P. 1
ringkasan Rudie

ringkasan Rudie

|Views: 894|Likes:
Published by rudieansyah
ini ringkasan yang aku buat tentang kaidah islam
ini ringkasan yang aku buat tentang kaidah islam

More info:

Published by: rudieansyah on Aug 20, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Akhlaq dan keutamaan merupakan bagian penting dari eksistensi masyarakat Islam.
Mereka adalah masyarakat yang mengenal persamaan keadilan, kebajikan dan kasih sayang,
kejujuran dan kepercayaan, sabar dan kesetiaan, rasa malu dan kesetiaan, 'izzah dan
ketawadhu'an, kedermawanan dan keberanian, perjuangan dan pengorbanan, kebersihan dan
keindahan, kesederhanaan dan keseimbangan, pemaaf dan penyantun, serta saling menasihati
dan bekerjasama (ta'awun). Mereka beramar ma'ruf dan nahi munkar, melakukan segala
bentuk kebaikan dan kemuliaan, keutamaan akhlaq, semua dengan niat ikhlas karena Allah,
bertaubat dan bertawakal kepada-Nya, takut menghadapi ancaman-Nya dan mengharap
rahmat-Nya. Memuliakan syiar-syiarNya, senang untuk memperoleh ridhaNya, menghindari
murka-Nya, dan lain-lain dari nilai-nilai Rabbaniyah yang telah banyak dilupakan oleh
manusia.

Ketika kita berbicara tentang akhlaq, maka bukanlah akhlaq itu hanya menyangkut
hubungan antara manusia dengan manusia saja, akan tetapi ia mencakup hubungan manusia
dengan penciptannya juga. Masyarakat Islam sejak dari hal-hal yang kecil telah
mengharamkan segala bentuk kerusakan dan moralitas yang buruk. Bahkan dalam beberapa

32

masalah bersikap keras, sehingga memasukkannya dalam kategori dosa-dosa besar. Seperti
misalnya pengharaman arak dan judi, keduanya dianggap sebagai perbuatan kotor dari
perbuatan-perbuatan syetan. Kemudian pengharaman zina dan setiap perbuatan yang
mendekatkan atau membantu terlaksananya perzinaan. Seperti kelainan seksual yang itu
merupakan tanda rusaknya fitrah dan hilangnya kejantanan. Masyarakat Islam juga
mengharamkan praktek riba dan memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil,
terutama jika orang itu lemah, seperti anak-anak yatim. Juga mengharamkan sikap durhaka
kepada kedua orang tua, memutus hubungan kerabat, mengganggu tetangga, menyakiti orang
lain baik dengan lesan atau tangan, dan menjadikan di antara tanda-tanda kemunafikan
seperti: dusta, berkhianat, tidak menepati janji, serta penyelewengan yang lain.

Terhadap setiap kerusakan yang menyimpang dari fithrah yang sehat dan akal yang
cerdas, maka Islam datang untuk mengingkarinya dan terus menerus mengingkarinya.
Demikian juga akhlaq mulia yang sesuai dengan fithrah yang sehat dan akal yang waras akan
memberi kebahagiaan bagi individu maupun masyarakat maka Islam telah membenarkan dan
memerintahkan serta menganjurkannya.

Bagi siapa saja yang membaca Kitab Allah dan hadits-hadits Rasul SAW akan melihat
bahwa sesungguhnya akhlaq dan keutamaan itu merupakan salah satu pilar utama bagi
masyarakat Islam dan bukan sesuatu yang berada di pinggir atau masalah sampingan dalam
hidup. Al Qur'an menyebut akhlaq termasuk sifat-sifat utama dan orang-orang yang beriman
dan bertaqwa, di mana tiada yang masuk syurga selain mereka, tiada yang bisa selamat dari
api neraka selain mereka dan tiada yang dapat meraih kebahagiaan dunia akhirat selain dari
mereka. Akhlaq merupakan bagian dari cabang-cabang keimanan, di mana tak sempurna
keimanan seseorang kecuali dengan menghiasi keimanan tersebut dengannya. Barangsiapa
yang berpaling dari akhlaq Islam maka ia telah menjauhi sifat-sifat orang yang beriman dan
berhadapan dengan murka Allah serta laknatNya.

Berikut ini kami kemukakan sebagian ayat-ayat Al Qur'an mengenai akhlaq Islamiyah
sebagai gambaran/contoh sesuai dengan urutan mushaf ( Al-Quran ):

"Bukankah menghadaphan wajahmu ke arah timur dan Barat itu satu
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatirn,

33

orang-orang miskin, rnusafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-
orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
betaqwa." (Al Baqarah: 177)

Ayat yang mulia ini mengumpulkan antara aqidah, yaitu beriman kepada Allah, hari
akhir, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dengan ibadah, seperti shalat dan zakat dan dengan
akhlaq, yaitu memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim dan
seterusnya, sampai menepati janji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Kemudian menjadikan keterkaitan yang rapi tersebut sebagai hakikat kebajikan
dan hakikat beragama serta hakikat ketaqwaan, sebagaimana hal itu dikehendaki oleh Allah.

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran
(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-
orangyang menunaikan apa-apa yang Allah perintahkan supaya ditunaikan, dan mereka
takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar
karena mencari keridhann Tuhan-nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki
yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak
kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang
baik)." (Ar-Ra'du: 19-22)

Gambaran akhlaq dalam ayat ini memiliki keistimewaan, yakni dengan
mengumpulkan antara akhlaq Rabbaniyah seperti takut kepada Allah dan takut akan
buruknya hisab dengan akhlaq lnsaniyah seperti menepati janji, sabar, silatur rahim, berinfaq
dan menolak kejahatan dengan kebaikan. Sesungguhnya orang merenungkan ayat tersebut
akan medapatkan bahwa pada dasarnya akhlaq itu seluruhnya bersifat Rabbaniyah. Karena
pada hakekatnya kesetiaan itu adalah setia terhadap janji Allah, dan shilah adalah
melaksanakan perintah Allah, sabar semata-mata untuk memperoleh ridha Allah, berinfaq
juga mengeluarkan rezeki Allah, maka seluruhnya menjadi akhlaq Rabbaniyah yang sampai
kepada Allah. Apalagi disertai dengan mendirikan shalat karena shalat itu seluruhnya

34

termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan menerima sesuatu yang ada di sisi

Allah.

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (Yaitu) orang-
orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhi diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang
yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannnya,
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;
maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa
mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang
melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat
(yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara
shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (yakni) yang
akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Al Mu'minun:
1-11)

Dalam ayat ini kita dapatkan bahwa khusyu' di dalam shalat, menunaikan zakat dan
memelihara shalat itu termasuk dalam lingkup ibadah, selain juga berpaling dari hal-hal yang
tidak berguna, memelihara kemaluan dari yang haram dan menjaga amanat-amanat dan janji.
Allah swt berfirman :

"Dan hamba-hamba (Allah) Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang
yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang
jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan
orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk
Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkan
adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah
kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk
tempat menetap dan tempat kediaman." Dan orang-orang yang apabila
membelanjakan (harta) mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir,
dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain selain Allah dan
tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali
dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang

35

melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
yakni akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia
akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang
yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan
mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan
mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada
Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak
memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan
(orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna , mereka
lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang
apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka
tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan
orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah dari isteri-
isteri kami dan dari keturunan kami sebagai peryenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. "Mereka itulah
orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga)
karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan
dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal selama-lamarya. Surga
itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman." (Al Furqan: 63-
76)

"Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan
yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya
kepada Rabbnnya mereka, mereka bertawakal. Dan (bagi) orang yang menjauhi dosa-dosa
besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan
(bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya dan mendirikan shalat,
sedang urusan mereka (diputuskan) dengan rnusyawarah antara mereka; dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-
orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri. Dan balasan
suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memafkan dan berbuat
baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-
orang yang zhalim." (Asy Syura: 36-40)

36

Ada dua hal dalam ayat ini yang sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat Islam,
yaitu:

Pertama: menetapkan prinsip syura sebagai unsur terpenting bagi terbentuknya kepribadian
masyarakat Islam. Untuk itu syura diletakkan di antara mendirikan shalat dan
mengeluarkan zakat yang di dalam ayat ini diungkapkan dengan berinfaq terhadap
sebagian dari rizki yang dikaruniakan oleh Allah. Dan tidak samar bagi seseorang
kedudukan shalat dan zakat dalam agama Islam, maka sesuatu yang diletakkan di
antara keduanya bukanlah masalah sekunder atau remeh dalam agama Allah.

Kedua : terus berjuang ketika mereka ditimpa oleh suatu kejahatan. Maka bukanlah sikap
seorang Muslim menyerah pada suatu kezhaliman atau tunduk kepada kezhaliman
dan permusuhan. Tetapi membalas kejahatan itu dengan kejahatan yang serupa
agar ia (kejahatan tersebut) tidak berlanjut dan tidak berani lagi berbuat macam-
macam. Adapun kalau kita mau memberi maaf, maka pahalanya ada pada Allah.

Dari ayat-ayat pilihan yang telah kami kemukakan tersebut, nampak jelas bagi kita
akan kedudukan akhlaq Islam dan posisinya dalam pembentukan masyarakat Islam. Yang
disebutkan ini baru sebagian kecil dan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur'an Al Karim
yang membahas tentang akhlaq dan keutamaan. Karena Al Qur'an, baik yang diturunkan di
Mekkah ataupun di Madinah penuh dengan ayat-ayat yang mengemukakan kepada kita
berbagai contoh akhlaq yang mulia. Yang menggabung antara idealita dan realita, antara
spintual dan material atau antara agama dengan dunia, dengan seimbang dan serasi, yang
belum pernah dikenal dalam aturan yang mana pun (selain Islam).

Para pembaca Al Qur'an bisa merujuk pada surat Al An'am sehingga bisa membaca sepuluh
wasiat pada ayat-ayat yang akhir sebagai berikut:

"Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh
Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan
memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu
mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di
antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh

37

jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnnya) melainkan dengan sesuatu
(sebab) yang benar." Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu
kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati
harta anak yaatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga
sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan
adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar
kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu
berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan
bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanku yang lurus, maka
ikutilah dia; dan janganlah kau mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (Al An'am: 151-153)

Atau merujuk pada surat Luqman dan membaca tentang wasiat Luqman kepada anaknya,
atau merujuk pada surat "Ad Dahr" dan membaca sifat-sifat orang-orang baik:

"Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-
mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim
dan orang-orang yang ditawan." (Al Insan (Ad-Dahr): 7-8)

Atau kembali pada surat Al Baqarah dan membaca pada bagian akhir dari surat ini
ayat-ayat Allah mengenai diharamkannya riba dan nadzar seseorang untuk makan riba dan
bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mereka jika mereka tidak mau bertaubat dan
berhenti untuk cukup dengan modal harta mereka. Atau kembali pada surat An-Nisa' tentang
bagaimana memberi wasiatwasiat yang baik kepada kaum wanita:

"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan
paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka." (An-Nisa': l9)

Atau membaca surat yang sama yaitu tentang hak-hak kerabat keluarga:

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan
berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-

38

orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan
hamba sahaya." (An-Nisa': 36)

Atau membaca surat Al Maidah:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr,
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah,
adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Al
Maidah: 90)

Kata "Ijtinaab" sebagaimana terdapat pada ayat tersebut tidak dipergunakan oleh Al Qur'an
kecuali bersamanya kesyirikan dan dosa-dosa besar.

Sehingga pembicaraan akan panjang jika kita teliti pembahasan masalah akhlaq dalam
ayat-ayat Al Qur'an yang mulia, karena sebagian besar perintah-perintah Al Qur'an dan
larangan-larangannya berkaitan erat dengan sisi terpenting dari kehidupan manusia, itulah sisi
moral.

Barangkali ada sebagian manusia yang berbeda dengan kita dalam hal memberi nama
masalah tersebut dengan "Akhlaq," tetapi ia memberi nama dengan istilah "Awaamirdan
Nawaahi." Ini hanya perbedaan dalam istilah saja, yaitu dalam penamaan, bukan dalam
esensinya, baik secara penetapan atau pengingkaran. Para ulama salaf mengatakan: "Tidak
ada masalah dalam istilah, dan tidak berbahaya perselisihan nama selama yang diberi nama
itu telah jelas."

3.3.PERMASALAHAN ADAB DALAM PERGAULAN MODERN

Dalam kehidupan sehari-hari banyak permasalahan yang dihadapi oleh umat islam di
dunia, salah satu yang rancu di antaranya menyangkut masalah adab dalam pergaulan hidup
sehari-hari. Di zaman modern seperti sekarang ini pergaulan bebas bukan lagi merupakan hal
yang tabuh, banyak manusia di zaman sekarang yang menghalalkan segala macam bentuk
pergaulan, dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral maupun spiritual sebagai jalan hidup
mereka. Pergaulan antara kaum Adam dengan kamu Hawa sekarang ini se-akan seperti tidak
memiliki aturan, metode pergaulan yang ditawarkan oleh kaum Nasrani dan yahudi yang
menjerumuskan banyak umat Islam khususnya generasi muda-mudi malah diambil oleh

39

kebanyakan kamu muda Islam. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang ikut terjebak dalam
pergaulan ala orang-orang barat, yang menghalalkan wanita dan pria berkumpul bersama
dalam satu kamar tanpa ada ikatan muhrim. Tidak sedikit juga muda-mudi dari umat islam
yang terjerumus dalam Zina, padahal zina jelas-jelas merupakan dosa yang teramat besar.
Dalam Al-Quran Allah swt berfirman :

janganlah kamu mendekati zina baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi
karena zina termasuk dosa yang besar”

Dan Nabiyullah SAW telah bersabda tentang masalah zina : “Ada dua golongan dari
penghuni neraka yang Aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang menyandang
pecut seperti ekor sapi (yang) dipakai untuk memukuli orang-orang dan wanita-wanita
berpakaian mini, telanjang. Mereka melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta
yang miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang
sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)

Ada banyak bermacam-macam jenis Zina, baik zina kecil misalnya mencium, meraba
dan memandang. Maupun zina besar seperti bersetubuh. Allah swt berfirman :

“ dan barang siapa yang melakukan perbuatan itu (zina) akan memdapatkan dosa” ( Al
Furqon: 68).

Allah swt akan memasukan orang-orang yang berbuat zina di jurang neraka jahannam, badan
dan mulut mereka sangat bau sehingga jika mulut mereka di buka maka semua penghuni
neraka akan berteriak karena bau busuk yang di keluarkannya. Para sahabat mengatakan
:”Takutlah perbuatan zina sebab disana ada 6 hal yang akan di dapatkan oleh seorang
penzina, 3 diantaranya dunia dan 3 di akhirat. Tiga balasan dunia ialaah : 1. Kurang rezeki,
2. Putusnya akal, 3. Muram wajah. Dan tiga balasan di akhirat : 1. Murka Allah swt,
2.masuk neraka jahannam, 3. Dan siksaan yang teramat dasyat”

Dalam satu riwayat Nabi musa as pernah berkata : “Ya Allah, apa balasan bagi para
penzina?” Allah swt menjawab “ Aku akan memberikan dia Rompi dari api, yang bila rompi
itu di letakan di gunug yang tinggi, maka gunung itu pasti akan meletus dan menjadi abu”.

Juga dalam riwayat lain Iblis mengatakan “sesungguhnya 1 wanita bejat lebih
aku sukai dari pada 1000 lelaki bejat, karena 1 wanita bejat bisa

40

menghancurkan jutaan iman para lelaki”. Al Qadli Al Imam, rh. Berkata :
aku pernah mendengar seorang masyatikh berkata, setiap wanita yang
masih kecil itu ada 1 syetan, dan setiap wanita remaja itu terdapat 18
syetan, barang siapa yang mencium wanita dewasa yang belum
dihalalkan untuknya Allah akan menyiksanya selama 500 tahun, jika
mencium wanita dengan syawat maka seolah-oleh dia telah berzina
dengan 70 perawan, dan barang siapa berzina dengan perawan maka
ibaratnya dia telah berzina dengan 70.000 janda.

Tidak mengherankan kalau seluruh agama Samawi mengharamkan dan memberantas
perzinaan. Terakhir ialah Islam yang dengan keras melarang perzinaan serta memberikan
ultimatum yang sangat tajam. Karena perzinaan itu dapat mengaburkan masalah keturunan,
merusak keturunan, menghancurkan rumahtangga, meretakkan perhubungan, meluasnya
penyakit kelamin, kejahatan nafsu dan merosotnya akhlak. Oleh karena itu tepatlah apa yang
dikatakan Allah:

"Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesungguhnya dia itu perbuatan yang
kotor dan cara yang sangat tidak baik." (al-Isra': 32)

Islam, sebagaimana kita maklumi, apabila mengharamkan sesuatu, maka ditutupnyalah
jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa
saja serta seluruh pendahuluannya yang mungkin dapat membawa kepada perbuatan haram
itu. Justru itu pula, maka apa saja yang dapat membangkitkan seks dan membuka pintu fitnah
baik oleh laki-laki atau perempuan, serta mendorong orang untuk berbuat yang keji atau
paling tidak mendekatkan perbuatan yang keji itu, atau yang memberikan jalan-jalan untuk
berbuat yang keji, maka Islam melarangnya demi untuk menutup jalan berbuat haram dan
menjaga daripada perbuatan yang merusak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->