Pengantar

Nomor: 10 - Oktober 2008

Sejumlah tulisan yang ditampilkan pada Jurnal Pendidikan Dasar edisi Oktober 2008 ini, berupa hasil penelitian lapangan maupun kepustakaan yang difokuskan kepada konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tulian dan hasil pikiran yang kesemuanya menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dasar, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dalam pelaksanaan teaching learning, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. Lely Halimah, menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 Laboratorium UPI Kampus Cibiru dalam kesimpulannya antara lain menyebutkan bahwa perkembangan kosa kata mempunyai epranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa sekolah dasar. Nina Sundari, menampilkan tulisan hasil penelitian berjudul Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tini Rustini, menampilkan hasil penelitian berjudul Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berfikir Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tatat Hartati, hasil penelitiannya berjudul Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi, menyimpulkan bahwa kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang dengan penelitian-penelitian yang berkualitas secara bersama-sama. Rustono, dkk, menuliskan hasil penelitian berjudul Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar. Dadan Djuanda, menuliskan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, mendeskripsikan bagaimana pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Nurdina Hanafiah menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pengembangan Decision Making Model dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, menyimpulkan bahwa model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternative pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Maulana, menuliskan hasil penelitian berjudul Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa PGSD, menyimpulkan bahwa proses ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena decision making process model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan berfikir kritis siswa. Beberapa tulisan yang tampil untuk memperkaya jurnal edisi kali ini adalah; Dindin Abdul Muiz Lidinillah, Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar, Supriadi, Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika, dan Yahya Sudarya, Project Based Learning dalam pembelajaran Evaluasi Belajar mahasiswa PGSD. Oktober 2008 REDAKSI

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Jurnal Pendidikan Dasar
Daftar Isi

Nomor: 10 - Oktober 2008
Halaman (2) (3 - 9)

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Lely Halimah Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Nina Sundari Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar Rustono W.S. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno

(10 - 13)

(14 - 17)

(18 - 20) (21 - 27)

(28 - 32)

(33 - 38)

(39 - 45)

(46 - 51) (52 - 57) (58 - 61)

(62 - 64)

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
Lely Halimah Abstract Based on the preliminary study, it is shown that the teaching and learning process of Bahasa Indonesia in the 4th grade of SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru is not yet conducive to develop the Indonesian language skill of the students. One of the sources of the problem is that the teaching and learning process of bahasa Indonesia applied by the teacher refers to only one source for one semester, which is the text book. Consequently, the students seems unenthusiastic in attending to the teaching and learning process, and don’t have a chance to actively participate and to communicatively use Indonesian language, so that the language skills of the students are not well developed. In such condition, some efforts are required to improve the quality of the teaching and learning process, in order to increase the quality of the result. To overcome this condition, a classroom activity/treatment research is conducted --a kind of reflexive research performed by giving certain treatments to improve or and to increase the class activities in a more professional way. In general, the objectives of this research is to increase/enhance the quality of the process and the result of teaching Bahasa Indonesia by way of developing creativity of the teachers’ in exploiting the students’ surroundings as learning sources. To achieve the objectives of the research, the procedures are generally referred to the classroom research activity, as in Lewin’s Model (Elliot, 1991), and in particular develop the procedure of PTK adaptation of Hopkins, 1993), which includes planning, performing, observation, and reflection. In accordance with the procedures, this research is developed into three cycles, of which each cycle develops different themes. For instance, cycle 1 develops the theme of Newspaper, which is then developed/extended into three actions. Cycle 2 develops the theme of Houseplants, which is then developed/extended into three actions. Cycle 3 develops the theme of School Library, which is then developed/ extended into two actions. The focus of each action of utilizing the environment as learning source is giving the students a chance to actively participate by using the language in a communicative way. The conclusions of the research are as follows: (1) the utilization of the environment as an effective learning source, by giving the students a chance to interact/get involved with various learning sources, the people, the materials, the equipments, the techniques, as well as the environment itself, (2) the conducive activities of the students, by giving the students the assignments that encourage them to use the language in a communicative way, such as interviewing, descriptive writing on their object of observation, and (3) the impact of utilizing the environment as learning source, which is shown by the gradual improvement of the students’ language skills, which include listening, speaking, reading, and writing. As shown by the statistic, out of 16 respondents of this research, in cycle 1 action 1, there are only 6 students (37,5%) with good listening skill. But in cycle 3 action 2, there are 12 students (75%). And in cycle 1 action 1, there are only 4 students (25%) with good speaking skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Similarly, in cycle 1 action 1, there are only 9 students (56,25%) with good reading skill. But in cycle 3 action 2, there are 11 students (68,75%). And finally, in cycle 1 action 1, there are only 5 students (31,25%) with good writing skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Suggestion for future researchers is that the utilization of the environment as an effective learning source for the development of the students’ language skills requires good and constructive planning in preparing and providing the materials, media, methods, and other sources existing in the surroundings, as well as the evaluation. Keywords: learning source and language competence PENDAHULUAN endidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan

P

bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Bagaimana aktivitas peserta didik yang kondusif. kepala sekolah. maka yang menjadi fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. maka melalui penelitian ini. bahkan hasil penelitian kemampuan membaca tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA. 2. Mengidentifikasi aktivitas belajar berbahasa Indonesia yang kondusif dalam menumbuhkembangkan kompetensi berbahasa peserta didik selama proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar. dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama pembelajaran bahasa Indonesia? 3. maka peneliti menjabarkan ke dalam sub-sub masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian berikut ini. peserta didik belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan hanya mengandalkan dari satu sumber yaitu buku paket. Mengidentifikasi dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia terhadap peningkatan kompetensi berbahasa peserta didik. Dari berbagai hasil temuan masih banyak diungkapkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia serta hasilnya belum sebagaimana yang diharapkan. 3. 2001: xxxi) mengemukakan hasil observasinya di beberapa negara bahwa anak-anak Indonesia “rabun membaca dan lumpuh menulis. Berdasarkan temuan empirik terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. minat dan motivasi belajar yang tinggi terhadap peserta didik. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh gambaran pada umumnya pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru tersebut belum kondusif terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik. Bagaimana cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut. yaitu melalui penerapan metode penelitian tindakan kelas dalam pemberdayaan lingkungan di sekitar peserta didik sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Rofi’uddin dan Zuhdi (1999: 37) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan lulusan sekolah dasar dalam hal baca-tulis terus dikumandangkan. Bagaimana meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia? Untuk memecahkan masalah tersebut. peneliti dan guru berkolaborasi secara inkuiri reflektif untuk memperbaiki proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik. maka peneliti bersama kepala sekolah dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru merasa perlu adanya upaya-upaya perbaikan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya agar kompetensi berbahasa peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal. Dari hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. (3) memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber belajar dan mengkomunikasikan baik lisan maupun tulis. 1992) menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang menjadi sampel penelitian. maka peneliti melakukan studi pendahuluan yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru SD laboratorium UPI Kampus Cibiru. Mengidentifikasi cara-cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik. sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? 2. Tepatnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia terendah di kawasan ASEAN. Bagaimana dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia terhadap kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? Berdasarkan rumusan permasalahan di atas. yang salah satunya adalah guru terlalu terikat dengan buku paket bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia Dengan kata lain. Setelah diadakan refleksi secara kolaboratif dengan guru-guru tersebut ditemukan berbagai faktor penyebabnya. (4) memberikan pengalaman yang bermakna dalam melakukan berbagai aktivitas berkomunikasi baik lisan “JURNAL. maka ditetapkan alternatif tindakan yang dapat memecahkan masalah yang bersifat praktis dan inovatif. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan penelitian ini. Penyebabnya pada umumnya mengungkapkan bahwa kegagalan itu bersumber pada guru dan metodologi pembelajaran serta sumber daya pendidikan yang kurang menunjang. (2) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dengan berbagai nara sumber. Lebih parah lagi Ismail (Jalal dan Supriadi. 1.yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan. terutama bagi peserta didik di antaranya (1) menumbuhkan antusias. dan dari hasil diagnosis secara kolaboratif antara peneliti. TUJUAN DAN MANfAAT Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia di SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Seiring dengan adanya berbagai temuan di atas. 1. melalui pengembangan kreativitas guru dalam pemberdayaan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar kehidupan peserta didik. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas.

Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). Dengan demikian. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Semakin kita gali semakin banyak yang didapatkan oleh peserta didik. Language is central to the individual’s process of self-discovery and self-definition. (4) lebih memantapkan pembelajaran. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimuli) terhadap individu. Sumaatmadja (1996: 30) memaknai lingkungan sebagai ”segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat pertumbuhan manusia yang bersangkutan. karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pengajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit. yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi. cahaya. (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional. sumber belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya. terutama dengan adanya media massa. Sebagaimana dikemukakan Mangieri. air sungai.” Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Solchan (1994) dilihat dari ragamnya. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. dkk. reading ability and culture). Sejalan dengan pendapat di atas. Sedangkan dilihat dari sifat pengembangannya. yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih jauh. maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi. serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill) khususnya kemampuan akademik. yakni (a) sumber belajar insani. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik. serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Salah satu upaya yang dapat membantu peserta didik memiliki strategi komunikatif tersebut. lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai ekonomis. di samping memperluas dan meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif.. dan (b) learning resources by utilitarian. (5) memungkinkan belajar secara seketika. It is the means by which people explore and structure their worlds”. (6) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas. Depdikbud (Soschan. sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi. baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. 1994) mengemukakan bahwa penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran pada umumnya mempunyai berbagai fungsi. di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. TINJAUAN PUSTAKA Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia. Untuk itu. juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity) pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading. Dengan kata lain. Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut ini. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli. Esensi dari penelitian tindakan kelas ini merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat. Djahiri (1992) mengemukakan pula fungsi sumber belajar. matahari. dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. pepohonan. dan (b) sumber belajar non insani. dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. Menurut Soedarsono (1996) penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. dan (5) meningkatkan kompetensi dan kreativitas berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan. Although others play significant role in this process. Menurut sifat dasarnya. (1984: 1) bahwa “Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their world. Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat penting. dan sebagainya. pembentukan sikap (concept formation = self concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill). education is essentially something people must do for themselves. misalnya udara. “JURNAL. yaitu (a) learning resources by design. yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar dan sifatnya insidental.maupun tulisan. Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar kita. (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran. rerumputan. pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. sumber belajar dapat dibagi dua.Oktober 2008 .

Melalui tindakan ketiga ini. b) Tindakan kedua. setiap siklusnya ditetapkan satu tema. untuk membaca buku cerita yang diminatinya dan kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut. sebagai sumber belajar peserta didik. c) Tindakan ketiga. 3) Siklus ketiga tema “Perpustakaan Sekolah” a) Tindakan kesatu.1993) “JURNAL. dan prosedur pelaksanaan penelitian. Pelaksanaan Pada tahap ini sesuai dengan prosedur pengembangan program tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus. yang disesuaikan dengan tuntutan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia. Melalui tindakan ini. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . untuk mengamati berbagai jenis tanaman hias dan dan melakukan wawancara dengan penjual tanaman hias. Pelaksanaan tindakan ini dibagi menjadi tiga siklus. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan salah satu jenis tanaman hias. guru mengajak peserta didik ke perpustakaan sekolah untuk mencatat judul-judul buku dan pengarangnya serta melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan. dan refleksi (reflect) (Kemmis & Tagart. sumber belajar berkomunikasi adalah macam-macam tanaman hias yang terdapat di halaman sekolah. (3) menyusun instrumen untuk pelaksanaan observasi dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. d. b) Tindakan kedua. dan analisis kondisi lingkungan sekolah. b. b) Tindakan kedua. pengewasan (observer). guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan membawa surat kabar sebagai sumber belajar peserta didik dalam belajar keterampilan berbahasa. siklus dua tiga tindakan. c) Tindakan ketiga. serta konfirmasi berkaitan dengan tugas guru dan peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran. Untuk lebih jelasnya gambaran setiap siklusnya adalah sebagai berikut ini. Observasi Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pengamatan terhadap seluruh aktivitas pembelajaran. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan (plan). 1981 dalam Hopkins. Dari hasil perenungan ini akan diperoleh berbagai temuan menyangkut tindakantindakan guru yang sudah efektif dan yang belum efektif serta dampaknya terhadap proses belajar peserta didik. dan (4) membuat kesepakatan bersama guru dalam pemanfaatan waktu pelaksanaan pembelajaran.Oktober 2008 . Observasi ini dilakukan terutama untuk melihat proses dan dampak dari tindakan guru terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Temuan-temuan ini menjadi bahan diskusi antara guru dan peneliti untuk merancang perbaikan pada tindakan Gambar 1: Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari Hopkins. waseso. 1992. guru mengundang penjual surat kabar ke sekolah. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan informasi yang terdapat pada surat kabar. 1994). analisis kurikulum bahasa Indonesia. yaitu tematik. memadukan empat keterampilan berbahasa. guru mengajak peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah. McNift. dan siklus dua terdiri dari dua tindakan. pelaksanaan (act). dan peserta didik belajar berkomunikai melalui berbagai informasi yang terdapat pada surat kabar. seperti siklus satu terdiri dari tiga tindakan. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan berbagai tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. 2) Siklus kedua tema “Tanaman Hias” a) Tindakan kesatu. Melalui tindakan ini peserta didik belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan bukubuku yang ada di perpustakaan. (2) mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumer belajar. Observer mencatat kejadian-kejadian penting untuk kemudian dihimpun sebagai catatan lapangan selama proses berlangsungnya pembelajaran. peserta didik mengamati surat kabar untuk mendeskripsikan tentang surat kabar. Melalui tindakan kesatu ini. 1993. peserta didik mengamati berbagai surat kabar yang dibawa oleh penjual surat kabar dan melakukan wawancara langsung dengan penjual surat kabar. guru mengajak peserta didik mengunjungi tempat penjualan tanaman hias.a. c. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : (1) analisis kebutuhan perkembangan peserta didik. Jadi secara keseluruhan terdiri dari tiga siklus dan delapan tindakan. Refleksi Refleksi adalah tahap di mana antara guru dan peneliti duduk bersama untuk merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan oleh guru. 1) Siklus kesatu tema “Surat Kabar” a) Tindakan kesatu. dan komunikatif. Setiap siklus jumlah tindakannya berbeda.

membuat pertanyaan untuk melakukan wawancara dengan nara sumber. Untuk siklus pertama. mengamati langsung tanaman hias dan mewawancari langsung penjualnya. di antaranya adalah pedoman wawancara. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .75%. maka digunakan instrumen penelitian. pelaksanaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut ini. Dari keseluruhan tahapan di atas. HASIL DAN PEMBAHASAN Dilihat dari proses belajar peserta didik. dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana dianjurkan oleh Nasution (1988). Berbagai aktivitas penggunaan bahasa secara komunikatif yang dilakukan peserta didik. sebagaimana dikemukakan di atas. dapat digambarkan alurnya sebagaimana dikemukakan pada Gambar 1. Semuanya itu dari jumlah peserta didik 16 orang yang menjadi responden penelitian ini.Oktober 2008 . Untuk mengetahui makna dari penelitian ini. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara “JURNAL. dan menulis untuk setiap siklusnya mengalami peningkatan. yang meliputi menyimak. mewawancarai tukang koran. dan pada siklus ketiga tindakan kedua peserta didik yang kemampuan membacanya baik menjadi 68. Kemampuan berbicara pada siklus pertama juga mengalami peningkatan. alat perekam elektronik.5%. 2. berbicara. seperti mereka membaca surat kabar secara langsung. membaca. di antaranya peserta didik mengamati suatu objek kajian dan melaporkan hasil pengamatannya. dan (3) membuat kesimpulan dan verivikasi. analisis dokumen. menulis deskripsi sesuai hasil pengamatannya. seperti pada tindakan ke satu jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik 25%. dan pada siklus ketiga tindakan kedua menjadi 62. Gambar 2: Kemampuan Menyimak Gambar 3: Kemampuan Berbicara Gambar 4: Kemampuan Membaca Gambar 5: Kemampuan Menulis Peningkatan kemampuan berbahasa sebagaimana dikemukakan di atas. Dilihat dari kemampuan berbahasa Indonesia. ternyata sangat ditunjang oleh kondisi meluasnya cakrawala sosial peserta didik. membaca berbagai buku bacaan yang ada di perpustakaan. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan pada siklus kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan membacanya baik 56. mewawancarai petugas perpustakaan dan sebagainya yang semuanya itu ternyata efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. Instrumen Penelitian Sesuai dengan tahapan penelitian. pedoman observasi dan catatan lapangan.selanjunya. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia telah terbukti kondusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. maka analisis data dilakukan pada setiap tahap pengumpulan data.25%. seperti pada tindakan kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan menulisnya baik 31. Data yang dihimpun itu. melakukan wawancara langsung dengan nara sumber. dan siklus ketiga tindakan kedua jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik menjadi 62. dan tes (pretest dan posttest) 3. membaca berbagai judul buku dan pengarang. Kemampuan menulis pada siklus kesatu juga mengalami peningkatan. (2) display data.5%. Analisis Data Pada dasarnya analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara berkelanjutan dari hasil stusi pendahuluan. 5%. yaitu (1) reduksi data. menceritakan kembali isi teks yang telah dibacanya.25%. tindakan ke 1 jumlah peserta didik yang kemampuan menyimaknya baik adalah 37. meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. dan akhir pelaksanaan program tindakan. dan pada siklus ketiga yang kemampuan menyimaknya baik menjadi 75%.

langsung oleh peserta didik sangat menunjang terhadap perkembangan pembendaharaan kata mereka. Perkembangan kosakata mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin kaya kosakata yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. bahkan kualitas keterampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya (Suhendar dan Supinah, 1992: 103). Untuk itu, agar pembelajaran bahasa berkualitas dalam mengembangkan kompetensi komunikatif peserta didik, Logan, dkk. (1972: 18) memberikan arahan bagaimana guru harus menciptakan pembelajaran bahasa, di antaranya guru harus memberikan kurikulum bahasa yang berorientasi pada terciptanya kesadaran yang penuh akan kebutuhan peserta didik untuk penemuan, penjelajahan, berimajinasi, menciptakan dan berkomunikasi dalam lingkungan komunikasi yang bermakna. Dalam seting belajar, guru akan mengembangkan kurikulum yang mengutamakan situasi yang alamiah sebagaimana anak secara alamiah belajar dan menggunakan bahasa. Dengan kata lain, guru akan memberikan seting pembelajaran di mana peserta didik dilibatkan dalam menyimak, berbicara, untuk mengkomunikasikan ide-idenya dan perasaannya sebagai dasar pengembangan kemampuan berbahasa tulis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas berbahasa, dan juga dapat meningkatkan kompetensi komunikatif peserta didik. Adapun cara yang efektif dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan cara menghadapkan peserta didik secara langsung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 2. Aktivitas peserta didik yang kondusif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberikan dampak yang positif, terutama terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan secara bertahap baik kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Saran-saran 1. Bagi Guru, hendaknya lebih kreatif lagi dalam memilih sumber-sumber belajar yang berasal dari lingkungan peserta didik. Selain kreatif dalam memilih sumber belajar tersebut, juga kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara komunikatif baik lisan maupun tulis. 2. Bagi Peneliti Lebih Lanjut, kondisi yang harus dipenuhi (suport system) dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa di antaranya perencanaan yang matang dan konstruktif baik dalam mengkonstruk bahan belajar, media, metode, dan sumber-sumber belajar yang berada di lingkungan sekitar, serta penilaiannya. DAfTAR PUSTAKA Azies, Furqonul dan Alwasilah, A. Chaedar (1996) Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Elliott, John. (1991) Action Research for Education Change. Philadelphia: Open University Press. Fisher, Carol J. & Terry C. Ann (1982) Children’s Language and the Language Arts. New York: McGraw-Hill Book Company. Kennnedy, Barbara L. (1994). The Role of Topic and the Reading/Writing Connection. (Online):.http://www. writing.berkeley.Edu/TESL-EJ/ejo1/a.3.html. (1 April 1994). Logan, Lillian M., Logan, Virgil G. and Paterson, Leona. (1972). Creative Communication:Teaching the Language Arts. Toronto: Mcgraw-Hill Ryeerson Limited. Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. (1984). Teaching Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book Company. Muchlisoh, dkk. (1992). Materi Pokkok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud; Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Muktiono, Joko D. (2003). Aku Cinta Buku: Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. (1988). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Y o g y a k a r t a : BPFE. Nurchasanah, (1994). “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulis Terpadu”. Vokal Telaah Bahasa dan Sastra. (No. 1 Th V), 31-37. Pappas, Christine c., Kiefer, Barbara Z., Levstik, Linda S. (1995). An Integratif Language Perspective: in the Ellementary School. USA: Longman. Richards, Jack C. (2001) Curriculum Development in Language Teaching. United States of America: University Press Combridge Rofi’uddin, Ahmad. (1994). Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1994. Malang: Vokal No. 1 tahun V. Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud. Suparno, Suhaenah A. (1999). Pemanfaatan dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny., Dkk. (1986) Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar. Jakarta: Gramedia Santosa, Puji.,dkk., (2003) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL Writing Classroom. (Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar/ aloud.html (19 Maret 1997). Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online). Tersedia: http://@www. goodle/search. (28 Maret 2002). Swarbrick, Ann. (1994). Teaching Modern Languages. New York: Routledge. Tarigan, Djago. (1995). Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung: Theme 76. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Universitas terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Hanry Guntur. (1979). Membaca: Sebagai Suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Aksara. Tarigan, Henry Guntur. (1989). Metodologi Pengejaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Djago dan Tarigan, H. G. (1988). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Weaver, C. (1996). What about Whole Language? (Online). Tersedia: http://www.ashay. Com/mpe. (Juli 1996). Williams, Marion & Burden, Robert L. (1997) Psychology for Language Teachers: a Social Constructivist Approach. United Kingdom: University Prees Cambridge.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Nina Sundari Abstrak Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar”, merupakan Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Cibiru X kelas IV Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas data kreativitas siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media peta. Manfaat proses penelitian ini, dapat meningkatkan kinerja guru dalam melakukan perubahan untuk perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Proses penelitian dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti sebagai mitra penelitian. Bentuk penelitian ini adalah model siklus yang dilakukan sebanyak lima kali pengamatan dan tindakan, yang terdiri dari beberapa fase pengamatan kegiatan pembelajaran. Prosedur pelaksanaannya mengacu kepada model yang dikembangkan oleh Kemmis, Mc. Taggart, dan Hopkin’s, setiap siklusnya terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab,menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupan. Proses penelitian dengan menggunakan media peta, berhasil dilakukan guru yang ditunjukkan dengan meningkatnya kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Beberapa perubahan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditunjukkan oleh guru dalam pengembangan strategi, meliputi pengorganisasian materi, pemilihan metode dan media, serta evaluasi di dalam proses maupun terhadap hasilnya. Keberhasilan pembelajaran, secara nyata dapat dilihat dari pola interaksi guru dan siswa yang menunjukkan meningkatnya minat, partisifatif aktif siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pembelajaran dengan menggunakan media peta, guru telah meniciptakan lingkungan belajar dan strategi yang membangkitkan keterlibatan siswa secara fisik, mental dan emosional, 2) pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar dengan menggunakan media peta, peran serta siswa menjadi lebih meningkat, 3) penggunaan media peta secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Proses dan hasil studi ini dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak yang terkait, khususnya bagi guru sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi modal pengembangan untuk meningkatkan mutu unjuk-kerja profesional guru di lapangan. Bagi sekolah, proses dan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengelolaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial Kata Kunci: media peta, pembelajaran pengetahuan sosial PENDAHULUAN alam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional berfungsi:

D

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Rumusan fungsi dan tujuan nasional, jika dikaitkan dengan tujuan Pendidikan IPS mempunyai arah yang sama, yaitu pembentukan warga negara yang mampu hidup secara demokratis (citizenship education). Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dengan masyarakat lainnya. untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu melahirkan manusia yang handal, baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya. Demikian pula dengan Kurikulum

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Seperti : slide. Dilihat darimacamnya. (Afrid. menjadikan anak-anak senang. 3. Peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial berfungsi untuk penyampaian materi agar lebih mudah diterima siswa. radio dll. objek yang dituangkan dalam bentuk gambar. sifat keingintahuan. Peta merupakan hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian. proyektor. memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru. Demikian pula dilihat dari keefektifan bagi guru dengan menggunakan media peta dapat membantu dalam menyampaikan pesan materi secara lebih mudah kepada siswa. 5. sebaiknya alat-alat tersebut dapat digunakan guru dan siswa. maket. 3. bergembira dan riang dalam belajar. grafik. Dilihat dari keunggulan menggunakan peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial khususnya pada topik lingkungan sekitar di sekolah dasar. Selanjutnya. Dengan menggunakan media peta dapat memperoleh gambaran keseluruhan tentang wilayah yang diteliti. 2. memberi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa baik dalam posisi geografis. mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya.Berbasis Kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004 bahwa dalam ”Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. papan planel. khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi. 2. memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. kalau memungkinkan guru memiliki kemampuan untuk merancang dan membuat media sendiri. gambar. Menurut Suharyono peta adalah gambaran permukaan bumi alam satu bidang datar. Pengertian Media Peta Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium. dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan PBM IPS. diagram. mengemukakan media pengajaran secara keseluruhan adalah segala benda. foto. seolah-olah menyaksikan sendiri. dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif”. memperbaiki berpiki kreatif anak-anak. perlu memperhatikan aspek tujuan. memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu. tetapi dengan media benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan siswa dalam belajar. Demikian pula dengan media peta. Untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. sehingga dapat membantu kelancaran aktivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan materi pembelajaran. sumber pembelajaran. media pembelajaran terdiri dari : gambar-gambar. garis. dsb. Contohnya pengamatan suatu wilayah sukar memberikan gambaran yang menyeluruh. memilih media harus memahami karakteristik ari media itu sendiri. film. Sumaatmadja (1980 : 117). Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 akan sulit disaksikan. (Sumantri. dibimbing. 2002 : 32). sangat terkait dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang tersedia untuk kebutuhan siswanya. strategi. baik dalam penggunaannya dan pengadaannya. keadaan alam serta persebaran penduduk di daerah/ lokasi tertentu. Secara harfiah media diartikan sebagai pelantara atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. menggunakan serta mengusahakan memilih media yang tepat. metode dan evaluasi. media merupakan alat ari segala benda yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. “JURNAL. potret. diorama. siswa diarahkan. nara sumber. epidiaskup. Proses pembelajaran yang didukung oleh media secara lengkap dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. materi. Memilih dan menggunakan media. Sedangkan manfaat media bagi siswa memungkinkan dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai. LANDASAN TEORITIS 1. Dengan lebih mudah melakukan pengamatan. Pengguanaan media bukan semata-mata melaksanakan salah satu komponen pengajaran. vide tape recorder. globe. yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. visual hingga benda asli seperti laboratorium. Salah satu indikator keberhasilan mutu proses dalam hasil belajar siswa. selain guru dapat mengembangkan materi. Tetapi dengan adanya foto-foto peristiwa berlangsung dapat merasa lebih dekat. 4. Karena wilayah tersebut terlalu luas untuk diamati secara langsung. kerjasama. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan IPS. memilih media harus berdasarkan tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan. harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri. peta. metode. khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik. poster. simbol-simbol. grafik. 2. tempat dan situasinya yang tepat. Sumantri & Permana (1999 : 181) mengemukakan prinsif-prinsif dalam memilih media yaitu: 1. Menurut Samaatmadja (1984 : 116). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tape recorder. 4. Media pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam menunjang pembelajaran. maupun gambaran dari objek tertentu. Permana : 1999 : 21). evaluasi dan penggunaan media. Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media tetapi dituntut untul terampil memilih. siswa dilatih menjadi terampil dan penuh pengalaman dalam menggunakan media. Manfaat Media Peta Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru. mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar. termasuk media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPS.Oktober 2008 . Mengenai tujuan belajar dapat diwujudkan dalam bentuk: 1.

berdampak pada hasil sehingga yang diperoleh siswa hanyalah pada aspek pengetahuan. Pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi guru dalam mengajar di kelas. c. KESIMPULAN KHUSUS Kesimpulan penting proses dan hasil studi ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Penelitian tindakan kelas. 1992). Media peta sebagai alat pembelajaran yang dapat membatu guru dan siswa memudahkan pembelajaran yang abstrak menjadi konrit. guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang memadai. dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (ciclycal) yang terdiri dari empat tahap. tetapi juga kemampuan dalam analisis dan sintetis. temuan penelitian menunjukkan bahwa pemnfaatan media peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya pelaksanaan tindakan kelas adalah untuk perbaikan.TUJUAN DAN MANfAAT PENELITIAN Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (action research). tidak lagi menggunakan buku paket sebagai sumber belajar yang utama. keterampilan dan sikapnya tidak verbalisme. situasional. tindakan. keempat pase dari siklus dapat digambarkan dengan sebuah spiral Penelitian Tindakan Kelas. Melalui pengorganisasian dan pengkajian yang bervariasi mengenai pengmatan lingkungan sekitar. 1993.. karena siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Rencana penelitian dilakukan dengan langkahlangkah yang dirancang berdasarkan 5 tahap : orientasi. Tipe pembelajaran yang ditampilkan guru berupa ceramah (lecture) dalam suatu kegiatan pembelajaran. dan bergayut dengan realitas lapangan (Hopkins. Gambar 1: alur kegiatan penelitian tindakan kelas berdasarkan spiral (Adaptasi dari Hopkins. tindakan. refleksi dan mengacu pada model Elliot’s (Hopkins. merefleksi. Niff (1992). Pola tersebut sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah dasar yang mengacu pada asa DAP (Developmentaly Appropriate Practice). khususnya dalam memanfaatkan media peta hingga guru maupun siswa dapat menggunakannya. Strategi yang dikembangkan guru dengan mengembangkan peta sebagai media. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. perencanaan. melakukan tindakan. . dapat memunculkan variasi metode. dan refleksi (Kemmis & Taggart. (b) their understanding of these practice. a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational situation) in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practice. and (c) the situation are carried out (Hopkins. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . merupakan tradisi kualitatif yang didasarkan pada prinsip natural setting. perencanaan. observasi. Dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan penelitian bersandar pada pengamatan setting kelas secara obyektif tanpa rekayasa peneliti. Bahkan Mc. guru dapat mendorong siswa sekolah dasar melakukan pengamatan lingkungan fisik dan sosial. seperti tampak pada Gambar 1. adaptif. Pembelajaran lebih bermakna. dilihat secara procedural berserta langkah-langkah proses Penelitian Tindakan Kelas. Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dan memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Ebbut melihat proses dan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. kontekstual. Melalui penelitian tindakan kelas adalah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas. seperti ceramah “JURNAL. Dalam pembahasan materi.Oktober 2008 . 48) Kata perbaikan disini terkait dan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Model penelitian tindakan kelas. 1993). memungkinkann kepada siswa meningkatkan pengetahuan. mengamati. 1993 : 43). yaitu: merencanakan. sangan efektif diterapkan di sekolah dasar. observasi. b. HASIL PENELITIAN Beradasarkan hasil penelitian diatas... tetapi guru bersifat pragmatis-praktis yaitu mengangkat bahan IPS berdasarkan pada kehidupan riil siswa. Penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis diantara keempat aspek. yaitu . Temuan ini sesuai kajian kepustakaan bahwa pemilihan suatu strategi dan metode mengajar dalam pembelajaran Pengenalan Lingkungan Sekitar dengan menggunakan media peta. 1993 : 44).

“JURNAL. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Citra Umbara Bandung. (1999). Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. Bandung. Moleong. Permana. Dahar. Lueck. R. Undang-undang Republik Indonesia No. et Al.. (1999). Suyanto. (2001). Teaching Strategis for the Social Studies. (Terjemahan Tjetjep Rohendi). IBRD: Loan-Ind. 3979-Ind. Hopkins. Shermis. Developmentary Appropiate Practice in Early Chilhod. Bandung: Yayasan Bina Bhakti Winaya. tanya jawab. Sue. PPTA. Analisis Data Kualitatif. Bandung: PT Remaja. Bandung. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. (1996).. Barr. Jakarta. Principles and Practice London: Routledge. (1999). J. Program Serving Children From Brith Trought Age 8. Sumaatmadja. W. Social Studien Elementary Education 9th Ed.bervariasi. PPGSD.S (1999). Tim Pelatih Proyek PGSM. Surya. (2003). Erlangga. diskusi kelompok sehingga proses pembelajaran benar-benar menjadi menarik. memberi peluang kepada siswa melakukan berbagai keterampilan seperti mengamati dan memprediksi DAfTAR PUSTAKA Afrida (2003). Depdikbud. (1992). N. Depdikbud. IBRD: Loan3496-Ind. Bandung: Tarsito. (1993). Suatu Tinjauan Pengantar. Jakarta. Dirjen Dikti. --------------------. Philadephia: Open Univercity Press. Nasution. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). A. dapat menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat dan gairah belajar sehingga dapat mendorong siswa berpikir kritis. Niff. Willis. Teacher Guide to Classroom Research. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SD dan MI. s dan Barth. Jakarta. Penggunaan Peta Oleh Guru dalam Proses Belajar Mengajar Geografi Bidang Studi IPS Sekolah Dasar. ( 1993). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Strategi Belajar Mengajar. New York: Norton. J (1991).Jr. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Lexy. P & K.. Dirjen Dikti. (1985). T. Hakekat Dasar Studi Sosial. (1992). Tesis. IBRD: Loan 4394IND. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tesis. Dirjen Dikti. Action Resarch. Marlinang. Effektive Secondary Education. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). J. Penerbit Alumni. (1967). New York: mac Millan Publishing Co. IKIP Yogyakarta. (1978). (1988). Huberman Michael A. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . M. Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Kasbolah. N. Minneapolis. Bruner.Oktober 2008 . menyenangkan dan efektif dalam pencapaian tujuan. Strategi Belajar Mengajar.: Burges Mc. (1996). David. pengamatan/observasi. BP3GSD. d. (1966). Metode Penelitian Kualitatif. J. Penerbit: Sinar Baru. Depdikbud. Sumantri. (1985). Somantri. Menjadi Guru Profesional. Minn. Dirjen Dikti. (1977). E. (1994). Jerome. PPS IKIP Bandung. Depdiknas. e. (1996). Muhamad. Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi) Mata Pengetahuan Sosial untuk sekolah Dasar dan Madrasah ibtidaiyah.al. Metodologi Pengajaran IPS. Sitompul. Pembelajaran dengan menggunakan media peta. Dirjen Dikti. U-I Press.R. Raka Joni. AA. National Assocation of Yong Children: Washington DC.L. Studi Geografi.U. Arah dan Jarak dalam Bidang Studi IPS di SD. IBRD Loan No. Pengembangan Pembelajaran Konsep Letak. Toward a Theory of Instruction. Depdikbud. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang ditunjang oleh penggunaan media peta. (Disadur oleh : Buchari Alma dan Harlasgunawan Ap. Banks. J. S. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.A dan Clegg. Kurikulum (2004). Jakarta: Depdiknas. Jaromilek. Teori-teori Belajar. (1984). PPS dan FPIPS UPI Bandung : Remaja Rosakarya. PPGSM. Buku Sumber Tentang Metode Baru. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. dan Parker. (2003). Departemen Pendidikan Nasional. kreatif dan inovatif. PPGSD. Dep. dari Buku Asli: The Nature of Social Studies. Usman. IKIP Bandung Tidak diterbitkan. New York: Longham et. Bredkamp.

metode. tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari. dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPS. kritis. menjelajah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat partisipatorik dan kolaboratif antara guru dan mitra penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. serta lebih terampil dalam menggali. Selain itu siswa diharapkan dapat terlatih untuk berprakarsa. sehingga dapat menumbuhkan motivasi. “JURNAL. Sebagaimana tersirat pada fungsi dan tujuan pendidikan IPS di SD. guru dituntut membawa siswa kepada kenyataan hidup sebenarnya yang dapat dihayati. media serta evaluasi pembelajaran benar-benar bermakna. mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. Suwarma (1999:43). perlu mendapatkan perhatian yang serius. Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS dan Penerapan Model Problem Solving PENDAHULUAN endidikan Dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. mampu meningkatkan proses belajar siswa kelas V melalui aktivitas. menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pada rambu-rambu GBPP IPS SD dikemukakan oleh Depdikbud (1994-1995) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal P ini sesuai dengan pendapat Raka Joni (1992: 1) bahwa dengan penerapan CBSA. berpikir secara teratur. 2) penerapan model problem solving melalui pembelajaran IPS yang dikembangkan guru. Dalam proses penelitian berlangsung telah terjadi perubahan meningkatnya kemampuan kerja guru dalam mengelola pembelajaran menjadi lebih effektif. Pengertian Problem Solving. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir. Manfaat penelitian lainnya adalah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan perubahan pembelajaran Pendidikan IPS di kelasnya. motivasi dan kreativitas hingga berimplikasi pada hasil belajar yang lebih baik Kata Kunci: Pendidikan IPS. dianalisa dan akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental.Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Abstrak Penerapan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa dalam Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar ini dilakukan di SD Negeri Marga Endah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dengan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah agar guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar. guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif. Proses penelitian berlangsung empat siklus. Manfaat untuk siswa dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas dan kreatifitas siswa selama mengikuti pelajaran. dengan kegiatan pokok perencanaan.Oktober 2008 . pelaksanaan. keterampilan-keterampilan dalam menghadapi kehidupan nyata. mental (pemikiran dan perasaan) sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak. siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Pengembangan potensi siswa melalui pengajaran IPS dapat dioptimalkan. yaitu yang melibatkan siswa aktif baik fisik. Potensi Berpikir & Pemecahan Masalah. Dengan begitu semua potensi siswa dapat dikembangkan. pengawasan dan refleksi. Pembelajaran yang dikembangkan guru dengan menggunakan variasi strategi. ditanggapi. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level diatasnya dan pada gilirannya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah 1) penerapan model problem solving dengan strategi yang dikembangkan guru secara bervariasi melalui pembelajaran IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh. Tujuan Pendidikan IPS. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar hendaknya dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada proses pencapaian tujuan tersebut.

diharapkan siswa akan sukses dalam hidupnya. Sejalan dengan itu Hamid Hasan (1996:17) mengemukakan bahwa tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab dan diemban oleh pendidikan ilmu-ilmu sosial di masa mendatang.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal dengan membelajarkan siswa melalui pengoptimalan pengembangan kemampuan berpikir siswa. Orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pembelajaran. Kualitas partisipasi siswa dalam belajar masih rendah mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar. kemampuan melakukan prosedur pengajaran dan kemampuan melakukan hubungan pribadi (UT. dan akan terwujud dalam proses belajar mengajar. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya dimiliki oleh setiap guru. Berdasarkan uraian diatas guru pendidikan IPS belum secara optimal mengembangkan kemampuan seluruh potensi siswa termasuk potensi berpikir siswa dan guru kurang keberanian untuk berusaha mengembangkan potensi siswa berdasarkan prinsip-prinsip CBSA kadar tinggi khususnya mengembangkan kemampuan berpikir tinggi seperti yang dijelaskan diatas. mental emosional. baik sebagai pengembangan dan implementasi kurikulum. masa kini dan masa yang akan datang. 1989:153). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya. 1997). siswa lebih banyak pasif. sikap dan keterampilan-keterampilan tentang kehidupan yang dibutuhkan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan tetapi juga masalah-masalah diberbagai gatra atau situasi dan kondisi ekonomi politik sosial. sosial dan motorik yang disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungan anak. diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir. Pendekatan model ini termasuk kepada pendekatan interaksi sosial yang menitik beratkan kepada aktivitas memecahkan masalah baik individu maupun kelompok. bangsa dan negara juga dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sekitar anak. dengan begitu siswa termotivasi untuk aktif dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran sebagai bentuk kemampuan proses yang dilatihkan. proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghapal “menyentuh pengembangan tingkat” rendah. berdasarkan GBPP1994. Siswa dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan guru” (Sudjana. Dengan terbiasa siswa memecahkan masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. Tujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma: 1991). Dalam hal ini siswa diberi kesempatan merefleksikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas sebagai hasil pengamatan yang diperoleh di sekitarnya. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mengkondisikan siswa agar berpikir reflektif yang menimbulkan siswa menjadi aktif. Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi didalam masyarakat. baik masa lalu. Sedangkan hasil observasi awal yang penulis temui di SD Marga Endah guru masih berperan sebagai pemberi informasi dengan kata lain guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran.Oktober 2008 . Tanya jawab dilakukan sekitar apa siapa dan dimana belum sampai kepada mengapa dan bagaimana. Kebiasaan-kebiasaan guru sebagai pengajar yang lebih aktif dari para siswa dengan menggunakan metode “JURNAL. Penelitian secara umum mengungkapkan bahwa kelemahan pendidikan IPS selama ini terletak pada proses belajar. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat perlu diupayakan pola-pola pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa di dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan begitu pengembangan potensi berpikir secara optimal belum dikembangkan “Hal ini terjadi karena masih banyak kegiatan pembelajaran tersebut didominasi oleh guru. kreatif dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya dan kemudian berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya siswa diajak untuk mencarikan solusinya baik secara kelompok maupun secara individu. keingintahuan seorang siswa akan tergerak apabila dihadapkan dengan permasalahanpermasalahan yang timbul dilingkungannya yang dialami didalam kehidupan sehari-hari. keluarga serta masyarakat. Pada saat terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. Ary S. Mungkin dengan cara demikian keluhan para siswa bahwa belajar pendidikan sosial hanya akan ditandai dengan kebosanan dalam belajar akan dapat dihapuskan. Model Problem Solving (pemecahan masalah) adalah salah satu model mengajar yang mengandung aktivitas belajar siswa cukup tinggi dan termasuk model yang disarankan dalam GBPP 1994. diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang bersifat “Generic essential” yaitu kemampuan memuat perencanaan pengajaran. Padahal sifat dari pembelajaran IPS seyogyanya lebih menitikberatkan kepada selain pemberian pengetahuan. Dalam pembelajaran Pendidikan IPS. APKG. budaya pertahanan keamanan dan agama dalam lingkup manusia sebagai insan mandiri. sehingga benarbenar pembelajaran menjadi bermakna membuat anak memiliki minat yang besar untuk mempelajari pendidikan IPS. Berdasarkan kenyataan kiranya sulit dibantah bahwa penelitian selama ini menunjukkan guru sangat berperan sentral dalam proses pembelajaran. Adapun pola-pola pembelajaran yang melatihkan bentuk kemampuan proses yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi salah satunya adalah Model Problem Solving. 1987). Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS secara efektif. Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarma: 1990.

Penerapan strategi pembelajaran model problem solving melalui pembelajaran IPS mampu melatih “JURNAL. logis. didukung oleh prinsip seting alamiah. Bagaimanakah hasil yang dicapai dalam menerapkan pembelajaran model pemecahan masalah? METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Kualitatif yang lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Naturalistik (Naturalistik Inquiry) (Nasution: 1989. Bagaimanakah cara guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mulai dari merencanakan. Tahapan-tahapan model ini diimplementasikan secara sistematis diharapkan siswa terbiasa berpikir kritis. dan satu-satunya buku paket sebagai sumber belajar harus ditingkatkan. Penelitian kelas ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan yang didasari oleh paradigma penelitian kualitatif. Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya guru yang aktif akan tetapi siswa dilibatkan secara optimal sesuai dengan potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasarnya yang mereka miliki sesuai dengan yang diamanatkan oleh tujuan dari pendidikan Sekolah Dasar. Walaupun masih perlu adanya pembiasaan guru untuk lebih terampil dalam menerapkan problem solving di kelasnya tanpa harus ada bantuan dari peneliti. Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi realita yang terjadi tentang pendidikan IPS di Sekolah Dasar ternyata masih banyak guru yang belum melaksanakan pendekatan atau model problem solving sebagai salah satu pendekatan yang dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa secara optimal. 1998:37) PERTANYAAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah diatas. melaui problem solving inilah yang menempatkan posisi guru tidak sebagai penyampai pengetahuan tentang teori atau ilmu-ilmu sosial. sebagaimana tuntutan model problem solving. melaksanakan dan mengevaluasi? 2. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa IPS Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan optimalisasi potensi berpikir. adalah pendekatan yang menuntut siswa proses cara-cara pemecahan masalah hingga mampu mengambil keputusan.Oktober 2008 . emosional dan sosialnya secara mandiri. Guru hendaknya selalu sadar bahwa siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan baik fisik. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu: 1. membuat hipotesa mengumpulkan faktafakta mencari bukti-bukti hingga mampu menyimpulkan permasalahan yang ada. kritis analitis. Kendala apakah yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran IPS model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa? 3. sedangkan variasi metode. Dan berdasarkan keseluruhan temuan penelitian tindakan. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan yang dapat digunakan sebagai upaya mencapai tujuan secara optimal. situasional. dapat disimpulkan bahwa : 1. tetapi bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang menuntut siswa pada proses berpikir reflektif. KESIMPULAN Penerapan model problem solving sebagai suatu strategi yang sangat efektif dalam mengembangkan siswa untuk berpikir secara ilmiah dan mengembangkan daya nalar mereka dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. untuk itu perlu ditransformasikan dari pelajaran yang hanya dipandang sebagai hapalan kepada pelajaran yang mampu mempertajam potensi berpikir dan memperluas cakrawala peserta didik” (Suwarma. sebagai pemberi informasi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti hapalan.ceramah. Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan yang merupakan langkah pertama. ilmiah serta peka terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari. mental. dan efektif dalam pembelajaran IPS. penugasan dan diskusi membuat siswa lebih mudah merumuskan masalah. media dan sumber belajar yang beragam menjadikan suatu tuntutan yang tidak bisa diabaikan. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian dilakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk menentukan langkah-langkah kegiatan selanjutnya hingga tujuan penelitian tercapai. refleksi diri serta kolaboratif partisipatif antara guru dan peneliti. Kualitas pembelajaran IPS berhasil dengan baik bilamana guru berupaya mengkondisikan pembelajaran dengan menyajikan secara menarik dan menyenangkan serta menciptakan iklim yang terbuka dan demokratis. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Guru sudah mulai menggunakan strategi metode pengajaran ceramah variasi. tanya jawab. Maleong: 1989). DESKRIPSI HASIL PENELITIAN Dari seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari pra tindakan dan setelah melakukan tindakan menunjukkan peningkatan kearah pembelajaran yang lebih baik. rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan penelitian kelas ini adalah: Bagaimanakah kemampuan guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran pendidikan IPS di sekolah dasar? Masalah pokok penelitian diatas.

Bandung Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung. Dep. Pengertian dan Karakteristik IPS Jakarta P3D Depdikbud. (Thesis) Prodi PIPSPPS IKIP Bandung. Macmilan Publishing Company. Johar. J A With ClIGG (1975). ( 1992). Pengembangan Kemampuan berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Metodologi IPS. Alih bahasa olrh Ary Penehan.al. 4. (1999). ( 1977). Nana & Ibrahim (1989). Jakarta: David Mackay C. 2. Sumaatmaja. CBSA dan Proses Belajar Mengajar. “JURNAL. Hamid (1996). Bina Aksara. Bandung. Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung. Teaching Strategy For Social Studies Inquiry. Bandung Alumni. dapat disarankan sebagai berikut : 1. Epistimologi Pendidikan IPS Bandung:Pustaka Mandiri. Bagi sejawat pengembang pendidikan IPS. Saran Atas dasar temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas. Arlington: VA: NCCS. Hopkin. Djahiri K. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (1977). Barr. Surabaya: Usaha Nasional. Konsep Dasar IPS. J dan Skill (1993). Resiladelphila Open University Press. Metode Penelitian Naturalistik. Bagi peminat / pemerhati profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah dasar. Bandung. David (1985). proses dan hasil studi tentang penerapan model problem solving di dalam pembelajaran pendidikan IPS dapat mengembangkan kemampuan meneliti dan melakukan tindakan perbaikan dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa DAfTAR PUSTAKA Al Muchtar. ___________. Remaja Rosda Karya. ( 1996). Dasar-dasar Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral PVct. Maleong Lexy (1993).d. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. (1995/1996). Jakarta. _________________. proses dan hasil studi ini dapat menjadi model pengembang untuk meningkatkan mutu unjuk kerja professional guru sekolah dasar. Tarsito. Suwarma ( 1996). Taxonomy of Education Objective. Bandung Sinar Baru. Banks. Bandung. Pengajaran PMP IKIP Bandung. S ( 1987). Model problem solving dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran 4. Sudjana. (1999). Mew Mac Millan Joice Bruce and Weil Marsha (1972). Bagi para guru sekolah dasar. (2000). Sinar Baru Sumantri Mulyani & P. Social Studi In Elementary School New York.siswa mengembangkan kemampuan berpikir reflektif. Bloom.. Materi Pokok PGSD. Nasution. N. ___________.Oktober 2008 . Et. ______________. Jakarta. Dirjen DIKTI PPGSD IBRD LOAN 3496 – IND. FPS IKIP Bandung. & R Taylor. A Teacher Guide to Classroom Research. Jarolimek. UT. Hasan. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS: Bandung LP Universitas Pendidikan Indonesia. penerapan model problem solving dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan dikembangkan dalam topic yang berbeda. kritis dan kreatif. Defining the Social Studies. Model Problem Solving berhasil dengan baik bila menggunakan strategi yang bervariatif 3. New York: With Plane. ___________. proses dan studi ini menjadi bahan diskusi untuk memperluas wacana model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik siswa sekolah dasar 3. Mulyono ( 1980). _________________. Pendidikan IPS di SD. Bagi peneliti khususnya. Social Studies Competency Skill. Edisi Kedua. P dan K. Benyamin (1956). Strategi Belajar Mengajar. 2. Model of Teaching. (2000). (1986). (1989). New Jersey Prentice Hall. ___________. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Pendidikan IPS Buku 1 dan 2. Valuing and Decision Making. r. Model pembelajaran dengan menerapkan problem solving dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif.

Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa perguruan tinggi secara proporsional dan kompetitif. penelitian. Salah satu sarana untuk pengembangan penelitian adalah bahasa. d. Bagi universitas maju. termasuk pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa guna peningkatan kualitas perguruan tinggi. maka data. riset merupakan elemen strategis yang memberikan dukungan besar bagi pengembangan universitas itu sendiri maupun bagi pengembangan kemajuan suatu bangsa secara keseluruhan. termasuk bidang usaha (entrepreneurship) dan kreativitas mahasiswa. Ada 4 indikator utama pemeringkatan 500 kampus terbaik tersebut. Dalam dekade 20 terakhir. tetapi juga dituntut untuk mampu menghimpun dan menggali pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development). benar dan komunikatif. logika dan bahasa yang digunakan seharusnya selaras antara peneliti dan pengguna hasil penelitian/pembaca. menghimpun. Penggunaan bahasa yang baik dalam penelitian secara langsung akan turut meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di era global terutama di lingkungan pengguna bahasa serumpun. Fungsi perguruan tinggi pada hakikatnya adalah. yang salah satunya adalah frekuensi publisitas penelitian secara internasional. yaitu beberapa negara Asean. riset merupakan pilar utama untuk peningkatan kualitas institusi dan citra sebagai universitas maju dan terkemuka di dunia. Untuk menghasilkan kinerja penelitian yang baik. Indikator lainnya adalah: penilaian sejawat. “JURNAL. Mendorong berkembangnya kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional juga dengan pihak industri dan masyarakat dalam pengembangan dan penerapan Iptek (ilmu pengetahuan &teknologi).Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Abstrak Dalam perspektif pengembangan suatu perguruan tinggi. Kata Kunci: bahasa. b. bahasa serumpun.Oktober 2008 . Tanpa penggunaan bahasa yang baik. perguruan tinggi PENDAHULUAN ada umumnya bidang penelitian merupakan salah satu misi dari berbagai misi sebuah perguruan tinggi di samping menyelenggarakan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan perkataan lain perguruan tinggi tidak saja dituntut untuk mentrasfer pengetahuan melalui proses pengajaran. Dengan demikian universitas tak ragu-ragu menginvestasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kajian berbagai bidang ilmu dengan mendirikan Pusat-pusat Kajian seperti: Pusat Kajian Pendidikan. perguruan tinggi telah merumuskan paradigm baru dalam mencapai kualitas pendidikan bertaraf dunia yaitu dengan menjadikan universitas sebagai universitas riset yang lazimnya memiliki research center dan research institute. Tujuan dari pusat-pusat riset tersebut antara lain: P a. nilai-nilai dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. sebaik apapun penelitian tidak akan mencapai sasaran. Pusatpusat kajian tersebut pada beberapa negara terbukti telah memberikan keutungan besar bagi universitas di samping dapat mengangkat peringkat suatu perguruan tinggi minimal masuk dalam urutan daftar 500 kampus berkualitas di dunia. c. Mendukung pengembangan kapasitas (capacity building) perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan universitas. jumlah mahasiswa dan dosen asing. rasio dosen dan mahasiswa.memelihara dan mentrasfer budaya. Mendukung penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Pusat Kajian Sains. 2003). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .Demikian pula pengembangan bahasa yang baik akan kukuh jika disokong oleh peneliti an yang baik. Pusat Kajian Bahasa dan sebagainya. Dengan demikian kualitas penelitian merupakan “benchmaking” maju mundurnya sebuah institusi bernama perguruan tinggi.

proposal. bahasa senantiasa dikaitkan dengan identitas suatu bangsa. mengambil definisi yang lebih luas. Kepentingan penelitian semakin disadari dan diakui dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan insan yang cerdas. pendekatan yang lebih mendidik terhadap pengajaran. pengajaran dengan penekanan pada metode-metode penelitian atau cara-cara untuk mengakumulasi pengetahuan dalam disiplin ilmu tertentu. Pengajaran “penelitian terbimbing” telah menjadi cara yang populer untuk mengekspresikan hubungan ini (Alwasilah. kecemerlangan pendidikan. kualitas & relevansi. • Budaya pemerolehan. • Pengajaran lebih umum pada wilayah pendanaan (scholarship) sendiri. Universitas Sydney di Australia. kreatif. 2007). • Pengajaran sebagai pembelajaran “berbasis pemerolehan” vs. akses yang baik ke sumber utama di perpustakaan. 2002) PeNelITIAN DI PerGuruAN TINGGI Dalam konteks pendidikan tinggi. sebagimana dikutip oleh Skelton (2005). • Mahasiswa sebagai peneliti • Merancang program strata yang mengunggulkan kepakaran penelitian dalam satu atau antarsekolah.yaitu: daya saing bangsa.e. • Rantai penelitian dalam konteks program strata untuk pengembangan profesional (seperti:dosen. regional maupun internasional. akan memacu penelitian disiplin ilmu sebagai ide. Oleh karena itu kegiatan penelitian perlu diberi keutamaan dan dilaksanakan dalam semua jenjang pendidikan. Di tingkat kebijakan pemimpin. kesehatan institusi.Oktober 2008 . • Pengajaran disejajarkan dengan penelitian. Oleh karena itu. kualitas mengajar dan belajar kini dihubungkan dengan baik pada kemampuan ekonomi nasional untuk bersaing serta mempromosikan institusi perguruan tinggi di pasar global. inovatif. menyampaikan presentasi dan makalah/artikel). contoh. Mengembangkan jejaring (network) informasi dan institusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada peringkat nasional. Dalam pandangan yang lebih luas. Melalui bahasa seseorang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat. suatu institusi akan bergerak mengembangkan ‘budaya kualitas mengajar”. Sudah tiba waktunya bagi dosen untuk meningkatkan aktivitas penelitian sebagai satu elemen penting ke arah pendidikan seumur hidup. perumusan pembelajaran serta strategi dan kebijakan mengajar. pengacara. • Lingkungan pembelajaran yang mendukung fokus penelitian terbimbing. Ada harapan yang berkembang agar semua institusi pengajian tinggi akan berusaha meningkatkan suatu budaya mengajar yang berkualitas sebagai ‘inti’ kegiatan. Penulis dengan penguasaan bahasa dan ejaan yang baik pada umumnya akan selalu diingat oleh para pembaca. manajer). pengajaran dikelola oleh dorongan penelitian tertentu dan minat staf peneliti. maknanya terdapat debat dan pembahasan pada disiplin subjek tentang masalah pedagogik. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat “JURNAL. • Pengajaran penelitian terbimbing. • Kurikulum berbasis penelitian dari kurikulum yang ada yang mencerminkan kegiatan dan proses penelitian (seperti kerja tim. bahkan dapat mengenali tingkah laku dan kepribadian masyarakat penuturnya. teori dan konsep yang dihubungkan secara kritis oleh mahasiswa PERAN BAHASA DALAM PENELITIAN Seluruh proses penelitian mulai judul. dan pendidikan unggul serta bertaraf dunia. dukungan informasi teknologi yang baik. • Pengajaran yang menekankan pada perkembangan atau arah penelitian mutakhir dalam wilayah kepakarang sendiri. Bahasa berperan sebagai perantara utama antara ide atau pandangan penulis sehingga tulisan difahami dan enak dibaca. Institusi akan mencari hubungan penelitian dengan mengajar untuk mendukung kualitas mengajar. pelaksanaan sehingga laporan penelitian menggunakan bahasa. Melalui hasil penelitian. dan berakhlak mulia. Dengan bahasa yang baik. yaitu bahasa. Hal ini bermakna proses dan strategi penulisan dari yang sederhana sehingga yang kompleks akan bertumpu pada satu hal utama. Hal di atas sejalan dengan pengembangan perguruan tinggi jangka panjang. masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . laboratorium yang didanai dengan baik. • Pengajaran berdasarkan bukti-pengajaran dan pembelajaran sebagai kesatuan dirancang dalam sorotan literatur pedagogik dan bukti pengalaman pelajar. yang terdiri dari 5 isu strategis yang harus diantisipasi dan diimplementasikan oleh perguruan tinggi di Indonesia. doktor. Di bawah ini merupakan batasan-batasan dari pengajaran penelitian terbimbing: • Pengajaran tentang topik penelitian tertentu yang sedang dipelajari oleh akademisi di waktu tertentu. akuntabilitas dan otonomi (Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. tuturan-tuturan dalam artikel atau penelitian akan menjadi sesuatu yang layak dinikmati. merujuk dimensi berikut untuk memperoleh isi dengan dilakukannya penelitian terbimbing: • Staf pengajar penelitian dilakukan oleh peneliti berkelas dunia yang aktif meneliti dan menulis. peranan dosen sebagai peneliti dalam pendidikan semakin penting. • Komunitas mahasiswa dilibatkan ke dalam budaya dan komunitas peneliti dalam disiplin ilmu tersebut.

Hal ini sudah sering dibahas antara peneliti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu pada seminar-seminar antarbangsa. Quality Teaching at a Leading and Outstanding University: A Conceptual Framework for Action and Development.Research Method in Language Learning. Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. (2005). Di samping itu pusatpusat kajian bahasa Melayu yang didirikan diberbagai negara di Eropa. Collins. London: Routledge. Skelton. “JURNAL. dan salah satu rintangan yang sering ditemukan yaitu pemakaian bahasa ilmiah dalam penelitian karena terdapat perbedaan makna kata atau istilah-istilah dalam bahasa serumpun tersebut. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dengan bahasa Indonesia dan bahasa serantau sehingga dapat meningkatkan peranan bahasa tersebut di era global. Perlu dilakukan penelitian kolaboratif antara peneliti bahasa serantau. (2002). Alwright. DAfTAR PUSTAKA Alwasilah. Sejarah Singkat (Terj. J. .baik dalam bidang pendidikan. Malaysia. C. Qualiti and Sustainability in Teacherresearch. Bahasa Melayu Bahasa Dunia.T. Pada masa yang akan datang diharapkan semakin banyak penelitian kolaboratif antarnegara Asean untuk memperkuat peranan bahasa serumpun di negara masing-masing dan di peringkat antarbangsa PENUTUP Penelitian dengan menggunakan media bahasa Indonesia diperingkat antarbangsa perlu terus dibudayakan dan ditingkatkan di antara bangsa serumpun/serantau. Menurut Collins (2005) bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar.D. dengan demikian diperlukan kajian-kajian atau penyelidikan untuk meningkatkan bahasa Melayu agar dapat bertahan dan menjadi bahasa dunia. (1992). Bandung: UPI Press. A (2005). (1997).Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.Jakarta:Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia.serantau yang bahasa nasionalnya berasaskan bahasa Melayu (Indonesia.Understanding Teaching Excellence in Higher Education: Towards a Critical Approach.Alma EvitaAlmanar). Nunan. Brunai dan Singapura) telah terjadi berbagai perubahan berkaitan dengan perkembangan ilmu. Cambridge: Cambridge University Press. Amerika. baik bidang linguistik maupun bidang pengajarannya. khususnya teknologi informasi sebagai tuntutan dunia global. teknologi. Penelitian berkualitas dapat dilakukan bersama negara-negara serumpun/ serantau yang berkaitan dengan pengajaran bahasa. Australia dan komunitas bahasa Melayu tersebar di kota-kota besar di dunia.Oktober 2008 . Kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang penelitian-penelitian berkenaan yang berkualitas. sosial maupun sains. Hambatan-hambatan bahasa dalam penyelidikan bersama dapat diatasi dengan dilakukannya studi bandingan bahasa serantau di kawasan Asean. D. Kedudukan bahasa Melayu seperti ini tentu sangat bermakna bagi perkembangan bahasa Melayu pada umumnya dan perkembangan bahasa Indonesia di tataran global pada khususnya. Jakarta: Dikti. Akhir-akhir ini banyak universitas di negara serumpun ini melakukan kerja sama. studi banding kebahasaan atau penulisan bersama buku ilmiah berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. bahasa. TESOL Quarterly 31/2.A.

Dalam pelaksanaan program pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dan pengalaman bahwa bimbingan mengajar bagi mahasiswa S-1 karyawan belum berjalan dengan baik padahal sebagai mahasiswa yang telah menjadi guru memerlukan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. sehingga Lesson Study dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi. mulai dari kondisi di kelas. Teknik pengolahan data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Salah satu model bimbingannya adalah Lesson Study. Suatu model pembinaan guru untuk mencapai kualitas pembelajaran di sekolah adalah Lesson Study. Pelaksanaan sertifikasi guru sebagai amanat dari Undangundang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Oleh karena itu. memecahkan dan mendeskripsikan masalah-masalah yang terjadi selama kegiatan Lesson Study serta pengaruhnaya terhadap kualitas bimbingan kemampuan mengajar mahasiswa. Seorang guru memiliki peran yang paling besar dalam upaya inovasi serta peningkatan mutu pendidikan melalui inovasi dalam proses pembelajaran. Lesson Study adalah ”model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas D belajar” (Hendayana dkk.Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study Di Sekolah Dasar Rustono W. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku profesional. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran. Hasil penelitian antara lain adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan strategi pembelajaran juga respon yang baik dari mahasiswa dan guru mengenai pelaksanaan Lesson Study di sekolah dasar. Kata Kunci: lesson study.S. Lesson Study dapat dikategorikan sebagai kegiatan penelitian tindakan. 5 orang guru dan tim peneliti sendiri. Berbagai penataran dan pelatihan guru menjadi salah satu bentuk dari upaya tersebut walaupun kurang membekas dalam keseharian aktivitas guru. Lesson Study ini dilaksanakan untuk mahasiswa karyawan semester VII kelas interes matematika program studi S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya di SDN I Pengadilan Kota Tasikmalaya. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pelaksanaan Lesson Study. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . strategi pembelajaran PENDAHULUAN alam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas guru. Pada dasarnya. Lesson Study dipandang dapat menggairahkan inovasi pembelajaran di sekolah karena semua pihak terlibat dan berkonsentrasi ke arah perbaikan. dan guru. Abstrak Artikel ini didasarkan pada hasil penelitian tentang penerapan Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran di sekolah dasar. sekolah. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang usaha meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran dengan Lesson Study di sekolah dasar. menganalisis. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan pengisian angket. perlu program bimbingan bagi mahasiswa yang secara khusus meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran yang inovatif. Lesson Study dapat digunakan sebagai model bimbingan mengajar bagi mahasiswa. 2006 : 10). Hal inilah yang mendasari perlunya perbaikan yang menitikberatkan kepada kondisi riil di lapangan. bimbingan mengajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran?” “JURNAL. Penelitan ini menggunakan model penelitian tindakan dalam bentuk Lesson Study itu sendiri dengan subjek penelitian 7 orang mahasiswa.Oktober 2008 . maka kami melakukan sebuah penelitian dengan metode Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan terhadap mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Di sisi lain.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (2) mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan. dan merefleksi (see) yang berupa kegiatan yang berkelanjutan. (7) mengobservasi proses pembelajaran. beberapa negara maju seperti Amerika dan beberapa negara eropa mengadopsi model pembinaan seperti ini. Lesson Study dilaksanakan untuk meningkatkan kulitas guru kelas serta berbagi pengalaman mengajar di setiap kelas. (3) memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan. (8) mengidentifikasi hal penting yang terjadi pada aktivitas belajar siswa di kelas. (5) mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih.TINJAUAN PUSTAKA Lesson Study Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pronsippronsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Beberapa tim ahli dari dosen juga dilibatkan beserta para mahasiswa dengan bidang yang sama. dkk. (6) melaksanakan pembelajaran.Oktober 2008 . Pada pelaksanaannya. Hendayana. Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan. Lewis. 2006:38) mengemukakan keunggulan atau kelebihan Lesson Study seperti dalam Gambar 1. Mulai tahun 1998. Dalam Hendayana dkk. Sebagai model pembinaan guru. (9) melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas. (4) merancang rencana pembelajaran. Karena itulah. sekolah mungkin saja melibatkan pihak luar sebagai tenaga ahli seperti dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain. Lesson Study sudah menjadi salah satu model pembinaan guru di Jepang dan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran.. Di sekolah dasar. serta (10) mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya. Lesson Study dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu merencanakan (plan). Kelompok guru biasanya berdasarkan bidang studi pada wilayah kerja tertentu. Ada dua model Lesson Satudy. (2006 : 10) ditegaskan bahwa setiap guru berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini.(2006 : 39) “JURNAL.. yaitu : (1) identifiaksi masalah pembelajaran. Perry. (Hendayana dkk. misalnya MGMP atau KKG. melaksanakan (do). Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project Gambar 1: Keunggulan dan Kelebihan lesson Study Sumber : Hendayana dkk. Model kedua dari Lesson Study adalah Lesson Study Berbasis Kelompok Guru. yaitu : Lesson Study Berbasis Sekolah yang dilakukan di sekolah oleh guru dari berbagai bidang studi serta kepala sekolah. dan Hurd (2003. yang menggunakan sistem guru kelas. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang studi. 2006 : 10). Saat ini. Kegiatan Lesson Study biasanya dikoordinir oleh kelompok guru tersebut dan dibina oleh dinas pendidikan yang terkait.

Kemampuan ini dimantapkan kembali dalam latihan mengajar mandiri. Bermacammacam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka. Dosen yang terlibat pada Lesson Study ini adalah tim peneliti sendiri. Kegiatan pengenalan lapangan dilakukan dalam bentuk observasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . strategi belajar-mengajar. Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : teknik observasi. Melalui kegiatan seperti ini. Lesson Study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru. Alur penelitian secara umum adalah : (1) pra tindakan. Dalam hal ini. dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian.(IMSTEP) bekerjasama dengan IKIP Bandung (UPI). Do (melakukan). atau perspektif pendidikan di SD. yang berasal dari dua kata yugyo yang berarti lesson atau pembelajaran. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai 12 Juni 2007 sampai 16 November 2007. Dalam Hendayana dkk. penguasaan kompetensi akademik calon guru akan menjadi semakin mantap karena mereka tidak hanya belajar dari teori. Kegiatan selanjutnya adalah latihan keterampilan terbatas. Lesson Study bisa diterapkan sebagai model bimbingan mengajar mahasiswa sebelum dan pada pelaksanaan PPL blok waktu. Jumlah siklus tindakan atau siklus Lesson Study direncanakan sebanyak 2 siklus. Dengan demikian Lesson Study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. kolaboratif dan kolegatif antara dosen dan mahasiswa. mahasiswa ini telah memiliki pengalaman sebagai guru sekolah dasar paling sedikit 3 tahun. Sebagian besar telah menjadi PNS dan terdapat 2 orang yang menjabat kepala sekolah sehingga menambah keragaman dalam diskusi pada proses kegiatan Lesson Study. Setelah menjalani semua tahap PPL dengan rekomendasi yang memuaskan. dan “clinical supervision”. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Penelitian Tindakan sekaligus dalam bentuk Lesson Study. Kegiatan perencanaan (plan). serta guru sekolah dasar. “coaching”. MeTODOlOGI PeNelITIAN Penelitian ini bermanfaat untuk mengkaji subtansi pengDalam penelitian ini. latihan keterampilan terbatas. para calon guru dapat menempuh ujian PPL yang merupakan bagian dari uji kompetensi. dan IKIP Malang (UNM) melaksanakan Lesson Study di beberapa wilayah di Indonesia. peran guru dapat berubahubah : dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Pada kegiatan latihan terbimbing mulai ditanamkan dasar-dasar peningkatan kualitas pembelajaran. metode yang digunakan adalah Lesson Study yang dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan. Adapun guru yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study adalah guru SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya sejumlah 5 orang termasuk kepala sekolahnya sendiri. yang juga memungkinkan calon guru berkunjung ke SD untuk mengamati guru yang sedang mengajar. (2006 : 20) dijelaskan bahwa Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu. Oleh karena itu. (4) refleksi. PPL diadakan secara blok waktu sampai menjelang ujian PPL. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan). (3) pelaksanaan. Sekolah dasar yang menjadi tempat kegiatan Lesson Study adalah UPI Kampus Taskmalaya dan SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya dengan kelas yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah kelas V dan kelas VI. pembelajaran bidang studi. tetapi mencoba melihat aplikasinya di dalam praktek. dan tahap akhir penelitian. maka proses bimbingan dari dosen sangatlah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa calon guru. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Dalam Lesson Study. yang kemudian latihan terbimbing. teknik Gambar 2: Alur Kegiatan lesson Study “JURNAL. Semester terakhir. Sementara mahasiswa yang telibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. IKIP Yogyakarta (UNY). (2) perencanaan. BIMBINGAN MeNGAjAr PADA MAHASISwA Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan merupakan program khusus dalam pendidikan profesional guru. pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan adalah 7 orang mahasiswa yang semuanya mahasiswa karyawan atau mahasiswa lanjutan dari D-2 PGSD. partisipasi. Skema kegiatan Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 2. latihan terbimbing. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan secara partisipatif. Pengenalan lapangan dapat diagendakan sejak semester awal melalui penugasan yang terkait dengan mata kuliah yang relevan. seperti pengenalan peserta didik. PPL mencakup empat tahap latihan secara utuh. Waktu pelaksanaan Lesson Study sendiri adalah mulai 26 Oktober – 16 November 2007 dengan rincian sebagai berikut. dan latihan mandiri. Karena pentingnya PPL dalam program kependidikan dan pembinaan mahasiswa. misalnya : ”action research”.Oktober 2008 . mulai dari pengenalan lapangan.

satu jam sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti menjelasakan pedoman observasi dan aturan observasi kepada para pengamat yang terdiri dari tim peneliti sendiri. • Guru menjelaskan isi dari LKS secara bertahap dimulai dari penyajian ilustrasi masalah sampai dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Metode yang digunakan adalah metode pemecahan masalah dengan menggunakan strategi eksplorasi yaitu siswa melakukan proses penyelesaian melalui pencarian dan manipulasi alat peraga atau media yang disediakan oleh guru. Setelah memperkenalkan diri. penggaris. gunting (disediakan oleh guru) dan alat tulis lainnya. maka ditentukan fokus pembelajaran. mencoba dan memperbaiki perkerjaan sampai ditemukan solusi. Saat itu siswa sudah terbagi menjadi 6 kelompok. Diskusi itu bertujuan untuk mengungkap berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. Pada tanggal 1 November 2007. Guru memberikan penjelasan bagaimana aturan main kelompok serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam kelompok seperti bekerja sama dan pembagian tugas serta tugas ketua kelompok. penggaris dan lem (alat lainnya dimiliki siswa seperti pensil dan ballpoint) sambil memancing siwa dengan pertanyaan. • Guru memberikan arahan kepada siswa bahwa jika ada kelompok yang sudah selesai diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasilnya. akan tetapi pada beberapa langkah pembelajaran kurang menguasai teknik khusus seperti apersepsi untuk menarik perhatian siswa. Refleksi Guru dan para observer yang terdiri dari tim peneliti. Untuk melakukannya. serta memilih seorang mahasiswa sebagai guru model. Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi dan rekomendasinya. maka selanjutnya disusun langkah-langkah pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Perbaikan (RPP). Para observer duduk di bagian belakang kelas serta sebagiannya berdiri. teknik catatan lapangan dan teknik audio dan video. • Guru membagikan LKS. gunting. Setelah menentukan fokus pembelajaran. • Guru menjelaskan kembali tugas yang harus dikerjakan siswa. LKS. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif.Oktober 2008 . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Lesson Study Siklus 1 Perencanaan Tahap perencanaan Lesson Study Siklus 1 ini dilaksanakan tanggal 25 – 26 November 2007 di UPI Kampus Tasikmalaya. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan sebagai upaya pemusatan konsntrasi. • Guru menyimpulkan proses dan hasil pembelajaran sebelum akhirnya menutup kegiatan pembelajaran. guru SD serta mahasiswa duduk bersama di kelas untuk mengadakan refleksi dari semua rangkaian kegiatan Lesson Study sebelumnya yaitu tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. alat evaluasi. membuat media. Selain itu dijelaskan kembali tentang langkah-langkah pembelajaran agar partisipan memiliki kesamaan pemahaman. • Guru belum memahami kemampuan dan karakter siswa karena baru pertama kali berhadapan dengan siswa di sekolah tersebut • Keterampilan mengajar guru sudah cukup baik. Kemudian guru kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Setelah dianalisis dan dipertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. yaitu pembelajaran akan dilakukan di kelas V materi materi FPB. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Soal cerita yang disajikan kepada siswa adalah bahwa siswa secara berkelompok diminta untuk membuat persegi-persegi dari kertas karton berbentuk persegi panjang ukuran 30 cm x 48 cm dengan ukuran perseginya sama dan yang paling besar. • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. • Siswa pertama kali mengalami proses belajar seperti itu sementara guru kurang maksimal dalam membimbing siswa • Guru kurang aktif dalam melakukan bimbingan terhadap siswa • Gaya guru belum mencerminkan karakter guru SD yang antusias dan aktif. “JURNAL. kepala sekolah. Strategi eksplorasi dapat berupa aktivitas siswa dengan mencatat dan membuat coretan dalam menyelesaikan masalah meliputi rangkaian menduga. • Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang maju ke depan tentang hasil pekerjaannya dan memberikan alasan.wawancara. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 1 November 2007 mulai jam 09. Salah satu masalah yang terungkap adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada konsep FPB. guru (mahasiswa praktikan/model) memperkenalkan para observer secara umum dan menjelaskan tujuan hadir di kelas agar siswa tidak merasa canggung. • Guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. Pada tanggal 25 diskusi dilaksanakan dengan melibatkan tim peneliti dengan mahasiswa yang telah bersedia mengikuti kegiatan Lesson Study. kertas karton dengan ukuran 48 cm x 30 cm. mahasiswa. siswa menggunakan alat dan bahan seperti kertas karton.45WIB selama 2 jam pelajaran. kepala sekolah dan guru.

• Guru menilai satu persatu pekerjaan siswa dan kemudian menunjukkan kekuarang-kekurangan dari pekerjaan siswa mulai dari cara mengkur keliling. • Guru harus selalu mengontrol waktu pembelajaran • Guru harus menjelaskan beberapa jawaban pertanyaan secara klasikal agar informasi bisa merata. benang tali. • Setelah siswa selesai bekerja. dan lem. Setelah mempertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. “JURNAL. Refleksi Guru terlebih dahulu mengungkapkan kesannya setelah menjalani proses pembelajaran. • Guru harus lebih banyak membimbing siswa melalui pertanyaan menuntun. • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembuktian rumus luas lingkaran kepada siswa. Intonasi guru dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas sehingga penjelasan guru dapat dengan baik dimengerti oleh siswa. Pada saat refleksi siklus 1 juga dilakukan perencanaan pelaksanaan siklus 2 termasuk inventarisasi masalah serta penentuan alternatif masalah. Ia mengungkapkan rasa senang dapat melakukan pembelajaran dengan metode seperti walapun ia mengakui sangat lelah karena proses pembelajaran menuntut ia untuk lebih aktif. • Saat siswa mulai bekerja. • Guru harus lebih sering memberikan penguatan dalam pembelajaran. dari masalah-masalah yang telah diungkap kemudian dianalisis untuk menentukan fokus pembelajaran. Mahasiswa yang dipilih untuk tampil berbeda dengan pembelajaran siklus 1. Pelaksanaan Lesson Study Siklus 2 Perencanaan Kegiatan Lesson Study selanjutnya dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 November 2007 sesuai dengan kesiapan semua pihak. Serta menyampaikan cara kerja dalam kelompok. • Presentasi yang dilaksanakan oleh kelompok seharusnya dilakukan di depan kelas dan dilihat oleh kelompok yang lainnya • Tahap penarikan kesimpulan tidak berjalan dengan baik karena siswa tidak dikondisikan terlebih dahulu. • Penjelasan guru terutama dalam menanggapi pertanyaan hanya secara kelompok tetapi tidak secara klasikal. • Presentasi hasil kerja kelompok dilakukan secara klasikal dan diperhatikan oleh siswa yang lainnya. gunting. Tetapi pemahaman terhadap proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi lebih dalam. Metode penemuan terbimbing diterapkan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk melakukan aktivitas ilmiah yaitu penemuan.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . • Guru tidak mengontrol waktu sehingga melebihi rencana pembelajaran. • Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran.00 WIB selama 2 jam pelajaran. • Kegiatan observer jangan memengaruhi dan mengganggu proses pembelajaran. • Agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu.• Suara dan intonasi bicara guru kurang lantang sehingga tidak dapat mengontrol kegiatan pembelajaran dengan baik. maka pembelajaran akan dilakukan di kelas VI dengan materi tentang pembuktian rumus luas lingkaran dengan pendekatan luas persegi panjang melalui metode metode penemuan terbimbing. perwakilan masingmasing kelompok maju ke depan untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan. • Guru menyampaikan kesimpulan tentang pembuktian rumus lingkaran dan memberi kesempatan siswa. Karena waktu yang tidak memungkinkan. Kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. • Guru menutup pembelajaran. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi tentang konsep bangun datar lingkaran dengan menggunakan model lingkaran. guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. • Beberapa observer melakukan interaksi dengan siswa sehingga mempengaruhi proses pembelajaran. • Kerjasama dalam kelompok harus lebih ditingkatkan melalui bimbingan guru. • Penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan dilakukan berulangkali sampai siswa paham dan jika penjelasan itu ada dalam LKS maka guru memandu siswa untuk memahmi LKS. menempelkan bagian-bagian lingkaran sampai menghitung luas persegi panjang. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 10 November 2007 mulai jam 09. Penemuan siswa dibimbing oleg guru agar lebih terarah tetapi tanpa mendikte aktivitas belajar atau berfikir siswa. Akhirnya. Sementara siswa memperhatikan penjelasan guru serta merespon pertanyaan-pertanyaan guru yang mengarahkannya pada kesimpulan. Waktu ini ditentukan saat refleksi siklus 1. busur. • Guru membagikan alat peraga atau media yang terdiri dari model lingkaran dari karton. simulasi pembelajaran tidak dilakukan di depan partisipan. • Guru membagi siswa ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang.

• Pada tahap pembuatan kesimpulan. • Guru terlambat untuk mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok sehingga siswa tampak tidak kompak pada awalnya. • Koordinasi dan peran guru sekolah dasar harus ditingkatkan. Guru sudah menjalankan proses pembelajaran berdasarkan skenario yang telah dibuat. Pada pembelajaran pertama guru terlihat kurang energik atau gaya mengajar yang kurang antusias. hal ini kurang optimal dalam pembentukan pengetahuan siswa. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan bantuan alat-alat dan media untuk menumbuhkan kemampuan kerja ilmiah siswa. • Persiapan harus lebih matang terutama mengenai gambaran proses pembelajaran. • Guru sebaiknya memperhatikan waktu yang telah direncakan dan selalu menyampaikan target waktu terhadap siswa agar siswa bekerja dengan efektif. waktu dapat dikendalikan. • Guru tidak memperlihatkan hasil kerja siswa seluruhnya di depan kelas • Terdapat kesalahan guru dalam menggunakan simbolsimbol matematika. atau disebut penemuan terbimbing. merespon pertanyaan siswa dan menjawab dengan jawaban yang membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berfikirnya. serta demonstrasi kemampuan guru belum optimal. Hal ini termasuk kemampuan bertanya menuntun (probing). • LKS sebaiknya dibagikan terlebih dahulu kemudian guru memberi penjelasan • Alat peraga sebaiknya digambar ulang pada papan tulis ketika guru melakukan apersepsi dan pengambilan kesimpulan. skenario yang diterapkan benarbenar pengalaman baru karena biasanya guru melakukan pembelajaran konvensional. Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode pemecahan masalah dan penemuan mengharuskan siswa memiliki kemampuan membimbing kerja siswa selama siswa aktif dalam pembelajaran. Pembahasan Hasil Pelaksanaan Lesson Syudy Bagi guru model. • Guru kurang menjelaskan cara-cara pengukuran keliling lingkaran dengan alat bantu tali karena siswa terlihat kebingungan. padahal tahap ini sangat penting dalam pembentukan pengetahuan bagi siswa. ini memang gaya yang bersifat pribadi tetapi jika berlanjut akan berpengaruh keaktifan siswa. Pembelajaran pada siklus 1 lebih menekankan kepada kemampuan eksplorasi matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menemukan rumus luas lingkaran dengan bimbingan guru. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . mengontrol kegiatan siswa. Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana tetapi mengenai hal-hal spesifik seperti membimbing kerja dalam kelompok. Metode pembelajaran seperti ini adalah hal bagi mahasiswa maupun guru di sekolah. “JURNAL. guru yang tampil lebih energik dan adapat menguasai kelas dengan baik. guru kurang memiliki waktu untuk melakukan kesimpulan. • Guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. Sebenarnya dengan latihan dan pembiasaan. • Tujuan pembelajaran harus disampaikan terlebih dahulu dengan jelas dan diulang-ulang dalam proses pembelajaran. hal ini dapat dilakukan melalui simulasi terlebih dahulu. Berbeda dengan pembelajaran kedua. • Guru sangat baik dalam menghidupkan suasan dan aktifitas siswa di kelas.Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi. Hal ini tampak pada dua kali pembelajaran dimana waktu kurang terkontrol dengan baik. Tahap yang penting dalam pembelajaran seperti ini adalah kemampuan guru dalam menuntun siswa membuat kesimpulan. Keterampilan ini memang memerlukan latihan yang lebih spesifik. • Siswa kurang memberikan perhargaan kepada siswa yang aktif dalam bertanya dan kepada kelompok yang berhasil. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi.Oktober 2008 . • LKS tidak banyak berfungsi bagi siswa karena siswa bekerja mengalir saja dan berdasarkan arahan dari guru. • Guru kurang memberikan penjelasan kepada siswa tentang arah kegiatan pembelajaran sehingga siswa langsung saja bekerja dengan LKS. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan dan ekplorasi masalah matematika membutuhkan waktu yang lebih banyak dari biasanya karena guru harus berpatokan juga kepada kinerja guru. Sementara pada siklus 2. guru kurang rapih dalam menuliskan langkah-langkah pembuktian sehingga siswa terlihat kebingungan. • Guru tidak mengoreksi kesalahan yang dilakukan ketika tahap apersepsi yaitu tentang ungkapan siswa yang menyebutkan istilah “volume lingkaran” bahkan guru menuliskannya tanpa ada koreksi lebih lanjut. Karena waktu pembelajaran tersita untuk aktivitas siswa. • Guru harus mengulang-ulang penjelasan terutama pada pengambilan kesimpulan agar siswa lebih memahami. hanya memang metode pembelajaran seperti itu jarang dilakukan di sekolah dasar termasuk oleh kedua guru yang tampil. serta mengelola aktivitas siswa dalam kelompok. • Observer sebaiknya mengamati di luar kelas karena sering berpengaruh terhadap pembelajaran. • Guru pun kurang melibatkan siswa dalam pembuatan kesimpulan sehingga pada tahap ini siswa terlihat tidak bersemangat.

[17-05-2007].(2002). • • Penetapan kerja sama dengan pihak sekolah.(2003). pihak sekolah mendukung sekali dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study dan merasakan manfaatnya.hk. [online].Oktober 2008 . KESIMPULAN Lesson Study sebagai model pembinaan guru yang bersifat kolaboratif dan kolegaliatif dapat dimanfaatkan sebagai model bimbingan mengajar dosen terhadap mahasiswa. karena belum terbiasa bertugas sebagai pengamat yang diharapkan independen dari proses pembelajaran.net. Mills College [online]. mahasiswa dan pihak sekolah. Lesson Study and Its Impact on Teacher Depelovment. pelaksanaan dan rekleksi pembelajaran sehingga muncul sikap kolegalitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. Hongkong : The University of Hongkong.Metode Penelitian Pendidikan. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif. Untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study di sekolah dalam rangka bimbingan mengajar bagi mahasiswa memerlukan persiapan-persiapan. • Penetapan jadwal kegiatan. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya “JURNAL. Mengadakan workshop di sekolah untuk mensosialisasikan program kegiatan yang dihadiri dosen. yaitu : • Penetapan program bimbingan oleh dosen yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut.(2005)..ied. beberapa observer berinteraksi dengan siswa bahkan ada yang memberikan masukan kepada siswa. Guru dan kepala sekolah berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan tentang strategi-stretegi pembelajaran matematika khususnya dan bidang studi yang lainnya. persiapan untuk pelaksanaan di sekolah kurang matang sehingga berpengaruh terhadap penentuan waktu pembelajaran DAfTAR PUSTAKA Hendayana. dosen. N. S. Sementara bagi mahasiswa Lesson Study dianggap sebagai latihan dan bimbingan yang baik untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebagai bekal nanti sebagai guru.(2001). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Oakland CA : Education Department. http://www.Pelaksanaan observasi pada kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. Belajar Cara Belajar. Catherina C. tidak hanya berbekal terhadap pemahaman mengajar secara akadenik saja tetapi membutuhkan pengalaman berupa kegiatan praktek terbimbing. Lesson Study : suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMSTEP-JICA). Mahasiswa juga mendapatkan feed back langsung dalam kegiatan refleksi. LO. Untuk menjadi seorang guru yang profesional. dkk. Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. Akan tetapi. Faktor pendukung dalam kegiatan Lesson Study ini adalah: pertama. Mereka berharap kegiatan Lesson Study sering dilaksanakan oleh UPI Kampus Tasikmalaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di SD. hal ini karena para observer telah memiliki pemahaman bersama tentang tugasnya. Melalui kegiatan Lesson Study. Sementar Faktor penghambatnya adalah : pertama. mahasiswa yang terlibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa semester VII interes matematika yang semuanya sudah mengajar di SD sehingga mudah dalam menganalisis permasalahan di SD. Pada pelaksanaannya.S. Setelah semua kegiatan Lesson Study dalam 2 siklus selesai dilaksakan. serta ketiga. Bandung : UPI Press Lewis. mahasiswa. [17-052007] Pusat Perkembangan Kurikulum. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kepada kegiatan siswa dan guru setidaknya mengganggu konsentrasi siswa. dan kedua. kedua. Ling Mun. dan guru berkolaborasi dalam perencanan. dan mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan Lesson Study. (2006). Kuala Lumpur : Kementrian Pendidikan Malaysia. mahasiswa melakukan praktek pembelajaran yang tidak hanya melibatkan dosen tetapi pihak sekolah dasar.lessonresearch. Sukmadinata.edu. guru. pemilihan pokok bahasan dan strategi pembelajaran berdasarkan situasi di sekolah serta pengetahuan mahasiswa. Peneliti mewawancara kepala sekolah. http://www. Observer berpedoman kepada lembar observasi yang telah disiapkan untuk kemudian menjadi acuan dalam kegiatan refleksi. penetapan waktu pelaksanaan Lesson Study yang tidak leluasa menurut pertimbangan semua partisipan sehingga persiapan belum melibatkan guru secara optimal tetapi hanya sebatas koordinasi saja.

Di samping itu. Dari 8 kali tatap muka . dan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. (2) Wawancara. pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. dan (5) Observasi.Oktober 2008 . Data penelitian ini diambil dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. motivator. (3) Catatan Lapangan.(4) Studi Dokumentasi. Demikian juga dengan penerapan pembelajaran terpadu dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan kategori baik. konteks kebudayaan dan suasana. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT.Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. Dari ke-30 KE tersebut. Pendekatan Terpadu (PT). tempat. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. Kurikulum KTSP mempertegas bahwa dalam penyajian materi bahasa . Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. peristiwa bebahasa (Utari. Data dari komponen pelaksanaan pembelajaran menunjukkan data sebagai berikut. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. menyiapkan materi yang bervariasi. Kata Kunci: Pendekatan Komunikatif (PK). hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. yaitu kasus pembelajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDAHULUAN aat ini. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. tidak lagi bertujuan mengajarkan bahasa secara teoretis. jalur dan media. Di samping itu. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. aspek-apek kebahasaan harus diajarkan secara “JURNAL. Dari komponen RPP yang dijadikan data menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif telah dilaksanakan dengan kategori baik.1988:93). tujuan. dan fasilitator. yaitu mengetahui tentang bahasa tetapi mengembalikan pembelajaran bahasa kepada fungsi bahasa yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Sisanya. pembelajaran Bahasa Indonesia pada lembaga pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan SLTA. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. S Pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan. waktu. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. Selama 8 kali tatap muka. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif.

Kenyataan menunjukkan keempat keterampilan berbahasa tersebut. menghubungkan. siswa diberi kebebasan. Baik keterpaduan dalam internal Bahasa Indonesia maupun keterpaduan lintas kurikulum. guru berperan sebagai individu yang diharapkan memberi nasihat. yaitu bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks nyata. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. pendapat. yaitu fungsi komunikatif. Guru hanya sebagai fasilitator. (b) fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa. untuk memungkinkan siswa dapat berbahasa sesuai konteks. otonomi. Agar komunikasi terjalin dengan baik. “JURNAL. intonasi. Artinya. isi pembicaraan. Oleh karena itu. tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar (Stevik. menjawab. 1992). Demikian pula keterpaduan dalam bidang studi bahasa Indonesia. Sebagai fasilitator guru mengkoordinasikan kegiatan siswa yang harus bisa menjamin kegiatan kelas berjalan dengan baik. nada. ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah. gagasan. dan memberikan bimbingan (Littlewood. Dengan demikian. tetapi secara utuh. siswa akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam masyarakat bahasanya. berbicara. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah.” (Depdiknas. Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud . akan lebih baik bila pembelajaran di sekolah diarahkan untuk menuju pemikiran secara utuh tersebut. menulis. Selain harus mengacu pada pendekatan komunikatif. persetujuan. maka kedua belah pihak juga harus bisa bekerja sama dengan baik. tekanan. Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk : (a) mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi. berupa bahasa otentik. (d) sistem bahasa (struktur. (c) variasi-variasi bahasa. situasi. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata. Dalam kegiatan komunikatif. di samping variasi baku/ formal. dan lain-lain. Alasan lain. Kerjasama yang baik itu bisa diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor. dan menyimak tidak dipandang sebagai komponen yang terpisah-pisah untuk diajarkan sendiri-sendiri. ejaan. seperti fungsi bertanya. Komunikasi yang dimaksud ialah suatu proses penyampaian maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. 2006: 14).terpadu dengan keterampilan berbahasa yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu. (e) sastra.Oktober 2008 . berbicara. Dengan demikian. Sumber materi yang diutamakan dalam pendekatan komunikatif ialah materi yang otentik. dan tempo) dalam bahasa lisan. Arah dan tujuan pendekatan terpadu menurut Frazee dan Rosse (1995) mengarah pada pembentukan pemikiran siswa secara utuh. menentukan latihan. memantau kegiatan siswa. “Kompetensi dasar mencakup aspek mendengarkan. Goodman dalam pandangannya tentang pengajaran bahasa menyatakan bahwa keterampilan membaca. dalam Sumardi. menyangkal. kosa kata. karena dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan pengetahuan tidak secara per bagian. pembelajaran bahasa menyangkut keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada pernyataan Goodman (1986) tentang kurikulum bahwa pengajaran bahasa dan pengajaran bidang studi lain (yang dilaksanakan dengan menggunakan bahasa sebagai media penyajian) merupakan kurikulum yang bersifat ganda (dual curriculum). Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Hal ini diisaratkan baik dalam rambu-rambu Kurikulum SD 2006. bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya berbeda-beda. irama. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan). (b) meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi. tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri. digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pengajaran baik dalam belajar bahasa maupun bidang studi lain. dan kebahasaan dan dilaksanakan secara terpadu. keinginan penyampaian informasi suatu peristiwa. serta unsur-unsur prosodi (intonasi. Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu. menyapa. yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. yaitu sentralitas kegiatan lebih banyak berada pada siswa. karena secara kodrati siswa usia SD memandang sesuatu selalu dengan pandangan yang utuh dan menyeluruh (holistik). pengajaran bahasa dan isi dari bidang studi lain bersama-sama menjadi bagian dari kurikulum secara utuh. yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks. tempat. dan media yang digunakan. yaitu dengan menyatukan. tetapi lebih luas lagi. 1992). mengajukan pendapat. kalimat. Adapun materi pelajaran utamanya ialah : (a) empat keterampilan berbahasa. Pembelajaran bahasa yang komunikatif nampak lebih humanistik. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut sebagai alat komunikasi. ide. dalam Sumardi. tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa. Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya. membaca. menulis. sastra. pembelajaran bahasa Indonesia di SD juga harus mengacu pada pendekatan terpadu (PT). fonem. dan lafal).

(2) penyusunan kegiatan belajar mengajar. SD Sukamaju selalu diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati (1) aktivitas guru serta aktivitas siswa. pemilihan materi pelajaran. Data penelitian ini diambil dari penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). dan penyusunan alat evalusi. yaitu kasus pengajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan pendekatan komunikatif dan pendekatan integratif. Data yang diambil hanya dari 8 RP yang disusun dan disajikan secara berturut-turut untuk 8 kali tatap muka. Artinya kedelapan RP tersebut disusun secara berurutan dan diterapkan secara berturut-turut pula oleh guru di depan kelas. SD ini mendapat binaan langsung dari induknya. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajarkan BI dan siswa Kelas VI pada SD Sukamaju. Observasi dilakukan pada saat PBM berlangsung. Selanjutnya hasil observasi ini dideskripsikan dalam laporan hasil penelitian. Secara rinci yang diteliti pada RP terebut adalah (1) perumusan TPK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (2) pekerjaan di lapangan. Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai identitas guru serta tugas yang dikerjakannya. Setiap ada pembaharuan dalam bidang pendidikan (perubahan kurikulum) SD Sukamaju mendapat informasi langsung dari atasan terdekat. Studi dokumentasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh penjelasan tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dikaitkan dengan perumusan tujuan dan pengembangan materi pembelajaran BI. (4) pemilihan media pembelajaran BI. Selanjutnya untuk pelaksaan kegiatan evaluasi. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap kurikulum dan rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). teknik penyampaian materi. dan (3) analisis data penelitian (Bogdan dalam Moleong. Agar kegiatan selama PBM dapat diamati dengan cermat digunakan bantuan tape recorder dan catatan penelitian. “JURNAL. Secara lebih khusus penelitian ini tergolong ke dalam penelitian studi kasus pengamatan (observarvastional case study) nonpartisipan. apakah setiap mengajar harus menyusun RPP? Apakah RPP dibuat sendiri atau dikirim dari pusat atau dibuat oleh KKG? Apakah RPP diperiksa oleh kepala sekolah sebelum disajikan?. 1983:489). Untuk melaksanakan penelitian yang dirancang dengan prosedur deskriptif maka penelitian harus mengikuti presedur (1) kegiatan pralapangan. Dipilihnya SD Sukamaju sebagai tempat penelitian karena pertimbangan sebagai berikut.Oktober 2008 .(4) Studi Dokumentasi. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang RPP. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Sedangkan studi dokumentasi terhadap RPP dilakukan untuk mendapat gambaran secara jelas mengenai perencanaan yang berhubungan dengan penerapan kedua pendekatan tersebut di atas dalam perumusan TPK. Fokus utama penelitian ini adalah sekelompok individu yang berinteraksi dalam periode waktu tertentu (Borg dan Gall. 2000:72 – 94).METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dilaksanakan dalam pembelajaran BI di SD Sukamaju Sumedang. (3) dan sistem penilaian yang dilaksanakan oleh guru. (3) Catatan lapangan. yang diteliti adalah pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan sisiwa selama PBM. penysusunan KBM. Untuk pelaksanaan pengajaran di kelas yang diteliti adalah (1) bentuk interaksi proses belajar-mengajar dan (2) teknik penyajian materi. sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1992:60). Peneliti memberikan angket kepada guru pengajar BI di kelas VI. pelaksanaan pengajaran.sisiwa. dan penilaian hasil belajar yang dilaksankan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. (2) langkahlangkah penyampaian materi. (3) materi dan sumber pelajaran. SD Sukamaju milik pemerintah. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. dan (5) penyusunan alat evaluasi. serta evaluasi yang dilaksankan oleh guru. Sebab itu. Dalam penelitian ini fokus observasi adalah pengajaran BI di kelas VI SD yang dilaksanakan oleh seorang guru dengan menerapkan pendekatan komunikatif. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. Hal ini dilakukan terutama ketika guru melaksanakan pengajaran di dalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru. (5) Observasi. Demikan pula bila ada ceramah atau kegiatan yang berkaitan dengan pembaharuan (simulasi atau seminar) dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh PGSD. Peneliti mencatat kejadian selama dilakukan pengamatan di lapangan. (2) Wawancara. Peneliti mewawancari guru BI di kelas VI. pemilihan media.

Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Selanjutnya dari 8 RP yang direncanakan guru. Dari 8 kali tatap muka. 37 KBM telah menerapkan PK. (6) bentuk interaksi PBM. Penyusunan alat evaluasi yang direncanakan guru dalam RP berjumlah 22 butir. Selanjutnya kedelapan RP yang direncanakan guru dalam mempersiapkan media tersebut telah menerapkan PT dengan sangat baik. Selanjutnya alat evaluasi yang direncanakan pada 8 RP hanya 3 RP yang telah menerapkan PT. Penyusunan rencana KBM pada RP yang terdiri dari 45 KBM. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. (5) penyusunan alat evaluasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 5 RP telah menerapkan PT dan 3 RP belum menerapkannya. Selanjutnya. dan 8 RP KBM belum menerapkan PT. Di samping itu latihan-latihan yang diberikan dapat mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi secara langsung. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. Untuk mengukur kopetensi komunikatif siswa. (7) teknik penyajian materi . Media pengajaran yang direnacanakan guru pada RP berjumlah 36 butir. TPK yang direncanakan guru jumlahnya sangat terbatas.Data dianalisis selama pengumpulan dan setelah pengumpulan data. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. yaitu hanya ada 25 butir rumusan TPK untuk 8 RP. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. Dari ke 25 rumusan TPK tersebut hanya 20 rumusan TPK yang telah menerapkan Pendekatan Komunikatif (PK). Selanjutnya dari 8 RP yang disusun guru.Oktober 2008 . Ini berarti bahwa media yang digunakan guru kurang bervariasi. Maksudnya selama pengumpulan data. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. Selanjutnya bila ditinjau dari penerapan PT semua materi yang direncanakan telah menerapkan PT dengan sangat baik. Dari jumlah tersebut 28 butir media telah menerapkan PK sedangkan 8 butir belum menerapkannya. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Pada umumnya media pengajaran yang digunakan hanya buku teks. Materi yang direncanakan untuk siswa berjumlah 36 butir. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. bermakna bagi siswa dan bersumber dari lingkungan di sekitar siswa dan bersumber dari lingkungan siswa. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian berkenaan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan penerapan pendekatan terpadu dalam pengajaran BI yang meliputi: (1) perumusan TPK. Sisanya. Guru tetap menekankan penggunaan BI secara riil dan bukan menghafalkan pengetahuan tentang bahasa. guru tetap merencanakn agar siswa berperan aktif. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Selama 8 kali tatap muka. Dari jumlah tersebut 28 butir materi telah menerapkan PK dan 8 butir belum menerapkannya. Seandainya terdapat penyimpangan maka pada observasi berikutnya dapat dilakukan perekaman atau pencatatan data dengan lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan data yang fatal. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. dan fasilitator. 6 RP telah menerapkan Pendekatan Terpadu (PT) sedangkan 2 RP lainnya belum menerapkan PT. Dari ke-30 KE tersebut. (2) penyusunan KBM. Berdasarkan hasil pengamatan. “JURNAL. motivator. digunakan tes esei sehingga siswa dapat bernalar dan mengorganisasikan jawabannya secara kreatif. Di samping itu. Dari jumlah tersebut 16 butir alat evaluasi telah menerapkan PK dan 6 butir belum menerapkannya. sedangkan 5 rumusan TPK lainnya belum menerapkan PK. data ditranskripsikan (dari pita rekaman ke data tulisan) dan disesuaikan dengan catatan penelitian. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Sisanya. diketahui bahwa materi tersebut adalah materi yang otentik. dan (8) kegiatan evaluasi pengajaran BI. (4) pemilihan media pelajaran. menyiapkan materi yang bervariasi. yaitu alat evaluasi yang direncankan pada 5 RP belum menyajikan penerapan PT. sedangkan penggunaan media lainnya sangat terbatas. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. (3) pemilihan materi pelajaran. Pada KBM yang disusun.

“Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa. What’s Whole in Whole Language? Portsmouth: Heinemann. I.Levstik. and Field Based Connections. Jakarta: Dikti.G. Dadan. F. dan Implementasi. 2004. 2003. Moleong. 2005. Hastuti. Depdiknas. Djuanda. B. 1996. Kurikulum Satuan Pendidikan Jakarta: Depdiknas. Jakarta: Bumi Aksara. Djuanda. 2005. Jakarta: Elex Media Komputindo. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. Sudjana. dan Alwasilah. dan S. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Apresiasi Sastra di SD. No. A. E. Ch. B. Sukardi. Dadan. Bandung: UPI PRESS. 1997. 2 Agustus 1995.M dan Rosse. Imam. Tahun 23. 1998. 2005. Daniel J. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar.Biklen. Mulyanto. Ken. 2000. Dadan. Bandung: Rosda Karya.K.” Dalam Bahasa dan Seni. Jakarta: Rajawali Pers. Jakarta: Rasindo. Nangoy. 1995. 1989. Bandung: Remaja Rosdakarya. Parera. Jakarta: Depdikbud. dan L. Farida. 45 Kegiatan untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi. New York: Delmar Publisher. 1992. Tarigan. Abdul. dan Zuhdi. CC. Rofiudin. Nana. S. 2008. Jakarta: Depdikbud. Ahmad. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktik. Mulyasa.2004. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. 1986. Jakarta: Bumi Aksara. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. H. Dkk. 1998.Oktober 2008 . Dkk.S. A.M. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods.M. 2006. Jakarta: Depdikbud. Pappas. Metodologi Penelitian Pendidikan. Teknologi Pendidikan. Clasroom Aplication. 2006.C. Sadiman. Arief. Bandung: UPI PRESS. 2005. Jakarta: Depdikbud “JURNAL. Bandung: Remaja Rosda Karya. Metodologi Penelitian Kualitatif. Boston: Allyn and Bacon. Integrated Teaching Methods : Theory. Djuanda. Metodologi Pengajaran Bahasa. 1995. Majid. 1992. dan Rivai. Sapani. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi SD. Goodman. Bandung: Remaja Rosda Karya.Kiefer.R. Frazee. 2006. dan Prana D. Jakarta: Sinar Harapan. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Syafi’ie. Bogdan. Teori Pembelajaran Bahasa. An Integrated Language Perspective in the Elementary School. 2000. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD. Rahim. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Lexy J. Dadan.DAfTAR PUSTAKA Azies. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Djuanda. dan Novi Resmini 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. D. Media Pendidikan. R. NewYork: Longman. Bandung: Kaifa. Karakteristik. 1995. Bandung: Sinar Baru. Sumardi.

5) persyaratan dan set –up lembaga. Seperti kita pahami. masyarakat dan manusia yang menjadi anggota masyarakat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kepribadian. dapat menghasilkan manusia paripurna yaitu mengembangkan manusia seutuhnya. Adapun variabel yang dimaksud adalah : 1) Tujuan . Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kenyataan dalam pendidikan dewasa ini adalah semakin menurunnya peran guru dalam proses pengembangan potensi peserta didiknya karena berbagai alasan. 3) isi serta struktur pelajaran. Kejadian tersebut tidak lepas dari kemampuan guru yang belum mengembangkan kemampuan berpikir siswa kearah materi yang sifatnya problematic yang memerlukan siswa berpikir kritis dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya untuk kemudian memutuskan sesuatu dalam rangka memecahkan masalah. bangsa dan Negara (UUSPN : Pasal 3 ayat 1). pelajaran IPS. akhlak mulia. Seringnya terdengar ungkapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak lebih dari menyampaikan informasi saja tidak menantang dan menjemukan. 4) biaya mengajar. kecerdasan. sekarang dan akan datang. Maka dapat kita katakan bahwa melalui usaha pendidikan. pendidikan di sekolah-sekolah kita ini masih merupakan pembelajaran yang berfokus pada pengajar (InstructurCentered Learning) Aris Pongluturan (1999:157). sehingga menurunkan minat anak untuk lebih memperdalam mempelajari pelajaran IPS. dan keterampilan sosial dan intelektual serta partisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmuilmu sosial. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. Mendidik adalah menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar.Oktober 2008 . studi mengenai pelajaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan. 2) siswa dan latar belakangnya.Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah PENDAHULUAN ndang-undang No. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sebagai individu dan kelompok. mengingat tujuan IPS untuk setiap jenjang adalah mengembangkan kecerdasan warganegara yang diwujudkan melalui pemahaman. Mengingat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. materi yang diajarkan guru dan disini siswa harus didorong ikut memainkan peran serta aktifnya dalam proses belajar mengajar. Hal ini disebabkan guru tidak lain dalam proses belajar mengajar itu hanya menyajikan pengetahuan yang ada yang harus dihafalkan dan diketahui peserta didik (Ansyar dalam Laode 1999:4). seiring dengan perkembangan jaman. peserta didik diharapkan dapat menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar. masyarakat. pengendalian diri. mental intelektual maupun semangatnya dimana ketika peserta didik menyelesaikan setiap satu jenjang pendidikan tertentu dinyatakan telah memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi secara mandiri serta mampu berdiri sendiri tanpa mengantungkan hidupnya pada orang lain. dipersekolahan seharusnya lebih menekankan pada pengembangan potensi siswa dalam berbagai gatra yang bersifat pragmatis-praktis yang menyangkut diri dan kehidupannya. Fenomena ini sudah berkembang dipersekolahan sejak lama khususnya dalam pembelajaran IPS dimana pembelajaran IPS lebih cenderung transfer materi saja sehingga memunculkan anggapan dibenak masyarakat khususnya peserta didik bahwa pelajaran IPS kurang menantang. Studi yang mempelajari interaksi manusia untuk membantu siswa memahami diri mereka dan yang lainnya dalam suatu masyarakat yang berbeda tempat dan waktu. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lippit dan K. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Studi mengenai manusia di masyarakat dimasa kini. yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai. yang berkembang baik pisik. Whitedan Richard Anderson (dalam Idochi Anwar. 1996:93) disimpulkan bahwa pada saat mengajar akan dijumpai betapa kompleksnya fungsi mengajar itu kita akan menghadapi beberapa variable yang kompleks karena itu kita perlu mengatur strategi dalam mengajar. bidang studi yang menjemukan. Pelajaran IPS merupakan. U “JURNAL.

analizy and evaluate proposal. upaya yang dilakukan adalah menggunakan pola pembelajaran yang dapat menciptakan aktivitas proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa dimana “Thinking skill are among the most important skill to learn” (Naylor. Melalui model pembuatan keputusan dan ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dan analitis guna membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada. memperlihatkan bahwa. Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan). Seperti yang diungkap oleh Maxim (1987:240) “One of the most effective program for encouraging decision making in development of value is…. Persoalannya adalah bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan ) digunakan dalam Gambar 1: Decision Making tree Ouline Diadaptasi dari R. Satu diantaranya adalah metode decision making process. Pengembangan model Decision Making Process (proses pembuatan keputusan) diasumsikan dapat digunakan dalam pembelajaran IPS.mengharuskan guru yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar mengajar untuk lebih kreatif menciptakan kelas yang kondusif sehingga nantinya dapat menghasilkan pembelajaran IPS yang lebih bermakna.1987:275).Oktober 2008 . La Raus and R. “Decision making process are developed as student clarify value. Banyak metode yang digunakan untuk dapat menciptakan proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa (Naylor 1987 : 247). Untuk bisa dicapainya kondisi tersebut di atas. karena sesuai dengan apa yang menjadi fungsi dan peran yang diemban oleh mata pelajaran IPS yaitu sebagai sarana utama untuk mendidik warganegara dalam upaya mewujudkan masyarakat madani Indonesia.C. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .The program making political decision”.Remy dalam Naylor (1987:267) “JURNAL. Dari latar belakang permasalah dan temuan teori di atas. dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang dapat menjawab diskursus yang berkaitan dengan pengajaran IPS yang selama ini dipandang belum optimal. consider alternatives and weigh the consequences of different course of action”.

Pembelajaran ini dapat menumbuhkembangkan keterampilan sosial peserta didik yaitu berkerjasama. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Masalah pokok makalah di atas. Seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS? 3. karena guru mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran dengan kondisi riil siswa dan masalah sosial.Gambar 2: Paradigma Penelitian proses belajar mengajar IPS maka penelitian ini dibatasi pada “bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan) dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas 6”. dalam pembelajaran materi tidak hanya terpaku pada buku teks tapi lebih mengkontekstual. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru. saling toleransi. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS ? 4. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. berkomunikasi dan juga menghargai pendapat sesama kawan. ditemukan bahwa. Bagaimana proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) ? 2. penulis akan mencoba menganalisis kinerja guru maupun tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru sejak menyusun tencana sampai penerapan pembelajaran nampak “JURNAL.Oktober 2008 . pembelajaran Decision Making Process Model adalah kegiatan pembelajaran yang sangat menyenangkan. Berdasarkan metodologi penelitian maka diperoleh hasil: Proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Setelah mengikuti pembelajaran Decision Making Process Model selama empat kali pertemuan. tetapi juga melakukan suatu diskusi berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2: HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimental) yaitu suatu penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan. karena kegiatan tersebut diindikasikan melibatkan peserta didik yang terlihat dari pembelajaran yang tidak ceramah terus.

Selain itu hal-hal tersebut di atas guru juga berpendapat bahwa dengan penerapan pendekatan ini dapat meningkatkan aktivitas maupun kreativitas peserta didik hal ini nampak terlihat dari proses pembelajaran berlangsung.5 7. Disamping itu dengan menerapkan pembelajaran Decision Making Process Model.5 8. maupun dalam mengevaluasi pembelajaran. baik dalam menampilkan materi.Oktober 2008 .5143 7.5 5 5 6 7.5 9 7.5 6.5 7. dapat menumbuhkan suasana belajar yang kondusif.6 9.486 Gambar 3: Grafik Perolehan Hasil Belajar “JURNAL. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan penerapan pembelajaran Decision Making Process Model akan memberi warna baru dalam proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan.5 9 9.mengalami perubahan dan peningkatan kearah lebih baik.5 7.5 7.5 7.5 6 7 7.5 8.5 8 10 7 6 6 7 7.5 9 10 8.5 8 9 10 8 9.5 10 7.5 7.5 7 9. maupun memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas maupun kreativitas pembelajarannya dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dengan menggunakan media pembelajaran short story.5 9.5 9 10 5 6 6 9 6.5 9 10 8. Guru juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif.5 6. Tabel 1: raihan Nilai Setelah Menggunakan Decision Making Process Model No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rata2 Nilai Pertemuan Ke: 1 2 3 4 7 6.5 10 6.5 9 10 6 6 6. diskusi.5 8 8 8 9 10 8. sehingga perlu dipersiapkan rencana pembelajaran secara terencana.46 9.5 9 9 10 8 9 9 9 7 6. maupun dalam mengerjakan tugas dari guru.5 10 7. baik keterampilan dalam menyusun rencana pembelajaran.5 8 9.5 9 9 10 9 9.5 5 7. Menurut pendapat guru pada saat mengembangkan pembelajaran di kelas.5 9.5 8.5 10 7. perlu keterampilan yang cukup tinggi agar Decision Making Process Model dapat dilaksanakan secara optimal.5 9 9 6 9 6. selain itu dengan penerapan Decision Making Process Model ini peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajaran selalu mengembangkan konsep-konsep terkunci secara terus menerus.5 9 10 6.5 9 8.9857 8.5 8 8. baik dalam kegiatan tanya jawab. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .5 10 9 7.5 9.5 9 8 10 7.5 9. Menurut pendapat guru Decision Making Process Model ini merupakan inovasi pembelajaran.5 8 9. pendapat ini dapat mengindikasikan bahwa pengembangan pembelajaran Decision Making Process Model membutuhkan kemauan maupun keterampilan yag tinggi agar pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan optimal.5 8.5 7. pelaksanaan.5 10 8 8.5 7 8 9.5 9.5 10 9 9 9 10 8 8.5 9 8 9 8 9 8 8 9 9.5 10 9.

mencari isu dan masalah tidak mudah. sehingga ketika pelaksanaan pada prosesnya guru cenderung terlalu cepat mengambil alih kendali pembelajaran dan dominasi selama pelaksanaan.Oktober 2008 . Keterampilan seperti ini tampaknya perlu dilatih dan ditingkatkan untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model. dan juga sikap siswa. (2) guru hanya terpadu pada cerita yang dipersiapkan padahal masih banyak cerita lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan topik bahasan. guru harus menguasai materi yang lebih luas terkait dengan konsep KESIMPULAN Pertama pembelajaran dengan menggunakan model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternatif pembelajaran IPS di sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Setelah dilakukan evaluasi dengan materi IPS yang berbeda. dalam hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar siswa secara keseluruhan maka hasilnya menunjukkan adanya peningkatan. untuk merubah kebiasaan yang telah tertanam pada diri guru secara keseluruhan sangat sulit dilakukan.Peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Pada penelitian ini kegiatan evaluasi dilakukan guru untuk mengukur penguasaan konsep pada diri siswa. penyusunan perangkat evaluasi yang tidak umum dilakukan sebelumnya. misalnya mau mendengarkan pendapat orang lain. dari hasil evaluasi ditemukan adanya peningkatan pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan penguasaan kosep. maupun kelompok “JURNAL. dikarenakan pelaksanaan model ini dapat menciptakan iklim pembelajaran yang transaksional. berperan aktif dalam proses belajar mengajar. selain itu adanya perubahan sikap. Berdasarkan temuan selama mengadakan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Decision Making Process Model ini telah memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. resonansi melalui konlik-konflik nilai dalam dialog. Temuan lain dari hasil wawancara ditemukan bahwa ada beberapa yang lebih menyukai cara belajar biasa dengan dasar alasannya adalah karena informasi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan Decision Making Process Model . Perningkatan perkembangan ini dapat dilihal dari Tabel 1 dan Gambar 3. Sesuatu yang baru diperkenalkan dan dialami adalah variasi dari suatu rutinitas. selain itu hampir semua siswa senang dan menyukai pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dengan alasan cara pembelajaran seperti itu membuat siswa lebih leluasa untuk mengemukakan pendapatnya tanpa ada perasaan takut salah. juga meningkatkan keterampilan dengan merumuskan pertanyaan. Kendala yang dialami dalam pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan adalah guru kurang berupaya menciptakan disequlibrium atau desonanti. Hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang berarti. peserta didik merasa lebih banyak tugas yang harus dikerjakan sehinga peserta didik aktif dan antusias dalam mengerjakan tugas. yaitu berpusat pada peserta didik. menghargai hasil kerja orang lain. Namun ketika menemukan hal yang tidak biasanya atau baru mereka merasakan sesuatu yang lain dan respon mereka ditunjukkan bisa positif dan negatif. umumnya manusia merasakan suatu runtinitas sebagai hal yang biasa. Kendala ini dirasakan dalam pembelajaran IPS dengan model tradisional. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Beberapa kendala yang dialami oleh guru ketika pelaksanaan pembelajaran Decision Making Process Model. Temuan lain menunjukkan bahwa siswa umumnya suka dengan Decision Making Process Model namun mereka tidak mengharapkan metode tersebut digunakan untuk seluruh pokok bahasan dan tiap pertemuan. Penerapan model belajar Decision Making Process Model. Decision Making Process Model adalah merupakan hal yang baru. pertama berhubungan dengan kebiasaan guru itu sendiri yang terbiasa menggunakan pembelajaran yang sifatnya tradisional. mengeluarkan argumentasi. Banyaknya materi yang harus disampaikan dengan jumlah jam pelajaran. salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa. Kendalan lain yang dirasakan adalah kurang seimbangnya waktu belajar (durasi jam pelajaran) dengan proses pembelajaran. baik secara individu. Menggunakan Decision Making Process Model ini memerlukan waktu yang cukup lama kedua penggunaan pola pembelajaran ini menuntut guru untuk lebih kreatif dibandingkan dengan pendekatan yang konvensional. sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengungkapkan dan menemukan konsep-konsep dalam belajar. materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah dipahami. membuat laporan menyelesaikan tugas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Respon siswa terhadap penggunaan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Dari hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan bahwa : Decision Making Process Model dapat menciptakan suasana anak menjadi kondusif.

Departemen Pendidikan Nasional (2000) Pendidikan Kewarganegaraan. Reading Massachusetts.Angkasa. Tesis. dkk (1999) Cakrawala pendidikan. New York. Learning by Doing Developing Teaching skill. Bandung. Handbook in Research and Evaluation. PPS IKIP Bandung. Merril Publishing Company.(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. Tidak Diterbitkan Bandung. Stephen dan William B. Makalah. ----------------. New Jersey. dalam membuat rancangan pembelajaran. Barry K. Selain itu juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta didik secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajarannya selalu mengembangkan konsepkonsep kunci pendidikan IPS. iconic dan symbolic. Bandung : IKIP Bandung. Michell. Allyn and Bacon Coensuello G. Ketiga penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Nana Sudjana & R. edition). Selain itu juga guru dituntut untuk menguasai banyak disiplin ilmu untuk pengajarannya. Lab. Remaja Roakarya.dan juga bersifat multi arah. Recent. PPS. DAfTAR PUSTAKA A. Universitas Jakarta. Ibrahim (1989) Penelitian dan penilaian Pendidikan. Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Random House Inc. dimana guru berusaha untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan selalu mempertimbangkan aspek peserta didik. Mac Millan Publishing Company. Jesus A. John U. Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam memahami masalah. Numan Somantri (1993) Masalah Pengembangan Ilmu Kewarganegaraan (IKN) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dalam lingkungan FPIPS-IKIP dan FKIP-Universitas. LAB Pengajaran PMP IKIP Bandung. Paulina Panen. Maxim (1987) Social Studies and Elementary School Child.Jakarta. P2LPTK. Hansiswani kamarga (1994) Konsep IPS dalam Kurikulum Sekolah Dasar dan Implementasinya di Sekolah. Ninth Edition. Abdul Azis Wahab (1996) Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global. Canada. USA. Diterjemahkan oleh Alimuddin Tumu. Bandung. Jakarta. Moch Idochi Anwar (1990) Kepemimpinan dalam Proses Belajar Mengajar. Kedua masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan pembelajaran ini terkait dengan kesiapan guru dalam merencanakan dan mengembangkannya di kelas. Bandung. (1982). David T. William A. Adision Wesley Publishing Company. Pidato Pengukuhan jawaban Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan. Decision Making Process Model ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena Decision Making Process Model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuh kembanggkan kreativitas dan critical thinking siswa. Gray III (1977). (2 nd . Decision Making Process Model ini memiliki kekuatan karena peserta didik dibantu untuk memahami konsep-konsep IPS yang abstrak dengan enactive. Pengajaran IKIP Bandung. Tidak Diterbitkan. George W.jakarta.Oktober 2008 . Ohio. Trends and Development. juga dalam mewujudkan iklim belajar yang transaksional dengan interaksi multi arah dan berpusat pada peserta didik. Isaac. Seville. FPIPS IKIP Bandung. Engle wood cliffs. Prentice-Hall Inc.J. Naylor (1987) Elementary and Middle School Social Studies. “JURNAL. Hasibuan (1986) Proses Belajar Mengajar. Ari Sutisyana (1997) Pengembangan Berfikir Kritis Anak dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar. Hamid Hasan (1995) Pendidikan Ilmu Sosial. California: Edits J. New York. Bandung : Sinar Baru. Tidak Diterbitkan. Jakarta. M. Bandung. Bandung. terutama dalam upaya mengkonkretkan konsepkonsep abstrak maupun perannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.Kosasih Djahiri (1996) Teori Keterampilan Belajar dan Mengajar Menuju Inquiry yang Reaktif. Beyer (1991) Teaching Thinking Skills :A Handbook for Elementary School Teacher. Penerbit Universitas Indonesia. Third Edition. Tesis. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . O (1993) Pengantar Metode Penelitian. Keempat penerapan pembelajaran ini menurut guru merupakan inovasi yang bisa menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. John Jarolimek(1993) Social Studies In Elementari Education. IKIP Bandung. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Michaelis (1976) Social Studies for Children in a Democracy.

Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Abstract This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitive approach in mathematics learning. yang menitikberatkan pada sistem. middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group. objektif. metacognitive approach PENDAHULUAN erpikir merupakan satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. observation sheet. Quantitative analysis was applied to the test result to display the difference of means between two sample groups. (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning. students’ attitude scale-questionnaire. and fill-in list for lecturers. sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif. serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis. sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan. Qualitative analysis was applied to explain teaching and learning activity. “JURNAL. seperti yang diungkapkan oleh Begle (Darhim. menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. In teaching and learning process. (3) Students’ activities were also improved in quality. nonetheless. konsep. prinsip. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis. Kenyataannya. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi.Oktober 2008 . The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is a must for students in tertiary level. struktur. interview guidance. (2) Metacognitive approach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. dan generatif. dinamis. Data analysis were performed both quantitatively and qualitatively. kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah. dan terbuka. tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. The subjects of the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and students of PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level can be considered as low. students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. Dalam suatu proses pembelajaran. 2005) mengenai pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah. Maier (1985) dan Ruseffendi (1991). Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. experimental group was treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. Kata Kunci: critical thinking skill. The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test. Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah B kemampuan berpikir kritis. Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis. 2004). Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tyler (Mayadiana. serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who were taught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach.

komentar. Akan tetapi. dan SPG (khusus pada kelas karyawan). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 4. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapa semester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yang berasal dari SMA. Tampak dari nilai mereka dengan rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk kedua kelompok tersebut. yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka. kemampuan berpikir kritis peserta didik di satu sisi memang sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan. serta 34. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 5. Dari uraian di atas. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional? 2. mengorganisasi informasi yang dihadapinya. yakni dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya. Melalui pengembangan kesadaran metakognisi. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secara aktif yang menanamkan kesadaran metakognisi. subkelompok sedang. serta dalam menyelesaikan masalah.62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA. Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa. maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan. Oleh karena itu. Ironisnya. Indikasi lainnya. sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. yakni hanya mencapai 36. Pandangan ini tentu saja berdasar. 2005). sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif? 3.26% untuk mahasiswa berlatar belakang IPA. mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor. MA. salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih rendah. guru atau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan. mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. ternyata kurang memuaskan. 26. jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan. SMK. mengenali kembali.06% untuk keseluruhan mahasiswa. akan tetapi di sisi lain ternyata kemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masih kurang. Tinjauan yang lebih mendalam pada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaran bahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitan dalam memahami konsep matematika maupun dalam pemahaman prosedural. Hasil yang diperoleh dari studi tersebut. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? “JURNAL.Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas.Oktober 2008 . mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan. mengingat. Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebut adalah laporan penelitian Mayadiana (2005). serta faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasi matematik (Maulana. Semua informasi yang ditemukan di lapangan tersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Bertolak dari pemikiran di atas. dengan program studi IPA dan NON-IPA. baik untuk mahasiswa yang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA. mahasiswa terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih. Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

membandingkan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . yaitu menangkap tulisan. 2003). yaitu membaca. Dalam proses berpikir. Dengan berpikir kritis. serta untuk menilai tindakan (Liputo. memilah-milah atau membedakan. melihat kemungkinankemungkinan yang ada. 2003).HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. mengevaluasi. Ungkapan sejalan mengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh “JURNAL. Swartz dan Perkins (Hassoubah. sebenarnya ia melibatkan proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru yang ada pada persoalan tersebut. Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yang melibatkan proses sensasi. dan memori (Sobur. 1997. Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. dan Splitter (Mayadiana. (3) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. dan berpikir kreatif. dan memahami apa yang diminta dalam persoalan tersebut. 2004). Paul dan Scriven (1996). memecahkan masalah. Presseisen (Liliasari. dan (6) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. 2004). mengubah. menggolongkan. Pada saat seseorang menghadapi persoalan. 2005). Pada saat itu pun.Oktober 2008 . menghubungkan. berpikir lateral. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional. menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada. Penulis merangkum beberapa definisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh Norris (Fowler. menghitung. yaitu bahwa berpikir kritis: (1) adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. dan salah satu dari kemampuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. 1996). Berpikir Kritis Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan berpikirnya. (2) merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupan yang tak bisa dihindari. 1996: 31) menyebutkan bahwa yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving). seseorang dapat mengatur. gambar. (5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut. (4) memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. Liliasari. Quina (Syukur. 2005). subkelompok sedang. analisis data. Presseisen (Angeli. berpikir strategis. mendengar. merancang. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto (1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang paling utama. berpikir kreatif (creative thinking). 1996) membedakan kemampuan berpikir menjadi dua bagian. dan memutuskan (Sobur. mengukur. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. dan berpikir kritis (critical thinking). serta membuat seleksi. berpikir analitis. Ennis (2000). 1996). menyesuaikan. juga untuk mengambil keputusan. dan dalam hal ini berpikir kritis bertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusan mengenai sesuatu. termuat juga kegiatan meragukan dan memastikan. membuat perencanaan. menimbang. persepsi. yakni kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakan perpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar. berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat. Sementara itu. sintesis. Selanjutnya ia mengalami proses persepsi. yaitu: berpikir vertikal. DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian. atau memperbaiki pikirannya. STUDI LITERATUR 1. menganalisis. Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diungkapkan di atas dapat dikembangkan melalui pembelajaran. ataupun melakukan recall dan recognition ketika yang dihadapinya adalah persoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin. evaluasi. pertama-tama ia melibatkan proses sensasi. 2. 1994). pengambilan keputusan (decision making). berpikir kritis. menafsirkan. Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selain untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. Menurut keduanya. Gerhand (Mayadiana. ataupun suara. berpikir tentang hasil.

Mengetahui apa yang dilakukan. mengerjakan. Perlulah kiranya diungkap dengan lebih jelas beberapa deskripsi yang berhubungan dengan berpikir kritis dalam matematika. 1987) mengemukakan bahwa proses atau keterampilan metakognitif memerlukan operasi mental khusus yang dengannya seseorang dapat memeriksa. mereka sadar untuk mengakui bahwa mereka salah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Karena berpikir kritis dalam matematika secara epistemologi berbeda dengan berpikir kritis dalam domain lainnya (Glazer. atau yang mereka pikirkan. membantu dan membimbing siswa jika ada kesulitan. Artinya saat siswa mengetahui kesalahannya. dan sumber yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. (3) Kemampuan merumuskan masalah ke dalam model matematika. 2004). Suzana (2004: B4-3) mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang. dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri.Oktober 2008 . 2005: 9). Lebih jauh lagi. (6) Kemampuan merekonstruksi argumen. memantau. bertindak secara normatif. pengetahuan tentang pengetahuan. yaitu kemampuan menentukan aturan umum dari data yang tersaji dan kemampuan menentukan kebenaran hasil generalisasi beserta alasannya. (4) Kemampuan mendeduksi dengan menggunakan prinsip. serta membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri apa yang dilakukan saat belajar matematika. Ennis (Glazer. 2. bahwa orang yang berpikir kritis adalah individu yang berpikir. 2005). strategi. dengar. memonitor. dan siap bernalar tentang kualitas dari apa yang mereka lihat. 2005). merencanakan. dan berusaha untuk memperbaikinya. Nindiasari (2004) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan “JURNAL. mengetahui prasyarat untuk meyakinkan kelengkapan tugas tersebut. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan oleh Krutetski (Mayadiana. 2005). memprediksi. yaitu kemampuan menuliskan contoh soal yang memuat aturan inferensi. yaitu kemampuan menyatakan argumen dalam bentuk lain dengan makna yang sama. Resnick (Mayadiana. Sejalan dengan itu pula. 2005). Brown (Weinert dan Kluwe. oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan berpikir kritis diabaikan oleh dosen. 2003). berpikir kritis dalam pembelajaran matematika merupakan tujuan yang dikelompokkan secara holistik berdasarkan apa arti mengajar. dan memahami matematika (Appellbaum. Paul (Mayadiana. bagaimana melakukannya. Sementara itu Cabrera (1992) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses dasar dalam suatu keadaan dinamis yang memungkinkan mahasiswa untuk menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan masa mendatang. Berpikir Kritis dalam Matematika Domain khusus definisi berpikir kritis harus didiskusikan dalam rangka menarik hubungan antara penelitian dan implikasinya dalam pendidikan matematika. Sebagai pendidik. bentuk aktivitas memantau diri (self monitoring) dapat dianggap sebagai bentuk metakognisi. Fawcett (Glazer. Dalam sudut pandang yang lain. penulis merumuskan beberapa indikator berpikir kritis yang akan digunakan dalam penelitian ini. (5) Kemampuan memberikan contoh inferensi. Karena bagaimanapun. Pendekatan Metakognitif Weinert dan Kluwe (1987) menyatakan bahwa metakognisi adalah second-order cognition yang memiliki arti berpikir tentang berpikir. Menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir. Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. Para peserta didik dengan pengetahuan metakognitifnya sadar akan kelebihan dan keterbatasannya dalam belajar. Woolfolk (1995) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua komponen terpisah yang terkandung dalam metakognisi. serta mengontrol tentang apa yang mereka ketahui.Splitter (Mayadiana. (2) Kemampuan mengidentifikasi relevansi. yaitu kemampuan menyatakan persoalan ke dalam simbol matematika dan memberikan arti dari setiap simbol tersebut. dosen memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif. Pascarella dan Terenzini (Mayadiana. 1987). Tim MKPBM (2001) memandang metakognitif sebagai suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. 2004). atau refleksi tentang tindakantindakan. apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya. yaitu pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang keterampilan. yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang disajikan dengan menggunakan aturan inferensi. mengatur. dan mengumpulkan informasi untuk membangun definisi operasionalnya. 2004) mengklaim bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya. yaitu kemampuan menuliskan konsep-konsep yang termuat dalam pernyataan yang diberikan dan menuliskan bagian-bagian dari pernyataanpernyataan yang menggambarkan konsep bersangkutan. antara lain meliputi kemampuan: (1) Kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. dan mengetahui kapan melakukannya. 3.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . juga dapat diketahui skor setiap mahasiswa “JURNAL. dan memeriksa hasil. Bagaimana siswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. misalnya dalam pemecahan masalah. dan keputusan yang benar sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memantau dan mengatur proses kognitifnya. Pressley et al. 1987) mencakup perencanaan. pengertian strategi kognitif adalah. Dengan demikian. dengan model keterampilan ini. Johnson. dan (4) situasi peserta didik dalam kegiatan kognitif mengalami kesulitan. dan mendapatkan pengendalian kesadaran atas diri mereka. yakni di Jawa Barat dan Banten. Menurut Hartono (Nindiasari. Bila diterapkan dalam belajar. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. (2) situasi kognitif dalam mengahadapi suatu masalah membuka peluang untuk merumuskan pertanyaan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi. bila perlu memodifikasi strategi yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan. penulis menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kritis. Sedangkan untuk data kualitatif. monitoring. anak bertanya pada dirinya sendiri untuk menguji pemahamannya tentang materi yang dipelajari. yang didilaksanakan dengan menggunakan dua perlakuan. dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para siswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari (Jacob. Ada dua konteks yang mesti dipahami agar siswa mampu belajar secara baik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif. Adapun kegiatannya menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. dan merevisi kerja mereka sendiri mencakup tidak hanya membuat mahasiswa sadar tentang apa yang mereka perlukan untuk mengerjakan apabila mereka gagal untuk memahami. memperluas aplikasi-aplikasi tersebut.Oktober 2008 . pendidik (dosen/guru) dapat memulai lebih awal di sekolah atau perguruan tinggi. dan daftar isian untuk dosen. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. “Penggunaan keterampilanketerampilan intelektual secara tepat oleh seseorang dalam mengorganisasi aturan-aturan ketika menanggapi dan menyelesaikan soal”. uji homogenitas. pertimbangan. Wong (Jacob. 2000: 444) PENELITIAN Penelitian digolongkan kepada penelitian eksperimen. jurnal. 1998). analisis masalah). Untuk data kuantitatif. Adapun aspek aktivitas metakognitif yang dikemukakan oleh Flavell (Suzana. (3) regulasi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus daerah yang tersebar di dua provinsi. sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional. Torgosen. Contoh dari strategi kognitif ini antara lain: bertanya pada diri sendiri. yaitu siswa dapat memahami dan menggunakan strategi kognitif dan strategi kognitif metakognitif selama proses pembelajaran berlangsung. pedoman wawancara. belajar juga merupakan metakognisi melalui aktivitas yang digunakan yaitu mengatur dan memantau proses belajar. sedangkan strategi kognitif metakognitif adalah mengontrol seluruh aktivitas belajarnya. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap hasil tes untuk melihat perbedaan rerata antara dua kelompok sampel. Selain dengan latihan. Dengan demikian.metakognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari strategi kognitif. seperti yang diungkapkan oleh Borkwoski. 2004). analisis dilakukan dengan uji normalitas. angket skala sikap mahasiswa.. setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara aposteriori. yaitu: (1) peserta didik diminta untuk menjustifikasi suatu kesimpulan atau mempertahankan sanggahan. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya dipilih secara acak menurut kelas. Borkwoski. Namun demikian. 2004: B4-4) adalah: (1) kesadaran mengenal informasi. selain dapat diketahui skor untuk setiap butir skala sikap. membandingkan dan membedakan solusi yang lebih memungkinkan. 2003: 17-18). & Reid. Pada kelas eksperimen dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. dengan secara spesifik melatih siswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi. bahwa dosen mengajar mahasiswa untuk merancang. sikap mahasiswa dan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. dan uji hipotesis (uji-t dan Anova satujalur). 1987. (2) memonitor apa yang mereka ketahui dan bagaimana mengerjakannya dengan mempertanyakan diri sendiri dan menguraikan dengan kata-kata sendiri untuk simulasi mengerti. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah aktivitas pembelajaran. lembar observasi. (3) peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan. memonitor. Aspek metakognitif sebagai bagian terkait dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif sangat penting untuk dapat dikembangkan agar mahasiswa mampu memahami dan mengontrol pengetahuan yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan-kegiatan metakognitif ini muncul melalui empat situasi. Terhadap kedua kelompok tersebut diberikan pretes sebelum eksperimen dan postes setelah eksperimen.

sehingga diharapkan dalam masing-masing kelompok terjadi kegiatan diskusi kelompok yang produktif. 80% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif membuat mereka lebih berani dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. Mereka menyatakan persetujuannya bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sangat baik dan berpeluang besar untuk diterapkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di “JURNAL. peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi. (3) kesulitan dalam membuat kelompok diskusi dengan anggota kelompok yang beragam tingkat kemampuan matematiknya. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang belajar dengan pendekatan metakognitif berada dalam kategori baik. sedangkan mahasiswa yang belajar secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. Mengenai pembelajaran suasana pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan metakognitif.05% terhadap skor pretesnya. Dengan kata lain. Adapun beberapa hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif adalah: (1) waktu yang tersedia relatif sedikit untuk melakukan pengembanganpengembangan dalam pembelajaran. mengalami peningkatan yang tergolong ke dalam kategori sedang. Begitu pula dalam aspek mengidentifikasi relevansi. dan 4% dengan kategori sangat baik. sebanyak 84. Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif membuat mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. dan merekonstruksi argumen. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dosen memiliki tanggapan positif terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. kategori baik sebanyak 47%. mahasiswa mendapat kesempatan yang lebih banyak dalam mengeksplorasi materi bersama dosen maupun teman-temannya melalui kegiatan diskusi. pendekatan metakognitif secara signifikan memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa subkelompok manapun. (2) kesulitan dalam membuat soal-soal latihan pada lembar kerja mahasiswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara baik.3% mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif sangat membantu mereka dalam memamahi konsep yang sedang mereka pelajari. Mahasiswa pada kelompok eksperimen yang memiliki kemampuan akhir berpikir kritis matematik pada kategori cukup adalah 49%.82%.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian. Dari keseluruhan mahasiswa. Kemudian diketahui pula sebanyak 74. dan subkelompok rendah mengalami peningkatan sebesar 56. Dengan kata lain. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sebagai berikut ini.Oktober 2008 . dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar secara konvensional. dan sebanyak 88. setiap subkelompok mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk subkelompok tinggi adalah 65. sebanyak 94. Secara lebih khusus.5% menyenangi kegiatan diskusi. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam aspek merumuskan masalah ke dalam model matematika.5% mahasiswa merasa bahwa pendekatan metakognitif yang mereka ikuti dapat mengurangi kecemasan belajar matematika. 2002). subkelompok sedang 59. terdapat 98% mahasiswa yang menyatakan senang terhadap hal tersebut. Sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif tercermin dari sebanyak 89% dari 45 mahasiswa menyatakan persetujuannya bahwa pendekatan matekognitif dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar matematika. (2) keterlibatan mahasiswa secara aktif untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.41%. Berdasarkan perhitungan gain normal (Meltzer. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. Faktor-faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif antara lain: (1) kerja sama dan bantuan dari dosen pengampu matakuliah yang bertindak sebagai observer dan teman diskusi dalam menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam aspek menggeneralisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi termasuk dalam kategori tinggi.7% menyukai dan merasa tertantang dalam menyelesaikan soal-soal metakognitif yang diberikan. subkelompok sedang. memberikan contoh inferensi.

Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika. namun tentu saja dengan metode yang tidak harus sama DAfTAR PUSTAKA Angeli. Bandung: Tidak diterbitkan. Melihat hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa selain dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik.C. memberikan contoh inferensi. insightassessment. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. DePorter. (2003). (2000). The Disposition toward Critical Thinking [Online]. Education.M. R.perguruan tinggi.html. “JURNAL. [25 Januari 2006]. Costa. cc. C. [25 Januari 2006]. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. Akan tetapi menurut pendapat mereka. (1999).. B.htm. 3.indiana. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. Tersedia: http://www.H.mo.Gargoyle..L. Tersedia: http:// www. 4. (1997). A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. J. Cabrera. Tersedia: http://www. dan merekonstruksi argumen 2. Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menekankan pada aktivitas mahasiswa dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan mahasiswa. Fowler. Alexandria: ASCD. dalam praktiknya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang bahan ajar berupa LKM.A. Facione. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .kcmetro. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. dan Gainen. dan Hernacki. mengidentifikasi relevansi. sebaiknya mencoba untuk mengimplementasikan pendekatan metakognitif ini di sekolah tempat ia mengajar. (1996). G. A. P. Facione. kepada mahasiswa PGSD (khususnya yang sudah menjadi guru SD) yang telah mengikuti dan memperoleh bekal pengetahuan mengenai pendekatan metakognitif. 5. maka hendaknya peneliti lain mencoba menerapkan pendekatan ini dalam upaya meningkatkan kemampuan matematik tingkat tinggi lainnya seperti kemampuan berpikir kreatif.A.. Tersedia: http://www. Oleh karena itu. Untuk menciptakan suasana belajar seperti ini diperlukan keterampilan seorang pengajar dalam hal materi matematika maupun metodologi pembelajaran.A. Arcadia University [Online].net/SSConcCTApr3. (1992). P.us/longview/ctac/definitions.. [22 Agustus 2005]. [25 Januari 2005] Appellbaum. dan ternyata memberikan hasil yang cukup efektif. B. Mathematics Education Excerpt from The International Encyclopedia of Critical Thinking. Sikap positif mahasiswa terhadap model pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menggambarkan bahwa pembelajaran ini dapat dijadikan model yang disukai mahasiswa. (1995).. Giancarlo. N. merumuskan masalah ke dalam model matematika. Oleh karena itu para dosen atau pengajar diharapkan selalu berusaha meningkatkan kemampuan mengajar dan kemampuan matematiknya melalui berbagai sumber. Disertasi pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia: http://www. Bandung: Kaifa. Examining the Effects of ContextFree and Context-Situated Instructional Strategies on Learner’s Critical Thinking [Online]. 113 (1). misalnya hsil-hasil penelitian atau jurnal.edu/~educr795/prop5. Darhim (2004). criticalthinking. M. khususnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ennis. Critical Thinking Accros the Curriculum Project [Online]. khususnya pada aspek-aspek: membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. Dalam R. (1985). Karena pembelajaran dengan pendekatan metakognitif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang merupakan kemampuan matematik tingkat tinggi. A Super-Streamlined Conception of Critical Thinking [Online]. com/pdf_files?Disposition_to_CT_1995_JGE. pendekatan metakognitif ini juga telah mampu memacu antusiasme dalam belajar matematika.Oktober 2008 . sehingga dosen memiliki modal yang berharga karena model belajar seperi ini telah menciptakan lingkungan belajar yang efektif.htm.pdf. Cassel (ed).N.arcadia.edu/appellbaum/8points.html. 59-63. C. Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking.

Ruseffendi. Hassoubah.W. H. Ruseffendi. Remaja Karya. Mengajar Keterampilan Metakognitif dalam Rangka Upaya Memperbaiki dan Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika. M. Meltzer. USA: Allyn and Bacon. [22 Agustus 2005]. Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa SMU.T. Mayadiana. Psikologi Pendidikan. (1985). Jacob. Woolfolk. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Y. New York: Hardcourt Brace Publishers. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. A. “JURNAL. N. San Francisco: Jassey-Blass Publishers. Bandung: Tidak diterbitkan. Jurnal Matematika.org/University/univlibrary/ library. Aplikasi dan Pembelajarannya.. (1991).criticalthinking. F.L.net~mseifert/ crit2. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Scores. Psikologi Umum. Bandung: Tidak diterbitkan. Matlin. (2000). Bandung. Sobur. R. [Agustus 2006]. (2003). E. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. and Understanding. 15 Mei 2004. Disertasi Doktor pada PPs IKIP Bandung. E. (2004). Belajar Bagaimana untuk Belajar Matematika: Suatu Telaah Strategi Belajar Efektif. Prosiding Seminar Nasional Matematika: Peran Matematika Memasuki Millenium III.70-12591268. Bandung: Tarsito. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta.nclk. Purwanto. (2003). Tesis pada PPS Universitas Pendidikan Indonesia. Metacognition. C. dan Kluwe. Developing Creative & Critical Thinking Skills. American Journal of Physics [Online]. Bandung: Pustaka Setia. Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau dari Perkembangan Kognitif Siswa.edu/per/docs/AJP-Dec-2002-Vo. Defining Critical Thinking: A Draft Statement for the National Council for Excellece in Critical Thinking [Online]. Semarang: IKIP Semarang Press. Tersedia: http://www. 2 (1). Nindiasari. (2002). 17-18. Bandung: Nuansa. (1998). Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional UPI.lonestar.html.H.texas. Maier. (2004). dan Scriven. C. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Jacob. 20 Agustus 2005. Liliasari (1996).pdf. Maulana (2005). Paul. Technology Enhanced Learning Environtments that are Conductive to Critical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [Online]. (2004). Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika (The Application of Metaphor in Mathematics Course). (1995). (2005). Disajikan pada Seminar Nasional Matematika: Matematika dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Kualitas SDM dalam Menyongsong Era Industri dan Informasi. Z. (2004).E.Oktober 2008 . Meyers. Liputo. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Tim MKPBM (2001). Hillsdale. 2 November 2000. (1987). Tersedia: http://www. (1996). Motivation.Glazer. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. 443-447. Bandung: Rosda Karya. [22 Agustus 2005]. D. Syukur.I.physics. D. H. Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA. Surabaya. (1998). ISBN: 97996152-0-8. Bandung: CV. C. Educational Phsycology. (1986). M.E.E.T. Bandung. Jurusan Matematika FMIPA ITS. Bandung: Tidak diterbitkan. Teaching Student to Think Critically. A. Tersedia: http://www. Weinert. (1996). Bandung: Rosda Karya. R. Bandung: JICA-UPI. Suzana. M. E. (1994). Cognition. Kamus Filsafat. Kompedium Didaktik Matematika. iastate. Y. Bandung: Tidak diterbitkan. Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru SD. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. (2004).

Tulisan ini berusaha untuk menggali tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya di sekolah dasar. Kata Kunci: pemecahan masalah. pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar. Moursund (2005:29) mengatakan bahwa seseorang dianggap memiliki dan menghadapi masalah bila menghadapi 4 kondisi berikut ini: 1. Ada banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran pemecahan masalah secara optimal.Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Abstrak Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dasar. topik-topik permsalahan dalam tulisan ini adalah : masalah dan pemecahan masalah matematika. Dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut. 2. pemilihan media atau alat peraga dalam pembelajaran pemecahan masalah sehingga siswa memiki kemampuan memecahkan masalah yang baik. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian. Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. “JURNAL. mengkomunikasikan gagasan. ada salah satu kompetensi dasar yang mengarahkan siswa untuk mampu menggunakan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah. maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi tujuan utama dalam program pembelajaran matematika di sekolah dasar. penilaian. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya. 2006).Oktober 2008 . Oleh karena itu. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar. tetapi agar siswa mampu memecahkan masalah dalam bidang lain melalui cara berpikir matematis. pembelajaran matematika. Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi. Pelaksanaan pembelajaran masalah di sekolah dasar tidaklah semudah yang diperkirakan. Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. penalaran. memecahkan masalah. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (BSNP. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dikuasai oleh siswa sekolah dasar tidak hanya dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. tidak hanya faktor P guru saja. dan problematika pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Masalah Matematika Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya. proses pembelajaran. tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving). Dalam setiap standar kompetensi. sekolah dasar PENDAHULUAN embelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung. Mata pelajaran matematika diantaranya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman konsep. Hal ini didorong oleh perkembangan arah pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. tetapi faktor tuntunan kurikulum yang membuat guru terdesak dengan waktu terbatas sehingga tidak fokus terhadap kemampuan pemecahan masalah. Guru perlu memperhatikan berbagai aspek pembelajaran: perencanaan. nampak bahwa pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam pembelajaran matamatika sehingga secara jelas terdapat pada kurikulum mata pelajaran matematika mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah.

2000 : 2) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah amatlah penting. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta. Terdapat beberapa jenis masalah matematika. Artzt & Armour-Thomas (Goos et. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu. Analisys. baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. yaitu Reading. 2006 : 24). Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. Planning. Menurut Goos et.. itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah. Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari.. teknologi atau barag tertentu.al. Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah.al. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian.. Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. 1969) : Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik. Exploration.al. Menurut Polya (Suherman et. 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld.al. mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan. bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika. keterampilan. Understanding.. pengetahuan. dalam Abbas. 2001 : 84). masalah matematika dapat berupa (1) masalah transalasi. walaupun sebenarnya tumpang tindih. Krulik dan Rudnik ( 1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai heuristik. Lebih dari Polya (dalam Sonnabend. dan membuat diagram. tetapi juga meliputi pengamatan metakognisi yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas serta untuk membuat keputusan sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimiliki. yaitu menjadi Reading. Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et. Dalam pembelajaran matematika. Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan. Planning/Implementation. penggambaran penomena atau kejadian. Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. mereka mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. ilustrasi gambar atau teka-teki. dan Verification. memvisualisasikan situasi. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. dan (4) Melihat kembali penyelesaian. (2001 : 95) dinyatakan bahwa menurut berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam dalam tes pemecahan masalah dibandingkan dengan anak yang latihannya sedikit.(terjemahan). Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita. harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah. menjelaskan setting. 2. mengambar/mengilustrasikan model masalah. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika. 2000 : 2) menyatakan bahwa melalui pelajaran Matematika diharapkan dan dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan. Exploration. 1993:56) juga mengatakan bahwa : Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama/penting dari kegiatan manusia . seseorang dianggap sebagai pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut. Menurut Hudoyo dan Sutawijaya (1997:191). dalam Abbas. (3) masalah proses. tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik. (2000 : 2).al. atau gambar “JURNAL. Hal ini meliputi waktu. kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung. Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa harus berurutan. Sementara itu.3. melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya. dan Verification. (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah. Implementation. Menurut Goos et. dan menentukan tindakan selanjutya. yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan. fisika dan sebagainya. (2) masalah aplikasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . mengidentifikasi pertanyaan. tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Lima langkah tersebut adalah : 1. Menurut Polya seperti yang dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya. dan (4) masalah teka-teki. cara berpikir secara matematis yang efektif dalam memecahkan masalah meliputi tidak saja aktivitas kognitif.al. 2000 : 2) terdapat 5 tahapan dalam memecahkan masalah. tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika. Lebih lanjut Ruseffendi (1991. Dalam bukunya. Analisys. seperti menyajikan dan menyelesaikan tugas serta menerapkan strategi untuk menemukan solusi. yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi. tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar. Dalam Suherman et. ”Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School”.Oktober 2008 . Pemecahan Masalah Matematika Soedjadi (1994. yang meliputi kegiatan: mengorganisasikan informasi. Read and Think (Membaca dan Berpikir). 4. (2000 : 2). Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan). tabel. mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan.

3. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah. 4. misalkan memecahkan soal-soal matematika. agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif. sumber belajar : alat peraga atau media. menggunakan kemampuan aljabar. soal tidak rutin. menggunakan kemampuan berhitung. yaitu : pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran.al. Select a Strategy (Memilih Strategi). Penyederhanaan atau ekspansi. Khususnya di SD. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal. PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DI SD Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. yang meliputi kegiatan : menemukan/membuat pola. Dalam pembelajaran matematika. proses. memeriksa kembali jawaban. Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah. problem based learning (PBL). Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran. teka-teki. et. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan. Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. 4. maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini.(1989). pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. serta pengelolaan kelas. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari. deduksi logis. yaitu: waktu. Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar. Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. 3. Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan). pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti dalam pendekatan pembelajaran open ended. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . simulasi atau eksperimen. Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi. serta sebagai kemampuan dasar. Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. Menurut Reys. dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana. serta strategistratagi pembelajaran pemecahan masalah. Find an Answer (Mencari Jawaban). mendiskusikan jawaban.Oktober 2008 . yang meliputi kegiatan: memprediksi. menentukan solusi alternatif. Dari paparan di atas. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita dan ilustrasi gambar. Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum. Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. 5. membuat daftar berurutan. (1989). atau pola bilangan. Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran. mengembangkan jawaban pada situasi lain. mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi). dan menggunakan kalkulator jika diperlukan. 2. bekerja mundur. teknologi. menggunakan kemampuan geometris. paling tidak ada tiga makna dari pemecahan masalah. perencanaan. Berdasarkan teori “JURNAL. atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah. coba dan kerjakan. Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa.al. Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi. sumber belajar-media. serta teknologi. Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. dan menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal. Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah. 1. Oleh karena itu. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa). maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya. atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal. 5. yaitu bagaimana guru menyajikan soalsoal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah. Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi. masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita.

Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah.al. walapun dari hasil uji coba soal cerita. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran. Kemampuan metakognisi dapat diajarkan di kelas melalui pernyataan menuntun seperti : ”apa yang kamu kerjakan ketika memecahkan masalah?”. portofolio. Hal ini memang bergantung kepada cara guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan sebagai berikut. 1989). ditanyakan dan jawaban. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu. Guru biasanya mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita. sementara kemampuan pemecahan masalah siswa masih dianggap sebagai kemampuan ekstra atau tambahan untuk siswa-siswa berprestasi tinggi. Tes kinerja ini. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program pembelajaran. Penilaian dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya.. (2) inventori dan ceklis. beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah: (1) observasi.al. (1989). Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik (1995) berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya. Kemampuan tersebut adalah Metakognisi. et. tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu topik sebagai pelengkap topik tersebut. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita. karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys. hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep pemecahan masalah dan pembelajarannya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pembelajaran pemecahan masalah kadangkadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. (2) jurnal metakognitif. et. Guru merasa cukup dengan pembelajaran perhitungan. (3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph). Keadaan ini menyebabkan siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. Menurut Reys. Problematika Pembelajaran Pemecahan Masalah di SD Pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah terutama di sekolah dasar tidaklah mudah. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Oleh karena itu. guru perlu menyiapkan alatalat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. test. Guru kadang memandang bahwa kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh konsep matematika. klasikal ataupun kelompok. Dalam istilah lain metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol kemampuan berpikirnya atau ”thinking about thinking”. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa. masalah masalah terbuka (open ended). Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : (1) observasi. padahal masalah dapat disajikan dalam berbagai bentuk model soal. Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita.Piaget (Reys. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda. Yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa. Perubahan paradigma dalam kurikulum matematika memang belum sepenuhnya berimbas pada praktik pembelajaran di sekolah dasar. dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. belum dianggap sebagai suatu tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran.Oktober 2008 . masih dalam tahap enaktif dan ikonik.al. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin.. Peran Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Kesuksesan seseorang dalam memecahkan masalah begantung kepada bagaimana ia mampu mengendalikan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah. yaitu : menentukan apa yang diketahui. siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa mengikuti langkah-langkah yang ditentukan. ”apa yang kamu pikirkan jika kamu merasa kesulitan atau tidak memahami soal ?”. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat beragam. Siswa sering mengajukan “JURNAL. Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum sekolah (KTSP) secara konvensional. Metakognisi adalah istilah yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan seseorang sebagai pembelajar serta bagaimana ia mengontrol dan menyesuaikan pengetahuan dan keyakinannya. dan (3) paper and pencil test. 1989). Guru masih fokus kepada pencapaian kemampuan siswa dalam berhitung dan mengunakan rumus matematika. et.

uk/jornal/pgmoney.ac. S.Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. soal ini dikerjakan pake rumus apa?”. (1993).Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature.(------). Jakarta : BSNP. Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit. perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya.pdf Krulik. guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. (2005). coe. ”Ditanyakan”. et. seperti: ”Diketahui”.(2001). Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah alatalat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah. PENUTUP Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran. (2007). Matematic for elementary Teacher : An Interactive Approach. Jakarta. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah.C. http:// darkwing.(2006). Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok. Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah.(2000). Pearson Education : New Jersey. Temple University : Boston. kenyataannya. al. Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Jurusan Pendidikan Matematika UPI.edu/~jonassen/PSPaper%20 final. Assessment in Early Chilhood Education. plymouth. Oleh karena itu. Jesse A.pdf Reys. Robert E. Dirjen Dikti Depdiknas Jonassen. [online] http://www.Oktober 2008 ... tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama aktivitas pemecahan masalah. Needham Hwight : Allyn & Bacon Sanjaya.. D. [online] http://www.missouri./ElMath. D. dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak. Wortham. Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. Marsound. Bandung Sukmadinata & As’ari. A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan. DAfTAR PUSTAKA Abbas. Wina. Sonnaben A. melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. “JURNAL. Oregon : University of Oregon. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. New York. Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif.pdf Hudoyo dan Sutawijaya. Goos. Pendidikan Matematika I.pdf BSNP (2006). et.edu/. Thomas. Semenetara itu. Universitas Pendidikan Indonesia. (1998). Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo Ashton. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam memecahkan masalah. Tidak diterbitkan. Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers.pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita. N.(2000). Queensland : The University of Queensland [online] http://www. (2005). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Akan tetapi. (1998). dan ”Dijawab”. guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok. [online]. Sue C.. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. metode atau teknik penilain harus mampu menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya. (1995).cimt.edu/.uoregon. seperti ”Pak. Sounder Collage Publising. (------).Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. Akan tetapi..wm. Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan. Bandung : SPs UPI. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .al. Virginia : College of William and Mary Williamsburg. guru jarang menggunakan teknik-teknik penilaian yang seperti itu. padahal salah satu aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan informasi selama proses pemecahan masalah. Suherman dkk . /Ashton. Sthepen dan Rudnick.

Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya dengan peruhahan itu.Iearn with cartoon mathematic increase effective than conventional learn (3) Student give good respons to cartoon mathematic because new in learning mathematic and their became happy in learn mathematic. guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”.42. pengajaran berubah. Selain itu pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi.45 and control student is 34. masyarakat berubah. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja. instrument a test. Pembaharuan di bidang pendidikan harus terusmenerus dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. journal and observation. question.Teacher can join with cartoonist for make cartoon mathematic.Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Abstrak The study concerns focus to problem: How far influence application of cartoonn mathematic in learning mathematics for develop to produce learn student in school? The goal study concerns for know influence application of cartoon mathematic learning matematics in school for develop produce learn student with for able image about respons student at application of cartoon mathematic. The general hypothesis in study concerns is student learn with cartoon mathematic best increase produce learn than student with conventional learn. At significant level 0. The result of study concerns. Data dari Third International Mathematics and Science Study¬ Repeat(TIMSS-R) juga mengungkapkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di negara kita berada pada peringkat ke-34 dari keseluruhan 38 negra peserta (Mullis.Oktober 2008 .(2) For Student. Dalam hal yang sama Ruseffendi(1991:8) mengemukakan bahwa keberhasilan siswa dalam “JURNAL. pembelajaran matematika PENDAHULUAN embaharuan dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas(Wijaya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi(1991:21).” Hasil belajar sangat ditentukan sekali oleh keberhasilan siswa dalam belajar. kalau bukan pelajaran yang paling dibenci. Matematika merupakan salah satu bidang pengajaran yang harus mengalami pembaharuan menuju perbaikan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi. teknologi berubah.”Kehidupan di dunia ini berubah.1999. tetapi juga oleh faktor di luar siswa. The conclusion of study concerns are (1) Application cartoon mathematics in learning mathematic have influence to produce learn. Dengan demikian menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan tersebut. I suggestion so that cartoon mathematic can use by teacher for chosen tools in learn mathematic. Kata Kunci: kartun matematika. Kenyataan-kenyataan berikut menunjukkan P bahwa pengajaran matematika perlu diperbaiki. semuanya berubah. Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15). Dalam pengajaran matematika di sekolah-sekolah terdapat masalah-masalah yang perlu diperbaiki.2004). interview.because all topic mathematic can explain with cartoon mathematic.01 experiment student produce learn increase than control student. Dalam data Internasional Achievement Education (IEA).This Mean experiment is 49.19998:2). kemampuan siswa SMP dalam matematika menempati peringkat ke39 dari 42 negara peserta. yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-¬38 dari 39 negara peserta. The result calculation are mean experiment student high than control student. antara lain adalah faktor guru. The study concerns use experimental method.

Haron (2001) mengemukakan bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. situasi. Menurut Sudjana dan Rivai (1991:3). Penggunaan kartun sebagai media pembelajaran memiliki peranan penting karena dalam tahap ini siswa sangat tanggap terhadap stimulus visual yang lucu. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. Media gratis. bagan. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian. seperti gambar. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera.”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. Media grafis sering juga disebut dua dimensi yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. diagram. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana tanpa detail dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti dengan cepat. maka kartun sesuai untuk diterapkan dalam arena pendidikan. mempengaruhi sikap maupun tingkah laku. misal melalui karyawisata. Ada beberapa jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran. pengajaran dengan menggunakan pelbagai alat visual semakin popular. gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. Penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang berupa lingkungan. Disamping berfungsi sebagai hiburan. ruang dan waktu. Kartun-kartun yang popular seperti Din Teksi oleh Nan dan Epit oleh Lat dapat merangsang minat pelajar. kartun. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens. d. Media tiga dimensi.Salah satu cara menyajikan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. kartun data membawa pembaca berfikir sejenak untuk menjadi lebih peka terhadap perkembangan semasa. Menurut Dawyer dalam Maizuriah (2000). Kartun juga merupakan satu bentuk visual dengan minat kanak-kanak boleh digunakan oleh guru dalam pengajaran. interaksi yang lebih langsung. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menarik minat dan memotivasi siswa. poster.1991:2). Visual-visual konkret yang menggambarkan keadaan dunia sebenar boleh memberi pengalaman konkret bagi memudahkan proses pembelajaran. 2. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi. pribadi dan sikap guru. seperti slide. Kartun sebagi alat Bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. jenis media terbagi menjadi empat yaitu: a. bahwa kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang. suasana pengajaran. adapun faktor dari luar diri siswa adalah metode penyajian materi pelajaran. foto. Khusus mengenai media kartun. Kartun menurut Sudjana dan Rivai (1991:58) adalah pengggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang. Apakah materi yang disajikan membuat siswa tertarik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . menarik dan praktis (Bundhowi 2002:1). c. termotivasi. masyarakat dan lingkungannya. b. pesan yang besar bisa disajikan secara ringkas dan kesannya akan tahan lama di ingatan. Faktor dari dalam diri siswa itu meliputi kecerdasan anak.Oktober 2008 . Sadiman dkk(2002:6) mengemukakan. dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut? Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap matematika? Bagaimanapun kekurangan atas ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah (Sah. model susun. serta komik. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. diorama dan lain-lain. Malah kartun dianggap sebagai satu wahana yang menghibur dan bisa meredakan ketegangan emosi manusia. Salah satu yang dapat digunakan ialah kartun. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan siswa dalam belajar adalah metode penyajian materi pelajran. kenyamanan belajar dan minat anak belajar. Penggunaan visual telah lama diketahui berkeupayaan merangsang pembelajaran. Media dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. 3. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya (Sudjana dan Rivai. perasaan. atau kejadian-kejadian tertentu. model penampang. Sedangkan menurut Sadiman dkk (2002:46). model kerja. “JURNAL. Kebanyakan kartun yang dimuatkan dalam suratkabar atau majalah memperlihatkan berbagai tema dan subjek yang disulami pula warna-warna humor. kesiapan anak.1995:136). film penggunaan OHP dan lain-lain. yaitu media dalam bentuk model padat. 4. grafik. Hal ini sejalan dengan pendapat Arsyad(2002:26) bahwa: 1. Model proyeksi. Di Malaysia. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru.mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kalau kartun mengena. kunjungankunjungan ke museum atau kebun binatang. kompetensi guru dan kondisi masyarakat luar.

1991:120). “Pada umumnya anak-anak mulai menafsirkan kartun-kartun semacam ini pada usia 13 tahun. yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media kartun matematika. Kemudian dipilih secara acak satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol. Hasil Uji normalitas.98 24. Tes awal diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan”. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK dan sampelnya siswa SMK Negeri 2 Bandung kelas 2 yang dipilih secara acak. putusan dan pertimbangan agar data yang terkumpul sesuai yang kita harapkan. 2000:14).9 11. yaitu gambar-gambarnya dapat menarik perhatian sehingga pelajaran lebih berarti dan sebagian serta variasi dalam mengajar.52 30 30 3 3 dk χ2 tabel 50. Reardon dan Nourie.3 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal “JURNAL.Oktober 2008 . bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan pembuka diskusi yang efektif. Apalagi pada saat usia sekolah kebanyakan siswa masih memiliki gaya belajar visual yang lebih cenderung mengaktifkan ingatannya melalui gambar yang ditangkap oleh mata (DePorter dan Hernacki.07 10. selain itu pembelajaran dengan kartun dapat menciptakan suasana gembira. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Untuk dapat mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen pengumpul data yang berupa tes awal dan tes akhir. Tipe tes yang digunakan adalah tipe tes uraian Alasanya dengan tipe uraian maka proses berpikir. 1991:59). 1998:32). uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata.9 50. maka desain penelitian ini adalah sebagai berikut: A 0 X1 0 A 0 X2 0 Keterangan: A 0 X1 X2 = = = = randomisasi/acak tes awal = tes akhir perlakuan (pembelajaran dengan kartun matematika) perlakuan biasa(pembelajaran konvensional) Sebagaimana telah diungkapkan di atas. Pembelajaran dengan kartun akan menciptakan belajar yang efektif karena dapat membawa siswa ke dalam suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden. penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh media kartun trhadap belajar siswa.3 11. METODE PENELITIAN Karena penelitian yang dilakukan adalah melihat hubungan sebab akibat yang di dalamnya ada unsur yang dimanipulasi. 2001:22). Hal ini menunjukkan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat memotivasi yang berguna di kelas. homogenitas dan ukuran statistik skor pretes dan postes disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: uji Normalitas No 1 2 3 4 Data Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen Pretes Kelas kontrol Postes Kelas Eksperimen Postes Kelas kontrol χ2 hitung 25. Untuk mengetahui pertambahan kemampuan baik sebelum maupun sesudah percobaan dilakukan.Hal senada dikatakan Sudjana dan Rivai (1991:61) bahwa sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajr siswa. Terjadinya bias hasil evaluasi dapat dihindarkan karena tidak ada sistem tebakan atau untung-untungan (Suherman. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis daa hasil tes dilakukan uji normalitas. sehingga menciptakan kegembiraan pula dalam belajar (DePorter. maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (Ruseffendi. Peneliti mengambil dua kelas dari seluruh kelas populasi. dan sistematika penyusunan dapat dievaluasi. Beberapa kartun dengan topik yang sedang “hangat”. Pemakaian kartun mempunyai dua macam keuntungan berharga. Latar belakang di atas mendorong penulis mencoba melakukan penelitian untuk melihat pengaruh kartun yang digunakan sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan kualitas sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat. Instrumen lain sebagai pendukung penelitian ini. maka diperlukan angket dan wawancara yang cukup diperuntukan bagi kelompok eksperimen saja. maka siswa yang menjadi sampel diberikan tes awal dan akhir. serta alat evaluasi berupa tes ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pembimbing di sekolah untuk dapat mendapatkan justifikasi. penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi. Berdasarkan uraian di atas. Sedangkan tes akhir diberikan untuk melihat kemajuan atau peningkatan belajar kcdua kelompok.1990:95) dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal. Penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sains dan dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran.6 5. ketelitian. Penelitian Schaffera (Sudjana dan Rivai.

325 Pada taraf signifikansi 0.Untuk data pretes data tidak disajikan dalam distribusi kelompok. harus diperhatikan pula sebagian kecil siswa (22.99(60) = 2.38 Kesimpulan Homogen 2 1.99(60) < thitung. Hampir setengahnya siswa (29.99(60) = 2.48%) menyatakan konsep-konsep yang ada di buku kartun mudah karena konsep disajikan dalam bentuk resume.7 31 Kelas Kontrol 34.45 1. sehingga dk=30.46 Ternyata –t 0. karena beranggapan bahwa meskipun materinya tetap saja ada yang sulit. Namun sebagian besar (61. sedikit menghibur/menimbulkan rasa senang dalam belajar.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Sebagian kecil (3. intisari.95 19.52%) menyatakan setuju untuk terus mempertahankan pembelajaran kartun matematika.28 371. Sebagian besar siswa (12.12 1.58 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes akhir diperoleh thitung = 3. Tabel 2: uji Homogenitas Data Hasil Belajar No 1 Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen dan kontrol Postes Kelas eksperimen dan kontrol Fhitung 1.25%) menyatakan tidak senang dengan alasan proses belajarnya kurang bisa dimengerti. Meskipun demikian. Hampir setengahnya (48.93%) menyatakan biasa saja. Hampir setengahnya siswa (35. karena pembelajaran dengan kartun matematika sangat mudah dan cepat dimengerti dan berbeda dengan belajar biasa. Kriteria pengujian jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel maka distribusi populasi data normal.68 312.13%) sangat menarik terhadap pembelajaran kartun matematika.< t 0. meskipun demikian hampir setengahnya (41.52%) siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan media kartun matematika terus dipertahankan. Sebagian besar siswa (6.01 dan dk=60 diketahui ttabel = t 0. Tabel 4: ukuran Statistika Skor Postes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 49. Meskipun demikian hampir setengahnya siswa(29.42 17. sedangkan postes data disajikan dalam distribusi kelompok sehingga dk=3.24%) dan (16. bahwa pesan-pesan yang diberikan memotivasi semangat belajar.3 Pada taraf signifikansi 0. HASIl ANGKeT PeMBelAjArAN KArTuN MATEMATIKA Hasil yang diperoleh hampir seluruhnya menyatakan menarik (61.58%) menyatakan biasa saja dengan memberi alasan bahwa isi materi sama dengan buku paket dan tokoh kartunnya kurang cocok.01 dan dk = 60 diketahui ttabel = t 0.03 %) menyatakan ragu-ragu. “JURNAL.485) menyatakan bahwa pembelajaran dengan media kartun menyenangkan dan lebih cepat memahami materi.12 dkl 30 dk2 30 Ftabel 2.12 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes awal diperoleh thitung = 0.99(60) < thitung.42 1.29%) menyatakan sedang karena konsep matematika di buku kartun ada yang tidak dimengerti dan tergantung minat.25 31 Kelas Kontrol 1. Mereka beranggapan pembelajaran dengan media kartun membuat belajar tidak membosankan. Sebagian kecil (16.19 30 30 2. t 0. Selain itu sebagian kecil (6.45% dan 64.46 Ternyata thitung tidak terletak di –t 0.06 1.58) menyatakan kurang puas karena penjelasan di buku kartun kurang dimengerti. Mereka memberi alasan.Oktober 2008 . gambar-gambar yang diberikan dapat menghilangkan ketegangan dan sangat menyenangkan. cara penyelesaian singkat.45% dan 3. pembelajaran lebih menarik dan penyampaiannya lebih mudah dimengerti.38%) menyatakan puas terhadap hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kartun matematika.13%) ragu-ragu karena pembelajaran buku kartun sama dengan buku paket.23%) menyatakan sukar karena isi dan tulisan yang ditampilkan terlalu rumit dan kurang jelas.38 Homogen H0 : σ = σ Hipotesis : Ha: σ ≠ σ Tabel 3: ukuran Statistika Skor Pretes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 1. Hampir seluruhnya siswa (19. pembacaan rumusnya mudah dipahami dan dimengerti.03%) menyatakan biasa saja dan sebagian kecil (22. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dan jika χ2 hitung > χ2 tabel maka distribusi populasi tidak normal.25% dan 64.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. penjelasannya simpel.90% dan 35.

cara penyampaian guru diperbaiki.22% dan 51.16%) biasa saja karena tidak terlalu suka terhadap pelajaran matematika. Hampir setengahnya (33.3%) suka terhadap pembelajaran kartun matematika karena menarik perhatian. 2.67%) ragu-ragu dan (3. menakutkan bagi siswa dengan pembelajaran kartun matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan siswa. lebih semangar belajar dan cara belajarnya tidak membosankan. Sebagian besar siswa (3. suasana cukup dan lucu.6%) menyatakan semangat belajar tinggi dalam belajar kartun matematik.63%) menyatakan ragu-ragu semangat tinggi jika soal matematika terjawab. tokoh kartunnya memotivasi belajar. Penggunaan media kartu matematika dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika.35% dan 61. sesuai perkembangan psikologi siswa.74% dan 32. tokoh kartun yang menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan sesuai perkembangan zaman dengan karakter siswa.3% dan 6. Penggunaan media kartun matematika dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap prestasi. Hampir seluruhnya siswa (19.23%) menyatakan setuju jika buku kartun matematika disajikan dengan warna sehingga belajar matematika semakin menyenangkan. semangat dan termotivasi dalam belajar. Hampir setengahnya (45.33% dan 46. karena lebih mudah dimengerti. terhibur. pesan–pesan yang disampaikan memotivasi untuk giat belajar. Hampir setengahnya (43. tidak bosan dan pesan-pesan kartun bermanfaat.97%) menyatakan senang dengan alasan lebih menarik. Sebagian kecil (19.93%) biasa saja dan sebagian kecil (3.3%) ragu-ragu karena tergantung siswa itu sendiri.3%) menyatakan mudah penyampaian konsep matematika yang disampiakan gambar kartun.8%) menyatakan kurang menarik.3%) menyatakan tidak aktif mereka beranggapan belajarnya kurang dimengerti dan siswa lebih suka melihat kartun daripada mendengarkan pembahasan. Sebagian besar siswa (3. mempermudah memahami konsep matematika dan siswa terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.81% dan 61. lebih semangat dan tidak membosankan.9% dan 41. Sebagian kecil (9.61%) menyatakan termotivasi dalam belajar dengan kartun matematika. belajar tidak tegang. Hampir seluruhnya (25. lebih menarik dan menyenangkan sehingga belajar semakin efektif dann mudah memahami konsep matematika yang dipelajari.35%) ragu-ragu karena merasa media kartun biasa saja.23%) menyatakan tidak termotivasi karena tergantung pada pembacanya.7%) ragu-ragu karena tidak mudah bersemangat dan tergantung siswa. Setengahnya siswa (38. sehingga memicu kita untuk aktif dalam belajar.29%) menyatakan tidak cepat jenuh belajar matematika dengan kartun matematika karena merasa terhibur. Sebagian besar siswa (3. Sebagian besar (56.7%) biasa saja dan hampir setengahnya (25.63% dan 70. Siswa memberikan respon baik terhadap kartun matematika karena dapat memotivasi siswa. Tokoh kartun yang disenangi siwa ialah tokoh kartun lucu.Hampir setengahnya (35.6%) biasa saja karena pembelajaran dengan kartun matematika sama dengan buku paket. karena mereka menginginkan tokoh kartunnya yang dikenal seperti yang ada di televisi. lebih menarik. Seluruhnya siswa (67. Hampir seluruhnya siswa (9. Hampir setengahnya (38.93%) menyatakan bahwa minat dalam belajar matematika dengan menggunakan media kartun matematika tinggi.33% dan 53.29%) menyatakan setuju pembelajaran dengan pesan-pesan dalam kartun karena memotivasi. Sebagian besar (12. menarik.Oktober 2008 . “JURNAL. Hampir setengahnya (34. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Secara khusus dapat disimpulkan: 1.3%) biasa saja dan sebagian kecil (10% dan 3. Hampir setengahnya (41. Hampir setengahnya (43. Dari hasil wawancara dan jurnal bahwa matematika yang sebelumnya dianggap kurang menarik.48%) menyatakan menarik mengenai tokoh-tokoh kartun matematika karena luculucu dan dapat memotivasi kepada siswa.9% dan 48.33% dan 50%) menyatakan aktif bahwa pembelajaran dengan kartun matematika karena mudah dimengerti. Siswa menjadi aktif.23%) kurang setuju.39%) menyatakan siswa berkeinginan untuk berhasil dalam belajar melalui pembelajaran kartun matematika karena isi kartun memotivasinya. malas belajar. Sebagian besar siswa (12. memberikan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi dan penyampaian dalam buku kartun matematika menyenangkan dan menarik. 3. karena belajar jadi tidak jenuh. KESIMPULAN Pembelajaran matematika dengan kartun matematika secara umum lebih menyenangkan daripada pembelajaran biasa sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi dalam belajar matematika. Hampir setengahnya (3.

Malaysia: Makalah Nasution (2000). Sarah Siregar (2000). Bandung: Remaja Karya Dahar. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA.. Skripsi: UPI Bandung Suprian AS.. Yanto (2001). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta Lainnya. Media Pembelajaran. Penelitian Pendidikan. Bilik Darjah. Jakarta: Grasindo Yousda dan Ariffin (1993)... Ngalim (1987). Mark dan Nouri. Didaktik Asas-asas Mengajar. (1995)...Oktober 2008 .Azhar (2002). Metode Statisika. Jakarta: Rajawali Hamalik.. Jakarta: Erlangga De Porter. (1957).dan Praktis untuk Mengajar Bahasa dan Kepekaan Budaya yang Tinggi: Makalah Wijaya. Transport Sebagai Media Pengajaran Fisika pada pokok Bahasan Rangkaian Listrik Searah... Teknologi Komunikasi Pendidikan. Bandung: PT.. Mohammed (2001). Bandung: Kai fa Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990) Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka Frandsen. Bandung: Rineka Cipta Sudjana (1992). Jakarta: Bumi Aksara. Arief S... Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Teori-teori Belajar. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhinya..T (1984).. Nana dan Rivai.. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas.. Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa SD Melalui Fiksi Ilmiah. Skripsi: UPI Wasliman (2002). Semarang: IKIP Semarang Press Rusyan. Teknik yang Menarik. Bilik Darjah.. Bandung: Kaifa Hadimiarso.(1998).Reardon. Bandung: Tarsito . Bandung: Kaifa De Porter.. Bandung: Remaja Rosda Karya. Bobbi.... Jeannete Vos (2001). A... Metode Statistika.. Mike (1999). Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. How Children Learn.(1991). Gordon Dryden. Nana (1989).. Bobbi. Ratna Willis (1989).. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Penelitian dan Satistika Pendekatan. Tesis. Bandung: Tarsito . FPTK IKIP Bandung Surya.. Sadiman. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .. dkk(1989). Bandung: CV Sinar Baru Sudjana. Analisis Tingkat Penguasaan Siswa dalam Menyelesaikan Persolan Kontekstual Pada Pembelajaran Matematika. Bandung: Tarsito Sudjana.. Media Pendidikan. Dasar-dasar Matematika Modern untuk Guru.. Bandung: CV Sinar Baru Haron. Penggunaan Televisi dalam pengajaran.. Media Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara Permana.Zaenal (1988). Hernacki. Bandung: CV Sinar Baru Suherwan (2001). Pengantar kepada Guru Membantu Mengembangkan Potensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA.. Cece (1998). Angkasa Arsyad.. Yusuf (1984). “JURNAL. Revolusi Cara Belajar. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Perbandingan Kemampuan Siswa SD dalam Memberi Alasan Logis antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Teknik Probbing dengan Cara biasa. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Skripsi Purwanto.. Mohammad (1981).. Prini (2001). EO. Husen (2002). (1997). E. Ahmad(1991).. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slamento (1992). UPI Wragg. Bandung: Tarsito Sudjana (1996). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bundowi (2002). Lucu. Tabrani. Kartun Bantu Pengajaran. (2002). Quanium Learning: Membiasakan Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya.. New York: McGraw Hill Book Coy.DAfTAR PUSTAKA Arifin. Malaysia: Makalah Maizuriah dan Madya (2001). Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Utami.. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Malaysia: Makalah Maizuriah (2001).. Arden N. Kartun sebagai Bahan Motivasi dalam Pengajaran Karangan. Jakarta: Rosda Karya Windayana.. Muhibbin (1995).. Oemar (1984).. Bandung: Remaja Rosda Karya Ruseffendi. Bandung: FIP IKIP Syah.

beberapa dosen belum banyak yang mengoptimalkan potensi dari mahasiswa-guru tersebut. 2006). Informasi tersebut mendasari “JURNAL. Dari berbagai kajian tentang strategi perkuliahan maupun pelatihan untuk para praktisi. Bhattacharya et al. 2008). Pemikiran ini dipandang dapat memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan perbandingan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan praksis yang sering guru –mereka dan teman sejawatnya. seminar. 2006). Mempertimbangkan karakteristik mahasiswa tersebut maka sifat dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran adalah dapat mengungkapkan permasalahan dan kesenjangan dari integrasi teori dengan praktik evaluasi pembelajaran (Brattacharya et al..pada tataran tertentu telah memahami dasar teoritis dan telah melakukan praktis evaluasi pembelajaran (Jyrhama et al. 2006) atau jurnal (Clarke. integrated studies dan refleksi yang menekankan pada aspek kajian teoretis dan aplikasinya. implementasi. mengindentifikasi ragam praktik evaluasi serta merefleksikannya.Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Abstrak Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa-guru (studying while teaching) memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan antara aspek teoritis dan praktis.. tantangannya adalah mengembangkan pendekatan perkuliahan yang dapat menyeimbangkan antara aspek teori dengan praktik serta mengintegrasikan cakupan dari P perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (cf. 2007) serta menumbuhkan tingkat pencapaian dan kinerja mahasiswa (Beveridge & Archer. problem solving. 2008) maupun refleksi kegiatan (Clarke. Dalam pendekatan Project-based Learning.lakukan di lapangan (Jyrhama et al. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Untuk menunjang kegiatan Projectbased Learning perkuliahan maupun pelatihan dapat menggunakan berbagai sumber/resources termasuk diantaranya adalah pengamatan lapangan (Suratno et al. Suratno et al. Karakteristik dari mahasiswa pada program multimoda pendidikan guru seperti itu adalah para mahasiswa -yang notabene adalah guru. evaluasi pembelajaran lATAr BelAKANG erkuliahan Evaluasi Pembelajaran tahun akademik 2008/2009 melayani mahasiswa-guru PGSD –yaitu mahasiswa yang sudah mengajar atau guru yang sedang melanjutkan studi (studying while teaching). mengeksplorasi khazanah teoretis. 2006. dan penutup) beserta desain evaluasi perkuliahan. Untuk mendukung aktivitas tersebut maka desain perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dibagi ke dalam empat fase (persiapan. 2003)..Oktober 2008 . 2008). inquiry-riset.f Azam & Iqbal. 2006). 2006) yang sesuai dengan karakteristik dari mahasiswaguru tersebut. Hal ini berarti para mahasiswa tidak terlalu asing lagi dengan materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang akan diberikan. Pengembangan pendekatan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran menekankan pada penyediaan kesempatan kepada mahasiswa yang sudah mengajar untuk mengeksplorasi aspek teoretis sekaligus merefleksikan praksis yang selama ini mereka lakukan.. mahasiswa mengembangkan suatu projek baik secara individu maupun berkelompok untuk menghasilkan suatu produk –misalnya portofolio (Azam & Iqbal. Penerapan Project-based Learning dapat memfasilitasi tingkat kemandirian partisipan (Suratno et al.. Dalam pandangan mahasiswa-guru. dosen cenderung menekankan aspek teoretis sehingga kurang mengeksplorasi aspek praksis secara seimbang (c. salah satu pendekatan yang mendekati konsepsi tersebut adalah pendekatan projek atau dikenal sebagai Project-based Learning (Bhattacharya et al. Pendekatan Project-based Learning dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-guru untuk menentukan permasalahan evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu. 2006). berdasarkan pengamatan dan pengalaman terdahulu. Penelitian ini mencoba menggali aspek dari pengembangan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dengan pendekatan Project-based Learning beserta efektivitas dan pengaruhnya terhadap capaian mahasiswa-guru. Namun demikian. Beveridge & Archer. (2007) menyatakan bahwa Project based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivisme. Kata Kunci: project-based learning. 2003) yang hasilnya kemudian disajikan dan direvieu.

penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan berikut terkait dengan implementasi pengembangan PBL: 1. d. Fokus permasalahan berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) (teori dan praktik). b. Kegiatan perkuliahan dibagi ke dalam beberapa fase yang ditujukan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk merencanakan. Dalam melakukan riset. Dosen a. serta merefleksikan teori dan praktik evaluasi pembelajaran. c. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam penyusunan laporan riset projek “JURNAL. Fase persiapan: 1. Berdasarkan deskripsi di atas. Mahasiswa a.. Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 2. DeSAIN PrOGrAM PeMBelAjArAN Desain program perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa PGSD Bumi Siliwangi UPI tahun akademik 2008/2009 dikembangkan berdasarkan prinsip Project-based Learning. b. Dalam melakukan pemecahan masalah.. Melibatkan satu anggota kelompok mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. 4. 2. mahasiswa dapat menggunakan model pemecahan masalah (Bhattacharya et al. Memberikan penjelasan tentang model pemecahan masalah. 2. mahasiswa dapat menggunakana pendekatan The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. 2006) e. Melalui pendekatan ini keterkaitan antara teori dari buku teks dengan praktek di lapangan dari evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa (sebagai guru) dapat terwadahi. Dari tujuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 4. Melalui strategi ini juga diharapkan dapat terbentuk prototip komunitas belajar praktisi guru yang melakukan kajian ilmiah tentang apa yang mereka lakukan terutama dalam hal evaluasi pembelajaran. Memberikan penjelasan tentang The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al.. mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengkomparasikan dengan hasil studi teoritis sehingga mahasiswa dapat menjelaskan ragam praksis yang terjadi serta kaitannya dengan rujukan teoretis tertentu. Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 3. 1. strategi riset dan pemecahan masalah serta pengembangan laporan. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan.pengembangan desain perkuliahan Project-based Learning dimana mahasiswa-guru tersebut mengidentifikasi projek tentang Evaluasi Pembelajaran dan hasil pengembangan ini diukur untuk melihat efektivitas serta pengaruhnya terhadap capaian perkuliahan mahasiswa. Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? TujuAN KeGIATAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan pendekatan Project-based Learning pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Mengembangkan strategi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (Project-based Learning). 2006). Mahasiswa dikelompokan ke dalam lima kelompok.Oktober 2008 .. b. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? 5. Mengembangkan perencanaan projek. Melakukan riset untuk memecahkan permasalahan. Dari fase-fase tersebut diharapkan mahasiswa dapat memperkaya wawasan teoretis dan empiris berdasarkan hasil pengembangan diri –misalnya melalui refleksi terhadap praktik (Blaise et al. Dalam perkembangan risetnya. c. menganalisis. b. c. Memberikan perkuliahan tentang teori dan praktik evaluasi pembelajaran b. Mengembangkan instrumen uji pengembangan pendekatan Project-based Learning. 2008) d. mengimplementasi dan mendiseminasikan projek yang mereka kembangkan. Meningkatan kualitas perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang tercermin baik dari segi penyelenggaraan maupun pencapaian nilai mahasiswa. Pengembangan Pendekatan Problem-based Learning a. Tiap kelompok mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi projek mereka. Memfasilitasi mahasiswa memahami ragam teori dan praktik evaluasi pembelajaran. mahasiswa melakukan bimbingan terprogram untuk penyusunan laporan kegiatan projek. 3. 2006) dan pengembangan sejawatnya (Beveridge & Archer. dimulai dari identifikasi permasalahan. Mahasiswa a. 2. Dosen a. Fase Implementasi: 1. 2008) untuk membantu aktivitas eksplorasi projek mahasiswa. c.

Fase Penutup 1. Sekelompok mahasiswa mempresentasikan temuan dari projeknya dan kelompok lain menanggapi. penulis menganalisisnya untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dan posttest. observasi) Fase II: Implementasi Projek a. 2. diskusi – mahasiswa mendiskusikan hasil projek penelitian Fase IV Penutup Feedback perkuliahan Fase I: Persiapan Projek a. Mahasiswa saling mendiskusikan temuan mereka serta merefleksikan terhadap praksis yang mereka lakukan sehari-hari (Blaise et al. (4) menetapkan skor. sebagai berikut: Komponen Pemahaman teori S k o r Skor rata. Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 63.00 33. Dosen a. Fase I: Persiapan Projek Identifikasi projek – mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) Fase II: Implementasi Projek a. Memberikan umpan balik. wawancara) • Perekrutan tim penelitian (mahasiswa) • Pembinaan tim peneliti b. presentasi projek Mahasiswa menyajikan temuan penelitian b. wawancara. Dosen Memberikan review terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran.Oktober 2008 Fase IV: Penutup Review perkuliahan . Persiapan • Pengembangan instrument (tes. Pelaksanaan • Monitoring tiap fase • Penilaian Diri c. hal tersebut ditunjang oleh indicator-indikator yang menunjukkan meningkatnya pemahaman teori tentang : (1) menyusun lay out (2) menulis soal. Perencanaan projek Mahasiswa melakukan penyusunan rencana projek b. Fase III: Seminar Projek a. “JURNAL. yaitu: (1) Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? (2) Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (3) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (4) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? (5) Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 1. 2006). Efektivitas PBL dalam perkuliahan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data di atas. fasilitasi-moderasi presentasi dan diskusi b. Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dengan nilai yang dicapai dalam posttest. (3) menata soal. Perkuliahan b. Fase Seminar: 1. Mahasiswa a.55 18. pembimbingan HASIL PENELITIAN Hasil dan analisis data yang terkumpul berdasar kepada catatan dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam kelas maupun di lapangan diorganisir secara cermat untuk menjawab persoalan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. Mahasiswa Memberikan umpan balik dan masukan terhadap jalannya perkuliahan serta pendekatan Project-based Learning yang digunakan. ( 5) reproduksi tes dan (6) analisa empiris terhadap suatu tes hasil belajar.. Riset projek – mahasiswa melakukan kajian teoretis dan empiris dari kegiatan perkuliahan dan fenomena di lapangan c. Tabel 1: Overview Desain Problem-based Learning Mahasiswa Dosen 2. Desain Evaluasi Program a. menyampaikan saran dan rekomendasi 2.45 51. Bimbingan dan laporan – mahasiwa progress riset kepada dosen Fase III: Seminar Projek a. Pengembangan instrument ( tes. Informasi tentang perkuliahan c. input. Pengembangan strategi perkuliahan (Problembased Learning) b. b. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Mengidentifikasi Permasalahan Evaluasi. 2. saran dan rekomendasi d. Pelaporan observasi.10 Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif.c. Memandu dan memfasilitasi kegiatan presentasi dan diskusi b. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .

dkk. 2003. T.. 2006. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis dan Merefleksikan Keterkaitan antara Teori dengan Praktik Evaluasi Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Motivational implications of project-based learning for the preparation of social workers. Adelaide. M.30 60. 2006. Adelaide. 2006. 2 Februari 2008 Yang ditunjang dengan indicator tentang meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan evaluasi hasil belajar.00 47. Rahmat. K. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Merencanakan Proyek Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. 2006. Rethinking reflective journals in teacher education. Malone. DAfTAR PUSTAKA Azam. Teacher Institute Sampoerna Foundationa Jakarta. Iqbal.15 12. UPI Pres. J. & Desiree. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. Ryan. PBL Approach: A model for integrated curriculum. dkk. 3. 2003. 5. Clarke. Makalah disajikan pada kegiatan Semiloka Program Adopt A Teacher. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. Bhattacharya. 2006. M.Oktober 2008 .15 5. Latham. 4. Bandung Suratno. S. November 27-30. Bandung Sapriya. B. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Paper presented at NZAARE/AARE Conference.30 58. Cece. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Nov 29-Dec 3. Dole. Adelaide.. S. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. November 27-30. S k o r Skor rata. M. Hal tersebut menunjukkan bahwa PBL efektif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar. Dharma. 2007. M.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 75. November 27-30. Beveridge.85 proyek Komponen Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif.85 proyek Komponen “JURNAL. November 27-30. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. 2006. 2006.60 7.Komponen Identifikasi masalah S k o r Skor rata. & Brears. Archer. A.50 54. Auckland. J. Adelaide. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. 2006. Andira.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 60 45. 2006. G. Faulkner. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Use of portfolios for assessing practice teaching of prospective science teachers. 2006. Persepsi mahasiswa terhadap PBL Berdasarkan pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa terjadi perubahan kea rah positif dalam hal persepsi mahasiswa terhadap PBL sebelum dan sesuadah melaksanakan kegiatan di lapangan. J. Reflection: Journal and reflective questions –A strategy for professional learning. MacIntyre. L.10 Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Project-based Learning. & Lang. H. A.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 65 44. Skor Skor rata. S. Blaise.

(von Glasersfeld. memonitor (monitoring) dan mengarahkan (directing) proses membangun pengetahuan. memperluas (extend). pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan konseptual. dikarenakan: (1) konsepsinya berbeda dengan konsep ilmiah. Kata Kunci: konstuktivisme. 2002a). 1985). 1992). (2) sifatnya laten. Gunstone. konsepsi alternatif. Dalam pembelajaran. masyarakat.. Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno Abstrak Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan proses membangun pengetahuan yang dilakukan individu. pandangan dan keyakinan peserta didik serta pengaruh pendidik (Tobin et al. 1985). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . bersifat kuantitatif dan menggunakan inferensi statistik.. implikasi perspektif konstruktivisme dalam penelitian Constructivism deals with questions of knowledge-what knowledge is and where it comes from…I prefer to call it a theory of knowing rather than a theory of knowledge. commonsense theories ataupun yang dikenal sebagai alternative conception. Driver & Easley (1978. Kajian idiographic memunculkan istilah pupil’s ideas. Konstruktivisme memandang penting faktor pengalaman siswa yang berupa pengetahuan dan keyakinan yang dibawa siswa ke dalam pembelajaran yang cenderung membentuk miskonsepsi/alternative conception. Siswa membawa berbagai konsepsi mengenai obyek dan fenomena alam dan seringkali tidak sesuai dengan konsep ilmiah. perubahan konseptual KONSTRUKTIVISME DAN fENOMENA RISET ALTeRNATive CONCePTiON MOveMeNT onstruktivisme memandang bahwa pengetahuan individu merupakan hasil dari proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam sistem kognisi individu. Guru sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai konsepsi siswa. Mengapa konstruktivisme memandang penting alternative conception dan mengapa ACM begitu mendunia terutama dalam periode 1980-1990an? Setidaknya terdapat tujuh klaim utama yang mendasari ACM (Wandersee et al. sementara siswa mengenali (recognise). Penggunaan istilah alternative conception ketimbang miskonsepsi pada tema penelitian konseptual (conceptual research) ini dilandasi keluasan istilah tersebut ketimbang istilah miskonsepsi (bisa disimak pada bagian kajian nomothetic dan idiographic). Oleh karena itu.Oktober 2008 . guru berperan dalam menghubungkan (linking). Wandersee. pendidikan sains adalah merebaknya penelitian mengenai alternative conception atau lazim dikenal sebagai alternative conception movement (ACM). Fenomena penelitian ACM sebenarnya diilhami dari penelitian yang dilakukan oleh Piaget (1920-an) berkenaan dengan pemahaman anak mengenai dunia/ alam di sekitarnya melalui metode wawancara klinis serta disertasi Driver yang mencoba memasukannya ke dalam konteks kelas (Gunstone. mengevaluasi (evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya. terus dipergunakan siswa dan cenderung sukar diubah.penghambat bagi pembelajar dan rujukan bagi guru. dalam pembelajaran dan pengajaran sains (Osborne & Freyberg. Metode yang diadopsi adalah metode yang biasa digunakan oleh antropolog. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara apa yang sedang diajarkan dengan apa yang sudah diketahui. children’ science/view/understanding. Kajian nomothetic memunculkan beragam istilah seperti naïve conception ataupun istilah yang lazim dikenal sebagai miskonsepsi. seringkali pengetahuan awal dan pandangan siswa bersifat miskonsepsi/salah pengertian ataupun berupa alternative conception/pengertian alternatif. Alternative conception dipandang sebagai faktor penting . konstruktivisme memandangnya sebagai suatu proses sosial [wacana] membangun pengetahuan [yang ilmiah] yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. Biasanya mengkaji pandangan siswa tentang obyek dan fenomena serta dianalisis berdasarkan terminologi yang siswa gunakan. 1994) membagi dua macam penelitian mengenai konsepsi alternatif yaitu kajian nomothetic (penyimpangan dari konsep standar) dan kajian idiographic (pemahaman mengenai obyek maupun peristiwa). “JURNAL. Akan tetapi. memadukan (integrate). 1994) meliputi: 1. dan (3) sukar dideteksi oleh guru (Osborne & Freyberg. sumber bacaan dan guru. 1994. Dalam hal ini. 2002b). K Konstruktivisme memandang penting alternative conception yang dimiliki dan diyakini siswa. Biasanya kajian nomothetic menggunakan tes tertulis. Dalam merespon pandangan ini. bersifat naturalistik serta subyeknya sedikit tetapi mendalam. Sumber alternative conception bisa berasal dari diri siswa. Tulisan ini membahas implikasi perspektif konstruktivisme dan fenomena riset alternative conception movement (ACM) yang mendasari pandangan pembelajaran sebagai membangun pengetahuan melalui proses perubahan konseptual.Konstruktivisme.

berdasarkan gender. 3. dapat memecahkan permasalahan terdahulu serta konsisten dengan teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. suatu rentang pemahaman dalam sistem kognisi individu. beberapa hal perlu dikaji lebih lanjut terutama berkenaan dengan strategi siswa merubah konsep yang sebenarnya maupun strategi metakognisi. siswa menggunakan konsepsinya yang telah ada untuk merespon fenomena yang baru. terutama bila terjadi alternative conception. 5. Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligible). Oleh karena itu. apakah seluruh konsepsi awal siswa dirubah secara keseluruhan? Mungkin saja. mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan. Ini memerlukan kajian mengenai bagaimana siswa berpikir. Pendekatan perubahan konseptual melalui strategi konflik kognitif. pengaruh media massa serta pengalaman belajar di kelas. rasional dan dapat memecahkan permasalahan atau fenomena yang baru. (1982) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Melalui asimilasi. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsepsi yang telah ada. kegiatan diskusi kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami dan mendalami suatu prinsip/konsep yang diperoleh orang tersebut dari interaksinya dengan sejawatnya. (1982) berpandangan lebih luas dimana akomodasi merupakan proses perubahan konseptual dikarenakan konsepsi siswa tidak sesuai dengan fenomena yang baru. (1982) pada intinya. karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone. intelligible. Oleh karena itu. 2. Terdapat empat syarat yang menjembatani proses akomodasi. Terdapat kesamaan antara penjelasan saintis yang tergugurkan teorinya dengan alternative conception siswa. Gunstone (1994) mendefinisikan perubahan konseptual”…the abandonment of one conception and the acceptance of another”. Namun demikian. Dalam proses perubahan konseptual. (1982): ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada. Sementara Posner et al. asimilasi terjadi karena pengetahuan awal siswa sejalan/berhubungan dengan fenomena dan belum terjadi perubahan skema/konflik kognitif (Piaget) ataupun perubahan konseptual (Posner et al. Siswa. Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone (1994) sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al. usia. Menurut perspektif konstruktivisme sosiokultural. konteksnya berbeda. Alternative conception sangat sulit di’berantas’ dan sifatnya beragam. cenderung membawa alternative conception yang berasal dari pengalaman pribadi maupun hasil interaksi sosial. Kemudian. 4. konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. Piaget dan Posner et al. Sementera itu. Banyak strategi maupun model pengajaran yang telah dirancang oleh para pakar “JURNAL.. 3. terutama secara empiris. (1982) memiliki konsepsi yang agak berbeda terutama dalam konsepsi akomodasi. penggunaan bahasa sehari-hari. Negosiasi pemahaman sangat mempengaruhi zona proksimal individu. dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. Wadsworth.Oktober 2008 . Melacak dari mana asalnya alternative conception sangatlah sulit.. Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful) dalam pengembangan penelitian atau penemuan yang baru.2. Vygotsky menekankan faktor bahasa dan interaksi kelompok mempengaruhi proses membangun pengetahuan individu. yaitu: 1. 1997). kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone. Bila mengacu pada pandangan konstruktivisme psikologi personal. Diperlukan kajian sejarah sains bagi siswa. Artinya. Menurut Piaget dan Posner et al. Akomodasi merupakan proses konflik kognitif karena skema dengan fenomenanya berbeda (Piaget). Diperlukan strategi perubahan konseptual. akan tetapi pada dasarnya terdapat dua kondisi umum dari perubahan konsep yaitu mengganti [bersifat radikal/ revolusioner] ataupun menambah [bisa juga mengurangi] dengan konsepsi lain yang dianggap tepat konteksnya [evolusioner]. Siswa akan mengubah konsepsinya bila siswa merasa konsepsi yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk merespon fenomena atau pengalaman baru. 7. 1997). Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. Guru pun memiliki alternative conception sehingga terjadi salah tafsir dalam memahami konsep sains. asimilasi akomodasi dan ekuilibrium (Piaget. pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone. Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing). Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual. Namun gejala alternative conception yang terjadi di berbagai populasi dan budaya mencerminkan adanya kesamaan pengalaman budaya siswa dalam hal observasi alam. plausible dan fruitful. HAKIKAT PROSES PERUBAHAN KONSEPTUAL Inti pembelajaran dalam perpektif konstruktivisme melibatkan proses perubahan konseptual. Posner et al. terdapat tiga proses kunci yang dilakukan individu dalam membangun pengetahuan yaitu. 1994). tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya [bersifat miskonsepsi] pada konteks lain. istilah perubahan konseptual penulis definisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya [konsepsi dan keyakinan] bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya. penggunaan analogi serta strategi metakognisi sepertinya sangat menjanjikan. Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep. 6. faktor-faktor apa yang mendasarinya dan bagaimana kaitannya dengan proses belajar di kelas.. 1982). IMPlIKASI DAlAM STrATeGI PeNGAjArAN SAINS Inti dari implikasi hakikat perubahan konseptual terhadap strategi pengajaran sains adalah membantu siswa memahami konsep sains. siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu. 4. Akan tetapi. terutama metakognisi. kemampuan dan latar belakang budaya. 1984). Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible).

au] to Tatang Suratno [suratno169@hotmail. memfasilitasi observasi. “JURNAL. Carr (Ed. Wadsworh. Metacognition and Conceptual Change. John Wiley and Sons. dari berbagai bukti dari praktikum dan dari hasil komunikasi dengan sesama siswa maupun guru.edu. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick¬_Gunstone@ Education. Constructivism and Learning Research in Science Education. (1997).. The Content of Science: A Constructivist Approach to its Teaching and Learning. and Gertzog.. Aplikasi dan Integrasi Memahami prinsip dan teori ilmiah..au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. tidak hanya aktif dalam hal mempelajari fakta. Sequence.edu.Oktober 2008 . F. Science Education Vol. Proses Siswa Berpikir Strategi Pengajaran DAfTAR PUSTAKA Gunstone.edu. (1987). diskusi.com].pendidikan sains. (1994). 1987). Di kelas. guru sebaiknya memandang kelas sebagai suatu learning community (Anderson..au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. Richard Gunstone. New York: MacMillan. menuliskan peristiwa dan objek sehari-hari.monash. Tippins. (2002b). In Marcia K. Dalam menerapkan strategi perubahan konseptual. Faculty of Science Education. (2002a). 2.. (1994). Posner.com]. Research on Alternative Conception in Science. Richard F. Pengenalan Konsep IPA Berupaya mencapai pemahaman awal tentang konsep ilmiah. (1982). tetapi juga aktif dalam melatih keterampilan inkuiri seperti mengemukakan penjelasan.. Secara eksplisit menjelaskan keterkaitan hubungan antar konsep dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Accomodation of a Scientific Conception: Toward a Theory of Conceptual Change. Palinscar. Pada tahap penerapan dan integrasi. Barry J. William A. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick-_Gunstone@Education. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick_Gunstone@Education. and Mitchell. Peter W.. A. Peter. Menyediakan advance organizers. Monash University. Ian J. and E.. Charles W. and Gallard. Alejandro Jose. penalaran kreatif. (1994). S. No. Gunstone. (Diadopsi dari Anderson. Kenneth A. Wandersee. siswa belajar dari berbagai sumber termasuk buku teks maupun guru. Alexandria VA: Oak Brook. Richard F. Pada tahap persiapan. pada dasarnya. 211-227. Roger. Gunstone. In Dorothy L. Monash University. Osborne. monash. Monash University. Menekankan prinsip dan teori kunci. S.. and Novak Joseph D. D. 1987) Antisipasi Persiapan Siswa mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap proses pembelajaran. Anderson. Piaget’s Cognitive and Affective Development. and Coordination of Secondary School Science: Relevan Research Volume 2. deskripsi. Gabel (Ed. Jones. Dalam suatu learning community yang ideal. In B. Gabel (Ed... Research on Instructional Strategies for Teaching Science. Pearsall Scope.. Richard F. and Freyberg. dan mencoba menginternalisasi konsep inti yang tidak terlalu sulit. von Glasersfeld. memikirkan fenomena alam dan penjelasannya dengan menggunakan bahasa sendiri. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . menampakkan kesadaran dan motivasi untuk belajar.. Faculty of Science Education. Deborah J. Kenneth. mengenalkan konsepsi melalui struktur tugas dan aktivitas yang bermakna. Strike. James H.. mencoba menangani kesulitan belajar. The National Teacher Association. Tabel 1: Planning Guide for Teaching fir Conceptual Change. Richard F. Faculty of Science Education. Gunstone. Strategic Teaching in Science. Ernst (1992). The Importance of Specific Content in the Enhancement of Metacognition.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. Auckland: Heinemann.. (1984). George J. 88. siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami.. 1987) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual. In Dorothy L.. tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi (Tabel 1). Learning in Science: The Implication of Children’s Science.) Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas. monash. siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam. Ogle. Namun. membandingkan miskonsepsi dan konsepsi ilmiah. Pada tahap penyajian.com]. prediksi dan mengontrol obyek dan peristiwa alamiah. G. mengajukan pertanyaan dan merangsang penjelasan anak.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. Mintzes. Richard White (Ed). (1985). Tobin. dan memahami antar hubungan antara konsep ilmiah dengan konsepsi yang dimilikinya. Constructivist Learning and the Teaching of Science.. Questions and Answers about Radical Constructivism. guru menjelaskan konsep-konsep dasar. London: The Falmer Press. New York: MacMillan. Hewson. In Peter Fensham. sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson. Joel J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful