PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

common sense (akal sehat). intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. trial and eror (metode mencoba-coba).[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan.[18] Sebaliknya. agama. yaitu: filsafat dan agama. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. akal sehat (common sense). menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. dan intuisi. Filsafat misalnya. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. tetapi bersifat personal. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. trial and eror (metode mencoba-coba). dan keempat. Bahkan. yaitu: pertama. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman.biasa. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. filsafat.

ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. Ilmu (Sains). pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Dalam kajian filsafat. dan Filsafat Istilah pengetahuan. Namun demikian. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru).[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. yaitu: pertama. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. kedua. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. DEA. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. kedua. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. baik dari segi pengertian. dan keempat. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar.[23] Dengan demikian. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. ketiga.[21] C. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. Pengetahuan. ilmu (sains). manusia tahu bahwa ia tahu. Pada bagian terdahulu misalnya. ketiga. dan keempat. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar.

benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. metode dan sistem tertentu. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Ilmu pengetahuan . Oleh karenanya. apakah manusia tahu bahwa ia tahu. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan.

an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam.…dst. 4. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . 3. radikal dan sistematis. 2. 5.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). antara lain: 1. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. evaluatif dan spekulatif. metaphysic. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. yaitu: universal. 6. 3. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought. concepts and attitudes of and individual or group.[26] Demikian seterusnya. 2.…dst. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. 7. antara lain: deskriptif. aesthetic. kritis. the most general beliefs. a discipline comprising as it core logic. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. ethics. and epistemology. analisis. 3. calmness of temper and judgment. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. Selain itu. 2. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1.

dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. .[29] D. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. ilmu (sains). dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya.Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. sains. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. Perbedaan yang lain. sains. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. dan filsafat).

kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. 5) Penarikan kesimpulan. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah.[30] Jujun S. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. . Sebuah Pengantar Populer. 4) Pengajuan hipotesis. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. 3) Perumusan hipotesis. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. Dengan demikan.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

Dengan demikian. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. dan mengontrol. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan .[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam. meramalkan. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.

itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Demikian seterusnya. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. Maman. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah. Dengan demikian. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. kesimpulan yang semula dianggap benar. Tidak hanya sampai pada batas itu. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi.[38] E. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. antara lain: pertama.

2) Kelompok cabang. fikih muamalah. dan lain sebagainya. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. Ulumul Hadits. yang terdiri dari tafsir. tasawuf. filsafat Islam. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. Secara umum. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. peradilan dan perkembangan modern. tarekat. dan sebagainya. ketiga. 5) Penyiaran Islam. mencakup: sejarah dakwah. buday Islam. dan keenam. sejarah pemikiran Islam. ilmu kalam. pendekatan interdisiplin ilmu. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. lembaga pendidikan Islam. perbandingan agama. keempat. Dakwah. Peradaban Islam: sejarah Islam. kelima. sikap tradisional. sejarah pendidikan Islam. hadis. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. akidah/ilmu kalam (teologi). antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. sikap apologetis terhadap aliran lain. Seperti: Ulumul Qur’an. sains Islam. metode dakwah. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. dan studi kewilayahan Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. dan pendekatan studi kawasan. fikih ibadah. pendekatan multidisiplin keilmuan. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. kedua. dan filsafat.kalangan umat Islam.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. hadis. falsafah pendidikan Islam. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan .

[41] Sementara itu.keilmuan. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu.[42] F. . Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam.

.Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. Namun demikian. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern.

2005. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat.filsafat_ilmu_pengetahuan. S. Jakarta: Sinar Harapan. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Metodologi Studi Islam. 2006. 1983. 1976.DAFTAR BACAAN A. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. 2001. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. Jakarta: Gramedia Irwandar. Mulyadhi Kartanegara. fa.ac. Orientasi di Alam Filsafat. Sistematika Filsafat. Maman. Sidi Gazalba. Massachussets. (editor). 1981. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Cetakan II). Webster Third New International Dictionary. 1966. Filsafat Mistis Ibn Arabi. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. et.pdf. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. 2001.id/ incl/libfile. 2007. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Pengantar Filsafat Umum. Dekonstruksi Pemikiran Islam. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga.itb. et.1985. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. 1998. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Teori dan Praktik. Metodologi Penelitian Agama. (cetakan ke 2). Jakarta: Rajawali Press . Hardono Hadi. 1998. Van Peursen. 1994. Suryasumantri. Kh. E.al (editor).A. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 2003. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. 1995. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C.al. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Affifi. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. DEA. Yogyakarta: Penerbit Andi U. Medan: IAIN Press P. 2008. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. (catakan ke 3).

Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. karena pengetahuannya. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Ada yang hasratnya besar. “Human beings are humanizing themselves”. H. Berkat pengetahuannya. Misalnya. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. Hebatnya lagi. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Demikian pula. Dr. Bagi manusia. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui.Si Sunday. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Misalnya. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. atau ada makanan yang bisa disantap. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. Karena itu. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Mudjia Rahardjo. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. M. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Berkat pengetahuannya. binatang memiliki ‘pengetahuan’.

Karena itu. . mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. Dalam studi Content Analysis. karena berpengetahuan itu. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Walau punya akal. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Salah satu nikmat itu ialah akal. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Menutup tulisan ini. manusia tidak mau bersyukur. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. di mana pun. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. dan dari siapa pun. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. maka semakin penting maknanya. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Semakin sering diulang. yakni Discourse Analysis. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Karena itu. kita menjadi makhluk yang manusiawi. Tengara Allah itu kini terbukti. Karena itu. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Dan.

Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. dan seterusnya. seperti dalam memperoleh pengetahuan. terutama untuk domain kognitif. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. Namun. Oleh karena itu.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. efektif. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. konatif sampai pada taraf psikomotis. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. Prosedural. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . untuk mengoreksinya. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. Konseptual. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. yaitu Faktual. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Analisis. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. Penerapan. Pemahaman. dan Metakognitif. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. Evaluasi dan Membuat. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif.

analisis hingga sintesis. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. pemahaman. berkaitan dan bermamfaat. pemahaman yang lebih baik. Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. keterampilan dan prinsip-prinsip.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. kreasi. fakta-fakta. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. mulai dari pengetahuan. Dalam matematika. terminologi dan peristilahan. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Dalam tingkatan ini. penerapan baru. (ii) analisis hubungan. cara atau metode. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. penerapan. menemukan hubungan antarbagian. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. dan . siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya.

seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. (2) proses transformasi pengetahuan. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. Oleh karena itu. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. logika dan konsistensi. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Dalam transformasi pengetahuan. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. seperti akurasi. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. 2006).

“gabungan”. “perkalian”. “irisan dan sebagainya. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. sikap positif .mengajar antara guru dengan peserta didik. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. seperti lambang-lambang. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Di dalam matematika. kemampuan berfikir analitis. kemampuan memecahkan masalah. ( p. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).

karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Pengetahuan filsafat.terhadap matematika. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. dan sering diartikan dengan good sense. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. diperolehnya melalui observasi. ketelitian. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. Pengetahuan Agama. Pengetahuan ilmu. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). juga informasi tentang Hari Akhir. eksprimen. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Namun. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. karena dimulai dari fakta. Pengetahuan biasa. klasifikasi. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. Dengan common sense. 3. yaitu: 1. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. ketekunan. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. 2007). yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. 4. Iman . pemikiran logika diutamakan. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. netral. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. 2. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat.

Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. dan Metakognitif. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. tanda-tanda. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. Pengetahuan tentang kosakata melukis. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. yaitu Faktual.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Konseptual. Siswa bukan penerima yang pasif. guru. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. Prosedural. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. bilangan-bilangan. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. pemahaman. . Pengetahuan tentang akunting. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. gambar-gambar). Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. buku teks ataupun media saja. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah.

Seperti. kewarganegaraan. skema. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. Pengetahuan nama-nama penting. Contohnya. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. kata kerja. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. lokasi. tempat. kata sifat) . dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. matahari. tanggal. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. orang. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. rotasi bumi. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. dan peristiwa dalam berita. rotasi bumi mengelilingi matahari. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. dan sebagainya. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. model mental. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. sumber informasi.

Model dan Struktur Pengetahuan teori. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Pengetahuan model genetika (DNA). Prosedur perkalian dalam . Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. fungsi) Pengetahuan evolusi. memprediksikan. atau materi. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. teknik-teknik. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Pengetahuan Teori. Pengetahuan teori tektonik. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. algoritma. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. masalah. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. Seperti pengetahuan keterampilan. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu.

Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. eksperimen. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar.aritmetika. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. Sekali lagi. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan Metakognitif . persuasif). Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. persetujuan. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. ketika diterapkan. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. atau penemuan.

Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Contohnya. 1991:2). Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. Definisi ini menyiratkan dua makna. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Apabila kesedaran ini wujud.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. pilihan berganda). memantau dan menilai apa yang dipelajari. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Pertama. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. mengingat nomor telepon). belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. memikirkan dan menyelesaikan masalah.

1981:151). maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). dan sebagainya. 1991:39. maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. (2) Hukum akibat (law of effect). Resnick. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. sikapnya semakin positif. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). Menurut Gagne (dalam Hudojo. keterampilannya meningkat. Kedua. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. Selanjutnya. 1990:32). setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Tahap pertama pemahaman. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. Pengetahuan yang . Dengan demikian. Misalnya.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. Hal ini berarti (idealnya). Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Sehubungan dengan hal ini. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Penguatan positif sebagai stimulus. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. 1981:12). yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Namun demikian.

Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas.diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. 1981: Stiff dkk. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Menurut Kohler (dalam Orton. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon.. Selanjutnya. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. 1990:89). Katona. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Jadi. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Piaget (dalam Bell. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. konsep. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. 1981:143-144). yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Terakhir adalah tahap keempat.

pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. 1992:106). (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. Kemudian. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Artinya. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Dengan demikian. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. 1981:143). Artinya. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu.

Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Bakhtiar. Diakses pada hari Rabu. Universitas Negeri Makassar. 2006. Jakarta. 1996. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. Filsafat Ilmu. Psikologi dalam Pendidikan.S. 2007. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. Contohnya. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. Suherman dkk. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. dan siswa-siswa. 2003. *** (Source : Fitriani Nur.15 Wita. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. and Assessing. 2006. Teaching. Mappaita.lingkungannya. A Taxonomy for Learning. Amsal. W. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Winkel. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. Strategi Belajar Mengajar Matematika. guru. Bandung: Afabeta Muhkal. Wowo SK. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat. JICA. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. 2001. Grasindo. Psikologi Pengajaran. Longman. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa.

atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai. yakni logis. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. . yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. dan memiliki makna ilmu. menurut metode tertentu. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem.

ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . tradisional. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. misanya cara mitologis. TUJUAN 1. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru .Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. planet dan bahkan alam semesta. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. 2. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. kedokteran. tehnologi dan sebagainya. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. supra natural. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. keperawatan. sejarah. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. tetap ia melalui pendekatan suatu system . Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. 2. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. maju selangkah demi selangkah. Berbeda dengan cara – cara lain. dan diverifikasikan. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . folk science. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. ilmu fisika. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. 3. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . matematika. dites.

Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. Nontechnical concrete explanation. teknik – teknik baru ditemukan data baru. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. 3. ia diakui pada masanya. kemegahan sejarah peradaban. Sejarah telah membuktikanya . Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. peradaban. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . seperti hanya tehnologi. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. 4. dengan segala atribut modernisasinya. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. Generalized technical writing. tetap diakui kebesaranya . Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . atau jarang disingkirkan begitu saja . banyak para ahli melakukan hal ini. ataupun satir (slanted criticism) 4. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. Generalized abstract explanation. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. 2. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. misal 1. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. Keruntuhan suatu periode pemerintahan. akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. . brosur dan sebagainya. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . Negara . akan tetapi dengan cara . ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. Semitechnical generalized explanation.masa sebelumnya. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. filsafat. 2. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. surat kabar.

Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. maka makin tinggi pohon tersebut . banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. maka makin dalam pula kita . artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . Copernicus dan Kapler. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran.Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. atau secara idealnya harus bersifat universal. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori.

peradaban. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. antropologi . 6. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . komunikasi dan transpormasi. 2.masalah yang bersifat praktis. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. logis. 3. bersumber dari keyakinan. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. ilmu perilaku. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . mempunyai metodologi kerja yang khas. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . dan terbuka dari kritik. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. diperoleh secara turun – temurun. ilmu politik. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . 4. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . BAB III PENUTUP A. kontradiktif dan sifatnya tertutup. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. . sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. fisika. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. sistimatis. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. dan kepuasan pengetahuan. penelitian. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal.hurus menjangkau akarnya. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. memecahkan persoalan kehidupan manusia. ilmu ekonomi. 5. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan.

matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. ada pula pandangan lain. Jujun S. 3. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. ( ). Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu. bukan sains. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. Dalam pandangan formalis. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. misalnya. Pustaka sinar harapan . atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. SARAN 1. tidak diterbitkan. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. Prof. 2. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. dan sangat umum di fisika. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. ( 2000 ). Inilah sebabnya. Hartono Kasmadi. Etika ilmu. Prof. Akhirnya. Jakarta. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . ( ). Materi kuliah. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. sebuah pengantar popular. Suria Sumantri. Wawasan Keilmuan. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. tidak diterbitkan.B. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika.

Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Pertama. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. agar pola struktur. Atau sederhananya. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Matematika (http://id. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution.ilmu praktis atau terapan. Jakarta: 2001. apapun disiplinnya. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.wikipedia. Referensi Anonim. perubahan. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. merupakan bidang studi tersendiri. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. USA: 1997. Turchin. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Pustaka Sinar Harapan. simbol dan notasi. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Columbia University Press.. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Valentin F. Kedua. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu.

Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . filsafat agama dan epistimologi. estetika. etika. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai.

Dalam hal ini. baik dalam hubungannya sebagai pribadi. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. serta bersifat universal. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). dan generasi yang akan datang. Bernaung di bawah filsafat moral. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. semestinya (ought to). Akan tetapi. 2. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Menurutnya . Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. bertanggung jawab pada kepentingan umum. dan salah (wrong). buruk (bad). Tanggung jawab etis. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. prinsipprinsip moral dasar. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a.BAB II PEMBAHASAN 1. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). manjaga keseimbangan ekosistem. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Oleh karena itu. benar (right).

yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. logis. manusia denagn manusia. dan nilai penghormatan terhadap manusia. budaya. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. idiologis. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. . kepentingankepentingan. baik politis. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. Pendapat ketiga. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. dsb. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. Pendapat kedua. sosial. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. b. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. dan berbicara tentang fakta semata. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. memperlancar hubungan sosial. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. ekonomis. agama. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. religious. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. seperti pada bidang penyelidikan. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Pendapat pertama. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan.

Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. bukan nilai. kepentingan pada generasi mendatang. 3. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. Apabila diperhatikan dengan seksama. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. lebih nyaman. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Bila kata “kebebasan” dipakai. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. dan bersifat universal . tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. lebih lama dalam menikmati hidupnya. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. menjaga keseimbangan ekosistem. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. martabat manusia. Tanggungjawab etis. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Supaya terdapat kebebasan. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu.

timbul pula perbedaan penafsiran. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Usman. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. Artinya. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. Akan tetapi. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. Rizal. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . 2005. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. 2000. Pertama. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. dan Misnal Munir.Filsafat Ilmu. Filsafat Ilmu.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Jul 10. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . dan Alim. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2005.

Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Sampai sejauh ini. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Selanjutnya.aksiden manusia. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. yaitu hewan. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Oleh karena itu. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". epistemologi dan aksiologi . Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya.

Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. merekam. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. . Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Imanuel Kant. Dalam hal ini. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. Hegel dan lain-lain. Sebelumnya. belum terlalu lama. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Berbeda dengan barat. yakni aliran rasionalis dan empiris. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. yaitu menerima.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Epistemologi menjadi sebuah kajian. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. dan mengolah apa yang ada dalam benak. Maka dari itu. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. pada waktu itu. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Jabir bin al Hayyan. Syekh al Thusi dan yang lainnya. ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. al Khawarizmi. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Atas dasar itu. Kedua. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Mereka pandai bersilat lidah. Dan sebagian darinya telah lenyap. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. sebenarnya. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Oleh karena itu. Mereka -barat. Pertama. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. al Farabi. tetapi ia menjadi objek. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Wiliam James dengan Pragmatismenya.

Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. ilmu pertambangan dan astronomi. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. maka dengan meningkatnya . ia tidak ingin dikatakan pandai. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles.Kebenaran yang riil tidak ada. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. (2) urusa rumah tangga. prosesnya menggunakan cara yang lazim. biologi. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. harus memenuhi aspek metodologi. Meski dia berhasil. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. (2) ilmu eksakta dan matematika. seperti: fisika. didasarkan pada suatu sistem. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Oleh sebab itu. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. (3) sosial dan politik. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. melakukan sesuatu tehadap objek. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. filsafat teoritis dan filsafat praktis. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. bersifat teknis dan normatif akademik. Dalam keadaan seperti ini. Akan tetapi. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis.

intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. menurut pikiran yang sehat. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. kemahiran. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. tidak boleh dibantah dan diragukan. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. menurut nisbah (patut). . empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. Artinya. pengetahuan. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). penginderaan (sensasi) dan kedua. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). yaitu. percobaan. sifat alami (fitrah) . cocok dengan akal. dengan demikian rasionalisme. bukan teori . Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. pengamatan yang telah dilakukan) . karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Sementara. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. kerangka berpikir . empirisme dan objektivitas. Berdasarkan terminologi. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. menurut rasio. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. pertama. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer.

tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. akumulasi limba-limba toksik. musuh kemanusiaan. dan pengrusakan lingkungan hidup. menurut Bertrand Russel. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. justru menimbulkan masalah lain. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. pengrusakan hutan.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. yaitu perang. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. Lebih-lebih lagi. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. dan lain-lain. Dalam tahap ini. udara. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. Misalnya. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . misalnya. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). Akhirnya. tanah. degradasi eksistensi kemanusiaan. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. dampak rumah kaca. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut dasar-dasar ini. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Seperti disebutkan sebelumnya. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. dasar ontologis. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. dan ideologi. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. Bahkan. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. cukup penting. seperti nilai moral. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . untuk tulisan ini. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Untuk sementara. Jepang. Atau kawasan Asia Tengah. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. religius. Konsekuensinya.

Dalam psikologi. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. Dalam tahap ini. “ego” dan “super-ego”. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Dalam artian bahwa.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. pada tingkat aksiologis. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. Jadi. Dalam agama. kerusakan lingkungan. dan tanggungjawab manusia dalam . fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Nilai ini menyangkut etika. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. Oleh karena itu. hati nurani. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. maka itulah tahap epistemologis. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. ada sisi destruktif manusia. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. penipisan lapisan ozon. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. moral. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Oleh karena itu. moral. atau malah mungkin kehancuran. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Oleh karena itu. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Kisah dua kali perang dunia. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui).

memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Oleh karena itu. sedangkan dalam penggunaannya. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). bahkan pemilihan obyek penelitian. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Karena dalam penerapannya. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. Kelompok kedua. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Pada tahap kontemplasi. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Dalam hal ini. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Bernaung di bawah filsafat moral . Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Kelompok pertama. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. semestinya (ought to). benar (right). Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. dan salah (wrong). sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. buruk (bad). yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Hakikat moral. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya.

karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. bukan berdasarkan situasi. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. 2. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. 3. oleh filsuf Yunani kuno.Osdar. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. benar. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. etika memainkan peranannya. Aristoteles. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Intuisionisme. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. adat. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. Artinya kebiasaan. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. melebihi segala hal merugikan.sosial. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. 4. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. . etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Suatu perbuatan bersifat etis. Deontologi. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Kata moral berasal dari bahasa Latin. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. Menurut J. Konsekuensialisme. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Etika Hak. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. Dari pemahaman tersebut. Disinilah. yakni mos (jamaknya mores). selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. kewajiban atau hak. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral.

karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. Tanggungjawab etis. dehumanisasi. kepentingan pada generasi mendatang. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. martabat manusia. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Sebagaimana dikemukakan. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. bertanggungjawab pada kepentingan umum. lebih nyaman. Bila kata “kebebasan” dipakai. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. fisuf Jerman. dan bersifat universal . Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. penggunaan obat bius yang tak terkendali. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. menjaga keseimbangan ekosistem. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Supaya terdapat kebebasan. pelacuran dan sebagainya. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Imanuel Kant. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.

Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. yang seharusnya . Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. sekarang. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya.politik. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. dengan demikian. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. ilmu dan etika saling bertautan. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. memerlukan visi moral yang tepat. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. antara manusia dengan lingkungan.

Bandung: Penerbit Mizan. . Ahmad. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. M. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. kewajiban dan hak. Dr. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. 1995. Nur Mufid bin Ali. M. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut.etika. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. Terj. timbul pula perbedaan penafsiran. Yogyakarta Van Melsen. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Bertens. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. ke 2. Ed. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. PT Gramedia Pustaka Utama. Meski demikan. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). G. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Sebagaimana namanya. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. K. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Kajian Filsafat Ilmu. karena berpijak pada intuisi. Falsafatuna. kemudian muncul teori etika. Muhammad Baqir. A. Ini dapat dimaknai. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Lembaga Studi Filsafat Islam. ilmuwan secara pribadi. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. mengenai yang halal dan yang haram. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan.1992. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral.1995. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi.

ke 3. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. Keagungan Ilmu Terj. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Jujun S. 1999. 1994. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi.. 1997. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. . Bakti Mandiri. Herman.2003.Kamus Dewan. sebuah pengantar populer. Rosenthal. Bandung. “Filsasfat Ilmu”. Ed. Franz. Suriasumantri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful