P. 1
BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

2.0

|Views: 7,948|Likes:
Published by sayid_sidik7616

More info:

Published by: sayid_sidik7616 on Feb 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Di era modern ini, serin kali manusia lupa akan kewajiban, agama, dan ayat-ayat Al-Quran. Begitu juga kandungan ayat Al Quran dan cara pengamalannya. Dalam kenyataannya, ayat-ayat Al Quran sebenarnya sangat penting. Bahkan tanpa disadari, kadang kita juga mengamalkannya. Tetapi, hal itu tidaklah sempurna untuk menjadi amalan kita. Karena kita tidak tahu akan kaitan perbuatan tersebut dengan ayat Al Quran. Padahal, hal itu bias menjadi amalan kita jika kita memakai niat. Tetapi jika tahu akan ilmunya, mana mungkin kita bias berpikiran sejauh itu dan berpikir akan niat dalam mengerjakannya. Semua itu dapat kita tangani dengan memahami ayat-ayat Al Quran adalah salah satunya. Dengan mengetahui, memahami, dan menerapkannya maka kita pastinya dapat mengupas baik buruknya suatu perbuatan. Dalam sebuah pepatah telah disebutkan bahwa “ Amal tanpa ilmu akan buta. Dan ilmu tanpa amal akan binasa”. Begitu juga dengan keadaan masyarakat kita sekarang ini. Alangkah sangat ruginya jika pusaka yang telah kita punyai tidak kita manfaatkan dan tidak bisa melindungi kita yaitu kita tidak bisa mempergunakan dan memahami kandungan ayat Al Quran. Keadaan seperti inilah harus dicari jalan keluarnya. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan 2 pusaka yang telah dititipkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang tidak lain adalah Al Quran dan Al Hadist. Dengan berpegang teguh pada keduanya niscaya kita akan menjadi umatnya yang beruntung di dunia dan akhirat yaitu dengan mempelajari Al Quran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

1

1.2 Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan ini: a. b. Untuk mengetahui kandungan ayat Al Quran urat Al Baqarah : 148 Memahami ayat-ayat tersebut dan Al Fatir : 32 beserta dalil yang menguatkannya. c. Mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 1.3 Asumsi a. Di dalam ayat-ayat Al Quran terdapat beberapa nilai-nilai positif yang sangat penting dan pantas kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. b. Pemahaman ayat Al Quran akan menjadi menarik jika ada niat. Karena c. Perbedaan pandangan dalam pemahaman ayat Al Quran adalah suatu kewajaran. Oleh karena itu, terdapat dalil-dalil lain (Hadist) yang menguatkan ataupun memperjelas makna ayat Al Quran. 1.4 Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Ada perbedaan antara orang yang berbuat sesuatu dengan memakai landasan (Al Quran) dengan orang yang tidak memakai landaan”.

2

BAB II PERMASALAHAN

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kandungan ayat Al Quran surat Al Baqarah ayat 148? 2. Bagaimana kandungan ayat Al Quran surat Al Fatir ayat 32?

3

BAB III PEMBAHASAN

2.1 Perintah Berkompetesi dalam Kebaikan

  





          

      
Artinya: “Dan setiap umat memiliki kiblat yang dia menghadap kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya, sungguh Allah Kuasa atas segala sesuatu”. (Q S Al Baqarah 148) Isi Kandungan Setiap umat manusia memiliki kiblat untuk beribadah yaitu Masjidil Haram bagi umat Islam. Dalam surat ini Allah SWT mmerintahkan hambaNya agar berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap perbuatan yang dilakukan manusia selama hidup di dunia akan mendapat balasan yang seusai di akhirat. Berkompetisi merupakan naluri normal pada tiap manusia bahkan binatang sekalipun. Berkompetisi merupakan hal yang mulia bila dilakukan dalam hal kebaikan. Di dunia ini banyak sekali bahan yang dapat digunakan berkompetisi. Kompetisi dalam hal kebaikan adalah kompetesi yang diniati Lillahi Ta’ala. Sedangkangkan kompetisi yang tidak mulia adalah kompetisi syaithoni. Kompetisi yang berdasarkan nafsu keserakahan baik dalam motivasi maupun sarana tujuannya. Perbedaan kompetisi tersebut sangat jelas.







4

-

Kompetisi yang pertama adalah motivasi imaniyah sarana dan

jalannya merupakan kebaikan sedangkan tujuan akhirnya adalah mendapat keridhaan dari Allah SWT dan surganya. Kompetisi semacam inilah yang difirmankan Allah SWT: “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar. Mereka di atas dipan-dipan ambil memandang kamu dapat mengetahui dari wajah mereka ksenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Maka diberi khamr murni yang tidak lain halnya adalah Kesturi dan untuk yang demikian itu hendaknya orang saling berlomaba” Kompetisi yang kedua adalah motivasi syaithaniyah sehingga melahirkan kecintaan kepada materi yang berlebihan, kesenangan menguasai dan mengalahkan. Sedangkan semua itu sarananya adalah tipu daya konspirasi kelicikan, kemarahan, dan kebencian. Tujuan akhirnya adalah menguasai dan menalahkan, bahkan menghancurkan. Sehingga dirinya sendiri senang dan puas juga untuk menyenangkan para pendukungnya. Sisi / dampak positif dari kompetisi di jalan kebaikan untuk mendapatkan ridha Allah SWT adalah: 1. Menanamkan ketenangan dan ketepatan dalam hati 2. Kecintaan pada kebaikan 3. Jauh dari rasa iri hati 4. Kebencian terhadap sesuatu yang merupakan aib dalam pandangan manusia 5. Menebarkan kebaikan 6. Menyemai dan menghujamkan akar kebaikan tersebut dalam tiap tatanan masyarakat 7. Membentuk dan memperkokoh rasa kemanusiaan pada tiap individu 8. Memperbesar daya juang untuk memerangi kebathilan

5

Contoh kompetisi dalam kebathilan dapat kita lihat pada kisah antara Umar bin Khatab dan Abu Bakar. Saat itu Rasulullah SAW menyeru kepada para sahabatnya untuk membekali para tentara kaum muslimin yang tidak mampu. Umar lalu berkata “Saat ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar”. Kemudian Umar mengeluarkan separuh hartanya, ia tidak beranjak dari sisi Rasulullah karena ingin mengetahui apa yang dibawa Abu Bakar. Lalu Rasulullah bertanya “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab.”Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Demi melihat apa yang terjadi Umar berterus terang dan berkata, “Tidaklah aku berkompetisi dalam kebaikan dengan Abu Bakar kecuali dia keluar sebagai pemenangnya. Mulai hari ini aku tak akan menantangnya lagi untuk berkompetisi”. Sedangkan sisi / dampak negative dari kompetisi dalam kejelekan / kompetisi syaithani untuk memenuhi keinginan syahwat dan hawa nafsu adalah: 1. Menumbuh kembangkan perasaan dengki 2. Menumbuhkan kemarahan dan kebencian 3. Menjadikan jiwa senantiasa hidup dalam perseteruan abadi dan berkutat dari kesengsaraan yang satu kepada kesengsaraan yang lain 4. Menghantarkan pada kebinasaan dan kehancuran 5. Merebaknya berbagai bentuk kejahatan, kedhaliman, dan bertambahnya pengikut kebatilan 6. Kehidupan masyarakat selalu dihantui ancaman dan ketakutan 7. Kehidupan menjadi gelap dan kekacauan dimana-mana Contoh kompetisi syaithani dapat kita lihat dari perlombaan antar Negara-negara maju dibidang persenjataan dan alat-alat perang modern. Negara-begara maju di dunia saat ini utamanya Negara adi daya, saling berkompetisi untuk mengungguli Negara-negara lain dalam perakitan pesawat tempur peluru bom nuklir, bom hidrogen, tank, dan senjatasenjata berat lainnya.

6

Untuk itu mereka tak segan-segan mengalokasikan dana berapapun besarnya mengatur meski serta terkadang mendikte harus dibayar dengan lain kemelaratan dengan penduduknya, sehingga bisa menjadi Negara terkuat memimpin dan Negara-negar sesuai kepentingannya. Beberapa peristiwa penjajahan terhadap umat Islam di berbagai Negara di dunia sungguh telah menyulut dan mengobarkan api jihad pada sebagian kaum Muslimin. Umat Islam dan para pemudanya berkompetisi di medan jihad untuk menunjukkan kekuatan terselubung yang dimiliki orang Islam serta kekuatan jiwa para pemeluknya yang ikhlas. Mereka mengorbankan apapun yang mereka miliki. Dalam hal ini Allah SWT berfirman ; “ Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu sebagaimana telah datang kepada orang-orang sebelum kamu. Mereka ditimpa kesengsaraan bahaya dan digoncangkan sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang beriman yang bersamanya kapankah datangnya pertolongan Allah? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. Oleh karena itu, apakah sama antara kompetisi untuk mencari ridha Allah SWT dengan kompetisi untuk mencari selainridha-Nya? Jawabnya tentu tidak sama. Allah SWT berfirman, “ Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat dan tidaklah orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal sholeh dengan orang-orang uyang durhaka”. 2.2 Keuntungan Orang yang lebih Dahulu Berbuat Kebaikan





 

     

 

  

7





      

  
Artinya: “Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang mendhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar” (Quran Surat Al Fatir, 32). Isi kandungan Q. S Al Fatir (35) : 32 Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada nabi Muhammad.Al Qur’an merupakan mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad . Nabi Muhammad dan umatnya terpilih untuk menerima Al Qur’an . Dari sekian banyak umat para rasul terdahulu, nabi Muhammad dan umatnya yang terpilih.Yang di maksud umat nabi Muhammad adalah umat sejak Nabi Muhammad diutus hingga hari akhir. Dalam menerima Al Qur’an yang merupakan firman Nya , umat Nabi Muhammad terbagi menjadi tiga yaitu : 1. Golongan pertama (zalimun linafshihi / mereka yang mendzalimi diri sendiri) adalah orang-orang yang lebih banyak berbuat kesalahan daripada kebaikannya. Mereka lebih sering melakukan perbuatan buruk daripada perbuatan baik . Mereka lebih sering meninggalkan perintah Allah daripada menjalankan perintah-Nya. Orang yang termasuk golongan ini menolak Al Qur’an dan memilih jalan hidup yang lain. Mereka tidak mau menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

8

2. Golongan kedua (muqtasid / mereka yang pertengahan) adalah terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sama dengan keburukan yang di lakukannya. Orang-orang yang termasuk golongan ini menjalankan perintah Allah tetapi juga menjalankan laranganNya. Mereka mau menerima Al Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, tetapi mereka masih banyak melakukan kesalahan. 3. Golongan ketiga (sabiqun bilkhairat / mereka yang terlebih dahulu berbuat kebaikan) terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan. Mereka yang termasuk golongan ini adalah orang-orang yang selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Nya. Mereka menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Mereka tidak pernah mengerjakan apa yang di larang oleh Al Qur’an.Orang-orang yang masuk golongan ini selalu menjalankan perintah-perintah yang hukumnya wajib dan sunnah. Mereka menin ggalkan segala sesuatu yang haram hukumnya dan menghindari yang subhat.Allah SWT telah menyediakan surga dengan segala kenikmatannya bagi golongan ini. Ketiga kelompok tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits tetap masuk surga meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’ bersabda :

‫عن أبي الدرداء قال سمعت رسول ال صلى ال عليه وسلم يقول قللال ال ل‬ ُ ّ َ َ ُ ُ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ ُ َّ ّ َ ُ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ َ ْ ّ ِ َ ْ َ ِ ِ ِ ْ َِ ٌ ِ َ ْ ُ ْ ِ َ َِ َِ ْ ِ َْ َ َ ْ َ ِ ّ َ َِ ْ َْ َ ْ َ ّ ُ ّ َ َ ّ َ ‫عز وجل ثم أورثنا الكتاب اللذين اصلطفينا ملن عبادنلا فمنهلم ظلالم لنفسله‬ ِ َ ْ َ ْ ِ ُ َ َ َ ِ ّ ّ ََ ّ ِ ْ ِِ ِ َ ْ َ ْ ِ ٌ ِ َ ْ ُ ْ ِ َ ٌ ِ َ ْ ُ ْ ُ ْ ِ َ ‫ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن ال فأما الذين سبقوا بللالخيرات‬ ِ َ ِ َ ُ َ ُ َ َ ْ َ ِ ّ ّ ََ ٍ َ ِ ِ ْ َ ِ َ ّ َ ْ َ ُ ُ ْ َ َ ِ ّ َ ِ َ ُ َ ‫فلأولئك اللذين يلدخلون الجن لة بغيلر حسللاب وأمللا اللذين اقتص لدوا فلأولئك‬ َ ُ َ ْ ُ َ ِ ّ َ ِ َ ُ َ ْ ُ َ ُ ْ َ ُ َ َ َ ِ ّ ّ ََ ً ِ َ ً َ ِ َ ُ َ َ ُ ‫يحاسبون حسابا يسيرا وأما الذين ظلموا أنفس لهم ف لأولئك ال لذين يحبسللون‬ ُ ْ َ ْ َ ُ ُ َ َ ِ ّ ْ ُ ‫ِ ُ ِ ْ َ ْ َ ِ ُ ّ ُ ْ ّ ِ َ َ َ َ ُ ْ ّ ِ َ ْ َِ ِ ف‬ ‫في طول المحشر ثم هم الذين تلفاهم ال برحمته َهم الذين يقولون الحمد‬ ُ 20734 ‫.)ل الذي أذهب عنا الحزن إن ربنا لغفور شكور إلخ )رواه احمد‬ ِ ٌ ُ َ ٌ ُ َ َ َ َّ ّ ِ َ َ َ ْ َّ َ َ ْ َ ِ ّ ّ ِ
Artinya :

9

Dari Abu Darba’, dia berkata, “Saya mendengar rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Kemudian kitab ini kami wariskan kepada orangorang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan adapula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah’. Adapun orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan, mereka adalah orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Orang yang pertengahan, mereka adalah orang-orang yang akan masuk surga dihisap dengan hisab yang ringan. Orang yang mendzalimi diri sendiri, mereka adalah orang-orang yang dihisab dalam lamanya mahsyar. Kemudian, kerugian mereka itu diganti oleh Allah dengan rahmat-Nya. Maka mereka berkata : ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal karena karunia-Nya. Didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu’.” (HR. Ahmad No. 20734). Dari hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad tersebut, dapat kita pahami bahwa dhalimun linafsih, muqtasid, dan sabiqun bil-khairat situasinya berbeda-beda pada saat memasuki surga. Kelompok sabiqun bilkhairat akan masuk surga tanpa melalui hisab. Kelompok muqtasid (pertengahan) akan masuk surga dengan melalui proses hisab yang mudah (yasira). Dan kelompok zalimun linafsih (menzalimi dirinya sendiri) akan masuk surga dengan hisab yang lama dan berat. Mereka harus melalui perhitungan yang tidak ringan. Bahkan, sebagian ulama berpendapat bahwa mereka harus merasakan neraka sebagai balasan amal buruk yang telah mereka kerjakan pada saat hidup di dunia. Namun, mereka tetap masuk surga dengan rahmat Allah SWT. Sebesar apapun dosa seseorang selama dia mempunyai iman walau sebesar atom dalam hatiinya, niscaya Allah akan mengganti dengan rahmat-Nya untuk masuk surga.

10

BAB IV PENUTUP

31.

KESIMPULAN Dari materi pembahasan yang telah kami sampaikan di awal pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan sangatlah dianjurkan dalam islam. Dalam isi kandungan Q. S Al Fatir (35) : 32 dijelaskan bahwa umat Nabi Muhammad adalah umat sejak nabi Muhammad diutus hingga hari akhir. Dalam menerima Al Qur’an yang merupakan firman Nya , umat Nabi Muhammad terbagi menjadi tiga yaitu : 1. Golongan pertama (zalimun linafshihi / mereka yang mendzalimi diri sendiri) adalah orang-orang yang lebih banyak berbuat kesalahan daripada kebaikannya. Mereka lebih sering melakukan perbuatan buruk daripada perbuatan baik. 2. Golongan kedua (muqtasid / mereka yang pertengahan) adalah terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sama dengan keburukan yang di lakukannya. Orang-orang yang termasuk golongan ini menjalankan perintah Allah tetapi juga menjalankan laranganNya. 3. Golongan ketiga (sabiqun bilkhairat / mereka yang terlebih dahulu berbuat kebaikan) terdiri atas orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan. Mereka yang

11

termasuk golongan ini adalah orang-orang yang selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Nya.

Dari ketiga golongan yang telah disebutkan diatas, Allah akan menjadikan kita golongan yang ketiga (sabiqun bil khairat) jika kita mau berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Q. S Al-Baqarah 148. Berkompetisi adalah hal mulia jika dilakukan dalam hal kebaikan. Hakekatnya, semua manusia mempunyai naluri berkompetisi, namun dalam hal ini tidak semuanya dilakukan di jalan Allah sehingga tidak semua mendapatkan hasil yang positif dari apa yang telah mereka kerjakan. Pada masa Rasulullah SAW pernah ada kisah nyata yang terjadi antara Sa’d bin Khaitsamah dengan ayahnya Radhiallahu ‘Anhuma. Sa’d dilarang sang ayah menuju medan perang, akan tetapi hali itu tetap dilakukan oleh Sa’d, dia yakin bahwa yang dia lakukan tersebut memang telah benar. Subhanallah, dia menemukan syahadahnya dalam perang tersebut. Dalam kesempatan ini, semoga kita termasuk orang-orang yang telah sadar akan dahsyatnya nikmat Allah jika kita mau berkompetisi dalam kebaikan. 32. SARAN Dalam hal ini, dari semua hal yang telah dibahas oleh kelompok kami, kami hanya dapat memberikan beberapa saran diantaranya : 1. Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT sebaiknya

kita melakukan anjuran dari Rasulullah SAW dan Allah SWT dengan berkompetisi dalam kebaikan. 2. Semoga menjadikan diri kita semua semakin sadar, jika kebaikan adalah hal yang baik disukai oleh Allah SWT.

12

3. 4.

Perbaiki diri dengan iman dan islam yang kuat, Memperbanyak ibadah serta mengingat Allah

agar kita dapat senantiasa dalam kebaikan. SWT agar terhindar dari keburukan. Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga apa yang kami sampaikan banyak bermanfaat bagi kita semua. Amin. Terima kasih atas partisipasi dan perhatian dari teman-teman sekalian.

13

DAFTAR PUSTAKA

Rosidi, Imron. 2005. Ayo Senang Menulis Karya Tulis Ilmiah. Jakarta. CV. Media Pustaka. Team Musyawarah Guru Bina PAI MA. 2008. Qur’an Hadist Modul Pembelajaran Kelas XI. CV. Akik Pusaka

14

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->