P. 1
Al-Misbah 016 Surah an-Nahl

Al-Misbah 016 Surah an-Nahl

|Views: 1,490|Likes:
Published by aburizal3634
Tafsir Al-Misbah Surah an-Nahl
Tafsir Al-Misbah Surah an-Nahl

More info:

Published by: aburizal3634 on Feb 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2013

pdf

text

original

Surah an-Nah

Surah ini terdiri dari J 28 ayat. Surah ini dinamakan AN-NAHL yang berarti'7ebar)"diambil dari ayat 68.

Surah an-Nah

Surah an-Nahl terdiri dari 128 ayat. Mayoritas ulama menilainya Makkiyyah, y a k n i t u r u n sebelum Nabi M u h a m m a d saw. berhijrah ke M a d i n a h . Ada juga y a n g mengecualikan beberapa ayat. Misalnya, ayat 126 dan dua ayat berikutnya, y a n g memerintahkan Nabi saw. agar jangan membalas kejahatan kecuali setimpal dengannya. M e r e k a menilai ayat-ayat itu turun setelah Nabi saw. berhijrah, cepatnya setelah terbunuhnya p a m a n beliau, Hamzah ra., dengan sangat kejam dan memilukan pada tahun III Hijrah. Ketika itu, Nabi saw. bermaksud membalasnya dengan menewaskan 70 orang musyrik. M a k a , beliau ditegur. A d a lagi y a n g berpendapat, h a n y a awal ayat-ayat surah ini sampai ayat 4 l yang M a k k i y y a h , selebihnya sampai akhir surah adalah Madaniyyah. N a m a an-Nahl terambil dari kara itu yang disebut pada ayat 68 surah ini. H a n y a sekali itulah a l - Q u r ' a n m e n y e b u t n y a . Ada j u g a ulama yang m e n a m a i n y a surah an-Ni'am sini. Sayyid Q u t h u b menilai, uraian surah ini sangat tenang dan halus, namun sangat padat. Tema-tema pokoknya bermacam-macam, tapi tidak keluar dari tema surah-surah y a n g turun sebelum hijrah Nabi saw., y a k n i tentang Ketuhanan, Wahyu, dan Kebangkitan, disertai dengan beberapa persoalan samping yang berkaitan dengan tema-tema pokok itu, seperti uraian tentang karena banyak nikmat Allah y a n g diuraikan di

517

518

S u r a h a n - N a h l [16]

keesaan Allah yang menghubungkan antara agama Nabi Ibrahim as. dan agama Nabi M u h a m m a d saw., juga tentang kehendak Allah dan kehendak manusia dalam konteks iman dan kufur, hidayah dan kesesatan. Fungsi rasul, dan sunnatullah dalam menghadapi para pembangkang; d e m i k i a n juga soal penghalalan dan pengharaman, soa! hijrah dan ujian y a n g dihadapi k a u m musyrikin dan m u s l i m i n , dan tidak ketinggalan soal interaksi sosial seperti keadilan, ihsan, infaq, menepati janji, dan lain-lain. Persoalan-persoalan itu dipaparkan sambil mengaitkannya dengan alam raya serta fenomenanya y a n g bermacam-macam. Thabathaba i menyimpulkan tujuan utama surah ini adalah penyampaian tentang dekatnya kehadiran ketetapan Allah yaitu kemenangan a g a m a yang haq. I n i — m e n u r u t n y a — d i j e l a s k a n dengan menguraikan bahwa Allah swt. adalah Tuhan Yang M a h a Esa yang wajib disembah karena Dia yang mengatur a l a m raya. Penciptaan a d a l a h hasil p e r b u a t a n - N y a d a n semua n i k m a t bersumber dari-Nya, tidak satu p u n dari hal-hal tersebut y a n g bersumber dari selain-Nya. Karena itu, hanya AJlah y a n g wajib disembah tidak satu pun selain-Nya. Di samping itu, surah ini j u g a menjelaskan b a h w a menetapkan agama adalah w e w e n a n g Allah swt. dan, dengan demikian, a g a m a harus bersumber d a r i - N y a , tidak dari selain-Nya. D a n ini berarti penolakan kepercayaan k a u m musyrikin serta dalih-dalih mereka mengingkari kehadiran para rasul. Demikian lebih k u r a n g T h a b a t h a b a T Al-Biqa'l—sebagaimana kebiasaannya—menjadikan nama surah sebagai p e t u n j u k t e n t a n g tema u t a m a n y a . Dari sini, u l a m a abad VIII H. itu berpendapat bahwa tujuan pokok dan tema utama surah an-Nahl adalah membuktikan kesempurnaan kuasa Allah dan keluasan ilmu-Nya, dan bahwa Dia bebas bertindak sesuai k e h e n d a k - N y a lagi tidak disentuh oleh sedikit kekurangan pun. Yang paling dapat m e n u n j u k k a n m a k n a ini adalah sifat dan keadaan an-Nahl, yakni "lebah" yang sungguh menunjukkan pemahaman yang dalam serta keserasian y a n g m e n g a g u m k a n antara lain dalam membuat sarangnya. D e m i k i a n juga dengan p e m e l i h a r a a n n y a dan b a n y a k lagi y a n g lain seperti keanekaragaman w a r n a m a d u yang dihasilkannya serta khasiat madu itu sebagai obat padahal sumber makanan lebah adalah k e m b a n g dan buah-buahan yang bermanfaat dan juga yang berbahaya.

S u r a h a n - N a h l [16]

519

Apa y a n g d i k e m u k a k a n al-Biqa i m e n y a n g k u t lebah adalah sekelumit dari b a n y a k keistimewaan binatang itu. Keajaibannya j u g a terlihat pada jenisnya. Ia tidak h a n y a terdiri dari jantan dan betina, tetapi juga yang tidak jantan dan tidak betina. Sarang-sarangnya tersusun dalam bentuk lubanglubang y a n g sama bersegi enam diselubungi oleh selaput y a n g sangat halus menghalangi udara dan bakteri menyusup ke dalam. Keajaibannya mencakup pula sistem k e h i d u p a n n y a y a n g p e n u h disiplin dan dedikasi di b a w a h pimpinan seekor "ratu". Sang ratu pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. "Rasa malu" y a n g dimiliki dan dipeliharanya menjadikan sang ratu lebah enggan berhubungan seks dengan salah satu anggota masyarakatnya y a n g j u m l a h n y a dapat mencapai sekitar tiga p u l u h ribu ekor lebah. Di samping itu, keajaiban lebah tampak pula pada bahasa dan cara mereka berkomunikasi y a n g d a l a m hal ini telah diamati oleh sekian banyak ilmuwan antara lain i l m u w a n Austria, Kari Van hriteh. Selanjurnya, jika kita mendukung pendapat as-Suyiithi yang menyatakan bahwa "surah yang terdahulu merupakan pengantar bagi surah sesudahnya", berarti surah an-Nahl ini adalah pengantar bagi surah al-Isra'. Lebah dipilih Allah untuk melukiskan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar

[

keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra' MiTaj Nabi M u h a m m a d saw. y a n g dijelaskan oleh surah berikut. Nabi M u h a m m a d saw. adalah manusia seutuhnya. Lebah dipilih untuk menjadi pengantar uraian yang berkaitan d e n g a n m a n u s i a seutuhnya karena seorang m u k m i n — a t a u k a t a k a n l a h m a n u s i a y a n g utuh—-diibaratkan oleh Rasul saw. bagaikan "lebah": tidak m a k a n kecuali y a n g baik dan i n d a h seperti k e m b a n g - k e m b a n g tidak

menghasilkan kecuali yang baik dan bermanfaat seperri madu yang merupakan m i n u m a n dan obat bagi aneka penyakit, tidak hinggap di tempat yang kotor, tidak m e n g g a n g g u kecuali y a n g m e n g g a n g g u n y a d a n j i k a m e n y e n g a t sengatannya pun menjadi obat. Kini, baiklah kita memasuki perincian pesan dan kesan serta keserasian yang m e n g a g u m k a n dari ayat-ayat surah an-Nahl ini.

KELOMPOK 1

AYAT

1-21

521

522

S u r a h a n - N a h l [16]

-

>

^

•**>>

^ >

^4

^

Ctrl.

524

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok I Ayat 1

AYAT 1

"Telah

datang

ketetapan Mahasuci

Allah Allah

maka janganlah dan Mahatinggi

kamu dari

meminta

agar mereka

disegerakan. persekutukan."

apa yang

Akhir surah al-Hijr berbicara tentang al-yaqin lain berarti kematian.

(keyakinan) y a n g antara

Kematian pasti m e n g u n j u n g i semua y a n g h i d u p . Di

sana juga pasti akan ditemui apa yang telah dijanjikan Allah, termasuk ancaman siksa-Nya kepada k a u m musyrikin y a n g sering mereka perolok-olokkan

sehingga meminta untuk dipercepat kehadirannya. Nah, awal surah an-Nahl ini m e n y a t a k a n bahwa: Telah pasti datangnya, ketetapan Allah, y a k n i Hari

Kiamat, atau siksaan terhadap yang durhaka, atau kekalahan kaum musyrikin, maka karena itu janganlah kamu, wahai y a n g durhaka, dan dengan tujuan

mengejek, dan jangan j u g a w a h a i y a n g percaya g u n a m e m u a s k a n d e n d a m meminta agar disegerakan d a t a n g n y a ketetapan y a n g dijanjikan Allah itu, Allah, Dia bebas

atau janganlah meminta Allah mempercepatnya. Mahasuci dari segala aib dan kekurangan dan Mahatinggi apa pun yang mereka persekutukan

dari apa, y a k n i berhala, dan

d e n g a n - N y a sehingga karena tingginya

itu m a k a tidak ada y a n g dapat menghalangi kehendak-Nya. Kata ( J\) Allah atdftelah datang pada firman-Nya: ( iji y\ J\) atd amru

b e r b e n t u k k a t a kerja masa l a m p a u . Secara redaksional, ayat ini

menyatakan bahwa ketetapan itu telah datang dan terlaksana. Tetapi larangan untuk meminta disegerakan datangnya menunjukkan bahwa ia belum datang. Sedang, kata ( y ! ) amr, y a n g diartikan di atas dengan ketetapan, diterjemahkan perintah. Kata tersebut dari segi bahasa adalah mashdar, biasa yakni

kata j a d i a n / i n f i n i t i v e noun y a n g di sini berarti objek sehingga ia b e r m a k n a apa y a n g diperintahkan Allah swt. M a k s u d n y a adalah ketetapan Allah y a n g selama ini Dia janjikan dan belum terlaksana, seperti datangnya Kiamat atau siksa dan kekalahan k a u m musyrikin. Karena itu, maksud kata telah datang

adalah pasti akan datang. Penggunaan bentuk kata kerja masa lampau itu di sini u n t u k mengisyaratkan bahwa Allah swt. tidak terikat oleh w a k t u g u n a

Kelompok I Ayat 1

S u r a h a n - N a h l [16]

525

m e w u j u d k a n sesuatu. Hari ini, esok, dan kemarin adalah perhitungan m a n u s i a / m a k h l u k y a n g tidak dapat melepaskan diri dari waktu. Allah tidak d e m i k i a n . Dia Yang menguasai dan m e n u n d u k k a n waktu. B u k a n k a h Allah berfirman bahwa:

"Sesungguhnya menghendakinya, jadilah ia"{QS.

perkataan

Kami

terhadap

sesuatu

apabila

Kami maka

Kami hanya, mengatakan an-Nahl [ 1 6 ] : 4 0 ) .

kepadanya:

"Kun (jadilah)",

Penggunaan kata ( y\)

^ m r y a n g dapat m e n g a n d u n g banyak m a k n a — definitive tapi tidak jelas apa yang

karena kendati ayat ini berbentuk ma'rifahl

d i m a k s u d dengannya. Ini bertujuan u n t u k lebih menanamkan rasa takut dan u n t u k melukiskan betapa besar dan dahsyat apa yang akan terjadi. Hal itu d e m i k i a n karena ketidakjelasan suatu berita, apalagi ancaman, dapat menimbulkan perasaan khawatir melebihi kekhawatiran bila ancaman tersebut telah diketahui. Larangan meminta dipercepat itu dipahami oleh Thahir Ibn ' Asyur dalam arti ' T i d a k ada g u n a n y a k a m u m e m i n t a karena baik k a m u minta m a u p u n tidak, sama saja k e a d a a n n y a , ketetapan itu tidak akan datang sebelum waktunya." Ayat di atas menunjuk Tuhan Yang M a h a Esa dengan nama-Nya, yakni "Allah", sedang pada akhir ayat yang lalu Yang Mahakuasa itu ditunjuk dengan kata Rabbaka. Hal tersebut agaknya disebabkan ayat yang lalu ditujukan kepada Nabi M u h a m m a d saw., sedang ayat ini ditujukan kepada k a u m musyrikin. Mereka m e m a n g wajar diancam, dan kata "Allah" y a n g mencakup semua sifat-Nya termasuk sifat M a h a c e p a t siksa-Nya lebih sesuai daripada kata Rabbaka y a n g mengesankan pemeliharaan dan limpahan anugerah. Di sisi

lain, Allah diakui w u j u d - N y a oleh kaum musyrikin, walau Allah dalam kepercayaan mereka tidak sama sifat-sifat-Nya dengan Tuhan yang disembah oleh Nabi M u h a m m a d saw. Agaknya, karena pengakuan itu pulalah sehingga kata "Allah"\ehi\\ wajar dan tepat ditujukan kepada mereka. Dengan harapan

k i r a n y a hal tersebut dapat m e n g g u g a h hati dan pikiran mereka u n t u k bertaubat dan beriman dengan iman yang benar.

526

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok I Ayat 1

Sesuatu y a n g ditangguhkan boleh jadi karena yang m e n a n g g u h k a n n y a terhalangi oleh sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Hal ini disanggah oleh lanjutan ayat ini, y a k n i " M a h a s u c i A l l a h ' dari segala sifat kekurangan termasuk Mahasuci dari k e t i d a k m a m p u a n atau kegagalan melaksanakan kehendak-Nya. Firman-Nya: persekutukan tusyrikunlapa ( j j T j J ^ lU- ) 'ammd yusyrikunlapa yang mereka 'ammd

ada j u g a y a n g m e m b a c a n y a dengan ( j j T y ^ j Lip ) jangkamu persekutukan.

Bacaan kedua ini ditujukan kepada

mitra bicara, yakni kaum musyrikin dan bentuk orang kedua itu sejalan dengan b e n t u k k a t a s e b e l u m n y a y a i t u f djl*u«-*3) tasta'jiluh/ka/nu disegerakan. Penggunaan bentuk orang ketiga ( b^jJ»» ) minta agar

yusyrikun

mengesankan pengabaian orang-orang musyrik, y a k n i bahwa mereka tidak wajar diajak berdialog langsung oleh Allah swt. sejalan dengan akhir surah yang lalu yang memerintahkan Nabi saw. agar berpaling dari kaum musyrikin (QS. al-Hijr d menganggap [15]: 94) jiJS\) dan sejalan juga dengan fi rman-Nya: dkhar/orang-

( jr\t. Uj h orangyang

alladztnayaj'aluna ada tuhan yang

ma 'a Allah ihihan

lain di samping

Allah pada Q S . al-

Hijr [ 1 5 ] : 9 6 . Ayat ini, tulis al-Biqa'i, pada akhirnya seakan-akan berkata: Allah tidak tergesa-gesa menjatuhkan ketetapan-Nya karena Dia Mahasuci dari segala kekurangan; ketetapan-Nya pasti akan terlaksana karena Dia M a h a t i n g g i , tidak tertandingi. Bisa j u g a — l a n j u t u l a m a dan pakar hubungan antar ayat itu-—penggalan akhir ayat ini seakan-akan berkata: "Jangan m e m i n t a agar disegerakan j a t u h n y a ketetapan Allah karena Dia M a h a s u c i , sehingga Dia tidak tergesa-gesa, dan Dia M a h a t i n g g i , tidak ada y a n g dapat m e n a n d i n g i Nya, atau dapat m e n o l a k apa yang d i k e h e n d a k i - N y a . Karena itu, pasti kehendak-Nya akan terlaksana." Dengan demikian, penggalan akhir ayat ini menjadi alasan bagi pesan y a n g d i k a n d u n g oleh penggalan awalnya, sedang penggalan a w a l n y a merupakan alasan u n t u k kandungan akhir surah al-Hijr vang berpesan agar m e n y u c i k a n Allah, shaiat, serta beribadah kepada-Nya sampai dengan datangnya keyakinan/kematian atau apa yang dijanjikan-Nya.

Kelompok 1 Ayat 2

5 u r a h a n - N a h l [16]

527

AYAT 2

"Dia menurunkan yang bahwa

para malaikat di antara

dengan

ruh atas perintah-Nya yaitu:

kepada

siapa

Dia kehendaki

hamba-hamba-Nya, Aku,

'Peringatkanlah kamu bertakwa

tidak ada tuhan

melainkan

maka hendaklah

kepada-Ku."'

Permintaan kaum musyrikin agar Kiamat dan siksa disegerakan Allah, tidak lain tujuannya kecuali memperolok-olokkan Rasul dan

mendustakannya. Hal itu lahir dari kepercayaan syirik/mempersekutukan Allah y a n g mereka anut serta keyakinan bahwa Allah swt. tidak m u n g k i n mengurus manusia untuk m e n y a m p a i k a n tuntunan-Nya. Nah, karena itu, setelah penggalan akhir ayat yang lalu menyucikan Allah dari segala kekurangan dan syirik, di sini ditegaskan kebenaran para rasul, termasuk Nabi M u h a m m a d saw., y a n g m e m a n g sungguh-sungguh m e n e r i m a w a h y u melalui malaikat atas perintah .Allah swr. AKBiqa i menulis tentang hubungan avat ini dengan ayat yang lalu bahwa selelah dinyatakan pada ayat yang lalu kesucian Allah dari segala kekurangan dan sekutu, kini melalui ayat ini, Yang Vlahasuci menyatakan kesempurnaanN y a dalam ketetapan dan penciptaan dan, karena keretapan penciptaan, hal itulah vang disebut terdahulu, y a k n i dengan mendahului menyebut

ketetapan-Nya m e n u r u n k a n malaikat, bukan seperti y a n g diusulkan dan dikehendaki oleh kaum musyrikin. Apa pun hubungannya, yang jelas ayat ini menegaskan bahwa: Dia, yakni Allah swt., menurunkan as. dengan para malaikat dalam hal ini adalah malaikat Jibril kepada siapa yang

m e m b a w a ruh, y a k n i w a h y u , atas perintah-Nya u n t u k diberi w a h y u di antara

Dia kehendaki

hamba-hamba-iVya

yang taat oleh k a m u tidak

dan suci jiwanya, yaitu

inti w a h y u itu adalah: "Peringatkan/ah

sekalian, wahai h a m b a - h a m b a - K u y a n g Ku-anugerahi w a h y u , bahwa ada tuhan Penguasa a l a m raya y a n g berhak disembah melainkan

Aku, A k u

sendiri. Karena itu, ketetapan-Ku pasti terlaksana dan siksa-Ku amat pedih, maka karena itu pula hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku, yakni melindungi

528

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok I Ayat 2

diri kamu dari jatuhnya siksa-Ku dengan mengesakan Aku serta melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Ku. Selanjutnya, karena tidak ada tuhan selain A k u , y a k n i A k u adalah Penguasa tunggal, dan kehendak-Ku yang berlaku, ketahui pulalah bahwa tidak ada y a n g dapat menghalangi Aku menjatuhkan siksa bagi y a n g d u r h a k a , t i d a k ada j u g a y a n g dapat

membatalkan ketetapan-Ku menganugetahkan w a h y u kepada siapa yang Aku nilai wajar menerimanya. Kata ( ASO^U malak.
)

mala 'ikahlmalaikat

adalah b e n t u k j a m a k dari kata ( d l l * )

Dari segi redaksional, ini berarti bahwa y a n g m e n y a m p a i k a n w a h y u

Ilahi bukan hanya satu malaikat tertentu. Para ulama memahami kata tersebut dalam arti seorang malaikat y a i t u m a l a i k a t Jibril as. y a n g bertugas pokok menyampaikan wahyu. Bahwa ayat ini menggunakan redaksi yang berbentuk jamak adalah untuk mengisyaratkan betapa a g u n g malaikat itu. Bisa juga bentuk j a m a k itu tetap dalam pengertian j a m a k n y a , dan ini berarti bahwa w a h y u Ilahi dapat saja disampaikan oleh beberapa malaikat selain malaikat Jibril as. N a m u n demildan, perlu dicatat bahwa para malaikat, selain Jibril as., tidaklah bertugas m e n y a m p a i k a n w a h y u al-Qur'an tetapi w a h y u selain aI-Qur'an karena secara tegas Q S . a s y - S y u ' a r a ' [ 2 6 ] : 193 m e n y a t a k a n b a h w a a l - Q u r ' a n d i t u r u n k a n oleh ar-Ruh al-Amin, yakni

malaikat Jibril as. M e m a n g , w a h y u Allah b e r m a c a m - m a c a m dan ditujukan kepada banyak manusia, bahkan ada w a h y u - N y a y a n g berarti ilham antara lain yang d i w a h y u k a n kepada ibu Nabi M u s a as. (QS. al-Qashash [ 2 8 ] : 7 ) dan j u g a kepada lebah seperti terbaca pada ayat 68 surah ini. Kata ( ^ j j J ) ar-ruh
1

oleh ayat di atas dipahami oleh banyak ulama dalam

arti wahyu. Tuntunan-tuntunan AJlah dinamai ar-ruh karena dengannya jiwa manusia h i d u p , sebagaimana j a s m a n i n y a hidup dengan nvawa. Ini serupa dengan penamaan kebodohan dengan kematian, atau i l m u dengan cahaya. Tanpa melaksanakan bimbingan w a h y u , manusia tidak dapat hidup sebagai makhluk terhormat bahkan jiwanya mati, sehingga dia terkubur walau masih menarik dan mengembuskan napas. A y a t di atas m e n y i m p u l k a n semua ajaran Ilahi pada kalimat: tidak tuhan melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku. ada

Memang,

Ketuhanan Yang M a h a Esa diibaratkan sebagai matahari hidup manusia.

Kelompok I Ayat 2

S u r a h a n - N a h l [16]

529

Apabila dalam kehidupan dunia ini ada matahari yang dijadikan Allah swt. sebagai sumber k e h i d u p a n m a k h l u k , t a u h i d adalah sumber m a k h l u k berakal. A p a b i l a tanpa pancaran cahaya matahari kehidupan kehidupan

m a k h l u k di permukaan b u m i ini akan binasa, tanpa Ketuhanan Yang M a h a Esa kehidupan jiwa manusia pun akan binasa. J i k a di sekeliling matahari terdapat planet-planet tata surya seperti Bulan, M a t s , Yupiter, dan lain-lain y a n g tidak dapat melepaskan diri dari daya tarik matahari—-dan jika terlepas planet itu akan j a t u h — m a k a pada tauhid pun beredar kesatuan-kesatuan y a n g tidak boleh dilepaskan dari daya tarik tauhid itu karena jika dilepaskan manusia p u n jatuh meluncur menuju kebinasaan. Kesatuan-kesatuan itu antara lain: 1) Kesatuan h i d u p d u n i a w i d a n u k h r a w i d a l a m arti y a n g menentukan keadaan h i d u p seseorang di akhirat adalah a m a l - a m a l n y a di dunia. 2) Kesatuan alam raya, dalam arti alam raya dan segala isinya diciptakan oleh Allah Tuhan Yang M a h a Esa tanpa bantuan siapa pun dan kesemuanya t u n d u k kepada pengaturan Yang M a h a Esa itu. 3) Kesatuan kemanusiaan dalam arti tidak ada perbedaan akibat ras. Semua manusia memiliki hak-hak asasi yang sama karena semua manusia diciptakan Allah dari seorang ayah (Adam) dan seorang ibu ( H a w w a ) . 4 ) Kesatuan sumber agama, yakni agama hanya bersumber dari Allah swt., tidak dari selain-Nya, dan bahwa agamaagama y a n g disampaikan oleh para nabi kesemuanya sama dalam prinsipprinsip akidah, syariah, dan akhlaknya. 5) Kesatuan i l m u — y a k n i semua ilmu, baik y a n g dinamai ilmu a g a m a m a u p u n selainnya—-adalah bersumber dari Allah swt. 6) Kesatuan masyarakat sehingga tidak dikenal adanya kelas-kelas dan kasta-kasta karena semua adalah h a m b a - h a m b a Allah swt. 7) Dan lainlain, seperti kesatuan natural dan supranatural, kesatuan rasa dan rasio, akal dan kalbu, kesatuan h u k u m dan kasih sayang, dan lain-lain sebagainya. Keyakinan akan keesaan Allah itulah y a n g m e m b u a h k a n takwa. Dalam konteks ini, ditemukan riwayat y a n g menyatakan bahwa: iman telanjang dan p a k a i a n n y a adalah takwa. Rasul saw. bersabda, '"Iman adalah apa yang mantap di dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan." Apa yang didalam hati itu p u n c a k n y a adalah a k i d a h k e t u h a n a n dan a m a l - a m a l tersebut disimpulkan dengan kata tatjwa.

530

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 3-4

AYAT 3-4

"Dia telah menciptakan apa yang tiba-tiba mereka

langit dan bumi dengan

haq. Mahatinggi manusia

Allah dari

dari mani,

persekutukan. pembantah

Dia telah menciptakan yang nyata. "

dia menjadi

Setelah ayat y a n g lalu m e n e g a s k a n t e n t a n g k e e s a a n - N y a , ayat ini memaparkan salah satu bukti tentang keesaan itu, sekaligus merupakan pelurusan kepercayaan kaum musyrikin y a n g mempersekutukan-Nya. Allah berfirman m e n g i n g a t k a n seluruh m a n u s i a b a h w a Dia menciptakan langit tempat telah

k a m u bertcduh dengan segala benda-benda yang

k a m u lihat atau rasakan kehadirannya, demikian juga yang k a m u tidak lihat atau rasakan, dan bumi tempat kamu berpijak serta segala apa yang terhampar di permukaan dan di dalam perut bumi. S e m u a itu diciptakan-Nya haq, yakni dengan cara dan dengan tujuan y a n g hak. Mahatinggi apa yang mereka persekutukan, Allah dengan dan

baik dalam ibadah maupun dalam sifat, Zat

dan perbuatan-Nya. Karena t i d a k seorang p u n m e n y a k s i k a n p e n c i p t a a n l a n g i t , Allah melanjutkan pesan-Nya dengan menyebut penciptaan manusia, y a n g dapat mereka saksikan, bahkan selaku ayah dan ibu mereka memiliki keterlibatan dalam penciptaannya dan mereka semua merasakan kehadiran m a k h l u k sesamanya itu di pentas b u m i ini. Allah berfirman bahwa Dia j u g a yang telah menciptakan manusia dari setetes mani y a n g sangat remeh dan tidak dia lahir dan yang nyata, menjadi

berarti bila melihat keadaan lahiriahnya tiba-tiba manusia seria berubah menjadi seorang pembantah

yakni yang

sangat gemar membantah tentang hakikat dirinya sendiri dan tentangTuhan, lagi dia sangat tangguh dan keras kepala menghadapi siapa pun. Di sini pernyataan serupa dengan akhir ayat yang lalu dikemukakan lagi yaitu " M a h a t i n g g i Allah dari apa y a n g mereka persekutukan", tetapi di sana setelah kata "Mahasuci". Pengulangan ini bertujuan menegaskan hasil dari bukti yang disebut sebelumnya karena pembuktian kesesatan dalam hal keesaan Allah merupakan dasar bagi runtuhnya seluruh kepercayaan sesat

K e l o m p o k I A y a t 3-4

S u r a h a n - N a h l [16]

531

mereka, antara lain pengingkaran kerasulan atau hari Kemudian. Pembuktian keesaan Allah melalui penciptaan langit dan bumi merupakan dalil y a n g amat kuat jika enggan berkata y a n g terkuat karena sekian banyak m a k h l u k y a n g dicakup atau berada lagi m e m b u t u h k a n langit dan bumi, belum lagi keserasian sistem kerja keduanya. Setelah menyebut tentang langit dan bumi, diperincinya m a k h l u k m a k h l u k yang hidup dan berada serta terlihat oleh pandangan mata. Itu dimulai dengan manusia y a n g merupakan m a k h l u k y a n g amat sempurna dan yang untuknya ditundukkan langit dan bumi, walau bahan

p e n c i p t a a n n y a — y a k n i sperma—sangat remeh dan hina, dan kendati pada awal dan akhir usianya sangat lemah. Selanjutnya, w a l a u pada pertengahan u s i a n y a m a n u s i a m e m i l i k i sedikit k e m a m p u a n lagi berpotensi u n t u k m e n g g u n a k a n akalnya, sungguh amat aneh m a k h l u k ini. M e r e k a sering kali membangkang dalam hal kebenaran sehingga mengingkari keesaan Allah swt. dan utusan-utusan-Nya. F i r m a n - N y a : ( l i l i ) fa idza yang mengandung makna tiba-tiba

menunjukkan bahwa apa yang terjadi itu, yakni bantahan dan pembangkangan manusia, sama sekali tidak dapat diterima dan terbayangkan atau diduga oleh siapa pun y a n g m e n g g u n a k a n akalnya. Tentu saja bagi Allah swt. hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak terduga, karena Dia M a h a Mengetahui segala sesuatu, sebelum, saat, serta setelah terjadinya segala sesuatu. Di sini yang tidak menduganya adalah mereka yang menyadari betapa banyak bukti yang terhampar di alam raya dan dalam diri manusia sendiri y a n g mestinya dapat mengantar kepada akidah tauhid, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kata ( pr&r ) khashi'm adalah b e n t u k mubdlaghahlhiperbola yang membantah,

menunjuk arti banyak sehingga kata tersebut berarti banyak sekali sedang kata ( j y ) mubin tampak atau jelas

y a n g terambil dari kata ( j b ) bana y a n g berarti

m e n g a n d u n g m a k n a b a h w a y a n g bersangkutan m e m i l i k i

k e m a m p u a n u n t u k menjelaskan isi hatinya, baik dengan cara y a n g haq maupun dengan cara yang batil atau "pokrol bambu" tanpa dasar sama sekali. M a k n a terakhir inilah yang dimaksud oleh kata itu di sini. Perbantahan y a n g dimaksud antara lain tentang keniscayaan Kiamat yang diisyaratkan oleh Q S . Yasin [ 3 6 1 : 7 7 - 7 8 .

532

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 5-6

Selanjutnya rujuklah ke ayat 85 surah al-Hijr u n t u k m e m a h a m i lebih dalam m a k n a ( J^-b ) bi al-haqq!
m

AYAT 5-6

"Dan

binatang

ternak

telah Dia ciptakan manfaat

untuk

kamu; padanya

ada

yang Dan ke

menghangatkan kamu memeroleh kandang

dan berbagai padanya

dan sebagiannya

kamu makan. kembali "

keindahan

ketika kamu membawanya ke tempat penggembalaan.

dan ketika kamu melepaskannya

Setelah menguraikan tentang manusia, ayat ini berbicara tentang binatang y a n g penciptaan dan k e a n e k a r a g a m a n n y a tidak kurang menakjubkan dari manusia. Di sisi lain, binatang mempunyai persamaan dengan manusia dalam jenisnya. B u k a n k a h manusia adalah binatang y a n g berpikir? B u k a n k a h ada di antara mereka yang memiliki kemiripan, bahkan persamaan dari segi fisik dengan manusia? D a l a m ayat di atas, Allah berfirman: Dan, sebagaimana halnya penciptaan m a n u s i a dari s p e r m a / m a n i , binatang diciptakan-Nya demikian. Binarang itu Dia ciptakan manfaatkan, padanya yang menghangatkan ternak pun telah

untuk kamu guna k a m u

ada bulu dan kulit yang dapat k a m u buat pakaian dan j u g a berbagai manfaat lain dan sebagiannya kamu

dapat makan.

Dan, di samping bermanfaat sebagai pakaian dan m a k a n a n , padanya, y a k n i ketika m e m a n d a n g n y a kembali ke kandang sore hari

kamu j u g a secara khusus memeroleh keindahan

y a i t u ketika kamu membawanya

pada saat matahari akan terbenam dan d a l a m keadaan kenyang dan penuh dengan susu dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan, di

pagi hari ketika kalian pergi ke kebun dan tempat penggembalaan. Firman-Nya: ( ^ ternak telah Dia ciptakan l^ai>- abu^l) al-an'am khalaqaha lakum/dan binatang

untuk kamu dapat d i p a h a m i sebagai berhubungan

dengan uraian tentang penciptaan manusia dari sperma, sebagaimana dijelaskan

Lihat kembali halaman 502.

K e l o m p o k I A y a t 5-6

S u r a h a n - N a h l [16]

533

di atas, karena binatang ternak p u n berkembang biak melalui p e m b u a h a n sperma jantan oleh o v u m betinanya dan dapat juga d i h u b u n g k a n dengan keseluruhan kalimat sebelumnya dan, dengan d e m i k i a n , ayat ini bagaikan m e n y a t a k a n : Allah telah m e n c i p t a k a n b i n a t a n g ternak, Dia telah menciptakannya memiliki keistimewaan antara lain memiliki bulu yang dapat menghangatkan k a m u . Dengan demikian, penggalan ayat ini merupakan uraian m e n y a n g k u t sebagian n i k m a t Allah kepada manusia, yakni nikmatNya melalui binatang ternak y a n g diciptakan-Nya. Yang dimaksud dengan al-an 'om adalah unta, sapi, domba, dan kambing. Rujuklah ke surah al-An'am. Kata ( ) difun adalah n a m a bagi sesuatu y a n g m e n g h a n g a t k a n . Ia

adalah pakaian atau k e m a h y a n g terbuar dari bulu atau rambut binatang. D i d a h u l u k a n n y a kata sebagian atas kalimat kamu makan bertujuan

m e m b e r i p e n e k a n a n k h u s u s t e r h a d a p n i k m a t m a k a n a n itu, s e d a n g penggunaan bentuk kata mudharilkax&. kerja masa kini dan akan datang

mengisyaratkan bahwa kegiatan tersebut bersinambung atau berulang-ulang, dan di sana tersirat pula pengulangan dan kesinambungan nikmat Allah swt. dan ini, pada gilirannya, menuntut kesinambungan mensyukuri-Nya. M a k n a serupa dipahami j u g a pada penggunaan bentuk kata kerja y a n g sama pada kata-kata ( 0y=y ) turihunalmembawanya tasrahiinfmelepaskannya ke tempat kembali ke kandang dan ( o y - j — J )

penggembalaan. kembali atas melepaskannya b u k a n saja

D i d a h u l u k a n n y a membawanya

karena perasaan yang membawanya ketika kembali lebih nyaman karena telah menyelesaikan tugas seharian dan segera akan beristirahat, tetapi j u g a karena indahnya pemandangan yang terlihat ketika matahari akan tenggelam dengan mega merah y a n g menutupinya. Di samping itu, binatang gembalaan itu juga "merasa" senang karena k e n y a n g setelah m a k a n r u m p u t dan boleh jadi susunya pun semakin bertambah. Ayat ini menggarisbawahi n i k m a t keindahan. Ia melepaskan kendali kepada manusia untuk memandang keindahan, menikmati dan

melukiskannya sesuai dengan subjektivitas perasaannya. Demikian kesan yang muncul ketika m e m b a c a ayat yang redaksinya berbicara tentang keindahan secara lepas ini. Ini mengantar kita berkata bahwa al-Qur'an m e n g a k u i

534

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 5-6

subjektivitas seniman dan bahwa seni dapat diekspresikan oleh siapa p u n — perorangan atau kelompok masyarakat—sesuai budaya dan kecenderungan masing-masing. Tidak ada yang membatasinya kecuali apa yang digarisbawahi oleh awal surah ini vaitu: Mahasuci mereka persekutukan. ) wa lakumfibdjamdl/dan kamu memeroleh Allah dan Mahatinggi dari apa yang

Firman-Nya: ( padanya keindahan

menunjukkan betapa a l - Q u r a n merestui seni. Bukankah

seni adalah ekspresi dari keindahan? A g a m a Islam memperkenalkan dirinya anrara lain sebagai a g a m a y a n g sejalan dengan fitrah, yakni naluri dan kecenderungan bawaan manusia sesuai firman-Nya:

"Maka, hadapkanlah atas) fitrah

wajahmu

dengan

lurus kepada manusia

agama menurut

{Allah), fitrdh itu.

(tetaplah Iidak

Allah yang telah menciptakan pada ciptaan Allah, (indah)

ada perubahan manusia

agama yang lurus, tetapi

kebanyakan

tidak mengetahui"(QS. ku halnya,

ar-Rttm [ 3 0 ] : 3 0 ) . tidak mungkin ada satu ajaran Islam pun y a n g

Jika demikian

bertentangan dengan fitrah. Tidak m u n g k i n juga ada fitrah manusia yang dibendung dan dilarang olehnva. Salah satu fitrah itu adalah kecenderungan manusia kepada keindahan, baik berupa p e m a n d a n g a n alam, keindahan wajah, aroma yang harum, ataupun suara merdu. Tuhan tidak m u n g k i n menciptakan itu dalam diri manusia k e m u d i a n Dia m e n g h a r a m k a n n y a . Sayyid Quthub berkomentar bahwa ayat ini menggambarkan pandangan al-Qur'an dan pandangan Islam tentang kehidupan. Keindahan unsur asasi dalam p a n d a n g a n Islam itu dan bahwa n i k m a t bukan sekadar p e m e n u h a n kebutuhan primer dalam bentuk makan, m i n u m , dan mengendarai

kendaraan, tetapi juga pemenuhan kerinduan y a n g m e l a m p a u i kebutuhan pokok, yakni pemenuhan naluri keindahan serta perasaan gembira dan rasa k e m a n u s i a a n y a n g mengatasi kecenderungan dan k e b u t u h a n binatang. D e m i k i a n lebih kurang Sayyid Q u t h u b .

Kelompok I Ayat 7

S u r a h a n - N a h l [16]

535

AYAT 7

"Dan ia memikul mencapainya benar-benar

beban-beban

kamu ke suatu negeri yang kamu tidak susah payah. Penyayang. Sesungguhnya " Tuhan

sanggup kamu

melainkan

dengan

Maha Pengasih

lagi Maha

N i k m a t lain y a n g k a m u peroleh dari penciptaan binatang ternak, di samping y a n g telah disinggung oleh ayat y a n g lalu, adalah Dan ia, y a k n i binatang ternak itu, memikul akan k u n j u n g i yang mencapainya melainkan kamu beban-beban kamu ke suatu negeri y a n g k a m u tidak sanggup

j a r a k n y a begitu j a u h sehingga kamu

dengan m e m i k u l beban itu atau bahkan walau tanpa beban dengan susah payah y a n g m e n y u l i t k a n diri. Sesungguhnya Tuhan

y a n g telah m e n y e d i a k a n d a n m e m p e r m u d a h

s e m u a itu u n t u k bagi yang

k e n y a m a n a n kamu benar-benar

adalah Tuhan Yang Maha Pengasih

mendekatkan diri kepada-Nya dan m e l a k u k a n kegiatan yang direstuhNya lagi Maha Penyayang kepada semua m a k h l u k - N y a apa dan siapa pun. payah terambil dari kata ( JLi ) Kata ini dapat j u g a menghabiskan

Kata ( j-dii^i j - i o ) bi syiqq al-anfuslsusah syiqq y a n g berarti sebelah sesuatu yang

atau setengahnya. demikian

dipahami dalam arti keletihan setengah kekuatan,

besar sehingga mati.

atau katakanlah setengah

Para ulama memahami bahwa arah yang dimaksud di sini adalah sangat jauh sehingga tidak dapat dicapai kecuali dengan m e n g g u n a k a n unta.

Pemahaman ini ditolak Ibn Asyiir. M e n u r u t n y a , arah itu sedemikian jauh sehingga tidak dapat dicapai, baik dengan mengendarai unta maupun tidak. Hemat penulis, pemahaman Ibn 'Asyur ini dapat diterima j i k a penggalan ayat ini dikaitkan dengan keadaan sekarang, di mana sekian banyak wilayah yang tidak terjangkau oleh unta. Tetapi, jika ayat ini dikaitkan dengan konteks nikmat alat transportasi y a n g dikenal saat turunnya ayat ini serta konteks uraian tentang n i k m a t unta y a n g d i t u n d u k k a n Allah swt. kepada manusia, agaknya tidak atia halangan u n t u k m e m a h a m i n y a dalam arti bahwa arah vang d i m a k s u d sangat j a u h dan tidak dapat terjangkau kecuali dengan menggunakan unta, yang telah dijinakkan Allah dan diciptakan untuk m a m p u

536

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok I Ayat 7

menjadi alat transportasi darat, tidak ubahnya dengan perahu/kapal sebagai alat transportasi laut. Unta sangat cepat dan m a m p u m e n g a r u n g i padang pasir berhari-hari tanpa harus menyiapkan u n t u k n y a m i n u m a n karena unta itu sendiri telah memiliki dalam tubuhnya persediaan m i n u m a n untuk waktu y a n g relatif lama. Sifat ( j j j j l i ) ar-Rii'Jifdan ( ) ar-Ridjim serta perbedaan keduanya

menjadi bahasan para ulama. Mufasir al-Biqa'i, kerika menafsirkan Q S . alBaqarah [ 2 ] : 1 4 3 , m e n j e l a s k a n b a h w a rafah-Nyu dianugerahkan Allah kepada yang menghubungkan a d a l a h rahmat diri dengan Allah yang melalui

amal saleh karena menurutnya—mengutip pendapat al-Haral i—ra'fah adalah kasih sayang Pengasih kepada siapa yang memiliki hubungan dengan-Nya.

Terjalinnya hubungan terhadap yang dikasihi itu, dalam penggunaan kata ra'fah, membedakan kata ini dengan rahmah m e n g g a m b a r k a n tercurahnya hubungan dengan pengasih kasih, baik karena rahmah terhadap siapa digunakan untuk yang memiliki dengannya.

maupun

yang tidak memiliki

hubungan

Di sisi lain, ra'fah m e n g g a m b a r k a n sekaligus menekankan melimpah r u a h n y a anugerah karena y a n g ditekankan pada sifat ar-Ra'///adalahpelaku

yang amat kasih sehingga m e l i m p a h ruah kasihnya, sedang y a n g ditekankan pada ar-Rabim adalah penerima. Karena itu, ra'fah selalu melimpah ruah, sesuai dengan kebutuhan si

bahkan melebihi kebutuhan, sedang rahmah, penerima.

Ulama lain m e n a m b a h k a n bahwa ra'fah hampir objek yang yang tidak disenangi, berbeda dengan rahmah

tidak dicurahkan y a n g dicurahkan

kepada kepada

disenangi

dan bisa j u g a kepada y a n g tidak disenangi karena adanya

hikmah dan kemaslahatan. Rahmah Allah tertuju kepada yang kafir dan yang m u k m i n , y a n g durhaka dan tidak durhaka, sedang rafah-Nya yang taat. A l - Q u r t h u b i m e n g e m u k a k a n b a h w a ra'fah m e n g g a m b a r k a n anugerah boleh jadi pada awalnya yang sepenuhnya dirasa pahit digunakan sedang oleh untuk rahmah hanya kepada

menyenangkan,

dan menyakitkan

penerimanya,

tetapi beberapa w a k t u k e m u d i a n akan m e n y e n a n g k a n n y a . Dari sini dapat dimengerti penggabungan sifat ar-Rduf dan ar-Rahim. pada ayat-ayat tertentu, yang tertuju kepada kelompok manusia di mana tergabung di dalam konteks

Kelompok I Ayat 8

S u r a h a n - N a h l [16]

537

pembicaraannya, yang caat dan durhaka. Seperti firman-Nya di aras atau pada Q S . a l - B a q a r a h [ 2 ] : 143.

AYAT 8

"Dan

kuda,

bagal,

dan keledai,

agar kamu apa yang

menungganginya

dan

sebagai "

perhiasan.

Dan Dia menciptakan

kamu tidak mengetahuinya.

Setelah ayat yang lalu menyebut binatang-binatang yang paling b a n y a k dimiliki manusia sekaligus paling banyak manfaatnya, kini disebut lagi beberapa binatang lain dengan firman-Nya: danAWah juga telah menciptakan u n t u k k a m u manfaatkan kuda, bagal, y a k n i binatang yang lahir dari seekor k u d a dan keledai, dan keledai, menunggafiginya itu semua diciptakan A l l a h agar kamu

dan Allah m e n j a d i k a n n y a juga sebagai perhiasan

di m u k a

bumi ini. Siapa y a n g m e m a n d a n g k u d a - k u d a y a n g tangguh dan kuat, atau binatang lain, hatinya akan berdecak kagum karena keindahannya. Dan bukan hanya itu sebagal alat transportasi dan hiasan, tetapi Dia, aneka ciptaan, baik alat sekarang

yakni Allah swt., secara terus-menerus menciptakan transportasi maupun perhiasan, apa yangkamu

tidak mengetahuinya

tetapi kelak akan kamu ketahui dan gunakan jika kamu mau berpikir dan mengarahkan segala potensi yang ada, dan Allah menciptakan juga apa yang k a m u tidak akan mengetahuinya sama sekali hingga ciptaan itu k a m u lihat dan ketahui. Ayat ini h a n y a menyebut fungsi ketiga binatang yang disebut di atas dalam tunggangan dan hiasan tanpa m e n y e b u t n y a sebagai alat pengangkut sebagaimana halnya binatang ternak. Ini bukan berarti bahwa ketiga binatang y a n g disebut di sini tidak dapat d i g u n a k a n sebagai alat angkut. Ayat ini berdialog dengan masyarakat Arab vang ketika itu tidak terbiasa menjadikan kuda, bagal, dan keledai kecuali sebagai tunggangan dan hiasan. Kuda dan bagal mereka gunakan untuk berperang atau berburu, sedang keledai mereka tunggangi sebagai alat transportasi dalam kota. Karena avat ini bertujuan menguraikan n i k m a t - n i k m a t Allah swt., tentu saja yang digarisbawahinya

538

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok I Ayat 8

adalah hal-hal y a n g mereka rasakan langsung, walaupun yang tidak disebut itu merupakan juga aspek n i k m a t Ilahi. Atas dasar itu, bukanlah pada tempatnya menjadikan ayat ini sebagai argumentasi larangan memakan daging kuda, bagal, atau keledai dengan dalih bahwa ayat ini tidak menyebut ketiga binatang itu sebagai bahan pangan. Sekian banyak nikmat Allah yang terhampar di b u m i ini yang tidak disebut secara khusus manfaatnya namun dapat digunakan dan dimanfaatkan secara halal. Katakanlah jenis-jenis t u m b u h a n y a n g berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit tertentu. M e m a n g , para u l a m a berbeda pendapat tentang boleh t i d a k n y a ketiga binatang itu dimakan berdasarkan berbagai argumentasi di luar ayat ini. Imam M a l i k dan Abu Hanifah mengharamkan daging kuda. Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa I m a m Malik hanva menilainya makruh. Demikian pakar tafsir dan h u k u m al-Qurthubi. A d a p u n keledai, ia terdiri dari keledai j i n a k dan liar. Banyak u l a m a membolehkan m e m a k a n keledai liar dan melarang vang jinak. Pendapat ini antara lain dianut oleh I m a m - i m a m M a l i k , Abu Hanifah, dan Syah i. A d a p u n bagal, mayoritas u l a m a m e n g h a r a m k a n n y a , paling tidak dengan alasan ia lahir dari percampuran dua b i n a t a n g — k u d a dan keledai—sedang keledai (yang jinak) tidak boleh d i m a k a n . Penggunaan bentuk mudhari'i\z3X3. kerja masa kini dan akan datang pada kata ( , il£ ) yakhliuju/menciptakan mengisyaratkan akan berkembangnya

aneka alat transportasi y a n g belum tergambar dalam benak mitra bicara (manusia) ketika t u r u n n y a ayat ini. Alat-alat itu pastilah lebih baik dari apa y a n g selama i n i mereka ketahui. Ayat ini dinilai oleh T h a h i r Ibn 'Asviir sebagai salah satu ayat yang m e n g a n d u n g mukjizat dari aspek pemberitaan gaib. Ayat ini, m e n u r u t n y a , mengisyaratan akan adanva ilham Allah kepada manusia guna menciptakan alat-alat transportasi y a n g lebih baik dan berguna daripada ketiga binatang yang disebut di atas, dimulai dengan lahirnya sepeda, berlanjut dengan kereta api, mobil, pesawat udara, dan lain-lain yang kesemuanya tidak dikenal oleh generasi-generasi masa lalu sebelum terciptanya alat-alat tersebut. Sayyid Q u t h u b menggarisbawahi penggalan ayal ini ( j J * J J U tv a yakhluqu via la ta'lamun/dan Dia menciptakan apa yang U Jjl&j ) tidak

kamu

Kelompok I Ayat 9

S u r a h a n - N a h l [16]

539

mengetahuinya

antara lain bahwa ini m e m b u k a lapangan yang luas d a l a m

pandangan manusia untuk m e n e r i m a bentuk-bentuk baru dari alat-alat pengangkutan dan transportasi serta keindahan. Dengan demikian, ayat ini tidak m e n u t u p pandangan mereka m e n y a n g k u t hal-hal y a n g berada di luar batas lingkungan atau batas w aktu di mana mereka hidup karena di balik apa yang terdapat pada lingkungan dan zaman mereka masih ada hal-hal lain. Memang, Islam adalah agama yang terbuka, lentur dapat menerima segala sesuatu yang lahir dari k e m a m p u a n , ilmu dan apa yang dilahirkan oleh masa depan selama hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan fitrah manusia dan nilat-nilai Ketuhanan \ a n g M a h a Ksa.
y

AYAT 9

"Dan hak bagi Allah (menerangkan) yang semua. bengkok. " Dan jikalau

jalan

yang

lurus; dan di antaranya Dia memimpin

ada kamu

Dia menghendaki,

tentulah

M a n u s i a selalu mencari jalan vang dekat dan mudah d i t e m p u h dalam perjalanan mereka, termasuk ketika mengendarai binatang-binatang y a n g disebut oleh ayat-ayat y a n g lalu. M a n u s i a juga mencari cara yang terbaik dan termudah dalam memanfaatkan anugerah-anugerah tersebut. Siapa y a n g m e n o l a k hakikat ini dengan mencari jalan jauh dan berliku-liku, dia dinilai sangat m e n y i m p a n g , bahkan bodoh dan picik. M e l a l u i ayat di atas, Allah swt. m e n g i n g a t k a n k e m b a l i b a h w a n i k m a t - N y a t i d a k terbatas p a d a m e n c i p t a k a n dan m e n g i l h a m i m a n u s i a jalan dan kendaraan y a n g m e m u d a h k a n manusia m e n e m p u h jalan material vang m u d a h dan cepat untuk mencapai arah yang dituju, tetapi Allah swt. juga telah menjelaskan jalan yang m u d a h dan dekat guna mencapai keridhaan-Nya, y a i t u dengan mengesakan-Nya, bukan dengan mempersekutukan-Nya. Dia adalah M a h a Pencipta, M a h a t i n g g i , M a h a k u a s a lagi M a h a Mengetahui seria Pclimpah aneka kebajikan. Jika demikian, hanva Dia yang wajar diesakan dan disembah dan m e m a n g penjelasan-penjelasan itu harus d e m i k i a n karena adalah hak

540

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok I Ayat 9

bagi Allah Yang M a h a Mengetahui lagi M a h a Pengasih itu menerangkan clan menetapkan jalan yang lurus, dan j u g a menerangkan tentang jalan y a n g

bengkok dan sesat agar menjadi jelas bagi seluruh manusia mana y a n g benar dan wajar ditempuh. M e m a n g , jalan yang ditempuh oleh ruhani serupa dengan jalan yang ditempuh jasmani, ada di antaranya yang lurus dan dekat, siapa yang menelusurinya akan sampai ke tujuan, dan di antaranya, antara jalan-jalan yang terhampar di bumi, ada juga j-sdznyang yakni di

bengkok berliku-

liku, siapa y a n g m e n e m p u h n y a akan sesat sehingga tidak akan sampai ke tujuan. M e m a n g , banyak manusia yang mengikuti jalan yang sesat. Jangan duga mereka itu di luar kekuasaan Aliah. Tidak! Allah memberi mereka kebebasan m e m i l i h jalan, lalu memberi masing-masing kemudahan u n t u k m e n e m p u h p i l i h a n n y a . Dan jikalau Dia menghendaki untuk menjadikan mereka

m e n e m p u h jalan yang lurus, Allah kuasa m e l a k u k a n n y a dan ketika itu tentulah Dia memimpin kaynu semua, yakni menunjuki dan mengantar k a m u

semua, wahai seluruh manusia, mencapai jalan y a n g lurus dan benar. Nah, jikalau Dia kehendaki, ketika itu Dia mencabut kebebasan m e m i l i h y a n g dianugerahkan-Nya kepada manusia dengan menjadikan k a m u semua sama dengan para malaikat. Akan tetapi, itu tidak dikehendaki-Nya dan sebagai gantinya, Dia telah menciptakan bagi k a m u semua potensi akal y a n g m a m p u menalar dan menganugerahkan kehendak y a n g dapat mengarahkan. Selanjutnya Dia memberikan kebebasan kepada semua manusia u n t u k m e m i l i h . Itu semua dalam rangka menguji manusia. Kata ( ) qashd m e n g a n d u n g m a k n a rnoderasi, juga konsistensi, dan

ini m e n g a n d u n g m a k n a tekad dan arah, baik tekad itu m e n y a n g k u t sesuatu yang baik m a u p u n buruk. Kata tersebut juga d i p a h a m i dalam arti Penggunaan bentuk mashdari'infinitive jalan dan penjelasan itu. Kata ( J_-_CJt) as-sabil telah penulis jelaskan m a k n a n y a secara panjang lurus.

noun mengisyaratkan betapa sempurna

lebar dalam penafsiran ayat keenam surah al-Fatihah. Di sana, antara lain penulis k e m u k a k a n bahwa semua sabilyang m e n g a n d u n g kedamaian, yakni

Kelompok 1 Ayat 9

S u r a h a n - N a h l [16]

541

suhu!

as-saldm

(jalan-jalan k e d a m a i a n ) , b e r m u a r a pada ash-Shirath

al-

Mustaqim.

Perhatikan firman-Nya dalam Q S . al-iVla'idah [ 5 ] : 16:

"Dengannya kendhaan-Nya mengeluarkan benderang

(kitab)

itu Allah

mengantar

orang-orang dan (dengan kepada mereka

yang

mengikuti Allah terang

ke jalan-jalan mereka

keselamatan,

kitab itu pula) cahaya ke yang

itu dari aneka

kegelapan

dengan

seizin-Nya, luas yang

dan menunjuki lurus. "

menuju

ash-Shirath

al-Mustaqimljalan

J i k a d e m i k i a n , ayat vang sedang ditafsirkan ini mengisyaratkan bahwa jangankan jalan yang lebar, jalan-jalan kecil yang dapat mengantar seseorang masuk ke ash-Shirath al-Mustaqim telah d i jelaskan Allah swt. dalam al-Qur'an

atau melalui sunnah Rasul-Nya. Bukankah, seperti y a n g penulis uraikan sebelum ini, shalat adalah sabil, zakat, haji, sedekah, m e n u n t u t ilmu semua adalah sabil yang muaranva adalah ash-Shirath al-Mustaqim<

Pirman-Nya: ( J _ - J i j - a i AJJ! JS-J ) wa 'a k? Allah qashd as-sabi l yans, secara harfiah berarti atas Allah jalan yang lurus dipahami dalam arti menjadi janji

y a n g pasti atau "keharusan" bagi Allah menetapkan dan menjelaskan jalan yang lurus itu. M e m a n g , kata ala sering kali digunakan dalam arti janji yang pasti atau kewajiban. Karena telah berjanji u n t u k menetapkan dan menjelaskan jalan yang lurus. Dia mengutus para nabi dan para rasul serta m e n u r u n k a n kitab suci untuk tujuan itu. Atas dasar itu pula sehingga manusia tidak d i t u n t u t tanggung j a w a b n y a sebelum datang kepadanya rasul atau penjelasan Tuhan ini. Allah berfirman:

"Kami tidak akan menyiksa Isra' 117]: 15).

sampai

Kami mengutus

seorang

rasul'' 1QS. al-

Ayat di atas m e n e g a s k a n secara tersurat b a h w a A l l a h swt. y a n g menjelaskan jalan yang lurus, tetapi redaksi ayat ini tidak menyatakan bahwa

542

S u r a h a n - N a h ! [16J

K e l o m p o k I A y a t 1C

Dia menjelaskan jalan yang bengkok. Ini karena yang menciptakan jalan yang bengkok adalah manusia durhaka sendiri. Jalan itu sangat jelas keburukannya bagi siapa pun yang menggunakan akal sehat. Demikian Ibn 'Asyur. Adapun jalan kebaikan—sebagian di antaranya—yakni yang berkaitan dengan rincian ibadah murni, maka ridak dapat terjangkau oleh nalar manusia, dan karena itu ia harus bersumber dari Allah swt. Atas dasar itu, dikenal r u m u s yang menyatakan: " D a l a m ibadah murni s e m u a n y a tidak boleh kecuali jika ada penjelasannya dari Allah atau Rasul-Nya."

AYAT 10

"Dia-lah menjadi padanya

yang

telah menurunkan dan sebagiannya

dari langit

air untuk

kamu,

sebagiannya yang

minuman

(menyuburkan) ternak kamu. "

tumbuh-tumbuhan,

kamu menggembalakan

Ayat ini dan avat-ayat berikut adalah perincian argumentasi keesaan Allah swt. sekaligus uraian tentang aneka nikmat-Nya. Kalau ayat yang lalu berbicara tentang manusia dan binatang, di sini diuraikan tentang t u m b u h - t u m b u h a n y a n g merupakan bahan pangan dan kebutuhan manusia dan binatang. A y a t di atas m e n g i n g a t k a n m a n u s i a — d e n g a n tujuan agar mereka mensyukuri Allah dan memanfaatkan dengan baik a n u g e r a h - N y a — b a h w a Dia Yang Mahakuasa itulah, yang awan air hujan untuk y a n g segar dan sebagian padanya, kamu telah menurunkan dan arah langit, menjadi yakni minuman yang kamu

manfaatkan. Sebagiannya

lainnya

m e n y u b u r k a n tumbuh-tumbuhan, ternak

yakni di tempat t u m b u h n y a , kamu menggembalakan

sehingga binatang itu dapat makan dan pada gilirannya dapat menghasilkan untuk k a m u susu, daging, dan bulu. Kata ( ) svajar biasa digunakan dalam arti pohon vang kokoh bukan

y a n g merambat. Bahwa ayat ini menyatakan di tempat t u m b u h n y a kamu menggembalakan ternak karena m e m a n g di Jazirah Arab, apalagi di sekitar M e k k a h hampir tidak ditemukan padang r u m p u t . Ternak mereka makan apa saja y a n g terdapat di sekitar pepohonan y a n g t u m b u h . Dari sini, tulis

K e l o m p o k I A y a t 11

S u r a h a n - N a h l [16]

543

Ibn 'Asyur, menjadi sangat tepat dan teliti pemilihan kata ( j ) yang menunjuk tempat k e t i k a a y a t ini b e r b i c a r a t e n t a n g

fi/padanya tempat

penggembalaan dan makanan binatang ternak itu, yakni binatang-binatang m e m a k a n apa y a n g terdapat "'di bawah dan di sekitar'" tempat itu dari aneka makanan yang sesuai.

AYAT 11

"Dia menumbuhkan

bagi kamu dengannya

tanaman-tanaman;

zaitun,

kurma, benar-

anggur, dan dari segala buah-buahan. benar ada tanda bagi kaum yang

Sesungguhnya memikirkan."

pada yang demikian

Setelah ayat y a n g lalu menyebut t u m b u h a n secara u m u m . ayat ini menyebut beberapa yang paling bermanfaat atau populer dalam masyarakat Arab tempat di mana turunnya aI-Qur'an dengan menyatakan bahwa Dia, yakni Allah swt., menumbuhkan hujan itu, tanaman-tanaman; bagi kamu dengannya, yakni dengan air

dari y a n g paling cepat layu sampai dengan Dia

vang paling panjang usianya dan paling banyak m a n f a a t n y a . m e n u m b u h k a n zaitun, demikian juga kurma,

salah satu pohon vang paling panjang usianya, yang dapat d i m a k a n mentah atau matang, m u d a h dapat kamu segala

dipetik, dan sangat bergizi lagi berkalori tinggi, juga angguryang

jadikan m a k a n a n yang halal atau m i n u m a n yang haram, dan dari macam atau sebagian buah-buahan, pada yang benar-benar demikian, selain yang disebut itu.

Sesungguhnya

yakni pada curahan hujan dan akibat-akibatnya itu,

ada tanda vang sangat jelas bahwa yang mengaturnya seperti ini kaum yang

adalah M a h a hsa lagi M a h a k u a s a . Tanda itu berguna bagi memikirkan.

Betapa tidak, sumber airnya sama, tanah tempat t u m b u h n y a

berdempet, tetapi ragam dan rasanya berbeda-beda. I ihatlah penaksiran Q S . ar-Rad [13]:4.
: ;

J 1

Silakan baca k e m b a l i h a l a m a n 2 1 2 .

544

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 12

A y a t di atas m e n u n j u k buah k u r m a dengan n a m a ( J - « 2 i )

an-nakhil

yang d i g u n a k a n u n t u k m e n u n j u k pohon dan b u a h n y a secara keseluruhan, berbeda dengan ( ^ J L P ^ I
)

al-anab

yati^ m e n u n j u k kepada buah anggur saja.

Hal ini, m e n u r u t al-Biqa'i, u n t u k mengisyaratkan bahwa terdapat b a n y a k sekali manfaat pada pohon kurma, b u k a n h a n y a pada buahnya, berbeda dengan anggur, yang manfaatnya—selain buahnya—sangat sedikit. Kata ( j * ) min pada ftrman-Nya: ( o ' dari segala buah-buahan J f JA ) min kulli ats-tsamarat/ sebagian.

dipahami oleh al-Biqa'i sebagai bermakna

Ini, menurutnya, karena apa y a n g berada di d u n i a ini h a n y a sebagian dari buah-buahan y a n g diciptakan Allah. Seluruh buah-buahan y a n g diciptakan Allah baru akan terhidang di surga nanti. D e m i k i a n tulisnya. Ibn 'Asyur juga memahaminya dalam arti sebagian dalam arti buah-buahan yang dikenal pada

satu daerah. M e m a n g , setiap k a u m / w i l a y a h ada buah-buahan khas baginya yang tidak terdapat di lain tempat sehingga setiap wilayah hanya m e n e m u k a n sebagian dari buah-buahan y a n g ada di d u n i a ini. Dapat j u g a d i k a t a k a n — j i k a kata ( ) min d i p a h a m i dalam arti sebagian—bahwa itu a g a k n y a

mengisyaratkan bahwa ada buah-buahan yang tidak memerlukan curah hujan. A t a u dapat juga dikatakan b a h w a kata min berfungsi sebagai penjelas jika d e m i k i a n ia diterjemahkan dengan yakni. yang

AYAT 12

"Dan Dia menundukkan bintang demikian ditundukkan

malam dan siang, pula dengan terdapat

matahari

dan bulan dan Sesungguhnya pada

bintangyang

perintah-Nya. tanda-tanda

itu benar-benar

bagi kaum yang

berakal. "

Al-Biqa'i m e n g h u b u n g k a n avat ini dengan ayat y a n g lalu dengan cara m e n i m b u l k a n satu sanggahan yang boleh jadi datang dari seorang ateis y a n g boleh jadi berkata: "Perbedaan dan k e r a g a m a n t u m b u h a n dan buah itu disebabkan oleh faktor alam dan peredaran planet-planet." Pandangan itu dibantah oleh ayat ini yang intinya adalah b a h w a planet-planet itu tidak m u n g k i n d a p a t m e l a k u k a n n y a karena ia pun m e n g a l a m i p e r u b a h a n -

K e l o m p o k I A y a t 12

S u r a h a n - N a h l [16]

545

perubahan dan semuanya tunduk kepada kekuasaan AJI ah swt.-—sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat 12 ini. Dapat juga dikatakan bahwa setelah menyebut nikmat-nikmat Ilahi yang terhampar di bumi, ayat ini beralih menguraikan nikmat-Nya yang bersumber dari langit. Untuk itu, ayat ini menyatakan: Dan di samping aneka anugerahN y a yang telah diuraikan sebelum ini, masih banyak anugerah-Nya yang l a i n . A n t a r a l a i n Dia menundukkan malam juga—demi kemaslahatan semua makhluk— dapat

s e h i n g g a d i j a d i k a n n y a gelap agar k a m u

beristirahat dan menundukkan juga siang sehingga menjadi terang-benderang agar k a m u dapat giat bekerja. Bahkan, Dia juga m e n u n d u k k a n matahari

vang dapat kamu manfaatkan kehangatan dan sinarnya dan bulan agar k a m u mengetahui jumlah tahun dan perhitungan, dan selanjutnya semua bintang ditundukkan pula denganperintah-Nya bintang-

untuk kemaslahatan k a m u , mendapat itu, yakni tanda-tanda

antara lain dengan melihat posisi b i n t a n g - b i n t a n g itu k a m u petunjuk arah dalam kegelapan. Sesungguh/ya p e n u n d u k a n dan pengaturan itu, benar-benar pada yang demikian terdapat banyak

kekuasaan dan kasih s a y a n g - N y a bagi kaum yang

berakal,

yakni yang m a u

memanfaatkan akal y a n g dikaruniakan Allah kepada mereka. Ar-Razi dalam b u k u n y a , Durrat at-Tanzil, menjelaskan m e n g a p a ayat tanda-tanda

12 ini m e n g g u n a k a n b e n t u k j a m a k untuk kata ( o b j ) ayat I

sedang pada ayat 11 sebelumnya dan ayat berikut (ayat 13) m e n g g u n a k a n b e n t u k tunggal. M e n u r u t n y a , ini a g a k n y a disebabkan hal-hal yang disebut oleh ayat 11 dan 13 s e m u a n y a bersumber dan b u m i dan, dengan demikian, Kesemuanya dapat dinilai hanya satu, y a k n i semuanya dari satu ciptaan saja. Ayat 11 berbicara tentang p e n u m b u h a n aneka buah y a n g t u m b u h di bumi c^an avat 13 tentang penciptaan melalui pengembangbiakan binatang y a n g j£a di bumi; karena itu, kata ( \[\ ) ayah berbentuk tunggal. Berbeda dengan A - a r 12 ini. Yang diuraikan di sini adalah peredaran matahari, bulan dan r_r.:ang, vang masing-masing memiliki sistem y a n g berbeda dengan y a n g - i ! n . iika demikian, ayat ini berbicara tentang banyak randa dan karena itu L. gunakan bentuk jamak.

546

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 13

AYAT 13

"Dan lainan tanda

apa yang warnanya.

Dia kembangbiakkan Sesungguhnya

untuk

kamu di bumi

dengan

berlainterdapat

pada yang demikian pelajaran. "

itu benar-benar

bagi kaum yang mengambil

Dan,

selain aneka anugerah vang disebut, sebelum ini, Allah swt. j u g a biakkan warna untuk kamu di bumi seperti cirinya.

m e n u n d u k k a n apa yang Dia kembang aneka binatang, dengan Sesungguhnya pada yang berlain-lainan demikian

jenis, bentuk, dan terdapat

itu benar-benar

tanda y a n g jelas merenung

lagi agung yang m e n u n j u k k a n kekuasaan Allah bagi kaum yang dan ingin -mengambilpelajaran

walau perenungan y a n g d i l a k u k a n n y a tidak JTJU ) y a d z d z a k k a r u n tetapi h u r u f ( _ ) > ta'

terlalu mendalam, sebagaimana dipahami dari kata ( y a n g a s a l n y a a d a l a h ( Oj^SU» ) yatadzakkarun d i i d g h a m k a n / d i g a b u n g dengan huruf ( i ) dzal. Kata ( i j i ) dzara'a

d i p a h a m i d a l a m arti p e n c i p t a a n d a l a m bentuk

pengembangbiakan dengan cara apa pun. Dengan demikian, tidak termasuk dalam pengertian kata ini p e n u m b u h a n t u m b u h a n , tetapi, ada j u g a ulama vang memperluas m a k n a kata ini sehingga mencakup banyak hal seperti tumbuh-tumbuhan, gunung, baru-baruan, dan barang tambang yang beraneka ragam warna, bentuk, dan cirinva. Fakhruddin ar-Ra/.i m e n g e m u k a k a n perbedaan fashilah/penutup ketiga

ayat di atas yang, menurutnya, diakibatkan oleh kebutuhan akan sulit atau mudahnva, serius dan santainya, objek pengamatan. Pengamatan menyangkut m a k h l u k y a n g b e r s u m b e r dari b u m i m e m e r l u k a n p e m i k i r a n , y a i t u penggunaan nalar y a n g menghasilkan ilmu, sedang pengamatan terhadap objek-objek vang bersumber dari p e n g e m b a n g b i a k a n dan yang beraneka m a c a m w a r n a dan jenisnya itu memerlukan pengamatan lebih serius dari objek y a n g lalu karena ia berkaitan dengan k e a n e k a r a g a m a n k e a d a a n , p e n g e m b a n g b i a k a n , dan m a n f a a t - m a n f a a t n y a diperlukan adalah tadzakkur, s e h i n g g a di sini y a n g

yakni pemikiran y a n g disertai ingatan tentang

jenis, perbedaan, dan ciri-ciri masing-masing. Adapun y a n g m e n y a n g k u t

K e l o m p o k I A y a t 14

S u r a h a n - N a h l [16]

547

pergantian m a l a m dan siang serta benda-benda langit, ini lebih sulit dari kedua objek yang lalu sehingga vang melakukannya dinamai ( o )ya'qilun

dan ini adalah puncak tertinggi dari upaya pembuktian. Demikian lebih kurang ar-Razi.

AYAT 14

"Dan

Dia yang

}'nenundukkan

lautan

agar kamu dapat darinya perhiasan

memakan yang kamu

darinya pakai;

daging yang segar dan kamu mengeluarkan dan kamu sungguh) melihat mencari bahtera berlayar

padanya,

dan agar kamu "

(bersungguh-

dari karuma-Nya,

dan agar kamu bersyukur.

Ayat-ayat y a n g lalu. menurut al-Biqa i, disusun materi uraiannya dengan sangat serasi. Dimulai dengan m a k h l u k secara u m u m , kemudian binatang, kemudian t u m b u h - t u m b u h a n , disusul dengan vang terhampar seperti air dan semacamnya, lalu yang berwarna-warni. Itu semua untuk membuktikan keesaan dan keniscayaan hari Kemudian. Nah, kini, melalui avat 14 di atas, diuraikan apa vang terdapat "di d a l a m air" lagi tertutup olehnya. Ayat ini menyatakan bahwa: Dan Dia, vakni Allah swt., yang menundukkan lautan

dan sungai serta menjadikannya arena hidup bi natang dan tempatnya tumbuh berkembang serta pembentukan aneka perhiasan. Itu dijadikan demikian agar kamu dapat menangkap hidup-hidup atau vang mengapung dari ikan-ikan dan sebangsanva vang berdiam di sana sehingga kamu dapat memakan daging yang segar, y a k n i b i n a t a n g - b i n a t a n g laut itu, dan kamu darinya dapat

mengeluarkan,

yakni mengupayakan dengan cara bersungguh-sungguh untuk yakni dari laut dan sungai itu perhiasan yang kaum

mendapatkan darinya,

pakai; seperti permata, mutiara, merjan, dan semacamnya. Dan di samping itu, kamu melihat, w a h a i vang dapat melihat, menalar dapat berlayar

dan merenung, betapa kuasa Allah swt. sehingga bahtera padanya,

membawa barang-barang dan bahan makanan, kemudian betapapun

beratnya bahtera itu, ia tidak tenggelam, sedang air yang dilaluinya sedemikian lunak. Allah m e n u n d u k k a n itu agar kamu memanfaatkannya dan agar kamu

548

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 14

bersungguh-sungguh mencari

rezeki, sebagian dari karunia-Nya

itu dan agar

kamu terus-menerus bersyukur, yakni menggunakan anugerah itu sesuai dengan tujuan penciptaannya untuk kepentingan kamu dan generasi-generasi sesudah k a m u dan j u g a untuk m a k h l u k - m a k h l u k selain k a m u . Kata ( J j?- J^L^J ) tastakhrijun mengeluarkan. terambil dari (;r y - ' ) akbraja yang berarti

Penambahan huruf sin dan ta' pada kata itu mengisyaratkan

u p a y a s u n g g u h - s u n g g u h . Ini berarti u n t u k m e m e t o l e h perhiasan itu d i b u t u h k a n upaya melebihi upaya m e n a n g k a p ikan, apalagi ikan-ikan yang mati dan telah m e n g a p u n g di lautan atau terdampar di darat. Pendapat ini lebih baik dari pendapat Ibn 'Asyur yang m e m a h a m i penambahan tersebut dalam arti banyak, y a k n i memeroleh dari lautan perhiasan y a n g banyak. talbasunahd/

A l - B i q a ' i m e m a h a m i k a l i m a t ( U j — J J S J L ? - ) hilyatan perhiasan

yang kamu pakai, y a n g m e n g g u n a k a n bentuk redaksi maskulin

(ditujukan kepada pria) padahal menurutnya perhiasan itu dipakai oleh para wanita, sebagai isyarat tentang kesatuan pria dan w a n i t a dan bahwa mereka adalah bagian dari pria (sebagaimana pria bagian dari w a n i t a ) . Dari sini, kalaupun wanita yang memakainya, itu karena makna kesatuan tersebut adalah bagaikan pria yang m e m a k a i n y a . Ibn 'Asyur m e m a h a m i n y a sebagai yakni penilaian taghlib,

banyak, walaupun kebanyakan perhiasan dipakai oleh wanita

kecuali cincin dan hiasan pedang. D e m i k i a n tulisnya. Bahkan, cincin pun lebih b a n y a k d i p a k a i oleh w a n i t a , w a l a u m e m a n g b a n y a k lelaki y a n g m e m a k a i n y a . A g a k n y a , pendapat al-Biqa'i di atas lebih tepat dari pendapat Ibn 'Asyur itu. Atau, dapat juga dikatakan bahwa karena pada u m u m n y a lelaki yang mengusahakan perolehan perhiasan itu, baik dengan mencari bahan mentahnya m a u p u n dengan mengolah atau m e m b e l i n y a , redaksi ayat ini ditujukan kepada lelaki. D e m i k i a n kesan penulis. Penggalan ayat ini j u g a m e n u n j u k k a n betapa kuasa Allah swt. Dia menciptakan batu-batu dan mutiara y a n g demikian kuat serta sangat jernih, di satu areal y a n g sangat lunak y a n g bercampur dengan aneka sampah dan kotoran. Kata { mawdkhir t e r a m b i l dari k a t a ( ) al-makhr yaitu

pelayaran bahtera m e m b e l a h laut ke kiri dan ke kanan m e n g h a d a p i angin sehingga memperdengarkan suara yang menakjubkan.

K e l o m p o k I A y a t 15

S u r a h a n - N a h l [16]

549

Kata ( ^y

) tara/kamu

lihat ditujukan kepada siapa pun y a n g dapat

melihat dengan pandangan mata dan atau dengan nalar. Penggunaan kata ini dimaksudkan sebagai anjuran untuk melihat dan m e r e n u n g betapa indah serta m e n g a g u m k a n objek tersebut. Redaksi melihat, apalagi dalam bentuk

p e r t a n y a a n , seting kali d i g u n a k a n a h Q u r ' a n u n t u k m a k s u d d o r o n g a n merenung dan memerhatikan sesuatu yang aneh atau menakjubkan. Kalimat (-u sungguh mencari ^ \ ) Htabtagbu dari min fadhlihilagar kamu bersungguh-

(sebagian)

karunia-Nya

d i p a h a m i oleh sementara

u l a m a — s e p e r t i Ibn ' A s y u r — d a l a m arti t e r b a t a s , y a k n i h a n y a p a d a perdagangan, sambil merujuk kepada firman-Nva:

"Tidak ada dosa atas kamu mencari

anugerah

(karunia)

dari Tuhan kamu, "

y a k n i pada musim haji dalam Q S . al~Baqarah [ 2 ] : 198. N a m u n demikian, pembatasan ini tanpa satu alasan. M e m a h a m i n y a secara u m u m dalam berbagai aktivitas, dagang atau jasa, atau apa pun y a n g halal, baik pada musim h a j i — sebagaimana konteks oleh ayat ahBaqarah di a t a s — m a u p u n di luar musim itu, sebagaimana y a n g d i m a k s u d oleh ayat 14 ini, justru lebih baik karena sejalan dengan bunyi redaksinya yang bersifat u m u m .

AYAT 15

"Dan Dia mencampakkan bersama petunjuk. kamu; "

di bumi gunung-gunung dan jalan-jalan

supaya agar

ia tidak kamu

guncang mendapat

dan sungai-sungai

Setelah menguraikan ciptaan dan anugerah-Nya y a n g terpendam, kini diuraikan ciptaan dan n i k m a t - N y a yang menonjol dan menjulang ke atas, dengan menyatakan: Dan Dia )tiencampakkan gunung yang di permukaan bumigunung-

sangat k u k u h sehingga tertancap kuat supaya bersama

ia, yakni b u m i

tempat h u n i a n k a m u itu, tidak guncang

kamu, kendati ia lonjong yang dialiri air

dan terus berputar; dan Dia menciptakan j u g a sungai-sungai

550

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I Ayat 16-17

y a n g dapat d i g u n a k a n u n t u k m i n u m , dan selanjutnya di bumi itu Allah menjadikan juga jalan-jalan y a n g terhampar agar kamu mendapat petunjuk

lahirlah menuju arah y a n g k a m u kehendaki dan petunjuk batiniah menuju pengakuan keesaan dan kekuasaan Allah swt. Kata ( ) alqatmencampakkan di bumi, y a k n i melempar ke arahnya,

memberi kesan bahwa kehadiran gunung, sungai, dan jalan-jalan terjadi sesudah penciptaan bumi, dan karena itu ayat ini tidak m e n g g u n a k a n kata menciptakan gunung-gunung Boleh jadi pencampakan yang dimaksud adalah

terjadinya benturan yang besar, atau gempa yang dahsyat, yang mengakibatkan lahirnya g u n u n g - g u n u n g dan sungai-sungai. Ayat ini tidak menjelaskan bagaimana hal tersebut terjadi. Kata ( y a k n i kemantapan ) rawasi terambil dari kata ( pada satu tempat. ) ar-rasw atau ar-rusuiuwu,

Dari sini, g u n u n g -gunung, karena ia yang

kekar tidak bergerak dari tempatnya, ditunjuk dengan kata rawasi merupakan bentuk j a m a k dari kata ( ^ ' j ) r asin.

AYAT 1 6 - 1 7

"Dan petunjuk.

alamat-alamat. Maka apakah

Dan

dengan

bintang-bintang sama dengan

mereka yang tidak

mendapat dapat

Yang menciptakan kamu tidak

mencipta?

Maka, mengapa

?ncngambilpelapiraji:"

Dan di bumi vang Allah ciptakan itu, Dia jadikan juga y a k n i t a n d a - t a n d a p e n u n j u k jalan. Dan g e m e r l a p a n di langit, mereka, dengan

alamat-alamat, yang

bintang-bintang

vaknl penghuni bumi, termasuk kaum petunjuk

m u s y r i k i n y a n g e n g g a n m e n g e s a k a n A l l a h i t u , mendapat

menyangkut arah di mana mereka berada serta ke mana mereka dapat menuju. Setelah avat ini dan avat-ayat sebelumnya menguraikan secara gamblang dan jelas bukti-bukti keesaan Allah swt. dan kekuasaan-Nya dalam mencipta, mengatur, dan mengendalikan alam raya, serta menguraikan pula l i m p a h a n karunia-Nya, maka wahai seluruh makhluk, khususnya mereka y a n g ingkar dan durhaka, apakah m e n u r u t ukuran akal y a n g sehat sama antara y a n g

K e l o m p o k I Ayat 16-17

S u r a h a n - N a h l [16]

551

m a m p u dan tidak m a m p u ? Apakah antara Allah Yang menciptakan itu sama kedudukan dan keadaannya, dengan yang tidak dapat mencipta

semua sesuatu dan

apa pun? Maka, apakah k a m u buta, wahai k a u m musyrikin? Mengapa apa y a n g terjadi pada diri k a m u sehingga kamu tidak mengambil

pelajaran

walau sedikit dari apa yang k a m u lihat dan terhampar itu? S e s u n g g u h n y a Allah menciptakan segala sesuatu dan terus-menerus mencipta. D e n g a n demikian, Allah sedikit pun tidak dapat dipetsamakan dengan apa pun karena, dengan mencipta segala sesuatu dan terus mencipta, Dia menguasai segala sesuatu termasuk siapa pun yang dipertuhan. Kata ( o t ^ U - ) alamat adalah bentuk jamak dari ( *u*AP ) 'alamak, yakni

tanda yang dengannya sesuatu diketahui dengan jelas. Yang dimaksud adalah ciri-ciri yang terdapat pada sesuatu yang demikian jelas, baik ciri tersebut berada tanpa keterlibatan manusia m e n g a d a k a n n y a m a u p u n dibuat oleh manusia setelah diilhamkan kepada mereka oleh Allah sehingga disepakati bersama dan menjadi tanda-tanda yang jelas bagi sesuatu. D i d a h u l u k a n n y a kata ( - » ^ J b ) bi an-najmldengan kalimat ( Oj-l^, ) hum yahtadunlmercka mendapat bintang-bintang petunjuk atas

bertujuan

menekankan dan m e n g u n d a n g perhatian tentang besarnya nikmat Allah melalui bintang-bintang itu, yang antara lain membantu mereka mengetahui a r a h — k h u s u s n y a yang berada di tengah lautan atau padang pasir. Ketika menafsirkan Q S . ai-Arfam [61; 9 7 . penulis antara lain menyatakan bahwa: Sejak awal peradaban umat manusia sampai sekarang, benda-benda langit merupakan tanda dan petunjuk perjalanan manusia, baik di darat m a u p u n di laut. Dengan meneropong matahari, bulan, dan b i n t a n g — terutama bintang-bintang tak bergerak—seseorang yang akan bepergian dapat menentukan arah yang hendak dituju. Balikan, para antariksawan belakangan ini berpedoman pada matahari dan bintang dalam menentukan arah perjalanan pada suatu masa tertentu. M e r e k a j u g a m e n g g u n a k a n gugus bintang d a l a m menentukan waktu, seperti gugus Bintang Biduk. Dengan demikian, manusia dapat mengenal tempat dan w a k t u melalui bantuan bintang, persis seperti yang diisyaratkan ayat ini.

552

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 18

AYAT 18

"Dan jika kamu menghitung-hitung menghinggakannya. Maha Penyayang." Sesungguhnya

nikmat Allah, niscaya Allah benar-benar Maha

kamu tak Pengampun

dapat lagi

Sebenarnya, bukan hanya apa yang disebut sebelum ini yang merupakan anugerah A l l a h swt. kepada k a m u semua. M a s i h sangat b a n y a k selainnya. Dan jika kamu semua, w a l a u dengan membagi-bagi tugas, berusaha nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghinggakannya Maha

menghitung-hitung

yakni mengetahui berapa j u m l a h n y a . Sesungguhnya Pengampun lagi Maha Penyayang

Allah benar-benar

sehingga itulah sebabnya nikmat-Nya tidak

pernah Dia putus w a l a u k a m u durhaka. Ketika menafsirkan Q S . Ibrahim [14]: 34 yang redaksinya serupa dengan ayat di atas, kecuali penutupnya, penulis antara lain m e n g e m u k a k a n bahwa ayat surah Ibrahim itu ditutup dengan m e n g e m u k a k a n dua sifat b u r u k manusia: sangat zalim dan sangat kafir, sedang pada ayat surah an-Nahl ia Maha Pengampun lagi Maha

ditutup dengan: Sesungguhnya Penyayang. ( jlir ^ )

Allah benar-benar

Perbedaan fash ilahi penutup zhaliimun kaffar

k e d u a a y a t t e r s e b u t — d i sana ) Ghafurun Rahim—

dan di sini (

agaknya disebabkan konteks ayat dalam surah Ibrahim adalah uraian tentang sikap m a n u s i a y a n g durhaka terhadap aneka anugerah Allah. M e r e k a tidak mensyukurinya karena itu mereka dikecam. Sedangkan, dalam surah an-Nahl konteks uraiannya adalah tentang aneka anugerah Allah dan kemurahan-Nya serta b a g a i m a n a Allah m e n g h a d a p i m a n u s i a y a k n i , betapapun mereka

durhaka, Allah masih juga membuka pintu pemaafan buat mereka serta tetap mencurahkan rahmat-Nya. T h a h i r Ibn 'Asyur m e n a m b a h k a n bahwa penutup ayat surah Ibrahim m e n y a t a k a n bahwa manusia sangat aniaya lagi kufur, sedang di sini Allah M a h a Pengampun lagi M a h a Penyayang mengisyaratkan bahwa aneka nikmat Ilahi y a n g mereka tidak syukuri itulah y a n g menjadikan manusia menjadi a n i a y a d a n kufut, dan karena itu A l l a h m e n g h a d a p i m a n u s i a d e n g a n

K e l o m p o k I A y a t 18

S u r a h a n - N a h l [16]

553

p e n g a m p u n a n dan rahmat;, dan ini kembali kepada upaya manusia untuk memeroleh nya. Thabathaba'i m e n g a i t k a n silat maghfirah dan rahmat Allah swt. yang

dijadikan penutup ayat ini sebagai isyarat bahwa b a n y a k n y a nikmat Allah sehingga tidak dapat dihinggakan dan dihitung itu tidak lain kecuali d a m p a k dari keberkaitan kedua sifat-Nya yang disebut di sini: maghfirah Dengan maghfirah yang berarti menutup, dan rahmah.

Allah swt. m e n u t u p kekurangan yang

dan k e b u r u k a n y a n g ada pada sesuatu, dan dengan rahmab-Nya

merupakan penyempurnaan apa yang kutang, setta pemenuhan kebutuhan, menjadi tampak kebajikan dan kesempurnaan dan terhiasi dengan keindahan. Lebih lanjut, T h a b a t h a b a ' i menulis: "Dengan melapangkan maghfirah rahmah dan

atas sesuatu, menjadilah ia baik dan bermanfaat u n t u k selainnya

setta selalu diminati dan, dengan demikian, ia menjadi nikmat. Demikianlah sekian banyak hal menjadi nikmat untuk hal-hal y a n g lain dan demikianlah nikmat Ilahi sedemikian luas sejalan dengan maghfirah dengan demikian, jika kamu menghitung-hitung tak dapat menghinggakannya" dan rabmah-Nyz dan, kamu

nikmat Allah, niscaya

Demikian Thabathaba'i yang menutup (sifat Ghafur)

penjelasannya ini dengan m e n y a t a k a n b a h w a kata maghfirah

pada ayat ini d i g u n a k a n bukan dalam konteks dosa dan pelanggaran. Penjelasan tentang arti maghfirah yang d i k e m u k a k a n T h a b a t h a b a ' i ini ghofara

sejalan dengan makna kebahasaan yang menegaskan bahwa kata ( Jti-) bermakna menutup. kata f y * J l ) al-ghafar,

Ada j u g a y a n g berpendapat bahwa ia terambil dari katayakni sejenis tumbuhan yang digunakan mengobati luka.

Jika pendapat pertama y a n g dipilih, Allah Ghaffar

berarti antara lain Dia

m e n u t u p i dosa h a m b a - h a m b a - N y a karena k e m u r a h a n dan anugerah-Nya. Sedang, bila y a n g kedua, ini bermakna Allah menganugerahi h a m b a - N y a penyesalan atas dosa-dosa sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan, dalam hal ini adalah terhapusnya dosa. Kalimat ( J ys-\ li j u g a d i p a h a m i dalam arti Ya Allah, perbaikilah pendapat Ibn abArabL Sebelum Thabathaba'i, I m a m Ghazali juga merupakan salah seorang yang memperluas m a k n a sifat ( JJ& ) Ghafiir Allah swt. Dalam b u k u n y a alAsmd' ahHusna, Hujjatul Islam ini menjelaskan b a h w a sifat A l l a h itu ) Alldhummaghfir Demikian

keadaanku.

554

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 19

mengandung makna bahwa Dia Yang menampakkan keburukan. diiutupi-Nya mengesampingkan Dosa-dosa, dengan tulisnya, adalah jalan tidak bagian

keindahan

dan

menutupi yang serta

dari sejumlah

keburukan di dunia

menampakkannya

siksanya

di akhirat.

M e m a n g , dalam pandangan Imam

Ghazali ini, banyak hal yang ditutupi Allah swt. dati manusia. Pertama, yang ditutupi oleh Allah swt. adalah sisi dalam jasmani manusia

y a n g tidak sedap d i p a n d a n g mata. Ini ditutupi-Nya dengan keindahan lahiriah. A l a n g k a h jauh perbedaan antara sisi d a l a m dan sisi lahir manusia dari segi kebersihan dan kekotoran, keburukan dan keindahan. Perhatikanlah apa yang t a m p a k dan apa pula y a n g tertutupi. Kedua, yang ditutupi-Nya

adalah bisikan hati serta kehendak-kehendak manusia vang buruk. Tidak seorang pun mengetahui isi had manusia kecuali dirinya sendiri. Seandainya terungkap apa yang terlintas dalam pikiran atau terkuak apa yang terbetik dalam hati menyangkut kejahatan atau penipuan, sangka buruk, dengki, dan sebagainya, sungguh manusia akan mengalami kesulitan dalam h i d u p n y a . Demikian al-Ghazall. Penulis dapat m e n a m b a h k a n bahwa Allah swt. tidak h a n y a menutupi apa vang dirahasiakan manusia terhadap orang lain, tetapi juga m e n u t u p i sekian banyak pengalaman masa lalunya, kesedihan atau keinginannya yang dipendam dan ditutupi oleh Allah di bawah sadar manusia sendiri, y a n g kalau d i t a m p a k k a n kepada orang lain atau d i m u n c u l k a n ke permukaan hati y a n g bersangkutan sendiri, pasti akan m e n g a k i b a t k a n gangguan yang tidak kecil. Ketiga, yang ditutupi Allah swt,, adalah dosa dan

pelanggaran-pelanggaran manusia, yang seharusnya dapat diketahui u m u m . Demikian, dengan sifat Ghafurvang menutup, terambil dari kata gh a fam yang berarti

Allah swt. menutupi banyak hal dalam diri manusia.

AYAT 19

'Dan Allah mengetahui

apa yang kamu rahasiakan

dan apa yang kamu kikirkan. "

M a n u s i a sering kali langsung m e m u t u s b a n t u a n n y a jika mengetahui bahwa yang dibantu melakukan kejahatan atau bermaksud buruk kepadanya.

K e l o m p o k I A y a t 19

S u r a h a n - N a h l [16]

555

Jika bantuan itu masih tetap diberikan—dalam keadaan yang dibantu seperti diluluskan di atas—besar kemungkinan yang membantu itu tidak mengetahui sikap y a n g dibantu itu terhadapnya. J i k a demikian itu halnya, boleh jadi timbul kesan bahwa kesinambungan anugerah Allah terhadap yang durhaka itu disebabkan Dia tidak mengetahui keadaan vang sebenarnva atau Dia tidak menyadari besarnya kedurhakaan vang bersangkutan sehingga mestinya dia tidak termasuk yang d i a m p u n i . Nah. untttk m e n a m p i k kesan yang dapat menjadi dugaan itu, Allah s w t . m e n g a n c a m dengan m e n y e b u t nama-Nva y a n g teragung dan mencakup semua sifat-Nya, yakni "Allah'. Dan senantiasa mengetahui apa yang kamu rahasiakan, lahirkan, Allah

s e m u a n y a tanpa kecuali baik vang kamu lahirkan

dan juga selalu mengetahui apa yangkamu

itu tulus bersumber dari lubuk hati k a m u m a u p u n berpura-pura. Dapat juga dikatakan bahwa avat ini merupakan argumentasi tentang kewajaran Allah swt. untuk dipertuhan, setelah sebelum ini ditegaskan bahwa Dia adalah Pencipta. (angan duga bahwa Allah setelah mencipta tidak lagi mengetahui ciptaan-Nva. Dia bukan seperti pemilik pabrik arloji yang setelah m e m b u a t n y a tidak lagi mengetahui apakah jam itu berjalan baik atau tidak, atau tidak lagi mengetahui siapa vang m e m a k a i m a . Tidak! Allah tidak demikian. Dia terus-menerus awas dan mengetahui gerak setiap jarum dan mengetahui pula bila terhenti oleh satu dan lain hal. Allah M a h a Mengetahui karena, jika Dia tidak mengetahui, tidak ada arti dari perintah-Nya untuk tulus beribadah kcpada-Nva. Dan, seandainya Dia tidak mengetahui apa yang tersembunyi, Dia tidak dapat m e m b e d a k a n siapa yang tulus beribadah dan siapa pula yang culas dan pamrih. Ayat ini tidak menyebut argumentasi pernyataannya. Agaknya ini tidak diperlukan lagi setelah ditegaskan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu termasuk manusia. Siapa yang menciptakan sesuatu, pastilah dia menguasainya serta mengetahui secara terperinci segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk apa vang dilakukan atau dapat d i l a k u k a n n y a , baik vang nyata maupun yang tersembunyi. Agaknya, karena itu pula redaksi ayat y a n g menunjuk ilmu Allah itu m e n g g u n a k a n bentuk mudhdri', yakni kata kerja

masa kini dan akan datang yang m e n g a n d u n g m a k n a k e s i n a m b u n g a n pengetahuan-Nya, sekarang, akan datang, bahkan bersinambung secara terusmenerus.

556

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k I A y a t 20-21

AYAT 2 0 - 2 1

"Dan apa-apa apa pun, sedang dan mereka

yang

mereka

seru selain

Allah, Tidak dapat

membuat

sesuatu hidup, akan

mereka sendiri tidak " sadar

dibuat. Mereka adalah mereka (para

benda mati tidak penyembahnya)

bilakah

dibangkitkan.

Setelah a y a t - a y a t y a n g lalu m e m b u k t i k a n b e t a p a

kesempurnaan

kekuasaan Allah swt. dan betapa hebat penciptaan-Nya, limpahan anugerah dan i l m u - N y a , sehingga Dia benar-benar wajar dipertuhan dan disembah, kini ditegaskan betapa berhala-berhala y a n g disembah oleh kaum musyrikin sama sekali tidak berdaya sehingga tidak wajar disembah. T i d a k ada satu dalih pun y a n g m e n d u k u n g penyembahan mereka, dan apa-apa, herhah-hzrha]'Ayang selain Allah, yakni

mereka seru, yakni beribadah dan memohon bantuannya

Tuhan y a n g m e n y a n d a n g segala sifat kesempurnaan, berhalamembuat apalagi mencipta sesuatu dibuat apa pun, sedang

berhala itu tidak dapat mereka,

yakni berhala-berhala itu sendiri

orang, bahkan dibuai oleh

siapa yang menyembah dan meminta pertolongannya itu. Dengan demikian, mereka tidak memberi sedikit nikmat pun. Berhala-berhala itu bukan hanya t i d a k wajar d i p e r t u h a n d a n d i s e m b a h k a r e n a m e r e k a t i d a k m e m i l i k i k e m a m p u a n dan pengetahuan, bahkan mereka, adalah benda mati b u k a n mati dalam arti tidak yakni berhala-berhala itu, bermanfaat tetapi benary a k n i y a n g dapat yakni

benar mati dalam arti bukan m a k h l u k - m a k h l u k hidup,

mengetahui, merasa, t u m b u h , atau bergerak sendiri, dan mereka, berhala-berhala yang disembah itu tidak sadar bilakah p e n y e m b a h n v a akan dibangkitkan. mereka,

yakni para

Dan kalau mereka tidak tahu dan tidak

sadar kapan akan dibangkitkan, tentu mereka juga tidak dapat memberi balasan dan ganjaran kepada y a n g menyembah atau tidak m e n y e m b a h n y a .

KELOMPOK 2

AYAT

22-40

557

558

S u r a h a n - N a h l [16]

S u r a h a n - N a h l [16]

559

^ l ^ ^ o j j ^ b o ^ ^ C ^ I i S #-L^_3i r^3-^^

Jiij

560

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 2 2 - 2 3

AYAT 2 2 - 2 3

"Tuhan beriman orang

kamu adalah

Tuhan Yang Maha

Esa. Maka orang-orang

yang

tidak orangAllah lahirkan.

kepada akhirat, hati mereka yang sombong. apa yang Tidak mereka

ingkar, sedangkan lagi bahwa

mereka adalah sesungguhnya mereka sombong.

diragukan rahasiakan

mengetahui Sesungguhnya

dan apa yang yang

Allah tidak menyukai

orang-orang

Kalau kelompok ayat y a n g lalu berbicara tentang keesaan Allah swr. dan bukti-bukti kekuasaan-Nya setelah sebelumnya mengancam tentang kepastian kedatangan Kiamat atau janji-janji-Nya m e m e n a n g k a n kaum m u s l i m i n , kelompok ayat berikut m e n g u r a i k a n kebejatan sifat-sifat k a u m m u s y r i k i n , k e b u r u k a n sikap, ucapan, dan perbuatan mereka sambil m e m b u k t i k a n kesalahan-kesalahan mereka. Demikian lebih kurang T h a b a t h a b a i . M e m a n g , bukti-bukti tentang keesaan Allah dan kewajaran-Nya u n t u k dipertuhan dan disembah telah dipaparkan sedemikian jelas, demikian juga bukti-bukti tentang kelemahan selain-Nya. Jika d e m i k i a n , tentulah kamu, wahai semua makhluk, adalah Tuhan Yang Maha Tuhan

Esa dalam Zat,

sifat, dan perbuatan-Nya dan wajib juga diesakan dalam beribadah kepadaNya. Dan jika demikian, jelas sudah bukti-bukti itu, maka sebenarnya orangyang tidak beriman kepada keesaan Allah dan hari Akhirat, hati orangmereka

ingkar, yakni sangat mantap dalam mengingkari hakikat-hakikat kebenaran atas dasar keras kepala semata-mata, sedangkan yang sangat sombong. ?nereka adalah ora?ig-orang

Boleh jadi ada di antara k a u m musyrikin itu y a n g menolak dinamai sombong dan berkata bahwa mereka menolak apa y a n g disampaikan oleh Nabi saw. semata-mata karena apa y a n g disampaikan itu keliru. Nah, u n t u k itu, ayat ini menegaskan bahwa tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya apa yang

Allah y a n g pengetahuan-Nya m e n c a k u p segala sesuatu mengetahui mereka rahasiakan,

y a k n i b a h w a mereka berbohong dalam ucapan mereka

itu dan bahwa mereka menolak kebenaran tidak lain kecuali karena keras kepala dan Allah mengetahui juga apa yang mereka lahirkan. Karena itu,

K e l o m p o k II A y a t 2 4 - 2 5

S u r a h a n - N a h l [16]

561

AJI ah menilai mereka sombong dan keras kepala. Sesungguhnya menyukai,

Allah

tidak

yakni tidak m e l i m p a h k a n anugerah dan ganjaran y a n g bersifat yang sombong, yakni yang jiwa mereka telah dipenuhi

khusus bagi orang-orang

oleh k e a n g k u h a n dan telah terbukti keangkuhan itu dalam tingkah laku mereka. Kata ( ^j*r ^ ) la jararna, w a l a u d i p e r s e l i s i h k a n asal k a t a n y a dan

penggunaannya, pakar-pakar bahasa sepakat memahaminya dalam arti '"pasti". Penggalan ayat ini m e n g a n d u n g ancaman, y a k n i Allah pasti mengetahui perbuatan dan isi hati mereka sehingga Allah akan memberi balasan y a n g setimpal atas pengingkaran mereka terhadap kebenaran dan atas kesombongan mereka kendati mereka m e n y e m b u n y i k a n n y a .

AYAT 2 4 - 2 5

"Dan

apabila

dikatakan mereka

kepada menjawab,

mereka,

"Apakah yang

telah

diturunkan dahulu." pada Hari tanpa

Tuhan kamu?" Sehingga Kiamat, pengetahuan. mereka

"Dongeng-dongejig mereka secara yang

orang-orang sempurna mereka

memikul

dosa-dosa

dan sebagian Ingatlah,

dosa-dosa amat buruk

orang-orang

sesatkan

apa yang mereka

pikul itu. "

Saiah satu bukti kesombongan mereka adalah penolakan terhadap alQ u r ' a n . W a h y u - w a h y u Ilahi ini sedemikian indah dan memesona kalimatkalimat dan k a n d u n g a n n y a . Seluruh manusia, termasuk mereka, ditantang untuk membuat s e m a c a m n y a — j i k a mereka meragukan k e b e n a r a n n y a — namun d e m i k i a n mereka tetap berkeras menolak percaya. Dan dikatakan kepada mereka oleh siapa pun, Apakah yang telah apabila diturunkan mereka

Tuhan y a n g selama ini selalu berbuat baik dan memelihara kamu?" menjawab,

"Tidak ada y a n g d i t u r u n k a n oleh Allah. Yang disampaikan Nabi orang-orang dahulu. "Mereka

M u h a m m a d saw. itu adalah dongeng-dongeng

m e n y a t a k a n d e m i k i a n , p a d a h a l m e r e k a t a h u persis b a h w a apa y a n g disampaikan Nabi M u h a m m a d saw. itu adalah firman-firman Allah vang tidak seorang pun—bahkan walau dengan bekerja s a m a — m a m p u menyusun

562

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 2 4 - 2 5

y a n g serupa d e n g a n n y a . Sehingga

ucapan dan sikap keras kepala serta sesar dan harus memikul

kesombongan mereka itu mengakibatkan mereka dosa-dosa mereka secara sempurna pada Hari

Kiamat
serta

tanpa sedikit pun

diampuni atau diringankan Allah, dan ucapan

sikap mereka itu juga dosa-

menyesatkan orang lain sehingga mereka pun harus m e m i k u l sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan,

yakni tanpa yang

disesatkan itu mengetahui sedikit pun bahwa mereka disesatkan dan dosa y a n g disesatkan itu tidak juga berkurang walau telah dipikul oleh yang menyesatkannya. Ingatlah, itu. Firman-Nya: ( ^ mereka, JJ lii ) idza qila lahumlapabila dikatakan kepada amat buruk apa, yakni dosa, yang mereka pikul

di samping mengisyaratkan bahwa siapa pun. yang berkata demikian

jawaban mereka selalu sama, juga mengisyaratkan bahwa ucapan itu selalu mereka sampaikan kepada siapa pun. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa ketika kaum musyrikin Mekkah menyadari betapa besar pengaruh al-Qur'an terhadap masyarakat dan pemeluk Islam, dari hari ke hari semaian bertambah, serta masyarakat Arab y a n g melaksanakan haji j u g a banyak yang bertanyatanya tentang Nabi M u h a m m a d saw. dan apa yang beliau s a m p a i k a n — menghadapi kenyataan itu—•mereka berupava menampilkan sesuatu y a n g buruk m e n y a n g k u t a k Q u r an. Belasan orang telah mereka tugaskan untuk memutarbalikkan fakta tentang wahyu Ilahi dan Nabi M u h a m m a d saw. Sekali mereka menyatakan bahwa beliau penyihir, di kali lain penyair, di kali ketiga gila. D e m i k i a n j u g a dengan al-Qur'an; sekali mereka nyatakan ia syair, di kali lain dongeng masa lampau, dan lain-lain. Kata ( j'-jji ) awzar adalah bentuk j a m a k dari kata f \\j ) ivizrvung asal

katanya berarti berat. Gununtr memberi kesan sesuatu yantr berat dan besar— bahkan demikian itulah hakikat keadaannya—-karena itu ia dinamai
:

wizr.

Demikian juga "menteri" dinamai u azir karena jabatan ini mengandung satu tanggung jawab besar dan berai, baik kepada raja/presiden m a u p u n kepada Tuhan. Dosa dinamai wizr karena seseorang yang berdosa merasakan di dalam jiwanya sesuatu yang berat, berbeda halnya dengan kebajikan. Di samping itu, "dosa" akan menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul oleh pelakunya di hari Kemudian.

K e l o m p o k II A y a t 2 4 - 2 5

S u r a h a n - N a h l [161

563

K a t a ( u^tf

) kamilah'/sempurna,

m e n u r u t p a k a r tafsir, a r - R a z i ,

mengisyaratkan terbukanya kemungkinan yang cukup besar bagi orang-orang m u k m i n untuk diampuni dosa-dosa mereka karena seandainya kemungkinan itu tidak ada maka tentu tidak ada pula artinya menegaskan di sini bahwa dosa-dosa orang kafir itu akan mereka pikul secara sempurna. Thabathaba'i berpendapat lain. M e n u r u t n y a , kata kamilah/sempurna berfungsi menolak

dugaan yang boleh jadi timbul dari pemahaman avat ini bahwa mereka yang mengajak kepada kedurhakaan itu hanya akan memikul sebagian dosa mereka dan sebagian dari dosa yang mengikutinya. Padahal, tidak demikian halnya. Mereka akan memikul semua dosa mereka. N a m u n , itu bukan berarti bahwa tidak ada dosa mereka y a n g ditoleransi oleh Allah swt. atau dikurangi melalui bencana yang jatuh atas mereka, atau akibat adanya semacam kebaikan yang mereka lakukan dan ini menjadi penyebab terhapus atau berkurangnya dosadosa mereka. D e m i k i a n lebih kurang I'habathaba'i. Apa yang dikemukakan Thabathaba'i ini agaknya cukup beralasan. Dalam buku penulis, Menyingkap al-'Afuww Tabir Ilahi, ketika menjelaskan makna sifat Allah

antara lain penulis k e m u k a k a n bahwa jangan menduga Allah swt.

hanya memaafkan pelaku dosa y a n g terpaksa atau tak tahu. Dan jangan duga bahwa Dia selalu m e n u n g g u y a n g bersalah untuk m e m i n t a maaf. Tidak! Sebelum manusia meminta maaf, Allah telah memaafkan banyak hal. Bukan h a n y a Rasul saw. y a n g dimaafkan sebelum beliau m e m i n t a maaf ( Q S . atl a ubah [9]: 4 3 ) , tetapi orang-orang durhaka pun. Dengarkanlah firman Yang M a h a Pemaaf itu.

"Jika Dia menghendaki kapal itu terhenti terdapat tanda-tanda

Dia akan menenangkan Sesungguhnya

angin,

maka jadilah demikian

kapalitu

di permukaannya. (kekuasaan)-Nya

pada yang

bagi setiap orang yang banyak itu dibinasakan-Nya besar (dari mereka)" karena

bersabar perbuatan

dan banyak bersyukur; atau kapal-kapal mereka atau Dia memaafkan sebagian

(QS. asy-Syura

142]: 3 3 - 3 4 ) .

564

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 2 4 - 2 5

Bahwa mereka m e m i k u l juga sebagian

dosa-dosa orang-orang vang

mengikuti mereka karena siapa yang mengajak kepada kebaikan, ganjarannya s a m a d e n g a n y a n g m e n g e r j a k a n n y a . Nabi saw. bersabda, " S i a p a y a n g m e m u l a i / m e r i n t i s d a l a m Islam satu k e b a i k a n , d i a a k a n memeroleh

ganjarannya dan ganjaran orang-orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa sedikit pun berkurang ganjaran mereka (yang mengerjakan sesudah perintis itu), dan siapa vang memulai dalam Islam satu dosa maka dia akan memeroleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakan sesudahnya tanpa sedikit pun berkurang dosa mereka (yang mengerjakan sesudah perintis i t u ) " (HR. M u s l i m ) . Hadits lain menyatakan bahwa: Tidak seorang pun yang terbunuh secara aniaya, kecuali atas putra A d a m yang pertama (Qabil yang m e m b u n u h saudaranya Habil) tanggung j a w a b dari dosa p e m b u n u h a n itu karena dia adalah y a n g pertama melakukan p e m b u n u h a n secara aniaya. (HR. Bukhari dan M u s l i m melalui Ibn Ylas'ud). Bahwa ayat di atas hanya berkata sebagian karena yang mengikuti mereka

itu m e m i k u l juga dosa-dosa y a n g lam y a n g bukan bersumber dari ajakan orang-orang kafir penyesat itu. Bahwa orang y a n g mereka sesatkan m e m i k u l d o s a — w a l a u p u n mereka ridak mengetahui atau dalam istilah ayat di atas ( J ^ J ) bighairi 'iim-—

karena pada h a k i k a t n y a mereka telah dianugerahi potensi oleh Allah swt. untuk mengetahui, penjelasan-penjelasan pun sudah sedemikian banyak dan gamblang. N a m u n , mereka tidak m e n g g u n a k a n potensi itu, tidak juga menghiraukan penjelasan y a n g berulang-ulang itu. Benar, bahwa seseorang u d a k d i t u n t u t m e m p e r t a n g g u n g j a w a b k a n hal-hal y a n g berada di luar pengetahuannya, tetapi dia tetap dituntut menyangkut hal-hal yang dia tidak ketahui jika seandainya k e t i d a k t a h u a n n y a itu akibat kecerobohan keengganan menggunakan potensinya. Ibn 'Asyur memahami kata bighairi 'ilm (tanpa pengetahuan) sebagai atau

berfungsi m e n g g a m b a r k a n betapa buruk penyesatan para pendurhaka itu. Kata ini m e n u r u t n y a bukanlah syarat, yakni pembatasan, karena tidak ada penyesatan kecuali bila yang disesatkan tidak mengetahui secara keseluruhan atau paling tidak sebagian dari bahan penyesatan itu.

K e l o m p o k II A y a t 2 6

S u r a h a n - N a h l [16]

565

AYAT 2 6

"Sungguh

orang-orang

yang sebelum

mereka

telah mengadakan

makar, lalu mereka

Allah mendatangi atap jatuh menimpa

bangunan-bangunan mereka

mereka

dari fondasi-fondasinya, azab itu kepada

dari atas, dan datanglah sadai iri.

dari tempat yang

tidak mereka

Setelah ayat-ayat y a n g lalu berbicara tentang kesesatan dan penyesatan yang dilakukan k a u m musyrikin itu, kini mereka diancam dengan siksa y a n g pernah dialami oleh u m a t - u m a t durhaka sebelum mereka. M e m a n g , apa yang dilakukan k a u m musyrikin terhadap al-Qur'an dan Rasul saw. itu adalah makar, tidak j a u h berbeda dengan sikap para pendurhaka masa-masa lalu. Sungguh orang-orang kafir u m a t para nabi yang sebelum mereka, antara lain pula makar, mendatangi,

yang mereka lihat bekas-bekas peninggalannya, telah mengadakan y a k n i tipu daya u n t u k m e m a d a m k a n ajaran Aliah, maka Allah yakni m e n g h a n c u r k a n bangunan-bangunan lalu atap b a n g u n a n - b a n g u n a n itu jatuh mereka tertimbun, dan datanglah mereka menimpa dari mereka mereka

fondasi-fondasinya, dari atas sehingga dari tempat yang

azab itu kepada

tidak mereka sadari. Ini karena mereka m e n d u g a makar dan bangunan yang mereka bangun dapat m e l i n d u n g i mereka, tetapi ternyata justru itu y a n g membinasakan mereka, apalagi kehancuran bangunan itu datang dari fondasi y a n g tidak dilihat. B u k a n k a h fondasi tertanam di bawah tanah? Kata ( mengalihkan (tipu daya)." ) rnakr/makar pihak dalam bahasa al-Qur'an berarti "Sesuatu dikehendaki dengan cara yang

lain dari apa yang

tersembunyi

Kata ini pada m u l a n y a digunakan untuk menggambarkan

k e a d a a n sekian b a n y a k d a u n dari suatu pohon y a n g lebat y a n g saling berhubungan satu sama lain sehingga tidak diketahui pada dahan mana daundaun itu bergantung. Dari sini, kata makar d i g u n a k a n u n t u k sesuatu y a n g tidak jelas. Seseorang yang m e l a k u k a n makar terhadap orang lain berarti dia relah m e l a k u k a n suatu kegiatan yang tidak jelas hakikatnya bagi orang y a n g menjadi sasaran perlakuan pelaksana makarnya itu. A g a k n y a , apa y a n g

dilakukan k a u m musyrikin dalam penyesatan mereka itu, mereka tampakkan

566

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k 1 Ayat 27 1

dalam bentuk nasihat yang tulus, padahal tujuan mereka adalah menghambat tersebarnya ajaran al-Qur'an dan menghalangi berpancarnya cahaya Ilahi. Karena itu, upaya tersebut dinamai makar. Firman-Nya: ( ^ AUM) bunyanahum J y> J£-^\ H^-LP y* 'idifakharra -u-W^ j * ^ L u &\ 'alaihim as-saqfu ) fa ata

min al-qawa

minfawqihiml fondasi-fondasinya,

maka Allah mendatangi lalu atap jatuh menimpa

bangunan-bangunan mereka

mereka dari

dari atas d i p a h a m i oleh beberapa ulama,

semacam Ibn Jarir ath-Thabari dan M u h a m m a d S a y y i d T h a n t h a w i , dalam arti yang sebenarnya, yakni benar-benar mereka ditimpa oleh atap bangunan/ r u m a h mereka. Tetapi, a g a k n y a pendapat y a n g lebih kuat adalah y a n g m e m a h a m i redaksi tersebut dalam arti m ^ z i / k i a s a n . Yakni, orang-orang kafir itu mengatur rencana buruk untuk para nabi. Rencana mereka sungguh matang, segala langkah telah mereka ambil dan telah siap untuk dilaksanakan, tetapi tiba-tiba gagak Hal itu diibaratkan seperti keadaan seseorang y a n g membangun bangunan. Mereka menggali fondasi untuk tegaknya tiang-tiang dan menyelesaikan bangunan itu hingga rampung atapnya dan siap dihuni, tetapi tiba-tiba terjadi bencana, y a k n i bangunan runtuh akibat g e m p a yang menghancurkan fondasi bangunan. Kata al-qawaid dapat d i p a h a m i dalam arti fondasi dan dapar

juga berarti tiang-tiang

penyanggah

bangunan y a n g menopang atap.

AYAT 2 7

Kemudian manakah berkata

Allah

menghina

mereka yang

di Hari Kiamat, kamu selalu

dan berfirman, mereka?" kehinaan

"Di Telah pada

sekutu-sekutu-Ku orang-orang yang

memusuhi

telah diberi

ilmu,

"Sesungguhnya kafir itu. "

hari ini dan azab ditimpakan

atas orang-orang

j a n g a n duga siksa yang akan m e n i m p a mereka hanya terbatas di d u n i a ini. Tidak! Kemudian, setelah siksa d u n i a w i itu, ada siksa y a n g lebih keras—walau mereka di Hari Kiamat, yakni

belum segera—yaitu Allah akan menghina

K e l o m p o k II A y a t 27

S u r a h a n - N a h l [16]

567

menyiksa dengan siksaan y a n g pedih, lahir dan batin, dam ketika itu Allah akan berfirman mengecam mereka, "Di manakah sembahan-sembahan yang

k a m u jadikan sekutu-sekutu-Ku k e t u h a n a n n y a kamu selalu

itu,yangWarena. membelanya dan mengakui memusuhi mereka, y a k n i m e m u s u h i para nabi

dan orang-orang m u k m i n ? " Telah berkata, spontan, orang-orang

yakni pasti akan menjawab secara

yang telah diberi ilmu dan memanfaatkan ilmunya secara kehinaan pada hari ini, yakni Hari Kiamat,

benar bahwa: "Sesungguhnya dan azab ditimpakan

atas orang-orang

kafir y a n g telah mendarah daging

kekufuran dalam diri mereka. Kata ( j y U j ) tusyaqqiin terambil dari kata ( J i ) syaqqa, yakni membelah

sesuatu dan memisahkan dari bagiannya. Dari sini, ia digunakan dalam arti perselisihan, perbedaan, dan permusuhan menyangkut hal-hal yang semestinya

tidak diperselisihkan. Kemusyrikan para pendurhaka mestinya tidak terjadi. M e r e k a seharusnya m e n y a t u dan b e r h u b u n g a n harmonis d e n g a n para

penganut tauhid karena tauhid adalah fitrah yang menghiasi jiwa semua manusia. E)engan kemusyrikan itu. mereka membelah persatuan kemanusiaan dan memisahkan diri. Keterbelahan dan keterpisahan itu menjadikan kedua pihak bagaikan tidak dapat m e n y a t u lagi. Yang dimaksud dengan ( ^UJl \y>^ ) ulu al-'ilmlorang-orang diberi ilmu a d a l a h para nabi dan rasul serta o r a n g - o r a n g yang telah

mukmin.

Thabathaba'i m e m a h a m i istilah ini dalam arti orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang hakikat tauhid. Apalagi ayat ini menjelaskan bahwa mereka itu menyampaikan hal tersebut di hari Kemudian, padahal di hari Kemudian nanti tidak semua orang dapat berbicara. Ketika itu. tidak ada y a n g berbicara, kecuali yang diizinkan Allah, dan apa yang mereka sampaikan adalah kebenaran (baca Q S . \ a b a ' [781: 3 8 ) . Suatu ucapan tidak dapar disifati dengan kebenaran dalam makna yang sebenarnya kecuali yang
T

pengucapnya terpelihara dari kesalahan, ketidakwajaran, dan kebatilan. Dan seseorang tidak terpelihara dalam ucapannya kecuali apabila terpelihara pula dalam perbuatan dan dalam p e n g e t a h u a n n y a . D e n g a n d e m i k i a n , y a n g d i m a k s u d dengan (itu al-'ilm-—-tulis Thabathaba i menyimpulkan—adalah

orang-orang yang tidak melihat kecuali /W/, tidak melakukan kecuali yang / w / d a n tidak berucap kecuali vang/W/.

568

S u r a h a n - N a h l [161

K e l o m p o k II A y a t 2 8 - 2 9

T i d a k dapat disangkal bahwa siapa y a n g disebut oleh Thabathaba'i di atas termasuk orang-orang yang telah diberi ilmu, n a m u n d e m i k i a n — h e m a t

penulis—itu bukan berarti hanya mereka yang dimaksud oleh ayat ini. Tidak ada petunjuk y a n g m e n y a t a k a n bahwa hanya mereka. Di sisi lain, ada juga orang-orang selain mereka yang diizinkan berbicara di hari Kemudian. B u k a n k a h sekian b a n y a k ayat y a n g menginformasikan bahwa orang-orang kafir berbicara paling tidak sebelum atau pada saat-saat pertama mereka disiksa di neraka? Ayat di atas tidak m e n g g u n a k a n kata ( j ) wafdan qalaltehth sebelum kata ( Jl3 J

berkata untuk mengisyaratkan spontanitas mereka menjawab, yakni

p a d a saat k a u m m u s y r i k i n t e r d i a m b u n g k a m k a r e n a telah t e r b u k t i kedurhakaan mereka. Di sisi lain, kata qalaltelah berkata menggunakan bentuk

kata kerja masa lampau, w a l a u p u n jawaban tersebut baru akan disampaikan di hari Kemudian. Ini u n t u k m e n u n j u k k a n kepastian jawaban itu seakanakan karena pastinya maka ia telah diucapkan.

AYAT 2 8 - 2 9

"Orang-orang terhadap

yang

dimatikan lalu mereka kejahatan telah

oleh para

malaikat diri,

dalam

keadaan

zalim tidak Maha

diri mereka, suatu apa yang

menyerahkan pun. 'Tidak!

'Kami sekali-kali Allah

mengerjakan Mengetahui

Sesungguhnya Maka, masukilah

kamu

kerjakan.

pintu-pintu orang-

(neraka) Jahanam, orangsombong. "

kamu kekal di dalamnya.

Maka, amat buruk tempat

Ayat ini bukan lanjutan ucapan orang-orang y a n g diberi pengetahuan yang disinggung oleh ayat y a n g lalu, tetapi ia penjelasan lebih jauh tentang k a u m musyrikin vang enggan mengesakan Allah swt. Ayat ini menjelaskan lebih jauh siksa y a n g akan mereka alami. Kalau ayat 2 6 menjelaskan siksa duniawi, dan ayat 27 menjelaskan siksa ukhrawi, ayat ini menjelaskan keadaan mereka antara dunia dan akhirat, atau tepatnya pada saat kematian mereka, sebelum masuk ke neraka.

K e l o m p o k II A y a t 2 8 - 2 9

S u r a h a n - N a h l [16]

569

Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang malaikat dalam keadaan zalim terhadap

yang

dimatikan

oleh

para mereka

diri mereka

sendiri, lalu

menyerahkan

diri kepada Allah, t u n d u k dan patuh, tetapi pada saat y a n g

sudah tidak berguna lagi kepatuhan, atau menyerah kepada malaikat y a n g mencabut nyawa mereka dalam keadaan tidak berdaya sama sekali sambil berkata, "Kami sekali-kali tidak mengerjakan suatu kejahatan pun. " M a l a i k a t

menjawab, " 7 / ^ ^ / Y a k n i tidak seperti apa yang kamu katakan! Sesungguhnya kamu benar-benar telah melakukan banyak kejahatan dan dosa, Allah Maha Mengetahui apa yang telah dan terus-menerus pmtu-pintu sesungguhnya "

kamu kerjakan.

Maka, masukilah,

wahai para pendurhaka,

neraka Jahanam

atau

tingkat-tingkatnya masing-masing sesuai dengan kedurhakaan k a m u , lalu tinggallah di neraka itu d a l a m keadaan kamu kekal di dalamnya. sungguh amat buruklah, Kata ( ) alladzina, tempat orang-orangsombongitu. dan yang Maka,

yang diterjemahkan dengan orang-orang

merupakan kata pertama pada ayat di atas, diperselisihkan oleh para ulama. Ada u l a m a y a n g menunjuk kepada ayat 22 y a n g lalu y a n g menyatakan: (a jL* (pdiibuhum hati mereka jil oyr^iii o_pjj *i munkiratunlmaka ) fa alladzina orang-orangyang Id yuminima tidak beriman bi kepada al-akhirati akhirat,

ingkar, yakni orang-orang itulah yang akan mengalami nasib

seperti bunyi ayat y a n g ditafsirkan ini. A d a juga yang menunjuk kepada (j i ) al-mutakabbirin, dan ada lagi y a n g menyisipkan kata ( ) huml

mereka dalam arti para pendurhakayang diuraikan keburukan-keburukannya adalah mereka orang-orang zalim... dan seterusnya. yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan

Rujuklah ke ayat 4 3 dan 4 4 surah al-Hijr u n t u k mengetahui lebih jauh makna pintu-pintu Kata ( ^ ( ) naam, neraka.
12

) bala yang diterjemahkan "tidak''di atas serupa dengan kata h a n y a saja kata bala digunakan untuk m e m b e n a r k a n satu

pertanyaan atau pernyataan setelah terlebih dahulu menghapus bentuk negasi jika negasi terdapat dalam pertanyaan atau pernyataan itu. Di sini, kaum musvrikin menyatakan bahwa mereka tidak melakukan satu dosa pun.

1 1

Baca kembali halaman 468.

570

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 30-31

Dengan bala, terhapus negasi itu lalu dibenarkan olehnya. Sehingga, jawaban i t u m e n y a t a k a n : K a l i a n b u k a n n y a t i d a k m e l a k u k a n dosa! K a l i a n melakukannya! Penutup ayat 2 9 di atas m e n g g u n a k a n kata ( j,y£A\) berbeda dengan ayat 2 3 yang menggunakan kata ( j , ) al-mutakabbirhu al-mustakbirin. al-mustakbirin

Kedua m a k n a kata itu sejalan walau dari segi bahasa kata

mengisyaratkan bahwa y a n g bersangkutan merasa besar dan a n g k u h serta m e n a m p a k k a n k e a n g k u h a n n y a kepada pihak lain, sedang al~mutakabbirin

adalah yang a n g k u h walau tidak m e n a m p a k k a n k e a n g k u h a n itu dalam kenyataan. Kaum musyrikin y a n g dibicarakan oleh ayat 2 3 adalah y a n g menampakkan keangkuhannya, sedang ayat 29 menyatakan bahwa jangankan y a n g m e n a m p a k k a n keangkuhan, vang angkuh pun tidak wajar m e n g h u n i surga. Dalam konteks mi, Nabi saw. bersabda, " T i d a k akan masuk surga siapa yang terdapat dalam hatinya walau sebesar dzarrah dari keangkuhan.'"

AYAT 30-31

"Dan dikatakan diturunkan yang berbuat

kepada

orang-orang

yang menjawab,

bertakwa,

'Apakah Bagi

yang

telah

Tuhan kamuT Mereka baik di dunia

'Kebajikan.

orang-orang akhirat SurgaBagi orang-

ini kebaikan. tempat mengalir

Dan sesungguhnya bagi orang-orang di bawahnya

negeri bertakwa.

lebih baik dan itulah surga mereka Adn mereka apa yang "

sebaik-baik

akan masuki, mereka

sungai-sungai. membalas

kehendaki.

Demikianlah

Allah

orang bertakwa.

S e t e l a h m e n j e l a s k a n sikap o r a n g - o r a n g kafir t e r h a d a p apa y a n g diturunkan Allah, yakni a h Q u r ' a n serta kesudahan mereka kelak di hari Kemudian, kini dan sebagaimana kebiasaan a k Q u r ' a n menggandengkan

sesuatu dengan lawannya, melalui ayat-ayat ini dijelaskan sikap kaum beriman. Di sini dinyatakan: Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa yang

selalu berupaya melaksanakan perintah .Allah sesuai kemampuan mereka dan menjauhi semua larangau-Nya, Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan

K e l o m p o k II A y a t 3 0 - 3 1

S u r a h a n - N a h l [16]

571

kamu?"Mereka

menjawab,

"AJIah telah menurunkan kebajikan.

"Selanjutnya, orang-orang

mereka memerinci sedikit dari m a k n a kebajikan itu, yakni: bagi beriman yang berbuat

baik di dunia ini, yakni semasa hidup mereka di dunia, yakni pembalasan yang baik. Dan sesungguhnya,

pasti mendapat kebaikan,

di samping balasan d u n i a w i itu, ada lagi ganjaran ukhrawi dan y a n g akan mereka peroleh di negeri akhirat adalah lebih bertakwa. baik dan itulah sebaik-baik

tempat kediaman bagi orang-orang surga-surga sungai. Adn, yang mereka

Balasan baik itu antara lain adalah di bawahnya sungaiDemikianlah

akan masuki, mengalir

Ba^i mereka

secara khusus apa yang bertakwa,

mereka, kehendaki.

Allah membalas

orang-orang

yakni y a n g mantap k e t a k w a a n n y a .

Ayat di atas sedikit berbeda dalam redaksinya dengan redaksi yang digunakan oleh ayat 24 y a n g melukiskan keadaan para pendurhaka. Di sana, a w a l n y a m e n g g u n a k a n kara ( iji ) idzd, yakni apabila, sedang pada ayat ini

tanpa kata tersebut. Hal ini, menurut al-I3iqa'i, untuk mengisyaratkan bahwa orang-orang bertakwa itu sungguh merasa ridhadan puas walau dengan sedikit kebajikan vang mereka peroleh dan walaupun tidak berulang-ulang. Di sisi lain, ada persesuaian antara pertanyaan y a n g diajukan dan jawaban y a n g disampaikan oleh orang-orang bertakwa itu. Karena itu, mereka c u k u p berkata ( \ ) khairan/keba/ikan y a n g dari segi tata bahasa berkedudukan menurunkan

sebagai objek dari satu kalimat y a n g tidak disebut, y a k n i Allah kebajikan.

Adapun para pendurhaka, mereka tidak menyesuaikan pertanyaan al-

dengan jawaban. Karena itu, jawaban mereka t j J j ^ i j>^LJ ) asath'iru awwalin

tidak berkedudukan sebagai objek. Seakan-akan mereka berkata,

' A p a y a n g k a m u kira d i t u r u n k a n oleh Allah sebenarnya bukanlah sesuatu y a n g diturunkan, tetapi ia adalah dongeng-dongeng masa lalu." Thabathaba'i m e m a h a m i p e n g u l a n g a n kata taqwa yakni yang pertama f i j , j j i ) alladzina muttaqin—sebagai ittaqau pada ayat 30 ini—) al-

dan yang kedua (

isyarat tentang siapa yang ditanya itu. Yakni mereka adalah

y a n g menghiasi secara terus-menerus diri mereka dengan ketakwaan, yakni orang-orang yang sempurna intannya. Demikian juga halnya kaum musyrikin yang dibicarakan oleh ayat 24. Mereka adalah orang-orang yang sangat mantap kekufuran mereka. M e r e k a adalah al-mustakbirin.

572

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 32

AYAT 32

Orang-orang mengatakan yang

yang dimatikan : "Salamun

oleh para malaikat masuklah

dalam ke surga

keadaan sebagai

baik, imbalan

mereka apa

'Alaikum, "

telah kamu kerjakan.

Selanjutnya, k e a d a a n m e t e k a d i l u k i s k a n sebagai orang-orang y a n g mempertahankan ketakwaan mereka hingga akhir umurnya sehingga, dengan demikian, mereka, yakni orang-orang malaikat mengatakan imbalan dalam keadaan baik, yang bertakwa itu, dimatikan oleh para

mereka,

y a k n i para m a l a i k a t , senantiasa 'Alaikum, masuklah ke surga sebagai

kepada mereka: "Salamun

apa, yakni amal-amal baik, yang

telah kamu kerjakan

ketika k a m u

hidup di d u n i a . " Kata ( ) thayyibin adalah b e n t u k j a m a k dari kata ( ) thayyib.

Kata ini d i p a h a m i j u g a d a l a m arti b e b a s n y a sesuatu dari segala y a n g mengeruhkannya. J i k a v \ n d a menyifati kehidupan dengan sifat ini, itu berarti bahwa kehidupan itu n y a m a n dan sejahtera, tidak disentuh oleh rasa takut atau sedih, j i k a ia menyifati ucapan seperti u n g k a p a n al-qawl (ucapan yang baik), ath-thayyib

itu berarti kata-kata y a n g halus, enak didengar, tidak

m e n g a n d u n g kebohongan, serta baik susunan kalimatnya. Bahwa orang-orang bertakwa dimatikan dalam keadaan thayyibin berarti

b a h w a mereka mati dalam keadaan y a n g sangat baik. K e m a t i a n n y a tidak disettai oleh sesuatu y a n g mengeruhkannya. M e r e k a akan terhindar dari su' al-khdtimah dan kesulitan sakratulmaut. Berbeda dengan orang-orang yang

meninggal dalam keadaan menganiaya diri mereka, mereka akan mati dalam keadaan sangat sulit. M a l a i k a t akan mencabut ruh mereka dengan paksa dan ruhnya akan berpisah dengan badannya dalam keadaan m u s y r i k atau penuh dosa. Rujuklah ke Q S . Yunus [ 1 0 ] : 1 0 u n t u k m e m a h a m i lebih jauh m a k n a ucapan para malaikat i t u .
23

Rujuk volume 5 halaman 340.

K e l o m p o k II A y a t 3 3 - 3 5

S u r a h a n - N a h l [16]

573

AYAT 3 3 - 3 4

"Tidak mereka

ada yang atau

mereka

tunggu

selain

kedatangan Begitulah

para yang

malaikat telah

kepada diperbuat mereka, mereka yang

datangnya sebelum

perintah mereka,

Tuhanmu. padahal

oleh orang-orang

Allah tidak menganiaya diri mereka dan mereka sendiri. diliputi Maka

akan tetapi, merekalah ditimpa oleh kejahatan

yang

menganiaya mereka

perbuatan "

oleh apa

selalu merekaperolok-olokkan.

Setelah m e m b a n d i n g k a n keadaan orang-orang kafir dan orang-orang bertakwa, ayat ini kembali m e n g u r a i k a n tentang orang-orang kafir, dengan m e n y a t a k a n bahwa: Tidak ada yang mereka yang enggan percaya itu, selain kepada mereka atau datangnya kedatangan perintah, tunggu, y a k n i orang-orang kafir m e m b a w a siksa tanpa

para. malaikat

y a k n i ketentuan, Tuhanmu

melibatkan malaikat. Sebenarnya apa yang mereka lakukan itu bukanlah hal baru karena kafir sebelum menganiaya mereka, mereka. juga kedurhakaan yang telah diperbuat oleh orang-orang Allah tidak

k a u m musyrikin M e k a h itu, padahal

Allah telah menjelaskan kepada mereka jalan yang baik

dan b u r u k dan telah m e n g a n u g e r a h k a n mereka akal dan potensi untuk memilah dan memilih, akan tetapi mereka enggan dan keras kepala sehingga pada h a k i k a t n y a merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri dan, mereka oleh perolok-

dengan d e m i k i a n , mereka wajar disiksa dan pada akhirnya maka ditimpa oleh akibat kejahatan perbuatan mereka dan mereka diliputi,

apa, y a k n i tidak dapat menghindari dari siksa yang selalu olokkan dan m e m i n t a agar dipercepat kedatangannya.

mereka

AYAT 35

"Dan orang-orang tidak bapak menyembah kami—dan

musyrik sesuatu

berkata:

"Jika Allah menghendaki, Dia—baik

niscaya

kami bapak(izin)-

apa pun selain

kami maupun sesuatu pun tanpa

tidak puhi

kami mengharamkan

574

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 3 5

Nya. " Begitulah kewajiban

yang diperbuat

orang-orang

sebelum yang

mereka; terang. "

makatidak

ada

atas para rasuk selain penyampaian

Ayat ini melanjutkan ucapan-ucapan btiruk k a u m musyrikin setelah ayat y a n g lalu menyebut ucapan buruk terhadap apa y a n g diturunkan Allah swt. Ayat ini menyatakan bahwa: Dan orang-orang menghendaki menyembah kami-—vakni musyrik berkata: "Jika Allah akan

k a m i tidak m e n y e m b a h selain-Nya niscaya sesuatu apa pun selain Dia—baik

kami tidak

kami maupun

bapak-bapak

leluhur kami yang k a m i ikuti tradisinya m e n y e m b a h berhala-

berhala. Tetapi, karena k a m i m e n y e m b a h berhala-berhala itu, tentu Tuhan merestuinya, dan juga mereka berkata: " j i k a T u h a n menghendaki kami mengharamkan Nya. "Begitulah yang diperbuat atas diri k a m i sesuatu pun tanpa tidakpula

izin dan kehendak-

juga perbuatan dan logika yang sungguh jauh dari kebenaran dan diucapkan oleh orang-orang kafir sebelum mereka; yang

mereka jadikan dalih untuk menolak tuntunan Allah yang disampaikan oleh para rasul. Maka, jika d e m i k i a n itu halnya, tidak ada kewajiban t u n t u n a n - t u n t u n a n Allah yang terang atas para

rasul selain penyampaian

dan nanti

Allah sendiri yang akan menetapkan sanksi atas para pendurhaka itu. Ketika menafsirkan Q S . al-An'am [ 6 ] : 148 y a n g k a n d u n g a n n y a serupa dengan ayat ini, penulis antara lain menulis bahwa alasan y a n g d i k e m u k a k a n k a u m musyrikin di atas adalah alasan klise dan rapuh, dan telah berulangulang dibantah dan dipatahkan. Inti dalih mereka adalah, "Allah tidak menghalangi kami melakukan penghalalan dan kemusyrikan. Ini pertanda restu-Nya karena, tanpa restu-Nya, kami tidak mungkin dapat melakukannya. Tanpa restu-Nya, pasti Dia menghalangi kami melakukan kemusyrikan dan mencegah kami menghalalkan apa yang diharamkan-Nya. Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa kami menjadikan berhala-berhala sebagai sekutu dan kami juga mengharamkan binatang-binatang tertentu atas nama-Nya sehingga semua itu merupakan bukti bahwa apa y a n g kami lakukan di restu i-Nya." Dalih ini berpijak pada pijakan yang keliru. Mereka tidak membedakan antara restu serta ridha-Nya kepada manusia dengan izin dan kehendak-Nya d a l a m mengatur sistem kerja alam raya dan manusia. Pahamilah ilustrasi berikut. Ketika seorang ayah memberi kebebasan kepada putranya u n t u k

K e l o m p o k II A y a t 3 5

S u r a h a n - N a h l [16]

575

melakukan sesuatu atau tidak m e l a k u k a n n y a , ketika Itu sang ayah telah m e m b e r i p i l i h a n dan telah m e n y e r a h k a n k e p a d a p u t r a n y a apa y a n g dianggapnya baik bagi dirinya. Walau sang ayah mempunyai pandangan yang berbeda, bahkan telah menyampaikan kepada putranya apa y a n g disukainya, demi kebebasan yang dianugerahkannya, sang ayah tidak akan menghalangi sang anak membatalkan pilihannya. Paling tinggi dia berkata: "Itu pilihanmu dan engkau y a n g akan menerima akibat baik atau buruknya." Ketika sang anak memilih sesuatu y a n g bertentangan dengan apa y a n g dikehendaki sang ayah, tentu saja pilihan itu tidak dapat dinamai restu atau menjadi bukti ridha atau rasa senang ayah terhadap pilihan anak. M e m a n g , itu atas izinnya, tetapi bukan cerminan ridhanya. D e m i k i a n juga di sini. Allah swt. telah

memberi kebebasan m e m i l i h kepada manusia, Dia telah m e n y a m p a i k a n melalui para rasuI-Nya apa y a n g Dia suka dan ridhai dan apa pula y a n g Dia benci dan murkai. Dia telah menyatakan bahwa ini yang haram dan itu yang halal. Dia telah melarang ini dan itu, terapi pada saat yang sama Dia memberi manusia kebebasan u n t u k m e m i l i h ini atau itu, yang halal atau y a n g haram. J i k a mereka memilih sesuai y a n g disukai Allah, Dia ridha dan sayang dan, jika tidak sesuai, Dia marah dan benci, tetapi tidak akan menghalangi karena Dia telah memberi kebebasan kepada setiap orang. Seandainya semua diridhai atau semua dibenci, mengapa Dia menyiapkan surga dan neraka untuk manusia? Ini berarti ada di antara manusia y a n g Dia ridhai sehingga masuk ke surga dan ada pula sebaliknya sehingga tempatnya adalah neraka. Selanjutnya, seandainya logika kaum musyrikin yang berkata bahwa tidak dihalanginya mereka melakukan kedurhakaan itu adalah bukti restu Allah swt.—seandainya logika ini d i g u n a k a n Rasul s a w . — m a k a beliau pun dapat berkata: "Bukti tidak direstuinya perbuatan kalian adalah aku

memperatasnamakan Tuhan bahwa yang kalian lakukan itu adalah kedurhakaan yang tidak direstui-Nya. Buktinya bahwa Yang M a h a k u a s a itu memberi kepadaku kemampuan u n t u k m e n y a t a k a n n y a serta tidak

menghalangi aku m e m p e r a t a s n a m a k a m N y a . " Seandainya Rasul saw. berucap demikian, apakah logika itu dapat digunakan? Jika mereka berkata: "dapat", yang manakah di anrara kedua hal y a n g bertentangan itu y a n g dinilai benar? Tentu saja diperlukan bukti.

576

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 3 6

Selanjutnya, jika mereka berkata: "Logika itu keliru", itulah yang dicari karena Rasul saw. tidak akan berucap demikian, dan mereka pun seharusnya tidak berucap demikian sehingga gugurlah dalih tersebut.

AYAT 3 6

"Dan sesungguhnya Allah, dan jauhilah

Kami telah mengutus Thdghut,'

rasul pada setiap umat: mereka ada yang diberi telah pasti atasnya bagaimana

'Sembahlah petunjuk kesesatan. para

maka di antara

oleh Allah dan ada pula Maka berjalanlah

di antara

mereka yang

di bumi

dan perhatikanlah

kesudahan

pendusta."

S e l a n j u t n y a , a y a t ini m e n g h i b u r N a b i M u h a m m a d saw. d a l a m m e n g h a d a p i para p e m b a n g k a n g dari k a u m beliau. Seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah p u n telah m e n g u t u s m u . M a k a , ada di antara u m a t m u yang menerima baik ajakan m u dan ada juga yang membangkang. Dan keadaan y a n g e n g k a u alami itu sama j u g a dengan y a n g d i a l a m i oleh para rasul sebelummu karena sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat

sebelum Kami m e n g u t u s m u , lalu mereka m e n y a m p a i k a n kepada kaum mereka masing-masing bahwa: "Sembahlah Allah, yakni t u n d u k dan patuhlah

dengan p e n u h pengagungan kepada Tuhan Yang M a h a Esa saja, jangan m e n y e m b a h selain-Nya, apa dan siapa pun, dan jauhilah Thdghut, yakni

segala macam yang melampaui batas, seperti penyembahan berhala dan kepatuhan kepada tirani. "Ajakan para rasul itu telah diketahui oleh u m a t masing-masing rasul maka di antara orang-orang yang mereka, y a k n i umat para rasul itu ada

hatinya terbuka dan pikirannya jernih sehingga AJlah oleh Allah, dan ada pida di antara

m e n y a m b u t n y a dan dia diberi petunjuk mereka yangkerzs

kepala lagi bejat hatinya sehingga mereka menolak ajakan atasnya sanksi

rasul mereka dan, dengan d e m i k i a n , menjadi telah pasti kesesatan

yang mereka pilih sendiri itu. W a h a i u m a t M u h a m m a d , jika k a m u

ragu m e n y a n g k u t apa y a n g disampaikan Rasul, termasuk kebinasaan para

K e l o m p o k II A y a t 3 6

S u r a h a n - N a h l [16]

577

pembangkang perhatikanlah

maka

berjalanlah kesudahan

k a m u s e m u a di m u k a bumi para pendusta para rasul.

dan

bagaimana

Kata ( O j P l k ) thdghut m u l a n y a berarti melampaui

terambil dari kata ( ^*t>) thaghd

y a n g pada

batas. Ia biasa j u g a dipahami dalam arti berhala-

berhala karena p e n y e m b a h a n berhala adalah sesuatu y a n g sangat buruk dan m e l a m p a u i batas. D a l a m atti y a n g lebih u m u m , kata tersebut m e n c a k u p segala sikap dan perbuatan y a n g melampaui batas, seperti kekuf uran kepada Tuhan, pelanggaran, dan kesewenang-wenangan terhadap manusia. Hidayah (petunjuk) y a n g d i m a k s u d ayat di atas adalah hidayah khusus

dalam bidang a g a m a yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang hatinya cenderung u n t u k beriman dan berupaya u n t u k m e n d e k a t k a n diri kepadaN y a . Secara panjang lebar, m a c a m - m a c a m hidayah A l l a h telah penulis

k e m u k a k a n ketika menafsirkan surah al-Fatihah. Di sana, antara lain penulis kemukakan bahwa dalam bidang petunjuk Pertama, keagamaan, hidayah Allah menuju

m e n g a n u g e r a h k a n d u a m a c a m hidayah.

kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. C u k u p banvak ayat y a n g m e n g g u n a k a n akar kata hidayah y a n g m e n g a n d u n g m a k n a ini, misalnya:

"Dan sesungguhnya jalan yang lurus"

engkau

(V/ahai Nabi Muhammad)

memberi

hidayah

ke

{Q$. asy-Syura [ 4 2 ] : 5 2 ) , atau:

"Adapun mereka

kaum

Tsamud

maka Kami

telah

memberi

mereka hidayah"

hidayah,

tetapi

lebih senang

kebutaan

(kesesatan)

daripada

( Q S . Fushshilat

[41 J: 17). Kedua, isi hidayah

hidayah

(petunjuk) serta kemampuan untuk melaksanakan

itu sendiri. Ini tidak dapat d i l a k u k a n kecuali oleh Allah swt,

karena itu ditegaskannya bahwa:

"Sesungguhnya petunjuk petunjuk

engkau

(Wahai orang yang

Nabi

Muhammad) cintai, tetapi

tidak

dapat

memberi memberi

(walaupun) siapa yang

engkau

Allah yang

dikehendaki-Nya"

( Q S . al-Qashash [ 2 8 ] : 5 6 ) . Allah

578

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 3 7

menganugerahkan hidayah

kedua ini kepada mereka yang benar-benar ingin

memerolehnya dan melangkahkan kaki guna mendapatkannya. Ketika berbicara tentang hidayah, secara tegas ayat di atas m e n y a t a k a n

bahwa Allah yang menganugerahkannya, berbeda ketika menguraikan tentang kesesatan. Redaksi y a n g d i g u n a k a n ayat ini adalah telah pasti atasnya kesesatan, sanksi

tanpa menyebut siapa y a n g menyesatkan. Hal ini mengisyaratkan

b a h w a kesesatan tetsebut pada dasarnya bukan bersumber pertama kali dari Allah swt., tetapi dari mereka sendiri. Memang, ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa: "Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki", tetapi kehendak-Nya

itu terlaksana setelah yang betsangkutan sendiri sesat.

"Maka ketika mereka

mereka

berpaling

dari

kebenaran,

Allah

memalingkan

hati

dan Allah tidak memberi

hidayah

orang-orang

fasik. " ( Q S . ash-Shaf

[611:5).

AYAT 3 7

"Jika engkau sesungguhnya

sangat

mengharapkan memberi

agar mereka petunjuk

mendapat

petunjuk,

maka disesatkan"

Allah tiada mereka

kepada

orang yang

Nya, dan sekali-kali

tiada mempunyai

sedikitpenolong-penolongpun.

Bukti-bukti, penjelasan, dan ajakan-ajakan rasul diabaikan oleh para pendurhaka. Kendati demikian. Nabi M u h a m m a d saw. masih terus j u g a mengharap kiranya mereka beriman. Harapan itu sedemikian besar sehingga sering kali menyulitkan beliau sendiri. M a k a , untuk itu, Allah menegur beliau dengan m e n y a t a k a n bahwa jika menerus sangat mengharapkan mereka mendapat petunjuk engkau, w a h a i Nabi M u h a m m a d , terusagar

sambil berusaha sekuat k e m a m p u a n m u yang menjadikan mereka

benar-benar

melaksanakan ajaran agama, maka sesungguhnya karena Allah tiada memberi petunjuk,

usahamu tidak akan berhasil kemampuan

yakni tidak memberi

u n t u k melaksanakan ajaran agama kepada orangyang

ingin m e n e m p u h jalan

K e l o m p o k II A y a t 3 8

S u r a h a n - N a h l [16]

579

kesesatan sehingga kesudahannya dia disesatkan-Nya.

Jangan d u g a mereka

akan dapat m e n y e l a m a t k a n diri dari siksa Allah. Sekali-kali mereka tidak dapat dan sekali-kali mereka tiada mempunyai sedikitpenolong-penolongpun

yang dapat menyelamatkan mereka. Yang dimaksud dengan kata petunjuk (hidayah) dalam ayat ini adalah

petunjuk khusus, bukan sekadar memberi informasi tentang ajaran a g a m a . Rujuklah kembali ke ayat 3 6 di atas. Ayat ini membuktikan dengan sangat jelas betapa Rasulullah M u h a m m a d saw. sangat merindukan keimanan k a u m n y a . Ini dipahami dari kata ( tahrish y a n g terambil dari kata { j?_f) y£ )

hirsh y a i t u keinginan y a n g m e l u a p -

luap u n t u k m e r a i h sesuatu disertai d e n g a n u p a y a s u n g g u h - s u n g g u h . Penggunaan b e n t u k kata kerja masa kini dan datang (mudhdri) pada kata

tersebut m e n u n j u k k a n kesinambungan keinginan dan upaya itu. Ayat ini serupa dengan kandungan firman-Nya:

"Sesungguhnya petunjuk petunjuk

engkau

(Wahai orang

Nabi

Muhammad) cintai,

tidak

dapat

memberi memberi

(walaupun) siapa yang

yang engkau

tetapi Allah yang

dikehendaki-Nya"

(QS. al-Qashash [ 2 8 ] : 5 6 ) .

AYAT 38

"Mereka bersumpah sungguh: demikian), Allah

dengan

nama Allah dengan membangkitkan

sumpah orang

mereka yang yang mati'. sebagai Ya

sungguh(tidak janji "

tidak

akan

bahkan

(pasti Allah akan membangkitkannya), akan tetapi kebanyakan manusia

suatu

yang benar atas-Nya,

tiada mengetahui,

Ayat-ayat y a n g lalu telah menjelaskan secata gamblang keesaan Allah swt. d a n k e k u a s a a n - N y a d a l a m m e n c i p t a d a n m e n g a t u r . Sungguh

mengherankan jika mereka enggan percaya setelah penjelasan dan bukti-bukti i t u . A d a hai l a i n d a r i s i k a p k a u m m u s y r i k i n itu y a n g j u g a s a n g a t mengherankan. Mereka yang sungguh-sungguh: bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah mereka mati".

"Allah tidak akan membangkitkan

orang yang

580

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 3 9

Ya, yakni tidak demikian, bahkan pasti Aliah akan membangkitkannya katena tidak ada sedikit atau sesuatu y a n g dapat m e n g h a l a n g i - N y a , apa lagi hal itu telah Dia janjikan sebagai suatu janji yang benar atas-Nya, y a k n i y a n g Dia

wajibkan atas d i r i - N y a u n t u k menepatinya, sedang j a n j i - N y a tidak pernah Dia langgar, akan tetapi kebanyakan Kata ( \J^JI\ ) aqsamu manusia tiada ) qasam mengetahui. y a n g d i g u n a k a n al-

terambil dari ( i

Q u r ' a n u n t u k m a k n a s u m p a h y a n g benar-benar tulus. Ini berbeda dengan kata ( ) hilfyan.g j u g a b e r m a k n a sumpah, tetapi ia digunakan u n t u k

sumpah yang dibuat-buat atau sumpah yang dapat dibatalkan oleh pelakunya. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan bahwa memang k a u m musyrikin yang dimaksud oleh ayat-ayat ini benar-benar yakin sepenuh hati bahwa orangorang mati tidak akan dibangkitkan Allah swt. Ini karena akal mereka tidak dapat menerima sesuatu yang telah hancur atau menjadi tulang belulang dapat hidup kembali. Mereka selalu berkata: "Apakah jika kita mati d a n telah menjadi tanah dan tulang belulang masih dapat juga kita dibangkitkan?" Ayat ini tidak membantah dalih penolakan mereka karena memang tidak terdapat di sini dalih penolakan. Tetapi, di tempat lain d i t e m u k a n aneka argumentasi tentang keniscayaan Kebangkitan setelah kematian. Lihatlah misalnya Q S . al-Isra [ 1 7 ] : 4 9 - 5 1 .

AYAT 39

"Agar Dia menjelaskan agar orang-orang " yang

kepada kafir

mereka

apa yang

mereka

perselisihkan adalah

dan para

mengetahui

bahwa

mereka

pembohong.

Setelah ayat yang lalu menegaskan keniscayaan datangnya Hari Kiamat, ayat ini menjelaskan h i k m a h n y a . Tidaklah tepat, m e n u r u t pandangan akal yang sehat, bagi seseorang y a n g bijaksana membiarkan sekian orang y a n g ditugaskannya melaksanakan sesuatu lalu mereka berselisih dan bertikai tanpa pemberi tugas itu menjelaskan siapa y a n g benar dan siapa yang salah di antara mereka. J i k a seperti itu y a n g semestinya dilakukan oleh seseorang y a n g

K e l o m p o k II A y a t 4 0

S u r a h a n - N a h l [16]

581

bijaksana, lebih-lebih Allah Yang Mahabijaksana. Dia telah menugaskan seluruh manusia dengan tugas-tugas tertentu melalui pata nabi y a n g diutusNya, lalu manusia berselisih, perselisihan y a n g mengantar kepada pertikaian bahkan peperangan. Tidak m u n g k i n Yang Mahabijaksana itu tidak melerai dan memutuskan perselisihan mereka. Di dunia ini perselisihan itu tidak akan berakhir. Karena itu, Dia menyiapkan hati penyelesaian dan peleraian sengketa yaitu hari Kiamat. Hari itu pasti datang antara lain agar Dia, yakni Allah swt., menjelaskan perselisihkan, kepada mereka, yakni manusia, apa yang mereka

seperti perselisihan m e r e k a t e n t a n g keesaan A l l a h swt.,

keniscayaan hari Kemudian, a g a m a y a n g benar, dan lain-lain, lalu memberi balasan dan ganjaran bagi masing-masing dan agar orang-orang yang m e n u t u p i kebenaran mengetahui para pembohong bahwa mereka adalah yang kafir

benar-benar

ketika mengingkari tuntunan agama dan petunj uk para rasul.

Di tempat lain, Allah swt. menjelaskan bahwa kehadiran Hari Kiamat antara lain untuk memberi balasan baik kepada y a n g berbuat kebaikan dan sebaliknya terhadap yang berbuat keburukan. Ini karena keadilan tidak dapat terpenuhi dalam kehidupan duniawi ini. Sekian banyak orang di dunia ini yang melakukan pelanggaran tanpa memeroleh sanksi, bahkan sekian banyak y a n g tidak bersalah y a n g teraniaya. Sekian b a n y a k pula y a n g berbuat baik yang belum memetik buah kebaikannya. Karena itu Hari Kiamat pasti datang agar masing-masing menerima akibat perbuatannya. Demikian lebih kurang maksud firman-Nya dalam Q S . Saba' [ 3 4 ] : 3 - 5 .

AYAT 4 0

"Sesungguhnya menghendakinya, jadilah ia."

perkataan Kami hanya

Kami mengatakan

terhadap

sesuatu

apabila

Kami maka

kepadanya:

"Kun (jadilah)",

Setelah menjelaskan h i k m a h dan keniscayaan Kebangkitan

setelah

kematian, kini melalui ayat di atas, dijelaskan kuasa Allah dan betapa mudahnya hal tersebut dan lain-lain yang dikehendaki-Nya terlaksana. Betapa

582

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k II A y a t 4 0

tidak, padahal sesungguhnya menghendakinya. jadilah ia. Kami hanya

perkataan mengatakan

Kami terhadap kepadanya:

sesuatu

apabila

Kami

"Kun (jadilah)", maka

Kata ( j S " ) kun dalam ayat ini digunakan untuk menggambarkan betapa m u d a h Allah swt. menciptakan dan m e w u j u d k a n sesuatu dan betapa cepat terciptanya sesuatu bila Dia kehendaki. Cepat dan m u d a h n y a itu diibaratkan dengan m e n g u c a p k a n kata kun. W a l a u p u n , sebenarnya, Allah tidak perlu m e n g u c a p k a n n y a karena Dia tidak m e m e r l u k a n suatu apa pun u n t u k m e w u j u d k a n apa y a n g d i k e h e n d a k i - N y a . Sekali lagi, kata kun hanya

melukiskan kepada manusia betapa Allah tidak m e m b u t u h k a n sesuatu untuk mewujudkan kehendak-Nya dan betapa cepat sesuatu dapat Dia w u j u d k a n , sama bahkan lebih cepat—jika Dia menghendaki—dari masa yang digunakan manusia mengucapkan kata kun.

KELOMPOK 3

AYAT

41-50

583

584

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k 11 A y a t 4 1 - 4 2 1

S u r a h a n - N a h l [16]

585

AYAT 4 1 - 4 2

"Dan orang-orang Kami

yang berhijrah mereka

karena Allah sesudah di dunia pada

mereka dianiaya, yang bagus.

pasti Dan adalah) "

akan menempatkan akhirat yang

tempat

pasti ganjaran orang-orang

lebih besar; jika mereka kepada

mengetahui.

(Mereka

sabar dan hanya

Tuhan saja mereka

bertawakal.

A y a t ini oleh al-Biqa'i d i h u b u n g k a n dengan ayat y a n g lalu dengan m e n y a t a k a n bahwa orang-orang kafir y a n g teperdaya dengan k e h i d u p a n d u n i a w i yang fana ini pasti dipermalukan dan disiksa Allah di dunia dan di akhirat, dan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. T h a h i r Ibn 'Asyur melihat bahwa setelah pada ayat-ayat y a n g lalu d i n y a t a k a n bahwa Kebangkitan setelah kematian m e r u p a k a n keniscayaan karena ia merupakan jalan untuk menetapkan siapa y a n g benar dan siapa yang salah dan ketika itu diketahui secara pasti dan nyata bahwa orang-orang kafir adalah para pembohong dan tentu saja lawan mereka, y a k n i orangorang beriman adalah orang-orang yang benar yang akan memeroleh ganjaran. Nah, ayat-ayat ini menjelaskan ganjaran tersebut. Sayyid Q u t h u b — y a n g menjadikan ayat-ayat ini sampai dengan ayat 50 d a l a m satu k e l o m p o k — m e n y a t a k a n s e c a r a s i n g k a t b a h w a a y a t ini

m e m a p a r k a n sisi yang bertolak belakang dengan pata p e m b a n g k a n g dan penolak keniscayaan hari Kemudian itu. Di sini—tulisnya—diuraikan sekilas tentang orang-orang m u k m i n sejati y a n g keyakinan mereka terhadap Allah dan hari Kemudian mendorong mereka berhijrah, m e n i n g g a l k a n k a m p u n g halaman dan harta benda demi karena Allah dan jalan Allah. Apa pun hubungan yang Anda pilih, yang jelas ayat ini menyatakan bahwa: Dan adapun orang-orang yang berhijrah m e n i n g g a l k a n k a m p u n g halaman Allah, Kami bagus lebih

mereka u n t u k menghindari kezaliman dan kedurhakaan demi karena sesudah akan mereka dianiaya oleh orang-orang kafir atau zalim, m a k a pasti di dunia pada tempat dan situasi yang ganjaran akhirat

menempatkan

mereka

sebagai ganjaran dari Kami bagi mereka dan pasti'juga

besar daripada apa yang mereka peroleh d a l a m k e h i d u p a n d u n i a ini; Jika

586

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k III A y a t 4 1 - -

mereka, mengetahui

y a k n i o r a n g - o r a n g kafir, m e n g g u n a k a n a k a l n y a pasti mereka anugerah Kami kepada k a u m muslimin yang berhijrah atau, jika

mereka mengetahui betapa besar ganjaran itu, niscaya mereka pun memeluk Islam. Ganjaran tersebut dinikmati oleh yang berhijrah karena mereka adalah orang-orang yang sabar menghadapi berbagai cobaan serta sabar melaksanakan kepada Tuh a K

perintah dan menjauhi segala larangan Allah dan j u g a hanya saja tidak kepada selain-Nya mereka senantiasa bertawakal,

yakni berserah

diri setelah berupaya sekuat k e m a m p u a n . Kata ( ) haj ani terambil dari kata ( ) hajara. J i k a A n d a berkata

hajara, ini mengandung makna tidak senang bertempat tinggal di suatu tempat sehingga pindah ke tempat lain yang dinilai lebih baik. Tetapi, tempat pertama y a n g ditinggalkan itu tidak memaksanya pindah dalam arti ia pindah secara sukarela. A d a p u n kata ( j^-U ) hajara patronnya menunjukkan seperti y a n g d i g u n a k a n ayat ini.

adanya dua pihak yang saling melakukan

ketidaksenangan. Pelaku hijrah di sini bukannya tidak senang kepada tempat, tetapi hijrahnya lahir karena tidak senang menghadapi perlakuan buruk yang diterimanya dari penghuni tempat yang tidak senang melihat mereka, dalam hal ini beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perlakuan itulah yang mengakibatkan hijrah. Demikian lebih kurang asy-Sya'rawi. Nah, ini berarti bahwa kota Vlekkah yang merupakan kota haram yang disucikan Allah serta t u m p a h darah mereka tidaklah mereka benci, tetapi perlakuan penduduknya yang musyrik dan menganiaya mereka, sebagaimana ditegaskan oleh lanjutan ayat di atas, y a k n i sesudah mereka dianiaya. bukan ( &\ J l
\JJT\A .

Ayat di atas menyatakan ( &\ J \ j y ^ l a ) hajaru fillah hajaru

Hallah. A d a perbedaan makna antara keduanya. Kata hajaru

Hallah

m e n g a n d u n g kesan m e n i n g g a l k a n tempat menuju tempat lain y a n g lebih baik dan sesuai daripada y a n g ditinggalkan. Ia mengesankan bahwa tadinya mereka belum berada dalam lingkungan Ilahi, lalu mereka meninggalkannya menuju Allah, sedang kata hajaru /illah mengesankan bahwa tempat yang

mereka tinggalkan sebenarnya j u g a telah berada dalam lingkungan Allah dan keberadaan mereka di sana j u g a demi karena Allah. M e r e k a m e m i k u l aneka penderitaan dan siksaan di M e k k a h , s e m u a n y a demi karena Allah. Nah,

K e l o m p o k III A y a t 4 1 - 4 2

S u r a h a n - N a h l [16]

587

seandainya ayat ini menyatakan hajaru liatlah, itu dapat mengandung m a k n a b a h w a keberadaan mereka di tempat pertama, dalam hal ini di M e k k a h , bukanlah demi karena Allah swt. serta berada di luar lingkungan Ilahi, tetapi dengan m e n g g u n a k a n kata ( J ) fibukan ( J , ! ) Ha, ayat ini mengisyaratkan

bahwa para sahabat Nabi saw. itu, sebelum berhijrah, m e n a n g g u n g beban berat demi karena Allah dan hijrah mereka pun adalah demi karena Allah. Di tempat y a n g lama dan y a n g baru kesemuanya di dalam jalan Allah. Dapat juga dikatakan b a h w a kata fi yang m e n g a n d u n g m a k n a di dalam

mengesankan b a h w a para sahabat Nabi saw. yang berhijrah itu berada di dalam satu wadah sehingga mereka diliputi oleh wadah itu. Seluruh totalitas Ilahi sehingga

mereka berada di dalamnya. W a d a h tersebut adalah nilai-nilai

seluruh kegiatan mereka semata-mata hanya karena Allah, diliputi oleh nilainilai-Nya, dan u n t u k mempertahankannya, bukan untuk sesuatu selainnya. Bukankah totalitas w u j u d mereka telah diliputi dan telah berada di d a l a m w a d a h nilai-nilai itu? Beberapa ulama berpendapat bahwa hijrah yang dimaksud oleh ayat ini adalah hijrah sebagian sahabatNabi saw. menuju Habasyah (Ethiopia). Hijrah pertama ini terjadi pada tahun ke V setelah kenabian dan diikuti oleh dua belas orang pria dan empat orang wanita. Kemudian disusul dengan beberapa kelompok lagi y a n g j u m l a h n y a 83 orang pria dan delapan atau sembilan belas orang wanita. Ada juga y a n g berpendapat bahwa hijrah tersebut adalah hijrah ke M a d i n a h . Redaksi ayat yang bersifat u m u m dan tanpa menentukan ciri atau tempat, mendorong kita u n t u k m e n g u k u h k a n pendapat y a n g m e n y a t a k a n bahwa kedua hijrah itu dapat dicakup oleh ayat ini. Siapa pun yang berhijrah demi karena Allah, janji ayat ini tidak akan luput darinya. Kata ( iu™?-) hasanah pada ayat di atas menyifati sesuatu y a n g tidak

disebut, yakni tempat atau situasi. Berbeda-beda pendapat ulama menyangkut m a k s u d n y a . A d a y a n g berpetidapat bahwa y a n g d i m a k s u d adalah kota M a d i n a h , ada j u g a y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti rezeki, atau atau nama harum, kemenangan,

dan lain-lain. M a k n a - m a k n a yang disebut itu pun dapat

digabung. Kenyataan sejarah m e m b u k t i k a n b a h w a tidak lama setelah Nabi

588

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k III A y a t 4 1 - 4 1

saw. dan sahabat-sahabat beliau berhijrah ke M a d i n a h , tercipta di sana suatu masyarakat Islami y a n g a m a n sejahtera d a n dapat meraih kemenangan menghadapi lawan-lawan mereka. Dengan berhijrah ke M a d i n a h , lahir masyarakat M a d a n i dan peradaban baru yang mengubah wajah kemanusiaan. T a n p a k e h a d i r a n N a b i M u h a m m a d saw. d a n h i j r a h itu, t i d a k d a p a i d i b a y a n g k a n b a g a i m a n a k e l a n j u t a n m a s y a r a k a t m a n u s i a d a n wajah kemanusiaan. Banyak ulama memahami kata mereka pada firman-Nya: (dyJju law kdnuya'lamun/jika mereka mengetahui

\ JJITJJ

tertuju kepada k a u m musyrikin.

Ada kemungkinan lain, yaitu kata mereka y a n g dimaksud adalah orang-orang y a n g berhijrah itu. M e r e k a merasakan kesedihan ketika meninggalkan kota t u m p a h darah serta harta benda d a n t e m a n - t e m a n mereka. Ini adalah manusiawi. Nabi M u h a m m a d saw., sebelum berhijrah meninggalkan Mekkah berucap kepada kota M e k a h , t u m p a h darah beliau: "Demi Allah, engkau adalah tempat yang paling kucintai. Seandainya pendudukmu tidak

mengusirku, aku tidak akan m e n i n g g a l k a n m u . " Perasaan sahabat-sahaba: beliau tentu melebihi perasaan Nabi saw. itu. Nah, Allah menghibur mereka dengan m e n y a t a k a n bahwa seandainya mereka mengetahui d a m p a k positif y a n g akan mereka peroleh di dunia dan akhirat akibat hijrah mereka, niscaya mereka akan merasakan ketenangan dan kesedihan itu berubah k e g e m b i r a a n . Kata ( mengetahui sepintas
OJ^JJW )

menjadi

ya'lamun/mengetahui

di sini b u k a n berarti

atau percaya

tetapi p e n g e t a h u a n y a n g terperinci

m e n y a n g k u t masa depan mereka. Para u l a m a memeroleh kesan dari penggunaan b e n t u k kata kerja masa l a m p a u p a d a k a t a ( 'jjw= ) shabaril/mereka telah bersabar sebaga:

mengisyaratkan bahwa kesabaran mereka telah hampir selesai karena faktorfaktor y a n g m e n g u n d a n g kesabaran itu sebentar lagi akan sirna. Ini karena Allah swt. telah mengizinkan mereka berhijrah dan di sana mereka akan terhindar dari penganiayaan. Ini berbeda dengan kata ( j ^ 4=J ) yatawakkalw:

y a n g m e n g g u n a k a n bentuk kata kerja masa kini dan akan datang karena ia mengisyaratkan bahwa penyerahan diri mereka kepada Allah berlanjut terusmenerus, baik dalam keadaan senang m a u p u n susah.

K e l o m p o k IH A y a t 4 3

S u r a h a n - N a h l [16]

589

AYAT 4 3

"Dan Kami Kami

tidak

mengutus kepada

sebelum mereka; "

kamu, kecuali maka bertanyalah

orang-orang kepada ahl

lelaki

yang

beri wahyu

adz-Dzikr

jika kamu tidak mengetahui,

Ayat-ayat yang lalu menguraikan keburukan ucapan dan perbuatan k a u m musyrikin serta pengingkaran mereka terhadap keesaan Allah swt., keniscayaan hari K e m u d i a n , dan kerasulan N a b i M u h a m m a d saw. D e m i k i a n juga penolakan mereka terhadap apa y a n g diturunkan Allah swt. Itu semua telah dibantah. Kini, ayat ini dan ayat-ayat berikut kembali menguraikan kesesatan pandangan mereka m e n y a n g k u t kerasulan Nabi M u h a m m a d saw. Dalam penolakan itu mereka selalu berkata bahwa manusia tidak wajar menjadi utusan Allah atau paling tidak dia harus disertai oleh malaikat. Nah, ayat ini menegaskan bahwa: Dan Kami tidak mengutus m a n u s i a kapan dan di mana pun, kecuali manusia pilihan bukan malaikat, yangKami sebelum kamu kepada u m a t lelaki, yakni jenis

orang-orang

beri wahyu kepada mereka antara

lain melalui malaikat Jibril; maka, wahai orang-orang yang ragu atau tidak t a h u , bertanyalah kepada ahl. adz-Dzikr, mengetahui. yakni orang-orang yang

berpengetahuan, jika kamu tidak

Thabathaba'i, walaupun sependapat dengan banyak ulama yang menilai ayat ini berbicara k e m b a l i t e n t a n g kerasulan y a n g d i t o l a k oleh k a u m musyrikin, u l a m a beraliran Syi ah itu tidak m e n g h u b u n g k a n n y a dengan penolakan k a u m m u s y r i k i n atas kehadiran manusia sebagai utusan Allah, tidak j u g a m e n g a i t k a n n y a dengan usul-usul mereka agar malaikat turun menyampaikan atau membantu para rasul dalam risalah mereka. Thabathaba i beralasan, antara lain b a h w a k e d u a hal di atas tidak disinggung sebelumnya dalam konteks ayat-ay^at ini. Ia m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat 35 yang merekam ucapan k a u m musyrikin: ( ^ sya'alldh md 'abadnd menyembah min dunihi sesuatu ^ &jJ J* U J - P U isUli_jS) law niscaya

min syai ini jika Allah menghendaki, apa pun selain

kami tidak

Dia. Ucapan mereka ini,

m e n u r u t n y a , bertujuan m e m b u k t i k a n kemustahilan adanya utusan Allah,

590

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k III A y a t 4 3

bukan bertujuan menetapkan kemustahilan m a n u s i a menjadi utusan-Nya. Atas dasar icu, Thabathaba'i berpendapat bahwa ayat ini menginformasikan bahwa d a k w a h k e a g a m a a n dan risalah k e n a b i a n a d a l a h d a k w a h y a n g disampaikan oleh manusia biasa yang mendapat wahyu dan bertugas mengajak manusia menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Tidak seorang rasul pun, tidak juga satu kitab suci y a n g menyatakan bahwa risalah keagamaan berarti t a m p a k n y a kekuasaan Allah y a n g gaib lagi m u t l a k atas segala sesuatu, atau lahirnva kehendak Allah y a n g m u t l a k y a n g memporakporandakan y a n g berlaku atau m e m b a t a l k a n s u n n a t u l l a h / h u k u m - h u k u m sistem

alam y a n g

ditetapkan-Nya. T i d a k pernah ada pernyataan semacam itu sehingga kalian, wahai k a u m musyrikin, tidak wajar berkata: Jika Allah menghendaki, kami tidak menyembah sesuatu apa pun selain niscaya

Dia. Ayat i n i — l a n j u r n y a —

hampir serupa dengan f i r m a n - N y a d i tempat lain :

"Dan Kami Kami beri

tidak mengutus wahyu kepada

sebelum mereka; jika kamu yang

kamu, maka tidak

kecuali bertanyalah mengetahui,

orang-orang kepada

lelaki orang

yang yang Kami pula

mempunyai jadikan mereka

pengetahuan

dan tidaklah dan tidak

mereka jasad-jasad itu orang-orang yang

tidak

memakan

makanan

kekal'(QS.

al-Anbiya' [ 2 1 ] : 7 - 8 ) .

Para ulama menjadikan kata ( Jbr^ ) rijdl pada ayat ini sebagai alasan u n t u k menyatakan bahwa semua manusia y a n g diangkat Allah sebagai rasul adalah pria, dan tidak satu pun yang wanita! M e m a n g , dari segi bahasa, kata rijalyang, merupakan bentuk jamak dari kata ( J * - j ) rajulsering kali dipahami

d a l a m arti lelaki. N a m u n d e m i k i a n , terdapat ayat-ayat a h Q u r ' a n y a n g mengesankan bahwa kata tersebut tidak selalu dalam arti jenis kelamin lelaki. Ia d i g u n a k a n juga u n t u k menunjuk manusia yang memiliki keistimewaan atau ketokohan atau ciri tertentu yang m e m b e d a k a n mereka dari y a n g lain. Bacalah misalnya firman-Nva:

K e l o m p o k III A y a t 4 3

S u r a h a n - N a h l [16]

591

'"Dan bahwasanya perlindungan menambah

ada beberapa beberapa

orang

laki-laki di antara di antara jin,

manusia maka

meminta jin-jin itu

kepada bagi mereka

laki-laki

dosa dan kesalahan"

( Q S . al-Jinn [ 7 2 ] : 6 ) . A t a u

firman-Nya d a l a m Q S . al-A'raf [ 7 ] : 4 8 yang berbicara tentang lelaki y a n g berada di abA'raf. Tentu saja y a n g d i m a k s u d di sini bukan h a n y a laki-laki, tetapi juga perempuan. Kata ( J j s i ) ahladz-Dzikr pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama

dalam arti para pemuka agama Yahudi dan Nasrani. M e r e k a adalah orangorang y a n g dapat memberi informasi tentang kemanusiaan para rasul y a n g diutus Allah. M e r e k a wajar ditanyai karena mereka tidak dapat d i t u d u h berpihak pada informasi a l - Q u r ' a n sebab mereka j u g a termasuk yang tidak memercayainya. Kendati demikian, persoalan kemanusiaan para rasul, mereka akui. Ada juga yang memahami istilah ini dalam arti sejarah wan, baik muslim ataupun non-muslim. Kata ( O ' ) inljika pada ayar di atas, yang biasanya digunakan menyangkut sesuatu yang tidak pasti atau diragukan, mengisyaratkan bahwa persoalan y a n g dipaparkan oleh Nabi saw. d a n a l - Q u r ' a n sudah demikian jelas sehingga diragukan adanya ketidaktahuan dan, dengan demikian, penolakan yang d i l a k u k a n k a u m m u s y r i k i n itu bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari sikap keras kepala. W a l a u p u n penggalan ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa vang ditanya tertentu pula, karena redaksinya yang bersifat u m u m , ia dapat d i p a h a m i pula sebagai perintah bertanya apa saja y a n g tidak diketahui atau diragukan kebenarannya kepada siapa pun y a n g tahu dan tidak tertuduh objektivitasnya. Di sisi lain, perintah untuk bertanya kepada ahl al-Kitdb—yang ayat ini mereka digelari ahl adz-Dzikr—menyangkut dalam

apa yang tidak diketahui,

selama mereka dinilai berpengetahuan dan objektif, m e n u n j u k k a n betapa Islam sangat terbuka dalam perolehan pengetahuan. M e m a n g , seperti sabda Nabi saw.: " H i k m a h adalah sesuatu y a n g d i d a m b a k a n seorang m u k m i n , di m a n a pun dia m e n e m u k a n n y a , dia y a n g lebih wajar m e n g a m b i l n y a . " D e m i k i a n juga dengan ungkapan y a n g populer dinilai sebagai sabda Nabi saw. w a l a u p u n bukan, yaitu: "Tuntutlah i l m u walaupun di negeri C i n a . " Itu

592

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k lii A y a t 4±

semua merupakan landasan untuk menyatakan bahwa ilmu dalam pandangan Islam bersifat u n i v e r s a l , t e r b u k a , serta m a n u s i a w i d a l a m arti harus dimanfaatkan oleh dan u n t u k kemaslahatan seluruh manusia. Ayat di atas mengubah redaksinya dari persona ketiga menjadi persona k e d u a y a n g ditujukan langsung kepada mitra bicara, dalam hal ini adalah Nabi M u h a m m a d saw. Agaknya, hal ini mengisyaratkan penghormatan

kepada beliau dan bahwa beliau termasuk d a l a m kelompok para rasul yang diutus Allah, bahkan k e d u d u k a n beliau tidak k u r a n g — j i k a enggan berkata lebih tinggi dari m e r e k a — s e b a g a i m a n a dikesankan oleh ayat berikut.

AYAT 4 4

"Keterangan-keterangan Dzikr, agar engkau kepada mereka

dan zubur. menerangkan mereka

Dan Kami manusia

turunkan apa yang

kepadamu telah

adz-

kepada

diturunkan

dan supaya

berpikir. "

Para rasul y a n g Kami utus sebelummu itu semua m e m b a w a keterangan,

keterangan-

y a k n i mukjizat-mukjizat nyata y a n g m e m b u k t i k a n kebenaran

mereka sebagai rasul, dan sebagian m e m b a w a pula zubur, y a k n i kitab-kitab y a n g m e n g a n d u n g ketetapan-ketetapan h u k u m dan nasihat-nasihat yang seharusnya menyentuh hati, dan Kami turunkan al-Qur'an, agar engkau diturunkan kepada menerangkan kepadamu adz-Dzikr, apa yang yakni telah

kepada seluruh manusia

mereka,

y a k n i al-Qur'an itu, m u d a h - m u d a h a n mereka

dengan

penjelasanmu mereka mengetahui dan sadar dan supaya berpikir

senantiasa

lalu menarik pelajaran u n t u k kemaslahatan h i d u p d u n i a w i dan

uhkrawi mereka. Kata ( ) az-zubur adalah j a m a k dari kata ( j j») ) zubur, yakni tulisan.

Yang d i m a k s u d di sini adalah kitab-kitab y a n g ditulis, seperti Taurat, Injil. Zabur, dan Shuhuf Ibrahim as. Para ulama berpendapat bahwa zubur adalah kitab-kitab singkat yang tidak m e n g a n d u n g syariat, tetapi sekadar nasihatnasihat.

K e l o m p o k III A y a t 4 4

S u r a h a n - N a h l [16]

593

Salah satu nama al-Qur'an adalah ( ^ J S \ ) adz-Dzikr ysiig dari segi bahasa adalah antonim kata lupa. Al-Qur'an dinamai demikian karena ayat-avatnya berfungsi mengingatkan manusia apa yang dia berpotensi melupakannya dari kewajiban, t u n t u n a n dan peringatan y a n g seharusnya dia selalu ingat, laksanakan, dan indahkan. Di sisi lain, tuntunan dan petunjuk-petunjuknya harus pula selalu diingat dan d i c a m k a n . Penyebutan anugerah Allah kepada Nabi M u h a m m a d saw. secara khusus dan bahwa yang d i a n u g e r a h k a n - N v a itu adalah adz-Dzikr mengesankan

perbedaan k e d u d u k a n beliau dengan para nabi dan para rasul sebelumnya. D a l a m konteks ini, Nabi M u h a m m a d saw. bersabda: "Tidak seorang nabi pun kecuali telah d i a n u g e r a h i A l l a h apa ( b u k t i - b u k t i i n d r i a w i ) y a n g menjadikan manusia percaya padanya. Dan sesungguhnya aku dianugerahi w a h y u (al-Qur'an yang bersifat immaterial dan kekal sepanjang masa), m a k a aku mengharap menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari Kemudian" (HR. B u k h a r i ) . Pengulangan kata turun dua kali, yakni ( ^JLJi biji?) anzalnd turunkan diturunkan kepadamu kepada dan ( p^-Jj J j j 1«) md nuzzila mereka ilailnmlapa ilaikalKami yang telah yang

m e n g i s y a r a t k a n perbedaan penurunan

d i m a k s u d . Yang p e r t a m a a d a l a h p e n u r u n a n a l - Q u r ' a n k e p a d a N a b i M u h a m m a d saw. yang bersifat langsung dari Allah swt. dan dengan redaksi pililian-Nya sendiri, sedang yang kedua adalah yang ditujukan kepada manusia seluruhnya. Ini adalah penjelasan-penjelasan Nabi M u h a m m a d saw. tentang a l - Q u r ' a n . Penjelasan y a n g d i m a k s u d adalah berdasar w e w e n a n g y a n g diberikan Allah kepada Nabi M u h a m m a d saw., dan wahyu atau ilham-Nya yang beliau sampaikan dengan bahasa dan redaksi beliau. Thabathaba i menegaskan bahwa diturunkannya al-Qur'an kepada umat manusia dan turunnya kepada Nabi M u h a m m a d saw. adalah sama, dalam arti d i t u r u n k a n n y a kepada m a n u s i a dan t u r u n n y a kepada Nabi saw. adalah agar mereka s e m u a — N a b i dan seluruh m a n u s i a — m e n g a m b i l dan

menerapkannya. Ayat ini menurutnya bermaksud menegaskan bahwa tujuan turunnya a l - Q u r ' a n adalah u n t u k semua manusia dan k e a d a a n m u , wahai N a b i M u h a m m a d serta seluruh m a n u s i a , d a l a m hal ini sama. K a m i mengarahkan pembicaraan k e p a d a m u dan m e n u r u n k a n w a h y u ini bukan

594

5 u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k il! A y a t 4 4

untuk memberikan kepadamu kuasa mutlak yang gaib atau kehendak Ilahiah yang menjadikanmu m a m p u melakukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi w a h y u itu Kami t u r u n k a n k e p a d a m u u n t u k dua hal. Pertama, untuk

menjelaskan apa yang d i t u r u n k a n secara bertahap kepada m a n u s i a karena ma'rifah Ildhiyah tidak dapat diperoleh m a n u s i a tanpa perantara karena itu

diutus seorang dari mereka (manusia) untuk menjelaskan dan mengajar. Kedua, adalah harapan kiranya mereka berpikir m e n y a n g k u t d i r i m u —

w a h a i Nabi a g u n g — a g a r m e r e k a m e n g e t a h u i b a h w a apa y a n g e n g k a u sampaikan itu adalah kebenaran y a n g bersumber dari Allah swt. Keadaan dan situasi yang menyelubungi dirimu, peristiwa-peristiwa yang menimpamu sepanjang hidup, seperti keyatiman, k e t i d a k m a m p u a n belajar dan menulis, ketiadaan pendidik yang baik, kemiskinan, keterbelengguan dalam lingkungan orang-orang bodoh y a n g tidak disentuh oleh keistimewaan peradaban, dan lain-lain, semua itu merupakan faktor-faktor yang menghalangimu mengecup setetes kesempurnaan. Tetapi, Allah menurunkan kepadamu adz-Dzikr'y'ang

menantang siapa pun yang ragu, dari jenis manusia dan jin, dan yang mengatasi kitab suci y a n g lain serta menjadi penjelas bagi segala sesuatu serta petunjuk, rahmat, bukti, serta cahaya benderang. Demikian lebih kurang Thabathaba'i. Pendapat u l a m a beraliran Syi'ah itu y a n g m e n j a d i k a n objek kata yalafakkarun adalah pribadi Nabi M u h a m m a d saw., berbeda dengan pendapat yakni berpikir

b a n y a k ulama yang menjadikan objeknya adalah adz-Dzikr,

tentang al-Qur'an. M e n j a d i k a n objeknya seperti i t u — t u l i s T h a b a t h a b a ' i — menjadikannya mengandung makna yang sama dengan kandungan penggalan s e b e l u m n y a . Pendapat T h a b a t h a b a ' i ini sejalan d e n g a n p e n d a p a t asyS y a ' r a w i — u l a m a M e s i r dan al-Azhar kontemporer i t u — y a n g menegaskan bahwa objek berpikir yang dimaksud adalah keadaan Nabi M u h a m m a d saw. sebelum diutus oleh Allah y a n g ketika itu beliau tidak dikenal sebagai sastrawan, penyair, atau penulis. Ayat di atas m e n g g u n a k a n d u a patron y a n g berbeda m e n y a n g k u t turunnya al-Qur'an. "berhadap Nabi saw. digunakan kata ( LJJJI ) anzalndyzng

m e n u r u t beberapa ulama m e n g a n d u n g m a k n a turun sekaligus, sedang kata turun yang digunakan untuk manusia adalah ( J J j ) nuzzila yang mengandung makna turun berangsur-angsur. Hal ini agaknya untuk mengisyaratkan bahwa

K e l o m p o k III A y a t 4 4

S u r a h a n - N a h l [16]

595

m a n u s i a secara u m u m mempelajari dan melaksanakan tuntunan al-Qur'an secara bertahap sedikit demi sedikit dan dari saat ke saat. Adapun Nabi M u h a m m a d saw., kata diturunkan yang d i m a k s u d di sini bukan melihat

pada turunnya ayat-ayat k u sedikit demi sedikit, tetapi melihat kepada pribadi Nabi saw. y a n g menghafal dan m e m a h a m i n y a secara langsung karena diajar langsung oleh Allah swt. melalui malaikat Jibril as. (baca Q S . a l - Q i y a m a h 6) dan juga melaksanakannya secara langsung begitu ayat turtin, berbeda dengan manusia y a n g lain. Ayat ini menugaskan Nabi saw. untuk menjelaskan al-Qur'an. atati penjelasan Bayan

Nabi M u h a m m a d saw. itu bermacam-macam dan bertingkat-

tingkat. M e m a n g , as-Sunnah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al-Qur'an dan fungsi sehubungan dengan pembinaan h u k u m syara'. Ada dua fungsi penjelasan Nabi M u h a m m a d saw. dalam kaitannya dengan al-Qui'an, yaitu Bayan Ta'kiddan Bayitn Tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau

menggarisbawahi kembali apa y a n g terdapat dalam al-Qur'an, sedang y a n g kedua memperjelas, memerinci, bahkan membatasi pengertian lahir dari ayatavac al-Qur'an. Para ulama mendefinisikan fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur'an sebagai Bayan MurddAllah (Penjelasan tentang maksud Allah) sehingga apakah ia

merupakan penjelasan penguat atau pemerinci, pembatas dan balikan maupun tambahan, kesemuanya bersumber dari Allah swt. Ketika Rasul saw. melarang seorang suami m e m a d u istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak sang istri y a n g pada lahirnya berbeda dengan bunyi Q S . an-Nisa [41: 24, pada

hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan dari apa yang dimaksud Allah swt. dalam firman tersebut. Persoalan ini dibahas secara panjang lebar dalam disiplin i l m u Ushul

Fiqh. Rujuklah ke sana bila ingin mendalaminya. N a m u n , y a n g pasti adalah Rasul saw. mendapat wewenang dari Allah untuk menjelaskan maksud firmanN y a . S e b a g i a n dari f i r m a n - f i r m a n itu t i d a k j e l a s m a k s u d atau cara

pelaksanaannya dan ketika itu penjelasan Rasul saw. sangat dibutuhkan, dan karena itu pula as-Sunnah mutlak diperlukan u n t u k melaksanakan tuntunan ai-Qur'an.

596

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IH A y a t 4 5 - 4 7

AYAT 4 5 - 4 7

"Maka apakah orang-orang dari ditenggelamkannya kepada mereka mengelak sungguh, mereka dalam

yang

membuat

makar yang jahat mereka,

itu merasa atau datang

aman azab

bumi oleh Allah bersama yang tidak mereka maka

dari tempat perjalanan

sadari,

atau Allah mereka tidak

mengazab dapat Maka,

mereka,

sekali-kali dengan

atau Allah

mengazab

mereka

berangsur-angsur. Penyayang. "

Tuhan kamu Maha

Pengasih

lagi Maha

Al-Qur'an dan penjelasan Nabi M u h a m m a d saw. y a n g beraneka ragam itu tidak dihiraukan oleh k a u m m u s y r i k i n . S u n g g u h satu hal y a n g sangat mengherankan. A p a gerangan y a n g menjadikan mereka bersikap demikian? Allah M a h a M e n g e t a h u i . N a m u n demikian, dengan gaya bertanya, mereka diperingatkan bahwa maka apakah jahat orang-orang yang membuat makar yang

itu, yakni y a n g tidak percaya kepada Nabi M u h a m m a d saw. dan al-

Qur'an, bodoh dan tidak tahu sehingga merasa aman dari j a t u h n y a bencana y a n g setimpal dengan kedurhakaan mereka, y a i t u ditenggelamkannya oleh Allah bersama bumi

mereka sehingga mereka tertimbun hidup-hidup di perut datang

b u m i lalu mati sebagaimana y a n g pernah dialami oleh Qarun, atau azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka

sadari antara lain ketika

mereka bersenang-senang dan berpesta pora di tempat-tempat k e d i a m a n mereka, atau Allah mengazab mereka dalam perjalanan mereka ketika keluar

kota m e n i n g g a l k a n tempat tinggal mereka; jika itu terjadi, maka ketika itu sekali-kali mereka tidak dapat mengelak. Atau bisa j u g a bukan dengan cara mengazab

itu siksa-Nya Dia jatuhkan, tetapi dengan cara lain, y a i t u Allah mereka dengan berangsur-angsur sampai binasa. Maka,

Allah tidak segera

menjatuhkan ancaman-ancaman-Nya ini untuk memberi mereka kesempatan sadar dan bertaubat karena sungguh Penyayang. Kata ( I j j S ^ a ) makaru y a n g berasal dari k a t a ( ) makara
24

Tuhan kamu Maha

Pengasih

lagi

Maha

telah

dijelaskan antara lain pada ayat 2 6 surah ini. Rujuklah ke sana!

2-1

Lihat kembali halaman 565.

K e l o m p o k III A y a t 4 5 - 4 7

S u r a h a n - N a h l [16]

597

Kata ( p^lis membalik. taqallub

) taqallubihim

terambil dari kata ( YJJJ ) qalabaya.ng

berarti

Dari sini, hati dinamai qalbu karena ia sering berbolak-balik. Kata mengandung makna berbolak-balik dan mondar-mandir melakukan

aneka kegiatan h i d u p , seperti berdagang, berpiknik, m e l a k u k a n aneka percakapan, dan senda gurau yang mengalihkan pikiran mereka dari datangnya siksa sehingga mereka tidak d i d a d a k dengan kedatangannya. Kata itu j u g a mengesankan adanya semacam kemampuan karena yang tidak m a m p u akan terpaku di suatu tempat. Dalam konteks ini, Allah mengingatkan Rasul saw. dan k a u m muslimin:

oA* J j ^ 4 ^

S?? g*

^

1

4 U^-J» cjj*\

4 * ^

^

"Janganlah bergerak tempat

sekali-kali di negeri-negeri.

engkau

teperdaya

oleh kebebasan kesenangan

orang-orang

kafir kemudian

Itu hanyalah ialah Jahanam;

sementara, itu adalah

tinggal

mereka

dan Jahanam

ayunan

yang

seburuk-buruknya"(QS. Kata (

Ah 'Imran [ 3 ] : 1 9 6 - 1 9 7 ) . terambil dari kata ( j y - ) khauf yang biasa dalam

) takhawwuf

diterjemahkan takut. keadaan

Kata yang digunakan ayat ini dapat berarti

takut, yakni Allah menyiksa mereka dalam keadaan mereka diliputi

oleh rasa takut sebelum turunnya siksa itu. Seseorang y a n g mengetahui akan disiksa, dia akan diliputi oleh kecemasan y a n g meresahkan dan menyiksanya sebelum jatuhnya siksa. Ketika itu, dia boleh jadi segera mengharap jatuhnya siksa agar persoalan segera selesai. Penundaan jatuhnya siksa y a n g diketahui akan datang adalah siksaan tersendiri. A d a juga ulama y a n g m e m a h a m i kata ( ) takhawwuf d-iizm arti

keadaan berkekurangan dan penyiksaan sedikit demi sedikit. M i s a l n y a , pertama dengan kemarau panjang, disusul dengan masa paceklik, w-abah penyakit, bencana alam, lalu sakit, disusul dengan hilangnya rasa a m a n . Demikian silih berganti, terus-menerus, dan sedikit demi sedikit, tapi tanpa henti, hingga akhirnya yang bersangkutan binasa. Kata ini termasuk salah satu kata yang didiskusikan m a k n a n y a oleh Sayyidina ' U m a r ra. Beliau puas dengan jawaban y a n g disampaikan oleh seorang tokoh dari kabilah Hudzail

598

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k III A y a t 4 8

y a n g merujuk kepada syair y a n g m e n g g u n a k a n kata takbawwufdalam kedua ini. Rujuklah ke ayat 7 sutah ini u n t u k m e m a h a m i m a k n a sifat Rahim y a n g disandang oleh Allah swt. ^

arti

Rduf'dan

AYAT 4 8

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan Allah yang keadaan bayangan-bayangannya sujud kepada Allah, sedang

segala sesuatu yang telah

diciptakan dalam

berbolak-balik mereka

ke kanan dan ke kiri diri?"

berendah

Setelah mengancam, kini Allah swt. membuktikan kekuasaan-Nya. Ayat ini m e n g e c a m mereka d a l a m bentuk pertanyaan. S e a k a n - a k a n ayat ini menyatakan apakah mereka tidak memerhatikan keadaan sekeliling mereka? Apakah mereka tidak menyadari kelemahan mereka di hadapan Allah? Dan apakah mereka buta sehingga tidak memerhatikan yang telah diciptakan Allah, dengan mata kepala dan baik benda mati m a u p u n ke kanan dan ke kiri semua

hati segala

sesuatu

hidup, yang bayangan-bayangannya dalam keadaan sujud kepada

berbolak-balik

Allah, y a k n i m e m a t u h i h u k u m - h u k u m alam mereka

yang diciptakan-Nya dan y a n g berlaku atas masing-masing, sedang berendah

diri m e n e r i m a ketetapan Allah itu tanpa sedikit keberatan pun.

Apakah mereka buta sehingga tidak memerhatikan hal-hal tersebut? Kata ( j^*S\) al-yamin/kanan d a n ( J J u i J i ) asy-syamd 'il/kiri yang

dimaksud ayat ini adalah arahnya.

N a m u n , itu bukan berarti bahwa bayangan

h a n y a mengarah ke kiri dan ke kanan karena bayangan bisa juga berada di hadapan atau belakang seseorang. Penyebutan kanan dan kiri sekadar sebagai contoh bagi pergerakan bayangan. Ini serupa dengan ungkapan " T i m u r dan Barat" dengan maksud seluruh penjuru, tanpa menyebut arah-arah yang lain. Ayat di atas m e n g g u n a k a n bentuk tunggal u n t u k kata (<js ) kanan, tetapi bentuk j a m a k u n t u k kata kiri, yakni ( J i k ^ ) syamd'il yaminl yang

2

'' Rujuk halaman 536.

K e l o m p o k III A y a t 4 9 - 5 0

S u r a h a n - N a h l [16]

599

tunggalnya adalah ( J u f ) syimal.

1

Ini agaknya sekadar u n t u k m e m p e r m u d a h

p e n g u c a p a n karena y a n g d i m a k s u d oleh k e d u a kata k u adalah j a m a k . Demikian pendapat beberapa ulama. Asy-SyaTawi berpendapat lain. M e n u r u t n y a , awal penggalan ayat ini yang menyatakan apakah mereka memerhatikan segala sesuatu tidak

menunjukkan bahwa tidak satu pun y a n g luput.

J i k a d e m i k i a n , ia m e n g g a m b a r k a n sesuatu y a n g paling sedikit y a n g dapat terlintas dalam benak, yaitu bilangan "satu" karena kalimat ayat ini menyatakan tidak satu pun, w a l a u p u n dalam saat y a n g sama ia menginformasikan hal yang u m u m mencakup semua hal karena dinyatakannya tidak satu pun, yakni semuanya. Setelah itu, datang kata bayangan-bayangan y angbcrbtntuk jamak

dan menunjuk kepada segala sesuatu ku. Dari sini dipahami bahwa penggalan ayat ini berbicara tentang satu (tunggal) dan banyak (jamak), dan karena itu, ketika berbicara tentang arahnya, ayat ini p u n m e n g g u n a k a n dua bentuk. Sekali tunggal yaitu kanan yang d i m a k s u d k a n agar bersanding dengan y a n g t u n g g a l i t u , d a n s e k a l i j a m a k , v a k n i kiri y a n g d i m a k s u d k a n u n t u k m e n u n j u k k a n b a n y a k n y a bayangan-bayangan sebagaimana ditegaskan oleh D e m i k i a n asy-Sya'rawi.

ayat ini dan diisyaratkan oleh kalimat segala sesuatu.

AYAT 4 9 - 5 0

"Dan kepada Allah sajalah yang sedang yang berada di bumi,

bersujud

segala apa yang makhluk yang

berada

di langit dan apa malaikat, mereka

yakni semua

melata

dan para

mereka tidak menyombongkan di atas mereka dan melaksanakan

diri. Mereka takut kepada Tuhan apa yang diperintahkan. "

Dan bukan hanya benda-benda yang berpotensi memiliki bayangan yang t u n d u k patuh kepada Allah, tetapi juga kepada Allah sajalah bersujud
T

terus-menerus

dan patuh kepada ketetapan dan takdir-Ny a, tanpa sekali atau sesaat apa yang berada di langit dan di bumi, yakni

pun m e m b a n g k a n g , segala semua makhluk yang melata

y a n g berada di b u m i atau y a n g berada di m a n a hamba-hamba Allah yang dekat sesaat pun

pun dan demikian juga halnya para malaikat k e p a d a - N y a , sedang mereka,

y a k n i para m a l a i k a t itu, tidak

600

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k III A y a t 4 9 - 5 0

menyombongkan

diri kendati mereka terus-menerus patuh dan tidak pernah tetap dan teius-menerus takut kepada

sesaat pun m e m b a n g k a n g , mereka Tuhan mereka yang

kekuasaan-Nya di atas mereka apa yang diperintahkan

dan para m a l a i k a t itu, oleh Allah kepada

terus-menerus melaksanakan mereka.

Asy-Sya'rawi menyatakan tentang ayat ini bahwa jenis benda yang dikenal oleh m a n u s i a b e r m a c a m - m a c a m ; benda mati dan benda y a n g berpotensi t u m b u h , yakni tumbuh-tumbuhan. Selanjutnya, bila yang t u m b u h itu dapat bergerak dan merasa, ia binatang, dan jika y a n g ini dapat berpikir m a k a ia adalah manusia. Selanjutnya, jika sesuatu dapat m e m i l i k i ciri pengetahuan dari dirinya sendiri yang bersifat nurani, ia adalah malaikat. Allah swt. melalui ayat ini membawa kita dari bayangan-bayangan yang sujud kendati bendanya sendiri tidak bergerak, menuju ke benda-benda yang bergerak dan bayanganb a y a n g a n n y a pun, y a k n i dengan menyatakan: kepada Allah sajalah segala apa yang berada di langit dan apa yang berada dengan menyatakan, merangkak, dan para yakni semua malaikat. makhluk yang bersujud

di bumi lalu diperincinya yakni bergerak atau

melata,

D e m i k i a n ayat i n i — t u l i s a s y - S y a ' r a w i —

m e n y e b u t y a n g paling rendah tingkatnya dari benda-benda y a n g bergerak, yaitu ddbbah, sampai ke paling tinggi, yakni malaikat.

Allah swt. melalui ayat ini menjelaskan bahwa seluruh w u j u d t u n d u k kepada-Nya. M e m a n g , bagi manusia, Allah swt. telah memberinya kebebasan untuk percaya atau tidak percaya, taat atau durhaka. Seandainya Allah tidak menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih, tidak secara mutlak dia sujud dan patuh. Kendati d e m i k i a n , masih sangat b a n y a k kegiatan tubuhnya yang bergerak di luar kontrol, keinginan, dan k e m a m p u a n n y a . Di sisi lain, alangkah b a n y a k n y a pula y a n g dia inginkan tidak terpenuhi dan y a n g tidak dia inginkan terpaksa diterimanya, j i k a demikian, semua t u n d u k kepada-Nya, suka atau tak suka. Para ulama ada y a n g menjadikan ayat ini sebagai isyarat tentang adanya m a k h l u k - m a k h l u k hidup di angkasa. D a l a m tafsir ahMuntakhab yang

disusun oleh sejumlah pakar Mesir d i n y a t a k a n bahwa: "Ayat ini telah m e n d a h u l u i p e n e m u a n i l m u pengetahuan m o d e r n tentang keberadaan m a k h l u k hidup di beberapa planet yang berada di d a l a m dan di luar tata

K e l o m p o k III A y a t 4 9 - 5 0

S u r a h a n - N a h l [16]

601

surya kita ini. Dan inilah y a n g sedang dan akan terus diupayakan u n t u k diketahui oleh i l m u pengetahuan modern." Penulis e n g g a n berspekulasi atau tetlalu j a u h m e m a h a m i ayat i n i . Memang, jika kita m e m b u k a ayat-ayat al-Qur'an yang berbicara tentang "apa yang ada di langit dan bumi", ditemukan bahwa al-Qur'an m e n g g u n a k a n kata ( U ) md seperti ayat y a n g

dua kata yang menunjuk kepadanya. Pertama,

ditafsirkan ini y a n g oleh bahasa Arab d i g u n a k a n untuk b e n d a / m a k h l u k tak berakal. Kedua, adalah kata ( ^ ) rnan yang biasa digunakan untuk makhluk
^ J ^ J Oij^-Jl

berakal. Bacalah misalnyaQS. Ali 'Imran [31:83: ( J wa lahu aslama siapa yang manfi as-samdwdti langit

j

^ berserah diri.

wa ahardhlkepada-Nyalah

ada di semua

dan bumi.

Kata "siapa" di sini dan ayat-ayat

s e m a c a m n y a dijadikan dasar oleh beberapa ulama u n t u k m e n u n j u k adanya m a k h l u k " b e r a k a f di langit. Tetapi, di langit m a n a dan siapa yang dimaksud dengan y a n g berakal itu, ayat ini tidak menjelaskannya. Paling tidak kita dapat berkata bahwa y a n g dimaksud dengan m a k h l u k berakal itu adalah malaikat atau jin.
•«•«4

Ayat y a n g ditafsirkan di atas menggunakan kata (

dabbah.

bahkan

dalam Q S . asy-Syura [ 4 2 ] : 2 9 secara tegas dinyatakan bahwa:

"Di antara

tanda-tanda

keesaan/kekuasaan-Nya Dia sebarkan pada

adalahpenciptaan keduanya apabila (langit

langit

dan Dan

bumi dan ddbhahyang Dia Mahakuasa

dan bumi) "

mengumpulkan

semuanya

dikehendaki-Nya.

Anda lihat bahwa ayat ini menjelaskan bahwa pada keduanya, yakni langit dan b u m i , Allah m e n y e b a r k a n dabbah y a n g d i t e r j e m a h k a n oleh T i m melata. berjalan

Departemen A g a m a dengan makhluk-makhluk Dari segi bahasa, kata dabbah, dengan sangat halus.

terambil dari akar kata vang berarti

Beberapa u l a m a menegaskan b a h w a kata ini tidak karena gerak malaikat dengan sayap. Para tiga-tiga, dan empat-empat''(QS. Fathir

digunakan dalam arti malaikat malaikat "memiliki sayap dua-dua,

[ 3 5 ] : 1). M e n u r u t pakar bahasa a l - Q u r \ m , ar-Raghib al-Ashfahani, kata tersebut biasa digunakan untuk jalannya hewan, tetapi lebih banyak digunakan untuk serangga dan semacamnya vang tidak terjangkau geraknya oleh indra.

602

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k III A y a t 4 9 - 5 0

Selanjutnya ar-Raghib menulis bahwa: "Jika y a n g d i m a k s u d dengannya hewan, biasanya bahasa membatasi pengertiannya pada kuda." U l a m a lain menggarisbawahi bahwa kata (Sjto ) dabbah khusus menunjuk binatang yang sebagai semua

melata di bumi. A d a j u g a y a n g m e m a h a m i kata dabbah

m a k h l u k y a n g m e m i l i k i getak jasmaniah, baik di darat m a u p u n di udara, dari sini sekian banyak pakar tafsir memahami ayat ini sebagai mengisyaratkan adanya dabbah, y a k n i m a k h l u k y a n g hidup di langit. y a n g berarti

Ada j u g a u l a m a tafsir y a n g m e m a h a m i kata as-samdwat langit pada ayat di atas dengan awan dan dabbah

dalam atti burung. Tetapi,

hemat penulis, pendapat ini tidak d i d u k u n g oleh ayat-ayat al-Qur'an y a n g lain. Ayat ini menggunakan bentuk plural/jamak bagi langit, jadi bukan hanya langit yang kita lihat dengan pandangan mata. Di samping itu, Q S . al-An'am [ 6 ] : 38 m e m b e d a k a n antara dabbah dan burung. Di sana dinyatakan bahwa:

"Dan tiadalah kedua sayapnya

satu dabbah pun di bumi tidak pula burungyang melainkan umat-umat seperti kamu juga. "
7

terbang

dengan

J i k a d e m i k i a n , apa y a n g d i m a k s u d d e n g a n dabbah .

Amat sulit

m e n e n t u k a n n y a karena bahasa tidak secara tegas menetapkan arti tententu b a g i n y a . Di sisi l a i n , p e r l u d i t a m b a h k a n menggunakan bentuk mutsannd b a h w a b a h a s a A r a b biasa

(dual) tetapi y a n g dimaksudnya hanya salah

satunya. Boleh jadi ayat surah a s y - S y u r a y a n g d i s i n g g u n g di atas y a n g menyatakan dabbah keduanya (langit (makhluk-makhluk melata) yang Dia sebarkan satu yaitu pada di

dan bumi),

tetapi y a n g d i m a k s u d n y a hanya

bumi. Betapapun, y a n g pasti adalah kata dabbah

dapat mencakup manusia,

jin, dan binatang. Kita tidak dapat mengingkari bahwa jin dapat menembus angkasa luar dan di antara mereka ada y a n g taat dan ada pula y a n g durhaka (baca Q S . al-Jinn [72]: 8 - 1 1 ) . Kalaupun di angkasa luar tidak ada m a k h l u k yang bergerak selain jin, ayat ini sama sekali tidak meleset dalam informasinya. Kata ( Oj^iU—i ^ ) layastakbiriln/tidak menyombongkan diri dinilai oleh

Thabathaba'i sebagai argumentasi y a n g menunjukkan bahwa malaikat sama sekali tidak m e n y o m b o n g k a n diri d a l a m hal apa pun sehingga itu berarti bahwa mereka tidak lengah atau luput ingatan dari keagungan Ilahi dan

K e l o m p o k III A y a t 4 9 - 5 0

S u r a h a n - N a h l [16]

603

musyahadahlpandangan

hatikepada-Nya.

M e r e k a tidak enggan beribadah,

tidak juga melanggar satu pun perintah-Nya. Nah, u n t u k lebih menjelaskan makna itu, ayat tersebut dilanjutkan dengan pernyataan ayat 50 di atas: Mereka takut kepada diperintahkan. Orang boleh bertanya mengapa para malaikat takut kepada Allah padahal tidak ada sesuatu yang wajar ditakuti dari Allah oleh para malaikat. Bukankah mereka hanya dapat mengerjakan apa y a n g diperintahkan Allah? B u k a n k a h tidak ada sesuatu yang buruk dari Allah, bahkan semuanya baik? Kalaupun ada y a n g dinilai buruk, itu semata-mata adalah akibat perbuatan hambaTuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang

N y a sendiri. Nah, jika d e m i k i a n , sekali lagi, mengapa para malaikat takut? Asy-Sya'rawi, demikian juga Thabathaba'i, menjawab bahwa takutnya malaikat itu adalah takut yang lahir dari pengetahuan dan kesadaran mereka tentang kekuasaan-Nya yang demikian menonjol, bukan karena merasa ada sesuatu yang m e n g u n d a n g siksa-Nya kepada mereka. Itu a g a k n y a y a n g menjadi sebab sehingga ayat di atas menjadikan objek takut mereka adalah ( ) Rahhahum, y a k n i Tuhan mereka y a n g selalu berbuat baik dan Allah. terpengaruh dan hatinya akan

memelihara mereka bukan takut pada siksa M e m a n g , jiwa m a k h l u k yang dha'ifakan berdebar saat berhadapan

dengan Kekuatan y a n g dahsyat, walau y a n g

bersangkutan tidak melakukan pelanggaran dan walau Yang "ditakuti" itu tidak akan menjatuhkan sanksi. Dari sini pula sehingga ayat yang menjelaskan ketakutan para malaikat itu menyatakan lebih lanjut ( f ^ j i j * ) yakni yang di atas mereka minfawqihim

dalam arti bahwa kedudukan Allah y a n g di atas

mereka, yang menguasai mereka dan seluruh makhluk, atau dengan kata lain kesaksian mereka akan niaq<Hm Ilahi y a n g demikian tinggi itulah sebab ketakutan mereka.

KELOMPOK 4

AYAT

51-64

605

606

S u r a h a n - N a h l [16]

f""\

^

9

J -

*>

'"l *

*

^ > X" -V

>^^- »

C

09

v ^ ^ ^ S ^ ^ i ^ ^

K e l o m p o k IV A y a t 51

S u r a h a n - N a h l [16]

607

AYAT 51

Dia berfirman: adalah

"Janganlah

kamu mengambil

dua tuhan; kepada-Ku

sesungguhnya

Dia

Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah

saja kamu takut. "

Kekuasaan Allah y a n g diuraikan dalam ayat-ayat yang lalu, sujudnya seluruh m a k h l u k , t e r m a s u k para m a l a i k a t , h a n y a k e p a d a - N y a s e m a t a membuktikan bahwa Allah M a h a Esa. Karena itu, kesimpulan itu ditegaskan di sini b a h w a Dia Yang M a h a k u a s a itu berfirman: "Janganlah kamu

memaksakan diri menentang fitrah kesucian vang mengakui keesaan Allah dengan mengambil, y a k n i m e n y e m b a h , dua tuhan; satu Tuhan sesungguhnya Dia, y a k n i

Ketuhanan yang haq, adalah

Yang Maha

Esa Zat, sifat, dan

perbuatan-Nya. Dia itu adalah A k u y a n g menyatakan pernyataan ini dan m e n u r u n k a n kitab suci a l - Q u r a n maka hendaklah kepada-Ku saja kamu

takut, jangan takut kepada selain A k u , baik kepada m a k h l u k hidup apalagi kepada berhala-berhala atau benda-benda mati walau dikeramatkan. " Kata
(^J,\)

ildhain adalah bentuk yang menunjuk dua. Tunggalnya adalah ( X* fa) al-uluhah, dan ( 'LA fa ) ibadah! Ada

ilah. l a berasal dari kata ( l x T p ) al-ildhah, al-uluhiyah penyembahan

vang kesemuanya, m e n u r u t pata ulama, b e r m a k n a sehingga kata ilah secara harfiah berm-akmyang disembah.

juga y a n g berpendapat bahwa kata tersebut berakar dari kata ( $ ) alah a dalam arti mengherankan atau menakjubkan karena segala perbuatan/ciptaan-

N y a menakjubkan atau karena bila dibahas hakikat-Nya akan mengherankan akibat ketidaktahuan m a k h l u k tentang hakikat Zat Yang M a h a a g u n g Itu. Apa pun yang terlintas di dalam benak menyangkut hakikat Zat Aliah, Allah tidak demikian. A d a juga y a n g berpendapat bahwa ia terambil dari akar kata ( J L _ « J l ) aliha-ydlahu vang berarti tenang karena hati menjadi tenang

bersama-Nya, atau dalam arti menuju

dan bermohon

karena harapan seluruh

m a k h l u k tertuju kepada-Nya dan kepada-.Nya jua m a k h l u k bermohon. M e m a n g , setiap y a n g dipertuhan pasti disembah dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan lagi menakjubkan ciptaan-Nya.

608

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 51

Kembali kepada kata ilah y a n g beraneka ragam m a k n a n y a , seperti d i k e m u k a k a n di atas, dapat dipertanyakan apakah bahasa atau al-Qur'an m e n g g u n a k a n n y a u n t u k makna yang disembah}

Para ulama yang mengartikan ilah dengan "yang disembah" menegaskan bahwa ilah adalah segala sesuatu yang disembah, baik penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam, seperti matahari, bintang, bulan, manusia, atau berhala, m a u p u n yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni Zat yang wajib wnjud-Nya, yakni Allah swt. Karena itu. jika seorang m u s l i m mengucapkan "la ilaha illa Allah", dia telah menafikan segala tuhan, kecuali Tuhan yang nama-Nya "Allah". Alasan yang digunakan para ulama untuk memperkuat m a k n a ini adalah alasan kebahasaan y a n g d i k e m u k a k a n di atas, ditunjang pula dengan ayat dari satu cjird'ah (bacaan) syddziyang
^j*kj

tidak populer), yakni Q S . al-A'raf [7]:
1

127 y a n g d i b a c a : ( i b A j j yadzaraka wa ilahataka.

J ^ J ^ J ij-i—<U ) Hyufiidu

fi

al-ardhi

wa

Kata (iibM ) ilahataka ( dlaiT ) alihataka

dalam bacaan syddz ini adalah ganti dari kata dan y a n g merupakan bacaan vang

yang berarti sesembahan

sah dan populer. Kata ilahataka

di sini berarti "ibadah". Jika d e m i k i a n ,

m e n u r u t mereka, ilah berarti y a n g disembah atau vang kepadanya ibadah tertuju. J i k a d e m i k i a n , la ilaha kecuali illa Allah berarti tidak ada yang disembah

Allah. Penyataan ini tidak lurus, m e n u r u t beberapa ulama, karena

dalam kenyataan terlihat dan diketahui sekian banyak zat selain Allah y a n g disembah. Bukankah ada yang m e n y e m b a h matahari, bulan, bintang dan lain-lain? Keberatan mereka ini dijawab dengan m e n y a t a k a n bahwa pada kalimat syahadat itu terdapat sisipan antara kata ilaha dan illd y a n g harus tersirat ketika m e n g u c a p k a n n y a yaitu ( j £ ) bi haqq!yang m a k n a n y a : tidak ada tuhan yang hak dan berhak disembah haq sehingga kecuali Allah.

j i k a m a k n a ini diterima, ayat di atas bagaikan melarang menyembah kecuali Allah semata karena tidak ada y a n g wajar disembah kecuali Dia. Yang menolak m e m a h a m i kata ilah dalam arti yang disembah menilai

bahwa sisipan ini tidak wajar dan tidak perlu. M e m a n g , ada semacam kaidah y a n g dirumuskan pakar-pakar bahasa yang menyatakan bahwa: Penyisipan satu kata tidak dipetlukan apabila redaksi k a l i m a t n y a dapat dipahami secara

K e l o m p o k IV A y a t 51

S u r a h a n - N a h l [16]

609

lurus tanpa penyisipan itu. Ulama y a n g menolak memahami kata ildh dalam arti yang disembah berpendapat bahwa pada m u l a n y a kata tersebut diletakkan Pengatur, Penguasa alam raya, yang di dalam

oleh bahasa dalam arti Pencipta, genggaman-Nya segala sesuatu.

Sekian b a n y a k ayat al-Qur'an y a n g mereka

paparkan u n t u k m e n d u k u n g pandangan ini, misalnya,

"Seandainya keduanyaakan

di langit

dan di bumi

ada ildh-ildh

kecuali

Allah,

niscaya

binasa"(QS.

al-Anbiya' [ 2 1 ] : 2 2 ) .

Kata mereka, pembuktian kebenaran pernyataan ayat di atas baru dapat dipahami secara benar apabila kata ildh diartikan Pengatur alam raya, yang di dalam genggaman-Nya segala sesuatu. serta Penguasa

Kalau kita

mengartikan ildh dengan yang disembah, yang

w a l a u p u n dengan penyisipan kata

haq, p e m b u k t i a n kebenaran pernyataan itu menjadi terlalu panjang,

bahkan boleh jadi tidak sejalan sama sekali. D e m i k i a n j u g a dengan firman-Nya:

"Allah tidak mempunyai demikian

anak, dan tiada ilah bersama-Nya

karena

seandainya makhluk mengalahkan itu"(QS.

(yakni ada ilah bersama-Nya) dan sebagian

niscaya setiap ilah membawa itu) akan mereka sifatkan

yang diciptakannya sebagian (ilah) yang

dari mereka (ildh-ildh Allah dari yang

lain. Mahasuci

al-Mu'minun [23]: 9 1 ) . Cobalah p a h a m i kata ilah pada ayat di atas dengan "yang disembah",

niscaya uraian y a n g dikehendaki oleh ayat itu akan sangat berbelit-belit, berbeda jika Anda mengartikannya sebagai Penguasa dan Pengatur alam raya, dan yang di dalam genggaman-Nya segala kekuasaan. Perhatikan juga firmanN y a dalam Q S . al-Isra [ 1 7 ] : 4 3 dan lain-lain. Kata ilahain, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah bentuk dual yang

m e n u n j u k kepada dua sehingga sepintas kata ( J ^ J ) ) itsnain y a n g juga berarti dua dan y a n g datang sesudah kata ilahain tidak diperlukan lagi. Al-Biqa'i

610

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 51

m e m a h a m i kehadiran kata istanain/dua

itu u n t u k m e n a m p i k t i m b u l n y a

dugaan bahwa larangan ini berkaitan dengan larangan memperbanyak nama u n t u k - N y a . Di sisi lain, ayat ini h a n y a m e n y e b u t dua tuhan karena apabila mengakui dan m e n y e m b a h dua tuhan saja telah terlarang m a k a apalagi jika banyak. Juga—sekali lagi menurut al-Biqa i—karena apa yang dinamai dlihah tidak keluar dari dua k e m u n g k i n a n saja. Pertama dan kedua adalah makhluq adalah Khdliq (Pencipta)

(yang diciptakan). Semua yang berakal mengetahui (dipertuhan) dan, dengan

b a h w a m a k h l u k t i d a k wajar d i j a d i k a n ilah demikian, y a n g dipertuhan hanya al-Khdliq.

Selanjutnya, jika sesuatu adalah

m a k h l u k , dia pasti terbagi, sedang pembagian yang terkecil adalah dua. Demikian ahBiqa'i. T h a b a t h a b a ' i , di s a m p i n g m e n y i n g g u n g p e n d a p a t s e r u p a , j u g a m e n a m b a h k a n bahwa penyebutan dua di sini berkaitan dengan pandangan mereka y a n g pada prinsipnya memercayai adanya dua tuhan. Pertama, tuhan

pencipta dan sekadar pencipta, dan tuhan kedua adalah t u h a n pengatur dan pengendali y a n g kepadanya mereka beribadah. Tuhan pertama y a n g mereka percayai sekadar sebagai tuhan pencipta mereka nilai juga sebagai tuhan dari tuhan-tuhan yang lain. Dan, dengan demikian, ayat ini, tulis Thabathaba'i, bermaksud menyatakan: "Janganlah memercayai a d a n y a d u a tuhan, tuhan pencipta dan tuhan pengatur. Tuhan hanya satu lagi M a h a Esa, Dia Pencipta dan Dia juga Pengatur dan Pengendali." Kata ( d j » ) ildh y a n g kedua pada ayat ini berbentuk tunggal dan sesudah itu d i h a d i r k a n lagi kata ( ) wdhid y a n g b e r m a k n a satu. Ini dapat

m e n i m b u l k a n kesan sebagaimana y a n g d i t i m b u l k a n oleh kata dua pada p e n g g a l a n y a n g l a l u . A g a k n y a , k e h a d i r a n k a t a satu di s i n i u n t u k

mengisyaratkan bahwa Tuhan adalah Esa d a l a m Zat, sifat, dan perbuatan. Satu j a m tangan, kendati ia satu, pada hakikatnya ia terdiri dari bagian-bagian kecil yang menyatu pada j a m tangan tersebut. J a m tangan itu memiliki jarum penunjuk waktu, mesin penggerak j a r u m , kaca penutup, tali pengikat, dan lain-lain y a n g kesemuanya dibutuhkan dan tidak dapat berpisah dengannya agar ia dapat menjadi j a m tangan. Kendati demikian, kita menyatakan bahwa j a m tangan itu h a n y a satu. Allah swt. tidak d e m i k i a n . Dengan kata Wahid

p a d a ayat ini d i p a h a m i bahwa Allah swt. adalah M a h a Esa, Z a t - N y a tidak

K e l o m p o k IV A y a t 5 2

S u r a h a n - N a h l [16]

611

terdiri dari bagian-bagian karena, j i k a demikian, pastilah bagian-bagian itu dibutuhkan oleh-Nya sedang Tuhan adalah Zat y a n g tidak m e m b u t u h k a n sesuatu apa pun, tetapi Dia y a n g dibutuhkan oleh segala sesuatu. Kata ( 0 j-ftjis )farhabun takut disertai dengan terambil dari kata
(t—J»J )

rahiba yang bermakna

kehati-hatian.

Al-Biqa'i m e m a h a m i n y a dalam arti takut

yang lahir karena melanggar sesuatu yang telah diketahui sebelumnya bahwa ia terlarang. Takut y a n g d i m a k s u d itulah y a n g akan dapat mendorong seseorang mengakui keesaan-Nya, beribadah dan berserah diri kepada-Nya. Pengalihan redaksi ayat dari bentuk persona ketiga pada penggalan awalnya menuju persona pertama pada a k h i r n y a y a n g berbicara tentang keharusan takut kepada Allah d i m a k s u d k a n u n t u k lebih m e n e k a n k a n kewajiban itu. Ini karena, bila satu pernyataan disampaikan langsung oleh yang berwenang, itu mengesankan pentingnya pernyataan tersebut.

AYAT 52

"Dan bagi-Nya lab ketaatan bertakwa?"

segala

apa yang

ada di langit Maka,

dan di bumi,

dan

untuk-Nyakamu

selama-lamanya.

mengapakah

kepada selain Allah

Setelah penutup ayat y a n g lalu memperingatkan dengan keras yaitu dengan menunjuk diri-Nya secara langsung, kini kembali Allah mengingatkan bahwa dan bagi-Nya, yang ada di langit sang Pencipta dan Pengatur alam raya itu, segala dan di bumi, apa

b a i k y a n g k a m u sembah, w a h a i p a r a

pendurhaka, m a u p u n yang berada dalam genggaman tangan kamu, bahkan yang lepas, tidak bermilik dan untuk-Nya-lah kepatuhan dipersembahkan selama-lamanya, semata-mata ketaatan, yakni

dan secara terus-menerus, baik

kamu m a u p u n mereka dan baik suka m a u p u n tidak. Maka, j i k a kini k a m u mengetahui bahwa Allah demikian itu sifat dan kekuasaan-Nya serta demikian pula yang seharusnya terjadi, mengapakah kepada selain Allah kamu bertakwa,

yakni berupaya menghindar dari amarahnya, padahal y a n g selain Allah tidak

612

S u r a h a n - N a h ! [16]

K e l o m p o k IV A y a t 5 2

m e m i l i k i kekuasaan, bahkan seluruhnya t u n d u k kepada-Nya? Ini s u n g g u h aneh dan tidak masuk akal! Kata ( ji3S\) ad-din, bahkan semua kata y a n g terdiri dari huruf-huruf

y a n g sama w a l a u p u n dengan b u n y i / h a r a k a t yang berbeda seperti ( j j i ) din, yakni agama atau kepatuhan, atau patuh, atau ( j j i ) daynlutang, atau ( J J - U _ d)li ) dana-

yadinu/rnenghukum

kesemuanya menggambarkan hubungan dua

pihak di m a n a p i h a k pertama m e m p u n y a i k e d u d u k a n y a n g lebih tinggi dibanding dengan pihak kedua. Perhatikanlah h u b u n g a n antara si peminjam dan si pemberi pinjaman, antara yang dihukum dan yang menghukum, antara y a n g patuh dan dipatuhi, dan antara Tuhan y a n g m e n u r u n k a n a g a m a dan m a n u s i a yang beragama. Kata "ad-din" ketaatan dan kepatuhan. d a l a m ayat ini diartikan sebagai pembalasan

Ada juga yang m e m a h a m i n y a dalam arti

atau kekuasaan.

M a k n a - m a k n a itu s e m u a n y a benar, tetapi agaknya pilihan lebih sesuai dengan konteks uraian ayat. t e r a m b i l d a r i k a t a ( s—"J ) washaba yaitu harus

pertama, yakni ketaatan Kata { kesinambungan.

) wdshib

M a k s u d n y a adalah ketaatan dan k e p a t u h a n

dipersembahkan kepada Allah swt. secara terus-menerus dalam keadaan apa pun, senang atau susah, tidak ubahnya seperti para malaikat yang tidak pernah lesu beribadah dan serupa dengan benda-benda tak bernyawa y a n g patuh kepada h u k u m - h u k u m Allah yang berlaku di alam raya, tidak pernah menolak atau membangkang. Kata taqwd dari segi bahasa terambil dari kata ( ) waqa yang

bermakna menghindar.

Yang bertakwa adalah yang menghindar dari bencana

dan atau j a t u h n y a siksa. Bertakwa kepada sesuatu adalah patuh kepadanya sehingga melaksanakan apa yang dia perintahkan atau kehendaki dan menjauhi apa y a n g dilarang dan tidak disukai. Ketakwaan d a l a m arti kebahasaan ini lahir dari rasa takut, y a n g d a l a m konteks ayat ini adalah y a n g ditegaskan sebelum ini dengan kata ( dj-ftjli ) farhabiln.

Takwa dalam pengertian al-Qur'an dan as-Sunnah sudah lebih luas m a k n a n y a dari kata menghindar itu sehingga m e n c a k u p pengamalan ajaran

agama, baik didorong oleh rasa takut kepada siksa Allah m a u p u n mengharap surga-Nya, bahkan termasuk j u g a bukan karena takut dan harap tetapi sematamata katena cinta dan syukur atas aneka anugerah-Nya.

K e l o m p o k IV A y a t 5 3 - 5 5

S u r a h a n - N a h l [16]

613

Ayat ini j u g a merupakan argumentasi dari pernyataan yang lalu tentang keesaan Allah swt. karena selama segala sesuatu adalah m i l i k - N y a m a k a pastilah Dia y a n g menguasainya. Dia dapat berbuat apa saja terhadap apa y a n g d i m i l i k i - N y a karena tidak ada arti kepemilikan jika si pemilik tidak menguasai, mengendalikan, atau melakukan apa yang dikehendaki terhadap apa yang dimiliki. Kalau segala sesuatu hanya milik Allah—tidak ada pemilik s e l a i n - N y a — m a k a itu berarti Dia M a h a Esa lagi M a h a k u a s a .

AYAT S 3 - 5 5

"Dan

apa saja yang

ada pada

kamu

dari

nikmat,

maka

dari

Allah-lah. kepada-NyaDia dari telah kamu

Kemudian lah saja

bila kamu disentuh kamu meminta kemudharatan

oleh kemudharatan,

maka hanya apabila sebagian mereka

pertolongan.

Kemudian, tiba-tiba Biarlah

menghilangkan terhadap

itu dan kamu,

Tuhan mereka,

mereka persekutukan. kepada mereka;

mengingkari Kelak

apa yang telah Kami berikan kamu akan mengetahui. "

maka bersenang-senanghih.

Sekali lagi, sungguh aneh sikap kamu k u , kamu tidak takut kepada Allah tetapi takut kepada selain-Nya, padahal Dia demikian berkuasa. Dan sungguh aneh juga k a m u patuh kepada selain-Nya padahal apa saja walau sekecil apa pun yangadapada kamu, wahai seluruh makhluk, baik kamu patuh m a u p u n dari

tidak, apa saja dari nikmat y a n g k a m u n i k m a t i atau terhampar, maka Allah-lah sumbernya. Kemudian, bila kamu disentuh,

walau hanya sentuhan

yang tidak betarti, oleh kemudharatan Allah itu, maka hanya

dengan tercabutnya sedikit dari nikmat saja kamu meminta pertolongan

kepada-Nya-lah

kiranya kemudharatan itu segera dihilangkan. Ini karena m e m a n g dalam diri setiap insan ada fitrah kesucian y a n g merasakan kehadiran Allah, dan y a n g akan segera muncul pada saat kesulitan. Kemudian Esa dan Kuasa itu telah menghilangkan dari kamu, tiba-tiba kemudharatan apabila Dia Yang M a h a itu

y a n g menyentuh

dengan cepat dan serta merta sebagian

dari kamu, wahai

manusia, y a k n i y a n g d u r h a k a terhadap

Tuhan Pemelihara dan Pembimbing

614

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 5 3 - 5 5

mereka,

mereka persekutukan

dengan y a n g lain, padahal ketika m e n g a l a m i Biarlah mereka;

m u d h a r a t itu mereka tulus h a n y a m e n g h a r a p - N y a semata-mata. mereka mengingkari maka apa, yakni nikmat yang telah Kami berikan kepada

karena itu sungguh wajar disampaikan kepada mereka bahwa: Kelak kamu akan mengetahui akibat b u r u k perbuatan

"Bersenang-senanglah! k a m u itu. "

Kata ( OjjWi} tafarun

terambil dari kata ( jlj£-i) al-juar

y a i t u suara

binatang buas. Kemudian, kata tersebut digunakan u n t u k suara keras d a l a m bermohon dan m e m i n t a pertolongan. Binatang berteriak m e n g a u m dengan suara keras, tanpa takut atau m a l u didengar orang, bahkan ia

m e m p e r d e n g a r k a n a u m n y a ke seluruh penjuru. Nah, d e m i k i a n kata y a n g dipilih oleh ayat ini menggambarkan sikap manusia yang kafir ketika ditimpa musibah. Penggalan ayat ini m e n g g a m b a r k a n dengan sangat teliti sifat m a n u s i a serta k e b u t u h a n n y a kepada Allah swt. j i k a seseorang—kendati dia kafir dan d u r h a k a — m e n g a l a m i kecemasan dan dia m e n d u g a b a h w a tidak ada lagi tempat m e m i n t a bantuan, ketika itu j i w a n y a segera m e n u j u kepada Yang M a h a k u a s a m e m o h o n pertolongan-Nya. Itu sebabnya, tulis para pakar, " M a n u s i a tidak akan melepaskan diri sama sekali dari Tuhan dan akan tetap berhubungan d e n g a n - N y a selama kecemasan dan harapan masih menjadi sifat bawaan manusia." Mereka yang tidak mengakui wujud Tuhan pun pada saat-saat cemasnya akan m e n c a r i - N y a karena kehadiran Allah ada pada diri setiap insan dalam bentuk fitrah kesucian. M e m a n g , boleh jadi hal tersebut diingkari secara lisan, tetapi pada saat-saat cemas pasti suara nurani manusia akan memanggil n a m a - N y a , bahkan berteriak m e m o h o n bantuan-Nya. H u r u f lam y a n g d i b a c a li p a d a k a t a ( \ j j & J ) m e m a h a m i n y a berfungsi sebagai perintah liyakfuru ada yang

y a n g bertujuan m e n g e c a m karena mereka mengingkari". Ada juga

itu di atas ia diterjemahkan dengan "Biarlah

u l a m a y a n g m e m a h a m i n y a sebagai m e n u n j u k pada k e s u d a h a n / a k i b a t , sehingga penggalan ayat itu dipahami dalam arti kesudahan dari permohonan dan sifat b u r u k mereka itu adalah kekufuran kepada Allah swt. Pendapat serupa m e m a h a m i huruf tetsebut d a l a m arti agar/supaya. Jika dipahami

d e m i k i a n , ayat ini m e n g g a m b a r k a n betapa bejatnya mereka. M e s t i n y a

K e l o m p o k IV A y a t 5 6

S u r a h a n - N a h l [16]

615

ke terhindar an dari mudharat k u mereka hadapi dengan syukur kepada Allah, tetapi ternyata tidak demikian. Seakan-akan ketika mereka bermohon meraih keselamatan tujuannya b u k a n agar mereka bersyukur, tetapi sebaliknya agar mereka mengkufuri Allah. Ini merupakan kebejatan dan kedurhakaan y a n g tiada taranya.

AYAT 5 6

"Dan mereka dari

menjadikan

untuk

apa yang mereka kepada

tidak ketahui

satu

bagian sungguh "

rezeki yang

telah Kami

berikan

mereka.

Demi Allah,

pasti kamu akan ditanyai

menyangkut

apa yang

telah kamu ada-adakan.

Ayat ini masih lanjutan uraian keburukan k a u m musyrikin, yakni dan mereka, y a k n i k a u m musyrikin itu, juga menjadikan, apa, y a k n i berhala-berhala yang yakni sediakan dan mereka, yakni k a u m

khususkan untuk

m u s y r i k i n itu, tidak ketahui

kekuasaannya. Mereka, k a u m musyrikin itu, berikan

menjadikan satu bagian yang cukup banyak dari rezeki yang telah Kami kepada mereka,

seperti binatang ternak atau hasil pertanian, u n t u k berhala-

berhala mereka, dengan dalih mendekatkan diri mereka kepada Allah. Apa y a n g mereka lakukan itu stingguh m e l a m p a u i batas. M a k a , avat i n i — s a m b i l m e n g a r a h k a n p e m b i c a r a a n secara l a n g s u n g k e p a d a para pendurhakaitu—melanjutkan bahwa Demi Allah yang M a h a Esa dan Kuasa, sungguh pasti kamu akan ditanyai, apa yang telah kamu ada-adakan, yakni akan dikecam dan disiksa menyangkut

yakni kebohongan y a n g k a m u lakukan

dengan memperatasnamakan Allah. Ayat ini m e n u n j u k kepada kebiasaan buruk kaum musyrikin M e k k a h yang telah diuraikan secara luas dalam surah al-An'am [6J: 138. M e m a n g , di sini tidak dijelaskan oleh ayat ini bahwa mereka membagi rezeki yang mereka peroleh, sebagian u n t u k Allah dan sebagian u n t u k berhala-berhala mereka s e b a g a i m a n a h a l n y a d a l a m surah a l - A n ' a m itu. A g a k n y a , hal tersebut disebabkan konteks ayat al-An'am adalah uraian tentang kejahilan mereka,

616

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 5 6

sedang di sini adalah uraian yang lebih khusus, yaitu tentang ketiadaan syukur mereka. Dalam tafsir surah al-An'am itu, penulis m e n g e m u k a k a n bahwa banyak riwayat tentang tata cara mereka membagi binatang dan t a n a m a n yang disinggung ayat ini. Biasanya, jika bi natang yang diperuntukkan bagi berhalaberhala mereka binasa atau terjadi sesuatu—-katakanlah hama atau banjir atas sawah dan ladang m e r e k a — y a n g mengakibatkan kurangnya hasil dari apa y a n g mereka peruntukkan bagi berhala-berhala itu, apa y a n g m e r e k a duga diperuntukkan bagi Allah mereka ambil untuk berhala-berhala mereka agar perolehan berhala tidak berkurang, sedang bila hal serupa terjadi pada bagian y a n g mereka tetapkan u n t u k Tuhan, mereka tidak m e n g g a n t i n y a dengan alasan: "Kalau Allah menghendaki tentu tidak akan terjadi kebinasaan milikNya." Orang-orang musyrik itu menyalurkan harta yang mereka peruntukkan sebagai bagian Allah u n t u k fakir m i s k i n dan t a m u , d a n y a n g m e r e k a peruntukkan bagi berhala, mereka berikan kepada p e m u k a agama dan y a n g bertugas dalam hal-hal yang berkaitan dengan berhala-berhala itu. Thabathaba'i, di samping mengemukakan makna ayat ini serupa dengan apa yang dikemukakan di atas, mengemukakan lagi makna lain, yaitu dengan menghubungkannya terlebih dahulu dengan akhir ayat 54. Menurutnya, ayat ini dapat j u g a menyatakan tiba-tiba mereka, mereka mereka. mereka persekutukan satu bagian sebagian dari kamu terhadap untuk apa Tuhan yang kepada menurut

(ayat 54) dan menjadikan

tidak ketahui

dari rezeki yang telah Kami berikan mereka tidak ketahui,

Yang d i m a k s u d dengan apa yang

Thabathaba'i, adalah faktor-faktor luar yang secara lahiriah merupakan sebab perolehan rezeki, yang mereka duga bahwa faktor-faktor itu berdiri sendiri, tidak tunduk di bawah kuasa Allah. Mereka tidak mengetahui hakikat faktorfaktor tersebut bahwa sebenarnya ia tidak berdiri sendiri. M e r e k a tidak mengetahui hakikat itu, padahal terkadang mereka menyaksikan sendiri bahwa dampak yang biasa dihasilkannya tidak muncul walaupun semua faktor yang biasanya menghasilkan telah terpenuhi. H u r u f frt'yang m e n d a h u l u i kzraAlldh adalah salah satu dari tiga huruf 'selalu d i g u n a k a n

yang d i g u n a k a n untuk bersumpah. H a n y a saja huruf

K e l o m p o k IV A y a t 5 7

S u r a h a n - N a h l [16]

617

bergandengan dengan kata Allah dan biasanya kandungan sumpahnya adalah hal-hal y a n g aneh dan mengherankan.

AYAT 5 7

"Dan mereka sedang untuk

menjadikan mereka

bagi Allah anak-anak mereka sukai. "

perempuan.

Mahasuci

Allah,

apa yang

Setelah ayat vang lalu menjelaskan keburukan mereka m e n y a n g k u t sesuatu yang tidak bernyawa serta terhadap binatang dan hasil pertanian, kini diuraikan y a n g lebih b u r u k lagi, yaitu sikap mereka kepada manusia, d a l a m hal ini adalah anak-anak perempuan. Ayat ini menyatakan: Dan keburukan mereka yan2, lain adalah mereka menjadikan, dan memercayai adanya bagi Allah anak-anak yakni menetapkan, menyatakan, perempuan dengan menyatakan

bahwa para malaikat berjenis kelamin wanita dan mereka merupakan anakanak Allah—seperti keyakinan suku Kliuza'ah dan Kinanah pada masa Jahiliah. Mahasuci Allah Yang Malta Esa itu dari kepemilikan anak, baik lelaki m a u p u n untuk mereka sendiri mereka

perempuan. M e r e k a menetapkan itu sedang tetapkan apa yang mereka

sukai yairu anak-anak lelaki. Ini sungguh satu

pembagian y a n g tidak adil. W a l a u p u n tidak benar, apabila mereka berlaku adil, paling tidak mereka seharusnya tidak menetapkan untuk Allah apa yang mereka tidak sukai dan tidak juga mengkhususkan bagi diri mereka apa yang mereka anggap baik. Firman-Nya—-melukiskan sikap k a u m m u s y r i k i n — m e r e k a bagi Allah anak-anak menamainya perempuan menjadikan 'mereka

dipahami oleh para ulama dalam arti

anak-anakperempuan"Uarena

tuhan-tuhan yang mereka sembah

itu tidak terlihat oleh pandangan mata, sebagaimana halnya w a n i t a - w a n i t a / gadis-gadis pada masa lalu tinggal dan dipingit di rumah tidak menampakkan diri dalam masyarakat. Pendapat ini tidak d i d u k u n g oleh b a n y a k ulama. Apalagi masyarakat u m a t manusia di T i m u r dan di Barat y a n g m e n y e m b a h berhala ketika turunnya al-Qur'an mengenal tuhan-tuhan yang kawin m a w i n dan menghasilkan anak-anak, baik lelaki m a u p u n perempuan. Dari sinilah

618

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 5 8 - 5 9

masyarakat Jahiliah meniru sehingga menyatakan bahwa Tuhan berhubungan dengan jin ( Q S . ash-Shaffat [ 3 7 ] : 1 5 8 ) dan para malaikat adalah anak-anak perempuan Tuhan. Kata( ) subhdnahulMahasuci Dia, yakni Allah swt., agaknya sengaja untuk mereka apayang mereka sukai untuk

diletakkan sebelum kalimat sedang

menegaskan bahwa penyucian itu berkaitan dengan ucapan dan kepercayaan mereka b a h w a Allah m e m i l i k i anak bukan karena mereka menjadikan bagi Allah anak perempuan sedang bagi mereka anak lelaki, y a n g justru hal ini lebih buruk lagi jika m e n g g u n a k a n logika mereka y a n g enggan dianugerahi anak perempuan.

AYAT 5 8 - 5 9

"Padahal hitamlah orang

apabila mukanya

seseorang

dari mereka diberi kabar tentang

anak

perempuan, dirinya dari

dan dia sangat marah. buruknya dengan

Dia menyembunyikan yang disampaikan kehinaan alangkah

banyak

disebabkan

berita

kepadanya. ataukah buruk apa akan yang

Apakah dia akan memeliharanya menyembunyikannya mereka tetapkan di dalam itu. "

menanggung

tanah? Ketahuilah,

M e r e k a percaya dan m e n y a t a k a n bahwa Allah swt. m e m p u n y a i anakanak perempuan padahal buktinya adalah apabila anak perempuan, sehingga hitamlah, mereka tidak m e n y u k a i anak-anak perempuan, seseorang dari mereka diberi kabar tentang kelahiran

mereka menerima berita itu dengan kesal dan wajah kusut yakni merah padamlah- mukanya dan dia sangat marah.

D i a tidak h a n y a kesal atau marah, tetapi j u g a sangat m a l u sehingga dia menyembunyikan tentang buruknya dirinya dari orang banyak disebabkan anggapan mereka

berita yang disampaikan

kepadanya.

Ketika itu, dia sungguh

bingung m e n y a n g k u t apa y a n g dia lakukan tethadap anak perempuan y a n g lahir itu apakah ataukah alangkah dia akan memeliharanya di dalam tetapkan dengan menanggung kehinaayi Ketahuilah,

akan menyembunyikannya buruk apa yang mereka

tanah hidup-hidup? itu.

K e l o m p o k IV A y a t 5 8 - 5 9

S u r a h a n - N a h l [16]

619

Kata ( j t J a S " ) kazhim menahan.

terambil dari kata ( ^

) kazhama

yang berarti

M a k s u d n y a dia menahan kemarahan atas penyampaian berita y a n g

dinilainya b u r u k itu, dan k e m a r a h a n terhadap istrinya y a n g melahirkan untuknya anak perempuan. Ketika itu, sebagian mereka belum mengetahui— atau boleh jadi tahu tapi enggan m e n e r i m a — b a h w a benih/sperma s u a m i / lelakilah y a n g m e n e n t u k a n jenis k e l a m i n anak, b u k a n sperma w a n i t a . M e m a n g , hakikat ini secara i l m i a h baru d i t e m u k a n j a u h sesudah t u r u n n y a al-Qur'an, tetapi agaknya hal tersebut diketahui secara analogi oleh sekian b a n y a k orang sebelum p e n e m u a n i l m i a h itu. D a l a m konteks ini, penyait alA s h m a ' i ( 7 4 0 - 8 2 4 M ) pernah m e n g u b a h syair bagaikan seorang w a n i t a mendendangkan kata bersayap menyatakan:

"Dia (suami) memberi

marah jika kami tidak diberikan

melahirkan kami. "

anak lelaki, padahal

kami

apa yang

(nya) kepada

Kata (

) busysyira yang biasanya digunakan untuk penyampaian berita

gembira disebut d u a kali berturut-turut, masing-masing pada ayat 58 dan 59. Penggunaan kata itu dan pengulangannya dalam konteks berita kelahiran anak perempuan memberi kesan tentang sikap al-Qur'an terhadap kelahiran anak dan wanita secara khusus. Betapa ia tidak menjadi berita gembira, b u k a n k a h anak dapat melanjutkan keturunan dan dapat m e m b a n t u serta m e m p e r k u a t keluarga? D a l a m literatur agama, d i t e m u k a n u n g k a p a n y a n g menyatakan bahwa: Jika seoiang anak lelaki lahit, Allah berfirman: "Keluar/ lahirlah dan tolonglah ayahmu' , sedang j i k a y a n g lahir seorang perempuan, Allah berfirman: "Keluar/lahirlah dan A k u y a n g akan menolong a y a h m u " . M e m a n g , dalam saat y a n g sama, p e n g g u n a a n kata tersebut dapat juga merupakan cemoohan terhadap mereka yang menilai sesuatu yang
1

menggembirakan sebagai suatu petaka. Kata ( .cju ) yadussuhu menyembunyikan sesuatu pada terambil dari kata ( bagian sesuatu yang lain. ) dassa, yakni

Yang d i m a k s u d

adalah m e n y e m b u n y i k a n anak di d a l a m atau celah perut b u m i . Penggunaan kata ini bertujuan mengisyaratkan b a h w a apa y a n g mereka lakukan itu b u k a n l a h penguburan, sebagaimana y a n g d i l a k u k a n terhadap orang-orang

620

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 5 8 - 5 9

mati, tidak juga penanaman itu setelah sebelumnya mereka m e m b u n u h n y a , tetapi ia adalah penanaman hidup-hidup. Kata ( 0JA ^Js-) ald hun dapat menjadi sifat pelaku y a n g disampaikan kepadanya berita kelahiran itu dan, dengan demikian, ia berarti membiarkan anak perempuan "itu hidup kendati metasa terhina dan malu, dan dapat juga kata tersebut menjadi sifat dari anak y a n g lahir itu dan, dengan demikian, ia berarti m e m e l i h a r a anak perempuan itu dan m e m b i a r k a n n y a hidup dalam keadaan h i n a dina. Kedua m a k n a ini benar d a l a m k e n y a t a a n sebagian masyarakat j a h i l i a h . Konon, tradisi masyatakat Jahiliah ini bermula ketika Bani T a m i m menyerang Persia tetapi terkalahkan sehingga istri dan anak-anak perempuan mereka ditawan dan diperbudak. Setelah berlalu beberapa lama, kedua pihak y a n g berperang berdamai dan para istri dan anak perempuan itu dipersilakan kembali ke k a m p u n g halaman mereka, tetapi sebagian enggan kembali. Hal ini membuat geram sebagian tokoh Bani Tamim sehingga memutuskan untuk m e n a n a m hidup-hidup setiap anak perempuan y a n g lahir. Ketetapan y a n g dimaksud oleh firman-Nva: ( by&£ U s.L.1 *}\) aldsaa

mayahkumunlalangkah

buruk apa yang mereka tetapkan

itu adalah ketetapan

m e n a n a m h i d u p - h i d u p anak perempuan mereka, atau ketetapan mereka menjadikan untuk Allah anak perempuan, padahal mereka tidak menyukainya dan m e m i l i h u n t u k diri mereka anak-anak lelaki, atau bisa j u g a dalam arti kedua pilihan y a n g timbul dalam benaknya menghadapi anak perempuan itu, dibiarkan hidup daiam keadaan h i n a atau ditanam hidup-hidup. Kedua pilihan ini adalah butuk. Seharusnya dia bukan saja dibiarkan h i d u p , tetapi disyukuri kehadirannya, d i l i m p a h k a n p a d a n y a kasih sayang, sama dengan kasih sayang kepada anak lelaki, dididik dan dibanggakan. Salah satu tujuan pemaparan keburukan k a u m musyrikin ini adalah untuk mengikis habis pandangan masyarakat Jahiliah tentang perbedaan derajat perempuan dan lelaki. Sisa-sisa pandangan itu boleh jadi masih terasa hingga kini. Dalam konteks ini, a l m a r h u m M a h m u d Syaltut, mantan Syaikh (Pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga al-Azhar di Mesir, menulis: "Tabiat k e m a n u s i a a n antara lelaki dan perempuan h a m p i r dapat (dikatakan) sama; Allah telah m e n g a n u g e r a h k a n kepada perempuan sebagaimana

K e l o m p o k IV A y a t 5 8 - S 9

S u r a h a n - N a h l [16]

621

menganugerahkan kepada lelaki; kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan k e m a m p u a n y a n g cukup u n t u k m e m i k u l tanggung j a w a b dan y a n g menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitasaktivitas yang bersifat u m u m m a u p u n khusus. Karena itu, h u k u m - h u k u m syariat pun meletakkan k e d u a n y a dalam satu kerangka, y a n g ini (lelaki) menjual dan membeli, menikahkan dan menikah, melanggar dan d i h u k u m , menuntut dan menjadi saksi, dan yang itu (petempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, menikahkan dan menikah, melanggar dan d i h u k u m , serta m e n u n t u t dan menjadi saksi." D a l a m buku Secercah Cahaya Ilahi, penulis antara lain m e n g e m u k a k a n

bahwa p e m b u n u h a n bayi perempuan atau anak-anak pada masa J a h i l i a h dilakukan oleh beberapa kabilah saja. Konon, y a n g pertama m e l a k u k a n pembunuhan/penanaman hidup anak perempuan adalah Bani Rabf ah, diikuti oleh Bani Kindah dan sebagian anggota suku Bani Tamim. S u k u Qtiraisy dengan berbagai cabang-cabang k e t u r u n a n n y a tidak mengenal kebiasaan buruk ini. Karena itu, riwayat yang mengatakan bahwa 'Umar Ibn Khattab ra. pernah m e n a n a m hidup-hidup anak perempuannya tidak dinilai sebagai riwayat y a n g sahih oleh p a k a r - p a k a r sejarah. Apalagi k i s a h n y a dijalin sedemikian m e m u k a u . D a l a m riwayat itu dinyatakan bahwa suatu ketika 'Umar ra. duduk bersama beberapa sahabatnya, tiba-tiba beliau tertawa, tidak lama kemudian menangis. Ketika ditanya mengapa beliau tertawa, jawabnya: "Kami pada masa Jahiliah menyembah berhala y a n g terbuat dari kurma dan bila kami lapar kami m e m a k a n n y a , sedang tangisku karena aku m e m p u n y a i anak perempuan, aku menggali kuburnya, dan ketika itu dia membersihkan pasir y a n g mengenai jenggotku, lalu kukuburkan dia hidup-hidup. Itulah sebab tangisku." Riwayat ini juga tertolak karena putri beliau, Hafshah ra., yang kemudian menjadi istri Nabi M u h a m m a d saw., lahir sebelum masa kenabian. Jika memang Sayyidin3 'Umar ra. mengubur anak-anak perempuannya, mengapa Hafshah ra. y a n g juga anaknya itu tidak dikuburkan pula h i d u p - h i d u p dan mengapa a d i k n y a y a n g lebih k e c i l — m e n u r u t riwayat itu—yang

d i k u b u r k a n n y a hidup-hidup? S u n g g u h satu hal yang tidak masuk di akal.

622

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 5 8 - 5 9

Perlu dicatat bahwa penguburan anak perempuan hidup-hidup bukanlah adat kebiasaan yang direstui oleh masyarakat Jahiliah. Karena itu, sebagian suku bahkan menebus orangtua y a n g bermaksud m e n a n a m hidup-hidup

anak-anak perempuannya. Sha'sha'ah Ibn Najiah, kakek penyair aI-Farazdaq, menebus dengan dua ekor unta hamil sepuluh b u l a n — y a n g merupakan harta y a n g paling berharga bagi masyarakat J a h i l i a h ketika itu-—setiap orangtua yang bermaksud menanam hidup-hidup anaknya. Konon, ia sempat menebus tiga ratus, atau d a l a m riwayat lain empat ratus, anak p e r e m p u a n y a n g direncanakan oleh orangtuanya u n t u k dikubur hidup-hidup. Ada persamaan antara aborsi dan p e m b u n u h a n tersebut pada d a m p a k menghilangkan n y a w a y a n g telah siap atau berpotensi u n t u k berpartisipasi dalam tugas kekhalifahan. N a m u n ironisnya, dalih atau alasan pelaku aborsi dewasa ini j a u h lebih b u r u k d a r i p a d a alasan m e r e k a y a n g m e l a k u k a n p e m b u n u h a n anak perempuan pada masa lampau itu, padahal masyarakat abad dua puluh sudah mendendangkan Hak-Hak Asasi Manusia dengan suara y a n g jauh lebih nyaring daripada sebelumnya. Paling tidak, ada tiga alasan yang diisyaratkan al-Qur'an dan sunnah bagi pembunuhan bayi pada masa Jahiliah y a n g lampau. Pertama, khawatir j a t u h n y a orangtua pada lembah kemiskinan dengan

menanggung biaya hidup anak-anak perempuan yang lahir, apalagi, menurut mereka, anak perempuan tidak produktif. "Nashruhd sariqah ' (pembelaannya hanya tangis dan pengabdiannya buka adalah wa blrruhd mencuri),

yakni mencuri harta suami untuk diberikan kepada orangtua. U n t u k dalih ini, al-Qur'an mengingatkan bahwa:

"Kami yang akan memberi juga mereka Kedua, (anak-anakmu)

rezeki untuk kamu (haipara

orangtua)

dan

memberi

rezeki" [Q$. al-An'am [ 6 ] : 1 5 1 ) .

khawatit j a t u h n y a anak pada lembah kemiskinan j i k a mereka

dewasa kelak. U n t u k mereka, al-Qur'an m e n g i n g a t k a n bahwa:

"Kamiyang

akan memberi

mereka

{anak-anak

itu) rezeki, dan

memberikan

K e l o m p o k IV A y a t 5 8 - 5 9

S u r a h a n - N a h l [16]

623

pula untukmu"

{QS. al-Isra' [ 1 7 ] : 3 1 ) . Perhatikan bagaimana ayat pada surah

al-An'am ayat 151 di atas m e n d a h u l u k a n janji pemberian rezeki kepada orangtua yang takut terjerumus dalam kemiskinan, baru kemudian menyebut anak, sedang pada ayat al-Isra' [ 1 7 ] : 3 1 , y a n g d i d a h u l u k a n adalah anak y a n g dikhawatirkan oleh orangtuanya, baru k e m u d i a n orangtua yang khawatir itu. Ketiga, khawatir m e n a n g g u n g aib akibat ditawan dalam peperangan

sehingga diperkosa atau karena terjadi perzinaan. Itu sebab-sebabnya sehingga "Apabila seseorang hitam (merah dari mereka diberi kabar tentang mukanya (kelahiran) marah, anak perempuan,

padam)lah

dan dia sangat

" seperti bunyi

ayat y a n g ditafsirkan ini. P e l a k u aborsi p a d a m a s a J a h i l i a h m o d e r n i n i , s e b a g i a n m e r e k a melakukannya bukan karena takut miskin, baik sekarang menyangkut dirinya m a u p u n kelak m e n y a n g k u t a n a k n y a . Tetapi, perbuatan keji itu mereka lakukan pada u m u m n y a untuk menutup malu yang menimpa mereka setel ah terjadi "kecelakaan" akibat dosa ibu mereka, bukan karena khawatir m a l u akibat perlakuan b u r u k orang lain terhadap anak-anak mereka. Pada zaman Jahiliah yang lalu, mereka m e m b u n u h antara lain karena khawatir anak diperkosa atau berzina, sedang pada pada masa Jahiliah modern anak dibunuh karena ibunya sendiri diperkosa atau telah betzina. Pada Jahiliah masa l a m p a u , a n a k d i b u n u h oleh m e r e k a y a n g tidak berpengetahuan, belum juga mengenal apa y a n g dinamai H A M , tetapi masa Jahiliah modern, a n a k d i b u n u h oleh ibu dan dokter yang berpengetahuan serta hidup dalam situasi m a r a k n y a tuntutan H A M . Pada masa Jahiliah d a h u l u , anak dibunuh atau ditanam h i d u p - h i d u p oleh a y a h n y a seorang diri, kini pada masa J a h i l i a h modern a n a k d i b u n u h oleh ibu bersama dokter ahli dan b i d a n n y a . Kalaulah yang seorang diri dipengaruhi oleh setan dan tidak ada yang mengingatkannya, tidakkah seorang dari y a n g tiga di atas sadar sehingga mengingatkan tekannya? Pada masa Jahiliah d a h u l u , y a n g d i b u n u h atau yang d i t a n a m h i d u p h i d u p h a n y a a n a k p e r e m p u a n , kini y a n g d i b u n u h adalah a n a k — b a i k perempuan m a u p u n lelaki. Pada zaman jahiliah dahulu, anak perempuan vang akan ditanam hidup-hidup dihiasi terlebih dahulu dan dibawa ke tempat

624

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 6 0

y a n g j a u h bersama a y a h n y a saja, tetapi p e m b u n u h a n a n a k dewasa ini tanpa basa-basi, dibuang begitu saja tanpa diketahui oieh orangtuanya sendiri di m a n a bayinya dibuang. S u n g g u h ironis dan kejam.

AYAT 6 0

"Bagi yang tidak percaya yang Mahatinggi;

dengan

akhirat, sifat yang YangMahaperkasa

buruk; dan bagi Allah lagi Mahabijaksana. "

sifat

dan Dia-lah

Ayat ini berhubungan dengan ayat y a n g lalu dan dapat dinilai sebagai komentar atas sikap mereka y a n g marah bila diberitakan tentang kelahiran a n a k perempuan serta ucapan mereka b a h w a Allah m e m i l i k i anak-anak perempuan. A y a t ini sejalan m a k n a n y a dengan kata suhhanahu y a n g disebut

pada ayat 5 7 . H a n y a saja, kata ini di sana bertujuan m e n y u c i k a n Allah swt. dari apa yang mereka nyatakan terhadap-Nya, sedang ayat ini adalah kecaman atas ucapan mereka yang mengandung penghinaan dengan menisbahkan anak perempuan kepada Allah padahal mereka sendiri enggan m e n d a p a t k a n n y a . D e m i k i a n T h a h i r Ibn 'Asyur m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat y a n g lalu. Al-Biqa'i menghubungkannya dengan menyatakan bahwa setelah terbukti dari ayat-ayat yang lalu bahwa k a u m musyrikin telah mengucapkan kebatilan, baik terhadap Allah swt. m a u p u n terhadap diri mereka sendiri, ayat ini menjelaskan y a n g benar dan hak m e n y a n g k u t apa y a n g mereka bicarakan itu. Di sini—tulis al-Biqa i—seakan-akan ada yang bertanya: "Kalau m e m a n g mereka itu b e r k e y a k i n a n dan m e n g u c a p k a n k a l i m a t - k a l i m a t batil, apa sebenarnya y a n g benar?" N a h , ayat ini menjawab p e r t a n y a a n tersebut. D e m i k i a n al-Biqa'i. Dapat j u g a dikatakan bahwa telah terbaca dari ayat-ayat y a n g lalu betapa buruk sifat-sifat k a u m musyrikin dan betapa mulia dan indah sifat-sifat Allah. Nah, ayat ini melanjutkan dengan m e n y a t a k a n bahwa m e m a n g bagi tidak percaya dengan keniscayaan k e h i d u p a n akhirat, buruk; yang

sifat perbuatan dan

ucapan y a n g aneh, y a k n i yang

dan bagi Allah Yang M a h a Esa sifat

K e l o m p o k IV A y a t 6 0

S u r a h a n - N a h l [161

625

yang

Mahatinggi

y a n g tidak dapat d i j a n g k a u betapa indah, luhur, dan

tingginya oleh makhluk, betapapun m u l i a n y a m a k h l u k itu; dan tidak heran jika d e m i k i a n karena Dia-lah Yang Mahaperkasa sehingga tidak dapat

dijangkau oleh siapa pun lagiMahabijaksana

sehingga Dia tidak menempatkan

sesuatu kecuali pada tempat yang semestinya. Kata ( J i a ) matsal d i g u n a k a n d a l a m arti sifat dan keadaan yang aneh

tanpa m e m b e d a k a n apakah sifat itu baik atau buruk. Ayat ini k e m u d i a n menjelaskan bahwa ada matsalyang Mahatinggi. Kata ( t j ^ J l ) as-sait 'yang berarti buruk dapat mencakup keburukan y a n g tidak dapat dihindari manusia, seperti k e b u r u k a n wajah, dan ada juga y a n g dapat dihindarinya, seperti keburukan perilaku. Yang dimaksud oleh ayat ini adalah keburukan k e d u a ini. Keburukan kelakuan pada dasarnya tidak dapat d i b e n d u n g kecuali j i k a ada keyakinan tentang a d a n y a pembalasan. Dari sini a g a k n y a sehingga ayat ini mengaitkan antara ketiadaan i m a n dan perilaku buruk k a u m musyrikin itu. Dengan demikian, penyifatan k a u m musyrikin itu oleh ayat ini dengan orang-orang yang tidak percaya dengan akhirat bukan saja seperti pendapat buruk dan ada j u g a y a n g sangat baik lagi

Thahir I b n ' Asyur bahwa hal itu disebabkan k a u m musyrikin populer dengan nama tersebut di kalangan k a u m muslimin, tetapi j u g a , bahkan y a n g lebih penting, adalah karena ketiadaan i m a n pada hari Kemudian menjadikan seseorang berpotensi besar u n t u k berperilaku buruk. D a l a m Q S . a l - M a un [ 1 0 7 ] : 1-3, Allah m e n y a t a k a n bahwa orang vang menghardik anak y a t i m dan tidak menganjurkan memberi pangan adalah mereka yang mendustakan hari Kemudian. Ayat ini turun berkaitan dengan sikap mereka y a n g enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak menghasilkan apa-apa. Ini berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka itu adalah sikap orang-orang vang tidak percaya akan a d a n y a i h a r i ) P e m b a l a s a n . D i s e b a b k a n m e r e k a m e r a s a t i d a k a k a n ada y a n g menjatuhkan s a n k s i — w a l a u di a k h i r a t — m a k a y a n g b e r s a n g k u t a n

menghardik anak y a t i m . Karena tidak percaya bahwa ada ganjaran ukhrawi, dia tidak m e m b a n t u y a n g butuh. Seandainya dia percaya, dia tetap akan menghindari keburukan dan memberi bantuan karena, kalaulah bantuan yang

626

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 6 0

diberikannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia, pasti ganjaran/balasan perbuatannya itu akan diperolehnya di akhirat kelak. Bukankah yang percaya tentang keniscayaan hari Kemudian meyakini bahwa Allah swt. tidak menyianyiakan amal baik seseorang, betapapun kecilnya amal baik itu? Seseorang yang kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan kedisinian tidak akan m e m a n d a n g ke hari Kemudian y a n g berada di depan sana. Sikap demikian merupakan pengingkaran/pendustaan terhadap ad-dm, baik dalam

arti "agama", lebih-lebih lagi dalam arci hari Kemudian. Rujuklah lebih jauh penafsiran surah a l - M a un d a l a m b u k u Tafsir penulis, Tafsir al-Qur'an Karim, Tafsir atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya al-

Wahyu.

(Pustaka H i d a y a h , 1 9 9 7 ) . Firman-Nya: (^JsH^ J^U sifat yang Mahatinggi ) walillah al-matsal al-a'ld/dan bagi Allah

menegaskan bahwa sifat-sifat Allah bukan saja sekadar

baik dan tinggi, tetapi Mahatinggi. Allah bukan saja Mahasuci dari sifat-sifat buruk y a n g dinilai buruk oleh akal, tetapi j u g a M a h a s u c i dari sifat-sifat sempurna y a n g tidak sesuai dengan hakikat Zat-Nya. "Saya tidak sekadar b e r k a t a — t u l i s a l - G h a z a l i — b a h w a Dia M a h a s u c i dari segala m a c a m kekurangan, katena ucapan semacam ini hampir mendekati ketidaksopanan. Bukanlah kesopanan bila seseorang berkata bahwa Raja/Penguasa suatu negeri bukan penjahit atau p e m b e k a m karena menafikan sesuatu h a m p i r dapat m e n i m b u l k a n w a h a m / d u g a a n k e m u n g k i n a n k e b e r a d a a n n y a , dan y a n g d e m i k i a n m e n i m b u l k a n w a h a m kekurangan baginya." Dia M a h a s u c i — m e n u r u t a l - G h a z a l i — d a l a m arti Dia M a h a s u c i dari segala sifat kesempurnaan yang diduga oleh banyak makhluk karena, pertama, mereka m e m a n d a n g kepada diri mereka dan mengetahui sifat-sifat mereka serta menyadari adanya sifat sempurna pada diri mereka, seperti pengetahuan, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, kehendak, dan kebebasan. M a n u s i a meletakkan sifat-sifat tersebut untuk makna-makna tertentu dan menyatakan bahwa itu adalah sifat-sifat sempurna, selanjutnya manusia juga menempatkan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat di atas sebagai sifat kekurangan. Perlu disadari bahwa manusia paling tinggi hanya dapat memberikan kepada .Allah sifat-sifat kesempurnaan seperti yang mereka nilai sebagai kesempurnaan serta m e n y u c i k a n Allah dari sifat kekurangan seperti lawan dari sifat-sifat

K e l o m p o k IV A y a t 6 0

S u r a h a n - N a h l [16]

627

kesempurnaan di atas, padahal sebenarnya Allah Mahasuci dari sifat-sifat kesempurnaan y a n g diduga oleh manusia, sebagaimana Dia Mahasuci dari sifat-sifat kekurangan y a n g dinafikan manusia, karena kedua silat tersebut lahir dari pemahaman manusia, padahal Dia Mahasuci dari sifat yang terlintas dalam benak dan khayalan manusia atau yang serupa dengan apa yang terlintas itu. Seandainya tidak ada izin dari-Nya untuk m e n a m a i - N y a dengan n a m a / sifat-sifat tersebut—-karena h a n v a dengan d e m i k i a n m a n u s i a mampu

mendekatkan pemahaman terhadap-Nya—seandainya tidak ada izin tersebut, sifat-sifat kesempurnaan y a n g demikian itu pun tidak wajar disandangkan kepada-Nya. Karena itu, agaknya ayat di atas tidak sekadar m e n y a t a k a n ( J,V*Jt Jiii J al-matsal al-aly tetapi (^JsH\) tf/-^'/^/Mahatinggi dan Yang Tertinggi.

Penyifatan sifat Allah dengan kata yang berbentuk superlatif ini menunjukkan bahwa sifat-sifat tersebut bukan saja baik, tetapi juga y a n g terbaik bila dibandingkan dengan y a n g baik lainnya, apakah yang baik lainnya itu dapat disandang-Nya atau ia baik hanya untuk selain-Nya saja, tapi tidak baik untukNya. D i d a h u l u k a n n y a kata ( ^ ) Bilah pada penggalan ayat ( JsH\ Jsli i i j ) wa lilldh al-matsal al-a "la menunjukkan bahwa sifat-sifat y a n g M a h a t i n g g i

itu hanya milik Allah swt. semata. Memang, nama/sifat-sifat yang disandangN y a itu terambil dari bahasa manusia, n a m u n kata y a n g d i g u n a k a n saat d i s a n d a n g m a n u s i a , pasti selalu m e n g a n d u n g m a k n a k e b u t u h a n serta

kekurangan, w a l a u p u n ada di antaranya y a n g tidak dapat dipisahkan dari kekurangan tersebut dan ada pula yang dapat dipisahkan. Keberadaan dan kebutuhan akan satu tempat atau arah tidak m u n g k i n dapat dipisahkan dari m a n u s i a / m a k h l u k . Ini m e r u p a k a n k e n i s c a y a a n s e k a l i g u s m e r u p a k a n kebutuhan dan, dengan demikian, ia tidak disandangkan kepada .Allah swt. karena kemustahilan pemisahannya itu. Ini berbeda dengan kata kuat. Buat manusia, kekuatan diperoleh melalui sesuatu y a n g bersifat materi, y akni adanya otot-otot y a n g berfungsi baik, dalam arti kita m e m b u t u h k a n otototot y a n g kuat u n t u k m e m i l i k i kekuatan fisik. Kebutuhan tersebut tentunya tidak sesuai dengan kebesaran Allah swt. sehingga sifat kuat bagi Allah hanya dapat dipahami dengan menyingkirkan dari nama/sifat tersebut hal-hal yang
r

628

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 61

m e n g a n d u n g makna kekurangan dan atau kebutuhan itu. Demikianlah Allah sifat yang Mahatinggi.

bagi

K a u m musyrikin menyifati Allah dengan sifat-sifat buruk, menyatakan bahwa Dia m e m i l i k i anak, bahkan anak perempuan. S u n g g u h hal tersebut merupakan perilaku y a n g sangat buruk, tetapi tidak heran j i k a sikap dan perilaku buruk itu datang dari mereka karena m e m a n g mereka tidak percaya a d a n y a hari Pembalasan sehingga tidak ada j u g a y a n g menghalangi mereka melakukan keburukan.

AYAT 61

"Padahaljika niscaya tetapi

sekiranya

Allah menghukum

manusia di atasnya

karena kezaliman satu pun makhluk waktu yang

mereka, melata, ditentukan.

Dia tidak akan meninggalkan Dia menangguhkan mereka

sampai

kepada

Maka, apabila sesaat pun

telah tiba waktu mereka,

tidaklah

mereka dapat "

mengundurkan

dan tidak (pula)

mendahidukannya.

Ayat yang lalu diakhiri dengan menyebut dua sifat Allah Yang Mahatinggi, yaitu al-Aziz (Mahaperkasa) dan al-Hakim (Mahabijaksana).

Salah satu bukti hikmah kebijaksanaan-Nya adalah Dia menangguhkan hukuman atas k a u m m u s y r i k i n y a n g dengan k e m u s y r i k a n n y a itu telah jika sekiranya Allah menghukum

mencapai p u n c a k k e z a l i m a n padahal manusia siapa pun karena kezaliman

mereka,

y a k n i k e m u s y r i k a n atau akan

kedurhakaan mereka, niscaya Dia Yang al- Aztz, Mahaperkasa itu, tidak meninggalkan melata, tetapi di atasnya, y a k n i di p e r m u k a a n b u m i , satu pun

makhluk

Dia tidak m e l a k u k a n hal tetsebut karena Dia m e m i l i k i sifat-

sifat terpuji, antara lain Dia adalah al-Hakim, Yang Mahabijaksana, sehingga Dia menangguhkan mereka semua sampai apabila telah tiba kepada waktu waktu yang ditentukan

oleh-Nya sendiri. Maka, masing-masing mereka,

y a n g ditentukan bagi

perorangan dengan kematiannya, masyarakat dengan

k e p u n a h a n n y a , dan seluruh m a k h l u k dengan d a t a n g n y a Kiamat, m a k a tidaklah mereka dapat mengundurkan kehadiran apa y a n g ditentukan-Nya

K e l o m p o k IV A y a t 61

S u r a h a n - N a h l [16]

629

itu sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya yang Dia tetapkan. Kata { ) zhulm

dari w a k t u

pada ayat ini dipahami oleh Ibn A s y u r dalam arti ) zhulm

puncak kezaliman, yaitu syirik. Bahkan, menurutnya, setiap kata ( ^

dalam al-Qur"an y a n g tidak disertai dengan objeknya, m a k n a n y a adalah puncak kezaliman, y a k n i syirik, sedang kata an-nds, menurutnya, adalah

seluruh manusia, bukan hanya k a u m musyrikin Mekkah. Manusia diciptakan Allah u n t u k mengakui keesaan-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Pengakuan akan keesaan itu melekat pada diri setiap insan melalui fitrah yang diciptakan Allah pada diri manusia. Nah, jika mereka mengotori fitrah itu dengan syirik atau pengingkaran atas woijud dan keesaan Allah, apalagi g u n a n y a eksistensi mereka dipertahankan. D e m i k i a n Ibn 'Asyur m e n g e m u k a k a n alasannya. Hemat penulis, tidak semua kata zhulm y ang tanpa objek harus dipahami dalam arti syirik. Bacalah misalnya firman-Nya dalam Q S . Ghafir [ 4 0 ] : 17:
r

"Hari ini (Kiamat) dikerjakannya.

setiap

jiwa

diberi pada

balasan hari

sesuai dengan

apa yang

telah yang

Tidak ada zhulm

ini. ''Tentu saja, zhulm

dinafikan pada ayat ini bukan hanya syirik, tetapi segala macam penganiayaan, kecil m a u p u n besar. Atas dasar itu, kita tidak harus berkata bahwa zhulm

yang d i m a k s u d oleh ayat ini h a n y a syirik, w a l a u p u n kita harus mengakui bahwa p u n c a k tertinggi dari kezaliman adalah mempersekutukan Allah:

"Sesungguhnya

syirik!mempersekutukan

Allah adalah zhulm yang besar " (QS.

Luqman [31]: 13). Kata ( l ^ J * ) 'alalhd I atasnya menunjuk ke tanah, di mana pada ayat yang

lalu telah disinggung sebagai tempat m e n a n a m anak-anak perempuan dan, karena tanah adalah bagian dari b u m i , kata ganti "nya" tersebut dipahami sebagai m e n u n j u k kepada bumi, atau karena ayat ini menyebut manusia dan yang d i m a k s u d d e n g a n n y a adalah seluruh m a n u s i a sedang tempat tinggal mereka adalah bumi, kata ganti tersebut menunjuk ke bumi. M e m a n g , alQ u r ' a n tidak jarang m e n g g u n a k a n kata ganti walau y a n g digantikan tidak

630

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 61

disebut sebelum nva selama ada indikator vang menunjuk apa yang digantikan itu. Indikator d i m a k s u d pada ayat ini adalah tanah atau manusia. tetapi

Al-Biqa'i menilai bahwa karena ayat ini tidak berkata fihd/padanya alaihalatasnya

m a k a y a n g dimaksud bukan sekadar permukaan bumi, tetapi

juga apa yang terdapat dalam perut bumi sehingga, menurutnya, pembinasaan y a n g diandaikan Allah di sini m e n y a n g k u t segala sesuatu y a n g berada di permukaan dan perut bumi. Ayat ini menyatakan bahwa Allah akan membinasakan semua manusia, bahkan tidak m e m b i a r k a n hidup w a l a u satu dabbah pun. Ini oleh b a n y a k

u l a m a d i p a h a m i sebagai berarti y a n g akan d i b i n a s a k a n - N y a bukan hanya manusia yang mempersekutukan Allah atau yang melakukan kezaliman, tetapi semua yang ada di bumi. Agaknya, hal tersebut untuk mengisyaratkan bahwa manusia semuanya terjerumus dalam kezaliman besar atau kecil. Karena itu, s e m u a d i b i n a s a k a n - N y a . B a h w a dabbah atau makhluk melata pun

dibinasakan-Nva, antara lain binatang-binatang y a n g tidak berdosa karena binatang-binatang itu, bahkan segala yang terdapat di bumi, diciptakan untuk manusia sehingga, bila manusia semua telah dibinasakan, kehadiran selain mereka di permukaan bumi ini tidak diperlukan lagi. Thabathaba'i tidak menutup kemungkinan memahami kata dabbah ayat ini hanva dalam arti manusia, bahwa kata dabbah pada

sedang Ibn 'Asyur secara tegas menyatakan

tidak d i g u n a k a n u n t u k m e n u n j u k manusia. Rujuklah dabbah.
lh

kembali ke ayat 4 9 surah ini untuk m e m a h a m i kata

Banyak pertanyaan ulama tentang perandaian ayat ini. Misalnya, apakah para nabi pun dibinasakannya atau apakah ayat ini m e m b u k t i k a n bahwa para nabi tidak ma'shum, y a k n i tidak terpelihara dari dosa dan kesalahan,

dan masih banyak lainnya. Hemat penulis, bahasan-bahasan itu sangat berteletele dan bukan pada tempatnya diuraikan secara panjang lebar karena ayat ini h a n y a berandai dengan perandaian yang mengandung m a k n a kemustahilan. Kemustahilan ini d i p a h a m i dari kata ( ^) lauw y a n g digunakan u n t u k

menunjukkan kemustahilan terjadinya apa y a n g diberitakan bersyarat akibat kemustahilan terjadinya syarat. Jika misalnya seseorang yang telah meninggal

2 6

Lihat kembali halaman 602.

K e l o m p o k IV A y a t 6 2

S u r a h a n - N a h l [16]

631

orangtuanya berkata: "Jika sekiranya a y a h k u hidup, niscaya e n g k a u kuberi hadiah," pemberian itu tidak akan m u n g k i n terjadi karena syaratnya y a i t u "ayahnya h i d u p " tidak m u n g k i n lagi terjadi sebab beliau telah meninggal dunia. Pada ayat ini, apa y a n g diberitakan, y a i t u kebinasaan apa y a n g berada di bumi, tidak mungkin terjadi karena kenyataan menunjukkan bahwa wujud bumi dan isinya masih tetap ada. Nah, jika demikian, m e n g h u k u m manusia secata langsung karena kezaliman mereka tidak mungkin juga terjadi. Mereka akan ditangguhkan sampai w a k t u yang ditentukan Allah. Selanjutnya, karena itu tidak m u n g k i n terjadi, pembahasan y a n g m e n g a n d u n g perandaian-

perandaian dalam konteks ayat ini sebaiknya pula tidak perlu dibicarakan.

AYAT 62

"Dan mereka

menetapkan

bagi Allah apa yang

mereka

tidak sukai, dan

lidah

mereka mengucapkan Tiadalah segera diragukan dimasukkan."

kedustaan, bahwa

bahwa sesungguhnya bagi mereka,

bagi merekalah dan sesungguhnya

kebaikan. mereka

nerakalah

Ayat-ayat y a n g lalu mengisyaratkan bahwa apa y a n g mereka tidak sukai mereka tetapkan u n t u k Allah dan y a n g mereka sukai u n t u k diri mereka (ayat 5 7 - 5 9 ) . Nah, di sini apa y a n g diisyaratkan itu ditegaskan, bahkan diperluas dengan m e n y a t a k a n bahwa Dan mereka mereka menetapkan bagi Allah apa yang

sendiri tidak sukai, y a k n i anak perempuan. J u g a persekutuan dalam mereka

kekuasaan, pemberian harta y a n g b u r u k dan di samping itu lidah mengucapkan kedustaan

walau boleh jadi hati mereka tidak m e m b e n a r k a n

ucapan lidah itu. Apa y a n g diucapkan lidah mereka itu antara lain adalah bahwa sesungguhnya bagi merekalah saja kebaikan, y a k n i mereka saja y a n g

akan mendapat kebaikan dalam kehidupan d u n i a ini atau y a n g akan m a s u k surga jika memang surga itu ada. Ucapan-ucapan mereka itu dibantah dengan tegas bahwa tiadalah mereka, diragukan mereka bahwa segera nerakalah dimasukkan tempat y a n g layak bagi

dan sesungguhnya

ke dalam neraka itu.

632

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 6 3

Firman-Nya: ( menetapkan

O J A J S U U

£t

) yaj'aluna mereka

lilldh

md

yakrahuni

bagi Allah apa yang

tidak sukai dijelaskan m a k n a n y a

antara lain oleh Q S . al-An'am [6]: 136 yang melukiskan keburukan berganda k a u m m u s y r i k i n . Pertama, ketika mereka membagi harta mereka, yakni

sebagian mereka anggap menjadi m i l i k Allah dan u n t u k - N y a dan sebagian untuk berhala-berhala, padahal semua adalah milik Allah. Kedua, memberikan

sesuatu y a n g b u r u k u n t u k A l l a h dengan d a l i h — w a l a u p u n benar tetapi diucapkan u n t u k tujuan y a n g s a l a h — b a h w a Allah tidak butuh sesuatu dan, dengan demikian, tidak mengapa memberi-Nya yang buruk, bahkan m e n g a m b i l n y a kembali apa yang sebelumnya d i p e r u n t u k k a n bagi Allah kemudian memberikan kepada berhala-berhala. Yakni untuk para pengurus dan pengelola berhala-berhala itu. Kata ( 0jt>Ju>) mufrathun kata (Itjd ) farathan (huruf a sebelum h u r u f thd) terambil dari

yaitu seorang yang ditugaskan bergegas m e n d a h u l u i

kafilah menuju s u m u r u n t u k m e n y i a p k a n air dan k e b u t u h a n rombongan. Dengan demikian, kata itu dipahami dalam arti orang-orang orang lain dan yang segera dimasukkan mufrithun yang mendahului

ke neraka. Ada juga yang membacanya afratha

(huruf i sebelum huruf thd) yang terambil dari kata ( Jai\)

y a n g berarti melampaui

batas. M a k s u d n y a adalah orang-orang y a n g sangat

banyak, bahkan m e l a m p a u i batas, dalam perolehan siksa neraka akibat kedurhakaan dan kebohongan ucapan mereka telah melampaui batas pula.

AYAT 6 3

"Demi mereka

Allah,

sesungguhnya setan

Kami

telah bagi

mengutus mereka

kepada

umat-umat azab yang

sebelummu, sangat pedih.

tetapi "

memperindah mereka

perbuatan-perbuatan

maka ia adalah pemimpin

hari ini dan bagi mereka

Sikap dan ucapan k a u m m u s y r i k i n itu sungguh menyakitkan hati Nabi M u h a m m a d saw. M a k a , kembali ayat ini menenangkan dan menghibur beliau dengan bersumpah menggunakan huruffez'yang dirangkaikan dengan nama Allah u n t u k lebih meyakinkan k a u m musyrikin tentang keanehan sikap dan

K e l o m p o k IV A y a t 6 4

S u r a h a n - N a h l [16]

633

ucapan mereka serta keniscayaan ancaman Allah. Ayat ini menegaskan bahwa: Demi Allah, sesungguhnya umat sebelummu, memperindah perbuatan pemimpin Kami telah mengutus para rasul Kami kepada umatsetan seperti k a u m 'Ad, Tsamud, dan j u g a kepada k a u m M u s a bagi mereka, y a k n i u m a t - u m a t terdahulu itu, perbuatan-

dan ' I s a , sebagaimana Kami m e n g u t u s m u kepada u m a t m u tetapi

mereka yang buruk sebagaimana yang ia lakukan j u g a kepada para yakni menjadi mereka ketika itu, sebagaimana ia pun menjadi p e m i m p i n k a u m semua—-setan dan para

pendurhaka u m a t m u , maka ia, yakni setan itu sendiri, adalah, d u r h a k a dari k a u m m u di hari ini dan bagi mereka yang sangat pedih kelak di hari Kemudian.

pendurhaka yang dahulu, kini, dan masa datang—semuanya mendapat azab

Rujuklah ke ayat 56 surah ini untuk m e m a h a m i makna sumpah di atas! Kata ( ) al-yaum

:

pada ayal di atas tidak disertai dengan kata yang

menunjuk hari apa yang dimaksud. Kata "ini "yang menyertai terjemahan di atas tidak terdapat d a l a m teks ayat. Ia penulis c a n t u m k a n atas dasar pemahaman penulis. Ada ulama yang memahami kata al-yaum tersebut dalam arti Hari Kiamat nanti, yakni bahwa setan menjadi p e m i m p i n mereka pada Hari Kiamat di dalam neraka, walaupun ketika itu ia tidak m a m p u membantu otang-orang yang durhaka. Ada lagi yang berpendapat bahwa yang dimaksud a d a l a h sepanjang k e h i d u p a n d u n i a ini setan menjadi p e m i m p i n para pendurhaka karena setan akan terus-menerus berperanan selama dunia belum Kiamat. Penulis memahaminya dalam arti sekarang, yakni pada saat pembicara mengucapkannya. Dalam konteks ayat ini adalah sejak hari diterimanya wah)T_i ini oleh Rasul saw. karena, apabila pembicara bermaksud m e n g g u n a k a n kata "hari "untuk hari yang telah lalu atau akan datang, biasanya dia menunjuknya dengan kata "hari />w"atau menyifatinya dengan sifat tertentu.

AYAT 6 4

"Dan Kami

tidak menurunkan kepada mereka

kepadamu apa yang

al-Kitdb

melainkan

agar dan

engkau menjadi

dapat menjelaskan petunjuk
r

merekaperselisihkan "

serta rahmat

bagi kaum yang beriman.

Lihat halaman 616.

634

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IV A y a t 6 4

Kehadiran setan memperindah keburukan m e n i m b u l k a n kebingungan dan kesimpangsiuran di kalangan umat manusia. Sejak semula, ketika Adam masih di surga, dia telah berupaya menjerumuskan manusia. Allah mengutus para rasul u n t u k menjelaskan permusuhan setan, m e n a n a m k a n ketenangan batin, dan menyelesaikan perselisihan
manusia.

Nabi M u h a m m a d saw. sebagai

utusan Allah d e m i k i a n j u g a keadaannya. Karena itu, ayat ini menegaskan b a h w a dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab, y a k n i al-Qur'an, kepada

y a n g engkau sampaikan ini melainkan

agar engkau dapat menjelaskan

mereka semua, yakni semua manusia, apa yang mereka perselisihkan dalam persoalan a g a m a dan menjadi beriman petunjuk serta rahmat

khususnya yang

bagi kaum

d e m i k i a n j u g a bagi y a n g benar-benar bermaksud dan siap hati dan

pikirannya u n t u k beriman. Rujuklah ke ayat 4 4 surah ini untuk m e m a h a m i m a k s u d kata ( ^ litubayyina lahumlagar engkau dapat menjelaskan kepada mereka. )

Ayat ini membatasi fungsi Nabi saw. dalam menjelaskan apa yang mereka perselisihkan. Hal ini bukan berarti fungsi beliau dan fungsi al-Qur'an terbatas di sana. Pembatasan y a n g d i m a k s u d di sini bertujuan menekankan hal y a n g terpenting dari fungsi beliau dan fungsi al-Qur'an, apalagi konteks ayat ini adalah m e m b a n t a h k a u m musyrikin y a n g m e n g a n g g a p al-Qur'an sebagai dongeng dan cerita atau mitos y a n g fungsinya m e n g h i b u r pendengarnya. J a n g a n duga fungsi tersebut ringan atau remeh. Kesesatan dan kecemasan, bahkan peperangan y a n g d i a l a m i m a n u s i a di d u n i a ini dan siksa y a n g akan dialami di akhirat, tidak lain kecuali karena tidak jelasnya bagi mereka hakikat kebenaran. Nah, jika al-Qur'an y a n g m e n g a n d u n g kebenaran m u t l a k itu telah dijelaskan oleh Nabi M u h a m m a d saw., sirnalah segala faktor yang melahirkan kecemasan, pertikaian, peperangan, bahkan kesengsaraan hidup duniawi dan ukhrawi. Bukankah itu merupakan fungsi yang terpenting dari kehadiran al-Qur'an dan Nabi M u h a m m a d saw.? Karena itu, ayat ini ditutup dengan menyebut ( kaum yanv beriman. ) hudan wa rahmah/petunjuk serta rahmat bagi

KELOMPOK 5

AYAT

65-76

635

636

S u r a h a n - N a h i [16]

, ,

* > f

*"VM"'

i,

.

*

-

S u r a h a n - N a h l [16]

637

638

Surah an-Nahl [16]

Kelompok V Ayat 65

AYAT 65

"Dan Allah menurunkan bumi sesudah tanda matinya.

dari langit air maka dengannya Sesungguhnya yang pada yang mendengar.

Dia itu

menghidupkan benar-benar

demikian "

terdapat

bagi orang-orang

Kelompok ayat ini kembali menguraikan bukti-bukti keesaan Allah swt. serta aneka nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada manusia. Hubungannya dengan ayat vang lalu dapat terlihat dari sisi bahwa ahQur'an yang diturunkan Allah itu m e n g h i d u p k a n jiwa manusia dan air y a n g d i t u r u n k a n - N v a juga m e n g h i d u p k a n jasmani, bahkan t u m b u h - t u m b u h a n . Ayat ini m e n y a t a k a n bahwa: Dan Allah menurunkan dari langit pada saat y a n g Dia kehendaki

sesuai dengan h u k u m - h u k u m alam vang ditetapkan-Nya dan dengan kadar y a n g Dia tentukan, air hujan, atau salju, atau butir-butir es maka y a k n i d e n g a n air y a n g beraneka r a g a m itu, Dia menghidupkan, m e n u m b u h s u b u r k a n , bumi dan m e n g h i d u p k a n t a n a m a n - t a n a m a n matinya, dengannya, yakni sesudah

yakni sebehim turunnva hujan itu, bumi kering kerontang bagaikan pada yang demikian itu, y a k n i pada proses benar-benar yang

sesuatu y a n g mati. Sesungguhnya

t u r u n n y a hujan dan d a m p a k - d a m p a k y a n g d i h a s i l k a n n y a , terdapat mendengar, tanda kebesaran dan k e k u a s a a n A l l a h bagi orang-orang

y a k n i merenungkan dengan penuh perhatian.

Sebelum ini telah disebut juga nikmat air (hujan) yang turun dari langit (ayat 1 0 ) . Di sini, hal tersebut diulangi sekali lagi. N a m u n , konteksnya berbeda. Di sana untuk mengingatkan aneka nikmat-Nya dan di sini untuk m e m b u k t i k a n kekuasaan dan qudrah-Nya. y a n g besar, antara lain dalam

m e n g h i d u p k a n y a n g telah mati. Agaknya, karena pengulangan itu pula sehingga penutup ayat ini menggunakan ka.t3. yang mendengar setelah menyebut aneka nikmat, ditutup dengan bagi kaum yang sedang di sana. memikirkan.

Di sisi lain, dapat juga dikatakan bahwa hujan yang diturunkan Allah untuk m e n g h i d u p k a n b u m i setelah k e m a t i a n n y a a d a l a h b u k t i k u a s a Allah m e n g h i d u p k a n kembali y a n g telah mati dan mengadakan kebangkitan. Ini tidak ubahnya dengan menghidupkan tanah yang mati itu. Selanjutnya, karena

Kelompok V Ayat 66

S u r a h a n - N a h l [16]

639

persoalan kematian dan kebangkitan adalah persoalan metafisika y a n g tidak dapat dilihat atau diketahui perinciannya oleh pikiran manusia, tetapi hanya didengar informasinya, ayat ini ditutup dengan kalimat bagi orang-orang mendengar, Rasul saw. Para ilmuwan menegaskan bahwa air meresap ke dalam bumi, melarutkan unsur-unsur kimia di d a l a m tanah yang diisap oleh t u m b u h - t u m b u h a n . Unsur-unsur itu k e m u d i a n berubah menjadi sel-sel h i d u p d a n seluler. menghidupkan yang

yakni mendengar ayat-ayat al-Qur'an dan keterangan-keterangan

Begitulah proses yang dimaksud oleh ayat ini dengan kalimat bumi.

AYAT 6 6

"Dan

sesungguhnya

bagi kamu pada

binatang sebagian

ternak

benar-benar

terdapat dalam mudah

pelajaran. perutnya, ditelan

Kami menyuguhi antara sisa-sisa

kamu minum makanan

dari apa yang berada susu murni yang

dan darah, yaitu "

bagi para yang

meminumnya.

Setelah menyebut air y a n g turun dari langit, kini diuraikan sebagian yang di bumi. Ayat ini m e m u l a i dengan sesuatu y a n g paling b a n y a k dan dekat dalam benak masyarakat Arab ketika itu, y a k n i binatang ternak. Dan u n t u k itu disebut susu y a n g dihasilkannya dan, dengan d e m i k i a n , bertemu d u a m i n u m a n y a n g keduanya dibutuhkan manusia dalam rangka makanan y a n g sehat dan sempurna, yakni susu. A p a p u n h u b u n g a n ayac ini d e n g a n ayat y a n g lalu, y a n g jelas ia m e n g i n g a t k a n bahwa: Dan sesungguhnya bagi kamu pada terdapat binatang pelajaran ternak, yang

yakni unta, sapi, kambing, dan domba, benar-benar

sangat berharga y a n g dapat mengantar k a m u menyadari kebesaran dan kekuasaan AJlah. Kami menyuguhi dalam perutnya, makanan kamu minum sebagian dari apa yang berada sisa-sisa

yakni perut betina-betina binatang itu, yaitu antara yaitu susu murni

dan darah,

tidak bercampur dengan darah w a l a u

640

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V A y a : :•

w a r n a n y a tidak j u g a dengan sisa m a k a n a n w a l a u b a u n y a lagi yang ditelan bagi para yang meminumnya..

mua.i--

Kata ( £jjiils)

al-farts terambil dari akar kata yang bermakna

meremukk.v.
Oizr.

y a n g d i m a k s u d di sini adalah sisa m a k a n a n y a n g tidak dicerna lagi

pencernaan sebelum keluar menjadi kotoran (tahi). Apabila telah keluar, '.i tidak d i n a m a i lagi ( o_J3 ) farts tetapi ( Firman-Nya: ( ^ij sisa makanan dan darah j ) rawts. wa daminlantara s::.:-

cy. ,v» ) min bayni fartsin

d i p a h a m i oleh para u l a m a d a l a m arti susu beracu

antara k e d u a n y a karena binatang m e n y u s u i , apabila telah mencernakir. m a k a n a n n y a , apa y a n g menjadi susu berada pada pertengahan antara s i i i m a k a n a n dan darah itu. Yang menjadi darah berada di bagian atas dan s:>^ m a k a n a n berada di bagian bawah. Allah dengan kuasa-Nya m e m i s a h k a ketiga hal itu. Darah d i p o m p a oleh hati dan mengalir melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh berseberangan dengan organ tubuh yang mengalirkar urine dan mengeluarkan sisa makanan. T h i h i r Ibn 'Asyur menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata ( j± bay nal antara di sini bukan tempat, tetapi m a k s u d n y a adalah bahwa
susu

bukanlah darah karena susu tidak terus-menerus mengalir pada salurannv^ sebagaimana darah pada p e m b u l u h darah. Susu mirip dengan sisa makanan tetapi dia juga bukan sisa m a k a n a n karena susu adalah sesuatu y a n g bergizi, dan bermanfaat, tidak seperti h a l n y a kotoran dan urine. Para penyusun kitab Tafsir al-Muntakhab yang terdiri dari sekian p a k a :
suci.

Mesir mengomentari proses terjadinya susu dengan menyatakan bahwa: "Pad; buah dada binatang menyusui terdapat kelenjar yang bertugas memproduks air susu. Melalui urat-urat nadi arteri, kelenjar-kelenjar itu mendapatkan supla. berupa zat yang terbentuk dari darah dan chyle (zat-zat dari sari m a k a n a r

y a n g telah dicerna) y a n g k e d u a n y a tidak dapat dikonsumsi secara langsung Selanjutnya, kelenjar-kelenjar susu itu m e n y a r i n g dari kedua zat itu unsurunsur penting dalam pembuatan air susu dan mengeluarkan enzim-enziir y a n g m e n g u b a h n y a menjadi susu y a n g berwarna dan a r o m a n y a sama seka. berbeda dengan zat a s l i n y a / ' Kata (
tiwL>)

sa'ighan

pada m u l a n y a berarti sesuatu y a n g m u d a h m a s a -

ke d a l a m kerongkongan. Kemudahan y a n g d i m a k s u d di sini bukan saji

K e l o m p o k V Ayat 67

S u r a h a n - N a h l [16]

641

karena susu adalah cairan, tetapi j u g a karena ia lezat, bergizi, dan bebas dari aneka bakteri. Adalah m e r u p a k a n salah satu keistimewaan redaksi al-Qur'an bahwa kalimat a y a t - a y a t n y a d e m i k i a n m u d a h sehingga dapat dicerna oleh orang awam dan dalam saat y a n g sama diakui ketelitian dan k e d a l a m a n n y a oleh para i l m u w a n . S a y y i d Q u t h u b berkomentar bahwa hakikat ilmiah vang d i u n g k a p oleh ayat ini, y a k n i keluarnya susu antara sisa-sisa m a k a n a n dan darah, tidaklah diketahui oleh u m a t manusia. Tidak seorang pun pada masa turunnya al-Qur'an yang dapat membayangkannya, apalagi menetapkannya dalam b e n t u k ketelitian ilmiah y a n g d e m i k i a n sempurna. T i d a k l a h wajar bagj seorang m a n u s i a y a n g menghormati akalnya untuk m e m b a n t a h atau menentang hal tersebut. C u k u p sudah satu dari jenis hakikat ilmiah semacam ini u n t u k m e m b u k t i k a n aI-Qur'an sebagai w a h y u Ilahi karena seluruh manusia, ketika turunnya al-Qur'an, tidak mengetahui hakikat yang diungkapkannya ini.

AYAT 6 7

''Dan dari buah kurma dan anggur, memabukkan benar-benar dan rezeki yang terdapat tanda

kamu membuat

darinya pada yang

minuman demikian

yang itu

baik. Sesungguhnya yang

bagi orang-orang

berakal. "

Setelah m e n g u r a i k a n tentang susu, kini disebut lagi buah-buahan y a n g dapat d i m a k a n , sekaligus d a p a t m e n g h a s i l k a n m i n u m a n . H a n y a saja, m i n u m a n tersebut dapat beralih menjadi sesuatu y a n g b u r u k k a r e n a m e m a b u k k a n . Dari sisi lain, karena u n t u k w u j u d n y a m i n u m a n tersebut

diperlukan upaya manusia, ayat ini menegaskan upaya manusia membuatnya dengan menyatakan bahwa: Dan, di samping susu yang merupakan minuman lezat, dari buah kurma dan anggur, darinya, kamu j u g a dapat membuat yang sesuatu y a n g memabukkan

y a k n i dari hasil perasannya, sejenis minuman baik yang

dan rezeki yang

tidak m e m a b u k k a n , seperti perasan anggur atau pada yang demikian itu

kurma y a n g segar atau cuka dan selai. Sesungguhnya

642

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok V Ayst i

benar-benar yang

terdapat

ta??^

kebesaran dan kekuasaan Allah bagi

orang-o>\:>;r

berakal. Kata ( l j S L i ) sakaran terambil dari kata ( ^ S L - J - ^ S w ) sakira-yaskan*, vakr.:

menutup.

M i n u m a n keras menutup

akal sehingga y a n g m e m i n u m n y a tid^-:

dapat berpikir secara normal, lagi tidak menyadari apa y a n g dia ucapkan d i ­ lakukan. Dari sini, kata (\ ) sakaran d i p a h a m i d a l a m arti memabukhaK

Ada juga y a n g berpendapat bahwa kata tersebut merupakan salah satu narr.^ m i n u m a n keras y a n g m e m a b u k k a n . A d a lagi yang m e m a h a m i kata tersebu: dalam arti cuka atau perasan anggur sebelum sampai pada tahap memabukkan. Para ulama bermazhab Hanafi m e m a h a m i kata ini dalam arti apa vanz tidak m e m a b u k k a n dari perasan anggur. B u k t i n y a a d a l a h — k a t a m e r e k i sebagaimana dikutip oleh pakar tafsir dan h u k u m , a l - Q u r t h u b i — a y a t in. d i k e m u k a k a n d a l a m k o n t e k s m e n y e b u t n i k m a t - n i k m a t A l l a h dar. penyebutannya dalam konteks itu menandai kehalalannya karena, jika tida_-; halal, t e n t u l a h t i d a k w a j a r ia d i k e m u k a k a n d a l a m k o n t e k s tersebut.

Pemahaman d e m i k i a n merupakan salah satu alasan para ulama bermazha" Hanafi untuk menetapkan halalnya m e m i n u m perasan anggur selama belurr. memabukkan. Pendapat di atas tidak d i d u k u n g oleh b a n y a k ulama. M e m a n g , seperti penulis k e m u k a k a n di atas, ayat ini b e l u m lagi menetapkan keharaman m i n u m a n keras, tetapi telah mengisyaratkannya melalui pemisahan dengar, kata ( j ) wa/dan yang antara ( i £ ^ ) sakaran dan ( U—^- l i j j ) rizqan hasananlrezek:

baik. Kata dan berfungsi menggabung dua hal y a n g berbeda. Ini berani

antara sakaran dan rezeki yang baik terdapat perbedaan dan, kalau salah satunvi telah d i n y a t a k a n baik, tentu y a n g dipisahkan oleh kata dan adalah sesuatu yang tidak baik.

Ayat ini menegaskan bahwa k u r m a dan anggur dapat menghasilkan dua hal y a n g berbeda, y a i t u m i n u m a n m e m a b u k k a n dan rezeki y a n g baik. Jika d e m i k i a n , m i n u m a n keras ( m e m a b u k k a n ) , baik yang terbuat dari anggur m a u p u n kurma, bukanlah rezeki y a n g baik. A y a t ini adalah isyarat pertama lagi sepintas tentang keburukan m i n u m a n keras yang kemudian mengundang sebagian u m a t Islam ketika itu menjauhi m i n u m a n keras, w a l a u p u n oleh ayat ini belum secara tegas d i h a r a m k a n . D a l a m Q S . al-Baqarah [ 2 ] : 219-

Kelompok V Ayat 67

S u r a h a n - N a h l [16]

643

d i k e m u k a k a n isyarat kuat tentang keharamannya, walau belum j u g a tegas. Di sana dikemukakan jawaban atas pertanyaan para sahabat Nabi saw. tentang khamr dan perjudian yang dijawab dengan menyatakan bahwa: "Dosa lebih besar dan manfaatnya. "Allah berfirman: keduanya

"Mereka keduanya keduanya

bertanya terdapat

kepadamu

tentang

khamr

dan judi.

Katakanlah: tetapi

Pada dosa

dosa besar dan beberapa

manfaat

bagi manusia,

lebih besar dari manfaatnya.

"Ini mengandung isyarat bahwa kedua

hal yang ditanyakan itu seharusnya dihindari karena sesuani yang kebumkannya lebih besar daripada kebaikannya adalah sesuatu y a n g tercela, bahkan haram. Berikutnya dalam Q S . an-Nisa [ 4 ] : 4 3 , secara tegas Aliah melarang mabuk, tetapi itu pun belum tuntas karena larangannya terbatas pada w a k t u - w a k t u menjelang shalat. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang kamu dalam

yang

beriman,

janganlah kamu

kamu mendekati mengetahui

shalat apa yang

sedang kamu

keadaan

mabuk

sehingga

ucapkan.

"Lalu, dalam QS. a l - M a idah [ 5 ] : 90 turun secara tegas dan terakhir

larangan m e m i n u m m i n u m a n kerasi khamr untuk sepanjang w a k t u . Allah berfirman:

aj^s-li g i k ^ l

<p- at

Si-J

i U V l ^ j ^ J l j JX\141y-U

CJJ\

V>„

"Hai orang-orang panah-panah perbuatan

yang

beriman,

sesungguhnya mengundi

khamr, judi,

berhala-berhala, termasuk "

(yang digunakan setan maka jauhilah

nasib) adalah kekejian yang keberuntungan.

ia agar kamu mendapat

Demikianlah tahapan yang ditempuh al-Qur'an dalam mengharamkan m i n u m a n keras. Al-Qur'an memang menempuh pentahapan dalam

menetapkan hukum-hukumnya yang berkaitan dengan tuntunan dan larangan

644

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok V Ayat 68-69

mengerjakan sesuatu, berbeda dengan tuntunan dan larangan yang berkaitan dengan akidah/kepercayaan. Dalam hal akidah dan prinsip-prinsip moral, alQur'an tidak mengenal pentahapan. Sejak dini, al-Qur'an telah mengajarkan Tauhid dan mengecam syirik, dan sejak awal pula telah m e m e r i n t a h k a n kebenaran, hormat kepada orangtua dan melarang pengkhianatan, dan lain-lain. kebohongan,

AYAT 6 8 - 6 9

"Dan Tuhanmu sebagian tempat buahan,

telah mewahyukan dan sebagian mereka buat.

kepada

lebah:

'Buatlah dan pada makanlah

sarang-sarang sebagian dari setiap

pada tempatbuah'Keluar dalamnya itu

pegunungan tinggi yang

pepohonan, Kemudian, Tuhanmu

lalu tempuhlah minuman

jalan-jalan yang

dalam

keadaan warnanya, pada yang

mudah. di

dari perutnya terdapat

bermacam-macam Sesungguhnya yang

penyembuhan terdapat

bagi manusia. tanda

demikian

benar-benar

bagi orang-orang

berpikir.

"

Setelah menyebut m i n u m a n susu dan anggur, kini disebutkan m a d u . lbn A s y u r menilai bahwa penempatan uraian tentang susu dan perasan buahbuahan secara bergandengan karena k e d u a n y a melibatkan tangan guna memerolehnya; susu diperah dan buah-buahan diperas, berbeda dengan madu yang diperoleh tanpa perasan. A l - B i q a i berpendapat pembuktian bahwa karena

t e n t a n g k e k u a s a a n A l l a h swt. m e l a l u i lebah j a u h l e b i h

m e n g a g u m k a n daripada kedua sumber m i n u m a n y a n g disebut sebelum ini, dan karena m a d u tidak sebanyak k e d u a m i n u m a n sebelumnya, uraiannya ditempatkan setelah keduanya, sambil mengubah gaya redaksinya. Ayat ini dalam mengarahkan redaksinya kepada Nabi M u h a m m a d saw. dengan m e n y a t a k a n : Dan ketahuilah, w a h a i Nabi agung, bahwa y a n g m e m b i m b i n g dan selalu b e r b u a t b a i k telah m e n g i l h a m k a n , kepada "Buatlah, lebah mewahyukan, Tuhanmu yakni

sehingga menjadi naluri b a g i n y a bahwa;

sebagaimana keadaan seorang y a n g m e m b u a t secara sungguhpada sebagian g u a - g u a pegunungan dan di sebagian

sungguh, sarang-sarang

Kelompok V Ayat 68-69

S u r a h a n - N a h l [16]

645

bukit-bukit dan pada sebagian tempat-tempat makanlah, tempuhlah dalam tinggi yang

celah-celah pepohonan

dan pada

sebagian Kemudian, lalu

mereka, setiap

y a k n i m a n u s i a buat. " macam k e m b a n g buah-buahan,

y a k n i isaplah dari jalan-jalan mudah

y a n g telah diciptakan oleh Tuhanmu bagimu.

Pemeliharamu

keadaan

Dengan perintah Allah swt. kepada lebah yang mengantarnya memiliki naluri y a n g demikian mengagumkan, lebah dapat melakukan aneka kegiatan yang bermanfaat dengan sangat m u d a h , bahkan bermanfaat u n t u k manusia. Manfaat itu antara lain adalah senantiasa keluar dari dalam perutnya mengisap sari kembang-kembang, sejenis minuman madu yang bermacam-macam warnanya setelah

yang sungguh lezat yaitu

sesuai dengan w a k t u dan jenis sari y a k n i pada m a d u itu, terdapat obat

k e m b a n g y a n g diisapnya. Di dalamnya, penyembuhan bagi manusia

w a l a u p u n k e m b a n g yang d i m a k a n n y a ada y a n g pada yang

bermanfaat dan ada y a n g berbahaya bagi manusia. Sesungguhnya demikian orang-orang Kata ( itu benar-benar yang j berpikir. auwhd terambil dari kata ( J>~) ) wahylwahyu terdapat

tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi

yang dari Yang

segi bahasa berarti isyarat yang cepat. Ia juga dipahami dalam arti ilham.

d i m a k s u d di sini adalab potensi y a n g bersifat naluriah y a n g dianugerahkan Allah kepada lebah sehingga secara sangat rapi dan m u d a h m e l a k u k a n kegiatan-kegiatan serta memproduksi hal-hal y a n g m e n g a g u m k a n . Apa y a n g dilakukannya tidak ubahnya seperti sesuatu y a n g diajarkan dan disampaikan k e p a d a n y a secara tersembunyi. Dari sini, nurani y a n g dianugerahkan Allah itu d i n a m a i wahyu. adalah b e n t u k j a m a k dari kata ( ini terambil ) an-nahlah bermakna

Kata ( J ^ u J l ) y a k n i lebah. menganugerahkan. Kata

dari akar kata y a n g

A g a k n y a ini mengisyaratkan bahwa binatang tersebut

memeroleh anugerah khusus dari Allah swt. Lebah adalah serangga berbulu dan bersayap empat dan hidup dari madu kembang. Besarnya lebih kurang dua kali besar lalat y a n g u m u m terlihat, warna perutnya cokelat kemerah-merahan. Di bagian hidung/belalainya ada semacam jarum y a n g sangat kecil lagi tersembunyi y a n g ia g u n a k a n untuk menyedot sari k e m b a n g dan di bagian belakang ada juga y a n g dia g u n a k a n menyengat siapa yang mengganggunya. Binatang ini terdiri dari jantan, betina,

646

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V Ayat 68-69

dan banci (bukan j a n t a n dan bukan betina). J a n t a n n y a berfungsi menjaga sarang dengan mengelilinginya sambil mengeluarkan suara berdengung. Betina y a n g dibuahi j a n t a n melahirkan lebah betina pula. Lebah betina lebih besar badannya dari yang jantan. Biasanya yang melahirkan di sarang hanya seekor betina. Bisa jadi lebah betina melahirkan tanpa dibuahi oleh lebah jantan, dan ketika itu y a n g d i l a h i r k a n n y a adalah lebah jantan. Lebah banci lebih kecil b a d a n n y a dari lebah jantan. Inilah vang m e m p r o d u k s i m a d u dan jenis ini pula yang terbanyak berada di sarang-sarang lebah. Firman-Nva y a n g memerintahkan lebah untuk membuat sarang-sarang merupakan perintah melakukan pekerjaan yang sangat m e n g a g u m k a n dalam proses dan hasilnya. Sarang lebah terdiri dari l u b a n g - l u b a n g y a n g sama dan bersegi enam. Bukan segi tiga atau empat atau lainnya yang m e m u n g k i n k a n a d a n y a celah. Pemilihan segi itu, di samping u n t u k memanfaatkan semua ruangan, j u g a bertujuan menghindari adanva celah bagi m a s u k n y a serangga dan s e m a c a m n y a . Pada p e r m u k a a n lubang-lubang bersegi enam itu, lebahlebah tersebut menutupnya dengan suatu caitan yang hampir membeku yang merupakan selaput y a n g sangat halus. C a i r a n y a n g serupa dengan lilin itu dan tetdapat di perut lebah d i a n g k a t n y a dengan k a k i - k a k i n y a ke mulutnya, lalu dikunyah dan diletakkan sebagian darinya untuk merakit lubang-lubang segi enam tersebut sehingga madu tidak tertumpah. S u n g g u h mengagumkan. Itulah naluri lebah y a n g d i i l h a m k a n Allah kepadanya.

<S% "(Mahasuci dan yang Allah) yang menentukan mencipta lalu menyempurnakan lalu memberi

i & jfc

1$

(penciptaan-Nya) petunjuk" (QS.

kadar (masing-masing)

al-A'la [ 8 7 ] : 2 - 3 ) . Sarang tersebut, seperti bunyi ayat di atas, diperintahkan agar dibuat di tempat y a n g bersih, j a u h dari polusi, yakni di p e g u n u n g a n , pohon-pohon, dan di tempat-tempat y a n g tinggi. S u n g g u h jauh berbeda dengan laba-laba y a n g sarangnya terdapat di tempat-tempat kotor dan dinilai Allah sebagai sarang yang paling rapuh (QS. al-Ankabut [29]: 4 1 ) . t e r a m b i l d a r i k a t a ( J>j* ) 'arasya, Kata ini pada m u l a n y a berarti sesuatu yakni yang

Kata ( 0j-sjo ) ya'risyun membangun dan meninggikan.

Kelompok V Ayat 68-69

S u r a h a n - N a h l [16]

647

beratap.

Tempat d u d u k penguasa d i n a m a i 'Arsy karena tingginya

tempat itu,

dibandingkan dengan tempat yang lain di sekelilingnya. Kata ( j * ) min/dari ( 9 j * ) min asy-syajar pada firman-Nya: ( JLJT*

y

) min al-jibal berarti

dan sebagian.

serta ( dy*yu & ) min ma ya'risyun

Ini karena lebah tidak membuat sarang-sarangnya di semua gunung atau bukit, tidak juga di setiap pohon k a y u atau tempat y a n g tinggi. Beberapa ulama m e n u l i s bahwa sungguh menarik ayat ini. l a membatasi tempat-tempat tinggal lebah, tetapi tidak membatasi jenis k e m b a n g yang d i m a k a n n y a . M a k a n a n diserahkan kepada seleranya. Bukankah seperti terbaca di atas ayat ini menyatakan makanlah dari setiap buah-buahan?Y)2x\ pada sini, tulis para ulama (^ "f ) tsumrna

itu, fungsi kata ( f ) tsummalkemudian kuli/kemudian makanlah

firman-Nya:

y a n g m e n y u s u l perintah m e m b u a t sarang-sarang

itu adalah u n t u k m e n g g a m b a r k a n jarak antara apa y a n g dibatasi dan apa y a n g dilepas secara bebas. T h a h i r Ibn 'Asyur berpandangan lain. U l a m a ini terlebih dahulu menegaskan bahwa kata min pada minaljibdldan syajar serta, min mdya'risyun berarti pada min asy-

bukan dari. M e n u r u t n y a , sengaja karena lebah tidak

ayat ini tidak m e n g g u n a k a n kata ( J ) fi/di dalam

menjadikan g u n u n g - g u n u n g , pepohonan, atau b a n g u n a n - b a n g u n a n y a n g t i n g g i s e b a g a i s a r a n g n y a , t e t a p i ia m e m b u a t sarang tersendiri dan

meletakkannya pada tempat-tempat tersebut. Selanjutnya, Thahir Ibn 'Asyiir berkata bahwa kara ( f ) tsumrna/kemudian pada firman-Nya di atas, y a n g

m e n g a n d u n g m a k n a jarak, berfungsi mengisyaratkan betapa jauh jarak yang m e n g a g u m k a n a n t a r a apa y a n g d i m a k a n oleh l e b a h serta hasil y a n g d i k e l u a r k a n n y a d a n p e m b u a t a n sarang-sarang itu. M a k s u d n y a , kalau pembuatan sarang-sarang itu mengagumkan—-dan memang demikian—yang lebih m e n g a g u m k a n lagi adalah m a k a n a n dan apa y a n g dihasilkannya itu. Yang d i m a k a n n y a adalah ( o ' ) jamak: dari kata ( i ) ats-tsamarah ats-tsamardtya.ng y a n g berarti buah. metupakan bentuk Sebenarnya lebah

tidak memakan buah. Yang dimakannya atau lebih tepat yang diisapnya adalah k e m b a n g - k e m b a n g sebelum menjadi buah. D a l a m kaidah bahasa Arab, ini d i n a m a i majdz mursal, seperti bila A n d a berkata: "Dia m e n a n a k nasi",

sebenarnya y a n g ditanaknya adalah beras, tetapi karena beras itu nantinya menjadi nasi m a k a itulah y a n g A n d a ucapkan.

648

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V Ayat 68-69

Kata (*>Ui ) dzululan

adalah bentuk j a m a k dari kata ( J j J i ) dzalul, yakni subuh'jalan-

sesuatu y a n g m u d a h ditelusuri. Kata ini dapat menyifati { J—->) jalan

dan, dengan demikian, jalan-jalan y a n g ditempuh lebah dari sarangnya

m e n u j u tempat ia mengisap sari bunga sangat m u d a h u n t u k d i t e m p u h n y a . Para u l a m a menjelaskan k e m u d a h a n tersebut dengan m e n y a t a k a n b a h w a boleh jadi lebah m e n e m p u h jarak y a n g demikian jauh guna mencari pangan, tetapi kendati d e m i k i a n ia dapat m e n e m u k a n lagi sarangnya dengan sangat m u d a h . Bisa juga kata itu menyifati lebah, dalam arti tempuhlah jalan-jalan y a n g diciptakan Tuhan u n t u k m u dan k a m u dalam m e n e m p u h n y a akan merasakan k e m u d a h a n w a l a u p u n jalan tersebut berbelit-belit dan sukar. H u r u f ( _s) fa/lalu Rabbikiltempuhlah y a n g mendahului kata ( dJJj J-~> & - > )
LS 1

uslukisubula sebagaimana

jalan-jalan

Tuhanmu

b u k a n dan,

diterjemahkan dalam beberapa terjemahan, mengisyaratkan bahwa Allah swt. menciptakan naluri pada lebah, y a i t u berpindah dari kembang ke k e m b a n g dan t a m a n ke taman. Kalau ia tidak m e n e m u k a n kembang, ia terus terbang sampai j a u h mencarinya, k e m u d i a n jika m e n e m u k a n n y a dan telah k e n y a n g langsung ia terbang kembali ke sarang-sarangnya lalu m e n u m p a h k a n dari p e r u t n y a m a d u y a n g berlebih dari k e b u t u h a n n y a . Cara dan jalan y a n g d i t e m p u h n y a ini merupakan bagian dari sifatnya secara naluriah setelah ia m a k a n . H u r u f ( J ) fa/lalu perurutan pada penggalan ayat di atas m e n g a n d u n g m a k n a yang sekadar

s e g e r a . B e r b e d a d e n g a n k a t a ( j ) waldan

menginformasikan dua hal yang berbeda tanpa mengandung makna perurutan yang relatif singkat, bahkan tanpa mengandung makna perurutan sama sekali, sehingga bisa saja y a n g disebut setelah dan m e n d a h u l u i apa y a n g disebut sebelumnya. J i k a A n d a berkata, "Si A dan si B datang", bisa saja B lebih d a h u l u datang dari A. Tetapi, j i k a Anda mengganti kata dan dengan lalu, itu berarti si B datang setelah si A dan selisih w a k t u kedatangannya relatif singkat. Nah, ayat di atas m e n g g u n a k a n huruf y a n g berarti lalu bukan dan u n t u k mengisyaratkan perurutan tersebut yang merupakan naluri lebah. Sari kembang-kembang yang diisap oleh lebah mengandung unsur cairan zat semacam zat gula y a n g setelah masuk ke perut lebah menjadi bertambah manis akibat p e r c a m p u r a n n y a dengan zat-zat k i m i a w i y a n g melekat pada lebah. Nah, setelah terbang mengisap sari kembang, lebah langsung kembali

Kelompok V Ayat 68-69

S u r a h a n - N a h l [16]

649

ke sarangnya dan mengeluarkan yang tidak dibutuhkannya lagi dari apa yang telah diisapnya dan telah m e n g e n d a p di perutnya itu k e sarang-sarangnya, dan itulah m a d u lebah. Saat lebah m e n e m p a t k a n m a d u itu di sarangsarangnya, ia masih berbentuk cairan yang sangat halus, tetapi lama kelamaan mengering karena kehangatan lilin vang merupakan bahan sarang-sarangnya serta kehangatan madu itu sendiri. Pergantian m u s i m dan aneka kembang y a n g diisapnya mewarnai m a d u itu. Di m u s i m bunga, w a r n a m a d u biasanya keputih-putihan dan di m u s i m panas kecokelat-cokelatan. Firman-Nya: ( perutnya
UjL> y

) yakhruju

min

buthunihdlkeluar

dari

dan seterusnya adalah uraian baru. Seakan-akan ada y a n g bertanya

setelah mendengar keajaiban lebah bahwa: "Apa gerangan manfaat yang dapat diraih dari binatang aneh ini?" Kalimat keluar dan seterusnya menjawab

pertanyaan tadi sambil mengingatkan betapa besar n i k m a t Allah. Firman-Nya: ( ^ L l U tULi AJ ) fihi syifa dinndsldi penyembuhan bagi manusia dalamnya terdapat obat

d i j a d i k a n alasan oleh para u l a m a u n t u k

m e n y a t a k a n b a h w a m a d u adalah obat bagi segala m a c a m penyakit. M e r e k a juga m e n u n j u k kepada hadits y a n g diriwayatkan oleh I m a m Bukhari bahwa salah seorang sahabat Rasul saw. mengadu bahwa saudaranya sedang sakit perut. Rasul saw. menyarankan agar memberinya m i n u m m a d u . Saran Rasul saw. dia laksanakan, tetapi sakit perut saudaranya belum juga sembuh. Sekali lagi, sang sahabat m e n g a d u dan sekali lagi j u g a Rasul saw. menyarankan hal y a n g sama. Hal serupa berulang untuk ketiga kalinya, Rasul saw. kali ini bersabda: 'Allah Mahabenar, perut saudaramu berbohong. Beri m i n u m l a h ia m a d u . " Sang sahabat kembali m e m b e r i saudaranya m a d u dan kali ini ia sembuh. (HR. Bukhari d a n M u s l i m melalui Abu Sa'id al-Khudri). Dewasa ini b a n y a k dokter menasihati pengidap penyakit d i a b e t e s — misalnya—untuk tidak mengonsumsi madu. Ini menunjukkan bahwa m a d u tidak menjadi obat penyembuh u n t u k semua penyakit. M e m a n g , boleh saja y a n g dimaksud dengan kata ( ) an-ndslmanusia pada ayat di atas adalah

sebagian manusia, bukan semuanya. Agaknya, m e m a n g benar pendapat y a n g m e n y a t a k a n m a d u b u k a n l a h obat u n t u k s e m u a p e n y a k i t . B a h w a s a u d a r a sahabat Rasul saw. y a n g diinformasikan oleh hadits di atas dapat sembuh karena ketika itu tidak ada

650

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok V Ayat 68-69

faktor dalam dirinya y a n g m e n a m p i k kehadiran m a d u sebagai obat, tetapi seandainya ada faktor tetsebut maka m a d u tidak menjadi obat, balikan boleh jadi menambah parah penyakitnya. Redaksi ayat ini, menurut Ibn 'Asyur, telah mengisyaratkan bahwa madu bukanlah obat semua penyakit. Kalimat ayat ini di dalamnya, madu, terdapat obat penyembuhan yakni di dalam

m e n u n j u k k a n bahwa obat itu berada di

dalam madu. Seakan-akan m a d u adalah wadah dan obat berada dalam wadah itu. Wadah biasanya selalu lebih luas dari apa y a n g ditampungnya. Ini berarti tidak semua obat ada dalam madu. Dengan demikian, tidak semua penyakit dapat diobati dengan madu karena tidak semua obat ada di dalamnya. Bahwa " t i d a k s e m u a obat", d i p a h a m i dari b e n t u k nakirah {indifmite) yang

dikemukakan bukan dalam redaksi negasi sehingga ia tidak bermakna semua. Men\an%, b o l e k \adi a d a faktor-faktor tertentu p a d a orang-orang tertentu y a n g menjadikan fisiknya tidak sesuai dengan zat-zat y a n g terdapat pada madu. P a k a r - p a k a r p e n y u s u n tafsir al~Muntakhab m e n g a n d u n g dalam porsi y a n g besar unsur fruktosa menulis bahwa madu dan perfentous. yaitu modern

semacam zat gula yang sangat m u d a h dicerna. Ilmu kedokteran

m e n y i m p u l k a n bahwa glukosa sangat berguna bagi proses p e n y e m b u h a n berbagai jenis penyakit melalui injeksi atau dengan perantaraan mulut yang berfungsi sebagai penguat. Di samping itu, m a d u juga m e m i l i k i k a n d u n g a n vitamin y a n g cukup tinggi, terutama vitamin B kompleks. Ayat 6 9 ini ditutup dengan kalimat bagi orang-orang ayat 67 ditutup dengan bagi orang-orang yang berakal. yang berpikir, sedang S e b e l u m n y a telah orang-

d i k e m u k a k a n kesan tentang ditutupnya ayat 65 dengan kalimat bagi orangyang mendengar.

Ayat 67 yang uraiannya berkaitan dengan buah-buahan, kaitan sistem kerjanya yangjuz'iy dengan y a n g

manfaatnya bagi

manusia,

kulliy adalah uraian yang memerlukan penalaran akal, agaknya karena itulah ia ditutup dengan kalimat bagi orang-orang yang berakal, sedang di sini

uraiannya berkaitan dengan kehidupan dan sistem kerja lebah serta keajaibankeajaibannya. Hal-hal tersebut memerlukan perenungan y a n g lebih dalam dari sebelumnya, karena itu ditutup dengan bagi orang-orang Demikian T h a b a t h a b a u yang berpikir.

Kelompok V Ayat 70

S u r a h a n - N a h l [16]

651

AYAT 7 0

"Allah menciptakan ada yang mengetahui Maha

kamu, kemudian kepada umur

mematikan yang paling

kamu; dan di antara lemah hingga dia

kamu tidak Allah

dikembalikan lagi sesuatu

pun yang pernah "

diketahuinya.

Sesungguhnya

Mengetahui

lagi Mahakuasa.

Setelah ayat-ayat yang lalu mengantar

manusia

menyadari

Kemahakuasaan Allah swt., kini p a n d a n g a n mereka diarahkan kepada diri mereka dengan m e n y e b u t tahap-tahap perjalanan usianya. Yakni masa bayi dan masa remaja, masa kedewasaan, masa tua, dan masa pikun. Ayat ini menyatakan bahwa hanya Allah sendiri yang menciptakan kamu

dari tiada, k e m u d i a n melalui pertemuan sperma dan ovum k a m u lahir dan berpotensi t u m b u h b e r k e m b a n g , kemudian mematikan kamu dengan

bermacam-macam cara dan dalam bilangan usia yang berbeda-beda. Ada yang d i m a t i k a n saat kanak-kanak, remaja, dewasa, dan d a l a m keadaan tua; atau ada y a n g diberi kekuatan lahir dan batin sehingga terpelihara jasmani dan a k a l n y a dan di antara kamu adajuga yang dikembalikan oleh Allah dengan

sangat mudah kepada umur yang paling

lemah,

yakni secara berangsur-angsur

kembal i seperti bayi tak berdaya fisik dan psikis karena otot dan urat nadinya mengendor dan daya kerja sel-selnya m e n u r u n hingga pikun tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah akhirnya dia menjadi diketahuinya. Lalu, segala

sesudah itu, dia pun akan mati. Sesungguhnya

Allah Maha Mengetahui

sesuatu, termasuk rahasia ciptaan-Nya, lagi Mahakuasa apa y a n g dikehendaki-Nya.

u n t u k mewujudkan

Kata ( J i j i ) ardzal adalah bentuk superlatif dari kata ( A j l i ^ i )

ar-radzalah, ardzal

yakni k e b u r u k a n y a n g menvitati sesuatu. Dengan d e m i k i a n , istilah alAimr

berarti mencapai usia yang m e n j a d i k a n hidup tidak berkualitas lagi

sehingga menjadikan y a n g bersangkutan tidak merasakan lagi kenikmatan h i d u p , bahkan boleh jadi bosan h i d u p , dan orang sekitarnya p u n merasa bahwa k e m a t i a n bagi y a n g bersangkutan adalah baik. Rasul saw. sering kali

652

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V A y a t 71

berdoa k i r a n y a dihindarkan dari mencapai arzdalal-'umr.

Seorang penyair

pernah mendendangkan kata bersayap antara lain menyatakan: <^~~J -b*^ V yOyb^ 'H tj~"*^
L/^J LJ^CXj c—

"Aku telah bosan menghadapi dan siapa yang hidup delapan

tuntutan puluh,

hidup, pastilah ia bosan."

Sementara u l a m a m e n y e b u t angka tertentu u n t u k pencapaian tahap arzdal al-'umr. Ar-Razi, misalnya, berpendapat bahwa tahap dewasa dimulai

dari usia 3 3 tahun sampai dengan 4 0 tahun, dan tahap tua yang merupakan awal penurunan kekuatan bermula d e n g a n 4 0 tahun h i n g g a 6 0 tahun, selanjutnya adalah tahap sangat tua dan penurunan kekuatan yang besar, yakni dari usia 60 h i n g g a mati. Agaknya, tidaklah tepat menentukan usia tertentu bagi pencapaian tahap dimaksud. Ini banyak tergantung pada kesehatan pribadi demi pribadi. Karena, ada manusia yang baru saja mencapai usia 60-an telah pikun dan sangat lemah, dan tidak sedikit pula y a n g mencapai usia 80-an, tetapi pikirannya masih jernih dan masih dapat melaksanakan aneka tugas penting.

AYAT 7 1

"Dan Allah rezeki, mereka

melebihkan

sebagian

kamu yang

atas sebagian dilebihkan mereka

yang

lain dalam

hal rezeki sama.

lalu tidaklah kepada para terhadap

orang-orang hamba

mau memberikan miliki agar mereka

sahaya yang

Maka apakah

nikmat-nikmat

Allah mereka

terus-menerus

ingkar?"

Setelah ayat y a n g lalu menguraikan kuasa Allah swt. dalam menetapkan perbedaan usia, kini diuraikan perbedaan rezeki. Ayat ini menyatakan: Dan Allah Yang M a h a k u a s a lagi Bijaksana itu melebihkan manusia, atas sebagian yang lain dalam halrezeki, sebagian kamu, wahai

w a l a u p u n boleh jadi yang tidak

m e m i l i k i k e l e b i h a n itu lemah

fisik

atau berusia muda lagi

berpengetahuan, lalu kendati Allah y a n g m e n g a n u g e r a h k a n rezeki itu dan membagi-bagi k a n - N y a sesuai h i k m a h kebijaksanaan-Nya, tidaklah orang-

K e l o m p o k V A y a t 72

S u r a h a n - N a h ! [16]

653

orang ya 11% dilebihkan mereka

rezekinya itu mau memberikan

separuh dari rezeki yang sahaya yang mereka miliki

peroleh dari Allah itu kepada para hamba

agar mereka sama merasakan rezeki itu. Nah, jika mereka, orang-orang kafir, itu tidak rela bila para budak mereka sama-sama m e m i l i k i rezeki y a n g Allah berikan padahal mereka adalah sama-sama manusia, maka apakah hati mereka buta dan pikiran mereka kacau sehingga terhadap terus-menerus nikmat-nikmat Allah mereka

ingkar? Antara lain dengan cara m e m p e r t u h a n selain-Nya?

Ada juga ulama yang memahami ayat ini dalam arti anjuran kepada para pemilik harta agar menyerahkan sebagian dari kelebihan rezeki y a n g mereka peroleh kepada k a u m lemah, y a k n i para budak dan fakir miskin. Seakanakan ayat ini menyatakan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada kamu kelebihan d i b a n d i n g dengan y a n g lain. M a k a , adalah sewajarnya k a m u menyalurkan kelebihan itu kepada orang-orang y a n g b u t u h sehingga k a m u s a m a dengan mereka d a l a m p e m e n u h a n k e b u t u h a n h i d u p . B u k a n k a h kelebihan y a n g terdapat d a l a m g e n g g a m a n tangan k a m u itu adalah n i k m a t Allah dan seharusnya n i k m a t itu k a m u sebar luaskan? Apakah kamu enggan menyebarluaskannya karena k a m u mengingkari nikmat-Nya? Pendapat y a n g penulis k e m u k a k a n sebelum ini a g a k n y a lebih sejalan dengan konteks ayat serta ciri ayat-ayat y a n g turun sebelum Nabi saw. berhijrah, yakni penekanan uraian dalam hal keesaan Allah dan keniscayaan hari Kemudian, bukan pada anjuran bersedekah dan m e m b a n t u fakir miskin.

AYAT 72

"Dan Allah menjadikan menjadikan cucu-cucu, terhadap menerus

bagi kamu pasangan-pasangan kamu

dari diri kamu itu, anak-anak Maka,

dan dan

bagi kamu dari pasangan-pasangan dan memberi kamu rezeki dari yang dan terhadap

baik-baik.

apakah terus-

yang

batil mereka

beriman

nikmat Allah mereka

kufur?"

Ayat ini masih merupakan lanjutan dari uraian tentang rezeki Allah kepada manusia, d a l a m hal ini pasangan hidup dan buah dari keberpasangan itu.

654

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V A y a t 72

Allah berfirman: dan di samping anugerah y a n g disebut di atas Allah juga menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari diri, yakni jenis kamu sendiri, bagi kamu anak

agar kamu dapat merasakan ketenangan hidup dan menjadikan dari hasil h u b u n g a n k a m u dengan pasangan-pasangan

kamu itu, anak

k a n d u n g dan menjadikan dari anak-anak k a n d u n g itu cucu-cucu, m a u p u n perempuan. Dan bukan hanya itu anugerah Allah, Dia juga memberi dari aneka anugerah dan rezeki yang baik-baik,

baik lelaki

kamu

rezeki

yakni y a n g sesuai dengan

kebutuhan k a m u dan tidak m e m b a w a d a m p a k negatif terhadap k a m u , baik berupa harta benda, pangan, dan lain-lain, y a n g memelihara kelanjutan dan k e n y a m a n a n hidup k a m u . Maka y a n g terhadap yang apakah sesudah itu ada di antara k a m u

batil, yakni berhala-berhala, keyakinan buruk, seperti

m e y a k i n i a d a n y a a n a k bagi Tuhan, serta ketetapan h u k u m y a n g t i d a k b e r s u m b e r d a r i n i l a i - n i l a i a g a m a mereka sebaliknya terhadap mereka terus-menerus t e r u s - m e n e r u s beriman dan

nikmat dan karun ia Allah vang tidak dapat dihitung itu kufur, y a k n i tidak mensyukuri n i k m a t - n i k m a t - N y a

dan m e n e m p a t k a n n y a pada tempat y a n g semestinya? Kata ( ^yf<) azw&j adalah bentuk j a m a k dari kata ( ) zawj, y a i t u

sesuatu yang menjadi dua bila bergabung dengan yang lain atau dengan kata lain pasangan, baik dia lelaki (suami) m a u p u n perempuan (istri). Penamaan mengesankan b a h w a k e d u a n y a tidak wajar Pasangan,

istri dan suami sebagai zawj

dipisahkan karena kalau berpisah dia tidak lagi dinamai zawj.

s e b e l u m b e r p a s a n g a n , m a s i n g - m a s i n g b e r d i r i s e n d i r i serta m e m i l i k i perbedaan, namun perbedaan itu, setelah berpasangan, walaupun tidak lebur, menjadikan mereka saling melengkapi. Persis seperti kunci dan a n a k kunci, atau sepasang alas kaki, satu kiri dan satu kanan, masing-masing berbeda, tetapi jika salah satunya tidak m e n d a m p i n g i y a n g lain, fungsi kunci dan alas kaki itu tidak akan terpenuhi. Kata
(j^-jjjf)

anfusikum

memberi kesan bahwa suami hendaknya merasa

bahwa istrinya adalah dirinya sendiri, d e m i k i a n pula istri, sehingga sebagai pasangan, w a l a u p u n berbeda, mereka berdua pada hakikatnya menjadi diri y a n g satu, y a k n i m e n y a t u dalam perasaan dan pikirannya, dalam cita dan harapannya, dalam gerak dan l a n g k a h n y a , b a h k a n d a l a m m e n a r i k dan mengembuskan napasnya.

K e l o m p o k V Ayat 72

S u r a h a n - N a h l [16]

655

Diriku dirimu, Jika engkau

jiwaku

jiwamu, kata hatiku yang engkau keinginanku ucapkan, cetuskan.

bercakap,

dan jika engkau

berkeinginan,

yang engkau

Demikian ucap seorang pencinta. Kata
(jjjb-)

hafadab

adalah bentuk j a m a k dari kata ( j L i ? - ) bafid

dari

kata ( j i s - ) hafada

y a n g b e r m a k n a bergegas m e l a y a n i d a n

mematuhi.

M a y o r i t a s ulama m e m a h a m i n y a dalam arti cucu,

lelaki atau perempuan.

M e m a n g , cucu diharapkan, bahkan seharusnya, tampil bergegas melayani dan m e m a t u h i kakek dan neneknya. Ada juga y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti pembantu-pembantu atau keluarga istri dan ipar-ipar. S e m u a m a k n a ini

dapat d i t a m p u n g oleh kata tersebut w a l a u p u n m a k n a pertama lebih sesuai. Apabila kata hafadah dikembalikan kepada asal makna kebahasaannya ayat ini dapat dipahami

dan m e m a h a m i n y a dalam arti pembantu-pembantu,

juga sebagai menjelaskan dengan sangat indah fungsi suami dan istri terhadap masing-masing. Ayat ini bagaikan berkata: ' A l l a h menjadikan bagi k a m u (wahai suami dan istri) dari keberpasangan k a m u anak-anak k a n d u n g dan menjadikan pula bagi k a m u , w a h a i suami, pembantu, y a i t u istrimu, dan bagi k a m u , wahai istri, p e m b a n t u , y a i t u suamimu". M e m a n g , demikianlah seharusnya kehidupan suami istri, saling m e m b a n t u . Suami tidak harus angkuh atau m a l u m e m b a n t u istrinya dalam pekerjaan y a n g diduga orang pekerjaan perempuan, demikian pula sebaliknya. Rasul saw. m e m b a n t u istrinya mengatur r u m a h tangga, bahkan menjahit sendiri baju beliau y a n g koyak dan memperbaiki sendiri alas k a k i n y a . Ayat ini menggarisbawahi n i k m a t pernikahan dan anugerah keturunan. Betapa tidak, setiap manusia memiliki dorongan seksual y a n g sejak kecil menjadi naluri m a n u s i a dan ketika dewasa menjadi dorongan y a n g sangat sulit dibendung. Karena itu, m a n u s i a m e n d a m b a k a n pasangan, dan karena itu pula keberpasangan merupakan fitrah manusia, bahkan fitrah m a k h l u k hidup, atau bahkan semua m a k h l u k .

656

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V Ayat 72

"Mahasuci

Allah yang

telah menciptakan bumi,

pasangan-pasangan

semuanya

dari mereka

apa yang ditumbuhkan tidak ketahui"

dan dari diri mereka,

serta dari apa yang

(QS. Yasin [ 3 6 ] : 3 6 ) .

Ketersendirian—dan lebih hebat lagi k e t e r a s i n g a n — s u n g g u h dapat menghantui manusia karena manusia pada dasarnya adalah m a k h l u k sosial, yakni m a k h l u k yang m e m b a w a sifat dasar "ketergantungan dan keterikatan". Yakni m e m i l i k i kebutuhan terikat kepada pasangan dan kelompok, kecil dan besar. M e m a n g , sewaktu-waktu m a n u s i a bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan y a n g dalam dan dekar dengan p i h a k lain akan m e m b a n t u n y a m e n d a p a t k a n k e k u a t a n d a n m e m b u a t n y a lebih m a m p u menghadapi

tantangan, khususnya jika pasangan y a n g menyertainya dari jenisnya sendiri lagi sejiwa dengannya. Karena alasan-alasan inilah m a k a m a n u s i a menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Allah menganugerahkan kepada manusia n i k m a t y a n g tidak terhingga dengan menciptakan pada diri setiap m a k h l u k kecenderungan u n t u k berpasangan dan keterikatan pada kelompok karena, sekali lagi, kalau tidak d e m i k i a n , manusia akan gelisah. Allah M a h a Mengetahui bahwa kegelisahan itu dapat dialami oleh semua manusia, p e m u d a atau pemudi, d u d a atau janda, karena itu juga al-Qur'an ketika berbicara tentang j a n d a y a n g b e l u m selesai 'iddah tunggu)-nya menyatakan bahwa: (masa berkabung/

"Tidak terhadap

ada dosa bagimu diri mereka

(wahai

para

wali)

membiarkan

mereka

berbuat

menurutyangma'ruflpatut''(QS.

al-Baqarah [2J: 2 3 4 ) .

M a k s u d n y a mereka boleh berhias, bepergian, dan menerima p i n a n g a n . M e n g a p a tidak ada dosa? Karena keinginan u n t u k menyatu/berpasangan itu dapat merisaukan bila tidak dipenuhi. Kemudian, m e n g a p a a d a s y a r a t "maV«/7patut"? Karena bila

p e m e n u h a n n y a secara keliru dan tidak terarah, ia akan membinasakan. Dari sini, adalah merupakan n i k m a t y a n g tidak terhingga ketika Allah m e n s y a r i a t k a n "keberpasangan" pria dan w a n i t a dan diarahkannya

keberpasangan itu sedemikian rupa sehingga terlaksana apa y a n g d i n a m a i

K e l o m p o k V Ayat 73-74

S u r a h a n - N a h l [16]

657

"pernikahan" guna mengusir hanru keterasingan dan guna beralihnya kerisauan menjadi ketenteraman. Di sisi (ain, manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup selamanya. Menyadari bahwa tidak mungki n masing-masing secara pribadi dapat bertahan hidup selamanya, jalan satu-satunya u n t u k mempertahankan kelangsungan hidupnya itu adalah melalui anak keturunan y a n g merupakan perpanjangan dari k e h i d u p a n pribadi. Allah swt. m e n g a n u g e r a h k a n kepada m a n u s i a kecenderungan itu pada semua manusia—lebih-lebih perempuan—sehingga panggilan keibuan selalu berseru dalam hatinya. Para pakar menyatakan bahwa wanita menghasilkan dalam dirinya apa yang dinamai estrogen, yakni hormon cinta, dan progesteron atau hormon keibuan. Dengan hormon pertama, ia akan terus m e m e l i h a r a k e c a n t i k a n n y a dan, d e n g a n hormon kedua, ia terdorong dan bersedia mengorbankan kecantikannya demi anak-anaknya. Seandainya terputus h u b u n g a n anak dan ayah, atau sistem pernikahan tidak lagi diakui oleh masyarakat, atau terhenti keturunan manusia, niscaya sendi kehidupan bermasyarakat menjadi goyah yang pada akhirnya mengantar kepada kepunahan manusia. Kata ( o u & i ) ath-tbayyibdt adalAr bentuk jamak dari kata ( ^J?) kamu rezeki. thayyib Dengan . Kata ini di sini berfungsi sebagai adjektive (sifat) dari sesuatu yang tidak rezeki yang dianugerahkan

disebut yaitu kata y a n g diisyaratkan oleh memberi demikian, kata tersebut adalah sifat dari aneka m a k s u d kata thayyib. *
2

Allah. Selanjutnya, rujuklah ke ayat 32 surah ini u n t u k lebih m e m a h a m i B e n t u k j a m a k y a n g d i g u n a k a n penggalan ayat menjadikan penulis enggan membatasi m a k n a n y a hanya pada harta benda, atau makanan yang lezat, tetapi ia mencakup aneka anugerah Ilahi yang dapat dimanfaatkan, baik berupa kebutuhan pokok, pelengkap, kesempurnaan. maupun

AYAT 7 3 - 7 4

"Dan mereka kepada mereka

menyembah

selain Allah sesuatu yang

tidak dapat

memberikan tidak

rezeki sedikit pun dari langit

dan bumi,

dan mereka

Lihat halaman 572.

658

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V Ayat 73-74

kuasa.

Maka

janganlah (buruk). "

kamu

menjadikan

bagi

Allah sedang

perumpamaankamu tidak

perumpamaan mengetahui.

Sesungguhnya

Allah mengetahui,

Ayat ini adalah lanjutan kecaman terhadap orang-orang kafir y a n g tidak m e m p e r s e m b a h k a n rasa syukur atas n i k m a t - n i k m a t yang mereka peroleh. Ibadah adalah salah satu perwujudan syukur kepada Allah swt. Ia seharusnya hanya dipersembahkan kepada Allah swt. Dalam Q S . Quraisy [106]: 3, Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya karena Dia telah

m e n g a n u g e r a h k a n n i k m a t pangan y a n g mengantar mereka tidak lapar dan memikat keamanan yang menjadikan mereka terhindar dari kecemasan. Ayatayat sebelum ini telah menguraikan sedikit dari limpahan nikmat-Nya. Dan ini seharusnya mereka syukuri dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya saja, tetapi itu tidak terjadi, justru mereka menyembah serta m e n s y u k u r i selain Allah, d u r h a k a dan terus-menerus y a k n i berhala-berhala atau sesuatu

matahari, bulan, bintang dan lain-lain, y a n g masing-masing adalah yang tidak dapat memberikan kepada mereka rezeki sedikit pun,

baik y a n g

bersumber dari semua langit y a n g bertingkat-tingkat itu seperti rezeki hujan, kehangatan cahaya matahari, sinar bulan, dan lain-lain dan m a u p u n y a n g bersumber dari bumi semacam tanah tempat mereka berpijak, laut dan sungai, pepohonan, buah-buahan, dan lain-lain, dan mereka itu tidak j u g a kuasa sedikit pun. J i k a telah terbukti bahwa Allah M a h a Esa dan Dia adalah sumber segala anugerah, maka janganlah perumpamaan kamu menjadikan bagi Allah perumpamaansembahan-sembahan

buruk, yakni jangan mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya atau makna

j a n g a n m e n y i f a t i - N y a d e n g a n sifat-sifat y a n g m e n g a n d u n g

k e k u r a n g a n , seperti b a h w a Dia m e m i l i k i a n a k , atau D i a t i d a k k u a s a m e n g h i d u p k a n kembali y a n g telah mati dan m e m b a n g k i t k a n dari kubur. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui, karena itu

t e r i m a l a h d e n g a n b a i k i n f o r m a s i - N y a d a n l a k s a n a k a n l a h apa y a n g diperintahkan-N ya. Objek kata ( j j * J * i - - i H ) la yastathiunltidak kuasa tidak disebut pada

ayat ini. Ada ulama yang berpendapat bahwa di sini kata tersebut diperlakukan

K e l o m p o k V A y a t 75

S u r a h a n - N a h l [16]

659

s a m a d e n g a n k a t a - k a t a y a n g t i d a k m e m e r l u k a n objek a t a u apa y a n g diistilahkan dalam tata bahasa Arab Lizim dan, dengan demikian, m a k n a n y a adalah mereka sejak semula tidak berkuasa, yakni tidak memiliki kemampuan.

A d a juga y a n g berpendapat b a h w a objeknya sengaja tidak disebut agar mencakup segala sesuatu sehingga ayat ini bagaikan menyatakan mereka kuasa, yakni tidak memiliki kemampuan atau kesanggupan untuk tidak

melakukan

apa saja. Kedua pendapat ini bertemu dalam m a k n a y a n g d i m a k s u d n y a . Memang, kalau sesembahan itu adalah berhala-berhala, jelas ia tidak memiliki sedikit k e m a m p u a n pun. B u k a n k a h ia adalah benda-benda mati? Kalau sesembahan itu m a k h l u k hidup, kendati ia terlihat bagaikan m e m i l i k i "kemampuan", kemampuan itu bukan bersumber dari dirinya sendiri, tetapi anugerah Allah swt. Ayat ini kembali berbicara tentang tujuan aneka anugerah Allah swt., yakni mengesakan Allah, mengakui kenabian dan ketetapan-ketetapan yang mereka sampaikan, serta keniscayaan hari Kemudian, sebagaimana akan lebih jelas terbaca pada lanjutan ayat ini. Kata ( J \ i a ^ i ) al-amtsaladalah bentukjamakdari kata ( J i ° ) matsaldalam

arti p e r u m p a m a a n yang aneh atau menakjubkan. M e m p e r s e k u t u k a n Allah dengan sesuatu adalah menetapkan sifat-sifat yang aneh bagi sekutu-Nya, antara lain bahwa sekutu-sekutu itu m e m i l i k i kekuasaan dan persamaan dengan Tuhan, padahal mereka adalah m a k h l u k y a n g sangat lemah, tidak memiliki kekuasaan dan, dalam saat yang sama, persekutuan itu menyifati Tuhan Yang M a h a Esa dengan sifat-sifat y a n g aneh, misalnya bahwa Dia m e m i l i k i anak, padahal y a n g m e m i l i k i anak tentulah y a n g b u t u h sedang Allah Mahakuasa, tidak m e m b u t u h k a n sesuatu.

AYAT 7 5

"Allah membuat dapat mampu

satu perumpamaan; terhadap sesuatu

seorang

hamba yang dimiliki yang Kami

yang

tidak Kami dan

pun dan seorang sebagian

beri dari rahasia

rezeki yang

baik, lalu dia menafkahkan

darinya

secara

660

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok V Ayat .5

secara tetapi

terang-terangan, kebanyakan

adakah mereka

mereka

sama? Segala puji "

hanya

bagi

Allah,

tidak mengetahui.

Setelah ayat yang lalu melarang menetapkan bagi Allah sifat-sifat yang aneh, yakni y a n g tidak sesuai dengan kebesaran dan k e a g u n g a n - N y a atau melarang menjadikan untuk-Nya sekutu-sekutu, kini Allah swt. menjelaskan kebatilan keyakinan mereka dengan memberi p e r u m p a m a a n . Allah Yang M a h a M e n g e t a h u i itu membuat satu perumpamaan t e n t a n g kesesatan dimiliki,

keyakinan k a u m musyrikin yaitu keadaan seorang

hamba Allah yang

yakni seorang budak belian yang tidak dapat mampu, bertindak terhadap sesuatu pun dan keadaan seorangyung

yakni yang tidak dapat merdeka yang Kami

beri secara khusus dari Kami rezeki yang baik, halal, luas, melebihi kebutuhan dan sangat memuaskan, lalu dia y a n g Kami beri rezeki itu dengan terusmenerus bebas mengatur rezeki itu dan menafkahkan dari rezeki itu, secara rahasia dan secara terang-terangan; keadaannya bertolak belakang itu sama, sebagian adakah darinya, yakni

mereka y a n g

y a k n i h a m b a sahaya y a n g tidak

m e m i l i k i apa-apa dapat disederajatkan dan dipersamakan dengan y a n g merdeka ini? Jelas sekali tidak sama. Yang jika demikian segala puji hanya

bagi Allah semata-mata. Ya, kamu, wahai kaum muslimin, mengetahui bahwa segala puji hanya tertuju pada-Nya, tetapi kebanyakan dan durhaka itu tidak mengetahui. mereka yang musyrik

Ayat ini bagaikan mempersamakan keadaan berhala dan sesembahan kaum musyrikin dengan b u d a k belian y a n g tidak m e m i l i k i k e m a m p u a n sedikit pun, dan keadaan Allah dalam limpahan karunia-Nya dengan seorang merdeka, lagi kaya raya dan bebas menetapkan dan mengatur kehendaknya. Jelas kedtia orang itu tidak sama. Allah swt. adalah Pemilik segala y a n g ada. Allah swt. berbuat dan mengatur kerajaan a l a m semesta sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya, sembalian-sembahan selain Allah tidak memiliki apa-apa sehingga mereka tidak berhak untuk dipertuhan. Kata ( J-J. ) dbddzlam kamus-kamus bahasa m e m p u n y a i sekian banyak

a r t i . Kata t e r s e b u t d a p a t m e n g g a m b a r k a n ' ' k e k u k u h a n " t a p i j u g a "kelemahlembutan". Kata k u d a p a t berati "hamba sahaya atau anak panah yang pendek dan lebar'' (makna ini m e n g g a m b a r k a n k e k u k u h a n ) , dan j u g a

K e l o m p o k V A y a t 75

S u r a h a n - N a h l [16]

661

berarti "tumbuhan yang memiliki aroma yang harum" (ini menggambarkan kelemahlembutan). Seorang hamba sahaya tidak memiliki sesuatu. A p a y a n g d i m i l i k i n y a adalah milik tuannya, termasuk dirinya sendiri. Nah, jika demikian itu makna kata ( j_p ) 'abd, mengapa ayat ini menambahkan lagi kata (iS^Lf) y a n g berarti yang dimiliki* mamliikan

B u k a n k a h kata 'abd telah cukup? Al-Biqa'i

menjawab bahwa kata abd digunakan juga oleh al-Qur'an untuk menunjuk orang-orang yang bebas dan merdeka, yang menjadikan dirinya hamba AJIah, karena itu diperlukan kata mamlukan agar tidak timbul kesan y a n g keliru

b a h w a y a n g d i m a k s u d a d a l a h h a m b a A l l a h secara u m u m . Apa y a n g d i k e m u k a k a n pakar tersebut sungguh tepat. Bukankah Nabi M u h a m m a d saw. dinamai Allah sebagai abdihi/hamba-Nya, sebagaimana tercantum antara

lain pada awal Q S . al-Isra'? Memang, penghambaan diri kepada Allah sematamata adalah puncak kemerdekaan manusia. F i r m a n - N y a : ( j_jjs*.o V ) l& yastawunhnereka tidak sama berbentuk

jamak, walaupun kalimat sebelumnya menunjuk kepada dua pihak, sehingga sepintas dapat dikatakan bahwa seharusnya ayat ini menyatakan ( Ob ^-o *^ ) la yastawlyanlkeduanya tidak sama. Agaknya, pemilihan bentuk j a m a k itu

u n t u k mengisyaratkan b a h w a p e r u m p a m a a n ini tidak h a n y a tertuju pada saru pihak terhadap pihak yang lain, tetapi semua yang dicakup oleh pihak itu. Pihak pertama, yakni berhala y a n g disembah k a u m musyrikin, cukup banyak. Pihak ini menunjuk kepada mereka sehingga yang mana pun di antara sesembahan m e r e k a y a n g m e r e k a t a m p i l k a n atau bandingkan,

kesemuanya tidak dapat dipersamakan dengan Allah. S e m u a n y a adalah hamba-hamba Kata ( yang dimiliki-Nya
& X(J~\)

dan Dia adalah Pemilik Tunggal. pada ayat ini merupakan kelanjutan dari

ahhamdulillah

keterangan tentang perbandingan dan pembuktian persoalan yang dipaparkan pada penggalan yang lalu. M a k s u d n y a , berhala-berhala itu tidak dapat dipersamakan dengan Allah swt. Allah swt. yang melimpahkan aneka nikmat dan bertindak bebas sesuai kehendak dan hikmah kebijaksanaan-Nya sangat wajar dipuja dan disyukuri karena Dia adalah satu-satunya sumber n i k m a t sedang selai n-Nya tidak m e m i l i k i apa-apa.

662

S u r a h a n - N a h l [161

K e l o m p o k V A y a t 76

A d a j u g a y a n g berpendapat bahwa hamdalah

itu b u k a n lagi kelanjutan

keterangan, tetapi ucapan kesyukuran atas telah sempurnanya pembuktian. Seakan-akan, setelah m e n g e m u k a k a n perbandingan yang merupakan dalil yang sangat kuat dan m e m b u n g k a m lawan itu, lahirlah ucapan ahhamdulillAh

atas keterangan dan dalil y a n g sangat kuat itu. Pendapat lain menjadikannya sebagai pengajaran kepada manusia, seakan-akan ayat ini setelah menyampaikan argumentasinya berkata: "Hai kaum muslimin/manusia, puja dan pujilah Allah y a n g telah menganugerahkan aneka nikmat kepada kamu dan memberi k a m u petunjuk sehingga mengesakan dan mengakui nikmatNya." Selanjutnya, rujuklah ke awal surah al-Fatihah! '' Di sana Anda dapat m e n e m u k a n uraian panjang lebar rentang makna al-hamdulilldh.
:

AYAT 7 6

"Dan Allah membuat keduanya

perumpamaan: berbuat

dua arang lelaki, salah seorang sesuatu pun dan dia menjadi dia tidak

di beban

antara atas suatu berbuat

bisu, tidak dapat Ke mana Samakah

penanggungnya. kebajikan keadilan, pun.

saja dia disuruh, orang itu dengan yang

mendatangkan menyuruh

orang yang lurus?"

dan dia berada

di atas jalan

Ayat ini memberi p e r u m p a m a a n lain. Ini, m e n u r u t al-Biqa'i, karena boleh jadi ada di antara k a u m musyrikin itu yang keras kepala sambil berkata: "Sembahan-sembahan k a m i bukan milik Allah." Dari sini, p e r u m p a m a a n ayat di atas tampil untuk lebih m e m b u n g k a m mereka. Dapat j u g a dikatakan bahwa, setelah ayat y a n g lalu m e m b a n d i n g k a n sesembahan k a u m kaflrin dan k a u m m u s l i m i n , ayat ini m e m b a n d i n g k a n antara kafir dan muslim dengan menyatakan dan di samping perumpamaan vang lalu Allah juga membuat orang lelaki, salah seorang pula perwnpamaan keduanya y a n g lain. tentang dua tidak

di antara

bisu sejak kelahirannya,

Rujuk penafsiran Q S al-Fatihah [1]: 2 pada volume 1 halaman 32.

K e l o m p o k V A y a t 76

S u r a h a n - N a h l [16]

663

dapat

berbuat

sesuatu pun karena dia tidak dapat memberi dan menerima beban atas

informasi atau p e m a h a m a n dan, dengan d e m i k i a n , dia menjadi penanggungnya. Ke mana saja dia disuruh

oleh p e n a n g g u n g n y a itu atau apa suatu kebajikan pun,

saja yang d i m i n t a darinya, dia tidak

mendatangkan

yakni tidak memenuhi, bahkan tidak melakukan apa yang diharapkan darinya. Samakah orang itu dengan orang yang bijaksana dalam ucapan dan

tindakannya; tidak menjadi beban bagi seseorang pun, bahkan menyuruh berbuat keadilan

mampu

dan menempatkan sesuatu pada tempat y a n g

semestinya, dan dalam saat yang sama yang bersangkutan tidak hanya pandai m e n y u r u h tetapi dia juga berada di atas jalan yang lurus sehingga m a m p u

melaksanakan segala yang baik dan bermanfaat dan meninggalkan yang buruk serta berbahaya. S a m a k a h kedua orang itu? Pasti tidak! Seperti tergambar pada uraian tentang hubungan ayat ini, ulama-ulama berbeda pendapat tentang perumpamaan ini. Al-Biqa'i dan S a y y i d Q u t h u b , misalnya, m e n i l a i n y a sebagai masih berbicara rentang berhala-berhala dan Tuhan k a u m m u s l i m i n . Ibn 'Asyur juga berpendapat demikian. tentang

"Perumpamaan y a n g pertama-—tulisnya-—adalah p e r u m p a m a a n

berhala-berhala yang merupakan benda-benda mati yang tidak paham sesuatu serta perlu dijaga dan dibersihkan dari kotoran dan debu y a n g h i n g g a p padanya, sedang yang kedua adalah perumpamaan tentang

Kemahasempurnaan Allah Yang M a h a t i n g g i dalam Zat dan sifat-Nya serta limpahan kebajikan-Nya. A l - J a m a l d a l a m b u k u n y a y a n g m e n g o m e n t a r i Tafsir al-Jaldlain

menegaskan bahwa p e r u m p a m a a n ini adalah u n t u k m e m b u k t i k a n betapa j a u h j a r a k a n t a r a d e r a j a t s e o r a n g m u k m i n d a n kafir. A s y - S y a ' r a w i mengemukakan kedua pendapat di atas sambil mengingatkan bahwa redaksi ayat ini bukannya menyebut seorangutau seorang hamba sahaya, sebagaimana

perumpamaan y a n g lalu, tetapi perumpamaan yang diberikannya adalah dua orang lelaki sehingga ini, menurutnya, dapat berarti b a h w a y a n g bisu itu

adalah sang kafir, sedang y a n g m e m e r i n t a h k a n berbuat adil adalah sang m u k m i n . T h a b a t h a b a i j uga mengemukakan kedua pendapat di atas, namun ulama ini lebih cenderung memahami ayat tersebut sebagai berbicara tentang keesaan Allah swt. dan kewajaran-Nya u n t u k disembah karena Allah swt.

664

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V Ayat 76

"berada" di jalan lebar yang lurus serta memberi petunjuk melalui pengutusan para rasul dan penetapan syariat keagamaan. Selanjutnya, yang m e m a h a m i n y a sebagai berbicara tentang m u k m i n dan kafir, terbagi pula dalam dua kelompok. Yang pertama m e m a h a m i n y a dalam arti m u k m i n dan kafir secara u m u m , di m a n a dan kapan dan siapa pun dia, sedang yang kedua memahaminya sebagai m u k m i n tertentu, yakni Rasulullah saw., dan y a n g kafir y a n g dipersamakan dengan bisu itu adalah A b u Jahl. M e m a h a m i n y a secara u m u m jelas lebih baik daripada m e m a h a m i n y a secara khusus karena redaksi ayat ini bersifat u m u m . Kata { p £ J ) abkam berbeda dengan kata
(j>jA

) akhras walau keduanya kebisuannya

sering kali diterjemahkan dengan bisu. Seorang y a n g akhras

m u n c u l setelah kelahirannya, di sisi lain boleh jadi dia dapat m e m a h a m i orang lain serta dapat pula menjelaskan m a k s u d n y a dengan bahasa isyarat. Ini berbeda dengan abkam y a n g sejak lahir telah bisu lagi tidak p a h a m dan tidak juga dapat memberi pemahaman. Ada juga yang memahami kata abkam bukan sekadar bisu, tetapi j u g a buta dan tuli. Asy-Sya'rawi mengingatkan bahwa siapa y a n g bisu sejak lahir, itu berarti dia tuli karena bahasa lahir dari pendengaran. Bahasa adalah anak sah dari l i n g k u n g a n . Apa y a n g didengar oleh telinga itulah y a n g diucapkan oleh lidah, karena itu, anak seorang Arab y a n g tinggal di l i n g k u n g a n y a n g berbahasa Inggris akan mahir berbahasa Inggris, demikian pula sebaliknya, karena masing-masing mengucapkan apa yang didengarnya. Dengan d e m i k i a n , y a n g tidak mendengar pastilah bisu, y a k n i tidak dapat berbicara.

KELOMPOK 6

AYAT

77-89

565

S u r a h a n - N a h l [16]

S u r a h a n - N a h l [16]

667

668

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VI A y a :

AYAT 7 7

"Dan

milik Allah-lah gaib langit dan bumi. seperti kerlingan mata, bahkan "

Bukanlah lebih

peristiwa

Kiamat

itu.

melainkan

dekat (lagi).

Sesunggidmy,:

Allah Mahakuasa

atas segala, sesuatu.

Kelompok ayat ini lebih banyak m e n e k a n k a n tentang kehadiran Hari Kiamat serta bukti-bukti kekuasaan Allah yang dapat mengantar siapa pun y a n g m e m b u k a mata hati dan p i k i r a n n y a kepada k e s i m p u l a n tentang keniscayaannya. Di sisi lain, dapat dikatakan bahwa kelompok ayat yang lalu m e m b u k t i k a n kesesatan siapa pun y a n g mengangkat sekutu-sekutu bag: A l l a h , b a i k dua t u h a n atau l e b i h . K e l o m p o k ayat i n i , w a l a u masih mengandung pembuktian tentang keesaan-Nya, penekanan uraiannya adalah y a n g m e n y a n g k u t keniscayaan Hari Kiamat. Kendati ayat ini merupakan awal uraian kelompok baru, a l - B i q a i tetap m e n g h u b u n g k a n n y a dengan ayat yang sebelum ini y a n g menyatakan bahwa "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (Ayat 7 4 ' ,

M e n u r u t ulama itu, ayat ini menegaskan kesempurnaan ilmu Allah dan keluasan rjudrab-Nya., m e n y a n g k u t syahddah dengan m e n y a t a k a n bahwa, "Itulah i l m u Allah (alam nyata) y a n g terbukti kebenarannya melalui

keterangan-keterangan y a n g lalu, dan terbukti pula bahwa itu semua adalah milik-Nya. Tapi, i l m u dan kuasa-Nya bukan hanya terhadap y a n g nyata. Allah juga M a h a M e n g e t a h u i segala y a n g gaib." Para u l a m a — y a n g berpendapat bahwa ayat yang lalu yang berbicara tentang Allah dan menegaskan bahwa Dia memerintahkan kepada keadilan dan berada di jalan lebar y a n g l u r u s — m e l a n j u t k a n bahwa uraian tersebut berlanjut dengan kesimpulan bahwa: "Siapa vang demikian itu halnya, pastilah M a h a s e m p u r n a pengetahuan dan kuasa-Nya." Nah, ayat ini datang untuk membuktikan bahwa Dia M a h a Mengetahui, dan hanya Dia yang memiliki gaib langit dan bumi. Apapun hubungan yang Anda pilih, yang jelas ayat ini menyatakan bahwa

K e l o m p o k VI Ayat 77

S u r a h a n - N a h l [16]

669

dan di samping m i l i k - N y a sendiri pengetahuan alam yang nyata, juga hanya milik Allah-Lih sendiri gaib langit dan bumi, yakni pengetahuan tentang segala apa y a n g tersembunyi di j a g a d raya ini, atau h a n y a m i l i k Allah dan d a l a m kekuasaan-Nya sendiri segala hal y a n g berkaitan dengan langit dan b u m i . Antara lain tentang Kiamat dan hari Kebangkitan. Bukanlah peristiwa Kiamat

itu, yakni segala apa yang terjadi sejak kebangkitan manusia, pengadilan Ilahi, serta pelaksanaan ketetapan-ketetapan-Nya, melainkan bahkan seperti kerlingan mata,

lebih dekat lagi, y a k n i lebih m u d a h atau lebih cepat dari kerlingan

mata. Ini m e n u r u t logika dan perhitungan k a m u , bukan m e n u r u t hakikat kuasa Allah. Sesungguhnya Kata ( ^s-) ghayblgaib Allah Mahakuasa atas segala sematu. syahddah,

biasa dipertentangkan dengan (SiU-i )

yakni kenyataan yang disaksikan, baik dengan mata kepala m a u p u n dengan mata pikiran atau hati. Dari sini, dapat dikatakan bahwa jika sesuatu telah dapat Anda lihat, taba, atau ketahui hakikatnya, sesuatu itu bukan lagi gaib; s e b a l i k n y a j i k a A n d a tidak tahu h a k i k a t n y a , tidak dapat melihat atau merabanya, ia adalah gaib, paling tidak bagi Anda pribadi. Gaib ada dua macam. P e r t a m a , g a i b mutlak, yang tidak dapat terungkap

sama sekali. Hanya Allah yang mengetahuinya. Kedua, gaib relatif. Yang Anda tidak ketahui tetapi boleh jadi diketahui orang lain, atau y a n g sekarang Anda tak tahu, tapi di kali lain A n d a mengetahuinya, itulah gaib relatif. Ia relatif karena ada orang atau makhluk selain Anda yang mengetahuinya, atau walau sekarang belum mengetahuinya tetapi pada waktu yang lain akan terungkap bagi Anda. Firman-Nya: ( jfifi^j wa al-ardhildan
CJ\ M « J i

iiij ) u>a lillahi

ghaybu

as-samawati

milik Allah gaib

langit

dan bumi dipahami oleh beberapa

ulama dalam arti " H a n y a milik Allah-lah pengetahuan tentang hal-hal dan barang-barang y a n g tersembunyi di jagad raya ini." Kata ghayb, 'Asyur, adalah mashdar yang gaib. (kata jadian) y a n g berarti hal-hal menurut Ibn (barang-barang)

Ada juga ulama y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti y a n g lebih luas

dari sekadar pengetahuan. Mereka memahaminya dalam arti milik Allah yang gaib, yakni apa vang tidak terjangkau m e n y a n g k u t segala hal dan persoalan langit dan b u m i . Salah satu yang tidak terjangkau itu adalah soal Kiamat

670

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V I A y a t 7~

yang m e r u p a k a n bagian y a n g tidak keluar dari persoalan langit dan bumi, Kepemilikan-Nya itu bukan h a n y a pada kepemilikan pengetahuan tentang apa y a n g gaib y a n g terdapat di sana, tetapi j u g a m e m i l i k i n y a dan berkuasa untuk m e l a k u k a n apa saja y a n g berkaitan dengan segala y a n g gaib di jagad rava ini, dan kalau vang gaib dikuasai-Nya, tentu lebih-lebih lagi vang nyata, Tidak ada masalah Kiamat yang terjangkau oleh nalar dan pemahaman manusia, kecuali y a n g diinformasikan oleh aI-Qur'an dan as-Sunnah yang sahih. Allah mengetahui segala sesuatu m e n v a n g k u t Kiamat, bahkan Dia tidak saja mengetahui—misalnva masa terjadinya—tetapi Allah juga berkuasa melakukan apa saja y a n g berkaitan dengannva dan dengan segala yang gaib, Dari sini, terlihat hubungan y a n g jelas antara pernyataan kepemilikan di atas dengan penggalan ayat berikutnya, y a k n i ( A P U J I peristiwa dan segala persoalan yang menyangkut Kiamat.

y>\) amr

as-sdah/

Yakni, bagi Allah,

saat Dia berkehendak melakukan sesuatu terhadap yang gaib r e r m a s u k y a n g berkaitan dengan Kiamat, itu sangat m u d a h bagi-Nya lagi sangat cepat proses dan kejadiannya. Betapa tidak m u d a h dan cepat, padahal semua itu adalah milik-Nya, yakni berada dalam wewenang dan kekuasaan-Nya. Kata ( j - a J ' ^ ) lamb a!-bashar sering kali diterjemahkan dengan mata. Sebenarnya, dari segi bahasa, kata ( ^ U J i ) al-lamb berarti kejapan

pandangan.

Bahasa m e n g g u n a k a n berbagai kata u n t u k m e n u n j u k m a k n a pandangan tergantung dati lama dan arah pergerakan mata, seperti melihat, mengamati, mengerling, dan lain-lain. Kata ( ^ ) larnaha memandang,

adalah gerak mata

menuju sesuatu untuk melihatnya dan yang biasanya terlaksana dengan mudah dan cepat karena ketika itu si pemandang "mencuri" pandangan, enggan terlihat bahwa ia m e m a n d a n g . Ayat ini dapat dipahami dalam arti bahwa persoalan Kiamat adalah sesuatu y a n g sangat m u d a h bagi Allah swt. Karena itu, jangan duga Kiamat tidak dapat terjadi. Atau, bermakna Kiamat datang dengan cepat. Ia terjadi begitu tiba ketetapan Allah. Kedatangannya mengejutkan semua makhluk. U n t u k memberi contoh y a n g dapat mendekatkan p e m a h a m a n kepada manusia, m u d a h atau cepatnya peristiwa Kiamat itu adalah seperti kerlingan mata, bahkan lebih m u d a h dan cepat daripada kerlingan mata itu.

K e l o m p o k VI Ayat 77

S u r a h a n - N a h l [16]

671

Benar, peristiwa Kiamat bagi Aliah lebih m u d a h dan lebih cepat dari kerlingan mata manusia karena, betapapun mudah dan cepatnya mengerling bagi manusia, ia masih m e m e r l u k a n alat, syarat, gerak, dan w a k t u untuk m e w u j u d k a n kerlingan itu. Berbeda halnya dengan Allah swt. y a n g tidak terikat dengan svarat, tidak m e m b u t u h k a n alat, tidak j u g a memerlukan waktu.

"Sesungguhnya berfirman 82).

perintah-Nya

apabila

Dia menghendaki maka jadilah

sesuatu

hanya

kepada-Nya,

'Kun (jadilah)',

ia" ( Q S . Yasin [ 3 6 ] :

Peristiwa Kiamat, gaib bagi manusia. Jangankan Kiamat yang merupakan akhir masa hidup, detik m e n d a t a n g pun tidak berada dalam j a n g k a u a n kepastian pengetahuan manusia. Gaib adalah bagian dari rahmat Allah sehingga manusia dapat bekerja, berkreasi, bahkan mengharap. Seandainya manusia mengetahui kapan datangnya K i a m a t — b a i k y a n g kecil, y a k n i k e m a t i a n , m a u p u n y a n g besar, y a k n i k e h a n c u r a n a l a m raya-—hidup sebagaimana dikehendaki Allah akan terhenti. H i d u p yang dimaksud sebagai ujian dan perlombaan meraih kebajikan akan terhenti atau paling tidak pincang. Seandainya manusia mengetahui semua yang gaib, akan berubah warna kehidupan, hubungan antar-manusia pun akan sangar lain. T i d a k seorang pun mengetahui Isi hati manusia kecuali dirinya sendiri. Seandainya tetungkap apa yang terlintas dalam pikiran atau terkuak apa yang terbetik dalam hati m e n y a n g k u t kejahatan atau penipuan, sangka buruk, dengki, dan sebagainya, sungguh manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Allah menutupi hal tersebut dan memasukkannya ke dalam wadah gaib. Allah swt. tidak hanya menutupi dan m e n y e m b u n y i k a n apa y a n g dirahasiakan manusia terhadap orang lain, tetapi juga menutupi sekian banyak pengalaman masa kesedihan atau keinginan setiap pribadi, y a n g dipendam dan ditutupi oleh Allah di bawah sadar seseorang, yang jika d i t a m p a k k a n kepada orang lain atau d i m u n c u l k a n ke permukaan hati yang bersangkutan sendiri, pasti akan mengakibatkan gangguan y a n g tidak kecil.

672

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V I A y a t 78

AYAT ^8

"Dan Allah mengeluarkan tidak mengetahui

kamu dari perut

ibu-ibu

kamu dalam bagi kamu "

keadaan pendengaran,

sesuatu pun, dan Dia menjadikan

penglihatan-penglihatan,

dan aneka hati agar kamu bersyukur.

Sayvid Quthub menjadikan ayat ini sebagai pemaparan contoh sederhana d a l a m kehidupan manusia y a n g tidak dapat terjangkau o l e h n y a — y a k n i kelahiran—-padahal itu terjadi setiap saat, siang dan m a l a m . Persoalan ini adalah gaib yang dekat, tetapi sangat jauh dan dalam untuk menjangkaunya. M e m a n g , boleh jadi manusia dapat melihat tahap-tahap pertumbuhan janin, tetapi dia tidak mengetahui bagaimana hal tersebut terjadi karena rahasianya merupakan rahasia kehidupan. D e m i k i a n Savyid Q u t h u b m e n g h u b u n g k a n avat ini dengan avat y a n g lalu yang berbicara tentang kepemilikan Allah terhadap gaib dan tentang kegaiban Hari Kiamat. Ayat ini dapat juga dihubungkan dengan ayat yang lalu dengan menyatakan bahwa uraiannya merupakan salah satu bukti kuasa Allah m e n g h i d u p k a n kembali siapa yang meninggal d u n i a serta kebangkitan pada Hari Kiamat. Avat ini menyatakan: Dan sebagaimana,Allah mengeluarkan kuasa dan i l m u - N v a dari perut ibu-ibu kamu berdasar

kamu sedang tadinya k a m u tidak

wujud, demikian juga Dia dapat mengeluarkan k a m u dari perut bumi dan m e n g h i d u p k a n kamu kembali. Ketika Dia mengeluarkan k a m u dari ibuibu k a m u , k a m u semua dalam keadaan tidak mengetahui bagi sesuatu pun yang pendengaran,

ada di sekeliling k a m u dan Dia menjadikan penglihatan-penglihatan, dan aneka

kamu

hati sebagai bekal dan alat-alat u n t u k dengan m e n g g u n a k a n alat-alat

meraih pengetahuan agar kamu

bersyukur

tersebut sesuai dengan tujuan Allah menganugerah-kannya kepada k a m u . Avat di atas menggunakan kata ( j^-Uli) a s-sam'I pendengaran bentuk tunggal dan m e n e m p a t k a n n y a sebelum kata ( penglihatan-penglihatan hati yang
^Laj^i )

dengan al-abshar/ idah/aneka

vang berbentuk jamak serta {aj^V' ) al-af

juga berbentuk jamak.

K e l o m p o k VI Ayat 78

S u r a h a n - N a h l [16]

673

Kata al-afidah

adalah bentuk jamak dari kata (

) jk'dd yang

penulis

terjemahkan dengan aneka hati guna m e n u n j u k m a k n a j a m a k itu. Kata ini d i p a h a m i oleh banyak ulama dalam arti akal M a k n a ini dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, y a n g menjadikan seseorang terikat sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan. Dengan demikian, tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan cahaya Ilahi. Didahulukannya kata pendengaran atas penglihatan merupakan perurutan

yang sungguh tepat karena memang ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indra pendengaran berfungsi mendahului indra penglihatan. Ia mulai t u m b u h pada diri seorang bayi pada pekan-pekan pertama. Sedangkan, indra penglihatan baru bermula pada bulan ketiga dan menjadi sempurna menginjak bulan keenam. A d a p u n k e m a m p u a n akal dan mata hati y a n g berfungsi membedakan y a n g baik dan buruk, ini berfungsi j a u h sesudah kedua indra tersebut di atas. D e n g a n d e m i k i a n , dapat d i k a t a k a n b a h w a perurutan

penyebutan indra-indra pada ayat di atas mencerminkan tahap perkembangan fungsi indra-indra tersebut. Selanjutnya, dipilihnya bentuk j a m a k untuk penglihatan dan hati karena

yang didengar selai u saja sama, baik oleh seorang m a u p u n banyak orang dan dari arah m a n a p u n d a t a n g n y a suara. Ini berbeda dengan apa y a n g dilihat. Posisi tempat berpijak dan arah p a n d a n g melahirkan perbedaan. D e m i k i a n juga hasil kerja akal dan hari. Hati manusia sekali senang sekali susah, sekali benci dan sekali rindu, t i n g k a t - t i n g k a t n y a berbeda-beda w a l a u objek y a n g dibenci dan dirindui sama. Hasil penalaran akal pun demikian, la dapat berbeda, boleh jadi ada yang sangar jitu dan tepat, dan boleh jadi juga merupakan kesalahan fatal. Kepala sama berambut, tetapi pikiran berbeda-beda. Firman-Nya di atas m e n u n j u k kepada alat-alat pokok yang d i g u n a k a n

guna meraih pengetahuan. Yang alat pokok pada objek vang bersifat material adalah mata dan telinga, sedang pada objek y a n g bersifat immaterial adalah akal dan hati. Dalam pandangan al-Qur'an, ada wujud yang tidak tampak betapapun tajamnya mata kepala atau pikiran. B a n y a k hal y a n g tidak dapat terjangkau

674

S u r a h a n - N a h l 1161

Kelompok V I Ayat 78

oleh indra, bahkan oleh akal manusia. Yang dapat m e n a n g k a p n y a hanyalah hati melalui wahyu, ilham, atau intuisi. Dari sini pula sehingga al-Qur'an, di samping m e n u n t u n dan mengarahkan pendengaran dan penglihatan, juga memerintahkan agar mengasah akal, y a k n i daya pikir dan mengasuh pula daya kalbu. Akal d a l a m arti daya pikir h a n y a m a m p u berfungsi dalam batas-batas tertentu. Ia tidak m a m p u m e n u n t u n manusia keluar j a n g k a u a n alam fisika ini. Bidang operasinya adalah bidang a l a m nyata dan dalam bidang ini pun terkadang manusia teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal sehingga hasil penalaran akal tidak m e r u p a k a n j a m i n a n bagi seluruh kebenaran y a n g d i d a m b a k a n . "Logika" adalah suatu i l m u y a n g dirumuskan oleh Aristoteles y a n g bertujuan m e m e l i h a r a seseorang agar t i d a k terjerumus k e d a l a m kesalahan berpikir. N a m u n , ternyata, i l m u ini tidak m a m p u memelihara perumusnya sendiri—-jangankan orang l a i n — d a r i kesalahan-kesalahan fatal d a l a m b e r p i k i r . Akal h a n y a ibarat k e m a m p u a n b e r e n a n g . Memang,

k e m a m p u a n ini dapat m e n y e l a m a t k a n seseorang dari kehanyutan di tengah kolam renang atau sungai dan laut y a n g tidak deras gelombangnya. Tetapi, tidak di tengah samudra luas y a n g g e l o m b a n g n y a g u l u n g bergulung. J i k a gelombang sedemikian deras dan besarnya, akan sama saja keadaan y a n g m a m p u berenang dan yang tidak mampu; keduanya memerlukan pelampung. Alat u n t u k meraih p e l a m p u n g itu adalah kalbu. Bukan hanya agamawan yang berbicara tentang pentingnya kalbu untuk diasah dan diasuh. I l m u w a n pun berbicara tentang peranan dan daya kalbu yang demikian besar. Intuisi, indra keenam, itulah sebagian nama yang mereka perkenalkan. Agamawan m e n a m a i n y a ilham atau hidayah. Allah m e n g a n u g e t a h k a n n y a kepada mereka y a n g m e m p e r s i a p k a n diri u n t u k menerimanya dengan mengasah dan mengasuh kalbunya. Alat-alat y a n g dianugerahkan Allah itu masih belum d i g u n a k a n oleh u m a t Islam, b a h k a n para p e n u n t u t i l m u secara sempurna. Pelajar dan mahasiswa kita lebih banyak m e n g g u n a k a n indra pendengar daripada indra penglihat. Indra pendengar baru digunakannya setengah-setengah. Akal tidak j a r a n g d i a b a i k a n dan k a l b u h a m p i r selalu terabaikan, termasuk dalam lembaga-lembaga Pendidikan A g a m a . S u n g g u h ironis.

K e l o m p o k VI A y a t 79

S u r a h a n - N a h l [16]

675

Firman-Nya: ( sesuatu

LJ- jJ^JUJ

*} ) la ta'lamuna

syaianftidak

mengetahui

pun dijadikan oleh para pakar sebagai bukti bahwa manusia lahir

tanpa sedikit pengetahuan pun. M a n u s i a , kata mereka, bagaikan kertas putih yang belum dibubuhi satu huruf pun. Pendapat ini benar jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah pengetahuan kashiy, yakni yang diperoleh melalui upaya manusiawi. Tetapi, ia meleset jika menafikan segala macam pengetahuan karena m a n u s i a lahir m e m b a w a fitrah kesucian y a n g melekat pada d i r i n y a sejak lahir, yakni fitrah yang menjadikannya "mengetahui" bahwa Allah M a h a Esa. Di samping itu, ia juga m e n g e t a h u i — w a l a u sekelumit—tentang wujud dirinya dan apa sedang dialaminya. B u k a n k a h hidup manusia ditandai oleh gerak, rasa, dan tahu, m i n i m a l mengetahui wujud dirinya?

AYAT 7 9

"Tidakkah angkasa yang

mereka

melihat

burung-burung menahannya terdapat

yang

ditundukkan

terbang

di pada yang

bebas. Tidak ada yang itu benar-benar

selain Allah. Sesungguhnya tanda-tanda bagi orang-orang

demikian

beriman."

Uraian ayat ini merupakan salah satu bukti kuasa Allah swt., setelah ayat yang lalu menyinggung tentang ilmu dan anugerah-Nya, yaitu alat-alat untuk memeroleh pengetahuan. Karena itulah a g a k n y a sehingga ayat ini tidak d i m u l a i dengan kata dan katena ayat yang lalu berbicara tentang limpahan anugerah Ilahi kepada manusia, sedang penekanan ayat ini bukan pada a n u g e r a h - N y a , tetapi pada p e m b u k t i a n betapa kekuasaan h a n y a dalam genggaman tangan Allah semata. A l - B i q a ' i menulis bahwa n i k m a t - n i k m a t y a n g disebut sebelum ini bertujuan mengingatkan manusia bahwa Allah M a h a k u a s a , dan bukan selain Dia, karena itu ayat ini memberi salah satu bukti tentang kuasa Allah itu. Ayat ini menyatakan bahwa: Tidakkah dan para pendurhaka, melihat, yang ditundukkan mereka, yakni k a u m m u s y r i k i n burung-burung

yakni memerhatikan bagaimana

oleh Allah sehingga mudah baginya untuk terbang melayari g

676

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VI Ayat

di angkasa

bebas.

K e m u d a h a n itu terjadi d e n g a n m e n c i p t a k a n

burung

m e m i l i k i potensi sehingga m a m p u menyesuaikan d i r i n y a dengan h u k u m h u k u m alam yang ditctapkan-Nya. Tidak ada yang tidak j a t u h ke b a w a h selain Sesungguhnya menahannya sehingga

Allah Yang Kuasa lagi M a h a M e n g e t a h u i .

pada yang demi kian itu, yakni kemudahan yang dianugerahkan

/VilaK kepada burung dan penciptaan h u k u m - h u k u m alam dengan aneka dampaknya itu. benar-benar orangyang beriman terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-

dan juga bagi orang-orang yang menyiapkan hatinya untuk

menerima i m a n . Ilmuwan menguraikan bahwa ada sekian faktor yang menjadikan burung m a m p u terbang dengan m u d a h , antara lain tipikal bentuk tubuh burung yang ramping, sayap lebar y a n g dilengkapi dengan bulu-bulu serta tulangtulang berongga. Ada juga kantong-kantong udara yang disimpan dalam perttt, menggantung pada paru-paru. Kantong-kantong udara itu akan terisi udara secara otomatis pada saat burung mulai terbang sehingga dengan demikian berat badan burung berkurang. Demikian penulis temukan dalam tafsir al-Muntakhab.

Itulah faktor-faktor yang menjadikan burung dapat terbang, tetapi jangan du^a bahwa faktor-faktor itu berdiri sendiri, terlepas dari kuasa dan kehendak Allah swt. Ketika ayat ini menyatakan bahwa Allah y a n g m e m u d a h k a n burung terbang dan tidak ada yang m e n a h a n n y a selain Allah, k e m u d a h a n dan penahan itu bersumber dari-Nya dengan menganugerahkan kepada burung potensi tersebut serta menciptakan h u k u m - h u k u m y a n g sesuai bagi burung untuk dapat terbang. Tanpa anugerah itu akan sulit, bahkan mustahil burung dapar. terbang. Bukankah Abbas Ibn Fernas (W. 2 7 4 H ) , filosof M u s l i m , sastrawan, dan ahli Ilmu Falak itu, manusia pertama y a n g berusaha terbang dan m e m b u a t sayap bagi dirinya dan mencoba terbang, justru jatuh dan r e m u k badannya? Ini karena Allah tidak m e m u d a h k a n bagi manusia u n t u k terbang dalam arti tidak memberinya potensi dalam dirinya u n t u k m a m p u terbang tanpa bantuan alat y a n g melekat pada dirinya serta terbawa sejak lahir. Ayat di atas m e n g g u n a k a n bentuk jamak ( oUT ) dydt ketika menunjuk tanda-tanda kuasa Allah m e n y a n g k u t terbangnya burung. Tanda-tanda itu

K e l o m p o k VI A y a t 80

S u r a h a n - N a h l [16]

677

antara lain ketika ia m e n g e m b a n g k a n sayapnya, atau m e n u t u p n y a , ketika terbang meninggi atau m e n u k i k y a n g masing-masing dapat menjadi tanda tersendiri. Belum lagi tanda-tanda y a n g dapat dipetik dari h u k u m - h u k u m Allah yang berlaku di alam raya dan yang berkaitan dengan keadaan burung. Ayat Q S . al-Mulk [67]: 19 yang juga berbicara tentang terbangnya burung dan kekuasaan Allah m e n a h a n n y a di udara m e n g g u n a k a n kata dan, berbeda dengan ayat di atas vang tidak m e n g g u n a k a n kata p e n g h u b u n g itu. Hal ini agaknya disebabkan uraian tentang burung di sana berkaitan dengan uraian sebelumnya y a n g berbicara tentang bebetapa contoh kuasa Allah y a n g lain seperti kuasa-Nya memperindah langit dengan bintang-bintang, kuasa-Nya menjungkirbalikkan b u m i . Nah, karena masing-masing contoh itu berdiri sendiri n a m u n m e m p u n y a i keterkaitan uraian, y a k n i tentang kuasa Allah, kata dan diperlukan a d a n y a di sana.

AYAT 80

"Dan Allah menjadikan dan Dia menjadikan yang

bagi kamu rumah-rumah

kamu sebagai ternak

tempat

tinggal

bagi kamu dari kulit binatang ringan

rumah-rumah dan pada hari alat-

kamu merasakannya

pada hari kamu bepergian bulu unta,

kamu bermukim alat rumah tangga

dan dari bulu domba, dan kesenangan

dan bulu kambing, "

sampai

waktu, tertentu.

Setelah diuraikan anugerah-Nya menyangkut nikmat untuk memeroleh hal-hal yang bersifat immaterial, yakni sarana perolehan pengetahuan, kini disebut anugerah lain yang merupakan nikmat material, yakni salah satu dari tiga kebutuhan pokok fisik manusia. Di sisi lain, ayat yang lalu berbicara tentang binatang, dalam hal ini burung yang berada di udara, kini dibicarakan tentang ternak y a n g berkeliaran di darat. Ayat ini mengingatkan manusia tentang nikmat y a n g dapat diperolehnya dari binatang ternak itu dengan m e n y a t a k a n bahwa dan di samping n i k m a t - n i k m a t y a n g lalu, Allah j u g a menjadikan tinggalyang bagi kamu dalam hal ini rumah-rumah kamu sebagai tempat

dapat memberi ketenangan menghadapi gangguan lahir dan batin bagi kamu dari kulit binatang ternak seperti unta, sapi,

dan Dia menjadikan

678

S u r a h an-Na>i) i i 6 )

kelompok ^

fcyal

V.

kambing, dan sebagainya rumah-rumah, yang kamu merasakannya ringan

yakni kemah-kemah berdampingan hari, yakni di waktu. dan dijadikananeka,

m e m b a w a n y a pada

kamu bepergian

dan pada hari, yakni di waktu, kamu bennukim

N y a pula u n t u k k a m u dari bulu domba, alat-alat rumah tangga dan kesenangan,

bulu unta, dan bulu kambing

yakni perhiasan serta hal-hal lain waktu tertentu

yang m e n y e n a n g k a n u n t u k k a m u pakai dan nikmati sampai y a n g singkat. Firman-Nya: buyutikumldan ( ry menjadikan bagi ) wa Allah kamu ja'ala

lakum kamu

min dst.

Allah

rumah-rumah

mengandung arti bahwa Allah menciptakan bagi manusia bahan-bahan untuk dijadikan r u m a h serta m e n g i l h a m i m e r e k a cara p e m b u a t a n n y a . Ilham membuat rumah merupakan tangga pertama bagi bangunnya peradaban umat m a n u s i a sekaligus merupakan upaya paling dini dalam m e m b e n t e n g i diri manusia guna memelihara kelanjutan hidup pribadi, bahkan jenisnya. Dengan demikian, ini adalah nikmat y a n g sangat besar. Kata ( malam, ) bahlrumah pada m u l a n y a berarti tempat berada di waktu

baik tempat itu berupa bangunan tetap m a u p u n sementara seperti

k e m a h - k e m a h . M a k n a tersebut k e m u d i a n berkembang menjadi tempat tinggal, baik digunakan di w a k t u m a l a m m a u p u n siang. Agaknya, penamaan itu demikian karena pada dasarnya seseorang bisa saja terus berkeliaran di siang hari tanpa kembali ke rumah. N a m u n , jika malam tiba, ia merasa sangat perlu kembali ke tempat tinggalnya u n t u k tidur. Kata ( ) sakanan terambil dari kata y a n g bermakna tenang setelah

sebelumnya bergejolak. R u m a h berfungsi memberikan ketenangan kepada penghuninya setelah seharian bergulat dengan aneka problem di luar rumah. Keberadaan di r u m a h menjadikan seseorang dapat melepaskan lelah dan merasa tenang tidak terganggu bukan saja oleh binatang buas, tetapi juga oleh pengunjung yang masuk tanpa izin. Itu sebabnya al-Qur an memerintah siapa pun vang akan m e m a s u k i r u m a h — w a l a u p e m i l i k n y a s e n d i r i — u n t u k mengucapkan salam sebagai tanda sekaligus doa kedamaian bagi y a n g berada di d a l a m r u m a h . Di sisi lain, Rasul saw. m e n g i n g a t k a n para t a m u u n t u k kembali bila salamnya tidak terjawab setelah tiga kali m e n g u c a p k a n n y a . Di sisi lain, rumah tangga, y a n g m i n i m a l terdiri dari suami istri, j u g a bertugas
?

K e l o m p o k V ! A y a t 81

S u r a h a n - N a h l [16]

679

menciptakan sakan, anggota keluarga.

y a k n i sakinah,

yaitu ketenangan batin bagi seluruh

Firman-Nya: ( ^\*iH\ ij^=r an am/dan menjadikan

j ) u>a ja'ala

lakum ternak

min juludi

al-

bagi kamu dari kulit binatang

rumah-rumah

dijadikan dasar oleh ulama tentang bolehnya memanfaatkan semua kulit binatang y a n g h i d u p lalu disembelih maupun y a n g mati tanpa disembelih. Tetapi, tentu saja kulit tersebut baru menjadi suci bila telah disamak. I m a m A h m a d Abu Hantfah berpendapat b a h w a kulit binatang y a n g mati tanpa disembelih secara syara' sama sekali tidak dapat dimanfaatkan w a l a u telah disamak karena kulit tersebut d i n i l a i n y a s a m a dengan bangkai. N a m u n , alQ u r t h u b i , y a n g menukil pendapat di atas, berkomentar, "Riwayat-riwayat yang membolehkan pemanfaatan kulit d i m a k s u d setelah disamak

menghadang pendapat ini. Kulit babi, demikian juga anjing, tidak termasuk kulit y a n g d i b o l e h k a n pemanfaatannya." D e m i k i a n dalam mazhab Syafi'i. Tetapi, beberapa ulama m e m b o l e h k a n pemanfaatan kulit babi y a n g telah disamak dan menilainya h a n y a makruh. Pendapat terakhir ini sangat lemah. Firman-Nya: {cjf tertentu <li U L * ) mataan ild hin/kesenangan sampai waktu

merupakan nasihat y a n g berharga agar manusia tidak terpukau oleh

alat-alat rumah tangga dan perhiasan serta aneka kenikmatan duniawi karena hal-hal tersebut hanya bersifat sementara; j i k a bukan barangnya yang rusak sehingga meninggalkan pemiliknya, sang pemilik yang mati meninggalkannya.

AYAT 81

"Dan Allah menjadikan tempat bernaung,

bagi kamu dari apa yang bagi kamu

telah Dia ciptakan tempat-tempat

tempatdi kamu

dan Dia jadikan dan Dia jadikan

tertutup

gunung-gunung,

bagi kamu pakaian

yang memelihara

dari panas dan pakaian yang memelihara Allah menyempurnakan nikmat-Nya

kamu dalam peperangan. atas kamu agar kamu berserah

Demikianlah diri. "

Setelah ayat y a n g lalu m e n y e b u t p e r u m a h a n y a n g h a n y a dihuni oleh manusia, kini disebutnya tempat tinggal y a n g lain di m a n a m a n u s i a dan

680

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VI A y a t 81

binatang dapat m e n g h u n i n y a . Demikian al-Biqa'i m e n g h u b u n g k a n avat ini dengan ayat sebelumnya. Atau, dapat juga dikatakan bahwa, setelah berbicara t e n t a n g p e r u m a h a n y a n g berfungsi m e m b e r i n a u n g a n s e m p u r n a dan permanen, kini diuraikan tentang naungan dalam bentuk lain yaitu dengan menyatakan bahwa: Dan Allah menjadikan bagi kamu dari apa yang telah

Dia ciptakan seperti pepohonan atau bangunan-bangunan tinggi bernaung tempat dari cuaca panas atau dingin, dan Dia jadikan tertutup,

tempat-tempat tempatdapat

bagi kamu

vakni g u a dan lorong-lorong digunung-guuungyawg

k a m u jadikan tempat tinggal atau bernaung sebagaimana halnya r u m a h rumah, dan Dia jadikan bagi kamu pakaian dari berbagai bahan seperti kapas,

katun, dan wol yang dapat memelihara dan pakaian Demikianlah,

kamu dari sengatan panas dan dingin kamu dalam peperangan.

berupa baju-baju besi yang memelihara

s e b a g a i m a n a A l l a h m e n c i p t a k a n k a m u dari tiada d a n k a m u sarana kehidupan d u n i a w i , Allah juga

menganugerahkan menyempurnakan

nikmat-Nya

atas kamu dengan jalan mengutus para nabi diri, yakni

untuk" m e n y a m p a i k a n petunjuk keagamaan agar kamu berserah t u n d u k patuh melaksanakan perintah-perintah-Nya. Kata (OUTi ) akndn adalah bentuk j a m a k dari kata ( sesuatu yang menutupi, dan yang dimaksud di sini adalah

) kinn, y a k n i dan semacamnya sardbiladalah anggota

y a n g seting ditemukan di p e g u n u n g a n , sedang kata ( bentuk j a m a k dari kata ( J o ^ - ) sirbdl yaitu pakaian tubuh manusia dengan tujuan apa pun, seperti baju

J^>j-«)

yang
atau

menutupi perisai.

Ayat di atas tidak m e n y e b u t secara tersurat fungsi pakaian sebagai pemelihara dati sengatan dingin. Ini bukan
saja

karena masyarakat A r a b —

khususnya di tempat turunnya avat ini di Mekkah—lebih merasakan kesulitan sengatan panas, tetapi juga karena sebelum ayat ini pada Q S . an-Nahl [ 1 6 ] : 5 yang lalu telah disebut nikmat kehangatan yang dianugerahkan Allah melalui binatang ternak. Di sisi lain, sifat bahasa a l - Q u r \ i n y a n g cenderung kepada ijmdl, yakni penyingkatan, sering kali mencukupkan penyebutan satu hal, walau

yang dimaksudnya lebih dari satu, jika dari konteksnya telah dapat dipahami. Pada ayat ini disebut dua fungsi pakaian, vaitu memelihara dari sengatan panas (dan dingin) d a n memelihara dari serangan musuh. Pada Q S . al-AYaf p ] : 2 6 , disebut fungsinya yang lain yaitti sebagai penutup aurat, yakni bagian

K e l o m p o k V! A y a t 8 2 - 8 3

S u r a h a n - N a h l [16]

681

tubuh yang terlarang memperlihatkan kepada orang lain serta segala bagian t u b u h y a n g malu bila terlihat orang, dan fungsinya sebagai hiasan. Sedang pada Q S . al-Ahzab [ 3 3 ] : 59, disebut fungsinya sebagai sarana yang dapat m e m b e d a k a n seseorang dari y a n g lain. Dengan d e m i k i a n , fungsi pakaian, m e n u r u t a l - Q u r a n , paling sedikit m e n c a k u p lima hal utama.

AYAT 8 2 - 8 3

"Jika mereka penyampaian mereka

tetap dengan

berpaling, terang.

maka sesmigguhnya Mereka mengetahui mereka

kewajibanmu nikmat adalah Allah,

hanyalah kemudian kafir."

mengingkarinya

dan kebanyakan

orang-orang

Ayat yang lalu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah menyempurnakan n i k m a t - N y a a g a r m a n u s i a berserah d i r i . A y a t ini m e l a n j u t k a n g u n a mengingatkan semua pihak sambil menghibur Nabi M u h a m m a d saw. yang menghadapi penolakan kaumnva bahwa jika mereka, yakni kaum musyrikin, tetap berpaling dan menolak t u n t u n a n - t u n t u n a n y a n g engkau sampaikan, engkau tidak lagi dituntut tidak

w a h a i Nabi M u h a m m a d , maka sesungguhnya

untuk bertanggung jawab akibat penolakan mereka karena kewajibanmu lain hanyalah penyampaian tuntunan Allah dengan

terang, baik dengan lisan

maupun dengan keteladanan. l a n g a n d u g a p e n y a m p a i a n m u b e l u m jelas atau u s a h a m u b e l u m maksimal. Tidak. Mereka mengetahuibahwa semua nikmatbetsumber dari mereka

Allah dan mereka mengakuinya dengan lisan mereka, tetapi kemudian mengingkarinya kebanyakan

dengan tingkah laku dan kepercayaan mereka yang sesat dan mereka adalah orang-orang kafir yang sempurna kekafiran dan

keingkarannya kepada Allah swt. P e n g g u n a a n kata ( f ) tsumrnalkemudian p a d a a y a t di atas u n t u k

mengisyaratkan betapa j a u h k e b u r u k a n pengingkaran mereka itu. Betapa tidak? Mereka telah tahu, tetapi tetap berkeras kepala, menolak. H u r u f alifdan al-kdfirun hhn y a n g menghiasi awal kata kdfirun sehingga berbunyi vakni mereka yang benar-benar

mengandung makna kesempurnaan,

682

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VI Ayat 84

telah mencapai puncak kekufuran. Karena itu, agaknya, sehingga ayat ini hanya menyatakan kebanyakan mereka, bukan semua mereka, karena sebagian

yang lain belum mencapai peringkat sempurna itu sehingga diharapkan suatu ketika mereka dapat sadar. T h a b a t h a b a ' i m e m a h a m i ayat ini dalam arti " M e r e k a mengetahui nikmat Allah sebagai nikmat yang bersumber dari-Nya, dan ini berarti mereka h a t u s percaya p a d a - N v a d a n kepada R a s u l - N y a , hari K e m u d i a n , serta m e n g a m a l k a n t u n t u n a n - N y a , tetapi ketika sampai kepada pengamalan, mereka justru melakukan hal-hal vang merupakan buah pengingkaran bukan buah pengetahuan, bahkan kebanyakan mereka tidak sekadar m e l a k u k a n pengingkaran dalam bentuk amal, bahkan lebih dari itu, mereka benar-benar dan secara sempurna melakukan kekufuran dan penolakan kepada kebenaran akibat keras kepala, pengingkaran, dan tekad y a n g penuh dalam kekufuran. T h a b a t h a b a ' i j u g a menegaskan bahwa n i k m a t dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama, dari sisi k e s e s u a i a n n y a d e n g a n k e a d a a n m a n u s i a y a n g dari sisi

memerolehnya sehingga berdampak k e n y a m a n a n jasmani. Kedua,

keberadaan m a n u s i a y a n g m e m e r o l e h n y a pada jalan y a n g sesuai dengan tuntunan a g a m a dan yang mengantar kepada kebahagiaan ruhani. N i k m a t sisi kedua ini mengantar kepada keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta hari Kemudian sambil m e n g g u n a k a n n y a pada jalan y a n g diridhai Allah. Seorang m u k m i n memeroleh kedua sisi n i k m a t ini sedang sang kafir h a n y a meraih sisi yang pertama dan sama sekali tidak memeroleh sisi y a n g kedua.

AYAT 84

"Dan

hari Kami bangkitkan kepada orang-orang

dari setiap yang

umat seorang

saksi, kemudian dapat

tidak meminta

diizinkan ampun."

kafir, dan tidak mereka

Setelah ayat y a n g lalu menjelaskan sikap dan perilaku k a u m musyrikin y a n g dinilai kebanyakan mereka telah mencapai puncak kekufuran, ay at ini
r

K e l o m p o k VI A y a t 8 4

S u r a h a n - N a h l [16]

683

m e m p e r i n g a t k a n semua p i h a k tentang apa yang akan dialami oleh semua o r a n g y a n g kafir. Dalam hal ini, Nabi M u h a m m a d saw. diperintahkan bahwa, "Wahai Nabi, karena engkau hanya bertugas menyampaikan, lanjutkan usaha p e n y a m p a i a n itu dan ingatkan setiap orang tentang hari di m a n a ketika itu Kami kepada bangkitkan orang-orang dari setiap yang umat seorang kafir saksi, kemudian tidak diizinkan

untuk berdalih membela diri dan

s e m a c a m n y a — k a r e n a s e b e n t a r l a g i p a r a saksi a k a n m e n y a m p a i k a n k e s a k s i a n n y a — d a n tidak pula mereka dapat meminta ampun karena masa

p e r m o h o n a n a m p u n telah berlalu d a l a m k e h i d u p a n d u n i a dan mereka p u n ketika itu telah berkali-kali diajak bertaubat m e m o h o n a m p u n . " Kata { - L ^ i ) syahid f saksi yang dimaksud di sini, d i p a h a m i oleh b a n y a k diutus kepada masing-masing umat.

ulama dalam arti nabi atau rasul yang

Ada j u g a k e m u n g k i n a n memperluasnya sehingga mencakup selain nabi atau rasul. Ini sejalan dengan firman-Nva dalam Q S . az-Zumar [ 3 9 ] : 69 bahwa ketika itu akan didatangkan para nabi dan para saksi. Ini dapat berarti bahwa para nabi bersaksi menyangkut umatnya pada saat para nabi itu hidup bersama k a u m n y a dan para saksi selain nabi dan rasul masing-masing menjadi saksi setelah para nabi dan para rasul itu tidak lagi hidup di tengah k a u m n y a . Ini berarti j u g a bahwa para shiddiqin dan syuhadd'di hari Kemudian nanti dapat

j u g a menjadi saksi-saksi atas u m a t y a n g hidup di masa mereka. Dengan demikian, kesaksian tersebut menjadi sangat kuat karena la berdasar pandangan mata serta pengalaman hidup di tengah umat. Itu pula agaknya yang menjadi sebab sehingga N a b i 'Isa as., ketika d i m i n t a kesaksian beliau terhadap umat Kristiani, antata lain menegaskan bahwa:

J ^ ^ P

C*J^J

<y^

£>

- ^Y^

D

C-^CT" ^4 y ^ *
9 E

O»-s U

IJU.J-I

P-J^c- O O S J

"Aku menjadi Maka setelah Engkau adalah

saksi terhadap

mereka

selama

aku berada yang

di antara mereka.

mereka. Dan

Engkau wafatkanku, Maha Menyaksikan

Engkaulah

mengawasi

atas segala sesuatu"

( Q S . a l - M a idah [ 5 ] :

1 1 7 ) . Nah, Allah mengawasi mereka antara lain melalui h a m b a - h a m b a - N y a yang taat yang berada di tengah setiap umat.

684

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VI A y a t 85

Kata {'f)

tsurnma/kemudian

y a n g m e n g a n d u n g m a k n a jarak y a n g jauh,

pada ayat ini berfungsi sebagai isyarat tentang betapa j a u h dan besar siksa y a n g m e r e k a terima akibat tidak diberi kesempatan m e n g a j u k a n dalih d i b a n d i n g d e n g a n k e c a m a n dan k e s a k s i a n syahid yang menguraikan

k e d u r h a k a a n m e r e k a . Ini k a r e n a , k e t i k a p a r a saksi m e n y a m p a i k a n kesaksiannya, boleh jadi masih terbersit harapan k i r a n y a mereka dapat m e m o h o n a m p u n , tetapi setelah ketetapan y a n g diinformasikan oleh kata sesudah tsummaikemudian sudah harapan mereka. Firman-Nya: ( o i j / i ! f ) tsurnma la yiidzanlkemudian tidak diizinkan itu, y a k n i tidak dapat memohon a m p u n , pupus

dinyatakan oleh ayat di atas tanpa menyebut objeknya. D a l a m penjelasan di atas, penulis memperkirakan objeknya adalah untuk dan semacamnya. berdalih membela diri

Objek itu sengaja tidak disebut agar mencakup banyak hal

dan agar tertampik segala kemungkinan yang boleh jadi muncul dalam benak tentang k e m u d a h a n terhadap mereka. Kata ( ) yusta 'tabun terambil dari kata ( ketidaksenangan ) 'atb yang antara lain atas kesalahan

berarti kecaman/penyampaian

atau keluhan

pihak lain. Seseorang y a n g mengecam atau m e n y a m p a i k a n ketidaksenangan atau keluhannya, bisa saja setelah itu memberi maaf dan menyatakan, "Yang sudah, sudahlah". Upaya seseorang m e n y a m p a i k a n kesalahan mitranya lalu menunjukkan kesediaan mengampunkan dinamai (, ilp ) 'dtaba. Selanjutnya, apabila kecaman itu disusul dengan pemaafan, ini dinamai ( ) a'taba.

Kesediaan yang bersalah mendengar keluhan dan melakukan apa yang diminta oleh yang mengeluhkan tentang kesalahannya dinamai ( ( j ^ ) al-utbd.
1

Ayat

ini menginformasikan bahwa para pendurhaka itu tidak lagi dapat diterima permohonan mereka, tidak j u g a diterima usaha mereka u n t u k memeroleh keridhaan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.

AYAT 85

"Dan apabila diringankan

orang-orang

zalim

telah menyaksikan

siksaan, diberi

maka tangguh.

tidaklah "

azab bagi mereka

dan tidak pula mereka

K e l o m p o k VI A y a t 85

S u r a h a n - N a h l [16]

685

Sebenarnya, kesempatan untuk bertaubat dan meminta maaf telah lama diberikan, peringatan-peringatan pun telah berulang-ulang disampaikan, namun para pendurhaka itu menyia-nyiakan kesempatan dan mengabaikan peringatan dan, dengan demikian, mereka sendiri y a n g m e n g a n i a y a diri mereka. Kalau ayat sebelum ini mengisyaratkan bahwa ketika itu mereka menyesal dan ingin m e m o h o n a m p u n , kendati permohonan itu tidak akan diterima, di sini dinyatakan bahwa penyesalan itu juga tidak berguna sedikit pun. Karena itu, setelah ayat yang lalu menyatakan bahwa mereka tidak diberi a m p u n , ayat ini menegaskan bahwa mereka tetap akan disiksa. Secara singkat, kita dapat berkata bahwa ayat ini bagaikan menyatakan: Kaum musvrikin itu tidak diberi a m p u n . Karena itu, mereka diseret menuju tempat penyiksaan. Dan apabila orang-orang zalim yang menganiaya diri tempat penyiksaan dan

mereka dengan kemusyrikan itu telah menyaksikan

siksaan y a n g disediakan bagi mereka akibat kekufuran dan kezalimannya, maka hati mereka sungguh takut dan pikiran mereka sangat kacau sehingga semakin bertambah penyesalan mereka, tetapi itu semua tidak bermanfaat karena tidaklah diringankan azab yang telah disiapkan bagi mereka diberi tangguh. dengan

keringanan apa pun dan tidak pula mereka

Dapat juga dikatakan: Apabila mereka telah menyaksikan azab lalu memohon agar siksa itu diringankan, permohonan itu tidak akan dikabulkan, maka dengan d e m i k i a n tidaklah pula mereka diberi tangguh. diringankan azab bagi mereka dan tidak

Thabathaba'i menjadikan ayat yang lalu sebagai uraian tentang perbedaan antara sanksi di hari Kemudian dan sifat sanksi di dunia. Pada hari Kemudian, sanksi tidak akan dielakkan atau diubah dengan mengajukan alasan dan permohonan ampun, sedang di dunia tidak demikian. Nah, setelah ayat yang lalu menjelaskan perbedaan itu, ayat ini menjelaskan perbedaan siksa ukhrawi dengan siksa-siksa y a n g dikenal di dunia y a n g berkaitan dengan orang-orang aniaya. Di dunia, bisa saja ada keringanan atau sedikit penangguhan, tetapi di akhirat kedua hal itu tidak pernah akan ada. hubungan antara ayat ini dan ayat y a n g lalu. Demikian—menurutnya—

686

Surah an-Nahl

[16]

K e l o m p o k VI A y a t

86-87

AYAT

"Dan mereka, dahulu kepada

apabila mereka

orang-orang berkata,

yang

mempersekutukan

melihat

sekutu-sekutu kami yang

' Tuhan kami! Mereka selain Engkau.'

inilah sekutu-sekutu mencampakkan

kami sembah mereka,

Lalu mereka

ucapan mereka dari

'Sesungguhnya kepada

kamu benar-benar

para pendusta.

Dan

menyampaikan mereka apa yang

Allah ketika itu penyerahan ada-adakan. "

diri dan hilanglah

selalu mereka

Selanjutnya, diuraikan apa y a n g terjadi antara para pendurliaka itu dan sekutu-sekutu mereka yang tadinya—ketika di dunia—mereka sangat kagum i dan harapkan bantuannya. Ayac ini menyatakan: Dan apabila yang mempersekutukan Allah melihat orang-orang

tuhan-tuhan yang mereka sembah dan mereka

mereka anggap sekutu-sekutu semata-mata, mereka sembahan kami, inilah kami yang dahulu

Allah berdasar kehendak dan sangkaan "Tuhan kami! Mereka,

berkata,

yakni sembahanatas kehendak

yang k a m i j a d i k a n sekutu-sekutu-Nl\i selalu sembah selain Engkau

kami

secara k e l i r u dan

mengharap kiranya mereka m e n d e k a t k a n kami k e p a d a - M u . Karena itu, ringankanlah siksa atas kami, dan berilah sebagian siksa itu kepada mereka. " Lalu, dengan spontan mereka, dengan m e n y a t a k a n kepada pendusta yakni sesembahan itu, mencampakkan mereka, "Sesungguhnya kamu benar-benar ucapan para

ketika berkata bahwa kami adalah sekutu-sekutu Allah. Sebenarnya

kalian sendiri yang m e m p e r t u h a n dan m e n y e m b a h kami atas perintah dan kehendak hawa nafsu kalian sendiri. Dan kami sekali-kali bukan sekutu Allah.' Dengan demikian, pupus sudah menyampaikan hilanglah kepada s e m u a h a r a p a n dan itu penyerahan diri
1

mereka dan

Allah semata-mata ketika

dari benak dan hati mereka

apa, y a k n i kepercayaan, yang ada-adakan,

selama

h i d u p mereka di d u n i a selalu mereka

yakni bahwa sembahan-

sembahan mereka dapat memberi pertolongan kepada mereka. Yang d i m a k s u d dengan ( j - i ) syurakdahum/sekutu-sekutu mereka

adalah berhala-berhala yang mereka jadikan sekutu-sekutu/Allah. Perlakuan mereka terhadap berhala sebagai sekutu vAIlah dan keyakinan yang mereka

K e l o m p o k VI Ayat 88

S u r a h a n - N a h l [16]

687

buat-buat itu, tidak diakui bukan saja oleh A l i a h dan k a u m beriman, tetapi bahkan oleh berhala-berhala itu sendiri. Yang m e n g a k u i n y a demikian hanya mereka sendiri sehingga sangat wajar bila berhala-berhala itu dinamai sekutu mereka. ilaihim al-qaulllalu mereka mencam­ sekutu-

Kata ( J_**Ji p^Ji i^ilU ) fa alqau pakkan ucapan,

menurut Ibn 'A syur, digunakan di sini untuk mengisyaratkan

bahwa ucapan mereka itu bukan sebagaimana ucapan m a k h l u k y a n g dapat berbicara, tetapi Allah ketika itu menjadikan mereka dapat "berbicara" w a l a u p u n mereka sebenarnya tidak pernah m e m i l i k i potensi berbicara. Di sini, seakan-akan apa yang mereka sampaikan itu bagaikan sesuatu yang jatuh dari mereka. Dapat juga kata ini di sini mengandung kesan bahwa ucapan itu mereka sampaikan dengan kasar bagaikan m e n c a m p a k k a n sesuatu. Adapun kata serupa pada ayat 8 7 , di samping pendapat yang d i k e m u k a k a n Ibn 'Asyur di atas, u l a m a itu m e n a m b a h k e m u n g k i n a n lain, yaitu bahwa kata tersebut dapat j u g a d i p a h a m i d a l a m arti menyerah meletakkan kata alqd seperti h a l n y a seorang y a n g

senjata pertanda penyerahan dan ketidakberdayaan. M e m a n g , dapat m e n a m p u n g banyak m a k n a antara lain dan melempar. diri bukan sekadar pengakuan semua dan tanpa meletakkan,

menyampaikan,

Yang d i m a k s u d dengan ( ^-L^Ji) as-salamlpenyerahan pengakuan tersebut akan keesaan Allah dan penolakan disertai dengan yakni sepenuh apa yang kesediaan pengakuan disertai penuh yang dengan oleh para

syirik, tetapi ia adalah untuk menghasilkan pelaksanaan melaksanakan

konsekuensinya, penerimaan menunda

ketundukan secara tulus,

hati

disampaikan

nabi dan para

rasul. Itu semua

tidak lagi dapat wujud di hari Kemudian karena gaib yang tadinya tersembunyi kini telah nyata, siksa pun telah tampak, masa beramal pun telah berlalu.

AYAT 88

"Orang-orang kepada berbuat mereka

yang kafir dan menghalangi siksaan di atas siksaan

dari jalan Allah, Kami disebabkan (karena)

tambahkan selalu

mereka

kerusakan."

688

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok VI Ayat £ r

Orang-orang kafir yang durhaka dan yang diuraikan pada ayat-ayat y a n e lalu pastilah kekufuran mereka bertingkat-tingkat. B u k a n k a h a d a y a n c sempurna kekufurannya ada j u g a yang b e l u m / t i d a k sempurna sebagaimana diisyaratkan oleh ayat 83? B u k a n k a h ada di antara mereka y a n g durhaka sambil mengajak kepada kedurhakaan, atau menghalangi yang lain menerima kebenaran, d a n ada juga y a n g durhaka tapi bersikap pasif? N a h , ayat ini menyatakan bahwa siksaan y a n g akan mereka peroleh akan berbeda-beda sesuai dengan kedurhakaan masing-masing. Orang-orang yang kafir, yakni

y a n g m e l a k u k a n p e n g a n i a y a a n atas d i r i m e r e k a , dan, y a k n i s a m b i l menghalangi orang lain dari m e n e m p u h jalan Allah, y a i t u jalan kebaikan kepada mereka siksaan

dan kebenaran yang penuh kedamaian, Kami tambahkan

yang pedih di atas, yakni di samping siksaan yang diakibatkan oleh kekufuran mereka. Tambahan siksa itu disebabkan sengaja berbuat kerusakan, karena mereka selalu dan dengan

y a k n i menyesatkan orang lain.

Penambahan siksa dimaksud bukannya tidak beralasan. Siksaan pertama a d a l a h akibat kekufuran m e r e k a , sedang t a m b a h a n n y a adalah karena merintangi dan menyesatkan orang lain. U n t u k jelasnya rujuklah ke ayat 25 surah ini.>(l

AYAT 89

"Dan (ingatlah) saksi atas mereka menjadi penjelasan

pada hari Kami mengutus dari mereka sendiri

pada masing-masing

umat

seorang engkau sebagai gembira

dan Kami telah mendatangkan turunkan kepadamu al-Kitdb dan kabar

saksi atas mereka.

Dan Kami

bagi segala sesuatu muslim. "

dan petunjuk

serta rahmat

bagi orang-orang

Ayat yang lalu menegaskan bahwa mereka akan disiksa. J a n g a n duga siksaan itu tanpa melalui pengadilan vang jujur. Kendati kesalahan mereka sudah d e m i k i a n jelas, Allah p u n M a h a k u a s a secara langsung menjatuhkan

R u j u k halam.fn 5 6 1 .

K e l o m p o k VI Ayat 8 9

S u r a h a n - N a h l [16]

689

siksa-Nya, tapi hal tersebut tidak dilakukan-Nya. Ayat ini menjelaskan keadaan yang akan terjadi dan meminta Nabi M u h a m m a d saw. untuk mengingatkan hal tersebut, y a k n i : Dan ingatlah pada menghadirkan, pada masing-masing hari ketika Kami mengutus, yakni yakni

umat seorang

saksi atas mereka,

nabi y a n g berasal dari kalangan mereka sendiri atau seorang terkemuka y a n g diakui kesalehan dan ketakwaannya. Setiap saksi akan memberi persaksian yang jujur dan benar dan Kami telah, yakni pasti akan, mendatangkan wahai Nabi M u h a m m a d , turunkan kepadamu menjadi saksi atas mereka semua. Dan engkau, Kami al-Kitdb, sesuatu petunjuk

secara berangsur, sedikit demi sedikit, ayat-ayat penjelasan yang amat sempurna bagi segala

yakni al-ChiYan, sebagai

yang berkaitan dengan urusan agama dan kitab itu m e n g a n d u n g serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim

}'ang benar-benar

berserah diri kepada Allah swt. Kata ( C J L J
)

nab'atsu

pada ayat ini dipahami oleh beberapa ulama dalam

arti tnembangkitkan

dari kubur, sebagaimana disinggung oleh ahjamal dalam Pendapat ini kutang tepat karena

komentarnya terhadap Talsir al-jalalam.

ayat ini berbicara tentang peristiwa yang terjadi setelah Kebangkitan semua m a n u s i a dari kuburnya. Ketika itu, setiap kelompok umat berkumpul di padang Mahsyar, lalu Allah menghadirkan saksi u n t u k m e n y a m p a i k a n kesaksiannya terhadap mereka masing-masing. Kata tersebut di sini sejalan m a k n a n y a dengan kata (>iLL^>-) ji'ndbika, m e n g u n d a n g m u untuk memberi kesaksian. Kata ( jfi ) min anfusihim/dari kalangan mereka sendiri memberi y a k n i Kami datangkan dan

b o b o t y a n g lebih k u k u h terhadap kesaksian itu. Yakni, oahwa y a n g menyaksikan bukan orang lain dari luar lingkungan mereka, tetapi dari kalangan mereka sendiri sehingga kecurigaan terhadap para saksi bukanlah pada tempatnya. Seandainya pun akan ada kecurigaan-—sekali lagi seandainya akan ada k e c u r i g a a n — m a k a
YANG

dapat muncul adalah kecurigaan tentang

subjektivitas dan belas kasih para saksi terhadap mereka. Perhatikanlah kembali pembelaan Nabi 'Isa as. kepada k a u m n y a yang menganut paham Trinitas. Di sana, walau beliau tidak memohonkan ampun, terkesan adanya semacam rasa iba terhadap para pendurhaka itu, yakni ketika beliau mengakhiri kesaksiannya dengan menvampaikan kepadaAllah:

690

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V I A y a t 89

"Jika Engkau menyiksa hamba-Mu, Mahaperkasa

mereka,

maka sesungguhnya mereka,

mereka

adalah

hambaEngkau

dan jika Engkau mengampuni lagi Mababijaksana"
31

maka sesungguhnya

(Rujuklah kembali ke tafsir pada Q S . al-

Ma'idah [5]: 118).

Penggalan awal ayat 89 ini bukan merupakan pengulangan terhadap ayat 8 4 y a n g lalu. Di sana ia d i t a m p i l k a n u n t u k m e n e k a n k a n b a h w a para p e n d u r h a k a tidak diperkenankan m e n y a m p a i k a n dalihnya, sedang di sini untuk menjelaskan bahwa Rasul saw. akan diundang menjadi saksi atas semua y a n g diistilahkan oleh ayat ini dengan ( « . ^ j a ) haulai.

Kata ( C i js>) ha uld 'i dipahami oleh para ulama dalam arti para nabi dan saksi y a n g m e n y a m p a i k a n kesaksian mereka, y a k n i Nabi M u h a m m a d saw. menjadi saksi tethadap mereka. A d a juga yang m e m a h a m i n y a d a l a m attl u m a t manusia sejak masa kenabian Nabi M u h a m m a d saw. hingga Hari Kiamat. T h a h i r Ibn 'Asyur m e m a h a m i n y a d a l a m arti k a u m m u s y r i k i n M e k k a h , karena merekalah y a n g menjadi b a h a n p e m b i c a r a a n di sini. Menurutnya, setelah ia menelusuri kata-kata ( ) hd uld 'i dalam al-Qur'an,

ia m e n e m u k a n bahwa kata tersebut menunjuk kepada k a u m musyrikin Mekkah. Thabathaba i berpendapat serupa dengan Ibn 'Asyur, tetapi bukan dengan alasan y a n g sama. M e n u r u t n y a , seorang syahid, y a k n i saksi tersebut, adalah

yang hadir pada satu masa tertentu di tengah-tengah umat yang disaksikannya sehingga ini berarti terdapat sekian banyak saksi u n t u k umat y a n g diutus kepadanya Nabi M u h a m m a d saw. Karena, tentu saja, sekian banyak generasi yang telah hidup dan masih akan hidup sejak masa kenabian hingga kini dan masa datang. Demikian lebih kurang alasannya. Kata ( U L > ) tibydnan mengandung makna yang lebih dalam dan sempurna terdapat penambahan huruf

daripada kata ( U L J ) bayan karena pada kata tibydn

huruf. P a k a r - p a k a r bahasa m e r u m u s k a n b a h w a , " P e n a m b a h a n mengandung penambahan makna".

'" Lihat volume 3 halaman 305.

K e l o m p o k VI A y a t 8 9

S u r a h a n - N a h l [16]

691

Tibydn

y a n g d i m a k s u d dapat m e r u p a k a n penjelasan y a n g d i t e m u k a n

dalam al-Qur'an sendiri karena ayat al-Qur'an saling menjelaskan, atau dari Nabi saw. dalam uraian, pembenaran, dan pengamalan beliau, atau ijmd'

(kesepakatan para u l a m a ) dan cfiyas, yakni analogi. Dengan m e n g g u n a k a n keempat pendekatan vang d i k e m u k a k a n oleh a I - Q u r a n ini, jawaban semua persoalan h u k u m dan keagamaan dapat menjadi jelas. Firman-Nya: ( J S 3 U L J ) tibydnan li kulli syai'lpenjelasan bagi segala

sesuatu dijadikan oleh para ulama sebagai salah satu alasan untuk menyatakan bahwa al-Qur'an m e n g a n d u n g segala m a c a m i l m u pengetahuan. Ketika menafsirkan firman-Nya:

"Tiadalah

Kami alpakan

sesuatu

pun di dalam

al-Kitdb"(QS>.

al-An'am [ 6 ] :

3 8 ) , penulis antara lain menjelaskan bahwa: Salah seorang ulama yang memperluas cakupan m a k n a ayat ini adalah I m a m Ghazali (w. 1111 M ) . Hujjatul Islam ini menulis dalam b u k u n y a , Jawdhir aTQur'an> bahwa:

" S e m u a jenis pengetahuan tidak keluar dari k a n d u n g a n al-Qur'an karena semuanya bersumber dari samudra ilmu Allah yang tidak terbatas. Pikirkanlah tentang al-Qur'an, pelajarilah keajaiban-keajaibannya, akhirnya A n d a akan bertemu dengan keseluruhan ilmu generasi terdahulu dan generasi kemudian." Imam Ghazali mendasarkan pendapatnya di atas pada hakikat yang tidak diingkari oleh siapa pun y a n g memercayai Allah, y a i t u bahwa Allah M a h a M e n g e t a h u i . H a n y a saja, al-Ghazali melanjutkan bahwa karena al-Qur'an bersumber dari Yang M a h a Mengetahui itu, tentu al-Qur'an mencakup ilmu Allah swt. Logika al-Ghazali ini tidak sepenuhnya d i d u k u n g oleh banyak u l a m a karena, w a l a u p u n al-Qur'an adalah kalam Allah, kaldm tidak otomatis telah mencakup segala yang diketahui oleh pembicara, lebih-lebih j i k a disadari bahwa kaldm Allah itu pada dasarnya hanya ditujukan kepada manusia y a n g hidup sejak masa Nabi M u h a m m a d saw. M e m a n g , dari segi redaksional, kalimat ( sesuatu JS3 ) li kulli syai'Ibagi segala

dapat dipahami dalam arti "segala-galanya", tetapi salah satu y a n g

menghadang pemahaman yang sangat luas itu adalah kenyataan bahwa sekian

692

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VI Ayat 89

banyak disiplin ilmu, apalagi perinciannya, tidak tercantum dalam al-Qur'an. Di sisi lain, kata segala sesuatu, bila akan dikaitkan dengan al-Qur'an, haruslah

dikaitkan dengan fungsi atau tujuan kehadiran Kitab Suci itu. Sebagai contoh, jika A n d a menugaskan si A u n t u k membeli lima jenis barang dan kelimanya telah dibelinya tanpa membawa barang-barang lain yang ditawarkan di pasar, tidaklah wajar jika Anda berkata bahwa si A alpa atau m e l u p a k a n sesuatu. Ketika itu, A n d a berkata benar lagi sesuai dengan kenyataan jika berkata: "Dia telah membeli segala sesuatu . D e m i k i a n itu juga dengan ayat ini.
,

Kalimat di atas harus dikaitkan dengan fungsi a l - Q u r a n . f u n g s i n y a adalah menjelaskan keesaan Allah, t u n t u n a i v r u n c u n a n - N y a , serta h u k u m - h u k u m agama yang mengamar kepada kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Al-Qur'an pada dasarnya tidak berfungsi menjelaskan hakikat ilmiah apalagi perincian persoalan sains dan teknologi. Rujuklah kembali ke ayat 38 surah al-An'am itu untuk memeroleh informasi yang lebih lengkap. ''Berbeda pendapat ulama menyangkut kaitan antara penggalan pertama ayat ini yang berbicara tentang kesaksian Rasul saw. dan turunnya a l - Q u f a n . Ada yang memahami penggalan kedua ayat di atas berhubungan dengan ayat b4 y a n g lalu: ( AJ i j i b ^ l ^ j J l ^ j ^ J *s!j >_JU>Ji dJs- Uljjf Uj ) wa m a alaika al-kitaba menurunkan kepada mereka illa litubayyina al-Kitdb, lakum alladzi melainkan ikhtalafu agar engkau fthildan dapat Kami anzalnd tidak

kepadamu

menjelaskan

apa yang mereka,

perselisihkan.

Thabathaba i' menghubungkan kedua penggalan itu dengan sangat erat. Menurutnya, ayat ini bagaikan menyatakan: "Kami mendatangkan mu sebagai saksi terhadap mereka dan, dalam saat y a n g sama, Kami telah m e n u r u n k a n k e p a d a m u al-Kitab (al-Qur'an) yang merupakan penjelasan m e n y a n g k u t segala sesuatu dalam persoalan hidayat. Kebenaran dapat diketahui serta dibedakan dengan yang batil melalui kitab itu dan, dengan demikian, ia menjadi saksi terhadap amal-amal manusia di hari Kemudian, terhadap orangorang zalim atas kezaliman mereka dan terhadap k a u m m u s l i m i n atas keislaman mereka. Ini karena kitab tersebut adalah petunjuk, rahmat, dan berita g e m b i r a dan e n g k a u , wahai Nabi M u h a m m a d , adalah pemberi

>:

Rujuk penafsirannya pada vulume 3 halaman 41 0.

K e l o m p o k VI A y a t 8 9

S u r a h a n - N a h l [16]

693

petunjuk, pembawa rahmat dan berita gembira bagi mereka." Demikian lebih ku ra n t* T h a b a t b ab a' i. Jauh sebelum pendapat ulama bermazhab Syi'ah di atas, ai-Biqa i j u g a m e n g h u b u n g k a n penggalan kedua ayat di atas dengan penggalan pertama. Dengan singkat dan jitu, ulama itu menulis bahwa ayat ini bagaikan berkata: Karena Kami telah mengutusmu—-wahai Nabi Muhammad—-kepada

mereka dan Kami jadikan engkau orang terpercaya di kalangan mereka, dan Kami pun telah m e n u r u n k a n k e p a d a m u al-Kitab, m a k a tidak ada lagi dalih dan alasan vang dapat mereka k e m u k a k a n . " Di sisi lain al-Biqa i menggarisbawahi perurutan sifat-sifat al-Qur'an yang disebut di atas, yakni setelah kata tihydn berarti petunjuk kepada apa yang disusul dengan kata hudan dari kebaikan. yang

diharapkan

Ini—menurut

pakar sistematika a!-Qur'an itu—dikemukakan karena tibydn atau penjelasan boleh jadi m e n g a n d u n g kesesatan. Selanjutnya, karena petunjuk boleh jadi diberikan bukan sebagai anugerah tetapi kewajiban, kata ( 3 > j ) menyusul kata ( ) hudan rahmah

guna m e n a m p i k dugaan ini dan menegaskan

bahwa petunjuk tersebut tercurah atas dasar kasih sayang dari si pemberi terhadap yang diberi petunjuk. Selanjutnya, karena rahmat dimaksud boleh jadi tidak mencapai peringkat yang memuaskan, ditegaskan lebih jauh bahwa ia adalah ( Sj^.) busyrd, y a k n i berita y a n g sangat m e n g g e m b i r a k a n , dan

tentunya itu semua hanya diraih oleh orang-orang muslim, yang benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt.

KELOMPOK 7

A Y A T

90-97

J-

7 V

696

Surah an-Nahl

L16]

.v' *

1

^

(VY

O J U ^ > 1 2

U J > ^ A ! ^ j

^ L ^ ^ L >

Kelompok VII Ayat 90

S u r a h a n - N a h l [16]

697

AYAT 90

"Sesungguhnya pemberian kemunkaran,

Allah kepada

memerintahkan kerabat,

berlaku dan Dia

adil melarang

dan

berbuat perbuatan

ihsan, keji, agar

kaum

dan penganiayaan. ingat. "

Dia memberi

pengajaran

kepada kamu

kamu dapat selalu

Secelah ayar yang {alu menjelaskan keutamaan abQur"an dan bahwa kitab suci itu menjelaskan segala sesuatu, di sini dikemukakan sekelumit perincian yang dapat menggambarkan kesimpulan petunjuk al-Qur an. Ayat ini dinilai oleh para pakar sebagai ayat yang paling sempurna dalam penjelasan segala aspek kebaikan dan keburukan. Allah swt. berfirman sambil m e n g u k u h k a n dan m e n u n j u k l a n g s u n g d i r i - N y a d e n g a n n a m a vang t e r a g u n g g u n a Allah secara
,

menekankan pentingnya pesan-pesan-N ya bahwa: Sesungguhnya terus-menerus memerintahkan berlaku

siapa pun di antara bamba-hamba-Nva untuk

/ / ^ i / d a l a m sikap, ucapan dan tindakan, walau terhadap diri sendiri, ihsan, yakni yang lebih utama dari keadilan, dan

dan menganjurkan berbuat juga pemberian

apa pun yang dibutuhkan dan sepanjang k e m a m p u a n lagi kaum kerabat, dan Dia, yakni Allah, melarang segala

dengan tulus kepada

m a c a m dosa, lebih-lebih perbuatan

keji y a n g amat dicela oleh agama dan vakni

akal sehat seperti zina dan homoseksual; demikian juga kemunkaran,

hal-hal vang bertentangan dengan adat istiadat, yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan melarang)ut;a penganiayaan, yakni segala sesuatu vang melampaui pengajar aji

batas kewajaran. Dengan perintah dan larangan ini, Dia memberi

dan bimbingan kepada kamu semua menyangkut segal.i aspek kebajikan agar kamu dapat selalu ingat *AA\\ mengamoil pelajaran yang berharga. Banyak sekali pendapat u l a m a tentang makna ( J j j ^ ) ^ / - W / p a c i a ayat ini. Ada vang menjelaskannya secara singkat dan pada;, misalnya bab w a vang dimaksud adalah tauhid. Ada juga yang m e m a h a m i n y a dalam arti kewajiban s^chngai-ihtun adalah tuntunan agama vang

keagamaan vang bersifat jardu.

bersifat sunnah, dan ada lagi yang menguraikan secara panjang leuar cakupan maknanya.

698

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 9 0

Kata ( J j j j i ) ah'adl

terambil dari kata ( J j j ^ ) 'adala y a n g terdiri dari

huruf-huruf 'ain, dai, dan lam. Rangkaian huruf ini mengandung dua makna y a n g bertolak belakang, y a k n i lurus dan sama serta bengkok dan berbeda.

S e s e o r a n g y a n g adil a d a l a h y a n g berjalan l u r u s d a n s i k a p n y a selalu m e n g g u n a k a n ukuran y a n g sama, b u k a n ukuran ganda. Persamaan itulah y a n g menjadikan seseorang y a n g adil tidak berpihak kepada salah seorang y a n g berselisih. Beberapa pakar mendefinisikan adil dengan penempatan tempat yang semestinya. Ini mengantar kepada persamaan, sesuatu pada

walau dalam ukuran

kuantitas boleh jadi tidak sama. A d a j u g a y a n g menyatakan bahwa ^ ' / a d a l a h memberikan kepada pemilik hak-haknya melalui jalan yang terdekat. Ini bukan

saja m e n u n t u t seseorang memberi hak kepada pihak lain, tetapi juga hak tersebut harus diserahkan tanpa m e n u n d a - n u n d a . "Penundaan utang dari seseorang yang m a m p u membayar utangnya adalah penganiayaan." Demikian sabda Nabi saw. Ada lagi yang berkata adil adalah moderasi: "tidak mengurangi

tidak j u g a melebihkan," dan masih b a n y a k rumusan y a n g lain. M a n u s i a dituntut untuk menegakkan keadilan w a l a u terhadap keluarga, ibu bapak, dan dirinya (QS. an-Nisa' 14]: 1 3 5 ) , bahkan terhadap m u s u h n y a sekalipun (QS. a h M a ' i d a h [ 5 ] : 8 ) . Keadilan pertama y a n g dituntut adalah dari diri dan terhadap diri sendiri dengan jalan meletakkan syahwat dan amarah sebagai tawanan y a n g harus m e n g i k u t i perintah akal dan agama, bukan menjadikannya tuan yang mengarahkan akal dan tuntunan agamanya. Karena, j i k a demikian, ia tidak berlaku adil, y a k n i tidak m e n e m p a t k a n sesuatu pada tempatnya y a n g wajar. J a n g a n d u g a — t u l i s a l - G h a z a l i — b a h w a p e n g a n i a y a a n ( l a w a n dari keadilan) adalah gangguan dan keadilan adalah memberi manfaat kepada m a n u s i a . Tidak! B a h k a n , s e a n d a i n y a seorang p e n g u a s a m e m b u k a dan m e m b a g i - b a g i k a n isi g u d a n g y a n g p e n u h dengan senjata, buku, d a n harta benda, kemudian dia membagikan senjata kepada ulama, harta benda kepada hartawan, dan b u k u - b u k u kepada tentara y a n g siap berperang, w a l a u sang penguasa memberi manfaat kepada mereka, di sini dia tidak dinilai berlaku adil, bahkan dia dinilai m e n y i m p a n g dari keadilan karena dia menempatkan pemberian-pemberiannya itu b u k a n pada t e m p a t n y a . Sebaliknya, kalau

K e l o m p o k VII A y a t 90

S u r a h a n - N a h l [16]

699

seseorang memaksa pasien m e m i n u m

obat yang pahit

sehingga

m e n g g a n g g u n y a atau m e n j a t u h k a n h u k u m a n mati atau cemeti k e p a d a terpidana, ini pun, walau menyakitkan, adalah keadilan karena masing-masing telah ditempatkan pada tempat y a n g semestinya. Kata ( O L - J - ^ I
)

al-ihsan

m e n u r u t ar-Raghib al-Ashfahani, d i g u n a k a n

u n t u k d u a hal; pertama, m e m b e r i n i k m a t kepada pihak lain, dan kedua, perbuatan baik. Karena itu—-lanjutnya—kata ihsan lebih luas dari sekadar "memberi nikmat atau nafkah". M a k n a n y a bahkan lebih tinggi dan dalam

dari kandungan m a k n a "adil" karena adil adalah "memperlakukan orang lain s a m a d e n g a n p e r l a k u a n n y a t e r h a d a p A n d a " , s e d a n g ihs&n adalah

"memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap A n d a ' . Adil adalah mengambil semua hak A n d a dan atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsan adalah m e m b e r i lebih b a n y a k daripada y a n g harus A n d a beri dan

mengambil lebih sedikit dari y a n g seharusnya Anda ambil. Kata ihsan, puncak kebaikan m e n u r u t al-Harrali sebagaimana dikutip al-Biqa'i, adalah amal perbuatan. Terhadap hamba, sifat perilaku ini tercapai

saat seseorang memandang dirinya pada diri orang lain sehingga dia memberi u n t u k n y a apa y a n g seharusnya dia beri u n t u k dirinya; sedang ihsdn antara

hamba dan Allah adalah leburnya dirinya sehingga dia hanya "melihat" Allah swt. Karena itu pula ihsan antara h a m b a dan sesama manusia adalah b a h w a dia tidak melihat lagi d i r i n y a dan hanya melihat orang lain itu. Siapa yang melihat d i r i n y a pada posisi k e b u t u h a n orang lain dan tidak melihat dirinya pada saat beribadah kepada Allah m a k a dia itulah y a n g dinamai muhsin, dan

ketika itu dia telah mencapai puncak dalam segala amalnya. Hakikat m a k n a di atas sejalan dengan penjelasan Rasul saw. kepada malaikat Jibril as. ketika beliau ditanya o l e h n y a — d a l a m rangka mengajar k a u m muslimin. Rasul saw. menjelaskan bahwa ihsan adalah " M e n y e m b a h Allah seakan-akan engkau m e l i h a t - N y a dan bila engkau tidak melihatnya m a k a y a k i n l a h bahwa Dia melihatmu." Dengan demikian, perintah ihsan bermakna perintah melakukan segala aktivitas positif seakan-akan A n d a melihat Allah atau, paling tidak, selalu merasa dilihat dan diawasi oleh-Nya. Kesadaran akan pengawasan melekat itu menjadikan seseorang selalu ingin berbuat sebaik m u n g k i n dan memperlakukan pihak lain lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda, bukan

700

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 90

sekadar memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya terhadap Anda. Kata (
«.IJJ

} ittd!pemberian

m e n g a n d u n g m a k n a - m a k n a y a n g sangat

dalam. M e n u r u t pakar bahasa a l - Q u r ' a u , ar-Raghib ahAshfahani, kata ini pada m u l a n y a berarti "kedatangan dengan mudah". Al-Fairuzabadi dalam (bersikap memudahkan

kamusnya menjelaskan sekian banyak artinya, antara lain istiejamah jujur dan konsisten), cepat, pelaksanaan jalan, mengantar kepada seorang agung secara amat sempurna, lagi bijaksana,

dan lain-lain. Dari

makna-makna tersebut, dapat dipahami apa sebenarnya yang dikandung oleh perintah ini dan apa y a n g seharusnya d i l a k u k a n oleh sang pemberi serta b a g a i m a n a sevogianva sikap k e j i w a a n n y a ketika m e m b e r i . Dapat juga d i t a m b a h k a n bahwa az-Zarkasyi dalam b u k u n y a , uhBurhdu, p e n d a p a t a l - J u w a i n i y a n g m e n y a t a k a n b a h w a k a t a atu mengutip tidak dapat

diungkapkan dampak dan akibatnya dengan menggunakan akar katanya atau, dengan istilah tata bahasa, ia tidak memiliki muthawaah, kata ( Jas-\ ) a'tha yang juga berarti memberi, berbeda dengan

seperti dalam Q S . an-Najm

[ 5 3 ] : 34. Ini memberi kesan bahwa sesuatu yang diberikan dengan m a k n a m a k n a yang d i k a n d u n g oleh kata ( s-b! ) / W i t u hakikatnya adalah sesuatu vang dampak dan ganjarannya tidak terlukiskan karena ia dinilai Allah sebagai sesuatu vang agung. M e m a n g , kalau kita m e m b u k a lembaran al-C^urkm, akan ditemukan pemberian kerja ( mashdar _ jti ) atd-vu'ti vang diinformasikan dengan menggunakan kata yang m a n a kata (s-bj ) ita ' merupakan bentuk pemberian

(kata jadian) dari kata kerja tersebut. Kita akan temukan

Allah swt. dalam berbagai bentuknya \ ang merupakan hal-hal agung lagi m u l i a , seperti misalnya pemberian pemberian Fdtihahdun hikmah ahQurdn kera/aan ( Q S . Ali ' I m r a n [ 3 ] : 2 0 ) , surah al-

( Q S . al-Bacjarah [2J: 2 6 9 ) , s e n a pemberian ( Q S . ai-Hijr [ 1 5 ] ; 8 7 ) .

Sebenarnya, pemberian kepada sanak keluarga telah dicakup dalam dua bal yang disebut sebelumnya, yaitu adil dan ihsan. Tetapi, agaknya hal ini

sengaja ditekankan eti sini karena sementara orang mengabaikan hak keluarga a t a u lebih s e n a n g m e m b e r i b a n t u a n k e p a d a o r a n g lain y a n g b u k a n keluarganya. Boleh jadi karena ada maksud tertentu di balik pemberian itu, seperti popularitas dan pujian. Perlu dicatat bahwa salah satu cara yang

K e l o m p o k VII A y a t 9 0

S u r a h a n - N a h l [16]

701

d i t e m p u h Islam guna memberantas k e m i s k i n a n — d i samping kerja k e r a s — adalah memberi bantuan, dan karena itu pula ketika sahabat Nabi saw. bertanya kepada Nabi M u h a m m a d saw. tentang nafkah, al-Qur'an menjelaskan bahwa sasaran pertamanya adalah kedua orangtua kemudian para kerabat (baca Q S . al-Baqarah [ 2 ] : 2 1 5 ) . Rasul saw. menekankan agar memberi terlebih d a h u l u siapa yang termasuk dalam tanggungan seseorang, kemudian yang lebih dekat. "Para kerabat lebih utama diberi ma'rufdaripada y a n g lain." Apabila setiap

orang yang m a m p u memberi bantuan kepada keluarganya, niscaya tidak ada keluarga yang menderita karena kemiskinan. A y a t - a y a t y a n g m e m e r i n t a h k a n b e r b u a t k e b a j i k a n di atas t i d a k menjelaskan objeknya. Hal ini u n t u k memberi m a k n a k e u m u m a n sehingga m e n c a k u p segala bidang dan objek y a n g dapat berkaitan dengan keadilan, ihsan, dan pemberian y a n g dimaksud, baik terhadap manusia, binatang,

t u m b u h - t u m b u h a n , m a u p u n tethadap benda-benda mati, dan baik berupa materi, perlakuan, m a u p u n jasa. M a s i n g - m a s i n g disesuaikan dengan objek yang dihadapi Kata (s-Li^uill) al-fahsya'/keji adalah nama bagi segala perbuatan atau

ucapan, bahkan keyakinan, yang dinilai buruk oleh jiwa dan akal yang sehat serta mengakibatkan d a m p a k b u r u k b u k a n saja bagi pelakunya tetapi j u g a bagi lingkungannya. Kata ( j S ^ i i ) ahrnnnkarlkemunkaran tidak dikenal sehingga ahma'ruflyang dikenal. diingkari. dari segi bahasa berarti sesuatu yang

Itu sebabnya ia diperhadapkan dengan kata

D a l a m bidang budaya, kita dapat m e m b e n a r k a n

ungkapan: "Apabila m a ' r u f sudah jarang dikerjakan, ia bisa beralih menjadi munkar, sebaliknya bila munkar sudah sering dikerjakan ia menjadi ma'ruf." IhnTaimiyah mendefinisikan munkar dari segi pandangan syariat sebagai "Segala sesuatu yang dilarang oleh agama". Dari definisi ini dapat d i s i m a k ma'shiyat/

bahwa kata munkar lebih luas j a n g k a u a n pengertiannya dari kata kedurhakaan.

Binatang y a n g merusak tanaman merupakan k e m u n k a r a n ,

tetapi bukan kemaksiatan, karena binatang tidak dibebani tanggung j a w a b , demikian j u g a m e m i n u m arak bagi anak kecil adalah munkar, walau apa yang d i l a k u k a n n y a i t u — m e l i h a t u s i a n y a — b u k a n l a h maksiat.

702

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 90

Sesuatu y a n g m u b a h p u n , apabila bertentangan dengan budaya, dapat dinilai munkar, seperti misalnya bergandengan tangan dengan sangat mesra dengan istri sendiri di depan u m u m apabila dilakukan dalam suatu masyarakat y a n g b u d a y a n y a tidak membenarkan hal tersebut. Munkar bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada yang berkaitan

dengan pelanggaran terhadap Allah, baik dalam bentuk pelanggaran ibadah, perintah non-ibadah, dan ada j u g a y a n g berkaitan dengan manusia, serta lingkungan. D a l a m pandangan Ibn 'Asyiir, munkar adalah segala sesuatu y a n g tidak berkenan di hati orang-orang normal serta tidak direstui oleh syariat, baik ucapan maupun p e r b u a t a n . T e r m a s u k di d a l a m n y a h a l - h a l y a n g

mengakibatkan gangguan yang berkaitan dengan kebutuhan pokok maupun tersier w a l a u tidak m e n g a k i b a t k a n mudharat. D e n g a n d e m i k i a n , dapat dikatakan b a h w a al-munkar masyarakat serta bertentangan adalah sesuatu dengan yang dengan nilai-nilai menurut yang dinilai buruk oleh suatu ma'ruf suatu

Ilahi. Ia adalah lawan pandangan umum

y a n g m e r u p a k a n sesuatu masyarakat selama sejalan

baik

al-khair. terambil dari kata baghd yang berarti

Kata ( ^ L l i ) al-baghylpenganiayaan meminta/menuntut,

kemudian m a k n a n y a menyempit sehingga pada

u m u m n y a ia d i g u n a k a n dalam arti m e n u n t u t hak pihak lain tanpa h a k dan dengan cara aniaya/tidak wajar. Kata tersebut m e n c a k u p segala pelanggaran hak dalam bidang interaksi sosial, baik pelanggaran itu lahir tanpa sebab, seperti perampokan, pencurian, m a u p u n dengan atau dalih y a n g tidak sah, bahkan walaupun dengan tujuan penegakan h u k u m tetapi dalam pelaksanaannya melampaui batas. Tidak dibenarkan m e m u k u l seseorang yang telah diyakini bersalah sekalipun—dalam rangka memeroleh pengakuannya. M e m b a l a s kejahatan orang p u n tidak boleh melebihi kejahatannya. Dalam konteks ini, a l - Q u r ' a n m e n g i n g a t k a n pada akhir surah ini bahwa: kamu membalas kepada maka balaslah persis sama dengan siksaan yang Apabila

ditimpakan

kamu (QS. an-Nahl [ 1 6 ] : 1 2 8 ) . pun sebenarnya telah dicakup oleh kedua hal y a n g

Kejahatan al-baghy

dilarang sebelumnya. Tetapi, di sini ditekankan karena kejahatan ini—secara sadar atau tidak—sering kali dilanggar. Dorongan emosi u n t u k membalas,

K e l o m p o k VII A y a t 9 0

S u r a h a n - N a h l [16]

703

bahkan keinginan menggebu untuk menegakkan hukum serta kebencian yang meluap kepada kemunkaran, sering kali mengantar seorang yang taat p u n — tanpa sadar—melakukan Firman-Nya: ( selalu ingat
OJJSMJ

ahbaghy.

p&jA ) la'allakum

tadzakkarunlagar

kamu

dapat

y a n g menjadi p e n u t u p ayat ini dapat dipahami sebagai isyarat

bahwa t u n t u n a n - t u n t u n a n agama, atau paling tidak nilai-nilai y a n g disebut di atas, melekat pada nurani setiap orang dan selalu didambakan w u j u d n y a . Karena itu, nilai-nilai tersebut bersifat universal. Pelanggarannya dapat mengakibatkan kehancuran kemanusiaan. D e m i k i a n a y a t - a y a t di atas m e n y i m p u l k a n nilai-nilai y a n g sangat mengagungkan. Jangankan dewasa ini, kaum musyrikin pun yang mendengar ayat di atas, tanpa ragu berdecak k a g u m mendengarnya. Diriwayatkan bahwa ' U t s m a n Ibn Mazh'tin m e m b a c a k a n ayat ini kepada tokoh y a n g juga sastrawan k a u m musyrikin M e k k a h , yakni al-Walid Ibn al-Mughirah, m a k a sang sastrawan berkata, " S u n g g u h ini adalah kalimat-kalimat y a n g sangat n i k m a t terdengar. Ia memiliki keindahan tanpa cacat, p u c u k n y a berbuah dan dasarnya subur digenangi air. Ia sungguh tinggi tidak dapat ditandingi. Ini sama sekali bukan ucapan manusia." Dalam riwayat lain, diinformasikan bahwa ketika ayat ini dibacakan kepada p a m a n Nabi saw., Abu T h a l i b , ia berseru kepada k a u m n y a , "Ikutilah M u h a m m a d , niscaya kalian beruntung. Dia diutus Tuhan u n t u k mengajak k a m u kepada budi pekerti luhur." Sahabat Nabi saw., Ibn M a s ' u d , menilai bahwa inilah ayat al-Qur'an y a n g paling sempurna k a n d u n g a n n y a . Al-'Izz 'Abdussalam y a n g digelari Sultban ah '(Jlamei ' m e n a m a i n y a asy-syajarah/pohon yang mengandung semua

h u k u m s y a r i a t serta b a b - b a b i l m u f i q h / b u k u m . A l - I m a m a s - S u b k i m e n a m a i n y a syajar al-ma 'arif/pohonpengetahuan. A g a k n y a itu pula sebabnya

sehingga Khalifah 'Umar Ibn Abdul Aziz ra. (681 - 7 2 0 M ) memerintahkan membaca ayat ini pada setiap akhir khutbah J u m a t sebagai ganti tradisi y a n g dilakukan p e n d a h u l u - p e n d a h u l u n y a y a n g m e n g e c a m dan m e m a k i 'Ali Ibn Abi T h a l i b r a . — m a k i a n tersebut dinilai oleh khalifah yang adil itu sebagai tidak adil serta m e r u p a k a n salah satu bentuk ahbaghy.

704

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k V I I A y a t 91

AYAT 9 1

"Dan tepatilah membatalkan menjadikan apa yang

perjanjian

Allah apabila sesudah

kamu berjanji meneguhkannya,

dan janganlah sedang Allah kamu

kamu telah

sumpah-sumpah

Allah sebagai saksi atas diri kamu. Sesungguhnya kamu perbuat. "

mengetahui

Al-Biqa'i menulis tentang hubungan ayat ini dengan ayat yang lalu bahwa, setelah ayat y a n g lalu yang m e n g h i m p u n semua perintah dan larangan dalam satu redaksi singkat y a n g tidak dapat d i t a m p u n g oleh kitab-kitab dan dada manusia serta disaksikan oleh para pendurhaka yang keras kepala bahwa redaksi semacam itu m e l a m p a u i batas k e m a m p u a n manusia, ayat berikut melanjutkan sebagaimana d i p a h a m i dari konteksnya bahwa: J i k a d e m i k i a n itu k a n d u n g a n kitab suci ini, laksanakanlah apa y a n g Allah perintahkan, jauhilah apa y a n g dilarang-Nya, dan tepatilah berjanji.... perjanjian Allah apabila kamu

Demikian lebih kurang al-Biqa i menghubungkan ayat ini dengan

ayat y a n g lalu. Apa pun h u b u n g a n n y a , y a n g jelas ayat ini memerintahkan: perjanjian janganlah meneguhkannya, y a n g telah k a m u ikrarkan dengan Allah apabila kamu membatalkan sumpah-sumpah tepatilah dan

kamu berjanji sesudah

kamu

y a k n i perjanjian-perjanjian y a n g k a m u akui di hadapan

Pesuruh Allah. Demikian juga sumpah-sumpah kamu y a n g menyebut namaN y a . Betapa k a m u tidak harus menepatinya sedang Allah sebagai kamu telah menjadikan

saksi dan pengawas atas diri kamu terhadap s u m p a h - s u m p a h Allah mengetahui apa yang kamu perbuat, maupun

dan janji-janji itu. Sesungguhnya

baik niat, ucapan, m a u p u n tindakan, dan baik janji, s u m p a h , selainnya, yang nyata m a u p u n yang rahasia. Yang d i m a k s u d d e n g a n ( i j j a i s ) tanqudhulmembatalkan

adalah

melakukan sesuatu y a n g bertentangan dengan kandungan sumpah/janji. Yang d i m a k s u d dengan ( j ^ u ) bi ahdAllah/'perjanjian Allah dalam y a n g mereka

konteks ayat ini antara lain, bahkan terutama adalah baiat

ikrarkan di hadapan Nabi M u h a m m a d saw. u n t u k tidak mempersekutukan

K e l o m p o k VII A y a t 91

S u r a h a n - N a h l [16]

705

Allah swt. serta tidak melanggar perintah Nabi saw. yang m e n g a k i b a t k a n mereka durhaka. Janji dan atau sumpah yang menggunakan nama Allah yang kandungannya demikian sering kali dilaksanakan oleh para sahabat Nabi saw. sejak mereka masih di M e k k a h sebelum berhijrah. M e m a n g , redaksi ayat ini mencakup segala m a c a m janji dan sumpah serta ditujukan kepada siapa pun dan di m a n a p u n mereka berada. Firman-Nya: f \ A J S u JJU) bada taukidihti arti sesudah ka?nu meneguhkannya. ada yang memahaminya dalam

Atas dasar itu, sementara y a n g menganut kata tersebut af-aiman,

p a h a m ini—-seperti al-Biqa'i dan a l - Q u r t h u b i — m e m a h a m i

sebagai berfungsi mengecualikan apa yang diistilahkan dengan laghivu

yakni kalimat y a n g m e n g a n d u n g redaksi s u m p a h tetapi tidak d i m a k s u d k a n oleh p e n g u c a p n y a sebagai sumpah ( b a c a Q S . al-Baqarah [ 2 ] : 2 2 5 ) . A d a j u g a ulama—seperti Ibn Asyur—-yang m e m a h a m i n y a d a l a m arti sesudah peneguhannya. "Di s i n i — t u l i s n y a — t i d a k terdapat isyarat adanya ah

s u m p a h y a n g tidak berdosa bila dibatalkan, y a k n i y a n g d i n a m a i laghwu aimcln.

M e m a l i a m i n y a d e m i k i a n adalah ketergelinciran dari jalan lebar yang

jelas y a n g merupakan gaya bahasa al-Qur'an." A p a pun m a k n a y a n g A n d a pilih, y a n g jelas m a k s u d peneguhan meneguhkan/

tersebut adalah menjadikan Allah swt. sebagai saksi dan pengawas

atas sumpah dan janji-janji manusia. Ayat ini menekankan perlunya menepati janji, m e m e g a n g teguh tali agama, serta m e n u t u p rapat-rapat semua usaha m u s u h - m u s u h Islam vang berupaya m e m u r t a d k a n k a u m m u s l i m i n , sejak masa Nabi saw. di M e k k a h hingga masa kini dan mendatang. T h a b a t h a b a i menggarisbawahi b a h w a kendati membatalkan sumpah d a n melanggar janji k e d u a n y a terlarang, pembatalan s u m p a h lebih buruk daripada pelanggaran janji. Ini karena yang bersumpah menyebut nama Allah dan, dengan m e n y e b u t nama-Nya, pihak y a n g mendengarnya merasa y a k i n b a h w a u c a p a n n y a itu pasti b e n a r k a r e n a n a m a m u l i a itu merupakan

j a m i n a n n y a . Bila A n d a m e m i n j a m sesuatu dan memberi j a m i n a n , kendati dalam benak pemberi pinjaman ada semacam keraguan terhadap Anda, ia tidak segan memberi bila ada j a m i n a n atau ada penjamin y a n g tepercaya. D e m i k i a n lebih kurang maksud penjelasan Thabathaba'i. Penulis

m e n a m b a h k a n bahwa m a k n a j a m i n a n serupa dapat juga dibaca oleh pihak

706

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 92

lain, w a l a u tanpa sumpah. Kepercayaan seorang muslim akan keesaan Allah dan k e k u a s a a m N y a seharusnya dapat menjadi j a m i n a n bagi p i h a k lain atas kebenaran ucapannya. Keyakinannya itu seharusnya melahirkan j a m i n a n ketepatan janji atau beritanya, karena pengingkaran janji dan kebohongannya m e n g u n d a n g m u r k a Allah. Dan, seorang m u s l i m mustahil m e l a k u k a n halhal y a n g m e n g u n d a n g murka-Nya. Dengan demikian, kata bada pengukuhan taukidihai

dimaksud tidak harus dibatasi pengertiannya pada pengukuhan

sumpah yang m e n g g u n a k a n n a m a Allah. Ayat ini tidak bertentangan dengan sabda Rasul saw. y a n g menyatakan bahwa: S e s u n g g u h n y a aku, insya Allah, tidak bersumpah dengan suatu s u m p a l i — l a l u melihat ada yang lebih baik darinya—kecuali melakukan vang lebih baik dan m e m b a t a l k a n s u m p a h k u dengan m e m b a y a r kafarah (HR. Bukhari dan M u s l i m ) . Ini tidak bertentangan—tulis Ibn Katsir—karena sumpah y a n g dimaksud oleh ayat ini adalah y a n g masuk dalam perjanjian, sedang s u m p a h y a n g d i m a k s u d oleh hadits Nabi saw. itu adalah y a n g merupakan kegiatan perorangan yang berkaitan dengan anjuran atau halangan. Demikian Ibn Katsir. Di sisi lain, pembatalan oleh hadits tersebut adalah pembatalan ke arah vang lebih baik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa k e u m u m a n l a r a n g a n y a n g d i k a n d u n g oleh a y a t ini d i k e c u a l i k a n dan dipersempit oleh k a n d u n g a n hadits tersebut.

AYAT 92

"Dan janganlah yang sudah

kamu seperti seorangperemjman dengan kuat menjadi kerusakan cerai

yang mengurai berai; kamu

tenunannya menjadikan adanya Allah akan

dipintal

sumpah

kamu sebagai penyebab yang lebih banyak kamu kepada

di antara

kamu disebabkan

suatu golongan hanya menguji

dari golongan Dan pasti

yang lain. Sesungguhnya di Hari Kiamat kamu perselisihkan nanti itu. "

dengannya.

dijelaskan-Nya

kamu apa yang dahulu

Setelah ayat y a n g lalu m e m e r i n t a h k a n menepati janji dan m e m e n u h i sumpah, ayat ini melarang secara tegas m e m b a t a l k a n n y a sambil

K e l o m p o k VII A y a t 9 2

S u r a h a n - N a h l [16]

707

mengilustrasikan keburukan pembatalan k u . Pengilustrasian ini merupakan salah satu bentuk penekanan. Memang, penegasan tentang perlunya menepati janji m e r u p a k a n sendi u t a m a t e g a k n y a m a s y a r a k a t k a r e n a i t u l a h y a n g m e m e l i h a r a kepercayaan berinteraksi dengan anggota m a s y a r a k a t . Bila kepercayaan i t u hilang, bahkan m e m u d a r , akan lahir k e c u r i g a a n y a n g merupakan benih kehancuran masyarakat. A y a t i n i m e n e g a s k a n b a h w a : Dan janganlah kamu, dalam hal seorang

mengkhianati perjanjian dan membatalkan sumpah, seperti keadaan perempuan gila yang

sedang m e n e n u n dengan tekun hingga ketika telah kembali tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat

r a m p u n g ia mengurai sehingga menjadi

cerai berai lagi. Kamu semua sadar b a h w a m e l a k u k a n hal

d e m i k i a n adalah kebodohan dan keburukan, dan itu sama halnya dengan apabila kamu kerusakan menjadikan sumpah dan perjanjian kamu sebagai penyebab

di antara kamu, yakni alat menipu y a n g mengakibatkan kerusakan adanya suatu golongan yang lebih banyak golongan

hubungan a n t a r - k a m u disebabkan

jumlahnya, atau lebih kuat, lebih kaya dan tinggi kedudukannya dari yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji

kamu, y a k n i m e m p e r l a k u k a n y a k n i dengan

k a m u seperti perlakuan seseorang yang menguji dengannya,

a d a n y a j u m l a h dan harta y a n g banyak itu, u n t u k mengetahui apakah k a m u setia menepati janji dan m e m e n u h i s u m p a h atau tidak. Dan pasti di Kiamat nanti akan dijelaskan-Nya kepada kamu apa yang dahulu Hari kamu

perselisihkan

itu, kemudian akan memberi balasan sesuai amal perbuatan kamu

masing-masing. Konon, di M e k k a h ada seorang w a n i t a y a n g terganggu pikirannya. D i a m e m i l i k i pemintal, y a k n i alat u n t u k memintal benang, g u n a m e m b u a t tali yang k u k u h atau benang. Bersama b u d a k - b u d a k w a n i t a n y a , mereka d u d u k m e m i n t a l , dari pagi sampai siang hari, k e m u d i a n m e r o m b a k kembali apa y a n g mereka lakukan sejak pagi itu sehingga benang-benang hasil pintalan mereka cerai berai lagi. Konon, n a m a wanita itu adalah Raithah Ibn Sa'd atTaimiyah. Apakah kisah ini benar atau sekadar ilustrasi, y a n g jelas itu adalah kegiatan melemahkan kembali apa yang telah dikukuhkan serta merusak apa y a n g telah diperbaiki. Ini adalah ibarat seseorang y a n g tadinya berada dalam kesesalan, k e m u d i a n m e m e l u k Islam dan memperbaiki diri, lalu kembali

708

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 92

kepada kesesatan semula. A y a t ini melarang hal tersebut, yakni janganlah kembali kepada kesesatan setelah k a m u m e n e m u k a n kebenaran karena, jika demikian, keadaan k a m u serupa dengan w a n i t a y a n g dilukiskan di atas. Penggunaan kata seperti seorang perempuan sama sekali b u k a n untuk

melecehkan perempuan karena apa yang dilakukan perempuan dalam bal ini dapat juga dilakukan oleh lelaki. Penyebutan perempuan di sini boleh jadi

karena m e m a n g kisah ini cukup populer dan y a n g m e l a k u k a n n y a adalah perempuan yang disebut n a m a n y a di atas atau karena biasanya pekerjaan m e m i n t a l banyak dilakukan oleh perempuan. Dalam konteks ini, pakar hadits, Abu N u ' a i m , meriwayarkan melalui sahabat Nabi saw., A b d u l l a h Ibn Rabi' ahAnshari, bahwa Nabi M u h a m m a d saw. bersabda, "Sebaik-baik permainan Kata ( yang buruk. seorang m u s l i m a h di r u m a h n y a adalan m e m i n t a l . " } dakhalan dari segi bahasa berarti kerusakan atau kerusakan. sesuatu Ini

Yang d i m a k s u d di sini adalah alat atau penyebab

karena dengan bersumpah seseorang menanamkan keyakinan dan ketenangan di hati mitranya, tetapi begitu dia mengingkari sumpahnya, hubungan mereka menjadi rusak, tidak lain penyebabnya kecuali s u m p a h itu y a n g kini telah diingkari. Dengan d e m i k i a n , s u m p a h menjadi alat atau sebab kerusakan hubungan. Kata ( ^ j j l ) arba terambil dari kata ( yp)\) berlebih. ar-rubwu y a i t u tinggi atau

Dari akar yang sama, lahir kata riba yang berarti kelebihan.

Kelebihan banyak

d i m a k s u d bisa saja d a l a m arti kuantitas sehingga bermakna lebih

bilangannya atau dalam arti kualitasnya, yakni lebih tinggi kualitas hidupnya dengan harta y a n g m e l i m p a h dan k e d u d u k a n y a n g terhormat. Ayat di atas menyebut kata ( XA\ ) ummahI golongan sebanyak dua kali.

Banyak pakar tafsir memahami ayat ini berbicara tentang kelakuan beberapa suku pada masa Jahiliah. M e r e k a — n a m a i l a h pihak pertama—mengikat janji atau sumpah dengan salah satu suku yang lain (pihak kedua), tetapi kemudian p i h a k pertama itu m e n e m u k a n suku y a n g lain l a g i — p i h a k ketiga—-yang lebih kuat dan lebih banyak anggota dan hartanya atau lebih tinggi kedudukan sosialnya daripada pihak kedua. Nah, di sini pihak pertama m e m b a t a l k a n s u m p a h dan janjinya karena p i h a k ketiga lebih m e n g u n t u n g k a n mereka. Thabathaba'i m e m a h a m i penggalan ayat ini dalam arti agar supaya suatu

K e l o m p o k VII A y a t 9 3

S u r a h a n - N a h l [16]

709

g o l o n g a n — d a l a m hal ini yang bersumpah itu (pihak pertama)—memeroleh lebih banyak bagian dari kemegahan duniawi dari golongan yang lain—dalam hal ini adalah p i h a k k e d u a — y a n g kepadanya ditujukan s u m p a h oleh pihak pertama. Pendapat pertama lebih lurus dan sesuai d e n g a n kenyataan u m u m masyarakat pada masa Jahiliah dan awal masa Islam. N a m u n , a p a p u n m a k n a yang Anda pilih, yang jelas ayat ini melarang seseorang atau suatu kelompok masyarakat—besar atau kecil—membatalkan sumpah atau perjanjian dengan motif memeroleh k e u n t u n g a n material. Dalam konteks sejarah, ayat ini mengingatkan k a u m m u s l i m i n agar jangan memihak kelompok m u s y r i k atau m u s u h Islam karena mereka lebih b a n y a k dan lebih k a y a daripada kelompok muslimin sendiri. A p a y a n g diingatkan di atas sungguh dewasa ini telah sering kali dilanggar oleh tidak sedikit k a u m m u s l i m i n , baik secara pribadi, kelompok, bahkan negara. Sayyid Quthub menggarisbawahi bahwa "Termasuk dalam kecaman ayat ini pembatalan perjanjian dengan dalih kemaslahatan negara, di mana suatu

negara m e n g i k a t perjanjian dengan negara atau sekelompok negara-negara tertentu, lalu m e m b a t a l k a n perjanjian itu karena adanya negara lain y a n g lebih kuat/kaya daripada negara pertama atau kelompok negara y a n g telah terikat dengan perjanjian, pembatalan yang didasarkan oleh apa yang dinamai kemaslahatan negara. Islam tidak membenarkan dalih ini dan m e n e k a n k a n

perlunya menepati perjanjian. Ini diperhadapkan dengan penolakan terhadap perjanjian atau kerja sama yang tidak berdasar kebajikan dan ketakwaan serta segala m a c a m perjanjian dan kerja sama y a n g berdasar dosa, kefasikan dan kedurhakaan, pelanggaran hak-hak manusia, serta penindasan terhadap negara dan bangsa-bangsa."

AYAT 9 3

"Dan jikalau

Allah menghendaki,

niscaya

Dia menjadikan

kamu satu

umat petunjuk

(saja), tetapi Dia menyesatkan

siapa yang Dia kehendaki

dan memberi

710

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 93

siapa yang Dia kehendaki. apa yang

Dan sesungguhnya "

kamu pasti akan ditanya

tentang

telah kamu kerjakan.

Memang, dalam kehidupan dunia ini, ada banyak kelompok yang berbeda bahkan bertolak belakang, tetapi itu adalah kehendak Allah juga. Seandainya Dia m e n g h e n d a k i , D i a akan menjadikan k a m u semua seia sekata, tetapi itu tidak d i k e h e n d a k i - N y a dan D i a akan m e m u t u s k a n m e n y a n g k u t perbedaan itu di akhirat kelak, b u k a n di d u n i a ini. J i k a d e m i k i a n , jangan j a d i k a n perbedaan itu dalih u n t u k tidak menepati perjanjian k a m u w a l a u dengan kelompok y a n g berbeda akidah dan kepercayaan dengan k a m u . D e m i k i a n h u b u n g a n ayat ini dengan ayat sebelumnya. D a p a t j u g a d i k a t a k a n b a h w a m e n g e m b a l i k a n putusan ke Hari Kiamat bukanlah karena kelemahan Allah memutuskan atau menghindarkan perselisihan dalam hidup dunia ini. S a m a sekali tidak! Dan jikalau Allah menghendaki—namun kamu satu umat ini tidak dikehendakisaja, y a k n i satu pendapat

N y a — n i s c a y a Dia menjadikan

tanpa perselisihan, atau Dia mencipta manusia serupa dengan malaikat y a n g h a n y a melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tetapi Dia tidak menghendaki hal tersebut. Karena itu, Dia memberi manusia kebebasan m e m i l i h jalan y a n g akan ia t e m p u h , jalan sesat atau jalan petunjuk. Atas dasar pilihan masing-masing, Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki

guna memenuhi pilihan yang memilih kesesatan itu dan memberi u n t u k melaksanakan petunjuk kepada siapa yang

kemampuan sebagai

Dia kehendaki

anugerah kepadanya dan pemenuhan tekad dan keinginannya melaksanakan t u n t u n a n petunjuk. Dan sesungguhnya kamu pasti akan ditanya tentang apa

yang telah kamu kerjakan dan menerima balasan dan ganjaran dari Allah swt. Kata ( j ) ) lauljikalau Allah laja alakumljikalau dalam Allah firman-Nya: menghendaki ( *Li j l ) lau syd'a

m e n u n j u k k a n b a h w a hal

tersebut tidak dikehendaki-Nya karena kata lau tidak digunakan kecuali untuk m e n g a n d a i k a n sesuatu y a n g mustahil dapat terjadi. Ini berarti Allah tidak menghendaki menjadikan manusia semua sejak dahulu hingga kini satu umat saja, y a k n i satu pendapat, satu kecenderungan, bahkan satu a g a m a d a l a m segala prinsip dan perinciannya.

K e l o m p o k VII A y a t 9 4

S u r a h a n - N a h l [16]

711

Kalau Allah swt. berkehendak menjadikan semua m a n u s i a sama, tanpa perbedaan, Dia menciptakan manusia seperti binatang tidak dapat berkreasi dan melakukan pengembangan, baik terhadap dirinya apalagi lingkungannya. T i d a k j u g a m e m b e r i m a n u s i a kebebasan memilah dan m e m i l i h , termasuk kebebasan m e m i l i h agama dan kepercayaan. Tetapi, yang demikian itu tidak dikehendaki Allah karena Dia menugaskan manusia menjadi khalifah. Dengan perbedaan itu, manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan dan, dengan d e m i k i a n , akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan y a n g sehat kedua hal itu akan tercapai. Aneka potensi dan anugerah serta penugasan y a n g diberikan kepada manusia secara khusus itu dan tidak dianugerahkan kepada m a k h l u k y a n g lain menjadikannya sangat terhormat. Tapi, di sisi lain, menjadikannya pula m a k h l u k bertanggung jawab. Tanggung jawab tersebut lebih meningkatkan lagi k e d u d u k a n n y a dibanding dengan m a k h l u k lainnya. N a m u n demikian, karena setiap keistimewaan m e m i l i k i harga dan konsekuensi, konsekuensi potensi, kebebasan m e m i l i h , dan k e d u d u k a n tinggi itu adalah keharusan m e m p e r t a n g g u n g j a w a b k a n p e n g g u n a a n potensi serta keistimewaan itu. Karena itu, ayat di atas ditutup dengan pernyatan bahwa sesungguhnya pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. kamu

Yang berhasil

mempertanggungjawabkan akan memeroleh kebahagiaan abadi dan y a n g gagal akan m e n e r i m a sanksi sebesar k e g a g a l a n n y a . Itulah konsekuensi

kebebasan m e m i l i h y a n g disertai dengan anugerah aneka potensi. Itu pula sebabnya y a n g gagal akan berucap di hari Kemudian nanti. Alangkah (bahagia)nya ( Q S . an-Naba sekiranya aku dahulu (ketika hidup di dunia) adalah baik tanah

[78]: 40).

AYAT 94

"Dan janganlah kerusakan kukuh

kamu menjadikan kamu, yang merasakan

sumpah-sumpah menyebabkan keburukan

kamu sebagai tergelincirnya karena kamu kaki

penyebab sesudah

di antara

tegak,

dan kamu

menghalangi

dari jalan

Allah; dan bagi kamu azab yang

besar. "

712

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 9 4

Ayat ini masih m e r u p a k a n lanjutan dari kecaman ayat 9 2 tetapi dalam gaya y a n g lebih keras, yakni dengan larangan tegas disertai dengan ancaman siksa, sambil mengisyaratkan bahwa hal tersebut tidak sejalan dengan fitrah suci dan nurani manusia. Ayat ini m e n y a t a k a n bahwa: Dan janganlah kamu

m e n e m p u h jalan pengkhianatan dengan memaksakan diri m e l a k u k a n hal y a n g bertentangan dengan fitrah kesucian k a m u vaitu menjadikan sumpah kamu sebagai penyebab kerusakan di antara sumpah-

kamu, y a k n i alat m e n i p u menyebabkan

y a n g m e n g a k i b a t k a n kerusakan h u b u n g a n antar-kamu, yang tergelincirnya sesudah

kaki k a m u sehingga k a m u terjatuh ke jurang yang berbahaya

kukuh tegak dan m a n t a p n y a posisi k a m u di jalan Allah dan dalam

tuntunan agama dan bersama dengan ketergelinciran itu kamu terus-menerus akan merasakan keburukan karena dengan melakukan hal tersebut n a m a baik

kamu tercemar dan hilang juga kepercayaan terhadap diri kamu dan itu berarti kamu menghalangi diri k a m u dan orang lain dari jalan Allah: dan di samping besar jika k a m u tidak segera

itu bagi kamu juga di akhirat nanri azab yang bertaubat.

Thabathaba i menilai bahwa ayat ini adalah larangan menjadikan sumpah sebagai alat dan penyebab
r

kerusakan

hubungan

setelah sebelumnya pada ayat semata-mata.

9 1 > ang l a l u a d a l a h l a r a n g a n p e m b a t a l a n s u m p a h

Menjadikannya alat kerusakan hubungan mengandung keburukan tersendiri y a n g berbeda dengan keburukan pembatalan itu tanpa m e n j a d i k a n n y a alat k e r u s a k a n h u b u n g a n . F i r m a n - N y a p a d a a y a t 9 1 sedang menjadikan Allah sebagai kamu telah

saksi atas diri kamu mengisyaratkan keburukan

pembatalan sumpah, sedang firman-Nya pada ayat ini: ( U ^ J a * fo3 J ^ s ) fatazilla sesudah qadamun ba'da tsubutihalyang menyebabkan tergelincirnya kaki

kukuh tegak mengisyaratkan keburukan menjadikannya alat perusak pengantar

hubungan. Kedua hal ini berbeda walaupun yang satu dapat dinilai untuk yang kedua, sebagaimana membatalkan sumpah pendahuluan

merupakan

bagi menjadikannya alat perusak hubungan. Seseorang y a n g

m e m b a t a l k a n s u m p a h oleh satu d a n l a i n sebab a k a n t e r b a w a u n t u k m e m b a t a l k a n sumpah y a n g lain u n t u k k e d u a dan ketiga kalinya. Ini pada gilirannya akan mengantar dia menjadikan s u m p a h k e m u d i a n pembatalan sumpah sebagai cara penipuan, khianat yang selanjutnya m e n g a n t a r n y a

K e l o m p o k VII A y a t 9 4

S u r a h a n - N a h l [16]

713

menjadi pelaku makar dan kebohongan, tanpa m e m e d u l i k a n ucapan dan perbuatannya. Jika ini terjadi, dia akan menjadi semacam k u m a n kebobrokan masyarakat m a n u s i a di m a n a pun dia berada serta menjerumuskan dia ke jalan y a n g bertentangan dengan jalan y a n g digariskan oleh fitrah kesucian. Demikian lebih kurangThabathaba i. Penulis tambahkan bahwa dalam rangka menghindari keterjerumusan dalam apa y a n g d i n a m a i oleh T h a b a t h a b a i di atas dengan pengantar atau pendahuluan, a l - Q u r a n mengingatkan agar jangan

bersumpah kecuali bila sangat d i b u t u h k a n . Ketika menafsirkan Q S . alBaqarah [ 2 ] : 2 2 4 yang m e n y a t a k a n :

"Janganlah penghalang antara

kamu jadikan untuk berbuat

(nama) kebajikan,

Allah

dalam

sumpah

kamu

sebagai ishldh di

bertakwa,

dan mengadakan

manusia",

ketika menafsirkan ayat ini penulis antara lain menyatakan

b a h w a a d a juga y a n g m e m a h a m i ayat di atas sebagai l a r a n g a n b a n y a k bersumpah karena b a n y a k m e n y e b u t n a m a Allah d a l a m sumpah menghalangi seseorang berbuat kebajikan, bertakwa, dan melakukan dapat ishldh

(perbaikan antara m a n u s i a ) . Ini karena penyebutan nama Allah y a n g b u k a n pada tempatnya dapat mengantar seseorang terbiasa dengannya sehingga ini m e n g a n t a r n y a berbuat dosa, b a h k a n m e n j a d i k a n orang t i d a k percaya kepadanya sehingga langkah-langkahnya untuk melakukan ishldh akan gagal. Ini karena sumpah adalah alat u n t u k m e n g u k u h k a n ucapan dalam rangka m e y a k i n k a n orang lain. J i k a seseorang tepercaya, ia tidak perlu menguatkan u c a p a n n y a dengan sumpah. Tanpa sumpah pun ia dipercaya. Nah, banyak b e r s u m p a h a d a l a h b u k t i k e k u r a n g p e r c a y a a n , d a n ini p a d a g i l i r a n n y a menghasilkan halangan m e l a k u k a n kebajikan takwa d a n ishldh.

Sementara beberapa ulama ada yang membandingkan ayat 94 ini dengan ayat 9 2 dan menilai bahwa ayat 9 4 merupakan pengulangan k a n d u n g a n ayat 9 2 dengan tujuan p e n g u k u h a n . Pendapat ini ditolak oleh b a n y a k ulama. Pakar tafsir, A b u H a y y a n , berpendapat bahwa ayat 9 2 m e r u p a k a n larangan y a n g bermotif meraih k e u n t u n g a n karena ada golongan y a n g lebih b a n y a k dari golongan y a n g lain, sedang ayat 94 ini adalah larangan m u t l a k sehingga mencakup segala macam penipuan, pelanggaran hak manusia, dan sebagainya.

714

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 9 4

Ayat di atas menggunakan bentuk tunggal dan nakirah kata ( ) (j a dam Ik aki.

(infinitive)

untuk

I n i - — m e n u r u t p a k a r tafsir d a n s a s t r a a z -

Z a m a k h s y a r i — u n t u k mengisyaratkan bahwa tergelincir satu kaki saja sudah sedemikian buruk dampak negatifnya, apalagi kalau dua atau sekian banyak kaki manusia yang tergelincir. Kata ( IjSjJj ) tadzuqulka?nu rasakan m e m b e r i kesan m e r a s u k n y a

kepedihan sehingga benar-benar terasakan kepahitannva sebagaimana seseorang vang m e n e g u k m i n u m a n pahit. D e m i k i a n kesan y a n g d i k e m u k a k a n oleh M u h a m m a d Sayyid T h a n t h a w i . Risa juga ia mengesankan b a h w a siksa duniawi y a n g disebut di sini barulah siksa p e n d a h u l u a n , seperti halnya seseorang yang mencicipi sesuatu untuk merasakannya, belum memakannya. Itu sebabnya ia dilanjutkan dengan menyatakan bahwa dan di samping itu bagi kamu juga di akhirat nanti azab yang Firman-Nya: ( *isl J™besar. 'an sabiti Allah/menghalangi

^iJUs>) shadadtum

dari jalan Allah dipahami oleh Thabathaba i dalam arti berpaling serta enggan mengikuti sunnah/jalan fitrah yang atas dasarnya Allah menciptakan manusia d a n y a n g m e r u p a k a n ajakan Rasul saw. yakni m e n e g a k k a n kebenaran, i s t i q a m a h , m e m e l i h a r a perjanjian d a n s u m p a h , serta m e n g h i n d a r dari penipuan, khianat, kebohongan, dan lain-lain. Thahir Ibn A s y u r secara singkat m e n y a t a k a n bahwa y a n g dimaksud d e n g a n - / d ; ; Allah adalah a g a m a Islam. M a k n a ini pun benar karena a g a m a Islam adalah agama y a n g sejalan dengan fitrah manusia ( Q S . a r - R u m 130]: 3 0 ) . Al-Biqa'i jauh, sebelum Thabathaba'i, juga m e m a h a m i sifat-sifat b u r u k y a n g disebut di atas m e r u p a k a n sifat-sifat y a n g bertentangan dengan fitrah suci manusia. H a n y a saja, p e m a h a m a n n y a itu tidak dipetiknya dari kata menghalangi dari jalan Allahtetapi
(ijJb^U)

dari kata ( i j j b v ; ) tattakhidzul

menjadikan

y a n g asalnya adalah

ta'khudzu.

Patron kata y a n g m e m b u b u h k a n

tambahan h u r u f ' s e p e r t i kata yang digunakan ayat ini mengandung makna kesungguhan atau semacam pemaksaan atas diri manusia akibat apa yang d i l a k u k a n n y a itu tidak sejalan dengan pembawaan dasarnya. Pemaksaan itu di sini lahir karena apa y a n g dilarang ayat ini bertentangan dengan fitrah (bawaan) manusia. Semua y a n g bertentangan dengan fitrah manusia pastilah berat dan sulit dilaksanakan—paling tidak sebelum manusia terbiasa dengannya.

K e l o m p o k VII A y a t 9 5 - 9 6

S u r a h a n - N a h l [16]

715

Banyak juga ulama y a n g m e m a h a m i ayat di atas sebagai larangan kepada k a u m m u s l i m i n u n t u k m e m b a t a l k a n bai'attjanj'i setia y a n g telah mereka di jalan Allah

berikan kepada Nabi saw. Dengan d e m i k i a n , menghalangi

mereka p a h a m i dalam arti menghalangi orang lain m e m e l u k Islam.

AYAT 9 5 - 9 6

"Dan janganlah yang sedikit.

kamu menukar Sesungguhnya

perjanjian

kamu dengan

Allah dengan baik

harga bagi

apa yang ada di sisi Allah itulah yang Apa yang di sisi kamu akan lenyap,

kamu jika

kamu

mengetahui.

dan apa memberi yang

yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya balasan telah kepada orang-orang kerjakan." yang sabar dengan

Kami pasti akan

yang lebih

baik dari apa

mereka

Setelah ayat y a n g lalu berbicara tentang sumpah secara khusus, kini disusul dengan y a n g bersifat u m u m , y a i t u pengkhianatan dalam berbagai bentuknya. Ibn 'Asyur m e m a h a m i ayat ini sebagai larangan m e m b a t a l k a n tekad m e m p e r t a h a n k a n keislaman; apalagi dengan m e m e l u k Islam ketika itu mereka kehilangan b a n y a k manfaat y a n g dapat mereka raih dari k a u m m u s y r i k i n . Allah berfirman: Dan janganlah kamu m e m a k s a k a n diri k a m u kamu yang telah

menentang fitrah kesucian kamu dengan menukar perjanjian k a m u k u k u h k a n dengan

n a m a Allah, baik dalam b e n t u k pengakuan k e d u a

kalimat syahadat m a u p u n nilai-nilai ajaran Islam. Yakni menukar nilai-nilai itu dengan k e n i k m a t a n duniawi y a n g bertentangan dengannya, betapapun

banyak dan mahalnya yang ditawarkan atau yang dapat kamu peroleh dengan penukaran itu. Apa y a n g k a m u dapat peroleh itu adalah harga yang lagi m u r a h dan segera akan p u n a h . Sesungguhnya apa yang ada di sisi sedikit Allah

yakni y a n g d i s e d i a k a n - N y a u n t u k k a m u sebagai i m b a l a n atas keteguhan memelihara janji dan amanat serta melaksanakan t u n t u n a n - t u n t u n a n - N y a , b a i k di d u n i a ini, lebih-lebih di akhirat kelak, itulah yang baik bagi kamu di mengetahui,

dunia ini dan di akhirat nanti. Renungkanlah nasihat ini jika kamu

y a k n i jika k a m u m e m a n g benar-benar orang y a n g m e m i l i k i pengetahuan.

716

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 9 5 - 9 6

Selanjutnya, ayat 9 6 m e n y i n g g u n g sepintas kebaikan apa y a n g berada di sisi Allah itu. Yakni segala m a c a m k e n i k m a t a n y a n g bersifat d u n i a w i suatu saat akan lenyap, berakhir, dan apa yang ada di sisi Allah, termasuk ganjaran kekal, yakni kamu sesungguhnya sabar dalam

kebaikan y a n g k a m u laksanakan demi karena Allah, adalah

akan menemukan ganjarannya dan tidak putus-putusnya. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang

memelihara amanat, melaksanakan t u n t u n a n Allah, dan menjauhi laranganN y a dengan mereka pa.hala.yang lebih baik serta berlipat g a n d a dari apa yang telah

kerjakan

sambil m e n g a m p u n i dosa-dosa mereka. apa yang ada ditulis d a l a m mushaf al-

Kata ( U J I ) innamdfsesungguhnya

Q u r ' a n dengan m e n y a m b u n g dua kata y a i t u ( 6 t ) inna dan ( U ) md. Kalau mengikuti kaidah penulisan y a n g baku dewasa ini, dan y a n g sering kali juga digunakan oleh al-Qur'an, semestinya kedua kata tersebut dipisahkan. Tetapi, demikianlah y a n g ditemukan di sini. Agaknya, penulisan itu adalah berdasar pertimbangan pengucapan semata-mata. Perlu dicatat bahwa dalam beberapa m u s h a f ' U t s m a n i y a n g l a i n ada j u g a y a n g m e n u l i s n y a secara terpisah, sebagaimana disinggung oleh al-Jamal d a l a m k o m e n t a r n y a terhadap tafsir al-Jaldlain dengan merujuk kepada pakar qirdat, Ibn al-Jazri.

Kata (Jii\ «UP U ) md 'inda Allah b u k a n d a l a m arti y a n g berada di sisi Allah di akhirat kelak karena sesungguhnya y a n g berada di sisi A l l a h bukan h a n y a y a n g di akhirat, tetapi m i l i k - N y a apa y a n g terdapat di d u n i a dan di akhirat. Atas dasar itu, penggalan ayat ini b e r m a k n a seperti y a n g penulis k e m u k a k a n di atas. Firman-Nya: ( dJUM ijilT u ^-^U ) bi ahsani md kdnu ya'malun

diperselisihkan m a k s u d n y a oleh para penafsir. Ibn 'Asyur m e m a h a m i n y a dalam arti disebabkan amal mereka y a n g mencapai p u n c a k kebaikan y a i t u berpegang teguh dengan ajaran Islam, kendati harus menderita ujian dan penyiksaan dari k a u m musyrikin. A d a j u g a y a n g berpendapat bahwa y a n g dimaksud dengan amal-amal di sini adalah a m a l - a m a l y a n g bersifat m u b a h y a n g b u k a n wajib d a n bukan juga sunnah. Mestinya—tulis asy-Sya'rawi yang memilih pendapat ini—amalamal yang bersifat mubah tidak mendapat ganjaran, akan tetapi Allah, berdasar anugerah-Nya, menganugerahkan pula ganjaran atas amal-amal jenis tersebut.

K e l o m p o k VII A y a t 9 7

S u r a h a n - N a h l [16]

717

Banyak ulama y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti dengan

pahala

yang

lebih

baik dari amal mereka. Dalam arti, suatu amal bisa ditampilkan dalam bentuk baik sehingga mendapat pahala y a n g baik, dan bisa j u g a dalam bentuk yang terbaik sehingga mendapat pahala y a n g terbaik. M e r e k a y a n g dibicarakan oleh ayat ini memeroleh ganjaran yang terbaik—walaupun hanya baik sehingga seharusnya ia hanya mendapat ganjaran amalnya itu sendiri baik. Peningkatan

ganjaran dari tingkat baik menjadi lebih baik itu disebabkan ada nilai tambah pada diri mereka y a i t u kesabaran dalam melakukan amal-amal tersebut. M e m a n g , seorang kaya akan bersedekah dengan mudah dibandingkan dengan y a n g miskin. Si miskin m e n g h a d a p i kesulitan dan harus bersabar. Nah, di sini ia mendapat ganjaran y a n g lebih baik daripada y a n g kaya itu. A g a k n y a , pendapat inilah yang paling tepat mengingat adanya sifat sabar yang disebut

di sini sebagai menyertai pelaku-pelaku itu. Tentu saja, melakukan amalamal y a n g bersifat m u b a h pelaksanaanya. tidak membutuhkan kesabaran dalam

AYAT 97

"Barang siapa yang mengerjakan sedang dia adalah kehidupan dengan mukmin,

amal saleh, baik laki-laki maupun maka sesungguhnya pasti akan Karni beri telah

perempuan, berikan balasan mereka

kepadanya kepada kerjakan.

yang baik, dan sesungguhnya pahala yang lebih

akan Kami

mereka "

baik dari apa yang

Setelah ayat-ayat lalu m e n y a m p a i k a n ancaman bagi yang durhaka dan janji bagi y a n g taat, ayat ini m e n a m p i l k a n prinsip y a n g menjadi dasar bagi pelaksanaan janji dan ancaman itu. Prinsip tersebut berdasar keadilan, tanpa m e m b e d a k a n seseorang dengan y a n g lain kecuali atas dasar pengabdiannya. Prinsip itu adalah: barang k e l a m i n n y a , baik laki-laki siapa yang maupun mengerjakan perempuan, arnalsaleh, sedang apa pun jenis mukmin,

dia adalah

y a k n i amal y a n g d i l a k u k a n n y a lahir atas dorongan k e i m a n a n y a n g sahih, maka sesungguhnya pasti akan Kami berikan kepadanya masing-masing

718

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 97

kehidupan kepada

yang

baik di dunia ini dan sesungguhnya semua di d u n i a dan di akhirat dengan telah mereka

akan Kami pahala

beri lebih

balasan baik

mereka

yang

dan berlipat ganda dari apayang Kata ( ) shdlih/saleh

kerjakan. bermanfaat

dipahami dalam arti baik, serasi, atau

dan tidak rusak. Seseorang dinilai beramal saleh apabila ia dapat memelihara nilai-nilai sesuatu sehingga kondisinya tetap tidak berubah sebagaimana adanya dan, dengan demikian, sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat. Dicakup j u g a oleh kata beramal saleh u p a y a seseorang m e n e m u k a n sesuatu dan

y a n g hilang atau b e r k u r a n g n i l a i n y a , t i d a k atau k u r a n g berfungsi

bermanfaat, lalu melakukan aktivitas (perbaikan) sehingga yang kurang atau hilang itu dapat m e n y a t u kembali dengan sesuatu itu. Yang lebih baik dari itu adalah siapa yang menemukan sesuatu yang telah bermanfaat dan berfungsi dengan baik, lalu ia melakukan aktivitas y a n g melahirkan nilai tambah bagi sesuatu itu sehingga kualitas dan manfaatnya lebih tinggi dari semula. A l - Q u r ' a n tidak menjelaskan tolok u k u r pemenuhan nilai-nilai atau kemanfaatan dan ketidakrusakan itu. Para u l a m a pun berbeda pendapat. Syaikh M u h a m m a d 'Abduh, misalnya, mendefinisikan amal saleh sebagai, "Segala perbuatan y a n g berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan." Az-Zamakhsyari, seorang ahli tafsir yang beraliran rasional sebelum 'Abduh, berpendapat bahwa amal saleh adalah, "Segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, al-Qur'an, dan atau sunnah Nabi M u h a m m a d saw." A l - Q u r ' a n , walau tidak menjelaskan secara tegas apa y a n g d i m a k s u d dengan amal saleh, apabila ditelusuri contoh-contoh y a n g dikemuka-kannya tentang alfasdd(kerusakan) yang merupakan antonim dari kesalehan, paling

tidak kita dapat m e n e m u k a n contoh-contoh amal saleh. Kegiatan yang dinilai al-Qur'an sebagai perusakan antara lain adalah: a) perusakan tumbuhan, generasi manusia, dan keharmonisan lingkungan, seperti yang diisyaratkan oleh Q S . ai-Baqarah [ 2 ] : 2 0 5 , b) keengganan m e n e r i m a kebenaran ( Q S . Ali 'Imran [ 3 ] : 6 3 ) , c) perampokan, p e m b u n u h a n , dan gangguan k e a m a n a n ( Q S . a l - M a idah [ 5 ] : 3 2 ) , d) pengurangan takaran, t i m b a n g a n , dan h a k - h a k manusia (QS. ahA'raf [ 7 ] : 8 5 ) , e) memecah belah kesatuan ( Q S . al-Anfal [ 8 ] : 7 3 ) , f) foya-foya dan bermewah-mewah (QS.

K e l o m p o k VII A y a t 9 7

S u r a h a n - N a h l [16]

719

H u d [1 l j : 1 1 6 ) , g) pemborosan (QS. asy-Syu'ara' [ 2 6 ] : 1 5 2 ) , h) makar dan penipuan (QS. al-Naml [ 2 7 ] : 4 9 ) , i) pengorbanan nilai-nilai agama (QS. Ghafir [ 4 0 ] : 2 6 ) , j) kesewenang-wenangan (QS. al-Fajr [ 8 9 ] : 1 1 - 1 2 ) , dan lain-lain. Usaha u n t u k menghindari dan mencegah hal-hal di atas merupakan bagian dari amal saleh. S e m a k i n besar usaha tersebut, semakin tinggi nilai kualitas hidup manusia. D e m i k i a n pula sebaliknya. Tentu saja, y a n g disebut di atas adalah sekadar contoh-contoh. S u n g g u h sangat luas lapangan amal saleh y a n g terbentang di persada b u m i ini. Firman-Nya: ( j^j-o ) wa huwa muhi ini sedang dia adalah mukmin

menggarisbawahi syarat mutlak bagi penilaian kesalehan amal. Keterkaitan amal saleh dan iman menjadikan pelaku amal saleh melakukan kegiatannya tanpa mengandalkan imbalan segera serta m e m b e k a l i n y a dengan semangat berkorban dan upaya beramal sebaik m u n g k i n . Setiap amal vang tidak dibarengi dengan iman, d a m p a k n y a hanya sementara. Dalam kehidupan dunia ini, terdapat hal-hal yang kelihatan sangat kecil, balikan boleh jadi tidak terlihat oleh pandangan, tetapi justru merupakan unsur asasi bagi sesuatu. Setetes racun y a n g diletakkan di gelas y a n g penuh air tidaklah mengubah kadar dan warna cairan di gelas itu, tetapi pengaruhnya sangat fatal. Kekufuran/ketiadaan iman y a n g bersemai di hati orang-orang kafir, bahkan yang mengaku muslim sekalipun, merupakan nilai yang merusak susu sebelanga atau racun yang m e m a t i k a n . Karena itulah sehingga berkalikali al-Qur'an memperingatkan pentingnya iman menyertai amal karena tanpa iman kepada Allah swt. amal-amal ini akan menjadi sia-sia belaka. Allah menegaskan bahwa:

"Dan Kami hadapi segila amal (baik) yang mereka kerjakan amal itu (bagaikan) Kata ( l&) debu yang beterbangan"

lalu Kami

jadikan

(QS. al-Furqan [ 2 5 ] : 2 3 ) .

thayyibah

telah dijelaskan m a k n a n y a pada penafsiran ayat

32 surah ini. Kehidupan y a n g baik di sini mengisyaratkan bahwa y a n g bersangkutan memeroleh kehidupan y a n g berbeda dengan kehidupan orang kebanyakan. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah ( i& 2 U»- ) haydtan

720

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VII A y a t 9 7

thayyibatanlkehidupan

yang

baik itu b u k a n berarti kehidupan m e w a h y a n g

luput dari ujian, tetapi ia adalah kehidupan y a n g diliputi oleh rasa lega, kerelaan, serta kesabaran dalam menerima cobaan dan rasa syukur atas nikmat Allah. Dengan d e m i k i a n , y a n g bersangkutan tidak merasakan takut y a n g mencekam, atau kesedihan yang melampaui batas, karena dia selalu menyadari bahwa pilihan Allah swt. adalah y a n g terbaik, dan di balik segala sesuatu ada ganjaran yang menanti. Seorang y a n g durhaka, walau kaya, dia tidak pernah merasa puas, selalu ingin menambah sehingga selalu merasa miskin, dan selalu d i l i p u t i oleh k e g e l i s a h a n , rasa t a k u t t e n t a n g m a s a d e p a n , d a n d a r i l i n g k u n g a n n y a . Dari sini, dia tidak menikmati kehidupan ada sekian pendapat lain tentang m a k n a kehidupan M i s a l n y a , kehidupan yang halal. diwarnai di surga kelak, atau di alam (rasa puas dengan yang Barzah, yang baik atau baik. M a s i h dimaksud. kehidupan yang

oleh qanaah

perolehan),

atau rezeki

H e m a t p e n u l i s , m a k n a - m a k n a tersebut m e r u p a k a n b a g i a n dari

kehidupan yang baik itu. Siapa yang memeroleh kehidupan yang baik, seperti pendapat pertama y a n g penulis sadur di atas, nicaya dia akan memeroleh semua apa y a n g disebut itu. Ayat ini merupakan salah satu ayat y a n g menekankan persamaan antara pria dan wanita. Sebenarnya, kata manlsiapa y a n g terdapat pada awal ayat ini

sudah dapat menunjuk kedua jenis k e l a m i n — l e l a k i dan perempuan—tetapi guna penekanan dimaksud, sengaja ayat ini menyebut secara tegas kalimat baik laki-laki perempuan maupun perempuan. Ayat ini j u g a m e n u n j u k k a n betapa k a u m

p u n d i t u n t u t agar terlibat d a l a m k e g i a t a n - k e g i a t a n y a n g

bermanfaat, baik u n t u k diri dan keluarganya maupun untuk masyarakat dan bangsanya, bahkan kemanusiaan seluruhnya.

KELOMPOK 8

AYAT

98-105

722

S u r a h a n - N a h l [16]

tlliJ^-Li %J^\^j>\

^ ^ y y ^ j^j>

\ jju«j O J a J j

K e l o m p o k VIII A y a t 9 8

S u r a h a n - N a h i [16]

723

AYAT 9 8

"Maka apabila

engkau

membaca terkutuk. "

al-Quran,

maka bertaawwudzlah

kepada

Allah dari setan yang

Ayat-ayat kelompok ini berbicara tentang aI-Qur'an, tuduhan k a u m musyrikin, dan bantahan terhadap ucapan-ucapan mereka tentang kitab suci ini. M e m a n g , sepintas tidak terlihat ada h u b u n g a n antara uraian ayat ini dan ayat y a n g lalu. Beberapa pendapat d i k e m u k a k a n oleh para pakar. Antara lain a l - B i q a ' i , Ibn 'Asyur, d a n S a y y i d Q u t h u b , y a n g p a d a k e s i m p u l a n n y a m e n y a t a k a n bahwa ayat-ayat y a n g lalu m e n g u r a i k a n sekian banyak prinsip dan t u n t u n a n y a n g antara lain m e m b u k t i k a n b a h w a al-Qur'an benar-benar m e r u p a k a n penjelasan yang sangat sempurna, sebagaimana ditegaskan oleh ayat 8 9 surah ini. Uraian-uraian itu diakhiri dengan anjuran u n t u k beramal saleh y a n g dapat ditemukan sekian perinciannya dalam al-Qur'an. M a k a , di sini diperintahkan u n t u k membaca dan mempelajarinya. Tetapi, karena setan selalu menghalangi m a n u s i a dari jalan kebajikan, termasuk membaca dan mempelajari al-Qur'an, ayat ini memerintahkan kepada Nabi M u h a m m a d s a w . — d a n t e n t u l e b i h - l e b i h lagi u m a t n y a — a g a r m e m b a c a n y a sambil m e m o h o n perlindungan Allah dari godaan setan. A y a t ini seakan-akan m e n y a t a k a n d e m i k i a n l a h al-Qur"an memberi

bimbingan menuju kebenaran. M e m a n g , setan selalu berusaha menjauhkan m a n u s i a dari t u n t u n a n a l - Q u r a n , maka j i k a d e m i k i a n apabila membaca al-Qur'an, maka bertaawwudzlah,
,

engkau

yakni memohonlah dengan tulus min asy-syaithdn

perlindungan, kepada Allah dengan berkata: "A udzu billahi ar~rajim",

baik dengan suara n y a r i n g m a u p u n berbisik, kiranya engkau

dihindarkan dari rayuan dan bisikan setan yang terkutuk, yakni yang dijauhkan dari rahmat Allah. Kata menuju

( J ^ . i j ) fasta'idz
untuk

terambil dari kata ( menghindar

jjjjl)

ah'audzyang atau gangguan,

berarti baik

ke sesuatu

dari ketakutan

y a n g dituju itu m a k h l u k h i d u p , seperti manusia, atau benda tak bernyawa, seperti benteng atau g u n u n g , l e b i h - l e b i h k e p a d a aI-Kha.Iiq A l l a h swt.

724

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VIII A y a t 9 8

M a k n a n y a k e m u d i a n berkembang sehingga kata tersebut dipahami dalam arti permohonan perlindungan. Kata ini, dalam berbagai bentuknya, terulang

di dalam al-Qur'an sebanyak tujuh belas kali. Enam belas di antaranya tertuju kepada Allah swt., dan sekali—yang dikemukakan dalam konteks kecaman-— merupakan permohonan sekelompok manusia kepada jin (baca Q S . al-Jinn [72]: 6). Kata ( o l j s ) qara'ta membaca. berbentuk kata kerja masa l a m p a u , y a k n i telah

Atas dasar itu, sementara beberapa u l a m a menilai bahwa ayat ini

m e m e r i n t a h k a n m e m o h o n perlindungan Allah dari gangguan setan begitu selesai m e m b a c a al-Qur'an. Asy-Sya'rawi, y a n g tidak menolak pengertian i n i — w a l a u m e m i l i h pendapat l a i n — m e n u l i s bahwa perintah berta'awwudz

itu disebabkan, setelah Anda m e m b a c a al-Qur'an, A n d a memeroleh bekal i m a n dan limpahan cahaya Ilahi serta ada j u g a sopan santun dan h u k u m h u k u m yang d i m i n t a dari A n d a u n t u k A n d a laksanakan. Nah, karena itu, A n d a h e n d a k n y a m e m o h o n perlindungan Allah dari godaan setan, jangan sampai ia merusak bekal dan limpahan cahaya Ilahi yang A n d a peroleh itu atau memalingkan Anda dari pelaksanaan tuntunan sopan santun dan hukumh u k u m itu. Demikian asy-Sya'rawi. Dapat juga ditambahkan bahwa

p e r m o h o n a n perlindungan setelah membaca itu termasuk j u g a m e m o h o n agar ibadah m e m b a c a al-Qur'an itu tidak disusupi oleh riya dan keinginan mendapat pujian orang. Kebanyakan ulama m e m a h a m i kata ( oi^fl) qardta d a l a m arti sedang

akan membaca. M e m a n g , tidak sedikit kata y a n g berbentuk masa lampau yang digunakan al-Qur'an dengan m a k n a beberapa contoh firman-Nya: saat sebelumnya. Sebagai

"Apabila kamu

telah bangkit

untuk

shalat,

maka basuhlah

wajahmu"

(QS.

a l - M a idah [ 5 ] : 6 ) . Ayat y a n g m e m e r i n t a h k a n berwudhu ini m e n g g u n a k a n juga bentuk kata kerja masa lampau, tetapi tentu saja—sebagaimana disepakati oleh seluruh u l a m a — b a h w a kewajiban berwudhu b u k a n n y a setelah selesai shalat, tetapi sebelumnya dan, dengan d e m i k i a n , kata telah bangkit shalatyzng d i m a k s u d adalah akan melaksanakan shalat. untuk

K e l o m p o k VIII A y a t 9 8

S u r a h a n - N a h l [16]

725

Perintah m e m o h o n perlindungan Allah sebelum m e m b a c a al-Qur'an karena al-Qur'an adalah bacaan sempurna y a n g jauh berbeda dengan semua bacaan yang lain. l a adalah firman-firman Allah Yang M a h a s u c i sehingga firman-Nya pun M a h a s u c i . A n d a d i m i n t a agar m e n y u c i k a n diri lahir d a n batin ketika akan membacanya. Cara menyucikan diri secara lahiriah adalah dengan menyingkirkan hadats besar dan kecil, yakni berwudhu. Sedang, cara menyucikan jiwa adalah dengan menyingldrkan penyebab kekotorannya yaitu setan. Nah, y a n g ini d i t e m p u h dengan m e m o h o n perlindungan Allah. Di sisi lain, ketika membaca al-Qur'an, A n d a d i t u n t u t u n t u k menghadirkan m a k n a kesucian itu dalam benak Anda, sekaligus menghadirkan keagungan Rasul saw. y a n g m e n e r i m a dan m e n y a m p a i k a n n y a kepada u m a t manusia. Al-Qur'an juga mengandung tuntunan yang harus dipahami dan dilaksanakan, dan i t u m e m e r l u k a n ketenangan dan keterhmdaran dari gangguan, sedang dalam saat y a n g sama setan selalu berusaha memali ngkan manusia dari Allah dan Rasul-Nya serta pemahaman dan pelaksanaan tuntunan-tuntunan-Nya. M e n y a d a r i hal itu semua, sangat wajar j i k a sebelum m e m b a c a al-Qur'an Anda m e m o h o n perlindungan Allah dari godaan dan rayuan setan. Thabathaba'i m e m a h a m i perintah bertaawwudz di atas adalah selama

membaca a!-Qur'an. Ayat ini, menurutnya, bermaksud menyatakan 'Apabila engkau membaca al-Qur'an, mohonlah kepada Allah selama engkau m e m b a c a n y a k i r a n y a Allah m e l i n d u n g i m u dari penyesatan setan y a n g terkutuk. Dengan d e m i k i a n , p e r m o h o n a n perlindungan itu adalah dalam diri pembaca selama dia mambaca. Dia diperintah untuk mewujudkan dalam dirinya permohonan itu selama d i a membaca. Adapun ucapan pembaca: A'iidzu hitlah min asy-syaithdn ar-rajim atau redaksi y a n g semacamnya, itu

hanya sebab untuk mewujudkan makna permohonan perlindungan itu dalam jiwa. B u k a n itu yang d i m a k s u d karena Allah di sini berfirman, " M o h o n l a h perlindungan Allah," b u k a n n y a berfirman, "Katakanlah A'udzu Demikian tulis Thabathaba'i. Pendapat di atas juga dapat dibenarkan. Firman Allah: bitldh."

726

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VIII A y a t 9 9 - 1 0 0

"Sempurnakanlah

takaran

apabila

kamu telah menakar

( Q S . al-Isra' [ 1 7 ] : dan

35) j u g a m e n g g u n a k a n kata kerja masa l a m p a u pada kata telah menakar

tentu saja perintah tersebut di samping perintah menyempurnakan alat penakar juga apa y a n g ditakar, dan p e n y e m p u r n a a n apa y a n g ditakar itu tentu saja bukan setelah selesainya menakar, tetapi pada saat melakukan takaran. Kalau asy-Sya'rawi dan sekian u l a m a m e m b e n a r k a n p e m a h a m a n kata qara'ta d a l a m a r t i akan dan sesudah membaca, tidak ada salahnya

m e m a h a m i n y a pula seperti p e m a h a m a n T h a b a t h a b a ' i ini. Dan, dengan demikian, kita dapat berkata bahwa pembaca al-Qur'an hendaknya memohon p e r l i n d u n g a n Allah sebelum m e m b a c a n y a dan terus-menerus berupaya m e m p e r t a h a n k a n permohonan itu saat m e m b a c a n y a dan ketika selesai pun permohonan perlindungan dari setan juga masih dilanjutkan. Itu semua dapat dilaksanakan, sekali dengan m e n g u c a p k a n k a l i m a t - k a l i m a t tertentu dan di kali lain dengan terus menciptakan kondisi kejiwaan y a n g m e n g h a l a n g i kehadiran setan. Perintah berta awwudz di atas, menutut mayoritas ulama, adalah anjuran

dan b u k a n perintah wajib. Ada juga y a n g m e m a h a m i n y a sebagai kewajiban, paling tidak sekali seumur h i d u p , atau ketika m e m b a c a n y a dalam shalat. atau kewajiban d i m a k s u d h a n y a tertuju k e p a d a Nabi M u h a m m a d saw. Pendapat-pendapat tersebut tidak m e m p u n y a i pijakan. Di sisi lain, ucapan ta awwudz "A'udzu yang diperintahkan di sini tidak mutlak harus seperti yang populer billahi min asy-syaithdn ar-rajim", tetapi k a l i m a t apa pun vang

mengandung permohonan perlindungan. Kendati demikian, yang sebaiknya adalah seperu yang populer itu, apalagi redaksinya sejalan dengan bunyi ayat ini. Dan ada j u g a riwayar y a n g m e n y a t a k a n bahwa d e m i k i a n itulah tedaksi y a n g diucapkan Nabi saw.

AYAT 9 9 - 1 0 0

"Sesungguhnya dan bertawakal

ia tidak memiliki kepada

kekuasaan

atas orang-orang

yang atas

beriman orang-

Tuhan mereka.

Kekuasaannya

hanyalah

K e l o m p o k VIII A y a t 9 9 - 1 0 0

S u r a h a n - N a h l [16]

727

orang yang adalah

menjadikannya

pemimpin "

dan orang-orang

yang disebabkan

olehnya

mereka para musyrikin.

Ayat ini menjelaskan mengapa harus memohon perlindungan Allah dari godaan setan. Seakan-akan ayat ini menyatakan j a n g a n khawatirkan godaan setan selama e n g k a u berlindung dan berserah diri kepada Allah. J i k a k a m u telah melakukan hal itu dengan penuh keikhlasan, Allah akan menjaga diri mu dari setan dan godaannya karena sesungguhnya yakni pengaruh negatif, atas onmg-orangyang ia tidak memiliki beriman dan bertawakal kekuasaan, kepada

Tuhan Pemelihara dan Pembimbing mereka sehingga, betapapun upaya yang ia l a k u k a n t e r h a d a p m e r e k a , setan t e r k u t u k itu t i d a k akan berhasil. Kekuasaannya orang-orang berbisik, m e r a y u , dan berhasil m e m e n g a r u h i hanyalah yang menjadikannya pemimpin atas

dengan kesediaan nya mendekat

kepadanya, mendengar, dan m e m p e r t u r u t k a n bisikan setan dan y a n g juga berhasil dirayu setan adalah orang-orang setan itu teperdaya, y a k n i adalah Kata ( OtfaU) sulihdn minyak yang digunakan yang disebabkan olehnya, yakni oleh

mereka para

musyrikin. y a n g berarti

terambil dari kata ( JaL^Jl) as-salitb untuk menyalakan lampu semprong.

M i n y a k itulah mampu

y a n g m e m b a s a h i tali y a n g u j u n g n y a m e n y a l a s e h i n g g a l a m p u

menyala. Keterangan atau bukti yang menjelaskan sesuatu dengan terang dan m a m p u m e y a k i n k a n pihak lain d i n a m a i sulthan. K e m a m p u a n boleh jadi

atas dasar keterangan y a n g m e y a k i n k a n sehingga diterima dengan hati puas, baik keterangan itu benar a d a n y a m a u p u n berupa penipuan. K e m a m p u a n juga dapat diperoleh atas dasar kekuatan dan kekuasaan yang memaksa. Setan m e m i l i k i k e m a m p u a n u n t u k m e m a p a r k a n aneka cara dan keterangan yang berpontensi m e m p e r d a y a manusia. N a m u n , k e m a m p u a n n y a h a n y a dapat berpengaruh kepada orang-orang yang lemah i m a n atau tidak beriman sama sekali. K e m a m p u a n setan dapat diibaratkan seperti k u m a n penyakit y a n g h a n y a dapat b e r d a m p a k b u r u k t e r h a d a p m e r e k a y a n g tidak m e m i l i k i kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh diperoleh melalui pemeliharaan kesehatan dan imunisasi, sedang kekebalan ruhani diperoleh dengan iman dan berserah diri kepada Allah swt. Karena itu, k e m a m p u a n setan merayu tidak akan berdampak buruk bagi yang memiliki iman dan tawakal. Ia hanya berdampak

728

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VIII A y a t 9 9 - 1 0 0

b u r u k atas orang-orang y a n g lemah ruhaninya, y a n g tidak m e m i l i k i atau rapuh i m a n n y a . D e n g a n m e n g i n g a t A l l a h swt. d a n m e m o h o n perhndungan-Nya,

m a n u s i a akan terhindar dari gangguan setan. Salah satu sifat setan adalah khannas seperti terbaca d a l a m Q S . an-Nas [ 1 1 4 ] : 4. Sifat ini dari satu sisi sampai ia mendapat kesempatan untuk

m e n g a n d u n g m a k n a ketersembunyian membisikkan rayuan dan melancarkan di hadapan pintu-pintu

serangannya, Allah yang

dan di sisi lain memberi siaga menghadapi dadanya. tipu

kesan kelemahannya daya serta menutup

hamba

masuk setan ke dalam

Setan akan

m e l e m p e m dan m u n d u r serta m e n g h i l a n g bila dihadapi dengan zikir dan permohonan perlindungan kepada Allah swt., sebagaimana sabda Rasul saw.: " S e s u n g g u h n y a setan bercokol di hati putra-putri A d a m . Apabila ia lengah, setan berbisik; dan apabila ia berzikir, setan m u n d u r menjauh" (HR. Bukhari melalui Ibn 'Abbas ra.). Dari ayat ini dapat juga dipahami bahwa permohonan perlindungan yang diperintahkan sebelum ini m e n g a n d u n g m a k n a p e m a n t a p a n i m a n dan penyerahan diri kepada-Nya, kalau enggan berkata b a h w a p e r m o h o n a n tersebut identik dengan i m a n dan tawakal. Di sisi lain, dapat dicatat bahwa iman dan tawakal, dalam pengertiannya yang sebenarnya, merupakan hakikat pengabdian kepada/Allah swt. B u k a n k a h Allah berfirman m e n y a m p a i k a n keputusan-Nya kepada setan bahwa

"Sesungguhnya mereka; kecuali

hamba-hamba-Ku orang-orang yang

tidak

ada kekuasaan yaitu

bagimu yang

terhadap sesat"

mengikutimu,

orang-orang

(QS. al-Hijr [15]: 4 2 ) . H a m b a - h a m b a - N y a dimaksud itu dilukiskan sifatnya oleh ayat ini dengan orang-orang mereka. Kata
( d j )

yang

beriman

dan bertawakal

kepada

Tuhan

bihipada

firman-Nya: ( d)jTy^o <u

jiJA\j ) wa alladzina olehnya,

hum yakni

bihi musyrikun

ada yang m e m a h a m i n y a dalam arti disebabkan

oleh setan. Dengan demikian, penggalan ayat ini menyatakan bahwa kekuasaan setan h a n y a dapat m e n y e n t u h orang-orang y a n g menjadikannya p e m i m p i n y a n g disebabkan oleh rayuan setan sehingga mereka menjadi orang-orang

K e l o m p o k VIII A y a t 1 0 1 - 1 0 2

S u r a h a n - N a h l [16]

729

musyrik.

Ini memberi kesan b a h w a , w a l a u p a d a m u l a n y a setan h a n y a

m e n g g o d a dan m e r a y u n y a m e n y a n g k u t k e d u r h a k a a n kecil, r a y u a n itu meningkat dan meningkat sehingga pada akhirnya yang digoda menjadi orangorang y a n g benar telah menjadi musyrik, y a k n i m e n d a r a h d a g i n g sifat kemusyrikan dalam jiwa dan kelakuannya A d a j u g a ulama y a n g m e m a h a m i kata bihi dalam arti terhadap-Nya

sehingga ayat ini melukiskan dua kelompok yang dapat diperdaya oleh setan. Pertama, orang-orang y a n g m e n j a d i k a n n y a p e m i m p i n , dan kedua, orangorang yang terhadap Allah bersikap musyrik. Kelompok yang pertama belum

mencapai tingkat kemusyrikan. Dia bisa saja kaum muslimin yang mengesakan Allah, tetapi teperdaya oleh setan karena ia tidak memiliki kekebalan ruhani. Kata ((*-*) humlmercka, orang-orang, setelah sebelumnya telah ada kata alladzina/

berfungsi m e n e k a n k a n k e m a n t a p a n k e m u s y r i k a n m e r e k a

sekaligus mengisyaratkan betapa kuat pengaruh setan dalam kalbu orangorang m u s y r i k itu.

AYAT 1 0 1 - 1 0 2

Dan apabila mengetahui engkau

Kami mengganti apa yang

suatu ayat di tempat

ayat—padahal berkata: mereka tidak

Allah

lebih

diturunkan-Nya-—mereka "Bahkan kebanyakan adalah

"Sesungguhnya mengetahui. Tuhanmu menjadi

adalahpengada-ada.

Katakanlah: dengan petunjuk

"Yang telah menurunkannya orang-orang

Ruhul Qudus dari dan

haq untuk meneguhkan serta kabar gembira

yang telah beriman "

bagi para muslimin.

Uraian tentang siapa y a n g diperdaya setan dan tentang kemantapan rayuannya terhadap k a u m musyrikin, sekaligus uraian tentang al-Qur'an yang kesemuanya menjadi pokok uraian ayat-ayat y a n g lalu, m e n g a n d u n g uraian tentang tanggapan k a u m musyrikin terhadap al-Qur'an. Apalagi terdapat tuntunan Allah, baik melalui al-Qur'an m a u p u n sunnah, y a n g diubah atau berbeda dengan tuntunan sebelumnya akibat perkembangan masyarakat dan demi kemaslahatannya. Ayat ini menguraikan hal itu dengan menyatakan

730

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VIII A y a t 1 0 1 - 1 0 2

b a h w a dan apabila

Kami

mengganti

suatu

ayat al-Qur'an di tempat

ayat

y a n g l a i n — p a d a h a l Allah yang pengetahuan-Nya Mahaluas lebih dari siapa pun tentang apa yang diturunkan-Nya,

mengetahui

antara lain m e n y a n g k u t

kapan dan apa yang diganti dan menggantikan serta apa yang merupakan kemaslahatan masyarakat. Apabila terjadi y a n g d e m i k i a n , sebagian y a n g tidak m e n g e t a h u i itu berkata: "Sesungguhnya engkau, mereka

w a h a i Nabi

M u h a m m a d , b e r b o h o n g d a l a m p e n g a k u a n m u b a h w a p e r g a n t i a n itu bersumber dari Allah, bahkan e n g k a u banyak sekali berbohong sehingga engkau sebenarnya adalahpengada-ada, y a k n i pembohong."

Ucapan k a u m m u s y r i k i n itu disanggah bahwa sama sekali salah dan kedurhakaan ucapan itu, bahkan kebanyakan mereka y a n g bersinambung Katakanlah,

kekufuran dan ucapannya y a n g semacam itu tidak mengetahui.

wahai Nabi M u h a m m a d , kepada mereka itu bahwa: "Aku bukannya pengadaada, bukan juga atas kehendakku ayat ini dan itu digantikan, tetapi itu semua adalah kehendak Allah dan yang telah menurunkannya, yakni membawa turun yakni

al-Qur'an dan pergantian itu secara berangsur, adalah Ruhul Qudus, malaikat Jibril as."

Selanjutnya, ayat ini m e n e k a n k a n bahwa al-Qur'an bukan bersumber dari malaikat suci itu, bukan juga dari manusia, tetapi ia bersumber Tuhan dari

Pemelihara dan Pembimbingmw, w a h a i Nabi M u h a m m a d . Dia haq, y a k n i dalam keadaan dan disertai dengan

m e n u r u n k a n n y a dengan

kebenaran dan berisikan kebenaran serta dengan tujuan yang benar yaitu untuk meneguhkan petunjuk hati dan pikiran orang-orang yang telah beriman dan menjadi bagi

yang sangat jelas menuju jalan kebahagiaan serta kabar gembira y a k n i orang-orang y a n g berserah diri kepada Allah.

para muslimin,

Kata ( AJT ) ayah pada ayat 101 di atas d i p a h a m i oleh beberapa ulama dalam arti mukjizat sehingga ayat tersebut, menurut mereka, berbicara tentang pergantian mukjizat atau bukti-bukti kebenaran yang dipaparkan oleh Nabi M u h a m m a d saw. Pendapat ini mereka k e m u k a k a n dalam rangka menolak p a n d a n g a n ulama lain y a n g m e n y a t a k a n b a h w a ada ayat al-Qur'an y a n g dibatalkan ketentuan h u k u m n y a dan digantikan oleh ayat y a n g lain, atau y a n g diistilahkan dalam i l m u - i l m u a l - Q u r ' a n dengan naskh d a l a m arti

K e l o m p o k VIII A y a t 1 0 1 - 1 0 2

S u r a h a n - N a h l [16]

731

p e m b a t a l a n h u k u m syariat d e n g a n h a d i r n y a h u k u m y a n g baru y a n g bertentangan dengan h u k u m y a n g turun sebelumnya. H e m a t penulis, m e m a h a m i kata ( a j ) ayah p a d a penggalan awal ayat di atas dengan mukjizat dihadang oleh sekian banyak hal yang ditemukan dalam rangkaian redaksi ayat itu sendiri. Dari segi konteks, jelas bahwa firman-Nya di atas berkaitan d e n g a n firman A l l a h pada ayat-ayat s e b e l u m y a y a n g berbicara tentang al-Qur'an sehingga sangat wajar jika kata ayah di sini dipahami sebagai ayat al-Qur'an. Di sisi lain—menurut ayat ini—pergantian itu m e n g u n d a n g t u d u h a n k a u m musyrikin bahwa Nabi M u h a m m a d saw. pembohong. Seandainya y a n g dimaksud dengannya adalah mukjizat, tentu

penilaian itu tidak sejalan dengan tuduhan karena pergantian suatu mukjizat dengan mukjizat yang lain justru m e n g u k u h k a n kebenaran Nabi saw. Di samping itu, kata diturunkan dan menurunkannya demikian juga istilah uraian

Ruhul Qudus, y a k n i malaikat Jibril as., kesemuanya mengisyaratkan ayat berkaitan dengan turunnya al-Quran

karena kita tidak m e n e m u k a n membawa

pernyataan al-Qur'an yang menyatakan bahwa malaikat Jibril as. turun mukjizat.

Justru malaikat itulah yang dinyatakan oleh al-Qur'an secara

tegas sebagai yang m e m b a w a turun ayat-ayat a l - Q u f a n . (Baca antara lain Q S . asy-Syu'ara [ 2 6 ] : 193). Ini belum lagi dengan ayat 103 yang akan datang y a n g secara tegas m e n u n j u k ke bahasa a l - Q u r ' a n , y a k n i bahasa A r a b . Seandainya y a n g dimaksud dengan ayah adalah mukjizat, tentu ia tidak wajar dinamai berbahasa Arab. N a m u n d e m i k i a n , penulis tidak menilai ayat ini dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa ada ayat-ayat al-Qur'an yang dibatalkan hukumnya sehingga tidak berlaku lagi. H a l ini karena pernyataan tentang a d a n y a pembatalan h u k u m baru ditempuh jika terbukti ada ayat-ayat al-Qur'an yang saling bertentangan, diketahui juga m a n a h u k u m y a n g turun mendahului yang lain dan terbukti pula tidak dapat d i k o m p r o m i k a n . Di sisi lain, pada masa t u r u n n y a surah ini dalam periode M e k k a h , belum banyak—-kalau enggan berkata b e l u m a d a — a y a t - a y a t h u k u m y a n g d i b a t a l k a n k a r e n a perkembangan masyarakat Islam belum sepesat keadaannya setelah Nabi berhijrah di M a d i n a h . Dapat juga ditambahkan bahwa pernyataan beberapa ulama tentang adanya ayat-ayat y a n g bertentangan satu dengan lainnya, dari

732

S u r a h a n - N a h l [16]

Kelompok

VIII A y a t

101-102

masa ke masa, semakin berkurang. Bahkan, kini telah timbul pemikiran dan penafsiran baru yang m a m p u mengompromikan semua ayat-ayat yang semula diduga bertentangan oleh ulama terdahulu. M e m a n g , ada a y a t - a y a t y a n g berbeda satu d e n g a n l a i n n y a , tetapi perbedaan itu tidak harus dijadikan dasar u n t u k menyatakan bahwa ada ayat y a n g dibatalkan h u k u m n y a . Kata ( u l i ) baddalna baddala yang berarti mengganti. terambil dari kata ( J j j )

Yang digantikan tidak harus berarti ia dibuang

dan tidak dipakai lagi. Kata tersebut pada ayat ini m e n g a n d u n g m a k n a pergantian atau pengalihan dan pemindahan dari satu w a d a h ke wadah yang yang tadinya diberlakukan tanpa

lain. D a l a m arti: ketetapan pada suatu masyarakat hukum

hukum atau tuntunan dengan tuntunan

diganti atau

hukum yang yang lalu.

baru bagi mereka

membatalkan

B i l a suatu k e t i k a ada

masyarakat lain yang kondisinya serupa dengan masyarakat Islam di M e k k a h ketika t u r u n n y a ayat y a n g digantikan itu, y a n g digantikan tersebut bisa diberlakukan kepada mereka. Ini serupa dengan pakaian y a n g dibeli u n t u k seorang anak berusia 10 tahun. Pakaian itu tidak harus dibuang bila anak tadi telah besar dan pakaian itu sempit u n t u k n y a . Pakaiannya yang sempit itu diganti dengan y a n g lain dan y a n g lebih sesuai dengan t u b u h n y a , dan p a k a i a n n y a itu (yang sempit) disimpan bila a d i k n y a mencapai usia sepuluh tahun atau diberikan kepada a n a k lain y a n g b a d a n n y a sebesar anak pertama itu. Ini serupa juga dengan seseorang y a n g memeroleh beberapa jenis obat dari seorang dokter. Ketika k e s e h a t a n n y a berangsur p u l i h , dokter

menghentikan beberapa jenis obat dan menggantinya dengan obat baru. Obat lama tidak dibuang karena suatu ketika ia dapat d i m i n u m oleh penderita penyakit serupa. Dokter y a n g mengganti obat itu tidak keliru, baik dalam pemberian obat pertama m a u p u n obat pengganti, karena penggantian itu disesuaikan dengan kondisi pasiennya. Tuntunan Allah swt. tidak ubahnya d e n g a n obat-obat r u h a n i , dan m a s y a r a k a t a d a l a h pasien-pasien y a n g m e m b u t u h k a n obat-obat. Selanjutnya, perlu dicatat bahwa y a n g dimaksud dengan ayat pengganti dan y a n g digantikan di sini tidak m u t l a k dalam arti ayat h u k u m . Bisa saja, misalnya, ada ayat y a n g k a n d u n g a n t u n t u n a n n y a ringan dilaksanakan lalu

K e l o m p o k VIII A y a t 1 0 1 - 1 0 2

S u r a h a n - N a h l [16]

733

disusul sesudahnya dengan tuntunan dalam bidang lain yang pelaksanaannya berat. M a k a , k e t i k a i t u , k a u m m u s y r i k i n b e r k a t a b a h w a ayat r i n g a n menunjukkan k e l e m a h l e m b u t a n dan kasih sayang, dan ayat berat

m e n u n j u k k a n ketegasan dan kekerasan. Pergantian ini d i p a h a m i sebagai kontradiksi y a n g m e n u n j u k k a n bahwa b u k a n Tuhan yang m e n u r u n k a n n y a . Boleh jadi j u g a ada ayat yang k a n d u n g a n n y a bersifat u m u m , k e m u d i a n menyusul ayat yang bersifat khusus, yang mengecualikan sebagian k e u m u m a n ayat y a n g lalu. Ini pun dapat dinilai sebagai pergantian, seperti ayat yang menyatakan bahwa:

"Satu jiwa yang

berdosa

tidak dapat

memikul

dosa satu jiwa

yang lain"

(QS.

al-An'am [6]: 1 6 4 ) dinilai oleh k a u m musyrikin bertentangan dengan Nya:

firman-

"Sehingga Kiamat,

mereka

memikul

dosa-dosa

mereka

secara yang

sempurna mereka

pada

Hari tanpa

dan sebagian

dosa-dosa

orang-orang

sesatkan

pengetahuan"

( Q S . an-Nahl [ 1 6 ] : 2 5 ) . Ruh al-

F i r m a n - N y a : ( J^-U duj j* ^ J i i i ^ J J ^Jjj J i ) qul nazzalahu Qudusi min Rabbika bi al-haqqiI katakanlah, dengan "Yang telah

menurunkannya

adalah Ruhul Qudus dari Tuhanmu

/w<j"sepintas terbaca agak janggal.

Semestinya, ayat ini menyatakan "dari Tuhanku". Pemilihan redaksi tersebut, y a k n i pengalihannya dari kata "Tuhanku"menjadi "Tuhanmu", u n t u k lebih

menanamkan rasa ketenangan dan kegembiraan dalam diri Nabi M u h a m m a d saw. yang secara langsung dinyatakan Allah bahwa Dia Yang Mahakuasa yang Rabbuka/Tuhanmu yang m e m i l i k i rububiyah atau rububiyah itu a d a l a h T u h a n Nabi

M u h a m m a d saw. Kata Rabb

yang mengandung makna

b i m b i n g a n p e n d i d i k a n dan p e l i m p a h a n a n e k a k a r u n i a itu m e r u p a k a n pernyataan langsung dari Allah. Sedang, bila redaksinya menyatakan sifat rubiibiyah-Nya. Tuhanku,

m e r u p a k a n p e n g a k u a n Nabi M u h a m m a d saw. sendiri,

bukannya langsung dari Allah swt. Pengakuan seseorang bahwa dia mendapat anugerah dari raja, jelas tidak sekuat jika raja sendiri yang menyatakan secara

734

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k VIII A y a t 1 0 3 - 1 0 5

tegas bahwa dia sebagai sang raja menganugerahkan anugerahnya kepada orang itu. D e m i k i a n lebih kurang maksud uraian Ibn 'Asyur. Hal y a n g mirip dikemukakan oleh Thabathaba i yang menyatakan bahwa pengalihan redaksi itu bertujuan m e n u n j u k k a n kesempurnaan pemeliharaan dan rahmat-Nya kepada Rasulullah saw., seakan-akan Yang Mahakuasa itu tidak rela memutus dialog-Nya sehingga selalu menggunakan kesempatan untuk berfirman kepada b e l i a u di m a n a p u n d i a l o g i t u m e m u n g k i n k a n . Ini j u g a — l a n j u t Thabathaba.'!—untuk m e n u n j u k k a n b a h w a y a n g d i m a k s u d dengan ( J i ) qullkatakanlah yang diperintahkan itu adalah p e n y a m p a i a n kepada mereka,

b u k a n sekadar mengucapkan kata-kata tersebut.

AYAT 1 0 3 - 1 0 5

"Dan sesungguhnya ia diajarkan condong

Kami mengetahui oleh seorang

bahwa manusia.

mereka

berkata, orang

'Sesungguhnya yang mereka terang. Allah yang

kepadanya adalah

Bahasa

kepadanya

Ajam, sedang yang

ini adalah

bahasa Arab yang kepada ayat-ayat azab

Sesungguhnya

orang-orang

tidak mau beriman

tidak akan diberi petunjuk pedih. yang Sesungguhnya tidak beriman yang

bagi mereka mengada-ada ayat-ayat

oleh Allah dan bagi mereka kebohongan, Allah, hanyalah

orang-orang mereka para

kepada

dan itulah

pembohong-pembohong."'

Setelah membantah ucapan kaum musyrikin berkaitan dengan pergantian tuntunan al-Qur'an dengan bantahan yang jelas, kini disebut lagi dalih mereka yang lain, yaitu: Dan sesungguhnya bahwa mereka, Kami mengetahui secara terus-menerus berkata diajarkan yakni

yakni orang-orang yang tidak memercayai al-Qur'an, ia, y a k n i a l - Q u r ' a n itu, manusia,

t e r u s - m e n e r u s j u g a , "Sesungguhnya kepadanya,

y a k n i kepada Nabi M u h a m m a d , oleh seorang

s e o r a n g p e m u d a R o m a w i a t a u Persia, b u k a n m a l a i k a t y a n g d a t a n g menurunkannya." Tuduhan mereka itu sungguh tidak benar. Bagaimana bisa benar, bahasa orangyang mereka condong, yakni m e n u d u h secara batil, bahwa

Nabi M u h a m m a d belajar kepadanya

adalah bahasa Ajam, yakni bukan bahasa

K e l o m p o k VIII A y a t 1 0 3 - 1 0 5

S u r a h a n - N a h l [16]

735

Arab, sedang

ini, y a k n i al-Qur'an, adalah

dalam bahasa

Arab yang

terang

dan mencapai puncak tertinggi dari keindahan dan kedalaman m a k n a yang tidak m a m p u ditandingi oleh siapa pun walau sastrawan-sastrawan Arab bekerja sama u n t u k menandinginya. T i d a k ada faktor y a n g menjadikan mereka berkata d e m i k i a n , kecuali kebejatan hati dan kekeraskepalaan mereka, dan karena itu mereka tidak m e m e r c a y a i n y a . Ini tidak usah engkau risaukan karena d e m i k i a n itulah sunnatullah, y a k n i sesungguhnya ayat-ayat Allah, orang-orang yang tidak mau beriman kepada

y a i t u a!-Qur'an dan t a n d a - t a n d a k e b e s a r a n - N y a y a n g bagi mereka oleh Allah,

terhampar di alam raya, tidak akan diberi petunjuk

y a k n i tidak diberi k e m a m p u a n u n t u k m e r a i h iman d a n m e n g a m a l k a n t u n t u n a n - N y a sesuai dengan k e m a u a n dan pilihan mereka itu, dan katena Allah telah menjelaskan dengan g a m b l a n g dan m e n g a n u g e r a h k a n mereka potensi iman serta m e n g u t u s rasul dengan aneka bukti kebenaran tetapi mereka m e n g a b a i k a n n y a m a k a bagi mereka enggan bertaubat. Selanjutnya, ayat ini m e m b u k t i k a n lebih j a u h k e m u s t a h i l a n Nabi M u h a m m a d saw. berbohong. Betapa beliau berbohong dan mengada-ada, padahal sesungguhnya orangyang yang berani mengada-ada kebohongan hanyalah orangazab yang pedih jika mereka

tidak beriman

atau tidak terus-menerus memperbaharui i m a n n y a Allah, dan itulah y a n g sungguh jauh dari rahmat Bukan

kepada Allah dan ayat-ayat Allah adalah mereka

secara khusus parapembohong-pembohongsejati.

e n g k a u y a n g berbohong, wahai Nabi M u h a m m a d dan bukan j u g a k a u m mukminin. Ayat di atas m e n g g u n a k a n b e n t u k kata kerja masa kini ketika berbicara tentang pengetahuan Allah ( ^ ) ndlamu(Kami mengetahui. Demikian juga

ucapan k a u m musyrikin m e n u d u h al-Qur'an sebagai pengajaran orang lain kepada Nabi M u h a m m a d saw. (<wLu ) yu 'allimuhu. Ini mengisyaratkah bahwa

tuduhan seperti itu akan terus berlanjut. Dahulu, k a u m musyrikin menuduh bahwa Nabi M u h a m m a d saw. diajar oleh seorang hamba sahaya dari Romawi bernama Jabar. Di kali lain, mereka memfitnah dengan m e n u n j u k Salman al-Farisi y a n g berasal dari Persia. J a u h sesudah Nabi saw. pun tuduhan serupa masih terdengar. Sayyid Q u t h u b menulis bahwa k a u m ateis di Rusia dalam

736

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k Vill A y a t 1 0 3 - 1 0 5

pertemuan para orientalis pada 1954 m e n g a k u i bahwa al-Qur'an tidak m u n g k i n merupakan hasil karya seorang manusia, tetapi merupakan hasil karya banyak orang, dan bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi M u h a m m a d saw. itu tidak m u n g k i n kesemuanya ditulis di Jazirah Arab. Beberapa bagian di antaranya ditulis di luar Jazirah Arab. D e m i k i a n , walau mereka secara sadar mengakui keistimewaan al-Qur'an, mereka enggan berkata bahwa apa y a n g disampaikan Nabi M u h a m m a d saw. itu adalah

firman Allah.

Mereka

masih tetap berkata bahwa itu adalah buatan manusia dan bukan hanya buatan Nabi M u h a m m a d saw. sendiri, tetapi sebagiannya diajarkan oleh orang lain. Ini serupa dengan ucapan k a u m musyrikin Jahiliah y a n g lalu. Pengakuan itu tidak lain kecuali karena mereka menemukan kandungan al-Qur'an sedemikian m e n g a g u m k a n sehingga lahir penilaian demikian. P e n g g u n a a n kata Kami mengetahui, mengetahui b u k a n Allah atau Aku Tuhan

a g a k n y a mengisyaratkan b a h w a tuduhan semacam itu w a l a u

mereka rahasiakan u n t u k kepentingan menghalangi orang lain memercayai al-Qur'an, tetapi itu diketahui Allah dan diketahui pula oleh sekelompok k a u m m u s l i m i n y a n g k e m u d i a n harus tampil m e m b u k t i k a n mereka. Ayat ini tidak menjelaskan siapa y a n g mereka duga mengajarkan alQ u r ' a n kepada Nabi, tetapi sekadar menyatakan bahwa dia adalah manusia. seorang kebohongan

Tidak disebutnya nama yang bersangkutan bukan saja karena telah

merupakan kebiasaan al-Qur'an tidak m e n y e b u t nama, tetapi j u g a u n t u k m e n a m p u n g semua manusia y a n g diduga oleh siapa pun telah mengajarkan al-Qur'an kepada Nabi M u h a m m a d saw. Seandainya nama vang bersangkutan disebut, boleh jadi akan ada vang berkata, " M e m a n g bukan si A itu y a n g mengajarnya, tetapi si B atau si C . " Kata ( 0 lahada-yaihadu ) yulhidun!menyimpang terambil dari kata ( j ^ L _ atau menyimpang lahatkarena dan ) dari tanah condong

y a n g m e n g a n d u n g m a k n a condong Kuburan dinamai (

arah tengah ke samping.

) lahdlliang

pengubutan itu setelah digali ke bawah, digali lagi menyimpang

ke samping lalu jenazah diletakkan di bagian samping itu. Penguburan di liang lahat bukan seperti penguburan jenazah di banyak wilayah Asia Tenggara y a n g sekadar menggali lubang beberapa meter ke bawah lalu meletakkan

K e l o m p o k VII! A y a t 103-105

S u r a h a n - N a h l [16]

737

jenazah di bagian terakhir tanah vang telah digali ke bawah tanpa ke samping itu. M a k n a asal k a t a tersebut b e r k e m b a n g s e h i n g g a berarti batil menyimpang dari kebenaran. Ini karena sesuatu yang di tengah atau

biasanya

memberi kesan benar, hak, dan baik maka yang menyimpang dinilai buruk dan Kata ( jelas. batil. ) a'jamiy terambil dari kata ( l ^ s - ) ujmah

dari arah tengah

dalam arti tidak

Bahasa Arab menunjuk kepada siapa y a n g bahasa ibunya bukan bahasa karena orang Arab tidak m e m a h a m i bahasa mereka atau

Arab sebagai a'jamiy

karena mereka tidak dapat menjelaskan maksud mereka d a l a m bahasa y a n g dimengerti oleh orang Arab. A d a j u g a y a n g m e m a h a m i kata tersebut dalam arti y a n g tidak fasih, w a l a u dapat berbahasa Arab. Kata ( uWikal itulah, ) humlmereka pada penutup ayat di atas, setelah kata ( ^ U J j l )

berfungsi m e n g k h u s u s k a n mereka itu sebagai pembohong-

p e m b o h o n g sejati. S e a k a n - a k a n ayat ini m e n y a t a k a n b a h w a t i d a k ada pembohong sejati kecuali mereka. M e m a n g , ada pembohong selain mereka, tetapi kedurhakaan akibat t u d u h a n y a n g sangat b u r u k itu telah mencapai puncaknya sehingga seakan-akan kedurhakaan pembohong-pembohong yang lain tidak berarti d i b a n d i n g k a n dengan mereka dan, dengan d e m i k i a n ,

merekalah y a n g secara khusus merupakan pembohong-pembohong sejati.

KELOMPOK 9

AYAT

106-111

1 . "

'

739

740

S u r a h a n - N a h l [16]

i j l i l ^ L i J>Li £
-$> \'>* s ^ ^ \

£ 4 b t

9

't

i

Y'

K e l o m p o k IX Ayat 106-107

S u r a h a n - N a h l [16]

741

AYAT 1 0 6 - 1 0 7

"Barang siapa kafir kepada Aliah sesudah keimanannya—kecuali padahal hatinya tetap tenang dengan keimanan—akan tetapi

yang orang dari

dipaksa yang Allah mereka memberi

melapangkan

dada dengan

kekafiran,

maka atas mereka kemurkaan itu disebabkan

dan bagi mereka azab yang besar. Yang demikian sangat mencintai petunjuk kehidupan di dunia kafir. "

karena

di atas akhirat, dan Allah tidak

bagi kaum yang

Ayat ini dan ayat-ayat berikut berbicara tentang kelompok kafir y a n g lebih b u r u k dari y a n g semula dibicarakan oleh kelompok y a n g lalu serta lawan-lawan mereka. Ayat ini menegaskan bahwa: Barang siapa kafir Allah sesudah keimanannya kepada

secara potensial karena telah jelasnya bukti-bukti

kebenaran tetapi dia menolaknya akibat keras kepala, atau sesudah keimanan secara faktual, yakni setelah dia mengucapkan kalimat syahadat—siapa yang demikian itu sikapnya—dia mendapat kemurkaan Allah, kecuali yang m e n g u c a p k a n kalimat kufur atau m e n g a m a l k a n n y a padahal tenang dengan keimanan—maka hatinya dipaksa tetap yang

dia tidak berdosa-—akan tetapi orang dada sehingga hatinya lega dengan

m e m b u k a dan melapangkan

kekafiran,

y a k n i hatinya membenarkan ucapan dan atau amal kekufurannya itu, maka atas mereka mereka kemurkaan besar y a n g turun m e n i m p a n y a dari Allah dan besar. Yang demikian karena mereka bagi itu, sangat

telah disiapkan, di akhirat kelak, azab yang

yakni murka dan siksa atau kemuttadan itu, disebabkan mencintai akhirat. kehidupan di dunia

dan m e n e m p a t k a n n y a di atas

kehidupan

Itulah yang m e m a l i n g k a n mereka dari i m a n sehingga mereka wajar

mendapat m u r k a dan siksa, dan j u g a disebabkan telah menjadi ketetapanN y a bahwa Allah tidak memberi petunjuk, yakni tidak memberi k e m a m p u a n kafir sesuai

m e n e r i m a iman dan m e n g a m a l k a n petunjuk, bagi kaum yang

dengan keinginan mereka menolak iman dan tekad mereka menolak petunjuk. Sementara ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kasus A m m a r Ibn Yasir dan kedua orangtuanya, y a i t u S u m a y y a h dan Yasir. M e r e k a dipaksa oleh k a u m musyrikin untuk murtad. Ibu bapaknya menolak

742

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IX A y a t 106-107

sehingga keduanya dibunuh dan tercatat sebagai dua orang syahid yang pertama dalam sejarah Islam. Sedang, 'Ammar mengucapkan kalimat kufur sehingga dibebaskan. Beliau k e m u d i a n datang menangis dan m e n g a d u k a n dirinya kepada Rasul saw. Rasul saw. m e n g h a p u s air m a t a n y a sambil bertanya, " B a g a i m a n a sikap h a t i m u ? " 'Ammar menjawab, " H a t i k u tenang dalam k e i m a n a n . " M a k a , Rasul saw. m e n a s i h a t i n y a , "Kalau mereka k e m b a l i m e m a k s a m u , ucapkan saja lagi apa y a n g telah engkau ucapkan itu." Kata ( j i i i b * ) muthmdinn berarti mantap dan tenang. terambil dari kata ( 5UJ?I) ithmdanna yang

Hati yang tenang adalah yang rela dan lega terhadap

situasi y a n g dihadapinya. D a l a m konteks ayat ini adalah ketenangan batin dan kerelaannya menerima keimanan kepada Allah swt. Kata ( ) syaraha antara lain berarti memperluas, melapangkan, baik

secara material m a u p u n immateriai. Kalau kata tersebut dikaitkan dengan sesuatu y a n g bersifat material, ia j u g a berarti "memotong (membedah)",

sedangkan bila d i k a i t k a n dengan sesuatu y a n g bersifat non-material, ia m e n g a n d u n g arti membuka, musykil, menganugerahkan memberi ketenangan pemahaman, yakni menjelaskan yang

dan semaknanya. Yang d i m a k s u d di Ini

sini a d a l a h l u a s n y a hati y a n g b e r s a n g k u t a n m e n e r i m a kekufuran.

m e n g e s a n k a n b a h w a kekufuran tersebut s u n g g u h b a n y a k y a n g telah menumpuk di h a t i n y a s e h i n g g a w a d a h h a t i d i p e r l e b a r u n t u k d a p a t

m e n a m p u n g lebih banyak kekufuran. D a n ini m e n u n j u k k a n bahwa y a n g bersangkutan rela dan senang dengan kekufuran itu karena, kalau tidak, tentu saja hatinya tidak perlu diperlebar u n t u k m e n a m p u n g lebih banyak lagi. Ayat ini menjadi dalil tentang bolehnya mengucapkan kalimat-kalimat kufur atau perbuatan y a n g m e n g a n d u n g m a k n a kekufuran-—seperti sujud kepada berhala—saat seseorang dalam keadaan terpaksa walaupun, menurut sementara ulama, m e n y a t a k a n dengan tegas keyakinan justru lebih baik, sebagaimana dilakukan oleh kedua orangtua 'Ammar itu. Termasuk juga d a l a m izin di atas m e l a k u k a n perbuatan y a n g bersifat kedurhakaan seperti m e m i n u m khamr dan semacamnya, kecuali m e m b u n u h karena a n c a m a n akan d i b u n u h bila tidak m e m b u n u h belum tentu terlaksana.

K e l o m p o k IX Ayat 108-109

S u r a h a n - N a h l [16]

743

AYAT 1 0 8 - 1 0 9

"Mereka pendengaran

itulah

orang-orang

yang Allah telah mengunci mereka, mereka

mati hati mereka itulah rugi. "

dan

mereka serta penglihatan di akhirat adalah

dan mereka orang-orang

orang-orang

lalai. Pasti mereka

Ayat ini menjelaskan lebih j a u h keadaan mereka y a n g tidak mendapat petunjuk itu atau menjelaskan d a m p a k dari ketiadaan petunjuk Allah bagi mereka, y a k n i : Mereka hati mereka itulah orang-orang mereka, yang Allah telah mengunci mati

dan pendengaran

yakni Allah m e m b i a r k a n mereka larut

dalam kesesatan sesuai dengan keinginan hati mereka sendiri sehingga akhirnya hati m e r e k a terkunci mati dan telinga m e r e k a t i d a k dapat b i m b i n g a n serta penglihatan mereka mendengar

p u n d i t u t u p sehingga t a n d a - t a n d a

kebesaran Allah y a n g terhampar di a l a m raya tidak mereka lihat kecuali fenomenanya saja. Dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar lalai

memerhatikan dan merenungkan makna hidup ini. Pasti dan tidak diragukan lagi bahwa mereka di akhirat nanti adalah mereka y a n g secara khusus orang-

orang rugi, celaka, dan binasa. Kata {^_fr*i) la jarama diperselisihkan m a k n a n y a oleh pakar-pakar

bahasa. Ada y a n g berpendapat b a h w a kata Id berarti tidak y a n g berfungsi menafikan dugaan sebelumnya, sedang kata jarama dalam arti sumpah. ada y a n g m e m a h a m i n y a pada kelak dan

M e n u r u t penganut pendapat ini, kata la jarama mereka duga bahwa bahwa ..."

ayat di atas m e n g a n d u n g m a k n a tidak seperti yang mereka akan selamat dan berbahagia:

"Aku bersumpah

seterusnya. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i rangkaian kata la dan jarama arti pasti. M e m a n g , seperti tulis al-Biqa'i, kata jarama y a k n i pemutusan d a n kepastian.

dalam

berkisar m a k n a n y a

p a d a al-qath\

S e a k a n - a k a n apa y a n g

diucapkan ini akan berlanjut hingga menjadi kenyataan, tidak ada yang dapat memutus perjalanannya menuju kenyataan. ) al-khhirun terambil dari kata ( ~&-\) al-khusr
r

Kata ( d

yang dan

m e m p u n y a i b a n y a k arti, antara lain rugi, sesat, celaka,

lemah,

tipuan,

sebagainya y a n g kesemuanya m e n g a n d u n g m a k n a - m a k n a y a n g negatif atau

744

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IX A y a t 1 0 8 - 1 0 9

t i d a k d i s e n a n g i oleh siapa p u n . Patron k a t a y a n g d i g u n a k a n a y a t ini m e n u n j u k k a n bahwa para p e n y a n d a n g kerugian dan kecelakaan itu telah mencapai p u n c a k kerugian serta telah melekat keadaan tersebut pada diri mereka. Ini belum lagi dengan kata ( p* ) hum/mereka setelah sebelumnya sudah ada kata ( ) annahum/bahwa yang mendahuluinya mereka. Rujuklah

kembali ke penjelasan penutup ayat 105 surah ini. D a l a m Q S . H u d [11]: 2 2 , k a u m kafir dinilai sebagai akhsarun/yangpaling merugi, al-

y a k n i d a l a m b e n t u k superlatif, sedang di sini rugi. Hal ini disebabkan ayat surah H u d

( 0 j j ~ a i - l ) al-khasirunlorang-orang

itu telah didahului dengan firman-Nya:

"Mereka

itulah

orang-orang

yang

merugikan

diri mereka sendiri

dan

lenyaplah

dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan'(QS.

H u d [11]: 21) sehingga

s a n g a t w a j a r j i k a l a n j u t a n n y a y a n g b e r b i c a r a t e n t a n g siksa u k h r a w i m e n g g u n a k a n bentuk superlatif:

"Pasti mereka

itu di akhirat, merekalah

yang paling

merugi"

(QS. H u d [11]:

2 2 ) . Berbeda dengan ayat ini y a n g tidak didahului oleh pernyataan kerugian s e b e l u m n y a . T h a b a t h a b a ' i b e r p e n d a p a t b a h w a p e r b e d a a n redaksi i t u disebabkan pada surah H u d di atas disebut sifat b u r u k yang tidak disebut di sini, yaitu:

"Mereka

menghalangi

dari jalan

Allah dan menghendaki

supaya jalan

itu

bengkok"(QS.

H u d [11]: 19).

Betapapun, y a n g jelas m e r e k a adalah orang-orang y a n g sangat merugi. B a g a i m a n a mereka tidak dinilai sangat merugi padahal terdapat e n a m sifat y a n g mereka sandang, di m a n a satu saja di antaranya sudah c u k u p u n t u k menjadikan seseorang merugi. Keenam sifat tersebut adalah: 1) M e r e k a mendapat m u r k a Allah, 2 ) M e r e k a wajar m e n d a p a t siksa melebihi murka itu, 3) M e m e n t i n g k a n d u n i a d e n g a n m e n g o r b a n k a n akhirat, 4 ) T i d a k

K e l o m p o k IX A y a t 110

S u r a h a n - N a h l [16]

745

memeroleh h i d a y a h Allah, 5) Dikunci mati hati mereka, dan 6) M e r e k a adalah orang-orang yang benar-benar lalai. A y a t ini m e n g a n d u n g m a k n a bahwa m e r e k a y a n g m e n g u t a m a k a n k e h i d u p a n d u n i a atas akhirat, y a k n i m e n g o r b a n k a n a k h i r a t n y a u n t u k dunianya, adalah orang-orang rugi dan celaka. Ini karena mereka menjadikan k e n i k m a t a n semu y a n g sifatnya sementara sebagai tujuan dan mengabaikan kenikmatan hakiki lagi abadi. M e r e k a membatasi diri dan akal mereka pada hal-hal lahiriah atau fenomena tanpa m e m a n d a n g kepada apa di balik y a n g lahir itu. Ini disebabkan mata, hati, dan telinga mereka telah buta dan tuli sehingga Allah tidak memberi mereka hidayah.

AYAT 110

"Kemudian mereka Tuhanmu

sesungguhnya

Tuhanmu mereka

bagi orang-orang berjihad

yang

berhijrah

sesudah sesungguhnya Penyayang."

dianiaya, sesudah

kemudian

dan bersabar, lagi Maha

itu benar-benar

Maha Pengampun

Ayat ini berbicara tentang kelompok lain dari k a u m muslimin y a n g juga mengalami penganiayaan dan penindasan, tetapi mereka berhijrah, setelah ayat y a n g lalu m e n g u r a i k a n keadaan mereka y a n g tidak m a m p u berhijrah dan terpaksa m e n g u c a p k a n kalimat kufur. Kemudian, Pemelihara dan Pembimbingww, sesungguhnya Tuhan dan

sebagaimana memelihara

m e m b i m b i n g m u , Dia juga menganugerahkan bimbingan dan pemeliharaan bagi orang-orang yang berhijrah demi menyelamatkan agama dan jiwa mereka mereka sebelum berhijrah itu mereka berjihad

dari penindasan yang lebih kejam lagi sesudah telah dianiaya

g u n a m e m u r t a d k a n mereka, kemudian

mempertahankan keyakinan serta nilai-nilai Ilahi y a n g mereka anut dengan segala daya yang mereka miliki dan juga. dalam saat yang sama mereka bersabar

dalam mengemban tugas-tugas keagamaan lagi tabah menghadapi rintangan h i n g g a akhir u m u r n y a . Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu, yakni sesudah Maha sehingga

hijrah dan amal-amal saleh y a n g mereka lakukan itu, benar-benar Pengampun atas kesalahan-kesalahan mereka lagi Maha Penyayang

746

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IX A y a t 1 1 0

tidak m e n g h u k u m mereka atas kesalahan atau pelanggaran y a n g mereka lakukan atas dasar paksaan dan juga atas kesalahan-kesalahan l a i n n y a y a n g tertutupi dengan amal-amal saleh serta taubat kepada-Nya. Ayat ini turun berkenaan dengan sejumlah kaum muslimin yang dianiaya seperti halnya A m m a r Ibn Yasir sehingga mereka terpaksa mengucapkan kalimat kufur, lalu setelah itu berhasil mengungsi dengan berhijrah dari M e k k a h . Kata ( 'f ) tsummal'kemudian p a d a a w a l a y a t di a t a s b e r f u n g s i

m e n g g a m b a r k a n betapa j a u h derajat dan perbedaan antara mereka y a n g dibicarakan oleh ayat ini dan orang-orang yang tidak mengalami hal serupa. D e m i k i a n a l - B i q a ' i . S e d a n g , k a t a tsummal kemudian yang kedua

mengisyaratkan betapa j a u h perbedaan keadaan mereka y a n g sebelum ini ditindas dan terpaksa m e n e r i m a p e n g a n i a y a a n tetapi kini tampil mempertahankan diri dan keyakinan mereka.
Kata

(Ijjjsbr ) jahadw'berjihad'yang

dimaksud oleh ayat ini bukan dalam

arti mengangkat senjata karena ayat ini turun di M e k k a h sebelum a d a n y a izin berperang. Izin berperang baru turun di M a d i n a h melalui
firman

Allah:

"Telah diperangi

diizinkan

(berperang/mengangkat mereka

senjata) telah dianiaya,

bagi

orang-orang

yang Allah

karena sesungguhnya Mahakuasa

dan sesungguhnya

benar-benar kata jdhadii

menolong

mereka"

( Q S . al-Hajj [ 2 2 ] : 3 9 ) . M a k n a

itu adalah m e n g e r a h k a n s e m u a tenaga d a n p i k i r a n u n t u k

mencegah gangguan k a u m musyrikin serta maksud buruk mereka. Dalam QS. al-Furqan 125]: 52 dinyatakan bahwa:

"Maka janganlah terhadap mereka

engkau dengan

taat mengikuti al-Qur'an dengan

orang-orang jihad yang

kafir dan besar. "

berjihadlah

Kata berhijrah

pun, di sini, b u k a n n y a hijrah ke M a d i n a h , tetapi hijrah

ke Habasyah/Etiopia, y a n g terjadi pada tahun kelima dari kenabian, yakni sekitar delapan tahun sebelum Nabi M u h a m m a d saw. berhijrah ke M a d i n a h . Kata ( I j ^ s ) futinu berarti "membakar" terambil dari kata ( j£ ) fatana y a n g pada m u l a n y a

seperti " m e m b a k a r emas u n t u k m e n g e t a h u i kadar

K e l o m p o k I X A y a t 111

S u r a h a n - N a h l [16]

747

kualitasnya". Kata tersebut digunakan al-Qur'an dalam arti "memasukkan neraka"atau dalam arti "siksaan" seperu
OjU**!^ ^

ke

dalam Q S . adz-Dzariyat [51]: 13-14:
Oy^ta

i6

(JJJt

^-CA^ciis

J^'cr^CJ*

Hari pembalasan (dikatakan diperuntukkan

itu ialah hari ketika mereka difitnah mereka), "Rasakanlah fitnah

(dimasukkan kamu

ke (siksa

neraka) yang "

kepada

bagi kamu). Inilah yang dahulu

kamu minta agar disegerakan.

Kata fitnah juga d i g u n a k a n — b e r d a s a r pemakaian asal di a t a s — d a l a m arti "menguji", keburukan. baik ujian itu berupa n i k m a t / k e b a i k a n m a u p u n kesulitan/

"Kami akan menguji

kamu dengan

keburukan

dan kebaikan

sebagai

fitnah.

Dan hanya kepada Kami-lah

kamu dikembalikan"(QS.

al-Anbiya [21J: 3 5 ) .

Yang dimaksud oleh ayat an-Nahl ini adalah aneka siksaan yang berulangulang dihadapi oleh k a u m muslimin ketika mereka berada di M e k k a h . Seperti telah penulis k e m u k a k a n pada awal uraian surah ini, sementara ulama berpendapat bahwa b u k a n semua ayat-ayatnya turun sebelum Nabi saw. berhijrah. Ayat ini serta ayat 126 dan seterusnya adalah sebagian ayatayat y a n g dinilai oleh sementara ulama sebagai ayat y a n g turun sesudah Nabi saw. berhijrah ke M a d i n a h . Atas dasar itu, penafsiran mereka tentang ayat ini berbeda dengan y a n g penulis k e m u k a k a n di atas. M e r e k a m e m a h a m i ayat ini t u r u n berbicara t e n t a n g s e k e l o m p o k k a u m m u s l i m i n y a n g disiksa k e m u d i a n rela memberikan apa y a n g d i t u n t u t oleh k a u m musyrikin dan akhirnya berhasil berhijrah lalu berperang di jalan Allah. Dengan demikian, mereka m e m a h a m i kata hijrah di sini dalam arti hijrah ke M a d i n a h dan

berjihad adalah berperang mengangkat senjata bersama Rasul saw.

AYAT 111

"Hari di mana setiap diri datang disempurnakan apa yang

untuk membela

dirinya

dan bagi setiap tidak dianiaya.

diri "

telah dikerjakannya,

sedang

mereka

748

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k IX A y a t 111

Banyak sudah ancaman dan peringatan y a n g diuraikan melalui ayat-ayat yang lalu. Telah dikemukakan j u g a bahwa orang-orang kafir akan mengalami kerugian dan kecelakaan. Kini, dijelaskan kapan ancaman itu akan terlaksana dan kapan kerugian dan kesengsaraan itu akan mereka alami, dan bagaimana sikap manusia ketika itu. A y a t ini m e m e r i n t a h k a n agar Nabi M u h a m m a d saw. memberitakan kepada seluruh m a n u s i a tentang akan d a t a n g n y a hari di mana ketika itu setiap diri siapa p u n d i a — w a l a u dosanya sudah sedemikian jelas—tidak disibukkan kecuali datanguntuk membela dirinya sendiri, tanpa

m e m e d u l i k a n orang lain atau datang m e n y a m p a i k a n uzur, alasan dan dalihnya, dan ketika itu bagi setiap diri, baik yang taat maupun yang durhaka, disempurnakan dianiaya, balasan apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak

yakni tidak dirugikan sedikit pun dan oleh siapa pun, bahkan yang

berbuat kebajikan akan memeroleh aneka tambahan y a n g m e n y e n a n g k a n dari anugerah Allah semata. Ayat ini dapat j u g a d i h u b u n g k a n dengan akhir ayat y a n g lalu y a n g m e n y a t a k a n bahwa sesungguhnya Pengampun lagi Maha Penyayang, Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha

y a k n i p e n g a m p u n a n dan rahmat Allah itu setiap diri datang untuk membela

akan mereka peroleh pada hari di mana dirinya.... Kata ( J i U i ) tujadilu seseorang hadapan menyampaikan pihak lain yang

biasanya digunakan u n t u k menggambarkan pandangannya tidak sependapat dengan bersungguh-sungguh

upaya di

dengannya.

Penggunaan kata

tersebut di sini u n t u k m e n g g a m b a r k a n kesungguhan setiap jiwa m e m b e l a diri dan m e n y a m p a i k a n uzur (dalihnya) guna terhindar dari siksa Allah swt. Kata ( lain nyawa, totalitas jiwa
^JJIJ

) nafs d i g u n a k a n al-Qur'an u n t u k sekian banyak arti, antara diri manusia yang ditunjuknya manusia dengan kata "saya", yakni

jenis,

dan raganya

serta sisi dalam

y a n g m e r u p a k a n potensi

batiniah u n t u k m e m a h a m i dan menjadi pendorong dan motivator kegiatankegiatannya. Dengan demikian, kata nafs y a n g pertama di sini berarti diri m a n u s i a , a t a u totalitas j i w a d a n r a g a n y a , d a n kedatangannya berarti yang

k e h a d i r a n n y a di hadapan Allah swt. u n t u k diadili, sedang m a k n a nafs k e d u a adalah potensi batiniah itu.

K e l o m p o k IX A y a t 111

S u r a h a n - N a h l [16]

749

Kata ( j i y ) tuwaffdldisempurnakan menyempurnakan.

terambil dari kata ( J j ) waffa, yakni

Ayat ini menginformasikan bahwa p e n y e m p u r n a a n itu

dikaitkan dengan amal masing-masing, tanpa dilebihkan atau dikurangi. Amal dimaksud tentu saja berkaitan sangat erat dengan nafi masing-masing manusia, y a k n i nafi y a n g kedua di atas, karena w u j u d amal seseorang tidak dapat dipisahkan dari nafiyang kedua itu dan karena itu pula setiap manusia berusaha

m e m a j u k a n alasan dan dalih u n t u k m e m b e n a r k a n dan m e m b e l a nafi itu. Kata disempurnakan ini m e m b e r i kesan b a h w a s e b e l u m n y a y a n g

bersangkutan telah m e n e r i m a sedikit n a m u n belum sempurna. Nanti pada hari Pembalasan baru disempurnakan. Penerimaan y a n g sedikit itu adalah ketika masing-masing berada di alam Barzah.

KELOMPOK 10

AYAT

112-119

751

752

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X Ayat 112

S u r a h a n - N a h l [16]

753

AYAT 112

"Dan Allah telah membuat aman tempat, lagi tenteram, tetapi rezekinya

suatu perumpamaan, datang kepadanya

suatu melimpah

negeri yang ruah dari

tadinya segenap itu

(penduduknya) merasakan

mengingkari pakaian "

nikmat-nikmat kelaparan

Allah; karena

Allah menjadikannya oleh apa yang

dan ketakutan

disebabkan

selalu mereka perbuat.

Ayat ini kembali berbicara dan berhubungan dengan dua perumpamaan yang disebut sebelum ini (ayat 7 5 dan 7 6 ) . D e m i k i a n Sayyid Quthub
!

m e n g h u b u n g k a n n y a secara singkat. Demikian j u g a inti uraian al-Biqa i. T h a h i r Ibn 'Asyur menulis bahwa ini adalah nasihat dan peringatan m e n y u s u l nasihat dan peringatan s e b e l u m n y a , y a k n i sebelum ini telah diuraikan aneka anugerah Allah—sebagai n a s i h a t — y a n g d i m u l a i dengan firman-Nya: Dan apa saja yang ada pada kamu dari nikmat, maka dari lah (ayat 53) berlanjut hingga firman-Nya: Mereka kemudian mereka mengingkarinya mengetahui nikmat Aliah­ Allah,

(ayat 83), lalu berpindah dari nasihat kepada azab yang pedih (ayat 1 0 4 ) , azab yang mereka

a n c a m a n dengan m e n y a t a k a n : bagi mereka k e m u d i a n atas mereka kemurkaan

dari Allah dan bagi mereka di akhirat

besar (ayat 106) dilanjutkan dengan pasti mereka orang-orang

adalah

rugi (ayat 109). Nah, di sini kembali ayat ini mengancam dengan

siksa d u n i a w i dengan m e m b e r i contoh keadaan satu negeri y a n g menjadi buah bibir karena bencana y a n g m e n i m p a mereka. Dapat j u g a — t u l i s Ibn 'Asyur lebih j a u h — a y a t ini dapat j uga dihubungkan dengan kandungan ayat sebelumnya y a i t u hari di mana setiap diri datang untuk membela dirinya.

Yakni ayat 112 ini bagaikan berkata: ingatkanlah mereka tentang dahsyatnya hari di m a n a setiap jiwa datang u n t u k m e m b e l a dirinya. Siksa y a n g akan mereka peroleh di d u n i a adalah seperti y a n g dialami oleh p e n d u d u k suatu negeri y a n g t a d i n y a a m a n tenteram dan seterusnya. D e m i k i a n lebih k u t a n g Ibn 'Asyur yang selanjutnya berkata, "Boleh j adi yang merupakan mitra bicara pada ayat ini adalah k a u m m u s l i m i n y a n g berhijrah ke Habasyah setelah sebelumnya mereka dianiaya di M e k k a h . M e r e k a dihibur serta dianjurkan

754

S u r a h a n - N a h l [16]

K e i o m p o k X A y a t 112

bersyukur karena dengan hijrah itu mereka diselamatkan Allah dari bencana y a n g m e n i m p a penduduk kota M e k k a h . " Thabathaba.'i, yang m e m a h a m i ayat 101 y a n g lalu sebagai berbicara tentang «/w^/pembatalan h u k u m - h u k u m dan pergantiannya dengan hukumh u k u m y a n g baru, menilai kelompok ayat ini sebagai kelanjutan dari ayatayat yang lalu yang berbicara tentang apa yang halal dan yang haram dimakan serta larangan menghalalkan dan m e n g h a r a m k a n sesuatu bukan atas dasar ketentuan Allah, y a n g dilanjutkan dengan ketetapan h u k u m m e n y a n g k u t orang-orang Yahudi. Karena itu, ulama menilai ayat ini berhubungan dengan ayat 101 itu. Apa y a n g d i k e m u k a k a n T h a b a t h a b a i di atas lebih b a n y a k berkaitan dengan k a n d u n g a n ayat-ayat kelompok ini b u k a n n y a h u b u n g a n ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Apa pun hubungan yang Anda pilih atau kemukakan, yang jelas ayat ini l e b i h k u r a n g m e n y a t a k a n b a h w a : Dan perumpamaan yang Allah telah membuat suatu negeri tenteram yakni segenap

agar m u d a h d i p a h a m i dan direnungkan, y a i t u suatu merasa aman dari ancaman m u s u h lagi

p e n d u d u k n y a tadinya

dengan kesenangan hidup dan keharmonisan penduduknya, rezekinya, rezeki p e n d u d u k negeri itu, datang tempat, kepadanya melimpah ruah dari

darat, laut dan udara, dan dengan berbagai cara, tetapi nikmat-nikmat Allah,

penduduknya

mengingkari

y a k n i tidak m e n g g u n a k a n n y a sesuai menjadikannya,

dengan t u n t u n a n Allah. Karena

itu, Allah Yang M a h a k u a s a pakaian kelaparan

yakni p e n d u d u k negeri itu, merasakan

setelah sebelumnya ketakutan

hidup mereka sejahtera dan juga menjadikan mengenakan pakaian setelah radinya mereka merasakan keamanan disebabkan kedurhakaan, yang selalu mereka perbuat.

oleh apa, yakni

U l a m a tafsir berbeda pendapat tentang negeri

y a n g d i m a k s u d di sini.

Ada yang m e m a h a m i n y a secara u m u m , di mana suatu negeri—di mana pun l e t a k n y a — m e n g a l a m i apa y a n g dilukiskan di s i n i — d a n m e m a n g ini dapat terjadi kapan dan di mana saja. Ada juga ulama vang memahaminya menunjuk kota M e k k a h y a n g pernah m e n g a l a m i masa paceklik, setelah berlarut kekejaman dan kedurhakaan mereka, sehingga Rasul saw. berdoa kiranya m e r e k a m e n g a l a m i t a h u n - t a h u n sulit s e b a g a i m a n a y a n g d i a l a m i oleh

K e l o m p o k X A y a t 112

S u r a h a n - N a h l [16]

755

masyarakat Mesir pada masa Nabi Yusuf as. (HR. Bukhari, M u s l i m , dan lain-lain melalui A b d u l l a h Ibn M a s ' u d ) . Yang m e m a h a m i ayat ini turun setelah hijrah Nabi saw. menyatakan bahwa ketika Nabi saw. telah tiba di M a d i n a h beliau sering kali m e n g u t u s pasukan di sekitar kota M e k k a h y a n g mengakibatkan g a n g g u a n keamanan bagi p e n d u d u k M e k k a h y a n g tadinya merasa aman. Telah d i k e m u k a k a n s e b e l u m ini b a h w a a y a t - a y a t surah an-Nahl

kesemuanya turun sebelum Nabi saw. berhijrah ke M a d i n a h . Jika demikian, ayat ini tidak berbicara tentang kota M e k k a h secara khusus, apalagi kata
{ h_ji ) qaryahlnegeri

berbentuk

nakirab

(indifinitife)

vang mengisyaratkan

bahwa ia b u k a n negeri tertentu. M e m a n g , ayat ini merupakan ancaman terhadap p e n d u d u k kota M e k k a h — d i mana ayat ini turun—serta negerinegeri yang lain yang penduduknya mengkufuri nikmat Allah bahwa mereka akan m e n g a l a m i krisis ekonomi d a n g a n g g u a n k e a m a n a n j i k a mereka melakukan kedurhakaan-kedurhakaan. Salah satu negeri/penduduk negeri y a n g secara tegas disebut n a m a n y a mengalami apa yang dilukiskan di atas adalah negeri/penduduk Saba (Bacalah Q S . Saba [ 3 4 ] : 1 5 - 1 7 ) . Apa y a n g dialami oleh sekian bangsa dan negara dewasa ini j u g a merupakan pembuktian kebenaran ancaman ayat di atas. Kata ( p*A )
anugerah an'um

adalah bentuk jamak dari kata (

)

ni'mah,

yakni

Aliah swt. Bentuk jamak kata ini diistilahkan dalam ilmu tata bahasa
qillah (jamakyang mengandung makna sedikit).

Arab dengan jama' dengan kata ( )

Ini berbeda
ni'mah.

m'km yang juga merupakan bentuk jamak dari kata

Penggunaan kata ini di sini mengisyaratkan bahwa anugerah Allah swt. yang mereka peroleh itu sedikit jika dibandingkan dengan apa y a n g di sisi Allah. D e m i k i a n al-Biqa i. A t a u lebih tepat dikatakan bahwa anugerah Allah swt. y a n g mereka peroleh i t u — w a l a u banyak—-hakikatnya sedikit jika dibanding dengan anugerah y a n g dapat mereka peroleh jika mereka taat kepada-Nya. Thabathaba'i m e m a h a m i pemilihan bentuk j a m a k yang bukan m e n u n j u k banyak itu karena ayat ini hanya menyebut tiga m a c a m nikmat, yaitu
tenteram, dan anugerah rezeki aman,

sedang jumla h y a n g tersedikit u n t u k sesuatu

y a n g ditunjuk dengan j a m a k adalah tiga. Dua, dalam bahasa Arab, bukan jamak.

756

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X A y a t 113

Penggunaan kata ( ^ L J ) libas/pakaian

memberi ilustrasi bahwa rasa lapar

dan takut itu telah meliputi diri mereka, tidak ubahnya sebagai pakaian yang meliputi jasmani seseorang.

AYAT 113

"Dan demi, sesungguhnya sendiri maka mereka adalah

telah datang

kepada mereka seorang karena itu mereka

rasul dari

mereka azab

mendustakannya; orang-orang

dimusnahkan

dan mereka

yang zalim. "

J a n g a n duga b a h w a siksa y a n g disebut pada ayat y a n g lalu itu datang tanpa peringatan. Tidak! A n e k a peringatan telah datang, dan demi Allah, sesungguhnya telah datang juga kepada mereka seorang rasul yang memberi

kabar gembira dan ancaman. Rasul itu adalah orang yang mereka kenal asal u s u l n y a ; m e r e k a j u g a m e n g e t a h u i k e p r i b a d i a n n y a y a n g l u h u r serta perhatiannya kepada masyarakat karena rasul itu adalah dari kelompok sendiri, maka mereka mendustakannya mereka

sebagaimana k a m u , w a h a i k a u m kedurhakaan itu

m u s y r i k i n M e k k a h m e n d u s t a k a n M u h a m m a d , karena mereka dimusnahkan orang zalim.

atas perintah Allah oleh azab dan mereka adalah

orang-

Huruffa '/maka pada ftrman-Nya: {o^i^s) fa kadzdzabuhulmaka mendustakannya m e n g a n d u n g m a k n a tetapi. A g a k n y a , kata maka

mereka yang

digunakan di sini untuk mengisyaratkan bahwa pendustaan itu terjadi begitu rasul datang m e n y a m p a i k a n ajakannya. Yakni mereka tidak m e m i k i r k a n dengan tenang dan sungguh-sungguh ajakan rasul tersebut, tetapi langsung menolaknya. Sedang, huruf y a n g sama pada firman-Nya: ( v akhadzahum fa''at-ta al- adzab/karena itu mereka dimusnahkan
1

-^' ^i^-li )fa

oleh azab ini dinamai

'qib y a n g sekadar berfungsi menjelaskan akibat perbuatan y a n g lalu.

Ini karena siksa tersebut terjadi setelah sekian lama, sebagaimana dipahami dari sunnatullah y a n g tidak menyiksa begitu terjadi pelanggaran, tetapi menangguhkan dan menangguhkan guna memberi kesempatan kepada para

K e l o m p o k X Ayat 114

S u r a h a n - N a h l [16]

757

p e n d u r h a k a u n t u k bertaubat. Sekian b a n y a k y a n g menjelaskan hakikat tersebut dan sejalan j u g a dengan sifat-Nya sebagai al-Halim.

Ayat ini dan ayat sebelumnya dapat juga dipahami sebagal mengisyaratkan k e n i k m a t a n material dan spiritual y a n g harus diraih oleh satu masyarakat yang mendambakan kesejahteraan. Keamanan, ketenteraman, dan kehadiran rezeki dari berbagai penjuru adalah nikmat material, sedang nikmat spiritual adalah kehadiran rasul dan atau nilai-nilai ajaran agama. Dengan demikian, stabilitas keamanan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat sekali pun, tanpa nilai-nilai spiritual, sama sekali tidak cukup untuk menjadikan satu masyarakat hidup dalam kebahagiaan.

AYAT 114

"Maka makanlah

dari apa yang

direzekikan

oleh Allah kepada

kamu

dalam kepada-

keadaayi halal lagi baik; dan syukurilah Nya saja menyembah, "

nikmat Allah jika kamu hanya

J i k a telah nyata dari ayat-ayat y a n g lalu betapa kuasa Allah dan betapa siksa-Nya dapat menimpa yang mengganti nikmat-Nya dengan kemusyrikan dan kekufuran, maka hati-hatilah, jangan berlaku seperti otang-orang musyrik m e n g i n g k a r i n i k m a t - n i k m a t Allah dan m e n g g a n t i n i k m a t itu menjadi keburukan. Pilihlah, wahai orang-orang yang beriman, jalan kesyukuran dan makanlah sebagian dari apa yang direzekikan, yakni dianugerahkan, oleh Allah

kepada, kamu antara lain yang telah disebut pada ayat-ayat yang lalu. Makanlah itu dalam keadaan halal lagi baik, lezat dan bergizi serta b e r d a m p a k positif nikmat Allah agar k a m u tidak ditimpa apa kamu hanya kepada-Nya saja

bagi kesehatan; dan syukurilah

y a n g m e n i m p a negeri-negeri terdahulu jika menyembah.

Yang dimaksud dengan kata makan dalam ayat ini adalah segala manusia.

aktivitas

Pemilihan kata makan, di samping karena ia merupakan kebutuhan

pokok manusia, juga karena makanan m e n d u k u n g aktivitas manusia. Tanpa makan, manusia lemah dan tidak dapat m e l a k u k a n kegiatan.

758

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X A y a t 115

Ayat ini m e m e r i n t a h k a n u n t u k m e m a k a n y a n g halal lagi baik. Ketika menaksirkan Q S . al-Baqarah [ 2 ] : 168, penulis antara lain m e n g e m u k a k a h bahwa tidak semua makanan yang halal otomatis baik. Karena, yang dinamai halal terdiri dari empat macam, yaitu wajib, sunnah, mubah, dan makruh. Aktivitas pun demikian. A d a aktivitas yang, w a l a u p u n halal, ia m a k r u h atau sangat tidak disukai Allah, y a i t u pemutusan hubungan. Selanjutnya, tidak semua y a n g halal sesuai dengan kondisi masing-masing pribadi. Ada halal yang baik buat si A karena memiliki kondisi kesehatan tertentu, dan ada juga y a n g kurang baik u n t u k n y a , walau baik buat y a n g lain. A d a m a k a n a n y a n g halal, tetapi tidak bergizi, dan ketika itu ia menjadi kurang baik. Yang diperintahkan oleh al-Qur'an adalah yang halal lagi b a i k

AYAT 115

"Allah hanya

mengharamkan dengan

atas kamu menyebut

bangkai,

darah,

daging

babi, siapa

dan yang batas,

apa yang disembelih terpaksa sedang

selain Allah. Tetapi, barang dan tidak lagi Maha (pula) Penyayang

ia tidak

menginginkan Pengampun

melampaui "

sesungguhnya

Allah Maha

Apa y a n g direzekikan kepada manusia sungguh banyak, tidak terhitung, berbeda dengan y a n g d i h a r a m k a n - N y a . Karena itu, ayat ini melanjutkan bahwa Allah hanya mengharamkan atas kamu m e m a k a n bangkai, yakni

binatang y a n g berembus nyawanya tidak melalui cata yang sah, seperti yang mati tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk, dan diterkam binatang buas, namun tidak sempat disembelih. D i k e c u a l i k a n dari pengertian bangkai adalah binatang air seperti ikan dan sebagainya, begitu pula belalang. J u g a y a n g diharamkan adalah darah, yakni yang mengalir, bukan yang substansi asalnya m e m b e k u seperti limpah dan hati, d e m i k i a n juga haram m e m a k a n daging

babi, y a k n i seluruh t u b u h babi, termasuk tulang, lemak, dan kulitnya dan apa, y a k n i binatang, n a m a selain nama yang disembelih Allah. dengan menyebut guna mengagungkan

K e l o m p o k X A y a t 115

S u r a h a n - N a h l [16]

759

Allah M a h a Mengetahui bahwa keadaan keterpaksaan dapat mengantar kepada pelanggaran ketentuan ini sehingga ayat ini melanjutkan bahwa: Tetapi, barang siapa yang terpaksa, y a k n i berada d a l a m kondisi darurat, misalnya

karena rasa lapar y a n g tidak tertahankan lalu ia m e m a k a n n y a sedang ia tidak menginginkan-nya, dan tidak yakni tanpa mencari-cari alasan untuk bisa memakannya, yang

pula-—jika ia terpaksa m e m a k a n n y a — m e lampa u i batas

diperbolehkan agama, Allah tidak akan menjatuhkan sanksi atasnya karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun m e n g a m p u n i kesalahan h a m b a - N y a

yang ia lakukan bukan karena kehendaknya dan mengampuni juga kesalahan yang disengajanya bila ia bertaubat. Allah j u g a Maha Penyayang, antata lain

ketika mencegah manusia makan m a k a n a n yang berdampak buruk bagi kesehatan jasmani dan ruhani mereka. Islam m e n g h a r a m k a n bangkai karena binatang y a n g mati akibat faktor ketuaan atau mati karena terjangkit penyakit pada dasatnya mati karena zat b e r a c u n s e h i n g g a , b i l a d i k o n s u m s i oleh m a n u s i a , s a n g a t mungkin

mengakibatkan keracunan. D e m i k i a n juga binatang karena tercekik dan dipukul, darahnya mengendap di dalam tubuhnya. Ini mengidap zat beracun yang membahayakan manusia. Kata ( jjsf J uhilla terambil dari kata ( SU ) halia yang digunakan sebagai kata seru u n t u k memberi peringatan. Tentu saja, s e m a n y a n g m e n g a n d u n g peringatan harus disampaikan dengan suara nyaring. Dari sini lahir kata ( j j * f ) ahalla y a n g berarti mengeraskan suara atau berteriak. Kata ahalla bil hajj

maknanya mengeraskan suara membaca talbiyah sewaktu melaksanakan haji. Kaum musyrikin biasanya berteriak menyebut nama berhala apabila mereka menyembelih. Atas dasar hal-hal itu, kata ini kemudian dipahami dalam arti menyembelih. Firman-Nya: ( AJ itil j j j j j d Uj ) wa md uhilla disembelih dengan menyebut selain n a m a Allah lighairi Allah bihilyang

mengisyaratkan bahwa

binatang yang dimaksud baru haram dimakan bila disembelih dalam keadaan menyebut selain nama Allah. Adapun bila tidak disebut nama-Nya, binatang halal y a n g disembelih d e m i k i a n masih dapat ditoleransi u n t u k dimakan. Kata{ ) idhthurra asalnya adalah ( j)Ja-&\ 1 idhtharara y a n g berarti mudharat. FCata idhthurra yang terambil dipahami

dari kata ( )~*>) dharar

760

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X Ayat 116-117

d a l a m arti k e b u t u h a n y a n g sangat mendesak y a n g bila tidak dipenuhi mengakibatkan m u d h a r a t bagi y a n g bersangkutan atau, dengan kata lain, keadaan terpaksa, yakni keadaan yang diduga dapat mengakibatkan mudharat

kematiannya. Kata ( £b ) bdghin menghendaki/menginginkan. terambil dati kata ( ) baghd y a n g berarti adalah

Yang dimaksud tidak menginginkannya

tidak m e m a k a n n y a padahal ada m a k a n a n halal y a n g dapat ia m a k a n , tidak pula m e m a k a n n y a memenuhi keinginan seleranya. Kata ( ilp ) adin m a k s u d n y a melampaui batas. Tidak melampaui batas

y a n g dimaksud ayat ini adalah tidak memakan yang terlarang itu dalam kadar y a n g melebihi kebutuhan m e n u t u p rasa lapar dan m e m e l i h a r a j i w a n y a . Keadaan terpaksa dengan ketentuan d e m i k i a n ditetapkan Allah karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. y a n g d i h a r a m k a n di atas

Penjelasan t e n t a n g m a k a n a n - m a k a n a n

d i k e m u k a k a n dalam konteks mencela masyarakat Jahiliah, baik di M e k k a h m a u p u n di M a d i n a h , y a n g m e m a k a n n y a . Mereka, misalnya, membolehkan m e m a k a n binatang y a n g mati tanpa disembelih dengan alasan bahwa y a n g disembelih/dicabut nyawanya oleh manusia halal maka mengapa haram y a n g dicabut sendiri nyawanya oleh Allah? Penjelasan tersebut bukan berarti hanya hal-hal y a n g disebut di sini y a n g d i h a r a m k a n Allah. U n t u k jelasnya lihat kembali ayat 173 surah a l - B a q a r a h .
33

AYAT 1 1 6 - 1 1 7

"Dan janganlah oleh lidah kebohongan kebohongan kamu

kamu mengucapkan

kebohongan

melalui

apa yang

dilukiskan

'Ini halal dan ini haram Allah. Sesungguhnya Allah tiadalah "

sehingga orang-orang

kamu yang

mengada-adakan mengada-adakan kesenangan sedikit;

terhadap terhadap

beruntung

Itu adalah

dan bagi mereka

azab yang pedih.

Baca volume 1 halaman 462.

Kelompok X Ayat 116-117

S u r a h a n - N a h l [16]

761

Setelah jelas apa y a n g d i h a r a m k a n Allah, kini ditegaskan larangan mengada-ada atas n a m a Allah. Ayat ini m e n y a t a k a n bahwa: Dan kamu mengucapkan yang dilukiskan kebohongan janganlah apa

tentang binatang atau selainnya melalui

oleh lidah kamu, dengan berkata tanpa berpikir m a t a n g dan

tanpa merujuk kepada ketetapan Allah dan Rasul-Nya bahwa: "Ini halal dan ini haram"sehingga terhadap dengan ucapan ini kamu mengada-adakan kebohongan

Allah; karena siapa y a n g m e n g u c a p k a n atas nama p i h a k lain tanpa orang-orang Jangan

izin-Nya m a k a ia berbohong d a n mengada-ada. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

duga apa yang mereka peroleh dari kebohongan itu merupakan keberuntungan. T i d a k ! Itu, y a k n i apa y a n g m e r e k a peroleh atau akan peroleh, kesenangan azab yang y a n g sangat cepat berlalu lagi sedikit; dan bagi mereka pedih. adalah

setelah itu

Ayat ini m e r u p a k a n salah satu peringatan keras kepada setiap orang, termasuk kaum muslimin, untuk tidak menetapkan hukum atau

m e n y a m p a i k a n j a w a b a n bila ia tidak benar-benar mengetahui. H a n y a ada tiga k e m u n g k i n a n y a n g dapat dipilih oleh penjawab y a n g tidak jelas baginya d u d u k soal dan jawaban y a n g tepat. Pertama, bidang a g a m a adalah dosa besar. Kedua, b e r b o h o n g — d a n ini d a l a m

m e n d u g a - d u g a . Dengan menduga,

jawaban m e m a n g boleh jadi—secara kebetulan—mengena, tetapi al-Qur'an mengingatkan bahwa:
i*, ,

"Sesungguhnyasebagian

dugaan

adalah

dosa"{QS.

al-Hujurat [ 4 9 ] : 1 2 ) , dan

pilihan ketiga adalah menjawab dengan: "Saya tidak tahu". Jawaban seperti inilah y a n g sering kali diucapkan oleh sahabat Nabi saw. dan para ulama karena mereka berkeyakinan bahwa "yang paling berani berfatwa adalah yang paling berani menghadapi neraka". Itu sebabnya Imam Malik, misalnya, ketika diajukan kepadanya satu pertanyaan oleh seseorang y a n g sengaja diutus dari M a r o k o ke M a d i n a h , y a n g telah m e n e m p u h perjalanan selama enam bulan lamanya, menjawab utusan itu, " S a m p a i k a n l a h kepada y a n g m e n g u t u s m u bahwa aku tidak tahu". Di kali lain, beliau berkata, "Tidak ada sesuatu y a n g lebih berat terhadap aku daripada ditanya satu persoalan tentang halal dan

762

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X A y a t 118

haram karena ini adalah putusan m e n y a n g k u t h u k u m Allah. Kami telah mengenal ulama-ulama di negeri ini. Siapa pun di antara mereka yang ditanya tentang satu persoalan, apakah halal atau haram, ia menghadapi pertanyaan itu bagaikan telah didekati oleh kematian." D e m i k i a n I m a m M a l i k . Dan karena itulah, agaknya, sehingga I m a m M a l i k tidak berkata m e n y a n g k u t pandangan h u k u m yang di kemukakannya berdasar ijtihadnya, "Itu halal atau haram", tetapi berkata, "Aku tidak suka ini", atau semacamnya. Sikap ulamaulama lain tidak j a u h berbeda dengan sikap I m a m M a l i k y a n g dilukiskan di atas.

AYAT 118

"Dan terhadap sampaikan tetapi

orang-orang sebelum

Yahudi, Kami

haramkan

apa yang

telah mereka,

Kami akan "

kepadamu

ini; dan Kami tiada menganiaya sendiri terus-menerus

merekalah

terhadap

diri mereka

menganiaya.

Setelah ayat-ayat y a n g lalu menjelaskan betapa n i k m a t Allah kepada k a u m m u s l i m i n y a n g memeroleh aneka keringanan, antara lain izin untuk m e m a k a n m a k a n a n haram bila dalam keadaan terpaksa, di sini dijelaskan lagi n i k m a t - N y a y a n g lain dengan m e m b a n d i n g k a n n i k m a t Ilahi itu dengan apa yang dialami oleh orang-orang Yahudi. Allah berfirman: Hai Nabi, ajaklah u m a t m u memerhatikan dan menyadari b a h w a s u n g g u h tidak b a n y a k dan tidak m e m b e r a t k a n ketetapan-ketetapan Kami kepada umat Islam, dan, yakni padahal, terhadap orang-orang Yahudi secara k h u s u s — b u k a n terhadap banyak hal antara lain apa yang telah

umat-umat y a n g l a i n — K a m i haramkan Kami sampaikan kepadamu sebelum

t u r u n n y a ayat ini y a i t u pada Q S . al-

A n ' a m [6]: 146, yakni semua binatang yang berkuku, lemak sapi dan kambing selain lemak y a n g melekat di p u n g g u n g kedua binatang itu atau y a n g berada dalam perut besar dan usus, atau y a n g bercampur dengan tulang, dan tiada menganiaya tetapi merekalah Kami

mereka dengan mengharamkan itu semua atas mereka akan terhadap diri mereka sendiri yang terus-menerus

menganiayanya,

dengan melakukan aneka kedurhakaan.

K e l o m p o k X Ayat 119

S u r a h a n - N a h l [16]

763

Thabathaba'i m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan y a n g lalu melalui satu pertanyaan yang dia munculkan akibat informasi ayat yang lalu, yakni seakanakan ada yang bertanya, "Kalau y a n g haram d i m a k a n h a n y a bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih dengan menyebut n a m a selain Allah, m e n g a p a ada hal-hal lain y a n g d i h a r a m k a n atas Bani Isra'il?" A y a t ini menjawab bahwa: Sebenarnya makanan-makanan itu tadinya bukanlah yang Kami haramkan buat mereka, tetapi disebabkan kedurhakaan mereka m a k a Kami m e n g h a r a m k a n n y a . Kami tidak m e n g a n i a y a mereka dengan pengharaman. J i k a mereka bertaubat, ketentuan itu Kami cabut. D i d a h u l u k a n n y a kalimat terhadap orang-orang Yahudi agaknya sebagai

isyarat bahwa ketetapan h u k u m y a n g disebut itu, khusus diberlakukan terhadap mereka. T i d a k diberlakukan kepada generasi sebelumnya. U n t u k jelasnya rujuklah ke Q S . Ali Tmran [ 3 ] : 9 3 .
V i

AYAT 119

"Kemudian, kesalahan mereka

sesungguhnya

Tuhanmu

bagi

orang-orang mereka

yang sesudah

mengerjakan itu dan Maha

karena kebodohannya, sesungguhnya

kemudian Tuhanmu "

bertaubat

memperbaiki;

sesudahnya

benar-benar

Pengampun

lagi Maha Penyayang.

Ayat ini masih melanjutkan uraian tentang n i k m a t - n i k m a t Allah, dan yang kali ini lebih besar dari yang sebelumnya. Karena itu, ayat ini memulainya d e n g a n k a t a kemudian yang m e n g a n d u n g makna j a u h n y a jarak dan

kedudukan antara nikmat yang lalu (makanan) dengan nikmat pengampunan dan rahmat y a n g disebut di sini. Di sisi lain, boleh jadi ada di antara k a u m m u s l i m i n y a n g telah m e m a k a n m a k a n a n - m a k a n a n y a n g dinyatakan sebagai m a k a n a n h a r a m p a d a ayat 115 y a n g lalu atau telah ikut m e n g a d a - a d a kebohongan atas n a m a Allah (ayat 1 1 6 - 1 1 7 ) . Hal ini tentu saja merisaukan mereka. Nah, ayat ini menghapus kerisauan itu dengan m e n y a t a k a n bahwa

Keterangan selengkapnya rujuk volume 2 halaman 181.

764

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X A y a t 119

Kemudian,

sesungguhnya

Tuhanmu

y a n g m e m b i m b i n g dan mencurahkan orangyakni

rahmat-Nya k e p a d a m u selalu m e m b u k a pintu p e n g a m p u n a n bagi orang yang mengerjakan kesalahan karena kelalaian dan kebodohannya, sesudah

kecerobohannya, kemudian

mereka bertaubat

dosa y a n g dilakukannya

itu betapapun besar dosa itu dan j u g a bersamaan dengan taubatnya itu serta pertanda kebenarannya mereka sesudahnya, Maha memperbaiki diri; sesungguhnya Tuhanmu lagi

y a k n i sesudah taubatnya itu, benar-benar Penyayang.
AJI^?- )

Maha Pengampun

Kata {

jahalah

terambil dari kata ( J ^ r ) jahl, y a k n i

kebodohan.

Tetapi, yang dimaksud di sini bukannya kebodohan yang merupakan antonim dari pengetahuan karena jika ini y a n g d i m a k s u d tentu saja pelakunya tidak berdosa. B u k a n k a h Allah menoleransi siapa y a n g lupa, keliru/tak tahu, dan y a n g terpaksa? Yang d i m a k s u d dengan jahalah di sini adalah kecerobohan,

d a l a m arti y a n g bersangkutan mestinya mengetahui bahwa hal tersebut terlarang, atau m e m i l i k i k e m a m p u a n u n t u k tahu, atau m e m i l i k i sedikit informasi m e n y a n g k u t k e h a r a m a n n y a , n a m u n d e m i k i a n ia m e l a n g k a h melakukannya, didorong oleh nafsu. Ada j uga ulama yang berpendapat bahwa penyebutan Vata jahAlah di sini u n t u k mengisyaratkan bahwa kebanyakan

dosa lahir akibat dorongan nafsu dan kelalaian m e m i k i r k a n akibat-akibat buruknya. Kata ( d i j j ) Rabbaka/Tuhanmu pada ayat ini mengisyaratkan bahwa

anugerah Allah swt. itu mereka peroleh berkat kedatangan Nabi M u h a m m a d saw. m e m b a w a ajaran Islam. Ayat di atas mengisyaratkan a d a n y a perbaikan diri setelah bertaubat. Tetapi, y a n g menjadi pertanyaan adalah m e n g a p a kata ganti y a n g disebut sesudahnya berbentuk tunggal, yakni h a n y a m e n u n j u k kepada taubat saja. Hal ini a g a k n y a u n t u k mengisyaratkan b a h w a p e n g a m p u n a n dan rahmat Uahi tersebut adalah hasil dari taubat, sedang perbaikan diri adalah pertanda kebenaran taubat yang lahir bersama taubat lagi menyatu dengannya. Karena itu, dalam penjelasan di atas, penulis kemukakan bahwa dan juga bersamaan dengan taubatnya itu dan pertanda kebenarannya mereka memperbaiki diri.

KELOMPOK 11

AYAT

120-128

< i u r 1-'. ifi

t'^u .-v/sV:

765

766

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k XI Ayat 120-122

S u r a h a n - N a h l [16]

767

AYAT 1 2 0 - 1 2 2

"Sesungguhnya

Ibrdhim

adalah

umat lagi patuh orang-orang

kepada Allah dan hanif.

Dati

sekali-kali bukanlah nikmat-Nya, lagi lurus.

dia termasuk

musyrik. Dia mensyukuri ke jalan yang

nikmatlebar Dan

Allah telah memilihnya Dan Kami anugerahkan

dan ynembimbingnya kepadanya termasuk kebaikan

di dunia. yang

sesungguhnya

dia di akhirat

benar-benar

orang-orang

saleh. "

A y a t ini dan ayat-ayat berikut d i h i d a n g k a n u n t u k menjelaskan kepada k a u m muslimin k e u t a m a a n a g a m a Islam y a n g mereka anut setelah ayat s e b e l u m n y a m e n y a m p a i k a n a n u g e r a h p e n g a m p u n a n Allah swt. kepada mereka. Seakan-akan ayat ini m e n y a t a k a n : Kini k a m u semua memeroleh anugerah yang melimpah setelah sebelumnya hidup dalam kegelapan Jahiliah. D o s a - d o s a y a n g k a m u lakukan ketika itu, kini telah d i a m p u n i Allah, lalu k a m u dianugerahi a g a m a y a n g bukan seperti a g a m a - a g a m a y a n g lain. Dia adalah agama Islam y a n g sumber awalnya diterima oleh N a b i Ibrahim, sosok manusia istimewa, sedang sumber akhirnya k a m u terima dari sosok manusia a g u n g pula, Rasul terakhir y a i t u Nabi M u h a m m a d . D e m i k i a n a g a m a ini, pangkalannya tempat bertolak adalah Rasul dan pelabuhannya tempat bersauh adalah Rasul pula. D e n g a n m e m a h a m i h u b u n g a n itu, ayat ini merupakan pula pengantar bagi ayat 123 y a n g akan datang. D e m i k i a n lebih kurang Ibn 'y\syur m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat-ayat yang lalu serta mendatang. T h a b a t h a b a ! berpendapat bahwa ayat-ayat ini merupakan perincian terhadap apa yang diuraikan sebelumnya yang membatasi keharaman makanan pada empat hal y a n g disebut ayat-ayat y a n g lalu, seakan-akan ayat ini m e n y a t a k a n : Itulah keadaan a g a m a M u s a . y a n g telah Kami h a r a m k a n atas
Bani
1

tsra'il sebagian dari apa y a n g tadinya dihalalkan buat mereka. A d a p u n

a g a m a y a n g Kami t u r u n k a n k e p a d a m u , wahai Nabi M u h a m m a d , ia adalah agama yang dianut oleh Ibrahim, yang Allah telah pilih dan bimbing ke jalan lebar lagi lurus serta m e m b a h a g i a k a n n y a di d u n i a dan di akhirat. Ini adalah a g a m a y a n g bercirikan moderasi serta sejalan dengan fitrah manusia. A g a m a yang menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk.

768

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k XI Ayat 120-122

M e n g a m a l k a n t u n t u n a n a g a m a ini m e n g u n d a n g kebaikan serupa dengan kebaikan y a n g diperoleh Ibrahim. D e m i k i a n lebih kurang Thabathaba'!. Sayyid Q u t h u b secara singkat berpendapat b a h w a uraian ayat y a n g lalu tentang apa y a n g d i h a r a m k a n secara khusus atas orang-orang Yahudi dan pengakuan k a u m m u s y r i k i n bahwa mereka m e n g i k u t i ajaran Nabi Ibrahim as. dalam hal pengharaman beberapa makanan/binatang y a n g mereka jadikan untuk berhala-berhala—kedua uraian itu—mengundang pembicaraan tentang Nabi Ibrahim as. dan hakikat agamanya serta hubungan agamanya itu dengan agama y a n g disampaikan oleh Nabi M u h a m m a d saw. A l - B i q a ' i m e n u l i s b a h w a , m e l a l u i a y a t - a y a t y a n g l a l u , A l l a h swt. mengajak kepada keluhuran budi dan m e n c e g a h keburukan akhlak serta m e n y a m p a i k a n p e n y a m b u t a n - N y a terhadap siapa pun y a n g datang kepadaN y a w a l a u dengan dosa sebesar apa pun. Penyambutan Allah itu adalah pengabulan doa Nabi Ibrahim as. y a n g pernah dipanjatkannya yaitu:

"Barang siapa mengikutiku, barang siapa yang

maka sesungguhnya

dia termasuk

golonganku, Engkau

dan Maha

mendurhakai

aku, maka sesungguhnya

Pengampun

lagi Maha

Penyayang'"(QS.

Ibrahim [ 1 4 ] : 3 6 ) . Dari sini, lanjut

al-Biqa i, ayat ini m e n y e b u t Nabi Ibrahim as., k i r a n y a m e r e k a m e n g i k u t i beliau dalam akidah tauhid serta kecenderungan kepada kebenaran, kalau memang mereka adalah orang yang bermaksud mengikuti haq dan meneladani leluhur. A p a p u n h u b u n g a n n y a , y a n g j e l a s a y a t ini m e n y a t a k a n d e n g a n m e n g g u n a k a n kata p e n g u k u h a n bahwa sesungguhnya Ibrahim adalah umat, dengan

y a k n i sosok y a n g penuh keutamaan dan keteladanan, lagi patuh sepenuh hati kepada Allah, dan hanif,

y a k n i selalu c e n d e r u n g k e p a d a dia sejak orang-orang

kebenaran lagi konsisten melaksanakannya. Dan sekali-kali bukanlah d a h u l u lagi secara terus-menerus—bukanlah d i a — t e r m a s u k musyrik,

yakni beliau tidak pernah mempersekutukan Allah swt. Dia Nabi nikmat-nikmat-Nya dengan telah

suci itu adalah seorang y a n g selalu mensyukuri

ucapan dan perbuatannya. Karena k e s y u k u r a n n y a itulah m a k a Allah

K e l o m p o k XI Ayat 120-122

S u r a h a n - N a h l [16]

769

memilihnya membimbingnya kepadanya

dengan pemilihan sempurna sebagai i m a m , nabi, dan rasul dan ke jalan yang lebar lagi lurus. Dan Kami anugerahkan

kebaikan,

yakni kenyamanan hidup dan n a m a baik, sehingga selalu Dan sesungguhnya dia di akhirat nanti

d i a g u n g k a n dan dikenang di dunia. benar-benar termasuk

kelompok orang-orang

yang sal eh, y a k n i y a n g mantap

kesalehannya sehingga memeroleh pula kebahagiaan ukhrawi. Kata ( &f) ummah berarti menuju, menumpu, terambil dari kata ( ^ j * _ ^\) amma-ydummu dan meneladani. yang

Dari akar kara y a n g sama, lahir yang maknanya pemimpin,

antara lain kata umm y a n g berarti ibu dan imam

karena k e d u a n y a menjadi teladan, t u m p u a n pandangan dan harapan. Nabi Ibrahim as., walau seorang diri, m e n y a t u d a l a m kepribadian beliau sekian banyak sifat terpuji y a n g tidak dapat terhimpun kecuali melalui umat, yakni sekelompok atau sekian b a n y a k manusia. Karena itu, beliau dinamai oleh ayat ini ummah, dan dari sini beliau menjadi imam, yakni p e m i m p i n y a n g di sini

sangat perlu diteladani. Sementara u l a m a m e m a h a m i kata ummah d a l a m arti imam, pemimpin yang diteladani.

Ada juga yang memahaminya

d a l a m arti beliau sendiri telah menjadi u m a t tersendiri karena ketika beliau diutus hanya beliau sendiri y a n g mengesakan Allah swt. Kata (oUsrl) ijtabdhu m u l a n y a berarti dihimpun. terambil dari kata ( hL^ ) jibdyah, y a k n i pada

M a k n a ini k e m u d i a n berkembang sehingga oleh Allah dan dijadikan

d i p a h a m i oleh banyak ulama d a l a m arti dipilih

khusus bagi-Nya. Pilihan itu menjadikan beliau mendapat k e d u d u k a n Nabi dan Rasul. Kata ( ) bamfbiasa diartikan lurus atau cenderung kepada sesuatu.

Kata ini pada m u l a n y a d i g u n a k a n u n t u k m e n g g a m b a r k a n telapak kaki dan k e m i r i n g a n n y a kepada telapak pasangannya. Yang kanan condong ke arah kiri dan y a n g kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu menjadikan si pejalan tidak mencong ke kiri, tidak pula ke kanan. Ajaran Nabi Ibrahim as. adalah hamf, tidak

bengkok ke arah kiri atau kanan, tidak kepada ajaran Yahudi, tidak j u g a Nasrani. Ajarannya adalah moderasi.

770

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X I A y a t 123

AYAT 123

Kemudian

Kami

wahyukan

kepadamu, orang-orang

"Ikutilah agama musyrik."

Ibrahim

yang

hanif

dan bukanlah

dia termasuk

Setelah menjelaskan keagungan Nabi Ibrahim as. di dunia dan di akhirat, dijelaskan pula k e s i n a m b u n g a n keagungan itu w a l a u setelah ribuan tahun dari kehadiran beliau di pentas b u m i ini. Terbukti bahwa ajaran y a n g beliau sampaikan masih terus diperintahkan dan dilestarikan melalui manusia teragung, y a k n i Nabi M u h a m m a d saw. D e m i k i a n m a k s u d al-Biqa'i ketika m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat y a n g lalu. Di atas, telah dikemukakan pendapat Thahir Ibn 'Asyrir dan Thabathaba 1 tentang h u b u n g a n ayat ini dengan ayat sebelumnya. Ayat ini dimulai dengan kata kemudian bukan saja untuk mengisyaratkan

j a u h n y a jarak w a k t u antara Nabi Ibrahim as. dan Nabi M u h a m m a d saw., tetapi juga u n t u k mengisyaratkan betapa tinggi dan agung anugerah Allah swt. kepada Nabi Ibrahim as. yang ajarannya d i w a h y u k a n Allah agar diikuti oleh Nabi termulia, sekaligus u n t u k m e n u n j u k k a n bahwa prinsip-prinsip agama yang disampaikan oleh Nabi M u h a m m a d saw. sama dengan prinsipprinsip a g a m a Nabi Ibrahim as. serta kelanjutan dari ajaran-ajaran beliau. Ayat selanjutnya menyatakan: Kemudian wahai Nabi M u h a m m a d , bahwa: "Ikutilah akidah, syariah, dan akhlak Ibrdhtm yang Kami agama, wahyukan kepadamu,

y a k n i prinsip-prinsip

hanif, y a k n i seorang y a n g selalu dia termasuk

d a l a m keadaan cenderung kepada kebenaran, dan bukanlah orang-orang musyrik." ilaykalKami telah

F i r m a n - N y a : ( ^Uj U-?-jl ) awhaynA kepadamu

wahyukan

memberi m a k n a bahwa apa yang diajarkan oleh Nabi M u h a m m a d

saw. y a n g merupakan ajaran Nabi Ibrahim as. itu adalah berdasar w a h y u Ilahi, bukan berdasar perkiraan nalar manusia atau tradisi leluhur y a n g tidak jelas asal u s u l n y a , s e b a g a i m a n a y a n g disebut-sebut oleh sekian tokoh masyarakat M e k k a h .

K e l o m p o k X I A y a t 123

S u r a h a n - N a h l [16]

771

Ayat 120 y a n g lalu menafikan kemusyrikan atas Nabi Ibraham as. dengan m e n y a t a k a n ( Cff j - * ^ J * ^
1

f ) lam yaku min al-musyrikin * bukanlah

yang maknanya orang-orang

seperti penulis jelaskan di atas sekali-kali musyrik. (jsTj-iil

dia termasuk

Sedang, ayat ini menafikan k e m u s y r i k a n beliau dengan redaksi Uj ) wa md kdna min al-musyrikin. K e d u a redaksi ini

m e n g a n d u n g m a k n a y a n g berbeda n a m u n saling melengkapi. Hal tersebut demikian karena kata ( ^ ) lam- digunakan untuk menarikan sesuatu dan dalam saat y a n g sama m e n g u b a h masa y a n g ditunjuk oleh bentuk mudhdri'(kata

kerja masa kini) m e n g u b a h n y a menjadi masa lalu. Sehingga, lam menafikan terjadinya sesuatu p a d a masa lalu. Di sisi lain, kata kerja masa kini itu mengandung juga makna kesinambungan. M a k n a ini tidak dipengaruhi oleh kehadiran lam itu sehingga masih tetap d i k a n d u n g n y a . Dari sini, /km y a n g m e n d a h u l u i satu kata kerja masa kini m e n g a n d u n g m a k n a tidak sekaligus bersinambung secara terus-menerus. pernah

Yakni sejak dahulu hingga kini.

Seperti dikemukakan di atas, ayat 123 ini redaksi yang digunakan u n t u k menafikan tersentuhnya Nabi Ibrahim oleh kemusyrikan adalah wa md kdna min al-musyriktn, yakni menggunakan kata (\*)md yang berfungsi menafikan

sesuatu serta kata kerja ( otT ) kdna. Pakar-pakar bahasa menyatakan b a h w a apabila md bergandengan dengan kdna seperti bunyi ayat ini, itu mengandung k e m a n t a p a n penafian serta kejauhan apa y a n g dinafikan itu dari sesuatu. Bahkan, istilah md kdna m e n g a n d u n g m a k n a tidak pernah
3

ada

wujudnya

(lihat kembali penafsiran Q S . at-Taubah [ 9 ] : 113). - Nah, ini berarti redaksi ayat 123 menegaskan bahwa kemusyrikan sungguh j a u h dari Nabi Ibrahim as., dan sama sekali sedikit pun tidak m e n y e n t u h n y a . Dari gabungan k e d u a ayat di atas, dapat dipahami b a h w a kemusyrikan tidak pernah menyentuh N a b i Ibrahim as. pada masa lalu, d a n hai itu bersinambung terus-menerus (sebagaimana dipahami dari redaksi ayat 120), d a n b a h w a k e m u s y r i k a n t i d a k m e n y e n t u h , b a h k a n s a n g a t j a u h dari kepribadian beliau sebagaimana dipahami dari ayat 123 ini. D e m i k i a n lebih kurang uraian T h a h i r Ibn A s y u r .

Rujuk volume 5 halaman 266.

772

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k XI Ayat 124

Dari penjelasan di atas, dapat juga ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi M u h a m m a d saw. y a n g pada dasarnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim as. adalah ajaran y a n g benar-benar bersih lagi suci dari segala bentuk kemusyrikan. Ini antara lain karena kejelasan ayat-ayat al-Qur'an serta keterpeliharaan redaksinya dan keterhindarannya dari segala sesuatu yang dapat mengantar kepada syirik.

AYAT 124

"Sesungguhnya, Dan sesungguhnya mereka

hari Sabtu dijadikan Tuhanmu

atas orang-orang

yang

berselisih putusan di

padanya. antara itu. "

benar-benar apa yang

akan memberi

di Hari Kiamat

terhadap

telah mereka perselisihkan

O r a n g Yahudi m e n y a t a k a n b a h w a Nabi Ibrahim as. adalah penganut a g a m a Yahudi. M e r e k a juga m e n g a k u sangat menghormati hari Sabtu. Di sisi lain, umat Islam mengagungkan hari Jumat. Orang-orang Yahudi menilai J u m a t b u k a n ajaran Nabi Ibrahim as. Dari sini, ayat di atas m e n y a t a k a n bahwa pengagungan hari J u m a t — d a l a m ajaran Islam-—dan bukan hari Sabtu, sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Nabi Ibrahim as., seperti y a n g dikatakan orang-orang Yahudi, sesungguhnya larangan berburu pada hari Sabtu

bukan merupakan ajaran Ibrahim, tetapi larangan itu dijadikan orang-orangYahudiyang berselisih padinya,

bencana atas

yakni menyangkut hari yang harus

dihormati, karena kendati Allah telah menerima keinginan mereka mengho rmati hari Sabtu, mereka tetap durhaka dan menyalahi perintah Tuhan itu. Dan sesungguhnya mereka di Hari Kiamat Tuhanmu terhadap benar-benar akan memberi putusan di antara itu.

apa yang telah mereka perselisihkan

Ayat ini dijelaskan m a k n a n y a oleh Nabi saw. y a n g bersabda, "Kitalah kelompok terakhir tetapi paling depan di hari K e m u d i a n , kendati mereka (orang Yahudi dan Nasrani) menerima kitab sebelum kita dan kita menerima sesudah mereka. Inilah hari (hari Jumat) yang merupakan hari yang diwajibkan atas mereka (menghormatinya) tetapi mereka berselisih menyangkut hari itu

K e l o m p o k XI Ayat 124

S u r a h a n - N a h l [16)

773

maka Allah memberi kita petunjuk kepadanya. Maka, mereka adalah pengikut kita, yakni orang Yahudi besok (menjadikan besok/hari Sabtu hari besar mereka), sedang orang Nasrani, lusa (hari M i n g g u ) ( H R . Bukhari, M u s l i m , , A h m a d , dan lain-lain melalui Abu H u r a i r a h ) . Kata ( ) sabt pada mulanya berarti memotong, maksudnya memotong

(memutuskan) dan menghentikan kegiatan sehari-hari u n t u k berkonsentrasi dalam ibadah. Dari sini, kata tersebut k e m u d i a n dipahami juga d a l a m arti tenang. Hari Sabtu dinamai demikian karena hari itu bagi orang-orang Yahudi

adalah hari tenang tanpa kegiatan. Firman-Nya: ( - u l ) ikhtalaju fthi dipahami oleh sebagian u l a m a

dalam arti mereka memperselisihkan tentang penerimaannya. A l - B i q a ' i menulis bahwa mereka diperintahkan untuk membesarkan hari Jumat, tetapi mereka berselisih, sebagian m e n e r i m a dan sebagian menolak. Lalu, mereka mengganti hari J u m a t itu dengan hari Sabtu m a k a Allah menjatuhkan sanksi atas mereka, sebagaimana dikesankan oleh kata ( ^ J s - ) ala, yakni bahwa

ketetapan Allah menyetujui keinginan mereka m e n g a g u n g k a n hari Sabtu, j u s t t u m e n j a d i b e n c a n a buat m e r e k a , y a k n i bagi y a n g berselisih itu. Thabathaba i memahami petselisihan itu sebagaimana dijelaskan dalam sekian a y a t p a d a s u r a h a l - B a q a r a h , an-Nisa", d a n al-A'raf, y a k n i a d a y a n g menerimanya, ada y a n g menolaknya, dan ada j u g a y a n g m e l a k s a n a k a n n y a dengan tipu daya. Pendapat ini dihadang oleh hadits Bukhari di atas. M u h a m m a d Sayyid T h a n t h a w i m e n g u t i p pendapat y a n g m e n y a t a k a n bahwa yang dimaksud dengan ikhtalaju fthi bukan perselisihan antar-mereka, tetapi dalam arti membangkang perintah Nabi mereka. Pendapat ini dipilih

juga oleh Ibn 'Asyur. Ayat ini m e n u r u t n y a bertujuan m e m b a n t a h penganut agama Yahudi yang mengklaim bahwa mereka adalah pengikut Nabi Ibrahim as. karena penetapan hari Sabtu adalah ketetapan baru y a n g belum dikenal pada masa Nabi Ibrahim as. Perlu dicatat b a h w a tidak ada petunjuk yang dapat ditarik dari ayat ini, bahwa hari J u m a t adalah hari besar dalam ajaran Nabi Ibrahim as.

774

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k XI A y a t 125

AYAT 125

"Serulah dan

kepada jalan mereka

Tuhanmu dengan

dengan cara yang tentang

hikmah terbaik.

dan pengajaran Sesungguhnya

yang

baik

bantahlah

Tuhanmu, dan "

Dia-lah yang Dia-lah yang

lebih mengetahui lebih mengetahui

siapa yang yang

tersesat dari jalan-Nya mendapat petunjuk.

orang-orang

Nabi M u h a m m a d saw. y a n g diperintahkan u n t u k m e n g i k u t i Nabi Ibrahim as., sebagaimana terbaca pada ayat yang lalu, kini diperintahkan lagi untuk mengajak siapa p u n agar mengikuti pula prinsip-prinsip ajaran Bapak para nabi dan P e n g u m a n d a n g T a u h i d itu. A y a t ini menyatakan: Wahai Nabi M u h a m m a d , serulah, y a k n i lanjutkan usahamu untuk menyeru semua yang yang ditunjukkan Tuhanmu, yang baik dan bantahlah yakni ajaran mereka, yakni cara yang

engkau sanggup seru, kepada jalan Islam, dengan hikmah dan pengajaran

siapa p u n y a n g menolak atau meragukan ajaran Islam, dengan terbaik.

Itulah tiga cara b e r d a k w a h y a n g h e n d a k n y a e n g k a u t e m p u h

menghadapi manusia yang beraneka ragam peringkat dan kecenderungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau t u d u h a n - t u d u h a n tidak berdasar k a u m musyrikin, dan serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah karena sesungguhnya Dia-lah tentang Tuhanmu yang selalu m e m b i m b i n g dan berbuat baik kepadamu lebih mengetahui dari siapa p u n y a n g m e n d u g a tahu Dia-lah

sendiri yang

siapa yang bejat j i w a n y a sehingga tersesat dari j a bin-Nya dan lebih petunjuk. mengetahui orang-orang yang

saja juga yang mendapat

sehat j i w a n y a sehingga

Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai menjelaskan tiga macam metode d a k w a h y a n g harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap k a u m a w a m diperintahkan u n t u k menerapkan mau 'izhah, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang m e n y e n t u h j i w a sesuai dengan taraf pengetahuan mereka y a n g sederhana. S e d a n g , t e r h a d a p Ahl al-Kitdb dan p e n g a n u t a g a m a - a g a m a lain y a n g

K e l o m p o k XI Ayat 125

S u r a h a n - N a h l [16]

775

diperintahkan adalah j idd* l/perdebatan

dengan

cara yang terbaik, yaitu dengan

logika dan retorika y a n g halus, lepas dari kekerasan dan u m p a t a n . Kata (la&r ) hikmah sesuatu, baik pengetahuan antara lain berarti yangpahng maupun perbuatan. utama dari segala

Ia adalah pengetahuan atau juga diartikan mendatangkan menghalangi

tindakan y a n g bebas dari kesalahan atau kekeliruan. Hikmah sebagai sesuatu kemaslahatan terjadinya yang bila digunakan yang f diperhatikan akan

dan kemudahan mudharat

besar atau lebih besar serta yang besar atau lebih

atau kesiditan

besar. M a k n a ini

ditarik dari kata hakamah,

y a n g berarti kendali,

karena kendali menghalangi

hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. M e m i l i h perbuatan y a n g terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah.

M e m i l i h y a n g terbaik dan sesuai dari d u a hal y a n g b u r u k pun dinamai hikmah, dan p e l a k u n y a d i n a m a i hakim (bijaksana). Siapa y a n g tepat dalam

penilaiannya dan dalam pengaturannya, dialah yang wajar menyandang sifat ini atau dengan kara lain dia yanghakim. bahwa hikmah Thahir Ibn 'Asyur menggarisbawahi

adalah n a m a h i m p u n a n segala ucapan atau pengetahuan yang

m e n g a r a h kepada perbaikan k e a d a a n dan kepercayaan m a n u s i a secara bersinambung. Thabathaba'i mengutip ar-Raghib al-Ashfahani yang adalah sesuatu yang mengena

m e n y a t a k a n secara singkat b a h w a hikmah kebenaran berdasar

ilmu dan akal. Dengan demikian, m e n u r u t Thabathaba i,

hikmah adalah argumen yang menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak m e n g a n d u n g kelemahan tidak juga kekaburan. Pakar tafsir al-Biqa i menggarisbawahi bahwa al-hakim, y a k n i yang

memiliki hikmah, harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya sehingga dia tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira, dan tidak pula m e l a k u k a n sesuatu dengan cobacoba. Kata (aii&AD al-mau'izhah berarti nasihat. Mauizhah kepada kebaikan. (5»iol*-) jddilhum atau bukti-bukti terambil dari kata ( ) luaazha yang

adalah uraian yang menyentuh

hati yang

mengantar

D e m i k i a n d i k e m u k a k a n oleh banyak ulama. Sedang, kata terambil dari kata ( J u * - ) jidat yang mematahkan alasan atau y a n g bermakna dalih mitra diskusi diskusi dan

776

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k XI Ayat 125

menjadikannya semua orang

tidak dapat bertahan, maupun hanya oleh mitra

baik yang dipaparkan bicara.

itu diterima

oleh

D i t e m u k a n di atas bahwa mau'izhah («u-**-) basanah/baik, ahsan/yang hikmah terbaik,

h e n d a k n y a disampaikan dengan dengan kata ( )

sedang perintah berjidMdisifati b u k a n sekadar yang

baik. Keduanya berbeda dengan 'izhah

y a n g tidak disifati oleh satu sifat pun. Ini berarti bahwa mau jiaal

ada y a n g baik dan ada y a n g tidak baik, sedang baik, y a n g terbaik, dan y a n g buruk. Hikmah

ada tiga macam, y a n g

tidak perlu disifati dengan sesuatu karena dari m a k n a n y a telah yang mengena kebenaran berdasar ilmu

diketahui bahwa ia adalah sesuatu dan akal—seperti ucapan

tulis ar-Raghib, atau seperti tulis Ibn 'Asyur, ia adalah segala yang secara mengarah bersinambung. kepada perbaikan keadaan dan yang yang

atau pengetahuan manusia

kepercayaan

Di sisi l a i n , hikmah ) hakim

disampaikan itu adalah yang d i m i l i k i oleh seorang (

dilukiskan m a k n a n y a oleh al-Biqa i seperti penulis nukil di atas, dan ini tentu saja akan d i s a m p a i k a n n y a setepat m u n g k i n , sehingga tanpa menyifatinya dengan satu sifat pun, otomatis dari namanya dan sifat penyandangnya dapat diketahui bahwa penyampaiannya pastilah dalam bentuk y a n g paling sesuai. Adapun mau 'izhah, ia baru dapat mengena hati sasaran bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan pengamalan d a n keteladanan dari y a n g menyampaikannya. Nah, inilah yang bersifat hasanah. Kalau tidak, ia adalah biasanya

yang buruk, yang seharusnya dihindari. Di sisi lain, karena mau'izhah

bertujuan mencegah sasaran dari sesuatu y a n g k u r a n g baik, dan ini dapat m e n g u n d a n g e m o s i — b a i k dari y a n g m e n y a m p a i k a n , lebih-lebih y a n g m e n e r i m a n y a — m a u ' i z h a h adalah sangat perlu u n t u k kebaikannya itu. dari tiga macam, yang buruk adalah yang disampaikan mengingatkan

Sedang jiddlberdiri

dengan kasar, y a n g mengundang kemarahan lawan, serta y a n g menggunakan dalih-dalih yang tidak benar. Yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan serta menggunakan dalil-dalil atau dalih walau hanya yang diakui oleh lawan, tetapi yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik dan dengan argumen y a n g benar lagi m e m b u n g k a m lawan.

Kelompok XI Ayat 126-128

S u r a h a n - N a h l [16]

777

Penyebutan urutan ketiga m a c a m metode itu sungguh serasi. Ia dimulai d e n g a n hikmah y a n g d a p a t d i s a m p a i k a n t a n p a syarat, disusul d e n g a n

mau 'izhah dengan syarat hasanah karena memang ia hanya terdiri dari macam, dan y a n g ketiga a d a l a h y V ^ / y a n g dapat terdiri dari tiga m a c a m buruk, baik, dan terbaik, sedang y a n g dianjurkan adalah yang terbaik. Tidak dapat dipungkiri bahwa al-Our'an, demikian juga cara berdakwah Nabi M u h a m m a d saw., m e n g a n d u n g ketiga metode di atas. Ia diterapkan kepada siapa pun sesuai dengan kondisi masing-masing sasaran. Di atas, telah d i k e m u k a k a n b a h w a sementara u l a m a m e m b a g i ketiga m e t o d e ini sesuai d e n g a n t i n g k a t k e c e r d a s a n sasaran d a k w a h . Yakni cendekiawan y a n g memiliki k e m a m p u a n berpikir y a n g tinggi diajak dengan hikmah. A d a p u n orang a w a m y a n g belum mencapai tingkat kesempurnaan

akal, tidak j u g a telah terjerumus dalam kebejatan moral, mereka disentuh dengan mau 'izhah. Sedang, penganut a g a m a lain dengan jiddl. Pendapat ini

tidak disepakati oleh ulama. "Bisa saja ketiga cara ini dipakai dalam satu situasi/sasaran, di kali lain h a n y a dua cara, atau satu, masing-masing sesuai sasaran y a n g dihadapi. Bisa saja cendekiawan tersentuh oleh mau'izhah, tidak mustahil pula orang-orang awam memeroleh manfaat dari jiddl yang terbaik" dan dengan

D e m i k i a n T h a b a t h a b a i, salah seorang u l a m a y a n g menolak

penerapan metode d a k w a h itu terhadap tingkat kecerdasan sasaran. Thahir Ibn 'Asytir yang berpendapat serupa dan menyatakan bahwa jiddl adalah bagian dari hikmah dan mau'izhah. jiddl adalah H a n y a saja, tulisnya, karena tujuan

meluruskan tingkah laku atau pendapat sehingga sasaran yang atau

dihadapi menerima kebenaran, kendati ia tidak terlepas dari hikmah mau'izhah,

ayat ini m e n y e b u t n y a secara tersendiri berdampingan dengan danjiddlitu.

keduanya g u n a mengingat tujuan

AYAT 1 2 6 - 1 2 8

"Dan apabila ditimpakan itulah yang

kamu membalas, kepada lebih

maka balaslah persis sama dengan jika kamu bersabar

siksaan

yang

kamu. Akan tetapi, baik bagi para

sesungguhnya dan tiadalah

penyabar.

Dan bersabarlah

778

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k XI Ayat 126-128

kesabaranmu bersedih terhadap orangyang hati

melainkan terhadap

dengan mereka

pertolongan dan jangan

Allah (pula)

dan janganlah engkau bersempit

engkau dada orang"

apa yang bertakwa

mereka

tipu dayakan. yang

Sesungguhnya mereka

Allah beserta para muhsinin.

dan orang-orang

adalah

J i k a ayat y a n g lalu memberi pengajaran bagaimana cara-cara berdakwah, ayat ini memberi pengajaran bagaimana seharusnya membalas jika kondisi telah mencapai tingkat pembalasan. Jika ayat 125 m e n u n t u n bagaimana cara menghadapi sasaran dakwah y a n g diduga dapat m e n e r i m a ajakan tanpa m e m b a n t a h atau bersikeras menolak serta dapat menerima ajakan setelah jidM (bermujadalah), di sini dijelaskan bagaimana menghadapi mereka yang

membangkang dan melakukan kejahatan terhadap para pelaku dakwah, yakni da'i/penganjur kebaikan. Demikian terlihat ayat ini dan ayat yang lalu tersusun

urutannya secara bertahap. Begitu penjelasan banyak ulama. Itulah, tulisThahir Ibn 'Asyur, sehingga ayat ini dimulai dengan "dan", yakni dan apabila membalas, maka kamu

yakni menjatuhkan h u k u m a n kepada siapa yang menyakiti kamu, y a k n i h u k u m l a h dia, persis sama dengan siksaan yang

balaslah,

ditimpakan

kepada kamu atau kesalahan yang mereka lakukan. Jangan sedikit dan tidak membalas, baik di dunia

pun m e l a m p a u i batas. Akan tetapi, jika kamu bersabar m a k a sesungguhnya itulah yang

lebih baik bagi para penyabar

m a u p u n di akhirat kelak. Karena itu, wahai Nabi M u h a m m a d , sebagai manusia sempurna dan teladan laksanakanlah t u n t u n a n ini dan bersabarlah

menghadapi gangguan k a u m m u dan dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah dan tiadalah kesabaranmu itu akan m e n c a p a i hasil y a n g memuaskan

melainkan

dengan pertolongan

Allah kepadamu. Karena itu, andalkanlah Allah engkau bersedih bersempit hati dada, tipu terhadap yakni dayakan

dan m o h o n l a h pertolongannya dan janganlah keengganan mereka beriman dan jangan

pula engkau

kesal walau sedikit pun, terhadap

apa yang terus-menerus mereka

guna merintangi d a k w a h m u . U p a y a mereka tidak akan berhasil dan mereka pun tidak akan mencelakakan m u karena engkau adalah seorang yang bertakwa dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa, yakni yang menjaga

diri dari m u r k a - N y a dengan cara menjauhkan diri dari larangan-Nya dan orang-orang yang mereka adalah para muhsinin.

K e l o m p o k XI Ayat 126-128

S u r a h a n - N a h l [16]

779

Sementara u l a m a berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan gugurnya paman Nabi saw., Hamzah Ibn 'Abdul Muththalib ra., dalam Perang U h u d dan dalam keadaan y a n g sangat mengenaskan. H i d u n g dan telinga beliau dipotong, perutnya dibelah, jantungnya diambil lalu dikunyah. Ketika Nabi saw. melihat kesudahan y a n g sangat mengerikan itu, beliau bersabda, "Semoga rahmat Allah tercurah padamu. Sesungguhnya engkau banyak sekali melakukan kebajikan serta selalu bersilaturahim. Seandainya Shafiyah tidak akan bersedih, niscaya engkau kubiarkan agar engkau dibangkitkan Allah dalam rongga sekian banyak (makhluk-Nya). D e m i Allah, kalau aku berhasil mengalahkan mereka ( k a u m musyrikin yang m e m p e r l a k u k a n Sayyidina H a m z a h dengan kejam), niscaya aku akan membalas k e g u g u r a n m u dengan menewaskan tujuh p u l u h orang di antara mereka." Sementara sahabat menambah, "Kita akan melakukan lebih daripada apa y a n g mereka lakukan" ( H R . A h m a d dan at-Tirmidzi melalui Ubay Ibn Ka'ab). Hadits di atas dijadikan dasar oleh sementara u l a m a u n t u k menyatakan bahwa ayat-ayat di atas turun setelah Nabi saw. berhijrah karena Perang U h u d terjadi di M a d i n a h pada tahun ketiga Hijrah. Ibn Katsir yang juga menyinggung hadits ini dalam tafsirnya berpendapat bahwa hadits di atas lemah karena salah seorang perawinya, yaitu Shalih Ibn Basyir a h M u r r i , dinilai lemah oleh pakar-pakar hadits. M e m a n g , t i d a k m u s t a h i l a d a k e i n g i n a n hati u n t u k m e l a k u k a n pembalasan. T i d a k mustahil j u g a ayat ini tidak muncul dalam benak Nabi saw. ketika beliau mengucapkan sabdanya—jika seandainya hadits di a t a s — tetapi beberapa saat k e m u d i a n beliau teringat pesan Allah swt. itu lalu m e m b a c a n y a u n t u k m e n g i n g a t k a n s e m u a sahabatnya. Itu d i d u g a oleh sementara sahabat beliau bahwa baru ketika itulah ayat ini turun, padahal sebenarnya telah turun sejak beliau di M e k k a h , jauh sebelum berhijrah. Penggunaan kata ( j ) ) inlapabila 'hqabtumJdan apabila kamu membalas dalam firman-Nya: ( ) wa in

memberi kesan bahwa pembalasan

dimaksud diragukan akan dilakukan atau jarang akan terjadi dari mitra bicara, dalam konteks ini adalah kaum muslimin. Ini dipahami demikian karena in y a n g biasa diterjemahkan apabila tidak digunakan oleh bahasa Arab kecuali

terhadap sesuatu yang jarang atau diragukan akan terjadi atau semacamnya.

780

S u r a h a n - N a h l [16]

K e l o m p o k X ! Ayat 126-128

Berbeda dengan kata ( l i t ) idzd y a n g m e n g a n d u n g isyarat tentang kepastian terjadinya apa y a n g dibicarakan. Itu sebabnya antara lain ketika berbicara tentang kehadiran kematian dan p e n i n g g a l a n harta yang banyak, Q S . alBaqarah [ 2 ] : 180 m e n g g u n a k a n kata idzd u n t u k y a n g p e r t a m a karena

k e h a d i r a n k e m a t i a n a d a l a h pasti bagi setiap orang. B e r b e d a d e n g a n m e n i n g g a l k a n harta y a n g banyak, y a n g bukan merupakan kepastian, tetapi jarang terjadinya. Firman-Nya: ( iib dan bersabarlah * J u > j J W ^ J ) washbir kesabaranmu wamd shabruka dengan illd billdhl

dan tiadalah

melainkan

pertolongan

Allah d i p a h a m i oleh asy-Sya'rawi sebagai perintah u n t u k m e m b u l a t k a n niat melaksanakan kesabaran. "Jangan d u g a bahwa e n g k a u y a n g melahirkan kesabaran. Allah swt. hanya m e n u n t u t darimu agar engkau mengarah kepada kesabaran, sekadar mengarah dan m e m b u l a t k a n niat. J i k a itu telah engkau lakukan, Allah swt. akan melahirkan dalam dirimu bisikan-bisikan baik yang m e m b a n t u m u bersabar, m e m p e r m u d a h b a g i m u serta menjadikan engkau rela m e n e r i m a apa y a n g engkau hadapi. Dengan d e m i k i a n , kesabaranmu menjadi sabar yang indah tanpa gerutu dan tanpa pembangkangan." Demikian asy-Sya'rawi. Setelah mengesankan tidak akan terjadinya pembalasan,_ ayat di atas melanjutkan dengan perintah sabar, tetapi redaksi perintah ini berbentuk t u n g g a l , berbeda d e n g a n redaksi y a n g m e n g g a m b a r k a n kemungkinan

m e m b a l a s s e b e l u m n y a . B e n t u k tunggal di sini d i t u j u k a n k e p a d a N a b i M u h a m m a d saw. S u n g g u h wajar hal itu d e m i k i a n karena anjuran untuk

tidak m e m b a l a s adalah y a n g terbaik, dan ini h e n d a k n y a d i t a m p i l k a n oleh Rasul saw. agar dapat diteladani oleh u m a t n y a . D e n g a n d e m i k i a n , beliau menjadi muhsin dan y a n g meneladani beliau pun d e m i k i a n . R u j u k l a h ke abmubsinin.^

ayat 9 0 surah ini untuk m e m a h a m i m a k n a kata

Ayat-ayat di atas seakan-akan berpesan kepada Nabi M u h a m m a d saw. bahwa: Wahai Nabi, engkau adalah p e m i m p i n para muhsinin sehingga Allah

pasri bersamamu. Dengan d e m i k i a n , engkau akan meraih k e m e n a n g a n dan kekalahan akan diderita musuh-musuhmu. Karena iru, jangan Gemas, jangan

Lihatkembalt halaman 699.

S u r a h a n - N a h l [16]

781

bersedih hati, serta j a n g a n pula kesal, j a n g a n j u g a m e m i n t a disegerakan d a t a n g n y a ketetapan A l l a h dan k e m e n a n g a n — d i d o r o n g oleh cemas-—

sebagaimana k a u m musyrikin m e m i n t a disegetakan kedatangannya siksa terdorong oleh keinginan mereka mengejek. D e m i k i a n bertemu pesan awal ayat pada surah ini dengan kandungan pesan penutupnya. Wa Allah Alam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->