Oktober 2008

Pengantar

Nomor: 10 - Oktober 2008

Sejumlah tulisan yang ditampilkan pada Jurnal Pendidikan Dasar edisi Oktober 2008 ini, berupa hasil penelitian lapangan maupun kepustakaan yang difokuskan kepada konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tulian dan hasil pikiran yang kesemuanya menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dasar, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dalam pelaksanaan teaching learning, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. Lely Halimah, menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 Laboratorium UPI Kampus Cibiru dalam kesimpulannya antara lain menyebutkan bahwa perkembangan kosa kata mempunyai epranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa sekolah dasar. Nina Sundari, menampilkan tulisan hasil penelitian berjudul Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tini Rustini, menampilkan hasil penelitian berjudul Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berfikir Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tatat Hartati, hasil penelitiannya berjudul Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi, menyimpulkan bahwa kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang dengan penelitian-penelitian yang berkualitas secara bersama-sama. Rustono, dkk, menuliskan hasil penelitian berjudul Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar. Dadan Djuanda, menuliskan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, mendeskripsikan bagaimana pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Nurdina Hanafiah menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pengembangan Decision Making Model dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, menyimpulkan bahwa model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternative pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Maulana, menuliskan hasil penelitian berjudul Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa PGSD, menyimpulkan bahwa proses ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena decision making process model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan berfikir kritis siswa. Beberapa tulisan yang tampil untuk memperkaya jurnal edisi kali ini adalah; Dindin Abdul Muiz Lidinillah, Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar, Supriadi, Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika, dan Yahya Sudarya, Project Based Learning dalam pembelajaran Evaluasi Belajar mahasiswa PGSD. Oktober 2008 REDAKSI

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Jurnal Pendidikan Dasar
Daftar Isi

Nomor: 10 - Oktober 2008
Halaman (2) (3 - 9)

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Lely Halimah Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Nina Sundari Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar Rustono W.S. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno

(10 - 13)

(14 - 17)

(18 - 20) (21 - 27)

(28 - 32)

(33 - 38)

(39 - 45)

(46 - 51) (52 - 57) (58 - 61)

(62 - 64)

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
Lely Halimah Abstract Based on the preliminary study, it is shown that the teaching and learning process of Bahasa Indonesia in the 4th grade of SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru is not yet conducive to develop the Indonesian language skill of the students. One of the sources of the problem is that the teaching and learning process of bahasa Indonesia applied by the teacher refers to only one source for one semester, which is the text book. Consequently, the students seems unenthusiastic in attending to the teaching and learning process, and don’t have a chance to actively participate and to communicatively use Indonesian language, so that the language skills of the students are not well developed. In such condition, some efforts are required to improve the quality of the teaching and learning process, in order to increase the quality of the result. To overcome this condition, a classroom activity/treatment research is conducted --a kind of reflexive research performed by giving certain treatments to improve or and to increase the class activities in a more professional way. In general, the objectives of this research is to increase/enhance the quality of the process and the result of teaching Bahasa Indonesia by way of developing creativity of the teachers’ in exploiting the students’ surroundings as learning sources. To achieve the objectives of the research, the procedures are generally referred to the classroom research activity, as in Lewin’s Model (Elliot, 1991), and in particular develop the procedure of PTK adaptation of Hopkins, 1993), which includes planning, performing, observation, and reflection. In accordance with the procedures, this research is developed into three cycles, of which each cycle develops different themes. For instance, cycle 1 develops the theme of Newspaper, which is then developed/extended into three actions. Cycle 2 develops the theme of Houseplants, which is then developed/extended into three actions. Cycle 3 develops the theme of School Library, which is then developed/ extended into two actions. The focus of each action of utilizing the environment as learning source is giving the students a chance to actively participate by using the language in a communicative way. The conclusions of the research are as follows: (1) the utilization of the environment as an effective learning source, by giving the students a chance to interact/get involved with various learning sources, the people, the materials, the equipments, the techniques, as well as the environment itself, (2) the conducive activities of the students, by giving the students the assignments that encourage them to use the language in a communicative way, such as interviewing, descriptive writing on their object of observation, and (3) the impact of utilizing the environment as learning source, which is shown by the gradual improvement of the students’ language skills, which include listening, speaking, reading, and writing. As shown by the statistic, out of 16 respondents of this research, in cycle 1 action 1, there are only 6 students (37,5%) with good listening skill. But in cycle 3 action 2, there are 12 students (75%). And in cycle 1 action 1, there are only 4 students (25%) with good speaking skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Similarly, in cycle 1 action 1, there are only 9 students (56,25%) with good reading skill. But in cycle 3 action 2, there are 11 students (68,75%). And finally, in cycle 1 action 1, there are only 5 students (31,25%) with good writing skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Suggestion for future researchers is that the utilization of the environment as an effective learning source for the development of the students’ language skills requires good and constructive planning in preparing and providing the materials, media, methods, and other sources existing in the surroundings, as well as the evaluation. Keywords: learning source and language competence PENDAHULUAN endidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan

P

bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

(4) memberikan pengalaman yang bermakna dalam melakukan berbagai aktivitas berkomunikasi baik lisan “JURNAL. Dari berbagai hasil temuan masih banyak diungkapkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia serta hasilnya belum sebagaimana yang diharapkan. yaitu melalui penerapan metode penelitian tindakan kelas dalam pemberdayaan lingkungan di sekitar peserta didik sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. maka peneliti melakukan studi pendahuluan yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru SD laboratorium UPI Kampus Cibiru. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh gambaran pada umumnya pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru tersebut belum kondusif terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik. Bagaimana cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. 1. Mengidentifikasi cara-cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik. sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? 2. 2. Penyebabnya pada umumnya mengungkapkan bahwa kegagalan itu bersumber pada guru dan metodologi pembelajaran serta sumber daya pendidikan yang kurang menunjang. Setelah diadakan refleksi secara kolaboratif dengan guru-guru tersebut ditemukan berbagai faktor penyebabnya. Mengidentifikasi dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia terhadap peningkatan kompetensi berbahasa peserta didik. TUJUAN DAN MANfAAT Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia di SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan penelitian ini. maka peneliti bersama kepala sekolah dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru merasa perlu adanya upaya-upaya perbaikan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya agar kompetensi berbahasa peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal. Seiring dengan adanya berbagai temuan di atas. peserta didik belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan hanya mengandalkan dari satu sumber yaitu buku paket. Mengidentifikasi aktivitas belajar berbahasa Indonesia yang kondusif dalam menumbuhkembangkan kompetensi berbahasa peserta didik selama proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar. Rofi’uddin dan Zuhdi (1999: 37) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan lulusan sekolah dasar dalam hal baca-tulis terus dikumandangkan. Lebih parah lagi Ismail (Jalal dan Supriadi. dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama pembelajaran bahasa Indonesia? 3. 2001: xxxi) mengemukakan hasil observasinya di beberapa negara bahwa anak-anak Indonesia “rabun membaca dan lumpuh menulis. (2) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dengan berbagai nara sumber. maka melalui penelitian ini.Oktober 2008 . melalui pengembangan kreativitas guru dalam pemberdayaan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar kehidupan peserta didik. 1. maka peneliti menjabarkan ke dalam sub-sub masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian berikut ini. peneliti dan guru berkolaborasi secara inkuiri reflektif untuk memperbaiki proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik. maka yang menjadi fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan. yang salah satunya adalah guru terlalu terikat dengan buku paket bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia Dengan kata lain. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut. dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Tepatnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia terendah di kawasan ASEAN. terutama bagi peserta didik di antaranya (1) menumbuhkan antusias. kepala sekolah. Bagaimana meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia? Untuk memecahkan masalah tersebut. (3) memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber belajar dan mengkomunikasikan baik lisan maupun tulis. bahkan hasil penelitian kemampuan membaca tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA. Bagaimana dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia terhadap kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? Berdasarkan rumusan permasalahan di atas. maka ditetapkan alternatif tindakan yang dapat memecahkan masalah yang bersifat praktis dan inovatif. minat dan motivasi belajar yang tinggi terhadap peserta didik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 1992) menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang menjadi sampel penelitian. dan dari hasil diagnosis secara kolaboratif antara peneliti. 3. Dari hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. Berdasarkan temuan empirik terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. Bagaimana aktivitas peserta didik yang kondusif.

Sebagaimana dikemukakan Mangieri. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. dan (5) meningkatkan kompetensi dan kreativitas berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pengajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit. pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Menurut Soedarsono (1996) penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. pembentukan sikap (concept formation = self concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill). yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar dan sifatnya insidental. yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi. sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi. Depdikbud (Soschan. misalnya udara. dkk. Esensi dari penelitian tindakan kelas ini merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat. maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi. dan (b) learning resources by utilitarian. matahari. It is the means by which people explore and structure their worlds”. Sedangkan dilihat dari sifat pengembangannya. dan (b) sumber belajar non insani. serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. 1994) mengemukakan bahwa penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran pada umumnya mempunyai berbagai fungsi. dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). dan sebagainya. Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan.. TINJAUAN PUSTAKA Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia. Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut ini. (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional. Djahiri (1992) mengemukakan pula fungsi sumber belajar. Dengan demikian. Although others play significant role in this process. Dengan kata lain. cahaya. “JURNAL. Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat penting. air sungai. terutama dengan adanya media massa. (4) lebih memantapkan pembelajaran. juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity) pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua. rerumputan. dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. di samping memperluas dan meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif. (1984: 1) bahwa “Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their world. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. (5) memungkinkan belajar secara seketika. di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. Language is central to the individual’s process of self-discovery and self-definition. (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran. yakni (a) sumber belajar insani.Oktober 2008 .maupun tulisan. baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Salah satu upaya yang dapat membantu peserta didik memiliki strategi komunikatif tersebut. (6) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. Sumaatmadja (1996: 30) memaknai lingkungan sebagai ”segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat pertumbuhan manusia yang bersangkutan. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar kita. Untuk itu. sumber belajar dapat dibagi dua. Semakin kita gali semakin banyak yang didapatkan oleh peserta didik. education is essentially something people must do for themselves. serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill) khususnya kemampuan akademik. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimuli) terhadap individu. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli.” Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Solchan (1994) dilihat dari ragamnya. Menurut sifat dasarnya. pepohonan. serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai ekonomis. Sejalan dengan pendapat di atas. sumber belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . reading ability and culture). yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih jauh. yaitu (a) learning resources by design.

d. Jadi secara keseluruhan terdiri dari tiga siklus dan delapan tindakan. dan komunikatif. pelaksanaan (act). dan analisis kondisi lingkungan sekolah. dan (4) membuat kesepakatan bersama guru dalam pemanfaatan waktu pelaksanaan pembelajaran. Untuk lebih jelasnya gambaran setiap siklusnya adalah sebagai berikut ini. pengewasan (observer). Melalui tindakan ketiga ini. peserta didik mengamati berbagai surat kabar yang dibawa oleh penjual surat kabar dan melakukan wawancara langsung dengan penjual surat kabar. b. Observasi Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pengamatan terhadap seluruh aktivitas pembelajaran.1993) “JURNAL. McNift. Pelaksanaan Pada tahap ini sesuai dengan prosedur pengembangan program tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus. untuk membaca buku cerita yang diminatinya dan kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . c. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan berbagai tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. b) Tindakan kedua. (3) menyusun instrumen untuk pelaksanaan observasi dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. 3) Siklus ketiga tema “Perpustakaan Sekolah” a) Tindakan kesatu. sumber belajar berkomunikasi adalah macam-macam tanaman hias yang terdapat di halaman sekolah. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan salah satu jenis tanaman hias. memadukan empat keterampilan berbahasa.a. 2) Siklus kedua tema “Tanaman Hias” a) Tindakan kesatu. Melalui tindakan kesatu ini. Melalui tindakan ini. setiap siklusnya ditetapkan satu tema. c) Tindakan ketiga. 1) Siklus kesatu tema “Surat Kabar” a) Tindakan kesatu. sebagai sumber belajar peserta didik. guru mengundang penjual surat kabar ke sekolah. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan membawa surat kabar sebagai sumber belajar peserta didik dalam belajar keterampilan berbahasa. dan prosedur pelaksanaan penelitian. Setiap siklus jumlah tindakannya berbeda. guru mengajak peserta didik ke perpustakaan sekolah untuk mencatat judul-judul buku dan pengarangnya serta melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan. Refleksi Refleksi adalah tahap di mana antara guru dan peneliti duduk bersama untuk merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan oleh guru. b) Tindakan kedua. dan refleksi (reflect) (Kemmis & Tagart. waseso. c) Tindakan ketiga. dan siklus dua terdiri dari dua tindakan. 1994). 1993. Pelaksanaan tindakan ini dibagi menjadi tiga siklus. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan (plan). serta konfirmasi berkaitan dengan tugas guru dan peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran.Oktober 2008 . b) Tindakan kedua. 1992. peserta didik mengamati surat kabar untuk mendeskripsikan tentang surat kabar. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : (1) analisis kebutuhan perkembangan peserta didik. Temuan-temuan ini menjadi bahan diskusi antara guru dan peneliti untuk merancang perbaikan pada tindakan Gambar 1: Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari Hopkins. yang disesuaikan dengan tuntutan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia. siklus dua tiga tindakan. 1981 dalam Hopkins. Observer mencatat kejadian-kejadian penting untuk kemudian dihimpun sebagai catatan lapangan selama proses berlangsungnya pembelajaran. seperti siklus satu terdiri dari tiga tindakan. Dari hasil perenungan ini akan diperoleh berbagai temuan menyangkut tindakantindakan guru yang sudah efektif dan yang belum efektif serta dampaknya terhadap proses belajar peserta didik. (2) mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumer belajar. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan informasi yang terdapat pada surat kabar. guru mengajak peserta didik mengunjungi tempat penjualan tanaman hias. untuk mengamati berbagai jenis tanaman hias dan dan melakukan wawancara dengan penjual tanaman hias. Melalui tindakan ini peserta didik belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan bukubuku yang ada di perpustakaan. Observasi ini dilakukan terutama untuk melihat proses dan dampak dari tindakan guru terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik. yaitu tematik. dan peserta didik belajar berkomunikai melalui berbagai informasi yang terdapat pada surat kabar. analisis kurikulum bahasa Indonesia. guru mengajak peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah.

pedoman observasi dan catatan lapangan. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan pada siklus kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan membacanya baik 56. mewawancarai petugas perpustakaan dan sebagainya yang semuanya itu ternyata efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. Berbagai aktivitas penggunaan bahasa secara komunikatif yang dilakukan peserta didik. di antaranya adalah pedoman wawancara. maka analisis data dilakukan pada setiap tahap pengumpulan data. pelaksanaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dilihat dari proses belajar peserta didik. membuat pertanyaan untuk melakukan wawancara dengan nara sumber. dan siklus ketiga tindakan kedua jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik menjadi 62. 2. dan akhir pelaksanaan program tindakan. yaitu (1) reduksi data. alat perekam elektronik. mewawancarai tukang koran.25%. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . seperti pada tindakan kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan menulisnya baik 31. meliputi data kualitatif dan data kuantitatif.5%. Untuk siklus pertama. dan tes (pretest dan posttest) 3. maka digunakan instrumen penelitian. Data yang dihimpun itu. ternyata sangat ditunjang oleh kondisi meluasnya cakrawala sosial peserta didik. membaca. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia telah terbukti kondusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. mengamati langsung tanaman hias dan mewawancari langsung penjualnya. dapat digambarkan alurnya sebagaimana dikemukakan pada Gambar 1. Untuk mengetahui makna dari penelitian ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut ini. dan pada siklus ketiga tindakan kedua peserta didik yang kemampuan membacanya baik menjadi 68.25%. membaca berbagai judul buku dan pengarang.75%. seperti pada tindakan ke satu jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik 25%.selanjunya. Dilihat dari kemampuan berbahasa Indonesia. di antaranya peserta didik mengamati suatu objek kajian dan melaporkan hasil pengamatannya. Dari keseluruhan tahapan di atas. dan pada siklus ketiga yang kemampuan menyimaknya baik menjadi 75%. Analisis Data Pada dasarnya analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara berkelanjutan dari hasil stusi pendahuluan.5%. dan menulis untuk setiap siklusnya mengalami peningkatan. menulis deskripsi sesuai hasil pengamatannya. dan pada siklus ketiga tindakan kedua menjadi 62. menceritakan kembali isi teks yang telah dibacanya. sebagaimana dikemukakan di atas. analisis dokumen. berbicara. 5%. melakukan wawancara langsung dengan nara sumber. Semuanya itu dari jumlah peserta didik 16 orang yang menjadi responden penelitian ini. membaca berbagai buku bacaan yang ada di perpustakaan. dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana dianjurkan oleh Nasution (1988). yang meliputi menyimak. tindakan ke 1 jumlah peserta didik yang kemampuan menyimaknya baik adalah 37. Gambar 2: Kemampuan Menyimak Gambar 3: Kemampuan Berbicara Gambar 4: Kemampuan Membaca Gambar 5: Kemampuan Menulis Peningkatan kemampuan berbahasa sebagaimana dikemukakan di atas.Oktober 2008 . dan (3) membuat kesimpulan dan verivikasi. Kemampuan berbicara pada siklus pertama juga mengalami peningkatan. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara “JURNAL. (2) display data. seperti mereka membaca surat kabar secara langsung. Kemampuan menulis pada siklus kesatu juga mengalami peningkatan. Instrumen Penelitian Sesuai dengan tahapan penelitian.

langsung oleh peserta didik sangat menunjang terhadap perkembangan pembendaharaan kata mereka. Perkembangan kosakata mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin kaya kosakata yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. bahkan kualitas keterampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya (Suhendar dan Supinah, 1992: 103). Untuk itu, agar pembelajaran bahasa berkualitas dalam mengembangkan kompetensi komunikatif peserta didik, Logan, dkk. (1972: 18) memberikan arahan bagaimana guru harus menciptakan pembelajaran bahasa, di antaranya guru harus memberikan kurikulum bahasa yang berorientasi pada terciptanya kesadaran yang penuh akan kebutuhan peserta didik untuk penemuan, penjelajahan, berimajinasi, menciptakan dan berkomunikasi dalam lingkungan komunikasi yang bermakna. Dalam seting belajar, guru akan mengembangkan kurikulum yang mengutamakan situasi yang alamiah sebagaimana anak secara alamiah belajar dan menggunakan bahasa. Dengan kata lain, guru akan memberikan seting pembelajaran di mana peserta didik dilibatkan dalam menyimak, berbicara, untuk mengkomunikasikan ide-idenya dan perasaannya sebagai dasar pengembangan kemampuan berbahasa tulis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas berbahasa, dan juga dapat meningkatkan kompetensi komunikatif peserta didik. Adapun cara yang efektif dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan cara menghadapkan peserta didik secara langsung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 2. Aktivitas peserta didik yang kondusif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberikan dampak yang positif, terutama terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan secara bertahap baik kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Saran-saran 1. Bagi Guru, hendaknya lebih kreatif lagi dalam memilih sumber-sumber belajar yang berasal dari lingkungan peserta didik. Selain kreatif dalam memilih sumber belajar tersebut, juga kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara komunikatif baik lisan maupun tulis. 2. Bagi Peneliti Lebih Lanjut, kondisi yang harus dipenuhi (suport system) dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa di antaranya perencanaan yang matang dan konstruktif baik dalam mengkonstruk bahan belajar, media, metode, dan sumber-sumber belajar yang berada di lingkungan sekitar, serta penilaiannya. DAfTAR PUSTAKA Azies, Furqonul dan Alwasilah, A. Chaedar (1996) Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Elliott, John. (1991) Action Research for Education Change. Philadelphia: Open University Press. Fisher, Carol J. & Terry C. Ann (1982) Children’s Language and the Language Arts. New York: McGraw-Hill Book Company. Kennnedy, Barbara L. (1994). The Role of Topic and the Reading/Writing Connection. (Online):.http://www. writing.berkeley.Edu/TESL-EJ/ejo1/a.3.html. (1 April 1994). Logan, Lillian M., Logan, Virgil G. and Paterson, Leona. (1972). Creative Communication:Teaching the Language Arts. Toronto: Mcgraw-Hill Ryeerson Limited. Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. (1984). Teaching Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book Company. Muchlisoh, dkk. (1992). Materi Pokkok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud; Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Muktiono, Joko D. (2003). Aku Cinta Buku: Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. (1988). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Y o g y a k a r t a : BPFE. Nurchasanah, (1994). “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulis Terpadu”. Vokal Telaah Bahasa dan Sastra. (No. 1 Th V), 31-37. Pappas, Christine c., Kiefer, Barbara Z., Levstik, Linda S. (1995). An Integratif Language Perspective: in the Ellementary School. USA: Longman. Richards, Jack C. (2001) Curriculum Development in Language Teaching. United States of America: University Press Combridge Rofi’uddin, Ahmad. (1994). Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1994. Malang: Vokal No. 1 tahun V. Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud. Suparno, Suhaenah A. (1999). Pemanfaatan dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny., Dkk. (1986) Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar. Jakarta: Gramedia Santosa, Puji.,dkk., (2003) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL Writing Classroom. (Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar/ aloud.html (19 Maret 1997). Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online). Tersedia: http://@www. goodle/search. (28 Maret 2002). Swarbrick, Ann. (1994). Teaching Modern Languages. New York: Routledge. Tarigan, Djago. (1995). Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung: Theme 76. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Universitas terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Hanry Guntur. (1979). Membaca: Sebagai Suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Aksara. Tarigan, Henry Guntur. (1989). Metodologi Pengejaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Djago dan Tarigan, H. G. (1988). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Weaver, C. (1996). What about Whole Language? (Online). Tersedia: http://www.ashay. Com/mpe. (Juli 1996). Williams, Marion & Burden, Robert L. (1997) Psychology for Language Teachers: a Social Constructivist Approach. United Kingdom: University Prees Cambridge.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Nina Sundari Abstrak Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar”, merupakan Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Cibiru X kelas IV Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas data kreativitas siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media peta. Manfaat proses penelitian ini, dapat meningkatkan kinerja guru dalam melakukan perubahan untuk perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Proses penelitian dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti sebagai mitra penelitian. Bentuk penelitian ini adalah model siklus yang dilakukan sebanyak lima kali pengamatan dan tindakan, yang terdiri dari beberapa fase pengamatan kegiatan pembelajaran. Prosedur pelaksanaannya mengacu kepada model yang dikembangkan oleh Kemmis, Mc. Taggart, dan Hopkin’s, setiap siklusnya terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab,menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupan. Proses penelitian dengan menggunakan media peta, berhasil dilakukan guru yang ditunjukkan dengan meningkatnya kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Beberapa perubahan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditunjukkan oleh guru dalam pengembangan strategi, meliputi pengorganisasian materi, pemilihan metode dan media, serta evaluasi di dalam proses maupun terhadap hasilnya. Keberhasilan pembelajaran, secara nyata dapat dilihat dari pola interaksi guru dan siswa yang menunjukkan meningkatnya minat, partisifatif aktif siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pembelajaran dengan menggunakan media peta, guru telah meniciptakan lingkungan belajar dan strategi yang membangkitkan keterlibatan siswa secara fisik, mental dan emosional, 2) pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar dengan menggunakan media peta, peran serta siswa menjadi lebih meningkat, 3) penggunaan media peta secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Proses dan hasil studi ini dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak yang terkait, khususnya bagi guru sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi modal pengembangan untuk meningkatkan mutu unjuk-kerja profesional guru di lapangan. Bagi sekolah, proses dan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengelolaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial Kata Kunci: media peta, pembelajaran pengetahuan sosial PENDAHULUAN alam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional berfungsi:

D

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Rumusan fungsi dan tujuan nasional, jika dikaitkan dengan tujuan Pendidikan IPS mempunyai arah yang sama, yaitu pembentukan warga negara yang mampu hidup secara demokratis (citizenship education). Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dengan masyarakat lainnya. untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu melahirkan manusia yang handal, baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya. Demikian pula dengan Kurikulum

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

selain guru dapat mengembangkan materi. Menurut Suharyono peta adalah gambaran permukaan bumi alam satu bidang datar. Demikian pula dengan media peta. Sumantri & Permana (1999 : 181) mengemukakan prinsif-prinsif dalam memilih media yaitu: 1. memilih media harus memahami karakteristik ari media itu sendiri. Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media tetapi dituntut untul terampil memilih. sangat terkait dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang tersedia untuk kebutuhan siswanya. sebaiknya alat-alat tersebut dapat digunakan guru dan siswa. baik dalam penggunaannya dan pengadaannya. Peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial berfungsi untuk penyampaian materi agar lebih mudah diterima siswa. Memilih dan menggunakan media. “JURNAL.Berbasis Kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004 bahwa dalam ”Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Peta merupakan hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian. memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru. Tetapi dengan adanya foto-foto peristiwa berlangsung dapat merasa lebih dekat. diagram. dsb. 3. memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu. Permana : 1999 : 21). khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik. mengemukakan media pengajaran secara keseluruhan adalah segala benda. Selanjutnya. Pengguanaan media bukan semata-mata melaksanakan salah satu komponen pengajaran. film. tetapi dengan media benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan siswa dalam belajar. metode dan evaluasi. Contohnya pengamatan suatu wilayah sukar memberikan gambaran yang menyeluruh. bergembira dan riang dalam belajar. 4. (Sumantri. 3. siswa dilatih menjadi terampil dan penuh pengalaman dalam menggunakan media. 2. harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri. kalau memungkinkan guru memiliki kemampuan untuk merancang dan membuat media sendiri. khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi. gambar. memberi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa baik dalam posisi geografis. foto. vide tape recorder. Salah satu indikator keberhasilan mutu proses dalam hasil belajar siswa. radio dll. materi. tempat dan situasinya yang tepat. perlu memperhatikan aspek tujuan. Karena wilayah tersebut terlalu luas untuk diamati secara langsung. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . papan planel. Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 akan sulit disaksikan. poster. metode. memilih media harus berdasarkan tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan. diorama. sumber pembelajaran. kerjasama. garis. seolah-olah menyaksikan sendiri. Secara harfiah media diartikan sebagai pelantara atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. sifat keingintahuan. 4. 2. Demikian pula dilihat dari keefektifan bagi guru dengan menggunakan media peta dapat membantu dalam menyampaikan pesan materi secara lebih mudah kepada siswa. Pengertian Media Peta Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium. proyektor. visual hingga benda asli seperti laboratorium. Dilihat darimacamnya. dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan PBM IPS. Seperti : slide. globe. Manfaat Media Peta Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru. grafik. potret. peta. evaluasi dan penggunaan media. grafik. memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. objek yang dituangkan dalam bentuk gambar. maupun gambaran dari objek tertentu. strategi. (Afrid. menjadikan anak-anak senang. menggunakan serta mengusahakan memilih media yang tepat. Dengan menggunakan media peta dapat memperoleh gambaran keseluruhan tentang wilayah yang diteliti. mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya. 2002 : 32). termasuk media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar. Dengan lebih mudah melakukan pengamatan. Media pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam menunjang pembelajaran. tape recorder. keadaan alam serta persebaran penduduk di daerah/ lokasi tertentu. media merupakan alat ari segala benda yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar.Oktober 2008 . Untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Menurut Samaatmadja (1984 : 116). simbol-simbol. dibimbing. memperbaiki berpiki kreatif anak-anak. Proses pembelajaran yang didukung oleh media secara lengkap dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. 5. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan IPS. LANDASAN TEORITIS 1. Sedangkan manfaat media bagi siswa memungkinkan dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai. maket. nara sumber. Dilihat dari keunggulan menggunakan peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial khususnya pada topik lingkungan sekitar di sekolah dasar. media pembelajaran terdiri dari : gambar-gambar. dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif”. siswa diarahkan. yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. sehingga dapat membantu kelancaran aktivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan materi pembelajaran. epidiaskup. Sumaatmadja (1980 : 117). Mengenai tujuan belajar dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. 2.

Ebbut melihat proses dan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. Melalui pengorganisasian dan pengkajian yang bervariasi mengenai pengmatan lingkungan sekitar. 1993 : 44). menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya pelaksanaan tindakan kelas adalah untuk perbaikan. c. 1993). Rencana penelitian dilakukan dengan langkahlangkah yang dirancang berdasarkan 5 tahap : orientasi. keempat pase dari siklus dapat digambarkan dengan sebuah spiral Penelitian Tindakan Kelas. dan bergayut dengan realitas lapangan (Hopkins. tetapi guru bersifat pragmatis-praktis yaitu mengangkat bahan IPS berdasarkan pada kehidupan riil siswa. Temuan ini sesuai kajian kepustakaan bahwa pemilihan suatu strategi dan metode mengajar dalam pembelajaran Pengenalan Lingkungan Sekitar dengan menggunakan media peta. 1993 : 43).Oktober 2008 . a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational situation) in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practice. tidak lagi menggunakan buku paket sebagai sumber belajar yang utama. Pembelajaran lebih bermakna. dapat memunculkan variasi metode. observasi. dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (ciclycal) yang terdiri dari empat tahap. Niff (1992). keterampilan dan sikapnya tidak verbalisme. . khususnya dalam memanfaatkan media peta hingga guru maupun siswa dapat menggunakannya. tetapi juga kemampuan dalam analisis dan sintetis. mengamati. Strategi yang dikembangkan guru dengan mengembangkan peta sebagai media. 1993.. yaitu . kontekstual. perencanaan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .. Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dan memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Gambar 1: alur kegiatan penelitian tindakan kelas berdasarkan spiral (Adaptasi dari Hopkins. Bahkan Mc.TUJUAN DAN MANfAAT PENELITIAN Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (action research). berdampak pada hasil sehingga yang diperoleh siswa hanyalah pada aspek pengetahuan. merupakan tradisi kualitatif yang didasarkan pada prinsip natural setting.. Dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan penelitian bersandar pada pengamatan setting kelas secara obyektif tanpa rekayasa peneliti. Pola tersebut sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah dasar yang mengacu pada asa DAP (Developmentaly Appropriate Practice). dilihat secara procedural berserta langkah-langkah proses Penelitian Tindakan Kelas. HASIL PENELITIAN Beradasarkan hasil penelitian diatas. 1992). KESIMPULAN KHUSUS Kesimpulan penting proses dan hasil studi ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. tindakan. sangan efektif diterapkan di sekolah dasar. dan refleksi (Kemmis & Taggart. refleksi dan mengacu pada model Elliot’s (Hopkins. tindakan. memungkinkann kepada siswa meningkatkan pengetahuan. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. observasi. 48) Kata perbaikan disini terkait dan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. melakukan tindakan. Melalui penelitian tindakan kelas adalah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas. perencanaan. Pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi guru dalam mengajar di kelas. guru dapat mendorong siswa sekolah dasar melakukan pengamatan lingkungan fisik dan sosial. Penelitian tindakan kelas. b. Media peta sebagai alat pembelajaran yang dapat membatu guru dan siswa memudahkan pembelajaran yang abstrak menjadi konrit. yaitu: merencanakan. merefleksi. situasional. Tipe pembelajaran yang ditampilkan guru berupa ceramah (lecture) dalam suatu kegiatan pembelajaran. (b) their understanding of these practice. seperti tampak pada Gambar 1. guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang memadai. adaptif. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Model penelitian tindakan kelas. karena siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. seperti ceramah “JURNAL. Penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis diantara keempat aspek. Dalam pembahasan materi. and (c) the situation are carried out (Hopkins. temuan penelitian menunjukkan bahwa pemnfaatan media peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial.

J (1991). Analisis Data Kualitatif. Buku Sumber Tentang Metode Baru. Principles and Practice London: Routledge. kreatif dan inovatif. IBRD Loan No. Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Undang-undang Republik Indonesia No. (1993).R. Lexy. (1988). (Terjemahan Tjetjep Rohendi). Dirjen Dikti. PPS IKIP Bandung. Tesis. E. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. (1992). Kasbolah. Metodologi Pengajaran IPS. (1966).L.Jr. (1996). New York: Longham et. Teacher Guide to Classroom Research. Dahar. Lueck. New York: mac Millan Publishing Co. A. Banks.. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang ditunjang oleh penggunaan media peta.bervariasi. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Menjadi Guru Profesional. Studi Geografi. IKIP Bandung Tidak diterbitkan. David. Citra Umbara Bandung. diskusi kelompok sehingga proses pembelajaran benar-benar menjadi menarik. IBRD: Loan-Ind. e. Huberman Michael A. Dep. Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi) Mata Pengetahuan Sosial untuk sekolah Dasar dan Madrasah ibtidaiyah. Willis. N. S. (1967). Nasution. Bandung: Tarsito. Bredkamp. d. Dirjen Dikti. Teaching Strategis for the Social Studies. (1994).. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). (1996). (1999). AA. P & K. BP3GSD. Jakarta. PPTA. dari Buku Asli: The Nature of Social Studies. Sumaatmadja. Bandung: Yayasan Bina Bhakti Winaya. IBRD: Loan 4394IND. Depdikbud. Pembelajaran dengan menggunakan media peta. PPS dan FPIPS UPI Bandung : Remaja Rosakarya. (1977). Shermis. Suyanto. Depdiknas. Minneapolis. Jakarta. Jakarta: Depdiknas. M. (1985). (2003). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. (2001). (1992). Jaromilek. N. PPGSD. dapat menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat dan gairah belajar sehingga dapat mendorong siswa berpikir kritis. menyenangkan dan efektif dalam pencapaian tujuan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Effektive Secondary Education. Social Studien Elementary Education 9th Ed. (1999).: Burges Mc. (2003). Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Minn. (Disadur oleh : Buchari Alma dan Harlasgunawan Ap. dan Parker. J. J. Dirjen Dikti. Permana. Dirjen Dikti. Jakarta.S (1999). Bandung: PT Remaja. U-I Press. Sitompul. Suatu Tinjauan Pengantar. (1984). Marlinang. Action Resarch. IBRD: Loan3496-Ind. Somantri. (1999). T. Hopkins. Bandung. Kurikulum (2004).Oktober 2008 . Penerbit Alumni.. Niff. Hakekat Dasar Studi Sosial. Program Serving Children From Brith Trought Age 8. Arah dan Jarak dalam Bidang Studi IPS di SD. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SD dan MI. Dirjen Dikti. PPGSD. Tim Pelatih Proyek PGSM. Barr. s dan Barth. New York: Norton. Philadephia: Open Univercity Press. Developmentary Appropiate Practice in Early Chilhod. Bandung. Sumantri. Sue. memberi peluang kepada siswa melakukan berbagai keterampilan seperti mengamati dan memprediksi DAfTAR PUSTAKA Afrida (2003). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). (1985). Departemen Pendidikan Nasional. “JURNAL. J. Penggunaan Peta Oleh Guru dalam Proses Belajar Mengajar Geografi Bidang Studi IPS Sekolah Dasar. National Assocation of Yong Children: Washington DC. pengamatan/observasi. et Al. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). J. Penerbit: Sinar Baru. Depdikbud. Tesis.A dan Clegg.al. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. R. Strategi Belajar Mengajar. Pengembangan Pembelajaran Konsep Letak. Strategi Belajar Mengajar. Usman. Bruner. Toward a Theory of Instruction.U. Erlangga. W. Depdikbud. Raka Joni. Muhamad. ( 1993). Metode Penelitian Kualitatif. Depdikbud. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Surya. Jerome. PPGSM. 3979-Ind. (1978). Teori-teori Belajar. (1996). IKIP Yogyakarta. tanya jawab. Moleong. --------------------.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari. Pengertian Problem Solving. pelaksanaan. Sebagaimana tersirat pada fungsi dan tujuan pendidikan IPS di SD. dengan kegiatan pokok perencanaan. mampu meningkatkan proses belajar siswa kelas V melalui aktivitas.Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Abstrak Penerapan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa dalam Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar ini dilakukan di SD Negeri Marga Endah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dengan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah agar guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar.Oktober 2008 . yaitu yang melibatkan siswa aktif baik fisik. Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS dan Penerapan Model Problem Solving PENDAHULUAN endidikan Dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. Suwarma (1999:43). Selain itu siswa diharapkan dapat terlatih untuk berprakarsa. serta lebih terampil dalam menggali. kritis. Manfaat penelitian lainnya adalah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan perubahan pembelajaran Pendidikan IPS di kelasnya. Dengan begitu semua potensi siswa dapat dikembangkan. Pengembangan potensi siswa melalui pengajaran IPS dapat dioptimalkan. perlu mendapatkan perhatian yang serius. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir. dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPS. dianalisa dan akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental. Manfaat untuk siswa dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas dan kreatifitas siswa selama mengikuti pelajaran. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level diatasnya dan pada gilirannya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. Tujuan Pendidikan IPS. pengawasan dan refleksi. ditanggapi. menjelajah. “JURNAL. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat partisipatorik dan kolaboratif antara guru dan mitra penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Proses penelitian berlangsung empat siklus. mental (pemikiran dan perasaan) sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak. menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar hendaknya dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada proses pencapaian tujuan tersebut. guru dituntut membawa siswa kepada kenyataan hidup sebenarnya yang dapat dihayati. motivasi dan kreativitas hingga berimplikasi pada hasil belajar yang lebih baik Kata Kunci: Pendidikan IPS. 2) penerapan model problem solving melalui pembelajaran IPS yang dikembangkan guru. media serta evaluasi pembelajaran benar-benar bermakna. mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. Dalam proses penelitian berlangsung telah terjadi perubahan meningkatnya kemampuan kerja guru dalam mengelola pembelajaran menjadi lebih effektif. metode. guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif. Potensi Berpikir & Pemecahan Masalah. Pembelajaran yang dikembangkan guru dengan menggunakan variasi strategi. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah 1) penerapan model problem solving dengan strategi yang dikembangkan guru secara bervariasi melalui pembelajaran IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh. keterampilan-keterampilan dalam menghadapi kehidupan nyata. Pada rambu-rambu GBPP IPS SD dikemukakan oleh Depdikbud (1994-1995) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran. berpikir secara teratur. sehingga dapat menumbuhkan motivasi. siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Hal P ini sesuai dengan pendapat Raka Joni (1992: 1) bahwa dengan penerapan CBSA.

mental emosional. keluarga serta masyarakat. Berdasarkan uraian diatas guru pendidikan IPS belum secara optimal mengembangkan kemampuan seluruh potensi siswa termasuk potensi berpikir siswa dan guru kurang keberanian untuk berusaha mengembangkan potensi siswa berdasarkan prinsip-prinsip CBSA kadar tinggi khususnya mengembangkan kemampuan berpikir tinggi seperti yang dijelaskan diatas. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mengkondisikan siswa agar berpikir reflektif yang menimbulkan siswa menjadi aktif. Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi didalam masyarakat. Penelitian secara umum mengungkapkan bahwa kelemahan pendidikan IPS selama ini terletak pada proses belajar. bangsa dan negara juga dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sekitar anak. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya dimiliki oleh setiap guru. sosial dan motorik yang disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungan anak. Berdasarkan kenyataan kiranya sulit dibantah bahwa penelitian selama ini menunjukkan guru sangat berperan sentral dalam proses pembelajaran. Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarma: 1990. Orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pembelajaran. APKG.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal dengan membelajarkan siswa melalui pengoptimalan pengembangan kemampuan berpikir siswa. Tujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma: 1991). Tanya jawab dilakukan sekitar apa siapa dan dimana belum sampai kepada mengapa dan bagaimana. Dalam pembelajaran Pendidikan IPS. Siswa dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan guru” (Sudjana. berdasarkan GBPP1994. baik sebagai pengembangan dan implementasi kurikulum. 1987). Dalam hal ini siswa diberi kesempatan merefleksikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas sebagai hasil pengamatan yang diperoleh di sekitarnya. 1989:153). Pendekatan model ini termasuk kepada pendekatan interaksi sosial yang menitik beratkan kepada aktivitas memecahkan masalah baik individu maupun kelompok. masa kini dan masa yang akan datang. Dengan begitu pengembangan potensi berpikir secara optimal belum dikembangkan “Hal ini terjadi karena masih banyak kegiatan pembelajaran tersebut didominasi oleh guru. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS secara efektif.Oktober 2008 . Kualitas partisipasi siswa dalam belajar masih rendah mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . diharapkan siswa akan sukses dalam hidupnya. proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghapal “menyentuh pengembangan tingkat” rendah. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat perlu diupayakan pola-pola pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa di dalam proses pembelajaran di kelas. dan akan terwujud dalam proses belajar mengajar. Sejalan dengan itu Hamid Hasan (1996:17) mengemukakan bahwa tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab dan diemban oleh pendidikan ilmu-ilmu sosial di masa mendatang. Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya. dengan begitu siswa termotivasi untuk aktif dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran sebagai bentuk kemampuan proses yang dilatihkan. Sedangkan hasil observasi awal yang penulis temui di SD Marga Endah guru masih berperan sebagai pemberi informasi dengan kata lain guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran. 1997). sikap dan keterampilan-keterampilan tentang kehidupan yang dibutuhkan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan tetapi juga masalah-masalah diberbagai gatra atau situasi dan kondisi ekonomi politik sosial. Dengan terbiasa siswa memecahkan masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. Mungkin dengan cara demikian keluhan para siswa bahwa belajar pendidikan sosial hanya akan ditandai dengan kebosanan dalam belajar akan dapat dihapuskan. kemampuan melakukan prosedur pengajaran dan kemampuan melakukan hubungan pribadi (UT. Ary S. Model Problem Solving (pemecahan masalah) adalah salah satu model mengajar yang mengandung aktivitas belajar siswa cukup tinggi dan termasuk model yang disarankan dalam GBPP 1994. budaya pertahanan keamanan dan agama dalam lingkup manusia sebagai insan mandiri. baik masa lalu. diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir. keingintahuan seorang siswa akan tergerak apabila dihadapkan dengan permasalahanpermasalahan yang timbul dilingkungannya yang dialami didalam kehidupan sehari-hari. kreatif dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya dan kemudian berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya siswa diajak untuk mencarikan solusinya baik secara kelompok maupun secara individu. Pada saat terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. Adapun pola-pola pembelajaran yang melatihkan bentuk kemampuan proses yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi salah satunya adalah Model Problem Solving. sehingga benarbenar pembelajaran menjadi bermakna membuat anak memiliki minat yang besar untuk mempelajari pendidikan IPS. siswa lebih banyak pasif. diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang bersifat “Generic essential” yaitu kemampuan memuat perencanaan pengajaran. Kebiasaan-kebiasaan guru sebagai pengajar yang lebih aktif dari para siswa dengan menggunakan metode “JURNAL. Padahal sifat dari pembelajaran IPS seyogyanya lebih menitikberatkan kepada selain pemberian pengetahuan.

mental. dapat disimpulkan bahwa : 1. adalah pendekatan yang menuntut siswa proses cara-cara pemecahan masalah hingga mampu mengambil keputusan. Walaupun masih perlu adanya pembiasaan guru untuk lebih terampil dalam menerapkan problem solving di kelasnya tanpa harus ada bantuan dari peneliti. membuat hipotesa mengumpulkan faktafakta mencari bukti-bukti hingga mampu menyimpulkan permasalahan yang ada. sebagai pemberi informasi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti hapalan. Bagaimanakah cara guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mulai dari merencanakan.ceramah. rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan penelitian kelas ini adalah: Bagaimanakah kemampuan guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran pendidikan IPS di sekolah dasar? Masalah pokok penelitian diatas. Penelitian kelas ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan yang didasari oleh paradigma penelitian kualitatif. Kualitas pembelajaran IPS berhasil dengan baik bilamana guru berupaya mengkondisikan pembelajaran dengan menyajikan secara menarik dan menyenangkan serta menciptakan iklim yang terbuka dan demokratis. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN Dari seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari pra tindakan dan setelah melakukan tindakan menunjukkan peningkatan kearah pembelajaran yang lebih baik. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu: 1. Tahapan-tahapan model ini diimplementasikan secara sistematis diharapkan siswa terbiasa berpikir kritis. Guru hendaknya selalu sadar bahwa siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan baik fisik. logis. KESIMPULAN Penerapan model problem solving sebagai suatu strategi yang sangat efektif dalam mengembangkan siswa untuk berpikir secara ilmiah dan mengembangkan daya nalar mereka dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. didukung oleh prinsip seting alamiah. ilmiah serta peka terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan yang merupakan langkah pertama. 1998:37) PERTANYAAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah diatas. Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya guru yang aktif akan tetapi siswa dilibatkan secara optimal sesuai dengan potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasarnya yang mereka miliki sesuai dengan yang diamanatkan oleh tujuan dari pendidikan Sekolah Dasar. emosional dan sosialnya secara mandiri. untuk itu perlu ditransformasikan dari pelajaran yang hanya dipandang sebagai hapalan kepada pelajaran yang mampu mempertajam potensi berpikir dan memperluas cakrawala peserta didik” (Suwarma. Penerapan strategi pembelajaran model problem solving melalui pembelajaran IPS mampu melatih “JURNAL. media dan sumber belajar yang beragam menjadikan suatu tuntutan yang tidak bisa diabaikan. situasional. dan efektif dalam pembelajaran IPS. Maleong: 1989). tetapi bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang menuntut siswa pada proses berpikir reflektif. dan satu-satunya buku paket sebagai sumber belajar harus ditingkatkan. Bagaimanakah hasil yang dicapai dalam menerapkan pembelajaran model pemecahan masalah? METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Kualitatif yang lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Naturalistik (Naturalistik Inquiry) (Nasution: 1989. sedangkan variasi metode. melaui problem solving inilah yang menempatkan posisi guru tidak sebagai penyampai pengetahuan tentang teori atau ilmu-ilmu sosial. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian dilakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk menentukan langkah-langkah kegiatan selanjutnya hingga tujuan penelitian tercapai. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan yang dapat digunakan sebagai upaya mencapai tujuan secara optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa IPS Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan optimalisasi potensi berpikir. sebagaimana tuntutan model problem solving. Guru sudah mulai menggunakan strategi metode pengajaran ceramah variasi. penugasan dan diskusi membuat siswa lebih mudah merumuskan masalah. refleksi diri serta kolaboratif partisipatif antara guru dan peneliti. Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi realita yang terjadi tentang pendidikan IPS di Sekolah Dasar ternyata masih banyak guru yang belum melaksanakan pendekatan atau model problem solving sebagai salah satu pendekatan yang dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa secara optimal. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tanya jawab. Dan berdasarkan keseluruhan temuan penelitian tindakan. melaksanakan dan mengevaluasi? 2.Oktober 2008 . kritis analitis. Kendala apakah yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran IPS model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa? 3.

Hasan. Maleong Lexy (1993). Sumaatmaja. ( 1996). Model of Teaching. Bandung Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung. Hopkin. Epistimologi Pendidikan IPS Bandung:Pustaka Mandiri. “JURNAL.Oktober 2008 . Bandung Alumni. Dep. Benyamin (1956). Model Problem Solving berhasil dengan baik bila menggunakan strategi yang bervariatif 3. Alih bahasa olrh Ary Penehan. Tarsito. Pengertian dan Karakteristik IPS Jakarta P3D Depdikbud. Jakarta. penerapan model problem solving dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan dikembangkan dalam topic yang berbeda. r. Djahiri K. Metodologi IPS. Pengembangan Kemampuan berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS: Bandung LP Universitas Pendidikan Indonesia. Mew Mac Millan Joice Bruce and Weil Marsha (1972). Metode Penelitian Naturalistik. (1999). Dasar-dasar Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral PVct. Bandung Sinar Baru. (1995/1996). & R Taylor. (2000). Bagi peminat / pemerhati profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah dasar. Model problem solving dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran 4. Pendidikan IPS di SD. Bagi para guru sekolah dasar. 2. (1999).siswa mengembangkan kemampuan berpikir reflektif. S ( 1987). Social Studi In Elementary School New York. ( 1977). UT. Pengajaran PMP IKIP Bandung. Jarolimek. Defining the Social Studies. Model pembelajaran dengan menerapkan problem solving dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. J dan Skill (1993). (1986). Pendidikan IPS Buku 1 dan 2. Strategi Belajar Mengajar. N. ___________. Barr. Mulyono ( 1980). FPS IKIP Bandung. proses dan studi ini menjadi bahan diskusi untuk memperluas wacana model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik siswa sekolah dasar 3. ___________. 2. Edisi Kedua. Jakarta: David Mackay C. David (1985). P dan K. Bandung. Jakarta. New York: With Plane. proses dan hasil studi ini dapat menjadi model pengembang untuk meningkatkan mutu unjuk kerja professional guru sekolah dasar. ___________. New Jersey Prentice Hall. Taxonomy of Education Objective. Saran Atas dasar temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas. Arlington: VA: NCCS. Bagi peneliti khususnya. Resiladelphila Open University Press.. ( 1992). ______________. Valuing and Decision Making. Konsep Dasar IPS. Suwarma ( 1996). J A With ClIGG (1975). Banks. dapat disarankan sebagai berikut : 1. 4. Social Studies Competency Skill. Remaja Rosda Karya. (1977). Surabaya: Usaha Nasional. Materi Pokok PGSD. Johar. A Teacher Guide to Classroom Research. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sudjana. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung. _________________. kritis dan kreatif. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.al. _________________. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Nasution. Bloom. proses dan hasil studi tentang penerapan model problem solving di dalam pembelajaran pendidikan IPS dapat mengembangkan kemampuan meneliti dan melakukan tindakan perbaikan dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa DAfTAR PUSTAKA Al Muchtar. Bagi sejawat pengembang pendidikan IPS. ___________. (1989). Bandung. Hamid (1996). Teaching Strategy For Social Studies Inquiry. Sinar Baru Sumantri Mulyani & P. Bina Aksara. CBSA dan Proses Belajar Mengajar. (Thesis) Prodi PIPSPPS IKIP Bandung. Nana & Ibrahim (1989). Dirjen DIKTI PPGSD IBRD LOAN 3496 – IND. Et. Macmilan Publishing Company. Bandung.d.

Demikian pula pengembangan bahasa yang baik akan kukuh jika disokong oleh peneliti an yang baik. termasuk bidang usaha (entrepreneurship) dan kreativitas mahasiswa. jumlah mahasiswa dan dosen asing. d. b. bahasa serumpun. Tujuan dari pusat-pusat riset tersebut antara lain: P a. sebaik apapun penelitian tidak akan mencapai sasaran. maka data. Pusat Kajian Bahasa dan sebagainya. Mendorong berkembangnya kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional juga dengan pihak industri dan masyarakat dalam pengembangan dan penerapan Iptek (ilmu pengetahuan &teknologi). logika dan bahasa yang digunakan seharusnya selaras antara peneliti dan pengguna hasil penelitian/pembaca. menghimpun. benar dan komunikatif. nilai-nilai dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. Tanpa penggunaan bahasa yang baik. yang salah satunya adalah frekuensi publisitas penelitian secara internasional. Dengan demikian kualitas penelitian merupakan “benchmaking” maju mundurnya sebuah institusi bernama perguruan tinggi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tetapi juga dituntut untuk mampu menghimpun dan menggali pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development). termasuk pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa guna peningkatan kualitas perguruan tinggi. Ada 4 indikator utama pemeringkatan 500 kampus terbaik tersebut. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa perguruan tinggi secara proporsional dan kompetitif. Mendukung pengembangan kapasitas (capacity building) perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan universitas.Oktober 2008 . Dengan perkataan lain perguruan tinggi tidak saja dituntut untuk mentrasfer pengetahuan melalui proses pengajaran. Salah satu sarana untuk pengembangan penelitian adalah bahasa. Kata Kunci: bahasa. Pusat Kajian Sains. Indikator lainnya adalah: penilaian sejawat.memelihara dan mentrasfer budaya. perguruan tinggi telah merumuskan paradigm baru dalam mencapai kualitas pendidikan bertaraf dunia yaitu dengan menjadikan universitas sebagai universitas riset yang lazimnya memiliki research center dan research institute. 2003). Bagi universitas maju. yaitu beberapa negara Asean. “JURNAL. c. Penggunaan bahasa yang baik dalam penelitian secara langsung akan turut meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di era global terutama di lingkungan pengguna bahasa serumpun. Dalam dekade 20 terakhir. rasio dosen dan mahasiswa. Fungsi perguruan tinggi pada hakikatnya adalah. perguruan tinggi PENDAHULUAN ada umumnya bidang penelitian merupakan salah satu misi dari berbagai misi sebuah perguruan tinggi di samping menyelenggarakan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Pusatpusat kajian tersebut pada beberapa negara terbukti telah memberikan keutungan besar bagi universitas di samping dapat mengangkat peringkat suatu perguruan tinggi minimal masuk dalam urutan daftar 500 kampus berkualitas di dunia. riset merupakan pilar utama untuk peningkatan kualitas institusi dan citra sebagai universitas maju dan terkemuka di dunia.Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Abstrak Dalam perspektif pengembangan suatu perguruan tinggi. penelitian. Dengan demikian universitas tak ragu-ragu menginvestasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kajian berbagai bidang ilmu dengan mendirikan Pusat-pusat Kajian seperti: Pusat Kajian Pendidikan. Mendukung penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Untuk menghasilkan kinerja penelitian yang baik. riset merupakan elemen strategis yang memberikan dukungan besar bagi pengembangan universitas itu sendiri maupun bagi pengembangan kemajuan suatu bangsa secara keseluruhan.

perumusan pembelajaran serta strategi dan kebijakan mengajar. Hal di atas sejalan dengan pengembangan perguruan tinggi jangka panjang. Di tingkat kebijakan pemimpin. yaitu bahasa. peranan dosen sebagai peneliti dalam pendidikan semakin penting. pengacara. Universitas Sydney di Australia. • Pengajaran penelitian terbimbing. proposal. kualitas mengajar dan belajar kini dihubungkan dengan baik pada kemampuan ekonomi nasional untuk bersaing serta mempromosikan institusi perguruan tinggi di pasar global. mengambil definisi yang lebih luas. dan pendidikan unggul serta bertaraf dunia. Pengajaran “penelitian terbimbing” telah menjadi cara yang populer untuk mengekspresikan hubungan ini (Alwasilah. kesehatan institusi. Melalui bahasa seseorang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat. Penulis dengan penguasaan bahasa dan ejaan yang baik pada umumnya akan selalu diingat oleh para pembaca. Oleh karena itu kegiatan penelitian perlu diberi keutamaan dan dilaksanakan dalam semua jenjang pendidikan. Institusi akan mencari hubungan penelitian dengan mengajar untuk mendukung kualitas mengajar. dukungan informasi teknologi yang baik.e. • Rantai penelitian dalam konteks program strata untuk pengembangan profesional (seperti:dosen. • Pengajaran lebih umum pada wilayah pendanaan (scholarship) sendiri. bahkan dapat mengenali tingkah laku dan kepribadian masyarakat penuturnya. • Komunitas mahasiswa dilibatkan ke dalam budaya dan komunitas peneliti dalam disiplin ilmu tersebut. maknanya terdapat debat dan pembahasan pada disiplin subjek tentang masalah pedagogik. sebagimana dikutip oleh Skelton (2005). doktor. akses yang baik ke sumber utama di perpustakaan. • Budaya pemerolehan. kualitas & relevansi. manajer). Oleh karena itu. akuntabilitas dan otonomi (Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. menyampaikan presentasi dan makalah/artikel). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . yang terdiri dari 5 isu strategis yang harus diantisipasi dan diimplementasikan oleh perguruan tinggi di Indonesia. • Pengajaran yang menekankan pada perkembangan atau arah penelitian mutakhir dalam wilayah kepakarang sendiri. • Lingkungan pembelajaran yang mendukung fokus penelitian terbimbing. kreatif. 2002) PeNelITIAN DI PerGuruAN TINGGI Dalam konteks pendidikan tinggi. • Pengajaran disejajarkan dengan penelitian. masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya.Oktober 2008 . Hal ini bermakna proses dan strategi penulisan dari yang sederhana sehingga yang kompleks akan bertumpu pada satu hal utama. tuturan-tuturan dalam artikel atau penelitian akan menjadi sesuatu yang layak dinikmati. Ada harapan yang berkembang agar semua institusi pengajian tinggi akan berusaha meningkatkan suatu budaya mengajar yang berkualitas sebagai ‘inti’ kegiatan. merujuk dimensi berikut untuk memperoleh isi dengan dilakukannya penelitian terbimbing: • Staf pengajar penelitian dilakukan oleh peneliti berkelas dunia yang aktif meneliti dan menulis. • Pengajaran berdasarkan bukti-pengajaran dan pembelajaran sebagai kesatuan dirancang dalam sorotan literatur pedagogik dan bukti pengalaman pelajar. Melalui hasil penelitian. pendekatan yang lebih mendidik terhadap pengajaran. akan memacu penelitian disiplin ilmu sebagai ide. dan berakhlak mulia. pengajaran dengan penekanan pada metode-metode penelitian atau cara-cara untuk mengakumulasi pengetahuan dalam disiplin ilmu tertentu.yaitu: daya saing bangsa. regional maupun internasional. teori dan konsep yang dihubungkan secara kritis oleh mahasiswa PERAN BAHASA DALAM PENELITIAN Seluruh proses penelitian mulai judul. Sudah tiba waktunya bagi dosen untuk meningkatkan aktivitas penelitian sebagai satu elemen penting ke arah pendidikan seumur hidup. inovatif. Dalam pandangan yang lebih luas. • Pengajaran sebagai pembelajaran “berbasis pemerolehan” vs. laboratorium yang didanai dengan baik. Dengan bahasa yang baik. • Kurikulum berbasis penelitian dari kurikulum yang ada yang mencerminkan kegiatan dan proses penelitian (seperti kerja tim. pelaksanaan sehingga laporan penelitian menggunakan bahasa. Di bawah ini merupakan batasan-batasan dari pengajaran penelitian terbimbing: • Pengajaran tentang topik penelitian tertentu yang sedang dipelajari oleh akademisi di waktu tertentu. bahasa senantiasa dikaitkan dengan identitas suatu bangsa. suatu institusi akan bergerak mengembangkan ‘budaya kualitas mengajar”. 2007). Kepentingan penelitian semakin disadari dan diakui dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan insan yang cerdas. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat “JURNAL. Mengembangkan jejaring (network) informasi dan institusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada peringkat nasional. • Mahasiswa sebagai peneliti • Merancang program strata yang mengunggulkan kepakaran penelitian dalam satu atau antarsekolah. kecemerlangan pendidikan. Bahasa berperan sebagai perantara utama antara ide atau pandangan penulis sehingga tulisan difahami dan enak dibaca. pengajaran dikelola oleh dorongan penelitian tertentu dan minat staf peneliti. contoh.

Nunan. . Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. Perlu dilakukan penelitian kolaboratif antara peneliti bahasa serantau. (1992).Understanding Teaching Excellence in Higher Education: Towards a Critical Approach.Research Method in Language Learning. London: Routledge. (2005). Penelitian berkualitas dapat dilakukan bersama negara-negara serumpun/ serantau yang berkaitan dengan pengajaran bahasa. Akhir-akhir ini banyak universitas di negara serumpun ini melakukan kerja sama. dan salah satu rintangan yang sering ditemukan yaitu pemakaian bahasa ilmiah dalam penelitian karena terdapat perbedaan makna kata atau istilah-istilah dalam bahasa serumpun tersebut. baik bidang linguistik maupun bidang pengajarannya. Kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang penelitian-penelitian berkenaan yang berkualitas. Sejarah Singkat (Terj.T. D. Bandung: UPI Press. Malaysia.D. DAfTAR PUSTAKA Alwasilah. studi banding kebahasaan atau penulisan bersama buku ilmiah berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. TESOL Quarterly 31/2. dengan demikian diperlukan kajian-kajian atau penyelidikan untuk meningkatkan bahasa Melayu agar dapat bertahan dan menjadi bahasa dunia.Jakarta:Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia. Collins. bahasa. J. Jakarta: Dikti. Qualiti and Sustainability in Teacherresearch. teknologi. Cambridge: Cambridge University Press. (1997). A (2005). Hambatan-hambatan bahasa dalam penyelidikan bersama dapat diatasi dengan dilakukannya studi bandingan bahasa serantau di kawasan Asean. Amerika. Di samping itu pusatpusat kajian bahasa Melayu yang didirikan diberbagai negara di Eropa. Bahasa Melayu Bahasa Dunia. “JURNAL. Australia dan komunitas bahasa Melayu tersebar di kota-kota besar di dunia.baik dalam bidang pendidikan. sosial maupun sains. Menurut Collins (2005) bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar.serantau yang bahasa nasionalnya berasaskan bahasa Melayu (Indonesia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pada masa yang akan datang diharapkan semakin banyak penelitian kolaboratif antarnegara Asean untuk memperkuat peranan bahasa serumpun di negara masing-masing dan di peringkat antarbangsa PENUTUP Penelitian dengan menggunakan media bahasa Indonesia diperingkat antarbangsa perlu terus dibudayakan dan ditingkatkan di antara bangsa serumpun/serantau. Brunai dan Singapura) telah terjadi berbagai perubahan berkaitan dengan perkembangan ilmu.A. Kedudukan bahasa Melayu seperti ini tentu sangat bermakna bagi perkembangan bahasa Melayu pada umumnya dan perkembangan bahasa Indonesia di tataran global pada khususnya. (2002). khususnya teknologi informasi sebagai tuntutan dunia global. C.Alma EvitaAlmanar).Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Alwright. Quality Teaching at a Leading and Outstanding University: A Conceptual Framework for Action and Development. Hal ini sudah sering dibahas antara peneliti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu pada seminar-seminar antarbangsa. Skelton. Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dengan bahasa Indonesia dan bahasa serantau sehingga dapat meningkatkan peranan bahasa tersebut di era global.Oktober 2008 .

Salah satu model bimbingannya adalah Lesson Study. bimbingan mengajar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . maka kami melakukan sebuah penelitian dengan metode Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan terhadap mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Seorang guru memiliki peran yang paling besar dalam upaya inovasi serta peningkatan mutu pendidikan melalui inovasi dalam proses pembelajaran. dan guru. Berbagai penataran dan pelatihan guru menjadi salah satu bentuk dari upaya tersebut walaupun kurang membekas dalam keseharian aktivitas guru. Kata Kunci: lesson study. perlu program bimbingan bagi mahasiswa yang secara khusus meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran yang inovatif.S. Pelaksanaan sertifikasi guru sebagai amanat dari Undangundang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dan pengalaman bahwa bimbingan mengajar bagi mahasiswa S-1 karyawan belum berjalan dengan baik padahal sebagai mahasiswa yang telah menjadi guru memerlukan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. Di sisi lain. Oleh karena itu. Pada dasarnya. Suatu model pembinaan guru untuk mencapai kualitas pembelajaran di sekolah adalah Lesson Study. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran?” “JURNAL. 5 orang guru dan tim peneliti sendiri. menganalisis. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan pengisian angket. 2006 : 10). Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pelaksanaan Lesson Study. Lesson Study adalah ”model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas D belajar” (Hendayana dkk. sehingga Lesson Study dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi. Lesson Study ini dilaksanakan untuk mahasiswa karyawan semester VII kelas interes matematika program studi S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya di SDN I Pengadilan Kota Tasikmalaya. Teknik pengolahan data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang usaha meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran dengan Lesson Study di sekolah dasar.Oktober 2008 . sekolah. Lesson Study dapat digunakan sebagai model bimbingan mengajar bagi mahasiswa. strategi pembelajaran PENDAHULUAN alam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas guru. mulai dari kondisi di kelas. Lesson Study dapat dikategorikan sebagai kegiatan penelitian tindakan. Dalam pelaksanaan program pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Penelitan ini menggunakan model penelitian tindakan dalam bentuk Lesson Study itu sendiri dengan subjek penelitian 7 orang mahasiswa. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku profesional. Hasil penelitian antara lain adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan strategi pembelajaran juga respon yang baik dari mahasiswa dan guru mengenai pelaksanaan Lesson Study di sekolah dasar. Lesson Study dipandang dapat menggairahkan inovasi pembelajaran di sekolah karena semua pihak terlibat dan berkonsentrasi ke arah perbaikan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran. memecahkan dan mendeskripsikan masalah-masalah yang terjadi selama kegiatan Lesson Study serta pengaruhnaya terhadap kualitas bimbingan kemampuan mengajar mahasiswa.Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study Di Sekolah Dasar Rustono W. Abstrak Artikel ini didasarkan pada hasil penelitian tentang penerapan Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran di sekolah dasar. Hal inilah yang mendasari perlunya perbaikan yang menitikberatkan kepada kondisi riil di lapangan.

Ada dua model Lesson Satudy. (4) merancang rencana pembelajaran. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang studi. Kegiatan Lesson Study biasanya dikoordinir oleh kelompok guru tersebut dan dibina oleh dinas pendidikan yang terkait. misalnya MGMP atau KKG. (6) melaksanakan pembelajaran. yang menggunakan sistem guru kelas. Mulai tahun 1998. 2006:38) mengemukakan keunggulan atau kelebihan Lesson Study seperti dalam Gambar 1. yaitu : Lesson Study Berbasis Sekolah yang dilakukan di sekolah oleh guru dari berbagai bidang studi serta kepala sekolah.. Saat ini. Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan. (9) melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas. serta (10) mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya. Lesson Study dilaksanakan untuk meningkatkan kulitas guru kelas serta berbagi pengalaman mengajar di setiap kelas.. (2006 : 10) ditegaskan bahwa setiap guru berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini. Perry. sekolah mungkin saja melibatkan pihak luar sebagai tenaga ahli seperti dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain. Dalam Hendayana dkk. dan merefleksi (see) yang berupa kegiatan yang berkelanjutan. Lewis. dan Hurd (2003. (2) mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan. Lesson Study sudah menjadi salah satu model pembinaan guru di Jepang dan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. (3) memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan.TINJAUAN PUSTAKA Lesson Study Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pronsippronsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Kelompok guru biasanya berdasarkan bidang studi pada wilayah kerja tertentu. Di sekolah dasar. Model kedua dari Lesson Study adalah Lesson Study Berbasis Kelompok Guru. Lesson Study dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu merencanakan (plan). (Hendayana dkk.Oktober 2008 . Pada pelaksanaannya. dkk. melaksanakan (do). (8) mengidentifikasi hal penting yang terjadi pada aktivitas belajar siswa di kelas. (7) mengobservasi proses pembelajaran. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . yaitu : (1) identifiaksi masalah pembelajaran. beberapa negara maju seperti Amerika dan beberapa negara eropa mengadopsi model pembinaan seperti ini. Beberapa tim ahli dari dosen juga dilibatkan beserta para mahasiswa dengan bidang yang sama.(2006 : 39) “JURNAL. 2006 : 10). Hendayana. Sebagai model pembinaan guru. Karena itulah. (5) mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih. Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project Gambar 1: Keunggulan dan Kelebihan lesson Study Sumber : Hendayana dkk.

(2006 : 20) dijelaskan bahwa Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu. Dalam Hendayana dkk. metode yang digunakan adalah Lesson Study yang dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan. pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). MeTODOlOGI PeNelITIAN Penelitian ini bermanfaat untuk mengkaji subtansi pengDalam penelitian ini. Kegiatan perencanaan (plan). Kegiatan pengenalan lapangan dilakukan dalam bentuk observasi. Kegiatan selanjutnya adalah latihan keterampilan terbatas. mahasiswa ini telah memiliki pengalaman sebagai guru sekolah dasar paling sedikit 3 tahun. Lesson Study bisa diterapkan sebagai model bimbingan mengajar mahasiswa sebelum dan pada pelaksanaan PPL blok waktu. Dengan demikian Lesson Study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. Sebagian besar telah menjadi PNS dan terdapat 2 orang yang menjabat kepala sekolah sehingga menambah keragaman dalam diskusi pada proses kegiatan Lesson Study.(IMSTEP) bekerjasama dengan IKIP Bandung (UPI). IKIP Yogyakarta (UNY). yang kemudian latihan terbimbing. atau perspektif pendidikan di SD. dan latihan mandiri. Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : teknik observasi. (2) perencanaan. Dalam Lesson Study. Semester terakhir. tetapi mencoba melihat aplikasinya di dalam praktek. Melalui kegiatan seperti ini. dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. PPL diadakan secara blok waktu sampai menjelang ujian PPL. penguasaan kompetensi akademik calon guru akan menjadi semakin mantap karena mereka tidak hanya belajar dari teori. Alur penelitian secara umum adalah : (1) pra tindakan. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai 12 Juni 2007 sampai 16 November 2007. seperti pengenalan peserta didik. Waktu pelaksanaan Lesson Study sendiri adalah mulai 26 Oktober – 16 November 2007 dengan rincian sebagai berikut. dan “clinical supervision”. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan). Dosen yang terlibat pada Lesson Study ini adalah tim peneliti sendiri. latihan keterampilan terbatas. yang juga memungkinkan calon guru berkunjung ke SD untuk mengamati guru yang sedang mengajar. (3) pelaksanaan. Bermacammacam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka.Oktober 2008 . Pengenalan lapangan dapat diagendakan sejak semester awal melalui penugasan yang terkait dengan mata kuliah yang relevan. Sementara mahasiswa yang telibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Oleh karena itu. BIMBINGAN MeNGAjAr PADA MAHASISwA Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan merupakan program khusus dalam pendidikan profesional guru. pembelajaran bidang studi. Setelah menjalani semua tahap PPL dengan rekomendasi yang memuaskan. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan adalah 7 orang mahasiswa yang semuanya mahasiswa karyawan atau mahasiswa lanjutan dari D-2 PGSD. latihan terbimbing. teknik Gambar 2: Alur Kegiatan lesson Study “JURNAL. Pada kegiatan latihan terbimbing mulai ditanamkan dasar-dasar peningkatan kualitas pembelajaran. Do (melakukan). yang berasal dari dua kata yugyo yang berarti lesson atau pembelajaran. kolaboratif dan kolegatif antara dosen dan mahasiswa. PPL mencakup empat tahap latihan secara utuh. Dalam hal ini. serta guru sekolah dasar. dan IKIP Malang (UNM) melaksanakan Lesson Study di beberapa wilayah di Indonesia. Lesson Study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru. Adapun guru yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study adalah guru SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya sejumlah 5 orang termasuk kepala sekolahnya sendiri. dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. misalnya : ”action research”. mulai dari pengenalan lapangan. maka proses bimbingan dari dosen sangatlah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa calon guru. partisipasi. peran guru dapat berubahubah : dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. “coaching”. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Penelitian Tindakan sekaligus dalam bentuk Lesson Study. para calon guru dapat menempuh ujian PPL yang merupakan bagian dari uji kompetensi. dan tahap akhir penelitian. Kemampuan ini dimantapkan kembali dalam latihan mengajar mandiri. (4) refleksi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sekolah dasar yang menjadi tempat kegiatan Lesson Study adalah UPI Kampus Taskmalaya dan SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya dengan kelas yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah kelas V dan kelas VI. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan secara partisipatif. Karena pentingnya PPL dalam program kependidikan dan pembinaan mahasiswa. Jumlah siklus tindakan atau siklus Lesson Study direncanakan sebanyak 2 siklus. strategi belajar-mengajar. Skema kegiatan Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 2.

Diskusi itu bertujuan untuk mengungkap berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. siswa menggunakan alat dan bahan seperti kertas karton. • Guru menjelaskan isi dari LKS secara bertahap dimulai dari penyajian ilustrasi masalah sampai dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. “JURNAL. • Guru belum memahami kemampuan dan karakter siswa karena baru pertama kali berhadapan dengan siswa di sekolah tersebut • Keterampilan mengajar guru sudah cukup baik. guru (mahasiswa praktikan/model) memperkenalkan para observer secara umum dan menjelaskan tujuan hadir di kelas agar siswa tidak merasa canggung. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif.wawancara. Pada tanggal 1 November 2007. kepala sekolah dan guru. Setelah dianalisis dan dipertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan sebagai upaya pemusatan konsntrasi. Pada tanggal 25 diskusi dilaksanakan dengan melibatkan tim peneliti dengan mahasiswa yang telah bersedia mengikuti kegiatan Lesson Study. Untuk melakukannya. Strategi eksplorasi dapat berupa aktivitas siswa dengan mencatat dan membuat coretan dalam menyelesaikan masalah meliputi rangkaian menduga. akan tetapi pada beberapa langkah pembelajaran kurang menguasai teknik khusus seperti apersepsi untuk menarik perhatian siswa. Para observer duduk di bagian belakang kelas serta sebagiannya berdiri. maka ditentukan fokus pembelajaran. guru SD serta mahasiswa duduk bersama di kelas untuk mengadakan refleksi dari semua rangkaian kegiatan Lesson Study sebelumnya yaitu tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Selain itu dijelaskan kembali tentang langkah-langkah pembelajaran agar partisipan memiliki kesamaan pemahaman. teknik catatan lapangan dan teknik audio dan video. penggaris. Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi dan rekomendasinya. mahasiswa. gunting (disediakan oleh guru) dan alat tulis lainnya. penggaris dan lem (alat lainnya dimiliki siswa seperti pensil dan ballpoint) sambil memancing siwa dengan pertanyaan. mencoba dan memperbaiki perkerjaan sampai ditemukan solusi. Setelah menentukan fokus pembelajaran. • Siswa pertama kali mengalami proses belajar seperti itu sementara guru kurang maksimal dalam membimbing siswa • Guru kurang aktif dalam melakukan bimbingan terhadap siswa • Gaya guru belum mencerminkan karakter guru SD yang antusias dan aktif. Soal cerita yang disajikan kepada siswa adalah bahwa siswa secara berkelompok diminta untuk membuat persegi-persegi dari kertas karton berbentuk persegi panjang ukuran 30 cm x 48 cm dengan ukuran perseginya sama dan yang paling besar. satu jam sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti menjelasakan pedoman observasi dan aturan observasi kepada para pengamat yang terdiri dari tim peneliti sendiri. • Guru membagikan LKS. • Guru menjelaskan kembali tugas yang harus dikerjakan siswa. • Guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. • Guru menyimpulkan proses dan hasil pembelajaran sebelum akhirnya menutup kegiatan pembelajaran. • Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang maju ke depan tentang hasil pekerjaannya dan memberikan alasan.Oktober 2008 . kertas karton dengan ukuran 48 cm x 30 cm. membuat media. Saat itu siswa sudah terbagi menjadi 6 kelompok. Refleksi Guru dan para observer yang terdiri dari tim peneliti. • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. Salah satu masalah yang terungkap adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada konsep FPB. Setelah memperkenalkan diri. maka selanjutnya disusun langkah-langkah pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Perbaikan (RPP). Metode yang digunakan adalah metode pemecahan masalah dengan menggunakan strategi eksplorasi yaitu siswa melakukan proses penyelesaian melalui pencarian dan manipulasi alat peraga atau media yang disediakan oleh guru. LKS. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Lesson Study Siklus 1 Perencanaan Tahap perencanaan Lesson Study Siklus 1 ini dilaksanakan tanggal 25 – 26 November 2007 di UPI Kampus Tasikmalaya. Guru memberikan penjelasan bagaimana aturan main kelompok serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam kelompok seperti bekerja sama dan pembagian tugas serta tugas ketua kelompok. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 1 November 2007 mulai jam 09. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . alat evaluasi. yaitu pembelajaran akan dilakukan di kelas V materi materi FPB. kepala sekolah. gunting.45WIB selama 2 jam pelajaran. serta memilih seorang mahasiswa sebagai guru model. Kemudian guru kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. • Guru memberikan arahan kepada siswa bahwa jika ada kelompok yang sudah selesai diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasilnya.

• Guru membagi siswa ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. perwakilan masingmasing kelompok maju ke depan untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan.• Suara dan intonasi bicara guru kurang lantang sehingga tidak dapat mengontrol kegiatan pembelajaran dengan baik. Penemuan siswa dibimbing oleg guru agar lebih terarah tetapi tanpa mendikte aktivitas belajar atau berfikir siswa. • Guru harus lebih banyak membimbing siswa melalui pertanyaan menuntun. • Guru membagikan alat peraga atau media yang terdiri dari model lingkaran dari karton. dan lem. “JURNAL. Intonasi guru dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas sehingga penjelasan guru dapat dengan baik dimengerti oleh siswa. Kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. Sementara siswa memperhatikan penjelasan guru serta merespon pertanyaan-pertanyaan guru yang mengarahkannya pada kesimpulan. • Guru tidak mengontrol waktu sehingga melebihi rencana pembelajaran. Refleksi Guru terlebih dahulu mengungkapkan kesannya setelah menjalani proses pembelajaran. • Guru menilai satu persatu pekerjaan siswa dan kemudian menunjukkan kekuarang-kekurangan dari pekerjaan siswa mulai dari cara mengkur keliling. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. gunting. Mahasiswa yang dipilih untuk tampil berbeda dengan pembelajaran siklus 1. Metode penemuan terbimbing diterapkan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk melakukan aktivitas ilmiah yaitu penemuan. Setelah mempertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. Tetapi pemahaman terhadap proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi lebih dalam. • Presentasi hasil kerja kelompok dilakukan secara klasikal dan diperhatikan oleh siswa yang lainnya. simulasi pembelajaran tidak dilakukan di depan partisipan. Pelaksanaan Lesson Study Siklus 2 Perencanaan Kegiatan Lesson Study selanjutnya dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 November 2007 sesuai dengan kesiapan semua pihak. • Kerjasama dalam kelompok harus lebih ditingkatkan melalui bimbingan guru. Serta menyampaikan cara kerja dalam kelompok. • Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. • Penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan dilakukan berulangkali sampai siswa paham dan jika penjelasan itu ada dalam LKS maka guru memandu siswa untuk memahmi LKS. Waktu ini ditentukan saat refleksi siklus 1. Akhirnya. • Guru harus selalu mengontrol waktu pembelajaran • Guru harus menjelaskan beberapa jawaban pertanyaan secara klasikal agar informasi bisa merata. menempelkan bagian-bagian lingkaran sampai menghitung luas persegi panjang.00 WIB selama 2 jam pelajaran. maka pembelajaran akan dilakukan di kelas VI dengan materi tentang pembuktian rumus luas lingkaran dengan pendekatan luas persegi panjang melalui metode metode penemuan terbimbing. Ia mengungkapkan rasa senang dapat melakukan pembelajaran dengan metode seperti walapun ia mengakui sangat lelah karena proses pembelajaran menuntut ia untuk lebih aktif. • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembuktian rumus luas lingkaran kepada siswa. Pada saat refleksi siklus 1 juga dilakukan perencanaan pelaksanaan siklus 2 termasuk inventarisasi masalah serta penentuan alternatif masalah. dari masalah-masalah yang telah diungkap kemudian dianalisis untuk menentukan fokus pembelajaran. • Guru menyampaikan kesimpulan tentang pembuktian rumus lingkaran dan memberi kesempatan siswa. busur. • Saat siswa mulai bekerja. • Agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu.Oktober 2008 . • Kegiatan observer jangan memengaruhi dan mengganggu proses pembelajaran. • Penjelasan guru terutama dalam menanggapi pertanyaan hanya secara kelompok tetapi tidak secara klasikal. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. • Guru harus lebih sering memberikan penguatan dalam pembelajaran. • Presentasi yang dilaksanakan oleh kelompok seharusnya dilakukan di depan kelas dan dilihat oleh kelompok yang lainnya • Tahap penarikan kesimpulan tidak berjalan dengan baik karena siswa tidak dikondisikan terlebih dahulu. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi tentang konsep bangun datar lingkaran dengan menggunakan model lingkaran. Karena waktu yang tidak memungkinkan. benang tali. • Setelah siswa selesai bekerja. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 10 November 2007 mulai jam 09. • Beberapa observer melakukan interaksi dengan siswa sehingga mempengaruhi proses pembelajaran. • Guru menutup pembelajaran.

Oktober 2008 . Metode pembelajaran seperti ini adalah hal bagi mahasiswa maupun guru di sekolah. atau disebut penemuan terbimbing. serta mengelola aktivitas siswa dalam kelompok. padahal tahap ini sangat penting dalam pembentukan pengetahuan bagi siswa. Keterampilan ini memang memerlukan latihan yang lebih spesifik. • Persiapan harus lebih matang terutama mengenai gambaran proses pembelajaran. Hal ini termasuk kemampuan bertanya menuntun (probing). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . ini memang gaya yang bersifat pribadi tetapi jika berlanjut akan berpengaruh keaktifan siswa. • Siswa kurang memberikan perhargaan kepada siswa yang aktif dalam bertanya dan kepada kelompok yang berhasil. pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menemukan rumus luas lingkaran dengan bimbingan guru. • LKS sebaiknya dibagikan terlebih dahulu kemudian guru memberi penjelasan • Alat peraga sebaiknya digambar ulang pada papan tulis ketika guru melakukan apersepsi dan pengambilan kesimpulan. Sebenarnya dengan latihan dan pembiasaan. guru kurang rapih dalam menuliskan langkah-langkah pembuktian sehingga siswa terlihat kebingungan. • Koordinasi dan peran guru sekolah dasar harus ditingkatkan. Karena waktu pembelajaran tersita untuk aktivitas siswa. Sementara pada siklus 2. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan dan ekplorasi masalah matematika membutuhkan waktu yang lebih banyak dari biasanya karena guru harus berpatokan juga kepada kinerja guru. guru kurang memiliki waktu untuk melakukan kesimpulan. • Guru tidak mengoreksi kesalahan yang dilakukan ketika tahap apersepsi yaitu tentang ungkapan siswa yang menyebutkan istilah “volume lingkaran” bahkan guru menuliskannya tanpa ada koreksi lebih lanjut. Pembelajaran pada siklus 1 lebih menekankan kepada kemampuan eksplorasi matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. • Observer sebaiknya mengamati di luar kelas karena sering berpengaruh terhadap pembelajaran. guru yang tampil lebih energik dan adapat menguasai kelas dengan baik. • Guru harus mengulang-ulang penjelasan terutama pada pengambilan kesimpulan agar siswa lebih memahami. • Guru kurang memberikan penjelasan kepada siswa tentang arah kegiatan pembelajaran sehingga siswa langsung saja bekerja dengan LKS. • Guru pun kurang melibatkan siswa dalam pembuatan kesimpulan sehingga pada tahap ini siswa terlihat tidak bersemangat. “JURNAL. serta demonstrasi kemampuan guru belum optimal. • Guru sangat baik dalam menghidupkan suasan dan aktifitas siswa di kelas. mengontrol kegiatan siswa. • Guru terlambat untuk mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok sehingga siswa tampak tidak kompak pada awalnya. • Guru kurang menjelaskan cara-cara pengukuran keliling lingkaran dengan alat bantu tali karena siswa terlihat kebingungan. hanya memang metode pembelajaran seperti itu jarang dilakukan di sekolah dasar termasuk oleh kedua guru yang tampil. skenario yang diterapkan benarbenar pengalaman baru karena biasanya guru melakukan pembelajaran konvensional. • LKS tidak banyak berfungsi bagi siswa karena siswa bekerja mengalir saja dan berdasarkan arahan dari guru. • Tujuan pembelajaran harus disampaikan terlebih dahulu dengan jelas dan diulang-ulang dalam proses pembelajaran. Hal ini tampak pada dua kali pembelajaran dimana waktu kurang terkontrol dengan baik. • Pada tahap pembuatan kesimpulan. Pembahasan Hasil Pelaksanaan Lesson Syudy Bagi guru model. • Guru tidak memperlihatkan hasil kerja siswa seluruhnya di depan kelas • Terdapat kesalahan guru dalam menggunakan simbolsimbol matematika. • Guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. merespon pertanyaan siswa dan menjawab dengan jawaban yang membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berfikirnya.Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi. • Guru sebaiknya memperhatikan waktu yang telah direncakan dan selalu menyampaikan target waktu terhadap siswa agar siswa bekerja dengan efektif. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan bantuan alat-alat dan media untuk menumbuhkan kemampuan kerja ilmiah siswa. hal ini kurang optimal dalam pembentukan pengetahuan siswa. Berbeda dengan pembelajaran kedua. Pada pembelajaran pertama guru terlihat kurang energik atau gaya mengajar yang kurang antusias. Guru sudah menjalankan proses pembelajaran berdasarkan skenario yang telah dibuat. Tahap yang penting dalam pembelajaran seperti ini adalah kemampuan guru dalam menuntun siswa membuat kesimpulan. Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana tetapi mengenai hal-hal spesifik seperti membimbing kerja dalam kelompok. waktu dapat dikendalikan. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi. Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode pemecahan masalah dan penemuan mengharuskan siswa memiliki kemampuan membimbing kerja siswa selama siswa aktif dalam pembelajaran. hal ini dapat dilakukan melalui simulasi terlebih dahulu.

Akan tetapi.hk. beberapa observer berinteraksi dengan siswa bahkan ada yang memberikan masukan kepada siswa. Remaja Rosda Karya “JURNAL. Pada pelaksanaannya. mahasiswa dan pihak sekolah. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kepada kegiatan siswa dan guru setidaknya mengganggu konsentrasi siswa. Observer berpedoman kepada lembar observasi yang telah disiapkan untuk kemudian menjadi acuan dalam kegiatan refleksi. N. mahasiswa.(2005). Oakland CA : Education Department.net. KESIMPULAN Lesson Study sebagai model pembinaan guru yang bersifat kolaboratif dan kolegaliatif dapat dimanfaatkan sebagai model bimbingan mengajar dosen terhadap mahasiswa. [online]. guru. Bandung : UPI Press Lewis. dan mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan Lesson Study. Peneliti mewawancara kepala sekolah. hal ini karena para observer telah memiliki pemahaman bersama tentang tugasnya. penetapan waktu pelaksanaan Lesson Study yang tidak leluasa menurut pertimbangan semua partisipan sehingga persiapan belum melibatkan guru secara optimal tetapi hanya sebatas koordinasi saja. Hongkong : The University of Hongkong.lessonresearch.edu. Sementar Faktor penghambatnya adalah : pertama. pemilihan pokok bahasan dan strategi pembelajaran berdasarkan situasi di sekolah serta pengetahuan mahasiswa. (2006). S. Faktor pendukung dalam kegiatan Lesson Study ini adalah: pertama. Mereka berharap kegiatan Lesson Study sering dilaksanakan oleh UPI Kampus Tasikmalaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di SD. LO. Guru dan kepala sekolah berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan tentang strategi-stretegi pembelajaran matematika khususnya dan bidang studi yang lainnya. [17-05-2007]. tidak hanya berbekal terhadap pemahaman mengajar secara akadenik saja tetapi membutuhkan pengalaman berupa kegiatan praktek terbimbing. Mahasiswa juga mendapatkan feed back langsung dalam kegiatan refleksi. • • Penetapan kerja sama dengan pihak sekolah. dosen. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif. Mengadakan workshop di sekolah untuk mensosialisasikan program kegiatan yang dihadiri dosen. Mills College [online]. serta ketiga. Setelah semua kegiatan Lesson Study dalam 2 siklus selesai dilaksakan.. pihak sekolah mendukung sekali dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study dan merasakan manfaatnya. Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. Sementara bagi mahasiswa Lesson Study dianggap sebagai latihan dan bimbingan yang baik untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebagai bekal nanti sebagai guru.Pelaksanaan observasi pada kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. [17-052007] Pusat Perkembangan Kurikulum.Oktober 2008 .(2003). dan guru berkolaborasi dalam perencanan. mahasiswa yang terlibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa semester VII interes matematika yang semuanya sudah mengajar di SD sehingga mudah dalam menganalisis permasalahan di SD. Catherina C. Sukmadinata.(2001). pelaksanaan dan rekleksi pembelajaran sehingga muncul sikap kolegalitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. dkk.(2002). Melalui kegiatan Lesson Study. yaitu : • Penetapan program bimbingan oleh dosen yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut. • Penetapan jadwal kegiatan. dan kedua. Lesson Study : suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMSTEP-JICA).S. Untuk menjadi seorang guru yang profesional. Bandung : PT. Ling Mun. Belajar Cara Belajar. http://www.ied. mahasiswa melakukan praktek pembelajaran yang tidak hanya melibatkan dosen tetapi pihak sekolah dasar. karena belum terbiasa bertugas sebagai pengamat yang diharapkan independen dari proses pembelajaran. Kuala Lumpur : Kementrian Pendidikan Malaysia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . http://www.Metode Penelitian Pendidikan. Untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study di sekolah dalam rangka bimbingan mengajar bagi mahasiswa memerlukan persiapan-persiapan. persiapan untuk pelaksanaan di sekolah kurang matang sehingga berpengaruh terhadap penentuan waktu pembelajaran DAfTAR PUSTAKA Hendayana. kedua. Lesson Study and Its Impact on Teacher Depelovment.

(3) Catatan Lapangan. Pendekatan Terpadu (PT). Data dari komponen pelaksanaan pembelajaran menunjukkan data sebagai berikut. dan (5) Observasi. Di samping itu. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDAHULUAN aat ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Dari ke-30 KE tersebut. Dari 8 kali tatap muka .Oktober 2008 .1988:93). Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. Di samping itu. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Sisanya. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. Data penelitian ini diambil dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selanjutnya. aspek-apek kebahasaan harus diajarkan secara “JURNAL. pelaksanaan pembelajaran. konteks kebudayaan dan suasana. Kurikulum KTSP mempertegas bahwa dalam penyajian materi bahasa . Data dikumpulkan dengan (1) Angket. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. menyiapkan materi yang bervariasi. tidak lagi bertujuan mengajarkan bahasa secara teoretis. motivator. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selama 8 kali tatap muka. dan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. (2) Wawancara. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata.Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. pembelajaran Bahasa Indonesia pada lembaga pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan SLTA. tujuan. peristiwa bebahasa (Utari.(4) Studi Dokumentasi. Demikian juga dengan penerapan pembelajaran terpadu dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan kategori baik. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. yaitu mengetahui tentang bahasa tetapi mengembalikan pembelajaran bahasa kepada fungsi bahasa yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. tempat. S Pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan. waktu. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa. jalur dan media. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. yaitu kasus pembelajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu. dan fasilitator. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. Dari komponen RPP yang dijadikan data menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif telah dilaksanakan dengan kategori baik. Kata Kunci: Pendekatan Komunikatif (PK).

Oktober 2008 . Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran. tetapi lebih luas lagi. Adapun materi pelajaran utamanya ialah : (a) empat keterampilan berbahasa. antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi. Kenyataan menunjukkan keempat keterampilan berbahasa tersebut. tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar (Stevik. menulis. persetujuan. Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. tetapi secara utuh. menentukan latihan. karena secara kodrati siswa usia SD memandang sesuatu selalu dengan pandangan yang utuh dan menyeluruh (holistik). siswa akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam masyarakat bahasanya. Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk : (a) mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. berbicara. digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pengajaran baik dalam belajar bahasa maupun bidang studi lain. pembelajaran bahasa menyangkut keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks. 1992).” (Depdiknas. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada pernyataan Goodman (1986) tentang kurikulum bahwa pengajaran bahasa dan pengajaran bidang studi lain (yang dilaksanakan dengan menggunakan bahasa sebagai media penyajian) merupakan kurikulum yang bersifat ganda (dual curriculum). (b) fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa. mengajukan pendapat. Pembelajaran bahasa yang komunikatif nampak lebih humanistik. otonomi. nada. yaitu bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks nyata. dan menyimak tidak dipandang sebagai komponen yang terpisah-pisah untuk diajarkan sendiri-sendiri. Dengan demikian. Demikian pula keterpaduan dalam bidang studi bahasa Indonesia. Dengan demikian. berupa bahasa otentik. menjawab. guru berperan sebagai individu yang diharapkan memberi nasihat. Kerjasama yang baik itu bisa diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor. dan lafal). yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu. menyapa. 1992). serta unsur-unsur prosodi (intonasi. memantau kegiatan siswa.terpadu dengan keterampilan berbahasa yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu. 2006: 14). “JURNAL. untuk memungkinkan siswa dapat berbahasa sesuai konteks. seperti fungsi bertanya. dan lain-lain. atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata. bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya berbeda-beda. Baik keterpaduan dalam internal Bahasa Indonesia maupun keterpaduan lintas kurikulum. Artinya. pembelajaran bahasa Indonesia di SD juga harus mengacu pada pendekatan terpadu (PT). dan media yang digunakan. yaitu sentralitas kegiatan lebih banyak berada pada siswa. ide. dalam Sumardi. menulis. dan tempo) dalam bahasa lisan. karena dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan pengetahuan tidak secara per bagian. gagasan. tempat. ejaan. membaca. Oleh karena itu. keinginan penyampaian informasi suatu peristiwa. berbicara. tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri. fonem. Selain harus mengacu pada pendekatan komunikatif. kosa kata. menyangkal. Sebagai fasilitator guru mengkoordinasikan kegiatan siswa yang harus bisa menjamin kegiatan kelas berjalan dengan baik. kalimat. menghubungkan. (e) sastra. dalam Sumardi. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah. Sumber materi yang diutamakan dalam pendekatan komunikatif ialah materi yang otentik. (b) meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi. (d) sistem bahasa (struktur. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . yaitu fungsi komunikatif. sastra. situasi. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut sebagai alat komunikasi. dan memberikan bimbingan (Littlewood. (c) variasi-variasi bahasa. isi pembicaraan. paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan). tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa. pengajaran bahasa dan isi dari bidang studi lain bersama-sama menjadi bagian dari kurikulum secara utuh. Hal ini diisaratkan baik dalam rambu-rambu Kurikulum SD 2006. yaitu dengan menyatukan. tekanan. Guru hanya sebagai fasilitator. Komunikasi yang dimaksud ialah suatu proses penyampaian maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. maka kedua belah pihak juga harus bisa bekerja sama dengan baik. Dalam kegiatan komunikatif. siswa diberi kebebasan. Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud . pendapat. Alasan lain. Agar komunikasi terjalin dengan baik. dan kebahasaan dan dilaksanakan secara terpadu. akan lebih baik bila pembelajaran di sekolah diarahkan untuk menuju pemikiran secara utuh tersebut. Arah dan tujuan pendekatan terpadu menurut Frazee dan Rosse (1995) mengarah pada pembentukan pemikiran siswa secara utuh. irama. Goodman dalam pandangannya tentang pengajaran bahasa menyatakan bahwa keterampilan membaca. di samping variasi baku/ formal. ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. intonasi. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. “Kompetensi dasar mencakup aspek mendengarkan.

Studi dokumentasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh penjelasan tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dikaitkan dengan perumusan tujuan dan pengembangan materi pembelajaran BI. yaitu kasus pengajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan pendekatan komunikatif dan pendekatan integratif. 2000:72 – 94).sisiwa. dan penilaian hasil belajar yang dilaksankan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. (2) pekerjaan di lapangan. Hal ini dilakukan terutama ketika guru melaksanakan pengajaran di dalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru. teknik penyampaian materi. dan (3) analisis data penelitian (Bogdan dalam Moleong. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. dan penyusunan alat evalusi. pemilihan media. (2) Wawancara. Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai identitas guru serta tugas yang dikerjakannya. Dalam penelitian ini fokus observasi adalah pengajaran BI di kelas VI SD yang dilaksanakan oleh seorang guru dengan menerapkan pendekatan komunikatif. (4) pemilihan media pembelajaran BI. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. penysusunan KBM. Secara lebih khusus penelitian ini tergolong ke dalam penelitian studi kasus pengamatan (observarvastional case study) nonpartisipan. (3) Catatan lapangan. “JURNAL. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Untuk pelaksanaan pengajaran di kelas yang diteliti adalah (1) bentuk interaksi proses belajar-mengajar dan (2) teknik penyajian materi. SD Sukamaju milik pemerintah. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang RPP. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajarkan BI dan siswa Kelas VI pada SD Sukamaju. Sebab itu. Selanjutnya hasil observasi ini dideskripsikan dalam laporan hasil penelitian. SD Sukamaju selalu diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. SD ini mendapat binaan langsung dari induknya. (5) Observasi. Peneliti mewawancari guru BI di kelas VI. Setiap ada pembaharuan dalam bidang pendidikan (perubahan kurikulum) SD Sukamaju mendapat informasi langsung dari atasan terdekat. Peneliti memberikan angket kepada guru pengajar BI di kelas VI. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. Data yang diambil hanya dari 8 RP yang disusun dan disajikan secara berturut-turut untuk 8 kali tatap muka. Sedangkan studi dokumentasi terhadap RPP dilakukan untuk mendapat gambaran secara jelas mengenai perencanaan yang berhubungan dengan penerapan kedua pendekatan tersebut di atas dalam perumusan TPK. Dipilihnya SD Sukamaju sebagai tempat penelitian karena pertimbangan sebagai berikut. Artinya kedelapan RP tersebut disusun secara berurutan dan diterapkan secara berturut-turut pula oleh guru di depan kelas. Data penelitian ini diambil dari penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Peneliti mencatat kejadian selama dilakukan pengamatan di lapangan. (2) penyusunan kegiatan belajar mengajar. Untuk melaksanakan penelitian yang dirancang dengan prosedur deskriptif maka penelitian harus mengikuti presedur (1) kegiatan pralapangan. sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1992:60). Secara rinci yang diteliti pada RP terebut adalah (1) perumusan TPK. (2) langkahlangkah penyampaian materi. Agar kegiatan selama PBM dapat diamati dengan cermat digunakan bantuan tape recorder dan catatan penelitian. (3) dan sistem penilaian yang dilaksanakan oleh guru. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Observasi dilakukan pada saat PBM berlangsung. (3) materi dan sumber pelajaran. Selanjutnya untuk pelaksaan kegiatan evaluasi.Oktober 2008 . Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati (1) aktivitas guru serta aktivitas siswa. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap kurikulum dan rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). serta evaluasi yang dilaksankan oleh guru. apakah setiap mengajar harus menyusun RPP? Apakah RPP dibuat sendiri atau dikirim dari pusat atau dibuat oleh KKG? Apakah RPP diperiksa oleh kepala sekolah sebelum disajikan?. dan (5) penyusunan alat evaluasi. yang diteliti adalah pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan sisiwa selama PBM. Fokus utama penelitian ini adalah sekelompok individu yang berinteraksi dalam periode waktu tertentu (Borg dan Gall. 1983:489).METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dilaksanakan dalam pembelajaran BI di SD Sukamaju Sumedang. Demikan pula bila ada ceramah atau kegiatan yang berkaitan dengan pembaharuan (simulasi atau seminar) dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh PGSD. pemilihan materi pelajaran. pelaksanaan pengajaran.(4) Studi Dokumentasi.

Penyusunan rencana KBM pada RP yang terdiri dari 45 KBM. Dari jumlah tersebut 16 butir alat evaluasi telah menerapkan PK dan 6 butir belum menerapkannya. (4) pemilihan media pelajaran. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Selanjutnya dari 8 RP yang direncanakan guru. (5) penyusunan alat evaluasi. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. (6) bentuk interaksi PBM. sedangkan penggunaan media lainnya sangat terbatas.Oktober 2008 . (3) pemilihan materi pelajaran. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sisanya. “JURNAL. Dari jumlah tersebut 28 butir materi telah menerapkan PK dan 8 butir belum menerapkannya. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Seandainya terdapat penyimpangan maka pada observasi berikutnya dapat dilakukan perekaman atau pencatatan data dengan lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan data yang fatal. sedangkan 5 rumusan TPK lainnya belum menerapkan PK. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. 37 KBM telah menerapkan PK. Selanjutnya kedelapan RP yang direncanakan guru dalam mempersiapkan media tersebut telah menerapkan PT dengan sangat baik. dan fasilitator. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian berkenaan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan penerapan pendekatan terpadu dalam pengajaran BI yang meliputi: (1) perumusan TPK. Di samping itu. Di samping itu latihan-latihan yang diberikan dapat mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi secara langsung. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. (7) teknik penyajian materi . guru tetap merencanakn agar siswa berperan aktif. Sisanya. menyiapkan materi yang bervariasi. Pada KBM yang disusun. (2) penyusunan KBM. Selanjutnya dari 8 RP yang disusun guru. Materi yang direncanakan untuk siswa berjumlah 36 butir. Guru tetap menekankan penggunaan BI secara riil dan bukan menghafalkan pengetahuan tentang bahasa. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. Selanjutnya alat evaluasi yang direncanakan pada 8 RP hanya 3 RP yang telah menerapkan PT. Maksudnya selama pengumpulan data. bermakna bagi siswa dan bersumber dari lingkungan di sekitar siswa dan bersumber dari lingkungan siswa. Selanjutnya bila ditinjau dari penerapan PT semua materi yang direncanakan telah menerapkan PT dengan sangat baik. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. yaitu alat evaluasi yang direncankan pada 5 RP belum menyajikan penerapan PT. Penyusunan alat evaluasi yang direncanakan guru dalam RP berjumlah 22 butir. Ini berarti bahwa media yang digunakan guru kurang bervariasi. Selanjutnya. Berdasarkan hasil pengamatan. TPK yang direncanakan guru jumlahnya sangat terbatas. data ditranskripsikan (dari pita rekaman ke data tulisan) dan disesuaikan dengan catatan penelitian. motivator. Dari ke-30 KE tersebut.Data dianalisis selama pengumpulan dan setelah pengumpulan data. digunakan tes esei sehingga siswa dapat bernalar dan mengorganisasikan jawabannya secara kreatif. Dari 8 kali tatap muka. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. 5 RP telah menerapkan PT dan 3 RP belum menerapkannya. Untuk mengukur kopetensi komunikatif siswa. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Selama 8 kali tatap muka. dan (8) kegiatan evaluasi pengajaran BI. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. diketahui bahwa materi tersebut adalah materi yang otentik. 6 RP telah menerapkan Pendekatan Terpadu (PT) sedangkan 2 RP lainnya belum menerapkan PT. Pada umumnya media pengajaran yang digunakan hanya buku teks. Media pengajaran yang direnacanakan guru pada RP berjumlah 36 butir. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. yaitu hanya ada 25 butir rumusan TPK untuk 8 RP. dan 8 RP KBM belum menerapkan PT. Dari jumlah tersebut 28 butir media telah menerapkan PK sedangkan 8 butir belum menerapkannya. Dari ke 25 rumusan TPK tersebut hanya 20 rumusan TPK yang telah menerapkan Pendekatan Komunikatif (PK). Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE.

I. Moleong. Bogdan. Jakarta: Dikti. Djuanda. 2006. Frazee. 2005. 2008. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi SD. Jakarta: Rasindo. S. dan Prana D. dan S.S. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD. Bandung: UPI PRESS. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. 2005. B. Hastuti. CC. Ahmad. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Clasroom Aplication. Imam. Sumardi. Dadan. Media Pendidikan. Dadan. 2000. New York: Delmar Publisher. Tahun 23. Abdul. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 1997. Karakteristik. 2000. Teori Pembelajaran Bahasa. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Bumi Aksara.R.Biklen. Lexy J. R. dan Rivai. Bandung: Kaifa. 1995. B. Dadan. E. 2 Agustus 1995. Bandung: Rosda Karya. 1995.M dan Rosse. Teknologi Pendidikan. dan Alwasilah. 1996. Rofiudin. Nana. Goodman. 1992. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. Bandung: Sinar Baru. Jakarta: Depdikbud. 45 Kegiatan untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi. Integrated Teaching Methods : Theory. Boston: Allyn and Bacon. dan Zuhdi. D. A. Bandung: Remaja Rosda Karya. Metodologi Penelitian Pendidikan. Majid.K.C. Djuanda. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktik. H. 2004. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Farida. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Rajawali Pers. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud “JURNAL. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mulyanto. 1989. 2003. Tarigan. What’s Whole in Whole Language? Portsmouth: Heinemann. Nangoy.2004. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. 2005. Jakarta: Bumi Aksara. Sadiman. 1998. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2006.G. Pappas. Sukardi. Apresiasi Sastra di SD. Djuanda.Levstik. Arief. Metodologi Pengajaran Bahasa.Oktober 2008 .” Dalam Bahasa dan Seni. No. Jakarta: Sinar Harapan. Daniel J. 1998. Depdiknas.Kiefer. An Integrated Language Perspective in the Elementary School. F. Dadan. Metodologi Penelitian Kualitatif. dan L. and Field Based Connections. A. Bandung: UPI PRESS. Ch. Sapani. Syafi’ie. Rahim. 2005. Ken. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Djuanda. Sudjana. Dkk.M. Bandung: Remaja Rosda Karya.DAfTAR PUSTAKA Azies.M. dan Novi Resmini 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan Jakarta: Depdiknas. Jakarta: Depdikbud. dan Implementasi. Dkk. Mulyasa. 1986. “Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa. 1992. 1995. NewYork: Longman. Parera. 2006.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . bangsa dan Negara (UUSPN : Pasal 3 ayat 1). Fenomena ini sudah berkembang dipersekolahan sejak lama khususnya dalam pembelajaran IPS dimana pembelajaran IPS lebih cenderung transfer materi saja sehingga memunculkan anggapan dibenak masyarakat khususnya peserta didik bahwa pelajaran IPS kurang menantang. sehingga menurunkan minat anak untuk lebih memperdalam mempelajari pelajaran IPS. Whitedan Richard Anderson (dalam Idochi Anwar.Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah PENDAHULUAN ndang-undang No. Kejadian tersebut tidak lepas dari kemampuan guru yang belum mengembangkan kemampuan berpikir siswa kearah materi yang sifatnya problematic yang memerlukan siswa berpikir kritis dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya untuk kemudian memutuskan sesuatu dalam rangka memecahkan masalah. sebagai individu dan kelompok. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. akhlak mulia. 4) biaya mengajar. pengendalian diri. kepribadian. seiring dengan perkembangan jaman. mengingat tujuan IPS untuk setiap jenjang adalah mengembangkan kecerdasan warganegara yang diwujudkan melalui pemahaman. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. 3) isi serta struktur pelajaran. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa. dipersekolahan seharusnya lebih menekankan pada pengembangan potensi siswa dalam berbagai gatra yang bersifat pragmatis-praktis yang menyangkut diri dan kehidupannya. Hal ini disebabkan guru tidak lain dalam proses belajar mengajar itu hanya menyajikan pengetahuan yang ada yang harus dihafalkan dan diketahui peserta didik (Ansyar dalam Laode 1999:4). Mengingat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Seringnya terdengar ungkapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak lebih dari menyampaikan informasi saja tidak menantang dan menjemukan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kenyataan dalam pendidikan dewasa ini adalah semakin menurunnya peran guru dalam proses pengembangan potensi peserta didiknya karena berbagai alasan. materi yang diajarkan guru dan disini siswa harus didorong ikut memainkan peran serta aktifnya dalam proses belajar mengajar. kecerdasan. Studi yang mempelajari interaksi manusia untuk membantu siswa memahami diri mereka dan yang lainnya dalam suatu masyarakat yang berbeda tempat dan waktu.Oktober 2008 . yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai. dan keterampilan sosial dan intelektual serta partisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmuilmu sosial. dapat menghasilkan manusia paripurna yaitu mengembangkan manusia seutuhnya. yang berkembang baik pisik. Seperti kita pahami. studi mengenai pelajaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan. 5) persyaratan dan set –up lembaga. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lippit dan K. 1996:93) disimpulkan bahwa pada saat mengajar akan dijumpai betapa kompleksnya fungsi mengajar itu kita akan menghadapi beberapa variable yang kompleks karena itu kita perlu mengatur strategi dalam mengajar. pendidikan di sekolah-sekolah kita ini masih merupakan pembelajaran yang berfokus pada pengajar (InstructurCentered Learning) Aris Pongluturan (1999:157). masyarakat. sekarang dan akan datang. Pelajaran IPS merupakan. Maka dapat kita katakan bahwa melalui usaha pendidikan. Adapun variabel yang dimaksud adalah : 1) Tujuan . mental intelektual maupun semangatnya dimana ketika peserta didik menyelesaikan setiap satu jenjang pendidikan tertentu dinyatakan telah memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi secara mandiri serta mampu berdiri sendiri tanpa mengantungkan hidupnya pada orang lain. peserta didik diharapkan dapat menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar. U “JURNAL. Studi mengenai manusia di masyarakat dimasa kini. pelajaran IPS. masyarakat dan manusia yang menjadi anggota masyarakat. bidang studi yang menjemukan. Mendidik adalah menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. 2) siswa dan latar belakangnya.

memperlihatkan bahwa. Banyak metode yang digunakan untuk dapat menciptakan proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa (Naylor 1987 : 247). Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan).C.Oktober 2008 . “Decision making process are developed as student clarify value.Remy dalam Naylor (1987:267) “JURNAL. Seperti yang diungkap oleh Maxim (1987:240) “One of the most effective program for encouraging decision making in development of value is….1987:275). consider alternatives and weigh the consequences of different course of action”. upaya yang dilakukan adalah menggunakan pola pembelajaran yang dapat menciptakan aktivitas proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa dimana “Thinking skill are among the most important skill to learn” (Naylor. Untuk bisa dicapainya kondisi tersebut di atas. La Raus and R. analizy and evaluate proposal.The program making political decision”. dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang dapat menjawab diskursus yang berkaitan dengan pengajaran IPS yang selama ini dipandang belum optimal. Satu diantaranya adalah metode decision making process. karena sesuai dengan apa yang menjadi fungsi dan peran yang diemban oleh mata pelajaran IPS yaitu sebagai sarana utama untuk mendidik warganegara dalam upaya mewujudkan masyarakat madani Indonesia. Persoalannya adalah bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan ) digunakan dalam Gambar 1: Decision Making tree Ouline Diadaptasi dari R.mengharuskan guru yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar mengajar untuk lebih kreatif menciptakan kelas yang kondusif sehingga nantinya dapat menghasilkan pembelajaran IPS yang lebih bermakna. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pengembangan model Decision Making Process (proses pembuatan keputusan) diasumsikan dapat digunakan dalam pembelajaran IPS. Dari latar belakang permasalah dan temuan teori di atas. Melalui model pembuatan keputusan dan ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dan analitis guna membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada.

tetapi juga melakukan suatu diskusi berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. berkomunikasi dan juga menghargai pendapat sesama kawan. Berdasarkan metodologi penelitian maka diperoleh hasil: Proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Setelah mengikuti pembelajaran Decision Making Process Model selama empat kali pertemuan. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2: HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimental) yaitu suatu penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bagaimana proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) ? 2.Oktober 2008 . saling toleransi. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. Seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS? 3. penulis akan mencoba menganalisis kinerja guru maupun tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru sejak menyusun tencana sampai penerapan pembelajaran nampak “JURNAL. dalam pembelajaran materi tidak hanya terpaku pada buku teks tapi lebih mengkontekstual. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS ? 4.Gambar 2: Paradigma Penelitian proses belajar mengajar IPS maka penelitian ini dibatasi pada “bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan) dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas 6”. ditemukan bahwa. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru. pembelajaran Decision Making Process Model adalah kegiatan pembelajaran yang sangat menyenangkan. karena guru mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran dengan kondisi riil siswa dan masalah sosial. Masalah pokok makalah di atas. karena kegiatan tersebut diindikasikan melibatkan peserta didik yang terlihat dari pembelajaran yang tidak ceramah terus. Pembelajaran ini dapat menumbuhkembangkan keterampilan sosial peserta didik yaitu berkerjasama.

5 9. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .5 10 9.5 10 9 7.5 8 10 7 6 6 7 7.5 9 10 6.5 7.5 5 7.5 8 9. selain itu dengan penerapan Decision Making Process Model ini peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajaran selalu mengembangkan konsep-konsep terkunci secara terus menerus.486 Gambar 3: Grafik Perolehan Hasil Belajar “JURNAL. Disamping itu dengan menerapkan pembelajaran Decision Making Process Model.mengalami perubahan dan peningkatan kearah lebih baik.5 9 10 8. baik keterampilan dalam menyusun rencana pembelajaran.5 10 7.9857 8. pendapat ini dapat mengindikasikan bahwa pengembangan pembelajaran Decision Making Process Model membutuhkan kemauan maupun keterampilan yag tinggi agar pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan optimal.5 8 9.5 9.5 7. maupun memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas maupun kreativitas pembelajarannya dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dengan menggunakan media pembelajaran short story.5 9. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan penerapan pembelajaran Decision Making Process Model akan memberi warna baru dalam proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan. baik dalam kegiatan tanya jawab.5 9 8 10 7.5 6.5 9 10 6 6 6.5 9 9 10 8 9 9 9 7 6.5 7.5 7 9.5 10 9 9 9 10 8 8.5 9.5 7.5 5 5 6 7.6 9.5 10 7.46 9. diskusi.5 6 7 7.5 8.5 7.5 9 8 9 8 9 8 8 9 9.5 7. maupun dalam mengevaluasi pembelajaran. perlu keterampilan yang cukup tinggi agar Decision Making Process Model dapat dilaksanakan secara optimal. baik dalam menampilkan materi.5 7 8 9.5 8. Menurut pendapat guru Decision Making Process Model ini merupakan inovasi pembelajaran.5 9 9.5 8 8.5143 7.5 8.5 9 9 6 9 6. Guru juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif.5 9 7.5 7.5 8.5 8 9 10 8 9.5 9.5 6.5 10 7. Selain itu hal-hal tersebut di atas guru juga berpendapat bahwa dengan penerapan pendekatan ini dapat meningkatkan aktivitas maupun kreativitas peserta didik hal ini nampak terlihat dari proses pembelajaran berlangsung.Oktober 2008 . Tabel 1: raihan Nilai Setelah Menggunakan Decision Making Process Model No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rata2 Nilai Pertemuan Ke: 1 2 3 4 7 6.5 9 10 8.5 9 9 10 9 9. Menurut pendapat guru pada saat mengembangkan pembelajaran di kelas.5 9 10 5 6 6 9 6. maupun dalam mengerjakan tugas dari guru. sehingga perlu dipersiapkan rencana pembelajaran secara terencana. pelaksanaan.5 10 8 8.5 8 8 8 9 10 8.5 9 8. dapat menumbuhkan suasana belajar yang kondusif.5 10 6.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Namun ketika menemukan hal yang tidak biasanya atau baru mereka merasakan sesuatu yang lain dan respon mereka ditunjukkan bisa positif dan negatif. Kendalan lain yang dirasakan adalah kurang seimbangnya waktu belajar (durasi jam pelajaran) dengan proses pembelajaran. mencari isu dan masalah tidak mudah.Peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Pada penelitian ini kegiatan evaluasi dilakukan guru untuk mengukur penguasaan konsep pada diri siswa. Penerapan model belajar Decision Making Process Model. guru harus menguasai materi yang lebih luas terkait dengan konsep KESIMPULAN Pertama pembelajaran dengan menggunakan model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternatif pembelajaran IPS di sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. membuat laporan menyelesaikan tugas. pertama berhubungan dengan kebiasaan guru itu sendiri yang terbiasa menggunakan pembelajaran yang sifatnya tradisional. (2) guru hanya terpadu pada cerita yang dipersiapkan padahal masih banyak cerita lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan topik bahasan. untuk merubah kebiasaan yang telah tertanam pada diri guru secara keseluruhan sangat sulit dilakukan. umumnya manusia merasakan suatu runtinitas sebagai hal yang biasa. Banyaknya materi yang harus disampaikan dengan jumlah jam pelajaran. maupun kelompok “JURNAL. materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah dipahami. Berdasarkan temuan selama mengadakan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Decision Making Process Model ini telah memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang berarti. dari hasil evaluasi ditemukan adanya peningkatan pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan penguasaan kosep. dikarenakan pelaksanaan model ini dapat menciptakan iklim pembelajaran yang transaksional. mengeluarkan argumentasi. menghargai hasil kerja orang lain. Temuan lain menunjukkan bahwa siswa umumnya suka dengan Decision Making Process Model namun mereka tidak mengharapkan metode tersebut digunakan untuk seluruh pokok bahasan dan tiap pertemuan. sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengungkapkan dan menemukan konsep-konsep dalam belajar. peserta didik merasa lebih banyak tugas yang harus dikerjakan sehinga peserta didik aktif dan antusias dalam mengerjakan tugas. dalam hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar siswa secara keseluruhan maka hasilnya menunjukkan adanya peningkatan. salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa. dan juga sikap siswa. misalnya mau mendengarkan pendapat orang lain. resonansi melalui konlik-konflik nilai dalam dialog. Kendala yang dialami dalam pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan adalah guru kurang berupaya menciptakan disequlibrium atau desonanti. Setelah dilakukan evaluasi dengan materi IPS yang berbeda. berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Menggunakan Decision Making Process Model ini memerlukan waktu yang cukup lama kedua penggunaan pola pembelajaran ini menuntut guru untuk lebih kreatif dibandingkan dengan pendekatan yang konvensional. Temuan lain dari hasil wawancara ditemukan bahwa ada beberapa yang lebih menyukai cara belajar biasa dengan dasar alasannya adalah karena informasi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan Decision Making Process Model . Kendala ini dirasakan dalam pembelajaran IPS dengan model tradisional. penyusunan perangkat evaluasi yang tidak umum dilakukan sebelumnya. juga meningkatkan keterampilan dengan merumuskan pertanyaan. Respon siswa terhadap penggunaan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Dari hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan bahwa : Decision Making Process Model dapat menciptakan suasana anak menjadi kondusif. baik secara individu. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Beberapa kendala yang dialami oleh guru ketika pelaksanaan pembelajaran Decision Making Process Model. sehingga ketika pelaksanaan pada prosesnya guru cenderung terlalu cepat mengambil alih kendali pembelajaran dan dominasi selama pelaksanaan. Sesuatu yang baru diperkenalkan dan dialami adalah variasi dari suatu rutinitas. selain itu hampir semua siswa senang dan menyukai pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dengan alasan cara pembelajaran seperti itu membuat siswa lebih leluasa untuk mengemukakan pendapatnya tanpa ada perasaan takut salah. yaitu berpusat pada peserta didik.Oktober 2008 . Decision Making Process Model adalah merupakan hal yang baru. Perningkatan perkembangan ini dapat dilihal dari Tabel 1 dan Gambar 3. selain itu adanya perubahan sikap. Keterampilan seperti ini tampaknya perlu dilatih dan ditingkatkan untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model.

Merril Publishing Company. Moch Idochi Anwar (1990) Kepemimpinan dalam Proses Belajar Mengajar.(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. Allyn and Bacon Coensuello G. Learning by Doing Developing Teaching skill. Bandung. “JURNAL. Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Beyer (1991) Teaching Thinking Skills :A Handbook for Elementary School Teacher. Ibrahim (1989) Penelitian dan penilaian Pendidikan. Makalah. ----------------. USA. Pengajaran IKIP Bandung. Michell. Ninth Edition. juga dalam mewujudkan iklim belajar yang transaksional dengan interaksi multi arah dan berpusat pada peserta didik. Selain itu juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta didik secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajarannya selalu mengembangkan konsepkonsep kunci pendidikan IPS. Tidak Diterbitkan Bandung. Pidato Pengukuhan jawaban Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan. Prentice-Hall Inc. New York. Tesis. Third Edition. Decision Making Process Model ini memiliki kekuatan karena peserta didik dibantu untuk memahami konsep-konsep IPS yang abstrak dengan enactive. Jakarta. Jakarta. Kedua masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan pembelajaran ini terkait dengan kesiapan guru dalam merencanakan dan mengembangkannya di kelas. Paulina Panen. John U. edition). Random House Inc. Stephen dan William B. dalam membuat rancangan pembelajaran.dan juga bersifat multi arah. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. dimana guru berusaha untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan selalu mempertimbangkan aspek peserta didik. PPS. Departemen Pendidikan Nasional (2000) Pendidikan Kewarganegaraan. LAB Pengajaran PMP IKIP Bandung. Ohio. iconic dan symbolic. Isaac. O (1993) Pengantar Metode Penelitian. New York. California: Edits J. Ari Sutisyana (1997) Pengembangan Berfikir Kritis Anak dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar. P2LPTK. Bandung. Tidak Diterbitkan. dkk (1999) Cakrawala pendidikan. William A. Barry K. Numan Somantri (1993) Masalah Pengembangan Ilmu Kewarganegaraan (IKN) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dalam lingkungan FPIPS-IKIP dan FKIP-Universitas. (1982). Bandung. Bandung : Sinar Baru. Decision Making Process Model ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena Decision Making Process Model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuh kembanggkan kreativitas dan critical thinking siswa. Universitas Jakarta. Engle wood cliffs. New Jersey. Canada. Bandung. Adision Wesley Publishing Company. Jesus A. sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif.Kosasih Djahiri (1996) Teori Keterampilan Belajar dan Mengajar Menuju Inquiry yang Reaktif. PPS IKIP Bandung. Diterjemahkan oleh Alimuddin Tumu.Angkasa. Ketiga penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran.jakarta. M. Keempat penerapan pembelajaran ini menurut guru merupakan inovasi yang bisa menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. Seville. DAfTAR PUSTAKA A. FPIPS IKIP Bandung.Oktober 2008 . Recent. David T. Tidak Diterbitkan. Reading Massachusetts. George W. Nana Sudjana & R. terutama dalam upaya mengkonkretkan konsepkonsep abstrak maupun perannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Gray III (1977). (2 nd . Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam memahami masalah. IKIP Bandung. Naylor (1987) Elementary and Middle School Social Studies.J. Penerbit Universitas Indonesia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Remaja Roakarya. Tesis. Mac Millan Publishing Company. Trends and Development. Selain itu juga guru dituntut untuk menguasai banyak disiplin ilmu untuk pengajarannya. John Jarolimek(1993) Social Studies In Elementari Education. Hansiswani kamarga (1994) Konsep IPS dalam Kurikulum Sekolah Dasar dan Implementasinya di Sekolah. Handbook in Research and Evaluation. Abdul Azis Wahab (1996) Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global. Michaelis (1976) Social Studies for Children in a Democracy. Bandung : IKIP Bandung. Lab. Maxim (1987) Social Studies and Elementary School Child. Hasibuan (1986) Proses Belajar Mengajar. Bandung. Hamid Hasan (1995) Pendidikan Ilmu Sosial.Jakarta.

sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif. The subjects of the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and students of PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. “JURNAL. Data analysis were performed both quantitatively and qualitatively. (3) Students’ activities were also improved in quality. Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis. The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test. seperti yang diungkapkan oleh Begle (Darhim. Kata Kunci: critical thinking skill. metacognitive approach PENDAHULUAN erpikir merupakan satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. Maier (1985) dan Ruseffendi (1991). Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi. Qualitative analysis was applied to explain teaching and learning activity. objektif. serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya.Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Abstract This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitive approach in mathematics learning. students’ attitude scale-questionnaire. 2005) mengenai pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah. Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah B kemampuan berpikir kritis. prinsip. dan generatif. dinamis. middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group. interview guidance. In teaching and learning process. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan. (2) Metacognitive approach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever. yang menitikberatkan pada sistem. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis. and fill-in list for lecturers. The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is a must for students in tertiary level. Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tyler (Mayadiana. 2004). kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah. sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan. dan terbuka. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who were taught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach. Kenyataannya.Oktober 2008 . tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis. Dalam suatu proses pembelajaran. nonetheless. (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning. struktur. observation sheet. experimental group was treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. konsep. Quantitative analysis was applied to the test result to display the difference of means between two sample groups. reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level can be considered as low.

perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan. Melalui pengembangan kesadaran metakognisi. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secara aktif yang menanamkan kesadaran metakognisi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . komentar. Indikasi lainnya. Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebut adalah laporan penelitian Mayadiana (2005). serta 34.Oktober 2008 . Akan tetapi. mahasiswa terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih. MA. salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 4. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif? 3. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional? 2. dengan program studi IPA dan NON-IPA. yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka. maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. SMK. guru atau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 5.26% untuk mahasiswa berlatar belakang IPA. jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan. subkelompok sedang. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. serta faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif.Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas. bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih rendah. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Bertolak dari pemikiran di atas. akan tetapi di sisi lain ternyata kemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masih kurang. Dari uraian di atas. Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Ironisnya. dan SPG (khusus pada kelas karyawan). mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya. mengorganisasi informasi yang dihadapinya. sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. Hasil yang diperoleh dari studi tersebut. Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa. mengenali kembali. mengingat. Pandangan ini tentu saja berdasar. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? “JURNAL. baik untuk mahasiswa yang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA. yakni hanya mencapai 36. 2005). mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapa semester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yang berasal dari SMA. ternyata kurang memuaskan. Oleh karena itu. Semua informasi yang ditemukan di lapangan tersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkan begitu saja.06% untuk keseluruhan mahasiswa. kemampuan berpikir kritis peserta didik di satu sisi memang sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan. yakni dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya. Tampak dari nilai mereka dengan rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk kedua kelompok tersebut. Tinjauan yang lebih mendalam pada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaran bahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitan dalam memahami konsep matematika maupun dalam pemahaman prosedural. juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasi matematik (Maulana. 26.62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA. sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. serta dalam menyelesaikan masalah. mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor.

Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diungkapkan di atas dapat dikembangkan melalui pembelajaran. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. 2003). (5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut. Liliasari. dan berpikir kreatif. menganalisis. pertama-tama ia melibatkan proses sensasi. sebenarnya ia melibatkan proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru yang ada pada persoalan tersebut. Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto (1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang paling utama. memecahkan masalah. serta untuk menilai tindakan (Liputo. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. (3) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . berpikir kritis. seseorang dapat mengatur. Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupan yang tak bisa dihindari. persepsi. 2005). sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. berpikir strategis. STUDI LITERATUR 1. 2003). menafsirkan. (4) memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan. dan Splitter (Mayadiana. menimbang. dan berpikir kritis (critical thinking). memilah-milah atau membedakan. 1996: 31) menyebutkan bahwa yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving). 2005). Sementara itu. Swartz dan Perkins (Hassoubah. Menurut keduanya. gambar. melihat kemungkinankemungkinan yang ada. dan memutuskan (Sobur. evaluasi. menggolongkan. membandingkan. dan dalam hal ini berpikir kritis bertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusan mengenai sesuatu. seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. 1997. mengevaluasi. berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat. juga untuk mengambil keputusan. yaitu: berpikir vertikal. berpikir kreatif (creative thinking). membuat perencanaan. berpikir analitis. Presseisen (Liliasari. mendengar. sintesis. ataupun melakukan recall dan recognition ketika yang dihadapinya adalah persoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin. Penulis merangkum beberapa definisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh Norris (Fowler. 2004). 1996) membedakan kemampuan berpikir menjadi dua bagian.Oktober 2008 . pengambilan keputusan (decision making). serta membuat seleksi. dan memori (Sobur. yakni kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakan perpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar. yaitu membaca. analisis data. Quina (Syukur. merancang. Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yang melibatkan proses sensasi. menghitung. mengubah. ataupun suara. menghubungkan. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. 2004). 1996). Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Ungkapan sejalan mengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh “JURNAL. menyesuaikan. Selanjutnya ia mengalami proses persepsi. 2. berpikir tentang hasil. dan (6) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. termuat juga kegiatan meragukan dan memastikan. Pada saat itu pun. Dalam proses berpikir. subkelompok sedang. 1996).HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dengan berpikir kritis. Paul dan Scriven (1996). mengukur. dan salah satu dari kemampuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. (2) merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. Presseisen (Angeli. menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada. Ennis (2000). dan memahami apa yang diminta dalam persoalan tersebut. Pada saat seseorang menghadapi persoalan. yaitu menangkap tulisan. Gerhand (Mayadiana. yaitu bahwa berpikir kritis: (1) adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. berpikir lateral. atau memperbaiki pikirannya. Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selain untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian. Berpikir Kritis Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan berpikirnya. 1994).

bahwa orang yang berpikir kritis adalah individu yang berpikir. 1987). Nindiasari (2004) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan “JURNAL. 2004). berpikir kritis dalam pembelajaran matematika merupakan tujuan yang dikelompokkan secara holistik berdasarkan apa arti mengajar. dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri. Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. yaitu kemampuan menuliskan konsep-konsep yang termuat dalam pernyataan yang diberikan dan menuliskan bagian-bagian dari pernyataanpernyataan yang menggambarkan konsep bersangkutan. Sejalan dengan itu pula. bertindak secara normatif. 2. mengatur. (6) Kemampuan merekonstruksi argumen. Sebagai pendidik. serta membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri apa yang dilakukan saat belajar matematika. yaitu kemampuan menentukan aturan umum dari data yang tersaji dan kemampuan menentukan kebenaran hasil generalisasi beserta alasannya. (3) Kemampuan merumuskan masalah ke dalam model matematika. Menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. memantau. dosen memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Fawcett (Glazer. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (2) Kemampuan mengidentifikasi relevansi. bentuk aktivitas memantau diri (self monitoring) dapat dianggap sebagai bentuk metakognisi. dan sumber yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. 2005). yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang disajikan dengan menggunakan aturan inferensi. yaitu kemampuan menuliskan contoh soal yang memuat aturan inferensi. yaitu kemampuan menyatakan persoalan ke dalam simbol matematika dan memberikan arti dari setiap simbol tersebut. dan mengetahui kapan melakukannya. Ennis (Glazer. bagaimana melakukannya. mengetahui prasyarat untuk meyakinkan kelengkapan tugas tersebut. (5) Kemampuan memberikan contoh inferensi. apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya. merencanakan. dan siap bernalar tentang kualitas dari apa yang mereka lihat. dengar. Woolfolk (1995) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua komponen terpisah yang terkandung dalam metakognisi. mengerjakan. 1987) mengemukakan bahwa proses atau keterampilan metakognitif memerlukan operasi mental khusus yang dengannya seseorang dapat memeriksa. memprediksi. 2004) mengklaim bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya. pengetahuan tentang pengetahuan. atau yang mereka pikirkan. membantu dan membimbing siswa jika ada kesulitan. dan mengumpulkan informasi untuk membangun definisi operasionalnya. memonitor. Sementara itu Cabrera (1992) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses dasar dalam suatu keadaan dinamis yang memungkinkan mahasiswa untuk menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan masa mendatang. Perlulah kiranya diungkap dengan lebih jelas beberapa deskripsi yang berhubungan dengan berpikir kritis dalam matematika. (4) Kemampuan mendeduksi dengan menggunakan prinsip. Artinya saat siswa mengetahui kesalahannya. yaitu pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang keterampilan. Karena bagaimanapun. Suzana (2004: B4-3) mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang. 2005: 9). Pendekatan Metakognitif Weinert dan Kluwe (1987) menyatakan bahwa metakognisi adalah second-order cognition yang memiliki arti berpikir tentang berpikir.Splitter (Mayadiana. oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan berpikir kritis diabaikan oleh dosen. antara lain meliputi kemampuan: (1) Kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan oleh Krutetski (Mayadiana. Dalam sudut pandang yang lain. yaitu kemampuan menyatakan argumen dalam bentuk lain dengan makna yang sama. 2005). atau refleksi tentang tindakantindakan. 2004). strategi. 2005). penulis merumuskan beberapa indikator berpikir kritis yang akan digunakan dalam penelitian ini. 2005). Lebih jauh lagi. Resnick (Mayadiana. Tim MKPBM (2001) memandang metakognitif sebagai suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. Karena berpikir kritis dalam matematika secara epistemologi berbeda dengan berpikir kritis dalam domain lainnya (Glazer. 3. 2003). Mengetahui apa yang dilakukan. karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif. Pascarella dan Terenzini (Mayadiana. dan berusaha untuk memperbaikinya. mereka sadar untuk mengakui bahwa mereka salah. Brown (Weinert dan Kluwe.Oktober 2008 . di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir. Para peserta didik dengan pengetahuan metakognitifnya sadar akan kelebihan dan keterbatasannya dalam belajar. serta mengontrol tentang apa yang mereka ketahui. Paul (Mayadiana. Berpikir Kritis dalam Matematika Domain khusus definisi berpikir kritis harus didiskusikan dalam rangka menarik hubungan antara penelitian dan implikasinya dalam pendidikan matematika. dan memahami matematika (Appellbaum.

(2) memonitor apa yang mereka ketahui dan bagaimana mengerjakannya dengan mempertanyakan diri sendiri dan menguraikan dengan kata-kata sendiri untuk simulasi mengerti. yaitu: (1) peserta didik diminta untuk menjustifikasi suatu kesimpulan atau mempertahankan sanggahan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sedangkan untuk data kualitatif.. 2004). Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi. Adapun kegiatannya menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. lembar observasi. bila perlu memodifikasi strategi yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan. dengan secara spesifik melatih siswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi. belajar juga merupakan metakognisi melalui aktivitas yang digunakan yaitu mengatur dan memantau proses belajar. sedangkan strategi kognitif metakognitif adalah mengontrol seluruh aktivitas belajarnya. dan (4) situasi peserta didik dalam kegiatan kognitif mengalami kesulitan. dengan model keterampilan ini. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. “Penggunaan keterampilanketerampilan intelektual secara tepat oleh seseorang dalam mengorganisasi aturan-aturan ketika menanggapi dan menyelesaikan soal”. dan merevisi kerja mereka sendiri mencakup tidak hanya membuat mahasiswa sadar tentang apa yang mereka perlukan untuk mengerjakan apabila mereka gagal untuk memahami. bahwa dosen mengajar mahasiswa untuk merancang. Pressley et al. Wong (Jacob. Pada kelas eksperimen dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Johnson. & Reid. pertimbangan. Bagaimana siswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. uji homogenitas. sikap mahasiswa dan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. yang didilaksanakan dengan menggunakan dua perlakuan. Dengan demikian. juga dapat diketahui skor setiap mahasiswa “JURNAL. Kegiatan-kegiatan metakognitif ini muncul melalui empat situasi. selain dapat diketahui skor untuk setiap butir skala sikap. pengertian strategi kognitif adalah.metakognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari strategi kognitif.Oktober 2008 . seperti yang diungkapkan oleh Borkwoski. 2003: 17-18). Ada dua konteks yang mesti dipahami agar siswa mampu belajar secara baik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif. memperluas aplikasi-aplikasi tersebut. 2004: B4-4) adalah: (1) kesadaran mengenal informasi. pedoman wawancara. dan memeriksa hasil. yakni di Jawa Barat dan Banten. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap hasil tes untuk melihat perbedaan rerata antara dua kelompok sampel. 1987. dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para siswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari (Jacob. Torgosen. misalnya dalam pemecahan masalah. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya dipilih secara acak menurut kelas. dan keputusan yang benar sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memantau dan mengatur proses kognitifnya. pendidik (dosen/guru) dapat memulai lebih awal di sekolah atau perguruan tinggi. monitoring. dan mendapatkan pengendalian kesadaran atas diri mereka. dan daftar isian untuk dosen. Selain dengan latihan. Untuk data kuantitatif. jurnal. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus daerah yang tersebar di dua provinsi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara aposteriori. analisis masalah). Dengan demikian. analisis dilakukan dengan uji normalitas. dan uji hipotesis (uji-t dan Anova satujalur). (3) peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan. angket skala sikap mahasiswa. anak bertanya pada dirinya sendiri untuk menguji pemahamannya tentang materi yang dipelajari. Aspek metakognitif sebagai bagian terkait dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif sangat penting untuk dapat dikembangkan agar mahasiswa mampu memahami dan mengontrol pengetahuan yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajaran. 1987) mencakup perencanaan. Contoh dari strategi kognitif ini antara lain: bertanya pada diri sendiri. (2) situasi kognitif dalam mengahadapi suatu masalah membuka peluang untuk merumuskan pertanyaan. Menurut Hartono (Nindiasari. 1998). 2000: 444) PENELITIAN Penelitian digolongkan kepada penelitian eksperimen. Namun demikian. membandingkan dan membedakan solusi yang lebih memungkinkan. (3) regulasi. sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah aktivitas pembelajaran. memonitor. yaitu siswa dapat memahami dan menggunakan strategi kognitif dan strategi kognitif metakognitif selama proses pembelajaran berlangsung. Terhadap kedua kelompok tersebut diberikan pretes sebelum eksperimen dan postes setelah eksperimen. Borkwoski. Bila diterapkan dalam belajar. penulis menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kritis. Adapun aspek aktivitas metakognitif yang dikemukakan oleh Flavell (Suzana.

5% menyenangi kegiatan diskusi.3% mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif sangat membantu mereka dalam memamahi konsep yang sedang mereka pelajari. sehingga diharapkan dalam masing-masing kelompok terjadi kegiatan diskusi kelompok yang produktif. Sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif tercermin dari sebanyak 89% dari 45 mahasiswa menyatakan persetujuannya bahwa pendekatan matekognitif dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar matematika. sebanyak 94. terdapat 98% mahasiswa yang menyatakan senang terhadap hal tersebut. kategori baik sebanyak 47%. sebanyak 84. Mahasiswa pada kelompok eksperimen yang memiliki kemampuan akhir berpikir kritis matematik pada kategori cukup adalah 49%. Kemudian diketahui pula sebanyak 74. dan merekonstruksi argumen. Dosen memiliki tanggapan positif terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk subkelompok tinggi adalah 65. Faktor-faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif antara lain: (1) kerja sama dan bantuan dari dosen pengampu matakuliah yang bertindak sebagai observer dan teman diskusi dalam menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .82%. Adapun beberapa hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif adalah: (1) waktu yang tersedia relatif sedikit untuk melakukan pengembanganpengembangan dalam pembelajaran.41%. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam aspek menggeneralisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi termasuk dalam kategori tinggi. sedangkan mahasiswa yang belajar secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. subkelompok sedang 59. Berdasarkan perhitungan gain normal (Meltzer. Secara lebih khusus. dan 4% dengan kategori sangat baik. Dengan kata lain. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar secara konvensional.7% menyukai dan merasa tertantang dalam menyelesaikan soal-soal metakognitif yang diberikan.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian. 2002).05% terhadap skor pretesnya. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam aspek merumuskan masalah ke dalam model matematika. Mereka menyatakan persetujuannya bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sangat baik dan berpeluang besar untuk diterapkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di “JURNAL. mahasiswa mendapat kesempatan yang lebih banyak dalam mengeksplorasi materi bersama dosen maupun teman-temannya melalui kegiatan diskusi. (3) kesulitan dalam membuat kelompok diskusi dengan anggota kelompok yang beragam tingkat kemampuan matematiknya. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif.5% mahasiswa merasa bahwa pendekatan metakognitif yang mereka ikuti dapat mengurangi kecemasan belajar matematika. memberikan contoh inferensi. Mengenai pembelajaran suasana pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan metakognitif. 80% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif membuat mereka lebih berani dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. mengalami peningkatan yang tergolong ke dalam kategori sedang. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang belajar dengan pendekatan metakognitif berada dalam kategori baik. setiap subkelompok mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. (2) keterlibatan mahasiswa secara aktif untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. dan subkelompok rendah mengalami peningkatan sebesar 56. Begitu pula dalam aspek mengidentifikasi relevansi. peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi. Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif membuat mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sebagai berikut ini. dan sebanyak 88. (2) kesulitan dalam membuat soal-soal latihan pada lembar kerja mahasiswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara baik. Dari keseluruhan mahasiswa. Dengan kata lain. pendekatan metakognitif secara signifikan memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa subkelompok manapun.Oktober 2008 . subkelompok sedang.

Bandung: Tidak diterbitkan. 113 (1). dalam praktiknya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang bahan ajar berupa LKM.mo.. misalnya hsil-hasil penelitian atau jurnal.arcadia.A. A. merumuskan masalah ke dalam model matematika. Dalam R. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. P. B. Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking.edu/appellbaum/8points. Fowler. 59-63. Mathematics Education Excerpt from The International Encyclopedia of Critical Thinking.M. (1999). pendekatan metakognitif ini juga telah mampu memacu antusiasme dalam belajar matematika. (2000).C. criticalthinking. Facione.. Alexandria: ASCD.perguruan tinggi.N. kepada mahasiswa PGSD (khususnya yang sudah menjadi guru SD) yang telah mengikuti dan memperoleh bekal pengetahuan mengenai pendekatan metakognitif. maka hendaknya peneliti lain mencoba menerapkan pendekatan ini dalam upaya meningkatkan kemampuan matematik tingkat tinggi lainnya seperti kemampuan berpikir kreatif. dan ternyata memberikan hasil yang cukup efektif. Disertasi pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Arcadia University [Online]. R. J. Akan tetapi menurut pendapat mereka. memberikan contoh inferensi. Critical Thinking Accros the Curriculum Project [Online]. [22 Agustus 2005]. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. G.H. [25 Januari 2005] Appellbaum. Cassel (ed). dan Hernacki.kcmetro. B.L. Tersedia: http://www. Karena pembelajaran dengan pendekatan metakognitif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang merupakan kemampuan matematik tingkat tinggi. The Disposition toward Critical Thinking [Online]. Darhim (2004). Facione. 5.edu/~educr795/prop5. (1997). insightassessment. Tersedia: http://www. P.html. DePorter. “JURNAL. Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menekankan pada aktivitas mahasiswa dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan mahasiswa. Bandung: Kaifa. dan Gainen. Sikap positif mahasiswa terhadap model pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menggambarkan bahwa pembelajaran ini dapat dijadikan model yang disukai mahasiswa.net/SSConcCTApr3. M. Giancarlo.pdf. 4. Cabrera. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .htm.html. Examining the Effects of ContextFree and Context-Situated Instructional Strategies on Learner’s Critical Thinking [Online]. com/pdf_files?Disposition_to_CT_1995_JGE. khususnya pada aspek-aspek: membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. C. Costa.Gargoyle. Untuk menciptakan suasana belajar seperti ini diperlukan keterampilan seorang pengajar dalam hal materi matematika maupun metodologi pembelajaran.htm.indiana. C. dan merekonstruksi argumen 2. (2003).Oktober 2008 .A. khususnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). namun tentu saja dengan metode yang tidak harus sama DAfTAR PUSTAKA Angeli. Oleh karena itu para dosen atau pengajar diharapkan selalu berusaha meningkatkan kemampuan mengajar dan kemampuan matematiknya melalui berbagai sumber. 3. sehingga dosen memiliki modal yang berharga karena model belajar seperi ini telah menciptakan lingkungan belajar yang efektif. (1992).us/longview/ctac/definitions. Tersedia: http://www. cc. mengidentifikasi relevansi. Education. (1996)..A. Oleh karena itu.. Ennis.. [25 Januari 2006]. [25 Januari 2006]. Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. A Super-Streamlined Conception of Critical Thinking [Online]. sebaiknya mencoba untuk mengimplementasikan pendekatan metakognitif ini di sekolah tempat ia mengajar. Melihat hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa selain dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. (1985). Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. (1995). Tersedia: http:// www. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. N. Tersedia: http://www.

Bandung: Tidak diterbitkan. Tersedia: http://www. Remaja Karya. Bandung: Tidak diterbitkan. (1995). and Understanding. Developing Creative & Critical Thinking Skills. M. Educational Phsycology. Jacob. Jurnal Matematika. (2000).W. Bandung: CV. [22 Agustus 2005]. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Scores. (2004). Liputo. (2002). Sobur. [22 Agustus 2005]. (1991). (2005). Meltzer. E. (2004). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.T. (2004). Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau dari Perkembangan Kognitif Siswa. Ruseffendi. Bandung: Rosda Karya. Tersedia: http://www. Y. N. (1994). Syukur. (1996). Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA.E. Tesis pada PPS Universitas Pendidikan Indonesia. Mengajar Keterampilan Metakognitif dalam Rangka Upaya Memperbaiki dan Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika. 2 November 2000. (1986).Oktober 2008 .org/University/univlibrary/ library. (1998). R. Nindiasari. Hillsdale. H. Meyers. 443-447. Motivation. Tersedia: http://www. C. Defining Critical Thinking: A Draft Statement for the National Council for Excellece in Critical Thinking [Online]. (2004). (1998). Bandung: JICA-UPI. Liliasari (1996). Jurusan Matematika FMIPA ITS. Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa SMU. American Journal of Physics [Online]. (1985). Aplikasi dan Pembelajarannya. M. Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional UPI. Ruseffendi.Glazer. H. dan Scriven.net~mseifert/ crit2. Hassoubah.70-12591268. 15 Mei 2004. Psikologi Umum. Jacob. Kompedium Didaktik Matematika. (2003). Technology Enhanced Learning Environtments that are Conductive to Critical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [Online]. “JURNAL. C. Kamus Filsafat.physics. Matlin. Y. Metacognition. Teaching Student to Think Critically.criticalthinking. 2 (1). (1987). Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika (The Application of Metaphor in Mathematics Course).pdf. Maier.. Cognition. iastate.nclk.E. D. A. [Agustus 2006].L. Woolfolk. Maulana (2005). (2003). Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta.I. Psikologi Pendidikan. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Suzana. R.texas. Prosiding Seminar Nasional Matematika: Peran Matematika Memasuki Millenium III. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 20 Agustus 2005.edu/per/docs/AJP-Dec-2002-Vo.T. Surabaya. A. San Francisco: Jassey-Blass Publishers. E.H. Mayadiana. New York: Hardcourt Brace Publishers. Semarang: IKIP Semarang Press. Disajikan pada Seminar Nasional Matematika: Matematika dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Kualitas SDM dalam Menyongsong Era Industri dan Informasi. Purwanto. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. USA: Allyn and Bacon. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Pustaka Setia. D. Bandung: Tarsito. Disertasi Doktor pada PPs IKIP Bandung. E. M. Bandung. ISBN: 97996152-0-8. Bandung: Tidak diterbitkan. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. (2004). Belajar Bagaimana untuk Belajar Matematika: Suatu Telaah Strategi Belajar Efektif. Bandung: Rosda Karya. Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru SD. Tim MKPBM (2001). Z. C. F. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia.E. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. Bandung: Nuansa. Bandung: Tidak diterbitkan. dan Kluwe. 17-18.html.lonestar. Paul. Bandung. Weinert. (1996).

“JURNAL. penalaran. pemilihan media atau alat peraga dalam pembelajaran pemecahan masalah sehingga siswa memiki kemampuan memecahkan masalah yang baik. sekolah dasar PENDAHULUAN embelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung. pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar. Oleh karena itu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . topik-topik permsalahan dalam tulisan ini adalah : masalah dan pemecahan masalah matematika. mengkomunikasikan gagasan. Hal ini didorong oleh perkembangan arah pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. proses pembelajaran. Ada banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran pemecahan masalah secara optimal. dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi tujuan utama dalam program pembelajaran matematika di sekolah dasar. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah. dan problematika pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Masalah Matematika Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya. Kata Kunci: pemecahan masalah. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar. Dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut. 2006). Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian. Moursund (2005:29) mengatakan bahwa seseorang dianggap memiliki dan menghadapi masalah bila menghadapi 4 kondisi berikut ini: 1. Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (BSNP. Pelaksanaan pembelajaran masalah di sekolah dasar tidaklah semudah yang diperkirakan. Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. pembelajaran matematika. Mata pelajaran matematika diantaranya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman konsep. Guru perlu memperhatikan berbagai aspek pembelajaran: perencanaan. 2. tidak hanya faktor P guru saja. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dikuasai oleh siswa sekolah dasar tidak hanya dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. Tulisan ini berusaha untuk menggali tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya di sekolah dasar.Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Abstrak Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dasar. baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya. tetapi agar siswa mampu memecahkan masalah dalam bidang lain melalui cara berpikir matematis. memecahkan masalah. nampak bahwa pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam pembelajaran matamatika sehingga secara jelas terdapat pada kurikulum mata pelajaran matematika mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. ada salah satu kompetensi dasar yang mengarahkan siswa untuk mampu menggunakan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah. penilaian. tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving). Dalam setiap standar kompetensi.Oktober 2008 . tetapi faktor tuntunan kurikulum yang membuat guru terdesak dengan waktu terbatas sehingga tidak fokus terhadap kemampuan pemecahan masalah.

Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. 2000 : 2) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah amatlah penting. 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld. Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah. tabel. Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan. 2001 : 84). tetapi juga meliputi pengamatan metakognisi yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas serta untuk membuat keputusan sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimiliki. yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan. 2006 : 24). tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika. yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta. menjelaskan setting. melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya. yaitu menjadi Reading. (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah. mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan. Dalam Suherman et. Lebih dari Polya (dalam Sonnabend. atau gambar “JURNAL. solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian. Exploration. cara berpikir secara matematis yang efektif dalam memecahkan masalah meliputi tidak saja aktivitas kognitif. mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan. ”Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School”.al.Oktober 2008 . 2. Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Planning/Implementation. mengidentifikasi pertanyaan. harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah. (3) masalah proses. Analisys. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. Menurut Goos et. (2000 : 2). bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika. Dalam bukunya. Read and Think (Membaca dan Berpikir). Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. pengetahuan. dalam Abbas. Krulik dan Rudnik ( 1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai heuristik. baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika. seseorang dianggap sebagai pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut. dan Verification. Dalam pembelajaran matematika. tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya.3. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung. Hal ini meliputi waktu. walaupun sebenarnya tumpang tindih. fisika dan sebagainya. (2) masalah aplikasi.(terjemahan). Exploration.. ilustrasi gambar atau teka-teki.. masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita. Analisys. (2000 : 2). teknologi atau barag tertentu. Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. dan menentukan tindakan selanjutya. Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa harus berurutan. Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. dan (4) Melihat kembali penyelesaian. keterampilan. seperti menyajikan dan menyelesaikan tugas serta menerapkan strategi untuk menemukan solusi.al. mengambar/mengilustrasikan model masalah. yang meliputi kegiatan: mengorganisasikan informasi. Menurut Hudoyo dan Sutawijaya (1997:191). penggambaran penomena atau kejadian. Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et. tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar. Planning.al.al. 4. memvisualisasikan situasi. masalah matematika dapat berupa (1) masalah transalasi. dan Verification. Sementara itu. yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi. Terdapat beberapa jenis masalah matematika. dan membuat diagram. Menurut Polya (Suherman et. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (2001 : 95) dinyatakan bahwa menurut berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam dalam tes pemecahan masalah dibandingkan dengan anak yang latihannya sedikit. Pemecahan Masalah Matematika Soedjadi (1994.al. mereka mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. Menurut Polya seperti yang dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya.al. yaitu Reading.. 2000 : 2) menyatakan bahwa melalui pelajaran Matematika diharapkan dan dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan. Artzt & Armour-Thomas (Goos et. tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik. 1993:56) juga mengatakan bahwa : Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama/penting dari kegiatan manusia . dan (4) masalah teka-teki. dalam Abbas. Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan). Implementation.. itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah. 1969) : Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik. Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari. 2000 : 2) terdapat 5 tahapan dalam memecahkan masalah. Understanding. Lima langkah tersebut adalah : 1. Lebih lanjut Ruseffendi (1991. Menurut Goos et.

pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. sumber belajar : alat peraga atau media. Oleh karena itu. tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa. yaitu : pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran. yaitu bagaimana guru menyajikan soalsoal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah. bekerja mundur. Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum. serta sebagai kemampuan dasar. dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan. et. Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi. dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana. Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. dan menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal. menggunakan kemampuan berhitung. 3. menggunakan kemampuan geometris. serta teknologi. 1. Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). deduksi logis. soal tidak rutin. yaitu: waktu. sumber belajar-media.Oktober 2008 . menentukan solusi alternatif. Select a Strategy (Memilih Strategi). misalkan memecahkan soal-soal matematika. menggunakan kemampuan aljabar. Penyederhanaan atau ekspansi. Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah. Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar.3. perencanaan. simulasi atau eksperimen. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran. PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DI SD Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi. 2. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita dan ilustrasi gambar. Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru. 5. yang meliputi kegiatan: memprediksi. problem based learning (PBL). karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah. Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa). atau pola bilangan. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. dan menggunakan kalkulator jika diperlukan. Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah. Find an Answer (Mencari Jawaban). proses. Khususnya di SD. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi. membuat daftar berurutan. coba dan kerjakan. mengembangkan jawaban pada situasi lain. Dalam pembelajaran matematika. masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita. atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah.al. mendiskusikan jawaban. teka-teki. pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti dalam pendekatan pembelajaran open ended. Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah.al. serta strategistratagi pembelajaran pemecahan masalah. agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif. Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran. Menurut Reys. atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal. 5. memeriksa kembali jawaban. mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi). paling tidak ada tiga makna dari pemecahan masalah. Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya.(1989). Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan). Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. 4. yang meliputi kegiatan : menemukan/membuat pola. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. teknologi. serta pengelolaan kelas. Dari paparan di atas. Berdasarkan teori “JURNAL. maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari. (1989). 4.

al. (2) jurnal metakognitif. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita. (1989). Problematika Pembelajaran Pemecahan Masalah di SD Pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah terutama di sekolah dasar tidaklah mudah. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran. siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa mengikuti langkah-langkah yang ditentukan. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : (1) observasi. Kemampuan tersebut adalah Metakognisi.Piaget (Reys. Kemampuan metakognisi dapat diajarkan di kelas melalui pernyataan menuntun seperti : ”apa yang kamu kerjakan ketika memecahkan masalah?”. sementara kemampuan pemecahan masalah siswa masih dianggap sebagai kemampuan ekstra atau tambahan untuk siswa-siswa berprestasi tinggi. yaitu : menentukan apa yang diketahui. 1989). ditanyakan dan jawaban. Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita. Yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa.. dan (3) paper and pencil test. ”apa yang kamu pikirkan jika kamu merasa kesulitan atau tidak memahami soal ?”. Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik (1995) berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah.. masalah masalah terbuka (open ended). portofolio. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program pembelajaran. masih dalam tahap enaktif dan ikonik. Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. 1989). et. Penilaian dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya. Pembelajaran pemecahan masalah kadangkadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. Menurut Reys. et. klasikal ataupun kelompok. Guru kadang memandang bahwa kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh konsep matematika. guru perlu menyiapkan alatalat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu topik sebagai pelengkap topik tersebut. Dalam istilah lain metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol kemampuan berpikirnya atau ”thinking about thinking”. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan sebagai berikut. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. Keadaan ini menyebabkan siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. (3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph). Perubahan paradigma dalam kurikulum matematika memang belum sepenuhnya berimbas pada praktik pembelajaran di sekolah dasar. Peran Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Kesuksesan seseorang dalam memecahkan masalah begantung kepada bagaimana ia mampu mengendalikan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah. karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys. Hal ini memang bergantung kepada cara guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. Siswa sering mengajukan “JURNAL. et. (2) inventori dan ceklis. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . belum dianggap sebagai suatu tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran. untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik. padahal masalah dapat disajikan dalam berbagai bentuk model soal. maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya. test. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita. Guru masih fokus kepada pencapaian kemampuan siswa dalam berhitung dan mengunakan rumus matematika. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat beragam. walapun dari hasil uji coba soal cerita. Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum sekolah (KTSP) secara konvensional. beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah: (1) observasi. Guru biasanya mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu. dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Guru merasa cukup dengan pembelajaran perhitungan.al. Oleh karena itu. Tes kinerja ini. hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep pemecahan masalah dan pembelajarannya.Oktober 2008 .al. Metakognisi adalah istilah yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan seseorang sebagai pembelajar serta bagaimana ia mengontrol dan menyesuaikan pengetahuan dan keyakinannya.

Suherman dkk . perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya.wm. Sthepen dan Rudnick. Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif. (1993).(2000). Semenetara itu. DAfTAR PUSTAKA Abbas.. “JURNAL. guru jarang menggunakan teknik-teknik penilaian yang seperti itu. http:// darkwing.edu/~jonassen/PSPaper%20 final. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School.pdf Hudoyo dan Sutawijaya. Goos. N./ElMath.Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. padahal salah satu aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan informasi selama proses pemecahan masalah. PENUTUP Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran. Oleh karena itu. Sounder Collage Publising. [online] http://www.pdf BSNP (2006). Jesse A.cimt. Akan tetapi. (1998). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. (------). Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok..pdf Krulik.(2006).. Pendidikan Matematika I.Oktober 2008 . Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan. et.Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature.. seperti: ”Diketahui”.uk/jornal/pgmoney. (2007). Needham Hwight : Allyn & Bacon Sanjaya. metode atau teknik penilain harus mampu menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya. Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah.al. al.. Oregon : University of Oregon. Temple University : Boston. Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Assessment in Early Chilhood Education. guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah. D. dan ”Dijawab”. [online] http://www.pdf Reys. Wortham. Marsound.(2001). Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit. coe. Pearson Education : New Jersey. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam memecahkan masalah.Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. [online].C. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah. /Ashton. Bandung Sukmadinata & As’ari. New York. seperti ”Pak.missouri. Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Tidak diterbitkan. Thomas. Universitas Pendidikan Indonesia. (2005). Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers.ac. Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah alatalat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah. A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan. Virginia : College of William and Mary Williamsburg.pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita. Bandung : SPs UPI. Wina. Akan tetapi.edu/. Sue C. D. Queensland : The University of Queensland [online] http://www. Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya.(------). Matematic for elementary Teacher : An Interactive Approach. kenyataannya. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. plymouth.edu/. S. et. tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama aktivitas pemecahan masalah. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo Ashton.uoregon. ”Ditanyakan”. Jakarta. Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. soal ini dikerjakan pake rumus apa?”. Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dirjen Dikti Depdiknas Jonassen. Jakarta : BSNP. Sonnaben A. Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Robert E. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. (2005). dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak.(2000). (1995). (1998). melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah.

interview.”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi. kemampuan siswa SMP dalam matematika menempati peringkat ke39 dari 42 negara peserta. kalau bukan pelajaran yang paling dibenci. journal and observation. Kata Kunci: kartun matematika.Oktober 2008 .Teacher can join with cartoonist for make cartoon mathematic.19998:2).Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Abstrak The study concerns focus to problem: How far influence application of cartoonn mathematic in learning mathematics for develop to produce learn student in school? The goal study concerns for know influence application of cartoon mathematic learning matematics in school for develop produce learn student with for able image about respons student at application of cartoon mathematic.because all topic mathematic can explain with cartoon mathematic. I suggestion so that cartoon mathematic can use by teacher for chosen tools in learn mathematic. Dengan demikian menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan tersebut. teknologi berubah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pembaharuan di bidang pendidikan harus terusmenerus dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.42. Kenyataan-kenyataan berikut menunjukkan P bahwa pengajaran matematika perlu diperbaiki. The study concerns use experimental method. Dalam data Internasional Achievement Education (IEA). Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi(1991:21). semuanya berubah. At significant level 0. instrument a test.45 and control student is 34. antara lain adalah faktor guru. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja. tetapi juga oleh faktor di luar siswa. pembelajaran matematika PENDAHULUAN embaharuan dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas(Wijaya. guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”.This Mean experiment is 49. Selain itu pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi.” Hasil belajar sangat ditentukan sekali oleh keberhasilan siswa dalam belajar.”Kehidupan di dunia ini berubah. Dalam pengajaran matematika di sekolah-sekolah terdapat masalah-masalah yang perlu diperbaiki.01 experiment student produce learn increase than control student. yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-¬38 dari 39 negara peserta. Dalam hal yang sama Ruseffendi(1991:8) mengemukakan bahwa keberhasilan siswa dalam “JURNAL.1999. The conclusion of study concerns are (1) Application cartoon mathematics in learning mathematic have influence to produce learn. masyarakat berubah. The result calculation are mean experiment student high than control student. question.(2) For Student. pengajaran berubah.2004). Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya dengan peruhahan itu. Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15). The general hypothesis in study concerns is student learn with cartoon mathematic best increase produce learn than student with conventional learn. Data dari Third International Mathematics and Science Study¬ Repeat(TIMSS-R) juga mengungkapkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di negara kita berada pada peringkat ke-34 dari keseluruhan 38 negra peserta (Mullis. The result of study concerns.Iearn with cartoon mathematic increase effective than conventional learn (3) Student give good respons to cartoon mathematic because new in learning mathematic and their became happy in learn mathematic. Matematika merupakan salah satu bidang pengajaran yang harus mengalami pembaharuan menuju perbaikan.

seperti slide. Malah kartun dianggap sebagai satu wahana yang menghibur dan bisa meredakan ketegangan emosi manusia. perasaan. Faktor dari dalam diri siswa itu meliputi kecerdasan anak. diorama dan lain-lain. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya (Sudjana dan Rivai. bahwa kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang. Kartun-kartun yang popular seperti Din Teksi oleh Nan dan Epit oleh Lat dapat merangsang minat pelajar. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian. Model proyeksi. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. “JURNAL. kesiapan anak. situasi. pribadi dan sikap guru. Media gratis. Kartun sebagi alat Bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. mempengaruhi sikap maupun tingkah laku.Oktober 2008 . menarik dan praktis (Bundhowi 2002:1).mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Hal ini sejalan dengan pendapat Arsyad(2002:26) bahwa: 1. diagram. Di Malaysia. kunjungankunjungan ke museum atau kebun binatang. kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi. foto. Ada beberapa jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran. kartun data membawa pembaca berfikir sejenak untuk menjadi lebih peka terhadap perkembangan semasa. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . kompetensi guru dan kondisi masyarakat luar. bagan. 3.1995:136). Visual-visual konkret yang menggambarkan keadaan dunia sebenar boleh memberi pengalaman konkret bagi memudahkan proses pembelajaran. Sedangkan menurut Sadiman dkk (2002:46). serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. pengajaran dengan menggunakan pelbagai alat visual semakin popular. kartun. Salah satu yang dapat digunakan ialah kartun.”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menarik minat dan memotivasi siswa. yaitu media dalam bentuk model padat. Disamping berfungsi sebagai hiburan. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens. Menurut Dawyer dalam Maizuriah (2000). ruang dan waktu. Kartun menurut Sudjana dan Rivai (1991:58) adalah pengggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang. b. seperti gambar. interaksi yang lebih langsung. c. poster. model susun. Kebanyakan kartun yang dimuatkan dalam suratkabar atau majalah memperlihatkan berbagai tema dan subjek yang disulami pula warna-warna humor. termotivasi. dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut? Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap matematika? Bagaimanapun kekurangan atas ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah (Sah. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. serta komik. masyarakat dan lingkungannya.1991:2). Apakah materi yang disajikan membuat siswa tertarik. suasana pengajaran. atau kejadian-kejadian tertentu. d. grafik. gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. Penggunaan kartun sebagai media pembelajaran memiliki peranan penting karena dalam tahap ini siswa sangat tanggap terhadap stimulus visual yang lucu. adapun faktor dari luar diri siswa adalah metode penyajian materi pelajaran. Media tiga dimensi. Media grafis sering juga disebut dua dimensi yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang berupa lingkungan. model kerja. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. Kartun juga merupakan satu bentuk visual dengan minat kanak-kanak boleh digunakan oleh guru dalam pengajaran. Sadiman dkk(2002:6) mengemukakan. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana tanpa detail dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti dengan cepat. kenyamanan belajar dan minat anak belajar.Salah satu cara menyajikan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. Media dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. film penggunaan OHP dan lain-lain. maka kartun sesuai untuk diterapkan dalam arena pendidikan. Haron (2001) mengemukakan bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. pesan yang besar bisa disajikan secara ringkas dan kesannya akan tahan lama di ingatan. misal melalui karyawisata. jenis media terbagi menjadi empat yaitu: a. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. 4. 2. Penggunaan visual telah lama diketahui berkeupayaan merangsang pembelajaran. model penampang. Khusus mengenai media kartun. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan siswa dalam belajar adalah metode penyajian materi pelajran. Menurut Sudjana dan Rivai (1991:3). Kalau kartun mengena.

Pembelajaran dengan kartun akan menciptakan belajar yang efektif karena dapat membawa siswa ke dalam suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden. Apalagi pada saat usia sekolah kebanyakan siswa masih memiliki gaya belajar visual yang lebih cenderung mengaktifkan ingatannya melalui gambar yang ditangkap oleh mata (DePorter dan Hernacki. selain itu pembelajaran dengan kartun dapat menciptakan suasana gembira. uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata. yaitu gambar-gambarnya dapat menarik perhatian sehingga pelajaran lebih berarti dan sebagian serta variasi dalam mengajar. Peneliti mengambil dua kelas dari seluruh kelas populasi. yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media kartun matematika.Oktober 2008 . Populasi penelitian ini adalah siswa SMK dan sampelnya siswa SMK Negeri 2 Bandung kelas 2 yang dipilih secara acak. Penelitian Schaffera (Sudjana dan Rivai. 2000:14). Terjadinya bias hasil evaluasi dapat dihindarkan karena tidak ada sistem tebakan atau untung-untungan (Suherman. homogenitas dan ukuran statistik skor pretes dan postes disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: uji Normalitas No 1 2 3 4 Data Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen Pretes Kelas kontrol Postes Kelas Eksperimen Postes Kelas kontrol χ2 hitung 25. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis daa hasil tes dilakukan uji normalitas. maka desain penelitian ini adalah sebagai berikut: A 0 X1 0 A 0 X2 0 Keterangan: A 0 X1 X2 = = = = randomisasi/acak tes awal = tes akhir perlakuan (pembelajaran dengan kartun matematika) perlakuan biasa(pembelajaran konvensional) Sebagaimana telah diungkapkan di atas.3 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal “JURNAL.Hal senada dikatakan Sudjana dan Rivai (1991:61) bahwa sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajr siswa. Kemudian dipilih secara acak satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol.6 5. putusan dan pertimbangan agar data yang terkumpul sesuai yang kita harapkan. 2001:22).52 30 30 3 3 dk χ2 tabel 50.07 10.98 24. Tes awal diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Instrumen lain sebagai pendukung penelitian ini. Latar belakang di atas mendorong penulis mencoba melakukan penelitian untuk melihat pengaruh kartun yang digunakan sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan kualitas sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat.9 50. Untuk mengetahui pertambahan kemampuan baik sebelum maupun sesudah percobaan dilakukan. Hasil Uji normalitas.3 11. dan sistematika penyusunan dapat dievaluasi. Sedangkan tes akhir diberikan untuk melihat kemajuan atau peningkatan belajar kcdua kelompok.9 11.1990:95) dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal. Berdasarkan uraian di atas. penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi. sehingga menciptakan kegembiraan pula dalam belajar (DePorter. penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh media kartun trhadap belajar siswa. serta alat evaluasi berupa tes ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pembimbing di sekolah untuk dapat mendapatkan justifikasi. kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan”. maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (Ruseffendi.1991:120). Pemakaian kartun mempunyai dua macam keuntungan berharga. maka siswa yang menjadi sampel diberikan tes awal dan akhir. Hal ini menunjukkan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat memotivasi yang berguna di kelas. Untuk dapat mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen pengumpul data yang berupa tes awal dan tes akhir. ketelitian. Beberapa kartun dengan topik yang sedang “hangat”. Reardon dan Nourie. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 1998:32). Penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sains dan dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran. “Pada umumnya anak-anak mulai menafsirkan kartun-kartun semacam ini pada usia 13 tahun. Tipe tes yang digunakan adalah tipe tes uraian Alasanya dengan tipe uraian maka proses berpikir. METODE PENELITIAN Karena penelitian yang dilakukan adalah melihat hubungan sebab akibat yang di dalamnya ada unsur yang dimanipulasi. maka diperlukan angket dan wawancara yang cukup diperuntukan bagi kelompok eksperimen saja. 1991:59). bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan pembuka diskusi yang efektif.

Mereka beranggapan pembelajaran dengan media kartun membuat belajar tidak membosankan. Tabel 4: ukuran Statistika Skor Postes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 49.38%) menyatakan puas terhadap hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kartun matematika.46 Ternyata –t 0.25%) menyatakan tidak senang dengan alasan proses belajarnya kurang bisa dimengerti. sedangkan postes data disajikan dalam distribusi kelompok sehingga dk=3. meskipun demikian hampir setengahnya (41. pembacaan rumusnya mudah dipahami dan dimengerti.12 dkl 30 dk2 30 Ftabel 2.01 dan dk = 60 diketahui ttabel = t 0. penjelasannya simpel.38 Kesimpulan Homogen 2 1. cara penyelesaian singkat. Hampir setengahnya siswa (29. sedikit menghibur/menimbulkan rasa senang dalam belajar. Sebagian kecil (16. pembelajaran lebih menarik dan penyampaiannya lebih mudah dimengerti.Untuk data pretes data tidak disajikan dalam distribusi kelompok.12 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes awal diperoleh thitung = 0.< t 0.25% dan 64. t 0. Sebagian besar siswa (12.99(60) < thitung.13%) ragu-ragu karena pembelajaran buku kartun sama dengan buku paket.99(60) = 2. Kriteria pengujian jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel maka distribusi populasi data normal.42 1. Selain itu sebagian kecil (6. intisari. Hampir seluruhnya siswa (19.52%) menyatakan setuju untuk terus mempertahankan pembelajaran kartun matematika.68 312. gambar-gambar yang diberikan dapat menghilangkan ketegangan dan sangat menyenangkan. Hampir setengahnya siswa (35.19 30 30 2.485) menyatakan bahwa pembelajaran dengan media kartun menyenangkan dan lebih cepat memahami materi.24%) dan (16. Hampir setengahnya (48.325 Pada taraf signifikansi 0. dan jika χ2 hitung > χ2 tabel maka distribusi populasi tidak normal.29%) menyatakan sedang karena konsep matematika di buku kartun ada yang tidak dimengerti dan tergantung minat.46 Ternyata thitung tidak terletak di –t 0.03 %) menyatakan ragu-ragu.90% dan 35.99(60) < thitung.52%) siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan media kartun matematika terus dipertahankan.99(60) = 2. bahwa pesan-pesan yang diberikan memotivasi semangat belajar.45% dan 64.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.12 1. Tabel 2: uji Homogenitas Data Hasil Belajar No 1 Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen dan kontrol Postes Kelas eksperimen dan kontrol Fhitung 1.48%) menyatakan konsep-konsep yang ada di buku kartun mudah karena konsep disajikan dalam bentuk resume. karena beranggapan bahwa meskipun materinya tetap saja ada yang sulit. harus diperhatikan pula sebagian kecil siswa (22.3 Pada taraf signifikansi 0. “JURNAL.42 17.Oktober 2008 .58%) menyatakan biasa saja dengan memberi alasan bahwa isi materi sama dengan buku paket dan tokoh kartunnya kurang cocok.58) menyatakan kurang puas karena penjelasan di buku kartun kurang dimengerti. HASIl ANGKeT PeMBelAjArAN KArTuN MATEMATIKA Hasil yang diperoleh hampir seluruhnya menyatakan menarik (61.01 dan dk=60 diketahui ttabel = t 0. Sebagian besar siswa (6.23%) menyatakan sukar karena isi dan tulisan yang ditampilkan terlalu rumit dan kurang jelas.58 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes akhir diperoleh thitung = 3.25 31 Kelas Kontrol 1.45% dan 3.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Mereka memberi alasan. Meskipun demikian hampir setengahnya siswa(29.7 31 Kelas Kontrol 34.06 1.95 19. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Meskipun demikian.38 Homogen H0 : σ = σ Hipotesis : Ha: σ ≠ σ Tabel 3: ukuran Statistika Skor Pretes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 1. karena pembelajaran dengan kartun matematika sangat mudah dan cepat dimengerti dan berbeda dengan belajar biasa.45 1.03%) menyatakan biasa saja dan sebagian kecil (22.93%) menyatakan biasa saja.13%) sangat menarik terhadap pembelajaran kartun matematika. Namun sebagian besar (61. sehingga dk=30. Sebagian kecil (3.28 371.

Oktober 2008 .63%) menyatakan ragu-ragu semangat tinggi jika soal matematika terjawab.16%) biasa saja karena tidak terlalu suka terhadap pelajaran matematika.93%) menyatakan bahwa minat dalam belajar matematika dengan menggunakan media kartun matematika tinggi.97%) menyatakan senang dengan alasan lebih menarik. lebih menarik dan menyenangkan sehingga belajar semakin efektif dann mudah memahami konsep matematika yang dipelajari. memberikan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi dan penyampaian dalam buku kartun matematika menyenangkan dan menarik. Dari hasil wawancara dan jurnal bahwa matematika yang sebelumnya dianggap kurang menarik. Penggunaan media kartu matematika dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika. Hampir setengahnya (43. menarik. tidak bosan dan pesan-pesan kartun bermanfaat. belajar tidak tegang.9% dan 41. semangat dan termotivasi dalam belajar. Hampir setengahnya (38. karena belajar jadi tidak jenuh. Hampir setengahnya (45.3%) ragu-ragu karena tergantung siswa itu sendiri. 3.6%) menyatakan semangat belajar tinggi dalam belajar kartun matematik.35% dan 61. Sebagian besar siswa (3. tokoh kartun yang menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan sesuai perkembangan zaman dengan karakter siswa.63% dan 70.81% dan 61. mempermudah memahami konsep matematika dan siswa terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar siswa (3.Hampir setengahnya (35.7%) biasa saja dan hampir setengahnya (25.33% dan 46.3%) menyatakan mudah penyampaian konsep matematika yang disampiakan gambar kartun.33% dan 50%) menyatakan aktif bahwa pembelajaran dengan kartun matematika karena mudah dimengerti. Hampir setengahnya (41.23%) kurang setuju. lebih semangat dan tidak membosankan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sebagian besar siswa (12. menakutkan bagi siswa dengan pembelajaran kartun matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan siswa. Hampir setengahnya (33. Hampir setengahnya (3.3%) menyatakan tidak aktif mereka beranggapan belajarnya kurang dimengerti dan siswa lebih suka melihat kartun daripada mendengarkan pembahasan.7%) ragu-ragu karena tidak mudah bersemangat dan tergantung siswa. Sebagian kecil (9.6%) biasa saja karena pembelajaran dengan kartun matematika sama dengan buku paket. Sebagian kecil (19. Setengahnya siswa (38. Tokoh kartun yang disenangi siwa ialah tokoh kartun lucu. Siswa menjadi aktif. Hampir seluruhnya (25.9% dan 48. Penggunaan media kartun matematika dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap prestasi.3%) biasa saja dan sebagian kecil (10% dan 3. “JURNAL. Seluruhnya siswa (67. Hampir setengahnya (43.48%) menyatakan menarik mengenai tokoh-tokoh kartun matematika karena luculucu dan dapat memotivasi kepada siswa. Sebagian besar (12. suasana cukup dan lucu. karena mereka menginginkan tokoh kartunnya yang dikenal seperti yang ada di televisi. Siswa memberikan respon baik terhadap kartun matematika karena dapat memotivasi siswa.67%) ragu-ragu dan (3. Hampir seluruhnya siswa (9.3% dan 6. terhibur.8%) menyatakan kurang menarik. pesan–pesan yang disampaikan memotivasi untuk giat belajar. lebih semangar belajar dan cara belajarnya tidak membosankan.74% dan 32.33% dan 53. KESIMPULAN Pembelajaran matematika dengan kartun matematika secara umum lebih menyenangkan daripada pembelajaran biasa sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi dalam belajar matematika. cara penyampaian guru diperbaiki. malas belajar. karena lebih mudah dimengerti.23%) menyatakan setuju jika buku kartun matematika disajikan dengan warna sehingga belajar matematika semakin menyenangkan. Sebagian besar (56. Secara khusus dapat disimpulkan: 1. Hampir setengahnya (34. sesuai perkembangan psikologi siswa. Hampir seluruhnya siswa (19.23%) menyatakan tidak termotivasi karena tergantung pada pembacanya.39%) menyatakan siswa berkeinginan untuk berhasil dalam belajar melalui pembelajaran kartun matematika karena isi kartun memotivasinya. sehingga memicu kita untuk aktif dalam belajar. lebih menarik. 2. Sebagian besar siswa (3. tokoh kartunnya memotivasi belajar.22% dan 51.35%) ragu-ragu karena merasa media kartun biasa saja.29%) menyatakan tidak cepat jenuh belajar matematika dengan kartun matematika karena merasa terhibur.93%) biasa saja dan sebagian kecil (3.29%) menyatakan setuju pembelajaran dengan pesan-pesan dalam kartun karena memotivasi.3%) suka terhadap pembelajaran kartun matematika karena menarik perhatian.61%) menyatakan termotivasi dalam belajar dengan kartun matematika.

Bandung: CV Sinar Baru Haron.Azhar (2002). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slamento (1992). Kartun sebagai Bahan Motivasi dalam Pengajaran Karangan... Penelitian dan Satistika Pendekatan.. Ahmad(1991). Bandung: Tarsito . Bilik Darjah..T (1984). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bundowi (2002)... dkk(1989).dan Praktis untuk Mengajar Bahasa dan Kepekaan Budaya yang Tinggi: Makalah Wijaya. Sadiman. Nana (1989).. Nana dan Rivai.. (1995). Malaysia: Makalah Maizuriah (2001). Revolusi Cara Belajar. Cece (1998). Bandung: PT.. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Semarang: IKIP Semarang Press Rusyan... Bandung: Tarsito . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 ..... Bandung: FIP IKIP Syah. Sarah Siregar (2000). Jakarta: Bumi Aksara. Tesis. Bandung: Kaifa De Porter. Bandung: Rineka Cipta Sudjana (1992).Zaenal (1988). Mohammad (1981). (1997). Jeannete Vos (2001). Psikologi Pendidikan. (1957). Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa SD Melalui Fiksi Ilmiah. Hernacki.. Analisis Tingkat Penguasaan Siswa dalam Menyelesaikan Persolan Kontekstual Pada Pembelajaran Matematika. Arief S. Teknik yang Menarik.... Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru.. Oemar (1984). Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Angkasa Arsyad.. Malaysia: Makalah Maizuriah dan Madya (2001).. Ratna Willis (1989). Muhibbin (1995). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.Reardon. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Media Pembelajaran. Skripsi Purwanto. Mohammed (2001). Gordon Dryden.. Bandung: Remaja Rosda Karya. Bandung: Remaja Rosda Karya Ruseffendi. Jakarta: Rosda Karya Windayana.. Malaysia: Makalah Nasution (2000). Skripsi: UPI Wasliman (2002). Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA.... (2002)... Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. FPTK IKIP Bandung Surya. Bobbi. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta Lainnya. Bandung: Remaja Karya Dahar..DAfTAR PUSTAKA Arifin.. Teori-teori Belajar.. Penelitian Pendidikan..... Mark dan Nouri. Arden N.. Bandung: CV Sinar Baru Sudjana. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. A. Utami. “JURNAL.. Lucu. Metode Statisika. UPI Wragg. Pengantar kepada Guru Membantu Mengembangkan Potensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Metode Statistika. Skripsi: UPI Bandung Suprian AS. Bandung: Tarsito Sudjana (1996).(1991)... Ngalim (1987). Jakarta: Rajawali Hamalik. Didaktik Asas-asas Mengajar. Mike (1999). Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: Kaifa Hadimiarso. Perbandingan Kemampuan Siswa SD dalam Memberi Alasan Logis antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Teknik Probbing dengan Cara biasa. New York: McGraw Hill Book Coy. Kartun Bantu Pengajaran. Prini (2001). Husen (2002). Dasar-dasar Matematika Modern untuk Guru. Yusuf (1984). E. Bandung: Remaja Rosda Karya. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Permana. EO. Media Pendidikan. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.Oktober 2008 . Bandung: Kai fa Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990) Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka Frandsen. Quanium Learning: Membiasakan Nyaman dan Menyenangkan.. Tabrani.. Bilik Darjah. Bandung: CV Sinar Baru Suherwan (2001). Penggunaan Televisi dalam pengajaran. Bobbi. Jakarta: Erlangga De Porter. Media Pengajaran.(1998). Jakarta: Grasindo Yousda dan Ariffin (1993). Transport Sebagai Media Pengajaran Fisika pada pokok Bahasan Rangkaian Listrik Searah. Yanto (2001). Bandung: Tarsito Sudjana. Teknologi Komunikasi Pendidikan. How Children Learn.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . mahasiswa mengembangkan suatu projek baik secara individu maupun berkelompok untuk menghasilkan suatu produk –misalnya portofolio (Azam & Iqbal. Mempertimbangkan karakteristik mahasiswa tersebut maka sifat dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran adalah dapat mengungkapkan permasalahan dan kesenjangan dari integrasi teori dengan praktik evaluasi pembelajaran (Brattacharya et al.Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Abstrak Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa-guru (studying while teaching) memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan antara aspek teoritis dan praktis. Untuk mendukung aktivitas tersebut maka desain perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dibagi ke dalam empat fase (persiapan. Pendekatan Project-based Learning dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-guru untuk menentukan permasalahan evaluasi pembelajaran. seminar. 2007) serta menumbuhkan tingkat pencapaian dan kinerja mahasiswa (Beveridge & Archer. 2006. 2008) maupun refleksi kegiatan (Clarke. Dari berbagai kajian tentang strategi perkuliahan maupun pelatihan untuk para praktisi. Pemikiran ini dipandang dapat memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan perbandingan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan praksis yang sering guru –mereka dan teman sejawatnya.. implementasi. Penerapan Project-based Learning dapat memfasilitasi tingkat kemandirian partisipan (Suratno et al. Oleh karena itu. 2008). 2006). 2006). Penelitian ini mencoba menggali aspek dari pengembangan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dengan pendekatan Project-based Learning beserta efektivitas dan pengaruhnya terhadap capaian mahasiswa-guru. dan penutup) beserta desain evaluasi perkuliahan. problem solving.. mengindentifikasi ragam praktik evaluasi serta merefleksikannya. evaluasi pembelajaran lATAr BelAKANG erkuliahan Evaluasi Pembelajaran tahun akademik 2008/2009 melayani mahasiswa-guru PGSD –yaitu mahasiswa yang sudah mengajar atau guru yang sedang melanjutkan studi (studying while teaching). (2007) menyatakan bahwa Project based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivisme. integrated studies dan refleksi yang menekankan pada aspek kajian teoretis dan aplikasinya. berdasarkan pengamatan dan pengalaman terdahulu. 2008).. 2006). salah satu pendekatan yang mendekati konsepsi tersebut adalah pendekatan projek atau dikenal sebagai Project-based Learning (Bhattacharya et al. Dalam pendekatan Project-based Learning. 2003). tantangannya adalah mengembangkan pendekatan perkuliahan yang dapat menyeimbangkan antara aspek teori dengan praktik serta mengintegrasikan cakupan dari P perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (cf. 2006). Informasi tersebut mendasari “JURNAL. Namun demikian. Beveridge & Archer. 2006) yang sesuai dengan karakteristik dari mahasiswaguru tersebut. Kata Kunci: project-based learning. beberapa dosen belum banyak yang mengoptimalkan potensi dari mahasiswa-guru tersebut. 2003) yang hasilnya kemudian disajikan dan direvieu. Karakteristik dari mahasiswa pada program multimoda pendidikan guru seperti itu adalah para mahasiswa -yang notabene adalah guru.lakukan di lapangan (Jyrhama et al..f Azam & Iqbal.Oktober 2008 . inquiry-riset. mengeksplorasi khazanah teoretis..pada tataran tertentu telah memahami dasar teoritis dan telah melakukan praktis evaluasi pembelajaran (Jyrhama et al. Untuk menunjang kegiatan Projectbased Learning perkuliahan maupun pelatihan dapat menggunakan berbagai sumber/resources termasuk diantaranya adalah pengamatan lapangan (Suratno et al. 2006) atau jurnal (Clarke. Suratno et al. Bhattacharya et al. dosen cenderung menekankan aspek teoretis sehingga kurang mengeksplorasi aspek praksis secara seimbang (c. Pengembangan pendekatan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran menekankan pada penyediaan kesempatan kepada mahasiswa yang sudah mengajar untuk mengeksplorasi aspek teoretis sekaligus merefleksikan praksis yang selama ini mereka lakukan. Dalam pandangan mahasiswa-guru. Hal ini berarti para mahasiswa tidak terlalu asing lagi dengan materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang akan diberikan.

Memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam penyusunan laporan riset projek “JURNAL. 2006). penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan berikut terkait dengan implementasi pengembangan PBL: 1. mahasiswa dapat menggunakana pendekatan The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Fokus permasalahan berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) (teori dan praktik). b. 2. 2006) dan pengembangan sejawatnya (Beveridge & Archer. Dari fase-fase tersebut diharapkan mahasiswa dapat memperkaya wawasan teoretis dan empiris berdasarkan hasil pengembangan diri –misalnya melalui refleksi terhadap praktik (Blaise et al. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 4. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan. Meningkatan kualitas perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang tercermin baik dari segi penyelenggaraan maupun pencapaian nilai mahasiswa. d. DeSAIN PrOGrAM PeMBelAjArAN Desain program perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa PGSD Bumi Siliwangi UPI tahun akademik 2008/2009 dikembangkan berdasarkan prinsip Project-based Learning. Memberikan penjelasan tentang The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Pengembangan Pendekatan Problem-based Learning a. Memberikan penjelasan tentang model pemecahan masalah. mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengkomparasikan dengan hasil studi teoritis sehingga mahasiswa dapat menjelaskan ragam praksis yang terjadi serta kaitannya dengan rujukan teoretis tertentu. Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 3. 1. 2006) e. Tiap kelompok mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi projek mereka. Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 2. Dalam melakukan riset. mahasiswa melakukan bimbingan terprogram untuk penyusunan laporan kegiatan projek. Mahasiswa a. Dosen a. c. Mengembangkan perencanaan projek.. 2. Mengembangkan instrumen uji pengembangan pendekatan Project-based Learning. dimulai dari identifikasi permasalahan. Fase persiapan: 1. Berdasarkan deskripsi di atas. Memfasilitasi mahasiswa memahami ragam teori dan praktik evaluasi pembelajaran. Dari tujuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1.. Melalui pendekatan ini keterkaitan antara teori dari buku teks dengan praktek di lapangan dari evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa (sebagai guru) dapat terwadahi. c..Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Kegiatan perkuliahan dibagi ke dalam beberapa fase yang ditujukan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk merencanakan. 3. Dosen a. c. Melalui strategi ini juga diharapkan dapat terbentuk prototip komunitas belajar praktisi guru yang melakukan kajian ilmiah tentang apa yang mereka lakukan terutama dalam hal evaluasi pembelajaran. b. serta merefleksikan teori dan praktik evaluasi pembelajaran. Mahasiswa a. Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? TujuAN KeGIATAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan pendekatan Project-based Learning pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. 2008) d. 2. 2008) untuk membantu aktivitas eksplorasi projek mahasiswa. 4. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? 5. Dalam melakukan pemecahan masalah.. Dalam perkembangan risetnya. b. Memberikan perkuliahan tentang teori dan praktik evaluasi pembelajaran b. Mahasiswa dikelompokan ke dalam lima kelompok. c. Mengembangkan strategi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (Project-based Learning). mahasiswa dapat menggunakan model pemecahan masalah (Bhattacharya et al. Melibatkan satu anggota kelompok mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. strategi riset dan pemecahan masalah serta pengembangan laporan. Fase Implementasi: 1. b. menganalisis.pengembangan desain perkuliahan Project-based Learning dimana mahasiswa-guru tersebut mengidentifikasi projek tentang Evaluasi Pembelajaran dan hasil pengembangan ini diukur untuk melihat efektivitas serta pengaruhnya terhadap capaian perkuliahan mahasiswa. Melakukan riset untuk memecahkan permasalahan. mengimplementasi dan mendiseminasikan projek yang mereka kembangkan.

Perkuliahan b. observasi) Fase II: Implementasi Projek a. Bimbingan dan laporan – mahasiwa progress riset kepada dosen Fase III: Seminar Projek a. presentasi projek Mahasiswa menyajikan temuan penelitian b. Pengembangan strategi perkuliahan (Problembased Learning) b. hal tersebut ditunjang oleh indicator-indikator yang menunjukkan meningkatnya pemahaman teori tentang : (1) menyusun lay out (2) menulis soal. Desain Evaluasi Program a. Sekelompok mahasiswa mempresentasikan temuan dari projeknya dan kelompok lain menanggapi.00 33. Fase Seminar: 1. 2006). Riset projek – mahasiswa melakukan kajian teoretis dan empiris dari kegiatan perkuliahan dan fenomena di lapangan c. 2.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 63. Memandu dan memfasilitasi kegiatan presentasi dan diskusi b. input. diskusi – mahasiswa mendiskusikan hasil projek penelitian Fase IV Penutup Feedback perkuliahan Fase I: Persiapan Projek a. (4) menetapkan skor. Persiapan • Pengembangan instrument (tes. menyampaikan saran dan rekomendasi 2. Efektivitas PBL dalam perkuliahan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data di atas. Fase III: Seminar Projek a.c. Pelaksanaan • Monitoring tiap fase • Penilaian Diri c.Oktober 2008 Fase IV: Penutup Review perkuliahan . Pengembangan instrument ( tes. Tabel 1: Overview Desain Problem-based Learning Mahasiswa Dosen 2. “JURNAL. b. Memberikan umpan balik.45 51. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Mengidentifikasi Permasalahan Evaluasi. pembimbingan HASIL PENELITIAN Hasil dan analisis data yang terkumpul berdasar kepada catatan dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam kelas maupun di lapangan diorganisir secara cermat untuk menjawab persoalan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. (3) menata soal. Dosen Memberikan review terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran. Mahasiswa Memberikan umpan balik dan masukan terhadap jalannya perkuliahan serta pendekatan Project-based Learning yang digunakan. Fase Penutup 1. Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dengan nilai yang dicapai dalam posttest. saran dan rekomendasi d. Dosen a. Mahasiswa saling mendiskusikan temuan mereka serta merefleksikan terhadap praksis yang mereka lakukan sehari-hari (Blaise et al. wawancara. yaitu: (1) Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? (2) Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (3) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (4) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? (5) Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 1. Pelaporan observasi. Fase I: Persiapan Projek Identifikasi projek – mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) Fase II: Implementasi Projek a. ( 5) reproduksi tes dan (6) analisa empiris terhadap suatu tes hasil belajar. sebagai berikut: Komponen Pemahaman teori S k o r Skor rata. fasilitasi-moderasi presentasi dan diskusi b. Informasi tentang perkuliahan c. wawancara) • Perekrutan tim penelitian (mahasiswa) • Pembinaan tim peneliti b..10 Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Mahasiswa a. Perencanaan projek Mahasiswa melakukan penyusunan rencana projek b.55 18. penulis menganalisisnya untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dan posttest. Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. 2.

Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. M. November 27-30.85 proyek Komponen “JURNAL. H. Project-based Learning. Skor Skor rata. & Brears. Paper presented at NZAARE/AARE Conference. 2 Februari 2008 Yang ditunjang dengan indicator tentang meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan evaluasi hasil belajar. Rahmat. 2006. T. Beveridge. Blaise. & Lang.00 47. Ryan. Motivational implications of project-based learning for the preparation of social workers. 2006. 2006. 2006. 2006.15 12. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan.30 58.Komponen Identifikasi masalah S k o r Skor rata.10 Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. dkk. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Andira. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. B. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan.30 60. Iqbal. Teacher Institute Sampoerna Foundationa Jakarta. 2006. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. L. MacIntyre. 2006. 2007. Bandung Suratno. Archer. November 27-30. S k o r Skor rata. 3. A.Oktober 2008 . Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. J. Dharma. UPI Pres. Dole. 5. Adelaide. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Use of portfolios for assessing practice teaching of prospective science teachers. K. Latham. 2003. G. Persepsi mahasiswa terhadap PBL Berdasarkan pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa terjadi perubahan kea rah positif dalam hal persepsi mahasiswa terhadap PBL sebelum dan sesuadah melaksanakan kegiatan di lapangan. M. S.60 7.85 proyek Komponen Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. 4.15 5. November 27-30. Clarke. 2006. Adelaide. M.. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Hal tersebut menunjukkan bahwa PBL efektif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar.50 54. Adelaide. Bhattacharya. 2003. November 27-30. DAfTAR PUSTAKA Azam. S.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 75..Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 65 44. J. J. Bandung Sapriya. PBL Approach: A model for integrated curriculum. A. M. Auckland. 2006. Cece. 2006. Reflection: Journal and reflective questions –A strategy for professional learning. S. Nov 29-Dec 3. Adelaide. & Desiree. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Merencanakan Proyek Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis dan Merefleksikan Keterkaitan antara Teori dengan Praktik Evaluasi Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. Makalah disajikan pada kegiatan Semiloka Program Adopt A Teacher.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 60 45. Malone. Faulkner. dkk. Rethinking reflective journals in teacher education.

mengevaluasi (evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya. 1992). 1994. Sumber alternative conception bisa berasal dari diri siswa. 1994) membagi dua macam penelitian mengenai konsepsi alternatif yaitu kajian nomothetic (penyimpangan dari konsep standar) dan kajian idiographic (pemahaman mengenai obyek maupun peristiwa).penghambat bagi pembelajar dan rujukan bagi guru. 1994) meliputi: 1. dalam pembelajaran dan pengajaran sains (Osborne & Freyberg. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara apa yang sedang diajarkan dengan apa yang sudah diketahui. dikarenakan: (1) konsepsinya berbeda dengan konsep ilmiah. (2) sifatnya laten. Kajian nomothetic memunculkan beragam istilah seperti naïve conception ataupun istilah yang lazim dikenal sebagai miskonsepsi. commonsense theories ataupun yang dikenal sebagai alternative conception. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Guru sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai konsepsi siswa. Dalam hal ini. pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan konseptual. implikasi perspektif konstruktivisme dalam penelitian Constructivism deals with questions of knowledge-what knowledge is and where it comes from…I prefer to call it a theory of knowing rather than a theory of knowledge. Biasanya kajian nomothetic menggunakan tes tertulis. konsepsi alternatif. pendidikan sains adalah merebaknya penelitian mengenai alternative conception atau lazim dikenal sebagai alternative conception movement (ACM). konstruktivisme memandangnya sebagai suatu proses sosial [wacana] membangun pengetahuan [yang ilmiah] yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. “JURNAL. Konstruktivisme memandang penting faktor pengalaman siswa yang berupa pengetahuan dan keyakinan yang dibawa siswa ke dalam pembelajaran yang cenderung membentuk miskonsepsi/alternative conception. 1985). children’ science/view/understanding. (von Glasersfeld. Dalam pembelajaran. Wandersee. sumber bacaan dan guru. masyarakat. Gunstone. bersifat kuantitatif dan menggunakan inferensi statistik. pandangan dan keyakinan peserta didik serta pengaruh pendidik (Tobin et al. Driver & Easley (1978. Kajian idiographic memunculkan istilah pupil’s ideas. Metode yang diadopsi adalah metode yang biasa digunakan oleh antropolog. Fenomena penelitian ACM sebenarnya diilhami dari penelitian yang dilakukan oleh Piaget (1920-an) berkenaan dengan pemahaman anak mengenai dunia/ alam di sekitarnya melalui metode wawancara klinis serta disertasi Driver yang mencoba memasukannya ke dalam konteks kelas (Gunstone. Oleh karena itu. memonitor (monitoring) dan mengarahkan (directing) proses membangun pengetahuan. perubahan konseptual KONSTRUKTIVISME DAN fENOMENA RISET ALTeRNATive CONCePTiON MOveMeNT onstruktivisme memandang bahwa pengetahuan individu merupakan hasil dari proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam sistem kognisi individu. Biasanya mengkaji pandangan siswa tentang obyek dan fenomena serta dianalisis berdasarkan terminologi yang siswa gunakan. memadukan (integrate). K Konstruktivisme memandang penting alternative conception yang dimiliki dan diyakini siswa. Siswa membawa berbagai konsepsi mengenai obyek dan fenomena alam dan seringkali tidak sesuai dengan konsep ilmiah. 2002a). Dalam merespon pandangan ini. bersifat naturalistik serta subyeknya sedikit tetapi mendalam.. seringkali pengetahuan awal dan pandangan siswa bersifat miskonsepsi/salah pengertian ataupun berupa alternative conception/pengertian alternatif. terus dipergunakan siswa dan cenderung sukar diubah. guru berperan dalam menghubungkan (linking). dan (3) sukar dideteksi oleh guru (Osborne & Freyberg..Konstruktivisme. Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno Abstrak Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan proses membangun pengetahuan yang dilakukan individu. Kata Kunci: konstuktivisme. Mengapa konstruktivisme memandang penting alternative conception dan mengapa ACM begitu mendunia terutama dalam periode 1980-1990an? Setidaknya terdapat tujuh klaim utama yang mendasari ACM (Wandersee et al. 1985). Penggunaan istilah alternative conception ketimbang miskonsepsi pada tema penelitian konseptual (conceptual research) ini dilandasi keluasan istilah tersebut ketimbang istilah miskonsepsi (bisa disimak pada bagian kajian nomothetic dan idiographic).Oktober 2008 . sementara siswa mengenali (recognise). 2002b). Tulisan ini membahas implikasi perspektif konstruktivisme dan fenomena riset alternative conception movement (ACM) yang mendasari pandangan pembelajaran sebagai membangun pengetahuan melalui proses perubahan konseptual. Akan tetapi. memperluas (extend). Alternative conception dipandang sebagai faktor penting .

Terdapat empat syarat yang menjembatani proses akomodasi. Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful) dalam pengembangan penelitian atau penemuan yang baru. penggunaan analogi serta strategi metakognisi sepertinya sangat menjanjikan. suatu rentang pemahaman dalam sistem kognisi individu. terutama metakognisi. (1982) memiliki konsepsi yang agak berbeda terutama dalam konsepsi akomodasi. Bila mengacu pada pandangan konstruktivisme psikologi personal. dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. HAKIKAT PROSES PERUBAHAN KONSEPTUAL Inti pembelajaran dalam perpektif konstruktivisme melibatkan proses perubahan konseptual. Terdapat kesamaan antara penjelasan saintis yang tergugurkan teorinya dengan alternative conception siswa. Gunstone (1994) mendefinisikan perubahan konseptual”…the abandonment of one conception and the acceptance of another”. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu. Melalui asimilasi. 3. Dalam proses perubahan konseptual.. kegiatan diskusi kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami dan mendalami suatu prinsip/konsep yang diperoleh orang tersebut dari interaksinya dengan sejawatnya. 4. Siswa akan mengubah konsepsinya bila siswa merasa konsepsi yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk merespon fenomena atau pengalaman baru. Kemudian.. Diperlukan strategi perubahan konseptual. pengaruh media massa serta pengalaman belajar di kelas. Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. beberapa hal perlu dikaji lebih lanjut terutama berkenaan dengan strategi siswa merubah konsep yang sebenarnya maupun strategi metakognisi. Akomodasi merupakan proses konflik kognitif karena skema dengan fenomenanya berbeda (Piaget). terutama secara empiris.2. 5. Oleh karena itu. Diperlukan kajian sejarah sains bagi siswa. dapat memecahkan permasalahan terdahulu serta konsisten dengan teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual. Pendekatan perubahan konseptual melalui strategi konflik kognitif. 1994). Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligible). Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible). 7. Artinya. konteksnya berbeda. cenderung membawa alternative conception yang berasal dari pengalaman pribadi maupun hasil interaksi sosial. istilah perubahan konseptual penulis definisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya [konsepsi dan keyakinan] bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya. tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya [bersifat miskonsepsi] pada konteks lain. (1982): ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada. Menurut perspektif konstruktivisme sosiokultural. siswa menggunakan konsepsinya yang telah ada untuk merespon fenomena yang baru.. Banyak strategi maupun model pengajaran yang telah dirancang oleh para pakar “JURNAL. (1982) berpandangan lebih luas dimana akomodasi merupakan proses perubahan konseptual dikarenakan konsepsi siswa tidak sesuai dengan fenomena yang baru. Sementera itu. faktor-faktor apa yang mendasarinya dan bagaimana kaitannya dengan proses belajar di kelas. Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone (1994) sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al. Posner et al. Menurut Piaget dan Posner et al. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsepsi yang telah ada. IMPlIKASI DAlAM STrATeGI PeNGAjArAN SAINS Inti dari implikasi hakikat perubahan konseptual terhadap strategi pengajaran sains adalah membantu siswa memahami konsep sains. Ini memerlukan kajian mengenai bagaimana siswa berpikir. 3. Alternative conception sangat sulit di’berantas’ dan sifatnya beragam. Guru pun memiliki alternative conception sehingga terjadi salah tafsir dalam memahami konsep sains. pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone. Negosiasi pemahaman sangat mempengaruhi zona proksimal individu. 1997). 1984). kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone. terutama bila terjadi alternative conception. 4.Oktober 2008 . yaitu: 1. asimilasi terjadi karena pengetahuan awal siswa sejalan/berhubungan dengan fenomena dan belum terjadi perubahan skema/konflik kognitif (Piaget) ataupun perubahan konseptual (Posner et al. Wadsworth. rasional dan dapat memecahkan permasalahan atau fenomena yang baru. intelligible. karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone. Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep. Oleh karena itu. Melacak dari mana asalnya alternative conception sangatlah sulit. siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu. 1997). plausible dan fruitful. Akan tetapi. penggunaan bahasa sehari-hari. Sementara Posner et al. Namun demikian. Vygotsky menekankan faktor bahasa dan interaksi kelompok mempengaruhi proses membangun pengetahuan individu. asimilasi akomodasi dan ekuilibrium (Piaget. usia. (1982) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. kemampuan dan latar belakang budaya. 2. Namun gejala alternative conception yang terjadi di berbagai populasi dan budaya mencerminkan adanya kesamaan pengalaman budaya siswa dalam hal observasi alam. (1982) pada intinya. mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan. Siswa. Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing). akan tetapi pada dasarnya terdapat dua kondisi umum dari perubahan konsep yaitu mengganti [bersifat radikal/ revolusioner] ataupun menambah [bisa juga mengurangi] dengan konsepsi lain yang dianggap tepat konteksnya [evolusioner]. apakah seluruh konsepsi awal siswa dirubah secara keseluruhan? Mungkin saja. Piaget dan Posner et al. konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 6. berdasarkan gender. terdapat tiga proses kunci yang dilakukan individu dalam membangun pengetahuan yaitu. 1982).

Strategic Teaching in Science. mengenalkan konsepsi melalui struktur tugas dan aktivitas yang bermakna.. Auckland: Heinemann. Pengenalan Konsep IPA Berupaya mencapai pemahaman awal tentang konsep ilmiah. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick_Gunstone@Education. S. (1984). The Content of Science: A Constructivist Approach to its Teaching and Learning. George J. 1987) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual. menuliskan peristiwa dan objek sehari-hari. tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi (Tabel 1). 1987).. No. membandingkan miskonsepsi dan konsepsi ilmiah. Deborah J.. (1994). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Posner. G.. dari berbagai bukti dari praktikum dan dari hasil komunikasi dengan sesama siswa maupun guru. Menekankan prinsip dan teori kunci. Strike. Di kelas. Gunstone. guru menjelaskan konsep-konsep dasar. Kenneth A. and Gallard. Gunstone.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail..edu. (1982). Joel J. In Dorothy L. dan memahami antar hubungan antara konsep ilmiah dengan konsepsi yang dimilikinya. Ernst (1992).monash. Wandersee. Tobin. tetapi juga aktif dalam melatih keterampilan inkuiri seperti mengemukakan penjelasan. and Freyberg. memfasilitasi observasi.. penalaran kreatif.edu. and Coordination of Secondary School Science: Relevan Research Volume 2. Questions and Answers about Radical Constructivism. Ogle. monash. James H.Oktober 2008 . In Dorothy L. (1994).. New York: MacMillan. (Diadopsi dari Anderson.) Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas.. Aplikasi dan Integrasi Memahami prinsip dan teori ilmiah. In Marcia K. siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami. F.pendidikan sains. Palinscar. Sequence. Jones. Hewson. diskusi. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick-_Gunstone@Education. Dalam suatu learning community yang ideal.. Proses Siswa Berpikir Strategi Pengajaran DAfTAR PUSTAKA Gunstone. London: The Falmer Press.edu.. Tippins.com]. 1987) Antisipasi Persiapan Siswa mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap proses pembelajaran. Science Education Vol. Constructivism and Learning Research in Science Education. Gabel (Ed. Richard F. Peter W. Faculty of Science Education. Piaget’s Cognitive and Affective Development. Pada tahap persiapan. Gabel (Ed. Pada tahap penyajian.. Alejandro Jose. Richard Gunstone. Constructivist Learning and the Teaching of Science. (1994).com]. In Peter Fensham. Richard White (Ed). D. Faculty of Science Education. von Glasersfeld. pada dasarnya. mencoba menangani kesulitan belajar. sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson. Barry J. Wadsworh. S.. menampakkan kesadaran dan motivasi untuk belajar. (1997). Monash University. The National Teacher Association. Osborne. and E. Monash University. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick¬_Gunstone@ Education. Peter. memikirkan fenomena alam dan penjelasannya dengan menggunakan bahasa sendiri.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. Monash University. and Gertzog. guru sebaiknya memandang kelas sebagai suatu learning community (Anderson.. Ian J. Dalam menerapkan strategi perubahan konseptual. mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. deskripsi. Tabel 1: Planning Guide for Teaching fir Conceptual Change. Richard F. 211-227.com]. (1987). Gunstone. Menyediakan advance organizers. Mintzes. (2002b). Charles W. Faculty of Science Education. Pada tahap penerapan dan integrasi. Metacognition and Conceptual Change. 2. dan mencoba menginternalisasi konsep inti yang tidak terlalu sulit. and Mitchell. Learning in Science: The Implication of Children’s Science. Richard F.. William A. John Wiley and Sons. Anderson. tidak hanya aktif dalam hal mempelajari fakta. siswa belajar dari berbagai sumber termasuk buku teks maupun guru. (2002a). (1985). Pearsall Scope.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. A. Richard F... New York: MacMillan. Namun.au] to Tatang Suratno [suratno169@hotmail. In B. Research on Instructional Strategies for Teaching Science. 88. Carr (Ed. and Novak Joseph D. The Importance of Specific Content in the Enhancement of Metacognition. “JURNAL. Alexandria VA: Oak Brook. Kenneth. Accomodation of a Scientific Conception: Toward a Theory of Conceptual Change. Research on Alternative Conception in Science.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. mengajukan pertanyaan dan merangsang penjelasan anak. prediksi dan mengontrol obyek dan peristiwa alamiah. monash.. Secara eksplisit menjelaskan keterkaitan hubungan antar konsep dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Roger. siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful