Pengantar

Nomor: 10 - Oktober 2008

Sejumlah tulisan yang ditampilkan pada Jurnal Pendidikan Dasar edisi Oktober 2008 ini, berupa hasil penelitian lapangan maupun kepustakaan yang difokuskan kepada konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tulian dan hasil pikiran yang kesemuanya menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dasar, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dalam pelaksanaan teaching learning, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. Lely Halimah, menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 Laboratorium UPI Kampus Cibiru dalam kesimpulannya antara lain menyebutkan bahwa perkembangan kosa kata mempunyai epranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa sekolah dasar. Nina Sundari, menampilkan tulisan hasil penelitian berjudul Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tini Rustini, menampilkan hasil penelitian berjudul Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berfikir Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tatat Hartati, hasil penelitiannya berjudul Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi, menyimpulkan bahwa kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang dengan penelitian-penelitian yang berkualitas secara bersama-sama. Rustono, dkk, menuliskan hasil penelitian berjudul Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar. Dadan Djuanda, menuliskan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, mendeskripsikan bagaimana pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Nurdina Hanafiah menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pengembangan Decision Making Model dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, menyimpulkan bahwa model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternative pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Maulana, menuliskan hasil penelitian berjudul Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa PGSD, menyimpulkan bahwa proses ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena decision making process model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan berfikir kritis siswa. Beberapa tulisan yang tampil untuk memperkaya jurnal edisi kali ini adalah; Dindin Abdul Muiz Lidinillah, Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar, Supriadi, Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika, dan Yahya Sudarya, Project Based Learning dalam pembelajaran Evaluasi Belajar mahasiswa PGSD. Oktober 2008 REDAKSI

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Jurnal Pendidikan Dasar
Daftar Isi

Nomor: 10 - Oktober 2008
Halaman (2) (3 - 9)

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Lely Halimah Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Nina Sundari Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar Rustono W.S. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno

(10 - 13)

(14 - 17)

(18 - 20) (21 - 27)

(28 - 32)

(33 - 38)

(39 - 45)

(46 - 51) (52 - 57) (58 - 61)

(62 - 64)

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
Lely Halimah Abstract Based on the preliminary study, it is shown that the teaching and learning process of Bahasa Indonesia in the 4th grade of SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru is not yet conducive to develop the Indonesian language skill of the students. One of the sources of the problem is that the teaching and learning process of bahasa Indonesia applied by the teacher refers to only one source for one semester, which is the text book. Consequently, the students seems unenthusiastic in attending to the teaching and learning process, and don’t have a chance to actively participate and to communicatively use Indonesian language, so that the language skills of the students are not well developed. In such condition, some efforts are required to improve the quality of the teaching and learning process, in order to increase the quality of the result. To overcome this condition, a classroom activity/treatment research is conducted --a kind of reflexive research performed by giving certain treatments to improve or and to increase the class activities in a more professional way. In general, the objectives of this research is to increase/enhance the quality of the process and the result of teaching Bahasa Indonesia by way of developing creativity of the teachers’ in exploiting the students’ surroundings as learning sources. To achieve the objectives of the research, the procedures are generally referred to the classroom research activity, as in Lewin’s Model (Elliot, 1991), and in particular develop the procedure of PTK adaptation of Hopkins, 1993), which includes planning, performing, observation, and reflection. In accordance with the procedures, this research is developed into three cycles, of which each cycle develops different themes. For instance, cycle 1 develops the theme of Newspaper, which is then developed/extended into three actions. Cycle 2 develops the theme of Houseplants, which is then developed/extended into three actions. Cycle 3 develops the theme of School Library, which is then developed/ extended into two actions. The focus of each action of utilizing the environment as learning source is giving the students a chance to actively participate by using the language in a communicative way. The conclusions of the research are as follows: (1) the utilization of the environment as an effective learning source, by giving the students a chance to interact/get involved with various learning sources, the people, the materials, the equipments, the techniques, as well as the environment itself, (2) the conducive activities of the students, by giving the students the assignments that encourage them to use the language in a communicative way, such as interviewing, descriptive writing on their object of observation, and (3) the impact of utilizing the environment as learning source, which is shown by the gradual improvement of the students’ language skills, which include listening, speaking, reading, and writing. As shown by the statistic, out of 16 respondents of this research, in cycle 1 action 1, there are only 6 students (37,5%) with good listening skill. But in cycle 3 action 2, there are 12 students (75%). And in cycle 1 action 1, there are only 4 students (25%) with good speaking skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Similarly, in cycle 1 action 1, there are only 9 students (56,25%) with good reading skill. But in cycle 3 action 2, there are 11 students (68,75%). And finally, in cycle 1 action 1, there are only 5 students (31,25%) with good writing skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Suggestion for future researchers is that the utilization of the environment as an effective learning source for the development of the students’ language skills requires good and constructive planning in preparing and providing the materials, media, methods, and other sources existing in the surroundings, as well as the evaluation. Keywords: learning source and language competence PENDAHULUAN endidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan

P

bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? 2. 2. (4) memberikan pengalaman yang bermakna dalam melakukan berbagai aktivitas berkomunikasi baik lisan “JURNAL. dan dari hasil diagnosis secara kolaboratif antara peneliti. terutama bagi peserta didik di antaranya (1) menumbuhkan antusias. (2) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dengan berbagai nara sumber. bahkan hasil penelitian kemampuan membaca tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA. dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. maka peneliti melakukan studi pendahuluan yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru SD laboratorium UPI Kampus Cibiru. Mengidentifikasi aktivitas belajar berbahasa Indonesia yang kondusif dalam menumbuhkembangkan kompetensi berbahasa peserta didik selama proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar. 1. Bagaimana dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia terhadap kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? Berdasarkan rumusan permasalahan di atas. minat dan motivasi belajar yang tinggi terhadap peserta didik.Oktober 2008 . Mengidentifikasi dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia terhadap peningkatan kompetensi berbahasa peserta didik. Mengidentifikasi cara-cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik. TUJUAN DAN MANfAAT Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia di SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. maka peneliti bersama kepala sekolah dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru merasa perlu adanya upaya-upaya perbaikan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya agar kompetensi berbahasa peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal. maka melalui penelitian ini. kepala sekolah.yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan. Berdasarkan temuan empirik terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Rofi’uddin dan Zuhdi (1999: 37) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan lulusan sekolah dasar dalam hal baca-tulis terus dikumandangkan. yang salah satunya adalah guru terlalu terikat dengan buku paket bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia Dengan kata lain. melalui pengembangan kreativitas guru dalam pemberdayaan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar kehidupan peserta didik. (3) memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber belajar dan mengkomunikasikan baik lisan maupun tulis. peserta didik belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan hanya mengandalkan dari satu sumber yaitu buku paket. maka ditetapkan alternatif tindakan yang dapat memecahkan masalah yang bersifat praktis dan inovatif. Lebih parah lagi Ismail (Jalal dan Supriadi. 1992) menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang menjadi sampel penelitian. dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama pembelajaran bahasa Indonesia? 3. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh gambaran pada umumnya pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru tersebut belum kondusif terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik. Seiring dengan adanya berbagai temuan di atas. Tepatnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia terendah di kawasan ASEAN. Penyebabnya pada umumnya mengungkapkan bahwa kegagalan itu bersumber pada guru dan metodologi pembelajaran serta sumber daya pendidikan yang kurang menunjang. Setelah diadakan refleksi secara kolaboratif dengan guru-guru tersebut ditemukan berbagai faktor penyebabnya. 1. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas. 2001: xxxi) mengemukakan hasil observasinya di beberapa negara bahwa anak-anak Indonesia “rabun membaca dan lumpuh menulis. Bagaimana cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dari hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. peneliti dan guru berkolaborasi secara inkuiri reflektif untuk memperbaiki proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik. Dari berbagai hasil temuan masih banyak diungkapkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia serta hasilnya belum sebagaimana yang diharapkan. 3. Bagaimana meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia? Untuk memecahkan masalah tersebut. yaitu melalui penerapan metode penelitian tindakan kelas dalam pemberdayaan lingkungan di sekitar peserta didik sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. maka peneliti menjabarkan ke dalam sub-sub masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian berikut ini. Bagaimana aktivitas peserta didik yang kondusif. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan penelitian ini. maka yang menjadi fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.

TINJAUAN PUSTAKA Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia.” Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Solchan (1994) dilihat dari ragamnya. (6) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas. misalnya udara. karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pengajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit. yaitu (a) learning resources by design. (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimuli) terhadap individu. (4) lebih memantapkan pembelajaran. Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan. air sungai. cahaya. maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill) khususnya kemampuan akademik. dan (b) sumber belajar non insani. Menurut sifat dasarnya. education is essentially something people must do for themselves. Sedangkan dilihat dari sifat pengembangannya.. Salah satu upaya yang dapat membantu peserta didik memiliki strategi komunikatif tersebut. sumber belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya. dan (5) meningkatkan kompetensi dan kreativitas berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. It is the means by which people explore and structure their worlds”. reading ability and culture). sumber belajar dapat dibagi dua. dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. rerumputan. pepohonan. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Menurut Soedarsono (1996) penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Esensi dari penelitian tindakan kelas ini merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat. Dengan demikian. 1994) mengemukakan bahwa penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran pada umumnya mempunyai berbagai fungsi. dan sebagainya. terutama dengan adanya media massa. dkk. (1984: 1) bahwa “Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their world. dan (b) learning resources by utilitarian. pembentukan sikap (concept formation = self concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill). Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional. Untuk itu.Oktober 2008 . Sumaatmadja (1996: 30) memaknai lingkungan sebagai ”segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat pertumbuhan manusia yang bersangkutan. yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar dan sifatnya insidental. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua. Sejalan dengan pendapat di atas. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. di samping memperluas dan meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif. Djahiri (1992) mengemukakan pula fungsi sumber belajar. (5) memungkinkan belajar secara seketika. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut ini. serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli. Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar kita. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity) pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading. Dengan kata lain. yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi. “JURNAL. Language is central to the individual’s process of self-discovery and self-definition. Although others play significant role in this process. Depdikbud (Soschan. yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih jauh. yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. yakni (a) sumber belajar insani. sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi. Sebagaimana dikemukakan Mangieri. serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.maupun tulisan. Semakin kita gali semakin banyak yang didapatkan oleh peserta didik. lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai ekonomis. Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat penting. matahari.

(3) menyusun instrumen untuk pelaksanaan observasi dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan membawa surat kabar sebagai sumber belajar peserta didik dalam belajar keterampilan berbahasa. yaitu tematik.Oktober 2008 . b. b) Tindakan kedua. 1994). (2) mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumer belajar. peserta didik mengamati surat kabar untuk mendeskripsikan tentang surat kabar. pengewasan (observer). dan komunikatif.1993) “JURNAL. setiap siklusnya ditetapkan satu tema. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan informasi yang terdapat pada surat kabar. b) Tindakan kedua. pelaksanaan (act). dan prosedur pelaksanaan penelitian. c) Tindakan ketiga. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : (1) analisis kebutuhan perkembangan peserta didik. seperti siklus satu terdiri dari tiga tindakan. untuk mengamati berbagai jenis tanaman hias dan dan melakukan wawancara dengan penjual tanaman hias. Refleksi Refleksi adalah tahap di mana antara guru dan peneliti duduk bersama untuk merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan oleh guru. dan (4) membuat kesepakatan bersama guru dalam pemanfaatan waktu pelaksanaan pembelajaran. 1993. McNift. b) Tindakan kedua. peserta didik mengamati berbagai surat kabar yang dibawa oleh penjual surat kabar dan melakukan wawancara langsung dengan penjual surat kabar. waseso. dan siklus dua terdiri dari dua tindakan. guru mengajak peserta didik ke perpustakaan sekolah untuk mencatat judul-judul buku dan pengarangnya serta melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan. Observasi Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pengamatan terhadap seluruh aktivitas pembelajaran. 3) Siklus ketiga tema “Perpustakaan Sekolah” a) Tindakan kesatu. d. dan refleksi (reflect) (Kemmis & Tagart.a. guru mengundang penjual surat kabar ke sekolah. Pelaksanaan tindakan ini dibagi menjadi tiga siklus. sumber belajar berkomunikasi adalah macam-macam tanaman hias yang terdapat di halaman sekolah. serta konfirmasi berkaitan dengan tugas guru dan peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran. analisis kurikulum bahasa Indonesia. guru mengajak peserta didik mengunjungi tempat penjualan tanaman hias. 1981 dalam Hopkins. guru mengajak peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah. Pelaksanaan Pada tahap ini sesuai dengan prosedur pengembangan program tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus. sebagai sumber belajar peserta didik. untuk membaca buku cerita yang diminatinya dan kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut. yang disesuaikan dengan tuntutan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia. 1992. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan salah satu jenis tanaman hias. c. Temuan-temuan ini menjadi bahan diskusi antara guru dan peneliti untuk merancang perbaikan pada tindakan Gambar 1: Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari Hopkins. dan peserta didik belajar berkomunikai melalui berbagai informasi yang terdapat pada surat kabar. 1) Siklus kesatu tema “Surat Kabar” a) Tindakan kesatu. Melalui tindakan ini. Melalui tindakan ini peserta didik belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan bukubuku yang ada di perpustakaan. dan analisis kondisi lingkungan sekolah. Observer mencatat kejadian-kejadian penting untuk kemudian dihimpun sebagai catatan lapangan selama proses berlangsungnya pembelajaran. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Jadi secara keseluruhan terdiri dari tiga siklus dan delapan tindakan. Melalui tindakan kesatu ini. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan berbagai tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. siklus dua tiga tindakan. Observasi ini dilakukan terutama untuk melihat proses dan dampak dari tindakan guru terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Untuk lebih jelasnya gambaran setiap siklusnya adalah sebagai berikut ini. memadukan empat keterampilan berbahasa. Melalui tindakan ketiga ini. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan (plan). Dari hasil perenungan ini akan diperoleh berbagai temuan menyangkut tindakantindakan guru yang sudah efektif dan yang belum efektif serta dampaknya terhadap proses belajar peserta didik. Setiap siklus jumlah tindakannya berbeda. 2) Siklus kedua tema “Tanaman Hias” a) Tindakan kesatu. c) Tindakan ketiga.

di antaranya peserta didik mengamati suatu objek kajian dan melaporkan hasil pengamatannya. dan pada siklus ketiga tindakan kedua menjadi 62. menulis deskripsi sesuai hasil pengamatannya.75%. Analisis Data Pada dasarnya analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara berkelanjutan dari hasil stusi pendahuluan. dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana dianjurkan oleh Nasution (1988). mengamati langsung tanaman hias dan mewawancari langsung penjualnya. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan pada siklus kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan membacanya baik 56. analisis dokumen. HASIL DAN PEMBAHASAN Dilihat dari proses belajar peserta didik. sebagaimana dikemukakan di atas. menceritakan kembali isi teks yang telah dibacanya. dan siklus ketiga tindakan kedua jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik menjadi 62. membuat pertanyaan untuk melakukan wawancara dengan nara sumber.25%. dan pada siklus ketiga tindakan kedua peserta didik yang kemampuan membacanya baik menjadi 68. ternyata sangat ditunjang oleh kondisi meluasnya cakrawala sosial peserta didik. mewawancarai tukang koran. dan tes (pretest dan posttest) 3.5%. Kemampuan menulis pada siklus kesatu juga mengalami peningkatan. Untuk siklus pertama. yaitu (1) reduksi data. (2) display data. Kemampuan berbicara pada siklus pertama juga mengalami peningkatan. maka analisis data dilakukan pada setiap tahap pengumpulan data. dapat digambarkan alurnya sebagaimana dikemukakan pada Gambar 1. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia telah terbukti kondusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. Semuanya itu dari jumlah peserta didik 16 orang yang menjadi responden penelitian ini. tindakan ke 1 jumlah peserta didik yang kemampuan menyimaknya baik adalah 37. seperti pada tindakan ke satu jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik 25%. 2.25%. 5%. yang meliputi menyimak. Gambar 2: Kemampuan Menyimak Gambar 3: Kemampuan Berbicara Gambar 4: Kemampuan Membaca Gambar 5: Kemampuan Menulis Peningkatan kemampuan berbahasa sebagaimana dikemukakan di atas. di antaranya adalah pedoman wawancara. Berbagai aktivitas penggunaan bahasa secara komunikatif yang dilakukan peserta didik.selanjunya. Data yang dihimpun itu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut ini.Oktober 2008 . melakukan wawancara langsung dengan nara sumber. Untuk mengetahui makna dari penelitian ini. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara “JURNAL. membaca berbagai buku bacaan yang ada di perpustakaan. membaca berbagai judul buku dan pengarang. alat perekam elektronik. maka digunakan instrumen penelitian. Instrumen Penelitian Sesuai dengan tahapan penelitian. dan pada siklus ketiga yang kemampuan menyimaknya baik menjadi 75%. pedoman observasi dan catatan lapangan. dan akhir pelaksanaan program tindakan. pelaksanaan. mewawancarai petugas perpustakaan dan sebagainya yang semuanya itu ternyata efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. dan (3) membuat kesimpulan dan verivikasi. membaca.5%. seperti mereka membaca surat kabar secara langsung. dan menulis untuk setiap siklusnya mengalami peningkatan. Dari keseluruhan tahapan di atas. berbicara. Dilihat dari kemampuan berbahasa Indonesia. seperti pada tindakan kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan menulisnya baik 31.

langsung oleh peserta didik sangat menunjang terhadap perkembangan pembendaharaan kata mereka. Perkembangan kosakata mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin kaya kosakata yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. bahkan kualitas keterampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya (Suhendar dan Supinah, 1992: 103). Untuk itu, agar pembelajaran bahasa berkualitas dalam mengembangkan kompetensi komunikatif peserta didik, Logan, dkk. (1972: 18) memberikan arahan bagaimana guru harus menciptakan pembelajaran bahasa, di antaranya guru harus memberikan kurikulum bahasa yang berorientasi pada terciptanya kesadaran yang penuh akan kebutuhan peserta didik untuk penemuan, penjelajahan, berimajinasi, menciptakan dan berkomunikasi dalam lingkungan komunikasi yang bermakna. Dalam seting belajar, guru akan mengembangkan kurikulum yang mengutamakan situasi yang alamiah sebagaimana anak secara alamiah belajar dan menggunakan bahasa. Dengan kata lain, guru akan memberikan seting pembelajaran di mana peserta didik dilibatkan dalam menyimak, berbicara, untuk mengkomunikasikan ide-idenya dan perasaannya sebagai dasar pengembangan kemampuan berbahasa tulis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas berbahasa, dan juga dapat meningkatkan kompetensi komunikatif peserta didik. Adapun cara yang efektif dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan cara menghadapkan peserta didik secara langsung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 2. Aktivitas peserta didik yang kondusif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberikan dampak yang positif, terutama terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan secara bertahap baik kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Saran-saran 1. Bagi Guru, hendaknya lebih kreatif lagi dalam memilih sumber-sumber belajar yang berasal dari lingkungan peserta didik. Selain kreatif dalam memilih sumber belajar tersebut, juga kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara komunikatif baik lisan maupun tulis. 2. Bagi Peneliti Lebih Lanjut, kondisi yang harus dipenuhi (suport system) dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa di antaranya perencanaan yang matang dan konstruktif baik dalam mengkonstruk bahan belajar, media, metode, dan sumber-sumber belajar yang berada di lingkungan sekitar, serta penilaiannya. DAfTAR PUSTAKA Azies, Furqonul dan Alwasilah, A. Chaedar (1996) Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Elliott, John. (1991) Action Research for Education Change. Philadelphia: Open University Press. Fisher, Carol J. & Terry C. Ann (1982) Children’s Language and the Language Arts. New York: McGraw-Hill Book Company. Kennnedy, Barbara L. (1994). The Role of Topic and the Reading/Writing Connection. (Online):.http://www. writing.berkeley.Edu/TESL-EJ/ejo1/a.3.html. (1 April 1994). Logan, Lillian M., Logan, Virgil G. and Paterson, Leona. (1972). Creative Communication:Teaching the Language Arts. Toronto: Mcgraw-Hill Ryeerson Limited. Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. (1984). Teaching Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book Company. Muchlisoh, dkk. (1992). Materi Pokkok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud; Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Muktiono, Joko D. (2003). Aku Cinta Buku: Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. (1988). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Y o g y a k a r t a : BPFE. Nurchasanah, (1994). “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulis Terpadu”. Vokal Telaah Bahasa dan Sastra. (No. 1 Th V), 31-37. Pappas, Christine c., Kiefer, Barbara Z., Levstik, Linda S. (1995). An Integratif Language Perspective: in the Ellementary School. USA: Longman. Richards, Jack C. (2001) Curriculum Development in Language Teaching. United States of America: University Press Combridge Rofi’uddin, Ahmad. (1994). Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1994. Malang: Vokal No. 1 tahun V. Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud. Suparno, Suhaenah A. (1999). Pemanfaatan dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny., Dkk. (1986) Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar. Jakarta: Gramedia Santosa, Puji.,dkk., (2003) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL Writing Classroom. (Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar/ aloud.html (19 Maret 1997). Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online). Tersedia: http://@www. goodle/search. (28 Maret 2002). Swarbrick, Ann. (1994). Teaching Modern Languages. New York: Routledge. Tarigan, Djago. (1995). Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung: Theme 76. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Universitas terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Hanry Guntur. (1979). Membaca: Sebagai Suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Aksara. Tarigan, Henry Guntur. (1989). Metodologi Pengejaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Djago dan Tarigan, H. G. (1988). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Weaver, C. (1996). What about Whole Language? (Online). Tersedia: http://www.ashay. Com/mpe. (Juli 1996). Williams, Marion & Burden, Robert L. (1997) Psychology for Language Teachers: a Social Constructivist Approach. United Kingdom: University Prees Cambridge.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Nina Sundari Abstrak Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar”, merupakan Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Cibiru X kelas IV Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas data kreativitas siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media peta. Manfaat proses penelitian ini, dapat meningkatkan kinerja guru dalam melakukan perubahan untuk perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Proses penelitian dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti sebagai mitra penelitian. Bentuk penelitian ini adalah model siklus yang dilakukan sebanyak lima kali pengamatan dan tindakan, yang terdiri dari beberapa fase pengamatan kegiatan pembelajaran. Prosedur pelaksanaannya mengacu kepada model yang dikembangkan oleh Kemmis, Mc. Taggart, dan Hopkin’s, setiap siklusnya terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab,menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupan. Proses penelitian dengan menggunakan media peta, berhasil dilakukan guru yang ditunjukkan dengan meningkatnya kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Beberapa perubahan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditunjukkan oleh guru dalam pengembangan strategi, meliputi pengorganisasian materi, pemilihan metode dan media, serta evaluasi di dalam proses maupun terhadap hasilnya. Keberhasilan pembelajaran, secara nyata dapat dilihat dari pola interaksi guru dan siswa yang menunjukkan meningkatnya minat, partisifatif aktif siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pembelajaran dengan menggunakan media peta, guru telah meniciptakan lingkungan belajar dan strategi yang membangkitkan keterlibatan siswa secara fisik, mental dan emosional, 2) pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar dengan menggunakan media peta, peran serta siswa menjadi lebih meningkat, 3) penggunaan media peta secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Proses dan hasil studi ini dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak yang terkait, khususnya bagi guru sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi modal pengembangan untuk meningkatkan mutu unjuk-kerja profesional guru di lapangan. Bagi sekolah, proses dan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengelolaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial Kata Kunci: media peta, pembelajaran pengetahuan sosial PENDAHULUAN alam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional berfungsi:

D

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Rumusan fungsi dan tujuan nasional, jika dikaitkan dengan tujuan Pendidikan IPS mempunyai arah yang sama, yaitu pembentukan warga negara yang mampu hidup secara demokratis (citizenship education). Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dengan masyarakat lainnya. untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu melahirkan manusia yang handal, baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya. Demikian pula dengan Kurikulum

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

2002 : 32). peta. sebaiknya alat-alat tersebut dapat digunakan guru dan siswa. Peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial berfungsi untuk penyampaian materi agar lebih mudah diterima siswa. strategi. Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 akan sulit disaksikan. khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi. Media pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam menunjang pembelajaran. baik dalam penggunaannya dan pengadaannya. kerjasama. grafik. LANDASAN TEORITIS 1. foto. simbol-simbol. mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar. harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri. sehingga dapat membantu kelancaran aktivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan materi pembelajaran. Dengan lebih mudah melakukan pengamatan. Manfaat Media Peta Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru. Tetapi dengan adanya foto-foto peristiwa berlangsung dapat merasa lebih dekat. Sumantri & Permana (1999 : 181) mengemukakan prinsif-prinsif dalam memilih media yaitu: 1. mengemukakan media pengajaran secara keseluruhan adalah segala benda. epidiaskup. sangat terkait dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang tersedia untuk kebutuhan siswanya. Peta merupakan hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian. dsb. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan IPS. Menurut Samaatmadja (1984 : 116). radio dll. memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru.Berbasis Kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004 bahwa dalam ”Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Pengguanaan media bukan semata-mata melaksanakan salah satu komponen pengajaran. 2. metode dan evaluasi. kalau memungkinkan guru memiliki kemampuan untuk merancang dan membuat media sendiri. Permana : 1999 : 21). termasuk media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. Secara harfiah media diartikan sebagai pelantara atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. Proses pembelajaran yang didukung oleh media secara lengkap dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. potret. memberi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa baik dalam posisi geografis. Menurut Suharyono peta adalah gambaran permukaan bumi alam satu bidang datar. memilih media harus memahami karakteristik ari media itu sendiri. gambar. poster. Demikian pula dilihat dari keefektifan bagi guru dengan menggunakan media peta dapat membantu dalam menyampaikan pesan materi secara lebih mudah kepada siswa. tempat dan situasinya yang tepat. dibimbing. memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu. visual hingga benda asli seperti laboratorium. 5. diorama. evaluasi dan penggunaan media. Karena wilayah tersebut terlalu luas untuk diamati secara langsung. siswa dilatih menjadi terampil dan penuh pengalaman dalam menggunakan media. 3. Salah satu indikator keberhasilan mutu proses dalam hasil belajar siswa. 4. globe. dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif”. keadaan alam serta persebaran penduduk di daerah/ lokasi tertentu. “JURNAL. Demikian pula dengan media peta. objek yang dituangkan dalam bentuk gambar. Sumaatmadja (1980 : 117). Seperti : slide. menjadikan anak-anak senang. bergembira dan riang dalam belajar. Selanjutnya. 2. nara sumber. sifat keingintahuan. garis. memperbaiki berpiki kreatif anak-anak. maupun gambaran dari objek tertentu. tetapi dengan media benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan siswa dalam belajar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . media merupakan alat ari segala benda yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. materi. Sedangkan manfaat media bagi siswa memungkinkan dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai. memilih media harus berdasarkan tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan. selain guru dapat mengembangkan materi. (Sumantri. 2. 3. khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik. menggunakan serta mengusahakan memilih media yang tepat. Dilihat dari keunggulan menggunakan peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial khususnya pada topik lingkungan sekitar di sekolah dasar. Untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Dengan menggunakan media peta dapat memperoleh gambaran keseluruhan tentang wilayah yang diteliti. seolah-olah menyaksikan sendiri.Oktober 2008 . metode. (Afrid. Memilih dan menggunakan media. sumber pembelajaran. film. media pembelajaran terdiri dari : gambar-gambar. perlu memperhatikan aspek tujuan. maket. proyektor. vide tape recorder. diagram. siswa diarahkan. Dilihat darimacamnya. mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya. yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. 4. papan planel. memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Pengertian Media Peta Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium. tape recorder. Mengenai tujuan belajar dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media tetapi dituntut untul terampil memilih. Contohnya pengamatan suatu wilayah sukar memberikan gambaran yang menyeluruh. dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan PBM IPS. grafik.

guru dapat mendorong siswa sekolah dasar melakukan pengamatan lingkungan fisik dan sosial. Strategi yang dikembangkan guru dengan mengembangkan peta sebagai media. 1993 : 43). keempat pase dari siklus dapat digambarkan dengan sebuah spiral Penelitian Tindakan Kelas. Rencana penelitian dilakukan dengan langkahlangkah yang dirancang berdasarkan 5 tahap : orientasi.Oktober 2008 . Pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi guru dalam mengajar di kelas. KESIMPULAN KHUSUS Kesimpulan penting proses dan hasil studi ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya pelaksanaan tindakan kelas adalah untuk perbaikan. khususnya dalam memanfaatkan media peta hingga guru maupun siswa dapat menggunakannya. 1993. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . refleksi dan mengacu pada model Elliot’s (Hopkins. tindakan. Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dan memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Bahkan Mc. dan bergayut dengan realitas lapangan (Hopkins. kontekstual. dapat memunculkan variasi metode. tindakan. Dalam pembahasan materi. Niff (1992). c.. yaitu .. tidak lagi menggunakan buku paket sebagai sumber belajar yang utama.. Penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis diantara keempat aspek. melakukan tindakan. temuan penelitian menunjukkan bahwa pemnfaatan media peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. situasional. guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang memadai. HASIL PENELITIAN Beradasarkan hasil penelitian diatas. (b) their understanding of these practice. tetapi juga kemampuan dalam analisis dan sintetis. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Model penelitian tindakan kelas. 1992). Tipe pembelajaran yang ditampilkan guru berupa ceramah (lecture) dalam suatu kegiatan pembelajaran. Ebbut melihat proses dan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. tetapi guru bersifat pragmatis-praktis yaitu mengangkat bahan IPS berdasarkan pada kehidupan riil siswa. Penelitian tindakan kelas. keterampilan dan sikapnya tidak verbalisme. b. Pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. 48) Kata perbaikan disini terkait dan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. perencanaan. berdampak pada hasil sehingga yang diperoleh siswa hanyalah pada aspek pengetahuan. dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (ciclycal) yang terdiri dari empat tahap. Gambar 1: alur kegiatan penelitian tindakan kelas berdasarkan spiral (Adaptasi dari Hopkins. 1993 : 44). karena siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. mengamati. Temuan ini sesuai kajian kepustakaan bahwa pemilihan suatu strategi dan metode mengajar dalam pembelajaran Pengenalan Lingkungan Sekitar dengan menggunakan media peta. merefleksi. a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational situation) in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practice. memungkinkann kepada siswa meningkatkan pengetahuan. seperti ceramah “JURNAL. perencanaan. Pola tersebut sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah dasar yang mengacu pada asa DAP (Developmentaly Appropriate Practice). Dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan penelitian bersandar pada pengamatan setting kelas secara obyektif tanpa rekayasa peneliti. Melalui pengorganisasian dan pengkajian yang bervariasi mengenai pengmatan lingkungan sekitar. seperti tampak pada Gambar 1. adaptif. merupakan tradisi kualitatif yang didasarkan pada prinsip natural setting. Melalui penelitian tindakan kelas adalah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas. and (c) the situation are carried out (Hopkins. yaitu: merencanakan. Media peta sebagai alat pembelajaran yang dapat membatu guru dan siswa memudahkan pembelajaran yang abstrak menjadi konrit. dan refleksi (Kemmis & Taggart. dilihat secara procedural berserta langkah-langkah proses Penelitian Tindakan Kelas. observasi. . 1993). observasi. sangan efektif diterapkan di sekolah dasar.TUJUAN DAN MANfAAT PENELITIAN Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (action research).

IKIP Bandung Tidak diterbitkan. P & K. Minn. (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SD dan MI. menyenangkan dan efektif dalam pencapaian tujuan. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. ( 1993). Kasbolah. Sumantri. Huberman Michael A. (1985). Buku Sumber Tentang Metode Baru. (1993). Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. “JURNAL. Niff. Studi Geografi. dari Buku Asli: The Nature of Social Studies. pengamatan/observasi. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). tanya jawab. Penggunaan Peta Oleh Guru dalam Proses Belajar Mengajar Geografi Bidang Studi IPS Sekolah Dasar. Jakarta. N. Effektive Secondary Education. AA. Jakarta. Pengembangan Pembelajaran Konsep Letak. IBRD: Loan 4394IND. (1999). Menjadi Guru Profesional. New York: Norton. Banks. E. (1988). A. IBRD: Loan-Ind. W. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Dep.A dan Clegg. Erlangga. Depdikbud. U-I Press. Penerbit Alumni. Teori-teori Belajar. dan Parker. Strategi Belajar Mengajar. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bredkamp.bervariasi. Tim Pelatih Proyek PGSM. Minneapolis.Oktober 2008 . PPS dan FPIPS UPI Bandung : Remaja Rosakarya. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi) Mata Pengetahuan Sosial untuk sekolah Dasar dan Madrasah ibtidaiyah. Strategi Belajar Mengajar. Pembelajaran dengan menggunakan media peta.. kreatif dan inovatif. Tesis. Depdikbud. Tesis. Somantri. Dirjen Dikti. Jakarta. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang ditunjang oleh penggunaan media peta. J (1991). J. Dirjen Dikti. Philadephia: Open Univercity Press. Arah dan Jarak dalam Bidang Studi IPS di SD. Barr. Dirjen Dikti. (1992). Depdiknas. Sue. Citra Umbara Bandung. J. Depdikbud.: Burges Mc. IBRD: Loan3496-Ind. Teaching Strategis for the Social Studies. Nasution. T. Permana. J. Marlinang. et Al. New York: mac Millan Publishing Co. PPGSD. Shermis. (1996). Dirjen Dikti. (Disadur oleh : Buchari Alma dan Harlasgunawan Ap. N. Raka Joni. Metode Penelitian Kualitatif. (1978). (1967). Depdikbud. Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Toward a Theory of Instruction. (1985). (1999). PPS IKIP Bandung. memberi peluang kepada siswa melakukan berbagai keterampilan seperti mengamati dan memprediksi DAfTAR PUSTAKA Afrida (2003). (1999). Willis. (1994). 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).U. dapat menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat dan gairah belajar sehingga dapat mendorong siswa berpikir kritis. (1992).. Bandung.S (1999). Metodologi Pengajaran IPS. Surya. National Assocation of Yong Children: Washington DC.L. S. David. (1996). Jaromilek. (1966). Suyanto. Bandung: Tarsito. Bandung: PT Remaja. (2003). IKIP Yogyakarta. s dan Barth. M.. Jerome. Principles and Practice London: Routledge. Penerbit: Sinar Baru. Analisis Data Kualitatif. (2001). Lueck. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . PPGSM. Moleong. Action Resarch. --------------------.Jr. Kurikulum (2004). PPGSD. e. R. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dirjen Dikti. BP3GSD. Departemen Pendidikan Nasional. IBRD Loan No. Muhamad. J. (1984). Teacher Guide to Classroom Research. Usman. (Terjemahan Tjetjep Rohendi). (1996). Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. Social Studien Elementary Education 9th Ed. Lexy. Sitompul. New York: Longham et. diskusi kelompok sehingga proses pembelajaran benar-benar menjadi menarik.R. Bandung. Dahar. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Hakekat Dasar Studi Sosial. Bandung: Yayasan Bina Bhakti Winaya. (1977). Suatu Tinjauan Pengantar. Undang-undang Republik Indonesia No. Developmentary Appropiate Practice in Early Chilhod. Hopkins. 3979-Ind. Jakarta: Depdiknas. Program Serving Children From Brith Trought Age 8. PPTA. d.al. Bruner. Sumaatmadja.

Selain itu siswa diharapkan dapat terlatih untuk berprakarsa. perlu mendapatkan perhatian yang serius. sehingga dapat menumbuhkan motivasi. Tujuan Pendidikan IPS. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat partisipatorik dan kolaboratif antara guru dan mitra penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.Oktober 2008 . mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. Potensi Berpikir & Pemecahan Masalah. Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS dan Penerapan Model Problem Solving PENDAHULUAN endidikan Dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. Sebagaimana tersirat pada fungsi dan tujuan pendidikan IPS di SD. yaitu yang melibatkan siswa aktif baik fisik. Proses penelitian berlangsung empat siklus. berpikir secara teratur. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. pengawasan dan refleksi. Manfaat untuk siswa dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas dan kreatifitas siswa selama mengikuti pelajaran. Dalam proses penelitian berlangsung telah terjadi perubahan meningkatnya kemampuan kerja guru dalam mengelola pembelajaran menjadi lebih effektif. guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif. Pada rambu-rambu GBPP IPS SD dikemukakan oleh Depdikbud (1994-1995) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran. serta lebih terampil dalam menggali. media serta evaluasi pembelajaran benar-benar bermakna. 2) penerapan model problem solving melalui pembelajaran IPS yang dikembangkan guru. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir. mampu meningkatkan proses belajar siswa kelas V melalui aktivitas. Hal P ini sesuai dengan pendapat Raka Joni (1992: 1) bahwa dengan penerapan CBSA. dengan kegiatan pokok perencanaan. mental (pemikiran dan perasaan) sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak. keterampilan-keterampilan dalam menghadapi kehidupan nyata.Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Abstrak Penerapan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa dalam Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar ini dilakukan di SD Negeri Marga Endah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dengan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah agar guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar. siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level diatasnya dan pada gilirannya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. Suwarma (1999:43). Pengembangan potensi siswa melalui pengajaran IPS dapat dioptimalkan. pelaksanaan. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah 1) penerapan model problem solving dengan strategi yang dikembangkan guru secara bervariasi melalui pembelajaran IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh. ditanggapi. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar hendaknya dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada proses pencapaian tujuan tersebut. Dengan begitu semua potensi siswa dapat dikembangkan. Manfaat penelitian lainnya adalah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan perubahan pembelajaran Pendidikan IPS di kelasnya. dianalisa dan akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental. dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPS. menjelajah. motivasi dan kreativitas hingga berimplikasi pada hasil belajar yang lebih baik Kata Kunci: Pendidikan IPS. Pembelajaran yang dikembangkan guru dengan menggunakan variasi strategi. kritis. guru dituntut membawa siswa kepada kenyataan hidup sebenarnya yang dapat dihayati. Pengertian Problem Solving. “JURNAL. tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari. metode.

Ary S. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat perlu diupayakan pola-pola pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa di dalam proses pembelajaran di kelas. Tanya jawab dilakukan sekitar apa siapa dan dimana belum sampai kepada mengapa dan bagaimana. baik masa lalu. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan merefleksikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas sebagai hasil pengamatan yang diperoleh di sekitarnya. sehingga benarbenar pembelajaran menjadi bermakna membuat anak memiliki minat yang besar untuk mempelajari pendidikan IPS. Sedangkan hasil observasi awal yang penulis temui di SD Marga Endah guru masih berperan sebagai pemberi informasi dengan kata lain guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran. berdasarkan GBPP1994. 1987). Dengan terbiasa siswa memecahkan masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. Adapun pola-pola pembelajaran yang melatihkan bentuk kemampuan proses yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi salah satunya adalah Model Problem Solving. bangsa dan negara juga dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sekitar anak. dengan begitu siswa termotivasi untuk aktif dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran sebagai bentuk kemampuan proses yang dilatihkan. baik sebagai pengembangan dan implementasi kurikulum. Pada saat terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. sikap dan keterampilan-keterampilan tentang kehidupan yang dibutuhkan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan tetapi juga masalah-masalah diberbagai gatra atau situasi dan kondisi ekonomi politik sosial. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS secara efektif. Dengan begitu pengembangan potensi berpikir secara optimal belum dikembangkan “Hal ini terjadi karena masih banyak kegiatan pembelajaran tersebut didominasi oleh guru. diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang bersifat “Generic essential” yaitu kemampuan memuat perencanaan pengajaran. Sejalan dengan itu Hamid Hasan (1996:17) mengemukakan bahwa tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab dan diemban oleh pendidikan ilmu-ilmu sosial di masa mendatang. Pendekatan model ini termasuk kepada pendekatan interaksi sosial yang menitik beratkan kepada aktivitas memecahkan masalah baik individu maupun kelompok. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mengkondisikan siswa agar berpikir reflektif yang menimbulkan siswa menjadi aktif. Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya. Penelitian secara umum mengungkapkan bahwa kelemahan pendidikan IPS selama ini terletak pada proses belajar. kreatif dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya dan kemudian berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya siswa diajak untuk mencarikan solusinya baik secara kelompok maupun secara individu. Model Problem Solving (pemecahan masalah) adalah salah satu model mengajar yang mengandung aktivitas belajar siswa cukup tinggi dan termasuk model yang disarankan dalam GBPP 1994. kemampuan melakukan prosedur pengajaran dan kemampuan melakukan hubungan pribadi (UT. APKG. proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghapal “menyentuh pengembangan tingkat” rendah. keluarga serta masyarakat. Padahal sifat dari pembelajaran IPS seyogyanya lebih menitikberatkan kepada selain pemberian pengetahuan. Tujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma: 1991). mental emosional. Berdasarkan uraian diatas guru pendidikan IPS belum secara optimal mengembangkan kemampuan seluruh potensi siswa termasuk potensi berpikir siswa dan guru kurang keberanian untuk berusaha mengembangkan potensi siswa berdasarkan prinsip-prinsip CBSA kadar tinggi khususnya mengembangkan kemampuan berpikir tinggi seperti yang dijelaskan diatas. sosial dan motorik yang disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungan anak. 1989:153). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi didalam masyarakat. Dalam pembelajaran Pendidikan IPS. Mungkin dengan cara demikian keluhan para siswa bahwa belajar pendidikan sosial hanya akan ditandai dengan kebosanan dalam belajar akan dapat dihapuskan. keingintahuan seorang siswa akan tergerak apabila dihadapkan dengan permasalahanpermasalahan yang timbul dilingkungannya yang dialami didalam kehidupan sehari-hari. budaya pertahanan keamanan dan agama dalam lingkup manusia sebagai insan mandiri. dan akan terwujud dalam proses belajar mengajar. diharapkan siswa akan sukses dalam hidupnya.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal dengan membelajarkan siswa melalui pengoptimalan pengembangan kemampuan berpikir siswa. Siswa dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan guru” (Sudjana. Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarma: 1990. Kebiasaan-kebiasaan guru sebagai pengajar yang lebih aktif dari para siswa dengan menggunakan metode “JURNAL. siswa lebih banyak pasif. diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya dimiliki oleh setiap guru.Oktober 2008 . Berdasarkan kenyataan kiranya sulit dibantah bahwa penelitian selama ini menunjukkan guru sangat berperan sentral dalam proses pembelajaran. 1997). Kualitas partisipasi siswa dalam belajar masih rendah mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar. Orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pembelajaran. masa kini dan masa yang akan datang.

melaui problem solving inilah yang menempatkan posisi guru tidak sebagai penyampai pengetahuan tentang teori atau ilmu-ilmu sosial. Dan berdasarkan keseluruhan temuan penelitian tindakan. Guru sudah mulai menggunakan strategi metode pengajaran ceramah variasi. Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan yang merupakan langkah pertama. Penerapan strategi pembelajaran model problem solving melalui pembelajaran IPS mampu melatih “JURNAL.Oktober 2008 . Bagaimanakah hasil yang dicapai dalam menerapkan pembelajaran model pemecahan masalah? METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Kualitatif yang lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Naturalistik (Naturalistik Inquiry) (Nasution: 1989. rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan penelitian kelas ini adalah: Bagaimanakah kemampuan guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran pendidikan IPS di sekolah dasar? Masalah pokok penelitian diatas. Tahapan-tahapan model ini diimplementasikan secara sistematis diharapkan siswa terbiasa berpikir kritis. Kendala apakah yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran IPS model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa? 3. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa IPS Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan optimalisasi potensi berpikir. penugasan dan diskusi membuat siswa lebih mudah merumuskan masalah. dapat disimpulkan bahwa : 1. kritis analitis. 1998:37) PERTANYAAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah diatas. Kualitas pembelajaran IPS berhasil dengan baik bilamana guru berupaya mengkondisikan pembelajaran dengan menyajikan secara menarik dan menyenangkan serta menciptakan iklim yang terbuka dan demokratis. melaksanakan dan mengevaluasi? 2. tetapi bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang menuntut siswa pada proses berpikir reflektif. Walaupun masih perlu adanya pembiasaan guru untuk lebih terampil dalam menerapkan problem solving di kelasnya tanpa harus ada bantuan dari peneliti. Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya guru yang aktif akan tetapi siswa dilibatkan secara optimal sesuai dengan potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasarnya yang mereka miliki sesuai dengan yang diamanatkan oleh tujuan dari pendidikan Sekolah Dasar. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu: 1. Guru hendaknya selalu sadar bahwa siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan baik fisik. didukung oleh prinsip seting alamiah. Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi realita yang terjadi tentang pendidikan IPS di Sekolah Dasar ternyata masih banyak guru yang belum melaksanakan pendekatan atau model problem solving sebagai salah satu pendekatan yang dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa secara optimal. sebagaimana tuntutan model problem solving. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . KESIMPULAN Penerapan model problem solving sebagai suatu strategi yang sangat efektif dalam mengembangkan siswa untuk berpikir secara ilmiah dan mengembangkan daya nalar mereka dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Penelitian kelas ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan yang didasari oleh paradigma penelitian kualitatif. tanya jawab. ilmiah serta peka terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan variasi metode. adalah pendekatan yang menuntut siswa proses cara-cara pemecahan masalah hingga mampu mengambil keputusan. Bagaimanakah cara guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mulai dari merencanakan. emosional dan sosialnya secara mandiri. refleksi diri serta kolaboratif partisipatif antara guru dan peneliti. sebagai pemberi informasi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti hapalan. situasional. logis. dan satu-satunya buku paket sebagai sumber belajar harus ditingkatkan. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian dilakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk menentukan langkah-langkah kegiatan selanjutnya hingga tujuan penelitian tercapai. untuk itu perlu ditransformasikan dari pelajaran yang hanya dipandang sebagai hapalan kepada pelajaran yang mampu mempertajam potensi berpikir dan memperluas cakrawala peserta didik” (Suwarma. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN Dari seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari pra tindakan dan setelah melakukan tindakan menunjukkan peningkatan kearah pembelajaran yang lebih baik. mental. Maleong: 1989). media dan sumber belajar yang beragam menjadikan suatu tuntutan yang tidak bisa diabaikan. dan efektif dalam pembelajaran IPS.ceramah. membuat hipotesa mengumpulkan faktafakta mencari bukti-bukti hingga mampu menyimpulkan permasalahan yang ada. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan yang dapat digunakan sebagai upaya mencapai tujuan secara optimal.

Nana & Ibrahim (1989). Macmilan Publishing Company. Bandung Sinar Baru. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. proses dan studi ini menjadi bahan diskusi untuk memperluas wacana model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik siswa sekolah dasar 3. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . ( 1977). Benyamin (1956). Bandung. proses dan hasil studi ini dapat menjadi model pengembang untuk meningkatkan mutu unjuk kerja professional guru sekolah dasar. Model of Teaching. Alih bahasa olrh Ary Penehan. S ( 1987). ( 1992). Taxonomy of Education Objective. Pendidikan IPS di SD. penerapan model problem solving dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan dikembangkan dalam topic yang berbeda. Dirjen DIKTI PPGSD IBRD LOAN 3496 – IND.siswa mengembangkan kemampuan berpikir reflektif. Sumaatmaja. 2. Bandung Alumni. Bina Aksara. (2000). ______________. ___________. Epistimologi Pendidikan IPS Bandung:Pustaka Mandiri. Social Studies Competency Skill. Barr. Bandung Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung. New Jersey Prentice Hall. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. & R Taylor. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung. Model problem solving dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran 4. Djahiri K. Banks. Defining the Social Studies. Bagi para guru sekolah dasar. J A With ClIGG (1975). Tarsito. Remaja Rosda Karya. Saran Atas dasar temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas. Valuing and Decision Making. Mew Mac Millan Joice Bruce and Weil Marsha (1972). Maleong Lexy (1993). ___________. Pengertian dan Karakteristik IPS Jakarta P3D Depdikbud. Pengajaran PMP IKIP Bandung. (1999). Jakarta: David Mackay C. dapat disarankan sebagai berikut : 1. Model pembelajaran dengan menerapkan problem solving dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa. Hasan. (1977). New York: With Plane.al. Bagi peminat / pemerhati profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah dasar. (Thesis) Prodi PIPSPPS IKIP Bandung. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS: Bandung LP Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. P dan K. Arlington: VA: NCCS. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. David (1985). Surabaya: Usaha Nasional.d. Konsep Dasar IPS. 4. Sinar Baru Sumantri Mulyani & P. Nasution. ___________. Hopkin. Metode Penelitian Naturalistik. ___________. Pengembangan Kemampuan berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Johar. Edisi Kedua. Bloom. Sudjana. FPS IKIP Bandung. “JURNAL. ( 1996). Bagi peneliti khususnya. J dan Skill (1993). Dep. Jakarta. Hamid (1996). (1999). Model Problem Solving berhasil dengan baik bila menggunakan strategi yang bervariatif 3. (1995/1996). Dasar-dasar Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral PVct. _________________. proses dan hasil studi tentang penerapan model problem solving di dalam pembelajaran pendidikan IPS dapat mengembangkan kemampuan meneliti dan melakukan tindakan perbaikan dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa DAfTAR PUSTAKA Al Muchtar. N. Social Studi In Elementary School New York. Bandung. Teaching Strategy For Social Studies Inquiry.Oktober 2008 . Jakarta.. Pendidikan IPS Buku 1 dan 2. Bagi sejawat pengembang pendidikan IPS. r. kritis dan kreatif. (1986). Resiladelphila Open University Press. A Teacher Guide to Classroom Research. UT. Suwarma ( 1996). Metodologi IPS. Materi Pokok PGSD. CBSA dan Proses Belajar Mengajar. Jarolimek. Et. 2. Strategi Belajar Mengajar. Mulyono ( 1980). (2000). _________________.

tetapi juga dituntut untuk mampu menghimpun dan menggali pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development). Fungsi perguruan tinggi pada hakikatnya adalah. termasuk pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa guna peningkatan kualitas perguruan tinggi. sebaik apapun penelitian tidak akan mencapai sasaran. jumlah mahasiswa dan dosen asing. Mendukung penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Dengan perkataan lain perguruan tinggi tidak saja dituntut untuk mentrasfer pengetahuan melalui proses pengajaran. perguruan tinggi telah merumuskan paradigm baru dalam mencapai kualitas pendidikan bertaraf dunia yaitu dengan menjadikan universitas sebagai universitas riset yang lazimnya memiliki research center dan research institute. c. logika dan bahasa yang digunakan seharusnya selaras antara peneliti dan pengguna hasil penelitian/pembaca. benar dan komunikatif. menghimpun. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa perguruan tinggi secara proporsional dan kompetitif. Ada 4 indikator utama pemeringkatan 500 kampus terbaik tersebut. perguruan tinggi PENDAHULUAN ada umumnya bidang penelitian merupakan salah satu misi dari berbagai misi sebuah perguruan tinggi di samping menyelenggarakan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Bagi universitas maju. Penggunaan bahasa yang baik dalam penelitian secara langsung akan turut meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di era global terutama di lingkungan pengguna bahasa serumpun. Pusat Kajian Sains.Oktober 2008 . Mendukung pengembangan kapasitas (capacity building) perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan universitas. Tanpa penggunaan bahasa yang baik. Dengan demikian universitas tak ragu-ragu menginvestasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kajian berbagai bidang ilmu dengan mendirikan Pusat-pusat Kajian seperti: Pusat Kajian Pendidikan.Demikian pula pengembangan bahasa yang baik akan kukuh jika disokong oleh peneliti an yang baik. rasio dosen dan mahasiswa. 2003). maka data. Pusat Kajian Bahasa dan sebagainya. Dalam dekade 20 terakhir. penelitian.memelihara dan mentrasfer budaya. yaitu beberapa negara Asean. riset merupakan pilar utama untuk peningkatan kualitas institusi dan citra sebagai universitas maju dan terkemuka di dunia. Indikator lainnya adalah: penilaian sejawat. Tujuan dari pusat-pusat riset tersebut antara lain: P a. termasuk bidang usaha (entrepreneurship) dan kreativitas mahasiswa. riset merupakan elemen strategis yang memberikan dukungan besar bagi pengembangan universitas itu sendiri maupun bagi pengembangan kemajuan suatu bangsa secara keseluruhan. “JURNAL. Mendorong berkembangnya kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional juga dengan pihak industri dan masyarakat dalam pengembangan dan penerapan Iptek (ilmu pengetahuan &teknologi). Salah satu sarana untuk pengembangan penelitian adalah bahasa.Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Abstrak Dalam perspektif pengembangan suatu perguruan tinggi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . b. Kata Kunci: bahasa. yang salah satunya adalah frekuensi publisitas penelitian secara internasional. Dengan demikian kualitas penelitian merupakan “benchmaking” maju mundurnya sebuah institusi bernama perguruan tinggi. nilai-nilai dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. d. Untuk menghasilkan kinerja penelitian yang baik. Pusatpusat kajian tersebut pada beberapa negara terbukti telah memberikan keutungan besar bagi universitas di samping dapat mengangkat peringkat suatu perguruan tinggi minimal masuk dalam urutan daftar 500 kampus berkualitas di dunia. bahasa serumpun.

• Kurikulum berbasis penelitian dari kurikulum yang ada yang mencerminkan kegiatan dan proses penelitian (seperti kerja tim. contoh. • Pengajaran lebih umum pada wilayah pendanaan (scholarship) sendiri. pengajaran dengan penekanan pada metode-metode penelitian atau cara-cara untuk mengakumulasi pengetahuan dalam disiplin ilmu tertentu. perumusan pembelajaran serta strategi dan kebijakan mengajar. suatu institusi akan bergerak mengembangkan ‘budaya kualitas mengajar”. merujuk dimensi berikut untuk memperoleh isi dengan dilakukannya penelitian terbimbing: • Staf pengajar penelitian dilakukan oleh peneliti berkelas dunia yang aktif meneliti dan menulis. tuturan-tuturan dalam artikel atau penelitian akan menjadi sesuatu yang layak dinikmati. regional maupun internasional. masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. akses yang baik ke sumber utama di perpustakaan. pelaksanaan sehingga laporan penelitian menggunakan bahasa. Oleh karena itu kegiatan penelitian perlu diberi keutamaan dan dilaksanakan dalam semua jenjang pendidikan. laboratorium yang didanai dengan baik. Ada harapan yang berkembang agar semua institusi pengajian tinggi akan berusaha meningkatkan suatu budaya mengajar yang berkualitas sebagai ‘inti’ kegiatan. Bahasa berperan sebagai perantara utama antara ide atau pandangan penulis sehingga tulisan difahami dan enak dibaca. akan memacu penelitian disiplin ilmu sebagai ide. 2002) PeNelITIAN DI PerGuruAN TINGGI Dalam konteks pendidikan tinggi. Institusi akan mencari hubungan penelitian dengan mengajar untuk mendukung kualitas mengajar.Oktober 2008 . • Pengajaran penelitian terbimbing. kualitas mengajar dan belajar kini dihubungkan dengan baik pada kemampuan ekonomi nasional untuk bersaing serta mempromosikan institusi perguruan tinggi di pasar global. maknanya terdapat debat dan pembahasan pada disiplin subjek tentang masalah pedagogik. • Pengajaran sebagai pembelajaran “berbasis pemerolehan” vs. Pengajaran “penelitian terbimbing” telah menjadi cara yang populer untuk mengekspresikan hubungan ini (Alwasilah. menyampaikan presentasi dan makalah/artikel). proposal. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat “JURNAL. • Rantai penelitian dalam konteks program strata untuk pengembangan profesional (seperti:dosen. Melalui bahasa seseorang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat. manajer). Universitas Sydney di Australia. • Mahasiswa sebagai peneliti • Merancang program strata yang mengunggulkan kepakaran penelitian dalam satu atau antarsekolah. akuntabilitas dan otonomi (Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. pengacara. dan berakhlak mulia. Mengembangkan jejaring (network) informasi dan institusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada peringkat nasional. teori dan konsep yang dihubungkan secara kritis oleh mahasiswa PERAN BAHASA DALAM PENELITIAN Seluruh proses penelitian mulai judul. • Budaya pemerolehan. mengambil definisi yang lebih luas. Di bawah ini merupakan batasan-batasan dari pengajaran penelitian terbimbing: • Pengajaran tentang topik penelitian tertentu yang sedang dipelajari oleh akademisi di waktu tertentu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . kesehatan institusi. kecemerlangan pendidikan. pengajaran dikelola oleh dorongan penelitian tertentu dan minat staf peneliti. kreatif.e. Hal di atas sejalan dengan pengembangan perguruan tinggi jangka panjang. sebagimana dikutip oleh Skelton (2005). • Lingkungan pembelajaran yang mendukung fokus penelitian terbimbing. Sudah tiba waktunya bagi dosen untuk meningkatkan aktivitas penelitian sebagai satu elemen penting ke arah pendidikan seumur hidup. yaitu bahasa. • Pengajaran disejajarkan dengan penelitian. Oleh karena itu. peranan dosen sebagai peneliti dalam pendidikan semakin penting. bahasa senantiasa dikaitkan dengan identitas suatu bangsa. • Komunitas mahasiswa dilibatkan ke dalam budaya dan komunitas peneliti dalam disiplin ilmu tersebut. Penulis dengan penguasaan bahasa dan ejaan yang baik pada umumnya akan selalu diingat oleh para pembaca. 2007). pendekatan yang lebih mendidik terhadap pengajaran. inovatif. Kepentingan penelitian semakin disadari dan diakui dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan insan yang cerdas. bahkan dapat mengenali tingkah laku dan kepribadian masyarakat penuturnya. dan pendidikan unggul serta bertaraf dunia. yang terdiri dari 5 isu strategis yang harus diantisipasi dan diimplementasikan oleh perguruan tinggi di Indonesia. doktor. • Pengajaran berdasarkan bukti-pengajaran dan pembelajaran sebagai kesatuan dirancang dalam sorotan literatur pedagogik dan bukti pengalaman pelajar. Dengan bahasa yang baik. kualitas & relevansi. Dalam pandangan yang lebih luas. Hal ini bermakna proses dan strategi penulisan dari yang sederhana sehingga yang kompleks akan bertumpu pada satu hal utama. Di tingkat kebijakan pemimpin. dukungan informasi teknologi yang baik. Melalui hasil penelitian. • Pengajaran yang menekankan pada perkembangan atau arah penelitian mutakhir dalam wilayah kepakarang sendiri.yaitu: daya saing bangsa.

DAfTAR PUSTAKA Alwasilah. Penelitian berkualitas dapat dilakukan bersama negara-negara serumpun/ serantau yang berkaitan dengan pengajaran bahasa. sosial maupun sains. Perlu dilakukan penelitian kolaboratif antara peneliti bahasa serantau. (1997). Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dengan bahasa Indonesia dan bahasa serantau sehingga dapat meningkatkan peranan bahasa tersebut di era global. dengan demikian diperlukan kajian-kajian atau penyelidikan untuk meningkatkan bahasa Melayu agar dapat bertahan dan menjadi bahasa dunia. Alwright. bahasa. Kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang penelitian-penelitian berkenaan yang berkualitas. TESOL Quarterly 31/2. Qualiti and Sustainability in Teacherresearch. teknologi. Amerika. “JURNAL. Skelton.D. Sejarah Singkat (Terj.Alma EvitaAlmanar).Jakarta:Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia. Nunan. Kedudukan bahasa Melayu seperti ini tentu sangat bermakna bagi perkembangan bahasa Melayu pada umumnya dan perkembangan bahasa Indonesia di tataran global pada khususnya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Quality Teaching at a Leading and Outstanding University: A Conceptual Framework for Action and Development. J. Pada masa yang akan datang diharapkan semakin banyak penelitian kolaboratif antarnegara Asean untuk memperkuat peranan bahasa serumpun di negara masing-masing dan di peringkat antarbangsa PENUTUP Penelitian dengan menggunakan media bahasa Indonesia diperingkat antarbangsa perlu terus dibudayakan dan ditingkatkan di antara bangsa serumpun/serantau. Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. Di samping itu pusatpusat kajian bahasa Melayu yang didirikan diberbagai negara di Eropa. Brunai dan Singapura) telah terjadi berbagai perubahan berkaitan dengan perkembangan ilmu. London: Routledge. A (2005). khususnya teknologi informasi sebagai tuntutan dunia global.Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Collins. Jakarta: Dikti. Cambridge: Cambridge University Press. studi banding kebahasaan atau penulisan bersama buku ilmiah berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Australia dan komunitas bahasa Melayu tersebar di kota-kota besar di dunia. (1992). Malaysia. (2005).T. Hal ini sudah sering dibahas antara peneliti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu pada seminar-seminar antarbangsa. Akhir-akhir ini banyak universitas di negara serumpun ini melakukan kerja sama. (2002).baik dalam bidang pendidikan. baik bidang linguistik maupun bidang pengajarannya.Oktober 2008 . Menurut Collins (2005) bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar. Bandung: UPI Press. . C.serantau yang bahasa nasionalnya berasaskan bahasa Melayu (Indonesia. dan salah satu rintangan yang sering ditemukan yaitu pemakaian bahasa ilmiah dalam penelitian karena terdapat perbedaan makna kata atau istilah-istilah dalam bahasa serumpun tersebut.Understanding Teaching Excellence in Higher Education: Towards a Critical Approach. Hambatan-hambatan bahasa dalam penyelidikan bersama dapat diatasi dengan dilakukannya studi bandingan bahasa serantau di kawasan Asean.A. D.Research Method in Language Learning. Bahasa Melayu Bahasa Dunia.

Pelaksanaan sertifikasi guru sebagai amanat dari Undangundang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Hal inilah yang mendasari perlunya perbaikan yang menitikberatkan kepada kondisi riil di lapangan. Penelitan ini menggunakan model penelitian tindakan dalam bentuk Lesson Study itu sendiri dengan subjek penelitian 7 orang mahasiswa. Abstrak Artikel ini didasarkan pada hasil penelitian tentang penerapan Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran di sekolah dasar. Lesson Study dapat dikategorikan sebagai kegiatan penelitian tindakan. Hasil penelitian antara lain adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan strategi pembelajaran juga respon yang baik dari mahasiswa dan guru mengenai pelaksanaan Lesson Study di sekolah dasar. 5 orang guru dan tim peneliti sendiri. Di sisi lain. Pada dasarnya. Berbagai penataran dan pelatihan guru menjadi salah satu bentuk dari upaya tersebut walaupun kurang membekas dalam keseharian aktivitas guru. mulai dari kondisi di kelas. menganalisis. sekolah. Seorang guru memiliki peran yang paling besar dalam upaya inovasi serta peningkatan mutu pendidikan melalui inovasi dalam proses pembelajaran.Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study Di Sekolah Dasar Rustono W. Lesson Study ini dilaksanakan untuk mahasiswa karyawan semester VII kelas interes matematika program studi S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya di SDN I Pengadilan Kota Tasikmalaya. Suatu model pembinaan guru untuk mencapai kualitas pembelajaran di sekolah adalah Lesson Study. Lesson Study dipandang dapat menggairahkan inovasi pembelajaran di sekolah karena semua pihak terlibat dan berkonsentrasi ke arah perbaikan. Dalam pelaksanaan program pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan pengisian angket. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pelaksanaan Lesson Study. maka kami melakukan sebuah penelitian dengan metode Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan terhadap mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. bimbingan mengajar. Lesson Study dapat digunakan sebagai model bimbingan mengajar bagi mahasiswa. perlu program bimbingan bagi mahasiswa yang secara khusus meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran yang inovatif. strategi pembelajaran PENDAHULUAN alam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas guru. Oleh karena itu.Oktober 2008 . Teknik pengolahan data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang usaha meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran dengan Lesson Study di sekolah dasar. sehingga Lesson Study dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dan pengalaman bahwa bimbingan mengajar bagi mahasiswa S-1 karyawan belum berjalan dengan baik padahal sebagai mahasiswa yang telah menjadi guru memerlukan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. dan guru. Kata Kunci: lesson study. 2006 : 10). Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran?” “JURNAL. memecahkan dan mendeskripsikan masalah-masalah yang terjadi selama kegiatan Lesson Study serta pengaruhnaya terhadap kualitas bimbingan kemampuan mengajar mahasiswa. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku profesional. Lesson Study adalah ”model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas D belajar” (Hendayana dkk.S. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Salah satu model bimbingannya adalah Lesson Study.

Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang studi. 2006 : 10). Dalam Hendayana dkk. Lesson Study dilaksanakan untuk meningkatkan kulitas guru kelas serta berbagi pengalaman mengajar di setiap kelas. (5) mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih. misalnya MGMP atau KKG. melaksanakan (do). beberapa negara maju seperti Amerika dan beberapa negara eropa mengadopsi model pembinaan seperti ini. (7) mengobservasi proses pembelajaran. Di sekolah dasar. Mulai tahun 1998. yaitu : Lesson Study Berbasis Sekolah yang dilakukan di sekolah oleh guru dari berbagai bidang studi serta kepala sekolah. dan Hurd (2003. Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan. (2) mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan. Lesson Study sudah menjadi salah satu model pembinaan guru di Jepang dan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Lesson Study dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu merencanakan (plan). Hendayana. (6) melaksanakan pembelajaran. Ada dua model Lesson Satudy. Karena itulah.TINJAUAN PUSTAKA Lesson Study Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pronsippronsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. dan merefleksi (see) yang berupa kegiatan yang berkelanjutan. (3) memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan. Lewis.Oktober 2008 . Kelompok guru biasanya berdasarkan bidang studi pada wilayah kerja tertentu. yaitu : (1) identifiaksi masalah pembelajaran. (4) merancang rencana pembelajaran. yang menggunakan sistem guru kelas. 2006:38) mengemukakan keunggulan atau kelebihan Lesson Study seperti dalam Gambar 1. dkk. Saat ini.(2006 : 39) “JURNAL. Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project Gambar 1: Keunggulan dan Kelebihan lesson Study Sumber : Hendayana dkk. Pada pelaksanaannya. sekolah mungkin saja melibatkan pihak luar sebagai tenaga ahli seperti dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain. (2006 : 10) ditegaskan bahwa setiap guru berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini. (9) melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas. (Hendayana dkk. Sebagai model pembinaan guru. Kegiatan Lesson Study biasanya dikoordinir oleh kelompok guru tersebut dan dibina oleh dinas pendidikan yang terkait. Perry.. (8) mengidentifikasi hal penting yang terjadi pada aktivitas belajar siswa di kelas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .. Model kedua dari Lesson Study adalah Lesson Study Berbasis Kelompok Guru. Beberapa tim ahli dari dosen juga dilibatkan beserta para mahasiswa dengan bidang yang sama. serta (10) mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya.

(2) perencanaan. Oleh karena itu. Setelah menjalani semua tahap PPL dengan rekomendasi yang memuaskan. yang kemudian latihan terbimbing. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan adalah 7 orang mahasiswa yang semuanya mahasiswa karyawan atau mahasiswa lanjutan dari D-2 PGSD. Do (melakukan). Sementara mahasiswa yang telibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Dalam hal ini. Jumlah siklus tindakan atau siklus Lesson Study direncanakan sebanyak 2 siklus. Kemampuan ini dimantapkan kembali dalam latihan mengajar mandiri. Dengan demikian Lesson Study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. (2006 : 20) dijelaskan bahwa Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu. “coaching”. Lesson Study bisa diterapkan sebagai model bimbingan mengajar mahasiswa sebelum dan pada pelaksanaan PPL blok waktu. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Penelitian Tindakan sekaligus dalam bentuk Lesson Study. Melalui kegiatan seperti ini. Skema kegiatan Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 2. serta guru sekolah dasar. Lesson Study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru. Karena pentingnya PPL dalam program kependidikan dan pembinaan mahasiswa. pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). strategi belajar-mengajar. Kegiatan selanjutnya adalah latihan keterampilan terbatas. dan “clinical supervision”. latihan keterampilan terbatas. MeTODOlOGI PeNelITIAN Penelitian ini bermanfaat untuk mengkaji subtansi pengDalam penelitian ini. seperti pengenalan peserta didik. Sebagian besar telah menjadi PNS dan terdapat 2 orang yang menjabat kepala sekolah sehingga menambah keragaman dalam diskusi pada proses kegiatan Lesson Study. mulai dari pengenalan lapangan. dan latihan mandiri. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan). Dalam Hendayana dkk. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai 12 Juni 2007 sampai 16 November 2007. Semester terakhir. PPL diadakan secara blok waktu sampai menjelang ujian PPL. Kegiatan pengenalan lapangan dilakukan dalam bentuk observasi. maka proses bimbingan dari dosen sangatlah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa calon guru. Pengenalan lapangan dapat diagendakan sejak semester awal melalui penugasan yang terkait dengan mata kuliah yang relevan. penguasaan kompetensi akademik calon guru akan menjadi semakin mantap karena mereka tidak hanya belajar dari teori. (3) pelaksanaan. Bermacammacam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan secara partisipatif. partisipasi. IKIP Yogyakarta (UNY). Pada kegiatan latihan terbimbing mulai ditanamkan dasar-dasar peningkatan kualitas pembelajaran.Oktober 2008 .(IMSTEP) bekerjasama dengan IKIP Bandung (UPI). PPL mencakup empat tahap latihan secara utuh. yang berasal dari dua kata yugyo yang berarti lesson atau pembelajaran. latihan terbimbing. Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : teknik observasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dosen yang terlibat pada Lesson Study ini adalah tim peneliti sendiri. (4) refleksi. peran guru dapat berubahubah : dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Kegiatan perencanaan (plan). pembelajaran bidang studi. para calon guru dapat menempuh ujian PPL yang merupakan bagian dari uji kompetensi. dan tahap akhir penelitian. teknik Gambar 2: Alur Kegiatan lesson Study “JURNAL. kolaboratif dan kolegatif antara dosen dan mahasiswa. BIMBINGAN MeNGAjAr PADA MAHASISwA Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan merupakan program khusus dalam pendidikan profesional guru. atau perspektif pendidikan di SD. mahasiswa ini telah memiliki pengalaman sebagai guru sekolah dasar paling sedikit 3 tahun. dan IKIP Malang (UNM) melaksanakan Lesson Study di beberapa wilayah di Indonesia. tetapi mencoba melihat aplikasinya di dalam praktek. dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian. dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Alur penelitian secara umum adalah : (1) pra tindakan. Dalam Lesson Study. Adapun guru yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study adalah guru SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya sejumlah 5 orang termasuk kepala sekolahnya sendiri. yang juga memungkinkan calon guru berkunjung ke SD untuk mengamati guru yang sedang mengajar. misalnya : ”action research”. metode yang digunakan adalah Lesson Study yang dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan. Sekolah dasar yang menjadi tempat kegiatan Lesson Study adalah UPI Kampus Taskmalaya dan SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya dengan kelas yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah kelas V dan kelas VI. Waktu pelaksanaan Lesson Study sendiri adalah mulai 26 Oktober – 16 November 2007 dengan rincian sebagai berikut.

Setelah menentukan fokus pembelajaran. akan tetapi pada beberapa langkah pembelajaran kurang menguasai teknik khusus seperti apersepsi untuk menarik perhatian siswa. Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi dan rekomendasinya. • Guru memberikan arahan kepada siswa bahwa jika ada kelompok yang sudah selesai diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasilnya. alat evaluasi. guru (mahasiswa praktikan/model) memperkenalkan para observer secara umum dan menjelaskan tujuan hadir di kelas agar siswa tidak merasa canggung. Pada tanggal 1 November 2007. maka selanjutnya disusun langkah-langkah pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Perbaikan (RPP). yaitu pembelajaran akan dilakukan di kelas V materi materi FPB. • Guru belum memahami kemampuan dan karakter siswa karena baru pertama kali berhadapan dengan siswa di sekolah tersebut • Keterampilan mengajar guru sudah cukup baik. Saat itu siswa sudah terbagi menjadi 6 kelompok. kertas karton dengan ukuran 48 cm x 30 cm. • Guru menyimpulkan proses dan hasil pembelajaran sebelum akhirnya menutup kegiatan pembelajaran. kepala sekolah dan guru. “JURNAL. • Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang maju ke depan tentang hasil pekerjaannya dan memberikan alasan. Strategi eksplorasi dapat berupa aktivitas siswa dengan mencatat dan membuat coretan dalam menyelesaikan masalah meliputi rangkaian menduga. Kemudian guru kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa. Diskusi itu bertujuan untuk mengungkap berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. mencoba dan memperbaiki perkerjaan sampai ditemukan solusi. gunting. • Siswa pertama kali mengalami proses belajar seperti itu sementara guru kurang maksimal dalam membimbing siswa • Guru kurang aktif dalam melakukan bimbingan terhadap siswa • Gaya guru belum mencerminkan karakter guru SD yang antusias dan aktif. serta memilih seorang mahasiswa sebagai guru model. Pada tanggal 25 diskusi dilaksanakan dengan melibatkan tim peneliti dengan mahasiswa yang telah bersedia mengikuti kegiatan Lesson Study. Soal cerita yang disajikan kepada siswa adalah bahwa siswa secara berkelompok diminta untuk membuat persegi-persegi dari kertas karton berbentuk persegi panjang ukuran 30 cm x 48 cm dengan ukuran perseginya sama dan yang paling besar. Guru memberikan penjelasan bagaimana aturan main kelompok serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam kelompok seperti bekerja sama dan pembagian tugas serta tugas ketua kelompok. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Lesson Study Siklus 1 Perencanaan Tahap perencanaan Lesson Study Siklus 1 ini dilaksanakan tanggal 25 – 26 November 2007 di UPI Kampus Tasikmalaya. • Guru membagikan LKS. Refleksi Guru dan para observer yang terdiri dari tim peneliti. teknik catatan lapangan dan teknik audio dan video. Selain itu dijelaskan kembali tentang langkah-langkah pembelajaran agar partisipan memiliki kesamaan pemahaman. Metode yang digunakan adalah metode pemecahan masalah dengan menggunakan strategi eksplorasi yaitu siswa melakukan proses penyelesaian melalui pencarian dan manipulasi alat peraga atau media yang disediakan oleh guru. maka ditentukan fokus pembelajaran. Setelah memperkenalkan diri. Para observer duduk di bagian belakang kelas serta sebagiannya berdiri. • Guru menjelaskan isi dari LKS secara bertahap dimulai dari penyajian ilustrasi masalah sampai dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. satu jam sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti menjelasakan pedoman observasi dan aturan observasi kepada para pengamat yang terdiri dari tim peneliti sendiri.wawancara. penggaris dan lem (alat lainnya dimiliki siswa seperti pensil dan ballpoint) sambil memancing siwa dengan pertanyaan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. mahasiswa. • Guru menjelaskan kembali tugas yang harus dikerjakan siswa. • Guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 1 November 2007 mulai jam 09.Oktober 2008 . guru SD serta mahasiswa duduk bersama di kelas untuk mengadakan refleksi dari semua rangkaian kegiatan Lesson Study sebelumnya yaitu tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Setelah dianalisis dan dipertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan sebagai upaya pemusatan konsntrasi. Salah satu masalah yang terungkap adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada konsep FPB. siswa menggunakan alat dan bahan seperti kertas karton. Untuk melakukannya. gunting (disediakan oleh guru) dan alat tulis lainnya. LKS. kepala sekolah. penggaris. membuat media.45WIB selama 2 jam pelajaran.

Setelah mempertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. • Guru harus lebih banyak membimbing siswa melalui pertanyaan menuntun. • Guru menilai satu persatu pekerjaan siswa dan kemudian menunjukkan kekuarang-kekurangan dari pekerjaan siswa mulai dari cara mengkur keliling. “JURNAL. Karena waktu yang tidak memungkinkan. busur. • Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Akhirnya. • Guru menutup pembelajaran.00 WIB selama 2 jam pelajaran. Penemuan siswa dibimbing oleg guru agar lebih terarah tetapi tanpa mendikte aktivitas belajar atau berfikir siswa. • Penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan dilakukan berulangkali sampai siswa paham dan jika penjelasan itu ada dalam LKS maka guru memandu siswa untuk memahmi LKS. • Guru tidak mengontrol waktu sehingga melebihi rencana pembelajaran.• Suara dan intonasi bicara guru kurang lantang sehingga tidak dapat mengontrol kegiatan pembelajaran dengan baik.Oktober 2008 . Serta menyampaikan cara kerja dalam kelompok. Ia mengungkapkan rasa senang dapat melakukan pembelajaran dengan metode seperti walapun ia mengakui sangat lelah karena proses pembelajaran menuntut ia untuk lebih aktif. • Penjelasan guru terutama dalam menanggapi pertanyaan hanya secara kelompok tetapi tidak secara klasikal. Intonasi guru dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas sehingga penjelasan guru dapat dengan baik dimengerti oleh siswa. Waktu ini ditentukan saat refleksi siklus 1. Tetapi pemahaman terhadap proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi lebih dalam. perwakilan masingmasing kelompok maju ke depan untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. maka pembelajaran akan dilakukan di kelas VI dengan materi tentang pembuktian rumus luas lingkaran dengan pendekatan luas persegi panjang melalui metode metode penemuan terbimbing. benang tali. Mahasiswa yang dipilih untuk tampil berbeda dengan pembelajaran siklus 1. • Setelah siswa selesai bekerja. menempelkan bagian-bagian lingkaran sampai menghitung luas persegi panjang. • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembuktian rumus luas lingkaran kepada siswa. • Kerjasama dalam kelompok harus lebih ditingkatkan melalui bimbingan guru. • Guru harus selalu mengontrol waktu pembelajaran • Guru harus menjelaskan beberapa jawaban pertanyaan secara klasikal agar informasi bisa merata. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi tentang konsep bangun datar lingkaran dengan menggunakan model lingkaran. • Presentasi yang dilaksanakan oleh kelompok seharusnya dilakukan di depan kelas dan dilihat oleh kelompok yang lainnya • Tahap penarikan kesimpulan tidak berjalan dengan baik karena siswa tidak dikondisikan terlebih dahulu. • Saat siswa mulai bekerja. Pelaksanaan Lesson Study Siklus 2 Perencanaan Kegiatan Lesson Study selanjutnya dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 November 2007 sesuai dengan kesiapan semua pihak. dan lem. • Presentasi hasil kerja kelompok dilakukan secara klasikal dan diperhatikan oleh siswa yang lainnya. Metode penemuan terbimbing diterapkan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk melakukan aktivitas ilmiah yaitu penemuan. Pada saat refleksi siklus 1 juga dilakukan perencanaan pelaksanaan siklus 2 termasuk inventarisasi masalah serta penentuan alternatif masalah. • Guru membagi siswa ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. • Kegiatan observer jangan memengaruhi dan mengganggu proses pembelajaran. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 10 November 2007 mulai jam 09. simulasi pembelajaran tidak dilakukan di depan partisipan. gunting. • Guru membagikan alat peraga atau media yang terdiri dari model lingkaran dari karton. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sementara siswa memperhatikan penjelasan guru serta merespon pertanyaan-pertanyaan guru yang mengarahkannya pada kesimpulan. Refleksi Guru terlebih dahulu mengungkapkan kesannya setelah menjalani proses pembelajaran. Kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. • Guru harus lebih sering memberikan penguatan dalam pembelajaran. • Agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu. • Guru menyampaikan kesimpulan tentang pembuktian rumus lingkaran dan memberi kesempatan siswa. dari masalah-masalah yang telah diungkap kemudian dianalisis untuk menentukan fokus pembelajaran. • Beberapa observer melakukan interaksi dengan siswa sehingga mempengaruhi proses pembelajaran.

hal ini dapat dilakukan melalui simulasi terlebih dahulu. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi. • Guru kurang memberikan penjelasan kepada siswa tentang arah kegiatan pembelajaran sehingga siswa langsung saja bekerja dengan LKS. ini memang gaya yang bersifat pribadi tetapi jika berlanjut akan berpengaruh keaktifan siswa. hanya memang metode pembelajaran seperti itu jarang dilakukan di sekolah dasar termasuk oleh kedua guru yang tampil. Berbeda dengan pembelajaran kedua. hal ini kurang optimal dalam pembentukan pengetahuan siswa. Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana tetapi mengenai hal-hal spesifik seperti membimbing kerja dalam kelompok. padahal tahap ini sangat penting dalam pembentukan pengetahuan bagi siswa. • Guru sebaiknya memperhatikan waktu yang telah direncakan dan selalu menyampaikan target waktu terhadap siswa agar siswa bekerja dengan efektif. waktu dapat dikendalikan. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan bantuan alat-alat dan media untuk menumbuhkan kemampuan kerja ilmiah siswa. Pembelajaran pada siklus 1 lebih menekankan kepada kemampuan eksplorasi matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. Hal ini tampak pada dua kali pembelajaran dimana waktu kurang terkontrol dengan baik. guru kurang rapih dalam menuliskan langkah-langkah pembuktian sehingga siswa terlihat kebingungan. Metode pembelajaran seperti ini adalah hal bagi mahasiswa maupun guru di sekolah. guru yang tampil lebih energik dan adapat menguasai kelas dengan baik. • Pada tahap pembuatan kesimpulan. “JURNAL.Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi. Pada pembelajaran pertama guru terlihat kurang energik atau gaya mengajar yang kurang antusias. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . skenario yang diterapkan benarbenar pengalaman baru karena biasanya guru melakukan pembelajaran konvensional. Pembahasan Hasil Pelaksanaan Lesson Syudy Bagi guru model. Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode pemecahan masalah dan penemuan mengharuskan siswa memiliki kemampuan membimbing kerja siswa selama siswa aktif dalam pembelajaran. • Guru kurang menjelaskan cara-cara pengukuran keliling lingkaran dengan alat bantu tali karena siswa terlihat kebingungan. pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menemukan rumus luas lingkaran dengan bimbingan guru. guru kurang memiliki waktu untuk melakukan kesimpulan. Hal ini termasuk kemampuan bertanya menuntun (probing). atau disebut penemuan terbimbing. • Koordinasi dan peran guru sekolah dasar harus ditingkatkan. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. • Siswa kurang memberikan perhargaan kepada siswa yang aktif dalam bertanya dan kepada kelompok yang berhasil. mengontrol kegiatan siswa. serta demonstrasi kemampuan guru belum optimal. • Guru sangat baik dalam menghidupkan suasan dan aktifitas siswa di kelas. • Guru terlambat untuk mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok sehingga siswa tampak tidak kompak pada awalnya. • Guru harus mengulang-ulang penjelasan terutama pada pengambilan kesimpulan agar siswa lebih memahami. • LKS tidak banyak berfungsi bagi siswa karena siswa bekerja mengalir saja dan berdasarkan arahan dari guru. • Guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. • Tujuan pembelajaran harus disampaikan terlebih dahulu dengan jelas dan diulang-ulang dalam proses pembelajaran. Guru sudah menjalankan proses pembelajaran berdasarkan skenario yang telah dibuat. serta mengelola aktivitas siswa dalam kelompok. Karena waktu pembelajaran tersita untuk aktivitas siswa. Sementara pada siklus 2. Sebenarnya dengan latihan dan pembiasaan. • Guru tidak mengoreksi kesalahan yang dilakukan ketika tahap apersepsi yaitu tentang ungkapan siswa yang menyebutkan istilah “volume lingkaran” bahkan guru menuliskannya tanpa ada koreksi lebih lanjut. Tahap yang penting dalam pembelajaran seperti ini adalah kemampuan guru dalam menuntun siswa membuat kesimpulan. Keterampilan ini memang memerlukan latihan yang lebih spesifik. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan dan ekplorasi masalah matematika membutuhkan waktu yang lebih banyak dari biasanya karena guru harus berpatokan juga kepada kinerja guru. • Guru tidak memperlihatkan hasil kerja siswa seluruhnya di depan kelas • Terdapat kesalahan guru dalam menggunakan simbolsimbol matematika. • Guru pun kurang melibatkan siswa dalam pembuatan kesimpulan sehingga pada tahap ini siswa terlihat tidak bersemangat. • Persiapan harus lebih matang terutama mengenai gambaran proses pembelajaran. • LKS sebaiknya dibagikan terlebih dahulu kemudian guru memberi penjelasan • Alat peraga sebaiknya digambar ulang pada papan tulis ketika guru melakukan apersepsi dan pengambilan kesimpulan. merespon pertanyaan siswa dan menjawab dengan jawaban yang membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berfikirnya. • Observer sebaiknya mengamati di luar kelas karena sering berpengaruh terhadap pembelajaran.Oktober 2008 .

net. Belajar Cara Belajar. pelaksanaan dan rekleksi pembelajaran sehingga muncul sikap kolegalitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. pihak sekolah mendukung sekali dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study dan merasakan manfaatnya. Catherina C. Oakland CA : Education Department. dan mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan Lesson Study. pemilihan pokok bahasan dan strategi pembelajaran berdasarkan situasi di sekolah serta pengetahuan mahasiswa.. Sukmadinata.Pelaksanaan observasi pada kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. hal ini karena para observer telah memiliki pemahaman bersama tentang tugasnya. mahasiswa melakukan praktek pembelajaran yang tidak hanya melibatkan dosen tetapi pihak sekolah dasar. Bandung : PT.(2003). Lesson Study and Its Impact on Teacher Depelovment. Peneliti mewawancara kepala sekolah. mahasiswa yang terlibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa semester VII interes matematika yang semuanya sudah mengajar di SD sehingga mudah dalam menganalisis permasalahan di SD. kedua. Mengadakan workshop di sekolah untuk mensosialisasikan program kegiatan yang dihadiri dosen. beberapa observer berinteraksi dengan siswa bahkan ada yang memberikan masukan kepada siswa.(2002).hk. http://www.S. • • Penetapan kerja sama dengan pihak sekolah. dan kedua. persiapan untuk pelaksanaan di sekolah kurang matang sehingga berpengaruh terhadap penentuan waktu pembelajaran DAfTAR PUSTAKA Hendayana. http://www.Metode Penelitian Pendidikan. (2006). mahasiswa dan pihak sekolah. Mereka berharap kegiatan Lesson Study sering dilaksanakan oleh UPI Kampus Tasikmalaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di SD. • Penetapan jadwal kegiatan. [17-052007] Pusat Perkembangan Kurikulum.ied.edu. Remaja Rosda Karya “JURNAL. [17-05-2007]. tidak hanya berbekal terhadap pemahaman mengajar secara akadenik saja tetapi membutuhkan pengalaman berupa kegiatan praktek terbimbing.(2001).lessonresearch.(2005). N. Melalui kegiatan Lesson Study. guru. serta ketiga. Hongkong : The University of Hongkong. LO. Kuala Lumpur : Kementrian Pendidikan Malaysia. mahasiswa. Mills College [online]. Lesson Study : suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMSTEP-JICA). yaitu : • Penetapan program bimbingan oleh dosen yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut. Mahasiswa juga mendapatkan feed back langsung dalam kegiatan refleksi.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Hal ini tentunya sedikit mengganggu kepada kegiatan siswa dan guru setidaknya mengganggu konsentrasi siswa. karena belum terbiasa bertugas sebagai pengamat yang diharapkan independen dari proses pembelajaran. Sementar Faktor penghambatnya adalah : pertama. S. dkk. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif. Bandung : UPI Press Lewis. Guru dan kepala sekolah berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan tentang strategi-stretegi pembelajaran matematika khususnya dan bidang studi yang lainnya. dosen. Pada pelaksanaannya. Sementara bagi mahasiswa Lesson Study dianggap sebagai latihan dan bimbingan yang baik untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebagai bekal nanti sebagai guru. [online]. Observer berpedoman kepada lembar observasi yang telah disiapkan untuk kemudian menjadi acuan dalam kegiatan refleksi. Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. KESIMPULAN Lesson Study sebagai model pembinaan guru yang bersifat kolaboratif dan kolegaliatif dapat dimanfaatkan sebagai model bimbingan mengajar dosen terhadap mahasiswa. Akan tetapi. Untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study di sekolah dalam rangka bimbingan mengajar bagi mahasiswa memerlukan persiapan-persiapan. Setelah semua kegiatan Lesson Study dalam 2 siklus selesai dilaksakan. Faktor pendukung dalam kegiatan Lesson Study ini adalah: pertama. penetapan waktu pelaksanaan Lesson Study yang tidak leluasa menurut pertimbangan semua partisipan sehingga persiapan belum melibatkan guru secara optimal tetapi hanya sebatas koordinasi saja. Untuk menjadi seorang guru yang profesional. Ling Mun. dan guru berkolaborasi dalam perencanan.

dan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. S Pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan. Kurikulum KTSP mempertegas bahwa dalam penyajian materi bahasa . Selama 8 kali tatap muka. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT.(4) Studi Dokumentasi. menyiapkan materi yang bervariasi. konteks kebudayaan dan suasana. aspek-apek kebahasaan harus diajarkan secara “JURNAL. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. jalur dan media. tujuan. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. motivator. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. waktu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Dari ke-30 KE tersebut. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. dan (5) Observasi. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Dari 8 kali tatap muka .1988:93). Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. tempat. yaitu mengetahui tentang bahasa tetapi mengembalikan pembelajaran bahasa kepada fungsi bahasa yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. peristiwa bebahasa (Utari. tidak lagi bertujuan mengajarkan bahasa secara teoretis. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Demikian juga dengan penerapan pembelajaran terpadu dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan kategori baik. yaitu kasus pembelajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu. (3) Catatan Lapangan. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. pembelajaran Bahasa Indonesia pada lembaga pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan SLTA.Oktober 2008 . Di samping itu.Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Di samping itu. Sisanya. Data penelitian ini diambil dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (2) Wawancara. Kata Kunci: Pendekatan Komunikatif (PK). Selanjutnya. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. Data dari komponen pelaksanaan pembelajaran menunjukkan data sebagai berikut. Dari komponen RPP yang dijadikan data menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif telah dilaksanakan dengan kategori baik. pelaksanaan pembelajaran. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. dan fasilitator. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDAHULUAN aat ini. Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa. Pendekatan Terpadu (PT).

yaitu fungsi komunikatif. isi pembicaraan. Dengan demikian. (b) meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi. otonomi. ide. 1992). siswa diberi kebebasan. gagasan. pengajaran bahasa dan isi dari bidang studi lain bersama-sama menjadi bagian dari kurikulum secara utuh. menghubungkan. seperti fungsi bertanya. Hal ini diisaratkan baik dalam rambu-rambu Kurikulum SD 2006. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran. Guru hanya sebagai fasilitator. tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri. Dengan demikian. dan media yang digunakan. karena secara kodrati siswa usia SD memandang sesuatu selalu dengan pandangan yang utuh dan menyeluruh (holistik). paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan). Adapun materi pelajaran utamanya ialah : (a) empat keterampilan berbahasa. akan lebih baik bila pembelajaran di sekolah diarahkan untuk menuju pemikiran secara utuh tersebut. Kerjasama yang baik itu bisa diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor. sastra. dan kebahasaan dan dilaksanakan secara terpadu. Artinya. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada pernyataan Goodman (1986) tentang kurikulum bahwa pengajaran bahasa dan pengajaran bidang studi lain (yang dilaksanakan dengan menggunakan bahasa sebagai media penyajian) merupakan kurikulum yang bersifat ganda (dual curriculum). Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. persetujuan. Alasan lain. Pembelajaran bahasa yang komunikatif nampak lebih humanistik. irama. Sumber materi yang diutamakan dalam pendekatan komunikatif ialah materi yang otentik. “Kompetensi dasar mencakup aspek mendengarkan. pembelajaran bahasa Indonesia di SD juga harus mengacu pada pendekatan terpadu (PT). situasi. (b) fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa. menentukan latihan. membaca. yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud . menulis. (d) sistem bahasa (struktur. Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya. ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. serta unsur-unsur prosodi (intonasi. tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar (Stevik. tetapi lebih luas lagi. karena dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan pengetahuan tidak secara per bagian. dan lain-lain. Komunikasi yang dimaksud ialah suatu proses penyampaian maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. dan tempo) dalam bahasa lisan. menjawab. (c) variasi-variasi bahasa. guru berperan sebagai individu yang diharapkan memberi nasihat. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dan memberikan bimbingan (Littlewood. keinginan penyampaian informasi suatu peristiwa. yaitu sentralitas kegiatan lebih banyak berada pada siswa. memantau kegiatan siswa. berupa bahasa otentik. Agar komunikasi terjalin dengan baik. 2006: 14). Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk : (a) mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. 1992). pembelajaran bahasa menyangkut keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. berbicara. atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah. bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya berbeda-beda. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah. fonem. Baik keterpaduan dalam internal Bahasa Indonesia maupun keterpaduan lintas kurikulum. dan menyimak tidak dipandang sebagai komponen yang terpisah-pisah untuk diajarkan sendiri-sendiri. yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks. berbicara. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata. Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. intonasi. kalimat. Dalam kegiatan komunikatif. menyapa. “JURNAL.Oktober 2008 . Goodman dalam pandangannya tentang pengajaran bahasa menyatakan bahwa keterampilan membaca. yaitu dengan menyatukan. tekanan. Sebagai fasilitator guru mengkoordinasikan kegiatan siswa yang harus bisa menjamin kegiatan kelas berjalan dengan baik. nada. digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pengajaran baik dalam belajar bahasa maupun bidang studi lain. untuk memungkinkan siswa dapat berbahasa sesuai konteks. di samping variasi baku/ formal.terpadu dengan keterampilan berbahasa yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu. pendapat. Kenyataan menunjukkan keempat keterampilan berbahasa tersebut. siswa akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam masyarakat bahasanya. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut sebagai alat komunikasi. Arah dan tujuan pendekatan terpadu menurut Frazee dan Rosse (1995) mengarah pada pembentukan pemikiran siswa secara utuh. tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa. dan lafal). tempat. Oleh karena itu. antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi. dalam Sumardi. tetapi secara utuh. Selain harus mengacu pada pendekatan komunikatif. ejaan. kosa kata.” (Depdiknas. maka kedua belah pihak juga harus bisa bekerja sama dengan baik. (e) sastra. mengajukan pendapat. yaitu bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks nyata. menyangkal. Demikian pula keterpaduan dalam bidang studi bahasa Indonesia. dalam Sumardi. menulis.

Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai identitas guru serta tugas yang dikerjakannya. pelaksanaan pengajaran. “JURNAL. Fokus utama penelitian ini adalah sekelompok individu yang berinteraksi dalam periode waktu tertentu (Borg dan Gall. SD Sukamaju milik pemerintah. (4) pemilihan media pembelajaran BI. 1983:489). Setiap ada pembaharuan dalam bidang pendidikan (perubahan kurikulum) SD Sukamaju mendapat informasi langsung dari atasan terdekat. Untuk pelaksanaan pengajaran di kelas yang diteliti adalah (1) bentuk interaksi proses belajar-mengajar dan (2) teknik penyajian materi. (2) Wawancara. dan (3) analisis data penelitian (Bogdan dalam Moleong. Sedangkan studi dokumentasi terhadap RPP dilakukan untuk mendapat gambaran secara jelas mengenai perencanaan yang berhubungan dengan penerapan kedua pendekatan tersebut di atas dalam perumusan TPK. Peneliti mencatat kejadian selama dilakukan pengamatan di lapangan. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajarkan BI dan siswa Kelas VI pada SD Sukamaju. pemilihan materi pelajaran. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap kurikulum dan rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Secara rinci yang diteliti pada RP terebut adalah (1) perumusan TPK. (2) langkahlangkah penyampaian materi. serta evaluasi yang dilaksankan oleh guru. Dalam penelitian ini fokus observasi adalah pengajaran BI di kelas VI SD yang dilaksanakan oleh seorang guru dengan menerapkan pendekatan komunikatif. Selanjutnya hasil observasi ini dideskripsikan dalam laporan hasil penelitian. dan penyusunan alat evalusi. (2) pekerjaan di lapangan. yang diteliti adalah pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan sisiwa selama PBM. Data penelitian ini diambil dari penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sebab itu. Hal ini dilakukan terutama ketika guru melaksanakan pengajaran di dalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. penysusunan KBM. SD Sukamaju selalu diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Observasi dilakukan pada saat PBM berlangsung. Artinya kedelapan RP tersebut disusun secara berurutan dan diterapkan secara berturut-turut pula oleh guru di depan kelas. (3) Catatan lapangan. Data yang diambil hanya dari 8 RP yang disusun dan disajikan secara berturut-turut untuk 8 kali tatap muka. pemilihan media. Untuk melaksanakan penelitian yang dirancang dengan prosedur deskriptif maka penelitian harus mengikuti presedur (1) kegiatan pralapangan.sisiwa. 2000:72 – 94). Dipilihnya SD Sukamaju sebagai tempat penelitian karena pertimbangan sebagai berikut.(4) Studi Dokumentasi. dan penilaian hasil belajar yang dilaksankan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. SD ini mendapat binaan langsung dari induknya. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang RPP. Peneliti mewawancari guru BI di kelas VI. Peneliti memberikan angket kepada guru pengajar BI di kelas VI. sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1992:60). Studi dokumentasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh penjelasan tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dikaitkan dengan perumusan tujuan dan pengembangan materi pembelajaran BI. Secara lebih khusus penelitian ini tergolong ke dalam penelitian studi kasus pengamatan (observarvastional case study) nonpartisipan. dan (5) penyusunan alat evaluasi. apakah setiap mengajar harus menyusun RPP? Apakah RPP dibuat sendiri atau dikirim dari pusat atau dibuat oleh KKG? Apakah RPP diperiksa oleh kepala sekolah sebelum disajikan?. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. (5) Observasi. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati (1) aktivitas guru serta aktivitas siswa. Agar kegiatan selama PBM dapat diamati dengan cermat digunakan bantuan tape recorder dan catatan penelitian. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. (3) dan sistem penilaian yang dilaksanakan oleh guru. (3) materi dan sumber pelajaran. yaitu kasus pengajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan pendekatan komunikatif dan pendekatan integratif. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. Selanjutnya untuk pelaksaan kegiatan evaluasi. Demikan pula bila ada ceramah atau kegiatan yang berkaitan dengan pembaharuan (simulasi atau seminar) dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh PGSD.METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dilaksanakan dalam pembelajaran BI di SD Sukamaju Sumedang. (2) penyusunan kegiatan belajar mengajar.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . teknik penyampaian materi.

Pada KBM yang disusun. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. motivator. Untuk mengukur kopetensi komunikatif siswa. (6) bentuk interaksi PBM. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Selanjutnya kedelapan RP yang direncanakan guru dalam mempersiapkan media tersebut telah menerapkan PT dengan sangat baik.Oktober 2008 . digunakan tes esei sehingga siswa dapat bernalar dan mengorganisasikan jawabannya secara kreatif. Selanjutnya bila ditinjau dari penerapan PT semua materi yang direncanakan telah menerapkan PT dengan sangat baik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Di samping itu latihan-latihan yang diberikan dapat mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi secara langsung. Selanjutnya dari 8 RP yang disusun guru. (7) teknik penyajian materi . guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. (3) pemilihan materi pelajaran. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian berkenaan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan penerapan pendekatan terpadu dalam pengajaran BI yang meliputi: (1) perumusan TPK. dan 8 RP KBM belum menerapkan PT. Selanjutnya. guru tetap merencanakn agar siswa berperan aktif. Selama 8 kali tatap muka. Dari jumlah tersebut 16 butir alat evaluasi telah menerapkan PK dan 6 butir belum menerapkannya. (5) penyusunan alat evaluasi. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Penyusunan alat evaluasi yang direncanakan guru dalam RP berjumlah 22 butir. Pada umumnya media pengajaran yang digunakan hanya buku teks. dan fasilitator. Selanjutnya alat evaluasi yang direncanakan pada 8 RP hanya 3 RP yang telah menerapkan PT. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. yaitu alat evaluasi yang direncankan pada 5 RP belum menyajikan penerapan PT. data ditranskripsikan (dari pita rekaman ke data tulisan) dan disesuaikan dengan catatan penelitian. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Dari jumlah tersebut 28 butir media telah menerapkan PK sedangkan 8 butir belum menerapkannya. dan (8) kegiatan evaluasi pengajaran BI. yaitu hanya ada 25 butir rumusan TPK untuk 8 RP. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. “JURNAL. Ini berarti bahwa media yang digunakan guru kurang bervariasi. Berdasarkan hasil pengamatan. bermakna bagi siswa dan bersumber dari lingkungan di sekitar siswa dan bersumber dari lingkungan siswa. Materi yang direncanakan untuk siswa berjumlah 36 butir. Guru tetap menekankan penggunaan BI secara riil dan bukan menghafalkan pengetahuan tentang bahasa. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. Sisanya. (2) penyusunan KBM.Data dianalisis selama pengumpulan dan setelah pengumpulan data. 37 KBM telah menerapkan PK. Seandainya terdapat penyimpangan maka pada observasi berikutnya dapat dilakukan perekaman atau pencatatan data dengan lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan data yang fatal. sedangkan 5 rumusan TPK lainnya belum menerapkan PK. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. Media pengajaran yang direnacanakan guru pada RP berjumlah 36 butir. Dari jumlah tersebut 28 butir materi telah menerapkan PK dan 8 butir belum menerapkannya. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Dari ke 25 rumusan TPK tersebut hanya 20 rumusan TPK yang telah menerapkan Pendekatan Komunikatif (PK). (4) pemilihan media pelajaran. Dari ke-30 KE tersebut. menyiapkan materi yang bervariasi. sedangkan penggunaan media lainnya sangat terbatas. Sisanya. Selanjutnya dari 8 RP yang direncanakan guru. Di samping itu. Penyusunan rencana KBM pada RP yang terdiri dari 45 KBM. diketahui bahwa materi tersebut adalah materi yang otentik. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Maksudnya selama pengumpulan data. 6 RP telah menerapkan Pendekatan Terpadu (PT) sedangkan 2 RP lainnya belum menerapkan PT. Dari 8 kali tatap muka. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. TPK yang direncanakan guru jumlahnya sangat terbatas. 5 RP telah menerapkan PT dan 3 RP belum menerapkannya. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK.

Apresiasi Sastra di SD.G. Jakarta: Sinar Harapan. Majid. Hastuti. Bandung: Remaja Rosda Karya. A. 2006. D. Jakarta: Depdikbud. Sumardi. Imam. Media Pendidikan. 1995. Syafi’ie. 2005. Integrated Teaching Methods : Theory.M dan Rosse. dan Novi Resmini 2006. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. 1986. Parera. No. Goodman. Bandung: Sinar Baru.Kiefer.2004. 1992. dan Implementasi. Sadiman. and Field Based Connections. 2005. 2004.Biklen. F. Farida. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. dan Alwasilah. Jakarta: Depdikbud. dan Zuhdi.” Dalam Bahasa dan Seni. Clasroom Aplication. Jakarta: Elex Media Komputindo. Nana. Nangoy. Arief. Ch.C.K.Oktober 2008 . Jakarta: Rasindo.DAfTAR PUSTAKA Azies. Bandung: Kaifa. New York: Delmar Publisher. CC. Rahim. Djuanda. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD.Levstik. Dkk. Tarigan. Jakarta: Depdikbud “JURNAL. NewYork: Longman. Jakarta: Dikti. Mulyasa. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. 2005. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Boston: Allyn and Bacon.M. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. dan Prana D. Dkk. Ken. Rofiudin.M. dan S. Metodologi Pengajaran Bahasa. Moleong. Bogdan. Jakarta: Rajawali Pers. Jakarta: Bumi Aksara. dan L. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktik. Teknologi Pendidikan. Dadan. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi SD. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Dadan. 2 Agustus 1995. Djuanda. Djuanda. Bandung: Rosda Karya. 1995. Bandung: UPI PRESS. Bandung: Remaja Rosdakarya. Dadan. “Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa. Bandung: UPI PRESS. dan Rivai. Mulyanto. Sukardi. 2006. B. Pappas. S. 2008. 1998. H. 1992. 2000. Bandung: Remaja Rosda Karya. R. 1989. 1997. A. Djuanda. I.S. Karakteristik. Sapani. 45 Kegiatan untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. Ahmad. Kurikulum Satuan Pendidikan Jakarta: Depdiknas. E. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Bumi Aksara. 2003. 2000. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sudjana. Teori Pembelajaran Bahasa. Dadan. Daniel J. Lexy J. 1998. Depdiknas. An Integrated Language Perspective in the Elementary School. 2006. B. Abdul. What’s Whole in Whole Language? Portsmouth: Heinemann. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. Tahun 23.R. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. 1995. Frazee.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kenyataan dalam pendidikan dewasa ini adalah semakin menurunnya peran guru dalam proses pengembangan potensi peserta didiknya karena berbagai alasan. Mendidik adalah menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. dan keterampilan sosial dan intelektual serta partisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmuilmu sosial. U “JURNAL. bidang studi yang menjemukan. Studi mengenai manusia di masyarakat dimasa kini. 2) siswa dan latar belakangnya. akhlak mulia. 3) isi serta struktur pelajaran. kecerdasan. sekarang dan akan datang. materi yang diajarkan guru dan disini siswa harus didorong ikut memainkan peran serta aktifnya dalam proses belajar mengajar. 1996:93) disimpulkan bahwa pada saat mengajar akan dijumpai betapa kompleksnya fungsi mengajar itu kita akan menghadapi beberapa variable yang kompleks karena itu kita perlu mengatur strategi dalam mengajar. Hal ini disebabkan guru tidak lain dalam proses belajar mengajar itu hanya menyajikan pengetahuan yang ada yang harus dihafalkan dan diketahui peserta didik (Ansyar dalam Laode 1999:4). yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai. Kejadian tersebut tidak lepas dari kemampuan guru yang belum mengembangkan kemampuan berpikir siswa kearah materi yang sifatnya problematic yang memerlukan siswa berpikir kritis dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya untuk kemudian memutuskan sesuatu dalam rangka memecahkan masalah. Fenomena ini sudah berkembang dipersekolahan sejak lama khususnya dalam pembelajaran IPS dimana pembelajaran IPS lebih cenderung transfer materi saja sehingga memunculkan anggapan dibenak masyarakat khususnya peserta didik bahwa pelajaran IPS kurang menantang. studi mengenai pelajaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan. mental intelektual maupun semangatnya dimana ketika peserta didik menyelesaikan setiap satu jenjang pendidikan tertentu dinyatakan telah memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi secara mandiri serta mampu berdiri sendiri tanpa mengantungkan hidupnya pada orang lain. pelajaran IPS. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lippit dan K. masyarakat dan manusia yang menjadi anggota masyarakat. masyarakat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. peserta didik diharapkan dapat menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar. Pelajaran IPS merupakan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Whitedan Richard Anderson (dalam Idochi Anwar. Adapun variabel yang dimaksud adalah : 1) Tujuan . Studi yang mempelajari interaksi manusia untuk membantu siswa memahami diri mereka dan yang lainnya dalam suatu masyarakat yang berbeda tempat dan waktu. yang berkembang baik pisik. 5) persyaratan dan set –up lembaga. bangsa dan Negara (UUSPN : Pasal 3 ayat 1). kepribadian. sehingga menurunkan minat anak untuk lebih memperdalam mempelajari pelajaran IPS. pendidikan di sekolah-sekolah kita ini masih merupakan pembelajaran yang berfokus pada pengajar (InstructurCentered Learning) Aris Pongluturan (1999:157). Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. dipersekolahan seharusnya lebih menekankan pada pengembangan potensi siswa dalam berbagai gatra yang bersifat pragmatis-praktis yang menyangkut diri dan kehidupannya. dapat menghasilkan manusia paripurna yaitu mengembangkan manusia seutuhnya. sebagai individu dan kelompok. mengingat tujuan IPS untuk setiap jenjang adalah mengembangkan kecerdasan warganegara yang diwujudkan melalui pemahaman. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Seperti kita pahami.Oktober 2008 . pengendalian diri. 4) biaya mengajar. Mengingat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. seiring dengan perkembangan jaman.Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah PENDAHULUAN ndang-undang No. Maka dapat kita katakan bahwa melalui usaha pendidikan. Seringnya terdengar ungkapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak lebih dari menyampaikan informasi saja tidak menantang dan menjemukan.

Remy dalam Naylor (1987:267) “JURNAL. Seperti yang diungkap oleh Maxim (1987:240) “One of the most effective program for encouraging decision making in development of value is….mengharuskan guru yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar mengajar untuk lebih kreatif menciptakan kelas yang kondusif sehingga nantinya dapat menghasilkan pembelajaran IPS yang lebih bermakna. karena sesuai dengan apa yang menjadi fungsi dan peran yang diemban oleh mata pelajaran IPS yaitu sebagai sarana utama untuk mendidik warganegara dalam upaya mewujudkan masyarakat madani Indonesia.Oktober 2008 . La Raus and R. Satu diantaranya adalah metode decision making process. Melalui model pembuatan keputusan dan ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dan analitis guna membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada. upaya yang dilakukan adalah menggunakan pola pembelajaran yang dapat menciptakan aktivitas proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa dimana “Thinking skill are among the most important skill to learn” (Naylor. Dari latar belakang permasalah dan temuan teori di atas. Persoalannya adalah bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan ) digunakan dalam Gambar 1: Decision Making tree Ouline Diadaptasi dari R.C. consider alternatives and weigh the consequences of different course of action”. memperlihatkan bahwa. Banyak metode yang digunakan untuk dapat menciptakan proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa (Naylor 1987 : 247). Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan). analizy and evaluate proposal. “Decision making process are developed as student clarify value. Untuk bisa dicapainya kondisi tersebut di atas. Pengembangan model Decision Making Process (proses pembuatan keputusan) diasumsikan dapat digunakan dalam pembelajaran IPS.The program making political decision”.1987:275). dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang dapat menjawab diskursus yang berkaitan dengan pengajaran IPS yang selama ini dipandang belum optimal. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .

Gambar 2: Paradigma Penelitian proses belajar mengajar IPS maka penelitian ini dibatasi pada “bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan) dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas 6”. Berdasarkan metodologi penelitian maka diperoleh hasil: Proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Setelah mengikuti pembelajaran Decision Making Process Model selama empat kali pertemuan. karena kegiatan tersebut diindikasikan melibatkan peserta didik yang terlihat dari pembelajaran yang tidak ceramah terus. pembelajaran Decision Making Process Model adalah kegiatan pembelajaran yang sangat menyenangkan. karena guru mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran dengan kondisi riil siswa dan masalah sosial. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1.Oktober 2008 . Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2: HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimental) yaitu suatu penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan. ditemukan bahwa. dalam pembelajaran materi tidak hanya terpaku pada buku teks tapi lebih mengkontekstual. Seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS? 3. penulis akan mencoba menganalisis kinerja guru maupun tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru sejak menyusun tencana sampai penerapan pembelajaran nampak “JURNAL. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bagaimana proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) ? 2. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru. Pembelajaran ini dapat menumbuhkembangkan keterampilan sosial peserta didik yaitu berkerjasama. saling toleransi. tetapi juga melakukan suatu diskusi berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. berkomunikasi dan juga menghargai pendapat sesama kawan. Masalah pokok makalah di atas. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS ? 4.

5 9 10 8. diskusi.5 8 9.5 10 9.5 9. selain itu dengan penerapan Decision Making Process Model ini peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajaran selalu mengembangkan konsep-konsep terkunci secara terus menerus.5 6 7 7.5 10 6.5 8 8. Selain itu hal-hal tersebut di atas guru juga berpendapat bahwa dengan penerapan pendekatan ini dapat meningkatkan aktivitas maupun kreativitas peserta didik hal ini nampak terlihat dari proses pembelajaran berlangsung. Menurut pendapat guru Decision Making Process Model ini merupakan inovasi pembelajaran.5 10 9 9 9 10 8 8.5 10 8 8. dapat menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan penerapan pembelajaran Decision Making Process Model akan memberi warna baru dalam proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan.5 9 10 6 6 6. baik dalam kegiatan tanya jawab.5 9 7.mengalami perubahan dan peningkatan kearah lebih baik.5 8 10 7 6 6 7 7.5 9 8.5 7.5 7 8 9.5 8 9. Disamping itu dengan menerapkan pembelajaran Decision Making Process Model.5 10 7.486 Gambar 3: Grafik Perolehan Hasil Belajar “JURNAL.5 8.5 7.5 9 9.5 9 8 9 8 9 8 8 9 9.5 8.5 9 10 5 6 6 9 6.5 5 5 6 7.Oktober 2008 . perlu keterampilan yang cukup tinggi agar Decision Making Process Model dapat dilaksanakan secara optimal. Guru juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif.6 9.9857 8.5 7 9.5 7.5 10 9 7.5 9 9 10 8 9 9 9 7 6. maupun dalam mengevaluasi pembelajaran.5 9 9 6 9 6.5 9.5 8 9 10 8 9. pendapat ini dapat mengindikasikan bahwa pengembangan pembelajaran Decision Making Process Model membutuhkan kemauan maupun keterampilan yag tinggi agar pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan optimal.5 9. baik dalam menampilkan materi. Tabel 1: raihan Nilai Setelah Menggunakan Decision Making Process Model No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rata2 Nilai Pertemuan Ke: 1 2 3 4 7 6.5 8.5 8.5 9.5 6.5 7.5 5 7.46 9.5 9 10 8. Menurut pendapat guru pada saat mengembangkan pembelajaran di kelas.5 10 7.5 7.5 10 7. sehingga perlu dipersiapkan rencana pembelajaran secara terencana. maupun dalam mengerjakan tugas dari guru.5143 7.5 9 10 6. maupun memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas maupun kreativitas pembelajarannya dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dengan menggunakan media pembelajaran short story. pelaksanaan.5 7.5 7. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .5 9 8 10 7. baik keterampilan dalam menyusun rencana pembelajaran.5 9.5 8 8 8 9 10 8.5 6.5 9 9 10 9 9.

Kendala ini dirasakan dalam pembelajaran IPS dengan model tradisional. Namun ketika menemukan hal yang tidak biasanya atau baru mereka merasakan sesuatu yang lain dan respon mereka ditunjukkan bisa positif dan negatif. Keterampilan seperti ini tampaknya perlu dilatih dan ditingkatkan untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model. Sesuatu yang baru diperkenalkan dan dialami adalah variasi dari suatu rutinitas. dari hasil evaluasi ditemukan adanya peningkatan pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan penguasaan kosep. mengeluarkan argumentasi. penyusunan perangkat evaluasi yang tidak umum dilakukan sebelumnya. selain itu adanya perubahan sikap. membuat laporan menyelesaikan tugas. materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah dipahami. untuk merubah kebiasaan yang telah tertanam pada diri guru secara keseluruhan sangat sulit dilakukan. mencari isu dan masalah tidak mudah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Berdasarkan temuan selama mengadakan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Decision Making Process Model ini telah memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. dalam hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar siswa secara keseluruhan maka hasilnya menunjukkan adanya peningkatan. Temuan lain dari hasil wawancara ditemukan bahwa ada beberapa yang lebih menyukai cara belajar biasa dengan dasar alasannya adalah karena informasi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan Decision Making Process Model . sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengungkapkan dan menemukan konsep-konsep dalam belajar. Menggunakan Decision Making Process Model ini memerlukan waktu yang cukup lama kedua penggunaan pola pembelajaran ini menuntut guru untuk lebih kreatif dibandingkan dengan pendekatan yang konvensional. Perningkatan perkembangan ini dapat dilihal dari Tabel 1 dan Gambar 3. Banyaknya materi yang harus disampaikan dengan jumlah jam pelajaran.Peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Pada penelitian ini kegiatan evaluasi dilakukan guru untuk mengukur penguasaan konsep pada diri siswa. berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang berarti. baik secara individu.Oktober 2008 . Decision Making Process Model adalah merupakan hal yang baru. peserta didik merasa lebih banyak tugas yang harus dikerjakan sehinga peserta didik aktif dan antusias dalam mengerjakan tugas. Penerapan model belajar Decision Making Process Model. pertama berhubungan dengan kebiasaan guru itu sendiri yang terbiasa menggunakan pembelajaran yang sifatnya tradisional. Temuan lain menunjukkan bahwa siswa umumnya suka dengan Decision Making Process Model namun mereka tidak mengharapkan metode tersebut digunakan untuk seluruh pokok bahasan dan tiap pertemuan. Setelah dilakukan evaluasi dengan materi IPS yang berbeda. guru harus menguasai materi yang lebih luas terkait dengan konsep KESIMPULAN Pertama pembelajaran dengan menggunakan model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternatif pembelajaran IPS di sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. dan juga sikap siswa. misalnya mau mendengarkan pendapat orang lain. dikarenakan pelaksanaan model ini dapat menciptakan iklim pembelajaran yang transaksional. salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa. juga meningkatkan keterampilan dengan merumuskan pertanyaan. Kendala yang dialami dalam pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan adalah guru kurang berupaya menciptakan disequlibrium atau desonanti. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Beberapa kendala yang dialami oleh guru ketika pelaksanaan pembelajaran Decision Making Process Model. Respon siswa terhadap penggunaan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Dari hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan bahwa : Decision Making Process Model dapat menciptakan suasana anak menjadi kondusif. menghargai hasil kerja orang lain. (2) guru hanya terpadu pada cerita yang dipersiapkan padahal masih banyak cerita lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan topik bahasan. umumnya manusia merasakan suatu runtinitas sebagai hal yang biasa. Kendalan lain yang dirasakan adalah kurang seimbangnya waktu belajar (durasi jam pelajaran) dengan proses pembelajaran. yaitu berpusat pada peserta didik. resonansi melalui konlik-konflik nilai dalam dialog. maupun kelompok “JURNAL. selain itu hampir semua siswa senang dan menyukai pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dengan alasan cara pembelajaran seperti itu membuat siswa lebih leluasa untuk mengemukakan pendapatnya tanpa ada perasaan takut salah. sehingga ketika pelaksanaan pada prosesnya guru cenderung terlalu cepat mengambil alih kendali pembelajaran dan dominasi selama pelaksanaan.

Departemen Pendidikan Nasional (2000) Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung. Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Moch Idochi Anwar (1990) Kepemimpinan dalam Proses Belajar Mengajar. Nana Sudjana & R. ----------------. Maxim (1987) Social Studies and Elementary School Child. sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. Recent. Gray III (1977). Pidato Pengukuhan jawaban Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan. Adision Wesley Publishing Company. New York. New Jersey. P2LPTK.dan juga bersifat multi arah.Oktober 2008 . Diterjemahkan oleh Alimuddin Tumu. Abdul Azis Wahab (1996) Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global. dimana guru berusaha untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan selalu mempertimbangkan aspek peserta didik. David T. Handbook in Research and Evaluation. Tesis. Kedua masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan pembelajaran ini terkait dengan kesiapan guru dalam merencanakan dan mengembangkannya di kelas. Bandung. Hamid Hasan (1995) Pendidikan Ilmu Sosial. Ibrahim (1989) Penelitian dan penilaian Pendidikan. California: Edits J. Lab. Hansiswani kamarga (1994) Konsep IPS dalam Kurikulum Sekolah Dasar dan Implementasinya di Sekolah.(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. Ketiga penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran. PPS IKIP Bandung. FPIPS IKIP Bandung. juga dalam mewujudkan iklim belajar yang transaksional dengan interaksi multi arah dan berpusat pada peserta didik. Decision Making Process Model ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena Decision Making Process Model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuh kembanggkan kreativitas dan critical thinking siswa. Michaelis (1976) Social Studies for Children in a Democracy. (1982). Merril Publishing Company. Ninth Edition. John Jarolimek(1993) Social Studies In Elementari Education. Paulina Panen.Jakarta. Hasibuan (1986) Proses Belajar Mengajar. Jesus A. Random House Inc. dalam membuat rancangan pembelajaran.jakarta. New York. Remaja Roakarya. M. PPS. Isaac. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Tidak Diterbitkan Bandung. Beyer (1991) Teaching Thinking Skills :A Handbook for Elementary School Teacher. Numan Somantri (1993) Masalah Pengembangan Ilmu Kewarganegaraan (IKN) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dalam lingkungan FPIPS-IKIP dan FKIP-Universitas. Engle wood cliffs. Tidak Diterbitkan. Trends and Development. Makalah. USA. Decision Making Process Model ini memiliki kekuatan karena peserta didik dibantu untuk memahami konsep-konsep IPS yang abstrak dengan enactive. Penerbit Universitas Indonesia. edition). Bandung : IKIP Bandung. Universitas Jakarta. Canada.Kosasih Djahiri (1996) Teori Keterampilan Belajar dan Mengajar Menuju Inquiry yang Reaktif. Bandung. Tidak Diterbitkan. LAB Pengajaran PMP IKIP Bandung. John U. Bandung. (2 nd . O (1993) Pengantar Metode Penelitian. Michell.J. Seville. Learning by Doing Developing Teaching skill. IKIP Bandung. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Pengajaran IKIP Bandung. Selain itu juga guru dituntut untuk menguasai banyak disiplin ilmu untuk pengajarannya. terutama dalam upaya mengkonkretkan konsepkonsep abstrak maupun perannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Jakarta. Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam memahami masalah. Allyn and Bacon Coensuello G. Bandung : Sinar Baru. Ohio. “JURNAL.Angkasa. Naylor (1987) Elementary and Middle School Social Studies. Prentice-Hall Inc. Ari Sutisyana (1997) Pengembangan Berfikir Kritis Anak dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar. Reading Massachusetts. Keempat penerapan pembelajaran ini menurut guru merupakan inovasi yang bisa menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. Selain itu juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta didik secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajarannya selalu mengembangkan konsepkonsep kunci pendidikan IPS. DAfTAR PUSTAKA A. Third Edition. Tesis. William A. Bandung. George W. Barry K. dkk (1999) Cakrawala pendidikan. iconic dan symbolic. Stephen dan William B. Mac Millan Publishing Company. Jakarta.

“JURNAL. prinsip. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan. experimental group was treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. (3) Students’ activities were also improved in quality. Kata Kunci: critical thinking skill. 2005) mengenai pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah. dinamis. tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. and fill-in list for lecturers. serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. objektif. yang menitikberatkan pada sistem. metacognitive approach PENDAHULUAN erpikir merupakan satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. struktur. sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif. seperti yang diungkapkan oleh Begle (Darhim. In teaching and learning process. interview guidance. Qualitative analysis was applied to explain teaching and learning activity. middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group. Dalam suatu proses pembelajaran. serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who were taught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach. sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan.Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Abstract This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitive approach in mathematics learning. dan terbuka. dan generatif. Maier (1985) dan Ruseffendi (1991). (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi. Quantitative analysis was applied to the test result to display the difference of means between two sample groups. The subjects of the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and students of PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is a must for students in tertiary level. (2) Metacognitive approach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever. The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test. konsep. Kenyataannya. students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level can be considered as low. Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tyler (Mayadiana. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis.Oktober 2008 . Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah B kemampuan berpikir kritis. students’ attitude scale-questionnaire. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . nonetheless. 2004). Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis. observation sheet. Data analysis were performed both quantitatively and qualitatively. kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah.

Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapa semester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yang berasal dari SMA. serta dalam menyelesaikan masalah. Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebut adalah laporan penelitian Mayadiana (2005). perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan. Melalui pengembangan kesadaran metakognisi. dan SPG (khusus pada kelas karyawan).Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas. dengan program studi IPA dan NON-IPA. akan tetapi di sisi lain ternyata kemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masih kurang. serta 34. mengingat. Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif? 3. serta faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasi matematik (Maulana. Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 4. 26. Tampak dari nilai mereka dengan rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk kedua kelompok tersebut. Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Ironisnya. mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya. sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan. Hasil yang diperoleh dari studi tersebut. baik untuk mahasiswa yang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA. mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .26% untuk mahasiswa berlatar belakang IPA. jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan. maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. mengenali kembali. kemampuan berpikir kritis peserta didik di satu sisi memang sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan. SMK. komentar. bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih rendah. Indikasi lainnya. ternyata kurang memuaskan. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Bertolak dari pemikiran di atas. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? “JURNAL. mahasiswa terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih. Tinjauan yang lebih mendalam pada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaran bahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitan dalam memahami konsep matematika maupun dalam pemahaman prosedural. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secara aktif yang menanamkan kesadaran metakognisi. Pandangan ini tentu saja berdasar.62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA. Semua informasi yang ditemukan di lapangan tersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. yakni hanya mencapai 36. subkelompok sedang.06% untuk keseluruhan mahasiswa. Oleh karena itu. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional? 2. maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. MA. yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka. Akan tetapi. 2005). Dari uraian di atas. guru atau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan. yakni dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 5. salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. mengorganisasi informasi yang dihadapinya. sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD.Oktober 2008 .

1996) membedakan kemampuan berpikir menjadi dua bagian. Presseisen (Liliasari. mengukur. Penulis merangkum beberapa definisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh Norris (Fowler. menyesuaikan. yakni kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakan perpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar. 2004). memecahkan masalah. merancang. STUDI LITERATUR 1. Swartz dan Perkins (Hassoubah. seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. (4) memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan. dan salah satu dari kemampuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. (5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut. membuat perencanaan. yaitu: berpikir vertikal. juga untuk mengambil keputusan. Pada saat itu pun. 1996: 31) menyebutkan bahwa yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving). 2005). Presseisen (Angeli. dan Splitter (Mayadiana. 1994). pengambilan keputusan (decision making). DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian. termuat juga kegiatan meragukan dan memastikan. sebenarnya ia melibatkan proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru yang ada pada persoalan tersebut. menghitung. berpikir strategis. sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. dan memori (Sobur. Gerhand (Mayadiana. Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selain untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. dan memutuskan (Sobur. Dalam proses berpikir. 2. dan berpikir kreatif. dan dalam hal ini berpikir kritis bertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusan mengenai sesuatu. (3) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. menafsirkan. memilah-milah atau membedakan. melihat kemungkinankemungkinan yang ada. mengubah. menimbang. Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto (1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang paling utama. Dengan berpikir kritis.HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. atau memperbaiki pikirannya. Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupan yang tak bisa dihindari. mengevaluasi. menggolongkan. sintesis. pertama-tama ia melibatkan proses sensasi. berpikir kritis. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. Menurut keduanya. berpikir kreatif (creative thinking). Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pada saat seseorang menghadapi persoalan. Paul dan Scriven (1996). yaitu menangkap tulisan. 1996). 2003). berpikir tentang hasil. seseorang dapat mengatur. Liliasari. yaitu membaca. Quina (Syukur. serta untuk menilai tindakan (Liputo. dan berpikir kritis (critical thinking). Selanjutnya ia mengalami proses persepsi. mendengar. berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat. dan (6) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. membandingkan. 2004). ataupun suara. analisis data. persepsi. menghubungkan. yaitu bahwa berpikir kritis: (1) adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. 1996). (2) merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. 2005). evaluasi. ataupun melakukan recall dan recognition ketika yang dihadapinya adalah persoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin. Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Ungkapan sejalan mengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh “JURNAL. subkelompok sedang. Berpikir Kritis Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan berpikirnya. menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada.Oktober 2008 . Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diungkapkan di atas dapat dikembangkan melalui pembelajaran. Ennis (2000). 1997. 2003). Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yang melibatkan proses sensasi. berpikir analitis. Sementara itu. gambar. dan memahami apa yang diminta dalam persoalan tersebut. serta membuat seleksi. menganalisis. berpikir lateral.

2005). Sebagai pendidik. yaitu kemampuan menuliskan konsep-konsep yang termuat dalam pernyataan yang diberikan dan menuliskan bagian-bagian dari pernyataanpernyataan yang menggambarkan konsep bersangkutan. Woolfolk (1995) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua komponen terpisah yang terkandung dalam metakognisi. (3) Kemampuan merumuskan masalah ke dalam model matematika. dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri. bertindak secara normatif. mengerjakan. penulis merumuskan beberapa indikator berpikir kritis yang akan digunakan dalam penelitian ini. 2004) mengklaim bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya. yaitu kemampuan menentukan aturan umum dari data yang tersaji dan kemampuan menentukan kebenaran hasil generalisasi beserta alasannya. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan oleh Krutetski (Mayadiana. Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. Brown (Weinert dan Kluwe. Pascarella dan Terenzini (Mayadiana. Mengetahui apa yang dilakukan. oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan berpikir kritis diabaikan oleh dosen. yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang disajikan dengan menggunakan aturan inferensi. yaitu kemampuan menuliskan contoh soal yang memuat aturan inferensi. bagaimana melakukannya. memonitor. Berpikir Kritis dalam Matematika Domain khusus definisi berpikir kritis harus didiskusikan dalam rangka menarik hubungan antara penelitian dan implikasinya dalam pendidikan matematika. 1987). atau yang mereka pikirkan. Sejalan dengan itu pula. Sementara itu Cabrera (1992) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses dasar dalam suatu keadaan dinamis yang memungkinkan mahasiswa untuk menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan masa mendatang. Karena bagaimanapun. serta mengontrol tentang apa yang mereka ketahui. 1987) mengemukakan bahwa proses atau keterampilan metakognitif memerlukan operasi mental khusus yang dengannya seseorang dapat memeriksa. Perlulah kiranya diungkap dengan lebih jelas beberapa deskripsi yang berhubungan dengan berpikir kritis dalam matematika. strategi. (6) Kemampuan merekonstruksi argumen.Oktober 2008 . 2005). mengatur. 3. dan sumber yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. memantau. bentuk aktivitas memantau diri (self monitoring) dapat dianggap sebagai bentuk metakognisi. (5) Kemampuan memberikan contoh inferensi. yaitu kemampuan menyatakan persoalan ke dalam simbol matematika dan memberikan arti dari setiap simbol tersebut. berpikir kritis dalam pembelajaran matematika merupakan tujuan yang dikelompokkan secara holistik berdasarkan apa arti mengajar. memprediksi. dan berusaha untuk memperbaikinya. Ennis (Glazer. pengetahuan tentang pengetahuan. Karena berpikir kritis dalam matematika secara epistemologi berbeda dengan berpikir kritis dalam domain lainnya (Glazer. 2005). Dalam sudut pandang yang lain. Paul (Mayadiana. dan siap bernalar tentang kualitas dari apa yang mereka lihat. membantu dan membimbing siswa jika ada kesulitan. Tim MKPBM (2001) memandang metakognitif sebagai suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. Para peserta didik dengan pengetahuan metakognitifnya sadar akan kelebihan dan keterbatasannya dalam belajar. dan memahami matematika (Appellbaum. antara lain meliputi kemampuan: (1) Kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. serta membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri apa yang dilakukan saat belajar matematika. Lebih jauh lagi. 2. yaitu kemampuan menyatakan argumen dalam bentuk lain dengan makna yang sama. Artinya saat siswa mengetahui kesalahannya. dan mengumpulkan informasi untuk membangun definisi operasionalnya. karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . atau refleksi tentang tindakantindakan. Fawcett (Glazer. dosen memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. 2005: 9). merencanakan. (2) Kemampuan mengidentifikasi relevansi. mengetahui prasyarat untuk meyakinkan kelengkapan tugas tersebut. 2005). bahwa orang yang berpikir kritis adalah individu yang berpikir. Suzana (2004: B4-3) mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang. mereka sadar untuk mengakui bahwa mereka salah.Splitter (Mayadiana. Pendekatan Metakognitif Weinert dan Kluwe (1987) menyatakan bahwa metakognisi adalah second-order cognition yang memiliki arti berpikir tentang berpikir. apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya. Nindiasari (2004) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan “JURNAL. dengar. Resnick (Mayadiana. (4) Kemampuan mendeduksi dengan menggunakan prinsip. yaitu pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang keterampilan. 2004). Menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. 2004). 2003). dan mengetahui kapan melakukannya. di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . yakni di Jawa Barat dan Banten. lembar observasi. uji homogenitas. sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap hasil tes untuk melihat perbedaan rerata antara dua kelompok sampel. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Bila diterapkan dalam belajar. Johnson. jurnal. Menurut Hartono (Nindiasari. Namun demikian. monitoring. 2004). analisis dilakukan dengan uji normalitas. Untuk data kuantitatif. (3) peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan. Kegiatan-kegiatan metakognitif ini muncul melalui empat situasi. pendidik (dosen/guru) dapat memulai lebih awal di sekolah atau perguruan tinggi. selain dapat diketahui skor untuk setiap butir skala sikap. pertimbangan. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah aktivitas pembelajaran. & Reid. membandingkan dan membedakan solusi yang lebih memungkinkan. Pada kelas eksperimen dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. (2) situasi kognitif dalam mengahadapi suatu masalah membuka peluang untuk merumuskan pertanyaan. sedangkan strategi kognitif metakognitif adalah mengontrol seluruh aktivitas belajarnya. bila perlu memodifikasi strategi yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan. Adapun kegiatannya menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. belajar juga merupakan metakognisi melalui aktivitas yang digunakan yaitu mengatur dan memantau proses belajar. 1987. sikap mahasiswa dan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. misalnya dalam pemecahan masalah. dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para siswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari (Jacob. dan merevisi kerja mereka sendiri mencakup tidak hanya membuat mahasiswa sadar tentang apa yang mereka perlukan untuk mengerjakan apabila mereka gagal untuk memahami. Terhadap kedua kelompok tersebut diberikan pretes sebelum eksperimen dan postes setelah eksperimen. Dengan demikian. Adapun aspek aktivitas metakognitif yang dikemukakan oleh Flavell (Suzana. dan daftar isian untuk dosen. memperluas aplikasi-aplikasi tersebut. setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara aposteriori. dengan secara spesifik melatih siswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi. yaitu: (1) peserta didik diminta untuk menjustifikasi suatu kesimpulan atau mempertahankan sanggahan. Aspek metakognitif sebagai bagian terkait dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif sangat penting untuk dapat dikembangkan agar mahasiswa mampu memahami dan mengontrol pengetahuan yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajaran.. penulis menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kritis.Oktober 2008 . Bagaimana siswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. Torgosen. seperti yang diungkapkan oleh Borkwoski. dan uji hipotesis (uji-t dan Anova satujalur). Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. (2) memonitor apa yang mereka ketahui dan bagaimana mengerjakannya dengan mempertanyakan diri sendiri dan menguraikan dengan kata-kata sendiri untuk simulasi mengerti. (3) regulasi. bahwa dosen mengajar mahasiswa untuk merancang. dan memeriksa hasil. pedoman wawancara. 2000: 444) PENELITIAN Penelitian digolongkan kepada penelitian eksperimen. dan mendapatkan pengendalian kesadaran atas diri mereka. Borkwoski. dengan model keterampilan ini. Contoh dari strategi kognitif ini antara lain: bertanya pada diri sendiri. Ada dua konteks yang mesti dipahami agar siswa mampu belajar secara baik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif. Dengan demikian. angket skala sikap mahasiswa. “Penggunaan keterampilanketerampilan intelektual secara tepat oleh seseorang dalam mengorganisasi aturan-aturan ketika menanggapi dan menyelesaikan soal”. 2004: B4-4) adalah: (1) kesadaran mengenal informasi. juga dapat diketahui skor setiap mahasiswa “JURNAL. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus daerah yang tersebar di dua provinsi. 1987) mencakup perencanaan. dan keputusan yang benar sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memantau dan mengatur proses kognitifnya.metakognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari strategi kognitif. Selain dengan latihan. Wong (Jacob. Pressley et al. Sedangkan untuk data kualitatif. yang didilaksanakan dengan menggunakan dua perlakuan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi. yaitu siswa dapat memahami dan menggunakan strategi kognitif dan strategi kognitif metakognitif selama proses pembelajaran berlangsung. 1998). dan (4) situasi peserta didik dalam kegiatan kognitif mengalami kesulitan. memonitor. 2003: 17-18). pengertian strategi kognitif adalah. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya dipilih secara acak menurut kelas. anak bertanya pada dirinya sendiri untuk menguji pemahamannya tentang materi yang dipelajari. analisis masalah).

Mengenai pembelajaran suasana pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan metakognitif. sebanyak 84.5% menyenangi kegiatan diskusi. Faktor-faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif antara lain: (1) kerja sama dan bantuan dari dosen pengampu matakuliah yang bertindak sebagai observer dan teman diskusi dalam menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. dan merekonstruksi argumen. dan subkelompok rendah mengalami peningkatan sebesar 56. Secara lebih khusus. Mereka menyatakan persetujuannya bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sangat baik dan berpeluang besar untuk diterapkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di “JURNAL.41%. setiap subkelompok mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. sehingga diharapkan dalam masing-masing kelompok terjadi kegiatan diskusi kelompok yang produktif. Berdasarkan perhitungan gain normal (Meltzer.7% menyukai dan merasa tertantang dalam menyelesaikan soal-soal metakognitif yang diberikan. (3) kesulitan dalam membuat kelompok diskusi dengan anggota kelompok yang beragam tingkat kemampuan matematiknya. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam aspek merumuskan masalah ke dalam model matematika. subkelompok sedang 59. Begitu pula dalam aspek mengidentifikasi relevansi. Mahasiswa pada kelompok eksperimen yang memiliki kemampuan akhir berpikir kritis matematik pada kategori cukup adalah 49%.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian.05% terhadap skor pretesnya. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar secara konvensional. 80% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif membuat mereka lebih berani dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. Dari keseluruhan mahasiswa.3% mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif sangat membantu mereka dalam memamahi konsep yang sedang mereka pelajari. subkelompok sedang. sebanyak 94. Dengan kata lain. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang belajar dengan pendekatan metakognitif berada dalam kategori baik. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. (2) keterlibatan mahasiswa secara aktif untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Dengan kata lain. Dosen memiliki tanggapan positif terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Adapun beberapa hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif adalah: (1) waktu yang tersedia relatif sedikit untuk melakukan pengembanganpengembangan dalam pembelajaran. Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif membuat mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk subkelompok tinggi adalah 65.Oktober 2008 . kategori baik sebanyak 47%. terdapat 98% mahasiswa yang menyatakan senang terhadap hal tersebut. 2002). mahasiswa mendapat kesempatan yang lebih banyak dalam mengeksplorasi materi bersama dosen maupun teman-temannya melalui kegiatan diskusi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . mengalami peningkatan yang tergolong ke dalam kategori sedang. sedangkan mahasiswa yang belajar secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sebagai berikut ini. memberikan contoh inferensi. Kemudian diketahui pula sebanyak 74.5% mahasiswa merasa bahwa pendekatan metakognitif yang mereka ikuti dapat mengurangi kecemasan belajar matematika. (2) kesulitan dalam membuat soal-soal latihan pada lembar kerja mahasiswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara baik. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip.82%. pendekatan metakognitif secara signifikan memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa subkelompok manapun. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. dan sebanyak 88. peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam aspek menggeneralisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi termasuk dalam kategori tinggi. peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi. dan 4% dengan kategori sangat baik. Sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif tercermin dari sebanyak 89% dari 45 mahasiswa menyatakan persetujuannya bahwa pendekatan matekognitif dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar matematika.

(1992). [22 Agustus 2005]. (1995). Examining the Effects of ContextFree and Context-Situated Instructional Strategies on Learner’s Critical Thinking [Online]. [25 Januari 2006]. Tersedia: http://www.N. dalam praktiknya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang bahan ajar berupa LKM. C. M. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. Karena pembelajaran dengan pendekatan metakognitif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang merupakan kemampuan matematik tingkat tinggi. khususnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).M.htm. P. Oleh karena itu. (2003). B.edu/~educr795/prop5. A.indiana. Akan tetapi menurut pendapat mereka. Mathematics Education Excerpt from The International Encyclopedia of Critical Thinking. Tersedia: http:// www. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. namun tentu saja dengan metode yang tidak harus sama DAfTAR PUSTAKA Angeli. R...A. 5.H. sehingga dosen memiliki modal yang berharga karena model belajar seperi ini telah menciptakan lingkungan belajar yang efektif. (2000). A Super-Streamlined Conception of Critical Thinking [Online]. insightassessment.arcadia. cc. G. memberikan contoh inferensi. Tersedia: http://www. Dalam R. Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking. N. Disertasi pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. dan Hernacki. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sebaiknya mencoba untuk mengimplementasikan pendekatan metakognitif ini di sekolah tempat ia mengajar. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. pendekatan metakognitif ini juga telah mampu memacu antusiasme dalam belajar matematika. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. criticalthinking.perguruan tinggi. Bandung: Tidak diterbitkan. C. com/pdf_files?Disposition_to_CT_1995_JGE.htm.L. Alexandria: ASCD. dan merekonstruksi argumen 2. 4.Oktober 2008 . khususnya pada aspek-aspek: membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. Untuk menciptakan suasana belajar seperti ini diperlukan keterampilan seorang pengajar dalam hal materi matematika maupun metodologi pembelajaran. Bandung: Kaifa. Cabrera.. The Disposition toward Critical Thinking [Online]. 113 (1). Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menekankan pada aktivitas mahasiswa dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan mahasiswa. (1999). Ennis. [25 Januari 2006]. J. (1997). Melihat hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa selain dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. DePorter. Fowler.html.A. 59-63. 3. dan ternyata memberikan hasil yang cukup efektif. [25 Januari 2005] Appellbaum. Oleh karena itu para dosen atau pengajar diharapkan selalu berusaha meningkatkan kemampuan mengajar dan kemampuan matematiknya melalui berbagai sumber.. B. “JURNAL.kcmetro. Darhim (2004).C. Tersedia: http://www. (1985).A. Tersedia: http://www. Critical Thinking Accros the Curriculum Project [Online]. Giancarlo. Facione.. mengidentifikasi relevansi.html. dan Gainen. merumuskan masalah ke dalam model matematika. Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika.net/SSConcCTApr3.Gargoyle.pdf. Facione. Sikap positif mahasiswa terhadap model pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menggambarkan bahwa pembelajaran ini dapat dijadikan model yang disukai mahasiswa. Cassel (ed).edu/appellbaum/8points. kepada mahasiswa PGSD (khususnya yang sudah menjadi guru SD) yang telah mengikuti dan memperoleh bekal pengetahuan mengenai pendekatan metakognitif.mo. maka hendaknya peneliti lain mencoba menerapkan pendekatan ini dalam upaya meningkatkan kemampuan matematik tingkat tinggi lainnya seperti kemampuan berpikir kreatif.us/longview/ctac/definitions. P. Arcadia University [Online]. (1996). maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. misalnya hsil-hasil penelitian atau jurnal. Costa. Education.

M. Bandung: CV. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. American Journal of Physics [Online]. E. Bandung: JICA-UPI. A.T. C. Jurusan Matematika FMIPA ITS. Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA. (2000).net~mseifert/ crit2. Disertasi Doktor pada PPs IKIP Bandung. dan Scriven. Jacob. “JURNAL. Psikologi Pendidikan. Tesis pada PPS Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: Nuansa. E. (2002). Liliasari (1996). Bandung: Tidak diterbitkan. Syukur. R. (1987). Tim MKPBM (2001). C.L.W. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Hassoubah. N. Bandung: Tarsito. Psikologi Umum. Kamus Filsafat. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. Kompedium Didaktik Matematika. Suzana. (1985). Prosiding Seminar Nasional Matematika: Peran Matematika Memasuki Millenium III. Y. 443-447. Aplikasi dan Pembelajarannya. (1996). E.T. Tersedia: http://www. Surabaya.nclk. (1998). (2005). Liputo.Glazer. Sobur. Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau dari Perkembangan Kognitif Siswa. Remaja Karya. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. 2 (1). USA: Allyn and Bacon.html. Belajar Bagaimana untuk Belajar Matematika: Suatu Telaah Strategi Belajar Efektif. [Agustus 2006]. Bandung: Tidak diterbitkan..E.org/University/univlibrary/ library. Mengajar Keterampilan Metakognitif dalam Rangka Upaya Memperbaiki dan Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika.Oktober 2008 . Developing Creative & Critical Thinking Skills. Semarang: IKIP Semarang Press. Bandung. Cognition. dan Kluwe. Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika (The Application of Metaphor in Mathematics Course). C. (2004). (1986). Mayadiana.lonestar.E. A. Tersedia: http://www. 2 November 2000. Bandung: Rosda Karya. R. San Francisco: Jassey-Blass Publishers. (1991). Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa SMU. New York: Hardcourt Brace Publishers. M. (1994). D.criticalthinking.E. ISBN: 97996152-0-8.I. Jacob. M. Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional UPI. (2004). Ruseffendi. Maier. [22 Agustus 2005]. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta. 17-18. (2004). Z. 15 Mei 2004. Bandung: Tidak diterbitkan. Bandung: Tidak diterbitkan. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Scores. iastate. Paul. Defining Critical Thinking: A Draft Statement for the National Council for Excellece in Critical Thinking [Online]. Technology Enhanced Learning Environtments that are Conductive to Critical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [Online]. Hillsdale. (2003). (2004). Tersedia: http://www. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . H. (2003). Meyers. (2004). Weinert. Ruseffendi. Disajikan pada Seminar Nasional Matematika: Matematika dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Kualitas SDM dalam Menyongsong Era Industri dan Informasi. Bandung: Pustaka Setia. D. H.H. Nindiasari. Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru SD. Teaching Student to Think Critically. Matlin. Metacognition. and Understanding. Jurnal Matematika. (1996). Woolfolk. 20 Agustus 2005. Y. (1995). Meltzer. Educational Phsycology.edu/per/docs/AJP-Dec-2002-Vo.texas.pdf. Purwanto. [22 Agustus 2005]. Maulana (2005). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. (1998). F.physics. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Rosda Karya. Motivation.70-12591268.

pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar. penalaran. Ada banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran pemecahan masalah secara optimal. tetapi agar siswa mampu memecahkan masalah dalam bidang lain melalui cara berpikir matematis. Guru perlu memperhatikan berbagai aspek pembelajaran: perencanaan. Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi. tetapi faktor tuntunan kurikulum yang membuat guru terdesak dengan waktu terbatas sehingga tidak fokus terhadap kemampuan pemecahan masalah. penilaian. memecahkan masalah. dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi tujuan utama dalam program pembelajaran matematika di sekolah dasar. pembelajaran matematika.Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Abstrak Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dasar. dan problematika pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Masalah Matematika Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya. Mata pelajaran matematika diantaranya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman konsep. mengkomunikasikan gagasan. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (BSNP. tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving). 2.Oktober 2008 . ada salah satu kompetensi dasar yang mengarahkan siswa untuk mampu menggunakan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah. topik-topik permsalahan dalam tulisan ini adalah : masalah dan pemecahan masalah matematika. Kata Kunci: pemecahan masalah. Dalam setiap standar kompetensi. proses pembelajaran. sekolah dasar PENDAHULUAN embelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut. “JURNAL. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dikuasai oleh siswa sekolah dasar tidak hanya dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar. Pelaksanaan pembelajaran masalah di sekolah dasar tidaklah semudah yang diperkirakan. tidak hanya faktor P guru saja. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian. Moursund (2005:29) mengatakan bahwa seseorang dianggap memiliki dan menghadapi masalah bila menghadapi 4 kondisi berikut ini: 1. Tulisan ini berusaha untuk menggali tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya di sekolah dasar. Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. nampak bahwa pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam pembelajaran matamatika sehingga secara jelas terdapat pada kurikulum mata pelajaran matematika mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah. Oleh karena itu. 2006). Hal ini didorong oleh perkembangan arah pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. pemilihan media atau alat peraga dalam pembelajaran pemecahan masalah sehingga siswa memiki kemampuan memecahkan masalah yang baik. Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya.

teknologi atau barag tertentu. fisika dan sebagainya. Artzt & Armour-Thomas (Goos et. (2000 : 2). Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. menjelaskan setting. Planning/Implementation. seseorang dianggap sebagai pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut. tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika. yaitu Reading. Understanding. dalam Abbas. (2) masalah aplikasi. Menurut Polya seperti yang dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya.al. 2001 : 84). yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan. 2000 : 2) terdapat 5 tahapan dalam memecahkan masalah. penggambaran penomena atau kejadian. Exploration. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. (3) masalah proses. 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld. dan Verification..al. Hal ini meliputi waktu. 2000 : 2) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah amatlah penting.. cara berpikir secara matematis yang efektif dalam memecahkan masalah meliputi tidak saja aktivitas kognitif. keterampilan. mengambar/mengilustrasikan model masalah. Krulik dan Rudnik ( 1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai heuristik. Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan). 1969) : Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik. bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika. itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah. dan menentukan tindakan selanjutya. Menurut Hudoyo dan Sutawijaya (1997:191). Implementation. ilustrasi gambar atau teka-teki. Menurut Goos et. Dalam pembelajaran matematika. pengetahuan. seperti menyajikan dan menyelesaikan tugas serta menerapkan strategi untuk menemukan solusi. Dalam bukunya. Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari. dalam Abbas. masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita. 2000 : 2) menyatakan bahwa melalui pelajaran Matematika diharapkan dan dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan. tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya.al. tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik. dan (4) Melihat kembali penyelesaian. 2006 : 24). yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi. tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar. mengidentifikasi pertanyaan.. Dalam Suherman et. atau gambar “JURNAL. kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung. Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah. yaitu menjadi Reading. dan (4) masalah teka-teki. mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan. Analisys. memvisualisasikan situasi. Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. Analisys.Oktober 2008 . yang meliputi kegiatan: mengorganisasikan informasi. tetapi juga meliputi pengamatan metakognisi yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas serta untuk membuat keputusan sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimiliki. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . walaupun sebenarnya tumpang tindih. Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan. Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya. baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Lima langkah tersebut adalah : 1. Exploration. Menurut Polya (Suherman et.al. (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu. ”Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School”. Read and Think (Membaca dan Berpikir).(terjemahan). Lebih dari Polya (dalam Sonnabend. dan membuat diagram. solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian. mereka mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. 4. dan Verification.3. 1993:56) juga mengatakan bahwa : Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama/penting dari kegiatan manusia . (2001 : 95) dinyatakan bahwa menurut berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam dalam tes pemecahan masalah dibandingkan dengan anak yang latihannya sedikit. Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. Sementara itu.. masalah matematika dapat berupa (1) masalah transalasi.al. Planning. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. (2000 : 2). mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan. Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa harus berurutan. Lebih lanjut Ruseffendi (1991.al. Menurut Goos et. Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et. harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah. tabel. 2. Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta. Pemecahan Masalah Matematika Soedjadi (1994. Terdapat beberapa jenis masalah matematika.

Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar. tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa. memeriksa kembali jawaban. Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. 3.al. soal tidak rutin. agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif. menggunakan kemampuan geometris. yang meliputi kegiatan: memprediksi.(1989). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah. Khususnya di SD. mendiskusikan jawaban. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa). Oleh karena itu. paling tidak ada tiga makna dari pemecahan masalah. pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru. 2. 5.al. menentukan solusi alternatif. teknologi. perencanaan. Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). bekerja mundur. Penyederhanaan atau ekspansi. atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah. Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan). coba dan kerjakan. problem based learning (PBL). dan menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal. 5. serta pengelolaan kelas. maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya. maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. (1989). Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. Dari paparan di atas. serta sebagai kemampuan dasar. membuat daftar berurutan. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et. Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi. mengembangkan jawaban pada situasi lain. dan menggunakan kalkulator jika diperlukan. sumber belajar-media. Berdasarkan teori “JURNAL. yaitu: waktu. 4. menggunakan kemampuan aljabar. simulasi atau eksperimen. proses. Select a Strategy (Memilih Strategi). PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DI SD Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. et. Dalam pembelajaran matematika. teka-teki. karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah. yaitu bagaimana guru menyajikan soalsoal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah. menggunakan kemampuan berhitung. Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah.3. serta strategistratagi pembelajaran pemecahan masalah. pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti dalam pendekatan pembelajaran open ended. 1. Find an Answer (Mencari Jawaban). deduksi logis. serta teknologi. Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum. 4. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita dan ilustrasi gambar. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal. dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. sumber belajar : alat peraga atau media. atau pola bilangan. mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi). Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi. dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran. atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal. misalkan memecahkan soal-soal matematika. yaitu : pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran. Menurut Reys. yang meliputi kegiatan : menemukan/membuat pola. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari. masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran. Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah.Oktober 2008 .

Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan. maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita. (3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph). et. Problematika Pembelajaran Pemecahan Masalah di SD Pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah terutama di sekolah dasar tidaklah mudah.al. Pembelajaran pemecahan masalah kadangkadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik.. (2) inventori dan ceklis. karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys. Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik (1995) berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. yaitu : menentukan apa yang diketahui. (2) jurnal metakognitif. Guru merasa cukup dengan pembelajaran perhitungan. hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep pemecahan masalah dan pembelajarannya. tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. sementara kemampuan pemecahan masalah siswa masih dianggap sebagai kemampuan ekstra atau tambahan untuk siswa-siswa berprestasi tinggi. dan (3) paper and pencil test. Hal ini memang bergantung kepada cara guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. (1989). masih dalam tahap enaktif dan ikonik. 1989). test.Oktober 2008 . padahal masalah dapat disajikan dalam berbagai bentuk model soal. et. Keadaan ini menyebabkan siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu topik sebagai pelengkap topik tersebut. Perubahan paradigma dalam kurikulum matematika memang belum sepenuhnya berimbas pada praktik pembelajaran di sekolah dasar.. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin. ditanyakan dan jawaban. Kemampuan metakognisi dapat diajarkan di kelas melalui pernyataan menuntun seperti : ”apa yang kamu kerjakan ketika memecahkan masalah?”. Tes kinerja ini. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Kemampuan tersebut adalah Metakognisi. klasikal ataupun kelompok. Menurut Reys. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran.Piaget (Reys.al. guru perlu menyiapkan alatalat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa mengikuti langkah-langkah yang ditentukan. Siswa sering mengajukan “JURNAL. masalah masalah terbuka (open ended). et. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program pembelajaran. Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita. belum dianggap sebagai suatu tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran. Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum sekolah (KTSP) secara konvensional. portofolio. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita. Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan sebagai berikut. walapun dari hasil uji coba soal cerita. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. 1989). Guru masih fokus kepada pencapaian kemampuan siswa dalam berhitung dan mengunakan rumus matematika. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa. Yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa. Dalam istilah lain metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol kemampuan berpikirnya atau ”thinking about thinking”. Peran Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Kesuksesan seseorang dalam memecahkan masalah begantung kepada bagaimana ia mampu mengendalikan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah. dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Oleh karena itu. Guru biasanya mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita. ”apa yang kamu pikirkan jika kamu merasa kesulitan atau tidak memahami soal ?”. beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah: (1) observasi. Metakognisi adalah istilah yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan seseorang sebagai pembelajar serta bagaimana ia mengontrol dan menyesuaikan pengetahuan dan keyakinannya. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : (1) observasi. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat beragam. Guru kadang memandang bahwa kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh konsep matematika. Penilaian dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya.al.

Queensland : The University of Queensland [online] http://www.(------). soal ini dikerjakan pake rumus apa?”. Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit. /Ashton. Akan tetapi. al. Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah. Jakarta : BSNP.cimt. A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan.Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature. DAfTAR PUSTAKA Abbas. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah.. Goos. Needham Hwight : Allyn & Bacon Sanjaya. Akan tetapi. (1998). Wortham. Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif. (2007). Virginia : College of William and Mary Williamsburg. Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. http:// darkwing..(2001).ac. Temple University : Boston. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. coe. Sthepen dan Rudnick. tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama aktivitas pemecahan masalah.wm. Wina.edu/. (2005). Jesse A. metode atau teknik penilain harus mampu menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya. Pendidikan Matematika I. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Oleh karena itu. ”Ditanyakan”. Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. D. D. Pearson Education : New Jersey. (1993). Bandung : SPs UPI.Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. (1998). Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Sue C. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah. New York. Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok. et. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam memecahkan masalah. Sonnaben A. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School.. N. Oregon : University of Oregon.Oktober 2008 .uk/jornal/pgmoney.Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. [online] http://www. padahal salah satu aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan informasi selama proses pemecahan masalah.al. Assessment in Early Chilhood Education.pdf Hudoyo dan Sutawijaya. Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. [online] http://www. S.edu/~jonassen/PSPaper%20 final. Thomas. Tidak diterbitkan. “JURNAL. perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya. Semenetara itu. (2005). Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo Ashton.(2006). melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah.C. Sounder Collage Publising.edu/. Universitas Pendidikan Indonesia. Jakarta./ElMath. [online]. PENUTUP Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran.pdf Reys.pdf BSNP (2006). Marsound.pdf Krulik. dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak. Suherman dkk . guru jarang menggunakan teknik-teknik penilaian yang seperti itu. Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah alatalat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah. guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. et. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Robert E. seperti ”Pak. kenyataannya. Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. seperti: ”Diketahui”.(2000).uoregon. (1995). dan ”Dijawab”..pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita.missouri. plymouth. Matematic for elementary Teacher : An Interactive Approach. Dirjen Dikti Depdiknas Jonassen. Bandung Sukmadinata & As’ari.. (------). Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan.(2000).

The study concerns use experimental method.This Mean experiment is 49. Dengan demikian menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan tersebut.1999. At significant level 0. masyarakat berubah.”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi.45 and control student is 34. Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya dengan peruhahan itu. Pembaharuan di bidang pendidikan harus terusmenerus dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. kemampuan siswa SMP dalam matematika menempati peringkat ke39 dari 42 negara peserta.(2) For Student. Data dari Third International Mathematics and Science Study¬ Repeat(TIMSS-R) juga mengungkapkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di negara kita berada pada peringkat ke-34 dari keseluruhan 38 negra peserta (Mullis. Selain itu pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi. Kenyataan-kenyataan berikut menunjukkan P bahwa pengajaran matematika perlu diperbaiki. Matematika merupakan salah satu bidang pengajaran yang harus mengalami pembaharuan menuju perbaikan. question. The general hypothesis in study concerns is student learn with cartoon mathematic best increase produce learn than student with conventional learn. Dalam hal yang sama Ruseffendi(1991:8) mengemukakan bahwa keberhasilan siswa dalam “JURNAL. semuanya berubah. teknologi berubah.01 experiment student produce learn increase than control student. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja. yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-¬38 dari 39 negara peserta.2004).Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Abstrak The study concerns focus to problem: How far influence application of cartoonn mathematic in learning mathematics for develop to produce learn student in school? The goal study concerns for know influence application of cartoon mathematic learning matematics in school for develop produce learn student with for able image about respons student at application of cartoon mathematic. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15). interview.Oktober 2008 . I suggestion so that cartoon mathematic can use by teacher for chosen tools in learn mathematic. guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”. pengajaran berubah.”Kehidupan di dunia ini berubah. Dalam pengajaran matematika di sekolah-sekolah terdapat masalah-masalah yang perlu diperbaiki.Iearn with cartoon mathematic increase effective than conventional learn (3) Student give good respons to cartoon mathematic because new in learning mathematic and their became happy in learn mathematic.” Hasil belajar sangat ditentukan sekali oleh keberhasilan siswa dalam belajar.19998:2). instrument a test. journal and observation. tetapi juga oleh faktor di luar siswa.42.because all topic mathematic can explain with cartoon mathematic. The result calculation are mean experiment student high than control student. The conclusion of study concerns are (1) Application cartoon mathematics in learning mathematic have influence to produce learn. The result of study concerns. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi(1991:21). Dalam data Internasional Achievement Education (IEA). antara lain adalah faktor guru.Teacher can join with cartoonist for make cartoon mathematic. pembelajaran matematika PENDAHULUAN embaharuan dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas(Wijaya. Kata Kunci: kartun matematika. kalau bukan pelajaran yang paling dibenci.

ruang dan waktu. yaitu media dalam bentuk model padat. Hal ini sejalan dengan pendapat Arsyad(2002:26) bahwa: 1. mempengaruhi sikap maupun tingkah laku. Penggunaan kartun sebagai media pembelajaran memiliki peranan penting karena dalam tahap ini siswa sangat tanggap terhadap stimulus visual yang lucu. Menurut Sudjana dan Rivai (1991:3).1995:136).1991:2). 4. diorama dan lain-lain. atau kejadian-kejadian tertentu. Haron (2001) mengemukakan bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. Di Malaysia. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens. kartun data membawa pembaca berfikir sejenak untuk menjadi lebih peka terhadap perkembangan semasa.”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. seperti slide. jenis media terbagi menjadi empat yaitu: a. masyarakat dan lingkungannya. Kartun menurut Sudjana dan Rivai (1991:58) adalah pengggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang. misal melalui karyawisata. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. bagan. seperti gambar. d. Disamping berfungsi sebagai hiburan. model susun. Kalau kartun mengena. Kartun juga merupakan satu bentuk visual dengan minat kanak-kanak boleh digunakan oleh guru dalam pengajaran. Sadiman dkk(2002:6) mengemukakan. “JURNAL. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Kebanyakan kartun yang dimuatkan dalam suratkabar atau majalah memperlihatkan berbagai tema dan subjek yang disulami pula warna-warna humor.Oktober 2008 . maka kartun sesuai untuk diterapkan dalam arena pendidikan. Kartun sebagi alat Bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. Media grafis sering juga disebut dua dimensi yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. b. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. kesiapan anak. Media gratis. 3. dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut? Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap matematika? Bagaimanapun kekurangan atas ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah (Sah. Salah satu yang dapat digunakan ialah kartun. Media tiga dimensi. serta komik. pribadi dan sikap guru. foto. Media dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. perasaan. 2. Ada beberapa jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran. kunjungankunjungan ke museum atau kebun binatang. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menarik minat dan memotivasi siswa. Penggunaan visual telah lama diketahui berkeupayaan merangsang pembelajaran. Model proyeksi. c. Kartun-kartun yang popular seperti Din Teksi oleh Nan dan Epit oleh Lat dapat merangsang minat pelajar. Menurut Dawyer dalam Maizuriah (2000). Sedangkan menurut Sadiman dkk (2002:46). termotivasi. Khusus mengenai media kartun. diagram. kartun.Salah satu cara menyajikan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. pesan yang besar bisa disajikan secara ringkas dan kesannya akan tahan lama di ingatan. film penggunaan OHP dan lain-lain. suasana pengajaran. bahwa kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang. gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan siswa dalam belajar adalah metode penyajian materi pelajran. Malah kartun dianggap sebagai satu wahana yang menghibur dan bisa meredakan ketegangan emosi manusia. situasi. kenyamanan belajar dan minat anak belajar. grafik. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian. Apakah materi yang disajikan membuat siswa tertarik. adapun faktor dari luar diri siswa adalah metode penyajian materi pelajaran. model kerja. Faktor dari dalam diri siswa itu meliputi kecerdasan anak. kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana tanpa detail dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti dengan cepat. interaksi yang lebih langsung. Visual-visual konkret yang menggambarkan keadaan dunia sebenar boleh memberi pengalaman konkret bagi memudahkan proses pembelajaran. menarik dan praktis (Bundhowi 2002:1). kompetensi guru dan kondisi masyarakat luar. pengajaran dengan menggunakan pelbagai alat visual semakin popular. model penampang. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya (Sudjana dan Rivai. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera.mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. Penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang berupa lingkungan. poster.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . maka diperlukan angket dan wawancara yang cukup diperuntukan bagi kelompok eksperimen saja.52 30 30 3 3 dk χ2 tabel 50. Pembelajaran dengan kartun akan menciptakan belajar yang efektif karena dapat membawa siswa ke dalam suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden. serta alat evaluasi berupa tes ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pembimbing di sekolah untuk dapat mendapatkan justifikasi. Tes awal diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.9 11. putusan dan pertimbangan agar data yang terkumpul sesuai yang kita harapkan. kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan”. Pemakaian kartun mempunyai dua macam keuntungan berharga. uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata. selain itu pembelajaran dengan kartun dapat menciptakan suasana gembira. yaitu gambar-gambarnya dapat menarik perhatian sehingga pelajaran lebih berarti dan sebagian serta variasi dalam mengajar. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK dan sampelnya siswa SMK Negeri 2 Bandung kelas 2 yang dipilih secara acak. Hasil Uji normalitas. Apalagi pada saat usia sekolah kebanyakan siswa masih memiliki gaya belajar visual yang lebih cenderung mengaktifkan ingatannya melalui gambar yang ditangkap oleh mata (DePorter dan Hernacki.9 50. Instrumen lain sebagai pendukung penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat memotivasi yang berguna di kelas. penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi. sehingga menciptakan kegembiraan pula dalam belajar (DePorter.Hal senada dikatakan Sudjana dan Rivai (1991:61) bahwa sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajr siswa.Oktober 2008 .1991:120). ketelitian. maka desain penelitian ini adalah sebagai berikut: A 0 X1 0 A 0 X2 0 Keterangan: A 0 X1 X2 = = = = randomisasi/acak tes awal = tes akhir perlakuan (pembelajaran dengan kartun matematika) perlakuan biasa(pembelajaran konvensional) Sebagaimana telah diungkapkan di atas. Terjadinya bias hasil evaluasi dapat dihindarkan karena tidak ada sistem tebakan atau untung-untungan (Suherman.3 11. Peneliti mengambil dua kelas dari seluruh kelas populasi. maka siswa yang menjadi sampel diberikan tes awal dan akhir. Untuk mengetahui pertambahan kemampuan baik sebelum maupun sesudah percobaan dilakukan. Reardon dan Nourie.1990:95) dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal. dan sistematika penyusunan dapat dievaluasi. 2001:22). Penelitian Schaffera (Sudjana dan Rivai. yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media kartun matematika. METODE PENELITIAN Karena penelitian yang dilakukan adalah melihat hubungan sebab akibat yang di dalamnya ada unsur yang dimanipulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis daa hasil tes dilakukan uji normalitas. Tipe tes yang digunakan adalah tipe tes uraian Alasanya dengan tipe uraian maka proses berpikir.3 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal “JURNAL. 1991:59). Untuk dapat mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen pengumpul data yang berupa tes awal dan tes akhir. 2000:14). Latar belakang di atas mendorong penulis mencoba melakukan penelitian untuk melihat pengaruh kartun yang digunakan sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan kualitas sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat. bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan pembuka diskusi yang efektif. homogenitas dan ukuran statistik skor pretes dan postes disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: uji Normalitas No 1 2 3 4 Data Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen Pretes Kelas kontrol Postes Kelas Eksperimen Postes Kelas kontrol χ2 hitung 25. Penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sains dan dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran.07 10. maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (Ruseffendi. “Pada umumnya anak-anak mulai menafsirkan kartun-kartun semacam ini pada usia 13 tahun. penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh media kartun trhadap belajar siswa. 1998:32).98 24.6 5. Beberapa kartun dengan topik yang sedang “hangat”. Berdasarkan uraian di atas. Kemudian dipilih secara acak satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol. Sedangkan tes akhir diberikan untuk melihat kemajuan atau peningkatan belajar kcdua kelompok.

Hampir seluruhnya siswa (19.58%) menyatakan biasa saja dengan memberi alasan bahwa isi materi sama dengan buku paket dan tokoh kartunnya kurang cocok. gambar-gambar yang diberikan dapat menghilangkan ketegangan dan sangat menyenangkan.45% dan 64. Sebagian besar siswa (6.95 19. Sebagian kecil (16. harus diperhatikan pula sebagian kecil siswa (22. Sebagian besar siswa (12.03 %) menyatakan ragu-ragu.48%) menyatakan konsep-konsep yang ada di buku kartun mudah karena konsep disajikan dalam bentuk resume. Selain itu sebagian kecil (6. Meskipun demikian.13%) sangat menarik terhadap pembelajaran kartun matematika.13%) ragu-ragu karena pembelajaran buku kartun sama dengan buku paket. HASIl ANGKeT PeMBelAjArAN KArTuN MATEMATIKA Hasil yang diperoleh hampir seluruhnya menyatakan menarik (61. “JURNAL. t 0. Meskipun demikian hampir setengahnya siswa(29. sedikit menghibur/menimbulkan rasa senang dalam belajar. karena pembelajaran dengan kartun matematika sangat mudah dan cepat dimengerti dan berbeda dengan belajar biasa.46 Ternyata thitung tidak terletak di –t 0. karena beranggapan bahwa meskipun materinya tetap saja ada yang sulit. pembelajaran lebih menarik dan penyampaiannya lebih mudah dimengerti. sedangkan postes data disajikan dalam distribusi kelompok sehingga dk=3.3 Pada taraf signifikansi 0.12 dkl 30 dk2 30 Ftabel 2.325 Pada taraf signifikansi 0.58) menyatakan kurang puas karena penjelasan di buku kartun kurang dimengerti. Namun sebagian besar (61.58 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes akhir diperoleh thitung = 3.68 312. Hampir setengahnya (48.01 dan dk=60 diketahui ttabel = t 0. dan jika χ2 hitung > χ2 tabel maka distribusi populasi tidak normal.99(60) < thitung. intisari. sehingga dk=30.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. meskipun demikian hampir setengahnya (41.45 1.485) menyatakan bahwa pembelajaran dengan media kartun menyenangkan dan lebih cepat memahami materi. Tabel 2: uji Homogenitas Data Hasil Belajar No 1 Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen dan kontrol Postes Kelas eksperimen dan kontrol Fhitung 1. bahwa pesan-pesan yang diberikan memotivasi semangat belajar.25%) menyatakan tidak senang dengan alasan proses belajarnya kurang bisa dimengerti. Tabel 4: ukuran Statistika Skor Postes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 49.Untuk data pretes data tidak disajikan dalam distribusi kelompok.90% dan 35.25% dan 64.93%) menyatakan biasa saja.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.01 dan dk = 60 diketahui ttabel = t 0.28 371.03%) menyatakan biasa saja dan sebagian kecil (22.06 1. Hampir setengahnya siswa (35.42 17.38 Homogen H0 : σ = σ Hipotesis : Ha: σ ≠ σ Tabel 3: ukuran Statistika Skor Pretes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 1. Mereka beranggapan pembelajaran dengan media kartun membuat belajar tidak membosankan. Kriteria pengujian jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel maka distribusi populasi data normal.45% dan 3.7 31 Kelas Kontrol 34.99(60) = 2. penjelasannya simpel.99(60) < thitung.42 1.29%) menyatakan sedang karena konsep matematika di buku kartun ada yang tidak dimengerti dan tergantung minat.52%) menyatakan setuju untuk terus mempertahankan pembelajaran kartun matematika.12 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes awal diperoleh thitung = 0. Mereka memberi alasan.46 Ternyata –t 0. pembacaan rumusnya mudah dipahami dan dimengerti.Oktober 2008 .19 30 30 2.52%) siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan media kartun matematika terus dipertahankan.38%) menyatakan puas terhadap hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kartun matematika.24%) dan (16.25 31 Kelas Kontrol 1.38 Kesimpulan Homogen 2 1.12 1. Hampir setengahnya siswa (29. Sebagian kecil (3.23%) menyatakan sukar karena isi dan tulisan yang ditampilkan terlalu rumit dan kurang jelas. cara penyelesaian singkat. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .< t 0.99(60) = 2.

81% dan 61.29%) menyatakan tidak cepat jenuh belajar matematika dengan kartun matematika karena merasa terhibur. menarik. Hampir seluruhnya siswa (19. sesuai perkembangan psikologi siswa. Sebagian kecil (19. “JURNAL.93%) biasa saja dan sebagian kecil (3. Hampir setengahnya (3. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sehingga memicu kita untuk aktif dalam belajar. Sebagian besar siswa (3.63% dan 70. malas belajar. Tokoh kartun yang disenangi siwa ialah tokoh kartun lucu. Siswa menjadi aktif. Hampir seluruhnya (25.16%) biasa saja karena tidak terlalu suka terhadap pelajaran matematika. Hampir setengahnya (45.74% dan 32.9% dan 41. cara penyampaian guru diperbaiki. pesan–pesan yang disampaikan memotivasi untuk giat belajar. 3.48%) menyatakan menarik mengenai tokoh-tokoh kartun matematika karena luculucu dan dapat memotivasi kepada siswa. Dari hasil wawancara dan jurnal bahwa matematika yang sebelumnya dianggap kurang menarik.93%) menyatakan bahwa minat dalam belajar matematika dengan menggunakan media kartun matematika tinggi.35%) ragu-ragu karena merasa media kartun biasa saja.3%) suka terhadap pembelajaran kartun matematika karena menarik perhatian.3%) menyatakan tidak aktif mereka beranggapan belajarnya kurang dimengerti dan siswa lebih suka melihat kartun daripada mendengarkan pembahasan. Sebagian kecil (9.33% dan 50%) menyatakan aktif bahwa pembelajaran dengan kartun matematika karena mudah dimengerti. karena mereka menginginkan tokoh kartunnya yang dikenal seperti yang ada di televisi. Hampir seluruhnya siswa (9.Oktober 2008 .3%) ragu-ragu karena tergantung siswa itu sendiri.Hampir setengahnya (35. Sebagian besar (12. Hampir setengahnya (34.67%) ragu-ragu dan (3.7%) ragu-ragu karena tidak mudah bersemangat dan tergantung siswa. Sebagian besar siswa (3.3%) menyatakan mudah penyampaian konsep matematika yang disampiakan gambar kartun. suasana cukup dan lucu. Siswa memberikan respon baik terhadap kartun matematika karena dapat memotivasi siswa. tidak bosan dan pesan-pesan kartun bermanfaat. lebih menarik. lebih menarik dan menyenangkan sehingga belajar semakin efektif dann mudah memahami konsep matematika yang dipelajari. Secara khusus dapat disimpulkan: 1. Penggunaan media kartun matematika dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap prestasi. semangat dan termotivasi dalam belajar.23%) kurang setuju. Hampir setengahnya (43. mempermudah memahami konsep matematika dan siswa terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seluruhnya siswa (67.7%) biasa saja dan hampir setengahnya (25. Hampir setengahnya (43.3%) biasa saja dan sebagian kecil (10% dan 3.63%) menyatakan ragu-ragu semangat tinggi jika soal matematika terjawab.39%) menyatakan siswa berkeinginan untuk berhasil dalam belajar melalui pembelajaran kartun matematika karena isi kartun memotivasinya. lebih semangar belajar dan cara belajarnya tidak membosankan. karena belajar jadi tidak jenuh. KESIMPULAN Pembelajaran matematika dengan kartun matematika secara umum lebih menyenangkan daripada pembelajaran biasa sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi dalam belajar matematika.6%) biasa saja karena pembelajaran dengan kartun matematika sama dengan buku paket. menakutkan bagi siswa dengan pembelajaran kartun matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan siswa.61%) menyatakan termotivasi dalam belajar dengan kartun matematika. tokoh kartunnya memotivasi belajar.23%) menyatakan tidak termotivasi karena tergantung pada pembacanya. Sebagian besar (56. memberikan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi dan penyampaian dalam buku kartun matematika menyenangkan dan menarik.9% dan 48. tokoh kartun yang menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan sesuai perkembangan zaman dengan karakter siswa. terhibur. Sebagian besar siswa (3. lebih semangat dan tidak membosankan. Hampir setengahnya (38. Hampir setengahnya (41.23%) menyatakan setuju jika buku kartun matematika disajikan dengan warna sehingga belajar matematika semakin menyenangkan. Penggunaan media kartu matematika dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika.33% dan 53. 2.6%) menyatakan semangat belajar tinggi dalam belajar kartun matematik. Sebagian besar siswa (12.8%) menyatakan kurang menarik.22% dan 51.97%) menyatakan senang dengan alasan lebih menarik. Hampir setengahnya (33. karena lebih mudah dimengerti.35% dan 61.33% dan 46.3% dan 6. Setengahnya siswa (38.29%) menyatakan setuju pembelajaran dengan pesan-pesan dalam kartun karena memotivasi. belajar tidak tegang.

.. Penelitian Pendidikan. Pengantar kepada Guru Membantu Mengembangkan Potensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA.. Ratna Willis (1989). Mark dan Nouri. Bandung: Tarsito Sudjana.Reardon. Lucu. Jakarta: Rajawali Hamalik. Bandung: CV Sinar Baru Suherwan (2001).... Jeannete Vos (2001). Mohammad (1981). Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.. Sadiman.. Oemar (1984).. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Muhibbin (1995). Skripsi: UPI Bandung Suprian AS.(1998)..dan Praktis untuk Mengajar Bahasa dan Kepekaan Budaya yang Tinggi: Makalah Wijaya. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA. Tesis.. Didaktik Asas-asas Mengajar.(1991).. Cece (1998). Bandung: Remaja Rosda Karya Ruseffendi. “JURNAL.. (1957). Jakarta: Grasindo Yousda dan Ariffin (1993). Teori-teori Belajar. Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.. Sarah Siregar (2000). Tabrani. Hernacki. Husen (2002).. Kartun sebagai Bahan Motivasi dalam Pengajaran Karangan.. Revolusi Cara Belajar. Penggunaan Televisi dalam pengajaran. Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa SD Melalui Fiksi Ilmiah...T (1984).. Jakarta: Erlangga De Porter. Mike (1999). Yusuf (1984).Azhar (2002). Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Media Pembelajaran. Bandung: Kai fa Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990) Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka Frandsen. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta Lainnya. Bobbi. Nana (1989). EO. Bandung: PT. Bandung: Tarsito ... Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.Zaenal (1988). Malaysia: Makalah Maizuriah dan Madya (2001). Dasar-dasar Matematika Modern untuk Guru.. Media Pendidikan. How Children Learn. Quanium Learning: Membiasakan Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Karya Dahar. Skripsi Purwanto.. Bandung: Kaifa Hadimiarso. Perbandingan Kemampuan Siswa SD dalam Memberi Alasan Logis antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Teknik Probbing dengan Cara biasa.. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas.DAfTAR PUSTAKA Arifin. Bandung: CV Sinar Baru Haron. Ahmad(1991). Bandung: Tarsito . Skripsi: UPI Wasliman (2002). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bundowi (2002). Jakarta: Bumi Aksara.. Media Pengajaran.. Ngalim (1987). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slamento (1992). Teknik yang Menarik. Bandung: CV Sinar Baru Sudjana. (1995). Angkasa Arsyad. E... Yanto (2001)... UPI Wragg. Bilik Darjah. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bilik Darjah. Prini (2001). New York: McGraw Hill Book Coy. (1997). Metode Statisika. Analisis Tingkat Penguasaan Siswa dalam Menyelesaikan Persolan Kontekstual Pada Pembelajaran Matematika. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Mohammed (2001). Gordon Dryden. Jakarta: Bumi Aksara Permana.Oktober 2008 . Bandung: Remaja Rosda Karya. Nana dan Rivai.. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. FPTK IKIP Bandung Surya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bobbi. Bandung: FIP IKIP Syah... Penelitian dan Satistika Pendekatan. Bandung: Kaifa De Porter.. Arden N. Transport Sebagai Media Pengajaran Fisika pada pokok Bahasan Rangkaian Listrik Searah. Bandung: Remaja Rosda Karya. Bandung: Tarsito Sudjana (1996). Bandung: Rineka Cipta Sudjana (1992). Kartun Bantu Pengajaran.. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.. (2002)... Arief S. dkk(1989). A. Malaysia: Makalah Nasution (2000). Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru.. Malaysia: Makalah Maizuriah (2001). Utami. Metode Statistika. Jakarta: Rosda Karya Windayana. Semarang: IKIP Semarang Press Rusyan....

2003)... 2003) yang hasilnya kemudian disajikan dan direvieu. implementasi.. tantangannya adalah mengembangkan pendekatan perkuliahan yang dapat menyeimbangkan antara aspek teori dengan praktik serta mengintegrasikan cakupan dari P perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (cf. dan penutup) beserta desain evaluasi perkuliahan. Karakteristik dari mahasiswa pada program multimoda pendidikan guru seperti itu adalah para mahasiswa -yang notabene adalah guru. Mempertimbangkan karakteristik mahasiswa tersebut maka sifat dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran adalah dapat mengungkapkan permasalahan dan kesenjangan dari integrasi teori dengan praktik evaluasi pembelajaran (Brattacharya et al. Dalam pendekatan Project-based Learning.. 2006). mengeksplorasi khazanah teoretis.pada tataran tertentu telah memahami dasar teoritis dan telah melakukan praktis evaluasi pembelajaran (Jyrhama et al. evaluasi pembelajaran lATAr BelAKANG erkuliahan Evaluasi Pembelajaran tahun akademik 2008/2009 melayani mahasiswa-guru PGSD –yaitu mahasiswa yang sudah mengajar atau guru yang sedang melanjutkan studi (studying while teaching). 2006. Oleh karena itu. 2008) maupun refleksi kegiatan (Clarke. integrated studies dan refleksi yang menekankan pada aspek kajian teoretis dan aplikasinya. Pengembangan pendekatan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran menekankan pada penyediaan kesempatan kepada mahasiswa yang sudah mengajar untuk mengeksplorasi aspek teoretis sekaligus merefleksikan praksis yang selama ini mereka lakukan. Dalam pandangan mahasiswa-guru. seminar. 2006). Pendekatan Project-based Learning dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-guru untuk menentukan permasalahan evaluasi pembelajaran. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Penelitian ini mencoba menggali aspek dari pengembangan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dengan pendekatan Project-based Learning beserta efektivitas dan pengaruhnya terhadap capaian mahasiswa-guru.Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Abstrak Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa-guru (studying while teaching) memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan antara aspek teoritis dan praktis. (2007) menyatakan bahwa Project based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivisme.. 2006). problem solving. mengindentifikasi ragam praktik evaluasi serta merefleksikannya.lakukan di lapangan (Jyrhama et al. Kata Kunci: project-based learning. inquiry-riset. Hal ini berarti para mahasiswa tidak terlalu asing lagi dengan materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang akan diberikan. Suratno et al. Untuk mendukung aktivitas tersebut maka desain perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dibagi ke dalam empat fase (persiapan. 2006) atau jurnal (Clarke. 2006). salah satu pendekatan yang mendekati konsepsi tersebut adalah pendekatan projek atau dikenal sebagai Project-based Learning (Bhattacharya et al. 2008).f Azam & Iqbal. 2008). Pemikiran ini dipandang dapat memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan perbandingan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan praksis yang sering guru –mereka dan teman sejawatnya. Namun demikian. Beveridge & Archer. mahasiswa mengembangkan suatu projek baik secara individu maupun berkelompok untuk menghasilkan suatu produk –misalnya portofolio (Azam & Iqbal. Untuk menunjang kegiatan Projectbased Learning perkuliahan maupun pelatihan dapat menggunakan berbagai sumber/resources termasuk diantaranya adalah pengamatan lapangan (Suratno et al. 2006) yang sesuai dengan karakteristik dari mahasiswaguru tersebut. Bhattacharya et al. Informasi tersebut mendasari “JURNAL. berdasarkan pengamatan dan pengalaman terdahulu. 2007) serta menumbuhkan tingkat pencapaian dan kinerja mahasiswa (Beveridge & Archer. Penerapan Project-based Learning dapat memfasilitasi tingkat kemandirian partisipan (Suratno et al.Oktober 2008 . Dari berbagai kajian tentang strategi perkuliahan maupun pelatihan untuk para praktisi. dosen cenderung menekankan aspek teoretis sehingga kurang mengeksplorasi aspek praksis secara seimbang (c. beberapa dosen belum banyak yang mengoptimalkan potensi dari mahasiswa-guru tersebut.

Mengembangkan instrumen uji pengembangan pendekatan Project-based Learning. b. 1. Mahasiswa a. 2006).. Memfasilitasi mahasiswa memahami ragam teori dan praktik evaluasi pembelajaran. dimulai dari identifikasi permasalahan. b. 2. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan. Mahasiswa a. Melakukan riset untuk memecahkan permasalahan. 2. Dosen a. Dalam melakukan riset. mengimplementasi dan mendiseminasikan projek yang mereka kembangkan.. Fase Implementasi: 1. mahasiswa dapat menggunakana pendekatan The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Pengembangan Pendekatan Problem-based Learning a. 2008) d. Dalam melakukan pemecahan masalah. c. Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 3..Oktober 2008 . 2006) dan pengembangan sejawatnya (Beveridge & Archer. Dalam perkembangan risetnya. Dosen a. Mengembangkan strategi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (Project-based Learning). mahasiswa melakukan bimbingan terprogram untuk penyusunan laporan kegiatan projek. c. 2008) untuk membantu aktivitas eksplorasi projek mahasiswa. Dari fase-fase tersebut diharapkan mahasiswa dapat memperkaya wawasan teoretis dan empiris berdasarkan hasil pengembangan diri –misalnya melalui refleksi terhadap praktik (Blaise et al. Melibatkan satu anggota kelompok mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. mahasiswa dapat menggunakan model pemecahan masalah (Bhattacharya et al. DeSAIN PrOGrAM PeMBelAjArAN Desain program perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa PGSD Bumi Siliwangi UPI tahun akademik 2008/2009 dikembangkan berdasarkan prinsip Project-based Learning. Fokus permasalahan berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) (teori dan praktik). Dari tujuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. d. c. Mahasiswa dikelompokan ke dalam lima kelompok. Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 2. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam penyusunan laporan riset projek “JURNAL. Memberikan perkuliahan tentang teori dan praktik evaluasi pembelajaran b. 2. Tiap kelompok mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi projek mereka.. b. Berdasarkan deskripsi di atas. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? 5. Memberikan penjelasan tentang model pemecahan masalah. serta merefleksikan teori dan praktik evaluasi pembelajaran. penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan berikut terkait dengan implementasi pengembangan PBL: 1. 3. Meningkatan kualitas perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang tercermin baik dari segi penyelenggaraan maupun pencapaian nilai mahasiswa. Memberikan penjelasan tentang The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Melalui strategi ini juga diharapkan dapat terbentuk prototip komunitas belajar praktisi guru yang melakukan kajian ilmiah tentang apa yang mereka lakukan terutama dalam hal evaluasi pembelajaran. menganalisis. Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? TujuAN KeGIATAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan pendekatan Project-based Learning pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Melalui pendekatan ini keterkaitan antara teori dari buku teks dengan praktek di lapangan dari evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa (sebagai guru) dapat terwadahi. Mengembangkan perencanaan projek. Fase persiapan: 1. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 4. b. mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengkomparasikan dengan hasil studi teoritis sehingga mahasiswa dapat menjelaskan ragam praksis yang terjadi serta kaitannya dengan rujukan teoretis tertentu. Kegiatan perkuliahan dibagi ke dalam beberapa fase yang ditujukan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk merencanakan. strategi riset dan pemecahan masalah serta pengembangan laporan. 2006) e. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 4.pengembangan desain perkuliahan Project-based Learning dimana mahasiswa-guru tersebut mengidentifikasi projek tentang Evaluasi Pembelajaran dan hasil pengembangan ini diukur untuk melihat efektivitas serta pengaruhnya terhadap capaian perkuliahan mahasiswa. c.

Mahasiswa Memberikan umpan balik dan masukan terhadap jalannya perkuliahan serta pendekatan Project-based Learning yang digunakan. Pelaksanaan • Monitoring tiap fase • Penilaian Diri c. Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dengan nilai yang dicapai dalam posttest. Pengembangan instrument ( tes. Mahasiswa a. Dosen Memberikan review terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran. (4) menetapkan skor. Fase Penutup 1. Mahasiswa saling mendiskusikan temuan mereka serta merefleksikan terhadap praksis yang mereka lakukan sehari-hari (Blaise et al. Pengembangan strategi perkuliahan (Problembased Learning) b. penulis menganalisisnya untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dan posttest. menyampaikan saran dan rekomendasi 2. (3) menata soal. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Mengidentifikasi Permasalahan Evaluasi. Memandu dan memfasilitasi kegiatan presentasi dan diskusi b. Riset projek – mahasiswa melakukan kajian teoretis dan empiris dari kegiatan perkuliahan dan fenomena di lapangan c. Sekelompok mahasiswa mempresentasikan temuan dari projeknya dan kelompok lain menanggapi.c. wawancara) • Perekrutan tim penelitian (mahasiswa) • Pembinaan tim peneliti b. Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Efektivitas PBL dalam perkuliahan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data di atas.55 18. Pelaporan observasi. presentasi projek Mahasiswa menyajikan temuan penelitian b. Dosen a. Fase Seminar: 1. saran dan rekomendasi d. Memberikan umpan balik. fasilitasi-moderasi presentasi dan diskusi b. hal tersebut ditunjang oleh indicator-indikator yang menunjukkan meningkatnya pemahaman teori tentang : (1) menyusun lay out (2) menulis soal. diskusi – mahasiswa mendiskusikan hasil projek penelitian Fase IV Penutup Feedback perkuliahan Fase I: Persiapan Projek a. “JURNAL. Perencanaan projek Mahasiswa melakukan penyusunan rencana projek b. Persiapan • Pengembangan instrument (tes. sebagai berikut: Komponen Pemahaman teori S k o r Skor rata. ( 5) reproduksi tes dan (6) analisa empiris terhadap suatu tes hasil belajar. Informasi tentang perkuliahan c. Perkuliahan b. wawancara. b. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Fase III: Seminar Projek a. 2006). Bimbingan dan laporan – mahasiwa progress riset kepada dosen Fase III: Seminar Projek a. input.10 Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 63. Desain Evaluasi Program a. 2. Fase I: Persiapan Projek Identifikasi projek – mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) Fase II: Implementasi Projek a. 2. pembimbingan HASIL PENELITIAN Hasil dan analisis data yang terkumpul berdasar kepada catatan dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam kelas maupun di lapangan diorganisir secara cermat untuk menjawab persoalan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian.45 51. yaitu: (1) Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? (2) Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (3) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (4) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? (5) Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 1. Tabel 1: Overview Desain Problem-based Learning Mahasiswa Dosen 2.. observasi) Fase II: Implementasi Projek a.Oktober 2008 Fase IV: Penutup Review perkuliahan .00 33.

S. PBL Approach: A model for integrated curriculum. A. Bhattacharya. dkk. Cece.30 60. Motivational implications of project-based learning for the preparation of social workers. Beveridge. Paper presented at NZAARE/AARE Conference.30 58. S.10 Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Merencanakan Proyek Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. Clarke.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 60 45. 3. Persepsi mahasiswa terhadap PBL Berdasarkan pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa terjadi perubahan kea rah positif dalam hal persepsi mahasiswa terhadap PBL sebelum dan sesuadah melaksanakan kegiatan di lapangan. 2006.00 47. 2006. T. J. November 27-30. Bandung Sapriya. A. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. 2006. 2003. Ryan. November 27-30. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. L. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. 2006.. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis dan Merefleksikan Keterkaitan antara Teori dengan Praktik Evaluasi Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. S.Oktober 2008 . Latham. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. 2006. M. MacIntyre..Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 75. B. Adelaide.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 65 44. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. 2006. 4. H. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . J. & Desiree. UPI Pres. Adelaide.15 5. K. 2006. M. Rahmat. 2006. 5. Nov 29-Dec 3. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. 2 Februari 2008 Yang ditunjang dengan indicator tentang meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan evaluasi hasil belajar.15 12. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Project-based Learning. Malone. Faulkner. 2006. S k o r Skor rata.85 proyek Komponen “JURNAL. J. Hal tersebut menunjukkan bahwa PBL efektif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar. 2006. Blaise. November 27-30. Iqbal. Andira. G. 2003. Rethinking reflective journals in teacher education. & Lang. & Brears. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Teacher Institute Sampoerna Foundationa Jakarta. dkk. DAfTAR PUSTAKA Azam.60 7. M. Dole.Komponen Identifikasi masalah S k o r Skor rata. 2007. Adelaide. Dharma. M. Adelaide. Bandung Suratno. Reflection: Journal and reflective questions –A strategy for professional learning.85 proyek Komponen Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Auckland. Skor Skor rata. Use of portfolios for assessing practice teaching of prospective science teachers. Archer. November 27-30. Makalah disajikan pada kegiatan Semiloka Program Adopt A Teacher.50 54.

pandangan dan keyakinan peserta didik serta pengaruh pendidik (Tobin et al. Tulisan ini membahas implikasi perspektif konstruktivisme dan fenomena riset alternative conception movement (ACM) yang mendasari pandangan pembelajaran sebagai membangun pengetahuan melalui proses perubahan konseptual. Biasanya kajian nomothetic menggunakan tes tertulis. Dalam hal ini. Driver & Easley (1978. memperluas (extend). 2002a). 1985). Dalam merespon pandangan ini. Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno Abstrak Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan proses membangun pengetahuan yang dilakukan individu. Guru sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai konsepsi siswa.. bersifat kuantitatif dan menggunakan inferensi statistik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . memonitor (monitoring) dan mengarahkan (directing) proses membangun pengetahuan. sumber bacaan dan guru.Oktober 2008 . Siswa membawa berbagai konsepsi mengenai obyek dan fenomena alam dan seringkali tidak sesuai dengan konsep ilmiah. terus dipergunakan siswa dan cenderung sukar diubah. Alternative conception dipandang sebagai faktor penting . mengevaluasi (evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya. children’ science/view/understanding. perubahan konseptual KONSTRUKTIVISME DAN fENOMENA RISET ALTeRNATive CONCePTiON MOveMeNT onstruktivisme memandang bahwa pengetahuan individu merupakan hasil dari proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam sistem kognisi individu. Kajian nomothetic memunculkan beragam istilah seperti naïve conception ataupun istilah yang lazim dikenal sebagai miskonsepsi.penghambat bagi pembelajar dan rujukan bagi guru. “JURNAL. sementara siswa mengenali (recognise). konstruktivisme memandangnya sebagai suatu proses sosial [wacana] membangun pengetahuan [yang ilmiah] yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. pendidikan sains adalah merebaknya penelitian mengenai alternative conception atau lazim dikenal sebagai alternative conception movement (ACM). commonsense theories ataupun yang dikenal sebagai alternative conception. Kajian idiographic memunculkan istilah pupil’s ideas. Sumber alternative conception bisa berasal dari diri siswa. dan (3) sukar dideteksi oleh guru (Osborne & Freyberg. 2002b). Wandersee. Penggunaan istilah alternative conception ketimbang miskonsepsi pada tema penelitian konseptual (conceptual research) ini dilandasi keluasan istilah tersebut ketimbang istilah miskonsepsi (bisa disimak pada bagian kajian nomothetic dan idiographic). implikasi perspektif konstruktivisme dalam penelitian Constructivism deals with questions of knowledge-what knowledge is and where it comes from…I prefer to call it a theory of knowing rather than a theory of knowledge. K Konstruktivisme memandang penting alternative conception yang dimiliki dan diyakini siswa. 1994. Akan tetapi. Gunstone. masyarakat. dikarenakan: (1) konsepsinya berbeda dengan konsep ilmiah. 1992). bersifat naturalistik serta subyeknya sedikit tetapi mendalam. guru berperan dalam menghubungkan (linking). Kata Kunci: konstuktivisme. Dalam pembelajaran.. 1985). Biasanya mengkaji pandangan siswa tentang obyek dan fenomena serta dianalisis berdasarkan terminologi yang siswa gunakan. pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan konseptual. memadukan (integrate). Metode yang diadopsi adalah metode yang biasa digunakan oleh antropolog. Konstruktivisme memandang penting faktor pengalaman siswa yang berupa pengetahuan dan keyakinan yang dibawa siswa ke dalam pembelajaran yang cenderung membentuk miskonsepsi/alternative conception. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara apa yang sedang diajarkan dengan apa yang sudah diketahui. 1994) membagi dua macam penelitian mengenai konsepsi alternatif yaitu kajian nomothetic (penyimpangan dari konsep standar) dan kajian idiographic (pemahaman mengenai obyek maupun peristiwa). seringkali pengetahuan awal dan pandangan siswa bersifat miskonsepsi/salah pengertian ataupun berupa alternative conception/pengertian alternatif. 1994) meliputi: 1. dalam pembelajaran dan pengajaran sains (Osborne & Freyberg. konsepsi alternatif.Konstruktivisme. Oleh karena itu. Mengapa konstruktivisme memandang penting alternative conception dan mengapa ACM begitu mendunia terutama dalam periode 1980-1990an? Setidaknya terdapat tujuh klaim utama yang mendasari ACM (Wandersee et al. Fenomena penelitian ACM sebenarnya diilhami dari penelitian yang dilakukan oleh Piaget (1920-an) berkenaan dengan pemahaman anak mengenai dunia/ alam di sekitarnya melalui metode wawancara klinis serta disertasi Driver yang mencoba memasukannya ke dalam konteks kelas (Gunstone. (2) sifatnya laten. (von Glasersfeld.

Diperlukan kajian sejarah sains bagi siswa. Artinya. Sementara Posner et al. Melacak dari mana asalnya alternative conception sangatlah sulit. pengaruh media massa serta pengalaman belajar di kelas. plausible dan fruitful. kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone. usia. 1984). Namun gejala alternative conception yang terjadi di berbagai populasi dan budaya mencerminkan adanya kesamaan pengalaman budaya siswa dalam hal observasi alam. Terdapat empat syarat yang menjembatani proses akomodasi. suatu rentang pemahaman dalam sistem kognisi individu. Dalam proses perubahan konseptual. Piaget dan Posner et al. penggunaan analogi serta strategi metakognisi sepertinya sangat menjanjikan. konteksnya berbeda. Terdapat kesamaan antara penjelasan saintis yang tergugurkan teorinya dengan alternative conception siswa. Siswa. asimilasi terjadi karena pengetahuan awal siswa sejalan/berhubungan dengan fenomena dan belum terjadi perubahan skema/konflik kognitif (Piaget) ataupun perubahan konseptual (Posner et al. Akomodasi merupakan proses konflik kognitif karena skema dengan fenomenanya berbeda (Piaget). 1982). (1982) berpandangan lebih luas dimana akomodasi merupakan proses perubahan konseptual dikarenakan konsepsi siswa tidak sesuai dengan fenomena yang baru. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . HAKIKAT PROSES PERUBAHAN KONSEPTUAL Inti pembelajaran dalam perpektif konstruktivisme melibatkan proses perubahan konseptual. Ini memerlukan kajian mengenai bagaimana siswa berpikir. Sementera itu. beberapa hal perlu dikaji lebih lanjut terutama berkenaan dengan strategi siswa merubah konsep yang sebenarnya maupun strategi metakognisi. Diperlukan strategi perubahan konseptual. (1982) memiliki konsepsi yang agak berbeda terutama dalam konsepsi akomodasi. asimilasi akomodasi dan ekuilibrium (Piaget. rasional dan dapat memecahkan permasalahan atau fenomena yang baru. Siswa akan mengubah konsepsinya bila siswa merasa konsepsi yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk merespon fenomena atau pengalaman baru. tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya [bersifat miskonsepsi] pada konteks lain.. Posner et al. terutama bila terjadi alternative conception. karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone. Gunstone (1994) mendefinisikan perubahan konseptual”…the abandonment of one conception and the acceptance of another”. Menurut perspektif konstruktivisme sosiokultural. Akan tetapi. kegiatan diskusi kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami dan mendalami suatu prinsip/konsep yang diperoleh orang tersebut dari interaksinya dengan sejawatnya. konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. 2. terutama metakognisi. Alternative conception sangat sulit di’berantas’ dan sifatnya beragam. apakah seluruh konsepsi awal siswa dirubah secara keseluruhan? Mungkin saja. 3. Negosiasi pemahaman sangat mempengaruhi zona proksimal individu. 7. Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep. (1982) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. siswa menggunakan konsepsinya yang telah ada untuk merespon fenomena yang baru. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu. Namun demikian.. 5. cenderung membawa alternative conception yang berasal dari pengalaman pribadi maupun hasil interaksi sosial.2. Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible). Banyak strategi maupun model pengajaran yang telah dirancang oleh para pakar “JURNAL. dapat memecahkan permasalahan terdahulu serta konsisten dengan teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu. pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone. penggunaan bahasa sehari-hari. kemampuan dan latar belakang budaya. Bila mengacu pada pandangan konstruktivisme psikologi personal. Menurut Piaget dan Posner et al. Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful) dalam pengembangan penelitian atau penemuan yang baru.Oktober 2008 . 4. Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsepsi yang telah ada. Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. Kemudian. mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan. IMPlIKASI DAlAM STrATeGI PeNGAjArAN SAINS Inti dari implikasi hakikat perubahan konseptual terhadap strategi pengajaran sains adalah membantu siswa memahami konsep sains. 4. Oleh karena itu. istilah perubahan konseptual penulis definisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya [konsepsi dan keyakinan] bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya.. dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. terdapat tiga proses kunci yang dilakukan individu dalam membangun pengetahuan yaitu. 1997). faktor-faktor apa yang mendasarinya dan bagaimana kaitannya dengan proses belajar di kelas. intelligible. 6. 1997). 1994). berdasarkan gender. (1982): ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada. Guru pun memiliki alternative conception sehingga terjadi salah tafsir dalam memahami konsep sains. Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing). Wadsworth. (1982) pada intinya. siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu. Pendekatan perubahan konseptual melalui strategi konflik kognitif. 3. Vygotsky menekankan faktor bahasa dan interaksi kelompok mempengaruhi proses membangun pengetahuan individu. terutama secara empiris. Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligible). Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone (1994) sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al. akan tetapi pada dasarnya terdapat dua kondisi umum dari perubahan konsep yaitu mengganti [bersifat radikal/ revolusioner] ataupun menambah [bisa juga mengurangi] dengan konsepsi lain yang dianggap tepat konteksnya [evolusioner]. yaitu: 1. Melalui asimilasi.

Hewson.) Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas. Aplikasi dan Integrasi Memahami prinsip dan teori ilmiah. Research on Alternative Conception in Science. (1994). (1985).. monash.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. Faculty of Science Education.edu. In B. Tippins. Anderson. 1987) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual. In Dorothy L. and Novak Joseph D. diskusi. “JURNAL. The Importance of Specific Content in the Enhancement of Metacognition. Gunstone.edu. Posner. Faculty of Science Education.. 1987) Antisipasi Persiapan Siswa mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap proses pembelajaran.. Pada tahap penerapan dan integrasi. Pengenalan Konsep IPA Berupaya mencapai pemahaman awal tentang konsep ilmiah. Strike. S. Barry J.. Kenneth. Roger. Richard F. Metacognition and Conceptual Change. Richard F. The Content of Science: A Constructivist Approach to its Teaching and Learning. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick¬_Gunstone@ Education. memikirkan fenomena alam dan penjelasannya dengan menggunakan bahasa sendiri. von Glasersfeld. Accomodation of a Scientific Conception: Toward a Theory of Conceptual Change. Menyediakan advance organizers. Tobin. S. Richard White (Ed). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .. Wandersee. Palinscar. Secara eksplisit menjelaskan keterkaitan hubungan antar konsep dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pada tahap persiapan. Monash University. tetapi juga aktif dalam melatih keterampilan inkuiri seperti mengemukakan penjelasan. monash. (1984). Constructivist Learning and the Teaching of Science.. siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam. A. Wadsworh. Ernst (1992). 1987).pendidikan sains. G. Ian J.. Pada tahap penyajian. Deborah J. tidak hanya aktif dalam hal mempelajari fakta. No. Osborne.. 88. (2002b). deskripsi.Oktober 2008 ... mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. Peter W. Peter. The National Teacher Association. (1987).monash. Tabel 1: Planning Guide for Teaching fir Conceptual Change. and E.. mengenalkan konsepsi melalui struktur tugas dan aktivitas yang bermakna. and Mitchell. In Marcia K. and Coordination of Secondary School Science: Relevan Research Volume 2. (1982). prediksi dan mengontrol obyek dan peristiwa alamiah. penalaran kreatif. Monash University. Gabel (Ed. and Gallard. Richard F. Di kelas. (1994). (2002a).au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. Faculty of Science Education. siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami. dan memahami antar hubungan antara konsep ilmiah dengan konsepsi yang dimilikinya. James H. 211-227. Joel J. Gabel (Ed. Alejandro Jose. In Dorothy L. Dalam menerapkan strategi perubahan konseptual. Piaget’s Cognitive and Affective Development. Namun. Carr (Ed. William A.. D. New York: MacMillan. Gunstone.edu. Auckland: Heinemann. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick_Gunstone@Education. 2. pada dasarnya. mengajukan pertanyaan dan merangsang penjelasan anak. (1997). mencoba menangani kesulitan belajar. Ogle.au] to Tatang Suratno [suratno169@hotmail. F. menampakkan kesadaran dan motivasi untuk belajar... Monash University. Dalam suatu learning community yang ideal. Learning in Science: The Implication of Children’s Science. Kenneth A. In Peter Fensham. Science Education Vol. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick-_Gunstone@Education. (1994). memfasilitasi observasi. Richard Gunstone. and Gertzog. guru sebaiknya memandang kelas sebagai suatu learning community (Anderson. Menekankan prinsip dan teori kunci. sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson. Pearsall Scope. Research on Instructional Strategies for Teaching Science. (Diadopsi dari Anderson. Constructivism and Learning Research in Science Education. London: The Falmer Press. menuliskan peristiwa dan objek sehari-hari. dari berbagai bukti dari praktikum dan dari hasil komunikasi dengan sesama siswa maupun guru. and Freyberg..au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. Sequence..com]. siswa belajar dari berbagai sumber termasuk buku teks maupun guru.. Jones. Gunstone. John Wiley and Sons. tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi (Tabel 1). Questions and Answers about Radical Constructivism. Proses Siswa Berpikir Strategi Pengajaran DAfTAR PUSTAKA Gunstone.. George J. Strategic Teaching in Science. membandingkan miskonsepsi dan konsepsi ilmiah. guru menjelaskan konsep-konsep dasar. Charles W. Alexandria VA: Oak Brook. Richard F. New York: MacMillan. dan mencoba menginternalisasi konsep inti yang tidak terlalu sulit.com].com]. Mintzes.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful