BENCANA KECELAKAAN LALU LINTAS KERETA API

I. Transportasi Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya. A. Transportasi Laut Kapal, adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dsb), seperti halnya sampan atau perahu yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu kecil seperti sekoci. Secara kebiasaannya kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat. Kapal sulit untuk diklasifikasikan, terutama karena banyak sekali kriteria yang menjadi dasar klasifikasi dalam sistem yang ada seperti: 1. Berdasarkan tenaga penggerak a. Kapal bertenaga manusia (Pendayung) b. Kapal layar c. Kapal uap d. Kapal diesel atau Kapal motor e. Kapal nuklir

2. Berdasarkan jenis pelayarannya a. Kapal permukaan b. Kapal selam c. Kapal mengambang d. Kapal bantalan udara 3. Berdasarkan fungsinya a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. Kapal Perang Kapal penumpang Kapal barang Kapal tanker Kapal feri Kapal pemecah es Kapal tunda Kapal pandu Tongkang Kapal tender Kapal Ro-Ro Kapal dingin beku Kapal keruk Kapal peti kemas / Kapal kontainer Kapal pukat harimau

Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang. Peraturan Pemerintah RI No.69 Tahun 2001 mengatur tentang pelabuhan dan fungsi serta penyelengaraannya.

B. Transportasi Udara

Pesawat terbang atau pesawat udara atau kapal terbang atau cukup pesawat saja adalah kendaraan yang mampu terbang di atmosfer atau udara. 1. Kategori dan klasifikasi a. Lebih berat dari udara Pesawat terbang yang lebih berat dari udara disebut aerodin, yang masuk dalam kategori ini adalah autogiro, helikopter, girokopter dan pesawat bersayap tetap. Pesawat bersayap tetap umumnya menggunakan mesin pembakaran dalam yang berupa mesin piston (dengan baling-baling) atau mesin turbin (jet atau turboprop) untuk menghasilkan dorongan yang menggerakkan pesawat, lalu pergerakan udara di sayap menghasilkan gaya dorong ke atas, yang membuat pesawat ini bisa terbang. Sebagai pengecualian, pesawat bersayap tetap juga ada yang tidak menggunakan mesin, misalnya glider, yang hanya menggunakan gaya gravitasi dan arus udara panas. Helikopter dan autogiro menggunakan mesin dan sayap berputar untuk menghasilkan gaya dorong ke atas, dan helikopter juga menggunakan mesin untuk menghasilkan dorongan ke depan. b. Lebih ringan dari udara Pesawat terbang yang lebih ringan dari udara disebut aerostat, yang masuk dalam kategori ini adalah balon dan kapal udara. Aerostat menggunakan gaya apung untuk terbang di udara, seperti yang digunakan kapal laut untuk mengapung di atas air. Pesawat terbang ini umumnya menggunakan gas seperti helium, hidrogen, atau udara panas untuk menghasilkan gaya apung tersebut. Perbedaaan balon udara dengan kapal udara adalah balon udara lebih mengikuti arus angin, sedangkan kapal udara memiliki sistem propulsi untuk dorongan ke depan dan sistem kendali.
c. Jenis pesawat berdasarkan desain

* Balon udara * Kapal udara * Pesawat bersayap tetap o Pesawat bersayap satu + Pesawat bersayap delta + Pesawat bersayap lipat

+ Sayap terbang o Pesawat bersayap dua o Pesawat bersayap tiga * Pesawat sayap berputar o Helikopter o Autogiro b. Berdasarkan propulsi * Pesawat terbang layang (Glider) * Pesawat bermesin piston * Pesawat bermesin turbo propeler * Pesawat bermesin turbojet * Pesawat bermesin turbofan * Pesawat bermesin ramjet c. Berdasarkan penggunaan * Pesawat eksperimental * Pesawat penumpang sipil * Pesawat angkut * Pesawat militer Pelabuhan udara, bandar udara atau bandara merupakan sebuah fasilitas tempat pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat. Bandara yang paling sederhana minimal memiliki sebuah landas pacu namun bandara-bandara besar biasanya dilengkapi berbagai fasilitas lain, baik untuk operator layanan penerbangan maupun bagi penggunanya. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization): Bandar udara adalah area tertentu di daratan atau perairan (termasuk bangunan, instalasi dan peralatan) yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan dan pergerakan pesawat. Sedangkan definisi bandar udara menurut PT (persero) Angkasa Pura adalah "lapangan udara, termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupakan

kelengkapan minimal untuk menjamin tersedianya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat".

Transportasi darat Angkutan Jalan adalah kendaraan yang diperbolehkan untuk menggunakan jalan, menurut "Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi" disebutkan: 1. Sepeda Motor adalah kendaraan bermotor beroda 2 (dua), atau 3 (tiga) tanpa rumah-rumah baik dengan atau tanpa kereta samping. 2. Mobil Penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. 3. Mobil Bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. 4. Mobil Barang adalah setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus. 5. Kereta api adalah sarana transportasi berupa kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di rel.

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah

2. Sejarah perkeretaapian sama seperti sejarah alat transportasi umumnya yang diawali dengan penemuan roda. 3. dan jalan kabel. Ini digunakan khususnya di daerah pertambangan tempat terdapat lori yang dirangkaikan dan ditarik dengan tenaga kuda. serta di atas permukaan air. atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri. Setelah James Watt menemukan mesin uap. Perseorangan. kemudian dibuatlah kereta kuda yang menarik lebih dari satu rangkaian serta berjalan di jalur tertentu yang terbuat dari besi (rel) dan dinamakan sepur. Mulanya dikenal kereta kuda yang hanya terdiri dari satu kereta (rangkaian). maupun antarnegara. Karena sifatnya sebagai angkutan massal efektif. Kemudian Richard Trevithick membuat mesin lokomotif yang dirangkaikan dengan kereta dan memanfaatkannya pada pertunjukan di depan masyarakat umum. beberapa negara berusaha memanfaatkannya secara maksimal sebagai alat transportasi utama angkutan darat baik di dalam kota. Orang-orang menyebut kendaraan itu sebagai kuda besi. Nicolas Cugnot membuat kendaraan beroda tiga berbahan bakar uap. George Stephenson menyempurnakan lokomotif yang memenangi perlombaan balap lokomotif dan digunakan di jalur Liverpool-Manchester. kecuali jalan kereta api. 1. badan usaha.dan/atau air. Rangkaian kereta atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga mampu memuat penumpang maupun barang dalam skala besar. Jalan khusus adalah jalan yang di bangun oleh instasi. Waktu itu lokomotif uap yang digunakan berkonstruksi belalang. Kereta api merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif (kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya). Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. jalan lori. antarkota. Penyempurnaan demi penyempurnaan . Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.

Jepang dalam waktu dekade 1960-an mengoperasikan KA Super Ekspress Shinkanzen dengan rute Tokyo-Osaka yang akhirnya dikembangkan lagi sehingga menjangkau hampir seluruh Jepang. c. Kereta api rel konvensional Kereta api rel konvensional adalah kereta api yang umum dijumpai. Jenis-jenis kereta api a. Kemudian Rudolf Diesel memunculkan kereta api bermesin diesel yang lebih bertenaga dan lebih efisien dibandingkan dengan lokomotif uap. Karena efisien. Menggunakan rel yang terdiri dari dua batang besi yang diletakan di bantalan. 2. Kereta api uap 2.dilakukan untuk mendapatkan lokomotif uap yang lebih efektif. dan mampu menarik kereta lebih banyak. Kemudian Perancis mengoperasikan kereta api serupa dengan nama TGV. Kereta api diesel 3. Kereta rel listrik b. Seiring dengan berkembangnya teknologi kelistrikan dan magnet yang lebih maju. Rel kereta ini hanya terdiri dari satu batang besi. digunakan rel bergerigi yang diletakkan di tengah tengah rel tersebut serta menggunakan lokomotif khusus yang memiliki roda gigi. biasanya digunakan sebagai alat transportasi kota khususnya di kota-kota metropolitan dunia dan dirancang mirip seperti jalan layang. Penemuan listrik oleh Michael Faraday membuat beberapa penemuan peralatan listrik yang diikuti penemuan motor listrik. Dari segi di atas/di bawah permukaan tanah . Dari segi propulsi (tenaga penggerak) 1. Kereta api monorel Kereta api monorel (kereta api rel tunggal) adalah kereta api yang jalurnya tidak seperti jalur kereta yang biasa dijumpai. Di daerah tertentu yang memliki tingkat ketinggian curam. Dari segi rel 1. berdaya besar. dibuatlah kereta api magnet yang memiliki kecepatan di atas kecepatan kereta api biasa. Motor listrik kemudian digunakan untuk membuat trem listrik yang merupakan cikal bakal kereta api listrik. Letak kereta api didesain menggantung pada rel atau di atas rel.

Kereta api permukaan (surface) Kereta api permukaan berjalan di atas tanah. sedangkan penambat e digunakan untuk bantalan beton atau semen.bangunan maupun jalan. yaitu 7 (tujuh) kali lipat dari pada kereta permukaan. 2. Kereta Api Barang Rel Rel digunakan pada jalur kereta api. Rel-rel tersebut diikat pada bantalan dengan menggunakan paku rel. kali . sekrup penambat. misalnya untuk kereta api permukaan membutuhkan $ 10 juta maka untuk kereta api layang membutuhkan dana $ 30 juta. . Kereta api bawah tanah adalah kereta api yang berjalan di bawah permukaan tanah (subway). agar tidak memerlukan pintu perlintasan kereta api. Biaya pembangunannya untuk kereta permukaan adalah yang termurah dibandingkan yang di bawah tanah atau yang laying. karena sering menembus 20m di bawah permukaan. Jenis penambat yang digunakan bergantung kepada jenis bantalan yang digunakan. Biaya yang dikeluarkan sangat mahal sekali. Kereta api bawah tanah (subway) 3. Biaya yang dikeluarkan sekitar 3 (tiga) kali dari kereta permukaan dengan jarak yang sama.1. Dari segi penggunaan 1. Kereta api layang (elevated) Kereta api layang berjalan di atas dengan bantuan tiang-tiang. Kereta jenis ini dibangun dengan membangun terowonganterowongan di bawah tanah sebagai jalur kereta api. Umumnya kereta api yang sering dijumpai adalah kereta api jenis ini. Paku ulir atau paku penambat digunakan pada bantalan kayu. atau penambat e (seperti penambat Pandrol). Rel mengarahkan/memandu kereta api tanpa memerlukan pengendalian. Kereta Api Penumpang 2. Rel merupakan dua batang rel kaku yang sama panjang dipasang pada bantalan sebagai dasar landasan. hal ini untuk menghindari persilangan sebidang.

Lebar trak yang umum digunakan diantaranya: * Lebar 700 mm. digunakan bantalan kayu yang lebih elastis ketimbang bantalan beton. Penyambungan rel . dari Besitang menuju Banda Aceh yang saat ini sudah tidak digunakan lagi. atau 3 kaki 6 inci merupakan lebar rel yang digunakan secara umum di Indonesia. Narrow gauge cocok untuk daerah yang bergunung-gunung karena trak yang lebar membutuhkan biaya besar dan pembangunannya lebih sulit.Rel biasanya dipasang di atas badan jalan yang dilapis dengan batu kericak atau dikenal sebagai Balast. semakin lebar semakin stabil sehingga semakin tinggi kecepatan kereta apinya. Untuk menyeberangi jembatan. Balast berfungsi pada rel kereta api untuk meredam getaran dan lenturan rel akibat beratnya kereta api. * Lebar 1435 mm.5 inci. Lebar trak/lebar rel/Gauge Ada beberapa lebar (gauge) yang digunakan. a. digunakan Kereta api Aceh. * Lebar 1000 mm disebut juga "meter gauge". atau 4 kaki 8. disebut juga sebagai Narrow gauge. merupakan rel yang banyak digunakan didunia sehingga disebut juga sebagai Standar gauge c. digunakan di Malaysia * Lebar 1067 mm. Jenis rel berdasarkan berat Rel yang digunakan di Indonesia menggunakan standar UIC dengan Standar: * Rel 25 yang berarti 25 kg/m * Rel 33 * Rel 44 * Rel 52 * Rel 54 * Rel 60 b.

pada masa lalu dikenal juga dengan halte kereta api yang memiliki fungsi nyaris sama dengan stasiun kereta api. Untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan kereta api yang berjalan diatasnya maka rel tersebut disambung. Pengelasan menggunakan las termit dengan menggunakan bahan kimia senyawa besi yang ditempatkan diantara kedua rel kemudian bahan tersebut direaksikan pada suhu sampai mencairkan bahan kimia tersebut dan menyambung rel tersebut. wesel (alat pemindah jalur). Penyambungan rel dilakukan dengan beberapa cara: 1. Sambungan baut 3. Selain stasiun. Stasiun kereta api adalah tempat di mana para penumpang dapat naik-turun dalam memakai sarana transportasi kereta api. dan loket informasi * Peron atau ruang tunggu * Ruang kepala stasiun. seperti sinyal.wikipedia. telepon. telegraf.org/wiki/Transportasi . http://id. sisa hasil reaksi kimia tersebut kemudian dipotong dan diratakan dengan rel.Rel karena alasan transportasi menuju ke lokasi biasanya dari pabrik pembuat rel dipotong menjadi rel dengan panjang 25 m. dan * Ruang PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) beserta peralatannya. Untuk daerah/kota yang baru dibangun mungkin stasiun portabel dapat dipergunakan sebagai halte kereta. 2. dan lain sebagainya. Fasilitas stasiun kereta api umumnya terdiri atas: * Pelataran parkir di muka stasiun * Tempat penjualan tiket. Fishplate diantara 2 rel yang disambung Pada sambungan ini digunakan suatu penyangga yang disebut sebagai fish plate yang dibaut pada kedua rel yang disambung. Las termit Salah satu cara yang umum digunakan adalah dengan las termit dilokasi sehingga bisa menjadi rel yang menerus.

.

go.id/website/index. 27/01/2009 04:02:25 Kejadian Bencana di Indonesia tahun 2008 .php? option=com_content&task=view&id=2101 Statistik Bencana Tahun 2008 Selasa.bnpb.http://www.

Korban Meninggal dan Hilang Akibat Bencana Tahun 2008 .

Di Jawa terdapat tiga lintas pelayanan utama.482 km yang tersebar di Jawa dan Sumatera. sub-jaringan Sumatera bagian Barat. Selanjutnya pada tahun 1950 pengelolaan diserahkan kepada Kementerian Komunikasi Republik Indonesia melalui DKA (Djawatan Kereta Api). Jaringan kereta api di Indonesia sebagian besar merupakan peninggalan jaman Belanda meliputi lintasan sepanjang 6. dan Jakarta-Yogyakarta-Surabaya (disebut lintas selatan). dimana 70% diantaranya terletak di pulau Jawa. JakartaSemarang-Surabaya (disebut lintas utara). latar Belakang Kereta api di Indonesia sudah ada sejak 138 tahun yang lalu. PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api ) pada tahun 1971. 44% berusia antara 10-70 tahun. Sebelum perang dunia kedua angkutan KA di Indonesia dikelola oleh perusahaan swasta Belanda. Usia jaringan KA umumnya sudah sangat tua.KECELAKAAN KERETA API DI INDONESIA I. 25% sudah berusia 70-137 tahun. Kemudian secara berturut-turut pengelola KA mengalami beberapa kali perubahan nama dan status. dan sub-jaringan Sumatera bagian Selatan. PERUMKA (Perusahaan . yaitu PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api ) pada tahun 1963. yaitu: Jakarta-Bandung. Sementara di Sumatera terdapat tiga sub-jaringan KA yang terpisah satu sama lain yakni: sub-jaringan Sumatera bagian Utara.

Namun demikian. Dalam tahun 2005. saat ini share kereta api untuk angkutan penumpang hanya sebesar 7. Kementrian republik Indonesia. Karena keterbatasan jumlah. Sampai saat ini kereta api masih dianggap sebagai tulang punggung sistem transportasi darat di berbagai wilayah di belahan dunia. Jumlah lokomotif yang dimiliki saat ini sebanyak 333 unit. kereta. Permasalahan yang cukup mengganggu perkeretaapian saat ini adalah tingginya tingkat kecelakaan.9 juta orang dan mengangkut barang sebanyak 17.3% dan angkutan barang lebih kurang 0.3 juta ton. Trend kecelakaan KA dalam periode tahun 2000 – 2005 yang diperlihatkan pada Gambar-1 dapat memberikan gambaran bahwa tingkat keselamatan angkutan KA selama tahun 2000-2005 sangat buruk. lebih dari 60% diantaranya berusia lebih dari 20 tahun.Umum Kereta Api) pada bulan Januari tahun 1991. Sumber: Direktorat jenderal perkeretaapian. II. Kondisi Prasarana & Sarana Sarana kereta api meliputi lokomotif. lokomotif seringkali .6%. dan terakhir pada bulan Juni tahun 1999 berubah menjadi PT KAI . KAI berhasil mengangkut penumpang sebanyak 147. Dari sisi market share angkutan antar moda. di Indonesia peran kereta api masih sangat marginal. baik untuk angkutan barang ataupun penumpang. KRL.Kereta Api Indonesia (Persero). dan KRD. gerbong.

III. .d. Sampai dengan tahun 2000 telah dilakukan modernisasi (elektrifikasi) persinyalan di 183 stasiun.145 unit dijaga dan sisanya sebanyak 7. lebih dari 45% diantaranya berusia diatas 30 tahun.385 unit. Panjang rel di Jawa yang masih dioperasikan sepanjang 3. Sejak dulu hingga kini kereta api selalu . Prasarana persinyalan mencakup perangkat sinyal.216 km dan di Sumatera sepanjang 1.400 km/hari. Padalarang-Bandung. pintu perlintasan. sebanyak 1. Jumlah pintu perlintasan ada 8. sulit.240 unit tidak dijaga.000 perlintasan yang belum terdaftar. Sebagian dari jalur tersebut kondisinya sudah kurang layak operasi sehingga sangat rawan terhadap kecelakaan. Jakarta-Bogor. jauh melampaui batas ideal 900 km/hari. dinamis dengan tantangan yang terus berkembang. 18 ton yang mampu mendukung kecepatan kereta api antara 60-110 km/jam. all relay/NX-interlocking system. Jalur rel yang ada memiliki beban ganda antara 9 s. yaitu: electronic interlocking system.dioperasikan hingga jarak 1.348 km. Pada tahun 2005 terjadi lok mogok sebanyak 1. Keselamatan KA Permasalahan perkeretaapian Indonesia saat ini sangat rumit.519 kali. Jalur ganda baru tersedia di jalur Jakarta-Cikampek. saluran fisik. Jumlah perlintasan tersebut belum termasuk sekitar 17. di Jawa maupun Sumatera. jaringan radio. Ada tiga sistem persinyalan yang dioperasikan. dan electro mechanical interlocking system. Prasarana jalan rel yang ada saat ini pada umumnya masih jalur tunggal. dan Surabaya kota-Wonokromo. Jumlah kereta 1243 unit. yang mencerminkan kondisi lokomotif sebagian sudah kurang baik. telepon/telegraf.

maka kini tantangan datang dari perangkutan udara dengan tarif yang sangat kompetitif. Kecelakaan kereta api ini dalam lingkungan perkeretaapian disebut PLH (Peristiwa Luar biasa Hebat).1.berhadapan dengan tantangan kompetisi yang tinggi dari moda lain. Jika dulu berhadapan dengan perkembangan otomotif. Kecelakaan KA anjlok terjadi sebanyak 211 kali atau 59% dari . atau mengakibatkan rintangan jalan yang mengganggu operasi KA. rata-rata 8 kali dalam satu tahun. Pada Gambar-1 diperlihatkan trend kecelakaan kereta api periode 2000-2005. Tingginya frekuensi kecelakaan katergori ini sangat mengkhawatirkan dan termasuk dalam kategori terburuk di dunia. Padahal kereta api sangat diharapkan menjadi moda transportasi yang paling aman. Namun yang saat ini mengganggu perkererataapian Indonesia adalah tingginya tingkat kecelakaan. Frekuensi kecelakaan sangat tinggi dan banyak menelan korban jiwa. andal dan cepat. yaitu suatu kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa atau luka berat. murah. Seperti yang disampaikan dalam gambar 4. anti kemacetan lalu-lintas. dengan korban mayoritas dari kalangan rakyat kecil. Tabrakan KA vs KA terjadi sebanyak 20 kali. dalam periode Januari 2004 s/d Mei 2006 di Indonesia telah terjadi kecelakaan kereta api sebanyak 359 kali dengan jumlah korban jiwa 139 orang dan luka berat 219 orang.

Kemudian disusul akibat tabrakan KA vs KA ..jumlah total kecelakaan. Mayoritas Korban adalah pejalan kaki yang tertabrak KA akibat kelalaian waktu berada di sekitar daerah jalur operasi KA. Kecelakaan akibat lain-lain terjadi sebanyak 71 kali yang mayoritas merupkan kecelakaan akibat pejalan kaki tertabrak kereta api. Kecelakaan KA akibat lain-lain terjadi sebanyak 71 kali.3. Korban jiwa terbesar adalah akibat tabrakan KA dengan dengan kendaraan umum di perlintasan sebidang yaitu sebesar 91 orang atau sebesar 66% total jumlah korban. Tabrakan KA dengan kendaraan umum sebanyak 46 kali terjadi. Jumlah korban jiwa (tidak termasuk luka berat) akibat kecelakaan kereta api dalam periode Januari 2004 s/d Mei 2005 adalah ebesar 139 orang degan perincian seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4. 20% dari jumlah total kecelakaan. dengan jumlah korban jiwa sebanyak 22 orang.

baik oleh pemerintah maupun KAI. antara lain: pelanggaran sinyal atau PSAD (Passed Signal at Danger). . yang secara teoritis seharusnya dapat dan harus dicegah. Antara lain dengan melakukan modernisasi persinyalan. dari 64 kecelakaan tabrakan antar KA dalam delapan tahun terakhir. Berdasarkan hasil investigasi. sebanyak 51 kali atau 80% disebabkan oleh faktor manusia. Dari hasil investigasi penyebab kecelakaan sebanyak 75% adalah akibat faktor manusia. Untuk mencegah terulangnya kembali tragedi tersebut berbagai upaya sudah dilakukan. yaitu kasus tabrakan antara dua KA Ekonomi di Bintaro Jakarta Selatan pada tahun 1987. PPKA salah memberi sinyal.2). faktor manusia eksternal 5 % (sabotase). masinis tertidur. Tragedi Bintaro merupakan lembaran hitam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. dan juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar akibat kerusakan sarana/prasarana. Dalam periode delapan tahun terakhir di Indonesia telah terjadi 64 kali tabrakan KA vs KA. namun demikian hasilnya belum seperti yang diharapkan. PPKA tertidur.. yang menelan korban jiwa 153 orang dan korban luka berat 300 orang. (harga satu unit lokomotif sekitar Rp. Identifikasi Masalah Tabrakan KA vs KA Tabrakan antar KA merupakan kecelakaan dalam kategori malapetaka besar (catastrophic). dan yang dalam pengusutan sebesar 15%. Kecelakaan ini memiliki potensi korban jiwa yang sangat besar mengingat kapasitas angkut KA ratusan orang.yang yang menyebabkan korban jiwa sebanyak 24 orang atau 17% dari jumlah total korban. hanya 20% yang diakibatkan oleh faktor teknik Dalam periode Januari 2004-Mei 2006 telah terjadi 20 kali tabrakan KA vs KA dengan jumlah korban meninggal 24 orang (Gambar 4. Sedangkan kontribusi sarana terhadap kecelakaan hanya 5% (rem rusak).15 Milyar).

dan secara teoritis dapat dihindari. sumber penyebabnya adalah akibat masinis melanggar sinyal (PSAD). . berdasarkan hasil investigasi. Namun yang menjadi persoalan. Tingginya frekuensi tabrakan antar kereta api di Indonesia telah mengubah persepsi persepsi keandalan faktor keamanan yang sudah melekat dan menjadi citra moda transportasi KA.Dalam bulan Maret-April tahun 2006 ini sudah terjadi 4 kali kecelakaan. Salah satu diantaranya yang terjadi di daerah operasi Semarang berakibat sangat fatal. Tingginya frekuensi tabrakan antar KA akan mengasosiasikan faktor keselamatan KA tidak berbeda dengan bus atau angkutan umum. tabrakan antar KA seharusnya kejadian yang secara teoritis dapat dihindari dan dapat dikendalikan. Namun demikian kasus tabrakan antar KA di Indonesia rata-rata dalam setahun 8 kali. Dan lagi-lagi. asalkan dapat diketahui sumber penyebabnya. Tabrakan antar KA memiliki potensi korban jiwa dan korban finansial. menewaskan 13 orang dan 20 orang mengalami luka berat. Tabrakan antar KA dalam satu kali dalam setahun adalah sudah terlalu banyak. juga memiliki dampak sosial. maka dalam manajemen keselamatan harus sepenuhnya dapat dicegah dengan kategori zero tolerance. Diduga kuat upaya-upaya pencegahan yang telah dilakukan belum memadai atau belum komprehensif.

240 buah (86%) tidak dijaga dan pada umumnya tidak dilengkapi dengan persinyalan yang memadai. trauma abdomen . Perlintasan ini banyak yang dibiarkan terbuka tanpa pintu ataupun penjaga. Alasan lainnya. Hal ini kemudian mendorong bertambahnya jumlah perlintasan baru (liar). Kecelakaan ini dalam beberapa kali kasus menimbulkan jumlah korban yang sangat besar.d. Mei’06. sehingga titik-titik rawan kecelakaan semakin bertambah banyak.id/index.145 buah (14%). pada saat perlintasan KA dibangun kondisi lalu-lintas kendaraan umum belum sepadat sekarang.dephub. Perlintasan KA sebidang di Jawa dan Sumatera yang terdaftar resmi di Dephub mencapai 8.php? option=com_content&view=article&id=108&Itemid=26&a728c66ceac927a1a5624c 56ff8c277c=27eeb8eb8075a712111282208e8edd52 Masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh kecelakaan lalu lintas kereta api adalah: 1. Trauma kepala..602 buah. Dengan semakin tingginya frekuensi lalu-lintas kendaraan umum maka tidak mengherankan tabrakan KA vs Kendaraan Umum akan cenderung semakin tinggi.Tabrakan KA vs Kendaraan Umum Dalam periode Jan’04 s. Jumlah korban meninggal sebanyak 91 orang dan luka berat 93 orang. trauma thorak. tabrakan KA vs Kendaraan Umum terjadi sebanyak 46 kali atau 13% dari total jumlah kecelakaan. dan yang dijaga hanya 1. memicu tumbuhnya pemukiman disekitar jalur KA dan bertambah pesatnya jumlah pengendara kendaraan bermotor. karena biaya pembangunannya sangat mahal. Perlintasan sebidang tidak semua dijaga karena kendala keterbatasan dana. http://perkeretaapian. Pembuatan jalan layang (fly over) atau terowongan (underpass) sulit untuk diwujudkan. Semua kecelakaan terjadi di lokasi perlintasan KA sebidang.385 buah (tidak termasuk ribuan perlintasan liar). Di daerah Jawa perlintasan yang tidak dijaga lebih dari 6. Jumlah korban jiwa adalah 65% dari total jumlah korban jiwa dalam periode tersebut. dan sebagian besar terjadi di Jawa. karena KA menabrak bus atau angkutan umum yang sarat penumpang. Dengan berkembangnya lingkungan sosial dan ekonomi.go. baik yang dijaga maupun yang tidak dijaga. Sisanya sebanyak 7.

Estrogen. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam kalsium. Fraktur 3. Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis” menjadi tulang. Tulang panjang (Femur. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut “Osteoblast”. 1. KONSEP DASAR PENYAKIT ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN FRAKTUR By Iwan Sain. Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya : 1). bersama dengan testosteron. Hormon pertumbuhan. merangsang fusi lempeng epifisis. Ada 206 tulang dalam tubuh manusia. Laserasi 6.2. Di sebelah proksimal dari epifisis terdapat metafisis.Kp. . estrogen. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. dan tulang memanjang. Kematian A. a. Kanalis medularis berisi sumsum tulang. dan testosteron merangsang pertumbuhan tulang panjang. Batang suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. lempeng epifisis berfusi. Konsep Medis Anatomi dan Fisiologi Anatomi Tulang Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Luka bakar 5. S. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh. dan tulang berhenti tumbuh. Pada akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis. Humerus) terdiri dari batang tebal panjang yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Ruptur organ dalam 4.Kes A. M. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas.

Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Tulang sesamoid merupakan tulang kecil. Osteoklast . berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial. yang terletak di sekitar tulang yang (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat. yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum. asam polisakarida) dan proteoglikan). Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh. 5). Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang ). osteosit dan osteoklas. selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligamen. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas. Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. 3). Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast. Periosteum mengandung saraf.2). pembuluh darah. misalnya patella (kap lutut). terletak dekat endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang). yang merupakan sel pembentuk tulang. Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik ditimbun. Gambar 1 Anatomi tulang panjang .1 mm). Didalam lamella terdapat osteosit. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan. dan limfatik. Tulang tersusun atas sel. matriks protein dan deposit mineral. Ditengah osteon terdapat kapiler. resorpsi dan remosdeling tulang. Osteoklas adalah sel multinuclear ( berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran. yang memperoleh nutrisi melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan lamella. Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan periosteum. 4). lapisan luar adalah tulang concellous. Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek.

faktor makanan. matriks tulang disebut osteoid. dan darah. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangn hormon. Kecepatan pembentukan tulang berubah selama hidup. dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. 0steoblas mulai mengisi daerah yang kosong tersebut dengan . Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui proteoglikan. cairan interstisium. Osteoklas adalah sel fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit yang terdapat di tulang. dengan sedikit natrium. Deposit garam terutama adalah kalsium dan fosfat. terjadi secara bersamaan dengan pembentukan tulang. Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang. Adanya bahan organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensif (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan). Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid. sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang. Penyerapan tulang terjadi karena aktivitas sel-sel yang disebut osteoklas. Seiring dengan terbentuknya tulang. Dalam beberapa hari garamgaram kalsium mulai mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa minggu atau bulan berikutnya. yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang. Osteoklas biasanya terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan tulang. Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan. dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. kalium karbonat.Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70 % endapan garam. osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang menghubungkan osteosit satu dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran mikroskopik di tulang. Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi. dan jumlah stres yang dibebankan pada suatu tulang. Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. dan terjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang yaitu osteoblas. Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk menghasilkan matriks tulang. Sedangkan garam-garam menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan). dan ion magnesium. Sewaktu pertama kali dibentuk. osteoklas menghilang dan muncul osteoblas. dan terdiri dari lebih dari 90 % serat kolagen dan kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus sakarida). Bahan organik disebut matriks. Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis. Setelah selesai di suatu daerah.

Hal ini meningkatkan konsentrasi kalsium darah. aktivitas osteoblas berkurang. aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan kepadatan tulang mulai berkurang. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Pada usia pertengahan. Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang oleh olah raga dan stres beban akibat arus listrik yang terbentuk sewaktu stres mengenai tulang. Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada tulang yang pulih dari fraktur. vitamin D dalam jumlah besar tanpa diimbangi kalsium yang adekuat dalam makanan akan menyebabkan absorpsi tulang. Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di usus. Pada orang dewasa muda. vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar kalsium serum dengan meningkatkan penguraian tulang. aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas. Hormon paratiroid . Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan. Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus. tetapi mekanisme pastinya belum jelas. Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol oleh hormon paratiroid. Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik dan hormon. dan hormon perturnbuhan adalah promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. testosteron. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon tersebut. Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulang-tulang panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung pertumbuhan tulang). Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat di belakang kelenjar tiroid. Pada anak dan remaja. Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang terus menerus diperbarui atau mengalami remodeling. Fraktur tulang secara drastis merangsang aktivitas osteoblas. Namun. dominansi aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. Dengan demikian. yang mendorong kalsifikasi tulang. sehingga jumlah total massa tulang konstan. Proses ini memungkinkan tulang tua yang telah melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat.tulang baru. Aktivitas osteoklas juga meningkat pada tulang-tulang yang mengalami imobilisasi. sehingga kerangka menjadi lebih panjang dan menebal. Estrogen. aktivitas osteoblas dan osteoklas biasanya setara.

Pengertian pergerakan). 2000). 2. dan paru-paru) dan jaringan Fungsi tulang adalah sebagai berikut : Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al. Fisiologi Tulang Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh. Efek lain Hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium serum dengan menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. 5). Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson. Sedangkan menurut Linda Juall C. 3). dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. 2000). Estrogen tampaknya mengurangi efek hormon paratiroid pada osteoklas. otak. Pengaktifan vitamin D di ginjal bergantung pada hormon paratiroid. topoiesis). Efek-efek ini meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga menurunkan kadar kalsium serum. lunak. 4). Sedangkan kalsitonin adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap peningkatan kadar kalsium serum. Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan pernbentukan osteoklas. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah.meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan tulang untuk membebaskan kalsium ke dalam darah. Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang (hema Menyimpan garam mineral. misalnya kalsium. . 1992). 2). M. b. fosfor. Patah Tulang Tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar (Soedarman. Melindungi organ tubuh (misalnya jantung. 1). A. Peningkatan kalsium serum bekerja secara umpan balik negatif untuk menurunkan pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut.

3. 2) Faktor Intrinsik Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan. marrow. dan penarikan. elastisitas. dan kepadatan atau kekerasan tulang. 3) Kekerasan akibat tarikan otot Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. dan infiltrasi sel darah putih. waktu. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur 1) Faktor Ekstrinsik Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring. 1) Etiologi Kekerasan langsung Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Setelah terjadi fraktur. 4. penekukan dan penekanan. penekukan. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. 2) Kekerasan tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. kelelahan. dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.Kekuatan dapat berupa pemuntiran. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi. . maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks. dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. kombinasi dari ketiganya. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang. eksudasi plasma dan leukosit. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

2). . bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. c. sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga. bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan Green Stick Fraktur. merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi trauma. 4). bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau Fraktru Inkomplit. Faktur Tertutup (Closed). disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. b. seperti: a) b) c) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut) Buckle atau Torus Fraktur. Fraktur Komplit. melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. yang terjadi pada tulang panjang. dibagi menjadi beberapa kelompok. 5). bila terdapat hubungan antara hubungan Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur. bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan). otot pada insersinya pada tulang. mendorong tulang ke arah permukaan lain. mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya Fraktur Terbuka (Open/Compound). 1). kompresi tulang spongiosa di bawahnya.5. yaitu: a. 3). 2). Klasifikasi Fraktur Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis . 1). disebabkan trauma rotasi. 2). 1).

3. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada Berdasarkan pergeseran fragmen tulang. 1) 2) 3) e. ancaman sindroma kompartement. d. Berdasarkan posisi frakur 1/3 proksimal 1/3 medial 1/3 distal Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang. h. berhubungan. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan sekitarnya. g. subkutan. 2). disebut lokasi fragmen. c. Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh). a) b) c) f.d. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. b. fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut). Berdasarkan jumlah garis patah. 1). 1. terbagi atas: overlapping). 2. berhubungan. dalam dan pembengkakan. . yaitu: a. tulang yang sama. Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma.

Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal. Penatalaksanaan Medik Fraktur Terbuka Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period). Manifestasi Klinik Deformitas Bengkak/edema Echimosis (Memar) Spasme otot Nyeri Kurang/hilang sensasi Krepitasi Pergerakan abnormal Rontgen abnormal Test Diagnostik Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnyatrauma. 8. g. Kuman belum terlalu jauh meresap dilakukan: 1) 2) 3) 4) b. b. 1) 2) Pembersihan luka Exici Hecting situasi Antibiotik Seluruh Fraktur Rekognisis/Pengenalan Reduksi/Manipulasi/Reposisi Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya. transfusi multiple. atau cederah hati.6. temogram. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun. 7. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah. d. h. b. f. e. c. skan tulang. a. e. i. a. a. d. scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. . c. Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma.

Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur. biadi dan alat lain dipasang oleh dokter. Ketika tulang sembuh. plat paku. Mungkin perlu dilakukan anastesia. 2001). Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Traksi dapat digunakan untuk mendapat¬kan efek reduksi dan imoblisasi. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut Reduksi tertutup. pasien harus dipersiapkan untuk menjalani prosedur. Pada kebanyakan kasus. Dengan pendekatan bedah. kawat. Pada kebanyakan kasus. roduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan. reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Reduksi Terbuka. Ketika kalus telah kuat dapat dipasang gips atau bidai untuk melanjutkan imobili¬sasi. sama. harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur. akan terlihat pembentukan kalus pada sinar x. Sinar x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. sementara gips. sekrup. namun prinsip yang mendasarinya tetap. atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur. . Traksi. Reduksi tertutup. Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin. 3) Retensi/Immobilisasi Dapat juga diartikan Reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajaran¬nya dan rotasfanatomis (brunner. alat tersebut menjaga aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang. Alat ini dapat diletakkan di sisi tulang atau langsung ke rongga sumsum tulang. Sinar x digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen tulang. traksi. fragmen tulang direduksi. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaring-an lunak kehilaugan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. atau batangan logam digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisnya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

strategi peredaan nyeri. dan ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Imobilisasi fraktur. -Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. nyeri. perubahan posisi. fragmen tulang harus diimobilisasi. 9. dan menentukan tingkat aktivitas dan beban berat badan. Proses Penyembuhan Tulang Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. atau fiksator eksterna. ansietas dan keti¬daknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (mis. Biasanya. yaitu: 1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutika. termasuk analgetika). Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun. gerakan) dipantau. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. meyakinkan. Partisipasi dalam aktivitas hidup sehari hari diusahakan untuk memperbaiki ke-mandirian fungsi dan harga diri. traksi kontinu. Kegelisahan. bidai. pengkajian peredaran darah. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Status neurovaskuler (mis. Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. perabaan. Setelah fraktur direduksi. pin dan teknik gips. Ahli bedah yang memperkirakan stabilitas fiksasi fraktur. 4) Rehabilitasi Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi. Ada lima stadium penyembuhan tulang. menentukan luasnya gerakan dan stres pada ekstrermitas yang diperbolehkan. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalut¬an. . Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur. fiksasi interna memungkinkan mobilisasi lebih awal. gips. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan.

Selama beberapa bulan atau tahun. membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. 4) Stadium Empat-Konsolidasi Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut. 1) Komplikasi Komplikasi Awal . Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi. anyaman tulang berubah menjadi lamellar. rongga sumsum dibentuk. 10. 5) Stadium Lima-Remodelling Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. bila diberikan keadaan yang tepat. tergantung frakturnya. dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu. 3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur. pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus.`endosteum. dinding yang tidak dikehendaki dibuang. sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago.2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.

dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting. demam. d. tachypnea. saraf. hypertensi. dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. Kerusakan Arteri Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot. e. f. saraf. 2) b. Kompartement Syndrom Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot. tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. tulang. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat. dan pembuluh darah. CRT menurun. tachykardi. perubahan posisi pada yang sakit. Infeksi System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. dan pembedahan. b. Fat Embolism Syndrom Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. Shock Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi.a. Ini biasanya terjadi pada fraktur. Komplikasi Dalam Waktu Lama Delayed Union . cyanosis bagian distal. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan. tindakan reduksi. c. Avaskuler Nekrosis nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan Volkman’s Ischemia. hematoma yang lebar.

register. agama. 1. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. bahasa yang dipakai. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: . Malunion Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). jenis kelamin. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. alamat. dan evaluasi. dan stabil setelah 6-9 bulan. kuat. Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik. Nonunion Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap. pelaksanaan. diagnosa keperawatan. golongan darah. untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. pekerjaan. B. perencanaan. c. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan. diagnosa medis. 1) a) Pengumpulan Data Anamnesa Identitas Klien Meliputi nama. no. yaitu pengkajian. b) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Tahap ini terbagi atas: a. umur. d. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang. tanggal MRS.Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. asuransi. Konsep Keperawatan Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap. status perkawinan. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. pendidikan.

osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan. Donna D. relief: apakah rasa sakit bisa reda. klien. bisa skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit presipitasi nyeri. penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang e) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur. Donna D. atau menusuk. Selain itu. seperti diabetes.(1) (2) (3) (4) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan Region : radiation. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. 1995). dan dimana rasa sakit terjadi. 1995). d) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Time: berapa lama nyeri berlangsung. apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. c) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur. berdenyut. Apakah seperti terbakar. yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius. berdasarkan (5) mempengaruhi kemampuan fungsinya. dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius. Selain itu. apakah rasa sakit Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien. menjalar atau menyebar. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. f) Riwayat Psikososial . kapan.

warna. dan jumlah. suasana lingkungan. bau. kepekatannya. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi. dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E. zat besi. pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium.1995). (4) Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri. maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. vit. 2002). konsistensi. Selain itu.Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius. keterbatasan gerak.(Ignatavicius. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. g) (1) Pola-Pola Fungsi Kesehatan Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. protein. (2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium. (3) Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi. Donna D. tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi. keterbatasan gerak. warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. kebiasaan tidur. Selain itu juga. 1995). pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak. Hal . Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri. Donna D.

rasa cemas. (8) Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu. Selain itu juga. Selain itu juga. klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Donna D. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius. sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Donna D. yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu . rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. 1995). dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius. 10) Pola Penanggulangan Stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya. 1995). (6) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya. (7) Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur. perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak. 1995). Donna D. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien 2) Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua.lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Donna D. 1995). Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. 1995). 11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius. yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. lama perkawinannya (Ignatavicius. (5) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Donna D. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan.

Tidak ada deformitas. bengkak. a) (1) (a) (b) (c) bentuk. simetris. gerakan dada simetris. berat dan pada Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun Perlu menyebutkan: pada keadaan klien. simetris. Tak ada pergerakan otot intercostae. Tak ada pembesaran tonsil. Tak ada lesi. keadaan penyakit: akut. suhu sekitar daerah trauma meningkat. Terdapat erytema. tak oedema. gelisah. seperti: Kesadaran penderita: apatis. (2) (a) tekan. ringan. Wajah terlihat menahan sakit. (c) (d) Leher Muka Tidak ada gangguan yaitu simetris. (b) Kepala Tidak ada gangguan yaitu. mukosa mulut tidak pucat. tidak ada nyeri kepala. komposmentis tergantung Kesakitan. sopor. reflek menelan ada.untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. Tidak ada lesi atau nyeri tekan. nyeri . gusi tidak terjadi perdarahan. oedema. kasus fraktur biasanya akut. koma. tidak ada penonjolan. Secara sistemik dari kepala sampai kelamin Sistem Integumen Gambaran Umum Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda. lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. tidak ada penonjolan. sedang. kronik. normo cephalik. (e) Mata Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan) (f) (g) (h) (i) Telinga Hidung Mulut dan Faring Thoraks Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. tak ada pernafasan cuping hidung.

tak ada wheezing. Peristaltik usus normal  20 kali/menit. Suara ketok sonor. Tugor baik. tak ada pembesaran lymphe. Suara nafas normal. tidak ada hernia. ada pantulan gelombang cairan. (2) (3) (4) Palpasi Perkusi Auskultasi Pergerakan sama atau simetris. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: (1) Look (inspeksi) . (k) (1) (2) (3) (l) (1) (2) (3) (4) (m) b) Jantung Inspeksi Palpasi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Inguinal-Genetalia-Anus Keadaan Lokal Tidak tampak iktus jantung. Parestesia. hepar tidak teraba. tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. Pergerakan). atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi. reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. fermitus raba sama. tidak ada defands muskuler. Suara thympani. tak ada kesulitan BAB. Suara S1 dan S2 tunggal.(j) (1) Paru Inspeksi Pernafasan meningkat. Palor. tak ada mur-mur. iktus tidak teraba. Bentuk datar. Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler  5 P yaitu Pain. simetris. Nadi meningkat. Tak ada hernia. Pulse.

atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) Posisi jalan (gait. pembengkakan. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. catat letak kelainan (1/3 proksimal. refill time  Normal 3 – 5 “ disekitar persendian. kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. baik pemeriksa maupun klien. benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. Pada waktu akan palpasi. maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya.Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (2) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas Cape au lait spot (birth mark). Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi. pergerakan terhadap dasar atau permukaannya. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah. dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. tengah. Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi. agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. (abnormal). atau distal). Yang perlu dicatat adalah: (a) (b) (c) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. dan ukurannya. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan. . konsistensinya. (3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel. waktu masuk ke kamar periksa) Feel (palpasi) operasi). Capillary Apabila ada pembengkakan. krepitasi. Benjolan. terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama Nyeri tekan (tenderness). nyeri atau tidak. Pencatatan lingkup gerak ini perlu. Fistulae.

Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.(Reksoprodjo. (4) b) (1) tulang. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. 1995) 3) a) Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang. Hal yang harus dibaca pada x-ray: (1) (2) (3) (4) (1) Bayangan jaringan lunak. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain juga rotasi. pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit. . Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. (2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Pemeriksaan Laboratorium Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. (2) (3) paksa. Soelarto. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti: tertutup yang sulit divisualisasi.

pemasangan traksi. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnosa keperawatan yang lazim dijumpai pada klien fraktur adalah sebagai berikut: a. Aspartat Amino Transferase (AST). Nyeri akut b/d spasme otot. yang berlebihan. emboli. c) (1) (2) (3) (4) (5) tulang. pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.(3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase. perubahan lunak. (6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. edema. c. cedera jaringan Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah. stress/ansietas. edema paru. Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang. Dampak Fraktur Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia Pemeriksaan lain-lain Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. pembentukan trombus) membran alveolar/kapiler (interstisial. 1995) b. Laktat Dehidrogenase (LDH-5). (Ignatavicius. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada mikroorganisme penyebab infeksi. b. vaskuler. gerakan fragmen tulang. edema. 3. kongesti) . Donna D.

edema. gips. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler. bebat dan atau traksi 2. stress/ansietas. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif. perubahan . keterbatasan kognitif. terapi Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka. istirahat dengan tepat.d. Nyeri akut b/d spasme otot. prognosis dan kebutuhan pengobatan restriktif (imobilisasi) sekrup) taruma jaringan lunak. gerakan fragmen tulang. Kurang pengetahuan tentang kondisi. RASIONAL Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring. f. Tujuan: tindakan santai. pemasangan traksi (pen. pemasangan traksi. 2000) 4. cedera jaringan Klien mengataka nyeri berkurang atau hilang dengan menunjukkan lunak. tidur. kawat. Intervensi Keperawatan a. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit. menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual INTERVENSI KEPERAWATAN 1. prosedur invasif/traksi tulang) b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi. mampu berpartisipasi dalam beraktivitas. 3. kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada (Doengoes. nyeri. e. g. 4. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase. posisi) Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena.

imajinasi visual. aktivitas dipersional) 6. Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam.5. mengurangi edema/nyeri. b. meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama. menurunakan area tekanan lokal dan kelelahan otot. Meningkatkan aliran balik vena. Menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri. perubahan tandatanda vital) Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi. Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai keperluan. edema. Menilai perkembangan masalah klien. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi. petunjuk verbal dan non verval. Mengalihkan perhatian terhadap nyeri. 7. Evaluasi keluhan nyeri (skala. pembentukan trombus) . Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri baik secara sentral maupun perifer. Meningkatkan sirkulasi umum.

Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera. 4. Pantau kualitas nadi perifer. . Mungkin diberikan sebagai upaya profilaktik untuk menurunkan trombus vena. Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat. aliran kapiler. Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen. bandingkan dengan sisi yang normal. Berikan obat antikoagulan (warfarin) bila diperlukan.Tujuan : Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan kriteria RASIONAL akral hangat. bisa bergerak secara aktif INTERVENSI KEPERAWATAN 1. warna kulit dan kehangatan kulit distal cedera. 5. 3. 2. tidak pucat dan syanosis. Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi. Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/spalk. Mengevaluasi perkembangan masalah klien dan perlunya intervensi sesuai keadaan klien.

emboli. 3. retraksi sela iga dan sianosis sentral. Evaluasi frekuensi pernapasan dan upaya bernapas. perhatikan adanya stridor. 4. lemak dan trombosit 5. LED. kongesti) Tujuan : kriteria klien tidak sesak nafas. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah. kalsium. penggunaan otot aksesori pernapasan. Lakukan dan ajarkan perubahan posisi yang aman sesuai keadaan klien. Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warvarin. . perubahan Klien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan RASIONAL membran alveolar/kapiler (interstisial. tidak cyanosis analisa gas darah dalam batas normal INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Analisa pemeriksaan gas darah. Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan kongesti paru. Hb. Instruksikan/bantu latihan napas dalam dan latihan batuk efektif. edema paru. 2. Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.c. heparin) dan kortikosteroid sesuai indikasi.

lemak darah dan penurunan trombosit sering berhubungan dengan emboli lemak. mungkin menunjukkan terjadinya emboli paru tahap awal. koran. gulungan trokanter/tangan sesuai indikasi. Berikan papan penyangga kaki. anemia. d. Adanya takipnea. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak. kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien. Penurunan PaO2 dan peningkatan PCO2 menunjukkan gangguan pertukaran gas. RASIONAL Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio. 5. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler. . Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien. hipokalsemia. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien. nyeri. dispnea dan perubahan mental merupakan tanda dini insufisiensi pernapasan. 3. 2. peningkatan LED dan kadar lipase. Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien.Mencegah terjadinya pembekuan darah pada keadaan tromboemboli. 4. terapi Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat restriktif (imobilisasi) Tujuan : paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik yang memampukan melakukan aktivitas INTERVENSI KEPERAWATAN 1.

9. Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien. Berikan diet TKTP. Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal. 7. mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi. Memfokuskan perhatian. mempertahankan tonus otot. atelektasis.6. membantu menurunkan isolasi sosial. Dorong/pertahankan asupan cairan 2000-3000 ml/hari. 8. penumonia) Mempertahankan hidrasi adekuat. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi. meningkatakan rasa kontrol diri/harga diri. mempertahakan gerak sendi. . men-cegah komplikasi urinarius dan konstipasi. Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus. Mempertahankan posis fungsional ekstremitas.

Tujuan Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka. menunjukkan sekrup) perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi. insersi pen/traksi. Observasi keadaan kulit. penekanan gips/bebat terhadap kulit. 2. alat tenun kencang. 3. Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/gips. . tumit). RASIONAL Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering. kawat. : Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang.Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses penyembuhan dan mempertahankan fungsi fisiologis tubuh. Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit yang lebih luas. mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi INTERVENSI KEPERAWATAN 1. e. Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program aktivitas fisik secara individual. bersih. bantalan bawah siku. pemasangan traksi (pen. Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal 4. Menilai perkembangan masalah klien.

Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal. 2. Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang) 5. Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi. Klien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. Mencegah infeksi sekunderdan mempercepat penyembuhan luka. Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (Hitung darah lengkap. LED. f. Meminimalkan kontaminasi. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit. bebas drainase RASIONAL taruma jaringan lunak.Meningkatkan sirkulasi perifer dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relatif konstan pada imobilisasi. 4. 3. Lakukan perawatan pen steril dan perawatan luka sesuai protokol Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilitas insersi pen. Observasi tanda-tanda vital dan tanda-tanda peradangan lokal pada luka. . Menilai perkembangan masalah klien. prosedur invasif/traksi tulang Tujuan : purulen atau eritema dan demam INTERVENSI KEPERAWATAN 1.

Tujuan : klien akan menunjukkan pengetahuan meningkat dengan kriteria klien RASIONAL mengerti dan memahami tentang penyakitnya INTERVENSI KEPERAWATAN 1.Antibiotika spektrum luas atau spesifik dapat digunakan secara profilaksis. kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada. 3. perubahan sensasi kulit distal cedera) 4. Mengevaluasi perkembangan masalah klien. Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program terapi fisik. demam. . Kaji kesiapan klien mengikuti program pembelajaran. anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Persiapkan klien untuk mengikuti terapi pembedahan bila diperlukan. 2. Efektivitas proses pemeblajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien untuk mengikuti program pembelajaran. Ajarkan tanda/gejala klinis yang memerluka evaluasi medik (nyeri berat. Leukositosis biasanya terjadi pada proses infeksi. mencegah atau mengatasi infeksi. Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus. keterbatasan kognitif. Diskusikan metode mobilitas dan ambulasi sesuai program terapi fisik. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi. h. Kultur untuk mengidentifikasi organisme penyebab infeksi.

blogspot. yang mana dapat menunjuk seorang Komandan Medik yang harus turun ke lapangan. o o o o o o Evaluasi Nyeri berkurang atau hilang Tidak terjadi disfungsi neurovaskuler perifer Pertukaran gas adekuat Tidak terjadi kerusakan integritas kulit Infeksi tidak terjadi Meningkatnya pemahaman klien terhadap penyakit yang dialami http://hesa-andessa. yang tugas pertamanya adalah menilai keadaan.com/2010/03/askep-pada-pasien-dengn-frakturterbuka. B. Bantuan ini termasuk Komandan Lapangan Ambulans. Pelayanan ambulans memberitahu Pengendali Medik.Meningkatkan kewaspadaan klien untuk mengenali tanda/gejala dini yang memerulukan intervensi lebih lanjut.html Peran Perawat saat terjadi kecelakaan Tenaga Medik dan Kesehatan di Lapangan Biasanya yang datang pertama ditempat kejadian adalah Pelayanan Ambulans. Komandan . Tambahan ambulans dapat dikirim bila masih tersedia dan dibutuhkan. Upaya pembedahan mungkin diperlukan untuk mengatasi maslaha sesuai kondisi klien. kemudian memberitahu Pusat Koordinasi bila membutuhkan tambahan bantuan lain sebelum melakukan tugas spesifik triage atau pengobatan korban.

Pelayanan ambulans terbatas pada manajemen pra-rumah sakit. memar dan lecet. Pasien dapat menunggu giliran pengobatan tanpa bahaya. Triage Triage adalah proses memilah pasien dan klasifikasi dari sudut urgensi relatif. tetapi disini ada prinsip “kerjakan sebanyakbanyaknya untuk kebaikan pasien dan buat sumber daya bekerja dengan efisien”.Delayed (II) – Pasien perlu tindakan definitif tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. 2. perdarahan internal vasa besar. Minimal (III) – Pasien mendapat cedera minimal. Pada beberapa petugas maka kondisi ini akan menjadi kesulitan. Ini untuk memastikan bahwa pasien yang perlu segera diobati dapat tertangani dan sumber daya yang terbatas tidak terbuang percuma pada kasus yang sebenarnya penanganannya dapat ditunda. dan cedera jalan nafas. Misal: fraktur minor ekstremitas. luka bakat . Expextant (0) – Pasien mengalami cedera lethal dan akan meninggal meski diobati. Kategori Triage •••BAHANBACAAN••• 6 Ada sistim 4 level untuk kategori triage: 1. Tunda . 3. Misal: cedera kepala berat. 4. perdarahan lacerasi terkontrol. Pada kasus masal maka ada perbedaan dengan triage skala kecil. dan luka bakar < 25%. dapat jalan dan dapat menolong diri sendiri atau mencari pertolongan lain. Misal: lacerasi minor. Misal: tension pneumothorax.Immediate (I) – Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang kemungkinan dapat hidup bila ditolong segera. distress spernafasan.Medik bekerjasama dengan Komandan Ambulans dapat meminta Tim Medik Bencana turun ke lapangan melalui Pengendali Medik yang bekerja di Pusat Pengendali Krisis Medik Bencana. Segera . dimana kasus yang cedera berat dengan kemungkinan hidup kecil akan diletakkan pada prioritas rendah.

Untuk ini dipakai metode START yaitu simple triage and rapid treatment. berpengetahuan medik cukup. mudah dan oleh tenaga yang training medik terbatas.derajat 3 berat hampir seluuruh tubuh dan kerusakan organ vital. Dapat jalan? ------------------.No --- Expectant Jalan Nafas Ya Ya Frekuensi  30 -------------------- SEGERA < 30 Capillary  2 detik  Kontrol perdarahan < 2 detik Dapat diperintah? -------------------------------------------Ya TUNDA Gambar : ALGORITME TRIAGE START Pemulihan . Metode penilaian triage Triage dilakukan secara cepat dan mendapatkan kategori triage berdasar evaluasi yang dapat dikerjakan secara cepat. Sistim apapun yang dipakai tetap diprioritaskan pada orang paling berpengalaman. dan mempunyai kemampuan penilaian yang baik.Ya----------------------------- Tunda Tdk Bernafas? ----Tidak  Posisi --- Bernafas? -.

Saran Untuk menghadapi masalah bencana yang dapat terjadi lagi dimasa yang akan datang maka di rekomendasikan: 1. 4. Di rumah sakit harus ada Pengendali Medik dan Komandan Medik. Perlu kesiapsiagaan dalam bentuk: pembentukan Pusat Pengendali Krisis Medik Emergensi yang mempunyai Pengendali Medik dan Komandan Medik 2. Disiapkan peraturan.B. dan rumah sakit sudah mempunyai Plan A. pedoman dan/atau prosedur di tingkat nasional. Ditingkat rumah sakit: ada kesiapan rumah sakit dalam menerima kasus korban bencana maupun dalam mengirim bantuan Tim Medik Bencana. . C dst. Perlu kesiapsiagaan pelayanan ambulans yang mempunyai: Komandan Ambulans berikut Tim Ambulans-nya 3.nya untuk menghadapi kasus massal akibat bencana atau musibah massal.

Http://www. 5. KNA MEDIK PADA PENANGANAN KORBAN . KIC.daerah dan rumah sakit untuk menghadapi masalah bencana.An. Latihan secara berkala untuk menghadapi musibah massal.Bambang Suryono S.pdfsearch. Mkes. sebagai salah satu cara sosialisasi manajemen bencana kepada berbagai pihak./PERAN BENCANA//. Sp. (Lessons learned from earthquake May 27th 2006) Dr.