P. 1
bahan uas filsafat

bahan uas filsafat

|Views: 119|Likes:
Published by Dendy Saputra

More info:

Published by: Dendy Saputra on Feb 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2011

pdf

text

original

PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. yaitu: filsafat dan agama. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. trial and eror (metode mencoba-coba). Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. tetapi bersifat personal.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. filsafat. Bahkan. common sense (akal sehat). dan keempat. yaitu: pertama. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat.[18] Sebaliknya. akal sehat (common sense). Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. trial and eror (metode mencoba-coba). biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. Filsafat misalnya. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan.biasa. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. agama. dan intuisi.

Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. ketiga. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ilmu (Sains). dan keempat. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. Namun demikian. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. ilmu (sains). Dalam kajian filsafat. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. kedua. yaitu: pertama.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. Pengetahuan. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi.[21] C. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. ketiga. manusia tahu bahwa ia tahu. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . Pada bagian terdahulu misalnya. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. kedua. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. baik dari segi pengertian. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. DEA. dan keempat. dan Filsafat Istilah pengetahuan.[23] Dengan demikian.

benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. metode dan sistem tertentu. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. Oleh karenanya.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. Ilmu pengetahuan . atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. apakah manusia tahu bahwa ia tahu.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan.

ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. 2. concepts and attitudes of and individual or group.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. calmness of temper and judgment. antara lain: deskriptif. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. Selain itu. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. 3. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. yaitu: universal.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. 3. 2. 3. antara lain: 1. ethics. 7. the most general beliefs. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. 4.…dst. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis).…dst. 2. kritis. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. 6. a discipline comprising as it core logic. metaphysic. 5. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. analisis. evaluatif dan spekulatif. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. aesthetic. radikal dan sistematis. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). and epistemology.[26] Demikian seterusnya.

dan filsafat). bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. Perbedaan yang lain. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. sains. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. ilmu (sains). dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia.[29] D. sains. . Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan.

bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah.[30] Jujun S. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. Dengan demikan. . 4) Pengajuan hipotesis. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. 3) Perumusan hipotesis. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. 5) Penarikan kesimpulan.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. Sebuah Pengantar Populer. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. meramalkan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . Dengan demikian. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. dan mengontrol. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam.

keteraturan logosentrime sangat menonjol di . mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Tidak hanya sampai pada batas itu. kesimpulan yang semula dianggap benar. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. Demikian seterusnya. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru.[38] E. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan demikian.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. antara lain: pertama. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Maman. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah.

buday Islam. tarekat. 5) Penyiaran Islam. Dakwah. ketiga. pendekatan interdisiplin ilmu. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. filsafat Islam. dan lain sebagainya. metode dakwah. yang terdiri dari tafsir. hadis. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. dan studi kewilayahan Islam. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. ilmu kalam. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. dan keenam. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. peradilan dan perkembangan modern. kelima. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. mencakup: sejarah dakwah. fikih ibadah. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. keempat. Ulumul Hadits. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. sikap tradisional. sains Islam. pendekatan multidisiplin keilmuan. dan pendekatan studi kawasan.kalangan umat Islam. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . mencakup: ilmu pendidiikan Islam. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. sejarah pendidikan Islam. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. akidah/ilmu kalam (teologi). kedua. lembaga pendidikan Islam. dan sebagainya. sejarah pemikiran Islam. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. hadis. Secara umum. sikap apologetis terhadap aliran lain. tasawuf. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. Peradaban Islam: sejarah Islam. fikih muamalah. falsafah pendidikan Islam. Seperti: Ulumul Qur’an. dan filsafat. perbandingan agama.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. 2) Kelompok cabang.

Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann. . Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam.[41] Sementara itu.keilmuan.[42] F. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.

Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. . Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Namun demikian.

2001.filsafat_ilmu_pengetahuan. Metodologi Studi Islam. Sidi Gazalba.al (editor). (Cetakan II). Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. (cetakan ke 2). et. Van Peursen. 2006.DAFTAR BACAAN A. Dekonstruksi Pemikiran Islam. 1976. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (catakan ke 3). dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Pengantar Filsafat Umum. 2001. Jakarta: Sinar Harapan. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. DEA. 1981. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. 1995. Maman. S.ac. Metodologi Penelitian Agama. Mulyadhi Kartanegara.pdf. 1998.A. Massachussets. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. 1998. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. 1994. Yogyakarta: Penerbit Andi U. Medan: IAIN Press P. Filsafat Mistis Ibn Arabi. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik.al. 1983. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. (editor). Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. E. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. fa. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie.itb. Affifi. et. Teori dan Praktik. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Hardono Hadi. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. 2003. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Webster Third New International Dictionary. Kh.1985. 2007. Orientasi di Alam Filsafat. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Jakarta: Rajawali Press . Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. Suryasumantri. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis.id/ incl/libfile. 2008. Jakarta: Gramedia Irwandar. 1966. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2005. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam.

Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Berkat pengetahuannya. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. Dr. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Bagi manusia. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Misalnya.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. karena pengetahuannya. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. Demikian pula. atau ada makanan yang bisa disantap. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Ada yang hasratnya besar. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya.Si Sunday. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Berkat pengetahuannya. Karena itu. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. M. Misalnya. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. Mudjia Rahardjo. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). H. Hebatnya lagi. “Human beings are humanizing themselves”. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya.

agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. manusia tidak mau bersyukur.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. karena berpengetahuan itu. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. Dan. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. Dalam studi Content Analysis. Menutup tulisan ini. kita menjadi makhluk yang manusiawi. . Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. maka semakin penting maknanya. Salah satu nikmat itu ialah akal. Walau punya akal. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. Tengara Allah itu kini terbukti. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. Karena itu. di mana pun. yakni Discourse Analysis. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu. dan dari siapa pun. Karena itu. Semakin sering diulang. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting.

serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. dan seterusnya. efektif. Prosedural. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. untuk mengoreksinya. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. seperti dalam memperoleh pengetahuan. Evaluasi dan Membuat. Penerapan. Konseptual. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. Namun. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. dan Metakognitif. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. yaitu Faktual. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. terutama untuk domain kognitif. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Oleh karena itu. Pemahaman. konatif sampai pada taraf psikomotis. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Analisis.

Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. terminologi dan peristilahan. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. keterampilan dan prinsip-prinsip. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. menemukan hubungan antarbagian. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. penerapan. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. Dalam matematika. kreasi. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. mulai dari pengetahuan. berkaitan dan bermamfaat. dan . analisis hingga sintesis. penerapan baru. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. cara atau metode. pemahaman. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Dalam tingkatan ini. (ii) analisis hubungan. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. pemahaman yang lebih baik. fakta-fakta. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya.

yaitu (1) proses perolehan informasi baru.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. Dalam transformasi pengetahuan. 2006). Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Oleh karena itu. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. logika dan konsistensi. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. (2) proses transformasi pengetahuan. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. seperti akurasi. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.

Di dalam matematika. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. ( p.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. kemampuan berfikir analitis. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika.mengajar antara guru dengan peserta didik. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. “perkalian”. kemampuan memecahkan masalah. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. sikap positif . “irisan dan sebagainya. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. “gabungan”. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. seperti lambang-lambang. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu.

Pengetahuan Agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. klasifikasi. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. eksprimen. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. Namun. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. diperolehnya melalui observasi. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). 2. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.terhadap matematika. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. Pengetahuan ilmu. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. ketelitian. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. Pengetahuan filsafat. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. juga informasi tentang Hari Akhir. karena dimulai dari fakta. 2007). Dengan common sense. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. Pengetahuan biasa. pemikiran logika diutamakan. netral. ketekunan. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. 4. 3. dan sering diartikan dengan good sense. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. Iman . yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. yaitu: 1.

Siswa bukan penerima yang pasif. buku teks ataupun media saja. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. gambar-gambar). bilangan-bilangan. Pengetahuan tentang akunting. dan Metakognitif. Konseptual.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. guru. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Pengetahuan tentang kosakata melukis. . Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. tanda-tanda. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. pemahaman. yaitu Faktual. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. Prosedural. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya.

• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. orang. model mental. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. matahari. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. Pengetahuan nama-nama penting. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. kata sifat) . kebutuhan manusia dan ketertarikannya. Contohnya. kata kerja. tanggal. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. lokasi. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. skema. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. dan peristiwa dalam berita. rotasi bumi mengelilingi matahari. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. kewarganegaraan. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. dan sebagainya. tempat. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. sumber informasi. Seperti. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. rotasi bumi. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda.

Model dan Struktur Pengetahuan teori. memprediksikan. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Prosedur perkalian dalam . Pengetahuan teori tektonik. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. masalah. Pengetahuan Teori. teknik-teknik.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. algoritma. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Seperti pengetahuan keterampilan. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. Pengetahuan model genetika (DNA). Pengetahuan periode waktu yang berbeda. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. fungsi) Pengetahuan evolusi. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. atau materi. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah.

Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. eksperimen. atau penemuan. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Pengetahuan Metakognitif . Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. Sekali lagi. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. persetujuan. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural.aritmetika. persuasif). Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. ketika diterapkan.

jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. memikirkan dan menyelesaikan masalah. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Definisi ini menyiratkan dua makna. mengingat nomor telepon). Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. Pertama. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. 1991:2). Contohnya. pilihan berganda).Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. Apabila kesedaran ini wujud.

untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. Penguatan positif sebagai stimulus. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. 1991:39. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. 1981:12). maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Menurut Gagne (dalam Hudojo. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. keterampilannya meningkat. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Selanjutnya. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). (2) Hukum akibat (law of effect). berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. 1990:32). Sehubungan dengan hal ini. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Kedua. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. Hal ini berarti (idealnya). maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Resnick. Dengan demikian. Misalnya. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. 1981:151). maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). dan sebagainya. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. sikapnya semakin positif. Pengetahuan yang . Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. Tahap pertama pemahaman. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Namun demikian.

Katona. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Jadi. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Selanjutnya.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. konsep. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. Terakhir adalah tahap keempat. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang.. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. 1981: Stiff dkk. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. Menurut Kohler (dalam Orton. 1981:143-144). Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Piaget (dalam Bell. 1990:89).

(4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . Artinya. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. 1992:106). melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. Kemudian. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. Artinya. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. 1981:143). Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Dengan demikian.

Psikologi Pengajaran. Bakhtiar. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Bandung: Afabeta Muhkal. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. 2007. Psikologi dalam Pendidikan. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Filsafat Ilmu. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2006. Contohnya. Strategi Belajar Mengajar Matematika.S. Amsal. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. Mappaita. 2003. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. Diakses pada hari Rabu. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Teaching. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Universitas Negeri Makassar.15 Wita. JICA. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. Grasindo. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. A Taxonomy for Learning. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Suherman dkk. Longman. W. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999.lingkungannya. *** (Source : Fitriani Nur. Jakarta. Wowo SK. 2006. guru. 2001. 1996. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. and Assessing. Winkel. dan siswa-siswa. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.

Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. . dan memiliki makna ilmu. menurut metode tertentu. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . yakni logis. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem.

Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . kedokteran. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. supra natural. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. tehnologi dan sebagainya. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. Berbeda dengan cara – cara lain. dan diverifikasikan. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. dites. folk science. 2. tradisional. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. 2. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. misanya cara mitologis. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. sejarah. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . 3. TUJUAN 1. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. maju selangkah demi selangkah. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. keperawatan. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. ilmu fisika. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. tetap ia melalui pendekatan suatu system . Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. planet dan bahkan alam semesta. matematika. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban.

tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. peradaban. 3. . teknik – teknik baru ditemukan data baru. 2. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . Nontechnical concrete explanation. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . dengan segala atribut modernisasinya. Generalized abstract explanation. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. Semitechnical generalized explanation. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. atau jarang disingkirkan begitu saja . kemegahan sejarah peradaban. tetap diakui kebesaranya . ia diakui pada masanya. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. filsafat. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . brosur dan sebagainya. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. Negara . ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. surat kabar. Sejarah telah membuktikanya .masa sebelumnya. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . 4. ataupun satir (slanted criticism) 4. akan tetapi dengan cara . PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. banyak para ahli melakukan hal ini. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. Generalized technical writing. 2. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. misal 1. seperti hanya tehnologi.

banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Copernicus dan Kapler. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud .Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. maka makin dalam pula kita . Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. maka makin tinggi pohon tersebut . Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. atau secara idealnya harus bersifat universal. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut.

dan terbuka dari kritik. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. 6. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. ilmu perilaku. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . . Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. logis. BAB III PENUTUP A. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. 2. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . kontradiktif dan sifatnya tertutup. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. mempunyai metodologi kerja yang khas. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. penelitian. sistimatis. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. 3. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya.masalah yang bersifat praktis. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . antropologi . ilmu politik. komunikasi dan transpormasi. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang.hurus menjangkau akarnya. ilmu ekonomi. memecahkan persoalan kehidupan manusia. dan kepuasan pengetahuan. bersumber dari keyakinan. 5. diperoleh secara turun – temurun. peradaban. 4. fisika. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar .

Hartono Kasmadi. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. tidak diterbitkan. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. Wawasan Keilmuan. ( ). SARAN 1. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. Prof. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Akhirnya. Etika ilmu. sebuah pengantar popular. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Filsafat ilmu. Pustaka sinar harapan .B. tidak diterbitkan. ada pula pandangan lain. misalnya. 2. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. 3. dan sangat umum di fisika. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. ( ). banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Jujun S. ( 2000 ). Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . Suria Sumantri. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Jakarta. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. Inilah sebabnya. Prof. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. Materi kuliah. bukan sains. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Dalam pandangan formalis.

Jakarta: 2001. Valentin F. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. Kedua.ilmu praktis atau terapan. apapun disiplinnya. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.wikipedia. simbol dan notasi. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. Atau sederhananya. Pertama. agar pola struktur. Jujun S. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Matematika (http://id. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. USA: 1997.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. perubahan.. Pustaka Sinar Harapan. merupakan bidang studi tersendiri. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Turchin. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Referensi Anonim. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Columbia University Press.

Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. etika. estetika. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. filsafat agama dan epistimologi. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai.

Bernaung di bawah filsafat moral. manjaga keseimbangan ekosistem. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. buruk (bad). Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. 2. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. Oleh karena itu. Akan tetapi. Keduanya bertalian dengan hati nurani. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. Menurutnya . Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. dan generasi yang akan datang. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. serta bersifat universal. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. benar (right). bertanggung jawab pada kepentingan umum. Tanggung jawab etis. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Dalam hal ini. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. dan salah (wrong). prinsipprinsip moral dasar. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. semestinya (ought to). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. baik dalam hubungannya sebagai pribadi.BAB II PEMBAHASAN 1. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia.

Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. ekonomis. memperlancar hubungan sosial. Pendapat kedua. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. baik politis. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. seperti pada bidang penyelidikan. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. religious. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. idiologis. . Pendapat pertama. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. dsb. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. manusia denagn manusia. dan berbicara tentang fakta semata. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. budaya. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. agama. logis. kepentingankepentingan. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. dan nilai penghormatan terhadap manusia. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. sosial. Pendapat ketiga. b.

lebih lama dalam menikmati hidupnya. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. 3. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Supaya terdapat kebebasan. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Apabila diperhatikan dengan seksama. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. lebih nyaman. bukan nilai. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. dan bersifat universal . Bila kata “kebebasan” dipakai.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. martabat manusia. menjaga keseimbangan ekosistem. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. kepentingan pada generasi mendatang. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . Tanggungjawab etis.

2005. dan Misnal Munir. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Artinya. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. Rizal. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. timbul pula perbedaan penafsiran. Akan tetapi. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Filsafat Ilmu. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya.Filsafat Ilmu. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. Usman. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Pertama. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. dan Alim. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila.2005. 2000. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Jul 10. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu.

Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Selanjutnya. dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). epistemologi dan aksiologi . didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. yaitu hewan.aksiden manusia.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Oleh karena itu. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Sampai sejauh ini.

di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Dan sebagian darinya telah lenyap. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Dalam hal ini. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Francis Bacon dengan Sensualismenya. sebenarnya. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Mereka -barat. kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Imanuel Kant. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Berbeda dengan barat. pada waktu itu. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Kedua. yaitu menerima. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. belum terlalu lama. Syekh al Thusi dan yang lainnya. Jabir bin al Hayyan. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Maka dari itu. Sebelumnya. al Farabi. merekam. Oleh karena itu. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. tetapi ia menjadi objek. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Hegel dan lain-lain. Mereka pandai bersilat lidah. yakni aliran rasionalis dan empiris. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. al Khawarizmi. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Epistemologi menjadi sebuah kajian. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Pertama. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. . dan mengolah apa yang ada dalam benak. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. Atas dasar itu. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka.

(2) ilmu eksakta dan matematika. (2) urusa rumah tangga. Oleh sebab itu. melakukan sesuatu tehadap objek. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. (3) sosial dan politik. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. prosesnya menggunakan cara yang lazim. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. filsafat teoritis dan filsafat praktis. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. biologi. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Dalam keadaan seperti ini. ilmu pertambangan dan astronomi. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. didasarkan pada suatu sistem. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. bersifat teknis dan normatif akademik. Meski dia berhasil. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). seperti: fisika. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika.Kebenaran yang riil tidak ada. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. Akan tetapi. ia tidak ingin dikatakan pandai. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. harus memenuhi aspek metodologi. maka dengan meningkatnya . Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional.

cocok dengan akal. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. dengan demikian rasionalisme. Sementara. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. percobaan. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. menurut pikiran yang sehat. pertama. menurut rasio. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. penginderaan (sensasi) dan kedua. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. . empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. tidak boleh dibantah dan diragukan. empirisme dan objektivitas. menurut nisbah (patut). Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. yaitu. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. pengetahuan. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. pengamatan yang telah dilakukan) . Berdasarkan terminologi. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. kemahiran. bukan teori . apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. Artinya. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. kerangka berpikir . Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. sifat alami (fitrah) .

dan lain-lain.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. musuh kemanusiaan. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. justru menimbulkan masalah lain. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. dan pengrusakan lingkungan hidup. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. Misalnya. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. dampak rumah kaca. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. menurut Bertrand Russel. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. degradasi eksistensi kemanusiaan. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dalam tahap ini. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. akumulasi limba-limba toksik. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. pengrusakan hutan. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. udara. Lebih-lebih lagi. yaitu perang. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. misalnya. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). Akhirnya. tanah.

dan ideologi. Jepang. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. dasar ontologis. Konsekuensinya. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. religius. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. untuk tulisan ini. Bahkan. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. seperti nilai moral. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. cukup penting. Menurut dasar-dasar ini. Seperti disebutkan sebelumnya. Untuk sementara. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Atau kawasan Asia Tengah.

sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. Jadi. Dalam tahap ini. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. Oleh karena itu. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Dalam psikologi. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. penipisan lapisan ozon. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Kisah dua kali perang dunia. Dalam agama. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. maka itulah tahap epistemologis. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. moral. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. dan tanggungjawab manusia dalam . Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). “ego” dan “super-ego”. hati nurani. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. Oleh karena itu. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. Dalam artian bahwa. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. Nilai ini menyangkut etika. moral. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. pada tingkat aksiologis. atau malah mungkin kehancuran. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. ada sisi destruktif manusia. kerusakan lingkungan.

di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Karena dalam penerapannya. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. Bernaung di bawah filsafat moral . yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. buruk (bad). (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Dalam hal ini. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Kelompok pertama. benar (right). Keduanya bertalian dengan hati nurani. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Pada tahap kontemplasi. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. semestinya (ought to). bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. bahkan pemilihan obyek penelitian. Kelompok kedua. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Oleh karena itu. sedangkan dalam penggunaannya.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). dan salah (wrong). ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. Hakikat moral. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan .

kewajiban atau hak. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Kata moral berasal dari bahasa Latin. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. etika memainkan peranannya. yakni mos (jamaknya mores). teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. 4. Etika Hak. Menurut J. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. oleh filsuf Yunani kuno. bukan berdasarkan situasi. Dari pemahaman tersebut. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. . Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. Aristoteles. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. benar. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. 2. melebihi segala hal merugikan. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban.Osdar. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab.sosial. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Suatu perbuatan bersifat etis. Intuisionisme. Artinya kebiasaan. Konsekuensialisme. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Deontologi. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. 3. adat. Disinilah.

martabat manusia. lebih lama dalam menikmati hidupnya. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Tanggungjawab etis. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. pelacuran dan sebagainya. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Imanuel Kant. fisuf Jerman. bertanggungjawab pada kepentingan umum. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Bila kata “kebebasan” dipakai. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. kepentingan pada generasi mendatang. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. menjaga keseimbangan ekosistem. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . dan bersifat universal . Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. dehumanisasi. lebih nyaman. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. penggunaan obat bius yang tak terkendali. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . Sebagaimana dikemukakan. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Supaya terdapat kebebasan.

ilmu dan etika saling bertautan. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. dengan demikian. memerlukan visi moral yang tepat. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . sekarang. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. yang seharusnya . Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif.politik. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. Kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. antara manusia dengan lingkungan. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya.

sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. 2002. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Bertens. Ini dapat dimaknai. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Falsafatuna. M. timbul pula perbedaan penafsiran. K.1992. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. M. PT Gramedia Pustaka Utama. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Muhammad Baqir. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. mengenai yang halal dan yang haram. Meski demikan. Ahmad. kemudian muncul teori etika. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. 1995. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Kajian Filsafat Ilmu.1995. A. kewajiban dan hak. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan.etika. Nur Mufid bin Ali. ke 2. G. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. Sebagaimana namanya. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dr. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Yogyakarta Van Melsen. Ed. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. Bandung: Penerbit Mizan. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. ilmuwan secara pribadi. Terj. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. . Lembaga Studi Filsafat Islam. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. karena berpijak pada intuisi.

. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Bandung. Ed. 1994.2003. 1999. Jujun S. 1997. sebuah pengantar populer. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. “Filsasfat Ilmu”.Kamus Dewan. . Suriasumantri. Herman. ke 3. Keagungan Ilmu Terj. Bakti Mandiri. Franz. Rosenthal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->