PENGGUNAAN POLA PIKIR INDUKTIF-DEDUKTIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERACUAN KONSTRUKTIVISME

Oleh: Rochmad Dosen Jurusan Matematika FMIPA UNNES Semarang

Jumat, 18 Januari 2008
(Makalah telah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika: Sertifikasi Guru: Meningkatkan Kualitas Matematika di Indonesia. Di Kampus Pascasarjana UNNES Semarang, tanggal 16 Januari 2008)

Abstrak: Ciri utama penalaran dalam matematika adalah deduktif, atau dengan perkataan lain matematika bersifat deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan matematika bersifat konsisten. Pada prinsipnya, dalam pembelajaran matematika pola pikir induktif dan deduktif keduanya dapat digunakan untuk mempelajari konsep-konsep matematika. Namun demikian, pembelajaran matematika dengan fokus pada pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, dan pemecahan masalah dapat diawali menggunakan pola pikir induktif melalui pengalaman-pengalaman khusus yang dialami siswa. Pertama-tama siswa dapat diajak mengkonstruksi pengetahuan matematika dengan menggunakan pola pikir induktif. Misalnya kegiatan pembelajaran dapat dimulai dengan menyajikan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat-sifat yang muncul, memperkirakan hasil yang mungkin, dan kemudian siswa dapat diarahkan menyusun generalisasi secara deduktif. Selanjutnya, jika memungkinkan siswa dapat diminta membuktikan generalisi yang diperolehnya secara deduktif. Secara umum dalam memecahkan masalah siswa menggunakan pola pikir induktif-deduktif. Dalam pemecahan masalah, memecahkannya kadang hanya menggunakan salah satu pola pikir induktif atau deduktif, namun banyak masalah dalam memecahkannya menggunakan keduanya pola pikir induktif dan deduktif secara bergantian. Kata kunci: Pembelajaran matematika, pola pikir induktif, pola pikir deduktif, pola pikir induktif-deduktif, pemecahan masalah. A. Pendahuluan Matematika merupakan pelajaran di sekolah yang dipandang penting dan dipelajari oleh siswa di semua tingkat pendidikan. Matematika informal diberikan pada anak-anak prasekolah, misalnya di ³kelompok bermain atau play group´ dan di Taman Kanak-Kanak (TK). Mulai di sekolah dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) siswa mendapat pelajaran matematika formal. Di TK misalnya, siswa mulai mengenal klasifikasi secara informal. Anak-anak bermain memilih benda-benda berwarna merah dari sekelompok benda-benda mainannya dapat dikatakan secara informal siswa melakukan pengelompokan, dan bahkan secara informal pada diri siswa mulai tertanam ³penalaran matematika´, misalnya siswa menggunakan penalaran matematika ketika mengetahui mana benda-benda yang termasuk dalam kelompok benda-benda berwarna merah dan yang bukan berwarna merah. Dalam setiap pengelompokan tentu ada syarat tertentu, secara informal siswa dapat mengklasifikasikan mana benda-benda yang menjadi anggota kelompoknya, syarat dalam melakukan pengelompokan oleh anak dilakukan sendiri atau dilakukan dibawah bimbingan guru.

Banyak penelitian yang dilakukan para psikolog dan pendidik berkaitan dengan penalaran. oleh karena itu perlu dicari alternatif ´penggantinya´. Paradigma pembelajaran matematika di Indonesia selama bertahun-tahun adalah paradigma mengajar dan banyak dipengaruhi oleh psikologi tingkah laku. guru berperan sebagai fasilitator terciptanya suasana pembelajaran yang aktif. Meskipun pada akhirnya siswa diharapkan mampu berpikir deduktif. namun dalam proses pembelajaran matematika dapat digunakan pola pikir induktif. kurang memperhatikan aktivitas aktif siswa. Menurut Ratumanan (2003) pembelajaran matematika di Indonesia beracuan behaviorisme dengan penekanan pada transfer pengetahuan dan hukum latihan. 2003. Tulisan ini membahas pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme dan kaitannya dengan penggunaan pola pikir induktif dan deduktif. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika beracuan behaviorisme selama ini kurang berhasil. 1999. Pembelajaran matematika tradisional berpusat pada guru dengan metode ceramah sebagai metode pembelajaran utama. Ratumanan. Para siswa mulai mengenal obyek dasar matematika yang bersifat abstrak misalnya fakta. B. Bila kemampuan bernalar tidak dikembangkan pada siswa. negosiasi makna. 2003). konsepkonsep. konsep. Dewasa ini pembelajaran matematika konstruktivis menjadi perhatian para pemerhati pendidikan untuk menggeser pembelajaran matematika tradisional yang hasil belajarnya dipandang kurang optimal. Soedjadi (2000) menyatakan dalam matematika sebagai ³ilmu´ hanya diterima pola pikir deduktif. prinsip-prinsip dan struktur-struktur matematika berdasar pengalaman siswa sendiri. misalnya pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme. Ross (dalam Lithner. Slavin (2000) menyatakan ³students must construct knowledge in their own mind´. Penalaran Matematika Fondasi dari matematika adalah penalaran (reasoning). Siswa terlibat membangun ide-ide. Tulisan ini menyajikan salah satu alternatif sintaks pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme yang melibatkan penggunaan pola pikir induktif-deduktif. prinsip dan struktur matematika. maka bagi siswa matematika hanya akan menjadi materi yang mengikuti serangkaian prosedur dan meniru contoh-contoh tanpa mengetahui maknanya. Lebih dari 2000 tahun yang lalu Aristotle mengenalkan suatu . interaksi siswa. Guru menerapkan berbagai metode yang dipandang sesuai dengan bahasan materi matematika yang sedang dipelajari. efisien dan menyenangkan.Sejak siswa duduk di kelas 1 SD/MI. Di kelas siswa lebih banyak sebagai pendengar dan menghafal aturan-aturan atau rumus-rumus matematika kurang memahaminya (Suwarsono. kreatif. 2000) menyatakan bahwa salah satu tujuan terpenting dari pembelajaran matematika adalah mengajarkan kepada siswa penalaran logika (logical reasoning). 2004). Fakta di lapangan guru matematika sekolah kebanyakan mengajar dengan cara tradisional dengan pola: informasi-contoh soal-latihan sesuai contoh. Pembelajaran matematika beracuan konstruktivieme berpusat pada siswa. Dalam mempelajari matematika siswa terlibat dengan berpikir. Jaeng. Guru mendominasi kelas dan menjadi sumber utama pengetahuan. Marpaung (dalam Ratumanan. Pembahasan 1. Berdasar uraian di atas. dan konstruksi pengetahuan. Penalaran yang mula-mula dikenalkan oleh Aristotle adalah penalaran silogisme yang idenya muncul ketika orang ingin mengetahui ³apa yang terjadi dibenak´ dalam memecahkan masalah yang memuat logika. mulailah dikenalkan dengan matematika formal. 2003) berpendapat bahwa matematika tidak ada artinya kalau hanya dihafal. bukan paradigma belajar (Marpaung.

1989 dalam Perissini dan Webb. guru dapat menciptakan suasana pembelajaran sehingga informasi. perbandingan (proporsional). Penalaran matematika memiliki peran yang amat penting dalam proses berpikir seseorang. Proses penarikan kesimpulan seperti ini dinamakan deduktif atau sering disebut penalaran deduktif. Jika premis-premis dalam suatu silogisme benar dan bentuknya (format penyusunannya) benar. Daya matematika sebagai suatu integrasi dari berikut ini: (a) suatu kecenderungan positip kepada matematika. (c) kecakapan melakukan analisis dan beralasan secara matematis. teknologi dan informasi. Untuk mencapai daya matematika berbagai mode penalaran matematika dilibatkan misalnya induktif (inductive). maka kesimpulannya benar. Berkaitan dengan hal ini. Penalaran deduktif digunakan berdasarkan konsistensi pikiran dan konsistensi logika yang digunakan. (b) pengetahuan dan pemahaman terhadap sifatsifat matematika. dan memecahkan masalah-masalah yang melibatkan ide-ide tersebut (O¶Daffer dan Thornquist dalam Perissini dan Webb. membangun argumen-argumen. dan mendukung gambaran atau kesimpulan tentang ide-ide dan hubunganhubungannya. dan (e) kecakapan menerapkan pengetahuan matematika untuk memecahkan masalah-masalah dalam berbagai konteks dan disiplin ilmu (NCTM. jika premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar dan disusun dalam bentuk yang benar. menemukan hubungan antar ide-ide. Dalam belajar matematika memerlukan penalaran induktif dan deduktif. keterampilan dan konsep . Suatu kesimpulan yang dicapai berdasarkan penalaran silogisme dinilai ³benar´ atau ³valid´. Penalaran induktif digunakan bila dari kebenaran suatu kasus khusus kemudian disimpulkan kebenaran untuk semua kasus. Penalaran matematika meliputi mengumpulkan bukti-bukti. 1999). 1999). deduktif (deducttive). prosedur-prosedur dan keterampilan-keterampilan. keruangan (spatial) dan penalaran abstrak (abstract reasoning). bersyarat (conditional). Silogisme memuat tiga urutan argumen: sebuah premis utama (a major premise). membuat konjektur-konjektur. Penalaran matematika dalam sudut pandang aktivitas dinamik melibatkan keragaman mode berpikir.sistem penalaran atau validasi argumen yang disebut silogisme. Slavin (2000) menyatakan bahwa siswa harus mengkonstruksi pengetahuan dalam benaknya. Pembelajaran Matematika Beracuan Konstruktivisme Salah satu dari prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak dapat dengan mudah menanamkan pengetahuan pada diri siswa. sebuah premis minor (a minor premise). grafik (graphical). dan daya matematika dipandang sebagai komponen integral dari berpikir matematika. juga memandang penalaran matematika sebagai aktivitas dinamik yang melibatkan keragaman mode berpikir. Copeland (1974) mengklasifikasikan penalaran dalam penalaran induktif dan penalaran deduktif. Peressini dan Webb (1999) di samping memandang penalaran matematika sebagai konseptualisasi dinamik dari daya matematika (mathematically powerful) siswa. meliputi konsep-konsep. 2. Daya matematika siswa seyogyanya dapat diwujudkan dalam berbagai dimensi supaya mampu memunculkan berbagai metode matematika yang nantinya dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah tidak rutin dan dapat dijadikan panduan dalam m enghadapi perubahan kehidupan dalam masyarakat yang bergantung pada kemajuan ilmu. dan sebuah kesimpulan (a conclusion). (d) kecakapan menggunakan bahasa matematika untuk mengkomunikasikan ide-ide. menetapkan generalisasi-generalisasi. dan menentukan (dan validasi) kesimpulan-kesimpulan logis berdasar ide-ide dan hubungan-hubungannya. Khususnya berpikir matematika yang melibatkan keragaman matematika dalam keterampilan berpikir untuk memahami ide-ide.

Assimilation is the process by which new experience and information are placed into the . Karena pembelajaran konstruktivis menekankan kepada para siswa agar belajar lebih aktif di kelas. Johnson dan Stiff.yang disampaikan menjadi bermakna dan relevan bagi siswa dengan cara memberi kesempatan kepada para siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri. dan mungkin kemudian merevisi aturan-aturan tersebut. Brownel (dalam Johnson. Johnson dan Stiff. Di awal kerjanya ia mengidentifikasi adanya empat tahap perkembangan kognitif: sensori motor (sensorimotor). Teori Piaget tentang perkembangan intelektual menaruh perhatian pada proses asimilasi (assimilation) dan akomodasi (accommodation) informasi dalam skema mental siswa. Sampai saat ini. preoperasional (preoperational). 1993) adalah salah seorang yang mula-mula mengajukan teori pembelajaran matematika (aritmetika) secara bermakna (meaningful learning) berpendapat bahwa pembelajaran matematika yang efektif harus menyajikan suatu pemahaman pada konsep-konsep. dan prinsip-prinsip baru (Johnson. dan proses terjadinya definisi aritmetika. Inti dari pembelajaran konstruktivis adalah siswa secara individual menemukan dan mentransformasi informasi yang begitu kompleks dalam benaknya. Guru dapat memberi tangga kepada siswa agar dapat digunakan untuk naik menuju ke pemahaman yang lebih tinggi. Pembelajaran konstruktivis mengkondisikan kegiatan siswa dalam interval waktu kerja yang tidak begitu lama memeriksa informasi baru dan dibandingkan dengan aturan-aturan yang telah diketahuinya. Johnson dan Stiff. tetapi biarkanlah siswa sendiri yang memanjatnya. Menurut Slavin (2000) proses mengajar belajar yang berpusat pada siswa dan menekankan pada aktivitas siswa mengkonstruksi pengetahuan dalam benaknya sendiri dinamakan teori pembelajaran konstruktivistik (constructivist theories of learning). operasional konkret (concrete operational). susunan kata dalam masalah kurang memberi efek pada kecakapan siswa dalam memecahkannya atau dalam mengkonstruksi alternatif pemecahannya. Salah satu strategi penting untuk membantu siswa dalam memahami masalah secara bermakna adalah meminta siswa menulis dan merumuskan kembali masalah yang sedang dihadapi sebelum siswa menulis penyelesaianya. konsep-konsep. Johnson dan Stiff. Reed (dalam Johnson. Penelitian menunjukkan bahwa para siswa sering mempelajari prosedur-prosedur dalam aljabar tanpa memahami makna apa yang mereka pelajari. Kenyataan bahwa para siswa sering mempelajari konsep-konsep dan prosedur-prosedur matematika dengan kurang atau tidak memahaminya dikemukakan dalam National Assessment of Educational Progress (dalam Johnson. Dalam pembelajaran beracuan konstruktivisme guru menjadi pembimbing dan fasilitator. serta suasana pembelajaran yang mampu menjadikan siswa memiliki keberanian dan dengan penuh kesadaran belajar menggunakan strateginya sendiri. Asimilasi adalah suatu proses menempatkan informasi dan pengalaman baru dalam struktur kognitif siswa. dan operasi formal (formal operational). William A. Akomodasi adalah hasil penyetrukturan kembali dalam skema kognitif. hubungan-hubungan. maka pembelajaran konstruktivis sering dinamakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. 1993). 1993). Para siswa pada jenjang pendidikan setingkat SMA (high school) sering berada dan bergerak pada operasi konkret dan operasi formal jika mereka sedang mempelajari keterampilan-keterampilan. 1993) menyatakan bahwa jika para siswa memahami struktur-struktur yang mendasari masalah. Tetapi siswa jarang hanya berada pada satu sisi tahap perkembangan. teori perkembangan intelektual anak yang sering menjadi acuan para pemerhati pendidikan adalah teori perkembangan inelektual Piaget.

menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa. Untuk memperoleh pengalaman membangun pengetahuan baru dalam benaknya siswa harus aktif terlibat dalam merestruktur pengetahuan tersebut. maka siswa membangun skema-skema atau hubungan-hubungan baru agar dapat mengakomodasi pengetahuan dalam benaknya. Teorema konstruksi menyatakan bahwa siswa seyogyanya diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri representasi konsep-konsep. aturan-aturan dan hubunganhubungannya. teorema notasi (notation theorem). dalam memperoleh keterampilan menyelesaikan sistem persamaan linear dengan dua variabel misalnya mula-mula siswa terampil bekerja menggunakan cara ³eleminasi´. konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika. Temuannya adalah: ´All new . Johnson.cognitive structure of the leaner. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas guru sering menyediakan dan menggunakan bantuan benda-benda konkret atau benda-benda manipulatif untuk membantu siswa dalam belajarnya. Bruner (dalam Stiff. dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. dan teorema konektivitas (connectivity theorem). (Stiff. [«] Accomodation is the product of any restructuring of that cognitive schema. Teorema kontras dan variasi menyatakan bahwa kemajuan dari representasi konsep-konsep dari konkret ke bentuk abstrak bergantung pada pengalaman siswa dalam membandingkan atribut-atribut suatu konsep dengan atribut-atribut konsep lain yang serupa. memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Bransford (dalam Prince dan Felder. dan Johnson. aturan-aturan dan hubungan-hubungannya. Teorema konstruksi (construction theorem). Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. siswa akan lebih memahami konsep ³variabel´ jika digunakan representasi ikonik misalnya 19 = __ + 7 dari pada digunakan representasi baku 19 = x + 7. Pola Pikir Induktif-Deduktif dalam Pembelajaran Matematika Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif. 1993) merumuskan empat teorema belajar matematika yang mengacu pada pandangan konstruktivisme. teorema kontras dan variasi (contrast and variation theorem). Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan. Johnson dan Johnson. Kadangkala penyesuaian atau adaptasi tidak dapat dengan mudah dilakukan. Sebagai contoh. Dengan berdasar pengetahuan dan pengalaman siswa ini dimungkinkan menghasilkan penyetrukturan kembali (restructuring) pemahaman mereka dalam menyelesaikan sistem persamaan linear dengan dua variabel misalnya menyelesaikan persamaan tersebut dengan menggunakan bantuan matriks. Teorema konektivitas ini dapat mengurangi isolasi antar topik dalam pembelajaran matematika dan dapat mengantarkan siswa sampai pada tingkat intuisi dan penalaran matematika yang lebih tinggi. 3. 1993:3) Pembelajaran beracuan konstruktivisme menekankan pada aktivitas siswa membangun (construct) pengetahuan untuk ³menyesuaikan´ apa yang baru saja diketahui (atau diyakini). 2006) melakukan penelitian dibidang psikologi dan neurologi. Sebagai contoh. Apabila siswa tidak dapat membaca asimilasi data baru dalam struktur mental yang ada. Teori notasi menyatakan bahwa penggunaan notasi yang baik akan menyederhanakan proses kognisi dalam menangkap konsep-konsep. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghadapi dan menyelesaikan berbagai contoh. yakni belajar matematika secara bermakna (meaningfull mathematical learning). Teorema konektivitas menyatakan bahwa guru perlu mendemonstrasikan hubungan antar keterampilan-keterampilan.

Pembelajaran diawali dengan memberikan contohcontoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Menurut Prince dan Felder (2006). . a + b. Dameus. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya. maka a. a + 2b + « + (a + (n ± 1)b) adalah barisan arimetika. Major (2006) memberi contoh pembelajaran barisan aritmetika sebagai berikut. (3) jelaskan istilah-istilah dalam definisi. pembelajaran berbasis masalah. Kemudian guru menjelaskan apa maksud µmemiliki beda sama¶. Menurut Dameus. (2) tulis definisi dipapan tulis. Brant. guru yang baik adalah yang membantu siswa mempelajari keduanya. Major (2006) menyarankan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif: (1) mulailah dengan menyatakan generalisasi secara jelas. Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi. A. tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati. Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. aturan-aturan. atau kombinasi dari keduanya. dan (5) berilah kesempatan siswa memberi atau mengerjakan contoh berikutnya. Pembelajaran Matematika Beracuan Konstruktivisme yang Melibatkan Penggunaan Pola Pikir Induktif-Deduktif Dalam pelaksanaan pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme masih sulit menentukan pendekatan mana yang lebih baik. misalkan suku pertama barisan adalah a.S. dan (2) memberi contoh. Berdasar uraian di atas dan mengacu pendapat dengan Prince dan Felder (2006). dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri. D. Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. pembelajaran berbasis kasus. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. siswa dibimbing memahami konsep. dan pembelajaran penemuan. Hal ini disebabkan siswa baru memahami generalisasi atau kosep setelah disajikan berbagai contoh. Tilley. A. Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri. Guru mulai pembelajaran dengan menulis definisi dipapan tulis: µbarisan aritmetika adalah barisan yang memiliki beda sama¶. (4) secara hati-hati tekankan hubungan-hubungan sifat dalam generalisasi. pembelajaran matematika dengan pendekatan induktif atau dengan pendekatan deduktif. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan. dan beda b. Siswa sering mengalami kesulitan memahami makna matematika dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif. pembelajaran berbasis proyek. 4. dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan. artinya semua pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya. Kemudian guru melanjutnya pembelajaran. (5) ilustrasikan dengan contoh. atau memberi masalah konstekstual. menganalisis kasus. M (2004) pendekatan pembelajaran dapat induktif atau deduktif. Selanjutnya guru memberi contoh dan memberi soal untuk dikerjakan siswa.learning involves transfer of information based on previous learning´. Major (2006) berpendapat dalam pelaksanaan pembelajaran lebih baik memuat keduanya kegiatan induktif dan deduktif meskipun tak dapat dihindari mana yang lebih dominan.

(3) fase kegiatan diskusi kelas. Kemp (1994: 130) menyatakan terdapat bukti positif yang menunjukkan bahwa siswa yang diberi tahu tentang tujuan pembelajaran yang harus mereka capai betul-betul mengalami kemajuan yang memuaskan dalam jangka waktu yang lebih singkat dan mencapai tingkat keberhasilan yang lebih besar dibandingkan dengan siswa yang tidak diberi tahu. (2) fase kegiatan induktif. (4) fase kegiatan induktif-deduktif. Menurut Kemp (1994: 107) dapat disinyalir bahwa siswa mengalami kesulitan belajar disebabkan siswa tidak mengetahui dengan pasti atau kurang jelas apa yang diharapkan oleh guru dari siswa. Ide awal penelitian Kazemi dan Stipek (2002) adalah untuk menjawab tantangan bagaimana pentingnya guru memberi motivasi kepada seluruh siswa agar para siswa bergairah dan terikat kuat dalam belajarnya. Brant (2004). Ketika siswa memecahkan masalah siswa menggunakan pola pikir induktif atau deduktif secara bergantian. Motivasi diperlukan oleh para siswa dalam belajar matematika. Dalam makalah ini dikembangkan pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme yang melibatkan penggunaan pola pikir induktif-deduktif. . Rancangan sintaks pembelajaran dominan pada kegiatan induktif yang memuat kegiatan siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika berdasar pengalaman siswa sendiri. siswa akan mengetahui apa yang diharapkan dari guru dalam mempelajari pokok bahasan tersebut dan dapat mengatur tata cara belajarnya dengan baik. a. Dengan demikian kegiatan deduktif tercakup dalam pemecahan masalah. Fase kegiatan pembukaan Kegiatan guru pada fase kegiatan pembukaaan pertama-tama guru membuka pembelajaran. sependapat dengan Major (2006) dalam pelaksanaan pembelajaran lebih baik memuat keduanya kegiatan induktif dan deduktif meski tak dapat dihindari salah satu dari kegiatan tersebut lebih dominan. Jika apa yang diharapkan guru tidak dibatasi dengan jelas. D. penulis berpendapat pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme dapat dirancang mengkombinasikan keduanya memuat kegiatan induktif dan deduktif. 1994). dan pemecahan masalah sebagai berikut: (1) fase kegiatan pembukaan. siswa tentu tidak akan tahu dengan pasti apa yang akan dipelajari dan apa yang perlu dilakukan. Menyampaikan tujuan pembelajaran. dan memotivasi siswa agar dapat lebih siap dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah satu alternatif sintaks pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme yang melibatkan penggunaan pola pikir induktif-deduktif serta pembelajaran yang memungkinkan mencakup kegiatan pemahaman konsep. Dalam pemecahan masalah siswa terlibat dengan penggunaan pola pikir induktif-deduktif. Selanjutnya guru memeriksa pengetahuan prasyarat misalnya dengan cara menanyakan hasil pekerjaan rumah. Dengan cara seperti ini. Tujuan pembelajaran perlu diketahui oleh siswa agar siswa mengetahui apa yang harus dilakukan. Siswa melakukan pengamatan pada hal-hal khusus. penalaran dan komunikasi.Tilley. misalnya contoh-contoh suatu konsep dan menuliskan konsep tersebut dengan bahasa siswa sendiri. atau menanyakan materi yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya.S. Oleh karena itu di awal pembelajaran guru perlu menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dan bagaimana cara belajar untuk mencapainya. Tujuan pembelajaran untuk suatu pokok bahasan harus diberikan pada saat mereka mulai mempelajari pokok bahasan itu (Kemp. dan (5) fase kegiatan penutupan. dan Major (2006). Dalam kegiatan induktif ini siswa belajar mengkonstruk pengetahuan matematis menggunakan pola pikir induktif.

Oleh karena itu. menyelidiki. siswa diminta mengamati dengan cermat. 1992: 184): ³whether or not material is meaningful depends more on the preparation of the learner and on the organization of the material than it does on the method of representation´. Guru menyampaikan hal-hal khusus berkaitan dengan materi pokok yang akan disampaikan. kegiatan belajar bisa membosankan dan tidak menarik. 1994: 167). c. menganalisis. Dalam fase kegiatan induktif ini dibawah bimbingan dan arahan guru. Kelemahan tersebut misalnya kurang terjadi interaksi antar siswa atau antara guru dan siswa. atau memikirkan berdasarkan kemampuan masing-masing hal-hal yang bersifat khusus dan mengkonstruk konsep atau generalisasi atau sifat-sifat umum berdasar hal-hal khusus tersebut. yaitu fase kesadaran. anak dihadapkan pada sumber yang membangkitkan kesadaran matematisnya dan mulai mengkonstruksi pengetahuan matematis. memeriksa. Pada fase kegiatan induktif ini prinsip memuat prinsip pertama pembelajaran beracuan konstruktivisme menurut Tadao (dalam Sa¶dijah. Apakah materi yang dipelajari siswa bermakna atau tidak lebih bergantung pada kesiapan siswa dan pengorganisasian materi dari pada metode penyajian. Agar guru dapat mengelola pembelajaran dengan baik. sebelum guru memulai pembelajaran perlu memeriksa pengetahuan prasyarat siswa. misalnya guru memberi beberapa contoh suatu konsep. Apabila hanya dipakai metode satu jalur. lebih menyukai pola belajar mandiri dalam kegiatan kelompok. siswa diberi kesempatan berinteraksi dengan temannya. Menurut Kemp (1994: 143) terdapat bukti yang menunjukkan sebagian besar siswa dapat mencapai tujuan yang diinginkan dengan cara yang paling memuaskan apabila siswa diberi kesempatan belajar menurut kemampuan masing-masing. Fase kegiatan induktif. Dalam fase kegiatan induktif siswa diberi kesempatan berdiskusi dengan teman sebangkunya atau diskusi dalam kelompok . Meskipun demikian. b. dan meminta siswa menulis makna konsep tersebut dengan bahasa siswa sendiri. misalnya hanya kerja mandiri. Guru menyampaikan contoh-contoh atau kasuskasus khusus menjadi sumber untuk membangkitkan kesadaran siswa dan siswa melakukan pengamatan secara hati-hati terhadap contoh atau kasus khusus yang diamati. misalnya bertukar pendapat dengan teman sebangkunya atau dengan teman-teman di dekatnya. Kemp (1994: 156) berpendapat bahwa dalam pembelajaran perlu direncanakan kegiatan kelompok. Pertemuan kelompok kecil ini dapat dipakai untuk mengecek kepahaman siswa tentang konsep dan asas yang telah mereka peroleh sebelumnya (Kemp. Guru mengarahkan siswa melakukan kegiatan belajar dengan menggunakan pola pikir induktif. Kegiatan utama siswa adalah mengamati. Berdasar pendapat Kemp (1994) dapat disinyalir bahwa kegiatan belajar siswa secara individu dapat diperkuat melalui interaksi sosial.Oleh karena itu dalam fase pembukaan ini guru perlu memberi motivasi kepada siswa agar siswa tebih bergairah dan konsentrasi dalam belajarnya. misalnya diskusi kelompok. Kemp (1994: 151) juga berbendapat bahwa akhir-akhir ini terdapat kecenderungan mengurangi waktu untuk pola penyajian materi pembelajaran. Fase diskusi kelas Ada kelemahan jika pembelajaran di kelas hanya dengan belajar secara individu. siswa aktif belajar matematika secara individu. 2006). Dalam fase ini kegiatan belajar siswa mengkonstruk pengetahuan matematis dengan cara siswa sendiri berdasar hasil pengamatannya. Menurut Ausubel (dalam Joice dan Weil. guru perlu mengetahui pengetahuan prasyarat siswa yaitu dengan cara memberi pertanyaan-pertanyaan yang mendasari sub pokok bahasan pembelajaran yang akan disampaikan.

Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. siswa tidak semata-mata menghafal definisi suatu konsep tetapi siswa terlibat dalam memperoleh definisi tersebut. Dalam pemecahan masalah siswa kadang menggunakan pola pikir induktif. Penutup Agar siswa dapat belajar matematika di sekolah secara bermakna. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran ³yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus´ Soedjadi (2000: 16). Selanjutnya guru menutup pembelajaran. atau keduanya digunakan secara bergantian. Pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme dengan melibatkan penggunaan pola pikir induktif-deduktif merupakan salah satu alternatif pembelajaran matematika yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang berpusat pada siswa. Tujuannya untuk mengukur seberapa jauh siswa telah menguasai pengetahuan ditinjau dari aspek pemahaman konsep. memberi tugas dikerjakan di rumah. Dalam diskusi ini siswa berinteraksi satu dengan lainnya dan bertukar pemikiran dan pengalaman dalam rangka mengkonstruk pengetahuan secara individu. atau pemecahan masalah. dan kadang keduanya. Fase kegiatan penutup Pada fase kegiatan penutup ini kegiatan pembelajaran adalah memberi kuis (tes singkat) secara individu. Hasil dikonstruksi pengetahuan matematis siswa mungkin berbeda-beda bergantung pada pengetahuan awal masing-masing. pola pikir deduktif. Fase kegiatan induktif-deduktif Dalam fase kegiatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal atau masalah. siswa dituntut terampil memahami konsep-konsep matematika dari pola pikir induktif menuju deduktif. Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif. Beberapa siswa diminta menyampaikan hasil kerjanya secara lisan atau tertulis. e. penalaran dan komunikasi. Pada prinsipnya. kadang deduktif. Dalam pemecahan masalah kadang sulit memisahkan antara penggunaan pola pikir induktif dan deduktif. Untuk melaksanakan kuis diperlukan alat penilaian.dengan beberapa teman didekatnya. Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. C. d. Dalam fase diskusi kelas ini guru memimpin diskusi dalam rangka memperoleh kesimpulan atau kesepakatan terhadap hasil-hasil konstruksi pengetahuan matematis awal siswa. dan menutup pembelajaran. Kuis (tes singkat) berupa soal yang harus diselesaikan siswa dalam waktu yang relatif singkat. . dan selanjutnya memberi kesimpulan atau kesepakatan terhadap makna konsep yang pelajari siswa. dalam pembelajaran matematika beracuan konsruktivisme penggunaan pola pikir induktif dan deduktif keduanya dapat digunakan untuk membangun misalnya suatu konsep matematika berdasar pengalaman siswa sendiri. Matematika sebagai ³ilmu´ hanya diterima pola pikir deduktif. Alat penilaiaannya dapat tes tertulis atau lisan. Guru memberi ulasan atau komentar. Guru memberi tugas dengan memberi soal-soal yang berkaitan dengan pokok bahasan yang dibahas untuk dikerjakan di rumah. Tugas rumah diarahkan pada kegiatan pemecahan masalah dengan tujuan siswa dapat lebih memahami konsep atau struktur matematika yang dipelajari dan untuk melatih siswa terbiasa menggunakan pola pikir induktif-dedukif dalam memecahkan masalah. Dengan demikian.

2002. Copeland. English. Kirk Swortsel (Ed. Salah satu alternatif sintaks pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme yang melibatkan penggunaan pola pikir induktif-deduktif sebagai berikut: (1) fase kegiatan pembukaan. G. Monograph Number 4. Guru Matematika Kontruktivis (Contructivist Mathematics Teacher). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.Pembelajaran matematika dengan fokus pada pemahaman konsep. penalaran dan komunikasi. Dubuque. Jakarta: Depdiknas. P. Jeremy Kilpatrick (Eds. Jakarta: IMSTEP.): Putting Research into Practice in the Elementary Grades: Reading from Journal of the National Council of Teachers of Mathematics.T. Constructivism: The Career and Technical Education Perspective.E dan Camp. H. Iowa: Wm. DAFTAR PUSTAKA Ball. H. 2003. Constructivism. html. 2001. D. Hudojo.H dan Batista. 2002.com/~donclark/hrd/history/history. matrixreasoning. Inc. Reston.H. 1990. Brown Company Publisher. New York: Macmillan Publishing Co.W. Number 1. (4) fase kegiatan induktif-deduktif. 1990. http://www. Secara umum dalam memecahkan masalah siswa menggunakan pola pikir induktif-deduktif. Teaching and Learning Mathematics (In Secondary Schools). Inductive and Deductive Methods in Cognition. {Comment & Suggestions Welcome]. Pertama-tama siswa dapat diajak mengkonstruksi pengetahuan matematika dengan menggunakan pola pikir induktif. Advanced Mathematical Thinking. R. Nel Noddings (Eds. Mathematics Educations Model and Process.): A Research Companion to Principles and Standards for School Mathematics (halaman 27 ± 44). Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Matematika.): Journal for Research in Mathematics Educations. Integrating Constructivism and Cognitivim. Dreyfus. Depdiknas. Inc. How Children Learn Mathematics: Teaching Implications of Peaget¶s Theory. M. Reston: National Council of Teacher of Mathematics. JICA. Hudojo. 1995.D dan Halford.B. The National Council of Teacher of Mathematics. ICMI Studies Series. 2003. 1981.com/. Download tanggal 7 Desember 2002. P. Jeremy Kilpatrick (Eds. Virginia: NCTM. W. http://www. 2003. . 2000.L dan Bass. Volume 16. Belozerov. 1999.S. dan pemecahan masalah dapat diawali menggunakan pola pikir induktif melalui pengalamanpengalaman khusus yang dialami siswa. Making Mathematics Reasonable in School. (2) fase kegiatan induktif. 1974. Chambers (Ed. H. Donald L. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. membuat daftar sifat-sifat yang muncul. L. C. T.): Journal of Vocational and Technical Education. Discovery Learning and Constructivism. dan (5) fase kegiatan penutupan. Inc. J. Bell. D. dan kemudian jika memungkinkan siswa dapat diarahkan menyusun generalisasi secara deduktif. (3) fase kegiatan diskusi kelas. 2003. Heibert. R.G. memperkirakan hasil yang mungkin. Doolittle. What Research Says About the NCTM Standards. Constructivist View on the Teaching and Learning of Mathematics. Mathematical and Cognition: A Research Synthesis by the International Group for the Psychology of Mathematics Education. Blackburgs: Virginia Polytechnic Institute & State University. Constructivist Learning and Teaching. Reston: National Council of Teacher of Mathematics. S.nwlink. (halaman 93 ± 106). Clark.): A Research Companion to Principles and Standards for School Mathematics (halaman 5 ± 23). F.E. Doolittle. 2004. Clements. Davis. Misalnya kegiatan pembelajaran dapat dimulai dengan menyajikan beberapa contoh atau fakta yang teramati. Cambridge: Cambridge University Press. D. Download tanggal 25 Nopember 2006.

Principle and Standard for School Mathematics. London: Kluwer Academic Publisher. Models of Teaching. dan van den Akker. Terjemahan oleh Asril Marjohan. D. K. FT. 95(2).hk/ Download: 24 Agustus 2006. Dalam Plomp. Pembelajaran Matematika Secara Bermakna. Nieveen. R. Marpaung. Educational Studies in Mathematics 41: 165 ± 190. http:/educ2.hku.M. htm. Disertasi. http://educ2.Makalah disajikan pada Seminar Nasional.S. Hudojo. Principles and Methods of Development Research. 1998.hk/. Dalam Plomp. Parke C. R. M. 1999. N. N. Y. 1999. A 1999.T. Nieveen. T. (2003). 1997. 2005. N. Nieven. From Tjeerd Plomp (eds). Disampaikan pada Seminar di SMPN-3 Karanganyar.M. K.A. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika di Universitas Sanata Darma. Comparations. Felder.F. Khabibah. T. Dameus. Teaching Methods in Learning Agricultural Economics: A Case Study 1. 2000. Gustafson. Constructivism: Philosophical & Epistemological Foundation.P. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Sekolah dengan Cara Perseorangan dan Kelompok Kecil. 123±138 (2006). dan van den Akker. 1994. Jan van den Akker. 2006. Netherlands: Kluwer Academic Publisher. Reston: The National Council of Teacher Mathematics. The Potential of Formative Evaluation in Program Design Models. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Design Approaches and Tools in Education and Training. NACTA Journal. London: Prentice-Hall. M. Jaeng. Major. J. Major. 1997. Cognition. Constructivist Epistemology. B dan Weil. Murphy. M. K. Mathematical Reasoning in Task Solving. 2005. The Squencing of Content Inductive and Deductive Approach. NCTM. Engr. J (eds). M. 2003. 2006. Lithner. Y. Nieven.hku. Lane S. Plomp. Marpaung. Inc. Matlin. J. Branch. Surabaya: Program Pascasarjana UNESA. Inductive-Deductive Structure. Tidak dipublikasikan. Miyazaki. T. R dan Visscher. Branch. Kemp. 2004. Proses Perancangan Pengajaran. Inc.W. Educational Design: Introduction. 2000. Design Approaches and Tools in Education and Training. H. 2003. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. 2000. Silver E. Bandung: Penerbit ITB. dan van den Akker. Download: 8 Desember 2005.E. 27-23 Maret 2003 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. dan Magone M.S.30. Levels of Proof in Lower Secondary School Mathematics.68. Design Approaches and Tools in Education and Training. Judul Asli The Instructional Design Process. Design of Education and Training (in Dutch). London: Kluwer Academic Publisher. K. Joyce. 1992. A.E. Education. Educational & Training System Design: Introduction. Tanggal 27-28 Maret 2003. E. Utrecht . and Research Bases. J. Inducitive Teaching and Learning Methods: Definitions. Tidak dipublikasikan. 2005. Dalam Plomp. 2000. J (eds). Gustafson. Pengembangan Model Pembelajaran Open-Ended untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar. R. New York: Harcout Brace College Publishers. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press). Gustafson. K. Maslowski. Prince. T. 24 Agustus 2006. Using Assesment to Improve Midlle-Grades Mathematics Teaching & Learning. Tilley. InductiveDeductive Approach. Sept 2004. J (eds). Branch. London: Kluwer Academic Publisher. M. S. 2004.M. Educational Studies in Mathematics 41: 47 . Brant. Perubahan Paradigma Pembelajaran Matematika di Sekolah. 2000. Reston: The National Council of Teacher Mathematics. Prototyping to Reach Product Quality . Inc. Netherlands: Kluwer Academic Publisher. Download. M. Yogyakarta: Universitas Sanata Darma. Disertasi. F. Surabaya: Program Pascasarjana UNESA.

