biologi terumbu karang

1

BIOLOGI TERUMBU KARANG1
Silvianita Timotius, M.Si2

TERUMBU KARANG DAN KARANG Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hew an karang. Karang adalah hew an tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hew an berrongga) atau Cnidaria. Yang disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa. Lebih lanjut dalam makalah ini pembahasan lebih menekankan pada karang sejati (Scleractinia). Satu individu karang atau disebut polip karang memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari yang sangat kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih dari 50 cm. Namun yang pada umumnya polip karang berukuran kecil. Polip dengan ukuran besar dijumpai pada karang yang soliter. ANATOMI KARANG Karang atau disebut polip memiliki bagian-bagian tubuh terdiri dari 1. m ulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta sebagai alat pertahanan diri. 2. rongga tubuh (coelenteron) yang juga merupakan saluran pencernaan (gastrovascular) 3. dua lapisan tubuh yaitu ektoderm is dan endodermis yang lebih umum disebut gastroderm is karena berbatasan dengan Gambar 1. Anatomi polip karang saluran pencernaan. Di antara kedua lapisan terdapat jaringan pengikat tipis yang disebut m esoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan menghasilkan material guna membentuk rangka luar karang. Material tersebut berupa kalsium karbonat (kapur). Bertempat di gastrodermis, hidup zooxanthellae yaitu alga uniseluler dari kelompok Dinoflagelata, dengan w arna coklat atau coklat kekuning-kuningan. Mengapa zooxanthellae ada dalam tubuh karang, kemudian apa perannya serta bentuk hubungan seperti apa yang ada antara karang dan zoox akan dibahas lebih lanjut pada bagian Asosiasi Zooxanthellae dengan karang.

1 2

Makalah Trining Course: Karekteristik Biologi Karang, 7-12 Juli 2003 Yayasan Terumbu Karang Indonesia (Terangi)

seperti karang. Bila ada zooplankton atau hew an lain yang akan ditangkap. Bagaimana karang dapat menangkap mangsanya? Di ektodermis tentakel terdapat sel penyengatnya (knidoblas) . Jumlah zooxanthellae pada karang diperkirakan > 1 juta sel/cm2 permukaan karang. anemon. . 2. Mangsa ditangkap lalu terbaw a ke mulut oleh gerakan silia di sepanjang tentakel ASOSIASI KARANG DENGAN ZOOXANTHELLAE Zooxanthellae adalah alga dari kelompok Dinoflagellata yang bersimbiosis pada hew an. CARA MAKAN Karang memiliki dua cara untuk mendapatkan makan. yaitu 1. berarti zooxanthellae telah menyingkirkan inhibitor kalsifikasi. Menangkap zooplankton yang melayang dalam air. Sebagian ahli lagi mengatakan sumber makanan karang 75-99% berasal dari zooxanthellae (Tucket & Tucket 2002). Knidoblas dilengkapi alat penyengat (nematosita) beserta racun di dalamnya. A Guide To The World of Corals Gambar 2. Hasil fotosintesis. Tentakel tersebut aktif dijulurkan pada malam hari. Mangsa ditangkap lalu tentakel membaw a mangsa ke mulut 2. sebagian besar zooxanthellae melakukan simbiosis Dalam asosiasi ini. Sebagian besar zooxanthella berasal dari genus Symbiodinium. sementara di siang hari tentekel ditarik masuk ke dalam rangka. dan alat sengat berada di dalam sel. Lapisan tubuh karang dengan sel penyengat dan zooxanthellae di dalamnya. asam amino. yang merupakan ciri khas semua hew an Cnidaria. saat karang mencari mangsa. jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan proses respirasi karang tersebut (Muller-Parker & D’Elia 2001). moluska dan lainnya. Menerima hasil fotosintesis zooxanthellae. maka alat penyengat dan racun akan dikeluarkan. Ada pendapat para ahli yang mengatakan bahw a hasil fotosintesis zooxanthellae yang dimanfaatkan oleh karang.2 Ektodermis dengan sel penyengat mesoglea Gastrodermis dengan zooxanthellae di dalamnya The Barrief Reefs. Tampak sel penyengat dalam kondisi tidak aktif dengan yang sedang aktif Karang dapat menarik dan menjulurkan tentakelnya. seperti gula. Meski dapat hidup tidak terikat induk. ada yang mengatakan antara 1-5 juta sel/cm2. Mempercepat proses kalsifikasi yang menurut Johnston terjadi melalui skema: Fotosintesis akan menaikkan PH dan menyediakan ion karbonat lebih banyak Dengan pengambilan ion P untuk fotosintesis. Ada dua mekanisme bagaimana mangsa yang ditangkap karang dapat mencapai mulut: 1. karang mendapatkan sejumlah keuntungan berupa 1. dan oksigen 2. Sel penyengat bila sedang tidak digunakan akan berada dalam kondisi tidak aktif.

.3 Bagi zooxanthellae. jadi polip baru tumbuh dari polip lama Ekstratentakular yaitu polip baru tumbuh di antara polip-polip lain Jika polip dan jaringan baru tetap melekat pada koloni induk. karang memiliki kemampuan reproduksi secara aseksual dan seksual. Dari reproduksi secara seksual. Ada pertumbuhan koloni dan ada pembentukan koloni baru Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan peleburan sperma dan ovum (fertilisasi). zooxanthellae akan langsung dipindahkan ke koloni baru atau ikut bersama potongan koloni karang yang lepas. polip/koloni karang membentuk polip/koloni baru melalui pemisahan potongan-potongan tubuh atau rangka. Sifat reproduksi ini lebih komplek karena selain terjadi fertilisasi. penempelan baru kemudian pertumbuhan dan pematangan). Reproduksi aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum). 1997). dapat saja menempel kembali di dasaran dan membentuk tunas serta koloni baru. Reproduksi Aseksual ASEKSUAL Pertunasan Dalam membahas reproduksi aseksual. Sementara dalam reproduksi aseksual. perlu dipisahkan antara pertumbuhan koloni dengan pembentukan koloni baru Terdiri dari: Intratentakular yaitu satu polip membelah menjadi 2 polip. ini disebut pertambahan ukuran koloni. terjadi melalui beberapa mekanisme terkait dengan reproduksi karang. Pada reproduksi ini. karena cabang mudah sekali patah oleh faktor fisik (seperti ombak atau badai) atau faktor biologi (predasi oleh ikan). jika polip atau tunas lepas dari koloni induk dan membentuk koloni baru. juga melalui sejumlah tahap lanjutan (pembentukan larva. Bagaimana zooxanthellae dapat berada dalam karang. Mekanisme reproduksi lebih lanjut dijelaskan pada bagian selanjutnya. 70% didapat dari karang (lihat Tomascik et al. Sebagai contoh Bytell menemukan bahw a untuk zooxanthellae dalam Acropora palmata suplai nitrogen anorganik. karang adalah habitat yang baik karena merupakan pensuplai terbesar zat anorganik untuk fotosintesis. ini baru disebut reproduksi aseksual Hal itu hanya dapat terjadi jika patahan karang masih memiliki jaringan hidup Fragmentasi Koloni baru terbentuk oleh patahan karang. Terjadi terutama pada karang bercabang. Patahan (koloni) karang yang lepas dari koloni induk. karang akan mendapatkan zooxanthellae langsung dari induk atau secara tidak langsung dari lingkungan. Anorganik itu merupakan sisa metabolisme karang dan hanya sebagian kecil anorganik diambil dari perairan. REPRODUKSI & PERTUMBUHAN KARANG Seperti hew an lain.

berbeda w aktu tergantung kondisi lingkungan. Hermafrodit bila telur dan sperma dihasilkan dalam satu polip. Berdasar individu penghasil gamet. Planula ini langsung memiliki kemampun untuk melekat di dasar perairan untuk melanjutkan proses pertumbuhan. Karang yang hermafrodit juga kerap kali memiliki w aktu kematangan seksual yang berbeda. sebagai contoh: Richmond dan Hunter menemukan bahw a di Guam. Pada karang yang mati. Keragaman itu meliputi: A.4 Polip bailout Polip baru terbentuk karena tumbuhnya jaringan yang keluar dari karang mati. tidak dilepaskan ke kolom air sehingga fertilisasi secara internal. Contoh: jenis dari kelompok Acroporidae. ada dua kemungkinan yaitu individu karang tersebut berfungsi sebagai jantan baru. Jadi ada karang jantan dan karang betina Contoh: dijumpai pada genus Porites dan Galaxea 2. Jika kemudian menemukan dasaran yang sesuai. kadang kala jaringan-jaringan yang masih hidup dapat meninggalkan skeletonnya untuk kemudian terbawa air. telur baru akan dibuahi 10-40 menit kemudian yaitu setelah telur dan sperma berpisah. Micronesia: puncak spawning terjadi 7-10 hari setelah bulan purnama bulan Juli (Richmond 1991) . Meski dalam satu paket. Pada tipe ini pembuahan telur terjadi setelah beberapa jam berada di air. Contoh: pada genus Favia Dari sebagian besar jenis karang yang telah dipelajari proses reproduksinya. Zigot berkembang menjadi larva planula di dalam polip. Brooding/planulator Telur dan sperma yang dihasilkan. Waktu pelepasan telur secara massal. untuk kemudian planula dilepaskan ke air. karang dapat dikategorikan bersifat: 1. Contoh: Pocillopora damicornis dan Stylophora 2. favidae • Hermafrodit yang berurutan. menghasilkan sperma untuk kemudian menjadi betina (protandri). Berdasar mekanisme pertemuan telur dan sperma 1. atau jadi betina dulu. menghasilkan telur setelah itu menjadi jantan (protogini) Contoh: Stylophora pistillata dan Goniastrea favulus Meski dijumpai kedua tipe di atas. jaringan tersebut akan melekat dan tumbuh menjadi koloni baru Larva tumbuh dari telur yang tidak mengalami fertilisasi Partenogenesis Reproduksi Seksual Karang memiliki mekanisme reproduksi seksual yang beragam yang didasari oleh penghasil gamet dan fertilisasi. yaitu • Hermafrodit yang simultan menghasilkan telur dan sperma pada w aktu bersamaan dalam kesatuan sperma dan telur (egg-sperm packets). telur dan sperma dihasilkan oleh individu yang berbeda. Gonokoris Dalam satu jenis (spesies). sebagian besar karang bersifat gonokoris B. 85% di antaranya menunjukkan mekanisme spawning. Spawning Melepas telur dan sperma ke air sehingga fertilisasi secara eksternal.

Aspek Waktu pembentukan anakan Reproduksi aseksual Mwmbutuhkan waktu yang singkat Reproduksi seksual Membutuhkan waktu dan proses lebih panjang Lebih tinggi (karena adanya variasi genetik) Bisa sangat jauh (puluhan atau ratusan meter dari induk) memungkinkan terekspos polutan bila air terpolusi karena adanya jeda waktu antara pelepasan gamet dengan fertilisasi Kemampuan adaptasi Lebih rendah (karena identik terhadap perubahan dengan induk/tidak ada variasi lingkungan genetik) Penyebaran Terekspos polutan Terbatas (dekat dengan induk) kemungkinan lebih kecil karena pembentukan anakan lebih cepat PERTUMBUHAN & AKRESI 1. April dan Mei (Richmond 1991) Gambar 3.5 Kenyon menemukan spawning di Kepulauan Palau terjadi selama beberapa bulan. Bila menemukan dasaran yang sesuai. Berikut adalah perbandingan reproduksi aseksual dan seksual dipandang dari sisi ketahanan dan adaptasi terhadap lingkungan. Siklus Reproduksi Seksual Karang a b c d f e Siklus reproduksi karang secara umum adalah sebagai berikut: Telur & spema dilepaskan ke kolom air (a) fertilisasi menjadi zigot terjadi di permukaan air (b) zygot berkembang menjadi larva planula yang kemudian mengikuti pergerakan air . yaitu Maret. Penempelan (recruitment/settlement) . maka planula akan menempel di dasar (c) planula akan tumbuh menjadi polip (d) terjadi kalsifikasi (e) membentuk koloni karang (f) namun karang soliter tidak akan membentuk koloni Baik reproduksi secara seksual maupun secara aseksual dijalankan oleh karang tentunya untuk tujuan mempertahankan keberadaan spesiesnya di alam. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga kedua metode tersebut saling melengkapi.

lama penyinaran. 5. Pada Goniastrea favulus. • Faktor biotik meliputi predasi. maka kemampuan reproduksinya akan turun (lihat Richmond 2001) c. nutrisi. seperti Pocillopora dan Acropora butuh 2-3 tahun untuk matang seksual • Massive seperti Porites butuh 4-7 tahun 4. Karang memiliki kemampuan hidup dalam perairan miskin nutrien dan mampu beradaptasi terhadap kenaikan nutrien yang bersifat periodik. misalnya o Sedimentasi energi karang akan terkuras untuk membersihkan polip sehingga kematangan seksual terhambat o Pestisida dari pertanian menurunkan penempelan dan metamorfosis o Tumpahan minyak mengecilkan ukuran gamet o Polusi oleh minyak menghentikan proses pembentukan larva pada brooding spesies. b. seperti runoff. Karang muda Kemampuan karang muda untuk terus hidup memang sangat tergantung pada kondisi substrat.6 Larva planula akan dapat melanjutkan ke tahap penempelan pada dasar perairan bila kondisi substrat mendukung seperti: cukup kokoh tidak ditumbuhi alga Arus cukup untuk adanya makanan penetrasi cahaya cukup agar zoox bisa tumbuh sedimentasi rendah 2. dan lainnya. Perubahan kondisi lingkungan ke arah lebih buruk mengganggu proses kematangan seksual. Ion kalsium tersedia dalam perairan yang berasal dari pengikisan batuan di darat. Bentuk koloni: • Karang yang bentuk koloninya besar seperti Lobophyllia corymbosa. . • Faktor abiotik dapat berupa intensitas cahaya. kompetisi. Connel dalam percobaannya menemukan bahw a jumlah atau lama penyinaran adalah faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan karang (lihat Wood 1983). ukuran polip akan berperan dalam kematangan seksual (lebih cepat) • Karang cabang. Karang tidak dapat beradaptasi terhadap kenaikan nutrien secara mendadak dalam jumlah besar. Ion karbonat berasal dari pemecahan asam karbonat. mensyaratkan tersedianya ion kalsium dan ion karbonat. 3. agresi karang lain. Kematangan seksual Dipengaruhi oleh berbagai hal seperti a. Pertumbuhan koloni dan terumbu Pertumbuhan karang dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik. dan sedimentasi. suhu. Kojis dan Quinn menemukan jika ada luka dan perlu energi memperbaiki jaringan. Kalsifikasi Kalsifikasi adalah adalah proses yang menghasilkan kapur dan pembentukan rangka karang. Reaksi pembentukan deposit kapur. Kapur dihasilkan dalam reaksi yang terjadi dalam ektodermis karang. sebagai contoh: o Karang akan tumbuh lebih baik di substrat yang padat o karang lebih mampu bertahan hidup bila posisi substrat vertikal daripada horisontal o karang akan tumbuh lebih cepat di tempat dangkal tapi yang lebih survive di perairan yang sedikit lebih dalam.

Karang melalui reproduksi aseksualnya menghasilkan karang-karang baru yang berhubungan satu dengan lainnya.⇔ 2H+ + CO3 2- Diambil dari perairan Ca2+ + 2HCO 3 .⇔ CaCO3 + CO 2 + H2 O Jadi endapan Kalsifikasi dipengaruhi oleh fotosintesis zooxanthellae dan hasilnya. Bentuk koloni seperti ini. CO2 + H2 O ⇔ H2 CO3 ⇔ H+ + HCO3 . Bentuk-bentuk Koloni Karang a. Hasilnya menunjukkan bahw a hasil fotosintesis banyak di ujung-ujung cabang (lihat Wood 1983). Pengambilan atau pemanfaatan karbon (CO2) dalam jumlah yang sangat besar untuk keperluan kalsifikasi yang kemudian menghasilkan terumbu karang sebaran vertikal dan horisontal yang amat luas.7 Kalsium karbonat yang terbentuk kemudian membentuk endapan menjadi rangka hew an karang. Bercabang Koloni ini tumbuh ke arah vertikal maupun horisontal. Hasil fotosintesis menunjang pertumbuhan cabang Kenaikan nutrien akan menurunkan kalsifikasi karena terjadi peningkatan fosfat. 6. Karang-karang tersebut membentuk koloni. yang kemudian tumbuh menjadi bentuk yang khas. dengan arah vertikal lebih dominan. banyak terdapat di . sementara bentuk cabang dapat halus atau tebal. Sementara itu. Ragam bentuk pertumbuhan koloni tersebut meliputi: Tabulate (meja) Foliose (lembaran) Branching (bercabang) Massive (padat) Gambar 4. yaitu bisa mencapai 20 cm/tahun. Karang bercabang memiliki tingkat pertumbuhan yang paling cepat. karbondioksida akan diambil oleh zooxanthellae untuk fotosintesis. Percabangan dapat memanjang atau melebar. Akresi Akresi adalah pertumbuhan koloni dan terumbu ke arah vertikal maupun horisontal. Sebagai contoh Pearse dan Muscatine menggunakan senyaw a radioaktif untuk menelusuri hasil fotosintesis. menjadikan terumbu karang sebagai CARBON SINK.

Umumnya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu. Atol (atolls). Karang ini memiliki permukaan yang halus dan padat. melunakkan. yang kemudian diikuti oleh macroborer. 1997). Umumnya terdapat di lereng terumbu dan daerah terlindung. Jamur dengan senyaw a kimia yang dihasilkan dapat menggores permukaan karang. dengan bentuk lembaran yang pipih. seperti setengah bola. dan merusak kapur Macroborer: spon (Clionidae dan Spirastrellidae). Bioerosi Proses biologi yang bersifat merusak struktur terumbu karang umumnya disebut bioerosi. dengan ukuran yang juga beragam. Dijumpai di perairan Seperti meja bentuk bercabang dengan arah mendatar dan rata seperti meja. yang merupakan karang berbentuk melingkar seperti cincin yang muncul dari perairan yang dalam. Meski demikian. Sementara itu Choat secara sederhana mendefinisikan bioerosi sebagai penghilangan CaCO3 dari terumbu atau dari koloni karang oleh proses-proses biologi (lihat Tomascik et al. Ada beberapa macam bentuk terumbu berdasar Teori Penenggelaman (Subsidence Theory) oleh Charles Darw in (1842). bioeroder dapat dikelompokkan menjadi: Epilit (hidup di permukaan). d. bongkahan batu. Kelompok bioeroder tersebut mencakup Microborer: alga. . gastropoda (Lithophaga). b. Berdasar lokasi organisme itu berada dalam substrat kapur. serta endolit (dalam rangka). terutama yang terlindungi atau setengah terbuka. Erosi yang diakibatkan terjadi di permukaan maupun hingga ke bagian dalam rangka terumbu. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar. Terumbu karang penghalang (Barrier Reefs). b. kasmolit (dalam lubang dan celah). c. berada jauh dari pantai yang dipisahkan oleh goba (lagoon) dengan kedalaman 40 – 70 meter. Sipunkulus. bentuk yang bervariasi. 7. dan lainnya. Lembaran Pertumbuhan koloni terutama ke arah horisontal. Polychaeta (Eunicidae). dan atol. di alam banyak dijumpai karang ini dengan ukuran yang sangat besar. Masing-masing dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Terumbu karang tepi (Fringing Reef). yaitu terumbu tepi. Organisme yang melalui aktivitasnya menyebabkan rangka kapur karang-karang pembentuk terumbu mengalami erosi dan melemah disebut bioeroder. barnakel (Lithotrya). a. jamur dan bakteri Kelompok ini berperan sebagai pionir proses bioerosi. terumbu penghalang. Umumnya terumbu karang ini memanjang menyusuri pantai. c. Bakteri mampu mencerna matriks organik kapur dan menyebabkan bioerosi bagian dalam. jauh dari daratan dan melingkari gobah yang memiliki terumbu gobah atau terumbu petak. Koloni karang akan tumbuh terus tumbuh membentuk terumbu. yaitu terumbu karang yang terdapat di sepanjang pantai dan dalamnya tidak lebih dari 40 meter. Padat Pertumbuhan koloni lebih dominan ke arah horisontal daripada vertikal. Dengan pertumbuhan < 1 cm/tahun.8 sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng. Terumbu ini tumbuh ke permukaan dan ke arah laut terbuka. koloni tergolong paling lambat tumbuh.

Genus ini juga umum di Indonesia (Tomascik et al. Hew an ini membor dengan kedalaman 1-10 cm. Contoh di Atlantik Barat. ENSO dan bioerosi oleh echinoid. Favites. mikrohabitat ikan juga hilang. Akibat lanjutan yang terjadi. Clionidae. Bioerosi dilakukan oleh echinoid sehingga karang patah-patah. Cliona carribaea dapat sangat melimpah sehingga membentuk area coklat beberapa meter panjangnya yang mematikan karang. Genus Aka adalah pembor yang umum. Cliona dan Cliothosa sementara Spirastrellidae dengan genus Spirestrella dan Diplastrea. di Indonesia dikenal dua genus. Aka bahkan membentuk banyak “cerobong” hingga di atas permukaan Porites lobata (Tomascik et al. 2001). bulu babi (Diadema).000 individu/m2 (lihat Glynn 2001). karang mengalami bioerosi dan sebagai akibat disebutkan kanopi dari Acropora menjadi rusak yaitu struktur 3 dimensinya hilang. Dampak bioerosi Sedang dampak erosi atau perubahan yang diakibatkan tidak terlalu mempengaruhi keseluruhan rangka Besar erosi ini menyebabkan kematian karang dalam luasan yang besar. Di Pasifik Timur (Kepulauan Galapagos) tahun 19821983 terjadi bencana El Nino yang mengakibatkan kematian karang dan penempelan karang baru juga rendah. Contoh di Sulaw esi Utara. Ketam kelapa (hermit crab).9 Spon Clionid adalah pembor yang paling umum sekaligus endolit paling merusak terumbu karang di dunia (Glynn 2001). Perubahan dicontohkan disebabkan oleh beberapa aspek. Panama < ENSO Produksi CaCO3 Populasi echinoid ENSO 19821983 Setelah ENSO Kematian karang Populasi echinoid Erosi CaCO3 Diadema 3 individu/m2 10 kg/m2/tahun Eucidaris 5 individu/m2 Galapagos 50-99 % & recruitment sangat rendah 80 ind. Ia membor karang hidup maupun mati dengan menghasilkan asam untuk melunakkan kapur dan menetap di dalam karang. Di Pasifik Barat setelah kematian terumbu akibat pemangsaan Acanthaster planci. dan Goniastrea. Grazer: Scaridae (ikan kakatua). 2001). Contoh perubahan kondisi lingkungan yang mengarah pada bioerosi terumbu karang dan perubahan struktur terumbu karang./m2 50-100 gr berat kering/m2/hari 20-40 kg/m2/tahun . Lithopaga membuat lubang dan terow ongan pada beberapa karang massive seperti Porites. Favia. menjadi potongan-potongan kecil (rubble) lalu sedimen. yang menghasilkan senyaw a siphonodictine yang menghambat pertumbuhan polip karang. Scoot menemukan di Pasifik Timur kepadatannya antara 500-10./m2 10-30 gr berat kering/m2/hari 10-20 kg/m2/tahun 30 ind. Chiton. limpet (Acmaea).

termasuk di dalamnya terumbu karang. misalnya turf alga 2. perebutan substrat antara karang dengan alga. Kompetitor karang (Kompetisi) 1. sebaliknya populasi Echinometra mathaei meningkat. Fenomena tersebut akhirnya memberi dampak turunan ke lingkungan. Terjadi penangkapan ikan berlebih populasi Echinometra mathaei (bioeroder substrat )↑↑ BIOEROSI ↑ ↑ Produksi perikanan ↓↓ Substrat didominasi oleh turf alga Tutupan karang hidup ↓↓ Alga berkapur ↓ Keragaman substrat dan topografi ↓ 8. serangan hew an ini menyebabkan 90% terumbu karang sepanjang 38 km rusak dalam w aktu 2. Interaksi dengan organisme lain Pemakan karang (Predasi) 1. Ikan-ikan famili Chaetodontidae (kepe-kepe). Tetraodontidae (puffer= ikan buntal) 2. misalnya salah satu spesies dari genus Galaxea termasuk yang paling agresif ORGANISME DI TERUMBU KARANG TUMBUHAN Alga Lamun . Jepang membaw a dampak kematian karang dan bioerosi karang dan struktur terumbu. diambil dan dijual sebagai hiasan serta runoff yang menyebabkan peningkatan nutrisi. antar koloni karang. Sam udra Hindia Kondisi umum: Populasi Echinometra mathaei dijaga oleh adanya predator. Penangkapan berlebih terhadap finfish menyebabkan populasi ikan predator berkurang. terumbu seluas 8 km2 rusak hanya dalam 12 bulan. Beberapa kasus yang pernah terjadi: Di Guam.10 Ledakan Populasi Achantaster planci di Kepulauan Iriomote. Acanthaster planci yang jumlah normal adalah 2-3 individu dalam beberapa ratus meter terumbu. kelompok ikan finfish. 1981-1982 Ledakan populasi Akhir 1982 Membunuh karang di area studi dengan kisaran sangat luas 1984 1986 Akibat erosi dan arus Erosi berlanjut hingga kanopi (bagian semua karang sudah atas) Acropora hancur patah-patah dan berubah menjadi rataan potongan karang. Penangkapan ikan berlebih terjadi di Karibia dan lepas pantai Kenyan. Balistidae (triggerfish).5 tahun Di Great Barrier Reef. Charonia tritonis. Ledakan hew an ini terjadi karena predatornya.

Ikan memakan parasit yang menempel pada punggung penyu. dapat berasal dari kelompok: Invertebrata 1. 2.11 HEWAN. sementara gorgonian tidak mendapat sesuatu. Cnidaria lain 4. reptil 3. atau istirahat. Anggota kelompok memiliki bentuk. mamalia ASOSIASI Organisme yang tinggal atau memiliki aktivitas di terumbu karang. bertelur. bahkan dalam satu spesies. Parasit simbiosis dengan satu pihak mendapat untung. sementara pihak lain mendapat kerugian. Asosiasi organisme berbeda spesies Simbiosis adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda jenis. Krustasea 7. contoh: Ikan dokter (Labridae) dan penyu. Platyhelminthes & Annelida 5. Komensalisme simbiosis bila salah satu mendapat keuntungan sementara yang lain tidak untung juga tidak rugi. Ketiga kelompok hew an disebut sebelumnya mendapat tempat tinggal dan perlindungan dari musuh. Interaksi yang m em beri pengaruh langsung dan tidak langsung pada terum bu karang Fenomena meledaknya populasi Echinometra mathaei Kondisi normal: Distribusi di Indopasifik (Afrika timur-Laut Merah-Haw ai) . cacing yang tinggal pada gorgonian dan crinoid. moluska. Schoaling adalah sekelompok ikan dalam satu spesies yang secara bersama-sama mencari makan. Mutualisme simbiosis dengan kedua simbion mendapat keuntungan. juga tidak kehilangan Kuda laut dengan lamun 3. sebagai contoh Hew an pembor karang dengan karang sebagai inang Copepoda (krustasea) parasit pada ikan gobi (Pleurosicya boldninghi) Interaksi dalam satu spesies Schoaling dan schooling pada ikan. memilliki interaksi baik antara spesies satu dengan spesies lain. Ikan 2. Moluska 6. migrasi. Protozoa 2. Porifera 3. Echinodermata Vertebrata 1. contoh Krustasea. Sementara schooling anggota memiliki status sosial yang sama dan bergerak dalam satu koordinasi. Hubungan itu dapat dalam kategori 1. Shrimp goby (Amblyeleotris gymnocephala) dengan udang (Alpheus sp) yang obligat mutualisme. ukuran atau status sosial yang tidak mesti sama juga tidak punya pola pergerakan yang sama.

12 Habitat lubang atau celah-celah dasaran reef crest di perairan dangkal sehingga memiliki perilaku bersembunyi dan cenderung menghindari kompetitor Pakannya adalah alga encrusting dan yang menempel di sekitar lubang mereka Ledakan populasi di Kenya: Populasi E. Croix: Biomassa alga meningkat 27% 5 hari setelah kematian bulu babi. mathei meningkat 2-3 kalil lipat normal menjadi 13 individu/m2 Penyebabnya adalah Populasi predator hew an ini (ikan Balistidae & Wrasse) menurun. Kematian masal Terjadi di tahun 1983-1984 di Pasifik Barat dimulai dari Panama di aw al Januari 1983 kemudian terjadi kematian masal kematian menyebar ke Karibia. namun dalam kondisi tidak ada makanan. dan Cassis tuberosa. Di siang hari hew an ini bersembunyi di lubang-lubang atau celah-celah karang. terutama bagi penyelam pemula atau orangorang yang beraktivitas di sekitar pantai. Kehadirannya dianggap tidak ada kegunaan. Biomassa alga Di St. Akibat langsung kenaikan populasi tersebut: Biomassa alga naik sementara tutupan turf alga (komunitas beberapa spesies alga berbentuk filamen berukuran ≤10mm) meningkat TUTUPAN TERUMBU KARANG MENURUN Bioerosi meningkat Keragaman jenis benti menurun Akibat lanjutan: Tutupan spon meningkat Populasi ikan herbivor menurun Hew an ini jadi mampu berkompetisi dengan herbivor lain Mulai menghuni area terumbu karang yang terbuka Perilaku yang cenderung menghindari kompetitor berkurang Memakan alga tidak lagi hanya di sekitar lubang tetapi dengan cakupan yang meluas di area terumbu karang PENTINGNYA MEMAHAMI PERAN SATU SPESIES DALAM SUATU EKOSISTEM Mengambil contoh bulu babi Diadema antillarum. namun diduga karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Herbivor pemakan turf alga. sementara aktif mencari makan di malam hari 3. kemudian meningkat pesat menjadi 400-500% dari kondisi aw al Di Jamaica: Biomassa alga naik 31-50% dalam dua minggu. Komposisi alga . Bahama. Dampak kematian bulu babi terhadap ekosistem: 1. Ciri: 1. kemudian Labridae. Sayangnya tidak dijelaskan lebih lanjut penyebab penurunan populasi predator. memangsa karang 2. Predator hew an ini misalnya Balistidae vetula (ikan famili Balistidae) sebagai predator utama di kepulauan Virginia. Bermuda dengan tingkat kematian 93-100% Penyebab: tidak diketahui dengan jelas. dan setelah setahun menjadi lebih dari 65% 2. Secara umum orang akan beranggapan kehadiran hew an ini hanya mengganggu. Teluk Meksiko.

Hilangnya induk menyebabkan jumlah larva juga sangat kurang. ternyata kompetitornya yang sesama pemakan turf alge. populasi alga semakin meningkat. Meski bulu babi ini menghilang dari lokasi. . tutupan karang. kehadirannya juga menurun DARI TERUMBU KARANG menjadi TERUMBU YANG DIDOMINASI OLEH ALGA Di tahun 1995 dilakukan survei yang menemukan : Dijumpai Diadema antillarum tapi sangat sedikit (pemulihan membutuhkan w aktu > 10 tahun). dan gorgonian menurun drastis 4. KESETIMBANGAN POPULASI Diadema antillarum AKAN MENJAGA KESETIMBANGAN POPULASI ALGA DAN KARANG AKIBAT KEMATIAN MASSAL Diadema antillarum TERHADAP TERUMBU KARANG: Tutupan karang menurun drastis Invertebrata yang biasanya menetap. Peningkatan populasi kompetitor Diadema baru berarti setelah beberapa tahun dari kematian massal (tahun 1990-an) PERAN Diadema antillarum bagi terumbu karang Jika populasi jenis ini meningkat dapat berakibat kematian larva atau karang muda Jika populasi turun (absence grazing) karang akan ditumbuhi oleh alga yang berakibat kematian karang dew asa dan tidak adanya tempat bagi larva karang Maka kehadiran populasi jenis ini penting bagi terumbu karang sebagai penyeimbang. Sebaliknya justru. tidak menunjukkan penambahan populasi yang berarti. Meski mulai ada pemulihan Diadema. Tutupan alga crustose.13 Sebelum kematian : didominasi oleh turf algae dan crustose algae Setelah kematian: didominasi oleh makro alga seperti Sargassum dan Turbinaria turbinata 3. namun belum dapat diketahui apakah akan mengembalikan terumbu karang yang hilang.

Hutomo. Chapman & Hall. Chapman & Hall. Reefs of the World.M. Biology and Field Guide. bioerosion and coral-Reef Grow th: A Dinamic Balance. D. dari. D’Elia.N. A. T. (ed. Mojetta. C. & C. T. 1997.) 2001. 1992. LTD. Invertebrate Predators and Grazers. Moosa. Part One. Hongkong: . Glynn. (ed. C.. Les Edition Du Pacifique. oleh Eidman. Robin.A. Dalam: Birkeland. & S.F. 2001.C. dan C. Inc. Mah. Publications.J. (?): xiv + 642 hlm. Egypt: 168 hlm. A. Publications. Tomascik. New York: 198-229. Koesoebiono. E. 1981. J. (ed. B. Rives.. Bengen. T. C. (?): 144 hlm. 2002. 1983. dari Marine Biology: An Ecological Approach. R.. Dalam: Birkeland. Periplus Edition. & M. Reproduction and Recruitment in Corals: Critical Links in the Persistence of Reefs. Dalam: Birkeland. The Barrier Reefs. New York: 68-95. Life and Death of Coral Reefs. 1992. Richmond. Terj.H. 2001. Chapman & Hall. Interaction Betw een Corals and Their Symbiotic Algae. 1995. Dalam: Birkeland. 2001. A Guide to The World of Corals. New York: 175-197. Sukardjo.H.T. New Jersey: 224 hlm. & L. Nontji. (ed.14 Sum ber: Carpenter.) 2001. C. M. G. Gaddis & Sons. Wood. Tackett.G.W. A.H. Jakarta: xv+459 hlm.. W. M. D. Reef Life: Natural History and Behaviors of Marine Fishes and Invertebrates. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis.) 2001.K. PT Gramedia Pustaka Utama.. R. Life and Death of Coral Reefs. Nybakken. Living Corals. 2001. The Ecology of the Indonesian Seas. New York: 96-113. A. C.) 2001. Petron.F. Chapman & Hall. Tackett. Life and Death of Coral Reefs. Life and Death of Coral Reefs. Muller-Parker. P. Inc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful