You are on page 1of 94

ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN OKSIGENASI

I. PENGERTIAN OKSIGENASI
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1
atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.

II. TUJUAN PEMBERIAN OKSIGENASI


1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung

III. ANATOMI SISTEM PERNAPASAN


A. Saluran Nafas Atas
1. Hidung
• Terdiri atas bagian eksternal dan internal
• Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
• Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung
kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum
• Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung
vaskular yang disebut mukosa hidung
• Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus
menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
• Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
• Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan
udara yang dihirup ke dalam paru-paru
• Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori
terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia

2. Faring
• Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan
rongga mulut ke laring
• Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring
(laringofaring)
• Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif
3. Laring
• Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring
dan trakea
• Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas :
- Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan
- Glotis : ostium antara pita suara dalam laring
- Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk
jakun (Adam's apple)
- Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di
bawah kartilago tiroid)
- Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
- Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita
suara melekat pada lumen laring)
• Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi
• Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batu
4. Trakea
• Disebut juga batang tenggorok
• Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina
B. Saluran Nafas Bawah
1. Bronkus
• Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
• Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)
• Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri
terbagi menjadi 9 bronkus segmental
• Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang
dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf
2. Bronkiolus
• Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus
• Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk
selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas
3. Bronkiolus Terminalis
• Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai
kelenjar lendir dan silia)
4. Bronkiolus respiratori
• Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori
• Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan
jalan udara pertukaran gas
5. Duktus alveolar dan Sakus alveolar
• Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar
• Dan kemudian menjadi alveoli
6. Alveoli
• Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
• Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
• Terdiri atas 3 tipe :
- Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan
(suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
- Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja
sebagai mekanisme pertahanan
PARU
• Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut
• Terletak dalam rongga dada atau toraks
• Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh darah besar
• Setiap paru mempunyai apeks dan basis
• Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
• Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus
• Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen
bronkusnya

PLEURA
• Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
• Terbagi mejadi 2 :
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru
• Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk
memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah
pemisahan toraks dengan paru-paru
• Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah
kolap paru-paru

IV. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN


Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan
lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau
sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara
atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume
paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler
paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke
darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan
dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang
disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi
sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli
dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan
sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus
ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan
berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai
oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN


Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1. Tahap Perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi
cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek.
Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang
berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak
diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan
pola napas.
2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin
rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya
individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga
kedalaman pernapasan yang meningkat.
Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan
mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan
mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat.
Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya
meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga
mengurangi kebutuhan akan oksigen.
3. Gaya Hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung,
demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat
yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.
4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem
kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh.
Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya
terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi
oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida
maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.
5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi
pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik,
perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.
6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan
Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengarhi
pernapasan yaitu :
a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru
c. Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan.
Gangguan pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi sebagian jalan
napas.
Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh yang diinspirasi
sampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan ventilasi, difusi gas atau transpor gas
oleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang dapat merubah satu atau lebih bagian-
bagian dari proses respirasi. Penyebab lain hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak
adekuat sehubungan dengan menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang
berakumulasi didalam darah.
Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan membran mukosa
yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam hemoglobin. Oksigenasi yang
adekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia
hanya selama 3 - 5 menit sebelum terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut
biasanya terlihat cemas, lelah dan pucat.
7. Perubahan pola nafas
Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit
perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang
terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung
meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan
berdiri seperti pada penderita asma.
8. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan di
sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi : hidung, pharing, laring
atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah yang
jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk
disaluran napas.
Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran
napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan
intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan yang tepat. Onbstruksi
sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).

VI. PENGKAJIAN KEPERAWATAN


Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun
psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan
pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat
berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya.
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat
perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya mengandung
unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time)
3. Riwayat perkembangan
a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 - 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
4. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit
yang sama.
5. Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya : merokok, pekerjaan,
rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
6. Riwayat psikologis
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
7. Riwayat spiritual
8. Pemeriksaan fisik
a. Hidung dan sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat,
darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah
trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea
dapat diketahui.
d. Thoraks
Inspeksi :
• Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi
elevasi ke atas.
• Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk
bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal (1 : 1).
Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah 1 : 2
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya : Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai
dengan diameter tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat
menonjol ke depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan
dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior
mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau
perbandingannya 1 : 1.
Kelainan tulang belakang diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung
melengkung/cembung ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung
berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
• Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan apakah pernapasan
klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam
dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat,
frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya
kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara
dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang ataukah
hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan
yang lambat.
Perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu
pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu
pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler,
ataukah klien mengalami pernapasan cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian
menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang
cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya
tidak teratur dan diselingi periode apnea.
Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap
dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya
bila dalam posisi duduk atau berdiri.
Perlu juga dikaji bunyi napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang
terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi yang kering
dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu bunyi napas seperti orang
bersiul, atau rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi,
ataukah ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif yaitu batuk
yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi,
ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah
• Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah takhikardi yaitu
denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60
x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi,
ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu keadaan dengan
jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah
oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam
jaringan akibat kelainan internal atau eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada
mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah
clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu
yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan,
kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal
selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding
dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara
pria besar

VII. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan
kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Pola napas tidak efektif
3. Gangguan pertukaran gas
4. Penurunan kardiak output
5. Rasa berduka
6. Koping tidak efektif
7. Perubahan rasa nyaman
8. Potensial/resiko infeksi
9. Interaksi sosial terganggu
10. Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.
Tanda-tandanya :
• Bunyi napas yang abnormal
• Batuk produktif atau non produktif
• Cianosis
• Dispnea
• Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan
Kemungkinan faktor penyebab :
• Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi
• Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
• Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
• Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
• Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
• Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
• Immobilisasi
• Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi
2. Pola napas tidak efektif
Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :
• Dispnea
• Peningkatan kecepatan pernapasan
• Napas dangkal atau lambat
• Retraksi dada
• Pembesaran jari (clubbing finger)
• Pernapasan melalui mulut
• Penambahan diameter antero-posterior
• Cianosis, flail chest, ortopnea
• Vomitus
• Ekspansi paru tidak simetris
Kemungkinan faktor penyebab :
• Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
• Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
• Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
• CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
• Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
• Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial
atau oedema
• Penimbunan CO2 akibat penyakit paru
3. Gangguan pertukaran gas
Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis
respiratori.
4. Penurunan kardiak output
Tanda-tandanya :
• Kardiak aritmia
• Tekanan darah bervariasi
• Takikhardia atau bradikhardia
• Cianosis atau pucat
• Kelemahan, vatigue
• Distensi vena jugularis
• Output urine berkurang
• Oedema
• Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk)
Kemungkinan penyebab :
• Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit jantung
• Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi dan reaksi kegagalan
jantung
• Cardiak arrest akibat gangguan elektrolit
• Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam darah

VIII. RENCANA KEPERAWATAN


1. Mempertahankan terbukanya jalan napas
A. Pemasangan jalan napas buatan
Jalan napas buatan (artificial airway) adalah suatu alat pipa (tube) yang dimasukkan ke dalam
mulut atau hidung sampai pada tingkat ke-2 dan ke-3 dari lingkaran trakhea untuk
memfasilitasi ventilasi dan atau pembuangan sekresi
Rute pemasangan :
• Orotrakheal : mulut dan trakhea
• Nasotrakheal : hidung dan trakhea
• Trakheostomi : tube dimasukkan ke dalam trakhea melalui suatu insisi yang diciptakan pada
lingkaran kartilago ke-2 atau ke-3
• Intubasi endotrakheal
B. Latihan napas dalam dan batuk efektif
Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi
Cara kerja :
• Pasien dalam posisi duduk atau baring
• Letakkan tangan di atas dada
• Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang
• Tahan napas untuk beberapa detik
• Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut dampai dada berkontraksi
• Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali
• Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu keluarkan
secara cepat disertai batuk yang bersuara
• Ulangi sesuai kemampuan pasien
• Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada daerah bekas
operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk, untuk menghindari terbukanya
luka insisi dan mengurangi nyeri
C. Posisi yang baik
• Posisi semi fowler atau high fowler memungkinkan pengembangan paru maksimal karena
isi abdomen tidak menekan diafragma
• Normalnya ventilasi yang adekuat dapat dipertahankan melalui perubahan posisi, ambulasi
dan latihan
D. Pengisapan lendir (suctioning)
Adalah suatu metode untuk melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan napas, suction
dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal atau trakheostomi tube.
E. Pemberian obat bronkhodilator
Adalah obat untuk melebarkan jalan napas dengan melawan oedema mukosa bronkhus dan
spasme otot dan mengurangi obstruksi dan meningkatkan pertukaran udara.
Obat ini dapat diberikan peroral, sub kutan, intra vena, rektal dan nebulisasi atau menghisap
atau menyemprotkan obat ke dalam saluran napas.
2. Mobilisasi sekresi paru
A. Hidrasi
Cairan diberikan 2±secara oral dengan cara menganjurkan pasien mengkonsumsi cairan yang
banyak - 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas kemampuan/cadangan jantung.
B. Humidifikasi
Pengisapan uap panas untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir.
C. Postural drainage
Adalah posisi khuus yang digunakan agar kekuatan gravitasi dapat membantu di dalam
pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus yang bersarang di dalam bronkhus dan trakhea,
dengan maksud supaya dapat membatukkan atau dihisap sekresinya.
Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur / istirahat.
Tekniknya :
• Sebelum postural drainage, lakukan :
- Nebulisasi untuk mengalirkan sekret
- Perkusi sekitar 1 - 2 menit
- Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode
• Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.
3. Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru
A. Latihan napas
Adalah teknik yang digunakan untuk menggantikan defisit pernapasan melalui peningkatan
efisiensi pernapasan yang bertujuan penghematan energi melalui pengontrolan pernapasan
Jenis latihan napas :
• Pernapasan diafragma
• Pursed lips breathing
• Pernapasan sisi iga bawah
• Pernapasan iga dan lower back
• Pernapasan segmental
B. Pemasangan ventilasi mekanik
Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran / penghembusan udara ke
ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam
periode yang lama.
Ada dua tipe yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif.
C. Pemasangan chest tube dan chest drainage
Chest tube drainage / intra pleural drainage digunakan setelah prosedur thorakik, satu atau
lebih chest kateter dibuat di rongga pleura melalui pembedahan dinding dada dan
dihubungkan ke sistem drainage.
Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, open pneumothoraks,
flail chest.
Tujuannya :
• Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara dari rongga pleura atau rongga thoraks dan
rongga mediastinum
• Untuk mengembalikan ekspansi paru dan menata kembali fungsi normal kardiorespirasi
pada pasien pasca operasi, trauma dan kondisi medis dengan membuat tekanan negatif dalam
rongga pleura.
Tipenya :
a. The single bottle water seal system
b. The two bottle water
c. The three bottle water
4. Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan kompensasi tubuh akibat hipoksia
Dengan pemberian O2 dapat melalui :
• Nasal canule
• Bronkhopharingeal khateter
• Simple mask
• Aerosol mask / trakheostomy collars
• ETT (endo trakheal tube)
5. Meningkatkan transportasi gas dan Cardiak Output
Dengan resusitasi jantung paru (RJP), yang mencakup tindakan ABC, yaitu :
A : Air way adalah mempertahankan kebersihan atau membebaskan jalan napas
B : Breathing adalah pemberian napas buatan melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung
C : Circulation adalah memulai kompresi jantung atau memberikan sirkulasi buatan
Jadi secara umum intervensi keperawatan mencakup di dalamnya :
a. Health promotion
• Ventilasi yang memadai
• Hindari rokok
• Pelindung / masker saat bekerja
• Hindari inhaler, tetes hidung, spray (yang dapat menekan nervus 1)
• Pakaian yang nyaman
b. Health restoration and maintenance
• Mempertahankan jalan napas dengan upaya mengencerkan sekret
• Teknik batuk dan postural drainage
• Suctioning
• Menghilangkan rasa takut dengan penjelasan, posisi fowler/semi fowler, significant other
• Mengatur istirahat dan aktifitas dengan memberikan HE yang bermanfaat, fasilitasi
lingkungan, tingkatkan rasa nyaman, terapi yang sesuai, ROM
• Mengurangi usaha bernapas dengan ventilasi yang memeadai, pakaian tipis dan hangat,
hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas, atur posisi
• Mempertahankan nutrisi dan hidrasi juga dengan oral hygiene dan makanan yang mudah
dikunyah dan dicerna
• Mempertahankan eliminasi dengan memberikan makanan berserat dan ajarkan latihan
• Mencegah dan mengawasi potensial infeksi dengan menekankan prinsip medikal asepsis
• Terapi O2
• Terapi ventilasi
• Drainage dada

IX. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN EVALUASI


Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan
kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.

http://athearobiansyah.blogspot.com/2008/03/asuhan-keperawatan-kebutuhan-
oksigenasi.html
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN
KEBUTUHAN OKSIGEN

A. Kebutuhan Oksigen
Kapasitas ( daya muat ) udara dalam paru-paru adalah 4500 sampai 5000 ml. Udara
yang diproses dalam paru-paru hanya sekitar 10 % ( 500 ml ), yakni yang dihirup
( inspirasi ) dan yang dihembuskan (ekspirasi) pada pernafasan biasa.
Kebutuhan oksigen merupakan salah satu kebutuhan dassr pada manusia, yaitu
kebutuhan fisiologis. Pemenuhan kebutuhan oksigenitas ditunjukan untuk menjaga
kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidupnya, dan melakukan
aktivitas bagi berbagai organ dan sel.
B. Konsep Dasar Oksigenasi
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen kedalam sisitem ( kimia atau fiiska).
Oksigen merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan
dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya terbentuklah CO2, energi dan air.
Akan tetapi penambahkan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan
memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel.
C. Organ-Organ Pernapasan
Bernapas merupakan proses yang sangat penting bagi manusia. Pada proses ini terjadi
pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara tubuh dan lingkungan.

1. Hidung
Hidung merupakan organ pernapasan yang letaknya paling luar. Manusia menghirup
udara melalui hidung. Pada permukaan rongga hidung terdapat rambut-rambut halus
dan selaput lendir yang berfungsi menyaring udara yang masuk dari debu atau benda
lainnya. Di dalam rongga hidung terjadi penyesuaian suhu dan kelembapan udara
sehingga udara yang masuk ke paru-paru tidak terlalu kering ataupun terlalu lembap.
Udara bebas tidak hanya mengandung oksigen saja, namun juga gas-gas yang lain.
Misalnya, karbon dioksida (CO2), belerang (S), dan nitrogen (N2). Gas-gas tersebut
ikut terhirup, namun hanya oksigen saja yang dapat berikatan dengan darah. Selain
sebagai organ pernapasan, hidung juga merupakan indra pembau yang sangat sensitif.
Dengan kemampuan tersebut, manusia dapat terhindar dari menghirup gas-gas yang
beracun atau berbau busuk yang mungkin mengandung bakteri dan bahan penyakit
lainnya. Dari rongga hidung, udara selanjutnya akan mengalir ke tenggorokan.
2. Tenggorokan (Trakea)
Tenggorokan merupakan bagian dari organ pernapasan. Tenggorokan berupa suatu
pipa yang dimulai dari pangkal tengorokan (laring), batang tenggorokan (trakea), dan
cabang batang tenggorokan (bronkus).

Setelah melewati hidung, udara masuk menuju pangkal tenggorokan (laring) melalui
faring. Faring terletak di hulu tenggorokan dan merupakan persimpangan antara
rongga mulut ke kerongkongan dan rongga hidung ke tenggorokan. Setelah melalui
laring, udara selanjutnya menuju ke batang tenggorokan (trakea). Pada batang
tenggorokan ini terdapat suatu katup epiglotis. Katup ini bekerja dengan cara
membuka jika bernapas atau berbicara dan menutup pada saat menelan makanan.
Adanya katup tersebut, udara akan masuk ke paru-paru dan makanan akan menuju
lambung. Jika makan sambil berbicara, hal tersebut dapat mengakibatkan makanan
masuk ke paru-paru dan tenggorokan. Oleh karenanya, hindarilah makan sambil
berbicara. Pada laring, di bawah epiglotis, terdapat pita suara. Ketika udara melewati
pita suara, pita suara akan bergetar dan menghasilkan suara. Hal ini terjadi ketika
berbicara.
3. Cabang Batang Tenggorokan (Bronkus)
Cabang batang tenggorokan (bronkus) merupakan cabang dari trakea. Bronkus terbagi
menjadi dua, yaitu yang menuju paru-paru kanan dan menuju paru-paru kiri. Bronkus
bercabang lagi menuju bronkiolus. Masing-masing cabang tersebut berakhir pada
gelembung paru-paru atau alveolus. Alveolus merupakan tempat terjadinya difusi
oksigen ke dalam darah. Oleh karena itu, dinding alveolus mengandung banyak
kapiler darah.
4. Paru-paru
Paru-paru terletak di dalam rongga dada. Antara rongga dada dan rongga perut
terdapat suatu pembatas yang disebut diafragma. Pembatas ini bukan sekedar
pembatas, tetapi berperan juga dalam proses pernapasan. Paru-paru terbagi menjadi
paru-paru kanan dan paruparu kiri. Paru-paru pada dasarnya merupakan cabang-
cabang suatu saluran yang ujungnya bergelembung. Gelembunggelembung tersebut
disebut alveoli (tunggal: alveolus). Dalam alveoli inilah sesungguhnya terjadi
pertukaran gas-gas. Paru-paru kanan terdiri atas tiga belahan sedangkan paru-paru kiri
hanya dua belahan. Paru-paru kanan lebih besar dibandingkan yang kiri. Agar lebih
jelas, perhatikan gambar penampang sistem pernapasan manusia berikut ini.

D. Proses Pernapasan
Saat bernapas, menghirup udara melalui hidung. Udara yang dihirup mengandung
oksigen dan juga gasgas lain. Dari hidung, udara terus masuk ke tenggorokan,
kemudian ke dalam paru-paru. Akhirnya, udara akan mengalir sampai ke alveoli yang
merupakan ujung dari saluran. Oksigen yang terkandung dalam alveolus bertukar
dengan karbon dioksida yang terkandung dalam darah yang ada di pembuluh darah
alveolus melalui proses difusi. Dalam darah, oksigen diikat oleh hemoglobin.
Selanjutnya darah yang telah mengandung oksigen mengalir ke seluruh tubuh.
Oksigen diperlukan untuk proses respirasi sel-sel tubuh. Gas karbon dioksida yang
dihasilkan selama proses respirasi sel tubuh akan ditukar dengan oksigen.
Selanjutnya, darah mengangkut karbon dioksida untuk dikembalikan ke alveolus
paru-paru dan akan dikeluarkan ke udara melalui hidung saat mengeluarkan napas.

Proses pernapasan meliputi dua proses, yaitu menarik napas atau inspirasi serta
mengeluarkan napas atau ekspirasi. Sewaktu menarik napas, otot diafragma
berkontraksi, dari posisi melengkung ke atas menjadi lurus. Bersamaan dengan itu,
otot-otot tulang rusuk pun berkontraksi. Akibat dari berkontraksinya kedua jenis otot
tersebut adalah mengembangnya rongga dada sehingga tekanan dalam rongga dada
berkurang dan udara masuk. Saat kamu mengeluarkan napas, otot diafragma dan otot-
otot tulang rusuk melemas. Akibatnya, rongga dada mengecil dan tekanan udara di
dalam paru-paru naik sehingga udara keluar. Jadi, hal yang perlu diingat, bahwa udara
mengalir dari tempat yang bertekanan besar ke tempat yang bertekanan lebih kecil.
Proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi di dalam tubuh terdiri atas tiga tahapan;
1. Vertilisasi
Proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli
ke atmosfer. Proses ventilasi dipengaruhi oleh:
a. Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer.
b. Adanya kondisi jalan nafas yang baik.
c. Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru dalam melaksanakan
ekspansi atau kembang kempis.
Pusat pernapasan, yaitu medula oblongata dan pons, dipengaruhi oleh proses
vertilisasi
2. Refusi, Penyaluran oksigen oleh darah keseluruh kapiler pulmonalis
3. Difusi, Pertukaran antara oksigen dari alveoli ke kapiler paru-paru dan karbon
dioksida dari kapiler ke alveoli. Proses ini dipengaruhi oleh:
a. Luasnya permukaan paru-paru.
b. Tebal membran respirasi/ permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan
interstisial.
c. Perbedaan tekanan dan konsentrasi oksigen.
d. Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan saling mengikat Hb.
4. Transportasi, Proses pendistribusian antara oksigen kapiler ke jaringan tubuh dan
karbon dioksida jaringan tubuh ke kapiler. Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh:
a. Kardiak output, dapat dinilai melalui isi sekuncup dan frekuensi denyut jantung.
b. Kondisi pembuluh darah, latihan & aktivasi seperti olahraga, dan lain-lain.
E. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen
1. Faktor Fisiologis
gangguan pada fungsi fisiologis akan berpengaruh terhadap kebutuhan oksigen
seseorang. Kondisi ini lambat laun dapat mempengaruhi fungsi pernafasannya.
Penurunan kapasitas angkut O2, secara fisiologis daya angkut hemoglobin untuk
membawa O2 ke jaringan adalah 97 %. Akan tetapi, nilai tersebut dapat berubah
sewaktu-waktu apabila terdapat gangguan pada tubuh. Misalnya pada penderita
anemia atau pada saat terpapar zat beracun. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan
penurunan kapasitas pengikatan O2.
Penurunan konsentrasi O2 inspirasi. Kondisi ini dapat terjadi akibat penggunaan
alat terapi pernafasan dan penurunann kadar O2 lingkungan.
Hipovolemia, kondisi ini disebabkan oleh penurunan sirkulasi darah akibat
kehilangan cairan ekstraseluler yang berlebihan ( misal pada penderita syok atau
dehidrasi berat ).
Peningkatan laju Metabolik, kondisi ini dapat terjadi pada kasus infeksi dan demam
yang terus menerus yang mengakibatkan peningkatan laju metabolik. Akibatnya
tubuh mulai memecah persediaan protein dan menyebabkan penurunan masa otot.
Kondisi lainnya, kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada seperti
kehamilan, obesitas, abnornalitas musculus sceletal ( misal pectus excavatum dan
kifosis ), trauma, penyakit otot, penyakit susunan syaraf, gangguan syaraf pusat dan
penyakit kronis.
2. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat, sistem pernafasan dapat menyediakan kadar oksigen yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi pada kondisi sakit tertentu,
proses oksigenasi tersebut dapat terhambat sehingga mengganggu pemenuhan
kebutuhan oksigen tubuh. Kondisi tersebut antara lain: gangguan pada sisten
pernafasan dan kardiovaskuler, penyakit kronis, penyakit obstruksi pernafasan atas,
dll.

3. Faktor Perkembangan
Tingkat perkembangan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi sistem
pernafasan individu.
 Bayi prematur. Bayi yang lahir prematur beresiko menderita penyakit membran
serupa hialin yang ditandai dengan berkembangnya membran serupa hialin yang
membatasi ujung saluran pernafasan.
Bayi dan anak-anak. Beresiko mengalami infeksi saluran napas atas, seperti
faringitis, influenza, tinsilitis, dan aspirasi benda asing ( misal makanan, permen, dan
lain-lain )
Anak usia sekolah dan remaja. Beresiko mengalami infeksi saluran napas akut akibat
kebiasaan buruk, seperti merokok.
 Dewasa muda dan paruh baya. Kondisi stres, kebiasaan merokok, diet yang tidak
sehat, kurang berolahraga, merupakan faktor yang dapat meningkatkan resiko
penyakit jantung dan paru pada usia ini.
 Lansia. Proses penuaan yang terjadi pada lansia menyebabkan perubahan pada
fungsi normal pernafasan, seperti penurunan elastisitas paru, pelebaran alveolus,
dilatasi saluran bronkus, dan kifosis tulang belakang yang menghambat ekspansi paru
sehingga berpengaruh pada penurunan kadar O2.
4. Faktor Perilaku
Perilaku keseharian individu dapat berpengaruh terhadap fungsi pernafasannya. Status
nutrisi, gaya hidup, kebiasaan berolah raga, kondisi emosional, dan penggunaan zat-
zat tertentu secara tidak langsung akan berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan
oksigen tubuh.
Nutrisi. Kondisi berat badan berlebih (obesitas) dapat menghambat ekspansi paru,
sedangkan mal nutrisi berat dapat mengakibatkan pelisutan otot pernafasan yang akan
mengurangi kkeuatan kerja pernafasan
Olah Raga. Latihan fiisk akan meningkatkan aktivitas metabolik, denyut jantung,
dan kedalaman serta frekuensi pernafasan yang meningkatkan kebutuhan oksigen.
 Ketergantungan zat adiktif. Penggunaan alkohol dan obat-obatan yang berlebihan
dapat mengganggu proses oksigenasi. Hal ini terjadi karena:
o Alkohol dan obat-obatan dapat menekan pusat pernafasan dan susunan syaraf pusat
sehingga mengakibatkan penurunan laju dan kedalaman pernafasan.
o Penggunaan narkotika dan analgesik, terutama morfin dan meperidin, dapat
mendepresi pusat pernafasan sehingga menurunkan laju dan kedalaman pernafasan.
Emosi. Perasaan takut, cemas, dan marah yang tidak terkontrol akan merangsang
aktivitas syaraf simpatis. Kondisi ini menyebabkan peningkatan denyut jantung dan
frekuensi pernafasan sehingga kebutuhan oksigen meningkat
Gaya hidup. Kebiasaan merokok dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
oksigen seseorang. Merokok dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi perifer dan
penyakit jantung. Selain itu, nikotin yang terkandung dalam rokok bisa
mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan koroner.

5. Lingkungan
 Suhu. Faktor suhu ( panas atau dingin) dapat berpengaruh terhadap afinitas atau
kekuatan ikatan Hb dan O2. dengan kata lain, suhu lingkungan juga mempengaruhi
kebutuhan oksigen seseorang.
 Ketinggian. Pada dataran yang tinggi akan terjadi penurunan pada tekanan udara
sehingga tekanan oksigen juga ikut menurun. Akibatnya orang yang tinggal di dataran
yang tinggi cenderung mengalami peningkatan frekuensi pernafasan dan denyut
jantung. Sebaliknya, pada dataran yang rendah akan mengalami peningkatan tekanan
oksigen
Polusi. Polusi udara seperti asap atau debu sering kali menyebabkan sakit kepala,
pusing, batuk, terdesak, dan bernagai gangguan pernafasan lain pada orang yang
menghisapnya. Para pekerja di pabrik asbes atau bedak tabur beresiko tinggi
menderita penyakit paru akibat terpapar zat berbahaya.

F. Gangguan/ Masalah Kebutuhan Oksigenasi


1. Hipoksia
Merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh
akibat defisiensi oksigen atau peningkatan kebutuhan oksigen di tingkat sel.
2. Perubahan pola pernapasan
a. Takipnea, Pernapasan dengan frekuensi lebih dari 24 kali per menit.
10 kali per menit.b. Bradipnea, Pola pernapasan yang lambat abnormal,
c. Hiperventilasi, Cara tubuh mengompensasi metabolisme tubuh yang terlampau
tinggi dengan pernapasan lebih cepat dan dalam sehingga terjadi peningkatan jumlah
oksigen dalam paru-paru.
d. Kussmaul, Pola pernapasan cepat dan dangkal yang dapat pada keadaan asidosis
metabolik.
e. Hipoventilasi , Upaya tubuh untuk mengeluarkan karbondioksida dengan cukup
pada ventilasi alveolar.
f. Dispnea, Sesak dan berat saat bernafas.
g. Ortopnea, Kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri.
h. Cheyne stokes, Siklus pernapasan yang amplitudonya mula-mula naik kemudian
menurun dan berhenti, lalu dimulai lagi dari siklus baru.
i. Pernapasan paradoksial, Di mana dinding paru-paru bergerak berlawanan arah dari
keadaan normal.
j. Biot , Pernapasan dengan irama yang mirip dengan cheyne stokes, akan tetapi
amplitudonya tidak teratur.
k. Stridor , Pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran
pernapasan.
l. Sianosis, Kebiruan pada kulit karena jumlah haemoglobin dioksigenasi yang
berlebihan di dalam pembuluh darah kulit atau kapiler.
3. Obstruksi jalan nafas
Suatu keadaan pada individu dengan pernapasan yang mengalami ancaman, terkait
dengan ketidakmampuan batuk secara efektif.
Tanda klinis:
• Batuk tidak efektif atau tidak ada
• Tidak mampu mengeluarkan sekret di jalan napas
• Suara napas menunjukkan adanya sumbatan
• Jumlah, irama,dan kedalaman pernapasan tidak normal.
4. Pertukaran gas
Suatu kondisi pada individu yang mengalami penurunan gas, baik oksigen maupun
karbondioksida, antara alveoli paru-paru dan sistem vaskuler.
Tanda klinis:
• Dispenia pada usaha napas
• Napas denagn bibir pada fase ekspirasi yang panjang
• Agitasi
• Lelah, letargi.
• Meningkatnya tahanan vascular paru-paru.
• Menurunnya saturasi oksigen dan meningkatnya PaCO2
• Sianosis

G. Terapi Oksigen
Terapi oksigen diberikan pada pasien yang mengalami gangguan ventilasi pada
seluruh area paru, pasien dengan pertukaran gas, serta mereka yang mengalami gagal
jantung dan membutuhkan terapi oksigen guna mencegah hipoksia. Sejumlah sistem
pemberian oksigen tersedia bagi klien diberbagai kondisi. Pilihan tersebut tergantung
pada kebutuhan oksigen klien, kenyamanan, dan tingkat perkembangannya. Suplai
oksigen sendiir juga diberikan dalam beberapa cara. Di sejumlah rumah sakit atau
fasilitas perawatan jangka panjang, suplia oksigen disalurkan melalui pipa panjang
yang tertanam di dinding rumah sakit dan bermuara langsung di samping tempat tidur
pasien. Ini memungkinkan pasien mendapatkan terapi oksigen langsung pada saat
dibutuhkan. Hal lainnya yang harus diperhatikan saat memberikan terapi oksigen
adalah tindakan pengamanan (safety precaution) guna mencegah bahaya kebakaran.
Beberapa upaya pengamanan tersebut adalah:
• Hindari menyalakan api disekitar sumber oksigen karena dapat meledak
• Beritahu klien atau pengunjung untuk tidak merokok didikat sumber tersebut
• Lakukan pengecekan perlengkapan listrik, terutama kabel-kabel diruangan tersebut.
Pastikan semuanya masih berfungsi dengan baik
• Hindari penggunaan benda-benda dari serat atau tenunan sintesis
• Hindari menggunakan minyak tanah atau bensin di sekitar sumber oksigen

1. Penatalaksanaan Sumber Oksigen


Sumber oksigen di rumah sakit dapat meliputi oksigen dinding dan batang oksigen.
a. Sumber Dinding, penata laksanaan pemberian oksigen melalui sumber dinding
meliputi
• Pasangkan flowmeter pada sumber oksigen, gunakan tekanan yang tidak terlalu kuat
• Isi botol dengan kain steril, pasang pada flowmeter, dan atur aliran flowmeter
• Pasangkan alat yang akan digunakan pada selang atau saluran oksigen.
b. Tabung, meliputi :
• Lepas penutup pelindung tabung
• Putar keran tabung secara perlahan sampai oksigen sedikit keluar untuk
membersihkan debu dan kotoran yang melekat di saluran keluar oksigen. Lakukan
dengan hati-hati sebab tindakan teersebut dapat menimbulkan bunyi yang keras.
• Sambungkan flowmeter dengan outlet silinder, kencangkan dengan kunci inggris
atau tang.
• Letakkan tabung pada posisi mantap. Lepaskan katup secara perlahan sampai
terbuka penuh, lalu kembalikan atau tutup sampai seperempatnya.
• Atur flowmeter sesuai dengan kebutuhan (intruksi dokter)
• Isi botol pelembab dengan air suling, kemudian pasang pada tempatnya
• Sambungkan saluran oksigen dengan alat yang akan digunakan klien.

2. Pemberian Terapi Oksigen


Metode Pemberian Oksigen dapat dibagi menjadi 2 tehnik, yaitu :
1. Sistem Aliran Rendah
Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan,
menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan
volume tidal klien. Ditujukan untuk klien yang memerlukan oksigen, namun masih
mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien dengan Volume
Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali permenit.
Contoh sistem aliran rendah adalah :
1. Kanula nasal
2. Kateter nasal
3. Sungkup muka sederhana,
4. Sungkup muka dengan kantong rebreathing,
5. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing.

a. Kateter Nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu
dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%.
- Keuntungan
Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah dan
nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 45%, tehnik memasukan
kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat
terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat
menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah
tersumbat.
b. Kanul Nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan
aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal.
- Keuntungan
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur,
pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, klien bebas makan, bergerak,
berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen
berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul
hanya 1 cm, dapat mengiritasi selaput lendir.
Kanul Nasal
c. Sungkup Muka Sederhana
Merupakan alat pemberian oksigen kontinu atau selang seling 5 – 8 liter/mnt dengan
konsentrasi oksigen 40 – 60%.
- Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem
humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat
digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
- Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan
penumpukan CO2 jika aliran rendah.
d. Sungkup Muka dengan Kantong Rebreathing :
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 60 – 80% dengan
aliran 8 – 12 liter/mnt
- Keuntungan
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan
selaput lendir
- Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat
menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.
e. Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing
Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen mencapai 99% dengan aliran 8
– 12 liter/mnt dimana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi
- Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak mengeringkan selaput
lendir.
- Kerugian
Kantong oksigen bisa terlipat.

masker non rebreathing


2. Sistem Aliran Tinggi
Teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe
pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang
lebih tepat dan teratur.
Contoh tehnik sistem aliran tinggi adalah sungkup muka dengan ventury.
Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan
menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai ooksigen
sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara
yang dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada alat ini sekitas 4 – 14 liter/mnt
dengan konsentrasi 30 – 55%.
- Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan
tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas
dapat dikontrol serta tidak terjadi penumpukan CO2
- Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat
menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.
H. Pernafasan Buatan
Nafas Buatan disebut juga Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Bantuan Hidup Dasar
atau CPR (CardioPulmonary Resuscitation), merupakan suatu tindakan kegawatan
sederhana tanpa menggunakan alat bertujuan menyelamatkan nyawa seseorang dalam
waktu yang sangat singkat (Rahmad, 2009).
Prinsip utama RJP adalah, orang yang tidak bernafas dan atau jantungnya tidak
berdetak (Henti Jantung)

1. Orang yang tidak bernafas


Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernapasan
dari korban/pasien. Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan
Bantuan Hidup Dasar. Henti napas dapat terjadi pada keadaan:
• Tenggelam
• Stroke (Mempunyai riwayat hipertensi, trus tiba-tiba jatuh/pingsan)
• Obstruksi jalan napas (Kerusakan daerah tenggorokan)
• Epiglotitis (Peradangan Pita Suara)
• Overdosis obat-obatan
• Tersengat listrik
• Infark miokard (Serangan Jantung)
• Tersambar petir
• Koma akibat berbagai macam kasus (Pingsan tanpa penyebab)
Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk kedalam darah untuk beberapa
menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya,
jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat agar korban
dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.
2. Henti jantung
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi darah.
Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan
oksigen. Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda awal akan
terjadinya henti jantung.
Jika Kita Bertemu Dengan Orang Seperti Diatas, Ada dua prinsip penting, yaitu:
• Jangan lupa untuk memanggil bantuan, karna RJP hanyalah tindakan pertolongan
partama yang selanjutnya perlu tindakan medis
• Pastikan kondisinya memang sesuai dengan kriteria RJP melalui pemeriksaan
primer.

a. Pemeriksaan Primer
Prinsip pemeriksaan primer adalah bantuan napas dan bantuan sirkulasi. Untuk dapat
mengingat dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C,
yaitu :
• A airway (jalan napas)
• B breathing (bantuan napas)
• C circulation (bantuan sirkulasi)
Sebelum melakukan tahapan A (airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur
awal pada korban/pasien, yaitu :
1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong
2. Memastikan kesadaran dari korban/pasien. Untuk memastikan korban dalam
keadaan sadar atau tidak penolong harus melakukan upaya agar dapat memastikan
kesadaran korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu
korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang
berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!! /Mbak !!!.
3. Meminta pertolongan. Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon
terhadap panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak “Tolong !!!” untuk
mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut.
4. Memperbaiki posisi korban/pasien. Untuk melakukan tindakan RJP yang efektif,
korban/pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata
dan keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi
korban ke posisi terlentang. penolong harus membalikkan korban sebagai satu
kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi
sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur
yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
5. Mengatur posisi penolong. Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat
memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau
menggerakkan lutut.

AIRWAY (Jalan Napas)


Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukkan
tindakan :
• Pemeriksaan jalan napas
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh
benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa
cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan
sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan
menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik
Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk Pada mulut
korban.
• Membuka jalan napas
Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban
tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink
dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas
oleh lidah dapat dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang dagu (Head tild –
chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula (Rahang Bawah).

BREATHING (Bantuan napas)


Prinsipnya adalah memberikan 2 kali ventilasi sebelum kompresi dan memberikan 2
kali ventilasi per 10 detik pada saat setelah kompresi. Terdiri dari 2 tahap :
1. Memastikan korban/pasien tidak bernapas.
Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar bunyi napas dan
merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan
telinga di atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap mempertahankan jalan
napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik.
2. Memberikan bantuan napas.
Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke
mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan)
dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang
dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5 – 2 detik dan volume udara yang
dihembuskan adalah 7000 – 1000 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban/pasien
terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan
menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen
yang dapat diberikan hanya 16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon
dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan :
o Mulut ke mulut
Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang tepat dan
efektif untuk memberikan udara ke paru-paru korban/pasien. Pada saat dilakukan
hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam
terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban
dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat mengghembuskan napas dan juga
penolong harus menutup lubang hidung korban/pasien dengan ibu jari dan jari
telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang
diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700 – 1000 ml (10 ml/kg). Volume
udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara
memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung.
o Mulut ke hidung
Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak
memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka
yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup
mulut korban/pasien.
o Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang
menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan
pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.

CIRCULATION (Bantuan sirkulasi)


Terdiri dari 2 tahapan :
1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien.
Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri
karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk
dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea,
kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 – 2 cm raba
dengan lembut selama 5 – 10 detik.
Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban
dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan
korban/pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas
pertahankan jalan napas.
2. Memberikan bantuan sirkulasi.
Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan
sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik
sebagai berikut :
o Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri
sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum).
o Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas.
Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam
memberikan bantuan sirkulasi.
o Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan
di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada
korban/pasien, jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.
o Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan
tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali (dalam 15 detik = 30 kali
kompresi) dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 – 2 inci (3,8 – 5 cm).
o Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan
mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang
waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat
melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).
o Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada
saat melepaskan kompresi.
o Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 (Tiap 15 detik = 30
kompresi dan 2 kali tiupan nafas), dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong.

Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60 – 80
mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output)
hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien
dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi
(kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.
I. Nilai Normal Respiratory Rate ( RR )
Respiratory rate (RR) alias tingkat respirasi, ventilasi paru-paru atau ventilasi menilai
rate, adalah jumlah napas makhluk hidup, seperti manusia, mengambil dalam jangka
waktu tertentu (sering diberikan dalam napas per menit). Hanya ada penelitian
terbatas pada pemantauan tingkat pernapasan, dan penelitian ini berfokus pada isu-isu
seperti ketidaktepatan pengukuran tingkat pernapasan dan laju pernafasan sebagai
penanda untuk disfungsi pernafasan.
Laju respirasi menilai biasanya diukur ketika seseorang beristirahat. Melibatkan
menghitung jumlah napas dalam satu menit dengan menghitung berapa kali dada
meningkat. Tingkat pernapasan dikenal untuk meningkatkan dengan demam atau
penyakit atau kondisi medis lainnya. Jika individu memiliki kesulitan dalam bernapas,
yang perlu dicatat. Nilai tingkat pernapasan sebagai indikator memiliki nilai yang
terbatas.
Sebuah metode sistematis dilatih pernapasan dikenal untuk menurunkan tingkat
respirasi di jantung pasien dan membantu mereka untuk menjaga kadar oksigen darah
yang sehat. Rata-rata rentang usia pernapasan diberikan di bawah ini:
• Bayi yang baru lahir - Rata-rata 44 napas per menit
• Bayi - 20-40 napas per menit
• Anak-anak pra sekolah - 20-30 napas per menit
• Anak-anak - 16-25 napas per menit
• Dewasa - 12-20 napas per menit
• Dewasa selama latihan berat - 35-45 napas per menit
• Atlet puncak - 60-70 napas per menit

http://rismalia.blogspot.com/2010/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html?
zx=eacd260c7c58f6ba
Askep kebutuhan oksigen
Oleh :
Ajeng Dian Fiqih
Anggraini Tri Saputri
Arif Kurniawan
Arna Bintaria
KONSEP KEBUTUHAN OKSIGEN
Pengertian
        Oksigen adlh zat atau gas yg tdk brwarna, tdk ada rasa dan mdh trbakar. Terapi oksigen
slh st tndkan dlm menangani tindakan g3an oksigenasi

∙     Tujuan terapi oksigen


    1. me(-)i atau mengatasi hipoksemia atau hipoksia
    2. me(-)I respon kompensasi
    3. meneggkan diagnosis dr prtukaran gas
∙    Indikasi
    1. Keadaan hipoksemia atau hipoksia
    2. Vase akut penyakit jantung dan pernapasan
    3. Gagal nafas akut
    4. Syok
    5. Selama dan sesudah operasi
    6. Anemi yang berat
    7. Peningkatan. Kebutuhan oksigen atau metabolisme

Gejala Klinis
SSP
    - Ketidaksadaran, Bingung / gelisah, mudah terangsang, keringat meningkat
Kardiovaskuler
    - Peningkatan co2, peningkatan tensi diiikuti penurunan tekanan darah bila tdk dpt
trtanggulangi
Pernapasan
    - RR meningkt, Dipsnea, Cuping hdng, Penggunaan otot bantu pernapasan
Sianosis
 - Hipoksia dan hipoksemia

   

5. Macam2 pemberian  O2
    a. Kanul Nasal
    b. Kateter Nasal
    c. Pemasangan masker
Pengkajian
Biodata : nama,umur, jenkel,agama,alamat,status perkawinan, pendidikan, tgl MRS, diagnosa
medis
Keluhan utama : sesak nafas
Riwayat penyakit sekarang
    K sesak slkah melkukan aktivitas , hwa dingin, adax bnda asing , trauma dada, K tdk dpt
beraktifitas , sesak sprti trtekan benda brat t.u dsaluran pernafasn bawah drsa saat istirahat /
aktivitas.

    Upaya yg dlkukan adlh dbwa kedokter praktek, diberi obat oleh keluarga coz sesak tdk
ber- dbwa ke RS & dberi terapi O2, terpai infus dan obat
Riwayat Penyakit Masa Lalu
Asma, dekompensasi cordis, TBC , dan sudah diberikan terapi coz jrg atau tdk kontrol
penyakit kambuh lg.
Riwayat Keluarga
    Ada anggota keluarga yg menderita penyakit yg sm / asma
Aspek Psikologis
Pola Kebiasaan Sehari-hari
    a. Nutrisi
    K yg mengalami sesak nafsu mkan menurun smpai anorexia, sebah , mual, muntah akibat
peningkatan asam lambung
b. Eliminasi Urin
    frekuensi BAK meningkat
c. Kebersihan Diri
d. Pola Aktivitas
e. Pola istirahat tidur
Pemeriksaan Fisik
a. KU : gelisah,berkerngat bxk, nmpak sianosis,
b. Kesadaran : composmetis,sesak berat K apatis
c. TTV    :  RR meningkat, N meningkat, tensi meningkat, ditandai dng kontraksi jantung,
d. Pemeriksaan fisik
    1. kepala dan rambut
    2. mata : conjunctiva anemis
    3. hidung : pernafasan cuping hdng
    4. mulut    : Bibir sianosis mukosa kering
    5. telinga : sianosis
    6. Leher    : JVP meningkat
   

7. dada    :
        1. pemeriksaan pernafasan : inspeksi ( bentuk dada barel chest ) menggunakan otot
bantu prnafasan , tmpk retraksi intercosta RR > 24 x /mnt, pernafasan abdominal
   
 Palpasi : slh st paru K menglami ketinggalan grk ( sesak coz tmor) , vokal premitus
meningkat (pneumoni), vokal premitus menurun (pneumo torax)
Perkusi : normal sonor , bila redup ada tumor, ateletaksis dan hipersonor bila K mengalami
emphysema, pniumotorax
Askutasi : rales karena TBC dan pneumoni, ronchi pd decompensasi cordis, wezing pd sesak
coz asma , edema saluran nafas dan adax bnda asing pd saluran nafas
Pemeriksaan jantung
    a. Inspeksi : Ictus cordis tampak di ICS 5 mid klavicula sinestra
    b. Palpasi : Thrill
    c. Perkusi : pembesaran jantung kekiri dan kebawah
    d. Auskultasi : Bising jantung sistol ( stenosis katup aorta atau insufisiensi katup mitral) ,
bising diastol (stenosis katup mitral atau isufisiensi katup aorta ) dan adax bunyi jantung 3 pd
dikom cordis

Abdomen
    a. Inspecsi
    b. Auskultasi
    c. Perkusi
    d. Palpasi : nyeri tekan pengaruh patologis penyakit
Genitalia
Ekstremitas : sianosis

Pemeriksaan penunjang
    a. laboratorium :
        - AGD : Pco2 > 45 mmHg, pHco3 < 22 mmHg, Pco2 < 80 mmHg, saturasi oksigen < 95
        - Hb < 10 gr %
        - Rontgen
        - Bronchus copy
        - Biopsi Paru
        - Pemeriksaan Sputum
Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas B.D :
    - Penumpukan sputum sekunder  infeksi mikro organisme
    - adanya benda asing
    - edema dan spasme bronchus / trachea
    - batuk tidak efektif sekunder penyakit saraf ( GBS, stroke )
Perencanaan
    -7an : meningkatkan & mempertahankan kefektifan jln nafas
    -Kriteria hasil : bunyi nafs trdengar bersih, ronchi, reles wezing tdk ada, frekuensi irama
nafas normal, batuk efektif, tdk menggunakan otot bntu pernafasan
Intervensi
    1. Atur posisi klien semifowler
    2. Latih nafas dalam & btauk efektiv ( 5 : 1) tiap 2 jam bila kondisi K  baik
    3. Pertahankan Hidrasi yg adekuat .jk tdk ada kontraindikasi

4. Berikan obat mukolitik / nebulizer s.i program


5. Lakukan fisio terapi dada
6. Lakukan pengisapan atau section bl batuk tdk efektiv
7. Kaji suara nafas dan obs TTV
8. Kolaborasi dng tim medis
    a. Pemberian antibiotik
    b. Pemberian oksigen
    c. Pemberian vasodilator / aminophilin
9. Monitor & pertahankan humidifikasi yg adekuat

Ketidakefektifan Pola nafas B.D depresi sesak nafas, efek obat anestesi, penurunan O2 dlm
udara inspirasi, kecemasn ditandai dng : frekuensi pernafasan abnormal, orthopnea, takipnea,
bradipnea, hipo / hiper ventilasi

Perencanaan :
7an : meningkatkan dan mempertahankan pola nafas efektiv
Intervensi : u/ hiperventilasi
    1. alihkan perhatian individu dr keadaan cemas
    2. pertimbangkan penggunaan kantong jka brmaksud mengeluarkan udara
    3.jelaskan cara mengatasi hiperventilasi mell kontrol pernafasan
    4. Diskusikan penyebab
    5. Obs TTV
    6. berikan O2 S.I program
Intervensi : u/ hipoventilasi
    1.berikan o2 dng / sesuai program
    2. Obs TTV
    3. Monitor dan perthankan humidifikasi yg kuat
    4. ajarkan individu u/ mmprgunakan balon tiup
    5. ajarkan nafas dlm & batuk efektiv
    6. berikan alat bantu pernafasan

Gangguan pertukaran gas berhubungan dng


Infeksi pd alveoli
Adax cairan pd rongga pleura
Odema pulmonal sekunder
Dekom cordis
Ditandai :
    dipsnea saat melakukan latihan, bingung, keletihan, AGD PO2 menurun, Pco2 naik
sianosis
Perencanaan
    7an : meninngkatkan & memperthankan pertukaran gas yg adekuat
Kriteria hasil : sianosis tdk ada, gas drh arteri normal, dispenia tdk ada
Intervensi
    1. Mengatur posisi fowler / semifowler
    2. Berikan o2 s.i program  pertahankan humidifier adekuat
    3. tingkatkan aktivitas secara bertahap
    4. kolaborasi dng tim medis ttg pemberian terapi

http://materi-kuliah-akper.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-kebutuhan-
oksigen.html

Asuhan keperawatan Oksigenasi


I. PENGERTIAN OKSIGENASI
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1
atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.

II. TUJUAN PEMBERIAN OKSIGENASI


1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung

III. ANATOMI SISTEM PERNAPASAN


A. Saluran Nafas Atas
1. Hidung
• Terdiri atas bagian eksternal dan internal
• Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
• Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung
kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum
• Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung
vaskular yang disebut mukosa hidung
• Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus
menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
• Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
• Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan
udara yang dihirup ke dalam paru-paru
• Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori
terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia

2. Faring
• Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan
rongga mulut ke laring

• Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring
(laringofaring)
• Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif

3. Laring
• Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring
dan trakea
• Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas :
- Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan
- Glotis : ostium antara pita suara dalam laring
- Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk
jakun (Adam's apple)
- Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di
bawah kartilago tiroid)
- Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
- Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita
suara melekat pada lumen laring)
• Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi
• Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batu

4. Trakea
• Disebut juga batang tenggorok
• Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina

B. Saluran Nafas Bawah


1. Bronkus
• Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
• Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)
• Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri
terbagi menjadi 9 bronkus segmental
• Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang
dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf

2. Bronkiolus
• Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus
• Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk
selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas

3. Bronkiolus Terminalis
• Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai
kelenjar lendir dan silia)

4. Bronkiolus respiratori
• Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori
• Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan
jalan udara pertukaran gas

5. Duktus alveolar dan Sakus alveolar


• Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar
• Dan kemudian menjadi alveoli

6. Alveoli
• Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
• Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
• Terdiri atas 3 tipe :
- Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan
(suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
- Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja
sebagai mekanisme pertahanan

PARU
• Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut
• Terletak dalam rongga dada atau toraks
• Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
pembuluh darah besar
• Setiap paru mempunyai apeks dan basis
• Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
• Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus
• Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen
bronkusnya

PLEURA
• Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
• Terbagi mejadi 2 :
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru
• Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk
memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah
pemisahan toraks dengan paru-paru
• Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah
kolap paru-paru

IV. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN


Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan
lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau
sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara
atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume
paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler
paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke
darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan
dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang
disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi
sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli
dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli

3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan
sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus
ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan
berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai
oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN


Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1. Tahap Perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi
cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek.
Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang
berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak
diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan
pola napas.

2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin
rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya
individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga
kedalaman pernapasan yang meningkat.
Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan
mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan
mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat.
Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya
meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga
mengurangi kebutuhan akan oksigen.

3. Gaya Hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung,
demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat
yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.

4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem
kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh.
Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya
terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi
oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida
maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.

5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi
pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik,
perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.

6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan


Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengarhi
pernapasan yaitu :
a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru
c. Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan.
Gangguan pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi sebagian jalan
napas.
Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh yang diinspirasi
sampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan ventilasi, difusi gas atau transpor gas
oleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang dapat merubah satu atau lebih bagian-
bagian dari proses respirasi. Penyebab lain hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak
adekuat sehubungan dengan menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang
berakumulasi didalam darah.
Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan membran mukosa
yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam hemoglobin. Oksigenasi yang
adekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia
hanya selama 3 - 5 menit sebelum terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut
biasanya terlihat cemas, lelah dan pucat.

7. Perubahan pola nafas


Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit
perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang
terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung
meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan
berdiri seperti pada penderita asma.

8. Obstruksi jalan napas


Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan di
sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi : hidung, pharing, laring
atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah yang
jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk
disaluran napas.
Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran
napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan
intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan yang tepat. Onbstruksi
sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).

VI. PENGKAJIAN KEPERAWATAN


Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun
psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan
pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat
berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya.
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat
perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya mengandung
unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time)
3. Riwayat perkembangan
a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 - 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
4. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit
yang sama.
5. Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya : merokok, pekerjaan,
rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
6. Riwayat psikologis
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
7. Riwayat spiritual
8. Pemeriksaan fisik
a. Hidung dan sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat,
darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah
trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea
dapat diketahui.
d. Thoraks
Inspeksi :
• Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi
elevasi ke atas.
• Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk
bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal (1 : 1).
Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah 1 : 2
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya : Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai
dengan diameter tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat
menonjol ke depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan
dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior
mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau
perbandingannya 1 : 1.
Kelainan tulang belakang diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung
melengkung/cembung ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung
berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
• Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan apakah pernapasan
klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam
dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat,
frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya
kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara
dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang ataukah
hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan
yang lambat.
Perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu
pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu
pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler,
ataukah klien mengalami pernapasan cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian
menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang
cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya
tidak teratur dan diselingi periode apnea.
Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap
dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya
bila dalam posisi duduk atau berdiri.
Perlu juga dikaji bunyi napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang
terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi yang kering
dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu bunyi napas seperti orang
bersiul, atau rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi,
ataukah ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif yaitu batuk
yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi,
ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah
• Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah takhikardi yaitu
denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60
x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi,
ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu keadaan dengan
jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah
oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam
jaringan akibat kelainan internal atau eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada
mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah
clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu
yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan,
kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal
selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding
dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara
pria besar
VII. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan
kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Pola napas tidak efektif
3. Gangguan pertukaran gas
4. Penurunan kardiak output
5. Rasa berduka
6. Koping tidak efektif
7. Perubahan rasa nyaman
8. Potensial/resiko infeksi
9. Interaksi sosial terganggu
10. Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien

1. Bersihan jalan napas tidak efektif


Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.
Tanda-tandanya :
• Bunyi napas yang abnormal
• Batuk produktif atau non produktif
• Cianosis
• Dispnea
• Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan
Kemungkinan faktor penyebab :
• Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi
• Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
• Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
• Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
• Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
• Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
• Immobilisasi
• Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi

2. Pola napas tidak efektif


Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :
• Dispnea
• Peningkatan kecepatan pernapasan
• Napas dangkal atau lambat
• Retraksi dada
• Pembesaran jari (clubbing finger)
• Pernapasan melalui mulut
• Penambahan diameter antero-posterior
• Cianosis, flail chest, ortopnea
• Vomitus
• Ekspansi paru tidak simetris

Kemungkinan faktor penyebab :


• Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
• Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
• Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
• CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
• Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
• Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial
atau oedema
• Penimbunan CO2 akibat penyakit paru

3. Gangguan pertukaran gas


Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis
respiratori.

4. Penurunan kardiak output


Tanda-tandanya :
• Kardiak aritmia
• Tekanan darah bervariasi
• Takikhardia atau bradikhardia
• Cianosis atau pucat
• Kelemahan, vatigue
• Distensi vena jugularis
• Output urine berkurang
• Oedema
• Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk)

Kemungkinan penyebab :
• Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit jantung
• Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi dan reaksi kegagalan
jantung
• Cardiak arrest akibat gangguan elektrolit
• Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam darah

VIII. RENCANA KEPERAWATAN


1. Mempertahankan terbukanya jalan napas
A. Pemasangan jalan napas buatan
Jalan napas buatan (artificial airway) adalah suatu alat pipa (tube) yang dimasukkan ke dalam
mulut atau hidung sampai pada tingkat ke-2 dan ke-3 dari lingkaran trakhea untuk
memfasilitasi ventilasi dan atau pembuangan sekresi
Rute pemasangan :
• Orotrakheal : mulut dan trakhea
• Nasotrakheal : hidung dan trakhea
• Trakheostomi : tube dimasukkan ke dalam trakhea melalui suatu insisi yang diciptakan pada
lingkaran kartilago ke-2 atau ke-3
• Intubasi endotrakheal

B. Latihan napas dalam dan batuk efektif


Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi
Cara kerja :
• Pasien dalam posisi duduk atau baring
• Letakkan tangan di atas dada
• Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang
• Tahan napas untuk beberapa detik
• Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut dampai dada berkontraksi
• Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali
• Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu keluarkan
secara cepat disertai batuk yang bersuara
• Ulangi sesuai kemampuan pasien
• Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada daerah bekas
operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk, untuk menghindari terbukanya
luka insisi dan mengurangi nyeri

C. Posisi yang baik


• Posisi semi fowler atau high fowler memungkinkan pengembangan paru maksimal karena
isi abdomen tidak menekan diafragma
• Normalnya ventilasi yang adekuat dapat dipertahankan melalui perubahan posisi, ambulasi
dan latihan

D. Pengisapan lendir (suctioning)


Adalah suatu metode untuk melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan napas, suction
dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal atau trakheostomi tube.

E. Pemberian obat bronkhodilator


Adalah obat untuk melebarkan jalan napas dengan melawan oedema mukosa bronkhus dan
spasme otot dan mengurangi obstruksi dan meningkatkan pertukaran udara.
Obat ini dapat diberikan peroral, sub kutan, intra vena, rektal dan nebulisasi atau menghisap
atau menyemprotkan obat ke dalam saluran napas.

2. Mobilisasi sekresi paru


A. Hidrasi
Cairan diberikan 2secara oral dengan cara menganjurkan pasien mengkonsumsi cairan
yang banyak - 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas kemampuan/cadangan jantung.

B. Humidifikasi
Pengisapan uap panas untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir.

C. Postural drainage
Adalah posisi khuus yang digunakan agar kekuatan gravitasi dapat membantu di dalam
pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus yang bersarang di dalam bronkhus dan trakhea,
dengan maksud supaya dapat membatukkan atau dihisap sekresinya.
Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur / istirahat.
Tekniknya :
• Sebelum postural drainage, lakukan :
- Nebulisasi untuk mengalirkan sekret
- Perkusi sekitar 1 - 2 menit
- Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode
• Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.

3. Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru


A. Latihan napas
Adalah teknik yang digunakan untuk menggantikan defisit pernapasan melalui peningkatan
efisiensi pernapasan yang bertujuan penghematan energi melalui pengontrolan pernapasan
Jenis latihan napas :
• Pernapasan diafragma
• Pursed lips breathing
• Pernapasan sisi iga bawah
• Pernapasan iga dan lower back
• Pernapasan segmental

B. Pemasangan ventilasi mekanik


Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran / penghembusan udara ke
ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam
periode yang lama.
Ada dua tipe yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif.

C. Pemasangan chest tube dan chest drainage


Chest tube drainage / intra pleural drainage digunakan setelah prosedur thorakik, satu atau
lebih chest kateter dibuat di rongga pleura melalui pembedahan dinding dada dan
dihubungkan ke sistem drainage.
Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, open pneumothoraks,
flail chest.

Tujuannya :
• Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara dari rongga pleura atau rongga thoraks dan
rongga mediastinum
• Untuk mengembalikan ekspansi paru dan menata kembali fungsi normal kardiorespirasi
pada pasien pasca operasi, trauma dan kondisi medis dengan membuat tekanan negatif dalam
rongga pleura.
Tipenya :
a. The single bottle water seal system
b. The two bottle water
c. The three bottle water

4. Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan kompensasi tubuh akibat hipoksia


Dengan pemberian O2 dapat melalui :
• Nasal canule
• Bronkhopharingeal khateter
• Simple mask
• Aerosol mask / trakheostomy collars
• ETT (endo trakheal tube)

5. Meningkatkan transportasi gas dan Cardiak Output


Dengan resusitasi jantung paru (RJP), yang mencakup tindakan ABC, yaitu :
A : Air way adalah mempertahankan kebersihan atau membebaskan jalan napas
B : Breathing adalah pemberian napas buatan melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung
C : Circulation adalah memulai kompresi jantung atau memberikan sirkulasi buatan

Jadi secara umum intervensi keperawatan mencakup di dalamnya :


a. Health promotion
• Ventilasi yang memadai
• Hindari rokok
• Pelindung / masker saat bekerja
• Hindari inhaler, tetes hidung, spray (yang dapat menekan nervus 1)
• Pakaian yang nyaman

b. Health restoration and maintenance


• Mempertahankan jalan napas dengan upaya mengencerkan sekret
• Teknik batuk dan postural drainage
• Suctioning
• Menghilangkan rasa takut dengan penjelasan, posisi fowler/semi fowler, significant other
• Mengatur istirahat dan aktifitas dengan memberikan HE yang bermanfaat, fasilitasi
lingkungan, tingkatkan rasa nyaman, terapi yang sesuai, ROM
• Mengurangi usaha bernapas dengan ventilasi yang memeadai, pakaian tipis dan hangat,
hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas, atur posisi
• Mempertahankan nutrisi dan hidrasi juga dengan oral hygiene dan makanan yang mudah
dikunyah dan dicerna
• Mempertahankan eliminasi dengan memberikan makanan berserat dan ajarkan latihan
• Mencegah dan mengawasi potensial infeksi dengan menekankan prinsip medikal asepsis
• Terapi O2
• Terapi ventilasi
• Drainage dada

IX. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN EVALUASI


Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan
kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.

Daftar Pustaka

http://iwansain.wordpress.com/2007/08/22/kebutuhan-oksigenasi/

Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

Posted by ARWIN LIM at 02:29 2 comments

Anfis saluran Pernafasan

Anatomi
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, farinx, larinx trachea,
bronkus, dan bronkiolus.

Hidung
Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara
ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput
lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan
dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Septum
nasi memisahkan kedua cavum nasi. Struktur ini tipis terdiri dari tulang dan tulang rawan,
sering membengkok kesatu sisi atau sisi yang lain, dan dilapisi oleh kedua sisinya dengan
membran mukosa. Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh sebagian maxilla, palatinus, dan
os. Sphenoidale. Tulang lengkung yang halus dan melekat pada dinding lateral dan menonjol
ke cavum nasi adalah : (1) conchae superior (2) Media, dan (3) inferior. Tulang-tulang ini
dilapisi oleh membrane mukosa.
Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale da os palatinus sedangkan atap cavum nasi adalah
celah sempit yang dibentuk oleh os frontale dan os sphenoidale. Membrana mukosa
olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan, mengandung sel saraf
khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat saraf melewati lamina cribriformis os
frontale dan kedalam bulbus olfaktorius nervus cranialis I olfaktorius.
Sinus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan melalui lubang kedalam
cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membrana mukosa yang bersambungan dengan cavum
nasi. Lubang yang membuka kedalam cavum nasi : (1) Lubang hidung (2) Sinus
Sphenoidalis, diatas concha superior (3) Sinus ethmoidalis, oleh beberapa lubang diantara
concha superior dan media dan diantara concha media dan inferior (4) sinus frontalis,
diantara concha media dan superior (5) ductus nasolacrimalis, dibawah concha inferior.
Pada bagian belakang, cavum nasi membuka kedalam nasofaring melalui appertura nasalis
posterior.

Farinx (tekak)
adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan
oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinx-
faringeal). Orofaring adalah bagian dari faring merrupakan gabungan sistem respirasi dan
pencernaan.

Laringx (tenggorok)
Terletak pada garis tengah bagian depan leher, sebelah dalam kulit, glandula tyroidea, dan
beberapa otot kecila, dan didepan laringofaring dan bagian atas esopagus.
Laring merupakan struktur yang lengkap terdiri atas:
1. cartilago yaitu cartilago thyroidea, epiglottis, cartilago cricoidea, dan 2 cartilago
arytenoidea
2. Membarana yaitu menghubungkan cartilago satu sama lain dan dengan os. Hyoideum,
membrana mukosa, plika vokalis, dan otot yang bekerja pada plica vokalis
Cartilago tyroidea à berbentuk V, dengan V menonjol kedepan leher sebagai jakun. Ujung
batas posterior diatas adalah cornu superior, penonjolan tempat melekatnya ligamen
thyrohyoideum, dan dibawah adalah cornu yang lebih kecil tempat beratikulasi dengan
bagian luar cartilago cricoidea.
Membrana Tyroide à mengubungkan batas atas dan cornu superior ke os hyoideum.
Membrana cricothyroideum à menghubungkan batas bawah dengan cartilago cricoidea.

Epiglottis
Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang dasar lidah. Epiglottis ini
melekat pada bagian belakang V cartilago thyroideum.
Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis menuju cartilago
arytenoidea, membentuk batas jalan masuk laring

Cartilago cricoidea
Cartilago berbentuk cincin signet dengan bagian yang besar dibelakang. Terletak dibawah
cartilago tyroidea, dihubungkan dengan cartilago tersebut oleh membrane cricotyroidea.
Cornu inferior cartilago thyroidea berartikulasi dengan cartilago tyroidea pada setiap sisi.
Membrana cricottracheale menghubungkan batas bawahnya dengan cincin trachea I

Cartilago arytenoidea
Dua cartilago kecil berbentuk piramid yang terletak pada basis cartilago cricoidea. Plica
vokalis pada tiap sisi melekat dibagian posterio sudut piramid yang menonjol kedepan

Membrana mukosa
Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius, terdiri dari sel-sel silinder yang
bersilia. Plica vocalis dilapisi oleh epitel skuamosa.

Plica vokalis
Plica vocalis adalah dua lembar membrana mukosa tipis yang terletak di atas ligamenturn
vocale, dua pita fibrosa yang teregang di antara bagian dalam cartilago thyroidea di bagian
depan dan cartilago arytenoidea di bagian belakang.
Plica vocalis palsu adalah dua lipatan. membrana mukosa tepat di atas plica vocalis sejati.
Bagian ini tidak terlibat dalarn produksi suara.

Otot
Otot-otot kecil yang melekat pada cartilago arytenoidea, cricoidea, dan thyroidea, yang
dengan kontraksi dan relaksasi dapat mendekatkan dan memisahkan plica vocalis. Otot-otot
tersebut diinervasi oleh nervus cranialis X (vagus).

Respirasi
Selama respirasi tenang, plica vocalis ditahan agak berjauhan sehingga udara dapat keluar-
masuk. Selama respirasi kuat, plica vocalis terpisah lebar.

Fonasi
Suara dihasilkan olch vibrasi plica vocalis selama ekspirasi. Suara yang dihasilkan
dimodifikasi oleh gerakan palaturn molle, pipi, lidah, dan bibir, dan resonansi tertentu oleh
sinus udara cranialis.
Gambaran klinis
Laring dapat tersumbat oleh:
(a) benda asing, misalnya gumpalan makanan, mainan kecil
(b) pembengkakan membrana mukosa, misalnya setelah mengisap uap atau pada reaksi
alergi,
(c) infeksi, misalnya difteri,
(d) tumor, misalnya kanker pita suara.

Trachea atau batang tenggorok


Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. trachea
berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang
manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni)
atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang
mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 - 20 lingkaran tak- lengkap yang
berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi
lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.

Bronchus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata
torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang
sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus
kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi
darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut
bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan
berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan
kelobus atas dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan
kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang
ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran
udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis
memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang
rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran
udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara
karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius yang
terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris
seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru,
asinus atau.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat
sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan
oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.

Paru-Paru
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Paru-paru memilki :
1. Apeks, Apeks paru meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula
2. permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada
3. permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
4. dan basis. Terletak pada diafragma
paru-paru juga Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga
pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikasi. Paru kanan dibagi atas tiga
lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu
lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung
pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan
alveoli. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga
mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas.
Suplai Darah
1. arteri pulmonalis
2. arteri bronkialis
Innervasi
1. Parasimpatis melalui nervus vagus
2. Simpatis mellaui truncus simpaticus

Sirkulasi Pulmonal
Paru-paru mempunyai 2 sumber suplai darah, dari arteri bronkialis dan arteri pulmonalis.
Darah di atrium kanan mengair keventrikel kanan melalui katup AV lainnya, yang disebut
katup semilunaris (trikuspidalis). Darah keluar dari ventrikel kanan dan mengalir melewati
katup keempat, katup pulmonalis, kedalam arteri pulmonais. Arteri pulmonais bercabang-
cabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masing-masing mengalir keparu kanan
dan kiri. Di paru arteri pulmonalis bercabang-cabang berkali-kali menjadi erteriol dan
kemudian kapiler. Setiap kapiler memberi perfusi kepada saluan pernapasan, melalui sebuah
alveolus, semua kapiler menyatu kembali untuk menjadi venula, dan venula menjadi vena.
Vena-vena menyatu untuk membentuk vena pulmonalis yang besar.
Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali keatrium kiri untuk menyelesaikan siklus
aliran darah. Jantung, sirkulasi sistemik, dan sirkulasi paru. Tekanan darah pulmoner sekitar
15 mmHg. Fungsi sirkulasi paru adalah karbondioksida dikeluarkan dari darah dan oksigen
diserap, melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi sistemik dan par, maka
suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa dapat berlangsung bagi semua sel.

FISIOLOGIS
Luas permukaan paru-paru yang luas, yang hanya dipisahkan oleh membran tipis dari sistem
sirkulasi, secara teoritis mengakibatkan seseorang mudah terserang oleh masuknya benda
asing (debu) dan bakteri yang masuk bersama udara inspirasi. Tetapi, saluran respirasi bagian
bawah dalam keadaan normal adalah steril. Terdapat beberapa mekanisme pertahanan yang
mempertahankan sterilitas ini. Kita telah mengetahui refleks menelan atau refleks muntah
yang mencegah masuknya makanan atau cairan ke dalam trakea, juga kerja eskalator
mukosiliaris yang menjebak debu dan bakteri kemudian memindahkannya ke kerongkongan.
Selanjutnya, lapisan mukus yang mengandung faktor-faktor yang mungkin efektif sebagai
pertahanan, yaitu immunoglobulin (terutama IIgA), PMNs, interferon, dan antibodi spesifik.
Refleks batuk merupakan suatu mekanisme lain yang lebih kuat untuk mendorong sekresi ke
atas sehingga dapat ditelan atau dikeluarkan. Makrofag alveolar merupakan pertahanan yang
paling akhir dan paling penting terhadap invasi bakteri ke dalam paru-paru. Makrofag
alveolar merupakan sel fagositik dengan ciri-ciri khas dapat bermigrasi dan mempunyai sifat
enzimatik, Sel ini bergerak bebas pada permukaan alveolus dan meliputi serta menelan benda
atau bakteri. Sesudah meliputi partikel mikroba maka enzim litik yang terdapat dalam
makrofag akan membunuh dan mencernakan mikroorganisme tersebut tanpa menimbulkan
reaksi peradangan yang nyata.
Proses fisiologis respirasi di mana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-
jaringan, dan karbon dioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga
stadium.
1. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan ke luar
paru-paru.
2. Stadium ke dua, transportasi, yang terdiri dari beberapa aspek :
(1) difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah
sistemik dan selsel jaringan;
(2) distribusi darah dalam sirkulasi pulmoner dan penyesuaiannVa dengan distribusi udara
dalam alveolus-alveolus; dan
(3) reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbon dioksida dengan darah.
3. Respirasi sel atau respirasi interna merupakan stadium akhir dari respirasi. Selama respirasi
ini metabolit dioksidasi untuk mendapatkan energi, dan karbon dioksida terbentuk sebagai
sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru.

Ventilasi
Udara bergerak masuk dan keluar dari paru-paru karena selisih tekanan yang terdapat antara
atmosfer dan alveolus oleh kerja mekanik otot-otot. Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, dinding toraks berfungsi sebagai hembusan. Seiama inspirasi, volume toraks
bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot. M.
sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas dan m. serratus, m. scalenus dan m.
intercostalis externus berperanan mengangkat iga. Toraks membesar dalam tiga arah :
anteroposterior, lateral dan vertikal. Peningkatan volume ini menyebabkan penurunan
tekanan intrapleura, dari sekitar -4 mm Hg (relatif terhadap tekanan atmosfer) menjadi sekitar
-8 mm Hg bila paru-paru mengembang pada waktu inspirasi. Pada saat yang sama tekanan
intrapulmonal atau tekanan saluran udara menurun sampai sekitar -2 mm Hg (relatif terhadap
tekanan atmosfer) dari 0 mm Hg pada waktu mulai inspirasi. Selisih tekanan antara saluran
udara dan atmosfer rnenyebabkan udara mengalir ke dalam paru-paru sampai tekanan saluran
udara pada akhir inspirasi sama lagi dengan tekanan atmosfer.
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat elastisitas dinding dada
dan paru-paru. Pada waktu m. intercostalis externus relaksasi, dinding dada turun dan
lengkung diafragma naik ke atas ke dalam rongga toralks, menyebabkan volume toraks
berkurang, m. interkostalis internus dapat menekan iga ke bawah dan ke dalam dengan kuat
pada waktu ekspirasi kuat dan aktif, batuk, muntah, atau defekasi. Selain itu otot-otot
abdomen mungkin berkontraksi sehingga tekanan intra abdominal membesar dan menekan
diafragma ke atas. Pengurangan volume toraks ini meningkatkan tekanan iintrapleura
maupun tekanan intrapulmonal. Tekanan intrapulmonal sekarang meningkat sampai sekitar I
sampai 2 mmHg di atas tekanan atmosfer. Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfer
sekarang terbalik sehingga udara mengalir ke luar dari paru-paru sampai tekanan saluran
udara dan tekanan atmosfer sama kembali pada akhir ekspirasi. Perhatikan bahwa tekanan
intrapleura selalu di bawah tekanan atmosfer selama siklus respirasi. Perubahan pada
ventilasi dapat diperkirakan dengan tes fungsional paru-paru.

DIFUSI
Stadium ke dua proses respirasi mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran antara
alveolus-kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0.5 um). Kekuatan pendorong untuk
pernindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial
oksigen dalam atmosfer pada permukaan laut besarnya sekitar 149 mm Hg (21 persen dari
760 mm Hg). Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai pada alveolus maka tekanan parsial
ini mengalami penurunan sampai sekitar 103 mm Hg. Penurunan tekanan parsial ini
diperkirakan atas dasar fakta bahwa udara inspirasi tercampur dengan udara dalam ruang rugi
anatomis saluran udara, dan dengan uap air. Ruang rugi anatomis ini dalam keadaan normal
mempunyai volume sekitar 1 ml udara per pound berat badan (150 ml/150 lb pria). Hanya
udara bersih yang sampai ke alveolus yang merupakan ventilasi efektif. Tekanan parsial
oksigen dalam darah vena campuran (PV 02) dalam kapiler paru-paru besarnya sekitar 40
mm Hg. Karena tekanan parsial oksigen dalam kapiler lebih rendah daripada tekanan dalam
alveolus (P A02 = 103 mm Hg), maka oksigen dapat dengan mudah berdifusi ke dalam aliran
darah. Selisih tekanan C02 antara darah dan alveolus yang jauh lebih rendah (6 mmHg)
menyebabkan karbon dioksida berdifusi ke dalam alveolus. Karbon dioksida ini kemudian
dikeluarkan ke atmosfer, di mana konsentrasinya pada hakekatnya nol. Selisih C02 antara
darah dan alveolus memang kecil sekali tapi cukup karena dapat berdifusi kira-kira 20 kali
lebih cepat dibandingkan dengan oksigen, melintasi membran alveolus-kapiler karena daya
larutnya yang lebih besar.
HUBUNGAN VENTILASI-PERFUSI
Pemindahan gas secara efektif antara alveolus dan kapiler paru-paru membutuhkan distribusi
udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler. Dengan perkataan lain,
ventilasi dan perfusi dari unit pulmoner harus sesuai. Pada orang normal dengan posisi tegak
dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-
paru. Sirkulasi pulmoner yang bertekanan dan resistensi rendah mengakibatkan aliran darah
di basis paru-paru lebih besar daripada di bagian apeks paru-paru, disebabkan pengaruh gaya
tarik bumi. Tetapi ventilasinya cukup merata. Nilai rata-rata rasio antara ventilasi terhadap
perfusi (V/Q) adalah 0,13. Angka ini didapatkan dari rasio rata-rata laju ventilasi alveolar
normal (4 liter/menit) dibagi dengan curah jantung normal (5 liter/menit). keadaan normal
dari ventilasi dan perfusi paru-paru yang seimbang mendekati nilai 0,8.
Kebanyakan penyakit respirasi mengalami ketidakseimbangan antara proses ventilasi-perfusi.
Akibatnya ventiIasi terbuang sia-sia (V/Q = tak terhingga). Unit respirasi abnormal yang ke
dua merupakan shunt unit, di mana tak ada ventilasi, tetapi perfusi normal, sehingga perfusi
terbuang sia-sia (V/Q = 0). Unit yang terakhir merupakan unit diam, di mana tidak ada
ventilasi dan perfusi. Tentu saja terdapat variasi-variasi di antara ke tiga kasus ekstrim
tersebut, tergantung dari keseimbangan secara menyeluruh antara ventilasi dan perfusi paru-
paru. Penyakit paru-paru dan gangguan fungsional respirasi dapat diklasifikasikan secara
fisiologis sesuai dengan jenis penyakit yang dialami, apakah menimbulkan shunt yang besar
(V/Q ( 0,8)

TRANSPOR OKSIGEN DALAM DARAH


Oksigen dapat ditranspor dari paru-paru ke jaringan melalui dua jalan :
1. secara fisik larut dalam plasma atau
2. secara kimia berikatan dengan hemoglobin sebagai oksihemoglobin (HbO2).
ikatan kimia oksigen dan hemoglobin ini bersifat reversibel. Jumlah sungguhnya yang
diangkut dalam bentuk ini mempunyai hubungan nonlinear dengan PaO2 (tekanan parsial
oksigen dalam darah arteri), yang ditentukan oleh jumlah oksigen yang secara fisik larut
dalam plasma darah. Sebaliknya, jumlah oksigen yang secara fisik larut dalam plasma
mempunyai hubungan langsung dengan tekanan parsial oksigen dalam alveolus (PAO2).
Kecuali itu juga tergantung dari daya larut oksigen dalam plasma. Jumlah oksigen yang
dalam keadaan normal larut secara fisik sangat kecil karena daya larut oksigen dalam plasma
yang rendah. hanya sekitar satu persen dari jumlah oksigen total ang ditranspor ke jaringan-
jaringan ditranspor dengan cara ini. Cara transpor seperti ini tidak mempertahankan hidup
walaupun dalam keadaan istirahat sekalipun. Sebagian besar oksigen diangkut oleh
hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Dalam keadaan tertentu (misalnya :
keracunan karbon monoksida atau hemolisis masif di mana terjadi insufisiensi hemoglobin
maka oksigen yang cukup untuk mempertahankan hidup dapat ditranspor dalam bentuk
larutan fisik dengan memberikan oksigen dengan tekanan yang lebih tinggi dari tekanan
atmosfir (ruang oksigen hiperbarik).
Satu gram hemoglobin dapat berikatan dengan 1,34 ml oksigen. Karena konsentrasi
hemoglobin rata-rata dalam darah pada pria dewasa besarnya sekitair 15gr per 100 ml, maka
100 ml darah dapat mengangkut (15 x 1,34 = 20,1) 20,1 ml oksigen kalau darah jenuh sekali
(SaO2 = 100 persen). Tetapi darah yang sudah teroksigenisasi dan meninggalkan kapiler
paru-paru mendapatkan sedikit tambahan darah vena yang merupakan darah campuran, dari
sirkulasi bronkial. Proses pengenceran ini yang menjadi penyebab sehingga darah yang
meninggalkan paru-paru hanya jenuh 97 persen, dan 19,5 persen volume diangkut ke
jaringan. Pada tingkat jaringan, oksigen mengalami disosiasi dari hemoglobin dan berdifusi
ke dalam plasma.
Dari plasma oksigen masuk ke sel-sel jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan jaringan-
jaringan yang bersangkutan. Meskipun sekitar 75 persen dari hemoglobin masih berikatan
dengan oksigen pada waktu hemoglobin kembali ke paru-paru dalam bentuk darah vena
campuran. Jadi sesungguhnya hanya sekitar 25 psersen oksigen dalam darah arteri yang
digunakan untuk keperluan jaringan. Hemoglobin yang melepaskan oksigen pada tingkat
jaringan disebut hemoglobin tereduksi (Hb). Hemoglobin tereduksi berwarna ungu dan
menyebabkan warna kebiruan pada darah vena, seperti yang kita lihat pada vena superfisial,
misainya : pada tangan. Sedangkan oksihemoglobin (hemoglobin yang berikatan dengan
oksigen) berwarna merah terang dan menyebabkan warna kemerah-merahan pada darah
arteri.

Kurva disosiasi oksihemoglobin


Untuk dapat memahami proses respirasi dengan jelas maka harus diketahui afinitas oksigen
terhadap hemoglobin karena suplai oksigen untuk jaringan dan pengambilan oksigen oleh
paru-paru sangat tergantung pada hubungan tersebut. Pengetahuan ini sangat diperlukan
untuk menyatakan ukuran gas secara tepat dan untuk melakukan tindakan-tindakan terapi
pada insufisiensi respirasi. Kalau darah lengkap dikenai oleh berbagai tekanan parsial oksigen
dan persentase kejenuhan hemoglobin diukur, maka didapatkan kurva berbentuk huruf S bila
ke dua pengukuran tersebut digabungkan. Kurva ini dikenal dengan nama kurva disosiasi
oksihemoglobin dan menyatakan afinitas hemoglobin terhadap oksigen pada berbagai
tekanan parsial. Dalam keadaan suhu tubuh yang normal (98,60F) dan pH darah 7,4.
Kurva ini mempunyai satu fakta fisiologis yang perlu diperhatikan yaitu, adanya bagian yang
datar. Pada bagian atas kurva yang dikenal dengan nama bagian arteria (A) dan bagian vena
(V) pada bagian bawah yang lebih curam, yang agak tergeser ke kanan. Pada kurva bagian
atas yang datar, perubahan yang besar pada tekanan oksigen dikaitkan dengan sedikit
perubahan pada kejenuhan oksihemoglobin. Ini menyatakan bahwa jumlah oksigen yang
relatif konstan dapat disuplai ke jaringan-jaringan walaupun pada ketinggian yang tinggi di
mana P02 mungkin sebesar 60 mmHg atau kurang. Ini juga menyatakan bahwa pemberian
oksigen dalam konsentrasi tinggi (udara normal = 21 persen) pada pasien-pasien yang
menderita hipoksemia ringan. (Pa02 60-75 mmHg) adalah sia-sia, karena oksihemoglobin
hanya dapat ditingkatkan sedikit sekali. Sesungguhnya, pemberian oksigen konsentrasi tinggi
dapat meracuni jaringin paru-paru dan menimbulkan efek yang merugikan. pelepasan oksigen
ke jaringan-jaringan dapat ditingkatkan oleh hubungan P02 terhadap kejenuhan okigen pada
kurva bagian vena yang curam. Pada bagian ini perubahan-perubahan besar pada kejenuhan
oksihemoglobin berkaitan dengan sedikit perubahan 02.
Afinitas oksigen terhadap hemoglobin dipengaruhi oleh banyak faktor lain yang menyertai
metabolisme jaringan dan dapat diubah oleh penyakit. Kurva oksihemoglobin tergeser ke
kanan apabila PH darah menurun atau PC02 meningkat. dalam keadaan ini, pada P02 tertentu
afinitas hemoglobin terhadap oksigen berkurang sehingga oksigen dapat ditranspor oleh
darah berkurang. Keadaan patologis yang dapat menybabkan asidosis metabollk, seperti syok
(pembentukan asam laktat berlebihan akibat metabolis-anerobik) atau retensi karbon dioksida
akan menyebabkan pergeseran kurva kekanan. Pergeseran kurva sedikit kekanan akan
membantu pelepasan oksigen kejaringan-jaringan. Pergeseran ini dikenal dengan nama efek
bohr. Sedikit peningkatan keasaman akibat pelepasan karbondioksida dari jaringan. Faktor
lain yang menyebabkan pergeseran kurva kekanan adalah peningkatan suhu dan 2,3
difosfogliserat (2,3-DPG) yang merupakan fosfat organik dalam sel darah merah yang
mengikat Hb dan mengurangi afinitas Hb terhadap oksigen pada anemia dan hipoksemia
kronik 2,3-DPG sel darah merah meningkat. Perlu diketahui adanya kenyataan bahwa;
meskipun kemampuan transpor oksigen oleh hemoglobin menurun bila kurva bergeser ke
kanan, kemampuan hemoglobin untuk melepaskan oksigen ke jaringan-jaringan dipermudah.
Karena itu, pada anemia dan hipoksemia kronik pergeseran kurva ke kanan merupakan proses
kompensasi.
Pergeseran kurva ke kanan disertai kenaikan suhu, menggambarkan peningkatan metabolisme
sel dan peningkatan kebutuhan akan oksigen, juga dapat menyesuaikan diri dan untuk aliran
darah tertentu menyebabkan semakin banyaknya oksigen yaiag dilepaskan ke jaringan-
jaringan.
Sebaliknya, peningkatan PH darah (alkalosis) atau penurunan PCO2, suhu dan 2 3-DPG akan
menyebabkan pergeseran kurva disosiasi oksihemoglobin ke kiri. Pergeseran ke kiri
menyebabkan peningkatan afinitas hemoglobin terhadap oksigen. Akibatnya uptake oksigen
dalam paru-paru meningkat apabila terjadi pergeseran ke kiri, tetapi pelepasan oksigen ke
jaringan-jaringan terganggu. Karena itu secara teoritis mungkin akan terjadi hipoksia
(insufisiensi oksigen jaringan guna memenuhi kebutuhan metabolisme pada keadaan
alkalosis yang berat, terutama apabila disertai dengan hipoksemia. Keadaan ini dapat terjadi
selama proses mekanisme overventilasi dengan respiratori atau pada tempat yang tinggi
akibat hiperventilasi. Karena hiperventilasi juga dapat menurunkan-aiiran darah serebral
karena penurunan PaC02, maka iskemia serebral juga sering menimbulkan gejala-geiala
seakan-akan kepalanya ringan. Darah yang disimpan kehilangan aktivitas 2,3-DPG sehingga
afinitas hemoglobin terhadap oksigen meningkat. Karena itu, pasien yang diberi transfusi
darah simpanan dalam jumlah banyak mungkin akan mengalami gangguan pelepasan oksigen
ke jaringan -jaringan karena pergeseran kurva disosiasi oksihemoglobin ke kiri.
Afinitas hemoglobin didefinisikan secara populer dengan P02 yang dibutuhkan untuk
menghasilkan kejenuhan 50 persen, dan mudah diukur dalarn laboratorium modern. Dalam
keadaan normal P50 sekitar 27 mm Hg. Terbukti bahwa bila kurva disosiasi bergeser ke
kanan (pengurangan afinitas hemoglobin terhadap oksigen) maka P50 akan meningkat,
sedangkan pada pergeseran kurva ke kiri (peningkatan afinits hemoglobin terhadap oksigen
p50 akan turun.
Karbon monoksida mempunyai afinitas terhadap hemoglobin sekitar 250 kali lebih besar darp
pada afinitas oksigen terhadap hemoglobin. Kalau carbonmonoksida dihirup maka akan
berkaitan dengan karboksihemoglobin, maka reaksi tersebut tidak reversibel. Sehingga
jumlah hemoglobin yang tersedia untuk transport oksigen berkurang.

TRANSPORT KARBON DIOKSIDA DALAM DARAH


Transport CO2 dari jaringan keparu-paru melalui tiga cara sebagai berikut:
1. Secara fisk larut dalam plasma (10 %)
2. Berikatan dengan gugus amino pada Hb dalam sel darah merah (20%)
3. ditransport sebagai bikarbonat plasma (70%)
Karbon dioksida berikatan dengan air dengan reaksi seperti dibawah ini:
CO2 + H2O = H2CO3 = H+ +HCO3-
Reaksi ini reversibel dan dikenal dengan nama persamaan dapa asam bikarbonat-asam
karbonik. Hiperventilasi adalah ventilasi alveolus dalam keadaan kebutuhan metabolisme
berlebihan à alkalosis sebagai akibat eksresi CO2 berlebihan keparu-paru. Hipoventilasi
adalah ventilasi alveoli yang tak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme, sebagai akibat dari
retensi CO2 oleh paru-paru.

PENGATURAN RESPIRASI
Respirasi diatur/dikontrol di:
1. Medulla Oblongata
2. Pons
Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena
dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer.
2. Menyaring bahan beracun dari sirkulasi
3. Reservoir darah
4. Fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas
Berikut ini adalah gambar anatomi paru-paru:
http://iwansain.wordpress.com/2007/07/25/anfis-saluran-pernafasan/

Emboli (Embolus)
Teman sejawat, anda harus berhati-hati pada keadaan terjadinya embolism didalam pembuluh
darah, karena emboli tersebut bisa merenggut nyawa pasien apabila terjadi sumbatan pada
organ-organ vital seperti arteri pulmonalis, arteri coroner, arteri renalis, dan arteri cereberal.
bahkan banyak pasien meninggal akibat pemasangan infus yang ternyata terjadi pembentukan
emboli udara. tentunya hal ini harus menjadi perhatian yang serius.Baiklah, untuk lebih
memahami emboli, berikut ini akan saya paparkan sebagai berikut:
Apakah emboli itu ?
Adalah suatu benda asing yang tersangkut pada suatu tempat dalam sirkulasi darah. Benda
tersebut ikut terbawa oleh aliran darah, dan berasal dari suatu tempat lain daripada susunan
sirkulasi darah.
Embolus (95 %) berasal dari trombus.
Proses terbentuknya embolus disebut embolism
Jenis Embolus
• Berupa benda padat berasal dari trombus, kelompok sel tumor, kelompok bakteri, jaringan
• Embolus bersifat cairan dapat berupa zat lemak, cairan amnion
• Embolus bersifat gas dapat berupa udara, gas nitrogen, carbon dioksida
Embolus sering ditemukan pada vena, arteri, pembuluh limfe dan jantung
Akibat - Akibat yang ditimbulkan oleh embolus
• Menimbulkan kematian mendadak
• Kematian jaringan atau infark
• Embolus septik à sarang - sarang infeksi baru dan abses-abses baru
• Metastasis tumor ganas
Apa yang dimaksud dengan Embolus Vena
Berasal dari vena, tungkai bawah kemudian dari vena dalam pelvis
Embolus —> mengikuti pengaliran vena —> vena yang lebih besar —> vena cava —>
jantung kanan -–> tersangkut dalam sirkulasi paru —> sumbatan /oklusi a. pulmonalis shg
tdp blokade sirkulasi pulmonal —> insufisiensi a. coronaria dan infark miokard, anoksemia,
anoksia umum —> kematian mendadak
Adanya refleks vagal pulmo coronary —> menimbulkan spasme pada pembuluh paru dan
koroner -–> kematian mendadak
Embolus paru-paru yang besar jarang menimbulkan infark krn pasien sudah meninggal
terlebih dahulu. Embolus paru-paru sering disertai infark terutama pada lobus kanan bawah

Apa yang dimaksud Embolus Arteri ?


Berasal dari trombus mural dalam jantung, trombus yang melekat pada empang-empang
jantung dan aorta
Embolus arteri sering mengenai otak, ginjal, limpa, dan anggota tubuh bawah.
Embolus dalam a. mesenterica —> infark usus
Embolus dalam a. coronaria —> kematian mendadak
Apa yang dimaksud dengan Embolus Lemak??
Lemak ini masuk kedalam sirkulasi darah dan menyumbat arteri atau kapiler shg menjadi
suatu embolus –> menyebabkan kematian
Embolus lemak paling sering terjadi karena trauma tulang atau jaringan lemak yaitu patah
tulang panjang terutama femur dan tibia yang disertai kerusakan sum-sum tulang juga terjadi
pada masa nifas. Selain itu juga terjadi pada : akibat luka bakar pada kulit ; pada radang yg
mengenai tulang atau jaringan lemak ; pada perlemakan hati akibat gizi buruk atau
alkoholisme
Apa itu Embolus cairan amnion?
Keadaan ini jarang ditemukan, gejala-gejalanya adalah:
• sesak nafas
• Shock
• Kematian mendadak yg tidak disangka-sangka pada wanita yang sudah melahirkan atau
dalam masa nifas
Embolus dalam a. pulmonalis mengandung carik-carik jaringan epitel kulit bayi, verniks
caseosa, lendir dan lanugo
Apa itu Embolus Gas?
Gelembung-gelembung gas masuk kedalam susuna sirkulasi sehingga menyumbat dan dapat
menimbulkan kematian misalnya pada tindakan vaginal douche.
Dapat juga disebabkan oleh pembedahan thoraks akibat vena besar terpotong atau sobek.
Dapat juga disebabkan oleh transfusi darah atau infus cairan intravena.
Penulis harapkan, anda lebih profesional dalam memberikan asuhan keperawatan terutama
pada suatu keadaan yang dapat menimbulkan keadaan emboli pada pasien.
———-
http://iwansain.wordpress.com/2007/09/20/embolus/

Trombus
Bahaya yang diakibatkan oleh trombus hampir sama dengan emboli. kedua-duanya
menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah, hanya saja yang membedakan adalah proses
terjadinya sumbatan. Trombus lebih mengarah pada cedera sel endotel pembuluh darah yang
menyebabkan agregasi trombosit untuk pemulihan jaringan yang rusak, tapi terkadang proses
ini dapat menyumbat aliran darah sehingga ia dikatakan trombus.Untuk lebih memahami
konsep yang berhubungan dengan trombus, silahkan anda baca penjelasan dibawah ini:

Apakah trombus itu?


Adalah suatu unsur benda yang tersusun oleh dan dari unsur-unsur darah didalam pembuluh
darah atau jantung sewaktu masih hidup
Trombosis -–> Proses pembentukan trombus
Bagaimana Pembentukan dan Struktur Trombus?
Secara normal -–> darah mengalir tetap cair karena adanya keseimbangan tertentu yang
sangat kompleks, namun dalam keadaan tertentu keseimbangan ini dapat terganggu shg
terjadi trombosis.
Pada keadaan ini trombosit melekat pd permukaan endotel pembuluh atau jantung. Darah yg
mengalir –> banyaknya trombosit melekat pd tempat tersbt –> trombosit dpt saling melekat –
> terbentuk suatu massa yang menonjol kedalam lumen.
Pd saat tertentu bila aliran darah cepat (spt dlm arteri-arteri), massa yang terbentuk dari
trombosit akan terlepas dari dinding pembuluh tetapi kemudian diganti dengan trombosit
yang lain
Jika terjadi kerusakan pada trombosit -–> dilepaskan suatu zat tromboplastin, zat inilah yang
merangsang proses pembentukan bekuan darah. Tromboplastin akan mengubah protrombin
—> trombin yang bereaksi dengan fibrinogen -–> fibrin. Selain itu trombin menyebabkan
pecahnya trombosit —> pembentukan tromboplastin
Trombus mempunyai bentuk khas tda lapisan trombosit dan diliputi oleh Leukosit, eritrosit
dan fibrin. Dari luar permukaan trombus nampak sebagai batu karang dengan garis-garis –>
Line of zahn. Trombus warnanya putih dan merah berbutir-butir. Bila dipotong maka tampak
garis-garis yang berlapis-lapis putih kelabu
Apa yang menyebabkan trombus?
Menurut virchow bahwa trombus terbentuk karena tiga faktor yaitu:
• Perubahan pada permukaan endotel pembuluh darah
• Prubahan pada aliran darah
• Perubahan pada konstitusi darah
Ad 1. Perubahan pada permukaan endotel
Kerusakan endotel —> perubahan potensial listrik —> trombosit mudah melekat pada
endotel. Trombosis ini dapat terjadi pada keadaan:
• Atherosclerosis
• Radang pembuluh darah spt polyarteritis nodusa, thromboangitis obliterans, throbolplebitis
• Trombosis pada endocard yang melapisi lapisan jantung yg mengalami infark myocard dan
pada endocarditis
• Ruda paksa (trauma)
Ad 2. Perubahan aliran darah
Trombosit mengalir pada zone perifer dan dibatasi dari dinding pembuluh oleh zone plasma.
Bila aliran darah melambat maka trombosit masuk kedalam zone plasma shg kontak dengan
endotel bertambah
Bila aliran darah melambat —> trombosit akan menepi —> mudah melekat pada dinding
pembuluh darah.
perubahan aliran darah lebih sering pada vena daripada arteri. Trombus juga sering terjadi
pada keadaan varices —> vena-vena yang melebar.
Varices sering ditemukan pada tempat-tempat berikut ini:
• Vena-vena tungkai bawah yang superfisial
• Pleksus pampiniformis
• Pleksus hemorrhoidalis
• Ujung distal esofagus
Ad 3. Perubahan pada konstitusi darah
Trombosit dalam jumlah yang lebih banyak lebih memudahkan terbentuknya trombus karena
bersifat lebih mudah terjadi perlekatan (adhesif) keadaan ini dapat dijumpai pada:
• Masa nifas (2-3 kali lebih dari normal)
• Infark paru-paru
• Tumor ganas
• Thromboplebitis
• Thromboangitis obliterans
Trombosis dpt juga ditemukan pada penyakit darah seperti polycytemia, pada penyakit yang
disertai ‘sludged blood’, sel-sel darah bergumpal-gumpal —> aliran darah melambat. sel-sel
tumor ganas membentuk tromboplastin

MACAM-MACAM TROMBUS
• Occlusive trombus adalah trombus yang menyebabkan lumen pembuluh tersumbat.
• Propagating trombus adalah masa yang dibentuk sepanjang pembuluh yang terbendung dan
merupakan perpanjangan trombus
• Saddle/riding trombus adalah trombus dapat memanjang dan masuk kedalam cabang
pembuluh
• Mural/parietal trombus adalah trombus dengan melekat pada dinding pembuluh darah dan
bagian yang melekat pada dinding pembuluh darah dan bagian yang terlepas seolah-olah
berenang dalam darah tanpa menyebabkan oklusi pembuluh (pembuluh darah besar)
• Pedinculated trombus adalah trombus mural dalam jantung yang bertangkai panjang
• Ball trombus (bisa dikatakan embolus) adalah pedinculated trombus yang lepas dan hanyut
terbawa aliran darah, krn besar dapat tersangkut dan tidak dapat melewati ostium

Trombus menurut warnanya:


• Red trombus à t.u tda eritrosit
• White trombus à sebagian besra tda leukosit
• Mixed trombus à jenis trombus yang terbanyak
Dapat juga dibedakan menurut lamanya terjadi trombus yaitu:
• Fresh trombus
• Old trombus
Selain itu juga dibedakan:
• Septic trombus à trombus yang mengandung sarang-sarang kuman
• Bald atau sterile trombus à trombus tanpa kuman
Trombus dapat dibentuk dalam :
• Arteri
• Vena
• Jantung
Dalam pembuluh limfe tidak terbentuk trombus karena pada pembuluh limfe tidak terdapat
trombosit jadi hanya dapat terjadi coagulum
Trombus paling sering ditemukan pada :
• Vena saphena magna dan
• Vens-vena profunda betis selain itu juga terdapat pada vena pelvis, mesenterium dan vena
pelvis
Trombus arteri sering terjadi pada :
• Tungkai bawah
• A. coronaria
• A. renalis
• A. mesentrica
Akibat-akibat trombus
• Bergantung pada besar dan jenis trombus
• Pembuluh yang terkena, dan
• Terdapat tidaknya kolateral yang cukup baik
Trombus yang terbentuk dalam vena menimbulkan:
• Stasis darah
• Bendungan pasif
• Edema dan kadang-kadang nekrosis
Trombus yang terbentuk dalam arteri menimbulkan:
• Ischemi
• Nekrosis
• Infark atau gangren

Bagaimana Nasib Trombus?


Trombus terlepas jadi embolus —> hanyut oleh darah —> tersangkut menyumbat arteri yang
jauh —> trombus yang menetap -–> lama -lama mengalami perubahan —> benda-benda
yang membentu trombus akan dirobek —> fibrin menghilang -–> massa homogen -—>
proses organisasi
Dari tepi tempat trombus melekat —> masuk fibroblas dan kapiler-kapiler —> ruang
terbentuk akibat lisis —> ruang ini melebar dan sambung menyambung merupakan saluran
yang berisi darah -–> trombus ditembus oleh saluran baru yg dapat mengalirkan darah lagi -–
> rekanalisasi

DAFTAR PUSTAKA

http://iwansain.wordpress.com/2007/09/20/trombus-apa-itu-trombus/

Posted by ARWIN LIM at 02:21 0 comments

PENGATURAN SUHU TUBUH

PENGATURAN SUHU TUBUH(Thermoregulasi)

Pendahuluan
Memahami konsep pengaturan suhu tubuh penting karena sangat berguna dalam hal
penellitian atau persoalan di klinik seperti :
1. Persoalan demam pada penyakit-penyakit
2. Persoalan pemberian hypothermic pada kasus pembedahan (bedah jantung)
3. Terapi pada kasus yang disebabkan panas berlebihan (Heat stroke) atau pada kasus
kedinginan yang ekstrem
4. Masalah-masalah militer (latihan dilapangan panas terbuka), ruang angkasa, atau ditempat
-tempat yang memungkinkan mempunyai panas yang ekstrem
Manusia dan binatang menyusui mempunyai kemampuan untuk memelihara suhu tubuh
relative konstan dan berlawanan dengan suhu lingkungan. Kepentingan dipertahankan suhu
tubuh pada manusia adalah berhubungan dengan reaksi kimia didalam tubuh kita. Mis
kenaikan suhu 100 C bisa mempercepat proses biologis 2 - 3 kalinya.
Suhu inti (core temperature) manusia berfluktuasi + 10 C dalam kegiatan sehari-hari.
Misalnya paling rendah adalah pada waktu pagi hari (jam 4 - 6 subuh) dan mencapai
puncaknya pada sore hari (jam 2 - 3 sore).

PRINSIP PENGATURAN SUHU TUBUH


Konsep Core temperature yaitu dianggap merupakan dua bagian dalam soal pengaturan suhu
yaitu :
Bagian dalam inti suhu tubuh, yang benar- benar mempunyai suhu rata-rata 370 C, yaitu
diukur pada daerah (mulut, otot, membrane tympani, vagina, esophagus.(Tr)
Bagian luar adalah temperature kulit + 1/3 massa tubuh yaitu penukaran kulit sampai + 2 cm
kedalam.(Ts)
Dari dua bagian tersebut dapat disimpulkan bahwa temperature suhu tubuh rata-rata (tmb :
Temperatur Mean Body) dengan rumus ;
TMB = 0,33 Ts + 0.67 Tr

Organ Pengatur Suhu Tubuh


Pusat pengatur panas dalam tubuh adalah Hypothalamus, Hipothalamus ini dikenal sebagai
thermostat yang berada dibawah otak.
Hipothalamus anterior berfungsi mengatur pembuangan panas
Hipothalamus posterior berfungsi mengatur upaya penyimpanan panas
Mekanisme pengaturan suhu
Kulit –> Reseptor ferifer –> hipotalamus (posterior dan anterior) –> Preoptika hypotalamus –
> Nervus eferent –> kehilangan/pembentukan panas

SUMBER PANAS
1. Metabolisme
Kegiatan metabolisme tubuh adalah sumber utama dan pembentukan/pemberian panas tubuh.
Pembentukan panas dari metabolisme dalam keadaan basal (BMR) + 70 kcal/jam sedang
pada waktu kerja (kegiatan otot) naik sampai 20%.
2. Bila dalam keadaan dingin seseorang menggigil maka produksi panas akan bertambah 5
kalinya.
PELEPASAN PANAS
1. Penguapan (evaporasi)
Penguapan dari tubuh merupakan salah satu jalan melepaskan panas. Walau tidak
berkeringat, melalui kulit selalu ada air berdifusi sehingga penguapan dari permukaan tubuh
kita selalu terjadi disebut inspiration perspiration (berkeringat tidak terasa) atau biasa disebut
IWL (insensible water loss).
Inspiration perspiration melepaskan panas + kulit. Dari jalan10 kcal/jam dari permukaan
panas dari metabolism pernafasan + 7 kcal/jam e dikeluarkan dengan cara evaporasi 20 -
25%.
2. Radiasi
Bila suhu disekitar lebih panas dari badan akanpermukaan tubuh menerima panas, bila
disekitar dingin akan melepaskan panas. Proses ini terjadi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik dengan kecepatan seperti cahaya radiasi.
3. Konduksi
Perpindahan panas dari atom ke atom/ molekul ke molekul dengan jalan pemindahan berturut
turut dari energi kinetic. Pertukaran panas dari jalan ini dari tubuh terjadi sedikit sekali
(kecuali menyiram dengan air)
4. Konveksi
Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada
tubuh akanpada waktu dingin udara yang diikat/dilekat menjadi dipanaskan (dengan
melalui konduksi dan radiasi) kurang padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin.
Biasanya ini kurang berperan dalam pertukaran panas.

Pengaturan Suhu Tubuh Pada Keadaan dingin


Ada dua mekanisme tubuh untuk keadaan dingin yaitu :
1. Secara fisik (prinsif-prinsif ilmu alam) Yaitu pengaturan atau reaksi yang terdiri dari
perubahan sirkulasi dan tegaknya bulu-bulu badan (piloerektion) –> erector villi
2. Secara kimia yaitu terdiri dari penambahan panas metabolisme.
Pengaturan secara fisik Dilakukan dengan dua cara :
1. Vasokontriksi pembuluh darah (cutaneus vasokontriksi)
Pada reaksi dingin aliran darah pada jari-jari ini bias berkurang + 1% dari pada dalam
keadaan panas. Sehingga dengan mekanisme vasokontriksi maka panas yang keluar dikurangi
atau penambahan isolator yang sama dengan memakai 1 rangkap pakaian lagi.
2. Limit blood flow slufts (Perubahan aliran darah)
Pada prinsifnya yaitu panas/temperature inti tubuh terutama akan lebih dihemat
(dipertahankan) bila seluruh anggota badan didinginkan
Pengaturan secara kimia
Pada keadaan dingin, penambahan panas dengan metabolisme akan terjadi baik secara
sengaja dengan melakukan kegiatan otot-otot ataupun dengan cara menggigil. Menggigil
adalah kontraksi otot secara kuat dan lalu lemah bergantian, secara synkron terjadi kontraksi
pada group-group kecil motor unit alau seluruh otot. Pada menggigil kadang terjadi kontraksi
secara simultan sehingga seluruh badan kaku dan terjadi spasme. Menggigil efektif untuk
pembentukan panas, dengan menggigil pada suhu 50 c selama 60 menit produksi panas
meningkat 2 kali dari basal, dengan batas maximal 5 kali.

PENGATURAN SUHU TUBUH DALAM KEADAAN PANAS


1. Fisik
• Penambahan aliran darah permukaan tubuh
• Terjadi aliran darah maximum pada anggota badan
• Perubahan (shift) dari venus return ke vena permukaan
Proses ini terutama efektif pada keadaan temperature kurang/dibawah 340 C. aliran
darahpenambahan penambahan konduktivitas panas (thermal konduktivity)
2. Keringat
• Pada temperature diatas 340 C, pengaturan sirkulasi panas tidak cukup dengan radiasi,
dimana pada kondisi ini tubuh mendapat panas dari radiasi. mekanisme panas yang
(evaporasi).dipakai dalam keadaan ini dengan cara penguapan
• Gerakan kontraksi pada kelenjar keringat, berfungsi secara periodic memompa tetesan
cairan keringat dari lumen permukaankeringat kulit merupakan mekanisme pendingin yang
paling efektif.

MEKANISME DEMAM
• Demam adalah peningkatan titik patokan (set-point) suhu di hipotalamus. Dengan
meningkatkan titik patokan tersebut, maka hipotalamus mengirim sinyal untuk mningkatkan
suhu tubuh. Tubuh berespons dengan menggigil dan meningkatkan metabolisme basal.
• Demam timbul sebagai respons terhadap pembentukan interleukin-1, yang disebut pirogen
endogen.
• Interleukin-1 dibebaskan oleh neutrofil aktif, makrofag, dan sel-sel yang mengalami cedera.
• Interlekin-1 tampaknya menyebabkan panas dengan menghasilkan prostaglandin yang
merangsang hipotalamus.

DAFTAR PUSTAKA
http://iwansain.wordpress.com/2007/10/03/pengaturan-suhu-tubuh-thermoregulasi/

Posted by ARWIN LIM at 02:04 0 comments

DEMAM BERDARAH

DEMAM BERDARAH DENGUE

Merupakan suatu penyakit demam yang dapat disebabkan oleh 4 macam tipe virus dengue
dan klinis ditandai dengan fenomena perdarahan dan cenderung menyebabkan sindroma syok
yang dapat menimbulkan kematian.
Penyebabnya adalah virus dengue, yang merupakan Flavi virus, termasuk dalam
Chikungunya famili Toga virus. Vektor pembawanya adalah nyamuk Aedes aegypti dan
albopictus. Penyakit ini dapat menjadi epidemi, dan terbanyak pada waktu musim hujan.
Gambaran penyakitnya berupa panas naik mendadak selama 2-7 hari, kemudian turun sampai
batas normal, disertai gejala nonspesifik (lemah, mual, pusing, dan sebagainya). Terkadang
disertai dengan perdarahan spontan. Pemeriksaan dengan test torniquet timbul rash pada
kulit. Dapat pula diikuti dengan pembesaran hati. Fase penyembuhan terjadi dengan cepat,
yaitu 2-3 hari. Pada laboratorium darah perifer tampak penurunan sel darah putih dan
trombosit, sedangkan hematokrit menjadi meningkat. Kita harus hati-hati dengan penyakit ini
karena dapat timbul syok akibat kegagalan sirkulasi tubuh.

Ada empat tingkat beratnya/klasifikasi penyakit ini :


Tingkat I : demam dengan tanda-tanda nonspesifik disertai test torniquet positif.
Tingkat II : tingkat I ditambah dengan perdarahan spontan di kulit/tempat lain.
Tingkat III : kegagalan peredaran darah, ditandai dengan nadi cepat, lemah, hipotensi, dan
kulit dingin.
Tingkat IV : telah terjadi syok, tekanan darah tidak terukur dan nadi tidak/sulit teraba.
Bila menemui penderita dengan demam berdarah dengue, harap segera membawa ke rumah
sakit setempat untuk dilakukan pemberian cairan intravena ataupun pengobatan lainnya.
Dengan penatalaksanaan yang tepat dan cepat penderita dapat sembuh seperti sedia kala.

Posted by ARWIN LIM at 01:59 0 comments

Kamis, 2007 Oktober 11

INTERNET

INTERNET: Pengertian, Sejarah, dan Fasilitas-Fasilitasnya

Apakah INTERNET itu?

Istilah INTERNET berasal dari bahasa Latin inter, yang berarti “antara”. Secara kata per kata
INTERNET berarti jaringan antara atau penghubung. Memang itulah fungsinya, INTERNET
menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling bergantung pada satu sama lain
sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berkomunikasi. Sistem apa yang digunakan pada
masing-masing jaringan tidak menjadi masalah, apakah sistem DOS atau UNIX.

Sementara jaringan lokal biasanya terdiri atas komputer sejenis (misalnya DOS atau UNIX),
INTERNET mengatasi perbedaan berbagai sistem operasi dengan menggunakan “bahasa”
yang sama oleh semua jaringan dalam pengiriman data. Pada dasarnya inilah yang
menyebabkan besarnya dimensi INTERNET.

Dengan demikian, definisi INTERNET ialah “jaringannya jaringan”, dengan menciptakan


kemungkinan komunikasi antar jaringan di seluruh dunia tanpa bergantung kepada jenis
komputernya.

Kesimpulan:
· Definisi INTERNET : Internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan
jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana hubungan
tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit) yang menggunakan
protokol standar dalam berkomunikasi yaitu protokol TCP/IP.
· Fungsi : Internet merupakan media komunikasi dan informasi modern.

Sejarah terbentuknya INTERNET

Banyak hal di INTERNET hanya dapat dimengerti dengan mengetahui latar-belakang


perkembangannya.

ARPANet
Pada tahun 1969 ARPA (Advanced Research Project Agency), sebuah bagian dalam
kementerian Pertahana Amerika Serikat memulai sebuah proyek, yang di satu sisi
menciptakan jalur komunikasi yang tak dapat dihancurkan dan disisi lain memudahkan
kerjasama antar badan riset diseluruh negeri, seperti juga industri senjata. Maka terbentuklah
ARPANet.

Bila pada awalnya komputer sejenis yang melakukan pertukaran data, bertambahnya
komputer dengan berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru komunikasi yang tak
terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan.
Internetting Project
Untuk itu dibuat Internetting Project, yang mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah
dicapai dalam ARPANet, agar media komunikasi baru ini juga dapat dimanfaatkan oleh
berbagai sistem komputer yang tergabung. Kemudian vendor-vendor komputer meramaikan
lalu lintas jaringa tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.

Protokol INTERNET: TCP/IP

Seperti telah disebutkan di atas, INTERNET terbentuk dari jaringan-komputer yang tersebar
di seluruh dunia. Masing-masing jaringan-komputer terdiri dari tipe-tipe komputer yang
berbeda dengan jaringan yang lainnya. Maka diperlukan sebuah protokol yang mampu
mengintegrasikan seluruh jaringan komputer tersebut.

Solusinya adalah sebuah protokol pengiriman data yang tak bergantung pada jenis komputer
dan digunakan oleh semua komputer untuk saling bertukar data. Agar data tidak hanya dapat
dikirim dan diterima, melainkan juga dapat dimanfaatkan oleh setiap komputer, diperlukan
program standar yang mengolah data tersebut pada sistem yang berkaitan.

Protokol pengiriman merupakan sebuah konvensi (kesepakatan) yang menetapkan dengan


cara apa data dikirimkan dan bagaimana kesalahan yang terjadi dikenali serta dipecahkan.
Secara sederhana prose pengiriman data terdiri atas dua langkah.

Pertama, data yang akan dikrimkan (misalnya sebuah file teks) dibagi ke dalam paket data
berukuran data berukuran sama (paket), kemudian dikirimkan satu per satu. Di Internet,
protokol ini disebut IP (Internet Protocol).

Kedua, harus dijamin setiap paket data sampai ke alamat yang benar dan semuanya benar
diterima. Untuk itu diperlukan protokol lainnya, yaitu Transmission Control Protocol (TCP)
mengaitkan sebuah blok data pada paket data IP, yang antara lain mengandung informasi
mengenai alamat, jumlah total paket data dan urutan setiap paket yang membentuk paket
tersebut. Hanya secara bersamaan kedua protokol membentuk kesatuan yang berfungsi,
karena itu biasanya disebut TCP/IP.

Dengan adanya TCP/IP ini, INTERNET memiliki 3 keuntungan :


· Memberi kesempatan INTERNET menggunakan jalur komunikasi yang sama untuk
pemakai yang berbeda pada saat yang sama. Karena paket-paket data tidak perlu dikirimkan
bersama-sama, jalur komunikasi dapat membawa segala tipe paket data sementara mereka
dikirimkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Sebagai contoh, bayangkan sebuah
jalan raya di mana mobil bergerak sepanjang jalan yang sama walaupun mereka menuju ke
tempat-tempat yang berbeda-beda.
· Memberi INTERNET fleksibilitas. Sementara paket-paket data bergerak, mereka bergerak
dari satu host ke host lain sampai mencapai tujuan akhir. Jika sebuah jalur komunikasi tidak
berfungsi, sistem yang mengontrol aliran data dapat menggunakan jalur alternatif. Maka,
paket-paket data dapat bergerak melalui jalur-jalur yang berbeda-beda.
· Meningkatkan kecepatan transmisi data. Sebagai contoh, jika terjadi kesalahan, TCP
meminta host asal mengirm kembali hanya paket-paket data yang mengandung kesalahan,
bukan semua paket data. Ini berarti meningkatkan kecepatan transmisi data.

Cara akses ke INTERNET


1. Sambungan langsung ke Network
Anda dapat menggunakan sebuah komputer yang secara langsung mempunyai hubungan ke
INTERNET. Sebagai contoh, Anda mungkin menggunakan sebuah PC yang merupakan
bagian dari sebuah jaringan komputer yang mempunyai hubungan ke INTERNET. Dalam
kasus ini, sistem Anda menjadi host INTERNET penuh, yaitu mempunyai alamat elektronik
tersendiri.

2. Sambungan dengan menggunakan SLIP/PPP


Untuk menggunakan hubungan dial-up telepon, Anda memerlukan sebuah alat untuk
mengkonversi sinyal komputer (digital) menjadi sinyal telepon (analog), dan sebaliknya. Alat
untuk mengkonversi sinyal digital ke sinyal analog disebut modulator. Sedang, alat untuk
mengkonversikan sinyal analog ke sinyal digital disebut demodulator. Untuk mengakses ke
INTERNET melalui hubungan telepon, Anda memerlukan sebuah modem (modulator-
demodulator). Selain itu diperlukan juga TCP/IP dan software SLIP atau PPP seperti Linux,
Warp, dll.

3. Sambungan langsung ke On-line Service seperti BBS, Compuserve.


Untuk menjadi sebuah host INTERNET tanpa harus memiliki hubungan full-time ke
INTERNET (yang umumnya sangat mahal), ada sebuah cara mensetup sebuah host
INTERNET melalui hubungan telepon. Untuk melakukan hal tersebut, Anda perlu
mengadakan perjanjian dengan sebuah host INTERNET yang lain yang bertindak sebagai
titik hubungan. Selanjutnya, diperlukan sejumlah program yang disebut sebagai PPP (Point to
Point Protocol) dan SLIP (Serial Line Internet Protocol) dalam workstation. Setelah
workstation menghubungi host INTERNET melalui jalur telepon, PPP menyediakan
kemampuan TCP/IP untuk workstation tersebut.

Domain Name System

Tentunya juga harus ada sebuah metode yang memungkinkan pengiriman kepada masing-
masing komputer di INTERNET. Pada awalnya disusun sebuah daftar yang memuat nama
semua jaringan yang tergabung dalam INTERNET. Dengan tingkat pertumbuhan
INTERNET yang sangat tinggi tidak mungkin lagi menjaga daftar-daftar tetap aktual. Karena
Internet menggunakan sebuah sistem alamat yang dapat diolah oleh komputer khusus
(disebut Router), yang terdapat antara masing-masing jaringan.

Alamat IP

Sebuah alamat IP terdiri atas sebuah angka biner 32-bit, yang menggambarkan lokasi
jaringan hingga komputer dalam jaringan tersebut yang harus dicapai. Dari sanalah Router
memilih jalur yang paling menguntungkan.
Artinya, Internet menentukan sendiri jalan “melalui” banyak jaringan yang tergabung antara
dua tempat, sehingga hampir tak mungkin merusak media komunikasi ini. Bila misalnya
sebuah kabel penghubung rusak oleh pekerjaan galian tanah, INTERNET mengalihkan
pengiriman paket ke jalur lain. Hal ini disebut Dynamic Rerouting.

Alamat DNS

Karena angka biner tidak mudah diingat, maka dikembangkan sistem Domain Name System
(DNS). Disini alamat disusun dalam sebuah hierarki berbagai wilayah (domain = wilayah),
yang mewakili sebuah kelompok host
tertentu. Host adalah komputer dalam jaringan lokal (LAN) atau Wide Area Network
(WAN), yang diakses oleh komputer lain dalam jaringan tersebut.

Agar penyampaian otomatis oleh Router tetap berfungsi, angka biner tetap digunakan. Bila
Anda memberikan sebuah alamat DNS, pertama-tama data dikirimkan ke sebuah Server dan
diubah menjadi alamat Ip yang dapat dibaca oleh Komputer.

Contoh berikut ini akan menjelaskan sistem alamat DNS. Seperti pada alamat IP, alamat
tersebut juga mengandung informasi yang dibutuhkan untuk identifikasi komputer yang
diingikan. Setiap bagian alamat DNS harus dipisahkan dengan sebuah titik.

Gopher.bppt.id

Gopher adalah nama sebuah komputer dalam jaringan “bppt”dalam domain “id”, yang berarti
Indonesia. Seperti Anda lihat pada contoh di atas, mula-mula ditulis nama host yang
diinginkan, disusul oleh bagian-bagian yang semakin besar hingga tingkat tertinggi, yaitu
domain.
Untuk mencapai komputer tersebut, alamat dibaca dari kanan ke kiri. Mula-mula jaringan
tempat Anda mengakses INTERNET menciptakan hubungan dengan Router tertinggi yang
mengelola semua alamat dalam domain “id”.

Domain diatas mewakili sebuah wilayah geografis, singkatan “id” berarti Indonesia. Selain
itu terdapat pula berbagai domain tematik, yang dikenali pada singakatan paling kanan dalam
alamat DNS.

Dengan demikian alamat INTERNET standar adalah : username@domain

Bagaimana mengakses INTERNET?

1. Hardware
Memiliki komputer dengan spesifikasi minimum sebagai berikut :
· PC minimal 386 (486 DX-4 recomended)
· Monitor Super VGA
· RAM 4 MB (8 MB recomended, tergantung program aplikasi)
· Memiliki Communication Port (RS-232)
· Modem dengan kecepatan 14400 BPS atau lebih
· Mouse
· Multi Media (tergantung aplikasi pelayanan INTERNET)
· Mampu menjalankan system Windows
2. Berlangganan dengan ISP (INTERNET Service Provider) atau Online Service
3. Software/Program Aplikasi (tergantung fasilitas INTERNET yang akan digunakan)
· Eudora Light
· Netscape
· Internet Explorer
· Internet Phone
· Net 2 Phone
· Net Meeting
Pelayanan Utama dalam INTERNET

Software yang mendukung Internet menyediakan banyak pelayanan teknis. Bagian ini akan
membahas empat pelayanan INTERNET yang paling penting dan mendasar.

I. Pelayanan Mail
Pelayanan untuk mengirim dan menerima pesan-pesan. Setiap pesan yang dikirim dari satu
sistem ke sistem-sistem yang lain menuju tujuan akhir. Di belakang layar, pelayanan
mail memastikan bahwa pesan-pesan yang dikirim dan diterima secara lengkap pada alamat
yang benar.
II. Pelayanan telnet
Pelayanan yang memberikan kesempatan Anda menghubungi sistem remote atau sistem yang
terletak di tempat yang jauh. Sebagai contoh, Anda dapat menggunakan telnet untuk
menghubungi sebuah host/provider di negara lain. Setelah Anda menghubungi host tersebut,
Anda dapat login ke host tersebut (username dan password yang sah). Setelah itu Anda dapat
bertukar data melalui INTERNET.
III. Pelayanan File Transfer Protocol (FTP)
Pelayanan transfer file dari satu sistem ke sistem lain. Dalam INTERNET, Anda dapat
mentransfer file dari host ke sebuah host remote. Proses ini disebut uploading, dan sebaliknya
jika Anda mentransfer file dari host remote ke host lokal disebut downloading.
IV. Pelayanan Client/Server
Program Client meminta dukungan program server. Sebagai contoh, Gopher client
menampilkan menu, setelah Anda memilih perintah-perintah dalam menu, Gopher client
menghubungi Gopher server yang sesuai (tidak perduli dimana lokasinya dalam INTERNET)
dan mengeksekusi permintaan Anda.

Jenis-jenis Layanan INTERNET

Electronic Mail (E-mail)


Fungsi : mengirim atau menerima surat ke/dari seluruh penjuru dunia.
Sebagai pemakai INTERNET, Anda dapat mengirim dan menerima pesan dari pemakai
INTERNET lain dari berbagai penjuru dunia. Namum selain pesan-pesan pribadi, dengan E-
mail dapat juga mengirim dan menerima file binary. Maka secara virtual Anda dapat
mengirim dan menerima segala tipe data. Sistem mail INTERNET adalah tulang punggung
(dan motivasi awal) dari INTERNET itu sendiri.
Untuk dapat menerima surat elektronik, Anda harus memiliki kotak pos (mailbox) untuk
menampung surat-surat yang masuk sebelum Anda sempat menbacanya. Sebuah kotak pos
elektronik (electronic mailbox) sama dengan kotak pos dikantor pos. Siapapun bisa mengirim
surat ke kotak pos, tetapi hanya pemiliknya yang bisa meneliti dan membuang isi kotak surat
tersebut.
Alamat kotak pos untuk surat elektronik disebut E-mail address. Sebagai contoh :
budi @indo.net.id
budi : nama user
indo : nama provider
net : network/provider
id : nama domain geografis, yaitu Indonesia
Surat menyurat di INTERNET dilakukan dengan menggunakan program surat elektronik.
Cara penggunaannya sangat mudah bila program dijalankan dibawah user interface grafis
seperti Windows. Saat pengiriman hanya perlu diisikan alamat penerima dan subjek (topik)
surat, kemudian isi surat langsung dapat diketik untuk dikirim. Jika perlu Anda dapat
menyertakan file tertentu untuk dikirim bersama-sama dengan surat tersebut (Attachments).
Program surat elektronik yang popular digunakan adalah Eudora Mail. Eudora Mail
menggunakan protokol yang disebut POP (Post Office Protocol) dan dibuat oleh Qualcomm
Inc.

File Tranfer Protocol (FTP)


Fungsi :mengirim dan menerima file antar host dari seluruh penjuru dunia.
Anonymous FTP memungkinkan pengaksesan ke server FTP dengan login anonymous tanpa
memerlukan password. Anonymous FTP adalah salah satu dari pelayanan dalam Internet
yang cukup penting. Dengan akses ke berbagai anonymous FTP, Anda dapat memperoleh
file-file secara grafis. Anda dapat menemukan program-program, gambar-gambar, majalah
elektronik, artikel-artikel dalam kelompok diskusi tertentu. Salah satu program FTP adalah
WS_FTP.

Tele Networking (TelNet)


Fungsi : mengakses komputer (host/server) dari jauh/Remote login.
Telnet adalah program yang memungkinkan komputer kita menjadi terminal dari komputer
lain di INTERNET. Telnet memungkinkan kita untuk masuk (log in) sebagai pemakai
komputer jarak jauh dan menjalankan program komputer layanan yang ada dikomputer
tersebut.

User’s Network (UseNet)


UseNet adalah sistem kelompok diskusi di mana artikel-artikel didistribusikan ke seluruh
dunia. UseNet memiliki ribuan kelompok diskusi, sehingga tidak heran jika UseNet meliputi
segala macam topik yang mungkin Anda inginkan.

World Wide Web (WWW)


Sering disebut “the WEB”/”W3”, merupakan sistem dalam internet yang memiliki fasilitas
pencarian dan pemberian informasi yang cepat dengan menggunakan teknologi hypertext.
Sebutan World Wide Web (Web=jaring laba-laba) sangat tepat untuk menggambarkan
struktur data pada jaringan INTERNET. Berbeda dengan misalnya susunan data logis
berstruktur pohon yang dikenal dari DOS. WWW memungkinkan penanganan atau akses
yang jauh lebih fleksibel pada file yang dikelola.

Di WWW, struktur sumber daya-INTERNET dapat dibandingkan dengan jaring laba-laba.


Bila dilihat polanya, jaringan ini terdiri atas lingkaran-lingkaran berbagai ukuran yang
berpusat pada titik tengah yang sama. Dari titik tengah ini terbentuk garis-garis penghubung
yang tegak lurus pada lingkaran, sehingga terdapat titik simpul. Bila pada struktur pohon
percabangan merupakan jalur hubungan, pada Web semua garis merupakan penghubung
setiap titik simpul yang mengandung data. Pemilihan disini dilakukan dengan item Hypertext.
Pada titik simpul bisa terdapat sebuah komputer di Internet atau sebuah petunjuk untuk file
tertentu pada sebuah komputer. Hal ini berarti, dengan memilih sebuah item Hypertext
diciptakan hubungan dengan sebuah komputer pada suatu tempat di dunia, dimana Anda
dapat melanjutkan perjalanan atau langsung ke sebuah file tertentu.
“Bahasa” World Wide Web:HTML

Untuk membuat Hypertext, dikembangkan sebuah bahasa pemrograman khusus yang


memungkinkan pengikatan alamat WWW atau file dalam sebuah dokumen. Sesuai dengan
fungsinya, bahasa pemrograman ini disebut Hypertext Mark up Language (HTML). File ini
biasanya berextention *.html. Agar file yang berisi Hypertext ini bisa dikirimkan, diperlukan
protokol pengiriman data yang spesifik yang disebut HyperText Transfer Protocol (HTTP).
Untuk menemukan setiap hubungan Hypertext digunakan Uniform Resource Locator (URL).
Karena itu, halaman WWW juga disebut dokumen URL.
Beberapa alamat browser/search engine di INTERNET :

Nama
Alamat elektronik
Yahoo!
http://www.yahoo.com/
Alta Vista
http://www.altavista.digital.com/
Lycos
http://www.lycos.com/
WebCrawler
http://www.webcrawler.com/
Inktomi
http://www.cs.berkeley.edu/
DejaNews
http://www.dejanews.com/
BimaSakti
http://www.cs.utexas.edu/users/adison/cgi/bimasakti/

Internet Relay Chat (IRC)


Internet Relay Chat/IRC merupakan fasilitas untuk komunikasi langsung dengan
menggunakan keyboard. Anda dapat ambil bagian dalam komunikasi publik dengan
sekelompok orang. Atau, jika Anda inginkan, Anda dapat menggunakan IRC untuk mengatur
komunikasi pribadi dengan orang-orang tertentu, yaitu sejenis teleconference.

Internet Phone/Conference
Fasilitas untuk melakukan percakapan jarak jauh via INTERNET. Untuk itu diperlukan
aplikasi khusus dan dukungan hardware multi media.
WAIS Server
WAIS (Wide Area Information Service) menyediakan cara lain untuk menemukan informasi
yang tersebar dalam INTERNET. WAIS mampu mengakses segala database yang besar
(seperti dokumen, file berisi gambar, video dan suara).

Gopher
Internet menyediakan banyak informasi yang dapat diakses penggunanya lewat sistem menu.
Seorang pengguna INTERNET dihadapkan pada sebuah menu yang bercabang-cabang.
Untuk menuju ke informasi atau data yang dituju, seorang pengguna menyeleksi pilihan-
pilihan yang disediakan hingga masuk ke topik yang diinginkan. Fasilitas demikian disebut
Gopher.

Mailing List
Kelompok diskusi - fasilitas ini dibangun menggunakan teknik yang sama dengan proses
penyebaran surat elektronik. Dengan menggunakan fasilitas ini, sebuah berita/file dapat
didistribusikan ke banyak pengguna sekaligus. Bahkan penggunanya dapat melakukan
diskusi, seminar, ceramah, konferensi secara elektronik tanpa terikat dimensi ruang dan
waktu. Diskusi dapat berlangsung setiap hari tanpa henti. Hasil yang diperoleh akan jauh
lebih efektif daripada penyelenggaraan seminar/konferensi konvesional.
Daftar alamat Mailing List dengan topik ekonomi

Mailing List
Keterangan
Nacubo%ctstatey.bitnet@vm1.nodak.edu
Bisnis,Keuangan, dan Administrasi Pro
Econ-dev@csn.org
Perkembangan ekonomi Internasional
economy@tecmetyvm.mty.itesm.mx
Ekonomi di negara-negara kurang berkembang
gc-INTERNET@uriacc.uri.edu
Ekonomi global
pol-econ@shsu.bitnet
Ekonomi politik

BEBERAPA ISTILAH INTERNET

American OnLine (AOL)


Layanan Komersial yang menyediakan browser Internet-nya sendiri.

Browser
Aplikasi yang ada di komputer Anda, mirip dengan aplikasi pengolah kata atau aplikasi lain,
yang dirancang untuk membaca tipe file data tertentu. Untuk mengakses WWW, Anda
membutuhkan program software internet browser ini.
Browsing-metode untuk menjelajahi WWW Internet. Mem-browse WWW sering disebut
sebagai surfing the Net.

CU-SeeMe
Aplikasi yang memungkinkan konferensi video pada Internet.

Cyberspace
Tempat virtual di mana orang dapat berkomunikasi dan bertemu.

Domain name
Bagian yang membentuk IP address pada Internet. Domain name terdiri dari dua bagian atau
lebih yang terpisah oleh tanda titik. Bagian paling kiri adalah bagian yang paling penting,
menunjukkan tujuannya. Contoh : WWW menunjukkan Web server mail. Sembarang domain
name akan “melebur” menjadi hanya satu IP address yang unik untuk setiap mesin. Bagian
sebelah kanan menunjukkan tipe site. Contoh :.gov menunjukkan negara asal site, misalnya
id menunjukkan negara Indonesia.

E-Mail
Mirip surat pos, tetapi dikirimkan secara elektronik, sehingga tiba ditempat tujuan nyaris
dalam tempo seketika itu juga. E-mail yang berisikan pesan dikirim ke komputer Anda dan
akan terus ada di komputer itu sampai Anda mengambilnya (membuka dan menyimpannya
atau membuangnya).
Eudora
Aplikasi e-mail desktop yang populer karena lingkungan grafis dan kemampuannya untuk
bekerja di hampir semua jenis server (PC maupun Macintosh).

FAQ
Frequently Asked Questions - daftar yang memuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
paling sering diajukan tentang topik tertentu.

FTP (File Transfer Protocol)


Program yang digunakan pada komputer berbasis Windows untuk mentransfer file (software
atau dokumen) pada Internet.

GIF (Graphics Interchange Format)


Jenis image yang seringkali dipakai pada web pages karena kemampuannya untuk me-render
warna latar belakang sebagai transparan.

Gopher
Program berbasis teks yang digunakan untuk mem-browser daftar menu Internet pada
berbagai server gopher.

Home Page
Halaman-halaman yang menampung berbagai informasi dari suatu perusahaan, institusi atau
pribadi. Contoh White House home page berisikan informasi politik dan kebijakan Presiden
AS.

HTML
HyperText Markup Language - bahasa standar yang digunakan browser Internet untuk
membuat halaman dan dokumen yang dipajang pada Web. Selain memungkinkan komputer
berkomunikasi, HTML juga menyediakan link di antara file-file yang ada di komputer yang
berbeda dan dipisahkan oleh jarak yang jauh.

HTTP
HyperText Transfer Protocol - protokol yang memungkinkan bermacam-macam komputer
yang saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa HTML.

HyperLink
Bagian dari Web page yang menghubungkan Anda ke file lain, menyediakan seamless link
(hubungan) ke file-file pada komputer lain. Biasa dikenal sebagai link. Mengklik hyperlink
berarti mem-browse WWW dan mengunjungi berbagai lokasi.

Hypermedia document
File data berisi banyak informasi yang dikirimkan melalui Internet ke komputer Anda dan
dimunculkan secara grafis dalam cara yang user friendly.

Hypertext
Salah satu cara untuk me-link banyak file. Teks yang mengandung hypertext biasanya
digarisbawahi. Untuk melihat ‘kait’nya Anda cukup mengklik pada teks tersebut.

Internet
Jaringan komputer dunia yang menghubungkan jaringan-jaringan komputer komersiah
regional di seluruh dunia.

Intranet.
Pemanfaatan Internet dalam LAN untuk menghubungkan oran-orang dalam satu perusahaan
tanpa berhubungan dengan dunia luar.

IP address
Alamat IP yang terbentuk dari empat angka yang dipisahkan oleh tanda titik. Alamat yang
bersifat unik ini akan diberikan setelah Anda mengirimkan e-mail ke
Hostmaster@INTERNIC.NET.

ISP (Internet Service Provider)


Perusahaan penyedia jasa koneksi ke Internet.

Java
Bahasa pemrograman berbasis-obyek yang sederhana, dan tidak tergantung pada platform
dan sistem operasi. Bahasa ini dikembangkan oleh Sun Microsystems dan digunakan untuk
membuat HotJava.

JPEG (Joint Photographic Expert Group)


Image grafis dalam bentuk terkompresi yang sering digunakan pada Web pages.

Listserv
Komputer yang mengotomatiskan pengiriman e-mail (bertindak sebagai pusat distribusi
untuk pesan-pesan e-mail). Salah satu contoh adalah EDTECH yang para anggotanya
mendiskusikan topik-topik yang terkait dengan teknologi pendidikan.

Lycos
Salah satu search engine. Lycos dikembangkan oleh Carnegie Mellon University dan
melakukan pencarian berdasarkan judul dan isi. Pembaruan indeks dilakukan setiap minggu,
sedangkan pencariannya bisa dilakukan setiap hari.

MPEG (Moving Picture Experts Group)


Algoritma terkompresi untuk file video dan audio. Bentuk ini sering digunakan pada web.

Net
Singkatan dari cyberspace.

Netscape
Browser Internet yang juga merangkap fungsi e-mail, FTP, Telnet, dan Gopher.

Newsgroup
Salah satu cara untuk berkomunikasi dengan penjelajah Internet lainnnya.

Online
Sering digunakan untuk merujuk saat orang ber-Internet.

DAFTAR PUSTAKA

Majalah Info Komputer, Edisi Khusus masalah Internet tahun 1996


Kuliah Umum Internet di Tricom tanggal 24 Nopember 1996

Suplemen Harian Media Indonesia mengenai Internet

Suplemen Harian Republika mengenai Internet

You might also like