P. 1
MAKALAH DOING MATH

MAKALAH DOING MATH

|Views: 170|Likes:
Published by Dewi Mulyani

More info:

Published by: Dewi Mulyani on Feb 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2015

pdf

text

original

BAB I

I. Latar Belakang Dalam belajar matematika, siswa tidak dituntut hanya sekedar memahami materi saja. Namun, terdapat tujuan-tujuan lain misalnya kemampuankemampuan yang harus dicapai oleh siswa ataupun ketrampilan serta perilaku tertentu yang harus siswa peroleh setelah ia mempelajari matematika. Pilar utama dalam mempelajari matematika adalah pemecahan masalah. Dalam mempelajari matematika orang harus berpikir agar ia mampu memahami konsep-konsep matematika yang dipelajari serta mampu menggunakan konsep-konsep tersebut secara tepat ketika ia harus mencari jawaban bagi berbagai soal matematika. Soal matematika yang dihadapi seseorang seringkali tidak dengan segera dapat dicari solusinya sedangkan ia diharapkan dan dituntut untuk dapat menyelesaikan soal tersebut. Karena itu ia perlu memiliki ketrampilan berpikir agar dengannya ia dapat menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kegiatan atau proses berpikir yang dijalani agar seseorang mampu menyelesaikan suatu soal matematika mempunyai keterkaitan dengan kemampuan mengingat, mengenali hubungan diantara konsep-konsep matematika, menyadari adanya hubungan sebab akibat, hubungan analogi ataupun perbedaan, yang kemudian dapat memunculkan gagasan-gagasan original, serta lancar dan luwes dalam pembuatan keputusan atau kesimpulan secara cepat dan tepat. Kegiatan belajar yang menekankan pada proses belajar tentu akan menghadirkan kegiatan berpikir dalam berbagai bentuk dan level. Proses berpikir yang dibangun sejak awal dalam upaya menyelesaikan suatu masalah hendaknya berlangsung secara sengaja dan sampai tuntas. Ketuntasan dalam hal ini dimaksudkan bahwa siswa yang menjalani proses tersebut benar-benar telah berlatih dan memberdayakan dan memfungsikan kemampuannya yang ada sehingga ia memahami serta menguasai apa yang dikerjakannya selama proses itu terjadi. Dengan demikian siswa harus dilatih agar

memiliki ketrampilan berpikir matematika. Yang menjadi pertanyaan adalah: sejauh mana, berapa lama dalam suatu pertemuan di kelas siswa telah dilatih dan dikondisikan untuk berpikir dalam pembelajaran matematika? Atau, dengan cara apa, atau bagaimana guru dapat mengajar siswa agar menjadi terampil berpikir secara matematis, tidak hanya ketika siswa berusaha memahami suatu situasi matematika ataupun ketika siswa harus berhadapan dengan masalah yang memerlukan solusi? Dengan kata lain, jika siswa harus dilatih untuk berpikir maka ia harus dihadapkan pada suatu situasi ataupun masalah yang menantang serta menarik untuk diselesaikan. 1.1 Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diutarakan masalahnya antara lain: 1. Bagaimanakah prinsip pemecahan masalah dan berfikir kreatif dan kritis?
2. Bagaimanakah cara mengukur pemecahan masalah dan berikir kreatif

dan kritis dalam menyelesaikan permasalahan?

1.2 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui : 1. 2. Prinsip pemecahan masalah dan berfikir kreatif dan kritis. Cara mengukur pemecahan masalah dan berikir kreatif dan kritis dalam menyelesaikan permasalahan.

BAB II

I. Pemecahan Masalah A. Pengertian Masalah Masalah terjadi karena adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Para pakar banyak memberikan pendapat mengenai pengertian masalah. Salah satunya, Cooney dalam Shaddiq (2004, hal. 10) mengatakan bahwa “Suatu pertanyaan akan menjadi masalah jika pertanyaan tersebut menunjukkan adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan dengan suatu prosedur rutin yang sudah dikenal oleh siswa”. Dengan demikian masalah itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. menentang pikiran 2. tidak otomatis diketahui penyelesaiannya B. Pemecahan masalah Menurut Wardhani, (2005, hal. 93), Pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal. Tetapi pemecahan masalah dalam matematika memiliki kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam interpretasi istilah pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, yaitu: (1) pemecahan masalah sebagai tujuan (as a goal), (2) pemecahan masalah sebagai proses (as a process), (3) pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar (as a basic skill). (Branca, N. A. dalam Krulik, S. & Reys, R. E., 1980, hal. 3-6). 1. Pemecahan masalah sebagai tujuan Para pendidik, matematikawan, dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan matematika seringkali menetapkan pemecahan masalah sebagai salah

satu tujuan pembelajaran matematika. Bila pemecahan masalah ditetapkan atau dianggap sebagai tujuan pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus, prosedur, atau metode, dan juga isi matematika. Anggapan yang penting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah merupakan “alasan utama” (primary reason) belajar matematika. 2. Pemecahan masalah sebagai proses Pengertian lain tentang pemecahan masalah adalah sebagai sebuah proses yang dinamis. Dalam aspek ini, pemecahan masalah dapat diartikan sebagai proses mengaplikasikan segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur, strategi dan heuristik yang digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah. Masalah proses ini sangat penting dalam belajar matematika dan yang demikian ini sering menjadi fokus dalam kurikulum matematika. Sebenarnya, bagaimana seseorang melakukan proses pemecahan masalah dan bagaimana seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Tetapi usaha untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang pemrosesan informasi atau proses pemecahan masalah telah banyak dilakukan. Dan semua ini memberikan beberapa prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar pemecahan masalah dan aplikasi dalam pengajaran. 3. Pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar Terakhir, pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar (basic skill). Pengertian pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar lebih dari sekedar menjawab tentang pertanyaan: apa itu pemecahan masalah? Ada banyak anggapan tentang apa keterampilan dasar dalam matematika. Beberapa yang dikemukakan antara lain keterampilan berhitung, keterampilan aritmetika, keterampilan logika, keterampilan “matematika”, dan lainnya. Satu lagi yang baik secara implisit maupun eksplisit sering diungkapkan adalah keterampilan problem solving. Beberapa prinsip penting dalam pemecahan

masalah berkenaan dengan keterampilan ini haruslah dipelajari oleh semua siswa, seperti yang dikemukakan oleh George Polya. Untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah diperlukan tahaptahap penyelesaiannya :  Identifikasi Masalah  Merencanakan Cara Penyelesaian  Melaksanakan Rencana  Evaluasi Hasil C. Pengukuran Pemecahan Masalah Dalam Soal Soal: Hasil bagi dua buah bilangan cacah adalah 5. Jika jumlah kedua bilangan cacah adalah 36, tentukan kedua bilangan cacah tersebut? Penyelesaian: a. Identifikasi Masalah Pada tahap ini, kegiatan pemecahan masalah diarahkan untuk membantu siswa menetapkan apa yang diketahui pada permasalahan dan apa yang ditanyakan. Beberapa pertanyaan perlu dimunculkan kepada siswa untuk membantunya dalam memahami masalah ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, antara lain: 1). Apakah yang diketahui dari soal? 2). Apakah yang ditanyakan soal? 3). Apakah saja informasi yang diperlukan? 4). Bagaimana akan menyelesaikan soal? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, diharapkan siswa dapat lebih mudah mengidentifikasi unsur yang diketahui dan yang ditanyakan soal. Dalam hal ini, strategi mengidentifikasi informasi yang diinginkan, diberikan, dan diperlukan akan sangat membantu siswa melaksanakan tahap ini. Perhatikan contoh permasalahan berikut:

Hasil bagi dua buah bilangan cacah adalah 5. Jika jumlah kedua bilangan cacah adalah 36, tentukan kedua bilangan cacah tersebut? Penyelesaian: Misalkan bilangan tersebut adalah a dan b. Diketahui: a/b = 5 a + b = 36 Ditanya : a = . . . ? b=...? b. Merencanakan cara penyelesaian masalah Pendekatan pemecahan masalah tidak akan berhasil tanpa perencanaan yang baik. Dalam perencanaan pemecahan masalah, siswa diarahkan untuk dapat mengidentifikasi strategi-strategi pemecahan masalah yang sesuai untuk menyelesaikan masalah. Dalam mengidentifikasi strategi-strategi pemecahan masalah ini, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah apakah strategi tersebut berkaitan dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Untuk contoh permasalahan di atas, strategi membuat gambar atau tabel tentu tidak terkait dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Strategi yang tepat digunakan adalah strategi bekerja mundur dan menggunakan kalimat terbuka. c. Melaksanakan Rencana Jika siswa telah memahami permasalahan dengan baik dan sudah menentukan strategi pemecahannya, langkah selanjutnya adalah melaksanakan penyelesaian soal sesuai dengan yang telah direncanakan. Kemampuan siswa memahami substansi materi dan keterampilan siswa melakukan perhitunganperhitungan matematika akan sangat membantu siswa untuk melaksanakan tahap ini. Perhatikan kembali contoh penyelesaian permasalahan di atas.
a b

=5

a = 5b . a + b = 36 5b + b = 36 6b = 36 .

b=6 karena b = 6 maka a = 5 × 6 = 30 Jadi bilangan-bilangan tersebut adalah 30 dan 6. d. Evaluasi Hasil Langkah memeriksa ulang jawaban yang diperoleh merupakan langkah terakhir dari pendekatan pemecahan masalah matematika. Langkah ini penting dilakukan untuk mengecek apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan ketentuan dan tidak terjadi kontradiksi dengan yang ditanya. Ada empat langkah penting yang dapat dijadikan pedoman untuk dalam melaksanakan langkah ini, yaitu: 1). Mencocokkan hasil yang diperoleh dengan hal yang ditanyakan 2). Menginterpretasikan jawaban yang diperoleh 3). Mengidentifikasi adakah cara lain untuk mendapatkan penyelesaian masalah 4). Mengidentifikasi adakah jawaban atau hasil lain yang memenuhi. Pada contoh penyelesaian permasalahan di atas, hasil yang diperoleh adalah bilangan 30 dan 6. Sedangkan unsur yang diketahui adalah a/b = 5. Jika bilangan-bilangan 30 dan 6 kita gantikan ke a/b= 5, kita dapatkan bahwa 30/6 = 5 bernilai benar. Hal ini menunjukkan bahwa hasil yang kita peroleh sudah sesuai dengan yang diketahui. Mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah memungkinkan siswa untuk menjadi lebih analitis di dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan. Dengan kata lain bila seorang siswa dilatih untuk menyelesaikan masalah siswa itu mampu mengambil keputusan sebab siswa itu mempunyai keterampilan tentang bagaimana mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis informasi dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang telah diperolehnya. II. REPRESENTATIF A. Pengertian Representatif Menurut Hudojo (2006, hal. 14), kemampuan representasi matematika adalah kemampuan mengungkapkan ide matematika yang ada di dalam mental

yang diwujudkan dalam gambar dan benda konkrit. Dengan demikian representasi atau model matematika juga dapat dipandang bertransisi dan merupakan jembatan yang menghubungkan bagian konkrit dan abstrak dalam pembelajaran matematika (Gravemeijer, 1994). Kehadiran representasi dalam pembelajaran matematika akan memicu timbulnya kemampuan untuk mengaitkan ide-ide matematika dalam berbagai topik atupun dalam situasi keseharian ataupun memunculkan kemampuan siswa untuk bernalar dan berkomunikasi. Tahap-tahap representatif •

Identifikasi Masalah Merubah Bahasa cerita kedalam model matematika Membawa model ke dalam simbol-simbol matematika Menyelesaikan masalah matematika

• •

B. Pengukuran representatif Soal : Sebuah pabrik akan membuat sebuah kotak terbuka dengan volume maksimum dari lempengan alumunium yang panjang sisinya 18 cm dengan memotong keempat sudut bujur sangkar dengan sisi yang sama panjang. Penyelesaian : • identifikasi masalah Pada tahap ini, siswa diarahkan untuk membantu menetapkan apa yang diketahui pada permasalahan dan apa yang ditanyakan dari permasalahan soal tersebut. Beberapa pertanyaan perlu dimunculkan antara lain: 1). Apakah yang diketahui dari soal? 2). Apakah yang ditanyakan soal? 3). Apakah saja informasi yang diperlukan? kepada siswa untuk membantunya dalam memahami masalah ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut,

Berdasarkan pertanyaan di atas maka yang diketahui adalah Sebuah pabrik akan membuat sebuah kotak terbuka dengan volume maksimum dari lempengan alumunium yang panjang sisinya 18 cm dengan memotong keempat sudut bujur sangkar dengan sisi yang sama panjang.
• Mengubah bahasa cerita ke dalam model matematika x x 182x x x

182x x x 182x x

182x x

Berdasarkan soal di atas maka timbullah pertanyaan Dapatkah kamu membuat sebuah model berdasarkan informasi yang kamu dapatkan di atas, berupa lempengan alumunium yang akan dibuat sebuah kotak terbuka dengan volume maksimum? Dari informasi gambar diatas : V(x) = volume kotak terbuka tersebut x = ukuran panjang sisi bujur sangkar yang di potong dari sudut lempengan alumunium.
• Merubah model matematika ke dalam simbol matematika?

Berdasarkan gambar di atas Dapatkah kamu merubah model yang sudah kamu dapatkan ke dalam symbol-simbol matematika? V(x) = luas alas x tinggi V(x) = (18-2x)(18-2x)(x) • Menyelesaikan masalah matematika

Setelah diperoleh model dan simbol matematika, dapatkan kamu menemukan volume maksimum dari kotak terbuka tersebut? Dari model matematika yang diperoleh dilakukan penjabaran sebagai berikut : V(x) = (364 – 72x +4x2)x V(x) = 4x3 – 72x2 + 364x Untuk memdapatkan volume yang maksimum dari persamaan V(x) digunakan syarat stasioner yaitu turunan pertama V’(x) = 0. V’(x) = 12x2 - 144x + 364 = 0 12(x2 – 12x +27) = 0 12(x – 3)(x – 9) = 0 Diperoleh nilai x = 3 dan x = 9 . Untuk mengetahui pembuat volume yang maksimum dilakukan test dengan menggunakan turunan kedua dari V(x) yaitu V”(x) < 0. V”(x) = 24x – 144 Substitusikan untuk x = 3 diperolehlah V”(3) = 24(3) – 144 < 0 sedemikian hingga untuk x = 3 adalah pembuat volume maksimum, sedangkan untuk x = 9 diperolehlah V”(9) = 24(9) – 144 > 0 sedemikian hingga untuk x = 9 adalah pembuat volume minimum. Sehingga voleme maksimum kotak tersebut V(3) = (18 – 6)(18 – 6)(3) = 432 cm3. III. Berfikir Kritis dan Kreatif 1. Keterampilan Berpikir Keterampilan atau kemampuan berpikir yang paling rendah adalah mengingat, misalnya mengingat fakta-fakta dasar ataupun rumus-rumus matematika. Kemampuan ini yang sejak awal umumnya dilatihkan kepada siswa misalnya mengingat 5 x 5 = 25, 6 + 4 = 10, dan sebagainya. Sekalipun berada pada level rendah dalam kemampuan berpikir, namun peranan mengingat tetap

penting, antara lain agar mempermudah dan memperlancar seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah. Oleh karena itu melatih ketrampilan mengingat pun seyogyanya mendapat perhatian yang proporsional. Kebanyakan siswa pada tahun-tahun pertama mereka dilatih untuk menghafal agar mereka bisa mengingat walaupun tanpa mengerti mengapa harus demikian. Kemampuan berpikir pada level berikutnya adalah kemampuan

memahami atau mengerti konsep-konsep matematika, demikianpun kemampuan untuk mengenal ataupun menerapkan konsep konsep tersebut dalam mencari penyelesaian terhadap masalah yang dihadapi. Misalnya, dalam mencari panjang sisi siku-siku suatu segitiga siku-siku jika diketahui panjang sisi miring dan sisi siku-siku yang lainnya, siswa tahu bahwa ia dapat menggunakan rumus Pythagoras. Dalam hal ini siswa dapat mengenal bahwa pada situasi mencari penjang sisi-sisi suatu segitiga siku-siku terkandung konsep segitiga siku-siku dengan teorema Pythagoras. Selanjutnya ia dapat menggunakan teorema itu untuk menentukan jawab terhadap pertanyaan tadi. Dalam praktek, latihan di kelas ataupun asesmen terhadap kemampuan matematika siswa, paling banyak adalah kegiatan dan asesmen tentang kemampuan-kemampuan berpikir ini, yaitu memahami dan mengerti. 2. Berpikir Kritis Krulik dan Rudnick (NCTM, 1999) mengemukakan bahwa yang termasuk berpikir kritis dalam matematika adalah berpikir yang menguji, mempertanyakan, menghubungkan, mengevaluasi semua aspek yang ada dalam suatu situasi ataupun suatu masalah. Sebagai contoh, ketika seseorang sedang membaca suatu naskah ataupun mendengarkan suatu ungkapan atau penjelasan ia akan berusaha memahami dan coba menemukan atau mendeteksi adanya hal-hal yang istimewa dan yang perlu ataupun yang penting. Demikian juga dari suatu data ataupun informasi ia akan dapat membuat kesimpulan yang tepat dan benar sekaligus melihat adanya kontradiksi ataupun ada tidaknya konsistensi atau kejanggalan dalam informasi itu. Jadi dalam berpikir kritis itu orang menganalisis dan merefleksikan hasil berpikirnya. Tentu diperlukan adanya suatu observasi yang

jelas serta aktifitas eksplorasi, dan inkuiri agar terkumpul informasi yang akurat yang membuatnya mudah melihat ada atau tidak ada suatu keteraturan ataupun sesuatu yang mencolok. Singkatnya, seorang yang berpikir kritis selalu akan peka terhadap informasi atau situasi yang sedang dihadapinya, dan cenderung bereaksi terhadap situasi atau informasi itu. Menurut Ennis (1996), berpikir kritis sesungguhnya adalah suatu proses berpikir yang terjadi pada seseorang serta bertujuan untuk membuat keputusankeputusan yang masuk akal mengenai sesuatu yang dapat ia yakini kebenarannya serta yang akan dilakukan nanti. Seseorang pada suatu saat tertentu akan selalu harus membuat keputusan, oleh karena itu kemampuan berpikir kritis harus dikembangkan, terutama ketika dalam membuat keputusan itu ia sedang berhadapan dengan suatu situasi kritis, terdesak oleh waktu serta apa yang dihadapi itu tidaklah begitu jelas dan rumit. Hal ini biasanya terjadi jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan keputusan yang mungkin, dan dia harus memilih manakah yang terbaik dari sekian pilihan tersebut. Demikian juga dalam hal berpikir kritis, keputusan yang akan diambil itu haruslah didasarkan pada informasi yang akurat serta pemahaman yang jelas terhadap situasi yang dihadapi. Misalnya dalam membuat suatu keputusan dalam memilih suatu strategi atau suatu teorema dalam matematika untuk membuktikan suatu statemen untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang benar, maka hal ini harus didasarkan pada informasi yang diketahui atau yang bersumber dari apa yang dketahui serta sifatsifat matematika yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Sebab, jika keputusan itu tidak didasarkan pada informasi serta asumsi yang benar, maka kesimpulan itu tidak memiliki dasar yang benar. Ada enam unsur dasar yang perlu dipertimbangkan dalam berpikir kritis (Ennis, 1996), disingkat FRISCO, yaitu: fokus , alasan, kesimpulan, situasi, kejelasan dan pemeriksaan secara keseluruhan. Jika keseluruhan unsur ini telah dipertimbangkan secara matang maka orang dapat membuat keputusan yang tepat. Dalam belajar matematika ataupun menyelesaikan soal matematika yang sulit orang harus fokus, misalnya tentang apa masalahnya, apa yang diketahui, apa yang merupakan inti persoalan sebelum ia memutuskan untuk memilih strategi

atau prosedur yang tepat atau sesuai. Demikian juga, karena matematika adalah ilmu yang sifatnya deduktif, maka harus ada alasan (reason) yang tepat sebagai dasar sebelum suatu langkah ditempuh. Alasan itu dapat berasal dari informasi yang diketahui ataupun, teorema, sifat dll. Alasan ini digunakan untuk kita bersikap kritis terhadap suatu situasi, misalnya situasi yang disediakan dalam bentuk suatu soal, ataupun suatu situasi yang muncul karena pikiran sendiri yang perlu dikritisi berdasarkan alasan-alasan yang tepat agar kebenaran pemikiran itu mendapat penguatan. Selanjutnya, penarikan kesimpulan yang benar harus didasarkan pada langkah-langkah dari alasan-alasan ke kesimpulan adalah masuk akal atau logis. Kesimpulan dapat melahirkan sesuatu yang baru yang dapat berperan sebagai fokus untuk dipikirkan, sedangkan alasan merupakan dasar bagi suatu proses penarikan kesimpulan. Dalam berpikir kritis, konteks atau situasi perlu diperhitungkan karena hal ini membantu untuk merujuk pada konsep tertentu dan memilih alasan yang tepat. Suasana ulangan, ujian atau test saringan dll merupakan suatu situasi tegang yang dapat memicu seseorang untuk berpikir kritis, dikarenakan waktu yang terbatas dan sifatnya kompetitif. Suatu situasi yang menempatkan seseorang dalam keadaan terdesak akan memicunya untuk berpikir kritis sebelum bertindak membuat suatu keputusan yang tepat. Kejelasan mengenai masalah yang dihadapi amatlah diperlukan sebelum seseorang bersikap kritis, misalnya dalam merespons terhadap suatu statemen yang orang lain kemukakan secara lisan maupun tulisan, demikianpun dalam menyampaikan pendapat untuk ditanggapi oleh orang lain. Jika tidak terdapat kejelasan maka akan sulit untuk membuat suatu kesimpulan dan membuat keputusan yang tepat. Pada akhirnya, setiap pemikiran yang muncul perlu memperoleh pemeriksaan kembali (check) tentang kebenarannya, sehingga tidak terdapat keraguan dalam membuat kesimpulan ataupun suatu keputusan. 3. Berpikir Kreatif Berpikir kreatif sesungguhnya adalah suatu kemampuan berpikir yang berawal dari adanya kepekaan terhadap situasi yang yang sedang dihadapi, bahwa di dalam situasi itu terlihat atau teridentifikasi adanya masalah yang ingin atau harus diselesaikan. Selanjutnya ada unsur originalitas gagasan yang muncul dalam

benak seseorang terkait dengan apa yang teridentifikasi. Hasil yang dimunculkan dari berpikir kreatif itu sesungguhnya merupakan suatu yang baru bagi yang bersangkutan serta merupakan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya dia lakukan. Untuk mencapai hal ini orang harus melakukan sesuatu terhadap permasalahan yang dihadapi, dan tidak tinggal diam saja menunggu. Dalam keadaan yang ideal, manakala siswa dihadapkan (oleh guru) pada suatu situasi, siswa diminta untuk melakukan suatu observasi, eksplorasi, dengan menggunakan intuisi serta pengalaman belajar yang mereka miliki, dengan hanya sedikit panduan atau tanpa bantuan guru (Sobel, dan Maletsky, 1988). Tetapi pendekatan seperti ini khususnya tidak hanya cocok bagi siswa yang pandai, namun memberikan suatu pengalaman yang diperlukan bagi mereka di kemudian hari dalam melakukan penelitian. Berpikir kreatif juga nampak dalam bentuk kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan yang baru, serta memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya (Evans, 1999). Tentu hal ini dapat dimengerti bahwa dalam kehidupan, orang sering ingin menemukan atau melakukan hal-hal yang baru, karena bosan dengan sesuatu yang sifatnya rutin. Keinginan atau kebiasaan orang seperti ini perlu dipahami, oleh karena itu pengalaman belajar yang sedemikian itu perlu disediakan di sekolah secara sengaja agar mempersiapkan siswa untuk dapat memanfaatkannya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau dalam melaksanakan tugas di tempat pekerjaan. Evans (1991) mengemukakan bahwa berpikir kreatif terdeteksi dalam empat bentuk yaitu : kepekaan (sensitivity), kelancaran (fluency), keluwesan (flexibiliy), dan keaslian (originality). Kepekaan terhadap suatu situasi masalah menyangkut kemampuan mengindentifikasi adanya masalah, mampu membedakan fakta yang tidak relevan dan yang relevan dengan masalah, termasuk konsep-konsep yang relevan. Kepekaan ini termasuk juga apa yang dirasakan seseorang sehubungan dengan masalah yang diidentifikasi, misalnya konsep yang terkait, strategi yang sesuai untuk menyelesaikan masalah itu. Kepekaan ini akan muncul lebih jelas jika ada semacam rangsangan yang disediakan dalam masalah atau cue serta tantangan yang diberikan oleh guru.

Kepekaan ini lalu memicu individu untuk meneruskan upayanya untuk melakukan kegiatan observasi, explorasi sehingga dapat muncul gagasan-gaasan. Kepekaan juga menyangkut apa yang dipikirkan atau digagas orang lain (Mason, Burton, Stacey, 1985) sehingga memicu individu untuk memunculkan ide atau gagasannya. Kelancaran dalam memunculkan gagasan atau pertanyaan yang beragam serta menjawabnya, ataupun merencanakan dan menggunakan berbagai strategi penyelesaian pada saat menghadapi masalah yang rumit serta kebuntuan. Dalam situasi seperti ini dimana tersedia berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, kelenturan dalam memilih dan menggunakan strategi yang lain, sering harus muncul. Artinya, ketika tertumbuk pada kebuntuan, seseorang tidak segan dan memutuskan untuk mengganti strateginya dengan strategi yang lain. Kelenturan dapat dipandang juga sebagai suatu variasi yang sesungguhnya menunjukkan kekayaan ide atau alternatif dan usaha dari yang bersangkutan dalam membangun gagasan menuju pada solusi yang diharapkannya. Kadang-kadang ia ingin memperoleh solusi cara yang singkat atau praktis informal, tetapi juga ia dapat menginginkan cara yang formal. Keaslian atau originalitas dipandang sebagai munculnya gagasan dari yang bersangkutan tanpa memperoleh bantuan dari orang lain. Keaslian ini muncul dalam berbagai bentuk, dari yang sederhana atau yang informal untuk kemudian dapat dikembangkan menjadi lebih lengkap. Originalitas dalam hal ini adalah relatif. Karena bagi yang bersangkutan hal tersebut adalah sesuatu yang original (baru bagi dirinya), namun untuk orang lain tidaklah sesuatu yang baru. Aplikasi kemampuan berpikir kritis dan kreatif Situasi pemecahan masalah merupakan tantangan dan saat kritis bagi siswa dalam upaya mencari solusi. Polya menyarankan heuristic, dimana pada heuristic yang terakhir, looking back (Polya 1975) hanya menguji jawab dan menggunakan hasil yang diperoleh untuk menyelesaikan soal lain. Tentu dalam mencari solusi, siswa sudah harus berpikir kritis dan kreatif. Namun, jika mereka berhenti ketika jawaban ditemukan, maka mereka kehilangan saat yang berharga dalam proses belajar yang sedang mereka jalani. Dengan kerja keras mereka

membangun rancangan serta memilih beragam strategi untuk menyelesaikan soal. Oleh karena pada saat menyelesaikan soal itu mereka sedang termotivasi kemudian senang dengan hasil yang dicapai, maka rasa senang dan termotivasi ini harus tetap dipertahankan, dengan memberikan tugas baru kepada siswa, yaitu : “Menyelesaikan soal itu dengan cara yang lain”, “Mengajukan pertanyaan ... bagaimana jika”, “Apa yang salah”, dan “Apa yang akan kamu lakukan”( Krulik dan Rudnick , 1999). 1. Menyelesaikan masalah dengan cara yang lain, sesungguhnya

dimungkinkan, karena guru dengan sengaja atau tidak sengaja sudah memilih soal yang penyelesaiannya dapat diperoleh dengan berbagai cara (strategi), ataupun beragam jawaban. Selain itu, hal ini amat direkomendasikan, dikarenakan konsep-konsep di dalam matematika saling terkait, dan kemampuan koneksi matematika siswa juga perlu mendapat kesempatan untuk dikembangkan. Hal ini mencerminkan juga kekayaan matematika, dan dapat diharapkan menimbulkan kekaguman atau apresiasi siswa (disposisi) terhadap matematika. Tuntutan bagi siswa untuk menyelesaikan soal itu dengan cara lain, sesungguhnya menuntut dan melatih siswa untuk berpikir kreatif serta memberdayakan pengetahuan serta pengalaman yang ada pada mereka. 2. Mengajukan pertanyaan “...bagaimana jika” sesungguhnya memberi peluang untuk siswa kreatif dalam menciptakan soal-soal baru dengan mengacu pada soal yang tadi diselesaikannya. Misalnya, informasi pada soal semula diganti, ditambah atau dikurangi. Soal ini juga dapat merupakan tantangan baru bagi siswa dan mereka harus menganalisisnya. Disini mereka selain kreatif, mereka juga akan kritis, untuk memastikan apakah informasi yang dikurangi atau ditambahkan itu dapat mempengaruhi terdapat tidaknya solusi, atau malahan akan memunculkan soal-soal yang benar-benar baru atau bersifat tidak rutin. 3. “Apa yang salah” merupakan pertanyaan yang memberi peluang untuk siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, misalnya menemukan kesalahan, ketika kepada mereka disajikan suatu situasi konflik, ataupun

solusi yang mengandung kesalahan apakah secara konsep atau perhitungan. Tugas siswa adalah untuk menemukan kesalahan itu serta memperbaikinya, dan kemudian menjelaskan apa yang salah , mengapa salah. 4. “Apa yang akan kamu lakukan” termasuk suatu pertanyaan yang menstimulasi berpikir kreatif. Karena disini aspek tantangannya kuat sekali. Siswa diminta untuk membuat suatu keputusan, yang didasarkan pada ide individu ataupun pada pengalaman individu. Siswa harus menganalisis situasi kemudian membuat keputusan. Siswa dapat diminta untuk, dalam satu alinea mengungkapkan secara tertulis apa yang dipikirkannya. Contoh: 1. Andi dan Lian diberikan tugas dari guru untuk membaca buku. Andi membaca 16 halaman dalam satu jam, dan Lian dapat membaca 12 halaman dalam satu jam. Jika mereka membaca tak berhenti, dan A ndi mulai membaca pada jam 13.00, sedangkan Lian mulai jam 12.00, pada jam berapa mereka sama sama menghabiskan halaman bacaan yang sama banyaknya. Jawab: Jam 12.00 – 13.00 13 .00 – 14.00 14 .00 – 15.00 15 .00 – 16.00 Halaman Andi 0 16 32 48 Lian 12 24 36 48

Dengan memperhatikan table ini, jelaslah mereka akan sama-sama membaca jumlah halaman yang sama pada pukul 16.00. A. Cara lain: Situasi pada soal ini dapat disajikan dengan cara lain. Misalnya dengan menyusun tabel yang memuat informasi yang tersedia pada soal, sbb: Halaman Andi 0 16 32 48 64

Lian Jam

0 12 12 13

24 36 48 60 14 15 16 17

Dari table ini ternyata bahwa pada jam 16.00 Andi dan Lian telah membaca jumlah halaman yang sama . Cara lain: Soal ini dapat diungkapkan dalam bentuk pertanyaan lain, misalnya: Setelah berapa jam membaca, Andi akan menghabiskan jumlah halaman yang sama dengan yang dibaca oleh Lian? Misalkan setelah x jam, Andi membaca sejumlah halaman yang sama dengan yang dibaca Lian. Tetapi Lian akan membaca selama (x+1) jam. Dalam 1 jam Andi membaca 16 halaman, dan Lian 12 halaman. Dengan demikian, terjadi hubungan berikut: x . 16 = ( x + 1 ). 12 16 x = 12 x + 12 4x = 12 x = 3. Jadi mereka menghabiskan halaman yang sama banyak setelah Andi membaca 3 jam, dan Lian membaca 4 jam. Hal itu terjadi pada pukul 16.00. Catatan: Tentu dalam penyelesaian soal ini, orang yang memahami konsep Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dapat saja menggunakan konsep tersebut untuk menjawab soal ini. KPK dari 12 dan 16 adalah 48. Jadi Andi akan memerlukan 3 jam dan Lian memerlukan 4 jam. Sehingga 48 halaman akan selesai dibaca oleh mereka pada jam 16.00, yaitu 4 jam sesudah Lian mulai membaca pada jam 12.00, yaitu pada jam 16.00 Atau 3 jam setelah Andi membaca yaitu 3 jam setelah jam 13.00, adalah jam 16.00. B. Bagaimana jika .... Dari soal pada contoh 1 tadi, situasi ini dapat diubah, dengan mengajukan pertanyaan “bagaimana jika...?”, misalnya:

Contoh 2.1. i. Bagaimana jika mereka mulai membaca pada saat yang sama, akankah mereka menyelesaikan sejumlah halaman yang sama pada jam tertentu? ii. Jika mereka membaca seterusnya, dapatkah mereka menyelesaikan jumlah halaman yang sama pada kali kedua, atau ketiga? C. Apa yang salah Perhatikanlah uraian berikut ini, kemudian tentukanlah pada langkah mana terletak kesalahan. Jelaskan mengapa hal itu salah. Jika diketahui a = b Maka: a2 = ab a2 – b2 = ab –b2 (a + b)( a – b ) = b (a – b) a+b=b a+a=b 2a = b 2a = a 2=1 Siswa mulai menyadari adanya suatu konflik, atau suatu yang sangat janggal ketika ia mengamati lima baris terakhir. Tentu harus ada kesalahan pada baris-baris sebelumnya. Dengan adanya tanda garis (coretan) pada baris ke 6 dari bawah uraian ini, ia dapat menebak kemungkinan dimana awalnya kesalahan tersebut. Sebab baris-baris sebelumnya tidak memuat kesalahan apapun. Ia juga dapat mengobservasi adanya ketidak konsistenan antara baris pertama dan baris ketiga dari akhir, yaitu a = b, dan 2a = b), demikian juga baris pertama dengan baris ke empat dan kelima dari akhir. Terlihat bahwa a = b, tetapi a + b = b. Ini artinya a = 0, dan kalau a = 0, maka b = 0, karena a = b. Jika ia jeli maka ia dapat melihat bahwa baris ketiga sesungguhnya merupakan suatu bentuk 0 = 0. D. Apa yang akan kamu lakukan Ini merupakan suatu langkah perluasan dari aktifitas belajar pasca ditemukannya penyelesaian suatu soal. Pertanyaan ini dirancang untuk merangsang berpikir

kreatif sekaligus kritis. Siswa diminta untuk membuat suatu pilihan yang didasarkan pada pikiran serta pengalamannya. Siswa harus memberi kejelasan konsep atau sifat matematika apakah yang ia gunakan dalam membuat keputusan sehubungan dengan soal yang dihadapi. Contoh 2 Di suatu toko dilaksanakan suatu obral. Aturan yang berlaku adalah ada pemotongan harga 10 % dan dilanjutkan dengan dikenakan pajak pembelian sebesar 15% terhadap tiap barang yang dijual. Ani membeli suatu kalkulator yang dijual seharga Rp. 200.000,00 Jika ia mendapat potongan harga 10 % dan membayar pajak pembelian, berapa dana yang Ani harus keluarkan untuk membeli kalkulator itu? Jawab Siswa. Potongan 10% berarti : Rp 200.000,00 – 10% x Rp.200.000,00 = Rp. 200.000,00 - Rp. 20.000,00 = Rp. 180.000,00. Selanjutnya ia harus membayar pajak 15%, jadi yang harus dibayar adalah : Rp.180.000,00 + 15%xR.180.000,00 = Rp. 180.000,00 + Rp.27.000,00 = Rp. 207.000,00. Jika selanjutnya, disampaikan kepada calon pembeli bahwa pada saat mereka membeli suatu barang, mereka akan membayar barang sekaligus pajaknya 15%, selanjutnya dikenakan potongan 10 % terhadap harga pembelian. Kemudian siswa diminta untuk membuat pilihan dari dua alternatif penjualan ini, apakah jika ia sebagai pembeli akankah memilih cara pertama tadi atau cara pembelian kedua. Alternatif penjualan kedua ini menyajikan suatu tantangan pada siswa untuk berpikir secara kreatif atau pun kritis untuk menjamin ia dalam membuat keputusan yang benar tanpa ragu. Dalam hal ini siswa diminta untuk mengungkapkan pilihan mereka yang didasarkan pada perhitungan matematika, serta sifat matematika apa yang menjadi andalan mereka untuk membuat keputusan. Keputusan ini diharapkan dibuat berdasarkan uraian terhadap masalah ini secara tertulis.

KESIMPULAN

Untuk meningkatkan kemampuan sisiwa dalam pemecahan masalah yang harus ditumbuhkan dalam diri siswa tersebut yaitu : a. kemampuan mengerti konsep dan istilah matematika; b. kemampuan untuk mencatat kesamaan, perbedaaan dan analogi; c. kemampuan untuk mengindentifikasikan elemen terpenting dan memilih prosedur yang benar; d. kemampuan untuk mengetahui hal yang tidak berkaitan; e. kemampuan untuk memvisualisasi dan menginterpretasikan kuantitas atau ruang; f. kemampuan contoh; g. kemampuan untuk berganti metoda yang diketahui; h. mempunyai kepercayaan diri yang cukup dan merasa senang terhadap materinya. Selain kemampuan di atas, siswa mempunyai keadaan yang tertentu untuk masa yang akan dating sehingga dengan percaya diri dapat mengembangkan kemampuan dalam pemecahan masalah. untuk memperumum berdasarkan beberapa

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->