Pengantar

Nomor: 10 - Oktober 2008

Sejumlah tulisan yang ditampilkan pada Jurnal Pendidikan Dasar edisi Oktober 2008 ini, berupa hasil penelitian lapangan maupun kepustakaan yang difokuskan kepada konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tulian dan hasil pikiran yang kesemuanya menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dasar, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dalam pelaksanaan teaching learning, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. Lely Halimah, menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 Laboratorium UPI Kampus Cibiru dalam kesimpulannya antara lain menyebutkan bahwa perkembangan kosa kata mempunyai epranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa sekolah dasar. Nina Sundari, menampilkan tulisan hasil penelitian berjudul Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tini Rustini, menampilkan hasil penelitian berjudul Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berfikir Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tatat Hartati, hasil penelitiannya berjudul Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi, menyimpulkan bahwa kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang dengan penelitian-penelitian yang berkualitas secara bersama-sama. Rustono, dkk, menuliskan hasil penelitian berjudul Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar. Dadan Djuanda, menuliskan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, mendeskripsikan bagaimana pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Nurdina Hanafiah menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pengembangan Decision Making Model dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, menyimpulkan bahwa model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternative pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Maulana, menuliskan hasil penelitian berjudul Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa PGSD, menyimpulkan bahwa proses ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena decision making process model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan berfikir kritis siswa. Beberapa tulisan yang tampil untuk memperkaya jurnal edisi kali ini adalah; Dindin Abdul Muiz Lidinillah, Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar, Supriadi, Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika, dan Yahya Sudarya, Project Based Learning dalam pembelajaran Evaluasi Belajar mahasiswa PGSD. Oktober 2008 REDAKSI

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Jurnal Pendidikan Dasar
Daftar Isi

Nomor: 10 - Oktober 2008
Halaman (2) (3 - 9)

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Lely Halimah Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Nina Sundari Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar Rustono W.S. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno

(10 - 13)

(14 - 17)

(18 - 20) (21 - 27)

(28 - 32)

(33 - 38)

(39 - 45)

(46 - 51) (52 - 57) (58 - 61)

(62 - 64)

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
Lely Halimah Abstract Based on the preliminary study, it is shown that the teaching and learning process of Bahasa Indonesia in the 4th grade of SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru is not yet conducive to develop the Indonesian language skill of the students. One of the sources of the problem is that the teaching and learning process of bahasa Indonesia applied by the teacher refers to only one source for one semester, which is the text book. Consequently, the students seems unenthusiastic in attending to the teaching and learning process, and don’t have a chance to actively participate and to communicatively use Indonesian language, so that the language skills of the students are not well developed. In such condition, some efforts are required to improve the quality of the teaching and learning process, in order to increase the quality of the result. To overcome this condition, a classroom activity/treatment research is conducted --a kind of reflexive research performed by giving certain treatments to improve or and to increase the class activities in a more professional way. In general, the objectives of this research is to increase/enhance the quality of the process and the result of teaching Bahasa Indonesia by way of developing creativity of the teachers’ in exploiting the students’ surroundings as learning sources. To achieve the objectives of the research, the procedures are generally referred to the classroom research activity, as in Lewin’s Model (Elliot, 1991), and in particular develop the procedure of PTK adaptation of Hopkins, 1993), which includes planning, performing, observation, and reflection. In accordance with the procedures, this research is developed into three cycles, of which each cycle develops different themes. For instance, cycle 1 develops the theme of Newspaper, which is then developed/extended into three actions. Cycle 2 develops the theme of Houseplants, which is then developed/extended into three actions. Cycle 3 develops the theme of School Library, which is then developed/ extended into two actions. The focus of each action of utilizing the environment as learning source is giving the students a chance to actively participate by using the language in a communicative way. The conclusions of the research are as follows: (1) the utilization of the environment as an effective learning source, by giving the students a chance to interact/get involved with various learning sources, the people, the materials, the equipments, the techniques, as well as the environment itself, (2) the conducive activities of the students, by giving the students the assignments that encourage them to use the language in a communicative way, such as interviewing, descriptive writing on their object of observation, and (3) the impact of utilizing the environment as learning source, which is shown by the gradual improvement of the students’ language skills, which include listening, speaking, reading, and writing. As shown by the statistic, out of 16 respondents of this research, in cycle 1 action 1, there are only 6 students (37,5%) with good listening skill. But in cycle 3 action 2, there are 12 students (75%). And in cycle 1 action 1, there are only 4 students (25%) with good speaking skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Similarly, in cycle 1 action 1, there are only 9 students (56,25%) with good reading skill. But in cycle 3 action 2, there are 11 students (68,75%). And finally, in cycle 1 action 1, there are only 5 students (31,25%) with good writing skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Suggestion for future researchers is that the utilization of the environment as an effective learning source for the development of the students’ language skills requires good and constructive planning in preparing and providing the materials, media, methods, and other sources existing in the surroundings, as well as the evaluation. Keywords: learning source and language competence PENDAHULUAN endidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan

P

bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

dan dari hasil diagnosis secara kolaboratif antara peneliti. maka ditetapkan alternatif tindakan yang dapat memecahkan masalah yang bersifat praktis dan inovatif. Bagaimana cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. melalui pengembangan kreativitas guru dalam pemberdayaan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar kehidupan peserta didik. maka yang menjadi fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. yaitu melalui penerapan metode penelitian tindakan kelas dalam pemberdayaan lingkungan di sekitar peserta didik sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Dari hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. Dari berbagai hasil temuan masih banyak diungkapkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia serta hasilnya belum sebagaimana yang diharapkan. Bagaimana meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia? Untuk memecahkan masalah tersebut. dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. 2. 2001: xxxi) mengemukakan hasil observasinya di beberapa negara bahwa anak-anak Indonesia “rabun membaca dan lumpuh menulis. maka melalui penelitian ini. maka peneliti bersama kepala sekolah dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru merasa perlu adanya upaya-upaya perbaikan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya agar kompetensi berbahasa peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh gambaran pada umumnya pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru tersebut belum kondusif terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Mengidentifikasi cara-cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik. Bagaimana dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia terhadap kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? Berdasarkan rumusan permasalahan di atas. 1992) menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang menjadi sampel penelitian. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas. terutama bagi peserta didik di antaranya (1) menumbuhkan antusias. Tepatnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia terendah di kawasan ASEAN. (2) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dengan berbagai nara sumber. maka peneliti menjabarkan ke dalam sub-sub masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian berikut ini. Rofi’uddin dan Zuhdi (1999: 37) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan lulusan sekolah dasar dalam hal baca-tulis terus dikumandangkan. 1. peserta didik belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan hanya mengandalkan dari satu sumber yaitu buku paket. Setelah diadakan refleksi secara kolaboratif dengan guru-guru tersebut ditemukan berbagai faktor penyebabnya. Lebih parah lagi Ismail (Jalal dan Supriadi. (3) memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber belajar dan mengkomunikasikan baik lisan maupun tulis. peneliti dan guru berkolaborasi secara inkuiri reflektif untuk memperbaiki proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik. 1. Mengidentifikasi dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia terhadap peningkatan kompetensi berbahasa peserta didik. yang salah satunya adalah guru terlalu terikat dengan buku paket bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia Dengan kata lain. Berdasarkan temuan empirik terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. minat dan motivasi belajar yang tinggi terhadap peserta didik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama pembelajaran bahasa Indonesia? 3. (4) memberikan pengalaman yang bermakna dalam melakukan berbagai aktivitas berkomunikasi baik lisan “JURNAL. Bagaimana aktivitas peserta didik yang kondusif. Seiring dengan adanya berbagai temuan di atas. Penyebabnya pada umumnya mengungkapkan bahwa kegagalan itu bersumber pada guru dan metodologi pembelajaran serta sumber daya pendidikan yang kurang menunjang. maka peneliti melakukan studi pendahuluan yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru SD laboratorium UPI Kampus Cibiru.Oktober 2008 . kepala sekolah. sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? 2. 3. Mengidentifikasi aktivitas belajar berbahasa Indonesia yang kondusif dalam menumbuhkembangkan kompetensi berbahasa peserta didik selama proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan penelitian ini. TUJUAN DAN MANfAAT Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia di SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. bahkan hasil penelitian kemampuan membaca tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA.yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan.

misalnya udara. (1984: 1) bahwa “Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their world. baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran. yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar dan sifatnya insidental. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli. 1994) mengemukakan bahwa penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran pada umumnya mempunyai berbagai fungsi. Menurut sifat dasarnya. Dengan demikian. reading ability and culture). lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai ekonomis. cahaya. Salah satu upaya yang dapat membantu peserta didik memiliki strategi komunikatif tersebut. serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Language is central to the individual’s process of self-discovery and self-definition. di samping memperluas dan meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif. yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi. Untuk itu. yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih jauh. Although others play significant role in this process. sumber belajar dapat dibagi dua. serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. dan sebagainya. Sebagaimana dikemukakan Mangieri. (5) memungkinkan belajar secara seketika. sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. It is the means by which people explore and structure their worlds”. education is essentially something people must do for themselves. Sumaatmadja (1996: 30) memaknai lingkungan sebagai ”segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat pertumbuhan manusia yang bersangkutan. dkk.maupun tulisan. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. (4) lebih memantapkan pembelajaran. yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill) khususnya kemampuan akademik. TINJAUAN PUSTAKA Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia. dan (b) sumber belajar non insani. Menurut Soedarsono (1996) penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Depdikbud (Soschan. Djahiri (1992) mengemukakan pula fungsi sumber belajar.. (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional. Semakin kita gali semakin banyak yang didapatkan oleh peserta didik. yaitu (a) learning resources by design. “JURNAL. terutama dengan adanya media massa. karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pengajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit. dan (b) learning resources by utilitarian.Oktober 2008 . dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi. pepohonan. juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity) pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading. Sedangkan dilihat dari sifat pengembangannya. pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Sejalan dengan pendapat di atas. Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar kita. Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut ini. di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. air sungai. pembentukan sikap (concept formation = self concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill). dan (5) meningkatkan kompetensi dan kreativitas berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. Dengan kata lain. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. matahari. yakni (a) sumber belajar insani. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimuli) terhadap individu. Esensi dari penelitian tindakan kelas ini merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat penting. sumber belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya. Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan. (6) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas. rerumputan.” Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Solchan (1994) dilihat dari ragamnya.

3) Siklus ketiga tema “Perpustakaan Sekolah” a) Tindakan kesatu. Temuan-temuan ini menjadi bahan diskusi antara guru dan peneliti untuk merancang perbaikan pada tindakan Gambar 1: Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari Hopkins. (2) mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumer belajar. b) Tindakan kedua. (3) menyusun instrumen untuk pelaksanaan observasi dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. 1981 dalam Hopkins. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan salah satu jenis tanaman hias. Melalui tindakan ini. Refleksi Refleksi adalah tahap di mana antara guru dan peneliti duduk bersama untuk merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan oleh guru. guru mengajak peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan membawa surat kabar sebagai sumber belajar peserta didik dalam belajar keterampilan berbahasa. b. untuk membaca buku cerita yang diminatinya dan kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut. waseso. dan (4) membuat kesepakatan bersama guru dalam pemanfaatan waktu pelaksanaan pembelajaran. Jadi secara keseluruhan terdiri dari tiga siklus dan delapan tindakan. dan refleksi (reflect) (Kemmis & Tagart. serta konfirmasi berkaitan dengan tugas guru dan peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran. dan analisis kondisi lingkungan sekolah. pelaksanaan (act). b) Tindakan kedua. Pelaksanaan tindakan ini dibagi menjadi tiga siklus. dan siklus dua terdiri dari dua tindakan. yang disesuaikan dengan tuntutan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia. 1993. analisis kurikulum bahasa Indonesia. sumber belajar berkomunikasi adalah macam-macam tanaman hias yang terdapat di halaman sekolah.a. untuk mengamati berbagai jenis tanaman hias dan dan melakukan wawancara dengan penjual tanaman hias.1993) “JURNAL. d. Dari hasil perenungan ini akan diperoleh berbagai temuan menyangkut tindakantindakan guru yang sudah efektif dan yang belum efektif serta dampaknya terhadap proses belajar peserta didik. Melalui tindakan ini peserta didik belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan bukubuku yang ada di perpustakaan.Oktober 2008 . peserta didik mengamati surat kabar untuk mendeskripsikan tentang surat kabar. dan prosedur pelaksanaan penelitian. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : (1) analisis kebutuhan perkembangan peserta didik. Melalui tindakan kesatu ini. 1992. c. peserta didik mengamati berbagai surat kabar yang dibawa oleh penjual surat kabar dan melakukan wawancara langsung dengan penjual surat kabar. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan informasi yang terdapat pada surat kabar. McNift. 2) Siklus kedua tema “Tanaman Hias” a) Tindakan kesatu. yaitu tematik. guru mengajak peserta didik mengunjungi tempat penjualan tanaman hias. Melalui tindakan ketiga ini. dan peserta didik belajar berkomunikai melalui berbagai informasi yang terdapat pada surat kabar. b) Tindakan kedua. Setiap siklus jumlah tindakannya berbeda. Pelaksanaan Pada tahap ini sesuai dengan prosedur pengembangan program tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus. guru mengundang penjual surat kabar ke sekolah. setiap siklusnya ditetapkan satu tema. pengewasan (observer). guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan berbagai tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. seperti siklus satu terdiri dari tiga tindakan. c) Tindakan ketiga. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan (plan). Observasi Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pengamatan terhadap seluruh aktivitas pembelajaran. sebagai sumber belajar peserta didik. Observer mencatat kejadian-kejadian penting untuk kemudian dihimpun sebagai catatan lapangan selama proses berlangsungnya pembelajaran. Untuk lebih jelasnya gambaran setiap siklusnya adalah sebagai berikut ini. 1994). dan komunikatif. c) Tindakan ketiga. 1) Siklus kesatu tema “Surat Kabar” a) Tindakan kesatu. memadukan empat keterampilan berbahasa. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . guru mengajak peserta didik ke perpustakaan sekolah untuk mencatat judul-judul buku dan pengarangnya serta melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan. siklus dua tiga tindakan. Observasi ini dilakukan terutama untuk melihat proses dan dampak dari tindakan guru terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik.

mewawancarai petugas perpustakaan dan sebagainya yang semuanya itu ternyata efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. Untuk siklus pertama. dan tes (pretest dan posttest) 3. Kemampuan menulis pada siklus kesatu juga mengalami peningkatan. seperti pada tindakan kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan menulisnya baik 31. Dilihat dari kemampuan berbahasa Indonesia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut ini.selanjunya. Analisis Data Pada dasarnya analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara berkelanjutan dari hasil stusi pendahuluan. meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana dianjurkan oleh Nasution (1988). menceritakan kembali isi teks yang telah dibacanya. pedoman observasi dan catatan lapangan. dan akhir pelaksanaan program tindakan. maka analisis data dilakukan pada setiap tahap pengumpulan data. di antaranya adalah pedoman wawancara. seperti mereka membaca surat kabar secara langsung. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara “JURNAL. Kemampuan berbicara pada siklus pertama juga mengalami peningkatan. mewawancarai tukang koran. Data yang dihimpun itu. yaitu (1) reduksi data. di antaranya peserta didik mengamati suatu objek kajian dan melaporkan hasil pengamatannya. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan pada siklus kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan membacanya baik 56. yang meliputi menyimak. pelaksanaan. berbicara. menulis deskripsi sesuai hasil pengamatannya.Oktober 2008 . alat perekam elektronik. dan siklus ketiga tindakan kedua jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik menjadi 62. seperti pada tindakan ke satu jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik 25%. membaca berbagai judul buku dan pengarang. membaca.5%.25%. dapat digambarkan alurnya sebagaimana dikemukakan pada Gambar 1. melakukan wawancara langsung dengan nara sumber. membaca berbagai buku bacaan yang ada di perpustakaan. 2.75%. tindakan ke 1 jumlah peserta didik yang kemampuan menyimaknya baik adalah 37. HASIL DAN PEMBAHASAN Dilihat dari proses belajar peserta didik. 5%. Untuk mengetahui makna dari penelitian ini. dan (3) membuat kesimpulan dan verivikasi. Dari keseluruhan tahapan di atas. mengamati langsung tanaman hias dan mewawancari langsung penjualnya. dan pada siklus ketiga yang kemampuan menyimaknya baik menjadi 75%. Instrumen Penelitian Sesuai dengan tahapan penelitian. analisis dokumen. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia telah terbukti kondusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. (2) display data. Berbagai aktivitas penggunaan bahasa secara komunikatif yang dilakukan peserta didik.5%. membuat pertanyaan untuk melakukan wawancara dengan nara sumber. sebagaimana dikemukakan di atas. dan pada siklus ketiga tindakan kedua peserta didik yang kemampuan membacanya baik menjadi 68. ternyata sangat ditunjang oleh kondisi meluasnya cakrawala sosial peserta didik. Semuanya itu dari jumlah peserta didik 16 orang yang menjadi responden penelitian ini. dan pada siklus ketiga tindakan kedua menjadi 62. maka digunakan instrumen penelitian. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dan menulis untuk setiap siklusnya mengalami peningkatan.25%. Gambar 2: Kemampuan Menyimak Gambar 3: Kemampuan Berbicara Gambar 4: Kemampuan Membaca Gambar 5: Kemampuan Menulis Peningkatan kemampuan berbahasa sebagaimana dikemukakan di atas.

langsung oleh peserta didik sangat menunjang terhadap perkembangan pembendaharaan kata mereka. Perkembangan kosakata mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin kaya kosakata yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. bahkan kualitas keterampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya (Suhendar dan Supinah, 1992: 103). Untuk itu, agar pembelajaran bahasa berkualitas dalam mengembangkan kompetensi komunikatif peserta didik, Logan, dkk. (1972: 18) memberikan arahan bagaimana guru harus menciptakan pembelajaran bahasa, di antaranya guru harus memberikan kurikulum bahasa yang berorientasi pada terciptanya kesadaran yang penuh akan kebutuhan peserta didik untuk penemuan, penjelajahan, berimajinasi, menciptakan dan berkomunikasi dalam lingkungan komunikasi yang bermakna. Dalam seting belajar, guru akan mengembangkan kurikulum yang mengutamakan situasi yang alamiah sebagaimana anak secara alamiah belajar dan menggunakan bahasa. Dengan kata lain, guru akan memberikan seting pembelajaran di mana peserta didik dilibatkan dalam menyimak, berbicara, untuk mengkomunikasikan ide-idenya dan perasaannya sebagai dasar pengembangan kemampuan berbahasa tulis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas berbahasa, dan juga dapat meningkatkan kompetensi komunikatif peserta didik. Adapun cara yang efektif dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan cara menghadapkan peserta didik secara langsung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 2. Aktivitas peserta didik yang kondusif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberikan dampak yang positif, terutama terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan secara bertahap baik kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Saran-saran 1. Bagi Guru, hendaknya lebih kreatif lagi dalam memilih sumber-sumber belajar yang berasal dari lingkungan peserta didik. Selain kreatif dalam memilih sumber belajar tersebut, juga kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara komunikatif baik lisan maupun tulis. 2. Bagi Peneliti Lebih Lanjut, kondisi yang harus dipenuhi (suport system) dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa di antaranya perencanaan yang matang dan konstruktif baik dalam mengkonstruk bahan belajar, media, metode, dan sumber-sumber belajar yang berada di lingkungan sekitar, serta penilaiannya. DAfTAR PUSTAKA Azies, Furqonul dan Alwasilah, A. Chaedar (1996) Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Elliott, John. (1991) Action Research for Education Change. Philadelphia: Open University Press. Fisher, Carol J. & Terry C. Ann (1982) Children’s Language and the Language Arts. New York: McGraw-Hill Book Company. Kennnedy, Barbara L. (1994). The Role of Topic and the Reading/Writing Connection. (Online):.http://www. writing.berkeley.Edu/TESL-EJ/ejo1/a.3.html. (1 April 1994). Logan, Lillian M., Logan, Virgil G. and Paterson, Leona. (1972). Creative Communication:Teaching the Language Arts. Toronto: Mcgraw-Hill Ryeerson Limited. Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. (1984). Teaching Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book Company. Muchlisoh, dkk. (1992). Materi Pokkok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud; Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Muktiono, Joko D. (2003). Aku Cinta Buku: Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. (1988). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Y o g y a k a r t a : BPFE. Nurchasanah, (1994). “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulis Terpadu”. Vokal Telaah Bahasa dan Sastra. (No. 1 Th V), 31-37. Pappas, Christine c., Kiefer, Barbara Z., Levstik, Linda S. (1995). An Integratif Language Perspective: in the Ellementary School. USA: Longman. Richards, Jack C. (2001) Curriculum Development in Language Teaching. United States of America: University Press Combridge Rofi’uddin, Ahmad. (1994). Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1994. Malang: Vokal No. 1 tahun V. Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud. Suparno, Suhaenah A. (1999). Pemanfaatan dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny., Dkk. (1986) Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar. Jakarta: Gramedia Santosa, Puji.,dkk., (2003) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL Writing Classroom. (Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar/ aloud.html (19 Maret 1997). Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online). Tersedia: http://@www. goodle/search. (28 Maret 2002). Swarbrick, Ann. (1994). Teaching Modern Languages. New York: Routledge. Tarigan, Djago. (1995). Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung: Theme 76. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Universitas terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Hanry Guntur. (1979). Membaca: Sebagai Suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Aksara. Tarigan, Henry Guntur. (1989). Metodologi Pengejaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Djago dan Tarigan, H. G. (1988). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Weaver, C. (1996). What about Whole Language? (Online). Tersedia: http://www.ashay. Com/mpe. (Juli 1996). Williams, Marion & Burden, Robert L. (1997) Psychology for Language Teachers: a Social Constructivist Approach. United Kingdom: University Prees Cambridge.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Nina Sundari Abstrak Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar”, merupakan Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Cibiru X kelas IV Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas data kreativitas siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media peta. Manfaat proses penelitian ini, dapat meningkatkan kinerja guru dalam melakukan perubahan untuk perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Proses penelitian dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti sebagai mitra penelitian. Bentuk penelitian ini adalah model siklus yang dilakukan sebanyak lima kali pengamatan dan tindakan, yang terdiri dari beberapa fase pengamatan kegiatan pembelajaran. Prosedur pelaksanaannya mengacu kepada model yang dikembangkan oleh Kemmis, Mc. Taggart, dan Hopkin’s, setiap siklusnya terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab,menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupan. Proses penelitian dengan menggunakan media peta, berhasil dilakukan guru yang ditunjukkan dengan meningkatnya kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Beberapa perubahan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditunjukkan oleh guru dalam pengembangan strategi, meliputi pengorganisasian materi, pemilihan metode dan media, serta evaluasi di dalam proses maupun terhadap hasilnya. Keberhasilan pembelajaran, secara nyata dapat dilihat dari pola interaksi guru dan siswa yang menunjukkan meningkatnya minat, partisifatif aktif siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pembelajaran dengan menggunakan media peta, guru telah meniciptakan lingkungan belajar dan strategi yang membangkitkan keterlibatan siswa secara fisik, mental dan emosional, 2) pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar dengan menggunakan media peta, peran serta siswa menjadi lebih meningkat, 3) penggunaan media peta secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Proses dan hasil studi ini dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak yang terkait, khususnya bagi guru sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi modal pengembangan untuk meningkatkan mutu unjuk-kerja profesional guru di lapangan. Bagi sekolah, proses dan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengelolaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial Kata Kunci: media peta, pembelajaran pengetahuan sosial PENDAHULUAN alam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional berfungsi:

D

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Rumusan fungsi dan tujuan nasional, jika dikaitkan dengan tujuan Pendidikan IPS mempunyai arah yang sama, yaitu pembentukan warga negara yang mampu hidup secara demokratis (citizenship education). Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dengan masyarakat lainnya. untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu melahirkan manusia yang handal, baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya. Demikian pula dengan Kurikulum

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

grafik. baik dalam penggunaannya dan pengadaannya. Seperti : slide. memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru. mengemukakan media pengajaran secara keseluruhan adalah segala benda. Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 akan sulit disaksikan. 2002 : 32). potret. epidiaskup. memperbaiki berpiki kreatif anak-anak. memberi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa baik dalam posisi geografis. media merupakan alat ari segala benda yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu. seolah-olah menyaksikan sendiri. menjadikan anak-anak senang. sebaiknya alat-alat tersebut dapat digunakan guru dan siswa. khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik. Peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial berfungsi untuk penyampaian materi agar lebih mudah diterima siswa. Tetapi dengan adanya foto-foto peristiwa berlangsung dapat merasa lebih dekat. gambar. maupun gambaran dari objek tertentu. mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya. simbol-simbol. kalau memungkinkan guru memiliki kemampuan untuk merancang dan membuat media sendiri. evaluasi dan penggunaan media. Memilih dan menggunakan media. Proses pembelajaran yang didukung oleh media secara lengkap dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. Permana : 1999 : 21). 3. Karena wilayah tersebut terlalu luas untuk diamati secara langsung. sumber pembelajaran. memilih media harus memahami karakteristik ari media itu sendiri. peta. garis. Untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Pengertian Media Peta Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium. diorama. grafik. termasuk media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. siswa diarahkan. diagram. film. Peta merupakan hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian. Sedangkan manfaat media bagi siswa memungkinkan dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai. strategi. harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri. (Afrid. perlu memperhatikan aspek tujuan. Menurut Suharyono peta adalah gambaran permukaan bumi alam satu bidang datar. 2. tape recorder. foto. 2. Contohnya pengamatan suatu wilayah sukar memberikan gambaran yang menyeluruh. memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Media pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam menunjang pembelajaran. khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi. Salah satu indikator keberhasilan mutu proses dalam hasil belajar siswa. Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media tetapi dituntut untul terampil memilih. yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. Pengguanaan media bukan semata-mata melaksanakan salah satu komponen pengajaran. maket. proyektor. sangat terkait dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang tersedia untuk kebutuhan siswanya. 2. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . metode dan evaluasi. mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar. dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan PBM IPS. Selanjutnya. (Sumantri. memilih media harus berdasarkan tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan.Oktober 2008 . nara sumber. bergembira dan riang dalam belajar. dibimbing. Secara harfiah media diartikan sebagai pelantara atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. 3. globe. keadaan alam serta persebaran penduduk di daerah/ lokasi tertentu. papan planel. Sumaatmadja (1980 : 117). metode. 5. 4. 4. Dengan lebih mudah melakukan pengamatan. media pembelajaran terdiri dari : gambar-gambar. kerjasama. LANDASAN TEORITIS 1. materi. dsb. Dilihat darimacamnya. siswa dilatih menjadi terampil dan penuh pengalaman dalam menggunakan media. vide tape recorder. Manfaat Media Peta Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru. objek yang dituangkan dalam bentuk gambar. visual hingga benda asli seperti laboratorium. Menurut Samaatmadja (1984 : 116). Dengan menggunakan media peta dapat memperoleh gambaran keseluruhan tentang wilayah yang diteliti. selain guru dapat mengembangkan materi. Dilihat dari keunggulan menggunakan peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial khususnya pada topik lingkungan sekitar di sekolah dasar. tempat dan situasinya yang tepat. sifat keingintahuan. radio dll. poster. Demikian pula dengan media peta. “JURNAL.Berbasis Kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004 bahwa dalam ”Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Mengenai tujuan belajar dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif”. menggunakan serta mengusahakan memilih media yang tepat. tetapi dengan media benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan siswa dalam belajar. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan IPS. Demikian pula dilihat dari keefektifan bagi guru dengan menggunakan media peta dapat membantu dalam menyampaikan pesan materi secara lebih mudah kepada siswa. Sumantri & Permana (1999 : 181) mengemukakan prinsif-prinsif dalam memilih media yaitu: 1. sehingga dapat membantu kelancaran aktivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan materi pembelajaran.

perencanaan. dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (ciclycal) yang terdiri dari empat tahap. . dan refleksi (Kemmis & Taggart. 1993. melakukan tindakan. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. Dalam pembahasan materi. Dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan penelitian bersandar pada pengamatan setting kelas secara obyektif tanpa rekayasa peneliti. dapat memunculkan variasi metode. sangan efektif diterapkan di sekolah dasar. (b) their understanding of these practice.. Temuan ini sesuai kajian kepustakaan bahwa pemilihan suatu strategi dan metode mengajar dalam pembelajaran Pengenalan Lingkungan Sekitar dengan menggunakan media peta. Melalui penelitian tindakan kelas adalah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas. karena siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. KESIMPULAN KHUSUS Kesimpulan penting proses dan hasil studi ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Melalui pengorganisasian dan pengkajian yang bervariasi mengenai pengmatan lingkungan sekitar. keempat pase dari siklus dapat digambarkan dengan sebuah spiral Penelitian Tindakan Kelas. observasi. HASIL PENELITIAN Beradasarkan hasil penelitian diatas. tindakan. menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya pelaksanaan tindakan kelas adalah untuk perbaikan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dilihat secara procedural berserta langkah-langkah proses Penelitian Tindakan Kelas. Pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi guru dalam mengajar di kelas. a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational situation) in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practice. Ebbut melihat proses dan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. yaitu: merencanakan.Oktober 2008 . kontekstual. 1993 : 43). merefleksi. guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang memadai. tetapi guru bersifat pragmatis-praktis yaitu mengangkat bahan IPS berdasarkan pada kehidupan riil siswa. Tipe pembelajaran yang ditampilkan guru berupa ceramah (lecture) dalam suatu kegiatan pembelajaran. tidak lagi menggunakan buku paket sebagai sumber belajar yang utama.. refleksi dan mengacu pada model Elliot’s (Hopkins. yaitu . 1993 : 44). Media peta sebagai alat pembelajaran yang dapat membatu guru dan siswa memudahkan pembelajaran yang abstrak menjadi konrit. guru dapat mendorong siswa sekolah dasar melakukan pengamatan lingkungan fisik dan sosial. and (c) the situation are carried out (Hopkins. dan bergayut dengan realitas lapangan (Hopkins. temuan penelitian menunjukkan bahwa pemnfaatan media peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. perencanaan. seperti tampak pada Gambar 1. seperti ceramah “JURNAL. 48) Kata perbaikan disini terkait dan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. tetapi juga kemampuan dalam analisis dan sintetis. Pola tersebut sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah dasar yang mengacu pada asa DAP (Developmentaly Appropriate Practice). berdampak pada hasil sehingga yang diperoleh siswa hanyalah pada aspek pengetahuan. adaptif. tindakan. mengamati. Penelitian tindakan kelas. khususnya dalam memanfaatkan media peta hingga guru maupun siswa dapat menggunakannya. Niff (1992). situasional. Penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis diantara keempat aspek. Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dan memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. merupakan tradisi kualitatif yang didasarkan pada prinsip natural setting. Pembelajaran lebih bermakna. keterampilan dan sikapnya tidak verbalisme. observasi. Strategi yang dikembangkan guru dengan mengembangkan peta sebagai media. memungkinkann kepada siswa meningkatkan pengetahuan. c.TUJUAN DAN MANfAAT PENELITIAN Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (action research). Rencana penelitian dilakukan dengan langkahlangkah yang dirancang berdasarkan 5 tahap : orientasi. b. 1993).. Bahkan Mc. Gambar 1: alur kegiatan penelitian tindakan kelas berdasarkan spiral (Adaptasi dari Hopkins. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Model penelitian tindakan kelas. 1992).

. tanya jawab.S (1999). Moleong. Metodologi Pengajaran IPS. R. Strategi Belajar Mengajar. kreatif dan inovatif. (1999). Teori-teori Belajar. ( 1993). Lexy. (1994).U. Raka Joni. Buku Sumber Tentang Metode Baru. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Bandung: PT Remaja. M. W. New York: mac Millan Publishing Co. Somantri. Jakarta: Depdiknas. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Marlinang. (2003). Program Serving Children From Brith Trought Age 8. Niff. Barr. Action Resarch. Bandung: Tarsito.A dan Clegg. pengamatan/observasi. Dahar. Citra Umbara Bandung. J.L. Pengembangan Pembelajaran Konsep Letak. Banks. Dirjen Dikti. J. Depdikbud. IBRD Loan No. N. Lueck. Undang-undang Republik Indonesia No. Jakarta. IBRD: Loan 4394IND.. “JURNAL. Tesis. PPGSD. dapat menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat dan gairah belajar sehingga dapat mendorong siswa berpikir kritis. Penerbit Alumni. Suyanto. diskusi kelompok sehingga proses pembelajaran benar-benar menjadi menarik. Philadephia: Open Univercity Press. Sitompul. Toward a Theory of Instruction. IBRD: Loan-Ind. (1993). Tim Pelatih Proyek PGSM. (1967). (1977). Teaching Strategis for the Social Studies. Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi) Mata Pengetahuan Sosial untuk sekolah Dasar dan Madrasah ibtidaiyah. Dirjen Dikti. Strategi Belajar Mengajar. Permana. PPGSM. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang ditunjang oleh penggunaan media peta. Depdikbud. Departemen Pendidikan Nasional. (1984). Dirjen Dikti. PPS dan FPIPS UPI Bandung : Remaja Rosakarya. E. Usman. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Social Studien Elementary Education 9th Ed. dan Parker. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bredkamp. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. menyenangkan dan efektif dalam pencapaian tujuan. Minn. (1996). New York: Norton. Dirjen Dikti. Suatu Tinjauan Pengantar. U-I Press. (1966). Bandung. d. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. PPGSD. (Disadur oleh : Buchari Alma dan Harlasgunawan Ap. Nasution. Bandung. Penerbit: Sinar Baru. Pembelajaran dengan menggunakan media peta. Huberman Michael A.R. Sue. Teacher Guide to Classroom Research. Hakekat Dasar Studi Sosial. (1999). Kurikulum (2004). --------------------. New York: Longham et. Erlangga. (1996). (Terjemahan Tjetjep Rohendi). J. Dep. (2001)..al. Developmentary Appropiate Practice in Early Chilhod. IKIP Yogyakarta. 3979-Ind. Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Minneapolis. Metode Penelitian Kualitatif. Menjadi Guru Profesional. Arah dan Jarak dalam Bidang Studi IPS di SD. Principles and Practice London: Routledge. Kasbolah.Jr. Sumaatmadja. N. IBRD: Loan3496-Ind. (1988). dari Buku Asli: The Nature of Social Studies. Depdikbud. P & K. David. Dirjen Dikti. Penggunaan Peta Oleh Guru dalam Proses Belajar Mengajar Geografi Bidang Studi IPS Sekolah Dasar. Jerome. (1985). Effektive Secondary Education. (1992). Shermis.: Burges Mc. Depdikbud. S. Surya. Hopkins. et Al. PPS IKIP Bandung.Oktober 2008 . Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Studi Geografi. Tesis. National Assocation of Yong Children: Washington DC. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. J (1991). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). (2003). Bandung: Yayasan Bina Bhakti Winaya.bervariasi. Jakarta. Jaromilek. PPTA. Sumantri. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SD dan MI. AA. (1992). J. Muhamad. s dan Barth. Depdiknas. Willis. e. memberi peluang kepada siswa melakukan berbagai keterampilan seperti mengamati dan memprediksi DAfTAR PUSTAKA Afrida (2003). A. (1978). IKIP Bandung Tidak diterbitkan. (1996). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . BP3GSD. (1999). T. Bruner. Analisis Data Kualitatif. (1985).

tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari. Selain itu siswa diharapkan dapat terlatih untuk berprakarsa. keterampilan-keterampilan dalam menghadapi kehidupan nyata. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level diatasnya dan pada gilirannya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. berpikir secara teratur. media serta evaluasi pembelajaran benar-benar bermakna. metode. kritis. Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS dan Penerapan Model Problem Solving PENDAHULUAN endidikan Dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. serta lebih terampil dalam menggali. Dengan begitu semua potensi siswa dapat dikembangkan. Tujuan Pendidikan IPS. Pengembangan potensi siswa melalui pengajaran IPS dapat dioptimalkan. Pembelajaran yang dikembangkan guru dengan menggunakan variasi strategi. perlu mendapatkan perhatian yang serius. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dianalisa dan akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental. Manfaat untuk siswa dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas dan kreatifitas siswa selama mengikuti pelajaran. sehingga dapat menumbuhkan motivasi. Hal P ini sesuai dengan pendapat Raka Joni (1992: 1) bahwa dengan penerapan CBSA. “JURNAL. Dalam proses penelitian berlangsung telah terjadi perubahan meningkatnya kemampuan kerja guru dalam mengelola pembelajaran menjadi lebih effektif. menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. motivasi dan kreativitas hingga berimplikasi pada hasil belajar yang lebih baik Kata Kunci: Pendidikan IPS. pengawasan dan refleksi. dengan kegiatan pokok perencanaan. mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. 2) penerapan model problem solving melalui pembelajaran IPS yang dikembangkan guru. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat partisipatorik dan kolaboratif antara guru dan mitra penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Suwarma (1999:43). mampu meningkatkan proses belajar siswa kelas V melalui aktivitas. siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. yaitu yang melibatkan siswa aktif baik fisik. Manfaat penelitian lainnya adalah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan perubahan pembelajaran Pendidikan IPS di kelasnya. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar hendaknya dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada proses pencapaian tujuan tersebut.Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Abstrak Penerapan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa dalam Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar ini dilakukan di SD Negeri Marga Endah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dengan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah agar guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar. Pada rambu-rambu GBPP IPS SD dikemukakan oleh Depdikbud (1994-1995) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran.Oktober 2008 . menjelajah. guru dituntut membawa siswa kepada kenyataan hidup sebenarnya yang dapat dihayati. Potensi Berpikir & Pemecahan Masalah. Pengertian Problem Solving. Proses penelitian berlangsung empat siklus. pelaksanaan. guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif. mental (pemikiran dan perasaan) sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak. dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPS. Sebagaimana tersirat pada fungsi dan tujuan pendidikan IPS di SD. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah 1) penerapan model problem solving dengan strategi yang dikembangkan guru secara bervariasi melalui pembelajaran IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh. ditanggapi.

Penelitian secara umum mengungkapkan bahwa kelemahan pendidikan IPS selama ini terletak pada proses belajar. bangsa dan negara juga dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sekitar anak. Model Problem Solving (pemecahan masalah) adalah salah satu model mengajar yang mengandung aktivitas belajar siswa cukup tinggi dan termasuk model yang disarankan dalam GBPP 1994. Padahal sifat dari pembelajaran IPS seyogyanya lebih menitikberatkan kepada selain pemberian pengetahuan. Ary S. Berdasarkan uraian diatas guru pendidikan IPS belum secara optimal mengembangkan kemampuan seluruh potensi siswa termasuk potensi berpikir siswa dan guru kurang keberanian untuk berusaha mengembangkan potensi siswa berdasarkan prinsip-prinsip CBSA kadar tinggi khususnya mengembangkan kemampuan berpikir tinggi seperti yang dijelaskan diatas. 1997). baik sebagai pengembangan dan implementasi kurikulum. proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghapal “menyentuh pengembangan tingkat” rendah. masa kini dan masa yang akan datang. sehingga benarbenar pembelajaran menjadi bermakna membuat anak memiliki minat yang besar untuk mempelajari pendidikan IPS. diharapkan siswa akan sukses dalam hidupnya. sosial dan motorik yang disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungan anak. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan merefleksikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas sebagai hasil pengamatan yang diperoleh di sekitarnya. Tujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma: 1991). Dengan begitu pengembangan potensi berpikir secara optimal belum dikembangkan “Hal ini terjadi karena masih banyak kegiatan pembelajaran tersebut didominasi oleh guru. APKG. baik masa lalu. keingintahuan seorang siswa akan tergerak apabila dihadapkan dengan permasalahanpermasalahan yang timbul dilingkungannya yang dialami didalam kehidupan sehari-hari.Oktober 2008 . Mungkin dengan cara demikian keluhan para siswa bahwa belajar pendidikan sosial hanya akan ditandai dengan kebosanan dalam belajar akan dapat dihapuskan. siswa lebih banyak pasif. sikap dan keterampilan-keterampilan tentang kehidupan yang dibutuhkan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan tetapi juga masalah-masalah diberbagai gatra atau situasi dan kondisi ekonomi politik sosial. Kualitas partisipasi siswa dalam belajar masih rendah mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar. Siswa dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan guru” (Sudjana. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS secara efektif. kreatif dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya dan kemudian berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya siswa diajak untuk mencarikan solusinya baik secara kelompok maupun secara individu. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mengkondisikan siswa agar berpikir reflektif yang menimbulkan siswa menjadi aktif. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat perlu diupayakan pola-pola pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa di dalam proses pembelajaran di kelas. Sedangkan hasil observasi awal yang penulis temui di SD Marga Endah guru masih berperan sebagai pemberi informasi dengan kata lain guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran. diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang bersifat “Generic essential” yaitu kemampuan memuat perencanaan pengajaran. berdasarkan GBPP1994. Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi didalam masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan guru sebagai pengajar yang lebih aktif dari para siswa dengan menggunakan metode “JURNAL. Dengan terbiasa siswa memecahkan masalah-masalah yang timbul di lingkungannya.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal dengan membelajarkan siswa melalui pengoptimalan pengembangan kemampuan berpikir siswa. Tanya jawab dilakukan sekitar apa siapa dan dimana belum sampai kepada mengapa dan bagaimana. Pada saat terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. kemampuan melakukan prosedur pengajaran dan kemampuan melakukan hubungan pribadi (UT. mental emosional. dengan begitu siswa termotivasi untuk aktif dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran sebagai bentuk kemampuan proses yang dilatihkan. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya dimiliki oleh setiap guru. budaya pertahanan keamanan dan agama dalam lingkup manusia sebagai insan mandiri. 1987). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya. keluarga serta masyarakat. Sejalan dengan itu Hamid Hasan (1996:17) mengemukakan bahwa tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab dan diemban oleh pendidikan ilmu-ilmu sosial di masa mendatang. Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarma: 1990. Adapun pola-pola pembelajaran yang melatihkan bentuk kemampuan proses yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi salah satunya adalah Model Problem Solving. dan akan terwujud dalam proses belajar mengajar. 1989:153). Dalam pembelajaran Pendidikan IPS. Berdasarkan kenyataan kiranya sulit dibantah bahwa penelitian selama ini menunjukkan guru sangat berperan sentral dalam proses pembelajaran. Pendekatan model ini termasuk kepada pendekatan interaksi sosial yang menitik beratkan kepada aktivitas memecahkan masalah baik individu maupun kelompok. Orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pembelajaran. diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir.

melaksanakan dan mengevaluasi? 2. mental. KESIMPULAN Penerapan model problem solving sebagai suatu strategi yang sangat efektif dalam mengembangkan siswa untuk berpikir secara ilmiah dan mengembangkan daya nalar mereka dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. tanya jawab. sebagai pemberi informasi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti hapalan. didukung oleh prinsip seting alamiah. Guru hendaknya selalu sadar bahwa siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan baik fisik. Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi realita yang terjadi tentang pendidikan IPS di Sekolah Dasar ternyata masih banyak guru yang belum melaksanakan pendekatan atau model problem solving sebagai salah satu pendekatan yang dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa secara optimal. kritis analitis. dan efektif dalam pembelajaran IPS. Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan yang merupakan langkah pertama. melaui problem solving inilah yang menempatkan posisi guru tidak sebagai penyampai pengetahuan tentang teori atau ilmu-ilmu sosial. sedangkan variasi metode. Walaupun masih perlu adanya pembiasaan guru untuk lebih terampil dalam menerapkan problem solving di kelasnya tanpa harus ada bantuan dari peneliti.ceramah. logis. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu: 1. dapat disimpulkan bahwa : 1. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa IPS Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan optimalisasi potensi berpikir. ilmiah serta peka terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Bagaimanakah hasil yang dicapai dalam menerapkan pembelajaran model pemecahan masalah? METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Kualitatif yang lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Naturalistik (Naturalistik Inquiry) (Nasution: 1989. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN Dari seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari pra tindakan dan setelah melakukan tindakan menunjukkan peningkatan kearah pembelajaran yang lebih baik. tetapi bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang menuntut siswa pada proses berpikir reflektif. situasional. Tahapan-tahapan model ini diimplementasikan secara sistematis diharapkan siswa terbiasa berpikir kritis.Oktober 2008 . sebagaimana tuntutan model problem solving. untuk itu perlu ditransformasikan dari pelajaran yang hanya dipandang sebagai hapalan kepada pelajaran yang mampu mempertajam potensi berpikir dan memperluas cakrawala peserta didik” (Suwarma. Penelitian kelas ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan yang didasari oleh paradigma penelitian kualitatif. Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya guru yang aktif akan tetapi siswa dilibatkan secara optimal sesuai dengan potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasarnya yang mereka miliki sesuai dengan yang diamanatkan oleh tujuan dari pendidikan Sekolah Dasar. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan yang dapat digunakan sebagai upaya mencapai tujuan secara optimal. Maleong: 1989). refleksi diri serta kolaboratif partisipatif antara guru dan peneliti. Guru sudah mulai menggunakan strategi metode pengajaran ceramah variasi. Dan berdasarkan keseluruhan temuan penelitian tindakan. rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan penelitian kelas ini adalah: Bagaimanakah kemampuan guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran pendidikan IPS di sekolah dasar? Masalah pokok penelitian diatas. 1998:37) PERTANYAAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah diatas. Kendala apakah yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran IPS model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa? 3. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian dilakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk menentukan langkah-langkah kegiatan selanjutnya hingga tujuan penelitian tercapai. Kualitas pembelajaran IPS berhasil dengan baik bilamana guru berupaya mengkondisikan pembelajaran dengan menyajikan secara menarik dan menyenangkan serta menciptakan iklim yang terbuka dan demokratis. adalah pendekatan yang menuntut siswa proses cara-cara pemecahan masalah hingga mampu mengambil keputusan. emosional dan sosialnya secara mandiri. dan satu-satunya buku paket sebagai sumber belajar harus ditingkatkan. membuat hipotesa mengumpulkan faktafakta mencari bukti-bukti hingga mampu menyimpulkan permasalahan yang ada. Penerapan strategi pembelajaran model problem solving melalui pembelajaran IPS mampu melatih “JURNAL. media dan sumber belajar yang beragam menjadikan suatu tuntutan yang tidak bisa diabaikan. penugasan dan diskusi membuat siswa lebih mudah merumuskan masalah. Bagaimanakah cara guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mulai dari merencanakan.

Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS: Bandung LP Universitas Pendidikan Indonesia. J A With ClIGG (1975). S ( 1987). Alih bahasa olrh Ary Penehan. Bloom. Jarolimek. Jakarta. Bandung. Bandung Sinar Baru. New Jersey Prentice Hall. Hamid (1996). (1999). Bandung. ___________. Bina Aksara. Pendidikan IPS Buku 1 dan 2. Valuing and Decision Making. ___________. _________________. Jakarta.al. Bandung Alumni. 2. Sinar Baru Sumantri Mulyani & P. Maleong Lexy (1993). Model pembelajaran dengan menerapkan problem solving dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa. Bandung. Barr. ___________. (2000). (2000). & R Taylor. Macmilan Publishing Company. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Et. 2.siswa mengembangkan kemampuan berpikir reflektif. Johar. Arlington: VA: NCCS. A Teacher Guide to Classroom Research. Defining the Social Studies. Pendidikan IPS di SD. Taxonomy of Education Objective. CBSA dan Proses Belajar Mengajar. Model Problem Solving berhasil dengan baik bila menggunakan strategi yang bervariatif 3. Nasution. Remaja Rosda Karya. David (1985). Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. 4. Tarsito. kritis dan kreatif. Social Studies Competency Skill. Social Studi In Elementary School New York. J dan Skill (1993). Bagi para guru sekolah dasar. Dirjen DIKTI PPGSD IBRD LOAN 3496 – IND. ______________.d. Jakarta: David Mackay C. proses dan hasil studi ini dapat menjadi model pengembang untuk meningkatkan mutu unjuk kerja professional guru sekolah dasar. Epistimologi Pendidikan IPS Bandung:Pustaka Mandiri. (Thesis) Prodi PIPSPPS IKIP Bandung. Metodologi IPS. ( 1992). penerapan model problem solving dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan dikembangkan dalam topic yang berbeda. Pengembangan Kemampuan berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Bagi peminat / pemerhati profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah dasar. (1989). Teaching Strategy For Social Studies Inquiry. “JURNAL. Resiladelphila Open University Press. Sudjana. Hopkin. Bagi sejawat pengembang pendidikan IPS. (1977). Mulyono ( 1980). Saran Atas dasar temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas. dapat disarankan sebagai berikut : 1. Hasan. New York: With Plane. Model of Teaching. UT. Strategi Belajar Mengajar. Djahiri K. Suwarma ( 1996). N. Edisi Kedua. Dasar-dasar Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral PVct. Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung. Dep. proses dan studi ini menjadi bahan diskusi untuk memperluas wacana model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik siswa sekolah dasar 3. Materi Pokok PGSD. Benyamin (1956). P dan K. Mew Mac Millan Joice Bruce and Weil Marsha (1972). Pengertian dan Karakteristik IPS Jakarta P3D Depdikbud. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. ( 1996). Model problem solving dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran 4. Bagi peneliti khususnya. Surabaya: Usaha Nasional. Pengajaran PMP IKIP Bandung. Metode Penelitian Naturalistik. Bandung Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung. Konsep Dasar IPS. r. ( 1977). ___________. Sumaatmaja. (1999). proses dan hasil studi tentang penerapan model problem solving di dalam pembelajaran pendidikan IPS dapat mengembangkan kemampuan meneliti dan melakukan tindakan perbaikan dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa DAfTAR PUSTAKA Al Muchtar. FPS IKIP Bandung. Nana & Ibrahim (1989). (1986). _________________.Oktober 2008 . Banks. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (1995/1996)..

Tanpa penggunaan bahasa yang baik. b. Salah satu sarana untuk pengembangan penelitian adalah bahasa. perguruan tinggi telah merumuskan paradigm baru dalam mencapai kualitas pendidikan bertaraf dunia yaitu dengan menjadikan universitas sebagai universitas riset yang lazimnya memiliki research center dan research institute. Mendorong berkembangnya kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional juga dengan pihak industri dan masyarakat dalam pengembangan dan penerapan Iptek (ilmu pengetahuan &teknologi). bahasa serumpun. sebaik apapun penelitian tidak akan mencapai sasaran. tetapi juga dituntut untuk mampu menghimpun dan menggali pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development).Demikian pula pengembangan bahasa yang baik akan kukuh jika disokong oleh peneliti an yang baik. Dengan perkataan lain perguruan tinggi tidak saja dituntut untuk mentrasfer pengetahuan melalui proses pengajaran. riset merupakan pilar utama untuk peningkatan kualitas institusi dan citra sebagai universitas maju dan terkemuka di dunia. penelitian. “JURNAL.Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Abstrak Dalam perspektif pengembangan suatu perguruan tinggi. Penggunaan bahasa yang baik dalam penelitian secara langsung akan turut meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di era global terutama di lingkungan pengguna bahasa serumpun. menghimpun. Bagi universitas maju. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa perguruan tinggi secara proporsional dan kompetitif. riset merupakan elemen strategis yang memberikan dukungan besar bagi pengembangan universitas itu sendiri maupun bagi pengembangan kemajuan suatu bangsa secara keseluruhan. c. termasuk bidang usaha (entrepreneurship) dan kreativitas mahasiswa. Dalam dekade 20 terakhir. logika dan bahasa yang digunakan seharusnya selaras antara peneliti dan pengguna hasil penelitian/pembaca. Dengan demikian kualitas penelitian merupakan “benchmaking” maju mundurnya sebuah institusi bernama perguruan tinggi.memelihara dan mentrasfer budaya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . d. yaitu beberapa negara Asean. Pusat Kajian Sains. Fungsi perguruan tinggi pada hakikatnya adalah. rasio dosen dan mahasiswa. yang salah satunya adalah frekuensi publisitas penelitian secara internasional. 2003). termasuk pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa guna peningkatan kualitas perguruan tinggi. jumlah mahasiswa dan dosen asing. Pusat Kajian Bahasa dan sebagainya. nilai-nilai dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. Tujuan dari pusat-pusat riset tersebut antara lain: P a. Pusatpusat kajian tersebut pada beberapa negara terbukti telah memberikan keutungan besar bagi universitas di samping dapat mengangkat peringkat suatu perguruan tinggi minimal masuk dalam urutan daftar 500 kampus berkualitas di dunia. Ada 4 indikator utama pemeringkatan 500 kampus terbaik tersebut. Mendukung penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. benar dan komunikatif. maka data. Kata Kunci: bahasa. Dengan demikian universitas tak ragu-ragu menginvestasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kajian berbagai bidang ilmu dengan mendirikan Pusat-pusat Kajian seperti: Pusat Kajian Pendidikan. Untuk menghasilkan kinerja penelitian yang baik. perguruan tinggi PENDAHULUAN ada umumnya bidang penelitian merupakan salah satu misi dari berbagai misi sebuah perguruan tinggi di samping menyelenggarakan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Indikator lainnya adalah: penilaian sejawat.Oktober 2008 . Mendukung pengembangan kapasitas (capacity building) perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan universitas.

• Pengajaran yang menekankan pada perkembangan atau arah penelitian mutakhir dalam wilayah kepakarang sendiri. kualitas mengajar dan belajar kini dihubungkan dengan baik pada kemampuan ekonomi nasional untuk bersaing serta mempromosikan institusi perguruan tinggi di pasar global. akses yang baik ke sumber utama di perpustakaan. Hal di atas sejalan dengan pengembangan perguruan tinggi jangka panjang. • Komunitas mahasiswa dilibatkan ke dalam budaya dan komunitas peneliti dalam disiplin ilmu tersebut. • Rantai penelitian dalam konteks program strata untuk pengembangan profesional (seperti:dosen. • Pengajaran sebagai pembelajaran “berbasis pemerolehan” vs. Mengembangkan jejaring (network) informasi dan institusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada peringkat nasional. bahasa senantiasa dikaitkan dengan identitas suatu bangsa. Oleh karena itu kegiatan penelitian perlu diberi keutamaan dan dilaksanakan dalam semua jenjang pendidikan. maknanya terdapat debat dan pembahasan pada disiplin subjek tentang masalah pedagogik. Universitas Sydney di Australia. • Pengajaran disejajarkan dengan penelitian. perumusan pembelajaran serta strategi dan kebijakan mengajar. • Pengajaran penelitian terbimbing. kreatif. laboratorium yang didanai dengan baik. Bahasa berperan sebagai perantara utama antara ide atau pandangan penulis sehingga tulisan difahami dan enak dibaca. Institusi akan mencari hubungan penelitian dengan mengajar untuk mendukung kualitas mengajar. pengajaran dengan penekanan pada metode-metode penelitian atau cara-cara untuk mengakumulasi pengetahuan dalam disiplin ilmu tertentu. doktor.Oktober 2008 . dukungan informasi teknologi yang baik. proposal. Sudah tiba waktunya bagi dosen untuk meningkatkan aktivitas penelitian sebagai satu elemen penting ke arah pendidikan seumur hidup. Kepentingan penelitian semakin disadari dan diakui dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan insan yang cerdas. Ada harapan yang berkembang agar semua institusi pengajian tinggi akan berusaha meningkatkan suatu budaya mengajar yang berkualitas sebagai ‘inti’ kegiatan. dan pendidikan unggul serta bertaraf dunia. Melalui bahasa seseorang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . pengajaran dikelola oleh dorongan penelitian tertentu dan minat staf peneliti. contoh. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat “JURNAL. mengambil definisi yang lebih luas. pengacara. Dalam pandangan yang lebih luas. pendekatan yang lebih mendidik terhadap pengajaran. 2002) PeNelITIAN DI PerGuruAN TINGGI Dalam konteks pendidikan tinggi. • Mahasiswa sebagai peneliti • Merancang program strata yang mengunggulkan kepakaran penelitian dalam satu atau antarsekolah. sebagimana dikutip oleh Skelton (2005). peranan dosen sebagai peneliti dalam pendidikan semakin penting. suatu institusi akan bergerak mengembangkan ‘budaya kualitas mengajar”. kesehatan institusi. bahkan dapat mengenali tingkah laku dan kepribadian masyarakat penuturnya. kecemerlangan pendidikan. • Kurikulum berbasis penelitian dari kurikulum yang ada yang mencerminkan kegiatan dan proses penelitian (seperti kerja tim. akan memacu penelitian disiplin ilmu sebagai ide. yaitu bahasa. inovatif. • Budaya pemerolehan. • Lingkungan pembelajaran yang mendukung fokus penelitian terbimbing. pelaksanaan sehingga laporan penelitian menggunakan bahasa. manajer). merujuk dimensi berikut untuk memperoleh isi dengan dilakukannya penelitian terbimbing: • Staf pengajar penelitian dilakukan oleh peneliti berkelas dunia yang aktif meneliti dan menulis. menyampaikan presentasi dan makalah/artikel).yaitu: daya saing bangsa. masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. akuntabilitas dan otonomi (Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. kualitas & relevansi. • Pengajaran lebih umum pada wilayah pendanaan (scholarship) sendiri. regional maupun internasional. Di bawah ini merupakan batasan-batasan dari pengajaran penelitian terbimbing: • Pengajaran tentang topik penelitian tertentu yang sedang dipelajari oleh akademisi di waktu tertentu. • Pengajaran berdasarkan bukti-pengajaran dan pembelajaran sebagai kesatuan dirancang dalam sorotan literatur pedagogik dan bukti pengalaman pelajar. Di tingkat kebijakan pemimpin. tuturan-tuturan dalam artikel atau penelitian akan menjadi sesuatu yang layak dinikmati. Oleh karena itu. Melalui hasil penelitian. Dengan bahasa yang baik. teori dan konsep yang dihubungkan secara kritis oleh mahasiswa PERAN BAHASA DALAM PENELITIAN Seluruh proses penelitian mulai judul. dan berakhlak mulia. Hal ini bermakna proses dan strategi penulisan dari yang sederhana sehingga yang kompleks akan bertumpu pada satu hal utama. Pengajaran “penelitian terbimbing” telah menjadi cara yang populer untuk mengekspresikan hubungan ini (Alwasilah. yang terdiri dari 5 isu strategis yang harus diantisipasi dan diimplementasikan oleh perguruan tinggi di Indonesia.e. Penulis dengan penguasaan bahasa dan ejaan yang baik pada umumnya akan selalu diingat oleh para pembaca. 2007).

bahasa. Amerika. Penelitian berkualitas dapat dilakukan bersama negara-negara serumpun/ serantau yang berkaitan dengan pengajaran bahasa. Collins.Alma EvitaAlmanar).Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Sejarah Singkat (Terj.Understanding Teaching Excellence in Higher Education: Towards a Critical Approach. Quality Teaching at a Leading and Outstanding University: A Conceptual Framework for Action and Development. “JURNAL. dan salah satu rintangan yang sering ditemukan yaitu pemakaian bahasa ilmiah dalam penelitian karena terdapat perbedaan makna kata atau istilah-istilah dalam bahasa serumpun tersebut. Hambatan-hambatan bahasa dalam penyelidikan bersama dapat diatasi dengan dilakukannya studi bandingan bahasa serantau di kawasan Asean. Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dengan bahasa Indonesia dan bahasa serantau sehingga dapat meningkatkan peranan bahasa tersebut di era global.serantau yang bahasa nasionalnya berasaskan bahasa Melayu (Indonesia. Kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang penelitian-penelitian berkenaan yang berkualitas. TESOL Quarterly 31/2. studi banding kebahasaan atau penulisan bersama buku ilmiah berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Brunai dan Singapura) telah terjadi berbagai perubahan berkaitan dengan perkembangan ilmu. Alwright. D.Research Method in Language Learning. (1992).A. London: Routledge. A (2005). (2005). Nunan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .baik dalam bidang pendidikan. C. khususnya teknologi informasi sebagai tuntutan dunia global. Akhir-akhir ini banyak universitas di negara serumpun ini melakukan kerja sama. (1997).D. Cambridge: Cambridge University Press. Qualiti and Sustainability in Teacherresearch. Kedudukan bahasa Melayu seperti ini tentu sangat bermakna bagi perkembangan bahasa Melayu pada umumnya dan perkembangan bahasa Indonesia di tataran global pada khususnya. Perlu dilakukan penelitian kolaboratif antara peneliti bahasa serantau. baik bidang linguistik maupun bidang pengajarannya. Di samping itu pusatpusat kajian bahasa Melayu yang didirikan diberbagai negara di Eropa. sosial maupun sains. Hal ini sudah sering dibahas antara peneliti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu pada seminar-seminar antarbangsa. Jakarta: Dikti. J.Oktober 2008 . (2002). Malaysia. Menurut Collins (2005) bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar. dengan demikian diperlukan kajian-kajian atau penyelidikan untuk meningkatkan bahasa Melayu agar dapat bertahan dan menjadi bahasa dunia. Pada masa yang akan datang diharapkan semakin banyak penelitian kolaboratif antarnegara Asean untuk memperkuat peranan bahasa serumpun di negara masing-masing dan di peringkat antarbangsa PENUTUP Penelitian dengan menggunakan media bahasa Indonesia diperingkat antarbangsa perlu terus dibudayakan dan ditingkatkan di antara bangsa serumpun/serantau. DAfTAR PUSTAKA Alwasilah. teknologi. Bandung: UPI Press.Jakarta:Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia. Australia dan komunitas bahasa Melayu tersebar di kota-kota besar di dunia. . Skelton. Bahasa Melayu Bahasa Dunia. Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat.T.

Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pelaksanaan Lesson Study. mulai dari kondisi di kelas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .S. Oleh karena itu. dan guru. 2006 : 10). Hasil penelitian antara lain adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan strategi pembelajaran juga respon yang baik dari mahasiswa dan guru mengenai pelaksanaan Lesson Study di sekolah dasar.Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study Di Sekolah Dasar Rustono W. Salah satu model bimbingannya adalah Lesson Study. sehingga Lesson Study dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi. Berbagai penataran dan pelatihan guru menjadi salah satu bentuk dari upaya tersebut walaupun kurang membekas dalam keseharian aktivitas guru. maka kami melakukan sebuah penelitian dengan metode Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan terhadap mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran?” “JURNAL. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang usaha meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran dengan Lesson Study di sekolah dasar. sekolah. memecahkan dan mendeskripsikan masalah-masalah yang terjadi selama kegiatan Lesson Study serta pengaruhnaya terhadap kualitas bimbingan kemampuan mengajar mahasiswa. Hal inilah yang mendasari perlunya perbaikan yang menitikberatkan kepada kondisi riil di lapangan. Lesson Study adalah ”model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas D belajar” (Hendayana dkk. Kata Kunci: lesson study. 5 orang guru dan tim peneliti sendiri. Lesson Study dapat digunakan sebagai model bimbingan mengajar bagi mahasiswa. Lesson Study ini dilaksanakan untuk mahasiswa karyawan semester VII kelas interes matematika program studi S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya di SDN I Pengadilan Kota Tasikmalaya. Di sisi lain. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku profesional. Seorang guru memiliki peran yang paling besar dalam upaya inovasi serta peningkatan mutu pendidikan melalui inovasi dalam proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan program pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan pengisian angket. Lesson Study dapat dikategorikan sebagai kegiatan penelitian tindakan. Penelitan ini menggunakan model penelitian tindakan dalam bentuk Lesson Study itu sendiri dengan subjek penelitian 7 orang mahasiswa. Abstrak Artikel ini didasarkan pada hasil penelitian tentang penerapan Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran di sekolah dasar. menganalisis. bimbingan mengajar. Teknik pengolahan data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Lesson Study dipandang dapat menggairahkan inovasi pembelajaran di sekolah karena semua pihak terlibat dan berkonsentrasi ke arah perbaikan. Pada dasarnya. strategi pembelajaran PENDAHULUAN alam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas guru.Oktober 2008 . Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dan pengalaman bahwa bimbingan mengajar bagi mahasiswa S-1 karyawan belum berjalan dengan baik padahal sebagai mahasiswa yang telah menjadi guru memerlukan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran. Pelaksanaan sertifikasi guru sebagai amanat dari Undangundang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan. perlu program bimbingan bagi mahasiswa yang secara khusus meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran yang inovatif. Suatu model pembinaan guru untuk mencapai kualitas pembelajaran di sekolah adalah Lesson Study.

Ada dua model Lesson Satudy. Kelompok guru biasanya berdasarkan bidang studi pada wilayah kerja tertentu. 2006:38) mengemukakan keunggulan atau kelebihan Lesson Study seperti dalam Gambar 1. (3) memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan. Saat ini. Kegiatan Lesson Study biasanya dikoordinir oleh kelompok guru tersebut dan dibina oleh dinas pendidikan yang terkait. (5) mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih. Mulai tahun 1998. misalnya MGMP atau KKG. Hendayana.(2006 : 39) “JURNAL. Model kedua dari Lesson Study adalah Lesson Study Berbasis Kelompok Guru. Lewis..TINJAUAN PUSTAKA Lesson Study Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pronsippronsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. serta (10) mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya. dan Hurd (2003. Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project Gambar 1: Keunggulan dan Kelebihan lesson Study Sumber : Hendayana dkk. yaitu : Lesson Study Berbasis Sekolah yang dilakukan di sekolah oleh guru dari berbagai bidang studi serta kepala sekolah. dan merefleksi (see) yang berupa kegiatan yang berkelanjutan. Karena itulah. Pada pelaksanaannya. Di sekolah dasar. Sebagai model pembinaan guru. (6) melaksanakan pembelajaran.Oktober 2008 . (Hendayana dkk. (2006 : 10) ditegaskan bahwa setiap guru berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini. Lesson Study dilaksanakan untuk meningkatkan kulitas guru kelas serta berbagi pengalaman mengajar di setiap kelas. (4) merancang rencana pembelajaran. Perry. (7) mengobservasi proses pembelajaran. (9) melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas. (2) mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan. 2006 : 10). Lesson Study sudah menjadi salah satu model pembinaan guru di Jepang dan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. melaksanakan (do). Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan. Lesson Study dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu merencanakan (plan). Beberapa tim ahli dari dosen juga dilibatkan beserta para mahasiswa dengan bidang yang sama. (8) mengidentifikasi hal penting yang terjadi pada aktivitas belajar siswa di kelas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . yang menggunakan sistem guru kelas. dkk. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang studi. Dalam Hendayana dkk. sekolah mungkin saja melibatkan pihak luar sebagai tenaga ahli seperti dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain. yaitu : (1) identifiaksi masalah pembelajaran. beberapa negara maju seperti Amerika dan beberapa negara eropa mengadopsi model pembinaan seperti ini..

Kegiatan pengenalan lapangan dilakukan dalam bentuk observasi. Jumlah siklus tindakan atau siklus Lesson Study direncanakan sebanyak 2 siklus. IKIP Yogyakarta (UNY). Lesson Study bisa diterapkan sebagai model bimbingan mengajar mahasiswa sebelum dan pada pelaksanaan PPL blok waktu. Kegiatan selanjutnya adalah latihan keterampilan terbatas. PPL diadakan secara blok waktu sampai menjelang ujian PPL. Semester terakhir. Dalam Lesson Study. partisipasi. metode yang digunakan adalah Lesson Study yang dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan). MeTODOlOGI PeNelITIAN Penelitian ini bermanfaat untuk mengkaji subtansi pengDalam penelitian ini. Dengan demikian Lesson Study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. Do (melakukan). Skema kegiatan Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 2.(IMSTEP) bekerjasama dengan IKIP Bandung (UPI). pembelajaran bidang studi. Setelah menjalani semua tahap PPL dengan rekomendasi yang memuaskan. pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). Lesson Study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru. mulai dari pengenalan lapangan. (2006 : 20) dijelaskan bahwa Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu. Melalui kegiatan seperti ini. Dosen yang terlibat pada Lesson Study ini adalah tim peneliti sendiri. Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : teknik observasi. tetapi mencoba melihat aplikasinya di dalam praktek. (2) perencanaan. yang berasal dari dua kata yugyo yang berarti lesson atau pembelajaran. Pengenalan lapangan dapat diagendakan sejak semester awal melalui penugasan yang terkait dengan mata kuliah yang relevan. dan tahap akhir penelitian. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai 12 Juni 2007 sampai 16 November 2007. Pada kegiatan latihan terbimbing mulai ditanamkan dasar-dasar peningkatan kualitas pembelajaran. teknik Gambar 2: Alur Kegiatan lesson Study “JURNAL. penguasaan kompetensi akademik calon guru akan menjadi semakin mantap karena mereka tidak hanya belajar dari teori. seperti pengenalan peserta didik. Kegiatan perencanaan (plan). dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. dan latihan mandiri. Oleh karena itu. dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian. atau perspektif pendidikan di SD. misalnya : ”action research”. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan secara partisipatif. latihan keterampilan terbatas. (3) pelaksanaan. (4) refleksi. Sementara mahasiswa yang telibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Waktu pelaksanaan Lesson Study sendiri adalah mulai 26 Oktober – 16 November 2007 dengan rincian sebagai berikut. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Alur penelitian secara umum adalah : (1) pra tindakan. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Penelitian Tindakan sekaligus dalam bentuk Lesson Study. maka proses bimbingan dari dosen sangatlah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa calon guru. Adapun guru yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study adalah guru SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya sejumlah 5 orang termasuk kepala sekolahnya sendiri. Dalam hal ini. yang kemudian latihan terbimbing. Dalam Hendayana dkk. Kemampuan ini dimantapkan kembali dalam latihan mengajar mandiri. kolaboratif dan kolegatif antara dosen dan mahasiswa. Sekolah dasar yang menjadi tempat kegiatan Lesson Study adalah UPI Kampus Taskmalaya dan SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya dengan kelas yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah kelas V dan kelas VI.Oktober 2008 . BIMBINGAN MeNGAjAr PADA MAHASISwA Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan merupakan program khusus dalam pendidikan profesional guru. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan adalah 7 orang mahasiswa yang semuanya mahasiswa karyawan atau mahasiswa lanjutan dari D-2 PGSD. latihan terbimbing. Karena pentingnya PPL dalam program kependidikan dan pembinaan mahasiswa. Bermacammacam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sebagian besar telah menjadi PNS dan terdapat 2 orang yang menjabat kepala sekolah sehingga menambah keragaman dalam diskusi pada proses kegiatan Lesson Study. yang juga memungkinkan calon guru berkunjung ke SD untuk mengamati guru yang sedang mengajar. dan “clinical supervision”. PPL mencakup empat tahap latihan secara utuh. serta guru sekolah dasar. para calon guru dapat menempuh ujian PPL yang merupakan bagian dari uji kompetensi. “coaching”. peran guru dapat berubahubah : dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. dan IKIP Malang (UNM) melaksanakan Lesson Study di beberapa wilayah di Indonesia. strategi belajar-mengajar. mahasiswa ini telah memiliki pengalaman sebagai guru sekolah dasar paling sedikit 3 tahun.

• Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang maju ke depan tentang hasil pekerjaannya dan memberikan alasan. maka selanjutnya disusun langkah-langkah pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Perbaikan (RPP). siswa menggunakan alat dan bahan seperti kertas karton.45WIB selama 2 jam pelajaran. Para observer duduk di bagian belakang kelas serta sebagiannya berdiri. kertas karton dengan ukuran 48 cm x 30 cm. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 1 November 2007 mulai jam 09. Guru memberikan penjelasan bagaimana aturan main kelompok serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam kelompok seperti bekerja sama dan pembagian tugas serta tugas ketua kelompok. Soal cerita yang disajikan kepada siswa adalah bahwa siswa secara berkelompok diminta untuk membuat persegi-persegi dari kertas karton berbentuk persegi panjang ukuran 30 cm x 48 cm dengan ukuran perseginya sama dan yang paling besar. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. “JURNAL. membuat media. penggaris. Diskusi itu bertujuan untuk mengungkap berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. kepala sekolah. guru (mahasiswa praktikan/model) memperkenalkan para observer secara umum dan menjelaskan tujuan hadir di kelas agar siswa tidak merasa canggung. Salah satu masalah yang terungkap adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada konsep FPB. Saat itu siswa sudah terbagi menjadi 6 kelompok.wawancara. mahasiswa. Selain itu dijelaskan kembali tentang langkah-langkah pembelajaran agar partisipan memiliki kesamaan pemahaman. • Guru memberikan arahan kepada siswa bahwa jika ada kelompok yang sudah selesai diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasilnya. Refleksi Guru dan para observer yang terdiri dari tim peneliti. • Guru menyimpulkan proses dan hasil pembelajaran sebelum akhirnya menutup kegiatan pembelajaran. Setelah dianalisis dan dipertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. teknik catatan lapangan dan teknik audio dan video. akan tetapi pada beberapa langkah pembelajaran kurang menguasai teknik khusus seperti apersepsi untuk menarik perhatian siswa. penggaris dan lem (alat lainnya dimiliki siswa seperti pensil dan ballpoint) sambil memancing siwa dengan pertanyaan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Setelah menentukan fokus pembelajaran. gunting (disediakan oleh guru) dan alat tulis lainnya. serta memilih seorang mahasiswa sebagai guru model. Pada tanggal 25 diskusi dilaksanakan dengan melibatkan tim peneliti dengan mahasiswa yang telah bersedia mengikuti kegiatan Lesson Study. Untuk melakukannya. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan sebagai upaya pemusatan konsntrasi. Strategi eksplorasi dapat berupa aktivitas siswa dengan mencatat dan membuat coretan dalam menyelesaikan masalah meliputi rangkaian menduga. • Guru menjelaskan kembali tugas yang harus dikerjakan siswa. • Guru membagikan LKS. • Guru menjelaskan isi dari LKS secara bertahap dimulai dari penyajian ilustrasi masalah sampai dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Metode yang digunakan adalah metode pemecahan masalah dengan menggunakan strategi eksplorasi yaitu siswa melakukan proses penyelesaian melalui pencarian dan manipulasi alat peraga atau media yang disediakan oleh guru. • Guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. guru SD serta mahasiswa duduk bersama di kelas untuk mengadakan refleksi dari semua rangkaian kegiatan Lesson Study sebelumnya yaitu tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Setelah memperkenalkan diri. • Siswa pertama kali mengalami proses belajar seperti itu sementara guru kurang maksimal dalam membimbing siswa • Guru kurang aktif dalam melakukan bimbingan terhadap siswa • Gaya guru belum mencerminkan karakter guru SD yang antusias dan aktif. Kemudian guru kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. satu jam sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti menjelasakan pedoman observasi dan aturan observasi kepada para pengamat yang terdiri dari tim peneliti sendiri. maka ditentukan fokus pembelajaran. LKS. • Guru belum memahami kemampuan dan karakter siswa karena baru pertama kali berhadapan dengan siswa di sekolah tersebut • Keterampilan mengajar guru sudah cukup baik. kepala sekolah dan guru. mencoba dan memperbaiki perkerjaan sampai ditemukan solusi. Pada tanggal 1 November 2007. Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi dan rekomendasinya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Lesson Study Siklus 1 Perencanaan Tahap perencanaan Lesson Study Siklus 1 ini dilaksanakan tanggal 25 – 26 November 2007 di UPI Kampus Tasikmalaya. alat evaluasi. yaitu pembelajaran akan dilakukan di kelas V materi materi FPB.Oktober 2008 . gunting. • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa.

maka pembelajaran akan dilakukan di kelas VI dengan materi tentang pembuktian rumus luas lingkaran dengan pendekatan luas persegi panjang melalui metode metode penemuan terbimbing. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 10 November 2007 mulai jam 09. • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembuktian rumus luas lingkaran kepada siswa. • Guru harus selalu mengontrol waktu pembelajaran • Guru harus menjelaskan beberapa jawaban pertanyaan secara klasikal agar informasi bisa merata. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi tentang konsep bangun datar lingkaran dengan menggunakan model lingkaran. • Guru menyampaikan kesimpulan tentang pembuktian rumus lingkaran dan memberi kesempatan siswa. • Setelah siswa selesai bekerja. Sementara siswa memperhatikan penjelasan guru serta merespon pertanyaan-pertanyaan guru yang mengarahkannya pada kesimpulan. • Saat siswa mulai bekerja. busur. Metode penemuan terbimbing diterapkan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk melakukan aktivitas ilmiah yaitu penemuan. Setelah mempertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. perwakilan masingmasing kelompok maju ke depan untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan. guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. • Presentasi yang dilaksanakan oleh kelompok seharusnya dilakukan di depan kelas dan dilihat oleh kelompok yang lainnya • Tahap penarikan kesimpulan tidak berjalan dengan baik karena siswa tidak dikondisikan terlebih dahulu. Pada saat refleksi siklus 1 juga dilakukan perencanaan pelaksanaan siklus 2 termasuk inventarisasi masalah serta penentuan alternatif masalah. dari masalah-masalah yang telah diungkap kemudian dianalisis untuk menentukan fokus pembelajaran. Intonasi guru dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas sehingga penjelasan guru dapat dengan baik dimengerti oleh siswa. • Guru menutup pembelajaran. • Guru harus lebih banyak membimbing siswa melalui pertanyaan menuntun. • Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Mahasiswa yang dipilih untuk tampil berbeda dengan pembelajaran siklus 1. gunting. • Guru harus lebih sering memberikan penguatan dalam pembelajaran. menempelkan bagian-bagian lingkaran sampai menghitung luas persegi panjang. Refleksi Guru terlebih dahulu mengungkapkan kesannya setelah menjalani proses pembelajaran. • Presentasi hasil kerja kelompok dilakukan secara klasikal dan diperhatikan oleh siswa yang lainnya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Ia mengungkapkan rasa senang dapat melakukan pembelajaran dengan metode seperti walapun ia mengakui sangat lelah karena proses pembelajaran menuntut ia untuk lebih aktif. • Beberapa observer melakukan interaksi dengan siswa sehingga mempengaruhi proses pembelajaran. • Agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu. • Guru menilai satu persatu pekerjaan siswa dan kemudian menunjukkan kekuarang-kekurangan dari pekerjaan siswa mulai dari cara mengkur keliling.Oktober 2008 .• Suara dan intonasi bicara guru kurang lantang sehingga tidak dapat mengontrol kegiatan pembelajaran dengan baik. • Kerjasama dalam kelompok harus lebih ditingkatkan melalui bimbingan guru. dan lem. Pelaksanaan Lesson Study Siklus 2 Perencanaan Kegiatan Lesson Study selanjutnya dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 November 2007 sesuai dengan kesiapan semua pihak. • Penjelasan guru terutama dalam menanggapi pertanyaan hanya secara kelompok tetapi tidak secara klasikal. Waktu ini ditentukan saat refleksi siklus 1. • Guru tidak mengontrol waktu sehingga melebihi rencana pembelajaran.00 WIB selama 2 jam pelajaran. • Guru membagikan alat peraga atau media yang terdiri dari model lingkaran dari karton. Serta menyampaikan cara kerja dalam kelompok. simulasi pembelajaran tidak dilakukan di depan partisipan. • Guru membagi siswa ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. • Penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan dilakukan berulangkali sampai siswa paham dan jika penjelasan itu ada dalam LKS maka guru memandu siswa untuk memahmi LKS. Kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. Akhirnya. Tetapi pemahaman terhadap proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi lebih dalam. • Kegiatan observer jangan memengaruhi dan mengganggu proses pembelajaran. “JURNAL. benang tali. Karena waktu yang tidak memungkinkan. Penemuan siswa dibimbing oleg guru agar lebih terarah tetapi tanpa mendikte aktivitas belajar atau berfikir siswa.

mengontrol kegiatan siswa. ini memang gaya yang bersifat pribadi tetapi jika berlanjut akan berpengaruh keaktifan siswa. Keterampilan ini memang memerlukan latihan yang lebih spesifik. Metode pembelajaran seperti ini adalah hal bagi mahasiswa maupun guru di sekolah. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi. Karena waktu pembelajaran tersita untuk aktivitas siswa. atau disebut penemuan terbimbing. guru kurang memiliki waktu untuk melakukan kesimpulan. hanya memang metode pembelajaran seperti itu jarang dilakukan di sekolah dasar termasuk oleh kedua guru yang tampil. padahal tahap ini sangat penting dalam pembentukan pengetahuan bagi siswa.Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi. • Persiapan harus lebih matang terutama mengenai gambaran proses pembelajaran. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan bantuan alat-alat dan media untuk menumbuhkan kemampuan kerja ilmiah siswa. guru kurang rapih dalam menuliskan langkah-langkah pembuktian sehingga siswa terlihat kebingungan. • Guru pun kurang melibatkan siswa dalam pembuatan kesimpulan sehingga pada tahap ini siswa terlihat tidak bersemangat. pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menemukan rumus luas lingkaran dengan bimbingan guru. • Siswa kurang memberikan perhargaan kepada siswa yang aktif dalam bertanya dan kepada kelompok yang berhasil. Guru sudah menjalankan proses pembelajaran berdasarkan skenario yang telah dibuat. hal ini dapat dilakukan melalui simulasi terlebih dahulu. • Guru tidak memperlihatkan hasil kerja siswa seluruhnya di depan kelas • Terdapat kesalahan guru dalam menggunakan simbolsimbol matematika. • Observer sebaiknya mengamati di luar kelas karena sering berpengaruh terhadap pembelajaran. • LKS sebaiknya dibagikan terlebih dahulu kemudian guru memberi penjelasan • Alat peraga sebaiknya digambar ulang pada papan tulis ketika guru melakukan apersepsi dan pengambilan kesimpulan. skenario yang diterapkan benarbenar pengalaman baru karena biasanya guru melakukan pembelajaran konvensional. Hal ini termasuk kemampuan bertanya menuntun (probing). • Guru kurang memberikan penjelasan kepada siswa tentang arah kegiatan pembelajaran sehingga siswa langsung saja bekerja dengan LKS. Sementara pada siklus 2. Tahap yang penting dalam pembelajaran seperti ini adalah kemampuan guru dalam menuntun siswa membuat kesimpulan. • Tujuan pembelajaran harus disampaikan terlebih dahulu dengan jelas dan diulang-ulang dalam proses pembelajaran. serta mengelola aktivitas siswa dalam kelompok. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. • Guru terlambat untuk mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok sehingga siswa tampak tidak kompak pada awalnya. Hal ini tampak pada dua kali pembelajaran dimana waktu kurang terkontrol dengan baik. • LKS tidak banyak berfungsi bagi siswa karena siswa bekerja mengalir saja dan berdasarkan arahan dari guru. • Guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan dan ekplorasi masalah matematika membutuhkan waktu yang lebih banyak dari biasanya karena guru harus berpatokan juga kepada kinerja guru. • Koordinasi dan peran guru sekolah dasar harus ditingkatkan. • Guru sebaiknya memperhatikan waktu yang telah direncakan dan selalu menyampaikan target waktu terhadap siswa agar siswa bekerja dengan efektif. Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana tetapi mengenai hal-hal spesifik seperti membimbing kerja dalam kelompok. Pembahasan Hasil Pelaksanaan Lesson Syudy Bagi guru model. Pembelajaran pada siklus 1 lebih menekankan kepada kemampuan eksplorasi matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. Pada pembelajaran pertama guru terlihat kurang energik atau gaya mengajar yang kurang antusias. • Pada tahap pembuatan kesimpulan. • Guru kurang menjelaskan cara-cara pengukuran keliling lingkaran dengan alat bantu tali karena siswa terlihat kebingungan. Sebenarnya dengan latihan dan pembiasaan.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . merespon pertanyaan siswa dan menjawab dengan jawaban yang membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berfikirnya. • Guru tidak mengoreksi kesalahan yang dilakukan ketika tahap apersepsi yaitu tentang ungkapan siswa yang menyebutkan istilah “volume lingkaran” bahkan guru menuliskannya tanpa ada koreksi lebih lanjut. Berbeda dengan pembelajaran kedua. • Guru sangat baik dalam menghidupkan suasan dan aktifitas siswa di kelas. serta demonstrasi kemampuan guru belum optimal. hal ini kurang optimal dalam pembentukan pengetahuan siswa. “JURNAL. Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode pemecahan masalah dan penemuan mengharuskan siswa memiliki kemampuan membimbing kerja siswa selama siswa aktif dalam pembelajaran. • Guru harus mengulang-ulang penjelasan terutama pada pengambilan kesimpulan agar siswa lebih memahami. guru yang tampil lebih energik dan adapat menguasai kelas dengan baik. waktu dapat dikendalikan.

KESIMPULAN Lesson Study sebagai model pembinaan guru yang bersifat kolaboratif dan kolegaliatif dapat dimanfaatkan sebagai model bimbingan mengajar dosen terhadap mahasiswa. (2006). dan guru berkolaborasi dalam perencanan. Remaja Rosda Karya “JURNAL. N.edu. Bandung : UPI Press Lewis. Faktor pendukung dalam kegiatan Lesson Study ini adalah: pertama. Mills College [online]. • • Penetapan kerja sama dengan pihak sekolah. Guru dan kepala sekolah berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan tentang strategi-stretegi pembelajaran matematika khususnya dan bidang studi yang lainnya.net. persiapan untuk pelaksanaan di sekolah kurang matang sehingga berpengaruh terhadap penentuan waktu pembelajaran DAfTAR PUSTAKA Hendayana.. Pada pelaksanaannya. Untuk menjadi seorang guru yang profesional. Melalui kegiatan Lesson Study. Akan tetapi. Peneliti mewawancara kepala sekolah. Sukmadinata. Oakland CA : Education Department. Belajar Cara Belajar.hk. Lesson Study and Its Impact on Teacher Depelovment. • Penetapan jadwal kegiatan. dosen. Kuala Lumpur : Kementrian Pendidikan Malaysia. Catherina C. Observer berpedoman kepada lembar observasi yang telah disiapkan untuk kemudian menjadi acuan dalam kegiatan refleksi. mahasiswa melakukan praktek pembelajaran yang tidak hanya melibatkan dosen tetapi pihak sekolah dasar. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kepada kegiatan siswa dan guru setidaknya mengganggu konsentrasi siswa.(2002). S. [17-05-2007].(2005). tidak hanya berbekal terhadap pemahaman mengajar secara akadenik saja tetapi membutuhkan pengalaman berupa kegiatan praktek terbimbing. Mahasiswa juga mendapatkan feed back langsung dalam kegiatan refleksi. Setelah semua kegiatan Lesson Study dalam 2 siklus selesai dilaksakan. beberapa observer berinteraksi dengan siswa bahkan ada yang memberikan masukan kepada siswa. penetapan waktu pelaksanaan Lesson Study yang tidak leluasa menurut pertimbangan semua partisipan sehingga persiapan belum melibatkan guru secara optimal tetapi hanya sebatas koordinasi saja. guru. Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction. hal ini karena para observer telah memiliki pemahaman bersama tentang tugasnya. Untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study di sekolah dalam rangka bimbingan mengajar bagi mahasiswa memerlukan persiapan-persiapan. Sementar Faktor penghambatnya adalah : pertama. pihak sekolah mendukung sekali dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study dan merasakan manfaatnya. dan mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan Lesson Study. Hongkong : The University of Hongkong. dkk. dan kedua. mahasiswa dan pihak sekolah. Ling Mun. Bandung : PT. mahasiswa yang terlibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa semester VII interes matematika yang semuanya sudah mengajar di SD sehingga mudah dalam menganalisis permasalahan di SD. Mengadakan workshop di sekolah untuk mensosialisasikan program kegiatan yang dihadiri dosen. Lesson Study : suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMSTEP-JICA). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . pelaksanaan dan rekleksi pembelajaran sehingga muncul sikap kolegalitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. karena belum terbiasa bertugas sebagai pengamat yang diharapkan independen dari proses pembelajaran.lessonresearch. kedua. pemilihan pokok bahasan dan strategi pembelajaran berdasarkan situasi di sekolah serta pengetahuan mahasiswa.(2003). Sementara bagi mahasiswa Lesson Study dianggap sebagai latihan dan bimbingan yang baik untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebagai bekal nanti sebagai guru.Pelaksanaan observasi pada kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. http://www. [online]. mahasiswa.Metode Penelitian Pendidikan. LO. [17-052007] Pusat Perkembangan Kurikulum.(2001).S.Oktober 2008 . Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif. yaitu : • Penetapan program bimbingan oleh dosen yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut. http://www. serta ketiga. Mereka berharap kegiatan Lesson Study sering dilaksanakan oleh UPI Kampus Tasikmalaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di SD.ied.

waktu. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDAHULUAN aat ini. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. menyiapkan materi yang bervariasi. Selanjutnya. Kata Kunci: Pendekatan Komunikatif (PK). Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. konteks kebudayaan dan suasana. Data penelitian ini diambil dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. Dari komponen RPP yang dijadikan data menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif telah dilaksanakan dengan kategori baik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tujuan. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. peristiwa bebahasa (Utari. S Pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan. dan (5) Observasi. Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. motivator. Dari 8 kali tatap muka . Di samping itu. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. Dari ke-30 KE tersebut. yaitu kasus pembelajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu. (3) Catatan Lapangan. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. yaitu mengetahui tentang bahasa tetapi mengembalikan pembelajaran bahasa kepada fungsi bahasa yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi. pembelajaran Bahasa Indonesia pada lembaga pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan SLTA. tidak lagi bertujuan mengajarkan bahasa secara teoretis. tempat.Oktober 2008 . Kurikulum KTSP mempertegas bahwa dalam penyajian materi bahasa . Di samping itu. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. aspek-apek kebahasaan harus diajarkan secara “JURNAL. (2) Wawancara.1988:93). dan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. dan fasilitator.Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Demikian juga dengan penerapan pembelajaran terpadu dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan kategori baik.(4) Studi Dokumentasi. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Data dari komponen pelaksanaan pembelajaran menunjukkan data sebagai berikut. pelaksanaan pembelajaran. Pendekatan Terpadu (PT). Sisanya. jalur dan media. Selama 8 kali tatap muka.

sastra. (e) sastra. Pembelajaran bahasa yang komunikatif nampak lebih humanistik. Kenyataan menunjukkan keempat keterampilan berbahasa tersebut. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran. 1992). menyangkal. seperti fungsi bertanya. Dengan demikian. pengajaran bahasa dan isi dari bidang studi lain bersama-sama menjadi bagian dari kurikulum secara utuh. Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu. yaitu fungsi komunikatif. yaitu sentralitas kegiatan lebih banyak berada pada siswa. dan menyimak tidak dipandang sebagai komponen yang terpisah-pisah untuk diajarkan sendiri-sendiri. menyapa. Arah dan tujuan pendekatan terpadu menurut Frazee dan Rosse (1995) mengarah pada pembentukan pemikiran siswa secara utuh. maka kedua belah pihak juga harus bisa bekerja sama dengan baik. di samping variasi baku/ formal. menghubungkan. situasi. menjawab. siswa akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam masyarakat bahasanya. Baik keterpaduan dalam internal Bahasa Indonesia maupun keterpaduan lintas kurikulum. yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. “Kompetensi dasar mencakup aspek mendengarkan. menentukan latihan. kosa kata.Oktober 2008 . atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah. tetapi lebih luas lagi. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. pendapat. Dengan demikian. karena dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan pengetahuan tidak secara per bagian. berupa bahasa otentik. ide. fonem. tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar (Stevik. mengajukan pendapat.terpadu dengan keterampilan berbahasa yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . akan lebih baik bila pembelajaran di sekolah diarahkan untuk menuju pemikiran secara utuh tersebut. serta unsur-unsur prosodi (intonasi. dalam Sumardi. berbicara. Alasan lain. Goodman dalam pandangannya tentang pengajaran bahasa menyatakan bahwa keterampilan membaca. membaca. Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk : (a) mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. (d) sistem bahasa (struktur. bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya berbeda-beda. dan kebahasaan dan dilaksanakan secara terpadu. (b) meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi.” (Depdiknas. tekanan. untuk memungkinkan siswa dapat berbahasa sesuai konteks. siswa diberi kebebasan. yaitu dengan menyatukan. Sebagai fasilitator guru mengkoordinasikan kegiatan siswa yang harus bisa menjamin kegiatan kelas berjalan dengan baik. 1992). (c) variasi-variasi bahasa. yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks. dan memberikan bimbingan (Littlewood. irama. yaitu bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks nyata. 2006: 14). dan media yang digunakan. tempat. Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud . digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pengajaran baik dalam belajar bahasa maupun bidang studi lain. ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. isi pembicaraan. Kerjasama yang baik itu bisa diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor. dan lafal). pembelajaran bahasa menyangkut keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. guru berperan sebagai individu yang diharapkan memberi nasihat. Adapun materi pelajaran utamanya ialah : (a) empat keterampilan berbahasa. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada pernyataan Goodman (1986) tentang kurikulum bahwa pengajaran bahasa dan pengajaran bidang studi lain (yang dilaksanakan dengan menggunakan bahasa sebagai media penyajian) merupakan kurikulum yang bersifat ganda (dual curriculum). nada. kalimat. paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan). Demikian pula keterpaduan dalam bidang studi bahasa Indonesia. otonomi. menulis. Artinya. Oleh karena itu. karena secara kodrati siswa usia SD memandang sesuatu selalu dengan pandangan yang utuh dan menyeluruh (holistik). “JURNAL. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut sebagai alat komunikasi. tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa. Selain harus mengacu pada pendekatan komunikatif. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata. berbicara. (b) fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa. tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri. Komunikasi yang dimaksud ialah suatu proses penyampaian maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. memantau kegiatan siswa. Dalam kegiatan komunikatif. gagasan. Hal ini diisaratkan baik dalam rambu-rambu Kurikulum SD 2006. dalam Sumardi. dan tempo) dalam bahasa lisan. menulis. intonasi. dan lain-lain. Sumber materi yang diutamakan dalam pendekatan komunikatif ialah materi yang otentik. antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi. Agar komunikasi terjalin dengan baik. keinginan penyampaian informasi suatu peristiwa. persetujuan. Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah. Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Guru hanya sebagai fasilitator. tetapi secara utuh. pembelajaran bahasa Indonesia di SD juga harus mengacu pada pendekatan terpadu (PT). ejaan.

(3) Catatan lapangan. Artinya kedelapan RP tersebut disusun secara berurutan dan diterapkan secara berturut-turut pula oleh guru di depan kelas. Setiap ada pembaharuan dalam bidang pendidikan (perubahan kurikulum) SD Sukamaju mendapat informasi langsung dari atasan terdekat. serta evaluasi yang dilaksankan oleh guru.METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dilaksanakan dalam pembelajaran BI di SD Sukamaju Sumedang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Peneliti mewawancari guru BI di kelas VI.Oktober 2008 . Secara rinci yang diteliti pada RP terebut adalah (1) perumusan TPK. Dipilihnya SD Sukamaju sebagai tempat penelitian karena pertimbangan sebagai berikut. Secara lebih khusus penelitian ini tergolong ke dalam penelitian studi kasus pengamatan (observarvastional case study) nonpartisipan. Fokus utama penelitian ini adalah sekelompok individu yang berinteraksi dalam periode waktu tertentu (Borg dan Gall. 1983:489). (2) pekerjaan di lapangan. SD Sukamaju milik pemerintah. 2000:72 – 94). (2) penyusunan kegiatan belajar mengajar. teknik penyampaian materi. (2) langkahlangkah penyampaian materi. Peneliti memberikan angket kepada guru pengajar BI di kelas VI. SD Sukamaju selalu diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Peneliti mencatat kejadian selama dilakukan pengamatan di lapangan. Sedangkan studi dokumentasi terhadap RPP dilakukan untuk mendapat gambaran secara jelas mengenai perencanaan yang berhubungan dengan penerapan kedua pendekatan tersebut di atas dalam perumusan TPK.(4) Studi Dokumentasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (3) dan sistem penilaian yang dilaksanakan oleh guru. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati (1) aktivitas guru serta aktivitas siswa. Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai identitas guru serta tugas yang dikerjakannya. Untuk pelaksanaan pengajaran di kelas yang diteliti adalah (1) bentuk interaksi proses belajar-mengajar dan (2) teknik penyajian materi. Data penelitian ini diambil dari penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sebab itu. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. Selanjutnya hasil observasi ini dideskripsikan dalam laporan hasil penelitian. Demikan pula bila ada ceramah atau kegiatan yang berkaitan dengan pembaharuan (simulasi atau seminar) dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh PGSD. sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1992:60). (4) pemilihan media pembelajaran BI. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang RPP. dan (5) penyusunan alat evaluasi. (3) materi dan sumber pelajaran. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap kurikulum dan rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Data yang diambil hanya dari 8 RP yang disusun dan disajikan secara berturut-turut untuk 8 kali tatap muka. yaitu kasus pengajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan pendekatan komunikatif dan pendekatan integratif. (5) Observasi. apakah setiap mengajar harus menyusun RPP? Apakah RPP dibuat sendiri atau dikirim dari pusat atau dibuat oleh KKG? Apakah RPP diperiksa oleh kepala sekolah sebelum disajikan?. Selanjutnya untuk pelaksaan kegiatan evaluasi. pemilihan media. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. dan penyusunan alat evalusi. Observasi dilakukan pada saat PBM berlangsung.sisiwa. “JURNAL. Agar kegiatan selama PBM dapat diamati dengan cermat digunakan bantuan tape recorder dan catatan penelitian. dan penilaian hasil belajar yang dilaksankan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. pemilihan materi pelajaran. penysusunan KBM. yang diteliti adalah pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan sisiwa selama PBM. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. Untuk melaksanakan penelitian yang dirancang dengan prosedur deskriptif maka penelitian harus mengikuti presedur (1) kegiatan pralapangan. SD ini mendapat binaan langsung dari induknya. Hal ini dilakukan terutama ketika guru melaksanakan pengajaran di dalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru. pelaksanaan pengajaran. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajarkan BI dan siswa Kelas VI pada SD Sukamaju. Dalam penelitian ini fokus observasi adalah pengajaran BI di kelas VI SD yang dilaksanakan oleh seorang guru dengan menerapkan pendekatan komunikatif. (2) Wawancara. Studi dokumentasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh penjelasan tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dikaitkan dengan perumusan tujuan dan pengembangan materi pembelajaran BI. dan (3) analisis data penelitian (Bogdan dalam Moleong.

Materi yang direncanakan untuk siswa berjumlah 36 butir. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. 6 RP telah menerapkan Pendekatan Terpadu (PT) sedangkan 2 RP lainnya belum menerapkan PT. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. Selama 8 kali tatap muka. Dari ke-30 KE tersebut. Pada KBM yang disusun. diketahui bahwa materi tersebut adalah materi yang otentik. Selanjutnya dari 8 RP yang direncanakan guru. Dari jumlah tersebut 16 butir alat evaluasi telah menerapkan PK dan 6 butir belum menerapkannya. Pada umumnya media pengajaran yang digunakan hanya buku teks. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Penyusunan alat evaluasi yang direncanakan guru dalam RP berjumlah 22 butir. dan fasilitator. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Selanjutnya alat evaluasi yang direncanakan pada 8 RP hanya 3 RP yang telah menerapkan PT. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. Sisanya. Ini berarti bahwa media yang digunakan guru kurang bervariasi. (7) teknik penyajian materi . guru tetap merencanakn agar siswa berperan aktif. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. dan (8) kegiatan evaluasi pengajaran BI. 37 KBM telah menerapkan PK. (5) penyusunan alat evaluasi. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. Selanjutnya dari 8 RP yang disusun guru. Selanjutnya bila ditinjau dari penerapan PT semua materi yang direncanakan telah menerapkan PT dengan sangat baik. Sisanya.Data dianalisis selama pengumpulan dan setelah pengumpulan data. menyiapkan materi yang bervariasi. Dari jumlah tersebut 28 butir media telah menerapkan PK sedangkan 8 butir belum menerapkannya. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. 5 RP telah menerapkan PT dan 3 RP belum menerapkannya. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian berkenaan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan penerapan pendekatan terpadu dalam pengajaran BI yang meliputi: (1) perumusan TPK. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. sedangkan 5 rumusan TPK lainnya belum menerapkan PK. Selanjutnya. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. “JURNAL. Maksudnya selama pengumpulan data. data ditranskripsikan (dari pita rekaman ke data tulisan) dan disesuaikan dengan catatan penelitian. Di samping itu latihan-latihan yang diberikan dapat mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi secara langsung. (2) penyusunan KBM. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dari 8 kali tatap muka. (6) bentuk interaksi PBM. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .Oktober 2008 . Dari ke 25 rumusan TPK tersebut hanya 20 rumusan TPK yang telah menerapkan Pendekatan Komunikatif (PK). digunakan tes esei sehingga siswa dapat bernalar dan mengorganisasikan jawabannya secara kreatif. Di samping itu. Penyusunan rencana KBM pada RP yang terdiri dari 45 KBM. yaitu alat evaluasi yang direncankan pada 5 RP belum menyajikan penerapan PT. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Untuk mengukur kopetensi komunikatif siswa. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. Seandainya terdapat penyimpangan maka pada observasi berikutnya dapat dilakukan perekaman atau pencatatan data dengan lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan data yang fatal. motivator. TPK yang direncanakan guru jumlahnya sangat terbatas. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Selanjutnya kedelapan RP yang direncanakan guru dalam mempersiapkan media tersebut telah menerapkan PT dengan sangat baik. dan 8 RP KBM belum menerapkan PT. Dari jumlah tersebut 28 butir materi telah menerapkan PK dan 8 butir belum menerapkannya. Guru tetap menekankan penggunaan BI secara riil dan bukan menghafalkan pengetahuan tentang bahasa. (3) pemilihan materi pelajaran. (4) pemilihan media pelajaran. Media pengajaran yang direnacanakan guru pada RP berjumlah 36 butir. Berdasarkan hasil pengamatan. yaitu hanya ada 25 butir rumusan TPK untuk 8 RP. bermakna bagi siswa dan bersumber dari lingkungan di sekitar siswa dan bersumber dari lingkungan siswa. sedangkan penggunaan media lainnya sangat terbatas.

Bandung: Sinar Baru. dan Zuhdi. Rofiudin. 1998. Daniel J. dan L. Tahun 23. Jakarta: Bumi Aksara. Teknologi Pendidikan.” Dalam Bahasa dan Seni.K.2004. 2006. 45 Kegiatan untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi. Moleong. NewYork: Longman. Media Pendidikan. Jakarta: Depdikbud. Goodman. 1995. CC. Jakarta: Rasindo. Ken. Bandung: UPI PRESS.M. Apresiasi Sastra di SD. dan Implementasi. Integrated Teaching Methods : Theory. Ch. What’s Whole in Whole Language? Portsmouth: Heinemann. dan Novi Resmini 2006. No. B. Metodologi Pengajaran Bahasa.M dan Rosse.M. 1992. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi SD. Bandung: Remaja Rosda Karya. Parera.C. Frazee. 2000. Sapani. Hastuti. Depdiknas. An Integrated Language Perspective in the Elementary School. Metodologi Penelitian Kualitatif. Farida. Dadan. Bandung: Kaifa. Imam.R. Dadan. Rahim. Jakarta: Depdikbud. Majid. S. dan Rivai. H. D. 1989. 2003. A. Dkk. Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. 1986.G. 1992. Boston: Allyn and Bacon. 2005. 1995. Jakarta: Elex Media Komputindo. Djuanda. 2005. I. Jakarta: Rajawali Pers. 1998. 2005. 1995.Oktober 2008 . Tarigan. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Djuanda. B. Kurikulum Satuan Pendidikan Jakarta: Depdiknas. 2 Agustus 1995. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. 2004. 1997.Levstik. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Syafi’ie. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Ahmad. Mulyanto. Nana. Pappas. Jakarta: Depdikbud. Karakteristik. Jakarta: Sinar Harapan. Bandung: UPI PRESS.Biklen. E. Sumardi. 2000. dan Alwasilah. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Bandung: Rosda Karya. R. Arief. Mulyasa. and Field Based Connections. 1996. Teori Pembelajaran Bahasa. New York: Delmar Publisher. Jakarta: Depdikbud “JURNAL. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Djuanda. A. 2006. Sadiman. 2005. Dkk. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Abdul. Bandung: Remaja Rosda Karya.Kiefer. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktik. Clasroom Aplication.DAfTAR PUSTAKA Azies. dan S. Bogdan. 2006. “Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Dikti. F. Sudjana. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD. dan Prana D. Nangoy. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan. Dadan.S. Lexy J. Djuanda. Dadan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kenyataan dalam pendidikan dewasa ini adalah semakin menurunnya peran guru dalam proses pengembangan potensi peserta didiknya karena berbagai alasan. pendidikan di sekolah-sekolah kita ini masih merupakan pembelajaran yang berfokus pada pengajar (InstructurCentered Learning) Aris Pongluturan (1999:157). masyarakat dan manusia yang menjadi anggota masyarakat. Seperti kita pahami. peserta didik diharapkan dapat menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar. 4) biaya mengajar. mental intelektual maupun semangatnya dimana ketika peserta didik menyelesaikan setiap satu jenjang pendidikan tertentu dinyatakan telah memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi secara mandiri serta mampu berdiri sendiri tanpa mengantungkan hidupnya pada orang lain. masyarakat. yang berkembang baik pisik. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lippit dan K. 1996:93) disimpulkan bahwa pada saat mengajar akan dijumpai betapa kompleksnya fungsi mengajar itu kita akan menghadapi beberapa variable yang kompleks karena itu kita perlu mengatur strategi dalam mengajar. pelajaran IPS. U “JURNAL. kepribadian. Fenomena ini sudah berkembang dipersekolahan sejak lama khususnya dalam pembelajaran IPS dimana pembelajaran IPS lebih cenderung transfer materi saja sehingga memunculkan anggapan dibenak masyarakat khususnya peserta didik bahwa pelajaran IPS kurang menantang. mengingat tujuan IPS untuk setiap jenjang adalah mengembangkan kecerdasan warganegara yang diwujudkan melalui pemahaman. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. dipersekolahan seharusnya lebih menekankan pada pengembangan potensi siswa dalam berbagai gatra yang bersifat pragmatis-praktis yang menyangkut diri dan kehidupannya. sebagai individu dan kelompok. Mendidik adalah menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. materi yang diajarkan guru dan disini siswa harus didorong ikut memainkan peran serta aktifnya dalam proses belajar mengajar. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. kecerdasan.Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah PENDAHULUAN ndang-undang No. Maka dapat kita katakan bahwa melalui usaha pendidikan. 5) persyaratan dan set –up lembaga. Hal ini disebabkan guru tidak lain dalam proses belajar mengajar itu hanya menyajikan pengetahuan yang ada yang harus dihafalkan dan diketahui peserta didik (Ansyar dalam Laode 1999:4). yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai. 2) siswa dan latar belakangnya. Studi mengenai manusia di masyarakat dimasa kini. sehingga menurunkan minat anak untuk lebih memperdalam mempelajari pelajaran IPS. Kejadian tersebut tidak lepas dari kemampuan guru yang belum mengembangkan kemampuan berpikir siswa kearah materi yang sifatnya problematic yang memerlukan siswa berpikir kritis dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya untuk kemudian memutuskan sesuatu dalam rangka memecahkan masalah. studi mengenai pelajaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan. Adapun variabel yang dimaksud adalah : 1) Tujuan . 3) isi serta struktur pelajaran. dapat menghasilkan manusia paripurna yaitu mengembangkan manusia seutuhnya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . akhlak mulia. Whitedan Richard Anderson (dalam Idochi Anwar. sekarang dan akan datang. bidang studi yang menjemukan.Oktober 2008 . pengendalian diri. Mengingat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. bangsa dan Negara (UUSPN : Pasal 3 ayat 1). Studi yang mempelajari interaksi manusia untuk membantu siswa memahami diri mereka dan yang lainnya dalam suatu masyarakat yang berbeda tempat dan waktu. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa. Seringnya terdengar ungkapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak lebih dari menyampaikan informasi saja tidak menantang dan menjemukan. seiring dengan perkembangan jaman. Pelajaran IPS merupakan. dan keterampilan sosial dan intelektual serta partisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmuilmu sosial.

Oktober 2008 . Dari latar belakang permasalah dan temuan teori di atas. Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan). Persoalannya adalah bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan ) digunakan dalam Gambar 1: Decision Making tree Ouline Diadaptasi dari R. Pengembangan model Decision Making Process (proses pembuatan keputusan) diasumsikan dapat digunakan dalam pembelajaran IPS. Seperti yang diungkap oleh Maxim (1987:240) “One of the most effective program for encouraging decision making in development of value is…. Melalui model pembuatan keputusan dan ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dan analitis guna membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada. consider alternatives and weigh the consequences of different course of action”.Remy dalam Naylor (1987:267) “JURNAL. Untuk bisa dicapainya kondisi tersebut di atas.1987:275).C. Satu diantaranya adalah metode decision making process.mengharuskan guru yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar mengajar untuk lebih kreatif menciptakan kelas yang kondusif sehingga nantinya dapat menghasilkan pembelajaran IPS yang lebih bermakna. memperlihatkan bahwa. upaya yang dilakukan adalah menggunakan pola pembelajaran yang dapat menciptakan aktivitas proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa dimana “Thinking skill are among the most important skill to learn” (Naylor. analizy and evaluate proposal. Banyak metode yang digunakan untuk dapat menciptakan proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa (Naylor 1987 : 247). La Raus and R. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang dapat menjawab diskursus yang berkaitan dengan pengajaran IPS yang selama ini dipandang belum optimal. “Decision making process are developed as student clarify value.The program making political decision”. karena sesuai dengan apa yang menjadi fungsi dan peran yang diemban oleh mata pelajaran IPS yaitu sebagai sarana utama untuk mendidik warganegara dalam upaya mewujudkan masyarakat madani Indonesia.

dikembangkan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. karena guru mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran dengan kondisi riil siswa dan masalah sosial. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2: HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimental) yaitu suatu penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan. penulis akan mencoba menganalisis kinerja guru maupun tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru sejak menyusun tencana sampai penerapan pembelajaran nampak “JURNAL. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru. ditemukan bahwa. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . berkomunikasi dan juga menghargai pendapat sesama kawan. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS ? 4. Berdasarkan metodologi penelitian maka diperoleh hasil: Proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Setelah mengikuti pembelajaran Decision Making Process Model selama empat kali pertemuan. karena kegiatan tersebut diindikasikan melibatkan peserta didik yang terlihat dari pembelajaran yang tidak ceramah terus.Oktober 2008 . Masalah pokok makalah di atas. Bagaimana proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) ? 2. dalam pembelajaran materi tidak hanya terpaku pada buku teks tapi lebih mengkontekstual. Seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS? 3. pembelajaran Decision Making Process Model adalah kegiatan pembelajaran yang sangat menyenangkan. saling toleransi. Pembelajaran ini dapat menumbuhkembangkan keterampilan sosial peserta didik yaitu berkerjasama.Gambar 2: Paradigma Penelitian proses belajar mengajar IPS maka penelitian ini dibatasi pada “bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan) dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas 6”. tetapi juga melakukan suatu diskusi berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat.

5143 7.5 8.5 9 10 6.5 8 9.5 7.5 7.5 9 9 6 9 6. Menurut pendapat guru pada saat mengembangkan pembelajaran di kelas.5 6.5 8.5 10 7. pendapat ini dapat mengindikasikan bahwa pengembangan pembelajaran Decision Making Process Model membutuhkan kemauan maupun keterampilan yag tinggi agar pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan optimal.5 9 8 9 8 9 8 8 9 9.5 9.5 10 9 7.5 8.5 8 10 7 6 6 7 7.5 7 8 9. perlu keterampilan yang cukup tinggi agar Decision Making Process Model dapat dilaksanakan secara optimal.5 6 7 7.5 9. maupun dalam mengerjakan tugas dari guru. baik keterampilan dalam menyusun rencana pembelajaran.5 9.5 10 9.mengalami perubahan dan peningkatan kearah lebih baik.5 7. baik dalam menampilkan materi.5 10 6.9857 8. diskusi.5 9 8. sehingga perlu dipersiapkan rencana pembelajaran secara terencana.5 9 10 8. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .5 10 8 8.5 9 9. maupun dalam mengevaluasi pembelajaran.5 8 8.5 9.5 9 9 10 9 9.5 8 9.5 8 8 8 9 10 8. Tabel 1: raihan Nilai Setelah Menggunakan Decision Making Process Model No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rata2 Nilai Pertemuan Ke: 1 2 3 4 7 6.5 10 7. dapat menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. Disamping itu dengan menerapkan pembelajaran Decision Making Process Model. maupun memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas maupun kreativitas pembelajarannya dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dengan menggunakan media pembelajaran short story.6 9.5 6.46 9.5 9 10 8.5 9 7.Oktober 2008 .5 10 9 9 9 10 8 8. baik dalam kegiatan tanya jawab.5 5 7. selain itu dengan penerapan Decision Making Process Model ini peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajaran selalu mengembangkan konsep-konsep terkunci secara terus menerus.5 8 9 10 8 9.5 7.5 7 9.5 9 9 10 8 9 9 9 7 6.5 5 5 6 7.5 9 10 6 6 6.5 7.486 Gambar 3: Grafik Perolehan Hasil Belajar “JURNAL.5 7.5 9 8 10 7.5 9 10 5 6 6 9 6. Menurut pendapat guru Decision Making Process Model ini merupakan inovasi pembelajaran. pelaksanaan.5 9.5 10 7.5 7.5 8. Guru juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. Selain itu hal-hal tersebut di atas guru juga berpendapat bahwa dengan penerapan pendekatan ini dapat meningkatkan aktivitas maupun kreativitas peserta didik hal ini nampak terlihat dari proses pembelajaran berlangsung. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan penerapan pembelajaran Decision Making Process Model akan memberi warna baru dalam proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan.

salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa. Setelah dilakukan evaluasi dengan materi IPS yang berbeda. Hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang berarti. Temuan lain menunjukkan bahwa siswa umumnya suka dengan Decision Making Process Model namun mereka tidak mengharapkan metode tersebut digunakan untuk seluruh pokok bahasan dan tiap pertemuan. dan juga sikap siswa. mencari isu dan masalah tidak mudah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . selain itu adanya perubahan sikap. Decision Making Process Model adalah merupakan hal yang baru. Penerapan model belajar Decision Making Process Model. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Beberapa kendala yang dialami oleh guru ketika pelaksanaan pembelajaran Decision Making Process Model.Peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Pada penelitian ini kegiatan evaluasi dilakukan guru untuk mengukur penguasaan konsep pada diri siswa. Perningkatan perkembangan ini dapat dilihal dari Tabel 1 dan Gambar 3. Keterampilan seperti ini tampaknya perlu dilatih dan ditingkatkan untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model. Namun ketika menemukan hal yang tidak biasanya atau baru mereka merasakan sesuatu yang lain dan respon mereka ditunjukkan bisa positif dan negatif. Temuan lain dari hasil wawancara ditemukan bahwa ada beberapa yang lebih menyukai cara belajar biasa dengan dasar alasannya adalah karena informasi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan Decision Making Process Model . dari hasil evaluasi ditemukan adanya peningkatan pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan penguasaan kosep. mengeluarkan argumentasi. berperan aktif dalam proses belajar mengajar. penyusunan perangkat evaluasi yang tidak umum dilakukan sebelumnya. pertama berhubungan dengan kebiasaan guru itu sendiri yang terbiasa menggunakan pembelajaran yang sifatnya tradisional. untuk merubah kebiasaan yang telah tertanam pada diri guru secara keseluruhan sangat sulit dilakukan. dalam hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar siswa secara keseluruhan maka hasilnya menunjukkan adanya peningkatan. Banyaknya materi yang harus disampaikan dengan jumlah jam pelajaran. Berdasarkan temuan selama mengadakan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Decision Making Process Model ini telah memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. yaitu berpusat pada peserta didik. menghargai hasil kerja orang lain. (2) guru hanya terpadu pada cerita yang dipersiapkan padahal masih banyak cerita lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan topik bahasan. peserta didik merasa lebih banyak tugas yang harus dikerjakan sehinga peserta didik aktif dan antusias dalam mengerjakan tugas. Kendala ini dirasakan dalam pembelajaran IPS dengan model tradisional. Kendala yang dialami dalam pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan adalah guru kurang berupaya menciptakan disequlibrium atau desonanti. umumnya manusia merasakan suatu runtinitas sebagai hal yang biasa. Respon siswa terhadap penggunaan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Dari hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan bahwa : Decision Making Process Model dapat menciptakan suasana anak menjadi kondusif. juga meningkatkan keterampilan dengan merumuskan pertanyaan. Sesuatu yang baru diperkenalkan dan dialami adalah variasi dari suatu rutinitas. baik secara individu. dikarenakan pelaksanaan model ini dapat menciptakan iklim pembelajaran yang transaksional. maupun kelompok “JURNAL. misalnya mau mendengarkan pendapat orang lain.Oktober 2008 . resonansi melalui konlik-konflik nilai dalam dialog. selain itu hampir semua siswa senang dan menyukai pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dengan alasan cara pembelajaran seperti itu membuat siswa lebih leluasa untuk mengemukakan pendapatnya tanpa ada perasaan takut salah. guru harus menguasai materi yang lebih luas terkait dengan konsep KESIMPULAN Pertama pembelajaran dengan menggunakan model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternatif pembelajaran IPS di sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Menggunakan Decision Making Process Model ini memerlukan waktu yang cukup lama kedua penggunaan pola pembelajaran ini menuntut guru untuk lebih kreatif dibandingkan dengan pendekatan yang konvensional. sehingga ketika pelaksanaan pada prosesnya guru cenderung terlalu cepat mengambil alih kendali pembelajaran dan dominasi selama pelaksanaan. materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah dipahami. membuat laporan menyelesaikan tugas. sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengungkapkan dan menemukan konsep-konsep dalam belajar. Kendalan lain yang dirasakan adalah kurang seimbangnya waktu belajar (durasi jam pelajaran) dengan proses pembelajaran.

Tidak Diterbitkan. Merril Publishing Company. Bandung. Paulina Panen. Numan Somantri (1993) Masalah Pengembangan Ilmu Kewarganegaraan (IKN) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dalam lingkungan FPIPS-IKIP dan FKIP-Universitas. Selain itu juga guru dituntut untuk menguasai banyak disiplin ilmu untuk pengajarannya. Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. O (1993) Pengantar Metode Penelitian. Jakarta.Kosasih Djahiri (1996) Teori Keterampilan Belajar dan Mengajar Menuju Inquiry yang Reaktif. “JURNAL. Stephen dan William B. iconic dan symbolic. M. Abdul Azis Wahab (1996) Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global. California: Edits J. Third Edition.dan juga bersifat multi arah. Canada. Penerbit Universitas Indonesia. Seville. DAfTAR PUSTAKA A. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. edition). Ari Sutisyana (1997) Pengembangan Berfikir Kritis Anak dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar. Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam memahami masalah. Adision Wesley Publishing Company. Reading Massachusetts. Departemen Pendidikan Nasional (2000) Pendidikan Kewarganegaraan. Prentice-Hall Inc. Gray III (1977). Maxim (1987) Social Studies and Elementary School Child. LAB Pengajaran PMP IKIP Bandung. terutama dalam upaya mengkonkretkan konsepkonsep abstrak maupun perannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. (1982). Kedua masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan pembelajaran ini terkait dengan kesiapan guru dalam merencanakan dan mengembangkannya di kelas. dkk (1999) Cakrawala pendidikan. Ninth Edition. Ketiga penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Trends and Development. Universitas Jakarta. (2 nd . Tesis. Pengajaran IKIP Bandung. Remaja Roakarya. John Jarolimek(1993) Social Studies In Elementari Education. Bandung : Sinar Baru. Michell. Allyn and Bacon Coensuello G. Tidak Diterbitkan.Jakarta. Bandung. Lab. dimana guru berusaha untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan selalu mempertimbangkan aspek peserta didik. Engle wood cliffs.J. Nana Sudjana & R. Decision Making Process Model ini memiliki kekuatan karena peserta didik dibantu untuk memahami konsep-konsep IPS yang abstrak dengan enactive. New York. IKIP Bandung. Hansiswani kamarga (1994) Konsep IPS dalam Kurikulum Sekolah Dasar dan Implementasinya di Sekolah. New York. Ibrahim (1989) Penelitian dan penilaian Pendidikan. Isaac. Ohio. Diterjemahkan oleh Alimuddin Tumu. George W. Decision Making Process Model ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena Decision Making Process Model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuh kembanggkan kreativitas dan critical thinking siswa. PPS IKIP Bandung. PPS. Tesis. Learning by Doing Developing Teaching skill. Hasibuan (1986) Proses Belajar Mengajar. Jakarta. David T. Bandung.jakarta. P2LPTK. Bandung : IKIP Bandung. USA. Barry K.(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. New Jersey. FPIPS IKIP Bandung. juga dalam mewujudkan iklim belajar yang transaksional dengan interaksi multi arah dan berpusat pada peserta didik. Handbook in Research and Evaluation.Oktober 2008 . John U. William A. Mac Millan Publishing Company.Angkasa. Pidato Pengukuhan jawaban Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan. Michaelis (1976) Social Studies for Children in a Democracy. Recent. dalam membuat rancangan pembelajaran. Bandung. Makalah. Hamid Hasan (1995) Pendidikan Ilmu Sosial. Keempat penerapan pembelajaran ini menurut guru merupakan inovasi yang bisa menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. Moch Idochi Anwar (1990) Kepemimpinan dalam Proses Belajar Mengajar. Selain itu juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta didik secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajarannya selalu mengembangkan konsepkonsep kunci pendidikan IPS. Random House Inc. ----------------. Tidak Diterbitkan Bandung. Beyer (1991) Teaching Thinking Skills :A Handbook for Elementary School Teacher. Jesus A. Bandung. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Naylor (1987) Elementary and Middle School Social Studies.

Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tyler (Mayadiana. yang menitikberatkan pada sistem. The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is a must for students in tertiary level. middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan. (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning. metacognitive approach PENDAHULUAN erpikir merupakan satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Dalam suatu proses pembelajaran. reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level can be considered as low. and fill-in list for lecturers. “JURNAL. Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis. experimental group was treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. 2004). tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. konsep. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis. Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah B kemampuan berpikir kritis.Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Abstract This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitive approach in mathematics learning. menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Kenyataannya. dan terbuka. objektif. serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis. In teaching and learning process. The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test.Oktober 2008 . Data analysis were performed both quantitatively and qualitatively. seperti yang diungkapkan oleh Begle (Darhim. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. interview guidance. Qualitative analysis was applied to explain teaching and learning activity. students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. Kata Kunci: critical thinking skill. observation sheet. 2005) mengenai pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah. (2) Metacognitive approach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever. (3) Students’ activities were also improved in quality. serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. dinamis. sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif. prinsip. struktur. Quantitative analysis was applied to the test result to display the difference of means between two sample groups. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who were taught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dan generatif. The subjects of the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and students of PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah. nonetheless. Maier (1985) dan Ruseffendi (1991). sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan. Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. students’ attitude scale-questionnaire.

Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapa semester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yang berasal dari SMA. Akan tetapi. dengan program studi IPA dan NON-IPA. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Bertolak dari pemikiran di atas. mengenali kembali. serta faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 5. jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan. perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan. Indikasi lainnya. ternyata kurang memuaskan.62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA. serta 34. Tampak dari nilai mereka dengan rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk kedua kelompok tersebut. bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih rendah. MA. baik untuk mahasiswa yang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secara aktif yang menanamkan kesadaran metakognisi. Dari uraian di atas. sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional? 2. mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor. Semua informasi yang ditemukan di lapangan tersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Hasil yang diperoleh dari studi tersebut. subkelompok sedang. sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. serta dalam menyelesaikan masalah. 2005). yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka.06% untuk keseluruhan mahasiswa.Oktober 2008 . SMK. mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya. Ironisnya.26% untuk mahasiswa berlatar belakang IPA. yakni dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya. akan tetapi di sisi lain ternyata kemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masih kurang. mengingat. dan SPG (khusus pada kelas karyawan). mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan. komentar. Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebut adalah laporan penelitian Mayadiana (2005). maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. yakni hanya mencapai 36. kemampuan berpikir kritis peserta didik di satu sisi memang sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif? 3. juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasi matematik (Maulana. Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. guru atau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan. mahasiswa terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih. Pandangan ini tentu saja berdasar. 26. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Tinjauan yang lebih mendalam pada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaran bahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitan dalam memahami konsep matematika maupun dalam pemahaman prosedural.Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas. mengorganisasi informasi yang dihadapinya. salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa. Melalui pengembangan kesadaran metakognisi. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? “JURNAL. Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 4. maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu.

Oktober 2008 . yaitu bahwa berpikir kritis: (1) adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. yaitu menangkap tulisan. berpikir tentang hasil. pengambilan keputusan (decision making). persepsi. Menurut keduanya. 2005). merancang. seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. Quina (Syukur. sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. evaluasi. (4) memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan. Liliasari. Swartz dan Perkins (Hassoubah. dan salah satu dari kemampuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. Pada saat seseorang menghadapi persoalan. Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yang melibatkan proses sensasi. berpikir lateral. Presseisen (Angeli. menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada. berpikir strategis. ataupun melakukan recall dan recognition ketika yang dihadapinya adalah persoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. pertama-tama ia melibatkan proses sensasi. Gerhand (Mayadiana. gambar. serta untuk menilai tindakan (Liputo. menimbang. dan memori (Sobur. dan memahami apa yang diminta dalam persoalan tersebut. Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. 2003). dan Splitter (Mayadiana. dan berpikir kritis (critical thinking). Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selain untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. yaitu: berpikir vertikal. mengevaluasi. Ennis (2000). Penulis merangkum beberapa definisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh Norris (Fowler. yaitu membaca. dan dalam hal ini berpikir kritis bertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusan mengenai sesuatu. 1996: 31) menyebutkan bahwa yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Dengan berpikir kritis. seseorang dapat mengatur. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sintesis. menyesuaikan. Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupan yang tak bisa dihindari. Presseisen (Liliasari. termuat juga kegiatan meragukan dan memastikan. menghubungkan. STUDI LITERATUR 1. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional. subkelompok sedang. dan (6) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. Dalam proses berpikir. 2. Selanjutnya ia mengalami proses persepsi. yakni kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakan perpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar. mengubah. membandingkan. (3) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. 1994). berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat. serta membuat seleksi. 1996). mengukur. Pada saat itu pun. Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diungkapkan di atas dapat dikembangkan melalui pembelajaran. melihat kemungkinankemungkinan yang ada. berpikir analitis. berpikir kritis. dan berpikir kreatif.HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. memilah-milah atau membedakan. 2004). menafsirkan. Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto (1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang paling utama. atau memperbaiki pikirannya. membuat perencanaan. sebenarnya ia melibatkan proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru yang ada pada persoalan tersebut. DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian. 2004). 2005). Berpikir Kritis Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan berpikirnya. 2003). Ungkapan sejalan mengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh “JURNAL. (5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut. menghitung. Paul dan Scriven (1996). analisis data. memecahkan masalah. dan memutuskan (Sobur. 1996). Sementara itu. ataupun suara. (2) merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. berpikir kreatif (creative thinking). 1996) membedakan kemampuan berpikir menjadi dua bagian. juga untuk mengambil keputusan. 1997. menggolongkan. menganalisis. mendengar.

Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. dan mengetahui kapan melakukannya. dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri.Oktober 2008 . (6) Kemampuan merekonstruksi argumen. dan siap bernalar tentang kualitas dari apa yang mereka lihat. Fawcett (Glazer. Paul (Mayadiana. yaitu pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang keterampilan. 3. mengetahui prasyarat untuk meyakinkan kelengkapan tugas tersebut. Karena bagaimanapun. yaitu kemampuan menyatakan argumen dalam bentuk lain dengan makna yang sama. Sementara itu Cabrera (1992) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses dasar dalam suatu keadaan dinamis yang memungkinkan mahasiswa untuk menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan masa mendatang. memantau. atau yang mereka pikirkan. Menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. antara lain meliputi kemampuan: (1) Kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. 2. Perlulah kiranya diungkap dengan lebih jelas beberapa deskripsi yang berhubungan dengan berpikir kritis dalam matematika. (4) Kemampuan mendeduksi dengan menggunakan prinsip. pengetahuan tentang pengetahuan. dengar. Karena berpikir kritis dalam matematika secara epistemologi berbeda dengan berpikir kritis dalam domain lainnya (Glazer. 2004). Suzana (2004: B4-3) mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang. berpikir kritis dalam pembelajaran matematika merupakan tujuan yang dikelompokkan secara holistik berdasarkan apa arti mengajar. Sejalan dengan itu pula. 2005). (2) Kemampuan mengidentifikasi relevansi. 1987). serta membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri apa yang dilakukan saat belajar matematika. bentuk aktivitas memantau diri (self monitoring) dapat dianggap sebagai bentuk metakognisi. di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir. Brown (Weinert dan Kluwe. Berpikir Kritis dalam Matematika Domain khusus definisi berpikir kritis harus didiskusikan dalam rangka menarik hubungan antara penelitian dan implikasinya dalam pendidikan matematika. memonitor. yaitu kemampuan menyatakan persoalan ke dalam simbol matematika dan memberikan arti dari setiap simbol tersebut. 2003). Para peserta didik dengan pengetahuan metakognitifnya sadar akan kelebihan dan keterbatasannya dalam belajar. 2005: 9). penulis merumuskan beberapa indikator berpikir kritis yang akan digunakan dalam penelitian ini. Woolfolk (1995) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua komponen terpisah yang terkandung dalam metakognisi. Pendekatan Metakognitif Weinert dan Kluwe (1987) menyatakan bahwa metakognisi adalah second-order cognition yang memiliki arti berpikir tentang berpikir. Artinya saat siswa mengetahui kesalahannya. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan oleh Krutetski (Mayadiana. Resnick (Mayadiana. dan sumber yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. Pascarella dan Terenzini (Mayadiana. membantu dan membimbing siswa jika ada kesulitan. dosen memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. dan memahami matematika (Appellbaum. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . bertindak secara normatif. 2004) mengklaim bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya. Sebagai pendidik. 2004). Nindiasari (2004) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan “JURNAL. 1987) mengemukakan bahwa proses atau keterampilan metakognitif memerlukan operasi mental khusus yang dengannya seseorang dapat memeriksa. strategi. Tim MKPBM (2001) memandang metakognitif sebagai suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang disajikan dengan menggunakan aturan inferensi. bahwa orang yang berpikir kritis adalah individu yang berpikir. atau refleksi tentang tindakantindakan.Splitter (Mayadiana. Mengetahui apa yang dilakukan. bagaimana melakukannya. yaitu kemampuan menuliskan konsep-konsep yang termuat dalam pernyataan yang diberikan dan menuliskan bagian-bagian dari pernyataanpernyataan yang menggambarkan konsep bersangkutan. karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif. 2005). mereka sadar untuk mengakui bahwa mereka salah. dan mengumpulkan informasi untuk membangun definisi operasionalnya. 2005). (3) Kemampuan merumuskan masalah ke dalam model matematika. memprediksi. yaitu kemampuan menuliskan contoh soal yang memuat aturan inferensi. dan berusaha untuk memperbaikinya. serta mengontrol tentang apa yang mereka ketahui. yaitu kemampuan menentukan aturan umum dari data yang tersaji dan kemampuan menentukan kebenaran hasil generalisasi beserta alasannya. mengatur. Lebih jauh lagi. 2005). apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya. merencanakan. Dalam sudut pandang yang lain. (5) Kemampuan memberikan contoh inferensi. mengerjakan. oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan berpikir kritis diabaikan oleh dosen. Ennis (Glazer.

metakognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari strategi kognitif. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. dan (4) situasi peserta didik dalam kegiatan kognitif mengalami kesulitan. 1987. 2003: 17-18). memperluas aplikasi-aplikasi tersebut. sikap mahasiswa dan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. analisis dilakukan dengan uji normalitas. Untuk data kuantitatif. 2004: B4-4) adalah: (1) kesadaran mengenal informasi. yaitu siswa dapat memahami dan menggunakan strategi kognitif dan strategi kognitif metakognitif selama proses pembelajaran berlangsung.. Pada kelas eksperimen dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Aspek metakognitif sebagai bagian terkait dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif sangat penting untuk dapat dikembangkan agar mahasiswa mampu memahami dan mengontrol pengetahuan yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajaran. 1998). Contoh dari strategi kognitif ini antara lain: bertanya pada diri sendiri. anak bertanya pada dirinya sendiri untuk menguji pemahamannya tentang materi yang dipelajari. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi. Selain dengan latihan. Bila diterapkan dalam belajar. Wong (Jacob. & Reid. dan merevisi kerja mereka sendiri mencakup tidak hanya membuat mahasiswa sadar tentang apa yang mereka perlukan untuk mengerjakan apabila mereka gagal untuk memahami. analisis masalah). jurnal. Johnson. setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara aposteriori. pengertian strategi kognitif adalah. pedoman wawancara. sedangkan strategi kognitif metakognitif adalah mengontrol seluruh aktivitas belajarnya. Borkwoski. pertimbangan. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap hasil tes untuk melihat perbedaan rerata antara dua kelompok sampel. pendidik (dosen/guru) dapat memulai lebih awal di sekolah atau perguruan tinggi. 2004). Pressley et al. dengan model keterampilan ini. 1987) mencakup perencanaan. misalnya dalam pemecahan masalah. 2000: 444) PENELITIAN Penelitian digolongkan kepada penelitian eksperimen. membandingkan dan membedakan solusi yang lebih memungkinkan. “Penggunaan keterampilanketerampilan intelektual secara tepat oleh seseorang dalam mengorganisasi aturan-aturan ketika menanggapi dan menyelesaikan soal”. Adapun kegiatannya menurut Flavell (Weinert dan Kluwe.Oktober 2008 . Dengan demikian. Menurut Hartono (Nindiasari. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah aktivitas pembelajaran. Bagaimana siswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. belajar juga merupakan metakognisi melalui aktivitas yang digunakan yaitu mengatur dan memantau proses belajar. dan memeriksa hasil. dengan secara spesifik melatih siswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi. (3) regulasi. penulis menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kritis. Kegiatan-kegiatan metakognitif ini muncul melalui empat situasi. Ada dua konteks yang mesti dipahami agar siswa mampu belajar secara baik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif. lembar observasi. (2) situasi kognitif dalam mengahadapi suatu masalah membuka peluang untuk merumuskan pertanyaan. Dengan demikian. dan daftar isian untuk dosen. Torgosen. dan mendapatkan pengendalian kesadaran atas diri mereka. Adapun aspek aktivitas metakognitif yang dikemukakan oleh Flavell (Suzana. dan keputusan yang benar sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memantau dan mengatur proses kognitifnya. (3) peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan. selain dapat diketahui skor untuk setiap butir skala sikap. Sedangkan untuk data kualitatif. yaitu: (1) peserta didik diminta untuk menjustifikasi suatu kesimpulan atau mempertahankan sanggahan. sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional. bila perlu memodifikasi strategi yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan. angket skala sikap mahasiswa. monitoring. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya dipilih secara acak menurut kelas. bahwa dosen mengajar mahasiswa untuk merancang. (2) memonitor apa yang mereka ketahui dan bagaimana mengerjakannya dengan mempertanyakan diri sendiri dan menguraikan dengan kata-kata sendiri untuk simulasi mengerti. dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para siswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari (Jacob. seperti yang diungkapkan oleh Borkwoski. memonitor. Terhadap kedua kelompok tersebut diberikan pretes sebelum eksperimen dan postes setelah eksperimen. yakni di Jawa Barat dan Banten. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus daerah yang tersebar di dua provinsi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . juga dapat diketahui skor setiap mahasiswa “JURNAL. Namun demikian. yang didilaksanakan dengan menggunakan dua perlakuan. dan uji hipotesis (uji-t dan Anova satujalur). uji homogenitas.

41%.82%.5% menyenangi kegiatan diskusi. Mahasiswa pada kelompok eksperimen yang memiliki kemampuan akhir berpikir kritis matematik pada kategori cukup adalah 49%.Oktober 2008 . setiap subkelompok mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. (2) kesulitan dalam membuat soal-soal latihan pada lembar kerja mahasiswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara baik. subkelompok sedang 59. Dari keseluruhan mahasiswa. sedangkan mahasiswa yang belajar secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. subkelompok sedang. mahasiswa mendapat kesempatan yang lebih banyak dalam mengeksplorasi materi bersama dosen maupun teman-temannya melalui kegiatan diskusi. Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif membuat mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Mereka menyatakan persetujuannya bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sangat baik dan berpeluang besar untuk diterapkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di “JURNAL. Dosen memiliki tanggapan positif terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. dan 4% dengan kategori sangat baik. Begitu pula dalam aspek mengidentifikasi relevansi.7% menyukai dan merasa tertantang dalam menyelesaikan soal-soal metakognitif yang diberikan.5% mahasiswa merasa bahwa pendekatan metakognitif yang mereka ikuti dapat mengurangi kecemasan belajar matematika. dan sebanyak 88. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam aspek menggeneralisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi termasuk dalam kategori tinggi. Dengan kata lain. Sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif tercermin dari sebanyak 89% dari 45 mahasiswa menyatakan persetujuannya bahwa pendekatan matekognitif dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar matematika. sebanyak 94. kategori baik sebanyak 47%. sehingga diharapkan dalam masing-masing kelompok terjadi kegiatan diskusi kelompok yang produktif. Adapun beberapa hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif adalah: (1) waktu yang tersedia relatif sedikit untuk melakukan pengembanganpengembangan dalam pembelajaran. Dengan kata lain. 80% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif membuat mereka lebih berani dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. mengalami peningkatan yang tergolong ke dalam kategori sedang. diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sebagai berikut ini. Kemudian diketahui pula sebanyak 74. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam aspek merumuskan masalah ke dalam model matematika. dan merekonstruksi argumen. pendekatan metakognitif secara signifikan memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa subkelompok manapun. Berdasarkan perhitungan gain normal (Meltzer. peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi. diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk subkelompok tinggi adalah 65. (2) keterlibatan mahasiswa secara aktif untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.3% mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif sangat membantu mereka dalam memamahi konsep yang sedang mereka pelajari. 2002). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (3) kesulitan dalam membuat kelompok diskusi dengan anggota kelompok yang beragam tingkat kemampuan matematiknya. sebanyak 84. Secara lebih khusus. memberikan contoh inferensi.05% terhadap skor pretesnya.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian. terdapat 98% mahasiswa yang menyatakan senang terhadap hal tersebut. dan subkelompok rendah mengalami peningkatan sebesar 56. Mengenai pembelajaran suasana pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar secara konvensional. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang belajar dengan pendekatan metakognitif berada dalam kategori baik. Faktor-faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif antara lain: (1) kerja sama dan bantuan dari dosen pengampu matakuliah yang bertindak sebagai observer dan teman diskusi dalam menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran.

A Super-Streamlined Conception of Critical Thinking [Online]. 5. C. 4. kepada mahasiswa PGSD (khususnya yang sudah menjadi guru SD) yang telah mengikuti dan memperoleh bekal pengetahuan mengenai pendekatan metakognitif. B.kcmetro. Ennis.. Facione. Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menekankan pada aktivitas mahasiswa dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan mahasiswa. 3. [22 Agustus 2005]. dan Gainen. Bandung: Kaifa.perguruan tinggi.pdf. com/pdf_files?Disposition_to_CT_1995_JGE. M. Tersedia: http:// www. DePorter. Untuk menciptakan suasana belajar seperti ini diperlukan keterampilan seorang pengajar dalam hal materi matematika maupun metodologi pembelajaran. maka hendaknya peneliti lain mencoba menerapkan pendekatan ini dalam upaya meningkatkan kemampuan matematik tingkat tinggi lainnya seperti kemampuan berpikir kreatif. 59-63..html. dan ternyata memberikan hasil yang cukup efektif. The Disposition toward Critical Thinking [Online]. namun tentu saja dengan metode yang tidak harus sama DAfTAR PUSTAKA Angeli. Disertasi pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Examining the Effects of ContextFree and Context-Situated Instructional Strategies on Learner’s Critical Thinking [Online]. (1985). P.L. B. Oleh karena itu para dosen atau pengajar diharapkan selalu berusaha meningkatkan kemampuan mengajar dan kemampuan matematiknya melalui berbagai sumber. Tersedia: http://www. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. “JURNAL. N. Facione.. Dalam R. sebaiknya mencoba untuk mengimplementasikan pendekatan metakognitif ini di sekolah tempat ia mengajar. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. J.html. (1992). Cassel (ed). G.C. Akan tetapi menurut pendapat mereka. Education. cc. mengidentifikasi relevansi. Critical Thinking Accros the Curriculum Project [Online]. dan merekonstruksi argumen 2. Bandung: Tidak diterbitkan. Tersedia: http://www.. A. Costa. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. [25 Januari 2006]. Mathematics Education Excerpt from The International Encyclopedia of Critical Thinking. Darhim (2004). Oleh karena itu. [25 Januari 2005] Appellbaum. (1996). (1997).A. dan Hernacki. (2003). Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika. khususnya pada aspek-aspek: membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi.H. (1995). misalnya hsil-hasil penelitian atau jurnal.Oktober 2008 . merumuskan masalah ke dalam model matematika. Sikap positif mahasiswa terhadap model pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menggambarkan bahwa pembelajaran ini dapat dijadikan model yang disukai mahasiswa. Tersedia: http://www. khususnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Karena pembelajaran dengan pendekatan metakognitif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang merupakan kemampuan matematik tingkat tinggi..A.edu/~educr795/prop5. Melihat hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa selain dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik.edu/appellbaum/8points. insightassessment.M. P. pendekatan metakognitif ini juga telah mampu memacu antusiasme dalam belajar matematika. Cabrera. sehingga dosen memiliki modal yang berharga karena model belajar seperi ini telah menciptakan lingkungan belajar yang efektif.arcadia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Fowler. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1.Gargoyle. memberikan contoh inferensi. R.A. criticalthinking. [25 Januari 2006]. Tersedia: http://www.mo. Giancarlo. 113 (1). Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking. dalam praktiknya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang bahan ajar berupa LKM. C.htm. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip.net/SSConcCTApr3.N. Arcadia University [Online]. Alexandria: ASCD.htm.us/longview/ctac/definitions.indiana. (1999). (2000).

M. USA: Allyn and Bacon.org/University/univlibrary/ library. Bandung: JICA-UPI. D. (1985). Bandung.E. Disertasi Doktor pada PPs IKIP Bandung. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Mengajar Keterampilan Metakognitif dalam Rangka Upaya Memperbaiki dan Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika. Suzana. Prosiding Seminar Nasional Matematika: Peran Matematika Memasuki Millenium III.pdf. (1987). (1998). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Educational Phsycology.T. (1994). 17-18. D. M. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Y. R. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. dan Scriven. Cognition. Tersedia: http://www. Z. Belajar Bagaimana untuk Belajar Matematika: Suatu Telaah Strategi Belajar Efektif. Aplikasi dan Pembelajarannya. Maier. Bandung: Tidak diterbitkan. H. 2 (1). [22 Agustus 2005].Glazer. Maulana (2005). Kamus Filsafat. (1996). American Journal of Physics [Online]. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Jacob. Teaching Student to Think Critically. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.W. (2005).nclk.70-12591268. (1995). A. Liputo. Disajikan pada Seminar Nasional Matematika: Matematika dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Kualitas SDM dalam Menyongsong Era Industri dan Informasi.html. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta. Matlin. (2003).T. Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional UPI. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Scores. Nindiasari. Weinert. San Francisco: Jassey-Blass Publishers. Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau dari Perkembangan Kognitif Siswa. Bandung: Tarsito. (2004). E.texas. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.lonestar. 15 Mei 2004. iastate. Meyers. (1986). (1998). Ruseffendi. Hillsdale. A. [Agustus 2006]. Jacob.. “JURNAL. E. Bandung: CV. Bandung: Nuansa. New York: Hardcourt Brace Publishers.edu/per/docs/AJP-Dec-2002-Vo.E. Metacognition. Remaja Karya. C. Bandung: Rosda Karya.Oktober 2008 . Bandung: Tidak diterbitkan. Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika (The Application of Metaphor in Mathematics Course). (2003). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. Tesis pada PPS Universitas Pendidikan Indonesia. H. Bandung: Tidak diterbitkan. (2004). (2000). (1996). Technology Enhanced Learning Environtments that are Conductive to Critical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [Online]. Syukur. F. Bandung: Pustaka Setia. Psikologi Pendidikan. 20 Agustus 2005. Woolfolk. Bandung. and Understanding. Defining Critical Thinking: A Draft Statement for the National Council for Excellece in Critical Thinking [Online]. Hassoubah. 2 November 2000. Tersedia: http://www. Motivation. Meltzer.I. Kompedium Didaktik Matematika. R. Semarang: IKIP Semarang Press. 443-447. Tim MKPBM (2001). dan Kluwe. Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA. (2004). Jurusan Matematika FMIPA ITS. M.H. Bandung: Tidak diterbitkan.L. (2002). Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru SD. (2004). (1991).net~mseifert/ crit2. Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa SMU. ISBN: 97996152-0-8. Sobur. Paul. E. [22 Agustus 2005]. Y. Bandung: Rosda Karya. (2004). Liliasari (1996). Surabaya. Psikologi Umum. N. Purwanto.physics.E. Developing Creative & Critical Thinking Skills. Ruseffendi.criticalthinking. Jurnal Matematika. Tersedia: http://www. Mayadiana. C. C.

Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. Tulisan ini berusaha untuk menggali tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya di sekolah dasar. baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya. dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi tujuan utama dalam program pembelajaran matematika di sekolah dasar. Kata Kunci: pemecahan masalah. penilaian. Pelaksanaan pembelajaran masalah di sekolah dasar tidaklah semudah yang diperkirakan. nampak bahwa pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam pembelajaran matamatika sehingga secara jelas terdapat pada kurikulum mata pelajaran matematika mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. penalaran. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian. “JURNAL.Oktober 2008 . dan problematika pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Masalah Matematika Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya. Guru perlu memperhatikan berbagai aspek pembelajaran: perencanaan. Dalam setiap standar kompetensi. tidak hanya faktor P guru saja. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . topik-topik permsalahan dalam tulisan ini adalah : masalah dan pemecahan masalah matematika. pembelajaran matematika. mengkomunikasikan gagasan. Mata pelajaran matematika diantaranya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman konsep. pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar. sekolah dasar PENDAHULUAN embelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung. memecahkan masalah. maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. proses pembelajaran. Hal ini didorong oleh perkembangan arah pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah. tetapi agar siswa mampu memecahkan masalah dalam bidang lain melalui cara berpikir matematis. Dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (BSNP. Moursund (2005:29) mengatakan bahwa seseorang dianggap memiliki dan menghadapi masalah bila menghadapi 4 kondisi berikut ini: 1. Oleh karena itu. Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dikuasai oleh siswa sekolah dasar tidak hanya dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. 2006). ada salah satu kompetensi dasar yang mengarahkan siswa untuk mampu menggunakan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah. tetapi faktor tuntunan kurikulum yang membuat guru terdesak dengan waktu terbatas sehingga tidak fokus terhadap kemampuan pemecahan masalah.Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Abstrak Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dasar. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar. tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving). pemilihan media atau alat peraga dalam pembelajaran pemecahan masalah sehingga siswa memiki kemampuan memecahkan masalah yang baik. 2. Ada banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran pemecahan masalah secara optimal.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dan (4) Melihat kembali penyelesaian. 2001 : 84). Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah. Dalam Suherman et.al. menjelaskan setting. (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah. Krulik dan Rudnik ( 1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai heuristik.(terjemahan).Oktober 2008 . Pemecahan Masalah Matematika Soedjadi (1994. itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah.al.. masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita..al. seseorang dianggap sebagai pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut. Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa harus berurutan. 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld. Exploration. Analisys. dalam Abbas. solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian. yang meliputi kegiatan: mengorganisasikan informasi. dan membuat diagram. dan Verification. mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan. tabel. Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan). Lima langkah tersebut adalah : 1. masalah matematika dapat berupa (1) masalah transalasi. Exploration.al. Terdapat beberapa jenis masalah matematika. 2000 : 2) terdapat 5 tahapan dalam memecahkan masalah. (2000 : 2). Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. dan menentukan tindakan selanjutya. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. seperti menyajikan dan menyelesaikan tugas serta menerapkan strategi untuk menemukan solusi. tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik. (2) masalah aplikasi. Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. teknologi atau barag tertentu. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu. mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan. fisika dan sebagainya. walaupun sebenarnya tumpang tindih. Sementara itu. harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah. Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari. ”Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School”. Planning. Planning/Implementation. kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung. Implementation. cara berpikir secara matematis yang efektif dalam memecahkan masalah meliputi tidak saja aktivitas kognitif. pengetahuan. Understanding. dalam Abbas. 2000 : 2) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah amatlah penting. Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. penggambaran penomena atau kejadian. atau gambar “JURNAL. yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan. 2. yaitu menjadi Reading. Lebih lanjut Ruseffendi (1991. mereka mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. memvisualisasikan situasi. bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika. mengambar/mengilustrasikan model masalah. tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya. tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika. Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan.. (3) masalah proses. Menurut Goos et. tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar. yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi. mengidentifikasi pertanyaan. 1993:56) juga mengatakan bahwa : Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama/penting dari kegiatan manusia . Menurut Goos et. Dalam pembelajaran matematika. dan (4) masalah teka-teki. yaitu Reading. (2000 : 2). (2001 : 95) dinyatakan bahwa menurut berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam dalam tes pemecahan masalah dibandingkan dengan anak yang latihannya sedikit. Menurut Polya seperti yang dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya. melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. tetapi juga meliputi pengamatan metakognisi yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas serta untuk membuat keputusan sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimiliki. Artzt & Armour-Thomas (Goos et. Lebih dari Polya (dalam Sonnabend. baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hudoyo dan Sutawijaya (1997:191). yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta.al. 2006 : 24). Analisys. 4. Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. dan Verification. 2000 : 2) menyatakan bahwa melalui pelajaran Matematika diharapkan dan dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan. Hal ini meliputi waktu. Menurut Polya (Suherman et. Read and Think (Membaca dan Berpikir). Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. keterampilan. Dalam bukunya.al.3. 1969) : Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik.. ilustrasi gambar atau teka-teki.

Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . teka-teki. yaitu : pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran. perencanaan. Berdasarkan teori “JURNAL. Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum. mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi). Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. Penyederhanaan atau ekspansi. atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal. Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru. sumber belajar : alat peraga atau media. yang meliputi kegiatan: memprediksi. Oleh karena itu. memeriksa kembali jawaban. problem based learning (PBL). Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah. dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana. 2. pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti dalam pendekatan pembelajaran open ended. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi. proses. (1989). Khususnya di SD. PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DI SD Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. 5. Menurut Reys. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. coba dan kerjakan. Find an Answer (Mencari Jawaban). bekerja mundur. simulasi atau eksperimen. yaitu: waktu. agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif. menggunakan kemampuan aljabar. deduksi logis. 5. masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita dan ilustrasi gambar. Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya. atau pola bilangan. Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan). Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi.(1989). Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah. 4. mengembangkan jawaban pada situasi lain. misalkan memecahkan soal-soal matematika.3. menentukan solusi alternatif.Oktober 2008 . 1. Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. dan menggunakan kalkulator jika diperlukan. mendiskusikan jawaban. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal.al. 3. Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah. menggunakan kemampuan berhitung. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari. serta teknologi. 4. Dalam pembelajaran matematika. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa). membuat daftar berurutan. Dari paparan di atas. menggunakan kemampuan geometris. atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et. serta sebagai kemampuan dasar. teknologi. Select a Strategy (Memilih Strategi). yang meliputi kegiatan : menemukan/membuat pola.al. Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran. tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa. paling tidak ada tiga makna dari pemecahan masalah. serta pengelolaan kelas. maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. soal tidak rutin. Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar. karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah. dan menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal. yaitu bagaimana guru menyajikan soalsoal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah. pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. sumber belajar-media. dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan. et. serta strategistratagi pembelajaran pemecahan masalah. Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran.

Problematika Pembelajaran Pemecahan Masalah di SD Pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah terutama di sekolah dasar tidaklah mudah. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. ditanyakan dan jawaban. (1989). Kemampuan metakognisi dapat diajarkan di kelas melalui pernyataan menuntun seperti : ”apa yang kamu kerjakan ketika memecahkan masalah?”. Guru biasanya mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita. dan (3) paper and pencil test. untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik. Guru masih fokus kepada pencapaian kemampuan siswa dalam berhitung dan mengunakan rumus matematika. Kemampuan tersebut adalah Metakognisi.al.al. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu. dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Pembelajaran pemecahan masalah kadangkadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. Siswa sering mengajukan “JURNAL. Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . masalah masalah terbuka (open ended). guru perlu menyiapkan alatalat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu topik sebagai pelengkap topik tersebut. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : (1) observasi. Guru kadang memandang bahwa kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh konsep matematika. Metakognisi adalah istilah yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan seseorang sebagai pembelajar serta bagaimana ia mengontrol dan menyesuaikan pengetahuan dan keyakinannya. yaitu : menentukan apa yang diketahui. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin. Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik (1995) berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. Hal ini memang bergantung kepada cara guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat beragam. 1989). Perubahan paradigma dalam kurikulum matematika memang belum sepenuhnya berimbas pada praktik pembelajaran di sekolah dasar. et. (2) jurnal metakognitif. 1989). Dalam istilah lain metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol kemampuan berpikirnya atau ”thinking about thinking”. test. Yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa. et.. portofolio.Piaget (Reys. (2) inventori dan ceklis. walapun dari hasil uji coba soal cerita. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan sebagai berikut. ”apa yang kamu pikirkan jika kamu merasa kesulitan atau tidak memahami soal ?”. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan.al. Keadaan ini menyebabkan siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. padahal masalah dapat disajikan dalam berbagai bentuk model soal. Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum sekolah (KTSP) secara konvensional. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita. belum dianggap sebagai suatu tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran. et. Oleh karena itu. beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah: (1) observasi. maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya. hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep pemecahan masalah dan pembelajarannya. sementara kemampuan pemecahan masalah siswa masih dianggap sebagai kemampuan ekstra atau tambahan untuk siswa-siswa berprestasi tinggi. tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Menurut Reys. (3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph). klasikal ataupun kelompok. Peran Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Kesuksesan seseorang dalam memecahkan masalah begantung kepada bagaimana ia mampu mengendalikan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah. masih dalam tahap enaktif dan ikonik. siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa mengikuti langkah-langkah yang ditentukan.Oktober 2008 . Penilaian dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya.. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program pembelajaran. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita. karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys. Tes kinerja ini. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa. Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita. Guru merasa cukup dengan pembelajaran perhitungan.

Matematic for elementary Teacher : An Interactive Approach. [online] http://www.C. Queensland : The University of Queensland [online] http://www.Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. coe. DAfTAR PUSTAKA Abbas. Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers. Tidak diterbitkan. PENUTUP Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. Needham Hwight : Allyn & Bacon Sanjaya. ”Ditanyakan”.(2001). guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok. perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya. Sue C. (1995).pdf Hudoyo dan Sutawijaya.. dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak.cimt. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo Ashton. Semenetara itu. Assessment in Early Chilhood Education.edu/. al. kenyataannya. Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. Jakarta : BSNP. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah. Akan tetapi. New York.Oktober 2008 . Akan tetapi. Bandung Sukmadinata & As’ari. S. (1998). Thomas.pdf Krulik.(2000). metode atau teknik penilain harus mampu menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya.uoregon. Temple University : Boston. (2005).wm. Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok. A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan. N. Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif.Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .al. http:// darkwing. Oleh karena itu. Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan. plymouth.pdf BSNP (2006).Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah. [online] http://www. Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. soal ini dikerjakan pake rumus apa?”. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah./ElMath. D. Jurusan Pendidikan Matematika UPI.missouri. [online]. Sthepen dan Rudnick. Helping Children Learn Mathematic (5th ed). Jakarta.(2006).. Jesse A. (1993). Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah alatalat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah. Sonnaben A.(------). The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. (1998). et. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam memecahkan masalah. Oregon : University of Oregon. tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama aktivitas pemecahan masalah.. Sounder Collage Publising.edu/. Bandung : SPs UPI. Virginia : College of William and Mary Williamsburg.pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita. (2005). guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. Pearson Education : New Jersey. Dirjen Dikti Depdiknas Jonassen. Goos. guru jarang menggunakan teknik-teknik penilaian yang seperti itu. dan ”Dijawab”.pdf Reys. Pendidikan Matematika I. Suherman dkk . (2007). padahal salah satu aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan informasi selama proses pemecahan masalah. /Ashton..uk/jornal/pgmoney..(2000).edu/~jonassen/PSPaper%20 final. Marsound. melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah. “JURNAL. seperti: ”Diketahui”. Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit. Universitas Pendidikan Indonesia.ac. et. Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. Wortham. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Wina. D. (------). seperti ”Pak. Robert E.

Dengan demikian menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan tersebut. At significant level 0.1999.because all topic mathematic can explain with cartoon mathematic.Teacher can join with cartoonist for make cartoon mathematic.(2) For Student. antara lain adalah faktor guru. pengajaran berubah.” Hasil belajar sangat ditentukan sekali oleh keberhasilan siswa dalam belajar. Kenyataan-kenyataan berikut menunjukkan P bahwa pengajaran matematika perlu diperbaiki. journal and observation.Iearn with cartoon mathematic increase effective than conventional learn (3) Student give good respons to cartoon mathematic because new in learning mathematic and their became happy in learn mathematic. Matematika merupakan salah satu bidang pengajaran yang harus mengalami pembaharuan menuju perbaikan.2004). interview. pembelajaran matematika PENDAHULUAN embaharuan dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas(Wijaya. I suggestion so that cartoon mathematic can use by teacher for chosen tools in learn mathematic. tetapi juga oleh faktor di luar siswa. Dalam data Internasional Achievement Education (IEA). instrument a test. Dalam hal yang sama Ruseffendi(1991:8) mengemukakan bahwa keberhasilan siswa dalam “JURNAL. Data dari Third International Mathematics and Science Study¬ Repeat(TIMSS-R) juga mengungkapkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di negara kita berada pada peringkat ke-34 dari keseluruhan 38 negra peserta (Mullis.Oktober 2008 . teknologi berubah.01 experiment student produce learn increase than control student. masyarakat berubah. Dalam pengajaran matematika di sekolah-sekolah terdapat masalah-masalah yang perlu diperbaiki.”Kehidupan di dunia ini berubah. yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-¬38 dari 39 negara peserta. kemampuan siswa SMP dalam matematika menempati peringkat ke39 dari 42 negara peserta.”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi. The result calculation are mean experiment student high than control student. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi(1991:21). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .This Mean experiment is 49. Pembaharuan di bidang pendidikan harus terusmenerus dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.19998:2). Kata Kunci: kartun matematika. kalau bukan pelajaran yang paling dibenci. question. semuanya berubah. Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya dengan peruhahan itu. The result of study concerns.45 and control student is 34.42. Selain itu pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi. The general hypothesis in study concerns is student learn with cartoon mathematic best increase produce learn than student with conventional learn. guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”. The conclusion of study concerns are (1) Application cartoon mathematics in learning mathematic have influence to produce learn.Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Abstrak The study concerns focus to problem: How far influence application of cartoonn mathematic in learning mathematics for develop to produce learn student in school? The goal study concerns for know influence application of cartoon mathematic learning matematics in school for develop produce learn student with for able image about respons student at application of cartoon mathematic. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja. The study concerns use experimental method. Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15).

model penampang. ruang dan waktu. Media dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. b. Disamping berfungsi sebagai hiburan. pesan yang besar bisa disajikan secara ringkas dan kesannya akan tahan lama di ingatan. seperti gambar. Apakah materi yang disajikan membuat siswa tertarik. kesiapan anak. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi. Kartun menurut Sudjana dan Rivai (1991:58) adalah pengggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang. Kalau kartun mengena.Salah satu cara menyajikan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. model kerja. Haron (2001) mengemukakan bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. diorama dan lain-lain. Ada beberapa jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. Salah satu yang dapat digunakan ialah kartun. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut? Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap matematika? Bagaimanapun kekurangan atas ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah (Sah. suasana pengajaran. jenis media terbagi menjadi empat yaitu: a. termotivasi. kunjungankunjungan ke museum atau kebun binatang. Menurut Sudjana dan Rivai (1991:3). Penggunaan visual telah lama diketahui berkeupayaan merangsang pembelajaran. Kartun-kartun yang popular seperti Din Teksi oleh Nan dan Epit oleh Lat dapat merangsang minat pelajar. misal melalui karyawisata. serta komik. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. 3.”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. grafik. Media grafis sering juga disebut dua dimensi yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. 4.1991:2). Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menarik minat dan memotivasi siswa. Sadiman dkk(2002:6) mengemukakan. yaitu media dalam bentuk model padat. c. Penggunaan kartun sebagai media pembelajaran memiliki peranan penting karena dalam tahap ini siswa sangat tanggap terhadap stimulus visual yang lucu. Malah kartun dianggap sebagai satu wahana yang menghibur dan bisa meredakan ketegangan emosi manusia. Media tiga dimensi. kartun. foto. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian. 2. Sedangkan menurut Sadiman dkk (2002:46). menarik dan praktis (Bundhowi 2002:1). maka kartun sesuai untuk diterapkan dalam arena pendidikan. kenyamanan belajar dan minat anak belajar. Kebanyakan kartun yang dimuatkan dalam suratkabar atau majalah memperlihatkan berbagai tema dan subjek yang disulami pula warna-warna humor. d. Kartun juga merupakan satu bentuk visual dengan minat kanak-kanak boleh digunakan oleh guru dalam pengajaran. Visual-visual konkret yang menggambarkan keadaan dunia sebenar boleh memberi pengalaman konkret bagi memudahkan proses pembelajaran. interaksi yang lebih langsung. poster. Faktor dari dalam diri siswa itu meliputi kecerdasan anak. masyarakat dan lingkungannya. seperti slide. pribadi dan sikap guru. Khusus mengenai media kartun. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana tanpa detail dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti dengan cepat. Kartun sebagi alat Bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. Model proyeksi. Hal ini sejalan dengan pendapat Arsyad(2002:26) bahwa: 1. perasaan. situasi. diagram. Media gratis.mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. atau kejadian-kejadian tertentu. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan siswa dalam belajar adalah metode penyajian materi pelajran.1995:136). gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. adapun faktor dari luar diri siswa adalah metode penyajian materi pelajaran. “JURNAL. bagan. kartun data membawa pembaca berfikir sejenak untuk menjadi lebih peka terhadap perkembangan semasa. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya (Sudjana dan Rivai.Oktober 2008 . Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. model susun. kompetensi guru dan kondisi masyarakat luar. Di Malaysia. pengajaran dengan menggunakan pelbagai alat visual semakin popular. Menurut Dawyer dalam Maizuriah (2000). film penggunaan OHP dan lain-lain. bahwa kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang. mempengaruhi sikap maupun tingkah laku. Penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang berupa lingkungan.

Penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sains dan dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran. yaitu gambar-gambarnya dapat menarik perhatian sehingga pelajaran lebih berarti dan sebagian serta variasi dalam mengajar.1991:120). uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata. maka desain penelitian ini adalah sebagai berikut: A 0 X1 0 A 0 X2 0 Keterangan: A 0 X1 X2 = = = = randomisasi/acak tes awal = tes akhir perlakuan (pembelajaran dengan kartun matematika) perlakuan biasa(pembelajaran konvensional) Sebagaimana telah diungkapkan di atas. penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh media kartun trhadap belajar siswa. Penelitian Schaffera (Sudjana dan Rivai. 1998:32). selain itu pembelajaran dengan kartun dapat menciptakan suasana gembira.98 24. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis daa hasil tes dilakukan uji normalitas.6 5. Pemakaian kartun mempunyai dua macam keuntungan berharga. Untuk mengetahui pertambahan kemampuan baik sebelum maupun sesudah percobaan dilakukan. “Pada umumnya anak-anak mulai menafsirkan kartun-kartun semacam ini pada usia 13 tahun. 2000:14).07 10. maka diperlukan angket dan wawancara yang cukup diperuntukan bagi kelompok eksperimen saja. ketelitian. Beberapa kartun dengan topik yang sedang “hangat”. maka siswa yang menjadi sampel diberikan tes awal dan akhir. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK dan sampelnya siswa SMK Negeri 2 Bandung kelas 2 yang dipilih secara acak.3 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal “JURNAL. yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media kartun matematika. homogenitas dan ukuran statistik skor pretes dan postes disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: uji Normalitas No 1 2 3 4 Data Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen Pretes Kelas kontrol Postes Kelas Eksperimen Postes Kelas kontrol χ2 hitung 25.3 11. Untuk dapat mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen pengumpul data yang berupa tes awal dan tes akhir. Berdasarkan uraian di atas. Latar belakang di atas mendorong penulis mencoba melakukan penelitian untuk melihat pengaruh kartun yang digunakan sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan kualitas sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat. bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan pembuka diskusi yang efektif. Pembelajaran dengan kartun akan menciptakan belajar yang efektif karena dapat membawa siswa ke dalam suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden. 1991:59). Instrumen lain sebagai pendukung penelitian ini. maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (Ruseffendi. Terjadinya bias hasil evaluasi dapat dihindarkan karena tidak ada sistem tebakan atau untung-untungan (Suherman. Tes awal diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. dan sistematika penyusunan dapat dievaluasi. Hal ini menunjukkan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat memotivasi yang berguna di kelas.1990:95) dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal. Tipe tes yang digunakan adalah tipe tes uraian Alasanya dengan tipe uraian maka proses berpikir.Oktober 2008 . 2001:22).9 50. sehingga menciptakan kegembiraan pula dalam belajar (DePorter. penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi. putusan dan pertimbangan agar data yang terkumpul sesuai yang kita harapkan.Hal senada dikatakan Sudjana dan Rivai (1991:61) bahwa sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajr siswa. kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan”. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .52 30 30 3 3 dk χ2 tabel 50.9 11. METODE PENELITIAN Karena penelitian yang dilakukan adalah melihat hubungan sebab akibat yang di dalamnya ada unsur yang dimanipulasi. Peneliti mengambil dua kelas dari seluruh kelas populasi. Apalagi pada saat usia sekolah kebanyakan siswa masih memiliki gaya belajar visual yang lebih cenderung mengaktifkan ingatannya melalui gambar yang ditangkap oleh mata (DePorter dan Hernacki. Kemudian dipilih secara acak satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol. Reardon dan Nourie. serta alat evaluasi berupa tes ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pembimbing di sekolah untuk dapat mendapatkan justifikasi. Sedangkan tes akhir diberikan untuk melihat kemajuan atau peningkatan belajar kcdua kelompok. Hasil Uji normalitas.

sehingga dk=30.03 %) menyatakan ragu-ragu. Kriteria pengujian jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel maka distribusi populasi data normal.99(60) < thitung.93%) menyatakan biasa saja. Tabel 4: ukuran Statistika Skor Postes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 49.29%) menyatakan sedang karena konsep matematika di buku kartun ada yang tidak dimengerti dan tergantung minat. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .68 312.38 Kesimpulan Homogen 2 1.42 1.38%) menyatakan puas terhadap hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kartun matematika. bahwa pesan-pesan yang diberikan memotivasi semangat belajar.90% dan 35. Hampir setengahnya siswa (35.58%) menyatakan biasa saja dengan memberi alasan bahwa isi materi sama dengan buku paket dan tokoh kartunnya kurang cocok.42 17.3 Pada taraf signifikansi 0. Hampir setengahnya siswa (29. Meskipun demikian.46 Ternyata thitung tidak terletak di –t 0.485) menyatakan bahwa pembelajaran dengan media kartun menyenangkan dan lebih cepat memahami materi.99(60) = 2.45% dan 64. meskipun demikian hampir setengahnya (41.45 1. Sebagian besar siswa (12.Oktober 2008 . intisari. pembacaan rumusnya mudah dipahami dan dimengerti.06 1. t 0. cara penyelesaian singkat. Mereka beranggapan pembelajaran dengan media kartun membuat belajar tidak membosankan.38 Homogen H0 : σ = σ Hipotesis : Ha: σ ≠ σ Tabel 3: ukuran Statistika Skor Pretes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 1.< t 0. pembelajaran lebih menarik dan penyampaiannya lebih mudah dimengerti. “JURNAL. Tabel 2: uji Homogenitas Data Hasil Belajar No 1 Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen dan kontrol Postes Kelas eksperimen dan kontrol Fhitung 1.12 1. sedikit menghibur/menimbulkan rasa senang dalam belajar.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.25%) menyatakan tidak senang dengan alasan proses belajarnya kurang bisa dimengerti.13%) ragu-ragu karena pembelajaran buku kartun sama dengan buku paket.25% dan 64.58 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes akhir diperoleh thitung = 3. Namun sebagian besar (61.52%) siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan media kartun matematika terus dipertahankan.48%) menyatakan konsep-konsep yang ada di buku kartun mudah karena konsep disajikan dalam bentuk resume.325 Pada taraf signifikansi 0. karena pembelajaran dengan kartun matematika sangat mudah dan cepat dimengerti dan berbeda dengan belajar biasa.23%) menyatakan sukar karena isi dan tulisan yang ditampilkan terlalu rumit dan kurang jelas.12 dkl 30 dk2 30 Ftabel 2. Hampir seluruhnya siswa (19. gambar-gambar yang diberikan dapat menghilangkan ketegangan dan sangat menyenangkan. Sebagian besar siswa (6. Sebagian kecil (16.01 dan dk=60 diketahui ttabel = t 0.19 30 30 2.13%) sangat menarik terhadap pembelajaran kartun matematika. HASIl ANGKeT PeMBelAjArAN KArTuN MATEMATIKA Hasil yang diperoleh hampir seluruhnya menyatakan menarik (61.99(60) = 2. harus diperhatikan pula sebagian kecil siswa (22. Hampir setengahnya (48.99(60) < thitung.46 Ternyata –t 0. Selain itu sebagian kecil (6.95 19.25 31 Kelas Kontrol 1. Mereka memberi alasan.58) menyatakan kurang puas karena penjelasan di buku kartun kurang dimengerti.7 31 Kelas Kontrol 34.52%) menyatakan setuju untuk terus mempertahankan pembelajaran kartun matematika. Meskipun demikian hampir setengahnya siswa(29.45% dan 3. sedangkan postes data disajikan dalam distribusi kelompok sehingga dk=3. penjelasannya simpel. dan jika χ2 hitung > χ2 tabel maka distribusi populasi tidak normal. karena beranggapan bahwa meskipun materinya tetap saja ada yang sulit.12 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes awal diperoleh thitung = 0.Untuk data pretes data tidak disajikan dalam distribusi kelompok.28 371.03%) menyatakan biasa saja dan sebagian kecil (22.24%) dan (16.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Sebagian kecil (3.01 dan dk = 60 diketahui ttabel = t 0.

Sebagian kecil (19. lebih semangar belajar dan cara belajarnya tidak membosankan. semangat dan termotivasi dalam belajar. menakutkan bagi siswa dengan pembelajaran kartun matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan siswa. tokoh kartun yang menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan sesuai perkembangan zaman dengan karakter siswa.23%) menyatakan tidak termotivasi karena tergantung pada pembacanya.93%) menyatakan bahwa minat dalam belajar matematika dengan menggunakan media kartun matematika tinggi. terhibur.8%) menyatakan kurang menarik. Hampir setengahnya (34.9% dan 41.3%) menyatakan mudah penyampaian konsep matematika yang disampiakan gambar kartun. karena mereka menginginkan tokoh kartunnya yang dikenal seperti yang ada di televisi. Hampir setengahnya (38. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .6%) biasa saja karena pembelajaran dengan kartun matematika sama dengan buku paket.23%) menyatakan setuju jika buku kartun matematika disajikan dengan warna sehingga belajar matematika semakin menyenangkan.93%) biasa saja dan sebagian kecil (3. Hampir setengahnya (33. cara penyampaian guru diperbaiki. Sebagian besar (56. Hampir setengahnya (41. lebih menarik.7%) biasa saja dan hampir setengahnya (25. Hampir setengahnya (43. tokoh kartunnya memotivasi belajar. Hampir setengahnya (3. Tokoh kartun yang disenangi siwa ialah tokoh kartun lucu.39%) menyatakan siswa berkeinginan untuk berhasil dalam belajar melalui pembelajaran kartun matematika karena isi kartun memotivasinya. Setengahnya siswa (38.33% dan 53. Sebagian besar siswa (3. mempermudah memahami konsep matematika dan siswa terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hampir seluruhnya (25. malas belajar.3%) menyatakan tidak aktif mereka beranggapan belajarnya kurang dimengerti dan siswa lebih suka melihat kartun daripada mendengarkan pembahasan.63% dan 70.97%) menyatakan senang dengan alasan lebih menarik. Sebagian besar (12. Secara khusus dapat disimpulkan: 1. Hampir setengahnya (45.33% dan 50%) menyatakan aktif bahwa pembelajaran dengan kartun matematika karena mudah dimengerti. belajar tidak tegang.22% dan 51.63%) menyatakan ragu-ragu semangat tinggi jika soal matematika terjawab.3%) suka terhadap pembelajaran kartun matematika karena menarik perhatian.7%) ragu-ragu karena tidak mudah bersemangat dan tergantung siswa.6%) menyatakan semangat belajar tinggi dalam belajar kartun matematik. memberikan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi dan penyampaian dalam buku kartun matematika menyenangkan dan menarik. menarik.9% dan 48. lebih semangat dan tidak membosankan.29%) menyatakan tidak cepat jenuh belajar matematika dengan kartun matematika karena merasa terhibur. karena belajar jadi tidak jenuh. sehingga memicu kita untuk aktif dalam belajar.35% dan 61. karena lebih mudah dimengerti. Dari hasil wawancara dan jurnal bahwa matematika yang sebelumnya dianggap kurang menarik. Penggunaan media kartu matematika dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika.81% dan 61. Sebagian kecil (9. Sebagian besar siswa (12.3% dan 6. 2.29%) menyatakan setuju pembelajaran dengan pesan-pesan dalam kartun karena memotivasi. 3. Penggunaan media kartun matematika dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap prestasi.35%) ragu-ragu karena merasa media kartun biasa saja. pesan–pesan yang disampaikan memotivasi untuk giat belajar.48%) menyatakan menarik mengenai tokoh-tokoh kartun matematika karena luculucu dan dapat memotivasi kepada siswa. lebih menarik dan menyenangkan sehingga belajar semakin efektif dann mudah memahami konsep matematika yang dipelajari.Hampir setengahnya (35. Seluruhnya siswa (67. “JURNAL.67%) ragu-ragu dan (3. sesuai perkembangan psikologi siswa. Siswa memberikan respon baik terhadap kartun matematika karena dapat memotivasi siswa. Hampir seluruhnya siswa (9. Siswa menjadi aktif.33% dan 46. suasana cukup dan lucu. Hampir setengahnya (43.Oktober 2008 .3%) ragu-ragu karena tergantung siswa itu sendiri. Sebagian besar siswa (3. Sebagian besar siswa (3.16%) biasa saja karena tidak terlalu suka terhadap pelajaran matematika.23%) kurang setuju.61%) menyatakan termotivasi dalam belajar dengan kartun matematika. Hampir seluruhnya siswa (19. tidak bosan dan pesan-pesan kartun bermanfaat.3%) biasa saja dan sebagian kecil (10% dan 3.74% dan 32. KESIMPULAN Pembelajaran matematika dengan kartun matematika secara umum lebih menyenangkan daripada pembelajaran biasa sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi dalam belajar matematika.

Husen (2002). Media Pengajaran. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slamento (1992). Oemar (1984). Tabrani.Reardon. Skripsi Purwanto. (1997).. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran... Jakarta: Grasindo Yousda dan Ariffin (1993). Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Sadiman. Ratna Willis (1989).. Nana dan Rivai. Jakarta: Rajawali Hamalik. (1995). Bandung: CV Sinar Baru Haron. Arief S. Bandung: CV Sinar Baru Suherwan (2001). Bilik Darjah. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA. Media Pendidikan. Bandung: Tarsito Sudjana. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bundowi (2002).(1998).Zaenal (1988).. Psikologi Pendidikan.DAfTAR PUSTAKA Arifin. Muhibbin (1995). Metode Statistika.. Yusuf (1984). Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa SD Melalui Fiksi Ilmiah. Yanto (2001).. Bandung: Kaifa Hadimiarso. Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Semarang: IKIP Semarang Press Rusyan.. Penelitian Pendidikan... Mark dan Nouri. New York: McGraw Hill Book Coy. EO. Mohammed (2001). Bandung: Remaja Karya Dahar... Jakarta: Erlangga De Porter.. Revolusi Cara Belajar. Hernacki... Bandung: CV Sinar Baru Sudjana.. Dasar-dasar Matematika Modern untuk Guru. Malaysia: Makalah Maizuriah dan Madya (2001). Bandung: Tarsito Sudjana (1996). Bandung: Kai fa Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990) Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka Frandsen.Oktober 2008 . Transport Sebagai Media Pengajaran Fisika pada pokok Bahasan Rangkaian Listrik Searah. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Perbandingan Kemampuan Siswa SD dalam Memberi Alasan Logis antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Teknik Probbing dengan Cara biasa. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Angkasa Arsyad.. Cece (1998). Kartun Bantu Pengajaran. Pengantar kepada Guru Membantu Mengembangkan Potensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Mohammad (1981). Jakarta: Bumi Aksara.. Skripsi: UPI Bandung Suprian AS. Bobbi. Bandung: Remaja Rosda Karya Ruseffendi.Azhar (2002).. (1957). FPTK IKIP Bandung Surya. Penelitian dan Satistika Pendekatan. Bandung: PT.(1991). Teknologi Komunikasi Pendidikan. (2002). Skripsi: UPI Wasliman (2002).. Arden N.. Sarah Siregar (2000).... Bandung: Kaifa De Porter. Bandung: Remaja Rosda Karya.dan Praktis untuk Mengajar Bahasa dan Kepekaan Budaya yang Tinggi: Makalah Wijaya. How Children Learn. Malaysia: Makalah Nasution (2000)... Teori-teori Belajar. Metode Statisika. Gordon Dryden. Penggunaan Televisi dalam pengajaran. E... Bobbi. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Ngalim (1987).. UPI Wragg. Bandung: Tarsito . Mike (1999). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . “JURNAL.. Analisis Tingkat Penguasaan Siswa dalam Menyelesaikan Persolan Kontekstual Pada Pembelajaran Matematika. Jakarta: Rosda Karya Windayana. Jeannete Vos (2001). Kartun sebagai Bahan Motivasi dalam Pengajaran Karangan. Prini (2001). Quanium Learning: Membiasakan Nyaman dan Menyenangkan..... Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Tarsito . Jakarta: Bumi Aksara Permana. Teknik yang Menarik. Utami. Lucu. Didaktik Asas-asas Mengajar... Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Nana (1989).. Bandung: FIP IKIP Syah.. Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. Malaysia: Makalah Maizuriah (2001).. dkk(1989).. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. A. Tesis.T (1984). Bandung: Rineka Cipta Sudjana (1992). Bilik Darjah... Bandung: Remaja Rosda Karya. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta Lainnya. Ahmad(1991).

2006). (2007) menyatakan bahwa Project based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivisme. 2006.f Azam & Iqbal.. evaluasi pembelajaran lATAr BelAKANG erkuliahan Evaluasi Pembelajaran tahun akademik 2008/2009 melayani mahasiswa-guru PGSD –yaitu mahasiswa yang sudah mengajar atau guru yang sedang melanjutkan studi (studying while teaching). Dalam pandangan mahasiswa-guru. 2007) serta menumbuhkan tingkat pencapaian dan kinerja mahasiswa (Beveridge & Archer. integrated studies dan refleksi yang menekankan pada aspek kajian teoretis dan aplikasinya. Pengembangan pendekatan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran menekankan pada penyediaan kesempatan kepada mahasiswa yang sudah mengajar untuk mengeksplorasi aspek teoretis sekaligus merefleksikan praksis yang selama ini mereka lakukan. 2003) yang hasilnya kemudian disajikan dan direvieu.Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Abstrak Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa-guru (studying while teaching) memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan antara aspek teoritis dan praktis. mengindentifikasi ragam praktik evaluasi serta merefleksikannya. 2008) maupun refleksi kegiatan (Clarke. Untuk mendukung aktivitas tersebut maka desain perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dibagi ke dalam empat fase (persiapan. Karakteristik dari mahasiswa pada program multimoda pendidikan guru seperti itu adalah para mahasiswa -yang notabene adalah guru. 2006). seminar. mengeksplorasi khazanah teoretis. tantangannya adalah mengembangkan pendekatan perkuliahan yang dapat menyeimbangkan antara aspek teori dengan praktik serta mengintegrasikan cakupan dari P perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (cf. 2008). salah satu pendekatan yang mendekati konsepsi tersebut adalah pendekatan projek atau dikenal sebagai Project-based Learning (Bhattacharya et al. 2006) atau jurnal (Clarke. Untuk menunjang kegiatan Projectbased Learning perkuliahan maupun pelatihan dapat menggunakan berbagai sumber/resources termasuk diantaranya adalah pengamatan lapangan (Suratno et al. Suratno et al. Informasi tersebut mendasari “JURNAL. dan penutup) beserta desain evaluasi perkuliahan. 2008). Beveridge & Archer. implementasi. 2006)...pada tataran tertentu telah memahami dasar teoritis dan telah melakukan praktis evaluasi pembelajaran (Jyrhama et al. Penerapan Project-based Learning dapat memfasilitasi tingkat kemandirian partisipan (Suratno et al. Dari berbagai kajian tentang strategi perkuliahan maupun pelatihan untuk para praktisi. Oleh karena itu. dosen cenderung menekankan aspek teoretis sehingga kurang mengeksplorasi aspek praksis secara seimbang (c.lakukan di lapangan (Jyrhama et al. Namun demikian. berdasarkan pengamatan dan pengalaman terdahulu. Dalam pendekatan Project-based Learning. Mempertimbangkan karakteristik mahasiswa tersebut maka sifat dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran adalah dapat mengungkapkan permasalahan dan kesenjangan dari integrasi teori dengan praktik evaluasi pembelajaran (Brattacharya et al. 2006). Bhattacharya et al. problem solving. Pendekatan Project-based Learning dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-guru untuk menentukan permasalahan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini mencoba menggali aspek dari pengembangan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dengan pendekatan Project-based Learning beserta efektivitas dan pengaruhnya terhadap capaian mahasiswa-guru. beberapa dosen belum banyak yang mengoptimalkan potensi dari mahasiswa-guru tersebut. Kata Kunci: project-based learning. inquiry-riset. mahasiswa mengembangkan suatu projek baik secara individu maupun berkelompok untuk menghasilkan suatu produk –misalnya portofolio (Azam & Iqbal. Pemikiran ini dipandang dapat memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan perbandingan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan praksis yang sering guru –mereka dan teman sejawatnya.. Hal ini berarti para mahasiswa tidak terlalu asing lagi dengan materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang akan diberikan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .Oktober 2008 . 2006) yang sesuai dengan karakteristik dari mahasiswaguru tersebut. 2003)..

2006). d. Mahasiswa a. 2008) d. Pengembangan Pendekatan Problem-based Learning a. mahasiswa dapat menggunakan model pemecahan masalah (Bhattacharya et al.. 3. Melakukan riset untuk memecahkan permasalahan. Mahasiswa dikelompokan ke dalam lima kelompok. c. 2. Berdasarkan deskripsi di atas. Dari fase-fase tersebut diharapkan mahasiswa dapat memperkaya wawasan teoretis dan empiris berdasarkan hasil pengembangan diri –misalnya melalui refleksi terhadap praktik (Blaise et al. b. b. Dalam melakukan riset. strategi riset dan pemecahan masalah serta pengembangan laporan. c. Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 3. Fokus permasalahan berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) (teori dan praktik). 2. 4. DeSAIN PrOGrAM PeMBelAjArAN Desain program perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa PGSD Bumi Siliwangi UPI tahun akademik 2008/2009 dikembangkan berdasarkan prinsip Project-based Learning. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan. penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan berikut terkait dengan implementasi pengembangan PBL: 1. Memberikan penjelasan tentang The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. b. Dalam melakukan pemecahan masalah. Melalui strategi ini juga diharapkan dapat terbentuk prototip komunitas belajar praktisi guru yang melakukan kajian ilmiah tentang apa yang mereka lakukan terutama dalam hal evaluasi pembelajaran.Oktober 2008 . Dalam perkembangan risetnya. 2006) dan pengembangan sejawatnya (Beveridge & Archer. Mengembangkan strategi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (Project-based Learning).. serta merefleksikan teori dan praktik evaluasi pembelajaran. Memfasilitasi mahasiswa memahami ragam teori dan praktik evaluasi pembelajaran. Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? TujuAN KeGIATAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan pendekatan Project-based Learning pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Kegiatan perkuliahan dibagi ke dalam beberapa fase yang ditujukan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk merencanakan. mahasiswa melakukan bimbingan terprogram untuk penyusunan laporan kegiatan projek. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? 5. Fase persiapan: 1. Mengembangkan perencanaan projek. Dosen a. Dosen a. Memberikan perkuliahan tentang teori dan praktik evaluasi pembelajaran b.pengembangan desain perkuliahan Project-based Learning dimana mahasiswa-guru tersebut mengidentifikasi projek tentang Evaluasi Pembelajaran dan hasil pengembangan ini diukur untuk melihat efektivitas serta pengaruhnya terhadap capaian perkuliahan mahasiswa. 1. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 4. mahasiswa dapat menggunakana pendekatan The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Dari tujuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1.. mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengkomparasikan dengan hasil studi teoritis sehingga mahasiswa dapat menjelaskan ragam praksis yang terjadi serta kaitannya dengan rujukan teoretis tertentu. Tiap kelompok mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi projek mereka. c. 2008) untuk membantu aktivitas eksplorasi projek mahasiswa. Melibatkan satu anggota kelompok mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. Mahasiswa a. 2006) e. 2. Mengembangkan instrumen uji pengembangan pendekatan Project-based Learning. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . c. Memberikan penjelasan tentang model pemecahan masalah. Melalui pendekatan ini keterkaitan antara teori dari buku teks dengan praktek di lapangan dari evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa (sebagai guru) dapat terwadahi. b. mengimplementasi dan mendiseminasikan projek yang mereka kembangkan. menganalisis.. dimulai dari identifikasi permasalahan. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam penyusunan laporan riset projek “JURNAL. Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 2. Fase Implementasi: 1. Meningkatan kualitas perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang tercermin baik dari segi penyelenggaraan maupun pencapaian nilai mahasiswa.

“JURNAL. Perencanaan projek Mahasiswa melakukan penyusunan rencana projek b..Oktober 2008 Fase IV: Penutup Review perkuliahan . sebagai berikut: Komponen Pemahaman teori S k o r Skor rata. Riset projek – mahasiswa melakukan kajian teoretis dan empiris dari kegiatan perkuliahan dan fenomena di lapangan c. b. Fase Seminar: 1. Persiapan • Pengembangan instrument (tes. (4) menetapkan skor. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Mengidentifikasi Permasalahan Evaluasi.10 Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Efektivitas PBL dalam perkuliahan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data di atas. Fase I: Persiapan Projek Identifikasi projek – mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) Fase II: Implementasi Projek a. hal tersebut ditunjang oleh indicator-indikator yang menunjukkan meningkatnya pemahaman teori tentang : (1) menyusun lay out (2) menulis soal. 2006). Mahasiswa a. Informasi tentang perkuliahan c. yaitu: (1) Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? (2) Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (3) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (4) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? (5) Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 1.00 33. Desain Evaluasi Program a. Bimbingan dan laporan – mahasiwa progress riset kepada dosen Fase III: Seminar Projek a. wawancara) • Perekrutan tim penelitian (mahasiswa) • Pembinaan tim peneliti b. input. menyampaikan saran dan rekomendasi 2. observasi) Fase II: Implementasi Projek a.55 18. Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dengan nilai yang dicapai dalam posttest. wawancara. Pelaporan observasi.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 63. Sekelompok mahasiswa mempresentasikan temuan dari projeknya dan kelompok lain menanggapi. Dosen a.45 51. Mahasiswa Memberikan umpan balik dan masukan terhadap jalannya perkuliahan serta pendekatan Project-based Learning yang digunakan. presentasi projek Mahasiswa menyajikan temuan penelitian b. Dosen Memberikan review terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran. 2. Mahasiswa saling mendiskusikan temuan mereka serta merefleksikan terhadap praksis yang mereka lakukan sehari-hari (Blaise et al. Memberikan umpan balik. pembimbingan HASIL PENELITIAN Hasil dan analisis data yang terkumpul berdasar kepada catatan dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam kelas maupun di lapangan diorganisir secara cermat untuk menjawab persoalan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 2. fasilitasi-moderasi presentasi dan diskusi b. Pengembangan strategi perkuliahan (Problembased Learning) b. Tabel 1: Overview Desain Problem-based Learning Mahasiswa Dosen 2. Fase Penutup 1. (3) menata soal. Pelaksanaan • Monitoring tiap fase • Penilaian Diri c. saran dan rekomendasi d. Fase III: Seminar Projek a.c. Memandu dan memfasilitasi kegiatan presentasi dan diskusi b. Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. diskusi – mahasiswa mendiskusikan hasil projek penelitian Fase IV Penutup Feedback perkuliahan Fase I: Persiapan Projek a. penulis menganalisisnya untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dan posttest. ( 5) reproduksi tes dan (6) analisa empiris terhadap suatu tes hasil belajar. Perkuliahan b. Pengembangan instrument ( tes.

Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. Paper presented at NZAARE/AARE Conference. 2006. Cece. 2006. PBL Approach: A model for integrated curriculum. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. J. UPI Pres. Motivational implications of project-based learning for the preparation of social workers.50 54. H. K.85 proyek Komponen Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. L. Persepsi mahasiswa terhadap PBL Berdasarkan pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa terjadi perubahan kea rah positif dalam hal persepsi mahasiswa terhadap PBL sebelum dan sesuadah melaksanakan kegiatan di lapangan. Clarke. November 27-30. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan.30 60. 3. Auckland. A. Iqbal. Skor Skor rata. M. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS. November 27-30. M. 2006. 2003. S. Project-based Learning.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 65 44. Malone. Reflection: Journal and reflective questions –A strategy for professional learning. B. Adelaide. 2007. 2006. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . M. 5. T. Rethinking reflective journals in teacher education.30 58. 4. Hal tersebut menunjukkan bahwa PBL efektif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar. 2006. Teacher Institute Sampoerna Foundationa Jakarta.15 12. Adelaide. Bandung Suratno. S k o r Skor rata. A. Bandung Sapriya. Nov 29-Dec 3. S. 2006. November 27-30. dkk.. 2003. Blaise. S. DAfTAR PUSTAKA Azam.10 Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif.85 proyek Komponen “JURNAL. J. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education.. Archer.Oktober 2008 .Komponen Identifikasi masalah S k o r Skor rata. Use of portfolios for assessing practice teaching of prospective science teachers. & Desiree. M. Latham. MacIntyre. November 27-30.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 60 45. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. dkk. 2006. & Lang.60 7. Bhattacharya. 2006. Makalah disajikan pada kegiatan Semiloka Program Adopt A Teacher. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Merencanakan Proyek Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. 2006. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis dan Merefleksikan Keterkaitan antara Teori dengan Praktik Evaluasi Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. J. Adelaide. Ryan. & Brears. Adelaide. Rahmat. 2006. Beveridge. Andira. 2 Februari 2008 Yang ditunjang dengan indicator tentang meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan evaluasi hasil belajar. Dole.00 47.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 75. Dharma. G. Faulkner.15 5.

dikarenakan: (1) konsepsinya berbeda dengan konsep ilmiah. Siswa membawa berbagai konsepsi mengenai obyek dan fenomena alam dan seringkali tidak sesuai dengan konsep ilmiah. Kata Kunci: konstuktivisme. 1985). 1994) membagi dua macam penelitian mengenai konsepsi alternatif yaitu kajian nomothetic (penyimpangan dari konsep standar) dan kajian idiographic (pemahaman mengenai obyek maupun peristiwa). seringkali pengetahuan awal dan pandangan siswa bersifat miskonsepsi/salah pengertian ataupun berupa alternative conception/pengertian alternatif. guru berperan dalam menghubungkan (linking). pandangan dan keyakinan peserta didik serta pengaruh pendidik (Tobin et al. memperluas (extend). Wandersee. dalam pembelajaran dan pengajaran sains (Osborne & Freyberg. 1994) meliputi: 1. (2) sifatnya laten. 2002a). pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan konseptual. Gunstone. 1985). Penggunaan istilah alternative conception ketimbang miskonsepsi pada tema penelitian konseptual (conceptual research) ini dilandasi keluasan istilah tersebut ketimbang istilah miskonsepsi (bisa disimak pada bagian kajian nomothetic dan idiographic). Metode yang diadopsi adalah metode yang biasa digunakan oleh antropolog. terus dipergunakan siswa dan cenderung sukar diubah. mengevaluasi (evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya. “JURNAL. Akan tetapi. Dalam merespon pandangan ini.Oktober 2008 . masyarakat. memadukan (integrate). implikasi perspektif konstruktivisme dalam penelitian Constructivism deals with questions of knowledge-what knowledge is and where it comes from…I prefer to call it a theory of knowing rather than a theory of knowledge. Alternative conception dipandang sebagai faktor penting . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dalam hal ini. sumber bacaan dan guru.. Biasanya mengkaji pandangan siswa tentang obyek dan fenomena serta dianalisis berdasarkan terminologi yang siswa gunakan. sementara siswa mengenali (recognise). Dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara apa yang sedang diajarkan dengan apa yang sudah diketahui. bersifat naturalistik serta subyeknya sedikit tetapi mendalam. Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno Abstrak Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan proses membangun pengetahuan yang dilakukan individu. konstruktivisme memandangnya sebagai suatu proses sosial [wacana] membangun pengetahuan [yang ilmiah] yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. (von Glasersfeld. Biasanya kajian nomothetic menggunakan tes tertulis. Fenomena penelitian ACM sebenarnya diilhami dari penelitian yang dilakukan oleh Piaget (1920-an) berkenaan dengan pemahaman anak mengenai dunia/ alam di sekitarnya melalui metode wawancara klinis serta disertasi Driver yang mencoba memasukannya ke dalam konteks kelas (Gunstone. Kajian idiographic memunculkan istilah pupil’s ideas. Kajian nomothetic memunculkan beragam istilah seperti naïve conception ataupun istilah yang lazim dikenal sebagai miskonsepsi. Konstruktivisme memandang penting faktor pengalaman siswa yang berupa pengetahuan dan keyakinan yang dibawa siswa ke dalam pembelajaran yang cenderung membentuk miskonsepsi/alternative conception. Oleh karena itu. 1994. Mengapa konstruktivisme memandang penting alternative conception dan mengapa ACM begitu mendunia terutama dalam periode 1980-1990an? Setidaknya terdapat tujuh klaim utama yang mendasari ACM (Wandersee et al. konsepsi alternatif.penghambat bagi pembelajar dan rujukan bagi guru. commonsense theories ataupun yang dikenal sebagai alternative conception. memonitor (monitoring) dan mengarahkan (directing) proses membangun pengetahuan. perubahan konseptual KONSTRUKTIVISME DAN fENOMENA RISET ALTeRNATive CONCePTiON MOveMeNT onstruktivisme memandang bahwa pengetahuan individu merupakan hasil dari proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam sistem kognisi individu. bersifat kuantitatif dan menggunakan inferensi statistik. 2002b). dan (3) sukar dideteksi oleh guru (Osborne & Freyberg. children’ science/view/understanding. pendidikan sains adalah merebaknya penelitian mengenai alternative conception atau lazim dikenal sebagai alternative conception movement (ACM)..Konstruktivisme. Tulisan ini membahas implikasi perspektif konstruktivisme dan fenomena riset alternative conception movement (ACM) yang mendasari pandangan pembelajaran sebagai membangun pengetahuan melalui proses perubahan konseptual. K Konstruktivisme memandang penting alternative conception yang dimiliki dan diyakini siswa. Sumber alternative conception bisa berasal dari diri siswa. Driver & Easley (1978. 1992). Guru sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai konsepsi siswa.

Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible). Sementara Posner et al. Akan tetapi. 1997). faktor-faktor apa yang mendasarinya dan bagaimana kaitannya dengan proses belajar di kelas. yaitu: 1. Bila mengacu pada pandangan konstruktivisme psikologi personal. Oleh karena itu. kemampuan dan latar belakang budaya. Melalui asimilasi. Banyak strategi maupun model pengajaran yang telah dirancang oleh para pakar “JURNAL. Akomodasi merupakan proses konflik kognitif karena skema dengan fenomenanya berbeda (Piaget). siswa menggunakan konsepsinya yang telah ada untuk merespon fenomena yang baru. 4. penggunaan analogi serta strategi metakognisi sepertinya sangat menjanjikan. (1982) berpandangan lebih luas dimana akomodasi merupakan proses perubahan konseptual dikarenakan konsepsi siswa tidak sesuai dengan fenomena yang baru. berdasarkan gender. Diperlukan kajian sejarah sains bagi siswa. rasional dan dapat memecahkan permasalahan atau fenomena yang baru. 1982). 3. Pendekatan perubahan konseptual melalui strategi konflik kognitif. Terdapat kesamaan antara penjelasan saintis yang tergugurkan teorinya dengan alternative conception siswa. Menurut Piaget dan Posner et al. IMPlIKASI DAlAM STrATeGI PeNGAjArAN SAINS Inti dari implikasi hakikat perubahan konseptual terhadap strategi pengajaran sains adalah membantu siswa memahami konsep sains. beberapa hal perlu dikaji lebih lanjut terutama berkenaan dengan strategi siswa merubah konsep yang sebenarnya maupun strategi metakognisi. tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya [bersifat miskonsepsi] pada konteks lain. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsepsi yang telah ada. Sementera itu. Negosiasi pemahaman sangat mempengaruhi zona proksimal individu. akan tetapi pada dasarnya terdapat dua kondisi umum dari perubahan konsep yaitu mengganti [bersifat radikal/ revolusioner] ataupun menambah [bisa juga mengurangi] dengan konsepsi lain yang dianggap tepat konteksnya [evolusioner]. Dalam proses perubahan konseptual. 3. terutama secara empiris. konteksnya berbeda. 5. asimilasi akomodasi dan ekuilibrium (Piaget. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligible). (1982) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. (1982) pada intinya. cenderung membawa alternative conception yang berasal dari pengalaman pribadi maupun hasil interaksi sosial. terdapat tiga proses kunci yang dilakukan individu dalam membangun pengetahuan yaitu. Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual. mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan. siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu. dapat memecahkan permasalahan terdahulu serta konsisten dengan teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Guru pun memiliki alternative conception sehingga terjadi salah tafsir dalam memahami konsep sains. (1982): ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada. pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone. kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone. Siswa. terutama bila terjadi alternative conception. Wadsworth. kegiatan diskusi kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami dan mendalami suatu prinsip/konsep yang diperoleh orang tersebut dari interaksinya dengan sejawatnya. usia. Piaget dan Posner et al. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu. Namun demikian. Ini memerlukan kajian mengenai bagaimana siswa berpikir. 7. Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone (1994) sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al. Menurut perspektif konstruktivisme sosiokultural... Gunstone (1994) mendefinisikan perubahan konseptual”…the abandonment of one conception and the acceptance of another”. HAKIKAT PROSES PERUBAHAN KONSEPTUAL Inti pembelajaran dalam perpektif konstruktivisme melibatkan proses perubahan konseptual. penggunaan bahasa sehari-hari. asimilasi terjadi karena pengetahuan awal siswa sejalan/berhubungan dengan fenomena dan belum terjadi perubahan skema/konflik kognitif (Piaget) ataupun perubahan konseptual (Posner et al. Terdapat empat syarat yang menjembatani proses akomodasi. apakah seluruh konsepsi awal siswa dirubah secara keseluruhan? Mungkin saja. Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing). intelligible. Alternative conception sangat sulit di’berantas’ dan sifatnya beragam. Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep. 6. suatu rentang pemahaman dalam sistem kognisi individu. Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual.Oktober 2008 . dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. Diperlukan strategi perubahan konseptual. Posner et al. Melacak dari mana asalnya alternative conception sangatlah sulit. istilah perubahan konseptual penulis definisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya [konsepsi dan keyakinan] bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya. Siswa akan mengubah konsepsinya bila siswa merasa konsepsi yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk merespon fenomena atau pengalaman baru. Namun gejala alternative conception yang terjadi di berbagai populasi dan budaya mencerminkan adanya kesamaan pengalaman budaya siswa dalam hal observasi alam. Vygotsky menekankan faktor bahasa dan interaksi kelompok mempengaruhi proses membangun pengetahuan individu. konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. 2. pengaruh media massa serta pengalaman belajar di kelas. Artinya. plausible dan fruitful. 1984). karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone. Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful) dalam pengembangan penelitian atau penemuan yang baru. 4. terutama metakognisi. (1982) memiliki konsepsi yang agak berbeda terutama dalam konsepsi akomodasi.. Kemudian.2. Oleh karena itu. 1997). 1994).

The Importance of Specific Content in the Enhancement of Metacognition. tidak hanya aktif dalam hal mempelajari fakta. 88. Mintzes... (Diadopsi dari Anderson. Tobin. Tippins. pada dasarnya.au] to Tatang Suratno [suratno169@hotmail. Proses Siswa Berpikir Strategi Pengajaran DAfTAR PUSTAKA Gunstone. tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi (Tabel 1).monash.edu. Ogle. George J. James H. guru menjelaskan konsep-konsep dasar. diskusi. Barry J. London: The Falmer Press... 1987) Antisipasi Persiapan Siswa mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap proses pembelajaran. Carr (Ed. Palinscar. Faculty of Science Education. In Peter Fensham. Gunstone. Menyediakan advance organizers. and Mitchell. Tabel 1: Planning Guide for Teaching fir Conceptual Change. siswa belajar dari berbagai sumber termasuk buku teks maupun guru. guru sebaiknya memandang kelas sebagai suatu learning community (Anderson. Pada tahap persiapan. Constructivist Learning and the Teaching of Science. Dalam suatu learning community yang ideal. 1987) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual. 2. (1997).. Gabel (Ed.. menuliskan peristiwa dan objek sehari-hari... Secara eksplisit menjelaskan keterkaitan hubungan antar konsep dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. A. (1984). Pengenalan Konsep IPA Berupaya mencapai pemahaman awal tentang konsep ilmiah. Osborne.com]. mengajukan pertanyaan dan merangsang penjelasan anak.pendidikan sains. dan memahami antar hubungan antara konsep ilmiah dengan konsepsi yang dimilikinya. Richard White (Ed). Charles W. John Wiley and Sons. Jones. In Dorothy L. penalaran kreatif. Alexandria VA: Oak Brook. Monash University. prediksi dan mengontrol obyek dan peristiwa alamiah. and Gertzog. Pada tahap penyajian. D. Peter. Monash University. mencoba menangani kesulitan belajar. (2002a). membandingkan miskonsepsi dan konsepsi ilmiah. Richard F. deskripsi. 1987). Ernst (1992). Roger. Accomodation of a Scientific Conception: Toward a Theory of Conceptual Change.) Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas. dari berbagai bukti dari praktikum dan dari hasil komunikasi dengan sesama siswa maupun guru. (1994). (2002b). and Coordination of Secondary School Science: Relevan Research Volume 2. In Dorothy L. Deborah J. Alejandro Jose. (1985). In B. Richard F. Learning in Science: The Implication of Children’s Science. Strike. and Gallard. Piaget’s Cognitive and Affective Development. Dalam menerapkan strategi perubahan konseptual.Oktober 2008 . siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam. tetapi juga aktif dalam melatih keterampilan inkuiri seperti mengemukakan penjelasan.. Monash University. Pearsall Scope. memfasilitasi observasi.com].. No. Wandersee. Faculty of Science Education. G.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. Questions and Answers about Radical Constructivism.. (1982). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (1994).. Di kelas. and Freyberg. In Marcia K. Gunstone. 211-227. Constructivism and Learning Research in Science Education. monash. siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami. Richard F. Richard F. Menekankan prinsip dan teori kunci.com]. Kenneth. (1987).. Research on Instructional Strategies for Teaching Science. Aplikasi dan Integrasi Memahami prinsip dan teori ilmiah. Kenneth A. Sequence. memikirkan fenomena alam dan penjelasannya dengan menggunakan bahasa sendiri.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. dan mencoba menginternalisasi konsep inti yang tidak terlalu sulit. and Novak Joseph D. (1994). “JURNAL. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick_Gunstone@Education. Faculty of Science Education.. von Glasersfeld. Research on Alternative Conception in Science. New York: MacMillan.. menampakkan kesadaran dan motivasi untuk belajar.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. Strategic Teaching in Science. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick-_Gunstone@Education.edu. Richard Gunstone.edu.. Pada tahap penerapan dan integrasi. F. William A. Joel J. monash. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick¬_Gunstone@ Education. New York: MacMillan. Peter W.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. Wadsworh. The National Teacher Association. Auckland: Heinemann. Metacognition and Conceptual Change. Science Education Vol. Gunstone. Hewson. mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. S. sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson. Ian J. Anderson. Namun. and E. S. mengenalkan konsepsi melalui struktur tugas dan aktivitas yang bermakna. The Content of Science: A Constructivist Approach to its Teaching and Learning. Posner. Gabel (Ed...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful