P. 1
Oktober 2008

Oktober 2008

|Views: 880|Likes:
Published by Firman Tcr Belati

More info:

Published by: Firman Tcr Belati on Feb 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2013

pdf

text

original

Pengantar

Nomor: 10 - Oktober 2008

Sejumlah tulisan yang ditampilkan pada Jurnal Pendidikan Dasar edisi Oktober 2008 ini, berupa hasil penelitian lapangan maupun kepustakaan yang difokuskan kepada konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tulian dan hasil pikiran yang kesemuanya menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dasar, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dalam pelaksanaan teaching learning, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. Lely Halimah, menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 Laboratorium UPI Kampus Cibiru dalam kesimpulannya antara lain menyebutkan bahwa perkembangan kosa kata mempunyai epranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa sekolah dasar. Nina Sundari, menampilkan tulisan hasil penelitian berjudul Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tini Rustini, menampilkan hasil penelitian berjudul Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berfikir Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tatat Hartati, hasil penelitiannya berjudul Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi, menyimpulkan bahwa kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang dengan penelitian-penelitian yang berkualitas secara bersama-sama. Rustono, dkk, menuliskan hasil penelitian berjudul Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar. Dadan Djuanda, menuliskan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, mendeskripsikan bagaimana pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Nurdina Hanafiah menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pengembangan Decision Making Model dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, menyimpulkan bahwa model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternative pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Maulana, menuliskan hasil penelitian berjudul Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa PGSD, menyimpulkan bahwa proses ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena decision making process model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan berfikir kritis siswa. Beberapa tulisan yang tampil untuk memperkaya jurnal edisi kali ini adalah; Dindin Abdul Muiz Lidinillah, Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar, Supriadi, Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika, dan Yahya Sudarya, Project Based Learning dalam pembelajaran Evaluasi Belajar mahasiswa PGSD. Oktober 2008 REDAKSI

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Jurnal Pendidikan Dasar
Daftar Isi

Nomor: 10 - Oktober 2008
Halaman (2) (3 - 9)

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Lely Halimah Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Nina Sundari Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar Rustono W.S. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno

(10 - 13)

(14 - 17)

(18 - 20) (21 - 27)

(28 - 32)

(33 - 38)

(39 - 45)

(46 - 51) (52 - 57) (58 - 61)

(62 - 64)

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
Lely Halimah Abstract Based on the preliminary study, it is shown that the teaching and learning process of Bahasa Indonesia in the 4th grade of SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru is not yet conducive to develop the Indonesian language skill of the students. One of the sources of the problem is that the teaching and learning process of bahasa Indonesia applied by the teacher refers to only one source for one semester, which is the text book. Consequently, the students seems unenthusiastic in attending to the teaching and learning process, and don’t have a chance to actively participate and to communicatively use Indonesian language, so that the language skills of the students are not well developed. In such condition, some efforts are required to improve the quality of the teaching and learning process, in order to increase the quality of the result. To overcome this condition, a classroom activity/treatment research is conducted --a kind of reflexive research performed by giving certain treatments to improve or and to increase the class activities in a more professional way. In general, the objectives of this research is to increase/enhance the quality of the process and the result of teaching Bahasa Indonesia by way of developing creativity of the teachers’ in exploiting the students’ surroundings as learning sources. To achieve the objectives of the research, the procedures are generally referred to the classroom research activity, as in Lewin’s Model (Elliot, 1991), and in particular develop the procedure of PTK adaptation of Hopkins, 1993), which includes planning, performing, observation, and reflection. In accordance with the procedures, this research is developed into three cycles, of which each cycle develops different themes. For instance, cycle 1 develops the theme of Newspaper, which is then developed/extended into three actions. Cycle 2 develops the theme of Houseplants, which is then developed/extended into three actions. Cycle 3 develops the theme of School Library, which is then developed/ extended into two actions. The focus of each action of utilizing the environment as learning source is giving the students a chance to actively participate by using the language in a communicative way. The conclusions of the research are as follows: (1) the utilization of the environment as an effective learning source, by giving the students a chance to interact/get involved with various learning sources, the people, the materials, the equipments, the techniques, as well as the environment itself, (2) the conducive activities of the students, by giving the students the assignments that encourage them to use the language in a communicative way, such as interviewing, descriptive writing on their object of observation, and (3) the impact of utilizing the environment as learning source, which is shown by the gradual improvement of the students’ language skills, which include listening, speaking, reading, and writing. As shown by the statistic, out of 16 respondents of this research, in cycle 1 action 1, there are only 6 students (37,5%) with good listening skill. But in cycle 3 action 2, there are 12 students (75%). And in cycle 1 action 1, there are only 4 students (25%) with good speaking skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Similarly, in cycle 1 action 1, there are only 9 students (56,25%) with good reading skill. But in cycle 3 action 2, there are 11 students (68,75%). And finally, in cycle 1 action 1, there are only 5 students (31,25%) with good writing skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Suggestion for future researchers is that the utilization of the environment as an effective learning source for the development of the students’ language skills requires good and constructive planning in preparing and providing the materials, media, methods, and other sources existing in the surroundings, as well as the evaluation. Keywords: learning source and language competence PENDAHULUAN endidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan

P

bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

TUJUAN DAN MANfAAT Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia di SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Seiring dengan adanya berbagai temuan di atas. melalui pengembangan kreativitas guru dalam pemberdayaan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar kehidupan peserta didik. peserta didik belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan hanya mengandalkan dari satu sumber yaitu buku paket. yang salah satunya adalah guru terlalu terikat dengan buku paket bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia Dengan kata lain. Bagaimana meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia? Untuk memecahkan masalah tersebut. Mengidentifikasi cara-cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik. kepala sekolah. Dari berbagai hasil temuan masih banyak diungkapkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia serta hasilnya belum sebagaimana yang diharapkan. Mengidentifikasi aktivitas belajar berbahasa Indonesia yang kondusif dalam menumbuhkembangkan kompetensi berbahasa peserta didik selama proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar. Mengidentifikasi dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia terhadap peningkatan kompetensi berbahasa peserta didik. yaitu melalui penerapan metode penelitian tindakan kelas dalam pemberdayaan lingkungan di sekitar peserta didik sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Bagaimana cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Setelah diadakan refleksi secara kolaboratif dengan guru-guru tersebut ditemukan berbagai faktor penyebabnya. maka peneliti melakukan studi pendahuluan yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru SD laboratorium UPI Kampus Cibiru.yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan. 1. dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama pembelajaran bahasa Indonesia? 3. minat dan motivasi belajar yang tinggi terhadap peserta didik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 1992) menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang menjadi sampel penelitian. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh gambaran pada umumnya pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru tersebut belum kondusif terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik. 2001: xxxi) mengemukakan hasil observasinya di beberapa negara bahwa anak-anak Indonesia “rabun membaca dan lumpuh menulis. Berdasarkan temuan empirik terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. (2) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dengan berbagai nara sumber. 3. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas. maka melalui penelitian ini. dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. dan dari hasil diagnosis secara kolaboratif antara peneliti. Bagaimana aktivitas peserta didik yang kondusif. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (3) memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber belajar dan mengkomunikasikan baik lisan maupun tulis. bahkan hasil penelitian kemampuan membaca tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA.Oktober 2008 . Rofi’uddin dan Zuhdi (1999: 37) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan lulusan sekolah dasar dalam hal baca-tulis terus dikumandangkan. 1. Tepatnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia terendah di kawasan ASEAN. (4) memberikan pengalaman yang bermakna dalam melakukan berbagai aktivitas berkomunikasi baik lisan “JURNAL. maka yang menjadi fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. Bagaimana dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia terhadap kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? Berdasarkan rumusan permasalahan di atas. maka peneliti menjabarkan ke dalam sub-sub masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian berikut ini. peneliti dan guru berkolaborasi secara inkuiri reflektif untuk memperbaiki proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik. 2. maka ditetapkan alternatif tindakan yang dapat memecahkan masalah yang bersifat praktis dan inovatif. maka peneliti bersama kepala sekolah dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru merasa perlu adanya upaya-upaya perbaikan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya agar kompetensi berbahasa peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal. terutama bagi peserta didik di antaranya (1) menumbuhkan antusias. sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? 2. Penyebabnya pada umumnya mengungkapkan bahwa kegagalan itu bersumber pada guru dan metodologi pembelajaran serta sumber daya pendidikan yang kurang menunjang. Lebih parah lagi Ismail (Jalal dan Supriadi. Dari hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan penelitian ini.

Sedangkan dilihat dari sifat pengembangannya. Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar kita. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). It is the means by which people explore and structure their worlds”. dan sebagainya. Menurut sifat dasarnya. juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity) pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik.” Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Solchan (1994) dilihat dari ragamnya. baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar dan sifatnya insidental. misalnya udara. 1994) mengemukakan bahwa penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran pada umumnya mempunyai berbagai fungsi. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan. Sumaatmadja (1996: 30) memaknai lingkungan sebagai ”segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat pertumbuhan manusia yang bersangkutan. karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pengajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit. dkk. Depdikbud (Soschan. terutama dengan adanya media massa. (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional. di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. TINJAUAN PUSTAKA Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia. (4) lebih memantapkan pembelajaran. yaitu (a) learning resources by design. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran. Esensi dari penelitian tindakan kelas ini merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat. dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. dan (5) meningkatkan kompetensi dan kreativitas berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan.. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Djahiri (1992) mengemukakan pula fungsi sumber belajar. (6) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas. Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat penting. dan (b) sumber belajar non insani. yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi. serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill) khususnya kemampuan akademik. air sungai. sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi. Semakin kita gali semakin banyak yang didapatkan oleh peserta didik. Dengan kata lain. Sejalan dengan pendapat di atas. education is essentially something people must do for themselves. Language is central to the individual’s process of self-discovery and self-definition. Salah satu upaya yang dapat membantu peserta didik memiliki strategi komunikatif tersebut. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimuli) terhadap individu. sumber belajar dapat dibagi dua. pepohonan. sumber belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. di samping memperluas dan meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif. cahaya. (1984: 1) bahwa “Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their world. reading ability and culture). dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. (5) memungkinkan belajar secara seketika. lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai ekonomis. yakni (a) sumber belajar insani. dan (b) learning resources by utilitarian. Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut ini. matahari. Dengan demikian. maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi.maupun tulisan. Although others play significant role in this process.Oktober 2008 . Menurut Soedarsono (1996) penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih jauh. Untuk itu. rerumputan. Sebagaimana dikemukakan Mangieri. serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. “JURNAL. pembentukan sikap (concept formation = self concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill).

dan peserta didik belajar berkomunikai melalui berbagai informasi yang terdapat pada surat kabar. dan analisis kondisi lingkungan sekolah. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan berbagai tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. Pelaksanaan Pada tahap ini sesuai dengan prosedur pengembangan program tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus. yang disesuaikan dengan tuntutan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : (1) analisis kebutuhan perkembangan peserta didik.Oktober 2008 . c) Tindakan ketiga. c) Tindakan ketiga. dan siklus dua terdiri dari dua tindakan. Pelaksanaan tindakan ini dibagi menjadi tiga siklus. b) Tindakan kedua. Observer mencatat kejadian-kejadian penting untuk kemudian dihimpun sebagai catatan lapangan selama proses berlangsungnya pembelajaran. Temuan-temuan ini menjadi bahan diskusi antara guru dan peneliti untuk merancang perbaikan pada tindakan Gambar 1: Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari Hopkins. Setiap siklus jumlah tindakannya berbeda. 1) Siklus kesatu tema “Surat Kabar” a) Tindakan kesatu. seperti siklus satu terdiri dari tiga tindakan. 1981 dalam Hopkins. b) Tindakan kedua. yaitu tematik. 1993. peserta didik mengamati berbagai surat kabar yang dibawa oleh penjual surat kabar dan melakukan wawancara langsung dengan penjual surat kabar. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan salah satu jenis tanaman hias. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan informasi yang terdapat pada surat kabar. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan membawa surat kabar sebagai sumber belajar peserta didik dalam belajar keterampilan berbahasa. Melalui tindakan ketiga ini. Observasi ini dilakukan terutama untuk melihat proses dan dampak dari tindakan guru terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik.a. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan (plan). Untuk lebih jelasnya gambaran setiap siklusnya adalah sebagai berikut ini. pengewasan (observer). guru mengajak peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah. setiap siklusnya ditetapkan satu tema. c. dan refleksi (reflect) (Kemmis & Tagart. b) Tindakan kedua. 3) Siklus ketiga tema “Perpustakaan Sekolah” a) Tindakan kesatu. guru mengajak peserta didik mengunjungi tempat penjualan tanaman hias. Dari hasil perenungan ini akan diperoleh berbagai temuan menyangkut tindakantindakan guru yang sudah efektif dan yang belum efektif serta dampaknya terhadap proses belajar peserta didik. pelaksanaan (act). serta konfirmasi berkaitan dengan tugas guru dan peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran. untuk mengamati berbagai jenis tanaman hias dan dan melakukan wawancara dengan penjual tanaman hias. 1992. Melalui tindakan ini peserta didik belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan bukubuku yang ada di perpustakaan. Jadi secara keseluruhan terdiri dari tiga siklus dan delapan tindakan. analisis kurikulum bahasa Indonesia. b. waseso. (3) menyusun instrumen untuk pelaksanaan observasi dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. peserta didik mengamati surat kabar untuk mendeskripsikan tentang surat kabar.1993) “JURNAL. dan komunikatif. d. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . siklus dua tiga tindakan. McNift. sebagai sumber belajar peserta didik. dan prosedur pelaksanaan penelitian. Melalui tindakan kesatu ini. (2) mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumer belajar. guru mengundang penjual surat kabar ke sekolah. dan (4) membuat kesepakatan bersama guru dalam pemanfaatan waktu pelaksanaan pembelajaran. guru mengajak peserta didik ke perpustakaan sekolah untuk mencatat judul-judul buku dan pengarangnya serta melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan. Melalui tindakan ini. memadukan empat keterampilan berbahasa. sumber belajar berkomunikasi adalah macam-macam tanaman hias yang terdapat di halaman sekolah. Observasi Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pengamatan terhadap seluruh aktivitas pembelajaran. 1994). Refleksi Refleksi adalah tahap di mana antara guru dan peneliti duduk bersama untuk merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan oleh guru. untuk membaca buku cerita yang diminatinya dan kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut. 2) Siklus kedua tema “Tanaman Hias” a) Tindakan kesatu.

Kemampuan berbicara pada siklus pertama juga mengalami peningkatan. Untuk mengetahui makna dari penelitian ini. melakukan wawancara langsung dengan nara sumber. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . maka digunakan instrumen penelitian. dan siklus ketiga tindakan kedua jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik menjadi 62. seperti pada tindakan kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan menulisnya baik 31. (2) display data. dan pada siklus ketiga tindakan kedua peserta didik yang kemampuan membacanya baik menjadi 68. membaca. 5%. dapat digambarkan alurnya sebagaimana dikemukakan pada Gambar 1. dan tes (pretest dan posttest) 3. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara “JURNAL. Dilihat dari kemampuan berbahasa Indonesia. Semuanya itu dari jumlah peserta didik 16 orang yang menjadi responden penelitian ini.selanjunya. Kemampuan menulis pada siklus kesatu juga mengalami peningkatan. yaitu (1) reduksi data. membaca berbagai judul buku dan pengarang.5%. menceritakan kembali isi teks yang telah dibacanya. meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. mewawancarai tukang koran. Gambar 2: Kemampuan Menyimak Gambar 3: Kemampuan Berbicara Gambar 4: Kemampuan Membaca Gambar 5: Kemampuan Menulis Peningkatan kemampuan berbahasa sebagaimana dikemukakan di atas.25%. seperti mereka membaca surat kabar secara langsung. mewawancarai petugas perpustakaan dan sebagainya yang semuanya itu ternyata efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana dianjurkan oleh Nasution (1988). Untuk siklus pertama. analisis dokumen. ternyata sangat ditunjang oleh kondisi meluasnya cakrawala sosial peserta didik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut ini. tindakan ke 1 jumlah peserta didik yang kemampuan menyimaknya baik adalah 37.25%. dan akhir pelaksanaan program tindakan. pedoman observasi dan catatan lapangan. dan menulis untuk setiap siklusnya mengalami peningkatan. Berbagai aktivitas penggunaan bahasa secara komunikatif yang dilakukan peserta didik. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia telah terbukti kondusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. membuat pertanyaan untuk melakukan wawancara dengan nara sumber.75%. maka analisis data dilakukan pada setiap tahap pengumpulan data. Analisis Data Pada dasarnya analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara berkelanjutan dari hasil stusi pendahuluan. dan pada siklus ketiga yang kemampuan menyimaknya baik menjadi 75%. Dari keseluruhan tahapan di atas. berbicara. di antaranya adalah pedoman wawancara. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan pada siklus kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan membacanya baik 56. di antaranya peserta didik mengamati suatu objek kajian dan melaporkan hasil pengamatannya. 2. pelaksanaan. mengamati langsung tanaman hias dan mewawancari langsung penjualnya. menulis deskripsi sesuai hasil pengamatannya. Instrumen Penelitian Sesuai dengan tahapan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Dilihat dari proses belajar peserta didik. seperti pada tindakan ke satu jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik 25%. sebagaimana dikemukakan di atas. membaca berbagai buku bacaan yang ada di perpustakaan.5%. dan (3) membuat kesimpulan dan verivikasi. alat perekam elektronik. dan pada siklus ketiga tindakan kedua menjadi 62. Data yang dihimpun itu. yang meliputi menyimak.Oktober 2008 .

langsung oleh peserta didik sangat menunjang terhadap perkembangan pembendaharaan kata mereka. Perkembangan kosakata mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin kaya kosakata yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. bahkan kualitas keterampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya (Suhendar dan Supinah, 1992: 103). Untuk itu, agar pembelajaran bahasa berkualitas dalam mengembangkan kompetensi komunikatif peserta didik, Logan, dkk. (1972: 18) memberikan arahan bagaimana guru harus menciptakan pembelajaran bahasa, di antaranya guru harus memberikan kurikulum bahasa yang berorientasi pada terciptanya kesadaran yang penuh akan kebutuhan peserta didik untuk penemuan, penjelajahan, berimajinasi, menciptakan dan berkomunikasi dalam lingkungan komunikasi yang bermakna. Dalam seting belajar, guru akan mengembangkan kurikulum yang mengutamakan situasi yang alamiah sebagaimana anak secara alamiah belajar dan menggunakan bahasa. Dengan kata lain, guru akan memberikan seting pembelajaran di mana peserta didik dilibatkan dalam menyimak, berbicara, untuk mengkomunikasikan ide-idenya dan perasaannya sebagai dasar pengembangan kemampuan berbahasa tulis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas berbahasa, dan juga dapat meningkatkan kompetensi komunikatif peserta didik. Adapun cara yang efektif dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan cara menghadapkan peserta didik secara langsung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 2. Aktivitas peserta didik yang kondusif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberikan dampak yang positif, terutama terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan secara bertahap baik kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Saran-saran 1. Bagi Guru, hendaknya lebih kreatif lagi dalam memilih sumber-sumber belajar yang berasal dari lingkungan peserta didik. Selain kreatif dalam memilih sumber belajar tersebut, juga kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara komunikatif baik lisan maupun tulis. 2. Bagi Peneliti Lebih Lanjut, kondisi yang harus dipenuhi (suport system) dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa di antaranya perencanaan yang matang dan konstruktif baik dalam mengkonstruk bahan belajar, media, metode, dan sumber-sumber belajar yang berada di lingkungan sekitar, serta penilaiannya. DAfTAR PUSTAKA Azies, Furqonul dan Alwasilah, A. Chaedar (1996) Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Elliott, John. (1991) Action Research for Education Change. Philadelphia: Open University Press. Fisher, Carol J. & Terry C. Ann (1982) Children’s Language and the Language Arts. New York: McGraw-Hill Book Company. Kennnedy, Barbara L. (1994). The Role of Topic and the Reading/Writing Connection. (Online):.http://www. writing.berkeley.Edu/TESL-EJ/ejo1/a.3.html. (1 April 1994). Logan, Lillian M., Logan, Virgil G. and Paterson, Leona. (1972). Creative Communication:Teaching the Language Arts. Toronto: Mcgraw-Hill Ryeerson Limited. Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. (1984). Teaching Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book Company. Muchlisoh, dkk. (1992). Materi Pokkok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud; Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Muktiono, Joko D. (2003). Aku Cinta Buku: Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. (1988). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Y o g y a k a r t a : BPFE. Nurchasanah, (1994). “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulis Terpadu”. Vokal Telaah Bahasa dan Sastra. (No. 1 Th V), 31-37. Pappas, Christine c., Kiefer, Barbara Z., Levstik, Linda S. (1995). An Integratif Language Perspective: in the Ellementary School. USA: Longman. Richards, Jack C. (2001) Curriculum Development in Language Teaching. United States of America: University Press Combridge Rofi’uddin, Ahmad. (1994). Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1994. Malang: Vokal No. 1 tahun V. Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud. Suparno, Suhaenah A. (1999). Pemanfaatan dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny., Dkk. (1986) Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar. Jakarta: Gramedia Santosa, Puji.,dkk., (2003) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL Writing Classroom. (Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar/ aloud.html (19 Maret 1997). Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online). Tersedia: http://@www. goodle/search. (28 Maret 2002). Swarbrick, Ann. (1994). Teaching Modern Languages. New York: Routledge. Tarigan, Djago. (1995). Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung: Theme 76. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Universitas terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Hanry Guntur. (1979). Membaca: Sebagai Suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Aksara. Tarigan, Henry Guntur. (1989). Metodologi Pengejaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Djago dan Tarigan, H. G. (1988). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Weaver, C. (1996). What about Whole Language? (Online). Tersedia: http://www.ashay. Com/mpe. (Juli 1996). Williams, Marion & Burden, Robert L. (1997) Psychology for Language Teachers: a Social Constructivist Approach. United Kingdom: University Prees Cambridge.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Nina Sundari Abstrak Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar”, merupakan Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Cibiru X kelas IV Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas data kreativitas siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media peta. Manfaat proses penelitian ini, dapat meningkatkan kinerja guru dalam melakukan perubahan untuk perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Proses penelitian dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti sebagai mitra penelitian. Bentuk penelitian ini adalah model siklus yang dilakukan sebanyak lima kali pengamatan dan tindakan, yang terdiri dari beberapa fase pengamatan kegiatan pembelajaran. Prosedur pelaksanaannya mengacu kepada model yang dikembangkan oleh Kemmis, Mc. Taggart, dan Hopkin’s, setiap siklusnya terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab,menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupan. Proses penelitian dengan menggunakan media peta, berhasil dilakukan guru yang ditunjukkan dengan meningkatnya kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Beberapa perubahan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditunjukkan oleh guru dalam pengembangan strategi, meliputi pengorganisasian materi, pemilihan metode dan media, serta evaluasi di dalam proses maupun terhadap hasilnya. Keberhasilan pembelajaran, secara nyata dapat dilihat dari pola interaksi guru dan siswa yang menunjukkan meningkatnya minat, partisifatif aktif siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pembelajaran dengan menggunakan media peta, guru telah meniciptakan lingkungan belajar dan strategi yang membangkitkan keterlibatan siswa secara fisik, mental dan emosional, 2) pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar dengan menggunakan media peta, peran serta siswa menjadi lebih meningkat, 3) penggunaan media peta secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Proses dan hasil studi ini dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak yang terkait, khususnya bagi guru sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi modal pengembangan untuk meningkatkan mutu unjuk-kerja profesional guru di lapangan. Bagi sekolah, proses dan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengelolaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial Kata Kunci: media peta, pembelajaran pengetahuan sosial PENDAHULUAN alam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional berfungsi:

D

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Rumusan fungsi dan tujuan nasional, jika dikaitkan dengan tujuan Pendidikan IPS mempunyai arah yang sama, yaitu pembentukan warga negara yang mampu hidup secara demokratis (citizenship education). Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dengan masyarakat lainnya. untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu melahirkan manusia yang handal, baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya. Demikian pula dengan Kurikulum

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Dilihat dari keunggulan menggunakan peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial khususnya pada topik lingkungan sekitar di sekolah dasar. gambar. potret. garis. sumber pembelajaran. mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya. keadaan alam serta persebaran penduduk di daerah/ lokasi tertentu. Secara harfiah media diartikan sebagai pelantara atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. Sumantri & Permana (1999 : 181) mengemukakan prinsif-prinsif dalam memilih media yaitu: 1. LANDASAN TEORITIS 1. Menurut Samaatmadja (1984 : 116). Seperti : slide. menggunakan serta mengusahakan memilih media yang tepat. maupun gambaran dari objek tertentu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . memilih media harus berdasarkan tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan. selain guru dapat mengembangkan materi. epidiaskup. Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media tetapi dituntut untul terampil memilih. khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik. grafik. Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 akan sulit disaksikan. evaluasi dan penggunaan media. Karena wilayah tersebut terlalu luas untuk diamati secara langsung. maket. papan planel. dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan PBM IPS. Sedangkan manfaat media bagi siswa memungkinkan dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai. harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri. Permana : 1999 : 21). Manfaat Media Peta Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru. perlu memperhatikan aspek tujuan.Oktober 2008 . Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan IPS. dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif”. memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu. 2. mengemukakan media pengajaran secara keseluruhan adalah segala benda. media pembelajaran terdiri dari : gambar-gambar. memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru. Media pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam menunjang pembelajaran. 3. Peta merupakan hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian. termasuk media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. strategi. metode dan evaluasi. film. khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi. foto. yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. 5. Pengertian Media Peta Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium. 2. sehingga dapat membantu kelancaran aktivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan materi pembelajaran. vide tape recorder. 4. Sumaatmadja (1980 : 117). sebaiknya alat-alat tersebut dapat digunakan guru dan siswa. (Sumantri. metode. Menurut Suharyono peta adalah gambaran permukaan bumi alam satu bidang datar. simbol-simbol. kalau memungkinkan guru memiliki kemampuan untuk merancang dan membuat media sendiri. menjadikan anak-anak senang. Untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Demikian pula dengan media peta. materi. sifat keingintahuan. Contohnya pengamatan suatu wilayah sukar memberikan gambaran yang menyeluruh. grafik. 2. Pengguanaan media bukan semata-mata melaksanakan salah satu komponen pengajaran. kerjasama. poster. Selanjutnya. tape recorder. media merupakan alat ari segala benda yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. Memilih dan menggunakan media. mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar. diagram. Dengan menggunakan media peta dapat memperoleh gambaran keseluruhan tentang wilayah yang diteliti. Dengan lebih mudah melakukan pengamatan. memperbaiki berpiki kreatif anak-anak.Berbasis Kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004 bahwa dalam ”Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Proses pembelajaran yang didukung oleh media secara lengkap dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. Tetapi dengan adanya foto-foto peristiwa berlangsung dapat merasa lebih dekat. Peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial berfungsi untuk penyampaian materi agar lebih mudah diterima siswa. baik dalam penggunaannya dan pengadaannya. globe. Mengenai tujuan belajar dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. sangat terkait dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang tersedia untuk kebutuhan siswanya. proyektor. tetapi dengan media benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan siswa dalam belajar. 3. 2002 : 32). siswa diarahkan. siswa dilatih menjadi terampil dan penuh pengalaman dalam menggunakan media. tempat dan situasinya yang tepat. radio dll. memilih media harus memahami karakteristik ari media itu sendiri. “JURNAL. seolah-olah menyaksikan sendiri. (Afrid. peta. objek yang dituangkan dalam bentuk gambar. Salah satu indikator keberhasilan mutu proses dalam hasil belajar siswa. bergembira dan riang dalam belajar. dibimbing. visual hingga benda asli seperti laboratorium. dsb. Demikian pula dilihat dari keefektifan bagi guru dengan menggunakan media peta dapat membantu dalam menyampaikan pesan materi secara lebih mudah kepada siswa. Dilihat darimacamnya. nara sumber. diorama. memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. memberi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa baik dalam posisi geografis. 4.

. Dalam pembahasan materi. guru dapat mendorong siswa sekolah dasar melakukan pengamatan lingkungan fisik dan sosial. Bahkan Mc. dapat memunculkan variasi metode. keterampilan dan sikapnya tidak verbalisme. Strategi yang dikembangkan guru dengan mengembangkan peta sebagai media. Tipe pembelajaran yang ditampilkan guru berupa ceramah (lecture) dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. berdampak pada hasil sehingga yang diperoleh siswa hanyalah pada aspek pengetahuan. merefleksi.. tetapi guru bersifat pragmatis-praktis yaitu mengangkat bahan IPS berdasarkan pada kehidupan riil siswa. HASIL PENELITIAN Beradasarkan hasil penelitian diatas. dan bergayut dengan realitas lapangan (Hopkins. b. Media peta sebagai alat pembelajaran yang dapat membatu guru dan siswa memudahkan pembelajaran yang abstrak menjadi konrit. yaitu . Ebbut melihat proses dan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. Pola tersebut sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah dasar yang mengacu pada asa DAP (Developmentaly Appropriate Practice). mengamati.Oktober 2008 . Melalui penelitian tindakan kelas adalah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas. 1993. keempat pase dari siklus dapat digambarkan dengan sebuah spiral Penelitian Tindakan Kelas. kontekstual. 1993). dan refleksi (Kemmis & Taggart. c. Pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi guru dalam mengajar di kelas. Penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis diantara keempat aspek. dilihat secara procedural berserta langkah-langkah proses Penelitian Tindakan Kelas. observasi. (b) their understanding of these practice. tidak lagi menggunakan buku paket sebagai sumber belajar yang utama. Melalui pengorganisasian dan pengkajian yang bervariasi mengenai pengmatan lingkungan sekitar. KESIMPULAN KHUSUS Kesimpulan penting proses dan hasil studi ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. tetapi juga kemampuan dalam analisis dan sintetis. yaitu: merencanakan. perencanaan. menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya pelaksanaan tindakan kelas adalah untuk perbaikan. sangan efektif diterapkan di sekolah dasar. refleksi dan mengacu pada model Elliot’s (Hopkins. guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang memadai. Niff (1992). Rencana penelitian dilakukan dengan langkahlangkah yang dirancang berdasarkan 5 tahap : orientasi.TUJUAN DAN MANfAAT PENELITIAN Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (action research). Dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan penelitian bersandar pada pengamatan setting kelas secara obyektif tanpa rekayasa peneliti. tindakan. Penelitian tindakan kelas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . karena siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Gambar 1: alur kegiatan penelitian tindakan kelas berdasarkan spiral (Adaptasi dari Hopkins. observasi. situasional.. memungkinkann kepada siswa meningkatkan pengetahuan. temuan penelitian menunjukkan bahwa pemnfaatan media peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (ciclycal) yang terdiri dari empat tahap. khususnya dalam memanfaatkan media peta hingga guru maupun siswa dapat menggunakannya. and (c) the situation are carried out (Hopkins. seperti ceramah “JURNAL. Temuan ini sesuai kajian kepustakaan bahwa pemilihan suatu strategi dan metode mengajar dalam pembelajaran Pengenalan Lingkungan Sekitar dengan menggunakan media peta. 1992). perencanaan. melakukan tindakan. 48) Kata perbaikan disini terkait dan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational situation) in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practice. Pembelajaran lebih bermakna. adaptif. tindakan. seperti tampak pada Gambar 1. Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dan memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. 1993 : 43). 1993 : 44). merupakan tradisi kualitatif yang didasarkan pada prinsip natural setting.. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Model penelitian tindakan kelas.

New York: Longham et. Usman. Jakarta. Jerome. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Metodologi Pengajaran IPS. New York: Norton. Bandung: Tarsito.: Burges Mc. dapat menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat dan gairah belajar sehingga dapat mendorong siswa berpikir kritis. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Kurikulum (2004). PPGSM. Suyanto. Tim Pelatih Proyek PGSM. s dan Barth. PPGSD. (1984). (1999). (1996). Nasution. (1992). Penggunaan Peta Oleh Guru dalam Proses Belajar Mengajar Geografi Bidang Studi IPS Sekolah Dasar. Teori-teori Belajar.A dan Clegg. Pembelajaran dengan menggunakan media peta. 3979-Ind. (1966). pengamatan/observasi. PPS dan FPIPS UPI Bandung : Remaja Rosakarya. Sumantri. Departemen Pendidikan Nasional. National Assocation of Yong Children: Washington DC. IKIP Yogyakarta. T. Jaromilek. Sumaatmadja. Tesis. (2003). IBRD: Loan-Ind. Bredkamp. Penerbit: Sinar Baru. (Disadur oleh : Buchari Alma dan Harlasgunawan Ap.al. Buku Sumber Tentang Metode Baru. Bandung: Yayasan Bina Bhakti Winaya. Metode Penelitian Kualitatif. (1967). Suatu Tinjauan Pengantar. Program Serving Children From Brith Trought Age 8. (1994). Citra Umbara Bandung. Bandung: PT Remaja. New York: mac Millan Publishing Co. Moleong. (2001). Permana. Dirjen Dikti. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Effektive Secondary Education. Jakarta. IKIP Bandung Tidak diterbitkan. (1996). Willis. IBRD: Loan 4394IND.L. (1978). Action Resarch. PPGSD. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. M. et Al. R. kreatif dan inovatif. David. dan Parker. N.Jr. d. Sue. Strategi Belajar Mengajar. Bruner. Studi Geografi. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. ( 1993). Penerbit Alumni. Principles and Practice London: Routledge. Kasbolah. Hakekat Dasar Studi Sosial. (1977). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Banks. Philadephia: Open Univercity Press. Tesis. --------------------. Teacher Guide to Classroom Research. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Undang-undang Republik Indonesia No. Dirjen Dikti. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. Jakarta: Depdiknas. Minn. J. (2003). tanya jawab. (1985). Minneapolis. (1985). Dirjen Dikti. P & K. S. U-I Press. Shermis. J (1991). Pengembangan Pembelajaran Konsep Letak. “JURNAL. Barr. (1988). Depdikbud. Surya. E. e. Lueck. Bandung. Toward a Theory of Instruction. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang ditunjang oleh penggunaan media peta. PPTA. Arah dan Jarak dalam Bidang Studi IPS di SD. (1992). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Bandung.. Developmentary Appropiate Practice in Early Chilhod. Lexy. J. Dep.. Hopkins. Muhamad. Teaching Strategis for the Social Studies. (1993). Sitompul. Depdikbud. Dirjen Dikti. (1996). diskusi kelompok sehingga proses pembelajaran benar-benar menjadi menarik. Menjadi Guru Profesional. Depdikbud. Analisis Data Kualitatif. Raka Joni. menyenangkan dan efektif dalam pencapaian tujuan. dari Buku Asli: The Nature of Social Studies. Social Studien Elementary Education 9th Ed. Niff. N.Oktober 2008 . Erlangga. Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi) Mata Pengetahuan Sosial untuk sekolah Dasar dan Madrasah ibtidaiyah. Depdikbud. Marlinang. J. J.. Dirjen Dikti. (Terjemahan Tjetjep Rohendi). BP3GSD. A. Dahar.R. Strategi Belajar Mengajar. (1999). IBRD: Loan3496-Ind. Somantri. Depdiknas. AA. Huberman Michael A. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SD dan MI. PPS IKIP Bandung.bervariasi. (1999). Jakarta. W. memberi peluang kepada siswa melakukan berbagai keterampilan seperti mengamati dan memprediksi DAfTAR PUSTAKA Afrida (2003).U.S (1999). IBRD Loan No.

sehingga dapat menumbuhkan motivasi. Tujuan Pendidikan IPS. Sebagaimana tersirat pada fungsi dan tujuan pendidikan IPS di SD. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level diatasnya dan pada gilirannya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. guru dituntut membawa siswa kepada kenyataan hidup sebenarnya yang dapat dihayati. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat partisipatorik dan kolaboratif antara guru dan mitra penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Selain itu siswa diharapkan dapat terlatih untuk berprakarsa. pelaksanaan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pengembangan potensi siswa melalui pengajaran IPS dapat dioptimalkan. Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS dan Penerapan Model Problem Solving PENDAHULUAN endidikan Dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. Proses penelitian berlangsung empat siklus. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah 1) penerapan model problem solving dengan strategi yang dikembangkan guru secara bervariasi melalui pembelajaran IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh. tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari. mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. Manfaat penelitian lainnya adalah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan perubahan pembelajaran Pendidikan IPS di kelasnya. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar hendaknya dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada proses pencapaian tujuan tersebut. serta lebih terampil dalam menggali. Pembelajaran yang dikembangkan guru dengan menggunakan variasi strategi. 2) penerapan model problem solving melalui pembelajaran IPS yang dikembangkan guru. ditanggapi. menjelajah.Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Abstrak Penerapan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa dalam Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar ini dilakukan di SD Negeri Marga Endah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dengan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah agar guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar. Hal P ini sesuai dengan pendapat Raka Joni (1992: 1) bahwa dengan penerapan CBSA. mental (pemikiran dan perasaan) sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak. perlu mendapatkan perhatian yang serius. Dengan begitu semua potensi siswa dapat dikembangkan. dengan kegiatan pokok perencanaan. Manfaat untuk siswa dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas dan kreatifitas siswa selama mengikuti pelajaran. Suwarma (1999:43). guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif. Pengertian Problem Solving. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir. pengawasan dan refleksi. metode. siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Dalam proses penelitian berlangsung telah terjadi perubahan meningkatnya kemampuan kerja guru dalam mengelola pembelajaran menjadi lebih effektif. yaitu yang melibatkan siswa aktif baik fisik. dianalisa dan akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental. Potensi Berpikir & Pemecahan Masalah. dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPS.Oktober 2008 . kritis. Pada rambu-rambu GBPP IPS SD dikemukakan oleh Depdikbud (1994-1995) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran. media serta evaluasi pembelajaran benar-benar bermakna. keterampilan-keterampilan dalam menghadapi kehidupan nyata. motivasi dan kreativitas hingga berimplikasi pada hasil belajar yang lebih baik Kata Kunci: Pendidikan IPS. berpikir secara teratur. “JURNAL. mampu meningkatkan proses belajar siswa kelas V melalui aktivitas.

sosial dan motorik yang disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungan anak. baik sebagai pengembangan dan implementasi kurikulum. Tujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma: 1991). Dengan terbiasa siswa memecahkan masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. Berdasarkan kenyataan kiranya sulit dibantah bahwa penelitian selama ini menunjukkan guru sangat berperan sentral dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS secara efektif. Kualitas partisipasi siswa dalam belajar masih rendah mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal dengan membelajarkan siswa melalui pengoptimalan pengembangan kemampuan berpikir siswa. 1987). Model Problem Solving (pemecahan masalah) adalah salah satu model mengajar yang mengandung aktivitas belajar siswa cukup tinggi dan termasuk model yang disarankan dalam GBPP 1994. Dalam pembelajaran Pendidikan IPS. berdasarkan GBPP1994. Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarma: 1990. Mungkin dengan cara demikian keluhan para siswa bahwa belajar pendidikan sosial hanya akan ditandai dengan kebosanan dalam belajar akan dapat dihapuskan. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mengkondisikan siswa agar berpikir reflektif yang menimbulkan siswa menjadi aktif. 1989:153). Padahal sifat dari pembelajaran IPS seyogyanya lebih menitikberatkan kepada selain pemberian pengetahuan. Kebiasaan-kebiasaan guru sebagai pengajar yang lebih aktif dari para siswa dengan menggunakan metode “JURNAL. Dengan begitu pengembangan potensi berpikir secara optimal belum dikembangkan “Hal ini terjadi karena masih banyak kegiatan pembelajaran tersebut didominasi oleh guru. Sedangkan hasil observasi awal yang penulis temui di SD Marga Endah guru masih berperan sebagai pemberi informasi dengan kata lain guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran. diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang bersifat “Generic essential” yaitu kemampuan memuat perencanaan pengajaran. Pendekatan model ini termasuk kepada pendekatan interaksi sosial yang menitik beratkan kepada aktivitas memecahkan masalah baik individu maupun kelompok. sehingga benarbenar pembelajaran menjadi bermakna membuat anak memiliki minat yang besar untuk mempelajari pendidikan IPS. Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi didalam masyarakat.Oktober 2008 . Penelitian secara umum mengungkapkan bahwa kelemahan pendidikan IPS selama ini terletak pada proses belajar. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat perlu diupayakan pola-pola pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa di dalam proses pembelajaran di kelas. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya dimiliki oleh setiap guru. Siswa dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan guru” (Sudjana. siswa lebih banyak pasif. diharapkan siswa akan sukses dalam hidupnya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghapal “menyentuh pengembangan tingkat” rendah. kemampuan melakukan prosedur pengajaran dan kemampuan melakukan hubungan pribadi (UT. 1997). Adapun pola-pola pembelajaran yang melatihkan bentuk kemampuan proses yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi salah satunya adalah Model Problem Solving. diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir. dengan begitu siswa termotivasi untuk aktif dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran sebagai bentuk kemampuan proses yang dilatihkan. keluarga serta masyarakat. APKG. baik masa lalu. kreatif dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya dan kemudian berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya siswa diajak untuk mencarikan solusinya baik secara kelompok maupun secara individu. bangsa dan negara juga dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sekitar anak. Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya. Ary S. masa kini dan masa yang akan datang. Berdasarkan uraian diatas guru pendidikan IPS belum secara optimal mengembangkan kemampuan seluruh potensi siswa termasuk potensi berpikir siswa dan guru kurang keberanian untuk berusaha mengembangkan potensi siswa berdasarkan prinsip-prinsip CBSA kadar tinggi khususnya mengembangkan kemampuan berpikir tinggi seperti yang dijelaskan diatas. sikap dan keterampilan-keterampilan tentang kehidupan yang dibutuhkan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan tetapi juga masalah-masalah diberbagai gatra atau situasi dan kondisi ekonomi politik sosial. keingintahuan seorang siswa akan tergerak apabila dihadapkan dengan permasalahanpermasalahan yang timbul dilingkungannya yang dialami didalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan itu Hamid Hasan (1996:17) mengemukakan bahwa tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab dan diemban oleh pendidikan ilmu-ilmu sosial di masa mendatang. dan akan terwujud dalam proses belajar mengajar. budaya pertahanan keamanan dan agama dalam lingkup manusia sebagai insan mandiri. Pada saat terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan merefleksikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas sebagai hasil pengamatan yang diperoleh di sekitarnya. Orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pembelajaran. mental emosional. Tanya jawab dilakukan sekitar apa siapa dan dimana belum sampai kepada mengapa dan bagaimana.

didukung oleh prinsip seting alamiah. Kualitas pembelajaran IPS berhasil dengan baik bilamana guru berupaya mengkondisikan pembelajaran dengan menyajikan secara menarik dan menyenangkan serta menciptakan iklim yang terbuka dan demokratis. Bagaimanakah cara guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mulai dari merencanakan. Kendala apakah yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran IPS model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa? 3. penugasan dan diskusi membuat siswa lebih mudah merumuskan masalah. 1998:37) PERTANYAAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah diatas. mental. Tahapan-tahapan model ini diimplementasikan secara sistematis diharapkan siswa terbiasa berpikir kritis. Penerapan strategi pembelajaran model problem solving melalui pembelajaran IPS mampu melatih “JURNAL. untuk itu perlu ditransformasikan dari pelajaran yang hanya dipandang sebagai hapalan kepada pelajaran yang mampu mempertajam potensi berpikir dan memperluas cakrawala peserta didik” (Suwarma. Maleong: 1989). logis. melaksanakan dan mengevaluasi? 2. Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi realita yang terjadi tentang pendidikan IPS di Sekolah Dasar ternyata masih banyak guru yang belum melaksanakan pendekatan atau model problem solving sebagai salah satu pendekatan yang dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa secara optimal. emosional dan sosialnya secara mandiri. Guru sudah mulai menggunakan strategi metode pengajaran ceramah variasi. rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan penelitian kelas ini adalah: Bagaimanakah kemampuan guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran pendidikan IPS di sekolah dasar? Masalah pokok penelitian diatas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Guru hendaknya selalu sadar bahwa siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan baik fisik.Oktober 2008 . membuat hipotesa mengumpulkan faktafakta mencari bukti-bukti hingga mampu menyimpulkan permasalahan yang ada. dapat disimpulkan bahwa : 1. dan efektif dalam pembelajaran IPS. sebagaimana tuntutan model problem solving. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian dilakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk menentukan langkah-langkah kegiatan selanjutnya hingga tujuan penelitian tercapai. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa IPS Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan optimalisasi potensi berpikir. KESIMPULAN Penerapan model problem solving sebagai suatu strategi yang sangat efektif dalam mengembangkan siswa untuk berpikir secara ilmiah dan mengembangkan daya nalar mereka dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. melaui problem solving inilah yang menempatkan posisi guru tidak sebagai penyampai pengetahuan tentang teori atau ilmu-ilmu sosial. dan satu-satunya buku paket sebagai sumber belajar harus ditingkatkan. sedangkan variasi metode.ceramah. Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya guru yang aktif akan tetapi siswa dilibatkan secara optimal sesuai dengan potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasarnya yang mereka miliki sesuai dengan yang diamanatkan oleh tujuan dari pendidikan Sekolah Dasar. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan yang dapat digunakan sebagai upaya mencapai tujuan secara optimal. media dan sumber belajar yang beragam menjadikan suatu tuntutan yang tidak bisa diabaikan. adalah pendekatan yang menuntut siswa proses cara-cara pemecahan masalah hingga mampu mengambil keputusan. situasional. Walaupun masih perlu adanya pembiasaan guru untuk lebih terampil dalam menerapkan problem solving di kelasnya tanpa harus ada bantuan dari peneliti. kritis analitis. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu: 1. sebagai pemberi informasi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti hapalan. Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan yang merupakan langkah pertama. tetapi bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang menuntut siswa pada proses berpikir reflektif. refleksi diri serta kolaboratif partisipatif antara guru dan peneliti. ilmiah serta peka terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari. tanya jawab. Penelitian kelas ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan yang didasari oleh paradigma penelitian kualitatif. Dan berdasarkan keseluruhan temuan penelitian tindakan. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN Dari seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari pra tindakan dan setelah melakukan tindakan menunjukkan peningkatan kearah pembelajaran yang lebih baik. Bagaimanakah hasil yang dicapai dalam menerapkan pembelajaran model pemecahan masalah? METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Kualitatif yang lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Naturalistik (Naturalistik Inquiry) (Nasution: 1989.

2. ______________. ( 1996). (2000). New York: With Plane. Materi Pokok PGSD. Remaja Rosda Karya. ___________. r. Dirjen DIKTI PPGSD IBRD LOAN 3496 – IND. (1999). _________________. Jakarta: David Mackay C. proses dan studi ini menjadi bahan diskusi untuk memperluas wacana model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik siswa sekolah dasar 3. Bandung Sinar Baru. ( 1977). Metodologi IPS. Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung. Banks. Maleong Lexy (1993). Et. Djahiri K. Arlington: VA: NCCS. Pengertian dan Karakteristik IPS Jakarta P3D Depdikbud. David (1985). 2. (Thesis) Prodi PIPSPPS IKIP Bandung. Mew Mac Millan Joice Bruce and Weil Marsha (1972). Johar. Sinar Baru Sumantri Mulyani & P. (1995/1996). Saran Atas dasar temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas. Metode Penelitian Naturalistik. Social Studi In Elementary School New York. Bandung. UT. Bina Aksara. ___________. Suwarma ( 1996). Alih bahasa olrh Ary Penehan. Dasar-dasar Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral PVct. J dan Skill (1993). Epistimologi Pendidikan IPS Bandung:Pustaka Mandiri. Pendidikan IPS Buku 1 dan 2. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. (1989). proses dan hasil studi ini dapat menjadi model pengembang untuk meningkatkan mutu unjuk kerja professional guru sekolah dasar. Jakarta. Pendidikan IPS di SD. P dan K. penerapan model problem solving dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan dikembangkan dalam topic yang berbeda. Bagi peminat / pemerhati profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah dasar. Nana & Ibrahim (1989). dapat disarankan sebagai berikut : 1. Macmilan Publishing Company. Pengembangan Kemampuan berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Bandung Alumni.. FPS IKIP Bandung. J A With ClIGG (1975). Bagi sejawat pengembang pendidikan IPS. Surabaya: Usaha Nasional. Defining the Social Studies. Bloom. (1986). Taxonomy of Education Objective. Jakarta. CBSA dan Proses Belajar Mengajar. Bagi para guru sekolah dasar. ( 1992). Strategi Belajar Mengajar.d. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. (1999). Teaching Strategy For Social Studies Inquiry. Edisi Kedua. Pengajaran PMP IKIP Bandung. proses dan hasil studi tentang penerapan model problem solving di dalam pembelajaran pendidikan IPS dapat mengembangkan kemampuan meneliti dan melakukan tindakan perbaikan dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa DAfTAR PUSTAKA Al Muchtar. (1977). Social Studies Competency Skill. Sumaatmaja. Model of Teaching. _________________. ___________. & R Taylor. Hamid (1996). Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS: Bandung LP Universitas Pendidikan Indonesia. Benyamin (1956).Oktober 2008 . Bandung. Bandung. Bagi peneliti khususnya. Model Problem Solving berhasil dengan baik bila menggunakan strategi yang bervariatif 3. ___________. Jarolimek. Tarsito. Valuing and Decision Making. (2000). Mulyono ( 1980). 4. New Jersey Prentice Hall. Hopkin. S ( 1987). Model problem solving dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran 4. Dep. Model pembelajaran dengan menerapkan problem solving dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa. Konsep Dasar IPS. Hasan.siswa mengembangkan kemampuan berpikir reflektif.al. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . A Teacher Guide to Classroom Research. Bandung Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung. Nasution. Resiladelphila Open University Press. kritis dan kreatif. “JURNAL. Barr. N. Sudjana.

perguruan tinggi PENDAHULUAN ada umumnya bidang penelitian merupakan salah satu misi dari berbagai misi sebuah perguruan tinggi di samping menyelenggarakan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. yaitu beberapa negara Asean. menghimpun. riset merupakan pilar utama untuk peningkatan kualitas institusi dan citra sebagai universitas maju dan terkemuka di dunia. rasio dosen dan mahasiswa. c. d.memelihara dan mentrasfer budaya.Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Abstrak Dalam perspektif pengembangan suatu perguruan tinggi.Oktober 2008 . logika dan bahasa yang digunakan seharusnya selaras antara peneliti dan pengguna hasil penelitian/pembaca. Pusatpusat kajian tersebut pada beberapa negara terbukti telah memberikan keutungan besar bagi universitas di samping dapat mengangkat peringkat suatu perguruan tinggi minimal masuk dalam urutan daftar 500 kampus berkualitas di dunia. Mendukung pengembangan kapasitas (capacity building) perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan universitas. Untuk menghasilkan kinerja penelitian yang baik.Demikian pula pengembangan bahasa yang baik akan kukuh jika disokong oleh peneliti an yang baik. benar dan komunikatif. Pusat Kajian Sains. riset merupakan elemen strategis yang memberikan dukungan besar bagi pengembangan universitas itu sendiri maupun bagi pengembangan kemajuan suatu bangsa secara keseluruhan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Kata Kunci: bahasa. tetapi juga dituntut untuk mampu menghimpun dan menggali pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development). termasuk bidang usaha (entrepreneurship) dan kreativitas mahasiswa. Dalam dekade 20 terakhir. nilai-nilai dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. bahasa serumpun. Tanpa penggunaan bahasa yang baik. yang salah satunya adalah frekuensi publisitas penelitian secara internasional. Mendorong berkembangnya kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional juga dengan pihak industri dan masyarakat dalam pengembangan dan penerapan Iptek (ilmu pengetahuan &teknologi). jumlah mahasiswa dan dosen asing. penelitian. Dengan demikian universitas tak ragu-ragu menginvestasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kajian berbagai bidang ilmu dengan mendirikan Pusat-pusat Kajian seperti: Pusat Kajian Pendidikan. Penggunaan bahasa yang baik dalam penelitian secara langsung akan turut meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di era global terutama di lingkungan pengguna bahasa serumpun. Dengan perkataan lain perguruan tinggi tidak saja dituntut untuk mentrasfer pengetahuan melalui proses pengajaran. termasuk pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa guna peningkatan kualitas perguruan tinggi. maka data. Salah satu sarana untuk pengembangan penelitian adalah bahasa. Dengan demikian kualitas penelitian merupakan “benchmaking” maju mundurnya sebuah institusi bernama perguruan tinggi. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa perguruan tinggi secara proporsional dan kompetitif. sebaik apapun penelitian tidak akan mencapai sasaran. perguruan tinggi telah merumuskan paradigm baru dalam mencapai kualitas pendidikan bertaraf dunia yaitu dengan menjadikan universitas sebagai universitas riset yang lazimnya memiliki research center dan research institute. Pusat Kajian Bahasa dan sebagainya. Tujuan dari pusat-pusat riset tersebut antara lain: P a. Indikator lainnya adalah: penilaian sejawat. Fungsi perguruan tinggi pada hakikatnya adalah. “JURNAL. Bagi universitas maju. b. Mendukung penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Ada 4 indikator utama pemeringkatan 500 kampus terbaik tersebut. 2003).

Bahasa berperan sebagai perantara utama antara ide atau pandangan penulis sehingga tulisan difahami dan enak dibaca. akan memacu penelitian disiplin ilmu sebagai ide. sebagimana dikutip oleh Skelton (2005). kualitas & relevansi. tuturan-tuturan dalam artikel atau penelitian akan menjadi sesuatu yang layak dinikmati. • Komunitas mahasiswa dilibatkan ke dalam budaya dan komunitas peneliti dalam disiplin ilmu tersebut. manajer). pengajaran dengan penekanan pada metode-metode penelitian atau cara-cara untuk mengakumulasi pengetahuan dalam disiplin ilmu tertentu. Dengan bahasa yang baik. Hal di atas sejalan dengan pengembangan perguruan tinggi jangka panjang. regional maupun internasional. pelaksanaan sehingga laporan penelitian menggunakan bahasa. 2002) PeNelITIAN DI PerGuruAN TINGGI Dalam konteks pendidikan tinggi. kesehatan institusi. akuntabilitas dan otonomi (Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. • Budaya pemerolehan.e. Mengembangkan jejaring (network) informasi dan institusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada peringkat nasional. doktor. kualitas mengajar dan belajar kini dihubungkan dengan baik pada kemampuan ekonomi nasional untuk bersaing serta mempromosikan institusi perguruan tinggi di pasar global.Oktober 2008 . dan berakhlak mulia. • Pengajaran penelitian terbimbing. mengambil definisi yang lebih luas. Melalui bahasa seseorang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat. bahasa senantiasa dikaitkan dengan identitas suatu bangsa. perumusan pembelajaran serta strategi dan kebijakan mengajar. • Pengajaran lebih umum pada wilayah pendanaan (scholarship) sendiri. Dalam pandangan yang lebih luas. proposal. • Mahasiswa sebagai peneliti • Merancang program strata yang mengunggulkan kepakaran penelitian dalam satu atau antarsekolah. yang terdiri dari 5 isu strategis yang harus diantisipasi dan diimplementasikan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . menyampaikan presentasi dan makalah/artikel). Melalui hasil penelitian. • Pengajaran disejajarkan dengan penelitian. inovatif. teori dan konsep yang dihubungkan secara kritis oleh mahasiswa PERAN BAHASA DALAM PENELITIAN Seluruh proses penelitian mulai judul. Di tingkat kebijakan pemimpin. Sudah tiba waktunya bagi dosen untuk meningkatkan aktivitas penelitian sebagai satu elemen penting ke arah pendidikan seumur hidup. pendekatan yang lebih mendidik terhadap pengajaran. pengacara. Oleh karena itu kegiatan penelitian perlu diberi keutamaan dan dilaksanakan dalam semua jenjang pendidikan. • Rantai penelitian dalam konteks program strata untuk pengembangan profesional (seperti:dosen. Pengajaran “penelitian terbimbing” telah menjadi cara yang populer untuk mengekspresikan hubungan ini (Alwasilah. suatu institusi akan bergerak mengembangkan ‘budaya kualitas mengajar”. 2007). kreatif. yaitu bahasa. Penulis dengan penguasaan bahasa dan ejaan yang baik pada umumnya akan selalu diingat oleh para pembaca. Universitas Sydney di Australia. contoh. merujuk dimensi berikut untuk memperoleh isi dengan dilakukannya penelitian terbimbing: • Staf pengajar penelitian dilakukan oleh peneliti berkelas dunia yang aktif meneliti dan menulis. • Pengajaran berdasarkan bukti-pengajaran dan pembelajaran sebagai kesatuan dirancang dalam sorotan literatur pedagogik dan bukti pengalaman pelajar. Institusi akan mencari hubungan penelitian dengan mengajar untuk mendukung kualitas mengajar. Hal ini bermakna proses dan strategi penulisan dari yang sederhana sehingga yang kompleks akan bertumpu pada satu hal utama. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat “JURNAL. Kepentingan penelitian semakin disadari dan diakui dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan insan yang cerdas. Oleh karena itu. akses yang baik ke sumber utama di perpustakaan. bahkan dapat mengenali tingkah laku dan kepribadian masyarakat penuturnya. dan pendidikan unggul serta bertaraf dunia. • Kurikulum berbasis penelitian dari kurikulum yang ada yang mencerminkan kegiatan dan proses penelitian (seperti kerja tim. Ada harapan yang berkembang agar semua institusi pengajian tinggi akan berusaha meningkatkan suatu budaya mengajar yang berkualitas sebagai ‘inti’ kegiatan. laboratorium yang didanai dengan baik. • Lingkungan pembelajaran yang mendukung fokus penelitian terbimbing. peranan dosen sebagai peneliti dalam pendidikan semakin penting. Di bawah ini merupakan batasan-batasan dari pengajaran penelitian terbimbing: • Pengajaran tentang topik penelitian tertentu yang sedang dipelajari oleh akademisi di waktu tertentu. pengajaran dikelola oleh dorongan penelitian tertentu dan minat staf peneliti. • Pengajaran sebagai pembelajaran “berbasis pemerolehan” vs. kecemerlangan pendidikan. • Pengajaran yang menekankan pada perkembangan atau arah penelitian mutakhir dalam wilayah kepakarang sendiri.yaitu: daya saing bangsa. maknanya terdapat debat dan pembahasan pada disiplin subjek tentang masalah pedagogik. dukungan informasi teknologi yang baik. masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya.

Penelitian berkualitas dapat dilakukan bersama negara-negara serumpun/ serantau yang berkaitan dengan pengajaran bahasa. (2005).Research Method in Language Learning. Brunai dan Singapura) telah terjadi berbagai perubahan berkaitan dengan perkembangan ilmu. Kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang penelitian-penelitian berkenaan yang berkualitas. Menurut Collins (2005) bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar. C. Hambatan-hambatan bahasa dalam penyelidikan bersama dapat diatasi dengan dilakukannya studi bandingan bahasa serantau di kawasan Asean.baik dalam bidang pendidikan. dan salah satu rintangan yang sering ditemukan yaitu pemakaian bahasa ilmiah dalam penelitian karena terdapat perbedaan makna kata atau istilah-istilah dalam bahasa serumpun tersebut. Skelton. D. (1997). Perlu dilakukan penelitian kolaboratif antara peneliti bahasa serantau. bahasa. Bahasa Melayu Bahasa Dunia.Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Kedudukan bahasa Melayu seperti ini tentu sangat bermakna bagi perkembangan bahasa Melayu pada umumnya dan perkembangan bahasa Indonesia di tataran global pada khususnya. Collins. Jakarta: Dikti. Bandung: UPI Press. Di samping itu pusatpusat kajian bahasa Melayu yang didirikan diberbagai negara di Eropa.serantau yang bahasa nasionalnya berasaskan bahasa Melayu (Indonesia. Hal ini sudah sering dibahas antara peneliti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu pada seminar-seminar antarbangsa. Cambridge: Cambridge University Press. baik bidang linguistik maupun bidang pengajarannya. “JURNAL. (2002). Alwright. Nunan. Quality Teaching at a Leading and Outstanding University: A Conceptual Framework for Action and Development. .Jakarta:Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dengan bahasa Indonesia dan bahasa serantau sehingga dapat meningkatkan peranan bahasa tersebut di era global. dengan demikian diperlukan kajian-kajian atau penyelidikan untuk meningkatkan bahasa Melayu agar dapat bertahan dan menjadi bahasa dunia. (1992). Akhir-akhir ini banyak universitas di negara serumpun ini melakukan kerja sama.Oktober 2008 .T. studi banding kebahasaan atau penulisan bersama buku ilmiah berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. Malaysia. khususnya teknologi informasi sebagai tuntutan dunia global.Understanding Teaching Excellence in Higher Education: Towards a Critical Approach. Pada masa yang akan datang diharapkan semakin banyak penelitian kolaboratif antarnegara Asean untuk memperkuat peranan bahasa serumpun di negara masing-masing dan di peringkat antarbangsa PENUTUP Penelitian dengan menggunakan media bahasa Indonesia diperingkat antarbangsa perlu terus dibudayakan dan ditingkatkan di antara bangsa serumpun/serantau. A (2005). Australia dan komunitas bahasa Melayu tersebar di kota-kota besar di dunia. teknologi. Qualiti and Sustainability in Teacherresearch. London: Routledge. Sejarah Singkat (Terj. TESOL Quarterly 31/2. sosial maupun sains.Alma EvitaAlmanar). Amerika.A. J. DAfTAR PUSTAKA Alwasilah.D.

menganalisis. Lesson Study ini dilaksanakan untuk mahasiswa karyawan semester VII kelas interes matematika program studi S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya di SDN I Pengadilan Kota Tasikmalaya. Teknik pengolahan data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. strategi pembelajaran PENDAHULUAN alam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas guru. Lesson Study adalah ”model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas D belajar” (Hendayana dkk. Kata Kunci: lesson study. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang usaha meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran dengan Lesson Study di sekolah dasar. Suatu model pembinaan guru untuk mencapai kualitas pembelajaran di sekolah adalah Lesson Study. bimbingan mengajar. Hal inilah yang mendasari perlunya perbaikan yang menitikberatkan kepada kondisi riil di lapangan. Berbagai penataran dan pelatihan guru menjadi salah satu bentuk dari upaya tersebut walaupun kurang membekas dalam keseharian aktivitas guru. Di sisi lain. dan guru. sehingga Lesson Study dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi. Pada dasarnya.Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study Di Sekolah Dasar Rustono W. sekolah. Oleh karena itu. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku profesional.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dan pengalaman bahwa bimbingan mengajar bagi mahasiswa S-1 karyawan belum berjalan dengan baik padahal sebagai mahasiswa yang telah menjadi guru memerlukan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. mulai dari kondisi di kelas. Lesson Study dapat dikategorikan sebagai kegiatan penelitian tindakan. Lesson Study dipandang dapat menggairahkan inovasi pembelajaran di sekolah karena semua pihak terlibat dan berkonsentrasi ke arah perbaikan. Seorang guru memiliki peran yang paling besar dalam upaya inovasi serta peningkatan mutu pendidikan melalui inovasi dalam proses pembelajaran. memecahkan dan mendeskripsikan masalah-masalah yang terjadi selama kegiatan Lesson Study serta pengaruhnaya terhadap kualitas bimbingan kemampuan mengajar mahasiswa.S. Penelitan ini menggunakan model penelitian tindakan dalam bentuk Lesson Study itu sendiri dengan subjek penelitian 7 orang mahasiswa. maka kami melakukan sebuah penelitian dengan metode Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan terhadap mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Hasil penelitian antara lain adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan strategi pembelajaran juga respon yang baik dari mahasiswa dan guru mengenai pelaksanaan Lesson Study di sekolah dasar. Pelaksanaan sertifikasi guru sebagai amanat dari Undangundang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan. 2006 : 10). Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pelaksanaan Lesson Study. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan pengisian angket. Lesson Study dapat digunakan sebagai model bimbingan mengajar bagi mahasiswa. 5 orang guru dan tim peneliti sendiri. Dalam pelaksanaan program pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran?” “JURNAL. Salah satu model bimbingannya adalah Lesson Study. Abstrak Artikel ini didasarkan pada hasil penelitian tentang penerapan Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran di sekolah dasar. perlu program bimbingan bagi mahasiswa yang secara khusus meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran yang inovatif.

Oktober 2008 . (8) mengidentifikasi hal penting yang terjadi pada aktivitas belajar siswa di kelas. dan merefleksi (see) yang berupa kegiatan yang berkelanjutan. Lesson Study dilaksanakan untuk meningkatkan kulitas guru kelas serta berbagi pengalaman mengajar di setiap kelas. (3) memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan. beberapa negara maju seperti Amerika dan beberapa negara eropa mengadopsi model pembinaan seperti ini.TINJAUAN PUSTAKA Lesson Study Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pronsippronsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Karena itulah. Di sekolah dasar. Mulai tahun 1998.. Sebagai model pembinaan guru. melaksanakan (do). 2006:38) mengemukakan keunggulan atau kelebihan Lesson Study seperti dalam Gambar 1. misalnya MGMP atau KKG. 2006 : 10). Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang studi. Ada dua model Lesson Satudy. (9) melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas. (5) mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih. Beberapa tim ahli dari dosen juga dilibatkan beserta para mahasiswa dengan bidang yang sama. dan Hurd (2003. (6) melaksanakan pembelajaran. Lesson Study dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu merencanakan (plan). serta (10) mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya. yaitu : Lesson Study Berbasis Sekolah yang dilakukan di sekolah oleh guru dari berbagai bidang studi serta kepala sekolah. (7) mengobservasi proses pembelajaran.. Perry. Hendayana. Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project Gambar 1: Keunggulan dan Kelebihan lesson Study Sumber : Hendayana dkk. Kegiatan Lesson Study biasanya dikoordinir oleh kelompok guru tersebut dan dibina oleh dinas pendidikan yang terkait. yaitu : (1) identifiaksi masalah pembelajaran. Model kedua dari Lesson Study adalah Lesson Study Berbasis Kelompok Guru. Lewis. (2) mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan.(2006 : 39) “JURNAL. Kelompok guru biasanya berdasarkan bidang studi pada wilayah kerja tertentu. sekolah mungkin saja melibatkan pihak luar sebagai tenaga ahli seperti dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain. Dalam Hendayana dkk. (2006 : 10) ditegaskan bahwa setiap guru berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Lesson Study sudah menjadi salah satu model pembinaan guru di Jepang dan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. (4) merancang rencana pembelajaran. dkk. (Hendayana dkk. yang menggunakan sistem guru kelas. Pada pelaksanaannya. Saat ini.

Alur penelitian secara umum adalah : (1) pra tindakan. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai 12 Juni 2007 sampai 16 November 2007. partisipasi. dan tahap akhir penelitian. BIMBINGAN MeNGAjAr PADA MAHASISwA Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan merupakan program khusus dalam pendidikan profesional guru. latihan keterampilan terbatas. yang juga memungkinkan calon guru berkunjung ke SD untuk mengamati guru yang sedang mengajar. yang berasal dari dua kata yugyo yang berarti lesson atau pembelajaran. Do (melakukan). mulai dari pengenalan lapangan.Oktober 2008 . dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian. (2) perencanaan. Lesson Study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru. peran guru dapat berubahubah : dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. atau perspektif pendidikan di SD. Jumlah siklus tindakan atau siklus Lesson Study direncanakan sebanyak 2 siklus. misalnya : ”action research”. Setelah menjalani semua tahap PPL dengan rekomendasi yang memuaskan. Kegiatan pengenalan lapangan dilakukan dalam bentuk observasi. Sebagian besar telah menjadi PNS dan terdapat 2 orang yang menjabat kepala sekolah sehingga menambah keragaman dalam diskusi pada proses kegiatan Lesson Study. pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). dan “clinical supervision”. PPL mencakup empat tahap latihan secara utuh. “coaching”. Dalam Hendayana dkk. maka proses bimbingan dari dosen sangatlah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa calon guru. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . MeTODOlOGI PeNelITIAN Penelitian ini bermanfaat untuk mengkaji subtansi pengDalam penelitian ini. dan IKIP Malang (UNM) melaksanakan Lesson Study di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam hal ini. Kegiatan selanjutnya adalah latihan keterampilan terbatas. Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : teknik observasi. (4) refleksi. Kegiatan perencanaan (plan). Oleh karena itu. Pengenalan lapangan dapat diagendakan sejak semester awal melalui penugasan yang terkait dengan mata kuliah yang relevan. Dengan demikian Lesson Study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar.(IMSTEP) bekerjasama dengan IKIP Bandung (UPI). mahasiswa ini telah memiliki pengalaman sebagai guru sekolah dasar paling sedikit 3 tahun. dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Adapun guru yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study adalah guru SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya sejumlah 5 orang termasuk kepala sekolahnya sendiri. Semester terakhir. penguasaan kompetensi akademik calon guru akan menjadi semakin mantap karena mereka tidak hanya belajar dari teori. IKIP Yogyakarta (UNY). teknik Gambar 2: Alur Kegiatan lesson Study “JURNAL. Sementara mahasiswa yang telibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. dan latihan mandiri. seperti pengenalan peserta didik. metode yang digunakan adalah Lesson Study yang dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan. Dosen yang terlibat pada Lesson Study ini adalah tim peneliti sendiri. strategi belajar-mengajar. (2006 : 20) dijelaskan bahwa Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu. Dalam Lesson Study. Kemampuan ini dimantapkan kembali dalam latihan mengajar mandiri. latihan terbimbing. Bermacammacam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan secara partisipatif. Pada kegiatan latihan terbimbing mulai ditanamkan dasar-dasar peningkatan kualitas pembelajaran. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan). Melalui kegiatan seperti ini. pembelajaran bidang studi. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Penelitian Tindakan sekaligus dalam bentuk Lesson Study. Waktu pelaksanaan Lesson Study sendiri adalah mulai 26 Oktober – 16 November 2007 dengan rincian sebagai berikut. kolaboratif dan kolegatif antara dosen dan mahasiswa. tetapi mencoba melihat aplikasinya di dalam praktek. yang kemudian latihan terbimbing. Skema kegiatan Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 2. PPL diadakan secara blok waktu sampai menjelang ujian PPL. Lesson Study bisa diterapkan sebagai model bimbingan mengajar mahasiswa sebelum dan pada pelaksanaan PPL blok waktu. serta guru sekolah dasar. Karena pentingnya PPL dalam program kependidikan dan pembinaan mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan adalah 7 orang mahasiswa yang semuanya mahasiswa karyawan atau mahasiswa lanjutan dari D-2 PGSD. Sekolah dasar yang menjadi tempat kegiatan Lesson Study adalah UPI Kampus Taskmalaya dan SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya dengan kelas yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah kelas V dan kelas VI. para calon guru dapat menempuh ujian PPL yang merupakan bagian dari uji kompetensi. (3) pelaksanaan.

mencoba dan memperbaiki perkerjaan sampai ditemukan solusi. Pada tanggal 1 November 2007. Untuk melakukannya. kertas karton dengan ukuran 48 cm x 30 cm. alat evaluasi. teknik catatan lapangan dan teknik audio dan video. Diskusi itu bertujuan untuk mengungkap berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. Salah satu masalah yang terungkap adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada konsep FPB. kepala sekolah. Guru memberikan penjelasan bagaimana aturan main kelompok serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam kelompok seperti bekerja sama dan pembagian tugas serta tugas ketua kelompok. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 1 November 2007 mulai jam 09.wawancara. guru SD serta mahasiswa duduk bersama di kelas untuk mengadakan refleksi dari semua rangkaian kegiatan Lesson Study sebelumnya yaitu tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. yaitu pembelajaran akan dilakukan di kelas V materi materi FPB. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan sebagai upaya pemusatan konsntrasi.45WIB selama 2 jam pelajaran. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Setelah menentukan fokus pembelajaran. • Guru memberikan arahan kepada siswa bahwa jika ada kelompok yang sudah selesai diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasilnya. Selain itu dijelaskan kembali tentang langkah-langkah pembelajaran agar partisipan memiliki kesamaan pemahaman. membuat media. Refleksi Guru dan para observer yang terdiri dari tim peneliti.Oktober 2008 . akan tetapi pada beberapa langkah pembelajaran kurang menguasai teknik khusus seperti apersepsi untuk menarik perhatian siswa. guru (mahasiswa praktikan/model) memperkenalkan para observer secara umum dan menjelaskan tujuan hadir di kelas agar siswa tidak merasa canggung. • Guru belum memahami kemampuan dan karakter siswa karena baru pertama kali berhadapan dengan siswa di sekolah tersebut • Keterampilan mengajar guru sudah cukup baik. mahasiswa. Setelah dianalisis dan dipertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. Saat itu siswa sudah terbagi menjadi 6 kelompok. Para observer duduk di bagian belakang kelas serta sebagiannya berdiri. • Guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. satu jam sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti menjelasakan pedoman observasi dan aturan observasi kepada para pengamat yang terdiri dari tim peneliti sendiri. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Lesson Study Siklus 1 Perencanaan Tahap perencanaan Lesson Study Siklus 1 ini dilaksanakan tanggal 25 – 26 November 2007 di UPI Kampus Tasikmalaya. Soal cerita yang disajikan kepada siswa adalah bahwa siswa secara berkelompok diminta untuk membuat persegi-persegi dari kertas karton berbentuk persegi panjang ukuran 30 cm x 48 cm dengan ukuran perseginya sama dan yang paling besar. Pada tanggal 25 diskusi dilaksanakan dengan melibatkan tim peneliti dengan mahasiswa yang telah bersedia mengikuti kegiatan Lesson Study. Metode yang digunakan adalah metode pemecahan masalah dengan menggunakan strategi eksplorasi yaitu siswa melakukan proses penyelesaian melalui pencarian dan manipulasi alat peraga atau media yang disediakan oleh guru. gunting (disediakan oleh guru) dan alat tulis lainnya. Kemudian guru kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. kepala sekolah dan guru. maka ditentukan fokus pembelajaran. maka selanjutnya disusun langkah-langkah pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Perbaikan (RPP). • Guru menyimpulkan proses dan hasil pembelajaran sebelum akhirnya menutup kegiatan pembelajaran. serta memilih seorang mahasiswa sebagai guru model. Strategi eksplorasi dapat berupa aktivitas siswa dengan mencatat dan membuat coretan dalam menyelesaikan masalah meliputi rangkaian menduga. LKS. Setelah memperkenalkan diri. siswa menggunakan alat dan bahan seperti kertas karton. Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi dan rekomendasinya. • Guru menjelaskan isi dari LKS secara bertahap dimulai dari penyajian ilustrasi masalah sampai dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. • Guru membagikan LKS. penggaris. • Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang maju ke depan tentang hasil pekerjaannya dan memberikan alasan. • Guru menjelaskan kembali tugas yang harus dikerjakan siswa. • Siswa pertama kali mengalami proses belajar seperti itu sementara guru kurang maksimal dalam membimbing siswa • Guru kurang aktif dalam melakukan bimbingan terhadap siswa • Gaya guru belum mencerminkan karakter guru SD yang antusias dan aktif. penggaris dan lem (alat lainnya dimiliki siswa seperti pensil dan ballpoint) sambil memancing siwa dengan pertanyaan. “JURNAL. gunting.

• Guru membagikan alat peraga atau media yang terdiri dari model lingkaran dari karton. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 10 November 2007 mulai jam 09. • Guru harus lebih sering memberikan penguatan dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembuktian rumus luas lingkaran kepada siswa.00 WIB selama 2 jam pelajaran. • Presentasi yang dilaksanakan oleh kelompok seharusnya dilakukan di depan kelas dan dilihat oleh kelompok yang lainnya • Tahap penarikan kesimpulan tidak berjalan dengan baik karena siswa tidak dikondisikan terlebih dahulu. • Setelah siswa selesai bekerja. • Kegiatan observer jangan memengaruhi dan mengganggu proses pembelajaran. dan lem. • Saat siswa mulai bekerja. maka pembelajaran akan dilakukan di kelas VI dengan materi tentang pembuktian rumus luas lingkaran dengan pendekatan luas persegi panjang melalui metode metode penemuan terbimbing. Pelaksanaan Lesson Study Siklus 2 Perencanaan Kegiatan Lesson Study selanjutnya dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 November 2007 sesuai dengan kesiapan semua pihak. benang tali. “JURNAL. Waktu ini ditentukan saat refleksi siklus 1. dari masalah-masalah yang telah diungkap kemudian dianalisis untuk menentukan fokus pembelajaran. gunting. guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. Mahasiswa yang dipilih untuk tampil berbeda dengan pembelajaran siklus 1. Metode penemuan terbimbing diterapkan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk melakukan aktivitas ilmiah yaitu penemuan.• Suara dan intonasi bicara guru kurang lantang sehingga tidak dapat mengontrol kegiatan pembelajaran dengan baik. • Guru menilai satu persatu pekerjaan siswa dan kemudian menunjukkan kekuarang-kekurangan dari pekerjaan siswa mulai dari cara mengkur keliling. Setelah mempertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. Refleksi Guru terlebih dahulu mengungkapkan kesannya setelah menjalani proses pembelajaran. Akhirnya. • Agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu. • Beberapa observer melakukan interaksi dengan siswa sehingga mempengaruhi proses pembelajaran. • Guru harus selalu mengontrol waktu pembelajaran • Guru harus menjelaskan beberapa jawaban pertanyaan secara klasikal agar informasi bisa merata. • Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. • Guru menutup pembelajaran. Karena waktu yang tidak memungkinkan. • Guru membagi siswa ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. Sementara siswa memperhatikan penjelasan guru serta merespon pertanyaan-pertanyaan guru yang mengarahkannya pada kesimpulan. Intonasi guru dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas sehingga penjelasan guru dapat dengan baik dimengerti oleh siswa. • Guru harus lebih banyak membimbing siswa melalui pertanyaan menuntun. busur. • Penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan dilakukan berulangkali sampai siswa paham dan jika penjelasan itu ada dalam LKS maka guru memandu siswa untuk memahmi LKS. • Guru tidak mengontrol waktu sehingga melebihi rencana pembelajaran. • Penjelasan guru terutama dalam menanggapi pertanyaan hanya secara kelompok tetapi tidak secara klasikal. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . • Presentasi hasil kerja kelompok dilakukan secara klasikal dan diperhatikan oleh siswa yang lainnya. menempelkan bagian-bagian lingkaran sampai menghitung luas persegi panjang. Tetapi pemahaman terhadap proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi lebih dalam. • Kerjasama dalam kelompok harus lebih ditingkatkan melalui bimbingan guru.Oktober 2008 . Penemuan siswa dibimbing oleg guru agar lebih terarah tetapi tanpa mendikte aktivitas belajar atau berfikir siswa. Kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. simulasi pembelajaran tidak dilakukan di depan partisipan. Pada saat refleksi siklus 1 juga dilakukan perencanaan pelaksanaan siklus 2 termasuk inventarisasi masalah serta penentuan alternatif masalah. Ia mengungkapkan rasa senang dapat melakukan pembelajaran dengan metode seperti walapun ia mengakui sangat lelah karena proses pembelajaran menuntut ia untuk lebih aktif. perwakilan masingmasing kelompok maju ke depan untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan. Serta menyampaikan cara kerja dalam kelompok. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi tentang konsep bangun datar lingkaran dengan menggunakan model lingkaran. • Guru menyampaikan kesimpulan tentang pembuktian rumus lingkaran dan memberi kesempatan siswa.

• Guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. • LKS sebaiknya dibagikan terlebih dahulu kemudian guru memberi penjelasan • Alat peraga sebaiknya digambar ulang pada papan tulis ketika guru melakukan apersepsi dan pengambilan kesimpulan.Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi. • Tujuan pembelajaran harus disampaikan terlebih dahulu dengan jelas dan diulang-ulang dalam proses pembelajaran. Guru sudah menjalankan proses pembelajaran berdasarkan skenario yang telah dibuat. serta demonstrasi kemampuan guru belum optimal. merespon pertanyaan siswa dan menjawab dengan jawaban yang membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berfikirnya. guru kurang rapih dalam menuliskan langkah-langkah pembuktian sehingga siswa terlihat kebingungan. pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menemukan rumus luas lingkaran dengan bimbingan guru. ini memang gaya yang bersifat pribadi tetapi jika berlanjut akan berpengaruh keaktifan siswa. • Guru kurang memberikan penjelasan kepada siswa tentang arah kegiatan pembelajaran sehingga siswa langsung saja bekerja dengan LKS. Keterampilan ini memang memerlukan latihan yang lebih spesifik. • Observer sebaiknya mengamati di luar kelas karena sering berpengaruh terhadap pembelajaran. skenario yang diterapkan benarbenar pengalaman baru karena biasanya guru melakukan pembelajaran konvensional. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi. • Siswa kurang memberikan perhargaan kepada siswa yang aktif dalam bertanya dan kepada kelompok yang berhasil. Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana tetapi mengenai hal-hal spesifik seperti membimbing kerja dalam kelompok. atau disebut penemuan terbimbing. serta mengelola aktivitas siswa dalam kelompok. hanya memang metode pembelajaran seperti itu jarang dilakukan di sekolah dasar termasuk oleh kedua guru yang tampil. • Guru sebaiknya memperhatikan waktu yang telah direncakan dan selalu menyampaikan target waktu terhadap siswa agar siswa bekerja dengan efektif. Tahap yang penting dalam pembelajaran seperti ini adalah kemampuan guru dalam menuntun siswa membuat kesimpulan. guru kurang memiliki waktu untuk melakukan kesimpulan. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan dan ekplorasi masalah matematika membutuhkan waktu yang lebih banyak dari biasanya karena guru harus berpatokan juga kepada kinerja guru. hal ini dapat dilakukan melalui simulasi terlebih dahulu. • Guru tidak memperlihatkan hasil kerja siswa seluruhnya di depan kelas • Terdapat kesalahan guru dalam menggunakan simbolsimbol matematika. Berbeda dengan pembelajaran kedua. padahal tahap ini sangat penting dalam pembentukan pengetahuan bagi siswa. • Guru pun kurang melibatkan siswa dalam pembuatan kesimpulan sehingga pada tahap ini siswa terlihat tidak bersemangat.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . • Guru sangat baik dalam menghidupkan suasan dan aktifitas siswa di kelas. hal ini kurang optimal dalam pembentukan pengetahuan siswa. Sementara pada siklus 2. • LKS tidak banyak berfungsi bagi siswa karena siswa bekerja mengalir saja dan berdasarkan arahan dari guru. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. guru yang tampil lebih energik dan adapat menguasai kelas dengan baik. • Guru tidak mengoreksi kesalahan yang dilakukan ketika tahap apersepsi yaitu tentang ungkapan siswa yang menyebutkan istilah “volume lingkaran” bahkan guru menuliskannya tanpa ada koreksi lebih lanjut. Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode pemecahan masalah dan penemuan mengharuskan siswa memiliki kemampuan membimbing kerja siswa selama siswa aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran pada siklus 1 lebih menekankan kepada kemampuan eksplorasi matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. • Guru terlambat untuk mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok sehingga siswa tampak tidak kompak pada awalnya. Metode pembelajaran seperti ini adalah hal bagi mahasiswa maupun guru di sekolah. waktu dapat dikendalikan. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan bantuan alat-alat dan media untuk menumbuhkan kemampuan kerja ilmiah siswa. Pada pembelajaran pertama guru terlihat kurang energik atau gaya mengajar yang kurang antusias. • Guru kurang menjelaskan cara-cara pengukuran keliling lingkaran dengan alat bantu tali karena siswa terlihat kebingungan. Sebenarnya dengan latihan dan pembiasaan. • Guru harus mengulang-ulang penjelasan terutama pada pengambilan kesimpulan agar siswa lebih memahami. Hal ini termasuk kemampuan bertanya menuntun (probing). Pembahasan Hasil Pelaksanaan Lesson Syudy Bagi guru model. • Persiapan harus lebih matang terutama mengenai gambaran proses pembelajaran. mengontrol kegiatan siswa. Hal ini tampak pada dua kali pembelajaran dimana waktu kurang terkontrol dengan baik. • Koordinasi dan peran guru sekolah dasar harus ditingkatkan. Karena waktu pembelajaran tersita untuk aktivitas siswa. • Pada tahap pembuatan kesimpulan. “JURNAL.

Ling Mun. guru.ied. Untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study di sekolah dalam rangka bimbingan mengajar bagi mahasiswa memerlukan persiapan-persiapan. • • Penetapan kerja sama dengan pihak sekolah. Peneliti mewawancara kepala sekolah.(2005). http://www. yaitu : • Penetapan program bimbingan oleh dosen yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut.Oktober 2008 . Lesson Study and Its Impact on Teacher Depelovment. Mereka berharap kegiatan Lesson Study sering dilaksanakan oleh UPI Kampus Tasikmalaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di SD. dan guru berkolaborasi dalam perencanan. [17-05-2007]. hal ini karena para observer telah memiliki pemahaman bersama tentang tugasnya. Belajar Cara Belajar. persiapan untuk pelaksanaan di sekolah kurang matang sehingga berpengaruh terhadap penentuan waktu pembelajaran DAfTAR PUSTAKA Hendayana. Guru dan kepala sekolah berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan tentang strategi-stretegi pembelajaran matematika khususnya dan bidang studi yang lainnya.S. Sukmadinata. (2006). kedua.hk. LO. Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. Hongkong : The University of Hongkong. karena belum terbiasa bertugas sebagai pengamat yang diharapkan independen dari proses pembelajaran. Sementar Faktor penghambatnya adalah : pertama.(2001). dan mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan Lesson Study. mahasiswa. [17-052007] Pusat Perkembangan Kurikulum. mahasiswa melakukan praktek pembelajaran yang tidak hanya melibatkan dosen tetapi pihak sekolah dasar. Mahasiswa juga mendapatkan feed back langsung dalam kegiatan refleksi. pelaksanaan dan rekleksi pembelajaran sehingga muncul sikap kolegalitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. Mills College [online]. Catherina C. beberapa observer berinteraksi dengan siswa bahkan ada yang memberikan masukan kepada siswa. pemilihan pokok bahasan dan strategi pembelajaran berdasarkan situasi di sekolah serta pengetahuan mahasiswa. Oakland CA : Education Department. [online]..lessonresearch. Sementara bagi mahasiswa Lesson Study dianggap sebagai latihan dan bimbingan yang baik untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebagai bekal nanti sebagai guru. dan kedua. Pada pelaksanaannya. serta ketiga.(2003).(2002). Faktor pendukung dalam kegiatan Lesson Study ini adalah: pertama. pihak sekolah mendukung sekali dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study dan merasakan manfaatnya. penetapan waktu pelaksanaan Lesson Study yang tidak leluasa menurut pertimbangan semua partisipan sehingga persiapan belum melibatkan guru secara optimal tetapi hanya sebatas koordinasi saja. Remaja Rosda Karya “JURNAL. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kepada kegiatan siswa dan guru setidaknya mengganggu konsentrasi siswa. Akan tetapi. S. tidak hanya berbekal terhadap pemahaman mengajar secara akadenik saja tetapi membutuhkan pengalaman berupa kegiatan praktek terbimbing. N. Lesson Study : suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMSTEP-JICA). dkk. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Kuala Lumpur : Kementrian Pendidikan Malaysia. Bandung : UPI Press Lewis.Metode Penelitian Pendidikan. mahasiswa dan pihak sekolah. Mengadakan workshop di sekolah untuk mensosialisasikan program kegiatan yang dihadiri dosen.net.Pelaksanaan observasi pada kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. Setelah semua kegiatan Lesson Study dalam 2 siklus selesai dilaksakan. KESIMPULAN Lesson Study sebagai model pembinaan guru yang bersifat kolaboratif dan kolegaliatif dapat dimanfaatkan sebagai model bimbingan mengajar dosen terhadap mahasiswa. Untuk menjadi seorang guru yang profesional. Bandung : PT. Observer berpedoman kepada lembar observasi yang telah disiapkan untuk kemudian menjadi acuan dalam kegiatan refleksi. • Penetapan jadwal kegiatan. Melalui kegiatan Lesson Study. mahasiswa yang terlibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa semester VII interes matematika yang semuanya sudah mengajar di SD sehingga mudah dalam menganalisis permasalahan di SD.edu. http://www. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif. dosen.

Pendekatan Terpadu (PT). pelaksanaan pembelajaran.Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Selanjutnya. Dari 8 kali tatap muka . Dari ke-30 KE tersebut. tempat. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. Demikian juga dengan penerapan pembelajaran terpadu dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan kategori baik. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. (3) Catatan Lapangan. waktu. Data dari komponen pelaksanaan pembelajaran menunjukkan data sebagai berikut. Selama 8 kali tatap muka. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Data penelitian ini diambil dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).1988:93). Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. dan fasilitator. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. konteks kebudayaan dan suasana. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. (2) Wawancara. dan (5) Observasi.(4) Studi Dokumentasi. Di samping itu. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Di samping itu. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. menyiapkan materi yang bervariasi.Oktober 2008 . Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. Kurikulum KTSP mempertegas bahwa dalam penyajian materi bahasa . dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Kata Kunci: Pendekatan Komunikatif (PK). motivator. aspek-apek kebahasaan harus diajarkan secara “JURNAL. pembelajaran Bahasa Indonesia pada lembaga pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan SLTA. jalur dan media. Sisanya. peristiwa bebahasa (Utari. tidak lagi bertujuan mengajarkan bahasa secara teoretis. Dari komponen RPP yang dijadikan data menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif telah dilaksanakan dengan kategori baik. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. yaitu mengetahui tentang bahasa tetapi mengembalikan pembelajaran bahasa kepada fungsi bahasa yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi. S Pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDAHULUAN aat ini. tujuan. yaitu kasus pembelajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu. dan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang.

atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah. tempat. tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri. nada. Pembelajaran bahasa yang komunikatif nampak lebih humanistik. berbicara. intonasi. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah. (b) fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa. tekanan. digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pengajaran baik dalam belajar bahasa maupun bidang studi lain. Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu.” (Depdiknas. menghubungkan. untuk memungkinkan siswa dapat berbahasa sesuai konteks. tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar (Stevik. Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud . membaca. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut sebagai alat komunikasi. menyapa. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata. yaitu bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks nyata. siswa akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam masyarakat bahasanya. (e) sastra. Dalam kegiatan komunikatif. Komunikasi yang dimaksud ialah suatu proses penyampaian maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. Guru hanya sebagai fasilitator. kalimat. dan media yang digunakan. Dengan demikian. Alasan lain. menulis. yaitu sentralitas kegiatan lebih banyak berada pada siswa. Goodman dalam pandangannya tentang pengajaran bahasa menyatakan bahwa keterampilan membaca. Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk : (a) mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. pendapat. (c) variasi-variasi bahasa. Sumber materi yang diutamakan dalam pendekatan komunikatif ialah materi yang otentik. dan kebahasaan dan dilaksanakan secara terpadu. otonomi. berbicara. Adapun materi pelajaran utamanya ialah : (a) empat keterampilan berbahasa. tetapi secara utuh. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada pernyataan Goodman (1986) tentang kurikulum bahwa pengajaran bahasa dan pengajaran bidang studi lain (yang dilaksanakan dengan menggunakan bahasa sebagai media penyajian) merupakan kurikulum yang bersifat ganda (dual curriculum). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Selain harus mengacu pada pendekatan komunikatif. ejaan. karena secara kodrati siswa usia SD memandang sesuatu selalu dengan pandangan yang utuh dan menyeluruh (holistik). pengajaran bahasa dan isi dari bidang studi lain bersama-sama menjadi bagian dari kurikulum secara utuh. Kerjasama yang baik itu bisa diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor. Artinya. 2006: 14). akan lebih baik bila pembelajaran di sekolah diarahkan untuk menuju pemikiran secara utuh tersebut. di samping variasi baku/ formal. keinginan penyampaian informasi suatu peristiwa. situasi. “JURNAL. memantau kegiatan siswa. dan memberikan bimbingan (Littlewood.Oktober 2008 .terpadu dengan keterampilan berbahasa yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu. pembelajaran bahasa Indonesia di SD juga harus mengacu pada pendekatan terpadu (PT). kosa kata. Oleh karena itu. tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa. Kenyataan menunjukkan keempat keterampilan berbahasa tersebut. antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi. bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya berbeda-beda. Arah dan tujuan pendekatan terpadu menurut Frazee dan Rosse (1995) mengarah pada pembentukan pemikiran siswa secara utuh. dalam Sumardi. serta unsur-unsur prosodi (intonasi. menulis. pembelajaran bahasa menyangkut keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. ide. (d) sistem bahasa (struktur. Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya. seperti fungsi bertanya. 1992). isi pembicaraan. ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. sastra. paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan). gagasan. maka kedua belah pihak juga harus bisa bekerja sama dengan baik. guru berperan sebagai individu yang diharapkan memberi nasihat. Demikian pula keterpaduan dalam bidang studi bahasa Indonesia. menyangkal. menentukan latihan. Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran. Dengan demikian. dan lafal). Hal ini diisaratkan baik dalam rambu-rambu Kurikulum SD 2006. dan tempo) dalam bahasa lisan. fonem. persetujuan. dan lain-lain. Agar komunikasi terjalin dengan baik. tetapi lebih luas lagi. karena dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan pengetahuan tidak secara per bagian. menjawab. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. irama. 1992). mengajukan pendapat. yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks. yaitu fungsi komunikatif. “Kompetensi dasar mencakup aspek mendengarkan. yaitu dengan menyatukan. Sebagai fasilitator guru mengkoordinasikan kegiatan siswa yang harus bisa menjamin kegiatan kelas berjalan dengan baik. Baik keterpaduan dalam internal Bahasa Indonesia maupun keterpaduan lintas kurikulum. berupa bahasa otentik. dalam Sumardi. (b) meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi. siswa diberi kebebasan. dan menyimak tidak dipandang sebagai komponen yang terpisah-pisah untuk diajarkan sendiri-sendiri.

Artinya kedelapan RP tersebut disusun secara berurutan dan diterapkan secara berturut-turut pula oleh guru di depan kelas. teknik penyampaian materi. (3) materi dan sumber pelajaran. dan penilaian hasil belajar yang dilaksankan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. dan (3) analisis data penelitian (Bogdan dalam Moleong. Fokus utama penelitian ini adalah sekelompok individu yang berinteraksi dalam periode waktu tertentu (Borg dan Gall. Sebab itu. Observasi dilakukan pada saat PBM berlangsung. Selanjutnya hasil observasi ini dideskripsikan dalam laporan hasil penelitian. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang RPP. SD ini mendapat binaan langsung dari induknya. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap kurikulum dan rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). apakah setiap mengajar harus menyusun RPP? Apakah RPP dibuat sendiri atau dikirim dari pusat atau dibuat oleh KKG? Apakah RPP diperiksa oleh kepala sekolah sebelum disajikan?.METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dilaksanakan dalam pembelajaran BI di SD Sukamaju Sumedang. Peneliti mewawancari guru BI di kelas VI. Secara lebih khusus penelitian ini tergolong ke dalam penelitian studi kasus pengamatan (observarvastional case study) nonpartisipan. pemilihan materi pelajaran. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Untuk melaksanakan penelitian yang dirancang dengan prosedur deskriptif maka penelitian harus mengikuti presedur (1) kegiatan pralapangan. yaitu kasus pengajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan pendekatan komunikatif dan pendekatan integratif. Peneliti mencatat kejadian selama dilakukan pengamatan di lapangan. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. Data yang diambil hanya dari 8 RP yang disusun dan disajikan secara berturut-turut untuk 8 kali tatap muka. Selanjutnya untuk pelaksaan kegiatan evaluasi. (2) pekerjaan di lapangan. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajarkan BI dan siswa Kelas VI pada SD Sukamaju. Demikan pula bila ada ceramah atau kegiatan yang berkaitan dengan pembaharuan (simulasi atau seminar) dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh PGSD. SD Sukamaju selalu diikutsertakan dalam kegiatan tersebut.(4) Studi Dokumentasi. Peneliti memberikan angket kepada guru pengajar BI di kelas VI. Secara rinci yang diteliti pada RP terebut adalah (1) perumusan TPK. Setiap ada pembaharuan dalam bidang pendidikan (perubahan kurikulum) SD Sukamaju mendapat informasi langsung dari atasan terdekat. “JURNAL. pelaksanaan pengajaran. penysusunan KBM. serta evaluasi yang dilaksankan oleh guru. Untuk pelaksanaan pengajaran di kelas yang diteliti adalah (1) bentuk interaksi proses belajar-mengajar dan (2) teknik penyajian materi. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati (1) aktivitas guru serta aktivitas siswa. (2) langkahlangkah penyampaian materi. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. (5) Observasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dipilihnya SD Sukamaju sebagai tempat penelitian karena pertimbangan sebagai berikut. (2) Wawancara. SD Sukamaju milik pemerintah. Agar kegiatan selama PBM dapat diamati dengan cermat digunakan bantuan tape recorder dan catatan penelitian. 2000:72 – 94). 1983:489). Dalam penelitian ini fokus observasi adalah pengajaran BI di kelas VI SD yang dilaksanakan oleh seorang guru dengan menerapkan pendekatan komunikatif. Hal ini dilakukan terutama ketika guru melaksanakan pengajaran di dalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru. dan penyusunan alat evalusi. pemilihan media. Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai identitas guru serta tugas yang dikerjakannya. sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1992:60). dan (5) penyusunan alat evaluasi. (2) penyusunan kegiatan belajar mengajar. (4) pemilihan media pembelajaran BI. yang diteliti adalah pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan sisiwa selama PBM. (3) dan sistem penilaian yang dilaksanakan oleh guru. (3) Catatan lapangan. Sedangkan studi dokumentasi terhadap RPP dilakukan untuk mendapat gambaran secara jelas mengenai perencanaan yang berhubungan dengan penerapan kedua pendekatan tersebut di atas dalam perumusan TPK.sisiwa.Oktober 2008 . Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Studi dokumentasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh penjelasan tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dikaitkan dengan perumusan tujuan dan pengembangan materi pembelajaran BI. Data penelitian ini diambil dari penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP).

dan 8 RP KBM belum menerapkan PT. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. Di samping itu latihan-latihan yang diberikan dapat mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi secara langsung. Penyusunan alat evaluasi yang direncanakan guru dalam RP berjumlah 22 butir. Sisanya. Untuk mengukur kopetensi komunikatif siswa. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Penyusunan rencana KBM pada RP yang terdiri dari 45 KBM. motivator. Dari ke-30 KE tersebut. Media pengajaran yang direnacanakan guru pada RP berjumlah 36 butir. Sisanya. Selanjutnya. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. (2) penyusunan KBM. Selanjutnya bila ditinjau dari penerapan PT semua materi yang direncanakan telah menerapkan PT dengan sangat baik. Berdasarkan hasil pengamatan. bermakna bagi siswa dan bersumber dari lingkungan di sekitar siswa dan bersumber dari lingkungan siswa. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. data ditranskripsikan (dari pita rekaman ke data tulisan) dan disesuaikan dengan catatan penelitian. (5) penyusunan alat evaluasi. Selanjutnya alat evaluasi yang direncanakan pada 8 RP hanya 3 RP yang telah menerapkan PT.Data dianalisis selama pengumpulan dan setelah pengumpulan data. Pada KBM yang disusun. Selanjutnya dari 8 RP yang direncanakan guru. Materi yang direncanakan untuk siswa berjumlah 36 butir. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Selama 8 kali tatap muka. Dari jumlah tersebut 28 butir media telah menerapkan PK sedangkan 8 butir belum menerapkannya. Maksudnya selama pengumpulan data. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian berkenaan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan penerapan pendekatan terpadu dalam pengajaran BI yang meliputi: (1) perumusan TPK. Ini berarti bahwa media yang digunakan guru kurang bervariasi. Pada umumnya media pengajaran yang digunakan hanya buku teks. (4) pemilihan media pelajaran. (6) bentuk interaksi PBM. Selanjutnya kedelapan RP yang direncanakan guru dalam mempersiapkan media tersebut telah menerapkan PT dengan sangat baik. (7) teknik penyajian materi . Selanjutnya dari 8 RP yang disusun guru. Dari ke 25 rumusan TPK tersebut hanya 20 rumusan TPK yang telah menerapkan Pendekatan Komunikatif (PK). hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. dan fasilitator. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. TPK yang direncanakan guru jumlahnya sangat terbatas.Oktober 2008 . diketahui bahwa materi tersebut adalah materi yang otentik. 37 KBM telah menerapkan PK. 6 RP telah menerapkan Pendekatan Terpadu (PT) sedangkan 2 RP lainnya belum menerapkan PT. Guru tetap menekankan penggunaan BI secara riil dan bukan menghafalkan pengetahuan tentang bahasa. Dari 8 kali tatap muka. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. Dari jumlah tersebut 28 butir materi telah menerapkan PK dan 8 butir belum menerapkannya. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. yaitu hanya ada 25 butir rumusan TPK untuk 8 RP. sedangkan 5 rumusan TPK lainnya belum menerapkan PK. dan (8) kegiatan evaluasi pengajaran BI. yaitu alat evaluasi yang direncankan pada 5 RP belum menyajikan penerapan PT. (3) pemilihan materi pelajaran. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. Dari jumlah tersebut 16 butir alat evaluasi telah menerapkan PK dan 6 butir belum menerapkannya. 5 RP telah menerapkan PT dan 3 RP belum menerapkannya. sedangkan penggunaan media lainnya sangat terbatas. digunakan tes esei sehingga siswa dapat bernalar dan mengorganisasikan jawabannya secara kreatif. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Di samping itu. guru tetap merencanakn agar siswa berperan aktif. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. Seandainya terdapat penyimpangan maka pada observasi berikutnya dapat dilakukan perekaman atau pencatatan data dengan lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan data yang fatal. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. “JURNAL. menyiapkan materi yang bervariasi. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .

Tarigan. 45 Kegiatan untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi. Dkk.Oktober 2008 . A. Farida. Nangoy. Djuanda. F. B. Imam. Media Pendidikan. Majid. Goodman.G. dan Alwasilah. R.K. Arief. I. dan Prana D. Jakarta: Elex Media Komputindo. Jakarta: Depdikbud. D. 1995. NewYork: Longman. Metodologi Penelitian Kualitatif.Kiefer.Levstik. Syafi’ie. 1986. Sukardi. Sadiman. Sapani. Djuanda. 2005. Kurikulum Satuan Pendidikan Jakarta: Depdiknas. Parera. Teknologi Pendidikan. 2006. 2004. What’s Whole in Whole Language? Portsmouth: Heinemann. A.M dan Rosse. Djuanda. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. 2005.Biklen. New York: Delmar Publisher.C. 2000. 1996. Mulyanto. Jakarta: Depdikbud.” Dalam Bahasa dan Seni.M. Hastuti. Abdul. Bandung: Rosda Karya.S. Karakteristik. Dadan. No. Ch. CC. Dadan. 1989. 2000.R. H. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Kaifa. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktik. Pappas. dan S. B. Jakarta: Depdikbud. Bogdan. 1995.DAfTAR PUSTAKA Azies.2004. Dadan. Rahim. Bandung: UPI PRESS. Clasroom Aplication. Djuanda. Jakarta: Rajawali Pers. 2003. Jakarta: Rasindo. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Lexy J. Metodologi Penelitian Pendidikan. Integrated Teaching Methods : Theory. Apresiasi Sastra di SD. Tahun 23. 2008. Sumardi. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Teori Pembelajaran Bahasa. Rofiudin. Bandung: UPI PRESS. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1998. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosda Karya. Jakarta: Bumi Aksara. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Nana. 2 Agustus 1995. Frazee. Bandung: Remaja Rosda Karya. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. 1995. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Sinar Harapan. dan Zuhdi. An Integrated Language Perspective in the Elementary School. dan Novi Resmini 2006. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . “Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa. Sudjana. 2006. Bandung: Sinar Baru. dan L. 2006. Jakarta: Depdikbud “JURNAL. Moleong. Ahmad. Dadan. 2005. S.M. Daniel J. Metodologi Pengajaran Bahasa. Depdiknas. E. and Field Based Connections. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. Jakarta: Dikti. Jakarta: Bumi Aksara. Mulyasa. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi SD. Dkk. Boston: Allyn and Bacon. 2005. 1992. dan Implementasi. dan Rivai. 1997. 1992. Ken.

Seperti kita pahami. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa. materi yang diajarkan guru dan disini siswa harus didorong ikut memainkan peran serta aktifnya dalam proses belajar mengajar. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lippit dan K. sehingga menurunkan minat anak untuk lebih memperdalam mempelajari pelajaran IPS. Mendidik adalah menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. pengendalian diri. dapat menghasilkan manusia paripurna yaitu mengembangkan manusia seutuhnya. kepribadian. Studi yang mempelajari interaksi manusia untuk membantu siswa memahami diri mereka dan yang lainnya dalam suatu masyarakat yang berbeda tempat dan waktu.Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah PENDAHULUAN ndang-undang No. bangsa dan Negara (UUSPN : Pasal 3 ayat 1). masyarakat dan manusia yang menjadi anggota masyarakat. 2) siswa dan latar belakangnya. bidang studi yang menjemukan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . peserta didik diharapkan dapat menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar. Mengingat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Kejadian tersebut tidak lepas dari kemampuan guru yang belum mengembangkan kemampuan berpikir siswa kearah materi yang sifatnya problematic yang memerlukan siswa berpikir kritis dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya untuk kemudian memutuskan sesuatu dalam rangka memecahkan masalah. U “JURNAL. seiring dengan perkembangan jaman. sebagai individu dan kelompok. Adapun variabel yang dimaksud adalah : 1) Tujuan . kecerdasan. 3) isi serta struktur pelajaran. pendidikan di sekolah-sekolah kita ini masih merupakan pembelajaran yang berfokus pada pengajar (InstructurCentered Learning) Aris Pongluturan (1999:157). 5) persyaratan dan set –up lembaga. masyarakat.Oktober 2008 . dipersekolahan seharusnya lebih menekankan pada pengembangan potensi siswa dalam berbagai gatra yang bersifat pragmatis-praktis yang menyangkut diri dan kehidupannya. pelajaran IPS. yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai. Fenomena ini sudah berkembang dipersekolahan sejak lama khususnya dalam pembelajaran IPS dimana pembelajaran IPS lebih cenderung transfer materi saja sehingga memunculkan anggapan dibenak masyarakat khususnya peserta didik bahwa pelajaran IPS kurang menantang. Hal ini disebabkan guru tidak lain dalam proses belajar mengajar itu hanya menyajikan pengetahuan yang ada yang harus dihafalkan dan diketahui peserta didik (Ansyar dalam Laode 1999:4). sekarang dan akan datang. Maka dapat kita katakan bahwa melalui usaha pendidikan. mengingat tujuan IPS untuk setiap jenjang adalah mengembangkan kecerdasan warganegara yang diwujudkan melalui pemahaman. akhlak mulia. 4) biaya mengajar. Seringnya terdengar ungkapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak lebih dari menyampaikan informasi saja tidak menantang dan menjemukan. studi mengenai pelajaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan. dan keterampilan sosial dan intelektual serta partisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmuilmu sosial. mental intelektual maupun semangatnya dimana ketika peserta didik menyelesaikan setiap satu jenjang pendidikan tertentu dinyatakan telah memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi secara mandiri serta mampu berdiri sendiri tanpa mengantungkan hidupnya pada orang lain. 1996:93) disimpulkan bahwa pada saat mengajar akan dijumpai betapa kompleksnya fungsi mengajar itu kita akan menghadapi beberapa variable yang kompleks karena itu kita perlu mengatur strategi dalam mengajar. yang berkembang baik pisik. Studi mengenai manusia di masyarakat dimasa kini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kenyataan dalam pendidikan dewasa ini adalah semakin menurunnya peran guru dalam proses pengembangan potensi peserta didiknya karena berbagai alasan. Whitedan Richard Anderson (dalam Idochi Anwar. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. Pelajaran IPS merupakan.

mengharuskan guru yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar mengajar untuk lebih kreatif menciptakan kelas yang kondusif sehingga nantinya dapat menghasilkan pembelajaran IPS yang lebih bermakna. “Decision making process are developed as student clarify value. Persoalannya adalah bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan ) digunakan dalam Gambar 1: Decision Making tree Ouline Diadaptasi dari R. analizy and evaluate proposal. Dari latar belakang permasalah dan temuan teori di atas. Banyak metode yang digunakan untuk dapat menciptakan proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa (Naylor 1987 : 247). La Raus and R. dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang dapat menjawab diskursus yang berkaitan dengan pengajaran IPS yang selama ini dipandang belum optimal. karena sesuai dengan apa yang menjadi fungsi dan peran yang diemban oleh mata pelajaran IPS yaitu sebagai sarana utama untuk mendidik warganegara dalam upaya mewujudkan masyarakat madani Indonesia.C. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan). upaya yang dilakukan adalah menggunakan pola pembelajaran yang dapat menciptakan aktivitas proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa dimana “Thinking skill are among the most important skill to learn” (Naylor.The program making political decision”. Satu diantaranya adalah metode decision making process.Remy dalam Naylor (1987:267) “JURNAL. Pengembangan model Decision Making Process (proses pembuatan keputusan) diasumsikan dapat digunakan dalam pembelajaran IPS. Seperti yang diungkap oleh Maxim (1987:240) “One of the most effective program for encouraging decision making in development of value is…. Melalui model pembuatan keputusan dan ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dan analitis guna membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada. Untuk bisa dicapainya kondisi tersebut di atas.1987:275). memperlihatkan bahwa. consider alternatives and weigh the consequences of different course of action”.Oktober 2008 .

karena guru mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran dengan kondisi riil siswa dan masalah sosial. dalam pembelajaran materi tidak hanya terpaku pada buku teks tapi lebih mengkontekstual.Gambar 2: Paradigma Penelitian proses belajar mengajar IPS maka penelitian ini dibatasi pada “bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan) dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas 6”. Seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS? 3.Oktober 2008 . saling toleransi. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS ? 4. berkomunikasi dan juga menghargai pendapat sesama kawan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Berdasarkan metodologi penelitian maka diperoleh hasil: Proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Setelah mengikuti pembelajaran Decision Making Process Model selama empat kali pertemuan. pembelajaran Decision Making Process Model adalah kegiatan pembelajaran yang sangat menyenangkan. karena kegiatan tersebut diindikasikan melibatkan peserta didik yang terlihat dari pembelajaran yang tidak ceramah terus. tetapi juga melakukan suatu diskusi berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Masalah pokok makalah di atas. penulis akan mencoba menganalisis kinerja guru maupun tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru sejak menyusun tencana sampai penerapan pembelajaran nampak “JURNAL. ditemukan bahwa. Pembelajaran ini dapat menumbuhkembangkan keterampilan sosial peserta didik yaitu berkerjasama. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2: HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimental) yaitu suatu penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan. Bagaimana proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) ? 2.

Disamping itu dengan menerapkan pembelajaran Decision Making Process Model.5 8 10 7 6 6 7 7.5 10 6.5 9 9 10 8 9 9 9 7 6.5 6.5 8 9 10 8 9.5 9 10 5 6 6 9 6.5 5 5 6 7.5 10 8 8.5 9 10 6.5 7.5 10 7.5 6 7 7.5 9 9 6 9 6.5 10 9 7. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan penerapan pembelajaran Decision Making Process Model akan memberi warna baru dalam proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan.5 8.46 9.5 9.5 8 9. dapat menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. maupun dalam mengevaluasi pembelajaran.5 9.5 7 8 9.486 Gambar 3: Grafik Perolehan Hasil Belajar “JURNAL.5 9 9.5 7.5 8 8 8 9 10 8. baik keterampilan dalam menyusun rencana pembelajaran.5 10 7. maupun memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas maupun kreativitas pembelajarannya dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dengan menggunakan media pembelajaran short story.5 9 7.5 10 9.6 9.5 7. baik dalam kegiatan tanya jawab.5 9. diskusi.5 9 9 10 9 9.9857 8.5 8.5 8 9.5 8.5 5 7. pendapat ini dapat mengindikasikan bahwa pengembangan pembelajaran Decision Making Process Model membutuhkan kemauan maupun keterampilan yag tinggi agar pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan optimal. Menurut pendapat guru pada saat mengembangkan pembelajaran di kelas.5 8 8.5143 7.mengalami perubahan dan peningkatan kearah lebih baik. pelaksanaan.5 9 8.5 7. maupun dalam mengerjakan tugas dari guru.5 9 10 8.5 9 10 6 6 6.5 10 7. selain itu dengan penerapan Decision Making Process Model ini peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajaran selalu mengembangkan konsep-konsep terkunci secara terus menerus. Tabel 1: raihan Nilai Setelah Menggunakan Decision Making Process Model No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rata2 Nilai Pertemuan Ke: 1 2 3 4 7 6. baik dalam menampilkan materi.5 7 9. sehingga perlu dipersiapkan rencana pembelajaran secara terencana.5 7.5 9.5 9 8 9 8 9 8 8 9 9. perlu keterampilan yang cukup tinggi agar Decision Making Process Model dapat dilaksanakan secara optimal.5 9 10 8.5 7. Menurut pendapat guru Decision Making Process Model ini merupakan inovasi pembelajaran.5 6.5 9.5 8. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .5 7.5 10 9 9 9 10 8 8.Oktober 2008 . Guru juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif.5 9 8 10 7. Selain itu hal-hal tersebut di atas guru juga berpendapat bahwa dengan penerapan pendekatan ini dapat meningkatkan aktivitas maupun kreativitas peserta didik hal ini nampak terlihat dari proses pembelajaran berlangsung.

baik secara individu. Decision Making Process Model adalah merupakan hal yang baru. sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengungkapkan dan menemukan konsep-konsep dalam belajar. dan juga sikap siswa. Kendalan lain yang dirasakan adalah kurang seimbangnya waktu belajar (durasi jam pelajaran) dengan proses pembelajaran. maupun kelompok “JURNAL. dalam hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar siswa secara keseluruhan maka hasilnya menunjukkan adanya peningkatan. Kendala ini dirasakan dalam pembelajaran IPS dengan model tradisional. salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa. Namun ketika menemukan hal yang tidak biasanya atau baru mereka merasakan sesuatu yang lain dan respon mereka ditunjukkan bisa positif dan negatif. Hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang berarti.Oktober 2008 . berperan aktif dalam proses belajar mengajar. dikarenakan pelaksanaan model ini dapat menciptakan iklim pembelajaran yang transaksional. guru harus menguasai materi yang lebih luas terkait dengan konsep KESIMPULAN Pertama pembelajaran dengan menggunakan model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternatif pembelajaran IPS di sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. dari hasil evaluasi ditemukan adanya peningkatan pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan penguasaan kosep. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Beberapa kendala yang dialami oleh guru ketika pelaksanaan pembelajaran Decision Making Process Model. juga meningkatkan keterampilan dengan merumuskan pertanyaan. mencari isu dan masalah tidak mudah. selain itu hampir semua siswa senang dan menyukai pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dengan alasan cara pembelajaran seperti itu membuat siswa lebih leluasa untuk mengemukakan pendapatnya tanpa ada perasaan takut salah. Temuan lain menunjukkan bahwa siswa umumnya suka dengan Decision Making Process Model namun mereka tidak mengharapkan metode tersebut digunakan untuk seluruh pokok bahasan dan tiap pertemuan. resonansi melalui konlik-konflik nilai dalam dialog. Temuan lain dari hasil wawancara ditemukan bahwa ada beberapa yang lebih menyukai cara belajar biasa dengan dasar alasannya adalah karena informasi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan Decision Making Process Model . Kendala yang dialami dalam pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan adalah guru kurang berupaya menciptakan disequlibrium atau desonanti. membuat laporan menyelesaikan tugas.Peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Pada penelitian ini kegiatan evaluasi dilakukan guru untuk mengukur penguasaan konsep pada diri siswa. Penerapan model belajar Decision Making Process Model. Perningkatan perkembangan ini dapat dilihal dari Tabel 1 dan Gambar 3. Setelah dilakukan evaluasi dengan materi IPS yang berbeda. selain itu adanya perubahan sikap. (2) guru hanya terpadu pada cerita yang dipersiapkan padahal masih banyak cerita lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan topik bahasan. Banyaknya materi yang harus disampaikan dengan jumlah jam pelajaran. materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah dipahami. Respon siswa terhadap penggunaan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Dari hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan bahwa : Decision Making Process Model dapat menciptakan suasana anak menjadi kondusif. Keterampilan seperti ini tampaknya perlu dilatih dan ditingkatkan untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model. menghargai hasil kerja orang lain. pertama berhubungan dengan kebiasaan guru itu sendiri yang terbiasa menggunakan pembelajaran yang sifatnya tradisional. umumnya manusia merasakan suatu runtinitas sebagai hal yang biasa. yaitu berpusat pada peserta didik. Sesuatu yang baru diperkenalkan dan dialami adalah variasi dari suatu rutinitas. peserta didik merasa lebih banyak tugas yang harus dikerjakan sehinga peserta didik aktif dan antusias dalam mengerjakan tugas. penyusunan perangkat evaluasi yang tidak umum dilakukan sebelumnya. untuk merubah kebiasaan yang telah tertanam pada diri guru secara keseluruhan sangat sulit dilakukan. Berdasarkan temuan selama mengadakan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Decision Making Process Model ini telah memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Menggunakan Decision Making Process Model ini memerlukan waktu yang cukup lama kedua penggunaan pola pembelajaran ini menuntut guru untuk lebih kreatif dibandingkan dengan pendekatan yang konvensional. misalnya mau mendengarkan pendapat orang lain. mengeluarkan argumentasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sehingga ketika pelaksanaan pada prosesnya guru cenderung terlalu cepat mengambil alih kendali pembelajaran dan dominasi selama pelaksanaan.

jakarta. Keempat penerapan pembelajaran ini menurut guru merupakan inovasi yang bisa menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. (1982). Learning by Doing Developing Teaching skill. Paulina Panen. (2 nd .Angkasa. Lab. Hamid Hasan (1995) Pendidikan Ilmu Sosial. George W. New Jersey. Abdul Azis Wahab (1996) Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global. Jesus A. PPS. Bandung : Sinar Baru. terutama dalam upaya mengkonkretkan konsepkonsep abstrak maupun perannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Isaac.(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. Selain itu juga guru dituntut untuk menguasai banyak disiplin ilmu untuk pengajarannya. LAB Pengajaran PMP IKIP Bandung. Allyn and Bacon Coensuello G. Tidak Diterbitkan. Jakarta. dimana guru berusaha untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan selalu mempertimbangkan aspek peserta didik. Decision Making Process Model ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena Decision Making Process Model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuh kembanggkan kreativitas dan critical thinking siswa. Tesis. M. Barry K. Hansiswani kamarga (1994) Konsep IPS dalam Kurikulum Sekolah Dasar dan Implementasinya di Sekolah. Reading Massachusetts. John U. Ibrahim (1989) Penelitian dan penilaian Pendidikan. Bandung. Michaelis (1976) Social Studies for Children in a Democracy. Kedua masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan pembelajaran ini terkait dengan kesiapan guru dalam merencanakan dan mengembangkannya di kelas. dalam membuat rancangan pembelajaran. Nana Sudjana & R. Decision Making Process Model ini memiliki kekuatan karena peserta didik dibantu untuk memahami konsep-konsep IPS yang abstrak dengan enactive. sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. “JURNAL. Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Remaja Roakarya. PPS IKIP Bandung. Seville. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Tidak Diterbitkan Bandung. Makalah. Prentice-Hall Inc. Departemen Pendidikan Nasional (2000) Pendidikan Kewarganegaraan. Penerbit Universitas Indonesia. Michell. Pengajaran IKIP Bandung. Merril Publishing Company. David T. William A.Jakarta. Beyer (1991) Teaching Thinking Skills :A Handbook for Elementary School Teacher. FPIPS IKIP Bandung. Hasibuan (1986) Proses Belajar Mengajar. Handbook in Research and Evaluation. New York. juga dalam mewujudkan iklim belajar yang transaksional dengan interaksi multi arah dan berpusat pada peserta didik.Oktober 2008 . California: Edits J. edition). Maxim (1987) Social Studies and Elementary School Child. Bandung. Universitas Jakarta. IKIP Bandung. Bandung. Selain itu juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta didik secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajarannya selalu mengembangkan konsepkonsep kunci pendidikan IPS. Gray III (1977). Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam memahami masalah. Moch Idochi Anwar (1990) Kepemimpinan dalam Proses Belajar Mengajar. Ketiga penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran. dkk (1999) Cakrawala pendidikan. Jakarta. Trends and Development. Canada. Stephen dan William B. Tidak Diterbitkan. Third Edition. iconic dan symbolic. Random House Inc. Tesis. P2LPTK. ----------------. Bandung : IKIP Bandung. DAfTAR PUSTAKA A. Adision Wesley Publishing Company. USA.dan juga bersifat multi arah. John Jarolimek(1993) Social Studies In Elementari Education. Diterjemahkan oleh Alimuddin Tumu. Engle wood cliffs. Bandung. Mac Millan Publishing Company. Ninth Edition. Naylor (1987) Elementary and Middle School Social Studies. Ohio. Ari Sutisyana (1997) Pengembangan Berfikir Kritis Anak dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .J. New York. Recent.Kosasih Djahiri (1996) Teori Keterampilan Belajar dan Mengajar Menuju Inquiry yang Reaktif. Pidato Pengukuhan jawaban Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan. Bandung. O (1993) Pengantar Metode Penelitian. Numan Somantri (1993) Masalah Pengembangan Ilmu Kewarganegaraan (IKN) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dalam lingkungan FPIPS-IKIP dan FKIP-Universitas.

(2) Metacognitive approach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . observation sheet. Data analysis were performed both quantitatively and qualitatively. Quantitative analysis was applied to the test result to display the difference of means between two sample groups. (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who were taught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach. In teaching and learning process. Kenyataannya. konsep. Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah B kemampuan berpikir kritis. sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan. Dalam suatu proses pembelajaran. dinamis. students’ attitude scale-questionnaire. sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif. Qualitative analysis was applied to explain teaching and learning activity. “JURNAL. students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. 2005) mengenai pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah. (3) Students’ activities were also improved in quality. kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah. metacognitive approach PENDAHULUAN erpikir merupakan satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis. yang menitikberatkan pada sistem. seperti yang diungkapkan oleh Begle (Darhim. reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level can be considered as low. objektif. dan terbuka. Kata Kunci: critical thinking skill. experimental group was treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. dan generatif.Oktober 2008 . prinsip. nonetheless. Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis. The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. Maier (1985) dan Ruseffendi (1991). and fill-in list for lecturers. menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi. The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is a must for students in tertiary level. middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group. Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tyler (Mayadiana. Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan. interview guidance.Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Abstract This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitive approach in mathematics learning. tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. The subjects of the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and students of PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis. struktur. 2004). serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya.

serta faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. mengingat. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secara aktif yang menanamkan kesadaran metakognisi. Tampak dari nilai mereka dengan rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk kedua kelompok tersebut. Ironisnya. Dari uraian di atas. Tinjauan yang lebih mendalam pada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaran bahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitan dalam memahami konsep matematika maupun dalam pemahaman prosedural. MA. 26. serta 34. akan tetapi di sisi lain ternyata kemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masih kurang. juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasi matematik (Maulana. mengenali kembali. dan SPG (khusus pada kelas karyawan). Oleh karena itu. bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih rendah. yakni dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya. mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor. mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan.62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA. baik untuk mahasiswa yang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA.26% untuk mahasiswa berlatar belakang IPA. Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa. mahasiswa terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih. Pandangan ini tentu saja berdasar. perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif? 3. yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka. sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. subkelompok sedang. 2005). Akan tetapi. Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 4. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional? 2.Oktober 2008 . Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 5. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Melalui pengembangan kesadaran metakognisi. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Bertolak dari pemikiran di atas. komentar. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. mengorganisasi informasi yang dihadapinya. ternyata kurang memuaskan. Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebut adalah laporan penelitian Mayadiana (2005).06% untuk keseluruhan mahasiswa. guru atau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan. maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. yakni hanya mencapai 36. Semua informasi yang ditemukan di lapangan tersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? “JURNAL. mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya. Hasil yang diperoleh dari studi tersebut. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapa semester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yang berasal dari SMA. salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan. Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas. kemampuan berpikir kritis peserta didik di satu sisi memang sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan. dengan program studi IPA dan NON-IPA. sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. Indikasi lainnya. serta dalam menyelesaikan masalah. maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. SMK.

Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupan yang tak bisa dihindari. 2003). menafsirkan. dan memahami apa yang diminta dalam persoalan tersebut. mengubah. dan berpikir kritis (critical thinking). berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat. 1996: 31) menyebutkan bahwa yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving). membandingkan. yaitu bahwa berpikir kritis: (1) adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. yakni kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakan perpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar. dan memutuskan (Sobur. pengambilan keputusan (decision making). Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto (1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang paling utama. Gerhand (Mayadiana. Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selain untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. menghubungkan. 2003). ataupun melakukan recall dan recognition ketika yang dihadapinya adalah persoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin. evaluasi. atau memperbaiki pikirannya. dan memori (Sobur. Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yang melibatkan proses sensasi. dan Splitter (Mayadiana. seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. memecahkan masalah. (4) memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan. berpikir lateral. menghitung. mengukur. menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada. Dalam proses berpikir. sebenarnya ia melibatkan proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru yang ada pada persoalan tersebut. berpikir analitis. DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian. 2004). berpikir kritis. dan (6) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. Pada saat itu pun. menggolongkan. yaitu: berpikir vertikal. sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. termuat juga kegiatan meragukan dan memastikan. 2004). menimbang.Oktober 2008 . 1996) membedakan kemampuan berpikir menjadi dua bagian. 2005). 1996). Quina (Syukur. mendengar. gambar. merancang. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. dan dalam hal ini berpikir kritis bertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusan mengenai sesuatu. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional. 1994). Presseisen (Angeli. Selanjutnya ia mengalami proses persepsi. mengevaluasi. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. serta untuk menilai tindakan (Liputo. Menurut keduanya. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diungkapkan di atas dapat dikembangkan melalui pembelajaran. sintesis. analisis data. Liliasari. yaitu membaca. dan berpikir kreatif. Ungkapan sejalan mengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh “JURNAL. memilah-milah atau membedakan. Ennis (2000). 1997. membuat perencanaan. dan salah satu dari kemampuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. Paul dan Scriven (1996). seseorang dapat mengatur. serta membuat seleksi. 1996). ataupun suara. persepsi. berpikir strategis.HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. menyesuaikan. pertama-tama ia melibatkan proses sensasi. Swartz dan Perkins (Hassoubah. Berpikir Kritis Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan berpikirnya. berpikir tentang hasil. (5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . berpikir kreatif (creative thinking). STUDI LITERATUR 1. yaitu menangkap tulisan. Dengan berpikir kritis. juga untuk mengambil keputusan. subkelompok sedang. Pada saat seseorang menghadapi persoalan. Sementara itu. 2. menganalisis. 2005). (2) merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. melihat kemungkinankemungkinan yang ada. (3) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. Presseisen (Liliasari. Penulis merangkum beberapa definisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh Norris (Fowler.

(3) Kemampuan merumuskan masalah ke dalam model matematika. Berpikir Kritis dalam Matematika Domain khusus definisi berpikir kritis harus didiskusikan dalam rangka menarik hubungan antara penelitian dan implikasinya dalam pendidikan matematika. 2004) mengklaim bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya. 2003). berpikir kritis dalam pembelajaran matematika merupakan tujuan yang dikelompokkan secara holistik berdasarkan apa arti mengajar. dan sumber yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. dan mengumpulkan informasi untuk membangun definisi operasionalnya. (4) Kemampuan mendeduksi dengan menggunakan prinsip. Para peserta didik dengan pengetahuan metakognitifnya sadar akan kelebihan dan keterbatasannya dalam belajar. dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri. Fawcett (Glazer. Tim MKPBM (2001) memandang metakognitif sebagai suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. Lebih jauh lagi. merencanakan. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan oleh Krutetski (Mayadiana. memonitor. penulis merumuskan beberapa indikator berpikir kritis yang akan digunakan dalam penelitian ini. 2004). bahwa orang yang berpikir kritis adalah individu yang berpikir. dan memahami matematika (Appellbaum. Sebagai pendidik. Paul (Mayadiana. 3. Karena bagaimanapun. apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya. Menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. mengetahui prasyarat untuk meyakinkan kelengkapan tugas tersebut. yaitu kemampuan menyatakan argumen dalam bentuk lain dengan makna yang sama. dan mengetahui kapan melakukannya. 2005). Perlulah kiranya diungkap dengan lebih jelas beberapa deskripsi yang berhubungan dengan berpikir kritis dalam matematika. yaitu kemampuan menyatakan persoalan ke dalam simbol matematika dan memberikan arti dari setiap simbol tersebut. bentuk aktivitas memantau diri (self monitoring) dapat dianggap sebagai bentuk metakognisi. strategi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 2004). serta membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri apa yang dilakukan saat belajar matematika. bertindak secara normatif. di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir. Nindiasari (2004) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan “JURNAL. yaitu kemampuan menuliskan konsep-konsep yang termuat dalam pernyataan yang diberikan dan menuliskan bagian-bagian dari pernyataanpernyataan yang menggambarkan konsep bersangkutan. mereka sadar untuk mengakui bahwa mereka salah. dan siap bernalar tentang kualitas dari apa yang mereka lihat. Suzana (2004: B4-3) mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang.Splitter (Mayadiana. oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan berpikir kritis diabaikan oleh dosen. mengatur. dosen memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. atau yang mereka pikirkan. yaitu kemampuan menentukan aturan umum dari data yang tersaji dan kemampuan menentukan kebenaran hasil generalisasi beserta alasannya.Oktober 2008 . Ennis (Glazer. Sejalan dengan itu pula. serta mengontrol tentang apa yang mereka ketahui. dan berusaha untuk memperbaikinya. Pendekatan Metakognitif Weinert dan Kluwe (1987) menyatakan bahwa metakognisi adalah second-order cognition yang memiliki arti berpikir tentang berpikir. memantau. 2005). Artinya saat siswa mengetahui kesalahannya. Woolfolk (1995) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua komponen terpisah yang terkandung dalam metakognisi. Resnick (Mayadiana. Brown (Weinert dan Kluwe. 1987). yaitu kemampuan menuliskan contoh soal yang memuat aturan inferensi. 1987) mengemukakan bahwa proses atau keterampilan metakognitif memerlukan operasi mental khusus yang dengannya seseorang dapat memeriksa. yaitu pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang keterampilan. Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. bagaimana melakukannya. dengar. 2. (6) Kemampuan merekonstruksi argumen. membantu dan membimbing siswa jika ada kesulitan. yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang disajikan dengan menggunakan aturan inferensi. atau refleksi tentang tindakantindakan. Mengetahui apa yang dilakukan. Pascarella dan Terenzini (Mayadiana. Dalam sudut pandang yang lain. pengetahuan tentang pengetahuan. karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif. 2005). 2005). 2005: 9). (5) Kemampuan memberikan contoh inferensi. mengerjakan. Karena berpikir kritis dalam matematika secara epistemologi berbeda dengan berpikir kritis dalam domain lainnya (Glazer. memprediksi. (2) Kemampuan mengidentifikasi relevansi. Sementara itu Cabrera (1992) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses dasar dalam suatu keadaan dinamis yang memungkinkan mahasiswa untuk menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan masa mendatang. antara lain meliputi kemampuan: (1) Kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi.

monitoring. (2) memonitor apa yang mereka ketahui dan bagaimana mengerjakannya dengan mempertanyakan diri sendiri dan menguraikan dengan kata-kata sendiri untuk simulasi mengerti. jurnal. memperluas aplikasi-aplikasi tersebut. Wong (Jacob. 1987. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus daerah yang tersebar di dua provinsi. 1998). Adapun aspek aktivitas metakognitif yang dikemukakan oleh Flavell (Suzana. selain dapat diketahui skor untuk setiap butir skala sikap. Bagaimana siswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. Pada kelas eksperimen dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. seperti yang diungkapkan oleh Borkwoski. sedangkan strategi kognitif metakognitif adalah mengontrol seluruh aktivitas belajarnya. Selain dengan latihan. dan daftar isian untuk dosen. dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para siswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari (Jacob. 2004: B4-4) adalah: (1) kesadaran mengenal informasi. Aspek metakognitif sebagai bagian terkait dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif sangat penting untuk dapat dikembangkan agar mahasiswa mampu memahami dan mengontrol pengetahuan yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajaran. bahwa dosen mengajar mahasiswa untuk merancang. Borkwoski. yaitu siswa dapat memahami dan menggunakan strategi kognitif dan strategi kognitif metakognitif selama proses pembelajaran berlangsung. (3) regulasi. penulis menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kritis. (3) peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan. dan keputusan yang benar sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memantau dan mengatur proses kognitifnya. yaitu: (1) peserta didik diminta untuk menjustifikasi suatu kesimpulan atau mempertahankan sanggahan. angket skala sikap mahasiswa. dan mendapatkan pengendalian kesadaran atas diri mereka. dan merevisi kerja mereka sendiri mencakup tidak hanya membuat mahasiswa sadar tentang apa yang mereka perlukan untuk mengerjakan apabila mereka gagal untuk memahami. dan uji hipotesis (uji-t dan Anova satujalur). Untuk data kuantitatif. (2) situasi kognitif dalam mengahadapi suatu masalah membuka peluang untuk merumuskan pertanyaan. Namun demikian. lembar observasi. anak bertanya pada dirinya sendiri untuk menguji pemahamannya tentang materi yang dipelajari. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional. 2003: 17-18). Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi. memonitor. bila perlu memodifikasi strategi yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan. setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara aposteriori. Adapun kegiatannya menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. uji homogenitas. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah aktivitas pembelajaran. Dengan demikian. pengertian strategi kognitif adalah. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. yang didilaksanakan dengan menggunakan dua perlakuan.. dan memeriksa hasil. dan (4) situasi peserta didik dalam kegiatan kognitif mengalami kesulitan.Oktober 2008 . Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya dipilih secara acak menurut kelas. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap hasil tes untuk melihat perbedaan rerata antara dua kelompok sampel. Ada dua konteks yang mesti dipahami agar siswa mampu belajar secara baik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif. Bila diterapkan dalam belajar. pertimbangan. & Reid. Dengan demikian. Contoh dari strategi kognitif ini antara lain: bertanya pada diri sendiri. juga dapat diketahui skor setiap mahasiswa “JURNAL. pendidik (dosen/guru) dapat memulai lebih awal di sekolah atau perguruan tinggi. sikap mahasiswa dan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. pedoman wawancara. Pressley et al. belajar juga merupakan metakognisi melalui aktivitas yang digunakan yaitu mengatur dan memantau proses belajar. 2004). Sedangkan untuk data kualitatif. analisis dilakukan dengan uji normalitas. membandingkan dan membedakan solusi yang lebih memungkinkan. “Penggunaan keterampilanketerampilan intelektual secara tepat oleh seseorang dalam mengorganisasi aturan-aturan ketika menanggapi dan menyelesaikan soal”. Johnson. dengan model keterampilan ini. Terhadap kedua kelompok tersebut diberikan pretes sebelum eksperimen dan postes setelah eksperimen. 2000: 444) PENELITIAN Penelitian digolongkan kepada penelitian eksperimen. Torgosen. 1987) mencakup perencanaan. dengan secara spesifik melatih siswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi.metakognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari strategi kognitif. Kegiatan-kegiatan metakognitif ini muncul melalui empat situasi. Menurut Hartono (Nindiasari. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. yakni di Jawa Barat dan Banten. analisis masalah). misalnya dalam pemecahan masalah.

sedangkan mahasiswa yang belajar secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. setiap subkelompok mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. Mereka menyatakan persetujuannya bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sangat baik dan berpeluang besar untuk diterapkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di “JURNAL. mahasiswa mendapat kesempatan yang lebih banyak dalam mengeksplorasi materi bersama dosen maupun teman-temannya melalui kegiatan diskusi. Kemudian diketahui pula sebanyak 74. Sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif tercermin dari sebanyak 89% dari 45 mahasiswa menyatakan persetujuannya bahwa pendekatan matekognitif dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar matematika. Mengenai pembelajaran suasana pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Adapun beberapa hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif adalah: (1) waktu yang tersedia relatif sedikit untuk melakukan pengembanganpengembangan dalam pembelajaran. 2002). dan 4% dengan kategori sangat baik. peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam aspek menggeneralisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi termasuk dalam kategori tinggi. mengalami peningkatan yang tergolong ke dalam kategori sedang. dan subkelompok rendah mengalami peningkatan sebesar 56. dan merekonstruksi argumen. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang belajar dengan pendekatan metakognitif berada dalam kategori baik.Oktober 2008 . subkelompok sedang. Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif membuat mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar secara konvensional.05% terhadap skor pretesnya. Faktor-faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif antara lain: (1) kerja sama dan bantuan dari dosen pengampu matakuliah yang bertindak sebagai observer dan teman diskusi dalam menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. dan sebanyak 88. memberikan contoh inferensi.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian. sehingga diharapkan dalam masing-masing kelompok terjadi kegiatan diskusi kelompok yang produktif. Begitu pula dalam aspek mengidentifikasi relevansi. Dosen memiliki tanggapan positif terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. sebanyak 84.5% mahasiswa merasa bahwa pendekatan metakognitif yang mereka ikuti dapat mengurangi kecemasan belajar matematika. pendekatan metakognitif secara signifikan memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa subkelompok manapun. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (2) keterlibatan mahasiswa secara aktif untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Dengan kata lain. Dari keseluruhan mahasiswa.41%.5% menyenangi kegiatan diskusi. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. Mahasiswa pada kelompok eksperimen yang memiliki kemampuan akhir berpikir kritis matematik pada kategori cukup adalah 49%. peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. terdapat 98% mahasiswa yang menyatakan senang terhadap hal tersebut. 80% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif membuat mereka lebih berani dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. kategori baik sebanyak 47%. sebanyak 94. diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sebagai berikut ini. Berdasarkan perhitungan gain normal (Meltzer.3% mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif sangat membantu mereka dalam memamahi konsep yang sedang mereka pelajari. Dengan kata lain.82%. subkelompok sedang 59. (3) kesulitan dalam membuat kelompok diskusi dengan anggota kelompok yang beragam tingkat kemampuan matematiknya.7% menyukai dan merasa tertantang dalam menyelesaikan soal-soal metakognitif yang diberikan. (2) kesulitan dalam membuat soal-soal latihan pada lembar kerja mahasiswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara baik. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam aspek merumuskan masalah ke dalam model matematika. Secara lebih khusus. diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk subkelompok tinggi adalah 65.

Bandung: Tidak diterbitkan. 113 (1). J. dan merekonstruksi argumen 2. Karena pembelajaran dengan pendekatan metakognitif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang merupakan kemampuan matematik tingkat tinggi. DePorter.indiana.html. memberikan contoh inferensi. Examining the Effects of ContextFree and Context-Situated Instructional Strategies on Learner’s Critical Thinking [Online]. merumuskan masalah ke dalam model matematika. [25 Januari 2006]. Giancarlo. Oleh karena itu para dosen atau pengajar diharapkan selalu berusaha meningkatkan kemampuan mengajar dan kemampuan matematiknya melalui berbagai sumber.edu/appellbaum/8points. namun tentu saja dengan metode yang tidak harus sama DAfTAR PUSTAKA Angeli. dan Gainen.html. Bandung: Kaifa. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1.. Education.N. com/pdf_files?Disposition_to_CT_1995_JGE. R.us/longview/ctac/definitions. Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menekankan pada aktivitas mahasiswa dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan mahasiswa. Melihat hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa selain dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. Akan tetapi menurut pendapat mereka. M. Cabrera. Tersedia: http://www. insightassessment. Fowler. Ennis. Costa. dalam praktiknya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang bahan ajar berupa LKM. cc. Tersedia: http://www. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. (1996). P. Sikap positif mahasiswa terhadap model pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menggambarkan bahwa pembelajaran ini dapat dijadikan model yang disukai mahasiswa.net/SSConcCTApr3.Gargoyle.perguruan tinggi.L. Cassel (ed). dan Hernacki. Facione.H. mengidentifikasi relevansi. Dalam R. khususnya pada aspek-aspek: membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. Arcadia University [Online]. kepada mahasiswa PGSD (khususnya yang sudah menjadi guru SD) yang telah mengikuti dan memperoleh bekal pengetahuan mengenai pendekatan metakognitif. N. 59-63. Tersedia: http:// www. Facione.. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. Tersedia: http://www. Critical Thinking Accros the Curriculum Project [Online]. criticalthinking. (1992). Alexandria: ASCD.A.kcmetro. pendekatan metakognitif ini juga telah mampu memacu antusiasme dalam belajar matematika.mo. (2000).C. (1995).A. Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika. sebaiknya mencoba untuk mengimplementasikan pendekatan metakognitif ini di sekolah tempat ia mengajar. C.. khususnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Disertasi pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. A Super-Streamlined Conception of Critical Thinking [Online]. “JURNAL. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip.arcadia. (1985). [25 Januari 2006]. (1999).pdf. B.. (1997).htm. 4. The Disposition toward Critical Thinking [Online]. Darhim (2004). [25 Januari 2005] Appellbaum. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . A. C. B. P. 3. maka hendaknya peneliti lain mencoba menerapkan pendekatan ini dalam upaya meningkatkan kemampuan matematik tingkat tinggi lainnya seperti kemampuan berpikir kreatif. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD.Oktober 2008 .A. Tersedia: http://www. G. Mathematics Education Excerpt from The International Encyclopedia of Critical Thinking. Oleh karena itu.. [22 Agustus 2005].M. misalnya hsil-hasil penelitian atau jurnal. 5. Untuk menciptakan suasana belajar seperti ini diperlukan keterampilan seorang pengajar dalam hal materi matematika maupun metodologi pembelajaran. dan ternyata memberikan hasil yang cukup efektif. (2003). Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking.htm.edu/~educr795/prop5. sehingga dosen memiliki modal yang berharga karena model belajar seperi ini telah menciptakan lingkungan belajar yang efektif.

F. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Scores.Glazer. and Understanding. Suzana. M. Aplikasi dan Pembelajarannya. Tim MKPBM (2001). Surabaya.pdf. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. Hassoubah. Tersedia: http://www.E. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Disertasi Doktor pada PPs IKIP Bandung. Bandung: Pustaka Setia. Z. Ruseffendi. iastate. Matlin. Bandung: Rosda Karya. Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional UPI. (2004). Meyers.H. “JURNAL.net~mseifert/ crit2. Jurusan Matematika FMIPA ITS.org/University/univlibrary/ library. C. Nindiasari. dan Scriven. Y. dan Kluwe. Disajikan pada Seminar Nasional Matematika: Matematika dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Kualitas SDM dalam Menyongsong Era Industri dan Informasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 20 Agustus 2005. USA: Allyn and Bacon.physics.W. C. Bandung: Tidak diterbitkan. [22 Agustus 2005]. Kamus Filsafat. Tesis pada PPS Universitas Pendidikan Indonesia. Metacognition. Belajar Bagaimana untuk Belajar Matematika: Suatu Telaah Strategi Belajar Efektif. (2004). (1996). Defining Critical Thinking: A Draft Statement for the National Council for Excellece in Critical Thinking [Online]. Jacob. Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA. Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru SD. (1996). Sobur. Syukur. (1994). Meltzer. (2004). Liliasari (1996). Y. Psikologi Pendidikan. Mengajar Keterampilan Metakognitif dalam Rangka Upaya Memperbaiki dan Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika.. (2005). H. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Maier. Prosiding Seminar Nasional Matematika: Peran Matematika Memasuki Millenium III. Semarang: IKIP Semarang Press. (2002). Bandung: Nuansa. Mayadiana.E.criticalthinking. 443-447. Motivation. Jacob. E. E. Liputo. ISBN: 97996152-0-8. (2003). (1998). Hillsdale.L.70-12591268. Paul. D.T. Bandung. Maulana (2005). H. 2 (1). Purwanto. Developing Creative & Critical Thinking Skills. Remaja Karya.edu/per/docs/AJP-Dec-2002-Vo. E. Bandung: Tidak diterbitkan. (1987). New York: Hardcourt Brace Publishers. Tersedia: http://www. Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa SMU.T. Educational Phsycology. A.nclk. Bandung: JICA-UPI. [Agustus 2006]. Technology Enhanced Learning Environtments that are Conductive to Critical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [Online]. (2000). Psikologi Umum. Kompedium Didaktik Matematika. Weinert. D.Oktober 2008 .lonestar. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. (1998). 15 Mei 2004. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Ruseffendi. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Bandung: Tarsito. Teaching Student to Think Critically. Woolfolk.texas. Tersedia: http://www. (1995). M. (2004). San Francisco: Jassey-Blass Publishers. Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika (The Application of Metaphor in Mathematics Course). Bandung: Tidak diterbitkan. (1986). Bandung: CV. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. American Journal of Physics [Online]. R. (1985). Cognition.html. Bandung. R. Jurnal Matematika. Bandung: Tidak diterbitkan. (1991). Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau dari Perkembangan Kognitif Siswa. A.E. (2004). 2 November 2000. 17-18. M.I. N. (2003). Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta. C. [22 Agustus 2005]. Bandung: Rosda Karya.

memecahkan masalah. penalaran. pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya. mengkomunikasikan gagasan. Hal ini didorong oleh perkembangan arah pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dikuasai oleh siswa sekolah dasar tidak hanya dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. ada salah satu kompetensi dasar yang mengarahkan siswa untuk mampu menggunakan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah. penilaian. Tulisan ini berusaha untuk menggali tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya di sekolah dasar. pemilihan media atau alat peraga dalam pembelajaran pemecahan masalah sehingga siswa memiki kemampuan memecahkan masalah yang baik. maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian. sekolah dasar PENDAHULUAN embelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung. Moursund (2005:29) mengatakan bahwa seseorang dianggap memiliki dan menghadapi masalah bila menghadapi 4 kondisi berikut ini: 1. 2. Dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut. Guru perlu memperhatikan berbagai aspek pembelajaran: perencanaan. tetapi faktor tuntunan kurikulum yang membuat guru terdesak dengan waktu terbatas sehingga tidak fokus terhadap kemampuan pemecahan masalah. nampak bahwa pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam pembelajaran matamatika sehingga secara jelas terdapat pada kurikulum mata pelajaran matematika mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi tujuan utama dalam program pembelajaran matematika di sekolah dasar. tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving). Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah. tetapi agar siswa mampu memecahkan masalah dalam bidang lain melalui cara berpikir matematis. Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. topik-topik permsalahan dalam tulisan ini adalah : masalah dan pemecahan masalah matematika. dan problematika pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Masalah Matematika Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya.Oktober 2008 . Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar. Oleh karena itu. tidak hanya faktor P guru saja. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (BSNP. Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi.Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Abstrak Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dasar. 2006). pembelajaran matematika. “JURNAL. Ada banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran pemecahan masalah secara optimal. proses pembelajaran. Dalam setiap standar kompetensi. Pelaksanaan pembelajaran masalah di sekolah dasar tidaklah semudah yang diperkirakan. Mata pelajaran matematika diantaranya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman konsep. Kata Kunci: pemecahan masalah.

dan menentukan tindakan selanjutya. Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. yaitu menjadi Reading. 4. memvisualisasikan situasi. pengetahuan. mereka mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar. Menurut Polya (Suherman et. Understanding. Dalam bukunya.al. (3) masalah proses. baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini meliputi waktu. mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan. Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan). masalah matematika dapat berupa (1) masalah transalasi. tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik. seperti menyajikan dan menyelesaikan tugas serta menerapkan strategi untuk menemukan solusi. Planning/Implementation. Dalam pembelajaran matematika. Planning. dalam Abbas. fisika dan sebagainya. atau gambar “JURNAL. Menurut Polya seperti yang dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya. Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan. 2. yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi. Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. yaitu Reading. Menurut Goos et. tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Menurut Goos et. Lebih lanjut Ruseffendi (1991. dan Verification. Analisys. 1969) : Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik. tabel. yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta. 2000 : 2) terdapat 5 tahapan dalam memecahkan masalah. dalam Abbas. dan (4) Melihat kembali penyelesaian. seseorang dianggap sebagai pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut.al. menjelaskan setting. keterampilan. walaupun sebenarnya tumpang tindih. Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tetapi juga meliputi pengamatan metakognisi yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas serta untuk membuat keputusan sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimiliki. mengidentifikasi pertanyaan.al. Menurut Hudoyo dan Sutawijaya (1997:191). Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari. yang meliputi kegiatan: mengorganisasikan informasi.. 1993:56) juga mengatakan bahwa : Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama/penting dari kegiatan manusia . ilustrasi gambar atau teka-teki. Read and Think (Membaca dan Berpikir). (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah. Terdapat beberapa jenis masalah matematika. Lebih dari Polya (dalam Sonnabend. mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan. 2000 : 2) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah amatlah penting. Lima langkah tersebut adalah : 1. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. (2000 : 2)..3.. mengambar/mengilustrasikan model masalah. 2001 : 84). ”Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School”. Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa harus berurutan. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. Dalam Suherman et. Exploration. (2001 : 95) dinyatakan bahwa menurut berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam dalam tes pemecahan masalah dibandingkan dengan anak yang latihannya sedikit. penggambaran penomena atau kejadian. Artzt & Armour-Thomas (Goos et.al. bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika. 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld. Implementation. cara berpikir secara matematis yang efektif dalam memecahkan masalah meliputi tidak saja aktivitas kognitif. melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya. Sementara itu. Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu. masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita. yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan. kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung. dan (4) masalah teka-teki. Analisys. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika.al. 2006 : 24).(terjemahan).al. Krulik dan Rudnik ( 1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai heuristik. Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et. dan Verification. teknologi atau barag tertentu. (2000 : 2).Oktober 2008 . 2000 : 2) menyatakan bahwa melalui pelajaran Matematika diharapkan dan dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan.. Exploration. Pemecahan Masalah Matematika Soedjadi (1994. itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah. dan membuat diagram. tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika. harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah. (2) masalah aplikasi. solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian.

al. maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal. atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah. Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi. Dalam pembelajaran matematika. memeriksa kembali jawaban. agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif. Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi. Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan). 4. Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru. Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi. pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti dalam pendekatan pembelajaran open ended. atau pola bilangan. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa). 2. mendiskusikan jawaban. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. soal tidak rutin. 5. Oleh karena itu. yaitu: waktu. serta pengelolaan kelas. simulasi atau eksperimen. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et. Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah. et. coba dan kerjakan. teknologi. misalkan memecahkan soal-soal matematika. mengembangkan jawaban pada situasi lain. maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya. Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran. menentukan solusi alternatif. (1989). serta strategistratagi pembelajaran pemecahan masalah. menggunakan kemampuan aljabar. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari. Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal. deduksi logis.(1989).al. dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan. tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa. yaitu : pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran. Select a Strategy (Memilih Strategi). serta teknologi. dan menggunakan kalkulator jika diperlukan. Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. menggunakan kemampuan berhitung. Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah. Berdasarkan teori “JURNAL. 3. dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana. 4. yang meliputi kegiatan : menemukan/membuat pola. yaitu bagaimana guru menyajikan soalsoal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah. karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita dan ilustrasi gambar. Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah. Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran. 5. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). sumber belajar-media. Menurut Reys. PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DI SD Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. problem based learning (PBL). Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum.Oktober 2008 . teka-teki. menggunakan kemampuan geometris. yang meliputi kegiatan: memprediksi. dan menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal. perencanaan. Khususnya di SD. 1. bekerja mundur. mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi). paling tidak ada tiga makna dari pemecahan masalah. masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita. sumber belajar : alat peraga atau media. membuat daftar berurutan. proses.3. Find an Answer (Mencari Jawaban). Dari paparan di atas. Penyederhanaan atau ekspansi. serta sebagai kemampuan dasar. Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar.

Guru kadang memandang bahwa kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh konsep matematika. masih dalam tahap enaktif dan ikonik. Guru merasa cukup dengan pembelajaran perhitungan. walapun dari hasil uji coba soal cerita. dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. masalah masalah terbuka (open ended).al.Piaget (Reys. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik (1995) berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. 1989). et. et. karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys. Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Problematika Pembelajaran Pemecahan Masalah di SD Pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah terutama di sekolah dasar tidaklah mudah. Keadaan ini menyebabkan siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum sekolah (KTSP) secara konvensional. Perubahan paradigma dalam kurikulum matematika memang belum sepenuhnya berimbas pada praktik pembelajaran di sekolah dasar. 1989).. Menurut Reys. padahal masalah dapat disajikan dalam berbagai bentuk model soal. Pembelajaran pemecahan masalah kadangkadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. Yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa. Dalam istilah lain metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol kemampuan berpikirnya atau ”thinking about thinking”. Guru masih fokus kepada pencapaian kemampuan siswa dalam berhitung dan mengunakan rumus matematika. (3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph). Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita. sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu topik sebagai pelengkap topik tersebut. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu. et. Peran Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Kesuksesan seseorang dalam memecahkan masalah begantung kepada bagaimana ia mampu mengendalikan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu. belum dianggap sebagai suatu tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. Hal ini memang bergantung kepada cara guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa.al. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program pembelajaran. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin. hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep pemecahan masalah dan pembelajarannya. (1989). (2) jurnal metakognitif. Siswa sering mengajukan “JURNAL. portofolio. Guru biasanya mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita. Kemampuan tersebut adalah Metakognisi. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat beragam. dan (3) paper and pencil test. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan sebagai berikut. siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa mengikuti langkah-langkah yang ditentukan. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita. Kemampuan metakognisi dapat diajarkan di kelas melalui pernyataan menuntun seperti : ”apa yang kamu kerjakan ketika memecahkan masalah?”. (2) inventori dan ceklis. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran. test. guru perlu menyiapkan alatalat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. klasikal ataupun kelompok. maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya. Metakognisi adalah istilah yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan seseorang sebagai pembelajar serta bagaimana ia mengontrol dan menyesuaikan pengetahuan dan keyakinannya. yaitu : menentukan apa yang diketahui. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita.Oktober 2008 . Penilaian dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : (1) observasi. Tes kinerja ini. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. ”apa yang kamu pikirkan jika kamu merasa kesulitan atau tidak memahami soal ?”.al. beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah: (1) observasi. ditanyakan dan jawaban. sementara kemampuan pemecahan masalah siswa masih dianggap sebagai kemampuan ekstra atau tambahan untuk siswa-siswa berprestasi tinggi. tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik..

Oktober 2008 . Marsound. Pendidikan Matematika I. Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit.cimt.uk/jornal/pgmoney. kenyataannya. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. (2005). Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo Ashton. Robert E.(2000). Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Pearson Education : New Jersey.edu/. (1993).. Akan tetapi. S.C. Wortham. (2005)..pdf Krulik. Suherman dkk .al. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah. [online] http://www. Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan. Goos. [online]. Thomas. Sthepen dan Rudnick. Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah. D.uoregon. (1998). soal ini dikerjakan pake rumus apa?”. Queensland : The University of Queensland [online] http://www. plymouth.(2000). melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah. Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah alatalat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah. Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers. Wina. [online] http://www. N.Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. Tidak diterbitkan. et. D.(2006). Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif..pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita. (2007).edu/~jonassen/PSPaper%20 final. Temple University : Boston. PENUTUP Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran. Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak. Sue C. metode atau teknik penilain harus mampu menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya.pdf BSNP (2006). (------). A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan..Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature. http:// darkwing. (1998). coe. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Virginia : College of William and Mary Williamsburg.ac. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. “JURNAL. ”Ditanyakan”. seperti ”Pak. Bandung Sukmadinata & As’ari. seperti: ”Diketahui”.Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Needham Hwight : Allyn & Bacon Sanjaya. al. Sounder Collage Publising. padahal salah satu aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan informasi selama proses pemecahan masalah.edu/. guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok.wm. /Ashton. Oleh karena itu. New York. Jurusan Pendidikan Matematika UPI.. Bandung : SPs UPI. Oregon : University of Oregon. Universitas Pendidikan Indonesia.(------). Semenetara itu. Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Akan tetapi. Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Assessment in Early Chilhood Education. et.(2001).missouri. guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. Jesse A. Sonnaben A. guru jarang menggunakan teknik-teknik penilaian yang seperti itu. tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama aktivitas pemecahan masalah./ElMath. dan ”Dijawab”. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam memecahkan masalah. perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya. Dirjen Dikti Depdiknas Jonassen. (1995). Jakarta. DAfTAR PUSTAKA Abbas. Jakarta : BSNP.pdf Hudoyo dan Sutawijaya. Matematic for elementary Teacher : An Interactive Approach.pdf Reys. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah.

Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya dengan peruhahan itu. The study concerns use experimental method.45 and control student is 34.”Kehidupan di dunia ini berubah.2004). antara lain adalah faktor guru.1999. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”. Dalam hal yang sama Ruseffendi(1991:8) mengemukakan bahwa keberhasilan siswa dalam “JURNAL.Oktober 2008 .(2) For Student. Kenyataan-kenyataan berikut menunjukkan P bahwa pengajaran matematika perlu diperbaiki.Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Abstrak The study concerns focus to problem: How far influence application of cartoonn mathematic in learning mathematics for develop to produce learn student in school? The goal study concerns for know influence application of cartoon mathematic learning matematics in school for develop produce learn student with for able image about respons student at application of cartoon mathematic. teknologi berubah.19998:2). instrument a test. The conclusion of study concerns are (1) Application cartoon mathematics in learning mathematic have influence to produce learn.because all topic mathematic can explain with cartoon mathematic. At significant level 0. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja.” Hasil belajar sangat ditentukan sekali oleh keberhasilan siswa dalam belajar. Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15).”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi.42.This Mean experiment is 49. yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-¬38 dari 39 negara peserta. The general hypothesis in study concerns is student learn with cartoon mathematic best increase produce learn than student with conventional learn.Iearn with cartoon mathematic increase effective than conventional learn (3) Student give good respons to cartoon mathematic because new in learning mathematic and their became happy in learn mathematic.Teacher can join with cartoonist for make cartoon mathematic. Matematika merupakan salah satu bidang pengajaran yang harus mengalami pembaharuan menuju perbaikan. Selain itu pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi. pembelajaran matematika PENDAHULUAN embaharuan dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas(Wijaya. Pembaharuan di bidang pendidikan harus terusmenerus dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pengajaran matematika di sekolah-sekolah terdapat masalah-masalah yang perlu diperbaiki. kemampuan siswa SMP dalam matematika menempati peringkat ke39 dari 42 negara peserta. semuanya berubah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi(1991:21). interview. Dengan demikian menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan tersebut. I suggestion so that cartoon mathematic can use by teacher for chosen tools in learn mathematic.01 experiment student produce learn increase than control student. masyarakat berubah. The result of study concerns. question. Data dari Third International Mathematics and Science Study¬ Repeat(TIMSS-R) juga mengungkapkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di negara kita berada pada peringkat ke-34 dari keseluruhan 38 negra peserta (Mullis. Dalam data Internasional Achievement Education (IEA). kalau bukan pelajaran yang paling dibenci. pengajaran berubah. The result calculation are mean experiment student high than control student. journal and observation. Kata Kunci: kartun matematika. tetapi juga oleh faktor di luar siswa.

Sedangkan menurut Sadiman dkk (2002:46). diagram. seperti gambar. atau kejadian-kejadian tertentu. misal melalui karyawisata.1995:136). kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi. kunjungankunjungan ke museum atau kebun binatang. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Apakah materi yang disajikan membuat siswa tertarik. kartun data membawa pembaca berfikir sejenak untuk menjadi lebih peka terhadap perkembangan semasa. c. diorama dan lain-lain. menarik dan praktis (Bundhowi 2002:1). Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian. jenis media terbagi menjadi empat yaitu: a. Faktor dari dalam diri siswa itu meliputi kecerdasan anak.Oktober 2008 . ruang dan waktu. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens. grafik. Salah satu yang dapat digunakan ialah kartun. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menarik minat dan memotivasi siswa. 4. Kartun menurut Sudjana dan Rivai (1991:58) adalah pengggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang. Kartun-kartun yang popular seperti Din Teksi oleh Nan dan Epit oleh Lat dapat merangsang minat pelajar. Di Malaysia. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana tanpa detail dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti dengan cepat. b. kartun. seperti slide. Visual-visual konkret yang menggambarkan keadaan dunia sebenar boleh memberi pengalaman konkret bagi memudahkan proses pembelajaran. dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut? Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap matematika? Bagaimanapun kekurangan atas ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah (Sah. Sadiman dkk(2002:6) mengemukakan. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka.mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. bahwa kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang. Media grafis sering juga disebut dua dimensi yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Menurut Sudjana dan Rivai (1991:3). 2. adapun faktor dari luar diri siswa adalah metode penyajian materi pelajaran. kompetensi guru dan kondisi masyarakat luar. Haron (2001) mengemukakan bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. model kerja. Ada beberapa jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran.1991:2). pengajaran dengan menggunakan pelbagai alat visual semakin popular. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang berupa lingkungan. pesan yang besar bisa disajikan secara ringkas dan kesannya akan tahan lama di ingatan. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan siswa dalam belajar adalah metode penyajian materi pelajran. Menurut Dawyer dalam Maizuriah (2000). maka kartun sesuai untuk diterapkan dalam arena pendidikan. poster. pribadi dan sikap guru. Kalau kartun mengena. Hal ini sejalan dengan pendapat Arsyad(2002:26) bahwa: 1. model susun. model penampang. foto. gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. film penggunaan OHP dan lain-lain. mempengaruhi sikap maupun tingkah laku. bagan. situasi. kesiapan anak. masyarakat dan lingkungannya. perasaan. Media gratis. kenyamanan belajar dan minat anak belajar. Kartun sebagi alat Bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. yaitu media dalam bentuk model padat. suasana pengajaran. Model proyeksi. d. Media dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. termotivasi. Kartun juga merupakan satu bentuk visual dengan minat kanak-kanak boleh digunakan oleh guru dalam pengajaran. Media tiga dimensi. Penggunaan visual telah lama diketahui berkeupayaan merangsang pembelajaran. Khusus mengenai media kartun. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera.Salah satu cara menyajikan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. serta komik. interaksi yang lebih langsung. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Penggunaan kartun sebagai media pembelajaran memiliki peranan penting karena dalam tahap ini siswa sangat tanggap terhadap stimulus visual yang lucu.”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. 3. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. “JURNAL. Disamping berfungsi sebagai hiburan. Kebanyakan kartun yang dimuatkan dalam suratkabar atau majalah memperlihatkan berbagai tema dan subjek yang disulami pula warna-warna humor. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya (Sudjana dan Rivai. Malah kartun dianggap sebagai satu wahana yang menghibur dan bisa meredakan ketegangan emosi manusia.

Reardon dan Nourie.98 24.9 11. Latar belakang di atas mendorong penulis mencoba melakukan penelitian untuk melihat pengaruh kartun yang digunakan sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan kualitas sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat.1990:95) dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal.1991:120). penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh media kartun trhadap belajar siswa. Tes awal diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tipe tes yang digunakan adalah tipe tes uraian Alasanya dengan tipe uraian maka proses berpikir.9 50. ketelitian. Instrumen lain sebagai pendukung penelitian ini. yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media kartun matematika. Terjadinya bias hasil evaluasi dapat dihindarkan karena tidak ada sistem tebakan atau untung-untungan (Suherman. Kemudian dipilih secara acak satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol.3 11. Hasil Uji normalitas.3 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal “JURNAL. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK dan sampelnya siswa SMK Negeri 2 Bandung kelas 2 yang dipilih secara acak. yaitu gambar-gambarnya dapat menarik perhatian sehingga pelajaran lebih berarti dan sebagian serta variasi dalam mengajar. selain itu pembelajaran dengan kartun dapat menciptakan suasana gembira. Pemakaian kartun mempunyai dua macam keuntungan berharga. dan sistematika penyusunan dapat dievaluasi. penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi. Sedangkan tes akhir diberikan untuk melihat kemajuan atau peningkatan belajar kcdua kelompok. Beberapa kartun dengan topik yang sedang “hangat”. maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (Ruseffendi. Peneliti mengambil dua kelas dari seluruh kelas populasi. uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata. sehingga menciptakan kegembiraan pula dalam belajar (DePorter. Untuk mengetahui pertambahan kemampuan baik sebelum maupun sesudah percobaan dilakukan. Penelitian Schaffera (Sudjana dan Rivai. Apalagi pada saat usia sekolah kebanyakan siswa masih memiliki gaya belajar visual yang lebih cenderung mengaktifkan ingatannya melalui gambar yang ditangkap oleh mata (DePorter dan Hernacki. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . homogenitas dan ukuran statistik skor pretes dan postes disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: uji Normalitas No 1 2 3 4 Data Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen Pretes Kelas kontrol Postes Kelas Eksperimen Postes Kelas kontrol χ2 hitung 25. putusan dan pertimbangan agar data yang terkumpul sesuai yang kita harapkan. maka siswa yang menjadi sampel diberikan tes awal dan akhir. serta alat evaluasi berupa tes ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pembimbing di sekolah untuk dapat mendapatkan justifikasi. 1998:32). Untuk dapat mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen pengumpul data yang berupa tes awal dan tes akhir.52 30 30 3 3 dk χ2 tabel 50. Berdasarkan uraian di atas.6 5. “Pada umumnya anak-anak mulai menafsirkan kartun-kartun semacam ini pada usia 13 tahun.Oktober 2008 . HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis daa hasil tes dilakukan uji normalitas.Hal senada dikatakan Sudjana dan Rivai (1991:61) bahwa sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajr siswa. 2001:22). kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan”.07 10. Hal ini menunjukkan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat memotivasi yang berguna di kelas. Penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sains dan dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran. bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan pembuka diskusi yang efektif. METODE PENELITIAN Karena penelitian yang dilakukan adalah melihat hubungan sebab akibat yang di dalamnya ada unsur yang dimanipulasi. 1991:59). maka diperlukan angket dan wawancara yang cukup diperuntukan bagi kelompok eksperimen saja. maka desain penelitian ini adalah sebagai berikut: A 0 X1 0 A 0 X2 0 Keterangan: A 0 X1 X2 = = = = randomisasi/acak tes awal = tes akhir perlakuan (pembelajaran dengan kartun matematika) perlakuan biasa(pembelajaran konvensional) Sebagaimana telah diungkapkan di atas. 2000:14). Pembelajaran dengan kartun akan menciptakan belajar yang efektif karena dapat membawa siswa ke dalam suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden.

Sebagian kecil (3.45% dan 64. bahwa pesan-pesan yang diberikan memotivasi semangat belajar.13%) sangat menarik terhadap pembelajaran kartun matematika.38%) menyatakan puas terhadap hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kartun matematika.03%) menyatakan biasa saja dan sebagian kecil (22.Oktober 2008 . sedangkan postes data disajikan dalam distribusi kelompok sehingga dk=3.93%) menyatakan biasa saja. penjelasannya simpel. gambar-gambar yang diberikan dapat menghilangkan ketegangan dan sangat menyenangkan.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Mereka memberi alasan.99(60) < thitung.45% dan 3. harus diperhatikan pula sebagian kecil siswa (22.95 19.< t 0.42 17.25% dan 64. Meskipun demikian.13%) ragu-ragu karena pembelajaran buku kartun sama dengan buku paket.42 1.90% dan 35.46 Ternyata –t 0. Sebagian besar siswa (6. sehingga dk=30. Hampir setengahnya siswa (35.485) menyatakan bahwa pembelajaran dengan media kartun menyenangkan dan lebih cepat memahami materi.325 Pada taraf signifikansi 0. pembacaan rumusnya mudah dipahami dan dimengerti. sedikit menghibur/menimbulkan rasa senang dalam belajar.12 dkl 30 dk2 30 Ftabel 2.48%) menyatakan konsep-konsep yang ada di buku kartun mudah karena konsep disajikan dalam bentuk resume.23%) menyatakan sukar karena isi dan tulisan yang ditampilkan terlalu rumit dan kurang jelas. Hampir seluruhnya siswa (19.Untuk data pretes data tidak disajikan dalam distribusi kelompok.25%) menyatakan tidak senang dengan alasan proses belajarnya kurang bisa dimengerti.03 %) menyatakan ragu-ragu.38 Homogen H0 : σ = σ Hipotesis : Ha: σ ≠ σ Tabel 3: ukuran Statistika Skor Pretes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 1. Sebagian kecil (16. pembelajaran lebih menarik dan penyampaiannya lebih mudah dimengerti.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. cara penyelesaian singkat.99(60) < thitung.58) menyatakan kurang puas karena penjelasan di buku kartun kurang dimengerti.46 Ternyata thitung tidak terletak di –t 0. Kriteria pengujian jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel maka distribusi populasi data normal.12 1. meskipun demikian hampir setengahnya (41.01 dan dk = 60 diketahui ttabel = t 0. Meskipun demikian hampir setengahnya siswa(29.68 312.01 dan dk=60 diketahui ttabel = t 0. Namun sebagian besar (61.28 371. karena beranggapan bahwa meskipun materinya tetap saja ada yang sulit.38 Kesimpulan Homogen 2 1. t 0.06 1.24%) dan (16. “JURNAL.25 31 Kelas Kontrol 1.45 1. Sebagian besar siswa (12. intisari. Hampir setengahnya siswa (29. Hampir setengahnya (48.52%) menyatakan setuju untuk terus mempertahankan pembelajaran kartun matematika.58%) menyatakan biasa saja dengan memberi alasan bahwa isi materi sama dengan buku paket dan tokoh kartunnya kurang cocok. Mereka beranggapan pembelajaran dengan media kartun membuat belajar tidak membosankan.99(60) = 2.99(60) = 2.19 30 30 2. Tabel 2: uji Homogenitas Data Hasil Belajar No 1 Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen dan kontrol Postes Kelas eksperimen dan kontrol Fhitung 1. Tabel 4: ukuran Statistika Skor Postes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 49.29%) menyatakan sedang karena konsep matematika di buku kartun ada yang tidak dimengerti dan tergantung minat.3 Pada taraf signifikansi 0.12 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes awal diperoleh thitung = 0. Selain itu sebagian kecil (6. karena pembelajaran dengan kartun matematika sangat mudah dan cepat dimengerti dan berbeda dengan belajar biasa. dan jika χ2 hitung > χ2 tabel maka distribusi populasi tidak normal.7 31 Kelas Kontrol 34.58 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes akhir diperoleh thitung = 3.52%) siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan media kartun matematika terus dipertahankan. HASIl ANGKeT PeMBelAjArAN KArTuN MATEMATIKA Hasil yang diperoleh hampir seluruhnya menyatakan menarik (61. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .

48%) menyatakan menarik mengenai tokoh-tokoh kartun matematika karena luculucu dan dapat memotivasi kepada siswa. karena belajar jadi tidak jenuh. Penggunaan media kartun matematika dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap prestasi.33% dan 50%) menyatakan aktif bahwa pembelajaran dengan kartun matematika karena mudah dimengerti.6%) menyatakan semangat belajar tinggi dalam belajar kartun matematik. menakutkan bagi siswa dengan pembelajaran kartun matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan siswa.97%) menyatakan senang dengan alasan lebih menarik.22% dan 51. Sebagian besar (12. mempermudah memahami konsep matematika dan siswa terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil wawancara dan jurnal bahwa matematika yang sebelumnya dianggap kurang menarik. Tokoh kartun yang disenangi siwa ialah tokoh kartun lucu.3%) biasa saja dan sebagian kecil (10% dan 3.29%) menyatakan tidak cepat jenuh belajar matematika dengan kartun matematika karena merasa terhibur.7%) biasa saja dan hampir setengahnya (25.63%) menyatakan ragu-ragu semangat tinggi jika soal matematika terjawab. tokoh kartun yang menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan sesuai perkembangan zaman dengan karakter siswa.23%) kurang setuju. Penggunaan media kartu matematika dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika. Sebagian besar siswa (12. 3.6%) biasa saja karena pembelajaran dengan kartun matematika sama dengan buku paket.93%) menyatakan bahwa minat dalam belajar matematika dengan menggunakan media kartun matematika tinggi. lebih menarik.3%) ragu-ragu karena tergantung siswa itu sendiri.23%) menyatakan setuju jika buku kartun matematika disajikan dengan warna sehingga belajar matematika semakin menyenangkan.33% dan 53. karena lebih mudah dimengerti. Hampir setengahnya (43. lebih menarik dan menyenangkan sehingga belajar semakin efektif dann mudah memahami konsep matematika yang dipelajari. Hampir setengahnya (34. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . “JURNAL.3%) suka terhadap pembelajaran kartun matematika karena menarik perhatian. Siswa menjadi aktif.35%) ragu-ragu karena merasa media kartun biasa saja. menarik. Sebagian besar siswa (3.9% dan 41.33% dan 46. KESIMPULAN Pembelajaran matematika dengan kartun matematika secara umum lebih menyenangkan daripada pembelajaran biasa sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi dalam belajar matematika. terhibur. tidak bosan dan pesan-pesan kartun bermanfaat.81% dan 61. Secara khusus dapat disimpulkan: 1.9% dan 48.23%) menyatakan tidak termotivasi karena tergantung pada pembacanya. Hampir setengahnya (38. sehingga memicu kita untuk aktif dalam belajar. Sebagian kecil (19. Hampir setengahnya (3. Sebagian kecil (9.61%) menyatakan termotivasi dalam belajar dengan kartun matematika.7%) ragu-ragu karena tidak mudah bersemangat dan tergantung siswa.16%) biasa saja karena tidak terlalu suka terhadap pelajaran matematika.3% dan 6. tokoh kartunnya memotivasi belajar. Hampir seluruhnya siswa (19. Hampir setengahnya (41.63% dan 70.3%) menyatakan mudah penyampaian konsep matematika yang disampiakan gambar kartun. malas belajar.Hampir setengahnya (35. Siswa memberikan respon baik terhadap kartun matematika karena dapat memotivasi siswa.74% dan 32. Sebagian besar siswa (3. suasana cukup dan lucu. karena mereka menginginkan tokoh kartunnya yang dikenal seperti yang ada di televisi. semangat dan termotivasi dalam belajar. Hampir setengahnya (43. Sebagian besar siswa (3.Oktober 2008 . Seluruhnya siswa (67.39%) menyatakan siswa berkeinginan untuk berhasil dalam belajar melalui pembelajaran kartun matematika karena isi kartun memotivasinya. memberikan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi dan penyampaian dalam buku kartun matematika menyenangkan dan menarik. lebih semangar belajar dan cara belajarnya tidak membosankan.8%) menyatakan kurang menarik. belajar tidak tegang. Hampir setengahnya (33. lebih semangat dan tidak membosankan. Hampir setengahnya (45. Hampir seluruhnya (25.93%) biasa saja dan sebagian kecil (3. cara penyampaian guru diperbaiki. Hampir seluruhnya siswa (9. sesuai perkembangan psikologi siswa.67%) ragu-ragu dan (3. pesan–pesan yang disampaikan memotivasi untuk giat belajar. Sebagian besar (56.3%) menyatakan tidak aktif mereka beranggapan belajarnya kurang dimengerti dan siswa lebih suka melihat kartun daripada mendengarkan pembahasan. 2.29%) menyatakan setuju pembelajaran dengan pesan-pesan dalam kartun karena memotivasi. Setengahnya siswa (38.35% dan 61.

Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. A. Bilik Darjah. Semarang: IKIP Semarang Press Rusyan.. Bandung: Rineka Cipta Sudjana (1992).. Yusuf (1984). Muhibbin (1995). Cece (1998). EO. How Children Learn.. dkk(1989).. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Teknik yang Menarik. Malaysia: Makalah Maizuriah dan Madya (2001). Mohammad (1981).. Bandung: CV Sinar Baru Haron. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Tarsito . Bandung: Tarsito Sudjana. Bandung: Tarsito .. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar... Bandung: FIP IKIP Syah.. Malaysia: Makalah Nasution (2000). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta Lainnya.. Arden N. Yanto (2001).. Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slamento (1992). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar... Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Sadiman.. Mohammed (2001).T (1984).. Bandung: Remaja Rosda Karya. Media Pengajaran. Bandung: CV Sinar Baru Suherwan (2001).. Jeannete Vos (2001). Hernacki. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas.. Kartun Bantu Pengajaran... Media Pembelajaran. (2002). Jakarta: Bumi Aksara Permana. Nana (1989). Bandung: Kaifa De Porter. Penelitian dan Satistika Pendekatan. Mike (1999). Arief S.. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Psikologi Pendidikan. Metode Statistika.. Husen (2002).Oktober 2008 ..Azhar (2002). Skripsi: UPI Wasliman (2002). Bobbi. Jakarta: Erlangga De Porter. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya Dahar. Tabrani.(1991). Gordon Dryden. Nana dan Rivai. Oemar (1984). Tesis. Quanium Learning: Membiasakan Nyaman dan Menyenangkan. Ahmad(1991). “JURNAL.. Metode Statisika. Bandung: Tarsito Sudjana (1996). Utami.. (1957).. Ngalim (1987). Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa SD Melalui Fiksi Ilmiah. E.Reardon.. Kartun sebagai Bahan Motivasi dalam Pengajaran Karangan. Bilik Darjah. Media Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.Zaenal (1988). Jakarta: Rosda Karya Windayana.. Angkasa Arsyad. Sarah Siregar (2000).. Bandung: CV Sinar Baru Sudjana.. Mark dan Nouri. Bobbi. Didaktik Asas-asas Mengajar... Bandung: Remaja Rosda Karya Ruseffendi. UPI Wragg. Skripsi: UPI Bandung Suprian AS. Teori-teori Belajar. Jakarta: Rajawali Hamalik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bandung: Kaifa Hadimiarso.. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bundowi (2002). Perbandingan Kemampuan Siswa SD dalam Memberi Alasan Logis antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Teknik Probbing dengan Cara biasa. New York: McGraw Hill Book Coy. Bandung: Kai fa Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990) Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka Frandsen. Revolusi Cara Belajar. (1997). Bandung: PT. Transport Sebagai Media Pengajaran Fisika pada pokok Bahasan Rangkaian Listrik Searah.. Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. Pengantar kepada Guru Membantu Mengembangkan Potensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Prini (2001). FPTK IKIP Bandung Surya... Lucu.. Jakarta: Grasindo Yousda dan Ariffin (1993). Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA..(1998).DAfTAR PUSTAKA Arifin.. Penggunaan Televisi dalam pengajaran.. Penelitian Pendidikan. Malaysia: Makalah Maizuriah (2001). Ratna Willis (1989). Skripsi Purwanto.dan Praktis untuk Mengajar Bahasa dan Kepekaan Budaya yang Tinggi: Makalah Wijaya. Dasar-dasar Matematika Modern untuk Guru. (1995). Analisis Tingkat Penguasaan Siswa dalam Menyelesaikan Persolan Kontekstual Pada Pembelajaran Matematika....

Informasi tersebut mendasari “JURNAL.. dan penutup) beserta desain evaluasi perkuliahan. Bhattacharya et al. Suratno et al. Kata Kunci: project-based learning.. 2003). Namun demikian. inquiry-riset. berdasarkan pengamatan dan pengalaman terdahulu. 2008) maupun refleksi kegiatan (Clarke. Mempertimbangkan karakteristik mahasiswa tersebut maka sifat dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran adalah dapat mengungkapkan permasalahan dan kesenjangan dari integrasi teori dengan praktik evaluasi pembelajaran (Brattacharya et al. mengindentifikasi ragam praktik evaluasi serta merefleksikannya. Untuk mendukung aktivitas tersebut maka desain perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dibagi ke dalam empat fase (persiapan. 2006). 2007) serta menumbuhkan tingkat pencapaian dan kinerja mahasiswa (Beveridge & Archer.lakukan di lapangan (Jyrhama et al. Pendekatan Project-based Learning dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-guru untuk menentukan permasalahan evaluasi pembelajaran. 2006. (2007) menyatakan bahwa Project based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivisme. tantangannya adalah mengembangkan pendekatan perkuliahan yang dapat menyeimbangkan antara aspek teori dengan praktik serta mengintegrasikan cakupan dari P perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (cf. dosen cenderung menekankan aspek teoretis sehingga kurang mengeksplorasi aspek praksis secara seimbang (c. Oleh karena itu. beberapa dosen belum banyak yang mengoptimalkan potensi dari mahasiswa-guru tersebut.Oktober 2008 . integrated studies dan refleksi yang menekankan pada aspek kajian teoretis dan aplikasinya. Penerapan Project-based Learning dapat memfasilitasi tingkat kemandirian partisipan (Suratno et al. 2006) yang sesuai dengan karakteristik dari mahasiswaguru tersebut. 2006). 2008).Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Abstrak Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa-guru (studying while teaching) memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan antara aspek teoritis dan praktis. Pengembangan pendekatan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran menekankan pada penyediaan kesempatan kepada mahasiswa yang sudah mengajar untuk mengeksplorasi aspek teoretis sekaligus merefleksikan praksis yang selama ini mereka lakukan. implementasi. 2006). problem solving. salah satu pendekatan yang mendekati konsepsi tersebut adalah pendekatan projek atau dikenal sebagai Project-based Learning (Bhattacharya et al. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Karakteristik dari mahasiswa pada program multimoda pendidikan guru seperti itu adalah para mahasiswa -yang notabene adalah guru. Beveridge & Archer. Dari berbagai kajian tentang strategi perkuliahan maupun pelatihan untuk para praktisi.f Azam & Iqbal. Dalam pendekatan Project-based Learning.. 2003) yang hasilnya kemudian disajikan dan direvieu. Untuk menunjang kegiatan Projectbased Learning perkuliahan maupun pelatihan dapat menggunakan berbagai sumber/resources termasuk diantaranya adalah pengamatan lapangan (Suratno et al. Hal ini berarti para mahasiswa tidak terlalu asing lagi dengan materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang akan diberikan. 2006) atau jurnal (Clarke. Dalam pandangan mahasiswa-guru. mahasiswa mengembangkan suatu projek baik secara individu maupun berkelompok untuk menghasilkan suatu produk –misalnya portofolio (Azam & Iqbal. Penelitian ini mencoba menggali aspek dari pengembangan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dengan pendekatan Project-based Learning beserta efektivitas dan pengaruhnya terhadap capaian mahasiswa-guru.. seminar.pada tataran tertentu telah memahami dasar teoritis dan telah melakukan praktis evaluasi pembelajaran (Jyrhama et al. evaluasi pembelajaran lATAr BelAKANG erkuliahan Evaluasi Pembelajaran tahun akademik 2008/2009 melayani mahasiswa-guru PGSD –yaitu mahasiswa yang sudah mengajar atau guru yang sedang melanjutkan studi (studying while teaching). 2006).. 2008). Pemikiran ini dipandang dapat memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan perbandingan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan praksis yang sering guru –mereka dan teman sejawatnya. mengeksplorasi khazanah teoretis.

2006) e. b. Memberikan penjelasan tentang model pemecahan masalah. Tiap kelompok mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi projek mereka. Mahasiswa dikelompokan ke dalam lima kelompok. menganalisis. mahasiswa dapat menggunakana pendekatan The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al.pengembangan desain perkuliahan Project-based Learning dimana mahasiswa-guru tersebut mengidentifikasi projek tentang Evaluasi Pembelajaran dan hasil pengembangan ini diukur untuk melihat efektivitas serta pengaruhnya terhadap capaian perkuliahan mahasiswa. Mengembangkan perencanaan projek.. 4.. Memfasilitasi mahasiswa memahami ragam teori dan praktik evaluasi pembelajaran. 2006). 2006) dan pengembangan sejawatnya (Beveridge & Archer. 2. Mahasiswa a. Dosen a. b.. Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 2. 2008) d. d. Dari fase-fase tersebut diharapkan mahasiswa dapat memperkaya wawasan teoretis dan empiris berdasarkan hasil pengembangan diri –misalnya melalui refleksi terhadap praktik (Blaise et al. Mengembangkan strategi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (Project-based Learning). 1.. c. Mengembangkan instrumen uji pengembangan pendekatan Project-based Learning. Fokus permasalahan berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) (teori dan praktik). Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 4. 3. Melalui strategi ini juga diharapkan dapat terbentuk prototip komunitas belajar praktisi guru yang melakukan kajian ilmiah tentang apa yang mereka lakukan terutama dalam hal evaluasi pembelajaran. 2008) untuk membantu aktivitas eksplorasi projek mahasiswa. c. serta merefleksikan teori dan praktik evaluasi pembelajaran. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? 5. b. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam penyusunan laporan riset projek “JURNAL. Dosen a.Oktober 2008 . Melalui pendekatan ini keterkaitan antara teori dari buku teks dengan praktek di lapangan dari evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa (sebagai guru) dapat terwadahi. b. mengimplementasi dan mendiseminasikan projek yang mereka kembangkan. strategi riset dan pemecahan masalah serta pengembangan laporan. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan. c. Pengembangan Pendekatan Problem-based Learning a. Berdasarkan deskripsi di atas. mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengkomparasikan dengan hasil studi teoritis sehingga mahasiswa dapat menjelaskan ragam praksis yang terjadi serta kaitannya dengan rujukan teoretis tertentu. c. Mahasiswa a. mahasiswa melakukan bimbingan terprogram untuk penyusunan laporan kegiatan projek. Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? TujuAN KeGIATAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan pendekatan Project-based Learning pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. 2. Melakukan riset untuk memecahkan permasalahan. Dari tujuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. DeSAIN PrOGrAM PeMBelAjArAN Desain program perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa PGSD Bumi Siliwangi UPI tahun akademik 2008/2009 dikembangkan berdasarkan prinsip Project-based Learning. Kegiatan perkuliahan dibagi ke dalam beberapa fase yang ditujukan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk merencanakan. Dalam perkembangan risetnya. Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 3. Dalam melakukan riset. Memberikan penjelasan tentang The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Memberikan perkuliahan tentang teori dan praktik evaluasi pembelajaran b. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Meningkatan kualitas perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang tercermin baik dari segi penyelenggaraan maupun pencapaian nilai mahasiswa. Melibatkan satu anggota kelompok mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. Dalam melakukan pemecahan masalah. mahasiswa dapat menggunakan model pemecahan masalah (Bhattacharya et al. Fase Implementasi: 1. penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan berikut terkait dengan implementasi pengembangan PBL: 1. 2. Fase persiapan: 1. dimulai dari identifikasi permasalahan.

Sekelompok mahasiswa mempresentasikan temuan dari projeknya dan kelompok lain menanggapi. diskusi – mahasiswa mendiskusikan hasil projek penelitian Fase IV Penutup Feedback perkuliahan Fase I: Persiapan Projek a. Fase I: Persiapan Projek Identifikasi projek – mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) Fase II: Implementasi Projek a. b. Mahasiswa Memberikan umpan balik dan masukan terhadap jalannya perkuliahan serta pendekatan Project-based Learning yang digunakan. Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Persiapan • Pengembangan instrument (tes. (4) menetapkan skor. Perkuliahan b. input. Desain Evaluasi Program a. Pengembangan strategi perkuliahan (Problembased Learning) b. saran dan rekomendasi d. hal tersebut ditunjang oleh indicator-indikator yang menunjukkan meningkatnya pemahaman teori tentang : (1) menyusun lay out (2) menulis soal. 2. 2006). Pelaksanaan • Monitoring tiap fase • Penilaian Diri c. Memberikan umpan balik.00 33. fasilitasi-moderasi presentasi dan diskusi b. Pengembangan instrument ( tes.55 18. penulis menganalisisnya untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dan posttest. ( 5) reproduksi tes dan (6) analisa empiris terhadap suatu tes hasil belajar. Fase Penutup 1. Memandu dan memfasilitasi kegiatan presentasi dan diskusi b.c. Dosen Memberikan review terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 63. Fase Seminar: 1. Bimbingan dan laporan – mahasiwa progress riset kepada dosen Fase III: Seminar Projek a. wawancara. Pelaporan observasi. Fase III: Seminar Projek a. 2. Tabel 1: Overview Desain Problem-based Learning Mahasiswa Dosen 2. Efektivitas PBL dalam perkuliahan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data di atas. Mahasiswa saling mendiskusikan temuan mereka serta merefleksikan terhadap praksis yang mereka lakukan sehari-hari (Blaise et al. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (3) menata soal.. Mahasiswa a. sebagai berikut: Komponen Pemahaman teori S k o r Skor rata. menyampaikan saran dan rekomendasi 2. Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dengan nilai yang dicapai dalam posttest. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Mengidentifikasi Permasalahan Evaluasi.45 51. “JURNAL. observasi) Fase II: Implementasi Projek a. Dosen a.Oktober 2008 Fase IV: Penutup Review perkuliahan . Perencanaan projek Mahasiswa melakukan penyusunan rencana projek b. yaitu: (1) Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? (2) Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (3) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (4) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? (5) Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 1.10 Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. pembimbingan HASIL PENELITIAN Hasil dan analisis data yang terkumpul berdasar kepada catatan dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam kelas maupun di lapangan diorganisir secara cermat untuk menjawab persoalan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. Informasi tentang perkuliahan c. wawancara) • Perekrutan tim penelitian (mahasiswa) • Pembinaan tim peneliti b. presentasi projek Mahasiswa menyajikan temuan penelitian b. Riset projek – mahasiswa melakukan kajian teoretis dan empiris dari kegiatan perkuliahan dan fenomena di lapangan c.

Ryan. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. dkk. S k o r Skor rata. Bandung Suratno. J. & Brears. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education.Komponen Identifikasi masalah S k o r Skor rata. 2003. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Merencanakan Proyek Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi.30 58. Motivational implications of project-based learning for the preparation of social workers. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. 2 Februari 2008 Yang ditunjang dengan indicator tentang meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan evaluasi hasil belajar. 2006. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. 2006. T. G. Use of portfolios for assessing practice teaching of prospective science teachers. S. 2006. Bhattacharya. November 27-30.50 54. 2006. Paper presented at NZAARE/AARE Conference. Makalah disajikan pada kegiatan Semiloka Program Adopt A Teacher. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. & Desiree. 5. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. Rethinking reflective journals in teacher education. Hal tersebut menunjukkan bahwa PBL efektif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar.10 Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. 2006. Malone. November 27-30. UPI Pres. Faulkner.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 75. Project-based Learning. Bandung Sapriya. November 27-30. M. DAfTAR PUSTAKA Azam. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. S. Andira. Rahmat.Oktober 2008 . 2006. Auckland.85 proyek Komponen “JURNAL. 3. A. Adelaide. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . PBL Approach: A model for integrated curriculum. 2007. 2006.. & Lang.00 47. Dole. 2006. M. 2006. J.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 60 45. 4. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis dan Merefleksikan Keterkaitan antara Teori dengan Praktik Evaluasi Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. Beveridge. K. dkk.30 60. Adelaide.15 5.85 proyek Komponen Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 65 44. 2003. Cece. Adelaide. Blaise. November 27-30. MacIntyre. H. Reflection: Journal and reflective questions –A strategy for professional learning. M. J.. A. Iqbal. S. B. 2006. M. L.60 7. Dharma. Archer. Adelaide. Latham. Nov 29-Dec 3. Persepsi mahasiswa terhadap PBL Berdasarkan pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa terjadi perubahan kea rah positif dalam hal persepsi mahasiswa terhadap PBL sebelum dan sesuadah melaksanakan kegiatan di lapangan.15 12. Clarke. Skor Skor rata. Teacher Institute Sampoerna Foundationa Jakarta.

Oktober 2008 . commonsense theories ataupun yang dikenal sebagai alternative conception. dalam pembelajaran dan pengajaran sains (Osborne & Freyberg. Mengapa konstruktivisme memandang penting alternative conception dan mengapa ACM begitu mendunia terutama dalam periode 1980-1990an? Setidaknya terdapat tujuh klaim utama yang mendasari ACM (Wandersee et al. 1992). memonitor (monitoring) dan mengarahkan (directing) proses membangun pengetahuan. 1994) meliputi: 1. Kata Kunci: konstuktivisme. 2002b). Kajian idiographic memunculkan istilah pupil’s ideas. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara apa yang sedang diajarkan dengan apa yang sudah diketahui. konstruktivisme memandangnya sebagai suatu proses sosial [wacana] membangun pengetahuan [yang ilmiah] yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. Oleh karena itu. terus dipergunakan siswa dan cenderung sukar diubah. Konstruktivisme memandang penting faktor pengalaman siswa yang berupa pengetahuan dan keyakinan yang dibawa siswa ke dalam pembelajaran yang cenderung membentuk miskonsepsi/alternative conception. bersifat kuantitatif dan menggunakan inferensi statistik. konsepsi alternatif. 1994) membagi dua macam penelitian mengenai konsepsi alternatif yaitu kajian nomothetic (penyimpangan dari konsep standar) dan kajian idiographic (pemahaman mengenai obyek maupun peristiwa). Dalam hal ini. Metode yang diadopsi adalah metode yang biasa digunakan oleh antropolog. sementara siswa mengenali (recognise). Driver & Easley (1978. Biasanya mengkaji pandangan siswa tentang obyek dan fenomena serta dianalisis berdasarkan terminologi yang siswa gunakan. bersifat naturalistik serta subyeknya sedikit tetapi mendalam. 1994. Fenomena penelitian ACM sebenarnya diilhami dari penelitian yang dilakukan oleh Piaget (1920-an) berkenaan dengan pemahaman anak mengenai dunia/ alam di sekitarnya melalui metode wawancara klinis serta disertasi Driver yang mencoba memasukannya ke dalam konteks kelas (Gunstone. guru berperan dalam menghubungkan (linking). sumber bacaan dan guru. Gunstone. pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan konseptual. Dalam merespon pandangan ini. (2) sifatnya laten. Kajian nomothetic memunculkan beragam istilah seperti naïve conception ataupun istilah yang lazim dikenal sebagai miskonsepsi. dikarenakan: (1) konsepsinya berbeda dengan konsep ilmiah. implikasi perspektif konstruktivisme dalam penelitian Constructivism deals with questions of knowledge-what knowledge is and where it comes from…I prefer to call it a theory of knowing rather than a theory of knowledge. seringkali pengetahuan awal dan pandangan siswa bersifat miskonsepsi/salah pengertian ataupun berupa alternative conception/pengertian alternatif. Guru sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai konsepsi siswa. Alternative conception dipandang sebagai faktor penting . Sumber alternative conception bisa berasal dari diri siswa. 1985). children’ science/view/understanding. memadukan (integrate). Penggunaan istilah alternative conception ketimbang miskonsepsi pada tema penelitian konseptual (conceptual research) ini dilandasi keluasan istilah tersebut ketimbang istilah miskonsepsi (bisa disimak pada bagian kajian nomothetic dan idiographic). Biasanya kajian nomothetic menggunakan tes tertulis. Siswa membawa berbagai konsepsi mengenai obyek dan fenomena alam dan seringkali tidak sesuai dengan konsep ilmiah. perubahan konseptual KONSTRUKTIVISME DAN fENOMENA RISET ALTeRNATive CONCePTiON MOveMeNT onstruktivisme memandang bahwa pengetahuan individu merupakan hasil dari proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam sistem kognisi individu.. 1985). Wandersee. K Konstruktivisme memandang penting alternative conception yang dimiliki dan diyakini siswa.penghambat bagi pembelajar dan rujukan bagi guru. (von Glasersfeld. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno Abstrak Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan proses membangun pengetahuan yang dilakukan individu.Konstruktivisme. pendidikan sains adalah merebaknya penelitian mengenai alternative conception atau lazim dikenal sebagai alternative conception movement (ACM). Dalam pembelajaran. “JURNAL. Akan tetapi. 2002a). mengevaluasi (evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya. Tulisan ini membahas implikasi perspektif konstruktivisme dan fenomena riset alternative conception movement (ACM) yang mendasari pandangan pembelajaran sebagai membangun pengetahuan melalui proses perubahan konseptual. pandangan dan keyakinan peserta didik serta pengaruh pendidik (Tobin et al.. memperluas (extend). dan (3) sukar dideteksi oleh guru (Osborne & Freyberg. masyarakat.

Siswa. intelligible. Piaget dan Posner et al. Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing). Guru pun memiliki alternative conception sehingga terjadi salah tafsir dalam memahami konsep sains. (1982) pada intinya. (1982): ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada. Oleh karena itu. penggunaan analogi serta strategi metakognisi sepertinya sangat menjanjikan. Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep. 4. penggunaan bahasa sehari-hari. Negosiasi pemahaman sangat mempengaruhi zona proksimal individu. dapat memecahkan permasalahan terdahulu serta konsisten dengan teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. asimilasi akomodasi dan ekuilibrium (Piaget. Bila mengacu pada pandangan konstruktivisme psikologi personal. Oleh karena itu. Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligible). cenderung membawa alternative conception yang berasal dari pengalaman pribadi maupun hasil interaksi sosial. Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone (1994) sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al. Gunstone (1994) mendefinisikan perubahan konseptual”…the abandonment of one conception and the acceptance of another”.2. usia. terdapat tiga proses kunci yang dilakukan individu dalam membangun pengetahuan yaitu. 2. suatu rentang pemahaman dalam sistem kognisi individu. plausible dan fruitful. IMPlIKASI DAlAM STrATeGI PeNGAjArAN SAINS Inti dari implikasi hakikat perubahan konseptual terhadap strategi pengajaran sains adalah membantu siswa memahami konsep sains. 1997). 6.. 3. Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful) dalam pengembangan penelitian atau penemuan yang baru. kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu. istilah perubahan konseptual penulis definisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya [konsepsi dan keyakinan] bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya. 1994). Banyak strategi maupun model pengajaran yang telah dirancang oleh para pakar “JURNAL. Dalam proses perubahan konseptual. tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya [bersifat miskonsepsi] pada konteks lain. konteksnya berbeda. Artinya. karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone. Pendekatan perubahan konseptual melalui strategi konflik kognitif. HAKIKAT PROSES PERUBAHAN KONSEPTUAL Inti pembelajaran dalam perpektif konstruktivisme melibatkan proses perubahan konseptual. 1982). (1982) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. Terdapat kesamaan antara penjelasan saintis yang tergugurkan teorinya dengan alternative conception siswa. kemampuan dan latar belakang budaya. 4. Terdapat empat syarat yang menjembatani proses akomodasi. Kemudian. kegiatan diskusi kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami dan mendalami suatu prinsip/konsep yang diperoleh orang tersebut dari interaksinya dengan sejawatnya. dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. Ini memerlukan kajian mengenai bagaimana siswa berpikir. Vygotsky menekankan faktor bahasa dan interaksi kelompok mempengaruhi proses membangun pengetahuan individu. Alternative conception sangat sulit di’berantas’ dan sifatnya beragam. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsepsi yang telah ada. Akan tetapi. terutama metakognisi. beberapa hal perlu dikaji lebih lanjut terutama berkenaan dengan strategi siswa merubah konsep yang sebenarnya maupun strategi metakognisi. 7. Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible). akan tetapi pada dasarnya terdapat dua kondisi umum dari perubahan konsep yaitu mengganti [bersifat radikal/ revolusioner] ataupun menambah [bisa juga mengurangi] dengan konsepsi lain yang dianggap tepat konteksnya [evolusioner]. Sementara Posner et al.. terutama secara empiris. 1984). siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu. Wadsworth. terutama bila terjadi alternative conception. Melacak dari mana asalnya alternative conception sangatlah sulit. Akomodasi merupakan proses konflik kognitif karena skema dengan fenomenanya berbeda (Piaget). siswa menggunakan konsepsinya yang telah ada untuk merespon fenomena yang baru. yaitu: 1. Namun demikian. Namun gejala alternative conception yang terjadi di berbagai populasi dan budaya mencerminkan adanya kesamaan pengalaman budaya siswa dalam hal observasi alam. faktor-faktor apa yang mendasarinya dan bagaimana kaitannya dengan proses belajar di kelas. Melalui asimilasi. Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . rasional dan dapat memecahkan permasalahan atau fenomena yang baru. berdasarkan gender.. 3. Posner et al. Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual. Sementera itu. 1997). mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan. pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone. apakah seluruh konsepsi awal siswa dirubah secara keseluruhan? Mungkin saja.Oktober 2008 . pengaruh media massa serta pengalaman belajar di kelas. Siswa akan mengubah konsepsinya bila siswa merasa konsepsi yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk merespon fenomena atau pengalaman baru. (1982) memiliki konsepsi yang agak berbeda terutama dalam konsepsi akomodasi. Diperlukan kajian sejarah sains bagi siswa. Menurut perspektif konstruktivisme sosiokultural. asimilasi terjadi karena pengetahuan awal siswa sejalan/berhubungan dengan fenomena dan belum terjadi perubahan skema/konflik kognitif (Piaget) ataupun perubahan konseptual (Posner et al. Menurut Piaget dan Posner et al. (1982) berpandangan lebih luas dimana akomodasi merupakan proses perubahan konseptual dikarenakan konsepsi siswa tidak sesuai dengan fenomena yang baru. konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. 5. Diperlukan strategi perubahan konseptual.

. “JURNAL. von Glasersfeld. Deborah J.com]. Pada tahap persiapan.. Mintzes. Carr (Ed. Dalam menerapkan strategi perubahan konseptual. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick¬_Gunstone@ Education.edu. mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. Richard White (Ed). guru menjelaskan konsep-konsep dasar. 1987). The Content of Science: A Constructivist Approach to its Teaching and Learning. New York: MacMillan. Research on Instructional Strategies for Teaching Science.. Menyediakan advance organizers. Gunstone. Hewson. Barry J. tetapi juga aktif dalam melatih keterampilan inkuiri seperti mengemukakan penjelasan. pada dasarnya. Proses Siswa Berpikir Strategi Pengajaran DAfTAR PUSTAKA Gunstone. and Gallard. Ernst (1992). (1994).. S. Pengenalan Konsep IPA Berupaya mencapai pemahaman awal tentang konsep ilmiah. mengenalkan konsepsi melalui struktur tugas dan aktivitas yang bermakna. In Marcia K. Ian J. 1987) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual.. Metacognition and Conceptual Change. (2002a). (2002b).) Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas. Osborne.edu. John Wiley and Sons.. Faculty of Science Education. 1987) Antisipasi Persiapan Siswa mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap proses pembelajaran. Alexandria VA: Oak Brook. 2. Monash University. Piaget’s Cognitive and Affective Development. Roger.Oktober 2008 . Tobin... G. Pearsall Scope. sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson. The National Teacher Association. In B. and Coordination of Secondary School Science: Relevan Research Volume 2. Posner. Peter. Richard F.au] to Tatang Suratno [suratno169@hotmail. dari berbagai bukti dari praktikum dan dari hasil komunikasi dengan sesama siswa maupun guru. (1984).au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. Constructivist Learning and the Teaching of Science. Di kelas. mengajukan pertanyaan dan merangsang penjelasan anak. membandingkan miskonsepsi dan konsepsi ilmiah. Charles W. memikirkan fenomena alam dan penjelasannya dengan menggunakan bahasa sendiri.com]. menuliskan peristiwa dan objek sehari-hari.monash. siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam.. and Novak Joseph D.. tidak hanya aktif dalam hal mempelajari fakta. tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi (Tabel 1). Wadsworh. guru sebaiknya memandang kelas sebagai suatu learning community (Anderson. Anderson. (Diadopsi dari Anderson. memfasilitasi observasi. Sequence. D.. (1987). In Peter Fensham. Tippins. Research on Alternative Conception in Science. Richard F. 88. diskusi.com]. and E. William A.pendidikan sains. mencoba menangani kesulitan belajar.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. Gunstone. Kenneth. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Auckland: Heinemann. dan mencoba menginternalisasi konsep inti yang tidak terlalu sulit. Secara eksplisit menjelaskan keterkaitan hubungan antar konsep dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick_Gunstone@Education. Pada tahap penyajian.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. and Mitchell. Science Education Vol. Dalam suatu learning community yang ideal... siswa belajar dari berbagai sumber termasuk buku teks maupun guru. Strategic Teaching in Science. Menekankan prinsip dan teori kunci. Richard F. F. (1994). Pada tahap penerapan dan integrasi.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. deskripsi. No. prediksi dan mengontrol obyek dan peristiwa alamiah. The Importance of Specific Content in the Enhancement of Metacognition.edu. New York: MacMillan. Wandersee. Kenneth A. Richard F. Alejandro Jose.. London: The Falmer Press. (1985). Jones. Ogle. George J. (1997). Tabel 1: Planning Guide for Teaching fir Conceptual Change. Palinscar. 211-227. Richard Gunstone. Questions and Answers about Radical Constructivism. monash. Gabel (Ed. Aplikasi dan Integrasi Memahami prinsip dan teori ilmiah.. and Gertzog. A. In Dorothy L. Namun. Peter W. (1994). dan memahami antar hubungan antara konsep ilmiah dengan konsepsi yang dimilikinya. Faculty of Science Education. Faculty of Science Education. James H. and Freyberg. Monash University. siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami. Accomodation of a Scientific Conception: Toward a Theory of Conceptual Change. Learning in Science: The Implication of Children’s Science. penalaran kreatif. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick-_Gunstone@Education. Monash University. Gunstone. menampakkan kesadaran dan motivasi untuk belajar. monash.. Gabel (Ed. Constructivism and Learning Research in Science Education.. (1982).. S. Joel J. In Dorothy L. Strike.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->