P. 1
pemahaman peserta didik

pemahaman peserta didik

|Views: 713|Likes:
Published by NandinaE.Maulani

More info:

Published by: NandinaE.Maulani on Feb 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2013

pdf

text

original

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN Muhammad Faiq Dzaki PENDAHULUAN Sebagai seorang guru, sangat perlu

memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau perkembangan kognitif siswa. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan. Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. 1. Perkembangan Fisik Anak/Siswa Anak masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD. Pada usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki laki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih langsing dari anak laki laki. Pada akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kaki mulai tumbuh cepat. Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki laki. Anak laki laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun. Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang ditandai dengan menstruasi umumnya dimulai pada usia 12 13 tahun. Anak laki laki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi yang terjadi antara usia 13 16 tahun. Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi. Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak pubertas awal (prepubertal) dan remaja pubertas akhir (postpubertal) berbeda dalam tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta perkembangan ciri ciri seks primer dan sekunder. Meskipun urutan kejadian pubertas itu umumnya sama untuk tiap orang, waktu terjadinya dan kecepatan berlangsungnya kejadian itu bervariasi. Rata rata anak perempuan memulai perubahan pubertas 1,5 hingga 2 tahun lebih cepat dari anak laki laki. Kecepatan perubahan itu juga bervariasi, ada yang perlu waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai kematangan reproduksi, tetapi ada yang memerlukan waktu 6 tahun. Dengan adanya perbedaan perbedaan ini ada anak yang telah matang sebelum anak matang yang sama usianya mulai mengalami pubertas.

dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka. mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri. Sementara itu. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa. Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri.2. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku. anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri). Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru. anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka "dewasa". dan dunia mereka adalah rumah keluarga. Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas tinggi SD. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri. Pada saat anak anak tumbuh semakin lanjut. beberapa anak mungkin secara terbuka menentang gurunya. Selama duduk di kelas kecil SD. kerjasama dengan kelompok. karenanya tahap ini disebut tahap 'I can do it my self'. Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Sampai dengan masa ini. anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. anak telah rnengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Pada saat di SD kelas rendah. Anak anak yang lebih muda menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma norma sosial dan kesesuaian jenis jenis tingkah laku tertentu. anak pada kelas besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Di awal awal tahun kelas tinggi SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Mereka juga mulai menyadari bahwa ada . dan taman kanak kanaknya. Mereka merasa "saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu. Malahan. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka. Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Perkembangan Sosio emosional Anak/Siswa Menjelang masuk SD. Di kelas besar SD anak laki laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi.Terjadi perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Tidak diterima dalam kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Teman teman mereka menjadi lebih penting daripada sebelumnya. ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Mereka dimungkinkan untuk diberikan suatu tugas.

pada anak permulaan masuk SD mulai mengembangkan keterampilan berpikir.515.5) tahun serta mereka juga sudah dewasa pada alat reproduksinya pada umur (12 16) tahun yaitu dengan ditandainya penyemburan pertama air mani.5 13. dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka.perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimana mereka berperilaku. urnumnya telah rnengembangkan suatu status pencapaian identitas. Sementara itu pada anak laki laki puncak lonjakan tinggi badan tercapai (12. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka. sudah mencapai puncak lonjakan tinggi badan pada umur (10. RINGKASAN Pada anak perempuan sekitar kelas 6 SD. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan.5 15. membandingkan diri mereka dengan orang lain. Seiring bertambahnya kelas dan dengan berlangsungnya pendidikan dan pengajaran di sekolah.5) tahun. bertindak. Pada akhir SMP anak sudah mencapai perkembangan sosio emosional yang lebih stabil dan sudah mengembangkan status pencapaian identitas. . Pada remaja usia 18 tahun sarnpai 22 tahun. mengevaluasi diri sendiri dibandingkan dengan orang lain.5) tahun dan sudah mulai menstruasi umur (10. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. anak semakin rnengembangkan konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu termasuk mengerjakan tugas sekolah. Perkembangan sosio emosional. dan pengaruh sosial yang lebih kompleks.

Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : S > R atau S > O > R S = stimulus (rangsangan). agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal. tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia). Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan. A. maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : W>S>O>R>W . Oleh itu. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. R = Respons (perilaku. pengelolaan kelas. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan. yang saling bertolak belakang. Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya.Memahami Perilaku Individu 11 Februari 2008 Tinggalkan komentar Go to comments 6 1 Penilain Anda! Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. baik untuk kepentingan pembelajaran. Dalam hal ini.

Ruangan kelas yang gelap. 2. sehingga tulisan dosen di papan .Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu : 1. Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. Sebenarnya. berjalan ke depan. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S). otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. waktu sore hari. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas. meminta ijin ke dosen. mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas. Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: W > S > Ow > R > W Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.

Sementara itu. membentuk keluarga. yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. . motif. kebutuhan aktualisasi diri. Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). akan merasakan adanya kekurangankekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. kebutuhan keamanan. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status 5. kebutuhan kasih sayang atau penerimaan 4. organisasi ataupun persahabatan. how (bagaimana). meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. dan why (mengapa). 4. kebutuhan fisiologikal. Menggerakkan kaki menuju ke depan. Kebutuhan berkuasa (need for power).tulis tidak terbaca dengan baik. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. yang berarti aspekaspek intrinsik (niat. Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis. yakni perilakunya itu sendiri. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. seperti : sandang. Dalam hal ini. akan tetapi juga mental. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). 3. yaitu: 1. baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi. What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. psikologikal dan intelektual 3. yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. kebutuhan prestise atau harga diri. yaitu: 1. baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). pangan dan papan 2. 2. B. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose).2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. Kebutuhan berprestasi (need for achievement). tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok. mengucapkan minta izin kepada dosen. Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure). tidak dalam arti fisik. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). Setiap individu.

menyerang. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. seperti : dorongan untuk makan. motif-motif sosial (ingin diterima. melarikan diri. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. Approach-approach conflict. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan.Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. menyelamatkan diri dan sejenisnya. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. yaitu : (1) durasi kegiatan. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan. (4) ketabahan. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya. Avoidance-avoidance conflict. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. . yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. 2. yaitu : 1. Motif sekunder. untuk keperluan studi psikologis. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. dikenal dengan istilah drive. (2) frekuensi kegiatan. dikehendaki serta bersifat positif. konformitas dan sebagainya). jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. minat). 2. manipulasi. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. (3) persistensi pada kegiatan. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. seperti : takut yang dipelajari. Approach-avoidance conflict. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. 3. Motif primer (basic motive dan emergency motive). minum. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior). Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah : 1. sehingga membentuk suatu siklus Berkaitan dengan motif individu.

bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan. terdapat dua kemungkinan. Dalam hal ini. inteligensi). Namun sebaliknya. Namun. dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan. sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives). setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi.Dalam pandangan holistik. (4) fiksasi. jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (3) regresi (kemunduran perilaku). (6) rasionalisasi (mencari alasan). (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. Bentuk perilaku salah suai (maldjustment). yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik. Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan. diantaranya : (1) agresi marah. (5) represi (menekan perasaan). . (2) kecemasan tak berdaya. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Contoh 1 : Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (10) berfantasi (dalam angan-angannya. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas). seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan. secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi). Untuk tujuan jangka pendeknya. Untuk lebih jelasnya.

keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik) Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan. membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom.Tujuan jangka menengah. para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration). Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten. dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten. memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A. Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya. sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses. Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah. dia memperoleh pengetahuan yang luas. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental). dia berhasil meraih sebagai juara pertama. pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Contoh 2 : Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. . sehingga selama kuliah. Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan. pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya. nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL). dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya. Selain itu. Begitu juga. bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya. dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi). Pada akhir semester. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang. rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Bagi dirinya.

Bandung< : P.T. Jakarta. 2003. 2002 .Karakteristik dan Implementasi. Remaja Rosdakarya. ———. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. 2004. 2003. 2003. 1992.T. Muhibbin Syah. Nana Syaodih Sukmadinata. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD. Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan. dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). Bandung : P. Mulyasa. SMP dan SMA. 2004. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan.M. Dia sering tidak masuk kuliah. Kurikulum Berbasis Kompetensi. 1997. New York : McMillan Publishing. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Elizabeth B. Sambil menangis (regresi). 2005. Konsep. Prayitno. Five Core Propositions. 2004. Jakarta : . Hurlock. 2005. Arifin. ———-. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Psikologi Belajar. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti ——— 2003. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Bandung PPB – IKIP Bandung. DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan. National Board for Professional Teaching Standards. dkk. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Supratiknya). PT Golden Terayon Press. Surya. Jakarta : Dirjen Dikdasmen. Margaret E. E. Implementasi Kurikulum 2004. Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan. Panduan Pembelajaran KBK. Theory Into Practice. termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). Remaja Rosdakarya. Jakarta : Depdiknas. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). Psikologi Pendidikan. 31 Oct 2002).T. Remaja Rosdakarya. New York : McGraw-Hill Book Company Moh. H. 1980. Learning & Instruction.Bandung : P. Developmental Phsychology. Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). NBPTS (Accessed. sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. 2004. dkk. Calvin S. sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). Gendler. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Syamsu Yusuf LN. 2004. PPB-UPI Bandung Suyanto dan Djihad Hisyam.go. 2000. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. 2002. 1984. Sugiharto.2003. Psikologi Kepribadian. Sunaryo Kartadinata. Willis. Bandung : Pustaka Setia. http://puskur.2003. Sofyan S.Rineka Cipta. Bandung : Alfabeta SudarwanDanim. Jakarta : Rajawali. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III.(2005. Teori dan Praktek.id . Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Yogyakarta : Adi Cita. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Inventori Tugas Perkembangan. Bandung : Lab. Konseling Individual. Jakarta : PPPG Sumadi Suryabrata.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->