HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II SMU LAB SCHOOL JAKARTA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I Untuk memenuhi sebagian dari Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi Oleh : AMALIA SAWITRI WAHYUNINGSIH NIM : 981703229 NIRM : 983120380050241 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y.A.I JAKARTA 2004 Dipertahankan di Depan Panitia Ujian Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I Dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat sarjana Pada Tanggal 30 Januari 2004 Mengesahkan

_______________ Ketua Dewan Penguji 2.Psi 1. (Drs. mas Bonang.Psi 2. Zainuddin SK. ________________ Anggota Dewan Penguji / Pembimbing II Sebuah sukses terwujud Karena diiktiarkan. S.________________ Anggota Dewan Penguji / Pembimbing I 4. _______________ Anggota Dewan Penguji 3. Sondang Silaen. Tanda Tangan .Psi 4. M.M.I Dekan. keuletan dan niat baik Karya ini kupersembahkan untuk Orang-orang yang kucintai.Psi) Dewan Penguji. melalui… Perencanaan yang matang. Dra. mas Agung dan Pravi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rakhmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur”.A. Kerja keras. keyakinan.FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y. M. H. Erdina. Mama.Psi 3. Papa. 1. Wazar Pulungan. Muchliyanto. M.

Mas Bonang yang tercinta atas semua kasih sayang. Bapak Drs. Kiblat. serta dukungan yang sangat besar kepada penulis 9. AMIN. saran serta dukungan yang berarti kepada penulis selama penyusunan skripsi. Ibu Dra. M. waktu.Penulis menyadari bahwa keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung. pengarahan. dan Iin atas segala doa. penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Akhir kata penulis mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Yuke dan juga banyak lagi teman-teman angkatan ’98 yang tidak dapat disebutkan satu persatu yag telah memberikan doa. Dalam kesempatan ini. 5. Muchliyanto selaku dosen pembimbing II atas bimbingan.I 2. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. 4. Arie. 7. Siswa siswi SMU Lab School Jakarta Timur khususnya kelas II yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala yang diberikan.Psi selaku dosen pembimbing I atas bimbingan. Mas Agung. Ibu Dra. Sondang Silaen. dukungan. SK. dukungan moril maupun materil serta doa yang selalu menyertai penulis 8.Ita. Eva. perhatian. Semoga segala kebaikan dan pertolongan semuanya mendapatkan berkah dari Allah SWT. M. Hj Ulya Latifah selaku kepala sekolah SMU Lab School Jakarta Timur atas izinnya memperbolehkan penulis melakukan penelitian. perhatian serta canda tawa selama penulis meyelesaikan skripsi ini. Zainuddin. Bapak Drs. Ibu Ita selaku koordinator Bimbingan Penyuluhan/Bimbingan Konseling SMU Lab School yang banyak membantu penulis dalam mendapatkan data-data yang diperlukan. Lina. Bunga. Emil. Endah. H. Pravira SN. Latar belakang masalah . saran serta dukungan yang berarti kepada penulis selama penyusunan skripsi. DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN A. Mama. 6. dukungan dan masukkan yang yag berguna untuk skripsi ini. Dini. Papa. 10.. pengarahan. 3. Psi selaku Dekan Fakultas Psikologi UPI Y. ST yang dengan sabar banyak memberikan doa.A.

Rumusan masalah dan Pokok-pokok Bahasan C. Pengertian kecerdasan emosional 3. Manfaat Penelitian E. Prestasi Belajar 1.B. Definisi Operasional C. Metoda Analisis Data SMU . Tujuan Penelitian D. Pengertian emosi 2. Kecerdasan Emosiona 1. Metode Analisis Instrumen F. Pengertian Belajar 2. Faktor Kecerdasan Emosional C. Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN A. Sistematika Skripsi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian prestasi belajar 3. Keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa D. Populasi dan metode pengambilan sampel D. Metode pengambilan data E. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar 4. Identifikasi variabel penelitian B. Pengukuran prestasi belajar B.

BAB IV LAPORAN PELAKSANAAN PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian B. Orientasi kancah Penelitian B. Uji Coba Instrumen Penelitian C. Saran-saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL Tabel Tabel 1 Distribusi sampling Tabel 2 Blue print Skala kecerdasan Emosional Tabel 3 Distribusi Penyebaran Item Valid dan Gugur Skala Kecerdasan Emosional Tabel 4 Korelasi Antar Faktor Skala Kecerdasan Emosional DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D : Distribusi Skor Uji Coba Skala Kecerdasan Emosional : Hasil Uji Validitas Item Skala Kecerdasan Emosional : Hasil Uji Korelasi Antar Faktor Skala Kecerdasan Emosional : Reliabilitas Skala Kecerdasan Emosional . Kesimpulan D. Analisis Data Penelitian BAB V KESIMPULAN A. Pembahasan C. Pelaksanaan Penelitian D.

.008. dan untuk mengukur prestasi belajar siswa digunakan metode pemeriksaan dokumen dengan melihat nilai rapor semester I.9538 dihitung dengan rumus Alpha Cronbach.320 – 0. Sedangkan prestasi belajar adalah hasil belajar dari suatu aktivitas belajar yang dilakukan berdasarkan pengukuran dan penilaian terhadap hasil kegiatan belajar dalam bidang akademik yang diwujudkan berupa angka-angka dalam rapor. Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri.05 diperoleh 85 item valid dan 15 item gugur dari 100 item yang ada pada skala kecerdasan emosional. mengelola emosi diri. menggunakan metode proporsional random sampling. Sampel penelitian adalah 148 siswa. Namun. Hipotesis alternatif (Ha) dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU dan Hipotesis nihil (Ho) adalah tidak ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU. Berdasarkan pada taraf signifikan 0. menurut hasil penelitian terbaru dibidang psikologi membuktikan bahwa IQ bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur yang seluruhnya berjumlah 240 orang. Nilai korelasi yang diperoleh pada analisis validitas instrumen dengan rumus korelasi Product Moment dari Pearson berkisar antara 0.000 – 0. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional sedangkan prestasi belajar sebagai variable terikat. Dalam pengumpulan data digunalan metode skala untuk kecerdasan emosional berdasarkan teori Daniel Goleman yang terdiri dari mengenali emosi diri. maka akan meningkatkan prestasi belajar. mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.720 dan p berkisar antara 0. mengenali emosi orang lain (empati) dan membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada peranan kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar pada siswa kelas II SMU. Nilai koefisien reliabilitas yang diperoleh 0.Lampiran E Belajar. tetapi ada banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah kecerdasan emosional. memotivasi diri sendiri. mengelola emosi diri. memotivasi diri sendiri. Lampiran F Lampiran G Lampiran H : Hasil Analisis Korelasi Antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi : Skala Kecerdasan Emosional : Tabel Morgan : Surat Keterangan Penelitian ABSTRAK Selama ini banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi belajar yang tinggi diperlukan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang juga tinggi. Bila siswa memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. A.002 (<0. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. rumusan masalah dan pokok bahasan. teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang masalah. perlu adanya penilaian. Latar belakang masalah Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja. karena inteligensi . siswa belajar berbagai macam hal. siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan.” Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar. seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi. Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuankemajuan yang telah dicapainya dalam belajar. Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya.05) maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. kecakapan dan pengetahuan baru. tujuan penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur. Dalam pendidikan formal. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996 :178) adalah: “ Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting. Melalui sekolah.Hasil analisis data penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0. Dengan belajar. belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan. manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.248 dengan p 0.

khususnya dalam kalangan remaja (Goleman. bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. kedua inteligensi ituDalam proses belajar siswa. Keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar siswa di sekolah (Goleman. sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain. Menurut Binet dalam buku Winkel (1997:529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan. namun ada siswa yang walaupun kemampuan inteligensinya relatif rendah.merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan. Itu sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Kenyataannya. Hal ini menunjukan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang. diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri. dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Menurut Goleman (2000 : 44). Dalam proses belajar siswa. EQ selalu mendahului intelegensi rasional. mengontrol desakan hati. EQ yang baik dapat menentukan keberhasilan individu dalam prestasi belajar membangun kesuksesan karir. 2002). karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Hasil beberapa penelitian di University of Vermont mengenai analisis struktur neurologis otak manusia dan penelitian perilaku oleh LeDoux (1970) menunjukkan bahwa dalam peristiwa penting kehidupan seseorang. dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. . untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. mengembangkan hubungan suami-istri yang harmonis dan dapat mengurangi agresivitas. Namun biasanya kedua inteligensi itu saling melengkapi. mengatasi frustasi. melainkan juga perlu mengembangkan emotional intelligence siswa . Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan rational intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja. berempati serta kemampuan bekerja sama. dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. 2002 : 17). Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah. dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. mengatur suasana hati (mood). kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan. kedua inteligensi itu sangat diperlukan.

sulit bergaul. Bila didukung dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya. khusus pada orang-orang yang murni hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi. berdasarkan nilai rata-rata nilai ulangan umum murni cawu 2 kelas II tahun ajaran 2001/2002. kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence). cenderung menarik diri. maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ rata-rata namun memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Teori Daniel Goleman. Karena sifat-sifat di atas. mudah frustrasi. pengendalian diri. Kondisi sebaliknya. terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Pada penelitian ini. menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri. memberikan definisi baru terhadap kata cerdas. tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami stress. motivasi diri. B. penulis mengunakan sampel pada SMU Lab School Jakarta Timur. Prestasi belajar Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh seorang siswa dari kegiatan belajar mengajar dalam bidang akademik di sekolah dalam jangka waktu tertentu.Kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan. terlalu kritis. Menurut Goleman (2002 : 512). tidak mudah percaya kepada orang lain. namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman. sesuai dengan judul bukunya. Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ. 2002:44). empati dan keterampilan sosial. maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan Prestasi belajar pada siswa kelas II SMU di Jakarta?” Pada penelitian ini yang menjadi pokok-pokok bahasan adalah sebagai berikut: 1. Menurut Goleman. . maka dalam penyusunan skripsi ini penulis tertarik untuk meneliti :”Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II SMU Lab School Jakarta Timur”. bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala. Dalam kaitan pentingnya kecerdasan emosional pada diri siswa sebagai salah satu faktor penting untuk meraih prestasi akademik. rewel. Rumusan masalah dan Pokok-pokok Bahasan Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas. yang berada pada peringkat 16 se-DKI. mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan.

Sistematika Skripsi Sistematika isi dan penulisan skripsi ini antara lain : Bab I : Pendahuluan Berisi tentang latar belakang masalah. Bab III : Metodologi Penelitian bahasan. Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain. penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi psikologi pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar. E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa kelas II SMU Lab School Jakarta Timur. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.2. pengertian kecerdasan emosional. D. pengertian prestasi belajar. Dari segi teoritis. perumusan masalah dan pokok-pokok tujuan dan manfaat dari penelitian serta sistematika skripsi Bab II : Tinjauan Pustaka Berisi tentang pengertian belajar. 2. hubungan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar dan hipotesis. C. konselor sekolah dan guru dalam upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali kecerdasan emosional yang dimilikinya. indikator kecerdasan emosional. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat. Dari segi praktis. pengertian emosi. serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan ke arah yang positif. antara lain ialah : 1. hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi khususnya kepada para orang tua. .

1986. Irwanto. Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Gottman.A Weizz. Goleman. metode pengumpulan data. kesimpulan dan saran dari penelitiUntuk membaca lebih lanjut atau lebih lengkap Tentang Skripsi ini Silakan menghubungi via email di rahman_faisal14@yahoo. (1996). Jakarta : PT. Daniel. (2001). Mudzakir. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. John. Daniel. Bab IV : Laporan Penelitian Berisi tentang laporan pelaksanaan penelitian yang terdiri dari orientasi kancah penelitian. Schopler. Moch. 42. J. populasi dan metode pengambilan sampel. definisi operasional. JR. Psikologi Pendidikan. Introduction of Psychology. Bandung : Pustaka Setia. Jakarta : PT. persiapan penelitian. (1988). (2000). Bab V : Penutup Berisi tentang pembahasan hasil penelitian. (1997). Hubungan antara Persepsi Anak terhadap Suasana Keluarga. R. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Citra Diri.Cetakan 3. Emitional Intelligence (terjemahan). Mila Ratnawati. Morgan. Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama. Goleman. (7th ed). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional (terjemahan). (1997). King. Jakarta :Ghalia Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jurnal Anima Vol XI No. Psikologi Umum. Singapore : Mc Graw Hil Book Company .com untuk konfirmasi maka akan dikirimkan ke email anda tentang skripsi ini LENGKAP. pelaksanaan penelitian serta analisis data penelitian. Nazir.Berisi tentang identifikasi variabel penelitian. Gramedia Pustaka Utama. dan Motif Berprestasi dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas V SD Ta’Miriyah Surabaya. metode analisis instrumen serta metode analisis data. Metodologi Penelitian. Clifford T. (2000).

D. Sudjana. SUMBER BY AMALIA SAWITRI WAHYUNINGSIH FAKULTAS PSIKOLOGIUNIVERSITAS PERSADA INDONESIA Y. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Muhibbin. (2001). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. WS (1997). Melejitkan IQ. Psikologi Pendidikan. Nana. Jakarta : PT. Lawrence E. Hubungan Antara Emotional Intelligence dan Intelektual Quetion dengan Prestasi Belajar Siswa SMU. Sarlito Wirawan. Remaja Rosdakarya. Azwar. Metodologi Penelitian. Suharsono. Prestasi belajar dan kompetensi guru. (1997). Psikologi Remaja. Sia. Reliabilitas dan Validitas. EQ. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Ratna Wilis. Hubungan Antara IQ. Yogyakarta : Andi Offset. Psikologi Pendidikan dengan Suatu Pendekatan baru. Saifuddin. Statistik 2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset. Tjundjing. (2000). 1998. RajaGrafindo Persada. Sumadi. (1994). Syaiful Bakrie D. (1998). (1999). (1998). Surabaya : Usaha Nasional. Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukutan Prestasi balajar. Syah. (1998). Jakarta : PT. (2000).17 no. Sutrisno Hadi. IE. Cetakan ketujuh. (1997).1 Sri. (2002). Bandung : PT. Winkel. dan IS. (2001). dan QA dengan Prestasi Studi Pada Siswa SMU. Lanawati. Saphiro. Sumadi. Raja Grafindo Persada .A. (1996).I tip-tip menulis SKRIPSI Posted on 24 Februari 2007 by wir| 263 Komentar . Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Suryabrata. Teori-Teori Belajar. Cetakan sebelas. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Suryabrata. Yogyakarta : Pustaka Balajar Offset. Jakarta : Gramedia.Tesis Master : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Depok : Inisiasi Press. Jurnal Anima Vol. Saifuddin Azwar. Jakarta : Gramedia. Jakarta : Penerbit Erlannga.

khususnya bila tulisan ilmiah tersebut dievaluasi dan dipresentasikan. tetapi ternyata tidak memahami apa-apa yang ada di tempat kerja prakteknya (ada dua orang juga). dan jika lebih terpaksa ganti judul dan ganti pembimbing. Kebetulan saya ditugaskan sebagai pembimbing kerja praktek. Prakteknya di UPH. SKRIPSI (dan tugas akhir lainnya ) relatif lebih susah karena harus dikerjakan mandiri. pembuatan skripsi adalah momok karena menyita waktu dan perhatian dari mahasiswa dalam membuatnya. minimal menyita waktu. . sudah ada mahasiswa yang digagalkan karena dari presentasi oral dapat diketahui bahwa ternyata mahasiswa tersebut tidak melaksanakan kerja praktek yang sebenarnya (sudah ada dua orang). sedang yang lainnya pasif. tentunya tidak bisa diketahui apakah tulisan tersebut dikerjakan bersama-sama atau hanya seorang saja yang aktif . **tentang mengerjakan berkelompok** Dengan mengerjakan secara berkelompok tersebut. Jelas dengan pertambahan waktu tersebut biaya yang dikeluarkan mahasiswa menjadi berlipat-lipat. Kasihan orang-tuanya.Tidak dipungkiri lagi. Tetapi karena penilaiannya adalah didasarkan pada presentasi dan tanya jawab secara oral (langsung). Laporan kerja praktek relatif tidak menjadi masalah karena tujuan utama adalah untuk melihat pengalaman mahasiswa peserta dalam mendapatkan wawasan bidang nyata di dunia konstruksi di luar kelas. selain itu juga kadang-kadang dijumpai bahwa meskipun dikerjakan cukup lama (berbulan-bulan) tapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. lalu yang mengulang karena meskipun sudah melakukan kerja praktek. Dalam praktek. tentunya dibantu oleh pembimbing skripsi yang bebas dipilih oleh mahasiswa (bila disetujui). Enaknya lagi yaitu di Jurusan kami bahwa pembuatan laporan kerja praktek tersebut dapat dikerjakan kelompok (maksimum dua orang). Kadang perlu 1 semester atau 2 semester atau bahkan lebih. Bentuk tulisan ilmiah yang secara formal dievaluasi dan dipresentasikan dalam penilaiannya di Jurusan Teknik Sipil UPH adalah membuat LAPORAN KERJA PRAKTEK (setelah minimal terkumpul 100 sks) dan SKRIPSI / LAPORAN TUGAS AKHIR MAGANG atau yang sejenisnya. yang menjadi syarat memperoleh gelar sarjana di level S1. menulis (tulisan ilmiah) bagi mahasiswa S1 merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. maka dapat diketahui: mana dari mahasiswa tersebut yang aktif atau pasif atau bahkan tidak melakukan kerja praktek sama sekali (berbohong). dimana laporan tertulis itu dijadikan dasar pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Dengan menulis. Bagaimanapun skripsi adalah suatu bentuk karya tulis ilmiah yang mana mahasiswa diharapkan dapat berpikir ilmiah dengan membuat suatu penelitian sebagai objeknya. coba amati : pasti jumlah muridnya banyak. Tetapi jika hasil pemahaman subyektif atau hasil pengamatan empiris pribadi belaka maka tentunya perlu data-data pendukung yang dibuat yang lebih banyak sehingga orang dapat yakin bahwa itu memang masalah yang patut dibahas (kerja lebih banyak). seseorang belajar berpikir secara eksak dan padat. tapi mutu dipertanyakan. menulis dan menerbitkan buku. Jika anda menemukan kondisi seperti itu. Apakah subjek. Khususnya untuk menentukan apakah tulisannya baik atau buruk. 2. akhirnya dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sebenarnya menulis (baik skripsi atau lainnya) adalah relatif mudah jika sudah tahu tip-tip yang penting. 3. atau mutunya jadi dipertanyakan. Palingpaling dilihat tampilannya. predikat dan objeknya jelas. … Dari tulisan memang akan kelihatan logika berpikir seorang. Mampu melihat dan memilih masalah yang akan ditulis. kemampuan seseorang dalam menuangkan gagasan secara tertulis merupakan representasi dari kualitas intelektualnya. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah hal-hal yang akan sampaikan berikut. formatnya atau bila ketemu kesalahan dalam ejaan atau kalimat.Karena dianggap sebagai penghambat kelulusan maka ada beberapa universitas (program studi) mencoba menghilangkannya dan mengganti dengan tugas-tugas di kelas. karena dosen pembimbingnya yang memilihkannya. “MENGAPA” anda memilih masalah tersebut. darimana anda mengetahui bahwa itu menjadi suatu masalah. (Dedi Supriadi 1997) Kesulitan membuat skripsi juga dirasakan penulis sewaktu menjadi mahasiswa. Takut dianggap lulusannya sedikit maka skripsi dihapus. Jika informasi tersebut diperoleh dari suatu studi pustaka berdasarkan jurnal-jurnal canggih up-to-dated maka tentunya lebih mudah meyakinkan orang lain bahwa masalah tersebut cukup baik untuk dibahas. baik sewaktu jadi mahasiswa S1 di UGM maupun mahasiswa S2 di UI. Skripsi jadi lama. setelah cukup banyak mencoba untuk meneliti. Tetapi dengan berjalannya waktu. maka lamanya waktu studi dulu adalah akibat penulisan tugas akhir. Bahkan pada saat-saat awal jadi dosenpun kadang masih susah untuk mengevaluasi tulisan skripsi mahasiswa. atau kalimatnya kacau. Jika mau mengingat kembali. Langkah-langkah atau tip penting yang dimaksud adalah : 1. “APA” masalahnya tersebut. Jadi orientasi penyelenggaranya hanya berpikir jumlah kelulusan meningkat. Ini merupakan hal yang paling penting dari suatu SKRIPSI dan membedakan dengan menulis pada umumnya. karena melalui tulisan atau karya tulis (dalam bentuk apapun) seseorang mewujudkan pikirannya. atau karena anda menyukai bidang dimana masalah tersebut . mereka (yg membuat kebijaksanaan skripsi dihapus) sebenarnya kesulitan cari dosen pembimbing.

tetapi dengan membuat abstract. Bisa melihat publikasi sebelumnya. Sebaiknya usahakan anda memilih karena anda memang menyenangi bidang dimana masalah tersebut ada. Jika masalah itu yang memberi adalah dosen. Jika kondisinya demikian maka pengerjaan skripsi anda belum berbentuk. maka pilihlah dosen pembimbing yang anda tahu kemampuannya. Khan biasanya bikin abstract jika tulisan sudah selesai. Mampu memformulasikan MASALAH yang dipilih. tentunya agar lebih baik lagi. bisa liar. bisa lama. yang anda anggap dapat membimbing anda (anda punya respek terhadap dia). Apakah untuk itu perlu uji eksperimental. bisa kesana-kemari. Untuk itu. meskipun itu perlu ekstra tenaga. maka itu merupakan kesempatan berharga anda untuk mendapat knowledge yang lain (mendapat ilmu baru).berada. Jika anda tidak tahu apa-apa (netral terhadap masalah tersebut) maka usahakan bahwa masalah tersebut dipahami oleh dosen pembimbing. ini tentu memperkirakan ilmu-ilmu apa yang diperlukan untuk memecahkan massalah tersebut. maka diharapkan dosen tersebut juga tahu bagaimana dengan masalah tersebut. pengalaman dulu yang mengatakan bahwa abstrak dibuat setelah selesai dikerjakan. Tapi jika tidak. ingat cerita silat jawa: perlu bertapa dihutan-hutan atau di tempuran sungai agar digdaya ). Jika anda menguasai persoalan . Bila anda tahu apa yang dapat anda berikan jika masalah tersebut terselesaikan maka ini mendukung kepercayaan diri bahwa solusi dari SKRIPSI ini akan berharga. misalnya tentang pemrograman. tidak jelas. Kirakira anda mempunyai keyakinan mampu atau tidak dengan itu. Dalam hal ini dalam bentuk ABSTRAK. Itu konsekuensinya biaya dan waktu lho. mengapa. Ngelmu iku kelakone kanthi laku. ( indonesianya : menguasai ilmu itu perlu usaha keras. maka tentu akan mempermudah anda menyelesaikan tugas itu. 6. Dengan membuat ABSTRACT terlebih dahulu maka anda sudah berusaha memfokuskan pikiran ke masalah tersebut yaitu dengan menuliskannya. “BILAMANA” masalah tersebut terpecahkan . Menambah kepercayaan diri. misal ke seminar dsb. Kaget ya ? . Jika benar-benar nggak tahu tentang masalah yang akan dipilih. TERKENDALI. itu SALAH. ya enggak. 4. Lha inilah bedanya. Bahkan kalau PD maka dapat diinformasikan ke teman-teman lain. apa yang kira-kira anda dapatkan. 5. kita tahu : o000 ada perubahan. tentu akan membedakan strategi anda mengerjakan tugas SKRIPSI tersebut. juga nilai tambah jika membuat lamaran kerja. apakah anda menguasai persoalan atau tidak itu tidak menjadi masalah. Jika telah mempunyai alasan yang kuat tentang suatu masalah maka untuk realitas kerjanya maka usahakan masalah tersebut diformulasikan dalam bentuk tulisan pendek. “BAGAIMANA” masalah tersebut akan dapat diselesaikan. penyelesaian parametris atau pemrograman atau yang lain. Rubah-sedikit-sedikit ya nggak apa. . Kenapa ? Karena spesifikasinya belum ada (belum jelas/samar). itu jika abstract diterjemahkan sebagai rangkuman. Apa abstract tersebut kaku.

Kecuali jika diktat itu diberikan oleh dosen yang terkenal pakar pada bidang yang dimaksud dan merupakan problem yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Jika mantap maka dapat dilanjutkan. Sekali lagi. yaitu tahapan INTRO: yaitu mengenalkan masalah. tentu anda harus tahu lebih dahulu bagaimana strategi orang lain menangani atau bertindak terhadap masalah tersebut. 11. mengapa anda memilih masalah tersebut. Tangkap masukan yang diberikan. belum tentu cocok. usahakan yang dijadikan referensi adalah jurnal ilmiah. Jangan biasakan meniru BAB1 orang lain. Bisa dilanjutkan. Penulisan BAB1 sangat penting karena menentukan luasan atau cakupan yang didiskusikan dalam bab-bab selanjutnya. bila terpaksa. Jangan gunakan diktat kuliah sebagai referensi. Tidak membanggakan untuk ditunjukkan orang lain. batasan-batasan masalah yang dipilih dan strategi penyelesaian yang akan dikerjakan maka tentunya hal itu dapat dituangkan dalam BAB 1. Jika abstract-nya nggak ada isi-nya maka kecil kemungkinan materi skripsi yang utama juga dibaca. Ini dapat diketahui dengan melakukan studi pustaka (BAB2). evaluasi atau diskusikan dengan dosen. 9. baru textbooks. karena kalau hanya diktat kuliah kayaknya kurang berbobot (kecuali yang telah dipublikasikan ke luar). karena umumnya : dosen-dosen umumnya menyakinkan didepan kelasnya. Untuk dapat mengerjakan skripsi sesuai dengan BAGAIMANA menyelesaikan masalah tersebut. Jadi intinya Bab1 adalah pedoman kerja untuk penulisan bab-bab selanjutnya. Usahakan pakailah acuan jurnal-jurnal terkini (menurut salah satu profesor saya. Dalam membuat abstrak tersebut. perlu untuk membagi menjadi tiga tahapan utama. Jika anda sudah tahu apa masalah anda. Bab1 merupakan pengikat. termasuk juga pembahasannya (nanti jadi BAB 3 dan BAB4). Apakah abstract sudah menggigit. paling-paling disimpan digudang. Bila perlu bisa juga dimasukkan ke seminar atau minta pendapat orang lain yang kritis. mereview publikasi orang lain dari jurnal-jurnal atau yang lainnya. Ingat. Evaluasi ABSTRACT bersama dosen pembimbing. jika hanya sekedar diktat copy-an sebaiknya hindari saja. **tetapi hatihati. Tetapi abstract yang hebat kadang-kadang bisa mengecoh.7. dan tahapan KESIMPULAN tentang bilamana masalah dapat terpecahkan (nanti jadi BAB5). Tetapi bisa juga anda mengutip suatu karya yang pernah diterbitkan ratusan tahun yang lalu jika karya tersebut memang karya monumental di bidangnya. gunakan jurnal dalam lima tahun terakhir). dan batasan-batasannya (nanti jadi BAB 1 dan BAB2). 10. mutu tidaknya suatu hasil penelitian (skripsi) dapat dengan mudah dibaca dari abstract-nya. tetapi kalau ketemu teman-teman sejawat-nya mejen **tak berkutik/pasif** Pengalaman menunjukkan bahwa diktat-diktat seperti itu di Indonesia hanya . Jika abstract sudah OK. mengapa. tahapan PROGRES: yaitu tentang bagaimana masalah tersebut dicoba dipecahkan. Referensi dalam suatu penelitian and publikasi juga dapat menjadi indikasi kehebatan dari materi yang diteliti dan ditulis tersebut. pedoman kerja untuk babbab berikutnya. apa. 8.

Proses tersebut mencakup bab 3 – sampai bab akhir. mengerti alasan mengapa permasalahan tersebut perlu dibahas. Hanya ingat bahwa bab dibatasi pada suatu tahapan yang bisa mandiri. . Urutan-urutan bab. Dengan memahami publikasi-publikasi yang ada tentang masalah yang dibahas tentunya dapat diambil suatu kesimpulan atau dugaan. berkembang pada progress dan diakhiri dengan kesimpulan. mahasiswa cukup diminta belajar memahami permasalahan. dan ingat bahwa setiap bab satu dengan yang lainnya harus ada benang merah yang menghubungkannya (terkait). **kadang nggak bermutu**. Sorry nggak semua. mengetahui tindakan orang lain tentang masalah tersebut termasuk tahu sisi baik dan buruknya masing-masing dan dapat menerapkannya pada kasus lokal (studi kasus) serta menarik kesimpulan dari tindakan yang dikerjakannya. Kesimpulan harus suatu yang spesifik tentang masalah tersebut. Selanjutnya kembali ke persyaratan pembuatan skripsi (level S1) tentunya bobotnya berbeda dengan tesis (level S2) atau disertasi (level S3). Pengalaman menunjukkan bahwa bila tampilan (format) suatu tulisan tidak diperhatikan (jelek) maka isinya kemungkinan besar juga tidak akan dibaca. tetapi kalau bisa cari rujukan yang dipublikasikan resmi. juga dengan kesimpulan dapat diketahui bahwa tulisan tersebut berguna atau tidak. Jangan dibalik dan dibandingkan dengan manusia. bisa dilihat dari kesimpulan yang diberikan.dibuat dari copy-and-paste aja. Pada level S1 tidak diperlukan suatu tingkat penelitian yang orisinil seperti halnya disertasi atau kedalaman seperti level S2. ketebalan tulisan tidak bisa menjadi ukuran apakah itu berbobot atau tidak. tergantung dari kesimpulan yang diberikan. Kesimpulan penting sekali. Ingat dalam pembuatan skripsi. dan ada kemungkinan menemukan suatu kesalahan dari tulisan anda. hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan menurut saya adalah : • Tampilan adalah nomer satu. apa-apa saja yang telah dilakukan orang. isi baru ke dua. dan dapat dibanggakan. jika sudah sampai langkah ke-10 diatas maka penulisan dapat berkembang sangat cepat. itu menunjukkan apakah penulis (mahasiswa) memahami apa yang dikerjakannya atau tidak. Pada dasarnya penulisan skripsi yang paling sulit adalah pada cara memulainya. dosen penguji akan melihat-lihat lebih banyak tulisan anda. Dalam hal seperti itu. Menurut pemahaman penulis : pada level S1 . Jika laporannya (skripsinya) dapat dibaca dan memperlihatkan alur logika-logika seperti di atas maka mahasiswa tersebut mestinya sudah pantas lulus level S1. yaitu pada awal adalah intro. Suatu skripsi yang tipispun jika memenuhi konsep-konsep di atas bahkan kalau dikemas dengan baik itu dapat menarik untuk dipresentasikan diforum ilmiah yang lebih luas. O ya. Apa yang terjadi . 12. dan bab-babnya bisa berkembang.

Jangan sekedar nampang. gambar yang ditampilkan pada bagian dalam tulisan hanya yang mendukung ulasan / tulisan pada bagian itu. prinsipnya semakin banyak anda membaca ulang maka semakin kecil kemungkinan kesalahan akan timbul. ciri-ciri tulisan ilmiah adalah adanya acuan pustaka. “apa bener mahasiswa ini membaca pustak yang tercantum tersebut”. Tulislah APA-APA YANG DIKUASAI saja. Tetapi yang jelas dan langsung bisa dinilai adalah KONSISTENSI. Suatu tulisan harus konsisten. tulisannya didukung jurnal-jurnal ilmiah hebat. Format yang baik kadang-kadang dapat mengecoh dosen penguji yang malas. pasti penulisnya nggak baca dan tulisannya biasanya nggak berbobot (nggak tahu apa yang dituliskan. antara satu bagian dan bagian yang lain dalam skripsi tersebut. Daftar Pustaka harus ada. Saat itu anda bukan lagi pribadi yang sama dengan ketika anda menulis draf pertama. Ini penting. jadi biar tebal sembarangan nulis aja). berapa margin kiri-atas dsb. Apabila mungkin.• • • • • • Pastikan format yang digunakan sesuai dengan petunjuk dari Institusi (ini penting). Bagi orang awam memang kelihatannya keren. Kualitas kadang-kadang bersifat relatif. biarkan draf anda agak sehari atau dua hari sebelum merevisinya. O ya. (Atmazaki 2006) Selain itu dengan semakin banyak membaca ulang skripsi anda maka anda semakin memahami masalah tersebut (sebagai modal nanti waktu presentasi oral). jumlah spasis pada baris. Konsisten baik font dan nomernya dikeseluruhan laporan. Jika sifatnya umum dan ukurannya besar maka sebaiknya di tampilan pada lampiran. Pendapat anda saling di adu sendiri. Tentang ISI. Jika tidak konsisten. Sehingga waktu di uji **selamat**. Jika tidak bisa maka usahakan hal tersebut di luar cakupan masalah yang diteliti. jangan segan-segan untuk membaca ulang. ukuran font. Jika ada hal-hal yang tidak diketahui (meski sudah usaha kesana-kemari) maka usahakan bagian tersebut dihilangkan (itu jika tidak mempengaruhi bagian-bagian lain). semua gambar harus ada judul gambar dan nomer gambar. . Dosen penguji (yg tahu) cenderung ingin membuat pertanyaan menguji. penting juga untuk mencari alasan yang bagus mengapa anda tidak perlu membahas hal tersebut (persiapan bila ada dosen yang kritis yang tahu tentang itu. Ingat sebagai penulis maka seharusnya penulis menguasai tulisan yang dibuatnya. O ya. maka itu dapat dijadikan modal untuk menguji materi skripsi tersebut. Hati-hati. Tergantung dosen dsb.) Semua tabel harus ada judul tabel dan nomer tabel. koq semuanya dicantumin. ya siapa tahu. Hal ini akan memberi jarak mental anda dengan karya sehingga kemudian anda kembali dengan prespektif baru yang berbeda dan lebih segar. Yang terakhir. dan penting yang harus diperhatikan bahwa yang dicantumkan pada Daftar Pustaka adalah yang diacu saja. dsbnya. sehingga ada kemungkinan tidak akan ketemu kesalahan yang ada (bila ada). tapi ini jarang terjadi. tapi bagi yang ngerti : apa-apaan ini.

• Ketidak-mauan membaca ulang makalah anda menunjukkan bahwa anda belum mantap dengan karya tulis yang anda buat. Orang yang pesimis akan berpikir inilah stress. si mhs itu mungkin dapat lulus sarjana. ini tidak gampang. ada ‘sesuatu’ dengan tulisan anda. Beban berat. saya melihat bahwa skripsi diadakan dalam kurikulum sebagai sarana agar calon-calon sarjana (mhs) dapat belajar berpikir ilmiah. tepatnya tidak terjadi transformasi berpikir yang seharusnya layak mereka terima sesuai dengan tingkat pendidikannya. Belajar bagaimana merangkum permasalahan menjadi suatu ungkapan tulis yang dapat dipahami orang lain. Itu prinsip menulis yang baik. Jelaslah. Mestinya kepandaian anda bisa anda alihkan untuk hal-hal positip yang lain secara lebih terhormat. Jadi dengan anda mengerjakan skripsi mahasiswa tersebut maka si mahasiswa yang manja tersebut tidak akan dewasa-dewasa. Jika anda sendiri tidak mantap terhadap karya anda. talenta lebih (mampu membuat skripsi-skripsi). Selaku pendidik. Cobalah tanya hati nurani anda. banggakah anda mendapatkan uang dengan cara membuatkan skripsi orang lain. . yang secara intensip mengarahkan sehingga tujuan skripsi tercapai. tapi mengapa anda mengabil hak teman-teman lain yang seharusnya juga dapat mengembangkan talenta seperti itu (mhs yang anda buatkan skripsinya). Bagaimana orang lain bisa mantap. Bagi sebagian besar mahasiswa. Untuk itulah diperlukan pembimbing. Tetapi mereka tidak mendapatkan pengalaman yang sebenarnya untuk menjadi sarjana. bahwa dengan skripsi yang dibuatkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful