FRAKTUR BAB I PENDAHULUAN Tulang mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai penunjang jaringan tubuh, pelindung organ tubuh

, memungkinkan gerakan dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan garam mineral, namun fungsi tersebut biasa saja hilang dengan terjatuh, benturan atau kecelakaan. Pengertian dari fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000). Sedangkan fraktur colum femur adalah fraktur yang terjadi pada colum femur. Kecelakaan merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan biasanya terjadi mendadak dan bisa mengenai semua umur. Fraktur collum femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan.. tetapi dalam penanganannya masih banyak masyarakat yang berobat ke alternatif, akan tetapi kenyataannya tidak semua orang berhasil dengan pengobatn alternatif tersebut sehingga mengakibatkan keadaan yang yang lebih buruk atau terjadinya komplikasi seperti mual unioun, non union ataupun delayed union, pada akhirnya keadaan tersebut mendorong orang untuk berobat ke RS. Data yang diperoleh dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati bahwa angka kejadian fraktur khususnya fraktur femur pada tahun 2007 dari bulan januari sampai bulan Oktober mencapai orang.Tampak adanya peningkatan angka kejadian fraktur femur, maka profesi sebagai seorang perawat dituntut untuk dapat melakukan asuhan keperawatan dengan cara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif sehingga masalah dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari komplikasi yang lebih buruk. Macam-Macam Fraktur Femur Dan Manajemennya 1. Fraktur leher femur Fraktur leher femur sering terjadi pada usia di atas 60 tahun dan lebih sering pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat berupa fraktur subkapital, transervikal, dan basal, yang kesemuanya terletak di dalam simpai sendi panggul atau interkapsuler, fraktur intertrokanter dan subtrokanter terletak ekstrakapsuler. Fraktur intrakapsuler umumnya sulit untuk mengalami

pertautan dan cenderung terjadi nekrosis avaskuler kaput femur. Pendarahan kolum yang terletak intraartikular dan pendarahan kaput femur berasal dari proksimal a. sirkumfleksa femoris lateralis melalui simpai sendi. Sumber perdarahan ini putus pada fraktur intraartikular. Pendarahan oleh arteri di dalam ligamentum teres sangat terbatas dan sering tidak berarti. Pada luksasi arteri ini robek. Epifisis dan daerah trokanter cukup kaya vaskularisasinya, karena mendapat darah dari simpai sendi, periosteum, dan a. nutrisia diafisis femur. Fraktur kolum femur yang terletak intraartikular sangat sukar sembuh karena bagian proksimal perdarahannya sangat terbatas sehingga memerlukan fiksasi kokoh untuk waktu yang cukup lama. Semua fraktur di daerah ini umumnya tidak stabil sehingga tidak ada cara reposisi tertutup terhadap fraktur ini kecuali jenis fraktur yang impaksi, baik yang subservikal maupun yang basal. Sering dapat dilihat pemendekan bila dibandingkan tungkai kiri dengan kanan. Jarak antara trokanter mayor dan spina iliaka anterior superior lebih pendek karena trokanter terletak lebih tinggi akibat pergeseran tungkai ke kranial. Penderita umumnya datang dengan keluhan tidak bisa jalan setelah jatuh dan terasa nyeri. Umumnya penderita tidur dengan tungkai bawah dalam keadaan sedikit fleksi dan eksorotasi serta memendek. Gambaran radiologis menunjukkan fraktur leher femur dengan dislokasi pergeseran ke kranial atau impaksi ke dalam kaput. Kegalian fraktur ini disebabkan kontraksi dan tonus otot besar dan kuat antara tungkai dan tubuh yang menjembatani fraktur, yaitu m. iliopsoas, kelompok otot gluteus, quadriceps femur, flexor femur, dan adductor femur. Inilah yang menggangu keseimbangan pada garis fraktur. Adanya osteoporosis tulang mengakibatkan tidak tercapainya fiksasi kokoh oleh pin pada fiksasi interna. Ditambah lagi, periosteum fragmen intrakapsuler leher femur tipis sehingga kemampuannya terbatas dalam penyembuhan tulang. Oleh karena itu, pertautan fragmen fraktur hanya bergantung pada pembentukan kalus endosteal. Yang penting sekali ialah aliran darah ke kolum dan kaput femur yang robek pada saat terjadinya fraktur. Penanganan fraktur leher femur yang bergeser dan tidak stabil adalah reposisi tertutup dan fiksasi interna secepatnya dengan pin yang dimasukkan dari lateral melalui kolum femur. Bila tak dapat dilakukan operasi ini, cara konservatif terbaik adalah langsung mobilisasi dengan pemberian anestesi dalam sendi dan bantuan tongkat. Mobilisasi dilakukan agar terbentuk

pseudoartrosis yang tidak nyeri sehingga penderita diharapkan bisa berjalan dengan sedikit rasa sakit yang dapat ditahan, serta sedikit pemendekan. Terapi operatif dianjurkan pada orang tua berupa penggantian kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaput femur diikuti dengan mobilisasi dini pasca bedah. a. Terapi Konservatif Dilakukan apabila fraktur memiliki kemungkinan sebagai berikut : · Gangguan peredaran darah pada fragmen proksimal · Kesulitan mengamati fragmen proksimal · Kurangnya penanganan hematom fraktur karena adanya cairan synovial. Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan skin traction, dengan buck extension. b. Terapi Operatif Pada umumnya terapi yang dilakukan adalah terapi operasi, fraktur yang bergeser tidak akan menyatu tanpa fiksasi internal, dan bagaimanapun juga manula harus bangun dan aktif tanpa ditunda lagi kalau ingin mencegah komplikasi paru dan ulkus dekubitus. Fraktur terimpaksi dapat dibiarkan menyatu, tetapi selalu ada resiko terjadinya pergeseran pada fraktur-fraktur itu, sekalipun ditempat tidur, jadi fiksasi internal lebih aman. Dua prinsip yang harus diikuti dalam melakukan terapi operasi reduksi anatomi yang sempurna dan fiksasi internal yang kaku. Merode awal yang menstabilkan fraktur adalah fiksasi internal dengan Smith Petersen Tripin Nail. Fraktur dimanipulasi dengan meja khusus orthopedi. Kemudian fraktur difiksasi internal dengan S.P. Nail dibawah pengawasan Radiologi. Metode terbaru fiksasi internal adalah dengan menggunakan multiple compression screws. Pada penderita dengan usia lanjut (60 tahun ke atas) fraktur ditangani dengan acara memindahkan caput femur dan menempatkannya dengan metal prosthesis, seperti prosthesis Austin Moore. Penderita segera di bawa ke rumah sakit. Tungkai yang sakit dilakukan pemasangan skin traction dengan buck extension. Dalam waktu 24-48 jam dilakukan tindakan reposisi, yang di lanjutkan dengan reposisi tertutup dengan salah satu cara menurut Leadbetter.

dilakukan tindakan pemasangan internal fiksasi dengan teknik multi pin percutaneus. kemudian sisi panggul dilakukan gerakan memutar dengan melakukan gerakan abduksi dan extensi. dianjurkan berusaha sendiri dan mulai berjalan (dengan penopang atau alat berjalan) secepat mungkin. setelah tereposisi dilakukan internal fiksasi alat internal fiksasi knowless pin. Dua sekrup berkanula sudah mencukupi. fraktur dipertahankan dengan pen atau kadang dengan sekrup kompresi geser yang ditempel pada batang femur. Dia dilatih melakukan pernafasan. kemudian pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi panggul 45°.Penderita terlentang di atas meja operasi dalam pengaruh anastesi. tetapi pada foto anteropsterior. Sejak hari pertama pasien harus duduk ditempat tidur atau kursi. Kemudian dilakukan open reduksi. digunakan untuk memastikan bahwa penempatan alat pengikat adalah tepat. Insisi lateral digunakan untuk membuka femur pada bagian atas kawat pemandu. dilakukan reposisi terbuka. kalau dua usaha yang dilakukan untuk melakukan reduksi tertutup gagal. atau plate Pengawasan dengan sinar X (sebaiknya digunakan penguat) digunakan untuk memastikan reduksi pada foto anteroposterior dan lateral. . Diperlukan reduksi yang tepat pada fraktur stadium III dan IV. lutut dan coxae dibuat fleksi 90° untuk mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul. sekrup distal terletak pada korteks inferior leher femur. lebih baik dilakukan penggantian prostetik. pada foto lateral keduanya berada ditengah-tengah pada kaput dan leher. Palm Halm Test : tumit kaki yang cedera diletakkan di atas telapak tangan. Sekali direduksi. fiksasi pada fraktur yang tak tereduksi hanya mengundang kegagalan kalau fraktur stdium III dan IV tidak dapat direduksi secara tertutup dan pasien berumur dibawah 70 tahun. yang disisipkan dibawah pengendali fluroskopik. keduanya harus terletak memanjang dan sampai plate tulang subkondral. Setelah itu di lakukan test. Dengan sedikit adduksi paha ditarik ke atas. asisten memfiksir pelvis. cancellous screw. dianjurkan melakukan reduksi terbuka melalui pendekatan anterolateral. Kalau reposisi pertama gagal dapat diulang 3 kali. Tetapi pada pasien tua (60 tahun keatas) cara ini jarang diperbolehkan. Bila posisi kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi berhasil baik. Setelah reposisi berhasil baik.

sehingga penggantian prostetik selalu lebih baik. Fraktur trokanter femur Fraktur ini terjadi antara trokanter mayor dan minor. tetapi apabila tidak sembuh atau terjadi disimpaksi yang tidak stabil atau nekrosis avaskuler. Karena itu kebijaksanaan kita adalah mencoba reduksi dan fiksasi pada semua pasien yang berumur dibawah 60 tahun dan mempersiapkan penggantian untuk penderita yang : · Penderita yang sangat tua dan lemah · Penderita yang gagal mengalami reduksi tertutup · Penggantian yang paling sedikit traumanya adalah prostesis femur atau prostesis bipolar tanpa semen yang dimasukan dengan pendekatan posterior. Pandangan ini meremehkan morbiditas yang menyertai penggantian. 2. Penggantian pinggul total mungkin lebih baik : · Kalau terapi telah tertunda selama beberapa minggu dan dicurigai ada kerusakan acetebulum. Penderita biasanya datang dengan keluhan tidak dapat berjalan setelah jatuh disertai nyeri yang hebat. Fraktur ini biasanya sembuh dalam waktu 3 bulan tanpa tindakan operasi. Pada bagian luar pangkal paha terlihat kebiruan akibat . penanganannya sama dengan yang di atas. Penanganan nekrosis avaskuler kaput femur dengan atau tanpa gagal-pertautan juga dengan eksisi kaput dan leher femur dan kemudian diganti dengan prosthesis metal. Umumnya gejala yang timbul minimal dan panggul yang terkena dapat secara pasif digerakkan tanpa nyeri. Pada fraktur leher femur impaksi biasanya penderita dapat berjalan selama beberapa hari setelah jatuh sebelum timbul keluhan.Beberapa ahli mengusulkan bahwa prognosis untuk fraktur stadium III dan IV tidak dapat diramalkan. · Pada pasien dengan penyakit paget atau penyakit metastatik. Terapi operatif memperpendek masa imobilisasi di tempat tidur. Penderita terlentang di tempat tidur dengan tungkai bawah eksorotasi dan terdapat pemendekan sampai 3 cm disertai nyeri pada setiap pergerakan. Sering terjadi pada orang tua dan umumnya dapat bertaut dengan terapi konservatif maupun operatif karena perdarahan di daerah ini sangat baik.

Secara klinis penderita tidak dapat bangun. 3. fraktur diafisis oblik. tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur. dan kominutif. fraktur ditangani secara konservatif dengan traksi skelet. Fraktur yang dapat diatasi dengan traksi adalah fraktur intertrokanter dan subtrokanter. dan normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih. Untuk fraktur yang tidak stabil. Akan tetapi. tujuan traksi kulit untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah. cara traksi skelet memerlukan waktu istirahat di tempat tidur yang lama sehingga untuk mempercepat mobilisasi dan memperpendek masa istirahat di tempat tidur. baik pada tuberositas tibia maupun suprakondiler. Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar. Fraktur ini ditangani secara konservatif dengan traksi tulang. misalnya fraktur batang femur yang kominutif atau fraktur batang femur bagian distal. dan fraktur kondilus femur. dengan paha dalam posisi fleksi dan abduksi. karena akan menyambung dengan baik. Fraktur batang femur pada anak-anak umumnya dengan terapi non operatif. quadriceps otot tungkai bawah. terutama m. dan bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat perdarahan ke dalam jaringan lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup. terlihat lebih pendek. Pada orang dewasa. Terapi operatif dapat dilakukan dengan pemasangan pelat trokanter yang kokoh. pemendekan kurang dari 2 cm masih dapat diterima karena di kemudian hari akan sama panjangnya dengan . Cara ini biasanya berhasil mempertautkan fraktur femur. Fraktur batang femur Pada fraktur diafisis femur biasanya perdarahan dalam cukup luas dan besar sehingga dapat menimbulkan syok. bukan saja karena nyeri.hematom subkutan. selama 6-8 minggu. dapat dianjurkan untuk melakukan reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna yang kokoh. pin intramedular ini dapat dikombinasi dengan pelat untuk neutralisasi rotasi. serta fraktur suprakondiler tanpa dislokasi berat. Fiksasi interna biasanya berupa pin Kuntscher intramedular. dan pergelangan kaki. Pada fraktur femur tertutup. kemudian mobilisasi segera pascabedah. lutut. Yang penting ialah latihan otot dan gerakan sendi. dilakukan traksi kulit dengan metode ekstensi buck. Yang tidak dapat ditangani dengan traksi adalah dislokasi tertentu berat. Pada foto Rontgen terlihat fraktur daerah trokanter dengan leher femur dalam posisi varus yang bisa mencapai 90O. segmental.

tindakan terbaik adalah traksi skelet kontinu yang memungkinkan gerakan sendi lutut begitu nyeri akut menghilang. Secara klinis. Permukaan belakang patella yang berbentuk baji . Hal ini kemungkinan karena daya proses remodeling pada anak-anak. traksi kulit Bryant. Pada fraktur kominutif berat di interkondiler. Traksi ini juga memerlukan waktu istirahat di tempat tidur yang lama sehingga lebih disukai reposisi terbuka dan pemasangan fiksasi interna dengan pelat suprakondiler yang kokoh. Pada patah tulang kondilus ganda. Sedangkan indikasi operatif karena penanggulangan non-operatif gagal. Pada bagian proksimal kemungkinan terdapat komponen melintang sehingga didapati fraktur dengan garis fraktur berbentuk seperti huruf T atau Y. fraktur multipel. Pengobatan non-operatif dapat dilakukan dengan metode Perkin. dan traksi Russel. metode balance skeletal traction. Fraktur femur suprakondiler Fraktur ini relatif lebih jarang dibandingkan fraktur batang femur. yang memungkinkan mobilisasi segera dan menggerakkan sendi lutut. yaitu fraktur kondilus T atau Y juga dilakukan reposisi terbuka dengan fiksasi interna yang kokoh pada kedua kondilus dan pada komponen melintang bila sarananya tersedia. melesak ke dalam sendi lutut dan mengganjal di antara kedua kondilus dan salah satu atau keduanya retak. fraktur suprakondiler dapat dikelola secara konservatif dengan traksi skeletal dengan lutut dalam posisi fleksi 90O. fraktur patologik dan fraktur pada orang-orang tua. Gerakan ini kadang dapat menjadi patokan untuk menilai apakah fragmen sendi sudah pada posisi yang diinginkan dan mengurangi resiko . 4. sendi lutut bengkak akibat hemartrosis dan biasanya disertai goresan atau memar pada bagian depan lutut yang menunjukkan adanya trauma. Seperti halnya fraktur batang femur. Hal yang terakhir ini penting karena gerakan sendi lutut yang segera dapat mencegah sendi kejur akibat perlekatan otot dan atau perlekatan jaringan lunak di sekitar sendi lutut. paling baik dilakukan reposisi terbuka dengan fiksasi interna dengan sekrup tulang spongiosa. 5. Untuk fraktur kondilus tunggal lateral atau medial. robeknya arteri femoralis.tungkai normal. Di sini patella juga dapat mengalami fraktur. Fraktur femur interkondiler Fraktur ini juga relatif jarang dan biasanya terjadi sebagai akibat jatuh dengan lutut dalam keadaaan fleksi dari ketinggian.

Trokhanter c. Manifestasi Klinis a. Lokasi Terjadinya Fraktur Femur Fraktur femur dapat terjadi pada beberapa tempat diantaranya: a. 2. 2004: 840). Contoh fraktur patologis: Osteoporosis. (Brunner & Suddarth. Pengertian Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Syamsuhidayat. Kaput . Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan. Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut. Kondiler f. Kolum femoris b. Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa trauma. b. Etiologi a. BAB II TINJAUAN TEORI 1. 3. Pada orang tua. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Batang femur 4. Suprakondiler e. fraktur femur interkondiler femur umumnya lebih baik ditangani secara konservatif dengan traksi skelet. c. infeksi tulang dan tumor tulang. d.kekakuan sendi. Deformitas disebabkan karena pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai. 2001 : 2357). b. penyakit metabolik. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai tulang dimobilisasi.

e. Fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang: 1) Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok 2) Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang 3) Obllik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding transversal) 4) Spiral: fraktur memuntir sepanjang batang tulang 5) Komunitif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen . Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. (bergeser dari posisi normal). Pemendekan tulang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. merupakan yang paling berat e.c. Fraktur terbuka merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai kepatahan tulang. d. Klasifikasi Fraktur a. Fraktur tidak komplit adalah patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. b. Krepus. fraktur terbuka digradasi menjadi: 1) Grade 1 dengan luka bersih panjangnya kurang dari 1 cm 2) Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif 3) Grade III luka yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Fraktur tertutup tidak menyebabkan robeknya kulit. 5. Pembengkakan lokal dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan gangguan sirkulasi yang mengikuti fraktur. c. d.

karena adanya sel-sel osteogenik yang berpoliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksternal serta pada daerah endosteum membentuk kalus internal sebagai aktifitas seluler dalam kanalis medularis. maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem haversian mengalami robekan pada daerah luka dan akan membentuk hematoma diantar kedua sisi fraktur. Fase proliferasi/ fibrosa: terjadi dalam waktu sekitar 5 hari. 6. penyakit paget. Proses Penyembuhan Fraktur Tulang a. Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. dan yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter. b. Hematoma terdesak dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis masing-masing fragmen. Fase ini berlangsung selama 2-3 minggu setelah fraktur. yang menonjol adalah proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Proses . Perdarahan ini akan memebentuk hematoma disekitar dan di dalam fraktur.6) Depresi: fraktur dengan pragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah) 7) Kompresi: fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang) 8) Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang. Apabila terjadi fraktur pada tulang panunjang. metastasis tulang. Fase radang dan proliferasi seluler Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal. tumor) 9) Avulsi: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlakatannya 10) Epifiseal: fraktur melalui epifisis 11) Impaksi: fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang yang lainnya. Fase hematoma Terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang yang disebabkan terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost. Fase hematoma: Proses terjadinya hematoma dalam 24 jam.

Fase pembentukan kalus (pertautan klinis) minggu 3-8 Pada fase ini terbentuk kalus fibrosa dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. (Rasjad. Pada fase ini perlahanlahan terjadi reabsorbsi secara eosteoklastik dan tetap terjadi prosesosteoblastik pada tulang dan kalus eksternal secara perlahan-lahan menghilang. Fase Pembentukkan Kalus: Waktu pembentukan kalus 3-4 minggu. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium. d. Fase ini terjadi pada minggu ke 8-12 setelah fraktur. Fase remodeling union sudah lengkap. 1998 : 400 ). misalnya gerakan. Fase Remodeling: Waktu pembentukan 4-6 bulan. mineral terus-menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. membentuk tulang immature atau young callus Pada akhir stadium terdapat 2 macam kalus internal callus dan diluar disebut external callus. patah tulang melalui proses penulangan endokondrol. c. mengelilingi daerah fraktur. kontraksi otot dan sebagainya. tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan. Terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Fase ini terjadi 12 minggu setelah fraktur terjadi. Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. e. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium. Fase konsolidasi (minggu 8-12) callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela. . Kekuatan kalus ini sama dengan tulang biasa. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis. Fase Osifikasi: Pembentukan halus mulai mengalami perulangan dalam 2-3 minggu. maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya.dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu proses yang sama sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain.

Komplikasi Komplikasi awal a. b. Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya. Asupan darah yang memadai . Ini bisa disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat. namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal. Nutrisi yang baik e. Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan) b. cidera remuk). Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah. penggunaan gips atau balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi. c. Komplikasi lambat a. 8. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan. Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang c. c. Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal kejaringan yang rusak.7. Kontak fragmen maksimal tulang d. Immobilisasi fragmen tulang b. Faktor yang mempercepat penyembuhan tulang a.

Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan) e.adalah: a. menentukan teknnik yang sesuai untuk pengobatan. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan: lokasi. komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan. Usia h. CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak c. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal. . 12. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). d. Trauma berulang b. Kehilangan massa tulang c. Penatalaksanaan medik Empat prinsip penanganan fraktur menurut Chaeruddin Rasjad tahun 1988.f. Infeksi f. kalsitonin.Scan tulang. g. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik a. Rongga atau jaringan diantar fragmen tulang 11. Radiasi tulang) tulang (nekrosis d. Immobilisasi memadai yang tak g. luas dan jenis fraktur b. Hormon-hormon pertumbuhan. tiroid. pemeriksaan klinik dan radiologis. Faktor yang menghambat penyembuhan tulang a. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi. bentuk fraktur. tomogram. Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma. vitamin D. Potensial listrik pada patahan tulang 10. Recognition: mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis.

bidai. 1998. iga. USA : WB Sunder Company. Edisi 1. Lynda Juall. 2001. Reduction: reduksi fraktur apabila perlu. Volume 8. vol 3. Jilid II. 4th Edition buku 11. Posisi yang baik adalah: alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna. Jakarta : EGC. Slyvia A Dan Laraine M. Mansjoer. Jakarta : EGC. Marilyn B. Price.b. Jakarta : EGC . 2000. Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta : EGC. Ilmu Bedah Orthopedi. deformitas serta perubahan osteoartritis dikemudian hari. Edisi 4. DAFTAR PUSTAKA Apley. d. Edisi 3. Edisi 3. Medical Surgical Nursing. Patofisiologi. angulasi <5> c. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth. restorasi fragment fraktur sehingga didapat posisi yang dapat diterima. . 1995. Jakarta : EGC. Buku I . Rasjad. Graham. dkk. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Carpenito. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan. dkk. Smetzer. Retention. Fraktur yang tidak memerlukan reduksi seperti fraktur klavikula. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2. 2001. A. traksi. dkk. Wilson. 2000. Jakarta : EGC. Donges. FKUI. Rencana Asuhan Keperawatan. Brunner and Suddarth. immobilisasi fraktur: mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi union sehingga terjadi penyatuan. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna meliputi pembalut gips. Arif. Edisi 8. Chairudin. Media Aesculapius. fraktur impaksi dari humerus. 1993. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3.1995. dan fiksasi interna meliputi inplan logam seperti screw. Lukman and Sorensen¶s. Suzanna. C. Ujung Pandang : Bintang Lamupate.

Bogor Tanggal Masuk : 23 Juli 2009 Suku Bangsa : Sunda Pendidikan : S1 ANAMNESA Autoanamnesa pada hari Kamis. Paculang RT 04/010. Ketika sadar os tidak dapat berdiri dan melihat paha kirinya bengkok ke arah luar disertai nyeri hebat.00 WIB Keluhan Utama : Benjolan pada paha kiri sejak 3 bulan SMRS Keluhan Tambahan : Lutut kiri kaku. hipertensi (-). Os dianjurkan untuk operasi namun os menolak dan memilih untuk berobat alternatif ke Cimande. maag (+) Riwayat Penyakit Keluarga (-) Riwayat Kebiasaan Merokok 4 batang perhari Riwayat Alergi Obat : (-) . kurang bisa menekuk RPK Os datang dengan keluhan terdapat benjolan pada pertengahan paha kiri sejak 3 bulan SMRS.mulut. Nyeri lutut saat berjalan dan menekuk (-). Sejak itu os menyadari bahwa lutut kirinya kaku dan tidak bisa menekuk lututnya maksimal terutama saat berjalan sehingga aktivitasnya terbatas. pukul 10. Pusing (+). Mual (-). Os juga mulai berjalan dengan memakai tongkat. Os mengaku 6 bulan SMRS mengalami patah tulang pada paha kiri akibat KLL.telinga (-). asam urat (+). Muntah (-). Os memakai helm. Kemudian os dibawa ke RS PMI oleh penduduk sekitar dan didiagnosis patah tulang pada paha kirinya. OA genu dextra (+). DM (-). dan tidak nyeri bila dipegang. keras. Benturan di kepala tidak diingat os. Bulan ke 4 os menyadari adanya benjolan pada paha kirinya. Benjolan dirasakan membesar. Os tidak ingat bagaimana posisi os jatuh namun ia menduga paha kirinya terlindas ban angkutan umum karena ada jejak ban mobil pada celananya. dan tidak nyeri bila dipegang. RPD Riwayat trauma (-). Os pingsan < 5 menit. Kebon Pedes. BAB lancar. Lutut kiri juga dirasakan kaku dan kurang bisa menekuk. 23 Juli 2009. Benjolan dirasakan membesar. Keluar darah dari hidung.Laporan Kasus Fraktur Femur Nama : Tn. Tidak terdapat luka dan tulang yang mencuat keluar pada paha kirinya.Jantung (-). demam (-). Oleh pengobatan alternatif kaki kiri os dibalut dan diberi papan selama 3 bulan sehingga os banyak menghabiskan waktunya berbaring di tempat tidur. TBC (). P Usia : 50 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : Pensiunan Alamat : Gg. BAK lancar. keras. bengkak (-). Ketika itu os sedang mengendarai sepeda motor dan tertabrak angkutan umum dari belakang saat menghindari perbaikan jalan.

uvula simetris. serumen (+) minimal Á Hidung : simetris. timpani bising usus (+) normalEkstremitas : akral hangat (+). jaringan parut (-) Á Mata : CA -/-. trakea terletak lurus di tengah. deviasi uvula () Á Gigi : lengkap. sikatriks (-) supel. oedem mukosa (-). hematom (-). perut datar. ballottement (-). deformitas (-). compos mentis ÁPostur tubuh : asthenikus ÁStatus gizi : cukup ÁCara bicara : aktif ÁCara berbaring : aktif. caries (-). nyeri lepas (-). terletak di tengah. SI -/-. oedem (-) Ekstremitas Lihat status lokalis STATUS LOKALIS Regio femoralis dan genu Sinistra Look : Áasimetris pada tungkai kanan dan kiri Átungkai kiri lebih pendek dari tungkai kanan Ádeformitas di femur sinistra. hiperemis (-). schizis (-) Á Mulut dan Tenggorokan : mukosa gusi tidak ada tanda radang. lidah tidak kotor.PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Tanda Vital ÁTekanan darah ÁNadi ÁSuhu tubuh ÁFrekuensi nafas : 120/80 mmHg : 84 x/menit. di aksila kanan : 22 x/menit Keadaan Umum ÁKesadaran : sakit ringan.) Move : Range of motion (ROM) : a. sianosis (-). RCL +/+. lidah tidak tremor. distribusi merata. Wheezing -/Abdomen simetris. sekret (-) Á Bibir : simetris.Pasif ÁFleksi panggul (+) ÁFleksi panggul Áextensi panggul (+) Áextensi panggul Á abduksi panggul (+) Áabduksi panggul Áadduksi panggul (+) Á adduksi panggul Áeksorotasi panggul (+) . terlihat benjolan berukuran 15 x 5 x 3 cm Ádiameter genu kiri lebih besar dari genu kanan Áwarna kulit sama dengan sekitar Áoedem (-) Feel: ÁPulsasi a. irama reguler : 36. defence muscular (-) nyeri ketuk (-).tibialis posterior teraba ÁMotorik : Mampu melawan gravitasi dan tahanan pemeriksa ÁSensibilitas : baik ÁSuhu kulit hangat ÁNyeri tekan ( . sianosis (-). deviasi septum (-). kelenjar tiroid simetris dan tidak teraba membesar Jantung S1. RCTL +/+. Aktif b. tidak mudah dicabut Á Wajah : simetris. pupil bulat. KGB tidak teraba membesar. shifting dullness (-). nyeri tekan (-).S2 reguler Murmur ± Gallop Paru Suara napas vesikuler. kalkulus (-) Leher Bentuk simetris. tidak terpaku pada satu sisi ÁSikap : kooperatif ÁOedem : (-) ÁDyspnoe : (-)Cianosis Dehidrasi Pemeriksaan Sistematis Kepala Á Bentuk kepala : normocephali Á Rambut : beruban. hepar dan lien tidak teraba membesar.3oC. nyeri tekan tragus dan mastoid (-). Rhonki -/-. isokor. oedem palpebra (-) Á Telinga : normotia. oedem ().dorsalis pedis dan a.

v Á Ranitidin 2x1 i. Biasa terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas. PEMERIKSAAN PENUNJANG LABORATORIUM Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Bleeding time Clotting time Hasil 11. fiksasi internal dengan plate and screw. dapat melawan pengaruh gravitasi serta dapat melawan tahanan yang dilakukan pemeriksa.v Á Ketorolac 2x1 i. atau akibat luka tembak. usia 25-65 tahun.000 orang per tahun.4 laki-laki >>. osteotomi koreksi.Áeksorotasi panggul Áendorotasi panggul (+) Áendorotasi panggul Áfleksi lutut (+) 30 Áfleksi lutut Áekstensi lutut (+) Áekstensi lutut (+) 40¶ (+) Power : Grade 5 : Dapat menggerakan sendi. insidens sekitar 10. jatuh dari ketinggian.6 g/dl 35 % 3880/mm3 260000/mm3 2 menit 6 menit Normal 13-18 g/dl 40-54 % 4000-10000/mm3 150000-400000/mm3 1-3 menit sp-7 menit FOTO RONTGEN Rontgen pelvis : tidak tampak adanya fraktur Rontgen femur sinistra AP/Lateral : Deskripsi: terdapat garis fraktur oblik dengan displacement angulasi 45 dengan kalus Kesan: malunion pada 1/3 tengah os femur sinistra.v Á Transfusi PRC Á Bed rest 24 jam pertama Á Fisiotherapi PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : Bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam Fraktur Batang Femur Batang femur adalah region yang dimulai dari 5 cm distal dari trochanter minor sampai dengan 9 cm di atas sendi lutut. 3 . mengakibatkan penderita jatuh dalam shock. DIAGNOSIS Malunion neglected fracture 1/3 tengah os femur sinistra. dekortikasi. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. contracture genu sinistra PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan golongan darah dan cross-match Pemeriksaan radiologi : rontgen thorax dan rontgen femur post operasi EKG PENATALAKSANAAN Á Observasi keadaan umum Á ORIF : refrakturisasi. pejalan kaki yang tertabrak oleh kendaraan. bone grafting Á IVFD RL Á Cek DPL Á Ceftriakson 2x1 g i.

Complete fracture 3 Comminuted fracture AO Classification . 1/3 distal femur Displacement: displasi.Avulsion fracture 2 .Tipe A Tipe A: fraktur extra-articular 1 . .split depression Klasifikasi Deskriptif Derajat cominutif Contoh: non-comminuted or mildly comminuted or severely comminuted Lokasi: 1/3 proximal.distraksi.III A fragmen tulang masih dibungkus jaringan lunak.split depression AO Classification .III C trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar bagian distal dapat dipertahankan.Type B Tipe B : fraktur pada intra-articular dan single condyle 1 .Derajat III .Simple 2 Crush/depression 3 . terjadi kerusakan jaringan lunak hebat. impaksi Klasifikasi Winquist Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V : kominutiv minimal <25 % atau tidak ada kominutiv : fragmen berbentuk segitiga (buterfly) 50% atau kurang dari lebar tulang : fraktur batang femur kominutif dengan butterfly fragmen > 50% lebar tulang : fraktur batang femur kominutif seluruh segmen tulang : fraktur kominutif dengan hilangnya segmen tulang.Derajat II .Derajat I . angulasi.Comminuted . .Comminuted .KLASIFIKASI FRAKTUR BATANG FEMUR Berdasarkan klinis2 Fraktur tertutup (simple fracture) Fraktur terbuka (compound fracture) . 1/3 medial.Simple 2 Crush/depression 3 . . fraktur kominutif.III B fragmen tulang tak dibungkus jaringan lunak terdapat pelepasan lapisan periosteum. Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) Klasifikasi AO .Type C Type C: fraktur pada intra-articular dan kedua condyle 1 .

warna kulit. efusi. Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi. tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi ± sendi dibagian distal cedera. melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. angulasi. ‡ Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil. Movement :Krepitus. medula spinalis Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget) Tanda ± tanda lokal a. Look : Pembengkakan. FRAKTUR FEMUR TERTUTUP skin traksi: Buck extension atau pemakaian Thomas splint. rotasi. pemendekan). dan urinalisa. terlihat lebih pendek Penderita fraktur batang femur tidak dapat bangun. c. yaitu : 1. Umur pasien dan mekanisme cedera Nyeri. cross-test. tetapi juga karena ketidak stabilan fraktur. faktor pembekuan darah. Fraktur Ekstrakapsuler. ‡ Terjadi di luar sendi dan kapsul. Pemeriksaan meliputi persendian diatas dan dibawah cedera.Ada 2 type dari fraktur femur. nyeri dan gerakan abnormal dapat ditemukan. golongan darah. GAMBARAN KLINIS Anamnesis Riwayat cedera. Cek pulsasi arteri di distal fraktur. dan krepitasi. Radiologis (rule of two) 2 gambaran 2 sendi 2 ekstremitas 2 kesempatan 2cedera. panggul dan Melalui kepala femur (capital fraktur) ‡ Hanya di bawah kepala femur ‡ Melalui leher dari femur 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : darah rutin. bukan saja karena nyeri. pengembalian cairan kaplier (Capillary refill test) sensasi.ketidakmampuan menggunakan tungkai yang mengalami cedera. memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal. tungkai diekstraksi . ada tidaknya kulit robek dan b. daerah yang mengalami nyeri tekan setempat. Feel : Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. PEMERIKSAAN FISIK Tanda ± tanda umum : Syok atau perdarahan Kerusakan yang berhubungan dengan otak. memar dan pembengkakan Deformitas: seluruh tungkai bawah terotasi keluar.

keamanan << Risiko infeksi tergantung dari pasien. Fragmen tulang yang telah direposisi dapat dapat difiksasi dengan screw. dan pembedahan. Full Weight Bearing MALUNION Fraktur yang penyambungannya menimbulkan deformitas memendek. kecepatan >>. Partial Weight Bearing 3. dan intramedullary nail. dan kurang dapat menahan beban KEKAKUAN SENDI Áakibat cedera pada sendi atau imobilisasi lama ÁPerlengketan peri artikuler.dalam keadaan ekstensi. Penutupan kulit Pemberian antibiotik Pencegahan tetanus REHABILITASI Latihan fisiologis otot Mobilisasi sendi Massage Pemanasan dan terapi listrik Latihan jalan 1. perlengketan antara otot dan tendon. Non Weight Bearing 2. atau angulasi Penyebabnya: primer dan sekunder Gejalanya dapat berupa deformitas. ahli bedah dan fasilitas yang tersedia. pembengkakan. FRAKTUR FEMUR TERBUKA Penatalaksanaan pada fraktur terbuka dilakukan dengan cara: Pembersihan luka Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debrideman) Pengobatan fraktur itu sendiri. perlengketan intraartikuler.gerakan >>. terputar. nyeri. manipulasi sendi yang dilakukan dengan anestesi. plate dengan screw. Setelah traksi kulit dapat dipilih pengobatan non operatif atau operatif FRAKTUR FEMUR TERTUTUP Non operatif: Skeletal traksi selama 12 minggu Operatif: Open reduction and internal fixation (ORIF) 3 Indikasi ORIF: fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi fraktur yang tidak stabil dan cenderung mengalami pergeseran kembali setelah direduksi fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan fraktur patologik fraktur multiple fraktur pada pasien yang sulit perawatannya ORIF Penahanan >>. ÁPemendekan menjadi masalah utama sepatu yang ditinggikan. . ÁPencegahan perpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif dan pasif pada sendi ÁPenatalaksanaan terapi pemanasan dan latihan.

hal ini menyebabkan kepincangan dan pola jalannya stiff-legged (tungkai kaku). bantalan lemak ini menjadi teriritasi dan kemudian timbul nyeri. penekanan bantalan lemak. Nyeri dirasakan pada daerah di bawah tendon patella. dan secara normal bantalan lemak yang lunak menjadi lebih lebar. gesekan plica pada ujung femur. gemeretak atau hanya sakit ketika anda sedang istirahat. Tendonitis patellaris Kondisi ini terlihat pada orang-orang dengan aktifitas seperti bola basket.Permasalahan yang Sering Terjadi Pada Mekanisme Ekstensi Lutut Mekanisme ekstensor dapat menyebabkan nyeri pada lutut bagian depan. lebih keras. . tertekannya bantalan lemak pada bagain atas tibia. seperti bersepeda. Pada situasi ini. muncul bunyi ³klek/tek´. bola voli. Sekali tendon patella teriritasi. menyebabkan stress yang berulang-ulang pada tendon patella. terutama ketika anda sedang berjalan atau berlari. Anda mungkin mendengan bunyi gemeretak selama berjalan. dan lari. dan berlari bisa menyebabkan ketidaknyamanan. tendonitis patella. kerobekan pada serabut ini dapat terjadi. cairan akan mengumpul pada daerah di bawah patella. Aktivitas yang berulang-ulang. atau ketidakstabilan patella. Iritasi plica Plica merupakan pembungkus sinovium. atau mungkin anda merasakan seperti lutut anda ´menyerah´. Jika bantalan lemak mengalami pembengkakan oleh karena iritasi atau cidera. Pada kasus yang berat. Jaringan ini dapat mengalami iritasi ketika terdapat penekanan yang kuat pada tempat ini oleh karena kuatnya otot hamstring pada di belakang lutut. Pasien yang lututnya hiperekstensi juga cenderung pada situasi ini. Daerah ini akan menjadi sangat perih dan nyeri. Jika penekanan terjadi. Kelemahan otot abductor paha dapat juga menyebabkan iritasi pada plica ini. Gejala-gejala ini sering kali sebagai hasil dari iritasi plica. ini akan lebih rentan untuk kondisi ini. Penekanan bantalan lemak (fat pad) Kondisi ini terjadi ketika bagian bawah patella tertekan. dan teriritasi. berenang. Mungkin anda juga merasakan nyeri ketika turun tangga atau duduk pada waktu yang lama (contohnya ketika melihat film di bioskop). dan terbentuklah jaringan parut. penderita degan penekanan bantalan lemak biasanya berjalan dengan lutut terekstensi. Serabut tendon yang melekat pada bagian bawah patella mengalami iritasi. mengiritasinya dan menimbulkan nyeri. dan anda mungkin merasa membutuhkan tambahan cairan pada lutut anda.

atau secara sederhana bahwa lutut mereka tidak stabil.perbedaan anatomi lutut tuga sangat berperan. sering terjadi akibat penanganan fraktur pada extremitas yang salah oleh bone setter Umumnya terjadi pada yang berpendidikan dan berstatus sosioekonomi yang rendah. allograft. alloplast.Instabilitas patella Merotasikan lutut anda selagi kaki anda dalam keadaan plantar fleksi secara kuat dapat menyebabkan patella bergeser dari normal posisi di dalam lekukan femur. xenograft. Bone grafting teknik operasi untuk mengganti bagian tulang yang hilang. Kelainan yang paling banyak dijumpai adalah malunion (12. Neglected fraktur Neglected fraktur adalah fraktur yang penanganannya lebih dari 72 jam. Dislokasi patella secara umum merupakan kejadian traumaik mudah didiagnosis. penderita sering merasakan patellanya menyelip atau keluar dari tempatnya. Lutut kemudian menjadi lemas. orang yang berjalan dengan eksternal rotasi pada tibia atau internal rotasi pada femur mungkin cenderung mengalami ketidakstabilan patella. Sudut antara femur dan tibia dapat juga cenderung untuk posisi abnormal pada patella. yaitu: Derajat 1 : fraktur yang telah terjadi antara 3 hari -3 minggu Derajat 2 : fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu -3 bulan Derajat 3 : fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan ± 1 tahun Derajat 4 : fraktur yang telah terjadi lebih dari satu tahun . patella dapat keluar dari normal posisi dan menyeruduk ke samping lutut. dimana terdapat perubahan arah dengan cepat yang dipaksakan membuat lutut lebih rentan terjadinya dislokasi atau subluksasi patella. Mekanisme kerja :osteoconduction.5%). Kebanyakan mereka datang setelah 1-2 bulan sejak kejadian fraktur. Seseorang yang mengalami ³knock-kneed´(muncul bunyi µklek¶ ketika berlutut) yang parah lebih menyerupai suatu gerakan patella keluar dari lekukan femur. Olah raga seperti tennis atau baseball. dan osteogenesis. Terapi pemanasan dan latihan Manipulasi sendi di bawah anastesi Pembedahan dilakukan untuk melepaskan perlengketan. Dengan subluksasi patella. auto graft. memanjangkan otot yang kontraktur dan penggantian sendi.58 %).. Ketika otot dan ligament pada patella tidak cukup kuat. osteoinduction. menyebabkan orang jatuh. tetapi subluksasi sering mengalami kesalahan diagnosis. Neglected fraktur dibagi menjadi beberapa derajat. Seperti contohnya. Di RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 19982000 terdapat 56 penderita neglected fraktur dari 1244 kasus fraktur (4.

Resume anamnesis Pasien post jatuh beberapa jam yang lalu dengan sendi pinggul bergerak kearah dalam. Daerah paha yang nyeri diberikan balsem sebelum dibawa ke rumah sakit. Pasien jarang melakukan pekerjaan fisik yang berat. anak) belum pernah mengalami penyakit serupa. RPK Keluarga pasien ( kakek. Riwayat patah tulang karena osteoporosis disangkal Riwayat Penyakit Sosial dan Pribadi Pasien merupakan pensiunan yang aktif berolah raga setiap pagi. Umur 75 th. tidak mengeluh sakit kepala dan demam Sistem kardiovaskular : Paien tidak mengeluh nyeri pada dada dan tidak berdebar-debar Istem respiratorius : Pasien tidak batuk dan tidak sesak nafas .L. Alamat : Jamplang Wonosobo. Pasien tidak ada riwayat post stroke RPD Pasien belum pernah mengalami penyakit serupa. Agama : Islam ANAMNESIS dengan autoanamnesis dan aloamanmesis KU Nyeri dan bengkak pada pinggul atau paha kiri RPS Pasien datang ke instalasi gawat darurat BRSD Wonosobo dengan keluhan nyeri dan udem pada paha kiri pada pukul 09. pembengkakan. saudara kandung. orang tua. nenek. sehingga mengakibatkan rasa nyeri. Perempuan. dan tidak dapat bergerak pada regio Coxae Sinistra. Sehingga menyebabkan pasien merasa nyeri. bengkak pada paha kiri dan tidak bisa berdiri.00. Anamnesis sistem Sistem Cerebrospinal : Pasien dalam keadaan sadar.FRACTUR TROCHANTER MAYOR REGIO FEMUR SINISTRA Nama : Ny. Pekerjaan : Pensiunan . keluhan ini timbul setelah pasien terpeleset dengan sendi pinggul melakukan gerakan kearah rotasi dalam.

tidak mudah rontok. Konjungtiva tidak anemis. Pemeriksaan Fisik KU : Baik. gangguan pendengaran negatif. Mata Visus mata tidak terganggu. sklera tidak ihterik. tidak hipo maupun hiperpikmentasi R = 24 T = 38 : Nyeri sangat pada paha kiri. tidak kering. Deformitas negatif . refleks cahaya positif Telinga deformitas negatif. otore negatif. otalgia negatif Hidung : Nafas cuping hidung negatif. darah nagatif Mulut : Bibir tidak sianosis maupun kering. tidak mengeluh nyeri perut dan kembung Sistem Urogenetal : BAB dan BAK normal tidak ada keluhan Sistem Intergumentum : Tidak ada keluhan pada kulit gatal-gatal tidak ada rasa panas tidak ada rasa perih tidak ada Sistem muskuloskletal terbatas II. simetris. rinore negatif . pendek. gerakan sangat Kepala : Bentuk kepala Mesocepal. Rambu warna berubah. uvula dan tonsil tidak membesar varing tidak hiperemis. Kesadaran Compos mentis. acrie gigi positif. sadar penuh dapat berkomunikasi Aktif.Sistem Gastrointestinal : Pasien tidak mual. dapat flatus dan BAB seperti biasa. pupil isokor. deformitas (-) . serumen minimal. lidah kotor negatif. Sikap : Posisi berbaring pasif tidak dapat mobilisasi sendiri Vital Sign TD = 140/80 N = 80 Status Generalis: Kulit : Tidak pucat. GCS 15. . stomatitis negatif. muntah.

bekas luka maupun caput medusa Auskultasi negatif : Peristalik positif.Leher : Teraba masa kenyal. Ronki) Bunyi jantung I dan II regular. Pada daerah para sternal kanan redup hepar sedikit dibawah arcus costa. nyeri tekan negatif. ictus cordis tidak tampak. Batas kiri SIC IV midclavicula kiri Auskultasi : Suara dasar paru Vesikular. benjolan negatif. akral hangat . permukaan halus. suara normal Torax Inspeksi: Simetris. sensasi baik. defans muscular negatif. batas redup hepar antara SIC 5 dan SIC 6 midclavicula. revsing sign negatif. Hiper atau hipo peristaltik Palpasi : Perut supel. bentuk normal. deformitas pada regio coxae Palpasi : Nyeri tekan pada regio penonjolan Trochanter femur sinistra. Batas redup jantung diatas SIC II parasternal kiri. nyeri tekan. tidak teraba massa Perkusi : Seluruh lapang perut timpani. Palpasi : Focal fremitus seimbang antara paru kanan dan kiri. sifat pernafasan kombinasi. nyeri rebountendernes negatif. nyeri tekan daerah supra pubic negatif. bergerak saat menelan. IC dan masa tidak teraba Perkusi : Seluruh lobus paru sonor. tidak ada pembesaran lln. hepar dan lien tidak teraba. tak tampak masa atau benjolan sikatrik. mamae simetris tidak membesar. sikatrik negatif. batas kanan diatas SIC IV parasternal kanan. tak ada suara tambahan ( Whezing. NVD baik. nyeri ketok ginjal dan ureter nrgatif Status Lokalis pada regio Coxae sinistra Inspeksi : Udema. bising usus positif. pembesaran limfonodi axial negatif. terdapat pulsasi. irama nafas normal dengan frekwensi normal. tak ada bising jantung Abdomen Inspeksi : Permukaan rata tidak distensi darm contur darm stifung negatif. nyeri tekan pada Mc burney negatif. nyeri tekan negatif.

Pasif : Nyeri dan gerakan sangat terbatas : Terdapat nyeri ketok sumbu pada femur dengan daerah ketok : 72 cm : 84 cm Panjang klinis anatomis: 72 cm Panjang klinis Fisiologis: 80 cm Panjang anatomi Panjang Fisiologia Assesment Suspect Fractur Trochanter sinistra Pemeriksaan penunjang Diagnostik Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah Foto rongent Regio pelvik femur. Diagnostik Fractur introtrochanter dan extratrochanter sinistra curiga fractur patologis DD: fractur pelvis. fractur columna femur.Ekstensi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas Perkusi patela .Tes Pergerakan .Abduksi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas . Kemudian dilakukan pengobatan konservatif dengan menggunakan asam mafenamat antasida dan amoxicilin . dan sudah dilakukan sejjak di ruang IGD Hasil pemeriksaan Hasil pemeriksaan rongent menunjukkan gambaran struktur tulang yang porotik. osteoatritis Tata laksana dan terapi Penatalaksanaan awal adalah dilakukan reposisi pada dearah fractur kemudian dilakukan pemasangan traksi Buck dengan tujuan mereposisi daerah yang mengalami protusio hingga posisi tulang benar-benar sehingga tulang dapat tersambung secara sempurna.Aktif : Nyeri dan gerakan sangat terbatas . dan tampak fractur trochanter regio femur coxae sinistra dengan posisi tulang tidak baik.Rotasi dalam : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Adduksi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Rotasi luar : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .Fleksi : Nyeri dan gerakan sangat terbatas .

. Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Bila tidak ada Vitamin D hormon paratiroid akan menyebabkan absorbsi tulang. osteoblas secara aktif mensekresikan sejumlah besar fosfatse alkali. Osteblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui proses yang disebut osifikasi. Vitamin D mempengaruhi deposisi dan absorbsi tulang. suatu peningkatan kadar hormon paratiroid mempunyai eveklangsung dan segera pada mineral tulang. Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyumpan dan mengatur kalsium dan fosfat. Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon. Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah. Ketika sedang aktif membentuk jaringan osteoid. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang memecah matrik-matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang. Menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorbsi dan bergeran memasuki serum. osteosit dan osteoklas. Vitamin D dalam jumlan besar dapat menyebabkan absorbsi tulang seperti yang terlihat pada kadar hormon paratirod yang tinggi. dengan demikian maka kadar fosfatase alkali didalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker tulang.FRACTUR TROCHANTER FISIOLOGI TULANG Tulang membentuk rangka penunjang dan pembentuk bagi tubuh dan tempat melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Tidak seperti osteblas dan osteofit osteoklas mengikis tulang. sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoitek. Vitamin D dalam jumlah yang sedikit membantu kalsifikasi tulang antara lain dengan meningkatkan absorbi kalsium dan Fosfat oleh usus halus. yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang terbentuk dari tiga jenis sel: osteoblas. yang membentuk berbagai sel darah.

Trokhanter minor : Penonjolan piramida kuat yang memproyeksikan dari proximal dan medial bagian dari tangkai femur. Tulang trokhanter adalah bagian dari tulang femur. Namun berkurangnya matrik tulang lah yang menyebabkan terjadinya osteoporosis. eksternus dan gameli. penurunan kadar estrogen setelah menepouse mengurangi aktifitas osteoblastik. obturator internus. Walaupunseseorang melakukan gerakan loncatan. piriformis. Misalnya tulang femur. kalsifikasi tulang tidak berpengaruh pada osteporosis yang terjasi pada wanita pada usia sebelum 65 th. Sedangkat trokhanter minor tempat perlekatan otot psoas major dan iliacus. Trochanter berasal dari bahas yunani yang artinya pelari. . jika tulang ini mengalami fractur maka dapat dipastikan fungsi tulang femur sebagai tulang anti gravitasi tidak dapat berfungsi dengan maksimal. Apaliagi jika tulang femur mengalami protusi kearah pelvis yang menyebabkan panjang anatomis dan fisiologisnya mengalami perubahan. Menyebabkan penurunan matrik organik tulang. trochanter mayor : penonjolan kuat yang berada di daerah proksimal dan lateral bagian dari tangkai femur 2. Trokhanter adalah tempat menyatunya otot pangkal paha dan otot paha trokhanter mayor tempat perlekatan beberapa otot gluteus medius minimus . tulang femur berbentuk Hollow Cylindris. dimana bentuk ini dapat menciptakan kekuatan yang maksimal dengan mineral yang minimal. Fungsi osteoblastik juga tertekan jika penderita diberi glukortikoid dengan dosis besar. Keadaan ini dapat menyebabkan osteoporosis akibat kegagalan osteoblas membentuk matriks baru Definisi Tulang Trochanter Komponen tulang ekstremitas bawah berfungsi sebagai penahan gravitasi bumi. Trokhanter ada dua jenis yaitu: 1. Karana kontruksi yang menakjubkan ini maka tulang femur dapat menahan tekanan yang cukup besar yang bergantung dari berat badan orang itu sendiri.Estrogen menstimulasi osteoblas. secara ilmiah trochanter adalah penonjolan tulang yang menuju akhir dari tulang paha bagian atas. tulang ini dapat menyesuaikan dengan gerakan loncatan orang tersebut. Umumnya.

plester traksi diberikan di arah medial dan lateral dari stoking tersebut stoking dibungkus dengan perban elastik 5. Dapat dipastikan bahwa articulatio coxae tidak dapat melakukan gerakan sebagaimana mestinya seperti abduksi. 4. plester dapat mengakibatkan alergi pada kulit . ujung perban elsatik pada pergelangan kaki dihubungkan dengan balok penyebar guna mencegah penekanan pada maleoli 6. fleksi.adduksi. rotasi dalam dan rotasi luar. secara umum traksi dilaksanakan dengan cara menempatkan beban dengan tali pada ektremitas pasien. pelapis tebal semen kulit. ban perban elastik dapan menghambat peredaran darah sehingga menimbulkan mekrosis 2. kemudian diberi gantungan beban seberat 5 Kg Pemasangan traksi dapat menimbulkan komplikasi 1. Prinsip pemasangan traksi kulit buck 1. seutas tambang diikatkan pada tengah balok kemudian dijulurkan pada kerekan yang diletakkan pada kaki tempat tidur. kakai sebelah distal diberi stoking tubuler yang digulung 3. tingtura benzoin atau pelekat elastik dipajang pada kilit penderita dibawah lutut 2. Tempat tarikan diatur sedemikian rupa sehingga arah tarikan searah dengan sumbu tulang yang patah. ekstensi.Pada gambar diatas tampak tulang femur sinistra mengalami protusi kearah pelvis karena fraktur tulang trochanter. 7. Traksi kulit buck merupakan traksi yang paling cocok fraktur ini indikasi yang paling sering dugunakan traksi ini adalah mengistirahatkan sendi lutut pasca trauma sebelum lutut tersebut diperiksa dan diperbaiki selain itu digunakan pula untuk memperbaiki kondisi tulang femur yang mengalami protursi kearah pervik. TATALAKSANA DAN KONSERVATIF Metode lain yang baik untuk melaksanakan reduksi ektremitas yang mengalami fraktur adalah dengan traksi.

setelah itu pasien merasa nyeri paha kirinya dan susah digerakkan. Pasien tidak mengeluh ada luka robek. Kel. Wetan Jaro. pasien bertabrakan dengan pengendara motor lainnya dan seketika itu juga pasien jatuh terpelanting dan pasien merasa paha kirinya terhantam benda keras. Untuk kronologis yang lebih lengkap pasien tidak dapat menjelaskan secara rinci karena proses kejadian yang sangat singkat sehingga pasien tidak dapat mengingatnya. pusing (-) . Kec. Pekerjaan : Ibu RT. traksi yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan kulit terutama pada orang yang berusia lanjut pada konservatif pasien dapat diberikan Asam mefenamat 3x1 amoxilin 3x1 antasida 3x1 fungsi konserfatif yang diberikan sebagai analgetik dan antibiotik Fraktur Femur IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Suruh. RPD (-) RPK (-) Anamnesis sistem Sistem cerebrospinal : sadar.3. Alamat : Jl. hanya terdapat luka geser ringan di beberapa bagian anggota badan. M. Islam. St. Semarang ANAMNESIS (Autoanamnesis) KU : Nyeri pada paha kiri KL : Paha kiri susah digerakkan dan luka geser ringan dibeberapa bagian anggota badan RPS Pasien datang ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor. Kab. luka tusuk. perawatan yang kurang baik dapat mengakibatkan ulserasi akibat penekanan pada maleulus 4. Suruh. Perempuan. Pada saat kejadian kecelakaan. Umur : 43 tahun .

tidak mudah rontok. Pemeriksaan Mata : edema (-/-) Palpebra . GCS E4V5M6 Respirasi : 28 kali/menit Suhu: 36. muntah (-) : BAK tidak ada keluhan : hangat.Sistem kardiovaskuler Sistem respiratorius System gastrointestinal Sistem urogenital Sistem integumentum Sistem muskuloskeletal : nyeri dada (-). simetris : warna hitam. sianosis (-) : sesak nafas (-) : mual (-). isi dan tegangan cukup Status generalis a. Pemeriksaan Kepala : mesocephal. berdebar-debar (-).70C per axiller VS : Tensi: 131/82 mmhg Nadi : 112 kali/menit. luka geser (+) : paha kiri nyeri dan susah digerakkan PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran : tampak kesakitan : composmentis. tidak mudah dicabut : tidak ada : tidak ada Bentuk kepala Rambut Nyeri tekan Hematom b.

deformitas (-/-) : bibir basah. nafas cuping hidung (-/-). tak kuat angkat Perkusi : Batas jantung : : SIC II LPS dextra : SIC IV LPS dextra kiri bawah Auskultasi : SIC V LMC sinistra : BJ S1>S2 reguler. isokor diameter ± 3 mm : deformitas (-/-). tidak terdapat bising kiri atas sinistra : SIC II LMC kanan atas kanan bawah Paru-paru Inspeksi Palpasi : gerak nafas simetris Ka/Ki. ketinggalan gerak (-/-) : fremitus taktil kanan = kiri . hemoptisis (-) : deviasi trakhea (-) : tidak membesar Kelenjar limfonodi : tidak membesar JVP Jantung Inspeksi : ictus cordis tak terlihat : JVP tidak meningkat Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V 2 cm medial linea midclavicularis sinistra. anemis (-). nyeri tekan (-/-) : sekret (-/-).Konjungtiva Sklera Pupil Telinga Hidung Mulut Leher Trakea Kelenjar tiroid : anemis (-/-) : ikterik (-/-) : reflek cahaya (+/+). retraksi (-/-).

kapiler refil (+) Gerakan : tampak gerakan terbatas (+). tampak sedikit pemendekan dibandingkan dengan femur dextra. terdapat nyeri ketok sumbu. nyeri tekan (+). gerakan terbatas (oleh karena nyeri) Status lokalis Regio Femoralis Sinistra Inspeksi : tampak edema minimal. terdapat deformitas pada sepertiga distal. hematom minimal. sensibilitas (+).Perkusi jantung Auskultasi : sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri redup pada batas : SD vesikuler. edema (+). susah digerakkan (+). angulasi (+). hematom (-) : BU (+) N : timpani (+) : nyeri tekan (-) Ekstremitas Superior : deformitas (-). krepitasi (-). sianosis (-). PEMERIKSAAN PENUNJANG Ro Femur Sinistra. pucat (-). vulnus eksoriativum (+) Inferior : deformitas (+). sendi-sendi pada pada bagian distal dapat digerakkan. bising (-) Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : jejas (-). hematom (+). suhu rabaan hangat. ronkhi (-). Kesan : fraktur tertutup femur sinistra 1/3 distal komplit . tak tampak sianosis pada bagian distal lesi Palpasi : nyeri tekan (+).

Vulnus Eksoriativum DIAGNOSIS BANDING · · Dislokasi sendi coxae sinistra Dislokasi sendi genu sinistra PENATALAKSANAAN · · Infus RL 20 t/m Inj. .DIAGNOSIS Fraktur tertutup femur sinistra 1/3 distal komplit. Ketorolac 3x1 A PROGNOSIS Prognosis pada pasien ini baik. · Traksi skeletal · Atau segera Operasi dengan pemasangan Pen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful