PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM DALAM SEJARAH NASIONAL INDONESIA

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sejarah pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Fiska Friyanti NIM 3101401009

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN SEJARAH 2005

i

i ii

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Jum’at : 26 Agustus 2005 Penguji Skripsi

Dra. Santi Muji U., M.Hum NIP. 131876210

Anggota I

Anggota II

Dr. H. A.T Soegito, SH, M.M NIP.130345757

Drs. Jayusman, M.Hum NIP. 131764053

Mengetahui : Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Sunardi, M.M NIP. 131367998

i iii

PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya, pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 26 Agustus 2005

Fiska Friyanti NIM. 3101401009

i iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ¾ Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah kalau tidak ingin digilas oleh roda sejarah dan dijilat oleh apinya sejarah (Ir. Soekarno). ¾ Lebih baik “mati berdiri” daripada “hidup bersujud” (Imanuel). ¾ Jadikanlah kegagalan-kegagalan dimasa lalu sebagai tolak ukur untuk menghadapi hari ini dan masa depanmu (Fiska Friyanti)

Skripsi ini aku persembahkan kepada : • Bapak dan Ibu tercinta, serta “Ibu-ku” tersayang di Surga sana...yang selalu memberikan do’a demi keberhasilanku.. • “Keluarga besarku” yang selama ini telah memberi dukungan kepadaku...terimakasih atas semuanya. • • Adikku Aryana Wisastra dan Aji Wirawan…tunjukkan prestasi Farid Ma’ruf Syahnidar...Aik-ku tersayang...terima kasih atas “sayangmu” selama ini...tanpamu aku rapuh... • Papa, Mama, Idul, Ciput dan “Lintang di surga...”kalian keluarga keduaku. • • Bapak dan Ibu Dosen...terima kasih atas ilmu-ilmunya. Teman-teman seperjuanganku dan Team Supper Zupper (M’Nyoen, pertama?) • • Anak-anak Choirunnisa kost…kalian saudara dan sahabatku Almamaterku tercinta. Mufti dan Dani…Siapa pemegang medali

i v

PRAKATA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, inayah dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “Pelaksanaan Pemilihan Umum Dalam Sejarah Nasional Indonesia”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Studi Strata 1 (S1) pada program studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah banyak membantu dan mendukung selama proses penyusunan skripsi dari awal sampai terselesaikannya skripsi ini, kepada : 1. Dr. H.A.T. Soegito, SH, MM selaku Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Sunardi, M.M selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin pada penulis untuk mengadakan penelitian. 3. Drs. Jayusman M,Hum selaku Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan persetujuan

pengambilan tema skripsi ini. 4. Dr. H.A.T. Soegito SH, MM selaku Pembimbing I yang telah membimbing dan banyak memberikan pengarahan serta motivasi yang sangat berarti dalam menyusun skripsi ini.

i vi

5. Drs. Jayusman M,Hum selaku Pembimbing II yang telah membimbing dan banyak memberikan pengarahan serta motivasi yang sangat berarti dalam menyusun skripsi ini. 6. Bapak dan Ibu dosen jurusan Sejarah yang selama ini telah memberikan ilmu kepada penulis. 7. Komisi Pemilihan Umum (KPU) tingkat Jawa Tengah yang telah memberikan ijin penulis mengadakan penelitian. 8. Segenap pengelola perpustakaan perpustakaan Daerah Jawa Tengah, perpustakaan Universitas Negeri Semarang dan perpustakaan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang. 9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga hasil penelitian dari skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca yang budiman.

Semarang, 26 Agustus 2005

Penyusun

i vii

SARI Friyanti, Fiska. 2005. Pelaksanaan Pemilihan Umum Dalam Sejarah Nasional Indonesia. Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Dr. H. A.T Soegito SH, MM dan Drs. Jayusman M.Hum. 147 hal + xiii Kata Kunci : Pemilihan Umum, Sejarah Nasional Indonesia Pemilihan Umum didalam sejarah nasional Indonesia dilaksanakan beberapa kali yaitu pada masa Orde Lama yaitu tahun 1955, masa Orde Baru tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997 serta pada masa Reformasi pemilihan umum dilaksanakan tahun 1999 dan 2004. Pemilihan umum bagi negara demokrasi seperti Indonesia sangat penting karena Pemilu merupakan penyalur aspirasi rakyat. Pemilu yang telah dilaksanakan di Indonesia memiliki karakteristik sendiri-sendiri dengan kadar kedemokratisan yang berbeda, sehingga kebenaran argumen tersebut perlu dibuktikan agar diperoleh jawaban yang akurat. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum 1955?, Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum masa Orde Baru?, Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi?, Bagaimana perbedaan pelaksanaan pemilihan umum masa Orde Baru dan pemilihan umum masa Reformasi khususnya pemilihan umum 2004?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemilihan umum 1955, untuk mengetahui pelaksanaan pemilihan umum masa Orde Baru, mengetahui pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi, untuk mengetahui perbedaan pelaksanaan pemilihan umum Orde Baru dan Reformasi khususnya pemilihan umum 2004. Penelitian ini menggunakan metode sejarah untuk mengungkap peristiwaperistiwa yang berhubungan dengan masa lalu. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis. Adapun langkah-langkah dalam metode sejarah adalah heuristik yaitu usaha untuk mengumpulkan data, langkah kedua adalah kritik sumber yaitu upaya memperoleh data atau sumber agar benar-benar dapat dihasilkan data yang relevan, langkah yang ketiga adalah interpretasi yaitu menghubungkan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga menjadi rangkaian yang bermakna dan langkah yang terakhir yaitu historiografi yaitu proses penulisan sejarah sebagai proses penyusunan dan penyajian sejarah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Lama sudah dapat dikategorikan sebagai pemilihan umum yang demokratis, dengan adanya banyak partai yang ikut serta dalam pemilihan umum menandakan adanya kebebasan dalam kehidupan berpolitik, sedangkan pada masa Orde Baru kedemokratisan tersebut luntur seiring dengan berkuasanya rezim Soeharto yang selalu mengekang kehidupan berpolitik bangsa Indonesia, pelaksanaan pemilihan umum pada masa Reformasi khususnya pemilihan umum 2004 lebih demokratis karena pelaksanaan pemilu tersebut dapat mewakili aspirasi rakyat apalagi dengan sistem pemilihan umum yang berbeda dengan Pemilu sebelumnya karena dengan sistem kombinasi antara sistem distrik dan

i viii

proporsional maka rakyat dapat mengetahui dan mengenal seperti apakah wakil rakyat yang akan menyalurkan aspirasi mereka. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan pemilihan umum dalam Sejarah Nasional Indonesia yang telah dilaksanakan sejak Orde Lama sampai dengan masa Reformasi maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi khususnya pemilihan umum 2004 merupakan pemilihan umum yang lebih demokratis. Saran yang penulis ajukan adalah agar pelaksanaan pemilihan umum masa yang akan datang dapat dilaksanakan lebih demokratis dan dapat menyalurkan aspirasi rakyat sebagaimana mestinya sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

i ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... PENGESAHAN KELULUSAN ...................................................................... PERNYATAAN............................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................. PRAKATA ......................................................................................................

i ii iii iv v vi

SARI................................................................................................................. viii DAFTAR ISI ................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................ xii DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... 12 C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 12 D. Manfaat Penelitian .................................................................... E. Penegasan Istilah ....................................................................... F. Ruang Lingkup penelitian.......................................................... G. Tinjauan Pustaka ....................................................................... 13 13 16 17

H. Metode Penelitian ..................................................................... 22 I. Sistematika Penulisan .......................................................... …. 27 BAB II SISTEM POLITIK DI INDONESIA DALAM KAITANNYA DENGAN PEMOLIHAN UMUM SEBAGAI SARANA DEMOKRASI A. Sistem Politik Di Indonesia....................................................... 29 1. Sistem Perwakilan Berimbang (Proporsional Representation)............................................ 31 2. Sistem Distrik (Plurality System) .............................................................. B. Pemilihan Umum 1955.............................................................. 1. Landasan Hukum Pelaksanaan Pemilu 1955 ..................... 2. Sistem Pemilihan Umum 1955........................................... 36 43 48 50

i x

3. Kedudukan Panitia Pemilihan Indonesia ........................... 50 4. Kampanye Pemilihan Umum 1955 .................................... 51 5. Peserta Pemilihan Umum 1955.......................................... 52 6. Pelaksanaan Pemilihan Umum 1955.................................. 53 BAB III PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA ORDE BARU DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA REFORMASI A. Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru ................................. 61 1) Pemilihan Umum 1971 ...................................................... 61 2) 3) 4) 5) Pemilihan Umum 1977 ...................................................... Pemilihan Umum 1982 ...................................................... Pemilihan Umum 1987 ...................................................... Pemilihan Umum 1992 ...................................................... 70 73 75 78 80 81 81 92

6) Pemilihan Umum 1997 ...................................................... B. Pemilihan Umum Pada Masa Reformasi ................................. 1. Pemilihan Umum 1999 ...................................................... 2. Pemilihan Umum 2004 ...................................................... BAB IV

PERBEDAAN PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA ORDE BARU DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA REFORMASI A. Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru ................................ 115 B. Pemilihan Umum Pada Masa Reformasi ................................. 125 C. Perbandingan Pelaksanaan Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru Dengan Pemilihan Umum Pada Masa Reformasi .. 131

BAB V

PENUTUP A. Simpulan ................................................................................... 139 B. Saran .......................................................................................... 144

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

i xi

DAFTAR TABEL Tabel Halaman

1. Perbandingan sistem proporsional dan distrik ........................................ 39 2. Perolehan suara Partai Nasinal Indonesia (PNI) ....................................... 55 3. Perolehan suara Masyumi ......................................................................... 56 4. Perolehan suara Nahdlatul Ulama (NU) ................................................... 57 5. Perolehan suara Partai Komunis Indonesia (PKI) ..................................... 58 6. Hasil perolehan kursi 5 partai pemenang pemilihan umum ...................... 87 7. Tahapan pelaksanaan pemilihan umum Legislatif .................................... 92 8. Tahapan pemungutan suara ....................................................................... 93 9. Tahapan pemilihan umum presiden dan wakil presiden ........................... 93 10. Tahapan pemungutan dan penghitungan suara pemilu presiden dan wakil presiden ........................................................................................... 94 11. Tahapan pemilihan presiden dan wakil presiden ...................................... 95 12. Tahapan pemungutan dan penghitungan suara ......................................... 95 13. Hasil pemilihan umum anggota legislatif ................................................. 103 14. Perbandingan pelaksanaan pemilihan umum Orde Baru dan pemilihan umum Reformasi ...................................................................... 137 15. Perbandingan sistem komunikasi politik masa Orde Baru dan masa Reformasi.......................................................................................... 138

i xii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Partai peserta pemilihan umum 1955 2. Partai Politik peserta Pemilu 1971 3. Pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 1971 4. Genealogi Partai Politik peserta pemilihan umum 1977 5. Organisasi Peserta Pemilihan Umum (OPP) 1982-1997 6. Partai politik peserta pemilihan umum 1999 7. Denah Tempat Pemungutan Suara (TPS) 8. Denah tempat penghitungan suara 9. Partai Politik peserta pemilihan umum 2004 10. Contoh surat suara sah 11. Contoh surat suara tidak sah 12. Kandidat capres dan cawapres Pemilu 2004 13. Calon presiden dan wakil presiden yang lolos ke putaran ke dua 14. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih

i xiii

i xiv

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pemilihan umum merupakan sarana pelaksana azas kedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota–anggota DPR, DPRD I dan DPRD II selain itu juga untuk mengisi keanggotaan MPR. Pemilihan umum diselenggarakan setiap lima tahun sekali pada waktu yang bersamaan dan berdasarkan pada Demokrasi Pancasila. Pemungutan suara diadakan secara Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER) (Soemantri1995:108). Pemilihan umum adalah sarana demokrasi untuk membentuk sistem kekuasaan negara yang berkedaulatan rakyat dan permusyawaratan perwakilan. Kekuasaan negara yang lahir dengan pemilihan umum adalah kekuasaan yang lahir dari bawah menurut kehendak rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan umum bertujuan untuk menegakkan prinsip kedaulatan rakyat (Waridah dkk 2003:7) Pemilihan umum bagi negara demokrasi seperti negara Indonesia sangat penting artinya karena menyalurkan kehendak asasi politik bangsa, yaitu sebagai pendukung/pengubah personil–personil dalam lembaga negara, mendapatkan dukungan mayoritas rakyat dalam menentukan pemegang kekuasaan negara terutama pemegang kekuasaan eksekutif serta rakyat secara periodik dapat 1

2

mengoreksi atau mengawasi lembaga eksekutif khususnya dan lembaga negara lain pada umumnya. Pemilihan umum di Indonesia sudah dilaksanakan beberapa kali antara lain pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999 dan 2004. Pemilihan umum 1955 merupakan pemilihan umum yang pertama kali diadakan di Indonesia yaitu pada masa kabinet Burhanudin Harahap. Pemilu 1955 berasaskan pada langsung, umum, bebas, rahasia dan kebersamaan. Dengan asas kebersamaan ini setiap individu diakui kesamaan hak dan kedudukannya sesuai dengan prinsip persamaan di depan hukum. Oleh karena itu pada pemilihan umum 1955 semua wakil rakyat dipilih melalui pemilihan umum dan tidak ada yang diangkat (Asshidique 1994:168). Pada saat itu UUD yang dipakai oleh Negara Kesatuan Republik

Indonesia (NKRI) masih bersifat sementara maka perlu disusun UUD yang baru. Pemilihan umum 1955 yang dilaksanakan pada masa pemerintahan kabinet Burhanudin Harahap diselenggarakan dua kali yaitu : a. Pada tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR. b. Pada tanggal 15 desember 1955 untuk memilih anggota konstituante, dimana konstituante adalah badan yang bertugas menyusun UUD menurut ketentuan UUDS 1950.

3

Adapun peserta pemilihan umum 1955 dapat digolongkan berdasarkan ideologinya antara lain : 1. Partai politik yang beraliran nasionalis : Partai politik peserta pemilihan umum 1955 yang beraliran nasionalis antara lain Partai Nasional Indonesia (PNI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Gerakan Pembela Pancasila, Partai Rakyat Nasional, Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (PPPRI), Partai Buruh, Partai Rakyat Indonesia, PRIM, Partai R.Soedjono Prawirosoedarso, Partai Indonesia Raya Wongsonegoro, Partai Indonesia Raya Hazairin, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (PERMAI), Partai Persatuan Daya. 2. Partai politik yang beraliran Islam : Partai politik peserta pemilihan umum 1955 yang beraliran Islam antara lain Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Partai Islam Perti, AKUI, Partai Politik Tharikat Islam (PPTI). 3. Partai politik yang beraliran komunis : Partai peserta pemilihan umum yang beraliran komunis antara lain Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ACOMA. 4. Partai politik yang beraliran sosialis : Partai yang beraliran sosialis antara lain Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Murba, Partai Rakyat Desa dan Baperki.

4

5. Partai politik yang beraliran Kristen/Nasrani : Partai peserta pemilihan umum yang beraliran Kristen/Nasrani antara lain Partai Kristen Indonesia, dan Partai Katolik (Pabottingi 1998:43). Dalam pemilihan umum 1955 tersebut muncul 4 (empat) partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdlatul Ulama (NU), Masyumi dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sistem Pemilu yang digunakan adalah sistem perwakilan berimbang atau proporsional. Tujuan yang hendak dicapai pada pemilihan umum 1955 adalah hendak mewujudkan keinginan rakyat yang akan menjadi dasar kekuasaan penguasa dan juga untuk membentuk konstituante yang akan menetapkan suatu UUD bagi negara Indonesia. (Tim Sejarah 1996:10) Pada masa Orde Baru terjadi penyelenggaraan pemilihan umum dalam 6 (enam) kali Pemilu yaitu tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Organisasi penyelenggara pemilihan umum pada masa Orde Baru adalah Lembaga Pemilihan Umum (LPU) yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri. Dari sejumlah pelaksanaan Pemilu tersebut terdapat persamaan dan perbedaan. Adapun persamaan dari pelaksanaan Pemilu tersebut antara lain : 1. Landasan ideal dan konstitusionalnya adalah Pancasila dan UUD 1945. 2. Asas pelaksanaan Pemilu adalah langsung, umum, bebas dan rahasia (LUBER) 3. Sistem pelaksanaan Pemilu adalah sistem perwakilan berimbang dengan stelsel daftar. 4. Sistem kepartaiannya adalah sistem multi partai atau lebih dari dua partai.

5

5. Pemilu untuk memilih wakil–wakil rakyat yang duduk dikursi lembaga DPR, DPRD I dan DPRD II. (Tim Sejarah 1996:11) Perbedaan dari pemilihan umum yang dilaksanakan pada masa Orde Baru adalah pada landasan operasionalnya serta jumlah kursi dalam DPR dan MPR. Pada pemilihan umum 1971 peserta pemilihan umum antara lain : Partai Katolik, Partai Serikat Islam Indonesia, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia, Golongan Karya, Partai Kristen Indonesia, Partai Nasional Indonesia, Partai Islam Perti, Partai Murba, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (Waridah dkk 2003:8) Pemilihan umum pada tahun 1977–1997 hanya diikuti oleh 2 (dua) partai politik dan 1 (satu) Golongan Karya, sesuai dengan ketetapan MPR dalam rangka penyederhanaan sistem kepartaian di Indonesia maka pada tahun 1973 diadakan penyederhanaan partai politik yaitu : 1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) : Partai ini merupakan partai fusi dari empat partai Islam yaitu antara lain Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Islam Perti. 2. Golongan Karya 3. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Partai Demokrasi Indonesia merupakan fusi dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai

6

Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Murba (Sukarna 1990:34). Dalam pemilihan umum periode berikutnya yaitu pada masa Reformasi, yang ditandai dengan lengsernya pemerintahan Soeharto pada tanggal 20 Mei 1998, awalnya Presiden Soeharto berupaya untuk memperbaiki program Kabinet Pembangunan VII yaitu dengan mengubah kabinetnya menjadi Kabinet Reformasi, tetapi dengan mendasarkan pada pasal 8 UUD 1945 Presiden Soeharto terpaksa menyerahkan kepemimpinannya pada Wakil Presiden Dr. BJ Habibie (Waridah dkk 2003:59). Pada tahun 1999 diadakan pemilihan umum dengan tujuan mendapat legitimasi dari rakyat kepada pemerintah yang selama ini hilang karena ketidakpercayaan rakyat pada pemerintahan Soeharto. Pada Pemilu kali ini sangat berbeda dengan Pemilu pada masa Orde Baru terutama jumlah peserta Pemilu, DPR berhasil menetapkan 3 (tiga) undang–undang politik baru. Undang–undang yang diratifikasi pada tanggal 1 Februari 1999 dan ditandatangani Habibie itu adalah undang–undang partai politik, pemilihan umum dan susunan serta

kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Lahirnya undang–undang politik tersebut menyebabkan kehidupan politik di Indonesia menjadi berubah. Hal itu memicu munculnya partai–partai politik yang jumlahnya cukup banyak, tidak kurang dari 112 partai politik lahir. Dari sekian banyak partai politik hanya 48 partai yang berhak mengikuti pemilihan umum. Sebagai pelaksana pemilihan umum adalah Komisi Pemilihan Umum

7

(KPU) bukan lagi Lembaga Pemilihan Umum (LPU) dimana anggota KPU terdiri atas wakil dari pemerintah dan partai politik peserta pemilihan umum (Waridah 2003:83). Adapun peserta pemilihan umum 1999 dapat digolongkan berdasarkan ideologinya : 1. Partai politik beraliran nasionalis : Peserta pemilihan umum 1999 yang beraliran nasionalis antara lain: Partai Indonesia Baru, Partai Nasonal Indonesia Supeni, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Kebangsaan Merdeka,Partai Pilihan Rakyat, Partai Rakyat Indonesia, PNI Front Marhaen, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan, Partai Republik, PNI Massa Marhaen, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan, Partai Daulat Rakyat, Partai Cinta Damai, Partai Nasional Bangsa Indonesia, Partai Bhineka Tunggal Ika, Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia, Partai Nasional Demokrat. 2. Partai politik yang beraliran Islam : Partai politik peserta pemilihan umum 1999 yang beraliran Islam antara lain Partai Kebangkitan Muslim Indonesia, Partai Umat Islam, Partai Kebangkitan Umat, Partai Masyumi Baru, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Abul Yatama, PSII 1905, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Islam Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Umat Muslimin Indonesia

8

3. Partai politik yang beraliran Kristen/Nasrani ; Partai politik peserta pemilihan umum 1999 yang beraliran

Kristen/Nasrani antara lain Partai Kristen Indonesia dan Partai Katolik Demokrat. 4. Partai politik beraliran sosial demokrat Partai politik peserta pemilihan umum 1999 yang beraliran sosial demokrat antara lain Partai Aliansi Demokrat Indonesia, Partai Demokrasi Kasih Bangsa, Partai Rakyat Demokratik, Partai Murba, Partai Golongan Karya, Partai Uni Demokrasi Indonesia, Partai Buruh Nasional, Partai Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong, Partai Keadilan dan Persatuan, Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia, Partai Pekerja Indonesia (Gaffar 2004:357) Pemilihan umum yang terakhir adalah pemilihan umum 2004 yang pelaksanaannya melalui beberapa tahapan. Undang–Undang No.3 tahun 1999 tentang pemilihan umum sebagaimana telah diubah dengan UU No. 4 tahun 1999 sudah tidak sesuai dengan amandemen UUD 1945 serta tuntutan dan perkembangan dinamika masyarakat. Berdasarkan amandemen UUD 1945 dan perkembangan dinamika masyarakat dengan persetujuan DPR dan Presiden RI maka ditetapkan UU RI No. 12 tentang pemilihan umum anggota DPR, DPD dan DPRD serta UU RI No. 23 tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Sama halnya dengan pemilihan umum tahun 1999, pemilihan umum tahun 2004 juga berasaskan pada sifat langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

9

Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Pemilihan umum 2004 sangat berbeda dengan pemilihan umum pada periode-periode sebelumnya. Dimana pada pemilihan umum sebelum periode 2004 adalah menggunakan cara tidak langsung artinya masyarakat hanya memilih gambar partai sedangkan pada pemilihan umum 2004 ini menggunakan cara langsung artinya rakyat memilih wakil–wakil mereka secara langsung dengan cara mencoblos gambar partai, gambar calon legislatif serta gambar calon presiden dan wakil presiden. Dimana pemungutan suara dalam pemilihan umum 2004 ini melalui 3 tahapan yaitu : 1. Pemungutan suara tahap I : Pada tanggal 5 April 2004 diadakan pemungutan suara untuk memilih calon anggota DPR, DPD dan DPRD. 2. Pemungutan suara tahap II : Pemungutan suara tahap kedua ini dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2004 untuk memilih calon presiden dan wakil presiden. Dimana ada 5 (lima) pasang calon presiden dan wakil presiden, pemungutan suara tersebut adalah tahapan yang pertama artinya jika dua pasang Capres dan Cawapres belum memenangkan suara sebesar 50 % maka dilanjutkan pada pemungutan suara yang ketiga (pemilihan presiden dan wakil presiden tahap kedua).

10

3. Pemungutan suara tahap III : Pemungutan suara tahap ketiga ini adalah memilih Capres dan Cawapres yang dilaksanakan pada tanggal 20 September 2004. Adapun partai politik peserta pemilihan umum 2004 antara lain : 1. Partai politik yang beraliran nasional : Partai politik peserta pemilihan umum 2004 yang beraliran nasional antara lain Partai Nasional Indonesia Marhaenisme, Partai Merdeka, Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Damai Sejahtera, Partai Patriot Bangsa, Partai Persatuan Daerah, Pelopor, Golongan Karya. 2. Partai politik yang beraliran Islam : Partai politik yang beraliran Islam antara lain Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera. 3. Partai politik yang beraliran sosial demokrat : Partai politik peserta pemilihan umum 2004 yang beraliran sosial demokrat antara lain Partai Buruh Sosial Demokrat, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan, Partai Demokrasi, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Serikat Indonesia (Tim Litbang Kompas 2004:327–342). Partai

11

Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang ikut dalam pemilihan umum tahap I adalah sebagai berikut : 1. H. Wiranto, SH dan Ir. H. Salahudin Wahid 2. Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH. A. Hasyim Muzadi 3. Prof. Dr. H. M Amien Rais dan DR. Ir. H. Siswono Yudohusodo 4. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. Moh. Jusuf Kalla 5. Dr. H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar M, Sc. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang lolos pada tahap kedua antara lain : 1. Hj. Megawati Sokarnoputri dan KH. A. Hasyim Muzadi 2. H. Soesilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muh. Jusuf Kalla Pemilihan umum yang telah dilaksanakan di Indonesia memiliki karakteristik sendiri–sendiri yang sangat menarik untuk diteliti terutama pemilihan umum pada masa Orde Baru dan pemilihan umum 2004. Perbandingan yang dimaksud disini adalah asas pemilihan umum, pelaksanaan pemilihan

umum, serta dampak bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam penelitian ini penulis lebih memfokuskan penelitian pada pemilihan umum pada masa Orde Baru dengan pemilihan umum masa Reformasi, khususnya pemilihan umum 2004. Bertolak dari pemikiran diatas peneliti bermaksud mengangkat permasalahan tersebut dalam penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Pemilihan Umum Dalam Sejarah Nasional Indonesia “.

12

B. PERMASALAHAN Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas maka muncul permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum 1955 ? 2. Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru (1971, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997) ? 3. Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi (1999 dan 2004)? 4. Bagaimana perbedaan pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru dengan pemilihan umum masa Reformasi khususnya pemilihan umum 2004 ?

C. TUJUAN PENELITIAN Berkaitan dengan permasalahan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian ini bertujuan : 1. Untuk mengetahui pelaksanaan pemilihan umum 1955 . 2. Untuk mengetahui pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru (1971, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997) . 3. Untuk mengetahui pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi tahun 1999 dan 2004. 4. Untuk mengetahui perbedaan pelaksanaan pemilihan umum pada Orde Baru dengan pemilihan umum masa Reformasi khususnya pemilihan umum 2004.

13

D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah : 1. Memberikan bahan referensi bagi penulisan sejarah selanjutnya tentang pemilihan umum yang berlangsung di Indonesia, khususnya pada pemilihan umum Orde Baru dengan pemilihan umum 2004. 2. Manfaat bagi Universitas Negeri Semarang terutama bagi program studi pendidikan sejarah adalah sebagai sumbangan pengetahuan dan sebagai bahan masukan yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan sejarah. 3. Memberikan manfaat pada masyarakat yang memiliki minat atau perhatian terhadap pemilihan umum di Indonesia, khususnya pemilihan umum pada masa Orde Baru dengan pemilihan umum 2004 sehingga dapat menjadi bahan bacaan untuk menambah wawasan secara mendalam tentang pemilihan umum.

E. PENEGASAN ISTILAH Agar kajian yang penulis teliti tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda–beda, maka perlu dibuat penegasan istilah atau batasan judul sebagai konsep dari judul penelitian ini, sebagai berikut : 1. Pelaksanaan Pemilihan Umum . Pemilihan umum adalah sarana demokrasi untuk membentuk sistem kekuasaan negara yang berkedaulatan rakyat dan permusyawaratan

perwakilan. Kekuasaan negara yang lahir dari bawah menurut kehendak

14

rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pemilihan umum bertujuan untuk menegaskan prinsip kedaulatan rakyat (Waridah 2000:7). Berdasarkan penjelasan tersebut pelaksanaan pemilihan umum yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemilihan umum yang berlangsung di Indonesia antara lain pemilihan umum yang dilaksanakan pada masa Demokrasi Parlementer (tahun 1955), dimana pemilihan umum 1955 merupakan Pemilu pertama yang dilaksanakan di Indonesia. Selain Pemilu 1955 penulis juga meneliti tentang pemilihan umum yang berlangsung pada masa Orde Baru (tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997). Dan pemilihan umum yang dilaksanakan pada masa Reformasi (tahun 1999 dan 2004). Dalam penelitian ini penulis lebih memfokuskan pada pelaksanaan pemilihan umum Orde Baru dan pemilihan umum 2004. 2. Sejarah Nasional Indonesia. Istilah sejarah berasal dari bahasa arab “Syajarah“ yang berarti pohon, akar, keturunan dan asal–usul. Sejarah adalah gambar tentang peristiwa– peristiwa masa lampau yang dialami oleh manusia, disusun secara alamiah yang meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisa kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami (Hugiono 1992:9). Sejarah Nasional Indonesia menurut H. Moh Yamin dalam buku Tatanegara Majapahit Parwa I bahwa Sejarah Nasional Indonesia menurut paham ilmiah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil

15

penyelidikan peristiwa yang dapat dibuktikan dengan sumber sejarah (Hugiono 1992:5). Suatu titik terang dalam perkembangan sejarah di Indonesia adalah diselenggarakannya seminar sejarah pertama di Yogyakarta tahun 1957 dengan tujuan untuk memperdalam pemikiran tentang sejarah Indonesia

sebagai sejarah nasional serta penulisan buku–buku sejarah untuk sekolah. Pada Agustus 1970 diadakan seminar sejarah II di Yogyakarta. Dalam seminar tersebut disampaikan bahwa penyusunan sejarah Indonesia perlu memenuhi beberapa syarat oleh proses dekolonisasi sejarah Indonesia adalah sejarah yang mengungkapkan sejarah dari dalam dimana bangsa Indonesia sendiri memegang peranan pokok serta proses perkembangan masyarakat Indonesia dapat diterangkan sejelas–jelasnya dengan menguraikan faktor yang mempengaruhinya, baik ekonomis, sosial maupun politik (Poesponegoro 1993:xii–xiii). Sejarah Nasional Indonesia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peristiwa masa lampau tentang pemilihan umum yang pernah dilaksanakan di Indonesia yaitu pada masa Orde Lama, masa Orde Baru, dan masa Reformasi. Dalam hal ini penulis lebih menekankan pada pemilihan umum pada masa Orde Baru dan pemilihan umum 2004.

16

F. RUANG LINGKUP PENELITIAN Untuk menghindari terjadinya kerancuan dalam penginterpretasian pembahasan masalah, diperlukan pembatasan lingkup penelitian yang mencakup : 1. Skope Temporal. Skope temporal dalam penulisan skripsi ini adalah meliputi babakan waktu sejarah sejak dimulainya Pemilu di Indonesia yaitu tahun 1955 sampai 2004, khususnya tahun dilaksanakannya pemilihan umum yaitu 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999 dan 2004. Tahun–tahun tersebut sangat penting bagi penelitian ini karena pada tahun tersebut adalah waktu dilaksanakannya pemilihan umum. 2. Skope Spatial Skope spatial menunjuk pada tempat yang menjadi objek penelitian dan fokus kajian yaitu wilayah Indonesia sebagai tempat dilaksanakannya pemilihan umum. Dengan adanya batasan tempat ini maka akan lebih mudah mempelajari secara lebih mendalam terhadap fokus kajian penelitian untuk mendapatkan data–data penelitian yang sesuai, akurat serta lebih dapat dipercaya kebenarannya. 3. Skope Kajian Skope kajian disini menunjuk pada bidang atau yang akan dikaji dalam penulisan skripsi ini adalah perbandingan pelaksanaan pemilihan umum yang dilaksanakan di Indonesia. Dalam hal ini penulis lebih memfokuskan pada perbandingan pemilihan umum Orde Baru dengan pemilihan umum 2004.

17

G. TINJAUAN PUSTAKA Studi yang membahas mengenai sejarah politik dan pemerintahan dari negara–negara dunia sudah demikian banyak dengan demikian maka minat terhadap sejarah perpolitikan dan pemerintahan ini semakin lama mendapatkan tempat bagi peneliti sejarah. Studi tentang sejarah pemilihan umum yang berlangsung di Indonesia, diantaranya Sri Soemantri dalam bukunya yang berjudul DPR RI Semasa Orde Baru. Selain memaparkan tentang sistem perpolitikan di Indonesia beliau juga membahas tentang pelaksanaan pemilihan umum yang pernah berlangsung di Indonesia, baik pada masa Demokrasi Parlementer maupun Demokrasi Pancasila. Dalam buku beliau juga menyebutkan tentang dasar–dasar hukum, sistem pemilihan umum, hakikat dan tujuan pemilihan umum. Menurut beliau bahwa dasar hukum pemilihan umum 1971, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997 adalah sama yaitu setiap 5 (lima) tahun sekali diperbaiki. Selain itu suasana sistem politik dan posisi presidennya juga sama. Pada awalnya pemilihan umum diatur dalam UU No. 15 tahun 1969 yang kemudian diubah dengan UU No. 4 tahun 1975 dan diubah lagi dengan UU No. 2 tahun 1980. Sebuah studi tentang sejarah sistem politik di Indonesia yang dikembangkan oleh Miriam Budiardjo dalam bukunya yang berjudul Demokrasi Indonesia (Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Pancasila). Beliau

menjabarkan tentang hal–hal yang empiris seperti partai politik, pemilihan umum dan DPR yang ada di Indonesia. Tulisan beliau juga mencerminkan optimisme

18

terkendali bahwa setelah pemilihan umum 1955 sistem politik di Indonesia akan lebih baik. Tetapi dalam kenyataannya bahwa harapan tersebut tidak terwujud sebab pada masa itu dialami secara stagnasi, sekaligus kabinet yang ada pada waktu itu mencakup beberapa partai dengan 4 (empat) partai besar. Hal ini dikarenakan tidak ada satu partai yang memperoleh suara mayoritas yang jelas. Sejarah Nasional Indonesia yang digambarkan oleh Siti Waridah dkk dalam buku yang berjudul Sejarah Nasional Dan Umum didalamnya berisi

tentang perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan sampai upaya-upaya yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mengisi

kemerdekaan. Mengenai pemilihan umum juga disinggung terutama pemilihan umum 1955 dan 1999 yang disebutkan bahwa pelaksanaan pemilihan umum 1999 merupakan upaya pemerintah untuk mendapatkan kembali legitimasi dari rakyat, karena kepercayaan rakyat kepada pemerintah telah hilang karena kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang dilakukan oleh rezim Soeharto. Buku ini menambah referensi bagi penulis terutama dalam hal sistem politik di Indonesia. Dalam buku yang berjudul Demokrasi Pancasila Dan Ketahanan Nasional yang ditulis oleh S. Pamudji yang menjabarkan tentang pelaksanaan atau mekanisme Demokrasi Pancasila. Menurutnya mekanisme Demokrasi Pancasila sudah diatur dalam UUD 1945 baik yang berkaitan dengan pelaksanaan Demokrasi Pancasila pada lembaga–lembaga konstitusi di tingkat pusat maupun yang berkaitan dengan pelaksanaan Demokrasi Pancasila di tingkat daerah. Beberapa prinsip Demokrasi Pancasila juga diuraikan dengan lengkap diantaranya

19

mengenai cita–cita negara, paham unitarisme, kesatuan paham negara hukum, paham konstitusi dan supremasi MPR. Disamping itu Pamudji juga menyampaikan mekanisme pada kehidupan politik rakyat. Menurutnya pelaksanaan Demokrasi Pancasila dibidang kehidupan politik rakyat berpegang pada UUD 1945 dan UU No 3 tahun 1975 sebenarnya bertujuan mengakui kekuatan–kekuatan sosial politik telah ada yaitu 2 (dua) Partai Politik dan 1 (satu) Golongan Karya yang sekaligus mengukuhkan hasil kristalisasi perkembangan kepartaian Orde Baru, tapi ternyata undang–undang tersebut belum dapat menghilangkan sama sekali ciri–ciri kepartaian pada masa lalu. Terbukti dengan adanya kelonggaran–kelonggaran yang dimungkinkan pada pasal 2 ayat (2) yang antara lain menyatakan “azas atau ciri partai politik dan Golongan Karya yang telah ada pada undang–undang ini adalah juga azas atau ciri partai politik dan Golongan Karya “. Dalam buku R. William Liddle yang berjudul Pemilu-Pemilu Orde Baru Pasang Surut Kekuasaan Politik. Liddle menunjukan bagaimana rangkaian Pemilu tersebut mencerminkan proses electoral yang dikelola serta dikendalikan secara sangat berencana dan keta. Untuk menegaskan keabsahan pemerintah kepada rakyatnya dan dunia luar, sementara pada yang bersamaan menghindari sejauh mungkin pertarungan diantara kekuatan-kekuatan politik yang bersaing. Buku ini merupakan semacam reakaman sejarah mengenai bagaimana pmerintah Orde Baru yang merupakansatu-satunya pemerintah dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia yang duduk di kursi pemerintahan melalui proses pemilihan

20

umum secara bertahap melalui berbagai strategi lembaga serta doktrin poitik dan ekonomi meneguhkan kekuasaaannya diatas landasan yang sangat kokoh, stabil dan efektif (Liddle 1994). Uraian Muhadi Sugiono yang dimuat dalam buku Riza Noer Arfani, menjabarkan tentang perangkat kelembagaan Orde Baru. Ada dua tipe perangkat kelembagaan yang di bahas dalam bagian ini yaitu lembaga–lembaga yang ada di dalam pemerintah dan lembaga–lembaga antara yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan lembaga–lembaga pemerintahan. Lembaga–lembaga

pemerintah itu mencakup lembaga–lembaga kepresidenan yang menjadi pusat kegiatan politik di Era Orde Baru lembaga legislatif yang sering tidak diperhitungkan, lembaga birokrasi yang menjadi mesin politik dan ekonomi yang efektif bagi rezim Orde Baru dan lembaga militer (ABRI) yang memiliki fungsi ganda yang khas sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan kekuasaan sosial politik. Sedangkan lembaga–lembaga tersebut mencakup partai politik, kelompok kepentingan dan kelompok penekanan secara keseluruhan bagian ini hendak menekankan bahwa perlembagaan itu memiliki kadar dan intensitas yang masih lemah. Dalam buku Sikap Politik Tiga Kontestan yang ditulis oleh Burhan Magenda, bahwa Pemilu merupakan wujud nyata dari demokrasi selalu memberikan perhatian masyarakat , banyak tokoh yang memberikan pendapatnya tentang Pemilu tesebut sehingga selalau muncul pertanyaan tentang berapa jauh sistem LUBER yang dicanangkan pemerintah dipatuhi oleh ketiga Organisasi

21

Peserta Pemilu (OPP).Partai Persatuan Pembangunana, Golongan Karya dan Partai Demokrasi Indonesia berusaha unuk memenangkan pemilihan umum pada masa Orde Baru dengan menetapkan langkah-langkah strategis melalui program partainya agar dapat mengungguli lawannya. (Magenda, 1992). Sejarah Nasional Indonesia VI yang ditulis oleh Marwati Djoenoed

Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto disampaikan tentang Sejarah Nasional Indonesia. Buku Sejarah Nasional Indonesia merupakan buku babon penulisan Sejarah Indonesia, yaitu sejak seminar sejarah Indonesia yang dilaksanakan di Yogyakarta untuk pertama kalinya. Sampai sekarang sudah terbit buku Sejarah Nasional Indonesia sebanyak 6 (enam) jilid, mulai dari Indonesia zaman prasejarah sampai pada Indonesia baru. Dalam buku Sejarah Indonesia VI ini banyak sekali membantu penulis dalam melakukan penelitian terutama mengenai Sejarah Indonesia, sehingga penulis tidak kesulitan memaparkan tentang Sejarah Indonesia. Dalam buku Kilas Balik Pemilihan Presiden 2004 yang ditulis oleh Koirudin, menjabarkan bahwa buku ini merupakan salah satu dokumen dan kajian pemilihan umum 2004 dengan harapan dapat bermanfaat untuk pemilihan umum yang akan datang melalui perubahan amandemen Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang pemilihan Presiden. Sehingga pelaksanaan pemilihan umum untuk mas ayang akan datang dapat dilaksanakan lebih demokratis lagi (Koirudin, 2004).

22

Selain buku-buku tersebut penulis juga berpegang pada dokumen yang diterbitkan oleh Lembaga Informasi Nasional yang berjudul Buku Panduan Pelaksanaan Pemilihan Umum 2004, dimana dalam buku tersebut berisi tentang semua informasi mengenai pemilihan umum 2004 baik pemilihan anggota DPR, DPD dan DPRD maupun pemilihan presiden dan wakil presiden. Dalam buku tersebut menjabarkan tentang tata cara pelaksanaan pemilihan umum 2004 secara mendetail sehingga sangat membantu penulis untuk meneliti tentang

perbedaannya dengan pemilihan umum pada masa Orde Baru.

H. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode sejarah guna mengungkap kejadian– kejadian yang berhubungan dengan masa lalu. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman sejarah (Gottschlak 1983:40). Adapun langkah–langkah dalam metode sejarah adalah : 1. Heuristik Dalam pengumpulan data yang berupa sumber–sumber sejarah peneliti telah mendatangi beberapa perpustakaan, kegiatan yang dilakukan dalam metode ini adalah dengan mengumpulkan sumber-sumber seperti buku atau literatur yang sesuai dengan topik penelitian, dokumen yang telah dicetak, surat kabar dan internet.

23

a. Perpustakaan UNNES Penulis menemukan buku–buku yang berisi kegitan dan peristiwa– peristiwa yang terjadi di Indonesia setelah Indonesia merdeka. Buku–buku tersebut menampilkan tentang beberapa partai–partai politik peserta pemilihan umum pada masa Orde Baru dan partai politik peserta Pemilu 2004. Buku–buku yang lainnya juga menampilkan peristiwa–peristiwa penting yang dibutuhkan oleh penulis seperti pemilihan umum dan kebijakan luar negeri. b. Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah Di perpustakaan wilayah Jawa Tengah banyak ditemukan buku-buku yang relevan dengan penulisan skripsi ini seperti buku DPR RI semasa Orde Baru yang ditulis oleh Prof. Dr. Sri Soemantri M, SH, buku Demokrasi Indonesia yang ditulis oleh Dr. H Roeslan Abdulgani yang memaparkan tentang susunan demokrasi di Indonesia. c. Perpustakaan Jurusan Sejarah Di perpustakaan jurusan sejarah penulis juga menemukan buku Sejarah Nasional Indonesia VI yang di tulis oleh Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Buku–buku pendukung seperti buku Pengantar Sejarah yang ditulis oleh Sidi Gazalba dan buku Mengerti Sejarah oleh Louis Gotchlak.

24

2. Kritik Sumber Kritik sumber merupakan langkah dalam upaya memperoleh data atau sumber agar benar–benar dapat dihasilkan data yang relefan. Ada 2 (dua) macam kritik sumber antara lain : a. Kritik Ekstern. Kritik ekstern dilakukan dengan membandingkan sumber yang dijadikan acuan seperti yang telah diperoleh dari surat kabar dan internet, untuk mengetahui apakah terdapat perubahan dan seberapa jauh perubahan itu. Untuk mendapatkan data–data penelitian tentang pemilihan umum 1955, 1971, 1977, 19982, 1987, 1992, 1997, 1999 dan pemiihan umum 2004 yang akurat, peneliti membandingkan beberapa macam buku sehingga dapat mendapatkan sumber yang dapat dipercaya untuk penelitian ini. Adapun langkah-langkah dalam melakukan kritik ekstern yaitu mencari sumber di beberapa tempat yaitu perpustakaan daerah Jawa Tengah, perpustakaan Universitas Negeri Semarang, perpustakaan Jurusan Sejarah, Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah dan internet. Hasil yang penulis dapatkan dalam pengumpulan data berupa dokumen tercetak dan buku-buku yang diperoleh dari berbagai perpustakaan. Sumber yang diperoleh dari perpustakaan kemudian diseleksi dengan permasalahan yang akan dijawab, sumber tersebut diyakini kebenarannya karena telah

25

ada proses cross chek dari sumber-sumber yang berbeda asalnya tetapi mengandung isi yang sama. b. Kritik Intern. Kritik intern bertujuan untuk mengungkap isi sumber yang digunakan dapat dipercaya atau tidak. Kritik intern dapat dilakukan melalui dua cara antara lain: a. Penilaian intrinsik sumber dengan menentukan sifat sumber baik dari sumber data maupun buku, apabila sesuai dengan tema maka dapat digunakan sebagai acuan dalam kegiatan ini penlis membandingkan sumber buku yang sesuai dengan topik penelitian. b. Memberikan penilaian terhadap pengarang apakah sesuai dengan kepentingan di bidangnya atau tidak, kegiatan penulis dalam hal ini adalah yaitu dengan memberikan penilaian kepada penulis buku antara lain R. Liddle William dalam buku “Pemilu Orde Baru Pasang Surut Kekuatan Politik” yang menggambarkan mengenai bagaimana pemerintah Orde Baru satu-satunya pemerintah dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia yang duduk di kursi pemerintahan melalui pemilihan umum secara bertahap. Dalam melakukan penulisan ini beliau menjadikan pengalaman pribadinya sebagai pengamat politik terkemuka yang memperoleh gelar doktor dari Yale University Amerika serikat tahun 1967 dan sekarang menjabat sebagai Guru Besar di Departemen Ilmu-Ilmu Politik Ohio State University.

26

Kritik ekstern dan intern dalam penelitian ini diarahkan untuk menjawab permasalahan dalam penulisan skripsi ini, maka setelah dipilih sumber sejarah yang dapat dipercaya kebenarannya agar dapat dipertanggungjawabkan. 3. Interpretasi Interpretasi berupaya untuk menetapkan sejauh mana saling

berhubungannya antara fakta dan data. Hubungan antara fakta dan data ini diharapkan dapat menceritakan secara kronologi mengenai peristiwa yang satu dengan yang lain. Dalam melakukan interpretasi peneliti menganalis antara fakta dan data sehingga menjadi suatu kesatuan kalimat yang jelas dan bermakna sehingga mampu mengambil kesimpulan. 4. Historiografi Historiografi sebagi proses penyusunan danpenyajian sejarah berasal dari pemikiran serta kajian pustaka yang diperoleh dari bebrapa sumber. Histriografi bertujuan untuk menyajikan peristiwa untuk

dipertanggungjawabkan kebenarannya. Penulis berusaha menyusun cerita menurut peristiwa berdasarkan kronologi dan agar dapat menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terpisah menjadi rangkaian peristiwa yang masuk akal dalam mendekati kebenaran

27

I. SISTEMATIKA SKRIPSI Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dari penulisan skripsi yang berjudul “PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM DALAM SEJARAH NASIONAL INDONESIA” akan ditulis dalam sebuah sistematika skripsi sebagai berikut : Bab I Pendahuluan Pada bab ini mencakup latar belakang masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, ruang lingkup penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan skripsi. Bab II Sistem Politik Di Indonesia Dalam Kaitannya Dengan Pemilihan Umum Sebagai Sarana Demokrasi. Pada bab ini akan diuraikan tentang gambaran umum sistem politik di Indonesia dalam kaitannya dengan pemilihan umum. Disamping itu juga akan dibahas mengenai pemilihan umum 1955 sebagai pemilihan umum yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Bab III Pelaksanaan Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru Dan Era Reformasi. Pada bab ini akan dijelaskan tentang pemilihan umum pada masa Orde Baru dan masa Reformasi yang dilaksanakan pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999 dan 2004 dimana masing masing pelaksanaan Pemilu tersebut memiliki karakteristik sendiri–sendiri.

28

Bab IV Perbandingan Pelaksanaan Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru Dan Pemilihan Umum Pada Masa Reformasi. Dalam bab ini akan dibahas mengenai perbandingan pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru dengan pemilihan umum pada masa Reformasi terutama pemilihan umum 2004, antara lain mengenai asas pemilihan umum, sistem pemilihan umum, pelaksanaan pemilihan umum serta hasil pemilihan umum. Bab V Penutup Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya mengenai pelaksanaan pemilihan umum dalam Sejarah Nasional Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1977, 1999 dan 2004. Bagian akhir berisi tentang daftar pustaka dan lampiran–lampiran.

29

BAB II SISTEM POLITIK DI INDONESIA DALAM KAITANNYA DENGAN PEMILIHAN UMUM SEBAGAI SARANA DEMOKRASI

A. Sistem Politik Di Indonesia Dalam ilmu politik sistem pemilihan umum diartikan sebagai kumpulan metode atau cara warga masyarakat memilih para wakil mereka. Pada saat sebuah lembaga perwakilan rakyat baik DPR/DPRD dipilih maka sistem pemilihan

mentransfer jumlah suara ke dalam jumlah kursi. Sementara itu pemilihan presiden, gubernur dan bupati yang merupakan representasi tunggal dalam sistem pemilihan dasar jumlah suara yang diperoleh menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dengan melihat kenyataan itu maka betapa pentingnya sistem pemilihan dalam sebuah demokrasi. Hal–hal yang sangat perlu diperhatikan dalam sistem pemilihan adalah apa yang disebut dengan “electrocal formula“ yaitu apakah menggunakan sistem pluralitas yang di Indonesia disebut sebagai sistem distrik atau sistem proporsional representation dengan berbagai macama variasinya, seperti non transferable vote, d’hondt rule, sainte lague dan lain–lain. Electrocal formula menentukan alokasi kursi yang akan diberikan kepada masing–masing partai yang bersaing. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah menyangkut district magnitude yaitu jumlah wakil rakyat yang dipilih dalam sebuah distrik dapat

29

30

berbeda satu sama lain karena perbedaan jumlah penduduk. Besaran kursi yang diperebutkan bagi sebuah distrik merupakan sesuatu yang sangat penting, dikarenakan akan menentukan nasib partai–partai politik di kemudian hari. Ada negara yang menggunakan wilayah negara sebagai distrik seperti Indonesia sehingga memungkinkan partai kecil akan mendapatkan kursi. Tetapi ada negara yang membagi wilayahnya ke dalam distrik dengan besaran yang berbeda. Ada satu distrik yang menyediakan lima sampai enam kursi untuk diperebutkan, sementara itu ada pula distrik yang hanya menyediakan satu sampai dua kursi. Kalangan ilmuwan politik menyatakan bahwa semakin besar magnitude sebuah distrik akan semakin besar partai kecil akan terlindungi. Dan sebaliknya kalau distrik magnitude kecil, maka partai yang memperoleh 10 % dari total suara tidak akan memiliki peluang. Banyak sekali kritik yang disampaikan terhadap sistem perwakilan berimbang dalam 6 (enam) kali pemilihan umum karena selalu mengakibatkan Golongan Karya yang didukung birokrasi dan angkatan bersenjata mendapatkan keuntungan yang akhirnya menjadi partai pemerintah. Sebuah partai yang hegemonik, dilain pihak banyak yang mengajukan usul agar melaksanakan sistem distrik dengan harapan bahwa sistem yang terakhir ini akan menciptakan proses Pemilihan Umum berjalan dengan lancar dan lembaga perwakilan rakyat yang di hasilkan akan lebih baik pula. Menurut penulis bukan sistem pemilihan umum yang menjadi persoalan utama dalam setiap Pemilu di Indonesia, tetapi proses penyelenggaraan pemilihan umum yang tidak demokratis dengan segala

31

implikasinya yang membuat permasalahan politik menjadi lebih kompleks dan tidak demokratik. (Gaffar 2004:257) Ada dua model sitem pemilihan umum dengan segala kelebihan dan kekurangannya jika dijalankan di Indonesia. 1. Sistem Perwakilan Berimbang (Proporsional Representation) Menurut Arend Lijphart bahwa sistem Proportional Representation atau perwakilan berimbang merupakan sistem pemilihan yang paling banyak dipergunakan oleh negara–negara yang pemilihan umumnya berlangsung secara demokratik dan kompetitif. Sistem ini memperlihatkan gejala yang menarik dimana proporsi kursi yang dimenangkan oleh sebuah partai politik dalam sebuah wilayah pemilihan akan berbanding seimbang dengan proporsi suara yang diperoleh partai tersebut dalam pemilihannya. Dalam sistem ini langkah pertama yang harus ditempuh adalah menentukan alokasi jumlah kursi pada sebuah wilayah pemilihan. Inilah yang dikenal sebagai “distrik magnitude“. Di Sulawesi Selatan jumlah kursi yang diperebutkan adalah 23 untuk tingkat DPR, sementara di Jawa Timur adalah 64 kursi. Di Indonesia jumlah kursi yang diperebutkan itu ditetapkan atas dasar jumlah wilayah administratif pemerintahan (Kabupaten/Kodya) dan jumlah penduduk. Langkah kedua adalah menentukan berapa quota untuk dipenuhi sebuah partai politik untuk mendapatkan satu kursi di DPR. Menurut ketentuan yang berlaku di Indonesia quota untuk sebuah kursi adalah 400.000

32

suara, artinya setiap Partai Politik yang secara nasional mampu memperoleh quota tersebut akan dijamin mendapatkan kursi di DPR. Sistem perwakilan berimbang terdiri dari banyak variasi terutama dalam mengalokasikan kursi kepada partai yaitu antara lain : 1. Sistem Perwakilan Berimbang dengan daftar tertutup (Closed List System). Dalam sistem ini masyarakat memilih partai bukan calon legislatif, biasanya pimpinan partai memainkan peranan penting yang sangat berguna untuk menentukan daftar dan ranking yang telah di buat oleh pimpinan partai. Apabila ada 7 (tujuh) kursi yang tersedia pada sebuah distrik maka partai akan mengajukan paling tidak 7 (tujuh) orang calon. Dan kalau sebuah partai memenangkan 3 (tiga) kursi maka calon yang menduduki ranking 1, 2 dan 3 yang akan mendapatkan kursi. Sistem inilah yang dipraktekkan di Indonesia sejak pemilihan umum 1971–1997. Dengan sistem ini akan tercipta disiplin yang tinggi dari anggota DPR terhadap partainya. Dan tentu saja pimpinan partai memainkan peranan sentral. Mungkin hal tersebut yang merupakan kelebihan dan sekaligus kekurangan dari sitem perwakilan berimbang yang tertutup. 2. Sistem Perwakilan Berimbang dengan sistem daftar terbuka (Open List System). Dengan sistem ini para pemilih tidak hanya memilih partai tetapi juga memilih calon yang dikehendaki. Pemilih disamping mencoblos

33

gambar juga mencoblos nama calon yang dikehendaki. Bergantung pada berapa kursi yang disediakan untuk distrik tersebut. Kelebihan sistem ini adalah para pemilih yang menentukan calon, bukan pemimpin partai yang lebih menentukan calon mana yang di kehendaki dan calon mana yang ditolak. Sementara itu peranan pimpinan partai menjadi sangat terbatas. Hanya saja sistem ini akan menjadi rumit bagi masyarakat yang tingkat kemampuan baca dan tulisnya rendah. Apalagi kalau masyarakat pemilihnya banyak yang buta huruf. Sistem ini menjadi tidak praktis untuk digunakan di Indonesia menghingat kemampuan baca tulis pemilihnya yang belum tinggi (Gaffar 2004:261) 3. Sistem Perwakilan Berimbang variasi The Single Transferable Vote Dalam sistem ini tidak adanya suara yang terbuang, karena suara yang lebih pada seorang calon dapat ditransfer pada calon yang lain. Di dalam sistem ini para pemilih diminta untuk memberikan preferensinya pada beberapa calon yang diajukan dalam wilayahnya. Begitu pemungutan suara selesai maka penghitungan quota dilakukan untuk menentukan berapa jumlah suara yang diperlukan bagi seorang calon untuk mendapatkan kursi (Gaffar 2004:262). Model ini oleh kalangan ilmuwan politik dikatakan sebagai sistem yang terbaik, karena sistem ini memberikan peluang kepada para pemilih untuk menentukan pilihannya dengan baik. Sementara itu peranan dari pimpinan partai menjadi sangat minimal, hanya saja yang perlu di

34

pertimbangkan jika sistem ini digunakan di Indonesia menjadi tidak praktis, mengingat kapasitas sosial masyarakat yang masih terbatas. 4. Sistem Perwakilan Berimbang variasi The Single Nontransferable Vote. Sistem ini merupakan variasi yang lain dari sistem perwakilan berimbang, sistem ini tidak memberikan peluang untuk mentransfer suara dari satu calon ke calon yang lain dalam partai yang sama. Sistem ini digunakan di Jepang untuk memilih majelis rendah. Yang sering menjadi persoalan adalah kalau pimpinan partai memilih strategi yang kemudian ternyata keliru yaitu dengan menggunakan calon sebanyak mungkin. Sementara itu jumlah orang yang hadir untuk memilih (volter’s turned out) sangat rendah. Oleh karena itu bisa terjadi suara yang di berikan terbagi rata, sehingga partai yang kuat tidak mendapatkan jumlah kursi yang diharapkan (Gaffar 2004:263). Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil kesimpulan kelebihan sistem proporsional antara lain : 1. Jumlah wakil setiap partai sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya dalam pemilihan umum secara nasional. 2. Sistem Proporsional juga dianggap lebih adil, karena memberi peluang bagi semua golongan masyarakat termasuk golongan minoritas untuk menampilkan wakilnya dalam parlemen.

35

3. Dalam sistem proporsional tidak terjadi distorsi sehingga dapat menjamin terwujudnya suatu keterwakilan yang sempurna dalam parlemen, karena setiap kelompok pasti akan mendapat wakil dan keterwakilannya terjamin. Dengan kata lain sistem proporsional lebih menjamin eksistensi partaipartai kecil dan menjamin suara rakyat tidak terbuang sia–sia (Mashad 1998:23) Sekalipun sistem perwakilan berimbang tampak lebih mampu menampung aspirasi partai–partai kecil sehingga mengesankan sifatnya yang lebih demokratis, sistem proporsional memiliki sejumlah kelemahan yaitu sebagai berikut : 1. Sistem proporsional mempermudah terjadinya fragmentasi partai, kurang mendorong partai–partai untuk bersatu bahkan sering mempertajam perbedaan, umumnya anggota partai cenderung mendirikan partai baru. 2. Banyaknya partai bersaing akan menyulitkan suara partai untuk meraih suara mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Akibatnya sering terjadi partai yang terbesar meskipun harus berkoalisi dengan beberapa partai lain untuk memperoleh mayoritas dalam parlemen. 3. Sistem proprosional memberikan kedudukan sangat kuat pada partai melalui sistem daftar (list system). Prosedur inilah yang justru menjadi kelemahan sistem proporsional, sebab wakil akhirnya cenderung kurang erat hubungannya dengan masyarakat yang hanya memilih tanda gambar.

36

4. Sistem proporsional cenderung menggeser asas kedaulatan rakyat dengan kedaulatan partai (Mashad 1998:26). 2. Sistem Distrik (Plurality System) Sistem distrik (SD) dikenal sebagai Plurality sistem, pada tahun 1951 seorang tokoh yang bernama Maurice Duverger menyebutnya sebagai simple majority single ballot system. Sementara itu sebagian besar kalangan

ilmuwan politik menyebutnya plurality system. Distrik pemilihan merupakan sebuah wilayah yang garis–garis perbatasannya ditarik sedemikian rupa

sehingga jumlah pemilih yang mendiami suatu distrik kira–kira sebanding dengan jumlah pemilih di distrik–distrik lainnya. Calon yang menang akan tampil sebagai wakil dari distrik itu, menduduki kursi tunggal yang diperebutkan. Satu distrik hanya berhak atas satu wakil calon yang memperoleh suara terbanyak dalam distrik yang menjadi pemenang, sedangkan suara yang mendukung calon kalah dianggap hilang dan tidak di hitung lagi untuk membantu partainya di distrik lain. Dalam sistem distrik ini para pemilih beanar–benar menentukan nasib seorang wakil rakyat. Sehingga tidak berlebihan bila secara umum sistem distrik dapat dikatakan memiliki prosedur pemilihan yang dapat

memaksimalkan perwujudan kedaulatan rakyat, sedangkan partai politik hanya berperan sebagai fasilitator.

37

Adapun kelebihan dan kekurangan dari sistem distrik sebagai berikut : a. Kalangan pemilih akan dekat dengan calon yang mewakili mereka karena calon–calon tersebut berasal dari lingkungan mereka sendiri. Pemilih dapat menentukan siapa diantara para calon tersebut yang dapat diandalkan dan berkualitas serta mampu memperjuangkan nasib mereka. b. Tingkat akontabilitas politik mereka yang menjadi wakil rakyat akan tinggi karena kalau wakil rakyat tersebut tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik maka peluang untuk dipilih kembali menjadi berkurang, karena masyarakat pemilih akan menilainya sebagai seorang yang gagal dan oleh karena itu lebih baik memilih calon baru yang diharapkan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. c. Peranan partai menjadi sangat terbatas, partai hanya menjadi fasilitator dan sama sekali tidak menentukan apakah mampu meyakinkan para pemilih di distriknya untuk memilihnya. Dengan demikian konflik internal partai seperti yang sering kita amati di Indonesia tidak akan terjadi. d. Kemungkinan akan terwujudnya Fuverger’s law yang menyatakan bahwa apabila suatu negara menggunakan sistem simple majority single ballot, maka di negara tersebut nantinya akan terdapat sistem 2 (dua) partai (Gaffar 2004: 267). Tetapi tidak berarti sistem ini tidak memiliki kekurangan, kritik yang paling banyak adalah tingginya tingkat distribusi karena penentuan kemenangan terhadap seseorang bisa saja diberikan pada calon yang

38

memperoleh suara mayoritas. Kritik lain yang sering dibicarakan adalah menguatnya peranan kelompok kepentingan yang tidak jarang mendikte para calon, karena besarnya peranan mereka dalam memberikan dukungan finansial. Seseorang yang mencalonkan diri harus memiliki dana yang kuat dan di dukung oleh jaringan yang kuat dari berbagai pihak. Oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan dalam sistem ini akan munculnya politik uang (money politics). Kontroversi pilihan atas sistem pemilihan sudah berlangsung lama di Indonesia. Ada kelompok yang menghendaki perlunya diadopsi sebuah sistem pluralitas karena ketidakpuasan terhadap pelaksanaan pemilihan umum yang berlangsung 6 kali di Indonesia di bawah pemerintahan Soeharto. Pada pemilihan umum tersebut yang menggunakan sistem perwakilan berimbang (proporsional representation) ternyata dipenuhi oleh usaha-usaha yang sangat tidak demokratis, dalam rangka menjamin Golongan Karya memenangkan pemilihan dengan mayoritas suara yang absolut, sehingga tercipta sistem kepartaian yang hegemonik (Gaffar 1992: 270).

39

Dapat kita bandingkan kedua sistem pemilihan umum ini sebagai berikut: Tabel 1 Perbandingan Sistem Proporsional dan Sistem Distrik
No 1 2 3 Peranan partai Distribusi Kedekatan dengan calon pemilih 4 5 6 7 8 Akontabilitas Money Politic Kualitas Legislatif Calon Legislatif Daerah Basis Pemilihan Rendah Rendah Sama dengan PS Tidak harus putra daerah Daerah basis pemilihan Tinggi Tinggi Sama dengan PR Putra daerah Berbasis pada Sistem Proporsional Kuat sekali Rendah Rendah Sistem Distrik Sangat lemah Tinggi Tinggi

terlepas jumlah penduduk 9 Jumlah Daerah Wakil Tiap Setiap daerah pemilihan

jumlah penduduk Setiap pemilihan daerah hanya

memiliki beberapa beberapa wakil

satu wakil tepilih. Merugikan partai

10

Partai Kecil

Menguntungkan partai kecil karena semua suara dihitung secara proporsional

kecil karena suara yang kalah hilang.

11

Sentralisai / Desentralisasi

Kearah

sistem

sentralisasi

Desentralisasi karena wakil rakyat lebih loyal pada

karena wakil rakyat loyal pada pusat

konstituensinya

40

Banyak kalangan yang berkeyakinan bahwa dengan sistem distrik akan tercipta lembaga perwakilan yang lebih berkualitas dan wakil rakyat akan menjadi dekat dengan masyarakat pemilih. Posisi seperti itu tidak selamanya benar, karena bukan sistem pemilihan yang menentukan derajat kualitas wakil rakyat tetapi proses penyelenggaraan pemilihan umum yang demokratik, tanpa campur tangan pemerintah akan menciptakan sebuah lembaga yang demokratik. Sistem pemilihan umum yang dilaksanakan di Indonesia selama Indonesia mengadakan pemilihan umum antara lain : 1. Pemilihan umum pada masa Orde Lama (1955) : Sistem pemilihan umum yang digunakan adalah sistem perwakilan berimbang dengan daftar tertutup. 2. Pemilihan umum pada masaOrde Baru ( 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997 ) Sistem pemilihan umum yang digunakan adalah sistem perwakilan berimbang dengan daftar tertutup 3. Pemilihan Umum 1999 : Sistem pemilihan umum yang digunakan adalah sistem perwakilan berimbang dengan daftar tertutup 4. Pemilihan Umum 2004 Sistem pemilihan umum yang digunakan adalah campuran dari sistem distrik dan sistem proporsional, dimana sistem perwakilan berimbang yang digunakan adalah sistem perwakilan berimbang dengan daftar terbuka.

41

Negara demokrasi ditandai dengan diselenggarakannya pemilihan umum yang baik. Masalah demokrasi adalah masalah yang kompleks dan berbeda antar negara yang satu dengan negara yang lain, antar negara ekonomi maju dengan negara ekonomi sedang. Dalam negara ekonomi sedang akan mengalami periode demokrasi pada waktu ini Indonesia telah masuk pada demokrasi konsolidasi dimana akan berlangsung evolusi budaya politik yang demokratis, suatu proses yang tidak mudah dan singkat. Adapun hakikat dan tujuan dari pemilihan umum adalah : 1. Menyusun lembaga pemusyawaratan atau perwakilan rakyat untuk

mewujudkan susunan tata kehidupan yang dijiwai semangat pancasila dan UUD 1945. 2. Memilih wakil-wakil rakyat oleh rakyat yang membawa isi hati nurani rakyat dalam melanjutkan perjuangan mempertahankan dan mengembangkan kemerdekaan guna memenuhi dan mengemban amanat penderitaan rakyat (ampera). 3. Pemilihan umum tidak hanya sekedar memilih wakil–wakil rakyat untuk duduk dalam lembaga permusyawaratan atau perwakilan rakyat. 4. Pemilihan umum adalah suatu alat yang penggunaannya tidak boleh merusak sendi–sendi demokrasi tetapi menjamin suksesnya perjuangan Orde Baru yaitu tetap tegaknya pancasila dan dipertahankannya UUD 1945. 5. Tidak untuk menyusun negara baru dengan falsafah baru. 6. Menjamin kesinambungan pembangunan nasional (Soemantri1999:109).

42

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemilihan umum mempunyai arti yang sangat penting. Yang paling pokok adalah sebagai sarana perwujudan keadilan, dimana rakyat memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR yang sekaligus anggota MPR sehingga pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat tersebut. Dalam suatu pemilihan umum yang harus dikaji ada 4 (empat) hal yaitu asas, pelaksana, pelaksananya dan sistem pemilihan umum itu sendiri. Pada pasal 21 ayat (3) pernyataan HAM PBB dinyatakan pemilihan umum dilaksanakan secara berkala, jujur, berkesinambungan, sedangkan pemungutan suara berlangsung secara bebas dan rahasia. Dengan kata lain pelaksanaan pemilihan umum tersebut adalah berkala atau teratur, jujur, berkesinambungan (sederajat), bebas dan rahasia yang bersifat universal. Sebagai perbandingan pada pemilihan umum tahun 1955 yang dilaksanakan berdasarkan UU No. 7 tahun 1953 selain berasaskan pada langsung, umum, bebas dan rahasia, pada pemilu tersebut juga berasaskan pada jujur dan berkesamaan. Adapun asas pemilihan umum yang pernah ataupun yang masih digunakan di Indonesia antara lain : 1. Langsung adalah setiap pemilih memberikan suaranya secara langsung tanpa perantara atau diwakilkan orang lain. 2. Umum yaitu setiap Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah memenuhi syarat dapat ikut serta menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum.

43

3. Bebas adalah pemilih dalam menggunakan hak pilihnya dijamin keamanannya untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya tanpa adanya paksaan dan tekanan dari pihak manapun. 4. Rahasia adalah pilihannya dijamin oleh peraturan dan tidak akan diketahui oleh pihak manapun dan dengan cara apapun ketika menentukan pilihannya/secret ballot. 5. Kebersamaan adalah pemungutan suara diseluruh wilayah Indonesia. 6. Jujur adalah panitia penyelenggaraan pemilihan umum haruslah memberikan informasi sesuai dengan fakta dan peraturan yang berlaku. 7. Adil yaitu panitia penyelenggara pemilihan umum haruslah memberikan perlakuan yang sama dan bebas dari kecurangan pihak manapun. 8. Demokratis yaitu menempatkan rakyat sebagai pengambil keputusan yang dilakukan dengan musyawarah dan voting. B. PEMILIHAN UMUM 1955 Pemilihan umum sebagai salah satu prasyarat bagi berfungsinya sistem pemerintahan yang demokratis, hampir selalu tercantum sebagai program dari Kabinet Parlementer Republik Indonesia tetapi bukan saja keamanan yang masih rawan perhitungan biaya yang cukup tinggi serta permasalahan administrasi yang cukup kompleks, keraguan partai yang sedang berkuasa akan nasibnya setelah pemilihan umum adalah faktor yang memperlambat diadakannya pemilihan umum ini. dilakukan serentak atau bersama

44

Adanya pergantian kabinet yang terus menerus dan menimbulkan instabilitas politik di Indonesia akhirnya pemerintah mengambil tindakan yaitu dengan mengeluarkan UU No 7 tahun 1953 tentang pemilihan umum anggota DPR, keberadaan pemilihan umum dalam usaha kearah penyederhanaan partai politik mempunyai dua tujuan utama yaitu untuk melaksanakan prinsip demokrasi dan mencapai stabilitas politik (Suny 1984:154–157). Akibat dari sistem Kabinet Parlementer dan sistem multi partai yang dianut oleh bangsa Indonesia, maka kabinet yang berkuasa rata-rata tidak

berumur panjang. Dengan demikian kabinet belum berhasil menggarap satupun program yang dibuatnya, sehingga terpaksa harus mengembalikan mandatnya. Hal ini disebabkan oleh partai politik yang menjadi saingannya yang biasanya bertindak sebagai pihak oposisi, dan mereka lebih sering bersikap mencari

kelemahan dari kabinet tersebut untuk menjatuhkan. Tiap partai politik lebih mengutamakan kepentingan partainya daripada kepentingan nasional. Hal ini sangat mengganggu kestabilan pemerintahan dan menghambat pembangunan nasional. Keadaan seperti itu menimbulkan frustasi dan kegelisahan dikalangan rakyat. Oleh karena itu memasuki awal 1955 mulai timbul gejala ketidakpuasan rakyat, yang disusul dengan tuntutan–tuntutan agar segera diadakan pemilihan umum. Dengan pemilihan umum ini diharapkan dapat mengakhiri suasana ketidakstabilan politik, kemudian terbentuklah pemerintah yang stabil dan kuat. Dengan pemerintahan yang kuat dan stabil tiap kabinet dapat

45

menyelesaikan programnya sehingga kestabilan sosial dan ekonomi rakyat dapat terwujud. Pemilihan umum sebagai salah satu sarana untuk melaksanakan demokrasi guna mengikutsertakan rakyat dalam menentukan wakil dan calon pemimpinnya belum dapat diselenggarakan di tahun-tahun awal kemerdekaan, karena revolusi saat itu memang berada dalam suasana dimana kegiatan lebih diarahkan untuk mempertahankan kemerdekaan ditambah pula dengan pertikaian intern di dalam lembaga politik Sebelum pemilihan umum I dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955 tidak kurang dari 5 (lima) kabinet yang telah mencantumkan aktivitas politik tersebut ke dalam programnya. Pemerintah pertama yang menyatakan pemilihan umum sebagai rencananya adalah kabinet RIS yang berkuasa sejak 20 Desember 1949–6 September 1950 ( Sanit 1985:155). Persiapan untuk pemilihan umum mulai diadakan oleh Kabinet Alisastroamijoyo I (31 Juli 1953–12 Agustus 1955). Hal–hal yang dipersiapkan antara lain membentuk panitia pemilihan umum, baik untuk pusat maupun untuk daerah, menetapkan daerah pemilihan dan daerah pemungutan suara. Pada tanggal 16 April 1955 diumumkan bahwa pemilihan umum akan dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR dan tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih anggota konstituante. Dengan adanya pengumuman tersebut maka partai politik mulai

berkampanye untuk menarik simpati rakyat. Kabinet Ali jatuh pada tanggal 24

46

Juli 1955 maka pemilihan umum diadakan pada masa kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955–3 Maret 1956). Sedangkan waktu pemilihan umum yang telah ditetapkan oleh kabinet Ali Sastroamijoyo I tidak mengalami perubahan. Karena dimaksudkan untuk memilih anggota DPR yang akan menjadi dan sekaligus pengawas lembaga eksekutif dan dewan konstituante yang akan membentuk UUD yang baru maka tentu bisa dipahami bahwa pemilihan umum ini cukup menegangkan, dimana pemilihan umum ini akan meletakkan dasar negara dan menentukan perimbangan kekuasaan antar partai–partai. Demikianlah politisasi dari hampir semua aspek sosial terjadi, disaat tatanan negara modern belum begitu memasuki kehidupan masyarakat, maka kampanye pemilihan umum dengan mudah tergelincir pada proses yang membalik. Partai–partai bukannya berperan sebagai perumus aspirasi modern tetapi justru menjadi penyalur asumsi tradisional. Pada tanggal 31 Mei 1954 panitia pemilihan umum mengumumkan tanda–tanda gambar para kontestan. Kampanye pemilihan umum pertama 1955 banyak pengaruhnya terhadap politisasi massa rakyat di desa–desa dan kampung–kampung. Kampanye ini mengakibatkan semakin terlibatnya rakyat dalam masalah-masalah politik yang semakin luas dalam skala yang lebih besar daripada di masa revolusi (Karim 1983:113).

47

Pada tanggal 29 September 1955 pemilihan umum untuk DPR diadakan semuanya berjalan dengan tertib dan lancar. Lebih dari 39 juta pemilih atau 91,5 % calon pemilih yang terdapat di 16 daerah pemilihan (208 kabupaten, 2139 kecamatan dan 43.429 desa) untuk memilih 272 anggota DPR (satu anggota untuk 300.00 pemilih) (Kartasasmita 1984:19). Pemilihan umum 1955 merupakan peristiwa kedua terbesar setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, sehingga dapat diperkirakan bahwa mayoritas rakyat Indonesia antusias sekali menghadapi peristiwa bersejarah tersebut. Apalagi muncul berbagai tuntutan dan harapan dari rakyat agar pemilihan umum dapat mengatasi segala persoalan yang dihadapi bangsa pada saat itu, baik berupa kemelut politik yang berkepanjangan, kemerosotan ekonomi maupun ancaman terhadap keamanan. Secara formal rencana pelaksanaan pemilihan umum baru mendekati kenyataan setelah Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan politik mengenai terbentuknya Panitia Pemilihan Indonesia (PPI). Melalui keputusan Presiden Republik Indonesia tertanggal 7 November 1953, PPI dilantik dan diangkat sumpahnya oleh kepala negara pada tanggal 28 November 1953. Dilanjutkan dengan serah terima dengan Kantor Pemilihan Pusat pada tanggal 3 Desember 1953. Pemerintah pada tahap pertama berhasil menyelesaikan undang–undang yang mengatur susunan DPR (UU No 27 Tahun 1948) dan Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1950 sebagai penjelasan UU susunan DPR. Upaya ini kemudian dilanjutkan pada Kabinet Wilopo yang berhasil merumuskan dan mensyahkan

48

Undang–Undang No 7 tahun 1953 tentang Pemilihan Anggota Konstituante dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang kemudian dikenal sebagai UU Pemilu 1953 ( Pabottingi 1998:20 ). Setelah mengalami berbagai rintangan akhirnya perhelatan politik itu terlaksana juga pada tanggal 29 September 1955. Pemilihan umum pertama yang dilaksanakan di seluruh tanah air kecuali Irian Barat memperebutkan 257 kursi DPR. Pemilihan diikuti oleh 15 daerah pemilihan yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta Raya, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara/Tengah, Sulawesi Selatan/Tenggara, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat dengan jumlah pemilih sebanyak 43.104.464 orang. 1. Landasan Hukum Pelaksanaan Pemilihan Umum Proses persiapan landasan hukum pelaksanaan pemilihan umum sudah dibahas sejak tahun 1948 (pembahasan UU susunan anggota DPR) kemudian diteruskan pada tahun 1949 (menyempurnakan UU susunan anggota DPR). Pada tahun 1953 parlemen berhasil merumuskan UU pemilihan umum yang dipergunakan sebagai pedoman pelaksanaan pemilihan umum 1955, sedangkan UU Pemilu selalu berpedoman kepada UUDS yang berlaku sejak 17 Agustus 1950 dan memuat 146 pasal. 1. Undang–Undang Pemilihan Umum No 27 Tahun 1948 Undang-Undang No 27 tahun 1948 belum mengatur ketentuan pelaksanaan pemilihan umum secara lengkap, tetapi baru mengatur

49

ketentuan susunan DPR. Peraturan ini kemudian dijadikan UU No 27 tahun 1948 dan diundangkan di Yogyakarta pada 28 Agustus 1948, secara garis besar undang-undang ini mengatur susunan keanggotaan DPR, penentuan daerah pemilihan, asas pemilihan dan penghitungan hasil pemilihan 2. Undang–Undang No 12 tahun 1949. Undang–Undang ini dapat disebut juga RUU pertama pemilihan umum dan merupakan cikal bakal dari UU Pemilu 1953. Secara garis besar Undang–Undang Pemilu 1949 tidak jauh berbeda dengan UndangUndang Pemilu 1948, namun agak lebih luas dan tidak ada pengangkatan seperti yang diusulkan dalam undang-undang sebelum ini. Rancangan Undang–Undang ini dibahas dan diminta pengesahannya tetapi dalam bagian–bagian tertentu tidak dapat diterima sehingga kemudian ditolak parlemen. 3. Undang–Undang Pemilihan No 7 Tahun 1953. Undang–Undang No 7 tahun 1953 merupakan Undang-Undang Pemilu pertama yang disahkan oleh parlemen Indonesia. Undang–undang yang berlaku sejak 4 April 1953 itu terdiri dari 16 bab dan 139 pasal yang mencakup berbagai ketentuan pemilihan anggota konstituante dan anggota DPR, pencalonan, penghitungan suara, enetapan hasil pemilihan, pasal– pasal pidana yang memberikan sanksi kepada pelanggaran Pemilu.

50

Meskipun demikian masalah pelaksanaan kampanye tidak diatur dalam undang-undang ini. 2. Sistem Pemilihan Umum 1955 Sistem pemilihan umum yang dipakai dalam pemilihan umum 1955 adalah sistem perwakilan berimbang (proportional representation) yang dikaitkan dengan sistem daftar. Dalam pemilihan umum 1955 ternyata ada 52 kontestan yang terdiri dari partai politik dan perorangan, tetapi yang berhasil meraih kursi hanya 27 partai saja dan satu calon perorangan yaitu R. Soedjono Prawirosoedarso (Purwantara 1994:60). 3. Kedudukan Panitia Pemilihan Indonesia ( PPI ) Didalam UU tidak dijelaskan status Panitia Pemilihan Indonesia ( PPI ) sehingga sering menimbulkan permasalahan. Pada awalnya tugas yang bersifat administratif merupakan tugas yang kedua Mentri Kehakiman dan Mentri Dalam Negeri, sedangkan PPI bertugas mempersiapkan, memimpin dan menyelenggarakan pemilihan anggota Konstituante dan anggota DPR. Kemudian diadakan rapat pleno untuk membahas tentang tugas dari PPI. Berdasarkan keputusan Dewan Menteri pada mei 1954, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan surat edaran pembetulan atas instruksinya tentang status badan–badan penyelenggara pemilihan umum. Didalam menjalankan fungsinya sampai ke daeah–daerah PPI dibantu oleh :

51

1. Panitia pemilihan yang berkedudukan di tiap daearah pemilihan (Propinsi) yang anggotanya diangkat oleh Menteri Kehakiman. 2. Panitia Pemilihan Kabupaten diangkat oleh Mentri Kehakiman. 3. Panitia Pemungutan Suara yang berkedudukan di Kecamatan bertugas mensyahkan daftar pemilih dan menyelenggarakan pemungutan suara. 4. Panitia Pendaftaran Pemilih berkedudukan di desa yang bertugas melakukan pendaftaran pemilih dan menyusun daftar pemilih. 5. Panitia Pemilihan Luar Negeri yang dilakukan oleh perwakilan Repullik Indonesia bertugas menyelenggarakan administrasi pemilihan dan mengumpulkan surat suara bagi WNI di Luar negeri (Pabottingi 1998:24). 4. Kampanye : Ketentuan mengenai kampanye tidak diatur dalam UU pemilu, tetapi pelaksanaannya diatur dalam keputusan Dewan Keamanan Nasional No 11640 tanggal 2 Mei 1955, tidak ditentukan masa berkampanye, namun hanya disebutkan bahwa kampanye berakhir sehari sebelum pemungutan suara, pada umumnya kampanye dapat dilakukan melalui rapat umum, arak–arakkan dengan mempergunakan pengeras suara, menempelkan poster dan penyebaran surat selebaran. Adapun bentuk kampanye yang dilarang adalah segala bentuk penyiaran baik lisan maupun tertulis yang merugikan kedudukan presiden dan wakil presiden.

52

5. Peserta Pemilihan Umum 1955 : Adapun peserta pemilihan umum 1955 dapat digolongkan berdasarkan ideologinya antara lain : 1. Partai politik yang beraliran nasionalis : Partai politik peserta pemilihan umum 1955 yang beraliran nasionalis antara lain Partai Nasional Indonesia (PNI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Gerakan Pembela Pancasila, Partai Rakyat Nasional, Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (PPPRI), Partai Buruh, Partai Rakyat Indonesia, PRIM, Partai R. Soedjono Prawirosoedarso, Partai Indonesia Raya Wongsonegoro, Partai Indonesia Raya Hazairin, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (PERMAI), Partai Persatuan Daya. 2. Partai politik yang beraliran Islam : Partai politik peserta pemilihan umum 1955 yang beraliran Islam antara lain Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Partai Islam Perti, AKUI, Partai Politik Tharikat Islam (PPTI). 3. Partai politik yang beraliran komunis : Partai peserta pemilihan umum yang beraliran komunis antara lain Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ACOMA.

53

4. Partai politik yang beraliran sosialis : Partai yang beraliran sosialis antara lain Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Murba, Partai Rakyat Desa dan Baperki. 5. Partai yang beraliran Kristen/Nasrani : Partai peserta pemilihan umum yang beraliran Kristen/Nasrani antara lain Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Partai Katolik (Pabottingi 1998: 43) (Lihat Gambar 1). 6. Pelaksanaan Pemilihan Umum 1955 : Pemilihan umum dilaksanakan pada tanggal 29 September untuk memilih anggota DPR dan 15 Desember 1955 memilih anggota konstituante. Terlaksananya pemilihan umum 1955 ternyata membutuhkan proses yang cukup panjang. Keinginan pemerintah untuk melaksanakan pemilihan umum sejak Desember 1945 baru dilaksanakan pada tahun 1955. Melalui berbagai perdebatan, pergantian beberapa kabinet dan pembahasan terhadap naskah perundang–undangan Pemilu, lahirnya pemilihan umum dapat dilaksanakan. Langkah awal yang dilaksanakan adalah pendaftaran pemilih yang dilakukan oleh PPS sejak 17 bulan sebelum Pemilu diadakan. Jumlah pemilih yang tercatat pada saat itu adalah 43.104.464 orang. Diperhitungkan sebanyak 91,45 % dari jumlah pemilih yang tercatat telah datang ke TPS 95.532 orang, karena diperkirakan 2,5 % dari jumlah pemilih yang terdaftar telah meninggal dunia. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan sebanyak 257 buah, jumlah ini berasal dari ketentuan bahwa masing–masing anggota DPR yang dipilih

54

mewakili 300.000 orang. Sedangkan pada saat itu jumlah penduduk Indonesia termasuk Irian Barat sekitar 77.987.879 jiwa. Dari jumlah kursi sebanyak 257 terdapat juga anggota DPR yang diangkat yaitu 3 (tiga) kursi untuk Irian Barat, 6 (enam) kursi mewakili golongan Tionghoa, 3 (tiga) golongan Arab dan 3 (tiga) kursi mewakili golongan Eropa sehingga jumlah akhir anggota DPR menjadi 272 orang Pemilihan umum 1955 menghasilkan 4 (empat) partai politik yang meraih kemenangan besar yaitu PNI (57 kursi), Masyumi (57 kursi), NU (45 kursi) dan PKI (39 kursi). Munculnya NU dan PKI sebagai partai besar merupakan hal yang tidak terduga sebelumnya karena pada masa DPRS NU hanya memperoleh 8 kursi dan PKI 17 kursi. Adapun rincian peraih suara empat besar pemilihan umum 1955 adalah sebagai berikut : 1. Partai Nasional Indonesia ( PNI ) 2. Partai Masyumi 3. Partai Nahdlatul Ulama (NU). 4. Partai Komunis Inddonesia (PKI).

55

1. Partai Nasional Indonesia (PNI) Tabel 2 Perolehan Suara Partai Nasional Indonesia (PNI)
No Daerah Pemilihan Suara yang didapat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jakarta Raya Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sumatera Selatan Sumatera Tengah Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara / Tengah Sulawesi Selatan / Tenggara Maluku 152.031 1.541.927 3.091.568 2.251.069 213.766 42.558 329.657 464.398 65.027 43.067 64.195 102.855 102.855 46.218 30.218 19,6 22,1 33,5 22,8 14,6 2,7 15,4 37,1 5,8 25,0 13,6 5,9 19,1 4,2 9,1 2 2 1 3 2 5 2 1 4 2 3 3 6 3 2 % dari suara daerah Nomor Kursi yang didapat

57

Sumber : (Waridah dkk 2003:9)

56

2. Masyumi Tabel 3 Perolehan Suara Partai Masyumi
No Daerah Pemilihan Suara yang didapat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Jakarta Raya Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sumatera Selatan Sumatera Tengah Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Kalimantan Barat Sulawesi Utara / Tengah Sulawesi Selatan / Tenggara Maluku 200.460 1.844.442 902.387 1.109.742 628.382 797.692 789.910 264.719 157.972 44.347 155.173 189.199 446.255 117.440 % dari suara daerah 26,0 26,4 10,0 11,2 43,2 50,8 36,9 21,2 21,2 25,7 33,2 25,0 40,0 35,4 1 1 14 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 Nomor Kursi

57

Sumber : (Waridah dkk 2003:10)

57

3. Nahdlatul Ulama Tabel 4 Perolehan Suara Partai Nahdlatul Ulama
No Daerah Pemilihan Suara yang didapat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jakarta Raya Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sumatera Selatan Sumatera Tengah Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara / Tengah Sulawesi Selatan / Tenggara Maluku 120.667 673.552 1.772.306 3.370.554 115.928 71.959 87.773 104.282 17.684 20.795 37.495 380.874 21.619 159.193 % dari suara daerah 15,6 9,6 19,7 34,1 7,9 4,6 4,2 8,3 1,6 12,1 8,1 48,6 2,9 4,4 3 4 3 1 5 4 5 4 0 3 4 1 6 2 Nomor Kursi

45

Sumber : (Waridah dkk 2003:10)

58

4. Partai Komunis Indonesia ( PKI ) Tabel 5 Perolehan Suara Partai Komunis Indonesia (PKI)
No Daerah Pemilihan Suara yang didapat % dari suara daerah Nomor Kursi yang didapat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jakarta Raya Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sumatera Selatan Sumatera Tengah Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Timur Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Utara / Tengah Sulawesi Selatan / Tenggara Maluku 96.363 755.634 2.326.108 2.299.609 176.900 90.513 258.875 66.067 5.008 8.209 8.526 17.210 33.204 17.831 4.792 12,5 10,8 25,8 23,3 12,1 5,3 0,5 4,7 1,8 3,2 4,4 1,6 1,4 4 3 2 2 3 3 4 5 3 6 7 5 5 9 8

39

Sumber : (Waridah dkk 2003:11) Adapun hasil perolehan kursi setiap fraksi sebagai berikut : a. Fraksi Masyumi b. Fraksi PNI c. Fraksi NU 60 anggota 58 anggota 47 anggota

59

d. Fraksi PKI e. Fraksi nasional progresif f. Fraksi pendukung proklamasi g. Fraksi PSII h. Fraksi Parkindo i. Fraksi Pembagunan j. Fraksi PSI k. Fraksi Perti l. Fraksi Gerakan Pembela Pancasila m. Fraksi PPPRI n. Fraksi perseorangan AKUI o. Fraksi PPTI Sumber: (Waridah 2003:11-12)

32 anggota 11 anggota 11 anggota 8 anggota 9 anggota 7 anggota 5 anggota 4 anggota 2 anggota 2 anggota 1 anggota 1 anggota

Hasil pemilihan umum 1955 menggambarkan sirkulasi elit kekuasaan yang berbeda dibandingkan dengan komposisi dalam DPRS. Perubahan komposisi tersebut jelas memperlihatkan bahwa pemilihan umum 1955 secara langsung menghasilkan elit di legislatif dan secara tidak langsung elit di eksekutif. Pada tingkat legislatif perubahan ternyata sangat besar dimana terdapat hanya sekitar 62 orang anggota DPRS yang berhasil mempertahankan kursi pada pemilihan umum 1955.

60

Hasil pemilihan umum 1955 menunjukan polarisasi yang cukup tajam antara partai–partai yang cukup agama, dan non agama yang menampilkan empat partai besar terkuat hasil pemilihan umum yaitu PNI, PKI, Masyumi dan NU. Kestabilan politik yang diharapkan sebagai lembaga baru ini semakin meningkat sampai akhirnya Kabinet Ali menyerahkan mandat pada presiden. Pemberontakan di daerah, perdebatan di konstituante yang berlarut– larut sehingga atas desakan tentara, Presiden akhirnya mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945 yang memutuskan juga untuk membubarkan Dewan Konstituante. Hal tersebut juga dialami oleh DPR hasil pemilihan umum yang digantikan oleh DPR Gotong Royong (DPR GR) yang anggotanya diangkat oleh presiden.

61

BAB III PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA ORDE BARU DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA REFORMASI

A. Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru 1. Pemilihan Umum 1971 Pemilihan umum 1971 merupakan pemilihan umum yang dilaksanakan pertama kali pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Setelah gagalnya G 30 S/PKI tahun 1965 kehidupan politik Indonesia mengalami perubahan yang drastis dan prinsipil. Pertama berakhirnya kepemimpinan Presiden Soekarno dan runtuhnya sistem politik demokrasi terpimpin, kedua meningkatnya peranan ABRI dan yang ketiga adalah lahirnya Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto dengan sistem politik Demokrasi Pancasila. Semenjak memegang kendali kekuasaan, pemerintah Orde Baru yang bertekad untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, bersifat anti komunis dan berorientasi kuat pada pembangunan mencoba untuk membangun sistem pemilihan umum yang mampu memelihara stabilitas pemerintahan. Salah satu tugas penting yang harus dilaksanakan Presiden Soeharto adalah menyelenggarakan pemilihan umum, hal ini telah diputuskan oleh MPRS dalam Ketetapan No. XI/MPRS/1966.

61

62

1) Peserta Pemilihan Umum 1971 Berkenaan dengan penataan partai-partai politik beberapa langkah penting dilakukan Soeharto antara lain sesudah tanggal 12 Maret 1966 PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Pada tanggal 30 Maret 1966 sebanyak 62 orang anggota PKI di DPR-GR di non aktifkan, demikian juga dengan Partindo yang dianggap tidak tegas terhadap peristiwa Gestapu sehingga Partindo dilarang melakukan kegiatan dan tokoh-tokohnya tidak diperbolehkan mengikuti aktivitas sidang-sidang DPR-GR atau Sidang MPRS. Selain itu Partai Nasional Indonesia yang merupakan pendukung Soekarno dan diyakini telah disusupi PKI dipaksa untuk mengadakan kongres partai, adapun hasil dari kongres tersebut antara lain adalah disingkirkannya para pemimpin yang dianggap setia pada Bung Karno Pada tanggal 24 November 1966 Presiden Soeharto menyampaikan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang kepartaian,

keormasan, dan kekaryaan kepada DPR-GR. tetapi menjelang Pemilu 1971 Rancangan Undang-Undang tersebut belum terselesaikan sehingga dalam pasal peralihan dinyatakan bahwa Partai Politik, Ormas dan Golongan Karya boleh mengambil bagian dalam pemilihan umum. Presiden Soeharto juga memperbolehkan partai yang awalnya

direhabilitasi yaitu Partai Murba untuk ikut menjadi peserta dalam pemilihan umum. Golongan Karya merupakan gabungan dari 7 KINO

63

(Kelompok Induk Organisasi) yaitu Soksi, Kosgoro, MKGR, Gakari, Porfesi, Ormas Hankam dan Gerakan Pembangunan yang kemudian muncul dengan satu tanda gambar pada pemilihan umum 1971. Pada tanggal 7 Februari 1970 Presiden Soeharto menyarankan pengelompokan partai-partai politik, yang mengemukakan bahwa partaipartai tersebut bertujuan untuk mempermudah kampanye pemilihan umum tidak untuk melenyapkan partai. Setiap partai memiliki identitasnya sendiri, pengelompokan partai tersebut antara lain adalah golongan nasionalis, golongan spiritual dan golongan karya. Terhadap gagasan ini maka IPKI dan PNI merupakan dua partai yang memberikan dukungan. Pada tanggal 9 Maret dibentuk Kelompok Demokrasi Pembangunan atau Kelompok Material Spiritual yaitu kelompok partai yang menekankan pada pembangunan materiil tanpa mengabaikan aspek spiritual yang merupakan gabungan dari PNI, IPKI, MURBA, Parkindo dan Partai Katolik. Kelompok yang kedua adalah Kelompok Persatuan Pembangunan atau Kelompok Spiritual Materiil yaitu kelompok partai yang menekankan pembangunan spiritual tanpa mengabaikan aspek materiil yang terdiri atas Nahdlatul Ulama, Parmusi, PSII dan Perti (Soemardjan 2000:310) (Lihat Lampiran 2). 2) Undang-Undang Pemilihan Umum Pada tanggal 1 Agustus 1966 sebuah Rancangan Undang-Undang pemilihan umum telah di bahas oleh DPR-GR, Soeharto mendesak agar

64

dalam tempo 6 (enam) bulan pembicaraannya sudah harus terselesaikan. Tetapi Rancangan Undang-Undang tersebut mendapat protes keras dari masyarakat karena bertentangan dengan aspirasi Tritura dan Orde Baru, sehingga pembahasan Rancangan Undang-Undang tersebut terhenti. Karena tertundanya pembahasan Rancangan Undang-Undang maka pejabat Presiden Soeharto secara tertulis menyampaikan laporan pada pimpinan MPRS bahwa pemilihan umum tidak dapat dilaksanakan sesuai ketentuan MPRS yaitu selambat-lambatnya 6 Juli 1968. Kemudian pada tanggal 22 November 1969 berhasil disahkan UU No. 15 tahun 1969 tentang pemilihan anggota-anggota badan permusyawaratan dan juga Undang-Undang No.16 tahun 1969 tentang susunan MPR, DPR dan DPRD. Beberapa prinsip penting dari kedua undang-undang tesebut adalah bahwa pertama jumlah kekuatan politik atau organisasi peserta pemilihan umum dibatasi, dimana yang boleh ikut pemilihan umum hanyalah partai politik dan organisasi karya yang mempunyai wakil di DPR-GR antara lain NU, Parmusi, PSII, Perti, PNI, Parkindo, Partai Katolik, IPKI, MURBA dan Golongan Karya. Kedua adalah diadakannya pengangkatan bagi anggota ABRI dan Non ABRI di MPR, DPR, DPRD (TK I dan TK II) dan yang ketiga adalah digunakannya sistem perwakilan berimbang dengan stelsel daftar pada daerah tingkat I.

65

3) Azas Pemilihan Umum Berbeda dengan pemilihan umum periode sebelumnya yaitu pemilihan umum 1955 yang berazaskan pada kebersamaan dan LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia), maka pada pemilihan umum 1971 hanya berazaskan pada Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia

(LUBER). Adapun keterangan dari masing-masing sifat tersebut antara lain : 1. Langsung Adalah setiap pemilih memberikan suaranya secara langsung tanpa perantara atau diwakilkan orang lain. 2. Umum Adalah setiap WNI yang telah memenuhi syarat dapat ikut serta menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum. 3. Bebas Adalah pemilih dalam menggunakan hak pilihnya dijamin

keamanannya untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya tanpa adanya paksaan dan tekanan dari pihak manapun. 4. Rahasia Adalah pilihannya dijamin oleh peraturan dan tidak akan diketahui oleh pihak manapun dan dengan cara apapun ketika menentukan

pilihannya (Secret Ballot) (Tim Sejarah 2003:10)

66

4) Organisasi Penyelenggara Pemilihan Umum Organisasi penyelenggara pemilihan umum pada masa ini adalah Lembaga Pemilihan Umum (LPU) yang ex-officio diketuai oleh Mentri Dalam Negeri dan bertanggungjawab kepada Presiden Soeharto. 5) Sistem Pemilihan Umum Sistem pelaksanaan pemilihan umum adalah sistem perwakilan berimbang dengan stelsel daftar. Sistem ini sering di sebut sebagai proporsional representation system atau multy member representation menawarkan beberapa kursi untuk diperebutkan dalam suatu wilayah pemilihan. Peran partai politik menjadi penentu dan bukan terbatas pada fasilitas belaka. dalam sistem ini suatu kesatuan administratif misalnya Propinsi, jumlah suara yang diperoleh setiap partai menentukan jumlah kursi di parlemen, artinya rasio perolehan suara antar partai politik sama dengan rasio perolehan kursi dalam parlemen (Saragih 1997:42). Banyak kalangan yang menilai sistem perwakilan berimbang yang secara umum demokratis dan representatif dibandingkan dengan sistem distrik karena jumlah wakil dalam setiap partai sesuai dengan jumlah suara yang diperoleh Parpol tersebut dalam Pemilu secara nasional. Sistem perwakilan berimbang juga dapat menjamin terwujudnya suatu

keterwakilan berimbang yang sempurna dalam parlemen. Selain itu sistem ini juga lebih menjamin eksistensi partai-partai kecil dan menjamin suara rakyat tidak terbuang sia-sia.

67

Menurut penulis selain memiliki kelebihan sistem perwakilan berimbang juga memiliki beberapa kelemahan antara lain bahwa sistem ini mempermudah terjadinya fragmentasi partai-partai untuk bekerja sama. Selain itu cenderung menggeser asas kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan partai. Bahkan sistem ini di dalam pengembangan

kepemimpinan sulit menghasilkan kader pemimpin yang mandiri padahal itulah yang dibutuhkan oleh setiap negara. 6) Pelaksanaan Pemilihan Umum 1971 Pada tanggal 3 Juli 1971 atau dua hari dari batas waktu maksimal yang di tetapkan oleh MPRS berlangsung pemungutan suara pemilihan umum pertama pada masa Orde Baru. Lebih dari 58 juta rakyat Indonesia yang berhak memilih hanya 54.699.509 jiwa yang melaksanakan konstitusinya. Untuk memilih wakil-wakilnya dari dalam badan permusyawaratan rakyat yaitu DPR, DPRD I dan DPRD II. Pemilihan umum tersebut diikuti oleh 10 peserta yang terdiri dai 9 Partai Politik dan 1 Golongan Karya (Lihat Lampiran 3). Partai-partai politik berusaha untuk memegang pemilihan atau bertahan dalam posisi yang ada, sementara Golongan Karya yang didukung oleh ABRI dan golongan cendekiawan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan bagi usaha pembangunan Indonesia seperti yang dicanangkan oleh Orde Baru pada tahun 1966. Isyu kampanye sangat berpengaruh pada kemenangan Golongan Karya karena pada saat itu

68

masyarakat sedang dilanda kelesuan dan ketidak senangan dengan tingkah laku partai politik dimasa lalu. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya kebijaksanaan yang dikeluarkan pemerintah bagi usaha kemenangan Golongan Karya. Salah satu kebijaksanaan tersebut adalah di

keluarkannya peraturan Mentri Dalam Negeri No.12 Tahun 1969 tentang perlu adanya monoloyalitas pegawai negeri pada pemerintah. Kemudian di pertegas dengan kebijaksanaan tentang larangan pegawai negeri masuk dalam salah satu organisasi politik tanpa persetujuan atasan. 7) Hasil Pemilihan Umum Golongan Karya berhasil mendapatkan 34.348.673 suara (62,80%), tidak terimbangi oleh partai politik lainnya baik sendiri-sendiri atau bersama-sama. Jika digabung sekalipun jumlah presentase suara 9 partai politik hanya mencapai 37,20 %, sedangkan jika sendiri-sendiri hanya Nahdlatul Ulama yang mampu meraih lebih dari 18 % suara. Sementara 3 Organisasi Peserta Pemilihan Umum mendekati 7 % yaitu PNI, Parmusi dan PTII, serta 5 Organisasi Peserta Pemilihan Umum lagi kurang dari 2 % yaitu Perti, Parkindo, Murba, IPKI dan Partai Katolik. Dalam penguasaan kursi DPR Golongan Karya lewat pemilihan umum memperoleh 236 kursi (51,30 %). Jika ditambah dengan 25 kursi Golkar Non ABRI dan 75 kursi Golkar ABRI yang diangkat maka total kursi Golkar adalah 336 kursi (73,04%). Sementara itu jika jumlah kursi 9 partai politik dihimpun menjadi satu hasilnya hanya 124 kursi (26,96 %).

69

Secara partai perpartai penguasaan kursi mereka lebih memprihatinkan lagi hanya Nahdlatul Ulama, Parmusi dan PNI yang dapat menjangkau 12,61 %, 24 kursi (5,22 %) dan 20 kursi (4,35 %). Partai politik lainnya harus puas dengan angka 10 kursi kebawah, bahkan MURBA dan IPKI tidak memperoleh kursi karena pemilihnya lebih kecil dari standar Bilangan Pembagi Pemilihan (BPP). Dengan demikian Golongan Karya berhasil menguasai mayoritas suara di DPR, suatu hal yang belum pernah terjadi selama Indonesia berparlemen. Sebaliknya partai politik dengan berat hati terpaksa menerima predikat sebagai partai gurem. Dengan komposisi perimbangan kekuatan seperti itu apapun yang dikehendaki Golongan Karya di lembaga legislatif DPR dapat dijalankan dengan mudah, baik dalam membuat Undang-Undang maupun dalam menjalankan fungsi kontrol terhadap

eksekutif. Yang merupakan salah satu strategi politik mayoritas tunggal yang dikejar Golongan Karya sendiri dengan perspektif politiknya dengan berbagai cara telah berhasil didapat (Soemardjan 200:314-315). 8) DPR RI Tahun 1971-1977 Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.107/MPR/1971 ditetapkan nama wakil rakyat di DPR dan melaksanakan rapat pleno terbuka pertama yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1971. Adapun susunan DPR RI pada waktu itu sebagai berikut :

70

1. Ketua

: KH. Dr. Idham Chalid

2. Wakil Ketua : Drs. Sumiskun 3. Wakil Ketua : J. Namo, SH 4. Wakil Ketua : R. Domo Pranoto 5. Wakil Ketua : M.H Isnaeni Selama masa tugasnya DPR RI tahun 1971-1977 telah menghasilkan 43 undang-undang berbagai bidang, 3 memorandum yaitu tentang masalah miniatur Indonesia dan hari depan generasi muda, memorandum tentang penetapan harga gula hasil panen tahun 1972 dan rencana ekspor gula tahun 1974, memorandum DPR RI tentang masalah Irian Barat, 4 usul pernyataan pendapat Jacob Tobing tentang pengamatan dan

pengembangan industri dalam negeri, usul pernyataan pendapat Cosmos Batubara tentang peristiwa 15 Januari 1974, usul pernyataan pendapat Widya Pranata tentang proses dekolonisasi Timor Portugis, usul pernyatan pendapat A. Oka Mahendra tentang masalah Timor-Timur serta mengajukan 2 pencalonan untuk lembaga tinggi negara, pencalonan ketua, wakil dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan dan pencalonan hakimhakim Mahkamah Agung. 2. Pemilihan Umum 1977 Pada tanggal 2 Mei 1977 diselenggarakan pemilihan umum yang ketiga dalam Sejarah Nasional Indonesia dan kedua kalinya diadakan berdasarkan UUD 1945 pada masa Orde Baru. Dalam pemilihan tersebut dari 70 juta

71

rakyat Indonesia yang berhak memilih hanya 63.998.344 pemilih yang menggunakan haknya. Asas yang dipakai sama dengan pemilihan umum 1971 yaitu asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER). Berbeda dengan pemilihan umum 1971 yang diikuti oleh banyak partai, tetapi dalam pemilihan umum 1977 hanya diikuti oleh 3 peserta, dimana dua diantaranya adalah hasil fusi dari beberapa partai yaitu : 1. Partai Persatuan Pembangunan Partai Persatuan Pembangunan ini merupakan fusi dari partai-partai Islam seperti NU, PERTI, Parmusi dan PSSI. 2. Golongan Karya 3. Partai Demokrasi Indonesia Partai Demokrasi Indonesia merupaka fusi dari PNI, Partai Katolik, Partai Kristen dan IPKI (Sukarna 1990:34) (Lihat Lampiran 4) Pemilihan umum 1977 menghasilkan pemenang yaitu Golongan Karya dengan jumlah suara terbanyak 39.750.096 suara (62,11 %), sementara tempat kedua direbut oleh PPP dengan Jumlah suara 29,29 % dan juru kunci dipegang oleh PDI dengan suara sebesar 5.504.757 suara (8,60 %). Tetapi jika dibandingkan dengan pemilihan umum 1971 suara Golongan Karya menurun 0,69 % sedangkan PPP dapat meningkatkan jumlah suaranya 2,17 % tetapi PDI merosot 1,45 %. Dari segi penguasaan kursi Golongan Karya lewat pemilihan umum meraih 232 kursi (50,43 %). Jika dijumlah dengan pengangkatan 100 wakil ABRI dan non ABRI total kursi Golongan Karya di

72

DPR menjadi 332 kursi (72,17 %). Kursi yang dikuasai partai politik banyaknya hanya 128 kursi (27,83 %) yaitu PPP 99 kursi (21,52 %) dan PDI 29 kursi (6,31 %). Dibandingkan dengan pemilihan umum 1971 Golongan Karya dan PDI kehilangan kursi masing-masing 4 kursi dan 1 kursi, sedangkan PPP bertambah 5 kursi, dengan demikian Golongan Karya tetap sukses mempertahankan posisinya sebagai kekuatan mayoritas dan mulai menjadi predominan (Soemardjan 2000:315). Adapun anggota DPR RI tahun 1997-1982 adalah : 1. Ketua 2. Wakil Ketua 3. Wakil Ketua 4. Wakil Ketua 5. Wakil Ketua : H. Adam Malik : Mashuri, SH : Kartidjo : Moh. Isnaeni : K.H Masykur

Selama masa tugasnya DPR RI tahun 1977-1982 telah menghasilkan 55 Undang-Undang, 1 (satu) interpelasi tetapi ditolak oleh pleno DPR, menggunakan 6 (enam) hak bertanya, membicarakan 1 (satu) hak budget, 3 (tiga) kali mencalonkan keanggotaan BPK, 2 (dua) kali mencalonkan hakim agung, DPR melalui kebijaksanaan pintu terbuka telah menerima 368 delegasi dan perorangan serta menerima 4.914 pengaduan.

73

3. Pemilihan Umum 1982 Pada tanggal 4 Mei 1982 pemilihan umum dilaksanakan secara serentak diseluruh Indonesia dan seluruh Warga Negara Indonesia yang ada di luar negeri. Dalam pemilihan umum ini tercatat pemilih yang memberikan suara sebanyak 75.126.306 dalam penyelenggaraan Pemilu ini diwarnai beberapa peristiwa selama masa kampanye yang menjurus ke arah kerusuhan, karena tidak terkendalinya masa pendukung salah satu organisasi peserta Pemilu. Mereka melanggar ketentuan yang telah ditetapkan dan mengacau

kampanye organisasi peserta Pemilu yang lain. Peristiwa tersebut selanjutnya diselesaikan menurut hukum dan para pelakunya diadili serta dipidana setelah kesalahan mereka terbukti. Pemilihan umum 1982 memilih 360 anggota dari seluruh jumlah anggota DPR yang ditetapkan Sedangkan 100 anggota lainnya pengisiannya sebesar 460 anggota. dilakukan melalui

pengangkatan oleh Presiden. Namun begitu dalam pelaksanaannya anggota yang dipilih tersebut ditambah hingga menjadi 364 orang. Hal ini di sebabkan adanya penghitungan suara yang dimiliki oleh setiap organisasi peserta

Pemilu yang dikumpulkan dari seluruh daerah pemilihan dan jumlahnya memungkinkan bertambahnya wakil mereka. Jumlah tambahan tersebut diambil dari jatah Golongan Karya bukan ABRI yang diangkat sebanyak 25 orang. Pemilihan umum ketiga masa Orde Baru diadakan dengan hasil Golongan Karya kembali sukses dalam mengumpulkan suara tunggal yaitu

74

48.334.724 suara (64,34 %), sedangkan PPP tetap kurang beruntung karena hanya dapat menarik sebanyak 20.871.880 suara (27,78 %) dan PDI yang kali ini hanya memperoleh suara 5.919.702 suara. Dibandingkan dengan pemilihan umum 1977 suara Golkar naik sebanyak 2,23 %, PPP yang pada Pemilu 1977 meningkat jumlah suaranya 2,17 % maka pada Pemilu 1982 menurun 1,51 %. Sedangkan PDI yang sudah turun 1,48 % maka pada Pemilu ini berkurang lagi 0,72 %. Ditinjau dari penguasaan kursi DPR maka Golongan Karya

mendapatkan 246 kursi (53,47 %), maka jika ditambah 21 wakil Golkar non ABRI dan 75 wakil Golkar ABRI hasil pengangkatan jumlah kursi Golkar menjadi 342 kursi (74,35 %). Kursi yang diduduki PPP 94 buah (20,44 %) dan PDI menduduki 24 kursi (5,21 %) maka kursi partai politik berjumlah 118 buah (25,65 %). Dari pada pemilihan umum 1977 PPP dan PDI masingmasing kehilangan 5 kursi sedangkan Golkar bertambah 14 kursi. Dengan demikian tetap secara mutlak menyandang predikat sebagai kekuatan politik dengan mayoritas absolut yang menguasai suara, sekaligus memastikan diri sebagai partai dominan dalam arti sejak pemilihan umum 1971-1982 tetap menjadi kekuatan politik dengan mayoritas besar di DPR, sementara PPP dan PDI tetap dalam posisi minoritas (Soemardjan 2000:316). Adapun Susunan DPR RI tahun 182-1987 adalah sebagai berikut: 1. Ketua 2. Wakil Ketua : H. Amir Mahmud : Dr. Amir Mustono, SH

75

3. Wakil Ketua 4. Wakil Ketua 5. Wakil Ketua

: M. Kharis Suhud : H. Nuddin Lubis : Drs. Hardjanto Sumodisastro

Setelah masa kerjanya DPR RI tahun 1982-1987 telah menyelesaikan 45 UU dari berbagai bidang serta ketetapan MPR No II/MPR/1978 yang berisi “P4 yaitu Eka Prasetya Panca Karsa yang tugas pelaksanaannya di berikan pada Presiden sebagai mandataris MPR/Presiden bersama-sama DPR agar P4 dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan Ketetapan MPR No. III/MPR/1978 pasal 7 ayat (1) tentang kedudukan dan hubungan tata kerja lembaga tinggi negara dengan atau antar lembaga-lembaga tinggi negara, menyebutkan DPR yang seluruh anggota adalah anggota MPR berkewajiban mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam rangka pelaksanaan haluan negara dan menyebutkan bahwa Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang atau membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain (pasal 8 ayat 4). 4. Pemilihan Umum 1987 Pemilu 1987 ditandai oleh jumlah perkembangan penting dalam upaya melanjutkan proses pembaharuan politik yang memantapkan Pancasila sebagai satu–satunya asas. Pertama mengangkat asas yang meliputi dasar, landasan, pedoman pokok, organisasi politik dan peserta pemilihan umum. Dengan diterapkannya Pancasila sebagai satu–satunya asas bagi organisasi politik peserta Pemilu dan sebagai pelaksanaan ketetapan MPR No 11 /MPR/1983 tentang GBHN dan No III/MPR/1983 tentang pemilihan umum

76

yang ditindaklanjuti dengan UU No 1 tahun 1985 tentang perubahan atas UU No.15 tahun 1969 tentang pemilihan umum anggota–anggota badan permusyawaratan/perwakilan rakyat sebagaimana telah diubah dengan UU No. 4 tahun 1975 dan UU No. 2 tahun 1980 dan No. 3 tahun 1985 tentang perubahan atas UU No. 3 tahun 1975 tentang partai politik dan Golongan Karya, maka organisasi politik peserta Pemilu hanya berasaskan Pancasila dalam menjabarkan program-program untuk mewujudkan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. Dengan demikian tidak ada lagi masalah yang bersifat ideologis dalam program, tema dan materi kampanye. Kedua mengenai tanda gambar sejalan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai satu–satunya asas maka dilakukan penyempurnaan tanda gambar. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dalam Pemilu 1982 menggunakan tanda gambar Ka’bah dalam Pemilu 1987 memakai tanda gambar bintang ditengah segi lima. Demikian pula dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang sebelumnya menggunakan tanda gambar banteng dengan latar belakang beringin disertai padi dan kapas di bagian kiri dan kanan, kemudian menggunakan tanda gambar banteng, sedangkan Golongan Karya (Golkar) tetap menggunakan tanda gambar pohon beringin (Lihat Lampiran 5). Pada tanggal 23 April 1987 pemungutan suara dilaksanakan dan tanggal 6 Juni 1987 Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam selaku Ketua Panitia Pemilihan Umum Indonesia, mengumumkan hasil tetap pemilihan umum. Jumlah pendaftar sebanyak 93.965.956 orang atau 57,68 % dari penduduk

77

Indonesia yang berjumlah 162.921.989 orang. Dari jumlah pemilih terdaftar telah menggunakan hak pilihnya sebanyak 85.809.816 orang atau sekitar 91,23 %. Golongan Karya kembali mengulang kesuksesannya, suara rakyat pemilih yang dikumpulkan berjumlah 62.783.680 suara (73,17 %). Sementara PPP dengan perolehan suara hanya 13.701.428 suara (15,97 %), sedangkan PDI yang pada pemilihan umum terdahulu terus turun suaranya sekarang mangalami peningkatan dengan jumlah suara 9.324.708 suara (10,86 %). Dibandingkan dengan pemilihan umum 1982 perolehan suara Golongan Karya naik sebanyak 8,83 %, PDI juga mangalami kenaikan suara 2,98 %, sementara hasil suara PPP menurun tajam 11,81 %. Jumlah perolehan kursi di DPR masing–masing PPP 61 kursi, Golongan Karya 299 kursi dan PDI 40 kursi (Soemardjan 2000:317). Pada pemilihan umum 1987 kursi DPR ditingkatkan dari 460 menjadi 500 dan pemberian kursi pada wakil non ABRI yang terakhir berjumlah 21 buah sekarang ditiadakan, tetapi kursi ABRI dinaikkan jumlahnya dari 75 menjadi 100. Dengan demikian Golongan Karya semakin membesar dan semakin meneguhkan dirinya sebagai partai dominan dan sebaliknya PPP dan PDI terus berada dalam posisi minoritas kecil dan cenderung semakin mengecil. Bila dicermati perolehan kursi pada pemilihan umum 1987 dari masingmasing partai politik mengalami perubahan yang cukup berarti dibandingkan pemilihan umum sebelumnya. Sebagai perbandingan PDI yang pada Pemilu

78

1982 hanya memperoleh 24 kursi (6,7 %) meningkat pada Pemilu 1987 menjadi 40 kursi (12 %). Sedangkan PPP mengalami kemerosotan dari 94 kursi (26,1%) menjadi 61 kursi (15,5%). Hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya antara lain Nahdalatul Ulama keluar dari PPP, aksi penggembosan NU di beberapa daerah, dalam Pemilu 1987 dapat dikatakan golongan putih (golput) hampir tidak ada dan para pelajar dan mahasiswa pada umumnya dan sekolah swasta biaya tinggi pada khususnya secara gairah menanggapi dihapusnya SPP dalam program PDI. Adapun susunan DPR RI tahun 1987-1992 adalah sebagai berikut : 1. Ketua 2. Wakil Ketua 3. Wakil Ketua 4. Wakil Ketua 5. Wakil Ketua : M. Kharis Suhud : Syaiful : Sukardi : Drs. Suryadi : J. Naro, SH

5. Pemilihan Umum 1992 Pemilihan umum dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 1992 dan bertujuan untuk memilih wakil–wakil yang akan duduk di lembaga perwakilan rakyat periode 1992–1997. Meskipun tetap menguasai suara Golongan Karya turun dan meraih suara 66.599.343 suara (68,10 %) atau turun 5,04 % dari pemilihan umum 1987. Sementara PDI kembali meningkatkan perolehan suaranya dengan memperoleh 14.585.584 suara (14,29 %) atau naik 4,06 % dari Pemilu sebelumnya. Sedangkan PPP dapat pula memperbesar sedikit

79

kekuatannya dengan merebut 16.624.577 suara (16,99 %) atau bertambah 1,02 %. Ditinjau dari segi perolehan kursi Golongan Karya mendapat 282 kursi (56,40 %) ditambah 100 kursi ABRI sehingga Golongan Karya menguasai 382 kursi (76,40 %). Adapun partai politik hanya menduduki 118 kursi (23,60 % ) yaitu PPP 62 kursi (12,40 %) dan PDI 56 kursi (11,20 %). Dibandingkan dengan Pemilu sebelumnya Golkar turun 17 kursi sedangkan kursi PDI dan PPP masing-masing naik 16 dan turun 1 kursi. Dan Golongan Karya tetap bertahan sebagai single mayority, sementara Parpol lainnya meskipun mendapat tambahan kursi belum memadai untuk ke posisi mayoritas (Soemardjan 2000: 318). Dasar hukum yang di pakai dalam DPR 1992-1997 adalah masih sama dengan DPR yang sebelumnya yaitu untuk pemilihan anggota-anggota badan perwakilan, jumlah anggota DPR adalah 500 orang dengan 400 orang yang terpilih dalam pemilihan umum dan 100 orang diangkat. Adapun susunan keanggotaan DPR tahun 1992-1997 adalah : 1. Ketua 2. Wakil Ketua 3. Wakil Ketua 4. Wakil Ketua 5. Wakil Ketua : Wahono : Prof. Dr. John A Katil (FKP) : Mayjen TNI Soetedjo (FABRI) : H. Ismail Hasan Metareum, SH (FPP) : Drs. Suryadi (FDI)

80

6. Pemilihan Umum 1997 Asas pemilihan umum tahun 1997 masih sama seperti Pemilu sebelumnya yaitu Langsung, Umum Bebas dan Rahasia (LUBER). Untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD dipakai sistem perwakilan berimbang dengan stelsel daftar. Dengan demikian maka besarnya kekuatan perwakilan organisasi dalam DPR dan DPRD adalah sejauh mungkin berimbang dengan besarnya dukungan dalam masyarakat pemilih. Sistem daftar begitu pula sistem Pemilu menggambarkan adanya pengakuan terhadap stelsel organisasi yang ikut serta dalam kehidupan ketatanegaraan. Tiap-tiap daerah Tingkat II mendapat sekurang-kurangnya seorang wakil yang ditetapkan berdasarkan sistem perwakilan berimbang yang akan diatur dalam peraturan pemerintah. Pada pemilihan umum 1997 suara Golongan Karya naik, begitu pula suara PPP tetapi suara PDI anjlok total. Kursi Golongan Karya naik menjadi 325 kursi (65 %), bersama kursi ABRI yang sekarang di turunkan menjadi 75, Golongan Karya dan ABRI menguasai 400 kursi (80 %) sedangkan Partai Politik hanya memegang 101 kursi (20 %) yang terbagi atas PDI 11 kursi (2 %) dan PPP 90 kursi (18 %). Dibandingkan dengan pemilihan umum 1992 kursi Golongan Karya berjumlah sebanyak 43 kursi, PPP meningkat 28 kursi dan PDI merosot 45 kursi. Dengan demikian mayoritas tunggal Golongan Karya semakin menanjak sedangkan kekuatan partai politik kembali menurun. Kekuatan PPP dan PDI seperti halnya pemilihan umum 1987 yaitu menguasai sejumlah 101 kursi (PPP 61 kursi dan PDI 40 kursi ) (Soemardjan 2000:319).

81

B. Pemilihan Umum Pada Masa Reformasi 1. Pemilihan Umum 1999 1) Latar Belakang Pemilihan Umum 1999 Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah gelombang reformasi yang di pelopori mahasiswa. Golongan Karya sebagai pemegang mayoritas tunggalpun tidak mampu untuk menahannya. Dengan turunnya Presiden Soeharto dari kursi pemerintahan maka Wakil Presiden B.J. Habibie menggantikan posisi Soeharto sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Presiden B.J. Habibie membentuk pemerintahan reformasi dan menyatakan untuk mempercepat pemilihan umum yang seharusnya di laksanakan tahun 2003 di percepat menjadi tahun 1999. Kehidupan politik Indonesia kembali mengalami perubahan

abnormal, yang pertama adalah dengan berakhirnya kepemimpinan Presiden Soeharto setelah selama 32 tahun berkuasa, selain itu merosotnya dwifungsi ABRI, serta kembalinya Pegawai Negeri Sipil pada kenetralitasan politik dan lahirnya pemerintahan transisi menuju demokrasi. Perubahan tersebut tercermin dari dilancarkannya strukturisasi kehidupan politik oleh Presiden B.J Habibie walaupun tingkat legitimasi rakyat terhadap beliau rendah tetapi Presiden B.J Habibie mencoba melakukan langkah-langkah dibidang kepartaian dan persiapan

penyelenggaraan Pemilu.

82

Untuk memberi tempat pada partai-partai yang sebelum ini di perlakukan tidak adil, Presiden B.J. Habibie mengambil kebijakan sebagai berikut : 1. Memasukan PPP dan PDI kedalam kabinet reformasi yang di bentuknya, dua pos menteri diberikannya pada PPP yaitu Menteri Investasi/Kepala BKPM (Hamzah Haz) dan mentri lainnya diserahkan pada PDI yaitu Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BAPPEDAL (Paniagan Siregar). 2. Tidak melarang berdirinya partai politik baru sehingga dalam waktu 8 bulan sejak Habibie menjadi Presiden maka muncul 141 partai baru yang telah terbentuk. 3. Melepaskan pimpinan partai politik yang tidak diakui keberadaannya oleh pemerintah (dari tahanan) seperti Dr. Sri Bintang Pamungkas yaitu Ketua Partai Uni Demokrasi (PUDI). 4. Mendesak Golongan Karya untuk mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk menjauhkan Golkar dari para pimpinan yang dianggap setia kepada Soeharto . 5. Mendorong lahirnya beberapa partai yang bernafaskan Islam seperti Partai Keadilan yang di pimpin oleh Dr. Mahmudi dan Partai Bulan Bintang yang di ketua oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. 6. Mengonstruksikan ABRI untuk bersikap netral dan menjadi jarak yang sama terhadap setiap kekuatan politik.

83

7. Melarang Pegawai Negari Sipil (PNS) menjadi anggota atau pengurus partai politik, dengan demikian bisa terhindar dari konflik kepentingan dan dapat berkonsentrasi penuh untuk melayani masyarakat. Larangan ini di tuangkan dalam PP No. 15 tahun 1999 dan NO. 12 Tahun 1999. 8. Pada tanggal 2 Oktober 1998 Presiden B.J. Habibie menugaskan pada Mendagri Syarwan Hamid untuk mengajukan UU tentang Partai Politik yang baru ke DPR untuk menggantikan UU No 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Undang-Undang tersebut mempermudah prosedur pendirian partai, sistem multi partai di kembangkan, keuangan partai di atur lebih rinci, asas partai dibebaskan sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila,

kewenangan presiden untuk membubarkan dan membekukan partai dihilangkankan dan partai dapat didirikan sampai ke tingkat desa/kelurahan (Soemardjan 2000: 323). 2) Persiapan Penyelenggaraan Pemilihan Umum : Presiden B.J Habibie menugaskan Mendagri Syarwan Hamid segera di lantik untuk menyiapkan 3 Rancangan Undang-Undang bidang politik yaitu RUU pemilihan umum, RUU susunan dan kedudukan MPR, DPR dan DPRD serta RUU partai politik. Didalam menyiapkan ketiga RUU tersebut Departemen Dalam Negeri membentuk tim tujuh yang di pimpin oleh Rektor IIP Jakarta yaitu Prof. DR. M. Ryaas Rasyid, MA dengan

84

anggota yang berasal dari kalangan akademis yang mempunyai intergritas cukup tinggi. KemudDalam upacara Tingkeban dan perkawinan ramuan kinang harus ada dalam bentuk sajen yang berfungsi sebagai penghormatan terhadap leluhur. Pada upacara tingkeban sirih digantungkan dengan benang pada pinggang si calon ibu, sedangkan dalam prosesi upacara perkawinan, sirih digunakan pada waktu temu pengantin (melempar sirih) dan ramuan kinang dijadikan suguhan. ian pada tanggal 2 Oktober 1998 Mendagri mengajukan ketiga RUU bidang politik tersebut ke DPR berbagai perubahan untuk menjamin terwujudnya pemilihan umum yang jujur, bersih dan demokratis di rancang dalam draft Undang-Undang tersebut. Misalnya dalam RUU pemilihan umum diusulkan oleh pemerintah agar sistem pemilihan umum dikombinasikan antara distrik dan proporsional, lembaga penyelenggara pemilihan umum berbentuk independen, dalam pendaftaran pemilih masyarakat proaktif. Pemilihan umum diselenggarakan pada hari libur atau dinyatakan libur, dibentuk juga lembaga pemantau pemilihan umum, kepada saksi diberikan sertifikat penghitungan suara. Dan bagi warga yang telah memilih diberi tanda khusus supaya orang tidak memilih lebih dari satu kali (one person one vote). Sementara untuk menciptakan lembaga wakil rakyat yang kuat, dekat dengan rakyat dan memiliki akuntabilitas maka diusulkan oleh pemerintah antara lain jumlah anggota DPR ditambah dari 700 menjadi 1000, jumlah anggota DPR di tambah dari 500 menjadi 550. Jumlah anggota ABRI yang diangkat di DPR dikurangi dari 15 % menjadi 10 %,

85

pimpinan MPR dipisahkan dengan pimpinan DPR, MPR bersidang setiap setahun dan hak-hak DPR di perbanyak (hak penyelidikan, hak subpoena dan hak endersement). Pada tanggal 28 Januari 1999 DPR berhasil menetapkan RUU bidang politik, sebagian besar materi yang diajukan pemerintah disepakati oleh DPR. Meskipun ada beberapa materi yang pembahasannya cukup alot adalah persoalan diseputar sistem pemilihan umum varian sistem proporsional, keanggotaan PNS dalam partai politik, asas partai politik, jumlah kursi ABRI syarat partai mengikuti pemilihan umum dan komposisi keanggotaan KPU. Presiden B.J Habibie telah berhasil menyiapkan Undang-Undang bidang politik, tugas selanjutnya yang cukup berat adalah

menyelengarakan pemilihan umum yang jujur dan adil pada tanggal 7 Juni 1999 yang merupakan pemilihan umum pertama dalam era multi partai pasca Orde Baru. Pada waktu itu agar dapat melaksanakan pemilihan umum yang demikian, disamping dibantu oleh KPU yang independen, Presiden B.J. Habibie harus mampu meletakkan kepentingan Indonesia diatas kepentingan golongan dan dirinya. Beliau harus proaktif dan memiliki kepedulian yang tinggi dalam menangani segenap proses penyelenggaraan pemilihan umum mulai dari proses pendaftaran pemilu sampai ke penghitungan suara. Dalam hal ini apabila ditinjau perkembangan jumlah partai mencapai 141 buah partai, tidak syah lagi

86

dimasa depan sistem kepartaian kita bakal berubah dari one dominant party system ke multi party, artinya karena tidak sebuah partai pun bakal mampu menguasai mayoritas absolut di DPR, pemerintah akan terbentuk melalui koalisi beberapa partai. Pemilihan umum 1999 merupakan kondisi paling penting dalam proses reformasi dan lewat pemilihan umum 1999 diharapkan dapat dijaring aspirasi rakyat yang sebenarnya yang tidak terkontaminasi atau dimanipulasi seperti yang selama ini terjadi sekaligus membentuk pemerintahan yang diterima rakyat (akseptabel). Pemilihan umum 1999 dijadikan Pemilu pencerahan, melalui paket Undang-Undang bidang

politik (No.2/1999, No. 3/1999 dan No. 4/1999) rakyat dijamin menikmati positive freedom. Selain adanya indikasi sangat kuat bahwa rezim Soeharto sebenarnya masih beroperasi di era reformasi. Kampanye pemilihan umum yang diikuti oleh 48 partai sebagai peserta pemilihan umum digelar diseluruh wilayah Indonesia. Jadwal kampanye Pemilu pun diatur namun bentrok antar pendukung partai tidak dapat dihindarkan. Kampanye menelan korban jiwa bahkan menimbulkan kerusakan dan ketakutan. Pelaksanaan tahap pemilihan umum justru diwarnai banyak dinamika diseputar KPU. Setelah terjadinya pengunduran jadwal percetakan surat suara, KPU kembali melakukan pengunduran agenda. Pengunduran agenda yang terjadi pada tanggal 23 April 1999 karena kondisi lapangan tidak memungkinkan terlaksananya pengajuan

87

daftar calon anggota DPR, DPRD I dan DPRD II secara tepat. Faktor utamanya karena kendala transportasi daerah yang terpencil di Indonesia (Lihat Lampiran 6). Adapun hasil perolehan kursi lima partai besar tersebut adalah : Tabel 6 Perolehan Kursi Lima Partai Besar
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Daerah Pemilihan Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Bali Nusa Tengggara Barat Nusa Tengggara Timur Timor Timur Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Jumlah PDIP 2 10 2 3 2 26 7 27 26 2 23 2 2 2 3 7 1 5 2 2 1 2 1 2 1 2 4 153 Partai Golkar 2 5 4 3 2 4 1 3 2 20 8 1 9 3 2 3 2 1 4 6 2 16 3 4 3 2 5 120 PPP 4 3 3 2 1 2 1 1 3 13 7 1 4 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 58 PKB 1 1 1 2 1 6 10 1 24 1 1 1 1 51 PAN 2 2 3 1 1 1 1 1 3 6 4 1 4 1 1 1 1 34

Sumber : Waridah, Siti dkk. 2003: 86.

88

Setelah KPU berhasil menetapkan jumlah anggota DPR dan MPR berdasarkan hasil pemilihan umum tahun 1999, serta berhasil menetapkan jumlah wakil-wakil Utusan Golongan dan Utusan Daerah maka MPR segera melaksanakan sidang. Sidang Umum MPR tahun 1999

diselenggarakan antara tanggal 1 sampai dengan 21 Oktober 1999, Sidang Umum ini mengukuhkan Amien Rais sebagai Ketua MPR dan Akbar Tanjung sebagai Ketua DPR. Dalam Sidang Paripurna MPR XII tanggal 19 Oktober, pidato pertanggungjawaban Presiden Habibie ditolak oleh anggota MPR melalui mekanisme voting dengan 355 suara menolak, 322 menerima, 9 abstein dan 4 suara tidak sah. Dengan penolakan pertanggungjawaban tersebut maka peluang Habibie untuk mencalonkan diri kembali sebagai presiden RI menjadi tipis. Pada tahap pencalonan presiden berikutnya muncul tiga nama calon presiden yang diajukan oleh fraksi-fraksi di MPR, yaitu Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Yusril Ihza Mahendra, namun sebelum pemilihan Yusril mengundurkan diri. Dari hasil pemilihan presiden yang dilaksanakan secara voting, Abdurahman Wahid mendapat 373 suara, Megawati 313 suara dan 5 suara abstain. Selanjutnya dilaksanakan pemilihan wakil presiden dengan calon Megawati dan Hamzah Haz yang akhirnya dimenangkan oleh Megawati.

89

Dan pada tanggal 25 Oktober 1999 Presiden Abdurahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri berhasil membentuk Kabinet Persatuan Nasional yang akan menjabat selama 5 tahun (1999-2004), adapun susunan dari Kabinet tersebut adalah sebagai berikut : KABINET PERSATUAN NASIONAL (1999-2004) Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan 1. Menteri Dalam Negeri 2. Menteri Luar Negeri 3. Menteri Pertahanan 4. Menteri Hukum dan Perundang-undangan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri 5. Menteri Keuangan 6. Menteri Pertambangan dan Energi 7. Menteri Perindustrian dan Perdagangan 8. Menteri Pertanian 9. Menteri Kehutanan : Drs. H. M Yusuf Kalla : Dr. Ir. M. Prakosa, Ph.D. : Soesilo Bambang Yudhoyono : Drs. Kwik Kian Gie : Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A : Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra : Jendral TNI Wiranto : Letjen Sorjadi : Dr. Alwi Shihab : Prof. Dr. Juwono Sudarsono Sudirdja

90

dan Perkebunan 10. Menteri Perhubungan 11. Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan dan Pengentasan Kemiskinan 12. Menteri Tenaga Kerja 13. Menteri Kesehatan 14. Menteri Pendidikan Nasional 15. Menteri Agama 16. Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah Menteri Negara 17. Meneg Riset dan Teknologi 18. Meneg Koperasi dan Pengusaha Kecil 19. Meneg Lingkungan Hidup 20. Meneg Otonomi Daerah

:Dr.Ir.Nurmahmudi Ismail,M. Sc : Letjen TNI Agum Gumelar

: Ir. Sarwono Kusumaatmaja

: Dr. Hamzah Haz : Drs. Bomer Pasaribu, S.H : Dr. Achmad Suyudi, M.Ph

: Dr. Yahya Muhaimin : Drs. K. H M. Tolchah Hasan

: Ir. Erna Witoelar

: Dr. Muhammad A.S. Hikam

: Drs. Zarkasih Noer

: Dr. Alexander Soni Keraf : Prof. Dr. M Ryaas Rasyid, M.A

91

21. Meneg Pariwisata dan Kesenian 22. Meneg Penanaman Modal dan Pembinanaan BUMN 23. Meneg Pemuda dan Olahraga 24. Meneg Pekerjaan Umum 25. Meneg Pemberdayaan Wanita 26. Meneg Urusan HAM 27. Meneg Transmigrasi dan Kependudukan 28. Meneg Pendayagunaan Aparatur Negara 29. Meneg Masalah-Masalah Kemasyarakatan Jaksa Agung Panglima TNI Sekretaris Negara : Dr. Anak Agung Gde Agung : Marzuki Darusman, S.H : Laksamana Widodo AS : Ir. Ali Rahman : Laksda Freddy Numberi : Ir. Al Hilal Hamdi : Dra. Khofifiah Indar Parawansa : Dr. Hasballah M. Saad : Drs. Mahadi Sinambela : Drs. Ir. Rozik Boediro Soetjipto : Ir. Laksamana Sukardi : Drs. H. Hidayat Jaelani

Sumber : (Waridah dkk. 2003: 88-90).

92

2. Pemilihan Umum 2004 Pemilihan umum 2004 merupakan pemilihan umum ke sembilan yang dilaksanakan Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Pemilihan umum 2004 merupakan pemilihan umum yang demokratis. Adapun dasar dilaksanakannya pemilihan umum 2004 sendiri adalah UU RI No. 12 Tahun 2003 tentang pemilihan umum Anggota DPR, DPD dan DPRD serta UU RI No. 23 Tahun 2003 tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden. a. Tahapan Pemilihan Umum Legislatif : Tabel 7 Tahapan Pemilihan Umum Legislatif
No. 1. Kegiatan Pendaftaran parpol peserta Pemilihan Umum. 2. 3. 4. 5. Penentuan parpol peserta Pemilu Penentuan nomor urut parpol Pendaftaran calon anggota DPD Penelitian administratif dan factual calon anggota DPD oleh KPU 19 Jul – 20 Nov 2003 8 Desember 2003 8 Juli-8 Sept 2003 4 Sept-30 Nov 2003 Waktu 9 Juli- 9 Okt 2003 Keterangan Secara bertahap Oleh KPU Oleh KPU

Kab/Prop. 6. 7. Penetapan calon anggota DPD Penetapan nomor urut Calon anggota DPD. 8. Pengumuman calon anggota DPD 17-18 Des 2003 Oleh KPU 9 Desember 2003 16 Des 2003

93

b. Tahapan Pemungutan Suara : Tabel 8 Tahapan Pemungutan Suara
No. 1. Persiapan suara. 2. Pengadaan dan distribusi surat suara Pengumuman 3. 4. 5. pemungutan suara Persiapan TPS Pemungutan suara dan pemberitahuan berita acara 6. 7. Penghitungan suara di PPS Penghitungan suara di PPK tempat, waktu 27 2004 4 April 2004 5 april 2004 6 April 2004 13 April 2004 Maret-3 April 28 Januari 2004 Kegiatan menjelang pemungutan Waktu 15-21 Januari 2004

Keterangan

( Lihat Lampiran 8) c. Tahapan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tabel 9 Tahapan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kegiatan Pemutahiran DPT Pengumuman DPT tambahan Pengumuman DPS Penetapan DPT Penyampaian kartu pemilih tambahan Waktu 25-30 Mei 2004 31 Mei-5 Juni 2004 6-10 Juni 2004 7-12 Juni 2004 Juni 2004 Keterangan

94

d. Tahapan Pemungutan Suara Dan Penghitungan Suara Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden Tahap I Tabel 10 Tahapan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahap I
No. 1. Kegiatan Persiapan suara. 2. Penyampaian salinan DPT untuk TPS oleh PPS 3. Pengumuman dan pemberitahuan 24-29 Juni 2004 18-22 Juni 2004 menjelang pemungutan Waktu 3 Mei- 4 juli 2004

Keterangan

tempat dan waktu pada pemilih dan saksi 4. 5. Penyiapan TPS Pemungutan suara dan pembuatan berita acara 6. Penghitungan suara tingkat PPS dan pembuatan berita acara 7. Penghitungan suara tingkat PPK dan pembuatan berita acara Juli 2004 7 Juli 2004 29 Juni- 2 Juli 2004 5 Juli 2004

95

e. Tahapan Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden Tahap II Tabel 11 Tahapan Pemilihan Presiden dan Wapres Tahap II
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kegiatan Pemutahiran DPT Pengumuman DPT tambahan Pengumuman DPS Penetapan DPT Penyampaian kartu pemilih tambahan Waktu 29Agust-27Sept 2004 4 September 2004 5-10 September 2004 11 September 2004 15 September 2004 Keterangan

f. Tahapan Pemungutan Suara Dan Penghitungan Suara Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden Tahap II Tabel 12 Tahapan Pemungutan dan Penghitungan Suara Tahap II
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kegiatan Pemutahiran DPT Pengumuman DPT tambahan Pengumuman DPS Penetapan DPT Penyampaian kartu pemilih tambahan Waktu 29Agust-27Sept 2004 4 September 2004 5-10 September 2004 11 September 2004 15 September 2004 Keterangan

Sumber : Laporan Pertanggungjawaban Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal Jawa Tengah.

96

1) Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pemilihan umum anggota DPR, DPD dan DPRD diatur dalam UU RI No. 12 Tahun 2003 yang telah disyahkan dan diundangkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 11 Maret 2003 di Jakarta, dimana Undang-Undang tersebut terdiri dari 17 Bab dan 150 pasal. Penyelenggaraan pemilihan umum legislatif tahun 2004 berbeda dengan pemilihan umum sebelumnya. Perbedaan tersebut terletak pada sistem pemilunya, yang belum mencukupi idealitas, juga

penyelenggaraannya diformat secara independen dan diisi oleh mereka yang berlatar belakang impartisan pula. Pemilu 2004 diawasi oleh pengawas pemilu dengan format yang tidak kalah impartisannya bahkan merepresentasi hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang digelar sebagai pelaksanaan dari sistem politik dan dalam konstitusi yang baru. Pemilihan umum dianggap bagian terpenting dalam perubahan yang diinginkan rakyat kedepan. Dari penyelenggaraan pemilu memungkinkan bagi terjadinya sirkulasi kekuasaan yang ada. Pada mulanya gerakan reformasi berhasil melepaskan Soeharto dari lembaga kepresidenan, sebenarnya keinginan tersebut berlanjut pada turunnya seluruh lapisan elit kepemimpinan nasional dari panggung kepemimpinan nasional tetapi membutuhkan biaya sosial dan kemanusiaan yang sangat besar sehingga perlu jalan lain yaitu dengan diselenggarakannya pemilihan umum.

97

Berlangsungnya Pemilu 1999 sudah sesuai dengan keinginan reformasi, meskipun masih disadari perlunya perbaikan. Sidang Umum MPR 1999 kembali mengumandangkan perlunya suatu Pemilu 1999 yang lebih berkualitas dan demokratis. Akhirnya keinginan tersebut terwujud pada 19 Oktober 1999 saat MPR menetapkan Tap No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 1999-2004. Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang sebagai pengejawantahan konstitusi dasar UUD 1945 yang diamandemen. DPR bersama presiden menyepakati serta mengesahkan dan mengundangkan 5 (lima) undang-undang bidang politik antara lain : 1. UU No. 31 tahun 2003 tentang partai politik, yang disahkan di Jakarta pada tanggal 27 Desember 2002, lembaran negara Republik Indonesia tahun 2002 No. 138 dan tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 4251. 2. UU No. 12 tahun 2003 tentang pemilihan umum anggota DPR, DPD dan DPRD, disahkan di Jakarta tanggal 11 Maret 2003. Diundangkan pada tanggal 11 Maret 2003, lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2003 No 34 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia No 4277. 3. UU No. 22 tahun 2003 tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD disahkan di Jakarta pada tangggal 31 Juli 2003. Diundangkan pada tanggal 31 Juli 2003, lembaran Negara Republik

98

Indonesia tahun 2003 No. 92 dan tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No.4310. 4. UU No 23 tahun 2003 tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden, disahkan di Jakarta pada tanggal 31 Juli 2003. Diundangkan pada tanggal 31 Juli 2003, lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2003 No 93 dan tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 4311. 5. UU No. 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, disahkan pada tanggal 13 Agustus 2003, diundangkan pada tanggal 31 Juli 2003. Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2003 No.98 dan tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4316 (KPU Jawa Tengah 2004 : 12) Pemilihan umum 2004 sering dianggap sebagai pengalaman pertama di bidang politik dalam demokrasi di Indonesia yang paling nyata. Pemilihan umum ini mempertaruhkan segalanya bagi mereka yang percaya bahwa kekuatan di luar negara mampu berbuat banyak bagi demokratisasi. Pemilu 2004 berhasil memilih wakil rakyat sebagaimana misi utama Pemilu pada umumnya namun gagal dalam rangka kualifikasi demokratisasi. 1) Sistem Pemilihan Umum Anggota Legislatif Dalam diskusi ilmu politik ada 2 (dua) kelompok besar mengenai sistem pemilihan umum. Pertama adalah suatu daerah pemilihan

99

memiliki seorang wakil (Single Member Constituency) yang disebut sebagai sistem pemilihan distrik. Dan yang kedua adalah suatu daerah pemilihan memiliki beberapa wakil (Multy Member Contituency) yang disebut sebagai sistem perwakilan berimbang (Proporsional

Representation). a. Sistem Pemilihan Distrik. Dalam sistem distrik sebuah negara dibagi dalam banyak daerah distrik pemilihan. Pada saat pemilihan mereka

mendapatkan suara terbanyak akan berhak mewakili rakyat pemilihan di distriknya untuk duduk di lembaga perwakilan rakyat, sementara yang menempati urutan di bawahnya akan hilang suaranya berapapun selisih suara dengan pemenang hanya sedikit. Hal inilah yang menjadi kelemahan dari sistem sistem distrik, namun kelebihan sistem ini adalah bahwa mereka yang terpilih merupakan pemenang dari sebuah kompetisi yang baik, serta dapat mendorong integrasi partai sehingga kondisi

pemerintahan lebih stabil, selain banyak

itu sistem ini diterapkan di

negara karena dipandang lebih sederhana dan murah

penyelenggaraannya. b. Sistem Pemilihan Perwakilan Berimbang. Asumsi yang mendasari sistem perwakilan berimbang bahwa sebuah negara dianggap sebagai satu daerah pemilihan

100

besar, meskipun secara teknis administratif dibagi kedalam beberapa daerah pemilihan yang lebih besar dari sekedar daerah pemilihan dalam sistem distrik. Dalam daerah yang besar tersebut dipilih beberapa wakil berdasarkan imbangan jumlah penduduk yang ditentukan secara nasional, untuk kemudian ditentukan perorangan yang nantinya sebagai wakil dari daerah pemilihan yang dimaksud. Maka untuk itu diperlukan suatu angka perbandingan, misalnya 1:400.000, artinya seorang wakil dianggap mewakili 400.000 penduduk di suatu daerah pemilihan tersebut. Selain asas keterwakilannya dianggap sangat rendah juga berakibat pada gampangnya disintegrasi partai karena partai kepentingan yang relatif tidak gampang disatukan. Itulah kelemahan yang paling menonjol, selain itu sebenarnya sistem ini mengandung banyak kelebihan seperti berapapun suara yang ada tetap dihitung sehingga dapat diakumulasikan dalam jumlah yang bisa menghasilkan wakil rakyat dari hasil jumlah antar daerah pemilihan yang dimaksud. c. Sistem Kombinasi/ Campuran. Dari kedua sistem tersebut terdapat beberapa hal yang dikombinasikan, beberapa produk kombinasi keduanya adalah variasi sistem Pemilu proporsional dengan daftar. Dalam sistem ini setiap partai dapat menggunakan satu daftar yang berisi banyak

101

nama untuk kemudian rakyat pemilih diminta memilih satu diantara nama-nama yang tertera dalam daftar pemilihan yang telah ditetapkan tersebut (KPU Jawa Tengah 2004:8) Adapun sistem pemilihan umum yang dipakai dalam pemilihan umum legislatif berdasarkan UU No. 12 tahun 2003 merupakan kombinasi dari kedua sistem tersebut yaitu variasi sistem distrik dan sistem proporsional. Sistem pemilihan legislatif 2004 dapat dikatakan mengunakan sistem distrik karena setiap daerah pemilihan ditentukan atau telah dibagi-bagi. Namun Pemilu legislatif dapat dikatakan menganut sistem proporsional karena seorang pemilih dapat memilih tanda gambar partai politik tanpa memilih seorang nama dalam daftar sehingga dianggap masih syah suaranya. Demikian pula sistem ini adalah sistem proporsional dengan daftar calon terbuka, mengingat daftar yang memuat namanama yang diserahkan partai dan KPU oleh pemilih dapat dipilih berdasarkan kemauan pemilih tanpa mencoblos nomor urutnya. 2) Peserta Pemilihan Umum Adapun peserta dari pemilihan umum tahap ini terdiri dari dua yaitu partai politik dan perseorangan. Partai politik dapat menjadi peserta pemilihan umum apabila memenuhi syarat antara lain partai tersebut telah diakui keberadaannya sesuai dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 2002 tentang partai politik. Partai tersebut juga memiliki

102

anggota sekurang-kurangnya 1000, pengurus partai politik harus memiliki kantor tetap dan partai politik tersebut mengajukan tanda gambar parpol kepada KPU. Sedangkan peserta perseorangan harus memenuhi syarat dukungan dengan ketentuan Provinsi yang berpenduduk sampai 1.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya oleh 1000 orang pemilih, Provinsi yang berpenduduk lebih dari 1.000.000 sampai dengan 5.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya oleh 2.000 orang pemilih, provinsi yang berpenduduk lebih dari 5.000.000 sampai dengan 10.000.000 orang harus didukung oleh 3.000 orang pemilih, provinsi yang berpenduduk lebih dari 10.000.000 sampai dengan 15.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya oleh 4.000 pemilih, dan provinsi yang berpenduduk lebih dari

15.000.000orang harus didukung sekurang-kurangnya oleh 5.000 orang pemilih yang tersebar di sekurang-kurangnya 25 % dari jumlah Kabupaten/Kota di Provinsi yang bersangkutan (KPU Jawa Tengah 2004: 15) Adapun partai politik yang menjadi peserta dalam pemilihan umum 2004 berjumlah 24 partai politik antara lain Partai Nasional Marhenisme, Partai Buruh Sosial Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Merdeka, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan, Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Partai

103

Nasional Banteng Kemerdekaan, Partai Demokrat, Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Amanat Nasional, Partai Karya Pedui Bangsa, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Damai Sejahtera, Partai Golongan Karya, Partai Patriot Pancasila, Partai Serikat Indonesia, Partai Persatuan Daerah, Partai Pelopor ( Tim Litbang Kompas 2004:327–342) (Lihat Lampiran 9). 3) Hasil Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Adapun hasil penghitungan kursi partai politik peserta pemilihan umum angota DPR dalam pemilihan umum 2004 adalah sebagai berikut : Tabel 13 Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Jumlah Suara Sah Partai Politik 1. 923.159 636.397 2.970.487 2. 842.541 9.248.764 1.313.654 672.952 1.230.455 8.455.225 1.424.240 855.811 Jumlah Kursi 1 0 11 0 58 5 0 1 57 1 1

No. Urut 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Nama Partai Politik PNI PBSD PBB MERDEKA PPP PDK PIB PNBK DEMOKRAT PKPI PPDI

104

PNUI PAN PKPB PKB PKS PBR PDIP PDS GOLKAR PANCASILA PSI PPD PELOPOR JUMLAH Sumber: http//www.kpu.go.id

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.

895.610 7.303.324 2.399.290 11.989.564 8.325.020 2.764.998 21.026.629 2.414.254 24.480.757 1.073.139 679.296 657.916 878.932 113.462.414

0 52 2 52 45 13 109 12 128 0 0 0 2 550

2) Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Pemilihan umum presiden dan wakil presiden merupakan salah satu tonggak sejarah yang penting di Indonesia karena untuk pertama kalinya rakyat Indonesia dapat memilih presiden dan wakil presiden secara langsung. Dimana presiden dan wakil presiden dipilih setiap 5 tahun sekali melalui pemilihan umum yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil yang diselenggarakan oleh suatu Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Komisi Pemilihan Umum (KPU) merupakan suatu komisi pelaksana pemilihan umum, dimana KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota merupakan bagian dari KPU. Di tingkat kecamatan pemerintah

membentuk Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (KPPS) dan Tempat Pemungutan Suara (TPS).

105

a. Sistem Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden 2004 Pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 dikenal adanya paket pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Pertama adalah pemilihan dengan sistem seleksi awal (early selection) dari banyak kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden. Jika 50 % dari sistem pertama ini belum terpenuhi maka dilanjutkan dengan putaran kedua (second selection) yang ditentukan dari pemilihan 2 pasang calon presiden dan wakil presiden dengan peraih suara terbanyak. b. Tata Cara Pelaksanaan Dan Pemungutan, Penghitungan Suara Tata cara pelaksanaan dan pemungutan, penghitungan serta rekapitulasi perolehan suara pemilu presiden dan wakil presiden di PPK, PPS, KPU Kabupaten/Kota dan KPU Provinsi diatur secara khusus dalam Keputusan KPU No. 37 dan 38 tahun 2004. Dalam mekanisme pencalonan pasangan presiden dan wakil presiden bahwa peserta pemilu presiden dan wakil presiden adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh sekurang-kurangnya 15 % dari jumlah kursi DPR atau 20 % dari perolehan suara sah secara nasional dalam pemilihan umum anggota DPR (Lihat Lampiran 10 dan 11).

106

Khusus pada pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2004 partai politik atau gabungan partai yang boleh mengajukan calon adalah partai politik yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 3 % dari jumlah kursi di DPR atau 5 % dari suara sah secara nasional. Pada pemilihan umum presiden dan wakil presiden dengan sedikitnya 20 % suara disetiap provinsi tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia diumumkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Pelaksanaan pemilu presiden dan wakil presiden adalah pada hari libur atau diliburkan dengan tujuan untuk memberi kesempatan seluasluasnya kepada masyarakat. Untuk menggunakan hak pilihnya tanpa beban psikologis. Untuk melaksanakan kegiatan lain yang dapat mengganggu konsentrasi penyaluran aspirasinya pada saat

pemungutan suara. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang telah diusulkan dalam satu pasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik tidak boleh dicalonkan lagi oleh partai politik atau gabungan partai politik lainnya. Setiap pasangan calon presiden dan wakil presiden melaksankan kampanye selama 30 hari dan berakhir tiga hari sebelum hari pemungutan suara. Dimana kampanye bisa dilaksanakan dengan pertemuan terbatas, dialog, media cetak atau elektro, siaran radio dan televisi, rapat umum dan kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

107

Kampanye sangat membutuhkan banyak dana, dimana dana kampanye tersebut berasal dari pasangan calon, partai politik atau gabungan partai politik yang mencalonkan dan sumbangan pihakpihak yang tidak mengikat meliputi sumbangan perseorangan atau badan hukum swasta. Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus mengetahui sumbangan dana kampanye baik dalam bentuk uang maupun bukan bentuk uang wajib dilaporkan pada KPU dan terbuka secara umum. Pasangan calon juga dilarang menerima bantuan yang berasal dari negara asing yang tidak jelas identitas dan dilarang menerima sumbangan dari pemerintah. Setelah masa kampanye selesai maka diadakan pemungutan suara dimana hari, tanggal dan waktunya telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan pemungutan suara pemilu presiden dan wakil presiden akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2004 (pemungutan suara tahap I) dan tanggal 20 september 2004 (pemungutan suara tahap II). Pemungutan suara dilakukan dengan memberikan suara melalui surat suara yang berisi nomor, foto, dan nama pasangan calon. Setiap pemilih harus memiliki kartu pemilih dan namanya harus tercantum dalam salinan daftar pemilih tetap untuk tempat pemungutan suara yang bersangkutan.

108

c. Pelaksanaan Pemungutan Suara Pemilu Presiden dan Wapres Tahap I Pelaksanaan pemungutan suara pemilihan umum presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2004, adapun nama calon presiden dan wakil presiden yang dicalonkan sesuai dengan keputusan KPU No. 56/ SK/KPU/2004, peserta pemilihan umum presiden dan wakil presiden adalah pasangan calon : 1. Wiranto S.H (Golkar) Ir. H Salahudin Wahid (PKB) 2. Hj. Megawati Soekarnoputri (PDI P) KH. A. Hasyim Muzadi 3. Prof. Dr. H.M. Amien Rais (PAN) Dr. Ir. H. Siswono Yudho Husodo 4. H. Susilo Bambang Yudhoyono (P Demokrat) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (Golkar) 5. Dr. H. Hamzah Haz (PKB) Agum Gumelar, M.Si (KPU Jawa Tengah.2004:5) (Lihat Lampiran 12). Untuk pertama kalinya dalam pemilihan umum 2004 rakyat memilih secara langsung anggota DPR, DPD, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Meskipun pemilihan sudah dilakukan secara langsung kita melihat bahwa penggunaan hak itu bukanlah hal

109

mudah, rakyat menghadapi kesulitam untuk menentukan siapa pemimpin yang paling pantas untuk diberi kepercayaan memimpin Indonesia . d. Hasil Pemungutan Suara Pemilihan Presiden Dan Wakil presiden Tahap I Hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2004 putaran I telah ditetapkan oleh KPU pada tanggal 26 Juli 2004. Dari penetapan tersebut dipastikan bahwa Pemilu presiden dan wakilnya tidak bisa diselesaikan dalam satu putaran, karena tidak ada satu pasangan calon pun yang mampu mengumpulkan lebih dari 50 % suara sah. Berdasarkan ketentuan yang ada di dalam UU No. 23/2003 Tentang Pemilu presiden dan wakil presiden, khususnya Pasal 67 ayat (1), apabila tidak ada pasangan calon yang memperoleh lebih dari 50% suara, pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih kembali oleh rakyat secara langsung melalui Pemilu. Yang menempati urutan pertama dalam perolehan suara pada putaran I ini adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono–M. Jusuf Kalla (dengan memperoleh 39.838.184) dan urutan kedua ditempati oleh pasangan Megawati Soekarnoputri–Hasyim Muzadi dengan 31.569.104 suara. Jadi, kedua pasangan inilah yang berhak mengikuti Pemilu putaran II, sedangkan tiga pasangan lainnya gugur. Sebagai informasi, pasangan Wiranto–Salahuddin Wahid, Amien Rais Siswono Yudo Husodo, dan Hamzah Haz–Agum Gumelar secara berturut-turut menempati urutan ketiga, keempat dan kelima. Pasangan Wiranto– Salahuddin memperoleh 26.286.788 suara, Amien–Siswono 17.392.931, dan Hamzah Haz–Agum Gumelar 3.569.861 suara (http//www.kpu.go.id)

110

Penetapan mengenai hasil pemilihan umum dituangkan di dalam Keputusan KPU No. 79/SK/KPU/2004 tertanggal 26 Juli 2004. Khusus mengenai perolehan suara para pasangan calon disebutkan di dalam diktum ketiga keputusan ini. Sedangkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dituangkan dalam Berita Acara Nomor 125/15BA/VII/2004 tanggal 26 Juli 2004 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Model DD-PWP). Karena UU No. 23 Tahun 2004 memberi kesempatan kepada pasangan calon yang merupakan peserta Pemilu untuk mengajukan keberatan ke Mahkamah Konstitusi bila ada yang tidak bisa mereka terima, kemungkinan untuk perubahan masih terbuka untuk keputusan ini. Pada kenyataannya pasangan calon presiden dan wakil presiden dari Partai Golkar, yaitu Wiranto–Salahuddin Wahid, menggugat ke Mahkamah Konstitusi, saat ini masih harus ditunggu apakah keputusan tersebut akan benar-benar berubah atau tidak. Keputusan ini akan berubah apabila MK memenangkan gugatan Wiranto– Salahuddin. Sebaliknya, keputusan ini akan tetap apabila MK tidak mengabulkannya (http//www.kpu.go.id) e. Pelaksanaan Pemungutan Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahap II Dari hasil pemungutan suara pemilihan presiden dan wakil presiden maka ada 2 (dua) pasang calon yang akan masuk ke tahap 2 (dua) antara lain : 1. Hj. Megawati Soekarnoputri (PDI P) KH. A. Hasyim Muzadi

111

2. H. Susilo Bambang Yudhoyono (P Demokrat) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (Golkar) (Lihat Lampiran 13). Pelaksanaan pemungutan suara tahap 2 (dua) dilaksanakan pada tanggal 20 September 2004. Pada hari Senin 4 Oktober 2004, Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2004 putaran II. Penetapan tersebut dituangkan di dalam keputusan KPU No. 98/SK/KPU/2004 tanggal 4 Oktober 2004.
Penetapan itu diambil seteleh rekapitulasi manual penghitungan hasil Pemilu tersebut selesai dilakukan. Adapun hasilnya adalah bahwa Pemilu ini dimenangkan oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden dengan nomor urut 4, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan M. Jusuf Kalla, dengan memperoleh 69.266.350 suara (60,62%). Sedangkan pasangan nomor 2, Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi memperoleh 44.990.704 (39,38%) suara. Sesuai dengan selesainya penghitungan hasil Pemilu putaran II ini, final sudah hasil Pemilu presiden dan wakil presiden 2004 (http//www.kpu.go.id) (Lihat Lampiran 14).

Pelaksanaan pemilihan umum 2004 akhirnya dapat selesai tanpa adanya kerusuhan-kerusuhan yang ditafsirkan oleh banyak pihak, prediksi akan terjadi keributan antara para pemenang dan pihak yang kalah ternyata tidak terjadi. Hal tersebut menunjukan kedewasaan rakyat Indonesia, hanya saja memang ada beberapa halangan misalnya saja pendistribusian kertas suara di tempat-tempat yang terpencil sehingga pelaksanaan pemungutan suara tidak dapat berjalan secara serempak di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan di beberapa tempat pemungutan suara diulang karena ada kesalahan penghitungan suara.

112

Akhir-akhir ini sedang mencuat adalah dugaan korupsi yang dilakukan oleh anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU)

memunculkan pertanyaan tentang keabsahan hasil Pemilu 2004, mengingat Komisi Pemilihan Umum adalah lembaga yang

bertanggungjawab sebagai pelaksana pemilihan umum. Munculnya pertanyaan tersebut tampak wajar, karena kegiatan yang menentukan masa depan bangsa Indonesia itu seharusnya dilaksanakan oleh lembaga yang "bersih" dengan orang-orang di dalamnya yang juga "bersih" dan memiliki integritas yang tinggi. Jika sebagai penyelenggara pemilihan umum Komisi Pemilihan Umum ternyata tidak "bersih", maka lantas bagaimana dengan hasil kerjanya, yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2004 yang membentuk jajaran DPR RI dan pemerintah sekarang ini. Menurut Kepala Divisi Sipil dan Politik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, A. Budi Hartono, jika pengadilan membuktikan bahwa KPU melakukan tindakan korupsi, maka hasil Pemilu 2004 jelas cacat hukum. Sebagai penyelenggara Pemilu, KPU semestinya bersih dan tidak cacat hukum. "Bermasalah boleh, tapi kalau terbukti korupsi dan oleh pengadilan dinyatakan bersalah, maka KPU menjadi lembaga penyelenggara pemilu yang cacat hukum, termasuk hasil kerjanya, yaitu pemilu. Jika terfokus pada konsekuensi hukum, maka hasil

113

pemilu yang tidak sah, karena cacat hukum, tersebut harus diulang. Tetapi dengan mengulang pemilu memerlukan banyak pertimbangan dan pemikiran jernih, serta sikap arif dan tidak emosional, karena pengulangan pemilu akan membawa risiko besar terutama terjadinya keributan. Berbeda dengan Budi Hartono, staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), G. Sri Nurhartanto SH LLM, berpendapat bahwa meski bila nantinya pengadilan

membuktikan KPU melakukan tindak korupsi, tetapi hasil Pemilu 2004 tetap sah, karena dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang semestinya. Oleh karena itu, mengaitkan masalah korupsi ditubuh KPU dengan keabsahan hasil Pemilu 2004 jelas tidak relevan. "Rakyat telah memilih langsung dan hasil pemilu juga dapat diakses langsung oleh masyarakat melalui berbagai sarana, serta menghasilkan pemerintahan yang sekarang...”(Nurhartanto 2005). Peristiwa yang terjadi di dalam tubuh KPU sekarang ini bukan penyimpangan prosedural yang berkaitan dengan tugas KPU sebagai penyelenggara Pemilu, melainkan merupakan urusan dari internal KPU, sampai sekarang tidak ada pihak yang menyatakan keberatan dengan hasil Pemilu 2004. Hasil Pemilu bisa dianggap tidak sah jika ditemukan bukti yang menunjukkan kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu, seperti dalam penghitungan suara, atau pemberian suara ganda

114

dan tindak intimidasi terhadap petugas Pemilu maupun saksi dari pelaksanaan Pemilu. Selain itu jika ada saksi yang menolak menandatangani berkas berita acara perolehan suara, juga dapat dijadikan indikator tindak kecurangan pada suatu Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Mengingat faktor tersebut dugaan korupsi di tubuh KPU tidak berdampak sama sekali terhadap hasil Pemilihan Umum 2004 yang dilaksanakan. Penyimpangan yang terjadi hanya sebatas perkara

penyalahgunaan kewenangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga negara. Penyimpangan yang terjadi di KPU bukan penyimpangan prosedural pelaksanaan pemilu, sehingga hasil Pemilu 2004 tidak bisa dikatakan bahwa pemilihan umum yang dilaksanakan merupakan pemilu yang tidak sah. Pemilu 2004 sudah terlaksana dengan baik dan tidak ditemukan kesalahan prosedural, yang berarti hasil yang didapat juga sah. Karena itu tidak diperlukan pemilu ulang, karena selain hasil Pemilu 2004 sudah sah, menggelar Pemilu ulang juga tidak mudah dan memerlukan biaya besar. Pemilu ulang, juga dapat berdampak terjadinya kekacauan karena akan timbul gejolak politik di berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.

115

BAB IV PERBANDINGAN PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA ORDE BARU DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA REFORMASI

A. PEMILIHAN UMUM PADA MASA ORDE BARU Pemilihan umum pada masa Orde Baru yang dilaksanakan pada tahun 1971, 1972, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997 didasarkan pada Pancasila. Dimana kebijakan yang diambil berdasar pada pelajaran dari kegagalan-kegagalan pemerintahan Soekarno, misalnya kebijakan yang berkenaan dengan kepartaian seperti penyederhanaan partai politik dan penggunaan Pancasila dengan dalih untuk menciptakan suatu suasana pemerintahan stabil dan terkontrol. Untuk mewujudkan pembangunan ekonomi, namun langkah yang diambil pemerintah Orde Baru telah menumbuhkan sikap otoritarisme dan secara tidak langsung telah melenceng dari demokrasi Indonesia. Dari enam kali pelaksanaan pemilihan umum tersebut Orde Baru telah berhasil melaksanakan pemilihan umum secara berkala yaitu setiap 5 (lima) tahun sekali, kecuali pada tahun 1977. Keberkalaan pelaksanaan pemilihan umum secara formal merupakan suatu prestasi yang luar biasa. Hal ini bertambah dengan adanya tingkat partisipasi yang tinggi dalam setiap pelaksanaan pemilihan umum, dimana hampir mendekati 90 % orang yang memberikan suara dalam pemilihan

115

116

umum. Akan tetapi keberkalaan pelaksanaan pemilihan umum dan tingginya tingkat partisipasi tersebut mengandung kelemahan. Secara garis besar pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru dapat dikatakan bahwa kekuatan politik ada di tangan penguasa, artinya penguasa didominasi oleh kekuatan Golkar sebagai partai pemenang dalam setiap Pemilu pada masa Orde Baru. Dimana Golkar selalu berperan sebagai suara mayoritas yang didukung oleh masyarakat baik dari kalangan ABRI, pegawai negeri dan rezim yang berkuasa sendiri yaitu Golongan Karya yang selalu berusaha untuk tetap menang dalam setiap pemilihan umum. Pemilu Orba dihiasi bentrokan antara aparat pemerintah dengan rakyat seperti yang terjadi di daerah-daerah. Dalam Pemilu Orde Baru peran serta masyarakat dalam melegitimasi pelaksanaan pemilihan umum sangat rendah karena negara sangat memonopoli legitimasi pelaksanaan Pemilu yang di bantu oleh tentara. Dengan demikian terjadilah pelanggaran Pemilu yang dilakukan oleh 3 kekuatan yaitu birokrasi, Golkar dan tentara dimana politik kekerasan oleh penguasa menjadi isu utama dalam masyarakat. Pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru bukanlah alat yang memadai untuk mengukur suara rakyat, hal itu bukan karena Pemilu Orde Baru dilakukan melalui sebuah proses yang telah tersentralisasi pada lembaga-lembaga birokrasi. Dimana lembaga birokrasi itu tidak hanya mengatur hampir seluruh proses pemilihan umum tetapi juga berkepentingan untuk merekayasa kemenangan bagi partai politik milik pemerintah yaitu Golongan Karya. Dalam

117

setiap pemilihan umum kompetisi di tekan seminimal mungkin dan kebebasan serta keberagaman pandangan tidak diperbolehkan. Pada masa ini lebih di tekankan pada satu konsep untuk menciptakan stabilitas nasional dengan usaha persamaan dan penyatuan kepentingan guna mendukung pembangunan nasional, selain itu juga menekankan kebebasan untuk mempersempit ruang pembeda yang ada dalam masyarakat yang bisa menimbulkan perpecahan atau disintegrasi. Perubahan radikal sistem partai dilakukan oleh rezim Orde Baru melalui Pemilu 1971 yang di rekayasa supaya Golkar berhasil menjadi pemenang mutlak. Keberhasilan itu mengubah sistem multi partai menjadi sistem satu partai. Tidak cukup dengan itu pemerintah Orde Baru merekayasa lagi penyederhanaan partai melalui fusi jumlah partai menjadi 3 yaitu PPP, Golkar dan PDI. Dimana Golkar sebagai pemenang mutlak pemilihan umum hanya difungsikan sebagai kekuasaaan politik pembentuk legitimasi rezim dan pemerintah yang

sesungguhnya didominasi oleh militer. Para pemimpin golkar sebagai partai yang berkuasa memang memperoleh jabatan kenegaraan, akan tetapi tidak menentukan struktur dan proses politik, maka partai pemenang Pemilu secara mutlak hanya berperan sebagai mobilitas rakyat untuk mendukung penguasa, pemerintah dan kebijaksanaan. Adapun sistem politik yang dianut oleh rezim Orde Baru adalah menciptakan format politik yang tujuan utamanya adalah menjamin posisi dominan negara khususnya eksekutif dan depolitisasi masyarakat di bawah kontrol eksekutif. Strategi pertama yang dijalankan adalah di bawah politik massa

118

mengambang yang tujuan utamanya adalah membatasi operasi partai politik yang ada sampai tingkat kabupaten. Dalam wacana politik Orde Baru kebijakan ini untuk melindungi rakyat dari manipulasi politik yang dilakukan oleh partai-partai politik yang berkomplot sering menimbulkan gangguan politik dan sosial. Tetapi kebijakan tersebut memberikan hasil yang sangat berbeda karena adanya Golkar sebagai partai yang berkuasa meraup keuntungan dari praktek-praktek massa mengambang memainkan suatu peranan krusial dalam mempertahankan dukungan golongan karya dan mengurangi kesempatan partai-partai lain dalam memperluas pengaruhnya. Strategi kedua yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru adalah depolitisasi tidak langsung yang diimplementasikan dengan korporatisasi, kooptasi dan hegemoni ideologi. Melalui mekanisme korporatisasi pemerintah dapat menggunakan kontrol dan pengawasan sistematis terhadap kelompokkelompok kepentingan dalam masyarakat, dimana Soeharto selalu melaksanakan pengawasan yang ketat terhadap semua organisasi sosial politik sehingga tidak memungkinkan organisasi-organisasi tersebut menjadi cukup independen. Adapun orang-orang yang cenderung independen dan menentang otoritas negara misalnya PDI Megawati, NU Abdurahman Wahid, HKBP Nababin, SBSI Pakpahan dan PRD Soedjatmiko. Hanya beberapa organisasi seperti PDI dan NU yang dapat bertahan mengahadapinya. Dibawah Orde Baru masyarakat politik hampir sepenuhnya dibawah arahan pemerintah dan kekuasaan personal Soeharto. Misalnya tidak adanya

119

kekuatan politik yang menunjukan kekuasaannya tanpa diketahui dan dikontrol pemerintah secara resmi ada 3 partai politik yaitu PPP, Golkar dan PDI yang dianggap independen dan berfungsi sebagai pengatur kepentingan yang berbeda dalam masyarakat. Namun orang tidak dapat membedakan agenda politik mereka karena semua mempromosikan kepentingan negara. Meskipun ada perbedaan hanyalah perbedaan tingkat ketaatan politik mereka kepada penguasa, sehingga tidak heran selama 3 dekade kekuasaan Orde Baru hanya ada beberapa peristiwa dimana partai-partai mementingkan agenda politik negara. 2. Pemilihan Umum tahun 1971 1) Tanggal pelaksanaan 2) Landasan Operasional : 3 Juli 1977 :

1. Tap MPRS NO. 92/MPRS/1968 2. UU No.15/1969 3. UU No.16/1969 4. PP No. 1/1970 3) Jumlah Organisasi peserta Pemilu ( OPP ) : ¾ 9 Partai Politik ¾ 1 Golongan Karya 4) Jumlah Anggota MPR dan DPR : Anggota MPR 920 orang yang terdiri atas : 1. DPR 460 orang yang berasal dari pemilu 360 dan diangkat 100 orang.

120

2. Utusan Daerah 147 orang, utusan golongan 100 orang dan suara imbangan dari OPP dan ABRI 213 orang. 3. Pemilihan Umum tahun 1977 1) Tanggal pelaksanaan 2) Landasan Operasional 2) Tap MPR No. 8?1973 3) Tap MPR No.9/1973 4) UU No.4/1975 5) UU No.5/1975 6) PP No.1/1976 3) Jumlah Organisasi Peserta Pemilu ( OPP ) : ¾ 2 Partai Politik ¾ 1 Golongan Karya 4) Jumlah Anggota MPR , DPR dan DPRD : a) Jumlah anggota MPR 920 orang yang terdiri atas 460 orang berasal dari pemilu adalah 360 orang dan 100 orang adalah yang diangkat, utusan daerah 135 orang, utusan golongan 325 orang terdiri atas utusan parpol dan golkar non ABRI 52 orang. b) Jumlah anggota DPRD I 40–75 orang terdiri atas melalui pemilihan umum 80 %, golkar ABRI 15 % dan Golkar non ABRI 5 %. c) Jumlah anggota DPRD II 20–40 orang terdiri atas melalui Pemilu 80 %, golkar ABRI 15 % dan golkar non ABRI 5 %. : 2 Mei 1977 :

121

4. Pemilihan umum tahun 1982 1) Tanggal Pelaksanaan 2) Landasan operasional 1. Tap MPR No.8/1978 2. Tap MPR No.6/1978 3. UU No.2/1980 4. UU No.3/1980 5. PP No.41/1980 3) Jumlah Organisasi Peserta Pemilu a. 2 Partai Politik b. 1 Golongan Karya 4) Jumlah anggota MPR, DPR dan DPRD 1. Jumlah anggota MPR 920 orang yang terdiri atas DPR 460 orang yang berasal dari Pemilu 360 orang dan diangkat 100 orang, utusan daerah 135 orang, utusan golongan 325 orang terdiri atas utusan parpol dan golkar ABRI 155 dan golkar non ABRI 52 orang. 2. Jumlah anggota DPRD I 40–75 orang terdiri atas melalui pemilihan umum 80 %, golkar ABRI 15 % dan Golkar non ABRI 5 %. 3. Jumlah anggota DPRD II 20–40 orang terdiri atas melalui pemilu 80%, golkar ABRI 15 % dan golkar non ABRI 5 %. : 2 Mei 1982. :

122

5. Pemilihan umum tahun 1987 1) Tanggal pelaksanaan : 23 April 1987 2) Landasan operasional : a. Tap MPR NO. 3 /1983 b. Tap MPR No. 4 /1983 c. UU No 1 / 1985 d. PP No. 35 / 1985 e. PP No.36 / 1985 f. Keputusan Presiden No.70/1985 3) Jumlah Organisasi Peserta Pemilu ¾ 2 partai politik ¾ 1 golongan karya 4) Jumlah anggota MPR, DPR dan DPRD a) Jumlah anggota MPR 1000 orang yang terdiri atas DPR 500 orang yang berasal dari Pemilu 400 orang dan diangkat 100 orang, utusan daerah 147 orang, utusan golongan 253. b) Jumlah anggota DPRD I 45–100 orang terdiri atas melalui pemilihan umum 80 %, golkar ABRI 15 % dan Golkar non ABRI 5 %. c) Jumlah anggota DPRD II 20–45 orang terdiri atas melalui pemilu 80 %, golkar ABRI 15 % dan golkar non ABRI 5 %.

123

6. Pemilihan umum tahun 1992 1) Tanggal pelaksanaan : 9 Juni 1992 2) Landasan operasional : a. Tap MPR NO. 2 /1988 b. UU No 1 / 1985 c. PP No. 37 / 1985 3) Jumlah Organisasi Peserta Pemilu ¾ 2 Partai Politik ¾ 1 Golongan Karya 4) Jumlah anggota MPR, DPR dan DPRD a) Jumlah anggota MPR 1000 orang yang terdiri atas DPR 500 orang yang berasal dari Pemilu 400 orang dan diangkat 100 orang, utusan daerah 147 orang, utusan golongan 100 suara imbangan dari OPP dan ABRI 251. b) Jumlah anggota DPRD I 45–100 orang terdiri atas melalui pemilihan umum 80 %, golkar ABRI 15 % dan Golkar non ABRI 5 %. c) Jumlah anggota DPRD II 20–45 orang terdiri atas melalui pemilu 80%, golkar ABRI 15 % dan golkar non ABRI 5 %. 7. Pemilihan umum tahun 1997 1) Tanggal pelaksanaan : 29 Mei 1997 2) Landasan operasional :

124

a. Tap MPR NO. 3 /1993 b. UU No 1 / 1985 c. PP No. 37 / 1997 3) Jumlah Organisasi Peserta Pemilu ¾ 2 Partai Politik ¾ 1 Golongan Karya 4) Jumlah anggota MPR, DPR dan DPRD 1. Jumlah anggota MPR 1000 orang yang terdiri atas DPR 500 orang yang berasal dari Pemilu 400 orang dan diangkat 75 orang, utusan daerah 147 orang, utusan golongan 100 suara imbangan dari OPP dan ABRI 250. 2. Jumlah anggota DPRD I 45–100 orang terdiri atas melalui pemilihan umum 80 %, golkar ABRI 15 % dan Golkar non ABRI 5 %. 3. Jumlah anggota DPRD II 20–45 orang terdiri atas melalui pemilu 80 %, golkar ABRI 15 % dan golkar non ABRI 5 % (Tim Sejarah 2002:10) Dalam pemilihan umum masa Orde Baru berada di satu tangan kekuasaan Soeharto yang memimpin secara otoriter. Dimana Soeharto menggunakan beberapa strategi agar Golongan Karya dapat selalu menang dalam setiap pemilihan umum sehingga selama 32 tahun Soeharto dapat memegang pemerintahan. Pemilihan umum Orde Baru merupakan sejarah tersendiri bagi

125

bangsa Indonesia yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur pelaksanaan pemilihan umum pada masa-masa yang akan datang.

B. PEMILIHAN UMUM MASA REFORMASI 1. Reformasi Reformasi adalah susunan tatanan perikehidupan lama diganti dengan tatanan perikehidupan baru secara hukum menuju perbaikan. Dengan demikian gerakan reformasi di Indonesia tahun 1998 adalah suatu gerakan untuk mengadakan pembaruan dan perubahan terutama dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan hukum (Waridah dkk 2003:68). Dalam era pasca Soeharto militer yang belakangan ini mendapat perhatian publik kelihatannya kurang bersatu, oleh karena itu mereka tidak mampu untuk menentukan komposisi elit yang baru. Jendral Wiranto sedang mengatasi masalah perebutan kekuasaan dikalangan elite militer. Sementara itu tekanan dari masyarakat cukup kuat khususnya kelompok-kelompok reformasi yang ingin terbentuknya suatu pemerintahan yang lebih legitimate. Kelompok-kelompok reformasi masih harus membangun bentuk politik yang mempersatukan perjuangan mereka. Banyak orang yang mengharapkan pemimpin yang terkemuka seperti Abdurahman Wahid, Amien Rais dan Megawati membangun suatu koalisi. Gus Dur mensponsori pembentukan PKB dan Megawati tetap dengan partai yang dulu yaitu PDI Perjuangan. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

126

merupakan partai yang berbasis NU yang hampir 30 juta anggotanya diharapkan mendukung partai ini dan PDI Perjuangan didasarkan pada kelompok nasionalis yang loyal pada putri Soekarno, sangat mungkin kedua partai dapat berkoalisi, sehingga mereka akan menjadi oposisi yang hebat terhadap Golongan Karya yang merupakan partai yang berkuasa. Dengan runtuhnya rezim Soeharto dan format politik Orde Baru yang monoloyalitas maka dominasi Golkar dapat ikut tergusur. Disamping Golkar yang citranya sedang buram dimata masyarakat Golkar juga mengalami penggusuran struktural dari dalam. Ini dapat dilihat dari munculnya PKP (Partai Keadilan Dan Persatuan) di bawah pimpinan mantan Menhamkam Edi Sudradjat dan Hayono Isman di samping masyarakat luas. Sikap ABRI yang mengambil jarak terhadap partai politik sangat berpengaruh terhadap kemampuan Golkar yang selama ini sangat tergantung kepada militer, demikian juga dengan independen dan netralitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam politik. Tetapi dengan lunturnya dominasi Golongan Karya bukan berarti ada kekuatan baru menggantikan posisinya, telah muncul koalisi kekuatan politik yang akan menjadi ciri baru dalam politik di masa yang akan datang. Koalisikoalisi tersbut muncul karena kecilnya perolehan suara sebagai akibat membludaknya jumlah partai politik.

127

2. Pemilihan Umum Pemilihan umum masa reformasi dilaksanakan setelah rezim Orde Baru turun dari kursi pemerintahan. Pemilihan umum masa reformasi telah berlangsung dua kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004. Pada Pemilu reformasi ini merupakan Pemilu demokratis karena tidak adanya paksaan dari beberapa pihak pada masyarakat. Masyarakat dapat memilih wakil-wakil rakyat sesuai dengan hati nuraninya. Dalam sejarah Indonesia tercatat, bahwa setelah pemerintahan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, pemerintahan Reformasi inilah yang mampu menyelenggarakan pemilu lebih cepat setelah proses pergantian kekuasaan. Burhanuddin Harahap berhasil menyelenggarakan Pemilu hanya sebulan setelah menjadi Perdana Menteri menggantikan Ali Sastroamidjoyo I, meskipun persiapan pemilihan umum sudah menjadi program kabinet sebelumnya. Habibie menyelenggarakan Pemilu setelah 13 bulan sejak beliau naik kekuasaan, meski persoalan yang dihadapi Indonesia bukan hanya krisis politik, tetapi yang lebih parah adalah krisis ekonomi, sosial dan penegakan hukum serta tekanan internasional. Dalam hal ini penulis lebih menekankan pada pemilihan umum 2004 terutama dalam hal sistem pemilihannya. Di samping memiliki kelebihan, pemilu 2004 juga memiliki beberapa kelamahan dalam penggunaan sistemnya antara lain berdasarkan sistem pemilihan umum berdasarkan UU No. 12 tahun 2003 memiliki beberapa kelemahan antara lain :

128

1. Sistem ini dianggap tidak secara tegas mewakilkan azas keterwakilan bagi rakyat suatu daerah pemilihan, mengingat di satu sisi kontrol pada waktunya sangat terbatas, di sisi yang lain intervensi pimpinan parpol masih sangat kuat untuk menetukan seseorang terpilih atau tidak dalam suatu preferensi. 2. Sistem ini kurang mendorong bagi terintegrasinya banyak partai dalam suatu koalisi besar, atau bisa dibalik sistem pemilu menurut UU No. 12 tahun 2003 mendorong timbulnya banyak partai. Apalagi kemungkinan itu difalisitasi adanya perubahan nama partai dan diperkenankannya sebuah partai berkoalisi pada putaran pemilu sebelumnya. 3. Sistem Pemilu menurut UU NO 12 tahun 2003 masih mandat yang terlalu kuat pada pimpinan parpol untuk menentukan siapa-siapa yang digunakan dalam daftar pemilihan yang kelak akan dipilih oleh rakyat pemilih. Terlalu kuatnya posisi pimpinan parpol, sering juga kepengurusan mendorong bagi loyalitas yang tidak berbasis pada kepentingan kepartaian yang sifatnya lokal terbawah. Selain mendapatkan sikap loyalitas yang sigftnya individu pada organisasi yang lebih teratur pada kepengurusan kepartaian, juga menutup peluang figure popular dan berkualitas nama kurang disenangi oleh pimpinan parpol sehingga tidak dapat masuk kedalam daftar calon wakil rakyat yang ditetapkan partai politik. 4. Kuatnya posisi pimpinan parpol maka sistem pengajuan calon dapat dipaksakan dari pimpinan partai yang lebih atas. Dengan cara ini dua

129

kemungkinan dapat timbul, pertama mematikan calon wakil rakyat dari daerah yang tidak dapat masuk dalam daftar dan kedua banyak wakil rakyat yang tidak dikenal dan juga tidak mengenal daerah pemilihannya karena kehadirannya dirasa dipaksakan oleh struktur kepengurusan partai yang lebih atas. 5. Sistem Pemilu menurut UU No 12 tahun 2003 masih memperkenalkan adanya seseorang yang karena suatu hal dapat mundur dari pencalonan meski dirinya telah terpilih dalam suatu pemilu sehingga diganti oleh calon pada nomor dibawahnya dalam daftar calon legislatif jika kepengurusan partai memperkenankannya, berdasarkan kompromi atau usulan pengurus partai. 6. Sistem pemilu menurut UU No. 12 tahun 2003 mengacaukan aspirasi rakyat dalam pasal 107 UU No. 12 tahun 2003 bahwa ketika caleg dalam suatu daerah tidak satupun yang bisa mencapai BPP maka penetapan calon terpilih berdasarkan pada nomor urut pada daftar calon di suatu Daerah Pemilihan (DP). Dengan demikian jika terdapat caleg dengan nomor urut besar tapi memperoleh suara paling banyak diantara calon legislatif dalam satu partai, tidak akan menjamin duduk di kursi legislatif (KPU Jawa Tengah 2004:17). Selain pemilihan umum legislatif, sistem pemilihan presiden dan wakil presiden juga memiliki beberapa kelemahan. Sistem Pemilu presiden dan wakil presiden ini cukup sederhana dan secara kualitatif bisa memuaskan

130

sebagian besar rakyat di Indonesia. Karena siapapun berpeluang menjadi nomor satu asalkan persyaratan administratifnya memenuhi sebagaimana telah diputuskan KPU. Sistem ini membuka peluang seluas-luasnya pada warga negara untuk menjadi presiden, sehingga jabatan presiden bukan hanya oleh mereka secara ekslusif memiliki hal-hal tetentu dalam sistem politik dimasa lalu. Adapun kelemahan yang dimiliki oleh sistem pemilihan umum presiden dan wakil presiden antara lain : 1. Sistem ini melibatkan rakyat Indonesia dalam 2 kali pemilu jika pada putaran pertama belum berhasil menghasilkan sepasang presiden dan wakil presiden sebesar 50 % suara sebanyak 2 kali pemilu membuyarkan konsentrasi aktivitas-aktivitas diluar urusan politik. Sektor ekonomi yang cukup penting dalam kehidupan suatu bangsa dapat terganggu karena jika pemilu yang sedang dioperasionalkan mengandung banyak resiko keamanan. 2. Sistem ini mendorong penyediaan anggaran yang sangat besar. Bagi bangsa yang sedang membutuhkan penganggaran diluar politik pasti akan mengurangi kemampuan negara dalam menyejahterakan rakyatnya. 3. Pada hakikatnya siapapun warga negara yang telah memilih syarat administratif untuk mencalonkan diri sebagai kandidat. Disamping proses pencalonan yang dapat membawa kepengurusan biaya ekonomi juga secara politik mengurangi tingkat kredibilitas pada penyelenggaraan

131

Pemilu, karena dianggap asal pada akhirnya sakralitas jabatan presiden ternodai. Selain itu sistem ini membuka peluang bagi kaum oportunis untuk sekedar mencari polularitas. 4. Jika disatu gariskan dengan penyelenggaraan Pemilu legislatif maka 2 kali pemilu presiden sama artinya dengan sepanjang tahun penyelenggaraan pemilu. Jika sepanjang tahun dianggap sebagai tahun pemilu maka mengundang pertimbangan-pertimbangan calon stake holder terutama investasi asing. Dengan demikian penyelenggaraan pemilu sepanjang tahun dapat menjadi pertimbangan-pertimbangan bagi calon investor. Asumsi ini hanya berlaku jika Pemilu yang digelar menyertakan resikoresiko keamanan sebagai ciri negara yang belum mapan. Namun sebaiknya jika pemilu digelar secara sukses akan meninggikan derajat dan kredibilitas negara dimata internasional sehingga justru mengandung investasi besar (KPU Jawa Tengah 2004:18).

C. PERBANDINGAN PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA ORDE BARU DAN PEMILIHAN UMUM PADA MASA REFORMASI. Pemilihan umum Orde Baru yang dilaksanakan enam kali secara lahiriah dapat dikatakan bahwa Pemilu di bawah Orde Baru merupakan prasyarat utama dalam sebuah sistem politik demokrasi dapat terlaksana secara teratur sesuai ketentuan konstitusi, sementara pada periode setelah Orde Baru yaitu masa reformasi sudah dilaksanakan Pemilu sebanyak 2 kali pemilihan yaitu tahun 1999

132

dan 2004. Dimana Pemilihan Umum 1999 lebih cepat dari waktu yang di tentukan karena adanya pergantian kekuasaan dari Soeharto yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 digantikan oleh B.J Habibie, kemudian dengan adanya deklarasi Ciganjur yang dipelopori oleh Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Sultan Hamengkubuwono X dan Amien Rais pada tanggal 10 November 1998 di rumah Gusdur Jakarta Selatan. Dalam deklarasi Ciganjur tersebut dijelaskan bahwa pemilu menjadi jalan yang demokratis untuk mengakhiri pemerintahan transisi. Jika dilihat dari kualitatif maka Pemilu masa reformasi merupakan

Pemilu yang paling demokratis jika dibandingkan dengan pelaksanaan pemilihan umum masa Orde Baru yang sudah melaksanakan 6 kali pemilihan umum. Dimana pemilihan umum merupakan sebuah mekanisme politik untuk mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan warga negara. Setidaknya ada 4 fungsi pemilihan umum terpenting yaitu legitimasi politik, tercapainya perwakilan politik, sirkulasi elite politik dan pendidikan politik. Melalui Pemilu legitimasi pemerintah di kukuhkan karena merupakan hasil pilihan warga negara yang memiliki kedaulatan. Keberadaan serta kebijaksanaan yang dibuat pemerintah akan memperoleh dukungan dan sanksi yang kuat karena keduanya berlandaskan sepenuhnya pada aspirasi rakyat dan bukan pemaksaan dari atas. Jadi dapat di simpulkan bahwa pemilihan umum adalah sebuah alat untuk melakukan pendidikan politik bagi warga negara agar mereka memahami hak dan kewajibannya. Dengan terlibat dalam proses pemilihan umum diharapakan warga

133

negara akan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana selayaknya seorang warga negara berkiprah dalam sistem demokrasi. Masyarakat akan mengerti dan memahami posisinya sebagai pemegang kedaulatan yang sangat menentukan gerak perjalanan bangsa dan negara. Dengan memahami fungsi-fungsi tersebut maka kita dapat merefleksikan pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia sehingga kita dapat membandingkan pelaksanaan pemilihan umum Orde Baru dan pemilihan umum masa Reformasi. Jika dilihat dari kemampuannya melaksanakan fungsi-fungsi pemilihan umum maka pemilihan umum masa Reformasi masih lebih unggul, hal tersebut bisa diketahui jika kita bandingkan dengan aturan yang dipakai dalam proses Pemilu, dimana dalam pelaksanaan Pemilu masa reformasi bersifat netral, Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah otonom, peran pemerintah bersifat

teknis administratif sementara Organisasi Peserta Pemilihan Umum (OPP) berperan penting dalam seluruh proses pemilihan umum. Dapat kita bandingkan dengan Pemilu Orde Baru dimana dengan undang-undang dibawah Orde Baru yang menekankan peran pemerintah sebagai pelaksana dan penyelenggara pemilihan umum sedangkan OPP sangat marginal didalamnya (Hikam 1998:17) Dalam pemilihan umum masa Reformasi semua warga negara yang memenuhi syarat berhak memilih tanpa terkecuali termasuk polisi dan militer aktif karena telah dihapusnya dwi fungsi ABRI. Hal ini jelas berbeda dengan aturan di bawah Orde Baru yang mengecualikan anggota ABRI yang aktif sebagai pemilih dan mengeksekusi yang di cabut hak pilihya karena keterlibatan dengan

134

partai terlarang. Pada masa Orde Baru ABRI memiliki peran yang sangat penting baik dalam bidang pertahanan keamanan juga dalam bidang sosial politik sehingga ABRI berfungsi sebagai stabilitator dan dinamisator kehidupan bangsa Indonesia. Dengan kata lain ABRI ikut campur dalam kehidupan politik Indonesia. Pada pemilihan umum masa Orde Baru tidak dikenal adanya lembaga screening seperti pada masa Orde Baru. Para Calon Legislatif (caleg) berhak mewakili partai, golongan, kumpulan pendaftar dan perseorangan, bahkan proses penentuan caleg dilakukan oleh Organisasi Peserta Pemilu. Sedangkan dalam pemilihan umum masa Orde Baru calon legislatif hanya mewakili partai politik atau golongan karya dan proses penentuan caleg dilakukan oleh Organisasi Peserta Pemilu tetapi ada campur tangan atau peran pemerintah yang sangat besar (Hikam 1998:18). Dalam undang-undang pemilihan umum disebutkan bahwa hari

pemungutan suara adalah hari libur, hal ini diperlukan agar warga negara benarbenar dapat mengkonsentrasikan diri pada hari pemungutan suara dan tidak mendapat tekanan dari luar. Sedangkan pada proses pemungutan suara Pemilu Orde Baru hari pemungutan suara tidak dinyatakan sebagai hari libur nasional dan usaha OPP diluar Golongan Karya untuk itu selalu gagal. Cara pemberian suara pemilihan umum masa Reformasi berbeda dengan pemberian suara pemilihan umum Orde Baru. Pada pemilihan umum masa Reformasi khususnya pemilihan umum 2004 pemberian suara melalui

135

pencoblosan tanda gambar partai dan juga pencoblosan gambar calon legislatif dan gambar calon presiden dan wakil presiden, sehingga masyarakat mengetahui dan mengenal wakil masyarakat yang mewakili aspirasi mereka. Sedangkan pada pemilihan umum masa Orde Baru hanya mencoblos tanda gambar partai saja, hal ini membawa dampak bahwa pemilihan lebih terbatas pilihannya serta masyarakat tidak perlu tahu siapa yang dipilihnya, padahal hal tersebut sangat penting sekali bagi warga negara pemilih untuk tahu siapa yang akan mewakili kepentingannya (Hamid 2004:125) Hal lain yang membedakan proses pelaksanaan pemilihan umum masa Orde Baru dan masa Reformasi adalah bahwa pada Pemilu masa Reformasi dimungkinkan pemberian suara diulangi apabila ada kecurangan terjadi dan kecurangan dan dapat dibuktikan kesalahan hitung juga dapat diulang. Tetapi pada Pemilu Orde Baru hal tersebut sulit sekali dilakukan baik pemberian suara maupun kesalahan penghitungan suara tidak dapat diulang. Selain itu pada Pemilu reformasi kehadiran pengamat asing diperbolehkan akan tetapi pada Pemilu Orde Baru pengamat asing sangat dibatasi dan bahkan ditiadakan sama sekali. Berkaitan dengan asas yang dipakai pada pemilihan umum masa Reformasi menggunakan asas Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil (LUBER dan Jurdil), sedangkan Pemilu Orde Baru hanya berasaskan pada asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER)

136

Jika dilihat dari substansi maka pemilihan umum masa reformasi tampaknya lebih memungkinkan tercapainya fungsi pembentukan perwakilan politik yang mampu mencerminkan kedaulatan rakyat daripada Pemilu Orde Baru. Misalnya saja dengan adanya kebebasan pencalonan yang luas bagi masyarakat, tidak dilakukannya screening pada caleg serta tidak ada campur tangan pemerintah dalam penentuan calon legislatif. Semua itu sangat memberi peluang baik bagi warga negara maupun Organisasi Peserta Pemilihan Umum untuk melakukan rekruitmen secara terbuka dan fair. Dengan adanya perwakilan politik yang mencerminkan kepentingan warga negara, wakil-wakil rakyatpun sangat bertanggung jawab. Pada DPR hasil Pemilu Orde Baru belum pernah berhasil membuat RUU yang berasal dari usulan mereka. Mengenai fungsi sirkulasi elite tampak bahwa Pemilu masa reformasi lebih berhasil melakukan perubahan komposisi keanggotaan dewan dari yang sebelumnya. Sedangkan mengenai pendidikan politik jelas bahwa Pemilu masa reformasi dianggap berhasil menumbuhkan antusiasme warga negara untuk terlibat di dalamnya. Kondisi secara kuantitatif Pemilu-pemilu Orde Baru juga berhasil mencapai lebih dari 90 % pemilih namun Pemilu Orba semakin di bayang-bayangi oleh peningkatan prosentase golongan putih. Belum lagi kalau mempertimbangkan motivasi para pemilih pada saat itu, tampak bahwa para pemilih masih cenderung menganggap Pemilu sebagai kewajiban bukan sebagai hak. Ini menunjukkan kuatnya distorsi pemahaman warga negara mengenai pemilihan umum.

137

Dari perbandingan tersebut kita dapat melakukan refleksi mengenai peran serta kita didalam penyelenggaraan pemilihan umum. Pemilihan umum kita anggap sebagai aktivitas artikulasi kedaulatan rakyat atau sekedar alat pengokohan legitimasi penguasa. Dan apakah kita akan menuju masyarakat demokratis atau menuju masyarakat . Jika kita sepakat bahwa pemilihan umum adalah pengejawantahan kedaulatan rakyat maka kekurangan-kekurangan yang kita lakukan saat ini perlu diperbaiki. Tabel 14 Perbandingan Pelaksanaan Pemilihan Umum Orde Baru dan Pemilihan Umum Masa Reformasi
No 1. Pemilihan Umum Orde Baru Kekuatan politik ada ditangan penguasa Rezim yang berkuasa ngotot supaya 2. partainya (golkar) yang menang dalam Pemilihan Umum. 3. Kekerasan terjadi oleh aparat pemerintah terhadap rakyat. 4. Represi politik sebagai alat politik Kebebasan politik sebagai modal partai politik. Serba masyarakat dan preman, terjadi pembagian masyarakat. dilakukan oleh Pelanggaran Pemilihan Umum dilakukan oleh massa partai politik. Politik uang menjadi fenomena di tengah masyarakat. legitimasi di tengah Pemilihan Umum Masa Reformasi Kekuatan politik ada di tiap-tiap partai politik. Setiap partai politikngotot agar partainya yang memenangkan Pemilihan Umum. Kekerasan terjadi antara massa parpol.

penguasa (rezim Orde Baru). 5. Serba negara dan tentara dimana negara memonopli legitimasi dalam pelaksanaan Pemilihan Umum. 6. Pelanggaran Pemilu

birokrsi, golkar dan tentara. 7. Politik kekerasan oleh penguasa menjadi isu utama.

Sumber : Hamid, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa. Jakarta : Granita.

138

Tabel 15 Perbandingan Situasi Komunikasi Masa Orde Baru dan Masa Reformasi
Aspek. Kom. Politik Komunikator politik Masa Orde Baru Didominasi oleh sumberMasa Reformasi Menyebar ke sumber-sumber dari semua kekuatan politik seperti partai, LSM dan aktivis. Isunya orientasi beragam multi dengan arah

sumber resmi dari kalangan pejabat pemerintah dan aparat Pesan Politik Dari segi isu cenderung tungal, bahasa

seragam, bermain eufemisme. Media Politik Komunikasi

orientsinya dalam

memperhatikan perbedaan. . Media pilihan bebas menentukan mpada

Media massa dibawah kontrol penguasa Orde Baru dalam liputan kampanye Golkar harus mendapat porsi lebih besar.

politiknya,

sebagian besar Koran terjadi pemihakan pada salah satu

kekuatan politik Khalayak Komunikasi Politik Massa yang apolitis kesadaran ideologis tertekan. dalam keadaan Massa dan sangat politis,

fanatisme pada salah satu partai dengan kesadran ideologis yang tinggi.

Efek Politik

Komunikasi

Pemerintah adalah pihak yang harus selalu dianggap benar

kelompok

politik

mendapat

apresiasi kekuatan politiknya.

Sumber : Hamid, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa. Jakarta : Granita

139

BAB V PENUTUP A. Simpulan Pemilihan umum merupakan sarana pelaksana azas kedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota–anggota DPR, DPRD I dan DPRD II selain itu juga untuk mengisi keanggotaan MPR. Pemilihan Umum diselenggarakan setiap lima tahun sekali pada waktu yang bersamaan dan berdasarkan pada demokrasi Pancasila. Pemungutan suara diadakan secara Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Soemantri 1995:108 ). Dari pelaksanaan pemilihan umum sejak zaman Orde Lama, Orde Baru sampai pada Orde Reformasi sekarang ini penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa : 1. Pemilihan Umum Pada Masa Orde Lama Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, masyarakat sudah mulai menuntut agar pemilihan umum segera dilaksanakan. Pemilu baru berlangsung pada bulan September dan Desember 1955. Pemilu ini sangat menarik perhatian karena selain merupakan pengalaman pertama dalam bidang politik yang bersifat nasional dalam menjalankan demokrasi, pemilu ini juga merupakan konsensus nasional yang pertama kalinya dicapai pada masa pasca revolusi nasional. Pemilu 1955 sudah dapat dikategorikan sebagai 139

140

pemilihan umum yang sangat demokratis sebab pemilihan umum 1955 diikuti oleh banyak partai politik yang menandakan adanya kebebasan berpolitik, rakyat menggunakan hak pilihnya dengan ikut berpartisipasi pada pemilihan umum, pemilihan umum telah menghasilkan lembaga legislatif, adanya penyelenggara pemilihan umum yang bersifat

independent sehingga pemilihan umum 1955 dapat dikategorikan sebagai pemilihan umum yang demokratis. 2. Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru Pemilihan umum pada masa Orde Baru dilaksanakan 6 kali penyelenggaraan pemilu yaitu Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997 dengan menggunakan sistem proporsional. Dari pelaksanaan pemilu tersebut Orde Baru telah berhasil melaksanakan pemilihan umum berkala setiap 5 tahun sekali kecuali tahun 1977. Tetapi pemilu Orde Baru bukanlah alat yang memadai untuk mengukur suara rakyat, hal itu karena pemilu-pemilu masa Orde Baru dilaksanakan melalui sebuah proses yang tersentralisasi pada lemgaga-lembaga birokrasi. Lembaga-lembaga

tersebut tidak hanya mengatur hampir seluruh proses pemilu tapi juga berkepentingan untuk merekayasa kemenangan bagi partai politik milik pemerintah yaitu Golongan Karya. Dalam setiap pemilihan umum kompetisi ditekan seminimal mungkin dan keberagaman pandangan tidak diperbolehkan. Kemenangan Golkar dalam 6 (enam) kali pemilihan umum yang diselenggarakan

141

pemerintah Orde Baru pada hakekatnya merupakan bukti adanya ketidak demokratisan pelaksanaan Pemilihan Umum. Jadi dapat disimpulkan pada masa Orde Baru pelaksanaan Pemilu di Indonesia belum dapat dilaksanakan secara demokratis. 3. Pemilihan Umum Masa Reformasi Sejak Reformasi dikumandangkan di Indonesia sudah dua kali dilaksanakan pemilihan umum yaitu tahun 1999 dan 2004. Pada masa reformasi ini konsep politik jauh berbeda dengan masa Orde Baru karena Reformasi lebih menekankan pada kehidupan yang demokratis dengan memberi kebebasan yang seluas-luasnya pada setiap masyarakat. Sehingga dalam waktu yang singkat muncul partai politik yang jumlahnya sangat banyak dengan beragam tujuan dan asas partai, basis massa yang mencerminkan komplektivitas kehidupan bangsa Indonesia yang

sebenarnya terdiri dari beragam perbedaan. Pemilihan umum masa Reformasi merupakan Pemilu yang demokratis jika dibandingkan dengan pelaksanaan Pemilu masa-masa sebelumya. Kegagalan-kegagalan masa pemerintah Soeharto menjadi pelajaran yang berharga untuk pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi. Pemilihan umum 1999 yang merupakan karya besar untuk mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat bukan merupakan

sekelompok elit politik dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) bersifat netral. Pemilu 1999 sudah bersifat demokratis dan hal tersebut lebih

142

disempurnakan

lagi

pada

pelaksanaan

Pemilu

2004

dengan

dikeluarkannya UU No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD serta UU No. 23 tahun 2003 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden. Pelaksanaan pemilu 2004 dapat dilaksanakan dengan lancar dan dalam prosedural resmi peraturan perundangan yang berlaku meskipun terjadi kasus korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga penyelenggara Pemilu, tapi hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan pemilihan umum. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pemilihan umum masa Reformasi merupakan pelaksanaan Pemilu yang demokratis dalam Sejarah Nasional Indonesia. 4. Perbandingan Pelaksanaan Pemilihan Umum Pada Masa Orde Baru Dengan Pemilihan Umum Pada Masa Reformasi. Pelaksanaan pemilihan umum pada masa Orde Baru dan pemilihan umum pada masa Reformasi sangat berbeda dilihat dari berbagai segi. Jika dilihat dari segi sistem pemilihan umum, Pemilu Orde Baru menggunakan sistem proporsional sedangkan Pemilu 2004 menggunakan sistem kombinasi atau campuran antara sistem proporsional dan sistem distrik. Jika dilihat dari hak untuk memilih, masa Orde baru adanya pengecualian anggota ABRI yang aktif sebagai pemilih karena adanya dwifungsi ABRI sedangkan pada masa reformasi semua warga negara yang memenuhi syarat berhak memilih tanpa terkecuali termasuk polisi dan militer aktif karena pada masa reformasi sistem dwi fungsi ABRI telah dihapus.

143

Perbedaan lain jika dilihat dari kemampuan melaksanakan fungsi pemilihan umum, maka pemilihan umum masa Reformasi masih lebih unggul, hal tersebut bisa di ketahui jika kita bandingkan dengan aturan yang dipakai dalam proses Pemilu, dimana dalam pelaksanaan Pemilu masa reformasi bersifat netral Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersifat otonom, peran pemerintah bersifat teknis administrative, sementara

Organisasi Peserta Pemilihan Umum (OPP) berperan penting dalam seluruh proses pemilihan umum. Dapat kita bandingkan dengan Pemilu Orde Baru dimana dengan Undang-Undang dibawah Orde Baru yang menekankan peran pemerintah sebagai pelaksana dan penyelenggara pemilihan umum sedangkan OPP sangat marginal di dalamnya. Dilihat dari asas pemilihan umum, pada masa Orde Baru asas Pemilu adalah Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER), sedangkan pada masa Reformasi menggunakan asas Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil (LUBER dan Jurdil). Dengan adanya tambahan asas jujur dan adil diharapkan tidak adanya kecurangankecurangan seperti yang terjadi pada masa Orde Baru. Dengan banyaknya jumlah peserta pemilihan umum dapat

mewakilkan adanya kebebasan berpendapat dalam masa reformasi, berbeda dengan masa Orde Baru dimana pendapat rakyat diabaikan demi kepentingan pemerintah. Dari sebagian kecil perbedaan pelaksanaan pemilihan umum masa Orde Baru dan masa Reformasi tersebut maka

144

kesimpulannya bahwa pemilihan umum masa Reformasi merupakan Pemilihan Umum yang berhasil mewakili aspirasi rakyat dengan kata lain pemilu tersebut merupakan ciri demokrasi Indonesia. B. SARAN Dari uraian mengenai pemilihan umum yang dilaksanakan sejak masa Orde Lama, Orde Baru dan masa Reformasi penulis memiliki beberapa saran antara lain : 1. Pemilihan umum yang akan datang mengacu pada pengalaman pelaksanaan pemilihan umum pada masa yang lalu agar dapat dilaskanakan lebih sempurna sesuai dengan asas Langsung, Umum, Bebas, Jujur dan Adil. 2. Pemilihan umum yang akan datang supaya partisipasi rakyat lebih ditingkatkan lagi. 3. Pemilihan umum yang akan datang tetap pada koridor Pancasila dan UUD 1945.

145

DAFTAR PUSTAKA

Buku : Asshidique, Jimly. 1994. Gagasan Kedaulatan Rakyat Dan Pelaksanaannya Di Indonesia (Pergeseran Keseimbangan Antara Individualisme Dan Kolektivisme Dalam kebijakan Demokrasi politik Dan Demokrasi Ekonomi Selama Tiga Masa Demokrasi 1945-1980 an). Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve. Budiardjo, Miriam.1998. Dasar–dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. ---------------------- 1994a. Demokrasi Di Indonesia (Demokrasi Parlementer Dan Demokrasi Pancasila). Jakarta: Gramedia. Feith, Herbert. 1999. Pemilihan Umum 1955 di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Gaffar, Afan. 2004. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Gazalba, Sidi.1981. Pengantar Ilmu Sejarah Sebagai Ilmu, Jakarta: Batara Karya Aksara. Gottschlack, Louis. 1981. Mengerti Sejarah, Jakarta : Gramedia. Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: Granit. Hikam, Muhammad. 1990. Politik Kewarganegaraan Landasan Redemokratisasi di Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Ibrahim,Herman dan Siagian, Faisal.1999. Pemilu dan Reformasi Sistem Kepartaian. Jakarta: Biro Hubungan Masyarakat Depdagri. Isman, Ign dkk. 2004. Pemilihan Presiden Secara Langsung (Proses, Analisis dan Kritik). Yogyakarta: Ristek Karim, Rusli. 1983. Perjalanan Partai Politik Di Indonesia (Sebuah Potret Pasang Surut ). Jakarta: Rajawali.

146

-----------------. 1991. Pemilu Demokratis Kompetitif. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. Koirudin. 2004. Kilas Balik Pemilihan Presiden 2004. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Liddle, R William. 1992. Pemilu–Pemilu Orba Pasang Surut Kekuasaan Politik, Jakarta: LP 3 ES. Magenda, Burhan. 1992. Sikap Politik Tiga Kontestan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Mashad, Dhurorudin. 1999. Korupsi Politik, Pemilu dan Legitimasi Pasca Orde Baru. Jakarta: PT. Pustaka Cidesindo bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI Pabottingi, Mochtar. 1998. Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Poesponegoro, Marwati Djoenoed dan Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah Nasional Indonesia VI, Jakarta: Balai Pustaka. Sanit, Arbi, 1985. Perwakilan Politik Di Indonesia. Jakarta: Rajawali Syamsuddin Haris, (ed). 1998. Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan PPW-LIPI Soemardjan, Selo. 2000. Menuju Tata Indonesia Baru. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sulistyo, Hermawan dkk. 2000. Kekerasan Politik Dalam Pemilu 1999, Laporan Lima Daerah. Jakarta: KIPP. Sulistyo, Hermawan dan A. Kadar. 2000. Uang dan Kekuasaan Dalam Pemilihan Umum 1999. Jakarta: KIPP. Waridah, Siti, dkk. 2003. Sejarah Nasinonal dan Umum. Yogyakarta: Bumi Aksara Widagdo, H.B dkk. 1995. Pemilu Pelanggaran Asas LUBER. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

147

Widja, I Gde. 1981. Sejarah Lokal Dalam Suatu Perspektif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Widodo, Hamid A. 2004. Demokrasi Konsolidasi Menuju Kesejahtaraan Rakyat. Dalam Forum. Semarang: FISIP UNDIP Press.

Dokumen: Komisi Pemilihan Umum. 2004. Buklet Panduan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Putaran Kedua. Jakarta: Komisi Pemilihan Umum --------------------------------. 2004a. Cara Penggunaan Alat Kelengkapan Administrasi untuk Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara dalam Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota pada Pemilu tahun 2004. Jakarta: Komisi Pemilihan Umum. ---------------------------------. 2004c. Panduan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Jakarta: Komisi Pemilihan Umum dan kerjasama dengan United Nation Development Programe (UNHDP). Panitia Pengawas Pemilu 2004. Laporan Pertanggungjawaban Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Jawa Tengah. Semarang: Komisi Pemilihan Umum Jawa Tengah ---------------------------------. 2004a. Laporan Pertanggungjawaban Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal. Tegal: Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan Jatinegara. Undang-Undang No.12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD. 2003. Jakarta: Lembaga Informasi Nasional. Undang-Undang No 23 Tahun 2003 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. 2003. Jakarta: Lembaga Informasi Nasional.

Internet : Komisi Pemilihan umum. Sejarah Pemilihan Umum. http//www.kpu.go.id (14 Februari 2005).

148

Lampiran 1

Lampiran 2

Lampiran 3

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

Lampiran 8

Lampiran 9

Lampiran 10

Lampiran 11

Lampiran 12

Lampiran 13

Lampiran 14

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful