P. 1
skripsi kontribusi feminisme dalam hubungan intl

skripsi kontribusi feminisme dalam hubungan intl

|Views: 2,608|Likes:
Published by Fitri Bintang Timur
Kontribusi Prespektif Feminis dalam Studi Hubungan Internasinal: Sebuah Tinjauan Terhadap Fenomena Perkosaan Perempuan di Wilayah Konflik
Kontribusi Prespektif Feminis dalam Studi Hubungan Internasinal: Sebuah Tinjauan Terhadap Fenomena Perkosaan Perempuan di Wilayah Konflik

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Fitri Bintang Timur on Feb 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

Bagian ini akan memberi jawaban atas pertanyaan permasalahan kedua

mengenai bagaimana kontribusi perspektif feminis dalam kajian hubungan

internasional. Perspektif feminis telah memberi sudut pandang yang peka jender

dalam berbagai disiplin ilmu, seperti bahasa; sosiologi; teologi; kesehatan; hukum

dan khususnya dalam penelitian ini kajian hubungan internasional. Tujuan

perspektif ini adalah memperlihatkan terdapatnya struktur dan keadaan yang

dibentuk oleh sistem patriarki untuk memposisikan perempuan secara subordinat.

Feminis berusaha untuk melawan dan mendekonstruksikan status quo yang ada

dalam masyakat patriarki, selalu berusaha untuk meredefinisikan keadaan alamiah

dari disiplin-disiplin ilmu tersebut. Cara yang diambil oleh feminis adalah dengan

menunjukkan dan menyadarkan adanya dimensi jender yang tak terlihat dalam

konstruksi semua ilmu pengetahuan. Untuk melakukannya perspektif ini

menggunakan pemikiran dan nilai-nilai feminis sebagai alat analisis dalam

pembentukan ilmu pengetahuan.

Khususnya dalam bidang kajian hubungan internasional, sudut pandang

utama yang digunakan perspektif feminis yaitu jender sebagai faktor yang

153

mempengaruhi semua interaksi, di dalam maupun luar negara. Seperti yang telah

digambarkan dalam analisa perspektif di atas, kebijakan luar negeri dan militer

mayoritas dilakukan oleh laki-laki sehingga analisa dari aktivitas yang ada selama

ini umumnya mengetengahkan laki-laki (negarawan, political man, dst.) dan

maskulinitas (kekerasan, persejataan, perang, dst.). Menunjukkan pentingnya

peran jender dalam interaksi dilakukan agar posisi perempuan sebagai kelompok

yang berada dalam setiap hierarki dari hubungan yang terjadi di dunia terlihat.

Karena selama ini ilmu hubungan internasional mendasarkan kajiannya pada

asumsi dan penjelasan yang kebanyakan merupakan aktivitas dan pengalaman

laki-laki. Tanpa dilakukannya hal ini maka ilmu yang dikaji oleh studi hubungan

internasional akan selalu merupakan parsial, tidak mengetahui keseluruhan

fenomena yang ada.

Perspektif-perspektif utama hubungan internasional mengkonsentrasikan

kajiannya terhadap aktivitas dari pemilik-pemilik power yang besar, seperti

negara, perusahaan multi nasional maupun pemilik kapital. Perspektif feminis di

sisi lain, menyuarakan pengalaman-pengalaman perempuan yang posisinya

termarjinalisasi dalam keadaan sosial dan politik, sehingga dapat memberikan

dimensi baru pemahaman dunia di semua bidang. Seperti argumen yang

dikemukakan oleh feminis Sarah Brown, teori-teori feminis tentang hubungan

internasional merupakan komitmen untuk memahami dunia dari perspektif yang

lemah dan tertakhlukkan.303

303

Sarah Brown, “Feminism, International Theory and International Relations of Jender
Inequality” dalam Millenium: Journal of International Studies, Vol. 17, No. 3, Tahun 1988, hlm.
469.

154

Salah satu fenomena yang tidak mendapatkan kajian yang signifikan

walaupun terjadi secara meluas adalah perkosaan perempuan di wilayah konflik

seperti yang dibahas dalam penelitian di atas. Fenomena perkosaan perempuan di

wilayah konflik dalam studi ilmu hubungan internasional berada dalam kajian

keamanan. Analisis feminis yang peka jender akan memberi kontribusi bagi

kajian keamanan dengan 2 cara yaitu (1) mengamati posisi perempuan dan

bagaimana keamanan atas mereka saat ini dilanggar, serta (2) dengan melihat

bagaimana filosofi patriakal di balik kekerasan terhadap perempuan terjadi dan

kaitannya dengan studi keamanan.304

Cara pertama dari kontribusi ini memperlihatkan seolah-olah feminis

menuliskan seluruh cerita kemalangan perempuan dan penindasan yang diterima

mereka. Namun ini adalah analisa naratif untuk memperlihatkan posisi politik

perempuan yang cenderung tersubordinasi.305

Analisa ini sering disebut sebagai

pendekatan empiris feminis. Dari pendekatan ini dapat dilihat bagaimana

keamanan perempuan dapat dilanggar baik secara langsung maupun tidak

langsung. Kekerasan fisik merupakan cara langsung melukai perempuan dan

melanggar keamanan mereka. Perkosaan adalah salah satu tindakan kekerasan

yang mayoritas dilakukan terhadap perempuan, baik di masa damai maupun

konflik. Seperti yang disebutkan oleh Susan Brownmiller, melalui perkosaan

perempuan berada pada kerapuhannya yang mendasar.306

Cara kedua dari konstribusi perspektif feminis yang peka jender adalah

melihat bagaimana filosofi patriarkal mendasari tindak kekerasan terhadap

304

Terriff et. all., Op. Cit., hlm. 86.

305

Gerard Lerner, The Creation of Patriarchy, (Oxford: Oxford University Press, 1986), hlm. 220.

306

Brownmiller, Op. Cit., hlm. 14.

155

perempuan dan kaitannya dalam studi keamanan. Perkosaan secara mendasar

adalah penggunaan power laki-laki dan penunjukkan superioritasnya atas

perempuan. Melalui perkosaan subjek perempuan yang memiliki kemampuan

untuk memutuskan tindakannya berubah menjadi objek laki-laki. Sehingga

perkosaan adalah senjata laki-laki untuk melukai perempuan dan digunakan

secara sadar sebagai proses intimidasi.307

Dalam studi keamanan, perkosaan

digunakan sebagai senjata dalam perang melawan negara lain dan melawan

perempuan secara umum.308

Sayangnya persepsi umum menyatakan bahwa

perkosaan di wilayah konflik baru dianggap sebagai kajian keamanan

internasional bila pelakunya adalah tentara negara lawan. Tapi apapun

kewarganegaraan pelaku, perkosaan dapat dilihat sebagai tindakan kolektif yang

menyatakan dominasi dan maskulinitas, memposisikan perempuan sebagai objek

dan tidak memanusiakan perempuan sebagai makhluk yang berdulat atas dirinya.

Melalui perkosaan perempuan dibentuk setara dengan properti yang dimiliki

pihak pemenang perang.

Bagi feminis, mengacuhkan keadaan dunia dimana kekerasan

terjenderisasi berarti mengkaji fenomena dengan cara pandang patriarkis yang

seolah-olah memiliki standar objektif namun tidak melihat adanya ketimpangan

power dan ketidakamanan yang meluas. Selain melalui kekerasan fisik,

ketidakamanan perempuan dapat terjadi secara tidak langsung melalui berbagai

bidang kehidupan. Antara lain melalui pola perekonomian yang tidak adil.

Feminis melihat adanya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin (sexual

307

Ibid., hlm. 15.

308

Catharine MacKinnon, Toward a Feminist Theory of the State, (Cambridge: Harvard University

Press, 1989), hlm. 172

156

division of labour) yang mengakibatkan perempuan menjadi korban dari

ketidakamanan yang terstruktur secara ekonomi. Misalnya perempuan tidak

diterima dalam bidang pekerjaan tertentu baik karena alasan biologis maupun

jender, dan gaji perempuan yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Model perkembangan ekonomi yang ada dan pemikiran kapitalis yang

dilakukan untuk memaksimalkan kekayaan, di sisi lain juga tidak

mempertimbangkan kebutuhan dan peran perempuan dalam ekonomi dunia.

Karena hanya sedikit perempuan yang berada dalam posisi utama pembuat

kebijakan ekonomi dan politik maka tidak ada pendekatan yang memfokuskan

pada ketidakamanan sistemik yang diderita perempuan. Bahkan pemikiran Maxis

tidak mengkaji peran perempuan dalam rumah tangga yang memiliki nilai

ekonomi untuk menunjang keberlangsungan kehidupan. Karena itu perlu adanya

penyadaran bahwa antara lingkungan privat dan publik memiliki keterkaitan yang

saling menunjang. Sehingga timbul penghargaan yang sama penting bagi orang-

orang yang berkecimpung baik lingkungan publik maupun domestik.

Perempuan secara umum dipandang sebagai korban alami di berbagai

level kehidupan. Kebebasan mereka terbatasi secara politik dan budaya, dan

melalui argumen ini, semua tindakan yang tidak memanusiakan perempuan juga

merupakan tekanan terhadap mereka. Walaupun begitu level keamanan disetiap

masyarakat berbeda sehingga dampaknya juga berbeda-beda bagi perempuan di

dalamnya. Perempuan di negara maju dapat menaikkan isu mengenai pendidikan,

lingkungan maupun ekonomi. Sementara perempuan di negara berkembang

maupun dunia ketiga bisa jadi memfokuskan kajian keamanan pada keamanan

157

kesehatan, pangan dan air bersih. Namun kesamaan dari keadaan-keadaan ini

adalah perempuan berada dalam posisi yang lebih rentan terhadap ketidakamanan.

Ketidakamanan perempuan ini tidak bisa dikaji oleh studi keamanan

tradisional yang berfokus pada negara. Menurut feminis Cynthia Enloe, negara

merupakan aktor yang turut menjalankan mekanisme yang terjenderisasi dalam

aktivitasnya mengenai institusi keamanan.309

Lebih lanjut Enloe mempertanyakan

konsepsi keamanan nasional yang melihat ancaman dari luar negara yang

dilakukan melalui pelestarian dominasi laki-laki dalam militer, polisi, dan

pemerintahan. Karena posisi perempuan yang tidak terlihat, sebagai istri,

pembantu rumah tangga, maupun pekerja seks komersial, maka studi keamanan

tradisional tidak dapat memasukkan perempuan sebagai isu keamanan yang

signifikan.

Feminis secara umum mengajukan alternatifnya untuk kontribusi ilmu

hubungan internasional, terutama dalam kajian keamanan. Perspektif ini memberi

pandangan bahwa konsep tradisional yang memahami “perdamaian sebagai

absennya perang dan keamanan dibangun dengan memaksimalkan pertahanan”

merupakan terminologi yang kurang tepat karena tidak mengikutsertakan

pengalaman perempuan. Feminis menekankan pada adanya kekerasan struktural

yang hadir di setiap interaksi. Kekerasan struktural ini terdapat dalam segala

bidang kehidupan dan menempatkan perempuan di posisi yang lebih lebih.

Karena itu feminis Betty Reardon mengkonsepskan bahwa keamanan lahir dari

309

Enloe (1989), Op. Cit., hlm. 10.

158

keadilan sosial dan ekonomi yang menciptakan situasi yang lebih tahan terhadap

munculnya konflik.310

Jika hierarki dan ketidakadilan struktur tidak disadari dan didekonstruksi

maka menurut feminis yang disuarakan oleh Ann Ticker, pola ketidakamanan

perempuan akan terus berlanjut.311

Analisa ini juga menunjukkan bahwa usaha

untuk menghilangkan ketidakamanan di bidang militer, ekonomi, sosial dan

budaya tidak dapat berhasil tanpa adanya penyadaran bahwa terdapat interaksi

hierarki dalam masyarakat, termasuk interaksi jender. Setelah masalah ini disadari

maka barulah pola interaksi bertingkat ini diubah melalui pemberdayaan. Dengan

kata lain, penciptaan perdamaian fisik, ekonomi maupun sosial-budaya harus

dibangun dengan menghapuskan hubungan superordinasi-subordinasi, sehingga

keamanan sejati membutuhkan tidak hanya absennya perang, namun eliminasi

hubungan sosial yang tidak adil, termasuk relasi jender.312

Melihat bahwa keadaan dunia sekarang dalam keadaan tidak aman, karena

itu kajian hubungan internasional, ilmu yang menganalisa ketidakamanan

internasional dan memberikan anjuran untuk mengatasinya, harus direvisi.

Caranya adalah mengkonsepkan ulang terminologi keamanan yang

multidimensional dan multilevel dengan mengikutsertakan pengalaman laki-laki

dan perempuan secara seimbang. Perspektif feminis melihat bahwa dikotomi antar

bidang justru akan mengaburkan pemahaman akan konflik yang sebenarnya

310

Betty Readon, “Feminist Concept of Peace and Security” dalam Paul Smoker, Ruth Davies dan
B. Munske (eds.), A Reader in Peace Studies, (Oxford: Pergamon Press, 1990), hlm. 138.

311

J. Ann Tickner, “Re-visioning Security” dalam Ken Booth dan Steve Smith (eds.),
International Relations Theory Today, (Pennsylvania: The Pennsylvania State University Press,
1995), hlm. 175-195.

312

Tickner (1992), Op. Cit., hlm. 128.

159

berlangsung, tidak hanya di level negara tapi juga di dalam dan di luar negara.

Dengan menekankan adanya hubungan kekerasan di semua level kehidupan maka

kajian internasional yang peka jender akan mampu menganalisa hubungan

superordinasi-subordinasi dan mencari langkah-langkah untuk menghapuskannya.

Feminis Peggy McIntosh dalam bukunya yang berjudul Interactive Phases

of Curricular Re-Vision: A Feminist Perspective313

menjabarkan 5 fase masuknya

jender dalam kajian ilmu. Walaupun tidak secara spesifik menjabarkan tentang

suatu bidang ilmu tertentu, pemikiran McIntosh dapat diaplikasikan untuk kajian

ilmu hubungan internasional. Fase pertama adalah keadaan dunia yang

dipresepsikan tanpa perempuan dan analisanya terbatas pada pemilik power pada

posisi yang tinggi misalnya interaksi pemimpin negara-negara besar maupun

pengusaha-pengusaha besar dunia. Fase kedua mulai menghadirkan kesadaran

bahwa perempuan tidak masuk dalam kajian ilmu. Beberapa perempuan kemudian

naik ke dalam kajian baik sebagai objek kajian maupun pengkaji. Namun keadaan

ini tidak memfokuskan pada pengalaman perempuan, tapi lebih menekankan

bahwa jika perempuan ingin masuk ke dalam kajian ilmu mereka harus bertindak

seperti pria di wilayah publik. Fase ketiga telah melihat absennya perempuan dan

menjadikan hal ini sebagai masalah karena kurikulum politik secara implisit

mengkonstruksikan ilmu pengetahuan tanpa memasukkan pengalaman

perempuan. Pada tahap ini perempuan lebih dilihat sebagai korban. Fase keempat

mulai mengkaji perempuan sebagai sebagai manusia yang utuh. Dimana

pengalaman dan peran perempuan turut membentuk dunia walaupun kontribusi

313

Peggy MacIntosh, Interactive Phases of Curricular Re-Vision: A Feminist Perspective,
(Massachusets: Wellesley College Center for Research on Women: 1983).

160

yang dilakukan mereka belum disadari sepenuhnya. Fase kelima merupakan

tingkatan akhir dari pemikiran McIntosh yang menunjukkan bahwa subjek yang

mempengaruhi kajian ilmu telah mengakomodasi semua individu secara adil

tanpa meninggalkan suku, ras, budaya, kelas dan jender tertentu.

Studi ilmu hubungan internasional yang terjadi sekarang menurut penulis

telah memasuki fase kedua dimana absennya perempuan dari kajian ilmu telah

disadari. Selain itu telah hadir pula perempuan-perempuan yang turut serta dalam

praktek hubungan internasional serta kajiannya, yang dianggap mulai masuk ke

ruang publik. Namun belum ada penekanan untuk memasukkan pengalaman

perempuan secara keseluruhan sebagai bagian penting yang membentuk interaksi

secara global dan belum timbul penghargaan terhadap peran domestik. Penelitian

ini merupakan upaya untuk menaikkan kajian ilmu hubungan internasional ke fase

ketiga yaitu mengangkat absennya perempuan sebagai masalah, terutama dalam

pembangunan keamanan individu perempuan tersebut.

Menurut Terry Terriff, Stuart Croft, Lucy James dan Patrick M. Morgan,

perspektif feminis memiliki dua prinsip utama dalam mengkaji keamanan

internasional yaitu inklusivitas dan holisme.314

Inklusivitas berarti perlindungan

dan tujuan keamanan yang tidak diberikan hanya pada sebagian masyarakat saja,

namun secara keluruhan dan meliputi semua bidang, termasuk perempuan.

Holisme merupakan pendekatan yang menyeluruh dan dilakukan di semua level

dan melihat semua elemen yang kemudian dikaitkan dengan konsepsi dasar

keamanan manusia, tanpa meninggalkan pengalaman perempuan.

314

Readon, Op. Cit., hlm. 144-150.

161

Dari dua prinsip utama feminis dalam mengkaji keamanan di atas, akan

timbul pertanyaan, “Bila feminis melindungi secara inklusif dan holisme,

mengapa sepertinya feminis memfokuskan pada perempuan saja? Kalau begitu

apakah yang membuat keadaan tidak aman adalah laki-laki?”315

Jawabannya

adalah dalam terminologi feminis yang mengkaji keamanan, ancaman datang

tidak berasal dari laki-laki secara kelompok. Ancaman berasal dari dinamika

power dan struktur yang didasarkan atas kekerasan dan ketidaksamaan yang

dipahami feminis dibentuk secara intrinsik melalui jender. Sementara yang

diamankan adalah individu manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan

hubungan di antaranya yang membentuk negara serta interaksinya di dunia.

Keamanan diciptakan dengan mengintegrasikan wilayah publik dan privat serta

adanya penyadaran akan peran-peran laki-laki dan perempuan yang dibangun

secara sosial tanpa paksaan dan disertai penghormatan satu sama lain. Hal-hal

inilah yang membuat perspektif feminis melihat keamanan secara berbeda dengan

perspektif lain dan mampu memberi kontribusi terhadap kajian hubungan

internasional.

315

Terriff et. all., Op. Cit., hlm. 97-98.

162

BAB V

PENUTUP

Rape is not an accident of war, or an incidental adjunct to armed conflict. Its widespread
use in times of conflict reflects the unique terror it holds for women, the unique power it
gives the rapist over his victims, and the unique contempt it displays for it victims. The
use of rape in conflict reflects the inequalities women face in their everyday lives in
peacetime.

-Amnesty International-316

We also wanted to know why it appeared so easy for the discipline (of International
Relations) to ignore women and issues and practices traditionally associated with
women.

-Marysia Zalewski-317

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->