PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. agama. dan keempat. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah.[18] Sebaliknya. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. yaitu: filsafat dan agama. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. yaitu: pertama. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . tetapi bersifat personal. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. trial and eror (metode mencoba-coba). pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. Bahkan. Filsafat misalnya.biasa.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. akal sehat (common sense). filsafat.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. trial and eror (metode mencoba-coba). common sense (akal sehat). dan intuisi.

Pengetahuan. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu.[23] Dengan demikian. ketiga.[21] C. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. DEA. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Ilmu (Sains). manusia tahu bahwa ia tahu. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. Dalam kajian filsafat. dan keempat. kedua.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. ilmu (sains). Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. Namun demikian. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. ketiga. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. kedua. yaitu: pertama. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. Pada bagian terdahulu misalnya. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. baik dari segi pengertian. dan Filsafat Istilah pengetahuan.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. dan keempat.

Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains).[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. Oleh karenanya. apakah manusia tahu bahwa ia tahu. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. metode dan sistem tertentu. Ilmu pengetahuan .

analisis. and epistemology.…dst. Selain itu. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. 7. evaluatif dan spekulatif. 2. a discipline comprising as it core logic. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. antara lain: deskriptif.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. metaphysic. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. 5.…dst. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . yaitu: universal. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. aesthetic. the most general beliefs. 6. concepts and attitudes of and individual or group.[26] Demikian seterusnya. kritis. 2. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. 3. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). ethics.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. 2. calmness of temper and judgment. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. 4. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. 3. radikal dan sistematis. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. antara lain: 1. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. 3.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis).

[29] D. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. dan filsafat). Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Perbedaan yang lain. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. . ilmu (sains). khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. sains. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. sains.

[30] Jujun S.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. Sebuah Pengantar Populer. Dengan demikan. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. 5) Penarikan kesimpulan.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. 3) Perumusan hipotesis. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. 4) Pengajuan hipotesis. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. . yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

Dengan demikian. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . dan mengontrol. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. meramalkan. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan.

Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.[38] E. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Dengan demikian. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. kesimpulan yang semula dianggap benar. Demikian seterusnya. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. Maman. Tidak hanya sampai pada batas itu. antara lain: pertama. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. keteraturan logosentrime sangat menonjol di .

perbandingan agama. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. dan sebagainya. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . mencakup: sejarah dakwah.kalangan umat Islam. hadis. pendekatan multidisiplin keilmuan.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. 5) Penyiaran Islam. sains Islam. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. pendekatan interdisiplin ilmu. ketiga. yang terdiri dari tafsir. buday Islam. tarekat. sikap apologetis terhadap aliran lain. peradilan dan perkembangan modern. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. metode dakwah. keempat. fikih ibadah. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. dan pendekatan studi kawasan. tasawuf. filsafat Islam. Seperti: Ulumul Qur’an. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. akidah/ilmu kalam (teologi). hadis. dan lain sebagainya. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. Secara umum. sikap tradisional. 2) Kelompok cabang. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. Ulumul Hadits. kelima. ilmu kalam. dan studi kewilayahan Islam. sejarah pemikiran Islam. dan filsafat. Peradaban Islam: sejarah Islam. dan keenam. kedua. falsafah pendidikan Islam. sejarah pendidikan Islam. fikih muamalah. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. Dakwah. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. lembaga pendidikan Islam.

[42] F. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.keilmuan. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah.[41] Sementara itu. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. .

Namun demikian. . sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern.Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum.

Idealitas Nilai dan Realitas Empiris.id/ incl/libfile. Massachussets. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. (catakan ke 3). (cetakan ke 2). Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Pengantar Filsafat Umum. Jakarta: Sinar Harapan. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. 1981. Metodologi Penelitian Agama.ac. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 1995. (Cetakan II). Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. S.itb. Affifi. Jakarta: Rajawali Press . Metodologi Studi Islam. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. Kh. 2003.filsafat_ilmu_pengetahuan. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. 2007. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Van Peursen. E. (editor).A. Sidi Gazalba. Teori dan Praktik. 1976. Filsafat Mistis Ibn Arabi. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 1998. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. Orientasi di Alam Filsafat. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Maman. Hardono Hadi. Yogyakarta: Penerbit Andi U. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. 2001.al (editor). Webster Third New International Dictionary. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. fa. DEA. Dekonstruksi Pemikiran Islam. 1994. Medan: IAIN Press P. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. Jakarta: Gramedia Irwandar. 2005. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. 2001.pdf. 1966.1985. 2006. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. Mulyadhi Kartanegara. Sistematika Filsafat. et. 1998. 2008.al. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. 1983. Suryasumantri. Kamus Umum Bahasa Indonesia.DAFTAR BACAAN A. et. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download.

Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. Dr. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Karena itu. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Misalnya. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. M. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. Mudjia Rahardjo. Misalnya. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). Hebatnya lagi. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Berkat pengetahuannya. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Bagi manusia. karena pengetahuannya. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. Demikian pula. Berkat pengetahuannya. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. atau ada makanan yang bisa disantap. Ada yang hasratnya besar. “Human beings are humanizing themselves”. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. H. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat.Si Sunday. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup.

Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Dalam studi Content Analysis.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. di mana pun. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. Karena itu. Salah satu nikmat itu ialah akal. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Menutup tulisan ini. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. Semakin sering diulang. manusia tidak mau bersyukur. . mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. maka semakin penting maknanya. Karena itu. kita menjadi makhluk yang manusiawi. Tengara Allah itu kini terbukti. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. yakni Discourse Analysis. dan dari siapa pun. karena berpengetahuan itu. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. Walau punya akal. Dan. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Karena itu. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting.

Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. Oleh karena itu. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. dan Metakognitif. dan seterusnya. Analisis. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. Evaluasi dan Membuat. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. Konseptual. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. efektif. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . Namun. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. Pemahaman. konatif sampai pada taraf psikomotis. untuk mengoreksinya. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. Prosedural. yaitu Faktual. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. seperti dalam memperoleh pengetahuan. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Penerapan. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. terutama untuk domain kognitif. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif).

dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. pemahaman. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. penerapan. Dalam matematika. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. analisis hingga sintesis. berkaitan dan bermamfaat. penerapan baru. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. dan . mulai dari pengetahuan. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. kreasi. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. pemahaman yang lebih baik. terminologi dan peristilahan. fakta-fakta. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. cara atau metode.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. menemukan hubungan antarbagian. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. (ii) analisis hubungan. Dalam tingkatan ini. keterampilan dan prinsip-prinsip. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai.

Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. logika dan konsistensi. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. seperti akurasi. Dalam transformasi pengetahuan. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. (2) proses transformasi pengetahuan. 2006). seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Oleh karena itu. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang.

yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). kemampuan berfikir analitis.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. seperti lambang-lambang. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. Konsep berhubungan erat dengan definisi. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. “gabungan”. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. sikap positif . Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. kemampuan memecahkan masalah.mengajar antara guru dengan peserta didik. ( p. Di dalam matematika. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. “perkalian”. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. “irisan dan sebagainya. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan.

Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Dengan common sense. Pengetahuan ilmu. karena dimulai dari fakta. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. Iman . netral. klasifikasi. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. ketelitian. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. eksprimen. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. 2007). Namun. 2. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan Agama. 4. ketekunan. Pengetahuan filsafat. juga informasi tentang Hari Akhir. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. dan sering diartikan dengan good sense. pemikiran logika diutamakan. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. diperolehnya melalui observasi. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. 3. Pengetahuan biasa. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. yaitu: 1. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking).terhadap matematika. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia.

gambar-gambar). Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. buku teks ataupun media saja. pemahaman. Prosedural. Siswa bukan penerima yang pasif. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. . mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. guru. Pengetahuan tentang kosakata melukis. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Konseptual. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. Pengetahuan tentang akunting. bilangan-bilangan. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. tanda-tanda. dan Metakognitif. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. yaitu Faktual.

Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. orang. dan peristiwa dalam berita. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. rotasi bumi. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. matahari.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. lokasi. tanggal. dan sebagainya. tempat. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. rotasi bumi mengelilingi matahari. kata sifat) . Contohnya. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. kewarganegaraan. skema. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. Pengetahuan nama-nama penting. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. kata kerja. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. model mental. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. sumber informasi. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. Seperti.

Model dan Struktur Pengetahuan teori. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Pengetahuan teori tektonik. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. fungsi) Pengetahuan evolusi. atau materi. Seperti pengetahuan keterampilan. Pengetahuan Teori. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. memprediksikan. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. masalah. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. algoritma. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Pengetahuan model genetika (DNA). teknik-teknik. Prosedur perkalian dalam .• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan.

atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. persuasif). Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. eksperimen. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. Pengetahuan Metakognitif . jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. ketika diterapkan. atau penemuan. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural.aritmetika. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. persetujuan. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. Sekali lagi.

Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. pilihan berganda). Definisi ini menyiratkan dua makna. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. Contohnya. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. mengingat nomor telepon). siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Pertama. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Apabila kesedaran ini wujud. memikirkan dan menyelesaikan masalah. 1991:2). Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan.

Kedua. 1981:12). Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). 1981:151). seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Selanjutnya. Tahap pertama pemahaman. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Namun demikian. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. dan sebagainya. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Penguatan positif sebagai stimulus. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Dengan demikian. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). Menurut Gagne (dalam Hudojo. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. 1991:39. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. (2) Hukum akibat (law of effect). Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement).untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sehubungan dengan hal ini. Hal ini berarti (idealnya). Misalnya. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. keterampilannya meningkat. Resnick. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. 1990:32). setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. sikapnya semakin positif. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Pengetahuan yang . kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar.

1981: Stiff dkk. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Terakhir adalah tahap keempat. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Piaget (dalam Bell. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Menurut Kohler (dalam Orton. 1990:89). Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat.. 1981:143-144). Jadi. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. konsep. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Katona. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Selanjutnya. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi.

tidak semua mengerjakan tugas yang sama. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. Dengan demikian. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. 1992:106). misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. Artinya. 1981:143). Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. Kemudian. Artinya. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut.

Filsafat Ilmu. 1996. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Mappaita. Teaching. Wowo SK. Longman. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . 2006. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. Bakhtiar. 2003. Universitas Negeri Makassar. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. JICA. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. 2001. *** (Source : Fitriani Nur.lingkungannya. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Suherman dkk. Grasindo. W. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Strategi Belajar Mengajar Matematika. and Assessing. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. Bandung: Afabeta Muhkal. Contohnya. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. dan siswa-siswa. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Diakses pada hari Rabu.S. A Taxonomy for Learning. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. Amsal. 2006. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Psikologi Pengajaran. Winkel. guru. 2007. Psikologi dalam Pendidikan.15 Wita. Jakarta. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999.

Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. yakni logis. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. . yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. menurut metode tertentu. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. dan memiliki makna ilmu. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat.

Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. ilmu fisika. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. dan diverifikasikan. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. TUJUAN 1. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . 3. folk science. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. tradisional. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. matematika. 2. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . maju selangkah demi selangkah. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. supra natural. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . sejarah. tehnologi dan sebagainya. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. planet dan bahkan alam semesta. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. misanya cara mitologis. dites. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. tetap ia melalui pendekatan suatu system . keperawatan. Berbeda dengan cara – cara lain. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . kedokteran. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. 2. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah.

Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . Generalized abstract explanation. 4. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. misal 1. teknik – teknik baru ditemukan data baru. 2. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. Sejarah telah membuktikanya . akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. 2. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. 3. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. peradaban. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . tetap diakui kebesaranya . Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. brosur dan sebagainya. Negara . tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. kemegahan sejarah peradaban. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Generalized technical writing. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . banyak para ahli melakukan hal ini. Nontechnical concrete explanation. surat kabar. seperti hanya tehnologi. . Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. ia diakui pada masanya. ataupun satir (slanted criticism) 4. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. akan tetapi dengan cara . Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. dengan segala atribut modernisasinya. akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan.masa sebelumnya. atau jarang disingkirkan begitu saja . Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. Semitechnical generalized explanation. filsafat. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.

banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan .Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . maka makin dalam pula kita . Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. maka makin tinggi pohon tersebut . Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Copernicus dan Kapler. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. atau secara idealnya harus bersifat universal. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral.

antropologi . Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. ilmu perilaku. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. 2. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. diperoleh secara turun – temurun. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. logis. memecahkan persoalan kehidupan manusia. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. kontradiktif dan sifatnya tertutup. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. bersumber dari keyakinan. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. dan kepuasan pengetahuan. sistimatis. . komunikasi dan transpormasi. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. BAB III PENUTUP A. 5. 3. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya.hurus menjangkau akarnya. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. peradaban. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . 4. mempunyai metodologi kerja yang khas. penelitian. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. ilmu politik. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. fisika. 6. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. ilmu ekonomi. dan terbuka dari kritik. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri .masalah yang bersifat praktis. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi .

matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. tidak diterbitkan. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Jakarta. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. Hartono Kasmadi. dan sangat umum di fisika. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. tidak diterbitkan. Jujun S. Inilah sebabnya. Dalam pandangan formalis. Materi kuliah. 3. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. ( ). Pustaka sinar harapan . Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. SARAN 1. Etika ilmu. Prof.B. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. ( ). Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . bukan sains. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. 2. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Wawasan Keilmuan. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. ada pula pandangan lain. Filsafat ilmu. ( 2000 ). bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. sebuah pengantar popular. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Akhirnya. Prof. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Suria Sumantri. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. misalnya.

sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Pustaka Sinar Harapan. Columbia University Press. simbol dan notasi. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.. merupakan bidang studi tersendiri. Jakarta: 2001. Kedua.ilmu praktis atau terapan. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Atau sederhananya. apapun disiplinnya. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Turchin.wikipedia. agar pola struktur. USA: 1997. Jujun S. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Referensi Anonim. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Valentin F. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Matematika (http://id. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan .org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. Pertama. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. perubahan.

Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . estetika. etika. filsafat agama dan epistimologi.

dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. dan salah (wrong). baik dalam hubungannya sebagai pribadi. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Bernaung di bawah filsafat moral. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. benar (right). Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. prinsipprinsip moral dasar. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Akan tetapi. semestinya (ought to). Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Dalam hal ini. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. manjaga keseimbangan ekosistem.BAB II PEMBAHASAN 1. serta bersifat universal. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. dan generasi yang akan datang. Oleh karena itu. bertanggung jawab pada kepentingan umum. Tanggung jawab etis. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. buruk (bad). Menurutnya . Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. 2.

Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. logis. dsb. budaya.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. religious. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. memperlancar hubungan sosial. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. dan nilai penghormatan terhadap manusia. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. ekonomis. idiologis. . b. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. sosial. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. kepentingankepentingan. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. agama. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. manusia denagn manusia. Pendapat pertama. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. Pendapat ketiga. seperti pada bidang penyelidikan. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. baik politis. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. Pendapat kedua. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. dan berbicara tentang fakta semata. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan.

3. Supaya terdapat kebebasan. lebih nyaman. bukan nilai. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Apabila diperhatikan dengan seksama. bertanggungjawab pada kepentingan umum. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . Bila kata “kebebasan” dipakai. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Tanggungjawab etis. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. dan bersifat universal . harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. menjaga keseimbangan ekosistem. kepentingan pada generasi mendatang. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. martabat manusia.

pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Pertama. timbul pula perbedaan penafsiran. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Rizal. Usman. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Filsafat Ilmu. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. 2005.Filsafat Ilmu. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. dan Misnal Munir. dan Alim. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. Artinya. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Akan tetapi. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu.2005. Jul 10. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia.

pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. epistemologi dan aksiologi . Sampai sejauh ini. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Oleh karena itu. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. yaitu hewan. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.aksiden manusia. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. Selanjutnya.

pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Dalam hal ini. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. . Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. merekam. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. Oleh karena itu. kerendah-hatian dia. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. belum terlalu lama. Imanuel Kant. Jabir bin al Hayyan. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. al Khawarizmi. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Dari kaum rasionalis muncul Descartes.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Syekh al Thusi dan yang lainnya. Maka dari itu. Kedua. dan mengolah apa yang ada dalam benak. Francis Bacon dengan Sensualismenya. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Mereka -barat. Pertama. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Mereka pandai bersilat lidah. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. tetapi ia menjadi objek. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. yakni aliran rasionalis dan empiris. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Berbeda dengan barat. al Farabi. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Dan sebagian darinya telah lenyap. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. Hegel dan lain-lain. Epistemologi menjadi sebuah kajian. Atas dasar itu. pada waktu itu. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Wiliam James dengan Pragmatismenya. sebenarnya. yaitu menerima. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Sebelumnya. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah).

didasarkan pada suatu sistem. harus memenuhi aspek metodologi. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. prosesnya menggunakan cara yang lazim. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). filsafat teoritis dan filsafat praktis. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dalam keadaan seperti ini. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. melakukan sesuatu tehadap objek. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Meski dia berhasil. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. (3) sosial dan politik. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. ilmu pertambangan dan astronomi. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. biologi. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. (2) ilmu eksakta dan matematika. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional.Kebenaran yang riil tidak ada. seperti: fisika. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. bersifat teknis dan normatif akademik. (2) urusa rumah tangga. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Akan tetapi. maka dengan meningkatnya . Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. ia tidak ingin dikatakan pandai. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan.

tidak boleh dibantah dan diragukan. kemahiran. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. menurut pikiran yang sehat. penginderaan (sensasi) dan kedua. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. pertama. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. empirisme dan objektivitas. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. . bukan teori . empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. percobaan. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. cocok dengan akal. sifat alami (fitrah) . Artinya. Sementara. dengan demikian rasionalisme. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. kerangka berpikir . pengetahuan. menurut nisbah (patut). yaitu. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Berdasarkan terminologi. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. menurut rasio. pengamatan yang telah dilakukan) .

eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Akhirnya. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. dan pengrusakan lingkungan hidup. udara. Dalam tahap ini. menurut Bertrand Russel. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. misalnya. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Lebih-lebih lagi. Misalnya. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. yaitu perang. akumulasi limba-limba toksik. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. dampak rumah kaca. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. degradasi eksistensi kemanusiaan. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. dan lain-lain. musuh kemanusiaan. pengrusakan hutan. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas).Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. justru menimbulkan masalah lain. tanah.

untuk tulisan ini. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. Jepang. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. cukup penting. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. Bahkan. Untuk sementara. seperti nilai moral. Konsekuensinya. Menurut dasar-dasar ini. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Atau kawasan Asia Tengah. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. religius. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. dasar ontologis. dan ideologi. Seperti disebutkan sebelumnya. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan.

atau malah mungkin kehancuran. ada sisi destruktif manusia. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. hati nurani. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. maka itulah tahap epistemologis. Oleh karena itu. kerusakan lingkungan. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Dalam agama. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. moral. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. dan tanggungjawab manusia dalam . Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Oleh karena itu. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. Dalam tahap ini. penipisan lapisan ozon. Kisah dua kali perang dunia. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. Nilai ini menyangkut etika. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). “ego” dan “super-ego”. Oleh karena itu. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Jadi. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. moral. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. Dalam psikologi. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Dalam artian bahwa. pada tingkat aksiologis. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali.

Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. bahkan pemilihan obyek penelitian. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. buruk (bad). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. sedangkan dalam penggunaannya. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Kelompok kedua. benar (right). yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. Pada tahap kontemplasi. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Hakikat moral. semestinya (ought to). di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Oleh karena itu. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. Dalam hal ini. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. Kelompok pertama. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Keduanya bertalian dengan hati nurani. dan salah (wrong). sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Bernaung di bawah filsafat moral .

maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. bukan berdasarkan situasi. Kata moral berasal dari bahasa Latin. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Suatu perbuatan bersifat etis.sosial. Aristoteles. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Konsekuensialisme. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. yakni mos (jamaknya mores).Osdar. etika memainkan peranannya. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. kewajiban atau hak. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. melebihi segala hal merugikan. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. 3. . barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. oleh filsuf Yunani kuno. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Artinya kebiasaan. Etika Hak. 2. Disinilah. Menurut J. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Intuisionisme. Deontologi. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dari pemahaman tersebut. 4. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. adat. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. benar.

Imanuel Kant. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. kepentingan pada generasi mendatang. menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. martabat manusia. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. pelacuran dan sebagainya. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. Sebagaimana dikemukakan.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. penggunaan obat bius yang tak terkendali. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Supaya terdapat kebebasan. dehumanisasi. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. Tanggungjawab etis. bertanggungjawab pada kepentingan umum. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. fisuf Jerman. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. lebih lama dalam menikmati hidupnya. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. lebih nyaman. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Bila kata “kebebasan” dipakai. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. dan bersifat universal . Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata.

Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Kemajuan ilmu pengetahuan. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. dengan demikian. antara manusia dengan lingkungan. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. yang seharusnya .politik. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. memerlukan visi moral yang tepat. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. ilmu dan etika saling bertautan. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. sekarang. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas.

DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. Kajian Filsafat Ilmu. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan.1995. kewajiban dan hak. Muhammad Baqir. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. 1995. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu.1992. Sebagaimana namanya. M. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. 2002. PT Gramedia Pustaka Utama. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Bertens. Dr. Falsafatuna. Ed.etika. Ahmad. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. karena berpijak pada intuisi. M. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. ilmuwan secara pribadi. G. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Lembaga Studi Filsafat Islam. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. mengenai yang halal dan yang haram. Nur Mufid bin Ali. K. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. Yogyakarta Van Melsen. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. ke 2. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Meski demikan. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. A. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. timbul pula perbedaan penafsiran. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Ini dapat dimaknai. kemudian muncul teori etika. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. Bandung: Penerbit Mizan. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. . Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Terj.

Jujun S.Kamus Dewan. Bandung. 1997. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. Suriasumantri. sebuah pengantar populer. ke 3. Herman. Bakti Mandiri.2003. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. 1999. . Ed. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi.. Keagungan Ilmu Terj. Rosenthal. “Filsasfat Ilmu”. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Franz. 1994.