Pengantar

Nomor: 10 - Oktober 2008

Sejumlah tulisan yang ditampilkan pada Jurnal Pendidikan Dasar edisi Oktober 2008 ini, berupa hasil penelitian lapangan maupun kepustakaan yang difokuskan kepada konteks pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tulian dan hasil pikiran yang kesemuanya menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dasar, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas dalam pelaksanaan teaching learning, yang pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. Lely Halimah, menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 Laboratorium UPI Kampus Cibiru dalam kesimpulannya antara lain menyebutkan bahwa perkembangan kosa kata mempunyai epranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa sekolah dasar. Nina Sundari, menampilkan tulisan hasil penelitian berjudul Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tini Rustini, menampilkan hasil penelitian berjudul Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berfikir Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Tatat Hartati, hasil penelitiannya berjudul Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi, menyimpulkan bahwa kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang dengan penelitian-penelitian yang berkualitas secara bersama-sama. Rustono, dkk, menuliskan hasil penelitian berjudul Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar. Dadan Djuanda, menuliskan hasil penelitian tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, mendeskripsikan bagaimana pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. Nurdina Hanafiah menampilkan hasil penelitiannya berjudul Pengembangan Decision Making Model dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, menyimpulkan bahwa model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternative pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Maulana, menuliskan hasil penelitian berjudul Pendekatan Metakognitif sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa PGSD, menyimpulkan bahwa proses ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena decision making process model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan berfikir kritis siswa. Beberapa tulisan yang tampil untuk memperkaya jurnal edisi kali ini adalah; Dindin Abdul Muiz Lidinillah, Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar, Supriadi, Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika, dan Yahya Sudarya, Project Based Learning dalam pembelajaran Evaluasi Belajar mahasiswa PGSD. Oktober 2008 REDAKSI

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Jurnal Pendidikan Dasar
Daftar Isi

Nomor: 10 - Oktober 2008
Halaman (2) (3 - 9)

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru Lely Halimah Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Nina Sundari Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study di Sekolah Dasar Rustono W.S. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Konstruktivisme, Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno

(10 - 13)

(14 - 17)

(18 - 20) (21 - 27)

(28 - 32)

(33 - 38)

(39 - 45)

(46 - 51) (52 - 57) (58 - 61)

(62 - 64)

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
Lely Halimah Abstract Based on the preliminary study, it is shown that the teaching and learning process of Bahasa Indonesia in the 4th grade of SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru is not yet conducive to develop the Indonesian language skill of the students. One of the sources of the problem is that the teaching and learning process of bahasa Indonesia applied by the teacher refers to only one source for one semester, which is the text book. Consequently, the students seems unenthusiastic in attending to the teaching and learning process, and don’t have a chance to actively participate and to communicatively use Indonesian language, so that the language skills of the students are not well developed. In such condition, some efforts are required to improve the quality of the teaching and learning process, in order to increase the quality of the result. To overcome this condition, a classroom activity/treatment research is conducted --a kind of reflexive research performed by giving certain treatments to improve or and to increase the class activities in a more professional way. In general, the objectives of this research is to increase/enhance the quality of the process and the result of teaching Bahasa Indonesia by way of developing creativity of the teachers’ in exploiting the students’ surroundings as learning sources. To achieve the objectives of the research, the procedures are generally referred to the classroom research activity, as in Lewin’s Model (Elliot, 1991), and in particular develop the procedure of PTK adaptation of Hopkins, 1993), which includes planning, performing, observation, and reflection. In accordance with the procedures, this research is developed into three cycles, of which each cycle develops different themes. For instance, cycle 1 develops the theme of Newspaper, which is then developed/extended into three actions. Cycle 2 develops the theme of Houseplants, which is then developed/extended into three actions. Cycle 3 develops the theme of School Library, which is then developed/ extended into two actions. The focus of each action of utilizing the environment as learning source is giving the students a chance to actively participate by using the language in a communicative way. The conclusions of the research are as follows: (1) the utilization of the environment as an effective learning source, by giving the students a chance to interact/get involved with various learning sources, the people, the materials, the equipments, the techniques, as well as the environment itself, (2) the conducive activities of the students, by giving the students the assignments that encourage them to use the language in a communicative way, such as interviewing, descriptive writing on their object of observation, and (3) the impact of utilizing the environment as learning source, which is shown by the gradual improvement of the students’ language skills, which include listening, speaking, reading, and writing. As shown by the statistic, out of 16 respondents of this research, in cycle 1 action 1, there are only 6 students (37,5%) with good listening skill. But in cycle 3 action 2, there are 12 students (75%). And in cycle 1 action 1, there are only 4 students (25%) with good speaking skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Similarly, in cycle 1 action 1, there are only 9 students (56,25%) with good reading skill. But in cycle 3 action 2, there are 11 students (68,75%). And finally, in cycle 1 action 1, there are only 5 students (31,25%) with good writing skill. But in cycle 3 action 2, there are 10 students (62,5%). Suggestion for future researchers is that the utilization of the environment as an effective learning source for the development of the students’ language skills requires good and constructive planning in preparing and providing the materials, media, methods, and other sources existing in the surroundings, as well as the evaluation. Keywords: learning source and language competence PENDAHULUAN endidikan bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan wahana berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan sosial. Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan

P

bahasa. Begitu pentingnya kemampuan berbahasa, sehingga masalah kemampuan berbahasa khususnya kemampuan baca-tulis atau literasi (melek huruf) menurut Azies dan Alwasilah (1997: 12) dan Akhadiah (1992: 18) di seluruh dunia masalah literasi atau melek huruf ini merupakan persoalan manusiawi sepenting dan semendasar persoalan pangan dan papan. Untuk itu, maka menurut Gani (1995: 1) proses pendidikan bahasa sejak di sekolah dasar harus mampu mewujudkan lulusan

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (3) memberikan kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber belajar dan mengkomunikasikan baik lisan maupun tulis. 1. Tepatnya kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar di Indonesia terendah di kawasan ASEAN. 2. Lebih parah lagi Ismail (Jalal dan Supriadi. yaitu melalui penerapan metode penelitian tindakan kelas dalam pemberdayaan lingkungan di sekitar peserta didik sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan temuan empirik terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. maka melalui penelitian ini. Mengidentifikasi aktivitas belajar berbahasa Indonesia yang kondusif dalam menumbuhkembangkan kompetensi berbahasa peserta didik selama proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar.Oktober 2008 . Seiring dengan adanya berbagai temuan di atas. maka yang menjadi fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. Mengidentifikasi cara-cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik. 2001: xxxi) mengemukakan hasil observasinya di beberapa negara bahwa anak-anak Indonesia “rabun membaca dan lumpuh menulis. TUJUAN DAN MANfAAT Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia di SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. maka peneliti melakukan studi pendahuluan yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru SD laboratorium UPI Kampus Cibiru. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . kepala sekolah. (2) memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dengan berbagai nara sumber. Rofi’uddin dan Zuhdi (1999: 37) mengungkapkan bahwa rendahnya kemampuan lulusan sekolah dasar dalam hal baca-tulis terus dikumandangkan. Bagaimana meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia peserta didik melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia? Untuk memecahkan masalah tersebut. maka peneliti bersama kepala sekolah dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru merasa perlu adanya upaya-upaya perbaikan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya agar kompetensi berbahasa peserta didik dapat ditingkatkan secara optimal. peserta didik belajar berkomunikasi baik lisan maupun tulisan hanya mengandalkan dari satu sumber yaitu buku paket. Setelah diadakan refleksi secara kolaboratif dengan guru-guru tersebut ditemukan berbagai faktor penyebabnya.yang melek huruf dalam arti yang lebih luas yaitu melek teknologi dan melek pikir yang keseluruhannya juga mengarah pada melek kebudayaan. Dari berbagai hasil temuan masih banyak diungkapkan bahwa proses pembelajaran bahasa Indonesia serta hasilnya belum sebagaimana yang diharapkan. Bagaimana aktivitas peserta didik yang kondusif. yang salah satunya adalah guru terlalu terikat dengan buku paket bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia Dengan kata lain. Bagaimana dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia terhadap kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? Berdasarkan rumusan permasalahan di atas. dan guru kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru. peneliti dan guru berkolaborasi secara inkuiri reflektif untuk memperbaiki proses pembelajaran bahasa Indonesia melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik. bahkan hasil penelitian kemampuan membaca tingkat sekolah dasar yang dilaksanakan oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA. 1992) menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik sekolah dasar Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara yang menjadi sampel penelitian. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan penelitian ini. Mengidentifikasi dampak pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia terhadap peningkatan kompetensi berbahasa peserta didik. (4) memberikan pengalaman yang bermakna dalam melakukan berbagai aktivitas berkomunikasi baik lisan “JURNAL. terutama bagi peserta didik di antaranya (1) menumbuhkan antusias. Penyebabnya pada umumnya mengungkapkan bahwa kegagalan itu bersumber pada guru dan metodologi pembelajaran serta sumber daya pendidikan yang kurang menunjang. minat dan motivasi belajar yang tinggi terhadap peserta didik. Dari hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas. dan dari hasil diagnosis secara kolaboratif antara peneliti. 3. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh gambaran pada umumnya pembelajaran bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh guru-guru tersebut belum kondusif terhadap peningkatan kemampuan berbahasa peserta didik. 1. dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar selama pembelajaran bahasa Indonesia? 3. maka ditetapkan alternatif tindakan yang dapat memecahkan masalah yang bersifat praktis dan inovatif. melalui pengembangan kreativitas guru dalam pemberdayaan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar kehidupan peserta didik. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Bagaimana cara yang efektif pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. sehingga dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia? 2. maka peneliti menjabarkan ke dalam sub-sub masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian berikut ini.

maka guru harus dapat membantu mereka membangun berbagai strategi komunikasi yang membuat mereka dapat menghadapi situasi kritis yang akan mereka hadapi. terutama dengan adanya media massa. sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi. (5) memungkinkan belajar secara seketika. karena dapat mengurangi jurang pemisah antara pengajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkrit. dan (b) sumber belajar non insani. sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua. Sumaatmadja (1996: 30) memaknai lingkungan sebagai ”segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat pertumbuhan manusia yang bersangkutan. “JURNAL. dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit. Esensi dari penelitian tindakan kelas ini merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat. Salah satu upaya yang dapat membantu peserta didik memiliki strategi komunikatif tersebut. It is the means by which people explore and structure their worlds”. 1994) mengemukakan bahwa penggunaan sumber belajar dalam pembelajaran pada umumnya mempunyai berbagai fungsi. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Depdikbud (Soschan. Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar kita. misalnya udara. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli.. serta memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar dan sifatnya insidental. sumber belajar dapat dibagi dua.maupun tulisan. Menurut Soedarsono (1996) penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill) khususnya kemampuan akademik. serta memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. (2) memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional. Standar kompetensi tersebut dimaksudkan agar peserta didik siap mengakses situasi multiglobal lokal yang berorientasi pada keterbukaan dan kemasadepanan. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. reading ability and culture). Lingkungan menyediakan rangsangan (stimuli) terhadap individu. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (classroom action research).Oktober 2008 . air sungai.” Lingkungan sebagai sumber belajar menurut Solchan (1994) dilihat dari ragamnya. Djahiri (1992) mengemukakan pula fungsi sumber belajar. (1984: 1) bahwa “Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their world. di samping memperluas dan meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif. pepohonan. dkk. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. cahaya. matahari. yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Standar kompetensi yang harus dicapai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomununikasi dalam Bahasa Indonesia. Language is central to the individual’s process of self-discovery and self-definition. Semakin kita gali semakin banyak yang didapatkan oleh peserta didik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sumber belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya. Sebagaimana dikemukakan Mangieri. Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat penting. Dengan demikian. di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan. (4) lebih memantapkan pembelajaran. rerumputan. baik secara lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. dan sebagainya. yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi. yaitu (a) learning resources by design. pembentukan sikap (concept formation = self concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill). dan (5) meningkatkan kompetensi dan kreativitas berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut ini. lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai ekonomis. Dengan kata lain. Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan. education is essentially something people must do for themselves. Although others play significant role in this process. (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran. pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Menurut sifat dasarnya. juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity) pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading. Sejalan dengan pendapat di atas. dan (b) learning resources by utilitarian. yakni (a) sumber belajar insani. Untuk itu. dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. Sedangkan dilihat dari sifat pengembangannya. yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih jauh. (6) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas.

c) Tindakan ketiga. guru mengajak peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah. dan peserta didik belajar berkomunikai melalui berbagai informasi yang terdapat pada surat kabar. dan siklus dua terdiri dari dua tindakan. untuk mengamati berbagai jenis tanaman hias dan dan melakukan wawancara dengan penjual tanaman hias. c. dan refleksi (reflect) (Kemmis & Tagart. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan berbagai tanaman hias yang ada di lingkungan sekolah. c) Tindakan ketiga. b) Tindakan kedua. sumber belajar berkomunikasi adalah macam-macam tanaman hias yang terdapat di halaman sekolah. 1992. Observasi ini dilakukan terutama untuk melihat proses dan dampak dari tindakan guru terhadap aktivitas dan hasil belajar peserta didik. dan komunikatif. siklus dua tiga tindakan. pelaksanaan (act). peserta didik mengamati berbagai surat kabar yang dibawa oleh penjual surat kabar dan melakukan wawancara langsung dengan penjual surat kabar. Observer mencatat kejadian-kejadian penting untuk kemudian dihimpun sebagai catatan lapangan selama proses berlangsungnya pembelajaran. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan salah satu jenis tanaman hias. sebagai sumber belajar peserta didik. Dari hasil perenungan ini akan diperoleh berbagai temuan menyangkut tindakantindakan guru yang sudah efektif dan yang belum efektif serta dampaknya terhadap proses belajar peserta didik. Melalui tindakan kesatu ini. d. peserta didik mengamati surat kabar untuk mendeskripsikan tentang surat kabar. Observasi Observasi yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pengamatan terhadap seluruh aktivitas pembelajaran. Melalui tindakan ini peserta didik belajar berkomunikasi dengan memanfaatkan bukubuku yang ada di perpustakaan. guru mengundang penjual surat kabar ke sekolah. 1993. (3) menyusun instrumen untuk pelaksanaan observasi dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.Oktober 2008 . 3) Siklus ketiga tema “Perpustakaan Sekolah” a) Tindakan kesatu. pengewasan (observer). Temuan-temuan ini menjadi bahan diskusi antara guru dan peneliti untuk merancang perbaikan pada tindakan Gambar 1: Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari Hopkins. McNift. Setiap siklus jumlah tindakannya berbeda. Melalui tindakan ketiga ini. seperti siklus satu terdiri dari tiga tindakan. dan (4) membuat kesepakatan bersama guru dalam pemanfaatan waktu pelaksanaan pembelajaran. dan analisis kondisi lingkungan sekolah. dan prosedur pelaksanaan penelitian. b) Tindakan kedua. 2) Siklus kedua tema “Tanaman Hias” a) Tindakan kesatu.1993) “JURNAL. guru mengajak peserta didik mengunjungi tempat penjualan tanaman hias. guru mengajak peserta didik ke perpustakaan sekolah untuk mencatat judul-judul buku dan pengarangnya serta melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan. b) Tindakan kedua. yaitu tematik. untuk membaca buku cerita yang diminatinya dan kemudian menceritakan kembali isi buku tersebut.a. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan membawa surat kabar sebagai sumber belajar peserta didik dalam belajar keterampilan berbahasa. Setiap siklusnya terdiri dari perencanaan (plan). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Perencanaan Pada tahap perencanaan ini ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : (1) analisis kebutuhan perkembangan peserta didik. yang disesuaikan dengan tuntutan karakteristik mata pelajaran bahasa Indonesia. analisis kurikulum bahasa Indonesia. guru melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan informasi yang terdapat pada surat kabar. Melalui tindakan ini. Untuk lebih jelasnya gambaran setiap siklusnya adalah sebagai berikut ini. Jadi secara keseluruhan terdiri dari tiga siklus dan delapan tindakan. waseso. 1981 dalam Hopkins. Refleksi Refleksi adalah tahap di mana antara guru dan peneliti duduk bersama untuk merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan oleh guru. 1) Siklus kesatu tema “Surat Kabar” a) Tindakan kesatu. b. setiap siklusnya ditetapkan satu tema. 1994). Pelaksanaan tindakan ini dibagi menjadi tiga siklus. (2) mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumer belajar. serta konfirmasi berkaitan dengan tugas guru dan peneliti dalam pelaksanaan pembelajaran. memadukan empat keterampilan berbahasa. Pelaksanaan Pada tahap ini sesuai dengan prosedur pengembangan program tindakan dilakukan sebanyak tiga siklus.

dan siklus ketiga tindakan kedua jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik menjadi 62. Instrumen Penelitian Sesuai dengan tahapan penelitian. maka analisis data dilakukan pada setiap tahap pengumpulan data. membaca. menulis deskripsi sesuai hasil pengamatannya. tindakan ke 1 jumlah peserta didik yang kemampuan menyimaknya baik adalah 37. alat perekam elektronik.5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Dilihat dari proses belajar peserta didik. dapat digambarkan alurnya sebagaimana dikemukakan pada Gambar 1.25%.5%. melakukan wawancara langsung dengan nara sumber. Data yang dihimpun itu. yaitu (1) reduksi data. dan menulis untuk setiap siklusnya mengalami peningkatan. 2. membaca berbagai buku bacaan yang ada di perpustakaan. Kemampuan membaca juga mengalami peningkatan pada siklus kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan membacanya baik 56. mengamati langsung tanaman hias dan mewawancari langsung penjualnya. 5%. ternyata sangat ditunjang oleh kondisi meluasnya cakrawala sosial peserta didik. dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana dianjurkan oleh Nasution (1988).Oktober 2008 . meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. seperti pada tindakan ke satu jumlah peserta didik yang kemampuan berbicaranya baik 25%.selanjunya. berbicara. Gambar 2: Kemampuan Menyimak Gambar 3: Kemampuan Berbicara Gambar 4: Kemampuan Membaca Gambar 5: Kemampuan Menulis Peningkatan kemampuan berbahasa sebagaimana dikemukakan di atas. Untuk mengetahui makna dari penelitian ini. (2) display data. menceritakan kembali isi teks yang telah dibacanya. mewawancarai tukang koran. Analisis Data Pada dasarnya analisis data dilakukan sepanjang penelitian secara berkelanjutan dari hasil stusi pendahuluan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik berikut ini. Berbagai aktivitas penggunaan bahasa secara komunikatif yang dilakukan peserta didik. sebagaimana dikemukakan di atas. mewawancarai petugas perpustakaan dan sebagainya yang semuanya itu ternyata efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. Semuanya itu dari jumlah peserta didik 16 orang yang menjadi responden penelitian ini. Dilihat dari kemampuan berbahasa Indonesia. seperti pada tindakan kesatu jumlah peserta didik yang kemampuan menulisnya baik 31. dan pada siklus ketiga tindakan kedua peserta didik yang kemampuan membacanya baik menjadi 68. membaca berbagai judul buku dan pengarang. dan tes (pretest dan posttest) 3. Kemampuan menulis pada siklus kesatu juga mengalami peningkatan. Untuk siklus pertama. pedoman observasi dan catatan lapangan. maka digunakan instrumen penelitian. Berbagai aktivitas yang dilakukan secara “JURNAL. di antaranya peserta didik mengamati suatu objek kajian dan melaporkan hasil pengamatannya.25%. pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar selama proses pembelajaran bahasa Indonesia telah terbukti kondusif dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai aktivitas. Dari keseluruhan tahapan di atas. dan akhir pelaksanaan program tindakan. analisis dokumen. dan pada siklus ketiga yang kemampuan menyimaknya baik menjadi 75%. dan pada siklus ketiga tindakan kedua menjadi 62. pelaksanaan. seperti mereka membaca surat kabar secara langsung.75%. membuat pertanyaan untuk melakukan wawancara dengan nara sumber. Kemampuan berbicara pada siklus pertama juga mengalami peningkatan. di antaranya adalah pedoman wawancara. dan (3) membuat kesimpulan dan verivikasi. yang meliputi menyimak. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .

langsung oleh peserta didik sangat menunjang terhadap perkembangan pembendaharaan kata mereka. Perkembangan kosakata mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan berbahasa. Semakin kaya kosakata yang dimiliki peserta didik, maka semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. bahkan kualitas keterampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya (Suhendar dan Supinah, 1992: 103). Untuk itu, agar pembelajaran bahasa berkualitas dalam mengembangkan kompetensi komunikatif peserta didik, Logan, dkk. (1972: 18) memberikan arahan bagaimana guru harus menciptakan pembelajaran bahasa, di antaranya guru harus memberikan kurikulum bahasa yang berorientasi pada terciptanya kesadaran yang penuh akan kebutuhan peserta didik untuk penemuan, penjelajahan, berimajinasi, menciptakan dan berkomunikasi dalam lingkungan komunikasi yang bermakna. Dalam seting belajar, guru akan mengembangkan kurikulum yang mengutamakan situasi yang alamiah sebagaimana anak secara alamiah belajar dan menggunakan bahasa. Dengan kata lain, guru akan memberikan seting pembelajaran di mana peserta didik dilibatkan dalam menyimak, berbicara, untuk mengkomunikasikan ide-idenya dan perasaannya sebagai dasar pengembangan kemampuan berbahasa tulis. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pembelajaran bahasa Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan motivasi belajar, kreativitas berbahasa, dan juga dapat meningkatkan kompetensi komunikatif peserta didik. Adapun cara yang efektif dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu dengan cara menghadapkan peserta didik secara langsung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 2. Aktivitas peserta didik yang kondusif dalam meningkatkan kompetensi komunikatif melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yaitu dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas seperti menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Pemberdayaan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia memberikan dampak yang positif, terutama terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan secara bertahap baik kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Saran-saran 1. Bagi Guru, hendaknya lebih kreatif lagi dalam memilih sumber-sumber belajar yang berasal dari lingkungan peserta didik. Selain kreatif dalam memilih sumber belajar tersebut, juga kreatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara komunikatif baik lisan maupun tulis. 2. Bagi Peneliti Lebih Lanjut, kondisi yang harus dipenuhi (suport system) dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran bahasa di antaranya perencanaan yang matang dan konstruktif baik dalam mengkonstruk bahan belajar, media, metode, dan sumber-sumber belajar yang berada di lingkungan sekitar, serta penilaiannya. DAfTAR PUSTAKA Azies, Furqonul dan Alwasilah, A. Chaedar (1996) Pengajaran Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Elliott, John. (1991) Action Research for Education Change. Philadelphia: Open University Press. Fisher, Carol J. & Terry C. Ann (1982) Children’s Language and the Language Arts. New York: McGraw-Hill Book Company. Kennnedy, Barbara L. (1994). The Role of Topic and the Reading/Writing Connection. (Online):.http://www. writing.berkeley.Edu/TESL-EJ/ejo1/a.3.html. (1 April 1994). Logan, Lillian M., Logan, Virgil G. and Paterson, Leona. (1972). Creative Communication:Teaching the Language Arts. Toronto: Mcgraw-Hill Ryeerson Limited. Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. (1984). Teaching Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book Company. Muchlisoh, dkk. (1992). Materi Pokkok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud; Proyek Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Muktiono, Joko D. (2003). Aku Cinta Buku: Menumbuhkan Minat Baca pada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. (1988). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Y o g y a k a r t a : BPFE. Nurchasanah, (1994). “Model Pengembangan Kompetensi Komunikatif Melalui Pengajaran Menulis Terpadu”. Vokal Telaah Bahasa dan Sastra. (No. 1 Th V), 31-37. Pappas, Christine c., Kiefer, Barbara Z., Levstik, Linda S. (1995). An Integratif Language Perspective: in the Ellementary School. USA: Longman. Richards, Jack C. (2001) Curriculum Development in Language Teaching. United States of America: University Press Combridge Rofi’uddin, Ahmad. (1994). Evaluasi Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1994. Malang: Vokal No. 1 tahun V. Rofi’uddin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. (1999). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud. Suparno, Suhaenah A. (1999). Pemanfaatan dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny., Dkk. (1986) Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Peserta didik dalam Belajar. Jakarta: Gramedia Santosa, Puji.,dkk., (2003) Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Staley, Amy. (1991). Reading Aloud: Bringing Whole Language into the ESL Writing Classroom. (Online): http://langue.hyper.chubu.ac.jp/jalt/pub/tlt/97/mar/ aloud.html (19 Maret 1997). Sumardi .(2002). Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Bahasa Indonesia. (Online). Tersedia: http://@www. goodle/search. (28 Maret 2002). Swarbrick, Ann. (1994). Teaching Modern Languages. New York: Routledge. Tarigan, Djago. (1995). Penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, SLTP dan SMU Berdasarkan Kurikulum 1994. Bandung: Theme 76. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Universitas terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Djago. (2002). Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional. Tarigan, Hanry Guntur. (1979). Membaca: Sebagai Suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Aksara. Tarigan, Henry Guntur. (1989). Metodologi Pengejaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Depdikbud. Tarigan, Djago dan Tarigan, H. G. (1988). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Weaver, C. (1996). What about Whole Language? (Online). Tersedia: http://www.ashay. Com/mpe. (Juli 1996). Williams, Marion & Burden, Robert L. (1997) Psychology for Language Teachers: a Social Constructivist Approach. United Kingdom: University Prees Cambridge.

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
Nina Sundari Abstrak Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Media Peta dalam Upaya Meningkatkan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar”, merupakan Penelitian Tindakan Kelas di SD Negeri Cibiru X kelas IV Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran dan meningkatkan aktivitas data kreativitas siswa dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebermaknaan menerapkan proses pembelajaran dengan menggunakan media peta. Manfaat proses penelitian ini, dapat meningkatkan kinerja guru dalam melakukan perubahan untuk perbaikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Proses penelitian dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peneliti sebagai mitra penelitian. Bentuk penelitian ini adalah model siklus yang dilakukan sebanyak lima kali pengamatan dan tindakan, yang terdiri dari beberapa fase pengamatan kegiatan pembelajaran. Prosedur pelaksanaannya mengacu kepada model yang dikembangkan oleh Kemmis, Mc. Taggart, dan Hopkin’s, setiap siklusnya terdiri dari empat kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar adalah sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab,menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupan. Proses penelitian dengan menggunakan media peta, berhasil dilakukan guru yang ditunjukkan dengan meningkatnya kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Beberapa perubahan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditunjukkan oleh guru dalam pengembangan strategi, meliputi pengorganisasian materi, pemilihan metode dan media, serta evaluasi di dalam proses maupun terhadap hasilnya. Keberhasilan pembelajaran, secara nyata dapat dilihat dari pola interaksi guru dan siswa yang menunjukkan meningkatnya minat, partisifatif aktif siswa selama mengikuti pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pembelajaran dengan menggunakan media peta, guru telah meniciptakan lingkungan belajar dan strategi yang membangkitkan keterlibatan siswa secara fisik, mental dan emosional, 2) pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar dengan menggunakan media peta, peran serta siswa menjadi lebih meningkat, 3) penggunaan media peta secara efektif dapat meningkatkan kebermaknaan dalam proses pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Proses dan hasil studi ini dapat direkomendasikan kepada berbagai pihak yang terkait, khususnya bagi guru sekolah dasar, diharapkan dapat menjadi modal pengembangan untuk meningkatkan mutu unjuk-kerja profesional guru di lapangan. Bagi sekolah, proses dan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengelolaan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pengetahuan Sosial Kata Kunci: media peta, pembelajaran pengetahuan sosial PENDAHULUAN alam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) pasal 3 dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional berfungsi:

D

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Rumusan fungsi dan tujuan nasional, jika dikaitkan dengan tujuan Pendidikan IPS mempunyai arah yang sama, yaitu pembentukan warga negara yang mampu hidup secara demokratis (citizenship education). Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun global sehingga mampu hidup bersama-sama dengan masyarakat lainnya. untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah dasar sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu melahirkan manusia yang handal, baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya. Demikian pula dengan Kurikulum

“JURNAL, Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 - Oktober 2008

nara sumber. Dengan lebih mudah melakukan pengamatan. Selanjutnya. Permana : 1999 : 21). 2002 : 32). Mengenai tujuan belajar dapat diwujudkan dalam bentuk: 1. Menurut Samaatmadja (1984 : 116). diagram. mengembangkan afeksi dan kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungannya. siswa diarahkan. Tetapi dengan adanya foto-foto peristiwa berlangsung dapat merasa lebih dekat. foto. memperbaiki berpiki kreatif anak-anak. bergembira dan riang dalam belajar. 5. Dengan menggunakan media peta dapat memperoleh gambaran keseluruhan tentang wilayah yang diteliti. Secara harfiah media diartikan sebagai pelantara atau pengantar pesan dari pengirim penerima pesan. Proses pembelajaran yang didukung oleh media secara lengkap dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar.Oktober 2008 . grafik. baik dalam penggunaannya dan pengadaannya. diorama. keadaan alam serta persebaran penduduk di daerah/ lokasi tertentu. dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif”. Pengertian Media Peta Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium. papan planel. 4. materi. harga diri dan rasa percaya pada diri sendiri. poster. sifat keingintahuan. grafik. kerjasama. gambar.Berbasis Kompetensi yang mulai diberlakukan tahun 2004 bahwa dalam ”Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. “JURNAL. peta. memilih media harus memahami karakteristik ari media itu sendiri. kalau memungkinkan guru memiliki kemampuan untuk merancang dan membuat media sendiri. selain guru dapat mengembangkan materi. Demikian pula dilihat dari keefektifan bagi guru dengan menggunakan media peta dapat membantu dalam menyampaikan pesan materi secara lebih mudah kepada siswa. Contohnya pengamatan suatu wilayah sukar memberikan gambaran yang menyeluruh. media merupakan alat ari segala benda yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar. sumber pembelajaran. seolah-olah menyaksikan sendiri. dsb. potret. Media pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam menunjang pembelajaran. maupun gambaran dari objek tertentu. Pengguanaan media bukan semata-mata melaksanakan salah satu komponen pengajaran. khususnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial dan teknologi. (Afrid. Menurut Suharyono peta adalah gambaran permukaan bumi alam satu bidang datar. Guru tidak cukup memiliki pengetahuan tentang media tetapi dituntut untul terampil memilih. tempat dan situasinya yang tepat. tetapi dengan media benar-benar berguna untuk memudahkan penguasaan siswa dalam belajar. proyektor. epidiaskup. memilih media harus berdasarkan tujuan pengajaran dan bahan pengajaran yang akan disampaikan. menggunakan serta mengusahakan memilih media yang tepat. Seperti : slide. vide tape recorder. Misalnya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 akan sulit disaksikan. Peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial berfungsi untuk penyampaian materi agar lebih mudah diterima siswa. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan IPS. Karena wilayah tersebut terlalu luas untuk diamati secara langsung. metode. 3. dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan PBM IPS. memilih media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau pada waktu. perlu memperhatikan aspek tujuan. Sedangkan manfaat media bagi siswa memungkinkan dapat mencapai peristiwa yang langka dan sukar dicapai. Dilihat darimacamnya. 2. sehingga dapat membantu kelancaran aktivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan materi pembelajaran. (Sumantri. Salah satu indikator keberhasilan mutu proses dalam hasil belajar siswa. sangat terkait dengan kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang tersedia untuk kebutuhan siswanya. media pembelajaran terdiri dari : gambar-gambar. mengembangkan sikap positif anak-anak dalam belajar. maket. strategi. memberi pengetahuan dan pengalaman kepada siswa baik dalam posisi geografis. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . tape recorder. sebaiknya alat-alat tersebut dapat digunakan guru dan siswa. globe. Memilih dan menggunakan media. radio dll. 2. khususnya dalam menghadapi kehidupan akademik. Sumaatmadja (1980 : 117). visual hingga benda asli seperti laboratorium. Demikian pula dengan media peta. menjadikan anak-anak senang. garis. Dilihat dari keunggulan menggunakan peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial khususnya pada topik lingkungan sekitar di sekolah dasar. mengemukakan media pengajaran secara keseluruhan adalah segala benda. dibimbing. termasuk media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPS. film. 2. siswa dilatih menjadi terampil dan penuh pengalaman dalam menggunakan media. Manfaat Media Peta Media sebagai sumber pembelajaran erat kaitannya dengan peran guru. memilih media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Peta merupakan hasil potretan dari berbagai peristiwa/kejadian. simbol-simbol. Sumantri & Permana (1999 : 181) mengemukakan prinsif-prinsif dalam memilih media yaitu: 1. Untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. metode dan evaluasi. evaluasi dan penggunaan media. 3. objek yang dituangkan dalam bentuk gambar. 4. yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. LANDASAN TEORITIS 1. memilih media harus disesuaikan dengan kemampuan guru.

Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dan memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . 1993 : 44). keempat pase dari siklus dapat digambarkan dengan sebuah spiral Penelitian Tindakan Kelas. a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational situation) in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practice. karena siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. Rencana penelitian dilakukan dengan langkahlangkah yang dirancang berdasarkan 5 tahap : orientasi. Gambar 1: alur kegiatan penelitian tindakan kelas berdasarkan spiral (Adaptasi dari Hopkins. melakukan tindakan. 1993). dapat memunculkan variasi metode. Strategi yang dikembangkan guru dengan mengembangkan peta sebagai media. refleksi dan mengacu pada model Elliot’s (Hopkins. 1992). Pola tersebut sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah dasar yang mengacu pada asa DAP (Developmentaly Appropriate Practice). mengamati. berdampak pada hasil sehingga yang diperoleh siswa hanyalah pada aspek pengetahuan. observasi. guru dapat mendorong siswa sekolah dasar melakukan pengamatan lingkungan fisik dan sosial. 1993. Penelitian tindakan kelas. c. situasional. Melalui pengorganisasian dan pengkajian yang bervariasi mengenai pengmatan lingkungan sekitar. b. Dalam pembahasan materi. Bahkan Mc. keterampilan dan sikapnya tidak verbalisme. Pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi guru dalam mengajar di kelas. dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (ciclycal) yang terdiri dari empat tahap. (b) their understanding of these practice. guru dituntut untuk mempunyai kemampuan yang memadai. tetapi guru bersifat pragmatis-praktis yaitu mengangkat bahan IPS berdasarkan pada kehidupan riil siswa. tindakan. Melalui penelitian tindakan kelas adalah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan dan atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks pembelajaran di kelas. Tipe pembelajaran yang ditampilkan guru berupa ceramah (lecture) dalam suatu kegiatan pembelajaran. Temuan ini sesuai kajian kepustakaan bahwa pemilihan suatu strategi dan metode mengajar dalam pembelajaran Pengenalan Lingkungan Sekitar dengan menggunakan media peta. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS Model penelitian tindakan kelas.TUJUAN DAN MANfAAT PENELITIAN Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (action research). seperti ceramah “JURNAL. menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya pelaksanaan tindakan kelas adalah untuk perbaikan... tetapi juga kemampuan dalam analisis dan sintetis. Niff (1992). Penelitian tindakan dapat digambarkan sebagai suatu proses yang dinamis diantara keempat aspek. tidak lagi menggunakan buku paket sebagai sumber belajar yang utama. temuan penelitian menunjukkan bahwa pemnfaatan media peta dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial. adaptif. Pembelajaran lebih bermakna. dan bergayut dengan realitas lapangan (Hopkins. kontekstual. merupakan tradisi kualitatif yang didasarkan pada prinsip natural setting. . perencanaan. dilihat secara procedural berserta langkah-langkah proses Penelitian Tindakan Kelas. Ebbut melihat proses dan penelitian tindakan sebagai suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. sangan efektif diterapkan di sekolah dasar. seperti tampak pada Gambar 1. 48) Kata perbaikan disini terkait dan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. yaitu: merencanakan. observasi. KESIMPULAN KHUSUS Kesimpulan penting proses dan hasil studi ini dapat dikemukakan sebagai berikut : a. 1993 : 43). merefleksi. memungkinkann kepada siswa meningkatkan pengetahuan. khususnya dalam memanfaatkan media peta hingga guru maupun siswa dapat menggunakannya. HASIL PENELITIAN Beradasarkan hasil penelitian diatas.Oktober 2008 . Dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan penelitian bersandar pada pengamatan setting kelas secara obyektif tanpa rekayasa peneliti. Media peta sebagai alat pembelajaran yang dapat membatu guru dan siswa memudahkan pembelajaran yang abstrak menjadi konrit. dan refleksi (Kemmis & Taggart. tindakan. yaitu . perencanaan.. and (c) the situation are carried out (Hopkins.

Arah dan Jarak dalam Bidang Studi IPS di SD. dan Parker. Toward a Theory of Instruction. (2001). tanya jawab. Dep. menyenangkan dan efektif dalam pencapaian tujuan. Undang-undang Republik Indonesia No. Philadephia: Open Univercity Press.L. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). “JURNAL. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Bandung. Barr.U. (1985). Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi) Mata Pengetahuan Sosial untuk sekolah Dasar dan Madrasah ibtidaiyah. et Al. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang ditunjang oleh penggunaan media peta. (1967). Pembelajaran dengan memanfaatkan media peta. (2003). Permana. Dirjen Dikti. Buku Sumber Tentang Metode Baru. Studi Geografi. S. David. PPTA. IKIP Bandung Tidak diterbitkan. Dirjen Dikti. Pembelajaran dengan menggunakan media peta. Hakekat Dasar Studi Sosial. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Tim Pelatih Proyek PGSM. IBRD Loan No. Lueck. Effektive Secondary Education. Menjadi Guru Profesional. R. IKIP Yogyakarta.Oktober 2008 . diskusi kelompok sehingga proses pembelajaran benar-benar menjadi menarik. Erlangga. Sue. (1996). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . --------------------. Suyanto. Penerbit Alumni. Jakarta. Action Resarch. Citra Umbara Bandung. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. (1966). Teacher Guide to Classroom Research. ( 1993). Willis. PPGSD. Bandung: Tarsito. Tesis. (1993).A dan Clegg.bervariasi. Bandung: PT Remaja. Banks. New York: Longham et. (1996). Hopkins. d. W.S (1999). Minn. IBRD: Loan 4394IND. (1985). N. kreatif dan inovatif. Shermis. PPS dan FPIPS UPI Bandung : Remaja Rosakarya. PPGSD. 3979-Ind. Raka Joni. Social Studien Elementary Education 9th Ed. IBRD: Loan-Ind. Sumaatmadja. (1999). Program Serving Children From Brith Trought Age 8. (1996). Teori-teori Belajar. U-I Press.al. Strategi Belajar Mengajar. Tesis. M. Teaching Strategis for the Social Studies. Dirjen Dikti. (Terjemahan Tjetjep Rohendi). Strategi Belajar Mengajar. Sitompul. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Suatu Tinjauan Pengantar. (1977). Bandung. Surya. Dirjen Dikti. Kurikulum (2004).. Depdikbud. Nasution. Marlinang. Dahar. Depdikbud. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Usman.. Jaromilek. J. Metode Penelitian Kualitatif. IBRD: Loan3496-Ind. New York: mac Millan Publishing Co. Sumantri.: Burges Mc. Pengembangan Pembelajaran Konsep Letak. PPS IKIP Bandung. (1984). BP3GSD. AA. Huberman Michael A. New York: Norton. Somantri. A. (1999). Moleong. Niff. P & K.Jr. e. (1992). E. Developmentary Appropiate Practice in Early Chilhod. (1988). Lexy. dapat menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat dan gairah belajar sehingga dapat mendorong siswa berpikir kritis. Bandung: Yayasan Bina Bhakti Winaya. (1978). Jakarta: Depdiknas. PPGSM. Kasbolah. J (1991). (2003). pengamatan/observasi. J. s dan Barth. J. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. National Assocation of Yong Children: Washington DC. Depdikbud. Bruner. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dirjen Dikti. memberi peluang kepada siswa melakukan berbagai keterampilan seperti mengamati dan memprediksi DAfTAR PUSTAKA Afrida (2003).. (1999). Departemen Pendidikan Nasional. Penggunaan Peta Oleh Guru dalam Proses Belajar Mengajar Geografi Bidang Studi IPS Sekolah Dasar.R. (1994). Metodologi Pengajaran IPS. (Disadur oleh : Buchari Alma dan Harlasgunawan Ap. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SD dan MI. Minneapolis. Depdiknas. Principles and Practice London: Routledge. Bredkamp. dari Buku Asli: The Nature of Social Studies. Analisis Data Kualitatif. J. (1992). T. Penerbit: Sinar Baru. Jakarta. N. Jerome. Jakarta. Muhamad. Depdikbud.

Penerapan Model Problem Solving untuk Meningkatkan Pengembangan Potensi Berpikir Siswa Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar Tin Rustini Abstrak Penerapan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa dalam Pembelajaran IPS Di Sekolah Dasar ini dilakukan di SD Negeri Marga Endah Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi dengan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah agar guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di sekolah dasar. Manfaat penelitian lainnya adalah dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan perubahan pembelajaran Pendidikan IPS di kelasnya. motivasi dan kreativitas hingga berimplikasi pada hasil belajar yang lebih baik Kata Kunci: Pendidikan IPS. mental (pemikiran dan perasaan) sosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan anak. sehingga dapat menumbuhkan motivasi.Oktober 2008 . Manfaat untuk siswa dapat dilihat dari meningkatnya aktifitas dan kreatifitas siswa selama mengikuti pelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat partisipatorik dan kolaboratif antara guru dan mitra penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. menjelajah. berpikir secara teratur. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah 1) penerapan model problem solving dengan strategi yang dikembangkan guru secara bervariasi melalui pembelajaran IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh. mampu meningkatkan proses belajar siswa kelas V melalui aktivitas. dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran IPS. ditanggapi. Pengembangan potensi siswa melalui pengajaran IPS dapat dioptimalkan. Potensi Berpikir & Pemecahan Masalah. Hal P ini sesuai dengan pendapat Raka Joni (1992: 1) bahwa dengan penerapan CBSA. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . keterampilan-keterampilan dalam menghadapi kehidupan nyata. Proses penelitian berlangsung empat siklus. pengawasan dan refleksi. metode. Pada rambu-rambu GBPP IPS SD dikemukakan oleh Depdikbud (1994-1995) bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran. media serta evaluasi pembelajaran benar-benar bermakna. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir. perlu mendapatkan perhatian yang serius. menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat disekitarnya. tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari. 2) penerapan model problem solving melalui pembelajaran IPS yang dikembangkan guru. Selain itu siswa diharapkan dapat terlatih untuk berprakarsa. dengan kegiatan pokok perencanaan. guru dituntut membawa siswa kepada kenyataan hidup sebenarnya yang dapat dihayati. serta lebih terampil dalam menggali. Pembelajaran yang dikembangkan guru dengan menggunakan variasi strategi. Dengan begitu semua potensi siswa dapat dikembangkan. Proses Belajar Mengajar Pendidikan IPS dan Penerapan Model Problem Solving PENDAHULUAN endidikan Dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar hendaknya dikembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada proses pencapaian tujuan tersebut. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level diatasnya dan pada gilirannya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. Pengertian Problem Solving. Dalam proses penelitian berlangsung telah terjadi perubahan meningkatnya kemampuan kerja guru dalam mengelola pembelajaran menjadi lebih effektif. pelaksanaan. mencari dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. “JURNAL. guru hendaknya menerapkan prinsip belajar aktif. dianalisa dan akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental. Suwarma (1999:43). yaitu yang melibatkan siswa aktif baik fisik. Sebagaimana tersirat pada fungsi dan tujuan pendidikan IPS di SD. Tujuan Pendidikan IPS. siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. kritis.

Proses belajar belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Suwarma: 1990. Tujuan mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap sebagai bekal menjadi warga negara yang baik tidak banyak diperhatikan (Suwarma: 1991). dan akan terwujud dalam proses belajar mengajar. Pada saat terjadinya kegiatan pembelajaran tersebut. diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk berpikir. Berdasarkan kenyataan kiranya sulit dibantah bahwa penelitian selama ini menunjukkan guru sangat berperan sentral dalam proses pembelajaran. Model Problem Solving (pemecahan masalah) adalah salah satu model mengajar yang mengandung aktivitas belajar siswa cukup tinggi dan termasuk model yang disarankan dalam GBPP 1994. Siswa dipandang sebagai obyek yang menerima apa yang diberikan guru” (Sudjana. mental emosional. berdasarkan GBPP1994. siswa lebih banyak pasif. Orientasi guru menjadi kuat terhadap proses pemberian materi pembelajaran. Ketiga kemampuan tersebut hendaknya dimiliki oleh setiap guru. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut sangat perlu diupayakan pola-pola pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan aktivitas belajar siswa di dalam proses pembelajaran di kelas. Penelitian secara umum mengungkapkan bahwa kelemahan pendidikan IPS selama ini terletak pada proses belajar. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat mengkondisikan siswa agar berpikir reflektif yang menimbulkan siswa menjadi aktif. Berdasarkan uraian diatas guru pendidikan IPS belum secara optimal mengembangkan kemampuan seluruh potensi siswa termasuk potensi berpikir siswa dan guru kurang keberanian untuk berusaha mengembangkan potensi siswa berdasarkan prinsip-prinsip CBSA kadar tinggi khususnya mengembangkan kemampuan berpikir tinggi seperti yang dijelaskan diatas. baik masa lalu. sikap dan keterampilan-keterampilan tentang kehidupan yang dibutuhkan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan tetapi juga masalah-masalah diberbagai gatra atau situasi dan kondisi ekonomi politik sosial.Oktober 2008 . Dengan mengangkat isu-isu yang terjadi didalam masyarakat. Adapun pola-pola pembelajaran yang melatihkan bentuk kemampuan proses yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi salah satunya adalah Model Problem Solving.Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal dengan membelajarkan siswa melalui pengoptimalan pengembangan kemampuan berpikir siswa. sosial dan motorik yang disesuaikan dengan perkembangan dan lingkungan anak. Dalam pembelajaran Pendidikan IPS. Kualitas partisipasi siswa dalam belajar masih rendah mereka belum diperankan sebagai pembelajar yang secara mandiri melakukan kegiatan belajar. Sedangkan hasil observasi awal yang penulis temui di SD Marga Endah guru masih berperan sebagai pemberi informasi dengan kata lain guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan merefleksikan buah pikirannya untuk memecahkan masalah yang muncul di dalam kelas sebagai hasil pengamatan yang diperoleh di sekitarnya. dengan begitu siswa termotivasi untuk aktif dan kreatifitas dalam kegiatan pembelajaran sebagai bentuk kemampuan proses yang dilatihkan. kemampuan melakukan prosedur pengajaran dan kemampuan melakukan hubungan pribadi (UT. diharapkan siswa akan sukses dalam hidupnya. sehingga benarbenar pembelajaran menjadi bermakna membuat anak memiliki minat yang besar untuk mempelajari pendidikan IPS. Untuk mencapai tujuan pendidikan IPS secara efektif. keingintahuan seorang siswa akan tergerak apabila dihadapkan dengan permasalahanpermasalahan yang timbul dilingkungannya yang dialami didalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu pengembangan potensi berpikir secara optimal belum dikembangkan “Hal ini terjadi karena masih banyak kegiatan pembelajaran tersebut didominasi oleh guru. proses belajar masih lemah dan terperangkap kepada proses menghapal “menyentuh pengembangan tingkat” rendah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dengan terbiasa siswa memecahkan masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. budaya pertahanan keamanan dan agama dalam lingkup manusia sebagai insan mandiri. keluarga serta masyarakat. Tanya jawab dilakukan sekitar apa siapa dan dimana belum sampai kepada mengapa dan bagaimana. kreatif dan peka terhadap berbagai permasalahan yang ada dilingkungannya dan kemudian berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya siswa diajak untuk mencarikan solusinya baik secara kelompok maupun secara individu. 1987). masa kini dan masa yang akan datang. 1989:153). bangsa dan negara juga dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan dan lingkungan sekitar anak. Padahal sifat dari pembelajaran IPS seyogyanya lebih menitikberatkan kepada selain pemberian pengetahuan. baik sebagai pengembangan dan implementasi kurikulum. APKG. Ary S. Mungkin dengan cara demikian keluhan para siswa bahwa belajar pendidikan sosial hanya akan ditandai dengan kebosanan dalam belajar akan dapat dihapuskan. Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan kemampuan berpikirnya untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul di lingkungannya. diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang bersifat “Generic essential” yaitu kemampuan memuat perencanaan pengajaran. Kebiasaan-kebiasaan guru sebagai pengajar yang lebih aktif dari para siswa dengan menggunakan metode “JURNAL. Pendekatan model ini termasuk kepada pendekatan interaksi sosial yang menitik beratkan kepada aktivitas memecahkan masalah baik individu maupun kelompok. 1997). Sejalan dengan itu Hamid Hasan (1996:17) mengemukakan bahwa tuntutan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan suatu tuntutan yang harus dijawab dan diemban oleh pendidikan ilmu-ilmu sosial di masa mendatang.

Walaupun masih perlu adanya pembiasaan guru untuk lebih terampil dalam menerapkan problem solving di kelasnya tanpa harus ada bantuan dari peneliti. dapat disimpulkan bahwa : 1. melaksanakan dan mengevaluasi? 2. Kendala apakah yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran IPS model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa? 3. 1998:37) PERTANYAAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah diatas. dikembangkan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu: 1. tetapi bagaimana menciptakan proses pembelajaran yang menuntut siswa pada proses berpikir reflektif. Bagaimanakah hasil yang dicapai dalam menerapkan pembelajaran model pemecahan masalah? METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Kualitatif yang lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Naturalistik (Naturalistik Inquiry) (Nasution: 1989. kritis analitis. KESIMPULAN Penerapan model problem solving sebagai suatu strategi yang sangat efektif dalam mengembangkan siswa untuk berpikir secara ilmiah dan mengembangkan daya nalar mereka dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. didukung oleh prinsip seting alamiah. rumusan permasalahan yang akan dicari jawabannya dengan penelitian kelas ini adalah: Bagaimanakah kemampuan guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran pendidikan IPS di sekolah dasar? Masalah pokok penelitian diatas. Penerapan strategi pembelajaran model problem solving melalui pembelajaran IPS mampu melatih “JURNAL. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN Dari seluruh rangkaian pembelajaran mulai dari pra tindakan dan setelah melakukan tindakan menunjukkan peningkatan kearah pembelajaran yang lebih baik. sedangkan variasi metode. Maleong: 1989). dan satu-satunya buku paket sebagai sumber belajar harus ditingkatkan. emosional dan sosialnya secara mandiri. adalah pendekatan yang menuntut siswa proses cara-cara pemecahan masalah hingga mampu mengambil keputusan. sebagaimana tuntutan model problem solving. untuk itu perlu ditransformasikan dari pelajaran yang hanya dipandang sebagai hapalan kepada pelajaran yang mampu mempertajam potensi berpikir dan memperluas cakrawala peserta didik” (Suwarma. logis. situasional. dan efektif dalam pembelajaran IPS. mental. Bagaimanakah cara guru menerapkan model problem solving untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa pada pembelajaran IPS di Sekolah Dasar mulai dari merencanakan. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian dilakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk menentukan langkah-langkah kegiatan selanjutnya hingga tujuan penelitian tercapai. Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan yang merupakan langkah pertama.Oktober 2008 . ilmiah serta peka terhadap permasalahan yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari. membuat hipotesa mengumpulkan faktafakta mencari bukti-bukti hingga mampu menyimpulkan permasalahan yang ada. Dan berdasarkan keseluruhan temuan penelitian tindakan. penugasan dan diskusi membuat siswa lebih mudah merumuskan masalah. Tahapan-tahapan model ini diimplementasikan secara sistematis diharapkan siswa terbiasa berpikir kritis. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa IPS Sekolah Dasar dihadapkan pada tantangan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan optimalisasi potensi berpikir. Dalam proses pembelajaran hendaknya tidak hanya guru yang aktif akan tetapi siswa dilibatkan secara optimal sesuai dengan potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasarnya yang mereka miliki sesuai dengan yang diamanatkan oleh tujuan dari pendidikan Sekolah Dasar.ceramah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sebagai pemberi informasi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat rendah seperti hapalan. refleksi diri serta kolaboratif partisipatif antara guru dan peneliti. Penelitian kelas ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan yang didasari oleh paradigma penelitian kualitatif. melaui problem solving inilah yang menempatkan posisi guru tidak sebagai penyampai pengetahuan tentang teori atau ilmu-ilmu sosial. media dan sumber belajar yang beragam menjadikan suatu tuntutan yang tidak bisa diabaikan. tanya jawab. Kualitas pembelajaran IPS berhasil dengan baik bilamana guru berupaya mengkondisikan pembelajaran dengan menyajikan secara menarik dan menyenangkan serta menciptakan iklim yang terbuka dan demokratis. Guru sudah mulai menggunakan strategi metode pengajaran ceramah variasi. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan yang dapat digunakan sebagai upaya mencapai tujuan secara optimal. Guru hendaknya selalu sadar bahwa siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan baik fisik. Berdasarkan analisis konseptual dan kondisi realita yang terjadi tentang pendidikan IPS di Sekolah Dasar ternyata masih banyak guru yang belum melaksanakan pendekatan atau model problem solving sebagai salah satu pendekatan yang dianggap tepat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan IPS untuk meningkatkan pengembangan potensi berpikir siswa secara optimal.

Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung. Maleong Lexy (1993). Et. Barr. Jakarta. ___________. J A With ClIGG (1975).d. Materi Pokok PGSD. Defining the Social Studies. (1977). Mulyono ( 1980). kritis dan kreatif. Hopkin. N. Jakarta. dapat disarankan sebagai berikut : 1. Sudjana. Edisi Kedua. Bagi sejawat pengembang pendidikan IPS. Konsep Dasar IPS. Bina Aksara. Valuing and Decision Making. Jarolimek. UT. (Thesis) Prodi PIPSPPS IKIP Bandung. Johar. ___________. _________________. proses dan hasil studi ini dapat menjadi model pengembang untuk meningkatkan mutu unjuk kerja professional guru sekolah dasar. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. (1989). Bandung Jurusan Sejarah FPIPS IKIP Bandung. Macmilan Publishing Company. Pengajaran PMP IKIP Bandung. ___________. CBSA dan Proses Belajar Mengajar. ( 1996). Epistimologi Pendidikan IPS Bandung:Pustaka Mandiri. Bandung Alumni.al. Teaching Strategy For Social Studies Inquiry. Sumaatmaja. Taxonomy of Education Objective. Nana & Ibrahim (1989). Sinar Baru Sumantri Mulyani & P. Model pembelajaran dengan menerapkan problem solving dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar siswa. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. S ( 1987). Remaja Rosda Karya. Benyamin (1956). (1995/1996). ( 1992). A Teacher Guide to Classroom Research. Social Studi In Elementary School New York. Model Problem Solving berhasil dengan baik bila menggunakan strategi yang bervariatif 3. penerapan model problem solving dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan dikembangkan dalam topic yang berbeda. Pengembangan Kemampuan berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Bagi para guru sekolah dasar. ___________. r. & R Taylor. Social Studies Competency Skill.Oktober 2008 . Bloom. Model of Teaching. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bagi peneliti khususnya. Mew Mac Millan Joice Bruce and Weil Marsha (1972). P dan K. Saran Atas dasar temuan dan kesimpulan yang telah dikemukakan diatas. Bandung Sinar Baru. Arlington: VA: NCCS. proses dan studi ini menjadi bahan diskusi untuk memperluas wacana model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik siswa sekolah dasar 3. Tarsito. 4. Metodologi IPS. (2000). (1999). “JURNAL. Bandung. Dasar-dasar Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral PVct. _________________. Djahiri K. ( 1977). Banks. Pendidikan IPS Buku 1 dan 2.siswa mengembangkan kemampuan berpikir reflektif. Surabaya: Usaha Nasional. Pendidikan IPS di SD. David (1985). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Hasan. Suwarma ( 1996). Dirjen DIKTI PPGSD IBRD LOAN 3496 – IND. New York: With Plane.. Alih bahasa olrh Ary Penehan. Model problem solving dapat memberikan kemudahan kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran 4. Jakarta: David Mackay C. Dep. Hamid (1996). (1999). Bandung. FPS IKIP Bandung. Resiladelphila Open University Press. New Jersey Prentice Hall. Pengertian dan Karakteristik IPS Jakarta P3D Depdikbud. (1986). 2. Strategi Belajar Mengajar. Bandung. ______________. (2000). 2. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS: Bandung LP Universitas Pendidikan Indonesia. Metode Penelitian Naturalistik. Nasution. J dan Skill (1993). proses dan hasil studi tentang penerapan model problem solving di dalam pembelajaran pendidikan IPS dapat mengembangkan kemampuan meneliti dan melakukan tindakan perbaikan dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa DAfTAR PUSTAKA Al Muchtar. Bagi peminat / pemerhati profesi pendidikan dan tenaga kependidikan di sekolah dasar.

benar dan komunikatif. riset merupakan pilar utama untuk peningkatan kualitas institusi dan citra sebagai universitas maju dan terkemuka di dunia. Tanpa penggunaan bahasa yang baik. termasuk pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa guna peningkatan kualitas perguruan tinggi. Salah satu sarana untuk pengembangan penelitian adalah bahasa. Mendorong berkembangnya kerja sama antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi nasional maupun internasional juga dengan pihak industri dan masyarakat dalam pengembangan dan penerapan Iptek (ilmu pengetahuan &teknologi).Oktober 2008 . Ada 4 indikator utama pemeringkatan 500 kampus terbaik tersebut. maka data. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan kreativitas mahasiswa perguruan tinggi secara proporsional dan kompetitif. d. Untuk menghasilkan kinerja penelitian yang baik. Bagi universitas maju. termasuk bidang usaha (entrepreneurship) dan kreativitas mahasiswa. bahasa serumpun. Mendukung pengembangan kapasitas (capacity building) perguruan tinggi dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan universitas. perguruan tinggi telah merumuskan paradigm baru dalam mencapai kualitas pendidikan bertaraf dunia yaitu dengan menjadikan universitas sebagai universitas riset yang lazimnya memiliki research center dan research institute. Dengan demikian kualitas penelitian merupakan “benchmaking” maju mundurnya sebuah institusi bernama perguruan tinggi. Pusat Kajian Sains. b. Fungsi perguruan tinggi pada hakikatnya adalah. Penggunaan bahasa yang baik dalam penelitian secara langsung akan turut meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia di era global terutama di lingkungan pengguna bahasa serumpun. Mendukung penyebarluasan (diseminasi) hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.memelihara dan mentrasfer budaya. Indikator lainnya adalah: penilaian sejawat. Dengan demikian universitas tak ragu-ragu menginvestasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kajian berbagai bidang ilmu dengan mendirikan Pusat-pusat Kajian seperti: Pusat Kajian Pendidikan. penelitian.Demikian pula pengembangan bahasa yang baik akan kukuh jika disokong oleh peneliti an yang baik. nilai-nilai dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. riset merupakan elemen strategis yang memberikan dukungan besar bagi pengembangan universitas itu sendiri maupun bagi pengembangan kemajuan suatu bangsa secara keseluruhan. sebaik apapun penelitian tidak akan mencapai sasaran. jumlah mahasiswa dan dosen asing. Tujuan dari pusat-pusat riset tersebut antara lain: P a. menghimpun. tetapi juga dituntut untuk mampu menghimpun dan menggali pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan (research and development). “JURNAL. Dengan perkataan lain perguruan tinggi tidak saja dituntut untuk mentrasfer pengetahuan melalui proses pengajaran. Pusatpusat kajian tersebut pada beberapa negara terbukti telah memberikan keutungan besar bagi universitas di samping dapat mengangkat peringkat suatu perguruan tinggi minimal masuk dalam urutan daftar 500 kampus berkualitas di dunia. 2003). Kata Kunci: bahasa. perguruan tinggi PENDAHULUAN ada umumnya bidang penelitian merupakan salah satu misi dari berbagai misi sebuah perguruan tinggi di samping menyelenggarakan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. c. yang salah satunya adalah frekuensi publisitas penelitian secara internasional. logika dan bahasa yang digunakan seharusnya selaras antara peneliti dan pengguna hasil penelitian/pembaca. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dalam dekade 20 terakhir. Pusat Kajian Bahasa dan sebagainya. yaitu beberapa negara Asean. rasio dosen dan mahasiswa.Peranan Bahasa dalam Penelitian di Perguruan Tinggi Tatat Hartati Abstrak Dalam perspektif pengembangan suatu perguruan tinggi.

Bahasa berperan sebagai perantara utama antara ide atau pandangan penulis sehingga tulisan difahami dan enak dibaca.e. Ada harapan yang berkembang agar semua institusi pengajian tinggi akan berusaha meningkatkan suatu budaya mengajar yang berkualitas sebagai ‘inti’ kegiatan. Universitas Sydney di Australia. • Kurikulum berbasis penelitian dari kurikulum yang ada yang mencerminkan kegiatan dan proses penelitian (seperti kerja tim. kesehatan institusi. kualitas mengajar dan belajar kini dihubungkan dengan baik pada kemampuan ekonomi nasional untuk bersaing serta mempromosikan institusi perguruan tinggi di pasar global.yaitu: daya saing bangsa. • Budaya pemerolehan. yaitu bahasa. laboratorium yang didanai dengan baik. peranan dosen sebagai peneliti dalam pendidikan semakin penting. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . perumusan pembelajaran serta strategi dan kebijakan mengajar. pendekatan yang lebih mendidik terhadap pengajaran. teori dan konsep yang dihubungkan secara kritis oleh mahasiswa PERAN BAHASA DALAM PENELITIAN Seluruh proses penelitian mulai judul. 2007). yang terdiri dari 5 isu strategis yang harus diantisipasi dan diimplementasikan oleh perguruan tinggi di Indonesia. tuturan-tuturan dalam artikel atau penelitian akan menjadi sesuatu yang layak dinikmati. 2002) PeNelITIAN DI PerGuruAN TINGGI Dalam konteks pendidikan tinggi. Hal ini bermakna proses dan strategi penulisan dari yang sederhana sehingga yang kompleks akan bertumpu pada satu hal utama. • Pengajaran disejajarkan dengan penelitian. akan memacu penelitian disiplin ilmu sebagai ide. manajer). proposal. • Pengajaran berdasarkan bukti-pengajaran dan pembelajaran sebagai kesatuan dirancang dalam sorotan literatur pedagogik dan bukti pengalaman pelajar. merujuk dimensi berikut untuk memperoleh isi dengan dilakukannya penelitian terbimbing: • Staf pengajar penelitian dilakukan oleh peneliti berkelas dunia yang aktif meneliti dan menulis.Oktober 2008 . sebagimana dikutip oleh Skelton (2005). Institusi akan mencari hubungan penelitian dengan mengajar untuk mendukung kualitas mengajar. masalah kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. kualitas & relevansi. pengajaran dikelola oleh dorongan penelitian tertentu dan minat staf peneliti. contoh. Di tingkat kebijakan pemimpin. • Pengajaran yang menekankan pada perkembangan atau arah penelitian mutakhir dalam wilayah kepakarang sendiri. dan pendidikan unggul serta bertaraf dunia. Dalam pandangan yang lebih luas. Di bawah ini merupakan batasan-batasan dari pengajaran penelitian terbimbing: • Pengajaran tentang topik penelitian tertentu yang sedang dipelajari oleh akademisi di waktu tertentu. akses yang baik ke sumber utama di perpustakaan. • Rantai penelitian dalam konteks program strata untuk pengembangan profesional (seperti:dosen. doktor. dukungan informasi teknologi yang baik. Penulis dengan penguasaan bahasa dan ejaan yang baik pada umumnya akan selalu diingat oleh para pembaca. • Komunitas mahasiswa dilibatkan ke dalam budaya dan komunitas peneliti dalam disiplin ilmu tersebut. Pengajaran “penelitian terbimbing” telah menjadi cara yang populer untuk mengekspresikan hubungan ini (Alwasilah. pelaksanaan sehingga laporan penelitian menggunakan bahasa. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat “JURNAL. • Pengajaran sebagai pembelajaran “berbasis pemerolehan” vs. pengajaran dengan penekanan pada metode-metode penelitian atau cara-cara untuk mengakumulasi pengetahuan dalam disiplin ilmu tertentu. Oleh karena itu. pengacara. Kepentingan penelitian semakin disadari dan diakui dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembangunan insan yang cerdas. Melalui hasil penelitian. inovatif. Mengembangkan jejaring (network) informasi dan institusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada peringkat nasional. bahasa senantiasa dikaitkan dengan identitas suatu bangsa. Oleh karena itu kegiatan penelitian perlu diberi keutamaan dan dilaksanakan dalam semua jenjang pendidikan. Melalui bahasa seseorang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat. kreatif. suatu institusi akan bergerak mengembangkan ‘budaya kualitas mengajar”. kecemerlangan pendidikan. dan berakhlak mulia. akuntabilitas dan otonomi (Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. • Pengajaran lebih umum pada wilayah pendanaan (scholarship) sendiri. • Pengajaran penelitian terbimbing. regional maupun internasional. • Lingkungan pembelajaran yang mendukung fokus penelitian terbimbing. • Mahasiswa sebagai peneliti • Merancang program strata yang mengunggulkan kepakaran penelitian dalam satu atau antarsekolah. maknanya terdapat debat dan pembahasan pada disiplin subjek tentang masalah pedagogik. Hal di atas sejalan dengan pengembangan perguruan tinggi jangka panjang. mengambil definisi yang lebih luas. menyampaikan presentasi dan makalah/artikel). bahkan dapat mengenali tingkah laku dan kepribadian masyarakat penuturnya. Sudah tiba waktunya bagi dosen untuk meningkatkan aktivitas penelitian sebagai satu elemen penting ke arah pendidikan seumur hidup. Dengan bahasa yang baik.

Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.baik dalam bidang pendidikan. Malaysia. (2005).Research Method in Language Learning. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pada masa yang akan datang diharapkan semakin banyak penelitian kolaboratif antarnegara Asean untuk memperkuat peranan bahasa serumpun di negara masing-masing dan di peringkat antarbangsa PENUTUP Penelitian dengan menggunakan media bahasa Indonesia diperingkat antarbangsa perlu terus dibudayakan dan ditingkatkan di antara bangsa serumpun/serantau. Cambridge: Cambridge University Press. Kedudukan bahasa Melayu seperti ini tentu sangat bermakna bagi perkembangan bahasa Melayu pada umumnya dan perkembangan bahasa Indonesia di tataran global pada khususnya.Understanding Teaching Excellence in Higher Education: Towards a Critical Approach. TESOL Quarterly 31/2. Jakarta: Dikti.Jakarta:Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia. bahasa. Collins. Di samping itu pusatpusat kajian bahasa Melayu yang didirikan diberbagai negara di Eropa. D. Brunai dan Singapura) telah terjadi berbagai perubahan berkaitan dengan perkembangan ilmu. Akhir-akhir ini banyak universitas di negara serumpun ini melakukan kerja sama. teknologi.A. “JURNAL. Skelton. (1992). Penelitian berkualitas dapat dilakukan bersama negara-negara serumpun/ serantau yang berkaitan dengan pengajaran bahasa. .D.Alma EvitaAlmanar). (1997). Qualiti and Sustainability in Teacherresearch. dengan demikian diperlukan kajian-kajian atau penyelidikan untuk meningkatkan bahasa Melayu agar dapat bertahan dan menjadi bahasa dunia. J. Perlu dilakukan penelitian kolaboratif antara peneliti bahasa serantau. A (2005). khususnya teknologi informasi sebagai tuntutan dunia global. Hambatan-hambatan bahasa dalam penyelidikan bersama dapat diatasi dengan dilakukannya studi bandingan bahasa serantau di kawasan Asean.T. Australia dan komunitas bahasa Melayu tersebar di kota-kota besar di dunia. Berbagai bidang ilmu dapat dikaji dengan bahasa Indonesia dan bahasa serantau sehingga dapat meningkatkan peranan bahasa tersebut di era global. London: Routledge. Bandung: UPI Press. Alwright.serantau yang bahasa nasionalnya berasaskan bahasa Melayu (Indonesia. Amerika. C. Menurut Collins (2005) bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan merupakan salah satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar. Direktorat Pembinaan dan Pengabdian Masyarakat. Nunan. sosial maupun sains. Sejarah Singkat (Terj. Bahasa Melayu Bahasa Dunia. Quality Teaching at a Leading and Outstanding University: A Conceptual Framework for Action and Development. dan salah satu rintangan yang sering ditemukan yaitu pemakaian bahasa ilmiah dalam penelitian karena terdapat perbedaan makna kata atau istilah-istilah dalam bahasa serumpun tersebut. Kedudukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia akan kekal dan kokoh jika ditunjang penelitian-penelitian berkenaan yang berkualitas. studi banding kebahasaan atau penulisan bersama buku ilmiah berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. DAfTAR PUSTAKA Alwasilah. (2002). Hal ini sudah sering dibahas antara peneliti bahasa Indonesia dan bahasa Melayu pada seminar-seminar antarbangsa. baik bidang linguistik maupun bidang pengajarannya.Oktober 2008 .

Berbagai penataran dan pelatihan guru menjadi salah satu bentuk dari upaya tersebut walaupun kurang membekas dalam keseharian aktivitas guru. Oleh karena itu. Di sisi lain. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran?” “JURNAL. Kata Kunci: lesson study. Pada dasarnya. maka kami melakukan sebuah penelitian dengan metode Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan terhadap mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Lesson Study ini dilaksanakan untuk mahasiswa karyawan semester VII kelas interes matematika program studi S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya di SDN I Pengadilan Kota Tasikmalaya.S. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan pengisian angket.Oktober 2008 . Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang dan melaksanakan Lesson Study di sekolah dasar sebagai model bimbingan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran. Abstrak Artikel ini didasarkan pada hasil penelitian tentang penerapan Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran di sekolah dasar. Lesson Study dapat dikategorikan sebagai kegiatan penelitian tindakan. 2006 : 10). mulai dari kondisi di kelas. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang usaha meningkatkan kemampuan mahasiswa menerapkan strategi pembelajaran dengan Lesson Study di sekolah dasar. memecahkan dan mendeskripsikan masalah-masalah yang terjadi selama kegiatan Lesson Study serta pengaruhnaya terhadap kualitas bimbingan kemampuan mengajar mahasiswa. Teknik pengolahan data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. 5 orang guru dan tim peneliti sendiri. Penelitan ini menggunakan model penelitian tindakan dalam bentuk Lesson Study itu sendiri dengan subjek penelitian 7 orang mahasiswa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemikiran dan pengalaman bahwa bimbingan mengajar bagi mahasiswa S-1 karyawan belum berjalan dengan baik padahal sebagai mahasiswa yang telah menjadi guru memerlukan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif. Untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pelaksanaan Lesson Study. Pelaksanaan sertifikasi guru sebagai amanat dari Undangundang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan. sekolah. menganalisis. Peningkatan mutu pendidikan dapat dimulai dengan meningkatkan mutu guru dalam mengajar dan berprilaku profesional. Lesson Study adalah ”model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas D belajar” (Hendayana dkk. perlu program bimbingan bagi mahasiswa yang secara khusus meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran yang inovatif. dan guru. strategi pembelajaran PENDAHULUAN alam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia diperlukan upaya yang serius untuk meningkatkan kualitas guru. Seorang guru memiliki peran yang paling besar dalam upaya inovasi serta peningkatan mutu pendidikan melalui inovasi dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian antara lain adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan strategi pembelajaran juga respon yang baik dari mahasiswa dan guru mengenai pelaksanaan Lesson Study di sekolah dasar.Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa Menerapkan Strategi Pembelajaran Melalui Lesson Study Di Sekolah Dasar Rustono W. Dalam pelaksanaan program pembelajaran di Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). sehingga Lesson Study dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Salah satu model bimbingannya adalah Lesson Study. Suatu model pembinaan guru untuk mencapai kualitas pembelajaran di sekolah adalah Lesson Study. Hal inilah yang mendasari perlunya perbaikan yang menitikberatkan kepada kondisi riil di lapangan. bimbingan mengajar. Lesson Study dipandang dapat menggairahkan inovasi pembelajaran di sekolah karena semua pihak terlibat dan berkonsentrasi ke arah perbaikan. Lesson Study dapat digunakan sebagai model bimbingan mengajar bagi mahasiswa.

Lesson Study sudah menjadi salah satu model pembinaan guru di Jepang dan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. (9) melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas. Pada pelaksanaannya. Perry. (6) melaksanakan pembelajaran. Sebagai model pembinaan guru. 2006:38) mengemukakan keunggulan atau kelebihan Lesson Study seperti dalam Gambar 1. (3) memilih alternatif model pembelajaran yang digunakan. Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project Gambar 1: Keunggulan dan Kelebihan lesson Study Sumber : Hendayana dkk. serta (10) mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepentingan peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran lainnya. yang menggunakan sistem guru kelas. (4) merancang rencana pembelajaran. (5) mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih. Dalam Hendayana dkk. (2) mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan. Saat ini. Kelompok guru biasanya berdasarkan bidang studi pada wilayah kerja tertentu. Beberapa tim ahli dari dosen juga dilibatkan beserta para mahasiswa dengan bidang yang sama.Oktober 2008 . melaksanakan (do). (7) mengobservasi proses pembelajaran. (2006 : 10) ditegaskan bahwa setiap guru berkesempatan untuk melakukan hal-hal berikut ini. misalnya MGMP atau KKG. Hendayana. beberapa negara maju seperti Amerika dan beberapa negara eropa mengadopsi model pembinaan seperti ini. (8) mengidentifikasi hal penting yang terjadi pada aktivitas belajar siswa di kelas. Mulai tahun 1998. 2006 : 10). Di sekolah dasar.(2006 : 39) “JURNAL. dan merefleksi (see) yang berupa kegiatan yang berkelanjutan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dkk.. sekolah mungkin saja melibatkan pihak luar sebagai tenaga ahli seperti dosen dari perguruan tinggi atau undangan lain. Lewis. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran setiap bidang studi. Lesson Study dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu merencanakan (plan). Ada dua model Lesson Satudy. yaitu : (1) identifiaksi masalah pembelajaran. Model kedua dari Lesson Study adalah Lesson Study Berbasis Kelompok Guru. Karena itulah. Kegiatan Lesson Study biasanya dikoordinir oleh kelompok guru tersebut dan dibina oleh dinas pendidikan yang terkait. Lesson Study dilaksanakan untuk meningkatkan kulitas guru kelas serta berbagi pengalaman mengajar di setiap kelas. yaitu : Lesson Study Berbasis Sekolah yang dilakukan di sekolah oleh guru dari berbagai bidang studi serta kepala sekolah. dan Hurd (2003. (Hendayana dkk.TINJAUAN PUSTAKA Lesson Study Lesson Study yaitu suatu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pronsippronsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.. Hal ini bertujuan agar terjadi kerjasama ilmiah di antara praktisi pendidikan.

tetapi mencoba melihat aplikasinya di dalam praktek. Jumlah siklus tindakan atau siklus Lesson Study direncanakan sebanyak 2 siklus. PPL diadakan secara blok waktu sampai menjelang ujian PPL. Kemampuan ini dimantapkan kembali dalam latihan mengajar mandiri. yang berasal dari dua kata yugyo yang berarti lesson atau pembelajaran. latihan keterampilan terbatas. Jumlah mahasiswa yang dilibatkan adalah 7 orang mahasiswa yang semuanya mahasiswa karyawan atau mahasiswa lanjutan dari D-2 PGSD. Bermacammacam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka. (3) pelaksanaan. para calon guru dapat menempuh ujian PPL yang merupakan bagian dari uji kompetensi. maka proses bimbingan dari dosen sangatlah penting untuk meningkatkan kemampuan profesional mahasiswa calon guru. MeTODOlOGI PeNelITIAN Penelitian ini bermanfaat untuk mengkaji subtansi pengDalam penelitian ini.Oktober 2008 . Pada kegiatan latihan terbimbing mulai ditanamkan dasar-dasar peningkatan kualitas pembelajaran. Kegiatan pengenalan lapangan dilakukan dalam bentuk observasi. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Penelitian Tindakan sekaligus dalam bentuk Lesson Study. atau perspektif pendidikan di SD. latihan terbimbing. Melalui kegiatan seperti ini. Lesson Study bisa diterapkan sebagai model bimbingan mengajar mahasiswa sebelum dan pada pelaksanaan PPL blok waktu. dan latihan mandiri. Pengenalan lapangan dapat diagendakan sejak semester awal melalui penugasan yang terkait dengan mata kuliah yang relevan. seperti pengenalan peserta didik. serta guru sekolah dasar. Oleh karena itu. dan “clinical supervision”. Sekolah dasar yang menjadi tempat kegiatan Lesson Study adalah UPI Kampus Taskmalaya dan SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya dengan kelas yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah kelas V dan kelas VI. dan IKIP Malang (UNM) melaksanakan Lesson Study di beberapa wilayah di Indonesia. (2006 : 20) dijelaskan bahwa Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu. pembelajaran bidang studi.(IMSTEP) bekerjasama dengan IKIP Bandung (UPI). dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian. (4) refleksi. teknik Gambar 2: Alur Kegiatan lesson Study “JURNAL. mahasiswa ini telah memiliki pengalaman sebagai guru sekolah dasar paling sedikit 3 tahun. Dengan demikian Lesson Study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. Skema kegiatan Lesson Study diperlihatkan pada Gambar 2. dan tahap akhir penelitian. Kegiatan selanjutnya adalah latihan keterampilan terbatas. Adapun guru yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study adalah guru SDN Pengadilan I Kota Tasikmalaya sejumlah 5 orang termasuk kepala sekolahnya sendiri. Dosen yang terlibat pada Lesson Study ini adalah tim peneliti sendiri. Alur penelitian secara umum adalah : (1) pra tindakan. kolaboratif dan kolegatif antara dosen dan mahasiswa. partisipasi. BIMBINGAN MeNGAjAr PADA MAHASISwA Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan merupakan program khusus dalam pendidikan profesional guru. Do (melakukan). Sementara mahasiswa yang telibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa S-1 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. “coaching”. pelaksanaan (Do) dan refleksi (See). Waktu pelaksanaan Lesson Study sendiri adalah mulai 26 Oktober – 16 November 2007 dengan rincian sebagai berikut. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan secara partisipatif. Karena pentingnya PPL dalam program kependidikan dan pembinaan mahasiswa. misalnya : ”action research”. yang juga memungkinkan calon guru berkunjung ke SD untuk mengamati guru yang sedang mengajar. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai 12 Juni 2007 sampai 16 November 2007. metode yang digunakan adalah Lesson Study yang dapat dikategorikan sebagai penelitian tindakan. Sebagian besar telah menjadi PNS dan terdapat 2 orang yang menjabat kepala sekolah sehingga menambah keragaman dalam diskusi pada proses kegiatan Lesson Study. (2) perencanaan. yang kemudian latihan terbimbing. Dalam Hendayana dkk. Dalam hal ini. PPL mencakup empat tahap latihan secara utuh. IKIP Yogyakarta (UNY). Dalam Lesson Study. penguasaan kompetensi akademik calon guru akan menjadi semakin mantap karena mereka tidak hanya belajar dari teori. Semester terakhir. Teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : teknik observasi. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan). Setelah menjalani semua tahap PPL dengan rekomendasi yang memuaskan. peran guru dapat berubahubah : dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. strategi belajar-mengajar. mulai dari pengenalan lapangan. Lesson Study dapat juga digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru. Kegiatan perencanaan (plan).

Selain itu dijelaskan kembali tentang langkah-langkah pembelajaran agar partisipan memiliki kesamaan pemahaman. Setelah memperkenalkan diri. • Guru menjelaskan isi dari LKS secara bertahap dimulai dari penyajian ilustrasi masalah sampai dengan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Para observer duduk di bagian belakang kelas serta sebagiannya berdiri. LKS. • Guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Lesson Study Siklus 1 Perencanaan Tahap perencanaan Lesson Study Siklus 1 ini dilaksanakan tanggal 25 – 26 November 2007 di UPI Kampus Tasikmalaya. akan tetapi pada beberapa langkah pembelajaran kurang menguasai teknik khusus seperti apersepsi untuk menarik perhatian siswa. Salah satu masalah yang terungkap adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada konsep FPB. membuat media. Setelah menentukan fokus pembelajaran. mahasiswa. siswa menggunakan alat dan bahan seperti kertas karton. Guru memberikan penjelasan bagaimana aturan main kelompok serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam kelompok seperti bekerja sama dan pembagian tugas serta tugas ketua kelompok. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 1 November 2007 mulai jam 09.Oktober 2008 . gunting (disediakan oleh guru) dan alat tulis lainnya. Metode yang digunakan adalah metode pemecahan masalah dengan menggunakan strategi eksplorasi yaitu siswa melakukan proses penyelesaian melalui pencarian dan manipulasi alat peraga atau media yang disediakan oleh guru. kepala sekolah. alat evaluasi. guru SD serta mahasiswa duduk bersama di kelas untuk mengadakan refleksi dari semua rangkaian kegiatan Lesson Study sebelumnya yaitu tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. • Guru menyimpulkan proses dan hasil pembelajaran sebelum akhirnya menutup kegiatan pembelajaran. guru (mahasiswa praktikan/model) memperkenalkan para observer secara umum dan menjelaskan tujuan hadir di kelas agar siswa tidak merasa canggung. • Guru belum memahami kemampuan dan karakter siswa karena baru pertama kali berhadapan dengan siswa di sekolah tersebut • Keterampilan mengajar guru sudah cukup baik. Untuk melakukannya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . teknik catatan lapangan dan teknik audio dan video. yaitu pembelajaran akan dilakukan di kelas V materi materi FPB. Kemudian guru kurang terampil dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Diskusi itu bertujuan untuk mengungkap berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD. penggaris dan lem (alat lainnya dimiliki siswa seperti pensil dan ballpoint) sambil memancing siwa dengan pertanyaan. gunting. Setelah dianalisis dan dipertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. • Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang maju ke depan tentang hasil pekerjaannya dan memberikan alasan. • Siswa pertama kali mengalami proses belajar seperti itu sementara guru kurang maksimal dalam membimbing siswa • Guru kurang aktif dalam melakukan bimbingan terhadap siswa • Gaya guru belum mencerminkan karakter guru SD yang antusias dan aktif. kertas karton dengan ukuran 48 cm x 30 cm. maka selanjutnya disusun langkah-langkah pembelajaran yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Perbaikan (RPP). Saat itu siswa sudah terbagi menjadi 6 kelompok. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi dan rekomendasinya. • Guru menjelaskan kembali tugas yang harus dikerjakan siswa. • Guru membagikan LKS. Pada tanggal 1 November 2007. Pada tanggal 25 diskusi dilaksanakan dengan melibatkan tim peneliti dengan mahasiswa yang telah bersedia mengikuti kegiatan Lesson Study. • Guru memberikan arahan kepada siswa bahwa jika ada kelompok yang sudah selesai diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasilnya. “JURNAL. • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa.45WIB selama 2 jam pelajaran. mencoba dan memperbaiki perkerjaan sampai ditemukan solusi. Refleksi Guru dan para observer yang terdiri dari tim peneliti. Strategi eksplorasi dapat berupa aktivitas siswa dengan mencatat dan membuat coretan dalam menyelesaikan masalah meliputi rangkaian menduga. serta memilih seorang mahasiswa sebagai guru model. maka ditentukan fokus pembelajaran. kepala sekolah dan guru. satu jam sebelum pelaksanaan pembelajaran peneliti menjelasakan pedoman observasi dan aturan observasi kepada para pengamat yang terdiri dari tim peneliti sendiri. Soal cerita yang disajikan kepada siswa adalah bahwa siswa secara berkelompok diminta untuk membuat persegi-persegi dari kertas karton berbentuk persegi panjang ukuran 30 cm x 48 cm dengan ukuran perseginya sama dan yang paling besar. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan sebagai upaya pemusatan konsntrasi. penggaris.wawancara.

• Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Refleksi Guru terlebih dahulu mengungkapkan kesannya setelah menjalani proses pembelajaran. • Guru harus lebih banyak membimbing siswa melalui pertanyaan menuntun. • Guru tidak mengontrol waktu sehingga melebihi rencana pembelajaran. Kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. • Kegiatan observer jangan memengaruhi dan mengganggu proses pembelajaran. Karena waktu yang tidak memungkinkan. • Guru harus lebih sering memberikan penguatan dalam pembelajaran.Oktober 2008 . • Guru menutup pembelajaran. • Penjelasan guru terutama dalam menanggapi pertanyaan hanya secara kelompok tetapi tidak secara klasikal. Pelaksanaan Lesson Study Siklus 2 Perencanaan Kegiatan Lesson Study selanjutnya dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 November 2007 sesuai dengan kesiapan semua pihak. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . • Beberapa observer melakukan interaksi dengan siswa sehingga mempengaruhi proses pembelajaran. dan lem. • Presentasi hasil kerja kelompok dilakukan secara klasikal dan diperhatikan oleh siswa yang lainnya. busur. • Presentasi yang dilaksanakan oleh kelompok seharusnya dilakukan di depan kelas dan dilihat oleh kelompok yang lainnya • Tahap penarikan kesimpulan tidak berjalan dengan baik karena siswa tidak dikondisikan terlebih dahulu. “JURNAL. Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada tanggal 10 November 2007 mulai jam 09. simulasi pembelajaran tidak dilakukan di depan partisipan. • Guru membagi siswa ke dalam 5 kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. • Agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana maka perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu. • Guru menyampaikan kesimpulan tentang pembuktian rumus lingkaran dan memberi kesempatan siswa. Metode penemuan terbimbing diterapkan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk melakukan aktivitas ilmiah yaitu penemuan. gunting. guru memantau aktifitas kelompok dan merespon dan membimbing aktivitas siswa. Penemuan siswa dibimbing oleg guru agar lebih terarah tetapi tanpa mendikte aktivitas belajar atau berfikir siswa. perwakilan masingmasing kelompok maju ke depan untuk menyajikan hasil pekerjaannya di depan. Mahasiswa yang dipilih untuk tampil berbeda dengan pembelajaran siklus 1. Tetapi pemahaman terhadap proses pembelajaran dilakukan melalui diskusi lebih dalam. Setelah mempertimbangkan relevansinya dengan kurikulum. • Saat siswa mulai bekerja. benang tali. • Kerjasama dalam kelompok harus lebih ditingkatkan melalui bimbingan guru. • Setelah siswa selesai bekerja. Serta menyampaikan cara kerja dalam kelompok.• Suara dan intonasi bicara guru kurang lantang sehingga tidak dapat mengontrol kegiatan pembelajaran dengan baik. Ia mengungkapkan rasa senang dapat melakukan pembelajaran dengan metode seperti walapun ia mengakui sangat lelah karena proses pembelajaran menuntut ia untuk lebih aktif. Waktu ini ditentukan saat refleksi siklus 1. Sementara siswa memperhatikan penjelasan guru serta merespon pertanyaan-pertanyaan guru yang mengarahkannya pada kesimpulan. • Guru menilai satu persatu pekerjaan siswa dan kemudian menunjukkan kekuarang-kekurangan dari pekerjaan siswa mulai dari cara mengkur keliling. • Guru membagikan alat peraga atau media yang terdiri dari model lingkaran dari karton. dari masalah-masalah yang telah diungkap kemudian dianalisis untuk menentukan fokus pembelajaran. • Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembuktian rumus luas lingkaran kepada siswa. • Guru harus selalu mengontrol waktu pembelajaran • Guru harus menjelaskan beberapa jawaban pertanyaan secara klasikal agar informasi bisa merata. maka pembelajaran akan dilakukan di kelas VI dengan materi tentang pembuktian rumus luas lingkaran dengan pendekatan luas persegi panjang melalui metode metode penemuan terbimbing. menempelkan bagian-bagian lingkaran sampai menghitung luas persegi panjang. • Penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan dilakukan berulangkali sampai siswa paham dan jika penjelasan itu ada dalam LKS maka guru memandu siswa untuk memahmi LKS. Intonasi guru dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas sehingga penjelasan guru dapat dengan baik dimengerti oleh siswa. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. Proses pembelajaran yang berlangsung adalah sebagai berikut : • Guru melakukan apersepsi tentang konsep bangun datar lingkaran dengan menggunakan model lingkaran. Pada saat refleksi siklus 1 juga dilakukan perencanaan pelaksanaan siklus 2 termasuk inventarisasi masalah serta penentuan alternatif masalah.00 WIB selama 2 jam pelajaran. Akhirnya.

• Guru sebaiknya memperhatikan waktu yang telah direncakan dan selalu menyampaikan target waktu terhadap siswa agar siswa bekerja dengan efektif. • LKS tidak banyak berfungsi bagi siswa karena siswa bekerja mengalir saja dan berdasarkan arahan dari guru. ini memang gaya yang bersifat pribadi tetapi jika berlanjut akan berpengaruh keaktifan siswa. • LKS sebaiknya dibagikan terlebih dahulu kemudian guru memberi penjelasan • Alat peraga sebaiknya digambar ulang pada papan tulis ketika guru melakukan apersepsi dan pengambilan kesimpulan. guru yang tampil lebih energik dan adapat menguasai kelas dengan baik. Keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran dengan metode pemecahan masalah dan penemuan mengharuskan siswa memiliki kemampuan membimbing kerja siswa selama siswa aktif dalam pembelajaran. skenario yang diterapkan benarbenar pengalaman baru karena biasanya guru melakukan pembelajaran konvensional. • Guru tidak memperlihatkan hasil kerja siswa seluruhnya di depan kelas • Terdapat kesalahan guru dalam menggunakan simbolsimbol matematika. • Guru sangat baik dalam menghidupkan suasan dan aktifitas siswa di kelas. • Siswa kurang memberikan perhargaan kepada siswa yang aktif dalam bertanya dan kepada kelompok yang berhasil. guru kurang rapih dalam menuliskan langkah-langkah pembuktian sehingga siswa terlihat kebingungan. • Observer sebaiknya mengamati di luar kelas karena sering berpengaruh terhadap pembelajaran. padahal tahap ini sangat penting dalam pembentukan pengetahuan bagi siswa.Oktober 2008 . • Guru harus memberikan penguatan kepada siswa yang menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Pada pembelajaran pertama guru terlihat kurang energik atau gaya mengajar yang kurang antusias. Pembelajaran matematika dengan metode penemuan dan ekplorasi masalah matematika membutuhkan waktu yang lebih banyak dari biasanya karena guru harus berpatokan juga kepada kinerja guru. Tahap yang penting dalam pembelajaran seperti ini adalah kemampuan guru dalam menuntun siswa membuat kesimpulan. hanya memang metode pembelajaran seperti itu jarang dilakukan di sekolah dasar termasuk oleh kedua guru yang tampil. Pembahasan Hasil Pelaksanaan Lesson Syudy Bagi guru model. • Guru kurang memberikan penjelasan kepada siswa tentang arah kegiatan pembelajaran sehingga siswa langsung saja bekerja dengan LKS. Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan rencana tetapi mengenai hal-hal spesifik seperti membimbing kerja dalam kelompok. waktu dapat dikendalikan.Berikut ini adalah intisari dari beberapa hasil refleksi. Hal ini tampak pada dua kali pembelajaran dimana waktu kurang terkontrol dengan baik. guru kurang memiliki waktu untuk melakukan kesimpulan. Berdasarkan hasil refleksi di atas maka melalui diskusi dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut. • Guru terlambat untuk mendorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok sehingga siswa tampak tidak kompak pada awalnya. • Koordinasi dan peran guru sekolah dasar harus ditingkatkan. • Guru tidak mengoreksi kesalahan yang dilakukan ketika tahap apersepsi yaitu tentang ungkapan siswa yang menyebutkan istilah “volume lingkaran” bahkan guru menuliskannya tanpa ada koreksi lebih lanjut. merespon pertanyaan siswa dan menjawab dengan jawaban yang membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berfikirnya. hal ini kurang optimal dalam pembentukan pengetahuan siswa. Guru sudah menjalankan proses pembelajaran berdasarkan skenario yang telah dibuat. mengontrol kegiatan siswa. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan bantuan alat-alat dan media untuk menumbuhkan kemampuan kerja ilmiah siswa. Keterampilan ini memang memerlukan latihan yang lebih spesifik. • Pada tahap pembuatan kesimpulan. serta demonstrasi kemampuan guru belum optimal. Sementara pada siklus 2. • Tujuan pembelajaran harus disampaikan terlebih dahulu dengan jelas dan diulang-ulang dalam proses pembelajaran. atau disebut penemuan terbimbing. Berbeda dengan pembelajaran kedua. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi miskonsepsi. “JURNAL. • Guru harus mengulang-ulang penjelasan terutama pada pengambilan kesimpulan agar siswa lebih memahami. Metode pembelajaran seperti ini adalah hal bagi mahasiswa maupun guru di sekolah. Sebenarnya dengan latihan dan pembiasaan. • Persiapan harus lebih matang terutama mengenai gambaran proses pembelajaran. • Guru kurang menjelaskan cara-cara pengukuran keliling lingkaran dengan alat bantu tali karena siswa terlihat kebingungan. Pembelajaran pada siklus 1 lebih menekankan kepada kemampuan eksplorasi matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. serta mengelola aktivitas siswa dalam kelompok. • Guru pun kurang melibatkan siswa dalam pembuatan kesimpulan sehingga pada tahap ini siswa terlihat tidak bersemangat. Hal ini termasuk kemampuan bertanya menuntun (probing). Karena waktu pembelajaran tersita untuk aktivitas siswa. pembelajaran diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menemukan rumus luas lingkaran dengan bimbingan guru. hal ini dapat dilakukan melalui simulasi terlebih dahulu. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .

Ling Mun. mahasiswa dan pihak sekolah. Guru dan kepala sekolah berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan pengetahuan tentang strategi-stretegi pembelajaran matematika khususnya dan bidang studi yang lainnya.(2005). • Penetapan jadwal kegiatan. Mengadakan workshop di sekolah untuk mensosialisasikan program kegiatan yang dihadiri dosen. Sementar Faktor penghambatnya adalah : pertama. Melalui kegiatan Lesson Study. KESIMPULAN Lesson Study sebagai model pembinaan guru yang bersifat kolaboratif dan kolegaliatif dapat dimanfaatkan sebagai model bimbingan mengajar dosen terhadap mahasiswa.hk. Untuk menjadi seorang guru yang profesional. Observer berpedoman kepada lembar observasi yang telah disiapkan untuk kemudian menjadi acuan dalam kegiatan refleksi. yaitu : • Penetapan program bimbingan oleh dosen yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah tersebut.S.lessonresearch. guru. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif. Sementara bagi mahasiswa Lesson Study dianggap sebagai latihan dan bimbingan yang baik untuk meningkatkan kemampuan mengajar sebagai bekal nanti sebagai guru. dan mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan Lesson Study. hal ini karena para observer telah memiliki pemahaman bersama tentang tugasnya. http://www. Oakland CA : Education Department.Oktober 2008 . tidak hanya berbekal terhadap pemahaman mengajar secara akadenik saja tetapi membutuhkan pengalaman berupa kegiatan praktek terbimbing. Mahasiswa juga mendapatkan feed back langsung dalam kegiatan refleksi. Akan tetapi. [online]. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Lesson Study : suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidikan (Pengalaman IMSTEP-JICA).net. mahasiswa yang terlibat dalam Lesson Study adalah mahasiswa semester VII interes matematika yang semuanya sudah mengajar di SD sehingga mudah dalam menganalisis permasalahan di SD. Setelah semua kegiatan Lesson Study dalam 2 siklus selesai dilaksakan. Bandung : PT. kedua. Pada pelaksanaannya. mahasiswa. Remaja Rosda Karya “JURNAL. pemilihan pokok bahasan dan strategi pembelajaran berdasarkan situasi di sekolah serta pengetahuan mahasiswa. Kuala Lumpur : Kementrian Pendidikan Malaysia. [17-05-2007]. Peneliti mewawancara kepala sekolah. Faktor pendukung dalam kegiatan Lesson Study ini adalah: pertama.(2002). serta ketiga. dosen..(2001). Catherina C. Belajar Cara Belajar. pelaksanaan dan rekleksi pembelajaran sehingga muncul sikap kolegalitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. persiapan untuk pelaksanaan di sekolah kurang matang sehingga berpengaruh terhadap penentuan waktu pembelajaran DAfTAR PUSTAKA Hendayana.Metode Penelitian Pendidikan. [17-052007] Pusat Perkembangan Kurikulum. Sukmadinata. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kepada kegiatan siswa dan guru setidaknya mengganggu konsentrasi siswa. LO. Lesson Study: A Handbook for Teacher-Led Improvement of Instruction.Pelaksanaan observasi pada kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.edu. dan kedua. dan guru berkolaborasi dalam perencanan. (2006). N. S.ied. Untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study di sekolah dalam rangka bimbingan mengajar bagi mahasiswa memerlukan persiapan-persiapan. http://www. penetapan waktu pelaksanaan Lesson Study yang tidak leluasa menurut pertimbangan semua partisipan sehingga persiapan belum melibatkan guru secara optimal tetapi hanya sebatas koordinasi saja. dkk. Mereka berharap kegiatan Lesson Study sering dilaksanakan oleh UPI Kampus Tasikmalaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di SD. Bandung : UPI Press Lewis.(2003). • • Penetapan kerja sama dengan pihak sekolah. Hongkong : The University of Hongkong. pihak sekolah mendukung sekali dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study dan merasakan manfaatnya. mahasiswa melakukan praktek pembelajaran yang tidak hanya melibatkan dosen tetapi pihak sekolah dasar. karena belum terbiasa bertugas sebagai pengamat yang diharapkan independen dari proses pembelajaran. Lesson Study and Its Impact on Teacher Depelovment. Mills College [online]. beberapa observer berinteraksi dengan siswa bahkan ada yang memberikan masukan kepada siswa.

Selama 8 kali tatap muka. Pendekatan Terpadu (PT). Sisanya. yaitu mengetahui tentang bahasa tetapi mengembalikan pembelajaran bahasa kepada fungsi bahasa yang sebenarnya yaitu untuk berkomunikasi. yaitu kasus pembelajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. S Pembelajaran bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan.Oktober 2008 . dan fasilitator. Data penelitian ini diambil dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). peristiwa bebahasa (Utari. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. aspek-apek kebahasaan harus diajarkan secara “JURNAL. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. dan (5) Observasi. pelaksanaan pembelajaran. Dari komponen RPP yang dijadikan data menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif telah dilaksanakan dengan kategori baik. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. Kata Kunci: Pendekatan Komunikatif (PK). waktu. konteks kebudayaan dan suasana. dan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. tidak lagi bertujuan mengajarkan bahasa secara teoretis. tujuan. pembelajaran Bahasa Indonesia pada lembaga pendidikan formal mulai dari SD sampai dengan SLTA.Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang Dadan Djuanda Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu dilaksanakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia (BI) di kelas VI SD Sukamaju Sumedang. (2) Wawancara. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Data dari komponen pelaksanaan pembelajaran menunjukkan data sebagai berikut. Di samping itu. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) PENDAHULUAN aat ini.1988:93). Dari ke-30 KE tersebut. Kurikulum KTSP mempertegas bahwa dalam penyajian materi bahasa . Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. Di samping itu.(4) Studi Dokumentasi. jalur dan media. (3) Catatan Lapangan. Selanjutnya. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. motivator. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. menyiapkan materi yang bervariasi. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Dari 8 kali tatap muka . yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. tempat. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Demikian juga dengan penerapan pembelajaran terpadu dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan kategori baik. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah.

Hal ini diisaratkan baik dalam rambu-rambu Kurikulum SD 2006. fonem. dan tempo) dalam bahasa lisan. Dengan demikian. Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah. menentukan latihan. Sumber materi yang diutamakan dalam pendekatan komunikatif ialah materi yang otentik. berupa bahasa otentik. berbicara. digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pengajaran baik dalam belajar bahasa maupun bidang studi lain. (e) sastra. karena secara kodrati siswa usia SD memandang sesuatu selalu dengan pandangan yang utuh dan menyeluruh (holistik). kosa kata. (b) fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan siswa. yaitu kemampuan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi dan konteks. situasi. kalimat. nada. Demikian pula keterpaduan dalam bidang studi bahasa Indonesia. Agar komunikasi terjalin dengan baik. menyapa. dan kebahasaan dan dilaksanakan secara terpadu. dan lain-lain. gagasan. “Kompetensi dasar mencakup aspek mendengarkan. ide. tetapi diintegrasikan dengan keterampilan berbahasa. (c) variasi-variasi bahasa. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran. Komunikasi yang dimaksud ialah suatu proses penyampaian maksud kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak berdiri sendiri atau terpisah-pisah. otonomi. 1992). tempat.” (Depdiknas. tidak dijadikan bahasan yang berdiri sendiri. Pembelajaran bahasa yang komunikatif nampak lebih humanistik. bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya berbeda-beda. Kerjasama yang baik itu bisa diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor. keinginan penyampaian informasi suatu peristiwa. siswa akan dihadapkan pada bahasa nyata yang ditemui dalam masyarakat bahasanya. Dalam berkomunikasi tentu ada pihak yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud .terpadu dengan keterampilan berbahasa yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu. pendapat. yaitu fungsi komunikatif. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata. Goodman dalam pandangannya tentang pengajaran bahasa menyatakan bahwa keterampilan membaca. berbicara. menghubungkan. Baik keterpaduan dalam internal Bahasa Indonesia maupun keterpaduan lintas kurikulum. isi pembicaraan. menyangkal. serta unsur-unsur prosodi (intonasi. irama. untuk memungkinkan siswa dapat berbahasa sesuai konteks. dalam Sumardi. Dengan demikian. 2006: 14). tetapi lebih luas lagi. Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. pengajaran bahasa dan isi dari bidang studi lain bersama-sama menjadi bagian dari kurikulum secara utuh. Pendekatan terpadu adalah ancangan kebijaksanaan pembelajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu. yaitu bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks nyata.Oktober 2008 . memantau kegiatan siswa. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. maka kedua belah pihak juga harus bisa bekerja sama dengan baik. dan menyimak tidak dipandang sebagai komponen yang terpisah-pisah untuk diajarkan sendiri-sendiri. Sebagai fasilitator guru mengkoordinasikan kegiatan siswa yang harus bisa menjamin kegiatan kelas berjalan dengan baik. dan lafal). tetapi secara utuh. Dalam kegiatan komunikatif. dan media yang digunakan. Selain harus mengacu pada pendekatan komunikatif. Bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya. intonasi. mengajukan pendapat. antara lain memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi. yaitu sentralitas kegiatan lebih banyak berada pada siswa. Alasan lain. seperti fungsi bertanya. dalam Sumardi. paragraf (komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan). siswa diberi kebebasan. tanggung jawab dan kreativitas yang lebih besar dalam proses belajar (Stevik. Artinya. Adapun materi pelajaran utamanya ialah : (a) empat keterampilan berbahasa. “JURNAL. ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada pernyataan Goodman (1986) tentang kurikulum bahwa pengajaran bahasa dan pengajaran bidang studi lain (yang dilaksanakan dengan menggunakan bahasa sebagai media penyajian) merupakan kurikulum yang bersifat ganda (dual curriculum). ejaan. Kenyataan menunjukkan keempat keterampilan berbahasa tersebut. tekanan. guru berperan sebagai individu yang diharapkan memberi nasihat. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu. Arah dan tujuan pendekatan terpadu menurut Frazee dan Rosse (1995) mengarah pada pembentukan pemikiran siswa secara utuh. yaitu dengan menyatukan. pembelajaran bahasa Indonesia di SD juga harus mengacu pada pendekatan terpadu (PT). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . membaca. menulis. Guru hanya sebagai fasilitator. akan lebih baik bila pembelajaran di sekolah diarahkan untuk menuju pemikiran secara utuh tersebut. sastra. pembelajaran bahasa menyangkut keterampilan bahasa diajarkan secara terpadu. menulis. persetujuan. dan memberikan bimbingan (Littlewood. Tujuan pembelajaran bahasa menurut pendekatan komunikatif ialah untuk : (a) mengembangkan kompetensi komunikatif siswa. di samping variasi baku/ formal. menjawab. (b) meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi. (d) sistem bahasa (struktur. 1992). yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. karena dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan pengetahuan tidak secara per bagian.

apakah setiap mengajar harus menyusun RPP? Apakah RPP dibuat sendiri atau dikirim dari pusat atau dibuat oleh KKG? Apakah RPP diperiksa oleh kepala sekolah sebelum disajikan?. Peneliti memberikan angket kepada guru pengajar BI di kelas VI. yang diteliti adalah pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan sisiwa selama PBM. sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen (1992:60). dan (5) penyusunan alat evaluasi. Peneliti mewawancari guru BI di kelas VI. pemilihan materi pelajaran. (2) pekerjaan di lapangan. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Artinya kedelapan RP tersebut disusun secara berurutan dan diterapkan secara berturut-turut pula oleh guru di depan kelas. Data penelitian ini diambil dari penyusunan rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Demikan pula bila ada ceramah atau kegiatan yang berkaitan dengan pembaharuan (simulasi atau seminar) dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan oleh PGSD. Hal ini dilakukan terutama ketika guru melaksanakan pengajaran di dalam kelas yang berkaitan dengan interaksi guru. (2) penyusunan kegiatan belajar mengajar. (2) langkahlangkah penyampaian materi. “JURNAL. Secara rinci yang diteliti pada RP terebut adalah (1) perumusan TPK. (3) Catatan lapangan. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati (1) aktivitas guru serta aktivitas siswa. Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajarkan BI dan siswa Kelas VI pada SD Sukamaju. Setiap ada pembaharuan dalam bidang pendidikan (perubahan kurikulum) SD Sukamaju mendapat informasi langsung dari atasan terdekat. Fokus utama penelitian ini adalah sekelompok individu yang berinteraksi dalam periode waktu tertentu (Borg dan Gall. penysusunan KBM. dan (3) analisis data penelitian (Bogdan dalam Moleong. dan penyusunan alat evalusi. Wawancara digunakan untuk memperoleh data tentang RPP. (3) materi dan sumber pelajaran. serta evaluasi yang dilaksankan oleh guru. 1983:489).METODE PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dilaksanakan dalam pembelajaran BI di SD Sukamaju Sumedang.Oktober 2008 . dan penilaian hasil belajar yang dilaksankan oleh guru pengajar BI kelas VI di SD Sukamaju Sumedang. Studi dokumentasi terhadap kurikulum dilakukan untuk memperoleh penjelasan tentang pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu yang dikaitkan dengan perumusan tujuan dan pengembangan materi pembelajaran BI. Sebab itu. (3) dan sistem penilaian yang dilaksanakan oleh guru. Penelitian ini mempunyai ciri latar yang alami sebagai sumber langsung data penelitian karena pengajaran BI berlangsung secara alamiah di dalam kelas. pemilihan media. (4) pemilihan media pembelajaran BI. Angket ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai identitas guru serta tugas yang dikerjakannya. Dipilihnya SD Sukamaju sebagai tempat penelitian karena pertimbangan sebagai berikut. Peneliti melakukan studi dokumentasi terhadap kurikulum dan rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Untuk melaksanakan penelitian yang dirancang dengan prosedur deskriptif maka penelitian harus mengikuti presedur (1) kegiatan pralapangan. Data dikumpulkan dengan (1) Angket. SD ini mendapat binaan langsung dari induknya. Secara lebih khusus penelitian ini tergolong ke dalam penelitian studi kasus pengamatan (observarvastional case study) nonpartisipan. Dalam penelitian ini fokus observasi adalah pengajaran BI di kelas VI SD yang dilaksanakan oleh seorang guru dengan menerapkan pendekatan komunikatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif. Observasi dilakukan pada saat PBM berlangsung. (5) Observasi. Sedangkan studi dokumentasi terhadap RPP dilakukan untuk mendapat gambaran secara jelas mengenai perencanaan yang berhubungan dengan penerapan kedua pendekatan tersebut di atas dalam perumusan TPK. (2) Wawancara. Data yang diambil hanya dari 8 RP yang disusun dan disajikan secara berturut-turut untuk 8 kali tatap muka. pelaksanaan pengajaran. 2000:72 – 94). SD Sukamaju milik pemerintah.(4) Studi Dokumentasi. Untuk pelaksanaan pengajaran di kelas yang diteliti adalah (1) bentuk interaksi proses belajar-mengajar dan (2) teknik penyajian materi. teknik penyampaian materi. Rancangan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik penelitian. yaitu kasus pengajaran BI di kelas VI SD Sukamaju Sumedang yang dilakukan oleh seorang guru pengajar BI dalam menerapkan pendekatan komunikatif dan pendekatan integratif. Peneliti mencatat kejadian selama dilakukan pengamatan di lapangan. Agar kegiatan selama PBM dapat diamati dengan cermat digunakan bantuan tape recorder dan catatan penelitian. Selanjutnya untuk pelaksaan kegiatan evaluasi. Selanjutnya hasil observasi ini dideskripsikan dalam laporan hasil penelitian.sisiwa. SD Sukamaju selalu diikutsertakan dalam kegiatan tersebut.

Dari jumlah tersebut 28 butir media telah menerapkan PK sedangkan 8 butir belum menerapkannya. Materi yang direncanakan untuk siswa berjumlah 36 butir. Selanjutnya dari 8 RP yang disusun guru. guru tetap merencanakn agar siswa berperan aktif. Dari 8 kali tatap muka. sehingga medorong siswa belajar dan menggunakan BI secara nyata. digunakan tes esei sehingga siswa dapat bernalar dan mengorganisasikan jawabannya secara kreatif. Maksudnya selama pengumpulan data. dalam 25 KE guru telah menerapkan PK dan 5 KE belum menerapkan KE. Dari ke 25 rumusan TPK tersebut hanya 20 rumusan TPK yang telah menerapkan Pendekatan Komunikatif (PK). diketahui bahwa materi tersebut adalah materi yang otentik. Interaksi yang terjadi adalah interaksi dua arah dan interaksi multiarah dan kebanyakan interaksi yang ditemukan adalah interasksi dua arah. Ini berarti bahwa media yang digunakan guru kurang bervariasi.Oktober 2008 . TPK yang direncanakan guru jumlahnya sangat terbatas. motivator. Interaksi PBM didominasi oleh siswa dan semua kegiatan komunikasi ada di pihak siswa. Penyusunan rencana KBM pada RP yang terdiri dari 45 KBM. Media pengajaran yang direnacanakan guru pada RP berjumlah 36 butir. “JURNAL. Selanjutnya. menyiapkan materi yang bervariasi. Dalam interaksi PBM 8 kali tatap muka hanya dalam 4 kali tatap muka guru telah menerapkan PT. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian berkenaan dengan penerapan pendekatan komunikatif dan penerapan pendekatan terpadu dalam pengajaran BI yang meliputi: (1) perumusan TPK. (7) teknik penyajian materi . Selama 8 kali tatap muka.Data dianalisis selama pengumpulan dan setelah pengumpulan data. Dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menggunakan teknik penyajian materi yang menerapkan PT. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . (2) penyusunan KBM. yaitu hanya ada 25 butir rumusan TPK untuk 8 RP. Berdasarkan hasil pengamatan. hanya 3 kali tatap muka guru menggunakan teknik penyajian materi dengan menerapkan PT. guru telah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Guru tetap menekankan penggunaan BI secara riil dan bukan menghafalkan pengetahuan tentang bahasa. 37 KBM telah menerapkan PK. dan 8 RP KBM belum menerapkan PT. Selanjutnya bila ditinjau dari penerapan PT semua materi yang direncanakan telah menerapkan PT dengan sangat baik. sedangkan 5 rumusan TPK lainnya belum menerapkan PK. Seandainya terdapat penyimpangan maka pada observasi berikutnya dapat dilakukan perekaman atau pencatatan data dengan lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan data yang fatal. Semua bentuk interaksi PBM yang dilaksanakan guru telah menerapkan PK. Untuk mengukur kopetensi komunikatif siswa. (6) bentuk interaksi PBM. Dari jumlah tersebut 16 butir alat evaluasi telah menerapkan PK dan 6 butir belum menerapkannya. hanya dalam 3 kali tatap muka guru menyajikan KE dengan menerapkan PT. Pada KBM yang disusun. Dari ke-30 KE tersebut. Teknik penyajian materi yang digunakan oleh guru telah menerapkan PK. 6 RP telah menerapkan Pendekatan Terpadu (PT) sedangkan 2 RP lainnya belum menerapkan PT. yaitu 4 kali tatap muka guru belum menerapkan PT. dan fasilitator. Sisanya. data ditranskripsikan (dari pita rekaman ke data tulisan) dan disesuaikan dengan catatan penelitian. sedangkan penggunaan media lainnya sangat terbatas. Pada umumnya media pengajaran yang digunakan hanya buku teks. yaitu alat evaluasi yang direncankan pada 5 RP belum menyajikan penerapan PT. Selanjutnya alat evaluasi yang direncanakan pada 8 RP hanya 3 RP yang telah menerapkan PT. 5 RP telah menerapkan PT dan 3 RP belum menerapkannya. Penyusunan alat evaluasi yang direncanakan guru dalam RP berjumlah 22 butir. Dalam PBM ini guru hanya berfungsi sebagai komonikator. Di samping itu latihan-latihan yang diberikan dapat mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi secara langsung. dan (8) kegiatan evaluasi pengajaran BI. Di samping itu. Selanjutnya dari 8 RP yang direncanakan guru. (4) pemilihan media pelajaran. Guru telah memilik teknik penyajian materi yang menggiring siswa agar aktif berkomunikasi. Ada 30 kegiatan evaluasi (KE) pengajaran BI yang dilakukan guru selama 8 kali tatap muka. yaitu dalam 5 kali tatap muka lainnya guru tidak menyajikan KE yang menerapkan PT. (3) pemilihan materi pelajaran. bermakna bagi siswa dan bersumber dari lingkungan di sekitar siswa dan bersumber dari lingkungan siswa. Selanjutnya kedelapan RP yang direncanakan guru dalam mempersiapkan media tersebut telah menerapkan PT dengan sangat baik. Sisanya. (5) penyusunan alat evaluasi. Dari jumlah tersebut 28 butir materi telah menerapkan PK dan 8 butir belum menerapkannya.

Levstik. Nana. Mulyasa. Media Pendidikan. Arief. Jakarta: Depdikbud. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Komunikatif dan Menyenangkan.Biklen. 2008. Kurikulum Satuan Pendidikan Jakarta: Depdiknas. Rofiudin. Djuanda. Jakarta: Depdikbud. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. 2005. What’s Whole in Whole Language? Portsmouth: Heinemann. dan Rivai.” Dalam Bahasa dan Seni. Jakarta: Rasindo. Djuanda. 2003. 1986. Djuanda. 1989.M dan Rosse. 2000. Majid. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. 1992. 2005. Jakarta: Dikti. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Sukardi. 1996. Sumardi. Bandung: UPI PRESS. 2000. S. 2006. Bandung: Rosda Karya. Metodologi Pengajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosda Karya.Kiefer. CC.M. Bogdan.M. A. Teknologi Pendidikan. Dadan. Abdul. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Bumi Aksara. Lexy J. Jakarta: Depdikbud “JURNAL. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. 1992. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa di SD. 1997. 2006. Jakarta: Rajawali Pers. Dkk. E. H. Depdiknas. Jakarta: Bumi Aksara. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. R. Hastuti. Pappas. 45 Kegiatan untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi. Teori Pembelajaran Bahasa.C. dan L. dan Alwasilah. Farida. A. Frazee. Dadan. Ahmad. 2006. Mulyanto.2004. 2005. Bandung: UPI PRESS. Integrated Teaching Methods : Theory. Djuanda. 1998. Dkk. Jakarta: Elex Media Komputindo. Daniel J.Oktober 2008 . Imam. 2 Agustus 1995. and Field Based Connections. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Clasroom Aplication. Apresiasi Sastra di SD. Tarigan. NewYork: Longman. Sudjana. Moleong. 2005. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Ch. Bandung: Remaja Rosda Karya.DAfTAR PUSTAKA Azies. F. Bandung: Kaifa. “Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa.S. Goodman. 1998. 1995. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi SD. Metodologi Penelitian Kualitatif. 1995. dan S. An Integrated Language Perspective in the Elementary School. Jakarta: Depdikbud. Dadan. Sapani. dan Implementasi.G. 2004. dan Novi Resmini 2006. 1995. Parera. Tahun 23. I. Karakteristik. B. dan Prana D. New York: Delmar Publisher. Nangoy. Bandung: Sinar Baru. Dadan. Ken. Bandung: Remaja Rosdakarya. dan Zuhdi. Syafi’ie.R. B. Jakarta: Sinar Harapan. Boston: Allyn and Bacon. Sadiman. Rahim.K. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktik. D. Metodologi Penelitian Pendidikan. No.

Adapun variabel yang dimaksud adalah : 1) Tujuan . Studi mengenai manusia di masyarakat dimasa kini. masyarakat. seiring dengan perkembangan jaman. dapat menghasilkan manusia paripurna yaitu mengembangkan manusia seutuhnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu kenyataan dalam pendidikan dewasa ini adalah semakin menurunnya peran guru dalam proses pengembangan potensi peserta didiknya karena berbagai alasan. kepribadian. akhlak mulia. Whitedan Richard Anderson (dalam Idochi Anwar. 4) biaya mengajar. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. dan keterampilan sosial dan intelektual serta partisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan IPS merupakan perwujudan dari satu pendekatan interdisipliner dari pelajaran Ilmuilmu sosial. sekarang dan akan datang. U “JURNAL. 3) isi serta struktur pelajaran. kecerdasan. 5) persyaratan dan set –up lembaga. Pelajaran IPS merupakan. mengingat tujuan IPS untuk setiap jenjang adalah mengembangkan kecerdasan warganegara yang diwujudkan melalui pemahaman. pengendalian diri. 1996:93) disimpulkan bahwa pada saat mengajar akan dijumpai betapa kompleksnya fungsi mengajar itu kita akan menghadapi beberapa variable yang kompleks karena itu kita perlu mengatur strategi dalam mengajar. sebagai individu dan kelompok. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dipersekolahan seharusnya lebih menekankan pada pengembangan potensi siswa dalam berbagai gatra yang bersifat pragmatis-praktis yang menyangkut diri dan kehidupannya. Fenomena ini sudah berkembang dipersekolahan sejak lama khususnya dalam pembelajaran IPS dimana pembelajaran IPS lebih cenderung transfer materi saja sehingga memunculkan anggapan dibenak masyarakat khususnya peserta didik bahwa pelajaran IPS kurang menantang. bangsa dan Negara (UUSPN : Pasal 3 ayat 1).Oktober 2008 . masyarakat dan manusia yang menjadi anggota masyarakat. Mengingat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Mendidik adalah menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lippit dan K. studi mengenai pelajaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pengembangan. Maka dapat kita katakan bahwa melalui usaha pendidikan. yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai. Seperti kita pahami. serta keterampilan yang diperlukan dirinya.Pengembangan Decision Making Model (Model Pembuatan Keputusan) dalam Pembelajaran IPS di SD Kelas 6 Nurdinah Hanifah PENDAHULUAN ndang-undang No. materi yang diajarkan guru dan disini siswa harus didorong ikut memainkan peran serta aktifnya dalam proses belajar mengajar. mental intelektual maupun semangatnya dimana ketika peserta didik menyelesaikan setiap satu jenjang pendidikan tertentu dinyatakan telah memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi secara mandiri serta mampu berdiri sendiri tanpa mengantungkan hidupnya pada orang lain. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. pelajaran IPS. pendidikan di sekolah-sekolah kita ini masih merupakan pembelajaran yang berfokus pada pengajar (InstructurCentered Learning) Aris Pongluturan (1999:157). yang berkembang baik pisik. Seringnya terdengar ungkapan bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak lebih dari menyampaikan informasi saja tidak menantang dan menjemukan. Hal ini disebabkan guru tidak lain dalam proses belajar mengajar itu hanya menyajikan pengetahuan yang ada yang harus dihafalkan dan diketahui peserta didik (Ansyar dalam Laode 1999:4). Kejadian tersebut tidak lepas dari kemampuan guru yang belum mengembangkan kemampuan berpikir siswa kearah materi yang sifatnya problematic yang memerlukan siswa berpikir kritis dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya untuk kemudian memutuskan sesuatu dalam rangka memecahkan masalah. 2) siswa dan latar belakangnya. Studi yang mempelajari interaksi manusia untuk membantu siswa memahami diri mereka dan yang lainnya dalam suatu masyarakat yang berbeda tempat dan waktu. bidang studi yang menjemukan. peserta didik diharapkan dapat menghadapi berbagai tantangan yang semakin besar. sehingga menurunkan minat anak untuk lebih memperdalam mempelajari pelajaran IPS. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa.

Satu diantaranya adalah metode decision making process.C. karena sesuai dengan apa yang menjadi fungsi dan peran yang diemban oleh mata pelajaran IPS yaitu sebagai sarana utama untuk mendidik warganegara dalam upaya mewujudkan masyarakat madani Indonesia. dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang dapat menjawab diskursus yang berkaitan dengan pengajaran IPS yang selama ini dipandang belum optimal. “Decision making process are developed as student clarify value. analizy and evaluate proposal.Oktober 2008 . Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . memperlihatkan bahwa. upaya yang dilakukan adalah menggunakan pola pembelajaran yang dapat menciptakan aktivitas proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa dimana “Thinking skill are among the most important skill to learn” (Naylor.mengharuskan guru yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar mengajar untuk lebih kreatif menciptakan kelas yang kondusif sehingga nantinya dapat menghasilkan pembelajaran IPS yang lebih bermakna. consider alternatives and weigh the consequences of different course of action”. Banyak metode yang digunakan untuk dapat menciptakan proses belajar mengajar yang mengarah pada pemupukan potensi siswa untuk aktif ikut serta dalam memutuskan suatu permasalahan dan mengasah keterampilan berpikir siswa (Naylor 1987 : 247). Persoalannya adalah bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan ) digunakan dalam Gambar 1: Decision Making tree Ouline Diadaptasi dari R.The program making political decision”. Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan). Seperti yang diungkap oleh Maxim (1987:240) “One of the most effective program for encouraging decision making in development of value is…. Untuk bisa dicapainya kondisi tersebut di atas. Melalui model pembuatan keputusan dan ini siswa dilatih untuk berpikir kritis dan analitis guna membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada.1987:275). La Raus and R. Pengembangan model Decision Making Process (proses pembuatan keputusan) diasumsikan dapat digunakan dalam pembelajaran IPS. Dari latar belakang permasalah dan temuan teori di atas.Remy dalam Naylor (1987:267) “JURNAL.

berkomunikasi dan juga menghargai pendapat sesama kawan. Pembelajaran ini dapat menumbuhkembangkan keterampilan sosial peserta didik yaitu berkerjasama.Gambar 2: Paradigma Penelitian proses belajar mengajar IPS maka penelitian ini dibatasi pada “bagaimana pengembangan Decision Making Process Model (model pembuatan keputusan) dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas 6”. tetapi juga melakukan suatu diskusi berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS ? 4. karena guru mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam pembelajaran dengan kondisi riil siswa dan masalah sosial. dalam pembelajaran materi tidak hanya terpaku pada buku teks tapi lebih mengkontekstual. Seberapa besar peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision making Process Model dalam pembelajaran IPS? 3. Berdasarkan metodologi penelitian maka diperoleh hasil: Proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Setelah mengikuti pembelajaran Decision Making Process Model selama empat kali pertemuan. Masalah pokok makalah di atas. Bagaimana proses pembelajaran IPS yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) ? 2. karena kegiatan tersebut diindikasikan melibatkan peserta didik yang terlihat dari pembelajaran yang tidak ceramah terus. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dikembangkan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. penulis akan mencoba menganalisis kinerja guru maupun tanggapan guru terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru sejak menyusun tencana sampai penerapan pembelajaran nampak “JURNAL. pembelajaran Decision Making Process Model adalah kegiatan pembelajaran yang sangat menyenangkan. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru. ditemukan bahwa. saling toleransi.Oktober 2008 . Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2: HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi eksperimental) yaitu suatu penelitian eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variable yang relevan.

mengalami perubahan dan peningkatan kearah lebih baik.5 7 9.46 9.5 9.5 10 7.5 7.5 9 9 10 8 9 9 9 7 6. Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan penerapan pembelajaran Decision Making Process Model akan memberi warna baru dalam proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan.5 7 8 9.5 9.5143 7.6 9.9857 8. maupun dalam mengevaluasi pembelajaran.5 10 8 8. sehingga perlu dipersiapkan rencana pembelajaran secara terencana.5 9 8.5 10 9 7.5 5 5 6 7. diskusi. baik dalam kegiatan tanya jawab.5 5 7. baik dalam menampilkan materi.5 6.5 10 7.5 9. baik keterampilan dalam menyusun rencana pembelajaran. perlu keterampilan yang cukup tinggi agar Decision Making Process Model dapat dilaksanakan secara optimal.5 7.5 8.5 9 10 8.5 8 9. maupun dalam mengerjakan tugas dari guru.5 10 6.5 8 9 10 8 9. Menurut pendapat guru Decision Making Process Model ini merupakan inovasi pembelajaran.5 8.5 8 10 7 6 6 7 7.5 10 9.Oktober 2008 .5 7.5 9 10 8.5 7.5 8 8 8 9 10 8.5 9 7.486 Gambar 3: Grafik Perolehan Hasil Belajar “JURNAL. Guru juga mengemukakan bahwa pembelajaran dengan Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. maupun memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas maupun kreativitas pembelajarannya dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dengan menggunakan media pembelajaran short story.5 8.5 9 10 6. Menurut pendapat guru pada saat mengembangkan pembelajaran di kelas. Tabel 1: raihan Nilai Setelah Menggunakan Decision Making Process Model No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Rata2 Nilai Pertemuan Ke: 1 2 3 4 7 6.5 6 7 7.5 9 9 6 9 6.5 8 8.5 6.5 9 10 6 6 6.5 9.5 8 9.5 9 9 10 9 9. pendapat ini dapat mengindikasikan bahwa pengembangan pembelajaran Decision Making Process Model membutuhkan kemauan maupun keterampilan yag tinggi agar pembelajaran ini dapat dilaksanakan dengan optimal. selain itu dengan penerapan Decision Making Process Model ini peserta didik memiliki pengetahuan dan penghayatan secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajaran selalu mengembangkan konsep-konsep terkunci secara terus menerus.5 8. dapat menumbuhkan suasana belajar yang kondusif.5 9 10 5 6 6 9 6. pelaksanaan. Disamping itu dengan menerapkan pembelajaran Decision Making Process Model.5 10 7.5 7.5 9 8 10 7. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .5 9 9.5 10 9 9 9 10 8 8. Selain itu hal-hal tersebut di atas guru juga berpendapat bahwa dengan penerapan pendekatan ini dapat meningkatkan aktivitas maupun kreativitas peserta didik hal ini nampak terlihat dari proses pembelajaran berlangsung.5 9.5 7.5 7.5 9 8 9 8 9 8 8 9 9.

resonansi melalui konlik-konflik nilai dalam dialog. Respon siswa terhadap penggunaan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Dari hasil wawancara dengan siswa dapat disimpulkan bahwa : Decision Making Process Model dapat menciptakan suasana anak menjadi kondusif. dikarenakan pelaksanaan model ini dapat menciptakan iklim pembelajaran yang transaksional. Berdasarkan temuan selama mengadakan penelitian menunjukkan bahwa penerapan Decision Making Process Model ini telah memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Temuan lain dari hasil wawancara ditemukan bahwa ada beberapa yang lebih menyukai cara belajar biasa dengan dasar alasannya adalah karena informasi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan Decision Making Process Model . Kendala ini dirasakan dalam pembelajaran IPS dengan model tradisional. Sesuatu yang baru diperkenalkan dan dialami adalah variasi dari suatu rutinitas. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran IPS yang mengembangkan Decision Making Process Model (model Pembuatan Keputusan) Beberapa kendala yang dialami oleh guru ketika pelaksanaan pembelajaran Decision Making Process Model. salah satu implikasi produk yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa. dari hasil evaluasi ditemukan adanya peningkatan pencapaian hasil belajar yang berkenaan dengan penguasaan kosep. berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . maupun kelompok “JURNAL. selain itu hampir semua siswa senang dan menyukai pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dengan alasan cara pembelajaran seperti itu membuat siswa lebih leluasa untuk mengemukakan pendapatnya tanpa ada perasaan takut salah. sehingga peserta didik lebih mudah dalam mengungkapkan dan menemukan konsep-konsep dalam belajar. Setelah dilakukan evaluasi dengan materi IPS yang berbeda. mencari isu dan masalah tidak mudah. selain itu adanya perubahan sikap. guru harus menguasai materi yang lebih luas terkait dengan konsep KESIMPULAN Pertama pembelajaran dengan menggunakan model ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk diterapkan sebagai alternatif pembelajaran IPS di sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. materi pelajaran yang disampaikan lebih mudah dipahami. yaitu berpusat pada peserta didik. Perningkatan perkembangan ini dapat dilihal dari Tabel 1 dan Gambar 3. Kendala yang dialami dalam pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan adalah guru kurang berupaya menciptakan disequlibrium atau desonanti. untuk merubah kebiasaan yang telah tertanam pada diri guru secara keseluruhan sangat sulit dilakukan. Namun ketika menemukan hal yang tidak biasanya atau baru mereka merasakan sesuatu yang lain dan respon mereka ditunjukkan bisa positif dan negatif. penyusunan perangkat evaluasi yang tidak umum dilakukan sebelumnya. dan juga sikap siswa. Decision Making Process Model adalah merupakan hal yang baru.Oktober 2008 . Penerapan model belajar Decision Making Process Model. membuat laporan menyelesaikan tugas. Banyaknya materi yang harus disampaikan dengan jumlah jam pelajaran. sehingga ketika pelaksanaan pada prosesnya guru cenderung terlalu cepat mengambil alih kendali pembelajaran dan dominasi selama pelaksanaan. baik secara individu. Temuan lain menunjukkan bahwa siswa umumnya suka dengan Decision Making Process Model namun mereka tidak mengharapkan metode tersebut digunakan untuk seluruh pokok bahasan dan tiap pertemuan. Kendalan lain yang dirasakan adalah kurang seimbangnya waktu belajar (durasi jam pelajaran) dengan proses pembelajaran. Hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran ini mengalami peningkatan yang berarti. menghargai hasil kerja orang lain. (2) guru hanya terpadu pada cerita yang dipersiapkan padahal masih banyak cerita lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan topik bahasan. Keterampilan seperti ini tampaknya perlu dilatih dan ditingkatkan untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model.Peningkatan kompetensi siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Decision Making Process Model dalam pembelajaran IPS Pada penelitian ini kegiatan evaluasi dilakukan guru untuk mengukur penguasaan konsep pada diri siswa. misalnya mau mendengarkan pendapat orang lain. juga meningkatkan keterampilan dengan merumuskan pertanyaan. Menggunakan Decision Making Process Model ini memerlukan waktu yang cukup lama kedua penggunaan pola pembelajaran ini menuntut guru untuk lebih kreatif dibandingkan dengan pendekatan yang konvensional. pertama berhubungan dengan kebiasaan guru itu sendiri yang terbiasa menggunakan pembelajaran yang sifatnya tradisional. mengeluarkan argumentasi. dalam hubungannya dengan peningkatan prestasi belajar siswa secara keseluruhan maka hasilnya menunjukkan adanya peningkatan. umumnya manusia merasakan suatu runtinitas sebagai hal yang biasa. peserta didik merasa lebih banyak tugas yang harus dikerjakan sehinga peserta didik aktif dan antusias dalam mengerjakan tugas.

Bandung : IKIP Bandung. Abdul Azis Wahab (1996) Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik : Model Kependidikan Kewarganegaraan Indonesia Menuju Warganegara Global. Allyn and Bacon Coensuello G. Remaja Roakarya. Decision Making Process Model ini memiliki kekuatan karena peserta didik dibantu untuk memahami konsep-konsep IPS yang abstrak dengan enactive. (1982). Jesus A. Decision Making Process Model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam memahami masalah. Tidak Diterbitkan Bandung. Handbook in Research and Evaluation. John Jarolimek(1993) Social Studies In Elementari Education. Bandung.J. P2LPTK. New York. Gray III (1977). dalam membuat rancangan pembelajaran. Bandung. Isaac. John U. Nana Sudjana & R. Ninth Edition. dimana guru berusaha untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dengan selalu mempertimbangkan aspek peserta didik. Reading Massachusetts. Numan Somantri (1993) Masalah Pengembangan Ilmu Kewarganegaraan (IKN) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dalam lingkungan FPIPS-IKIP dan FKIP-Universitas. (2 nd . Merril Publishing Company. Seville. Ari Sutisyana (1997) Pengembangan Berfikir Kritis Anak dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar. California: Edits J. Barry K. iconic dan symbolic. Departemen Pendidikan Nasional (2000) Pendidikan Kewarganegaraan. LAB Pengajaran PMP IKIP Bandung. Hasibuan (1986) Proses Belajar Mengajar. Kedua masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan pembelajaran ini terkait dengan kesiapan guru dalam merencanakan dan mengembangkannya di kelas. Canada.Angkasa. Hamid Hasan (1995) Pendidikan Ilmu Sosial. DAfTAR PUSTAKA A. Tesis. O (1993) Pengantar Metode Penelitian.Oktober 2008 .jakarta. Prentice-Hall Inc. PPS IKIP Bandung. New York. sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. William A. David T. Maxim (1987) Social Studies and Elementary School Child. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . edition). Bandung : Sinar Baru. juga dalam mewujudkan iklim belajar yang transaksional dengan interaksi multi arah dan berpusat pada peserta didik. Pidato Pengukuhan jawaban Guru Besar Tetap dalam Ilmu Pendidikan. PPS. “JURNAL. Universitas Jakarta. New Jersey. Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Tesis. Hansiswani kamarga (1994) Konsep IPS dalam Kurikulum Sekolah Dasar dan Implementasinya di Sekolah.(1996) Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai-Moral. Engle wood cliffs. Beyer (1991) Teaching Thinking Skills :A Handbook for Elementary School Teacher. Stephen dan William B. Adision Wesley Publishing Company. Trends and Development. Naylor (1987) Elementary and Middle School Social Studies. Selain itu juga dapat meningkatkan pengetahuan dan penghayatan peserta didik secara menyeluruh dan terfokus pada suatu aspek karena dalam proses pembelajarannya selalu mengembangkan konsepkonsep kunci pendidikan IPS. Lab.Jakarta. Ohio. Ketiga penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Penerbit Universitas Indonesia. Decision Making Process Model ini mempunyai kelemahan berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan kemampuan guru untuk lebih menggali informasi yang actual karena Decision Making Process Model intinya pembelajaran yang diarahkan untuk menumbuh kembanggkan kreativitas dan critical thinking siswa. Bandung. Selain itu juga guru dituntut untuk menguasai banyak disiplin ilmu untuk pengajarannya. Bandung. Ibrahim (1989) Penelitian dan penilaian Pendidikan. terutama dalam upaya mengkonkretkan konsepkonsep abstrak maupun perannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Paulina Panen. George W. Diterjemahkan oleh Alimuddin Tumu. Tidak Diterbitkan. USA. Random House Inc. Recent. Makalah. Michell. Mac Millan Publishing Company. dkk (1999) Cakrawala pendidikan. IKIP Bandung. FPIPS IKIP Bandung. Keempat penerapan pembelajaran ini menurut guru merupakan inovasi yang bisa menumbuhkan suasana belajar yang kondusif. Jakarta. Pengajaran IKIP Bandung. M. ----------------.dan juga bersifat multi arah. Tidak Diterbitkan. Michaelis (1976) Social Studies for Children in a Democracy. Learning by Doing Developing Teaching skill.Kosasih Djahiri (1996) Teori Keterampilan Belajar dan Mengajar Menuju Inquiry yang Reaktif. Jakarta. Moch Idochi Anwar (1990) Kepemimpinan dalam Proses Belajar Mengajar. sehingga akan terwujud kondisi pembelajaran yang efektif. Third Edition. Bandung.

Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tyler (Mayadiana. sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan. Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahami matematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis. (3) Students’ activities were also improved in quality. prinsip. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah ataupun perguruan tinggi.Oktober 2008 . The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test. seperti yang diungkapkan oleh Begle (Darhim. Dalam suatu proses pembelajaran. konsep. (2) Metacognitive approach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever. observation sheet. serta sebagai ilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis. serta kaitan yang ketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. menjadi sangat penting dikuasai oleh peserta didik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Kata Kunci: critical thinking skill. 2004). The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is a must for students in tertiary level. Data analysis were performed both quantitatively and qualitatively. Berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan.Pendekatan Metakognitif Sebagai Alternatif Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD Maulana Abstract This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitive approach in mathematics learning. objektif. Qualitative analysis was applied to explain teaching and learning activity. In teaching and learning process. (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning. 2005) mengenai pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah. dan terbuka. interview guidance. metacognitive approach PENDAHULUAN erpikir merupakan satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. students’ attitude scale-questionnaire. Matematika dengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dan sistematis. tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat ini berkembang pada sebagian besar peserta didik adalah matematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi. struktur. experimental group was treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. dan generatif. reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level can be considered as low. Maier (1985) dan Ruseffendi (1991). yang menitikberatkan pada sistem. Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didik mempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalam menganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan. Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah B kemampuan berpikir kritis. dinamis. nonetheless. middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group. Kenyataannya. kemampuan berpikir peserta didik dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah. “JURNAL. and fill-in list for lecturers. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who were taught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . sebagai suatu kegiatan manusia melalui proses yang aktif. The subjects of the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and students of PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. Quantitative analysis was applied to the test result to display the difference of means between two sample groups.

juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasi matematik (Maulana.62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentuk pembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secara aktif yang menanamkan kesadaran metakognisi. MA. perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? “JURNAL. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. mengenali kembali. mahasiswa terlatih untuk selalu merancang strategi terbaik dalam memilih. jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan.Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas. mengontrol dan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya.Oktober 2008 . ternyata kurang memuaskan. Oleh karena itu. Tinjauan yang lebih mendalam pada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaran bahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitan dalam memahami konsep matematika maupun dalam pemahaman prosedural. 26. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif? 3. mengorganisasi informasi yang dihadapinya. Ironisnya. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Bertolak dari pemikiran di atas. SMK. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapa semester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yang berasal dari SMA. baik untuk mahasiswa yang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 5. dengan program studi IPA dan NON-IPA. sangat menarik dan perlu dilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan. Tampak dari nilai mereka dengan rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk kedua kelompok tersebut. Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa. Semua informasi yang ditemukan di lapangan tersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkan begitu saja.06% untuk keseluruhan mahasiswa. 2005). Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebut adalah laporan penelitian Mayadiana (2005). Hasil yang diperoleh dari studi tersebut. akan tetapi di sisi lain ternyata kemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masih kurang. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional? 2. kemampuan berpikir kritis peserta didik di satu sisi memang sangat penting untuk dimiliki dan dikembangkan. maka mutlak diperlukan adanya pembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri. Pandangan ini tentu saja berdasar. yakni dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya. dan SPG (khusus pada kelas karyawan). Indikasi lainnya. yakni hanya mencapai 36. serta dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi. sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalu memonitor. serta 34. guru atau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. komentar. salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan suatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka. Dari uraian di atas. subkelompok sedang.26% untuk mahasiswa berlatar belakang IPA. Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif? 4. serta faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung atau menghambat pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan metakognitif. bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih rendah. mengingat. Melalui pengembangan kesadaran metakognisi.

dan (6) mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian. dan dalam hal ini berpikir kritis bertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusan mengenai sesuatu. memilah-milah atau membedakan. yaitu: berpikir vertikal. juga untuk mengambil keputusan. dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir Kritis Kemampuan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemampuan berpikirnya. 2004). ataupun melakukan recall dan recognition ketika yang dihadapinya adalah persoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin.Oktober 2008 . 1994). Presseisen (Angeli. berpikir kreatif (creative thinking). 1996) membedakan kemampuan berpikir menjadi dua bagian. 2003). seseorang dapat mengatur. Paul dan Scriven (1996). Gerhand (Mayadiana. 2004). analisis data. mengevaluasi. yaitu menangkap tulisan. membandingkan. berpikir lateral. Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. (2) merupakan proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data. Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yang diungkapkan di atas dapat dikembangkan melalui pembelajaran. (5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut. menyesuaikan. menafsirkan. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik daripada mahasiswa yang mendapat pembelajaran konvensional. atau memperbaiki pikirannya. mendengar. pengambilan keputusan (decision making). sintesis.HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dan salah satu dari kemampuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. Dengan berpikir kritis. Quina (Syukur. ataupun suara. sebenarnya ia melibatkan proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru yang ada pada persoalan tersebut. yaitu bahwa berpikir kritis: (1) adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. merancang. Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhi penafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yang melibatkan proses sensasi. yakni kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakan perpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar. berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat. Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto (1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang paling utama. berpikir strategis. berpikir tentang hasil. Pada saat itu pun. STUDI LITERATUR 1. membuat perencanaan. (4) memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. 2. Penulis merangkum beberapa definisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh Norris (Fowler. mengukur. (3) bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis. subkelompok sedang. evaluasi. persepsi. berpikir analitis. termuat juga kegiatan meragukan dan memastikan. dan berpikir kreatif. 2005). Selanjutnya ia mengalami proses persepsi. Liliasari. pertama-tama ia melibatkan proses sensasi. menimbang. Sementara itu. 1996). menganalisis. Dalam proses berpikir. sehingga ia dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. berpikir kritis. Menurut keduanya. dan memori (Sobur. gambar. menghitung. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. dan memahami apa yang diminta dalam persoalan tersebut. 2005). dan Splitter (Mayadiana. Swartz dan Perkins (Hassoubah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Pada saat seseorang menghadapi persoalan. Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupan yang tak bisa dihindari. seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. serta membuat seleksi. Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selain untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. 2003). 1996: 31) menyebutkan bahwa yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan pemecahan masalah (problem solving). menghubungkan. yaitu membaca. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. 1996). DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkan cara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian. Ennis (2000). menggolongkan. mengubah. dan memutuskan (Sobur. melihat kemungkinankemungkinan yang ada. 1997. serta untuk menilai tindakan (Liputo. Presseisen (Liliasari. menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada. memecahkan masalah. Ungkapan sejalan mengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh “JURNAL.

Resnick (Mayadiana. bahwa orang yang berpikir kritis adalah individu yang berpikir. Fawcett (Glazer. oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan berpikir kritis diabaikan oleh dosen. atau yang mereka pikirkan. dan memahami matematika (Appellbaum. mengerjakan. Karena berpikir kritis dalam matematika secara epistemologi berbeda dengan berpikir kritis dalam domain lainnya (Glazer. dengar. Menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. mengetahui prasyarat untuk meyakinkan kelengkapan tugas tersebut. 1987). yaitu kemampuan untuk menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang disajikan dengan menggunakan aturan inferensi. Mengetahui apa yang dilakukan. Sejalan dengan itu pula. mengatur. bertindak secara normatif. serta membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri apa yang dilakukan saat belajar matematika. Perlulah kiranya diungkap dengan lebih jelas beberapa deskripsi yang berhubungan dengan berpikir kritis dalam matematika. Karena bagaimanapun. merencanakan. berpikir kritis dalam pembelajaran matematika merupakan tujuan yang dikelompokkan secara holistik berdasarkan apa arti mengajar. (6) Kemampuan merekonstruksi argumen. memantau. 2004). Nindiasari (2004) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan “JURNAL. (3) Kemampuan merumuskan masalah ke dalam model matematika. 2004) mengklaim bahwa matematika merupakan domain yang memiliki kriteria berbeda untuk menyusun alasan yang tepat daripada kebanyakan bidang lainnya. Tim MKPBM (2001) memandang metakognitif sebagai suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia lakukan dapat terkontrol secara optimal. dan berusaha untuk memperbaikinya. yaitu pengetahuan deklaratif dan prosedural tentang keterampilan. atau refleksi tentang tindakantindakan. strategi. dosen memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. (4) Kemampuan mendeduksi dengan menggunakan prinsip. yaitu kemampuan menyatakan persoalan ke dalam simbol matematika dan memberikan arti dari setiap simbol tersebut. Dalam sudut pandang yang lain. dan mengumpulkan informasi untuk membangun definisi operasionalnya. (2) Kemampuan mengidentifikasi relevansi. apa yang diperlukan untuk mengerjakan dan bagaimana melakukannya. Artinya saat siswa mengetahui kesalahannya. Sementara itu Cabrera (1992) mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses dasar dalam suatu keadaan dinamis yang memungkinkan mahasiswa untuk menanggulangi dan mereduksi ketidaktentuan masa mendatang. 2005). 2005). 2003). dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri. antara lain meliputi kemampuan: (1) Kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. Para peserta didik dengan pengetahuan metakognitifnya sadar akan kelebihan dan keterbatasannya dalam belajar. 3. membantu dan membimbing siswa jika ada kesulitan. Paul (Mayadiana. dan mengetahui kapan melakukannya. Pascarella dan Terenzini (Mayadiana. Lebih jauh lagi. yaitu kemampuan menentukan aturan umum dari data yang tersaji dan kemampuan menentukan kebenaran hasil generalisasi beserta alasannya. 2005: 9). dan sumber yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan oleh Krutetski (Mayadiana. 2005). memonitor. Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa. karena matematika hanya menerima pembuktian deduktif.Oktober 2008 . Suzana (2004: B4-3) mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang. bentuk aktivitas memantau diri (self monitoring) dapat dianggap sebagai bentuk metakognisi. Sebagai pendidik. 2004). yaitu kemampuan menuliskan contoh soal yang memuat aturan inferensi. serta mengontrol tentang apa yang mereka ketahui. Brown (Weinert dan Kluwe. yaitu kemampuan menuliskan konsep-konsep yang termuat dalam pernyataan yang diberikan dan menuliskan bagian-bagian dari pernyataanpernyataan yang menggambarkan konsep bersangkutan. mereka sadar untuk mengakui bahwa mereka salah. dan siap bernalar tentang kualitas dari apa yang mereka lihat.Splitter (Mayadiana. 2. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . memprediksi. 2005). (5) Kemampuan memberikan contoh inferensi. di mana kebanyakan bidang tidak memerlukannya untuk membangun kesimpulan akhir. penulis merumuskan beberapa indikator berpikir kritis yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan Metakognitif Weinert dan Kluwe (1987) menyatakan bahwa metakognisi adalah second-order cognition yang memiliki arti berpikir tentang berpikir. pengetahuan tentang pengetahuan. bagaimana melakukannya. 1987) mengemukakan bahwa proses atau keterampilan metakognitif memerlukan operasi mental khusus yang dengannya seseorang dapat memeriksa. yaitu kemampuan menyatakan argumen dalam bentuk lain dengan makna yang sama. Berpikir Kritis dalam Matematika Domain khusus definisi berpikir kritis harus didiskusikan dalam rangka menarik hubungan antara penelitian dan implikasinya dalam pendidikan matematika. Ennis (Glazer. Woolfolk (1995) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua komponen terpisah yang terkandung dalam metakognisi.

2000: 444) PENELITIAN Penelitian digolongkan kepada penelitian eksperimen. Bila diterapkan dalam belajar. memperluas aplikasi-aplikasi tersebut. Terhadap kedua kelompok tersebut diberikan pretes sebelum eksperimen dan postes setelah eksperimen. Dengan demikian. Contoh dari strategi kognitif ini antara lain: bertanya pada diri sendiri. juga dapat diketahui skor setiap mahasiswa “JURNAL. dan (4) situasi peserta didik dalam kegiatan kognitif mengalami kesulitan. Ada dua konteks yang mesti dipahami agar siswa mampu belajar secara baik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif. Untuk data kuantitatif. sedangkan strategi kognitif metakognitif adalah mengontrol seluruh aktivitas belajarnya. Torgosen. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah aktivitas pembelajaran. seperti yang diungkapkan oleh Borkwoski. dan mendapatkan pengendalian kesadaran atas diri mereka. analisis dilakukan dengan uji normalitas. belajar juga merupakan metakognisi melalui aktivitas yang digunakan yaitu mengatur dan memantau proses belajar. (2) situasi kognitif dalam mengahadapi suatu masalah membuka peluang untuk merumuskan pertanyaan. 2004). misalnya dalam pemecahan masalah. pertimbangan. Menurut Hartono (Nindiasari. Pressley et al. Adapun aspek aktivitas metakognitif yang dikemukakan oleh Flavell (Suzana. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol keduanya dipilih secara acak menurut kelas. Kegiatan-kegiatan metakognitif ini muncul melalui empat situasi. dan memeriksa hasil. jurnal. sedangkan pada kelas kontrol dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan konvensional. “Penggunaan keterampilanketerampilan intelektual secara tepat oleh seseorang dalam mengorganisasi aturan-aturan ketika menanggapi dan menyelesaikan soal”. Wong (Jacob. Selain dengan latihan. dan keputusan yang benar sehingga diperlukan kehati-hatian dalam memantau dan mengatur proses kognitifnya. penulis menggunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kritis. dengan secara spesifik melatih siswa dalam keterampilan dan strategi khusus (seperti perencanaan atau evaluasi. memonitor. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PGSD Universitas Pendidikan Indonesia yang terdiri dari kampus pusat dan beberapa kampus daerah yang tersebar di dua provinsi. (3) peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan. monitoring. angket skala sikap mahasiswa.. Namun demikian. pendidik (dosen/guru) dapat memulai lebih awal di sekolah atau perguruan tinggi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretes-postes (Ruseffendi. Adapun kegiatannya menurut Flavell (Weinert dan Kluwe. bila perlu memodifikasi strategi yang biasa digunakan untuk mencapai tujuan. dan daftar isian untuk dosen. pengertian strategi kognitif adalah. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap hasil tes untuk melihat perbedaan rerata antara dua kelompok sampel. (2) memonitor apa yang mereka ketahui dan bagaimana mengerjakannya dengan mempertanyakan diri sendiri dan menguraikan dengan kata-kata sendiri untuk simulasi mengerti. yaitu: (1) peserta didik diminta untuk menjustifikasi suatu kesimpulan atau mempertahankan sanggahan. anak bertanya pada dirinya sendiri untuk menguji pemahamannya tentang materi yang dipelajari. analisis masalah). Untuk memperoleh data dalam penelitian ini. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . pedoman wawancara. dan uji hipotesis (uji-t dan Anova satujalur). & Reid. Sedangkan untuk data kualitatif.metakognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari strategi kognitif. setiap butir skala sikap yang terkumpul kemudian dihitung menggunakan cara aposteriori. dan merevisi kerja mereka sendiri mencakup tidak hanya membuat mahasiswa sadar tentang apa yang mereka perlukan untuk mengerjakan apabila mereka gagal untuk memahami. bahwa dosen mengajar mahasiswa untuk merancang. sikap mahasiswa dan pandangan dosen terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. yaitu siswa dapat memahami dan menggunakan strategi kognitif dan strategi kognitif metakognitif selama proses pembelajaran berlangsung. 2004: B4-4) adalah: (1) kesadaran mengenal informasi.Oktober 2008 . 1998). Dengan demikian. uji homogenitas. dengan model keterampilan ini. Bagaimana siswa secara berangsur-angsur menguasai keterampilan metakognisi ini mungkin memerlukan suatu proses yang cukup lama. Aspek metakognitif sebagai bagian terkait dari pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan metakognitif sangat penting untuk dapat dikembangkan agar mahasiswa mampu memahami dan mengontrol pengetahuan yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajaran. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. 1987) mencakup perencanaan. membandingkan dan membedakan solusi yang lebih memungkinkan. yakni di Jawa Barat dan Banten. Johnson. selain dapat diketahui skor untuk setiap butir skala sikap. lembar observasi. Pada kelas eksperimen dilaksanakan suatu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. (3) regulasi. yang didilaksanakan dengan menggunakan dua perlakuan. 2003: 17-18). dan dengan struktur mengajar mereka sedemikian sehingga para siswa terfokus pada bagaimana mereka belajar dan juga pada apa yang mereka pelajari (Jacob. 1987. Borkwoski.

memberikan contoh inferensi. sedangkan mahasiswa yang belajar secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah. Berdasarkan perhitungan gain normal (Meltzer. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .3% mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif sangat membantu mereka dalam memamahi konsep yang sedang mereka pelajari.82%. dan 4% dengan kategori sangat baik. dan subkelompok tinggi pada kelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. Dari keseluruhan mahasiswa. Secara lebih khusus. Begitu pula dalam aspek mengidentifikasi relevansi. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip. (2) kesulitan dalam membuat soal-soal latihan pada lembar kerja mahasiswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara baik. Faktor-faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif antara lain: (1) kerja sama dan bantuan dari dosen pengampu matakuliah yang bertindak sebagai observer dan teman diskusi dalam menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Dosen memiliki tanggapan positif terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif. 2002). peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam aspek menggeneralisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi termasuk dalam kategori tinggi.41%. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam aspek merumuskan masalah ke dalam model matematika. Sikap positif mahasiswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif tercermin dari sebanyak 89% dari 45 mahasiswa menyatakan persetujuannya bahwa pendekatan matekognitif dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam belajar matematika. pendekatan metakognitif secara signifikan memiliki efektivitas yang sama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa subkelompok manapun.7% menyukai dan merasa tertantang dalam menyelesaikan soal-soal metakognitif yang diberikan. Kemudian diketahui pula sebanyak 74. kategori baik sebanyak 47%. Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif membuat mahasiswa lebih aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. setiap subkelompok mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang tergolong sedang.Oktober 2008 . dan subkelompok rendah mengalami peningkatan sebesar 56. dan sebanyak 88. subkelompok sedang. sebanyak 94. Mereka menyatakan persetujuannya bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sangat baik dan berpeluang besar untuk diterapkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di “JURNAL. mahasiswa mendapat kesempatan yang lebih banyak dalam mengeksplorasi materi bersama dosen maupun teman-temannya melalui kegiatan diskusi. Adapun beberapa hambatan yang dihadapi dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif adalah: (1) waktu yang tersedia relatif sedikit untuk melakukan pengembanganpengembangan dalam pembelajaran.05% terhadap skor pretesnya. (2) keterlibatan mahasiswa secara aktif untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. subkelompok sedang 59. dan merekonstruksi argumen. sebanyak 84. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar secara konvensional. (3) kesulitan dalam membuat kelompok diskusi dengan anggota kelompok yang beragam tingkat kemampuan matematiknya. Mengenai pembelajaran suasana pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan metakognitif.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis data hasil penelitian.5% mahasiswa merasa bahwa pendekatan metakognitif yang mereka ikuti dapat mengurangi kecemasan belajar matematika. terdapat 98% mahasiswa yang menyatakan senang terhadap hal tersebut. Dengan kata lain. diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan metakognitif sebagai berikut ini. Mahasiswa pada kelompok eksperimen yang memiliki kemampuan akhir berpikir kritis matematik pada kategori cukup adalah 49%. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang belajar dengan pendekatan metakognitif berada dalam kategori baik. mengalami peningkatan yang tergolong ke dalam kategori sedang. diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis untuk subkelompok tinggi adalah 65. Dengan kata lain. 80% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif membuat mereka lebih berani dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. sehingga diharapkan dalam masing-masing kelompok terjadi kegiatan diskusi kelompok yang produktif. peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi.5% menyenangi kegiatan diskusi.

L. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. [25 Januari 2006]. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Mathematics Education Excerpt from The International Encyclopedia of Critical Thinking. 4.M. dan Gainen. C. (1995). Cassel (ed). insightassessment. Fowler. sebaiknya mencoba untuk mengimplementasikan pendekatan metakognitif ini di sekolah tempat ia mengajar. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. B.indiana. maka hendaknya peneliti lain mencoba menerapkan pendekatan ini dalam upaya meningkatkan kemampuan matematik tingkat tinggi lainnya seperti kemampuan berpikir kreatif. A Super-Streamlined Conception of Critical Thinking [Online]. Tersedia: http://www. (2003). Oleh karena itu para dosen atau pengajar diharapkan selalu berusaha meningkatkan kemampuan mengajar dan kemampuan matematiknya melalui berbagai sumber. Bandung: Tidak diterbitkan. J. P.pdf. (1997). Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika.A. Development Mind: A Resource Book for Teaching Thinking. mengidentifikasi relevansi. B.. (1996). Alexandria: ASCD. com/pdf_files?Disposition_to_CT_1995_JGE.mo. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. Tersedia: http:// www. namun tentu saja dengan metode yang tidak harus sama DAfTAR PUSTAKA Angeli.html.A. [22 Agustus 2005]. (1985). Disertasi pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. C. R. Sikap positif mahasiswa terhadap model pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menggambarkan bahwa pembelajaran ini dapat dijadikan model yang disukai mahasiswa. (1999). (2000).Oktober 2008 . N..htm. [25 Januari 2005] Appellbaum. membuat deduksi dengan menggunakan prinsip.C. Critical Thinking Accros the Curriculum Project [Online]. Facione. G. Tersedia: http://www. Darhim (2004).Gargoyle. Tersedia: http://www. khususnya pada aspek-aspek: membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi. 5.. merumuskan masalah ke dalam model matematika. dan merekonstruksi argumen 2. cc. Examining the Effects of ContextFree and Context-Situated Instructional Strategies on Learner’s Critical Thinking [Online].A.kcmetro. Cabrera. dalam praktiknya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang bahan ajar berupa LKM. Giancarlo. Costa.. The Disposition toward Critical Thinking [Online]. Melihat hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa selain dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. Facione. (1992).edu/~educr795/prop5. Pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif menekankan pada aktivitas mahasiswa dalam proses belajar dengan mengoptimalkan keterlibatan mahasiswa. Tersedia: http://www.. dan ternyata memberikan hasil yang cukup efektif. Dalam R. Ennis. A. “JURNAL. misalnya hsil-hasil penelitian atau jurnal. 59-63.us/longview/ctac/definitions.net/SSConcCTApr3. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD. 113 (1).perguruan tinggi. 3. Bandung: Kaifa. khususnya di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). P. Education.edu/appellbaum/8points.N. dan Hernacki. [25 Januari 2006]. DePorter.htm. pendekatan metakognitif ini juga telah mampu memacu antusiasme dalam belajar matematika.H. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. kepada mahasiswa PGSD (khususnya yang sudah menjadi guru SD) yang telah mengikuti dan memperoleh bekal pengetahuan mengenai pendekatan metakognitif.arcadia. memberikan contoh inferensi. criticalthinking. M. Oleh karena itu. Akan tetapi menurut pendapat mereka. Karena pembelajaran dengan pendekatan metakognitif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa yang merupakan kemampuan matematik tingkat tinggi.html. Arcadia University [Online]. sehingga dosen memiliki modal yang berharga karena model belajar seperi ini telah menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Untuk menciptakan suasana belajar seperti ini diperlukan keterampilan seorang pengajar dalam hal materi matematika maupun metodologi pembelajaran.

T. R.H. Tim MKPBM (2001). Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. M. Y.criticalthinking. Tesis pada PPs Universitas Pendidikan Indonesia. Surabaya. (1998). (2000). Y. Ruseffendi. Mayadiana.nclk.W. Sobur. Educational Phsycology. Defining Critical Thinking: A Draft Statement for the National Council for Excellece in Critical Thinking [Online]. [22 Agustus 2005]. Psikologi Pendidikan. Maulana (2005). Bandung: Tidak diterbitkan. Mengajar Keterampilan Metakognitif dalam Rangka Upaya Memperbaiki dan Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika. Bandung: Pustaka Setia. Bandung: Tidak diterbitkan. [22 Agustus 2005].. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.lonestar.E. “JURNAL. Maier. The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Scores. American Journal of Physics [Online]. (1994). 2 November 2000. Teaching Student to Think Critically.texas. R.Oktober 2008 . (1996). C. Bandung: Nuansa.70-12591268. ISBN: 97996152-0-8. (1985). (2005). Tersedia: http://www. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. E. Bandung: Tidak diterbitkan. (2004). Motivation. H. Suzana. Psikologi Umum. Ruseffendi. A. Tersedia: http://www. dan Kluwe. (1986). Paul.L. Purwanto.edu/per/docs/AJP-Dec-2002-Vo. Bandung: Rosda Karya. (2002). dan Scriven. (1991). D. D. (2004). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. C. Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional UPI. Jurnal Matematika.I. Bandung.html. Belajar Bagaimana untuk Belajar Matematika: Suatu Telaah Strategi Belajar Efektif. 15 Mei 2004. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Jakarta. Remaja Karya. Developing Creative & Critical Thinking Skills.T. Hassoubah. Matlin. (1987). (2004). Meyers. (1996). Kompedium Didaktik Matematika. [Agustus 2006]. M.physics. Tersedia: http://www. Jacob. Woolfolk. Bandung: Rosda Karya. Bandung: Tidak diterbitkan. Semarang: IKIP Semarang Press. Z. E. 2 (1). Bandung: Tarsito. Cognition. F. Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA. (2003). 17-18. Bandung. Penggunaan Metafora dalam Perkuliahan Matematika (The Application of Metaphor in Mathematics Course). Kamus Filsafat.E. San Francisco: Jassey-Blass Publishers. M. Liliasari (1996).E. Prosiding Seminar Nasional Matematika: Peran Matematika Memasuki Millenium III. Jacob. Nindiasari. E. Tesis pada PPS Universitas Pendidikan Indonesia. 443-447. Bandung: JICA-UPI. Aplikasi dan Pembelajarannya. Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik Siswa SMU. A. Pembelajaran dengan Pendekatan Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon Guru SD. Jurusan Matematika FMIPA ITS.org/University/univlibrary/ library. Meltzer. Syukur. Disertasi Doktor pada PPs IKIP Bandung.pdf. Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Pemahaman dan Koneksi Matematik Siswa SMU Ditinjau dari Perkembangan Kognitif Siswa. Technology Enhanced Learning Environtments that are Conductive to Critical Thinking in Mathematics: Implication for Research about Critical Thinking on the World Wide Web [Online]. USA: Allyn and Bacon. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .net~mseifert/ crit2. H. (2004). Metacognition. iastate. (2003). Liputo. New York: Hardcourt Brace Publishers. Bandung: CV. and Understanding. Weinert.Glazer. Disajikan pada Seminar Nasional Matematika: Matematika dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Kualitas SDM dalam Menyongsong Era Industri dan Informasi. N. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. (1995). C. 20 Agustus 2005. (1998). (2004). Hillsdale.

sekolah dasar PENDAHULUAN embelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berhitung. dan problematika pembelajaran pemecahan masalah di sekolah dasar MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Masalah Matematika Suatu masalah biasanya memuat situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaiknnya. Moursund (2005:29) mengatakan bahwa seseorang dianggap memiliki dan menghadapi masalah bila menghadapi 4 kondisi berikut ini: 1. maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai masalah. proses pembelajaran. mengkomunikasikan gagasan. tetapi faktor tuntunan kurikulum yang membuat guru terdesak dengan waktu terbatas sehingga tidak fokus terhadap kemampuan pemecahan masalah. Memiliki berbagai tujuan untuk menyelesaikan masalah dan dapat mengarahkan menjadi satu tujuan penyelesaian. tidak hanya faktor P guru saja. baik masalah matematika maupun masalah lain yang secara kontekstual menggunakan matematika untuk memecahkannya. tetapi juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Problem Solving). Dalam setiap standar kompetensi. 2. penilaian. “JURNAL. pembelajaran pemecahan masalah matematika di sekolah dasar. topik-topik permsalahan dalam tulisan ini adalah : masalah dan pemecahan masalah matematika. Dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut. tetapi agar siswa mampu memecahkan masalah dalam bidang lain melalui cara berpikir matematis. Memahami dengan jelas kondisi atau situasi yang sedang terjadi. nampak bahwa pemecahan masalah menjadi fokus penting dalam pembelajaran matamatika sehingga secara jelas terdapat pada kurikulum mata pelajaran matematika mulai jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Perubahan paradigma pembelajaran matematika ini kemudian diadaptasi dalam kurikulum di Indonesia terutama mulai dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006. Guru perlu memperhatikan berbagai aspek pembelajaran: perencanaan. Mata pelajaran matematika diantaranya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan pemahaman konsep. pembelajaran matematika.Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar Dindin Abdul Muiz Lidinillah Abstrak Pemecahan masalah merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika di sekolah dasar. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dikuasai oleh siswa sekolah dasar tidak hanya dalam kemampuan pemecahan masalah matematika.Oktober 2008 . pemilihan media atau alat peraga dalam pembelajaran pemecahan masalah sehingga siswa memiki kemampuan memecahkan masalah yang baik. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak tersebut dapat mengetahui cara penyelesainnya dengan benar. dimana pemecahan masalah dan penalaran menjadi tujuan utama dalam program pembelajaran matematika di sekolah dasar. Pelaksanaan pembelajaran masalah di sekolah dasar tidaklah semudah yang diperkirakan. Sesuatu dianggap masalah bergantung kepada orang yang menghadapi masalah tersebut disamping secara impilisit suatu soal bisa memiliki karakteristik sebagai masalah. Ada banyak faktor yang menghambat terlaksananya pembelajaran pemecahan masalah secara optimal. memecahkan masalah. Tulisan ini berusaha untuk menggali tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya di sekolah dasar. dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (BSNP. Oleh karena itu. Memahami dengan jelas tujuan yang diharapkan. ada salah satu kompetensi dasar yang mengarahkan siswa untuk mampu menggunakan konsep-konsep matematika dalam menyelesaikan masalah. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Kata Kunci: pemecahan masalah. penalaran. 2006). Hal ini didorong oleh perkembangan arah pembelajaran matematika yang digagas oleh National Council of Teacher of Mathematics di Amerika pada tahun 1989 yang mengembangkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics.

mereka mengkhususkan langkah ini dapat diajarkan di sekolah dasar. (2) masalah aplikasi. (2) Perencanaan penyelesaian masalah. mencari apakah ada informasi yang sesuai/diperlukan. (2000 : 2). Analisys.Oktober 2008 . (3) masalah proses. masalah dapat disajikan dalam bentuk soal tidak rutin yang berupa soal cerita.(terjemahan). penggambaran penomena atau kejadian. Masalah tersebut kemudian disebut masalah matematika karena mengandung konsep matematika. dan membuat diagram. 2000 : 2) menyatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah amatlah penting. 2000 : 2) terdapat 5 tahapan dalam memecahkan masalah. menjelaskan setting. Artzt & Armour-Thomas (Goos et. Dalam bukunya. Menurut Polya seperti yang dikutip oleh Moursund (2005:30) dari bukunya yang berjudul The Goals of Mathematical Education (Polya. ilustrasi gambar atau teka-teki.al. seseorang dianggap sebagai pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut. Dalam pembelajaran matematika. yang akan dikembangkan pada sekolah tinggi.al. Menurut Goos et.al. Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah.... Hal ini meliputi waktu. Tidak hanya untuk memecahkan berbagai bentuk masalah saja dan tidak hanya dapat berbuat sesuatu. harus memiliki sikap yang baik dalam menghadapi masalah dan mampu mengatasi berbagai jenis masalah. Dan bagaimana kita bisa bekerja secara matematik? Yang paling utama adalah dapat menyelesaikan masalah-masalah matematika. teknologi atau barag tertentu. yaitu menjadi Reading. (2001 : 95) dinyatakan bahwa menurut berbagai penelitian dilaporkan bahwa anak yang diberi banyak latihan pemecahan masalah memiliki nilai lebih tinggi dalam dalam tes pemecahan masalah dibandingkan dengan anak yang latihannya sedikit. Menurut Polya (Suherman et. (2000 : 2). tidak hanya masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan setingkat sekolah dasar. melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya. Menurut Hudoyo dan Sutawijaya (1997:191). pengetahuan. Sedangkan menurut Schoenfeld (Goos et. Buku Polya yang pertama yaitu How To Solve It (1945) menjadi rujukan utama dan pertama tentang berbagai pengembangan pembelajaran pemecahan masalah terutama masalah matematika. memvisualisasikan situasi. kamu dapat mempelajarinya dengan melakukan peniruan dan mencobanya langsung. Dan juga saya berfikir bahwa hal yang penting di sekolah dasar adalah mengenalkan kepada siswa cara-cara menyelesaikan masalah. ”Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School”. 2. Planning/Implementation. seperti menyajikan dan menyelesaikan tugas serta menerapkan strategi untuk menemukan solusi. yaitu : (1) pemahaman terhadap permasalahan.al. tetapi juga meliputi pengamatan metakognisi yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas serta untuk membuat keputusan sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimiliki. Tetapi dasar-dasarnya harus dimulai di sekolah dasar. keterampilan. yang meliputi kegiatan mengidentifikasi fakta. Memahami sekumpulan sumber daya yang dapat dimafaatkan untuk mengatasi situasi yang terjadi sesuai dengan tujuan yang diinginkan.. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . dalam Abbas. Explore and Plan (Ekplorasi dan Merencanakan). Analisys. baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. dan Verification. Read and Think (Membaca dan Berpikir). 2001 : 84). 2006 : 24). Heuristik adalah langkah-langkah dalam menyelesaikan sesuatu tanpa harus berurutan. tabel. Lebih dari Polya (dalam Sonnabend. tapi perlu dipahami oleh guru matematika ketika akan menyajikan jenis soal matematika.al. Exploration. Implementation.3. mengidentifikasi pertanyaan. 2000 : 2) menyatakan bahwa melalui pelajaran Matematika diharapkan dan dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan. bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika. 2000 : 2) telah mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Schoenfeld. Memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan. Menurut Goos et. dalam Abbas. masalah matematika dapat berupa (1) masalah transalasi. Lima langkah tersebut adalah : 1. Planning. Dalam Suherman et.al. dan Verification. tetapi untuk mengembangkan sikap umum dalam menghadapi masalah dan menyelesaikannya. mencari apakah ada informasi yang tidak diperlukan. Understanding. tetapi dapat menyelesaikan masalah yang lebih komplek pada bidang teknik. Exploration. Sementara itu. Sukmadinata dan As’ari (2006 : 24) menempatkan pemecahan masalah pada tahapan berpikir tingkat tinggi setelah evaluasi dan sebelum kerativitas yang menjadi tambahan pada tahapan berpikir yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwohl (dalam Sukmadinata dan As’ari. yaitu Reading. dan (4) masalah teka-teki. mengambar/mengilustrasikan model masalah. 1969) : Memahami matematika berarti mampu untuk bekerja secara matematik. 1993:56) juga mengatakan bahwa : Pemecahan masalah adalah aspek penting dalam intelegensi dan intelegensi adalah anugrah khusus buat manusia : pemecahan masalah dapat dipahami sebagai karakteristik utama/penting dari kegiatan manusia . 4. itu berkenaan dengan pembicaraan tentang berbagai cara untuk menyelesaikan masalah. solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian. Krulik dan Rudnik ( 1995) mengenalkan lima tahapan pemecahan masalah yang mereka sebut sebagai heuristik. yang meliputi kegiatan: mengorganisasikan informasi. dan menentukan tindakan selanjutya. (3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah. atau gambar “JURNAL. fisika dan sebagainya. walaupun sebenarnya tumpang tindih. cara berpikir secara matematis yang efektif dalam memecahkan masalah meliputi tidak saja aktivitas kognitif. Terdapat beberapa jenis masalah matematika. Lebih lanjut Ruseffendi (1991. Langkah-langkah penyelesaian masalah tersebut sebenarnya merupakan pengembangan dari 4 langkah Polya. dan (4) Melihat kembali penyelesaian. Pemecahan Masalah Matematika Soedjadi (1994.

Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat memecahkan masalah dengan benar. Fokus penelitiannya adalah tentang : karakteristik masalah. paling tidak ada tiga makna dari pemecahan masalah. menentukan solusi alternatif. Menurut Reys. maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya. Find an Answer (Mencari Jawaban). Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan. serta teknologi. teknologi. sumber belajar : alat peraga atau media.al. mendiskusikan jawaban. membuat daftar berurutan. Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal). agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif.3. Seluruh tahapan pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru. Waktu yang direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir siswa. 3. Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasi materi pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. et. 5. menggunakan kemampuan berhitung. masalah matematika sering disajikan dalam bentuk soal cerita. serta strategistratagi pembelajaran pemecahan masalah. Dari paparan di atas.al. Siswa harus dilatih menggunakan suatu strategi untuk berbagai jenis soal. pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah berarti guru menyajikan materi pelajaran dengan mengarahkan siswa kepada pemanfaatan strategi pemecahan masalah dalam memahami materi pelajaran dan dalam menyelesaikan soal-soalnya. serta pengelolaan kelas. karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalah. Materi pelajaran dipandang sebagai sekumpulan masalah yang harus dipahami dan diselesaiakan. menggunakan kemampuan geometris. Oleh karena itu. dan membagi atau mengkategorikan permasalahan menjadi masalah sederhana. Perbedaannya terdapat pada kedudukan pemecahan masalah apakah sebagai konten atau isi pelajaran atau sebagai strategi. (1989). yaitu bagaimana guru menyajikan soalsoal sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan strategi pemecahan masalah. Ada dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat materi. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari. yaitu : pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran.Oktober 2008 . Strategi pembelajaran pemecahan masalah bisa dalam hal pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran. proses. misalkan memecahkan soal-soal matematika. deduksi logis. Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat menyelesaikan berbagai bentuk masalah. soal tidak rutin. Select a Strategy (Memilih Strategi). 2. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys et. teka-teki. bekerja mundur. 4. Dalam pembelajaran matematika. Reflect and Extend (Refleksi dan Mengembangkan). serta sebagai kemampuan dasar. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . maka berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. mengembangkan jawaban pada situasi lain. dan menciptakan variasi masalah dari masalah yang asal. Sedangkan metode pemecahan masalah lebih sempit lagi. Prestasi atau kemampuan siswa dalam memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. Dalam perkembangan teori-teori pembelajaran. dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai alternatif pendekatan pemecahan. atau metode pembelajaran yang secara khusus mengajarkan strategi-strategi pemecahan masalah. tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan siswa. Penyederhanaan atau ekspansi. atau pola bilangan. problem based learning (PBL). sumber belajar-media. 5. Tetapi dalam buku-buku teks pembelajaran yang sering digunakan adalah soal cerita dan ilustrasi gambar. yang meliputi kegiatan: memprediksi. yang meliputi kegiatan : menemukan/membuat pola. Khususnya di SD. perencanaan. coba dan kerjakan. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum dikuasainya (tidak biasa).(1989). mengembangkan jawaban (generalisasi atau konseptualisasi). Metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang masih bersifat umum. 4. Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan pemecahan masalah. yaitu: waktu. menggunakan kemampuan aljabar. Berdasarkan teori “JURNAL. pembelajaran pemecahan masalah ini dapat dipraktekkan seperti dalam pendekatan pembelajaran open ended. PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DI SD Konsep Pembelajaran Pemecahan Masalah Sanjaya (2006:15) membedakan antara mengajar memecahkan masalah dengan pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. dan menggunakan kalkulator jika diperlukan. simulasi atau eksperimen. atau menggunakan beberapa strategi untuk suatu soal. 1. memeriksa kembali jawaban.

Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum sekolah (KTSP) secara konvensional.al.. dan (3) paper and pencil test. Kemampuan metakognisi dapat diajarkan di kelas melalui pernyataan menuntun seperti : ”apa yang kamu kerjakan ketika memecahkan masalah?”. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa. Jika soal disajikan dalam bentuk masalah rutin dan non rutin. ditanyakan dan jawaban. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program pembelajaran. et. (2) jurnal metakognitif. (2) inventori dan ceklis.Piaget (Reys. Ketiga alat penilaian ini dapat digunakan bersama-sama atau salah satunya bergantung kepada tujuan penilaiannya. Kegiatan pemecahan masalah lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. portofolio. Menurut Reys. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita. karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut Bruner (Reys.al. Hal ini memang bergantung kepada cara guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. test. ”apa yang kamu pikirkan jika kamu merasa kesulitan atau tidak memahami soal ?”.. Keadaan ini menyebabkan siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. guru perlu menyiapkan alatalat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan sebagai berikut. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah baik secara individu. siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa mengikuti langkah-langkah yang ditentukan. Dalam istilah lain metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol kemampuan berpikirnya atau ”thinking about thinking”. beberapa metode penilaian yang dapat dilakukan adalah: (1) observasi. Guru merasa cukup dengan pembelajaran perhitungan. (3) paragraf kesimpulan (Summary paragraph). Kemampuan tersebut adalah Metakognisi. untuk penilaiannya dapat menggunakan rubrik baik rubrik holistik maupun rubrik analitik. belum dianggap sebagai suatu tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran. sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu topik sebagai pelengkap topik tersebut. hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep pemecahan masalah dan pembelajarannya. Peran Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Kesuksesan seseorang dalam memecahkan masalah begantung kepada bagaimana ia mampu mengendalikan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan masalah. (1989). 1989). sementara kemampuan pemecahan masalah siswa masih dianggap sebagai kemampuan ekstra atau tambahan untuk siswa-siswa berprestasi tinggi. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita. Penilaian dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Penilaian untuk pemecahan masalah dianggap lebih sulit daripada penilaian untuk kemampuan kognitif lainnya karena harus mampu menilai keseluruhan proses pemecahan masalah disamping hasilnya. Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita. Guru biasanya mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita. Guru masih fokus kepada pencapaian kemampuan siswa dalam berhitung dan mengunakan rumus matematika. Tes yang dilakukan dapat berbentuk pilihan ganda. walapun dari hasil uji coba soal cerita. Beberapa metode penilaian yang dapat digunakan adalah : (1) observasi. et.Oktober 2008 . Hal ini tidak hanya dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran. padahal masalah dapat disajikan dalam berbagai bentuk model soal. Oleh karena itu. Tes kinerja ini. Pembelajaran pemecahan masalah kadangkadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. Perubahan paradigma dalam kurikulum matematika memang belum sepenuhnya berimbas pada praktik pembelajaran di sekolah dasar. yaitu : menentukan apa yang diketahui. Guru kadang memandang bahwa kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh konsep matematika. masih dalam tahap enaktif dan ikonik. tetapi juga agar siswa terbiasa bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. 1989).al. et. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat beragam. Hal senada juga diutarakan oleh Krulik dan Rudnik (1995) berkaitan dengan metode penilaian untuk pemecahan masalah. Problematika Pembelajaran Pemecahan Masalah di SD Pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah terutama di sekolah dasar tidaklah mudah. klasikal ataupun kelompok. maka penilaian yang dilakukan berkaitan dengan keduanya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . masalah masalah terbuka (open ended). Metakognisi adalah istilah yang berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan seseorang sebagai pembelajar serta bagaimana ia mengontrol dan menyesuaikan pengetahuan dan keyakinannya. Yang tidak kalah penting juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola aktivitas siswa. Siswa sering mengajukan “JURNAL. dan pertanyaan kinerja untuk mengetahui apakah siswa dapat menyelesaikan masalah dengan lengkap atau tidak. Penilaian untuk pemecahan masalah harus berdasarkan tujuan.

melaksanakan dan menilai pembelajaran pemecahan masalah.edu/. coe. Semenetara itu. Sthepen dan Rudnick. Oregon : University of Oregon. Jakarta : BSNP. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo Ashton. N. Bandung : SPs UPI. Padahal aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi dalam model pembelajaran kelompok. Pearson Education : New Jersey.uk/jornal/pgmoney.pdf Reys. [online] http://www. guru jarang menggunakan teknik-teknik penilaian yang seperti itu. Robert E. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam memecahkan masalah.(2001). S.edu/. seperti: ”Diketahui”.edu/~jonassen/PSPaper%20 final. padahal salah satu aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan informasi selama proses pemecahan masalah./ElMath. [online] http://www. guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah. Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah. /Ashton. Jurusan Pendidikan Matematika UPI.Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Intruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU. New York.. (2005). Sue C. (1998).pdf Hudoyo dan Sutawijaya.ac. D. Wina. Pendidikan Matematika I. Akan tetapi. Marsound. PENUTUP Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran. metode atau teknik penilain harus mampu menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya. Assessment in Early Chilhood Education. (2005).Teaching Mathematic Problem Solving with a Workshop Approach and Literature. dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak. [online]. al.wm. kenyataannya. Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah alatalat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah.(2006).Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT. Matematic for elementary Teacher : An Interactive Approach. Akan tetapi.cimt. Queensland : The University of Queensland [online] http://www.uoregon.pdf BSNP (2006). DAfTAR PUSTAKA Abbas. Toward a Design Theory of Problem Solving To Appear in Educational Technologi : Research and Depelopement. Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan guru baik dalam merencanakan.. Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. (2007).(2000). Thomas. Goos. Jesse A.. Virginia : College of William and Mary Williamsburg. Tidak diterbitkan. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (1993). Needham Hwight : Allyn & Bacon Sanjaya. D. A Money Problem : A Source of Insight Into Problem Solving Actioan. soal ini dikerjakan pake rumus apa?”. Sounder Collage Publising..pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita.C.pdf Krulik.. Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. (------).al. (1995). Jakarta. dan ”Dijawab”. Ketersediaan media dan alat peraga sangat menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit. Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif.(2000). Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. Universitas Pendidikan Indonesia.Oktober 2008 . Improving Math Education in Elementary School : A Short Book for Teachers. Bandung Sukmadinata & As’ari. “JURNAL. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. perlu mengusai tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya. seperti ”Pak. Sonnaben A. ”Ditanyakan”. Suherman dkk . Dirjen Dikti Depdiknas Jonassen. Wortham. Sebab lain dapat didorong oleh beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah. (1998). Oleh karena itu. et. Helping Children Learn Mathematic (5th ed). http:// darkwing.missouri.(------). guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Temple University : Boston. plymouth. tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama aktivitas pemecahan masalah. et.

pengajaran berubah.Iearn with cartoon mathematic increase effective than conventional learn (3) Student give good respons to cartoon mathematic because new in learning mathematic and their became happy in learn mathematic. masyarakat berubah. yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-¬38 dari 39 negara peserta.” Hasil belajar sangat ditentukan sekali oleh keberhasilan siswa dalam belajar. Dalam hal yang sama Ruseffendi(1991:8) mengemukakan bahwa keberhasilan siswa dalam “JURNAL. Selain itu pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi(1991:21).Penggunaan Kartun Matematika dalam Pembelajaran Matematika Supriadi Abstrak The study concerns focus to problem: How far influence application of cartoonn mathematic in learning mathematics for develop to produce learn student in school? The goal study concerns for know influence application of cartoon mathematic learning matematics in school for develop produce learn student with for able image about respons student at application of cartoon mathematic. interview.1999. Matematika merupakan salah satu bidang pengajaran yang harus mengalami pembaharuan menuju perbaikan. The result of study concerns. I suggestion so that cartoon mathematic can use by teacher for chosen tools in learn mathematic.42. Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15).45 and control student is 34.because all topic mathematic can explain with cartoon mathematic. Kenyataan-kenyataan berikut menunjukkan P bahwa pengajaran matematika perlu diperbaiki.01 experiment student produce learn increase than control student. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Dengan demikian menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan tersebut.19998:2).This Mean experiment is 49. semuanya berubah.”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi. guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”.Oktober 2008 . The study concerns use experimental method. kemampuan siswa SMP dalam matematika menempati peringkat ke39 dari 42 negara peserta. The result calculation are mean experiment student high than control student. The conclusion of study concerns are (1) Application cartoon mathematics in learning mathematic have influence to produce learn. instrument a test. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor siswa saja. The general hypothesis in study concerns is student learn with cartoon mathematic best increase produce learn than student with conventional learn.(2) For Student. At significant level 0.Teacher can join with cartoonist for make cartoon mathematic. teknologi berubah. question. antara lain adalah faktor guru. Dalam pengajaran matematika di sekolah-sekolah terdapat masalah-masalah yang perlu diperbaiki.”Kehidupan di dunia ini berubah. Pembaharuan di bidang pendidikan harus terusmenerus dilaksanakan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. pembelajaran matematika PENDAHULUAN embaharuan dalam pengertian kependidikan merupakan suatu upaya lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas(Wijaya. kalau bukan pelajaran yang paling dibenci. tetapi juga oleh faktor di luar siswa. Dalam data Internasional Achievement Education (IEA). journal and observation. Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya dengan peruhahan itu. Data dari Third International Mathematics and Science Study¬ Repeat(TIMSS-R) juga mengungkapkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP di negara kita berada pada peringkat ke-34 dari keseluruhan 38 negra peserta (Mullis. Kata Kunci: kartun matematika.2004).

Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana tanpa detail dengan menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti dengan cepat. pengajaran dengan menggunakan pelbagai alat visual semakin popular. gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. model susun. kartun data membawa pembaca berfikir sejenak untuk menjadi lebih peka terhadap perkembangan semasa. ruang dan waktu. 3. Faktor dari dalam diri siswa itu meliputi kecerdasan anak. Di Malaysia. Penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran yang berupa lingkungan. termotivasi. poster. Sedangkan menurut Sadiman dkk (2002:46). Kartun juga merupakan satu bentuk visual dengan minat kanak-kanak boleh digunakan oleh guru dalam pengajaran. kartun. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. kemudian timbul perasaan pada diri siswa untuk menyenangi materi. model penampang. grafik.1995:136). Kartun-kartun yang popular seperti Din Teksi oleh Nan dan Epit oleh Lat dapat merangsang minat pelajar. bagan. Menyadari betapa populernya kartun di kalangan audiens. Ada beberapa jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran. dan adanya kebutuhan terhadap materi tersebut? Ataukah justru cara penyajian materi hanya akan membuat siswa jenuh terhadap matematika? Bagaimanapun kekurangan atas ketiadaan motivasi akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah (Sah. seperti gambar. perasaan. Menurut Dawyer dalam Maizuriah (2000). pesan yang besar bisa disajikan secara ringkas dan kesannya akan tahan lama di ingatan. d. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian.”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran.1991:2). model kerja. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Media tiga dimensi. film penggunaan OHP dan lain-lain. Sadiman dkk(2002:6) mengemukakan. yaitu media dalam bentuk model padat. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. kunjungankunjungan ke museum atau kebun binatang. Khusus mengenai media kartun. Model proyeksi. Disamping berfungsi sebagai hiburan. atau kejadian-kejadian tertentu. kenyamanan belajar dan minat anak belajar. Apakah materi yang disajikan membuat siswa tertarik. Haron (2001) mengemukakan bahwa kartun merupakan suatu bahan yang sangat popular dan digemari oleh segenap lapisan pembaca atau penonton. “JURNAL. foto. Penggunaan visual telah lama diketahui berkeupayaan merangsang pembelajaran. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. 2. Kartun menurut Sudjana dan Rivai (1991:58) adalah pengggambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang. menarik dan praktis (Bundhowi 2002:1).Oktober 2008 . 4. Salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan siswa dalam belajar adalah metode penyajian materi pelajran. Hal ini sejalan dengan pendapat Arsyad(2002:26) bahwa: 1. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menarik minat dan memotivasi siswa. jenis media terbagi menjadi empat yaitu: a. kesiapan anak.mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. maka kartun sesuai untuk diterapkan dalam arena pendidikan. misal melalui karyawisata. bahwa kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis adalah suatu gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan-pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang. c.Salah satu cara menyajikan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. Media gratis. pribadi dan sikap guru. seperti slide. Penggunaan kartun sebagai media pembelajaran memiliki peranan penting karena dalam tahap ini siswa sangat tanggap terhadap stimulus visual yang lucu. Kalau kartun mengena. suasana pengajaran. adapun faktor dari luar diri siswa adalah metode penyajian materi pelajaran. situasi. Kartun sebagi alat Bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainnya (Sudjana dan Rivai. interaksi yang lebih langsung. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. diagram. mempengaruhi sikap maupun tingkah laku. Salah satu yang dapat digunakan ialah kartun. kompetensi guru dan kondisi masyarakat luar. Visual-visual konkret yang menggambarkan keadaan dunia sebenar boleh memberi pengalaman konkret bagi memudahkan proses pembelajaran. Media dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. Media grafis sering juga disebut dua dimensi yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. diorama dan lain-lain. masyarakat dan lingkungannya. Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. serta komik. Menurut Sudjana dan Rivai (1991:3). Malah kartun dianggap sebagai satu wahana yang menghibur dan bisa meredakan ketegangan emosi manusia. Kebanyakan kartun yang dimuatkan dalam suratkabar atau majalah memperlihatkan berbagai tema dan subjek yang disulami pula warna-warna humor. b.

“Pada umumnya anak-anak mulai menafsirkan kartun-kartun semacam ini pada usia 13 tahun.98 24. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . maka desain penelitian ini adalah sebagai berikut: A 0 X1 0 A 0 X2 0 Keterangan: A 0 X1 X2 = = = = randomisasi/acak tes awal = tes akhir perlakuan (pembelajaran dengan kartun matematika) perlakuan biasa(pembelajaran konvensional) Sebagaimana telah diungkapkan di atas. 2000:14).3 Kesimpulan Normal Normal Normal Normal “JURNAL. Instrumen lain sebagai pendukung penelitian ini. Penelitian Schaffera (Sudjana dan Rivai. Populasi penelitian ini adalah siswa SMK dan sampelnya siswa SMK Negeri 2 Bandung kelas 2 yang dipilih secara acak.Hal senada dikatakan Sudjana dan Rivai (1991:61) bahwa sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajr siswa.6 5. putusan dan pertimbangan agar data yang terkumpul sesuai yang kita harapkan.1990:95) dilihat melalui langkah-langkah penyelesaian soal. dan sistematika penyusunan dapat dievaluasi. Kemudian dipilih secara acak satu kelas sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelompok kontrol. penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi. sehingga menciptakan kegembiraan pula dalam belajar (DePorter. Untuk dapat mendapatkan data tersebut diperlukan instrumen pengumpul data yang berupa tes awal dan tes akhir. Latar belakang di atas mendorong penulis mencoba melakukan penelitian untuk melihat pengaruh kartun yang digunakan sebagai media pembelajaran terhadap peningkatan kualitas sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat. Reardon dan Nourie. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis daa hasil tes dilakukan uji normalitas. 1998:32).52 30 30 3 3 dk χ2 tabel 50.Oktober 2008 . Hasil Uji normalitas. 2001:22). homogenitas dan ukuran statistik skor pretes dan postes disajikan dalam tabel berikut: Tabel 1: uji Normalitas No 1 2 3 4 Data Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen Pretes Kelas kontrol Postes Kelas Eksperimen Postes Kelas kontrol χ2 hitung 25. Sedangkan tes akhir diberikan untuk melihat kemajuan atau peningkatan belajar kcdua kelompok. ketelitian. maka diperlukan angket dan wawancara yang cukup diperuntukan bagi kelompok eksperimen saja. kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk merekatkan pelajaran dalam ingatan”. yaitu gambar-gambarnya dapat menarik perhatian sehingga pelajaran lebih berarti dan sebagian serta variasi dalam mengajar. yaitu untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan media kartun matematika.1991:120). Beberapa kartun dengan topik yang sedang “hangat”. Pemakaian kartun mempunyai dua macam keuntungan berharga. Untuk mengetahui pertambahan kemampuan baik sebelum maupun sesudah percobaan dilakukan. Berdasarkan uraian di atas. Tipe tes yang digunakan adalah tipe tes uraian Alasanya dengan tipe uraian maka proses berpikir. Peneliti mengambil dua kelas dari seluruh kelas populasi. bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan pembuka diskusi yang efektif. Penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sains dan dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran. 1991:59). uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata.9 11. Apalagi pada saat usia sekolah kebanyakan siswa masih memiliki gaya belajar visual yang lebih cenderung mengaktifkan ingatannya melalui gambar yang ditangkap oleh mata (DePorter dan Hernacki.9 50. selain itu pembelajaran dengan kartun dapat menciptakan suasana gembira. Terjadinya bias hasil evaluasi dapat dihindarkan karena tidak ada sistem tebakan atau untung-untungan (Suherman. Pembelajaran dengan kartun akan menciptakan belajar yang efektif karena dapat membawa siswa ke dalam suasana yang menyenangkan (Gordon Dryden. Tes awal diberikan untuk mengukur kemampuan awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. serta alat evaluasi berupa tes ini terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan guru pembimbing di sekolah untuk dapat mendapatkan justifikasi. Hal ini menunjukkan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat memotivasi yang berguna di kelas.3 11. METODE PENELITIAN Karena penelitian yang dilakukan adalah melihat hubungan sebab akibat yang di dalamnya ada unsur yang dimanipulasi. penelitian ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh media kartun trhadap belajar siswa. maka siswa yang menjadi sampel diberikan tes awal dan akhir. maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen (Ruseffendi.07 10.

99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.25%) menyatakan tidak senang dengan alasan proses belajarnya kurang bisa dimengerti.58%) menyatakan biasa saja dengan memberi alasan bahwa isi materi sama dengan buku paket dan tokoh kartunnya kurang cocok.25% dan 64. intisari. Meskipun demikian hampir setengahnya siswa(29. Hampir seluruhnya siswa (19. “JURNAL.28 371. penjelasannya simpel. Sebagian kecil (16.99(60) = 2. sehingga dk=30.45% dan 3. pembacaan rumusnya mudah dipahami dan dimengerti.99(60) < thitung.45% dan 64.13%) ragu-ragu karena pembelajaran buku kartun sama dengan buku paket.01 dan dk = 60 diketahui ttabel = t 0. Hampir setengahnya siswa (35. Meskipun demikian.58) menyatakan kurang puas karena penjelasan di buku kartun kurang dimengerti. Namun sebagian besar (61. gambar-gambar yang diberikan dapat menghilangkan ketegangan dan sangat menyenangkan. Kriteria pengujian jika χ2 hitung ≤ χ2 tabel maka distribusi populasi data normal.45 1. HASIl ANGKeT PeMBelAjArAN KArTuN MATEMATIKA Hasil yang diperoleh hampir seluruhnya menyatakan menarik (61. Hampir setengahnya (48.23%) menyatakan sukar karena isi dan tulisan yang ditampilkan terlalu rumit dan kurang jelas.19 30 30 2.48%) menyatakan konsep-konsep yang ada di buku kartun mudah karena konsep disajikan dalam bentuk resume. dan jika χ2 hitung > χ2 tabel maka distribusi populasi tidak normal. Hampir setengahnya siswa (29.12 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes awal diperoleh thitung = 0.3 Pada taraf signifikansi 0. Selain itu sebagian kecil (6.46 Ternyata –t 0. Sebagian besar siswa (12. t 0. meskipun demikian hampir setengahnya (41.52%) siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan media kartun matematika terus dipertahankan.Untuk data pretes data tidak disajikan dalam distribusi kelompok.03 %) menyatakan ragu-ragu. Mereka memberi alasan.485) menyatakan bahwa pembelajaran dengan media kartun menyenangkan dan lebih cepat memahami materi.38 Kesimpulan Homogen 2 1.58 31 Uji perbedaan dua rata-rata tes akhir diperoleh thitung = 3.06 1.46 Ternyata thitung tidak terletak di –t 0.25 31 Kelas Kontrol 1. pembelajaran lebih menarik dan penyampaiannya lebih mudah dimengerti. karena beranggapan bahwa meskipun materinya tetap saja ada yang sulit.99(60) < thitung.29%) menyatakan sedang karena konsep matematika di buku kartun ada yang tidak dimengerti dan tergantung minat.7 31 Kelas Kontrol 34.12 1. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Sebagian kecil (3. harus diperhatikan pula sebagian kecil siswa (22.< t 0.52%) menyatakan setuju untuk terus mempertahankan pembelajaran kartun matematika.93%) menyatakan biasa saja.68 312. sedangkan postes data disajikan dalam distribusi kelompok sehingga dk=3.03%) menyatakan biasa saja dan sebagian kecil (22.38 Homogen H0 : σ = σ Hipotesis : Ha: σ ≠ σ Tabel 3: ukuran Statistika Skor Pretes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 1. bahwa pesan-pesan yang diberikan memotivasi semangat belajar.12 dkl 30 dk2 30 Ftabel 2.13%) sangat menarik terhadap pembelajaran kartun matematika. Tabel 2: uji Homogenitas Data Hasil Belajar No 1 Hasil Belajar Pretes Kelas Eksperimen dan kontrol Postes Kelas eksperimen dan kontrol Fhitung 1.325 Pada taraf signifikansi 0.90% dan 35. cara penyelesaian singkat. Tabel 4: ukuran Statistika Skor Postes No 1 2 3 4 Ukuran Statistik Rerata Simpangan Baku Varians Jumlah Data Kelas Eksperimen 49. karena pembelajaran dengan kartun matematika sangat mudah dan cepat dimengerti dan berbeda dengan belajar biasa.99(60) = 2.Oktober 2008 . sedikit menghibur/menimbulkan rasa senang dalam belajar.99 (60) Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.95 19.24%) dan (16. Sebagian besar siswa (6.38%) menyatakan puas terhadap hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kartun matematika.01 dan dk=60 diketahui ttabel = t 0.42 17. Mereka beranggapan pembelajaran dengan media kartun membuat belajar tidak membosankan.42 1.

pesan–pesan yang disampaikan memotivasi untuk giat belajar. Hampir setengahnya (34. Sebagian besar siswa (12.61%) menyatakan termotivasi dalam belajar dengan kartun matematika. 3.3%) menyatakan tidak aktif mereka beranggapan belajarnya kurang dimengerti dan siswa lebih suka melihat kartun daripada mendengarkan pembahasan. menakutkan bagi siswa dengan pembelajaran kartun matematika menjadi lebih menarik dan menyenangkan siswa.23%) menyatakan tidak termotivasi karena tergantung pada pembacanya.6%) biasa saja karena pembelajaran dengan kartun matematika sama dengan buku paket.8%) menyatakan kurang menarik. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .74% dan 32. Hampir setengahnya (33. karena lebih mudah dimengerti. KESIMPULAN Pembelajaran matematika dengan kartun matematika secara umum lebih menyenangkan daripada pembelajaran biasa sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi dalam belajar matematika. lebih menarik dan menyenangkan sehingga belajar semakin efektif dann mudah memahami konsep matematika yang dipelajari. Sebagian besar siswa (3.3%) menyatakan mudah penyampaian konsep matematika yang disampiakan gambar kartun. Hampir setengahnya (43. lebih semangat dan tidak membosankan.33% dan 50%) menyatakan aktif bahwa pembelajaran dengan kartun matematika karena mudah dimengerti.93%) menyatakan bahwa minat dalam belajar matematika dengan menggunakan media kartun matematika tinggi. mempermudah memahami konsep matematika dan siswa terdorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hampir setengahnya (3.Hampir setengahnya (35.33% dan 46. malas belajar. Sebagian besar siswa (3. tokoh kartun yang menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan sesuai perkembangan zaman dengan karakter siswa.6%) menyatakan semangat belajar tinggi dalam belajar kartun matematik. karena belajar jadi tidak jenuh. karena mereka menginginkan tokoh kartunnya yang dikenal seperti yang ada di televisi. terhibur. lebih semangar belajar dan cara belajarnya tidak membosankan. Hampir seluruhnya siswa (19. Seluruhnya siswa (67. semangat dan termotivasi dalam belajar. Siswa memberikan respon baik terhadap kartun matematika karena dapat memotivasi siswa. tokoh kartunnya memotivasi belajar.48%) menyatakan menarik mengenai tokoh-tokoh kartun matematika karena luculucu dan dapat memotivasi kepada siswa.16%) biasa saja karena tidak terlalu suka terhadap pelajaran matematika. sehingga memicu kita untuk aktif dalam belajar. Penggunaan media kartu matematika dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika. Hampir setengahnya (43. tidak bosan dan pesan-pesan kartun bermanfaat. Tokoh kartun yang disenangi siwa ialah tokoh kartun lucu. Sebagian besar (56.3%) biasa saja dan sebagian kecil (10% dan 3.97%) menyatakan senang dengan alasan lebih menarik. Siswa menjadi aktif. cara penyampaian guru diperbaiki.3% dan 6. Dari hasil wawancara dan jurnal bahwa matematika yang sebelumnya dianggap kurang menarik.67%) ragu-ragu dan (3. memberikan dorongan untuk mendapatkan nilai tinggi dan penyampaian dalam buku kartun matematika menyenangkan dan menarik. menarik.3%) suka terhadap pembelajaran kartun matematika karena menarik perhatian. suasana cukup dan lucu.22% dan 51. belajar tidak tegang. Secara khusus dapat disimpulkan: 1. Sebagian besar siswa (3. lebih menarik. sesuai perkembangan psikologi siswa.81% dan 61.29%) menyatakan setuju pembelajaran dengan pesan-pesan dalam kartun karena memotivasi. Hampir setengahnya (38.29%) menyatakan tidak cepat jenuh belajar matematika dengan kartun matematika karena merasa terhibur. Sebagian besar (12.Oktober 2008 .33% dan 53.7%) biasa saja dan hampir setengahnya (25.39%) menyatakan siswa berkeinginan untuk berhasil dalam belajar melalui pembelajaran kartun matematika karena isi kartun memotivasinya. Penggunaan media kartun matematika dalam pembelajaran matematika berpengaruh terhadap prestasi. Hampir seluruhnya (25. Setengahnya siswa (38.35% dan 61. 2. “JURNAL. Hampir setengahnya (41.23%) menyatakan setuju jika buku kartun matematika disajikan dengan warna sehingga belajar matematika semakin menyenangkan.63% dan 70. Hampir setengahnya (45.7%) ragu-ragu karena tidak mudah bersemangat dan tergantung siswa.63%) menyatakan ragu-ragu semangat tinggi jika soal matematika terjawab.93%) biasa saja dan sebagian kecil (3. Hampir seluruhnya siswa (9.9% dan 41. Sebagian kecil (9.35%) ragu-ragu karena merasa media kartun biasa saja. Sebagian kecil (19.9% dan 48.3%) ragu-ragu karena tergantung siswa itu sendiri.23%) kurang setuju.

Nana dan Rivai. Bandung: Remaja Karya Dahar.. Prini (2001).. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Jakarta: Grasindo Yousda dan Ariffin (1993). Bandung: FIP IKIP Syah.. Penggunaan Televisi dalam pengajaran. Bandung: Tarsito Sudjana.. Skripsi Purwanto. Skripsi: UPI Bandung Suprian AS. Media Pembelajaran.. Nana (1989). Revolusi Cara Belajar. Psikologi Pendidikan. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta Lainnya. Kartun sebagai Bahan Motivasi dalam Pengajaran Karangan.. Bilik Darjah.. Analisis Tingkat Penguasaan Siswa dalam Menyelesaikan Persolan Kontekstual Pada Pembelajaran Matematika. Malaysia: Makalah Maizuriah dan Madya (2001). New York: McGraw Hill Book Coy...dan Praktis untuk Mengajar Bahasa dan Kepekaan Budaya yang Tinggi: Makalah Wijaya. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Yusuf (1984).. (1957). Jeannete Vos (2001). Cece (1998). Portofolio dalam Pembelajaran IPS.. Dasar-dasar Matematika Modern untuk Guru. E. dkk(1989). Husen (2002). Semarang: IKIP Semarang Press Rusyan. Kartun Bantu Pengajaran. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Kaifa De Porter. Bandung: CV Sinar Baru Haron. Penelitian dan Satistika Pendekatan.Zaenal (1988).. Tesis. Ratna Willis (1989). Muhibbin (1995).. “JURNAL.. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Slamento (1992). (1997). Model Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa SD Melalui Fiksi Ilmiah. Bobbi. Bandung: Tarsito Sudjana (1996).. Angkasa Arsyad.(1998). Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar CBSA. Ngalim (1987). Mike (1999). Arief S.. Media Pengajaran... Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Bundowi (2002).. Bandung: Remaja Rosda Karya. UPI Wragg.. Jakarta: Rosda Karya Windayana... Pengantar kepada Guru Membantu Mengembangkan Potensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA. Bilik Darjah. Gordon Dryden.. Metode Statisika. Transport Sebagai Media Pengajaran Fisika pada pokok Bahasan Rangkaian Listrik Searah.. FPTK IKIP Bandung Surya. Bandung: Remaja Rosda Karya Ruseffendi. Bandung: CV Sinar Baru Sudjana. Hernacki.. Bandung: Remaja Rosda Karya.. Mohammed (2001). Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Tabrani. Malaysia: Makalah Maizuriah (2001). Oemar (1984). Utami.. Teknologi Komunikasi Pendidikan.. Bobbi. Jakarta: Bumi Aksara Permana.. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Metode Statistika. Yanto (2001).. Sadiman. Teori-teori Belajar. Bandung: CV Sinar Baru Suherwan (2001). Mark dan Nouri. Penelitian Pendidikan. Quanium Learning: Membiasakan Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Rineka Cipta Sudjana (1992). Malaysia: Makalah Nasution (2000). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Mohammad (1981).. Lucu. A... Teknik yang Menarik.. Bandung: Tarsito . Ahmad(1991).Oktober 2008 .DAfTAR PUSTAKA Arifin. Bandung: Tarsito .. Media Pendidikan. (2002). Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. Jakarta: Erlangga De Porter.. Belajar: Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. EO.T (1984). Jakarta: Bumi Aksara. (1995). Bandung: Kaifa Hadimiarso.(1991).. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Didaktik Asas-asas Mengajar. Sarah Siregar (2000)... Arden N. Skripsi: UPI Wasliman (2002). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. How Children Learn. Bandung: Kai fa Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990) Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka Frandsen...Azhar (2002). Perbandingan Kemampuan Siswa SD dalam Memberi Alasan Logis antara yang Memperoleh Pembelajaran Matematika Teknik Probbing dengan Cara biasa. Jakarta: Rajawali Hamalik. Bandung: PT..Reardon.

dosen cenderung menekankan aspek teoretis sehingga kurang mengeksplorasi aspek praksis secara seimbang (c. Pemikiran ini dipandang dapat memberikan ruang kepada mahasiswa untuk melakukan perbandingan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan praksis yang sering guru –mereka dan teman sejawatnya. Dari berbagai kajian tentang strategi perkuliahan maupun pelatihan untuk para praktisi. 2006. tantangannya adalah mengembangkan pendekatan perkuliahan yang dapat menyeimbangkan antara aspek teori dengan praktik serta mengintegrasikan cakupan dari P perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (cf. 2006). Untuk menunjang kegiatan Projectbased Learning perkuliahan maupun pelatihan dapat menggunakan berbagai sumber/resources termasuk diantaranya adalah pengamatan lapangan (Suratno et al. implementasi. Namun demikian. 2006).Pengembangan Project-Based Learning dalam Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran di PGSD Bumi Siliwangi UPI Yahya Sudarya Abstrak Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa-guru (studying while teaching) memerlukan pendekatan yang dapat mengintegrasikan antara aspek teoritis dan praktis. mahasiswa mengembangkan suatu projek baik secara individu maupun berkelompok untuk menghasilkan suatu produk –misalnya portofolio (Azam & Iqbal. Pengembangan pendekatan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran menekankan pada penyediaan kesempatan kepada mahasiswa yang sudah mengajar untuk mengeksplorasi aspek teoretis sekaligus merefleksikan praksis yang selama ini mereka lakukan. Suratno et al. 2003) yang hasilnya kemudian disajikan dan direvieu. Beveridge & Archer. 2006) yang sesuai dengan karakteristik dari mahasiswaguru tersebut. Oleh karena itu. Dalam pendekatan Project-based Learning.. salah satu pendekatan yang mendekati konsepsi tersebut adalah pendekatan projek atau dikenal sebagai Project-based Learning (Bhattacharya et al.. 2007) serta menumbuhkan tingkat pencapaian dan kinerja mahasiswa (Beveridge & Archer. 2008).Oktober 2008 . Kata Kunci: project-based learning. (2007) menyatakan bahwa Project based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivisme..lakukan di lapangan (Jyrhama et al. Penelitian ini mencoba menggali aspek dari pengembangan perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dengan pendekatan Project-based Learning beserta efektivitas dan pengaruhnya terhadap capaian mahasiswa-guru. mengeksplorasi khazanah teoretis. 2008). Untuk mendukung aktivitas tersebut maka desain perkuliahan Evaluasi Pembelajaran dibagi ke dalam empat fase (persiapan. Mempertimbangkan karakteristik mahasiswa tersebut maka sifat dari perkuliahan Evaluasi Pembelajaran adalah dapat mengungkapkan permasalahan dan kesenjangan dari integrasi teori dengan praktik evaluasi pembelajaran (Brattacharya et al. 2003). Karakteristik dari mahasiswa pada program multimoda pendidikan guru seperti itu adalah para mahasiswa -yang notabene adalah guru. beberapa dosen belum banyak yang mengoptimalkan potensi dari mahasiswa-guru tersebut. 2006). mengindentifikasi ragam praktik evaluasi serta merefleksikannya. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .f Azam & Iqbal. dan penutup) beserta desain evaluasi perkuliahan. inquiry-riset. berdasarkan pengamatan dan pengalaman terdahulu. 2006). seminar. Bhattacharya et al. integrated studies dan refleksi yang menekankan pada aspek kajian teoretis dan aplikasinya. 2008) maupun refleksi kegiatan (Clarke. problem solving. evaluasi pembelajaran lATAr BelAKANG erkuliahan Evaluasi Pembelajaran tahun akademik 2008/2009 melayani mahasiswa-guru PGSD –yaitu mahasiswa yang sudah mengajar atau guru yang sedang melanjutkan studi (studying while teaching)...pada tataran tertentu telah memahami dasar teoritis dan telah melakukan praktis evaluasi pembelajaran (Jyrhama et al. Informasi tersebut mendasari “JURNAL. Pendekatan Project-based Learning dikembangkan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-guru untuk menentukan permasalahan evaluasi pembelajaran. Dalam pandangan mahasiswa-guru. 2006) atau jurnal (Clarke. Hal ini berarti para mahasiswa tidak terlalu asing lagi dengan materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang akan diberikan. Penerapan Project-based Learning dapat memfasilitasi tingkat kemandirian partisipan (Suratno et al.

Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 4. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan.. Dalam melakukan riset.. b. 4. Dosen a. Dalam perkembangan risetnya. Tiap kelompok mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi projek mereka. DeSAIN PrOGrAM PeMBelAjArAN Desain program perkuliahan Evaluasi Pembelajaran untuk mahasiswa PGSD Bumi Siliwangi UPI tahun akademik 2008/2009 dikembangkan berdasarkan prinsip Project-based Learning. Fokus permasalahan berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) (teori dan praktik). Mahasiswa dikelompokan ke dalam lima kelompok. c. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam penyusunan laporan riset projek “JURNAL. 3. 2008) untuk membantu aktivitas eksplorasi projek mahasiswa.. Fase persiapan: 1. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . mahasiswa melakukan bimbingan terprogram untuk penyusunan laporan kegiatan projek. Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? 5. d. mahasiswa dapat menggunakan model pemecahan masalah (Bhattacharya et al. Memberikan penjelasan tentang The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Dalam melakukan pemecahan masalah. 2008) d. Memfasilitasi mahasiswa memahami ragam teori dan praktik evaluasi pembelajaran. Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? TujuAN KeGIATAN Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan pendekatan Project-based Learning pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. b. 2006). Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 2. b. Dosen a. Mengembangkan instrumen uji pengembangan pendekatan Project-based Learning. 2. 2.. mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengkomparasikan dengan hasil studi teoritis sehingga mahasiswa dapat menjelaskan ragam praksis yang terjadi serta kaitannya dengan rujukan teoretis tertentu. Meningkatan kualitas perkuliahan Evaluasi Pembelajaran yang tercermin baik dari segi penyelenggaraan maupun pencapaian nilai mahasiswa. Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? 3. menganalisis. Berdasarkan deskripsi di atas. Memberikan perkuliahan tentang teori dan praktik evaluasi pembelajaran b. c. 2. mahasiswa dapat menggunakana pendekatan The Big 6 in Research dan Inquiry Cycles (Suratno et al. Melalui pendekatan ini keterkaitan antara teori dari buku teks dengan praktek di lapangan dari evaluasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa (sebagai guru) dapat terwadahi. Melakukan riset untuk memecahkan permasalahan.pengembangan desain perkuliahan Project-based Learning dimana mahasiswa-guru tersebut mengidentifikasi projek tentang Evaluasi Pembelajaran dan hasil pengembangan ini diukur untuk melihat efektivitas serta pengaruhnya terhadap capaian perkuliahan mahasiswa. c. Memberikan penjelasan tentang model pemecahan masalah. Mengembangkan strategi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran (Project-based Learning). Kegiatan perkuliahan dibagi ke dalam beberapa fase yang ditujukan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk merencanakan. mengimplementasi dan mendiseminasikan projek yang mereka kembangkan. 1. Fase Implementasi: 1. c. strategi riset dan pemecahan masalah serta pengembangan laporan.Oktober 2008 . dimulai dari identifikasi permasalahan. Dari fase-fase tersebut diharapkan mahasiswa dapat memperkaya wawasan teoretis dan empiris berdasarkan hasil pengembangan diri –misalnya melalui refleksi terhadap praktik (Blaise et al. 2006) e. Pengembangan Pendekatan Problem-based Learning a. Mengembangkan perencanaan projek. Mahasiswa a. Dari tujuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. b. Melibatkan satu anggota kelompok mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian. serta merefleksikan teori dan praktik evaluasi pembelajaran. 2006) dan pengembangan sejawatnya (Beveridge & Archer. Mahasiswa a. Melalui strategi ini juga diharapkan dapat terbentuk prototip komunitas belajar praktisi guru yang melakukan kajian ilmiah tentang apa yang mereka lakukan terutama dalam hal evaluasi pembelajaran. penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan berikut terkait dengan implementasi pengembangan PBL: 1.

Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Mengidentifikasi Permasalahan Evaluasi.00 33. yaitu: (1) Bagaimanakah efektivitas Project based Learning dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? (2) Bagaimanakah tingkat kemampuan mengidentifikasi masalah mahasiswa terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (3) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek terkait dengan Evaluasi Pembelajaran? (4) Bagaimanakah tingkat kemampuan mahasiswa dalam menganalisis dan merefleksikan keterkaitan antara teori dengan praktik Evaluasi Pembelajaran? (5) Bagaimanakah persepsi mahasiswa terhadap penerapan PBL dalam perkuliahan Evaluasi Pembelajaran? 1. Fase Seminar: 1. Efektivitas PBL dalam perkuliahan Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data di atas. (3) menata soal. Fase Penutup 1. pembimbingan HASIL PENELITIAN Hasil dan analisis data yang terkumpul berdasar kepada catatan dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di dalam kelas maupun di lapangan diorganisir secara cermat untuk menjawab persoalan yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian. b. “JURNAL. Dosen Memberikan review terhadap materi perkuliahan Evaluasi Pembelajaran. Dosen a. 2. Mahasiswa Memberikan umpan balik dan masukan terhadap jalannya perkuliahan serta pendekatan Project-based Learning yang digunakan. saran dan rekomendasi d. wawancara) • Perekrutan tim penelitian (mahasiswa) • Pembinaan tim peneliti b. menyampaikan saran dan rekomendasi 2. observasi) Fase II: Implementasi Projek a. Informasi tentang perkuliahan c.10 Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif.Oktober 2008 Fase IV: Penutup Review perkuliahan . input. (4) menetapkan skor. Pengembangan instrument ( tes.. 2. fasilitasi-moderasi presentasi dan diskusi b. Fase I: Persiapan Projek Identifikasi projek – mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan evaluasi pembelajaran di sekolah (SD) Fase II: Implementasi Projek a. Atas dasar tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang selanjutnya diartikan bahwa PBL terlaksana secara efektif. penulis menganalisisnya untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dan posttest. Memberikan umpan balik. Pengembangan strategi perkuliahan (Problembased Learning) b. Tabel 1: Overview Desain Problem-based Learning Mahasiswa Dosen 2. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Desain Evaluasi Program a. Riset projek – mahasiswa melakukan kajian teoretis dan empiris dari kegiatan perkuliahan dan fenomena di lapangan c. 2006). Mahasiswa a. sebagai berikut: Komponen Pemahaman teori S k o r Skor rata. Pelaksanaan • Monitoring tiap fase • Penilaian Diri c. Mahasiswa saling mendiskusikan temuan mereka serta merefleksikan terhadap praksis yang mereka lakukan sehari-hari (Blaise et al. diskusi – mahasiswa mendiskusikan hasil projek penelitian Fase IV Penutup Feedback perkuliahan Fase I: Persiapan Projek a. ( 5) reproduksi tes dan (6) analisa empiris terhadap suatu tes hasil belajar. Perencanaan projek Mahasiswa melakukan penyusunan rencana projek b.c. Bimbingan dan laporan – mahasiwa progress riset kepada dosen Fase III: Seminar Projek a. Fase III: Seminar Projek a. presentasi projek Mahasiswa menyajikan temuan penelitian b. Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis untuk mengetahui besaran perbandingan antara nilai pretest dengan nilai yang dicapai dalam posttest.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 63. Pelaporan observasi. wawancara. hal tersebut ditunjang oleh indicator-indikator yang menunjukkan meningkatnya pemahaman teori tentang : (1) menyusun lay out (2) menulis soal. Memandu dan memfasilitasi kegiatan presentasi dan diskusi b.55 18. Sekelompok mahasiswa mempresentasikan temuan dari projeknya dan kelompok lain menanggapi.45 51. Persiapan • Pengembangan instrument (tes. Perkuliahan b.

2006. Dole. Bhattacharya. November 27-30. UPI Pres. Beveridge. Use of portfolios for assessing practice teaching of prospective science teachers.. Auckland. K. 2007. J. MacIntyre. Bandung Suratno. S. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Merencanakan Proyek Evaluasi Hasil Belajar Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. Adelaide. 2006. A.85 proyek Komponen Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. Rahmat. Persepsi mahasiswa terhadap PBL Berdasarkan pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa terjadi perubahan kea rah positif dalam hal persepsi mahasiswa terhadap PBL sebelum dan sesuadah melaksanakan kegiatan di lapangan.Komponen Identifikasi masalah S k o r Skor rata. T. Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar IPS.10 Atas dasar tersebut penulis memaknai bahwa peningkatan capaian prestasi menunjukkan bahwa PBL terlaksana secara efektif. 2006. 2006. J. M. Project-based Learning. Nov 29-Dec 3. 5. 4. Skor Skor rata. 2006. 2006. Tingkat Kemampuan Mahasiswa dalam Menganalisis dan Merefleksikan Keterkaitan antara Teori dengan Praktik Evaluasi Berdasarkan hasil pengolahan data penulis menganalisis dan memaknai bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam merencanakan proyek evaluasi. G.15 5. & Brears.85 proyek Komponen “JURNAL. dkk. 2 Februari 2008 Yang ditunjang dengan indicator tentang meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan evaluasi hasil belajar. PBL Approach: A model for integrated curriculum. 3. 2003. DAfTAR PUSTAKA Azam. November 27-30.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 65 44. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. L. & Desiree.60 7. Adelaide. Faulkner.Skor ratagain ideal rata pre test rata postest 75. Archer. Paper presented at NZAARE/AARE Conference. 2006. 2006. Makalah disajikan pada kegiatan Semiloka Program Adopt A Teacher. M. Reflection: Journal and reflective questions –A strategy for professional learning. Ryan. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. Andira. Latham. A. Malone. S. Blaise. November 27-30. Motivational implications of project-based learning for the preparation of social workers. dkk. S k o r Skor rata.. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. M. Bandung Sapriya. M.15 12. Clarke. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. Teacher Institute Sampoerna Foundationa Jakarta. 2006. J. & Lang.50 54.30 60. Iqbal. Cece. November 27-30. Rethinking reflective journals in teacher education.00 47. H.Oktober 2008 .Skor ratagain ideal rata pre test rata postest Merencanakan 60 45. Adelaide. 2003.30 58. B. Dharma. Hal tersebut menunjukkan bahwa PBL efektif untuk dilaksanakan dalam meningkatkan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar. Adelaide. 2006. S. Paper presented at the annual meeting of the Australian Association for Research in Education. sebelum dan sesudah melaksanakan PBL ternyata mengalami peningkatan. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar.

mengevaluasi (evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya. Mengapa konstruktivisme memandang penting alternative conception dan mengapa ACM begitu mendunia terutama dalam periode 1980-1990an? Setidaknya terdapat tujuh klaim utama yang mendasari ACM (Wandersee et al. sumber bacaan dan guru.Konstruktivisme. terus dipergunakan siswa dan cenderung sukar diubah. Fenomena penelitian ACM sebenarnya diilhami dari penelitian yang dilakukan oleh Piaget (1920-an) berkenaan dengan pemahaman anak mengenai dunia/ alam di sekitarnya melalui metode wawancara klinis serta disertasi Driver yang mencoba memasukannya ke dalam konteks kelas (Gunstone. pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan konseptual. guru berperan dalam menghubungkan (linking). seringkali pengetahuan awal dan pandangan siswa bersifat miskonsepsi/salah pengertian ataupun berupa alternative conception/pengertian alternatif. (2) sifatnya laten. bersifat kuantitatif dan menggunakan inferensi statistik. Wandersee. implikasi perspektif konstruktivisme dalam penelitian Constructivism deals with questions of knowledge-what knowledge is and where it comes from…I prefer to call it a theory of knowing rather than a theory of knowledge. Gunstone. Konsepsi Alternatif dan Perubahan Konseptual dalam Pendidikan IPA Tatang Suratno Abstrak Konstruktivisme memandang bahwa pembelajaran merupakan proses membangun pengetahuan yang dilakukan individu. Oleh karena itu. Siswa membawa berbagai konsepsi mengenai obyek dan fenomena alam dan seringkali tidak sesuai dengan konsep ilmiah. dikarenakan: (1) konsepsinya berbeda dengan konsep ilmiah. 1994.. 1992). sementara siswa mengenali (recognise). 1985). Dalam merespon pandangan ini. Tulisan ini membahas implikasi perspektif konstruktivisme dan fenomena riset alternative conception movement (ACM) yang mendasari pandangan pembelajaran sebagai membangun pengetahuan melalui proses perubahan konseptual. Akan tetapi. dan (3) sukar dideteksi oleh guru (Osborne & Freyberg. 1994) membagi dua macam penelitian mengenai konsepsi alternatif yaitu kajian nomothetic (penyimpangan dari konsep standar) dan kajian idiographic (pemahaman mengenai obyek maupun peristiwa). 2002a). K Konstruktivisme memandang penting alternative conception yang dimiliki dan diyakini siswa. masyarakat. children’ science/view/understanding.penghambat bagi pembelajar dan rujukan bagi guru. Biasanya mengkaji pandangan siswa tentang obyek dan fenomena serta dianalisis berdasarkan terminologi yang siswa gunakan.Oktober 2008 . Metode yang diadopsi adalah metode yang biasa digunakan oleh antropolog. perubahan konseptual KONSTRUKTIVISME DAN fENOMENA RISET ALTeRNATive CONCePTiON MOveMeNT onstruktivisme memandang bahwa pengetahuan individu merupakan hasil dari proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam sistem kognisi individu. konsepsi alternatif. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara apa yang sedang diajarkan dengan apa yang sudah diketahui. dalam pembelajaran dan pengajaran sains (Osborne & Freyberg.. Dalam pembelajaran. 2002b). memonitor (monitoring) dan mengarahkan (directing) proses membangun pengetahuan. 1985). Alternative conception dipandang sebagai faktor penting . Driver & Easley (1978. Konstruktivisme memandang penting faktor pengalaman siswa yang berupa pengetahuan dan keyakinan yang dibawa siswa ke dalam pembelajaran yang cenderung membentuk miskonsepsi/alternative conception. Guru sebaiknya memiliki pengetahuan mengenai konsepsi siswa. pandangan dan keyakinan peserta didik serta pengaruh pendidik (Tobin et al. Kajian nomothetic memunculkan beragam istilah seperti naïve conception ataupun istilah yang lazim dikenal sebagai miskonsepsi. memperluas (extend). Biasanya kajian nomothetic menggunakan tes tertulis. bersifat naturalistik serta subyeknya sedikit tetapi mendalam. “JURNAL. commonsense theories ataupun yang dikenal sebagai alternative conception. (von Glasersfeld. memadukan (integrate). Sumber alternative conception bisa berasal dari diri siswa. pendidikan sains adalah merebaknya penelitian mengenai alternative conception atau lazim dikenal sebagai alternative conception movement (ACM). Kajian idiographic memunculkan istilah pupil’s ideas. konstruktivisme memandangnya sebagai suatu proses sosial [wacana] membangun pengetahuan [yang ilmiah] yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal. 1994) meliputi: 1. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Kata Kunci: konstuktivisme. Penggunaan istilah alternative conception ketimbang miskonsepsi pada tema penelitian konseptual (conceptual research) ini dilandasi keluasan istilah tersebut ketimbang istilah miskonsepsi (bisa disimak pada bagian kajian nomothetic dan idiographic). Dalam hal ini.

1997).. penggunaan bahasa sehari-hari. kemampuan dan latar belakang budaya. Ini memerlukan kajian mengenai bagaimana siswa berpikir. 3. Siswa akan mengubah konsepsinya bila siswa merasa konsepsi yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk merespon fenomena atau pengalaman baru. Diperlukan strategi perubahan konseptual. Rumusan yang dikemukakan oleh Gunstone (1994) sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Postner et al. intelligible.2. apakah seluruh konsepsi awal siswa dirubah secara keseluruhan? Mungkin saja. Akomodasi merupakan proses konflik kognitif karena skema dengan fenomenanya berbeda (Piaget). akan tetapi pada dasarnya terdapat dua kondisi umum dari perubahan konsep yaitu mengganti [bersifat radikal/ revolusioner] ataupun menambah [bisa juga mengurangi] dengan konsepsi lain yang dianggap tepat konteksnya [evolusioner]. kegiatan diskusi kelompok dapat membantu seseorang untuk memahami dan mendalami suatu prinsip/konsep yang diperoleh orang tersebut dari interaksinya dengan sejawatnya. terutama bila terjadi alternative conception. 1994). Makna dari suatu konteks di sini adalah dari segi penerapan konsep. Vygotsky menekankan faktor bahasa dan interaksi kelompok mempengaruhi proses membangun pengetahuan individu. faktor-faktor apa yang mendasarinya dan bagaimana kaitannya dengan proses belajar di kelas. usia. Banyak strategi maupun model pengajaran yang telah dirancang oleh para pakar “JURNAL. (1982) berpandangan lebih luas dimana akomodasi merupakan proses perubahan konseptual dikarenakan konsepsi siswa tidak sesuai dengan fenomena yang baru. Pendekatan perubahan konseptual melalui strategi konflik kognitif. Oleh karena itu. IMPlIKASI DAlAM STrATeGI PeNGAjArAN SAINS Inti dari implikasi hakikat perubahan konseptual terhadap strategi pengajaran sains adalah membantu siswa memahami konsep sains. 7. 1997).. Dalam proses perubahan konseptual. Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful) dalam pengembangan penelitian atau penemuan yang baru. karakteristik dari perubahan konsep adalah bersifat kontekstual dan tidak stabil (Gunstone. berdasarkan gender. Bila mengacu pada pandangan konstruktivisme psikologi personal. Oleh karena itu. Siswa. terutama metakognisi. Namun demikian. siswa menggunakan konsepsinya yang telah ada untuk merespon fenomena yang baru. Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible). Menurut perspektif konstruktivisme sosiokultural. 1984). asimilasi terjadi karena pengetahuan awal siswa sejalan/berhubungan dengan fenomena dan belum terjadi perubahan skema/konflik kognitif (Piaget) ataupun perubahan konseptual (Posner et al. kemudian memutuskan (deciding) apakah perlu membangun ulang (reconstructing) atau tidak konsepsi dan keyakinan tersebut dengan yang baru (Gunstone. Negosiasi pemahaman sangat mempengaruhi zona proksimal individu. Sementera itu. terdapat tiga proses kunci yang dilakukan individu dalam membangun pengetahuan yaitu. Gunstone (1994) mendefinisikan perubahan konseptual”…the abandonment of one conception and the acceptance of another”.Oktober 2008 . 5. asimilasi akomodasi dan ekuilibrium (Piaget. Piaget dan Posner et al. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 . Guru pun memiliki alternative conception sehingga terjadi salah tafsir dalam memahami konsep sains. dimana ketidakpuasan dan fruitful merupakan faktor penting dalam proses perubahan konseptual. Terdapat empat syarat yang menjembatani proses akomodasi. HAKIKAT PROSES PERUBAHAN KONSEPTUAL Inti pembelajaran dalam perpektif konstruktivisme melibatkan proses perubahan konseptual. penggunaan analogi serta strategi metakognisi sepertinya sangat menjanjikan. konteksnya berbeda. Melacak dari mana asalnya alternative conception sangatlah sulit. Artinya. Melalui asimilasi. Diperlukan kajian sejarah sains bagi siswa. 4. Akan tetapi. Perubahan konsep yang bersifat jangka panjang dan stabil baru bisa tercapai bila siswa mengenali hal-hal yang relevan dan sifat umum dari konsep ilmiah secara kontekstual. terutama secara empiris. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsepsi yang telah ada. Faktor lain yang mempengaruhi proses perubahan konseptual adalah faktor kontekstual. plausible dan fruitful. Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligible). Namun gejala alternative conception yang terjadi di berbagai populasi dan budaya mencerminkan adanya kesamaan pengalaman budaya siswa dalam hal observasi alam. Ketidakpuasan dan fruitful pada dasarnya secara psikologis sangatlah sulit dan bergantung kognisi individu. dapat memecahkan permasalahan terdahulu serta konsisten dengan teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. (1982) pada intinya. (1982) memiliki konsepsi yang agak berbeda terutama dalam konsepsi akomodasi. Sementara Posner et al. suatu rentang pemahaman dalam sistem kognisi individu. 4. cenderung membawa alternative conception yang berasal dari pengalaman pribadi maupun hasil interaksi sosial. Dalam proses perubahan konseptual terdapat beberapa proses meliputi proses mengenali (recognizing). Menurut Piaget dan Posner et al. istilah perubahan konseptual penulis definisikan sebagai suatu kondisi dimana siswa memegang konsepsi serta keyakinan yang siswa miliki dimana keduanya [konsepsi dan keyakinan] bertentangan dengan apa yang sedang dipelajari sehingga siswa memutuskan untuk merubahnya. mengevaluasi (evaluating) konsepsi dan keyakinan. 3. 6. pengaruh media massa serta pengalaman belajar di kelas. yaitu: 1. beberapa hal perlu dikaji lebih lanjut terutama berkenaan dengan strategi siswa merubah konsep yang sebenarnya maupun strategi metakognisi. siswa bisa saja menerima dan memahami konsep ilmiah pada konteks tertentu. tetapi bisa saja tetap menggunakan konsepsi awalnya [bersifat miskonsepsi] pada konteks lain. (1982) memandang proses perubahan konseptual diawali oleh proses asimilasi kemudian akomodasi. Terdapat kesamaan antara penjelasan saintis yang tergugurkan teorinya dengan alternative conception siswa. 2. Kemudian. Alternative conception sangat sulit di’berantas’ dan sifatnya beragam. pada umumnya proses perubahan konseptual cenderung evolusi ketimbang revolusi (Gunstone. Wadsworth.. Posner et al. 1982). rasional dan dapat memecahkan permasalahan atau fenomena yang baru. konsepnya sama tetapi contoh kasusnya berbeda. (1982): ketidakpuasan terhadap konsepsi yang ada.

Tobin. Piaget’s Cognitive and Affective Development. Alexandria VA: Oak Brook. In B. and Freyberg. Sequence.. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick_Gunstone@Education. deskripsi. Richard F.. Richard F. (1997). Tippins.. Accomodation of a Scientific Conception: Toward a Theory of Conceptual Change.. Learning in Science: The Implication of Children’s Science. 88.au] to Tatang Suratno [suratno169@hotmail. Gunstone.Oktober 2008 . John Wiley and Sons. (1987). Questions and Answers about Radical Constructivism. Posner. James H. Anderson. A. Monash University. George J. Proses Siswa Berpikir Strategi Pengajaran DAfTAR PUSTAKA Gunstone. siswa mulai diajak untuk memikirkan fenomena yang akan diajarkan dalam. and Novak Joseph D. von Glasersfeld. pada dasarnya. Dalam suatu learning community yang ideal. mengajukan pertanyaan dan merangsang penjelasan anak. Alejandro Jose. menampakkan kesadaran dan motivasi untuk belajar. Di kelas. Aplikasi dan Integrasi Memahami prinsip dan teori ilmiah. Science Education Vol...) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education. Metacognition and Conceptual Change.com]. Hewson. G.. Strike. memfasilitasi observasi. No. Gunstone. Auckland: Heinemann. tahap penyajian konsep dan tahap penerapan dan integrasi (Tabel 1). and Mitchell.) Strategic Teaching and Learning: Cognitive Instruction in the Content Areas. Namun. mencoba menangani kesulitan belajar. 2. Research on Alternative Conception in Science. The Importance of Specific Content in the Enhancement of Metacognition. Deborah J. Joel J. The National Teacher Association. Constructivist Learning and the Teaching of Science. (1982). Gunstone. Carr (Ed. diskusi. Roger. mendiskusikan penjelasan tiap siswa serta diarahkan untuk menyadari keterbatasan alternative conception yang mereka miliki. dan mencoba menginternalisasi konsep inti yang tidak terlalu sulit. New York: MacMillan. Wandersee.edu. Ogle. siswa menerapkan konsep ke dalam konteks yang berbeda serta mengintegrasikan konsep yang telah mereka pahami. menuliskan peristiwa dan objek sehari-hari. Pada tahap persiapan. Kenneth. Charles W.edu. Ian J. (1984).pendidikan sains. guru menjelaskan konsep-konsep dasar. Pada tahap penyajian. Strategic Teaching in Science. The Content of Science: A Constructivist Approach to its Teaching and Learning. “JURNAL. Barry J. William A.. 1987) yaitu tahap persiapan perubahan konseptual.. tetapi juga aktif dalam melatih keterampilan inkuiri seperti mengemukakan penjelasan. Dalam menerapkan strategi perubahan konseptual. (Diadopsi dari Anderson. Pearsall Scope. In Marcia K. Gabel (Ed.com]. London: The Falmer Press.. Monash University. Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick¬_Gunstone@ Education.. dari berbagai bukti dari praktikum dan dari hasil komunikasi dengan sesama siswa maupun guru. Faculty of Science Education. and Coordination of Secondary School Science: Relevan Research Volume 2. dan memahami antar hubungan antara konsep ilmiah dengan konsepsi yang dimilikinya. Menekankan prinsip dan teori kunci. and E. S. Constructivism and Learning Research in Science Education. Pengenalan Konsep IPA Berupaya mencapai pemahaman awal tentang konsep ilmiah.. Richard Gunstone. New York: MacMillan. (2002b). Richard F. Wadsworh. Faculty of Science Education.edu. Research on Instructional Strategies for Teaching Science. F. Tabel 1: Planning Guide for Teaching fir Conceptual Change. and Gertzog. Palinscar. (1985). tidak hanya aktif dalam hal mempelajari fakta.. (1994). membandingkan miskonsepsi dan konsepsi ilmiah. (2002a). 1987). Mintzes. Ernst (1992). Jones. S. Pada tahap penerapan dan integrasi. Osborne. In Dorothy L. Faculty of Science Education.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail. and Gallard. In Peter Fensham. Peter W. Secara eksplisit menjelaskan keterkaitan hubungan antar konsep dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. prediksi dan mengontrol obyek dan peristiwa alamiah. monash. Menyediakan advance organizers. 1987) Antisipasi Persiapan Siswa mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap proses pembelajaran. 211-227. D.. guru sebaiknya memandang kelas sebagai suatu learning community (Anderson. mengenalkan konsepsi melalui struktur tugas dan aktivitas yang bermakna.au] to Tatang Suratno [suratno169@ hotmail.com]. Peter. sintaktikal dari strategi ini meliputi tiga tahapan utama (Anderson. siswa belajar dari berbagai sumber termasuk buku teks maupun guru.monash.) Handbook of Research on Science Teaching and Learning: A Project of the National Science Teacher Education.. Richard White (Ed). Book Chapter sent by Richard Gunstone [Dick-_Gunstone@Education. In Dorothy L. Pendidikan Dasar “ Nomor: 10 .. Gabel (Ed. monash. (1994). Kenneth A. (1994).. memikirkan fenomena alam dan penjelasannya dengan menggunakan bahasa sendiri. Richard F.. Monash University. penalaran kreatif.