P. 1
Bismillah

Bismillah

|Views: 33|Likes:
Published by catur_dydra

More info:

Published by: catur_dydra on Feb 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2011

pdf

text

original

Bismillah, Artikel ini saya muat kembali dalam rangka menyegarkan ingatan kita kepada Rasululloh SAW, sosok

dan pribadi terbaik sepanjang masa yang pernah ada dalam peradaban manusia. Semoga kita bisa meneladani akhlak mulia beliau, walau hanya ’seujung kuku’. Sudah fitrah manusia untuk selalu meniru orang lain. Seorang bayi bisa berbicara, mengucapkan kata setelah dia melihat dan menirukan dari wajah-wajah yang dia lihat setiap hari, setiap saat. Kita pun, selaku manusia dewasa juga meniru orang lain, sebagaimana kang Ibing ucapkan, kita akan meniru orang tua kita untuk menikah, punya anak, punya rumah, dst dst. Rasululloh SAW sendiri mengajarkan dan menyebarkan Islam serta hanya ‘mengijinkan’ amal perbuatan yang telah beliau contohkan. Artinya, umat Islam haruslah MENIRU Suri Tauladan (Uswatun Hasanah) mereka terutama dalam beribadah dan hidup, karena contoh dari beliau-lah yang paling tepat dan afdhol. Hal ini sudah dinyatakan di Al Qur’an, Al Ahzab(33):21,“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Melakukan ibadah selain yang dicontohkan beliau akan diancam dengan hukuman di neraka, karena sifatnya yang bid’ah. Sementara untuk beberapa hal dalam kehidupan (duniawi), menurut pendapat pribadi saya, tidak mencontoh beliau tidak mengapa selama tidak bertentangan. Antara lelaki dan perempuan, saya berpendapat perempuanlah yang sering meniru. Tidak usah repot2, coba anda lihat tayangan iklan di tv, koran, atau media lain. Saya yakin mayoritas tayangan iklan ditujukan untuk kaum hawa. Kosmetik, busana, potongan harga, dst dst yang diperagakan oleh model atau bintang film atau artis, akan membujuk kaum hawa untuk menyisihkan sebagian harta mereka dan membeli produk tersebut demi agar mereka MIRIP dengan idola mereka itu. Sesungguhnya, Islam tidaklah melarang tiru meniru ini, selama dalam koridor yang baik, tidak bertentangan dengan agama. Rasululloh SAW beserta keluarga beliau sendiri sudah memberikan banyak contoh yang baik untuk kehidupan sehari-hari. Hidup sederhana, tidak berlebihan, bisa menjadi manfaat (jalan kebaikan) bagi manusia (+alam) sekitar, dst dst. Semestinya hal seperti inilah yang ditiru dan dipraktekkan oleh kaum Islam. Akan tetapi, kita (kaum muslim) yang hidup di alam modern ini, telah dijadikan sasaran ‘tembak’ yang empuk oleh kaum Nasrani dan Yahudi. Beribu cara dilakukan untuk membuat kita berpaling dari sebaik-baik contoh yang semestinya kita ikuti, menjadi domba dan penganut serta peniru yang setia dari contoh kaum Nasrani dan Yahudi. Tidak heran, karena jaman sekarang merupakan masa perang pemikiran (ghazwul fikri).

Betapa banyak kaum muslimah yang telah menutup auratnya kemudian menanggalkan penutup auratnya, demi mengejar karir atau hal2 yang bersifat duniawi lainnya. Seorang lelaki minum minuman keras di sebuah pesta demi menghormati tuan rumah. Anak membantah dan melawan orang tuanya karena mencontoh tayangan televisi, yang memperlihatkan adegan seorang anak membangkang terhadap perintah orang tuanya. Masih banyak hal lain yang diciptakan Nasrani dan Yahudi demi membuat kita semakin jauh dari contoh yang Islami. Tidaklah heran Rasululloh SAW pernah bersabda yang intinya bahwa kelak umat beliau akan meniru perbuatan-perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani. Beliau bahkan mengancam bahwa barang siapa umat beliau yang meniru perbuatan-perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani berarti umat beliau telah keluar dari naungan beliau dan menjadi bagian kaum Yahudi dan Nasrani. “Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai seandai mereka masuk ke lubang dhabb1 niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah apakah mereka yg dimaksud itu adl Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”” (HR Bukhari) Masya ALLOH…sedemikian keras ancaman Rasululloh SAW, demi umatnya tetap menjadi umat terbaik dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif yang diajarkan musuh-musuh Islam. Mari kita tengok diri kita sekarang, apakah kita sudah mencontoh cara hidup Rasululloh SAW? Tentunya mencontoh bukan berarti mencontoh begitu saja mentah-mentah. Semuanya mesti didasarkan argumen dan logika juga. Sebagai contoh, kita di Indonesia (menurut saya) tidak perlu menggunakan gamis sebagai baju sehari-hari, karena lingkungan Indonesia tidaklah sama. Namun, untuk urusan JILBAB, INI JELAS2 HARUS DILAKSANAKAN KARENA SUDAH TERCANTUM DI AL QUR’AN, bukan sekedar budaya. Saya mengingatkan diri saya pribadi dan mengajak rekan2 muslim semua utk mulai mencermati pola hidup kita, apakah sudah sesuai dengan contoh dari Rasululloh SAW. Silakan memberi komentar dan menuliskan contoh kehidupan yang Islami, lalu sedikit demi sedikit kita mulai praktikkan di kehidupan sehari-hari. Catatan: saya sudah pernah menuliskan beberapa contoh adab yang diberikan Rasululloh SAW. Silakan cek di sini untuk contoh berpakaian dan sini untuk contoh makan Rasululloh SAW. Berbagi artikel ini2260 Telah ada (1) komentar

October 25, 2008

Maksud Hati Ingin ‘Mencontoh’ Rasululloh SAW, Tapi Ternyata Salah
Masuk Kategori: HOT NEWS, Ensiklopedia Islam, Seri Kesalahan2, Kisah Nabi dan Rasul

Bismillah, Sebagaimana diketahui bersama, baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita seorang ‘kiai’ (berusia 40 tahun lebih) yang menikahi seorang ANAK perempuan berusia 11 tahun (di beberapa sumber disebutkan berumur 12 tahun). Sang ‘kiai’ juga kemudian menikahi beberapa ANAK yang berusia lebih muda. Sang ‘kiai’ mengatakan bahwa tindakannya ini diperbolehkan oleh agama (Islam) bla bla bla…dan ada ‘contoh’ dari Rasululloh SAW yg menikahi Aisyah yg berumur 7 tahun bla bla bla… Pertanyaannya, apakah benar Islam (notabene Rasululloh SAW) mengajarkan hal seperti itu? Baiklah, mari kita lihat dan tinjau sejenak tentang ‘isu’ (hoax?) Rasululloh SAW menikahi Aisyah dalam usia 7 tahun tersebut. Selama hampir 20 tahun, ‘kisah’ kehidupan Rasululloh SAW yg menikahi Aisyah yg (konon) berusia 7 tahun, tertanam dalam benak saya. Dan selama 5-6 tahun terakhir, ketika saya mulai bertobat dan (lebih) banyak belajar (lagi) tentang agama (Islam dan terkadang Kristen), barulah saya menyadari bahwa isu tersebut SERINGKALI dijadikan senjata oleh para orientalis dan musuh-musuh Islam, dengan menyatakan bahwa Rasululloh SAW adalah seorang (masya ALLOH) pedofilia (penyuka anak-anak kecil) bla bla bla… Hanya saja, saya tidak bisa memberikan argumen yg tepat untuk membantah hal-hal tersebut, hingga beberapa waktu lalu saya sempat temukan sebuah artikel yang mengungkap ‘kebohongan’ Rasululloh SAW menikahi anak di bawah umur. Saat itu saya sudah berniat untuk memuatnya di blog ini, hanya saja artikelnya mendadak hilang. Walhasil, saya mesti bongkar-bongkar arsip, yang butuh waktu cukup lama, karena tercecer di banyak dvd data. Alhamdulillah, saya temukan sebuah artikel yang dimaksud, meski nampaknya bukan versi yang full, karena seingat saya, artikel yg saya simpan lebih panjang dan lebih jelas. Namun, saya pikir artikel di bawah ini cukup membantu ‘menjernihkan’ riwayat (hoax) pernikahan Rasululloh SAW dengan Aisyah. Meluruskan Riwayat Pernikahan St ‘Aisyah RA

Baru-baru ini [22 Desember 2002] diperingati hari ibu. Saya teringat riwayat pernikahan Ummul Mu’miniyn (Ibu para Mu’minin) Sitti ‘Aisyah Radhiaya Lla-hu ‘Anhaa yang perlu diluruskan. Seperti diketahui dalam riwayat yang umum dituliskan di buku-buku dan diajarkan di madrasah, maupun di sekolah umum St ‘Aisyah RA dinikahkan pada umur 6 tahun dan baru umur 9 tahun serumah dengan Nabi Muhammad SAW. Riwayat inilah yang perlu diluruskan. Hadits mengenai umur St ‘Aisyah RA tatkala dinikahkan adalah problematis, alias dhaif. Beberapa riwayat yang termaktub dalam buku-buku Hadits berasal hanya satu-satunya dari Hisyam ibn ‘Urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan tentang umur pernikahan St ‘Aisyah RA tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah ataupun Malik ibn Anas. Itupun baru diutarkan Hisyam tatkala telah bermukim di Iraq. Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun. Mengenai Hisyam ini Ya’qub ibn Syaibah berkata: “Yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpecaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik ibn Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq (Tahzib alTahzib, Ibn Hajar alAsqalani, Dar Ihya alTurath alIslami, jilid II, hal.50). Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun (alMaktabah alAthriyyah, Jilid 4, hal.301). Alhasil, riwayat umur pernikahan St ‘Aisyah RA yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah, tertolak. Untuk selanjutnya terlebih dahulu dikemukakan peristiwa secara khronologis: - pre 610 Miladiyah (M): zaman Jahiliyah - 610 M: Permulaan wahyu turun - 610 M: Abu Bakr RA masuk Islam - 613 M: Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan Islam secara terbuka - 615 M: Ummat Islam Hijrah I ke Habasyah - 616 M: Umar bin al Khattab masuk Islam - 620 M: St ‘Aisyah RA dinikahkan - 622 M: Hijrah ke Madinah - 623/624 M: St ‘Aisyah serumah sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW Menurut Tabari: Keempat anak Abu Bakr RA dilahirkan oleh isterinya pada zaman Jahiliyah, artinya pre-610 M. (Tarikh alMamluk, alTabari, Jilid 4, hal.50). Tabari meninggal 922 M. Jika St ‘Aisyah dinikahkan dalam umur 6 tahun berarti St ‘Aisyah lahir tahun 613 M. Padahal manurut Tabari semua keempat anak Abu Bakr RA lahir pada zaman Jahiliyah, yaitu pada tahun sebelum 610 M. Alhasil berdasar atas Tabari, St ‘Aisyah RA tidak

dilahirkan 613 M melainkan sebelum 610. Jadi kalau St ‘Aisyah RA dinikahkan sebelum 620 M, maka beliau dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW dalam umur di atas 13 tahun. Jadi kalau di atas 13 tahun, dalam umur berapa? Untuk itu marilah kita menengok kepada kakak perempuan St ‘Aisyah RA, yaitu Asmah. Menurut Abd alRahman ibn abi Zannad: “Asmah 10 tahun lebih tua dari St ‘Aisyah RA (alZahabi, Muassasah alRisalah, Jilid 2, hal.289). Menurut Ibn Hajar alAsqalani: Asmah hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah (Taqrib al Tahzib, Al-Asqalani, hal.654). Alhasil, apabila Asmah meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal dalam tahun 73 atau 74 Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga St ‘Aisyah berumur (27 atau 28) - 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijrah, dan itu berarti St ‘Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW pada waktu berumur 19 atau 20 tahun. WaLlahu a’lamu bishshawab. *** Makassar, 29 Desember 2002 [H.Muh.Nur Abdurrahman] Anda sudah baca? Mudah-mudahan cukup jelas. Sayangnya artikel kritis ini tidak (mudah2an hanya belum saja) diketahui oleh masyarakat (muslim) secara luas. Akibatnya, kaum muslim sendiri tidak bisa membela aqidahnya ketika para musuh Islam meluncurkan senjata ‘mematikan’ ini . Dengan dimuatnya artikel ini di blog ini, mudah2an bisa membantu mencerahkan saudara2 kita yang lain. Jadi, pak ‘kiai’, jika anda hendak mencontoh nabi (versi) anda, yaaa monggo. Tapi tolong JANGAN KATAKAN ANDA MENCONTOH RASULULLOH SAW, terutama jika anda (maaf) tidak belum menelaah secara rinci kehidupan Rasululloh SAW, terutama ‘contoh’ pernikahan Rasululloh SAW dg anak perempuan berumur 7 tahun, yg selama ini anda pahami (namun ternyata salah). Semoga artikel ‘pencerahan’ ini bisa menyejukkan kaum muslim. Aamiin Berbagi artikel ini2260 Sejumlah (16)komentar di artikel ini

March 26, 2007
Putra Putri Rasululloh SAW
Masuk Kategori: HOT NEWS, Ensiklopedia Islam, Kisah Nabi dan Rasul

Setelah sebelumnya istri-istri Rasululloh SAW, kini aku muat artikel tentang putra putri Rasululloh SAW. Putra Nabi Abdullah bin Muhammad Putra beliau dari Khadijah, meninggal ketika masih kecil. Ibrahim bin Muhammad (wafat 10 H) Putra Nabi dari Mariah Qibtiah. Dia hanya hidup selama 18 bulan. Nabi menyaksikan ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil meneteskan air mata, beliau berkata “mata boleh meneteskan air, hati boleh bersedih, tapi kita tidak boleh mengucapkan kalimat yang tidak diridai Allah”. Qasim bin Muhammad Putra beliau dari Khadijah yang meninggal ketika masih kecil. Putri Nabi Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H) Putri bungsu Rasulullah SAW dari Khadijah yang paling disayangi oleh Rasulullah SAW. Dia tergolong wanita Quraisy yang genius dan pintar bicara. Dia menikah dengan Ali bin Abu Thalib. Dari perkawinan ini lahirlah Hasan, Husain, Ummi Kultsum dan Zainab. Dia meninggal 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Dan dari Fatimah AzZahro¡¦ini lahirlah dzuriyah Rasul sampai sekarang, yang di masyarakat lazim dijuluki Sayid, Habib ataupun Syarief. Ruqaiah binti Muhammad (wafat 2 H) Putri Rasulullah SAW. dari Khadijah yang dipersunting oleh Utbah bin Abu Lahab sewaktu Jahiliah. Setelah munculnya Islam dan turunnya ayat yang berarti “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan dia juga akan celaka” (S. Al-Masad ayat 1)dia langsung dicerai oleh suaminya atas perintah Abu Lahab. Dia memeluk Islam bersama ibunya. Kemudian dia dinikahi oleh Usman bin Affan dan ikut bersama suaminya hijrah ke Abessina (habasyah ), kemudian mereka kembali dan menetap di Madinah seterusnya meninggal di kota itu pula. Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M) Putri Rasulullah dari Khadijah yang dipersunting oleh Utaibah bin Abu Lahab pada masa Jahiliah. Setelah turunnya ayat yang artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia juga akan binasa.” (S. Al-Masad ayat 1) ia dicerai oleh Utaibah atas perintah Abu Lahab. Sepeninggal kakaknya, Ruqaiyah, istri pertama Usman dia dinikahi oleh Usman bin Affan. Dia ikut berhijrah ke Madinah.

Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.) Putri sulung Rasulullah yang dipersunting oleh Abul Ash bin Rabi’. Dia memeluk agama Islam dan ikut hijrah ke Madinah, sementara suaminya bertahan dalam agamanya di Mekah sampai dia tertawan dalam perang Badar. Di saat itu, Rasulullah meminta kepadanya untuk menceraikan Zainab, lalu diceraikannya. Setelah dia masuk Islam, Rasulullah SAW. mengawinkan mereka kembali. Berbagi artikel ini2260 Sejumlah (6)komentar di artikel ini

February 25, 2007
Istri-istri Rasululloh SAW
Masuk Kategori: Ensiklopedia Islam, Kisah Nabi dan Rasul

Berawal dari komentar mas Ruly di sini, aku jadikan artikel saja…agar pengetahuan kita (terhadap Rasululloh SAW) lebih bertambah. Berikut ini kita tampilkan nama-nama Istri Nabi Muhammad SAW beserta sekilas penjelasannya: 1. SITI KHADIJAH: Nabi mengawini Khadijah ketika Nabi masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi SAW. Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada tahun 621 A.D, dimana tahun itu bertepatan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi SAW sangatlah mencintai Khadijah. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi SAW baru mau menikahi wanita lain. 2. SAWDA BINT ZAM’A: Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi SAW menikahinya. 3. AISHA SIDDIQA: Seorang perempuan bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi SAW mengawini Aisha, putri dari Aby Bakrs, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Aby Bakr. Waktu itu Aishah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, yang pada saat itu adalah seorang Non-Muslim. Orang-orang di Makkah tidaklah keberatan dengan perkawinan Aishah, karena walaupun

masih muda, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang tanggung jawab didalam sebuah perkawinan. Nabi Muhammad SAW bertunangan dulu selama 2 tahun dengan Aishah sebelum kemudian mengawininya. Dan bapaknya Aishah, Abu Bakr pun kemudian menjadi khalifah pertama setelah Nabi SAW meninggal. 4. HAFSAH BINT UMAR: Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi. Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya. Nabi SAW pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah demikian juga Usman akan kawin lagi. Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi SAW yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri kawin dengan Nabi SAW. Hal ini membuat Usman dan Umar gembira. 5. ZAINAB BINT KHUZAYMA: Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi SAW mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 A.D. 6. SALAMA BINT UMAYYA: Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin. Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak. Baru setelah Nabi Muhammad SAW mengawininya dan merawat anakanaknya, dia bersedia. 7. ZAYNAB BINT JAHSH: Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad SAW, Umamah binti Abdul Muthalib. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW sudah mengatur agar Zaynab mengawini Zayed Ibn Hereathah Al Kalby. Tapi perkawinan ini kandas ndak lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi mesti mengawini Zaynab (surat 33:37). 8. JUAYRIYA BINT AL-HARITH: Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan. Nabi Muhammad SAW menghendaki agar kelompok dari Juayreah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juayreah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq). Bapak Juayreyah datang pada Nabi SAW dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juayreyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juayreayah untuk memilih. Ketika diberi hak untuk memilih, Juayreyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam. 9. SAFIYYA BINT HUYAYY: Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir. Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi SAW. Cerita nya cukup menarik, mungkin Insya Allah disampaikan terpisah.

10. UMMU HABIBA BINT SUFYAN: Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish. Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah SAW. Aubed Allah meninggak di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi SAW pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi SAW di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun. 11. MAYMUNA BINT AL-HARITH: Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW yang sudah 60 tahun. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey. Ketika Nabi SAW membuka Makkah di tahun 630 A.D, dia datang menemui Nabi SAW, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi SAW. 12. MARIA AL-QABTIYYA: Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi SAW meninggal dunia, dan Maria (thx buat Joan) akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Iman sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi. Kalau sudah tahu begini dan kalau memang dikatakan mau mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW, kira-kira masih minat dan berani nggak ya kaum Adam untuk ber-istri lebih dari 1?

Khutbah Wukuf Arafah 1426 H Bersama Aa Gym Bismillahirrahmanirrahim Saudara-saudaraku, hari ini adalah hari yang sangat dirindukan oleh semua orang yang beriman. Hari dimana kita dibanggakan oleh Alloh dihadapan para malaikat yang walaupun mata kita tidak bisa melihat, tapi pasti malaikat berada di sekitar kita. Entah mengapa Alloh mengundang kita ke Tanah Suci ini, padahal pasti banyak yang jauh lebih shalih, lebih baik daripada kita. Yang air matanya sering berderai, yang sujudnya tidak pernah luput, yang malamnya sering berlinang air mata, yang lisannya selalu basah menyebut nama Alloh, banyak yang jauh lebih mulia, lebih baik, tapi belum sampai ke tempat ini. Mengapa kita diundang ? Mungkin karena kita termasuk orang yang paling banyak dosanya, yang harus segera diampuni. Mungkin kita termasuk orang yang paling lalai dalam ibadah, yang harus segera diingatkan. Mungkin kita termasuk orang yang sangat kikir, sehingga harus segera dibukakan. Tidak ada jalan bagi kita untuk merasa lebih dari yang lain. Hadirnya kita di tanah suci ini, sama sekali bukan untuk merasa mulia. Saudaraku mengapa Alloh mengundang kita, berada di tempat ini, inilah yang harus kita renungkan. Ingatlah saudaraku, "khairunnas anfa'uhum linnas" Manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling banyak membawa manfaat. Kita lihat sampah saja bermanfaat, sampah jadi pupuk, kotoran juga bemanfaat. Berarti manusia yang tidak bermanfaat, lebih hina dan lebih menjijikan daripada sampah, lebih hina dan lebih menjijikan daripada kotoran. Kurang lebih demikianlah haji yang tidak bermanfaat. Saudaraku sekalian, yang tidak bermanfaat adalah racun. Andai kata kita memiliki harta, tapi harta kita tidak manfaat, sebetulnya kita memiliki racun yang membuat hidup kita akan hina dan nista. Siapapun yang memiliki kedudukan tapi tidak manfaat, dia adalah penyakit, dia adalah racun, yang dengan kedudukannya dia menjadi dzalim. Barang siapa yang memiliki penampilan tapi tidak manfaat, maka dia akan menjadi racun. Demikian pula kita berangkat haji, jika sepulang dari tempat ini tidak bertambah kemanfaatan kita, kita meracuni orang lain dengan contoh buruk diri kita. Pertanyaannya saudaraku, hari ini adalah hari kejujuran kepada diri kita, manfaat apa yang sudah kita berikan dalam hidup kita ? Jujurlah, manfaat apa yang telah kita berikan kepada Ibu-Bapak kita, yang sudah berlelah, melahirkan bersimbah darah, air mata, keringat. Apakah kita bermanfaat atau kita menjadi racun bagi orang tua kita ? Saudara-saudaraku, inilah kesempatan kita untuk jujur.

Telah datang seseorang kepada Umar bin Khatab, yaa Umar saya bela dan rawat orang tua saya yang telah tua dan udzur seperti orangtua saya menyayangi dan memelihara saya saat kecil, bagaimana menurutmu ya, amirul mukminin, apakah sama pahalanya ? Tidak.. Karena orang tua membela dan merawatmu agar engkau panjang umur, tapi jika orang tua menjadi tanggunganmu, pikiranmu justru sebaliknya, sampai sejauh mana saudaraku kita bisa membawa manfaat bagi Ibu-Bapak kita. Ada orang yang tidak pernah peduli kepada orang tuanya sendiri. Orang tua tidak pernah mendapat waktu, jarang diberikan senyuman, bahkan dalam doa pun jarang dipanjatkan. Manusia yang mulia adalah yang manfaat bagi orang tuanya. Tidak tahu berapa lama lagi melihat wajah Bapak-Ibu kita. Apakah ketika keduanya wafat beliau puas melahirkan kita ? Atau menyesal melahirkan kita ? Saudaraku Haji yang mabrur adalah haji yang bermanfaat, lihatlah sanak keluarga kita. Apakah anak-anak kita merasa manfaat dari orang tuanya. Kemanakah mereka kelak pulang andaikata kita telah tiada ? Jangan-jangan mereka tidak mengenal jalan pulang ke Surga, karena kita tidak bisa memberi contoh yang benar. Wahai Bapak Ibu sekalian tataplah anak-anak kita, kemana mereka akan pulang ? Jangan sampai kita hanya memberikan harta, tapi tidak memberikan kasih sayang dan perhatian. Kita kadang merasa puas jika telah memberikan uang, padahal yang mereka butuhkan adalah perhatian, suri tauladan dan kasih sayang. Haji yang mabrur adalah haji yang bermanfaat bagi keluarganya, lihatlah guru-guru kita. Kita sekarang bisa memiliki gaji, kita dihargai, kita dihormati, karena jasa-jasa guru kita. Tapi apa yang sudah kita lakukan kepada guru kita, sanak saudara, tetangga, kaum dhuafa ? "Alat ukur kesuksesan hidup kita bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari manfaat apa yang kita berikan". Saudaraku lihatlah cahaya matahari, yang menumbuhkan bibit-bibit, menerangi yang dalam kegelapan. Cahaya matahari selalu dirindukan dan selalu disebut-sebut kebaikannya. Seharusnya kita seperti matahari yang selalu dirindukan kehadirannya, karena hidupnya yang penuh manfaat. Jangan bangga oleh dunia yang kita miliki, karena semua bisa jadi racun, jadi penyakit, andai kita tidak bermanfaat. Haji mabrur diantaranya adalah haji yang penuh manfaat. Mudah-mudahan pada hari ini kita bertekad, "Kapanpun kita mati, kita ingin menjadi manusia yang sudah mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kita". Kita harus buat orang tua kita puas melahirkan kita. Kita ingin anak-anak

kita pun bangga, pasangan kita pun bangga walau kita kelak sudah tiada. Kita ingin tetangga-tetangga kita merasa senang bertetangga dengan kita, para guru kita puas mendidik kita, juga kita ingin agar para kaum dhuafa tidak merasa dikhianati oleh kita. Saudaraku marilah kita cari ilmu lebih banyak agar kita manfaat. Marilah kita cari rizki yang lebih banyak dan pakailah secukupnya saja untuk kita, selebihnya manfaat, karena itulah yang membuat kita bernilai. Jangan mengumpulkan racun saudaraku, carilah rizki sebanyak mungkin dan nafkahkan sebanyak-banyaknya, tiada harga diri kita kalau tidak manfaat. Seorang Haji yang Mabrur adalah Haji yang penuh manfaat. Kita harus menjadi anak yang bermanfaat bagi orang tua, suami yang manfaat bagi istri. Kita harus berjuang agar istri kita menjadi ahli Surga, begitupun seorang istri harus berjuang agar suaminya bisa mewarisi Surga. Kita harus berjuang sekuat tenaga agar anak-anak kita bisa pulang selamat. Kita harus senang kalau lebih banyak orang makan dengan jerih payah kita. Mudah-mudahan Alloh pada hari ini membukakan hati kita semua, dan kita benar-benar tahu diri bahwa nilai kemuliaan kita, bukan dari apa yang kita miliki, tapi dari manfaat apa yang bisa kita beri.

Do'a - Muhasabah : Allohumma Sholi wassalim Wabarik ala sayyidina Muhammad wa 'ala Alihi Washohbihi azma'in. Allohumma yaa Robbana, Robbana dzolamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin. (Ya Alloh sampaikanlah sholawat, keselamatan, keberkahan untuk kekasih kami Muhammad Saw dan kepada seluruh sahabat-sahabatnya. Wahai Tuhan kami, kami telah dzalim terhadap diri-diri kami dan apabila Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi) Wahai Alloh, wahai Yang Maha Mendengar, inilah kami, diri yang tubuhnya kotor berlumur dosa, yang hidupnya berselimut aib, kini berada di hadapan-Mu. Ampuni Ya Alloh sebusuk apapun kehidupan yang pernah kami lalui. Ampuni sebanyak apapun dosa-dosa yang melumuri tubuh kami, hapuskan Ya Alloh, segelap apapun masa lalu kami. Ya Alloh, wahai Yang Maha Pengampun, kami datang kepada-Mu Ya Alloh, kami ingin hidup kami berubah. Gantikan segala kebusukan kami menjadi kesucian dalam pandangan-Mu, gantikan segala kegelapan dengan cahaya-Mu Ya Alloh, gantikan segala kedzaliman kami menjadi hidayah taufik-Mu, gantikan Ya Alloh segala kehinaan kami dengan kemuliaan di sisi-Mu.

Ya Alloh, ampuni dan selamatkan Ibu-Bapak kami Ya Alloh, kami mohon di hari mustajabnya doa ini Ya Alloh, selamatkan Ibu-Bapak kami. Apalagi yang dapat kami lakukan Ya Alloh, beri Hidayah dan Taufik Mu Ya Alloh. Jadikan mereka orang yang soleh sampai akhir hayat, jadikan akhir hayatnya Khusnul Khotimah, lapangkan kuburnya, jadikan ahli surga -Mu, Ya Alloh selamatkan dan ampuni orang tua kami Ya Alloh. Allohummagfirlana waliwalidina warhamhum kama robbaunna sighoro, (Ya Alloh ampunilah dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami, sayangilah mereka seperti mereka telah menyayangi kami diwaktu kecil) Ya Alloh selamatkan keluarga kami Ya Alloh, Robbana Hablana min ajwajina wadzuriiyatina kurrata 'ayyun waj'alna lilmutaqiina imama. (Wahai Tuhan Kami Karuniakan kepada kami istri-istri dan anak-anak yang menyejukan mata dan jadikan mereka pemimpin bagi orang-or ang yang bertaqwa) Ampuni Ya Alloh, para suami yang pernah mendzalimi istri dan anak-anaknya. Juga ampuni para istri yang telah mengkhianati keluarganya. Ampuni jikalau kami salah mendidik keluarga dan anak-anak kami Ya Alloh. Utuhkan kami di dunia mulia, utuhkan kami di Surga-Mu, Ya Alloh. Ya Alloh selamatkan anak-anak kami, muliakan akhlaknya, kuatkan imannya. Berikan Ya Alloh, yang lebih baik dari pada yang kami dapatkan. Jadikan ahli mulia dunia, ahli Surga-Mu mulia, Ya Alloh. Ya Alloh selamatkan kaum muslimin walmuslimat, mukminin walmukminat, khususnya para guru-guru kami Ya Alloh, para ulama yang menuntun kami mengenal-Mu. Ya Alloh tolonglah saudara-saudara kami yang dhuafa, berikan kami kemampuan untuk mencukupi, berikan kami rizki yang halal berkah melimpah Ya Alloh, jadikan kami ahli shodaqah, jadikan hidup kami ahli zuhud. Ya Alloh, tolonglah saudara-saudara kami yang ada dalam kesempitan, berikan kelapangan Ya Alloh. Tolonglah saudara kami yang difitnah, dihina, didzalimi, berikan keteguhan iman Ya Alloh, kekuatan dan kemenangan. Tolonglah bangsa kami Ya Alloh, telah terlalu lama bangsa kami terhina. Bangkitkan ummat Mu Ya Alloh, karuniakan para pemimpin yang Engkau ridhoi, jauhkan dari para pemimpin yang Engkau murkai. Allohumaghfirlil mukminin wal mukminaat, muslimin walmuslimat al ahyaa' i minhum wal amwat. (Ya Alloh Ampunilah Dosa orang-orang mukmin dan mukminat muslimin dan muslimat yang masih hidup dan yang sudah wafat)

Allohummaj 'alna hajjan mabrura wasa'ian masykura wadzanban maghfura. (Ya Alloh jadikan kami menjadi haji yang mabrur dan sa'i yang diterima dan dosa yang diampuni) Ya Alloh terimalah haji kami ini Ya Alloh, terimalah haji kami ini Ya Alloh, kami belum tentu kembali ke tempat ini Ya Alloh, jadikan tempat ini menjadi saksi di akhirat Ya Alloh, undang keluarga kami Ya Alloh, undang sahabat-sahabat kami Ya Alloh, undang sebanyak-banyaknya hamba-hamba-Mu Ya Alloh. Allohumma inna nas aluka ridhoka waljannah wana'udzubika min sakhatika wannar. (Ya Alloh Kami memohon kepada-Mu ridho dan surga-Mu dan kami berlindung dari keburukan dan siksa neraka) Ya Alloh hanya Engkaulah tempat kembali kami, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu sisa umur kami, berikan kesempatan bagi kami Ya Alloh, untuk mempersembahkan yang terbaik dari hidup ini agar bermanfaat bagi orang lain. Robbana attinna fiddunnya hasanah wafilakhirati hasanah waqina 'azzabannar. Wa adkhilnal jannata ma'al abrori, ya azizu, ya ghafar, ya robbal 'alamin. Subhana rabbika rabbil 'izzati amma yasifun wasalamun 'alal mursalin, walhamdulillahirobbil'alamin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->