PENGETAHUAN MANUSIA SECARA UMUM* Oleh: Eko Marhaendy

A. Pendahuluan Aristoteles memulai metafisikanya dengan pernyataan “setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”.[1] Pernyataan ini tampak berbenturan dengan generasi sebelumnya, Sokrates, yang menganggap “ia tahu bahwa ia tidak tahu”, sehingga Delphi menginterpretasikan tidak ada manusia yang lebih bijaksana dari pada Sokrates dengan pernyataan: “tidak ada manusia yang mempunyai pengetahuan, tetapi sementara orang lain mengira bahwa mereka mempunyai pengetahuan, Sokrates sendiri yang mengetahui bahwa ia tidak tahu”.[2] Pandangan Aristoteles tentang keingintahuan manusia dan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, sesungguhnya bukan merupakan pandangan yang secara essensial harus dipertentangkan satu sama lain. Akan tetapi pada prinsipnya dapat ditemukan relasi dari keduanya. Langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles sejatinya merupakan kesadaran Socratik bahwa manusia tahu bahwa ia tidak tahu, sehingga ada keinginan untuk tahu dan keinginan tersebut dapat diwujudkan. Titik temu yang dapat ditarik dari keduanya adalah eksistensi pengetahuan sebagai bagian penting yang pasti ada pada diri manusia. Pengetahuan bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah dapat didefenisikan. Kenneth T. Gallagher, sebagaimana disadur P Hardono Hadi, menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis”, artinya sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar.[3] Sementara itu, upaya mendefinisikan sesuatu berarti meletakkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana dan mudah dimengerti, dengan demikian tidak ada pertanyaan mengenai “pengetahuan”.[4] Namun demikian, untuk mendapatkan hasil kajian yang lebih sistematis dan terarah, sesederhana apapun istilah pengetahuan itu harus tetap diberikan batasan. Pengetahuan yang dimaksud pada tulisan ini adalah pengetahuan yang

dibicarakan dalam ranah filsafat, mengingat bahasan mengenai pengetahuan manusia secara umum yang menjadi konsentrasi kajian pada tulisan ini bertujuan untuk memahami fondasi dan metodologi penedekatan dalam studi Islam. Oleh karenanya, kajian yang dipaparkan pada tulisan ini secara umum akan menggambarkan pengetahuan dalam pendekatan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebagai bagian yang banyak dibicarakan pada kajian filsafat ilmu. Seringkali pengetahuan dijadikan sebagai sesuatu untuk membedakan manusia dengan binatang. Padahal secara essensial pengetahuan tidak dapat dijadikan sebagai sesuatu yang membedakan keduanya, karena dalam faktanya pengetahuan merupakan sesuatu yang juga dimiliki oleh binatang. Kambing misalnya, tentu akan menolak disuguhkan daging karena dia tahu bahwa daging bukan makanannya, sebaliknya harimau dapat dipastikan akan mengincar daging meski tanpa disuguhkan sebelumnya daripada harus menikmati rerumputan yang tumbuh subur di sekitarnya. Analogi ini jelas menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian yang selalu melekat pada keduanya (manusia dan binatang). Perbedaan manusia dan binatang dalam soal pengetahuan terletak pada taraf perkembangannya. Penegasan ini akan lebih mudah dipahami dengan analogi yang dikutip Jujun S. Suryasumantri dari ceramah seorang ilmuan bernama Andi Hakim Nasution: “sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia Jawa,…”. Jujun selanjutnya menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya.[5] Binatang memang memiliki pengetahuan, namun pengetahuan tersebut terbatas pada usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jujun S. Suryasumantri lebih jauh menyebutkan penalaran merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan berupa pengetahuan. Penalaran ini akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk menemukan pengetahuan yang benar.[6] Proses penalaran ini pula yang selanjutnya dapat membedakan antara pengetahuan biasa dengan pengetahuan ilmiah. Sebagaimana disebutkan C.A Van Peursen, pengetahuan dalam kajian filsafat memiliki

keluasan makna tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengetahuan biasa berupa pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa.[7] Proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat, sebagai sebuah gambaran umum akan dipaparkan lebih jauh pada makalah ini. B. Cara Memperoleh Pengetahuan C.A Van Peursen memberikan pengertian yang sangat sederhana tentang pengetahuan, bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dalam pandangannya, ada dua macam pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera dan pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi. Seringkali ahli pikir Yunani mempertentangkan antara keduanya: pengetahuan yang diperoleh berdasarkan panca indera digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan, sedangkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan sejati. Padahal– dalam pandangan Van Peursen – pengetahuan lewat akal budi sesungguhnya berkembang dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera.[8] Penegasan di atas menunjukkan bahwa, baik pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah, sejatinya berawal dari cara yang sama. Hanya saja pada level pengetahuan ilmiah, pengetahuan manusia telah mengalami perkembanganperkembangan tertentu yang dianggap sebagai kesimpulan yang benar. Lebih jauh Van Peursen menjelaskan, panca indera menyajikan pengalaman dan observasi seperti melihat sebatang pohon, mencium sate kambing dan sebagainya. Panca indera akan melihat sebatang pohon sebagai pohon, dalam hal ini akal budi berperan untuk memproses pengetahuan tersebut, memberikan nama pada pohon tersebut; memaklumi sifatnya yang keras, sukar ditembus, dan lain sebagainya; atau mengambil jarak pada pohon tersebut karena memaklumi sifatnya. Akal budi ditafsirkan sebagai bakat pengetahuan aktif daripada panca indera yang lebih bersifat pasif.[9] Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah, pada hakikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh

berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman seperti: rasa gula yang manis, warna daun yang hijau, atau suara petasan yang membisingkan. Pengalaman-pengalaman sederhana tersebut mengalami perkembangan ketika manusia memunculkan pertanyaan: mengapa gula mempengaruhi rasa air yang melarutkannya?; bagaimana daun berwarna hijau yang menempel di ranting pohon dapat berubah menjadi kuning ketika daun tersebut jatuh ke tanah?; apa yang dapat dilakukan agar suara petasan tidak terdengar bising di telinga?. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memberikan manusia pengetahuan yang baru, sebab pengetahuan – sebagaimana disebutkan Jujun – merupakan serangkaian jawaban dari berbagai persoalan hidup manusia. Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham.[10] Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri[11] memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta. Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual.[12] Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.[13] Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk

berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction,[14] akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ke tiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji. Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.[15] Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.[16] Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metodologi dan caracara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman

filsafat. tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia . [17] Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman. yaitu: filsafat dan agama. pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya. agama. intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi. dan intuisi. trial and eror (metode mencoba-coba). dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan.[18] Sebaliknya. beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman.[20] Dari sejumlah penjelasan di atas. Bahkan. maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan. filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi.biasa. Filsafat misalnya. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum. justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. tetapi bersifat personal. menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. yaitu: pertama. metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah. trial and eror (metode mencoba-coba). Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat. biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti. dan keempat. akal sehat (common sense). Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan. common sense (akal sehat).[19] Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah. agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.

dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar. Berdasarkan pengertian ini ia menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang harus benar.[21] C.ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya. ketiga. dan filsafat pada pembahasan sebelumnya banyak disinggung sebagai bagian dari ruang lingkup pengetahuan itu sendiri. Ilmu (Sains). Dalam Encyclopedia of Philosophy – sebagaimana dikutip Selamat Ibrahim S. umumnya ada empat kelompok manusia terkait dengan pengetahuan. lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan. pengetahuan didefenisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). manusia tahu bahwa ia tahu. manusia tahu bahwa ia tidak tahu. kedua. telah dipaparkan perkembangan pengetahuan manusia dari taraf yang paling rendah – bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan masyarakat modern – hingga pengetahuan ilmiah yang sangat mendukung kelangsungan hidup umat manusia.[23] Dengan demikian. hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu. baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). ilmu (sains).[22] Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah setiap pengetahuan harus memiliki kesimpulan yang benar?. meskipun ketiganya memiliki persamaan sebagai pengetahuan tetap ditemukan perbedaan-perbedaan mendasar. pengetahuan yang diperoleh manusia benar- . Untuk melihat perbedaan-perbedaan tersebut lebih jauh. Namun demikian. ketiga. sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia. manusia tidak tahu bahwa ia tidak tahu. yaitu: pertama. Dalam kajian filsafat. dan keempat. sebab jika tidak benar maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar. dan Filsafat Istilah pengetahuan. manusia tidak tahu bahwa ia tahu. Pengetahuan. Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah. dan keempat. kedua. sangat penting terlebih dahulu dipaparkan pengertian dari ketiganya. Pada bagian terdahulu misalnya. Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. DEA. fungsi maupun cara-cara untuk memperolehnya. baik dari segi pengertian.

ilmu – dengan cara khusus dan sistematis – dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Pengetahuan sebagai pengetahuan yang benar dibicarakan dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains).benar ada ketika ia mengetahui objek yang ingin diketahui. metode dan sistem tertentu.[25] Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut. apakah manusia tahu bahwa ia tahu. Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan. Oleh karenanya. atau justru tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ilmu pengetahuan . Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan itu sendiri. perkembangan ilmu pengetahuan itu pada dasarnya bersifat dinamis sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: Tesis Antitesis Pengetahuan (Tesis) Antitesis Pengetahuan (Tesis) Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis seperti ditunjukkan pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagaimana yang dituliskan Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam. melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia.[24] Pengetahuan biasa umumnya tidak mempersoalkan hal ini. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris.

calmness of temper and judgment. and epistemology. Selain itu. 6. yaitu: universal. filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan. Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas.…dst. maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini: 1 2 3 . 3. 2. radikal dan sistematis.…dst.pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan antitesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). 2. 7. 4. 3. ilmu pengetahuan akan terus berjalan secara dinamis bagaikan “anak tangga” mengikuti pola 1. a discipline comprising as it core logic. 3. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs. metaphysic. concepts and attitudes of and individual or group. 2. the most general beliefs. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means. kritis. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought.[28] Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1. antara lain: 1. analisis.[27] Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat. sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis. 5. Hail pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan antitesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis). All learning exclusive of technical precepts and practical arts. antara lain: deskriptif.[26] Demikian seterusnya. ethics. aesthetic. evaluatif dan spekulatif.

Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan. khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia – karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan denagan persoalan-persoalan hidup. sains. adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu. dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja. Perbedaan yang lain. sains. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu. . Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan. dan filsafat).[29] D. ilmu (sains). dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut: Jenis Pengetahuan Pengetahuan Biasa Ilmu (Sains) Filsafat Fungsi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Cara Memperolehnya Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan.

3) Perumusan hipotesis. 2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.[31] Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. . 5) Penarikan kesimpulan. sebagai berikut:[32] 1) Perumusan masalah. sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun. sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logiko-hipotetikoverivikatif. 4) Pengajuan hipotesis. dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan. meskipun secara jujur Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya. merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logiko-hipotetiko-verivikatif. yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. Dengan demikan. bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.[30] Jujun S.kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah.

Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:[33] .

[34] Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan . dan mengontrol. meramalkan.[35] Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. Dengan demikian. meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi.MASALAH Khazanah Pengetahuan Ilmiah Penyusunan Kerangka Berpikir Perumusan Hipotesis Pengajuan Hipotesis DITOLAK DITERIMA Induksi Korespondensi Deduksi Koherensi Praghmatisme Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Sangat wajar jika kemudian – ungkap Jujun – karakteristik kedisiplinanini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan.

Tidak hanya sampai pada batas itu. kembali diuji untuk dicarikan kesimpulan yang lebih benar sehingga kesimpulan tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang baru pula. sistematis dan penuh dengan kedisiplinan.itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. saat ini pengetahuan tersebut diuji untuk menemukan kesimpulan yang benar dan kesimpulan tersebut menjadi pengetahuan yang baru. tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih. Problem yang kemudian muncul adalah eksistensi pengkajian agama (dalam hal ini Islam) sebagai studi ilmiah yang masih cukup minim. manusia mampu melahirkan sejumlah pengetahuan baru dengan keanekaragaman pendekatan penelitian masing-masing. Trend Penelitian Ilmiah Pada pemaparan-pemaparan terdahulu telah dibicarakan perkembangan pengetahuan manusia yang begitu pesat. keteraturan logosentrime sangat menonjol di . mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik. Demikian seterusnya. kesimpulan yang semula dianggap benar. sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Dengan demikian. dapat dimengerti bahwa merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi. Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya. dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah.[37] Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. dkk – menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Johan Meuleman – sebagaimana dikutip U.[36] Jujun lebih jauh menyebutkan. Maman.[38] E. Jika pada masa awal manusia tidak mempersoalkan secara mendalam kebenaran kesimpulan pengetahuan yang mereka miliki. antara lain: pertama.

Secara umum. 5) Penyiaran Islam. Dakwah. teridiri dari: Ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih. Sementara penelitian multi-disiplin ilmu merupakan penelitian yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan . sejarah pemikiran Islam. dan pendekatan studi kawasan. tarekat. dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. Harun Nasution melakukan klasifikasi ilmu-ilmu Islam. antara lain: pendeketan spesialisasi keilmuan. hadis. pendekatan interdisiplin ilmu. kelima. filsafat Islam. Seperti: Ulumul Qur’an. sains Islam. ilmu kalam. fikih ibadah. kedua. mencakup: ilmu pendidiikan Islam. Berdasarkan perkembangan ajaran Islam. pendekatan multidisiplin keilmuan. lembaga pendidikan Islam. sikap apologetis terhadap aliran lain. keempat. 3) Bahasa dan sastra Islam 4) Pelajaran Islam kepada anak didik. hadis. dan sebagainya. dan lain sebagainya. Ulumul Hadits.kalangan umat Islam. serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir. dan filsafat. mencakup: sejarah dakwah. sikap tradisional. ketiga. buday Islam. metode dakwah. tasawuf. fikih muamalah. perbandingan agama. sejarah pendidikan Islam. Peradaban Islam: sejarah Islam. sebagai berikut:[40] 1) Kelompok dasar. anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri. faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. peradilan dan perkembangan modern. pendekatan-pendekatan tersebut dapat disebutkan. yang terdiri dari tafsir.[39] Kesadaran akan kondisi stgnan pengkajian agama yang terbatas pada bidangbidang yang disebutkan di atas selanjutnya melahirkan berbagai pendekatan dalam studi Islam. dan studi kewilayahan Islam. akidah/ilmu kalam (teologi). falsafah pendidikan Islam. 2) Kelompok cabang. Penelitian spesialisasi dapat dipahami sebagai sebuah penelitian yang mengambil konsentrasi pada bidang-bidang tertentu. dan keenam. intrepretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan. Penelitian interdisiplin ilmu merupakan penelitian yang dikaji dalam wilayah cabang-cabang ilmu sebagaimana dijelaskan di atas.

.[42] F. Salah satu model penelitian ini dikembangkan oleh Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Setiap konsep masing-masing didefinisikan secara operasional sehingga dapat ditempatkan sebagai variabel penelitiann.[41] Sementara itu. Cik Hasan Bisri menyebutkan: model penelitian multi-disiplin ilmu mencakup konsep dari berbagai disiplin ilmu. Abuddin Nata menyebutkan bahwa penelitian yang dikembangkan Azyumardi Azra ini merupakan salah satu model studi kawasan yang cukup proporsional terutama dalam pengembangan khazanah intelektual Islam. studi kawasan merupakan salah satu model penelitian yang dikembangkan dalam cabang sejarah.keilmuan.

Penutup Makalah ini secara sederhana telah memaparkan sejarah perkembangan pengetahuan manusia sebagai sebuah gambaran umum. melainkan juga persoalan-persoalan keagamaan yang semakin problematis di dunia modern. Kemampuan penalaran manusia tentunya menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan berbagai pengkajian tidak saja pada persoalan-persoalan umum. sejak manusia mengenal pengetahuan pada taraf yang paling rendah hingga pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah disiplin ilmu dalam waktu yang cukup panjang. pengetahuan tersebut dapat berkembang lebih jauh di masa-masa yang akan datang mengikuti pola perkembangan pengetahuan tersebut. Namun demikian. . Ilmu pengetahuan yang berhasil dilahirkan manusia sampai hari ini tentunya bukan merupakan kesimpulan akhir dari adanya pengetahuan itu sendiri. Berdasarkan pemaparanpemaparan tersebut dapat dilihat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembanngkan penalarannya guna menciptakan berbagai pengetahuan-pengetahuan baru dengan melakukan berbagai penelitian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ada.

"Pengembangan Ilmu Agama Islam Melalui Penelitian Antardisiplin dan Multidisiplin". et.ac. Yogyakarta: Penerbit Andi U. Massachussets. Mulyadhi Kartanegara. Idealitas Nilai dan Realitas Empiris. Filsafat Ilmu Pengetahuan (online) http://download. Van Peursen. (Cetakan II). Jakarta: Gramedia Irwandar. 1981. 1983. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Sistematika Filsafat. dalam: Mastuhu dan Deden Ridwan. Jakarta: Arasy Mizan Nur Ahmad Fadhil Lubis.itb. Teori dan Praktik. 2006. (catakan ke 3). Affifi. Kh. Orientasi di Alam Filsafat. Medan: IAIN Press P.A. et.pdf. Hardono Hadi. (cetakan ke 2). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Harun Nasution. S. Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: Sebuah Perpektif. Epistemologi dan Metodologi Penelitian Filsafat. Maman. 1995. 2001. Suryasumantri. Metodologi Studi Islam. E. (editor). Jakarta: Rajawali Press . (Penerjemah: Dick Hartoko) Cetakan ketiga. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam. 2003. Metodologi Penelitian Agama.al. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan. 2001. Dekonstruksi Pemikiran Islam.1985. Yogyakarta: Kansius Philips Babcock Gove. 2007. 1966. Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. fa. USA: G & C Merriam Company Publisher Poerwadarminta. Sidi Gazalba. DEA. 2005. Jakarta: PN Balai Pustaka Selamet Ibrahim. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa C. 2008.DAFTAR BACAAN A. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1976. Bandung: Pusjarlit dan Nuansa Jujun S. Webster Third New International Dictionary. Jakarta: Gaya Media Pratama Abuddin Nata. Jakarta: Rajawali Press Cik Hasan Bisiri. Jakarta: Bulan Bintang Soetriono dan SRDm Hanafie. Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik.filsafat_ilmu_pengetahuan. 1998.al (editor). Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. 1998.id/ incl/libfile. 1994. Pengantar Filsafat Umum. Filsafat Mistis Ibn Arabi. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan.

tetapi juga mengembangkannya menjadi beraneka ragam pengetahuan. maka ia dapat memperoleh pengetahuan tentang segala hal. Karena itu. Hebatnya lagi. Seekor harimau tahu persis apa ada binatang di sekitarnya yang bisa dimangsa. kegiatan mengetahui merupakan kegiatan yang secara hakiki melekat pada cara beradanya sebagai manusia. manusia juga bisa menyulap bukit terjal menjadi kompleks perumahan mewah dengan tetap melestarikan struktur dan kontur tanah yang ada.Mengapa Manusia Perlu Pengetahuan? Written by Prof. M. Istilahnya dalam filsafat ilmu “knowing is a mode of being”. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi. Demikian pula. binatang memiliki ‘pengetahuan’. Manusia memiliki pengetahuan yang didasarkan atas insting sangat terbatas. Saya yakin saking pentingnya peran akal bagi kehidupan manusia yang bisa melahirkan pengetahuan. Dr. Misalnya.Si Sunday. Secara kodrati manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Seekor tikus juga tahu bahwa di sekitarnya ada kucing yang siap menerkan dirinya. manusia tidak saja mampu memperoleh pengetahuan yang diperlukan dalam hidupnya. H. Mudjia Rahardjo. Misalnya. setiap binatang tahu akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Tetapi dapat dikatakan bahwa semua manusia punya keinginan untuk tahu. manusia dapat mengenali dan menguasai dan mengolah berbagai daya isi dunia untuk kehidupannya. sehingga tidak bermotivasi mencari pengetahuan. Berkat pengetahuannya. Ada yang hasratnya besar. manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumahrumah mewah. sehingga berdasarkan instingnya dia segera mencari tempat yang aman. 11 April 2010 03:37 Kendati disadari pengetahuan itu penting masih sering juga muncul pertanyaan untuk apa manusia memerlukannya? Bukankah tanpa pengetahuan manusia juga bisa hidup. Jika binatang hidupnya akan sangat tergantung pada keadaan habitatnya. “Human beings are humanizing themselves”. Allah mengabadikannya dalam kitab suci al Qur’an dengan menyebut kata . Tetapi karena manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang diberi akal (kata “aql” tidak kurang dari lima puluh kali disebut dalam kitab suci al Qur’an). Bagi manusia. Berkat pengetahuannya. Dalam arti sempit pengetahuan hanya dimiliki makhluk yang bernama manusia. manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). ketika manusia bisa mengubah alam dan lingkungannya menjadi sesuatu yang lebih bernilai. karena pengetahuannya. walau kadang-kadang juga ada manusia yang memiliki insting yang kuat. atau ada makanan yang bisa disantap. maka sebaliknya manusia justru dapat mengubah kondisi dan keadaan alam lingkungannya untuk disesuaikan dengan yang dikehendaki. Manusia tidak dapat hidup berdasarkan instingnya saja. sehingga upaya pencarian pengetahuan sangat tinggi dan tidak kenal menyerah. Tetapi ada pula yang hasratnya rendah atau biasa-biasa saja. Memang ada yang berpendapat berdasarkan instingnya. maka pada saat itu pula dia melakukan proses memanusiawikan dirinya.

Dalam studi Content Analysis. Karena itu. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari sepanjang hidupnya bertaburan nikmat dan karunia Allah. Karena itu. maka Discourse Analysis berpandangan makna kata ditentukan oleh konteks di mana kata itu dipakai dan penafsiran terhadap kata atau kalimat dilakukan dengan cara dialektik. yakni Discourse Analysis. marilah kita sadari betapa melimpah karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada kita untuk kita syukuri dengan tiada henti. maka semakin penting maknanya. Begitu juga ketika Allah mengulang ayat Fabiayyi Alairabbikuma Tukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan) dalam surat Ar-Rahman tidak kurang dari tiga puluh kali. Betapa pentingya pengetahuan bagi kita sebagai manusia. dan dari siapa pun. malaikat sempat mengajukan keberatan atas segala kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia. Walau punya akal. Pengulangan berarti penegasan betapa pentingya arti kata itu. . Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika 20 03 2010 . Karena itu. penyebutan kata atau istilah dengan berulang kali tidak mungkin tidak bermakna apa-apa. Tengara Allah itu kini terbukti. Demikian salah satu cara Allah mengingatkan manusia terhadap hal-hal tertentu yang dianggap penting. kita menjadi makhluk yang manusiawi. Ada seorang kawan yang harus pergi ke Cina untuk dioperasi (baca: hanya dibetulkan) salah satu bagian syarafnya yang tidak pas dengan beaya ratusan juta rupiah. tetapi bisa kita saksikan dalam kehidupan ini betapa banyak manusia ingkar dan tidak mau bersyukur atas nikmat dan karunia Allah yang demikian melimpah. Salah satu nikmat itu ialah akal. Semakin sering diulang. karena berpengetahuan itu. agar sifat manusiawi kita tetap melekat pada kita. dan lewat akal kita memperoleh dan menciptakan pengetahuan. Memang pendekatan Content Analysis belakangan memperoleh tandingan. di mana pun. Menutup tulisan ini. Bayangkan andai saja kita tidak bisa tidur! Betapa susahnya hidup ini. Ayat itu juga menegaskan betapa manusia merupakan makhluk yang berpotensi kufur atas nikmat dan karunia Allah. manusia tidak mau bersyukur. Berbeda dengan Content Analysis yang menekankan makna kata ditentukan oleh seberapa banyak kata itu diulang. Dan. maka jangan pernah berhenti mencari pengetahuan kapan pun. mengapa ketika sedang sehat dan bisa beraktivitas apa saja.“al-aqlu” tidak kurang dari lima puluh kali di berbagai ayat. Bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat Allah.

yaitu Faktual. Kesinambungan yang mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam kognitif. Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan objek studi ilmiah sendiri-sendiri. tetapi juga meninjau aspek kognitif dalam gejala mental yang lain. Pengetahuan (Knowledge) / C1 Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental dalam mengingat dan mengungkapkan . yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar. maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar. yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. serta menggali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tunututan hidup sehari-hari. dan Metakognitif. Kehidupan mental/psikis mencakup gejala-gejala kognitif. Namun. Prosedural. psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif. konatif sampai pada taraf psikomotis. Oleh karena itu. seperti apa penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak (konatif). Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta bermotivasi sambil belajar. baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar disekolah. Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam proses balajar. Dimensi pengetahuan berisi empat kategori. seperti dalam memperoleh pengetahuan. terutama untuk domain kognitif. Pemahaman. Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif. tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara total yang satu dari yang lainnya. psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Konseptual. untuk mengoreksinya. mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi “Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian.BAB I PENDAHULUAN Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir. Anderson & Krathwohl (dalam wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi. Analisis. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat. efektif. Penerapan. dan seterusnya. dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak. penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman. Evaluasi dan Membuat. tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar.

Dalam tingkatan ini. analisis hingga sintesis. siswa diharapakn mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya denga ideide lain degan gejala implikasinya. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam bagian-bagian. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema matematika dan mengembangkan struktur matematika. cara atau metode. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian akan arti materi matematika. keterampilan dan prinsip-prinsip. dan (iii) analisis prinsip-prinsip pengorganisasian. Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranahranah kognitif yang lain karena melibatkan ranah yang lainnya. pemahaman. menemukan hubungan antarbagian. yaitu: (i) analisis elemen/bagian. dan . Evaluasi( Evaluation)/C6 Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian (judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide. sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai. pemahaman yang lebih baik.kembali informasi-informasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi yang ada dihadapannya. fan mengamati pengorganisasian bagian-bagian. Analisis (Analysis)/C4 Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan jelas. kreasi. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat pengetahuan baru. Sistesis (Syntesis)/C5 Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. fakta-fakta. Pemahaman (Comprehension)/C2 Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. penerapan baru. (ii) analisis hubungan. Penerapan (Aplication)/C3 Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut. sistesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng sebelumnya. terminologi dan peristilahan. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis. Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol matematika. Dalam matematika. berkaitan dan bermamfaat. penerapan. mulai dari pengetahuan.

cara baru yang unik dalam analisis atau sintesis. karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan. seperti akurasi. dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur eksternal. peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai makanan. Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serampak. yaitu (1) proses perolehan informasi baru. seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya. Dalam transformasi pengetahuan. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu. Jadi transformasi memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam bentuk lain (Hadis. 2006). Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik. orang menggunakan pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut. misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal. logika dan konsistensi. (2) proses transformasi pengetahuan. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar . Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu seseorang. Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi yang dihadapi. maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.

Sebagai contoh Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. d Prinsip (abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”.mengajar antara guru dengan peserta didik. Konsep trapesium dapat juga dikemukakan dengan definisi lain. ( p. sikap positif . Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sebagai contoh hasil kali dua bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan q=0. Objek-objek langsung a Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan) dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika. yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). fakta merupakan sesuatu yang harus diterima. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna kata yang berbeda. b Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Di dalam matematika. “perkalian”. Jika disajikan angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Konsep trapesium misalnya bila dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis. kemampuan berfikir analitis. apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. c Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari suatu hasil tertentu. tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep matematika. Prinsip adalah suatu pernyataan bernilai benar. Sehingga menjadi semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. “gabungan”. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep. misalnya “segiempat yang terjadi jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya adalah trapesium. “irisan dan sebagainya. Konsep berhubungan erat dengan definisi. tetapi mempunyai jangkauan yang sama. seperti lambang-lambang.q = 0 Û p = 0 atau q = 0). secara garis besar ada 2 macam objek yang dipelajari siswa dalam matematika. Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat disimbolkan dengan “3”. Dengan konsep itu sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. kemampuan memecahkan masalah. yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan hubungan antara konsep-konsep tersebut. BAB II PEMBAHASAN Objek-objek Pembelajaran Matematika Menurut Gagne.

yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. 4. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense. klasifikasi. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif). mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat. diperolehnya melalui observasi. sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi. Pengetahuan filsafat. Pengetahuan biasa. Namun. 2. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan. atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense. di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid. benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia. yaitu: 1. yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. 2007). Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking). ketekunan. yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan. Iman . Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Pengetahuan Agama. ketelitian. tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. pemikiran logika diutamakan. Pengetahuan ilmu. kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika. 3. karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok. Pengetahuan dalam kajian filsafat Menurut Burhanuddin Salam (Amsal. eksprimen. yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. netral. dan sering diartikan dengan good sense. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu. filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. karena dimulai dari fakta. yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu. Dengan common sense. juga informasi tentang Hari Akhir. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.terhadap matematika.

Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam setiap Pembelajarannya. Contohnya : • • • • Pengetahuan tentang alfabet. Pengetahuan Faktual Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik. dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek Pengetahuan Istilah Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata. maka secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran yang berarti. . buku teks ataupun media saja. merekam informasi yang didapat dari orang tuanya. bilangan-bilangan. Pengetahuan tentang akunting. gambar-gambar). pemahaman. Setiap materi berisi sejumlah label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi khusus.pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya. Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu masalah. guru. dan Metakognitif. yaitu Faktual. Prosedural. Pengetahuan tentang kosakata melukis. Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan. khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif. Konseptual. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi penting. tanda-tanda. Dimensi Pengetahuan Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif. Siswa bukan penerima yang pasif. mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut.

Pengetahuan Konseptual Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih rumit. dan peristiwa dalam berita. dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. dan sebagainya. Contohnya. Contohnya : • • • Pengetahuan macam-macam tipe literatur. kewarganegaraan. Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda.• • Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan. atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda. dimana pengetahuan khusus menjadi penting dari masalah yang telah diselesaikan. Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi khusus di susun dan distrukturisasikan. Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan dengan pengetahuan tentang peristiwa. seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena yang terjadi. Pengetahuan nama-nama penting. rotasi bumi mengelilingi matahari. kata kerja. Seperti. Contohnya: • • • • Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial. Pengetahuan adalah sebuah aspek penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli berpikir dan menyelesaikan masalah mereka. contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena dan perkiraan informasi. matahari. skema. divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi yang berbeda. Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat. kebutuhan manusia dan ketertarikannya. tanggal. Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi kategori-kategori. dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. sumber informasi. Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik dan tepat. orang. tempat. bagaimana bagianbagian yang berbeda atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih sistematik. lokasi. rotasi bumi. model mental. kata sifat) . Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan. Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah.

fungsi) Pengetahuan evolusi. Pengetahuan teori tektonik. Prosedur perkalian dalam . menjelaskan atau menentukan tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil. atau materi. Pengetahuan model genetika (DNA). Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan Algoritma Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan matematika. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah. pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit. Abstraksi ini memiliki nilai yang sangat besar dalam menggambarkan. Contohnya: • • • • • Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia. Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak. Contohnya : • • • • Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus. Pengetahuan Prosedural Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu.• • Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda. teknik-teknik. dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai prosedur. algoritma. Pengetahuan periode waktu yang berbeda. memprediksikan. Seperti pengetahuan keterampilan. Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar. Pengetahuan Teori. Pengetahuan Dasar dan Umum Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi. Model dan Struktur Pengetahuan teori. model dan struktur meliputi pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas. masalah. Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan.

Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan. hasil umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan. persuasif). Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan Penggunaan Prosedur yang Tepat • • • • Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori. Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air. Sekali lagi. atau penemuan. Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus.aritmetika. hasil dari pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau konseptual. Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural. atau norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi sebuah hasil observasi. jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. penekanan disini adalah berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri. Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah. persetujuan. Pengetahuan macam-macam metoda literatur. Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen. eksperimen. Contohnya : • • • • Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial. Pengetahuan Metakognitif . Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Contohnya : • • • Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air. ketika diterapkan. Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural.

bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif. Apabila kesedaran ini wujud. belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan” (Slameto. jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh. karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih keterampilan penilaian. memikirkan dan menyelesaikan masalah. • • Pengetahuan Itu Sendiri Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. pilihan berganda). bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu . Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan. Contohnya. Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh. Contohnya : • Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh. seseorang dapat mengawal fikirannya dengan merancang. termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun banyak. memantau dan menilai apa yang dipelajari. Definisi ini menyiratkan dua makna.Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan. Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum. Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika Secara psikologis. mengingat nomor telepon). Pertama. Strategi Metakognitif merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran yang berlaku. 1991:2). Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas Kognitif. siswa yang mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan dengan bentuk essey. Jadi Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan mengenai salah satu pengertian itu sendiri Pengetahuan Strategi Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi umum untuk mempelajari. Contohnya: • • • Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.

perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. 1981:151). maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Misalnya. seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah. setelah seseorang yang belajar diberi stimulus. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan). 1981:12). kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang dilakukannya selama belajar. berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. Tahap pertama pemahaman. salah seorang penganut paham psikologi behavior (dalam Orton. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua. maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). 1990:32). Menurut Gagne (dalam Hudojo. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Pengetahuan yang . Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise). sikapnya semakin positif. dan sebagainya. (2) Hukum akibat (law of effect). jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya. bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Dengan demikian. yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering terjadi. Resnick. 1991:39. para ahli psikologi cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang menjadi prinsip-prinsip belajar. maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya). Kedua. Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner. Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung di dalam mental. keterampilannya meningkat. Namun demikian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa disadari bukanlah belajar. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Psikologi Behavioristik Thorndike. Penguatan positif sebagai stimulus. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell.untuk mendapatkan perubahan tingkah laku. menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Selanjutnya. Sehubungan dengan hal ini. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan).

Selanjutnya. yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga. dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh karena adanya asosiasi (ikatan) yang manunggal antara stimulus dan respon. 1993) berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Katona. Menurut Kohler (dalam Orton. Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpisah-pisah (Orton. seorang ahli psikologi gestalt yang lain. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Berdasarkan hasil penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan prosedur. menurut pandangan psikologi gestalt dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami. yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep . Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan Konstruktivistik Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur kognitif. Jadi. Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut. Pengikut aliran konstruktivisme personal yang lain adalah Bruner. diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting. 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan antara stimulus dan respon. dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang..diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat. 1990:89). Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas. Piaget (dalam Bell. tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip tertentu. 1981: Stiff dkk. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru. Terakhir adalah tahap keempat. melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford. Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan Psikologi Gestaltik Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia belajar. juga tidak sependapat dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. 1981:143-144). yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi. konsep.

Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi (Nickson dalam Grows. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu.dan prinsip dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Artinya. Pikiran manusia menginterpretasikan semua sensasi/informasi. akan terbentuk suatu pengetahuan baru. Dengan demikian. Artinya. Proses aktif yang dimaksud tidak hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu pengetahuan. Kemudian. (2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. (1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. 1992:106). Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell. misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari. (4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan . Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika Menurut pandangan penganut psikologi gestalt. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan. Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut. hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun pengetahuan matematika. tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur sensasi tersebut. 1981:143). belajar merupakan proses aktif dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. (3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. Implementasi Pandangan Konstruktivistik terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk. persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh langsung terhadap pikiran. tidak semua mengerjakan tugas yang sama. melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara mental.

Bandung: Afabeta Muhkal. 2003. Suherman dkk. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Fakta ini bukan berdasarkan sudut pandang pribadi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Mappaita. Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika. Jakarta. 1996. *** (Source : Fitriani Nur. Universitas Negeri Makassar. Ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang memiliki unsur kebenaran. Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. 2007. Wowo SK. atau pendirian dari kelompok tertentu saja. W.lingkungannya. JICA. DAFTAR PUSTAKA Anderson dkk. Psikologi dalam Pendidikan. and Assessing. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Raja Grafindo Persada Hadis Abdul. 2006. Karena riset telah membuktikan dan memang telah terbukti 100% . Taksonomi Bloom hasil Revisi 1999. Filsafat Ilmu. 2001. (5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Longman. A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. pada akhirnya ia akan kembali ke titik awal. Sehingga dalam prakteknya sebuah karya dapat dikatakan ilmiah seandainya karya tersebut merujuk kepada sumber-sumber atau kejadian yang valid. A Taxonomy for Learning. Di dalam prosesnya kadangkala sesuatu yg bersifat ilmiah dapat menjadi sebuah ilmu. Ketika seseorang mengelilingi bumi dengan berjalan ke arah timur atau ke arah barat.15 Wita.S. Grasindo. dan siswa-siswa. Contohnya. Diakses pada hari Rabu. 2006. Winkel. Psikologi Pengajaran. guru. fakta ilmiah bahwa bumi ini bulat. misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa. 2008) Sesuatu dapat dikatakan ilmiah jika hal tersebut merupakan suatu hasil observasi yang obyektif dan dapat diverifikasi secara empiris. atau secara empiris dapat dibuktikan kebenarannya. Teaching. (6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar. tanggal 8 oktober 2008 pukul 14. Bakhtiar. Amsal.

yakni logis. Pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah suatu sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaanya dan lingkungannnya. dengan suatu metode yang melibatkan cara berfikir empiris dan rasional. pemahaman ini sering diikuti oleh istilah lain yakni ilmiah. istilah ini untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan mengandung makna ilmiah yang artinya prosedur yang harus diikuti. Fakta inipun menjadi sebuah teori yg ilmiah di dalam ilmu pengetahuan. . atau menyesuaikan lingkungannnya dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. yakni suatu bidang pengetahuan yang tersusun secara bersistem. pengetahuan ilmiah dan kajian filsafat < DI SUSUN OLEH : AGUNG SANTOSO BAB I PENDAHULUAN A. yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu pengetahuan bersangkutan . Sedangkan pengetahuan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau dapat diartikan kepandaian yang dimiliki. dan memiliki makna ilmu. menurut metode tertentu.(diverifikasi) bahwa bumi ini bulat. Pemahaman sebagai dua kata yang tidak terpisahkan . Ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang tersusun secara logis dan bersistem. dengan mempertimbangkan sebab akibatnya. bersistem dan mempertimbangkan sebab akibat. LATAR BELAKANG Ilmu pengetahuan atau Pengetahuan ilmiah dalam tata bahasa dapat diartikan sebagai dua kata yang berangkai.

TUJUAN 1. BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN / BATASAN PENGETAHUAN ILMIAH Ilmu atau science diartikan sebagai studi yang dapat di uji. kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika . 2. folk science. dites. Untuk mengetahui pengertian / batasan pengetahuan ilmiah. Sebab seringkali ilmu yang diteliti . mistik ataupun cara – cara alogis yang lain. karena kemampuan otak dan akal manusia yang terbatas. dan diverifikasikan. termasuk persoalan masa lampau dan masa depan. planet dan bahkan alam semesta. Sejak awal dimulainya wawasan ilmu ini telah sangat luas dikembangkan dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia . Kata science diambil dari bahasa yunani scire yang berarti memahami – to know. diamati bukan ilmu baru akan tetapi para peneliti melakukanya untuk mengetahui lebih dalam . kedokteran. Pengetahuan ilmiah dikembangkan berdasarkan analisis obyektif. sehingga perkembangan ilmu merupakan bentuk kegiatan untuk pemahaman dunia. Beberapa kelompok pengetahuan dapat ditelusuri sampai dengan awal peradaban manusia . Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. lebih jauh hanya sekedar melalui keyakinan seseorang. 2. supra natural. tetap ia melalui pendekatan suatu system . keperawatan. ilmu – ilmu yang dasar dan tidak dipengaruhi oleh waktu dan ruang lebih bersifat universal daripada yang tergantung pada lingkungan dan zaman. misanya cara mitologis. Perhatikan dalam bidang – bidang ilmu yang dikenal sekarang. Untuk mencoba mengetahui keberadaanya lebih mendalam disinilah etika ilmu merupakan salah satu karakteristiknya. ilmu fisika. matematika. ilmu pengetahuan memajukan pertanyaan – pertanyaan kecil dan dengan memperoleh jawaban. Berbeda dengan cara – cara lain. bahkan mungkin mencari sesuatu yang kan muncul teori atau pandangan yang baru. Kadang terjadi pula penelitian dilakukan terhadap penemuan yang dianggap baru. kebenaran ilmiah berevolusi sesuai dengan kemajuan teori ilmu pengetahuan . yang memiliki waktu berkembang sejajar dengan perkembangan kemajuan manusia. maju selangkah demi selangkah. yang kini dikenal sebagai metode keilmuan. sehingga dunia obyektif yang diamati tidak pernah lengkap . Apa perbedaan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak / non ilmiah 3.Di masa pra ilmiah pengetahuan diperoleh secara empiris turun temurun. memang dengan teori pengetahuan ilmiah belum semua persoalan hidup dan dunia ini dapat dipecahkan. tradisional. tehnologi dan sebagainya. Dewasa ini semua cabang ilmu dapat diamati di investigasi. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus dinamis. Agar dapat memahami tentang teori – teori pengetahuan ilmiah. sejarah. Tapi kapan ilmu itu tumbuh apakah sudah lama atau baru . Dari uraian tersebut diatas dapat menimbulkan permasalahan – permasalahan yaitu : 1. akan tetapi ternyata ilmu tersebut telah pernah ada pada . 3. Bagaimana cara Pemahaman tentang teori – teori pengetahuan ilmiah B. akan tetapi terdapat juga ilmu – ilmu yang baru berusia kurang dari 50 tahun. dan mungkin mengembangkan cabang ilmu lain yang dapat diamati atau dideteksi. Di dalam masyarakat ilmiah segala persoalan pertama – tama diusahakan dipecah secara ilmiah. Bagaimana Pengertian / batasan teori pengetahuan ilmiah . model – model yang dibuat adalah realitas yang disederhanakan. Pengetahuan berkembang menjadi ilmu melalui akumulasi waktu .

teknik – teknik baru ditemukan data baru. Negara . Keruntuhan suatu periode pemerintahan. akan tetapi belum dapat diketahui kapan ia berakhir. Pada penulisan ilmu pengetahuan yang tidak ilmiah dapat dijumpai pada majalah umum ( bukan jurnal ). atau ilmu terjadi kesalahan dalam beberapa tingkatanya. teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “ mengapa” suatu gejala – gejala terjadi. pernyataan ditulis berdasarkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan (personal subyektif writing) 3. 2. sebab diantara yang berubah masih terdapat hal – hal yang dipertahankan . Bukan hal yang mengherankan jika pada suatu kurun masa penemuan seseorang ahli menjadi paradigma berbagai perkembangan ilmu. Generalized abstract explanation. PEMAHAMAN TEORI PENGETAHUAN ILMIAH Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. sedangkan bangsa mesir tetap exis dan tumbuh sebagai bangsa besar . Pengetahuan yang ditulis untuk menyajikan informasi dan bersifat iklan (emotif advertising) . akan tetapi dalam perkembangan tersebut mengalami perubahan. 4. akan tetapi ilmu terdahulu tidak pernah. atau jarang disingkirkan begitu saja . tetap diakui kebesaranya . kemegahan sejarah peradaban. peradaban. banyak para ahli melakukan hal ini. yang sampai kini masih diteliti untuk melengkapinya. brosur dan sebagainya. fakta yang ada dan persuatif (informative advertising) Sedangkan ilmu pengetahuan ilmiah dapat berbentuk : 1. Tujuan akhir dari setiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan “alat” yang dapat kita pergunakan untuk mengontrol gejala alam. Pengetahuan yang hanya memberikan suatu fakta yang tidak terjabarkan . Ilmu tidak pernah terputus dari pertumbuhan awalnya. Sejarah telah membuktikanya . kesemuanya mempunyai benang merah yang tidak pernah putus. dan tetap diakui sebagai pandangan pengetahuan yang besar. Keruntuhan kerajaan firaun tidak sekaligus meruntuhkan keberadaan bangsa mesir dan peradabanya. Nontechnical concrete explanation. filsafat. 2. peradaban mesir tetap merupakan suatu contoh kehandalan . akan tetapi dengan cara . Pengetahuan yang ditulis berdasarkan informasi yang cukup lengkap. misal 1. . Tapi apakah ilmu itu salah sama sekali ? Tidak.masa sebelumnya. Pengetahuan yang ditulis dalam bentuk kritik eronik. dengan segala atribut modernisasinya. Generalized technical writing. ia merupakan time – line yang selalu dapat diketahui awalnya. PERBEDAAN PENGETAHUAN ILMIAH DAN PENGETAHUAN TIDAK ILMIAH Untuk membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak ilmiah secara sederhana pada saat ini dapat dilihat / ditelaah melalui cara penulisannya . Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum – hukum. surat kabar. sebab ditemukan fenomena lain yang dapat merubah teori sebelumnya. ataupun satir (slanted criticism) 4. seperti hanya tehnologi. tidak pernah menguburnya bersama bangsa dan peradaban yang pernah ada. Semitechnical generalized explanation. sedangkan hukum memberikan kepada kita untuk meramalkan “apa” yang mungkin terjadi. ia diakui pada masanya. 3.

Benda – benda tanpa melihat beratnya akan jatuh ketahan dalam waktu yang sama. Berdasar teori ini maka dapat disusun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal yang secara keseluruhan membentuk suatu sistim teori keilmuan.Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi. Newton pada tahun 1686 menerbitkan phiksophiae Naturalis Principia Mathematica yang merupakan teori yang mempersatukan teori Gallileo. Teori Newton menyatakan bahwa semua gerak baik yang terjadi dilangit maupun dibumi. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut. Diibaratkan sebuah pohon dengan akarnya . Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hokum – hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Copernikus (1473 – 1543) mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi melainkan bumi yang mengelilingi matahari. banyak juga yang memberikan penjelasan mengapa buah itu bisa jatuh. maka makin dalam pula kita . Banyak orang bisa melihat langsung mengapa buah – buahan bisa jatuh ( Kebawah ) dari pohonnya. Copernicus dan Kapler. Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan pada teori – teori sebelumnya yang bersifat sektoral. tunduk kepada hokum – hokum yang sama. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori – teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dengan teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori – teori tersebut. maka makin tinggi pohon tersebut . Galileo dengan demonstrasinya yang bersifat testrik sekali pukul menjatuhkan teori Aristoteles yang tidak benar itu. banyak yang menanyakan mengapa buah bisa jatuh. Sejarah perkembangan fisika misalnya mengenal teori tentang “jatuh bebas” yang di demonstrasikan Galileo dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari menara pisa . Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori Aristoteles yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh ketanah dengan lebih cepat. Ilmu teoritis terdiri dari sebuah system penyataan . pengertian teoritis disini dikaitkan dengan gejala fisik yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud . Teori kopernikus ini kemudian disempurnakan oleh Johanes Kopler yang mendasarkan diri dari data yang dikumpulkan . Tycho Branhe menyatakan pada tahun 1609 bahwa rbit planet – planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dipercayai oleh Ptolomeus maupun Kopernikus merupakan berbentuk ellips. Teori ini merupakan perombakan terhadap teori lama yang dikemukakan oleh Ptolomeus ( 150 SM ) dari Alexandria yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet – planetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit – orbit yang berbentuk lingkaran. artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. namun baru Newton yang bisa memformulasikan sebuah teori tentang gravitasi yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi buah – buahan tetapi juga untuk seluruh benda baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit. system yang terdiri dari pernyataan – pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut disebut teori. atau secara idealnya harus bersifat universal.

Konsep teori seperti gravitasi merupakan penjelasan yang bersifat mendasar yang mampu mengikat berbagai gejala fisik secara universal. Kegunaan praktis dari konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah . 5. ilmu politik. Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti. Sedangkan ilmu terapan atau ilmu aplikasi (applied science) adalah perilaku para ilmuan terutama pada korporasi industrial melakukan penelitian untuk meningkatkan atau untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitasnya. Ilmu dasar (Pure Science) merupakan kerja para ilmuan . Keduanya mempunyai implikasi yang sama yaitu mengembangkan semua bidang ilmu. Ilmu sejarah sangat mempengaruhi lmu budaya. peradaban. Psikologi sangat mempengaruhi ilmu pendidikan dan ilmu mengajar . Pengetahuan yang tidak ilmiah bercirikan subyektif. Konsep – konsep yang bersifat teoritis karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kelihatan kegunaan praktisnya. dan bahkan tidak jarang menemukan suatu pendekatan system yang dapat diterapkan dalam sebagian ilmu. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dean hukum ini harus mempunyai tingkat keuniversalan atau keumuman yang tinggi . tatanan ilmu ya ng ada selalu saling mempengaruhi .hurus menjangkau akarnya. Keduanya sangat mempengaruhi etika keilmuan. sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitanya langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata. yang seringkali terjadi ilmu yang satu tidak dapat berdiri sendiri . selalu digunakan untuk menelusuri setiap pertumbuhan awal ilmu – ilmu yang ada tumbuh dan berkembang. 4. Matematika sangat mempengaruhi ilmu statistika. 6. mempunyai metodologi kerja yang khas. bersumber dari keyakinan. Aplied Science sangat diperlukan untuk meningkatkan atau menghasilkan sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan produktifitas . Dan dari pengertian inilah kita mengenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan. fisika. diperoleh secara turun – temurun.masalah yang bersifat praktis. ilmu ekonomi. 3. antropologi . SIMPULAN Setelah pembahasan dari masalah – masalah tersebut diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. dan terbuka dari kritik. 2. . memecahkan persoalan kehidupan manusia. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan yang biasanya terdiri dari hukum – hukum. terutama dalam institusi akademik melakukan penelitian yang semata – mata untuk menemukan perkembangannya. ilmu perilaku. Makin tinggi keumuman suatu konsep maka makin teoritis konsep tersebut. sistimatis. penelitian. dan kepuasan pengetahuan. Ilmu social sangat mempengaruhi ilmu hokum. Ilmu / pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan manusia yang bercirikan obyektif. Padahal dalam kehidupan sehari – hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut. logis. kontradiktif dan sifatnya tertutup. BAB III PENUTUP A. komunikasi dan transpormasi.

misalnya yang dibahas dalam filosofi matematika. ada pula pandangan lain. tidak diterbitkan. SARAN 1. Filsafat ilmu. Inilah sebabnya. matematika melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Pustaka sinar harapan . Akhirnya. banyak pakar mengkelompokkan matematika dalam kelompok bahasa. KEPUSTAKAAN Hartono Kasmadi. Etika ilmu. Di manakah letak semua konsep-konsep matematika. Prof. Dalam pandangan formalis. Struktur spesifik yang diselidiki oleh matematikawan sering kali berasal dari ilmu pengetahuan alam. Matematika Sebagai Bahasa Universal [2] Sains & Pengetahuan Umum Sebagai bahasa. ( 2000 ). misalnya para pakar Teori Model yang juga mendalami filosofi di balik konsep-konsep matematika bersepakat bahwa semua konsep-konsep matematika secara universal terdapat di dalam pikiran setiap manusia. melihat ilmu pasti sebagai bentuk seni daripada sebagai . 3. atau lebih umum lagi dalam kelompok (alat) komunikasi. 2.B. Pandangan tentang Ilmu pengetahuan . sebuah pengantar popular. Jujun S. tetapi matematikawan juga mendefinisikan dan menyelidiki struktur internal dalam matematika itu sendiri. Jadi yang dipelajari dalam matematika adalah berbagai simbol dan ekspresi untuk mengkomunikasikannya. Prof. Jakarta. Hendaknya semua teori / pengetahuan ilmiah ataupun hukum – hukum yang ditimbulkanya sesuai dengan value. matematika adalah penelaahan struktur abstrak yang didefinisikan secara aksioma dengan menggunakan logika simbolik dan notasi matematika. Kepada para praktisi untuk terus mengembangkan applied science untuk menjawab permasalahan kehidupan manusia. Wawasan Keilmuan. dan sangat umum di fisika. Hartono Kasmadi. Materi kuliah. Suria Sumantri. Filsafat ilmu dari awal sampai dengan ibnu khaldun. ( ). atau alat membantu untuk perhitungan biasa. banyak matematikawan belajar bidang yang dilakukan mereka untuk sebab estetis saja. ( ). Karena sifat-sifatnya itu dapat dikatakan bahwa matematika merupakan bahasa yang universal. bukan sains. bilangan tersebut disimbolkan melalui ucapan “Tiga”. etika serta moral dan bermanfaat untuk perikehidupan umat manusia. Hendaknya para akademisi terus – menerus untuk mengggali ilmu – ilmu yang baru atau mengembangkan konsep yang telah ada agar mencapai tingkat keuniversalan yang optimal . tidak diterbitkan. Misalnya orang Jawa secara lisan memberi simbol bilangan 3 dengan mengatakan “Telu”. misalnya. misalnya letak bilangan 1? Banyak para pakar matematika. sedangkan dalam bahasa Indonesia. Materi matrikulasi program magister ilmu hukum UNTAG. untuk menggeneralisasikan teori bagi beberapa sub-bidang.

Pertama. Atau sederhananya. Dalam hal nini kita harus memperhatikan dua hal. Jujun S. The Phenomenon of Science a Cybernetic Approach to Human Evolution. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. dan bukan merupakan ilmu itu tersendiri. apapun disiplinnya. Jakarta: 2001. Kembali ke uraian sebelumnya bahwa matematika sebagai sarana berpikir ilmiah yang menggunakan pola penalaran deduktif. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Tanpa mempertimbangkan tujuan untuk kehidupan kemanusiaan dan keberlangsungan . Columbia University Press. ruang dan sifat-sifat fenomena bisa didekati atau dinyatakan dalam sebuah bentuk perumusan yg sistematis dan penuh dengan berbagai konvensi. Hasil perumusan yang menggambarkan prilaku atau proses fenomena fisik tersebut biasa disebut model matematika dari fenomena. Valentin F. Pustaka Sinar Harapan. makalah filsafat ilmu (etika dalam ilmu) BAB I PENDAHULUAN Etika sangat penting bagi pengembangan ilmu. perubahan. Kedua.ilmu praktis atau terapan. merupakan bidang studi tersendiri. sedangkan tujuan mepelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti mempelajari berbagai cabang ilmu. Jelaslah mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode yang tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya.wikipedia.org/wiki/Matematika) Sruiasumantri.. Referensi Anonim. khususnya berbagai fenomena alam yang teramati. USA: 1997. Turchin. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. simbol dan notasi. Seperti diketahui bahwa salah satu karakterisitk dari ilmu umpamanya adalah penggunaan berpikir deduktif dan induktif dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah ini dalam proses pendidikan kita. Matematika tingkat lanjut digunakan sebagai alat untuk mempelajari berbagai fenomena fisik yg kompleks. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Dalam hal ini sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabangcabang pengetahuan dalam mengembangkan materi pengetahuannya berdsaarkan metode ilmiah. agar pola struktur. Matematika (http://id.

etika. Di dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti ekonomi. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Dalam makalah ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Ø Apakah problem etika dalam ilmu? Ø Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai? . estetika. filsafat agama dan epistimologi. Diberbagai media massa banyak membicarakan tentang teroris yang melakukan serangkaian pemboman di berbagai tempat di Indonesia.lingkungan hidup baik hayati maupun non hayati adalah pembunuhan diri eksistensi manusia. Aksiologi itu sendiri ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai. Contoh diatas merupakan salah satu problem etika dalam ilmu. Di balik bom teroris tersebut ternyata menyisakan suatu masalah bahwa pemahaman keagamaan yang tidak didialogkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah ada sebelumya dan tidak dikomunikasikan dengan ilmuwan agama lainnya ternyata bisa menimbulkan korban manusia-manusia tak bersalah. yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.

Tanggung jawab etis. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Berikut ini di jelaskan maksud kedua pandangan tersebut. Etika ilmu: Problem Nilai dalam Ilmu Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Ilmu: Bebas nilai atau Tidak Bebas Nilai a. Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan kadangkadang mempunyai pengaruh pada proses perkembangan ilmu. 2. buruk (bad). merupakan hal yang paling menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Etika mencakup persoalan-persoalan tentang hakikat kewajiban moral. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). baik dalam hubungannya sebagai pribadi. bertanggung jawab pada kepentingan umum. Bebas nilai sebagaimana Situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar di dasarkan pada hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri. serta bersifat universal. tetapi juga mrupakan hasil perkembangan dan kreatifitas manusia itu sendiri. karena hakikat ilmu adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. benar (right). Akan tetapi. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksanaanya tidak ditunjuk. Bernaung di bawah filsafat moral. Menurutnya . dan salah (wrong).BAB II PEMBAHASAN 1. dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap khaliknya. Bebas Nilai Aliran ini memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. Ilmu bukan saja sarana untuk mengembangkan diri manusia. Dalam hal ini. dan generasi yang akan datang. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Dalam hal ini berarti ilmuwan dalam mengembangkan ilmu harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Jadi tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat sungguhsungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya. dengan argument bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau atau keburukan bagi manusia. prinsipprinsip moral dasar. Menurut aliran ilmu bebas nilai atau value free pembatasanpembatasan etis hanya kan membatasi eksplorasi pengembangan ilmu. Dalam diskusi tentang ilmu dan etika muncul perdebatan yang panjang antara pandangan yang memegangi bahwa ilmu adalah bebas nilali dan pandangan yang mengatakan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. semestinya (ought to). manjaga keseimbangan ekosistem. Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut mengupayakan penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia. menyadari juga apa yang seharusnya di kerjakan atau tidak dikerjakan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia. Oleh karena itu. apa yang harus manusia ikuti dan apa yang baik bagi manusia.

manusia denagn manusia. Dapat pendapat yang mengatakan bahwa ada tiga pandangan tentang hubungan ilmu dan etika. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri Ø Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering di tuding menghambat kemajuan ilmu. Pendapat pertama. agama.ada tiga factor sebagai indikator bahwa pengetahuan itu bebas nilai. Jurgen habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. tetapi tidak dapat berpengaruh pada ilmu itu sendiri. Pendapat ketiga. b. seperti pada bidang penyelidikan. putusan-putusan mengenai baik tidaknya penyingkapan hasil-hasil dan petunjuk mengenai penerapan ilmu. dan nilai penghormatan terhadap manusia. yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti factor politis. Ø Pengetahuan yang mempunyai pola yang sangant berlainan sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu. kepentingankepentingan. religious. Ø Teori kritis yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. seperti juga ekspresi seni yang menonjolkan pornoaksi dan pornografi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. logis. idiologis. ilmu ini menyelidiki gejalagejala alam yang bekerja secar aempiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi di benarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. memperlancar hubungan sosial. yaitu sebagai berikut: Ø Ilmu harus bebas dari pengandaian. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai. Ilmu dipandang semata-mata sebagai aktivitas ilmiah. dan unsure kemasyarakatan lainnya Ø Perlunya kebebasan ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. . mengatakan bahwa ilmu merupakan suatu system yang saling berhubungan dan konsisten dari ungkapan-ungkapan yang sifat bermakna atau tidak maknanya dapat ditentukan. yakni nilai relasional antara manusia denagn alam. sosial. dan berbicara tentang fakta semata. Dia membedakan tiga ilmu dengan kepentingan masing-masing Ø Ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris dan analitis. budaya. menyatakan bahwa etika dapat berperan dalam tingkah laku ilmuwan. Dengan kata lian memang ada tanggung jawab dalam diri ilmuwan. karean nilai etis itu sendiri bersifat universal Dalam pandangan ilmu bebas nilai. dsb. Problem ilmu bebas nilai atau tidak bebas nilai sebenarnya menunjukkan suatu hubungan antara ilmu dan etika. ilmu yang tidak bebas nilai memandang bahwa ilmu itu selalu terkait denagn nilai dan harus di kembangkan dengan pertimbangan aspek nilai. Pendapat kedua. Tidak Bebas Nilai Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai. namun dalam struktur logis ilmu itu sendiri tidak ada petunjuk etis yang dipertanggung jawabkan. sebab tujuan utama iolmu adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu itu sendiri di kontruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. baik politis. menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek kemanusiaan. ekonomis. melainkan memahami manusia sebagai sesamanya.

tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. lebih nyaman. bukan nilai. Karena pertanggungjawaban etis dari ilmu lebih bermakna pada keberlangsungan eksistensi manusia. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. bertanggungjawab pada kepentingan umum. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Etika dengan demikian lebih merupakan suatu dimensi pertanggung jawabab moral dari ilmu. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya BAB III PENUTUP . kepentingan pada generasi mendatang. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan . Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. dan bersifat universal . Jika hal ini terjadi ancaman eksistensi manusia dan kerusakan ekologi bisa mudah terjadi dan oleh karenanya pengembangan ilmu juga akan terganggu. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. Yang terpenting dalam ilmu bukanlah nilai melainkan kebenaran. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.Berlainan dengan etika ilmu lebih menekankan pentingnya obyektivitas kebenaran. menjaga keseimbangan ekosistem. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. Tanggungjawab etis. etika memiliki peran yang sangant menentukan tidak hanya bagi pengembangan ilmu selanjutnya tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebenarnya berpihaknya ilmu pada etika bukan berarti menghambat laju pengembangan ilmu. 3. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Apabila diperhatikan dengan seksama. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. Namuan demikian dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi. martabat manusia. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. Supaya terdapat kebebasan. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. Bila kata “kebebasan” dipakai.

Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Jakarta: Bumi Aksara Ø Bahri Ghazali. Usman. yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderal-jenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus. seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada manusia. dan sikap yang baik sesuatu dengan kaidah etika. pembenaran (thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.2005. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. dan Alim.Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. DAFTAR PUSTAKA Ø Surajiyo. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. Dari makalah yang telah saya jelaskan tadi kita dapat mengetahui bahwa etika itu sangat penting bagi pengembangan ilmu. Filsafat Ilmu. 2005. Artinya. sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan. Pertama. pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran (thasdhiq) atau dari . ketika pengembangan ilmu tidak dibarengi dengan etika maka bayangkanlah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya. Akan tetapi.Filsafat Ilmu. dan Misnal Munir. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. proses berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu. Dengan belajar etika diharapkan kita dapat mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut suatu teori-teori tertentu. timbul pula perbedaan penafsiran. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN SUKA Ø Ø Muntasyir. 2000. konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua. Karena ilmu itu diciptakan kemaslahatan umat manusia. Jul 10. '08 8:43 PM for everyone Kaitan antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Category:Other Kaitan Antara Etika dan Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Rizal.

Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang . didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada proses berpikir secara ilmiah. yaitu penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. proses berpikir di dunia ilmiah mempunyai caracara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses berpikir yang ada diluar dunia ilmiah.pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu pengetahuan. dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). dari hal itu diharapkan dapat berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat mendukung pada pembenaran pengetahuan . Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya. Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu. Dalam pembangungan ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Selanjutnya. epistemologi dan aksiologi . Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial. untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view).aksiden manusia. Oleh karena itu. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. yaitu hewan. maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. sementara dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu. sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesiesspesies lainnya karena pengetahuannya. Beberapa tiang penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian yang terdiri dari ontologi. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi. karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit. Landasan dan proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement) yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Sampai sejauh ini. Perlunya penilaian dalam pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan manusia yang diyakininya. Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun.

ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua.memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Francis Bacon dengan Sensualismenya. Mereka -barat. bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu. karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya. karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan. Wiliam James dengan Pragmatismenya. Epistemologi menjadi sebuah kajian. Maka dari itu. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. yaitu menerima. Dia menggunakan kata ini karena dua alasan. belum terlalu lama. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. yakni aliran rasionalis dan empiris. Mereka pandai bersilat lidah. mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Kedua. tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Oleh karena itu. dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Malah tidak sedikit dari ulama Islam. Imanuel Kant. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti. manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. tetapi ia menjadi objek. Atas dasar itu. al Farabi. sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Dalam hal ini. Hegel dan lain-lain. sebenarnya. Dari kaum rasionalis muncul Descartes. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. merekam. . Jabir bin al Hayyan. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya. dan mengolah apa yang ada dalam benak. Pertama. kerendah-hatian dia. al Khawarizmi. ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Mutahhari dengan bukunya "Syinakht". juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina. Dan sebagian darinya telah lenyap. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Sebelumnya. pada waktu itu. Syekh al Thusi dan yang lainnya. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama. Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya.sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini. Berbeda dengan barat.

(2) ilmu eksakta dan matematika. biologi. didasarkan pada suatu sistem. bersifat teknis dan normatif akademik. perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. melakukan sesuatu tehadap objek. Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur. seperti: fisika. (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. ia tidak ingin dikatakan pandai. ilmu pertambangan dan astronomi. tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. maka dengan meningkatnya . Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato. Akan tetapi. artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu. karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. filsafat teoritis dan filsafat praktis. tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme pada proses berpikir. yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni. prosesnya menggunakan cara yang lazim. hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Kalau sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional. Pada kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis.Kebenaran yang riil tidak ada. Meski dia berhasil. (3) sosial dan politik. Oleh karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia. harus memenuhi aspek metodologi. sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Oleh sebab itu. Dalam keadaan seperti ini. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak). Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian. Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai dalam membangun ilmu pengetahuan. salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis. mengikuti metode serta melakukannya dengan cara berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang kebenaran ilimiahnya (kesahihan). (2) urusa rumah tangga. Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan cara sadar. Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan.

hanya saja fakta yang dibuktikan melalui penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati. menurut pertimbangan atau pikiran yang wajar. penginderaan (sensasi) dan kedua. karena paradigma merupakan kata lain dari paradogma atau dogma primer. pemahaman rasional mengandung makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuanpengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi. empiris mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan pemerhatian atau eksperimen. Karena itu sesuatu yang memiliki citra rasional. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang dipengaruhi oleh pengalaman. Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta (sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan). tidak boleh dibantah dan diragukan. yaitu. menurut pikiran yang sehat. waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut pikiran dan timbangan yang logis. Dari terminologi di atas dogma dan paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna. pengetahuan. Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik. melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. sifat alami (fitrah) . Artinya.intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. bukan teori . apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme. Terjadinya sebagian pengamatan pada fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin berubah dengan berubahnya pengamatan. kerangka berpikir . empirisme dan objektivitas merupakan dogma dalam ilmu pengetahuan. pengamatan yang telah dilakukan) . pertama. karena kematangan itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. dan kesadaran yang ada atau model dalam ilmu pengetahuan. Sementara. Berdasarkan terminologi. Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan dari proses penginderaan saja. Dengan demikian rasionalitas mencakup dua sumber pengetahuan. dengan demikian rasionalisme. Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif). menurut nisbah (patut). atau sesuatu yang berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan. . empirisme dan objektivitas. karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin kebenarannya. kemahiran. cocok dengan akal. karena proses penginderaan hanya merupakan upaya memahami empirikal. Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan. empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Dengan demikian penggabungan cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah. percobaan. menurut rasio. Sehingga jika berpikir ilmiah tidak dilandasi oleh rasionalisme.

akumulasi limba-limba toksik. tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. dan lain-lain. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi. yaitu perang. Dalam tahap ini. sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air. dampak rumah kaca. udara. tanah. dan pengrusakan lingkungan hidup. Tingkatan Aksiologi Pengetahuan Dalam filsafat ilmu. musuh kemanusiaan. degradasi eksistensi kemanusiaan. yaitu krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual. eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengrusakan hutan. menurut Bertrand Russel. kepunahan spesies tumbuhan dan hewan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi. moral dan spiritual) yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan. karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri. Dengan demikian jika kita mempertanyakan penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan (realitas). melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam. manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman. jika kita memilih berpikir seperti itu maka sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan menjawab permasalahan kehidupan. maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk mengatasi krisis yang cukup serius.Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan dapat berkembang oleh dirinya sendiri. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom . penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi. Akhirnya. tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia. dalam perjalan dan pencapaian-pencapaiannya. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis. justru menimbulkan masalah lain. misalnya. Misalnya. ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi). Lebih-lebih lagi.

sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Atau kawasan Asia Tengah. Namun yang terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah disebutkan pada pragraf sebelumnya). Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang penting. yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam dan . Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri. seperti nilai moral. Seperti disebutkan sebelumnya. bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini dipagari. justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung” itu. Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. religius. Jepang. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi tabung”. ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan diterapkan. Bahkan. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Untuk sementara. Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau ideologi)? Akan tetapi. dan ideologi. dasar ontologis. yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Konsekuensinya. Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai. kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri. epistemologis dan aksiologis terbentuknya pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. untuk tulisan ini. berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau Socrates. sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis. cukup penting. Menurut dasar-dasar ini.yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga.

hati nurani. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika. Ketika realitas yang berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui). sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. pembicaraan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. adalah pilihan “id” dari kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya. maka itulah tahap epistemologis. kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. pada tingkat aksiologis. Nilai ini menyangkut etika. kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke dalam penerapan pengetahuan itu. di mana ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja pada tataran ontologis. Milsanya dalam pertarungan antara id dan ego. mereka dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya. ada sisi destruktif manusia. tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan manipulatif. berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. maka tentu— atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut kecenderungan alamiahnya. kerusakan lingkungan. Sekaligus pula diperperterang kembali bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar pada tingkatan aksiologis itu. fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo. “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. dikenal konsep diri daru Freud yang dikenal dengan nama “id”. moral. Oleh karena itu. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis. Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan Kembali. tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas. atau malah mungkin kehancuran. dan tanggungjawab manusia dalam . Dalam artian bahwa. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Dalam psikologi. “ego” dan “super-ego”. dan agama tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses itu. Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks.manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal. moral. Oleh karena itu. maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologi. Dalam agama. Jadi. Oleh karena itu. Kisah dua kali perang dunia. yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal. Dalam tahap ini. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). penipisan lapisan ozon.

kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi. dan salah (wrong). Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini. bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. di mana martabat manusia menjadi lebih rendah. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini. Dalam hal ini. ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif. Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi. Dengan kata lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan. Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau teknologi. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak. semestinya (ought to). kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Karena dalam penerapannya. bahkan pemilihan obyek penelitian. berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Hakikat moral. memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral. tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya. fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk.mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Pada tahap kontemplasi. Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu. Bernaung di bawah filsafat moral . maka yang dibicarakan adakah tentang aksiologi keilmuan. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita . sedangkan pada tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. buruk (bad). (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan . yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. Kelompok kedua. masalah moral berkaitan dengan metafisik keilmuan. Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Kelompok pertama. maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. sedangkan dalam penggunaannya. benar (right). etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Keduanya bertalian dengan hati nurani. Etika adalah pembahasan mengenai baik (good). Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo.

Problem terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi perbuatan. etika memainkan peranannya. atau yang mengakibatkan kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Deontologi. Manfaat paling besar yang dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Teori hak ini pantas dihargai terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Intuisionisme. kewajiban atau hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu dalam realisasi pengembangannya.Osdar. Konsekuensialisme. oleh filsuf Yunani kuno. yang mana yang tidak dan mana yang selayaknya. Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk mengukur hasilnya. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan moral yang ada didalamnya. Dari pemahaman tersebut. barangkali orang tidak melihat beberapa aspek penting sebuah problem. yakni mos (jamaknya mores). Artinya kebiasaan. Di sini kata moral dan etika punya arti sama. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam mengambil keputusan–keputusan moral. Selain itu teori ini juga menjelaskan bagiaman konflik hak antar individu. 3. Menurut J. Etika Hak. Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya bersifat etis atau tidak. yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Manfaat paling besar daru teori ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh. Teori ini menempatkan hak individu dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak yang bisa timbul. Teori–teori etika tersebut adalah : 1. Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau aturan-aturan. Aristoteles. karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Suatu perbuatan bersifat etis. selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan hirarkhi hak. Disinilah. melebihi segala hal merugikan. 2. 4. adat. Dengan intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan. Dengan demikian seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan perasaan moralnya. kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”.sosial. Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang menimbulkan dilema nurani mana yang baik. benar. teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan berpijak pada intuisi. etika berkaitan dengan “apa yang seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta apa yang salah dan apa yang benar. Kata moral punya arti sama dengan kosakata etika. bukan berdasarkan situasi. Dengan hanya berfokus pada kewajiban. dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”. bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada tanggungjawab. dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Kata moral berasal dari bahasa Latin. . Ini berarti bahwa yang harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang menguntungkan.

penghormatan kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia. kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- . tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebagaimana dikemukakan. Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom. dan bersifat universal . Bila kata “kebebasan” dipakai. lebih nyaman. Tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata. pelacuran dan sebagainya. merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Supaya terdapat kebebasan. fisuf Jerman. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana kebebasan ini. martabat manusia. tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan lain. tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. menjaga keseimbangan ekosistem. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia. Imanuel Kant. pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi. penggunaan obat bius yang tak terkendali. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia. Terjadi pula fenomena depersonalisasi. Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. kepentingan pada generasi mendatang. dan bukan sekedar perbincangan teoritik “awang-awang” harus dikendalikan secara moral. Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan. Tanggungjawab etis. bertanggungjawab pada kepentingan umum. karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik. karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Namun demikian jelaslah kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama dengan ketidakterikatan mutlak. lebih lama dalam menikmati hidupnya. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah perkembangannya. tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. dapat diungkapkan juga dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar. dehumanisasi. yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri. Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan .Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan atas manusia. yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.

Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia. namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak. maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. memerlukan visi moral yang tepat. bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya. Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada. antara industriawan selaku produsen dengan konsumen. asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. menjelma menjadi “Bagaimana” dari . baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Kemajuan ilmu pengetahuan. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif.politik. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh menimbulkan konflik internal maupun politik. antara manusia dengan lingkungan. secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya. karena menguasai ilmu pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan. Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya. kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Hal ini tentu saja menuntut tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang baik. ilmu dan etika saling bertautan. “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. sekarang. dengan demikian. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan. Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. yang seharusnya .

Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri. Terj. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. ilmuwan secara pribadi. 2002. sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan apa yang sebenarnya terjadi. tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Jakarta: Balai Pustaka As-Shadr.1992. ke 2.1995. kewajiban dan hak. karena berpijak pada intuisi. M. timbul pula perbedaan penafsiran. Penutup Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila. Meski demikan. Pengembangan ilmu harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Muhammad Baqir. Nur Mufid bin Ali. Kajian Filsafat Ilmu. Ed. Ahmad. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”. Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas. 1995. melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan. pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan bukannya berdasarkan situasi. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. mengenai yang halal dan yang haram. Yogyakarta Van Melsen. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya. Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan. G.etika. . M. K. A. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan factual manusia. Bandung: Penerbit Mizan. Lembaga Studi Filsafat Islam. Bertens. Ini dapat dimaknai. bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi moderen dan rekayasanya. menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut. teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan Selain itu. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral. DAFTAR PUSTAKA Charis Zubeir. kemudian muncul teori etika. mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus. maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah. Dr. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum. PT Gramedia Pustaka Utama. “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan. Sebagaimana namanya. Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia. Falsafatuna.

Rosenthal. 1994. Jujun S. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Soewardi. “Filsasfat Ilmu”. Herman. 1997. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa. . ke 3. Bandung. Bakti Mandiri.2003. Suriasumantri. “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi. Keagungan Ilmu Terj.Kamus Dewan. Syed Muhamad Dawilah Syed Abdullah. 1999. sebuah pengantar populer.. Franz. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Ed.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful