PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Filsafat misalnya. tetapi bersifat personal. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. Bahkan. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?.biasa. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. common sense (akal sehat). metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. akal sehat (common sense). intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. trial and eror (metode mencoba-coba). maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. yaitu: filsafat dan agama. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum.[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. trial and eror (metode mencoba-coba). filsafat. yaitu: pertama. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman. dan keempat. agama. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . dan intuisi. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.[18] Sebaliknya. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman.

Pada bagian terdahulu misalnya. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. Namun demikian. yaitu: pertama. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. kedua. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). Dalam kajian filsafat. DEA. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. dan keempat. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar.[23] Dengan demikian. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar. kedua. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia. dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. Pengetahuan. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. Ilmu (Sains). ketiga. Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh.[21] C. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- .ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. ilmu (sains). hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. manusia tahu bahwa ia tahu. dan Filsafat Istilah pengetahuan. Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri.[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. dan keempat. baik dari segi pengertian. ketiga.

ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. Ilmu pengetahuan . atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). apakah manusia tahu bahwa ia tahu. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri.benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. metode dan sistem tertentu. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. Oleh karenanya.

the most general beliefs.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). 2.…dst. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. calmness of temper and judgment. 2. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. Selain itu. antara lain: deskriptif. aesthetic. and epistemology. kritis. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis).[26] Demikian seterusnya. analisis. 3. concepts and attitudes of and individual or group. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. ethics. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas. 3.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. metaphysic. a discipline comprising as it core logic.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means.…dst. All learning exclusive of technical precepts and practical arts. 5. antara lain: 1. 4. 2. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. 7. yaitu: universal. 6. 3. evaluatif dan spekulatif. radikal dan sistematis. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought.

Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. sains. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. Perbedaan yang lain. ilmu (sains). khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. sains. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan. dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas.[29] D. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. .Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. dan filsafat). sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya.

merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.[30] Jujun S. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. Dengan demikan. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. 3) Perumusan hipotesis. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. 5) Penarikan kesimpulan. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. Sebuah Pengantar Populer. . 4) Pengajuan hipotesis. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . Dengan demikian. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam.[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. dan mengontrol.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan. meramalkan. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.

Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Tidak hanya sampai pada batas itu. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. kesimpulan yang semula dianggap benar. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U. Dengan demikian. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah.[38] E. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. antara lain: pertama. Maman. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . Demikian seterusnya. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik.

dan pendekatan studi kawasan. kelima. hadis. sains Islam. metode dakwah. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. 2) Kelompok cabang. buday Islam. 5) Penyiaran Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. kedua. lembaga pendidikan Islam. dan studi kewilayahan Islam. Seperti: Ulumul Qur’an. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. hadis.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. filsafat Islam. Ulumul Hadits. falsafah pendidikan Islam. sikap apologetis terhadap aliran lain. Secara umum. dan sebagainya. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. pendekatan interdisiplin ilmu. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. ilmu kalam. dan lain sebagainya. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. dan keenam. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. yang terdiri dari tafsir. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. pendekatan multidisiplin keilmuan. akidah/ilmu kalam (teologi). ketiga. sikap tradisional. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. fikih ibadah. keempat. tarekat. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas. Dakwah. peradilan dan perkembangan modern. fikih muamalah. tasawuf.kalangan umat Islam. sejarah pendidikan Islam. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. Peradaban Islam: sejarah Islam. mencakup: sejarah dakwah. perbandingan agama. dan filsafat. sejarah pemikiran Islam.

[42] F. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah. .[41] Sementara itu. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu.keilmuan. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam.

Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. . Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. Namun demikian. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut.

Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. fa. Massachussets. et. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. Teori dan Praktik. 1995. (cetakan ke 2). Maman. (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. (editor). Jakarta: Rajawali Press .al (editor). dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Filsafat Mistis Ibn Arabi. 2001.DAFTAR BACAAN A. 1998. Mulyadhi Kartanegara. 1966. (Cetakan II). 2007.al. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Sidi Gazalba. Van Peursen. 2005. Jakarta: Sinar Harapan. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik. 1981. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Hardono Hadi. "Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin".ac. Affifi. 1994. Pengantar Filsafat Umum.filsafat_ilmu_pengetahuan. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam.pdf. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. E. Metodologi Penelitian Agama. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan. Webster Third New International Dictionary. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. (catakan ke 3). 2001. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. 2006. 2008.1985. Kh. Sistematika Filsafat. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. et. 2003.A. Suryasumantri. Metodologi Studi Islam. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. DEA. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. 1983. Jakarta: Gramedia Irwandar. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Dekonstruksi Pemikiran Islam. Yogyakarta: Penerbit Andi U. 1998. Medan: IAIN Press P. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. Orientasi di Alam Filsafat. S.id/ incl/libfile.itb.

maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui.Si Sunday. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. “Human beings are humanizing themselves”. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. Hebatnya lagi. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. H. binatang memiliki ‘pengetahuan’. M. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. Misalnya. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. Dr. Berkat pengetahuannya. Demikian pula. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Bagi manusia. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. Mudjia Rahardjo. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Berkat pengetahuannya. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Misalnya. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. karena pengetahuannya. Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Karena itu. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. atau ada makanan yang bisa disantap. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Ada yang hasratnya besar. tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment).Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof.

maka semakin penting maknanya. karena berpengetahuan itu. Karena itu. Semakin sering diulang. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. Karena itu. Dalam studi Content Analysis. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Tengara Allah itu kini terbukti. dan dari siapa pun. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. yakni Discourse Analysis. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Menutup tulisan ini. Karena itu. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. Walau punya akal. . di mana pun. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. Salah satu nikmat itu ialah akal.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Dan. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. kita menjadi makhluk yang manusiawi. manusia tidak mau bersyukur. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti.

Penerapan. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Analisis. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. Prosedural. efektif. Konseptual. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. dan seterusnya. dan Metakognitif. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. terutama untuk domain kognitif. Evaluasi dan Membuat. Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. konatif sampai pada taraf psikomotis. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Namun. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. seperti dalam memperoleh pengetahuan. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar. yaitu Faktual. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. Pemahaman. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. Oleh karena itu. untuk mengoreksinya. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif.

sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. terminologi dan peristilahan. kreasi. Dalam matematika. menemukan hubungan antarbagian. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. penerapan. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. keterampilan dan prinsip-prinsip. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. fakta-fakta. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. pemahaman. berkaitan dan bermamfaat. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Dalam tingkatan ini. cara atau metode. penerapan baru. mulai dari pengetahuan. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. (ii) analisis hubungan. dan . Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. analisis hingga sintesis. pemahaman yang lebih baik.

dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. seperti akurasi. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. (2) proses transformasi pengetahuan. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi.cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. Dalam transformasi pengetahuan. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. 2006). peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. logika dan konsistensi. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. Oleh karena itu.

b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. kemampuan memecahkan masalah. Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Di dalam matematika. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”. “gabungan”. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. seperti lambang-lambang. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek.mengajar antara guru dengan peserta didik. ( p. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. “irisan dan sebagainya. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. kemampuan berfikir analitis. “perkalian”. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. fakta merupakan sesuatu yang harus diterima.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. sikap positif .

yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense.terhadap matematika. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. ketekunan. dan sering diartikan dengan good sense. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. diperolehnya melalui observasi. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. pemikiran logika diutamakan. Pengetahuan filsafat. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. 4. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Namun. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. ketelitian. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. klasifikasi. netral. Pengetahuan ilmu. yaitu: 1. 2007). 3. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. 2. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. Pengetahuan biasa. Iman . sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. karena dimulai dari fakta. Dengan common sense. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. juga informasi tentang Hari Akhir. eksprimen. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Pengetahuan Agama.

buku teks ataupun media saja. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. gambar-gambar). Konseptual. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. bilangan-bilangan. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. . Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. Siswa bukan penerima yang pasif. Pengetahuan tentang kosakata melukis. yaitu Faktual. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. dan Metakognitif. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. pemahaman. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Prosedural. guru. Pengetahuan tentang akunting. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. tanda-tanda. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya.

Contohnya. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. Seperti. kata sifat) . orang. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. skema. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. dan sebagainya. sumber informasi. Pengetahuan nama-nama penting. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. model mental. tempat. tanggal. lokasi. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. kata kerja.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. kewarganegaraan. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. rotasi bumi mengelilingi matahari. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda. dan peristiwa dalam berita. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah. rotasi bumi. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. matahari.

Pengetahuan Teori. Pengetahuan model genetika (DNA). Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. fungsi) Pengetahuan evolusi. atau materi. algoritma. memprediksikan. Model dan Struktur Pengetahuan teori. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. teknik-teknik. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Prosedur perkalian dalam . Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. masalah. menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Seperti pengetahuan keterampilan. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan teori tektonik. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit.

Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. atau penemuan. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. ketika diterapkan. eksperimen. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air.aritmetika. persetujuan. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus. Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. persuasif). Pengetahuan Metakognitif . Sekali lagi. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air.

belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. pilihan berganda). Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Contohnya. Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. Pertama. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. Apabila kesedaran ini wujud. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Definisi ini menyiratkan dua makna. 1991:2). memikirkan dan menyelesaikan masalah. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. mengingat nomor telepon). Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif.

1981:12). bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. sikapnya semakin positif. jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). Hal ini berarti (idealnya). yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell. maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. Namun demikian. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. keterampilannya meningkat. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. 1981:151). perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Selanjutnya. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. Pengetahuan yang . Resnick. 1991:39. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Kedua. Penguatan positif sebagai stimulus. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. 1990:32). (2) Hukum akibat (law of effect). Misalnya. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Sehubungan dengan hal ini. Menurut Gagne (dalam Hudojo. dan sebagainya. Tahap pertama pemahaman. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. Dengan demikian. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental.

diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. Menurut Kohler (dalam Orton. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon.. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. konsep. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. 1981:143-144). Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Piaget (dalam Bell. 1990:89). Katona. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. Jadi. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. 1981: Stiff dkk. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Selanjutnya. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. Terakhir adalah tahap keempat. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan.

Kemudian. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. 1992:106). Dengan demikian. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Artinya. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. 1981:143). Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. Artinya.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu.

Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Psikologi Pengajaran. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Amsal. Winkel. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. 1996.15 Wita. 2003. A Taxonomy for Learning. 2007. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Teaching. Bandung: Afabeta Muhkal. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Mappaita. 2006. 2006. Contohnya. dan siswa-siswa. Jakarta. JICA. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14.S. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat.lingkungannya. and Assessing. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. Grasindo. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. Filsafat Ilmu. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Wowo SK. guru. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. Longman. Diakses pada hari Rabu. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Universitas Negeri Makassar. *** (Source : Fitriani Nur. W. Psikologi dalam Pendidikan. Suherman dkk. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2001. Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Bakhtiar. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar.

yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. menurut metode tertentu. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. dan memiliki makna ilmu. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. yakni logis. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. . LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai.

Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. kedokteran. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu . akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . planet dan bahkan alam semesta. mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . maju selangkah demi selangkah. dites. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . 3. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. Berbeda dengan cara – cara lain. tehnologi dan sebagainya. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . folk science. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. 2. 2. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . tetap ia melalui pendekatan suatu system . Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . sejarah. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. TUJUAN 1. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. dan diverifikasikan.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. tradisional. matematika. supra natural. keperawatan. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. ilmu fisika. misanya cara mitologis.

Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. ataupun satir (slanted criticism) 4. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . dengan segala atribut modernisasinya. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Generalized technical writing. akan tetapi dengan cara . 4. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. kemegahan sejarah peradaban. surat kabar. Sejarah telah membuktikanya . peradaban. filsafat. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. . Keruntuhan suatu periode pemerintahan. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . 2. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. teknik – teknik baru ditemukan data baru. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . 2. brosur dan sebagainya. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. banyak para ahli melakukan hal ini. misal 1. seperti hanya tehnologi. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. atau jarang disingkirkan begitu saja . teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. Nontechnical concrete explanation. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . Semitechnical generalized explanation. ia diakui pada masanya.masa sebelumnya. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. 3. Generalized abstract explanation. tetap diakui kebesaranya . akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. Negara .

Copernicus dan Kapler. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut.Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . maka makin dalam pula kita . system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. maka makin tinggi pohon tersebut . Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . atau secara idealnya harus bersifat universal. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu.

kontradiktif dan sifatnya tertutup. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. mempunyai metodologi kerja yang khas. SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi . ilmu politik. 6. logis. bersumber dari keyakinan.hurus menjangkau akarnya. Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . ilmu ekonomi. ilmu perilaku. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. fisika. 3. dan terbuka dari kritik. . diperoleh secara turun – temurun. dan kepuasan pengetahuan. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. 2.masalah yang bersifat praktis. selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. memecahkan persoalan kehidupan manusia. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. komunikasi dan transpormasi. 4. antropologi . Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. peradaban. sistimatis. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . BAB III PENUTUP A. penelitian. 5.

tidak diterbitkan. ada pula pandangan lain. tidak diterbitkan. sebuah pengantar popular. Pustaka sinar harapan . Jujun S. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. Suria Sumantri. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . Jakarta.B. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . Materi kuliah. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . Etika ilmu. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang. ( 2000 ). matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. bukan sains. atau alat membantu untuk perhitungan biasa. misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. misalnya. Hartono Kasmadi. 2. Prof. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. Dalam pandangan formalis. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. 3. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. Inilah sebabnya. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. ( ). Wawasan Keilmuan. dan sangat umum di fisika. ( ). Prof. Akhirnya. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Filsafat ilmu. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. SARAN 1. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun.

Pertama. Jujun S. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. Pustaka Sinar Harapan. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri. agar pola struktur. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Turchin. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati.wikipedia. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. apapun disiplinnya. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Atau sederhananya. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. simbol dan notasi. Kedua. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. perubahan. Valentin F. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya.ilmu praktis atau terapan. merupakan bidang studi tersendiri. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. USA: 1997. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: 2001.. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. Matematika (http://id. Referensi Anonim. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Columbia University Press.

Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. etika. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. filsafat agama dan epistimologi.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. estetika. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi.

Akan tetapi. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. dan salah (wrong). Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. semestinya (ought to). 2. serta bersifat universal. Tanggung jawab etis. Oleh karena itu. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu.BAB II PEMBAHASAN 1. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Bernaung di bawah filsafat moral. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. Menurutnya . apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). baik dalam hubungannya sebagai pribadi. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Dalam hal ini. manjaga keseimbangan ekosistem. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. prinsipprinsip moral dasar. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. buruk (bad). dan generasi yang akan datang. benar (right). Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. bertanggung jawab pada kepentingan umum.

Pendapat kedua. manusia denagn manusia. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. memperlancar hubungan sosial. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. Pendapat ketiga. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. kepentingankepentingan. dan berbicara tentang fakta semata. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. budaya. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. seperti pada bidang penyelidikan. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. idiologis. dan nilai penghormatan terhadap manusia. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. logis. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Pendapat pertama. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. sosial. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. b. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. dsb. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. baik politis. agama. ekonomis. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. religious. . Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika.

Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . lebih nyaman.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. Tanggungjawab etis. bukan nilai. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Supaya terdapat kebebasan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. kepentingan pada generasi mendatang. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. 3. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. menjaga keseimbangan ekosistem. Bila kata “kebebasan” dipakai. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. martabat manusia. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. dan bersifat universal . Apabila diperhatikan dengan seksama. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . bertanggungjawab pada kepentingan umum. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan.

2005. dan Misnal Munir. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. dan Alim. Artinya. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. 2000. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.2005. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Rizal. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu.Filsafat Ilmu. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Usman. Akan tetapi. Jul 10. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. Pertama. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. Filsafat Ilmu. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. timbul pula perbedaan penafsiran.

pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Sampai sejauh ini. Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. epistemologi dan aksiologi . Selanjutnya. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. yaitu hewan. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Oleh karena itu. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view). Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan .aksiden manusia. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang .

Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Atas dasar itu. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). pada waktu itu. tetapi ia menjadi objek. dan mengolah apa yang ada dalam benak. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. yakni aliran rasionalis dan empiris. Jabir bin al Hayyan. Hegel dan lain-lain. Mereka -barat. belum terlalu lama. kerendah-hatian dia. Berbeda dengan barat. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Syekh al Thusi dan yang lainnya. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Kedua. al Farabi. juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. . meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Mereka pandai bersilat lidah. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). yaitu menerima.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Pertama. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". Dan sebagian darinya telah lenyap.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Sebelumnya. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. Oleh karena itu. sebenarnya. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. Epistemologi menjadi sebuah kajian. merekam. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Maka dari itu. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Francis Bacon dengan Sensualismenya. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. al Khawarizmi. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Imanuel Kant. Dalam hal ini. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan.

(2) ilmu eksakta dan matematika. Meski dia berhasil. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. filsafat teoritis dan filsafat praktis. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. seperti: fisika. didasarkan pada suatu sistem. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. biologi. Akan tetapi. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.Kebenaran yang riil tidak ada. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. Dalam keadaan seperti ini. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Oleh sebab itu. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. prosesnya menggunakan cara yang lazim. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. melakukan sesuatu tehadap objek. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. (2) urusa rumah tangga. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. (3) sosial dan politik. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. maka dengan meningkatnya . harus memenuhi aspek metodologi. Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. ia tidak ingin dikatakan pandai. bersifat teknis dan normatif akademik. ilmu pertambangan dan astronomi. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis.

menurut pikiran yang sehat. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). Artinya. Berdasarkan terminologi. hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. cocok dengan akal. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. penginderaan (sensasi) dan kedua. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. yaitu. pertama. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. pengetahuan. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. dengan demikian rasionalisme. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. kerangka berpikir . percobaan. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. menurut rasio. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. empirisme dan objektivitas. bukan teori . menurut nisbah (patut). pengamatan yang telah dilakukan) . apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. . empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. tidak boleh dibantah dan diragukan. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. sifat alami (fitrah) . karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. Sementara. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. kemahiran. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris.

Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Akhirnya. justru menimbulkan masalah lain. tanah. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). misalnya. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. akumulasi limba-limba toksik. Dalam tahap ini. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. yaitu perang. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. udara. dampak rumah kaca. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. pengrusakan hutan.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. dan lain-lain. melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. musuh kemanusiaan. Lebih-lebih lagi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. dan pengrusakan lingkungan hidup. degradasi eksistensi kemanusiaan. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Misalnya. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. menurut Bertrand Russel.

Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. Menurut dasar-dasar ini. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Konsekuensinya. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Untuk sementara.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. dan ideologi. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. untuk tulisan ini. cukup penting. Seperti disebutkan sebelumnya. religius. suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. dasar ontologis. seperti nilai moral. Atau kawasan Asia Tengah. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. Jepang. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Bahkan. sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Dalam psikologi. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Oleh karena itu. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Dalam tahap ini. “ego” dan “super-ego”. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Kisah dua kali perang dunia. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Jadi. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). maka itulah tahap epistemologis. atau malah mungkin kehancuran. hati nurani. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Dalam artian bahwa. Oleh karena itu. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. penipisan lapisan ozon. Dalam agama. sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. moral. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. moral. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. kerusakan lingkungan. Oleh karena itu. pada tingkat aksiologis. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. ada sisi destruktif manusia. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. Nilai ini menyangkut etika. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. dan tanggungjawab manusia dalam .

Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Oleh karena itu. benar (right). ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Kelompok kedua. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Keduanya bertalian dengan hati nurani. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Pada tahap kontemplasi. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. sedangkan dalam penggunaannya. yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. Dalam hal ini. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. semestinya (ought to). berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Karena dalam penerapannya. Bernaung di bawah filsafat moral . fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. bahkan pemilihan obyek penelitian.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Hakikat moral. kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. buruk (bad). tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Kelompok pertama. maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo.

melebihi segala hal merugikan. Aristoteles. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. adat. Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. 4. kewajiban atau hak. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dari pemahaman tersebut. Etika Hak. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Suatu perbuatan bersifat etis. . karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya. Artinya kebiasaan. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. 2. etika memainkan peranannya. Intuisionisme. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. Menurut J. Deontologi. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Di sini kata moral dan etika punya arti sama.Osdar. Kata moral berasal dari bahasa Latin. Disinilah. yakni mos (jamaknya mores). benar. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”. bukan berdasarkan situasi. 3. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. oleh filsuf Yunani kuno. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. Konsekuensialisme.sosial.

Tanggungjawab etis. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. kepentingan pada generasi mendatang. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. menjaga keseimbangan ekosistem. dan bersifat universal . dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral.Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. Sebagaimana dikemukakan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. fisuf Jerman. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. pelacuran dan sebagainya. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Bila kata “kebebasan” dipakai. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia. martabat manusia. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . lebih nyaman. bertanggungjawab pada kepentingan umum. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. dehumanisasi. Imanuel Kant. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. Supaya terdapat kebebasan. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. penggunaan obat bius yang tak terkendali. Terjadi pula fenomena depersonalisasi.

antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.politik. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. dengan demikian. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. ilmu dan etika saling bertautan. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. yang seharusnya . Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. memerlukan visi moral yang tepat. antara manusia dengan lingkungan. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. Kemajuan ilmu pengetahuan. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. sekarang. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan.

melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Bandung: Penerbit Mizan. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. 2002. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. PT Gramedia Pustaka Utama. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Muhammad Baqir. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. .etika. timbul pula perbedaan penafsiran. Kajian Filsafat Ilmu. Nur Mufid bin Ali. K. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. A. Meski demikan. mengenai yang halal dan yang haram. Terj. Lembaga Studi Filsafat Islam. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. ke 2. Dr. M. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr. Ed. Bertens. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. G. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. ilmuwan secara pribadi. Sebagaimana namanya. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. Ini dapat dimaknai. M. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. kemudian muncul teori etika.1992. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. kewajiban dan hak. karena berpijak pada intuisi. Ahmad. 1995. Yogyakarta Van Melsen. Falsafatuna.1995. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret.

Franz. sebuah pengantar populer. ke 3. Keagungan Ilmu Terj. Jujun S. 1994. Ed. 1999. Herman. . Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.Kamus Dewan. Bandung. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. “Filsasfat Ilmu”. Rosenthal.2003. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. Bakti Mandiri. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Suriasumantri. 1997..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful