena Bunga Bank

Fenomena Bunga Bank

|Views: 917|Likes:
Bunga Bank, Fatwa Haram, Riba, Ahlusunnah wal Jama'ah
Bunga Bank, Fatwa Haram, Riba, Ahlusunnah wal Jama'ah

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Hizred Slowly Al-Chemy on Feb 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

Fatwa ‘Ulama Ahlu Sunnah Waljama’ah:

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum bekerja di bank-bank

ribawi dan transaksi yang ada di dalamnya ?

Jawaban.

Bekerja di sana diharamkan karena dua alasan.

Pertama.

Membantu melakukan riba. Bila demikian, maka ia termasuk ke dalam laknat yang telah

diarahkan kepada individunya langsung sebagaimana telah terdapat hadits yang shahih

dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau :

“Artinya : melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua

saksinya.

Beliau mengatakan.

“Artinya : Mereka itu sama saja”.

Kedua.

Bila tidak membantu, berarti setuju dengan perbuatan itu dan mengakuinya.

Oleh karena itu, tidak boleh hukumnya bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan

riba. Sedangkan menyimpan uang disana karena suatu kebutuhan, maka tidak apa-apa

bila kita belum mendapatkan tempat yang aman selain bank-bank seperti itu. Hal itu tidak

37

apa-apa dengan satu syarat, yaitu seseorang tidak mengambil riba darinya sebab

mengambilnya adalah haram hukumnya.

[Fatawa Syaikh Ibn Utsaimin, Juz II]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram,

edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 26-27 Darul Haq]

Oleh:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apakah gaji-gaji yang diterima oleh para pegawai

bank-bank secara umum, dan Arabic Bank secara khusus halal atau haram ?. Mengingat,

saya telah mendengar bahwa ia haram hukumnya karena semua bank tersebut

bertransaksi dengan riba pada sebagian operasionalnya. Saya mohon diberikan penjelasan

sebab saya ingin bekerja di salah satu bank-bank tersebut.

Jawaban.

Tidak boleh bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan riba karena hal itu berarti

membantu mereka di dalam melakukan dosa dan pelanggaran. Sementara Allah telah

berfirman.

“Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan

jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Ma’idah : 2]

Dan terdapat pula hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara shahih bahwasanya.

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi

makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya.

38

Beliau mengatakan.

“Artinya : Mereka itu sama saja” [Hadits Riwayat Muslim, Kitab Al-Musaqah 1598]

[Kitabut Da’wah, Juz I, hal.142, dari fatwa Syaikh Ibn Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram,

edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 25-26 Darul Haq]

Oleh:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Sepupu saya bekerja sebagai pegawai bank, apakah

boleh hukumnya dia bekerja di sana atau tidak ? Tolong berikan kami fatwa tentang hal

itu –semoga Allah membalas kebaikan anda- mengingat, kami telah mendengar dari

sebagian saudara-saudara kami bahwa bekerja di bank tidak boleh.

Jawaban.

Tidak boleh hukumnya bekerja di bank ribawi sebab bekerja di dalamnya masuk ke

dalam kategori bertolong-menolong di dalam berbuat dosa dan melakukan pelanggaran.

Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

“Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan

jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Sesungguhnya Allah amat

pedih siksaan-Nya” [Al-Ma’idah : 2]

Sebagaimana dimaklumi, bahwa riba termasuk dosa besar, sehingga karenanya tidak

boleh bertolong-menolong dengan pelakunya. Sebab, terdapat hadits yang shahih bahwa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

39

“Artinya : melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua

saksinya.

Beliau mengatakan.

“Artinya : Mereka itu sama saja”

[Kitabut Da’wah, Juz I, hal.142-143, dari fatwa Syaikh Ibn Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram,

edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 26-27 Darul Haq]

Oleh:

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Di Mesir, saya bekerja di sebuah Bank

milik pemerintah. Keistimewaan Bank tersebut adalah mau memberikan pinjaman lunak

kepada para petani dan pengusaha kecil dengan syarat ringan, dengan tempo sekitar

beberapa bulan sampai beberapa tahun. Bank tersebut memberikan pinjaman berupa uang

tunai dan berupa barang-barang kebutuhan (rumah tangga) dengan disertai bunga dan

denda pinjamannya kepada Bank tersebut.

Adapun besarnya bunga adalah bervariasi antara 3-7% atau kadang-kadang lebih dari itu.

Apabila jatuh tempo, maka pihak Bank berusaha menarik pinjaman pokok yang telah

diberikan kepada peminjam berikut bunga dan denda keterlambatan. Apabila si peminjam

terlambat mengembalikan hutangnya kepada pihak Bank, maka Bank menghitung dan

menentukan bunga dari keterlambatan membayar hutang dimana besarnya bunga

keterlambatan tersebut tergantung berapa hari si peminjam mengalami keterlambatan.

40

Semua ini harus dibayar oleh sipeminjam karena Bank tersebut mendapat hasil hanya dari

bunga pinjaman dan denda keterlambatan membayar hutang. Dari hasil inilah Bank

memberi gaji kepada para pegawainya. Selama 20 tahun lebih saya bekerja di Bank

tersebut. Gaji yang saya terima dari Bank tersebut saya pergunakan untuk kebutuhan

hidup saya dan untuk biaya pernikahan serta untuk menghidupi dan menyekolahkan

anak-anak saya, dan sebagian saya pergunakan untuk bershadaqah. Sementara saya tidak

mempunyai penghasilan lain. Bagaimana hukum syar'i mengenai diri saya tersebut ?

Jawaban

Bekerja di Bank tersebut yang mengambil bunga dari pinjaman pokok dan denda

keterlambatan membayar hutang seperti di atas, hukumnya tidak boleh (haram). Karena

bekerja di Bank tersebut berarti bertolong-menolong dalam berbuat dosa dan

permusuhan. Sementara Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan tolong menolong kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan

jangan kalian tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah

kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya".[Al-Maa'idah : 2]

Dan didalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah Radhiyallahu

'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutuk orang yang

memakan riba dan orang yang memberi makan riba (kepada orang lain) dan orang yang

menulis (transaksi) riba dan dua orang yang menjadi saksi (terhadap transaksi) riba,

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka adalah sama". [Hadits

Riwayat Muslim]

Adapun gaji yang telah anda terima (telah anda pergunakan) maka hal itu halal bagi anda

jika anda belum mengetahui hukumnya secara syar'i. Hal ini berdasarkan firman Allah.

41

"Artinya : Allah telah menghalalkan jaul-beli dan mengharamkan riba, maka barangsiapa

yang mendengar nasehat dari Rabb-nya lalu dia berhenti, maka baginya apa yang telah

berlalu dan urusannya diserahkan kepada Allah. Maka barangsiapa yang kembali

(memakan riba), mereka itulah penghuni neraka dan mereka kekal didalamnya. Allah

akan menghapus (usaha) riba dan Allah akan melipat gandakan shadaqah dan Allah tidak

suka kepada orang kafir dan orang yang berbuat dosa". [Al-Baqarah : 275-276]

Akan tetapi jika anda mengetahui bahwa pekerjaan anda tersebut hukumnya haram, maka

anda harus menginfaqkan sisa gaji anda dijalan kebaikan atau untuk membantu para faqir

miskin, dan anda harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab barangsiapa

yang bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang benar) maka Allah akan

menerima taubatnya dan akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana

firman Allah.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, berbuatlah kepada Allah dengan taubat yang

semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahan

kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-

sungai". [At-Tahrim : 8]

Allah Subhanahu wa Ta'ala, juga berfirman.

"Artinya : Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman,

agar kalian beuntung". [An-Nuur : 31]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani edisi Indonesia Fatawa bin Baz, dengan judul terjemahan Bekerja Di Bank

Riba, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan -

Solo]

42

Oleh:

Syaikh Shalih Al Fauzan :

Pertanyaan.

“Saya bekerja pada sebuah bank dan ketika saya sudah keluar, barulah saya mengetahui

bahwa harta yang telah saya dapatkan darinya, semuanya adalah haram. Bila pernyataan

ini benar, apa yang mesti saya perbuat dengan uang tersebut; apakah saya sedekahkan

atau bagaimana?”

Jawaban.

“Barangsiapa yang mendapatkan harta yang haram dari hasil riba atau selainnya,

kemudian dia bertaubat darinya; maka hendaknya dia menyedekahkannya dan tidak

memakannya. Atau mengalokasikannya pada proyek kebajikan dengan tujuan untuk

melepaskan diri darinya, bukan untuk tujuan mendapatkan pahala sebab ia adalah harta

yang haram, sedangkan Allah Ta’ala adalah Maha Suci dan tidak menerima kecuali yang

suci (baik-baik). Akan tetapi, pemiliknya ini mengeluarkannya dari kepemilikannya dan

mengalokasikannya pada proyek kebajikan atau memberikannya kepada orang yang

membutuhkan karena ia (harta tersebut) ibarat harta yang tidak bertuan yang dialokasikan

untuk kemashlahatan. Ini semua dengan syarat, dia menghentikan pekerjaan yang haram

tesebut dan tidak terus menerus larut di dalamnya.”

(al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan, Jld.IV, Hal. 137-138, No. 141)

Dalam kesempatan yang lain, seseorang bertanya kepada Beliau,

“Saya bekerja pada sebuah perusahaan yang mendapatkan fasilitas perbankan dari bank-

bank yang bertransaksi dengan riba sekitar 5% dari keuntungan perusahaan. Bagaimana

status hukum gaji saya dari perusahaan ini; apakah boleh saya bekerja di sana?,

mengingat mayoritas perusahaan-perusahan yang ada beroperasi dengan cara ini.”

Maka beliau menjawab:

43

“Bertransaksi dengan riba haram hukumnya terhadap perusahaan-perusahaan,bank-bank

dan individu-individu. Tidak boleh seorang muslim bekerja pada tempat yang

bertransaksi dengan riba meskipun persentase transaksinya minim sekali sebab

pegawai/karyawan pada instansi-instansi dan tempat-tempat yang bertransaksi dengan

riba berarti telah bekerja sama dengan mereka diatas perbuatan dosa dan melampaui

batas. Orang-orang yang bekerja sama dan pemakan riba, sama-sama tercakup dalam

laknat yang disabdakan oleh Rasulullah:

Artinya “Allah telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan (hasil)

riba, pencatatnya serta kedua saksinya dan pencatatnya”.(HR.Muslim)

Jadi di sini, Allah Ta’ala melaknat orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, saksi

dan pencatat karena mereka bekerja sama dengan pemakan riba itu.

Karenanya wajib bagi anda, wahai saudara penanya, untuk mencari pekerjaan yang jauh

dari hal itu. Allah Ta’ala (artinya):

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan

keluar dan menganugerahinya rizki yang tidak dia sangka-sangka”.(Q,.s.ath-Thalaq: 2).

(Dan sabda Nabi) artinya: “Dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah

Ta’ala maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”. (HR.Musnad

Ahmad).

(al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih al-Fauzan, Jld.IV, Hal. 142-143, No. 148)

As Syaikh Al Allamah Al Faqih Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin ditanya:

Pertanyaan.

Apa hukum bekerja di bank-bank yg terdapat riba dan bekerjasama dengannya?

Jawaban.

Bekerja di bank-bank riba hukumnya haram karena termasuk membantu amalan riba.

Dan ini termasuk golongan yg mendapatkan laknat sebagaimana yg telah dikhabarkan

44

oleh Rasulullah Sholallahu‘alaihi wasallam yg artinya : Terlaknat orang-orang yg

memakan riba yang mewakilinya yg menyaksikannya dan pencatatnya. Mereka semua

sama.

Apabila tidak termasuk golongan yg membantu tetapi dia ridho dan menyetujui perbuatan

riba tersebut maka tidak boleh. Adapun menyimpan uang di bank karena kebutuhan

keamanan maka boleh hukumnya apabila tidak ada tempat yg aman kecuali bank tersebut

tetapi dgn syarat tidak mengambil bunganya. Apabila mengambil bunganya maka

hukumnya adalah haram.

Wallahu a’lam.

Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Al Asilah Al Muhimmah”Sumber : Buletin Da’wah Al

Atsary Semarang Edisi IX/Th.I

Oleh:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah boleh hukumnya bekerja di

lembaga ribawi seperti menjadi supir atau satpam ?

Jawaban

Tidak boleh hukumnya bekerja di lembaga-lembaga ribawi sekalipun menjadi supir atau

satpam sebab ketika dia bekerja di lembaga-lembaga ribawi, maka konsekwensi logisnya

dia rela terhadapnya, karena orang yang mengingkari (menolak) sesuatu tidak mungkin

bekerja untuk kepentingannya. Bila dia bekerja untuk kepentingannya, maka ketika itu

dia sudah menjadi rela terhadapnya dan rela terhadap sesuatu yang diharamkan, berarti

mendapatkan jatah dosa darinya juga.

45

Sedangkan orang yang secara langsung mencatat, menulis, mengirim, menyimpan dan

semisalnya, maka tidak dapat disangkal lagi, telah turut secara langsung melakukan hal

yang haram, padahal telah terdapat hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya.

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakai riba, pemberi

makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, “Mereka itu sama

saja ..”[Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Musaqah 1598]

[Majmu Durus Fatawa Al-Haramul Makkiy, Juz III, hal.369 dari fatwa Syaikh Ibn Utsaimin]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram,

edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 6 Darul Haq]

46

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->