Taylor. 2006. Sa¶dijah. Cobb. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Merkel. Educational Psychology: Theory and Practice. Surabaya: Program Pasca Sarjana UNESA. (halaman 65 ± 85). L. Author¶s translation in P. Download.(the Netherlands): Lemma. Slavin. with Particular Reference to Attitude Development. Putting research into Practice in the Elementary Grades. Steffe. Soedjadi. Cambers. Experience. Numbers 2 & 3. Netherlands: Kluwer Academic Publisher. Institutional and Personal Meanings of Mathematical Proof.R. (halaman 3-16). 1993. Taylor. 12 Agustus 2000. An Introduction to Radical Constructivism. Teslow. Originally published P. 2004. Numbers 2 & 3. Download: 5 Juni 2000. Spring & Summer Editions. Boston: Allyn and Baccon. Reading from Journals of the National Council .E. Jakarta: Depdiknas. 1973. Pengajaran dan Problematikanya Memasuki Milenium III. Yackel. Volume 15. Glassersfeld.ac. September 1999. Internet on line. J. Newyork: Norton. 1984. 2002. Cognitive Psychology. Soedjadi. Vygotskian Influence in Mathematics Education. L.G. Ch. 1984. Rancangan Pembelajaran Nilai dalam Matematika Sekolah. D (Eds). Instructional Design Perspectives on Mathematics Education With Reference to Vygotsky¶s Theory of Social Cognition.. 24 Agustus 2006. and Discourse as central Aspect of Constructivism. How To Solve It. Surabaya: Program Pascasarjana UNESA. Tulisan dimaksudkan sebagai sebuah pengantar untuk matakuliah ³Penelitian Lanjut´ pada Program S3 Pendidikan Matematika. T. Problem Solving. L. Recio. 2000b. E. Surabaya: Program Pascasarjana UNESA. T. di FMIPA UNNES Semarang.V. I. B.P. 1996. Volume 15. 1993.). Netherland. Tidak dipublikasikan. R. J. Johnson. 1995. Ratumanan. Center for Teaching/Learning of Mathematics. Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif dengan Setting Kooperatif (Model PISK) dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SLTP di Kota Ambon. An Exposition of Constructivism: Why Some Like it Radical.L. Faculty of Educational Science and Technology. Massachusetts: Scientific Reasoning Research InstituteUniversity of Massachusetts Von.M dan Godino.G. 2006. G. Pemanfaatan Realitas dan Lingkungan dalam Pembelajaran Matematika.D. Stiff. Educational Studies Mathemathics 48: 83 ± 99.aca. Erns von Glasersfeld. L. Wilson. Focus on Learning Problems in Mathematics. J.P. Solso. Cognitive Issues In Mathematics Education.. Tidak dipublikasikan. Pembelajaran Pecahan di Sekolah Dasar dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik. html. Research Ideas For The Classroom: High School Mathematics (halaman 3 ± 20). E. Princeton: Princeton University Press. Soedjadi. Problematika Pendidikan Matematika di Indonesia. Wilson (Ed. 2003. 2000. Boston: Allyn & Bacon. Patricia S. Suwarsono. R. Watzwalick (Ed). R. New York: Macmillan Publishing Company. Spring & Summer Edition. dan Johnson. University of Twente. E. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Matematika. Von Glaserfeld. 1993. Disertasi. P. R. Intersubyectivity in Mathematics Learning: A Challenge to the Radical Constructivist Paradigm? A Replay to Lerman [1]. G. Wood.L. http: S13a. Focus on Learning Problems in Mathematics. Disertasi.L. Center for Teaching/Learning of Mathematics. A. 1981. Suharta. Universitas Negeri Surabaya.uk/. Munich: Piper. M. math. Die Erfundene Wirklichkeit. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Beracuan Konstruktivisme untuk Siswa SMP. 2000. Watzlawick (Ed). Polya. on line paper. 2002. The Invented Reality. 2003. R. Tidak dipublikasikan. Disertasi.mmu. 1999.

15 .Diposkan oleh rochmad-unnes di 00.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful