PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. dan intuisi. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. filsafat. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . Filsafat misalnya. Bahkan.biasa. tetapi bersifat personal. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). dan keempat. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. yaitu: filsafat dan agama. agama. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. common sense (akal sehat). yaitu: pertama. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?.[18] Sebaliknya. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. akal sehat (common sense). [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah.

pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . ilmu (sains). Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). kedua. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. DEA. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. kedua.[21] C. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. baik dari segi pengertian. manusia tidak tahu bahwa ia tahu.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. Namun demikian. ketiga. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. yaitu: pertama.[23] Dengan demikian. dan keempat. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. ketiga. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. Pengetahuan. Dalam kajian filsafat. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. Pada bagian terdahulu misalnya. manusia tahu bahwa ia tahu. dan keempat. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. Ilmu (Sains). Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. dan Filsafat Istilah pengetahuan. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru).

metode dan sistem tertentu. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Oleh karenanya. Ilmu pengetahuan . apakah manusia tahu bahwa ia tahu. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui.

ethics. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. 7. antara lain: deskriptif. concepts and attitudes of and individual or group. 6. kritis. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . 2. 2. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. yaitu: universal. 4. 3. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. evaluatif dan spekulatif. 2. aesthetic. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. radikal dan sistematis. calmness of temper and judgment. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. the most general beliefs.[26] Demikian seterusnya. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam.…dst.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. metaphysic. 5. antara lain: 1.…dst. 3. Selain itu. and epistemology. a discipline comprising as it core logic. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. 3.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). analisis.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat.

bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. ilmu (sains). sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. dan filsafat). sains.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. sains.[29] D. . Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. Perbedaan yang lain.

.[30] Jujun S. 4) Pengajuan hipotesis. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. Dengan demikan. 5) Penarikan kesimpulan. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. 3) Perumusan hipotesis.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sebuah Pengantar Populer. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. meramalkan. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Dengan demikian. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. dan mengontrol. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan .

sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. antara lain: pertama. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Maman. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. Tidak hanya sampai pada batas itu. kesimpulan yang semula dianggap benar. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Dengan demikian. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.[38] E. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. Demikian seterusnya. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi.

Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. hadis. ilmu kalam. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. yang terdiri dari tafsir. fikih ibadah. keempat. fikih muamalah. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. tasawuf. filsafat Islam. sejarah pemikiran Islam. metode dakwah.kalangan umat Islam. peradilan dan perkembangan modern. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. dan sebagainya. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. dan keenam. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. sikap tradisional. sejarah pendidikan Islam. Ulumul Hadits. buday Islam. Dakwah. sikap apologetis terhadap aliran lain. perbandingan agama. Secara umum. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. ketiga. 2) Kelompok cabang. falsafah pendidikan Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. dan filsafat. sains Islam. dan pendekatan studi kawasan. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. lembaga pendidikan Islam. kelima. kedua. akidah/ilmu kalam (teologi). tarekat. pendekatan interdisiplin ilmu. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. dan studi kewilayahan Islam. Peradaban Islam: sejarah Islam. Seperti: Ulumul Qur’an. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. pendekatan multidisiplin keilmuan. hadis. dan lain sebagainya. mencakup: sejarah dakwah. 5) Penyiaran Islam.

[41] Sementara itu. . Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.[42] F.keilmuan. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu.

Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. Namun demikian. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. . sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri.

Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 2001. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Mulyadhi Kartanegara. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C.itb. 1998. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Jakarta: Rajawali Press . Webster Third New International Dictionary. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. et. Jakarta: Sinar Harapan. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. 2006. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Massachussets. 2005. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. 1995. Hardono Hadi. DEA. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. 2008.al (editor). dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. (catakan ke 3). Maman. Affifi. Teori dan Praktik. Sistematika Filsafat. 2001. Sidi Gazalba. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Dekonstruksi Pemikiran Islam. Metodologi Studi Islam.ac. 1994.DAFTAR BACAAN A. 1976.filsafat_ilmu_pengetahuan. 1983. Yogyakarta: Penerbit Andi U. (Cetakan II). fa. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. 1966.pdf. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. E. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim.1985.A. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Filsafat Mistis Ibn Arabi. 1998. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kh. 1981.al. 2007. (editor). S. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. (cetakan ke 2). et. Metodologi Penelitian Agama. Pengantar Filsafat Umum. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. Medan: IAIN Press P. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. Van Peursen. Suryasumantri. Jakarta: Gramedia Irwandar. Orientasi di Alam Filsafat.id/ incl/libfile. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri.

Berkat pengetahuannya. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Dr. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. Karena itu. Ada yang hasratnya besar. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. karena pengetahuannya. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Hebatnya lagi. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. atau ada makanan yang bisa disantap. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Misalnya. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. Mudjia Rahardjo. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Bagi manusia. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. M. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. Demikian pula. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. Berkat pengetahuannya. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. H. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . “Human beings are humanizing themselves”.Si Sunday. Misalnya. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya.

kita menjadi makhluk yang manusiawi. yakni Discourse Analysis. Karena itu. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. Salah satu nikmat itu ialah akal. Dalam studi Content Analysis. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 .“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Semakin sering diulang. Walau punya akal. Tengara Allah itu kini terbukti. manusia tidak mau bersyukur. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Karena itu. di mana pun. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. . Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Menutup tulisan ini. Karena itu. Dan. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. karena berpengetahuan itu. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. dan dari siapa pun. maka semakin penting maknanya.

tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. seperti dalam memperoleh pengetahuan. yaitu Faktual. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. Prosedural. Oleh karena itu. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . Penerapan. Analisis. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Konseptual. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. dan seterusnya. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. untuk mengoreksinya. Namun. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. dan Metakognitif. konatif sampai pada taraf psikomotis. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. Pemahaman. terutama untuk domain kognitif. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. efektif. Evaluasi dan Membuat. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran.

yaitu: (i) analisis elemen/bagian. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. menemukan hubungan antarbagian. cara atau metode. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. kreasi. Dalam matematika. penerapan baru. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. dan . analisis hingga sintesis. terminologi dan peristilahan.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. berkaitan dan bermamfaat. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Dalam tingkatan ini. fakta-fakta. pemahaman. mulai dari pengetahuan. keterampilan dan prinsip-prinsip. pemahaman yang lebih baik. penerapan. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. (ii) analisis hubungan. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika.

Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. 2006). (2) proses transformasi pengetahuan. seperti akurasi. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Dalam transformasi pengetahuan. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . yaitu (1) proses perolehan informasi baru. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. logika dan konsistensi. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Oleh karena itu.

“segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. seperti lambang-lambang. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. “perkalian”. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Di dalam matematika. kemampuan berfikir analitis. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. kemampuan memecahkan masalah. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. “irisan dan sebagainya. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. ( p. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis.mengajar antara guru dengan peserta didik. sikap positif . Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).q = 0 Û p = 0 atau q = 0). Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. “gabungan”. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika.

Pengetahuan ilmu. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Dengan common sense. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. juga informasi tentang Hari Akhir. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. 2. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. 4. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. karena dimulai dari fakta. pemikiran logika diutamakan. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. eksprimen. Pengetahuan biasa. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. Namun. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. dan sering diartikan dengan good sense. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. yaitu: 1. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. netral. ketelitian. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. 2007). Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. 3. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. ketekunan.terhadap matematika. diperolehnya melalui observasi. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. Iman . Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. klasifikasi. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. Pengetahuan Agama. Pengetahuan filsafat.

khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. Siswa bukan penerima yang pasif. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. bilangan-bilangan. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. . Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. dan Metakognitif. pemahaman. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. yaitu Faktual. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. Prosedural. tanda-tanda. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Pengetahuan tentang akunting. guru. buku teks ataupun media saja. gambar-gambar). Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Konseptual. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. Pengetahuan tentang kosakata melukis. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata.

kewarganegaraan. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. lokasi. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. skema. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. Contohnya. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. orang. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. kata sifat) . contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. sumber informasi. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. model mental. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. kata kerja. tempat. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. rotasi bumi. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. rotasi bumi mengelilingi matahari. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. Pengetahuan nama-nama penting. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. Seperti. dan sebagainya. tanggal. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. matahari. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. dan peristiwa dalam berita.

Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Pengetahuan teori tektonik. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. Pengetahuan model genetika (DNA). Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. algoritma. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. Prosedur perkalian dalam . Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. teknik-teknik. fungsi) Pengetahuan evolusi. Pengetahuan Teori.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. masalah. atau materi. Model dan Struktur Pengetahuan teori. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Seperti pengetahuan keterampilan. memprediksikan.

Pengetahuan Metakognitif . Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air.aritmetika. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. persetujuan. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. ketika diterapkan. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. persuasif). Sekali lagi. atau penemuan. eksperimen. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus.

Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. 1991:2). pilihan berganda). belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. memikirkan dan menyelesaikan masalah. Apabila kesedaran ini wujud. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. Contohnya. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. Pertama. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. Definisi ini menyiratkan dua makna. mengingat nomor telepon). siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian.

berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. sikapnya semakin positif. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Menurut Gagne (dalam Hudojo. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Penguatan positif sebagai stimulus. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. 1981:12). Kedua. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. Tahap pertama pemahaman. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). 1990:32). jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Pengetahuan yang . para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Hal ini berarti (idealnya). salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. 1981:151). menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). dan sebagainya. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Resnick. Sehubungan dengan hal ini. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Namun demikian.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Misalnya. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. 1991:39. keterampilannya meningkat. Selanjutnya. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. (2) Hukum akibat (law of effect). bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Dengan demikian.

1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. 1981: Stiff dkk. Menurut Kohler (dalam Orton. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Piaget (dalam Bell. 1981:143-144). seorang ahli psikologi gestalt yang lain. Selanjutnya. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga.. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Katona. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. 1990:89). diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. Terakhir adalah tahap keempat. konsep. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. Jadi. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan.

pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. 1981:143). (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Dengan demikian. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. 1992:106). Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Artinya. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. Artinya. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Kemudian.

JICA. Universitas Negeri Makassar. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Amsal. Wowo SK. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk.15 Wita. 2001. 2006. Filsafat Ilmu. Diakses pada hari Rabu. 2007. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . 2003. Bandung: Afabeta Muhkal. Suherman dkk.S. dan siswa-siswa. Psikologi dalam Pendidikan. Psikologi Pengajaran. Bakhtiar. *** (Source : Fitriani Nur. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Grasindo. 2006. guru. and Assessing. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. A Taxonomy for Learning. Jakarta. Mappaita. Longman. Strategi Belajar Mengajar Matematika. 1996. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Contohnya. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Winkel.lingkungannya. Teaching. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. W.

Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. menurut metode tertentu. yakni logis. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . dan memiliki makna ilmu. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. . yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan .(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat.

TUJUAN 1. sejarah. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . 2. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. tetap ia melalui pendekatan suatu system . kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . planet dan bahkan alam semesta. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. 2. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . misanya cara mitologis. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . supra natural. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. maju selangkah demi selangkah. tehnologi dan sebagainya. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. Berbeda dengan cara – cara lain. 3. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. kedokteran. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . dan diverifikasikan. matematika. ilmu fisika. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. keperawatan. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. tradisional. folk science. dites.

Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. dengan segala atribut modernisasinya. brosur dan sebagainya. Generalized technical writing. Sejarah telah membuktikanya . ataupun satir (slanted criticism) 4. 2. misal 1. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. 2. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. tetap diakui kebesaranya . kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3.masa sebelumnya. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. 3. 4. kemegahan sejarah peradaban. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. peradaban. Negara . atau jarang disingkirkan begitu saja . PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. surat kabar. akan tetapi dengan cara . Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. ia diakui pada masanya. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. banyak para ahli melakukan hal ini. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. teknik – teknik baru ditemukan data baru. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. Generalized abstract explanation. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Nontechnical concrete explanation. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. seperti hanya tehnologi. . Semitechnical generalized explanation. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . filsafat.

Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. maka makin tinggi pohon tersebut . Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Copernicus dan Kapler. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. maka makin dalam pula kita . tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut.Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. atau secara idealnya harus bersifat universal. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat.

Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. 3. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . memecahkan persoalan kehidupan manusia. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. 2. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . bersumber dari keyakinan. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya.hurus menjangkau akarnya. penelitian. . Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . diperoleh secara turun – temurun. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. kontradiktif dan sifatnya tertutup. logis. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. mempunyai metodologi kerja yang khas.masalah yang bersifat praktis. komunikasi dan transpormasi. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. 4. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. ilmu ekonomi. ilmu perilaku. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. dan kepuasan pengetahuan. antropologi . SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. peradaban. sistimatis. ilmu politik. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. dan terbuka dari kritik. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . BAB III PENUTUP A. fisika. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. 5. 6.

Etika ilmu. dan sangat umum di fisika. Prof. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. Materi kuliah. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. ada pula pandangan lain. 2. tidak diterbitkan. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Prof. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. Wawasan Keilmuan. Pustaka sinar harapan . matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika.B. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. tidak diterbitkan. Jujun S. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. Filsafat ilmu. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. ( 2000 ). Akhirnya. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . ( ). untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. 3. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. ( ). Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. sedangkan dalam bahasa Indonesia. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. SARAN 1. sebuah pengantar popular. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. Hartono Kasmadi. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Inilah sebabnya. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. Dalam pandangan formalis. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. Jakarta. misalnya. bukan sains. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Suria Sumantri.

Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Jujun S. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. Columbia University Press. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Referensi Anonim. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. perubahan.wikipedia. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. Valentin F.ilmu praktis atau terapan. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Turchin. Pustaka Sinar Harapan. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Atau sederhananya. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.. USA: 1997. Kedua. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. merupakan bidang studi tersendiri.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Jakarta: 2001. Pertama. apapun disiplinnya. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Matematika (http://id. simbol dan notasi. agar pola struktur. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik.

Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. etika. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. estetika. filsafat agama dan epistimologi. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah.

karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.BAB II PEMBAHASAN 1. semestinya (ought to). bertanggung jawab pada kepentingan umum. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Bernaung di bawah filsafat moral. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. 2. dan generasi yang akan datang. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Dalam hal ini. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. Keduanya bertalian dengan hati nurani. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Menurutnya . Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. benar (right). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Tanggung jawab etis. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. prinsipprinsip moral dasar. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. dan salah (wrong). buruk (bad). serta bersifat universal. Akan tetapi. Oleh karena itu. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. manjaga keseimbangan ekosistem. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral.

seperti pada bidang penyelidikan. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. manusia denagn manusia. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. idiologis. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. Pendapat kedua. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. baik politis. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. . kepentingankepentingan. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. religious. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. logis.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. dsb. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. ekonomis. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. b. memperlancar hubungan sosial. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. Pendapat pertama. dan berbicara tentang fakta semata. agama. Pendapat ketiga. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. dan nilai penghormatan terhadap manusia. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. budaya. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. sosial.

lebih lama dalam menikmati hidupnya. martabat manusia. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. lebih nyaman. Apabila diperhatikan dengan seksama. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. Tanggungjawab etis. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Supaya terdapat kebebasan. menjaga keseimbangan ekosistem. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Bila kata “kebebasan” dipakai. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. dan bersifat universal . Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. bukan nilai. kepentingan pada generasi mendatang. 3.

Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. Rizal. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. Usman. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. Jul 10. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. Pertama. timbul pula perbedaan penafsiran. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. dan Misnal Munir. Artinya.2005. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. dan Alim. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Filsafat Ilmu. 2005.Filsafat Ilmu. 2000. Akan tetapi.

dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Selanjutnya. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. epistemologi dan aksiologi . maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi.aksiden manusia. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Sampai sejauh ini. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Oleh karena itu.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. yaitu hewan. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit.

Imanuel Kant. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Oleh karena itu. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. pada waktu itu. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). al Khawarizmi.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Mereka -barat. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). belum terlalu lama. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dan sebagian darinya telah lenyap. merekam. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Kedua. yakni aliran rasionalis dan empiris. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Atas dasar itu. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Hegel dan lain-lain. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Syekh al Thusi dan yang lainnya. Sebelumnya. Jabir bin al Hayyan. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Mereka telah bebas dari trauma intelektual. . Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. sebenarnya. al Farabi. yaitu menerima. kerendah-hatian dia.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Pertama. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. tetapi ia menjadi objek. Mereka pandai bersilat lidah. Dalam hal ini. Maka dari itu. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Berbeda dengan barat. Epistemologi menjadi sebuah kajian. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. dan mengolah apa yang ada dalam benak. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini.

yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. (3) sosial dan politik. filsafat teoritis dan filsafat praktis. harus memenuhi aspek metodologi. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Akan tetapi. maka dengan meningkatnya . Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. prosesnya menggunakan cara yang lazim. Meski dia berhasil. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. biologi. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.Kebenaran yang riil tidak ada. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. bersifat teknis dan normatif akademik. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. (2) ilmu eksakta dan matematika. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). didasarkan pada suatu sistem. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. ia tidak ingin dikatakan pandai. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. seperti: fisika. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Dalam keadaan seperti ini. ilmu pertambangan dan astronomi. (2) urusa rumah tangga. melakukan sesuatu tehadap objek. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh sebab itu. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu.

menurut pikiran yang sehat. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. menurut rasio. cocok dengan akal. yaitu. menurut nisbah (patut). kerangka berpikir . empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). Sementara. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. empirisme dan objektivitas. Berdasarkan terminologi. pengamatan yang telah dilakukan) . atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. penginderaan (sensasi) dan kedua. Artinya. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. pengetahuan. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. . pertama. kemahiran. bukan teori . empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. sifat alami (fitrah) . Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. percobaan. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). dengan demikian rasionalisme. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. tidak boleh dibantah dan diragukan. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan.

menurut Bertrand Russel. degradasi eksistensi kemanusiaan. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. tahap ini disebut juga tahap manipulasi.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. pengrusakan hutan. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. Misalnya. Lebih-lebih lagi. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. dan lain-lain. dan pengrusakan lingkungan hidup. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. yaitu perang. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. akumulasi limba-limba toksik. Dalam tahap ini. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). tanah. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. dampak rumah kaca. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. justru menimbulkan masalah lain. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. Akhirnya. misalnya. musuh kemanusiaan. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. udara. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi.

yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. religius. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Menurut dasar-dasar ini. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. dan ideologi. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Seperti disebutkan sebelumnya. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Konsekuensinya.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). dasar ontologis. Untuk sementara. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Bahkan. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Atau kawasan Asia Tengah. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . cukup penting. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. seperti nilai moral. Jepang. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. untuk tulisan ini. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Oleh karena itu. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Dalam agama. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. atau malah mungkin kehancuran. Dalam tahap ini. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. kerusakan lingkungan. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. penipisan lapisan ozon. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. pada tingkat aksiologis. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. Oleh karena itu. moral. Dalam psikologi. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Oleh karena itu. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). dan tanggungjawab manusia dalam . “ego” dan “super-ego”. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Jadi. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). hati nurani. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. maka itulah tahap epistemologis. Dalam artian bahwa. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Kisah dua kali perang dunia. moral. ada sisi destruktif manusia. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. Nilai ini menyangkut etika. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri.

sedangkan dalam penggunaannya. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. Pada tahap kontemplasi. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. Karena dalam penerapannya. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. semestinya (ought to). Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Dalam hal ini. bahkan pemilihan obyek penelitian. dan salah (wrong). manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Hakikat moral. Bernaung di bawah filsafat moral . Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Kelompok pertama. buruk (bad). Kelompok kedua. Oleh karena itu. benar (right).

kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. etika memainkan peranannya. Konsekuensialisme. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. 3. Deontologi. benar. adat. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. 2. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Etika Hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. melebihi segala hal merugikan. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Dari pemahaman tersebut. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. yakni mos (jamaknya mores). kewajiban atau hak. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab.sosial. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. Artinya kebiasaan. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. oleh filsuf Yunani kuno. Intuisionisme. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Suatu perbuatan bersifat etis.Osdar. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Menurut J. Disinilah. Kata moral berasal dari bahasa Latin. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. . Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. bukan berdasarkan situasi. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. 4. Aristoteles.

tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. penggunaan obat bius yang tak terkendali. martabat manusia. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. menjaga keseimbangan ekosistem. lebih lama dalam menikmati hidupnya. dehumanisasi. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. kepentingan pada generasi mendatang. Sebagaimana dikemukakan. bertanggungjawab pada kepentingan umum. dan bersifat universal .Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Tanggungjawab etis. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Supaya terdapat kebebasan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Imanuel Kant. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. pelacuran dan sebagainya. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Bila kata “kebebasan” dipakai. fisuf Jerman. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. lebih nyaman. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia.

Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. yang seharusnya . Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. Kemajuan ilmu pengetahuan. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. sekarang. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya.politik. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. dengan demikian. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. ilmu dan etika saling bertautan. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. antara manusia dengan lingkungan. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. memerlukan visi moral yang tepat. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif.

1995. kemudian muncul teori etika. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. . Kajian Filsafat Ilmu. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. PT Gramedia Pustaka Utama. timbul pula perbedaan penafsiran. Sebagaimana namanya. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. Falsafatuna. M. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. mengenai yang halal dan yang haram. 2002. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. Ed. Meski demikan. karena berpijak pada intuisi. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Bertens.1995. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. M. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. ke 2. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. Yogyakarta Van Melsen. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Nur Mufid bin Ali. Bandung: Penerbit Mizan. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. Muhammad Baqir. G. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. K. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. Ini dapat dimaknai. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dr. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Lembaga Studi Filsafat Islam. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Ahmad.1992. A. Terj. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. ilmuwan secara pribadi.etika. kewajiban dan hak.

2003.. Keagungan Ilmu Terj.Kamus Dewan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. “Filsasfat Ilmu”. 1994. Bandung. Ed. 1997. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Rosenthal. sebuah pengantar populer. . Herman. 1999. Jujun S. Suriasumantri. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. Franz. ke 3. Bakti Mandiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful