P. 1
skripsi kontribusi feminisme dalam hubungan intl

skripsi kontribusi feminisme dalam hubungan intl

|Views: 2,604|Likes:
Published by Fitri Bintang Timur
Kontribusi Prespektif Feminis dalam Studi Hubungan Internasinal: Sebuah Tinjauan Terhadap Fenomena Perkosaan Perempuan di Wilayah Konflik
Kontribusi Prespektif Feminis dalam Studi Hubungan Internasinal: Sebuah Tinjauan Terhadap Fenomena Perkosaan Perempuan di Wilayah Konflik

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Fitri Bintang Timur on Feb 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

Persperktif ini sering disebut juga sebagai pluralis karena mengakomodasi

berbagai aktor dalam dunia internasional dan menganggap mereka sama penting,

berbeda dengan realis yang menganggap negara adalah aktor utama, Asumsi-

asumsi dasar dari perspektif ini menurut Viotti dan Kauppi adalah (1) aktor non

negara juga sama penting (dengan aktor negara) dalam hubungan internasional,

(2) negara bukanlah aktor yang uniter, (3) negara tidak selalu bertindak secara

rasional karena terdapat kompromi di dalam negara itu sendiri, dan (4) terdapat

banyak isu dalam hubungan internasional, yaitu keamanan, ekonomi, sosial dan

lingkungan.167

Perspektif liberalis lahir pada masa-masa damai ataupun saat

negara berada dalam posisi yang mengungkung rakyatnya sehingga lebih percaya

pada individu daripada negara.

Liberalis memiliki 4 fokus dalam bidang pembahasannya. Yang pertama

adalah liberalis perdagangan (commercial liberalism)168

yang berargumen

bahwa ekspansi ekonomi internasional membuat negara lebih tidak mau

mengambil resiko untuk berperang. Pemikir liberalis perdagangan adalah Adam

Smith dan David Ricardo. Adam Smith (1723-1790) menekankan pentingnya

perekonomian dijalankan oleh individu dan tidak dihambat oleh negara. Karena

167

Viotti dan Kauppi, Op. Cit.¸ hlm. 7-8.

168

Ibid.¸ hlm. 231.

82

setiap individu akan menjalankan ekonomi dan menciptakan keharmonisan

kepentingan pasar yang mengatur jalannya ekonomi negara (the invisible

hands).169

David Ricardo (1772-1823) menaikkannya dalam tataran

internasional bahwa setiap negara memiliki kemampuan komparatif dalam

memproduksi jasa maupun produk tertentu.170

Sehingga Ricardo menganjurkan

setiap negara mengembangkan spesialisasi usaha dan bekerja sama dalam

perdagangan.

Pemikiran yang sama diungkapkan juga oleh Jeremy Bentham. Ia

menyatakan bahwa manusia bertindak rasional dan selalu bertindak untuk

memaksimalkan kepentingannya.171

Walaupun terdengar egois namun tindakan

kolektif semua manusia ini pada akhirnya mampu menciptakan apa yang terbaik

bagi mereka tanpa campur tangan pemerintah. Terlihat bahwa kapitalisme yaitu

sistem ekonomi sosial yang mementingkan individu dan pasar merupakan bagian

sentral dari perspektif liberalis.172

Pemikiran-pemikiran ini sangat berpengaruh di

Amerika Serikat dan Inggris pada masa Perang Dingin dan menyebar ke seluruh

dunia setelah perang tersebut usai.

Fokus kedua adalah liberalis demokrat (democratic liberalism) yang

berargumen bahwa penyebaran sistem politik demokrasi menyebabkan di banyak

negara kekuasaan tidak terpusat pada sekelompok kecil politisi dan elit militer.

Dalam sistem ini penguasa harus memberi perhatian terhadap pendapat publik

169

Adam Smith, An Inquiry into the Nature and Cause of Wealth of Nations, (London: JM. Dent,

1910).

170

David Ricardo, The Principles of Political Economy and Taxation, (Harmondsworth: Penguin

Books, 1971).

171

Steans dan Pettiford, Op. Cit., hlm. 49-50.

172

“A Reader’s Guide to ‘Isms’” dalam David N. Balaam dan Michael Veseth, Introduction to
International Political Economy
, (New Jersey: Prentice Hall, 1996), hlm. 18.

83

domestik yang mampu bertindak sebagai penghambat negara untuk maju

berperang. Ahli yang melahirkan pemikiran ini adalah John Locke dengan

tulisannya Second Treatise on Government.173

Dalam tulisannya, Locke

mempercayai pentingnya peran serta individu dalam politik dan peran negara

yang dibatasi hanya sebagai pengatur kestabilan politik, sosial dan ekonomi.

Dengan pemikiran ini maka individu dapat berinteraksi dengan bebas dan

mengejar tujuannya. Sehingga 3 penekanan perspektif liberalis demokrat adalah

(1) negara sebagai penguasa yang netral, (2) adanya potensi keharmonisan

kepentingan yang tercipta secara natural, dan (3) partisipasi dan perhatian publik

sehingga pengambilan keputusan tidak semata berada di tangan elit politik.174

Bidang ketiga adalah liberalis regulator (regulatory liberalism)175

yang

percaya pada hukum internasional sebagai aturan perilaku hubungan

internasional. Organisasi internasional berperang untuk memberi kontribusi pada

pengaturan perdamaian dari konflik-konflik yang terjadi antar negara dan

meningkatkan kerjasama di dunia. Pemikir liberalis pertama yang melontarkan

paham ini adalah Immanuel Kant (1724-1804) melalui karyanya Perpetual

Peace.176

Kant mengadvokasi pentingnya federasi dunia yang menjalankan

hukum internasional sehingga tercipta keteraturan. Pemikir liberalis selanjutnya

Michael Doyle mengeluarkan pemikirannya bahwa negara demokrasi tidak

173

John Locke, “An Essay Concerning the True, Original Extent and End of Civil Government:
Second Treatise on Government” dalam John Locke, et. all, Social Contract, (London: Oxfor
University Press, 1962).

174

Theodore J. Lowi, The End of Liberalism: Ideology, Policy, and the Crisis of Public Authority,
(New York: Norton, 1969), hlm. 48 dan 71.

175

Viotti dan Kauppi, Op. Cit.¸ hlm. 231.

176

Immanuel Kant, Perpetual Peace, (Indianapolis: Boobs-Merrill, 1957).

84

menyerang satu sama lain.177

Hal ini diargumentasikan oleh Doyle karena dasar

negara demokrasi lebih damai dan bertindak atas dasar hukum internasional.

Pemikiran tersebut melahirkan cara untuk mempertahankan perdamaian adalah

menyebarluaskan paham demokrasi. Hal ini sesuai dengan fokus dari liberal

demokrat.

Bidang terakhir yang menjadi fokus adalah kelelahan akan perang.178

Liberalis secara umum percaya bahwa kebudayaan Barat telah cukup menderita

dari perang-perang yang terjadi sehingga pemimpin dan rakyat mengetahui resiko

besar untuk pergi berperang. Graham T. Allison mengembangkan konsep

pengambilan keputusan dalam pembentukan kebijakan negara.179

Yang menjadi

perhatian dari bidang ini adalah proses pengambilan keputusan bertingkat, di

mana dalam kondisi negara demokratis tidak ada satu individu yang dapat

menyatakan perang sebelum berunding dengan aktor-aktor politik lain dalam

negara. Pemikiran ini dikembangkan lagi oleh David Mitrany yang melihat

bahwa hubungan transnasional dapat berkembang ke integrasi internasional.180

Teori fungsionalis Mitrany yang membahas tentang organisasi internasional

terbentuk karena fungsi yang dijalankannya181

terbukti pada kesuksesan

terbentuknya Uni Eropa.

177

Michael Doyle, “Liberalism and World Politics” dalam American Political Science Review,
Vol. 80, No. 4, Tahun 1986, hlm. 1151-1169.

178

Viotti dan Kauppi, Op. Cit.¸ hlm. 231.

179

Graham T. Allison, “Conceptual Models and the Cuban Missile Crisis” dalam American
Political Science Review
, Vol. 63, September 1969, hlm. 689-718.

180

David Mitrany, A Working Peace System, (Chicago: Quadrangle Books, 1966)

181

David Mitrany, “The Functional Approach to World Organization” dalam International Affairs,
Vol. 24, No. 3, Juli 1948, hlm. 333-368.

85

Masih banyak pemikir liberalis lain yang memberi kontribusi terhadap

perspektif ini, antara lain Jean-Jacques Rousseau, Woodrow Wilson, Edward

Morse, Thomas Friedman, Francis Fukuyama. Dari pemikiran-pemikiran ahli

yang disebutkan di atas, Jill Steans dan Lloyd Pettiford menyatakan bahwa ciri-

ciri utama dari perspektif liberalis adalah:182

1. Rasionalitas adalah karakter manusia yang universal

2. Manusia secara rasional mengejar kepentingannya sendiri namun terdapat potensi

kesamaan dan keharmonisan dari kepentingan antar manusia

3. Kerjasama merupakan perilaku utama dari hubungan antar manusia, termasuk

dalam tataran hubungan internasional

4. Keberadaan pemerintah adalah perlu namun sentralisasi kekuasaan merupakan

hal yang buruk

5. Kebebasan individu merupakan dasar politik yang paling penting

Lebih lanjut Steans dan Pettiford melihat bahwa dalam mengkaji suatu

fenomena internasional, liberalis memiliki asumsi-asumsi di bawah ini:183

a) Liberalis percaya bahwa semua manusia adalah makhluk yang rasional.

Rasionalitas dapat digunakan melalui dua cara:

(1) Secara instrumental, merupakan kemampuan seseorang untuk

mengungkapkan dan mengejar kepentingannya

(2) Kemampuan untuk memahami prinsip moral dan hidup

menurut aturan hukum

b) Liberalis menghargai kebebasan individu di atas apapun

c) Liberalis memiliki cara pandang positif dan progresif tentang keadaan

dasar manusia. Liberalis percara bahwa adalah mungkin mencapai

perubahan positif dalam hubungan internasional

182

Steans dan Pettiford, Op. Cit., hlm. 48.

183

Ibid., hlm. 53-54.

86

d) Liberalis menekankan pada kemungkinan organisasi dan perkumpulan

manusia mampu membawa perubahan

e) Dengan cara tersendiri, liberalis menggugat perbedaan antara bidang

domestik dan internasional:

(1) Liberalis adalah doktrin universalis yang mempercaya bahwa

manusia berada komunitas internasional yang melebihi

keanggotaannya dalam negara

(2) Konsep liberalis tentang interdependensi dan masyarakat dunia

membuat batasan antar negara semakin tipis

Selanjutnya akan ditelaah apakah perspektif liberalis dapat mengkaji

fenomena perkosaan perempuan di wilayah konflik. Dari pemaparan di atas

terlihat bahwa fokus perspektif ini terletak pada setiap aktor (baik individu;

kelompok individu; negara; perusahaan multinasional; dst.) sama penting dalam

interaksi internasional, terdapat banyak isu dalam kajian hubungan internasional,

ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar, negara mengatur hukum di

wilayahnya, individu berada dalam posisi tidak aman terhadap adanya dominasi

negara, pentingnya partisipasi individu dalam politik sehingga keputusan negara

tidak terpusat dan percaya hukum internasional dapat berlaku.

Dari penjabaran mengenai perkosaan perempuan di wilayah konflik

didapatkan bahwa fenomena tersebut bila diangkat ke tataran kajian memiliki

karakteristik utama kajian jender, mengkaji pengalaman individu perempuan yang

dialami secara kolektif, melihat bahwa terdapat hubungan power yang tidak

imbang antara perempuan dan laki-laki, perempuan berada dalam posisi yang

tidak aman terhadap laki-laki, terjadi di saat berlangsungnya konflik, perlu

ditangani secara serius oleh hukum internasional dan menyatakan bahwa

87

perkosaan mempunyai fungsi dalam konflik. Sehingga untuk melihat apakah

perspektif liberalis mampu mengkaji fenomena perkosaan di wilayah konflik akan

ditelaah melalui matriks di bawah ini:

Matriks II. Perspektif Liberalis Mengkaji Fenomena Perkosaan Perempuan di
Wilayah Konflik

Fenomena
perkosaan
perempuan
di wilayah
konflik

Fokus
Perspektif
Liberalis

Kajian
jender

Mengka
-ji
pengala-
man
individu
perem-
puan
yang
dialami
secara
kolektif

Melihat
adanya
hubungan

power

yang tidak
imbang
antara
laki-laki
dan
perempuan

Perem-
puan
berada
dalam
posisi
tidak
aman

Terjadi
meluas
di saat
berlang-
sungnya
konflik

Perkosaan
perempuan
di wilayah
konflik
perlu
ditangani
secara serius
melalui
hukum
internasional

Perkosaan
memiliki
fungsi
dalam
konflik

Setiap

aktor
sama penting
dalam interaksi
internasional

-

v

-

-

-

-

-

Terdapat
banyak

isu
dalam kajian
hubungan
internasional

v

-

-

-

-

-

-

Ekonomi
diserahkan pada
mekanisme
pasar

-

-

-

-

-

-

-

Negara
mengatur
hukum

di

wilayahnya

-

-

-

-

-

-

-

Pentingnya
partisipasi
individu dalam
politik

-

-

-

-

-

-

-

Individu berada
dalam posisi
yang tidak aman
terhadap
tekanan negara

-

-

-

-

-

-

-

Percaya bahwa
hukum
internasional
dapat berlaku

-

-

-

-

-

v

-

88

Dari matriks di atas terlihat bahwa perspektif liberalis mampu mengkaji 3

dari 7 kriteria utama fenomena perkosaan perempuan di wilayah konflik.

Perspektif ini mengakomodir kajian jender, menghargai pengalaman individu

perempuan dan perlunya menangani masalah ini secara serius baik dari segi

hukum internasional maupun kajian hubungan internasional. Namun perspektif

liberalis kurang mampu melihat hubungan power yang tidak imbang antara laki-

laki dan perempuan yang mengakibatkan posisi perempuan yang tidak aman

terhadap laki-laki saat terjadinya konflik, menganalisa kondisi konflik dan fungsi

dari perkosaan perempuan di wilayah konflik. Sehingga perspektif ini dianggap

tidak memiliki kemampuan untuk memasukkan fenomena perkosaan perempuan

di wilayah konflik sebagai salah satu kajiannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->