FRAKTUR BAB I PENDAHULUAN Tulang mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai penunjang jaringan tubuh, pelindung organ tubuh

, memungkinkan gerakan dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan garam mineral, namun fungsi tersebut biasa saja hilang dengan terjatuh, benturan atau kecelakaan. Pengertian dari fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000). Sedangkan fraktur colum femur adalah fraktur yang terjadi pada colum femur. Kecelakaan merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan biasanya terjadi mendadak dan bisa mengenai semua umur. Fraktur collum femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan.. tetapi dalam penanganannya masih banyak masyarakat yang berobat ke alternatif, akan tetapi kenyataannya tidak semua orang berhasil dengan pengobatn alternatif tersebut sehingga mengakibatkan keadaan yang yang lebih buruk atau terjadinya komplikasi seperti mual unioun, non union ataupun delayed union, pada akhirnya keadaan tersebut mendorong orang untuk berobat ke RS. Data yang diperoleh dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati bahwa angka kejadian fraktur khususnya fraktur femur pada tahun 2007 dari bulan januari sampai bulan Oktober mencapai orang.Tampak adanya peningkatan angka kejadian fraktur femur, maka profesi sebagai seorang perawat dituntut untuk dapat melakukan asuhan keperawatan dengan cara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif sehingga masalah dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari komplikasi yang lebih buruk. Macam-Macam Fraktur Femur Dan Manajemennya 1. Fraktur leher femur Fraktur leher femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat berupa fraktur subkapital, transervikal, dan basal, yang kesemuanya terletak di dalam simpai sendi panggul atau interkapsuler, fraktur intertrokanter dan subtrokanter terletak ekstrakapsuler. Fraktur intrakapsuler umumnya sulit untuk mengalami

pertautan dan cenderung terjadi nekrosis avaskuler kaput femur. Pendarahan kolum yang terletak intraartikular dan pendarahan kaput femur berasal dari proksimal a. sirkumfleksa femoris lateralis melalui simpai sendi. Sumber perdarahan ini putus pada fraktur intraartikular. Pendarahan oleh arteri di dalam ligamentum teres sangat terbatas dan sering tidak berarti. Pada luksasi arteri ini robek. Epifisis dan daerah trokanter cukup kaya vaskularisasinya, karena mendapat darah dari simpai sendi, periosteum, dan a. nutrisia diafisis femur. Fraktur kolum femur yang terletak intraartikular sangat sukar sembuh karena bagian proksimal perdarahannya sangat terbatas sehingga memerlukan fiksasi kokoh untuk waktu yang cukup lama. Semua fraktur di daerah ini umumnya tidak stabil sehingga tidak ada cara reposisi tertutup terhadap fraktur ini kecuali jenis fraktur yang impaksi, baik yang subservikal maupun yang basal. Sering dapat dilihat pemendekan bila dibandingkan tungkai kiri dengan kanan. Jarak antara trokanter mayor dan spina iliaka anterior superior lebih pendek karena trokanter terletak lebih tinggi akibat pergeseran tungkai ke kranial. Penderita umumnya datang dengan keluhan tidak bisa jalan setelah jatuh dan terasa nyeri. Umumnya penderita tidur dengan tungkai bawah dalam keadaan sedikit fleksi dan eksorotasi serta memendek. Gambaran radiologis menunjukkan fraktur leher femur dengan dislokasi pergeseran ke kranial atau impaksi ke dalam kaput. Kegalian fraktur ini disebabkan kontraksi dan tonus otot besar dan kuat antara tungkai dan tubuh yang menjembatani fraktur, yaitu m. iliopsoas, kelompok otot gluteus, quadriceps femur, flexor femur, dan adductor femur. Inilah yang menggangu keseimbangan pada garis fraktur. Adanya osteoporosis tulang mengakibatkan tidak tercapainya fiksasi kokoh oleh pin pada fiksasi interna. Ditambah lagi, periosteum fragmen intrakapsuler leher femur tipis sehingga kemampuannya terbatas dalam penyembuhan tulang. Oleh karena itu, pertautan fragmen fraktur hanya bergantung pada pembentukan kalus endosteal. Yang penting sekali ialah aliran darah ke kolum dan kaput femur yang robek pada saat terjadinya fraktur. Penanganan fraktur leher femur yang bergeser dan tidak stabil adalah reposisi tertutup dan fiksasi interna secepatnya dengan pin yang dimasukkan dari lateral melalui kolum femur. Bila tak dapat dilakukan operasi ini, cara konservatif terbaik adalah langsung mobilisasi dengan pemberian anestesi dalam sendi dan bantuan tongkat. Mobilisasi dilakukan agar terbentuk

pseudoartrosis yang tidak nyeri sehingga penderita diharapkan bisa berjalan dengan sedikit rasa sakit yang dapat ditahan, serta sedikit pemendekan. Terapi operatif dianjurkan pada orang tua berupa penggantian kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaput femur diikuti dengan mobilisasi dini pasca bedah. a. Terapi Konservatif Dilakukan apabila fraktur memiliki kemungkinan sebagai berikut : · Gangguan peredaran darah pada fragmen proksimal · Kesulitan mengamati fragmen proksimal · Kurangnya penanganan hematom fraktur karena adanya cairan synovial. Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan skin traction, dengan buck extension. b. Terapi Operatif Pada umumnya terapi yang dilakukan adalah terapi operasi, fraktur yang bergeser tidak akan menyatu tanpa fiksasi internal, dan bagaimanapun juga manula harus bangun dan aktif tanpa ditunda lagi kalau ingin mencegah komplikasi paru dan ulkus dekubitus. Fraktur terimpaksi dapat dibiarkan menyatu, tetapi selalu ada resiko terjadinya pergeseran pada fraktur-fraktur itu, sekalipun ditempat tidur, jadi fiksasi internal lebih aman. Dua prinsip yang harus diikuti dalam melakukan terapi operasi reduksi anatomi yang sempurna dan fiksasi internal yang kaku. Merode awal yang menstabilkan fraktur adalah fiksasi internal dengan Smith Petersen Tripin Nail. Fraktur dimanipulasi dengan meja khusus orthopedi. Kemudian fraktur difiksasi internal dengan S.P. Nail dibawah pengawasan Radiologi. Metode terbaru fiksasi internal adalah dengan menggunakan multiple compression screws. Pada penderita dengan usia lanjut (60 tahun ke atas) fraktur ditangani dengan acara memindahkan caput femur dan menempatkannya dengan metal prosthesis, seperti prosthesis Austin Moore. Penderita segera di bawa ke rumah sakit. Tungkai yang sakit dilakukan pemasangan skin traction dengan buck extension. Dalam waktu 24-48 jam dilakukan tindakan reposisi, yang di lanjutkan dengan reposisi tertutup dengan salah satu cara menurut Leadbetter.

keduanya harus terletak memanjang dan sampai plate tulang subkondral. fraktur dipertahankan dengan pen atau kadang dengan sekrup kompresi geser yang ditempel pada batang femur. Setelah itu di lakukan test. Bila posisi kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi berhasil baik. Sejak hari pertama pasien harus duduk ditempat tidur atau kursi. Dia dilatih melakukan pernafasan. asisten memfiksir pelvis. Insisi lateral digunakan untuk membuka femur pada bagian atas kawat pemandu. lutut dan coxae dibuat fleksi 90° untuk mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul. . Diperlukan reduksi yang tepat pada fraktur stadium III dan IV. sekrup distal terletak pada korteks inferior leher femur.Penderita terlentang di atas meja operasi dalam pengaruh anastesi. fiksasi pada fraktur yang tak tereduksi hanya mengundang kegagalan kalau fraktur stdium III dan IV tidak dapat direduksi secara tertutup dan pasien berumur dibawah 70 tahun. Kemudian dilakukan open reduksi. dianjurkan melakukan reduksi terbuka melalui pendekatan anterolateral. Sekali direduksi. atau plate Pengawasan dengan sinar X (sebaiknya digunakan penguat) digunakan untuk memastikan reduksi pada foto anteroposterior dan lateral. Dengan sedikit adduksi paha ditarik ke atas. dianjurkan berusaha sendiri dan mulai berjalan (dengan penopang atau alat berjalan) secepat mungkin. Kalau reposisi pertama gagal dapat diulang 3 kali. kemudian sisi panggul dilakukan gerakan memutar dengan melakukan gerakan abduksi dan extensi. tetapi pada foto anteropsterior. Setelah reposisi berhasil baik. dilakukan reposisi terbuka. Tetapi pada pasien tua (60 tahun keatas) cara ini jarang diperbolehkan. cancellous screw. lebih baik dilakukan penggantian prostetik. Palm Halm Test : tumit kaki yang cedera diletakkan di atas telapak tangan. kemudian pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi panggul 45°. kalau dua usaha yang dilakukan untuk melakukan reduksi tertutup gagal. dilakukan tindakan pemasangan internal fiksasi dengan teknik multi pin percutaneus. digunakan untuk memastikan bahwa penempatan alat pengikat adalah tepat. setelah tereposisi dilakukan internal fiksasi alat internal fiksasi knowless pin. Dua sekrup berkanula sudah mencukupi. yang disisipkan dibawah pengendali fluroskopik. pada foto lateral keduanya berada ditengah-tengah pada kaput dan leher.

Sering terjadi pada orang tua dan umumnya dapat bertaut dengan terapi konservatif maupun operatif karena perdarahan di daerah ini sangat baik. penanganannya sama dengan yang di atas. Terapi operatif memperpendek masa imobilisasi di tempat tidur. · Pada pasien dengan penyakit paget atau penyakit metastatik. Penggantian pinggul total mungkin lebih baik : · Kalau terapi telah tertunda selama beberapa minggu dan dicurigai ada kerusakan acetebulum. Pada bagian luar pangkal paha terlihat kebiruan akibat . Fraktur ini biasanya sembuh dalam waktu 3 bulan tanpa tindakan operasi. Penderita terlentang di tempat tidur dengan tungkai bawah eksorotasi dan terdapat pemendekan sampai 3 cm disertai nyeri pada setiap pergerakan. Penderita biasanya datang dengan keluhan tidak dapat berjalan setelah jatuh disertai nyeri yang hebat. Pandangan ini meremehkan morbiditas yang menyertai penggantian. tetapi apabila tidak sembuh atau terjadi disimpaksi yang tidak stabil atau nekrosis avaskuler. sehingga penggantian prostetik selalu lebih baik. Umumnya gejala yang timbul minimal dan panggul yang terkena dapat secara pasif digerakkan tanpa nyeri. Penanganan nekrosis avaskuler kaput femur dengan atau tanpa gagal-pertautan juga dengan eksisi kaput dan leher femur dan kemudian diganti dengan prosthesis metal.Beberapa ahli mengusulkan bahwa prognosis untuk fraktur stadium III dan IV tidak dapat diramalkan. Fraktur trokanter femur Fraktur ini terjadi antara trokanter mayor dan minor. Pada fraktur leher femur impaksi biasanya penderita dapat berjalan selama beberapa hari setelah jatuh sebelum timbul keluhan. 2. Karena itu kebijaksanaan kita adalah mencoba reduksi dan fiksasi pada semua pasien yang berumur dibawah 60 tahun dan mempersiapkan penggantian untuk penderita yang : · Penderita yang sangat tua dan lemah · Penderita yang gagal mengalami reduksi tertutup · Penggantian yang paling sedikit traumanya adalah prostesis femur atau prostesis bipolar tanpa semen yang dimasukan dengan pendekatan posterior.

dengan paha dalam posisi fleksi dan abduksi. terlihat lebih pendek. Terapi operatif dapat dilakukan dengan pemasangan pelat trokanter yang kokoh. pin intramedular ini dapat dikombinasi dengan pelat untuk neutralisasi rotasi. Pada fraktur femur tertutup. cara traksi skelet memerlukan waktu istirahat di tempat tidur yang lama sehingga untuk mempercepat mobilisasi dan memperpendek masa istirahat di tempat tidur. fraktur ditangani secara konservatif dengan traksi skelet. Fraktur batang femur Pada fraktur diafisis femur biasanya perdarahan dalam cukup luas dan besar sehingga dapat menimbulkan syok. Yang tidak dapat ditangani dengan traksi adalah dislokasi tertentu berat. Fraktur ini ditangani secara konservatif dengan traksi tulang.hematom subkutan. dan pergelangan kaki. Yang penting ialah latihan otot dan gerakan sendi. serta fraktur suprakondiler tanpa dislokasi berat. selama 6-8 minggu. Fraktur yang dapat diatasi dengan traksi adalah fraktur intertrokanter dan subtrokanter. Fiksasi interna biasanya berupa pin Kuntscher intramedular. fraktur diafisis oblik. Akan tetapi. quadriceps otot tungkai bawah. lutut. dan fraktur kondilus femur. Untuk fraktur yang tidak stabil. pemendekan kurang dari 2 cm masih dapat diterima karena di kemudian hari akan sama panjangnya dengan . bukan saja karena nyeri. misalnya fraktur batang femur yang kominutif atau fraktur batang femur bagian distal. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup. terutama m. dan normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih. dapat dianjurkan untuk melakukan reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna yang kokoh. baik pada tuberositas tibia maupun suprakondiler. Cara ini biasanya berhasil mempertautkan fraktur femur. tujuan traksi kulit untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar. 3. kemudian mobilisasi segera pascabedah. karena akan menyambung dengan baik. tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. segmental. dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat perdarahan ke dalam jaringan lunak. dilakukan traksi kulit dengan metode ekstensi buck. Pada orang dewasa. dan kominutif. Pada foto Rontgen terlihat fraktur daerah trokanter dengan leher femur dalam posisi varus yang bisa mencapai 90O. Fraktur batang femur pada anak-anak umumnya dengan terapi non operatif. Secara klinis penderita tidak dapat bangun.

traksi kulit Bryant. tindakan terbaik adalah traksi skelet kontinu yang memungkinkan gerakan sendi lutut begitu nyeri akut menghilang. 4. melesak ke dalam sendi lutut dan mengganjal di antara kedua kondilus dan salah satu atau keduanya retak. 5. Seperti halnya fraktur batang femur. sendi lutut bengkak akibat hemartrosis dan biasanya disertai goresan atau memar pada bagian depan lutut yang menunjukkan adanya trauma. Di sini patella juga dapat mengalami fraktur. fraktur multipel. Pengobatan non-operatif dapat dilakukan dengan metode Perkin. Secara klinis. Pada patah tulang kondilus ganda. paling baik dilakukan reposisi terbuka dengan fiksasi interna dengan sekrup tulang spongiosa. yang memungkinkan mobilisasi segera dan menggerakkan sendi lutut. Hal yang terakhir ini penting karena gerakan sendi lutut yang segera dapat mencegah sendi kejur akibat perlekatan otot dan atau perlekatan jaringan lunak di sekitar sendi lutut. fraktur suprakondiler dapat dikelola secara konservatif dengan traksi skeletal dengan lutut dalam posisi fleksi 90O. Pada bagian proksimal kemungkinan terdapat komponen melintang sehingga didapati fraktur dengan garis fraktur berbentuk seperti huruf T atau Y. Sedangkan indikasi operatif karena penanggulangan non-operatif gagal. robeknya arteri femoralis.tungkai normal. Fraktur femur interkondiler Fraktur ini juga relatif jarang dan biasanya terjadi sebagai akibat jatuh dengan lutut dalam keadaaan fleksi dari ketinggian. Traksi ini juga memerlukan waktu istirahat di tempat tidur yang lama sehingga lebih disukai reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna dengan pelat suprakondiler yang kokoh. Gerakan ini kadang dapat menjadi patokan untuk menilai apakah fragmen sendi sudah pada posisi yang diinginkan dan mengurangi resiko . Permukaan belakang patella yang berbentuk baji . Untuk fraktur kondilus tunggal lateral atau medial. yaitu fraktur kondilus T atau Y juga dilakukan reposisi terbuka dengan fiksasi interna yang kokoh pada kedua kondilus dan pada komponen melintang bila sarananya tersedia. metode balance skeletal traction. fraktur patologik dan fraktur pada orang-orang tua. Hal ini kemungkinan karena daya proses remodeling pada anak-anak. Fraktur femur suprakondiler Fraktur ini relatif lebih jarang dibandingkan fraktur batang femur. Pada fraktur kominutif berat di interkondiler. dan traksi Russel.

Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut. b. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai tulang dimobilisasi. (Brunner & Suddarth. infeksi tulang dan tumor tulang. d. Kolum femoris b. BAB II TINJAUAN TEORI 1. Pengertian Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Syamsuhidayat. Etiologi a. Suprakondiler e. Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa trauma. Kondiler f. penyakit metabolik. Pada orang tua. c. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Batang femur 4. Kaput . b. 2. Trokhanter c. 3. Deformitas disebabkan karena pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai. Manifestasi Klinis a. fraktur femur interkondiler femur umumnya lebih baik ditangani secara konservatif dengan traksi skelet.kekakuan sendi. 2004: 840). Lokasi Terjadinya Fraktur Femur Fraktur femur dapat terjadi pada beberapa tempat diantaranya: a. Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan. Contoh fraktur patologis: Osteoporosis. 2001 : 2357).

(bergeser dari posisi normal). Fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang: 1) Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok 2) Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang 3) Obllik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding transversal) 4) Spiral: fraktur memuntir sepanjang batang tulang 5) Komunitif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen . merupakan yang paling berat e. 5. d. Fraktur tertutup tidak menyebabkan robeknya kulit. Krepus. Klasifikasi Fraktur a. Fraktur tidak komplit adalah patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai kepatahan tulang. fraktur terbuka digradasi menjadi: 1) Grade 1 dengan luka bersih panjangnya kurang dari 1 cm 2) Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif 3) Grade III luka yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. b. c. e. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. Pembengkakan lokal dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan gangguan sirkulasi yang mengikuti fraktur. Pemendekan tulang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.c. d.

metastasis tulang. Fase radang dan proliferasi seluler Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal. Hematoma terdesak dan diabsorbsi oleh tubuh. Fase hematoma: Proses terjadinya hematoma dalam 24 jam. Proses . Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis masing-masing fragmen. Fase hematoma Terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang yang disebabkan terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost. tumor) 9) Avulsi: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlakatannya 10) Epifiseal: fraktur melalui epifisis 11) Impaksi: fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang yang lainnya. yang menonjol adalah proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Proses Penyembuhan Fraktur Tulang a. b. Fase proliferasi/ fibrosa: terjadi dalam waktu sekitar 5 hari. 6. penyakit paget. Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan.6) Depresi: fraktur dengan pragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah) 7) Kompresi: fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang) 8) Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang. maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem haversian mengalami robekan pada daerah luka dan akan membentuk hematoma diantar kedua sisi fraktur. Perdarahan ini akan memebentuk hematoma disekitar dan di dalam fraktur. Apabila terjadi fraktur pada tulang panunjang. dan yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter. Fase ini berlangsung selama 2-3 minggu setelah fraktur. karena adanya sel-sel osteogenik yang berpoliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksternal serta pada daerah endosteum membentuk kalus internal sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis.

(Rasjad. kontraksi otot dan sebagainya. mengelilingi daerah fraktur. maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya. Terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Fase pembentukan kalus (pertautan klinis) minggu 3-8 Pada fase ini terbentuk kalus fibrosa dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan. Fase Remodeling: Waktu pembentukan 4-6 bulan. Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. c. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium. Fase ini terjadi 12 minggu setelah fraktur terjadi. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal. d. Kekuatan kalus ini sama dengan tulang biasa. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium. 1998 : 400 ). Fase konsolidasi (minggu 8-12) callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela. patah tulang melalui proses penulangan endokondrol. Fase Pembentukkan Kalus: Waktu pembentukan kalus 3-4 minggu. . mineral terus-menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Pada fase ini perlahanlahan terjadi reabsorbsi secara eosteoklastik dan tetap terjadi prosesosteoblastik pada tulang dan kalus eksternal secara perlahan-lahan menghilang. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis. e. Fase remodeling union sudah lengkap.dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu proses yang sama sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Fase ini terjadi pada minggu ke 8-12 setelah fraktur. membentuk tulang immature atau young callus Pada akhir stadium terdapat 2 macam kalus internal callus dan diluar disebut external callus. misalnya gerakan. Fase Osifikasi: Pembentukan halus mulai mengalami perulangan dalam 2-3 minggu.

Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang c. Faktor yang mempercepat penyembuhan tulang a. Asupan darah yang memadai . Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah. Komplikasi Komplikasi awal a. Immobilisasi fragmen tulang b. penggunaan gips atau balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi. cidera remuk). Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya.7. Nutrisi yang baik e. Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. b. Ini bisa disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat. c. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan. 8. Kontak fragmen maksimal tulang d. Komplikasi lambat a. c. Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan) b. Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal kejaringan yang rusak. namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.

Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan) e. . tomogram. Faktor yang menghambat penyembuhan tulang a. Immobilisasi memadai yang tak g. Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan: lokasi. pemeriksaan klinik dan radiologis. Radiasi tulang) tulang (nekrosis d. kalsitonin. g. komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan. bentuk fraktur. Rongga atau jaringan diantar fragmen tulang 11. Infeksi f. Potensial listrik pada patahan tulang 10. Kehilangan massa tulang c. 12. CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak c. tiroid. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik a. menentukan teknnik yang sesuai untuk pengobatan. Usia h.adalah: a. Recognition: mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi. d. vitamin D.f. Trauma berulang b. luas dan jenis fraktur b. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.Scan tulang. Hormon-hormon pertumbuhan. Penatalaksanaan medik Empat prinsip penanganan fraktur menurut Chaeruddin Rasjad tahun 1988.

Reduction: reduksi fraktur apabila perlu. 1995. Jakarta : EGC. 2000. Edisi 3. Edisi 3. Edisi 4. A. Lukman and Sorensen¶s. Patofisiologi. Carpenito. Jakarta : EGC. Jilid II. Mansjoer. Edisi 1. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. Graham. Edisi 8. FKUI.b. Jakarta : EGC. bidai. . Rasjad. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth. Media Aesculapius. Buku I . Jakarta : EGC . iga. USA : WB Sunder Company. 2000. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan. Smetzer. dan fiksasi interna meliputi inplan logam seperti screw. Kapita Selekta Kedokteran. angulasi <5> c. Ilmu Bedah Orthopedi. Rencana Asuhan Keperawatan. Volume 8. Brunner and Suddarth. C. vol 3. dkk. dkk. Donges. DAFTAR PUSTAKA Apley. Posisi yang baik adalah: alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna. Fraktur yang tidak memerlukan reduksi seperti fraktur klavikula.1995. d. traksi. dkk. Jakarta : EGC. immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna meliputi pembalut gips. Suzanna. 1993. Marilyn B. Arif. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. Jakarta : EGC. Edisi 3. 4th Edition buku 11. Lynda Juall. Ujung Pandang : Bintang Lamupate. fraktur impaksi dari humerus. Chairudin. restorasi fragment fraktur sehingga didapat posisi yang dapat diterima. Retention. Price. 2001. Medical Surgical Nursing. Slyvia A Dan Laraine M. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. deformitas serta perubahan osteoartritis dikemudian hari. 1998. Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. 2001. Wilson. immobilisasi fraktur: mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi union sehingga terjadi penyatuan.

Laporan Kasus Fraktur Femur Nama : Tn. Benturan di kepala tidak diingat os. Benjolan dirasakan membesar.00 WIB Keluhan Utama : Benjolan pada paha kiri sejak 3 bulan SMRS Keluhan Tambahan : Lutut kiri kaku. keras. Os tidak ingat bagaimana posisi os jatuh namun ia menduga paha kirinya terlindas ban angkutan umum karena ada jejak ban mobil pada celananya. Paculang RT 04/010. Tidak terdapat luka dan tulang yang mencuat keluar pada paha kirinya. maag (+) Riwayat Penyakit Keluarga (-) Riwayat Kebiasaan Merokok 4 batang perhari Riwayat Alergi Obat : (-) . Sejak itu os menyadari bahwa lutut kirinya kaku dan tidak bisa menekuk lututnya maksimal terutama saat berjalan sehingga aktivitasnya terbatas. OA genu dextra (+). Benjolan dirasakan membesar. dan tidak nyeri bila dipegang. Kebon Pedes.mulut. RPD Riwayat trauma (-). Lutut kiri juga dirasakan kaku dan kurang bisa menekuk. Kemudian os dibawa ke RS PMI oleh penduduk sekitar dan didiagnosis patah tulang pada paha kirinya. Os mengaku 6 bulan SMRS mengalami patah tulang pada paha kiri akibat KLL. Os dianjurkan untuk operasi namun os menolak dan memilih untuk berobat alternatif ke Cimande. Nyeri lutut saat berjalan dan menekuk (-). bengkak (-). Os juga mulai berjalan dengan memakai tongkat. Ketika sadar os tidak dapat berdiri dan melihat paha kirinya bengkok ke arah luar disertai nyeri hebat.Jantung (-). DM (-). pukul 10. demam (-). Os pingsan < 5 menit. BAK lancar. P Usia : 50 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : Pensiunan Alamat : Gg. hipertensi (-). Bogor Tanggal Masuk : 23 Juli 2009 Suku Bangsa : Sunda Pendidikan : S1 ANAMNESA Autoanamnesa pada hari Kamis. Bulan ke 4 os menyadari adanya benjolan pada paha kirinya. asam urat (+). Muntah (-). Oleh pengobatan alternatif kaki kiri os dibalut dan diberi papan selama 3 bulan sehingga os banyak menghabiskan waktunya berbaring di tempat tidur. Os memakai helm. Mual (-). Keluar darah dari hidung. dan tidak nyeri bila dipegang.telinga (-). TBC (). Ketika itu os sedang mengendarai sepeda motor dan tertabrak angkutan umum dari belakang saat menghindari perbaikan jalan. BAB lancar. keras. 23 Juli 2009. kurang bisa menekuk RPK Os datang dengan keluhan terdapat benjolan pada pertengahan paha kiri sejak 3 bulan SMRS. Pusing (+).

tibialis posterior teraba ÁMotorik : Mampu melawan gravitasi dan tahanan pemeriksa ÁSensibilitas : baik ÁSuhu kulit hangat ÁNyeri tekan ( . pupil bulat. compos mentis ÁPostur tubuh : asthenikus ÁStatus gizi : cukup ÁCara bicara : aktif ÁCara berbaring : aktif. distribusi merata. irama reguler : 36. caries (-).S2 reguler Murmur ± Gallop Paru Suara napas vesikuler. hepar dan lien tidak teraba membesar. sianosis (-). KGB tidak teraba membesar. kalkulus (-) Leher Bentuk simetris. deviasi septum (-). hiperemis (-). sekret (-) Á Bibir : simetris. hematom (-). RCL +/+. jaringan parut (-) Á Mata : CA -/-.3oC. schizis (-) Á Mulut dan Tenggorokan : mukosa gusi tidak ada tanda radang.dorsalis pedis dan a.Pasif ÁFleksi panggul (+) ÁFleksi panggul Áextensi panggul (+) Áextensi panggul Á abduksi panggul (+) Áabduksi panggul Áadduksi panggul (+) Á adduksi panggul Áeksorotasi panggul (+) . SI -/-. serumen (+) minimal Á Hidung : simetris. di aksila kanan : 22 x/menit Keadaan Umum ÁKesadaran : sakit ringan. sianosis (-). lidah tidak tremor. nyeri lepas (-). oedem (-) Ekstremitas Lihat status lokalis STATUS LOKALIS Regio femoralis dan genu Sinistra Look : Áasimetris pada tungkai kanan dan kiri Átungkai kiri lebih pendek dari tungkai kanan Ádeformitas di femur sinistra. oedem palpebra (-) Á Telinga : normotia. lidah tidak kotor. terlihat benjolan berukuran 15 x 5 x 3 cm Ádiameter genu kiri lebih besar dari genu kanan Áwarna kulit sama dengan sekitar Áoedem (-) Feel: ÁPulsasi a.PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Tanda Vital ÁTekanan darah ÁNadi ÁSuhu tubuh ÁFrekuensi nafas : 120/80 mmHg : 84 x/menit. Rhonki -/-. perut datar. trakea terletak lurus di tengah. defence muscular (-) nyeri ketuk (-). Aktif b. oedem mukosa (-). oedem (). terletak di tengah. ballottement (-). Wheezing -/Abdomen simetris. nyeri tekan tragus dan mastoid (-). kelenjar tiroid simetris dan tidak teraba membesar Jantung S1. sikatriks (-) supel. shifting dullness (-). deformitas (-). deviasi uvula () Á Gigi : lengkap. tidak terpaku pada satu sisi ÁSikap : kooperatif ÁOedem : (-) ÁDyspnoe : (-)Cianosis Dehidrasi Pemeriksaan Sistematis Kepala Á Bentuk kepala : normocephali Á Rambut : beruban. isokor. timpani bising usus (+) normalEkstremitas : akral hangat (+). nyeri tekan (-).) Move : Range of motion (ROM) : a. RCTL +/+. uvula simetris. tidak mudah dicabut Á Wajah : simetris.

contracture genu sinistra PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan golongan darah dan cross-match Pemeriksaan radiologi : rontgen thorax dan rontgen femur post operasi EKG PENATALAKSANAAN Á Observasi keadaan umum Á ORIF : refrakturisasi. atau akibat luka tembak.6 g/dl 35 % 3880/mm3 260000/mm3 2 menit 6 menit Normal 13-18 g/dl 40-54 % 4000-10000/mm3 150000-400000/mm3 1-3 menit sp-7 menit FOTO RONTGEN Rontgen pelvis : tidak tampak adanya fraktur Rontgen femur sinistra AP/Lateral : Deskripsi: terdapat garis fraktur oblik dengan displacement angulasi 45 dengan kalus Kesan: malunion pada 1/3 tengah os femur sinistra. jatuh dari ketinggian.v Á Ketorolac 2x1 i. pejalan kaki yang tertabrak oleh kendaraan. mengakibatkan penderita jatuh dalam shock.000 orang per tahun. dapat melawan pengaruh gravitasi serta dapat melawan tahanan yang dilakukan pemeriksa. insidens sekitar 10. bone grafting Á IVFD RL Á Cek DPL Á Ceftriakson 2x1 g i.4 laki-laki >>.Áeksorotasi panggul Áendorotasi panggul (+) Áendorotasi panggul Áfleksi lutut (+) 30 Áfleksi lutut Áekstensi lutut (+) Áekstensi lutut (+) 40¶ (+) Power : Grade 5 : Dapat menggerakan sendi. PEMERIKSAAN PENUNJANG LABORATORIUM Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Bleeding time Clotting time Hasil 11. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. dekortikasi. DIAGNOSIS Malunion neglected fracture 1/3 tengah os femur sinistra.v Á Ranitidin 2x1 i. Biasa terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas. osteotomi koreksi.v Á Transfusi PRC Á Bed rest 24 jam pertama Á Fisiotherapi PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : Bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam Fraktur Batang Femur Batang femur adalah region yang dimulai dari 5 cm distal dari trochanter minor sampai dengan 9 cm di atas sendi lutut. 3 . usia 25-65 tahun. fiksasi internal dengan plate and screw.

Simple 2 Crush/depression 3 .split depression Klasifikasi Deskriptif Derajat cominutif Contoh: non-comminuted or mildly comminuted or severely comminuted Lokasi: 1/3 proximal.Type C Type C: fraktur pada intra-articular dan kedua condyle 1 . 1/3 distal femur Displacement: displasi. .III A fragmen tulang masih dibungkus jaringan lunak.Complete fracture 3 Comminuted fracture AO Classification .KLASIFIKASI FRAKTUR BATANG FEMUR Berdasarkan klinis2 Fraktur tertutup (simple fracture) Fraktur terbuka (compound fracture) . impaksi Klasifikasi Winquist Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V : kominutiv minimal <25 % atau tidak ada kominutiv : fragmen berbentuk segitiga (buterfly) 50% atau kurang dari lebar tulang : fraktur batang femur kominutif dengan butterfly fragmen > 50% lebar tulang : fraktur batang femur kominutif seluruh segmen tulang : fraktur kominutif dengan hilangnya segmen tulang.Derajat I .Derajat III .Simple 2 Crush/depression 3 .Derajat II .Type B Tipe B : fraktur pada intra-articular dan single condyle 1 .Comminuted .III B fragmen tulang tak dibungkus jaringan lunak terdapat pelepasan lapisan periosteum. fraktur kominutif.Avulsion fracture 2 .distraksi.Tipe A Tipe A: fraktur extra-articular 1 . angulasi. 1/3 medial. . Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) Klasifikasi AO .Comminuted . terjadi kerusakan jaringan lunak hebat. .split depression AO Classification .III C trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar bagian distal dapat dipertahankan.

nyeri dan gerakan abnormal dapat ditemukan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : darah rutin. Cek pulsasi arteri di distal fraktur. ‡ Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil. memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal. Umur pasien dan mekanisme cedera Nyeri. pemendekan). daerah yang mengalami nyeri tekan setempat. efusi. Fraktur Ekstrakapsuler.Ada 2 type dari fraktur femur. Pemeriksaan meliputi persendian diatas dan dibawah cedera. warna kulit. faktor pembekuan darah. cross-test. Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi. Feel : Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. bukan saja karena nyeri. c. yaitu : 1. Movement :Krepitus. tetapi juga karena ketidak stabilan fraktur. tungkai diekstraksi . GAMBARAN KLINIS Anamnesis Riwayat cedera. ‡ Terjadi di luar sendi dan kapsul. medula spinalis Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget) Tanda ± tanda lokal a. ada tidaknya kulit robek dan b. panggul dan Melalui kepala femur (capital fraktur) ‡ Hanya di bawah kepala femur ‡ Melalui leher dari femur 2. terlihat lebih pendek Penderita fraktur batang femur tidak dapat bangun. rotasi. pengembalian cairan kaplier (Capillary refill test) sensasi. dan krepitasi. melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. Radiologis (rule of two) 2 gambaran 2 sendi 2 ekstremitas 2 kesempatan 2cedera. angulasi. PEMERIKSAAN FISIK Tanda ± tanda umum : Syok atau perdarahan Kerusakan yang berhubungan dengan otak. memar dan pembengkakan Deformitas: seluruh tungkai bawah terotasi keluar. golongan darah. Look : Pembengkakan. tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi ± sendi dibagian distal cedera. dan urinalisa. FRAKTUR FEMUR TERTUTUP skin traksi: Buck extension atau pemakaian Thomas splint.ketidakmampuan menggunakan tungkai yang mengalami cedera.

manipulasi sendi yang dilakukan dengan anestesi. terputar. kecepatan >>. Full Weight Bearing MALUNION Fraktur yang penyambungannya menimbulkan deformitas memendek. Non Weight Bearing 2. FRAKTUR FEMUR TERBUKA Penatalaksanaan pada fraktur terbuka dilakukan dengan cara: Pembersihan luka Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debrideman) Pengobatan fraktur itu sendiri. ÁPencegahan perpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif dan pasif pada sendi ÁPenatalaksanaan terapi pemanasan dan latihan. ahli bedah dan fasilitas yang tersedia. atau angulasi Penyebabnya: primer dan sekunder Gejalanya dapat berupa deformitas. Partial Weight Bearing 3.dalam keadaan ekstensi. nyeri. perlengketan intraartikuler. Setelah traksi kulit dapat dipilih pengobatan non operatif atau operatif FRAKTUR FEMUR TERTUTUP Non operatif: Skeletal traksi selama 12 minggu Operatif: Open reduction and internal fixation (ORIF) 3 Indikasi ORIF: fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi fraktur yang tidak stabil dan cenderung mengalami pergeseran kembali setelah direduksi fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan fraktur patologik fraktur multiple fraktur pada pasien yang sulit perawatannya ORIF Penahanan >>. perlengketan antara otot dan tendon. pembengkakan.gerakan >>. Penutupan kulit Pemberian antibiotik Pencegahan tetanus REHABILITASI Latihan fisiologis otot Mobilisasi sendi Massage Pemanasan dan terapi listrik Latihan jalan 1. dan kurang dapat menahan beban KEKAKUAN SENDI Áakibat cedera pada sendi atau imobilisasi lama ÁPerlengketan peri artikuler. plate dengan screw. ÁPemendekan menjadi masalah utama sepatu yang ditinggikan. . Fragmen tulang yang telah direposisi dapat dapat difiksasi dengan screw. keamanan << Risiko infeksi tergantung dari pasien. dan pembedahan. dan intramedullary nail.

dan anda mungkin merasa membutuhkan tambahan cairan pada lutut anda. terutama ketika anda sedang berjalan atau berlari. tertekannya bantalan lemak pada bagain atas tibia. Pasien yang lututnya hiperekstensi juga cenderung pada situasi ini.Permasalahan yang Sering Terjadi Pada Mekanisme Ekstensi Lutut Mekanisme ekstensor dapat menyebabkan nyeri pada lutut bagian depan. Daerah ini akan menjadi sangat perih dan nyeri. lebih keras. Jika penekanan terjadi. Serabut tendon yang melekat pada bagian bawah patella mengalami iritasi. Penekanan bantalan lemak (fat pad) Kondisi ini terjadi ketika bagian bawah patella tertekan. muncul bunyi ³klek/tek´. Mungkin anda juga merasakan nyeri ketika turun tangga atau duduk pada waktu yang lama (contohnya ketika melihat film di bioskop). atau ketidakstabilan patella. seperti bersepeda. Gejala-gejala ini sering kali sebagai hasil dari iritasi plica. dan berlari bisa menyebabkan ketidaknyamanan. dan teriritasi. tendonitis patella. hal ini menyebabkan kepincangan dan pola jalannya stiff-legged (tungkai kaku). Anda mungkin mendengan bunyi gemeretak selama berjalan. gesekan plica pada ujung femur. Sekali tendon patella teriritasi. gemeretak atau hanya sakit ketika anda sedang istirahat. penekanan bantalan lemak. bola voli. dan secara normal bantalan lemak yang lunak menjadi lebih lebar. Iritasi plica Plica merupakan pembungkus sinovium. Pada situasi ini. dan lari. Aktivitas yang berulang-ulang. cairan akan mengumpul pada daerah di bawah patella. dan terbentuklah jaringan parut. Pada kasus yang berat. Jika bantalan lemak mengalami pembengkakan oleh karena iritasi atau cidera. . mengiritasinya dan menimbulkan nyeri. Nyeri dirasakan pada daerah di bawah tendon patella. kerobekan pada serabut ini dapat terjadi. bantalan lemak ini menjadi teriritasi dan kemudian timbul nyeri. atau mungkin anda merasakan seperti lutut anda ´menyerah´. ini akan lebih rentan untuk kondisi ini. berenang. Kelemahan otot abductor paha dapat juga menyebabkan iritasi pada plica ini. penderita degan penekanan bantalan lemak biasanya berjalan dengan lutut terekstensi. Tendonitis patellaris Kondisi ini terlihat pada orang-orang dengan aktifitas seperti bola basket. menyebabkan stress yang berulang-ulang pada tendon patella. Jaringan ini dapat mengalami iritasi ketika terdapat penekanan yang kuat pada tempat ini oleh karena kuatnya otot hamstring pada di belakang lutut.

Seseorang yang mengalami ³knock-kneed´(muncul bunyi µklek¶ ketika berlutut) yang parah lebih menyerupai suatu gerakan patella keluar dari lekukan femur. alloplast. yaitu: Derajat 1 : fraktur yang telah terjadi antara 3 hari -3 minggu Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu -3 bulan Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan ± 1 tahun Derajat 4 : fraktur yang telah terjadi lebih dari satu tahun . Di RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 19982000 terdapat 56 penderita neglected fraktur dari 1244 kasus fraktur (4. Neglected fraktur dibagi menjadi beberapa derajat.Instabilitas patella Merotasikan lutut anda selagi kaki anda dalam keadaan plantar fleksi secara kuat dapat menyebabkan patella bergeser dari normal posisi di dalam lekukan femur. patella dapat keluar dari normal posisi dan menyeruduk ke samping lutut.perbedaan anatomi lutut tuga sangat berperan. Terapi pemanasan dan latihan Manipulasi sendi di bawah anastesi Pembedahan dilakukan untuk melepaskan perlengketan. Lutut kemudian menjadi lemas. Kebanyakan mereka datang setelah 1-2 bulan sejak kejadian fraktur.58 %). menyebabkan orang jatuh. osteoinduction. Kelainan yang paling banyak dijumpai adalah malunion (12. tetapi subluksasi sering mengalami kesalahan diagnosis. memanjangkan otot yang kontraktur dan penggantian sendi. auto graft. Seperti contohnya.. allograft. dimana terdapat perubahan arah dengan cepat yang dipaksakan membuat lutut lebih rentan terjadinya dislokasi atau subluksasi patella. atau secara sederhana bahwa lutut mereka tidak stabil. Dengan subluksasi patella.5%). Mekanisme kerja :osteoconduction. sering terjadi akibat penanganan fraktur pada extremitas yang salah oleh bone setter Umumnya terjadi pada yang berpendidikan dan berstatus sosioekonomi yang rendah. Ketika otot dan ligament pada patella tidak cukup kuat. Bone grafting teknik operasi untuk mengganti bagian tulang yang hilang. Dislokasi patella secara umum merupakan kejadian traumaik mudah didiagnosis. dan osteogenesis. xenograft. Neglected fraktur Neglected fraktur adalah fraktur yang penanganannya lebih dari 72 jam. Sudut antara femur dan tibia dapat juga cenderung untuk posisi abnormal pada patella. Olah raga seperti tennis atau baseball. penderita sering merasakan patellanya menyelip atau keluar dari tempatnya. orang yang berjalan dengan eksternal rotasi pada tibia atau internal rotasi pada femur mungkin cenderung mengalami ketidakstabilan patella.

Agama : Islam ANAMNESIS dengan autoanamnesis dan aloamanmesis KU Nyeri dan bengkak pada pinggul atau paha kiri RPS Pasien datang ke instalasi gawat darurat BRSD Wonosobo dengan keluhan nyeri dan udem pada paha kiri pada pukul 09. saudara kandung. orang tua. Anamnesis sistem Sistem Cerebrospinal : Pasien dalam keadaan sadar. pembengkakan. Sehingga menyebabkan pasien merasa nyeri. Perempuan. Pasien tidak ada riwayat post stroke RPD Pasien belum pernah mengalami penyakit serupa. bengkak pada paha kiri dan tidak bisa berdiri. Umur 75 th. keluhan ini timbul setelah pasien terpeleset dengan sendi pinggul melakukan gerakan kearah rotasi dalam. tidak mengeluh sakit kepala dan demam Sistem kardiovaskular : Paien tidak mengeluh nyeri pada dada dan tidak berdebar-debar Istem respiratorius : Pasien tidak batuk dan tidak sesak nafas . Pasien jarang melakukan pekerjaan fisik yang berat.00. Riwayat patah tulang karena osteoporosis disangkal Riwayat Penyakit Sosial dan Pribadi Pasien merupakan pensiunan yang aktif berolah raga setiap pagi. Resume anamnesis Pasien post jatuh beberapa jam yang lalu dengan sendi pinggul bergerak kearah dalam.FRACTUR TROCHANTER MAYOR REGIO FEMUR SINISTRA Nama : Ny.L. anak) belum pernah mengalami penyakit serupa. Alamat : Jamplang Wonosobo. sehingga mengakibatkan rasa nyeri. RPK Keluarga pasien ( kakek. dan tidak dapat bergerak pada regio Coxae Sinistra. Pekerjaan : Pensiunan . nenek. Daerah paha yang nyeri diberikan balsem sebelum dibawa ke rumah sakit.

tidak hipo maupun hiperpikmentasi R = 24 T = 38 : Nyeri sangat pada paha kiri. Kesadaran Compos mentis. Sikap : Posisi berbaring pasif tidak dapat mobilisasi sendiri Vital Sign TD = 140/80 N = 80 Status Generalis: Kulit : Tidak pucat. Pemeriksaan Fisik KU : Baik. lidah kotor negatif. muntah. pendek. tidak mengeluh nyeri perut dan kembung Sistem Urogenetal : BAB dan BAK normal tidak ada keluhan Sistem Intergumentum : Tidak ada keluhan pada kulit gatal-gatal tidak ada rasa panas tidak ada rasa perih tidak ada Sistem muskuloskletal terbatas II. uvula dan tonsil tidak membesar varing tidak hiperemis. tidak kering. simetris. darah nagatif Mulut : Bibir tidak sianosis maupun kering. deformitas (-) . sadar penuh dapat berkomunikasi Aktif. acrie gigi positif.Sistem Gastrointestinal : Pasien tidak mual. pupil isokor. gangguan pendengaran negatif. sklera tidak ihterik. Mata Visus mata tidak terganggu. Deformitas negatif . otore negatif. Rambu warna berubah. rinore negatif . . otalgia negatif Hidung : Nafas cuping hidung negatif. refleks cahaya positif Telinga deformitas negatif. stomatitis negatif. tidak mudah rontok. dapat flatus dan BAB seperti biasa. serumen minimal. gerakan sangat Kepala : Bentuk kepala Mesocepal. Konjungtiva tidak anemis. GCS 15.

suara normal Torax Inspeksi: Simetris. nyeri tekan. sikatrik negatif. Hiper atau hipo peristaltik Palpasi : Perut supel. terdapat pulsasi. nyeri ketok ginjal dan ureter nrgatif Status Lokalis pada regio Coxae sinistra Inspeksi : Udema. batas kanan diatas SIC IV parasternal kanan. revsing sign negatif. tidak teraba massa Perkusi : Seluruh lapang perut timpani. irama nafas normal dengan frekwensi normal. Ronki) Bunyi jantung I dan II regular. Batas kiri SIC IV midclavicula kiri Auskultasi : Suara dasar paru Vesikular. deformitas pada regio coxae Palpasi : Nyeri tekan pada regio penonjolan Trochanter femur sinistra. IC dan masa tidak teraba Perkusi : Seluruh lobus paru sonor. nyeri tekan negatif. nyeri tekan pada Mc burney negatif. Palpasi : Focal fremitus seimbang antara paru kanan dan kiri. NVD baik. nyeri tekan negatif. mamae simetris tidak membesar. Pada daerah para sternal kanan redup hepar sedikit dibawah arcus costa.Leher : Teraba masa kenyal. nyeri tekan daerah supra pubic negatif. tak ada suara tambahan ( Whezing. defans muscular negatif. tidak ada pembesaran lln. permukaan halus. sifat pernafasan kombinasi. hepar dan lien tidak teraba. Batas redup jantung diatas SIC II parasternal kiri. batas redup hepar antara SIC 5 dan SIC 6 midclavicula. nyeri rebountendernes negatif. bergerak saat menelan. bentuk normal. pembesaran limfonodi axial negatif. bekas luka maupun caput medusa Auskultasi negatif : Peristalik positif. tak tampak masa atau benjolan sikatrik. bising usus positif. akral hangat . sensasi baik. benjolan negatif. ictus cordis tidak tampak. tak ada bising jantung Abdomen Inspeksi : Permukaan rata tidak distensi darm contur darm stifung negatif.

Aktif : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Pasif : Nyeri dan gerakan sangat terbatas : Terdapat nyeri ketok sumbu pada femur dengan daerah ketok : 72 cm : 84 cm Panjang klinis anatomis: 72 cm Panjang klinis Fisiologis: 80 cm Panjang anatomi Panjang Fisiologia Assesment Suspect Fractur Trochanter sinistra Pemeriksaan penunjang Diagnostik Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah Foto rongent Regio pelvik femur.Rotasi luar : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Rotasi dalam : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Ekstensi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas Perkusi patela . fractur columna femur.Abduksi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas . Diagnostik Fractur introtrochanter dan extratrochanter sinistra curiga fractur patologis DD: fractur pelvis.Adduksi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Fleksi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas . Kemudian dilakukan pengobatan konservatif dengan menggunakan asam mafenamat antasida dan amoxicilin . dan sudah dilakukan sejjak di ruang IGD Hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan rongent menunjukkan gambaran struktur tulang yang porotik. dan tampak fractur trochanter regio femur coxae sinistra dengan posisi tulang tidak baik.Tes Pergerakan . osteoatritis Tata laksana dan terapi Penatalaksanaan awal adalah dilakukan reposisi pada dearah fractur kemudian dilakukan pemasangan traksi Buck dengan tujuan mereposisi daerah yang mengalami protusio hingga posisi tulang benar-benar sehingga tulang dapat tersambung secara sempurna.

Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Vitamin D dalam jumlan besar dapat menyebabkan absorbsi tulang seperti yang terlihat pada kadar hormon paratirod yang tinggi. sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. . osteosit dan osteoklas. Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah. Osteblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui proses yang disebut osifikasi. yang membentuk berbagai sel darah. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang memecah matrik-matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang. Ketika sedang aktif membentuk jaringan osteoid. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.FRACTUR TROCHANTER FISIOLOGI TULANG Tulang membentuk rangka penunjang dan pembentuk bagi tubuh dan tempat melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. suatu peningkatan kadar hormon paratiroid mempunyai eveklangsung dan segera pada mineral tulang. Tidak seperti osteblas dan osteofit osteoklas mengikis tulang. Vitamin D dalam jumlah yang sedikit membantu kalsifikasi tulang antara lain dengan meningkatkan absorbi kalsium dan Fosfat oleh usus halus. Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang. Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon. Bila tidak ada Vitamin D hormon paratiroid akan menyebabkan absorbsi tulang. Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang terbentuk dari tiga jenis sel: osteoblas. Menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorbsi dan bergeran memasuki serum. dengan demikian maka kadar fosfatase alkali didalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker tulang. Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoitek. yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. osteoblas secara aktif mensekresikan sejumlah besar fosfatse alkali. Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyumpan dan mengatur kalsium dan fosfat.

penurunan kadar estrogen setelah menepouse mengurangi aktifitas osteoblastik. Walaupunseseorang melakukan gerakan loncatan. kalsifikasi tulang tidak berpengaruh pada osteporosis yang terjasi pada wanita pada usia sebelum 65 th. Keadaan ini dapat menyebabkan osteoporosis akibat kegagalan osteoblas membentuk matriks baru Definisi Tulang Trochanter Komponen tulang ekstremitas bawah berfungsi sebagai penahan gravitasi bumi.Estrogen menstimulasi osteoblas. jika tulang ini mengalami fractur maka dapat dipastikan fungsi tulang femur sebagai tulang anti gravitasi tidak dapat berfungsi dengan maksimal. Karana kontruksi yang menakjubkan ini maka tulang femur dapat menahan tekanan yang cukup besar yang bergantung dari berat badan orang itu sendiri. piriformis. . Apaliagi jika tulang femur mengalami protusi kearah pelvis yang menyebabkan panjang anatomis dan fisiologisnya mengalami perubahan. Namun berkurangnya matrik tulang lah yang menyebabkan terjadinya osteoporosis. secara ilmiah trochanter adalah penonjolan tulang yang menuju akhir dari tulang paha bagian atas. eksternus dan gameli. tulang femur berbentuk Hollow Cylindris. Fungsi osteoblastik juga tertekan jika penderita diberi glukortikoid dengan dosis besar. Menyebabkan penurunan matrik organik tulang. obturator internus. Trokhanter adalah tempat menyatunya otot pangkal paha dan otot paha trokhanter mayor tempat perlekatan beberapa otot gluteus medius minimus . Trochanter berasal dari bahas yunani yang artinya pelari. Trokhanter minor : Penonjolan piramida kuat yang memproyeksikan dari proximal dan medial bagian dari tangkai femur. trochanter mayor : penonjolan kuat yang berada di daerah proksimal dan lateral bagian dari tangkai femur 2. Trokhanter ada dua jenis yaitu: 1. Misalnya tulang femur. Tulang trokhanter adalah bagian dari tulang femur. dimana bentuk ini dapat menciptakan kekuatan yang maksimal dengan mineral yang minimal. Sedangkat trokhanter minor tempat perlekatan otot psoas major dan iliacus. Umumnya. tulang ini dapat menyesuaikan dengan gerakan loncatan orang tersebut.

ban perban elastik dapan menghambat peredaran darah sehingga menimbulkan mekrosis 2. rotasi dalam dan rotasi luar. kakai sebelah distal diberi stoking tubuler yang digulung 3. tingtura benzoin atau pelekat elastik dipajang pada kilit penderita dibawah lutut 2. Traksi kulit buck merupakan traksi yang paling cocok fraktur ini indikasi yang paling sering dugunakan traksi ini adalah mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki selain itu digunakan pula untuk memperbaiki kondisi tulang femur yang mengalami protursi kearah pervik. Prinsip pemasangan traksi kulit buck 1. 4. Dapat dipastikan bahwa articulatio coxae tidak dapat melakukan gerakan sebagaimana mestinya seperti abduksi. fleksi. plester dapat mengakibatkan alergi pada kulit .adduksi. kemudian diberi gantungan beban seberat 5 Kg Pemasangan traksi dapat menimbulkan komplikasi 1. seutas tambang diikatkan pada tengah balok kemudian dijulurkan pada kerekan yang diletakkan pada kaki tempat tidur. Tempat tarikan diatur sedemikian rupa sehingga arah tarikan searah dengan sumbu tulang yang patah. TATALAKSANA DAN KONSERVATIF Metode lain yang baik untuk melaksanakan reduksi ektremitas yang mengalami fraktur adalah dengan traksi. 7. plester traksi diberikan di arah medial dan lateral dari stoking tersebut stoking dibungkus dengan perban elastik 5. pelapis tebal semen kulit. ekstensi. ujung perban elsatik pada pergelangan kaki dihubungkan dengan balok penyebar guna mencegah penekanan pada maleoli 6. secara umum traksi dilaksanakan dengan cara menempatkan beban dengan tali pada ektremitas pasien.Pada gambar diatas tampak tulang femur sinistra mengalami protusi kearah pelvis karena fraktur tulang trochanter.

perawatan yang kurang baik dapat mengakibatkan ulserasi akibat penekanan pada maleulus 4. Suruh. Suruh. luka tusuk. Umur : 43 tahun . Kel. RPD (-) RPK (-) Anamnesis sistem Sistem cerebrospinal : sadar. Pasien tidak mengeluh ada luka robek. St. Islam. Perempuan. Wetan Jaro.3. setelah itu pasien merasa nyeri paha kirinya dan susah digerakkan. Untuk kronologis yang lebih lengkap pasien tidak dapat menjelaskan secara rinci karena proses kejadian yang sangat singkat sehingga pasien tidak dapat mengingatnya. hanya terdapat luka geser ringan di beberapa bagian anggota badan. Kec. Pada saat kejadian kecelakaan. M. Semarang ANAMNESIS (Autoanamnesis) KU : Nyeri pada paha kiri KL : Paha kiri susah digerakkan dan luka geser ringan dibeberapa bagian anggota badan RPS Pasien datang ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor. pasien bertabrakan dengan pengendara motor lainnya dan seketika itu juga pasien jatuh terpelanting dan pasien merasa paha kirinya terhantam benda keras. traksi yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan kulit terutama pada orang yang berusia lanjut pada konservatif pasien dapat diberikan Asam mefenamat 3x1 amoxilin 3x1 antasida 3x1 fungsi konserfatif yang diberikan sebagai analgetik dan antibiotik Fraktur Femur IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Pekerjaan : Ibu RT. Kab. pusing (-) . Alamat : Jl.

luka geser (+) : paha kiri nyeri dan susah digerakkan PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran : tampak kesakitan : composmentis. tidak mudah dicabut : tidak ada : tidak ada Bentuk kepala Rambut Nyeri tekan Hematom b. GCS E4V5M6 Respirasi : 28 kali/menit Suhu: 36. isi dan tegangan cukup Status generalis a. Pemeriksaan Kepala : mesocephal. muntah (-) : BAK tidak ada keluhan : hangat.70C per axiller VS : Tensi: 131/82 mmhg Nadi : 112 kali/menit.Sistem kardiovaskuler Sistem respiratorius System gastrointestinal Sistem urogenital Sistem integumentum Sistem muskuloskeletal : nyeri dada (-). berdebar-debar (-). Pemeriksaan Mata : edema (-/-) Palpebra . tidak mudah rontok. sianosis (-) : sesak nafas (-) : mual (-). simetris : warna hitam.

nafas cuping hidung (-/-). ketinggalan gerak (-/-) : fremitus taktil kanan = kiri .Konjungtiva Sklera Pupil Telinga Hidung Mulut Leher Trakea Kelenjar tiroid : anemis (-/-) : ikterik (-/-) : reflek cahaya (+/+). retraksi (-/-). isokor diameter ± 3 mm : deformitas (-/-). nyeri tekan (-/-) : sekret (-/-). tidak terdapat bising kiri atas sinistra : SIC II LMC kanan atas kanan bawah Paru-paru Inspeksi Palpasi : gerak nafas simetris Ka/Ki. anemis (-). tak kuat angkat Perkusi : Batas jantung : : SIC II LPS dextra : SIC IV LPS dextra kiri bawah Auskultasi : SIC V LMC sinistra : BJ S1>S2 reguler. deformitas (-/-) : bibir basah. hemoptisis (-) : deviasi trakhea (-) : tidak membesar Kelenjar limfonodi : tidak membesar JVP Jantung Inspeksi : ictus cordis tak terlihat : JVP tidak meningkat Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V 2 cm medial linea midclavicularis sinistra.

edema (+). pucat (-). kapiler refil (+) Gerakan : tampak gerakan terbatas (+). sendi-sendi pada pada bagian distal dapat digerakkan. ronkhi (-). nyeri tekan (+). angulasi (+). terdapat nyeri ketok sumbu. gerakan terbatas (oleh karena nyeri) Status lokalis Regio Femoralis Sinistra Inspeksi : tampak edema minimal. tampak sedikit pemendekan dibandingkan dengan femur dextra. hematom (-) : BU (+) N : timpani (+) : nyeri tekan (-) Ekstremitas Superior : deformitas (-). hematom minimal. tak tampak sianosis pada bagian distal lesi Palpasi : nyeri tekan (+). sianosis (-). Kesan : fraktur tertutup femur sinistra 1/3 distal komplit . PEMERIKSAAN PENUNJANG Ro Femur Sinistra.Perkusi jantung Auskultasi : sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri redup pada batas : SD vesikuler. susah digerakkan (+). suhu rabaan hangat. vulnus eksoriativum (+) Inferior : deformitas (+). sensibilitas (+). terdapat deformitas pada sepertiga distal. krepitasi (-). bising (-) Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : jejas (-). hematom (+).

Vulnus Eksoriativum DIAGNOSIS BANDING · · Dislokasi sendi coxae sinistra Dislokasi sendi genu sinistra PENATALAKSANAAN · · Infus RL 20 t/m Inj. · Traksi skeletal · Atau segera Operasi dengan pemasangan Pen. . Ketorolac 3x1 A PROGNOSIS Prognosis pada pasien ini baik.DIAGNOSIS Fraktur tertutup femur sinistra 1/3 distal komplit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful